Kisah Si Pedang Kilat (Jilid ke-23)

“Ahhh …!” Hui Hong terkejut, dan kagum pula. Ia merasa kasihan kepada wanita ini.

“Hui Hong, ketika aku mendengar engkau menanyakan ayah kandungmu, aku yang mengetahui di mana dia, segera menawarkan diri untuk menjadi penunjuk jalan agar engkau dapat bertemu dengan ayahmu. Akan tetapi, aku mempunyai syarat, yaitu kalau aku sudah berhaail mempertemukan engkau dengan ayahmu, aku ingin minta bantuanmu.”

“Bantuan apakah itu, bibi? Kalau memang aku mampu, dan kuanggap tidak bertentangan dengan isi hatiku, pasti aku akan membantumu.”

“Begini, Hui Hong. Setelah engkau bertemu dengan ayahmu, aku minta agar engkau membujuk pria yang kucinta itu agar dia mau menerima diriku, agar dia memperkenankan aku hidup di sampingnya, melayaninya, merawatnya. Kemudian, kalau dia berkeras menolak dan tidak kasihan kepadaku, aku minta engkau membantuku untuk mengalahkan dan membunuhnya!”

Hui Hong berpikir sebentar. Permintaan itu cukup pantas dan kalau pria yang tidak setia itu benar-benar menolak dan mengandalkan kepandaiannya untuk merusak kehidupan Bwe Si Ni, memang sudah selayaknya kalau dibasmi. “Baik, bibi, aku berjanji untuk membantumu melakukan dua hal itu.”

Wajah wanita itu berseri. “Engkau … engkau tidak akan melanggar janjimu, Hui Hong?”

Sepasang alis Hui Hong berkerut. “Bibi Bwe Si Ni, biarpun sejak kecil aku dididik oleh Ouwyang Sek, namun Ibuku selalu menanamkan watak bertanggung jawab, adil dan dapat dipercaya. Kalau aku sudah berjanji, pasti akan kupenuhi, dan kalau perlu mempertaruhkan nyawaku. Aku Juga mempunyai kebanggaan dan harga diri, bibi. Apalagi karena permintaan bibi itu pantas, kalau laki-laki yang sudah membuat bibi merana selama puluhan tahun itu tidak menaruh iba dan mau menerima bibi, dia memang pantas untuk dihukum!”

Bwe Si Ni menjadi girang dan ia merangkul dan menciumi kedua pipi Hui Hong, membuat gadis ini termangu dan terheran. Sungguh sikap ini berbeda sekali dengan sikap Bwe Si Ni selama ini, biasanya dingin dan kaku, seperti mayat hidup. Dan kini tiba-tiba menjadi hangat, penuh gairah hidup.

“Terima kasih, Hui Hong, terima kasih … ” bisiknya. Memang wanita ini merasa gembira bukan main. Ia sudah berhasil membuat puteri kekasihnya berjanji untuk membujuk ayah gadis itu sendiri untuk menerimanya, dan kalau perlu membantunya mengeroyok!

“Tidak perlu berterima kasih, bibi. Akulah yang harus berterima kasih sebelumnya bahwa bibi mau mempertemukan aku dengan ayahku. Dan akupun belum tentu berhasil membujuk pria pujaan hati bibi itu. Kita lihat saja nanti.”

“Ya, kita lihat saja nanti, Hui Hong.”

Mereka lalu melanjutkan perjalanan, menuju ke Hwa-san, sebuah pegunungan yang memiliki banyak bukit dan puncak yang tinggi. Sikap kedua orang wanita itu memang tidaklah aneh. Setiap orang manusia di dunia ini, seperti juga mereka berdua, selalu bertindak atau berbuat menurut pikiran masing-masing. Dan hati akal pikiran membentuk gambaran si aku yang selalu mementingkan diri pribadi, mementingkan kesenangan diri sendiri. Memang beginilah ulah nafsu dan dalam hati akal pikiran kita semua sudah bergelimang nafsu yang memang disertakan kepada kita sebagai peserta yang membantu jiwa dalam kehidupan dalam badan ini. Akan tetapi, karena sejak kecil kita membiarkan nafsu makin lama semakin berkuasa dan merajalela, sehingga akhirnya mencengkeram dan menguasai hati akal pikiran sepenuhnya, maka kehidupan ini sepenuhnya dikemudikan nafsu. Nafsu membentuk aku yang ingin menang, ingin senang sendiri. Karena itu, muncullah segala macam kemunafikan, yaitu yang pada luarnya nampak baik, namun sebenarnya palsu karena di sebelah dalamnya ternyata nafsu yang berpamrih berkuasa dan segala yang tampaknya besar itu hanya merupakan suatu cara untuk mendapatkan imbalan yang menyenangkan.

Keinginan si aku untuk enak sendiri inilah yang menimbulkan segala macam konflik. Kalau sudah terjadi benturan antara si aku dan si-aku yang lain, maka bermusuhanlah kedua orang itu. Benturan kepentingan, atau lebih tepat lagi benturan keinginan untuk senang selain mendatangkan pertentangan, kebencian dan permusuhan. Bahkan cintapun menjadi sarang konflik karena pengaruh nafsu atau si aku yang ingin menang sendiri.

Perjanjian antara Si Ni dan Hui Hong juga terdorong oleh kepentingan masing masing. Mereka seolah saling memanfaatkan pihak lain demi keuntungan atau kesenangan diri sendiri, Si Ni hendak mempertemukan Hui Hong dengan ayahnya karena di balik itu ia berpamrih agar Hui Hong menolongnya membujuk ayah gadis itu agar menerimanya, atau kalau ditolak, membantunya mengeroyoknya. Di lain fihak, Hui Hong mau berjanji karena ia ingin agar Si Ni menolongnya, menemukan dan mempertemukan ia dengan ayah kandungnya. Betapa dalam kehidupan ini, kalau kita mau membuka mata melihat kenyataan, kitapun selalu hanya saling mempergunakan dan saling memanfaatkan orang lain demi keuntungan atau kesenangan kita! Terhadap keluarga, terhadap teman, masyarakat, negara dan bangsa. Pernahkah terdapat suatu saat suci di mana kita tidak lagi merenungkan apa yang dapat mereka lakukan demi keuntungan kita, dan mulai merenungkan apa yang dapat kita lakukan demi kebaikan mereka? Pernahkah? Demi kebaikan mereka, sepenuhnya, bukan hanya selubung yang menyembunyikan pamrih kita yang tersembunyi agar kita disenangkan oleh perbuatan atau hasil perbuatan itu?

***

Hujan turun dengan lebatnya, dan air yang segar sejuk itu disambut dengan penuh syukur dan terima kasih oleh pohon-pohon dengan daun-daunnya di pegunungan itu. Tanah yang bercampur batu kapar juga menyambut dengan bahagia. Seluruh permukaan bumi yang disiram air hujan setelah selama beberapa hari kekeringan, berpesta pora dengan bahagianya sehingga membubunglah segala hawa kotor ke angkasa, dan bumi kembali segar dan bersih. Tanah menguap, bau tanah tersebar di mana-mana. Daun-daun menari-nari tertimpa tetesan hujan, nampak berkilauan hijau segar.

Semua mahluk hidup yang berada di permukaan bumi, bahkan berada di bawah permukaan, menyambut air dengan gembira dan sibuk. Namun, dua orang wanita itu bergegas memasuki sebuah guha besar untuk berlindung dari siraman air hujan.

Mereka adalah Bi Moli Kwan Hwe Li dan muridnya, Cia Ling Ay. Setelah memasuki guha, Ling Ay cepat membersihkan tanah guha, membeberkan kain pembungkus pakaian di lantai dan mempersilakan gurunya duduk. Mereka duduk di atas lantai guha bertilamkan kain kuning itu.

Bi Moli Kwan Hwe Li duduk bersila dan tiba-tiba ia menutupi mukanya dengan kedua tangan dan pundaknya bergerak-gerak. Ia menangis! Muridnya, Ling Ay, memandang saja dengan terbelalak. Selama tiga tahun ia menjadi murid wanita cantik itu, baru sekali ini ia melihat gurunya bersedih, apalagi menangis, walaupun tidak mengeluarkan suara, Ia tidak menegur atau bertanya. Ling Ay amat menyayang gurunya, dan selain gurunya telah menyelamatkan ia dari perkosaan penjahat. Juga gurunya telah mengambilnya sebagai murid, mendidiknya dan ia merasa berhutang budi kepada wanita itu. Ia menyayang, menghormat dan amat patuh, walaupun kadang ia harus mengerutkan alisnya kalau gurunya bertindak keras sekali terhadap orang yang dianggap musuhnya. Sudah sering kali ia melihat gurunya menghukum penjahat, atau menghajar laki-laki iseng yang menggoda mereka. Gurunya dapat membunuh orang tanpa berkedip. Walaupun wajah gurunya yang cantik itu selalu tersenyum, namun kalau ia sudah marah, tidak lama kemudian, Kwan Hwe Li menurunkan kedua tangannya, dan jelas nampak betapa kedua pipinya basah. Ia benar-benar telah menangis tadi!”

Ia menoleh kepada Ling Ay yang kebetulan menatapnya, akan tetapi muridnya itu cepat-cepat menunduk, seolah tidak tahu bahwa gurunya habis menangis.

“Ling Ay, tahukah engkau mengapa aku tadi menangis?”

Ling Ay mengangkat muka, memandang gurunya dan menggeleng kepala.

Gurunya tersenyum, manis sekali. Kadang Ling Ay merasa heran. Ia sendiri juga seorang wanita cantik, akan tetapi ia masih muda walaupun sudah menjadi janda tanpa anak, usianya baru dua puluh empat tahun. Akan tetapi subonya pernah mengaku bahwa subonya sudah berusia lima puluh tahun. Setengah abad. Akan tetapi, subonya masih nampak demikian cantiknya seperti seorang gadis berusia dua puluh lima tahun saja. Mereka seperti enci adik dan tak seorangpun menyangkal bahwa mereka itu seperti enci adik.

Dari senyum, merekahlah tawa kecil. “Hi-hi-hik, aku menangis karena bahagia. Heh-heh, Tiauw Sun Ong, saat ini engkau pasti merana, berduka, menyesal, bingung dan gelisah. Nah, sekali-sekali engkau perlu merasakan hukumanmu, hi-hik.”

“Subo. mengapa subo mentertawakan bekas pangeran yang sudah menderita karena buta itu. Hati teecu (murid) sudah merasa kasihan sekali melihat dia, seorang pria setengah tua yang buta, hidup terasing seorang diri di pegunungan sunyi, masih dimusuhi pula oleh Kwan Im Sian li yang ingin membunuhnya. Aih, subo, kenapa subo. tidak kasihan malah kini mentertawakan dia?”

“Ling Ay engkau sudah mendengar semua ceritaku tentang Pangeran Tiauw Sun Ong, tentang hubungannya dengan aku, tentang Kwan-im Sianli dayang tak tahu malu itu, dan tentang Pouw Cu Lan selir kaisar yang menyeleweng itu. Akan tetapi, engkau tidak tahu apa yang sebenarnya terkandung dalam hatiku.”

“Maaf, subo, teecu dapat menduga apa yang terkandung dalam hati sanubari subo. Ingatlah, subo, teecu pernah menceritakan tentang riwayat teecu yang tidak jauh bedanya dengan riwayat subo. Teecu juga pernah merasakan bagaimana hancurnya hati yang menderita karena kasih tak sampai,”

“Hemmm, apakah sampai sekarang engkau juga masih mencinta pemuda yang bernama … eh, siapa lagi namanya?”

“Kwa Bun Houw … teecu tak pernah mencinta pria lain kecuali dia, subo. Teecu pernah mencoba untuk belajar mencinta pria yang dipaksakan menjadi suami teecu, akan tetapi sama sekali tidak pernah berhasil. Hanya Bun Houw seorang yang pernah teecu cinta, tetap dan akan teecu cinta selamanya.”

Senyum di mulut Kwan Hwe Li melebar. “Heh-heh, bagaimana mungkin cinta dapat dipelajari atau dilatih? Cinta adalah suatu keadaan hati. Yang ada hanya engkau mencinta seseorang itu ataukah tidak. Akan tetapi, Ling Ay, setelah engkau mencinta mati-matian kepada pemuda yang bernama Bun Houw itu, apakah engkau tidak mempunyai niat untuk mendapatkannya, agar engkau dapat selamanya hidup di sampingnya?”

“Subo, tidak ada keinginan lain yang lebih besar dalam hati teecu kecuali hidup di sampingnya untuk selamanya. Akan tetapi teecu membatasi diri, subo. Teecu tahu bahwa teecu tidak pantas untuk menjadi jodohnya. Orang tua teecu pernah menolaknya dan menyakiti hatinya, teecu sendiri pernah menjadi isteri orang. Teecu hanya seorang janda yang pemah menyakiti hatinya, dan dia seorang pendekar yang budiman. Bagaimana mungkin teecu akan dapat berjodoh dengan dia?” Suara Ling Ay mengandung rintihan batinnya. Ayah ibunya tewas dibunuh penjahat, ia sendiri sudah menjadi janda, dan Bun Houw entah berada di mana. Tidak ada sedikitpun harapan baginya untuk dapat bertemu dengan Bun Houw, apalagi hidup bersama reperti yang dikatakan subonya.

Kwan Hwe Li menghela napas panjang. “Engkau benar, Ling Ay. Keadaan kita memang tidak jauh berbeda. Akupun hanya mencinta seorang pria saja, yaitu Pangeran Tiauw Sun Ong. Sampai sekarang aku masih mencintanya dan satu-satunya keinginanku adalah sama dengan yang diinginkan Kwan-im sian-li, yaitu ingin menghabiskan sisa hidupku di sampingnya. Akan terapi, kita mendengar sendiri penolakannya terhadap Kwan-im Sian-li. Aku tidak ingin mendengar dia manolak ajakanku, maka akupun tidak menyampaikan maksud hatiku. Andaikata dia menolak, mungkin akupun seperti Kwan-im Sianli akan mengajaknya mati bersama!”

Ling Ay menggeleng-geleng kepala. “Teecu tidak dapat menyelami perasaan subo dan Kwan Im Sianli. Kenapa harus memaksa seseorang untuk hidup bersama, dan kalau dia menolak akan diajak mati bersama? Apakah dua orang tidak bisa hidup dalam keadaan saling terpisah walaupun hati saling mencinta? Teecu bahkan tidak berani mengharapkan orang yang teecu cinta untuk menjadi teman hidup, dan teecu hanya mendoakan semoga dia mendapatkan seorang jodoh yang baik dan dapat hidup berbahagia selamanya.”

Bi Moli Kwan Hwe Li tertawa geli. “Heh-keh, kalau begitu engkau seorang munafik, Ling Ay!”

“Ehhh? Maaf, subo. Mengapa subo mengatakan teecu munafik?”

“Tentu saja engkau munafik. Dalam hatimu, tadi engkau mengatakan bahwa tidak ada keinginan yang lebih besar dalam hatimu kecuali hidup bersama pria yang kau cinta. Akan tetapi di luarnya engkau mendoakan dia hidup berbahagia dengan wanita lain. Bukankah itu munafik?”

“Tidak sama sekali, subo. Memang teecu mencintanya dan ingin hidup bersama dengan dia. Akan terapi, kalau dia tidak menghendaki hal itu, teecu tidak akan memaksanya atau menyalahkannya, apalagi membencinya. Dia berada di samping teecu ataukah tidak, teecu tetap mencintanya dan ingin melihat dia hidup berbahagia.”

“Hi-hi-hik, aku dapat membayangkan. Engkau ingin melihat dia hidup berbahagia, akan tetapi kalau benar-benar engkau melihat dia hidup berbahagia di samping wanita lain, engkau akan merasa betapa hatimu perih seperti ditusuk-tusuk, engkau akan menangis sendiri dalam kamarmu menyesali nasib dan penuh iba diri. Tidakkah begitu? Nah, itu yang kumaksudkan dengan munafik, tidak samanya perasaan hati dengan perbuatan,”

“Maaf, subo. Teecu rasa tidaklah demikian. Teecu hanyalah seorang manusia biasa yang serba lemah dan tidak teecu sangkal, mungkin kalau teecu melihat doa teecu terkabul dan Bun Houw hidup berbahagia dengan wanita lain. melihat dia bersanding dengan wanita lain, teecu akan tersiksa dalam hati, akan menangis penuh iba diri. Akan tetapi hal itu wajar saja. bukan? Di samping itu, teecu akan selalu sadar bahwa tidak selamanya orang harus menurutkan kata hati, tidak memenuhi keinginan hati. Teecu mempunyai pertimbangan untuk menimbang, keinginan bagaimana yang boleh dilaksanakan dan keinginan yang bagaimana yang harus dikekang. Dan keinginan memaksa Bun Houw hidup berdua dengan teecu, keinginan untuk senang sendiri seperti itu, adalah satu di antara keinginan-keinginan yang harus teecu kekang.”

“Huh, itulah mengapa engkau selalu tertimpa kemalangan dalam hidupmu. Engkau terlalu lemah! Engkau terlalu memikirkan orang lain dan lihatlah apa yang selama ini kaualami. Engkau menurut saja dinikahkan dengan pria yang tidak kausukai, engkau terlalu lemah sehingga tidak berani menentang orang tuamu. Kemudian, engkau rela saja dipermainkan laki-laki yang tidak kaucinta. Kalau yang pertama kali engkau lebih mementingkan orang tuamu dari pada dirimu sendiri, kemudian engkau mementingkan pria yang dipaksa menjadi suamimu. Kemudian engkau bertemu dengan bekas tunanganmu itu, dan engkau tidak meraihnya sehingga dia lepas lagi. Huh, aku muak mempunyai murid yang begini lemah!”

Melihat gurunya marah, Ling Ay terkejut.

Selama ini, belum pernah gurunya marah kepadanya! Dan ia merasa menyesal sekali. Ia belum dapat membalas semua budi yang dilimpahkan gurunya itu kepadanya, dan sekarang ia malah membuat gurunya kecewa dan marah. Ia segera berlutut di depan gurunya yang duduk bersila di dalam guha itu.

“Maafkan teecu, subo. Akan tetapi, apa yang harus teecu lakukan? Teecu tetap mentaati semua perintah subo.”

Bi Moli mengangkat mukanya dan meletakkan tangan kirinya ke atas pundak, muridnya. Ia menyayang Ling Ay. Selama beberapa tahun ini, Ling Ay bukan saja menjadi muridnya, akan tetapi juga menjadi sahabat baiknya, menjadi pelayannya dan bersikap amat baik kepadanya sehingga ia merasa sayang sekali kepada murid yang juga amat berbakat ini.

“Yang harus kaulakukan, muridku yang baik, adalah seperti aku. Aku gurumu yang harus kautaati, bukan? Nih, kita harus dapat menikmati hidup ini, kita harus bertindak sesuai dengan perasaan kita. Seperti juga aku yang selalu mengharapkan dapat hidup berdampingan dengan pria yang kucinta, dan menghancurkannya kalau dia menolak dan menyakiti hatiku, engkaupun harus mencari Bun Houw. Engkau dahulu pernah menjadi tunangannya, saling mencinta, maka sudah sewajarnya kalau sekarang engkau menuntut disambungnya kembali ikatan itu dan menjadi isterinya. Bukankah itu harapan dan idaman hatimu?”

“Akan tetapi, subo. Teecu adalah seorang yang tadinya memutuskan hubungan itu, teecu yang meninggalkannya dan menikah dengan pria lain.”

“Itu adalah kehendak orang tuamu, bukan kehendakmu. Dan ketika itu engkau belum menjadi muridku. Kalau engkau bertemu lagi dengan dia, dia harus menerimamu kembali dan engkau akan menjadi isterinya, hidup berbahagia, dan akupun akan ikut gembira melihat engkau bahagia. Kalau dia menolak dan memilih wanita lain, aku akan membantumu menghancurkannya. Daripada orang yang kita cinta terjatuh ke tangan wanita lain lebih baik kita binasakan saja!”

“Tapi, subo … ” Ling Ay yang bergidik mendengar bahwa ia harus membunuh Bun Houw, mencari akal dan tidak berani membantah lagi atau menolak, “bagaimana teecu akan dapat mencari dan menemukannya. Teecu tidak tahu di mana dia berada. Dia sebatangkara dan tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap.”

“Biar kita cari perlahan-lahan. Sekarang, kita lebih dulu pergi ke kota raja Nan-king. Sejak terjadinya keributan dan perang saudara yang menjatuhkan kerajaan Liu Sung tiga tahun yang lalu, aku tidak pernah melihat Nan-king. Sekarang, di sana yang berkuasa adalah Kerajaan Chi dan kaisarnya adalah Siauw Bian Ong yang dahulunya adalah Pangeran Siauw Hui Kong. Tiga tahun telah lewat sejak kerajaan baru itu menguasai daerah selatan Sungai Yang-ce. dan kabarnya sekarang keamanan telah pulih kembali, tidak ada lagi terjadi pertempuran. Aku ingin berkunjung ke sana, menjenguk kota kelahiranku dan kautahu, muridku, masih banyak keluarga bangsawan yang menjadi kerabatku.”

Ling Ay menurut saja, di dalam hati ia masih bingung oleh perintah gurunya mengenai sikapnya terhadap Bun Houw tadi. Ia memang mencinta Bun Houw, hal ini tidak disangkalnya. Ia memang mengharapkan agar dapat hidup menjadi isteri Bun Houw, hal ini pun harus diakuinya. Akan tetapi andaikata Bun Houw menolak, bagaimana mungkin ia akan tega untuk membunuhnya? Bun Houw telah berbuat banyak untuknya. Rasanya ia akan rela mati untuk membela pria yang dikasihinya itu. Bagaimana mungkin ia akan dapat membunuhnya, walaupun dia akan menolaknya sekalipun? Akan tetapi ia tidak berani membantah, dan girang mendengar subonya mengajaknya pergi ke Nan-king. Setidaknya, urusan baru di Nan-king akan membuat gurunya lupa akan Bun Houw dan diapun akan diam saja. tidak akan membicarakan lagi tentang bekas kekasih dan tunangannya itu.

***

Guru dan murid itu berhenti di persimpangan jalan. “Suhu,” kata Bun Houw, “biarlah teecu mengantar suhu kembali dulu ke Hwa-san, sebelum teecu mulai mencari adik Tiauw Hui Hong sampai dapat. Teecu berjanji akan mengajak puteri suhu itu menghadap suhu.”

Tiauw Sun Ong tersenyum. Bekas pangeran yang usianya sudah lima puluh sembilan tahun itu masih nampak tegap dan memang wajahnya tampan dan gagah, walaupun dia nampak lemah dengan kebutaannya, “Bun Houw, tidak perlu engkau mengantarku. Aku masih kuat untuk mendaki Hwa-san dan sebaiknya kalau engkau sekarang juga mulai pergi mencari Hui Hong dan kauceritakan semuanya tentang dirinya, tentang hubungannya dengan aku sebagai ayah kandungnya. Kasihan sekali Hui Hong, ia tidak tahu akan kematian ibu kandungnya yang amat menyedihkan. Aih, ulah nafsu selalu mendatangkan akibat yang menyedihkan.”

Bun Houw yang sudah mengenal baik watak suhunya yang sekali mengambil keputusan tidak akan mengingkari lagi, tidak membantah dan diapun menghela napas panjang. Dia merasa iba kepada suhunya. Biarpun suhunya tidak mengeluarkan ucapan yang menunjukkan kesedihannya, namun dia tahu benar betapa hancur hati gurunya ketika pertemuannya dengan satu-satunya wanita yang pernah dicintanya, yaitu Pouw Cu Lan, berakibat matinya wanita itu membunuh diri. Akan tetapi suhunya tidak pernah melihatkan kesedihannya dan diapun kagum bukan main. Gurunya adalah seorang laki-laki sejati!

“Baiklah, suhu. Kalau suhu menghendaki demikian, teecu akan mentaati keinginan suhu.”

“Selain mencari Hui Hong. Juga ada sebuah tugas untukmu. Ketahuilah bahwa kini kerajaan Sung atau Liu Sung telah jatuh dan yang berkuasa adalah kerajaan Chi yang dipimpin oleh Kaisar Siauw Bian Ong. Perubahan ini hanya merupakan perebutan kekuasaan saja, karena yang memegang pimpinan tetap masih keluarga sendiri. Bahkan ada baiknya, karena Kaisar Cang Bu yang masih remaja itu tidak pantas untuk menjadi kaisar dan dia tentu mudah dikuasai para pejabat yang menjilat dan menyelewengkannya. Bagaimanapun juga, kita harus mendukung kerajaan Chi di Nan-king karena kita di selatan selalu diancam oleh kekuasaan dari utara, yaitu kerajaan Wei yang dipimpin oleh bangsa Toba Tartar. Memang tidak perlu engkau memegang jabatan, akan tetapi kalau melihat negara diancam bangsa Tartar, sudah menjadi kewajiban setiap orang warga negara untuk membelanya. Nah, tugas yang kuberikan padamu adalah pergi ke Nan-king dan melihat suasana di sana. Kuberi waktu dua tahun kepadamu untuk mencari Hui Hong dan melihat keadaan pemerintah kerajaan Chi yang baru. Satelah dua tahun, bertemu Hui Hong atau tidak, engkau harus mencariku di Hwa-san dan memberi laporan tentang semua hasil usahamu.”

“Baik, suhu.”

Guru dan murid itu berpisah di persimpangan jalan. Tiauw Sun On melanjutkan perjalanan dengan langkah tegap menuju ke Hwa-san. Bagaimanapun juga, hatinya terasa ringan. “Pouw Cu Lan, yang dulunya sudah tidak dia pikirkan lagi, akan tetapi kemudian teringat kembali setelah dia mendengar bahwa wanita yang pernah menjadi kekasihnya itu telah melahirkan seorang puteri darinya, kini telah meninggal dunia. Hal itu berarti pula bahwa wanita itu telah terbebas dari penyiksaan diri berkorban demi puteri mereka. Pouw Cu Lan telah mengambil jalan yang paling tepat. Adapun puterinya, Hui Hong, dalam keadaan selamat dan sehat. Puterinya! Akan tetapi tiba-tiba dia mengerutkan alisnya. Menurut keterangan mendiang Pouw Cu Lan sebelum membunuh diri. Hui Hong telah pergi untuk mencarinya bersama seorang wanita cantik yang mukanya putih halus dan nampak masih muda. Kwan Im Sianli Bwe Si Ni! Siapa lagi kalau bukan bekas dayang itu? Menurut keterangan Bi Moli Kwan Hwe Li. Kwan Im Sianli tentu bermaksud untuk membunuh Pouw Cu Lan dan puterinya, puteri mereka. Dan kini. Pouw Cu Lan telah membunuh diri, dan Hui Hong pergi bersama Kwan Im Sianli! Nyawa puterinya berada dalam bahaya!

Bagaimana mungkin dia dapat kembali ke Hwa-san dan dapat bertapa dengan hati tenang kalau Hui Hong belum ditemukan? Dan biarpun dia yakin akan kemampuan muridnya, akan tetapi Bun Houw tidak tahu ke mana harus mencari Hui Hong! Alangkah baiknya kalau dia sendiripun pergi mencari. Usaha dua orang lentu jauh lebih baik dan mendatangkan lebih banyak harapan dari pada usaha seorang saja. Maka, tanpa ragu lagi diapun mengubah arah perjalanannya, berlawanan dengan arah yang dituju Bun Houw. Bun Houw menuju ke timur, ke Nan-king. dan dia sendiri akan pergi ke utara, ke Lok-yang.

Sementara itu, tanpa mengetahui perubahan arah perjalanan gurunya, Bun Houw melanjutkan perjalanan dengan cepat. Nan-king masih jauh di timur dan perjalanan melalui daratan amatlah sukarnya, juga amat melelahkan. Oleh karena itu. Bun Houw menyusuri tepi Sungai Yang-ce untuk menyewa perahu. Dengan perahu melakukan perjalanan dapat lebih cepat dan tidak begitu meletihkan, karena perahu akan terbawa arus sehingga tidak banyak membutuhkan tenaga untuk mendayung, hanya mengemudikannya saja.

Banyak memang dia bertemu pemilik perahu, akan tetapi belum ada yang dapat menyewakan perahu kepadanya. Tukang perahu tidak mau menyewakan perahu untuk perjalanan sejauh itu, ke Nan-king yang akan makan waktu berhari-hari. Untuk membeli sebuah perahu, tentu saja Bun Houw tidak mampu. Emas permata yang dimilikinya, yang dahulu diterimanya dari gurunya, telah dirampas oleh Suma Koan dan puteranya. Suma Hok. Dan kini dia hanya mempunyai sedikit perak untuk bekal dalam perjalanan. Juga pemberian gurunya.

Terpaksa Bun Houw membonceng perahu yang kebetulan ke hilir, sampai ke mana tujuan perahu itu berhenti, lalu disambung lagi dengan perahu lain. Akan tetapi tentu saja perjalanan ini makan waktu lebih lama karena dia harus menunggu setiap kali di suatu tempat pemberhentian untuk mencari perahu yang melakukan pelayaran ke timur.

Pada suatu pagi, setelah melakukan perjalanan selama belasan hari, perahu yang ditumpangi Bun Houw berhenti di sebuah kota di tepi sungai yang bernama Kui-cu, sebuah kota yang cukup ramai karena di situ merupakan pusat perdagangan yang menjadi semacam bandar sungai pula. Banyak pedagang mendirikan toko, rumah makan dan rumah-rumah penginapan karena banyaknya saudagar dari daerah dan kota lain yang datang dan bermalam di Kui-cu, untuk memperjualbelikan barang dagangan mereka.

Ada sebuah perahu besar yang akau melakukan perjalanan ke timur, akan tetapi pemilik perahu mengatakan bahwa dia harus menunggu muatan selama dua hari baru dapat berangkat. Karena perahu itu merupakan perahu pertama yang akan berlayar ke timur, terpaksa Bun Houw menunggu dan diapun mencari kamar di rumah penginapan yang kecil untuk menghemat biaya.

Setelah memperoleh sebuah kamar di rumah penginapan yang berada di ujung kota Kui-cu karena penginapan lain yang berada di tengah kota sudah penuh dengan tamu, Bun Houw keluar berjalan-jalan dan melihat-lihat kota Kui-cu. Kota yang sibuk sekali. Datang-banya banyak tamu pedagang yang berjual-beli di kota itu, membuat kota itu menjadi pusat pasar, dan banyak orang memanfaatkan keramaian itu dengan membuka bermacam tempat hiburan. Para pedagang itu mempunyai banyak uang, apalagi di tempat itu seringkali para saudagar mendapatkan keuntungan yang banyak, maka uang berlimpahan dan mereka itu segera mencari hiburan untuk merayakan keuntungan yang mereka peroleh. Tempat-tempat pelesir, rumah-rumah judi dan sebagainya dibuka orang.

Matahari telah naik tinggi dan Bun Houw memasuki sebuah rumah makan, tertarik oleh bau sedap masakan yang keluar dari dalam rumah makan itu. Belasan orang sudah berada di situ dan Bun Houw bingung juga memasuki rumah makan yang tidak terlalu besar itu. Tidak ada meja kosong, akan tetapi di sudut sebelah dalam terdapat sebuah meja di mana hanya duduk seorang laki-laki muda saja yang menghadapi meja itu. Seorang pelayan menyambut dan menggelengkan kepala.

“Maaf, tidak ada meja kosong, harap sebentar lagi saja kembali kalau sudah ada tamu yang keluar,” katanya.

Bun Houw memandang kepada pria yang duduk seorang diri itu, dan pria inipun memandangnya, lalu pria itu bangkit berdiri dan. berteriak kepada pelayan itu. “Disini aku hanya duduk sendiri, kalau sobat itu mau, dia boleh, saja duduk makan di sini.”

Tentu saja pelayan itu menjadi girang. Jarang ada tamu yang mau membagi mejanya dengan tamu lain yang tidak dikenalnya. Bun Houw juga girang dan segera memberi hormat-ambil menghampiri meja itu. “Terima kasih atas kebaikanmu, sobat.” katanya.

“Ah, tidak, mengapa. Meja inipun terlalu besar untukku sendiri. Silakan!” kata orang itu dengan ramah. Bun Houw lalu duduk di seberang orang itu, terhalang meja sehingga mau tidak mau mereka saling pandang.

Pria itu berusia kurang lebih dua puluh dua tahun. Tubuhnya sedang saja, bahkan agak kewanitaan karena tidak nampak otot-otot kekar di tangannya. Tubuhnya itu lebih condong tubuh wanita yang termasuk besar. Wajahnya tampan dan matanya cerdik, senyumnya manis. Akan tetapi wajah itu adalah wajah pria, dengan alis yang tebal dan hidung besar. Ada sesuatu dalam sikapnya yang agung dan anggun.

Tentu saja Bun Houw hanya memandang sekalian dan dia menduga bahwa pemuda ini agaknya seorang pemuda terpelajar, tidak miskin, akan tetapi juga bukan kaya-raya. Walaupun pakaiannya cukup baik, akan tetapi dia bukan seorang pesolek dan pakaian itu tidak menyolok. Bahkan pemuda itu duduk dalam rumah makan dengan menghadap ke sebelah dalam sehingga tidak dilihat wajahnya dari luar, seolah dia hendak menyembunyikan wajahnya agar tidak terlihat banyak orang. Pada hal, dia tidak melihat sesuatu yang mencurigakan pada pemuda ini, “Kulihat engkau seperti bukan orang sini, sobat. Benarkah!” pria itu agaknya merasa tidak enak kalau berdiam diri ia saja, maka dia bertanya, suaranya terdengar sambil lalu saja.

“Benar, aku memang baru datang hari ini, pagi tadi.” jawab Bun Houw singkat. Dia tidak ingin berkenalan dengan pemuda itu, dan tidak ingin menceritakan keadaan dirinya.

Hening sejenak dan pesanan makanan pemuda itu datang lebih dahulu karera memang dia telah memesan sebelum Bun Houw masuk. Dia memesan nasi dengan dua macam sayur dan daging, juga air teh. Tidak memesan arak. hal ini mengherankan Bun Houw. Hari itu hawanya cukup dingin sehingga biasanya orang akan minum arak, walaupun sedikit. Dia sendiri memesan nasi dan semacam sayur yang di sukainya.

“Silakan engkau makan lebih dulu, sobat,” kata Bun Houw melihat betapa pemuda itu. memandangnya tanpa menyentuh masakan di depannya. Pemuda itu mengangguk, kemudian makan, cara dia makanpun sopan dan dengan hati-hati menggerakkan sumpitnya, mengunyah makananpun tanpa mengeluarkan suara, bahkan jarang sampai membuka mulut, sungguh cara makan yang hati-hati dan perlahan-lahan, sopan sekali. Bun Houw semakin tertarik dan senang. Dia sendiri merasa terganggu kalau melihat orang makan dengan lahap seperti orang kelaparan, dengan mata melotot memandang ke arah makanannya, kemudian mengunyah cepat-cepat dengan mulut terbuka dan mengeluarkan bunyi berkecapan. Apalagi kalau menyeruput kuah dari mangkuk, mengeluarkan bunyi seperti seekor babi sedang makan.

Pesanan makanan baginya datang. Pemuda di depannya itu tersenyum dan mengangguk tanpa bersuara, seolah mempersilakan dia untuk makan. Bun Houw makan pula dan tentu saja dia makan lebih hati-hati dan lebih sopan dari pada biasanya!”

Tiba-tiba masuk lima orang laki-laki yang bertubuh tinggi besar dan bersikap kasar. Mula-mula kedatangan mereka tidak menarik perhatian, akan tetapi dua orang di antara mereka berdiri di depan pintu rumah makan, menghadap ke luar dan seperti penguasa rumah makan, mereka berdua itu menolak masuknya tamu-tamu baru dengan mengatakan bahwa rumah makan sudah penuh! Adapun tiga orang lainnya, dengan sikap galak sudah menghampiri pemilik rumah makan dan memaksanya untuk menyerahkan semua uang hasil penjualannya sejak pagi tadi! Seorang memaksa pemilik rumah makan, dan dua orang lainnya mulai menggertak para tamu untuk menyerahkan uang mereka!

Melihat betapa di antara para tamu ada yang nampak penasaran dan marah, seorang diantara mereka yang mukanya hitam membentak. “Hayo serahkan uang kalian kepada kami. Kalau ada yang membantah, kepalanya akan kubikin seperti ini!” Tangan kanannya bergerak ke arah ujung sebuah meja.

“Krakkk!” Ujung meja terbuat dari papan tebal itu pecah berentakan. Tentu saja semua orang menjadi ketakutan. Apalagi ketika tiga orang yang beroperasi di dalam itu mencabut golok mereka dan mengamangkan golok, mereka menjadi semakin ketakutan. SI pemilik rumah makan terpaksa membiarkan semua uang pendapat di laci mejanya dikuras oleh seorang perampok, sedangkan dua orang lain mulai menguras isi saku para tamu. Hanya ada seorang tamu yang berusaha untuk menolak dan tidak mau memberikan semua uangnya. Si muka hitam menamparnya dan beberapa buah giginya rontok, mulutnya berdarah dan sejak itu, tidak ada lagi tamu yang berani membantah. Ketika si muka hitam menghampiri meja di mana Bun Houw dan pemuda itu duduk, Bun Houw melihat betapa pemuda itu sedikitpun tidak nampak khawatir. Bahkan dengan suka rela pemuda itu mengeluarkan semua uangnya dari dalam saku, yang jumlahnya lima enam kali lebih banyak dari pada uang bekalnya sendiri. Tentu saja Bun Houw sudah merasa mendongkol sekali kepada lima orang yang berani melakukan perampokan di siang hari di tempat umum yang ramai itu. Akan tetapi, kalau dia menghajar mereka di rumah makan, tentu akan merusak perabot di rumah makan itu dan dia tidak akan mampu mengganti kerugian. Pula, di situ terdapat banyak tamu. Kalau lima orang itu mengamuk, dia khawatir ada tamu yang akan terluka atau bahkan tewas. Maka, dengan tenang diapun mengeluarkan semua uang bekalnya dan meletakkannya di atas meja. Perampok muka hitam mengambil uangnya dan uang pemuda itu dari atas meja. memasukkannya ke dalam kantung hitam besar yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Perampokan itu berlangsung cepat sekali dan agaknya lima orang itu memang sudah ahli dalam pekerjaan ini. Setelah menguras semua uang terdapat di situ, mereka pergi dan si muka hitam yang menjadi pimpinan meninggalkan ancaman. “Kalau ada di antara kalian yang berani berteriak setelah kami berada di luar. kami akan masuk lagi dan memenggal lehernya di sini juga!” Goloknya berkelebat dan sebuah bangku terbelah menjadi dua dengan mudahnya. Semua orang menjadi pucat dan mereka berlima meninggalkan rumah makan itu dengan cepat. Bun Houw cepat menghampiri pemilik rumah makan.

“Paman, aku akan mengejar mereka dan mencoba untuk mendapatkan kembali semua uang yang dirampok!” Diapun keluar dari rumah makan itu dan melakukan pengejaran.


About this entry