Category Archives: Jaka Lola

Jaka Lola ~ Jilid 32 ~ Tamat

Yo Wan bukan seorang sembrono. Cepat dia menghampiri seorang kepala regu dan bertanya apa maksudnya semua itu.

Continue reading


Jaka Lola ~ Jilid 31

Swan Bu sudah mendengar bahwa Siu Bi berada bersama Yosiko, kini tidak melihat kekasihnya itu muncul bersama Yosiko, dia tidak dapat menahan kesabaran hatinya lagi lalu melangkah maju dan bertanya,

Continue reading


Jaka Lola ~ Jilid 30

Yosiko tersenyum lagi. “Nah, ini baru namanya jantan. Orang she Bun, bersiaplah untuk mampus!” Pedangnya berkelebat diikuti gerakan sabuk suteranya ketika gadis ini menyerang dengan hebat.

Continue reading


Jaka Lola ~ Jilid 29

Perjalanan mereka penuh dengan kenang-kenangan memilukan. Kadang-kadang mereka memadu kasih dan janji, ingin sehidup semati. Ada kalanya mereka bertangis-tangisan mengingat keadaan keluarga mereka. Bahkan ada kalanya mereka cekcok mulut karena berbeda pendapat. Namun betapapun juga, Siu Bi selalu tekun dan rajin merawat Swan Bu sehingga luka pada lengannya sembuh.

Continue reading


Jaka Lola ~ Jilid 28

“Sumpah, sungguh tak enak keadaan begini!” Akhirnya berkatalah Hwat Ki dengan suara marah pula. “Semenjak pertemuan kita dehgan ketua Kipas Hitam malam tadi, kau sudah berubah, kemudian setelah meninggalkan gua, kau benar-benar berbeda sekali…..”

Continue reading


Jaka Lola ~ Jilid 27

“Aku harus pergi dari sini! Harus!” la mengeluh karena pundak kirinya sakit sekali. Dengan tangan kanan dia meraba ke belakang pundak kiri, memegang gagang anak panah dan mengerahkan tenaga mencabutnya. Anak panah tercabut, darah muncrat keluar dan gadis itu menjerit berbareng dengan robohnya tubuh Yo Wan, pingsan di atas perahu!

Continue reading


Jaka Lola ~ Jilid 26

“Orang muda she Yo, lihat serangan!” bentaknya mengguntur dan sekali meraba punggung, kakek ini sudah mencabut ke-luar sebatang ruyung lemas (joan-pian) yang berwarna hitam lalu menerjang dengan senjata seperti pecut ini dengan gerakan yang dahsyat.

Continue reading


Jaka Lola ~ Jilid 25

Ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata yang lembut dari pemuda baju putih, tiba-tiba jantung Cui Kim terasa berdebar tidak karuan. Akan tetapi begitu ia melihat pedang hitamnya terietak di atas meja depan pemuda itu, timbul kemarahannya. Seketika sinar matanya berapi-api dan dia berteriak dengan nyaring.

Continue reading


Jaka Lola ~ Jilid 24

“Ha-ha-ha’” sambung seorang yang matanya sipit hampir meram dengan ketawanya yang kasar. “Pui-twako tentu saja berhati-hati, apalagi menghadapi mawar merah yang selain berduri, juga dijaga siang malam oleh tukang kebunnya! Jangan-jangan tangan akan tertusuk pedang dan kepala akan dikemplang tukang kebun! Ha-ha-ha!” Si mata sipit mengerling ke arah meja muda-muda itu.

Continue reading


Jaka Lola ~ Jilid 23

Bhok Hwesio makin penasaran, menahan napas dan mengerahkan seluruh tenaganya, menarik. Tubuhnya seakan-akan membesar, otot-otot di lehernya mengejang dan menonjol ke luar.

Continue reading


Jaka Lola ~ Jilid 22

Pada saat kedua orang ini melakukan serangan curang dari belakang, terdengar Bhok Hwesio tertawa mengejek, bukan seperti orang tertawa biasa melainkan seperti suara seekor kerbau mendengus.

Continue reading


Jaka Lola ~ Jilid 21

Segera ternyata oleh kedua orang wanita jagoan itu bahwa dalam ilmu gin-kang, nyonya Pendekar Buta dengan gerakan Kim-tiauw-kun lebih unggul sedikit. Akan tetapi keunggulan ini ditutup oleh puteri Raja Pedang dengan kelebihannya dalam tenaga Iweekang yang merupakan penggabungan atau kombinasi dari Im-kang dan Yang-kang dari Im-yang-sin-hoat.

Continue reading


Jaka Lola ~ Jilid 20

Sampai pucat sekali muka Swan Bu mendengar penghinaan ini, akan tetapi kemarahannya ini amat merugikan, karena kepalanya menjadi pening sekali dan tubuhnya yang sudah lemas itu malah gemetar karenanya.

Continue reading


Jaka Lola ~ Jilid 19

“Jangan takut, kalau ada orang jahat mengganggumu, kami akan membantumu,” Kun Hong berkata, suaranya halus, akan tetapi diam-diam hatinya menduga-duga. “Kau siapakah dan siapa pula mereka yang mengancam keselamatanmu?”

Continue reading


Jaka Lola ~ Jilid 18

Kong Bu melompat bangun dengan napas terengah-engah, dadanya serasa sesak dan kepalanya pening. la tidak terluka, nannun nanar dan maklumlah dia bahwa melanjutkan dengan nekat hanya akan menghadapi kekalahan yang memalukan.

Continue reading


Jaka Lola ~ Jilid 17

Siu Bi sudah tak mampu bersuara lagi. Ucapan kakek yang kacau-balau tentang anak segala macam tadi membuat wajahnya sebentar pucat seperti kertas sebentar merah seperti dicat. la kini hanya mampu mengangguk-angguk saja.

Continue reading


Jaka Lola ~ Jilid 16

“Keparat….. jahanam…..!” Kubunuh engkau, kukeluarkan isi perutmu, kuminum darahmu……!” Kong Bu berteriak lagi, kini diseling suara rnelengking tinggi yang menggetarkan kuil itu, seperti bukan suara manusia lagi.

Continue reading


Jaka Lola ~ Jilid 15

Tiba-tiba dari pintu yang butut itu keluarlah seorang wanita tua, wanita yang tersenyum-senyum dan sanggul rambutnya dihias setangkai bunga merah. Wanita itu setibanya di halaman kuil berkata, suaranya penuh ejekan,

Continue reading


Jaka Lola ~ Jilid 14

“Huh, kau keras kepala!” ejek Bhok ‘Hwesio sambil berdiri tegak, perutnya yang gendut besar ditonjolkan ke depan. Bagaikan seekor lembu mengamuk, Thian Ti Losu menyeruduk ke depan, kepalanya diarahkan perut bekas suhengnya.

Continue reading


Jaka Lola ~ Jilid 13

“Hemmm, lawan kita memang berat. Pendekar Buta biarpun masih muda, kepandaiannya luar biasa sekali. Untuk menghadapinya maka selama hampir dua puluh tahun aku melatih dengan Pai-san-jiu.”

Continue reading


Jaka Lola ~ Jilid 12

“Aku lalu menyimpan saputangan pem-bungkus rambutmu ini yang….. eh, yang harum baunya tapi ternoda darah….. tadinya kusangka darahmu…..”

Continue reading


Jaka Lola ~ Jilid 11

“Mari kita keroyok dia. Dia lihai sekali dan kalau sampai dia terlepas, tentu hanya akan menimbulkan kesulitan di belakang hari.”

Continue reading


Jaka Lola ~ Jilid 10

“Wah, kalau begitu, lebih baik nona lekas-lekas pergi dari tempat ini. Amat ¬†berbahaya, nona. Pulau di depan itu adalah Ching-coa-to, pusat perkumpulan Ang-hwa-pai. Kami berdua tosu dari Kun-lun-pai baru saja terlepas daripada bahaya maut.”

Continue reading


Jaka Lola ~ Jilid 9

Perjalanan dilangsungkan melalui darat. Dua orang itu dengan mudah mendapatkan tiga ekor kuda dari kawan-kawan mereka yang memang banyak terdapat di sekitar daerah itu, merajalela dan boleh dibilang menguasai keadaan di sebelah selatan dan barat dan kota raja.

Continue reading


Jaka Lola ~ Jilid 8

Siu Bi meloncat-loncat marah. “Nak-nak-nak? Aku bukan anakmu, aku bukan cucumu. Jangan sebut nak, aku bukan anak kecil’” la menjerit-jerit, kedua pipinya merah padam, kemarahannya melewati takaran.

Continue reading


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.