<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>toanki.wuxiaholic library</title>
	<atom:link href="http://toanki.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://toanki.wordpress.com</link>
	<description>bacaan cerita silat untuk koleksi pribadi</description>
	<lastBuildDate>Sat, 08 Nov 2008 18:32:46 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='toanki.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/cfd60d04a0ca95b4d105fa19702cb735?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>toanki.wuxiaholic library</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 33</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/31/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-33/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/31/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-33/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2008 03:53:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1993</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Ya, memang besar kemungkinan dia tak mau mengatakan, tapi akan kupaksa secara keras atau halus agar dia mengaku, sebelum dia menjelaskan tidak nanti aku mau sudahi urusan ini,&#8221; kata Kiau Hong.

&#8220;Tapi Ti-kong Taysu itu tampaknya sangat keras wataknya dan tidak gentar mati, biarpun kita pancing dengan halus maupun paksa secara kasar, mungkin takkan membuatnya mengaku. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&blog=4564196&post=1993&subd=toanki&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>&#8220;Ya, memang besar kemungkinan dia tak mau mengatakan, tapi akan kupaksa secara keras atau halus agar dia mengaku, sebelum dia menjelaskan tidak nanti aku mau sudahi urusan ini,&#8221; kata Kiau Hong.</p>
<p><span id="more-1993"></span></p>
<p>&#8220;Tapi Ti-kong Taysu itu tampaknya sangat keras wataknya dan tidak gentar mati, biarpun kita pancing dengan halus maupun paksa secara kasar, mungkin takkan membuatnya mengaku. Kukira lebih baik&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, memang lebih baik kita pergi mencari Tio-cin-sun saja,&#8221; sela Kiau Hong. &#8220;Tio-cin-sun itu besar kemungkinan juga takkan mengaku biarpun mati, tapi aku sudah mempunyai akal untuk menghadapinya.&#8221;</p>
<p>Sampai di sini, ia pandang arah jurang di sebelahnya, lalu katanya pula, &#8220;A Cu, aku ingin turun ke bawah jurang itu.&#8221;</p>
<p>Keruan A Cu terperanjat, ia melongok sekejap ke jurang yang tertutup kabut tebal itu, kemudian berkata, &#8220;Ai, mana boleh jadi! Jangan kau turun ke sana. Apa sih yang ingin kau lakukan ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebenarnya aku bangsa Han atau orang Cidan, hal ini yang selalu menekan perasaanku, maka ingin kuturun ke sana untuk memeriksa mayat orang Cidan itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah lebih 30 tahun orang itu terjun ke jurang itu mungkin yang tertinggal sekarang hanya tulang belulang belaka, apa yang dapat kau&#8230;periksa ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku justru ingin melihat tulang belulangnya. Kupikir jika&#8230;jika benar dia adalah ayahku sendiri maka harus kukumpulkan tulang jenazahnya untuk dikebumikan sebagaimana mestinya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, mana bisa, mana mungkin !&#8221; seru A Cu melengking. &#8220;Engkau adalah ksatria berbudi, mana mungkin keturunan orang Cidan yang buas dan kejam ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudahlah, harap kau tunggu sehari saja di sini, bila besok pada waktu yang sama aku belum naik kembali, maka bolehlah kau tinggal pergi saja.&#8221;</p>
<p>Keruan A Cu kuatir, sekonyong-konyong ia menagis dan berseru, &#8220;Jangan, Kiau-toaya, jangan engkau turun ke bawah jurang !&#8221;</p>
<p>Tapi watak Kiau Hong sangat keras, apa yang menjadi ketetapan hatinya tidak mungkin mengubahnya. Dengan tersenyum ia menjawab, &#8220;Dikeroyok jago-jago sebanyak itu di Cip-hian-ceng pun aku tak terbinasa, masakan jurang yang tiada artinya ini dapat merenggut jiwaku ?&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia pandang sekitar jurang itu untuk mencari sesuatu tempat berpijak yang sekedar dapat dipakai sebagai batu loncatan ke bawah.</p>
<p>Pada saat itulah tiba-tiba dari jurusan timur laut sana sayup-sayup terdengar suara derap kuda lari yang ramai menuju ke arah selatan. Dari suaranya dapat ditaksir sedikitnya ada lebih 20 penunggang kuda.</p>
<p>Cepat Kiau Hong lari melintasi bukit sana dan memandang jauh ke arah datangnya suara itu. Maka jelas tertampak olehnya 20-an penunggang kuda itu berpakaian seragam kuning, semuanya adalah prajurit kerajaan Song.</p>
<p>Setelah mengetahui siapa pendatang itu, sebenarnya Kiau Hong tidak taruh perhatian apa-apa. Tapi tempat dia dan A Cu berada itu justru adalah jalan penting yang pasti akan dilalui oleh orang-orang dari luar perbatasan yang akan memasuki Gan-bun-koan sebagai mana dahulu jago silat Tionggoan telah memilih tempat ini untuk mencegat orang Cidan.</p>
<p>Kiau Hong pikir dari pada nanti kepergok prajurit Song itu hingga mungkin akan menimbulkan kerewelan, lebih baik menghindari saja. Maka cepat ia kembali ketempat semula dan mengajak A Cu bersembunyi di balik sebuah batu karang raksasa. Bisiknya pada si gadis, &#8220;Rombongan prajurit Song !&#8221;</p>
<p>Tidak lama, prajurit Song itu telah muncul di atas bukit situ. Dari belakang batu Kiau Hong dapat melihat perwira yang memimpin pasukan itu, terkenanglah olehnya cerita Ti-kong Taysu tentang peristiwa penghadangan di bukit ini dahulu. Suasana bukit karang itu masih tenang seperti dulu, tapi jago silat dari kedua pihak sudah banyak yang jatuh menjadi korban dan tinggal tulang belulang belaka.</p>
<p>Tengah Kiau Hong termenung, tiba-tiba di dengarnya suara jerit tangis anak kecil. Ia terkejut seakan-akan di alam mimpi.</p>
<p>&#8220;Dari manakah suara tangisan anak kecil itu ?&#8221; pikirnya heran.</p>
<p>Tiba-tiba terdengar pula beberapa kali suara jeritan tajam kaum wanita. Waktu itu ia melongok ke depan, jelas terlihat olehnya di antara prajurit-prajurit Song itu terdapat tawanan wanita dan anak-anak. Wanita dan anak-anak itu mengenakan baju kaum gembala orang Cidan. Banyak di antara prajurit Song itu main raba dan main comot pada tawanan wanita mereka, tingkah laku mereka itu rendah dan memuakkan. Ada di antara wanita itu melawan perlakuan tidak senonoh itu, tapi segera mereka dipersen dengan gamparan dan hajaran kejam oleh prajurit dan perwira Song.</p>
<p>Kiau Hong terheran-heran dan tidak mengerti apa yang telah terjadi itu.</p>
<p>Pasukan Song itu sebentar saja sudah lalu dan menuju ke arah Gan-bun-koan.</p>
<p>&#8220;Kiau-toaya, apa yang akan dikerjakan mereka itu ?&#8221; tanya A Cu.</p>
<p>Kiau Hong menggeleng kepala tanpa menjawab, hanya dalam hati ia membatin, &#8220;Mengapa pasukan penjaga perbatasan sedemikian bejat kelakukannya ?&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu A Cu telah berkata pula, &#8220;Huh, prajurit seperti itu pada hakikatnya lebih mirip kawanan bandit !&#8221;</p>
<p>Tengah bicara, dari arah tadi kembali muncul lagi satu regu pasukan Song yang lain sambil menggiring beratus ekor ternak sebangsa domba dan sapi, di samping itu ada pula belasan wanita Cidan.</p>
<p>Terdengar seorang perwira di antaranya sedang berkata, &#8220;Operasi kita ini tidak banyak membawa hasil, entah Tai-swe (komandan) bakal marah atau tidak ?&#8221;</p>
<p>Maka perwira yang lain menjawab, &#8220;Tidak banyak ternak musuh yang dapat kita rampas, tapi beberapa orang di antara tawanan wanita ini parasnya cukup lumayan dan dapat menghibur Tai-swe, dengan demikian tentu beliau takkan marah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Cuma belasan orang perempuan hasil &#8216;panenan&#8217; kita kali ini hingga tidak cukup memenuhi &#8216;jatah&#8217; orang banyak, biarlah besok kita berusaha lagi mencari tambahan lain,&#8221; demikian perwira yang pertama tadi.</p>
<p>&#8220;Tidak gampang lagi, pak !&#8221; demikian timbrung seorang prajurit. &#8220;Setelah mengalami kejadian tadi, kawanan anjing Cidan itu tentu sudah lari sejauh-jauhnya. Untuk bisa &#8216;panen&#8217; lagi sedikitnya tunggu beberapa bulan pula.&#8221;</p>
<p>Mendengar sampai sini, dada Kiau Hong sudah hampir meledak. Sungguh kelakuan prajurit itu jauh lebih jahat daripada kawanan bandit yang paling kejam sekalipun.</p>
<p>Sekonyong-konyong terdengar suara orok di dalam pelukan seorang wanita menjerit-jerit. Maka wanita Cidan itu mengipatkan tangan seorang perwira yang sedang menggerayangi tubuhnya untuk menimang orok dalam pelukannya itu.</p>
<p>Perwira itu menjadi marah. Mendadak ia jambret orok dalam pangkuan ibundanya terus dibanting ke tanah. Menyusul ia larikan kudanya ke depan hingga bayi itu terinjak kuda, seketika perut pecah dan usus keluar. Saking ketakutan wanita Cidan itu sampai tak dapat menangis lagi. Sebaliknya prajurit Song yang lain sama tertawa malah dan sebentar saja lantas berlalu.</p>
<p>Selama hidup Kiau Hong sudah banyak menyaksikan keganasan orang, tapi perbuatan membunuh anak kecil secara keji tanpa kenal kasihan sedikitpun baru sekarang dilihatnya. Sungguh gusarnya tak terkatakan, tapi dasar dia memang cukup sabar, sedapatnya ia tenangkan diri untuk melihat bagaimana kelanjutannya.</p>
<p>Sebentar kemudian, kembali muncul lagi belasan prajurit yang lain. Prajurit-prajurit ini berkuda dan bertombak. Pada ujung tombak masing-masing tampak menyunduk sebuah kepala manusia dengan darah masih bertetes-tetes. Di belakang kuda mereka menyeret lima orang laki-laki Cidan yang terikat tali panjang.</p>
<p>Dari dandanan orang-orang Cidan itu Kiau Hong dapat menarik kesimpulan mereka adalah kaum gembala biasa. Dua di antaranya berusia sangat tua, tiga lagi adalah pemuda tanggung. Maka tahulah Kiau Hong duduknya perkara. Prajurit-prajurit Song ini telah mendatangi tempat orang-orang Cidan untuk merampok dan membunuh, penggembala Cidan yang muda dan kuat sudah sama melarikan diri, hanya tertinggal kaum wanita, anak-anak dan orang tua yang ditawan.</p>
<p>Ia dengar seorang perwira di antaranya sedang berkata dengan tertawa, &#8220;Kita dapat memenggal 14 buah kepala dan menawan hidup lima anjing Cidan, jasa ini dibilang besar memang kurang besar, dikatakan kecil juga tidak kecil, untuk naik pangkat setingkat dan mendapat hadiah seratus tahil perak rasanya tidak perlu disangsikanlagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;He, Lau Tio,&#8221; tiba-tiba seorang kawanan menimbrung, &#8220;Kira-kira lima puluh li di sebalah barat sana ada suatu tempat pemukiman orang Cidan, apa kau berani mengaduk ke sana ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa tidak berani ?&#8221; sahut Lau Tio yang ditegur itu, &#8220;Memangnya kau kira aku baru datang kemari, maka tidak berani? Hm, justru karena aku orang baru, maka perlu lebih banyak mengumpulkan jasa.&#8221;</p>
<p>Tengah bicara, sementara itu rombongan mereka sudah sampai di dekat batu karang tempat sembunyi Kiau Hong berdua itu. Ketika melihat di tengah jalan situ terdapat sosok mayat anak bayi, seketika salah seorang tua Cidan itu menjerit keras-keras.</p>
<p>Meski Kiau Hong tidak paham bahasa Cidan, tapi dapat juga menyelami betapa pedih dan gusar suara itu. Boleh jadi bayi yang diinjak kuda itu adalah anak keluarganya.</p>
<p>Mendadak prajurit yang menyeretnya dengan tali itu menarik sekuatnya agar orang itu berjalan cepat. Tapi orang tua Cidan itu menjadi murka, tiba-tiba ia menubruk ke arah prajurit itu.</p>
<p>Keruan prajurit itu terkejut, cepat ia ayun goloknya untuk membacok. Tapi orang Cidan itu lantas menarik sekuatnya hingga prajurit itu terseret jatuh ke bawah kuda. Menyusul orang Cidan terus mengigit leher prajurit itu dengan kalap.</p>
<p>Pada saat itulah seorang perwira pasukan Song ayun golok panjangnya dari atas hingga punggung orang tua Cidan itu terbacok. Dengan demikian dapatlah prajurit tadi meronta bangun, saking gemasnya prajurit itu terus membacok beberapa kali lagi atas tubuh orang Cidan itu.</p>
<p>Tiba-tiba orang tua itu putar tubuh ke arah utara, ia lepas baju atasnya dan membusungkan dada, mendadak ia menggerung keras, suaranya sedih memilukan bagaikan lolong srigala.</p>
<p>Seketika air muka prajurit Song itu berubah ketakutan. Diam-diam Kiau Hong juga terkesip. Tiba-tiba merasa olehnya seolah-olah ada ikatan batin dengan orang tua Cidan itu. Suara lolong srigala tatkala mendekati ajalnya itu pernah juga ingin disuarakan olehnya dahulu, yaitu pada waktu dirinya berulang-ulang terluka di Cip-hian-ceng dan merasa ajalnya sudah hampir tiba, Cuma teringat teriakan yang menyamai binatang itu sesungguhnya akan merosotkan pamornya sebagai ksatria yang terpuja selama ini, maka sedapat mungkin telah ditahannya. Tapi bila kemudian tak tertolong oleh laki-laki berbaju hitam, boleh jadi pada saat akan binasa toh lolong srigala itu akan disuarakan juga olehnya.</p>
<p>Begitulah demi mendengar suara melolong itu, otomatis timbul semacam rasa persaudaraan dalam benak Kiau Hong. Tanpa pikir lagi segera ia melompat keluar dari belakang batu, sekali pegang satu orang, prajurit Song itu satu per satu dilemparkannya ke bawah jurang.</p>
<p>Dalam hal menindas rakyat jelata prajurit-prajurit itu memang tangkas dan gagah berani, tapi menghadapi Kiau Hong mereka jadi mirip tikus ketemu kucing. Hanya sekejap saja mereka sudah disapu bersih ke dalam jurang.</p>
<p>Saking nafsunya sampai kuda tunggangan prajurit-prajurit itu pun didepak ke dalam jurang oleh Kiau Hong. Maka riuh ramailah suara jeritan manusia dan ringkik kuda yang bercampur aduk.</p>
<p>Tapi hanya sebentar saja suara itu lantas lenyap, suasana kembali hening lagi.</p>
<p>Melihat betapa tangkasnya Kiau Hong, seketika A Cu dan keempat orang Cidan yang lain sama termangu-mangu terkesima.</p>
<p>Habis membasmi habis kawanan prajurit penindas itu, Kiau Hong terus bersuit panjang hingga suaranya menggetar lembah pegunungan. Ia lihat orang tua Cidan yang terluka parah itu masih tetap berdiri tegak, diam-diam ia kagum pada keperwiraannya, segera ia mendekatinya. Ia lihat dada orang tua itu terbuka dan tepat menghadap keutara ternyata orangnya sudah tak bernapas lagi.</p>
<p>Tiba-tiba Kiau Hong berseru kaget demi melihat dada orang Cidan itu, ia menyurut mundur beberapa tindak dengan sempoyongan seakan akan roboh.</p>
<p>Keruan A Cu kuatir, cepat serunya, &#8220;Kiau-toaya, ada&#8230;ada apa ?&#8221;</p>
<p>Segera terdengar suara &#8220;bret-bret&#8221; beberap akali, mendadak Kiau Hong merobek baju sendiri hingga tertampak simbar didada yang hitam pekat.</p>
<p>Waktu A Cu mengawasi, ia lihat pada dada Kiau Hong bercacah sebuah gambar kepala serigala yang pentang mulut dan kelihatan siungnya bentuk kepala serigala itu sangat menakutkan. Ketika A Cu memandang si orang tua Cidan, di lihatnya pada dadanya juga bercacahkan gambar kepala serigala yang percis dengan gambar di dada Kiau Hong itu. Pasa saat lain, tiba-tiba terdengar keempat orang Cidan pun berseru serentak.</p>
<p>Segera mereka merubungi Kiau Hong sambil bicara dalam bahasa Cidan dan berulang-ulang menuding gambar kepala serigala di dada Kiau Hong.</p>
<p>Sudah tentu Kiau Hong tidak paham maksud mereka. Cacahan gambar kepala serigala di dadanya sejak kecil sudah ada. Pernah ia tanya kepada suami-istri Kiau Sam-hoai tentang gambar cacah itu, tapi kedua orang tua itu Cuma mengatakan untuk hiasan saja agar indah dipandang lebih dari itu tak mau menerangkan lagi.</p>
<p>Pada jaman Pak Song (dinasti Song utara) itu soal mencacah gambar di badan (tatto) adalah sangat umum, bahkan ada yang sekujur badan penuh dicacah beraneka ragam gambar yang aneh-aneh. Malahan banyak di antara anggota Kai-pang juga mempunyai gambar cacah di lengan, dada, punggung dan bagian tubuh lain, makanya selama itu Kiau Hong tidak pernah curiga apa-apa. Tapi kini demi melihat di dada orang tua Cidan itu pun tercacah gambar kepala serigala seperti di dadanya sendiri, sedangkan keempat orang Cidan yang lain terus mengoceh tiada hentinya padanya sambil menunjuk gambar cacah itu, bahkan mendadak laki-laki tua itu pun membuka bajunya hingga kelihatan didadanya jug aterdapat gambar cacah kepala serigala yang sama.</p>
<p>Sesaat itu teranglah duduknya perkara bagi Kiau Hong, kini ia yakin benar-benar dirinya memang betul adalah orang Cidan. Gambar kepala serigala di dada itu tentulah tanda kelompok suku mereka, mungkin sejak bayi sudah harus di cacah gambar seperti itu.</p>
<p>Padahal sejak kecil Kiau Hong sangat benci pada orang Cidan dan tahu suku bangsa itu suku mengganas secara kejam dan tidak pegang janji, masakah sekarang ia harus mengaku diri sendiri sebagai bangsa yang dipandangnya serendah binatang itu, sungguh kesalnya tidak kepalang, jiwanya benar-benar tertekan sekali. Ia termangu-mangu sejenak, sekonyong-konyong ia berteriak terus berlari ke arah lereng bukit bagai orang gila.</p>
<p>&#8220;Kiau-toaya, Kiau-toaya !&#8221; cepat A Cu berseru dan menyusulnya.</p>
<p>Sesudah belasan li A Cu mengejar barulah ia lihat Kiau Hong duduk di bawah sebuah pohon rindang sambil mendekap kepala sendiri, air mukanya tampak muram, otot hijau di kening sampai menonjol besar-besar, suatu tanda betapa pedih perasaan bekas Pangcu itu.</p>
<p>A Cu mendekatinya dan duduk sejajar dengan dia. Namun Kiau Hong lantas menyurutkan tubuh dan berkata, &#8220;Aku adalah bangsa asing yang kotor dan rendah sebagai babi dan anjing, sejak kini lebih baik jangan kau temui aku lagi.&#8221;</p>
<p>Seperti juga bangsa Han yang lain, sebenarnya A Cu sangat benci pada orang Cidan. Tapi dalam pandangannya Kiau Hong adalah tokoh yang dipujanya melebihi malaikat dewata, jangankan cuma manusia Cidan, sekalipun setan iblis atau binatang buas juga takkan ditinggalnya pergi. Pikir gadis itu, &#8220;Saat ini perasaannya lagi sedih, sedapatnya aku harus menghiburnya.&#8221;</p>
<p>Maka katanya dengan tertawa, &#8220;Di antara bangsa Han juga ada orang baik dan orang jahat begitu pula dalam bangsa Cidan tentu juga ada yang baik dan ada yang jahat. Kiau-toaya, harap janganlah kau pikirkan urusan ini. Jiwa A Cu ini engkaulah yang menyelamatkan, biarpun engkau orang Han ataupun orang Cidan, sama sekali tiada perbedaannya lagi bagi A Cu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak perlu belas kasihanmu,&#8221; sahut Kiau Hong dengan dingin. &#8220;Di dalam hati tentu kau pandang rendah padaku, maka kamu tidak perlu pura-pura bermulut manis. Aku menolong jiwamu juga bukan timbul dari maksudku yang sebenarnya, hanya terdorong oleh nafsu ingin menang saja. Maka tentang peristiwa itu biarlah ku hapus untuk selamanya dan bolehlah kau pergi saja.&#8221;</p>
<p>A Cu jadi kuatir, sesudah mengetahui dirinya adalah bangsa Cidan, boleh jadi Kiau Hong akan terus pulang ke utara dan untuk selamanya tak akan menginjak selangkah pun negeri Tiongkok demikian pikirnya.</p>
<p>Saking tak tahan oleh gelora kalbunya, terus saja ia berkata, &#8220;Kiau-toaya, bila engkau tega meninggalkan aku tanpa peduli lagi, segera aku akan terjun ke dalam jurang itu. Selamanya A Cu berani berkata berani berbuat, tentu engkau anggap dirimu adalah ksatria gagah perwira bangsa Cidan, maka memandang hina pada kaum budak yang rendah seperti diriku, biarlah lebih baik aku mati saja.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong jadi terharu oleh ucapan A Cu yang tulus itu. Tadinya ia mengira setiap orang pasti akan menjauhi bangsa kejam sebagai dirinya ini, tak sangka A Cu ternyata tidak pandang bulu, tetap menghargai dirinya tanpa ada kecualinya. Segera ia pegang tangan gadis itu dan berkata dengan suara lembut, &#8220;A Cu, kamu adalah pelayan Buyung-kongcu dan bukan budakku, masakah aku memandang hina padamu ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Huh, aku tidak perlu belas kasihanmu! Di dalam hati tentu kau pandang rendah padaku, tidak perlu pura-pura bermulut manis !&#8221; demikian A Cu menirukan lagu Kiau Hong tadi dengan sorot mata yang menggoda.</p>
<p>Tak tertahankan lagi Kiau Hong terbahak-bahak, pada saat susah bisa terhibur oleh seorang gadis jelita sebagai A Cu yang pandai bicara dan pintar berkelakar, sudah tentu rasa kesalnya lantas banyak berkurang.</p>
<p>&#8220;Kiau-toaya,&#8221; tiba-tiba A Cu berkata pula dengan kereng, &#8220;Aku memang pelayan Buyung-kongcu, tapi itu tidak berarti aku telah menjual diriku padanya. Soalnya karena keluarga kami suatu waktu mendapat kesulitan, ada seorang musuh yang lihai mendatangi ayah buat menuntut balas dendam. Ayahku merasa tak dapat melawan musuh itu, maka aku lantas dititipkan pada Buyung-loya, yaitu ayah Buyung-kongcu sekarang, katanya untuk dijadikan budaknya, tapi sebenarnya lebih tepat dikatakan untuk menyelamatkan diriku di rumah keluarga Buyung. Maka selanjutnya akan kulayanimu dan menjadi dayangmu, pasti Buyung-kongcu takkan marah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, tidak! Mana boleh jadi !&#8221; seru Kiau Hong sambil goyang kedua tangannya. &#8220;Aku adalah bangsa Cidan, masakah punya budak apa segala? Kamu sudah biasa tinggal di tengah keluarga mampu di daerah Kanglam, apa faedahnya ikut aku terlunta-lunta dan menderita? Lihatlah laki-laki kasar seperti aku ini apa ada harganya untuk mendapat pelayananmu ?&#8221;</p>
<p>A Cu tertawa manis, sahutnya, &#8220;Baik begitu saja, anggaplah aku sebagai budak tawananmu, bila engkau senang, engkau boleh tertawa padaku, jika tidak suka, boleh engkau hajar diriku. Nah, jadi bukan ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah, mungkin sekali hantam dapat kuhancurkan tubuhmu,&#8221; ujar Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Ya jangan keras-keras, dong! Pelahan saja,&#8221; sahut A Cu.</p>
<p>Kiau Hong terbahak, katanya, &#8220;Pelahan? Kan lebih baik tidak menghajar saja, pula aku pun tidak menginginkan budak apa segala.&#8221;</p>
<p>&#8220;Engkau adalah ksatria Cidan, kalau menawan beberapa wanita Han untuk dijadikan budak, apa salahnya ?&#8221; ujar A Cu. &#8220;Bukankah prajurit Song itu juga banyak menawan orang Cidan ?&#8221;</p>
<p>Kiau Hong terdiam tanpa menjawab.</p>
<p>Melihat bekas Pangcu itu berkerut kening, sorot matanya sayu, A Cu menjadi kuatir salah omong hingga membuatnya kurang senang.</p>
<p>Syukurlah tidak antara lama Kiau Hong membuka suara pula dengan pelahan, &#8220;Selama ini kusangka orang Cidan adalah bangsa yang paling kejam dan ganas, tapi dengan mata kepalaku tadi kulihat kawanan prajurit Song juga mengganas pada orang Cidan, bahkan kaum wanita dan anak-anak juga tidak terhindar dari siksaan mereka. A Cu, aku adalah orang&#8230;&#8230;orang Cidan, sejak kini aku tidak merasa malu lagi sebagai bangsa Cidan dan takkan bangga sebagai bangsa Han. Ayah bundaku dibunuh tanpa berdosa, maka aku harus menuntut balas sakit hati itu.&#8221;</p>
<p>A Cu menganggu. Tapi diam-diam ia merasa takut, terbayang-bayang olehnya &#8220;menuntut balas&#8221; yang ditegaskan oleh Kiau Hong itu pasti akan mengakibatkan banjir darah di kalangan Bu-lim.</p>
<p>&#8220;Dahulu ibuku dibunuh mereka,&#8221; demikian Kiau Hong berkata pula sambil menunjuk jurang, &#8220;Saking berduka ayahku lantas terjun juga ke dalam jurang itu. Tapi mendadak beliau tidak tega aku ikut mati bersama mereka, maka aku dilemparkan ke atas selagi ayah masih terapung di udara, dengan demikian barulah aku dapat hidup sampai hari ini. A Cu, hal ini menandakan betapa cintanya ayahku kepadaku, bukan ?&#8221;</p>
<p>Dengan air mata meleleh A Cu mengiakan.</p>
<p>&#8220;Dan sakit hati sedalam lautan itu masakan tidak kutuntut balas ?&#8221; kata Kiau Hong. &#8220;Dahulu aku tidak tahu hingga mengaku musuh sebagai kawan, jika sekarang aku tidak menuntut balas, apakah aku ada harganya untuk hidup lebih lama di dunia ini? Itu &#8216;Toako pemimpin&#8217; yang mereka sebut itu entah siapa sebenarnya? Pada surat yang ditulisnya kepada Ong-pangcu terdapat namanya, tapi Ti-kong Taysu sengaja menyobek bagian yang tertulis nama itu dan ditelan ke dalam perut. Terang &#8216;Toako pemimpin&#8217; masih hidup dengan baik, kalau tidak, mestinya mereka tidak perlu merahasiakan dia.&#8221;</p>
<p>Begitulah ia bertanya dan menjawab sendiri untuk meraba seluk-beluk perkara itu. Kemudian katanya lagi, &#8220;Toako pemimpin itu dapat memimpin para ksatria Tionggoan, dengan sendirinya dia seorang tokoh yang berilmu silat sangat tinggi dan sangat dihormati. Dalam suratnya ia sebut Ong-pangcu sebagai &#8216;Laute&#8217; (saudara), maka dapat diduga usianya sudah lanjut kini, sedikitnya sudah lebih 60 tahun, boleh jadi di antara 70 tahun malah. Untuk mencari seorang tokoh seperti itu sebenarnya tidak susah. Ehm, orang yang pernah membaca surat itu di antara lain adalah Ti-kong Taysu, Ci-tianglo dari Kay-pang, Be-hujin, Tiat-bin-poan-koan Tan Cing. Dan masih ada pula Tio-cit-sun, sudah tentu ia pun tahu siapa gerangan Toako pemimpin itu. Hm, aku&#8230;&#8230;aku harus membunuhnya, menghabisi pula antero keluarganya, dari tua sampai muda, satu pun tidak boleh diberi ampun !&#8221;</p>
<p>A Cu bergidik mendengar nada yang seram itu. Tapi ia tidak berani menimbrung demi melihat sikap gagah berwibawa Kiau Hong pada saat itu.</p>
<p>Kiau Hong melanjutkan lagi, &#8220;Ti-kong Taysu suka berkelana, Tio-ci-sun juga tiada tempat tinggal yang tetap, untuk mencari kedua orang tua itu tidaklah mudah, maka marilah A Cu, lebih baik kita pergi mencari Ci-tinglo saja.&#8221;</p>
<p>Sungguh girang A Cu tidak kepalang demi mendengar ucapan &#8220;kita&#8221; itu, sebab itu berarti dirinya juga diajak serta. Diam-diam ia berkata di dalam hati, &#8220;Biarpun ke ujung langit juga aku akan ikut serta padamu.&#8221;</p>
<p>Segera mereka putar balik ke selatan, setelah melintasi Gan-bun-koan, melalui lereng bukit, tibalah mereka di suatu kota kecil, mereka mendapatkan sebuah hotel. Tanpa disuruh segera A Cu pesan pelayan membawakan 20 kati arak.</p>
<p>Pelayan hotel memang sedang curiga karena melihat kedua orang tidak mirip sebagai suami istri, dibilang saudara juga tidak sama, kini demi mendengar permintaan 20 kati arak lagi, keruan tambah heran hingga terkesima memandangi A Cu berdua.</p>
<p>Pelayan itu sangat terkejut ketika mendadak Kiau Hong melotot padanya, cepat ia lari pergi sambil menggerutu, &#8220;Masakah minta arak 20 kati? Apa barangkali akan digunakan untuk mandi?&#8221;</p>
<p>Kemudian A Cu berkata pada Kiau Hong dengan tertawa, &#8220;Kiau-toaya, keberangkatan kita untuk mencari Ci-tianglo ini, kukira dua hari lagi jejak kita tentu akan diketahui orang. Dan kalau sepanjang jalan kita mesti bertempur, meski menarik juga permainan ini, mungkin lebih dulu Ci-tianglo akan melarikan diri dan sembunyi, dan untuk mencarinya tentu susah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Habis, menurut pendapatmu bagaimana kita harus bertindak ?&#8221; tanya Kiau Hong. &#8220;Apa kita mengaso pada siang hari dan berjalan waktu malam hari ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk mengelabui mereka sebenarnya tidak sulit,&#8221; ujar A Cu dengan tersenyum. &#8220;Cuma entah Kiau-toaya yang namanya disegani di seluruh jagat ini sudi menyamar atau tidak ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku bukan bangsa Han lagi, memangnya pakaian orang Han ini aku tidak ingin pakai lagi,&#8221; sahut Kiau Hong dengan tertawa. &#8220;Lalu, aku harus menyamar sebagai siapa, A Cu ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Perawakanmu tinggi besar, mudah menarik perhatian orang, sebaiknya menyaru seorang yang berwajah biasa tanpa sesuatu tanda orang Kangouw yang menarik. Dengan demikian perjalanan kita tentu akan aman.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus, bagus! Habis minum arak segera kita mulai menyamar ?&#8221; seru Kiau Hong dengan senang.</p>
<p>Setelah menghabiskan 20 kati arak, segera A Cu membelikan tepung kanji, pensil, tinta dan lain-lain yang diperlukan. Setalah &#8220;bersolek&#8221;, lenyaplah banyak ciri-ciri khas di muka Kiau Hong. Waktu A Cu menambahi pula bibir Kiau Hong dengan selapis kumis yang tipis, ketika bercermin, sampai Kiau Hong pun pangling pada diri sendiri.</p>
<p>Menyusul A Cu juga menyamar sebagai laki-laki setengah umur dan berkata, &#8220;Lahirmu sekarang sudah berubah sama sekali, tapi suaramu dan kegemaranmu akan minum arak mudah dikenali orang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ehm, aku akan sedikit bicara dan sedikit minum,&#8221; sahut Kiau Hong.</p>
<p>Benar juga perjalanan selanjutnya jarang Kiau Hong buka mulut, setiap kali dahar cuma minum dua-tiga kati arak saja sekedar menghilangkan rasa dahaga.</p>
<p>Suatu hari, sampailah mereka di Sam-ka-tin, propinsi Soasai selatan, tengah Kiau Hong dan A Cu asik makan bakmi di suatu kedai, tiba-tiba mereka dengar percakapan dua orang pengemis di luar kedai. Kata  yang seorang, &#8220;Kematian Ci-tianglo benar-benar sangat mengenaskan, besar kemungkinan bangsat Kiau Hong itu yang membunuhnya.&#8221;</p>
<p>Keruan Kiau Hong terperanjat. &#8220;Jadi Ci-tianglo telah mati ?&#8221; demikian batinnya. Ia saling pandang sekejap dengan A Cu.</p>
<p>Dalam pada itu pengemis yang lain telah mendesis pada kawannya sambil memperingatkan dengan kata-kata rahasia Kay-pang agar jangan sembarangan bicara, sebab mungkin di situ terdapat begundal bangsat she Kiau, kita harus lekas menyusul ke Wi-hui di Holam, di sana para Tianglo kita akan mengadakan sembahyang bagi arwah Ci-tianglo dan akan berunding cara bagaimana untuk menangkap Kiau Hong.</p>
<p>Mendengar itu, dengan cepat Kiau Hong dan A Cu habiskan bakmi mereka dan meninggalkan Sam-ka-tin itu. Kata Kiau Hong, &#8220;Marilah kita pergi ke Wi-hui, bisa jadi di sana kita dapat memperoleh sesuatu kabar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, sudah tentu kita harus ke sana,&#8221; sahut A Cu. &#8220;Tapi engkau harus hati-hati Kiau -toaya, ingat bahwa orang-orang yang akan hadir di sana hampir semuanya adalah bekas anak buahmu yang sangat kenal gerak-gerikmu, maka jangan sampai engkau dapat dikenali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tahu,&#8221; sahut Kiau Hong mengangguk. Segera mereka putar ke arah timur, menuju kota Wi-hui.</p>
<p>Esok paginya sampailah mereka di kota itu. Ternyata di dalam kota sudah penuh kawanan pengemis anggota Kay-pang. Ada yang nongkrong di kedai arak, yang potong anjing dan sembelih babi di gang yang sepi, ada pula yang minta-minta sepanjang jalan, kalau tak diberi lantas main paksa dan mencaci-maki.</p>
<p>Pedih hati Kiau Hong menyaksikan kelakuan anak buah Kai-pang yang dihormat sebagai Pang terbesar di Kangouw itu, sejak ditinggalkan olehnya ternyata sudah berubah sedemikian buruk disiplinnya. Walaupun sekarang Kai-pang telah menjadi lawan dan bukan kawan baginya, tapi mengingat jerih payah sendiri dahulu waktu membina kesatuan Kay-pang yang jaya itu, mau-tak mau Kiau Hong merasa menyesal juga.</p>
<p>Tempat layon Ci-tianglo itu terletak di sebuah taman bobrok di barat kota. Sesudah membeli lilin, dupa dan lain-lain keperluan, segera Kiau Hong dan A Cu menuju ke sana. Mereka mengikuti banyak orang untuk sembahyang di depan layon Ci-tianglo.</p>
<p>Di atas meja sembahyang itu penuh berlumuran darah, itu adalah peraturan Kay-pang yang menandaskan bahwa orang yang meninggal itu mati dibunuh musuh, maka saudara Pang harus menuntut balas baginya.</p>
<p>Di tengah ruangan sembahyang itu orang ramai membicarakan dan mencaci maki Kiau Hong, tapi tiada yang tahu bahwa yang dicaci-maki itu justru berada di situ.</p>
<p>Melihat orang yang jaga layon itu adalah tokoh-tokoh terkemuka Kay-pang, Kiau Hong kuatir akan dikenali, maka selekasnya ia mohon diri bersama A Cu. Sambil berjalan keluar, diam-diam ia membatin, &#8220;Dengan matinya Ci-tianglo, orang yang kenal siapa gerangan Toako pemimpin di dunia ini menjadi berkurang pula satu orang.&#8221;</p>
<p>Pada saat itulah tiba-tiba di ujung jalan sana berkelebat bayangan orang, dari perawakannya tertampak jelas adalah seorang wanita yang tinggi besar. Dengan kejelian mata Kiau Hong, segera orang itu dapat dikenalnya sebagai Tam-poh, si nenek Tam. Pikirnya, &#8220;Hah, sangat kebetulan. Tentu ia pun datang untuk melayat kematian Ci-tianglo, aku justru lagi ingin cari dia.&#8221;</p>
<p>Pada saat lain kembali ada lagi seorang melayang ke sana dengan ginkang yang tinggi, tertanya orang kedua ini adalah Tio-ci-sun.</p>
<p>Kiau Hong menjadi heran, &#8220;Ada urusan apa kedua orang ini main sembunyi-sembunyi seperti maling kuatir kepergok ?&#8221;</p>
<p>Ia pun tahu kedua orang itu adalah saudara seperguruan dan pernah saling cinta, bahkan cinta asmara itu sampai tua juga belum lenyap, jangan-jangan sekarang mereka hendak mengadakan pertemuan gelap dan main patpat-gulipat.</p>
<p>Sebenarnya Kiau Hong tidak suka mencari tahu urusan pribadi orang lain, tapi mengingat Tio-ci-sun dan Tam-poh itu adalah orang yang mengetahui siapakah Toako pemimpin yang dimaksud itu, jika ada sesuatu ciri rahasia mereka terpegang olehnya, bisa jadi hal itu akan dapat dipakai sebagai alat penekan agar mereka mau menceritakan apa yang mereka ketahui tentang Toako pimimpin. Maka ia lantas membisiki A Cu agar pulang dulu dan menunggu  di hotel.</p>
<p>A Cu mengangguk. Segera Kiau Hong mengejar ke jurusan larinya Tio-ci-sun. Ia lihat kakek aneh itu sebentar-sebentar sembunyi di pojok jalan sana dan lain saat mengumpet di balik pohon, kelakuannya penuh rahasia dan kuatir dipergoki orang, jurusan yang dituju adalah timur kota.</p>
<p>Kiau Hong terus menguntit dari jauh dan selama itu tak diketahui oleh Tio-ci-sun. Dari jauh tertampak kakek itu lari sampai di tepi sungai, lalu menyusup ke dalam sebuah perahu beratap.</p>
<p>Cepat Kiau Hong memburu ke sana, dengan beberapa kali lompatan saja ia dapat menyusul sampai di samping perahu, dengan pelahan ia melompat ke atas atap perahu dan menempelkan telinganya untuk mendengarkan.</p>
<p>Didengarnya suara Tam-poh sedang berkata, &#8220;Suko, usia kita sudah selanjut ini, hubungan masa muda dahulu sudah terlambat untuk desesalkan, buat apa mesti diungkat-ungkit lagi ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hidupku ini sudah kukorbankan bagimu, maksudku mengajakmu ke sini tiada keinginan lain, Siau Koan, hanya kumohon sudilah kau nyanyikan lagi beberapa lagu waktu dahulu itu,&#8221; demikian pinta Tio-ci-sun.</p>
<p>&#8220;Ai, engkau ini sungguh ketolol-tololan,&#8221; ujar Tam-poh, &#8220;Ketika kita sama-sama datang di Wu-hai ini, suamiku telah melihat mau juga, hatinya sudah merasa kurang senang. Wataknya juga suka curiga, maka hendaknya jangan kau ganggu diriku lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Takut apa ?&#8221; sahut Tio-ci-sun. &#8220;Perbuatan kita cukup terang dan dapat dipertanggung jawabkan, kita Cuma omong-omong kejadian dahulu apa salahnya ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi, ai, nyanyian masa dahulu itu&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>Melihat Tam-poh sudah goyah pikirannya, segera Tio-ci-sun memohon dengan sangat lagi, katanya, &#8220;Siau Koan, pertemuan kita hari ini entah sampai kapan baru dapat terjadi pula. Mungkin juga usiaku sudah tidak panjang lagi, tiada banyak kesempatan untuk mendengarkan nyanyianmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Suko, janganlah berkata demikian. Jika engkau berkeras ingin mendengar, bolehlah aku menyanyi satu lagu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus, bagus !&#8221; sorak Tio-ci-sun dengan gembira.</p>
<p>Lali terdengar Tam-poh mulai tarik suara, &#8220;Terkenang dahulu kakanda lalu di atas jembatan, dinda asik mencuci pakaian di tepi sungai&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>Baru sekian dinyanyikan, mendadak terdengar suara gedubrakan, pintu rumah perahu itu didobrak orang hingga terpentang, menyusul seorang laki-laki menerjang ke dalam. Itulah dia Kiau Hong. Cuma ia sudah menyamar, maka Tio-ci-sun dan Tam-poh tidak mengenalnya lagi.</p>
<p>Dan karena pendatang itu bukan Tam-kong, legalah hati kedua kakek dan nenek itu, segera mereka membentak, &#8220;Siapa Kau ?&#8221;</p>
<p>Dengan sorot mata dingin menghina Kiau Hong memandang mereka, sahutnya, &#8220;Yang satu adalah lelaki bangor dan suka memikat wanita bersuami, yang lain adalah perempuan jalang tak kenal malu yang berani mendurhakai suami sendiri dan bergendak dengan laki-laki lain&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum habis ucapannya, serentak Tam-poh dan Tio-ci-sun menyerang dari kanan dan kiri. Namun sedikit Kiau Hong mengengos, tangan membalik terus mencengkram pergelangan tangan Tam-poh, berbareng sikunya juga menyikut, ia mendahului menyerang iga kiri Tio-ci-sun.</p>
<p>Sebagai jago kelas satu dalam Bu-lim, Tio-ci-sun dan Tam-poh mengira dalam sejurus saja pasti dapat membekuk lawannya. Siapa duga laki-laki yang tidak ada sesuatu tanda luar biasa itu ternyata memiliki kepandaian yang sukar diukur, hanya sejurus saja pihak terserang telah berubah menjadi pihak penyerang.</p>
<p>Ruangan perahu sebenarnya sangat sempit, tapi bagi Kiau Hong keadaan itu tidak menjadi halangan, ia menghantam dan menyerang dengan gesit dalam ruangan sempit itu sama lincahnya seperti di tempat luas.</p>
<p>Sampai jurus ketujuh, tahu-tahu pinggang Tio-ci-sun tertutuk. Keruan Tam-poh terkejut, dan sedikit ayal punggung lantas kena digaplok juga oleh Kiau Hong hingga keduanya roboh terkulai.</p>
<p>&#8220;Nah, kalian boleh mengaso sebentar di sini, di dalam kota sedang berkumpul para ksatria biarlah kupergi mengundang mereka untuk menimbang atas perbuatan kalian ini,&#8221; demikian kata Kiau Hong.</p>
<p>Tentu saja Tio-ci-sun dan Tam-poh sangat kuatir, mereka coba mengerahkan Lwekang untuk melepaskan tutukan musuh, tapi ternyata tak bisa berkutik sama sekali, bahkan satu jari pun sukar bergerak.</p>
<p>Sebenarnya usia mereka sudah lanjut, pertemuan gelap yang mereka adakan ini bukan karena dirangsang oleh nafsu berahi, tapi cuma sekedar omong-omong untuk mengenang cinta kasih masa lalu saja, sama sekali tidak melampau batas-batas kesopanan.</p>
<p>Tapi tatkala itu adalah dinasti Song yang sangat mengutamakan tata tertib kesopanan, pelanggaran mengenai urusan perempuan adalah sesuatu yang tak bisa diampuni pada masa itu. Kalau sekarang mereka mengaku mengadakan pertemuan gelap dalam perahu hanya sekedar omong-omong dan nyanyi-nyanyi mengenang masa lalu, sudah tentu tiada seorang pun yang mau percaya. Terutama Tam-kong sudah tentu akan kehilangan muka.</p>
<p>Maka cepat Tam-poh berseru, &#8220;Kami tidak berbuat sesuatu kesalahan apa padamu, jika tuan dapat berlaku murah hati pada kami, tentu aku akan&#8230;&#8230;akan membalas kebaikanmu ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Membalas kebaikan sih tidak perlu,&#8221; sahut Kiau Hong. &#8220;Aku hanya ingin tanya satu soal padamu, cukup asal kau jawab tiga huruf saja dengan sebenarnya, segera akan kubebaskan kalian, kejadian sekarang pun takkan kukatakan pada siapa pun juga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Asal aku tahu, tentu akan kukatakan,&#8221; sahut Tam-poh.</p>
<p>&#8220;Begini, pernah ada orang mengirim surat kepada Ong-pangcu dari Kay-pang untuk membicarakan persoalan Kiau Hong, pengirim surat itu disebut sebagai &#8216;Toako pemimpin&#8217;. Nah, siapakah dia itu ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Siau Koan, jangan kau katakan, jangan katakan !&#8221; cepat Tio-ci-sun berteriak.</p>
<p>Dengan mata mendelik Kiau Hong pandang kakek itu, katanya, &#8220;Jadi kamu lebih suka badan hancur dan nama buruk daripada menerangkan ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Locu tidak gentar mati. Toako pemimpin yang berbudi padaku itu tidak nanti kujual padamu,&#8221; sahut Tio-ci-sun dengan angkuh.</p>
<p>&#8220;Tapi Siau Koan juga akan ikut menjadi korban, apa kamu tidak pikirkan dia lagi ?&#8221; tanya Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Jika kejadian ini diketahui Tam-kong, segera akan kubunuh diri di hadapannya untuk menebus dosaku,&#8221; sahut Tio-ci-sun.</p>
<p>Terpaksa Kiau Hong mengalihkan pembicaraannya kepada Tam-poh, &#8220;Tapi Toako pemimpin itu belum tentu ada budi padamu, bolehlah kamu yang menerangkan, dengan demikian kita akan sama-sama baik, kehormatan Tam-kong juga dapat dijaga, jiwa Sukomu pun dapat diselamatkan.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Tam-poh merasa seram oleh ancaman itu, segera katanya, &#8220;Baik akan kukatakan padamu. Orang itu bernama&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Siau Koan, jangan kau katakan padanya,&#8221; seru Tio-ci-sun dengan suara melengking kuatir. &#8220;O, Siau Koan, kumohon dengan sangat, janganlah kau katakan padanya. Orang ini besar kemungkinan adalah begundal Kiau Hong, sekali kamu mengaku, pasti jiwa Twako pemimpin akan terancam.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku sendiri inilah Kiau Hong, jika kalian tidak mau mengaku, celakalah kalian !&#8221; kata Kiau Hong.</p>
<p>Keruan Tio-ci-sun terperanjat, sahutnya, &#8220;Pantas, maka ilmu silatmu sedemikian tinggi. Siau Koan, selama hidup ini tidak pernah kumohon sesuatu apa padamu, maka sekarang ini adalah satu-satunya permintaanku, janganlah kau katakan nama Toako pemimpin padanya. Betapa pun permintaanku ini harus kau terima.&#8221;</p>
<p>Teringat selama berpuluh tahun ini betapa bekas kekasihnya itu mencintai dan merindukan dirinya, selamanya memang tidak pernah memohon sesuatu apapun padanya kini demi untuk membela keselamatan Toako pemimpin yang berbudi itu ia rela berkorban jiwa pula, maka bagaimanapun juga dirinya tidak boleh mengecewakan perbuatannya yang gagah perkasa ini.</p>
<p>Maka Tam-poh lantas menjawab, &#8220;Kiau Hong apakah kamu akan berbuat jahat atau berlaku bajik, semuanya terserah padamu. Kami berdua asal tidak merasa berdosa, apa yang mesti kami takutkan? Maka apa yang ingin kau ketahui, maafkan, tidak bisa kuberitahu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terima kasih, Siau Koan, terima kasih !&#8221; seru Tio-ci-sun dengan girang.</p>
<p>Melihat jawaban si nenek yang tegas itu, Kiau Hong tahu percuma juga memaksanya. Ia mendengus sekali, tiba-tiba ia cabut sebuah tusuk kundai dari rambut Tam-poh, lalu melompat ke gili-gili dan pulang ke kota Wi-hui untuk mencari tempat tinggal Tam-kong, si kakek Tam.</p>
<p>Karena dalam penyamaran, dengan sendirinya tiada seorang pun yang kenal Kiau Hong. Sedangkan &#8220;Ji-kui-khek-tiam&#8221;, yaitu nama hotel tempat Tam-kong dan Tam-poh menginap juga bukan tempat yang dirahasiakan, maka dengan mudah saja Kiau Hong dapat mengetahui letak hotel itu.</p>
<p>Sampai di hotel itu, ia lihat Tam-kong sedang mondar-mandir di dalam kamar dengan menggendong tangan, sikapnya sangat gelisah dan air mukanya bersengut.</p>
<p>Tanpa bicara apa-apa Kiau Hong mendekati kakek itu dan sodorkan tangannya, maka tertampaklah tusuk kundai milik Tam-poh itu.</p>
<p>Tam-kong memang lagi murung dan merasa tidak tentram sejak melihat Tio-ci-sun juga datang di kota Wi-hui, sementara itu istrinya menghilang setengah harian, ia sedang kuatir dan curiga. Kini mendadak nampak tusuk kundai milik sang istri itu, ia terkejut dan girang, cepat ia tanya, &#8220;Siapa saudara? Apakah kamu disuruh istriku ke sini. Ada urusan apakah ?&#8221;</p>
<p>Sembari bicara ia terus ambil tusuk kundai di tangan Kiau Hong itu.</p>
<p>Kiau Hong membiarkan tusuk kundai diambil si kakek, lalu katanya, &#8220;Istrimu telah ditawan orang, jiwanya terancam.&#8221;</p>
<p>Keruan Tam-kong terperanjat, cepat tanyanya, &#8220;Ilmu silat istriku sangat hebat, masakah begitu gampang ditawan orang ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kiau Hong yang menawannya !&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah, Kiau Hong ?&#8221; seru Tam-kong. Kalau orang lain boleh jadi ia tidak percaya, tapi bekas Pangcu itu cukup dikenalnya, maka tidak heran istrinya dapat ditawan dengan mudah. &#8220;Jika demikian, sulitlah urusan ini. Dan di&#8230;&#8230;di manakah istriku sekarang ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah kau inginkan hidupnya istrimu, itulah sangat mudah. Dan jika inginkan dia mati, itu pun sangat gampang !&#8221; kata Kiau Hong.</p>
<p>Sifat Tam-kong sangat pendiam dan sabar, meski dalam hati sebenarnya sangat gugup, tapi lahirnya tetap tenang-tenang saja. Ia tanya malah, &#8220;Apa maksudmu, coba katakan !&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada suatu pertanyaan ingin kutanya Tam-kong, asal kau jawab terus terang, maka istrimu segera akan pulang dengan selamat tanpa terganggu seujung rambut pun,&#8221; kata Kiau Hong. &#8220;Tapi bila Tam-kong tidak mau menerangkan, terpaksa istrimu akan dibunuh, mayatnya akan dikubur satu liang dengan mayat Tio-ci-sun.&#8221;</p>
<p>Sampai disini Tam-kong tidak dapat tahan perasaannya lagi, bentaknya murka dan menghantam muka Kiau Hong. Tapi sedikit Kiau Hong mengengos ke samping, serangan Tam-kong itu lantas luput.</p>
<p>Diam-diam kakek itu terkejut, padahal pukulan geledek itu adalah ilmu andalannya, tapi dengan gampang lawan dapat menghindar. Ia tidak berani ayal lagi, telapak tangan kanan mengisar ke samping, telapak tangan kiri lantas menghantam pula.</p>
<p>Melihat ruangan kamar hotel itu kurang luas untuk menghindar lagi agak susah, terpaksa Kiau Hong menangkis. &#8220;Plok&#8221;, hantaman Tam-kong itu, tepat mengenai tangan Kiau Hong, tapi sama sekali Kiau Hong tidak bergeming, sebaliknya tangan terus terjulur ke depan dan meraih ke bawah hingga pundak Tam-kong terpegang.</p>
<p>Seketika Tam-kong merasa pundaknya seperti dibebani beribu kati beratnya, begitu antap sehingga tulang punggung seakan-akan patah, hampir ia bertekuk lutut saking tak tahan. Tapi sekuatnya ia menegak, betapa pun ia tidak sudi menyerah, tapi akhirnya lemas juga kakinya, &#8220;bluk&#8221;, terpaksa ia tekuk lutut ke bawah.</p>
<p>Hal ini bukan dia menyerah dan minta ampun, tapi disebabkan tenaga tidak kuat menahan, maklum, kekuatan tulang manusia ada batasnya, pada saat ruas tulang sudah tertekan sedemikian rupa, tanpa kuasa lagi ia berlutut ke bawah, jalan lain tidak ada.</p>
<p>Kiau Hong memang sengaja hendak mematahkan keangkuhan kakek itu, maka ia tetap tindih pundaknya hingga akhirnya punggung ikut membungkuk seakan-akan orang hendak menjura. Tapi Tam-kong benar-benar sangat kepala batu, mati-matian ia masih terus bertahan, ia kerahkan segenap tenaganya untuk melawan dan bertahan sekuatnya.</p>
<p>Sekonyong-konyong Kiau Hong melepaskan tangannya. Saat itu Tam-kong yang ditekan ke bawah itu lagi bertahan sekuatnya ke atas dan karena mendadak Kiau Hong lepas tangan, tanpa kuasa lagi Tam-kong menjembul ke atas setinggi beberapa meter, &#8220;blang&#8221;, kepalanya menubruk belandar rumah, hampir belandar itu patah tertumbuk olehnya.</p>
<p>Ketika jatuh kembali dari atas, sebelum kedua kakinya menyentuh tanah, lebih dulu Kiau Hong sudah ulur tangan kanan untuk mencengkram dadanya. Perawakan Tam-kong yang pendek kecil, sebaliknya tangan Kiau Hong panjang dan kuat, betapapun Tam-kong hendak menghantam dan menendang, selalu tak bisa mengenai sasarannya apalagi kedua kaki terapung di udara, percuma saja ia berilmu silat tinggi, sedikit pun tidak bisa digunakan.</p>
<p>Dalam gugupnya, seketika Tam-kong jadi sadar, bentaknya, &#8220;Kamu inilah Kiau Hong !&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang !&#8221; sahut Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Keparat, meng&#8230;&#8230;mengapa kau sangkut pautkan istriku dengan Tio-ci-sun ?&#8221; bentak Tam-kong pula dengan gusar karena tadi Kiau Hong menyatakan akan membunuh Tam-poh dan akan menguburnya bersama Tio-ci-sun.</p>
<p>&#8220;Habis, istrimu sendiri yang suka menyangkut-pautkan dia, peduli apa dengan aku ?&#8221; sahut Kiau Hong. &#8220;Apakah kau ingin tahu saat ini Tam-poh berada di mana? Ingin tahu dia sedang menyanyi dan bercumbu dengan siapa ?&#8221;</p>
<p>Mendengar ini, sudah tentu Tam-kong dapat menduga sang istri bersama Tio-ci-sun, dengan sendirinya ia sangat ingin tahu keadaan itu, maka cepat sahutnya, &#8220;Di mana dia? Harap bawa aku ke sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kebaikan apa yang kau berikan padaku? Mengapa harus kubawa ke sana ?&#8221; jengek Kiau Hong.</p>
<p>Tam-kong ingat apa yang dikatakan Kiau Hong tadi, segera tanyanya, &#8220;Kau bilang ingin tanya sesuatu padaku, soal apakah itu ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tempo hari waktu berkumpul di tengah hutan di luar kota Bu-sik, Ci-tianglo membawa sepucuk surat yang dikirim orang kepada mendiang Ong-pangcu dari Kay-pang, siapakah penulis surat itu ?&#8221;</p>
<p>Seketika Tam-kong tergetar, tapi saat itu ia diangkat oleh Kiau Hong dan terkatung di udara, asal Kiau Hong mengerahkan tenaga dalamnya, kontan jiwanya bisa melayang. Tapi sedikitpun kakek itu tidak gentar, sahutnya tegas, &#8220;Orang itu adalah pembunuh ayah bundamu, sama sekali tidak boleh kukatakan namanya, kalau kukatakan, tentu kamu akan menuntut balas padanya dan itu berarti aku yang bikin susah dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika kamu tidak mengaku, jiwamu sendiri segera akan melayang lebih dulu,&#8221; ancam Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Hahahaha !&#8221; tiba-tiba Tam-kong bergelak tertawa. &#8220;Memangnya kau anggap aku ini manusia pengecut hingga perlu menjual kawan untuk mencari hidup sendiri ?&#8221;</p>
<p>Melihat ketegasan kakek itu, mau-tak-mau Kiau Hong kagum juga akan jiwa ksatrianya. Coba kalau urusan lain, tentu ia tidak sudi mendesak lebih jauh, namun kini urusannya menyangkut sakit hati ayah bundanya, terpaksa ia tanya pula, &#8220;Kau sendiri tidak gentar mati, tapi apa jiwa istrimu tidak kau sayangkan lagi? Nama baik Tam-kong dan Tam-poh segera akan tersapu runtuh selamanya dan ditertawai ksatria sejagat apakah hal ini tak kau pikirkan ?&#8221;</p>
<p>Pada umumnya orang Bu-lim paling sayang pada nama baik atau kehormatan. Tapi sikap Tam-kong sekarang sangat tegas, sahutnya, &#8220;Asal tindak-tandukku dapat kupertanggung jawabkan, mengapa kukuatir dipandang rendah dan ditertawai orang ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi bagaimana dengan istrimu? Bagaimana dengan Tio-ci-sun ?&#8221; tanya Kiau Hong.</p>
<p>Seketika air muka Tam-kong berubah merah padam, dengan mata mendelik ia pandang Kiau Hong.</p>
<p>Tanpa bicara lagi Kiau Hong taruh kakek itu ke tanah, lalu melangkah ke luar. Dengan bungkam Tam-kong lantas ikut di belakangnya.</p>
<p>Begitulah mereka lantas keluar kota Wi-hui. Banyak juga kawan Kangouw yang diketemukan di tengah jalan, mereka sama memberi hormat kepada Tam-kong yang dijawabnya dengan tawar saja.</p>
<p>Tidak lama, sampailah mereka di tepi sungai tempat berlabuh perahu itu. Sekali lompat, Kiau Hong melayang ke haluan perahu, ia tuding ke dalam perahu dan berkata, &#8220;Nah, boleh kau periksa sendiri !&#8221;</p>
<p>Segera Tam-kong ikut melompat ke atas perahu dan melongok ke dalam, ia lihat sang istri meringkuk di pojok ruangan saling bersandaran dengan Tio-ci-sun. Sungguh gusar Tam-kong tak tertahan lagi, kontan ia menghantam kepala Tio-ci-sun.</p>
<p>&#8220;Prak&#8221;, badan Tio-ci-sun bergerak sekali, tidak menangkis juga tidak berkelit. Begitu tangan Tam-kong menyentuh kepala Tio-ci-sun segera ia merasakan keadaan agak aneh, cepat ia meraba pipi sang istri, ternyata sudah dingin, sudah lama sang istri meninggal.</p>
<p>Badan Tam-kong mengigil, ia masih belum percaya, ia coba periksa pernapasan hidung sang istri dan memang benar sudah tidak bernapas lagi. Begitu pula keadaan Tio-ci-sun ketika diperiksa.</p>
<p>Tam-kong tertegun sejenak dengan rasa duka dan gusar tak terhingga, mendadak ia putar rubuh dan melotot pada Kiau Hong dengan mata membara.</p>
<p>Kiau Hong sendiri juga terheran-heran ketika mengetahui Tam-poh dan Tio-ci-sun sudah mati dalam waktu singkat setelah ditinggal pergi tadi. Padahal ia cuma menutuk hiat-to kedua orang itu, mengapa mendadak kedua jago kelas tinggi itu bisa mati begitu saja.</p>
<p>Segera ia tarik jenazah Tio-ci-sun untuk di periksa, tapi ia tidak melihat sesuatu luka senjata dan noda darah. Ia coba buka baju dada orang maka tertampaklah dada Tio-ci-sun ada satu bagian berwarna matang biru, itulah tanda terkena pukulan berat. Dan yang paling aneh adalah bekas telapak tangan yang memukul itu ternyata mirip dengan tangan Kiau Hong sendiri.</p>
<p>Sementara itu Tam-kong juga telah putar jenazah Tam-poh ke hadapannya, lalu juga diperiksa dada sang istri, ternyata luka yang diderita itu serupa dengan Tio-ci-sun. Sungguh pedih Tam-kong tak terkeatakan, hendak menangis juga tiada air mata. Dengan suara geram ia maki Kiau Hong, &#8220;Kau manusia berhati binatang, kamu demikian keji !&#8221;</p>
<p>Dalam heran dan kejutnya Kiau Hong tidak sanggup menjawab. Dalam benaknya timbul macam-macam pikiran, &#8220;Siapakah gerangan yang menyerang sehebat ini kepada Tam-poh dan Tio-ci-sun? Tenaga dan kepandaian penyerang itu luar biasa, jangan-jangan perbuatan musuhku yang tak terkenal itu pula? Tapi dari mana ia tahu kedua orang ini berada di dalam perahu ini ?&#8221;</p>
<p>Saking berduka atas kematian istrinya itu, tanpa bicara lagi Tam-kong kerahkan antero tenaganya dan menghantam Kiau Hong dengan kedua tangan. Tapi sedikit Kiau Hong berkelit, terdengarlah suara gedubrakan yang gemuruh, atap perahu itu rompal sebagian kena pukulannya.</p>
<p>Tiba-tiba Kiau Hong menjulur tangan kanan ke depan dan tahu-tahu pundak Tam-kong kena terpegang, katanya, &#8220;Tam-kong, aku tidak membunuh istrimu, kau percaya tidak ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika bukan kamu, habis siapa lagi ?&#8221; sahut Tam-kong dengan gemas.</p>
<p>&#8220;Saat ini jiwamu tergantung di tanganku, jika aku mau membunuhmu, sungguh terlalu mudah bagiku, untuk apa aku bohong padamu ?&#8221; ujar Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Tujuanmu ingin mengetahui siapa pembunuh orang tuamu, biar ilmu silat orang she Tam ini jauh di bawahmu juga tidak nanti dibodohi oleh mu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, asal kau katakan nama orang yang membunuh orang tuaku, aku berjanji akan menuntut balas sakit hati istrimu ini,&#8221; bujuk Kiau Hong.</p>
<p>Tapi mendadak Tam-kong bergelak tertawa pedih, berulang-ulang ia mengerahkan tenaga dengan maksud melepaskan cengkraman Kiau Hong. Tapi tangan Kiau Hong yang menahan pelahan di pundaknya itu dapat bergerak menurut keadaan, lebih keras Tam-kong meronta, lebih  berat pula tekanannya hingga selama itu tetap Tam-kong tak sanggup melepaskan diri.</p>
<p>Sampai akhirnya Tam-kong menjadi nekat. Mendadak ia gigit lidah sendiri, sekumur darah segar lantas disemburkan ke arah Kiau Hong. Terpaksa Kiau Hong lepas tangan untuk menghindar. Kesempatan itu segera digunakan oleh Tam-kong untuk berlari ke sana, sekali depak ia tendang mayat Tio-ci-sun ke pinggir, lalu ia rangkul jenazah sang istri, pada saat lain, tahu-tahu kepala nya terkulai, kakek itu pun menghembuskan napas yang terakhir.</p>
<p>Menyaksikan adegan mengerikan itu, mau-tak-mau terharu dan menyesal juga Kiau Hong. Meski kedua suami-istri she Tam dan Tio-ci-sun itu tidak dibunuh olehnya, tapi sebab musabab kematiannya adalah karena gara-gara Kiau Hong. Jika dia mau menghilangkan jenazah untuk menghapus jejak, sebenarnya cukup ia banting kaki sekerasnya hingga dasar perahu itu berlubang, maka perahu itu akan tenggelam ke sungai dan hilanglah segala bukti peristiwa menyedihkan itu. Tapi Kiau Hong pikir, &#8220;Jika aku menghapuskan jenazah-jenazah ini tentu akan kentara seakan-akan aku yang bersalah dan ketakutan.&#8221;</p>
<p>Segera ia meninggalkan perahu itu, ia coba berusaha menemukan sesuatu tanda yang mencurigakan di sekitar situ, tapi tiada sesuatu apa yang dilihatnya. Buru-buru ia kembali ke hotel.</p>
<p>Sejak tadi A Cu sudah menunggu di luar pintu, melihat Kiau Hong pulang tanpa kurang apa-apa, gadis itu sangat girang. Tapi demi nempak Kiau Hong agak lesu, ia lantas tahu pasti penguntitan Kiau Hong atas Tam-poh dan Tio-ci-sun itu tidak mendatangkan sesuatu hasil yang baik. Dengan suara lembut ia tanya, &#8220;Bagaimana ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah mati semua,&#8221; sahut Kiau Hong singkat.</p>
<p>&#8220;Hah, mati semua? Tam-poh dan Tio-ci-sun ?&#8221; A Cu menegas dengan kaget.</p>
<p>&#8220;Ya, ditambah lagi Tam-kong menjadi tiga,&#8221; kata Kiau Hong.</p>
<p>Mengira Kiau Hong yang membunuh ketiga korbannya itu, meski merasa tidak tentram, tapi A Cu tidak berani menegur, hanya katanya, &#8220;Tio-ci-sun itu ikut serta dalam pembunuhan ayahmu, adalah setimpal jika dia terima ganjarannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi bukan aku yang membunuhnya,&#8221; kata Kiau Hong sambil menggeleng. Lalu ia hitung-hitung dengan jari dan menyambung. &#8220;Kini orang yang mengetahui nama biang keladi daripada durjana pembunuh ayahku itu hanya tinggal tiga orang saja di dunia ini. A Cu, berbuat sesuatu harus dilakukan dengan cepat, kita jangan didahului musuh lagi hingga selalu kita ketinggalan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar,&#8221; sahut A Cu. &#8220;Be-hujin sudah terlampau benci padamu, betapapun tidak mungkin dia mau mengaku, apalagi tidak pantas jika kita mesti paksa pengakuan seorang janda. Marilah kita berangkat ke tempat orang she Tan di Soatang saja.&#8221;</p>
<p>Lalu ia berseru, &#8220;Pelayan, pelayan! Selesaikan rekening kami.&#8221;</p>
<p>Sungguh Kiau Hong sangat terharu, dengan sorot mata kasih sayang ia pandang gadis itu, katanya, &#8220;A Cu, selama beberapa hari ini sudah terlalu melelahkanmu, biarlah kita berangkat besok saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, kita harus berangkat malam ini juga agar tidak didahului musuh,&#8221; ujar A Cu.</p>
<p>Terima kasih Kiau Hong tak terhingga, maka menggangguklah dia.</p>
<p>Malam itu juga mereka lantas keluar kota Wi-hui, sepanjang jalan terdengar orang ramai membicarakan &#8220;iblis Cidan Kiau Hong&#8221; mengganas lagi dengan membunuh Tam-kong suami-istri dan Tio-ci-sun. Waktu bicara orang-orang itu suka celingukan kian kemari seakan-akan kuatir mendadak Kiau Hong berada di situ hingga jiwanya bisa celaka. Tak terduga bahwa memang benar Kiau Hong berada di sisi mereka, jika ia mau membunuh boleh dikatakan tidak sukar sedikit pun.</p>
<p>Begitulah Kiau Hong dan A Cu terus melanjutkan perjalanan siang dan malam tanpa berhenti dengan menunggang kuda dan secara berganti-ganti binatang tunggangan itu.</p>
<p>Tiga hari kemudian, Kiau Hong tahu A Cu pasti sangat lelah walaupun tidak diucapkan gadis itu. Maka ia ganti kuda dengan menumpang kereta, dalam kereta kuda mereka dapat mengaso untuk beberap ajam lamanya, sesudah tenaga pulih, segera menunggang kuda pula dan dilarikan secepatnya.</p>
<p>&#8220;Sekali ini biar bagaimana pun kita harus dapat mendahului Tai-ok-jin itu,&#8221; ujar A Cu dengan girang.</p>
<p>Kiau Hong tidak menjawab, tapi diam-diam hatinya merasa pedih. &#8220;Tai-ok-jin&#8221; (manusia paling jahat), yaitu sebutan A Cu dan Kiau Hong kepada pembunuh yang sampai kini belum dikenal itu, setiap kali selalu mendahului usaha penyelidikannya, dan jika sekali ini lagi-lagi Tiat-bin-boan-koan Tan Cing juga terbunuh, mungkin penyelidikan selanjutnya akan tambah sulit dan sakit hati sedalam lautan itu akan sukar terbalas.</p>
<p>Setiba di kota Thai-an di Soatang, rumah tinggal Tan Cing itu ternyata sangat terkenal, sekali tanya saja lantas tahu, yaitu di timur kota.</p>
<p>Tatkala itu sudah magrib, sampailah mereka di luar pintu timur kota. Tidak jauh pula, sekonyong-konyong tampak asap mengepul bergulung-gulung dan api menjilat-jilat tinggi, entah tempat mana yang kebakaran. Menyusul terdengar riuh ramai suara gembreng dan kentongan bertalu-talu disertai teriakan orang, &#8220;Kebakaran! Kebakaran !&#8221;</p>
<p>Kiau Hong tidak menaruh perhatian apa-apa, ia tetap melarikan kuda ke depan bersama A Cu dan akhirnya dekat juga dengan tempat kebakaran itu.</p>
<p>&#8220;Lekas padamkan api, lekas! Itulah rumah keluarga Tiat-bin-boan-koan !&#8221; demikian terdengar seruan orang.</p>
<p>Keruan Kiau Hong dan A Cu terkejut. Mereka berhentikan kuda dan saling pandang sekejap, mereka sama berpikir, &#8220;Jangan-jangan didahului lagi oleh Tai-ok-jin itu ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Keluarga Tan tentu banyak penghuninya, kalau rumahnya terbakar, orangnya belum tentu ikut terbakar,&#8221; demikian A Cu coba menghibur.</p>
<p>&#8220;Tahu begini, tempo hari seharusnya jangan kubunuh Tan Pek-san dan Tan Tiong-san,&#8221; ujar Kiau Hong dengan menyesal.</p>
<p>Sejak kedua saudara she Tan itu dibunuh Kiau Hong, permusuhan kedua pihak boleh dikatakan tak dapat didamaikan lagi. Walaupun kedatangannya ke Thai-an ini tiada maksud membunuh orang pula, tapi pihak Tan Cing pasti tidak mau menyudahi permusuhan itu, maka ia sudah siap untuk menempur mereka. Siapa duga baru sampai di tempat tujuan, pihak yang dicari itu sudah mengalami musibah.</p>
<p>Kebakaran itu ternyata sangat hebat, sebentar saja sudah berwujud lautan api. Sementara itu penduduk di sekitar beramai ramai sudah datang hendak memadamkan kebakaran itu, ada yang membawa ember dan menyiramkan air, ada yang menghamburkan pasir. Untung juga di sekeliling Tan-keh-ceng (perkampungan keluarga Tan) itu ada sungai yang cukup dalam, sekitar itu juga tiada rumah penduduk lain, maka api tidak sampai menjalar. Secara gotong-royong penduduk berusaha memadamkan api dengan perkasa.</p>
<p>Kiau Hong dan A Cu turun dari kuda serta mendekati tempat kebakaran itu untuk menonton. Terdengar suara seorang laki-laki di sebelah mereka sedang berkata, &#8220;Sungguh sayang, Tan-loya yang baik hati mengapa tertimpa bencana begini, sudah terbakar rumahnya, anggota keluarganya sebanyak lebih 30 jiwa tiada seorang pun yang berhasil menyelamatkan diri ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentu musuh yang membakar rumah dan menutup pintu supaya tiada yang bisa lolos,&#8221; demikian sahut seorang. &#8220;Padahal anak kecil umur tiga keluarga Tan juga pandai silat, mustahil tiada seorang pun yang berhasil menyelamatkan diri ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kabarnya Tan-toaya dan Tan-jiya telah dibunuh orang jahat bernama Kiau Hong di Holam, jangan-jangan yang membakar rumahnya sekarang juga Tai-ok-jin itu lagi ?&#8221; ujar laki-laki yang duluan.</p>
<p>Bila Kiau Hong bicara dengan A Cu, musuh yang tak dikenal itupun disebutnya sebagai &#8220;Tai-ok-jin&#8221;, kini mendengar kedua orang desa itu pun menyinggung &#8220;Tai-ok-jin&#8221;, tanpa terasa mereka saling pandang sekejap.</p>
<p>Dalam pada itu terdengar orang tadi lagi menjawab, &#8220;Ya, pasti perbuatan Kiau Hong keparat itu!&#8221;</p>
<p>Sampai di sini, tiba-tiba ia tahan suaranya dan berbisik, &#8220;pasti Tai-ok-jin itu ada begundalnya menyerbu ke Tan-keh-ceng hingga keluarga Tan terbunuh semua. Ai, di mana letak keadilan ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kiau Hong itu terlalu banyak berbuat kejahatan, pada akhirnya dia pasti akan diganjar secara setimpal dan matinya pasti akan lebih mengenaskan daripada Tan-loya yang baik budi itu,&#8221; demikian laki-laki yang satu menanggapi.</p>
<p>Mendengar mereka mengutuk Kiau Hong, A Cu jadi mendongkol. Mendadak ia tepuk lebar kudanya hingga binatang itu kaget dan berjingkrak, sekali kaki kuda mendepak, tepat punggung orang yang ceriwis itu tertendang, sambil menjerit, tanpa ampun lagi orang itu jatuh terguling.</p>
<p>&#8220;Kalian sedari tadi mengoceh apa ?&#8221; damprat A Cu.</p>
<p>Meski terdepak kuda, tapi demi ingat &#8220;Tai-ok-jin&#8221; Kiau Hong banyak begundalnya, orang itu jadi ketakutan dan tidak berani bersuara lagi cepat ia menyingkir pergi.</p>
<p>Kiau Hong tersenyum pedih, ia dapat merasakan betapa jelek kesan dirinya dalam pandangan khalayak ramai terbukti dari percakapan kedua orang desa itu. Ia coba pindah ke sebelah lain dari tempat kebakaran, di sana juga orang ramai membicarakan keluarga Tan yang berjumlah lebih dari 30 jiwa itu tiada seorang pun yang selamat. Dari bau sangit yang terendus Kiau Hong dari gumpalan asap kebakaran itu, ia tahu apa yang dikatakan orang-orang itu tentu tidak salah, segenap anggota keluarga Tan memang benar telah terkubur di tengah lautan api.</p>
<p>&#8220;Tai-ok-jin itu benar-benar sangat keji, tidak cukup membunuh Tan Cing dan putra-putranya, bahkan antero keluarganya juga dibunuh, dan mengapa mesti membakar pula rumahnya ?&#8221; kata A Cu dengan suara pelahan.</p>
<p>&#8220;Ini namanya membabat rumput harus sampai akar-akarnya,&#8221; sahut Kiau Hong. &#8220;Andaikan aku, pasti juga akan kubakar rumahnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mengapa ?&#8221; tanya A Cu terkesiap.</p>
<p>&#8220;Bukankah waktu di tengah hutan tempo hari Tan Cing pernah mengucapkan apa-apa yang telah kau dengar juga. Ia menyatakan, &#8216;Di rumahku juga tersimpan beberapa pucuk surat dari Toako pemimpin ini, sesudah kucocokan gaya tulisannya nyata memang betul adalah tulisan tangannya&#8217;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, Tai-ok-jin itu kuatir surat di rumah Tan Cing itu akan kau temukan dan mendapat tahu nama Toako pemimpin itu, makanya ia sengaja membakar rumah Tan Cing agar surat-surat itu hilang tak berbekas lagi,&#8221; kata A Cu dengan gegetun.</p>
<p>Dalam pada itu penduduk yang datang menolong kebakaran itu semakin banyak, tapi api sedang mengamuk dengan dahsyatnya, siraman air berember-ember itu ternyata tidak berguna sama sekali.</p>
<p>Di antara penonton itu banyak yang menyesalkan kebakaran itu di samping mencaci maki keganasan Kiau Hong yang dituduh yang membakar. Caci maki orang desa sudah tentu kasar dan kotor, A Cu menjadi kuatir jangan-jangan Kiau Hong tidak tahan oleh caci maki yang ngawur itu dan mendadak mengamuk sehingga orang-orang desa akan menjadi korban.</p>
<p>Tapi demi diliriknya, ia lihat bekas Pangcu itu menampilkan air muka yang sangat aneh, seperti berduka dan seperti menyesal pula, tapi yang paling kentara adalah rasa kasihan, orang desa itu dianggapnya terlalu bodoh, dan tiada harganya untuk dilabrak.</p>
<p>Akhirnya dengan menghela napas, berkatalah Kiau Hong, &#8220;Marilah kita pergi ke Thian-tai-san !&#8221;</p>
<p>Dengan keputusannya akan pergi ke Thian-tai-san, itu menandakan ia sesungguhnya sangat terpaksa. Benar Ti-kong Taysu dari Thian-tai-san itu dahulu pernah ikut serta dalam pembunuhan ayah bundanya, tapi selama 20 tahun terakhir ini padri saleh itu telah banyak berbuat kebajikan bagi sesamanya, jauh ia pergi ke negeri lain untuk mengumpulkan obat-obatan guna menyembuhkan penyakit malaria yang diderita rakyat jelata di wilayah propinsi daerah selatan seperti Hokkian, Ciatkang, Kuitang dan Kuisai, hingga banyak jiwa orang tertolong olehnya, sebaliknya padri itu sendiri jatuh sakit payah, sesudah sembuh ilmu silatnya jadi punah.</p>
<p>Perbuatan menolong sesamanya tanpa memikirkan kepentingan sendiri itu sungguh sangat sihormati oleh kawanan Kangouw dan sama menyebutnya sebagai &#8216;Budha hidup penolong manusia&#8217;. Maka sesungguhnya kalau tidak terpaksa, tidak nanti Kiau Hong mau membikin susah padri saleh itu.</p>
<p>Begitulah mereka lantas meninggalkan Thai-an dan menuju ke selatan. Sekali ini Kiau Hong tidak mau buru-buru menempuh perjalanan lagi, ia pikir kalau terburu-buru, boleh jadi setiba di Thian-tai-san, mungkin yang tertampak kembali adalah mayat Ti-kong Taysu, bisa jadi kuilnya juga terbakar menjadi puing.</p>
<p>Maka ia sengaja menempuh perjalanan seenaknya, dengan demikian mungkin jiwa Ti-kong Taysu dapat diselamatkan malah. Apalagi jejak padri itu pun tidak menentu, biasanya suka mengembara, bukan mustahil waktu itu orangnya tidak berada di kuilnya di Thian-tai-san.</p>
<p>Pegunungan Thian-tai-san si Ciatkang timur, sepanjang jalan Kiau Hong berlaku seperti pelancong saja sambil mempercakapkan peristiwa menarik di kalangan Kangouw dengan A Cu.</p>
<p>Suatu hari, tibalah mereka di Tinkang. Kedua orang lantas pesiar ke Kim-san-si yang terkenal itu. Sambil memandangi air sungai yang berdebur-debur mengalir ke timur itu, mendadak Kiau Hong ingat sesuatu, katanya, &#8220;Itu &#8216;Toako pemimpin&#8217; bukan mustahil adalah orang yang sama dengan &#8216;Tai-ok-jin&#8217; itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, mengapa sebegitu jauh kita tidak pikir ke situ ?&#8221; ujar A Cu seperti orang yang baru sadar.</p>
<p>&#8220;Tapi, bisa jadi memang terdiri dari dua orang yang berlainan,&#8221; kata Kiau Hong pula. &#8220;Namun kedua orang itu tentu mempunyai hubungan yang sangat erat. Kalau tidak, masakah Tai-ok-jin itu berusaha mati-matian hendak menutupi siapakah gerangan Toako pemimpin itu ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kiau-toaya,&#8221; sahut A Cu. &#8220;aku jadi ingat juga waktu kalian membicarakan peristiwa masa lalu itu, jangan-jangan&#8230;&#8230;,&#8221;</p>
<p>Berkata sampai di sini, tanpa terasa suaranya menjadi agak gemetar.</p>
<p>&#8220;Jangan-jangan Tai-ok-jin itu juga berada di dalam hutan itu, demikiankah maksudmu ?&#8221; tukas Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Benar,&#8221; sahut A Cu, &#8220;di sanalah Tiat-bin-boan-koan mengatakan bahwa di rumahnya tersimpan surat yang pernah diterimanya dari Toako pemimpin itu dan sekarang rumahnya terbakar menjadi puing&#8230;&#8230;Ai, aku jadi takut bila ingat hal itu.&#8221;</p>
<p>Dengan badan agak gemetar ia menggelendot di samping Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Dan masih ada sesuatu pula yang aneh.&#8221; Kata Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Tentang apa ?&#8221; tanya A Cu.</p>
<p>Sambil memandang perahu layar di tengah sungai, berkatalah Kiau Hong, &#8220;Kepintaran dan kecerdikan Tai-ok-jin itu jauh di atas diriku, bicara tentang ilmu silat juga mungkin tidak dibawahku, jika dia mau mencabut nyawaku sebenarnya sangat mudah. Tapi mengapa ia takut bila kutahu nama musuhku itu ?&#8221;</p>
<p>A Cu merasa apa yang dibahas Kiau Hong itu cukup beralasan, sambil memegang tangan bekas Pangcu itu, katanya, &#8220;Kiau-toaya, kukira sesudah Tai-ok-jin itu membunuh ayah bundamu, tentunya ia merasa menyesal sekali, maka tidak tega membikin celaka dirimu lagi. Sudah tentu ia pun tidak ingin engkau manuntut balas padanya hingga jiwanya akan melayang di tanganmu.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong mengangguk. &#8220;Ya, besar kemungkinan demikianlah !&#8221; katanya dengan tersenyum. &#8220;Dan bila dia tidak tega mencelakaiku, dengan sendirinya juga tidak mau mengganggu dirimu, maka kamu jangan takut lagi.&#8221;</p>
<p>Sejenak kemudian, ia menghela napas dan berkata pula, &#8220;Percumalah aku mengaku sebagai Engkiong (ksatria), tapi kini  dipermainkan orang sedemikian tanpa dapat berbuat apa-apa.&#8221;</p>
<p>Begitulah, sesudah menyebrang sungai Tiang-kang, tidak lama mereka menyebrangi Ci-tong-kang pula, akhirnya sampai di Thian-tai-koan, kota di kaki pegunungan Thian-tai.</p>
<p>Mereka mendapatkan sebuah hotel untuk menginap. Esok paginya ketika mereka ingin tanya pelayan tentang jalan menuju ke Thian-tai-san, tiba-tiba masuk tergesa-gesa seorang pegawai kantor hotel dan memberitahu, &#8220;Kiau-toaya, ada seorang Suhu dari Siang-koan-sian-si di Thian-tai-san ingin bertemu denganmu.&#8221;</p>
<p>Sudah tentu Kiau Hong terkejut, padahal waktu menginap di hotel ini ia mengaku she Koan, maka cepat ia tanya, &#8220;Mengapa kau panggil Kiau-toaya padaku ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Suhu dari Thian-tai-san itu menjelaskan bangun tubuh dan wajah Kiau-toaya, terang tidak salah lagi,&#8221; sahut pegawai hotel.</p>
<p>Kiau Hong saling pandang dengan A Cu, keduanya sama heran. Padahal mereka menyamar lagi, tidak serupa pula dengan seperti waktu di Thai-an, tapi setiba di Thai-tai-koan segera dikenali orang.</p>
<p>Terpaksa Kiau Hong berkata, &#8220;Baiklah, silahkan dia masuk.&#8221;</p>
<p>Sesudah pegawai hotel itu keluar, tidak lama kemudian ia bawa datang padri berumur 30-an dan berbadan gemuk. Sesudah memberi hormat kepada Kiau Hong, padri itu lantas berkata, &#8220;Guruku Ti-kong Taysu adanya, Siauceng Koh-teh disuruh mengundang Kiau-toaya dan Wi-kohnio sudilah mampir ke kuil kami.&#8221;</p>
<p>Sahut Koh-teh Hwesio, &#8220;Menurut pesan Suhu katanya di hotel sini tinggal seorang Kiau-enghiong, dan seorang Wi-kohnio, maka Siauceng disuruh memapak kemari. Kiranya tuan sendirilah Kiau-toaya, entah Wi-kohnio itu berada di mana ?&#8221;</p>
Posted in Jin Yong, Pendekar Kerajaan Tayli  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toanki.wordpress.com/1993/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toanki.wordpress.com/1993/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toanki.wordpress.com/1993/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toanki.wordpress.com/1993/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toanki.wordpress.com/1993/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toanki.wordpress.com/1993/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toanki.wordpress.com/1993/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toanki.wordpress.com/1993/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toanki.wordpress.com/1993/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toanki.wordpress.com/1993/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&blog=4564196&post=1993&subd=toanki&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toanki.wordpress.com/2008/10/31/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-33/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b75e221c0eee4ff517b26695a19675fc?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">Lenghou Tiong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 32</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-32/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-32/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 05:09:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1838</guid>
		<description><![CDATA[Ilmu silat yang dikeluarkan ini adalah satu diantara 72 macam ilmu silat pusaka Siau-lim-si, namanya &#8220;Siu-li-kian-gun&#8221; (menyekap jagat dalam lengan baju), sekali ia kebas lengan jubahnya, seketika tenaga pukulannya menyambar keluar dari dalam jubah. Jadi lengan jubah itu hanya sebagai tameng pukulan saja agar musuh tidak dapat membedakan arah datangnya serangan, tapi tahu-tahu diserang hingga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&blog=4564196&post=1838&subd=toanki&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ilmu silat yang dikeluarkan ini adalah satu diantara 72 macam ilmu silat pusaka Siau-lim-si, namanya &#8220;Siu-li-kian-gun&#8221; (menyekap jagat dalam lengan baju), sekali ia kebas lengan jubahnya, seketika tenaga pukulannya menyambar keluar dari dalam jubah. Jadi lengan jubah itu hanya sebagai tameng pukulan saja agar musuh tidak dapat membedakan arah datangnya serangan, tapi tahu-tahu diserang hingga kelabakan.</p>
<p><span id="more-1838"></span></p>
<p>Namun Kiau Hong sudah lebih dulu melihat kedua lengan baju Hian-lan itu melembung bagai goni penuh angin, segera ia tahu serangan apa yang akan dilakukan padri sakti itu, bentaknya cepat, &#8220;Siu-li-kian-gun, nyata memang hebat !&#8221;</p>
<p>Berbareng itu sebelah tangannya segera dipukulkan ke arah lengan baju lawan dengan kuat. Tenaga yang terhimpun dalam lengan baju Hian-lan itu menggembung, sebaliknya tenaga pukulan yang dilontarkan itu terpusat keras, maka terdengarlah suara &#8220;bret-bret&#8221; beberapa kali, ditengah goncangan arus tenaga yang maha dahsyat itu, sekonyong-koyong ditengah ruangan itu bertebaran beberapa puluh ekor &#8220;kupu-kupu&#8221;.</p>
<p>Keruan semua orang terperanjat, waktu mereka perhatikan, ternyata &#8220;kupu-kupu&#8221; itu bukan lain adalah robekan kain lengan baju Hian-lan. Waktu perhatian mereka beralih atas diri padri itu, tertampaklah kedua lengannya sudah telanjang hingga kelihatan jelas tulang lengannya yang kurus kering.</p>
<p>Rupanya di bawah tekanan dua arus tenaga dalam yang maha kuat, maka lengan baju padri yang gondrong itu tidak tahan dan seketika tergilas hancur. Dengan demikian, tanpa lengan baju Hian-lan menjadi mati kutu dan tidak bisa menggunakan Siu-li-kian-gun lagi.</p>
<p>Saking gusarnya sampai muka Hian-lan merah padam, cara Kiau Hong mematahkan serangannya itu dirasakan jauh lebih menderita daripada membunuhnya. Tanpa omong lagi kedua lengannya yang telanjang itu susul menyusul menghantam serabutan dengan dahsyat luar biasa.</p>
<p>Waktu semua orang memperhatikan, ternyata yang dimainkan Hian-lan sekarang adalah ilmu pukulan yang tersebar luas di dunia kangouw, yaitu &#8220;Thio-co-tiang-tin&#8221; atau ilmu pukulan ciptaan Song-thai-co.</p>
<p>Song-thai-co Tio Kong-in, cikal bakal dinasti Song, sangat terkenal dengan kepandaiannya dalam dua jenis ilmu silat, yaitu &#8220;Thai-co-tiang-kun&#8221; dan &#8220;Thai-co-pang&#8221;, ilmu pukulan dan ilmu permainan toya dari Song-thai-co.</p>
<p>Saking populernya kedua jenis ilmu silat itu hingga pada jaman itu setiap orang Bu-lim hampir setiap orang bisa, paling tidak juga pernah melihatnya.</p>
<p>Maka semua orang menjadi heran demi nampak padri sakti Siau-lim-si yang terkenal itu ternyata memainkan ilmu silat yang umum itu.</p>
<p>Tapi sesudah Hian-lan menyerang tiga kali, mau tak mau timbul juga perasaan kagum mereka, &#8220;Pantas saja Siau-lim-si memperoleh nama harum. Sama-sama sejurus Hoa-san-tio-ki (main catur diatas Hoa-san), tapi di bawah permainannya ternyata mempunyai daya serang selihat ini.&#8221;</p>
<p>Dan karena rasa kagum mereka kepada ketangkasan Hian-lan, mereka jadi lupa pada wujud si padri yang sebenarnya tak keruan dan lucu itu.</p>
<p>Tadi sebenarnya ada berpuluh orang yang mengerubut Kiau Hong, tapi kini demi Hian-lan sudah turun tangan, yang lain merasa akan mengganggu malah jika ikut mengeroyok, maka satu persatu mereka mengundurkan diri, semuanya hanya menonton saja sambil merubung rapat di pinggir untuk berjaga kalau Kiau Hong kewalahan dan ingin kabur.</p>
<p>Melihat pengeroyok lain sudah mundur, hati Kiau Hong tergerak, mendadak ia menghantam ke depan dengan tipu &#8220;Ciong-hong-cam-ciang&#8221; atau menyerbu maju membunuh panglima musuh, tipu ini pun termasuk salah satu pukulan &#8220;Thai-co-tiang-kun&#8221;.</p>
<p>Tipu ini sebenarnya sangat umum, tapi di bawah pukulan Kiau Hong ternyata membawa tenaga maha dahsyat dengan gaya yang indah.</p>
<p>Setiap hadirin ini boleh dikatakan adalah jago silat pilihan semua, dengan sendirinya mereka kenal di mana letak kebagusan setiap ilmu silat. Maka demi nampak serangan Kiau Hong yang indah itu, tanpa terasa mereka sama bersorak memuji.</p>
<p>Dan sesudah sorakan mereka tercetus barulah mereka merasa salah. Bukankah Kiau Hong adalah musuh yang harus mereka bunuh, tapi mengapa malah bersorak untuk menambah semangat musuh?</p>
<p>Namun sudah terlanjur, suara sorakan mereka sudah lalu. Bahkan serangan kedua Kiau Hong dalam tipu &#8220;Ho-siok-lip-wi&#8221; (memperlihatkan pengaruh di Ho-siok) tampaknya lebih bagus lagi daripada jurus pertama, maka tidak sedikit di antara para hadirin itu masih bersorak, urung ketika sadar kelakuan mereka yang keliru. Namun hal mana jelas mengunjuk betapa rasa kagum dan gegetun mereka atas kepandaian Kiau Hong itu.</p>
<p>Begitulah, jika tadi malam keadaan dikeroyok Kiau Hong tidak dapat memperlihatkan ketangkasannya, adalah sekarang sesuah Kiau Hong bertempur satu lawan satu dan para pengeroyok tadi menjadi penonton, barulah semua orang menyadari di mana kelebihan ilmu silat Kiau Hong daripada orang lain.</p>
<p>Maka sesudah beberapa jurus lagi, jelas kelihatan siapa lebih unggul dan siapa asor.</p>
<p>Ilmu pukulan yang dimainkan kedua orang sama-sama kungfu yang sangat umum, tapi setiap serangan Kiau Hong selalu lebih lambat sedikit dan membiarkan Hian-lan melancarkan serangan lebih dulu. Dan sekali serangan Hian-lan dilontarkan, menyusul Kiau Hong lantas menyerang juga.</p>
<p>Ilmu pukulan ciptaan Song-thai-to itu seluruhnya meliputi 72 jurus. Tapi setiap jurus merupakan lawan daripada jurus lain. Maka Kiau Hong sengaja incar baik-baik tipu serangan lawan. Lalu ia keluarkan tipu serangan yang tepat untuk mengatasinya.</p>
<p>Dengan demikian, tentu saja Hian-lan dibikin kewalahan. Teori itu sebenarnya diketahui oleh setiap penonton, yang susah adalah kepandaian &#8220;serang belakang tapi tiba lebih dulu&#8221; itulah yang tidak mungkin dimiliki sembarang orang.</p>
<p>Melihat kawannya kewalahan, terang sudah kalah, segera Hian-cit berseru, &#8220;Huh, kamu anjing Cidan ini, caramu sesungguhnya terlalu rendah !&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang kumainkan adalah ilmu pukulan Thai-co dinasti kita, mengapa aku dituduh rendah ?&#8221; sahut Kiau Hong tertawa.</p>
<p>Mendengar demikian, seketika pahamlah semua orang maksud Kiau Hong memainkan &#8220;Thai-co-tiang-kun&#8221; itu.</p>
<p>Jika Kiau Hong menggunakan ilmu silat jenis lain untuk menangkan &#8220;Thai-co-tiang-kun&#8221; yang dimainkan Hian-lan tentu orang lain takkan mengatakan dia lebih kuat dan ulet, sebaliknya akan menyalahkan dia dengaja menghina ilmu silat ciptaan cikal bakal dinasti Song yang jaya itu. Dan hal ini tentu akan menambah sentimen kebangsaan orang banyak itu. Tapi sekarang kedua pihak sama menggunakan &#8220;Thai-co-tiang-kun&#8221;, dalam pertandingan ini hanya mengadu ilmu silat belakan, Kiau Hong takbisa lagi dituduh kurang ajar atau tuduhan lain.</p>
<p>Begitulah maka Hian-cit tak dapat tinggal diam lagi melihat Hian-lan dalam sekejap lagi akan terancam bahaya. Tanpa bicara ia terus menuding ke &#8220;Soan-ki-hiat&#8221; di dada Kiau Hong. Ilmu yang dia pakai adalah &#8220;Thian-tiok-hud-ci&#8221; atau jari Budha dari Thian-tiok, semacam ilmu tiam-hiat yang hebat dari Siau-lim-si.</p>
<p>Mendengar tutukan orang itu membawa suara mencicit perlahan, segera Kiau Hong berkata, &#8220;Sudah lama kudengar betapa hebat Thian-tiok-hud-ci, ternyata memang bukan omong kosong belaka. Tapi bila kau gunakan ilmu silat bangsa asing Thian-tiok itu untuk mengalahkan ilmu pukulan cikal bakal dinasti kita bukankah engkau akan dituduh menghianat dan menghina dinasti kita sendiri ?&#8221;</p>
<p>Hian-cit terkesiap sebab ilmu silat Siau-lim-si memang berasal dari Budhi Dharma yang aslinya orang asing dari Thian-tiok (kini India).</p>
<p>Sebabnya Kiau Hong sekarang dikeroyok adalah disebabkan bekas Pangcu itu dituduh keturunan Cidan. Tapi karena sejarah Siau-lim-si sudah terlalu tua, ilmu silatnya sudah tersebar luas dikalangan Bu-lim hingga berbagai aliran dan mazhab sedikit banyak ada tersangkut hubungan hingga semua orang sama melupakan asal usul Siau-lim-si yang ada sangkut pautnya dengan bangsa asing itu.</p>
<p>Kini demi mendengar teguran Kiau Hong itu, segera banyak di antara hadirin yang berpandangan jauh dan berjiwa terbuka itu berpikir, &#8220;Terhadap Budhi Dharma kita memuja sebagai malaikat dewata, sebaliknya mengapa membenci orang Cidan sampai ke tulang sumsumnya? Bukankah mereka sama-sama bangsa asing? Ya, sudah tentu diantara kedua bangsa itu ada bedanya, bangsa Thian-tiok tidak pernah menjajah dan membunuh bangsa Han kita, sebaliknya bangsa Cidan adalah penjajah yang ganas dan kejam. Jadi antara bangsa asing pada hakikatnya juga ada perbedaannya dan tidak boleh disamaratakan, harus dibedakan antara yang baik dan yang jahat, antara kawan dan lawan, antara penjajah dan dijajah. Dan apakah orang Cidan itu semua jahat? Apakah tidak ada yang baik ?&#8221;</p>
<p>Begitulah di tengah pertarungan sengit itu banyak di antara pengeroyok terdapat kaum pikiran sempit, berjiwa dangkal dan dengan sendirinya takkan berpikir tentang perbedaan itu, tapi sebagian yang tergolong cendikia, dalam benak mereka lantas terlintas pikiran seperti itu, mereka merasa Kiau Hong belum tentu adalah manusia yang harus dibunuh, sebaliknya kita sendiri juga belum pasti di pihak yang benar.</p>
<p>Dalam pada itu, meski Hian-lan dan Hian-cit berdua melawan Kiau Hong seorang, mereka lebih banyak menagkis daripada menyerang.</p>
<p>Sementara itu karena ilmu pukulan pertama telah dipatahkan sama sekali oleh lawan, maka Hian-lan telah ganti ilmu silat &#8220;Lo-han-kun&#8221; yang lihai dari Siau-lim-pai.</p>
<p>&#8220;Huh, bukankah Lo-han-kun juga berasal dari ajaran bangsa asing dari Thian-tiok ?&#8221; demikian Kiau Hong mengejek. &#8220;Baiklah, akan kulihat apakah ilmu silat asal luar negeri itu lebih lihai ataukah ilmu silat dalam negeri Song sendiri lebih hebat ?&#8221;</p>
<p>Sembari bicara, &#8220;Thai-co-tiang-kun&#8221; terus dilancarkan susul menyusul.</p>
<p>Keruan semua orang merasa tersinggung oleh ucapan Kiau Hong itu. Mereka mengeroyok Kiau Hong, alasannya karena dia bangsa asing. Tapi sekarang ilmu silat yang dipakai pihak sendiri justru adalah ilmu silat &#8220;impor&#8221;, sebaliknya ilmu silat pukulan yang dimainkan Kiau Hong adalah &#8220;produksi dalam negeri&#8221; asli, yaitu ciptaan cikal bakal dinasti Song yang tersohor itu.</p>
<p>Begitulah selagi banyak di antara mereka merasa ragu-ragu dan rikuh, tiba-tiba terdengar Tio-cit-sun berseru, &#8220;Peduli kita memakai ilmu silat berasal dari mana, yang terang keparat ini telah membunuh ayah bundanya dan gurunya sendiri, kejahatannya jauh lebih pantas dihukum mati. Ayolah saudara, kerubut maju bersama !&#8221;</p>
<p>Sambil berseru, segera ia mendahului menerjang maju.</p>
<p>Menyusul Tam-kong, Tam-poh, para Tianglo dari Kay-pang. Tiat-bin poan-koan Tan Cing bersama putranya, semuanya berjumlah puluhan orang terus ikut menyerbu maju.</p>
<p>Ilmu silat para pengerubut ini semua pilihan, meski banyak jumlah mereka, tapi posisi mereka tidak kacau, yang satu maju, yang lain mundur, yang lain maju, yang satu mundur lagi.</p>
<p>Sambil berkata menghantam dan menangkis, Kiau Hong berkata pula, &#8220;Kalian mengatakan aku orang Cidan, jika betul, maka Kiau Sam-hoai Lokongkong dan Lopohpoh tentu bukan ayah ibuku. Jangankan kedua orang tua itu adalah orang yang paling kuhormati selama hidup dan tiada maksud mencelakainya sedikitpun, andaikan benar akulah yang membunuh mereka, toh tuduhan membunuh ayah bunda sendiri juga tidak dapat ditimpakan atas diriku? Sedangkan Hian-koh Taisu adalah guruku yang kupuja, jika Siau-lim-pai mengakui Hian-koh Taysu adalah guruku, maka aku orang she Kiau menjadi terhitung anak murid Siau-lim, lantas apa alasan kalian mengerubut seorang anak murid Siau-lim-pai cara begini ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, bicara seperti pokrol bambu, mau menang sendiri,&#8221; jengek Hian-cit dengan mendongkol.</p>
<p>&#8220;Habis, kalau kalian tidak anggap aku sebagai anak murid Siau-lim-pai, dengan sendirinya &#8216;tuduhan membunuh guru&#8217; itu tak terbukti,&#8221; sahut Kiau Hong, &#8220;Memangnya kalau mau menyalahkan orang masakan kuatir kurang alasan? Tapi bila kalian ingin membunuhku, mestinya bicaralah terus terang dan bunuhlah kalau mampu, mengapa mesti cari alasan yang tidak dapat dibuktikan ?&#8221;</p>
<p>Biarpun mulutnya bicara mencerocos, namun serangannya tidak pernah berhenti, tinjunya menjotos Tan Siok-san, kakinya menendang Tio ci-sun sukutnya menyikut Cin Goan-cun, telapak tangan menghantam Pau Jian-leng. Hanya sekejap saja beruntun empat orang sudah dirobohkan olehnya.</p>
<p>Kiau Hong tahu bahwa lawan-lawannya itu bukan kaum penjahat, maka serangannya selalu seringan mungkin. Yang dirobohkan sampai saat itu sudah ada belasan orang, tapi tiada satu jiwa pun yang dicelakai olehnya. Namun pengeroyok itu terlalu banyak, belasan orang roboh, berpuluh orang segera menggantikannya.</p>
<p>Maka tidak lama kemudian, mau-tak-mau Kiau Hong mengeluh, &#8220;Jika pertepuran begini diteruskan, akhirnya aku pasti akan kepayahan, rasanya jalan paling baik adalah kabur saja.&#8221;</p>
<p>Maka sambil bertempur segera ia mencari jalan untuk meloloskan diri.</p>
<p>Tio ci-sun yang dirobohkan itu menggeletak di lantai dengan sebelah tangan patah. Tapi ia tahu maksud Kiau Hong akan melarikan diri, segera ia berseru, &#8220;Awas, kawan-kawan !  Kepung dia dengan rapat, anjing keparat ini hendak melarikan diri !&#8221;</p>
<p>Dalam pertarungan sengit itu memang Kiau Hong sudah agak terpengaruh oleh bekerjanya arak yang banyak diminumnya tadi, kini mendengar caci maki Tio ci-sun, keruan amarahnya tak tertahankan lagi, bentaknya dengan gusar, &#8220;Ya, anjing keparat ini akan pakai dirimu sebagai korban pembunuhan pertama ?&#8221;</p>
<p>Sambil berkata, sekuatnya ia memukul dari jauh.</p>
<p>&#8220;Celaka !&#8221; seru Hian-lian dan Hian-cit berbareng. Kedua tangan mereka sama memapak kedepan untuk menolong Tio ci-sun.</p>
<p>Di tengah gencetan arus tenaga yang hebat itu, sekonyong-konyong terdengar suara jeritan ngeri seorang, dada orang itu tersodok oleh tenaga pukulan Hian-lan dan Hian-cit, sebaliknya punggung kena dihantam oleh pukulan Kiau Hong dari jauh.</p>
<p>Di tengah gencetan tiga arus tenaga maha dahsyat itu, keruan tulang iga orang itu seketika patah dan remuk, isi perutnya hancur, darah menyembur keluar dari mulutnya, badan terkulai lemas bagai cacing di lantai.</p>
<p>Kejadian di luar dugaan ini tidak hanya mengejutkan Hian-lan dan Hian-cit, bahkan Kiau Hong juga terkesiap. Orang yang sial itu ternyata Goai-to Ki Liok adanya.</p>
<p>Sebagaimana diketahui Ki Liok tadi terkatung-katung di atas belandar dengan menggandul pada goloknya yang terjepit belandar itu. Oleh karena sudah sekian lamanya, setelah tergontai-gontai kian kemari, akhirnya golok yang terjepit belandar itu mulai mengendur dan akhirnya jatuh ke bawah.</p>
<p>Seungguh kebetulan juga, dengan tepat Ki Liok jatuh di tengah-tengah gelombang tenaga yang sedang dilontarkan oleh ketiga orang yang bertempur itu. Keruan Ki Liok mirip digencet di tengah peres yang maha kuat, seketika jiwanya melayang.</p>
<p>&#8220;Omitohud !  Siancai, Siancai !  Kiau Hong, dosamu bertambah besar lagi !&#8221; demikian kata Hian-lan menyebut Budha.</p>
<p>Kiau Hong menjadi gusar, sahutnya, &#8220;Orang ini tidak seluruhnya terbinasa di tanganku, kalian berdua juga mempunyai saham atas kematiannya, mengapa kau tumplek semua kesalahan atas namaku ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Omitohud ! Kalau sebelumnya tiada gara-garamu, masakah terjadi pertempuran seperti sekarang ini ?&#8221; sahut Hian-lan.</p>
<p>Kiau Hong semakin murka, &#8220;Baiklah, semua boleh kau catat atas rekeningku, lantas mau apa ?&#8221;</p>
<p>Setelah mengalami pertarungan sengit itu, watak liar dalam darah Kiau Hong menjadi kumat, sekejap itu ia berubah beringas bagaikan seekor binatang buas. Sekali tangannya membalik, tepat seorang lawan kena cengkramannya, ternyata orang ini adalah Tan Tiong-san, putra kedua Tan Cing.</p>
<p>Menyusul Kiau Hong terus rampas golok Tan Tiong-san, ketika tangan kanan menggaplok, tanpa ampun lagi batok kepala Tan Tiong-san hancur dan mati seketika. Maka gegerlah para ksatria, mereka menjerit kaget, berteriak kuatir dan mencaci-maki dengan gusar.</p>
<p>Setelah membunuh orang, Kiau Hong bertambah kalap, golok rampasannya berputar dengan cepat, tangan kanan mendadak menjotos dan terkadang memukul dengan telapakan, sedang golok di tangan kiri membacok dan menebas, dahsyatnya tak tertahankan.</p>
<p>Hanya sekejap saja tertampaklah dinding di sekitar sudah penuh titik noda darah, di tengah kalangan sudah bergelimpangan belasan mayat, ada yang kepala berpisah dengan badannya, ada yang dada pecah dan pinggang putus.</p>
<p>Dalam mengamuk itu, Kiau Hong sudah tidak pandang bulu lagi, dengan mata merah membara ia membunuh setiap orang yang diketemukan, Thoan-kong Tianglo dan Ge-tianglo telah binasa semua di bawah goloknya.</p>
<p>Di antara ksatria yang hadir itu kebanyakan tentu pernah membunuh orang. Maklum, membunuh orang bagi orang persilatan boleh dikatakan terlalu jinak. Andaikan tidak pernah membunuh orang dengan tenaga sendiri, paling sedikit juga sudah biasa menyaksikan pembunuhan.</p>
<p>Tapi pertarungan sengit seperti sekarang sungguh tidak pernah dilihat mereka selama hidup. Lawan mereka hanya satu orang, tapi Kiau Hong justru bertempur seperti binatang buas dan hantu iblis yang mendadak berada disana, sekejap kemudian tahu-tahu sudah berada di sini, banyak jago terkemuka yang maju melabraknya berbalik terbunuh oleh cara Kiau Hong yang lebih cepat, lebih ganas dan lebih tangkas.</p>
<p>Sebenarnya para ksatria yang hadir itu bukanlah manusia pengecut, tapi di bawah terjangan Kiau Hong yang kalap bagai banteng ketaton itu, segera banyak di antaranya timbul rasa takut dan ingin melarikan diri, mereka berharap bisa lekas tinggalkan gelanggang pertempuran, apakah Kiau Hong berdosa atau tidak, mereka tidak mau ikut campur lagi.</p>
<p>Dalam pada itu Yu-si-siang-hong, kedua jago bersaudara she Yu, berbareng menerjang dari kanan dan kiri, tangan kiri mereka sama memegang tameng bundar, hanya tangan kanan yang berbeda persenjataannya, Yu Ek memakai tombak pendek, sebaliknya Yu Ki menggunakan golok.</p>
<p>Walaupun Kiau Hong melabrak para pengeroyok itu dengan kalap dan tak kenal ampun, tapi terhadap setiap gerak serangan lawan selalu diperhatikan dengan baik, pikirannya tetap dalam keadaan jernih, maka sejauh ini ia tidak terluka sedikit pun.</p>
<p>Ketika dilihatnya kedua saudara she Yu itu menerjang maju dengan senjata aneh, cepat ia mainkan goloknya ke kanan kiri, lebih dulu ia robohkan dua lawan di sampingnya, habis itu ia mendahului memapak ke arah Yu Ek dan menyerang.</p>
<p>Tapi bacokannya ditangkis oleh tameng Yu Ek, &#8220;trang&#8221;, golok Kiau Hong malah mendal keatas. Waktu diperiksa, ternyata mata goloknya melingkar dan tak bisa dipakai lagi.</p>
<p>Ternyata tameng kedua jago bersaudara itu adalah buatan dari baja murni, biarpun dibacok dengan pedang atau golok mestika juga tak mempan, apalagi golok yang dipakai Kiau Hong itu hanya golok biasa yang dirampasnya dari Tan Tiong-san.</p>
<p>Begitulah sekali perisainya menangkis, secepat kilat tombak pendek di tangan Yu Ek yang lain lantas menusuk dengan tipu &#8220;tok-coa-cut-tong&#8221; (ular berbisa keluar dari gua), tombak itu menyambar dari bawah perisai dan mengarah perut Kiau Hong.</p>
<p>Pada saat itu juga Kiau Hong melihat berkelebatnya senjata, perisai Yu Ki mendadak memotong pinggangnya. Mata Kiau Hong cukup awas, sekilas pandang ia sudah tahu pinggir tameng itu sangat tajam, bila kena pinggang bukan mustahil akan terpotong putus menjadi dua, sungguh lihainya tidak kepalang.</p>
<p>&#8220;Bagus !&#8221; bentak Kiau Hong sambil buang goloknya, menyusul tinju kiri terus menghantam sekuatnya, maka terdengarlah suara &#8220;blang&#8221; yang keras, bagian tengah tameng Yu Ki tepat kena digenjot, menyusul kepalan tanagan kanan Kiau Hong menghantam lagi, &#8220;blang&#8221;, tameng Yu Ek juga kena digempurnya dengan tepat.</p>
<p>Kontan Yu-si-siang-hiong merasa separuh tubuh mereka seakan-akan kaku dan lumpuh, pukulan-pukulan Kiau Hong yang maha dahsyat itu meski tidak langsung mengenai mereka, tapi sudah cukup membuat mata mereka berkunang-kunang dan kepala pusing tujuh keliling seketika tangan mereka menjadi lemas. Tameng, tombak dan golok tidak kuat dipegang lagi, terdengar suara gemerentang nyaring, senjata mereka semua jatuh ke lantai.</p>
<p>&#8220;Bagus, boleh berikan padaku saja senjata kalian itu !&#8221; seru Kiau Hong dengan tertawa. Cepat ia jemput perisai kedua saudara Yu itu, segera ia putar dengan kencang.</p>
<p>Kedua perisai baja yang bundar itu sungguh merupakan senjata serba guna yang ampuh, kemana senjata itu menyambar, disitu lantas terdengar jeritan ngeri. Hanya sekejap saja sudah empat orang menjadi korban perisai baja itu.</p>
<p>Wajah Yu-si-siang-hiong tampak pucat dan semangat lesu. Kata Yu Ek, &#8220;Jite, bukankah Suhu pernah mengatakankepada kita, perisai ada orang ada, perisai hilang orangnya gugur ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar twako,&#8221; sahut Yu Ki dengan muram. &#8220;Hari ini kita telah kecundang sedemikian rupa, masakah kita masih ada muka untuk hidup lebih lama di dunia ini ?&#8221;</p>
<p>Segera mereka menjemput kembali senjata masing-masing, yaitu tombak dan golok, berbareng mereka tikam perut sendiri dengan senjata itu, maka binasalah mereka seketika.</p>
<p>Keruan banyak ksatria menjerit kaget. Tapi mereka sedang dicecar oleh Kiau Hong dengan hebat, maka tiada seorang pun sempat mencegah perbuatan nekat kedua saudara Yu itu.</p>
<p>Kiau Hong melengak juga. Sungguh tak terpikir olehnya bahwa sebagai tuan rumah kedua saudara Yu itu bisa ambil pikiran pendek begitu? Karena kejutnya itu pengaruh arak tadi menjadi hilang sebagian besar, hati pun agak menyesal.</p>
<p>&#8220;Yu-si-siang-hiong, guna apa ambil keputusan demikian ?&#8221; seru Kiau Hong dengan terharu, &#8220;Tentang kedua perisai ini, biarlah kukembalikan saja !&#8221;</p>
<p>Sambil berkata, dengan khidmat dan hormat ia taruh kedua perisai itu disamping jenazah Yu-si-siang-hiong. Tapi belum lagi ia tegak kembali dari berjongkok, tiba-tiba didengarnya jerita kuatir seorang gadis, &#8220;Awas !&#8221;</p>
<p>Kiau Hong cukup cerdas dan tangkas, sedikit menggeser ke samping, maka menyambar lewatlah sebilah pedang tajam. Jeritan itu ternyata berasal dari A Cu. Dan penyerang gelap itu adalah Tam-kong.  Sekali membokong tidak kena, segera jago tua itu menyingkir jauh.</p>
<p>Tam-poh menjadi gusar, serunya, &#8220;Bagus, kamu budak setan ini, kami tidak membunuhmu, tapi kamu malah bersuara membantu dia !&#8221;</p>
<p>Mendadak ia melompat ke sana, sekali gaplok, segera kepala A Cu hendak dipecahkannya.</p>
<p>Waktu Kiau Hong menempur para ksatria itu, sejak tadi A Cu meringkuk di sudut ruangan, tenaga murninya perlahan mulai lenyap, badan menjadi lemas. Ia melihat Kiau Hong dikeroyok orang banyak, walaupun tahu bakal banyak menghadapi bahaya toh bekas Pangcu itu bersedia mengantar dirinya untuk mencari tabib sakti, budi kebaikan ini biar tubuhnya hancur lebur juga susah dibalas.</p>
<p>Sebab itulah A Cu merasa sangat berterima kasih dan kuatir pula. Maka ketika mendadak Kiau Hong disergap Tam-kong tadi, segera ia bersuara memperingatkan.</p>
<p>Untung sebelum Tam-poh mencapai sasarannya, secepat kilat Kiau Hong menyusul tiba, dari belakang ia jambret punggung nenek itu dan ditarik sekuat tenaga serta dilemparkan ke samping. &#8220;Brak&#8221;, sebuah kursi tertabrak hancur oleh badan. Tam-poh yang gede mirip kuda teji itu.</p>
<p>Meski tidak kena serangan nenek itu, namun A Cu ketakutan hingga muka pucat dan badan lemas terkulai. Kiau Hong terkejut, pikirnya, &#8220;Hawa murninya sudah mulai kering, namun dalam keadaan begini mana dapat kutolong dia ?&#8221;</p>
<p>Sementara itu terdengar Sih-sin-ih berkata dengan nada dingin, &#8220;Tenaga nona itu sekejap lagi akan habis, akan kau tolong jiwnya tidak dengan tenaga dalammu? Jika napasnya putus, terpaksa aku tak dapat menolongnya lagi.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong menjadi serba susah. Ia tahu perkataan Sih-sin-ih itu bukan omong kosong belaka tapi sekali awak sendiri menolong A Cu, segera dirinya akan dihujani pukulan dan senjata oleh lawan yang sudah merumbung di sekitarnya itu.</p>
<p>Sudah banyak jatuh korban di pihak kdatria itu, mana mau mereka menyudahi pertempuran ini? Lalu, apakah mesti menyaksikan A Cu mati begitu saja? Padahal dengan menyerempet bahaya ini ia membawa A Cu ke Cip-hian-ceng ini tujuannya adalah minta pengobatan pada Sih-sin-ih. Sesudah tiba di tempat dan berhadapan dengan tabib sakti, lalu membiarkan nona itu mati kehabisan tanaga, bukankah sangat sayang?</p>
<p>Tapi kalau sekarang ia salurkan hawa murni padanya, itu berarti ia mengantikan jiwa nona itu dengan jiwa sendiri. Padahal A Cu hanya seorang budak cilik yang baru dikenalnya di tengah jalan, pada hakikatnya tiada sesuatu hubungan bai apa-apa, soal menolong sesamanya adalah perbuatan biasa bagi seorang pendekar dan ksatria tapi kalau mesti menggunakan jiwa sendiri yang berharga untuk menggantikan nyawa nona cilik itu, betapapun juga tidak masuk diakal. Aku sudah berusaha sedapatnya membawanya ke tempat si tabib sakti, kewajibanku boleh dikatakan sudah jauh lebih dari cukup. Biarlah sekarang juga kutinggal pergi saja dan terserah Sih-sin-ih mau menolong jiwanya atau tidak.</p>
<p>Setelah ambil keputusan itu, segera Kiau Hong jemput kembali kedua perisai tadi, dengan gerakan &#8220;Tai-peng-tian-ih&#8221; atau garuda raksasa pentang sayap, mendadak ia putar perisai itu dengan kencang hingga berwujud dua bola, berbareng ia terus terjang keluar.</p>
<p>Karena orang di dalam ruangan itu terlalu sesak, pula gerakan Kiau Hong teramat lihai, seketika tiada seorangpun yang berani merintanginya.</p>
<p>Setiba di ambang pintu, baru Kiau Hong hendak angkat kaki seribu, sekonyong-konyong terdengar suara seorang yang parau, &#8220;Bunuh dulu budak itu, baru kita balas sakit hati pula !&#8221;</p>
<p>Pembicara ini ternyata Tiat-bin-poan-koan Tan Cing adanya.</p>
<p>Putranya yang tertua, Tan Pek-san segera mengiakan dan ayun goloknya membacok kepala A Cu.</p>
<p>Keruan Kiau Hong terkejut dan kuatir tidak jadi melangkah pergi, tanpa pikir, ia sambitkan sebelah perisainya. Bagaikan &#8220;piring terbang&#8221; perisai itu menyambar secepat kilat ke depan.</p>
<p>&#8220;Awas !&#8221; dengan kuatir beberapa orang memperingatkan. Dengan cepat Tan Pek-san juga angkat goloknya hendak menyampuk.</p>
<p>Namun betapa hebat tenaga Kiau Hong tepi perisai itu sangat tajam pula, &#8220;krak&#8230;cret&#8221;, tahu-tahu golok tertabas patah, bahkan Tan Pek-san sendiri terpotong putus sebatas pinggang. Malahan perisai itu masih terus menyambar ke depan hingga menancap di pilar.</p>
<p>Kematian Tan Pek-san itu benar-benar sangat mengenaskan, hal ini membuat semua orang ikut murka, bukan saja Tan Cing dan putranya, Tan Ki-san, menubruk berbareng ke arah A Cu, bahkan beberapa ksatria lain juga menghujani A Cu dengan senjata.</p>
<p>&#8220;Manusia pengecut !&#8221; maki Kiau Hong. Cepat ia bertindak, dari jauh ia memukul empat kali berturut-turut hingga semua orang itu dipaksa menyingkir, menyusul ia lari maju, ia angkat A Cu dan dikempit dengan tangan kiri, ia gunakan perisai yang masih ada untuk melindungi badan si gadis.</p>
<p>&#8220;Kiau-toaya, aku percuma, jangan kau pikirkan aku lagi, lekas engkau menyelamatkan diri saja !&#8221; seru A Cu dengan suara lemah.</p>
<p>Namun pertarungan sengit itu sudah mengobarkan semangat jantan Kiau Hong yang angkuh dan tinggi hati, serunya, &#8220;Urusan sudah terlanjur begini, sudah terang mereka takkan mengampuni jiwamu, biarlah kita mati bersama saja !&#8221;</p>
<p>Dan sekali tangan kanan bergerak, kembali ia berhasil merebut sebatang pedang, dengan senjata rampasan itu ia terus menerjang keluar.</p>
<p>Karena tangan kiri mengempit A Cu, gerak-geriknya menjadi kurang leluasa, perisai pun kurang rapat untuk melindungi badan si gadis. Namun Kiau Hong sudah tidak pikirkan mati hidup sendiri, ia putar pedang sedemikian kencangnya.</p>
<p>Tapi baru saja dia hendak menerobos keluar, sekonyong-konyong punggung terasa sakit, nyata telah kena dibacok sekali oleh orang.</p>
<p>Tanpa pikir lagi ia mendepak ke belakang, kontan penyerang itu kena ditendang dan binasa seketika. Dan pada saat hampir bersamaan itu pundak Kiau Hong kena hantam sekali pula oleh Hian-lan, menyusul dada kanan juga kena ditusuk pedang musuh.</p>
<p>Mendadak Kiau hong mengerang sekali, begitu keras suaranya hingga seperti bunyi halilintar, bentaknya, &#8220;Kiau Hong akan bereskan diri sendiri dan tidak mau mati di tangan kaum keroco dan bangsa pengecut !&#8221;</p>
<p>Namun para pengeroyok itu sudah kadung nekat, mereka tidak mau memberi kesempatan kepada Kiau Hong untuk membunuh diri lagi. Segera belasan orang menubruk maju.</p>
<p>Tapi dengan tangkasnya mendadak Kiau Hong mencengkram, kontan &#8220;tan-tiong-hiat&#8221; di dada Hian-cit kena dipegang olehnya terus diangkat tinggi ke atas. Dalam kagetnya semua orang sama menjerit dan beramai melompat mundur.</p>
<p>Karena &#8220;tan-tiong-hiat&#8221; terpegang, betapapun lihai Hian-cit juga tak berguna, sama sekali ia tak bisa berkutik, tampaknya pinggir perisai yang tajam itu tinggal belasan senti saja di depan tenggorokannya, asal sedikit Kiau Hong sodok senjata itu, seketika kepala Hian-cit bisa kuntung. Tak tertahankan lagi padri itu menghela napas panjang, ia pejamkan mata menunggu ajal.</p>
<p>Tapi Kiau Hong sendiri merasa luka di punggung, dada dan pundak sakitnya tidak kepalang, maka berkatalah dia, &#8220;Ilmu silatku ini asalnya juga dari Siau-lim-pai, minum air harus ingat pada sumbernya, mana boleh kubunuh padri saleh Siau-lim-pai? Hari ini aku sudah pasti akan mati, kalau membunuh seorang lagi apa manfaatnya ?&#8221;</p>
<p>Habis berkata, cekalannya menjadi kendur, ia lepaskan Hian-cit ke lantai dan berkata, &#8220;Silahkan kalian turun tangan !&#8221;</p>
<p>Di tantang begitu, semua orang menjadi tertegun dan saling pandang malah, mereka terpengaruh oleh perbawa Kiau Hong yang gagah berani itu, sebaliknya Tan Cing sudah terlalu sakit hati karena kedua putranya dibunuh oleh Kiau Hong, dengan kalap terus ia menerjang maju, golok lantas membacok dada Kiau Hong.</p>
<p>Kiau Hong tahu betapapun ia menerjang toh takkan mampu membobol kepungan orang banyak. Maka ia hanya berdiri tegak tanpa menangkis. Sesaat itu terkilas macam-macam pikiran dalam benaknya, &#8220;Sebenarnya aku orang Cidan atau bangsa Han? Siapakah gerangan yang membunuh ayah bunda dan guruku itu? Selama hidupku selalu berbuat bajik dan membela keadilan, mengapa hari ini tanpa sebab aku menewaskan pendekar sebanyak ini? Dengan nekat aku menolong jiwa A Cu hingga aku sendiri malah binasa ditangan para ksatria ini bukankah aku ini terlalu bodoh san akan ditertawai orang ?&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu ia lihat wajah Tan Cing yang merah padam saking murka itu tampak berkerut-kerut, mata mendelik, goloknya sudah menyambar ke arah dadanya.</p>
<p>Tampaknya dalam sekejap lagi Kiau Hong pasti akan menggeletak tanpa bernyawa oleh serangan Tan Cing itu.</p>
<p>Go-tianglo, Cit-hoat-tianglo dan lain-lain sama pejamkan mata karena tidak tega menyaksikan kejadian tragis itu.</p>
<p>Sekonyong-konyong dari udara melayang turun seorang dengan cepat luar biasa dan tepat membentur golok Tan Cing. Karena tidak tahan oleh tenaga tumbukan itu, golok Tan Cing terpental ke samping.</p>
<p>Di tengah jerit kaget semua orang, mendadak dari udara melayang turun seorang lain. Sekali ini orang itu terjungkir, kepala di bawah dan kaki di atas, jadi lebih tepat di katakan terjun, &#8220;prak&#8221;, kepala orang itu tepat menumbuk kepala Tan Cing, keruan kepala kedua orang sama-sama hancur luluh seketika.</p>
<p>Dan baru saja sekarang semua orang dapat melihat jelas kedua orang yang melayang turun dari udara itu adalah penjaga di atas rumah, terang mereka dipegang orang dan dilemparkan ke bawah sebagai senjata rahasia.</p>
<p>Selagi keadaan kacau-balau, mendadak dari ujung wuwungan sana membuai turun seutas tambang yang panjang, dengan keras sekali tambang itu menyambar kepala orang banyak. Cepat para ksatria angkat senjata hendak menangkis, tapi ujung tambang itu tahu-tahu berganti arah terus melilit pinggang Kiau Hong, pada lain saat mendadak tambang itu sudah terangkat keatas.</p>
<p>Waktu itu darah sudah bercucuran dari luka Kiau hong, tangan kirinya yang mengempit A Cu itu sudah tak bertenaga, maka ketika ia dikerek keatas oleh tambang itu, A Cu lantas jatuh ke tanah.</p>
<p>Kemudian dapatlah semua orang melihat orang yang memegangi ujung tambang sebelah sana adalah seorang laki-laki berbaju hitam mulus, perawakannya tegap, tapi mukanya berkedok kain hitam, hanya kedua matanya yang kelihatan.</p>
<p>Setelah mengerek Kiau Hong ke atas, segera laki-laki itu mengempitnya dengan tangan kiri, menyusul tambang panjang itu diayunkan hingga tergubat pada tiang bendera di depan Cip-hian-ceng.</p>
<p>Pada saat para Ksatria berteriak dan membentak disertai hujan berbagai macam senjata rahasia ke arah Kiau Hong dan laki-laki baju hitam itu tarik kencang tambangnya, sekali melayang ke depan, tahu-tahu badannya terangkat ke atas dan hinggap di balkon di pucuk tiang bendera itu. Maka terdengarlah suara plak-plok yang riuh, berpuluh macam senjata rahasia itu sama menancap di balkon tiang bendera.</p>
<p>Sementara itu tambang lelaki baju hitam itu diayun ke depan lagi hingga ujungnya tepat mengubat pucuk pohon besar yang berada puluhan meter jauhnya, lalu orang itu mengempit Kiau Hong dan membuai keatas pohon di sebelah sana lagi dan begitu seterusnya, hanya sekejap saja laki-laki baju hitam itu sudah menghilang, yang terdengar kemudian hanya suara derap lari kuda yang berdetak-detak dan semakin jauh. Tertinggal para ksatria hanya saling pandang dengan bingung.</p>
<p>Meski Kiau Hong terluka parah, tapi pikiran jernihnya masih belum lenyap. Cara bagaimana lelaki baju hitam itu menolongnya, semuanya dapat diikuti dengan jelas. Sudah tahu ia sangat berterima kasih. Pikirnya, &#8220;Cara main tambang demikian aku pun bisa, tapi kepandaiannya sekaligus menyerang berpuluh lawan dengan tambang, lalu ganti arah untuk menolong diriku, inilah yang aku tidak mampu menirunya.&#8221;</p>
<p>Setelah menyelamatkan Kiau Hong, orang baju hitam itu lantas angkat Kiau Hong ke atas kuda, dua orang setunggangan mereka menuju ke utara. Di atas kuda juga orang itu mengeluarkan obat untuk dibubuhkan pada luka Kiau Hong.</p>
<p>Saking banyak mengeluarkan darah, beberapa kali Kiau Hong hampir pingsan, syukur setiap kali ia sempat mengerahkan tenaga dalam hingga kejernihan pikirannya masih dapat dipertahankan.</p>
<p>Laki-laki itu larikan kudanya melalui jalan yang berliku-liku, sampai akhirnya, kuda itu melulu naik turun di antara batu padas belaka. Lebih satu jam kemudian, kuda itu tidak meneruskan perjalanan lagi.</p>
<p>Laki-laki itu lantas menurunkan Kiau Hong dan memondongnya ke atas puncak, makin jauh makin tinggi. Badan Kiau Hong sebenarnya sangat berat, tapi orang itu sama sekali tidak merasakan apa-apa, bahkan dapat lari secepat terbang  di tebing karang yang terjal itu.</p>
<p>Suatu ketika, jalan di depan terhalang oleh selat jurang yang dalam, orang itu lantas menggunakan tambangnya lagi untuk menggubat pohon di seberang selat, lalu melayang ke seberang sana.</p>
<p>Diam-diam Kiau Hong terperanjat dan heran, &#8220;Cara menyebrangi jurang melintasi selat aku pun bisa jika bertangan kosong, tapi bila memondong seorang seperti dia, tak dapatlah aku.&#8221;</p>
<p>Setelah melalui tebing karang dan banyak selat jurang yang berbahaya, kemudian jalanan lantas menurun ke bawah, lalu masuk ke suatu lembah jurang yang dalam sekali hingga langit hampir tak kelihatan. Akhirnya berhentilah orang itu, dan taruh Kiau Hong di tanah.</p>
<p>Sesudah berdiri tegak, segera Kiau Hong berkata, &#8220;Sungguh terima kasih atas pertolongan In-heng (saudara berbudi) ini, dapatkah Kiau Hong mohon melihat wajah asli In-heng ?&#8221;</p>
<p>Sinar mata orang berbaju hitam itu berkilat-kilat membayang kian kemari di muka Kiau Hong, sejenak kemudian barulah dia membuka suara, &#8220;Di dalam goa situ terdapat rangsum yang cukup untuk setengah bulan, boleh kau rawat lukamu di sini, musuh pasti tidak dapat menyusul kemari.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong mengiakan sekali, ia pikir, &#8220;Dari suaranya ini, agaknya dia bukan orang muda lagi.&#8221;</p>
<p>Orang itu juga sedang mengamat-amati Kiau Hong, pada saat lain mendadak tangan kanannya bergerak, &#8220;plak&#8221;, tahu-tahu Kiau Hong digamparnya sekali.</p>
<p>Keruan Kiau Hong kaget. Tempelengan itu dilakukan dengan cepat luar biasa, pula Kiau Hong sama sekali tidak menduga orang akan menghajarnya, ketiga, cara memukul itu pun sangat pintar, maka Kiau Hong tidak sempat menghindar.</p>
<p>Tapi ketika orang itu hendak menempelengnya untuk kedua kalinya, walau pun pukulan susulan ini cepat luar biasa, tapi Kiau Hong sudah sempat berjaga-jaga, tidak nanti ia kena digampar lagi. Cuma mengingat orang adalah tuan penolong kiwanya, ia tidak ingin mengadu telapak tangan dengan orang itu.</p>
<p>Tempat yang diarah jari Kiau Hong adalah &#8220;lau-kiong-hiat&#8221; di tengah telapak tangan laki-laki itu. Jika pukulannya diteruskan, itu berarti telapak tangannya sengaja diberikan kepada jari Kiau Hong.</p>
<p>Ilmu silat orang itu sangat tinggi, dengan sendirinya gerak geriknya juga sangat cekatan. Sebelum telapak tangan tertutuk, mendadak tangannya membalik, yang dibuat menggampar berubah menjadi punggung tangan orang itu.</p>
<p>Tapi Kiau Hong juga cepat sekali menggeser jarinya, ia incar arah datangnya punggung tangan lawan, jarinya tepat memapak &#8220;ji-kan-hiat&#8221; di punggung tangan orang itu.</p>
<p>Terdengarlah laki-laki itu tertawa panjang, ia tarik kembali tangannya yang sudah mendekati sasrannya itu, sebaliknya tangan kiri terus menabas. Tapi Kiau Hong mendadak juga julurkan jari tangan kiri, ujung jari tepat mengincar &#8220;au-ka-hiat&#8221; di tepi telapak tangan orang&#8230;</p>
<p>Begitulah dalam sekejap saja kedua tangan laki-laki berbaju hitam itu naik turun bagaikan orang menari dan sekaligus sudah belasan serangan dilancarkan, namun Kiau Hong juga tidak kalah tangkasnya, ia melulu bertahan saja tanpa balas menyerang. Selalu ia pasang jarinya untuk melancarkan hiat-to di telapak tangan orang yang hendak menyerangnya itu.</p>
<p>Kalau pertama kali tadi laki-laki itu dapat menghajar Kiau Hong adalah disebabkan bekas Pangcu itu tidak menduga sama sekali, tapi serangan selanjutnya tidak mungkin dapat mengenainya lagi. Maka serangan dan tangkisan itu berlangsung dengan cepat, ilmu silat yang mereka gunakan sama-sama kelas wahid yang jarang ada di dunia.</p>
<p>Setelah genap menyerang dua puluh kali, mesti Kiau Hong dalam keadaan terluka, namun gerak-gerik dan jitunya menangkis sedikitpun tidak menjadi kendur dan meleset. Mendadak laki-laki baju hitam itu menarik kembali tangannya dan melompat mundur. Katanya, &#8220;Kamu benar-benar seorang tolol, seharusnya aku tidak perlu menolongmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dengan hormat aku bersedia menerima nasihat Inkong (tuan penolong),&#8221; kata Kiau Hong dengan rendah hati.</p>
<p>&#8220;Kamu ini sungguh keledai tolol,&#8221; omel laki-laki baju hitam itu. &#8220;Kau sendiri meyakinkan ilmu silat yang tiada bandingannya di dunia ini, tapi mengapa rela mengorbankan jiwa secara sia-sia bagi seorang anak dara yang kurus kecil begitu? Dia bukan sanak kandangmu, tiada budi tiada kasih, cantik tidak, manis tidak, masakah di dunia ini ada seorang tolol seperti dirimu dan bersedia berkorban jiwa baginya ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Petuah Inkong memang benar,&#8221; sahut Kiau Hong dengan menghela napas. &#8220;Perbuatanku yang tidak mendatangkan manfaat ini memang tidak tepat. Soalnya karena terdorong oleh nafsu yang murka, lalu bertindak tanpa pikirkan akibatnya.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba laki-laki baju hitam menengadah sambil terbahak-bahak. Suara ketawanya terasa agak memilukan, Kiau Hong menjadi bingung. Mendadak orang itu melompat pergi hingga jauh, sekali melesat lagi, segera orangnya menghilang di balik batu karang sana.</p>
<p>&#8220;Inkong !  Inkong !&#8221; seru Kiau Hong.</p>
<p>Namun orang itu tidak menyahut juga tidak balik lagi. Maksud Kiau Hong hendak mengejarnya, tapi baru bertindak selangkah, segera ia terhuyung-huyung akan roboh. Cepat ia pegang dinding karang di sampingnya dan tenangkan diri.</p>
<p>Waktu ia menoleh, ia lihat di balik dinding karang itu ada sebuah gua, ia merembet dinding dan masuk gua itu dengan perlahan. Ia lihat dalam gua sudah banyak tersedia rangsum kering sebangsa ikan asin, dendeng, kacang, beras goreng dan sebagainya. Yang paling menarik adalah tersedia pula seguci arak.</p>
<p>Segera Kiau Hong membuka tutup guci arak itu, seketika bau arak yang semerbak menusuk hidung. Terus saja ia gunakan tangannya untuk meraup arak dan diminum, ternyata arak itu adalah arak pilihan yang sangat sedap. Sungguh terima kasihnya tak terhingga. Pikirnya, &#8220;Inkong itu benar-benar seorang yang pintar, ia tahu aku gemar minum arak, maka sengaja menyediakan minuman enak ini untukku.&#8221;</p>
<p>Obat luka yang dibubuhkan laki-laki baju hitam itu ternyata sangat mujarab, hanya beberapa jam saja darah sudah mampet. Ditambah Lwekang Kiau Hong sangat tinggi, walau pun lukanya cukup parah, namun sembuhnya ternyata sangat cepat. Baru 6-7 hari ia tinggal di dalam gua itu dan luka pun hampir sembuh seluruhnya. Selama beberapa hari itu yang selalu terpikir olehnya hanya dua soal, &#8220;Siapakah musuh yang memfitnah diriku itu? Dan siapakah Inkong yang menolong aku itu ?&#8221;</p>
<p>Ilmu silat kedua orang itu, baik musuh yang tak dikenal maupun Inkong, tuan penolongnya semuanya sangat tinggi dan agaknya tidak di bawah Kiau Hong sendiri. Padahal tokoh Bu-lim yang memiliki kepandaian setinggi itu sedikit sekali, boleh dikatakan dapat dihitung dengan jari. Tapi meski Kiau Hong coba berpikir dan mengingat-ingat toh tiada seorang tokoh Bu-lim yang menyerupai kedua orang itu.</p>
<p>Bahwa musuh itu susah diterka, itu memang masuk diakal. Tapi tuan penolong yang telah bergebrak 20 jurus dengan dirinya itu seharusnya dapat diduga gaya permainan silatnya itu dari aliran mana dan golongan apa, namun sedikitpun ia tetap tidak dapat menerkanya, sebab setiap jurus serangan yang dilontarkan tuan penolong tadi semuanya silat biasa saja, yaitu terdiri dari ilmu pukulan yang sangat umum, mirip seperti dirinya waktu melawan Hian-lan Taisu dengan ilmu pukulan &#8220;Thai-co-tiang-kun&#8221;, sedikitpun Inkong itu tidak memakai ilmu silat golongan sendiri hingga asal-usulnya susah diketahui.</p>
<p>Sebagai seorang ksatria, meski kedua soal penting itu tak bisa dipecahkan, namun segera di kesampingkannya dan tak dipikir lagi.</p>
<p>Seguci arak itu tidak cukup dua hari sudah habis diminum olehnya. Sedang lukanya setengah bulan kemudian juga hampir sembuh seluruhnya. Selama belasan hari tidak minum arak, ia menjadi ketagihan. Ia tidak tahan lagi. Ia menduga untuk melompati selat lebar dan jurang dalam sudah cukup kuat, maka ia lantas meninggalkan gua tempat istirahat itu dan berkecimpung di dunia kangouw lagi.</p>
<p>Pikirknya di tengah jalan, &#8220;Sesuah A Cu jatuh di bawah cengkraman mereka, kalau dibunuh tentu sudah mati, sebaliknya kalau masih hidup tentu tidak perlu aku mengurusnya lagi. Urusan paling penting sekarang adalah harus kuselidiki hingga jelas siapakah sebenarnya diriku ini? Tapi ayah ibu dan Suhu dalam waktu sehari saja telah dibunuh musuh, rahasia tentang asal-usulku ini menjadi lebih susah dipecahkan. Jalan satu-satunya sekarang harus kupergi keluar perbatasan Gan-bun-koan untuk membaca tulisan yang terukir di dinding batu sana.&#8221;</p>
<p>Setelah ambil keputusan demikian, segera ia menuju ke arah barat laut. Setiba di kota, terus saja ia minum arak sepuasnya. Tapi sekali minum sangu yang dibawanya telah dihabiskan.</p>
<p>Waktu itu ia berada di kota Liong-koan. Malamnya ia lantas menggerayangi kantor residen, ia ambil beberapa puluh tail perak dari kas negara. Dengan begitu ia dapat makan minum besar lagi sepanjang jalan dengan biaya negara.</p>
<p>Beberapa hari kemudian sampailah dia di Taiciu, Gan-bun-koan itu terletak antara 30 li di utara Taiciu. Dahulu waktu Kiau Hong mengembara juga pernah datang ke kota ini. Cuma tatkala itu dia ada urusan penting, maka hanya sepintas lalu saja kota itu dikenalnya.</p>
<p>Menjelang lohor ia sampai di Taiciu, maka lebih dulu ia makan minum sekenyangnya, lalu keluar kota dan menuju ke utara.</p>
<p>Dengan kecepatan larinya, jarak 30 li itu tiada setengah jam sudah dicapainya. Sesudah mendaki lereng bukit, ia lihat di kanan kiri jalan dinding karang berdiri tegak menyempit, jalan di tengah selat bukit itu berliku-liku. Memang benar tempat yang berbahaya dalam ilmu militer.</p>
<p>Sebabnya tempat itu diberi nama &#8220;Gan-bun-koan&#8221; atau pintu gerbang burung belibis, ialah untuk melukiskan betapa terjalnya dinding karang di situ, bahwasanya setelah musim dingin, burung belibis yang mengungsi ke selatan waktu kembali ke utara mesti melalui selat gunung yang terjal itu, tapi saking tingginya puncak pegunungan di situ terpaksa burung belibis harus terbang lewat melalui selat di tengah apitan dinding karang, sebab itu tempat ini diberi nama Gan-bun-koan.</p>
<p>Diam-diam Kiau Hong pikir, &#8220;Hari ini aku datang dari selatan. Bila tulisan dinding karang itu menyatakan aku Kiau Hong memang benar adalah keturunan Cidan, maka sekeluar dari Gan-bun-koan ini, selamanya aku akan menjadi orang utara Gan-bun-koan dan takkan pernah kembali ke selatan lagi. Dibandingkan burung belibis yang tiap tahun sekali mesti pulang pergi ke utara dan selatan, terang burung itu jauh lebih bebas dan merdeka daripada diriku.&#8221;</p>
<p>Berpikir demikian, mau-tak-mau ia jadi berduka dan pedih.</p>
<p>Gan-bun-koan itu terhitung salah satu benteng penting dalam pertahanan negara Song pada waktu itu, di antara lebih 40 koan (benteng atau pos penjagaan Ban-ti-tiang-sia atau Tembok Besar) di wilayah Soasai, Gan-bun-koan itu termasuk yang paling kuat dan megah. Beberapa puluh li di luar benteng pertahanan itu adalah batas negeri kerajaan Liau. Karena itulah di Gan-bun-koan ada pasukan penjaga yang kuat.</p>
<p>Kalau meneruskan perjalanan melalui pintu benteng penjagaan, tentu Kiau Hong akan ditanya penjaga di situ. Maka ia sengaja berputar ke arah barat, ia ambil jalan lereng bukit dan sampai di Coat-nia (bukit buntu).</p>
<p>Ia pandang sekeliling bukit itu. Ia lihat jauh  di timur sana Ngo-tai-san menjulang tinggi mencakar langit, arah lain juga penuh lereng bukit yang menghijau kebiruan tak berujung, suasana sunyi senyap.</p>
<p>Kiau Hong teringat pada masa dahulu pernah mendengar cerita tentang sejarah Gan-bun-koan yang merupakan benteng pertahanan dalam melawan serbuan bangsa Tartar, bangsa Hun dan lain-lain yang seringkali mengganggu wilayah Tiongkok. Apabila sekarang ternyata benar dirinya adalah keturunan bangsa asing Cidan, maka boleh dikatakan dirinya adalah keturunan bangsa yang suka menyerbu ke wilayah Tiongkok selama beratus tahun ini.</p>
<p>Ia memandang jauh ke utara dan berpikir, &#8220;Tatkala Ong-pangcu, Tio-ci-sun dan lain-lain menyergap musuh bangsa Cidan di luar Gan-bun-koan dulu, tentu mereka pilih suatu tempat yang paling baik di lereng bukit. Melihat keadaan sekitar tempat ini, rasanya tempat yang paling tepat adalah lereng sebelah barat laut ini. Ya, besar kemungkinan di situlah mereka menyergap musuh.&#8221;</p>
<p>Segera ia berlari ke bawah bukit dan sampai di sana. Tiba-tiba hatinya merasakan semacam tekanan batin yang memilukan. Ia lihat di situ terdapat sepotong batu karang raksasa. Menurut cerita Ti-kong Taisu, katanya dahulu para ksatria Tionggoan sana bersembunyi di balik sebuah batu karang, lalu menghamburkan senjata gelap berbisa ke arah musuh. Melihat gelagatnya, sekarang mungkin batu karang raksasa inilah yang dimaksudkan.</p>
<p>Kira-kira beberapa meter disisi jalan sana ada jurang yang sangat dalam, dipermukaan jurang tertutup kabut tebal hingga betapa dalamnya jurang itu sukar dijajaki.</p>
<p>Diam-diam Kiau Hong berpikir, &#8220;Bila cerita Ti-kong Taisu itu memang benar, maka sesudah ibuku dibunuh mereka, lalu ayahku membunuh diri dengan terjun ke jurang ini. Tapi begitu terjun ke bawah, beliau tidak tega aku ikut menjadi korban, maka aku telah dilemparkan ke atas dan tepat jatuh di atas tubuh Ong-pangcu. Dan&#8230;&#8230;tulisan apakah yang ditulisnya di dinding batu yang dimaksudkan itu ?&#8221;</p>
<p>Ketika ia berpaling dan memandang dinding karang yang berada di sisi kanan, ia lihat dinding gunung di situ halus licin dan cukup lebar, tapi tepat di bagian tengah dinding itu tampak penuh bekas bacokan kapak. Terang ada seorang yang sengaja menghilangkan tulisan yang katanya terukir di dinding itu.</p>
<p>Kiau Hong berdiri termangu-mangu di depan dinding batu itu dengan perasaan bergolak, sungguh ia ingin putar senjata dan mengangkat kepalan untuk menghantam dan membunuh sepuas-puasnya. Tapi mendadak teringat sesuatu olehnya, &#8220;Waktu aku keluar dari Kay-pang, pernah aku bersumpah dengan mematahkan golok Tan-cing, aku menyatakan selama hidup ini takkan membunuh seorang pun bangsa Han, baik aku terbukti orang Cidan atau bukan. Akan tetapi, dengan pertarungan sengit di Cip-hian-ceng itu, sekaligus entah sudah berapa orang yang telah ku bunuh, dan sekarang timbul pula keinginanku hendak membunuh, bukankah perbuatanku ini telah melanggar sumpahku sendiri? Ai, urusan sudah terlanjur begini, biarpun aku tak mengganggu orang, toh orang yang akan mengusik diriku, jika aku diam-diam saja pasrah nasib untuk di bunuh orang, apakah sikap demikian cukup bijaksana sebagai seorang ksatria ?&#8221;</p>
<p>Padahal jauh-jauh ia datang keluar Gan-bun-koan ini, tujuannya adalah ingin membaca tulisan di dinding batu ini untuk menyelidiki asal-usul nya sendiri yang sebenarnya. Akan tetapi usaha nya sekarang ternyata sia-sia belaka. Perangainya makin lama semakin gopoh dan suka aseran, tiba-tiba ia berteriak-teriak, &#8220;Aku bukan orang Han, aku bukan orang Han !  Aku adalah orang Cidan !  Ya, aku orang Cidan !&#8221;</p>
<p>Dan tangannya terus menghantam susul menyusul kearah dinding batu itu.</p>
<p>Maka terdengarlah suara kumandang yang riuh gemuruh menirukan teriakan akibat hantaman Kiau Hong pada dinding batu itu. Karena tekanan batinnya yang tak terlampiaskan itu, maka pukulan Kiau Hong itu masih terus dilontarkan tanpa berhenti.</p>
<p>Kesehatannya memang sudah lama sembuh, ditambah tenaga dalamnya sangat kuat, maka setiap pukulannya semakin keras daripada pukulan yang lain, begitu hebat caranya mengamuk hingga seakan-akan segala duka derita yang dirasakannya selama ini hendak dilampiaskan atas dinding batu itu.</p>
<p>Tengah ia menggempur dinding batu itu, tiba-tiba dari belakang suara seorang wanita yang nyaring merdu berkata, &#8220;Kiau-toaya, jika engkau memukul terus, sebentar gunung ini tentu akan kau bikin gugur !&#8221;</p>
<p>Kiau Hong melengak oleh teguran itu. Waktu ia menoleh, ia lihat di balik batu sana, di bawah sebatang pohon berdiri seorang gadis jelita dengan mengulum senyum. Siapa lagi dia kalau bukan si A Cu.</p>
<p>Heran dan girang juga Kiau Hong, cepat ia mendekati dan menyapa dengan tertawa, &#8220;Hei, A Cu kamu selamat dan tidak apa-apa ?&#8221;</p>
<p>Tapi karena dia habis marah-marah, maka tertawanya itu dengan sendirinya rada dipaksakan dan kurang wajar.</p>
<p>&#8220;Kiau-toaya, engkau sendiri juga baik-baik, bukan ?&#8221; sahut A Cu. Ia pandang Kiau Hong sejenak, mendadak ia menubruk ke dalam pelukan bekas Pangcu itu sambil meratap, &#8220;O, Kiau-toaya, aku sudah&#8230;&#8230;sudah menunggu lima hari lima malam di sini, kukuatir engkau takkan datang, tapi sekarang ter&#8230;&#8230;ternyata datang juga. Dan syukurlah engkau ternyata selamat tak kurang suatu apa pun.&#8221;</p>
<p>Meski ucapan A Cu itu terputus-putus, tapi penuh rasa girang dan lega, dengan sendirinya Kiau Hong dapat merasakan betapa gadis itu memperhatikan keselamatannya, hatinya tergerak segera bertanya, &#8220;Mengapa kau tunggu aku di sini selama lima hari lima malam? Dan dari&#8230;&#8230;dari mana kau tahu aku akan datang kemari ?&#8221;</p>
<p>Perlahan A Cu mendongak, tiba-tiba ia ingat dirinya berada di dalam pelukan seorang laki-laki, wajahnya menjadi merah, cepat ia melepaskan dari dan melangkah mundur, ia merasa malu dirinya tadi telah lupa daratan dan tanpa sadar menyusup dalam pelukan orang. Mendadak ia membalik tubuh dengan kepala menunduk.</p>
<p>&#8220;He, kenapakah A Cu ?&#8221; tanya Kiau Hong bingung.</p>
<p>Namun A Cu tidak menjawab, ia merasa hati berdebar-debar. Selang sejenak, ia berpaling sedikit sambil melirik, tapi lantas membalik ke sana lagi dengan malu-malu.</p>
<p>Melihat sikap si gadis yang aneh itu, Kiau Hong lantas tanya, &#8220;A Cu, adakah sesuatu yang akan kau katakan? Jika ada, katakanlah terus terang. Kita pernah sama-sama menghadapi kesukaran dan merupakan kawan sehidup semati, apa yang kau pantangkan lagi ?&#8221;</p>
<p>Muka A Cu merah jengah lagi, sahutnya lirih, &#8220;Ti&#8230;tidak !&#8221;</p>
<p>Perlahan Kiau Hong pegang pundak gadis itu dan diputar ke arah matahari, maka jelas terlihat wajah gadis itu meski masih pucat dan agak kurus, tapi air muka yang kepucat-pucatan itu bersemu merah pula dan bukan lagi muka pucat pasi waktu terluka parah tempo hari. Segera Kiau Hong pegang tangan A Cu untuk memeriksa nadinya.</p>
<p>Ketika pergelangan tangan A Cu tersentuh jari Kiau Hong, tanpa terasa badan gadis itu tergetar bagai kena aliran listrik.</p>
<p>Kiau Hong menjadi heran, ia tanya, &#8220;Kenapa? Apa badanmu kurang enak ?&#8221;</p>
<p>Kembali wajah A Cu merah dadu, sahutnya cepat, &#8220;O, ti&#8230;tidak, tak apa-apa !&#8221;</p>
<p>Sesudah Kiau Hong periksa nadi A Cu, ia merasa denyut nadi itu tenang dan kuat, sedikitpun tiada tanda luar biasa, maka katanya, &#8220;Kepandaian Sih-sin-ih benar-benar sakti, pengobatannya selalu &#8216;ces-pleng&#8217;, sungguh tidak bernama kosong.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, beruntung sobatmu Pek Si-kia Tianglo telah mengancam tabib sakti itu dengan golok di dada, karena terpaksa, barulah ia mengobati aku.&#8221; tutur A Cu.</p>
<p>&#8220;Dan sesudah kau sembuh, ternyata mereka mau juga membebaskanmu.&#8221; ujar Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Huh, masakah mereka begitu baik ?&#8221; jengek A Cu dengan tertawa. &#8220;Justru mereka selalu merecoki aku, baru kesehatanku sedikit pulih, setiap hari paling sedikit ada belasan orang yang mengajukan macam-macam pertanyaan dan gertakan padaku. Meraka tanya Kiau-toaya pernah hubungan apa dengan aku? Ada yang tanya siapakah gerangan laki-laki berbaju hitam yang menolongmu itu? Dan ke manakah engkau digondol? Sudah tentu aku tidak tahu, maka aku menjawab dengan sejujurnya. Tapi mereka tidak percaya padaku dan mengancam takkan memberi makan, akan menyiksa padaku dan lain-lain gertakan lagi. Terpaksa aku mengarang pengakuan yang tidak betul, aku sengaja bilang laki-laki berbaju hitam itu datang dari Kun-lun-san, lain hari kukatakan dia datang dari pulau di Tanghai dan macam-macam dongengan lain yang lucu.&#8221;</p>
<p>Bercerita sampai di sini, ia jadi teringat pada para ksatria Tionggoan yang dibohongi dan dipermainkan olehnya itu, saking gelinya ia tertawa cekikikan.</p>
<p>&#8220;Dan mereka percaya tidak pada obrolanmu ?&#8221; tanya Kiau Hong ikut geli.</p>
<p>&#8220;Ada yang percaya, ada yang tidak, dan ada yang setengah percaya dan setengah tidak.&#8221; sahut A Cu. &#8220;Ku yakin di antara mereka tiada seorangpun yang kenal dengan tokoh berbaju hitam itu, maka aku sengaja mengarang cerita yang aneh dan khayal, biar mereka curiga dan ketakutan serta selalu kebat-kebit.&#8221;</p>
<p>&#8220;Padahal siapakah tuan penolong berbaju hitam itu, sampai kini aku sendiri pun tidak kenal,&#8221; ujar Kiau Hong. &#8220;Coba bila kudengar dongenganmu itu, mungkin aku pun percaya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh, jadi engkau sendiri pun tidak kenal dia? Habis, mengapa beliau sudi menyerempet bahaya untuk menolongmu ?&#8221; tanya A Cu heran. &#8220;Tapi memang begitulah perbuatan seorang pendekar sejati, seorang ksatria yang suka menolong sesamanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, entah cara bagaimana harus kubalas budi tuan penolong itu dan entah bagaimana pula harus kutuntut balas pada musuh yang belum kukenal,&#8221; kata Kiau Hong dengan penuh menyesal. &#8220;Apalagi aku pun belum tahu apakah aku bangsa Han atau Cidan, juga tidak tahu perbuatanku sendiri selama hidup ini betul atau salah? O, Kiau Hong wahai, Kiau Hong! Percumalah kau jadi manusia !&#8221;</p>
<p>Melihat Kiau Hong sangat sedih, tanpa terasa A Cu memegang tangan bekas Pangcu itu, hibur nya dengan suara lembut, &#8220;Kiau -toaya, buat apa mencari susah sendiri? Segala kejadian pada akhirnya tentu akan terang. Asal engkau merasa tidak berdosa, segala perbuatanmu dapat dipertanggung jawabkan kepada siapapun juga, maka engkau tidak perlu gentar lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar, aku justru merasa berdosa, makanya sedih,&#8221; sahut Kiau Hong. &#8220;Tempo hari aku telah bersumpah takkan membunuh seorang pun bangsa Han, tetapi sekarang&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Engkau terpaksa membela diri, kalau tidak balas menyerang, tentu engkau sendiri sudah binasa dikeroyok mereka,&#8221; ujar A Cu.</p>
<p>Sebagai seorang laki-laki yang bisa berpikir panjang, cepat juga Kiau Hong kesampingkan tekanan batinnya itu. Katanya kemudian, &#8220;Menurut Ti-kong Taysu dan orang yang mengaku bernama Tio-ci-sun itu katanya pada dinding batu ini ada tulisannya, entah mengapa sekarang telah dihapus orang ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, memang sudah kuduga engkau pasti akan memeriksa tulisan di dinding ini, makanya aku menantimu di sini sesudah lolos dari bahaya,&#8221; kata A Cu.</p>
<p>&#8220;Cara bagaimana kau lolos dari bahaya, apakah ditolong pula oleh Pek Si-kia ?&#8221; tanya Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Bukan,&#8221; sahut A Cu dengan tersenyum, &#8220;Bukankah engkau masih ingat aku pernah menyamar sebagai hwesio untuk mengelabui padri Siau-lim-si ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, kepandaianmu yang nakal itu memang hebat, &#8220;sahut Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Dan setelah lukaku agak sembuh, menurut Sih-sin-ih, katanya tidak perlu diobati lagi, cukup tetirah beberapa hari lagi tentu akan sehat kembali. Dalam pada itu dongeng yang kukarang untuk menipu mereka itu makin lama makin banyak dan macam-macam hingga aku sendiri pun bosan, pula merasa kuatir atas dirimu, maka pada suatu malam, kembali aku menyaru sebagai seorang tokoh untuk meloloskan diri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kamu menyaru lagi? Menyaru siapa ?&#8221; tanya Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Aku menyaru sebagai Sih-sin-ih,&#8221; sahut A Cu.</p>
<p>&#8220;Menyaru sebagai Sih-sin-ih? Dapat menyaru dengan percis ?&#8221; Kiau Hong menegas dengan terheran-heran.</p>
<p>&#8220;Tentu saja dapat,&#8221; sahut A Cu. &#8220;Setiap hari aku bertemu dan paling sering pula bicara dengan dia, maka sikapnya dan gerak-geriknya sangat apal bagiku. Lagi pula hanya dia seorang yang paling sering berada bersamaku. Malam itu aku pura-pura pingsan, segera ia memeriksa nadiku, kesempatan itu kugunakan untuk pencet urat nadinya secara mendadak sehingga dia tidak berani berkutik dan mau-tak-mau pasrah nasib padaku.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Kiau Hong geli di dalam hati, sungguh sial tabib sakti itu, yang dipikirkan oleh tabib itu hanya mengobati orang, sudah tentu tak diduganya bahwa budak setan ini bisa main gila padanya.</p>
<p>&#8220;Begitulah aku lantas tutuk jalan darahnya,&#8221; demikian A Cu menyambung. &#8220;Tapi ilmu tutukanku kurang pandai, kukuatir dalam waktu singkat dia akan bergerak lagi, maka kutambahi dia dengan ringkusan kain sobekan seprei, kaki tangan nya kuikat dan mulutnya kusumbat, lalu kugusur dia ke atas ranjang sesudah kucopot dulu baju dan sepatunya. Kututupi dia dengan selimut hingga kalau dipandang dari luar tentu orang akan menyangka aku yang tidur di situ tanpa curiga. Kemudian kupakai baju dan sepatu serta kopiahnya. Aku coret mukaku dengan garis-garis keriput hingga mirip tabib sakti itu, yang masih kurang hanya tinggal jenggotnya saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kurang jenggot ?&#8221; Kiau Hong menegas. &#8220;Ehm, jenggotnya yang panjang dan sudah mulai ubanan itu agak sulit dipalsukan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tak bisa memalsu, terpaksa aku memakai yang asli,&#8221; ujar A Cu.</p>
<p>&#8220;Pakai yang asli ?&#8221; Kiau Hong menegas dengan heran.</p>
<p>&#8220;Ya, kupakai yang asli. Kuambil pisau dari peti obat dan mencukur jenggotnya, lalu kutempelkan jenggot pinjaman itu di mukaku, dengan demikian jenggot si tabib sakti itu kupindahkan tanpa memalsunya. Sudah tentu tabib itu keki setengah mati, tapi apa yang bisa dia perbuat? Ia mengobati aku karena terpaksa, aku mencukur jenggotnya juga tak dapat dikatakan membalas susu dengan air tuba. Apalagi sesudah kucukur jenggotnya, ia menjadi jauh lebih muda tampaknya dan lebih tampan dari biasanya.&#8221;</p>
<p>Bercerita sampai sini, tertawalah kedua orang dengan geli.</p>
<p>&#8220;Dan sesudah menyaru sebagai Sih-sin-ih, dengan lagak tuan besar aku lantas keluar dari Cip-hian-ceng dan dengan sendirinya tiada seorang pun berani menegur padaku. Malahan kuperintahkan orang-orang di situ menyediakan kuda dan sangu seperlunya, lalu kuangkat kaki,&#8221; demikian A Cu meneruskan. &#8220;Sesudah jauh dari Cip-hian-ceng, segera kububut bersih jenggot tempelan itu dan berubah menjadi laki-laki muda. Orang-orang di Cip-hian-ceng itu baru akan mengetahui lolosnya diriku pada esok paginya. Tapi sepanjang jalan aku menyamar orang lain lagi secara berganti-ganti hingga takkan dapat mereka temukan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus, sungguh bagus !&#8221; sorak Kiau Hong sambil bertepuk tangan. Tapi mendadak ia ingat pernah melihat bayangan belakang diri sendiri dalam cermin perunggu di ruang po-te-ih di Siau-lim-si tempo hari, tatkala itu ia terkesiap, lamat-lamat ia merasakan ada sesuatu yang kurang beres. Kini demi mendengar cerita A Cu tentang menyaru orang lain untuk menipu, kembali ia merasakan ketidak beresan seperti dulu itu, maka segera ia berkata, &#8220;A Cu, coba kau putar tubuhmu !&#8221;</p>
<p>Sudah tentu A Cu bingung akan maksud Kiau Hong, tapi ia menurut juga dan memutar tubuh.</p>
<p>Kiau Hong termenung sejenak memandangi belakang tubuh gadis itu. Tiba-tiba ia lepaskan baju luar sendiri dan dikenakan pada badan A Cu.</p>
<p>Dengan muka kemerah-merahan A Cu menoleh, ia pandang bekas pangcu itu dengan sorot mata yang lembut dan melekat, katanya lirih, &#8220;Aku tidak dingin.&#8221;</p>
<p>Tapi setelah memandangi bentuk tubuh A Cu dengan mengenakan bajunya itu, mendadak Kiau Hong menjadi terang seluk beluk ketidak beresan yang mencengkam perasaannya itu. Sekali tangannya bergerak, cepat ia pegang tangan si gadis sambil bertanya dengan suara bengis, &#8220;Hah, kiranya kau inilah! Kau lakukan atas suruhan siapa? Lekas mengaku terus terang!&#8221;</p>
<p>Keruan A Cu kaget, tanyanya dengan gelagapan, &#8220;Kiau&#8230;Kiau-toaya, ada&#8230;ada apa ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau pernah menyaru sebagai diriku dan pernah memalsukan aku bukan ?&#8221; tanya Kiau Hong.</p>
<p>Baru sekarang ia ingat pada kejadian tempo hari waktu ia terburu-buru hendak pergi menolong kawan Kay-pang yang ditawan orang Sehe, di tengah jalan ia pernah melihat bayangan belakang seseorang. Tatkala itu ia tidak menaruh perhatian apa-apa, kemudian sesudah melihat bayangan belakang sendiri pada cermin perunggu di Siau-lim-si, barulah ia ingat bentuk tubuh belakang yang pernah dilihatnya itu mirip sekali dengan dirinya.</p>
<p>Padahal waktu dia tiba di tempat yang dituju lebih dulu orang-orang Kay-pang sudah bebas dari bahaya dan semua orang mengucapkan terima kasih atas pertolongannya yang pada hakikatnya bukan dia yang melakukannya. Tatkala itu ia pun merasa bingung dan menduga pasti ada seorang lain yang telah memalsukan dirinya.</p>
<p>Kini setelah melihat bangun tubuh A Cu sesudah mengenakan bajunya itu, sesudah dicek satu sama lain, mengertilah Kiau Hong akan duduknya perkara, terang gadis inilah yang telah memalsukan dirinya dan tidak mungkin orang lain.</p>
<p>A Cu ternyata tidak heran dan kuatir lagi, sebaliknya ia mengaku terus terang dengan tertawa, &#8220;Ya, baiklah, aku mengaku pernah menyamar sebagai engkau.&#8221;</p>
<p>Lalu ia pun ceritakan pengalamannya menyaru sebagai Kiau Hong untuk menolong anggota Kay-pang dengan obat penawar racun itu.</p>
<p>&#8220;Apa tujuanmu menyaru diriku untuk menolong orang Kay-pang ?&#8221; bentak Kiau Hong dengan bengis sambil melepaskan tangannya.</p>
<p>A Cu terkesiap, sahutnya cepat, &#8220;Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya untuk kelakar saja. Kupikir mereka memperlakukan engkau kurang baik, sebaliknya engkau malah menolong mereka, tentu mereka akan merasa malu dan berterima kasih. Ai, siapa duga ketika di Cip-hian-ceng mereka tetap begitu kejam padamu, sama sekali tidak ingat budi kebaikanmu masa lalu.&#8221;</p>
<p>Air muka Kiau Hong makin kereng, mendadak ia tanya pula dengan menggertak gigi, &#8220;Habis, mengapa kau palsukan aku pula untuk membunuh ayah bundaku dan membinasakan Suhu ku di Siau-lim-si ?&#8221;</p>
<p>Seketika A Cu melonjak kaget, serunya, &#8220;Hah, mana bisa jadi? Siapa bilang aku memalsukan dirimu untuk membunuh ayah bunda dan gurumu ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Suhuku kena serangan musuh hingga terluka dalam, begitu melihat diriku beliau lantas menuduh aku yang turun tangan keji itu, masakah bukan perbuatanmu ?&#8221; kata Kiau Hong. Sampai di sini sebelah tangannya perlahan diangkat dengan nafsu membunuh, asal jawaban A Cu kurang memuaskan, seketika gadis itu akan binasa di bawah gaplokannya.</p>
<p>Melihat sikap Kiau Hong yang kereng itu, A Cu merasa takut, tanpa terasa ia mundur dua tindak. Dan ia mundur lagi beberapa tindak, tentu gadis itu akan terjerumus ke dalam jurang di belakangnya itu.</p>
<p>&#8220;Jangan bergerak, berdiri di situ !&#8221; cepat Kiau Hong membentak.</p>
<p>Saking ketakutannya hingga air mata A Cu bercucuran, sahutnya dengan gemetar, &#8220;Aku&#8230;aku&#8230;tid&#8230;tidak membunuh ayah bundamu dan tidak&#8230;tidak membinasakan Suhumu. Masakah aku mampu membunuh&#8230;membunuh gurumu yang berkepandaian tinggi itu ?&#8221;</p>
<p>Ucapan terakhir itu ternyata sangat tepat hingga hati Kiau Hong terketuk. Gurunya, Hian-koh Taysu, tewas oleh semacam ilmu pukulan dahsyat dari Lwekang yang tinggi, hal ini mana tidak mungkin dapat dilakukan A Cu yang berkepandaian tak seberapa tinggi ini.</p>
<p>Segera ia sadar telah salah menuduh A Cu. Secepat kilat tangannya menyambar ke depan, ia tarik tangan gadis itu ke dekat dinding batu agar gadis itu tidak terpeleset ke bawah jurang. Lalu katanya, &#8220;Ya, benar, bukan kamu yang membunuh suhuku !&#8221;</p>
<p>Baru sekarang A Cu bisa tertawa, ia tepuk dada sendiri tanda lega, katanya, &#8220;Ai, hampir aku mati ketakutan. Mengapa engkau begini sembrono, jika aku mempunyai kepandaian membunuh gurumu, masakah aku tidak membantumu menghajar orang-orang di Cip-hian-ceng itu ?&#8221;</p>
<p>Melihat gadis itu Cuma mengomel sekadarnya saja, Kiau Hong merasa menyesal, katanya pula, &#8220;Akhir-akhir ini pikiranku memang sedang kusut dan suka sembarangan omong, harap nona jangan marah padaku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika aku marah, sejak tadi aku tak sudi bicara padamu lagi,&#8221; sahut A Cu tertawa.</p>
<p>Untuk sejenak Kiau Hong termangu-mangu, tiba-tiba tanyanya pula, &#8220;A Cu, kepandaianmu menyamar itu dipelajari dari siapa? Apakah gurumu masih mempunyai murid lain lagi ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tiada yang mengajar padaku,&#8221; sahut A Cu. &#8220;Sejak kecil aku suka menirukan gerak-gerik orang lain, semakin meniru semakin pintar, mengapa harus belajar pada guru segala ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Inilah aneh sekali, ternyata di dunia ini masih ada seorang lain lagi yang sangat mirip diriku hingga Suhu salah sangka sebagai diriku yang sebenarnya,&#8221; ujar Kiau hong dengan menyesal.</p>
<p>&#8220;Jika ada titik terang demikian, urusan menjadi mudah diselidiki,&#8221; kata A Cu. &#8220;Marilah kita pergi mencari orang itu untuk memaksanya mengaku duduknya perkara.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar,&#8221; sahut Kiau Hong. &#8220;Tapi, dunia seluas ini, ke mana dapat mencari orang itu ?&#8221;</p>
<p>Ia coba memperhatikan tulisan pada dinding yang sudah terhapus itu guna mencari sesuatu tanda yang mungkin berguna, tapi meski sudah dipandang dari sini dan diperiksa dari sana, tetap tiada sehuruf pun yang dikenalnya. Katanya kemudian, &#8220;A Cu untuk mengetahui apa yang ditulis di dinding ini, aku bermaksud mencari Ti-kong Taysu untuk minta keterangan padanya. Sebelum membikin terang urusan ini, sungguh aku tidak enak makan dan tidak nyenyak tidur.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi mungkin dia tidak mau menerangkan padamu,&#8221; ujar A Cu.</p>
Posted in Jin Yong, Pendekar Kerajaan Tayli  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toanki.wordpress.com/1838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toanki.wordpress.com/1838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toanki.wordpress.com/1838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toanki.wordpress.com/1838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toanki.wordpress.com/1838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toanki.wordpress.com/1838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toanki.wordpress.com/1838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toanki.wordpress.com/1838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toanki.wordpress.com/1838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toanki.wordpress.com/1838/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&blog=4564196&post=1838&subd=toanki&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-32/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b75e221c0eee4ff517b26695a19675fc?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">Lenghou Tiong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 31</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-31/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-31/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 05:07:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1835</guid>
		<description><![CDATA[Mendadak timbul pula semangat kesatrianya yang tak gentar pada apa pun juga, ia jadi nekat untuk menghadapi segala kemungkinan, katanya pula, &#8220;A Cu, besok akan kucarikan seorang tabib sakti untuk mengobati lukamu, sekarang boleh kau tidur dengan tenang.&#8221;
Melihat sikap bekas pangcu yang gagah perkasa dan angkuh tak gentar itu, A Cu merasa kagum, hormat, dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&blog=4564196&post=1835&subd=toanki&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Mendadak timbul pula semangat kesatrianya yang tak gentar pada apa pun juga, ia jadi nekat untuk menghadapi segala kemungkinan, katanya pula, &#8220;A Cu, besok akan kucarikan seorang tabib sakti untuk mengobati lukamu, sekarang boleh kau tidur dengan tenang.&#8221;</p>
<p><span id="more-1835"></span>Melihat sikap bekas pangcu yang gagah perkasa dan angkuh tak gentar itu, A Cu merasa kagum, hormat, dan takut pula. Ia merasa tokoh di hadapannya itu sama sekali berbeda daripada Buyung-kongcu, tapi banyak persamaannya pula. Keduanya sama-sama tidak gentar pada langit dan tidak takut pada bumi, sama-sama angkuh dan berwibawa. Tapi Kiau Hong mirip seekor singa jantan dan Buyung Hok seperti burung hong, yang satu kasar dan yang lain halus.</p>
<p>Begitulah demi sudah ambil kebulatan tekad itu, Kiau Hong dapat tidur nyenyak, walaupun hanya duduk di atas kursi.</p>
<p>Di bawah sinar pelita yang remang-remang A Cu dapat melihat muka Kiau Hong. Selang tak lama, ia dengar Kiau Hong mulai mendengkur perlahan, ia lihat daging muka laki-laki gagah itu berkerut-kerut sedikit sambil mengertak gigi, tulang pipi yang lebar itu agak menonjol. Tiba-tiba timbul semacam rasa kasihan dalam hati A Cu, ia merasa batin laki-laki gagah di depan itu pasti sangat tertekan, sangat menderita, jauh lebih malang daripada nasibnya sendiri.</p>
<p>Esok paginya Kiau Hong menyalurkan tenaga murninya pula untuk menyegarkan A Cu, lalu mengeluarkan uang dan suruh pelayan hotel menyewakan sebuah kereta keledai. Ia payang A Cu ke atas kereta lalu datang ke kamar Pau Jian-leng, dan luar ia berseru, &#8220;Pau-heng, Siaute Kiau Hong memberi salam hormat!&#8221;</p>
<p>Waktu itu Pau Jian-leng, Hiang Bong-thian, dan Ki Liok bertiga belum lagi bangun, mereka kaget demi mendengar seruan Kiau Hong itu. Cepat mereka melompat bangun dan menyambar senjata dengan kelabakan. Tapi mereka menjadi terperanjat demi tampak di atas senjata masing-masing tertempel secarik kertas kecil yang tertulis: &#8220;Salam dari Kiau Hong&#8221;.</p>
<p>Mereka saling pandang dengan melongo, mereka sadar bahwa semalam tanpa terasa Kiau Hong telah kerjai mereka, jika mau, jiwa mereka dengan gampang sudah ditamatkan oleh Kiau Hong. Di antara mereka Pau Jian-leng yang merasa paling malu, dia berjuluk &#8220;Bo-pun-ci&#8221; atau tanpa modal, artinya pekerjaannya ialah maling, mencuri tanpa memakai modal, dan sebagai pencuri, sudah tentu kepandaian menggerayangi rumah orang merupakan kemahirannya yang paling diandalkan, tapi kini ia sendiri telah digerayangi Kiau Hong dan baru sekarang ketahuan.</p>
<p>Segera Pau Jian-leng mengikat senjatanya yang berupa ruyung lemas itu di pinggang, lalu ia ke luar kamar, ia tahu bila Kiau Hong bermaksud membunuhnya tentu sudah dilakukannya semalam, maka tanpa takut-takut lagi ia berkata, &#8220;Buah kepala Pau Jian-leng ini setiap saat silakan Kiau-heng mengambilnya bila engkau suka, selamanya orang she Pau ini bekerja tanpa modal, kalau kini aku mesti bangkrut di tangan Kiau-heng rasanya juga masih berharga. Sedang ayah-bunda dan gurumu sendiri juga kau tega membunuhnya, apalagi terhadap orang she Pau yang tiada artinya ini, mengapa engkau bermurah hati segala?&#8221;</p>
<p>Namun Kiau Hong tidak pusingkan olok-olok itu, sebaliknya ia menjawab secara biasa saja, &#8220;Selamat bertemu, Pau-heng, sejak perpisahan di Tong-ting-oh dahulu, ternyata Pau-heng semakin gagah dan kuat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Haha, untunglah jiwaku ini belum lagi amblas, maka sampai sekarang masih sehat walafiat,&#8221; sahut Pau Jian-leng dengan terbahak.</p>
<p>&#8220;Kabarnya &#8216;Giam-ong-tek&#8217; Sih-sin-ih telah menyebarkan kartu undangan, maka aku tertarik untuk hadir ke sana, bagaimana kalau kupergi ke sana bersama kalian bertiga?&#8221; kata Kiau Hong pula.</p>
<p>Diam-diam Jian-leng sangat heran, pikirnya, &#8220;Bukankah maksud tujuan Sih-sin-ih menyebarkan kartu undangan justru hendak menghadapimu. Apa barangkali kau sudah bosan hidup, maka berani datang ke sana seorang diri? Tapi biasanya Kiau-pangcu terkenal pemberani dan cerdik pula, baik ketangkasan maupun kecerdasan serbakomplet, jika dia tidak punya pegangan apa-apa, tidak nanti dia masuk jaring sendiri, maka aku tidak boleh tertipu olehnya.&#8221;</p>
<p>Melihat Pau Jian-leng hanya diam saja tanpa menjawab, segera Kiau Hong berkata pula, &#8220;Aku ada urusan penting perlu minta tolong pada Sih-sin-ih, kuharap Pau-heng suka memberitahukan tempatnya, untuk mana aku takkan melupakan pada kebaikanmu.&#8221;</p>
<p>Kebetulan pikir Pau Jian-leng, jika kau berani hadir pada pertemuan besar para kesatria itu, sekali dikerubut, biarpun kau punya tiga kepala dan enam tangan juga takkan mampu lolos.</p>
<p>Dengan keputusan itu, segera ia menjawab, &#8220;Tentang tempat pertemuan itu adalah di Cip-hian-ceng yang terletak kurang lebih 70 li di timur laut sana. Jika Kiau-heng sudi hadir ke sana, itulah paling baik. Cuma ingin kukatakan di muka, pertemuan ini tidak mungkin pertemuan yang baik, kehadiran Kiau-heng ke sana nanti banyak celakanya daripada selamatnya, untuk mana janganlah menyalahkan aku tidak memperingatkanmu sebelumnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terima kasih atas kebaikan Pau-heng,&#8221; sahut Kiau Hong dengan tersenyum tawar. &#8220;Jika enghiong-yan itu diadakan di Cip-hian-ceng, jadi tuan rumahnya adalah Yu-si-siang-hiong, bukan? Jika demikian, jalan ke sana sudah kukenal, maka kalian boleh silakan berangkat dulu, mungkin sejam lagi baru dapat kuberangkat, dengan demikian agar mereka dapat bersiap-siap pula lebih dulu.&#8221;</p>
<p>Pau Jian-leng menoleh dan saling pandang sekejap dengan Ki Liok dan Hiang Bong-thian. Kedua kawan itu tampak mengangguk perlahan. Lalu Pau Jian-leng berkata, &#8220;Jika demikian, Cayhe akan menunggu kehadiran Kiau-heng di Cip-hian-ceng.&#8221;</p>
<p>Begitulah dengan tergesa-gesa mereka bertiga lantas membereskan rekening hotel dan berangkat ke Cip-hian-ceng dengan menunggang kuda. Sepanjang jalan mereka melarikan kuda secepatnya, berulang-ulang mereka menoleh, khawatir kalau-kalau Kiau Hong mendadak menyusul dari belakang dan mendahului mereka.</p>
<p>Sekalipun Pau Jian-leng adalah seorang cerdik pandai, Ki Liok dan Hiang Bong-thian juga jago Kangouw yang berpengalaman luas, sepanjang jalan mereka menerka ini dan menebak itu, namun tetap tidak dapat meraba apa maksud tujuan Kiau Hong sengaja hadir dalam enghiong-yan itu.</p>
<p>&#8220;Pau-toako,&#8221; tiba-tiba Ki Liok berkata, &#8220;apakah engkau melihat kereta yang disewa Kiau Hong itu. Mungkin di dalam kereta itu ada apa-apanya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan-jangan di dalam kereta itu terdapat jago-jago lihai begundalnya?&#8221; ujar Hiang Bong-thian.</p>
<p>&#8220;Andaikan kereta itu tumplak penuh dengan begundalnya, paling-paling cuma muat beberapa orang, katakanlah seluruhnya ada sepuluh orang bersama Kiau Hong, tapi dalam pertemuan besar nanti, paling-paling mereka cuma mirip sebuah sampan yang terombang-ambing di tengah samudra raya, apa yang dapat mereka perbuat?&#8221; kata Pau Jian-leng.</p>
<p>Tengah bicara, sepanjang jalan sudah banyak bertemu dengan jago-jago persilatan yang juga hendak hadir pada enghiong-yan di Cip-hian-ceng.</p>
<p>Karena pertemuan itu diadakan secara mendadak dan mendesak, maka setiap orang yang menerima kartu undangan segera berangkat siang dan malam sambil menghampiri sesama kawan bu-lim, maka hanya dalam waktu sehari semalam saja kartu undangan yang disebarkan Giam-ong-tek itu sudah hampir merata. Cuma waktunya terlalu mendesak, maka yang sudah tiba di Cip-hian-ceng itu baru tokoh-tokoh yang bertempat tinggal ratusan li di sekitar Siau-lim-si di Provinsi Holam.</p>
<p>Sebenarnya Siau-lim-si sendiri sudah menyebarkan kartu undangan kepada para kesatria untuk berunding cara menghadapi Buyung Hok. Tapi waktu yang ditentukan itu masih ada 20 hari lebih, sebagian besar kesatria yang diundang itu masih dalam perjalanan, seperti ayah Toan Ki, yaitu Tin-lam-ong dari negeri Tayli, Toan Cing-sun, dan jago-jago silat yang dipimpinnya saat itu juga belum tiba di Siau-lim-si. Namun begitu sudah banyak juga kaum kesatria yang berada di daerah Holam untuk pesiar atau menyambangi sobat-andai. Mereka inilah yang telah menerima kartu undangan Yu-si-siang-hiong dan &#8220;Giam-ong-tek&#8221; Sih-sin-ih.</p>
<p>Kalau undangan melulu datang dari Yu-si-siang-hiong saja mungkin tidak diperhatikan oleh para kesatria itu. Tapi nama Giam-ong-tek juga tercantum sebagai pengundang, keruan mereka merasa mendapat kehormatan besar dan buru-buru hadir.</p>
<p>Maklum, nama Si Tabib Sakti she Sih dan Musuh Raja Akhirat itu terlalu tenar, setiap orang persilatan sangat mengharapkan bisa berkenalan atau bersahabat dengan dia. Sebab, sebagai orang persilatan, bukan mustahil setiap saat bisa terluka parah atau terbinasa, tapi kalau kenal dan bersahabat dengan Giam-ong-tek, maka boleh dikatakan jiwa mereka telah diasuransikan kepada tabib sakti itu.</p>
<p>Begitulah, ketika Pau Jian-leng bertiga sampai di Cip-hian-ceng, mereka telah disambut sendiri oleh Yu-si-siang-hiong.</p>
<p>Sesudah berada di dalam rumah, ternyata, tetamu sudah memenuhi ruangan luar dan dalam. Banyak yang dikenal Pau Jian-leng, banyak pula yang tidak kenal. Yang kenal segera saling menyapa, sedapatnya Pau Jian-leng membalas hormati kepada setiap kenalan secara merata. Ia khawatir kalau ada yang terlupa dan kelompatan balas menghormat, bukan mustahil akan menimbulkan rasa dendam hingga berakibat permusuhan di belakang hari.</p>
<p>Setelah Yu Ki, yaitu orang kedua dari Yu-si-siang-hiong (Dua Jago she Yu) mengajak mereka ke meja tuan rumah, di situ sudah menunggu Si Tabib Sakti she Sih, ia sambut kedatangan tamunya sambil memberi hormat, &#8220;Atas kesudian hadirnya Pau-heng bertiga, sungguh aku merasa terima kasih tak terhingga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Haha, masakah undangan Sih-loyacu berani kutolak, biarpun aku sedang sakit tak bisa berjalan juga aku akan datang kemari meski harus digotong,&#8221; sahut Pau Jian-leng dengan terbahak.</p>
<p>&#8220;Tentu saja,&#8221; sela Yu Ek, si tua dari kedua saudara Yu itu. &#8220;Jika kau sakit payah, tanpa diundang juga kau akan cari Sih-loyacu.&#8221;</p>
<p>Mendengar percakapan itu, banyak tetamu lain ikut bergelak tertawa.</p>
<p>&#8220;Kalian bertiga baru tiba, tentu sangat lelah, silakan ke belakang dulu untuk dahar sekadarnya,&#8221; ujar Yu Ki.</p>
<p>&#8220;Lelah sih tidak, lapar pun belum, sebaliknya kubawa suatu berita penting yang perlu kukatakan dengan segera,&#8221; sahut Pau Jian-leng. &#8220;Numpang tanya dulu, kartu undangan yang Sih-loyacu dan kedua saudara Yu sebarkan itu apakah di antaranya terdapat undangan kepada Kiau Hong?&#8221;</p>
<p>Mendengar nama Kiau Hong disebut, wajah Sih-sin-ih agak berubah. Sebaliknya Yu Ek lantas tanya, &#8220;Apa maksud Pau-heng sebenarnya, kenapa menyinggung tentang Kiau Hong? Apakah disebabkan Pau-heng bersahabat karib dengan orang she Kiau itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Harap Yu-heng jangan salah paham,&#8221; cepat Pau Jian-leng menjelaskan. &#8220;Sebaliknya aku justru hendak menyampaikan berita penting ini, Kiau Hong menyatakan akan hadir dalam pertemuan besar kaum kesatria ini.&#8221;</p>
<p>Seketika gemparlah suasana ruangan tamu itu, sejenak kemudian keadaan menjadi hening, semuanya diam ingin mendengarkan berita itu lebih lanjut. Yang terdengar hanya suara obrolan dan tertawa tamu-tamu di ruangan belakang dan samping karena mereka tidak tahu suasana di ruangan depan itu.</p>
<p>&#8220;Dari mana Pau-heng tahu Kiau Hong akan datang ke sini?&#8221; tanya Si Tabib Sakti.</p>
<p>&#8220;Cayhe bersama Ki-heng dan Hiang-heng mendengar dengan telinga sendiri,&#8221; sahut Jian-leng. &#8220;Sungguh memalukan kalau diceritakan, kami bertiga semalam telah terjungkal habis-habisan.&#8221;</p>
<p>Berulang Hiang Bong-thian mengedipi kawan itu agar jangan menguraikan kejadian semalam yang memalukan itu. Tapi Pau Jian-leng cerdik orangnya, ia pikir bila sedikit ia dusta hingga menimbulkan rasa curiga Si Tabib Sakti dan tokoh-tokoh lain, kelak pasti akan mendatangkan banyak kesukaran.</p>
<p>Maka ia tidak peduli isyarat Hiang Bong-thian itu, sebaliknya perlahan ia lepaskan ruyungnya dari pinggang dan diperlihatkan kepada Sih-sin-ih tulisan di atas kertas yang masih menempel pada senjatanya itu, katanya, &#8220;Kiau Hong suruh kami bertiga menyampaikan pesannya, katanya dalam waktu singkat ia akan datang ke Cip-hian-ceng ini.&#8221;</p>
<p>Lalu ia ceritakan pengalamannya tanpa dusta sedikit pun. Sudah tentu yang runyam adalah Hiang Bong-thian, ia merasa malu dan membanting-banting kaki.</p>
<p>Namun tanpa tedeng aling-aling Pau Jian-leng menghabiskan ceritanya itu, akhirnya ia berkata, &#8220;Kiau Hong itu adalah keturunan anjing bangsa Cidan, andaikan dia cukup baik dan berbudi juga kita mesti membasminya, apalagi sekarang ia sudah umbar kebuasannya, mara bahaya di kemudian hari tentu tak terkirakan, sebenarnya untuk menangkapnya tidaklah mudah, syukur sekarang ia masuk jeratan sendiri, rupanya ajalnya sudah tiba saatnya.&#8221;</p>
<p>Yu Ki berkerut kening mendengar laporan itu, ia pikir sejenak, lalu berkata, &#8220;Konon Kiau Hong itu seorang yang serbapintar dan tangkas, sekali-kali bulan seorang laki-laki kasar dan sembarang bertindak, masakah ia benar-benar berani hadir dalam pertemuan ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mungkin ada tipu muslihat di balik kehadirannya nanti, untuk mana kita harus waspada,&#8221; ujar Pau Jian-leng. &#8220;Marilah kita berunding cara bagaimana harus menghadapinya nanti.&#8221;</p>
<p>Tengah bicara, dari luar sudah masuk lagi banyak kesatria lain, di antaranya &#8220;Tiat-bin-poan-koan&#8221; Tan Cing dan kelima putranya. Tam-kong dan Tam-poh serta Tio-ci-sun, Kim Tay-peng dan Oh-pek-kiam Su An, Nau-kang-ong Cin Goan-cun, dan lain-lain. Tidak lama kemudian, tiba pula Hian-lan dan Hian-cit berdua padri saleh dari Siau-lim-si.</p>
<p>Meski ada juga di antara mereka tidak menerima kartu undangan, tapi karena merasa diri mereka cukup memenuhi syarat untuk disebut sebagai kesatria, maka tanpa diundang juga mereka hadir sendiri.</p>
<p>Dengan hormat Yu-si-siang-hiong dan Giam-ong-tek menyambut kedatangan tamu-tamu itu. Ketika bicara tentang kejahatan yang diperbuat Kiau Hong, semua orang merasa gusar dan bertekad akan membasmi durjana yang kejam itu.</p>
<p>Tiba-tiba pelayan penyambut tamu masuk memberi lapor bahwa Ci-tianglo dari Kay-pang bersama Cit-hoat dan Thoan-kong Tianglo serta keempat tianglo lain juga tiba. Tamu-tamu yang sudah berada di situ sama terkesiap. Ujar Hiang Bong-thian, &#8220;Orang Kay-pang datang ke sini secara berbondong-bondong, jelas mereka hendak memberi bantuan kepada Kiau Hong.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak mungkin,&#8221; kata Tan Cing. &#8220;Kiau Hong sudah dipecat dari keanggotaan Kay-pang dan bukan pangcu mereka lagi, kejadian itu kami ikut menyaksikan sendiri, malahan di antara mereka sudah saling bermusuhan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi hubungan lama belum tentu dilupakan begitu saja,&#8221; kata Hiang Bong-thian.</p>
<p>&#8220;Kukira para tianglo dari Kay-pang adalah kesatria sejati dan patriot tulen, kalau mereka membantu Kiau Hong, bukankah berarti mereka pun pengkhianat bangsa dan penjual negara?&#8221; ujar Yu Ek.</p>
<p>&#8220;Ya, manusia yang paling rendah sekalipun tidak sudi menjadi pengkhianat bangsa dan penjual negara,&#8221; demikian dukung tetamu yang lain.</p>
<p>Maka Yu-si-siang-hiong bersama Sih-sin-ih lantas menyambut keluar. Mereka merasa lega ketika melihat orang Kay-pang yang hadir itu cuma belasan tianglo saja, andaikan mereka hendak membela Kiau Hong juga takkan dapat melawan kesatria lain yang lebih banyak jumlahnya.</p>
<p>Tapi Yu-loji, Yu Ki, orangnya cukup hati-hati, diam-diam ia kirim anak buahnya pasang mata di sekitar pedusunan untuk melihat apakah orang Kay-pang menyembunyikan bala bantuan atau tidak. Setelah itu barulah ia menyilakan Ci-tianglo dan rombongan masuk ke dalam. Wajah para tokoh Kay-pang tampak masam, nyata mereka sedang menanggung sesuatu urusan yang memusingkan.</p>
<p>Sesudah tuan rumah dan para tamu mengambil tempat duduk, segera Ci-tianglo membuka suara lebih dulu, &#8220;Sih-heng, dan kedua saudara Yu, hari ini para kesatria kalian undang ke sini, apakah maksudnya hendak menghadapi bibit bencana bu-lim yang ditimbulkan Kiau Hong itu?&#8221;</p>
<p>Mendengar tokoh Kay-pang itu menyebut Kiau Hong sebagai bibit bencana bu-lim, semua orang saling pandang sekejap dengan hati lega. Segera Yu Ek menjawab, &#8220;Memang demikianlah halnya. Maka atas kunjungan Ci-tianglo sekalian kami merasa sangat beruntung, sebab untuk membasmi pengganas itu, perlu sekali kami mendapat bantuan dan izin para Tianglo, kalau tidak, jangan-jangan akan timbul salah paham hingga terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.&#8221;</p>
<p>Ci-tianglo menghela napas panjang, sahutnya, &#8220;Orang itu sudah tidak punya hati nurani lagi, tindak tanduknya kejam. Sepantasnya, karena ia pernah banyak berjasa bagi pang kami, paling akhir juga telah menolong saudara-saudara kami dari jebakan musuh. Akan tetapi seorang laki-laki harus dapat memandang jauh, segala apa mesti berpikir pada kepentingan orang banyak, urusan pribadi harus dikesampingkan dulu. Kini Kiau Hong adalah musuh besar bangsa Song kita, meski para tianglo dari pang kami pernah mendapatkan kebaikannya, tapi tidak nanti kami mengutamakan kepentingan pribadi dan melalaikan kepentingan umum. Apalagi sekarang ia sudah bukan orang kami.&#8221;</p>
<p>Ucapan Ci-tianglo segera mendapat pujian orang banyak. Menyusul Yu Ek lantas beri tahu tentang Kiau Hong telah menyatakan akan hadir dalam pertemuan ini. Berita ini membuat para Tianglo Kay-pang terperanjat dan heran. Sebagai bekas anak buah Kiau Hong, mereka cukup kenal pribadi bekas pangcu mereka yang tangkas lagi cerdik itu, kalau dikatakan Kiau Hong akan datang ke Cip-hian-ceng seorang diri, hal ini benar-benar sangat mengherankan mereka.</p>
<p>Tiba-tiba Hiang Bong-thian berseru, &#8220;Kukira pernyataan Kiau Hong itu hanya tipu muslihat belaka, ia sengaja membikin kita menunggu percuma di sini, sebaliknya ia angkat langkah seribu entah kabur ke mana, itu namanya &#8216;tonggeret melepaskan kulit&#8217;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Melepas kulit makmu!&#8221; mendadak Go-tianglo memaki sambil menggebrak meja. &#8220;Tokoh macam apakah Kiau Hong itu, apa yang telah dikatakannya masakah kau kira cuma omong kosong?&#8221;</p>
<p>Muka Hiang Bong-thian menjadi merah padam oleh makian itu, segera ia menyahut, &#8220;Kau mau bela Kiau Hong, bukan? Hm, aku orang she Hiang inilah orang pertama yang penasaran, marilah, boleh kita coba-coba dulu.&#8221;</p>
<p>Selama hidup Go-tianglo paling kagum kepada Kiau Hong, ia memang lagi mendongkol sepanjang jalan ketika mendengar berita tentang bekas pangcu itu membunuh kedua orang tua serta gurunya.</p>
<p>Oleh karena seorang saudara Go-tianglo juga telah menjadi korban keganasan bangsa Cidan, selama hidupnya ia sangat benci pada orang Cidan. Kini mendadak diketahuinya Kiau-pangcu yang dihormati dan dicintainya itu ternyata adalah orang Cidan, keruan kesal dan sesalnya tak terlukiskan.</p>
<p>Dalam keadaan sedih itulah tiba-tiba Hiang Bong-thian berani menantang padanya, keruan tanpa tawar lagi ia tandangi tantangan itu. Sekali lompat ia melesat ke tengah pelataran dan berseru, &#8220;Apakah Kiau Hong itu keturunan anjing Cidan atau bukan, saat ini masih belum dapat dipastikan oleh siapa pun juga. Tapi bila dia benar-benar bangsa Cidan, aku orang she Go inilah yang pertama-tama akan mengadu jiwa padanya. Dan untuk membunuh Kiau Hong, biarpun nomor urut keseribu juga belum sampai pada giliranmu. Hm, kau ini kutu busuk macam apa hingga berani mengoceh di sini? Ayolah maju, biar kuhajar adat dulu padamu.&#8221;</p>
<p>Sudah tentu Hiang Bong-thian jadi murka juga, &#8220;sret&#8221;, segera ia lolos goloknya dan hendak tandangi Go-tianglo. Tapi begitu golok terlolos, segera kertas yang ditempel Kiau Hong di atas senjatanya itu lantas terbaca. Seketika ia tertegun.</p>
<p>&#8220;Sudahlah, kalian sama-sama tetamu kami, harap suka memandang muka kami, janganlah ribut dulu,&#8221; demikian Yu Ek berusaha memisah.</p>
<p>&#8220;Ya, Go-hiati, janganlah kita bertindak sembrono, betapa pun nama baik pang kita harus dijaga,&#8221; ujar Ci-tianglo.</p>
<p>&#8220;Huh, Kay-pang mempunyai seorang tokoh besar macam Kiau Hong, nama baiknya sangat tersohor, memang kudu dijaga sebaik-baiknya,&#8221; demikian tiba-tiba suara seorang aneh dingin dan lirih menanggapi ucapan Ci-tianglo itu.</p>
<p>Keruan para tokoh Kay-pang yang hadir di situ menjadi gusar, beramai-ramai mereka membentak, &#8220;Siapa itu yang bicara?&#8221; &#8211; &#8220;Ayolah, kalau berani tampil ke muka sini!&#8221; &#8211; &#8220;Huh, pengecut, bicara secara sembunyi-sembunyi! Haram jadah!&#8221;</p>
<p>Namun pembicara itu diam saja sesudah mengucapkan kata-kata tadi hingga tiada seorang pun tahu siapa gerangannya.</p>
<p>Sungguh dongkol tokoh-tokoh Kay-pang itu tidak kepalang karena disindir tanpa mengetahui siapa orangnya, tentu saja mereka mati kutu. Tapi beberapa di antaranya yang berwatak berangasan dan kasar, tanpa pikir lagi terus balas mencaci maki hingga kakek-moyang ke-18 keturunan pembicara itu pun dimaki habis-habisan.</p>
<p>Sih-sin-ih berkerut kening oleh caci maki yang kotor itu, segera katanya, &#8220;Harap para Tianglo suka sabar, dengarkan kataku ini.&#8221;</p>
<p>Maka perlahan para pengemis itu tenang kembali.</p>
<p>Di luar dugaan, kembali suara orang tadi bergema pula di tengah orang banyak sana, &#8220;Bagus, bagus! Kiau Hong sengaja mengirim mata-mata sebanyak ini, sebentar tentu ada permainan sandiwara yang menarik.&#8221;</p>
<p>Mendengar ucapan itu, Go-tianglo semakin murka, segera terdengar suara gemerencing senjata dilolos, para tokoh pengemis itu siapkan senjata mereka yang gemerlapan. Tamu lain mengira kawanan pengemis itu akan turun tangan, beramai mereka pun lolos senjata hingga keadaan menjadi kacau-balau.</p>
<p>Cepat Sih-sin-ih dan Yu-si-siang-hiong berusaha menenangkan suasana ribut itu, tapi suara mereka ternyata tidak cukup untuk bikin tenteram suasana yang panas itu.</p>
<p>Pada saat kacau itulah, tiba-tiba seorang penjaga berlari masuk dan membisiki telinga Yu Ek. Air muka Yu Ek tampak berubah hebat, ia tanya sesuatu pada pelayan itu dan hamba itu tampak menuding ke luar pintu dengan rasa takut.</p>
<p>Segera tampak Yu Ek bisik-bisik juga pada Sih-sin-ih dan air muka tabib sakti itu pun kelihatan gelisah. Waktu Yu Ki mendekati saudaranya dan menanyakan apa yang terjadi, sesudah Yu Ek berbisik perlahan, mendadak air muka Yu Ki juga berubah kaget. Lalu Yu Ki membisiki kawannya yang lain.</p>
<p>Begitulah seorang demi seorang meneruskan bisik-bisik itu hingga akhirnya merata dan semua orang mengetahui apa yang terjadi. Seketika suasana gaduh menjadi sunyi, sebab setiap orang yang hadir di situ sama mendapat bisikan, &#8220;Kiau Hong sudah datang!&#8221;</p>
<p>Setelah saling pandang sekejap antara Sih-sin-ih dan kedua saudara Yu, mereka memandang pula pada Hian-lan dan Hian-cit berdua, akhirnya Sih-sin-ih berkata, &#8220;Silakan dia masuk!&#8221;</p>
<p>Segera pelayan tadi keluar. Sedangkan hati semua kesatria sama berdebar dengan hebat. Walaupun jelas jumlah orang pihak sini jauh lebih banyak, sekali Kiau Hong bertindak, seketika semua orang mengerubut maju, tentu bekas Pangcu Kay-pang itu akan dapat dicacah menjadi perkedel. Tapi nama Kiau Hong itu terlalu disegani, kalau dia sudah berani hadir seorang diri, terang dia sudah punya sesuatu pegangan, siapa pun tidak dapat menerka tipu muslihat apa yang telah diatur olehnya.</p>
<p>Di tengah suasana yang hening itu, tiba-tiba terdengar suara keledai lari berdetak-detak diselingi suara kelotakan roda kereta yang menggelinding di atas batu. Sebuah kereta terdengar sudah sampai di depan pintu. Malahan kereta itu tidak berhenti di situ, bahkan terus melintasi gerbang pintu dan langsung masuk ke dalam pekarangan. Kereta keledai itu tampak dikusiri seorang laki-laki tegap dengan cambuk di tangan, kerai kereta tertutup hingga tidak jelas apa isi kendaraan itu.</p>
<p>Seketika perhatian semua orang terarah kepada laki-laki tegap yang mengemudi kereta itu. Tertampak badannya tinggi besar, dada lebar dan lengan kasar, mukanya kereng, siapa lagi dia kalau bukan bekas Pangcu Kay-pang, Kiau Hong adanya.</p>
<p>Setelah taruh cambuknya di atas kereta, segera Kiau Hong melompat turun dan berkata, &#8220;Kudengar Sih-sin-ih dan Yu-si-hengte sedang mengadakan pertemuan besar dengan para kesatria di Cip-hian-ceng ini, Kiau Hong sudah merasa dibenci oleh para kesatria Tionggoan, masakah aku berani ikut hadir ke sini tanpa kenal malu? Cuma hari aku ada urusan penting yang mesti minta tolong kepada Sih-sin-ih, maka kedatanganku secara sembrono ini hendaklah dimaafkan.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia membungkuk dengan laku sangat hormat.</p>
<p>Tapi semakin Kiau Hong berlaku sopan, semakin Sih-sin-ih dan lain-lain curiga mungkin di balik kehalusan ini ada sesuatu tipu keji. Maka diam-diam Yu Ek memberi tanda kepada anak buahnya agar meronda keluar untuk berjaga segala kemungkinan di samping untuk merintangi larinya Kiau Hong bila bekas pangcu itu hendak kabur.</p>
<p>Lalu Sih-sin-ih membalas hormat dan berkata, &#8220;Ada urusan penting apa yang Kiau-heng ingin minta tolong padaku?&#8221;</p>
<p>Kiau Hong tidak lantas menyahut, tapi ia melangkah mundur ke samping kereta, ia singkap tirai kereta keledai itu dan memayang A Cu turun ke bawah. Lalu katanya, &#8220;Disebabkan aku suka bertindak gegabah, maka nona cilik ini ikut menjadi korban tenaga pukulan orang hingga terluka parah. Di zaman ini selain Sih-sin-ih tiada orang lain lagi yang mampu menyembuhkannya, maka secara sembrono kudatang kemari untuk mohon Sih-sin-ih agar suka menolong jiwanya.&#8221;</p>
<p>Waktu melihat kereta keledai itu tadi sebenarnya semua orang sangat curiga, sebab tidak tahu apa isi kereta yang dibawa datang Kiau Hong. Kini demi tampak dari dalam kereta diturunkan seorang nona cilik berumur 16-17 tahun, kembali mereka heran lagi, lebih-lebih setelah mendengar Kiau Hong menyatakan kedatangannya itu hendak mohon pengobatan kepada Si Tabib Sakti.</p>
<p>Sih-sin-ih sendiri juga sama sekali tidak menduga akan hal itu. Sudah biasa baginya menerima tamu dari jauh yang ingin minta tolong padanya, tapi kini mereka sedang berunding cara bagaimana menawan dan membunuh Kiau Hong, siapa tahu &#8220;durjana&#8221; yang dipandang mahajahat itu justru datang sendiri, sungguh hal ini sukar untuk dipercaya oleh siapa pun.</p>
<p>Ia coba mengamat-amati A Cu dari atas ke bawah dan sebaliknya, ia lihat anak dara itu cukup cantik, tapi tidak luar biasa, apalagi usianya masih muda, tidak mungkin Kiau Hong tergoda oleh kecantikan seorang dara ingusan. Tapi ia lantas berpikir, &#8220;Jangan-jangan anak dara ini adalah adik perempuannya? Tapi, hal ini tidak mungkin terjadi, sedangkan orang tua dan gurunya saja dibunuhnya, masakah dia sudi mengambil risiko sebesar ini demi untuk adik perempuan. Jika demikian, apakah putrinya? Tapi toh tidak pernah kudengar Kiau Hong pernah menikah?&#8221;</p>
<p>Sebagai seorang tabib sakti, dengan sendirinya Sih-sin-ih pandai membedakan ciri-ciri setiap orang. Ia lihat Kiau Hong sangat kekar, sebaliknya A Cu kecil mungil, tiada sesuatu persamaan di antara mereka, maka dapat dipastikan tiada hubungan darah apa-apa. Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia tanya, &#8220;Siapakah nona ini, dia pernah apa dengan kau?&#8221;</p>
<p>Kiau Hong melengak oleh pertanyaan itu, sejak kenal A Cu, yang diketahui cuma panggilan anak dara itu adalah &#8220;A Cu&#8221;, apakah dia she Cu atau bukan tidaklah diketahui. Maka ia coba tanya gadis itu, &#8220;A Cu, apakah kau memang she Cu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan,&#8221; sahut A Cu dengan tersenyum. &#8220;Aku she Wi dan bernama Si. Cuma aku cuka pakai baju merah, maka Kongcu memanggilku A Cu (Si Merah).&#8221;</p>
<p>&#8220;O, jadi dia she Wi, Sih-sin-ih, aku pun baru tahu sekarang,&#8221; ujar Kiau Hong.</p>
<p>Keruan Si Tabib Sakti semakin heran, tanyanya pula, &#8220;Jika begitu, jadi engkau tiada persahabatan apa-apa dengan dia?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia adalah dayang seorang sobatku, sedikit banyak ada sangkut pautnya,&#8221; ujar Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Siapakah sobatmu itu, tentu hubungan kalian sebaik saudara sekandung, bukan?&#8221; tanya Sih-sin-ih.</p>
<p>&#8220;Tidak, sobatku itu juga cuma kukenal namanya saja, selamanya belum pernah bertemu,&#8221; sahut Kiau Hong.</p>
<p>Keruan jawabannya membikin gempar pula. Sebagian besar orang tidak percaya pada pengakuannya itu, mereka menyangka itu cuma suatu tipu muslihat Kiau Hong saja. Tapi banyak pula yang kenal watak Kiau Hong tidak pernah berdusta, biarpun segala kejahatan mungkin dapat dilakukannya, tapi untuk menjaga harga diri, tidak nanti ia bohong untuk menipu orang.</p>
<p>Sih-sin-ih tidak tanya lagi, tiba-tiba ia melangkah maju, ia pegang nadi pergelangan tangan A Cu, ia merasa denyut nadi sangat lemah, tenaga murni dalam tubuh bergolak hebat, keduanya itu satu sama lain tidak seimbang. Waktu ia periksa nadi lain pula, maka dapatlah ia menentukan penyakitnya. Katanya, &#8220;Jika Kiau-heng tidak menyambung jiwanya dengan tenaga dalam, mungkin nona ini sudah lama terbinasa di bawah pukulan Kim-kong-ciang Hian-cu Taysu.&#8221;</p>
<p>Sudah tentu ucapan Si Tabib Sakti ini sekali lagi membikin gempar para kesatria, lebih-lebih Hian-lan dan Hian-cit, mereka merasa aneh bilakah suheng mereka pernah memukul seorang nona cilik dengan Kim-kong-ciang? Jika dara cilik ini benar-benar diserang Kim-kong-ciang yang mahahebat itu, tidak mungkin jiwanya bisa dipertahankan sampai sekarang.</p>
<p>Maka Hian-lan lantas berkata, &#8220;Sih-kisu, Hongtiang Suheng kami selama beberapa tahun tidak pernah keluar dari biara, selamanya Siau-lim-si tidak pernah dimasuki kaum wanita, mungkin pukulan Kim-kong-ciang itu bukan dilakukan oleh suheng kami.&#8221;</p>
<p>&#8220;Habis, di dunia ini siapa lagi yang mampu menggunakan Kim-kong-ciang dari kalangan Buddha ini?&#8221; ujar Sih-sin-ih.</p>
<p>Hian-lan dan Hian-cit menjadi bungkam dan saling pandang. Mereka berdua belajar bersama dengan Hian-cu dari satu guru, mereka giat berlatih, tapi karena terbatas oleh bakat mereka, maka Tay-pan-yak-kim-kong-ciang itu tak berhasil diyakinkan mereka. Hal ini pun tidak membuat menyesal mereka, sebab mereka maklum orang Siau-lim-pay mereka jarang yang berhasil meyakinkan ilmu silat golongannya sendiri walaupun inti rahasia setiap ilmu pusaka mereka selalu dapat diturunkan dengan baik oleh padri-padri sakti angkatan yang lebih tua. Tapi untuk bisa melatihnya dengan sempurna terkadang sampai ratusan tahun baru terdapat seorang genius di antara padri yang berjumlah ratusan itu.</p>
<p>Sebenarnya Hian-cit ingin tanya apakah benar nona itu terkena &#8220;Tay-pan-yak-kim-kong-ciang&#8221;, tapi urung diucapkannya, sebab bila ia tanya begitu, itu berarti ia ragukan kepandaian Sih-sin-ih, hal ini akan dianggap kurang hormat.</p>
<p>Hian-lan lantas berkata, &#8220;Di balik kejadian ini tentu ada sesuatu yang ganjil. Suhengku adalah padri yang alim, sebagai seorang ketua suatu mazhab persilatan terkemuka, tidak mungkin ia menyerang seorang nona cilik? Sekalipun nona ini berbuat sesuatu yang salah juga Hongtiang Suheng kami takkan bertindak seganas ini padanya.&#8221;</p>
<p>Semua orang menyatakan benar ucapan itu, mereka pun sependapat bahwa di balik urusan ini pasti ada sesuatu muslihat tertentu.</p>
<p>Karena itu banyak di antara mereka sama melototi Kiau Hong, maksud mereka sudah terang yaitu bila ada orang yang main gila dalam peristiwa itu, terang dia pastilah Kiau Hong.</p>
<p>Namun Kiau Hong anggap kebetulan malah jika kedua padri Siau-lim-si itu tidak mengakui A Cu dilukai ketua mereka, sebab kalau mereka mengakui hal itu, mungkin Sih-sin-ih akan tidak enak malah untuk mengobati luka A Cu.</p>
<p>Supaya menurut arah angin, segera ia berkata, &#8220;Ya, Hian-cu Hongtiang adalah padri welas kasih, tidak mungkin beliau sembarangan menyerang seorang gadis cilik. Besar kemungkinan ada orang sengaja memalsukan padri saleh untuk merusak nama baik Siau-lim-pay.&#8221;</p>
<p>Hian-lan dan Hian-cit saling pandang, mereka anggap ucapan Kiau Hong yang durhaka itu beralasan juga.</p>
<p>Sebaliknya diam-diam A Cu merasa geli, memang benar juga ada orang memalsukan padri Siau-lim-si, tapi bukan memalsukan Hian-cu Hongtiang, melainkan Ti-jing Hwesio. Dan sudah tentu Hian-lan dan Hian-cit tidak mengetahui maksud ganda kata-kata Kiau Hong itu.</p>
<p>Mendengar apa yang dikemukakan Hian-lan dan Hian-cit tadi, Sih-sin-ih yakin diagnosis yang dikatakannya tadi tidak salah lagi, maka katanya pula, &#8220;Jika begitu halnya, ternyata di dunia ini ada orang lain lagi yang mahir Tay-pan-yak-kim-kong-ciang dari Siau-lim-si. Cuma waktu orang ini menyerang, entah teralang apa, maka daya pukulannya telah terhapus 7-8 badan hingga Nona Wi ini tidak terbinasa. Tapi betapa hebat tenaga pukulan orang itu mungkin tidak lebih lemah daripada Hian-cu Hongtiang, di jagat ini terang tiada orang ketiga lagi yang dapat menandingi mereka.&#8221;</p>
<p>Alangkah kagumnya Kiau Hong, pikirnya diam-diam, &#8220;Sungguh mahasakti kepandaian Sih-sin-ih ini. Dia hanya memegang nadi A Cu sebentar, segera ia dapat menguraikan apa yang terjadi pada pertarungan itu dengan tepat. Tampaknya dia pasti dapat juga menyembuhkan A Cu.&#8221;</p>
<p>Maka dengan rasa girang segera ia berkata, &#8220;Jika nona ini terbinasa di bawah pukulan Tay-pan-yak-kim-kong-ciang, tentu Siau-lim-pay akan ikut tersangkut, maka sudilah Sih-sin-ih menaruh belas kasihan dan suka mengobatinya.&#8221;</p>
<p>Sembari berkata, kembali ia memberi hormat.</p>
<p>Tapi belum lagi Si Tabib Sakti menjawab, tiba-tiba Hian-cit tanya A Cu, &#8220;Siapakah orang yang melukai Nona? Di manakah kau diserang olehnya dan sekarang penyerang itu berada di mana?&#8221;</p>
<p>Karena urusan menyangkut nama baik Siau-lim-pay mereka, pula tidak disangka bahwa di dunia ini ternyata masih ada golongan lain yang mahir Tay-pan-yak-kim-kong-ciang, maka betapa pun ia ingin mengusut urusan ini hingga terang.</p>
<p>Sebaliknya sifat A Cu memang nakal dan jahil, tiba-tiba tergerak pikirannya, &#8220;Kawanan hwesio ini gentar kepada kongcu kami, biarlah aku sengaja menakuti-nakuti mereka.</p>
<p>Maka ia lantas menjawab, &#8220;Penyerang itu adalah seorang pemuda cendekia, wajahnya cakap dan potongannya ganteng. Waktu itu aku sedang minum dengan Kiau-toaya di suatu kedai arak sambil mempercakapkan kepandaian Sih-sin-ih yang mahasakti dan tiada bandingannya sepanjang sejarah &#8230;.&#8221;</p>
<p>Manusia mana yang tidak suka dipuji dan diumpak? Begitu pula dengan Sih-sin-ih. Apalagi kata-kata itu diucapkan oleh seorang dara jelita, maka tanpa terasa tabib sakti itu sangat senang, ia mengelus jenggotnya dengan tersenyum sambil mendengarkan pujian-pujian setinggi langit itu.</p>
<p>Sebaliknya Kiau Hong berkerut kening, sebab apa yang dikatakan A Cu itu sudah terang omong kosong belaka.</p>
<p>Terdengar A Cu mencerocos lagi, &#8220;Waktu itu aku berkata, &#8216;Adanya Sih-sin-ih itu di dunia, sebenarnya orang lain tidak perlu belajar silat lagi.&#8217; Maka Kiau-toaya tanya padaku apa sebabnya? Aku menjawab, &#8216;Jika setiap orang yang dipukul mati toh akan dihidupkan kembali oleh Sih-sin-ih, lalu apa gunanya orang belajar ilmu silat segala, bukankah sia-sia? Bila kau bunuh seorang, beliau sanggup hidupkan dua orang, kau bunuh dua orang, beliau malahan hidupkan empat orang. Nah, kan sia-sia orang belajar silat?&#8217;&#8221;</p>
<p>Dasar A Cu memang pandai bicara dan pintar mengarang, lagu suaranya enak didengar pula tidak membosankan pendengarnya. Saking tertariknya bahkan ada yang bergelak tertawa.</p>
<p>Namun A Cu sendiri sedikit pun tidak tertawa, ia sambung lagi, &#8220;Di luar dugaan di meja sebelah waktu itu pun duduk seorang kongcuya, rupanya percakapan kami dapat didengarnya, tiba-tiba ia mendengus dan berkata, &#8216;Hah, segala pukulan di dunia ini pada umumnya enteng tak bertenaga, karena itulah tabib she Sih bisa mendapatkan nama kosong. Coba kalau tenaga pukulanku ini, apakah dia mampu menyembuhkan?&#8217;&#8221;</p>
<p>Habis berucap begitu dari tempat duduknya ia terus menghantam ke arahku dari jauh. Tadinya kukira dia hanya bergurau saja, maka tidak kuambil pusing, Tapi Kiau-toaya inilah yang terkejut &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah dia yang menangkiskan pukulan itu?&#8221; tanya Hian-cit.</p>
<p>&#8220;Bukan,&#8221; sahut A Cu dengan menggeleng kepala. &#8220;Jika Kiau-toaya menangkis pukulan itu, tentu aku takkan terluka. Justru karena jarak Kiau-toaya dengan aku agak jauh, maka tanpa pikir ia angkat sebuah kursi dan ditimpukkan dari samping. Syukurlah pertolongan Kiau-toaya itu tepat datangnya hingga kursi itu hancur kena tenaga pukulan kongcu muda itu, aku sendiri merasa sekujur badan enteng bagai terbang ke awang-awang, sedikit pun tidak bertenaga lagi. Lalu kongcuya itu berkata padaku, &#8216;Nah, sekarang boleh kau pergi pada Sih-sin-ih, suruh dia latihan dulu atas lukamu ini, supaya kelak dia takkan repot jika mesti mengobati Hian-cu Taysu.&#8217;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa maksud perkataannya itu?&#8221; tanya Hian-lan dengan kening bekernyit.</p>
<p>&#8220;Agaknya ia maksudkan kelak akan menggunakan Tay-pan-yak-kim-kong-ciang untuk melukai Hian-cu Taysu,&#8221; sahut A Cu.</p>
<p>Seketika para kesatria dibikin gempar pula, banyak di antaranya berseru, &#8220;He, Ih-pi-ci-to hoan-si-pi-sin, ternyata betul, itulah dia Koh-soh Buyung!&#8221;</p>
<p>Mereka pakai kalimat &#8220;ternyata betul&#8221;, maksudnya mereka sudah menduga sebelumnya akan keterangan A Cu itu.</p>
<p>Begitulah oleh karena A Cu sudah tahu Buyung Hok bakal cari setori pada orang Siau-lim-pay, maka sekarang ia sengaja membual untuk menggertak lawan dulu, sekalian untuk mengangkat derajat dan meninggikan perbawa Buyung-kongcu.</p>
<p>&#8220;He, bukankah Kiau Hong tadi bilang ada orang memalsukan padri Siau-lim-si, mengapa nona ini sekarang mengatakan penyerangnya itu adalah seorang muda, sebenarnya manakah yang betul?&#8221; tiba-tiba Yu Ek menegas.</p>
<p>&#8220;Orang yang memalsukan padri Siau-lim-si memang bukan karangan, aku sendiri menyaksikan dua hwesio yang mengaku dari Siau-lim-si, tapi diam-diam mencuri anjing orang untuk disembelih,&#8221; sahut A Cu. Ia sadar bualannya tadi agak tidak cocok dengan keterangan Kiau Hong, maka ia sengaja omong yang tidak-tidak untuk membelokkan pokok pertanyaan mereka.</p>
<p>Dengan sendirinya Sih-sin-ih lantas tahu juga apa yang diceritakan A Cu itu agak ganjil, seketika ia menjadi ragu apakah mesti mengobati luka gadis ini atau tidak. Ia coba pandang Hian-lan dan Hian-cit berdua, lalu memandang Yu-si-siang-hiong dan memandang pula Kiau Hong dan A Cu.</p>
<p>&#8220;Hari ini jika Sih-siansing sudi menolong Nona Wi, budi kebaikan ini pasti takkan kulupakan di kemudian hari,&#8221; ujar Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Hehe, takkan melupakan kebaikanku di kemudian hari? Memangnya kau kira kau dapat keluar dari sini dengan hidup?&#8221; jengek Sih-sin-ih.</p>
<p>&#8220;Keluar dari sini dengan hidup atau akan mati di sini, hal ini tak dapat kupikirkan lagi,&#8221; kata Kiau Hong. &#8220;Yang terang, luka nona ini betapa pun harus kau obati.&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk apa aku harus mengobati dia?&#8221; sahut Sih-sin-ih dengan ketus.</p>
<p>&#8220;Kota Buddha, menolong jiwa seorang melebihi membangun tujuh tingkat candi,&#8221; ujar Kiau Hong. &#8220;Sebagai seorang bu-lim yang wajib berlaku bajik, rasanya tidak mungkin Sih-siansing tega menyaksikan nona ini mati begitu saja tanpa berdosa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebenarnya siapa pun yang membawa nona ini kemari, pasti akan kusembuhkan dia,&#8221; sahut Sih-sin-ih. &#8220;Tapi, hm, karena kau yang membawanya kemari, maka aku tidak mau menolong dia.&#8221;</p>
<p>Air muka Kiau Hong berubah mendadak, katanya dengan dingin, &#8220;Kalian berkumpul di Cip-hian-ceng tujuan kalian memang hendak menghadapi orang she Kiau, masakah aku tidak tahu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, Kiau-toaya, jika begitu, tidak seharusnya engkau menempuh bahaya dan membawa aku ke sini,&#8221; sela A Cu mendadak.</p>
<p>Namun Kiau Hong menyambung lagi, &#8220;Tapi kupikir kalian adalah kaum kesatria sejati, tentu dapat membedakan yang benar dan yang salah, yang ingin kalian bunuh juga cuma aku seorang dan tiada sangkut paut apa-apa dengan nona cilik ini. Sekarang rasa benci Sih-siansing kepadaku ikut merembet atas diri Nona Wi ini, bukankah itu tidak patut?&#8221;</p>
<p>Sih-sin-ih menjadi bungkam. Sejenak barulah ia menjawab, &#8220;Apakah aku akan mengobati seseorang atau tidak bergantung kepada keputusanku, hal ini tak dapat dimohon oleh siapa pun dan tak bisa dipaksakan padaku. Kiau Hong, dosamu, sudah kelewat takaran, kami justru lagi berunding hendak membekuk batang lehermu untuk mencencangmu guna sesajen ayah-bunda dan gurumu yang telah menjadi korban keganasanmu itu. Jika sekarang kau sendiri sudah datang kemari, itulah paling bagus. Nah, boleh kau bereskan nyawamu sendiri saja.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, sekali ia memberi tanda, serentak para kesatria berteriak sekali sambil melolos senjata masing-masing, seluruh ruangan itu penuh sinar kemilau dari berbagai jenis senjata. Menyusul di tempat tinggi juga terdengar suara seruan, di atap rumah, emper, dan pagar tembok sudah penuh berdiri jago-jago silat dengan senjata siap di tangan.</p>
<p>Meski sudah banyak pertempuran besar yang dialami Kiau Hong, tapi biasanya anggota Kay-pang yang dipimpinnya itu selalu berjumlah lebih banyak daripada pihak musuh, tidak pernah seorang diri terkepung di tengah musuh banyak seperti sekarang ini, bahkan ia masih harus melindungi seorang nona cilik yang terluka parah, sungguh ia menjadi bingung juga cara bagaimana mesti meloloskan diri dari kepungan musuh yang ketat ini.</p>
<p>Yang paling khawatir adalah A Cu. &#8220;Kiau-toaya, lekas engkau melarikan diri saja dan tidak perlu urus diriku! Mereka tiada permusuhan apa-apa denganku, tentu aku takkan dibikin susah oleh mereka,&#8221; demikian seru A Cu sambil menangis.</p>
<p>Tergerak pikiran Kiau Hong, ia pikir para kesatria tentu takkan bikin susah seorang gadis tak berdosa, biarlah lekas kutinggalkan tempat ini saja. Tapi segera terpikir pula, &#8220;Seorang laki-laki sejati sekali menolong orang harus menolong sampai akhirnya, sedangkan Sih-sin-ih belum lagi menyanggupi akan mengobati lukanya, sebelum tahu pasti bagaimana nasib nona cilik ini, mana boleh aku tamak hidup dan takut mati, lalu tinggal pergi begini saja?&#8221;</p>
<p>Ia coba pandang sekitar ruangan tamu itu, ia lihat banyak tokoh terkemuka di antara hadirin itu adalah kenalan lama.</p>
<p>Melihat jago-jago terkemuka sebanyak itu, sekonyong-konyong semangat jantannya berkobar-kobar, rasa jeri tersapu bersih semua. Katanya di dalam hati, &#8220;Andaikan darahku akan membasahi Cip-hian-ceng ini dan badanku akan dicencang mereka, apa artinya lagi bagiku? Seorang laki-laki kenapa mesti girang hidup dan takut mati?&#8221;</p>
<p>Berpikir begitu, segera ia terbahak dan berkata, &#8220;Sih-sin-ih, kalian menuduh aku adalah orang Cidan dan ingin membunuhku. Hehehe, apakah aku sebenarnya orang Cidan atau orang Han, sampai saat ini aku sendiri pun tidak pasti &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar, memang kau anak keturunan capcai, dengan sendirinya kau tidak tahu keturunan jenis apa!&#8221; tiba-tiba suara orang yang dingin aneh tadi bergema lagi di antara orang banyak. Sejak tadi semua orang ingin tahu siapakah gerangan pembicara itu, tapi meski sudah dicari dan diperhatikan arah datangnya suara itu, tetap tak diketahui bibir siapa yang bergerak dan bicara itu. Jika perawakan orang itu sangat pendek, toh di antara hadirin itu tiada seorang pun yang berperawakan katai.</p>
<p>Semula Kiau Hong juga celingukan mencari si pembicara itu, tapi sesudah memerhatikan sejenak kemudian ia manggut-manggut, ia tidak gubris orang dan melanjutkan perkataannya kepada Sih-sin-ih, &#8220;Dan bila aku ternyata bangsa Han adanya, hari ini engkau telah menghinaku secara terbuka begini, tidak nanti aku tinggal diam atas perbuatanmu ini. Sebaliknya kalau aku adalah bangsa Cidan dan bertekad akan memusuhi para kesatria Tionggoan, maka orang pertama yang akan kubunuh adalah dirimu, dengan demikian supaya setiap kesatria Tionggoan yang kulukai akan binasa dan tak dapat tertolong lagi olehmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang, betapa pun kau pasti akan membunuhku,&#8221; sahut Sih-sin-ih.</p>
<p>&#8220;Tapi aku mohon sukalah engkau menolong nona ini, satu jiwa kubayar kembali dengan satu jiwa, selamanya aku takkan mengganggu seujung rambutmu,&#8221; ujar Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Hehehe,&#8221; Sih-sin-ih tertawa dingin, &#8220;selama hidupku bila mengobati orang hanya kalau dimohon, tapi tidak pernah dipaksa atau diancam.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kan kutukar jiwamu dengan satu jiwa secara adil, tak dapat dikatakan aku mengancam atau memaksa,&#8221; sahut Kiau Hong.</p>
<p>Tiba-tiba suara dingin dan aneh tadi berkata pula, &#8220;Huh, apakah kau tidak malu? Padahal sekejap lagi kau sendiri akan dicencang mereka menjadi perkedel, tapi kau masih bicara tentang mengampuni jiwa orang segala? Kau &#8230;.&#8221;</p>
<p>Belum selesai ia berkata, mendadak Kiau Hong membentak, &#8220;Gelinding keluar!&#8221;</p>
<p>Begitu hebat bentakannya hingga atap rumah seakan-akan terguncang, debu kotoran pun bertebaran dari atas, telinga setiap orang seakan-akan pekak dan jantung berdebar.</p>
<p>Pada saat lain tertampaklah di antara orang banyak ada seorang laki-laki terhuyung-huyung menumbuk kian-kemari pada orang-orang di sekitarnya. Hanya sekejap saja di situ lantas berwujud suatu tempat luang, orang-orang lain sama menyingkir dan laki-laki itu tampak sempoyongan bagai orang mabuk.</p>
<p>Para kesatria lantas dapat melihat jelas laki-laki itu berjubah hijau, muka pucat kaku, perawakannya sangat kekar dan tegap, tapi tiada yang kenal siapakah dia.</p>
<p>&#8220;Ah, tahulah aku, dia ini Tui-hun-tiang Tam-ceng. Ya, dia inilah murid Yan-king Taycu,&#8221; demikian tiba-tiba Oh-pek-kiam Su An berseru.</p>
<p>Tui-hun-tiang Tam-ceng, Si Tongkat Pencabut Nyawa, mukanya waktu itu tampak berkerut-kerut, terang sedang menderita kesakitan yang luar biasa sambil kedua tangan tiada berhenti-henti memukul dan mencakar dada sendiri. Dari dalam badannya terdengar suara perkataan, &#8220;Aku &#8230; aku tiada permusuhan apa-apa dengan &#8230; denganmu, mengapa kau musnahkan ilmuku?&#8221;</p>
<p>Suaranya tetap lirih, dingin dan aneh, tapi kini terdengar lemah dan terputus-putus, sedang bibirnya sedikit pun tidak bergerak.</p>
<p>Keruan banyak di antara hadirin terkejut dan heran. Hanya beberapa di antaranya yang mengetahui bahwa ilmu kemahiran Tam-ceng itu disebut &#8220;Hok-lwe-gi&#8221; (ilmu bicara dengan perut), dengan ilmu mukjizat itu ditambah lwekang yang tinggi, sering pihak lawan bisa dipermainkan hingga semangat kabur dan sukma hilang, akhirnya terbinasa.</p>
<p>Rupanya Tam-ceng sudah memperoleh kepandaian gurunya, yaitu, Yan-king Taycu dan telah menjadi seorang pembicara dengan perut yang ulung.</p>
<p>Tapi sial baginya, ia ketanggor sekali ini, karena lwekang Kiau Hong jauh lebih tinggi daripadanya, maka ilmu sihirnya itu tidak mempan, sebaliknya ia kena digertak Kiau Hong dan ia celaka sendiri.</p>
<p>Maka dengan gusar Sih-sin-ih lantas mendamprat Tam-ceng, &#8220;Jadi kau inilah murid &#8216;Ok-koan-boan-eng&#8217; Toan Yan-king? Pertemuan besar kaum kesatria yang kuadakan ini hanya disediakan untuk para pahlawan. Manusia rendah dan sampah masyarakat macammu ini juga berani menyelundup ke sini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Huh, pertemuan kesatria apa segala, kulihat lebih tepat dikatakan pertemuan antara kawanan babi celeng!&#8221; tiba-tiba dari tempat tinggi di kejauhan berkumandang suara seorang. Dan begitu selesai ucapannya, tahu-tahu sesosok bayangan orang melayang turun dari atas pagar tembok yang tinggi.</p>
<p>Perawakan orang ini tampak lencir dan tinggi sekali dengan gerak-geriknya yang sangat cepat. Banyak di antara penjaga di atas rumah telah berusaha merintanginya, tapi semuanya terlambat sedikit hingga orang jangkung ini sempat menerobos lewat.</p>
<p>Segera banyak juga di antara hadirin mengenal si jangkung ini tak-lain-tak-bukan adalah &#8220;Kiong-hiong-kek-ok&#8221; In Tiong-ho alias Si Ganas dan Mahajahat.</p>
<p>Dan begitu In Tiong-ho melayang turun ke tengah ruangan, dengan cepat ia jambret Tam-ceng terus menerjang ke arah Sih-sin-ih malah.</p>
<p>Karena khawatir tabib sakti itu diserang, dengan sendirinya tokoh-tokoh di sekitarnya serentak berusaha melindunginya. Tak tersangka tindakan In Tiong-ho itu melulu tipu belaka, pura-pura maju tapi sebenarnya akan mundur. Begitu lawan mengerubut maju, cepat sekali ia melompat mundur dan melompat ke atas pagar tembok lagi.</p>
<p>Sebenarnya tidak sedikit di antara kesatria yang hadir itu berilmu silat lebih tinggi daripada In Tiong-ho, tapi karena didahului oleh durjana itu, ditambah lagi ginkang Tiong-ho memang lain daripada yang lain, sekali dia sudah naik ke pagar tembok, sukarlah untuk disusul oleh siapa pun.</p>
<p>Segera banyak di antara jago-jago itu bermaksud menyerang dengan senjata rahasia, penjaga di atas atap rumah juga membentak dan hendak mencegat, tapi Kiau Hong sudah mendahului bertindak, mendadak ia membentak, &#8220;Tinggal sajalah di sini!&#8221;</p>
<p>Berbareng sebelah tangan terus memukul dari jauh, kontan suatu arus tenaga mahadahsyat bagaikan senjata tanpa wujud mengenai punggung In Tiong-ho.</p>
<p>Tanpa ampun lagi mahadurjana itu bersuara tertahan sekali, lalu terbanting jatuh ke belakang. Begitu terjungkal ke bawah, terus saja mulutnya menyemburkan darah segar bagai air mancur.</p>
<p>Sebaliknya Tam-ceng yang ikut terjungkal kembali itu masih dapat merangkak bangun, namun tetap terhuyung-huyung ke sana dan kemari sambil mulutnya menggumam seperti orang gila, keadaannya sangat lucu. Namun tiada seorang pun di antara hadirin geli oleh kelakuan Tam-ceng itu, sebaliknya mereka merasa keadaan di depan mata itu sangat seram.</p>
<p>Sih-sin-ih tahu luka In Tiong-ho sangat parah, tapi masih dapat ditolong, sebaliknya semangat Tam-ceng sudah runtuh, pikiran sehatnya sudah hilang, tiada obat mukjizat di dunia ini yang dapat menolong jiwanya. Terbayang olehnya Kiau Hong hanya sekali menggertak dan sekali menghantam dari jauh saja sudah memiliki daya selihai itu, bila bekas pangcu itu mau ambil jiwanya, rasanya tiada yang mampu merintanginya.</p>
<p>Tengah Sih-sin-ih termenung itu, tertampak Tam-ceng tidak bergerak lagi, tapi berdiri terpatung di tempatnya tanpa bersuara lagi. Kedua matanya mendelik, napasnya sudah putus.</p>
<p>Tadi Tam-ceng telah menghina Kay-pang, sebenarnya anggota-anggota Kay-pang sangat murka, tapi waktu itu tiada diketemukan siapa pembicaranya, maka mereka cuma gusar tanpa ada sasarannya. Kini, sekali Kiau Hong datang ke situ, segera orang itu dapat dimampuskan, tentu saja mereka merasa sangat senang dan puas. Kesatria-kesatria yang jujur tulus sebagai Go-tianglo dan Song-tianglo sampai hampir-hampir bersorak memuji, cuma teringat oleh mereka bahwa Kiau Hong sekarang bukan pangcu mereka lagi, pula dituduh sebagai keturunan Cidan, maka mereka urung bersorak. Tapi lapat-lapat dalam hati kecil mereka toh merasa menyesal bila Kiau Hong tidak menjadi pangcu mereka, maka kejayaan Kay-pang yang telah lalu tentu susah dibangun kembali.</p>
<p>&#8220;Kedua Yu-heng,&#8221; demikian Kiau Hong berkata. &#8220;Hari ini Cayhe dapat bersua dengan kenalan-kenalan lama di sini, tapi untuk selanjutnya kita akan menjadi lawan dan bukan kawan lagi, sungguh aku merasa sangat menyesal, maka aku ingin mohon beberapa mangkuk arak padamu.&#8221;</p>
<p>Semua orang menjadi heran menyaksikan ketenangan Kiau Hong ini, di bawah kepungan lawan sebanyak ini toh dia masih sempat minta minum arak apa segala. Diam-diam Yu Ek pikir, &#8220;Biarlah kita lihat cara bagaimana ia akan bertingkah?&#8221;</p>
<p>Maka ia lantas perintahkan centeng menyediakan arak yang diminta.</p>
<p>Cip-hian-ceng sedang mengadakan pertemuan, dengan sendirinya arak dan daharan sudah tersedia lebih dari cukup. Hanya sekejap pelayan sudah sediakan poci dan cawan arak seperlunya.</p>
<p>Tapi Kiau Hong berkata pula, &#8220;Cawan sekecil ini mana dapat memuaskan, harap ambilkan mangkuk yang besar.&#8221;</p>
<p>Segera dua centeng membawakan beberapa buah mangkuk besar dan satu guci arak simpanan, mereka menaruh semua itu di atas meja di depan Kiau Hong dan menuangkan satu mangkuk penuh.</p>
<p>&#8220;Harap setiap mangkuk diisi semua,&#8221; pinta Kiau Hong, dan sesudah hal itu dipenuhi kedua pelayan, lalu Kiau Hong angkat mangkuk dan berkata, &#8220;Para enghiong-hohan dari segenap penjuru yang hadir di sini sebagian besar adalah kawan lama Kiau Hong, tapi sekarang karena aku dicurigai kalian, marilah, silakan, kita habiskan semangkuk arak ini sekadar tanda putusnya persaudaraan. Siapa yang ingin membunuh diriku harap minum dulu semangkuk. Selanjutnya putuslah hubungan baik kita, apakah aku akan terbunuh oleh kalian atau kalian akan kubinasakan, masing-masing tidak perlu sungkan-sungkan. Nah, silakan siapa yang akan maju lebih dulu.&#8221;</p>
<p>Seketika ruangan tamu itu menjadi sunyi senyap, semuanya berpikir dengan khawatir, &#8220;Jika aku maju dulu, jangan-jangan akan tertipu olehnya. Pukulan sakti dari jauh seperti tadi mana aku sanggup menangkisnya?&#8221;</p>
<p>Dalam keadaan hening itulah, tiba-tiba tampil ke muka seorang perempuan berpakaian putih berkabung. Itulah janda Be Tay-goan.</p>
<p>Be-hujin mengangkat mangkuk arak dan berkata dengan dingin, &#8220;Suamiku dibinasakan olehmu, di antara kita tiada soal persaudaraan lagi!&#8221;</p>
<p>Lalu ia tempelkan mangkuk arak ke bibir, ia cicip sedikit dan berkata pula, &#8220;Aku tidak sanggup minum habis arak ini, tapi sakit hati kematian suami yang harus kubalas adalah mirip arak ini.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia siram sisa arak ke lantai.</p>
<p>Waktu Kiau Hong perhatikan janda muda itu, ia lihat Be-hujin itu cantik molek. Tempo hari waktu bertemu di tengah hutan, karena cuaca sudah gelap, maka wajahnya tidak jelas kelihatan, sungguh tak tersangka wanita yang lihai itu ternyata mempunyai wujud secantik ini. Tanpa bicara ia pun angkat mangkuknya, sekali tenggak ia habiskan isi mangkuk. Ia memberi tanda agar pelayan memenuhi mangkuknya lagi.</p>
<p>Sesudah Be-hujin undurkan diri, lalu maju Ci-tianglo, ia pun tanpa bicara mengeringkan semangkuk arak diiringi Kiau Hong.</p>
<p>Dan setelah Thoan-kong Tianglo, lalu majulah Cit-hoat Tianglo. Selagi tokoh Kay-pang itu angkat mangkuknya hendak ditenggak, mendadak Kiau Hong berkata, &#8220;Nanti dulu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kiau-heng ada pesan apa?&#8221; tanya Cit-hoat Tianglo. Biasanya ia sangat hormat kepada Kiau Hong, maka nada suaranya sekarang tetap merendah seperti biasanya, bedanya cuma tidak memanggil &#8220;pangcu&#8221; lagi.</p>
<p>Maka berkatalah Kiau Hong, &#8220;Kita adalah saudara selama sepuluh tahun, sungguh tidak nyana hari ini mesti menjadi musuh.&#8221;</p>
<p>Air mata Cit-hoat Tianglo berlinang-linang di kelopak matanya, sahutnya, &#8220;Jika tidak menyangkut kepentingan nusa dan bangsa, Pek Si-kia lebih suka mati daripada bermusuhan dengan Kiau-heng.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku paham hal ini,&#8221; kata Kiau Hong sambil mengangguk, &#8220;Sebentar lagi kita akan menjadi lawan, rasanya tak terhindar daripada suatu pertarungan sengit. Maka Kiau Hong ingin minta tolong sesuatu urusan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Asal tidak menyangkut pengkhianatan pada negara, pasti akan kuterima,&#8221; sahut Pek Si-kia.</p>
<p>Kiau Hong tersenyum, katanya sambil menunjuk A Cu, &#8220;Apabila saudara dalam Kay-pang masih ingat pada sedikit jasaku yang pernah kuberikan kepada pang, harap suka jaga keselamatan nona cilik ini.&#8221;</p>
<p>Mendengar pesan itu tahulah semua orang bahwa Kiau Hong sudah bertekad akan menempur para kesatria sampai titik darah penghabisan. Dikeroyok oleh lawan sebanyak biarpun dia mampu membinasakan beberapa puluh orang, namun akhirnya Kiau Hong sendiri tentu juga akan terbinasa. Maka mau tak mau para kesatria terharu juga oleh semangat jantan dan jiwa kesatria Kiau Hong itu.</p>
<p>Sebagai seorang tokoh terkemuka serta kedudukan yang tinggi selaku Cit-hoat Tianglo dalam Kay-pang, dengan sendirinya Pek Si-kia adalah seorang kesatria yang berjiwa besar, apalagi hubungannya dengan Kiau Hong biasanya sangat karib. Maka pesan terakhir bekas pangcu itu segera dijawabnya, &#8220;Harap Kiau-heng jangan khawatir, Pek Si-kia pasti akan mohon Sih-sin-ih suka menyembuhkan nona itu, bila terjadi apa-apa atas diri Nona Wi, Pek Si-kia rela akan membunuh diri untuk mempertanggungjawabkan pesan Kiau-heng ini.&#8221;</p>
<p>Janji Cit-hoat Tianglo ini cukup tegas, apakah nanti Sih-sin-ih akan mengobati A Cu atau tidak, yang pasti ia akan berusaha sekuat tenaga. Seorang tokoh bu-lim selamanya berani berkata berani berbuat, apalagi ia telah berjanji di depan orang banyak, maka janji pasti akan ditepati olehnya.</p>
<p>Kiau Hong percaya sepenuhnya, katanya, &#8220;Banyak terima kasih atas kebaikan Tianglo ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan dalam pertarungan nanti Kiau-heng tidak perlu berlaku sungkan-sungkan, bila aku mesti mati di tanganmu, tentu kawan-kawan Kay-pang yang lain akan menggantikan aku menjaga Nona Wi.&#8221;</p>
<p>Habis bicara, ia angkat mangkuk arak dan menenggaknya hingga habis. Begitu pula Kiau Hong lantas mengiringi dengan minum semangkuk.</p>
<p>Lalu giliran maju Song-tianglo, Go-tianglo dan tokoh Kay-pang yang lain. Kemudian majulah jago-jago bu-lim dari berbagai mazhab yang hadir di situ, satu per satu mengadu mangkuk dengan Kiau Hong. Tampaknya dalam waktu singkat Kiau Hong sendiri sudah menghabiskan 40-50 mangkuk arak, satu guci penuh tadi sudah habis terminum, malahan centeng sudah mengeluarkan pula satu guci, tapi keadaan Kiau Hong masih segar bugar, bahkan wajahnya sedikit pun tidak merah, hanya perutnya tampak sedikit gembung, tiada sesuatu tanda lain yang luar biasa.</p>
<p>Keruan semua orang ternganga heran, pikir mereka, &#8220;Jika minum terus cara begini, jangankan mesti bergebrak segala, mungkin sekali mabuk takkan sanggup bangun lagi.&#8221;</p>
<p>Sudah tentu mereka tidak tahu bahwa semakin banyak minum arak semangat Kiau Hong semakin tambah. Apalagi selama beberapa hari ini Kiau Hong selalu menghadapi kejadian yang mengesalkan dan membuatnya penasaran. Kini ia telah kesampingkan semua itu dan sengaja hendak melabrak mereka sepuasnya.</p>
<p>Setelah lebih 60 mangkuk arak masuk perut Kiau Hong, Pau Jian-leng dan Ki Liok juga mengadu mangkuk dengan dia, tiba-tiba majulah Hiang Bong-thian, ia angkat sebuah mangkuk dan berkata, &#8220;Orang she Kiau, biarlah aku pun minum semangkuk denganmu!&#8221;</p>
<p>Mendengar ucapan orang yang kurang hormat itu, Kiau Hong menjadi panas telinganya, ia melirik hina pada Hiang Bong-thian dan menyahut, &#8220;Orang she Kiau minum arak putus hubungan ini dengan para kesatria bu-lim, maksudnya menghapuskan segala kebaikan persaudaraan masa lalu. Tapi kau ini kutu busuk macam apa? Macam dirimu juga tidak ada harganya untuk bicara tentang persaudaraan denganku dan mengajak minum &#8216;coat-kay-ciu&#8217; (arak putus hubungan) padaku?&#8221;</p>
<p>Bicara sampai di sini, tanpa memberi kesempatan pada Hiang Bong-thian untuk bicara lagi, ia melangkah maju setindak, sekali tangan kanan terjulur, tahu-tahu dada baju Hiang Bong-thian kena dijambretnya, menyusul sekali ia angkat dan ayun ke depan, Hiang Bong-thian yang besar itu terlempar keluar ruangan, &#8220;bluk,&#8221; dengan keras badan Hiang Bong-thian tertumbuk dinding dan seketika menggeletak kelengar.</p>
<p>Suasana menjadi kacau dan tegang. Segera Kiau Hong melompat ke pekarangan, bentaknya, &#8220;Ayolah, siapa yang berani maju dulu untuk menempur aku!&#8221;</p>
<p>Melihat betapa gagah dan tangkasnya Kiau Hong, seketika nyali para tokoh bu-lim itu menjadi ciut hingga tiada seorang pun berani maju.</p>
<p>&#8220;Kalian tidak berani maju, biarlah aku yang mulai dulu!&#8221; bentak Kiau Hong. Dan tanpa ampun lagi ia terus menghantam dua kali dari jauh, kontan dua orang terkapar di tanah oleh angin pukulan jarak jauh itu.</p>
<p>Bahkan Kiau Hong terus menerjang maju, di mana kepalan dan sikutnya tiba, di mana kakinya melayang dan telapak tangan menghantam, dalam sekejap saja kembali beberapa orang dirobohkan pula.</p>
<p>&#8220;Lekas mundur mepet dinding, jangan sembarangan menyerang!&#8221; teriak Yu Ek cepat.</p>
<p>Seruan Yu Wk memang tepat. Jumlah orang yang berada di ruangan ada dua-tiga ratus, kalau mengerubut maju begitu saja, betapa pun tinggi ilmu silat Kiau Hong juga tak mampu melawan. Tapi tempatnya kecil dan orangnya banyak, dengan cara berjubel begitu, yang benar dapat mendekati Kiau Hong paling-paling juga cuma lima-enam orang saja, dan di bawah hujan pukulan dan tendangan pasti lebih banyak kawan sendiri yang akan terluka oleh orang sendiri. Maka sesudah seruan Yu Ek itu, seketika terluanglah di bagian tengah hingga cukup luas.</p>
<p>&#8220;Marilah, biar kubelajar kenal dulu kepandaian Yu-si-siang-hiong dari Cip-hian-ceng,&#8221; seru Kiau Hong pula. Dan sekali tangan kiri bergerak, tahu-tahu guci arak di atas meja tadi terbang melayang ke arah Yu Ek.</p>
<p>Cepat Yu Ek dorong kedua tangannya ke depan, maksudnya hendak tahan guci itu ke lantai. Di luar dugaan, Kiau Hong telah susulkan sekali hantaman dengan tangan kanan, &#8220;prak&#8221;, guci hancur dan beratus beling pecahan guci bertebaran.</p>
<p>Beling dari remukan guci itu sudah tentu sangat tajam, ditambah lagi terdorong oleh tenaga pukulan Kiau Hong yang dahsyat, keruan beling guci menjadi mirip beratus senjata rahasia seperti piau, hui-to (pisau terbang), dan lain-lain.</p>
<p>Seketika muka Yu Ek terkena tiga potong beling hingga darah bercucuran, belasan orang di sampingnya juga ikut terluka. Maka paniklah gelanggang pertarungan itu, suara caci maki bercampur dengan suara jerit riuh.</p>
<p>Dalam pada itu sebelah kaki Kiau Hong menendang pula hingga guci arak yang lain didepak mencelat, selagi dia hendak menambahi sekali hantaman pula, sekonyong-konyong dari belakang terasa menyambar tiba serangkum angin pukulan yang bertenaga halus, tapi sebenarnya mengandung tenaga dalam yang sangat kuat.</p>
<p>Kiau Hong tahu pukulan itu dilontarkan oleh seorang jago kelas wahid, ia tidak berani ayal, cepat ia menangkis ke belakang. Maka bertemulah dua arus tenaga dalam yang kuat.</p>
<p>Waktu Kiau Hong memerhatikan penyerang itu, ternyata orangnya bermuka jelek dan lucu, itulah dia si &#8220;badut&#8221; yang tak punya nama, tapi mengaku sebagai &#8220;Tio-ci-sun&#8221; itu.</p>
<p>Diam-diam Kiau Hong tidak berani memandang enteng tokoh yang hebat lwekangnya ini. Sekali ia tarik napas panjang-panjang, pukulan kedua segera dilancarkan bagaikan gugur gunung dahsyatnya.</p>
<p>Rupanya Tio-ci-sun juga tahu melulu dengan sebelah tangannya takkan mampu menahan serangan Kiau Hong itu, maka dengan dorong kedua tangan sekaligus ia berusaha menangkis.</p>
<p>&#8220;Apakah kau cari mampus!&#8221; mendadak suara seorang wanita di sampingnya membentak. Berbareng Tio-ci-sun merasa pundaknya ditarik orang ke samping hingga serangan Kiau Hong itu terhindarkan.</p>
<p>Namun begitu toh tenaga pukulan Kiau Hong itu masih terus menerjang ke depan. Maka celakalah tiga orang di belakang Tio-ci-sun, mereka yang tertimpa malang. Terdengarlah suara gedebukan tiga kali, ketiga orang itu mencelat dan menumbuk dinding dengan keras, begitu hebat tumbukan itu hingga kapur pasir dinding rontok bertebaran.</p>
<p>Waktu Tio-ci-sun menoleh, ia lihat orang yang menariknya tadi adalah Tam-poh, ia menjadi girang, katanya, &#8220;Terima kasih atas pertolonganmu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau serang bagian kiri dan aku akan menyerang dari kanan,&#8221; kata Tam-poh.</p>
<p>Dan baru Tio-ci-sun mengiakan, tahu-tahu sesosok bayangan orang yang kurus kecil sudah mendahului menerjang ke arah Kiau Hong. Ternyata orang itu adalah Tam-kong, si kakek Tam.</p>
<p>Jangan sangka perawakan Tam-kong itu kurus kecil, tenaga dalamnya ternyata sangat kuat, begitu tangan kiri menghantam ke depan, menyusul serangan tangan kanan dilontarkan lagi. Dan sedikit tangan kiri ditarik kembali, segera ia tambahkan tenaga pukulannya pada tangan kanan.</p>
<p>Serangan tiga kali secara berantai ini menjadi mirip damparan ombak yang susul-menyusul, dibandingkan pukulan Tio-ci-sun tadi, terang tiga kali pukulan Tam-kong ini beberapa kali lipat lebih kuat.</p>
<p>&#8220;Pukulan &#8216;Tiang-kang-sam-tiap-long&#8217; (Ombak Mendebur Tiga Susun di Sungai Tiangkang) yang hebat!&#8221; puji Kiau Hong sambil memapak dengan tangan kiri.</p>
<p>Benturan kedua arus tenaga dalam yang hebat itu memaksa orang lain terdesak mundur ke pinggir. Dan pada saat itulah Tam-poh dan Tio-ci-sun pun mengerubut maju, menyusul Ci-tianglo, Thoan-kong Tianglo, Tan-tianglo dan lain-lain juga ikut terjun ke kalangan pertarungan sengit itu.</p>
<p>&#8220;Kiau-hengte, Cidan tidak dapat hidup berdampingan dengan kerajaan Song raya kita, demi kepentingan umum terpaksa kita mesti kesampingkan hubungan pribadi, maafkan bila aku akan berlaku kasar padamu!&#8221; demikian Thoan-kong Tianglo berseru.</p>
<p>&#8220;Sedangkan coat-kay-ciu juga sudah kita minum, buat apa bicara tentang persaudaraan lagi? Awas serangan!&#8221; demikian sahut Kiau Hong sambil mendepak ke arah tokoh Kay-pang itu.</p>
<p>Namun begitu omongnya, toh terhadap tokoh Kay-pang mau tak mau ia berlaku sungkan juga, bukan saja tiada niat mencelakai jiwa mereka, bahkan membikin malu mereka di depan orang banyak juga tidak. Maka depakan itu sampai di tengah jalan mendadak ganti arah, &#8220;bluk&#8221;, tahu-tahu Goay-to Ki Liok yang menjadi sasarannya hingga tertendang mencelat.</p>
<p>Rupanya Ki Liok, Si Golok Kilat itu sama sekali tidak menyangka akan tindakan itu, keruan ia menjerit kaget ketika mendadak pantatnya terasa terdepak dan badannya mencelat ke atas. Goloknya sebenarnya sedang dibacokkan ke kepala Kiau Hong, tapi karena badannya mumbul ke udara, dan goloknya tetap dibacokkan, maka terdengarlah &#8220;crat&#8221;, golok itu tepat kena membacok belandar utama ruangan besar itu.</p>
<p>Gedung utama Cip-hian-ceng yang dibangun Yu-si-siang-hiong itu sangat megah dan kukuh, lebih-lebih belandar itu adalah sejenis kayu pilihan yang sangat kuat. Maka sekali kena bacok dengan kuat, golok Ki Liok itu lantas ambles belasan senti dalamnya hingga senjata itu tergigit dengan kencang dalam belandar.</p>
<p>Golok Ki Liok itu adalah senjata andalan yang membuatnya terkenal, kini harus menghadapi musuh tangguh, mana dia mau kehilangan senjata itu? Maka sekuatnya ia memegangi golok itu dengan tangan kanan. Dengan demikian, tubuhnya menjadi terkatung-katung di udara, keadaannya menjadi lucu dan aneh. Tapi setiap orang di tengah ruangan itu sedang menghadapi detik antara mati dan hidup, dengan sendirinya tiada seorang pun sempat menertawainya.</p>
<p>Kiau Hong sendiri meski sudah banyak menghadapi pertempuran seru dan selamanya tidak pernah kalah, tapi kini harus bertempur dengan jago sebanyak dan selihai ini, hal ini pun selama hidupnya tidak pernah dialami. Namun sama sekali ia tidak gentar sebaliknya semangatnya semakin berkobar, ia mainkan kedua tangannya naik-turun hingga lawan-lawan tangguh sukar mendekatinya.</p>
<p>Sih-sin-ih memang sakti dalam ilmu pengobatan, tapi ilmu silatnya belum tergolong kelas wahid. Dalam ilmu pertabiban memang dia mempunyai bakat pembawaan dan pengalaman yang mendalam. Dalam hal ilmu silat ia pun sangat luas pengetahuannya, tapi luas pengetahuan tidak berarti pandai pula menggunakannya. Oleh karena terlalu luas dan terlalu banyak yang dia pelajari, maka tiada sejurus pun ilmu silat itu benar-benar dilatihnya hingga sempurna. Jadi hanya sepintas lalu saja ia mempelajari berbagai jurus ilmu silat yang diperolehnya dari tokoh-tokoh yang pernah diobati olehnya.</p>
<p>Sebelumnya ia suka bergirang dan puas akan pengetahuan sendiri yang luas dalam hal ilmu silat, tapi kini demi menyaksikan pertarungan sengit antara Kiau Hong melawan orang banyak itu, betapa hebat dan lihainya bekas Pangcu Kay-pang ini benar-benar membuatnya terpesona, sungguh mimpi pun tak terpikir olehnya ada ilmu silat begini lihai. Saking takjubnya hingga ia terkesima di tempatnya, jangankan lagi hendak maju bertempur.</p>
<p>Begitulah ia berdiri mepet tembok dengan rasa takut, cuma untuk merat secara diam-diam betapa pun ia merasa enggan, sebagai pengundang masakah ia sendiri malah kabur lebih dulu? Sekilas tiba-tiba dilihatnya Hian-lan berdiri di sebelahnya, tergerak hatinya, maka katanya perlahan, &#8220;Ucapanku tadi sesungguhnya kurang sopan, harap Taysu suka memaafkan.&#8221;</p>
<p>Sebenarnya Hian-lan asyik mengikuti pertarungan sengit di tengah ruangan itu, ia terkesiap oleh perkataan Sih-sin-ih itu, segera ia tanya, &#8220;Ucapan apa maksudmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tadi aku menyatakan heran mengapa Kiau Hong mampu keluar-masuk Siau-lim-si seorang diri dengan bebas tanpa terluka apa-apa, dan sesudah menyaksikan sekarang, nyata dia memang cukup mampu untuk berbuat begitu,&#8221; kata Sih-sin-ih.</p>
<p>Keruan Hian-lan kurang senang mendengar demikian, sahutnya dengan mendengus, &#8220;Hm, Sih-sin-ih ingin menguji ilmu silat Siau-lim-pay, bukan?&#8221;</p>
<p>Belum lagi Sih-sin-ih menjawab, terus saja ia melangkah maju, sekali lengan bajunya yang komprang itu mengebas, mendadak dari bawah lengan baju timbul suara menderu yang keras, angin pukulan yang dahsyat lantas menyambar ke arah Kiau Hong.</p>
Posted in Jin Yong, Pendekar Kerajaan Tayli  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toanki.wordpress.com/1835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toanki.wordpress.com/1835/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toanki.wordpress.com/1835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toanki.wordpress.com/1835/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toanki.wordpress.com/1835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toanki.wordpress.com/1835/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toanki.wordpress.com/1835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toanki.wordpress.com/1835/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toanki.wordpress.com/1835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toanki.wordpress.com/1835/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&blog=4564196&post=1835&subd=toanki&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-31/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b75e221c0eee4ff517b26695a19675fc?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">Lenghou Tiong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 30</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-30/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-30/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 05:05:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1833</guid>
		<description><![CDATA[Mendengar suara itu, padri di ujung kiri tadi terkejut, cepat ia membuka mata sambil melompat bangun, sekilas ia lihat kawan yang duduk di sebelahnya juga sudah ditendang roboh oleh Ti-jing. Keruan ia terperanjat dan berteriak, &#8220;Hai, Ti-jing, apa yang kau lakukan?&#8221;
&#8220;Lihatlah, siapa yang datang itu?&#8221; tiba-tiba Ti-jing menuding keluar. Selagi padri kawannya itu menoleh, tanpa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&blog=4564196&post=1833&subd=toanki&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Mendengar suara itu, padri di ujung kiri tadi terkejut, cepat ia membuka mata sambil melompat bangun, sekilas ia lihat kawan yang duduk di sebelahnya juga sudah ditendang roboh oleh Ti-jing. Keruan ia terperanjat dan berteriak, &#8220;Hai, Ti-jing, apa yang kau lakukan?&#8221;</p>
<p><span id="more-1833"></span>&#8220;Lihatlah, siapa yang datang itu?&#8221; tiba-tiba Ti-jing menuding keluar. Selagi padri kawannya itu menoleh, tanpa ayal lagi kaki Ti-jing bekerja pula ke punggung orang.</p>
<p>Tendangan itu sangat cepat dan seharusnya tepat pula mengenai sasarannya. Tapi tempat mereka itu tepat menghadapi cermin perunggu yang besar itu hingga apa yang terjadi dapat dilihat yang bersangkutan dengan jelas. Segera padri pertama tadi berkelit sambil balas menghantam sekali.</p>
<p>&#8220;Ti-jing, apa kau sudah gila?&#8221; bentaknya gusar.</p>
<p>Tapi Ti-jing tidak memberi kesempatan pada lawannya, ia menyerang secara bertubi-tubi. Sampai jurus kedelapan, perut padri itu kena dihantamnya sekali, menyusul kena didepak sekali lagi.</p>
<p>Kiau Hong bertambah heran menyaksikan itu. Cara Ti-jing menyerang itu adalah jurus silat yang ganas tanpa kenal ampun yang tidak layak digunakan terhadap sesama saudara perguruan sendiri.</p>
<p>Rupanya padri pertama tadi juga tahu gelagat tidak beres, segera ia berteriak-teriak, &#8220;Ada mata-mata musuh, ada&#8230;.&#8221;</p>
<p>Tapi sebelum ia berseru lebih lanjut, dadanya sudah kena digenjot sekali lagi oleh Ti-jing, kontan padri itu jatuh pingsan.</p>
<p>Setelah merobohkan kelima padri itu, cepat Ti-jing berlari ke depan cermin perunggu besar itu. Dengan jari telunjuk kanan segera ia pencet beberapa kali pada huruf &#8220;sin&#8221;, yaitu huruf pertama dari 20 huruf kata-kata Buddha yang terpancang di samping cermin itu.</p>
<p>Dari bayangan cermin Kiau Hong dapat melihat wajah Ti-jing menampilkan rasa girang. Menyusul dilihatnya hwesio itu memijat lagi huruf ketujuh, yaitu huruf &#8220;ju&#8221;.</p>
<p>&#8220;Tadi hwesio itu mengatakan &#8217;sin-ju-hud-tim&#8217; apa segala, jika demikian, menyusul huruf yang akan dipijat Ti-jing tentu adalah &#8216;hud&#8217; dan &#8216;tim&#8217;,&#8221; demikian Kiau Hong membatin.</p>
<p>Dan memang benar, habis itu Ti-jing berturut-turut telah pencet huruf tersebut. Lalu terdengar suara keriang-keriut, perlahan cermin perunggu itu dapat membalik sendiri.</p>
<p>Dalam saat begitu kalau Kiau Hong melarikan diri boleh dikatakan sangat mudah dan pasti takkan diketahui oleh siapa pun juga. Tapi karena ia tertarik oleh kejadian ini, ia ingin tahu apa sebenarnya maksud tujuan Ti-jing, mengapa hwesio itu merobohkan kawan sendiri dan barang apa pula yang terdapat di balik cermin itu. Bisa jadi apa yang akan dilihatnya ada sangkut pautnya dengan kematian Hian-koh Taysu.</p>
<p>Begitulah karena suara teriakan si padri pertama tadi, maka dari jauh hwesio-hwesio yang sedang ronda segera ribut mencari dari mana tempat datangnya suara teriakan itu. Segera terdengar di sana-sini ramai dengan suara orang berlari.</p>
<p>&#8220;Jika hwesio yang ronda itu datang kemari, jangan-jangan jejakku akan ketahuan nanti?&#8221; diam-diam Kiau Hong menjadi ragu.</p>
<p>Tapi demi teringat kedatangan hwesio-hwesio itu nanti perhatiannya tentu akan terpusat pada Ti-jing seorang, kesempatan untuk dirinya lolos masih sangat besar, biarlah sementara ini aku tunggu dulu.</p>
<p>Dalam pada itu ia lihat Ti-jing sedang sibuk sendirian, tangan hwesio itu lagi merogoh ke belakang cermin perunggu itu seperti sedang mencari sesuatu, tapi tiada sesuatu yang diperolehnya.</p>
<p>Dan pada saat itulah suara tindakan orang banyak terdengar mendekati pintu Po-te-ih itu.</p>
<p>Wajah Ti-jing tampak mengunjuk rasa kecewa, segera ia bermaksud meninggalkan tempat itu. Tapi tiba-tiba teringat sesuatu olehnya, ia mendak dan melongok ke balik cermin, menyusul terdengar ia berseru tertahan, &#8220;Hah, ini dia!&#8221;</p>
<p>Habis itu, tangannya merogoh ke belakang cermin dan mengeluarkan sebuah bungkusan kecil. Cepat ia masukkan bungkusan itu ke dalam baju, lalu bermaksud melarikan diri. Namun sudah terlambat sedikit, para padri yang ronda sudah berkerumun tiba, segala jalan keluar sudah ditutup.</p>
<p>Ti-jing tampak bingung dan celingukan kian-kemari. Mendadak berlari ke pintu depan.</p>
<p>&#8220;Cara demikian ia keluar ke sana, tidak bisa tidak pasti dia akan tertangkap,&#8221; demikian Kiau Hong membatin.</p>
<p>Dan pada saat itu juga sekonyong-konyong terasa sambaran angin, ada orang menubruk ke tempat sembunyinya. Dengan ilmu &#8220;Thing-hong-pian-gi&#8221; atau mendengarkan angin membedakan benda, tanpa berpaling tangan kirinya terus menangkap hingga tepat urat nadi pergelangan penyergap itu kena dicengkeramnya. Menyusul tangan kanan menahan ke atas, tepat &#8220;leng-tay-hiat&#8221; di punggung orang itu kena disodok, tanpa ampun lagi orang itu kaku linu serta tak dapat berkutik.</p>
<p>Setelah musuh tertangkap, barulah Kiau Hong hendak memeriksa wajah orang. Saat itu di ruangan situ cuma terpasang beberapa pelita minyak, sinarnya agak guram, namun begitu dengan sinar mata Kiau Hong yang tajam dapat dikenali tawanan itu tak-lain-tak-bukan adalah&#8230; Ti-jing.</p>
<p>Untuk sejenak Kiau Hong melengak, tapi ia pun paham duduknya perkara, &#8220;Ya, tahulah aku. Seperti aku, orang ini juga bermaksud bersembunyi ke belakang arca Buddha ini. Kebetulan ia pun menjatuhkan pilihan pada arca ketiga yang terbangun lebih besar dan gemuk ini. Tapi mengapa ia berlari ke pintu depan dulu, lalu masuk kembali dari pintu belakang secara diam-diam? Ehm, tentu ini adalah akalnya. Ia tahu di dalam ruangan masih menggeletak lima padri, sebentar kalau ada orang datang dan tanya mereka, tentu mereka akan mengatakan Ti-jing telah lari melalui pintu depan, dengan demikian ruangan Po-te-ih tentu takkan digeledah lagi. Ai, orang ini benar-benar licin dan banyak tipu akalnya.&#8221;</p>
<p>Sembari berpikir, Kiau Hong tetap pegang Ti-jing dengan kencang. Ia coba tempelkan mulutnya ke telinga padri itu dan membisikinya, &#8220;Jika kau berani bersuara, sekali hantam tentu kumampuskan kau!&#8221;</p>
<p>Ti-jing tidak bersuara, ia hanya mengangguk saja.</p>
<p>Dan pada saat itulah dari pintu depan telah menerobos masuk 7-8 orang hwesio. Tiga di antaranya membawa obor pula hingga seluruh ruangan pendopo itu menjadi terang benderang.</p>
<p>Melihat ada lima orang kawanan mereka menggeletak di situ, seketika gemparlah kawanan hwesio itu, segera ada yang berteriak, &#8220;Hai, kembali bangsat Kiau Hong itu mengganas lagi!&#8221; &#8211; &#8220;Eh, kiranya Ti-kong, Ti-yan Suheng dan lain-lain!&#8221; &#8211; &#8220;Wah, celaka! Kenapa cermin perunggu ini terjungkat? Kiau Hong telah mencuri kitab di dalam Po-te-ih ini!&#8221; &#8211; &#8220;Hayo, lekas lapor kepada Hongtiang!&#8221;</p>
<p>Begitulah Kiau Hong mendengar suara ribut-ribut kawanan padri Siau-lim-si itu, ia hanya dapat tersenyum getir saja dan membatin, &#8220;Kembali dosa ini dicatat atas utangku lagi.&#8221;</p>
<p>Sebentar kemudian, hwesio-hwesio yang berkerumun di Po-te-ih bertambah banyak. Kiau Hong merasa Ti-jing meronta-ronta beberapa kali, mungkin bermaksud melarikan diri. Segera ia paham maksud orang, &#8220;Ya, saat ini para hwesio berkumpul di sini, penjagaan di luar tentu agak kendur, pula Ti-kong, Ti-yan, dan lain-lain belum sadar, kesempatan ini memang sangat baik untuk melarikan diri bagi Ti-jing ini, biarpun dia berjalan terang-terangan di dalam ruangan ini juga tiada orang mencurigai dia, sebab setiap orang telah menyangka akulah pengganasnya.&#8221;</p>
<p>Segera pikirannya tergerak pula, &#8220;Tampaknya Ti-jing ini juga tidak cukup cerdik, mengapa tadi ia bersembunyi ke sini? Kalau dia berjalan keluar ke sana, masakah ada orang akan menegurnya?&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu suasana mendadak menjadi sepi, tiada seorang pun yang berani membuka suara. Kiranya Hian-cu Hongtiang dan hwesio-hwesio pimpinan dari berbagai ruangan telah datang semua.</p>
<p>Lebih dulu Hian-cit Taysu, kepala ruang Liong-si-ih, membuka jalan darah Ti-kong berlima untuk menyadarkan mereka, lalu ditanya, &#8220;Apakah kalian dirobohkan Kiau Hong? Dari mana dia mendapat tahu rahasia di dalam cermin perunggu ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan Kiau Hong, tapi adalah&#8230; adalah&#8230;.&#8221; demikian sahut Ti-kong, dan belum lagi menyebut nama Ti-jing, sekonyong-konyong ia menubruk ke arah seorang padri di samping Hian-cu Hongtiang, ia jambret dada padri itu sambil mendamprat, &#8220;Bagus, bagus! Mengapa kau mendadak membokong kami?&#8221;</p>
<p>Sebenarnya Kiau Hong ingin sekali mengintip siapakah gerangan yang dituduh Ti-kong itu, tapi ia pun khawatir kalau-kalau dipergoki hwesio-hwesio yang banyak berkumpul di situ, maka ia tidak berani sembarangan melongok ke luar.</p>
<p>Maka terdengarlah seorang berseru dengan terkejut, &#8220;Apa? Ti-kong Suheng, ada apa engkau menarik diriku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Engkau telah menendang roboh kami berlima dan mencuri kitab pusaka, sungguh besar sekali nyalimu!&#8221; seru Ti-kong pula. &#8220;Lapor Hongtiang, pengkhianat Ti-jing inilah yang menyerang kami dan membuka cermin rahasia itu serta mencuri kitab pusaka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa? Ap&#8230; apa?&#8221; teriak yang didakwa itu dengan kaget. &#8220;Sejak tadi aku selalu mendampingi Hongtiang, cara bagaimana aku dapat datang ke sini untuk mencuri kitab segala?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tutup dulu cermin perunggu itu, tentang kejadian tadi, coba ceritakan dengan jelas,&#8221; sela Hian-cit tiba-tiba dengan kereng.</p>
<p>Segera Ti-yan membenarkan cermin perunggu itu ke tempatnya semula. Dengan demikian, keadaan di ruangan itu kembali dapat dilihat oleh Kiau Hong melalui cermin itu. Ia lihat seorang hwesio sedang mencak-mencak dengan penasaran oleh karena tanpa berdosa telah dituduh menyerang kawan sendiri.</p>
<p>Waktu Kiau Hong memerhatikan mukanya, ia menjadi terkejut. Kiranya hwesio itu tak-lain-tak-bukan memang Ti-jing adanya.</p>
<p>Dalam herannya, dengan sendirinya Kiau Hong memandang juga kepada Ti-jing yang tertawan olehnya itu. Ia lihat air muka kedua orang itu memang mirip benar, kalau diperhatikan mungkin ada sedikit berlainan, tapi kalau dipandang sepintas lalu, tidak mungkin orang dapat membedakan mereka.</p>
<p>Diam-diam Kiau Hong berpikir, &#8220;Di dunia ini, sedikit sekali orang yang berwajah semirip begini satu sama lain. Ya, ya, tentu mereka adalah saudara kembar. Tipu mereka ini sangat bagus, yang satu menjadi hwesio di Siau-lim-si, yang lain menunggu di luar, begitu ada kesempatan bagus, segera yang satu itu pun menyamar sebagai hwesio untuk mencuri kitab ke dalam biara. Sedangkan Ti-jing itu selalu berdampingan dengan Hongtiang, sudah tentu tiada orang yang berani mencurigai dia.&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu terdengar Ti-kong sedang menguraikan apa yang terjadi tadi, ia ceritakan tentang bagaimana Ti-jing memancing rahasia cermin perunggu itu serta tanpa sadar dia telah mengatakan empat huruf kunci rahasia itu, lalu Ti-jing pura-pura hendak pergi ke kamar kecil dan mendadak membokong mereka dari belakang serta saling gebrak dengan dia, tapi akhirnya ia sendiri dirobohkan. Semuanya ia tuturkan dengan jelas.</p>
<p>Pada waktu Ti-kong melaporkan apa yang terjadi itu, Ti-yan berempat juga tiada hentinya membenarkan apa yang dikatakan kawannya itu untuk memberi kesaksian bahwa cerita itu bukanlah karangan.</p>
<p>Sebaliknya Hian-cu Hongtiang yang menerima laporan itu, wajahnya tampak mengunjuk rasa tidak membenarkan. Ia tunggu sehabis Ti-kong menutur, kemudian barulah ia menanya dengan perlahan, &#8220;Apa yang kau ceritakan itu, apakah engkau sudah melihatnya dengan jelas? Benar-benar engkau yakin adalah perbuatan Ti-jing?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lapor Hongtiang, apa yang terjadi itu telah kami lihat dengan jelas,&#8221; sahut Ti-kong dan Ti-yan beramai-ramai. &#8220;Selamanya kami tiada dendam apa-apa dengan Ti-jing, mengapa kami mesti mengarang cerita yang tak benar untuk memfitnahnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, urusan ini tentu ada apa-apa yang tidak beres. Sebab selama dua jam ini, Ti-jing selalu berada di sampingku, sejengkal pun ia tidak pernah meninggalkan aku,&#8221; ujar Hian-cu kemudian dengan menghela napas.</p>
<p>Ucapan sang hongtiang ini benar-benar membikin semua padri yang hadir di situ tercengang, mereka saling pandang dengan bungkam. Begitu pula Ti-kong dan lain-lain juga tidak berani membuka suara lagi. Maklum, apa yang dikatakan sang ketua ini masakah mungkin omong kosong?</p>
<p>&#8220;Ya, memang aku pun menyaksikan sendiri selama itu Ti-jing selalu berada di samping Hongtiang Suheng, masakah ia dapat datang ke Po-te-ih sini untuk mencuri kitab?&#8221; demikian kata Hian-lan, salah satu tokoh tertinggi dari anak murid Siau-lim-si angkatan &#8220;Hian&#8221;, yaitu setingkat dengan Hian-cu.</p>
<p>&#8220;Ti-kong,&#8221; Hian-cit ikut bertanya, &#8220;waktu Ti-jing itu bergebrak dengan kau, apakah di antara permainan silatnya itu ada sesuatu yang mencurigakan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, memang benar! Mengapa aku melupakan hal itu?&#8221; seru Ti-kong. &#8220;Tadi waktu aku bergebrak dengan dia, terang sekali tipu-tipu serangan yang dia gunakan itu bukanlah ilmu silat dari golongan kita.&#8221;</p>
<p>&#8220;Habis, ilmu silat dari golongan atau aliran mana? Dapatkah engkau melihatnya?&#8221; Hian-cit menegas.</p>
<p>Tapi Ti-kong tampak bingung, ia tidak mampu menjawab.</p>
<p>&#8220;Apakah dia menggunakan pukulan Tiang-kun? Atau kim-na-jiu? Te-tong-kun? Liok-hap-kun atau Theng-pi-kun?&#8221; demikian Hian-cit menanya pula dengan serentetan nama ilmu silat dari golongan lain.</p>
<p>Tapi Ti-kong menggeleng, sahutnya, &#8220;Bu&#8230;. bukan. Ilmu silatnya itu sangat keji, beberapa kali Tecu tanpa sadar kena serangannya.&#8221;</p>
<p>Maka Hian-cit, Hian-lan dan beberapa padri agung lainnya tidak tanya lebih jauh, mereka saling memberi isyarat mata dengan Hongtiang. Mereka tahu hari ini biara mereka telah kedatangan seorang musuh yang berkepandaian sangat tinggi dan telah mempermainkan mereka dengan akal-akal licik. Jalan satu-satunya sekarang adalah melakukan penggeledahan dan penggerebekan secara serentak di samping harus berlaku tenang, supaya suasana dalam biara tidak menjadi kacau.</p>
<p>Kemudian berkatalah Hian-cu sambil merangkap tangan, &#8220;Kitab yang tersimpan dalam Po-te-ih ini adalah buah tangan padri saleh angkatan tua biara kita, jika kitab-kitab itu diperoleh anak murid Buddha, kalau dapat membaca dan memperdalam ajaran dalam kitab itu, dengan sendirinya besar manfaatnya. Tapi kalau orang luar yang memperolehnya tanpa memberi penghargaan sebagaimana mestinya, itu berarti suatu dosa. Para Sute dan para Sutit, sekarang silakan kembali ke tempatnya masing-masing.&#8221;</p>
<p>Mendengar perintah sang ketua itu, para padri lantas bubar dan pergi. Hanya Ti-kong, Ti-yan dan lain-lain masih penasaran dan masih mengomeli Ti-jing. Tapi ketika Hian-cit mendelik, Ti-kong dan lain-lain terkejut, seketika mereka bungkam dan cepat pergi bersama Ti-jing.</p>
<p>Sesudah padri lain pergi semua, kini di ruangan situ hanya tertinggal Hian-cu, Hian-lan dan Hian-cit bertiga. Ketiga saudara seperguruan itu duduk di atas tikar di depan arca Buddha. Mendadak Hian-cu berseru, &#8220;Omitohud! Dosa, dosa!&#8221;</p>
<p>Begitu selesai ucapannya, sekonyong-konyong ketiga padri itu melompat ke atas, tahu-tahu mereka mengitar ke belakang arca Buddha dan berbareng menghantam ke arah Kiau Hong dari tiga jurusan yang berlainan.</p>
<p>Sungguh Kiau Hong sana sekali tidak menduga bahwa jejaknya telah diketahui oleh ketiga padri itu. Lebih-lebih tidak menyangka bahwa ketiga padri yang tampaknya sudah tua dan reyot itu, tahu-tahu lantas menyerang, serangannya juga begitu cepat dan lihai.</p>
<p>Dalam sekejap itu Kiau Hong merata napasnya sesak, dada tertekan tiga arus tenaga yang mahadahsyat. Nyata serangan berbareng ketiga hwesio Siau-lim-si itu bukan main hebatnya. Ia merasa tenaga serangan lawan sudah mengurungnya dari atas, bawah, belakang dan kanan-kiri, lima jurusan sudah tertutup oleh tenaga pukulan ketiga padri, kalau mesti melawannya, itu berarti harus keras lawan, kalau lawan tidak roboh, dirinya sendiri yang pasti celaka.</p>
<p>Namun keadaan sudah tidak memungkinkan dia berpikir lagi, terpaksa ia hantamkan telapak tangan ke depan, &#8220;prak, bruk&#8221;, arca Buddha yang dipakai aling-aling tadi kena dihantam hingga roboh.</p>
<p>Kiau Hong tidak berani ayal, sekalian ia jinjing tubuh &#8220;Ti-jing&#8221; terus melompat ke depan sana. Pada saat itu pula ia merasa punggung disambar oleh tenaga pukulan yang dahsyat, terang orang telah menyerangnya dengan Kim-kong-ciang (pukulan tenaga raksasa) yang merupakan kungfu khas Siau-lim-pay. Bila terkena pukulan itu, bukan mustahil badan akan hancur dan perut akan lebur.</p>
<p>Tapi sedapat mungkin Kiau Hong tidak mau mengadu pukulan dengan padri Siau-lim-si. Dalam keadaan melayang ke depan, cepat tangan terjulur untuk memegang cermin perunggu yang sangat besar itu.</p>
<p>Begitu hebat tenaga sakti Kiau Hong, sekali pegang, kontan cermin perunggu itu kena diangkatnya, dan sekali ia putar, bagaikan perisai saja cermin perunggu itu dipakainya untuk menahan ke belakang.</p>
<p>Maka terdengarlah &#8220;brang&#8221; yang sangat keras, pukulan dahsyat yang dilontarkan oleh Hian-lan tepat kena di atas cermin perunggu, begitu hebat tenaga hantaman itu hingga lengan Kiau Hong seakan-akan patah oleh getaran tenaga itu. Tapi dengan meminjam getaran tenaga pukulan Hian-lan itu, berbareng Kiau Hong dapat melompat beberapa meter lebih jauh ke depan.</p>
<p>Tiba-tiba ia dengar di belakang ada suara orang menarik napas panjang. Suara pernapasan itu jauh berbeda daripada orang biasa. Dari pengalamannya yang luas serta pengetahuannya yang tinggi, segera Kiau Hong tahu pernapasan aneh itu dilakukan oleh seorang jago Siau-lim-pay yang sakti dan segera akan melancarkan serangan sebangsa &#8220;Bik-khong-sin-kun&#8221; (pukulan sakti dari jauh).</p>
<p>Meski dirinya tidak gentar terhadap pukulan apa pun, tapi juga tiada berguna melawannya keras sama keras. Maka cepat ia menggunakan cermin perunggu sebagai tameng pula, sekaligus tenaganya ia pusatkan di tangan kanan itu.</p>
<p>Dan pada saat yang sama itulah ia merasakan angin pukulan orang sudah menyambar tiba. Tapi aneh, arah yang dituju agak janggal. Kiau Hong terkesiap, tapi segera ia pun sadar apa yang terjadi. Pukulan padri itu bukan ditujukan ke punggungnya, tapi yang diincar adalah punggung &#8220;Ti-jing&#8221; yang dibawanya itu.</p>
<p>Sebenarnya Kiau Hong tidak kenal &#8220;Ti-jing&#8221;, dengan sendirinya bukan tujuannya hendak menolong dia. Tapi sekali ia sudah jinjing orang, otomatis timbul rasa kewajibannya untuk melindunginya. Tanpa pikir lagi ia sorong cermin perunggu ke depan. &#8220;Brak&#8221;, suara cermin itu tidak nyaring lagi, tapi suaranya berubah parau, cermin itu dihantam hancur oleh padri tua itu.</p>
<p>Tadi waktu ia putar cermin ke belakang untuk menahan serangan, berbareng Kiau Hong terus melompat ke atas rumah sambil menjinjing Ti-jing. Ia merasa tubuh Ti-jing itu sangat enteng, sama sekali tidak sepadan dengan perawakannya yang kekar dan tegap itu. Dan selagi dia merasa syukur dapat menyelamatkan diri, ketika terdengar suara cermin pecah, tahu-tahu berdirinya di atas emper rumah terasa kurang kuat, sekali kaki terasa lemas, kembali ia terbanting ke bawah.</p>
<p>Keruan kejutnya bukan buatan. Sejak ia malang melintang di Kangouw, belum pernah ia ketemu lawan setangguh itu. Cepat ia melompat bangun dan berdiri tegak dengan siap siaga, dengan tenang ia menghadap ke punggung tiga lawan itu.</p>
<p>&#8220;Omitohud!&#8221; demikian kata Hian-cu pula. &#8220;Kiau-sicu, sesudah kau datang ke Siau-lim-si tanpa permisi dan membunuh orang, kembali kau rusak arca Buddha pula. Nah, rasakan dulu pukulanku ini.&#8221;</p>
<p>Sehabis mengucapkan kata-kata itu dengan kalem, lalu kedua tangannya terpentang dan memutar hingga berwujud sebuah lingkaran, kemudian didorongkan ke depan dengan perlahan. Belum lagi pukulan Hian-cu itu dilontarkan, lebih dulu Kiau Hong sudah merasa napas sesak, dalam sekejap saja tenaga pukulan Hian-cu sudah membanjir tiba bagai gelombang ombak mendampar.</p>
<p>Kiau Hong tidak berani ayal, cepat ia buang cermin perunggu yang sudah bobrok itu sedangkan tangan kanan balas menghantam dengan gerak tipu &#8220;Hang-liong-yu-hwe&#8221;, yaitu salah satu pukulan sakti &#8220;Hang-liong-sip-pat-ciang&#8221;, delapan belas jurus ilmu pukulan penakluk naga, ilmu pukulan mahasakti andalan Kay-pang.</p>
<p>Maka terdengarlah suara mencicit benturan kedua arus tenaga yang tak kelihatan. Meski suara itu sangat lirih, tapi Hian-cu dan Kiau Hong sama-sama terentak mundur tiga tindak.</p>
<p>Sesaat Kiau Hong merasa antero tubuh menjadi lemas seakan-akan tak bertenaga pula, terpaksa ia lepaskan Ti-jing dari pegangannya. Namun dasar lwekangnya memang sangat tinggi, sekali ia kerahkan tenaga murni pula, cepat sekali tenaga pulih kembali. Belum lagi pukulan kedua dari Hian-cu tiba, segera ia berseru, &#8220;Maaf, aku tak dapat mengawani kalian lagi!&#8221;</p>
<p>Berbareng ia angkat Ti-jing dan melompat ke atas rumah.</p>
<p>Sayup-sayup Kiau Hong masih mendengar suara heran Hian-lan dan Hian-cit oleh karena melihat ketangkasannya itu.</p>
<p>Maklum, pukulan Hian-cu tadi telah menggunakan segenap tenaga dalam yang terpupuk selama hidupnya ini. Gerak serangan itu disebut &#8220;It-bik-liang-san&#8221; atau sekali tabok, dua kali buyar. Yang dimaksudkan buyar ialah, bila tubuh manusia terkena pukulan itu, seketika jiwa melayang dan badan hancur lebur.</p>
<p>Ilmu pukulan itu memang melulu terdiri satu jurus itu saja, soalnya karena memakai tenaga dalam yang mahasakti, tatkala menyerang musuh hakikatnya tidak perlu digunakan untuk kedua kalinya, sebab sekali saja musuh pasti akan terbinasa.</p>
<p>Siapa duga, sesudah Kiau Hong menerima pukulan &#8220;It-bik-liang-san&#8221; itu, bukan saja ia tidak mati, sebaliknya dalam waktu singkat sudah dapat memulihkan tenaganya serta melarikan diri pula sambil menggondol seorang lagi. Sudah tentu Hian-lan dan Hian-cit terheran-heran sekali.</p>
<p>&#8220;Ilmu silat orang sekali-kali tidak di bawah kita, bila dia membikin rusuh di dunia Kangouw, sejak kini celakalah kaum bu-lim,&#8221; demikian kata Hian-cu dengan gegetun.</p>
<p>&#8220;Makanya harus lekas dibasmi, supaya tidak menimbulkan bahaya di kemudian hari,&#8221; ujar Hian-cit.</p>
<p>Hian-lan mengangguk-angguk tanda setuju, tapi Hian-cu Hongtiang diam saja, ia hanya termangu-mangu memandang jauh ke arah perginya Kiau Hong tadi.</p>
<p>Pada waktu lari tadi Kiau Hong masih sempat menoleh ke arah padri-padri itu, ia melihat cermin perunggu tadi sudah pecah berkeping-keping kena hantaman Hian-cit, dari setiap kepingan cermin itu tertampak bayangan belakangnya. Tanpa sebab hati Kiau Hong kembali tergetar. Ia tidak habis heran, &#8220;Mengapa setiap kali aku melihat bayanganku sendiri selalu aku merasa tidak enak? Apa sebabnya?&#8221;</p>
<p>Tapi waktu itu ia terburu-buru berusaha meninggalkan Siau-lim-si, perasaan sangsi yang timbul itu segera lenyap terbawa oleh larinya yang cepat itu.</p>
<p>Jalan di lereng Siau-sit-san itu sangat hafal bagi Kiau Hong, boleh dikatakan mata tertutup juga takkan kesasar. Maka sesudah menyusur ke balik gunung itu, selalu ia pilih jalan yang terjal, yang sulit ditempuh.</p>
<p>Sesudah beberapa li jauhnya, ia tidak mendengar suara kejaran hwesio Siau-lim-si lagi, legalah hatinya. Ia taruh Ti-jing ke tanah dan membentaknya, &#8220;Boleh kau jalan sendiri! Tapi jangan coba melarikan diri!&#8221;</p>
<p>Tak terduga, begitu kaki Ti-jing menyentuh tanah, seketika badan lemas lunglai dan terkulai ke tanah seakan-akan cacing mati.</p>
<p>Kiau Hong terkesiap. Ia coba periksa napasnya, ia merasa napas orang sangat lemas, seperti ada seperti hilang. Waktu pegang urat nadinya pula, denyutnya juga sangat lambat seolah-olah orang sudah dekat ajalnya.</p>
<p>Pikir Kiau Hong, &#8220;Banyak persoalan yang belum terjawab bagiku, aku justru hendak menanyai dia, mana boleh dia mati secara begini mudah? Sekali kau jatuh di tanganku, pasti tipu muslihatmu akan terbongkar. Tapi, ya, mungkin khawatir rahasianya ketahuan, maka dia lantas telan racun untuk membunuh diri.&#8221;</p>
<p>Ia coba meraba dada orang untuk memeriksa denyut jantungnya. Tapi Kiau Hong menjadi kaget ketika merasa tempat yang teraba tangannya itu lunak empuk, nyata itu bukan dada seorang laki-laki, hwesio itu ternyata seorang perempuan.</p>
<p>Maka cepat Kiau Hong menarik kembali tangannya, ia semakin heran, &#8220;Jadi dia&#8230; dia samaran seorang wanita?&#8221;</p>
<p>Segera ia keluarkan ketikan api untuk menerangi muka Ti-jing, ia lihat pada dagu hwesio itu penuh tutul-tutul hitam, yaitu akar jenggot, tenggorokan juga terdapat biji leher, terang itu tanda kelakian yang tak dapat dipalsukan.</p>
<p>Hal ini benar-benar membuat Kiau Hong semakin bingung. Ia coba meraba kepala gundul orang, jelas halus kelimis, sedikit pun tidak palsu. Apakah dia banci? Demikian pikirnya.</p>
<p>Kiau Hong adalah seorang yang berjiwa terbuka dan bebas, tidak pikirkan adat istiadat kolot segala, lain daripada Toan Ki yang masih kukuh kepada tata krama yang kolot. Muka segera ia seret Ti-jing serta membentaknya lagi, &#8220;Sebenarnya kau laki-laki atau perempuan? Lekas mengaku sebelum aku membelejeti bajumu untuk diperiksa!&#8221;</p>
<p>Bibir Ti-jing tampak bergerak-gerak seperti ingin bicara, tapi tiada sesuatu suara yang keluar, nyata jiwanya sudah tergantung di ujung rambut saja, keadaannya sudah sangat payah.</p>
<p>Kiau Hong pikir tidak peduli orang ini laki-laki atau perempuan, yang pasti tidak boleh dia mati begitu saja. Maka cepat ia gunakan tangan kanan untuk menahan punggung Ti-jing. Ia kerahkan tenaga dalamnya, melalui tangannya ia salurkan hawa murni ke dalam tubuh Ti-jing.</p>
<p>Sebab apakah mendadak keadaan Ti-jing menjadi begitu payah?</p>
<p>Kiranya tadi waktu Kiau Hong mengadu pukulan dengan Hian-cu, tenaga pukulan &#8220;It-bik-liang-san&#8221; dari Hian-cu itu sungguh tidak kepalang hebatnya, tatkala itu sebelah tangan Kiau Hong mengangkat Ti-jing sehingga getaran tenaga pukulan lawan menembus ke badan Ti-jing dan melukainya.</p>
<p>Begitulah Kiau Hong telah salurkan hawa murninya ke dalam tubuh Ti-jing, semula ia berharap untuk sementara dapat mempertahankannya. Di luar dugaan tenaga dalamnya yang mahahebat itu justru tepat merupakan obat mujarab bagi luka Ti-jing itu. Berangsur-angsur hawa murninya mengalir masuk ke tubuhnya, keadaan Ti-jing menjadi berubah, bagaikan pelita minyak diberi tambah minyak, denyut nadinya mulai kuat dan ucapannya mulai lancar.</p>
<p>Melihat jiwa orang tidak berbahaya lagi, Kiau Hong merasa lega. Ia pikir tidak boleh tinggal lama di tempat yang berdekatan dengan Siau-lim-si ini. Segera ia pondong Ti-jing dengan kedua tangannya, dengan langkah lebar berjalan menuju ke barat laut.</p>
<p>Tapi segera ia rasakan sesuatu kejanggalan lagi, terasa bobot badan Ti-jing itu sangat enteng tidak seimbang dengan perawakannya yang kekar. Ia pikir, &#8220;Untuk membuka bajumu memang kurang sopan, tapi kalau membuka sepatu dan kaus kakimu masakan tidak boleh?&#8221;</p>
<p>Segera ia copot sepatu padri orang sebelah kanan, lalu meremas telapak kakinya, terasa apa yang tergenggam di tangannya itu sangat keras, terang bukan anggota badan manusia hidup. Ia coba menarik sedikit keras, di luar dugaan, sepotong benda kena dibetotnya. Waktu ia perhatikan kiranya sebuah kaki palsu buatan dari kayu.</p>
<p>Ketika raba kaki Ti-jing pula, baru sekarang ia merasakan itulah kaki manusia yang sungguh-sungguh, kaki itu halus lemas dan kecil mungil.</p>
<p>&#8220;Hm, memang benar seorang perempuan,&#8221; jengek Kiau Hong diam-diam.</p>
<p>Segera ia keluarkan ginkangnya yang tinggi, ia berlari dengan cepat. Satu jam kemudian, ia taksir sudah lebih 50 li meninggalkan Siau-lim-si, ufuk timur pun mulai terang, fajar sudah menyingsing.</p>
<p>Dengan membawa Ti-jing sampailah Kiau Hong di suatu hutan kecil, ia melihat sebuah sungai kecil dengan air gunungnya yang jernih. Ia mendekati sungai itu dan meraup sedikit air untuk menyiram muka Ti-jing, lalu menggunakan lengan baju orang untuk mengusap mukanya.</p>
<p>Tiba-tiba ia melihat sesuatu perubahan aneh. Kulit daging pada muka &#8220;Ti-jing&#8221; itu mulai rontok sekeping demi sekeping. Keruan Kiau Hong kaget mengapa kulit daging orang bisa membusuk sedemikian rupa?</p>
<p>Tapi demi diperhatikan pula, ia lihat di bawah kulit muka yang busuk itu tertampaklah kulit daging lapisan bawah yang putih halus bagai kaca.</p>
<p>Waktu dibawa lari oleh Kiau Hong tadi, sebenarnya Ti-jing dalam keadaan tak sadar. Tapi kini karena mukanya disiram air, segera ia siuman, ketika membuka mata dan melihat Kiau Hong, ia bersenyum dan menyapa dengan perlahan, &#8220;Kiau-pangcu!&#8221;</p>
<p>Saking lemahnya, sesudah bersuara, kembali ia pejamkan mata pula.</p>
<p>Melihat muka orang masih belang-bonteng dan lekak-lekuk belum bersih hingga tidak jelas bagaimana wajah aslinya, segera Kiau Hong mencelup lengan baju Ti-jing ke dalam air sungai, lalu dipakai mengusap muka orang dengan agak keras. Maka tertampaklah bubuk tepung rontok berhamburan hingga berwujudlah sebuah wajah anak dara yang jelita.</p>
<p>&#8220;Hai, engkau Nona A Cu!&#8221; seru Kiau Hong tercengang.</p>
<p>Kiranya yang menyaru sebagai Ti-jing dan menyelundup ke Siau-lim-si itu bukan lain daripada A Cu, si dayang pribadi Buyung Hok.</p>
<p>Dasar ilmu menyamar A Cu memang sangat pandai, ia gunakan kaki palsu pula untuk meninggikan perawakannya, memakai kapas untuk menambah kemontokan perutnya, mukanya ditambal dengan adukan tepung terigu dan telur, begitu mirip samarannya hingga siapa pun tidak mengenalnya lagi.</p>
<p>Dalam keadaan sadar-tak-sadar A Cu mendengar seruan Kiau Hong yang menyebut namanya sebenarnya ia ingin menyahut, pula ingin memberi penjelasan mengapa dia menyelundup ke Siau-lim-si. Namun sayang tenaganya sangat lemah, sampai mulut pun tak menurut perintah lagi, sepatah kata pun tak sanggup bicara. Dalam gugupnya ia jatuh pingsan lagi.</p>
<p>Pada waktu membawa lari &#8220;Ti-jing&#8221; tadi, sebenarnya Kiau Hong anggap orang pasti manusia yang mahakeji dan licik, tentu besar sangkut pautnya dengan terbunuhnya ayah-bunda dan Suhu, maka dengan mati-matian ia berusaha menyelamatkan jiwa hwesio itu dengan harapan dapat mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, bahkan ia sudah ambil keputusan, bila hwesio ini tidak mau mengaku, ia tidak segan-segan memberi siksaan yang setimpal untuk mengorek pengakuannya.</p>
<p>Tapi apa yang terjadi kemudian benar-benar mimpi pun tak tersangka olehnya. Tawanannya itu bukan lagi Ti-jing melainkan si nona A Cu yang kecil mungil dan cantik manis itu.</p>
<p>Biarpun Kiau Hong sudah beberapa kali bertemu dengan A Cu dan A Pik, tapi ia tidak tahu bahwa A Cu pandai menyamar dan A Pik mahir seni suara. Coba kalau Toan Ki, tentu sudah dapat menerkanya sejak tadi.</p>
<p>Ia lihat A Cu dalam keadaan pingsan pula, cepat ia menyalurkan tenaga murninya untuk merawat lukanya lagi. Kini ia sudah tahu gadis itu bukan keracunan, tapi disebabkan terluka tenaga pukulan.</p>
<p>Sedikit pikir saja Kiau Hong lantas tahu duduknya perkara. Diam-diam ia menyesal, &#8220;Sebabnya dia terluka oleh tenaga pukulan Hian-cu itu adalah disebabkan dia terpegang di tanganku. Coba, bila aku tidak ikut campur urusannya dan membiarkan dia pergi-datang sesukanya, tentu sejak tadi ia lolos dan tidak nanti terluka separah ini.&#8221;</p>
<p>Oleh karena dalam hati Kiau Hong sudah sangat menghargai Buyung Hok, otomatis terhadap dayangnya juga timbul rasa sayangnya. Karena gadis itu terluka akibat dirinya, maka ia ambil keputusan harus menyembuhkannya. Segera katanya pula, &#8220;Nona A Cu, terpaksa harus kupondongmu ke kota untuk mencari tabib, harap engkau jangan marah.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, kembali ia pondong anak dara itu dan berjalan cepat ke utara.</p>
<p>Tidak lama kemudian hari sudah terang benderang, agar tidak menimbulkan curiga orang, ia gunakan lengan baju si A Cu untuk menutupi muka gadis itu.</p>
<p>Setelah belasan li lagi, akhirnya tibalah mereka di suatu kota cukup besar dan ramai. Waktu Kiau Hong tanya orang di pinggir jalan, diketahui kota itu bernama Kho-keh-cip, suatu kota makmur dengan macam-macam hasil palawijanya. Ia mendapatkan sebuah hotel terbesar di kota itu, ia minta dua kamar kelas satu dan merebahkan A Cu di atas ranjang.</p>
<p>Pelayan hotel agak curiga juga melihat keadaan Kiau Hong dan A Cu yang tidak mirip suami-istri dan tidak memper kakak-beradik pula. Tapi karena melihat sikap Kiau Hong yang gagah berwibawa, pelayan itu tidak berani bertanya.</p>
<p>Kiau Hong lantas dihadapkan pada kesulitan pula karena tidak membawa sangu, ia berkerut kening dengan sedih.</p>
<p>&#8220;Di&#8230; di dalam bajuku ada sebuah&#8230; sebuah bandul kalung emas&#8230;.&#8221; demikian A Cu berkata dengan suara lemah.</p>
<p>&#8220;Baiklah, boleh kau keluarkan, nanti kujual,&#8221; ujar Kiau Hong.</p>
<p>A Cu ingin menurut, tapi ia terlalu lemah untuk bisa bergerak. Terpaksa Kiau Hong tidak pikirkan adat istiadat lagi, segera ia keluarkan benda yang dimaksudkan itu. Ia lihat mainan kalung itu terbuat sangat indah, sebuah bandul kalung dengan untiran emas yang halus. Di atas mainan itu terdapat pula ukiran tulisan yang berbunyi: &#8220;Anak Si genap 10 tahun, semakin besar semakin nakal.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong tersenyum, ia pikir mainan itu tentu pemberian orang tua si A Cu ketika anak dara itu berulang tahun kesepuluh, kalau mesti dijual sesungguhnya terlalu sayang. Maka ia taruh mainan kalung itu ke bawah bantal A Cu, hanya rantai emas itu saja yang dibawanya pergi untuk dijual. Ia mendapatkan 18 tahil perak, lalu mengundang seorang tabib untuk memeriksa luka A Cu.</p>
<p>Sesudah tabib itu memegang nadi A Cu, dia menggeleng kepala tiada hentinya. Setelah berpikir sejenak, membuka resep obat pun tidak tabib itu lantas berbangkit sambil berkata, &#8220;Sayang, sayang! Maaf, maaf!&#8221;</p>
<p>Lalu permisi dan angkat kaki tanpa minta honorarium lagi.</p>
<p>Kiranya tabib itu merasa denyut nadi A Cu sangat lemah dan menaksir sekejap lagi pasti akan putus nyawanya. Ia khawatir kalau tidak lekas tinggal pergi mungkin akan tersangkut dalam utusan jiwa itu.</p>
<p>Sudah tentu Kiau Hong ikut khawatir, kembali ia mengundang seorang tabib lain. Sekali ini si tabib berani membuka resep dan menyatakan penyakit si nona susah disembuhkan lagi, resep obat itu hanya sekadar sebagai suatu kewajiban saja.</p>
<p>Kiau Hong melihat resep obat yang dibuka itu berisi obat sebangsa kamcho (kayu manis), menthol, jeruk purut, dan sebagainya. Ramuan obat ini dipakai untuk menyembuhkan sakit perut saja belum tentu manjur.</p>
<p>Dalam dongkolnya Kiau Hong tidak beli obat itu, segera ia kerahkan tenaga murni sendiri dan disalurkan ke tubuh A Cu. Hanya sebentar saja air muka A Cu yang pucat telah berubah merah bercahaya.</p>
<p>&#8220;Kiau-pangcu,&#8221; dapatlah gadis itu membuka suara, &#8220;syukurlah engkau telah menyelamatkan aku. Jika tertangkap oleh tawanan keledai gundul itu, tentu melayang jiwaku.&#8221;</p>
<p>Mendengar suara orang penuh tenaga, Kiau Hong sangat girang, sahutnya, &#8220;Nona A Cu, sungguh aku sangat khawatir penyakitmu ini tak dapat disembuhkan, tapi kini engkau sudah baik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan panggil aku nona apa segala, langsung panggil namaku saja,&#8221; ujar A Cu. &#8220;Kiau-pangcu, untuk apakah engkau datang ke Siau-lim-si sana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah lama aku bukan pangcu lagi, selanjutnya jangan kau panggil aku sebagai pangcu,&#8221; kata Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Ah, maaf, untuk selanjutnya akan kupanggil Kiau-toaya saja,&#8221; ujar A Cu.</p>
<p>&#8220;Sekarang aku ingin tanya lebih dulu,&#8221; kata Kiau Hong pula. &#8220;Apa maksud tujuanmu datang ke Siau-lim-si?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, kalau kukatakan, janganlah aku ditertawai,&#8221; ujar A Cu. &#8220;Oleh karena kudengar Kongcu kami telah pergi ke Siau-lim-si, maka aku ingin mencarinya untuk menceritakan urusan nona Ong. Siapa duga waktu aku permisi hendak masuk ke biara itu, hwesio penjaganya dengan bengis melarang aku masuk, alasannya karena aku adalah kaum wanita. Aku berdebat padanya, tapi malah didamprat olehnya. Aku justru hendak masuk ke sana, ingin kulihat apakah dia mampu melarang aku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pantas, Si-ji genap 10 tahun, makin besar makin nakal.&#8221; kata Kiau Hong dengan tersenyum. &#8220;Siapakah yang mengukir kalimat itu di atas bandul mainan kalungmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ayahku,&#8221; sahut A Cu. Menyebut ayahnya, air muka si gadis tampak berduka.</p>
<p>Kiau Hong taksir mungkin ayahnya sudah meninggal dunia, maka ia pun tidak tanya lebih jauh, tapi katanya pula, &#8220;Sesudah menyelundup ke Siau-lim-si, padri-padri di situ tentu saja sangat gusar, tapi tak bisa berbuat apa-apa padamu, terutama bila engkau lantas perlihatkan dirimu yang sebenarnya, tentu mereka akan runyam.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, memang,&#8221; sahut A Cu sambil tertawa dan bangun berduduk. &#8220;Sesudah kesehatanku pulih, aku akan menyamar sebagai laki-laki untuk masuk ke biara itu, lalu keluar pula dengan dandanan sebagai wanita, biar hwesio-hwesio itu meledak perutnya saking gusar. Hahaha, sungguh permainan yang menyenangkan, haha&#8230;.&#8221;</p>
<p>Mendadak suara tertawanya putus, badan lantas terkulai di atas ranjang dengan lemas dan tak bergerak lagi.</p>
<p>Kiau Hong terkejut, ia coba periksa napas si gadis, ia merasa pernapasannya seperti sudah terhenti sama sekali. Dalam khawatirnya cepat Kiau Hong tempelkan telapak tangannya ke &#8220;leng-tay-hiat&#8221; di punggung A Cu, ia salurkan hawa murni sendiri ke dalam badan si gadis.</p>
<p>Tidak lama kemudian, perlahan dapatlah A Cu mengangkat tubuhnya, katanya dengan penuh menyesal, &#8220;Ai, tadi kita sedang bicara, mengapa aku lantas tertidur? Maafkan, Kiau-toaya.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong tahu keadaan gadis itu agak payah, jawabnya, &#8220;Badanmu masih kurang kuat, silakan tidur saja untuk memulihkan semangat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak letih, sebaliknya telah bikin susah Kiau-toaya semalaman, engkau yang perlu mengaso sebentar,&#8221; sahut A Cu.</p>
<p>&#8220;Baiklah, sebentar lagi akan kujenguk kau lagi,&#8221; kata Kiau Hong.</p>
<p>Lalu ia keluar ke ruangan makan, ia pesan lima kati arak dan dua kati daging masak, ia makan dan minum sendiri. Sebenarnya dalam hal minum arak Kiau Hong boleh dikata tanpa takaran dan tiada bandingan, tapi kini dalam keadaan masygul, habis lima kati arak itu, ia merasa agak sedikit pening kepala. Ia beli pula dua biji bakpao dan dibawa ke kamar untuk A Cu.</p>
<p>Ia menjadi kaget ketika A Cu dipanggil-panggil tidak menyahut. Waktu ia periksa, ia lihat gadis itu merebah dengan mata terpejam, muka pucat dan pipi melekuk sebagai mayat. Ketika ia meraba jidatnya, syukurlah masih terasa hangat. Cepat ia menolongnya dengan hawa murni sendiri dan perlahan barulah A Cu sadar. Dengan gembira ria kemudian gadis itu makan kedua biji bakpao.</p>
<p>Dengan demikian maka tahulah Kiau Hong bahwa saat itu A Cu hanya bisa hidup jikalau ada saluran tenaga murninya sebagai penyambung nyawa, tapi bila tanpa saluran hawa murni itu, tiada sejam kemudian tentu gadis itu akan mati lemas. Ia menjadi sedih tanpa berdaya.</p>
<p>Melihat Kiau Hong termenung-menung dengan air muka sedih, sebagai seorang gadis cerdik, segera A Cu dapat menduga sebab musababnya. Segera ia tanya, &#8220;Kiau-toaya, lukaku sangat parah dan tabib bilang susah disembuhkan, bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;O, ti&#8230; tidak! Tidak apa-apa, mengasolah beberapa hari lagi tentu engkau akan sembuh kembali,&#8221; sahut Kiau Hong. &#8220;Asal kau mengaso dengan tenang, tentu aku dapat menyembuhkan penyakitmu.&#8221;</p>
<p>Dari nada perkataan orang, A Cu tahu luka sendiri sesungguhnya sangat parah, mau tak mau ia menjadi khawatir, dan sekali tangan gemetar, setengah potong bakpao yang belum habis termakan itu lantas jatuh ke lantai. Menyangka tenaga si gadis kembali lemas, segera Kiau Hong mengulur tangan untuk menahan leng-tay-hiat lagi di punggung A Cu.</p>
<p>Tapi sekali ini pikiran A Cu masih jernih, maka dapat dirasakannya satu arus hawa hangat telah menyalur dari tangan Kiau Hong ke dalam tubuh sendiri dan rasa badannya menjadi enak dan segar. Setelah memikir sejenak, segera A Cu mengerti keadaan sendiri sebenarnya sangat berbahaya, tapi berkat hawa murni yang dikorbankan oleh Kiau Hong itulah jiwanya dapat direnggut dari tangan elmaut. Sungguh terima kasihnya tak terhingga dan berkhawatir pula.</p>
<p>Meski A Cu adalah seorang gadis cerdik, tapi apa pun juga ia masih terlalu muda, tiba-tiba air matanya berlinang-linang, katanya, &#8220;Kiau-toaya, aku tidak mau mati, jangan engkau meninggalkan aku di sini tanpa urus lagi.&#8221;</p>
<p>Mendengar ucapan yang harus dikasihani itu, segera Kiau Hong menghiburnya, &#8220;Tidak, pasti tidak, aku Kiau Hong tidak nanti meninggalkan seorang kawan yang tertimpa malang tanpa menolongnya!&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku akan mati tidak, Kiau-toaya?&#8221; tanya A Cu dengan berduka. &#8220;Engkau adalah kesatria terpuja di bu-lim, orang menyatakan &#8216;Pak Kiau Hong dan Lam Buyung&#8217;, jadi engkau mempunyai nama besar sejajar dengan kongcu kami, tentu selama hidupmu tidak pernah omong kosong, bukan? Engkau mengatakan lukaku tidak berat, engkau tidak mendustai aku, bukan?&#8221;</p>
<p>Demi kebaikan gadis itu, terpaksa Kiau Hong menjawab, &#8220;Aku tidak mendustai kau. Dahulu waktu masih kanak-kanak aku suka bohong, tapi sesudah besar dan berkelana di Kangouw, aku tidak pernah mendustai orang lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika begitu, dapatlah aku merasa lega,&#8221; kata A Cu. &#8220;Kiau-toaya, aku ingin memohon sesuatu padamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentang apa?&#8221; tanya Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Malam ini harap kau sudi mendampingi aku di sini, janganlah meninggalkan aku,&#8221; pinta si gadis. Ia menduga bila ditinggal pergi Kiau Hong, mungkin jiwanya takkan tahan sampai besok pagi.</p>
<p>&#8220;Tentu saja,&#8221; sahut Kiau Hong dengan tertawa. &#8220;Biarpun kau tak omong juga aku akan mengawani kau di sini. Sudahlah, jangan bicara lagi, tidurlah yang tenang.&#8221;</p>
<p>A Cu lantas pejamkan mata, tapi selang sejenak, kembali ia membuka mata dan berkata, &#8220;Kiau-toaya, aku tak bisa tidur. Aku ingin mohon sesuatu padamu, bolehkah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Boleh saja, tentang apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dahulu waktu aku masih kecil, selalu ibuku meninabobokan aku di tepi ranjang. Asal beliau menyanyi dua-tiga lagu, aku lantas terpulas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan berada di sini, ke mana dapat mencari ibumu? Susah tentunya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ibuku sudah lama meninggal dunia,&#8221; kata A Cu. &#8220;Kiau-toaya, sudilah engkau menyanyikan beberapa lagu untukku?&#8221;</p>
<p>Keruan Kiau Hong serbarunyam, laki-laki setua dia masakah disuruh menyanyi apa segala, kan lucu? Maka jawabnya, &#8220;Aku tidak pintar menyanyi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, apa boleh buat, engkau tidak sudi menyanyi,&#8221; kata si gadis.</p>
<p>&#8220;Bukan aku tidak sudi menyanyi, sesungguhnya aku tidak bisa,&#8221; sahut Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Eh, ya, ada sesuatu lagi, sekali ini hendaklah engkau jangan menolak lagi,&#8221; tiba-tiba A Cu berseru girang.</p>
<p>Diam-diam Kiau Hong merasa kewalahan terhadap dara cilik yang kekanak-kanakan dan serbaaneh pikirannya ini, entah permintaan apa lagi yang hendak dikemukakan anak dara itu. Terpaksa ia menjawab, &#8220;Cobalah katakan, asal bisa tentu akan kulakukan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bisa, pasti engkau bisa,&#8221; ujar A Cu tertawa. &#8220;Begini, boleh engkau mendongeng, baik dongengan tentang si kelinci maupun cerita tentang si kucing. Setelah mendengar dongengan itu tentu aku akan dapat tidur.&#8221;</p>
<p>Sungguh Kiau Hong serbasusah. Belum lama berselang ia adalah seorang tokoh Kangouw terkemuka, seorang pangcu yang terpuja, tapi dalam waktu singkat saja kedudukannya sudah hilang dan dipecat dari keanggotaan Kay-pang, bahkan tiga orang yang dicintainya di dalam dunia ini, yaitu kedua orang tua dan seorang gurunya telah tewas semua dalam waktu sehari saja, malahan mengenai asal usul sendiri sebenarnya keturunan bangsa asing atau bangsa Han asli juga belum diketahui, sebaliknya malah menanggung dosa pendurhakaan kepada orang tua sebagaimana orang mendakwanya.</p>
<p>Belum lagi pukulan-pukulan batin itu terhibur, kini ia mesti mendampingi seorang nona kecil yang merengek-rengek minta dia menyanyi dan mendongeng apa segala. Sebagai seorang kesatria, seorang pahlawan sejati, sudah tentu hal-hal tetek bengek itu tidak menarik baginya. Tapi sekilas dilihatnya sorot mata A Cu itu memancarkan sinar yang memohon dengan sangat, air mukanya tampak pucat dan lesu pula, ia menjadi tidak tega, akhirnya ia berkata, &#8220;Baiklah, aku akan mendongeng suatu cerita padamu, tapi entah menarik tidak bagimu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentu sangat menarik, silakan mulai, lekas,&#8221; seru A Cu kegirangan.</p>
<p>Walaupun sudah menyanggupi, tapi dasar Kiau Hong memang bukan seorang pendongeng, dengan sendirinya susah baginya untuk mulai.</p>
<p>Setelah pikir sebentar, kemudian katanya, &#8220;Baiklah, aku akan bercerita tentang seekor serigala. Dahulu ada seorang kakek, waktu dia mencari kayu di gunung, tiba-tiba dilihatnya seekor serigala terjebak di dalam perangkap pemburu. Serigala itu mohon dengan sangat agar si kakek suka menolongnya. Maka kakak itu lantas berdaya upaya mengeluarkan serigala itu dari perangkap. Tapi&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi sesudah serigala ditolong si kakek, serigala itu berbalik hendak menerkam si kakek, bukan?&#8221; sela A Cu.</p>
<p>&#8220;Ai, cerita ini ternyata sudah pernah kau dengar,&#8221; ujar Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Ya, itulah cerita tentang serigala gunung yang pernah kubaca,&#8221; kata A Cu. &#8220;Aku tidak suka dongengan dalam buku, tapi aku minta engkau bercerita tentang kisah nyata di kampung.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kisah nyata di kampung?&#8221; Kiau Hong bergumam sendiri. Dan setelah berpikir, katanya kemudian, &#8220;Baiklah, aku akan bercerita tentang pengalaman satu anak desa.&#8221;</p>
<p>Lalu ia pun mulai, &#8220;Dahulu di suatu pegunungan tinggal satu keluarga miskin. Kecuali ayah, ibu dan anak itu, mereka tiada anggota keluarga lain lagi. Ketika anak itu berumur tujuh tahun, perawakannya sudah sangat besar dan dapat membantu sang ayah mencari kayu di pegunungan. Suatu hari, ayah jatuh sakit, karena keluarga mereka terlalu miskin, mereka tidak mampu mengundang tabib dan membeli obat. Namun penyakit ayah makin hari makin berat, terpaksa ibu membawa kekayaan yang ada, yaitu berupa empat ekor ayam dan satu bakul telur ayam untuk dijual di kota.</p>
<p>&#8220;Dengan uang penjualan ayam dan telur sebanyak delapan gobang itu ibu pergi mengundang tabib. Tapi tabib menolak, katanya jalan pegunungan terlalu jauh dan susah ditempuh, meski ibu memohon dengan sangat, tetap tabib itu menolak. Ibu menyembah dan memohon dengan menangis, tetap tabib itu tidak mau, bahkan menghina, katanya kaum miskin berbau apak. Waktu ibu memohon lagi sambil menarik ujung baju tabib itu hingga robek. Dalam gusarnya tabib itu dorong ibu hingga terjungkal, bahkan mendepaknya pula serta minta ganti kerugian, katanya baju itu baru saja dibuatnya, harganya tiga tahil perak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tabib itu benar-benar keterlaluan,&#8221; kata A Cu perlahan.</p>
<p>Kiau Hong diam sejenak, ia lihat cuaca di luar sudah remang-remang, lalu sambungnya, &#8220;Waktu itu si anak juga berada di samping ibunya, melihat sang ibu dianiaya orang segera ia menerjang maju untuk menggeluti si tabib. Tapi ia cuma seorang anak kecil, dengan mudah saja tabib itu mengangkatnya dan melemparkannya keluar pintu. Oleh karena khawatir akan terjadi apa-apa atas diri anaknya, sang ibu berlari keluar pintu untuk memeriksa keadaan bocah itu. Dan kesempatan itu lantas digunakan oleh si tabib untuk menutup pintu.</p>
<p>&#8220;Jidat bocah itu terluka lecet dan mengeluarkan darah. Sebagai kaum wanita yang lemah, sang ibu tidak berani bikin ribut lagi pada si tabib, segera ia membawa anaknya pulang ke rumah sambil menangis. Waktu lewat sebuah toko besi, si bocah melihat di dasaran toko itu tertaruh banyak pisau jagal yang lancip lagi tajam. Penjualnya sedang sibuk melayani pembeli di dalam toko, kesempatan itu digunakan oleh si bocah untuk mencuri sebuah pisau jagal itu. Ibunya tidak tahu perbuatan anaknya itu.</p>
<p>&#8220;Setiba di rumah, ibu tidak berani menceritakan pengalamannya kepada ayah, sebab khawatir ayah akan gusar dan sedih hingga menambah berat penyakitnya. Waktu ibu hendak mengeluarkan uang hasil penjualan ayam dan telurnya itu, ia menjadi kaget ketika merasa uang itu sudah hilang. Dengan terkejut dan heran ibu keluar untuk tanya si anak, ia lihat bocah itu sedang mengasah sebilah pisau baru pada batu asah, segera ibunya tanya dari mana mendapatkan pisau lancip itu. Si anak tidak berani bilang mencuri, maka membohong pemberian orang. Dengan sendirinya ibunya tidak percaya, pisau jagal itu di pasar sedikitnya berharga empat-lima gobang, mana mungkin ada orang sembarangan memberi pisau mahal pada seorang bocah?</p>
<p>&#8220;Waktu ditanya siapa yang memberi, sudah tentu si anak tak dapat menjelaskan. Maka berkatalah ibunya dengan menghela napas, &#8216;Nak, ayah dan ibu sangat miskin, biasanya tidak dapat membelikan mainan apa pun untukmu, jika sekarang kau ingin mainan pisau, sebagai anak laki-laki dengan sendirinya boleh saja. Cuma uang kelebihan itu hendaklah kau kembalikan pada ibu, ayah sedang sakit, biarlah kita membeli satu-dua tahil daging untuk dibuatkan kaldu bagi ayahmu!&#8217;</p>
<p>&#8220;Anak itu merasa bingung, dengan mata terbelalak ia menjawab, &#8216;Uang kelebihan apa maksud ibu?&#8217; &#8211; &#8216;Yaitu kedelapan gobang hasil penjualan telur dan ayam itu, telah kau gunakan membeli pisau itu, bukan?&#8217;</p>
<p>&#8220;Bocah itu menjadi gugup dan menyangkal, &#8216;Tidak, aku tidak ambil uang itu, aku tidak ambil uang itu!&#8217; &#8211; Kedua orang tua itu selamanya tidak pernah menghajar anaknya, biarpun bocah itu baru berusia beberapa tahun, tapi mereka pandang si anak seperti tamu di rumahnya&#8230;.&#8221;</p>
<p>Bercerita sampai di sini, diam-diam Kiau Hong sendiri merasa heran mengapa kedua orang tua itu sedemikian baik dan ramah tamahnya kepada si anak, tidak lazim ayah-ibu begitu menghargai anaknya biar bagaimanapun kasih sayangnya. Karena pikiran itu, tanpa terasa ia bergumam sendiri, &#8220;Ya, aneh, mengapa bisa begitu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aneh tentang apa?&#8221; tanya A Cu tiba-tiba.</p>
<p>Habis mengucapkan kalimat itu, napas anak dara itu sudah sangat lemah. Kiau Hong tahu tenaga murni dalam tubuh si gadis telah habis lagi, cepat ia tempelkan tangannya lagi ke punggung A Cu dan menyalurkan tenaga murni.</p>
<p>Lambat laun semangat A Cu pulih kembali, katanya dengan gegetun, &#8220;Ai, Kiau-toaya, setiap kali kau salurkan tenagamu kepadaku, setiap kali tenagamu sendiri lantas berkurang, padahal tenaga murni bagi seorang tokoh persilatan adalah mahapenting. Engkau sedemikian baik kepadaku, sungguh entah cara bagaimana aku&#8230; aku harus membalasmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk mana cukup aku bersemadi satu-dua jam saja tentu tenaga murniku akan pulih, masakah berkata tentang belas budi segala?&#8221; sahut Kiau Hong tertawa. &#8220;Biarpun aku tidak kenal majikanmu Buyung-kongcu tapi dalam hatiku dia sudah kuanggap sebagai sahabat. Kau adalah orangnya, mengapa sungkan padaku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi setiap sejam-dua jam tenagaku lantas habis, masakah engkau harus membantuku dengan cara demikian?&#8221; ujar A Cu dengan muram.</p>
<p>&#8220;Kau jangan khawatir, kita pasti akan mendapatkan seorang tabib pandai untuk menyembuhkanmu,&#8221; hibur Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Hihi, mungkin tabib itu juga akan menolak karena aku adalah kaum miskin yang berbau apak,&#8221; ucap A Cu dengan tersenyum. &#8220;Eh, Kiau-toaya, ceritamu tadi belum lagi habis, tadi engkau bilang aneh tentang apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;O, tiada apa-apa, aku melantur tak keruan,&#8221; sahut Kiau Hong. Lalu ia menyambung ceritanya, &#8220;Melihat anaknya tidak mengaku, maka sang ibu juga tidak mendesak lebih jauh dan tinggal masuk ke rumah. Selang tak lama, selesai mengasah pisaunya, anak itu pun masuk ke rumah, sayup-sayup ia mendengar ayah dan ibunya sedang mempercakapkan dia mencuri uang untuk membeli pisau, tapi tidak mau mengaku. Namun sang ayah menyatakan kerelaannya agar bocah itu jangan ditegur lagi karena selama ini kepada anak itu tidak pernah diberi mainan apa-apa.</p>
<p>&#8220;Dan ketika melihat anak itu masuk ke rumah, percakapan kedua orang tua itu lantas berhenti, malahan dengan ramah ayahnya berkata kepada si anak sambil meraba jidatnya yang terluka itu, &#8216;Anak yang baik, selanjutnya jangan berlari-lari, ya, supaya tidak jatuh lagi!&#8217;</p>
<p>&#8220;Ternyata orang tua itu sama sekali tidak menyinggung tentang kehilangan uang dan tentang pembelian pisau itu. Bahkan nada suaranya sama sekali tidak mengunjuk rasa kurang senang sedikit pun.</p>
<p>&#8220;Meski umur bocah itu baru tujuh tahun, tapi ia sudah pintar, diam-diam ia pikir, &#8216;Aku dicurigai ibu mencuri uang untuk membeli pisau, bila mereka menghajar aku atau mendamprat habis-habisan, betapa pun aku rela. Tapi mereka justru sedemikian baik padaku, sedikit pun tidak mengusut lebih jauh.&#8217;</p>
<p>&#8220;Namun disebabkan hatinya tidak tenteram, segera ia berkata kepada sang ayah, &#8216;Ayah, aku tidak mencuri uang, pisau ini pun bukannya kubeli&#8217;.</p>
<p>&#8220;Segera ayahnya menyela, &#8216;Sudahlah, sudahlah! Ibumu memang suka geger, cuma kehilangan sedikit uang, kenapa mesti diributkan? Dasar orang perempuan suka urus tetek bengek. Anak baik, jidatmu masih sakit tidak?&#8217;</p>
<p>&#8220;Terpaksa bocah itu menjawab, &#8216;Tidak sakit, tidak apa-apa!&#8217; &#8211; Sebenarnya ia ingin membela diri dari sangkaan jelek itu, tapi terpaksa tidak jadi. Dengan kesal bocah itu lantas pergi tidur tanpa makan malam lagi.</p>
<p>&#8220;Namun bocah itu tergulang-guling di atas pembaringan tanpa bisa pulas. Ia dengar pula suara keluh-kesah dan tangisan perlahan sang ibu, mungkin sedih karena penyakit sang suami dan penasaran oleh hinaan dan penganiayaan siang hari itu.</p>
<p>&#8220;Perasaan anak itu bergolak, diam-diam ia bangun, ia merayap keluar melalui jendela, malam itu juga ia masuk ke kota lagi dan mendatangi rumah tabib itu. Tapi gedung kediaman tabib itu tertutup rapat, betapa pun bocah itu tidak mampu masuk ke sana.</p>
<p>&#8220;Namun ia tidak kurang akal, badannya masih kecil dan cukup menerobos masuk melalui lubang anjing di pojok pagar tembok. Ia melihat kamar tabib itu masih terang, suatu tanda tabib itu belum tidur dan sedang memasak obat. Perlahan-lahan anak itu mendorong pintu kamar, dan rupanya suara keriutan pintu dapat didengar si tabib yang segera menegur siapa yang datang?</p>
<p>&#8220;Tapi bocah itu tidak bersuara, cepat ia mendekati tabib yang lagi asyik memasak obat, sekali belatinya dicabut, kontan ia tikam perut tabib itu. Tabib itu hanya merintih beberapa kali, lalu menggeletak tak bernyawa lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah, sekali tikam bocah itu membunuh tabib itu?&#8221; seru A Cu terkejut.</p>
<p>&#8220;Ya,&#8221; sahut Kiau Hong sambil mengangguk. &#8220;Kemudian bocah itu merayap keluar lagi melalui lubang anjing dan pulang ke rumah. Seorang bocah cilik dalam waktu singkat dan di tengah malam buta mesti menempuh perjalanan tergesa-gesa sejauh puluhan li, sudah tentu bocah itu kepayahan. Dan esok paginya, keluarga si tabib mendapatkan majikan mereka sudah mati dengan perut sobek dan usus keluar, tapi pintu rumah tetap tertutup rapat hingga tiada tanda-tanda keluar-masuknya pembunuh.</p>
<p>&#8220;Maka orang sama mencurigai jangan-jangan pembunuhan itu dilakukan oleh orang dalam sendiri. Guna pengusutan itu, istri dan saudara tabib itu ditangkap pembesar negeri, mereka ditahan dan diusut hingga bertahun-tahun lamanya, maka keluarga tabib itu menjadi berantakan sejak itu. Dan peristiwa pembunuhan itu sampai sekarang masih tetap merupakan teka-teki bagi penduduk Kho-keh-cip.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau bilang Kho-keh-cip? Jadi kota inilah tempat kediaman tabib yang terbunuh itu?&#8221; A Cu menegas.</p>
<p>&#8220;Benar,&#8221; sahut Kiau Hong. &#8220;Tabib itu she Ting. Sebenarnya adalah tabib paling terkenal dan terpandai di kota ini. Rumah tinggalnya di barat kota sana, tapi gedungnya sekarang sudah tak terawat dan bobrok.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tabib itu suka menghina kaum miskin dan anggap jiwa orang miskin sama sekali tak berharga, pribadinya itu benar-benar tercela, tapi dosanya itu juga tidak mesti dibunuh,&#8221; demikian kata A Cu dengan menyesal. &#8220;Dan anak itu sesungguhnya juga terlalu kejam, sungguh aku tidak percaya bahwa seorang anak umur tujuh tahun berani membunuh orang. Kiau-toaya, ceritamu ini hanya dongengan belaka atau benar-benar kisah nyata?&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar-benar kisah nyata,&#8221; sahut Kiau Hong.</p>
<p>A Cu menghela napas gegetun, katanya, &#8220;Ai, anak kejam begitu mirip benar dengan kaum pengganas orang Cidan!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau&#8230; kau bilang apa?&#8221; tanya Kiau Hong mendadak sambil melonjak bangun dengan badan gemetar.</p>
<p>Melihat perubahan air muka orang yang hebat itu, A Cu terkesiap, mendadak ia paham duduknya perkara, katanya kemudian, &#8220;O, maaf, Kiau&#8230; Kiau-toaya, aku tidak&#8230; tidak sengaja menyinggung perasaanmu.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong berdiri termangu-mangu sejenak, lalu duduk dengan lesu, katanya, &#8220;Jadi&#8230; jadi engkau sudah dapat menerkanya?&#8221;</p>
<p>A Cu mengangguk, diam-diam ia dapat menebak si bocah dalam cerita Kiau Hong itu tak-lain-tak-bukan adalah Kiau Hong sendiri.</p>
<p>&#8220;Ucapan yang tidak disengaja terkadang malah kena dengan jitu,&#8221; kata Kiau Hong. &#8220;Dan sebabnya aku turun tangan secara tak kenal ampun itu apakah lantaran aku keturunan Cidan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kiau-toaya, A Cu sembarangan omong, harap engkau jangan pikirkan lagi,&#8221; hibur A Cu dengan suara lembut. &#8220;Adapun engkau membunuh tabib jahat itu adalah karena jiwa kesatriaanmu yang ingin membalas sakit hati ibumu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebenarnya tidak melulu sakit hati ibuku, tapi disebabkan pula aku dituduh tanpa berdosa,&#8221; kata Kiau Hong sambil pegang kepala sendiri dengan kedua tangannya yang lebar. &#8220;Padahal kedelapan gobang uang ibu itu tentu tercecer waktu si tabib mengiprat dan mendorongnya, tapi aku&#8230; aku yang disangka mencuri uang itu, selama hidupku paling tidak tahan bila dituduh tanpa berdosa.&#8221;</p>
<p>Namun demikian dalam waktu satu hari ini ia susah menanggung tiga peristiwa aneh. Tentang dia orang Cidan atau bukan, belum dapat dipastikan sekarang, tapi kematian Kiau Sam-hoay suami-istri dan Hian-koh Taysu sudah jelas bukan perbuatannya, namun ketiga dosa besar itu justru ditimpakan atas namanya. Padahal siapakah gerangan pembunuh yang sebenarnya? Siapa pula gerangan yang sengaja memfitnahnya itu?</p>
<p>Pada saat itulah tiba-tiba Kiau Hong teringat sesuatu lagi, &#8220;Mengapa ayah dan ibu selalu mengatakan mereka tidak pernah memberikan apa-apa yang bagus padaku? Jika aku adalah putra mereka yang sebenarnya, dengan sendirinya sang putra mesti ikut hidup miskin dengan orang tua yang miskin, mengapa perlu perlakuan yang baik segala? Jika demikian, terang aku memang bukan anak kandung mereka, tapi adalah anak titipan orang lain. Mungkin orang yang menitipkan aku itu sangat dihormati dan disegani oleh ayah dan ibuku. Lantas siapakah gerangan orang yang menitipkan aku kepada ayah dan ibu itu? Besar kemungkinan adalah Ong-pangcu.&#8221;</p>
<p>Berpikir begitu, ia bandingkan pula sifat sendiri yang jauh berbeda daripada kedua orang tua yang welas asih itu, ia menjadi lebih yakin lagi bahwa dirinya pasti keturunan orang Cidan.</p>
<p>Rupanya A Cu dapat meraba perasaan Kiau Hong itu, maka ia coba menghiburnya, &#8220;Kiau-toaya, mereka mengatakan engkau adalah keturunan Cidan, kukira mereka sengaja hendak memfitnah engkau. Jangankan engkau berbudi luhur dan berjiwa kesatria, hal ini tersohor di segenap penjuru dan pelosok, bahkan terhadap seorang budak rendahan seperti aku ini juga engkau sedemikian baiknya. Sebaliknya orang Cidan umumnya sebuas binatang, bedanya dengan engkau seperti langit dan bumi, mana dapat engkau dipersamakan dengan mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;A Cu, jika aku benar-benar orang Cidan, apakah engkau masih sudi menerima perawatanku ini?&#8221; tanya Kiau Hong.</p>
<p>A Cu serbasusah untuk menjawab. Maklum, waktu itu bangsa Han teramat benci kepada bangsa Cidan dan memandangnya sebuas binatang dan sekejam ular berbisa, dianggapnya tiada orang Cidan yang mempunyai rasa perikemanusiaan, semuanya kejam.</p>
<p>Sesudah tertegun sejenak, kemudian jawabnya, &#8220;Sudahlah, jangan kau pikir yang tidak-tidak, betapa pun tidak mungkin engkau adalah orang Cidan. Jika di antara orang Cidan ada yang baik budi seperti engkau, tentu kita pun tidak akan membenci mereka.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong termenung diam, ia pikir kalau benar dirinya adalah keturunan orang Cidan, sampai seorang budak kecil seperti A Cu juga tidak sudi gubris padanya lagi. Sesaat ia merasa dunia seakan-akan sempit baginya, pikirannya bergolak hebat, darah seolah-olah mendidih di dalam rongga dadanya.</p>
<p>Ia tahu tenaga dalam sendiri telah banyak terbuang karena beberapa kali mesti menolong A Cu untuk melancarkan tenaga dan mengatur napas. A Cu juga pejamkan mata untuk mengaso.</p>
<p>Selang tak lama, selesailah Kiau Hong melatih diri. Ia khawatir keadaan A Cu payah lagi, ia hendak memeriksa nadi gadis itu. Tiba-tiba didengarnya di tempat tinggi sebelah barat sana ada suara kletek perlahan dua kali.</p>
<p>Sebagai seorang Kangouw ulung segera Kiau Hong tahu itu adalah suara loncatan orang bu-lim dari atap rumah ke atap rumah yang lain. Menyusul di arah timur sana juga ada suara serupa dua kali, bahkan suara yang belakangan ini lebih lirih, suatu tanda ginkang pendatang itu lebih tinggi daripada yang duluan.</p>
<p>Sekaligus dari beberapa jurusan datang orang Kangouw, Kiau Hong menduga besar kemungkinan dirinya yang sedang dicari. Segera ia bisiki A Cu, &#8220;Aku akan keluar sebentar dan segera kembali lagi, jangan takut.&#8221;</p>
<p>A Cu mengangguk. Lalu Kiau Hong menyelinap keluar dari pintu yang setengah tertutup itu. Dengan enteng ia putar ke belakang rumah dan berdiri mepet dinding luar.</p>
<p>Baru dia berdiri di situ, tiba-tiba dari kamar hotel sebelah timur sana ada suara seorang sedang berkata, &#8220;Apakah Hiang-patya di situ? Silakan turun saja!&#8221;</p>
<p>Lalu terdengar pendatang sebelah barat tadi tertawa dan menjawab, &#8220;Ki-loliok dari Kwansay juga datang!&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus, bagus! Silakan masuk semua!&#8221; ujar orang di dalam kamar itu.</p>
<p>Maka berturut-turut kedua orang di atas atap rumah tadi melompat turun dan masuk ke dalam kamar.</p>
<p>Kiau Hong kenal Ki-loliok dari Kwansay itu berjuluk &#8220;Goay-to Ki Liok&#8221;, Si Golok Kilat, seorang jagoan terkenal di daerah Kwansay (di luar tembok besar bagian barat). Sedang Hiang-patya yang disebut tadi diduganya pasti Hiang Bong-thian dari Siantang, konon orang berbudi dan dermawan, ilmu silatnya juga sangat hebat.</p>
<p>Kedua orang itu bukan manusia jahat, kedatangan mereka tentu tiada sangkut pautnya denganku, kenapa aku mesti curiga? Demikian pikir Kiau Hong.</p>
<p>Dan selagi dia hendak kembali ke kamar, tiba-tiba terdengar Hiang Bong-thian tadi berkata, &#8220;Mendadak &#8216;Giam-ong-tek&#8217; Sih-sin-ih menyebar enghiong-tiap (kartu undangan kesatria dan mengundang para kesatria Kangouw), apakah Pau-toako tahu sebab musababnya?&#8221;</p>
<p>Mendengar nama &#8220;Giam-ong-tek&#8221; Sih-sin-ih disebut, Kiau Hong terkejut dan bergirang, pikirnya, &#8220;Mengapa Sih-sin-ih berada di sekitar sini? Jika demikian, si budak A Cu dapatlah tertolong.&#8221;</p>
<p>Kiranya Sih-sin-ih atau Si Tabib Sakti she Sih itu adalah tabib nomor satu pada zaman itu, oleh karena sebutan &#8220;sin-ih&#8221; (tabib sakti) sangat terkenal sehingga nama asalnya dilupakan orang.</p>
<p>Menurut cerita orang Kangouw yang mungkin berlebih-lebihan, katanya orang mati pun dapat dia hidupkan kembali dengan obatnya. Maka bila orang hidup, betapa parah penyakit atau luka yang diderita pasti akan dapat disembuhkan olehnya.</p>
<p>Oleh karena pengobatannya yang tidak pernah gagal itu hingga tiada orang sakit yang mati di bawah perawatannya, maka orang anggap dia seakan-akan bermusuhan dengan Giam-lo-ong (raja akhirat) sehingga dia julukan &#8220;Giam-ong-tek&#8221; atau musuh raja akhirat.</p>
<p>Sih-sin-ih itu tidak melulu lihai pengobatannya, bahkan ilmu silatnya juga sangat hebat. Ia suka bergaul dengan kawan Kangouw, setiap kali dia mengobati orang, sering ia minta belajar sejurus-dua dari pasiennya itu. Oleh karena merasa utang budi, yang diminta dengan sendirinya memberi petunjuk dengan sungguh-sungguh dan yang diajarkan selalu adalah ilmu silat kebanggaan si pasien.</p>
<p>Begitulah kemudian terdengar Goay-to Ki Liok juga menegur, &#8220;Pau-lopan (Juragan Pau), selama ini ada terjadi jual-beli apa?&#8221;</p>
<p>Diam-diam Kiau Hong mengangguk, &#8220;Pantas, suara orang di dalam kamar itu seperti sudah kukenal, kiranya dia &#8216;Bo-pun-ci&#8217; Pau Jian-leng. Orang ini suka mencuri dari si kaya untuk membantu kaum miskin, namanya cukup harum. Dahulu waktu aku diangkat menjadi pangcu, dia juga datang hadir pada upacara itu.&#8221;</p>
<p>Setelah mengetahui orang di dalam kamar itu adalah &#8220;Bo-pun-ci&#8221; (Tanpa Modal) Pau Jian-leng, seorang maling yang terkenal budiman, maka Kiau Hong tidak ingin mendengarkan lagi pembicaraan mereka. Ia pikir biar besok saja akan kutanya Pau Jian-leng di mana beradanya Sih-sin-ih.</p>
<p>Tapi belum lagi ia putar langkah, sekonyong-konyong terdengar Pau Jian-leng menghela napas dan berkata, &#8220;Ai, selama beberapa hari ini perasaanku lagi kesal, tiada semangat buat jual-beli apa-apa. Malahan hari ini kudengar dia membunuh ayah-ibu sendiri dan membinasakan gurunya pula, sungguh rasa hatiku sangat pedih.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, terdengar ia menghantam meja dengan keras.</p>
<p>Mendengar itu, tahulah Kiau Hong bahwa dirinya yang sedang dipercakapkan. Benar juga, terdengar Hiang Bong-thian menanggapi, &#8220;Nama keparat Kiau Hong itu sangat disegani, ia pura-pura berbudi dan baik hati sehingga selama ini banyak yang tertipu, siapa duga dia akan berbuat durhaka seperti itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dahulu waktu dia diangkat menjadi Pangcu Kay-pang aku pun hadir pada upacara itu dan kenal baik padanya,&#8221; demikian Pau Jian-leng berkata pula. &#8220;Maka waktu mula-mula aku diberi tahu orang bahwa Kiau Hong adalah keturunan Cidan dengan tegas kudamprat ocehan yang sembrono itu, bahkan karena itu aku bertengkar dengan Tio-losam hingga hampir-hampir baku jotos. Ai, orang Cidan memang mirip binatang, untuk sementara ia dapat menutupi sifat aslinya, akhirnya wataknya yang buas lantas kelihatan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lebih-lebih tak tersangka kalau dia keluaran Siau-lim-pay, Hian-koh Taysu ternyata adalah gurunya,&#8221; kata Ki Liok, Si Golok Kilat.</p>
<p>&#8220;Urusan itu sangat dirahasiakan rupanya, sebab ketua Siau-lim-si sendiri juga tidak tahu,&#8221; ujar Pau Jian-leng. &#8220;Coba kalau Kiau Hong sendiri tidak omong dan disiarkan orang Kay-pang sendiri, mungkin tiada seorang pun yang tahu. Setelah membunuh kedua orang tua dan gurunya, orang she Kiau itu mengira dapatlah menutupi asal-usul dirinya, dengan demikian ia dapat menyangkal mati-matian tanpa saksi. Tak terduga kejadiannya malah berbalik tidak menguntungkan dia, dosanya juga makin bertambah.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong cukup kenal jiwa kesatria &#8220;Bo-pun-ci&#8221; Pau Jian-leng, persahabatan mereka pun cukup akrab. Jika sekarang maling agung itu pun mencerca dirinya, maka dapatlah dibayangkan bagaimana orang lain akan memaki dan mengutuknya.</p>
<p>Teringat demikian, hati Kiau Hong menjadi hampa dan putus asa. Tanpa dosa telah tertimpa tuduhan yang susah membela diri, apakah akhirnya ia mampu mencuci bersih fitnahan itu? Tidakkah lebih baik mengasingkan diri saja, setelah bertahun-tahun, tentu orang Kangouw akan melupakan manusia seperti aku. Demikian pikirnya dengan hampa.</p>
<p>Dalam pada itu terdengar Hiang Bong-thian sedang berkata pula, &#8220;Menurut dugaanku, sebabnya Giam-ong-tek menyebar enghiong-tiap, maksudnya apakah untuk menghadapi Kiau Hong. Selama hidup Giam-ong-tek paling benci pada kejahatan, asal dia mendengar ada kejadian tidak adil di kalangan Kangouw, tanpa disuruh dia pasti ikut campur urusan itu. Apalagi persahabatannya dengan Hian-lan dan Hian-cit Taysu dari Siau-lim-si itu sangat kekal, sudah tentu dia tidak dapat tinggal diam urusan yang menyangkut Siau-lim-pay itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kukira betul dugaanmu itu, memang paling akhir ini di kalangan Kangouw juga tiada terjadi geger apa-apa selain perbuatan orang she Kiau itu,&#8221; kata Pau Jian-leng. &#8220;Hiang-heng, Ki-heng, marilah kita habiskan 20 kati arak ini, malam ini kita bicara sepuas-puasnya.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong pikir apa yang akan dibicarakan mereka itu sampai semalam suntuk juga dirinya yang akan dicaci maki habis-habisan dengan dibumbu-bumbui. Maka ia tidak ingin mendengarkan lagi, segera ia pulang ke kamar A Cu.</p>
<p>Melihat air muka Kiau Hong muram durja dan pucat, dengan khawatir A Cu tanya, &#8220;Kiau-toaya, apakah engkau ketemukan musuh?&#8221;</p>
<p>Namun Kiau Hong hanya menggeleng kepala saja.</p>
<p>A Cu masih khawatir, tanyanya pula, &#8220;Engkau tidak terluka apa-apa, bukan? Kiau-toaya?&#8221;</p>
<p>Padahal sejak Kiau Hong berkecimpung di dunia Kangouw, selalu ia dihormati kawan dan disegani lawan, belum pernah ia dihina dan dimaki secara rendah oleh orang seperti beberapa hari ini. Kini demi mendengar pertanyaan A Cu itu, mendadak sifat angkuhnya berkobar-kobar, sahutnya keras-keras, &#8220;Tidak, aku tidak apa-apa. Memang tidak sulit manusia rendah itu hendak menghina dan memfitnah diriku, tapi untuk melukai orang she Kiau, huh, tidaklah gampang.&#8221;</p>
Posted in Jin Yong, Pendekar Kerajaan Tayli  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toanki.wordpress.com/1833/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toanki.wordpress.com/1833/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toanki.wordpress.com/1833/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toanki.wordpress.com/1833/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toanki.wordpress.com/1833/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toanki.wordpress.com/1833/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toanki.wordpress.com/1833/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toanki.wordpress.com/1833/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toanki.wordpress.com/1833/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toanki.wordpress.com/1833/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&blog=4564196&post=1833&subd=toanki&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-30/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b75e221c0eee4ff517b26695a19675fc?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">Lenghou Tiong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 29</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-29/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-29/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 05:02:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1830</guid>
		<description><![CDATA[A Cu merasa kurang enak bila tinggal lama-lama di situ mengingat orang-orang itu adalah kawan Kiau Hong, kalau pemalsuannya ketahuan, tentu urusan bisa runyam. Maka cepat katanya, &#8220;Urusan pang kita boleh dirundingkan nanti saja, sekarang aku akan pergi melihat kawanan anjing Se He itu.&#8221;
Habis berkata, dengan langkah lebar ia lantas kembali ke ruangan depan dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&blog=4564196&post=1830&subd=toanki&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>A Cu merasa kurang enak bila tinggal lama-lama di situ mengingat orang-orang itu adalah kawan Kiau Hong, kalau pemalsuannya ketahuan, tentu urusan bisa runyam. Maka cepat katanya, &#8220;Urusan pang kita boleh dirundingkan nanti saja, sekarang aku akan pergi melihat kawanan anjing Se He itu.&#8221;</p>
<p><span id="more-1830"></span>Habis berkata, dengan langkah lebar ia lantas kembali ke ruangan depan dengan diikuti Toan Ki.</p>
<p>Di sana mereka mendengar Helian Tiat-si sedang mencaci maki, &#8220;Lekas suruh periksa siapakah bangsat orang Se He itu, berani dia main gila pada Ciangkunmu ini. Bila kita sudah pulang nanti pasti akan kusikat bersih antero anggota keluarganya tua-muda maupun laki-perempuan. Bangsat, orang Se He malah membantu bangsa lain, mencuri kabut wangi kita untuk merobohkan bangsa sendiri.&#8221;</p>
<p>Toan Ki melengak, ia heran orang Se He mana yang dimakinya itu.</p>
<p>Dalam pada itu Nurhai cuma mengiakan belaka dan tidak berani menimbrung. Terdengar Helian Tiat-si lagi memaki pula, &#8220;Bangsat keparat, coba lihat, apa yang dia tulis itu bukankah sindiran terang-terangan kepada kita?&#8221;</p>
<p>Waktu Toan Ki dan A Cu mendongaki terlihatlah di dinding ruangan itu ada dua baris tulisan, masing-masing baris terdiri dari empat huruf, bunyinya, &#8220;Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin&#8221;.</p>
<p>Toan Ki sampai bersuara heran, bukankah itu istilah khas Buyung Hok yang disamarnya sekarang? Melihat tinta tulisan yang belum lagi kering itu, terang penulisnya belum lama perginya.</p>
<p>Melihat pemuda itu agak gugup, lekas A Cu memperingatkannya, &#8220;Toan-kongcu, jangan lupa bahwa engkau sekarang adalah Buyung-kongcu. Aku sendiri tidak dapat memastikan apakah tulisan itu benar buah tangan kongcu kami atau bukan, sebab beliau memang mahir menulis dalam berbagai macam gaya yang indah.&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu terdengar Nurhai sedang tertawa dingin dan berkata, &#8220;Hehe, benar-benar kepandaian yang lihai, baru hari ini dapat kami saksikan sendiri &#8216;Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin&#8217;.&#8221;</p>
<p>Namun begitu, dalam hati sebenarnya ia sangat khawatir entah cara bagaimana orang Kay-pang hendak memperlakukan mereka, sebab waktu orang-orang Kay-pang tertawan, mereka telah menyiksa kawanan pengemis itu dengan macam-macam cara, kalau sekarang pengemis-pengemis itu pun membalas &#8216;Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin&#8217;, kan bisa celaka mereka?</p>
<p>Sebenarnya Toan Ki agak cemburu kepada Buyung Hok, tapi kini demi merasa pasti tokoh muda itu telah merobohkan orang-orang Se He itu, mau tak mau ia rada kagum juga.</p>
<p>&#8220;Urusan sudah beres, marilah kita tinggal pergi saja,&#8221; tiba-tiba A Cu membisikinya ketika melihat orang-orang Kay-pang sudah banyak yang dapat bergerak dan datang ke ruangan depan itu. Segera ia berseru, &#8220;Para Tianglo, aku masih ada urusan lain yang harus diselesaikan bersama Buyung-kongcu, sampai berjumpa lagi pada lain hari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nanti dulu, Pangcu, nanti dulu!&#8221; cepat Go-tianglo menahannya.</p>
<p>Namun A Cu tidak berani tinggal lebih lama lagi di situ, bahkan jalannya bertambah cepat bersama Toan Ki. Umumnya anggota-anggota Kay-pang sangat segan kepada sang pangcu, maka tiada seorang pun berani menahan mereka.</p>
<p>Setelah beberapa li jauhnya, dengan tertawa berkatalah A Cu, &#8220;Toan-kongcu, benar-benar sangat kebetulan sekali, muridmu yang jelek seperti siluman itu justru ingin menjajal kepandaianmu Leng-po-wi-poh, bahkan memuji engkau lebih lihai daripada gurunya. Hahaha, sungguh lucu!&#8221;</p>
<p>Lalu katanya pula, &#8220;Dan aneh juga, entah siapakah gerangan yang diam-diam menyebarkan kabut racun itu? Orang-orang Se He itu mencaci maki, katanya ada pengkhianat, kukira bukan mustahil memang benar perbuatan seorang Se He.&#8221;</p>
<p>Mendadak Toan Ki teringat akan seorang, cepat katanya, &#8220;He, jangan-jangan perbuatan Li Yan-cong? Yaitu jago Se He yang kutemukan di rumah penggilingan itu?&#8221;</p>
<p>Karena A Cu tidak pernah melihat Li Yan-cong, maka ia tidak berani memberi pendapat, katanya, &#8220;Marilah kita bicarakan dengan Ong-kohnio saja dan minta pendapatnya.&#8221;</p>
<p>Tadinya Toan Ki sangsi penulis di dinding itu adalah Buyung Hok sendiri, dan kalau benar, tentu Buyung Hok berada di sekitar sini, bahkan mungkin sudah berjumpa dengan Giok-yan, hal ini membuatnya sangat masygul. Tapi kini demi teringat orang itu boleh jadi adalah Li Yan-cong seketika lega hatinya dan dapat bicara dengan bergurau lagi.</p>
<p>Tengah berjalan, tiba-tiba terdengar suara derap kuda dari depan, seorang penunggang kuda sedang datang dengan cepat. Waktu Toan Ki memerhatikan, segera ia mengenali orang itu tak-lain-tak-bukan adalah Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Itulah dia Kiau-toako!&#8221; serunya dengan girang terus hendak memapak maju.</p>
<p>Namun A Cu lantas menahannya, &#8220;Jangan bersuara, nanti sandiwara kita terbongkar!&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia sendiri lantas berdiri mungkur.</p>
<p>Tidak lama kemudian, Kiau Hong sudah mendekat dan memandang Toan Ki dan A Cu.</p>
<p>Karena dicegah A Cu tadi, barulah Toan Ki ingat mereka sedang menyamar sebagai orang lain. A Cu justru menyaru sebagai Kiau-toako itu, kalau dilihat orang yang asli, tentu urusan bisa runyam. Maka waktu Kiau Hong sudah dekat, Toan Ki juga tidak berani memandang padanya, sebaliknya ia melengos ke samping.</p>
<p>Kiranya setelah Kiau Hong membebaskan A Cu dan A Pik dari cengkeraman musuh, ia menjadi khawatir ketika mengetahui orang-orang Kay-pang juga ditawan oleh orang-orang Se He. Ia telah mencari kian kemari, akhirnya dapat diketemukan juga kedua hwesio cilik dari Thian-leng-si itu. Sesudah menanyakan tempatnya, segera ia memburu ke kuil itu.</p>
<p>Ketika dilihatnya wajah Toan Ki yang gagah dan ganteng dalam samarannya sebagai Buyung Hok itu, diam-diam Kiau Hong berpendapat, &#8220;Kongcu ini benar-benar tampannya seperti saudaraku Toan Ki itu.</p>
<p>Sedangkan A Cu yang berdiri mungkur itu tidak diperhatikannya, karena mengkhawatirkan keselamatan orang-orang Kay-pang, segera ia mencambuk kudanya melanjutkan perjalanan ke depan dengan cepat.</p>
<p>Setiba di Thian-leng-si, ia lihat belasan anggota Kay-pang sedang menggelandang orang-orang Se He satu per satu keluar dari kuil itu. Sudah tentu Kiau Hong sangat girang dan bangga. Memang orang-orang Kay-pang adalah kesatria yang gagah perkasa, betapa pun dapat mengubah kekalahan menjadi kemenangan.</p>
<p>Sebaliknya demi melihat sang pangcu yang sudah pergi telah kembali lagi, para anggota Kay-pang berbondong-bondong lantas menyambutnya, &#8220;Pangcu, cara bagaimana para tawanan ini harus diatur, harap engkau suka memberi petunjuk.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku sudah bukan anggota Kay-pang lagi, maka jangan kalian sebut aku sebagai pangcu,&#8221; sahut Kiau Hong. &#8220;Kalian baik-baik saja dan tidak kurang apa-apa, bukan?&#8221;</p>
<p>Sementara itu Ci-tianglo dan lain-lain sudah mendapat laporan dan menyambut keluar.</p>
<p>Go-tianglo adalah orang tulus, terus saja ia menyapa, &#8220;Pangcu, begitu engkau meninggalkan kami, seketika kami masuk perangkap musuh. Untung engkau datang tepat pada waktunya bersama Buyung-kongcu sehingga Kay-pang tidak sampai terjungkal habis-habisan. Jika engkau tidak kembali memegang tampuk pimpinan, pasti pang kita akan kacau-balau tak keruan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Buyung-kongcu apa maksudmu?&#8221; tanya Kiau Hong dengan heran.</p>
<p>&#8220;Ah, orang-orang seperti Coan Koan-jing itu cuma mengaco-belo, jangan engkau peduli,&#8221; ujar Go-tianglo. &#8220;Untuk mencari sahabat apa susahnya? Aku percaya engkau juga baru hari ini berkenalan dengan Buyung-kongcu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Buyung-kongcu? Apakah maksudmu Buyung Hok?&#8221; Kiau Hong menegas. &#8220;Tapi selamanya aku tidak pernah kenal dia.&#8221;</p>
<p>Seketika Ci, Song, Ge, Tan, dan Go-tianglo saling pandang dengan bingung. Pikir mereka, &#8220;Bukankah baru saja dia datang bersama Buyung-kongcu hingga kita tertolong, mengapa sekarang dia menyatakan tidak kenal Buyung-kongcu?&#8221;</p>
<p>Go-tianglo pikir sejenak, tiba-tiba ia seperti mengerti duduknya perkara, serunya, &#8220;Aha, tahulah aku! Pemuda tampan tadi itu mengaku she Buyung, tapi dia bukanlah Buyung Hok. Memangnya di dunia ini cuma ada seratus-dua ratus orang she Buyung? Kenapa mesti heran?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi dia menulis tanda pengenal yang khas di dinding itu, kalau bukan Buyung Hok lantas siapa lagi?&#8221; ujar Ci-tianglo.</p>
<p>&#8220;Memang pasti dia, habis siapa lagi?&#8221; tiba-tiba suara seorang melengking aneh menimbrung. &#8220;Bocah itu serbapandai dalam berbagai ilmu silat, bahkan setiap macam kepandaiannya lebih lihai daripada pemilik asalnya. Kalau dia bukan Buyung Hok, siapa yang mampu berbuat demikian? Sudah tentu dia, pasti dia!&#8221;</p>
<p>Waktu semua orang memandang ke arah suara itu tertampak mata orang itu kecil sempit dan penuh berewok, itulah dia Lam-hay-gok-sin.</p>
<p>&#8220;Jadi Buyung Hok tadi telah datang kemari?&#8221; demikian Kiau Hong menegas dengan heran.</p>
<p>&#8220;Kentut anjingmu!&#8221; maki Lam-hay-gok-sin mendadak. &#8220;Tadi kau sendiri datang bersama Buyung-siaucu itu, dan entah dengan ilmu sihir apa kalian telah membikin kami tidak dapat berkutik, tapi sekarang kau malah berlagak pilon? Ayo, lekas lepaskan Locu, kalau tidak, hm, hm &#8230;.&#8221;</p>
<p>Meski dia &#8220;hm, hm&#8221; segala, tapi apa yang dapat dia perbuat?</p>
<p>Maka berkatalah Kiau Hong, &#8220;Tampaknya engkau juga seorang tokoh pilihan dalam Bu-lim, tapi mengapa sembarangan ngoceh tak keruan? Bilakah aku datang kemari? Apalagi bersama Buyung-kongcu, haha, lucu, sungguh lucu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus kau, Kiau Hong! Sia-sia engkau jadi pemimpin Kay-pang, tapi di siang hari bolong kau berani coba membohongi orang!&#8221; teriak Lam-hay-gok-sin dengan marah. &#8220;Nah, para sobat, katakanlah, bukankah tadi Kiau Hong sudah pernah datang ke sini? Bukankah Ciangkun kami telah menyilakan dia duduk dan minum bersama?&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang benar,&#8221; sahut orang-orang Se He serentak. &#8220;Malahan waktu Buyung Hok mempertunjukkan kepandaian &#8216;Leng-po-wi-poh&#8217;, Kiau Hong sendiri memberi sorak pujian tiada habis-habis, katanya &#8216;Pak Kiau Hong dan Lam Buyung&#8217; apa segala, masakah hal itu dapat dipalsukan?&#8221;</p>
<p>Diam-diam Go-tianglo juga menjawil Kiau Hong dan membisikinya, &#8220;Pangcu, orang terang tidak perlu berbuat gelap, kejadian tadi betapa pun memang tak dapat disangkal.&#8221;</p>
<p>Sudah tentu Kiau Hong merasa serbasusah, dengan tersenyum pahit ia tanya, &#8220;Go-siko, apakah tadi engkau pun melihat aku datang kemari?&#8221;</p>
<p>Go-tianglo tidak menjawab, tapi ia lantas menyodorkan botol porselen kecil wadah obat penawar itu kepada Kiau Hong dan berkata, &#8220;Pangcu, botol ini kukembalikan padamu, mungkin kelak masih dapat dipergunakan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kembalikan padaku? Mengapa dikembalikan kepadaku?&#8221; Kiau Hong, menegas dengan terheran-heran.</p>
<p>&#8220;Obat penawar ini adalah pemberianmu tadi, masakah engkau sudah lupa?&#8221; ujar Go-tianglo.</p>
<p>&#8220;Masa bisa bagian? Jadi engkau juga mengatakan tadi telah melihat kudatang ke sini?&#8221; Kiau Hong menegas pula.</p>
<p>Biasanya Kiau Hong sangat cerdik, namun betapa pun tak tersangka olehnya bahwa ada orang telah memalsukan dirinya. Bahkan belum lama berselang pemalsu itu telah datang ke Thian-leng-si. Segera terpikir olehnya di balik kejadian itu pasti tersembunyi suatu muslihat mahakeji.</p>
<p>Ia lihat air muka orang-orang Kay-pang itu berbeda-beda, Ada yang merasa terima kasih karena telah diselamatkan olehnya, tapi merasa sangsi juga demi mendengar Kiau Hong tetap menyangkal. Ada yang mengira pikiran bekas pangcu itu lagi kusut karena mengalami macam-macam pukulan batin selama beberapa hari ini. Ada yang menduga pasti dia yang telah membunuh Be Tay-goan dengan menggunakan Buyung Hok, tapi khawatir muslihatnya ketahuan, maka sengaja menyangkal kenal dengan Buyung Hok. Bahkan ada yang percaya penuh dia adalah orang Cidan yang sengaja melawan orang Se He dan memusuhi orang Song pula.</p>
<p>Menghadapi keadaan yang membingungkan itu, akhirnya Kiau Hong menghela napas panjang, katanya, &#8220;Jika saudara-saudara ternyata baik-baik saja, biarlah sekarang juga Kiau Hong mohon diri.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia memberi salam sekali, segera ia cemplak kudanya dan dilarikan pergi dengan cepat.</p>
<p>&#8220;Kiau Hong, tinggalkan Pak-kau-pang dahulu!&#8221; seru Ci-tianglo mendadak.</p>
<p>Sekonyong-konyong Kiau Hong menghentikan kudanya serta menyahut, &#8220;Pak-kau-pang? Bukankah sudah kukembalikan di tengah hutan sana?</p>
<p>&#8220;Tapi sesudah kami tertawan, Pak-kau-pang telah jatuh di tangan anjing-anjing Se He itu, kami telah mencarinya dengan teliti dan tetap tidak ketemu, maka kami menduga pasti telah kau ambil lagi,&#8221; kata Ci-tianglo.</p>
<p>&#8220;Hahahaha!&#8221; mendadak Kiau Hong terbahak-bahak sambil menengadah, suaranya pedih memilukan. Lalu serunya, &#8220;Aku Kiau Hong sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi dengan Kay-pang, guna apa aku memiliki Pak-kau-pang itu? Ci-tianglo, agaknya engkau terlalu rendah menilai diriku.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia kempit kudanya dan dilarikan secepat terbang ke utara.</p>
<p>Sejak kecil Kiau Hong sangat disayang kedua orang tuanya. Kemudian ia mendapat didikan guru dari Siau-lim-si, akhirnya menjadi murid Ong-pangcu dari Kay-pang. Ia telah banyak mengalami gemblengan dalam pengembaraan, baik guru maupun sahabat, semuanya sangat baik dan jujur padanya. Tapi apa yang dialaminya selama dua hari ini benar-benar merupakan pukulan keras bagi kehidupannya. Pangcu yang terkenal mahajujur dan berbudi ini kini telah dituduh sebagai seorang pengkhianat, seorang penjual kawan yang rendah.</p>
<p>Ia membiarkan kudanya berjalan perlahan, hatinya sangat kusut, pikirnya, &#8220;Andaikan aku benar keturunan Cidan, padahal selama ini tidak sedikit jago Cidan yang telah kubunuh, banyak pula rencana penyerbuan negeri Cidan telah kugagalkan, bukankah aku benar-benar seorang yang tidak setia? Bila benar ayah-bundaku dibunuh oleh bangsa Han di Gan-bun-koan, sebaliknya aku malah mengangkat pembunuh orang tua sebagai guru dan selama 30 tahun ini mengaku orang asing sebagai ayah-bunda, bukankah hal ini benar-benar sangat tidak berbakti? Wahai, Kiau Hong, sedemikianlah engkau tidak setia pada negeri asal dan tidak berbakti pada orang tua, mengapa engkau masih ada muka untuk hidup di dunia ini? Jika Kiau Sam-hoay bukan ayahku yang sebenarnya, itu berarti aku juga bukan Kiau Hong yang sebenarnya? Lantas aku she apa? Siapakah namaku yang asli pemberian orang tua? Hehe, bukan saja aku tidak setia dan tidak berbakti, bahkan aku tidak punya she dan tidak bernama.&#8221;</p>
<p>Tapi segera terpikir pula olehnya. Namun bukan mustahil ada seorang yang mahajahat dan mahadurjana yang sengaja memfitnah diriku. Sebagai seorang laki-laki sejati, masakah aku manda dipermainkan orang sehingga nama runtuh dan badan merana? Kalau aku tinggal diam, tentu durjana itu akan berhasil intriknya yang keji itu. Ya, pendek kata, aku harus menyelidiki urusan ini hingga jelas.&#8221;</p>
<p>Setelah ambil keputusan itu, langkah pertama ia harus menuju ke Siau-sit-san di Holam untuk menanyakan asal usul diri sendiri kepada ayah Kiau Sam-hoay, dan langkah kedua ialah datang ke Siau-lim-si untuk minta petunjuk duduk perkara yang sebenarnya kepada gurunya, Hian-koh Taysu.</p>
<p>Kedua orang tua itu biasanya sangat sayang padanya, rasanya tidak nanti menutupi sesuatu rahasianya. Sebagai seorang kesatria yang bijaksana dan dapat berpikir panjang maka Kiau Hong tidak merasa kesal lagi. Yang masih dirasakannya agak canggung adalah dahulu dengan kedudukannya sebagai pangcu dari Kay-pang, ke mana pun ia pergi, di situ pula adalah rumahnya.</p>
<p>Tapi kini ia telah dipecat dari Kay-pang, ia tidak dapat mendatangi cabang-cabang Kay-pang lagi untuk bermalam atau minta makan, bahkan demi untuk menghindarkan kesulitan-kesulitan yang tak diinginkan, ia malah mencari jalan yang sepi saja supaya tidak kepergok oleh anggota Kay-pang bekas bawahannya.</p>
<p>Sesudah dua hari, sangu yang dia bekal sudah habis terpakai, terpaksa ia menjual kuda yang dirampasnya dari orang Se He itu sekadar sebagai biaya perjalanan.</p>
<p>Tidak lama kemudian, tibalah dia sampai di kaki gunung Siong-san, segera ia menuju ke Siau-sit-san yang merupakan lereng Gunung Siong itu. Pegunungan ini adalah tempat tinggal masa kecilnya, ia merasa suasana lereng gunung itu masih tetap menghijau seperti sediakala.</p>
<p>Sejak ia diangkat sebagai pangcu Kay-pang, karena Kay-pang adalah suatu organisasi terbesar di kalangan Kangouw, sebaliknya Siau-lim-pay adalah suatu aliran persilatan paling besar dalam Bu-lim, bila pangcu dari Kay-pang diketahui mengunjungi Siau-lim-si, pastilah hal ini akan bikin gempar kalangan Bu-lim.</p>
<p>Sebab itulah selamanya dia belum pernah pulang menjenguk kedua orang tua itu. Hanya setiap tahun ia suruh dua orang anak buahnya menyampaikan salam hormat dan membawa sekadar oleh-oleh kepada ayah bunda serta sang guru.</p>
<p>Kini seorang diri ia pulang ke tempat asalnya, teringat teka-teki yang meliputi sejarah hidup sendiri akan segera dapat diketahui dalam waktu tidak lama lagi, betapa pun biasanya ia adalah seorang yang tenang dan sabar, mau tak mau sekarang ia pun merasa bimbang.</p>
<p>Tempat tinggal yang ditinggalkannya itu terletak lereng gunung sebelah timur Siau-sit-san. Dengan cepat Kiau Hong melintasi lereng gunung itu, dari jauh terlihat olehnya di bawah pohon di tepi kebun sayur sana terletak sebuah caping dan sebuah teko. Pegangan teko itu sudah putus. Kiau Hong masih kenal itulah benda milik sang ayah, Kiau Sam-hoay.</p>
<p>Melihat benda-benda itu, seketika timbul rasa haru Kiau Hong, &#8220;Ayah benar-benar seorang yang rajin dan jujur, sudah belasan tahun teko bobrok itu dipakainya dan sampai sekarang masih tak dibuangnya.&#8221;</p>
<p>Melihat pohon kurma itu, Kiau Hong terkenang pada masa kanak-kanak, tatkala buah ang-co sudah masak, sering kali Kiau Sam-hoay mengajaknya memetik buah yang manis dan enak itu.</p>
<p>Sejak dia meninggalkan kampung halamannya tidak pernah lagi ia merasakan buah ang-co. Diam-diam ia berpikir, &#8220;Andaikan mereka bukan ayah-bunda kandungku, namun budi peliharaan mereka padaku sedari kecil betapa pun sukar kubalas. Maka bagaimanapun tentang asal-usul diriku, aku tetap akan memanggil mereka sebagai ayah dan ibu.&#8221;</p>
<p>Segera ia mendekati tiga petak rumah atap di depan sana, ia lihat di luar rumah terbentang sehelai tikar yang penuh jemuran sayuran kering. Seekor induk ayam dengan beberapa ekor anaknya sedang mencari makan di tanah rumput pinggir rumah sana.</p>
<p>Tanpa terasa tersenyumlah Kiau Hong. Pikirnya, &#8220;Malam ini ibu pasti akan sembelih ayam dan masak yang enak-enak untuk menjamu putranya yang sudah lama meninggalkan rumah ini.&#8221;</p>
<p>Segera ia berteriak-teriak memanggil, &#8220;Tia, Nio (ayah, ibu), anak sudah pulang!&#8221;</p>
<p>Namun meski dia mengulangi seruannya keadaan tetap sepi saja tanpa sesuatu jawaban. Ia pikir, &#8220;Ah, mengapa aku begini bodoh, kedua orang tua sekarang tentu telah lanjut usianya, telinga mereka tentu juga sudah tuli.&#8221;</p>
<p>Segera ia mendorong daun pintu dan melangkah masuk ke dalam. Ia lihat keadaan di dalam rumah masih tetap seperti dulu. Meja kursi sudah butut, pacul, luku, arit, dan sebagainya masih tetap berada di tempatnya. Hanya tiada tampak bayangan seorang pun.</p>
<p>Kembali Kiau Hong berseru memanggil dua kali, tapi tetap tiada jawaban apa-apa. Ia agak heran dan bergumam sendiri, &#8220;Ai, ke manakah perginya mereka?&#8221;</p>
<p>Waktu ia melongok ke dalam kamar, seketika ia terkejut. Ia lihat Kiau Sam-hoay suami-istri menggeletak semua di lantai tanpa berkutik.</p>
<p>Cepat Kiau Hong melompat ke dalam kamar. Lebih dulu ia bangunkan sang ibu, ia merasa napas orang tua itu sudah putus, tapi badannya masih rada hangat, suatu tanda belum terlalu lama meninggalnya. Waktu ia membangunkan sang ayah juga, keadaannya ternyata serupa.</p>
<p>Sungguh kaget dan sedih Kiau Hong tak terkatakan. Ia coba membawa jenazah sang ayah keluar rumah, ia coba periksa keadaan mayat itu di bawah sinar matahari. Segera dapat diketahuinya antero tulang iga orang tua itu telah patah semua, nyata tewasnya disebabkan semacam pukulan yang mahadahsyat. Waktu ia periksa pula mayat sang ibu, keadaannya sami mawon alias sama.</p>
<p>Kau Hong benar-tenar dihadapkan kepada suatu persoalan yang mahapelik. Ia tidak habis mengerti, &#8220;Ayah-ibu adalah kaum petani yang jujur tulus, mengapa ada orang Bu-lim yang begini tega turun tangan keji pada mereka? Tentu urusan ini berpangkal pada persoalan diriku.&#8221;</p>
<p>Ia coba mengelilingi ketiga petak rumah itu, ia periksa dengan teliti bagian depan, samping dan belakang rumah-rumah itu, ia ingin tahu macam apakah pembunuh itu. Namun pembunuh itu ternyata sangat cerdik, bahkan bekas tapak kaki tidak sedikit pun tertinggal.</p>
<p>Semakin dipikir semakin pedih hati Kiau Hong, air mata tak tertahan lagi bercucuran, sampai akhirnya ia tak dapat lagi menahan gelora perasaannya, ia menangis tergerung-gerung dengan keras.</p>
<p>Tapi baru saja ia mulai menangis, tiba-tiba terdengar suara orang berkata di belakang, &#8220;Ai, sayang, sayang kita terlambat datang!&#8221;</p>
<p>Cepat Kiau Hong berpaling, ia lihat empat hwesio setengah umur sudah berdiri di situ. Dari dandanan mereka segera Kiau Hong dapat menduga mereka adalah padri Siau-lim-si.</p>
<p>Walaupun ilmu silat Kiau Hong semula diperoleh dari Siau-lim-pay, tapi guru yang mengajar dia, yaitu Hian-koh Taysu, hanya datang di tengah malam setiap hari, tentang dia belajar silat bahkan kedua orang tua sendiri tidak tahu, maka dengan padri Siau-lim-si pun ia tidak kenal.</p>
<p>Oleh karena hati sedang sedih, biarpun di depannya berdiri empat orang tak dikenal, namun seketika Kiau Hong tak dapat menahan tangisnya.</p>
<p>Tiba-tiba salah satu padri di antaranya yang bertubuh tinggi menegurnya dengan suara kasar, &#8220;Kiau Hong, perbuatanmu ini benar-benar melebihi binatang. Kiau Sam-hoay suami-istri meski bukan ayah-bunda kandungmu, namun budi membesarkanmu selama belasan tahun juga tidak kecil, mengapa kau tega turun tangan keji untuk membunuhnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Cayhe juga baru saja sampai rumah dan mendapatkan ayah dan ibu sudah terbunuh, aku justru lagi ingin mencari tahu siapa pengganas itu untuk membalas sakit hati orang tua, mengapa Taysu mengucapkan kata-kata demikian?&#8221; sahut Kiau Hong dengan menangis.</p>
<p>&#8220;Huh, orang Cidan memang berhati buas seperti binatang, kau sendiri yang telah membinasakan ayah-ibu angkatmu, tapi kau masih pura-pura tidak tahu,&#8221; bentak padri itu dengan gusar. &#8220;Orang she Kiau, memang salah kami karena terlambat datang. Tapi bila kau kira Siau-sit-san boleh sembarangan dibuat main gila, terang kau salah hitung besar.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, tanpa ampun lagi ia terus menghantam dada Kiau Hong.</p>
<p>Selagi Kiau Hong hendak mengelak, tiba-tiba dari belakang juga ada kesiur angin perlahan, segera ia tahu ada orang membokong dari belakang. Tapi ia tidak ingin bertempur dengan padri Siau-lim-si itu tanpa mengetahui duduknya perkara. Maka sekali kakinya mengentak, bagaikan burung ia melayang pergi sejauh beberapa meter. Waktu ia menoleh, benar juga padri yang berdiri di belakangnya itu telah menendang tempat kosong.</p>
<p>Melihat cara begitu mudah Kiau Hong menghindarkan serangan mereka dari muka dan belakang, mau tak mau para padri itu terkejut dan heran pula.</p>
<p>&#8220;Biarpun ilmu silatmu tinggi juga jangan coba bertingkah di sini,&#8221; damprat si padri jangkung tadi. &#8220;Engkau sengaja membunuh kedua orang tua untuk menutupi rahasia asal-usul dirimu, cuma sayang tentang dirimu yang keturunan bangsa Cidan itu sudah tersiar luas di Kangouw, siapakah orang Bu-lim yang tidak tahu akan hal ini sekarang? Sekarang kau melakukan perbuatan durhaka sebesar ini, hal ini jelas semakin menambah dosamu yang tak dapat diampuni.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lebih dulu engkau membunuh Be Tay-goan, sekarang kau bunuh pula Kiau Sam-hoay berdua, hm, apakah perbuatanmu yang terkutuk ini dapat kau tutupi?&#8221; demikian padri yang lain ikut mendamprat.</p>
<p>Dalam keadaan berduka, meski mendengar caci maki padri itu sangat menyakitkan hati, namun tak dapat Kiau Hong mengumbar kemarahannya. Selama hidup sudah banyak persoalan besar dan kejadian hebat yang dialaminya, maka kini ia tetap dapat bersabar, ia memberi hormat, lalu katanya, &#8220;Numpang tanya siapakah gelaran suci para Taysu? Bukankah kalian adalah padri saleh Siau-lim-si?&#8221;</p>
<p>Watak salah satu hwesio itu cukup ramah tamah, maka dengan suara tenang ia menjawab, &#8220;Benar, kami adalah anak murid Siau-lim-si. Ai, suami-istri Kiau Sam-hoay selamanya sangat jujur dan baik, tapi toh mendapatkan ganjaran mengenaskan seperti ini. Kiau Hong, bangsa Cidan sungguh teramat keji.&#8221;</p>
<p>Melihat orang tidak sudi memberitahukan gelar mereka, Kiau Hong pikir percuma saja bertanya lagi. Tapi ia mendengar si padri jangkung menyatakan mereka datang terlambat untuk menolong, agaknya mereka telah diberi tahu seseorang, lalu buru-buru datang kemari, tapi siapakah pemberi kabar itu? Siapakah yang sebelumnya sudah mengetahui ayah-bundaku bakal tertimpa malang?</p>
<p>Maka katanya segera, &#8220;Keempat Taysu berhati welas asih dan sengaja buru-buru datang ke sini untuk menolong ayah-bundaku, cuma sayang agak terlambat sedikit &#8230;.&#8221;</p>
<p>Mendadak si padri jangkung yang berwatak keras itu menghantam dengan kepalan sebesar mangkuk sambil membentak, &#8220;Kami datang terlambat, makanya kau dapat berbuat durhaka dengan bebas, ya? Hm, tentu kau merasa senang dan sengaja mengejek kami?&#8221;</p>
<p>Kiau Hong tahu maksud baik kawanan hwesio itu, maka tidak ingin bertempur dengan mereka. Tapi untuk mengetahui duduknya perkara, kalau mereka tidak diberi tahu rasa, tentu urusan ini takkan selesai untuk selamanya. Maka katanya segera, &#8220;Cayhe sangat berterima kasih atas maksud baik keempat Taysu, tapi karena terpaksa, harap suka dimaafkan!&#8221;</p>
<p>Sembari berkata, ia bergerak secepat kilat, pundak padri ketiga segera ditepuknya sekali.</p>
<p>&#8220;Apakah kau ajak bergebrak?&#8221; bentak padri itu. Namun tahu-tahu pundaknya kena ditabok Kiau Hong pula, tubuhnya menjadi lemas dan duduk mendeprok di tanah.</p>
<p>Kiau Hong pernah meyakinkan ilmu silat Siau-lim-pay, meski tidak saling kenal dengan keempat padri itu, tapi dasar ilmu silat mereka cukup dipahaminya, maka beruntun Kiau Hong menepuk empat kali, kontan keempat padri itu pun dirobohkan.</p>
<p>&#8220;Maafkan,&#8221; kata Kiau Hong kemudian, &#8220;numpang tanya, Taysu tadi bilang terlambat datang ke sini, dari manakah kalian mengetahui ayah-bundaku akan tertimpa bahaya? Siapakah gerangan orang yang mengirim kabar kepada para Taysu itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hehe, apa maksudmu si pengirim kabar itu pun kan kau bunuh bila kau tahu nama dia ya?&#8221; sahut padri jangkung tadi dengan gusar. &#8220;Anak murid Siau-lim-pay bukanlah manusia pengecut hingga dapat dipaksa mengaku oleh anjing buduk Cidan seperti dirimu ini. Biarpun kau siksa kami dengan cara paling keji juga jangan harap memperoleh sesuatu pengakuan dari mulut kami.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Kiau Hong gegetun, &#8220;Sungguh celaka, kesalahpahaman ini menjadi semakin mendalam sekarang, kalau kutanya lagi, pasti mereka akan anggap aku hendak memaksa pengakuan mereka.&#8221;</p>
<p>Maka ia tidak tanya lebih jauh, sebaliknya ia pijat beberapa kali punggung keempat padri itu untuk membuka hiat-to mereka, katanya, &#8220;Jika aku hendak membunuh kalian untuk menutupi perbuatanku, saat ini juga jiwa kalian tentu sudah melayang. Tapi aku tidak nanti berbuat demikian, adapun duduk perkara yang sebenarnya kelak pasti akan kubikin terang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hendak membunuh orang untuk menutupi perbuatanmu yang keji? Hm, belum tentu begitu mudah!&#8221; demikian tiba-tiba suara seorang menjengek dari samping lereng bukit.</p>
<p>Waktu Kiau Hong mendongak, ia lihat di lereng sana berdiri belasan padri Siau-lim-si yang bersenjata lengkap, ada yang membawa tongkat padri, ada yang membawa golok suci, tiada seorang pun yang bertangan kosong.</p>
<p>Selintas pandang saja Kiau Hong lihat padri-padri itu dipimpin oleh dua hwesio berumur setengah abad, masing-masing padri itu membawa senjata hong-pian-jan (sekop yang berbentuk bulan sabit), ujung senjata itu hijau kemilau, sinar mata kedua padri itu pun berkilat-kilat, sekali pandang segera orang akan tahu mereka pasti mempunyai lwekang yang sangat tinggi.</p>
<p>Meski Kiau Hong tidak jeri menghadapi musuh macam pun, tapi ia belasan tahu padri ini pasti jauh lebih lihai daripada keempat hwesio yang duluan. Asal sekali sudah bergebrak, sebelum membunuh beberapa di antaranya pasti susah untuk melepaskan diri.</p>
<p>Dengan cepat Kiau Hong dapat menghadapi segala kesulitan dan mengatasi segala kesangsian. Segera ia memberi hormat sambil berkata, &#8220;Kiau Hong telah berlaku kurang ajar, harap para Taysu suka memaafkan!&#8221;</p>
<p>Mendadak tubuhnya melayang mundur ke belakang, punggung membentur daun pintu dan menghilang ke dalam rumah.</p>
<p>Perubahan itu sangat cepat terjadinya, padri Siau-lim-pay sama berteriak kaget dan segera ada 5-6 orang menerjang ke dalam rumah itu. Tapi baru sampai di ambang pintu, tiba-tiba mereka merasa dipapak oleh serangkum angin mahadahsyat. Lekas mereka angkat sebelah tangan untuk bertahan sekuatnya.</p>
<p>Sambaran angin itu sangat hebat hingga debu berhamburan, para padri itu sampai terentak mundur beberapa tindak dan dada pun terasa sesak, dengan muka pucat mereka saling pandang dengan terkejut. Mereka tahu bila Kiau Hong serentak menyerang pula untuk kedua kalinya, pasti mereka tidak mampu bertahan dan bukan mustahil akan binasa, tapi hal itu tidak dilakukan Kiau Hong. Padahal mereka menyangka bekas ketua Kay-pang itu adalah orang jahat.</p>
<p>Selang sejenak, tiba-tiba kedua hwesio yang memimpin itu angkat senjata mereka dan menyerbu ke dalam rumah dengan gerakan &#8220;Siang-liong-jip-tong&#8221; atau dua ekor naga menyusup ke gua. Mereka putar tongkat sedemikian kencangnya hingga terbentuk selapis jaringan sinar untuk melindungi mereka.</p>
<p>Namun sesudah di dalam rumah, mereka lihat keadaan sunyi senyap tiada suatu bayangan pun. Yang lebih aneh adalah jenazah suami-istri Kiau Sam-hoay juga sudah lenyap.</p>
<p>Kedua padri bersenjata tongkat itu adalah hwesio ruang &#8220;Kay-lut-ih&#8221; Siau-lim-si, yaitu bagian pengawasan dan perundang-undangan, tugas mereka adalah mengawasi kelakuan anak murid Siau-lim-si dan ketaatan mereka. Ilmu silat mereka dengan sendirinya sangat tinggi, bahkan pengalaman mereka juga sangat luas.</p>
<p>Keruan mereka ternganga heran melihat dalam sekejap itu Kiau Hong sudah menghilang bahkan menggondol pula mayat suami-istri Kiau Sam-hoay. Tapi mereka tidak percaya Kiau Hong mampu lari jauh, tentu masih bersembunyi di sekitar situ. Maka cepat mereka mencari di sekitar rumah, namun tiada sesuatu yang ditemukan.</p>
<p>Segera kedua padri Kay-lut-ih itu menguber ke bawah gunung, mereka yakin Kiau Hong pasti melarikan diri ke jurusan sana. Tapi meski belasan li mereka mengejar tetap tidak tampak suatu bayangan pun.</p>
<p>Sudah tentu mereka tidak menyangka bukannya Kiau Hong melarikan diri ke bawah gunung, sebaliknya ia malah berlari ke arah Siau-sit-san. Ia mencari suatu tempat yang terjal dan sukar didatangi orang, di situ ia kubur dulu ayah-bundanya, ia memberi penghormatan terakhir kepada tempat semayam abadi kedua orang tua itu sambil berdoa, &#8220;Tia, Nio, siapakah gerangan pembunuh kalian berdua, anak berjanji pasti akan menangkapnya untuk kemudian dikorek hatinya sebagai sesajen kalian.&#8221;</p>
<p>Ia menyesal pulangnya terlambat sebentar saja hingga tidak dapat bertemu lagi dengan ayah-bundanya yang sangat dicintainya itu. Coba kalau dapat berjumpa, tentu kedua orang tua akan betapa senangnya melihat putranya yang kini sudah demikian gagah perkasanya. Alangkah bahagianya bila antara ayah-bunda dan sang putra dapat berkumpul untuk sehari-dua untuk mengenyam sekadar kesenangan orang hidup.</p>
<p>Teringat akan semua itu, tak tertahan lagi air mata Kiau Hong bercucuran, ia menangis terguguk dengan sedih. Sejak kecil wataknya memang sangat keras, jarang sekali ia menangis, sesudah dewasa, lebih-lebih ia tidak pernah meneteskan sebutir air mata pun. Tapi hari ini, saking duka dan pilunya ia tak dapat menguasai perasaannya hingga mengucurkan air mata.</p>
<p>Mendadak terpikir pula olehnya, &#8220;Wah, celaka, guruku yang berbudi Hian-koh Taysu jangan-jangan akan mengalami nasib malang juga! Pembunuh itu telah membinasakan ayah-bundaku, waktunya ternyata begini cepat, yaitu setengah jam sebelum aku pulang. Nyata hal ini memang sudah direncanakan lebih dulu, dan sesudah dia turun tangan, segera ia pergi ke Siau-lim-si untuk memberitahukan kepada para padri di sana. Ya, tentu para padri itu tertipu hingga datang kemari hendak menolong ayah-bunda, tapi kepergok dengan aku. Di dunia ini yang mengetahui asal-usul diriku masih ada pula guruku Hian-koh Taysu, maka aku harus berjaga-jaga pengganas itu akan turun tangan keji pula terhadap guruku itu dan aku lagi yang mesti menanggung dosa perbuatan musuh itu.&#8221;</p>
<p>Demi ingat bisa jadi Hian-koh Taysu juga akan tertimpa malang, perasaan Kiau Hong menjadi seperti terbakar, tanpa pikir lagi ia berlari ke arah Siau-lim-si.</p>
<p>Ia tahu di dalam Siau-lim-si itu penuh orang-orang kosen, beberapa padri tua di Tat-mo-ih lebih-lebih bukan main ilmu silatnya, bila dirinya kepergok hingga dikerubut, tentu sukar sekali untuk meloloskan diri. Sebab itulah meski dia berlari secepatnya, namun yang dipilih selalu jalan kecil yang sepi dan lebih jauh.</p>
<p>Sesudah lebih satu jam, akhirnya tibalah dia di belakang Siau-lim-si. Tatkala itu hari sudah remang-remang, ia merasa girang dan khawatir. Girangnya karena hari sudah gelap dan menguntungkan baginya untuk bersembunyi. Khawatirnya kalau-kalau musuh juga menggunakan kesempatan malam gelap itu untuk menyergap, tentu susah mengetahui jejak musuh.</p>
<p>Selama beberapa tahun akhir ini Kiau Hong malang melintang di dunia Kangouw dan jarang ketemu tandingan, tapi sekali ini bukan saja ilmu silat musuh sangat tinggi, bahkan tipu muslihatnya yang licin itu pun tidak pernah dialaminya.</p>
<p>Meski sekarang ia harus menyerempet bahaya masuk ke Siau-lim-si yang penuh jago kosen itu, tapi mengingat gurunya, Hian-koh Taysu bukan mustahil juga akan mengalami sergapan musuh di luar dugaan, malahan kalau dirinya kepergok menyelundup ke dalam kuil itu tentu susah baginya untuk cuci tangan. Padahal kalau dia mau cari selamat sendiri, ia dapat meninggalkan Siau-lim-si sejauh mungkin. Tapi karena dia khawatirkan keselamatan Hian-koh Taysu, pula ingin mencari kesempatan untuk menangkap pembunuh yang sebenarnya guna membalas sakit hati ayah-bundanya, maka akibat apa yang bakal dihadapinya nanti sudah tak terpikir olehnya.</p>
<p>Meski dia pernah tinggal belasan tahun di pegunungan Siau-sit-san, tapi tidak pernah ia masuk ke Siau-lim-si, maka terhadap keadaan biara yang besar dan banyak ruangan itu, terutama tempat tinggal Hian-koh Taysu, sama sekali tak diketahui olehnya. Ia pikir, &#8220;Semoga Insu (guru berbudi) baik-baik saja tak kurang satu pun apa, mungkin beliau akan dapat memberi penjelasan asal-usul diriku serta mengetahui siapa pembunuh yang sebenarnya.&#8221;</p>
<p>Namun biara Siau-lim-si yang ruangan dan gedungnya tersebar di lereng gunung itu sangat luas, pula Hian-koh Taysu tidak memegang tugas tertentu di biara itu, ia pun bukan padri angkatan tua Tat-mo-ih, sedangkan padri angkatan yang pakai gelar &#8220;Hian&#8221; sedikitnya ada 20 orang lebih, dandanannya serupa pula, lantas ke mana ia harus mencarinya di tengah malam gelap?</p>
<p>Ia pikir, &#8220;Jalan satu-satunya sekarang aku harus menangkap seorang padri dan paksa dia membawaku pergi menemui Suhu. Sesudah bertemu akan kuminta dia memaafkan tindakanku itu. Tapi kalau menuruti watak padri Siau-lim-si yang mengutamakan setia kawan, bila aku disangkanya akan berbuat tidak baik terhadap Hian-koh Taysu biarpun mati tak nanti ia mau mengatakan tempatnya. Ai, jika begitu, lebih baik aku mencari seorang tukang api atau tukang sapu di bagian dapur saja. Namun orang-orang demikian juga belum tentu tahu tempat tinggal guruku.&#8221;</p>
<p>Begitulah ia menjadi serbasusah tapi ia terus menggerayangi ruangan biara itu, setiap kamar dan setiap ruangan diintainya dengan harapan dapat memperoleh sedikit keterangan.</p>
<p>Berkat gerakannya yang gesit, meski tubuhnya tinggi besar, namun ia dapat melompat dan melejit dengan lincah hingga tidak mengeluarkan sesuatu suara dan diketahui orang.</p>
<p>Ia meneruskan penyelidikannya itu, ketika sampai di suatu ruangan samping, tiba-tiba didengarnya di dalam kamar ada suara orang sedang bicara, &#8220;Hongtiang ada urusan penting ingin berunding dengan Susiok, maka Susiok diharap datang ke &#8216;Cin-to-ih&#8217;.&#8221;</p>
<p>Lalu suara seorang tua menjawab, &#8220;Baiklah, segera kudatang ke sana!&#8221;</p>
<p>&#8220;Hongtiang sedang mengumpulkan kerabat untuk berunding urusan penting, tentu guruku juga akan hadir di sana, biarlah kukuntit di belakang orang ini ke sana, tentu akan dapat kujumpai Suhu,&#8221; demikian pikir Kiau Hong.</p>
<p>Maka terdengarlah suara berkeriutnya pintu didorong, keluarlah dua padri dari kamar itu. Padri yang tua menuju ke arah barat, sedangkan yang muda buru-buru menuju ke jurusan lain, mungkin hendak mengundang padri lain lagi.</p>
<p>Kiau Hong menduga padri tua yang diundang hongtiang itu tentu mempunyai kedudukan tinggi dan dengan sendirinya ilmu silatnya sangat tinggi juga. Maka ia tidak berani menguntit terlalu dekat melainkan mengintilnya dari jauh. Ia lihat padri itu menuju ke barat sana hingga sampai di suatu rumah ujung.</p>
<p>Kiau Hong menunggu padri itu masuk ke dalam rumah, lalu ia mengitar ke belakang rumah itu, ia dengarkan dulu keadaan di sekitar situ, setelah yakin tiada orang lain lagi barulah ia mendekam di bawah jendela untuk mendengarkan.</p>
<p>Mengingat kelakuannya sendiri itu, diam-diam Kiau Hong berduka dan menyesal pula, pikirnya, &#8220;Aku Kiau Hong selamanya menghadapi segala urusan dengan secara terang-terangan, tapi hari ini terpaksa aku harus main sembunyi-sembunyi. Bila perbuatanku ini dipergoki, lenyaplah nama baikku selama ini dan tiada muka untuk berkecimpung di kalangan Kangouw lagi.&#8221;</p>
<p>Namun bila terkenang kepada jasa sang guru waktu mengajar ilmu silat padanya, biarpun hujan badai sekalipun juga tidak pernah absen barang semalam, budi sebesar itu biar hancur lebur tubuhnya juga perlu dibalas, apalagi cuma menderita malu dan ternoda namanya saja?</p>
<p>Dalam pada itu ia dengar ada suara tindakan orang di depan rumah sana, berturut-turut ada empat orang masuk ke situ pula. Tidak lama kemudian, kembali datang lagi dua orang. Dengan demikian, dari bayangan orang yang tertampak dari luar jendela, sudah ada belasan orang yang berkumpul di dalam rumah.</p>
<p>Diam-diam Kiau Hong berpikir pula, &#8220;Jika urusan yang mereka rundingkan adalah rahasia Siau-lim-pay, dan kini aku mengintipnya, meski tiada maksud jahat, jelas hal ini pun tidak pantas. Maka lebih baik aku sembunyi di tempat agak jauh dan jangan mendengarkan rahasia yang hendak mereka rundingkan ini. Jika Suhu memang berada di dalam kamar, dengan berkumpulnya tokoh-tokoh Siau-lim-pay sebanyak ini di sini, betapa pun lihainya musuh juga tidak mampu mengganggu seujung rambutnya. Dan nanti kalau perundingan mereka sudah selesai, setelah padri-padri itu bubar, barulah aku mencari akal untuk menemui Suhu dan melaporkan segala apa yang terjadi.&#8221;</p>
<p>Selagi ia hendak menyingkir, tiba-tiba didengarnya suara belasan hwesio di dalam kamar itu serentak membaca kitab. Kiau Hong tidak paham kitab apa yang sedang dibaca mereka itu, tapi suaranya sangat khidmat dan sendu, bahkan suara beberapa orang di antaranya mengandung rasa duka.</p>
<p>Lama sekali padri-padri itu berdoa, lama-kelamaan Kiau Hong merasa ada sesuatu yang tidak beres. Pikirnya, &#8220;Apakah mereka sedang sembahyang? Atau sedang mengadakan sesuatu khotbah? Mungkin Suhu tidak berada di sini.&#8221;</p>
<p>Waktu ia dengarkan dengan cermat, benar juga tiada terdengar suara Hian-koh Taysu yang sangat dikenalnya itu.</p>
<p>Seketika ia menjadi bingung apakah mesti menunggu lagi di situ. Tiba-tiba terdengar suara pembacaan kitab di dalam kamar telah berhenti, lalu suara seorang yang kereng sedang bicara, &#8220;Hian-koh Sute, apa yang hendak kau katakan pula?&#8221;</p>
<p>Mendengar nama gurunya disebut, sungguh girang Kiau Hong tidak kepalang, ternyata orang tua itu pun berada di situ dan dalam keadaan baik-naik tanpa kurang suatu pun apa.</p>
<p>Lalu didengarnya suara gurunya yang dikenalnya sedang menjawab, &#8220;Waktu Siaute diberi nama sebagai Hian-koh oleh Siansu (mendiang guru), maksudnya agar Siaute dapat membebaskan diri dari sengsara dan penderitaan. Akan tetapi untuk ini masih diharapkan bantuan para Suheng dan Sute.&#8221;</p>
<p>Mendengar suara sang Suhu sangat tenang dan penuh tenaga dalam, nyata selama belasan tahun ini lwekang sang guru semakin hebat, diam-diam Kiau Hong bergirang bagi orang tua itu. Cuma apa yang diucapkan itu adalah kata-kata dalam agama Buddha yang dalam artinya, seketika Kiau Hong tidak paham maksudnya.</p>
<p>Lalu terdengar suara kereng tadi berkata, &#8220;Beberapa bulan yang lalu Hian-pi Sute terbinasa di tangan orang jahat, kita sudah menyelidiki si pembunuh dengan sepenuh tenaga, hal ini agak melampaui batas pantangan Buddha yang menghendaki jangan suka marah dan jangan suka murka. Namun membasmi kaum jahat untuk menolong sesamanya adalah menjadi asas utama kaum persilatan kita &#8230;.&#8221;</p>
<p>Mendengar sampai di sini, Kiau Hong menduga pembicara yang bersuara kereng ini tentulah ketua Siau-lim-si, Hian-cu Taysu.</p>
<p>Ia dengar suara itu sedang melanjutkan, &#8220;Setiap gembong iblis yang dapat kita basmi akan besar artinya bagi keselamatan orang banyak. Maka, sudilah Sute memberi tahu, apakah pengganas itu Koh-soh Buyung atau bukan?&#8221;</p>
<p>Kiau Hong terkesiap, &#8220;Kembali menyangkut nama Koh-soh Buyung-si lagi. Sudah lama kudengar bahwa Hian-pi Taysu dari Siau-lim-si telah tewas disergap orang, apakah barangkali mereka pun mencurigai Buyung-kongcu yang berbuat?&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu terdengar Hian-koh Taysu sedang menjawab, &#8220;Hongtiang-suheng, Siaute tidak ingin menambah dosa, hingga membikin Suheng, dan para Sute banyak membuang tenaga bagiku. Bila orang itu dapat meninggalkan golok jagalnya, dengan sendirinya masih belum terlambat untuk kembali ke jalan yang benar. Tapi kalau tetap sesat tak mau sadar, ai, itu pun akan ditanggung sendiri sengsaranya. Tentang bagaimana wujud orang itu, biarlah tak perlu dikatakan saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kesadaran Sute memang lebih tinggi, Suhengmu ini terlalu bodoh, jauh tak dapat mengimbangi Sute,&#8221; ujar Hian-cu Taysu, ketua Siau-lim-si.</p>
<p>&#8220;Kini Siaute ingin duduk tenang sebentar untuk mengenangkan dosa,&#8221; ujar Hian-koh.</p>
<p>&#8220;Baiklah, harap Sute menjaga diri dengan baik,&#8221; sahut Hian-cu. Lalu terdengar pintu dibuka, seorang padri tinggi kurus dan berjubah merah berjalan keluar dengan merangkap tangan sambil berdoa perlahan. Menyusul keluar pula 17 padri yang lain, semuanya juga berkasa merah dan sama menunduk sambil berdoa dengan khidmat.</p>
<p>Sesudah padri-padri itu pergi jauh dan di dalam kamar sunyi senyap, Kiau Hong masih ragu-ragu untuk masuk ke situ mengingat suasana yang khidmat tadi. Tapi tiba-tiba terdengar Hian-koh berkata, &#8220;Jauh-jauh tamu agung berkunjung kemari, mengapa tidak sudi masuk saja?&#8221;</p>
<p>Sungguh kejut Kiau Hong tidak kepalang. Padahal ia sudah sangat hati-hati, sekalipun bernapas juga tidak berani keras, orang berada satu meter di sebelahnya juga belum tentu mengetahui. Tapi kini gurunya seakan-akan orang memiliki telinga sakti, biarpun teraling-aling dinding masih dapat mengetahui kedatangannya. Maka dengan sangat hormat segera Kiau Hong mendekati pintu sambil berkata, &#8220;Baik-baikkah Suhu, Tecu Kiau Hong menyampaikan sembah hormat kepada Suhu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah, kiranya Hong-ji?&#8221; seru Hian-koh. &#8220;Saat ini aku justru lagi terkenang padamu dan berharap dapat berjumpa denganmu, marilah lekas masuk.&#8221;</p>
<p>Dari suara sang guru yang penuh rasa girang itu, Kiau Hong menjadi terharu, cepat ia lari masuk dan berlutut memberi hormat sambil berkata, &#8220;Tecu tidak dapat selalu mendampingi Suhu sehingga membikin Suhu senantiasa terkenang. Kini melihat Suhu dalam keadaan sehat walafiat, sungguh murid merasa sangat girang.&#8221;</p>
<p>Habis berkata ia lantas mendongak untuk memandang Hian-koh.</p>
<p>Sebenarnya wajah Hian-koh tersenyum simpul. Tapi di bawah sinar pelita demi dilihatnya muka Kiau Hong itu, mendadak air mukanya berubah hebat, ia berbangkit sambil berkata dengan suara gemetar, &#8220;Jadi kau &#8230; kau inilah Kiau Hong, murid &#8230; murid yang kudidik sejak kecil itu?&#8221;</p>
<p>Melihat perubahan air muka gurunya yang terkejut, menyesal tercampur rasa kasih sayang itu, seketika Kiau Hong juga melongo heran, sahutnya bingung, &#8220;Ya, Suhu, anak inilah Kiau Hong adanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus, bagus, bagus!&#8221; berturut Hian-koh Taysu mengucapkan tiga kali &#8220;bagus&#8221;, lalu tidak bicara lagi.</p>
<p>Kiau Hong tidak berani tanya pula, dengan tenang ia menunggu apa yang hendak dikatakan sang guru. Siapa duga, tunggu punya tunggu, tetap Hian-koh Taysu tidak buka suara. Waktu Kiau Hong memandang wajah padri itu, ia lihat sikapnya masih tetap seperti tadi, tapi air mukanya tiada sesuatu perasaan.</p>
<p>Kiau Hong terkejut, cepat ia meraba tangan sang guru, ia merasa tangan yang kurus itu sudah dingin, waktu ia memeriksa pernapasan hidungnya, ternyata napasnya sudah berhenti sejak tadi.</p>
<p>Kejadian ini benar-benar membikin Kiau Hong terperanjat tidak kepalang, pikirnya dengan bingung, &#8220;Masakah demi lihat diriku lantas Suhu mati ketakutan? Tidak, tidak mungkin! Apa yang menakutkan beliau? Ah, sebelum melihat diriku besar kemungkinan lebih dulu ia sudah terluka parah.&#8221;</p>
<p>Akan tetapi ia tidak berani memeriksa tubuh orang tua itu, setelah tenangkan diri, ia ambil keputusan, &#8220;Jika aku tinggal pergi begini saja, apakah ini perbuatan seorang laki-laki sejati? Urusan hari ini biarpun betapa bahayanya juga harus kuselidiki hingga jelas duduknya perkara.&#8221;</p>
<p>Segera ia keluar dari kamar itu, dengan suara lantang ia berseru, &#8220;Hongtiang Taysu, Hian-koh Suhu telah wafat! Hian-koh Suhu wafat!&#8221;</p>
<p>Suara Kiau Hong sangat keras, tenaga dalamnya sangat kuat, maka suaranya berkumandang hingga jauh sampai lembah pegunungan mendengung-dengung seakan-akan terguncang. Dan sudah tentu antero penghuni Siau-lim-si mendengar seruannya yang keras tapi mengandung rasa nestapa itu.</p>
<p>Rombongan Hian-cu tadi malahan belum sampai di kamarnya masing-masing, maka demi mendengar suara Kiau Hong itu, serentak mereka berlari kembali ke Cin-to-ih tadi. Maka tertampaklah oleh mereka seorang laki-laki tinggi besar sedang berdiri di depan pintu kamar sambil mengusap air mata dengan lengan baju. Keruan padri-padri Siau-lim-si itu sangat heran.</p>
<p>&#8220;Siapakah Sicu?&#8221; tanya Hian-cu sambil memberi hormat. Karena khawatirkan keselamatan Hian-koh, maka tanpa menunggu jawaban Kiau Hong terus saja ia mendahului masuk ke dalam kamar. Ia lihat Hian-koh berdiri kaku di situ tanpa roboh. Keruan ia tambah terkejut.</p>
<p>Sementara itu padri yang lain juga sudah ikut masuk, mereka menunduk dan memanjatkan doa. Kiau Hong paling akhir masuk ke dalam, ia berlutut dan diam-diam berdoa, &#8220;Suhu, Tecu terlambat membawa berita ke sini hingga engkau akhirnya dicelakai juga oleh musuh. Sakit hati Tecu kepada musuh itu setinggi langit dan sedalam lautan, betapa pun Tecu berjanji akan menuntut balas.&#8221;</p>
<p>Selesai membaca kitab, kemudian Hian-cu mengamat-amati Kiau Hong, lalu tanyanya, &#8220;Siapakah Sicu? Apakah seruan tadi dilakukan olehmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tecu Kiau Hong adanya, waktu Tecu mengetahui Suhu wafat, saking dukanya hingga terpaksa membikin kaget Hongtiang.&#8221;</p>
<p>Hian-cu terkejut mendengar nama Kiau Hong, ia menegas, &#8220;Jadi Sicu adalah &#8230; adalah bekas Pangcu Kay-pang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar,&#8221; sahut Kiau Hong. Diam-diam ia kagum betapa cepat berita yang diterima Siau-lim-si itu. Dan kalau sudah tahu dirinya adalah &#8220;bekas pangcu&#8221;, tentu orang tahu juga sebab musabab dia dipecat Kay-pang.</p>
<p>&#8220;Mengapa tengah malam buta Sicu menggerayangi biara kami? Dan mengapa dapat menyaksikan wafatnya Hian-koh Sute?&#8221; tanya Hian-cu pula.</p>
<p>Seketika Kiau Hong tidak tahu cara bagaimana harus menceritakan perasaannya waktu itu, terpaksa ia jawab, &#8220;Hian-koh Taysu adalah guru pengajar Tecu, waktu Tecu mengetahui &#8230;.&#8221;</p>
<p>Belum lanjut ucapannya, segera Hian-cu memotong, &#8220;Apa katamu? Hian-koh Sute adalah gurumu? Jadi Sicu ini anak murid Siau-lim-si? Ini sungguh &#8230; sungguh aneh.&#8221;</p>
<p>Perlu diketahui bahwasanya nama Kiau Hong tersohor di seluruh jagat dan terkenal sebagai murid ahli waris Ong-pangcu, ilmu silatnya juga tiada sangkut paut dengan Siau-lim-pay. Tapi kini ia mengaku sendiri sebagai anak murid Siau-lim-pay, sudah tentu Hian-cu Taysu tidak percaya dan hampir-hampir menyemprotnya karena dianggap sembarangan mengoceh.</p>
<p>Tapi Kiau Hong lantas menjawab, &#8220;Cerita ini cukup panjang, entah luka apakah yang diderita Insu dan siapa gerangan pengganasnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hian-koh Sute disergap orang, dadanya terkena pukulan dahsyat musuh, tulang iganya patah semua, isi perutnya juga hancur,&#8221; demikian tutur Hian-cu Hongtiang. &#8220;Tapi berkat lwekangnya yang tinggi ia dapat bertahan sampai tadi. Kami telah tanya dia siapakah gerangan musuh itu, namun ia menyatakan tidak kenal dan juga tidak mau menjelaskan bagaimana macam orang itu.&#8221;</p>
<p>Baru sekarang Kiau Hong paham perkataan Hian-koh sebelum meninggal tadi. Katanya dengan mengembeng air mata, &#8220;Para Taysu mengutamakan welas asih, maka tidak ingin mengikat permusuhan lebih dalam. Sebaliknya Tecu adalah orang biasa, harus berusaha menangkap pengganas itu untuk dicencang guna membalas sakit hati Suhu. Padahal biara kalian terjaga sangat ketat, entah cara bagaimana pembunuh itu mampu menyelundup ke sini?&#8221;</p>
<p>Selagi Hian-cu termenung belum menjawab, tiba-tiba seorang hwesio tua pendek di sebelah berkata dengan dingin, &#8220;Hm, Sicu sendiri mampu menyusup ke sini tanpa rintangan apa-apa, dengan sendirinya pembunuh itu pun mampu pergi-datang dengan bebas seakan-akan mendatangi tempat yang tiada manusianya.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong membungkuk minta maaf, sahutnya, &#8220;Tecu terpaksa oleh keadaan hingga tidak sempat permisi dulu di luar, atas kelancanganku ini mohon para Taysu suka memberi maaf. Hubungan Tecu dengan Siau-lim-pay sangat erat, sekali-kali tidak berani memandang rendah dan menghina.&#8221;</p>
<p>Dengan kata-katanya yang terakhir itu ia hendak memberi penjelasan bahwasanya bila Siau-lim-pay dibikin malu, hal itu pun berarti dia ikut malu.</p>
<p>Pada saat itulah, tiba-tiba seorang hwesio cilik membawakan semangkuk obat yang masih mengepul dan masuk ke situ dengan tergesa-gesa, ia berkata kepada jenazah Hian-koh yang disangkanya hidup itu, &#8220;Suhu, silakan minum obat.&#8221;</p>
<p>Kiranya hwesio cilik ini adalah pelayan Hian-koh yang tadi disuruh pergi menyeduh obat luka Siau-lim-si, yaitu &#8220;Kiu-coan-kim-kong-theng&#8221;, maka tentang kematian Hian-koh belum lagi diketahuinya.</p>
<p>Saking pilunya Kiau Hong lantas berkata padanya dengan suara terguguk, &#8220;Suhu &#8230; Suhu sudah &#8230;.&#8221;</p>
<p>Hwesio cilik itu berpaling ke arahnya dan mendadak menjerit kaget, &#8220;Hai, kiranya kau &#8230; kau kembali lagi ke sini!&#8221;</p>
<p>Maka terdengarlah suara jatuhnya mangkuk hingga pecah berantakan, air obat muncrat ke mana-mana, hwesio cilik itu pun melompat mundur dengan ketakutan sambil berteriak, &#8220;Dia &#8230; dia inilah yang menyerang Suhu!&#8221;</p>
<p>Karena teriakan hwesio cilik itu, semua orang terkejut. Lebih-lebih Kiau Hong menjadi gugup dibuatnya. &#8220;Apa katamu?&#8221; serunya keras-keras.</p>
<p>Usia padri kecil itu kira-kira baru 12-13 tahun, ia sangat ketakutan melihat Kiau Hong, ia sembunyi di belakang Hian-cu sambil menarik-narik lengan ketua Siau-lim-si itu dan meratap, &#8220;Hongtiang! Hongtiang!&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan takut, Ceng-siong!&#8221; sahut Hian-cu. &#8220;Katakanlah yang terang, kau bilang dia yang menyerang suhumu tadi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya &#8230; ya!&#8221; sahut hwesio cilik yang bernama Ceng-siong itu. &#8220;Dengan telapak tangannya ia pukul dada Suhu, Tecu sendiri menyaksikan di luar jendela. Suhu, Suhu, ayolah balas hantam dia, mengapa engkau diam saja?&#8221;</p>
<p>Ternyata sampai saat ini ia belum lagi tahu Hian-koh sudah meninggal.</p>
<p>&#8220;Ceng-siong, cobalah kau lihat lagi yang jelas, jangan-jangan kau salah mengenali orang?&#8221; ujar Hian-cu Hongtiang.</p>
<p>&#8220;Tidak, tidak salah lagi!&#8221; seru Ceng-siong. &#8220;Telah kulihat dengan jelas, beginilah pakaiannya, begini pula mukanya yang lebar dan alisnya yang tebal itu, mulutnya lebar dan telinganya besar, memang tidak salah lagi dia ini. Suhu, ayolah balas serang dia, lekas!&#8221;</p>
<p>Saat itu Kiau Hong merasa merinding bulu romanya, tiba-tiba ia sadar, &#8220;Ya, tidak salah lagi. Pembunuh itu telah menyaru sebagai diriku untuk memfitnah aku. Tadi waktu Suhu mendengar aku datang, beliau sangat girang. Tapi begitu melihat wajahku, melihat aku serupa penjahat itu, seketika beliau terkesiap dan menyesalkan karena murid didiknya ternyata adalah orang yang telah menyerangnya pula. Ya, maklum, aku sudahi belasan tahun berpisah dengan Suhu, dari anak cilik kini berubah dewasa, dengan sendirinya wajahku sudah banyak berubah daripada masa kanak-kanak dulu.&#8221;</p>
<p>Waktu Kiau Hong kenangkan kembali kata &#8220;bagus&#8221; tiga kali yang diucapkan Hian-koh Taysu sebelum ajalnya itu, sungguh hatinya pedih bagai disayat-sayat. Pikirnya, &#8220;Suhu telah kena serangan maut musuh, tapi tak diketahui siapa nama musuh itu. Ketika aku datang dan tahu wajahku serupa dengan penyerang itu, maka beliau sangat menyesal dan berduka hingga tewas. Memang luka Suhu sudah terlalu parah, dalam keadaan payah dengan sendirinya tidak dapat berpikir dengan saksama, jika benar aku yang menyerang dia, mengapa untuk kedua kalinya aku menemuinya lagi?&#8221;</p>
<p>Pada saat itu juga, tiba-tiba terdengar suara berisik orang banyak, serombongan padri tampak berlari datang, setiba di luar mereka lantas berhenti, hanya dua padri di antaranya dengan membungkuk tubuh melangkah masuk dengan hormat. Ternyata mereka adalah kedua hwesio bersenjata tongkat yang mengerubut Kiau Hong di kaki gunung itu.</p>
<p>Segera satu di antaranya menutur, &#8220;Lapor Hongtiang &#8230;.&#8221;</p>
<p>Tapi baru sekian ucapannya, sekilas ia lihat Kiau Hong juga berada di situ, seketika wajahnya menampilkan rasa kaget dan gusar. Ia mendelik dengan termangu-mangu lantaran heran mengapa Kiau Hong tahu-tahu sudah berada di situ.</p>
<p>Dengan kereng Hian-cu bersuara, &#8220;Sicu sudah tidak di dalam Kay-pang lagi, tapi apa pun juga kau seorang tokoh Bu-lim yang terkenal. Hari ini sengaja berkunjung ke biara kami dan membinasakan Hian-koh Sute, entah apa maksud tujuanmu, silakan memberi penjelasan.&#8221;</p>
<p>Namun Kiau Hong tidak menjawab, mendadak ia menghela napas panjang sekali, lalu menyembah kepada Hian-koh dan meratap, &#8220;Suhu, O, Suhu, sebelum engkau mengembuskan napas penghabisan, engkau juga mengatakan Tecu yang mencelakai dirimu dan meninggal dengan menanggung penasaran Meski Tecu sekali-kali tidak nanti berani terhadap Suhu, meski karena difitnah musuh sebab musababnya dengan sendirinya berpangkal pada diriku. Umpama Tecu sekarang rela mati untuk membalas budi Suhu, namun sakit hati Suhu selanjutnya menjadi tak terbalas. Adapun Tecu telah membikin rusuh di sini hingga melanggar ketertiban Siau-lim-si, untuk ini harap Suhu suka memaafkan.&#8221;</p>
<p>Selesai berdoa, sekonyong-konyong ia mengembuskan napas dua kali, dua rangkum angin keras menyambar, seketika dua pelita minyak di dalam kamar tertiup padam hingga keadaan lantas gelap gulita.</p>
<p>Kiranya waktu Kiau Hong berdoa tadi, diam-diam ia sudah mempunyai akal untuk meloloskan diri. Begitu pelita minyak tertiup padam, menyusul tangan kirinya menghantam ke depan dan tepat kena punggung siu-lut-ceng, padri pengawas yang pernah ditempurnya di kaki gunung itu.</p>
<p>Cuma hantamannya ini melulu menggunakan tenaga luar yang kuat, maka isi perut padri itu tidak sampai terluka melainkan tubuhnya yang besar itu mencelat ke luar pintu.</p>
<p>Dalam keadaan gelap para hwesio Siau-lim-si itu menyangka Kiau Hong hendak melarikan diri. Tanpa pikir lagi mereka serentak mengeluarkan kim-na-jiu-hoat (ilmu menangkap dan memegang) dan mencengkeram tubuh siu-lut-ceng itu.</p>
<p>Padri itu pun mempunyai pikiran yang sama, yaitu tidak ingin menggunakan pukulan berat untuk membinasakan Kiau Hong, tapi ingin menawannya hidup-hidup untuk ditanyai mengapa membunuh Hian-koh Taysu, muslihat keji apa di balik perbuatannya itu.</p>
<p>Para padri itu adalah jago pilihan Siau-lim-si, dengan sendirinya adalah jago silat terkemuka pula dalam Bu-lim, kim-na-jiu-hoat mereka pun berbeda-beda, semuanya mempunyai ciri khas sendiri-sendiri. Maka kontan siu-lut-ceng itu kena dicengkeram oleh berbagai macam kim-na-jiu-hoat Siau-lim-pay yang lihai seperti Kim-liong-jiu (cengkeraman cakar naga), Eng-jiau-jiu (cakar elang), Hou-jian-kang (cakar harimau), dan lain-lain lagi.</p>
<p>Keruan yang paling sial adalah siu-lut-ceng itu, dalam sekejap hiat-to penting antero tubuhnya kena dicengkeram padri-padri lihai itu, seketika tubuhnya terkatung-katung di udara. Pengalaman demikian mungkin sejak dahulu hingga kini belum pernah dialami siapa pun juga.</p>
<p>Oleh karena berada dalam biara sendiri padri-padri itu tiada yang membawa alat ketikan api segala. Tapi kepandaian mereka tinggi, pengalaman mereka banyak, begitu merasa gelagat tidak beres, segera ada orang melompat ke atas rumah untuk berjaga di sana, begitu pula semua jalan keluar di sekitar situ segera dijaga dengan ketat.</p>
<p>Dalam keadaan begitu, jangankan Kiau Hong bertubuh tinggi besar, sekalipun dia berubah menjadi seekor burung juga sukar mengelabui mata telinga penjaga-penjaga itu.</p>
<p>Tidak lama kemudian, si padri cilik Ceng-siong telah memperoleh batu api, ia menyalakan pelita minyak, dan baru kawanan hwesio Siau-lim-si itu mengetahui mereka telah salah tangkap kawan sendiri.</p>
<p>Segera Hian-lan Taysu, kepala Tat-mo-ih, memerintahkan agar setiap padri jaga di tempatnya masing-masing dan tidak boleh sembarangan bergerak. Mereka khawatir jangan-jangan Kiau Hong membawa bala bantuan dan ada rencana pengacauan lain.</p>
<p>Dalam pada itu padri lain yang dipimpin ji-kay-ceng masih terus mencari dan menggeledah di sekitar Cin-to-ih itu, hampir setiap tempat dan setiap pelosok telah diperiksanya, namun tetap tiada menampak suatu bayangan pun.</p>
<p>Setelah sibuk hampir satu jam, mereka sangat heran, sebab Kiau Hong tetap menghilang. Lalu jenazah Hian-koh diusung ke ruang Sik-li-ih untuk dibakar. Sedang siu-lut-ceng diantar ke Yok-ong-tian untuk diberi obat. Para padri Siau-lim-si itu sama lesu dan cemas, mereka merasa sekali ini benar-benar kehilangan muka.</p>
<p>Di antara jago-jago Siau-lim-pay itu, belasan padri agung yang berkumpul di Cin-to-ih itu semuanya sangat tinggi ilmu silatnya, nama setiap orang tersohor dan disegani di dunia Kangouw. Tapi kini Kiau Hong mampu pergi-datang dengan bebas, jangankan menangkapnya, cara bagaimana Kiau Hong lolos pun mereka tidak tahu.</p>
<p>Lantas lolos ke mana atau sembunyi di manakah Kiau Hong?</p>
<p>Kalau dijelaskan sebenarnya tidaklah mengherankan dan juga tidak aneh. Kiranya Kiau Hong sudah menduga para padri itu akan menguber dan mencarinya keluar. Terhadap tempat yang baru saja dibuat berkumpul itu sebaliknya takkan diperhatikan.</p>
<p>Sebab itulah begitu ia hantam siu-lut-ceng, segera ia mengkeret mundur malah dan diam-diam ia menyusup ke kolong tempat tidur Hian-koh Taysu.</p>
<p>Dengan sepuluh jarinya ia cengkeram papan ranjang, tubuhnya menempel rapat di bawah kolong. Meski tadi ada juga salah seorang memeriksa sekadarnya ke bawah ranjang, tapi cuma sekilas saja dan tidak menemukannya. Apalagi sesudah jenazah Hian-koh Taysu dipindah dan para padri petugas merapatkan pintu kamar itu, keadaan menjadi sepi dan lebih-lebih tiada yang menduga Kiau Hong masih bersembunyi di situ.</p>
<p>Tapi Kiau Hong belum berani sembarangan bergerak, ia dengar para padri itu masih sibuk mencarinya, setelah tengah malam, barulah keadaan mereda. Pikirnya, &#8220;Jika menunggu sampai pagi tentu lebih sukar lagi untuk meloloskan diri. Agaknya sekarang inilah kesempatan paling baik untuk angkat kaki.&#8221;</p>
<p>Maka diam-diam ia menerobos keluar dari kolong ranjang, perlahan ia membuka pintu dan menyelinap ke belakang sebatang pohon besar.</p>
<p>Cin-to-ih adalah ruang ujung barat Siau-lim-si, asal dia berlari ke barat lebih jauh, tentu akan mencapai lereng gunung.</p>
<p>Namun Kiau Hong memang seorang kesatria lihai, biarpun lahirnya tampak kasar, namun pikirannya sangat cerdik. Ia pikir suasana Siau-lim-si sementara ini meski sudah sepi, tapi padri Siau-lim-si bukanlah sembarangan orang, mana mereka sudahi kejadian itu mengendurkan penjagaan? Ia menghilang di barat biara itu, para padri tentu akan menjaga keras jalan di sebelah barat yang menjurus ke lereng Siau-sit-san.</p>
<p>Sebenarnya kalau Kiau Hong mau, asal dia sudah keluar dari Siau-lim-si, setelah kekuatan para padri terpencar, tentu susah untuk merintanginya, apalagi hendak menangkapnya. Tapi ia tidak ingin bertempur dengan padri Siau-lim-si, ia berharap kelak dapat menangkap pembunuh yang sebenarnya untuk dibawa ke Siau-lim-si agar duduk perkasa yang sebenarnya dapat diketahui oleh padri-padri itu.</p>
<p>Memangnya ia pun tidak ingin melawan padri Siau-lim-si itu, semakin banyak bergebrak dengan padri semakin banyak pula musuhnya. Apalagi kalau dirinya kalah, celaka, dan runyamlah segala urusan.</p>
<p>Sebab itulah sesudah berpikir sejenak, ia taksir jalan paling selamat harus menyusup ke tengah biara dan meninggalkan Siau-lim-si dari jurusan yang berlawanan, yaitu sebelah timur.</p>
<p>Segera ia merunduk maju ke bawah aling-aling pohon dan tetumbuhan lain. Ia menyeberangi empat ruang rumah, ketika ia sembunyi di balik pohon beringin lagi, tiba-tiba dilihatnya di belakang pohon di depan sana juga bersembunyi dua orang padri.</p>
<p>Kedua padri itu tidak bergerak sedikit pun, dalam keadaan gelap sebenarnya sangat sukar diketahui. Tapi mata Kiau Hong sangat tajam, sekilas saja ia sudah melihat kemilau senjata yang dipegang salah seorang padri itu. Pikirnya, &#8220;Wah, hampir saja aku kepergok!&#8221;</p>
<p>Dengan tenang ia menunggu di balik pohon itu. Tapi kedua padri itu pun tetap tidak pergi. Cara berjaga secara sembunyi ini benar-benar sangat lihai, asal dirinya sedikit bergerak saja pasti akan segera diketahui, sebaliknya ia juga tidak dapat berdiam terlalu lama situ tanpa berusaha meloloskan diri.</p>
<p>Setelah pikir sebentar, segera Kiau Hong menjemput sepotong batu kecil, ia selentik batu kecil itu dengan kuat.</p>
<p>Cara selentikannya itu sangat bagus, mula-mula lambat, kemudian cepat. Waktu batu mulai melayang ke depan tiada terdengar sesuatu suara, tapi sesudah jauh mendadak timbul suara mendenging yang keras dari angin sambaran batu itu. &#8220;Plok&#8221; batu itu akhirnya menimpuk pada batang pohon.</p>
<p>Dengan sendirinya kedua padri tadi terkejut. Perlahan mereka mendekati pohon itu, menunggu sesudah kedua padri itu melalui tempat sembunyinya, segera Kiau Hong melayang ke depan dan melompat ke dalam ruangan di samping.</p>
<p>Di bawah sinar bulan dapat dilihatnya dengan jelas papan ruangan itu tertulis tiga huruf &#8220;Po-te-ih&#8221;.</p>
<p>Ia tahu bila kedua padri tadi tidak menemukan apa-apa tentu akan segera kembali, maka cepat Kiau Hong berlari ke ruangan belakang.</p>
<p>Sesudah menyusur ruangan depan Po-te-ih itu, akhirnya ia sampai di ruang belakang. Sekilas mendadak terlihat sesosok bayangan orang laki-laki tinggi besar berkelebat lewat di belakangnya dengan kecepatan luar biasa, begitu cepat gerak bayangan itu sungguh tidak pernah dilihatnya.</p>
<p>&#8220;Betapa cepat orang itu, siapakah dia?!&#8221; demikian Kiau Hong terkejut. Sambil siap siaga cepat ia menoleh. Tapi ia lantas tertawa sendiri ketika dilihatnya yang berhadapan dengan dirinya juga seorang laki-laki tegap dan mengambil sikap siap siaga dengan penuh waspada.</p>
<p>Kiranya di ruang belakang, di depan arca Buddha terdapat sebaris pintu angin dan pintu angin itu terpasang sebuah cermin perunggu yang sangat besar dan bundar cermin itu tergosok sedemikian bersih dan mengilap hingga bayangan tertampak jelas dalam cermin itu.</p>
<p>Di atas cermin perunggu itu terpasang sebuah pigura yang bertuliskan kata-kata mutiara sang Buddha:<br />
Badan kuat seperti pohon bodhi<br />
hati bersih laksana cermin<br />
setiap saat rajinlah mengurusnya<br />
jangan ternoda karena debu</p>
<p>Selagi Kiau Hong hendak melanjutkan, sekonyong-konyong hatinya seperti terpukul oleh sesuatu apa. Seketika ia tertegun, dalam sekejap itu tiba-tiba ia teringat pada sesuatu yang mahaaneh dan penting. Tapi mengenai urusan apa, ia pun tak dapat memberi penjelasan.</p>
<p>Ia termangu sejenak di tempatnya. Tanpa terasa ia menoleh ke arah cermin perunggu lagi, melihat bayangan sendiri, mendadak ia sadar, &#8220;He, baru saja aku telah melihat bayanganku sendiri, di manakah itu? Aku tidak pernah melihat cermin sebesar ini, mengapa bisa melihat bayanganku sendiri dengan begitu jelas?&#8221;</p>
<p>Selagi Kiau Hong termenung, tiba-tiba di luar terdengar suara tindakan beberapa orang sedang mendatang.</p>
<p>Karena tiada tempat sembunyi lain, Kiau Hong melihat di ruangan itu terdapat tiga arca Buddha besar, tanpa pikir lagi ia melompat ke altar dan bersembunyi di belakang arca Buddha ketiga.</p>
<p>Dari suara tindakan orang-orang itu dapat diketahui seluruhnya ada enam orang, sesudah masuk ke ruangan pendopo situ, masing-masing lantas duduk di atas tikar.</p>
<p>Dari belakang arca Kiau Hong coba mengintip keluar, ia lihat keenam orang itu semuanya adalah padri setengah umur, terdengar yang sebelah kiri sedang berkata, &#8220;Suhu memberi perintah agar memeriksa dan mengawasi kitab-kitab di ruang Po-te-ih ini untuk menjaga kalau-kalau dicuri musuh.&#8221;</p>
<p>Habis padri itu berkata, kawan-kawannya yang lain tiada yang bersuara, semuanya diam saja. Kiau Hong pikir kalau saat itu mau melarikan diri, mungkin tidaklah terlalu susah. Tapi tiba-tiba ia ingin tahu penjagaan kitab apa yang hendak dilakukan padri-padri itu, ia pikir biarlah aku menunggu lagi sebentar.</p>
<p>Maka terdengar padri yang sebelah kanan sedang berkata, &#8220;Suheng, di ruang Po-te-ih kosong melompong tiada sesuatu benda apa pun, masakah ada kitab pusaka segala? Apa yang Suhu suruh kita jaga di sini?</p>
<p>&#8220;Itu mengenai urusan Po-te-ih ini, tidak perlu banyak bicara,&#8221; sahut padri yang sebelah kiri tadi dengan tersenyum.</p>
<p>&#8220;Ah, kukira engkau sendiri pun tidak tahu,&#8221; ujar padri sebelah kanan.</p>
<p>Karena kata-kata pancingan itu, si padri sebelah kiri lantas berseru, &#8220;Mengapa aku tidak tahu? &#8216;Sin-ju-hud-tim&#8217; &#8230;.&#8221;</p>
<p>Hanya kalimat itu saja yang dia ucapkan, mendadak ia sadar dan cepat bungkam.</p>
<p>&#8220;Apa maksudnya Sin-ju-hud-tim?&#8221; si padri sebelah kanan ingin tahu.</p>
<p>&#8220;Ti-jing Sute,&#8221; mendadak padri kedua yang duduk sebelah kiri menyela, &#8220;biasanya engkau tidak suka ceriwis, mengapa hari ini terus-menerus bertanya saja? Jika kau ingin tahu rahasia Po-te-ih ini, silakan kau tanya kepada gurumu sendiri saja.&#8221;</p>
<p>Maka padri yang bernama Ti-jing itu tidak tanya pula. Selang agak lama, tiba-tiba ia berkata, &#8220;Aku akan ke kamar kecil.&#8221;</p>
<p>Lalu ia berbangkit menuju ke pintu samping sebelah kiri.</p>
<p>Tapi baru saja ia mengitar ke belakang, mendadak kakinya menendang punggung padri kedua dari kanan yaitu yang duduk tepat di sisinya tadi. Tendangan itu tepat mengenai &#8220;koan-ki-hiat&#8221; di tulang punggung. Padri itu sedang duduk bersila di atas tikarnya, dengan sendirinya ia tidak menyangka akan diserang oleh kawan sendiri. Maka tanpa ampun lagi ia roboh perlahan ke samping.</p>
<p>Oleh karena tendangan Ti-jing itu dilakukan dengan sangat cepat, pula tanpa suara. Setelah merobohkan padri itu, menyusul padri di sisinya lagi juga didepak dengan cara yang sama, habis itu padri ketiga. Hanya dalam sekejap saja tiga padri sudah dirobohkan.</p>
<p>Dengan jelas Kiau Hong dapat mengikuti kejadian itu di tempat sembunyinya. Ia menjadi terheran-heran mengapa padri Siau-lim-si itu bertarung antara kawan sendiri? Ia lihat Ti-jing sedang menendang padri yang kedua dihitung dari sisi kanan. Dan baru ujung kaki kena sasarannya sementara itu ketiga padri yang ditendang jalan darahnya itu pun menggeletak, kepala membentur lantai hingga mengeluarkan suara.</p>
Posted in Jin Yong, Pendekar Kerajaan Tayli  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toanki.wordpress.com/1830/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toanki.wordpress.com/1830/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toanki.wordpress.com/1830/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toanki.wordpress.com/1830/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toanki.wordpress.com/1830/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toanki.wordpress.com/1830/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toanki.wordpress.com/1830/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toanki.wordpress.com/1830/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toanki.wordpress.com/1830/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toanki.wordpress.com/1830/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&blog=4564196&post=1830&subd=toanki&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-29/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b75e221c0eee4ff517b26695a19675fc?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">Lenghou Tiong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 28</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-28/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-28/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 05:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1828</guid>
		<description><![CDATA[Mendengar pemuda itu berdoa agar dirinya menikah dengan sang piauko, Giok-yan sangat senang, ia menjadi tidak tega pula menyaksikan pemuda baik hati itu akan dibunuh orang, maka dengan sedih ia berkata, &#8220;Toan-kongcu, budi pertolonganmu, aku Ong Giok-yan takkan lupa untuk selamanya.&#8221;
Sebaliknya Toan Ki memang sudah nekat, ia pikir daripada nanti menyaksikan engkau dipersunting piaukomu, lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&blog=4564196&post=1828&subd=toanki&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Mendengar pemuda itu berdoa agar dirinya menikah dengan sang piauko, Giok-yan sangat senang, ia menjadi tidak tega pula menyaksikan pemuda baik hati itu akan dibunuh orang, maka dengan sedih ia berkata, &#8220;Toan-kongcu, budi pertolonganmu, aku Ong Giok-yan takkan lupa untuk selamanya.&#8221;</p>
<p><span id="more-1828"></span>Sebaliknya Toan Ki memang sudah nekat, ia pikir daripada nanti menyaksikan engkau dipersunting piaukomu, lebih baik sekarang juga aku mati di hadapanmu saja. Maka perlahan ia mulai melangkah ke bawah loteng, sebelum itu ia masih sempat menoleh sekejap dan tersenyum kepada Giok-yan.</p>
<p>Diam-diam gadis itu merasa heran, sebentar lagi jiwanya akan melayang, tapi pemuda itu masih bisa tertawa.</p>
<p>Setelah berada di lantai bawah, Toan Ki melotot kepada Li Yan-cong dan menegur, &#8220;Nah, aku sudah turun sekarang. Li-ciangkun, katanya engkau sudah pasti akan membunuh aku, silakan turun tangan. Lekas!&#8221;</p>
<p>Sambil berkata ia terus melangkah maju pula, langkahnya itu bukan lain adalah &#8220;Leng-po-wi-poh&#8221;.</p>
<p>Tanpa bicara lagi segera Li Yan-cong putar goloknya dan membacok tiga kali beruntun-runtun. Setiap kali tidak sama ilmu goloknya. Tapi langkah Toan Ki itu benar-benar ajaib dan aneh sekali perubahannya, beberapa kali Li Yan-cong hendak mengurungnya dengan tipu ilmu goloknya yang berganti-ganti itu, tapi entah mengapa pemuda itu dapat lolos keluar.</p>
<p>Melihat sekali ini Toan Ki dapat bertahan dengan baik, diam-diam Giok-yan merasa lega, ia harap pemuda itu mendadak dapat mengeluarkan serangan aneh untuk merobohkan lawannya.</p>
<p>Diam-diam Toan Ki juga sedang berusaha mengerahkan tenaga dalam dengan maksud menyalurkan ke ujung jari, tapi hawa murni itu selalu mogok di tengah jalan, kalau sampai tangan entah mengapa lantas menyurut kembali. Maklum, ia memang tidak pernah belajar silat sehingga tidak mudah melancarkan hawa murni.</p>
<p>Untunglah &#8220;Leng-po-wi-poh&#8221; cukup hebat, pula sudah sangat hafal, betapa pun cepat Li Yan-cong menyerang, selalu luput mengenai sasarannya.</p>
<p>Tadi Li Yan-cong sendiri sudah menyaksikan cara Toan Ki membinasakan jago-jago Se He, kini melihat pemuda itu bertuding-tuding pula entah sedang main sulap apa, diam-diam ia merinding jangan-jangan pemuda itu mahir ilmu sihir. Segera ia ambil keputusan harus berusaha membunuhnya lebih dulu sebelum pemuda itu sempat mengeluarkan ilmu sihirnya. Tapi apa daya, serangan selalu mengenai tempat kosong.</p>
<p>Dasar pikiran Li Yan-cong memang cerdas, dengan cepat ia mendapat akal, mendadak ia membalik tangan dan menghantam roda air hingga sayap roda sempal, segera ia sambar sempalan kayu terus dilemparkan ke kaki Toan Ki.</p>
<p>Tapi langkah pemuda itu cepat sekali, sudah tentu timpukan itu tidak kena. Namun Li Yan-cong terus menghantam dan memukul serabutan hingga segala alat perabot di dalam ruangan seperti tenggok, tampah, dan sebagainya berjungkir balik tersampuk ke tepi kaki Toan Ki.</p>
<p>Ruangan itu memang sudah penuh menggeletak belasan mayat, ditambah lagi alat-alat perabot itu, sudah tentu tiada tempat luang lagi bagi kaki Toan Ki, setiap tindakannya tentu tersenggol atau kesandung sesuatu benda di lantai itu.</p>
<p>Namun Toan Ki tahu keadaan sangat berbahaya, bila lambat sedikit saja langkahnya pasti jiwa bisa melayang. Maka ia menjadi nekat, ia tidak memandang ke lantai dan tetap menurutkan ilmu langkah ajaib itu, tetap mengisar kian kemari dengan cepat walaupun terkadang mesti naik-turun karena kakinya menginjak sesuatu, entah mayat, entah bakul, dan entah apa lagi, semuanya tak dipedulikannya.</p>
<p>Rupanya Giok-yan juga tahu gelagat jelek, segera ia berseru, &#8220;Toan-kongcu, lekas lari keluar pintu dan menyelamatkan diri sendiri saja, kalau melawan lebih lama lagi tentu jiwamu berbahaya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Biarlah, kecuali dia dapat membunuh aku, kalau tidak, asal aku masih bisa bernapas, pasti akan kubela keselamatan nona,&#8221; sahut Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Hm, kau tidak becus ilmu silat, tapi ternyata seorang sok baik hati dan berbudi, begitu mendalam kasih sayangmu kepada nona Ong, ha?&#8221; ejek Li Yan-cong.</p>
<p>&#8220;Bukan, bukan!&#8221; demikian Toan Ki menirukan lagu Pau-samsiansing. &#8220;Nona Ong adalah manusia dewata, sebaliknya aku cuma seorang biasa saja, mana aku berani bicara tentang kasih dan budi? Soalnya Nona Ong mau menghargai aku dan sudi ikut aku keluar untuk mencari piaukonya, dengan sendirinya aku harus membalas penghargaannya kepadaku ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, jadi dia ikut kau keluar dengan tujuan ingin mencari piaukonya si Buyung-kongcu, jika begitu, hakikatnya dalam hatinya tidak pernah terlintas orang macammu ini, tapi kau sendiri yang melamun seperti katak buduk mengimpikan bidadari! Haha, hahaha! Sungguh menggelikan!&#8221;</p>
<p>Tapi Toan Ki tidak gusar, sebaliknya menjawab dengan sungguh-sungguh, &#8220;Perumpamaan itu memang sangat tepat. Ong-kohnio memang benar laksana bidadari. Cuma katak buduk seperti aku ini juga lain daripada yang lain, asal dapat memandang beberapa kejap kepada sang bidadari rasanya sudah puas dan tiada pikiran lain lagi.&#8221;</p>
<p>Mendengar pemuda itu mengaku dirinya seperti katak buduk yang lain daripada yang lain, Li Yan-cong bertambah geli hingga tertawa terbahak-bahak. Anehnya, biarpun begitu keras ia tertawa, tapi kulit daging air mukanya itu tetap kaku tanpa perasaan.</p>
<p>Toan Ki sudah pernah melihat orang aneh seperti Yan-king Taycu, tanpa gerak bibir, tapi bisa bicara. Maka air muka Li Yan-cong yang aneh itu tidak membuatnya heran. Katanya malah, &#8220;Kalau bicara tentang air muka kaku tanpa perasaan, kau masih selisih jauh kalau dibandingkan Yan-king Taycu, untuk menjadi muridnya mungkin juga belum sesuai.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa itu Yan-king Taycu? Tidak pernah kudengar,&#8221; tanya Li Yan-cong.</p>
<p>&#8220;Dia adalah tokoh terkemuka negeri Tayli, ilmu silatmu jauh di bawahnya,&#8221; sahut Toan Ki.</p>
<p>Padahal mengenai tinggi-rendahnya ilmu silat orang lain, hakikatnya sama sekali Toan Ki tak dapat membedakan, tapi ia sengaja mengucapkan kata-kata yang menilai rendah lawannya, ia pikir daripada mati konyol, paling tidak aku sudah balas mengolok-olok lebih dulu.</p>
<p>Maka Li Yan-cong menjengek, &#8220;Hm, betapa tinggi atau rendah ilmu silatku, masakah bocah seperti dirimu mampu menjajaki?&#8221;</p>
<p>Sembari berkata, ia putar goloknya semakin kencang.</p>
<p>Sudah tentu sejak semula Toan Ki tidak tahu betapa tinggi kepandaian lawan itu. Tapi bagi Giok-yan, semakin dilihat semakin khawatir. Pikir gadis itu, &#8220;Kepintaran orang ini boleh dikatakan sangat luas dan hampir memadai kepintaranku, apalagi lwekangnya sangat tinggi pula, sungguh tidak nyana di negeri Se He terdapat seorang tokoh pilihan seperti ini dan aku justru kepergok di sini, sedangkan Piauko tiada di sini hingga tidak ada yang mampu melindungi keselamatanku, hanya seorang pelajar tolol yang terus main kucing-kucingan dengan dia. Ai, nasibku benar-benar teramat buruk.&#8221;</p>
<p>Pada saat lain, ketika dilihatnya Toan Ki agak sempoyongan, keadaan cukup berbahaya, tanpa terasa timbul juga rasa kasih sayangnya, segera ia berseru, &#8220;Toan-kongcu, lekas lari keluar pintu, bertempur di luar sana juga boleh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak,&#8221; sahut Toan Ki, &#8220;engkau tak dapat bergerak, kalau tinggal sendirian di sini, betapa pun aku merasa khawatir. Apalagi, mayat berserakan sekian banyak di sini, tentu engkau akan merasa seram, maka lebih baik aku tinggal di sini untuk mengawanimu saja.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Giok-yan tidak habis gegetun akan ketolol-tololan pemuda pelajar itu, mana jiwa sendiri terancam maut masih dapat pusingkan orang lain takut pada mayat segala.</p>
<p>Dalam pada itu beberapa kali Toan Ki kesandung dan keserimpet, golok musuh terkadang menyambar lewat di atas kepalanya, cuma selisih satu-dua senti jauhnya, keruan pemuda itu ketakutan setengah mati, berulang timbul pikiran, &#8220;Wah, celaka, kalau buah kepalaku ini tertebas separuh, tentu aku tak bisa hidup lagi. Seorang laki-laki harus bisa mulur-mengkeret, berani menang dan berani kalah, demi nona Ong, biarlah aku berlutut dan minta ampun padanya saja.&#8221;</p>
<p>Namun demikian pikirnya, toh tetap enggan diucapkannya.</p>
<p>&#8220;Hm, kulihat engkau pasti ketakutan setengah mati dan ingin lari terbirit-birit,&#8221; demikian Li Yan-cong mengejek.</p>
<p>&#8220;Mati adalah urusan mahapenting setiap orang, siapa yang tidak takut mati?&#8221; sahut Toan Ki. &#8220;Tentang lari sih memang ada maksudku, namun aku tak dapat melarikan diri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebab apa?&#8221; tanya Yan-cong.</p>
<p>&#8220;Sudahlah, tidak perlu banyak omong,&#8221; ujar Toan Ki. &#8220;Akan kuhitung satu sampai sepuluh, bila engkau tak dapat membunuh aku, terpaksa aku tak mau mengiringimu lagi.&#8221;</p>
<p>Dan tanpa menunggu jawaban apakah Li Yan-cong setuju atau tidak, terus saja ia mulai menghitung, &#8220;Satu, dua, tiga &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa kau sudah gila?&#8221; ujar Li Yan-cong.</p>
<p>Tapi Toan Ki masih terus menghitung, &#8220;Empat, lima, enam &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahaha, masakah di dunia ini ada orang tolol semacam kau, sungguh bikin malu kaum persilatan saja,&#8221; seru Li Yan-cong dengan terbahak-bahak. Berbareng goloknya susul-menyusul membabat ke kanan dan menebas ke kiri.</p>
<p>Namun dengan cepat Toan Ki menggeser kian kemari sambil mulut menghitung makin cepat mengikuti gaya serangan lawan, &#8220;Tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, tiga belas &#8230; sudah, sudah, sudah lebih dari sepuluh kali dan kau tetap tidak mampu membunuh aku, huh, engkau sungguh tidak kenal malu, masakah tidak mau mengaku kalah, ha?&#8221;</p>
<p>Sungguh geli dan mendongkol Li Yan-cong melihat kelakuan Toan Ki itu. Dikatakan tolol, toh pemuda itu tidak tolol, bilang dia pintar, nyatanya juga tidak pintar, benar-benar seorang aneh yang tidak pernah diketemukannya. Kalau sampai terlibat lebih lama, entah bagaimana akhirnya nanti, jangan-jangan sedikit lengah awak sendiri akan terjungkal malah di bawah ilmu sihirnya, demikian pikiran Yan-cong.</p>
<p>Dasar dia memang seorang yang sangat cerdik, ia tahu Toan Ki sangat memerhatikan keselamatan Giok-yan, tiba-tiba ia mendapat akal, ia mendongak ke atas loteng dan berteriak, &#8220;Hah, bagus, boleh kalian bunuh dulu nona itu, lalu turun kemari dan membantu padaku!&#8221;</p>
<p>Keruan Toan Ki kaget, disangkanya benar-benar ada musuh naik ke atas loteng dan jiwa Giok-yan sedang terancam. tanpa pikir lagi ia terus menengadah ke loteng. Dan karena sedikit meleng itulah, kesempatan itu digunakan Li Yan-cong untuk mengayun kakinya, sekali tendang ia bikin Toan Ki terjungkal, menyusul goloknya lantas mengancam leher pemuda itu sambil sebelah kaki menginjak pada dadanya.</p>
<p>Toan Ki masih bermaksud angkat jarinya untuk menutuk, tapi sedikit Li Yan-cong tahan goloknya, segera mata golok melekuk beberapa mili ke leher Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Jangan bergerak, sekali bergerak, segera kupotong kepalamu!&#8221; ancam Yan-cong.</p>
<p>Dalam pada itu Toan Ki telah melihat jelas bahwa di atas loteng sebenarnya tiada musuh. Hatinya menjadi lega, katanya dengan tertawa, &#8220;Ah, kiranya engkau cuma menggertak saja!&#8221;</p>
<p>Menyusul ia menyambung pula dengan gegetun, &#8220;Ai, sayang, sungguh sayang!&#8221;</p>
<p>&#8220;Sayang apa?&#8221; tanya Li Yan-cong.</p>
<p>&#8220;Jika aku mati di tangan jago silat kelas satu seperti dirimu, sebenarnya masih cukup berharga bagiku,&#8221; sahut Toan Ki. &#8220;Siapa nyana engkau tidak mampu menangkan aku dengan ilmu silat, lalu main licik dan menipu, perbuatan rendah dan memalukan ini sungguh membikin aku mati penasaran.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika kau merasa penasaran, nanti boleh kau mengadu pada Giam-lo-ong (raja akhirat) saja,&#8221; ujar Yan-cong.</p>
<p>&#8220;Tahan dulu, Li-ciangkun,&#8221; tiba-tiba Giok-yan berseru.</p>
<p>&#8220;Ada apa?&#8221; tanya Li Yan-cong.</p>
<p>&#8220;Jika engkau membunuh dia, kecuali aku dibunuh pula, kalau tidak, pada suatu hari aku pasti akan membunuhmu juga untuk membalas sakit hati Toan-kongcu,&#8221; kata Giok-yan.</p>
<p>Li Yan-cong melengak. &#8220;Bukankah engkau telah mengatakan piaukomu yang akan membunuh aku?&#8221; tanyanya.</p>
<p>&#8220;Ilmu silat piaukoku belum tentu bisa menangkan engkau, sebaliknya aku pasti dapat,&#8221; sahut Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Hm, apa dasar perhitunganmu?&#8221; jengek Yan-cong.</p>
<p>&#8220;Sudah sekian banyak tipu seranganmu, tapi ternyata juga cuma sekian saja, terang apa yang kau ketahui dan pelajari belum ada separuhnya dari apa yang kuketahui,&#8221; demikian sahut si gadis. &#8220;Buktinya caramu menyerang Toan-kongcu sudah banyak lubang kelemahannya, menurut perhitunganku, dengan mudah mestinya Toan-kongcu dapat kau bunuh, tapi ilmu golok yang kau keluarkan selalu salah. Padahal ada juga ilmu golok dari kalangan To-kau (agama Tao) yang dapat kau gunakan. Tapi nyatanya engkau tidak tahu atau mungkin sama sekali asing dalam hal ilmu silat golongan To-kau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Huh, sombong benar kau,&#8221; sahut Li Yan-cong dengan ragu. &#8220;Engkau bersedia membalaskan sakit hati Toan-kongcu, apakah karena cintamu kepadanya sudah terlalu mendalam?&#8221;</p>
<p>Muka Giok-yan menjadi merah, sahutnya, &#8220;Mendalam apa? Hakikatnya tiada istilah cinta antara diriku dengan dia. Soalnya karena dia mati untukku, dengan sendirinya aku harus membalaskan sakit hatinya.&#8221;</p>
<p>Ternyata Li Yan-cong tidak menjawabnya lagi, tapi hanya tertawa dingin, tiba-tiba ia merogoh keluar sebuah botol porselen kecil dan dilemparkan ke atas badan Toan Ki, lalu ia simpan kembali goloknya, sekali lompat, cepat ia melompat keluar pintu. Maka terdengarlah suara kuda meringkik, menyusul kuda dilarikan, makin lama makin jauh.</p>
<p>Segera Toan Ki merangkak bangun, ia meraba lehernya yang masih kesakitan bekas diancam golok musuh tadi, ia merasa seperti habis sadar dari mimpi buruk saja. Begitu pula Giok-yan juga tidak menduga akan kejadian itu, untuk sejenak mereka hanya saling pandang dengan bingung dan bergirang pula.</p>
<p>&#8220;He, dia sudah pergi,&#8221; kata Toan Ki selang sekian lama dan dibalas Giok-yan dengan mengangguk.</p>
<p>&#8220;Bagus, bagus! Ternyata aku tidak jadi dibunuh olehnya!&#8221; seru Toan Ki pula. &#8220;Nona Ong, nyata pengetahuan ilmu silatmu jauh di atasnya, makanya dia jeri padamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan begitu soalnya, kalau tadi dia membunuhmu, lalu aku pun dibunuhnya pula, bukankah segala urusan sudah beres?&#8221; ujar Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Ehm, benar juga,&#8221; kata Toan Ki sambil garuk-garuk kepala dengan bingung. &#8220;Tapi, tapi &#8230; mungkin dia kesengsem kepada kecantikanmu bagai bidadari, makanya tidak berani membunuh engkau.&#8221;</p>
<p>Diam-Diam Giok-yan geli karena pelajar tolol itu memandangnya seakan-akan bidadari dari kahyangan, tapi senang juga hatinya oleh pujian itu.</p>
<p>Melihat gadis itu tidak bersuara, air mukanya merah jengah, keruan Toan Ki kegirangan dan melangkah maju. Tiba-tiba terdengar suara nyaring jatuhnya sesuatu benda, kiranya botol porselen yang ditinggalkan Li Yan-cong tadi.</p>
<p>Cepat Toan Ki pungut botol itu, ia lihat di atas botol itu tertulis keterangan: &#8220;Bila terkena kabut wangi bunga merah, ciumlah botol ini dan segera punah.&#8221;</p>
<p>Sungguh girang Toan Ki tidak kepalang, serunya segera, &#8220;He, inilah obat penawarnya, inilah obat penawar!&#8221;</p>
<p>Dan segera ia membuka tutup botol itu dan menciumnya, tapi seketika kepalanya pusing dan mata berkunang-kunang, hampir saja ia jatuh kelengar oleh bau bacin isi botol itu. Cepat ia tutup kembali botol itu dan berteriak-teriak, &#8220;Wah, tertipu! Baunya tidak kepalang!&#8221;</p>
<p>&#8220;Coba kulihat, boleh jadi racun menyerang racun akan membawa khasiat di luar dugaan,&#8221; ujar Giok-yan.</p>
<p>Segera Toan Ki mengangsurkan botol itu dan berkata, &#8220;Tapi baunya terlalu bacin, apakah engkau tahan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Biarlah kucoba dulu,&#8221; ujar si gadis.</p>
<p>Toan Ki mengiakan dan membuka tutup botol itu serta diangkat ke depan hidung si nona. Ketika Giok-yan mencium sekali isi botol itu, seketika berteriak, &#8220;Ai, benar-benar sangat bacin.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nah, kau percaya sekarang?&#8221; ujar Toan Ki. &#8220;Boleh coba mengendus sekali lagi jika engkau masih tidak percaya.&#8221;</p>
<p>Namun Giok-yan rupanya sudah kapok, ia melengos sambil pencet hidung dan berkata, &#8220;Ai, bacinnya tidak hilang-hilang, biar bagaimanapun aku tidak mau lagi mencium barang bau begini, ha &#8230; tanganku &#8230; tanganku sudah dapat bergerak!&#8221;</p>
<p>Demikian teriaknya ketika tanpa terasa ia dapat mengangkat tangannya untuk memegang hidung sendiri. Padahal sebesar itu, untuk membetulkan baju saja rasanya tidak kuat.</p>
<p>Saking girangnya terus saja ia rebut botol itu dari tangan Toan Ki dan menciumnya berulang-ulang dengan keras-keras, sekarang ia tidak takut bau bacin lagi, ia tahu semakin busuk bau obat itu, semakin manjur pula khasiatnya.</p>
<p>Maka sebentar saja badan yang tadinya lemas lunglai telah pulih kembali. Lalu katanya kepada Toan Ki, &#8220;Turunlah kau, aku hendak ganti pakaian.&#8221;</p>
<p>Toan Ki mengiakan dan cepat melangkah turun ke bawah loteng. Ketika dilihatnya mayat bergelimpangan memenuhi ruangan, tanpa terasa timbul rasa menyesalnya. Dengan kesima ia berdiri terpaku di situ.</p>
<p>Setelah salin baju, perlahan Giok-yan turun juga ke bawah. Ia heran melihat Toan Ki berdiri termangu-mangu di situ, segera tegurnya, &#8220;He, apa yang sedang kau pikirkan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku merasa menyesal dan terharu karena telah membunuh orang sebanyak ini,&#8221; sahut Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Toan-kongcu, menurut pendapatmu, sebab apa jago Se He she Li itu memberikan obat penawar ini kepadaku?&#8221; tanya Giok-yan tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;Tentang ini &#8230; ini aku tidak tahu &#8230; ah, tahulah aku, sebab &#8230; sebab &#8230; ehm, entahlah &#8230;.&#8221; sebenarnya Toan Ki hendak berkata, &#8220;sebab dia suka padamu&#8221;, tapi urung diucapkannya.</p>
<p>&#8220;Toan-kongcu,&#8221; kata Giok-yan pula, &#8220;tempat ini masih berbahaya, kita harus lekas pergi dari sini. Tapi kita harus pergi ke mana?&#8221;</p>
<p>Meski nona itu serbatahu mengenai segala aliran ilmu silat, tapi pengalamannya di luar rumah sedikit pun tidak punya. Sebenarnya ia sangat ingin pergi mencari sang piauko, cuma tidak enak untuk berkata terus terang.</p>
<p>Sebaliknya Toan Ki meski seorang Su-tay-cu (pelajar tolol), tapi ia cukup paham apa yang dipikirkan si gadis. Maka sengaja balas tanya, &#8220;Habis kau ingin pergi ke mana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku &#8230; aku &#8230;.&#8221; sahut Giok-yan dengan muka merah sambil memainkan botol porselen yang masih dipegangnya itu, dan sejenak kemudian baru ia menyambung, &#8220;Kukira para pahlawan dan kesatria Kay-pang juga terkena racun &#8216;Ang-hoa-hiang-hu&#8217; (kabut wangi bunga merah), kalau piaukoku berada di sini, dia tentu dapat membantu membawakan obat penawar ini kepada mereka. Pula A Cu dan A Pik mungkin juga tertawan musuh, maka &#8230; maka &#8230;.&#8221;</p>
<p>Sebenarnya ia hendak mengajak Toan Ki mencari piauko dulu, kemudian mencari akal untuk menolong mereka.</p>
<p>Siapa duga Toan Ki terus berjingkrak sambil berseru, &#8220;Hai, benar, nona A Cu dan A Pik ada kesulitan, kita harus lekas-lekas menolong mereka!&#8221;</p>
<p>Walaupun agak kecewa karena bukan itu yang dipikirkan, namun terpaksa Giok-yan mengiakan.</p>
<p>&#8220;Dan bagaimana dengan mayat sebanyak ini, apakah tidak perlu aku mengubur mereka dahulu?&#8221; tanya Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Kenapa mesti susah-susah, nyalakan api dan bakar saja rumah ini, kan beres segalanya?&#8221; ujar si gadis.</p>
<p>&#8220;Tapi &#8230; tapi &#8230;.&#8221; sebenarnya Toan Ki tidak tega, apalagi mesti mengorbankan rumah gilingan penduduk itu. Namun jalan lain memang tiada lagi, terpaksa ia membuat lelatu api dan menyalakan rumput jerami yang ada di situ.</p>
<p>Sambil menyalakan api, Toan Ki berkomat-kamit memanjatkan doa agar arwah para korban itu lekas naik ke surga. Habis itu ia mencemplak kudanya dua dilarikan pergi bersama Giok-yan. Sayup-sayup dari jauh terdengar suara gembreng bertalu-talu dan riuh ramai berisik suara orang-orang. Mungkin petani di sekitar rumah gilingan itu beramai-ramai sedang berusaha memadamkan kebakaran.</p>
<p>&#8220;Sungguh aku menyesal harus membakar rumah gilingan orang,&#8221; kata Toan Ki sambil melarikan kudanya.</p>
<p>&#8220;Kau ini memang suka omong bertele-tele,&#8221; ujar Giok-yan. &#8220;Seorang laki-laki seperti dirimu masakah kalah daripada wanita seperti ibuku yang setiap tindak tanduknya selalu tegas dan cepat.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Toan Ki tidak dapat menerima perbandingan itu, ia pikir ibumu sedikit-sedikit suka membunuh orang, daging manusia dijadikan rabuk, mana aku sudi dipersamakan dengan dia. Tapi ia lantas menjawab, &#8220;Karena baru pertama kali ini aku membunuh orang dan membakar rumah, dengan sendirinya hatiku tidak tenteram.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar juga alasanmu,&#8221; ujar Giok-yan. &#8220;Kelak kalau sudah biasa, tentu kau takkan merasakannya lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;He, mana boleh, mana boleh!&#8221; seru Toan Ki berulang-ulang sambil goyang-goyang kedua tangannya. &#8220;Berbuat sekali saja berdosa, mana boleh diulangi lagi? Tentang membunuh orang dan membakar rumah, sebaiknya jangan dibicarakan pula.&#8221;</p>
<p>Giok-yan berpaling dengan rasa heran ke arah pemuda di sebelahnya itu, katanya pula, &#8220;Bagi orang Kangouw, membunuh dan dibunuh adalah soal biasa. Jika engkau takut, mengapa engkau tidak cuci tangan dan jangan berkecimpung lagi di dunia Kangouw?</p>
<p>&#8220;Ai, urusan ini memang susah dikatakan,&#8221; ujar Toan Ki. &#8220;Ayah dan paman memaksa aku belajar silat dan aku tetap tidak mau. Siapa duga dalam keadaan terpaksa, akhirnya aku kebentur pada kenyataan begini. Sungguh aku tidak tahu bagaimana baiknya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah cita-citamu adalah giat belajar sastra untuk kelak akan menjadi pembesar atau menteri, bukan?&#8221; tanya Giok-yan dengan tersenyum.</p>
<p>&#8220;Bukan, menjadi pembesar juga tiada artinya bagiku,&#8221; sahut si pemuda.</p>
<p>&#8220;Habis, apa cita-citamu?&#8221; tanya si gadis. &#8220;Masakah engkau juga seperti piaukoku yang setiap hari mengimpikan menjadi Hongte (kaisar)?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ha, Buyung-kongcu ingin menjadi Hongte?&#8221; tanya Toan Ki dengan heran.</p>
<p>Muka si gadis menjadi merah karena tanpa sengaja telah membocorkan rahasia sang piauko. Cepat ia menjawab, &#8220;Ah, aku cuma bergurau saja, tapi sekali-kali engkau jangan katakan kepada orang lain, lebih-lebih jangan membicarakan hal ini di depan piaukoku, sebab aku pasti akan didamprat habis-habisan olehnya.&#8221;</p>
<p>Kembali hati Toan Ki tertusuk oleh sikap si gadis yang begitu kesengsem kepada sang piauko itu. Tapi terpaksa ia menjawab, &#8220;Baiklah, tidak nanti aku ikut campur urusan tetek bengek piaukomu itu. Apakah dia menjadi Hongte atau akan menjadi pengemis, semuanya aku tidak peduli.&#8221;</p>
<p>Lagi maka Giok-yan marah jengah, ia dengar nada ucapan Toan Ki itu agak kurang senang, segera ia tanya dengan suara lembut, &#8220;Toan-kongcu, apakah engkau marah padaku?&#8221;</p>
<p>Selama berkenalan dengan gadis itu, yang selalu dipikir dan dikatakan melulu Buyung-kongcu seorang, tapi sekali ini dia bicara secara halus dan mesra padanya, keruan Toan Ki kegirangan, saking senangnya, hampir ia terperosot dari pelana kuda. Lekas ia betulkan duduknya dan menjawab dengan tertawa, &#8220;O, tidak, tidak, kenapa aku mesti marah? Nona Ong, selama hidup ini aku pasti takkan marah padamu.&#8221;</p>
<p>Antero cinta-kasih Giok-yan memang cuma tercurahkan kepada Buyung-kongcu seorang, meski tanpa menghiraukan jiwa sendiri Toan Ki telah menolongnya, tapi tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa perbuatan pemuda itu disebabkan jatuh cinta padanya, ia sangka pemuda itu terlalu jujur dan tulus, berhati bajik, dan berjiwa kesatria, maka menolongnya seperti halnya Toan Ki juga akan menolong orang lain.</p>
<p>Tapi kini demi mendengar pernyataan yang serius dan penuh ikhlas bagai bersumpah itu, barulah Giok-yan sadar, &#8220;He, jangan-jangan dia &#8230; dia mencintai diriku?&#8221;</p>
<p>Berpikir demikian, ia menjadi malu dan menunduk.</p>
<p>Dalam senangnya Toan Ki menjadi bingung apa yang harus dikatakan lagi. Pikirnya, &#8220;Aku adalah putra pangeran kerajaan Tayli, paman baginda tidak punya putra, akhirnya pasti aku yang akan menggantikan takhtanya. Tapi takhta kerajaan saja aku tidak kepingin, masakah mencita-citakan menjadi menteri apa segala seperti sangkanya tadi?&#8221;</p>
<p>Segera agak lama, dapatlah ia membuka suara pula, &#8220;Aku tidak mempunyai cita-cita apa-apa. Yang kuharap, bila selamanya bisa seperti saat ini maka puaslah hatiku.&#8221;</p>
<p>Apa yang dia maksudkan &#8220;seperti saat ini&#8221; adalah agar senantiasa dapat berdampingan dengan si nona.</p>
<p>Sudah tentu Giok-yan paham maksud itu, tapi ia tidak suka pemuda itu mengemukakan hal itu lagi, dengan air muka rada masam ia menjawab dengan sungguh-sungguh, &#8220;Toan-kongcu, budi pertolonganmu ini, betapa pun Giok-yan takkan melupakannya. Tetapi hatiku sudah &#8230; sudah lama terisi orang lain, maka kuharap ucapanmu hendaklah pakai aturan, agar kelak kita masih dapat bertemu secara baik-baik.&#8221;</p>
<p>Jawaban itu benar-benar merupakan kemplangan keras bagi Toan Ki hingga mata pemuda itu seakan-akan berkunang-kunang dan hampir-hampir jatuh kelengar.</p>
<p>Apa yang dikatakan Giok-yan itu cukup terang dan gamblang, secara tegas gadis itu telah menyatakan hatinya sudah diisi oleh Buyung-kongcu, maka Toan Ki dilarang mengutarakan perasaan cintanya, kalau tidak, si gadis tidak ingin berkawan lagi dengan dia.</p>
<p>Sudah tentu pernyataan Giok-yan itu sebenarnya tidak berlebihan, tapi bagi pendengaran Toan Ki sungguh sangat menusuk.</p>
<p>Ia coba melirik wajah si gadis, ia lihat sikap Giok-yan sangat prihatin dan agung, mirip benar dengan patung dewi yang pernah disembahnya dalam gua di dasar sungai itu. Tanpa terasa timbal semacam firasat seakan-akan dirinya bakal tertimpa bencana besar. Katanya di dalam hati, &#8220;Wahai Toan Ki, engkau justru jatuh cinta kepada seorang nona yang hatinya lebih dulu telah diisi orang lain, hidupmu ini agaknya sudah suratan nasib akan merana.&#8221;</p>
<p>Begitulah kedua orang melanjutkan perjalanan dengan sama-sama bungkam, siapa pun tidak membuka suara lagi.</p>
<p>Dalam hati Giok-yan berpikir, &#8220;Tentu dia sangat gusar di dalam hati. Tapi lebih baik aku pura-pura tidak tahu saja. Bila sekali ini aku minta maaf padanya, selanjutnya tentu dia akan lebih berani dan bicara yang tidak-tidak padaku, jika hal ini sampai diketahui Piauko, tentu Piauko akan merasa tidak senang.&#8221;</p>
<p>Sebaliknya Toan Ki juga sedang membatin, &#8220;Jika aku bicara lagi tentang rasa cintaku padanya, itu berarti martabatku terlalu rendah dan tidak menghormati dia. Maka sejak kini biarpun mati juga aku tidak akan bicara tentang itu lagi.&#8221;</p>
<p>Dan Giok-yan sedang berpikir pula, &#8220;Dia diam saja, tentu dia mengetahui tempat yang harus didatangi untuk menolong A Cu dan A Pik.&#8221;</p>
<p>Begitu pula Toan Ki juga sedang berpikir sama seperti si gadis. Maka sesudah setengah jam kemudian, ketika sampai di suatu jalan simpang tiga, tanpa berjanji kedua orang sama-sama menanya, &#8220;Belok ke kiri atau ke kanan?&#8221;</p>
<p>Dan sesudah saling mengunjuk rasa ragu-ragu, kembali sama-sama saling menanya lagi, &#8220;Eh, jadi kau tidak kenal jalan? Ai, kusangka kau sudah tahu.&#8221;</p>
<p>Dasar kedua orang adalah anak muda, dengan terjadinya saling tanya serupa itu, seketika terbahak-bahaklah mereka, awan mendung yang meliputi perasaan mereka tadi seketika tersapu bersih.</p>
<p>Tapi mereka berdua memang masih hijau mengenai urusan Kangouw, biarpun sudah saling runding sampai lama juga tidak tahu harus menuju ke mana untuk menolong A Cu dan A Pik. Akhirnya Toan Ki yang berkata, &#8220;Musuh telah menawan anggota Kay-pang sebanyak itu, untuk mencari jejak mereka tentu tidak terlalu susah, maka bolehlah kita kembali ke tengah rimba itu untuk melihat-lihat dulu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kembali ke rimba sana?&#8221; Giok-yan menegas. &#8220;Dan bila kawanan orang Se He itu masih di situ, bukankah kita seperti ular mencari gebuk?&#8221;</p>
<p>&#8220;Setelah hujan lebat tadi, kukira mereka tentu sudah berangkat pergi,&#8221; ujar Toan Ki. &#8220;Boleh begini saja, engkau menunggu saja di luar rimba, biar aku yang masuk ke sana untuk mengintai, bila benar musuh masih berada di sana, segera kita melarikan diri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, tidak boleh selalu engkau sendiri yang menyerempet bahaya,&#8221; ujar Giok-yan. &#8220;Jika kita berangkat berdua ke sana, bila ada bahaya, biarlah kita tanggung bersama.&#8221;</p>
<p>Mendengar si gadis bersedia &#8220;enteng sama dijinjing, berat sama dipikul&#8221; dalam menyerempet bahaya nanti, keruan Toan Ki sangat girang. Katanya, &#8220;Untuk berkelahi terang aku tidak sanggup, tapi untuk lari masakah tidak bisa?&#8221;</p>
<p>Segera mereka berunding cara bagaimana nanti harus menolong si A Cu dan A Pik. Maka diambil keputusan Toan Ki akan mengeluarkan &#8220;Leng-po-wi-poh&#8221; untuk mendekati kedua dayang itu dan mengenduskan obat bacin itu kepada mereka, sesudah racun punah, baru berdaya pula untuk membebaskan mereka.</p>
<p>Begitulah mereka lantas melarikan kuda ke arah Heng-cu-lim atau hutan pohon jeruk itu. Sesudah dekat, mereka turun dan menambat kuda di pohon, Toan Ki siapkan obat di tangan, lalu mereka lari ke tengah hutan dengan berjinjit-jinjit, mereka saling pandang sekejap dengan geli melihat kelakuan masing-masing.</p>
<p>Tanah di tengah hutan itu basah dan becek, semak rumput penuh butiran air. Setiba di tengah hutan, ternyata keadaan sunyi senyap dan kosong melompong, tiada seorang pun terlihat.</p>
<p>&#8220;Benar juga mereka sudah pergi, marilah kita mencari kabar mereka ke kota Bu-sik, saja,&#8221; ajak Giok-yan.</p>
<p>Tanpa pikir, Toan Ki mengiakan. Mengingat akan dapat jalan berendeng lagi dengan si cantik, saking senangnya tanpa terasa wajah Toan Ki berseri-seri.</p>
<p>&#8220;Adakah aku salah omong?&#8221; tanya Giok-yan heran.</p>
<p>&#8220;Tidak, tidak!&#8221; sahut Toan Ki cepat. &#8220;Marilah sekarang juga kita berangkat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Habis, mengapa engkau tersenyum?&#8221; desak Giok-yan.</p>
<p>&#8220;O, aku &#8230; aku memang terkadang suka &#8230; suka angin-anginan, tak perlu engkau pusingkan aku,&#8221; sahut Toan Ki dengan gelagapan.</p>
<p>Jawaban itu membuat Giok-yan merasa geli juga, ia tertawa mengikik. Karena itu Toan Ki ikut tertawa mengakak.</p>
<p>Mereka meneruskan perjalanan ke Bu-sik. Beberapa li lagi, tiba-tiba tertampak di dahan pohon, di tepi jalan tergantung sesosok mayat busu bangsa Se He. Mereka terheran-heran sebab tidak tahu perbuatan siapakah itu?</p>
<p>Beberapa puluh meter pula, kembali di tepi jalan ada dua mayat orang Se He, bahkan darah pada lukanya masih belum kering, suatu tanda matinya belum seberapa lama.</p>
<p>&#8220;Orang-orang Se He itu telah ketemu musuh, menurut pendapatmu, siapakah yang membunuh mereka, nona Ong?&#8221; tanya Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Ilmu silat pembunuh itu sangat tinggi, cara membunuh jago-jago Se He ini dilakukan dengan sangat mudah, sungguh hebat kepandaiannya!&#8221; demikian puji Giok-yan. &#8220;Eh, siapakah yang datang itu?&#8221;</p>
<p>Ternyata dari arah sana tertampak dua penunggang kuda sedang mendatangi dengan cepat, penunggangnya masing-masing berbaju merah dan hijau. Kiranya mereka adalah A Cu dan A Pik.</p>
<p>&#8220;Hai, A Cu, A Pik! Kalian berhasil lolos dari bahaya?&#8221; seru Giok-yan dengan girang.</p>
<p>Sudah tentu keempat orang sama-sama bergirang karena dapat berkumpul kembali.</p>
<p>Segera A Cu berkata, &#8220;Ong-kohnio, Toan-kongcu, mengapa kalian kembali ke sini lagi? Kami justru ingin mencari kalian.&#8221;</p>
<p>&#8220;Cara bagaimana kalian meloloskan diri? Apakah kalian mencium botol berbau busuk itu?&#8221; tanya Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Ya, benar, sungguh bacin sekali baunya,&#8221; sahut A Cu tertawa, &#8220;Apakah engkau juga sudah mengendusnya, nona? Juga Kiau-pangcu yang menolong kalian, bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kiau-pangcu apa maksudmu?&#8221; tanya Giok-yan. &#8220;Jadi lolosnya kalian adalah berkat pertolongan Kiau-pangcu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya,&#8221; sahut A Cu. &#8220;Tatkala itu kami dalam keadaan tak berkutik karena keracunan, bersama orang Kay-pang kami diringkus oleh orang-orang Se He dan dinaikkan ke atas kuda. Di tengah jalan tiba-tiba turun hujan hingga rombongan terpencar ada yang ke timur dan ada yang ke barat, masing-masing mencari tempat berteduh sendiri-sendiri. Aku dan A Pik dibawa meneduh ke suatu gardu oleh beberapa busu dan baru berangkat lagi sesudah hujan berhenti.</p>
<p>&#8220;Pada saat kami hendak digiring pergi pula itulah tiba-tiba dari belakang menyusul datang seorang penunggang kuda, itulah dia Kiau-pangcu. Melihat kami berdua ditawan orang Se He, beliau tampak terheran-heran dan belum lagi beliau tanya segera A Pik berseru minta tolong padanya.</p>
<p>&#8220;Mendengar &#8216;Kiau-pangcu&#8217;, seketika beberapa jago Se He itu gugup, berbareng mereka lolos senjata dan menyerbu Kiau-pangcu. Hasilnya orang-orang Se He itu ada yang terjungkir ke selokan di tepi jalan, ada yang mencelat hingga terkatung-katung di atas pohon, dan semuanya terbinasa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hal itu baru saja terjadi, bukan?&#8221; tanya Giok-yan dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Benar,&#8221; sahut A Cu. &#8220;Aku berkata kepada Kiau-pangcu, &#8216;Kami berdua tak dapat berkutik karena keracunan, harap Kiau-pangcu sudi mencarikan obat penawar racun di tubuh musuh yang terbinasa itu.&#8217; &#8211; Segera Kiau-pangcu menggeledah mayat seorang Se He yang berpangkat cukup tinggi tampaknya, ia mendapatkan sebuah botol kecil, tentang isi botol itu berbau wangi atau bacin rasanya tidak perlu hamba tuturkan lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan di manakah Kiau-pangcu sekarang?&#8221; tanya Giok-yan pula.</p>
<p>&#8220;Ketika mendengar orang-orang Kay-pang juga keracunan dan tertawan, beliau sangat khawatir dan mengatakan hendak pergi menolong mereka, lalu beliau berangkat dengan tergesa-gesa,&#8221; tutur A Cu. &#8220;Beliau juga menanyakan Toan-kongcu dan memerhatikan keselamatan Siocia pula.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, gihengku itu sungguh seorang yang sangat berbudi,&#8221; ujar Toan Ki dengan gegetun.</p>
<p>&#8220;Memang,&#8221; kata A Cu. &#8220;Padahal orang-orang Kay-pang itu sangat keterlaluan, seorang pangcu baik-baik mereka usir begitu saja dan kini mereka harus menerima hasil perbuatan mereka sendiri, biarkan mereka tahu rasa. Kalau aku menjadi Kiau-pangcu tentu aku takkan menolong mereka, biarkan mereka lebih banyak tersiksa supaya kelak tidak sembarangan mengusir orang secara semena-mena.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi gihengku adalah orang yang berbudi luhur, orang boleh mengkhianati dia, tidak nanti ia mengingkar orang,&#8221; ujar Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Dan sekarang kita harus pergi ke mana, nona?&#8221; tanya A Pik.</p>
<p>&#8220;Semula aku dan Toan-kongcu bermaksud menolong kalian, tapi kini kita berempat sudah dalam keadaan selamat, maka kita pun tidak perlu ikut campur urusan Kay-pang yang tiada sangkut paut dengan kita itu. Marilah kita pergi ke Siau-lim-si saja untuk mencari Kongcu kalian,&#8221; demikian sahut Giok-yan.</p>
<p>Memang kedua dara A Cu dan A Pik itu sangat mengkhawatirkan kongcu mereka, yaitu Buyung-kongcu, maka demi mendengar usul Giok-yan itu, serentak mereka menyatakan setuju.</p>
<p>Sudah tentu yang paling kecut rasanya adalah hati Toan Ki. Tapi terpaksa ia pun menyatakan, &#8220;Baiklah, Kongcu kalian itu memang juga sangat kukagumi dan ingin kubelajar kenal dengan dia. Aku tidak mempunyai pekerjaan apa-apa, biarlah aku ikut kalian ke Siau-lim-si.&#8221;</p>
<p>Segera mereka putar kuda dan berangkat menuju jurusan utara. Di tengah jalan Giok-yan ceritakan kepada A Cu dan A Pik tentang pengalamannya di rumah gilingan itu, di mana Toan Ki telah banyak membunuh musuh dan akhirnya Li Yan-cong juga dienyahkan serta mendapatkan obat penawar racun. A Cu dan A Pik terlongong-longong mendengar pengalaman yang aneh itu.</p>
<p>Bila mereka geli pada suatu bagian dari cerita itu, ketiga gadis itu tertawa cekikikan sambil memandang Toan Ki, sudah tentu mereka tidak berani tertawa lepas, tapi menutup mulut mereka dengan lengan baju.</p>
<p>Sebodoh-bodohnya Toan Ki juga tahu bahwa ketiga gadis itu sedang membicarakan kelakuannya yang ketolol-tololan itu. Tapi bila mengingat awak sendiri meski ketolol-tololan, paling tidak akhirnya toh dapat melindungi Giok-yan tanpa kurang suatu apa pun, maka biarpun agak malu-malu juga ia merasa bangga.</p>
<p>Namun bila melihat asyiknya ketiga anak dara itu berbicara hingga dirinya seakan-akan terlupakan, apalagi nanti kalau sudah berkumpul dengan Buyung-kongcu, mungkin dirinya lebih tidak diberi tempat lagi, terpikir demikian, hati Toan Ki menjadi hampa.</p>
<p>Setelah beberapa li pula dan menyusur sebuah hutan arbei, tiba-tiba mereka mendengar suara tangisan dua pemuda yang sangat memilukan. Cepat mereka melarikan kuda ke depan untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata pemuda-pemuda itu adalah dua hwesio cilik belasan tahun, baju padri mereka berlepotan darah, satu di antaranya malah terluka jidatnya.</p>
<p>&#8220;Siausuhu, kenapa kalian menangis? Siapa yang menganiaya kalian?&#8221; tanya A Pik yang berhati welas asih.</p>
<p>Sambil menangis, hwesio cilik yang jidat terluka itu menjawab, &#8220;Kuil kami telah kedatangan segerombolan orang asing yang jahat, guru kami terbunuh dan kami didepak keluar.&#8221;</p>
<p>Mendengar kata-kata &#8220;orang asing jahat&#8221; itu, Giok-yan berempat saling pandang sekejap dan sama-sama berpikir, &#8220;Apakah mereka itu orang Se He?&#8221;</p>
<p>Segera A Cu tanya, &#8220;Di manakah letak kuil kalian? Orang asing jahat macam apakah mereka itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kuil kami bernama Thian-leng-si, itu, di sebelah sana &#8230;.&#8221; sahut si hwesio cilik sambil menuding ke arah timur laut, lalu menyambung, &#8220;Orang-orang asing itu membawa tawanan kira-kira seratusan orang pengemis dan berteduh ke kuil kami karena hujan. Mereka minta arak dan minta daging, minta disembelihkan ayam dan suruh memotong kerbau segala. Sudah tentu Suhu keberatan kuil kami dibikin kotor, dan mereka lantas membunuh Suhu beserta belasan orang suheng kami. Huk-huk &#8230; huk-huk-huk &#8230; huk!&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudahlah, jangan menangis,&#8221; kata A Cu. &#8220;Dan sekarang orang-orang jahat itu sudah pergi belum?&#8221;</p>
<p>&#8220;Belum,&#8221; sahut padri kecil itu sambil menuding kepulan asap di balik hutan sana. &#8220;Itu, mereka lagi sibuk memasak daging kerbau, benar-benar berdosa, Buddha Mahaasih, biarlah mereka kelak dimasukkan neraka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalian lekas lari saja, jangan-jangan sebentar kalian akan ditangkap kawanan penjahat itu dan disembelih sekalian untuk dimakan,&#8221; ujar A Cu.</p>
<p>Keruan kedua padri kecil itu ketakutan, segera mereka angkat kaki dan berlari pergi.</p>
<p>&#8220;Ai, mereka sedang bingung, mengapa Enci A Cu malah menakuti mereka?&#8221; ujar Toan Ki kurang senang.</p>
<p>&#8220;Aku tidak menakuti mereka, tapi aku berkata sungguh-sungguh,&#8221; sahut A Cu tertawa.</p>
<p>&#8220;Wah, orang-orang Kay-pang katanya terkurung di dalam Thian-leng-si situ, jika demikian, tentu Kiau-pangcu akan menubruk tempat kosong bila mencari ke kota Bu-sik,&#8221; ujar A Pik tiba-tiba.</p>
<p>Mendadak A Cu memperoleh suatu akal aneh, katanya, &#8220;Ong-kohnio, aku ingin menyamar sebagai Kiau-pangcu dan menyelundup ke dalam kuil itu untuk mengenduskan bau botol yang bacin itu kepada kawanan pengemis. Setelah mereka terlolos dari bahaya, tentu mereka akan sangat berterima kasih kepada Kiau-pangcu.&#8221;</p>
<p>Giok-yan tersenyum, sahutnya, &#8220;Tapi perawakan Kiau-pangcu tinggi besar, dia adalah seorang laki-laki tegap, masakah kau dapat menyaru sebagai dia?&#8221;</p>
<p>&#8220;Semakin sulit menyamar, semakin kelihatan kepandaian A Cu, boleh lihat nanti,&#8221; ujar A Cu dengan bangga.</p>
<p>&#8220;Walaupun kau dapat menyaru dengan persis, tapi tidak dapat memalsukan ilmu saktinya yang tiada bandingannya itu,&#8221; ujar Giok-yan. &#8220;Padahal di dalam Thian-leng-si itu penuh jago pilihan It-bin-tong dan negeri Se He, mana dapat kau masuk-keluar dengan bebas? Maka kurasa lebih baik engkau menyamar sebagai seorang tukang api atau seorang nenek desa penjual sayur, mungkin akan lebih mudah untuk menyusup ke dalam kuil.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau mesti menyamar sebagai nenek-nenek penjual sayur, rasanya kurang menarik, aku tak mau menyusup ke dalam kuil.&#8221;</p>
<p>Giok-yan memandang sekejap ke arah Toan Ki, bibirnya bergerak, tapi urung bicara.</p>
<p>&#8220;Apakah yang hendak nona katakan?&#8221; tanya Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Sebenarnya aku ingin engkau juga menyaru seseorang dan ikut pergi ke Thian-leng-si bersama A Cu, tapi setelah kupikir pula, agaknya kurang sempurna,&#8221; ujar Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Ingin aku menyamar sebagai siapa?&#8221; tanya Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Sebab para tokoh Kay-pang itu punya penyakit mencurigai orang dan menuduh piaukoku bersekongkol dengan Kiau-pangcu untuk membunuh Be-hupangcu mereka, maka &#8230; maka bila Piauko dan Kiau-pangcu pergi bersama ke sana untuk membebaskan mereka dari bahaya, tentu mereka takkan &#8230; takkan sembarangan mencurigai orang lain.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi maksudmu ingin aku menyamar sebagai piaukomu?&#8221; tanya Toan Ki dengan rasa cemburu.</p>
<p>Wajah Giok-yan berubah merah, sahutnya, &#8220;Tapi musuh di Thian-leng-si itu terlalu kuat, jika kalian berdua pergi ke sana, mungkin sangat berbahaya, mungkin lebih baik jangan pergi saja.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba Toan Ki memikir, &#8220;Bila aku menyamar sebagai piaukonya, boleh jadi sikapnya kepadaku akan berbeda daripada biasanya. Walaupun cuma sebentar saja aku menikmati rasa bahagia juga lumayan.&#8221;</p>
<p>Berpikir demikian, seketika semangatnya menyala-nyala, segera katanya, &#8220;Masakan khawatir bahaya apa segala? Paling-paling angkat kaki melarikan diri, dan cara itu justru adalah kepandaianku yang utama.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi kurasa tidak baik, sebab selamanya piaukoku membunuh musuh semudah membalik tangan sendiri, tidak pernah dia melarikan diri,&#8221; ujar Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Nyes&#8221;, seketika Toan Ki seperti digebyur air es demi mendengar kata-kata itu, pikirnya, &#8220;Ya, ya, memangnya piaukomu adalah seorang kesatria, seorang pahlawan perkasa, memangnya aku tidak sesuai untuk menyamar sebagai dia. Kalau memalsukan dia hingga memalukan di depan orang banyak, bukankah akan menodai nama kebesarannya?&#8221;</p>
<p>Melihat pemuda itu termenung-menung kurang senang, cepat A Pik menghiburnya, &#8220;Toan-kongcu, kita menghadapi musuh lebih banyak jumlahnya, kalau sementara kita mengalah juga tidak mengapa. Toh tujuan kita hanya untuk menolong orang dan bukan bertanding kepandaian dengan mereka.&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu A Cu lagi mengamat-amati Toan Ki dari atas ke bawah dan dari bawah kembali ke atas, lalu ia mengangguk-angguk dan berkata, &#8220;Toan-kongcu, untuk menyamar sebagai Kongcu kami sebenarnya tidak mudah, untung orang-orang Kay-pang tiada yang kenal Kongcu kami, maka tentang wajah dan suara beliau asal dapat mendekati saja sudah cukup mengelabui mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Buyung-kongcu adalah manusia pilihan di antara manusia, orang lain mana dapat sembarangan menyamar sebagai dia?&#8221; ujar Toan Ki. &#8220;Tapi kukira ada baiknya juga samaranku nanti tidak terlalu mirip beliau, dengan begitu, jika nanti mesti angkat langkah seribu melarikan diri, sedikitnya nama baik Buyung-kongcu tidak sampai ternoda.&#8221;</p>
<p>Muka Giok-yan menjadi merah, dengan perlahan ia tanya, &#8220;Tadi aku telah salah omong, apakah Toan-kongcu marah padaku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, tidak, tidak, mana aku berani marah?&#8221; sahut Toan Ki cepat.</p>
<p>Maka tersenyumlah Giok-yan. Tanyanya kemudian, &#8220;Lantas di manakah kalian hendak menyamar?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kita harus mendatangi kota kecil di sana barulah dapat membeli alat-alat keperluan menyamar,&#8221; sahut A Cu.</p>
<p>Segera mereka berempat melarikan kuda ke barat, kira-kira beberapa li jauhnya, tibalah mereka di suatu kota kecil bernama Ma-long-kio. Kota itu terlampau kecil dan tiada rumah penginapan segala, hanya di tepi kota ada sebuah sungai kecil.</p>
<p>Setelah membeli pakaian dan alat-alat menyamar lain yang diperlukan, mereka menyewa sebuah perahu dan berdandan di dalam kendaraan air itu. Lebih dulu A Cu mendandani Toan Ki, memberinya sebuah kipas lempit, pakaiannya berwarna hijau mulus, pada jari kiri memakai sebentuk cincin.</p>
<p>&#8220;Kongcu kami suka memakai cincin bermata batu kemala, tapi susah dicari di sini, maka bolehlah memakai batu akik sebagai ganti sekadarnya,&#8221; ujar A Cu.</p>
<p>Toan Ki hanya tersenyum getir saja, pikirnya, &#8220;Memangnya Buyung-kongcu ibarat batu kemala yang berharga dan aku cuma batu akik yang tak bernilai. Memang begitulah harga diriku dalam pandangan ketiga gadis ini.&#8221;</p>
<p>Selesai A Cu mendandani Toan Ki, lalu katanya kepada Giok-yan, &#8220;Siocia, adakah sesuatu tempat yang kurang mirip?&#8221;</p>
<p>Tapi Giok-yan tidak menjawab, ia sedang memandang Toan Ki dengan termangu-mangu, dengan sorot mata penuh arti seakan-akan lagi berhadapan dengan Buyung Hok.</p>
<p>Perasaan Toan Ki ikut terguncang ketika sinar matanya kebentrok dengan sorot mata si gadis. Tapi segera terpikir olehnya, &#8220;Ah, terang yang terbayang olehnya adalah Buyung Hok dan bukan aku si Toan Ki.&#8221;</p>
<p>Begitulah perasaan Toan Ki, sebentar suka dan sebentar lagi duka. Kedua muda-mudi itu pandang-memandang dengan perasaan yang berbeda-beda sehingga kepergian A Cu dan A Pik ke buritan perahu untuk ganti pakaian terlupakan oleh mereka.</p>
<p>Selang agak lama, tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki sedang menegur, &#8220;Ai, kiranya Toan-hiante berada di sini, sudah lama kucari engkau.&#8221;</p>
<p>Toan Ki terkejut dan cepat mendongak. Ia lihat pembicara itu tak-lain-tak-bukan adalah Kiau Hong. Keruan ia kegirangan dan cepat menyahut, &#8220;Hai, kiranya Toako! Memangnya kami sedang bermaksud menyamar sebagai Toako untuk menolong kawan-kawan Kay-pang, sekarang engkau sendiri sudah datang, maka Enci A Cu tidak perlu menyamar lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Orang-orang Kay-pang telah pecat aku dari keanggotaan mereka, biarkan mereka mati atau hidup tak kupeduli lagi,&#8221; sahut Kiau Hong. &#8220;Adik yang baik, marilah kita pergi ke kota saja untuk mengadu minum, paling sedikit kita harus menghabiskan 50 mangkuk setiap orang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Toako,&#8221; kata Toan Ki, &#8220;para saudara Kay-pang adalah laki-laki yang berjiwa patriot, harap engkau sudi pergi menolong mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Engkau adalah pelajar yang masih hijau, apa yang kau ketahui,&#8221; sahut Kiau Hong dengan marah. &#8220;Ayolah, tak perlu urus mereka, marilah pergi minum arak paling perlu.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, terus saja ia pegang tangan Toan Ki dan hendak menyeretnya pergi.</p>
<p>Terpaksa Toan Ki berkata, &#8220;Baiklah, sesudah kita minum arak, engkau harus pergi menolong mereka.&#8221;</p>
<p>Di luar dugaan, mendadak &#8220;Kiau Hong&#8221; terkikik-kikik, suaranya nyaring genit, tidak mungkin seorang laki-laki kekar sebagai Kiau Hong dapat mengeluarkan suara tertawa yang mirip anak dara.</p>
<p>Keruan Toan Ki tercengang. Tapi segera ia pun paham duduknya perkara, terus saja ia memberi hormat sambil berkata, &#8220;Ai, Enci A Cu, kepandaianmu menyamar sesungguhnya teramat tinggi, sampai suara Toakoku yang kasar itu pun dapat engkau tiru sedemikian miripnya.&#8221;</p>
<p>Memang tidak salah &#8220;Kiau Hong&#8221; itu adalah samaran si A Cu, begitu persis hingga Toan Ki tidak dapat mengenalnya lagi.</p>
<p>Maka dengan nada suara Kiau Hong yang kasar, A Cu lantas berkata pula, &#8220;Toan-hiante, marilah sekarang juga kita berangkat, bawalah botol yang berbau busuk itu.&#8221;</p>
<p>Lalu ia pun berkata kepada Giok-yan dan A Pik, &#8220;Harap kedua nona suka menanti sementara di sini.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia tarik tangan Toan Ki terus diajak mendarat. Entah tangannya dilumuri barang apa, tangan yang halus sebagaimana lazimnya tangan anak dara itu kini telah berubah menjadi kasap dan kehitam-hitaman, meski tidak sebesar tangan Kiau Hong tapi seketika juga susah diketahui orang lain.</p>
<p>Begitulah dengan meninggalkan Giok-yan yang masih termenung-menung mengenangkan sang piauko itu, A Cu dan Toan Ki telah menunggang kuda menuju ke Thian-leng-si. Sesudah dekat dengan kuil itu, khawatir kalau suara kuda mereka didengar musuh, mereka lantas tambat kuda-kuda itu di kandang sapi seorang petani di tepi jalan, lalu berjalan menuju ke kuil itu.</p>
<p>&#8220;Saudara Buyung,&#8221; demikian kata si &#8220;Kiau Hong&#8221; tiruan alias A Cu, &#8220;setiba di dalam kuil nanti, aku lantas buka mulut besar dan membual setinggi langit, kesempatan itu harus engkau gunakan dengan cepat untuk mengenduskan obat penawar di dalam botol itu kepada orang-orang Kay-pang.&#8221;</p>
<p>Dengan menahan perasaan geli, Toan Ki telah mengiakan. Dan mereka pun lantas mendekati pintu kuil yang dijaga oleh belasan busu bangsa Se He yang bersenjata lengkap.</p>
<p>Melihat keadaan itu, hati Toan Ki dan A Cu mulai kebat-kebit dan tanpa terasa menjadi jeri.</p>
<p>&#8220;Toan-kongcu, sebentar harap engkau menyeret aku lari keluar. Kalau tidak, bila aku ditantang bertanding silat dengan mereka, tentu aku bisa celaka,&#8221; kata A Cu.</p>
<p>&#8220;Baiklah,&#8221; sahut Toan Ki dengan suara agak gemetar, nyata ia pun ketakutan.</p>
<p>Begitulah selagi mereka berunding sambil melongak-longok, hal itu segera dapat dilihat oleh seorang busu penjaga itu, terdengar bentakannya, &#8220;Hai, kalian lagi berbuat apa? Mata-mata musuh, tentu!&#8221;</p>
<p>Berbondong-bondong keempat busu lantas mendekati Toan Ki berdua sambil membentak-bentak.</p>
<p>Terpaksa A Cu membusungkan dada dan memapak maju, katanya dengan suara keras, &#8220;Hai, lekas beri tahukan kepada Ciangkun kalian, katakan bahwa Kiau Hong dari Kay-pang dan Buyung Hok dari Kanglam ingin bertemu dengan Helian-tayciangkun dari Se He.&#8221;</p>
<p>Rupanya nama Buyung Hok tidak dikenal oleh orang-orang Se He, tapi nama Kiau Hong telah mereka kenal sebagai pangcu dari Kay-pang. Maka mereka agak terkejut demi mendengar teguran A Cu itu, cepat busu yang menjadi kepala jaga itu memberi hormat dan menyapa, &#8220;O, kiranya Kiau-pangcu berkunjung kemari. Maaf, silakan menunggu sebentar, segera kulaporkan kepada Ciangkun.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia terus putar tubuh berlari ke dalam kuil dengan cepat.</p>
<p>Tidak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara trompet berbunyi, pintu kuil terbuka lebar, pemimpin It-bin-tong dari Se He, Helian Tiat-si tampak menyambut keluar bersama Nurhai dan jago-jago lainnya, di antaranya terdapat Yap Ji-nio, Lam-hay-gok-sin dan In Tiong-ho.</p>
<p>Hati Toan Ki agak kebat-kebit, sedapat mungkin ia melengos ke arah lain dan tidak berani saling pandang dengan kenalan-kenalan lama itu.</p>
<p>Maka terdengarlah Helian Tiat-si mulai berkata, &#8220;Sudah lama kami mendengar nama besar &#8216;Koh-soh Buyung&#8217; yang terkenal dengan filsafatnya &#8216;Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin&#8217;. Untung hari ini dapatlah berjumpa, sungguh kami merasa sangat bahagia.&#8221;</p>
<p>Sembari berkata ia terus merangkap tangannya untuk memberi hormat kepada Toan Ki.</p>
<p>Lekas-lekas Toan Ki membalas hormat dan menjawab, &#8220;Nama kebesaran Helian-ciangkun sudah lama kami kagumi, terutama para kesatria yang terhimpun di dalam It-bin-tong di negeri Se He. Jikalau kedatangan kami ini agak gegabah, harap sukalah dimaafkan.&#8221;</p>
<p>Dasarnya Toan Ki memang seorang pelajar yang lemah lembut, maka cara bicaranya pun menjadi ramah tamah, sedikit pun tidak mencurigakan.</p>
<p>&#8220;Orang Bu-lim suka berkata &#8216;Pak Kiau Hong, Lam Buyung&#8217; (di utara ada Kiau Hong dan di selatan ada Buyung), katanya kesatria Tionggoan kalian berdua inilah yang tiada bandingannya, maka sungguh berbahagia sekali hari ini kalian sudi berkunjung ke sini. Silakan masuk, silakan!&#8221;</p>
<p>Dengan tabahkan hati A Cu dan Toan Ki ikut Helian Tiat-si ke dalam kuil itu. Diam-diam Toan Ki berpikir, &#8220;Dari sikap dan kata-kata jenderal Se He ini, agaknya ia lebih segan terhadap Buyung-kongcu daripada Kiau-toako. Apakah disebabkan pribadi dan ilmu silat Buyung Hok itu memang benar lebih hebat daripada Kiau-toako? Tapi kukira belum tentu.&#8221;</p>
<p>Selagi Toan Ki tenggelam dalam lamunannya, tiba-tiba terdengar suara seruan orang yang melengking tajam, &#8220;Haha, belum tentu, belum tentu!&#8221;</p>
<p>Toan Ki terkejut, ia menoleh dan melihat yang bersuara itu adalah Lam-hay-gok-sin. Si jahat ketiga itu sedang mengincar ke arahnya dengan matanya yang kecil bagai kacang itu sambil goyang-goyang kepala.</p>
<p>&#8220;Wah, celaka, jangan-jangan dia mengenali diriku?&#8221; demikian diam-diam Toan Ki berdebar-debar.</p>
<p>Terdengar Lam-hay-gok-sin sedang berkata pula, &#8220;Melihat potongannya ini, bobotnya paling banyak 50 kati, masakah tahan sekali genjot? Eh, aku ingin tanya padamu. Orang bilang engkau suka &#8216;Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin&#8217;, tapi aku Gak-loji justru tidak percaya. Aku pun tidak perlu engkau bergerak tangan, cukup asal dapat kau katakan kepandaian khas apa yang menjadi andalan Gak-loji ini? Dengan ilmu apa kau mampu menggunakan cara Locu untuk digunakan atas diri Locu ini?&#8221;</p>
<p>Sambil bicara, Lam-hay-gok-sin pakai bertolak pinggang segala, sikapnya sombong dan kasar. Sebenarnya Helian Tiat-si hendak mencegahnya, tapi demi dipikir bahwa nama Buyung Hok sangat tersohor, apakah kepandaiannya sesuai dengan namanya, mengapa tidak membiarkan Lam-hay-gok-sin yang angin-anginan itu coba mengujinya. Sebab itulah ia diam saja dan tidak merintangi.</p>
<p>Tengah bicara, sementara itu mereka sudah berada di ruangan besar. Helian Tiat-si menyilakan Toan Ki duduk di tempat utama, tapi pemuda itu malah mengalah kepada A Cu.</p>
<p>Dalam pada itu Lam-hay-gok-sin sudah tidak sabar lagi, segera ia berteriak, &#8220;Hai, Buyung-siaucu, coba katakan sekarang, kepandaian apa yang menjadi kemahiranku?&#8221;</p>
<p>Toan Ki tersenyum, pikirnya, &#8220;Kalau orang lain yang tanya demikian padaku tentu aku akan melongo dan tak dapat menjawab, tapi sekarang engkau yang tanya, itulah sangat kebetulan sekali.&#8221;</p>
<p>Maka dengan tenang buka kipas dan mengebas perlahan sambil menjawab, &#8220;Lam-hay-gok-sin Gak-losam, julukanmu pakai &#8216;buaya&#8217;, dan kelakuanmu memang mirip buaya. Boleh jadi kedudukanmu dalam urut-urutan Su-ok segera akan merosot menjadi Losi (si keempat). Tentang kepandaianmu yang masih hijau itu, masakah perlu tanya padaku? Mungkin anak kemarin juga tahu. Semua orang tahu kau telah menyembah pada Toan-kongcu dari Tayli sebagai guru dan sedikit pun kau belum mendapat ajaran ilmu sakti apa-apa dari dia. Kepandaianmu cetek, yang sok kau agulkan sekarang tidak lain cuma Gok-bwe-pian dan Gok-cui-cian (ruyung ekor buaya dan gunting congor buaya) saja.&#8221;</p>
<p>Sekaligus Toan Ki dapat menyebutkan senjata andalan orang, yaitu Gok-bwe-pian dan Gok-cui-cian, bukan saja Lam-hay-gok-sin melengak tidak habis kejutnya, bahkan Yap Ji-nio dan In Tiong-ho juga tidak terkatakan herannya.</p>
<p>Maklum, kedua macam senjata itu baru saja berhasil diyakinkan Lam-hay-gok-sin dan selama ini belum pernah dipertunjukkan di depan umum. Hanya tempo hari waktu bergebrak dengan In Tiong-ho di Tayli pernah digunakannya satu kali, tatkala mana kecuali Bok Wan-jing boleh dikatakan tiada orang luar lagi yang melihatnya. Siapa duga kemudian Bok Wan-jing telah menceritakan kejadian itu kepada Toan Ki, sedangkan Buyung Hok yang ada di depannya sekarang justru adalah samaran Toan Ki.</p>
<p>Begitulah Lam-hay-gok-sin coba mengamat-amati Toan Ki dengan kepala miring ke kanan dan ke kiri. Biarpun wataknya sangat jahat, tapi dia juga punya perasaan kagum kepada kaum kesatria yang gagah perkasa. Lewat sejenak, tanpa ragu lagi ia acungkan jempolnya dan memuji, &#8220;Bagus! Memang hebat kau!&#8221;</p>
<p>&#8220;Terima kasih,&#8221; sahut Toan Ki dengan tertawa.</p>
<p>Tapi segera Lam-hay-gok-sin mendapatkan akal lain, tiba-tiba ia berkata pula, &#8220;Buyung-kongcu, tidaklah mengherankan jika engkau dapat memainkan ilmu silatku. Tapi kalau guruku berada di sini, tentu engkau tidak paham ilmu kepandaiannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kutahu kau adalah murid capcai, gurumu tidak cuma seorang saja, coba katakan gurumu yang mana dan ilmu kepandaian apa yang dia miliki?&#8221; sahut Toan Ki dengan senyum ejek.</p>
<p>Lam-hay-gok-sin tidak marah atas olok-olok itu, sebaliknya ia menyahut dengan berseri-seri, &#8220;Guruku yang pertama sudah lama meninggal, maka tidak perlu dibicarakan. Namun guruku yang baru saja kuangkat, ilmu kepandaiannya sungguh luar biar, melulu semacam ilmu langkahnya yang disebut &#8216;Leng-po-wi-poh&#8217; saja kuyakin tiada seorang pun yang paham, termasuk pula engkau.&#8221;</p>
<p>Toan Ki pura-pura termenung sejenak, lalu berkata, &#8220;Maksudmu &#8216;Leng-po-wi-poh&#8217;? Ehm, itu memang ilmu silat yang luar biasa. Dengan kepandaiannya yang sakti itu Toan-kongcu sudi menerima dirimu sebagai murid, sungguh hal ini sangat meragukan aku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Buat apa aku bohong padamu?&#8221; kata Lam-hay-gok-sin cepat. &#8220;Banyak hadirin yang berada di sini dapat menjadi saksi, beliau sendiri memanggil aku sebagai murid.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Toan Ki tertawa geli. Kalau semula si jahat ini ngotot tidak mau menyembah dan mengaku guru padanya, sekarang si jahat ini inilah khawatir dirinya tidak mau mengakui dia sebagai murid. Maka katanya kemudian, &#8220;Jika begitu, tentu kau sudah berhasil meyakinkan ilmu khas gurumu itu, bukan?&#8221;</p>
<p>Lam-hay-gok-sin menggeleng kepalanya bagaikan kelontong goyang cepatnya, sahutnya, &#8220;Tidak, tidak! Jangankan meyakinkan, belajar saja belum pernah. Tapi bila engkau mengaku paham segala macam ilmu silat di dunia ini, asal engkau mahir berjalan tiga langkah &#8216;Leng-po-wi-poh&#8217; saja, aku Gak-loji lantas menyerah padamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Leng-po-wi-poh meski sulit, namun pernah juga kupelajari beberapa langkah di antaranya,&#8221; sahut Toan Ki. &#8220;Nah, Gak-losam, boleh coba-coba menangkap diriku.&#8221;</p>
<p>Sembari berkata terus saja ia terbangkit dan berdiri di tengah ruangan.</p>
<p>Para jago Se He itu tiada seorang pun yang pernah melihat ilmu silat macam apakah &#8220;Leng-po-wi-poh&#8221; itu. Tapi karena Lam-hay-gok-sin memuji ilmu sakti itu setinggi langit, maka mereka pun ingin melihatnya untuk menambah pengalaman. Segera mereka menyingkir ke pinggir ruangan dan membiarkan Toan Ki mempertunjukkan kepandaiannya itu.</p>
<p>Tanpa bicara lagi Lam-hay-gok-sin terus menubruk maju sambil mengerang, tangan kiri menjulur ke depan, mendadak tangan kanan mencengkeram dari bawah tangan kiri. Namun cepat sekali Toan Ki menggeser ke samping dua langkah dan mundur satu tindak, dengan enteng sebagai daun teratai tertiup angin, dengan gaya yang indah ia dapat menghindarkan serangan lawan itu.</p>
<p>&#8220;Crat&#8221;, karena tidak sempat menahan serangannya, kelima kuku jari kanan Lam-hay-gok-sin menancap di atas pilar kayu di tengah ruangan itu.</p>
<p>Melihat begitu hebat tenaga si jahat ketiga itu, seketika semua orang terkesiap. Seharusnya mereka bersorak memuji, tapi saking kejutnya sampai mereka lupa bersorak.</p>
<p>Sekali menyerang tidak kena, suara erangan Lam-hay-gok-sin semakin keras. Mendadak ia meloncat ke atas, bagaikan elang menyambar anak ayam, ia menubruk ke bawah.</p>
<p>Namun Toan Ki sama sekali tidak ambil pusing akan tingkah musuh, biarpun orang berjungkir balik juga ia tidak peduli, ia tetap jalan berlenggang kian kemari menurut ilmu langkah yang telah dipelajarinya dengan baik itu.</p>
<p>Semakin serang Lam-hay-gok-sin semakin kalap, suara erangannya juga bertambah keras laksana binatang buas.</p>
<p>Melihat wajah orang yang memang jelek ditambah beringas seperti sekarang, Toan Ki mulai jeri, ia tidak berani memandang muka orang, bahkan ia terus keluarkan saputangan untuk menutupi matanya dan berkata, &#8220;Biarpun kedua mataku tertutup juga tidak nanti kau mampu menangkap diriku.&#8221;</p>
<p>Benar juga, biar bagaimanapun cara Lam-hay-gok-sin menubruk dan menyeruduk, selalu ia menubruk tempat kosong dan menangkap angin. Terkadang tangannya cuma selisih beberapa senti saja dari tubuh Toan Ki, namun toh tetap susah untuk menjamah pemuda itu.</p>
<p>Kalau penonton sampai berdebar-debar dan menahan napas, adalah sebaliknya Toan Ki malah enak-enak dan tetap berjalan dengan berlenggang kangkung. Dan tatkala Lam-hay-gok-sin semakin kalap dan menubruk serabutan, terpaksa Toan Ki harus mempercepat juga langkahnya, ia tidak dapat berlenggang lagi, tapi terpaksa main serampang 12 dengan irama cepat.</p>
<p>Mau tak mau A Cu ikut berdebar-debar menyaksikan permainan kucing-kucingan di tengah ruangan itu, ia khawatir jangan-jangan pada suatu saat Toan Ki akan meleng hingga kena ditangkap Lam-hay-gok-sin, hal ini berarti akan bikin runyam mereka. Maka cepat ia keraskan suaranya dan membentak, &#8220;Lam-hay-gok-sin, apakah kau belum kapok dan hendak menguber Buyung-kongcu? Bagaimana Leng-po-wi-poh itu dibandingkan dengan gurumu?&#8221;</p>
<p>Lam-hay-gok-sin melengak, ia tertegun di tempatnya bagai balon gembos, mau tak mau ia memuji, &#8220;Bagus, bagus! Memang hebat! Mungkin guruku juga tidak mampu melangkah seperti engkau dengan mata tertutup. Baik, memang Koh-soh Buyung tidak bernama kosong, aku Lam-hay-gok-sin mengaku kalah padamu.&#8221;</p>
<p>Kesempatan itu segera digunakan Toan Ki untuk menanggalkan tutup matanya serta kembali ke tempat duduknya. Maka bergemuruhlah sorak-sorai orang banyak.</p>
<p>Kemudian Helian Tiat-si menyilakan kedua tamunya minum, katanya, &#8220;Atas kunjungan kedua kesatria besar, entah ada keperluan apakah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena beberapa saudara kami entah sebab apa berbuat salah kepada Ciangkun, maka Ciangkun telah mengirim jago pilihan dan menangkap mereka ke sini, sebab itulah dengan memberanikan diri ingin kumohon Ciangkun suka membebaskan mereka,&#8221; sahut A Cu.</p>
<p>Sudah tentu ucapan A Cu itu sengaja dipakai untuk menyindir orang Se He yang telah menangkap orang dengan cara rendah dan memalukan.</p>
<p>Namun Helian Tiat-si tidak risi sedikit pun, dengan tersenyum ia berkata, &#8220;Memang benar. Tapi setelah menyaksikan demonstrasi Buyung-kongcu yang hebat barusan, nyata memang bukan nama kosong belaka. Kiau-pangcu mempunyai nama kebesaran sejajar dengan Buyung-kongcu, hendaklah juga suka unjuk sejurus-dua supaya kami bisa kagum benar-benar, dengan begitu pula agar ada alasan untuk membebaskan para kesatria dari pang kalian.&#8221;</p>
<p>Keruan A Cu agak gugup, pikirnya, &#8220;Untuk menyaru sebagai Kiau-pangcu dan menirukan lagak lagunya tidak susah bagiku. Tapi bila aku disuruh menirukan ilmu silatnya yang hebat itu, bukankah segera rahasia penyamaranku ini akan terbongkar?&#8221;</p>
<p>Selagi dia hendak mencari alasan untuk menutupi rasa serbasusahnya itu, tiba-tiba terasa tangan dan kaki lemas linu, bahkan gerak jari pun tak bisa. Keadaan demikian persis seperti terkena kabut berbisa semalam.</p>
<p>Keruan ia khawatir, keluhnya dalam hati, &#8220;Wah, celaka, sungguh tidak nyana bahwa jahanam orang Se He ini akan menggunakan akal licik pula, bagaimana baiknya sekarang?&#8221;</p>
<p>Di lain pihak Toan Ki yang kebal terhadap segala macam racun sedikit pun tidak merasa terjadi hal-hal yang ganjil itu. Cuma tiba-tiba dilihatnya A Cu lemas lunglai di tempat duduknya, segera ia tahu gadis itu tentu terkena kabut racun lagi, maka cepat ia mengeluarkan botol berbau busuk itu, ia buka sumbat botol dan disodorkan ke ujung hidung A Cu.</p>
<p>Segera A Cu menyedotnya beberapa kali, karena keracunan belum lama, segera ia dapat bergerak kembali. Ia pegang botol yang diangsurkan Toan Ki itu dan mencium pula dengan rasa heran mengapa musuh tidak turun tangan untuk menangkapnya?</p>
<p>Waktu ia perhatikan orang-orang Se He itu, ia lihat mereka pun menggeletak semua di atas kursi tanpa berkutik, hanya biji mata mereka yang tertampak terbelalak lebar seperti terheran-heran.</p>
<p>&#8220;Aneh, mengapa orang-orang ini keracunan sendiri, benar-benar senjata makan tuan,&#8221; demikian ujar Toan Ki.</p>
<p>Segera A Cu mendekati Helian Tiat-si, ia coba dorong-dorong panglima Se He itu, tapi Helian Tiat-si benar-benar lemas lunglai, tidak salah lagi memang keracunan. Tapi badan lemas kan mulut masih dapat bicara, segera ia membentak, &#8220;Hai, siapakah yang mengeluarkan kabut wangi ini? Lekas ambilkan obat penawar, cepat!&#8221;</p>
<p>Meski sudah beberapa kali ia membentak, tapi anak buahnya tetap diam saja dengan lemas, semuanya berkata, &#8220;Lapor Ciangkun, hamba sekalian juga tak dapat berkutik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pasti ada pengkhianat, kalau tidak, masakah lawan tahu cara penggunaan kabut wangi kita yang rumit itu,&#8221; kata Nurhai.</p>
<p>&#8220;Siapa pengkhianatnya, siapa? Lekas cari dan cencang dia hingga hancur lebur,&#8221; teriak Helian Tiat-si dengan murka.</p>
<p>&#8220;Ya, paling penting sekarang harus mendapatkan obat penawar kita,&#8221; sahut Nurhai. Ia melirik dan melihat A Cu memegang sebuah botol kecil, segera katanya, &#8220;Kiau-pangcu, sudilah engkau enduskan obat penawar itu kepada kami, nanti Ciangkun kami pasti akan membalas jasamu ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku harus menolong saudara-saudara pang kami, siapa ingin kepada balas jasa apa segala dari Ciangkun kalian?&#8221; sahut A Cu dengan tertawa.</p>
<p>Terpaksa Nurhai berkata kepada Toan Ki, &#8220;Buyung-kongcu, di bajuku juga ada sebuah botol, tolonglah keluarkan untuk dicium kami.&#8221;</p>
<p>Toan Ki tidak menolak, ia merogoh baju Nurhai dan benar juga dikeluarkannya sebuah botol kecil. Katanya kemudian dengan tertawa, &#8220;Obat penawar memang perlu, tapi takkan kuberikan kepadamu.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia terus menuju ke ruangan belakang bersama A Cu. Maka tertampaklah di serambi timur sana penuh berjubel orang, semuanya adalah anggota Kay-pang yang tertawan. Dan begitu A Cu masuk ke situ, segera Go-tianglo berseru, &#8220;Aha, kiranya engkau yang datang, Kiau-pangcu, lekas tolong kami!&#8221;</p>
<p>Segera A Cu mengenduskan obat penawar itu kepada Go-tianglo dan berkata, &#8220;Ini adalah obat penawar, boleh dienduskan kepada para saudara untuk memunahkan racun mereka.&#8221;</p>
<p>Go-tianglo sangat girang, setelah kaki-tangannya dapat bergerak, segera ia bergantian memunahkan racun Song-tianglo. Di sebelah sana Toan Ki juga telah menyembuhkan racun Ci-tianglo dan begitu seterusnya.</p>
<p>&#8220;Kawan-kawan kita terlalu banyak, kalau satu per satu dipunahkan racunnya seperti tentu akan maka waktu terlalu lama,&#8221; ujar A Cu. &#8220;Go-tianglo, cobalah geledah orang-orang Se He itu, carilah obat penawar serupa ini.&#8221;</p>
<p>Go-tianglo mengiakan dan segera berlari ke ruangan depan untuk menggeledah obat. Maka terdengarlah suara makian dan teriakan disertai suara &#8220;plak-plok&#8221; berulang-ulang.</p>
<p>Nyata sembari menggeledah obat, Go-tianglo tidak lupa memberi persen gamparan kepada orang-orang Se He itu untuk melampiaskan rasa dongkolnya.</p>
<p>Tidak lama kemudian, kembalilah Go-tianglo dengan membawa lima-enam buah botol porselen kecil, katanya dengan tertawa, &#8220;Yang kupilih adalah musuh yang berpakaian perlente, kedudukan mereka tentu lebih tinggi dan benar juga mereka membawa obat penawar seperti ini. Hahaha, baru sekarang mereka tahu rasa!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tahu rasa apa?&#8221; tanya Toan Ki heran.</p>
<p>&#8220;Setiap orang mereka telah kupersen dua kali tamparan, yang memiliki obat penawar sengaja kugampar lebih keras,&#8221; tutur Go-tianglo dengan tertawa. Dan tiba-tiba ia merasa belum pernah kenal Toan Ki dalam samaran itu, segera ia tanya, &#8220;Siapakah nama terhormat saudara ini? Terima kasih banyak atas budi pertolonganmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Cayhe she Buyung,&#8221; sahut Toan Ki. &#8220;Maafkan kedatangan kami agak terlambat sehingga kalian tersiksa sekian lamanya.&#8221;</p>
<p>Mendengar orang mengaku she &#8220;Buyung&#8221;, maka tahulah orang-orang Kay-pang tentu pemuda inilah &#8220;Koh-soh Buyung&#8221; yang terkenal itu.</p>
<p>&#8220;Ai, kita benar-benar sudah buta semua sehingga sembarangan mendakwa Buyung-kongcu telah membunuh Be-hupangcu, hari ini kalau bukan Buyung-kongcu dan Kiau-pangcu yang menolong kita, tentu kita akan celaka di tangan anjing-anjing Se He yang jahat itu,&#8221; demikian seru Song-tianglo.</p>
<p>&#8220;Ya, orang tua tentu suka mengampuni kesalahan kaum hamba, Kiau-pangcu, mohon engkau sudi kembali menjadi pangcu kita saja,&#8221; segera Go-tianglo ikut berkata.</p>
<p>&#8220;Huh, Kiau-ya dan Buyung-kongcu ternyata benar bersahabat baik,&#8221; tiba-tiba Coan Koan-jing menjengek dengan dingin. Ia belum mengendus obat penawar, maka tubuhnya masih belum bisa berkutik.</p>
<p>Ia sebut Kiau Hong sebagai &#8220;Kiau-ya&#8221; (tuan Kiau) dan tidak menyebutnya sebagai &#8220;Kiau-pangcu&#8221;, itu berarti ia tidak mengakui dia lagi sebagai pangcu. Sebaliknya ia bilang Kiau Hong ternyata bersahabat dengan Buyung-kongcu, kata-kata itu pun sangat licin.</p>
<p>Sebab, hendaklah diketahui bahwa orang-orang Kay-pang sama mencurigai Kiau Hong sebagai pembunuh Be Tay-goan secara tidak langsung, yaitu dengan meminjam tangan Buyung Hok. Padahal Kiau Hong selalu menyangkal kenal Buyung Hok. Sebaliknya sekarang kedua orang ini sama-sama datang ke Thian-leng-si, dilihat dari sikap mereka berdua yang akrab itu pastilah mereka bukan kenalan baru saja.</p>
Posted in Jin Yong, Pendekar Kerajaan Tayli  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toanki.wordpress.com/1828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toanki.wordpress.com/1828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toanki.wordpress.com/1828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toanki.wordpress.com/1828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toanki.wordpress.com/1828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toanki.wordpress.com/1828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toanki.wordpress.com/1828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toanki.wordpress.com/1828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toanki.wordpress.com/1828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toanki.wordpress.com/1828/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&blog=4564196&post=1828&subd=toanki&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-28/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b75e221c0eee4ff517b26695a19675fc?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">Lenghou Tiong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 27</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-27/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-27/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 04:57:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1825</guid>
		<description><![CDATA[Untung waktu itu adalah malam dan di tempat sepi hingga tiada orang yang melihat sikapnya yang aneh itu, kalau tidak, tentu orang akan menyangka dia sudah gila.
Hujan itu semakin deras, Toan Ki menanggalkan jubahnya untuk menutup badan Giok-yan. Tapi hanya sebentar saja baju kedua orang telah sama-sama basah kuyup lagi.
&#8220;Bagaimana keadaanmu, nona Ong?&#8221; kembali Toan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&blog=4564196&post=1825&subd=toanki&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Untung waktu itu adalah malam dan di tempat sepi hingga tiada orang yang melihat sikapnya yang aneh itu, kalau tidak, tentu orang akan menyangka dia sudah gila.</p>
<p><span id="more-1825"></span>Hujan itu semakin deras, Toan Ki menanggalkan jubahnya untuk menutup badan Giok-yan. Tapi hanya sebentar saja baju kedua orang telah sama-sama basah kuyup lagi.</p>
<p>&#8220;Bagaimana keadaanmu, nona Ong?&#8221; kembali Toan Ki menanya.</p>
<p>&#8220;Ai, basah dan dingin, sebaiknya cari suatu tempat untuk berteduh,&#8221; sahut Giok-yan.</p>
<p>Segala apa yang dikatakan Giok-yan itu bagi pendengaran Toan Ki adalah serupa titah sang ratu. Sekarang gadis itu minta dicarikan tempat meneduh, meski pemuda itu tahu keadaan masih berbahaya, setiap waktu dapat disusul musuh, tapi mau tak mau ia terus mengia. Tiba-tiba timbul pula semacam pikirannya yang ketolol-tololan, &#8220;Orang yang selalu terbayang-bayang dalam benak nona Ong hanya Buyung-kongcu seorang, maka terang tiada harapan selama hidupku untuk mempersunting si cantik. Hari ini aku sama-sama menghadapi bahaya dengan dia, biarlah aku berusaha sepenuh tenaga untuk melindunginya, bila akhirnya aku mati baginya, mungkin di kemudian hari pada masa tuanya secara kebetulan tentu dia akan terkenang juga kepada aku si Toan Ki. Kelak setelah dia menikah dengan Buyung Hok tentu akan punya putra-putri, dan bila mereka sedang bicara di antara anak-cucu sendiri atas kejadian-kejadian di masa lalu, mungkin juga ia akan teringat kepada kejadian hari ini. Tatkala mana ia sudah nenek-nenek yang ubanan, ketika bicara tentang &#8216;Toan-kongcu&#8217;, air matanya lantas bercucuran &#8230;.&#8221; &#8211; begitulah dalam melamunnya itu tanpa merasa matanya menjadi memberambang sendiri.</p>
<p>Melihat pemuda itu termangu-mangu sambil menengadah dan tidak lantas mencari tempat meneduh seperti permintaannya tadi, segera Giok-yan menanya, &#8220;Hei, kenapakah kau? Apakah susah diperoleh suatu tempat berteduh?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tatkala itu engkau tentu akan berkata pada anakmu &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Anakku apa katamu?&#8221; tegur Giok-yan dengan heran sebelum lanjut perkataan pemuda itu.</p>
<p>Keruan Toan Ki kaget dan sadar kembali dari lamunannya, cepat ia menyahut dengan tertawa ewa, &#8220;Ah, maaf, aku lagi melamun sendiri.&#8221;</p>
<p>Segera ia celingukan kian kemari untuk mencari sesuatu tempat bernaung, tiba-tiba dilihatnya di arah timur laut sana ada sebuah rumah gilingan, air sungai kecil di samping rumah gilingan itu mengalir cepat hingga roda gilingan itu berputar terdorong oleh arus air, nyata gilingan itu sedang bekerja.</p>
<p>&#8220;Di sanalah kita dapat berteduh,&#8221; ujar Toan Ki. Segera ia keprak kudanya ke arah sana, tidak lama, sampailah di depan rumah gilingan itu.</p>
<p>Segera Toan Ki melompat turun dari kuda, demi dilihatnya wajah Giok-yan pucat pasi, sungguh betapa rasa kasih sayangnya pemuda itu. Dengan khawatir ia menanya pula, &#8220;Nona Ong, apakah perutmu sakit? Atau barangkali kepalamu pusing? Badanmu panas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, tidak apa-apa,&#8221; sahut Giok-yan sambil menggeleng.</p>
<p>&#8220;Ai, entah racun apa yang digunakan orang Se He itu, kalau aku dapat memperoleh obat penawarnya, tentu segalanya akan beres,&#8221; ujar Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Eh, mengapa engkau tidak memayang aku turun, hujan begini derasnya?&#8221; tegur si gadis.</p>
<p>Dan baru Toan Ki ingat akan hal itu, dengan gugup ia menjawab, &#8220;Eh, ya, ya, aku menjadi linglung ini.&#8221;</p>
<p>Giok-yan tersenyum, ia geli melihat kelakuan si pemuda yang memang mirip orang linglung itu.</p>
<p>Melihat senyuman manis si gadis yang menggiurkan itu, semangat Toan Ki seakan-akan kabur ke awang-awang, hampir ia lupa apa yang harus dilakukannya. Segera ia membukakan dulu pintu rumah gilingan itu, habis itu, ia putar balik hendak menurunkan Giok-yan dari atas kuda. Tapi karena matanya tidak pernah meninggalkan wajah si gadis yang ayu itu, ia menjadi lupa daratan dan tidak ingat bahwa di depan titian rumah gilingan itu ada sebuah selokan. Begitu ia melangkah kembali, sebelah kakinya tepat kejeblos ke dalam selokan.</p>
<p>&#8220;Hei, awas!&#8221; cepat Giok-yan memperingatkan.</p>
<p>Namun sudah telat, Toan Ki sudah kehilangan imbangan badan, disertai jeritan kagetnya, terus saja ia ngusrup jatuh ke dalam pecomberan. Cepat ia merangkak bangun pula, namun mukanya, tangannya, dadanya, antero tubuhnya sudah basah kuyup dan kotor oleh tanah lumpur, bahkan ada beberapa tetes air kotor itu menciprat ke dalam mulutnya.</p>
<p>Keruan Toan Ki kelabakan dan meludah-ludah tiada habis-habis, katanya kemudian, &#8220;Ah, maaf, kau &#8230; kau tak apa-apa, bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, akulah harus menanya engkau tidak apa-apa, bukan? Mengapa malah aku yang ditanya?&#8221; sahut Giok-yan. &#8220;Sakit tidak kau? Apa terluka?&#8221;</p>
<p>Mendengar si gadis sudi memerhatikan keselamatan dirinya, girang Toan Ki melebihi orang yang dapat &#8220;buntut&#8221;. Cepat ia menjawab, &#8220;O, tidak, tidak apa-apa. Sekalipun terbanting patah kakiku juga tidak apa-apa.&#8221;</p>
<p>Habis itu segera ia ulur tangan hendak memayang Giok-yan turun dari kudanya, tapi demi tampak tangan sendiri penuh lumpur, cepat ia tarik kembali lagi dan berkata, &#8220;Nanti dulu, biar kucuci tangan dulu supaya tidak bikin kotor padamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, engkau ini benar-benar suka bertele-tele,&#8221; ujar Giok-yan. &#8220;Sedangkan seluruh badanku juga sudah basah kuyup, kenapa mesti takut pada sedikit lumpur kotor itu?&#8221;</p>
<p>Tapi Toan Ki toh masih mencuci dulu tangannya di dalam air selokan itu, kemudian barulah menurunkan Giok-yan.</p>
<p>Setelah mereka melangkah masuk ke rumah gilingan itu, tertampaklah sebuah alu batu yang digerakkan roda air sedang naik-turun menumbuk padi di dalam lumpang. Tapi tidak tampak seorang pun yang menjaga di situ.</p>
<p>&#8220;Adakah orang di sini?&#8221; segera Toan Ki berseru.</p>
<p>Karena itu, mendadak terdengarlah seruan kaget dua orang di onggok jerami di pojok rumah sana, menyusul berdirilah seorang pemuda dan satu dara. Semuanya baru berusia belasan tahun. Baju kedua muda-mudi itu tampak kumal tak teratur, rambut mereka kusut dan muka merah jengah, sikapnya sangat kikuk.</p>
<p>Kiranya kedua muda-mudi itu adalah sepasang kekasih yang sedang bercumbu-cumbuan di situ. Si gadis itu sebenarnya lagi menunggui lumpang padi, kesempatan itu tidak disia-siakan oleh si pemuda, apalagi hari hujan pula, mereka yakin takkan ada orang datang ke situ, maka dengan bebas mereka sedang main patgulipat. E-eh, siapa sangka mendadak datang Toan Ki dan Giok-yan hingga mengganggu kesenangan mereka.</p>
<p>Maka Toan Ki lantas memberi kiongchiu sambil menyapa, &#8220;Ah, maaf, maaf, banyak mengganggu. Kalian sedang kerja apa, silakan terus, tidak usah mengurus kami.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kembali pelajar tolol seperti kau ini mengaco-belo lagi,&#8221; omel Giok-yan. &#8220;Di hadapan kita masakah mereka bisa bebas bermesra-mesraan?&#8221; &#8211; Sebagai seorang gadis, demi tampak kelakuan kedua muda-mudi itu, seketika muka Giok-yan sudah lantas merah dan tidak berani memandang mereka lagi.</p>
<p>Sebaliknya antero perhatian Toan Ki hanya tercurahkan atas diri Giok-yan, maka sama sekali ia tidak perhatikan apakah sebenarnya yang sedang dilakukan kedua muda-mudi itu tadi.</p>
<p>Begitulah segera ia memayang Giok-yan berduduk ke atas bangku yang berada di situ dan menanya, &#8220;Badanmu basah kuyup semua. Bagaimana baiknya sekarang?&#8221;</p>
<p>Tiba-Tiba pikiran Giok-yan tergerak, ia cabut sebuah tusuk kondenya yang berhias dua butir mutiara dan berkata kepada gadis petani tadi, &#8220;Cici, ini kuberi sebuah tusuk konde emas kepadamu, harap engkau suka meminjamkan seperangkat pakaian padaku.&#8221;</p>
<p>Sudah tentu gadis petani itu tidak kenal betapa berharganya kedua butir mutiara besar itu, yang dia ketahui hanya tusuk konde emas itu memang bernilai, maka ia menjadi ragu-ragu akan tawaran Giok-yan itu, sahutnya kemudian, &#8220;Biarlah aku mengambilkan pakaian untukmu, tentang tusuk &#8230; tusuk konde itu aku tidak mau.&#8221; &#8211; Habis berkata ia terus naik ke atas loteng rumah gilingan itu dengan sebuah tangga kayu di pinggir situ.</p>
<p>&#8220;Cici, harap engkau kemari dulu,&#8221; pinta Giok-yan.</p>
<p>Gadis petani itu sebenarnya sudah naik lima-enam tingkat ke atas tangga itu, tapi ia menurut dan kembali ke hadapan Giok-yan.</p>
<p>Segera Giok-yan serahkan tusuk konde emas itu ke dalam tangan si gadis petani dan berkata, &#8220;Tusuk konde ini paling sedikit bernilai seratus tahil perak, aku benar-benar menghadiahkan kepadamu. Permintaanku ialah sudilah Cici membawa aku untuk mengganti pakaian.&#8221;</p>
<p>Hati gadis petani itu sangat baik, dilihatnya pula Giok-yan sangat cantik menyenangkan, apalagi mendapat persen sebuah tusuk konde berharga pula, keruan ia sangat girang. Segera ia membawa Giok-yan ke atas loteng untuk menukar pakaian.</p>
<p>Di atas loteng penuh tertaruh alat-alat pertanian serta timbunan padi, banyak pula terdapat tampah, tenggok, ayakan bambu dan sebagainya.</p>
<p>Sebenarnya gadis itu sedang tambal sulam pakaian sambil menunggu lumpang padi, tapi kemudian datang si pemuda kekasihnya itu, maka pekerjaan tangan itu ditinggalkannya. Dan kini kebetulan pakaiannya dapat diberikan kepada Giok-yan.</p>
<p>Dalam pada itu si pemuda desa tadi sedang memandang Toan Ki dengan sikap canggung dan tidak berani bersuara. Maka dengan tertawa Toan Ki lantas menyapa, &#8220;Toako, she apakah engkau?&#8221;</p>
<p>&#8220;O, aku &#8230; aku she Kim,&#8221; sahut pemuda desa itu.</p>
<p>&#8220;Ehm, Kim-toako kiranya,&#8221; kata Toan Ki. Dan belum lagi lenyap suaranya, tiba-tiba terdengar suara derap kuda yang dilarikan dengan sangat cepat sedang mendatangi, dari suaranya itu dapat diduga ada belasan orang banyaknya.</p>
<p>Toan Ki terkejut dan khawatir, cepat ia berbangkit dan berseru, &#8220;He, nona Ong, musuh mengejar kemari!&#8221;</p>
<p>Dibantu oleh gadis petani tadi, saat itu Giok-yan baru melepaskan baju dan diperas hingga kering serta sedang mengelap badannya yang basah, ia pun sudah mendengar derap kuda dan sedang khawatir. Tapi karena dalam keadaan kepalang tanggung, maka ia tidak dapat berbuat apa-apa.</p>
<p>Dalam pada itu datangnya kuda-kuda itu ternyata sangat cepat, tahu-tahu sudah sampai di depan rumah, segera terdengar suara orang berseru, &#8220;He, itulah kuda kita, kedua bocah itu tentu sembunyi di sini.&#8221;</p>
<p>Toan Ki dan Giok-yan menjadi khawatir, mereka masing-masing berada di bawah dan atas loteng, diam-diam mereka menyesal tadi kuda itu tidak dibawa masuk sekalian ke dalam rumah.</p>
<p>Sejenak kemudian, terdengarlah suara gedubrakan keras, daun pintu terpentang didobrak orang, menyusul tiga-empat orang busu bangsa Se He lantas menerobos masuk.</p>
<p>Yang dipikir Toan Ki hanya keselamatan Giok-yan, tanpa pikir lagi ia terus berlari ke atas loteng. Waktu itu Giok-yan masih belum sempat pakai baju, terpaksa ia gunakan pakaian yang basah itu untuk menutupi dadanya.</p>
<p>Keruan Toan Ki kaget demi mengetahui keadaan gadis itu, cepat ia berkata, &#8220;Ah, maaf, maaf, aku tidak tahu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, bagaimana baiknya ini?&#8221; tanya Giok-yan dengan gugup.</p>
<p>Dalam pada itu terdengar salah seorang busu di bawah loteng sedang tanya Kim A-toa, yaitu si pemuda desa, &#8220;Apakah anak dara itu berada di atas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Buat apa engkau tanya anak gadis orang?&#8221; sahut Kim A-toa dengan kaku.</p>
<p>&#8220;Blang,&#8221; tanpa bicara lagi busu itu hantam Kim A-toa hingga pemuda desa itu terguling. Namun watak pemuda itu ternyata sangat keras, segera ia mencaci maki.</p>
<p>&#8220;Kim-toako, jangan bertengkar dengan orang!&#8221; demikian si gadis tani tadi berseru kepada kekasihnya dengan khawatir, segera ia turun ke bawah loteng untuk mencegahnya,</p>
<p>Siapa duga busu tadi lantas ayun golok hingga buah kepala Kim A-toa terbelah menjadi dua. Saking kagetnya sampai gadis tani itu pun jatuh terjungkal dari atas tangga.</p>
<p>Segera busu yang lain membangunkannya dan dipeluk sambil menggoda, &#8220;Ini dia si manis datang sendiri padaku!&#8221;</p>
<p>&#8220;Bret&#8221;, segera baju gadis itu dirobeknya.</p>
<p>Di luar dugaan, mendadak gadis itu mencakar muka busu itu hingga seketika berwujud lima jalur luka dengan darah bercucuran. Keruan busu itu menjadi murka, ia menghantam sekuatnya dada si gadis hingga tulang iganya remuk dan binasa seketika.</p>
<p>Ketika mendengar jeritan ngeri di bawah loteng, Toan Ki menoleh dan melihat kedua muda-mudi itu sudah terbinasa dengan mengenaskan, ia menjadi pedih dan menyesal, &#8220;Gara-garaku hingga kalian ikut menjadi korban!&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu dilihatnya busu pertama tadi sedang memanjat ke atas loteng. Cepat Toan Ki mendorong tangga kayu itu ke depan. Karena tangga itu cuma melekat di papan loteng, sekali didorong lantas roboh ke sana.</p>
<p>Namun busu itu keburu melompat turun, ia pegang tangga yang mendoyong itu dan dipasang kembali ke atas loteng.</p>
<p>Dan baru Toan Ki hendak mendorong tangga pula, tiba-tiba busu yang lain menyerangnya dengan sebatang panah. Karena tidak pandai berkelit, &#8220;crat&#8221;, panah itu menancap di pundak kirinya. Ketika Toan Ki kesakitan dan memegang bahunya, kesempatan itu digunakan oleh busu yang lain untuk memperbaiki tangga terus melompat ke atas.</p>
<p>Giok-yan sedang duduk di atas onggok padi di samping Toan Ki, ia menyaksikan cara bagaimana busu itu menghantam mati si gadis tani dan kini melompat ke atas loteng, maka cepat katanya kepada Toan Ki, &#8220;Lekas gunakan jari telunjukmu untuk menutuk &#8216;He-wan-hiat&#8217; bagian perutnya.&#8221;</p>
<p>Waktu Toan Ki mempelajari It-yang-sin-kang, dan Lak-meh-sin-kiam di Tayli, dalam hal hiat-to di tubuh manusia telah dihafalkannya dengan baik. Kini demi mendengar petunjuk Giok-yan itu, sementara itu sebelah kaki busu itu sudah melangkah ke atas loteng, tanpa pikir lagi ia menudingkan jari telunjuknya ke depan, ia tutuk arah &#8220;He-wan-hiat&#8221; di perut orang.</p>
<p>Dalam keadaan melompat ke atas, dengan sendirinya perut busu itu tidak terlindung, maka terdengarlah jeritan sekali, busu itu terjungkal ke bawah dan terbanting mati.</p>
<p>Toan Ki sama sekali tidak menduga bahu tenaga jarinya itu ternyata begitu sakti, ia sampai melenggong sendiri.</p>
<p>Dalam pada itu tertampak seorang busu berewok telah menyerbu ke atas loteng sambil putar senjatanya yang berupa golok besar.</p>
<p>&#8220;Tutuk mana, tutuk mana?&#8221; tanya Toan Ki dengan khawatir.</p>
<p>&#8220;Ai, celaka!&#8221; tiba-tiba Giok-yan mengeluh.</p>
<p>&#8220;Celaka apa?&#8221; tanya Toan Ki gugup.</p>
<p>&#8220;Dia putar golok untuk melindungi tubuhnya, jika kau gunakan jari untuk menutuk &#8216;Tan-tiong-hiat&#8217; di dadanya, sebelum jarimu mengenai sasarannya tentu tanganmu sudah tertebas lebih dulu oleh goloknya,&#8221; ujar Giok-yan.</p>
<p>Namun keadaan sudah mendesak, baru selesai Giok-yan berkata, sementara busu itu sudah melangkah sampai di ujung tangga. Oleh karena yang terpikir hanya keselamatan Giok-yan, maka Toan Ki tidak pikir apakah tangannya bakal terkutung oleh golok lawan atau tidak, begitu jari telunjuk menuding, ia kerahkan tenaga murni, ia tonjok &#8220;Tan-tiong-hiat&#8221; di dada musuh.</p>
<p>Waktu itu si busu sedang angkat golok hendak membacok, mendadak ia menjerit lalu terjungkal ke belakang dan terguling ke bawah loteng dengan dada berlubang kecil, darah menyembur keluar bagai air mancur.</p>
<p>Sungguh girang dan kejut pula Toan Ki dan Giok-yan, sama sekali tak terduga oleh mereka bahwa tenaga tutukan itu bisa begitu lihai.</p>
<p>Harus diketahui bahwa lwekang yang dimiliki Toan Ki sekarang boleh dikatakan tiada bandingannya lagi, sedangkan &#8220;Lak-meh-sin-kiam&#8221; keturunan Toan-si di Tayli merupakan kungfu kelas utama di Bu-lim, yang masih kurang bagi Toan Ki hanya mengenai cara menggunakannya, tapi dengan petunjuk Giok-yan, daya serang yang dilontarkan itu bahkan lebih hebat daripada jago kelas satu seperti Koh-eng Taysu, Ciumoti, Yan-king Taycu dan lain-lain.</p>
<p>Begitulah hanya sekejap saja dua orang sudah binasa oleh tutukannya, busu yang lain menjadi jeri tidak berani naik ke atas loteng lagi, mereka berkumpul di bawah untuk berunding.</p>
<p>&#8220;Toan-kongcu, panah yang menancap di pundakmu itu harus dicabut keluar,&#8221; kata Giok-yan.</p>
<p>Sungguh girang Toan Ki tak terkatakan karena mendapat perhatian si cantik, segera ia cabut keluar panah itu.</p>
<p>Padahal panah itu menancap beberapa senti dalamnya, dengan mencabut begitu saja sebenarnya sangat sakit, tapi saking senangnya ia menjadi lupa sakit. Kemudian katanya, &#8220;Nona Ong, kembali mereka akan menyerang lagi, cara bagaimana harus kulayani mereka?&#8221;</p>
<p>Sembari berkata ia terus menoleh, tapi sekonyong-konyong dilihatnya pakaian Giok-yan belum lagi teratur, lekas ia berpaling kembali sambil minta maaf.</p>
<p>Muka Giok-yan merah jengah, celakanya untuk berpakaian juga tidak kuat, sungguh ia kehilangan akal. Tiba-tiba pikirannya tergerak, ia menyusup ke tengah onggok padi, ia tarik ikatan padi hingga menutup sebatas pundaknya, hanya kepalanya yang menongol keluar tumpukan padi itu, lalu katanya dengan tertawa, &#8220;Sudahlah sekarang, boleh kau berpaling ke sini.&#8221;</p>
<p>Tapi Toan Ki masih khawatir, perlahan ia menggeser kepalanya, ia bersiap-siap bila pakaian si nona masih belum rapi, secepatnya ia akan berpaling pula.</p>
<p>Tak terduga baru saja ia menoleh separuh, sekilas dilihatnya di luar jendela loteng sana ada seorang busu bangsa Se He berdiri di atas pelana kuda dan sedang melongok dan hendak melompat ke loteng. Cepat Toan Ki berseru, &#8220;He, di situ ada musuh!&#8221;</p>
<p>&#8220;Coba kau sambit dia dengan panah tadi,&#8221; kata Giok-yan.</p>
<p>Toan Ki menurut, segera ia timpuk panah yang dia cabut dari bahu sendiri itu. Sudah tentu ia bukan ahli menyambit panah, maka panah yang melayang keluar itu paling sedikit selisih satu meter jauhnya daripada sasarannya,</p>
<p>Busu itu sebenarnya tidak perlu berkelit. Tapi karena tenaga sambitan Toan Ki sangat hebat hingga panah itu bersuara mendenging. Busu itu terkejut dan cepat mendekam di atas kudanya untuk menghindar.</p>
<p>Hanya sedikit gerakan busu itu sudah dapat dilihat jelas oleh Giok-yan, segera katanya kepada Toan Ki, &#8220;Dia adalah jago gulat dari Se He, tak perlu kau takut, biarkan dia menyikap dirimu, lalu kau tabok batok kepalanya, sekali tabok tentu akan menang.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, gampang kalau begitu,&#8221; kata Toan Ki, perlahan ia lantas mendekati jendela.</p>
<p>Dalam pada itu si busu sudah menjebol jendela dan menyerbu ke atas loteng.</p>
<p>&#8220;Mau apa naik sini?&#8221; bentak Toan Ki.</p>
<p>Busu itu tidak paham bahasa Han, maka ia hanya melotot saja, begitu tangan terjulur, segera dada Toan Ki kena dijambret. Gerakan busu itu amat cepat, sekali dapat menjambret lawan, segera ia angkat badan Toan Ki ke atas dengan maksud hendak membanting pemuda itu.</p>
<p>Di luar dugaan, baru saja Toan Ki terangkat ke udara, mendadak tangan pemuda itu menggaplok ke bawah dan tepat mengenai batok kepalanya hingga pecah berantakan.</p>
<p>Selama hidup Toan Ki tidak pernah melukai orang, apalagi membunuh, tapi kini demi untuk membela Giok-yan, hanya sebentar saja sudah tiga nyawa melayang di tangannya.</p>
<p>Keruan ia mengirik, semakin dipikir semakin takut, cepat ia berteriak, &#8220;Aku tidak ingin membunuh orang lagi, suruh aku membunuh lagi terang aku tidak tega, ayolah lekas kalian enyah dari sini!&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia terus dorong mayat jago gulat Se He itu ke bawah.</p>
<p>Jago-jago Se He yang mengejar kemari itu seluruhnya ada 15 orang, kini telah mati tiga, sisanya masih 12 orang. Di antara ke-12 orang ini ada empat adalah jago pilihan It-bin-tong, sedang kedelapan orang lainnya hanya jago tempur biasa saja.</p>
<p>Keempat jago It-bin-tong itu dua antaranya adalah bangsa Han, seorang bangsa Se-ek (asing barat) dan seorang lagi bangsa Se He.</p>
<p>Keempat jago It-bin-tong itu merasa heran dan bingung juga oleh kepandaian Toan Ki yang sebentar lihai dan sebentar lagi lucu hingga sukar dijajaki. Mereka menjadi tidak berani sembarangan menyerang lagi, segera mereka berunding cara bagaimana baiknya.</p>
<p>Sebaliknya kedelapan busu biasa itu mempunyai pendapat lain, mereka terus mengumpulkan jerami di rumah gilingan itu dengan maksud akan membakarnya.</p>
<p>&#8220;Wah, celaka, mereka hendak menyalakan api!&#8221; kata Giok-yan dengan khawatir.</p>
<p>&#8220;Ya, bagaimana baiknya kini?&#8221; sahut Toan Ki kelabakan.</p>
<p>Ia lihat roda air raksasa rumah gilingan itu masih terus berputar terdorong oleh arus air sungai, serupa pikirannya yang juga berputar terus tanpa berdaya.</p>
<p>Dalam pada itu terdengar salah seorang jago bangsa Han tadi sedang berseru, &#8220;Menurut perintah Ciangkun, nona cilik itu sangat pintar, harus ditawannya hidup-hidup dan jiwanya tidak boleh diganggu, maka kalian jangan membakar dulu &#8230;.&#8221;</p>
<p>Lalu ia berteriak pula, &#8220;Hai, anak jadah dan nona cilik itu, lekas kalian turun kemari dan menyerahkan diri, kalau tidak, terpaksa kami menyalakan api biar kalian berdua terbakar hidup-hidup bagai babi panggang.&#8221;</p>
<p>Berulang ia berteriak tiga kali, tapi Toan Ki dan Giok-yan tetap tidak menggubris, segera orang itu menyalakan api, ia menyulut segebung jerami dan diangkat tinggi ke atas, lalu mengancam pula, &#8220;Kalian mau menyerah atau tidak? Jika tidak, terpaksa aku mulai membakar.&#8221;</p>
<p>Sembari berkata, ia ayun obornya dengan gaya hendak melempar ke onggok jerami.</p>
<p>Melihat keadaan sudah gawat, segera Toan Ki berbisik kepada Giok-yan, &#8220;Biar kuturun untuk melabrak mereka.&#8221;</p>
<p>Segera ia melangkah ke atas roda air yang sedang berputar itu.</p>
<p>Roda air itu terbuat dari kayu, besarnya tidak kepalang, bulat tengahnya paling sedikit ada tiga meter. Begitu Toan Ki melangkah ke ujung gigi roda air itu, tangannya lantas memegang ruji roda dan mengikuti putaran roda untuk turun ke bawah.</p>
<p>Jago Se He berbangsa Han tadi masih berteriak-teriak menyuruh Toan Ki dan Giok-yan menyerahkan diri saja, tak terduga diam-diam Toan Ki sudah turun dari loteng sebelah sana, tanpa berkata lagi pemuda itu lantas tudingkan jarinya dan menutuk punggung orang itu.</p>
<p>Yang digunakan Toan Ki adalah gaya ilmu pedang Siau-yang-kiam dari Lak-meh-sin-kiam yang lihai, maksudnya sekaligus merobohkan musuh. Siapa tahu serangan ini dilakukan secara membokong, lebih dulu ia sendiri sudah kebat-kebit, tenaga kurang dan semangat tak ada, tenaga dalam dan hawa murni tak dapat dikerahkan.</p>
<p>Hal ini disebabkan dia tidak paham dasar ilmu silat, maka permainan Lak-meh-sin-kiam itu selalu tergantung keadaan secara kebetulan saja. Sebaliknya sekarang ia sengaja hendak menyerang, tapi justru tenaga murni susah dikerahkan. Meski dia ulangi tutukannya beberapa kali, namun hasilnya tetap nihil.</p>
<p>Ketika mendadak merasa punggungnya seperti disenggol sesuatu dengan perlahan, dengan kaget orang Han itu menoleh, maka dilihatnya Toan Ki yang disangkanya masih di atas loteng itu kini sudah di belakangnya sambil menuding ke arahnya.</p>
<p>Karena sudah menyaksikan cara Toan Ki membinasakan ketiga orang tadi, ia sangka pemuda itu tentu sedang main ilmu sihir apa lagi untuk menyerang dirinya, maka dengan cepat ia melompat ke samping.</p>
<p>Dalam pada itu Toan Ki coba-coba menutuk pula sekali, tapi tetap tiada sesuatu suara dan tenaga, sebaliknya orang itu sudah lantas membentak, &#8220;Anak kurang ajar, tanganmu tuding-tuding apa?&#8221;</p>
<p>Berbareng tangan kanannya terus mencengkeram kepala Toan Ki.</p>
<p>Cepat Toan Ki mengkeret mundur sambil memegangi ruji roda air, maka ia terangkat ke atas oleh roda itu hingga cengkeraman orang salah hantam di atas gigi roda, &#8220;crat&#8221; remukan kayu bertebaran, satu sayap gigi roda itu rompal kena cengkeramannya yang kuat itu.</p>
<p>&#8220;Jika kau tempur dia lagi, asal mengisar ke belakangnya dan menyerang &#8216;Ci-yang-hiat&#8217; di bagian punggungnya, tentu dia akan celaka,&#8221; demikian Giok-yan memberi petunjuk lagi. &#8220;Orang ini adalah murid Hou-jiau-bun (silat cakar harimau) di Cinlam, kepandaiannya masih belum cukup masak untuk melindungi Ci-yang-hiat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus jika begitu!&#8221; seru Toan Ki dengan girang. Segera ia membonceng putaran roda air dan turun pula ke ruangan rumah gilingan itu.</p>
<p>Tapi sekali ini mereka sudah berjaga lebih dulu, belum lagi Toan Ki menginjak tanah, segera ada tiga orang mendahului menyerbu maju hendak menangkapnya.</p>
<p>&#8220;He, he, jangan, jangan! Cayhe hanya sendirian, dengan sendirinya tak dapat melawan orang banyak, aku cuma ingin menempur dia seorang saja,&#8221; seru Toan Ki sambil goyang-goyang kedua tangannya. Berbareng ia mengegos ke samping dengan langkah &#8220;Leng-po-wi-poh&#8221; yang lincah, hanya beberapa kali menyelinap saja ia sudah memutar sampai di belakang laki-laki tadi, segera ia membentak, &#8220;Kena!&#8221;</p>
<p>Dan sekali ia menutuk, &#8220;crit&#8221;, cepat Ci-yang-hiat orang itu tertutuk, tanpa bersuara orang itu terus roboh dan tak berkutik lagi.</p>
<p>Habis membunuh seorang, maksud Toan Ki hendak membonceng roda air untuk naik ke atas loteng lagi, namun sudah terlambat, tahu-tahu jalan mundurnya telah dicegat oleh seorang jago Se He, bahkan goloknya terus membacok ke arah Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Ai, celaka!&#8221; seru Toan Ki. &#8220;Musuh telah memotong jalan mundurku, kini aku terkepung di tengah, tamatlah riwayatku!&#8221;</p>
<p>Berbareng ia terus melangkah ke kiri hingga bacokan musuh mengenai tempat kosong.</p>
<p>Pada lain saat, ke-11 orang di dalam rumah gilingan itu sudah mengepung rapat di sekeliling Toan Ki, senjata mereka terus bekerja berbareng, lebih-lebih ketiga tokoh It-bin-tong yang lihai itu, asal terkena pukulan atau tendangannya, betapa pun jiwa Toan Ki pasti akan melayang.</p>
<p>Keruan pemuda itu berkelit kian kemari dengan kelabakan sambil berteriak-teriak, &#8220;Wah, celaka nona Ong, sampai berjumpa pada jelmaan yang akan datang! Aku sendiri tentu akan terbinasa, biarlah aku menantikan engkau di pintu gerbang akhirat saja!&#8221;</p>
<p>Walaupun mulutnya berteriak-teriak, tapi langkahnya tidak pernah kendur, jalannya sangat cepat dan gayanya indah hingga Giok-yan yang mengikuti ilmu langkahnya itu sampai termangu-mangu kesima.</p>
<p>&#8220;Hei, Toan-kongcu, apakah caramu melangkah itu adalah &#8216;Leng-po-wi-poh&#8217;? Aku hanya pernah mendengar namanya, tapi tidak tahu caranya,&#8221; seru Giok-yan tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;Ya, ya, benar, inilah Leng-po-wi-poh!&#8221; sahut Toan Ki dengan girang. &#8220;Jika nona ingin lihat, biarlah kumulai lagi dari awal. Tapi apakah dapat berlangsung hingga selesai atau tidak, hal ini tergantung nasib buah kepalaku ini.&#8221;</p>
<p>Habis itu, terus saja ia mulai dengan langkah pertama dari ilmu langkah yang pernah dipelajarinya dari cermin perunggu di dalam gua di dasar sungai itu. Dan meski ke-11 orang itu masih terus menghujani dia dengan pukulan, tendangan, dan serangan-serangan senjata, toh tetap tiada mampu menyenggol ujung bajunya sekalipun.</p>
<p>Oleh karena sampai sekian saat masih belum dapat membekuk Toan Ki, ke-11 orang itu menjadi kelabakan sendiri dan berkaok-kaok di antara mereka sendiri, &#8220;Hai, kau cegat sebelah sana!&#8221; &#8211; &#8220;Awas, kau jaga sebelah timur, jangan memberi ampun padanya!&#8221; &#8211; Dan lain saat lantas terdengar teriakan seorang, &#8220;Wah, celaka, lolos lagi!&#8221;</p>
<p>Begitulah selangkah demi selangkah Toan Ki terus berputar-putar di samping roda air dan lumpang padi. Dan biarpun Giok-yan seorang gadis pintar, tetap ia tidak dapat memahami ilmu langkah itu, serunya kemudian, &#8220;Sudahlah, lebih penting kau hindarkan serangan musuh, tak usah mempertunjukkan kepadaku lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi kalau sekarang aku tidak pertunjukkan, bila jiwaku melayang, tentu engkau takkan dapat melihatnya lagi,&#8221; sahut Toan Ki. Dan tanpa menghiraukan mati-hidup sendiri ia terus melanjutkan Leng-po-wi-poh itu hingga langkah terakhir.</p>
<p>Di luar perhitungannya, justru karena ketolol-tololannya itulah malah menyelamatkan jiwanya. Kalau Toan Ki umpamanya berkelit dengan sengaja ketika diserang, pertama ia tidak paham ilmu silat, kedua, jumlah musuh ada 11 orang, ia tentu tidak dapat mengelakkan diri. Tapi kini ia tidak gubris dari mana datangnya serangan, ia melainkan terus melangkah menurutkan iramanya sendiri, dengan demikian menjadi seperti ke-11 orang itu sedang menguber untuk menyerang bersama. Dan &#8220;Leng-po-wi-poh&#8221; itu justru sangat aneh, setiap langkahnya selalu menuju ke arah yang sama sekali tak terduga oleh orang, tampaknya ia melangkah ke kiri, tapi tahu-tahu di sebelah lain. Semakin cepat ke-11 orang itu menyerang, namun sebagian besar serangan mereka mengenai kawan sendiri malah dan sebagian lain selalu mengenai tempat kosong.</p>
<p>Setelah mengikuti sejenak, segera Giok-yan tahu akan sebab musababnya, serunya, &#8220;Toan-kongcu, langkahmu itu sangat bagus dan ruwet pula, seketika aku masih belum jelas, paling baik kalau habis itu engkau suka mengulangi sekali lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, apa yang kau inginkan, pasti kuturuti,&#8221; sahut Toan Ki. Dan habis menjalankan 8 kali 8 sama dengan 64 langkah itu, benar juga ia lantas memulai kembali.</p>
<p>Diam-diam Giok-yan pikir sendiri, &#8220;Sementara ini jiwa Toan-kongcu takkan berhalangan, tapi cara bagaimana supaya kami bisa lolos dari sini? Aku belum lagi memakai baju, mana aku dapat keluar begini saja? Setelah keracunan, tenagaku sedikit pun tidak ada, untuk memegang baju saja lemas rasanya, jalan satu-satunya adalah memberi petunjuk kepada Toan-kongcu untuk membinasakan ke-11 musuh itu.&#8221;</p>
<p>Sebab itulah ia tidak memerhatikan langkah Toan Ki lagi, tapi menyelami kepandaian ke-11 orang musuh. Ia lihat kedelapan busu Se He itu ilmu silatnya terbagi dua aliran, semuanya berasal dari ilmu silat Tionggoan, sedang kepandaian asli jago bangsa Han itu pun dapat diketahuinya, hanya orang Se-ek itulah tampaknya kaku gerak-geriknya, tapi mendadak bisa lincah dan gesit hingga sukar diketahui sumber asli kepandaiannya.</p>
<p>Dan selagi Giok-yan memerhatikan gerakan orang Se-ek itu dengan harapan dapat mengetahui sumber ilmu silatnya, sekonyong-konyong terdengar suara &#8220;keletak&#8221; sekali, ada orang sedang pasang tangga kayu tadi dan hendak naik ke atas loteng.</p>
<p>Kiranya sesudah sekian lama Toan Ki masih susah dibekuk, segera jago Se He yang merupakan pimpinan rombongan itu memberi perintah kepada salah seorang bawahannya agar menangkap dulu si gadis. Keruan Giok-yan menjerit kaget.</p>
<p>Waktu Toan Ki mendongak, ia lihat busu bangsa Se He itu sudah mulai naik ke atas tangga. Cepat ia tanya, &#8220;Serang tempat mana, nona Ong?&#8221;</p>
<p>&#8220;Paling baik cengkeram bagian &#8216;Ci-sit-hiat&#8217;!&#8221; sahut Giok-yan.</p>
<p>Toan Ki menurut, dengan langkah lebar ia mendekati busu yang naik tangga itu, sekali cengkeram &#8220;Ci-sit-hiat&#8221; bagian punggung, kontan orang itu kena dipegangnya, tapi karena tidak tahu harus diapakan tubuh orang, segera ia lemparkannya ke samping sekenanya. Dan sungguh sangat kebetulan, lemparan itu dengan tepat menjebloskan kepala busu itu ke dalam lumpang batu.</p>
<p>Rumah gilingan itu terdiri dari sebuah lumpang batu yang besar dengan alu batu pula yang digerakkan oleh roda air, sejak tadi lumpang itu ditumbuk oleh alu dan butiran padi di dalam lumpang sebenarnya sudah menjadi bubuk, tapi karena tiada yang mengurus, antan batu itu masih terus menumbuk tiada hentinya. Kebetulan tubuh busu itu dilemparkan Toan Ki ke dalam lumpang, ketika antan batu menumbuk pula ke bawah, &#8220;prak&#8221;, tanpa ampun lagi kepala busu itu tertumbuk hancur luluh bagai pepesan.</p>
<p>Di lain pihak tanpa peduli nasib kawannya itu, jago Se He tadi kembali mendesak anak buahnya lagi hingga ada tiga orang menyusul naik ke tangga.</p>
<p>&#8220;Bereskan dengan cara yang sama!&#8221; seru Giok-yan khawatir.</p>
<p>Benar juga, sekali cengkeram, kembali Toan Ki dapat memegang &#8220;Ci-sit-hiat&#8221; salah seorang terus dilemparkan pula ke dalam lumpang. Tapi sekali ini dengan sengaja hingga lemparannya itu malah kurang jitu, badan kaki busu itu yang terjeblos ke tengah lumpang, dan ketika antan batu menumbuk, terdengarlah jeritan ngeri busu itu, kakinya remuk, tapi tidak lantas mati,</p>
<p>Dan pada saat Toan Ki melengak oleh kejadian itu, sementara itu dua busu yang lain sudah mulai melangkah ke atas loteng.</p>
<p>&#8220;E-eh, tidak boleh, lekas turun!&#8221; seru Toan Ki dan jari terus menuding dan menutuk serabutan. Tak terduga, karena gugupnya, hawa murni dalam tubuh ikut bergolak, daya Lak-meh-sin-kiam lantas bekerja lagi, &#8220;crit-crit&#8221; dua kali, dengan tepat punggung kedua busu itu, kena tertusuk dan kontan terjungkal ke bawah.</p>
<p>Melihat Toan Ki hanya tuding-tuding dari jauh lantas dapat membunuh orang, kepandaian demikian dengar pun tidak pernah, keruan jago-jago Se He itu ketakutan. Tapi suruh mereka melarikan diri, mereka pun penasaran, manakah jago It-bin-tong seperti mereka mengeroyok seorang pemuda ingusan saja tidak mampu menang, hal ini kalau diketahui orang, ke mana muka mereka akan ditaruh?</p>
<p>Dalam pada itu Giok-yan tetap mengikuti pertarungan di bawah loteng dengan jelas, ia lihat musuh tinggal tujuh orang, tapi tiga di antaranya sangat lihai, lebih-lebih jago Se He yang membentak-bentak dan memberi perintah itu agaknya merupakan pimpinan rombongan, segera serunya, &#8220;Toan-kongcu, lebih dulu bunuh orang berbaju kuning dan bertopi kulit itu, carilah jalan untuk menghantam &#8216;Giok-cim&#8217; dan &#8216;Thian-cu-hiat&#8217; di belakang kepalanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik,&#8221; sahut Toan Ki terus menerjang ke arah jago Se He itu.</p>
<p>Diam-diam orang Se He itu terperanjat, ia heran dari mana nona cilik itu tahu kedua hiat-to yang memang menjadi ciri kematiannya itu? Sementara itu dilihatnya Toan Ki telah menerjang tiba, cepat ia tebas dulu dengan goloknya agar pemuda itu tidak berani mendekat.</p>
<p>Beberapa kali Toan Ki menggeser tempat dan menerjang maju, tapi selalu teralang, bahkan hampir terluka oleh senjata lawan. Segera ia berteriak, &#8220;Nona Ong, orang ini sangat lihai, aku tidak dapat mencapai belakangnya.&#8221;</p>
<p>Tapi Giok-yan lantas memberi petunjuk lagi, &#8220;Dan tempat kelemahan orang yang berbaju kelabu itu, adalah &#8216;Jin-ging-hiat&#8217; di tenggorokannya. Adapun si orang berbaju hijau itu aku belum dapat menyelami sumber kepandaiannya, boleh coba-coba kau tutuk dadanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik,&#8221; sahut Toan Ki. Dan benar juga ia terus menuding ke dada orang.</p>
<p>Meski gaya tutukannya itu tepat, namun sedikit pun tidak bertenaga dalam, dan sudah tentu hal ini tak diketahui orang Se-ek yang berbaju hijau itu, cepat ia mendak untuk menghindarkan tiga kali tutukan Toan Ki.</p>
<p>Ketika pemuda itu menutuk pula untuk keempat kalinya, mendadak ia meloncat tinggi ke atas, habis itu bagai elang menyambar anak ayam ia terus menukik ke bawah, dengan tenaga hantaman yang hebat, antero tubuh Toan Ki terkurung di bawah pukulan mautnya.</p>
<p>Seketika Toan Ki merasa napasnya sesak dan kepala pening, saking ngeri membayangkan nasibnya jika kena serangan musuh, Toan Ki pejamkan mata dengan tangan menutuk serabutan ke atas, maka terdengarlah suara &#8220;cit-cit&#8221; berulang, Lak-meh-sin-kiam yang terdiri dari Siau-siang-kiam, Siang-yang-kiam, Tiong-ciong-kiam, Koan-ciong-kiam, Siau-ciong-kiam, dan Siau-tik-kiam, sekaligus telah dilontarkan seluruhnya.</p>
<p>Dalam keadaan kepepet dan khawatir, tenaga dalam Toan Ki sekali ini benar-benar bekerja dengan hebat.</p>
<p>Maka tidak ampun lagi badan orang Se-ek itu terluka enam lubang, dan karena hantamannya ke bawah itu tak dapat ditahan, &#8220;plak&#8221;, pundak Toan Ki juga kena digebuk sekali. Tatkala itu hawa murni dalam tubuh pemuda itu lagi bergolak dengan hebat, biarpun hantaman itu sangat keras namun daya tolak badan Toan Ki telah mematahkan serangan itu hingga tidak terluka apa-apa.</p>
<p>Sudah tentu Giok-yan tidak tahu apakah pemuda itu terluka atau tidak, maka dengan khawatir ia tanya, &#8220;Toan-kongcu, bagaimana, terluka tidak?&#8221;</p>
<p>Waktu Toan Ki membuka mata, ia lihat jago Se-ek itu sudah menggeletak, enam lubang kecil di dada dan perutnya memancurkan darah, mukanya beringas, matanya mendelik, napasnya masih kempas-kempis belum lagi mati. Hati Toan Ki berdebar saking ketakutan, serunya, &#8220;Bukan maksudku hendak membunuhmu, tapi engkau sendiri yang menyerang diriku.&#8221;</p>
<p>Sembari berkata, langkahnya tidak pernah berhenti, ia masih terus berlari ke sini dan menyusup ke sana sambil kedua tangan berulang memberi salam kepada sisa ketujuh orang itu, &#8220;Para saudara yang gagah, sejak dulu aku tidak bermusuhan dengan kalian, kelak juga tidak akan dendam, maka haraplah kalian bermurah hati, pergilah sekarang juga. Aku &#8230; aku &#8230; sungguh tidak berani membunuh orang lagi. Sudah &#8230; sudah sekian banyak orang mati, hati &#8230; hatiku sangat sedih. Ai, benar-benar terlalu kejam. Sudahlah lekas kalian pergi saja, aku Toan Ki mengaku kalah, harap kalian bermurah hati.&#8221;</p>
<p>Ketika mendadak ia berputar ke sana, tiba-tiba dilihatnya di samping pintu telah berdiri mula seorang jago Se He yang entah kapan sudah masuk ke situ. Perawakan orang ini sedang, pakaiannya serupa jago Se He yang lain, anehnya parasnya ternyata kuning pucat, sedikit pun tidak berperasaan hingga mirip wajah mayat.</p>
<p>Hati Toan Ki terkesiap, pikirnya, &#8220;Manusia atau setankah dia? Jangan-jangan dia adalah &#8230; adalah arwah jago Se He yang kubinasakan tadi dan kini gentayangan kemari?&#8221;</p>
<p>Berpikir demikian, ia mengirik, dengan suara gemetar ia tanya, &#8220;Siapa &#8230; siapakah kau? Mau apa datang ke &#8230; ke sini?!&#8221;</p>
<p>Namun jago Se He itu hanya berdiri tegak saja tanpa menjawab dan tidak bergerak.</p>
<p>Sambil menghindarkan serangan seorang lawan, segera Toan Ki pegang &#8220;Ci-sit-hiat&#8221; seorang busu terus dilemparkan ke arah orang aneh itu. Namun sedikit mengegos, &#8220;blang&#8221;, kepala busu yang dilemparkan itu tertumbuk pada dinding hingga pecah berantakan.</p>
<p>Melihat orang itu dapat bergerak, Toan Ki menarik napas lega, katanya, &#8220;Ehm, engkau adalah manusia dan bukan setan.&#8221;</p>
<p>Melihat kawannya makin lama makin sedikit, ketiga busu bangsa Se He mulai mengkeret nyalinya, segera mereka bermaksud melarikan diri, seorang di antaranya lantas mendekati pintu hendak mendorong daun pintu.</p>
<p>&#8220;Mau apa kau?&#8221; bentak jago Se He pilihan It-bin-tong tadi. Berbareng ia serang tiga kali kepada Toan Ki.</p>
<p>Toan Ki sendiri sudah tiada nafsu berkelahi lagi, ketika sinar golok musuh berkilauan di depan matanya dan setiap saat mungkin akan berkenalan dengan tubuhnya, ia menjadi ketakutan dan berteriak-teriak, &#8220;Hai, hai, mengapa engkau begini kejam, awas kalau sebentar kuhantam Giok-cim-hiat dan Thian-cu-hiat di badanmu, tentu kau akan celaka, ayolah lekas berhenti dan pergi saja demi kebaikan bersama!&#8221;</p>
<p>Tapi bukannya menurut, sebaliknya orang itu semakin nekat, serangannya semakin bertubi-tubi dan selalu mengancam tempat berbahaya di tubuh Toan Ki. Untung kaki pemuda itu pun cukup cepat menggeser hingga setiap serangan dapat dihindarkan.</p>
<p>Jago bangsa Han itu paling licin, tadi waktu keadaan terdesak, ia selalu berada di belakang. Kini demi mendengar Toan Ki berulang memohon damai, kecuali menghindar belaka, untuk balas menyerang sudah tidak mampu.</p>
<p>Maka timbul segera akal licik jago bangsa Han itu, ia mendekati lumpang batu dan meraup dua genggam bubuk beras yang sudah tertumbuk halus terus dihamburkan ke muka Toan Ki.</p>
<p>Berkat langkah Toan Ki yang cepat dan aneh itu, dengan sendirinya taburan itu tidak kena sasarannya. Tapi menyusul orang Han itu menghamburkan dua genggam lagi, bahkan ia tambahi pula dua genggam lain hingga seketika ruangan penuh debu bubuk beras bagai kabut tebal.</p>
<p>&#8220;Wah, celaka, celaka! Mataku tidak dapat memandang lagi!&#8221; demikian Toan Ki berteriak-teriak.</p>
<p>Giok-yan juga tahu keadaan berbahaya. Hal ini dapat dimengerti, jika Toan Ki diserang oleh jago-jago silat kelas tinggi, ia justru dapat menghindarkan diri dengan Leng-po-wi-poh yang aneh. Tapi kini ruangan itu penuh debu beras, jika terjadi serangan serabutan dari musuh-musuh itu tentu Toan Ki akan celaka malah.</p>
<p>Padahal sejak tadi kalau musuh menyerang dengan mata tertutup umpamanya, boleh jadi hanya beberapa kali gebrak saja Toan Ki sudah dirobohkan.</p>
<p>Begitulah karena pandangan Toan Ki kabur, tanpa pikir lagi ia melompat ke tepi roda air, ia pegang ruji roda dan membonceng putaran ke atas.</p>
<p>Maka terdengarlah suara jeritan ngeri dua kali, dua busu bangsa Se He tadi telah salah terbunuh oleh kawan sendiri. Menyusul terdengar pula &#8220;trang-tring&#8221; dua kali, lantas ada orang berseru, &#8220;Hai, ini akulah!&#8221;</p>
<p>Menyusul yang lain pun berteriak, &#8220;Awas, kawan sendiri.&#8221;</p>
<p>Kiranya senjata antara jago-jago bangsa Han dan Se He itu telah saling beradu, untung mereka masih sempat mengerem. Tapi menyusul lantas terdengar lagi jeritan ngeri yang panjang, busu terakhir entah kena tendangan siapa hingga mencelat keluar jendela, jeritan ngeri sebelum ajalnya itu membuat Toan Ki bergidik hingga gemetar. Dengan suara terputus-putus ia berseru pula, &#8220;Hei &#8230; hei, kalian hanya tinggal dua orang, buat apa mesti berkelahi lagi? Orang kalah paling-paling minta ampun, biarlah aku menyembah padamu dan minta ampun, harap kalian pergi saja.&#8221;</p>
<p>Dengan mengincar tempat datangnya suara Toan Ki itu, segera jago bangsa Han menimpukkan sebatang piau, namun Toan Ki sudah turun pula terbawa oleh roda air. Karena itu sasaran piau jadi meleset, &#8220;plok&#8221;, hanya ujung lengan baju Toan Ki yang terpantek pada rangka roda kayu itu.</p>
<p>Toan Ki terkejut, ia pikir bisa celaka kalau musuh terus menghujani dirinya dengan am-gi, ia pasti tak sanggup berkelit. Dan karena rasa jerinya itu, ia menjadi lemas, tubuh yang masih menggelantung di rangka roda itu lantas terperosot ke bawah, lengan baju yang terpantek piau itu sobek dan ia pun terbanting ke lantai.</p>
<p>Di antara kabut tebal itu samar-samar orang Han itu dapat melihat apa yang terjadi, maka cepat ia menubruk maju untuk menangkap Toan Ki.</p>
<p>Toan Ki masih ingat petunjuk Giok-yan tadi agar menutuk &#8220;Jin-ging-hiat&#8221; orang. Tapi pertama karena dalam keadaan gugup, kedua, walaupun tempat-tempat hiat-to sudah pernah dihafalkannya namun tidak pernah dilatihnya dengan baik, dalam keadaan bingung tutukannya menjadi kurang jitu, agak ke kiri dan jauh menceng ke bawah pula, maka yang tertutuk adalah &#8220;Khi-koh-hiat&#8221; di bagian pinggang.</p>
<p>&#8220;Khi-koh-hiat&#8221; itu adalah hiat-to yang membikin orang tertawa, maka begitu tertutuk, tak tertahan lagi orang Han itu terus terbahak-bahak. Namun pedangnya berturut-turut masih menyerang pula walaupun mulutnya tiada hentinya tertawa.</p>
<p>&#8220;Yong-heng, apa yang kau tertawakan?&#8221; segera jago Se He itu menegur.</p>
<p>Sudah tentu orang Han itu tak dapat menjawab, sebaliknya tertawa lebih keras.</p>
<p>Karena tidak tahu duduknya perkara, orang Se He itu menjadi gusar, dampratnya, &#8220;Di hadapan musuh, kau main gila apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahaha &#8230; aku &#8230; hahaha &#8230; ini &#8230; hahahaha &#8230;.&#8221; begitulah orang Han itu masih terus tertawa, berbareng pedangnya menusuk pula.</p>
<p>Lekas Toan Ki mengisar ke kiri untuk menghindar. Di luar dugaan, karena kabut yang tebal itu, jago Se He itu pun tidak dapat memandang dengan terang, kebetulan ia pun sedang menubruk ke arah sini, maka terjadilah tabrakan di antara mereka berdua.</p>
<p>Jago Se He itu adalah ahli kim-na-jiu, mahir ilmu menangkap. Maka begitu menubruk badan Toan Ki, reaksinya sangat cepat, sekali tangannya bergerak, segera dada Toan Ki kena dijambret olehnya. Ia tahu kepandaian Toan Ki yang diandalkan adalah langkah kakinya, sekali ia dapat memegangnya, kesempatan ini tidak disia-siakan lagi, segera ia membuang senjatanya dan tangan lain hendak dipakai mencengkeram lengan Toan Ki sekuat-kuatnya.</p>
<p>Keruan Toan Ki mengeluh dan meringis kesakitan. Ia coba meronta, namun cengkeraman orang itu bagaikan tanggam kuatnya, semakin ia meronta, semakin kencang pegangan orang Se He itu.</p>
<p>Melihat kesempatan baik, terus saja jago bangsa Han tadi angkat pedangnya menusuk ke punggung Toan Ki sambil tetap tertawa.</p>
<p>Diam-Diam orang Se He itu berpikir jangan-jangan kawannya itu bermaksud tidak baik, kalau tusukannya menembus badan Toan Ki dan didorong terus, bukankah badan sendiri yang merapat pemuda itu juga akan ikut terluka? Karena itu cepat ia seret Toan Ki mundur selangkah.</p>
<p>Sambil masih terbahak-bahak orang Han itu mendesak maju dan hendak menusuk pula, tapi mendadak terdengar suara &#8220;plok&#8221; sekali, sayap roda air itu tepat menghantam belakang kepalanya hingga ia jatuh kelengar. Bahkan waktu robohnya, kembali dadanya tertumbuk sekali lagi oleh gigi roda hingga terbinasa seketika.</p>
<p>Sementara itu orang Se He itu masih terus menyikap kencang-kencang badan Toan Ki. Ia pikir kalau pemuda ini digencet hingga sesak napasnya, tentu sebentar akan menyerah tanpa berkutik. Sebaliknya tangan Toan Ki yang masih bisa bergerak itu terus menuding dan menutuk serabutan, tapi semuanya mengenai tempat kosong.</p>
<p>Giok-yan menjadi khawatir melihat Toan Ki tak dapat meloloskan diri dari pegangan lawan. Ada maksudnya hendak maju membantu, tapi setelah keracunan, anggota badannya sudah tidak mau menurut perintah lagi, bahkan tangannya pun susah diangkat, jangankan lagi hendak menolong orang. Lagi pula di samping pintu masih berdiri seorang jago Se He dengan wajahnya yang menyeramkan itu, asal dia turun tangan sekali pasti jiwa Toan Ki akan melayang segera.</p>
<p>Karena tak berdaya, akhirnya Giok-yan berteriak-teriak, &#8220;Sudahlah, jangan kalian bikin susah Toan-kongcu, aku &#8230; aku menyerah dan akan ikut pergi bersama kalian.&#8221;</p>
<p>Waktu itu Toan Ki sendiri sangat ketakutan, tangannya menuding dan menutuk tak keruan, padahal kalau dia bisa berlaku tenang dan mengendurkan badannya, tentu Cu-hap-sin-kang yang mengeram di dalam badannya pasti akan menyedot tenaga jago Se He itu, dan tanpa dia mencapekkan diri, tentu musuh akan lemas sendiri. Tapi karena ketakutan hingga tenaga dalamnya telah terhimpun di antara jari-jarinya, sedangkan tutukannya selalu mengenai tempat kosong.</p>
<p>Begitulah dalam keadaan bahaya dan napasnya terasa semakin sesak, sekonyong-konyong terdengar suara &#8220;crit-crit&#8221; beberapa kali, tiba-tiba jago Se He itu menjerit perlahan, tangannya lantas mengendur dan akhirnya melambai ke bawah, badannya menjadi lemas juga dan bersandar di dinding dengan kepala terkulai.</p>
<p>Keruan Toan Ki sangat heran, ia coba periksa keadaan orang, ia lihat tepat di &#8220;Giok-cim-hiat&#8221; di belakang kepalanya ada sebuah lubang kecil dan dari situ memancurkan darah segar. Lukanya itu terang adalah akibat kena serangan Lak-meh-sin-kiamnya.</p>
<p>Toan Ki menjadi bingung, ia tidak tahu bahwa di saat gawat tadi, ketika jarinya menuding ke atas, hingga tenaga murninya yang bergolak itu telah menerjang dinding terus membalik dan secara kebetulan mengenai belakang kepala lawan, sebab Giok-cim-hiat di belakang kepala itu memang merupakan tempat paling lemah bagi jago Se He itu, walaupun cuma tenaga membalik juga telah membikin jiwanya melayang. Giok-cim-hiat di belakang kepala memang merupakan tempat lemah bagi Se He itu, walaupun cuma tenaga membalik juga telah membikin jiwanya melayang.</p>
<p>Dengan heran dan girang segera Toan Ki berteriak, &#8220;Aha, nona Ong, semua musuh sudah terbinasa!&#8221;</p>
<p>Nyata ia lupa bahwa di samping pintu sana masih berdiri seorang musuh.</p>
<p>Maka tiba-tiba ia dengar suara dingin menyahut, &#8220;Hm, belum tentu telah mati semua!&#8221;</p>
<p>Dalam kagetnya segera Toan Ki menoleh, ia lihat pembicara itu adalah jago Se He yang mukanya membeku tanpa perasaan itu. Ia pikir kalau orang berani maju, tentu juga akan terbinasa percuma, maka dengan tertawa ia berkata, &#8220;Sudahlah, lekas kau pulang saja, aku takkan membunuhmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, apakah engkau mempunyai kepandaian yang cukup untuk membunuh aku?&#8221; sahut orang itu dengan angkuh.</p>
<p>Sesungguhnya Toan Ki memang tidak ingin membunuh lagi, maka sahutnya dengan rendah hati, &#8220;Ya, mungkin aku bukan tandinganmu, maka sudilah engkau bermurah hati, ampunilah aku ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ucapanmu ini sedikit pun tidak ada maksud minta ampun dengan sungguh-sungguh,&#8221; ujar orang itu. &#8220;Padahal It-yang-ci dan Lak-meh-sin-kiam keluarga Toan di Tayli tersohor di seluruh jagat, ditambah lagi petunjuk-petunjuk nona ini, bukankah engkau sudah terhitung jago nomor satu di dunia ini? Biarlah paku belajar kenal juga dengan kepandaianmu.&#8221;</p>
<p>Namun watak Toan Ki memang tidak suka ilmu silat, kalau ada sekian banyak orang terbunuh olehnya, soalnya adalah karena terpaksa, kalau bicara tentang berkelahi sungguh-sungguh, sedapat mungkin ia ingin menghindari, apalagi ia dengar kata-kata orang ini agak lain daripada yang lain, tentu bukan sembarangan jago silat, sebaiknya jangan lagi bertempur dengan dia.</p>
<p>Maka cepat ia menjawab dengan sungguh-sungguh sambil memberi hormat, &#8220;Teguran saudara memang benar, maksud permintaan ampunku kurang hormat dan tidak jujur, biarlah di sini aku minta diberi maaf. Selamanya aku tidak pernah belajar silat, tadi dapat kurobohkan lawan, sesungguhnya hanya secara kebetulan saja, mana aku berani menantang padamu pula.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hehe, engkau mengaku tidak pernah belajar silat, tapi mampu membinasakan empat jago It-bin-tong negeri Se He dan membunuh pula 11 orang busu kami,&#8221; demikian jengek orang aneh itu. &#8220;Dan bila engkau belajar ilmu silat, bukankah tiada seorang jago silat lagi di kolong langit ini mampu menandingimu?&#8221;</p>
<p>Melihat di sekitarnya bergelimpangan mayat, semuanya berlumuran darah, hati Toan Ki menjadi pedih, katanya sambil tersendat, &#8220;Ai, mengapa aku mem &#8230; membunuh sebanyak ini? Padahal sebenarnya aku tidak &#8230; tidak ingin membunuh orang, bagaimana baiknya ini?&#8221;</p>
<p>Orang aneh itu hanya tertawa dingin saja sambil melirik hina kepada Toan Ki untuk menjajaki apakah ucapan pemuda itu benar-benar timbul dari hati nuraninya?</p>
<p>Toan Ki lantas berkata pula sambil mencucurkan air mata, &#8220;Ai, di rumah orang-orang ini tentu punya anak-istri, tadinya mereka semua sehat dan kuat, tapi sekarang kubinasakan, bagaimana aku harus &#8230; harus bertanggung jawab kepada keluarga mereka?&#8221;</p>
<p>Berkata sampai di sini, bukan saja ia menangis tersedu-sedu, bahkan sambil memukul dada sendiri dan menyambung pula dengan terguguk-guguk, &#8220;Belum tentu mereka bermaksud membunuh diriku, mereka cuma menurut perintah atasan tutuk menangkapku, selamanya aku pun tidak kenal mereka, mengapa aku turun tangan keji?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, jangan pura-pura seperti kucing menangisi tikus, apakah dosamu akan terhapus begini saja?&#8221; jengek jago Se He itu pula.</p>
<p>&#8220;Ya, memang benar,&#8221; kata Toan Ki sambil mengusap air mata, &#8220;orangnya kan sudah terbunuh, dosaku juga sudah terang, apa gunanya menangis pula? Aku harus mengubur secara baik-baik jenazah mereka ini.&#8221;</p>
<p>Mendengar pemuda itu hendak mengubur belasan jenazah itu, Giok-yan menjadi tidak sabar menunggu, segera ia berseru, &#8220;Toan-kongcu, mungkin musuh akan memburu kemari lagi, sebaiknya kita berusaha meninggalkan tempat ini selekasnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, benar,&#8221; sahut Toan Ki terus putar tubuh hendak naik tangga.</p>
<p>&#8220;Kau belum lagi membunuh aku, mengapa akan pergi begini saja,&#8221; tanya orang aneh itu tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;Tidak, aku tak boleh membunuhmu, lagi pula aku pun bukan tandinganmu,&#8221; sahut Toan Ki sambil menggeleng kepala.</p>
<p>&#8220;Kita kan belum lagi bergebrak, dari mana kau tahu bukan tandinganku?&#8221; ujar orang itu. &#8220;Nona Ong telah mengajarkan &#8216;Leng-po-wi-poh&#8217; padamu, hehe, langkah itu memang sangat hebat.&#8221;</p>
<p>Sebenarnya Toan Ki hendak menerangkan bahwa Leng-po-wi-poh itu bukan ajaran Giok-yan, tapi segera terpikir olehnya tidak perlu beri tahukan hal itu pada orang luar, maka jawabnya, &#8220;Ya, aku tidak mengerti ilmu silat apa segala, tapi berkat petunjuk nona Ong, maka aku bisa menyelamatkan diri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan bila kau hendak membunuh aku, terpaksa aku yang akan membunuhmu,&#8221; kata orang itu sambil menjemput sebatang golok dari lantai, sekonyong-konyong ruangan situ penuh gulungan sinar, dalam lingkaran seluas dua-tiga meter melulu sinar golok belaka. Baru saja Toan Ki mulai melangkah, tahu-tahu pundak kena diketuk punggung golok orang hingga ia menjerit kesakitan sambil sempoyongan.</p>
<p>Dan selagi kacau langkahnya, kesempatan itu segera digunakan jago Se He untuk memburu maju, ia ancam kuduk Toan Ki dengan golok, tapi sebagai gantinya sebelah kaki lantas mendepak hingga Toan Ki terjungkal ke depan, batok kepala menumbuk sebuah tong kayu, seketika jidatnya bocor.</p>
<p>&#8220;Lekas naik kemari, Toan-kongcu,&#8221; seru Giok-yan.</p>
<p>Toan Ki mengiakan terus merayap ke atas melalui tangga. Waktu ia menoleh ke bawah, ia lihat orang aneh itu sudah duduk di lantai sambil memegangi goloknya, mukanya masih tetap kaku tanpa perasaan. Nyata sekali ia sengaja membiarkan Toan Ki naik ke atas loteng dan tidak memburu untuk menyerangnya dari belakang.</p>
<p>&#8220;Wah, nona Ong, aku tak dapat menandingi dia, marilah kita lekas mencari akal untuk melarikan diri,&#8221; demikian desis Toan Ki sesudah berada di atas loteng.</p>
<p>&#8220;Dia menunggu di bawah, kita tidak dapat melarikan diri,&#8221; sahut Giok-yan. &#8220;Eh, ambilkan dulu baju itu.&#8221;</p>
<p>Toan Ki mengiakan, segera ia ambilkan baju yang ditinggalkan si gadis tani tadi.</p>
<p>&#8220;Tutup matamu dan berjalan kemari,&#8221; pinta Giok-yan. &#8220;Nah, baiklah, berhenti. Sampirkan baju itu ke atas badanku, tidak boleh membuka mata!&#8221;</p>
<p>Semua perintah itu dituruti dengan baik oleh Toan Ki. Ia adalah seorang pemuda jujur dan polos, ia pandang Giok-yan seakan-akan malaikat dewata pula, dengan sendirinya tidak berani membangkang. Tapi bila teringat gadis itu dalam keadaan tak berbaju, tanpa terasa hatinya berdebur keras.</p>
<p>Habis pemuda itu mengenakan baju baginya, kemudian Giok-yan berkata pula, &#8220;Sudahlah sekarang, bangunkanlah diriku!&#8221;</p>
<p>Oleh karena tidak mendengar perintah agar buka mata, maka Toan Ki masih terus pejamkan kedua matanya, sedikit pun ia tidak berani mengintip. Ketika dengar si gadis bilang &#8220;bangunkanlah diriku&#8221; terus saja ia ulur tangan ke depan.</p>
<p>Di luar dugaan mendadak muka Giok-yan terpegang olehnya, karena merasa tangan menyentuh sesuatu yang halus licin, Toan Ki terperanjat dan berseru gugup, &#8220;O, maaf, maafkan!&#8221;</p>
<p>Sejak tadi muka Giok-yan sudah merah jengah ketika minta pemuda itu mengenakan baju untuknya, kiri mukanya teraba pula oleh tangan Toan Ki, keruan ia tambah malu, cepat ia berkata, &#8220;Hei, aku minta engkau membangunkan aku!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, ya!&#8221; sahut Toan Ki, tapi tetap dalam keadaan mata terpejam, karena itu ia menjadi bingung dan serbasalah, sebab tidak tahu ke mana tangannya harus meraba, ia khawatir jangan-jangan salah menyenggol badan si gadis pula hingga makin menambah dosanya.</p>
<p>Dengan rasa tegang Giok-yan menantikan Toan Ki membangunkannya dari onggok padi itu. Tapi sampai sekian saat pemuda itu masih mematung di tempatnya, akhirnya barulah ia ingat kedua mata Toan Ki harus disuruh buka dulu, maka segera katanya, &#8220;Eh, mengapa engkau tidak membuka matamu?&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu jago Se He di bawah loteng sedang tertawa dingin mengejek mereka, &#8220;Hehehe, aku suruh kau belajar ilmu silat dulu kepada gurumu untuk kemudian buat membunuh aku. Kan tidak kuminta kalian naik pantas dengan lakon gandrung di situ. Huh, sungguh memuakkan.&#8221;</p>
<p>Dan waktu Toan Ki membuka matanya, ia lihat wajah Giok-yan bersemu merah dan kemalu-maluan, seketika ia terkesima dan memandang gadis itu dengan terpesona hingga apa yang dikatakan orang Se He itu sama sekali tak masuk telinganya.</p>
<p>&#8220;Lekas bangunkan aku!&#8221; pinta si gadis pula.</p>
<p>&#8220;Ya, ya!&#8221; sahut Toan Ki, dengan gugup ia memayang bangun si gadis untuk duduk di atas sebuah bangku butut.</p>
<p>Setelah membetulkan baju sendiri dengan sebisanya, lalu Giok-yan menunduk sambil berpikir. Selang agak lama barulah ia membuka suara, &#8220;Ia sengaja tidak mau mengunjukkan ilmu silatnya yang asli, maka aku tidak &#8230; tidak tahu cara bagaimana agar dapat mengalahkan dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia terlalu lihai, bukan!&#8221; tanya Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Ya, ketika dia bergebrak tadi, sekaligus ia telah mengeluarkan 17 macam gerakan ilmu silat dari aliran yang berbeda-beda,&#8221; sahut Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Ha? Apa? Hanya sekejapan itu, sekaligus ia mengeluarkan 17 macam gerakan yang tidak sama?&#8221; Toan Ki menegas dengan terheran-heran.</p>
<p>&#8220;Ya, macam-macam kepandaian yang dia mainkan, mula-mula ia keluarkan ilmu golok dari Siau-lim-pay, lalu ada pula ilmu golok Lay-lo-han di Kwisay, serta aliran-aliran lain,&#8221; ujar Giok-yan. &#8220;Kemudian waktu ia putar punggung goloknya untuk mengetok pundakmu, gayanya adalah &#8216;Cu-pi-to&#8217; ciptaan Sim-koan Hwesio di Lengpo Thian-tong-si, ilmu golok itu cuma untuk membikin musuh tak berkutik dan tidak digunakan untuk membunuh. Lalu ia ancam lehermu dengan goloknya, itu adalah tipu gerakan ilmu golok ciptaan Nyo-jinkong yang terkenal. Dan paling akhir ketika ia mendepak engkau hingga terguling, gaya itu mengambil cara bergulat orang Se He.&#8221;</p>
<p>Ternyata setiap gerak tipu serangan orang Se He itu telah dapat diuraikan satu per satu secara jelas oleh Giok-yan. Sebaliknya bagi Toan Ki sudah tentu penjelasan itu tiada artinya, sebab memang dia tidak paham ilmu silat.</p>
<p>Setelah Giok-yan memikir pula agak lama, akhirnya ia berkata, &#8220;Sudah terang engkau tak dapat melawannya, sudahlah, engkau mengaku kalah saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya sejak tadi aku sudah mengaku kalah,&#8221; sahut Toan Ki. Maka segera ia berseru kepada orang Se He itu, &#8220;Hai, betapa pun aku tidak dapat melawan kau lagi, engkau mau berdamai tidak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk mengampuni jiwamu juga tidak sulit, asal engkau menurut sesuatu syaratku,&#8221; sahut jago Se He itu dengan tertawa dingin.</p>
<p>&#8220;Apakah syaratmu itu?&#8221; tanya Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Sejak kini, apabila engkau ketemu aku, harus segera merangkak di tanah dan menyembah padaku sambil meminta &#8216;ampun tuan&#8217;,&#8221; kata orang itu.</p>
<p>Sungguh gusar Toan Ki tidak kepalang, sahutnya, &#8220;Seorang laki-laki lebih baik terbunuh daripada dihina, engkau ingin aku menyembah dan minta ampun padamu, hm, jangan harap. Jika mau bunuh, silakan sekarang bunuhlah!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau benar-benar tidak takut mati?&#8221; tanya orang itu.</p>
<p>&#8220;Takut sih memang takut,&#8221; sahut Toan Ki, &#8220;tetapi kalau setiap kali bertemu mesti berlutut dan minta ampun padamu, lebih baik aku pilih mati saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, berlutut dan minta ampun padaku, apakah hal ini merendahkan derajatmu?&#8221; jengek orang itu. &#8220;Bila suatu ketika aku menjadi raja di Tionggoan, dan kau ketemu aku, kau akan berlutut dan menyembah tidak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ketemu raja dan menyembah, hal ini adalah soal lain,&#8221; sahut Toan Ki. &#8220;Cara itu namanya memberi hormat dan bukan minta ampun.&#8221;</p>
<p>Mendengar jago Se He itu bicara tentang &#8220;bila suatu ketika aku menjadi raja Tionggoan&#8221; segala, hati Giok-yan terkesiap, ia heran, &#8220;Mengapa ia bicara serupa angan-angan Piaukoku?&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu terdengar orang Se He itu berkata pula, &#8220;Jika begitu, jadi syaratku tak dapat kau terima?&#8221;</p>
<p>Toan Ki menggeleng kepala, sahutnya tegas, &#8220;Maaf, aku tak dapat menurut.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, sekarang boleh kau turun, biar sekali tebas kubunuhmu,&#8221; ujar orang itu.</p>
<p>Toan Ki memandang sekejap pada Giok-yan dengan perasaan cemas, katanya kemudian, &#8220;Jika engkau bertekad ingin membunuh diriku, ya, apa boleh buat! Cuma ada suatu permintaanku padamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentang apa?&#8221; tanya orang itu.</p>
<p>&#8220;Nona ini keracunan aneh, badannya lemas dan tak ada tenaga hingga tidak dapat berjalan, maka harap engkau suka mengantarkannya pulang ke Man-to-san-ceng di tepi Thay-oh sana,&#8221; pinta Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Haha, guna apa aku mesti berbuat begitu?&#8221; seru orang itu dengan tertawa. &#8220;Telah ada perintah dari Ciangkun kami, barang siapa dapat menangkap si gadis cendekia ini akan diberi hadiah emas murni seribu tahil dan diberi pangkat menteri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika engkau kemaruk harta dan pangkat, baiklah begini saja, aku akan menulis sepucuk surat, sesudah kau antar pulang nona ini, engkau boleh membawa suratku ke negeri Tayli untuk menerima lima ribu tahil emas, tentang pangkat menteri juga tetap diberikan padamu,&#8221; ujar Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Hahaha, apa kau anggap aku anak umur tiga, ya?&#8221; sahut orang itu dengan terbahak. &#8220;Kau ini kutu macam apa hingga melulu sepucuk suratmu lantas aku dapat menerima ribu tahil emas dan diberi pangkat?&#8221;</p>
<p>Toan Ki tahu orang tidak percaya omongannya, seketika ia menjadi tidak berdaya lagi, katanya, &#8220;Habis, apa yang dapat kulakukan? Kematianku tidak perlu dibuat sayang, tapi kalau Siocia telantar di sini dan jatuh di bawah cengkeraman musuh, bukankah dosaku tak terampunkan?&#8221;</p>
<p>Giok-yan terharu mendengar kata-kata Toan Ki yang tulus itu, segera ia berseru pada jago Se He itu, &#8220;Hai, jika kau berani kurang ajar padaku, tentu Piaukoku akan membalaskan sakit hatiku, negeri Se He kalian pasti akan diubrak-abrik habis-habisan olehnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapakah gerangan Piaukomu?&#8221; tanya orang itu.</p>
<p>&#8220;Piaukoku adalah Buyung-kongcu yang namanya mengguncangkan dunia persilatan Tionggoan, nama &#8216;Koh-soh Buyung-si&#8217; tentu pernah kau dengar juga,&#8221; demikian sahut Giok-yan. &#8220;Dan bila engkau tidak suka &#8216;Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin&#8217; baiknya engkau jangan mengganggu aku, kalau engkau berbuat sesuatu yang tidak baik padaku, Piaukoku tentu akan membalas engkau dengan sepuluh kali lebih jahat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, Buyung-kongcu dari Koh-soh hanya seorang bocah ingusan yang masih berbau pupuk, namanya cuma nama kosong belaka, kepandaian sejati apa yang dia miliki?&#8221; ejek orang itu. &#8220;Andaikan dia tidak datang mencariku, memang sudah lama juga aku ingin mencarinya untuk menjajalnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Engkau sekali-kali bukan tandingan Piaukoku, maka aku nasihatkan padamu lebih baik pulang kandang ke negerimu saja,&#8221; ujar Giok-yan. &#8220;Pula, bila jiwa Toan-kongcu ini diganggu olehmu, pasti aku akan minta Piauko menuntut balas padamu. Sebab Toan-kongcu sendiri sebenarnya dapat meloloskan diri, tapi demi untuk melindungi aku, maka ia ikut terkurung di sini. Eh, tuan besar, siapakah namamu yang mulia? Beranikah kau beri tahukan padaku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa tidak berani? Li Yan-cong, inilah namaku,&#8221; sahut orang itu.</p>
<p>&#8220;O, jadi engkau she Li, itu kan nama keluarga kerajaan Se He?&#8221; Giok-yan menegas.</p>
<p>&#8220;Ya, tidak hanya nama keluarga kerajaan, bahkan setia membela negara dan siap berbakti bagi tanah air. Negara Song akan kami hancurkan, Liau akan kami caplok, ke barat membasmi Turfan, ke selatan meratakan Tayli,&#8221; kata orang yang bernama Li Yan-cong itu.</p>
<p>&#8220;Haha, cita-citamu ternyata setinggi bintang di langit,&#8221; seru Toan Ki. &#8220;Wahai Li Yan-cong, biarlah kukatakan terus terang padamu, bahwasanya engkau mahir berbagai macam ilmu silat dari setiap aliran, kalau hendak menjadikan ilmu silatmu nomor satu di jagat ini mungkin tidak sulit, tapi kalau engkau bercita-cita menyatakan dunia di bawah kekuasaanmu, hal ini rasanya takkan terjadi bila melulu mengandalkan ilmu silat nomor satu di dunia ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hendak menjadikan ilmu silatmu nomor satu di dunia juga engkau tidak mungkin mampu,&#8221; tukas Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Apa yang menjadi dasar pendapatmu? Coba memberi penjelasan,&#8221; tanya Li Yan-cong.</p>
<p>&#8220;Pada zaman ini, kalau menurut penglihatanku, paling sedikit sudah ada dua orang yang berilmu lebih tinggi daripadamu,&#8221; sahut Giok-yan,</p>
<p>&#8220;Siapa kedua orang itu? tanya Li Yan-cong sambil melangkah maju setindak dan menengadah.</p>
<p>&#8220;Pertama, ialah Kiau Hong, Kiau-pangcu dari Kay-pang,&#8221; kata Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Hm, meski terkenal namanya, belum tentu sesuai dengan kenyataannya,&#8221; jengek Li Yan-cong. &#8220;Dan siapa lagi yang kedua itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Orang kedua adalah Piaukoku. Buyung Hok, Buyung-kongcu dari Koh-soh,&#8221; sahut si gadis.</p>
<p>&#8220;Huh, juga belum tentu benar,&#8221; kata Li Yan-cong sambil geleng kepala. &#8220;Kau sengaja menyebut nama Kiau Hong di depan Buyung Hok, hal ini demi kepentingan pribadimu atau demi kepentingan umum?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kepentingan umum dan pribadi apa maksudmu? tanya Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Jika demi kepentingan umum, tentu dasarnya karena kau anggap ilmu silat Kiau Hong memang berada di atas Buyung Hok,&#8221; sahut Li Yan-cong. &#8220;Dan bila demi kepentingan pribadi, tentu disebabkan Buyung Hok itu ada hubungan famili denganmu, maka kau biarkan nama orang luar di depan nama orang sendiri.&#8221;</p>
<p>Untuk sejenak Giok-yan berpikir, lalu jawabnya, &#8220;Demi kepentingan umum atau pribadi kan sama saja. Sudah tentu kuharap ilmu silat Piaukoku bisa lebih tinggi daripada Kiau-pangcu, tapi pada saat ini belum dapat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sekarang belum dapat? Hm, jadi maksudmu bila ilmu silat Piaukomu setiap hari dapat maju dengan pesat, kelak pasti akan menjadi jago nomor satu di dunia ini?&#8221; jengek Li Yan-cong.</p>
<p>&#8220;Ai, itu pun belum pasti,&#8221; sahut Giok-yan sambil menghela napas. &#8220;Sampai akhirnya kelak, mungkin jago silat nomor satu di dunia ini tak-lain-tak-bukan adalah Toan-kongcu inilah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahaha, benar-benar pandai berkelakar,&#8221; seru Li Yan-cong sambil tertawa. &#8220;Pelajar tolol ini hanya mendapat petunjukmu hingga dapat memainkan &#8216;Leng-po-wi-poh&#8217; sehingga jiwanya untuk sementara dapat selamat, tapi dengan kepandaian angkat langkah seribu dan lari terbirit-birit itu masakah dapat disebut sebagai jago silat nomor satu di dunia?&#8221;</p>
<p>Sebenarnya Giok-yan bermaksud menjelaskan bahwa Leng-po-wi-poh itu bukan dia yang mengajarkan, hanya lwekang Toan Ki memang hebat luar biasa. Tapi demi dipikir pula bahwa musuh mungkin berjiwa sempit, bila mengetahui rahasia itu, bukan mustahil Toan Ki akan dibunuhnya. Maka segera ia berkata, &#8220;Jika dia mau menurut petunjukku dan belajar tiga tahun, sesudah itu untuk menjadi jago nomor satu di dunia ini mungkin belum cukup, namun untuk mengalahkanmu dapat dipastikan semudah membalik telapak tangan sendiri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika begitu, baiklah, aku percaya omonganmu, dan daripada menanam bibit bencana, lebih baik sekarang kubasmi dulu. Nah, Toan-kongcu, silakan turun, aku akan membunuhmu saja,&#8221; demikian kata Li Yan-cong.</p>
<p>Keruan Giok-yan kaget, sungguh di luar dugaan bahwa bandingannya justru membikin urusan menjadi runyam malah, terpaksa ia berkata pula dengan tertawa dingin, &#8220;Huh, kiranya engkau sudah jeri lebih dulu, sebab khawatir tiga tahun lagi engkau tak mampu menangkan dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hehe, kau sengaja mengumpak aku dengan kata-kata pancingan, masakah orang she Li ini mudah tertipu?&#8221; jengek Li Yan-cong. &#8220;Sudahlah, pendek kata, ingin minta aku mengampuni jiwanya juga boleh, asal seperti kataku tadi, setiap kali bertemu dengan aku dia harus berlutut dan minta ampun, dengan demikian pasti aku tidak akan membunuhmu.&#8221;</p>
<p>Giok-yan tidak bersuara lagi, ia pandang Toan Ki, ia pikir tidak mungkin pemuda itu sudi berlutut dan minta ampun. Jalan paling baik sekarang biar coba melawan dengan mati-matian. Maka segera ia berbisik, &#8220;Toan-kongcu, kiam-gi (hawa pedang) pada jarimu itu mengapa adakalanya manjur, tapi terkadang macet, apa sebabnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Entahlah, aku sendiri pun tidak tahu,&#8221; sahut Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Paling baik kau coba sekali lagi sekuat tenaga,&#8221; ujar si nona. &#8220;Engkau boleh menusuk pergelangan tangan orang she Li itu dengan hawa pedang, lebih dulu rampas senjatanya, kemudian dekap dia sekencang-kencangnya untuk mengadu jiwa dengan dia. Tempo hari waktu di Man-to-san-ceng, secara mudah Peng-mama dapat kau taklukkan, sekarang bolehlah kau gunakan cara yang sama.&#8221;</p>
<p>Kiranya Giok-yan tahu tidak mungkin dalam waktu sesingkat Toan Ki dapat diberi petunjuk cara mengalahkan Li Yan-cong yang lihai itu. Tapi ia ingat cara Toan Ki menaklukkan Peng-mama tempo hari, yaitu dengan semacam tenaga sakti yang dapat menyedot hawa murni lawan, asal pemuda itu dapat menyikap Li Yan-cong, tentu ilmu sakti itu dapat dipakai menyedot tenaga lawan.</p>
<p>Begitulah Toan Ki lantas mengangguk tanda setuju, memang kecuali cara itu ia pun tidak berdaya lain, biarpun risiko celaka lebih besar daripada selamatnya, namun terpaksa ia harus mencobanya juga.</p>
<p>Maka sesudah membetulkan baju sendiri, segera Toan Ki berkata dengan tertawa, &#8220;Nona Ong, sungguh aku harus malu karena tak becus melindungi nona. Bila nanti nona dapat lolos dengan selamat dan kelak menikah dengan Piaukomu, harap jangan lupa menyiram beberapa tetes arak pada tangkai bunga kamelia yang kutanam di Man-to-san-ceng itu dan anggaplah aku yang telak minum arak bahagiamu.&#8221;</p>
Posted in Jin Yong, Pendekar Kerajaan Tayli  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toanki.wordpress.com/1825/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toanki.wordpress.com/1825/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toanki.wordpress.com/1825/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toanki.wordpress.com/1825/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toanki.wordpress.com/1825/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toanki.wordpress.com/1825/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toanki.wordpress.com/1825/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toanki.wordpress.com/1825/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toanki.wordpress.com/1825/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toanki.wordpress.com/1825/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&blog=4564196&post=1825&subd=toanki&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-27/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b75e221c0eee4ff517b26695a19675fc?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">Lenghou Tiong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 26</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-26/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-26/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 04:51:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1822</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Banyak terima kasih atas uraian Ti-kong Taysu sehingga kita semua dapat mengikuti duduknya perkara dari awal,&#8221; kata Ci-tianglo. Lalu ia unjuk surat yang dipegangnya tadi, &#8220;Dan surat ini adalah kiriman pendekar Toako Pemimpin itu kepada Ong-pangcu, isinya berusaha mencegah Ong-pangcu agar jangan mengangkat engkau sebagai gantinya. Nah, silakan baca sendiri, Kiau-pangcu.&#8221;
&#8220;Coba kulihat dulu, apakah surat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&blog=4564196&post=1822&subd=toanki&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>&#8220;Banyak terima kasih atas uraian Ti-kong Taysu sehingga kita semua dapat mengikuti duduknya perkara dari awal,&#8221; kata Ci-tianglo. Lalu ia unjuk surat yang dipegangnya tadi, &#8220;Dan surat ini adalah kiriman pendekar Toako Pemimpin itu kepada Ong-pangcu, isinya berusaha mencegah Ong-pangcu agar jangan mengangkat engkau sebagai gantinya. Nah, silakan baca sendiri, Kiau-pangcu.&#8221;</p>
<p><span id="more-1822"></span>&#8220;Coba kulihat dulu, apakah surat itu asli atau bukan,&#8221; kata Ti-kong tiba-tiba sambil menerima surat itu dari tangan Ci-tianglo. Setelah membaca, katanya pula, &#8220;Ya, memang betul adalah tulisan tangan Toako Pemimpin.&#8221;</p>
<p>Sembari berkata, diam-diam ia gunakan jari tangan kiri untuk robek bagian yang ada tanda tangan penulis surat itu, lalu dimasukkan ke mulut terus ditelan.</p>
<p>Tatkala itu hari sudah gelap, di tengah hutan hanya remang-remang oleh cahaya bintang yang berkedip, waktu Ti-kong merobek surat itu ia pura-pura kurang jelas membacanya, maka surat itu diangkat ke atas, pada saat itulah ia robek ujung surat dan ditelan.</p>
<p>Sudah tentu Kiau Hong tidak menduga padri saleh itu bisa berbuat selicik itu, sambil membentak terus saja sebelah tangan menabok ke depan, dari jauh ia tepuk hiat-to padri itu, berbareng tangan lain hendak merebut surat itu. Namun tetap terlambat, sobekan kertas surat itu sudah masuk ke perut Ti-kong.</p>
<p>&#8220;Kau &#8230; kau berbuat apa?&#8221; bentak Kiau Hong dengan gusar, menyusul ia menabok pula untuk membuka hiat-to orang.</p>
<p>Ti-kong tersenyum, sahutnya, &#8220;Kiau-pangcu, jika engkau sudah mengetahui asal usul dirimu sendiri, tentu engkau akan membalas sakit hati ayah-bundamu. Karena Ong-pangcu sudah meninggal, dia tidak perlu dibicarakan lagi, tapi siapa Toako Pemimpin justru tidak boleh diketahui olehmu. Dahulu pernah kuikut serta menyerang kedua orang tuamu itu, maka segala dosa dan kesalahan biar aku menanggungnya, hendak kau bunuh atau digantung terserahlah padamu untuk melakukannya sekarang.&#8221;</p>
<p>Melihat sikap padri yang sungguh-sungguh itu, wajah tersenyum welas asih, meski berduka dan penasaran, mau tak mau Kiau Hong menaruh hormat juga padanya, maka katanya, &#8220;Hal ini benar atau tidak, saat ini aku sendiri belum yakin. Hendak membunuhmu juga tidak perlu terburu-buru pada saat demikian.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia melirik sekejap pada Tio-ci-sun.</p>
<p>&#8220;Benar, termasuk juga aku,&#8221; kata Tio-ci-sun sambil mengangkat pundak seakan-akan menghadapi urusan sepele saja, &#8220;utang itu aku pun mempunyai bagian, kapan-kapan saja engkau suka, setiap saat engkau boleh turun tangan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kiau-pangcu,&#8221; seru Tam-poh tiba-tiba, &#8220;setiap tindakan harus dipikirkan masak-masak sebelumnya. Bila sampai menimbulkan persengketaan antarbangsa, maka setiap pahlawan di Tionggoan pasti akan memusuhimu.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong hanya tertawa dingin, perasaannya sangat kusut, ia tidak tahu cara bagaimana harus menjawabnya.</p>
<p>Ia coba membaca surat, isinya sebagai berikut:</p>
<p>Saudaraku Kiam-yan.<br />
Setelah pembicaraan selama beberapa hari, maksud mewariskan kedudukanmu ternyata tidak berubah. Setelah beberapa hari kupikirkan, aku pun tetap tidak menyetujui maksudmu itu. Kepandaian pemuda she Kiau itu memang lain daripada yang lain, jasanya juga sangat besar, berjiwa kesatria dan patriotik, bukan saja menjadi tokoh kebanggaan Kay-pang, bahkan setiap kawan persilatan sebangsa juga merasa kagum padanya. Dengan tokoh sehebat itu untuk menggantikan kedudukanmu, perkembangan Kay-pang kelak sudah dapat diduga pasti akan membubung &#8230;.</p>
<p>Membaca sampai di sini, Kiau Hong merasa cianpwe ini sangat menghargai dirinya, ia merasa sangat berterima kasih, ia membaca lagi:</p>
<p>Namun pertarungan sengit di luar Gan-bun-koan dahulu itu betapa menggetarkan sukma keadaan waktu itu, sampai kini sehari pun tidak pernah kulupakan. Anak itu bukan bangsa kita, ayah bundanya terbinasa di tangan kita. Takkan menjadi soal bila anak ini tidak tahu asal usul sendiri, tetapi bila kelak ia tahu, bukan saja Kay-pang akan musnah di tangannya, bahkan dunia persilatan di Tionggoan juga akan mengalami malapetaka. Orang yang berkepandaian setinggi anak ini pada zaman ini sesungguhnya dapat dihitung dengan jari.<br />
Sebenarnya sebagai orang luar tidaklah pantas aku ikut campur urusan Kay-pang kalian, tapi hubungan kita lain daripada yang lain, urusan ini sangat luas pula akibatnya. Maka sebelum ambil keputusan, haraplah dipikirkan lebih masak lagi.</p>
<p>Tanda tangan penulis surat itu sudah tidak terbaca lagi karena telah dirobek oleh Ti-kong tadi.</p>
<p>Melihat Kiau Hong termangu-mangu setelah membaca surat itu, segera Ci-tianglo mengangsurkan sehelai surat yang lain, katanya, &#8220;Dan ini adalah tulisan Ong-pangcu, engkau tentu kenal tulisan tangannya.&#8221;</p>
<p>Setelah menerima surat itu, Kiau Hong melihat isinya adalah:</p>
<p>Kepada Be-hupangcu, Thoan-kong Tianglo, Cit-hoat Tianglo dan para tianglo yang lain untuk dilaksanakan.<br />
Apabila Kiau Hong bertindak mengkhianati bangsa dan berhubungan dengan musuh, harus segera membunuhnya dan jangan ayal. Cara bagaimana pelaksanaannya terserah kepada kalian menurut keadaan, siapa yang melaksanakan tugas ini dia berjasa dan tidak bersalah.<br />
Tertanda Ong Kiam-thong.</p>
<p>Surat wasiat itu tertanggal tujuh bulan lima tahun keenam Goan Hong. Kiau Hong coba menghitung, ternyata hari itu persis adalah hari dirinya diangkat menjadi Pangcu Kay-pang.</p>
<p>Kiau Hong kenal baik tulisan tangan gurunya yang berbudi itu, maka tentang asal usul dirinya kini tidak perlu disangsikan lagi. Terkenang dahulu betapa Insu mencintai diriku bagai putra sendiri, siapa tahu pada hari aku menjadi pangcu itu diam-diam beliau menulis juga secarik surat wasiat ini. Saking pilunya air mata lantas bercucuran dan menetes di atas surat wasiat tinggalan Ong-pangcu itu hingga basah seketika.</p>
<p>Dalam pada itu Ci-tianglo berkata pula, &#8220;Harap Pangcu jangan marah kepada kekurangajaran kami. Adapun surat wasiat Ong-pangcu ini sebenarnya cuma diketahui oleh Be-hupangcu seorang dan selama ini disimpannya dengan rapi, tidak pernah ia katakan kepada siapa pun. Selama beberapa tahun ini tindak tanduk Pangcu cukup bijaksana dan terpuji, sekali-kali tidak mungkin bersekongkol dengan musuh untuk menindas bangsa Han.</p>
<p>&#8220;Tentang pesan tinggalan Ong-pangcu ini sudah tentu tidak perlu dijalankan. Ketika Be-hupangcu mendadak tewas barulah surat wasiat ini diketemukan Be-hujin. Sebenarnya semua orang bercuriga Be-hupangcu dibunuh oleh Buyung-kongcu dari Koh-soh, bila Pangcu dapat membalaskan sakit hati Tay-goan, tentang asal usul Pangcu mestinya tidak perlu diumumkan pula, demi untuk kepentingan umum, kupikir surat wasiat Ong-pangcu ini sebaiknya dibakar saja. Tapi &#8230; tapi &#8230;.&#8221;</p>
<p>Sampai di sini ia berpaling ke arah Be-hujin, lalu melanjutkan, &#8220;Pertama Be-hujin tidak mungkin mengesampingkan sakit hati terbunuhnya Tay-goan tanpa membalas. Kedua, Kiau-pangcu sengaja melindungi bangsa lain, tindak tanduknya membahayakan kesatuan Kay-pang kita &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku membela orang asing? Dari mana bisa dikatakan demikian?&#8221; tanya Kiau Hong bingung.</p>
<p>&#8220;Perkataan &#8216;Buyung&#8217; adalah nama keluarga &#8216;asing&#8217;,&#8221; sahut Ci-tianglo. &#8220;Buyung-si adalah keturunan bangsa Sianbi, seperti bangsa Cidan, sama-sama merupakan bangsa asing di luar perbatasan.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, kiranya begitu, aku benar-benar tidak tahu,&#8221; kata Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Dan ketiga, tentang Pangcu adalah keturunan Cidan, anggota kita sudah banyak yang tahu sekarang, kekacauan sudah terjadi, untuk menutupi juga tiada faedahnya,&#8221; kata Ci-tianglo akhirnya.</p>
<p>Tiba-tiba Kiau Hong menengadah sambil menarik napas panjang, tanda tanya yang sejak tadi mencekam hatinya baru sekarang terjawab semua. Lalu katanya kepada Coan Koan-jing, &#8220;Coan-thocu, jadi kau tahu aku ini keturunan Cidan, makanya memberontak, begitu bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar,&#8221; jawab Koan-jing tegas.</p>
<p>&#8220;Dan sebabnya Song, Ge, Tan, dan Go berempat tianglo bersepakat melawan aku, apa juga disebabkan hal ini?&#8221; tanya Kiau Hong pula.</p>
<p>&#8220;Benar,&#8221; sahut Koan-jing. &#8220;Cuma mereka masih ragu dan belum berani bertindak, bahkan setiba waktunya, mereka ketakutan malah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentang asal usul diriku, dari mana kau mendapat tahu?&#8221; desak Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Urusan ini menyangkut orang lain lagi, maafkan tak dapat kuberi tahu,&#8221; sahut Koan-jing. &#8220;Maklum, kertas tak dapat membungkus api, betapa pun engkau merahasiakannya, akhirnya pasti juga akan ketahuan.&#8221;</p>
<p>Sesaat itu pikiran Kiau Hong bergolak hebat, sebentar ia berpendapat, &#8220;Tentu mereka iri pada kedudukanku, maka sengaja mengarang berbagai dongengan untuk memfitnah diriku. Sekalipun aku seorang diri juga harus melawan sampai detik penghabisan, tidak boleh menyerah.&#8221;</p>
<p>Tapi lain saat terpikir pula, &#8220;Namun tulisan tangan Insu itu tidak mungkin dipalsukan. Ti-kong Taysu juga seorang padri berilmu, selamanya tiada dendam permusuhan apa-apa denganku, guna apa dia ikut mengatur tipu muslihat ini? Sedang Ci-tianglo adalah tokoh yang paling tua, mana mungkin dia merencanakan pengacauan pada pang sendiri. Begitu pula Tiat-bin-poan-koan Tan Cing, suami-istri Tam-si dan lain-lain adalah tokoh-tokoh Bu-lim yang terhormat, Tio-ci-sun ini meski angin-anginan, tapi juga bukan sembarangan orang, bila mereka pun bersatu pendapat, masakah hal ini perlu disangsikan pula?&#8221;</p>
<p>Di lain pihak, demi mendengar ucapan Ci-tianglo tadi, para anggota Kay-pang juga merasa bingung. Biasanya Kiau Hong sangat berbudi kepada bawahannya, baik ilmu silatnya maupun tindak tanduknya sangat dikagumi mereka. Siapa duga sang pangcu justru adalah keturunan Cidan.</p>
<p>Padahal permusuhan kerajaan Song dengan Cidan semakin hebat, selama bertahun-tahun anggota Kay-pang yang menjadi korban keganasan musuh itu entah berapa jumlahnya, kini Kay-pang dikepalai seorang keturunan musuh, hal ini benar-benar tak dapat dipercaya oleh siapa pun dan dengan sendirinya tidak boleh terjadi.</p>
<p>Tapi bicara memecat Kiau Hong keluar Kay-pang secara terang-terangan, ternyata tiada seorang pun yang sanggup buka suara.</p>
<p>Seketika itu suasana di tengah hutan menjadi hening, yang terdengar cuma suara napas orang yang tertekan.</p>
<p>Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan yang nyaring menggema, &#8220;Para paman dan hadirin sekalian, sungguh malang suamiku telah tewas, sebenarnya siapakah pembunuhnya, sampai saat ini masih sukar dikatakan. Tapi mengingat masa hidupnya tindak tanduk suamiku cukup jujur dan prihatin, rasanya tidak pernah bermusuhan dengan siapa-siapa, maka sesungguhnya aku tidak mengerti siapakah gerangan yang begitu tega mengambil jiwanya. Aku khawatir jangan-jangan pada diri suamiku terdapat sesuatu yang mahapenting dan ingin diperoleh orang lain. Bukan mustahil orang lain khawatir suamiku akan membongkar rahasianya dengan bukti yang berada padanya itu, maka suamiku harus dibunuh olehnya untuk menghilangkan saksi hidup.&#8221;</p>
<p>Yang bicara ini ternyata Be-hujin adanya, nyonya janda Be Tay-goan.</p>
<p>Ucapannya cukup jelas, secara langsung ia telah menuduh Kiau Hong adalah pembunuh Be Tay-goan dan tujuan pembunuhan itu adalah untuk menghilangkan bukti-bukti tentang Kiau Hong adalah keturunan Cidan.</p>
<p>Perlahan Kiau Hong berpaling, ia menatap tajam wanita yang berperawakan kecil dan lemah gemulai dengan pakaian berkabung itu, katanya, &#8220;Jadi engkau mencurigai aku sebagai pembunuh Be-hupangcu?&#8221;</p>
<p>Be-hujin sejak tadi berdiri mungkur dengan menunduk, kini mendadak mengangkat kepalanya dan memandang Kiau Hong. Tertampak biji matanya yang bening bersinar bagai batu permata berkelip di malam gelap. Hati Kiau Hong tergetar.</p>
<p>&#8220;Aku hanya seorang perempuan yang tidak tahu apa-apa,&#8221; demikian Be-hujin berkata pula, &#8220;sebenarnya tidak pantas tampil di depan umum seperti ini, apalagi kalau secara serampangan menuduh kesalahan orang. Cuma kematian suamiku sesungguhnya terlalu penasaran, maka dengan sangat kumohon bantuan para paman sudilah mengingat sesama saudara sendiri, sukalah menyelidiki duduk perkara yang sebenarnya untuk membalas sakit hati suamiku itu.&#8221;</p>
<p>Sembari berkata, terus saja ia berlutut dan ternyata Kiau Hong yang disembah olehnya.</p>
<p>Selama hidup Kiau Hong suka mengalah kepada kehalusan dan pantang mundur terhadap kekerasan. Maka terhadap tindakan Be-hujin itu, ia menjadi tak berdaya.</p>
<p>Nyonya janda itu tidak mengucapkan sesuatu kalimat yang mengatakan Kiau Hong adalah pembunuhnya, tapi setiap kalimat ditujukan kepadanya. Kini nyonya muda itu menyembah pula kepadanya, biarpun gusar di dalam hati, namun tidak dapat ia umbar lagi. Terpaksa ia balas hormat dan berkata, &#8220;Harap Enso suka bangunlah!&#8221;</p>
<p>&#8220;Be-hujin,&#8221; tiba-tiba suara seorang wanita lain berseru di pojok kiri sana, &#8220;ada suatu soal yang kusangsikan, apakah boleh kutanya?&#8221;</p>
<p>Waktu semua orang memandang ke arah suara itu, kiranya pembicara adalah seorang gadis jelita berbaju hijau pupus, itulah Ong Giok-yan adanya.</p>
<p>&#8220;Soal apakah yang hendak nona tanyakan padaku?&#8221; sahut Be-hujin.</p>
<p>&#8220;Tadi kudengar Hujin bilang surat wasiat Be-cianpwe itu masih tertutup rapat dengan segel, begitu pula waktu surat itu dibuka Ci-tianglo segalanya juga masih baik-baik. Jika begitu, pada sebelum Ci-tianglo membuka surat itu, seharusnya tiada seorang pun yang pernah membaca surat itu, bukan?&#8221; demikian tanya Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Ya, benar,&#8221; sahut Be-hujin.</p>
<p>&#8220;Jika begitu, surat wasiat Ong-pangcu dan surat pendekar pemimpin itu kecuali Be-cianpwe sendiri, orang lain kan tiada yang tahu. Maka tuduhan Hujin tadi bahwa ada orang ingin membunuh suamimu untuk menghilangkan bukti, terang tidak masuk di akal,&#8221; ujar Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Siapakah nona? Mengapa ikut campur urusan dalam Kay-pang kami?&#8221; tanya Be-hujin dengan aseran.</p>
<p>&#8220;Urusan dalam Kay-pang kalian dengan sendirinya tidak boleh kuikut campur,&#8221; sahut Giok-yan. &#8220;Tapi kalian hendak memfitnah Piaukoku, hal ini tidak boleh jadi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapakah Piauko nona? Apakah Kiau-pangcu?&#8221; tanya Be-hujin.</p>
<p>&#8220;Buk