<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>toanki.wuxiaholic library</title>
	<atom:link href="http://toanki.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://toanki.wordpress.com</link>
	<description>bacaan cerita silat untuk koleksi pribadi</description>
	<lastBuildDate>Sat, 08 Nov 2008 18:33:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='toanki.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>toanki.wuxiaholic library</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://toanki.wordpress.com/osd.xml" title="toanki.wuxiaholic library" />
	<atom:link rel='hub' href='http://toanki.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 33</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/31/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-33/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/31/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-33/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2008 03:53:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1993</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Ya, memang besar kemungkinan dia tak mau mengatakan, tapi akan kupaksa secara keras atau halus agar dia mengaku, sebelum dia menjelaskan tidak nanti aku mau sudahi urusan ini,&#8221; kata Kiau Hong. &#8220;Tapi Ti-kong Taysu itu tampaknya sangat keras wataknya dan tidak gentar mati, biarpun kita pancing dengan halus maupun paksa secara kasar, mungkin takkan membuatnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1993&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Ya, memang besar kemungkinan dia tak mau mengatakan, tapi akan kupaksa secara keras atau halus agar dia mengaku, sebelum dia menjelaskan tidak nanti aku mau sudahi urusan ini,&#8221; kata Kiau Hong.</p>
<p><span id="more-1993"></span></p>
<p>&#8220;Tapi Ti-kong Taysu itu tampaknya sangat keras wataknya dan tidak gentar mati, biarpun kita pancing dengan halus maupun paksa secara kasar, mungkin takkan membuatnya mengaku. Kukira lebih baik&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, memang lebih baik kita pergi mencari Tio-cin-sun saja,&#8221; sela Kiau Hong. &#8220;Tio-cin-sun itu besar kemungkinan juga takkan mengaku biarpun mati, tapi aku sudah mempunyai akal untuk menghadapinya.&#8221;</p>
<p>Sampai di sini, ia pandang arah jurang di sebelahnya, lalu katanya pula, &#8220;A Cu, aku ingin turun ke bawah jurang itu.&#8221;</p>
<p>Keruan A Cu terperanjat, ia melongok sekejap ke jurang yang tertutup kabut tebal itu, kemudian berkata, &#8220;Ai, mana boleh jadi! Jangan kau turun ke sana. Apa sih yang ingin kau lakukan ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebenarnya aku bangsa Han atau orang Cidan, hal ini yang selalu menekan perasaanku, maka ingin kuturun ke sana untuk memeriksa mayat orang Cidan itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah lebih 30 tahun orang itu terjun ke jurang itu mungkin yang tertinggal sekarang hanya tulang belulang belaka, apa yang dapat kau&#8230;periksa ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku justru ingin melihat tulang belulangnya. Kupikir jika&#8230;jika benar dia adalah ayahku sendiri maka harus kukumpulkan tulang jenazahnya untuk dikebumikan sebagaimana mestinya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, mana bisa, mana mungkin !&#8221; seru A Cu melengking. &#8220;Engkau adalah ksatria berbudi, mana mungkin keturunan orang Cidan yang buas dan kejam ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudahlah, harap kau tunggu sehari saja di sini, bila besok pada waktu yang sama aku belum naik kembali, maka bolehlah kau tinggal pergi saja.&#8221;</p>
<p>Keruan A Cu kuatir, sekonyong-konyong ia menagis dan berseru, &#8220;Jangan, Kiau-toaya, jangan engkau turun ke bawah jurang !&#8221;</p>
<p>Tapi watak Kiau Hong sangat keras, apa yang menjadi ketetapan hatinya tidak mungkin mengubahnya. Dengan tersenyum ia menjawab, &#8220;Dikeroyok jago-jago sebanyak itu di Cip-hian-ceng pun aku tak terbinasa, masakan jurang yang tiada artinya ini dapat merenggut jiwaku ?&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia pandang sekitar jurang itu untuk mencari sesuatu tempat berpijak yang sekedar dapat dipakai sebagai batu loncatan ke bawah.</p>
<p>Pada saat itulah tiba-tiba dari jurusan timur laut sana sayup-sayup terdengar suara derap kuda lari yang ramai menuju ke arah selatan. Dari suaranya dapat ditaksir sedikitnya ada lebih 20 penunggang kuda.</p>
<p>Cepat Kiau Hong lari melintasi bukit sana dan memandang jauh ke arah datangnya suara itu. Maka jelas tertampak olehnya 20-an penunggang kuda itu berpakaian seragam kuning, semuanya adalah prajurit kerajaan Song.</p>
<p>Setelah mengetahui siapa pendatang itu, sebenarnya Kiau Hong tidak taruh perhatian apa-apa. Tapi tempat dia dan A Cu berada itu justru adalah jalan penting yang pasti akan dilalui oleh orang-orang dari luar perbatasan yang akan memasuki Gan-bun-koan sebagai mana dahulu jago silat Tionggoan telah memilih tempat ini untuk mencegat orang Cidan.</p>
<p>Kiau Hong pikir dari pada nanti kepergok prajurit Song itu hingga mungkin akan menimbulkan kerewelan, lebih baik menghindari saja. Maka cepat ia kembali ketempat semula dan mengajak A Cu bersembunyi di balik sebuah batu karang raksasa. Bisiknya pada si gadis, &#8220;Rombongan prajurit Song !&#8221;</p>
<p>Tidak lama, prajurit Song itu telah muncul di atas bukit situ. Dari belakang batu Kiau Hong dapat melihat perwira yang memimpin pasukan itu, terkenanglah olehnya cerita Ti-kong Taysu tentang peristiwa penghadangan di bukit ini dahulu. Suasana bukit karang itu masih tenang seperti dulu, tapi jago silat dari kedua pihak sudah banyak yang jatuh menjadi korban dan tinggal tulang belulang belaka.</p>
<p>Tengah Kiau Hong termenung, tiba-tiba di dengarnya suara jerit tangis anak kecil. Ia terkejut seakan-akan di alam mimpi.</p>
<p>&#8220;Dari manakah suara tangisan anak kecil itu ?&#8221; pikirnya heran.</p>
<p>Tiba-tiba terdengar pula beberapa kali suara jeritan tajam kaum wanita. Waktu itu ia melongok ke depan, jelas terlihat olehnya di antara prajurit-prajurit Song itu terdapat tawanan wanita dan anak-anak. Wanita dan anak-anak itu mengenakan baju kaum gembala orang Cidan. Banyak di antara prajurit Song itu main raba dan main comot pada tawanan wanita mereka, tingkah laku mereka itu rendah dan memuakkan. Ada di antara wanita itu melawan perlakuan tidak senonoh itu, tapi segera mereka dipersen dengan gamparan dan hajaran kejam oleh prajurit dan perwira Song.</p>
<p>Kiau Hong terheran-heran dan tidak mengerti apa yang telah terjadi itu.</p>
<p>Pasukan Song itu sebentar saja sudah lalu dan menuju ke arah Gan-bun-koan.</p>
<p>&#8220;Kiau-toaya, apa yang akan dikerjakan mereka itu ?&#8221; tanya A Cu.</p>
<p>Kiau Hong menggeleng kepala tanpa menjawab, hanya dalam hati ia membatin, &#8220;Mengapa pasukan penjaga perbatasan sedemikian bejat kelakukannya ?&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu A Cu telah berkata pula, &#8220;Huh, prajurit seperti itu pada hakikatnya lebih mirip kawanan bandit !&#8221;</p>
<p>Tengah bicara, dari arah tadi kembali muncul lagi satu regu pasukan Song yang lain sambil menggiring beratus ekor ternak sebangsa domba dan sapi, di samping itu ada pula belasan wanita Cidan.</p>
<p>Terdengar seorang perwira di antaranya sedang berkata, &#8220;Operasi kita ini tidak banyak membawa hasil, entah Tai-swe (komandan) bakal marah atau tidak ?&#8221;</p>
<p>Maka perwira yang lain menjawab, &#8220;Tidak banyak ternak musuh yang dapat kita rampas, tapi beberapa orang di antara tawanan wanita ini parasnya cukup lumayan dan dapat menghibur Tai-swe, dengan demikian tentu beliau takkan marah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Cuma belasan orang perempuan hasil &#8216;panenan&#8217; kita kali ini hingga tidak cukup memenuhi &#8216;jatah&#8217; orang banyak, biarlah besok kita berusaha lagi mencari tambahan lain,&#8221; demikian perwira yang pertama tadi.</p>
<p>&#8220;Tidak gampang lagi, pak !&#8221; demikian timbrung seorang prajurit. &#8220;Setelah mengalami kejadian tadi, kawanan anjing Cidan itu tentu sudah lari sejauh-jauhnya. Untuk bisa &#8216;panen&#8217; lagi sedikitnya tunggu beberapa bulan pula.&#8221;</p>
<p>Mendengar sampai sini, dada Kiau Hong sudah hampir meledak. Sungguh kelakuan prajurit itu jauh lebih jahat daripada kawanan bandit yang paling kejam sekalipun.</p>
<p>Sekonyong-konyong terdengar suara orok di dalam pelukan seorang wanita menjerit-jerit. Maka wanita Cidan itu mengipatkan tangan seorang perwira yang sedang menggerayangi tubuhnya untuk menimang orok dalam pelukannya itu.</p>
<p>Perwira itu menjadi marah. Mendadak ia jambret orok dalam pangkuan ibundanya terus dibanting ke tanah. Menyusul ia larikan kudanya ke depan hingga bayi itu terinjak kuda, seketika perut pecah dan usus keluar. Saking ketakutan wanita Cidan itu sampai tak dapat menangis lagi. Sebaliknya prajurit Song yang lain sama tertawa malah dan sebentar saja lantas berlalu.</p>
<p>Selama hidup Kiau Hong sudah banyak menyaksikan keganasan orang, tapi perbuatan membunuh anak kecil secara keji tanpa kenal kasihan sedikitpun baru sekarang dilihatnya. Sungguh gusarnya tak terkatakan, tapi dasar dia memang cukup sabar, sedapatnya ia tenangkan diri untuk melihat bagaimana kelanjutannya.</p>
<p>Sebentar kemudian, kembali muncul lagi belasan prajurit yang lain. Prajurit-prajurit ini berkuda dan bertombak. Pada ujung tombak masing-masing tampak menyunduk sebuah kepala manusia dengan darah masih bertetes-tetes. Di belakang kuda mereka menyeret lima orang laki-laki Cidan yang terikat tali panjang.</p>
<p>Dari dandanan orang-orang Cidan itu Kiau Hong dapat menarik kesimpulan mereka adalah kaum gembala biasa. Dua di antaranya berusia sangat tua, tiga lagi adalah pemuda tanggung. Maka tahulah Kiau Hong duduknya perkara. Prajurit-prajurit Song ini telah mendatangi tempat orang-orang Cidan untuk merampok dan membunuh, penggembala Cidan yang muda dan kuat sudah sama melarikan diri, hanya tertinggal kaum wanita, anak-anak dan orang tua yang ditawan.</p>
<p>Ia dengar seorang perwira di antaranya sedang berkata dengan tertawa, &#8220;Kita dapat memenggal 14 buah kepala dan menawan hidup lima anjing Cidan, jasa ini dibilang besar memang kurang besar, dikatakan kecil juga tidak kecil, untuk naik pangkat setingkat dan mendapat hadiah seratus tahil perak rasanya tidak perlu disangsikanlagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;He, Lau Tio,&#8221; tiba-tiba seorang kawanan menimbrung, &#8220;Kira-kira lima puluh li di sebalah barat sana ada suatu tempat pemukiman orang Cidan, apa kau berani mengaduk ke sana ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa tidak berani ?&#8221; sahut Lau Tio yang ditegur itu, &#8220;Memangnya kau kira aku baru datang kemari, maka tidak berani? Hm, justru karena aku orang baru, maka perlu lebih banyak mengumpulkan jasa.&#8221;</p>
<p>Tengah bicara, sementara itu rombongan mereka sudah sampai di dekat batu karang tempat sembunyi Kiau Hong berdua itu. Ketika melihat di tengah jalan situ terdapat sosok mayat anak bayi, seketika salah seorang tua Cidan itu menjerit keras-keras.</p>
<p>Meski Kiau Hong tidak paham bahasa Cidan, tapi dapat juga menyelami betapa pedih dan gusar suara itu. Boleh jadi bayi yang diinjak kuda itu adalah anak keluarganya.</p>
<p>Mendadak prajurit yang menyeretnya dengan tali itu menarik sekuatnya agar orang itu berjalan cepat. Tapi orang tua Cidan itu menjadi murka, tiba-tiba ia menubruk ke arah prajurit itu.</p>
<p>Keruan prajurit itu terkejut, cepat ia ayun goloknya untuk membacok. Tapi orang Cidan itu lantas menarik sekuatnya hingga prajurit itu terseret jatuh ke bawah kuda. Menyusul orang Cidan terus mengigit leher prajurit itu dengan kalap.</p>
<p>Pada saat itulah seorang perwira pasukan Song ayun golok panjangnya dari atas hingga punggung orang tua Cidan itu terbacok. Dengan demikian dapatlah prajurit tadi meronta bangun, saking gemasnya prajurit itu terus membacok beberapa kali lagi atas tubuh orang Cidan itu.</p>
<p>Tiba-tiba orang tua itu putar tubuh ke arah utara, ia lepas baju atasnya dan membusungkan dada, mendadak ia menggerung keras, suaranya sedih memilukan bagaikan lolong srigala.</p>
<p>Seketika air muka prajurit Song itu berubah ketakutan. Diam-diam Kiau Hong juga terkesip. Tiba-tiba merasa olehnya seolah-olah ada ikatan batin dengan orang tua Cidan itu. Suara lolong srigala tatkala mendekati ajalnya itu pernah juga ingin disuarakan olehnya dahulu, yaitu pada waktu dirinya berulang-ulang terluka di Cip-hian-ceng dan merasa ajalnya sudah hampir tiba, Cuma teringat teriakan yang menyamai binatang itu sesungguhnya akan merosotkan pamornya sebagai ksatria yang terpuja selama ini, maka sedapat mungkin telah ditahannya. Tapi bila kemudian tak tertolong oleh laki-laki berbaju hitam, boleh jadi pada saat akan binasa toh lolong srigala itu akan disuarakan juga olehnya.</p>
<p>Begitulah demi mendengar suara melolong itu, otomatis timbul semacam rasa persaudaraan dalam benak Kiau Hong. Tanpa pikir lagi segera ia melompat keluar dari belakang batu, sekali pegang satu orang, prajurit Song itu satu per satu dilemparkannya ke bawah jurang.</p>
<p>Dalam hal menindas rakyat jelata prajurit-prajurit itu memang tangkas dan gagah berani, tapi menghadapi Kiau Hong mereka jadi mirip tikus ketemu kucing. Hanya sekejap saja mereka sudah disapu bersih ke dalam jurang.</p>
<p>Saking nafsunya sampai kuda tunggangan prajurit-prajurit itu pun didepak ke dalam jurang oleh Kiau Hong. Maka riuh ramailah suara jeritan manusia dan ringkik kuda yang bercampur aduk.</p>
<p>Tapi hanya sebentar saja suara itu lantas lenyap, suasana kembali hening lagi.</p>
<p>Melihat betapa tangkasnya Kiau Hong, seketika A Cu dan keempat orang Cidan yang lain sama termangu-mangu terkesima.</p>
<p>Habis membasmi habis kawanan prajurit penindas itu, Kiau Hong terus bersuit panjang hingga suaranya menggetar lembah pegunungan. Ia lihat orang tua Cidan yang terluka parah itu masih tetap berdiri tegak, diam-diam ia kagum pada keperwiraannya, segera ia mendekatinya. Ia lihat dada orang tua itu terbuka dan tepat menghadap keutara ternyata orangnya sudah tak bernapas lagi.</p>
<p>Tiba-tiba Kiau Hong berseru kaget demi melihat dada orang Cidan itu, ia menyurut mundur beberapa tindak dengan sempoyongan seakan akan roboh.</p>
<p>Keruan A Cu kuatir, cepat serunya, &#8220;Kiau-toaya, ada&#8230;ada apa ?&#8221;</p>
<p>Segera terdengar suara &#8220;bret-bret&#8221; beberap akali, mendadak Kiau Hong merobek baju sendiri hingga tertampak simbar didada yang hitam pekat.</p>
<p>Waktu A Cu mengawasi, ia lihat pada dada Kiau Hong bercacah sebuah gambar kepala serigala yang pentang mulut dan kelihatan siungnya bentuk kepala serigala itu sangat menakutkan. Ketika A Cu memandang si orang tua Cidan, di lihatnya pada dadanya juga bercacahkan gambar kepala serigala yang percis dengan gambar di dada Kiau Hong itu. Pasa saat lain, tiba-tiba terdengar keempat orang Cidan pun berseru serentak.</p>
<p>Segera mereka merubungi Kiau Hong sambil bicara dalam bahasa Cidan dan berulang-ulang menuding gambar kepala serigala di dada Kiau Hong.</p>
<p>Sudah tentu Kiau Hong tidak paham maksud mereka. Cacahan gambar kepala serigala di dadanya sejak kecil sudah ada. Pernah ia tanya kepada suami-istri Kiau Sam-hoai tentang gambar cacah itu, tapi kedua orang tua itu Cuma mengatakan untuk hiasan saja agar indah dipandang lebih dari itu tak mau menerangkan lagi.</p>
<p>Pada jaman Pak Song (dinasti Song utara) itu soal mencacah gambar di badan (tatto) adalah sangat umum, bahkan ada yang sekujur badan penuh dicacah beraneka ragam gambar yang aneh-aneh. Malahan banyak di antara anggota Kai-pang juga mempunyai gambar cacah di lengan, dada, punggung dan bagian tubuh lain, makanya selama itu Kiau Hong tidak pernah curiga apa-apa. Tapi kini demi melihat di dada orang tua Cidan itu pun tercacah gambar kepala serigala seperti di dadanya sendiri, sedangkan keempat orang Cidan yang lain terus mengoceh tiada hentinya padanya sambil menunjuk gambar cacah itu, bahkan mendadak laki-laki tua itu pun membuka bajunya hingga kelihatan didadanya jug aterdapat gambar cacah kepala serigala yang sama.</p>
<p>Sesaat itu teranglah duduknya perkara bagi Kiau Hong, kini ia yakin benar-benar dirinya memang betul adalah orang Cidan. Gambar kepala serigala di dada itu tentulah tanda kelompok suku mereka, mungkin sejak bayi sudah harus di cacah gambar seperti itu.</p>
<p>Padahal sejak kecil Kiau Hong sangat benci pada orang Cidan dan tahu suku bangsa itu suku mengganas secara kejam dan tidak pegang janji, masakah sekarang ia harus mengaku diri sendiri sebagai bangsa yang dipandangnya serendah binatang itu, sungguh kesalnya tidak kepalang, jiwanya benar-benar tertekan sekali. Ia termangu-mangu sejenak, sekonyong-konyong ia berteriak terus berlari ke arah lereng bukit bagai orang gila.</p>
<p>&#8220;Kiau-toaya, Kiau-toaya !&#8221; cepat A Cu berseru dan menyusulnya.</p>
<p>Sesudah belasan li A Cu mengejar barulah ia lihat Kiau Hong duduk di bawah sebuah pohon rindang sambil mendekap kepala sendiri, air mukanya tampak muram, otot hijau di kening sampai menonjol besar-besar, suatu tanda betapa pedih perasaan bekas Pangcu itu.</p>
<p>A Cu mendekatinya dan duduk sejajar dengan dia. Namun Kiau Hong lantas menyurutkan tubuh dan berkata, &#8220;Aku adalah bangsa asing yang kotor dan rendah sebagai babi dan anjing, sejak kini lebih baik jangan kau temui aku lagi.&#8221;</p>
<p>Seperti juga bangsa Han yang lain, sebenarnya A Cu sangat benci pada orang Cidan. Tapi dalam pandangannya Kiau Hong adalah tokoh yang dipujanya melebihi malaikat dewata, jangankan cuma manusia Cidan, sekalipun setan iblis atau binatang buas juga takkan ditinggalnya pergi. Pikir gadis itu, &#8220;Saat ini perasaannya lagi sedih, sedapatnya aku harus menghiburnya.&#8221;</p>
<p>Maka katanya dengan tertawa, &#8220;Di antara bangsa Han juga ada orang baik dan orang jahat begitu pula dalam bangsa Cidan tentu juga ada yang baik dan ada yang jahat. Kiau-toaya, harap janganlah kau pikirkan urusan ini. Jiwa A Cu ini engkaulah yang menyelamatkan, biarpun engkau orang Han ataupun orang Cidan, sama sekali tiada perbedaannya lagi bagi A Cu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak perlu belas kasihanmu,&#8221; sahut Kiau Hong dengan dingin. &#8220;Di dalam hati tentu kau pandang rendah padaku, maka kamu tidak perlu pura-pura bermulut manis. Aku menolong jiwamu juga bukan timbul dari maksudku yang sebenarnya, hanya terdorong oleh nafsu ingin menang saja. Maka tentang peristiwa itu biarlah ku hapus untuk selamanya dan bolehlah kau pergi saja.&#8221;</p>
<p>A Cu jadi kuatir, sesudah mengetahui dirinya adalah bangsa Cidan, boleh jadi Kiau Hong akan terus pulang ke utara dan untuk selamanya tak akan menginjak selangkah pun negeri Tiongkok demikian pikirnya.</p>
<p>Saking tak tahan oleh gelora kalbunya, terus saja ia berkata, &#8220;Kiau-toaya, bila engkau tega meninggalkan aku tanpa peduli lagi, segera aku akan terjun ke dalam jurang itu. Selamanya A Cu berani berkata berani berbuat, tentu engkau anggap dirimu adalah ksatria gagah perwira bangsa Cidan, maka memandang hina pada kaum budak yang rendah seperti diriku, biarlah lebih baik aku mati saja.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong jadi terharu oleh ucapan A Cu yang tulus itu. Tadinya ia mengira setiap orang pasti akan menjauhi bangsa kejam sebagai dirinya ini, tak sangka A Cu ternyata tidak pandang bulu, tetap menghargai dirinya tanpa ada kecualinya. Segera ia pegang tangan gadis itu dan berkata dengan suara lembut, &#8220;A Cu, kamu adalah pelayan Buyung-kongcu dan bukan budakku, masakah aku memandang hina padamu ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Huh, aku tidak perlu belas kasihanmu! Di dalam hati tentu kau pandang rendah padaku, tidak perlu pura-pura bermulut manis !&#8221; demikian A Cu menirukan lagu Kiau Hong tadi dengan sorot mata yang menggoda.</p>
<p>Tak tertahankan lagi Kiau Hong terbahak-bahak, pada saat susah bisa terhibur oleh seorang gadis jelita sebagai A Cu yang pandai bicara dan pintar berkelakar, sudah tentu rasa kesalnya lantas banyak berkurang.</p>
<p>&#8220;Kiau-toaya,&#8221; tiba-tiba A Cu berkata pula dengan kereng, &#8220;Aku memang pelayan Buyung-kongcu, tapi itu tidak berarti aku telah menjual diriku padanya. Soalnya karena keluarga kami suatu waktu mendapat kesulitan, ada seorang musuh yang lihai mendatangi ayah buat menuntut balas dendam. Ayahku merasa tak dapat melawan musuh itu, maka aku lantas dititipkan pada Buyung-loya, yaitu ayah Buyung-kongcu sekarang, katanya untuk dijadikan budaknya, tapi sebenarnya lebih tepat dikatakan untuk menyelamatkan diriku di rumah keluarga Buyung. Maka selanjutnya akan kulayanimu dan menjadi dayangmu, pasti Buyung-kongcu takkan marah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, tidak! Mana boleh jadi !&#8221; seru Kiau Hong sambil goyang kedua tangannya. &#8220;Aku adalah bangsa Cidan, masakah punya budak apa segala? Kamu sudah biasa tinggal di tengah keluarga mampu di daerah Kanglam, apa faedahnya ikut aku terlunta-lunta dan menderita? Lihatlah laki-laki kasar seperti aku ini apa ada harganya untuk mendapat pelayananmu ?&#8221;</p>
<p>A Cu tertawa manis, sahutnya, &#8220;Baik begitu saja, anggaplah aku sebagai budak tawananmu, bila engkau senang, engkau boleh tertawa padaku, jika tidak suka, boleh engkau hajar diriku. Nah, jadi bukan ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah, mungkin sekali hantam dapat kuhancurkan tubuhmu,&#8221; ujar Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Ya jangan keras-keras, dong! Pelahan saja,&#8221; sahut A Cu.</p>
<p>Kiau Hong terbahak, katanya, &#8220;Pelahan? Kan lebih baik tidak menghajar saja, pula aku pun tidak menginginkan budak apa segala.&#8221;</p>
<p>&#8220;Engkau adalah ksatria Cidan, kalau menawan beberapa wanita Han untuk dijadikan budak, apa salahnya ?&#8221; ujar A Cu. &#8220;Bukankah prajurit Song itu juga banyak menawan orang Cidan ?&#8221;</p>
<p>Kiau Hong terdiam tanpa menjawab.</p>
<p>Melihat bekas Pangcu itu berkerut kening, sorot matanya sayu, A Cu menjadi kuatir salah omong hingga membuatnya kurang senang.</p>
<p>Syukurlah tidak antara lama Kiau Hong membuka suara pula dengan pelahan, &#8220;Selama ini kusangka orang Cidan adalah bangsa yang paling kejam dan ganas, tapi dengan mata kepalaku tadi kulihat kawanan prajurit Song juga mengganas pada orang Cidan, bahkan kaum wanita dan anak-anak juga tidak terhindar dari siksaan mereka. A Cu, aku adalah orang&#8230;&#8230;orang Cidan, sejak kini aku tidak merasa malu lagi sebagai bangsa Cidan dan takkan bangga sebagai bangsa Han. Ayah bundaku dibunuh tanpa berdosa, maka aku harus menuntut balas sakit hati itu.&#8221;</p>
<p>A Cu menganggu. Tapi diam-diam ia merasa takut, terbayang-bayang olehnya &#8220;menuntut balas&#8221; yang ditegaskan oleh Kiau Hong itu pasti akan mengakibatkan banjir darah di kalangan Bu-lim.</p>
<p>&#8220;Dahulu ibuku dibunuh mereka,&#8221; demikian Kiau Hong berkata pula sambil menunjuk jurang, &#8220;Saking berduka ayahku lantas terjun juga ke dalam jurang itu. Tapi mendadak beliau tidak tega aku ikut mati bersama mereka, maka aku dilemparkan ke atas selagi ayah masih terapung di udara, dengan demikian barulah aku dapat hidup sampai hari ini. A Cu, hal ini menandakan betapa cintanya ayahku kepadaku, bukan ?&#8221;</p>
<p>Dengan air mata meleleh A Cu mengiakan.</p>
<p>&#8220;Dan sakit hati sedalam lautan itu masakan tidak kutuntut balas ?&#8221; kata Kiau Hong. &#8220;Dahulu aku tidak tahu hingga mengaku musuh sebagai kawan, jika sekarang aku tidak menuntut balas, apakah aku ada harganya untuk hidup lebih lama di dunia ini? Itu &#8216;Toako pemimpin&#8217; yang mereka sebut itu entah siapa sebenarnya? Pada surat yang ditulisnya kepada Ong-pangcu terdapat namanya, tapi Ti-kong Taysu sengaja menyobek bagian yang tertulis nama itu dan ditelan ke dalam perut. Terang &#8216;Toako pemimpin&#8217; masih hidup dengan baik, kalau tidak, mestinya mereka tidak perlu merahasiakan dia.&#8221;</p>
<p>Begitulah ia bertanya dan menjawab sendiri untuk meraba seluk-beluk perkara itu. Kemudian katanya lagi, &#8220;Toako pemimpin itu dapat memimpin para ksatria Tionggoan, dengan sendirinya dia seorang tokoh yang berilmu silat sangat tinggi dan sangat dihormati. Dalam suratnya ia sebut Ong-pangcu sebagai &#8216;Laute&#8217; (saudara), maka dapat diduga usianya sudah lanjut kini, sedikitnya sudah lebih 60 tahun, boleh jadi di antara 70 tahun malah. Untuk mencari seorang tokoh seperti itu sebenarnya tidak susah. Ehm, orang yang pernah membaca surat itu di antara lain adalah Ti-kong Taysu, Ci-tianglo dari Kay-pang, Be-hujin, Tiat-bin-poan-koan Tan Cing. Dan masih ada pula Tio-cit-sun, sudah tentu ia pun tahu siapa gerangan Toako pemimpin itu. Hm, aku&#8230;&#8230;aku harus membunuhnya, menghabisi pula antero keluarganya, dari tua sampai muda, satu pun tidak boleh diberi ampun !&#8221;</p>
<p>A Cu bergidik mendengar nada yang seram itu. Tapi ia tidak berani menimbrung demi melihat sikap gagah berwibawa Kiau Hong pada saat itu.</p>
<p>Kiau Hong melanjutkan lagi, &#8220;Ti-kong Taysu suka berkelana, Tio-ci-sun juga tiada tempat tinggal yang tetap, untuk mencari kedua orang tua itu tidaklah mudah, maka marilah A Cu, lebih baik kita pergi mencari Ci-tinglo saja.&#8221;</p>
<p>Sungguh girang A Cu tidak kepalang demi mendengar ucapan &#8220;kita&#8221; itu, sebab itu berarti dirinya juga diajak serta. Diam-diam ia berkata di dalam hati, &#8220;Biarpun ke ujung langit juga aku akan ikut serta padamu.&#8221;</p>
<p>Segera mereka putar balik ke selatan, setelah melintasi Gan-bun-koan, melalui lereng bukit, tibalah mereka di suatu kota kecil, mereka mendapatkan sebuah hotel. Tanpa disuruh segera A Cu pesan pelayan membawakan 20 kati arak.</p>
<p>Pelayan hotel memang sedang curiga karena melihat kedua orang tidak mirip sebagai suami istri, dibilang saudara juga tidak sama, kini demi mendengar permintaan 20 kati arak lagi, keruan tambah heran hingga terkesima memandangi A Cu berdua.</p>
<p>Pelayan itu sangat terkejut ketika mendadak Kiau Hong melotot padanya, cepat ia lari pergi sambil menggerutu, &#8220;Masakah minta arak 20 kati? Apa barangkali akan digunakan untuk mandi?&#8221;</p>
<p>Kemudian A Cu berkata pada Kiau Hong dengan tertawa, &#8220;Kiau-toaya, keberangkatan kita untuk mencari Ci-tianglo ini, kukira dua hari lagi jejak kita tentu akan diketahui orang. Dan kalau sepanjang jalan kita mesti bertempur, meski menarik juga permainan ini, mungkin lebih dulu Ci-tianglo akan melarikan diri dan sembunyi, dan untuk mencarinya tentu susah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Habis, menurut pendapatmu bagaimana kita harus bertindak ?&#8221; tanya Kiau Hong. &#8220;Apa kita mengaso pada siang hari dan berjalan waktu malam hari ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk mengelabui mereka sebenarnya tidak sulit,&#8221; ujar A Cu dengan tersenyum. &#8220;Cuma entah Kiau-toaya yang namanya disegani di seluruh jagat ini sudi menyamar atau tidak ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku bukan bangsa Han lagi, memangnya pakaian orang Han ini aku tidak ingin pakai lagi,&#8221; sahut Kiau Hong dengan tertawa. &#8220;Lalu, aku harus menyamar sebagai siapa, A Cu ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Perawakanmu tinggi besar, mudah menarik perhatian orang, sebaiknya menyaru seorang yang berwajah biasa tanpa sesuatu tanda orang Kangouw yang menarik. Dengan demikian perjalanan kita tentu akan aman.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus, bagus! Habis minum arak segera kita mulai menyamar ?&#8221; seru Kiau Hong dengan senang.</p>
<p>Setelah menghabiskan 20 kati arak, segera A Cu membelikan tepung kanji, pensil, tinta dan lain-lain yang diperlukan. Setalah &#8220;bersolek&#8221;, lenyaplah banyak ciri-ciri khas di muka Kiau Hong. Waktu A Cu menambahi pula bibir Kiau Hong dengan selapis kumis yang tipis, ketika bercermin, sampai Kiau Hong pun pangling pada diri sendiri.</p>
<p>Menyusul A Cu juga menyamar sebagai laki-laki setengah umur dan berkata, &#8220;Lahirmu sekarang sudah berubah sama sekali, tapi suaramu dan kegemaranmu akan minum arak mudah dikenali orang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ehm, aku akan sedikit bicara dan sedikit minum,&#8221; sahut Kiau Hong.</p>
<p>Benar juga perjalanan selanjutnya jarang Kiau Hong buka mulut, setiap kali dahar cuma minum dua-tiga kati arak saja sekedar menghilangkan rasa dahaga.</p>
<p>Suatu hari, sampailah mereka di Sam-ka-tin, propinsi Soasai selatan, tengah Kiau Hong dan A Cu asik makan bakmi di suatu kedai, tiba-tiba mereka dengar percakapan dua orang pengemis di luar kedai. Kata  yang seorang, &#8220;Kematian Ci-tianglo benar-benar sangat mengenaskan, besar kemungkinan bangsat Kiau Hong itu yang membunuhnya.&#8221;</p>
<p>Keruan Kiau Hong terperanjat. &#8220;Jadi Ci-tianglo telah mati ?&#8221; demikian batinnya. Ia saling pandang sekejap dengan A Cu.</p>
<p>Dalam pada itu pengemis yang lain telah mendesis pada kawannya sambil memperingatkan dengan kata-kata rahasia Kay-pang agar jangan sembarangan bicara, sebab mungkin di situ terdapat begundal bangsat she Kiau, kita harus lekas menyusul ke Wi-hui di Holam, di sana para Tianglo kita akan mengadakan sembahyang bagi arwah Ci-tianglo dan akan berunding cara bagaimana untuk menangkap Kiau Hong.</p>
<p>Mendengar itu, dengan cepat Kiau Hong dan A Cu habiskan bakmi mereka dan meninggalkan Sam-ka-tin itu. Kata Kiau Hong, &#8220;Marilah kita pergi ke Wi-hui, bisa jadi di sana kita dapat memperoleh sesuatu kabar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, sudah tentu kita harus ke sana,&#8221; sahut A Cu. &#8220;Tapi engkau harus hati-hati Kiau -toaya, ingat bahwa orang-orang yang akan hadir di sana hampir semuanya adalah bekas anak buahmu yang sangat kenal gerak-gerikmu, maka jangan sampai engkau dapat dikenali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tahu,&#8221; sahut Kiau Hong mengangguk. Segera mereka putar ke arah timur, menuju kota Wi-hui.</p>
<p>Esok paginya sampailah mereka di kota itu. Ternyata di dalam kota sudah penuh kawanan pengemis anggota Kay-pang. Ada yang nongkrong di kedai arak, yang potong anjing dan sembelih babi di gang yang sepi, ada pula yang minta-minta sepanjang jalan, kalau tak diberi lantas main paksa dan mencaci-maki.</p>
<p>Pedih hati Kiau Hong menyaksikan kelakuan anak buah Kai-pang yang dihormat sebagai Pang terbesar di Kangouw itu, sejak ditinggalkan olehnya ternyata sudah berubah sedemikian buruk disiplinnya. Walaupun sekarang Kai-pang telah menjadi lawan dan bukan kawan baginya, tapi mengingat jerih payah sendiri dahulu waktu membina kesatuan Kay-pang yang jaya itu, mau-tak mau Kiau Hong merasa menyesal juga.</p>
<p>Tempat layon Ci-tianglo itu terletak di sebuah taman bobrok di barat kota. Sesudah membeli lilin, dupa dan lain-lain keperluan, segera Kiau Hong dan A Cu menuju ke sana. Mereka mengikuti banyak orang untuk sembahyang di depan layon Ci-tianglo.</p>
<p>Di atas meja sembahyang itu penuh berlumuran darah, itu adalah peraturan Kay-pang yang menandaskan bahwa orang yang meninggal itu mati dibunuh musuh, maka saudara Pang harus menuntut balas baginya.</p>
<p>Di tengah ruangan sembahyang itu orang ramai membicarakan dan mencaci maki Kiau Hong, tapi tiada yang tahu bahwa yang dicaci-maki itu justru berada di situ.</p>
<p>Melihat orang yang jaga layon itu adalah tokoh-tokoh terkemuka Kay-pang, Kiau Hong kuatir akan dikenali, maka selekasnya ia mohon diri bersama A Cu. Sambil berjalan keluar, diam-diam ia membatin, &#8220;Dengan matinya Ci-tianglo, orang yang kenal siapa gerangan Toako pemimpin di dunia ini menjadi berkurang pula satu orang.&#8221;</p>
<p>Pada saat itulah tiba-tiba di ujung jalan sana berkelebat bayangan orang, dari perawakannya tertampak jelas adalah seorang wanita yang tinggi besar. Dengan kejelian mata Kiau Hong, segera orang itu dapat dikenalnya sebagai Tam-poh, si nenek Tam. Pikirnya, &#8220;Hah, sangat kebetulan. Tentu ia pun datang untuk melayat kematian Ci-tianglo, aku justru lagi ingin cari dia.&#8221;</p>
<p>Pada saat lain kembali ada lagi seorang melayang ke sana dengan ginkang yang tinggi, tertanya orang kedua ini adalah Tio-ci-sun.</p>
<p>Kiau Hong menjadi heran, &#8220;Ada urusan apa kedua orang ini main sembunyi-sembunyi seperti maling kuatir kepergok ?&#8221;</p>
<p>Ia pun tahu kedua orang itu adalah saudara seperguruan dan pernah saling cinta, bahkan cinta asmara itu sampai tua juga belum lenyap, jangan-jangan sekarang mereka hendak mengadakan pertemuan gelap dan main patpat-gulipat.</p>
<p>Sebenarnya Kiau Hong tidak suka mencari tahu urusan pribadi orang lain, tapi mengingat Tio-ci-sun dan Tam-poh itu adalah orang yang mengetahui siapakah Toako pemimpin yang dimaksud itu, jika ada sesuatu ciri rahasia mereka terpegang olehnya, bisa jadi hal itu akan dapat dipakai sebagai alat penekan agar mereka mau menceritakan apa yang mereka ketahui tentang Toako pimimpin. Maka ia lantas membisiki A Cu agar pulang dulu dan menunggu  di hotel.</p>
<p>A Cu mengangguk. Segera Kiau Hong mengejar ke jurusan larinya Tio-ci-sun. Ia lihat kakek aneh itu sebentar-sebentar sembunyi di pojok jalan sana dan lain saat mengumpet di balik pohon, kelakuannya penuh rahasia dan kuatir dipergoki orang, jurusan yang dituju adalah timur kota.</p>
<p>Kiau Hong terus menguntit dari jauh dan selama itu tak diketahui oleh Tio-ci-sun. Dari jauh tertampak kakek itu lari sampai di tepi sungai, lalu menyusup ke dalam sebuah perahu beratap.</p>
<p>Cepat Kiau Hong memburu ke sana, dengan beberapa kali lompatan saja ia dapat menyusul sampai di samping perahu, dengan pelahan ia melompat ke atas atap perahu dan menempelkan telinganya untuk mendengarkan.</p>
<p>Didengarnya suara Tam-poh sedang berkata, &#8220;Suko, usia kita sudah selanjut ini, hubungan masa muda dahulu sudah terlambat untuk desesalkan, buat apa mesti diungkat-ungkit lagi ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hidupku ini sudah kukorbankan bagimu, maksudku mengajakmu ke sini tiada keinginan lain, Siau Koan, hanya kumohon sudilah kau nyanyikan lagi beberapa lagu waktu dahulu itu,&#8221; demikian pinta Tio-ci-sun.</p>
<p>&#8220;Ai, engkau ini sungguh ketolol-tololan,&#8221; ujar Tam-poh, &#8220;Ketika kita sama-sama datang di Wu-hai ini, suamiku telah melihat mau juga, hatinya sudah merasa kurang senang. Wataknya juga suka curiga, maka hendaknya jangan kau ganggu diriku lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Takut apa ?&#8221; sahut Tio-ci-sun. &#8220;Perbuatan kita cukup terang dan dapat dipertanggung jawabkan, kita Cuma omong-omong kejadian dahulu apa salahnya ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi, ai, nyanyian masa dahulu itu&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>Melihat Tam-poh sudah goyah pikirannya, segera Tio-ci-sun memohon dengan sangat lagi, katanya, &#8220;Siau Koan, pertemuan kita hari ini entah sampai kapan baru dapat terjadi pula. Mungkin juga usiaku sudah tidak panjang lagi, tiada banyak kesempatan untuk mendengarkan nyanyianmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Suko, janganlah berkata demikian. Jika engkau berkeras ingin mendengar, bolehlah aku menyanyi satu lagu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus, bagus !&#8221; sorak Tio-ci-sun dengan gembira.</p>
<p>Lali terdengar Tam-poh mulai tarik suara, &#8220;Terkenang dahulu kakanda lalu di atas jembatan, dinda asik mencuci pakaian di tepi sungai&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>Baru sekian dinyanyikan, mendadak terdengar suara gedubrakan, pintu rumah perahu itu didobrak orang hingga terpentang, menyusul seorang laki-laki menerjang ke dalam. Itulah dia Kiau Hong. Cuma ia sudah menyamar, maka Tio-ci-sun dan Tam-poh tidak mengenalnya lagi.</p>
<p>Dan karena pendatang itu bukan Tam-kong, legalah hati kedua kakek dan nenek itu, segera mereka membentak, &#8220;Siapa Kau ?&#8221;</p>
<p>Dengan sorot mata dingin menghina Kiau Hong memandang mereka, sahutnya, &#8220;Yang satu adalah lelaki bangor dan suka memikat wanita bersuami, yang lain adalah perempuan jalang tak kenal malu yang berani mendurhakai suami sendiri dan bergendak dengan laki-laki lain&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum habis ucapannya, serentak Tam-poh dan Tio-ci-sun menyerang dari kanan dan kiri. Namun sedikit Kiau Hong mengengos, tangan membalik terus mencengkram pergelangan tangan Tam-poh, berbareng sikunya juga menyikut, ia mendahului menyerang iga kiri Tio-ci-sun.</p>
<p>Sebagai jago kelas satu dalam Bu-lim, Tio-ci-sun dan Tam-poh mengira dalam sejurus saja pasti dapat membekuk lawannya. Siapa duga laki-laki yang tidak ada sesuatu tanda luar biasa itu ternyata memiliki kepandaian yang sukar diukur, hanya sejurus saja pihak terserang telah berubah menjadi pihak penyerang.</p>
<p>Ruangan perahu sebenarnya sangat sempit, tapi bagi Kiau Hong keadaan itu tidak menjadi halangan, ia menghantam dan menyerang dengan gesit dalam ruangan sempit itu sama lincahnya seperti di tempat luas.</p>
<p>Sampai jurus ketujuh, tahu-tahu pinggang Tio-ci-sun tertutuk. Keruan Tam-poh terkejut, dan sedikit ayal punggung lantas kena digaplok juga oleh Kiau Hong hingga keduanya roboh terkulai.</p>
<p>&#8220;Nah, kalian boleh mengaso sebentar di sini, di dalam kota sedang berkumpul para ksatria biarlah kupergi mengundang mereka untuk menimbang atas perbuatan kalian ini,&#8221; demikian kata Kiau Hong.</p>
<p>Tentu saja Tio-ci-sun dan Tam-poh sangat kuatir, mereka coba mengerahkan Lwekang untuk melepaskan tutukan musuh, tapi ternyata tak bisa berkutik sama sekali, bahkan satu jari pun sukar bergerak.</p>
<p>Sebenarnya usia mereka sudah lanjut, pertemuan gelap yang mereka adakan ini bukan karena dirangsang oleh nafsu berahi, tapi cuma sekedar omong-omong untuk mengenang cinta kasih masa lalu saja, sama sekali tidak melampau batas-batas kesopanan.</p>
<p>Tapi tatkala itu adalah dinasti Song yang sangat mengutamakan tata tertib kesopanan, pelanggaran mengenai urusan perempuan adalah sesuatu yang tak bisa diampuni pada masa itu. Kalau sekarang mereka mengaku mengadakan pertemuan gelap dalam perahu hanya sekedar omong-omong dan nyanyi-nyanyi mengenang masa lalu, sudah tentu tiada seorang pun yang mau percaya. Terutama Tam-kong sudah tentu akan kehilangan muka.</p>
<p>Maka cepat Tam-poh berseru, &#8220;Kami tidak berbuat sesuatu kesalahan apa padamu, jika tuan dapat berlaku murah hati pada kami, tentu aku akan&#8230;&#8230;akan membalas kebaikanmu ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Membalas kebaikan sih tidak perlu,&#8221; sahut Kiau Hong. &#8220;Aku hanya ingin tanya satu soal padamu, cukup asal kau jawab tiga huruf saja dengan sebenarnya, segera akan kubebaskan kalian, kejadian sekarang pun takkan kukatakan pada siapa pun juga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Asal aku tahu, tentu akan kukatakan,&#8221; sahut Tam-poh.</p>
<p>&#8220;Begini, pernah ada orang mengirim surat kepada Ong-pangcu dari Kay-pang untuk membicarakan persoalan Kiau Hong, pengirim surat itu disebut sebagai &#8216;Toako pemimpin&#8217;. Nah, siapakah dia itu ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Siau Koan, jangan kau katakan, jangan katakan !&#8221; cepat Tio-ci-sun berteriak.</p>
<p>Dengan mata mendelik Kiau Hong pandang kakek itu, katanya, &#8220;Jadi kamu lebih suka badan hancur dan nama buruk daripada menerangkan ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Locu tidak gentar mati. Toako pemimpin yang berbudi padaku itu tidak nanti kujual padamu,&#8221; sahut Tio-ci-sun dengan angkuh.</p>
<p>&#8220;Tapi Siau Koan juga akan ikut menjadi korban, apa kamu tidak pikirkan dia lagi ?&#8221; tanya Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Jika kejadian ini diketahui Tam-kong, segera akan kubunuh diri di hadapannya untuk menebus dosaku,&#8221; sahut Tio-ci-sun.</p>
<p>Terpaksa Kiau Hong mengalihkan pembicaraannya kepada Tam-poh, &#8220;Tapi Toako pemimpin itu belum tentu ada budi padamu, bolehlah kamu yang menerangkan, dengan demikian kita akan sama-sama baik, kehormatan Tam-kong juga dapat dijaga, jiwa Sukomu pun dapat diselamatkan.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Tam-poh merasa seram oleh ancaman itu, segera katanya, &#8220;Baik akan kukatakan padamu. Orang itu bernama&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Siau Koan, jangan kau katakan padanya,&#8221; seru Tio-ci-sun dengan suara melengking kuatir. &#8220;O, Siau Koan, kumohon dengan sangat, janganlah kau katakan padanya. Orang ini besar kemungkinan adalah begundal Kiau Hong, sekali kamu mengaku, pasti jiwa Twako pemimpin akan terancam.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku sendiri inilah Kiau Hong, jika kalian tidak mau mengaku, celakalah kalian !&#8221; kata Kiau Hong.</p>
<p>Keruan Tio-ci-sun terperanjat, sahutnya, &#8220;Pantas, maka ilmu silatmu sedemikian tinggi. Siau Koan, selama hidup ini tidak pernah kumohon sesuatu apa padamu, maka sekarang ini adalah satu-satunya permintaanku, janganlah kau katakan nama Toako pemimpin padanya. Betapa pun permintaanku ini harus kau terima.&#8221;</p>
<p>Teringat selama berpuluh tahun ini betapa bekas kekasihnya itu mencintai dan merindukan dirinya, selamanya memang tidak pernah memohon sesuatu apapun padanya kini demi untuk membela keselamatan Toako pemimpin yang berbudi itu ia rela berkorban jiwa pula, maka bagaimanapun juga dirinya tidak boleh mengecewakan perbuatannya yang gagah perkasa ini.</p>
<p>Maka Tam-poh lantas menjawab, &#8220;Kiau Hong apakah kamu akan berbuat jahat atau berlaku bajik, semuanya terserah padamu. Kami berdua asal tidak merasa berdosa, apa yang mesti kami takutkan? Maka apa yang ingin kau ketahui, maafkan, tidak bisa kuberitahu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terima kasih, Siau Koan, terima kasih !&#8221; seru Tio-ci-sun dengan girang.</p>
<p>Melihat jawaban si nenek yang tegas itu, Kiau Hong tahu percuma juga memaksanya. Ia mendengus sekali, tiba-tiba ia cabut sebuah tusuk kundai dari rambut Tam-poh, lalu melompat ke gili-gili dan pulang ke kota Wi-hui untuk mencari tempat tinggal Tam-kong, si kakek Tam.</p>
<p>Karena dalam penyamaran, dengan sendirinya tiada seorang pun yang kenal Kiau Hong. Sedangkan &#8220;Ji-kui-khek-tiam&#8221;, yaitu nama hotel tempat Tam-kong dan Tam-poh menginap juga bukan tempat yang dirahasiakan, maka dengan mudah saja Kiau Hong dapat mengetahui letak hotel itu.</p>
<p>Sampai di hotel itu, ia lihat Tam-kong sedang mondar-mandir di dalam kamar dengan menggendong tangan, sikapnya sangat gelisah dan air mukanya bersengut.</p>
<p>Tanpa bicara apa-apa Kiau Hong mendekati kakek itu dan sodorkan tangannya, maka tertampaklah tusuk kundai milik Tam-poh itu.</p>
<p>Tam-kong memang lagi murung dan merasa tidak tentram sejak melihat Tio-ci-sun juga datang di kota Wi-hui, sementara itu istrinya menghilang setengah harian, ia sedang kuatir dan curiga. Kini mendadak nampak tusuk kundai milik sang istri itu, ia terkejut dan girang, cepat ia tanya, &#8220;Siapa saudara? Apakah kamu disuruh istriku ke sini. Ada urusan apakah ?&#8221;</p>
<p>Sembari bicara ia terus ambil tusuk kundai di tangan Kiau Hong itu.</p>
<p>Kiau Hong membiarkan tusuk kundai diambil si kakek, lalu katanya, &#8220;Istrimu telah ditawan orang, jiwanya terancam.&#8221;</p>
<p>Keruan Tam-kong terperanjat, cepat tanyanya, &#8220;Ilmu silat istriku sangat hebat, masakah begitu gampang ditawan orang ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kiau Hong yang menawannya !&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah, Kiau Hong ?&#8221; seru Tam-kong. Kalau orang lain boleh jadi ia tidak percaya, tapi bekas Pangcu itu cukup dikenalnya, maka tidak heran istrinya dapat ditawan dengan mudah. &#8220;Jika demikian, sulitlah urusan ini. Dan di&#8230;&#8230;di manakah istriku sekarang ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah kau inginkan hidupnya istrimu, itulah sangat mudah. Dan jika inginkan dia mati, itu pun sangat gampang !&#8221; kata Kiau Hong.</p>
<p>Sifat Tam-kong sangat pendiam dan sabar, meski dalam hati sebenarnya sangat gugup, tapi lahirnya tetap tenang-tenang saja. Ia tanya malah, &#8220;Apa maksudmu, coba katakan !&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada suatu pertanyaan ingin kutanya Tam-kong, asal kau jawab terus terang, maka istrimu segera akan pulang dengan selamat tanpa terganggu seujung rambut pun,&#8221; kata Kiau Hong. &#8220;Tapi bila Tam-kong tidak mau menerangkan, terpaksa istrimu akan dibunuh, mayatnya akan dikubur satu liang dengan mayat Tio-ci-sun.&#8221;</p>
<p>Sampai disini Tam-kong tidak dapat tahan perasaannya lagi, bentaknya murka dan menghantam muka Kiau Hong. Tapi sedikit Kiau Hong mengengos ke samping, serangan Tam-kong itu lantas luput.</p>
<p>Diam-diam kakek itu terkejut, padahal pukulan geledek itu adalah ilmu andalannya, tapi dengan gampang lawan dapat menghindar. Ia tidak berani ayal lagi, telapak tangan kanan mengisar ke samping, telapak tangan kiri lantas menghantam pula.</p>
<p>Melihat ruangan kamar hotel itu kurang luas untuk menghindar lagi agak susah, terpaksa Kiau Hong menangkis. &#8220;Plok&#8221;, hantaman Tam-kong itu, tepat mengenai tangan Kiau Hong, tapi sama sekali Kiau Hong tidak bergeming, sebaliknya tangan terus terjulur ke depan dan meraih ke bawah hingga pundak Tam-kong terpegang.</p>
<p>Seketika Tam-kong merasa pundaknya seperti dibebani beribu kati beratnya, begitu antap sehingga tulang punggung seakan-akan patah, hampir ia bertekuk lutut saking tak tahan. Tapi sekuatnya ia menegak, betapa pun ia tidak sudi menyerah, tapi akhirnya lemas juga kakinya, &#8220;bluk&#8221;, terpaksa ia tekuk lutut ke bawah.</p>
<p>Hal ini bukan dia menyerah dan minta ampun, tapi disebabkan tenaga tidak kuat menahan, maklum, kekuatan tulang manusia ada batasnya, pada saat ruas tulang sudah tertekan sedemikian rupa, tanpa kuasa lagi ia berlutut ke bawah, jalan lain tidak ada.</p>
<p>Kiau Hong memang sengaja hendak mematahkan keangkuhan kakek itu, maka ia tetap tindih pundaknya hingga akhirnya punggung ikut membungkuk seakan-akan orang hendak menjura. Tapi Tam-kong benar-benar sangat kepala batu, mati-matian ia masih terus bertahan, ia kerahkan segenap tenaganya untuk melawan dan bertahan sekuatnya.</p>
<p>Sekonyong-konyong Kiau Hong melepaskan tangannya. Saat itu Tam-kong yang ditekan ke bawah itu lagi bertahan sekuatnya ke atas dan karena mendadak Kiau Hong lepas tangan, tanpa kuasa lagi Tam-kong menjembul ke atas setinggi beberapa meter, &#8220;blang&#8221;, kepalanya menubruk belandar rumah, hampir belandar itu patah tertumbuk olehnya.</p>
<p>Ketika jatuh kembali dari atas, sebelum kedua kakinya menyentuh tanah, lebih dulu Kiau Hong sudah ulur tangan kanan untuk mencengkram dadanya. Perawakan Tam-kong yang pendek kecil, sebaliknya tangan Kiau Hong panjang dan kuat, betapapun Tam-kong hendak menghantam dan menendang, selalu tak bisa mengenai sasarannya apalagi kedua kaki terapung di udara, percuma saja ia berilmu silat tinggi, sedikit pun tidak bisa digunakan.</p>
<p>Dalam gugupnya, seketika Tam-kong jadi sadar, bentaknya, &#8220;Kamu inilah Kiau Hong !&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang !&#8221; sahut Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Keparat, meng&#8230;&#8230;mengapa kau sangkut pautkan istriku dengan Tio-ci-sun ?&#8221; bentak Tam-kong pula dengan gusar karena tadi Kiau Hong menyatakan akan membunuh Tam-poh dan akan menguburnya bersama Tio-ci-sun.</p>
<p>&#8220;Habis, istrimu sendiri yang suka menyangkut-pautkan dia, peduli apa dengan aku ?&#8221; sahut Kiau Hong. &#8220;Apakah kau ingin tahu saat ini Tam-poh berada di mana? Ingin tahu dia sedang menyanyi dan bercumbu dengan siapa ?&#8221;</p>
<p>Mendengar ini, sudah tentu Tam-kong dapat menduga sang istri bersama Tio-ci-sun, dengan sendirinya ia sangat ingin tahu keadaan itu, maka cepat sahutnya, &#8220;Di mana dia? Harap bawa aku ke sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kebaikan apa yang kau berikan padaku? Mengapa harus kubawa ke sana ?&#8221; jengek Kiau Hong.</p>
<p>Tam-kong ingat apa yang dikatakan Kiau Hong tadi, segera tanyanya, &#8220;Kau bilang ingin tanya sesuatu padaku, soal apakah itu ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tempo hari waktu berkumpul di tengah hutan di luar kota Bu-sik, Ci-tianglo membawa sepucuk surat yang dikirim orang kepada mendiang Ong-pangcu dari Kay-pang, siapakah penulis surat itu ?&#8221;</p>
<p>Seketika Tam-kong tergetar, tapi saat itu ia diangkat oleh Kiau Hong dan terkatung di udara, asal Kiau Hong mengerahkan tenaga dalamnya, kontan jiwanya bisa melayang. Tapi sedikitpun kakek itu tidak gentar, sahutnya tegas, &#8220;Orang itu adalah pembunuh ayah bundamu, sama sekali tidak boleh kukatakan namanya, kalau kukatakan, tentu kamu akan menuntut balas padanya dan itu berarti aku yang bikin susah dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika kamu tidak mengaku, jiwamu sendiri segera akan melayang lebih dulu,&#8221; ancam Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Hahahaha !&#8221; tiba-tiba Tam-kong bergelak tertawa. &#8220;Memangnya kau anggap aku ini manusia pengecut hingga perlu menjual kawan untuk mencari hidup sendiri ?&#8221;</p>
<p>Melihat ketegasan kakek itu, mau-tak-mau Kiau Hong kagum juga akan jiwa ksatrianya. Coba kalau urusan lain, tentu ia tidak sudi mendesak lebih jauh, namun kini urusannya menyangkut sakit hati ayah bundanya, terpaksa ia tanya pula, &#8220;Kau sendiri tidak gentar mati, tapi apa jiwa istrimu tidak kau sayangkan lagi? Nama baik Tam-kong dan Tam-poh segera akan tersapu runtuh selamanya dan ditertawai ksatria sejagat apakah hal ini tak kau pikirkan ?&#8221;</p>
<p>Pada umumnya orang Bu-lim paling sayang pada nama baik atau kehormatan. Tapi sikap Tam-kong sekarang sangat tegas, sahutnya, &#8220;Asal tindak-tandukku dapat kupertanggung jawabkan, mengapa kukuatir dipandang rendah dan ditertawai orang ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi bagaimana dengan istrimu? Bagaimana dengan Tio-ci-sun ?&#8221; tanya Kiau Hong.</p>
<p>Seketika air muka Tam-kong berubah merah padam, dengan mata mendelik ia pandang Kiau Hong.</p>
<p>Tanpa bicara lagi Kiau Hong taruh kakek itu ke tanah, lalu melangkah ke luar. Dengan bungkam Tam-kong lantas ikut di belakangnya.</p>
<p>Begitulah mereka lantas keluar kota Wi-hui. Banyak juga kawan Kangouw yang diketemukan di tengah jalan, mereka sama memberi hormat kepada Tam-kong yang dijawabnya dengan tawar saja.</p>
<p>Tidak lama, sampailah mereka di tepi sungai tempat berlabuh perahu itu. Sekali lompat, Kiau Hong melayang ke haluan perahu, ia tuding ke dalam perahu dan berkata, &#8220;Nah, boleh kau periksa sendiri !&#8221;</p>
<p>Segera Tam-kong ikut melompat ke atas perahu dan melongok ke dalam, ia lihat sang istri meringkuk di pojok ruangan saling bersandaran dengan Tio-ci-sun. Sungguh gusar Tam-kong tak tertahan lagi, kontan ia menghantam kepala Tio-ci-sun.</p>
<p>&#8220;Prak&#8221;, badan Tio-ci-sun bergerak sekali, tidak menangkis juga tidak berkelit. Begitu tangan Tam-kong menyentuh kepala Tio-ci-sun segera ia merasakan keadaan agak aneh, cepat ia meraba pipi sang istri, ternyata sudah dingin, sudah lama sang istri meninggal.</p>
<p>Badan Tam-kong mengigil, ia masih belum percaya, ia coba periksa pernapasan hidung sang istri dan memang benar sudah tidak bernapas lagi. Begitu pula keadaan Tio-ci-sun ketika diperiksa.</p>
<p>Tam-kong tertegun sejenak dengan rasa duka dan gusar tak terhingga, mendadak ia putar rubuh dan melotot pada Kiau Hong dengan mata membara.</p>
<p>Kiau Hong sendiri juga terheran-heran ketika mengetahui Tam-poh dan Tio-ci-sun sudah mati dalam waktu singkat setelah ditinggal pergi tadi. Padahal ia cuma menutuk hiat-to kedua orang itu, mengapa mendadak kedua jago kelas tinggi itu bisa mati begitu saja.</p>
<p>Segera ia tarik jenazah Tio-ci-sun untuk di periksa, tapi ia tidak melihat sesuatu luka senjata dan noda darah. Ia coba buka baju dada orang maka tertampaklah dada Tio-ci-sun ada satu bagian berwarna matang biru, itulah tanda terkena pukulan berat. Dan yang paling aneh adalah bekas telapak tangan yang memukul itu ternyata mirip dengan tangan Kiau Hong sendiri.</p>
<p>Sementara itu Tam-kong juga telah putar jenazah Tam-poh ke hadapannya, lalu juga diperiksa dada sang istri, ternyata luka yang diderita itu serupa dengan Tio-ci-sun. Sungguh pedih Tam-kong tak terkeatakan, hendak menangis juga tiada air mata. Dengan suara geram ia maki Kiau Hong, &#8220;Kau manusia berhati binatang, kamu demikian keji !&#8221;</p>
<p>Dalam heran dan kejutnya Kiau Hong tidak sanggup menjawab. Dalam benaknya timbul macam-macam pikiran, &#8220;Siapakah gerangan yang menyerang sehebat ini kepada Tam-poh dan Tio-ci-sun? Tenaga dan kepandaian penyerang itu luar biasa, jangan-jangan perbuatan musuhku yang tak terkenal itu pula? Tapi dari mana ia tahu kedua orang ini berada di dalam perahu ini ?&#8221;</p>
<p>Saking berduka atas kematian istrinya itu, tanpa bicara lagi Tam-kong kerahkan antero tenaganya dan menghantam Kiau Hong dengan kedua tangan. Tapi sedikit Kiau Hong berkelit, terdengarlah suara gedubrakan yang gemuruh, atap perahu itu rompal sebagian kena pukulannya.</p>
<p>Tiba-tiba Kiau Hong menjulur tangan kanan ke depan dan tahu-tahu pundak Tam-kong kena terpegang, katanya, &#8220;Tam-kong, aku tidak membunuh istrimu, kau percaya tidak ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika bukan kamu, habis siapa lagi ?&#8221; sahut Tam-kong dengan gemas.</p>
<p>&#8220;Saat ini jiwamu tergantung di tanganku, jika aku mau membunuhmu, sungguh terlalu mudah bagiku, untuk apa aku bohong padamu ?&#8221; ujar Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Tujuanmu ingin mengetahui siapa pembunuh orang tuamu, biar ilmu silat orang she Tam ini jauh di bawahmu juga tidak nanti dibodohi oleh mu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, asal kau katakan nama orang yang membunuh orang tuaku, aku berjanji akan menuntut balas sakit hati istrimu ini,&#8221; bujuk Kiau Hong.</p>
<p>Tapi mendadak Tam-kong bergelak tertawa pedih, berulang-ulang ia mengerahkan tenaga dengan maksud melepaskan cengkraman Kiau Hong. Tapi tangan Kiau Hong yang menahan pelahan di pundaknya itu dapat bergerak menurut keadaan, lebih keras Tam-kong meronta, lebih  berat pula tekanannya hingga selama itu tetap Tam-kong tak sanggup melepaskan diri.</p>
<p>Sampai akhirnya Tam-kong menjadi nekat. Mendadak ia gigit lidah sendiri, sekumur darah segar lantas disemburkan ke arah Kiau Hong. Terpaksa Kiau Hong lepas tangan untuk menghindar. Kesempatan itu segera digunakan oleh Tam-kong untuk berlari ke sana, sekali depak ia tendang mayat Tio-ci-sun ke pinggir, lalu ia rangkul jenazah sang istri, pada saat lain, tahu-tahu kepala nya terkulai, kakek itu pun menghembuskan napas yang terakhir.</p>
<p>Menyaksikan adegan mengerikan itu, mau-tak-mau terharu dan menyesal juga Kiau Hong. Meski kedua suami-istri she Tam dan Tio-ci-sun itu tidak dibunuh olehnya, tapi sebab musabab kematiannya adalah karena gara-gara Kiau Hong. Jika dia mau menghilangkan jenazah untuk menghapus jejak, sebenarnya cukup ia banting kaki sekerasnya hingga dasar perahu itu berlubang, maka perahu itu akan tenggelam ke sungai dan hilanglah segala bukti peristiwa menyedihkan itu. Tapi Kiau Hong pikir, &#8220;Jika aku menghapuskan jenazah-jenazah ini tentu akan kentara seakan-akan aku yang bersalah dan ketakutan.&#8221;</p>
<p>Segera ia meninggalkan perahu itu, ia coba berusaha menemukan sesuatu tanda yang mencurigakan di sekitar situ, tapi tiada sesuatu apa yang dilihatnya. Buru-buru ia kembali ke hotel.</p>
<p>Sejak tadi A Cu sudah menunggu di luar pintu, melihat Kiau Hong pulang tanpa kurang apa-apa, gadis itu sangat girang. Tapi demi nempak Kiau Hong agak lesu, ia lantas tahu pasti penguntitan Kiau Hong atas Tam-poh dan Tio-ci-sun itu tidak mendatangkan sesuatu hasil yang baik. Dengan suara lembut ia tanya, &#8220;Bagaimana ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah mati semua,&#8221; sahut Kiau Hong singkat.</p>
<p>&#8220;Hah, mati semua? Tam-poh dan Tio-ci-sun ?&#8221; A Cu menegas dengan kaget.</p>
<p>&#8220;Ya, ditambah lagi Tam-kong menjadi tiga,&#8221; kata Kiau Hong.</p>
<p>Mengira Kiau Hong yang membunuh ketiga korbannya itu, meski merasa tidak tentram, tapi A Cu tidak berani menegur, hanya katanya, &#8220;Tio-ci-sun itu ikut serta dalam pembunuhan ayahmu, adalah setimpal jika dia terima ganjarannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi bukan aku yang membunuhnya,&#8221; kata Kiau Hong sambil menggeleng. Lalu ia hitung-hitung dengan jari dan menyambung. &#8220;Kini orang yang mengetahui nama biang keladi daripada durjana pembunuh ayahku itu hanya tinggal tiga orang saja di dunia ini. A Cu, berbuat sesuatu harus dilakukan dengan cepat, kita jangan didahului musuh lagi hingga selalu kita ketinggalan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar,&#8221; sahut A Cu. &#8220;Be-hujin sudah terlampau benci padamu, betapapun tidak mungkin dia mau mengaku, apalagi tidak pantas jika kita mesti paksa pengakuan seorang janda. Marilah kita berangkat ke tempat orang she Tan di Soatang saja.&#8221;</p>
<p>Lalu ia berseru, &#8220;Pelayan, pelayan! Selesaikan rekening kami.&#8221;</p>
<p>Sungguh Kiau Hong sangat terharu, dengan sorot mata kasih sayang ia pandang gadis itu, katanya, &#8220;A Cu, selama beberapa hari ini sudah terlalu melelahkanmu, biarlah kita berangkat besok saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, kita harus berangkat malam ini juga agar tidak didahului musuh,&#8221; ujar A Cu.</p>
<p>Terima kasih Kiau Hong tak terhingga, maka menggangguklah dia.</p>
<p>Malam itu juga mereka lantas keluar kota Wi-hui, sepanjang jalan terdengar orang ramai membicarakan &#8220;iblis Cidan Kiau Hong&#8221; mengganas lagi dengan membunuh Tam-kong suami-istri dan Tio-ci-sun. Waktu bicara orang-orang itu suka celingukan kian kemari seakan-akan kuatir mendadak Kiau Hong berada di situ hingga jiwanya bisa celaka. Tak terduga bahwa memang benar Kiau Hong berada di sisi mereka, jika ia mau membunuh boleh dikatakan tidak sukar sedikit pun.</p>
<p>Begitulah Kiau Hong dan A Cu terus melanjutkan perjalanan siang dan malam tanpa berhenti dengan menunggang kuda dan secara berganti-ganti binatang tunggangan itu.</p>
<p>Tiga hari kemudian, Kiau Hong tahu A Cu pasti sangat lelah walaupun tidak diucapkan gadis itu. Maka ia ganti kuda dengan menumpang kereta, dalam kereta kuda mereka dapat mengaso untuk beberap ajam lamanya, sesudah tenaga pulih, segera menunggang kuda pula dan dilarikan secepatnya.</p>
<p>&#8220;Sekali ini biar bagaimana pun kita harus dapat mendahului Tai-ok-jin itu,&#8221; ujar A Cu dengan girang.</p>
<p>Kiau Hong tidak menjawab, tapi diam-diam hatinya merasa pedih. &#8220;Tai-ok-jin&#8221; (manusia paling jahat), yaitu sebutan A Cu dan Kiau Hong kepada pembunuh yang sampai kini belum dikenal itu, setiap kali selalu mendahului usaha penyelidikannya, dan jika sekali ini lagi-lagi Tiat-bin-boan-koan Tan Cing juga terbunuh, mungkin penyelidikan selanjutnya akan tambah sulit dan sakit hati sedalam lautan itu akan sukar terbalas.</p>
<p>Setiba di kota Thai-an di Soatang, rumah tinggal Tan Cing itu ternyata sangat terkenal, sekali tanya saja lantas tahu, yaitu di timur kota.</p>
<p>Tatkala itu sudah magrib, sampailah mereka di luar pintu timur kota. Tidak jauh pula, sekonyong-konyong tampak asap mengepul bergulung-gulung dan api menjilat-jilat tinggi, entah tempat mana yang kebakaran. Menyusul terdengar riuh ramai suara gembreng dan kentongan bertalu-talu disertai teriakan orang, &#8220;Kebakaran! Kebakaran !&#8221;</p>
<p>Kiau Hong tidak menaruh perhatian apa-apa, ia tetap melarikan kuda ke depan bersama A Cu dan akhirnya dekat juga dengan tempat kebakaran itu.</p>
<p>&#8220;Lekas padamkan api, lekas! Itulah rumah keluarga Tiat-bin-boan-koan !&#8221; demikian terdengar seruan orang.</p>
<p>Keruan Kiau Hong dan A Cu terkejut. Mereka berhentikan kuda dan saling pandang sekejap, mereka sama berpikir, &#8220;Jangan-jangan didahului lagi oleh Tai-ok-jin itu ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Keluarga Tan tentu banyak penghuninya, kalau rumahnya terbakar, orangnya belum tentu ikut terbakar,&#8221; demikian A Cu coba menghibur.</p>
<p>&#8220;Tahu begini, tempo hari seharusnya jangan kubunuh Tan Pek-san dan Tan Tiong-san,&#8221; ujar Kiau Hong dengan menyesal.</p>
<p>Sejak kedua saudara she Tan itu dibunuh Kiau Hong, permusuhan kedua pihak boleh dikatakan tak dapat didamaikan lagi. Walaupun kedatangannya ke Thai-an ini tiada maksud membunuh orang pula, tapi pihak Tan Cing pasti tidak mau menyudahi permusuhan itu, maka ia sudah siap untuk menempur mereka. Siapa duga baru sampai di tempat tujuan, pihak yang dicari itu sudah mengalami musibah.</p>
<p>Kebakaran itu ternyata sangat hebat, sebentar saja sudah berwujud lautan api. Sementara itu penduduk di sekitar beramai ramai sudah datang hendak memadamkan kebakaran itu, ada yang membawa ember dan menyiramkan air, ada yang menghamburkan pasir. Untung juga di sekeliling Tan-keh-ceng (perkampungan keluarga Tan) itu ada sungai yang cukup dalam, sekitar itu juga tiada rumah penduduk lain, maka api tidak sampai menjalar. Secara gotong-royong penduduk berusaha memadamkan api dengan perkasa.</p>
<p>Kiau Hong dan A Cu turun dari kuda serta mendekati tempat kebakaran itu untuk menonton. Terdengar suara seorang laki-laki di sebelah mereka sedang berkata, &#8220;Sungguh sayang, Tan-loya yang baik hati mengapa tertimpa bencana begini, sudah terbakar rumahnya, anggota keluarganya sebanyak lebih 30 jiwa tiada seorang pun yang berhasil menyelamatkan diri ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentu musuh yang membakar rumah dan menutup pintu supaya tiada yang bisa lolos,&#8221; demikian sahut seorang. &#8220;Padahal anak kecil umur tiga keluarga Tan juga pandai silat, mustahil tiada seorang pun yang berhasil menyelamatkan diri ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kabarnya Tan-toaya dan Tan-jiya telah dibunuh orang jahat bernama Kiau Hong di Holam, jangan-jangan yang membakar rumahnya sekarang juga Tai-ok-jin itu lagi ?&#8221; ujar laki-laki yang duluan.</p>
<p>Bila Kiau Hong bicara dengan A Cu, musuh yang tak dikenal itupun disebutnya sebagai &#8220;Tai-ok-jin&#8221;, kini mendengar kedua orang desa itu pun menyinggung &#8220;Tai-ok-jin&#8221;, tanpa terasa mereka saling pandang sekejap.</p>
<p>Dalam pada itu terdengar orang tadi lagi menjawab, &#8220;Ya, pasti perbuatan Kiau Hong keparat itu!&#8221;</p>
<p>Sampai di sini, tiba-tiba ia tahan suaranya dan berbisik, &#8220;pasti Tai-ok-jin itu ada begundalnya menyerbu ke Tan-keh-ceng hingga keluarga Tan terbunuh semua. Ai, di mana letak keadilan ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kiau Hong itu terlalu banyak berbuat kejahatan, pada akhirnya dia pasti akan diganjar secara setimpal dan matinya pasti akan lebih mengenaskan daripada Tan-loya yang baik budi itu,&#8221; demikian laki-laki yang satu menanggapi.</p>
<p>Mendengar mereka mengutuk Kiau Hong, A Cu jadi mendongkol. Mendadak ia tepuk lebar kudanya hingga binatang itu kaget dan berjingkrak, sekali kaki kuda mendepak, tepat punggung orang yang ceriwis itu tertendang, sambil menjerit, tanpa ampun lagi orang itu jatuh terguling.</p>
<p>&#8220;Kalian sedari tadi mengoceh apa ?&#8221; damprat A Cu.</p>
<p>Meski terdepak kuda, tapi demi ingat &#8220;Tai-ok-jin&#8221; Kiau Hong banyak begundalnya, orang itu jadi ketakutan dan tidak berani bersuara lagi cepat ia menyingkir pergi.</p>
<p>Kiau Hong tersenyum pedih, ia dapat merasakan betapa jelek kesan dirinya dalam pandangan khalayak ramai terbukti dari percakapan kedua orang desa itu. Ia coba pindah ke sebelah lain dari tempat kebakaran, di sana juga orang ramai membicarakan keluarga Tan yang berjumlah lebih dari 30 jiwa itu tiada seorang pun yang selamat. Dari bau sangit yang terendus Kiau Hong dari gumpalan asap kebakaran itu, ia tahu apa yang dikatakan orang-orang itu tentu tidak salah, segenap anggota keluarga Tan memang benar telah terkubur di tengah lautan api.</p>
<p>&#8220;Tai-ok-jin itu benar-benar sangat keji, tidak cukup membunuh Tan Cing dan putra-putranya, bahkan antero keluarganya juga dibunuh, dan mengapa mesti membakar pula rumahnya ?&#8221; kata A Cu dengan suara pelahan.</p>
<p>&#8220;Ini namanya membabat rumput harus sampai akar-akarnya,&#8221; sahut Kiau Hong. &#8220;Andaikan aku, pasti juga akan kubakar rumahnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mengapa ?&#8221; tanya A Cu terkesiap.</p>
<p>&#8220;Bukankah waktu di tengah hutan tempo hari Tan Cing pernah mengucapkan apa-apa yang telah kau dengar juga. Ia menyatakan, &#8216;Di rumahku juga tersimpan beberapa pucuk surat dari Toako pemimpin ini, sesudah kucocokan gaya tulisannya nyata memang betul adalah tulisan tangannya&#8217;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, Tai-ok-jin itu kuatir surat di rumah Tan Cing itu akan kau temukan dan mendapat tahu nama Toako pemimpin itu, makanya ia sengaja membakar rumah Tan Cing agar surat-surat itu hilang tak berbekas lagi,&#8221; kata A Cu dengan gegetun.</p>
<p>Dalam pada itu penduduk yang datang menolong kebakaran itu semakin banyak, tapi api sedang mengamuk dengan dahsyatnya, siraman air berember-ember itu ternyata tidak berguna sama sekali.</p>
<p>Di antara penonton itu banyak yang menyesalkan kebakaran itu di samping mencaci maki keganasan Kiau Hong yang dituduh yang membakar. Caci maki orang desa sudah tentu kasar dan kotor, A Cu menjadi kuatir jangan-jangan Kiau Hong tidak tahan oleh caci maki yang ngawur itu dan mendadak mengamuk sehingga orang-orang desa akan menjadi korban.</p>
<p>Tapi demi diliriknya, ia lihat bekas Pangcu itu menampilkan air muka yang sangat aneh, seperti berduka dan seperti menyesal pula, tapi yang paling kentara adalah rasa kasihan, orang desa itu dianggapnya terlalu bodoh, dan tiada harganya untuk dilabrak.</p>
<p>Akhirnya dengan menghela napas, berkatalah Kiau Hong, &#8220;Marilah kita pergi ke Thian-tai-san !&#8221;</p>
<p>Dengan keputusannya akan pergi ke Thian-tai-san, itu menandakan ia sesungguhnya sangat terpaksa. Benar Ti-kong Taysu dari Thian-tai-san itu dahulu pernah ikut serta dalam pembunuhan ayah bundanya, tapi selama 20 tahun terakhir ini padri saleh itu telah banyak berbuat kebajikan bagi sesamanya, jauh ia pergi ke negeri lain untuk mengumpulkan obat-obatan guna menyembuhkan penyakit malaria yang diderita rakyat jelata di wilayah propinsi daerah selatan seperti Hokkian, Ciatkang, Kuitang dan Kuisai, hingga banyak jiwa orang tertolong olehnya, sebaliknya padri itu sendiri jatuh sakit payah, sesudah sembuh ilmu silatnya jadi punah.</p>
<p>Perbuatan menolong sesamanya tanpa memikirkan kepentingan sendiri itu sungguh sangat sihormati oleh kawanan Kangouw dan sama menyebutnya sebagai &#8216;Budha hidup penolong manusia&#8217;. Maka sesungguhnya kalau tidak terpaksa, tidak nanti Kiau Hong mau membikin susah padri saleh itu.</p>
<p>Begitulah mereka lantas meninggalkan Thai-an dan menuju ke selatan. Sekali ini Kiau Hong tidak mau buru-buru menempuh perjalanan lagi, ia pikir kalau terburu-buru, boleh jadi setiba di Thian-tai-san, mungkin yang tertampak kembali adalah mayat Ti-kong Taysu, bisa jadi kuilnya juga terbakar menjadi puing.</p>
<p>Maka ia sengaja menempuh perjalanan seenaknya, dengan demikian mungkin jiwa Ti-kong Taysu dapat diselamatkan malah. Apalagi jejak padri itu pun tidak menentu, biasanya suka mengembara, bukan mustahil waktu itu orangnya tidak berada di kuilnya di Thian-tai-san.</p>
<p>Pegunungan Thian-tai-san si Ciatkang timur, sepanjang jalan Kiau Hong berlaku seperti pelancong saja sambil mempercakapkan peristiwa menarik di kalangan Kangouw dengan A Cu.</p>
<p>Suatu hari, tibalah mereka di Tinkang. Kedua orang lantas pesiar ke Kim-san-si yang terkenal itu. Sambil memandangi air sungai yang berdebur-debur mengalir ke timur itu, mendadak Kiau Hong ingat sesuatu, katanya, &#8220;Itu &#8216;Toako pemimpin&#8217; bukan mustahil adalah orang yang sama dengan &#8216;Tai-ok-jin&#8217; itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, mengapa sebegitu jauh kita tidak pikir ke situ ?&#8221; ujar A Cu seperti orang yang baru sadar.</p>
<p>&#8220;Tapi, bisa jadi memang terdiri dari dua orang yang berlainan,&#8221; kata Kiau Hong pula. &#8220;Namun kedua orang itu tentu mempunyai hubungan yang sangat erat. Kalau tidak, masakah Tai-ok-jin itu berusaha mati-matian hendak menutupi siapakah gerangan Toako pemimpin itu ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kiau-toaya,&#8221; sahut A Cu. &#8220;aku jadi ingat juga waktu kalian membicarakan peristiwa masa lalu itu, jangan-jangan&#8230;&#8230;,&#8221;</p>
<p>Berkata sampai di sini, tanpa terasa suaranya menjadi agak gemetar.</p>
<p>&#8220;Jangan-jangan Tai-ok-jin itu juga berada di dalam hutan itu, demikiankah maksudmu ?&#8221; tukas Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Benar,&#8221; sahut A Cu, &#8220;di sanalah Tiat-bin-boan-koan mengatakan bahwa di rumahnya tersimpan surat yang pernah diterimanya dari Toako pemimpin itu dan sekarang rumahnya terbakar menjadi puing&#8230;&#8230;Ai, aku jadi takut bila ingat hal itu.&#8221;</p>
<p>Dengan badan agak gemetar ia menggelendot di samping Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Dan masih ada sesuatu pula yang aneh.&#8221; Kata Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Tentang apa ?&#8221; tanya A Cu.</p>
<p>Sambil memandang perahu layar di tengah sungai, berkatalah Kiau Hong, &#8220;Kepintaran dan kecerdikan Tai-ok-jin itu jauh di atas diriku, bicara tentang ilmu silat juga mungkin tidak dibawahku, jika dia mau mencabut nyawaku sebenarnya sangat mudah. Tapi mengapa ia takut bila kutahu nama musuhku itu ?&#8221;</p>
<p>A Cu merasa apa yang dibahas Kiau Hong itu cukup beralasan, sambil memegang tangan bekas Pangcu itu, katanya, &#8220;Kiau-toaya, kukira sesudah Tai-ok-jin itu membunuh ayah bundamu, tentunya ia merasa menyesal sekali, maka tidak tega membikin celaka dirimu lagi. Sudah tentu ia pun tidak ingin engkau manuntut balas padanya hingga jiwanya akan melayang di tanganmu.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong mengangguk. &#8220;Ya, besar kemungkinan demikianlah !&#8221; katanya dengan tersenyum. &#8220;Dan bila dia tidak tega mencelakaiku, dengan sendirinya juga tidak mau mengganggu dirimu, maka kamu jangan takut lagi.&#8221;</p>
<p>Sejenak kemudian, ia menghela napas dan berkata pula, &#8220;Percumalah aku mengaku sebagai Engkiong (ksatria), tapi kini  dipermainkan orang sedemikian tanpa dapat berbuat apa-apa.&#8221;</p>
<p>Begitulah, sesudah menyebrang sungai Tiang-kang, tidak lama mereka menyebrangi Ci-tong-kang pula, akhirnya sampai di Thian-tai-koan, kota di kaki pegunungan Thian-tai.</p>
<p>Mereka mendapatkan sebuah hotel untuk menginap. Esok paginya ketika mereka ingin tanya pelayan tentang jalan menuju ke Thian-tai-san, tiba-tiba masuk tergesa-gesa seorang pegawai kantor hotel dan memberitahu, &#8220;Kiau-toaya, ada seorang Suhu dari Siang-koan-sian-si di Thian-tai-san ingin bertemu denganmu.&#8221;</p>
<p>Sudah tentu Kiau Hong terkejut, padahal waktu menginap di hotel ini ia mengaku she Koan, maka cepat ia tanya, &#8220;Mengapa kau panggil Kiau-toaya padaku ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Suhu dari Thian-tai-san itu menjelaskan bangun tubuh dan wajah Kiau-toaya, terang tidak salah lagi,&#8221; sahut pegawai hotel.</p>
<p>Kiau Hong saling pandang dengan A Cu, keduanya sama heran. Padahal mereka menyamar lagi, tidak serupa pula dengan seperti waktu di Thai-an, tapi setiba di Thai-tai-koan segera dikenali orang.</p>
<p>Terpaksa Kiau Hong berkata, &#8220;Baiklah, silahkan dia masuk.&#8221;</p>
<p>Sesudah pegawai hotel itu keluar, tidak lama kemudian ia bawa datang padri berumur 30-an dan berbadan gemuk. Sesudah memberi hormat kepada Kiau Hong, padri itu lantas berkata, &#8220;Guruku Ti-kong Taysu adanya, Siauceng Koh-teh disuruh mengundang Kiau-toaya dan Wi-kohnio sudilah mampir ke kuil kami.&#8221;</p>
<p>Sahut Koh-teh Hwesio, &#8220;Menurut pesan Suhu katanya di hotel sini tinggal seorang Kiau-enghiong, dan seorang Wi-kohnio, maka Siauceng disuruh memapak kemari. Kiranya tuan sendirilah Kiau-toaya, entah Wi-kohnio itu berada di mana ?&#8221;</p>
<br />Posted in Jin Yong, Pendekar Kerajaan Tayli  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toanki.wordpress.com/1993/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toanki.wordpress.com/1993/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toanki.wordpress.com/1993/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toanki.wordpress.com/1993/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toanki.wordpress.com/1993/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toanki.wordpress.com/1993/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toanki.wordpress.com/1993/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toanki.wordpress.com/1993/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toanki.wordpress.com/1993/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toanki.wordpress.com/1993/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toanki.wordpress.com/1993/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toanki.wordpress.com/1993/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toanki.wordpress.com/1993/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toanki.wordpress.com/1993/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1993&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toanki.wordpress.com/2008/10/31/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-33/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b75e221c0eee4ff517b26695a19675fc?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">Lenghou Tiong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 32</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-32/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-32/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 05:09:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1838</guid>
		<description><![CDATA[Ilmu silat yang dikeluarkan ini adalah satu diantara 72 macam ilmu silat pusaka Siau-lim-si, namanya &#8220;Siu-li-kian-gun&#8221; (menyekap jagat dalam lengan baju), sekali ia kebas lengan jubahnya, seketika tenaga pukulannya menyambar keluar dari dalam jubah. Jadi lengan jubah itu hanya sebagai tameng pukulan saja agar musuh tidak dapat membedakan arah datangnya serangan, tapi tahu-tahu diserang hingga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1838&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ilmu silat yang dikeluarkan ini adalah satu diantara 72 macam ilmu silat pusaka Siau-lim-si, namanya &#8220;Siu-li-kian-gun&#8221; (menyekap jagat dalam lengan baju), sekali ia kebas lengan jubahnya, seketika tenaga pukulannya menyambar keluar dari dalam jubah. Jadi lengan jubah itu hanya sebagai tameng pukulan saja agar musuh tidak dapat membedakan arah datangnya serangan, tapi tahu-tahu diserang hingga kelabakan.</p>
<p><span id="more-1838"></span></p>
<p>Namun Kiau Hong sudah lebih dulu melihat kedua lengan baju Hian-lan itu melembung bagai goni penuh angin, segera ia tahu serangan apa yang akan dilakukan padri sakti itu, bentaknya cepat, &#8220;Siu-li-kian-gun, nyata memang hebat !&#8221;</p>
<p>Berbareng itu sebelah tangannya segera dipukulkan ke arah lengan baju lawan dengan kuat. Tenaga yang terhimpun dalam lengan baju Hian-lan itu menggembung, sebaliknya tenaga pukulan yang dilontarkan itu terpusat keras, maka terdengarlah suara &#8220;bret-bret&#8221; beberapa kali, ditengah goncangan arus tenaga yang maha dahsyat itu, sekonyong-koyong ditengah ruangan itu bertebaran beberapa puluh ekor &#8220;kupu-kupu&#8221;.</p>
<p>Keruan semua orang terperanjat, waktu mereka perhatikan, ternyata &#8220;kupu-kupu&#8221; itu bukan lain adalah robekan kain lengan baju Hian-lan. Waktu perhatian mereka beralih atas diri padri itu, tertampaklah kedua lengannya sudah telanjang hingga kelihatan jelas tulang lengannya yang kurus kering.</p>
<p>Rupanya di bawah tekanan dua arus tenaga dalam yang maha kuat, maka lengan baju padri yang gondrong itu tidak tahan dan seketika tergilas hancur. Dengan demikian, tanpa lengan baju Hian-lan menjadi mati kutu dan tidak bisa menggunakan Siu-li-kian-gun lagi.</p>
<p>Saking gusarnya sampai muka Hian-lan merah padam, cara Kiau Hong mematahkan serangannya itu dirasakan jauh lebih menderita daripada membunuhnya. Tanpa omong lagi kedua lengannya yang telanjang itu susul menyusul menghantam serabutan dengan dahsyat luar biasa.</p>
<p>Waktu semua orang memperhatikan, ternyata yang dimainkan Hian-lan sekarang adalah ilmu pukulan yang tersebar luas di dunia kangouw, yaitu &#8220;Thio-co-tiang-tin&#8221; atau ilmu pukulan ciptaan Song-thai-co.</p>
<p>Song-thai-co Tio Kong-in, cikal bakal dinasti Song, sangat terkenal dengan kepandaiannya dalam dua jenis ilmu silat, yaitu &#8220;Thai-co-tiang-kun&#8221; dan &#8220;Thai-co-pang&#8221;, ilmu pukulan dan ilmu permainan toya dari Song-thai-co.</p>
<p>Saking populernya kedua jenis ilmu silat itu hingga pada jaman itu setiap orang Bu-lim hampir setiap orang bisa, paling tidak juga pernah melihatnya.</p>
<p>Maka semua orang menjadi heran demi nampak padri sakti Siau-lim-si yang terkenal itu ternyata memainkan ilmu silat yang umum itu.</p>
<p>Tapi sesudah Hian-lan menyerang tiga kali, mau tak mau timbul juga perasaan kagum mereka, &#8220;Pantas saja Siau-lim-si memperoleh nama harum. Sama-sama sejurus Hoa-san-tio-ki (main catur diatas Hoa-san), tapi di bawah permainannya ternyata mempunyai daya serang selihat ini.&#8221;</p>
<p>Dan karena rasa kagum mereka kepada ketangkasan Hian-lan, mereka jadi lupa pada wujud si padri yang sebenarnya tak keruan dan lucu itu.</p>
<p>Tadi sebenarnya ada berpuluh orang yang mengerubut Kiau Hong, tapi kini demi Hian-lan sudah turun tangan, yang lain merasa akan mengganggu malah jika ikut mengeroyok, maka satu persatu mereka mengundurkan diri, semuanya hanya menonton saja sambil merubung rapat di pinggir untuk berjaga kalau Kiau Hong kewalahan dan ingin kabur.</p>
<p>Melihat pengeroyok lain sudah mundur, hati Kiau Hong tergerak, mendadak ia menghantam ke depan dengan tipu &#8220;Ciong-hong-cam-ciang&#8221; atau menyerbu maju membunuh panglima musuh, tipu ini pun termasuk salah satu pukulan &#8220;Thai-co-tiang-kun&#8221;.</p>
<p>Tipu ini sebenarnya sangat umum, tapi di bawah pukulan Kiau Hong ternyata membawa tenaga maha dahsyat dengan gaya yang indah.</p>
<p>Setiap hadirin ini boleh dikatakan adalah jago silat pilihan semua, dengan sendirinya mereka kenal di mana letak kebagusan setiap ilmu silat. Maka demi nampak serangan Kiau Hong yang indah itu, tanpa terasa mereka sama bersorak memuji.</p>
<p>Dan sesudah sorakan mereka tercetus barulah mereka merasa salah. Bukankah Kiau Hong adalah musuh yang harus mereka bunuh, tapi mengapa malah bersorak untuk menambah semangat musuh?</p>
<p>Namun sudah terlanjur, suara sorakan mereka sudah lalu. Bahkan serangan kedua Kiau Hong dalam tipu &#8220;Ho-siok-lip-wi&#8221; (memperlihatkan pengaruh di Ho-siok) tampaknya lebih bagus lagi daripada jurus pertama, maka tidak sedikit di antara para hadirin itu masih bersorak, urung ketika sadar kelakuan mereka yang keliru. Namun hal mana jelas mengunjuk betapa rasa kagum dan gegetun mereka atas kepandaian Kiau Hong itu.</p>
<p>Begitulah, jika tadi malam keadaan dikeroyok Kiau Hong tidak dapat memperlihatkan ketangkasannya, adalah sekarang sesuah Kiau Hong bertempur satu lawan satu dan para pengeroyok tadi menjadi penonton, barulah semua orang menyadari di mana kelebihan ilmu silat Kiau Hong daripada orang lain.</p>
<p>Maka sesudah beberapa jurus lagi, jelas kelihatan siapa lebih unggul dan siapa asor.</p>
<p>Ilmu pukulan yang dimainkan kedua orang sama-sama kungfu yang sangat umum, tapi setiap serangan Kiau Hong selalu lebih lambat sedikit dan membiarkan Hian-lan melancarkan serangan lebih dulu. Dan sekali serangan Hian-lan dilontarkan, menyusul Kiau Hong lantas menyerang juga.</p>
<p>Ilmu pukulan ciptaan Song-thai-to itu seluruhnya meliputi 72 jurus. Tapi setiap jurus merupakan lawan daripada jurus lain. Maka Kiau Hong sengaja incar baik-baik tipu serangan lawan. Lalu ia keluarkan tipu serangan yang tepat untuk mengatasinya.</p>
<p>Dengan demikian, tentu saja Hian-lan dibikin kewalahan. Teori itu sebenarnya diketahui oleh setiap penonton, yang susah adalah kepandaian &#8220;serang belakang tapi tiba lebih dulu&#8221; itulah yang tidak mungkin dimiliki sembarang orang.</p>
<p>Melihat kawannya kewalahan, terang sudah kalah, segera Hian-cit berseru, &#8220;Huh, kamu anjing Cidan ini, caramu sesungguhnya terlalu rendah !&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang kumainkan adalah ilmu pukulan Thai-co dinasti kita, mengapa aku dituduh rendah ?&#8221; sahut Kiau Hong tertawa.</p>
<p>Mendengar demikian, seketika pahamlah semua orang maksud Kiau Hong memainkan &#8220;Thai-co-tiang-kun&#8221; itu.</p>
<p>Jika Kiau Hong menggunakan ilmu silat jenis lain untuk menangkan &#8220;Thai-co-tiang-kun&#8221; yang dimainkan Hian-lan tentu orang lain takkan mengatakan dia lebih kuat dan ulet, sebaliknya akan menyalahkan dia dengaja menghina ilmu silat ciptaan cikal bakal dinasti Song yang jaya itu. Dan hal ini tentu akan menambah sentimen kebangsaan orang banyak itu. Tapi sekarang kedua pihak sama menggunakan &#8220;Thai-co-tiang-kun&#8221;, dalam pertandingan ini hanya mengadu ilmu silat belakan, Kiau Hong takbisa lagi dituduh kurang ajar atau tuduhan lain.</p>
<p>Begitulah maka Hian-cit tak dapat tinggal diam lagi melihat Hian-lan dalam sekejap lagi akan terancam bahaya. Tanpa bicara ia terus menuding ke &#8220;Soan-ki-hiat&#8221; di dada Kiau Hong. Ilmu yang dia pakai adalah &#8220;Thian-tiok-hud-ci&#8221; atau jari Budha dari Thian-tiok, semacam ilmu tiam-hiat yang hebat dari Siau-lim-si.</p>
<p>Mendengar tutukan orang itu membawa suara mencicit perlahan, segera Kiau Hong berkata, &#8220;Sudah lama kudengar betapa hebat Thian-tiok-hud-ci, ternyata memang bukan omong kosong belaka. Tapi bila kau gunakan ilmu silat bangsa asing Thian-tiok itu untuk mengalahkan ilmu pukulan cikal bakal dinasti kita bukankah engkau akan dituduh menghianat dan menghina dinasti kita sendiri ?&#8221;</p>
<p>Hian-cit terkesiap sebab ilmu silat Siau-lim-si memang berasal dari Budhi Dharma yang aslinya orang asing dari Thian-tiok (kini India).</p>
<p>Sebabnya Kiau Hong sekarang dikeroyok adalah disebabkan bekas Pangcu itu dituduh keturunan Cidan. Tapi karena sejarah Siau-lim-si sudah terlalu tua, ilmu silatnya sudah tersebar luas dikalangan Bu-lim hingga berbagai aliran dan mazhab sedikit banyak ada tersangkut hubungan hingga semua orang sama melupakan asal usul Siau-lim-si yang ada sangkut pautnya dengan bangsa asing itu.</p>
<p>Kini demi mendengar teguran Kiau Hong itu, segera banyak di antara hadirin yang berpandangan jauh dan berjiwa terbuka itu berpikir, &#8220;Terhadap Budhi Dharma kita memuja sebagai malaikat dewata, sebaliknya mengapa membenci orang Cidan sampai ke tulang sumsumnya? Bukankah mereka sama-sama bangsa asing? Ya, sudah tentu diantara kedua bangsa itu ada bedanya, bangsa Thian-tiok tidak pernah menjajah dan membunuh bangsa Han kita, sebaliknya bangsa Cidan adalah penjajah yang ganas dan kejam. Jadi antara bangsa asing pada hakikatnya juga ada perbedaannya dan tidak boleh disamaratakan, harus dibedakan antara yang baik dan yang jahat, antara kawan dan lawan, antara penjajah dan dijajah. Dan apakah orang Cidan itu semua jahat? Apakah tidak ada yang baik ?&#8221;</p>
<p>Begitulah di tengah pertarungan sengit itu banyak di antara pengeroyok terdapat kaum pikiran sempit, berjiwa dangkal dan dengan sendirinya takkan berpikir tentang perbedaan itu, tapi sebagian yang tergolong cendikia, dalam benak mereka lantas terlintas pikiran seperti itu, mereka merasa Kiau Hong belum tentu adalah manusia yang harus dibunuh, sebaliknya kita sendiri juga belum pasti di pihak yang benar.</p>
<p>Dalam pada itu, meski Hian-lan dan Hian-cit berdua melawan Kiau Hong seorang, mereka lebih banyak menagkis daripada menyerang.</p>
<p>Sementara itu karena ilmu pukulan pertama telah dipatahkan sama sekali oleh lawan, maka Hian-lan telah ganti ilmu silat &#8220;Lo-han-kun&#8221; yang lihai dari Siau-lim-pai.</p>
<p>&#8220;Huh, bukankah Lo-han-kun juga berasal dari ajaran bangsa asing dari Thian-tiok ?&#8221; demikian Kiau Hong mengejek. &#8220;Baiklah, akan kulihat apakah ilmu silat asal luar negeri itu lebih lihai ataukah ilmu silat dalam negeri Song sendiri lebih hebat ?&#8221;</p>
<p>Sembari bicara, &#8220;Thai-co-tiang-kun&#8221; terus dilancarkan susul menyusul.</p>
<p>Keruan semua orang merasa tersinggung oleh ucapan Kiau Hong itu. Mereka mengeroyok Kiau Hong, alasannya karena dia bangsa asing. Tapi sekarang ilmu silat yang dipakai pihak sendiri justru adalah ilmu silat &#8220;impor&#8221;, sebaliknya ilmu silat pukulan yang dimainkan Kiau Hong adalah &#8220;produksi dalam negeri&#8221; asli, yaitu ciptaan cikal bakal dinasti Song yang tersohor itu.</p>
<p>Begitulah selagi banyak di antara mereka merasa ragu-ragu dan rikuh, tiba-tiba terdengar Tio-cit-sun berseru, &#8220;Peduli kita memakai ilmu silat berasal dari mana, yang terang keparat ini telah membunuh ayah bundanya dan gurunya sendiri, kejahatannya jauh lebih pantas dihukum mati. Ayolah saudara, kerubut maju bersama !&#8221;</p>
<p>Sambil berseru, segera ia mendahului menerjang maju.</p>
<p>Menyusul Tam-kong, Tam-poh, para Tianglo dari Kay-pang. Tiat-bin poan-koan Tan Cing bersama putranya, semuanya berjumlah puluhan orang terus ikut menyerbu maju.</p>
<p>Ilmu silat para pengerubut ini semua pilihan, meski banyak jumlah mereka, tapi posisi mereka tidak kacau, yang satu maju, yang lain mundur, yang lain maju, yang satu mundur lagi.</p>
<p>Sambil berkata menghantam dan menangkis, Kiau Hong berkata pula, &#8220;Kalian mengatakan aku orang Cidan, jika betul, maka Kiau Sam-hoai Lokongkong dan Lopohpoh tentu bukan ayah ibuku. Jangankan kedua orang tua itu adalah orang yang paling kuhormati selama hidup dan tiada maksud mencelakainya sedikitpun, andaikan benar akulah yang membunuh mereka, toh tuduhan membunuh ayah bunda sendiri juga tidak dapat ditimpakan atas diriku? Sedangkan Hian-koh Taisu adalah guruku yang kupuja, jika Siau-lim-pai mengakui Hian-koh Taysu adalah guruku, maka aku orang she Kiau menjadi terhitung anak murid Siau-lim, lantas apa alasan kalian mengerubut seorang anak murid Siau-lim-pai cara begini ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, bicara seperti pokrol bambu, mau menang sendiri,&#8221; jengek Hian-cit dengan mendongkol.</p>
<p>&#8220;Habis, kalau kalian tidak anggap aku sebagai anak murid Siau-lim-pai, dengan sendirinya &#8216;tuduhan membunuh guru&#8217; itu tak terbukti,&#8221; sahut Kiau Hong, &#8220;Memangnya kalau mau menyalahkan orang masakan kuatir kurang alasan? Tapi bila kalian ingin membunuhku, mestinya bicaralah terus terang dan bunuhlah kalau mampu, mengapa mesti cari alasan yang tidak dapat dibuktikan ?&#8221;</p>
<p>Biarpun mulutnya bicara mencerocos, namun serangannya tidak pernah berhenti, tinjunya menjotos Tan Siok-san, kakinya menendang Tio ci-sun sukutnya menyikut Cin Goan-cun, telapak tangan menghantam Pau Jian-leng. Hanya sekejap saja beruntun empat orang sudah dirobohkan olehnya.</p>
<p>Kiau Hong tahu bahwa lawan-lawannya itu bukan kaum penjahat, maka serangannya selalu seringan mungkin. Yang dirobohkan sampai saat itu sudah ada belasan orang, tapi tiada satu jiwa pun yang dicelakai olehnya. Namun pengeroyok itu terlalu banyak, belasan orang roboh, berpuluh orang segera menggantikannya.</p>
<p>Maka tidak lama kemudian, mau-tak-mau Kiau Hong mengeluh, &#8220;Jika pertepuran begini diteruskan, akhirnya aku pasti akan kepayahan, rasanya jalan paling baik adalah kabur saja.&#8221;</p>
<p>Maka sambil bertempur segera ia mencari jalan untuk meloloskan diri.</p>
<p>Tio ci-sun yang dirobohkan itu menggeletak di lantai dengan sebelah tangan patah. Tapi ia tahu maksud Kiau Hong akan melarikan diri, segera ia berseru, &#8220;Awas, kawan-kawan !  Kepung dia dengan rapat, anjing keparat ini hendak melarikan diri !&#8221;</p>
<p>Dalam pertarungan sengit itu memang Kiau Hong sudah agak terpengaruh oleh bekerjanya arak yang banyak diminumnya tadi, kini mendengar caci maki Tio ci-sun, keruan amarahnya tak tertahankan lagi, bentaknya dengan gusar, &#8220;Ya, anjing keparat ini akan pakai dirimu sebagai korban pembunuhan pertama ?&#8221;</p>
<p>Sambil berkata, sekuatnya ia memukul dari jauh.</p>
<p>&#8220;Celaka !&#8221; seru Hian-lian dan Hian-cit berbareng. Kedua tangan mereka sama memapak kedepan untuk menolong Tio ci-sun.</p>
<p>Di tengah gencetan arus tenaga yang hebat itu, sekonyong-konyong terdengar suara jeritan ngeri seorang, dada orang itu tersodok oleh tenaga pukulan Hian-lan dan Hian-cit, sebaliknya punggung kena dihantam oleh pukulan Kiau Hong dari jauh.</p>
<p>Di tengah gencetan tiga arus tenaga maha dahsyat itu, keruan tulang iga orang itu seketika patah dan remuk, isi perutnya hancur, darah menyembur keluar dari mulutnya, badan terkulai lemas bagai cacing di lantai.</p>
<p>Kejadian di luar dugaan ini tidak hanya mengejutkan Hian-lan dan Hian-cit, bahkan Kiau Hong juga terkesiap. Orang yang sial itu ternyata Goai-to Ki Liok adanya.</p>
<p>Sebagaimana diketahui Ki Liok tadi terkatung-katung di atas belandar dengan menggandul pada goloknya yang terjepit belandar itu. Oleh karena sudah sekian lamanya, setelah tergontai-gontai kian kemari, akhirnya golok yang terjepit belandar itu mulai mengendur dan akhirnya jatuh ke bawah.</p>
<p>Seungguh kebetulan juga, dengan tepat Ki Liok jatuh di tengah-tengah gelombang tenaga yang sedang dilontarkan oleh ketiga orang yang bertempur itu. Keruan Ki Liok mirip digencet di tengah peres yang maha kuat, seketika jiwanya melayang.</p>
<p>&#8220;Omitohud !  Siancai, Siancai !  Kiau Hong, dosamu bertambah besar lagi !&#8221; demikian kata Hian-lan menyebut Budha.</p>
<p>Kiau Hong menjadi gusar, sahutnya, &#8220;Orang ini tidak seluruhnya terbinasa di tanganku, kalian berdua juga mempunyai saham atas kematiannya, mengapa kau tumplek semua kesalahan atas namaku ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Omitohud ! Kalau sebelumnya tiada gara-garamu, masakah terjadi pertempuran seperti sekarang ini ?&#8221; sahut Hian-lan.</p>
<p>Kiau Hong semakin murka, &#8220;Baiklah, semua boleh kau catat atas rekeningku, lantas mau apa ?&#8221;</p>
<p>Setelah mengalami pertarungan sengit itu, watak liar dalam darah Kiau Hong menjadi kumat, sekejap itu ia berubah beringas bagaikan seekor binatang buas. Sekali tangannya membalik, tepat seorang lawan kena cengkramannya, ternyata orang ini adalah Tan Tiong-san, putra kedua Tan Cing.</p>
<p>Menyusul Kiau Hong terus rampas golok Tan Tiong-san, ketika tangan kanan menggaplok, tanpa ampun lagi batok kepala Tan Tiong-san hancur dan mati seketika. Maka gegerlah para ksatria, mereka menjerit kaget, berteriak kuatir dan mencaci-maki dengan gusar.</p>
<p>Setelah membunuh orang, Kiau Hong bertambah kalap, golok rampasannya berputar dengan cepat, tangan kanan mendadak menjotos dan terkadang memukul dengan telapakan, sedang golok di tangan kiri membacok dan menebas, dahsyatnya tak tertahankan.</p>
<p>Hanya sekejap saja tertampaklah dinding di sekitar sudah penuh titik noda darah, di tengah kalangan sudah bergelimpangan belasan mayat, ada yang kepala berpisah dengan badannya, ada yang dada pecah dan pinggang putus.</p>
<p>Dalam mengamuk itu, Kiau Hong sudah tidak pandang bulu lagi, dengan mata merah membara ia membunuh setiap orang yang diketemukan, Thoan-kong Tianglo dan Ge-tianglo telah binasa semua di bawah goloknya.</p>
<p>Di antara ksatria yang hadir itu kebanyakan tentu pernah membunuh orang. Maklum, membunuh orang bagi orang persilatan boleh dikatakan terlalu jinak. Andaikan tidak pernah membunuh orang dengan tenaga sendiri, paling sedikit juga sudah biasa menyaksikan pembunuhan.</p>
<p>Tapi pertarungan sengit seperti sekarang sungguh tidak pernah dilihat mereka selama hidup. Lawan mereka hanya satu orang, tapi Kiau Hong justru bertempur seperti binatang buas dan hantu iblis yang mendadak berada disana, sekejap kemudian tahu-tahu sudah berada di sini, banyak jago terkemuka yang maju melabraknya berbalik terbunuh oleh cara Kiau Hong yang lebih cepat, lebih ganas dan lebih tangkas.</p>
<p>Sebenarnya para ksatria yang hadir itu bukanlah manusia pengecut, tapi di bawah terjangan Kiau Hong yang kalap bagai banteng ketaton itu, segera banyak di antaranya timbul rasa takut dan ingin melarikan diri, mereka berharap bisa lekas tinggalkan gelanggang pertempuran, apakah Kiau Hong berdosa atau tidak, mereka tidak mau ikut campur lagi.</p>
<p>Dalam pada itu Yu-si-siang-hong, kedua jago bersaudara she Yu, berbareng menerjang dari kanan dan kiri, tangan kiri mereka sama memegang tameng bundar, hanya tangan kanan yang berbeda persenjataannya, Yu Ek memakai tombak pendek, sebaliknya Yu Ki menggunakan golok.</p>
<p>Walaupun Kiau Hong melabrak para pengeroyok itu dengan kalap dan tak kenal ampun, tapi terhadap setiap gerak serangan lawan selalu diperhatikan dengan baik, pikirannya tetap dalam keadaan jernih, maka sejauh ini ia tidak terluka sedikit pun.</p>
<p>Ketika dilihatnya kedua saudara she Yu itu menerjang maju dengan senjata aneh, cepat ia mainkan goloknya ke kanan kiri, lebih dulu ia robohkan dua lawan di sampingnya, habis itu ia mendahului memapak ke arah Yu Ek dan menyerang.</p>
<p>Tapi bacokannya ditangkis oleh tameng Yu Ek, &#8220;trang&#8221;, golok Kiau Hong malah mendal keatas. Waktu diperiksa, ternyata mata goloknya melingkar dan tak bisa dipakai lagi.</p>
<p>Ternyata tameng kedua jago bersaudara itu adalah buatan dari baja murni, biarpun dibacok dengan pedang atau golok mestika juga tak mempan, apalagi golok yang dipakai Kiau Hong itu hanya golok biasa yang dirampasnya dari Tan Tiong-san.</p>
<p>Begitulah sekali perisainya menangkis, secepat kilat tombak pendek di tangan Yu Ek yang lain lantas menusuk dengan tipu &#8220;tok-coa-cut-tong&#8221; (ular berbisa keluar dari gua), tombak itu menyambar dari bawah perisai dan mengarah perut Kiau Hong.</p>
<p>Pada saat itu juga Kiau Hong melihat berkelebatnya senjata, perisai Yu Ki mendadak memotong pinggangnya. Mata Kiau Hong cukup awas, sekilas pandang ia sudah tahu pinggir tameng itu sangat tajam, bila kena pinggang bukan mustahil akan terpotong putus menjadi dua, sungguh lihainya tidak kepalang.</p>
<p>&#8220;Bagus !&#8221; bentak Kiau Hong sambil buang goloknya, menyusul tinju kiri terus menghantam sekuatnya, maka terdengarlah suara &#8220;blang&#8221; yang keras, bagian tengah tameng Yu Ki tepat kena digenjot, menyusul kepalan tanagan kanan Kiau Hong menghantam lagi, &#8220;blang&#8221;, tameng Yu Ek juga kena digempurnya dengan tepat.</p>
<p>Kontan Yu-si-siang-hiong merasa separuh tubuh mereka seakan-akan kaku dan lumpuh, pukulan-pukulan Kiau Hong yang maha dahsyat itu meski tidak langsung mengenai mereka, tapi sudah cukup membuat mata mereka berkunang-kunang dan kepala pusing tujuh keliling seketika tangan mereka menjadi lemas. Tameng, tombak dan golok tidak kuat dipegang lagi, terdengar suara gemerentang nyaring, senjata mereka semua jatuh ke lantai.</p>
<p>&#8220;Bagus, boleh berikan padaku saja senjata kalian itu !&#8221; seru Kiau Hong dengan tertawa. Cepat ia jemput perisai kedua saudara Yu itu, segera ia putar dengan kencang.</p>
<p>Kedua perisai baja yang bundar itu sungguh merupakan senjata serba guna yang ampuh, kemana senjata itu menyambar, disitu lantas terdengar jeritan ngeri. Hanya sekejap saja sudah empat orang menjadi korban perisai baja itu.</p>
<p>Wajah Yu-si-siang-hiong tampak pucat dan semangat lesu. Kata Yu Ek, &#8220;Jite, bukankah Suhu pernah mengatakankepada kita, perisai ada orang ada, perisai hilang orangnya gugur ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar twako,&#8221; sahut Yu Ki dengan muram. &#8220;Hari ini kita telah kecundang sedemikian rupa, masakah kita masih ada muka untuk hidup lebih lama di dunia ini ?&#8221;</p>
<p>Segera mereka menjemput kembali senjata masing-masing, yaitu tombak dan golok, berbareng mereka tikam perut sendiri dengan senjata itu, maka binasalah mereka seketika.</p>
<p>Keruan banyak ksatria menjerit kaget. Tapi mereka sedang dicecar oleh Kiau Hong dengan hebat, maka tiada seorang pun sempat mencegah perbuatan nekat kedua saudara Yu itu.</p>
<p>Kiau Hong melengak juga. Sungguh tak terpikir olehnya bahwa sebagai tuan rumah kedua saudara Yu itu bisa ambil pikiran pendek begitu? Karena kejutnya itu pengaruh arak tadi menjadi hilang sebagian besar, hati pun agak menyesal.</p>
<p>&#8220;Yu-si-siang-hiong, guna apa ambil keputusan demikian ?&#8221; seru Kiau Hong dengan terharu, &#8220;Tentang kedua perisai ini, biarlah kukembalikan saja !&#8221;</p>
<p>Sambil berkata, dengan khidmat dan hormat ia taruh kedua perisai itu disamping jenazah Yu-si-siang-hiong. Tapi belum lagi ia tegak kembali dari berjongkok, tiba-tiba didengarnya jerita kuatir seorang gadis, &#8220;Awas !&#8221;</p>
<p>Kiau Hong cukup cerdas dan tangkas, sedikit menggeser ke samping, maka menyambar lewatlah sebilah pedang tajam. Jeritan itu ternyata berasal dari A Cu. Dan penyerang gelap itu adalah Tam-kong.  Sekali membokong tidak kena, segera jago tua itu menyingkir jauh.</p>
<p>Tam-poh menjadi gusar, serunya, &#8220;Bagus, kamu budak setan ini, kami tidak membunuhmu, tapi kamu malah bersuara membantu dia !&#8221;</p>
<p>Mendadak ia melompat ke sana, sekali gaplok, segera kepala A Cu hendak dipecahkannya.</p>
<p>Waktu Kiau Hong menempur para ksatria itu, sejak tadi A Cu meringkuk di sudut ruangan, tenaga murninya perlahan mulai lenyap, badan menjadi lemas. Ia melihat Kiau Hong dikeroyok orang banyak, walaupun tahu bakal banyak menghadapi bahaya toh bekas Pangcu itu bersedia mengantar dirinya untuk mencari tabib sakti, budi kebaikan ini biar tubuhnya hancur lebur juga susah dibalas.</p>
<p>Sebab itulah A Cu merasa sangat berterima kasih dan kuatir pula. Maka ketika mendadak Kiau Hong disergap Tam-kong tadi, segera ia bersuara memperingatkan.</p>
<p>Untung sebelum Tam-poh mencapai sasarannya, secepat kilat Kiau Hong menyusul tiba, dari belakang ia jambret punggung nenek itu dan ditarik sekuat tenaga serta dilemparkan ke samping. &#8220;Brak&#8221;, sebuah kursi tertabrak hancur oleh badan. Tam-poh yang gede mirip kuda teji itu.</p>
<p>Meski tidak kena serangan nenek itu, namun A Cu ketakutan hingga muka pucat dan badan lemas terkulai. Kiau Hong terkejut, pikirnya, &#8220;Hawa murninya sudah mulai kering, namun dalam keadaan begini mana dapat kutolong dia ?&#8221;</p>
<p>Sementara itu terdengar Sih-sin-ih berkata dengan nada dingin, &#8220;Tenaga nona itu sekejap lagi akan habis, akan kau tolong jiwnya tidak dengan tenaga dalammu? Jika napasnya putus, terpaksa aku tak dapat menolongnya lagi.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong menjadi serba susah. Ia tahu perkataan Sih-sin-ih itu bukan omong kosong belaka tapi sekali awak sendiri menolong A Cu, segera dirinya akan dihujani pukulan dan senjata oleh lawan yang sudah merumbung di sekitarnya itu.</p>
<p>Sudah banyak jatuh korban di pihak kdatria itu, mana mau mereka menyudahi pertempuran ini? Lalu, apakah mesti menyaksikan A Cu mati begitu saja? Padahal dengan menyerempet bahaya ini ia membawa A Cu ke Cip-hian-ceng ini tujuannya adalah minta pengobatan pada Sih-sin-ih. Sesudah tiba di tempat dan berhadapan dengan tabib sakti, lalu membiarkan nona itu mati kehabisan tanaga, bukankah sangat sayang?</p>
<p>Tapi kalau sekarang ia salurkan hawa murni padanya, itu berarti ia mengantikan jiwa nona itu dengan jiwa sendiri. Padahal A Cu hanya seorang budak cilik yang baru dikenalnya di tengah jalan, pada hakikatnya tiada sesuatu hubungan bai apa-apa, soal menolong sesamanya adalah perbuatan biasa bagi seorang pendekar dan ksatria tapi kalau mesti menggunakan jiwa sendiri yang berharga untuk menggantikan nyawa nona cilik itu, betapapun juga tidak masuk diakal. Aku sudah berusaha sedapatnya membawanya ke tempat si tabib sakti, kewajibanku boleh dikatakan sudah jauh lebih dari cukup. Biarlah sekarang juga kutinggal pergi saja dan terserah Sih-sin-ih mau menolong jiwanya atau tidak.</p>
<p>Setelah ambil keputusan itu, segera Kiau Hong jemput kembali kedua perisai tadi, dengan gerakan &#8220;Tai-peng-tian-ih&#8221; atau garuda raksasa pentang sayap, mendadak ia putar perisai itu dengan kencang hingga berwujud dua bola, berbareng ia terus terjang keluar.</p>
<p>Karena orang di dalam ruangan itu terlalu sesak, pula gerakan Kiau Hong teramat lihai, seketika tiada seorangpun yang berani merintanginya.</p>
<p>Setiba di ambang pintu, baru Kiau Hong hendak angkat kaki seribu, sekonyong-konyong terdengar suara seorang yang parau, &#8220;Bunuh dulu budak itu, baru kita balas sakit hati pula !&#8221;</p>
<p>Pembicara ini ternyata Tiat-bin-poan-koan Tan Cing adanya.</p>
<p>Putranya yang tertua, Tan Pek-san segera mengiakan dan ayun goloknya membacok kepala A Cu.</p>
<p>Keruan Kiau Hong terkejut dan kuatir tidak jadi melangkah pergi, tanpa pikir, ia sambitkan sebelah perisainya. Bagaikan &#8220;piring terbang&#8221; perisai itu menyambar secepat kilat ke depan.</p>
<p>&#8220;Awas !&#8221; dengan kuatir beberapa orang memperingatkan. Dengan cepat Tan Pek-san juga angkat goloknya hendak menyampuk.</p>
<p>Namun betapa hebat tenaga Kiau Hong tepi perisai itu sangat tajam pula, &#8220;krak&#8230;cret&#8221;, tahu-tahu golok tertabas patah, bahkan Tan Pek-san sendiri terpotong putus sebatas pinggang. Malahan perisai itu masih terus menyambar ke depan hingga menancap di pilar.</p>
<p>Kematian Tan Pek-san itu benar-benar sangat mengenaskan, hal ini membuat semua orang ikut murka, bukan saja Tan Cing dan putranya, Tan Ki-san, menubruk berbareng ke arah A Cu, bahkan beberapa ksatria lain juga menghujani A Cu dengan senjata.</p>
<p>&#8220;Manusia pengecut !&#8221; maki Kiau Hong. Cepat ia bertindak, dari jauh ia memukul empat kali berturut-turut hingga semua orang itu dipaksa menyingkir, menyusul ia lari maju, ia angkat A Cu dan dikempit dengan tangan kiri, ia gunakan perisai yang masih ada untuk melindungi badan si gadis.</p>
<p>&#8220;Kiau-toaya, aku percuma, jangan kau pikirkan aku lagi, lekas engkau menyelamatkan diri saja !&#8221; seru A Cu dengan suara lemah.</p>
<p>Namun pertarungan sengit itu sudah mengobarkan semangat jantan Kiau Hong yang angkuh dan tinggi hati, serunya, &#8220;Urusan sudah terlanjur begini, sudah terang mereka takkan mengampuni jiwamu, biarlah kita mati bersama saja !&#8221;</p>
<p>Dan sekali tangan kanan bergerak, kembali ia berhasil merebut sebatang pedang, dengan senjata rampasan itu ia terus menerjang keluar.</p>
<p>Karena tangan kiri mengempit A Cu, gerak-geriknya menjadi kurang leluasa, perisai pun kurang rapat untuk melindungi badan si gadis. Namun Kiau Hong sudah tidak pikirkan mati hidup sendiri, ia putar pedang sedemikian kencangnya.</p>
<p>Tapi baru saja dia hendak menerobos keluar, sekonyong-konyong punggung terasa sakit, nyata telah kena dibacok sekali oleh orang.</p>
<p>Tanpa pikir lagi ia mendepak ke belakang, kontan penyerang itu kena ditendang dan binasa seketika. Dan pada saat hampir bersamaan itu pundak Kiau Hong kena hantam sekali pula oleh Hian-lan, menyusul dada kanan juga kena ditusuk pedang musuh.</p>
<p>Mendadak Kiau hong mengerang sekali, begitu keras suaranya hingga seperti bunyi halilintar, bentaknya, &#8220;Kiau Hong akan bereskan diri sendiri dan tidak mau mati di tangan kaum keroco dan bangsa pengecut !&#8221;</p>
<p>Namun para pengeroyok itu sudah kadung nekat, mereka tidak mau memberi kesempatan kepada Kiau Hong untuk membunuh diri lagi. Segera belasan orang menubruk maju.</p>
<p>Tapi dengan tangkasnya mendadak Kiau Hong mencengkram, kontan &#8220;tan-tiong-hiat&#8221; di dada Hian-cit kena dipegang olehnya terus diangkat tinggi ke atas. Dalam kagetnya semua orang sama menjerit dan beramai melompat mundur.</p>
<p>Karena &#8220;tan-tiong-hiat&#8221; terpegang, betapapun lihai Hian-cit juga tak berguna, sama sekali ia tak bisa berkutik, tampaknya pinggir perisai yang tajam itu tinggal belasan senti saja di depan tenggorokannya, asal sedikit Kiau Hong sodok senjata itu, seketika kepala Hian-cit bisa kuntung. Tak tertahankan lagi padri itu menghela napas panjang, ia pejamkan mata menunggu ajal.</p>
<p>Tapi Kiau Hong sendiri merasa luka di punggung, dada dan pundak sakitnya tidak kepalang, maka berkatalah dia, &#8220;Ilmu silatku ini asalnya juga dari Siau-lim-pai, minum air harus ingat pada sumbernya, mana boleh kubunuh padri saleh Siau-lim-pai? Hari ini aku sudah pasti akan mati, kalau membunuh seorang lagi apa manfaatnya ?&#8221;</p>
<p>Habis berkata, cekalannya menjadi kendur, ia lepaskan Hian-cit ke lantai dan berkata, &#8220;Silahkan kalian turun tangan !&#8221;</p>
<p>Di tantang begitu, semua orang menjadi tertegun dan saling pandang malah, mereka terpengaruh oleh perbawa Kiau Hong yang gagah berani itu, sebaliknya Tan Cing sudah terlalu sakit hati karena kedua putranya dibunuh oleh Kiau Hong, dengan kalap terus ia menerjang maju, golok lantas membacok dada Kiau Hong.</p>
<p>Kiau Hong tahu betapapun ia menerjang toh takkan mampu membobol kepungan orang banyak. Maka ia hanya berdiri tegak tanpa menangkis. Sesaat itu terkilas macam-macam pikiran dalam benaknya, &#8220;Sebenarnya aku orang Cidan atau bangsa Han? Siapakah gerangan yang membunuh ayah bunda dan guruku itu? Selama hidupku selalu berbuat bajik dan membela keadilan, mengapa hari ini tanpa sebab aku menewaskan pendekar sebanyak ini? Dengan nekat aku menolong jiwa A Cu hingga aku sendiri malah binasa ditangan para ksatria ini bukankah aku ini terlalu bodoh san akan ditertawai orang ?&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu ia lihat wajah Tan Cing yang merah padam saking murka itu tampak berkerut-kerut, mata mendelik, goloknya sudah menyambar ke arah dadanya.</p>
<p>Tampaknya dalam sekejap lagi Kiau Hong pasti akan menggeletak tanpa bernyawa oleh serangan Tan Cing itu.</p>
<p>Go-tianglo, Cit-hoat-tianglo dan lain-lain sama pejamkan mata karena tidak tega menyaksikan kejadian tragis itu.</p>
<p>Sekonyong-konyong dari udara melayang turun seorang dengan cepat luar biasa dan tepat membentur golok Tan Cing. Karena tidak tahan oleh tenaga tumbukan itu, golok Tan Cing terpental ke samping.</p>
<p>Di tengah jerit kaget semua orang, mendadak dari udara melayang turun seorang lain. Sekali ini orang itu terjungkir, kepala di bawah dan kaki di atas, jadi lebih tepat di katakan terjun, &#8220;prak&#8221;, kepala orang itu tepat menumbuk kepala Tan Cing, keruan kepala kedua orang sama-sama hancur luluh seketika.</p>
<p>Dan baru saja sekarang semua orang dapat melihat jelas kedua orang yang melayang turun dari udara itu adalah penjaga di atas rumah, terang mereka dipegang orang dan dilemparkan ke bawah sebagai senjata rahasia.</p>
<p>Selagi keadaan kacau-balau, mendadak dari ujung wuwungan sana membuai turun seutas tambang yang panjang, dengan keras sekali tambang itu menyambar kepala orang banyak. Cepat para ksatria angkat senjata hendak menangkis, tapi ujung tambang itu tahu-tahu berganti arah terus melilit pinggang Kiau Hong, pada lain saat mendadak tambang itu sudah terangkat keatas.</p>
<p>Waktu itu darah sudah bercucuran dari luka Kiau hong, tangan kirinya yang mengempit A Cu itu sudah tak bertenaga, maka ketika ia dikerek keatas oleh tambang itu, A Cu lantas jatuh ke tanah.</p>
<p>Kemudian dapatlah semua orang melihat orang yang memegangi ujung tambang sebelah sana adalah seorang laki-laki berbaju hitam mulus, perawakannya tegap, tapi mukanya berkedok kain hitam, hanya kedua matanya yang kelihatan.</p>
<p>Setelah mengerek Kiau Hong ke atas, segera laki-laki itu mengempitnya dengan tangan kiri, menyusul tambang panjang itu diayunkan hingga tergubat pada tiang bendera di depan Cip-hian-ceng.</p>
<p>Pada saat para Ksatria berteriak dan membentak disertai hujan berbagai macam senjata rahasia ke arah Kiau Hong dan laki-laki baju hitam itu tarik kencang tambangnya, sekali melayang ke depan, tahu-tahu badannya terangkat ke atas dan hinggap di balkon di pucuk tiang bendera itu. Maka terdengarlah suara plak-plok yang riuh, berpuluh macam senjata rahasia itu sama menancap di balkon tiang bendera.</p>
<p>Sementara itu tambang lelaki baju hitam itu diayun ke depan lagi hingga ujungnya tepat mengubat pucuk pohon besar yang berada puluhan meter jauhnya, lalu orang itu mengempit Kiau Hong dan membuai keatas pohon di sebelah sana lagi dan begitu seterusnya, hanya sekejap saja laki-laki baju hitam itu sudah menghilang, yang terdengar kemudian hanya suara derap lari kuda yang berdetak-detak dan semakin jauh. Tertinggal para ksatria hanya saling pandang dengan bingung.</p>
<p>Meski Kiau Hong terluka parah, tapi pikiran jernihnya masih belum lenyap. Cara bagaimana lelaki baju hitam itu menolongnya, semuanya dapat diikuti dengan jelas. Sudah tahu ia sangat berterima kasih. Pikirnya, &#8220;Cara main tambang demikian aku pun bisa, tapi kepandaiannya sekaligus menyerang berpuluh lawan dengan tambang, lalu ganti arah untuk menolong diriku, inilah yang aku tidak mampu menirunya.&#8221;</p>
<p>Setelah menyelamatkan Kiau Hong, orang baju hitam itu lantas angkat Kiau Hong ke atas kuda, dua orang setunggangan mereka menuju ke utara. Di atas kuda juga orang itu mengeluarkan obat untuk dibubuhkan pada luka Kiau Hong.</p>
<p>Saking banyak mengeluarkan darah, beberapa kali Kiau Hong hampir pingsan, syukur setiap kali ia sempat mengerahkan tenaga dalam hingga kejernihan pikirannya masih dapat dipertahankan.</p>
<p>Laki-laki itu larikan kudanya melalui jalan yang berliku-liku, sampai akhirnya, kuda itu melulu naik turun di antara batu padas belaka. Lebih satu jam kemudian, kuda itu tidak meneruskan perjalanan lagi.</p>
<p>Laki-laki itu lantas menurunkan Kiau Hong dan memondongnya ke atas puncak, makin jauh makin tinggi. Badan Kiau Hong sebenarnya sangat berat, tapi orang itu sama sekali tidak merasakan apa-apa, bahkan dapat lari secepat terbang  di tebing karang yang terjal itu.</p>
<p>Suatu ketika, jalan di depan terhalang oleh selat jurang yang dalam, orang itu lantas menggunakan tambangnya lagi untuk menggubat pohon di seberang selat, lalu melayang ke seberang sana.</p>
<p>Diam-diam Kiau Hong terperanjat dan heran, &#8220;Cara menyebrangi jurang melintasi selat aku pun bisa jika bertangan kosong, tapi bila memondong seorang seperti dia, tak dapatlah aku.&#8221;</p>
<p>Setelah melalui tebing karang dan banyak selat jurang yang berbahaya, kemudian jalanan lantas menurun ke bawah, lalu masuk ke suatu lembah jurang yang dalam sekali hingga langit hampir tak kelihatan. Akhirnya berhentilah orang itu, dan taruh Kiau Hong di tanah.</p>
<p>Sesudah berdiri tegak, segera Kiau Hong berkata, &#8220;Sungguh terima kasih atas pertolongan In-heng (saudara berbudi) ini, dapatkah Kiau Hong mohon melihat wajah asli In-heng ?&#8221;</p>
<p>Sinar mata orang berbaju hitam itu berkilat-kilat membayang kian kemari di muka Kiau Hong, sejenak kemudian barulah dia membuka suara, &#8220;Di dalam goa situ terdapat rangsum yang cukup untuk setengah bulan, boleh kau rawat lukamu di sini, musuh pasti tidak dapat menyusul kemari.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong mengiakan sekali, ia pikir, &#8220;Dari suaranya ini, agaknya dia bukan orang muda lagi.&#8221;</p>
<p>Orang itu juga sedang mengamat-amati Kiau Hong, pada saat lain mendadak tangan kanannya bergerak, &#8220;plak&#8221;, tahu-tahu Kiau Hong digamparnya sekali.</p>
<p>Keruan Kiau Hong kaget. Tempelengan itu dilakukan dengan cepat luar biasa, pula Kiau Hong sama sekali tidak menduga orang akan menghajarnya, ketiga, cara memukul itu pun sangat pintar, maka Kiau Hong tidak sempat menghindar.</p>
<p>Tapi ketika orang itu hendak menempelengnya untuk kedua kalinya, walau pun pukulan susulan ini cepat luar biasa, tapi Kiau Hong sudah sempat berjaga-jaga, tidak nanti ia kena digampar lagi. Cuma mengingat orang adalah tuan penolong kiwanya, ia tidak ingin mengadu telapak tangan dengan orang itu.</p>
<p>Tempat yang diarah jari Kiau Hong adalah &#8220;lau-kiong-hiat&#8221; di tengah telapak tangan laki-laki itu. Jika pukulannya diteruskan, itu berarti telapak tangannya sengaja diberikan kepada jari Kiau Hong.</p>
<p>Ilmu silat orang itu sangat tinggi, dengan sendirinya gerak geriknya juga sangat cekatan. Sebelum telapak tangan tertutuk, mendadak tangannya membalik, yang dibuat menggampar berubah menjadi punggung tangan orang itu.</p>
<p>Tapi Kiau Hong juga cepat sekali menggeser jarinya, ia incar arah datangnya punggung tangan lawan, jarinya tepat memapak &#8220;ji-kan-hiat&#8221; di punggung tangan orang itu.</p>
<p>Terdengarlah laki-laki itu tertawa panjang, ia tarik kembali tangannya yang sudah mendekati sasrannya itu, sebaliknya tangan kiri terus menabas. Tapi Kiau Hong mendadak juga julurkan jari tangan kiri, ujung jari tepat mengincar &#8220;au-ka-hiat&#8221; di tepi telapak tangan orang&#8230;</p>
<p>Begitulah dalam sekejap saja kedua tangan laki-laki berbaju hitam itu naik turun bagaikan orang menari dan sekaligus sudah belasan serangan dilancarkan, namun Kiau Hong juga tidak kalah tangkasnya, ia melulu bertahan saja tanpa balas menyerang. Selalu ia pasang jarinya untuk melancarkan hiat-to di telapak tangan orang yang hendak menyerangnya itu.</p>
<p>Kalau pertama kali tadi laki-laki itu dapat menghajar Kiau Hong adalah disebabkan bekas Pangcu itu tidak menduga sama sekali, tapi serangan selanjutnya tidak mungkin dapat mengenainya lagi. Maka serangan dan tangkisan itu berlangsung dengan cepat, ilmu silat yang mereka gunakan sama-sama kelas wahid yang jarang ada di dunia.</p>
<p>Setelah genap menyerang dua puluh kali, mesti Kiau Hong dalam keadaan terluka, namun gerak-gerik dan jitunya menangkis sedikitpun tidak menjadi kendur dan meleset. Mendadak laki-laki baju hitam itu menarik kembali tangannya dan melompat mundur. Katanya, &#8220;Kamu benar-benar seorang tolol, seharusnya aku tidak perlu menolongmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dengan hormat aku bersedia menerima nasihat Inkong (tuan penolong),&#8221; kata Kiau Hong dengan rendah hati.</p>
<p>&#8220;Kamu ini sungguh keledai tolol,&#8221; omel laki-laki baju hitam itu. &#8220;Kau sendiri meyakinkan ilmu silat yang tiada bandingannya di dunia ini, tapi mengapa rela mengorbankan jiwa secara sia-sia bagi seorang anak dara yang kurus kecil begitu? Dia bukan sanak kandangmu, tiada budi tiada kasih, cantik tidak, manis tidak, masakah di dunia ini ada seorang tolol seperti dirimu dan bersedia berkorban jiwa baginya ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Petuah Inkong memang benar,&#8221; sahut Kiau Hong dengan menghela napas. &#8220;Perbuatanku yang tidak mendatangkan manfaat ini memang tidak tepat. Soalnya karena terdorong oleh nafsu yang murka, lalu bertindak tanpa pikirkan akibatnya.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba laki-laki baju hitam menengadah sambil terbahak-bahak. Suara ketawanya terasa agak memilukan, Kiau Hong menjadi bingung. Mendadak orang itu melompat pergi hingga jauh, sekali melesat lagi, segera orangnya menghilang di balik batu karang sana.</p>
<p>&#8220;Inkong !  Inkong !&#8221; seru Kiau Hong.</p>
<p>Namun orang itu tidak menyahut juga tidak balik lagi. Maksud Kiau Hong hendak mengejarnya, tapi baru bertindak selangkah, segera ia terhuyung-huyung akan roboh. Cepat ia pegang dinding karang di sampingnya dan tenangkan diri.</p>
<p>Waktu ia menoleh, ia lihat di balik dinding karang itu ada sebuah gua, ia merembet dinding dan masuk gua itu dengan perlahan. Ia lihat dalam gua sudah banyak tersedia rangsum kering sebangsa ikan asin, dendeng, kacang, beras goreng dan sebagainya. Yang paling menarik adalah tersedia pula seguci arak.</p>
<p>Segera Kiau Hong membuka tutup guci arak itu, seketika bau arak yang semerbak menusuk hidung. Terus saja ia gunakan tangannya untuk meraup arak dan diminum, ternyata arak itu adalah arak pilihan yang sangat sedap. Sungguh terima kasihnya tak terhingga. Pikirnya, &#8220;Inkong itu benar-benar seorang yang pintar, ia tahu aku gemar minum arak, maka sengaja menyediakan minuman enak ini untukku.&#8221;</p>
<p>Obat luka yang dibubuhkan laki-laki baju hitam itu ternyata sangat mujarab, hanya beberapa jam saja darah sudah mampet. Ditambah Lwekang Kiau Hong sangat tinggi, walau pun lukanya cukup parah, namun sembuhnya ternyata sangat cepat. Baru 6-7 hari ia tinggal di dalam gua itu dan luka pun hampir sembuh seluruhnya. Selama beberapa hari itu yang selalu terpikir olehnya hanya dua soal, &#8220;Siapakah musuh yang memfitnah diriku itu? Dan siapakah Inkong yang menolong aku itu ?&#8221;</p>
<p>Ilmu silat kedua orang itu, baik musuh yang tak dikenal maupun Inkong, tuan penolongnya semuanya sangat tinggi dan agaknya tidak di bawah Kiau Hong sendiri. Padahal tokoh Bu-lim yang memiliki kepandaian setinggi itu sedikit sekali, boleh dikatakan dapat dihitung dengan jari. Tapi meski Kiau Hong coba berpikir dan mengingat-ingat toh tiada seorang tokoh Bu-lim yang menyerupai kedua orang itu.</p>
<p>Bahwa musuh itu susah diterka, itu memang masuk diakal. Tapi tuan penolong yang telah bergebrak 20 jurus dengan dirinya itu seharusnya dapat diduga gaya permainan silatnya itu dari aliran mana dan golongan apa, namun sedikitpun ia tetap tidak dapat menerkanya, sebab setiap jurus serangan yang dilontarkan tuan penolong tadi semuanya silat biasa saja, yaitu terdiri dari ilmu pukulan yang sangat umum, mirip seperti dirinya waktu melawan Hian-lan Taisu dengan ilmu pukulan &#8220;Thai-co-tiang-kun&#8221;, sedikitpun Inkong itu tidak memakai ilmu silat golongan sendiri hingga asal-usulnya susah diketahui.</p>
<p>Sebagai seorang ksatria, meski kedua soal penting itu tak bisa dipecahkan, namun segera di kesampingkannya dan tak dipikir lagi.</p>
<p>Seguci arak itu tidak cukup dua hari sudah habis diminum olehnya. Sedang lukanya setengah bulan kemudian juga hampir sembuh seluruhnya. Selama belasan hari tidak minum arak, ia menjadi ketagihan. Ia tidak tahan lagi. Ia menduga untuk melompati selat lebar dan jurang dalam sudah cukup kuat, maka ia lantas meninggalkan gua tempat istirahat itu dan berkecimpung di dunia kangouw lagi.</p>
<p>Pikirknya di tengah jalan, &#8220;Sesuah A Cu jatuh di bawah cengkraman mereka, kalau dibunuh tentu sudah mati, sebaliknya kalau masih hidup tentu tidak perlu aku mengurusnya lagi. Urusan paling penting sekarang adalah harus kuselidiki hingga jelas siapakah sebenarnya diriku ini? Tapi ayah ibu dan Suhu dalam waktu sehari saja telah dibunuh musuh, rahasia tentang asal-usulku ini menjadi lebih susah dipecahkan. Jalan satu-satunya sekarang harus kupergi keluar perbatasan Gan-bun-koan untuk membaca tulisan yang terukir di dinding batu sana.&#8221;</p>
<p>Setelah ambil keputusan demikian, segera ia menuju ke arah barat laut. Setiba di kota, terus saja ia minum arak sepuasnya. Tapi sekali minum sangu yang dibawanya telah dihabiskan.</p>
<p>Waktu itu ia berada di kota Liong-koan. Malamnya ia lantas menggerayangi kantor residen, ia ambil beberapa puluh tail perak dari kas negara. Dengan begitu ia dapat makan minum besar lagi sepanjang jalan dengan biaya negara.</p>
<p>Beberapa hari kemudian sampailah dia di Taiciu, Gan-bun-koan itu terletak antara 30 li di utara Taiciu. Dahulu waktu Kiau Hong mengembara juga pernah datang ke kota ini. Cuma tatkala itu dia ada urusan penting, maka hanya sepintas lalu saja kota itu dikenalnya.</p>
<p>Menjelang lohor ia sampai di Taiciu, maka lebih dulu ia makan minum sekenyangnya, lalu keluar kota dan menuju ke utara.</p>
<p>Dengan kecepatan larinya, jarak 30 li itu tiada setengah jam sudah dicapainya. Sesudah mendaki lereng bukit, ia lihat di kanan kiri jalan dinding karang berdiri tegak menyempit, jalan di tengah selat bukit itu berliku-liku. Memang benar tempat yang berbahaya dalam ilmu militer.</p>
<p>Sebabnya tempat itu diberi nama &#8220;Gan-bun-koan&#8221; atau pintu gerbang burung belibis, ialah untuk melukiskan betapa terjalnya dinding karang di situ, bahwasanya setelah musim dingin, burung belibis yang mengungsi ke selatan waktu kembali ke utara mesti melalui selat gunung yang terjal itu, tapi saking tingginya puncak pegunungan di situ terpaksa burung belibis harus terbang lewat melalui selat di tengah apitan dinding karang, sebab itu tempat ini diberi nama Gan-bun-koan.</p>
<p>Diam-diam Kiau Hong pikir, &#8220;Hari ini aku datang dari selatan. Bila tulisan dinding karang itu menyatakan aku Kiau Hong memang benar adalah keturunan Cidan, maka sekeluar dari Gan-bun-koan ini, selamanya aku akan menjadi orang utara Gan-bun-koan dan takkan pernah kembali ke selatan lagi. Dibandingkan burung belibis yang tiap tahun sekali mesti pulang pergi ke utara dan selatan, terang burung itu jauh lebih bebas dan merdeka daripada diriku.&#8221;</p>
<p>Berpikir demikian, mau-tak-mau ia jadi berduka dan pedih.</p>
<p>Gan-bun-koan itu terhitung salah satu benteng penting dalam pertahanan negara Song pada waktu itu, di antara lebih 40 koan (benteng atau pos penjagaan Ban-ti-tiang-sia atau Tembok Besar) di wilayah Soasai, Gan-bun-koan itu termasuk yang paling kuat dan megah. Beberapa puluh li di luar benteng pertahanan itu adalah batas negeri kerajaan Liau. Karena itulah di Gan-bun-koan ada pasukan penjaga yang kuat.</p>
<p>Kalau meneruskan perjalanan melalui pintu benteng penjagaan, tentu Kiau Hong akan ditanya penjaga di situ. Maka ia sengaja berputar ke arah barat, ia ambil jalan lereng bukit dan sampai di Coat-nia (bukit buntu).</p>
<p>Ia pandang sekeliling bukit itu. Ia lihat jauh  di timur sana Ngo-tai-san menjulang tinggi mencakar langit, arah lain juga penuh lereng bukit yang menghijau kebiruan tak berujung, suasana sunyi senyap.</p>
<p>Kiau Hong teringat pada masa dahulu pernah mendengar cerita tentang sejarah Gan-bun-koan yang merupakan benteng pertahanan dalam melawan serbuan bangsa Tartar, bangsa Hun dan lain-lain yang seringkali mengganggu wilayah Tiongkok. Apabila sekarang ternyata benar dirinya adalah keturunan bangsa asing Cidan, maka boleh dikatakan dirinya adalah keturunan bangsa yang suka menyerbu ke wilayah Tiongkok selama beratus tahun ini.</p>
<p>Ia memandang jauh ke utara dan berpikir, &#8220;Tatkala Ong-pangcu, Tio-ci-sun dan lain-lain menyergap musuh bangsa Cidan di luar Gan-bun-koan dulu, tentu mereka pilih suatu tempat yang paling baik di lereng bukit. Melihat keadaan sekitar tempat ini, rasanya tempat yang paling tepat adalah lereng sebelah barat laut ini. Ya, besar kemungkinan di situlah mereka menyergap musuh.&#8221;</p>
<p>Segera ia berlari ke bawah bukit dan sampai di sana. Tiba-tiba hatinya merasakan semacam tekanan batin yang memilukan. Ia lihat di situ terdapat sepotong batu karang raksasa. Menurut cerita Ti-kong Taisu, katanya dahulu para ksatria Tionggoan sana bersembunyi di balik sebuah batu karang, lalu menghamburkan senjata gelap berbisa ke arah musuh. Melihat gelagatnya, sekarang mungkin batu karang raksasa inilah yang dimaksudkan.</p>
<p>Kira-kira beberapa meter disisi jalan sana ada jurang yang sangat dalam, dipermukaan jurang tertutup kabut tebal hingga betapa dalamnya jurang itu sukar dijajaki.</p>
<p>Diam-diam Kiau Hong berpikir, &#8220;Bila cerita Ti-kong Taisu itu memang benar, maka sesudah ibuku dibunuh mereka, lalu ayahku membunuh diri dengan terjun ke jurang ini. Tapi begitu terjun ke bawah, beliau tidak tega aku ikut menjadi korban, maka aku telah dilemparkan ke atas dan tepat jatuh di atas tubuh Ong-pangcu. Dan&#8230;&#8230;tulisan apakah yang ditulisnya di dinding batu yang dimaksudkan itu ?&#8221;</p>
<p>Ketika ia berpaling dan memandang dinding karang yang berada di sisi kanan, ia lihat dinding gunung di situ halus licin dan cukup lebar, tapi tepat di bagian tengah dinding itu tampak penuh bekas bacokan kapak. Terang ada seorang yang sengaja menghilangkan tulisan yang katanya terukir di dinding itu.</p>
<p>Kiau Hong berdiri termangu-mangu di depan dinding batu itu dengan perasaan bergolak, sungguh ia ingin putar senjata dan mengangkat kepalan untuk menghantam dan membunuh sepuas-puasnya. Tapi mendadak teringat sesuatu olehnya, &#8220;Waktu aku keluar dari Kay-pang, pernah aku bersumpah dengan mematahkan golok Tan-cing, aku menyatakan selama hidup ini takkan membunuh seorang pun bangsa Han, baik aku terbukti orang Cidan atau bukan. Akan tetapi, dengan pertarungan sengit di Cip-hian-ceng itu, sekaligus entah sudah berapa orang yang telah ku bunuh, dan sekarang timbul pula keinginanku hendak membunuh, bukankah perbuatanku ini telah melanggar sumpahku sendiri? Ai, urusan sudah terlanjur begini, biarpun aku tak mengganggu orang, toh orang yang akan mengusik diriku, jika aku diam-diam saja pasrah nasib untuk di bunuh orang, apakah sikap demikian cukup bijaksana sebagai seorang ksatria ?&#8221;</p>
<p>Padahal jauh-jauh ia datang keluar Gan-bun-koan ini, tujuannya adalah ingin membaca tulisan di dinding batu ini untuk menyelidiki asal-usul nya sendiri yang sebenarnya. Akan tetapi usaha nya sekarang ternyata sia-sia belaka. Perangainya makin lama semakin gopoh dan suka aseran, tiba-tiba ia berteriak-teriak, &#8220;Aku bukan orang Han, aku bukan orang Han !  Aku adalah orang Cidan !  Ya, aku orang Cidan !&#8221;</p>
<p>Dan tangannya terus menghantam susul menyusul kearah dinding batu itu.</p>
<p>Maka terdengarlah suara kumandang yang riuh gemuruh menirukan teriakan akibat hantaman Kiau Hong pada dinding batu itu. Karena tekanan batinnya yang tak terlampiaskan itu, maka pukulan Kiau Hong itu masih terus dilontarkan tanpa berhenti.</p>
<p>Kesehatannya memang sudah lama sembuh, ditambah tenaga dalamnya sangat kuat, maka setiap pukulannya semakin keras daripada pukulan yang lain, begitu hebat caranya mengamuk hingga seakan-akan segala duka derita yang dirasakannya selama ini hendak dilampiaskan atas dinding batu itu.</p>
<p>Tengah ia menggempur dinding batu itu, tiba-tiba dari belakang suara seorang wanita yang nyaring merdu berkata, &#8220;Kiau-toaya, jika engkau memukul terus, sebentar gunung ini tentu akan kau bikin gugur !&#8221;</p>
<p>Kiau Hong melengak oleh teguran itu. Waktu ia menoleh, ia lihat di balik batu sana, di bawah sebatang pohon berdiri seorang gadis jelita dengan mengulum senyum. Siapa lagi dia kalau bukan si A Cu.</p>
<p>Heran dan girang juga Kiau Hong, cepat ia mendekati dan menyapa dengan tertawa, &#8220;Hei, A Cu kamu selamat dan tidak apa-apa ?&#8221;</p>
<p>Tapi karena dia habis marah-marah, maka tertawanya itu dengan sendirinya rada dipaksakan dan kurang wajar.</p>
<p>&#8220;Kiau-toaya, engkau sendiri juga baik-baik, bukan ?&#8221; sahut A Cu. Ia pandang Kiau Hong sejenak, mendadak ia menubruk ke dalam pelukan bekas Pangcu itu sambil meratap, &#8220;O, Kiau-toaya, aku sudah&#8230;&#8230;sudah menunggu lima hari lima malam di sini, kukuatir engkau takkan datang, tapi sekarang ter&#8230;&#8230;ternyata datang juga. Dan syukurlah engkau ternyata selamat tak kurang suatu apa pun.&#8221;</p>
<p>Meski ucapan A Cu itu terputus-putus, tapi penuh rasa girang dan lega, dengan sendirinya Kiau Hong dapat merasakan betapa gadis itu memperhatikan keselamatannya, hatinya tergerak segera bertanya, &#8220;Mengapa kau tunggu aku di sini selama lima hari lima malam? Dan dari&#8230;&#8230;dari mana kau tahu aku akan datang kemari ?&#8221;</p>
<p>Perlahan A Cu mendongak, tiba-tiba ia ingat dirinya berada di dalam pelukan seorang laki-laki, wajahnya menjadi merah, cepat ia melepaskan dari dan melangkah mundur, ia merasa malu dirinya tadi telah lupa daratan dan tanpa sadar menyusup dalam pelukan orang. Mendadak ia membalik tubuh dengan kepala menunduk.</p>
<p>&#8220;He, kenapakah A Cu ?&#8221; tanya Kiau Hong bingung.</p>
<p>Namun A Cu tidak menjawab, ia merasa hati berdebar-debar. Selang sejenak, ia berpaling sedikit sambil melirik, tapi lantas membalik ke sana lagi dengan malu-malu.</p>
<p>Melihat sikap si gadis yang aneh itu, Kiau Hong lantas tanya, &#8220;A Cu, adakah sesuatu yang akan kau katakan? Jika ada, katakanlah terus terang. Kita pernah sama-sama menghadapi kesukaran dan merupakan kawan sehidup semati, apa yang kau pantangkan lagi ?&#8221;</p>
<p>Muka A Cu merah jengah lagi, sahutnya lirih, &#8220;Ti&#8230;tidak !&#8221;</p>
<p>Perlahan Kiau Hong pegang pundak gadis itu dan diputar ke arah matahari, maka jelas terlihat wajah gadis itu meski masih pucat dan agak kurus, tapi air muka yang kepucat-pucatan itu bersemu merah pula dan bukan lagi muka pucat pasi waktu terluka parah tempo hari. Segera Kiau Hong pegang tangan A Cu untuk memeriksa nadinya.</p>
<p>Ketika pergelangan tangan A Cu tersentuh jari Kiau Hong, tanpa terasa badan gadis itu tergetar bagai kena aliran listrik.</p>
<p>Kiau Hong menjadi heran, ia tanya, &#8220;Kenapa? Apa badanmu kurang enak ?&#8221;</p>
<p>Kembali wajah A Cu merah dadu, sahutnya cepat, &#8220;O, ti&#8230;tidak, tak apa-apa !&#8221;</p>
<p>Sesudah Kiau Hong periksa nadi A Cu, ia merasa denyut nadi itu tenang dan kuat, sedikitpun tiada tanda luar biasa, maka katanya, &#8220;Kepandaian Sih-sin-ih benar-benar sakti, pengobatannya selalu &#8216;ces-pleng&#8217;, sungguh tidak bernama kosong.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, beruntung sobatmu Pek Si-kia Tianglo telah mengancam tabib sakti itu dengan golok di dada, karena terpaksa, barulah ia mengobati aku.&#8221; tutur A Cu.</p>
<p>&#8220;Dan sesudah kau sembuh, ternyata mereka mau juga membebaskanmu.&#8221; ujar Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Huh, masakah mereka begitu baik ?&#8221; jengek A Cu dengan tertawa. &#8220;Justru mereka selalu merecoki aku, baru kesehatanku sedikit pulih, setiap hari paling sedikit ada belasan orang yang mengajukan macam-macam pertanyaan dan gertakan padaku. Meraka tanya Kiau-toaya pernah hubungan apa dengan aku? Ada yang tanya siapakah gerangan laki-laki berbaju hitam yang menolongmu itu? Dan ke manakah engkau digondol? Sudah tentu aku tidak tahu, maka aku menjawab dengan sejujurnya. Tapi mereka tidak percaya padaku dan mengancam takkan memberi makan, akan menyiksa padaku dan lain-lain gertakan lagi. Terpaksa aku mengarang pengakuan yang tidak betul, aku sengaja bilang laki-laki berbaju hitam itu datang dari Kun-lun-san, lain hari kukatakan dia datang dari pulau di Tanghai dan macam-macam dongengan lain yang lucu.&#8221;</p>
<p>Bercerita sampai di sini, ia jadi teringat pada para ksatria Tionggoan yang dibohongi dan dipermainkan olehnya itu, saking gelinya ia tertawa cekikikan.</p>
<p>&#8220;Dan mereka percaya tidak pada obrolanmu ?&#8221; tanya Kiau Hong ikut geli.</p>
<p>&#8220;Ada yang percaya, ada yang tidak, dan ada yang setengah percaya dan setengah tidak.&#8221; sahut A Cu. &#8220;Ku yakin di antara mereka tiada seorangpun yang kenal dengan tokoh berbaju hitam itu, maka aku sengaja mengarang cerita yang aneh dan khayal, biar mereka curiga dan ketakutan serta selalu kebat-kebit.&#8221;</p>
<p>&#8220;Padahal siapakah tuan penolong berbaju hitam itu, sampai kini aku sendiri pun tidak kenal,&#8221; ujar Kiau Hong. &#8220;Coba bila kudengar dongenganmu itu, mungkin aku pun percaya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh, jadi engkau sendiri pun tidak kenal dia? Habis, mengapa beliau sudi menyerempet bahaya untuk menolongmu ?&#8221; tanya A Cu heran. &#8220;Tapi memang begitulah perbuatan seorang pendekar sejati, seorang ksatria yang suka menolong sesamanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, entah cara bagaimana harus kubalas budi tuan penolong itu dan entah bagaimana pula harus kutuntut balas pada musuh yang belum kukenal,&#8221; kata Kiau Hong dengan penuh menyesal. &#8220;Apalagi aku pun belum tahu apakah aku bangsa Han atau Cidan, juga tidak tahu perbuatanku sendiri selama hidup ini betul atau salah? O, Kiau Hong wahai, Kiau Hong! Percumalah kau jadi manusia !&#8221;</p>
<p>Melihat Kiau Hong sangat sedih, tanpa terasa A Cu memegang tangan bekas Pangcu itu, hibur nya dengan suara lembut, &#8220;Kiau -toaya, buat apa mencari susah sendiri? Segala kejadian pada akhirnya tentu akan terang. Asal engkau merasa tidak berdosa, segala perbuatanmu dapat dipertanggung jawabkan kepada siapapun juga, maka engkau tidak perlu gentar lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar, aku justru merasa berdosa, makanya sedih,&#8221; sahut Kiau Hong. &#8220;Tempo hari aku telah bersumpah takkan membunuh seorang pun bangsa Han, tetapi sekarang&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Engkau terpaksa membela diri, kalau tidak balas menyerang, tentu engkau sendiri sudah binasa dikeroyok mereka,&#8221; ujar A Cu.</p>
<p>Sebagai seorang laki-laki yang bisa berpikir panjang, cepat juga Kiau Hong kesampingkan tekanan batinnya itu. Katanya kemudian, &#8220;Menurut Ti-kong Taysu dan orang yang mengaku bernama Tio-ci-sun itu katanya pada dinding batu ini ada tulisannya, entah mengapa sekarang telah dihapus orang ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, memang sudah kuduga engkau pasti akan memeriksa tulisan di dinding ini, makanya aku menantimu di sini sesudah lolos dari bahaya,&#8221; kata A Cu.</p>
<p>&#8220;Cara bagaimana kau lolos dari bahaya, apakah ditolong pula oleh Pek Si-kia ?&#8221; tanya Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Bukan,&#8221; sahut A Cu dengan tersenyum, &#8220;Bukankah engkau masih ingat aku pernah menyamar sebagai hwesio untuk mengelabui padri Siau-lim-si ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, kepandaianmu yang nakal itu memang hebat, &#8220;sahut Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Dan setelah lukaku agak sembuh, menurut Sih-sin-ih, katanya tidak perlu diobati lagi, cukup tetirah beberapa hari lagi tentu akan sehat kembali. Dalam pada itu dongeng yang kukarang untuk menipu mereka itu makin lama makin banyak dan macam-macam hingga aku sendiri pun bosan, pula merasa kuatir atas dirimu, maka pada suatu malam, kembali aku menyaru sebagai seorang tokoh untuk meloloskan diri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kamu menyaru lagi? Menyaru siapa ?&#8221; tanya Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Aku menyaru sebagai Sih-sin-ih,&#8221; sahut A Cu.</p>
<p>&#8220;Menyaru sebagai Sih-sin-ih? Dapat menyaru dengan percis ?&#8221; Kiau Hong menegas dengan terheran-heran.</p>
<p>&#8220;Tentu saja dapat,&#8221; sahut A Cu. &#8220;Setiap hari aku bertemu dan paling sering pula bicara dengan dia, maka sikapnya dan gerak-geriknya sangat apal bagiku. Lagi pula hanya dia seorang yang paling sering berada bersamaku. Malam itu aku pura-pura pingsan, segera ia memeriksa nadiku, kesempatan itu kugunakan untuk pencet urat nadinya secara mendadak sehingga dia tidak berani berkutik dan mau-tak-mau pasrah nasib padaku.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Kiau Hong geli di dalam hati, sungguh sial tabib sakti itu, yang dipikirkan oleh tabib itu hanya mengobati orang, sudah tentu tak diduganya bahwa budak setan ini bisa main gila padanya.</p>
<p>&#8220;Begitulah aku lantas tutuk jalan darahnya,&#8221; demikian A Cu menyambung. &#8220;Tapi ilmu tutukanku kurang pandai, kukuatir dalam waktu singkat dia akan bergerak lagi, maka kutambahi dia dengan ringkusan kain sobekan seprei, kaki tangan nya kuikat dan mulutnya kusumbat, lalu kugusur dia ke atas ranjang sesudah kucopot dulu baju dan sepatunya. Kututupi dia dengan selimut hingga kalau dipandang dari luar tentu orang akan menyangka aku yang tidur di situ tanpa curiga. Kemudian kupakai baju dan sepatu serta kopiahnya. Aku coret mukaku dengan garis-garis keriput hingga mirip tabib sakti itu, yang masih kurang hanya tinggal jenggotnya saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kurang jenggot ?&#8221; Kiau Hong menegas. &#8220;Ehm, jenggotnya yang panjang dan sudah mulai ubanan itu agak sulit dipalsukan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tak bisa memalsu, terpaksa aku memakai yang asli,&#8221; ujar A Cu.</p>
<p>&#8220;Pakai yang asli ?&#8221; Kiau Hong menegas dengan heran.</p>
<p>&#8220;Ya, kupakai yang asli. Kuambil pisau dari peti obat dan mencukur jenggotnya, lalu kutempelkan jenggot pinjaman itu di mukaku, dengan demikian jenggot si tabib sakti itu kupindahkan tanpa memalsunya. Sudah tentu tabib itu keki setengah mati, tapi apa yang bisa dia perbuat? Ia mengobati aku karena terpaksa, aku mencukur jenggotnya juga tak dapat dikatakan membalas susu dengan air tuba. Apalagi sesudah kucukur jenggotnya, ia menjadi jauh lebih muda tampaknya dan lebih tampan dari biasanya.&#8221;</p>
<p>Bercerita sampai sini, tertawalah kedua orang dengan geli.</p>
<p>&#8220;Dan sesudah menyaru sebagai Sih-sin-ih, dengan lagak tuan besar aku lantas keluar dari Cip-hian-ceng dan dengan sendirinya tiada seorang pun berani menegur padaku. Malahan kuperintahkan orang-orang di situ menyediakan kuda dan sangu seperlunya, lalu kuangkat kaki,&#8221; demikian A Cu meneruskan. &#8220;Sesudah jauh dari Cip-hian-ceng, segera kububut bersih jenggot tempelan itu dan berubah menjadi laki-laki muda. Orang-orang di Cip-hian-ceng itu baru akan mengetahui lolosnya diriku pada esok paginya. Tapi sepanjang jalan aku menyamar orang lain lagi secara berganti-ganti hingga takkan dapat mereka temukan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus, sungguh bagus !&#8221; sorak Kiau Hong sambil bertepuk tangan. Tapi mendadak ia ingat pernah melihat bayangan belakang diri sendiri dalam cermin perunggu di ruang po-te-ih di Siau-lim-si tempo hari, tatkala itu ia terkesiap, lamat-lamat ia merasakan ada sesuatu yang kurang beres. Kini demi mendengar cerita A Cu tentang menyaru orang lain untuk menipu, kembali ia merasakan ketidak beresan seperti dulu itu, maka segera ia berkata, &#8220;A Cu, coba kau putar tubuhmu !&#8221;</p>
<p>Sudah tentu A Cu bingung akan maksud Kiau Hong, tapi ia menurut juga dan memutar tubuh.</p>
<p>Kiau Hong termenung sejenak memandangi belakang tubuh gadis itu. Tiba-tiba ia lepaskan baju luar sendiri dan dikenakan pada badan A Cu.</p>
<p>Dengan muka kemerah-merahan A Cu menoleh, ia pandang bekas pangcu itu dengan sorot mata yang lembut dan melekat, katanya lirih, &#8220;Aku tidak dingin.&#8221;</p>
<p>Tapi setelah memandangi bentuk tubuh A Cu dengan mengenakan bajunya itu, mendadak Kiau Hong menjadi terang seluk beluk ketidak beresan yang mencengkam perasaannya itu. Sekali tangannya bergerak, cepat ia pegang tangan si gadis sambil bertanya dengan suara bengis, &#8220;Hah, kiranya kau inilah! Kau lakukan atas suruhan siapa? Lekas mengaku terus terang!&#8221;</p>
<p>Keruan A Cu kaget, tanyanya dengan gelagapan, &#8220;Kiau&#8230;Kiau-toaya, ada&#8230;ada apa ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau pernah menyaru sebagai diriku dan pernah memalsukan aku bukan ?&#8221; tanya Kiau Hong.</p>
<p>Baru sekarang ia ingat pada kejadian tempo hari waktu ia terburu-buru hendak pergi menolong kawan Kay-pang yang ditawan orang Sehe, di tengah jalan ia pernah melihat bayangan belakang seseorang. Tatkala itu ia tidak menaruh perhatian apa-apa, kemudian sesudah melihat bayangan belakang sendiri pada cermin perunggu di Siau-lim-si, barulah ia ingat bentuk tubuh belakang yang pernah dilihatnya itu mirip sekali dengan dirinya.</p>
<p>Padahal waktu dia tiba di tempat yang dituju lebih dulu orang-orang Kay-pang sudah bebas dari bahaya dan semua orang mengucapkan terima kasih atas pertolongannya yang pada hakikatnya bukan dia yang melakukannya. Tatkala itu ia pun merasa bingung dan menduga pasti ada seorang lain yang telah memalsukan dirinya.</p>
<p>Kini setelah melihat bangun tubuh A Cu sesudah mengenakan bajunya itu, sesudah dicek satu sama lain, mengertilah Kiau Hong akan duduknya perkara, terang gadis inilah yang telah memalsukan dirinya dan tidak mungkin orang lain.</p>
<p>A Cu ternyata tidak heran dan kuatir lagi, sebaliknya ia mengaku terus terang dengan tertawa, &#8220;Ya, baiklah, aku mengaku pernah menyamar sebagai engkau.&#8221;</p>
<p>Lalu ia pun ceritakan pengalamannya menyaru sebagai Kiau Hong untuk menolong anggota Kay-pang dengan obat penawar racun itu.</p>
<p>&#8220;Apa tujuanmu menyaru diriku untuk menolong orang Kay-pang ?&#8221; bentak Kiau Hong dengan bengis sambil melepaskan tangannya.</p>
<p>A Cu terkesiap, sahutnya cepat, &#8220;Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya untuk kelakar saja. Kupikir mereka memperlakukan engkau kurang baik, sebaliknya engkau malah menolong mereka, tentu mereka akan merasa malu dan berterima kasih. Ai, siapa duga ketika di Cip-hian-ceng mereka tetap begitu kejam padamu, sama sekali tidak ingat budi kebaikanmu masa lalu.&#8221;</p>
<p>Air muka Kiau Hong makin kereng, mendadak ia tanya pula dengan menggertak gigi, &#8220;Habis, mengapa kau palsukan aku pula untuk membunuh ayah bundaku dan membinasakan Suhu ku di Siau-lim-si ?&#8221;</p>
<p>Seketika A Cu melonjak kaget, serunya, &#8220;Hah, mana bisa jadi? Siapa bilang aku memalsukan dirimu untuk membunuh ayah bunda dan gurumu ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Suhuku kena serangan musuh hingga terluka dalam, begitu melihat diriku beliau lantas menuduh aku yang turun tangan keji itu, masakah bukan perbuatanmu ?&#8221; kata Kiau Hong. Sampai di sini sebelah tangannya perlahan diangkat dengan nafsu membunuh, asal jawaban A Cu kurang memuaskan, seketika gadis itu akan binasa di bawah gaplokannya.</p>
<p>Melihat sikap Kiau Hong yang kereng itu, A Cu merasa takut, tanpa terasa ia mundur dua tindak. Dan ia mundur lagi beberapa tindak, tentu gadis itu akan terjerumus ke dalam jurang di belakangnya itu.</p>
<p>&#8220;Jangan bergerak, berdiri di situ !&#8221; cepat Kiau Hong membentak.</p>
<p>Saking ketakutannya hingga air mata A Cu bercucuran, sahutnya dengan gemetar, &#8220;Aku&#8230;aku&#8230;tid&#8230;tidak membunuh ayah bundamu dan tidak&#8230;tidak membinasakan Suhumu. Masakah aku mampu membunuh&#8230;membunuh gurumu yang berkepandaian tinggi itu ?&#8221;</p>
<p>Ucapan terakhir itu ternyata sangat tepat hingga hati Kiau Hong terketuk. Gurunya, Hian-koh Taysu, tewas oleh semacam ilmu pukulan dahsyat dari Lwekang yang tinggi, hal ini mana tidak mungkin dapat dilakukan A Cu yang berkepandaian tak seberapa tinggi ini.</p>
<p>Segera ia sadar telah salah menuduh A Cu. Secepat kilat tangannya menyambar ke depan, ia tarik tangan gadis itu ke dekat dinding batu agar gadis itu tidak terpeleset ke bawah jurang. Lalu katanya, &#8220;Ya, benar, bukan kamu yang membunuh suhuku !&#8221;</p>
<p>Baru sekarang A Cu bisa tertawa, ia tepuk dada sendiri tanda lega, katanya, &#8220;Ai, hampir aku mati ketakutan. Mengapa engkau begini sembrono, jika aku mempunyai kepandaian membunuh gurumu, masakah aku tidak membantumu menghajar orang-orang di Cip-hian-ceng itu ?&#8221;</p>
<p>Melihat gadis itu Cuma mengomel sekadarnya saja, Kiau Hong merasa menyesal, katanya pula, &#8220;Akhir-akhir ini pikiranku memang sedang kusut dan suka sembarangan omong, harap nona jangan marah padaku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika aku marah, sejak tadi aku tak sudi bicara padamu lagi,&#8221; sahut A Cu tertawa.</p>
<p>Untuk sejenak Kiau Hong termangu-mangu, tiba-tiba tanyanya pula, &#8220;A Cu, kepandaianmu menyamar itu dipelajari dari siapa? Apakah gurumu masih mempunyai murid lain lagi ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tiada yang mengajar padaku,&#8221; sahut A Cu. &#8220;Sejak kecil aku suka menirukan gerak-gerik orang lain, semakin meniru semakin pintar, mengapa harus belajar pada guru segala ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Inilah aneh sekali, ternyata di dunia ini masih ada seorang lain lagi yang sangat mirip diriku hingga Suhu salah sangka sebagai diriku yang sebenarnya,&#8221; ujar Kiau hong dengan menyesal.</p>
<p>&#8220;Jika ada titik terang demikian, urusan menjadi mudah diselidiki,&#8221; kata A Cu. &#8220;Marilah kita pergi mencari orang itu untuk memaksanya mengaku duduknya perkara.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar,&#8221; sahut Kiau Hong. &#8220;Tapi, dunia seluas ini, ke mana dapat mencari orang itu ?&#8221;</p>
<p>Ia coba memperhatikan tulisan pada dinding yang sudah terhapus itu guna mencari sesuatu tanda yang mungkin berguna, tapi meski sudah dipandang dari sini dan diperiksa dari sana, tetap tiada sehuruf pun yang dikenalnya. Katanya kemudian, &#8220;A Cu untuk mengetahui apa yang ditulis di dinding ini, aku bermaksud mencari Ti-kong Taysu untuk minta keterangan padanya. Sebelum membikin terang urusan ini, sungguh aku tidak enak makan dan tidak nyenyak tidur.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi mungkin dia tidak mau menerangkan padamu,&#8221; ujar A Cu.</p>
<br />Posted in Jin Yong, Pendekar Kerajaan Tayli  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toanki.wordpress.com/1838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toanki.wordpress.com/1838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toanki.wordpress.com/1838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toanki.wordpress.com/1838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toanki.wordpress.com/1838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toanki.wordpress.com/1838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toanki.wordpress.com/1838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toanki.wordpress.com/1838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toanki.wordpress.com/1838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toanki.wordpress.com/1838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toanki.wordpress.com/1838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toanki.wordpress.com/1838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toanki.wordpress.com/1838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toanki.wordpress.com/1838/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1838&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-32/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b75e221c0eee4ff517b26695a19675fc?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">Lenghou Tiong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 31</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-31/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-31/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 05:07:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1835</guid>
		<description><![CDATA[Mendadak timbul pula semangat kesatrianya yang tak gentar pada apa pun juga, ia jadi nekat untuk menghadapi segala kemungkinan, katanya pula, &#8220;A Cu, besok akan kucarikan seorang tabib sakti untuk mengobati lukamu, sekarang boleh kau tidur dengan tenang.&#8221; Melihat sikap bekas pangcu yang gagah perkasa dan angkuh tak gentar itu, A Cu merasa kagum, hormat, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1835&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mendadak timbul pula semangat kesatrianya yang tak gentar pada apa pun juga, ia jadi nekat untuk menghadapi segala kemungkinan, katanya pula, &#8220;A Cu, besok akan kucarikan seorang tabib sakti untuk mengobati lukamu, sekarang boleh kau tidur dengan tenang.&#8221;</p>
<p><span id="more-1835"></span>Melihat sikap bekas pangcu yang gagah perkasa dan angkuh tak gentar itu, A Cu merasa kagum, hormat, dan takut pula. Ia merasa tokoh di hadapannya itu sama sekali berbeda daripada Buyung-kongcu, tapi banyak persamaannya pula. Keduanya sama-sama tidak gentar pada langit dan tidak takut pada bumi, sama-sama angkuh dan berwibawa. Tapi Kiau Hong mirip seekor singa jantan dan Buyung Hok seperti burung hong, yang satu kasar dan yang lain halus.</p>
<p>Begitulah demi sudah ambil kebulatan tekad itu, Kiau Hong dapat tidur nyenyak, walaupun hanya duduk di atas kursi.</p>
<p>Di bawah sinar pelita yang remang-remang A Cu dapat melihat muka Kiau Hong. Selang tak lama, ia dengar Kiau Hong mulai mendengkur perlahan, ia lihat daging muka laki-laki gagah itu berkerut-kerut sedikit sambil mengertak gigi, tulang pipi yang lebar itu agak menonjol. Tiba-tiba timbul semacam rasa kasihan dalam hati A Cu, ia merasa batin laki-laki gagah di depan itu pasti sangat tertekan, sangat menderita, jauh lebih malang daripada nasibnya sendiri.</p>
<p>Esok paginya Kiau Hong menyalurkan tenaga murninya pula untuk menyegarkan A Cu, lalu mengeluarkan uang dan suruh pelayan hotel menyewakan sebuah kereta keledai. Ia payang A Cu ke atas kereta lalu datang ke kamar Pau Jian-leng, dan luar ia berseru, &#8220;Pau-heng, Siaute Kiau Hong memberi salam hormat!&#8221;</p>
<p>Waktu itu Pau Jian-leng, Hiang Bong-thian, dan Ki Liok bertiga belum lagi bangun, mereka kaget demi mendengar seruan Kiau Hong itu. Cepat mereka melompat bangun dan menyambar senjata dengan kelabakan. Tapi mereka menjadi terperanjat demi tampak di atas senjata masing-masing tertempel secarik kertas kecil yang tertulis: &#8220;Salam dari Kiau Hong&#8221;.</p>
<p>Mereka saling pandang dengan melongo, mereka sadar bahwa semalam tanpa terasa Kiau Hong telah kerjai mereka, jika mau, jiwa mereka dengan gampang sudah ditamatkan oleh Kiau Hong. Di antara mereka Pau Jian-leng yang merasa paling malu, dia berjuluk &#8220;Bo-pun-ci&#8221; atau tanpa modal, artinya pekerjaannya ialah maling, mencuri tanpa memakai modal, dan sebagai pencuri, sudah tentu kepandaian menggerayangi rumah orang merupakan kemahirannya yang paling diandalkan, tapi kini ia sendiri telah digerayangi Kiau Hong dan baru sekarang ketahuan.</p>
<p>Segera Pau Jian-leng mengikat senjatanya yang berupa ruyung lemas itu di pinggang, lalu ia ke luar kamar, ia tahu bila Kiau Hong bermaksud membunuhnya tentu sudah dilakukannya semalam, maka tanpa takut-takut lagi ia berkata, &#8220;Buah kepala Pau Jian-leng ini setiap saat silakan Kiau-heng mengambilnya bila engkau suka, selamanya orang she Pau ini bekerja tanpa modal, kalau kini aku mesti bangkrut di tangan Kiau-heng rasanya juga masih berharga. Sedang ayah-bunda dan gurumu sendiri juga kau tega membunuhnya, apalagi terhadap orang she Pau yang tiada artinya ini, mengapa engkau bermurah hati segala?&#8221;</p>
<p>Namun Kiau Hong tidak pusingkan olok-olok itu, sebaliknya ia menjawab secara biasa saja, &#8220;Selamat bertemu, Pau-heng, sejak perpisahan di Tong-ting-oh dahulu, ternyata Pau-heng semakin gagah dan kuat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Haha, untunglah jiwaku ini belum lagi amblas, maka sampai sekarang masih sehat walafiat,&#8221; sahut Pau Jian-leng dengan terbahak.</p>
<p>&#8220;Kabarnya &#8216;Giam-ong-tek&#8217; Sih-sin-ih telah menyebarkan kartu undangan, maka aku tertarik untuk hadir ke sana, bagaimana kalau kupergi ke sana bersama kalian bertiga?&#8221; kata Kiau Hong pula.</p>
<p>Diam-diam Jian-leng sangat heran, pikirnya, &#8220;Bukankah maksud tujuan Sih-sin-ih menyebarkan kartu undangan justru hendak menghadapimu. Apa barangkali kau sudah bosan hidup, maka berani datang ke sana seorang diri? Tapi biasanya Kiau-pangcu terkenal pemberani dan cerdik pula, baik ketangkasan maupun kecerdasan serbakomplet, jika dia tidak punya pegangan apa-apa, tidak nanti dia masuk jaring sendiri, maka aku tidak boleh tertipu olehnya.&#8221;</p>
<p>Melihat Pau Jian-leng hanya diam saja tanpa menjawab, segera Kiau Hong berkata pula, &#8220;Aku ada urusan penting perlu minta tolong pada Sih-sin-ih, kuharap Pau-heng suka memberitahukan tempatnya, untuk mana aku takkan melupakan pada kebaikanmu.&#8221;</p>
<p>Kebetulan pikir Pau Jian-leng, jika kau berani hadir pada pertemuan besar para kesatria itu, sekali dikerubut, biarpun kau punya tiga kepala dan enam tangan juga takkan mampu lolos.</p>
<p>Dengan keputusan itu, segera ia menjawab, &#8220;Tentang tempat pertemuan itu adalah di Cip-hian-ceng yang terletak kurang lebih 70 li di timur laut sana. Jika Kiau-heng sudi hadir ke sana, itulah paling baik. Cuma ingin kukatakan di muka, pertemuan ini tidak mungkin pertemuan yang baik, kehadiran Kiau-heng ke sana nanti banyak celakanya daripada selamatnya, untuk mana janganlah menyalahkan aku tidak memperingatkanmu sebelumnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terima kasih atas kebaikan Pau-heng,&#8221; sahut Kiau Hong dengan tersenyum tawar. &#8220;Jika enghiong-yan itu diadakan di Cip-hian-ceng, jadi tuan rumahnya adalah Yu-si-siang-hiong, bukan? Jika demikian, jalan ke sana sudah kukenal, maka kalian boleh silakan berangkat dulu, mungkin sejam lagi baru dapat kuberangkat, dengan demikian agar mereka dapat bersiap-siap pula lebih dulu.&#8221;</p>
<p>Pau Jian-leng menoleh dan saling pandang sekejap dengan Ki Liok dan Hiang Bong-thian. Kedua kawan itu tampak mengangguk perlahan. Lalu Pau Jian-leng berkata, &#8220;Jika demikian, Cayhe akan menunggu kehadiran Kiau-heng di Cip-hian-ceng.&#8221;</p>
<p>Begitulah dengan tergesa-gesa mereka bertiga lantas membereskan rekening hotel dan berangkat ke Cip-hian-ceng dengan menunggang kuda. Sepanjang jalan mereka melarikan kuda secepatnya, berulang-ulang mereka menoleh, khawatir kalau-kalau Kiau Hong mendadak menyusul dari belakang dan mendahului mereka.</p>
<p>Sekalipun Pau Jian-leng adalah seorang cerdik pandai, Ki Liok dan Hiang Bong-thian juga jago Kangouw yang berpengalaman luas, sepanjang jalan mereka menerka ini dan menebak itu, namun tetap tidak dapat meraba apa maksud tujuan Kiau Hong sengaja hadir dalam enghiong-yan itu.</p>
<p>&#8220;Pau-toako,&#8221; tiba-tiba Ki Liok berkata, &#8220;apakah engkau melihat kereta yang disewa Kiau Hong itu. Mungkin di dalam kereta itu ada apa-apanya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan-jangan di dalam kereta itu terdapat jago-jago lihai begundalnya?&#8221; ujar Hiang Bong-thian.</p>
<p>&#8220;Andaikan kereta itu tumplak penuh dengan begundalnya, paling-paling cuma muat beberapa orang, katakanlah seluruhnya ada sepuluh orang bersama Kiau Hong, tapi dalam pertemuan besar nanti, paling-paling mereka cuma mirip sebuah sampan yang terombang-ambing di tengah samudra raya, apa yang dapat mereka perbuat?&#8221; kata Pau Jian-leng.</p>
<p>Tengah bicara, sepanjang jalan sudah banyak bertemu dengan jago-jago persilatan yang juga hendak hadir pada enghiong-yan di Cip-hian-ceng.</p>
<p>Karena pertemuan itu diadakan secara mendadak dan mendesak, maka setiap orang yang menerima kartu undangan segera berangkat siang dan malam sambil menghampiri sesama kawan bu-lim, maka hanya dalam waktu sehari semalam saja kartu undangan yang disebarkan Giam-ong-tek itu sudah hampir merata. Cuma waktunya terlalu mendesak, maka yang sudah tiba di Cip-hian-ceng itu baru tokoh-tokoh yang bertempat tinggal ratusan li di sekitar Siau-lim-si di Provinsi Holam.</p>
<p>Sebenarnya Siau-lim-si sendiri sudah menyebarkan kartu undangan kepada para kesatria untuk berunding cara menghadapi Buyung Hok. Tapi waktu yang ditentukan itu masih ada 20 hari lebih, sebagian besar kesatria yang diundang itu masih dalam perjalanan, seperti ayah Toan Ki, yaitu Tin-lam-ong dari negeri Tayli, Toan Cing-sun, dan jago-jago silat yang dipimpinnya saat itu juga belum tiba di Siau-lim-si. Namun begitu sudah banyak juga kaum kesatria yang berada di daerah Holam untuk pesiar atau menyambangi sobat-andai. Mereka inilah yang telah menerima kartu undangan Yu-si-siang-hiong dan &#8220;Giam-ong-tek&#8221; Sih-sin-ih.</p>
<p>Kalau undangan melulu datang dari Yu-si-siang-hiong saja mungkin tidak diperhatikan oleh para kesatria itu. Tapi nama Giam-ong-tek juga tercantum sebagai pengundang, keruan mereka merasa mendapat kehormatan besar dan buru-buru hadir.</p>
<p>Maklum, nama Si Tabib Sakti she Sih dan Musuh Raja Akhirat itu terlalu tenar, setiap orang persilatan sangat mengharapkan bisa berkenalan atau bersahabat dengan dia. Sebab, sebagai orang persilatan, bukan mustahil setiap saat bisa terluka parah atau terbinasa, tapi kalau kenal dan bersahabat dengan Giam-ong-tek, maka boleh dikatakan jiwa mereka telah diasuransikan kepada tabib sakti itu.</p>
<p>Begitulah, ketika Pau Jian-leng bertiga sampai di Cip-hian-ceng, mereka telah disambut sendiri oleh Yu-si-siang-hiong.</p>
<p>Sesudah berada di dalam rumah, ternyata, tetamu sudah memenuhi ruangan luar dan dalam. Banyak yang dikenal Pau Jian-leng, banyak pula yang tidak kenal. Yang kenal segera saling menyapa, sedapatnya Pau Jian-leng membalas hormati kepada setiap kenalan secara merata. Ia khawatir kalau ada yang terlupa dan kelompatan balas menghormat, bukan mustahil akan menimbulkan rasa dendam hingga berakibat permusuhan di belakang hari.</p>
<p>Setelah Yu Ki, yaitu orang kedua dari Yu-si-siang-hiong (Dua Jago she Yu) mengajak mereka ke meja tuan rumah, di situ sudah menunggu Si Tabib Sakti she Sih, ia sambut kedatangan tamunya sambil memberi hormat, &#8220;Atas kesudian hadirnya Pau-heng bertiga, sungguh aku merasa terima kasih tak terhingga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Haha, masakah undangan Sih-loyacu berani kutolak, biarpun aku sedang sakit tak bisa berjalan juga aku akan datang kemari meski harus digotong,&#8221; sahut Pau Jian-leng dengan terbahak.</p>
<p>&#8220;Tentu saja,&#8221; sela Yu Ek, si tua dari kedua saudara Yu itu. &#8220;Jika kau sakit payah, tanpa diundang juga kau akan cari Sih-loyacu.&#8221;</p>
<p>Mendengar percakapan itu, banyak tetamu lain ikut bergelak tertawa.</p>
<p>&#8220;Kalian bertiga baru tiba, tentu sangat lelah, silakan ke belakang dulu untuk dahar sekadarnya,&#8221; ujar Yu Ki.</p>
<p>&#8220;Lelah sih tidak, lapar pun belum, sebaliknya kubawa suatu berita penting yang perlu kukatakan dengan segera,&#8221; sahut Pau Jian-leng. &#8220;Numpang tanya dulu, kartu undangan yang Sih-loyacu dan kedua saudara Yu sebarkan itu apakah di antaranya terdapat undangan kepada Kiau Hong?&#8221;</p>
<p>Mendengar nama Kiau Hong disebut, wajah Sih-sin-ih agak berubah. Sebaliknya Yu Ek lantas tanya, &#8220;Apa maksud Pau-heng sebenarnya, kenapa menyinggung tentang Kiau Hong? Apakah disebabkan Pau-heng bersahabat karib dengan orang she Kiau itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Harap Yu-heng jangan salah paham,&#8221; cepat Pau Jian-leng menjelaskan. &#8220;Sebaliknya aku justru hendak menyampaikan berita penting ini, Kiau Hong menyatakan akan hadir dalam pertemuan besar kaum kesatria ini.&#8221;</p>
<p>Seketika gemparlah suasana ruangan tamu itu, sejenak kemudian keadaan menjadi hening, semuanya diam ingin mendengarkan berita itu lebih lanjut. Yang terdengar hanya suara obrolan dan tertawa tamu-tamu di ruangan belakang dan samping karena mereka tidak tahu suasana di ruangan depan itu.</p>
<p>&#8220;Dari mana Pau-heng tahu Kiau Hong akan datang ke sini?&#8221; tanya Si Tabib Sakti.</p>
<p>&#8220;Cayhe bersama Ki-heng dan Hiang-heng mendengar dengan telinga sendiri,&#8221; sahut Jian-leng. &#8220;Sungguh memalukan kalau diceritakan, kami bertiga semalam telah terjungkal habis-habisan.&#8221;</p>
<p>Berulang Hiang Bong-thian mengedipi kawan itu agar jangan menguraikan kejadian semalam yang memalukan itu. Tapi Pau Jian-leng cerdik orangnya, ia pikir bila sedikit ia dusta hingga menimbulkan rasa curiga Si Tabib Sakti dan tokoh-tokoh lain, kelak pasti akan mendatangkan banyak kesukaran.</p>
<p>Maka ia tidak peduli isyarat Hiang Bong-thian itu, sebaliknya perlahan ia lepaskan ruyungnya dari pinggang dan diperlihatkan kepada Sih-sin-ih tulisan di atas kertas yang masih menempel pada senjatanya itu, katanya, &#8220;Kiau Hong suruh kami bertiga menyampaikan pesannya, katanya dalam waktu singkat ia akan datang ke Cip-hian-ceng ini.&#8221;</p>
<p>Lalu ia ceritakan pengalamannya tanpa dusta sedikit pun. Sudah tentu yang runyam adalah Hiang Bong-thian, ia merasa malu dan membanting-banting kaki.</p>
<p>Namun tanpa tedeng aling-aling Pau Jian-leng menghabiskan ceritanya itu, akhirnya ia berkata, &#8220;Kiau Hong itu adalah keturunan anjing bangsa Cidan, andaikan dia cukup baik dan berbudi juga kita mesti membasminya, apalagi sekarang ia sudah umbar kebuasannya, mara bahaya di kemudian hari tentu tak terkirakan, sebenarnya untuk menangkapnya tidaklah mudah, syukur sekarang ia masuk jeratan sendiri, rupanya ajalnya sudah tiba saatnya.&#8221;</p>
<p>Yu Ki berkerut kening mendengar laporan itu, ia pikir sejenak, lalu berkata, &#8220;Konon Kiau Hong itu seorang yang serbapintar dan tangkas, sekali-kali bulan seorang laki-laki kasar dan sembarang bertindak, masakah ia benar-benar berani hadir dalam pertemuan ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mungkin ada tipu muslihat di balik kehadirannya nanti, untuk mana kita harus waspada,&#8221; ujar Pau Jian-leng. &#8220;Marilah kita berunding cara bagaimana harus menghadapinya nanti.&#8221;</p>
<p>Tengah bicara, dari luar sudah masuk lagi banyak kesatria lain, di antaranya &#8220;Tiat-bin-poan-koan&#8221; Tan Cing dan kelima putranya. Tam-kong dan Tam-poh serta Tio-ci-sun, Kim Tay-peng dan Oh-pek-kiam Su An, Nau-kang-ong Cin Goan-cun, dan lain-lain. Tidak lama kemudian, tiba pula Hian-lan dan Hian-cit berdua padri saleh dari Siau-lim-si.</p>
<p>Meski ada juga di antara mereka tidak menerima kartu undangan, tapi karena merasa diri mereka cukup memenuhi syarat untuk disebut sebagai kesatria, maka tanpa diundang juga mereka hadir sendiri.</p>
<p>Dengan hormat Yu-si-siang-hiong dan Giam-ong-tek menyambut kedatangan tamu-tamu itu. Ketika bicara tentang kejahatan yang diperbuat Kiau Hong, semua orang merasa gusar dan bertekad akan membasmi durjana yang kejam itu.</p>
<p>Tiba-tiba pelayan penyambut tamu masuk memberi lapor bahwa Ci-tianglo dari Kay-pang bersama Cit-hoat dan Thoan-kong Tianglo serta keempat tianglo lain juga tiba. Tamu-tamu yang sudah berada di situ sama terkesiap. Ujar Hiang Bong-thian, &#8220;Orang Kay-pang datang ke sini secara berbondong-bondong, jelas mereka hendak memberi bantuan kepada Kiau Hong.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak mungkin,&#8221; kata Tan Cing. &#8220;Kiau Hong sudah dipecat dari keanggotaan Kay-pang dan bukan pangcu mereka lagi, kejadian itu kami ikut menyaksikan sendiri, malahan di antara mereka sudah saling bermusuhan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi hubungan lama belum tentu dilupakan begitu saja,&#8221; kata Hiang Bong-thian.</p>
<p>&#8220;Kukira para tianglo dari Kay-pang adalah kesatria sejati dan patriot tulen, kalau mereka membantu Kiau Hong, bukankah berarti mereka pun pengkhianat bangsa dan penjual negara?&#8221; ujar Yu Ek.</p>
<p>&#8220;Ya, manusia yang paling rendah sekalipun tidak sudi menjadi pengkhianat bangsa dan penjual negara,&#8221; demikian dukung tetamu yang lain.</p>
<p>Maka Yu-si-siang-hiong bersama Sih-sin-ih lantas menyambut keluar. Mereka merasa lega ketika melihat orang Kay-pang yang hadir itu cuma belasan tianglo saja, andaikan mereka hendak membela Kiau Hong juga takkan dapat melawan kesatria lain yang lebih banyak jumlahnya.</p>
<p>Tapi Yu-loji, Yu Ki, orangnya cukup hati-hati, diam-diam ia kirim anak buahnya pasang mata di sekitar pedusunan untuk melihat apakah orang Kay-pang menyembunyikan bala bantuan atau tidak. Setelah itu barulah ia menyilakan Ci-tianglo dan rombongan masuk ke dalam. Wajah para tokoh Kay-pang tampak masam, nyata mereka sedang menanggung sesuatu urusan yang memusingkan.</p>
<p>Sesudah tuan rumah dan para tamu mengambil tempat duduk, segera Ci-tianglo membuka suara lebih dulu, &#8220;Sih-heng, dan kedua saudara Yu, hari ini para kesatria kalian undang ke sini, apakah maksudnya hendak menghadapi bibit bencana bu-lim yang ditimbulkan Kiau Hong itu?&#8221;</p>
<p>Mendengar tokoh Kay-pang itu menyebut Kiau Hong sebagai bibit bencana bu-lim, semua orang saling pandang sekejap dengan hati lega. Segera Yu Ek menjawab, &#8220;Memang demikianlah halnya. Maka atas kunjungan Ci-tianglo sekalian kami merasa sangat beruntung, sebab untuk membasmi pengganas itu, perlu sekali kami mendapat bantuan dan izin para Tianglo, kalau tidak, jangan-jangan akan timbul salah paham hingga terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.&#8221;</p>
<p>Ci-tianglo menghela napas panjang, sahutnya, &#8220;Orang itu sudah tidak punya hati nurani lagi, tindak tanduknya kejam. Sepantasnya, karena ia pernah banyak berjasa bagi pang kami, paling akhir juga telah menolong saudara-saudara kami dari jebakan musuh. Akan tetapi seorang laki-laki harus dapat memandang jauh, segala apa mesti berpikir pada kepentingan orang banyak, urusan pribadi harus dikesampingkan dulu. Kini Kiau Hong adalah musuh besar bangsa Song kita, meski para tianglo dari pang kami pernah mendapatkan kebaikannya, tapi tidak nanti kami mengutamakan kepentingan pribadi dan melalaikan kepentingan umum. Apalagi sekarang ia sudah bukan orang kami.&#8221;</p>
<p>Ucapan Ci-tianglo segera mendapat pujian orang banyak. Menyusul Yu Ek lantas beri tahu tentang Kiau Hong telah menyatakan akan hadir dalam pertemuan ini. Berita ini membuat para Tianglo Kay-pang terperanjat dan heran. Sebagai bekas anak buah Kiau Hong, mereka cukup kenal pribadi bekas pangcu mereka yang tangkas lagi cerdik itu, kalau dikatakan Kiau Hong akan datang ke Cip-hian-ceng seorang diri, hal ini benar-benar sangat mengherankan mereka.</p>
<p>Tiba-tiba Hiang Bong-thian berseru, &#8220;Kukira pernyataan Kiau Hong itu hanya tipu muslihat belaka, ia sengaja membikin kita menunggu percuma di sini, sebaliknya ia angkat langkah seribu entah kabur ke mana, itu namanya &#8216;tonggeret melepaskan kulit&#8217;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Melepas kulit makmu!&#8221; mendadak Go-tianglo memaki sambil menggebrak meja. &#8220;Tokoh macam apakah Kiau Hong itu, apa yang telah dikatakannya masakah kau kira cuma omong kosong?&#8221;</p>
<p>Muka Hiang Bong-thian menjadi merah padam oleh makian itu, segera ia menyahut, &#8220;Kau mau bela Kiau Hong, bukan? Hm, aku orang she Hiang inilah orang pertama yang penasaran, marilah, boleh kita coba-coba dulu.&#8221;</p>
<p>Selama hidup Go-tianglo paling kagum kepada Kiau Hong, ia memang lagi mendongkol sepanjang jalan ketika mendengar berita tentang bekas pangcu itu membunuh kedua orang tua serta gurunya.</p>
<p>Oleh karena seorang saudara Go-tianglo juga telah menjadi korban keganasan bangsa Cidan, selama hidupnya ia sangat benci pada orang Cidan. Kini mendadak diketahuinya Kiau-pangcu yang dihormati dan dicintainya itu ternyata adalah orang Cidan, keruan kesal dan sesalnya tak terlukiskan.</p>
<p>Dalam keadaan sedih itulah tiba-tiba Hiang Bong-thian berani menantang padanya, keruan tanpa tawar lagi ia tandangi tantangan itu. Sekali lompat ia melesat ke tengah pelataran dan berseru, &#8220;Apakah Kiau Hong itu keturunan anjing Cidan atau bukan, saat ini masih belum dapat dipastikan oleh siapa pun juga. Tapi bila dia benar-benar bangsa Cidan, aku orang she Go inilah yang pertama-tama akan mengadu jiwa padanya. Dan untuk membunuh Kiau Hong, biarpun nomor urut keseribu juga belum sampai pada giliranmu. Hm, kau ini kutu busuk macam apa hingga berani mengoceh di sini? Ayolah maju, biar kuhajar adat dulu padamu.&#8221;</p>
<p>Sudah tentu Hiang Bong-thian jadi murka juga, &#8220;sret&#8221;, segera ia lolos goloknya dan hendak tandangi Go-tianglo. Tapi begitu golok terlolos, segera kertas yang ditempel Kiau Hong di atas senjatanya itu lantas terbaca. Seketika ia tertegun.</p>
<p>&#8220;Sudahlah, kalian sama-sama tetamu kami, harap suka memandang muka kami, janganlah ribut dulu,&#8221; demikian Yu Ek berusaha memisah.</p>
<p>&#8220;Ya, Go-hiati, janganlah kita bertindak sembrono, betapa pun nama baik pang kita harus dijaga,&#8221; ujar Ci-tianglo.</p>
<p>&#8220;Huh, Kay-pang mempunyai seorang tokoh besar macam Kiau Hong, nama baiknya sangat tersohor, memang kudu dijaga sebaik-baiknya,&#8221; demikian tiba-tiba suara seorang aneh dingin dan lirih menanggapi ucapan Ci-tianglo itu.</p>
<p>Keruan para tokoh Kay-pang yang hadir di situ menjadi gusar, beramai-ramai mereka membentak, &#8220;Siapa itu yang bicara?&#8221; &#8211; &#8220;Ayolah, kalau berani tampil ke muka sini!&#8221; &#8211; &#8220;Huh, pengecut, bicara secara sembunyi-sembunyi! Haram jadah!&#8221;</p>
<p>Namun pembicara itu diam saja sesudah mengucapkan kata-kata tadi hingga tiada seorang pun tahu siapa gerangannya.</p>
<p>Sungguh dongkol tokoh-tokoh Kay-pang itu tidak kepalang karena disindir tanpa mengetahui siapa orangnya, tentu saja mereka mati kutu. Tapi beberapa di antaranya yang berwatak berangasan dan kasar, tanpa pikir lagi terus balas mencaci maki hingga kakek-moyang ke-18 keturunan pembicara itu pun dimaki habis-habisan.</p>
<p>Sih-sin-ih berkerut kening oleh caci maki yang kotor itu, segera katanya, &#8220;Harap para Tianglo suka sabar, dengarkan kataku ini.&#8221;</p>
<p>Maka perlahan para pengemis itu tenang kembali.</p>
<p>Di luar dugaan, kembali suara orang tadi bergema pula di tengah orang banyak sana, &#8220;Bagus, bagus! Kiau Hong sengaja mengirim mata-mata sebanyak ini, sebentar tentu ada permainan sandiwara yang menarik.&#8221;</p>
<p>Mendengar ucapan itu, Go-tianglo semakin murka, segera terdengar suara gemerencing senjata dilolos, para tokoh pengemis itu siapkan senjata mereka yang gemerlapan. Tamu lain mengira kawanan pengemis itu akan turun tangan, beramai mereka pun lolos senjata hingga keadaan menjadi kacau-balau.</p>
<p>Cepat Sih-sin-ih dan Yu-si-siang-hiong berusaha menenangkan suasana ribut itu, tapi suara mereka ternyata tidak cukup untuk bikin tenteram suasana yang panas itu.</p>
<p>Pada saat kacau itulah, tiba-tiba seorang penjaga berlari masuk dan membisiki telinga Yu Ek. Air muka Yu Ek tampak berubah hebat, ia tanya sesuatu pada pelayan itu dan hamba itu tampak menuding ke luar pintu dengan rasa takut.</p>
<p>Segera tampak Yu Ek bisik-bisik juga pada Sih-sin-ih dan air muka tabib sakti itu pun kelihatan gelisah. Waktu Yu Ki mendekati saudaranya dan menanyakan apa yang terjadi, sesudah Yu Ek berbisik perlahan, mendadak air muka Yu Ki juga berubah kaget. Lalu Yu Ki membisiki kawannya yang lain.</p>
<p>Begitulah seorang demi seorang meneruskan bisik-bisik itu hingga akhirnya merata dan semua orang mengetahui apa yang terjadi. Seketika suasana gaduh menjadi sunyi, sebab setiap orang yang hadir di situ sama mendapat bisikan, &#8220;Kiau Hong sudah datang!&#8221;</p>
<p>Setelah saling pandang sekejap antara Sih-sin-ih dan kedua saudara Yu, mereka memandang pula pada Hian-lan dan Hian-cit berdua, akhirnya Sih-sin-ih berkata, &#8220;Silakan dia masuk!&#8221;</p>
<p>Segera pelayan tadi keluar. Sedangkan hati semua kesatria sama berdebar dengan hebat. Walaupun jelas jumlah orang pihak sini jauh lebih banyak, sekali Kiau Hong bertindak, seketika semua orang mengerubut maju, tentu bekas Pangcu Kay-pang itu akan dapat dicacah menjadi perkedel. Tapi nama Kiau Hong itu terlalu disegani, kalau dia sudah berani hadir seorang diri, terang dia sudah punya sesuatu pegangan, siapa pun tidak dapat menerka tipu muslihat apa yang telah diatur olehnya.</p>
<p>Di tengah suasana yang hening itu, tiba-tiba terdengar suara keledai lari berdetak-detak diselingi suara kelotakan roda kereta yang menggelinding di atas batu. Sebuah kereta terdengar sudah sampai di depan pintu. Malahan kereta itu tidak berhenti di situ, bahkan terus melintasi gerbang pintu dan langsung masuk ke dalam pekarangan. Kereta keledai itu tampak dikusiri seorang laki-laki tegap dengan cambuk di tangan, kerai kereta tertutup hingga tidak jelas apa isi kendaraan itu.</p>
<p>Seketika perhatian semua orang terarah kepada laki-laki tegap yang mengemudi kereta itu. Tertampak badannya tinggi besar, dada lebar dan lengan kasar, mukanya kereng, siapa lagi dia kalau bukan bekas Pangcu Kay-pang, Kiau Hong adanya.</p>
<p>Setelah taruh cambuknya di atas kereta, segera Kiau Hong melompat turun dan berkata, &#8220;Kudengar Sih-sin-ih dan Yu-si-hengte sedang mengadakan pertemuan besar dengan para kesatria di Cip-hian-ceng ini, Kiau Hong sudah merasa dibenci oleh para kesatria Tionggoan, masakah aku berani ikut hadir ke sini tanpa kenal malu? Cuma hari aku ada urusan penting yang mesti minta tolong kepada Sih-sin-ih, maka kedatanganku secara sembrono ini hendaklah dimaafkan.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia membungkuk dengan laku sangat hormat.</p>
<p>Tapi semakin Kiau Hong berlaku sopan, semakin Sih-sin-ih dan lain-lain curiga mungkin di balik kehalusan ini ada sesuatu tipu keji. Maka diam-diam Yu Ek memberi tanda kepada anak buahnya agar meronda keluar untuk berjaga segala kemungkinan di samping untuk merintangi larinya Kiau Hong bila bekas pangcu itu hendak kabur.</p>
<p>Lalu Sih-sin-ih membalas hormat dan berkata, &#8220;Ada urusan penting apa yang Kiau-heng ingin minta tolong padaku?&#8221;</p>
<p>Kiau Hong tidak lantas menyahut, tapi ia melangkah mundur ke samping kereta, ia singkap tirai kereta keledai itu dan memayang A Cu turun ke bawah. Lalu katanya, &#8220;Disebabkan aku suka bertindak gegabah, maka nona cilik ini ikut menjadi korban tenaga pukulan orang hingga terluka parah. Di zaman ini selain Sih-sin-ih tiada orang lain lagi yang mampu menyembuhkannya, maka secara sembrono kudatang kemari untuk mohon Sih-sin-ih agar suka menolong jiwanya.&#8221;</p>
<p>Waktu melihat kereta keledai itu tadi sebenarnya semua orang sangat curiga, sebab tidak tahu apa isi kereta yang dibawa datang Kiau Hong. Kini demi tampak dari dalam kereta diturunkan seorang nona cilik berumur 16-17 tahun, kembali mereka heran lagi, lebih-lebih setelah mendengar Kiau Hong menyatakan kedatangannya itu hendak mohon pengobatan kepada Si Tabib Sakti.</p>
<p>Sih-sin-ih sendiri juga sama sekali tidak menduga akan hal itu. Sudah biasa baginya menerima tamu dari jauh yang ingin minta tolong padanya, tapi kini mereka sedang berunding cara bagaimana menawan dan membunuh Kiau Hong, siapa tahu &#8220;durjana&#8221; yang dipandang mahajahat itu justru datang sendiri, sungguh hal ini sukar untuk dipercaya oleh siapa pun.</p>
<p>Ia coba mengamat-amati A Cu dari atas ke bawah dan sebaliknya, ia lihat anak dara itu cukup cantik, tapi tidak luar biasa, apalagi usianya masih muda, tidak mungkin Kiau Hong tergoda oleh kecantikan seorang dara ingusan. Tapi ia lantas berpikir, &#8220;Jangan-jangan anak dara ini adalah adik perempuannya? Tapi, hal ini tidak mungkin terjadi, sedangkan orang tua dan gurunya saja dibunuhnya, masakah dia sudi mengambil risiko sebesar ini demi untuk adik perempuan. Jika demikian, apakah putrinya? Tapi toh tidak pernah kudengar Kiau Hong pernah menikah?&#8221;</p>
<p>Sebagai seorang tabib sakti, dengan sendirinya Sih-sin-ih pandai membedakan ciri-ciri setiap orang. Ia lihat Kiau Hong sangat kekar, sebaliknya A Cu kecil mungil, tiada sesuatu persamaan di antara mereka, maka dapat dipastikan tiada hubungan darah apa-apa. Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia tanya, &#8220;Siapakah nona ini, dia pernah apa dengan kau?&#8221;</p>
<p>Kiau Hong melengak oleh pertanyaan itu, sejak kenal A Cu, yang diketahui cuma panggilan anak dara itu adalah &#8220;A Cu&#8221;, apakah dia she Cu atau bukan tidaklah diketahui. Maka ia coba tanya gadis itu, &#8220;A Cu, apakah kau memang she Cu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan,&#8221; sahut A Cu dengan tersenyum. &#8220;Aku she Wi dan bernama Si. Cuma aku cuka pakai baju merah, maka Kongcu memanggilku A Cu (Si Merah).&#8221;</p>
<p>&#8220;O, jadi dia she Wi, Sih-sin-ih, aku pun baru tahu sekarang,&#8221; ujar Kiau Hong.</p>
<p>Keruan Si Tabib Sakti semakin heran, tanyanya pula, &#8220;Jika begitu, jadi engkau tiada persahabatan apa-apa dengan dia?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia adalah dayang seorang sobatku, sedikit banyak ada sangkut pautnya,&#8221; ujar Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Siapakah sobatmu itu, tentu hubungan kalian sebaik saudara sekandung, bukan?&#8221; tanya Sih-sin-ih.</p>
<p>&#8220;Tidak, sobatku itu juga cuma kukenal namanya saja, selamanya belum pernah bertemu,&#8221; sahut Kiau Hong.</p>
<p>Keruan jawabannya membikin gempar pula. Sebagian besar orang tidak percaya pada pengakuannya itu, mereka menyangka itu cuma suatu tipu muslihat Kiau Hong saja. Tapi banyak pula yang kenal watak Kiau Hong tidak pernah berdusta, biarpun segala kejahatan mungkin dapat dilakukannya, tapi untuk menjaga harga diri, tidak nanti ia bohong untuk menipu orang.</p>
<p>Sih-sin-ih tidak tanya lagi, tiba-tiba ia melangkah maju, ia pegang nadi pergelangan tangan A Cu, ia merasa denyut nadi sangat lemah, tenaga murni dalam tubuh bergolak hebat, keduanya itu satu sama lain tidak seimbang. Waktu ia periksa nadi lain pula, maka dapatlah ia menentukan penyakitnya. Katanya, &#8220;Jika Kiau-heng tidak menyambung jiwanya dengan tenaga dalam, mungkin nona ini sudah lama terbinasa di bawah pukulan Kim-kong-ciang Hian-cu Taysu.&#8221;</p>
<p>Sudah tentu ucapan Si Tabib Sakti ini sekali lagi membikin gempar para kesatria, lebih-lebih Hian-lan dan Hian-cit, mereka merasa aneh bilakah suheng mereka pernah memukul seorang nona cilik dengan Kim-kong-ciang? Jika dara cilik ini benar-benar diserang Kim-kong-ciang yang mahahebat itu, tidak mungkin jiwanya bisa dipertahankan sampai sekarang.</p>
<p>Maka Hian-lan lantas berkata, &#8220;Sih-kisu, Hongtiang Suheng kami selama beberapa tahun tidak pernah keluar dari biara, selamanya Siau-lim-si tidak pernah dimasuki kaum wanita, mungkin pukulan Kim-kong-ciang itu bukan dilakukan oleh suheng kami.&#8221;</p>
<p>&#8220;Habis, di dunia ini siapa lagi yang mampu menggunakan Kim-kong-ciang dari kalangan Buddha ini?&#8221; ujar Sih-sin-ih.</p>
<p>Hian-lan dan Hian-cit menjadi bungkam dan saling pandang. Mereka berdua belajar bersama dengan Hian-cu dari satu guru, mereka giat berlatih, tapi karena terbatas oleh bakat mereka, maka Tay-pan-yak-kim-kong-ciang itu tak berhasil diyakinkan mereka. Hal ini pun tidak membuat menyesal mereka, sebab mereka maklum orang Siau-lim-pay mereka jarang yang berhasil meyakinkan ilmu silat golongannya sendiri walaupun inti rahasia setiap ilmu pusaka mereka selalu dapat diturunkan dengan baik oleh padri-padri sakti angkatan yang lebih tua. Tapi untuk bisa melatihnya dengan sempurna terkadang sampai ratusan tahun baru terdapat seorang genius di antara padri yang berjumlah ratusan itu.</p>
<p>Sebenarnya Hian-cit ingin tanya apakah benar nona itu terkena &#8220;Tay-pan-yak-kim-kong-ciang&#8221;, tapi urung diucapkannya, sebab bila ia tanya begitu, itu berarti ia ragukan kepandaian Sih-sin-ih, hal ini akan dianggap kurang hormat.</p>
<p>Hian-lan lantas berkata, &#8220;Di balik kejadian ini tentu ada sesuatu yang ganjil. Suhengku adalah padri yang alim, sebagai seorang ketua suatu mazhab persilatan terkemuka, tidak mungkin ia menyerang seorang nona cilik? Sekalipun nona ini berbuat sesuatu yang salah juga Hongtiang Suheng kami takkan bertindak seganas ini padanya.&#8221;</p>
<p>Semua orang menyatakan benar ucapan itu, mereka pun sependapat bahwa di balik urusan ini pasti ada sesuatu muslihat tertentu.</p>
<p>Karena itu banyak di antara mereka sama melototi Kiau Hong, maksud mereka sudah terang yaitu bila ada orang yang main gila dalam peristiwa itu, terang dia pastilah Kiau Hong.</p>
<p>Namun Kiau Hong anggap kebetulan malah jika kedua padri Siau-lim-si itu tidak mengakui A Cu dilukai ketua mereka, sebab kalau mereka mengakui hal itu, mungkin Sih-sin-ih akan tidak enak malah untuk mengobati luka A Cu.</p>
<p>Supaya menurut arah angin, segera ia berkata, &#8220;Ya, Hian-cu Hongtiang adalah padri welas kasih, tidak mungkin beliau sembarangan menyerang seorang gadis cilik. Besar kemungkinan ada orang sengaja memalsukan padri saleh untuk merusak nama baik Siau-lim-pay.&#8221;</p>
<p>Hian-lan dan Hian-cit saling pandang, mereka anggap ucapan Kiau Hong yang durhaka itu beralasan juga.</p>
<p>Sebaliknya diam-diam A Cu merasa geli, memang benar juga ada orang memalsukan padri Siau-lim-si, tapi bukan memalsukan Hian-cu Hongtiang, melainkan Ti-jing Hwesio. Dan sudah tentu Hian-lan dan Hian-cit tidak mengetahui maksud ganda kata-kata Kiau Hong itu.</p>
<p>Mendengar apa yang dikemukakan Hian-lan dan Hian-cit tadi, Sih-sin-ih yakin diagnosis yang dikatakannya tadi tidak salah lagi, maka katanya pula, &#8220;Jika begitu halnya, ternyata di dunia ini ada orang lain lagi yang mahir Tay-pan-yak-kim-kong-ciang dari Siau-lim-si. Cuma waktu orang ini menyerang, entah teralang apa, maka daya pukulannya telah terhapus 7-8 badan hingga Nona Wi ini tidak terbinasa. Tapi betapa hebat tenaga pukulan orang itu mungkin tidak lebih lemah daripada Hian-cu Hongtiang, di jagat ini terang tiada orang ketiga lagi yang dapat menandingi mereka.&#8221;</p>
<p>Alangkah kagumnya Kiau Hong, pikirnya diam-diam, &#8220;Sungguh mahasakti kepandaian Sih-sin-ih ini. Dia hanya memegang nadi A Cu sebentar, segera ia dapat menguraikan apa yang terjadi pada pertarungan itu dengan tepat. Tampaknya dia pasti dapat juga menyembuhkan A Cu.&#8221;</p>
<p>Maka dengan rasa girang segera ia berkata, &#8220;Jika nona ini terbinasa di bawah pukulan Tay-pan-yak-kim-kong-ciang, tentu Siau-lim-pay akan ikut tersangkut, maka sudilah Sih-sin-ih menaruh belas kasihan dan suka mengobatinya.&#8221;</p>
<p>Sembari berkata, kembali ia memberi hormat.</p>
<p>Tapi belum lagi Si Tabib Sakti menjawab, tiba-tiba Hian-cit tanya A Cu, &#8220;Siapakah orang yang melukai Nona? Di manakah kau diserang olehnya dan sekarang penyerang itu berada di mana?&#8221;</p>
<p>Karena urusan menyangkut nama baik Siau-lim-pay mereka, pula tidak disangka bahwa di dunia ini ternyata masih ada golongan lain yang mahir Tay-pan-yak-kim-kong-ciang, maka betapa pun ia ingin mengusut urusan ini hingga terang.</p>
<p>Sebaliknya sifat A Cu memang nakal dan jahil, tiba-tiba tergerak pikirannya, &#8220;Kawanan hwesio ini gentar kepada kongcu kami, biarlah aku sengaja menakuti-nakuti mereka.</p>
<p>Maka ia lantas menjawab, &#8220;Penyerang itu adalah seorang pemuda cendekia, wajahnya cakap dan potongannya ganteng. Waktu itu aku sedang minum dengan Kiau-toaya di suatu kedai arak sambil mempercakapkan kepandaian Sih-sin-ih yang mahasakti dan tiada bandingannya sepanjang sejarah &#8230;.&#8221;</p>
<p>Manusia mana yang tidak suka dipuji dan diumpak? Begitu pula dengan Sih-sin-ih. Apalagi kata-kata itu diucapkan oleh seorang dara jelita, maka tanpa terasa tabib sakti itu sangat senang, ia mengelus jenggotnya dengan tersenyum sambil mendengarkan pujian-pujian setinggi langit itu.</p>
<p>Sebaliknya Kiau Hong berkerut kening, sebab apa yang dikatakan A Cu itu sudah terang omong kosong belaka.</p>
<p>Terdengar A Cu mencerocos lagi, &#8220;Waktu itu aku berkata, &#8216;Adanya Sih-sin-ih itu di dunia, sebenarnya orang lain tidak perlu belajar silat lagi.&#8217; Maka Kiau-toaya tanya padaku apa sebabnya? Aku menjawab, &#8216;Jika setiap orang yang dipukul mati toh akan dihidupkan kembali oleh Sih-sin-ih, lalu apa gunanya orang belajar ilmu silat segala, bukankah sia-sia? Bila kau bunuh seorang, beliau sanggup hidupkan dua orang, kau bunuh dua orang, beliau malahan hidupkan empat orang. Nah, kan sia-sia orang belajar silat?&#8217;&#8221;</p>
<p>Dasar A Cu memang pandai bicara dan pintar mengarang, lagu suaranya enak didengar pula tidak membosankan pendengarnya. Saking tertariknya bahkan ada yang bergelak tertawa.</p>
<p>Namun A Cu sendiri sedikit pun tidak tertawa, ia sambung lagi, &#8220;Di luar dugaan di meja sebelah waktu itu pun duduk seorang kongcuya, rupanya percakapan kami dapat didengarnya, tiba-tiba ia mendengus dan berkata, &#8216;Hah, segala pukulan di dunia ini pada umumnya enteng tak bertenaga, karena itulah tabib she Sih bisa mendapatkan nama kosong. Coba kalau tenaga pukulanku ini, apakah dia mampu menyembuhkan?&#8217;&#8221;</p>
<p>Habis berucap begitu dari tempat duduknya ia terus menghantam ke arahku dari jauh. Tadinya kukira dia hanya bergurau saja, maka tidak kuambil pusing, Tapi Kiau-toaya inilah yang terkejut &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah dia yang menangkiskan pukulan itu?&#8221; tanya Hian-cit.</p>
<p>&#8220;Bukan,&#8221; sahut A Cu dengan menggeleng kepala. &#8220;Jika Kiau-toaya menangkis pukulan itu, tentu aku takkan terluka. Justru karena jarak Kiau-toaya dengan aku agak jauh, maka tanpa pikir ia angkat sebuah kursi dan ditimpukkan dari samping. Syukurlah pertolongan Kiau-toaya itu tepat datangnya hingga kursi itu hancur kena tenaga pukulan kongcu muda itu, aku sendiri merasa sekujur badan enteng bagai terbang ke awang-awang, sedikit pun tidak bertenaga lagi. Lalu kongcuya itu berkata padaku, &#8216;Nah, sekarang boleh kau pergi pada Sih-sin-ih, suruh dia latihan dulu atas lukamu ini, supaya kelak dia takkan repot jika mesti mengobati Hian-cu Taysu.&#8217;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa maksud perkataannya itu?&#8221; tanya Hian-lan dengan kening bekernyit.</p>
<p>&#8220;Agaknya ia maksudkan kelak akan menggunakan Tay-pan-yak-kim-kong-ciang untuk melukai Hian-cu Taysu,&#8221; sahut A Cu.</p>
<p>Seketika para kesatria dibikin gempar pula, banyak di antaranya berseru, &#8220;He, Ih-pi-ci-to hoan-si-pi-sin, ternyata betul, itulah dia Koh-soh Buyung!&#8221;</p>
<p>Mereka pakai kalimat &#8220;ternyata betul&#8221;, maksudnya mereka sudah menduga sebelumnya akan keterangan A Cu itu.</p>
<p>Begitulah oleh karena A Cu sudah tahu Buyung Hok bakal cari setori pada orang Siau-lim-pay, maka sekarang ia sengaja membual untuk menggertak lawan dulu, sekalian untuk mengangkat derajat dan meninggikan perbawa Buyung-kongcu.</p>
<p>&#8220;He, bukankah Kiau Hong tadi bilang ada orang memalsukan padri Siau-lim-si, mengapa nona ini sekarang mengatakan penyerangnya itu adalah seorang muda, sebenarnya manakah yang betul?&#8221; tiba-tiba Yu Ek menegas.</p>
<p>&#8220;Orang yang memalsukan padri Siau-lim-si memang bukan karangan, aku sendiri menyaksikan dua hwesio yang mengaku dari Siau-lim-si, tapi diam-diam mencuri anjing orang untuk disembelih,&#8221; sahut A Cu. Ia sadar bualannya tadi agak tidak cocok dengan keterangan Kiau Hong, maka ia sengaja omong yang tidak-tidak untuk membelokkan pokok pertanyaan mereka.</p>
<p>Dengan sendirinya Sih-sin-ih lantas tahu juga apa yang diceritakan A Cu itu agak ganjil, seketika ia menjadi ragu apakah mesti mengobati luka gadis ini atau tidak. Ia coba pandang Hian-lan dan Hian-cit berdua, lalu memandang Yu-si-siang-hiong dan memandang pula Kiau Hong dan A Cu.</p>
<p>&#8220;Hari ini jika Sih-siansing sudi menolong Nona Wi, budi kebaikan ini pasti takkan kulupakan di kemudian hari,&#8221; ujar Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Hehe, takkan melupakan kebaikanku di kemudian hari? Memangnya kau kira kau dapat keluar dari sini dengan hidup?&#8221; jengek Sih-sin-ih.</p>
<p>&#8220;Keluar dari sini dengan hidup atau akan mati di sini, hal ini tak dapat kupikirkan lagi,&#8221; kata Kiau Hong. &#8220;Yang terang, luka nona ini betapa pun harus kau obati.&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk apa aku harus mengobati dia?&#8221; sahut Sih-sin-ih dengan ketus.</p>
<p>&#8220;Kota Buddha, menolong jiwa seorang melebihi membangun tujuh tingkat candi,&#8221; ujar Kiau Hong. &#8220;Sebagai seorang bu-lim yang wajib berlaku bajik, rasanya tidak mungkin Sih-siansing tega menyaksikan nona ini mati begitu saja tanpa berdosa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebenarnya siapa pun yang membawa nona ini kemari, pasti akan kusembuhkan dia,&#8221; sahut Sih-sin-ih. &#8220;Tapi, hm, karena kau yang membawanya kemari, maka aku tidak mau menolong dia.&#8221;</p>
<p>Air muka Kiau Hong berubah mendadak, katanya dengan dingin, &#8220;Kalian berkumpul di Cip-hian-ceng tujuan kalian memang hendak menghadapi orang she Kiau, masakah aku tidak tahu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, Kiau-toaya, jika begitu, tidak seharusnya engkau menempuh bahaya dan membawa aku ke sini,&#8221; sela A Cu mendadak.</p>
<p>Namun Kiau Hong menyambung lagi, &#8220;Tapi kupikir kalian adalah kaum kesatria sejati, tentu dapat membedakan yang benar dan yang salah, yang ingin kalian bunuh juga cuma aku seorang dan tiada sangkut paut apa-apa dengan nona cilik ini. Sekarang rasa benci Sih-siansing kepadaku ikut merembet atas diri Nona Wi ini, bukankah itu tidak patut?&#8221;</p>
<p>Sih-sin-ih menjadi bungkam. Sejenak barulah ia menjawab, &#8220;Apakah aku akan mengobati seseorang atau tidak bergantung kepada keputusanku, hal ini tak dapat dimohon oleh siapa pun dan tak bisa dipaksakan padaku. Kiau Hong, dosamu, sudah kelewat takaran, kami justru lagi berunding hendak membekuk batang lehermu untuk mencencangmu guna sesajen ayah-bunda dan gurumu yang telah menjadi korban keganasanmu itu. Jika sekarang kau sendiri sudah datang kemari, itulah paling bagus. Nah, boleh kau bereskan nyawamu sendiri saja.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, sekali ia memberi tanda, serentak para kesatria berteriak sekali sambil melolos senjata masing-masing, seluruh ruangan itu penuh sinar kemilau dari berbagai jenis senjata. Menyusul di tempat tinggi juga terdengar suara seruan, di atap rumah, emper, dan pagar tembok sudah penuh berdiri jago-jago silat dengan senjata siap di tangan.</p>
<p>Meski sudah banyak pertempuran besar yang dialami Kiau Hong, tapi biasanya anggota Kay-pang yang dipimpinnya itu selalu berjumlah lebih banyak daripada pihak musuh, tidak pernah seorang diri terkepung di tengah musuh banyak seperti sekarang ini, bahkan ia masih harus melindungi seorang nona cilik yang terluka parah, sungguh ia menjadi bingung juga cara bagaimana mesti meloloskan diri dari kepungan musuh yang ketat ini.</p>
<p>Yang paling khawatir adalah A Cu. &#8220;Kiau-toaya, lekas engkau melarikan diri saja dan tidak perlu urus diriku! Mereka tiada permusuhan apa-apa denganku, tentu aku takkan dibikin susah oleh mereka,&#8221; demikian seru A Cu sambil menangis.</p>
<p>Tergerak pikiran Kiau Hong, ia pikir para kesatria tentu takkan bikin susah seorang gadis tak berdosa, biarlah lekas kutinggalkan tempat ini saja. Tapi segera terpikir pula, &#8220;Seorang laki-laki sejati sekali menolong orang harus menolong sampai akhirnya, sedangkan Sih-sin-ih belum lagi menyanggupi akan mengobati lukanya, sebelum tahu pasti bagaimana nasib nona cilik ini, mana boleh aku tamak hidup dan takut mati, lalu tinggal pergi begini saja?&#8221;</p>
<p>Ia coba pandang sekitar ruangan tamu itu, ia lihat banyak tokoh terkemuka di antara hadirin itu adalah kenalan lama.</p>
<p>Melihat jago-jago terkemuka sebanyak itu, sekonyong-konyong semangat jantannya berkobar-kobar, rasa jeri tersapu bersih semua. Katanya di dalam hati, &#8220;Andaikan darahku akan membasahi Cip-hian-ceng ini dan badanku akan dicencang mereka, apa artinya lagi bagiku? Seorang laki-laki kenapa mesti girang hidup dan takut mati?&#8221;</p>
<p>Berpikir begitu, segera ia terbahak dan berkata, &#8220;Sih-sin-ih, kalian menuduh aku adalah orang Cidan dan ingin membunuhku. Hehehe, apakah aku sebenarnya orang Cidan atau orang Han, sampai saat ini aku sendiri pun tidak pasti &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar, memang kau anak keturunan capcai, dengan sendirinya kau tidak tahu keturunan jenis apa!&#8221; tiba-tiba suara orang yang dingin aneh tadi bergema lagi di antara orang banyak. Sejak tadi semua orang ingin tahu siapakah gerangan pembicara itu, tapi meski sudah dicari dan diperhatikan arah datangnya suara itu, tetap tak diketahui bibir siapa yang bergerak dan bicara itu. Jika perawakan orang itu sangat pendek, toh di antara hadirin itu tiada seorang pun yang berperawakan katai.</p>
<p>Semula Kiau Hong juga celingukan mencari si pembicara itu, tapi sesudah memerhatikan sejenak kemudian ia manggut-manggut, ia tidak gubris orang dan melanjutkan perkataannya kepada Sih-sin-ih, &#8220;Dan bila aku ternyata bangsa Han adanya, hari ini engkau telah menghinaku secara terbuka begini, tidak nanti aku tinggal diam atas perbuatanmu ini. Sebaliknya kalau aku adalah bangsa Cidan dan bertekad akan memusuhi para kesatria Tionggoan, maka orang pertama yang akan kubunuh adalah dirimu, dengan demikian supaya setiap kesatria Tionggoan yang kulukai akan binasa dan tak dapat tertolong lagi olehmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang, betapa pun kau pasti akan membunuhku,&#8221; sahut Sih-sin-ih.</p>
<p>&#8220;Tapi aku mohon sukalah engkau menolong nona ini, satu jiwa kubayar kembali dengan satu jiwa, selamanya aku takkan mengganggu seujung rambutmu,&#8221; ujar Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Hehehe,&#8221; Sih-sin-ih tertawa dingin, &#8220;selama hidupku bila mengobati orang hanya kalau dimohon, tapi tidak pernah dipaksa atau diancam.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kan kutukar jiwamu dengan satu jiwa secara adil, tak dapat dikatakan aku mengancam atau memaksa,&#8221; sahut Kiau Hong.</p>
<p>Tiba-tiba suara dingin dan aneh tadi berkata pula, &#8220;Huh, apakah kau tidak malu? Padahal sekejap lagi kau sendiri akan dicencang mereka menjadi perkedel, tapi kau masih bicara tentang mengampuni jiwa orang segala? Kau &#8230;.&#8221;</p>
<p>Belum selesai ia berkata, mendadak Kiau Hong membentak, &#8220;Gelinding keluar!&#8221;</p>
<p>Begitu hebat bentakannya hingga atap rumah seakan-akan terguncang, debu kotoran pun bertebaran dari atas, telinga setiap orang seakan-akan pekak dan jantung berdebar.</p>
<p>Pada saat lain tertampaklah di antara orang banyak ada seorang laki-laki terhuyung-huyung menumbuk kian-kemari pada orang-orang di sekitarnya. Hanya sekejap saja di situ lantas berwujud suatu tempat luang, orang-orang lain sama menyingkir dan laki-laki itu tampak sempoyongan bagai orang mabuk.</p>
<p>Para kesatria lantas dapat melihat jelas laki-laki itu berjubah hijau, muka pucat kaku, perawakannya sangat kekar dan tegap, tapi tiada yang kenal siapakah dia.</p>
<p>&#8220;Ah, tahulah aku, dia ini Tui-hun-tiang Tam-ceng. Ya, dia inilah murid Yan-king Taycu,&#8221; demikian tiba-tiba Oh-pek-kiam Su An berseru.</p>
<p>Tui-hun-tiang Tam-ceng, Si Tongkat Pencabut Nyawa, mukanya waktu itu tampak berkerut-kerut, terang sedang menderita kesakitan yang luar biasa sambil kedua tangan tiada berhenti-henti memukul dan mencakar dada sendiri. Dari dalam badannya terdengar suara perkataan, &#8220;Aku &#8230; aku tiada permusuhan apa-apa dengan &#8230; denganmu, mengapa kau musnahkan ilmuku?&#8221;</p>
<p>Suaranya tetap lirih, dingin dan aneh, tapi kini terdengar lemah dan terputus-putus, sedang bibirnya sedikit pun tidak bergerak.</p>
<p>Keruan banyak di antara hadirin terkejut dan heran. Hanya beberapa di antaranya yang mengetahui bahwa ilmu kemahiran Tam-ceng itu disebut &#8220;Hok-lwe-gi&#8221; (ilmu bicara dengan perut), dengan ilmu mukjizat itu ditambah lwekang yang tinggi, sering pihak lawan bisa dipermainkan hingga semangat kabur dan sukma hilang, akhirnya terbinasa.</p>
<p>Rupanya Tam-ceng sudah memperoleh kepandaian gurunya, yaitu, Yan-king Taycu dan telah menjadi seorang pembicara dengan perut yang ulung.</p>
<p>Tapi sial baginya, ia ketanggor sekali ini, karena lwekang Kiau Hong jauh lebih tinggi daripadanya, maka ilmu sihirnya itu tidak mempan, sebaliknya ia kena digertak Kiau Hong dan ia celaka sendiri.</p>
<p>Maka dengan gusar Sih-sin-ih lantas mendamprat Tam-ceng, &#8220;Jadi kau inilah murid &#8216;Ok-koan-boan-eng&#8217; Toan Yan-king? Pertemuan besar kaum kesatria yang kuadakan ini hanya disediakan untuk para pahlawan. Manusia rendah dan sampah masyarakat macammu ini juga berani menyelundup ke sini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Huh, pertemuan kesatria apa segala, kulihat lebih tepat dikatakan pertemuan antara kawanan babi celeng!&#8221; tiba-tiba dari tempat tinggi di kejauhan berkumandang suara seorang. Dan begitu selesai ucapannya, tahu-tahu sesosok bayangan orang melayang turun dari atas pagar tembok yang tinggi.</p>
<p>Perawakan orang ini tampak lencir dan tinggi sekali dengan gerak-geriknya yang sangat cepat. Banyak di antara penjaga di atas rumah telah berusaha merintanginya, tapi semuanya terlambat sedikit hingga orang jangkung ini sempat menerobos lewat.</p>
<p>Segera banyak juga di antara hadirin mengenal si jangkung ini tak-lain-tak-bukan adalah &#8220;Kiong-hiong-kek-ok&#8221; In Tiong-ho alias Si Ganas dan Mahajahat.</p>
<p>Dan begitu In Tiong-ho melayang turun ke tengah ruangan, dengan cepat ia jambret Tam-ceng terus menerjang ke arah Sih-sin-ih malah.</p>
<p>Karena khawatir tabib sakti itu diserang, dengan sendirinya tokoh-tokoh di sekitarnya serentak berusaha melindunginya. Tak tersangka tindakan In Tiong-ho itu melulu tipu belaka, pura-pura maju tapi sebenarnya akan mundur. Begitu lawan mengerubut maju, cepat sekali ia melompat mundur dan melompat ke atas pagar tembok lagi.</p>
<p>Sebenarnya tidak sedikit di antara kesatria yang hadir itu berilmu silat lebih tinggi daripada In Tiong-ho, tapi karena didahului oleh durjana itu, ditambah lagi ginkang Tiong-ho memang lain daripada yang lain, sekali dia sudah naik ke pagar tembok, sukarlah untuk disusul oleh siapa pun.</p>
<p>Segera banyak di antara jago-jago itu bermaksud menyerang dengan senjata rahasia, penjaga di atas atap rumah juga membentak dan hendak mencegat, tapi Kiau Hong sudah mendahului bertindak, mendadak ia membentak, &#8220;Tinggal sajalah di sini!&#8221;</p>
<p>Berbareng sebelah tangan terus memukul dari jauh, kontan suatu arus tenaga mahadahsyat bagaikan senjata tanpa wujud mengenai punggung In Tiong-ho.</p>
<p>Tanpa ampun lagi mahadurjana itu bersuara tertahan sekali, lalu terbanting jatuh ke belakang. Begitu terjungkal ke bawah, terus saja mulutnya menyemburkan darah segar bagai air mancur.</p>
<p>Sebaliknya Tam-ceng yang ikut terjungkal kembali itu masih dapat merangkak bangun, namun tetap terhuyung-huyung ke sana dan kemari sambil mulutnya menggumam seperti orang gila, keadaannya sangat lucu. Namun tiada seorang pun di antara hadirin geli oleh kelakuan Tam-ceng itu, sebaliknya mereka merasa keadaan di depan mata itu sangat seram.</p>
<p>Sih-sin-ih tahu luka In Tiong-ho sangat parah, tapi masih dapat ditolong, sebaliknya semangat Tam-ceng sudah runtuh, pikiran sehatnya sudah hilang, tiada obat mukjizat di dunia ini yang dapat menolong jiwanya. Terbayang olehnya Kiau Hong hanya sekali menggertak dan sekali menghantam dari jauh saja sudah memiliki daya selihai itu, bila bekas pangcu itu mau ambil jiwanya, rasanya tiada yang mampu merintanginya.</p>
<p>Tengah Sih-sin-ih termenung itu, tertampak Tam-ceng tidak bergerak lagi, tapi berdiri terpatung di tempatnya tanpa bersuara lagi. Kedua matanya mendelik, napasnya sudah putus.</p>
<p>Tadi Tam-ceng telah menghina Kay-pang, sebenarnya anggota-anggota Kay-pang sangat murka, tapi waktu itu tiada diketemukan siapa pembicaranya, maka mereka cuma gusar tanpa ada sasarannya. Kini, sekali Kiau Hong datang ke situ, segera orang itu dapat dimampuskan, tentu saja mereka merasa sangat senang dan puas. Kesatria-kesatria yang jujur tulus sebagai Go-tianglo dan Song-tianglo sampai hampir-hampir bersorak memuji, cuma teringat oleh mereka bahwa Kiau Hong sekarang bukan pangcu mereka lagi, pula dituduh sebagai keturunan Cidan, maka mereka urung bersorak. Tapi lapat-lapat dalam hati kecil mereka toh merasa menyesal bila Kiau Hong tidak menjadi pangcu mereka, maka kejayaan Kay-pang yang telah lalu tentu susah dibangun kembali.</p>
<p>&#8220;Kedua Yu-heng,&#8221; demikian Kiau Hong berkata. &#8220;Hari ini Cayhe dapat bersua dengan kenalan-kenalan lama di sini, tapi untuk selanjutnya kita akan menjadi lawan dan bukan kawan lagi, sungguh aku merasa sangat menyesal, maka aku ingin mohon beberapa mangkuk arak padamu.&#8221;</p>
<p>Semua orang menjadi heran menyaksikan ketenangan Kiau Hong ini, di bawah kepungan lawan sebanyak ini toh dia masih sempat minta minum arak apa segala. Diam-diam Yu Ek pikir, &#8220;Biarlah kita lihat cara bagaimana ia akan bertingkah?&#8221;</p>
<p>Maka ia lantas perintahkan centeng menyediakan arak yang diminta.</p>
<p>Cip-hian-ceng sedang mengadakan pertemuan, dengan sendirinya arak dan daharan sudah tersedia lebih dari cukup. Hanya sekejap pelayan sudah sediakan poci dan cawan arak seperlunya.</p>
<p>Tapi Kiau Hong berkata pula, &#8220;Cawan sekecil ini mana dapat memuaskan, harap ambilkan mangkuk yang besar.&#8221;</p>
<p>Segera dua centeng membawakan beberapa buah mangkuk besar dan satu guci arak simpanan, mereka menaruh semua itu di atas meja di depan Kiau Hong dan menuangkan satu mangkuk penuh.</p>
<p>&#8220;Harap setiap mangkuk diisi semua,&#8221; pinta Kiau Hong, dan sesudah hal itu dipenuhi kedua pelayan, lalu Kiau Hong angkat mangkuk dan berkata, &#8220;Para enghiong-hohan dari segenap penjuru yang hadir di sini sebagian besar adalah kawan lama Kiau Hong, tapi sekarang karena aku dicurigai kalian, marilah, silakan, kita habiskan semangkuk arak ini sekadar tanda putusnya persaudaraan. Siapa yang ingin membunuh diriku harap minum dulu semangkuk. Selanjutnya putuslah hubungan baik kita, apakah aku akan terbunuh oleh kalian atau kalian akan kubinasakan, masing-masing tidak perlu sungkan-sungkan. Nah, silakan siapa yang akan maju lebih dulu.&#8221;</p>
<p>Seketika ruangan tamu itu menjadi sunyi senyap, semuanya berpikir dengan khawatir, &#8220;Jika aku maju dulu, jangan-jangan akan tertipu olehnya. Pukulan sakti dari jauh seperti tadi mana aku sanggup menangkisnya?&#8221;</p>
<p>Dalam keadaan hening itulah, tiba-tiba tampil ke muka seorang perempuan berpakaian putih berkabung. Itulah janda Be Tay-goan.</p>
<p>Be-hujin mengangkat mangkuk arak dan berkata dengan dingin, &#8220;Suamiku dibinasakan olehmu, di antara kita tiada soal persaudaraan lagi!&#8221;</p>
<p>Lalu ia tempelkan mangkuk arak ke bibir, ia cicip sedikit dan berkata pula, &#8220;Aku tidak sanggup minum habis arak ini, tapi sakit hati kematian suami yang harus kubalas adalah mirip arak ini.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia siram sisa arak ke lantai.</p>
<p>Waktu Kiau Hong perhatikan janda muda itu, ia lihat Be-hujin itu cantik molek. Tempo hari waktu bertemu di tengah hutan, karena cuaca sudah gelap, maka wajahnya tidak jelas kelihatan, sungguh tak tersangka wanita yang lihai itu ternyata mempunyai wujud secantik ini. Tanpa bicara ia pun angkat mangkuknya, sekali tenggak ia habiskan isi mangkuk. Ia memberi tanda agar pelayan memenuhi mangkuknya lagi.</p>
<p>Sesudah Be-hujin undurkan diri, lalu maju Ci-tianglo, ia pun tanpa bicara mengeringkan semangkuk arak diiringi Kiau Hong.</p>
<p>Dan setelah Thoan-kong Tianglo, lalu majulah Cit-hoat Tianglo. Selagi tokoh Kay-pang itu angkat mangkuknya hendak ditenggak, mendadak Kiau Hong berkata, &#8220;Nanti dulu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kiau-heng ada pesan apa?&#8221; tanya Cit-hoat Tianglo. Biasanya ia sangat hormat kepada Kiau Hong, maka nada suaranya sekarang tetap merendah seperti biasanya, bedanya cuma tidak memanggil &#8220;pangcu&#8221; lagi.</p>
<p>Maka berkatalah Kiau Hong, &#8220;Kita adalah saudara selama sepuluh tahun, sungguh tidak nyana hari ini mesti menjadi musuh.&#8221;</p>
<p>Air mata Cit-hoat Tianglo berlinang-linang di kelopak matanya, sahutnya, &#8220;Jika tidak menyangkut kepentingan nusa dan bangsa, Pek Si-kia lebih suka mati daripada bermusuhan dengan Kiau-heng.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku paham hal ini,&#8221; kata Kiau Hong sambil mengangguk, &#8220;Sebentar lagi kita akan menjadi lawan, rasanya tak terhindar daripada suatu pertarungan sengit. Maka Kiau Hong ingin minta tolong sesuatu urusan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Asal tidak menyangkut pengkhianatan pada negara, pasti akan kuterima,&#8221; sahut Pek Si-kia.</p>
<p>Kiau Hong tersenyum, katanya sambil menunjuk A Cu, &#8220;Apabila saudara dalam Kay-pang masih ingat pada sedikit jasaku yang pernah kuberikan kepada pang, harap suka jaga keselamatan nona cilik ini.&#8221;</p>
<p>Mendengar pesan itu tahulah semua orang bahwa Kiau Hong sudah bertekad akan menempur para kesatria sampai titik darah penghabisan. Dikeroyok oleh lawan sebanyak biarpun dia mampu membinasakan beberapa puluh orang, namun akhirnya Kiau Hong sendiri tentu juga akan terbinasa. Maka mau tak mau para kesatria terharu juga oleh semangat jantan dan jiwa kesatria Kiau Hong itu.</p>
<p>Sebagai seorang tokoh terkemuka serta kedudukan yang tinggi selaku Cit-hoat Tianglo dalam Kay-pang, dengan sendirinya Pek Si-kia adalah seorang kesatria yang berjiwa besar, apalagi hubungannya dengan Kiau Hong biasanya sangat karib. Maka pesan terakhir bekas pangcu itu segera dijawabnya, &#8220;Harap Kiau-heng jangan khawatir, Pek Si-kia pasti akan mohon Sih-sin-ih suka menyembuhkan nona itu, bila terjadi apa-apa atas diri Nona Wi, Pek Si-kia rela akan membunuh diri untuk mempertanggungjawabkan pesan Kiau-heng ini.&#8221;</p>
<p>Janji Cit-hoat Tianglo ini cukup tegas, apakah nanti Sih-sin-ih akan mengobati A Cu atau tidak, yang pasti ia akan berusaha sekuat tenaga. Seorang tokoh bu-lim selamanya berani berkata berani berbuat, apalagi ia telah berjanji di depan orang banyak, maka janji pasti akan ditepati olehnya.</p>
<p>Kiau Hong percaya sepenuhnya, katanya, &#8220;Banyak terima kasih atas kebaikan Tianglo ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan dalam pertarungan nanti Kiau-heng tidak perlu berlaku sungkan-sungkan, bila aku mesti mati di tanganmu, tentu kawan-kawan Kay-pang yang lain akan menggantikan aku menjaga Nona Wi.&#8221;</p>
<p>Habis bicara, ia angkat mangkuk arak dan menenggaknya hingga habis. Begitu pula Kiau Hong lantas mengiringi dengan minum semangkuk.</p>
<p>Lalu giliran maju Song-tianglo, Go-tianglo dan tokoh Kay-pang yang lain. Kemudian majulah jago-jago bu-lim dari berbagai mazhab yang hadir di situ, satu per satu mengadu mangkuk dengan Kiau Hong. Tampaknya dalam waktu singkat Kiau Hong sendiri sudah menghabiskan 40-50 mangkuk arak, satu guci penuh tadi sudah habis terminum, malahan centeng sudah mengeluarkan pula satu guci, tapi keadaan Kiau Hong masih segar bugar, bahkan wajahnya sedikit pun tidak merah, hanya perutnya tampak sedikit gembung, tiada sesuatu tanda lain yang luar biasa.</p>
<p>Keruan semua orang ternganga heran, pikir mereka, &#8220;Jika minum terus cara begini, jangankan mesti bergebrak segala, mungkin sekali mabuk takkan sanggup bangun lagi.&#8221;</p>
<p>Sudah tentu mereka tidak tahu bahwa semakin banyak minum arak semangat Kiau Hong semakin tambah. Apalagi selama beberapa hari ini Kiau Hong selalu menghadapi kejadian yang mengesalkan dan membuatnya penasaran. Kini ia telah kesampingkan semua itu dan sengaja hendak melabrak mereka sepuasnya.</p>
<p>Setelah lebih 60 mangkuk arak masuk perut Kiau Hong, Pau Jian-leng dan Ki Liok juga mengadu mangkuk dengan dia, tiba-tiba majulah Hiang Bong-thian, ia angkat sebuah mangkuk dan berkata, &#8220;Orang she Kiau, biarlah aku pun minum semangkuk denganmu!&#8221;</p>
<p>Mendengar ucapan orang yang kurang hormat itu, Kiau Hong menjadi panas telinganya, ia melirik hina pada Hiang Bong-thian dan menyahut, &#8220;Orang she Kiau minum arak putus hubungan ini dengan para kesatria bu-lim, maksudnya menghapuskan segala kebaikan persaudaraan masa lalu. Tapi kau ini kutu busuk macam apa? Macam dirimu juga tidak ada harganya untuk bicara tentang persaudaraan denganku dan mengajak minum &#8216;coat-kay-ciu&#8217; (arak putus hubungan) padaku?&#8221;</p>
<p>Bicara sampai di sini, tanpa memberi kesempatan pada Hiang Bong-thian untuk bicara lagi, ia melangkah maju setindak, sekali tangan kanan terjulur, tahu-tahu dada baju Hiang Bong-thian kena dijambretnya, menyusul sekali ia angkat dan ayun ke depan, Hiang Bong-thian yang besar itu terlempar keluar ruangan, &#8220;bluk,&#8221; dengan keras badan Hiang Bong-thian tertumbuk dinding dan seketika menggeletak kelengar.</p>
<p>Suasana menjadi kacau dan tegang. Segera Kiau Hong melompat ke pekarangan, bentaknya, &#8220;Ayolah, siapa yang berani maju dulu untuk menempur aku!&#8221;</p>
<p>Melihat betapa gagah dan tangkasnya Kiau Hong, seketika nyali para tokoh bu-lim itu menjadi ciut hingga tiada seorang pun berani maju.</p>
<p>&#8220;Kalian tidak berani maju, biarlah aku yang mulai dulu!&#8221; bentak Kiau Hong. Dan tanpa ampun lagi ia terus menghantam dua kali dari jauh, kontan dua orang terkapar di tanah oleh angin pukulan jarak jauh itu.</p>
<p>Bahkan Kiau Hong terus menerjang maju, di mana kepalan dan sikutnya tiba, di mana kakinya melayang dan telapak tangan menghantam, dalam sekejap saja kembali beberapa orang dirobohkan pula.</p>
<p>&#8220;Lekas mundur mepet dinding, jangan sembarangan menyerang!&#8221; teriak Yu Ek cepat.</p>
<p>Seruan Yu Wk memang tepat. Jumlah orang yang berada di ruangan ada dua-tiga ratus, kalau mengerubut maju begitu saja, betapa pun tinggi ilmu silat Kiau Hong juga tak mampu melawan. Tapi tempatnya kecil dan orangnya banyak, dengan cara berjubel begitu, yang benar dapat mendekati Kiau Hong paling-paling juga cuma lima-enam orang saja, dan di bawah hujan pukulan dan tendangan pasti lebih banyak kawan sendiri yang akan terluka oleh orang sendiri. Maka sesudah seruan Yu Ek itu, seketika terluanglah di bagian tengah hingga cukup luas.</p>
<p>&#8220;Marilah, biar kubelajar kenal dulu kepandaian Yu-si-siang-hiong dari Cip-hian-ceng,&#8221; seru Kiau Hong pula. Dan sekali tangan kiri bergerak, tahu-tahu guci arak di atas meja tadi terbang melayang ke arah Yu Ek.</p>
<p>Cepat Yu Ek dorong kedua tangannya ke depan, maksudnya hendak tahan guci itu ke lantai. Di luar dugaan, Kiau Hong telah susulkan sekali hantaman dengan tangan kanan, &#8220;prak&#8221;, guci hancur dan beratus beling pecahan guci bertebaran.</p>
<p>Beling dari remukan guci itu sudah tentu sangat tajam, ditambah lagi terdorong oleh tenaga pukulan Kiau Hong yang dahsyat, keruan beling guci menjadi mirip beratus senjata rahasia seperti piau, hui-to (pisau terbang), dan lain-lain.</p>
<p>Seketika muka Yu Ek terkena tiga potong beling hingga darah bercucuran, belasan orang di sampingnya juga ikut terluka. Maka paniklah gelanggang pertarungan itu, suara caci maki bercampur dengan suara jerit riuh.</p>
<p>Dalam pada itu sebelah kaki Kiau Hong menendang pula hingga guci arak yang lain didepak mencelat, selagi dia hendak menambahi sekali hantaman pula, sekonyong-konyong dari belakang terasa menyambar tiba serangkum angin pukulan yang bertenaga halus, tapi sebenarnya mengandung tenaga dalam yang sangat kuat.</p>
<p>Kiau Hong tahu pukulan itu dilontarkan oleh seorang jago kelas wahid, ia tidak berani ayal, cepat ia menangkis ke belakang. Maka bertemulah dua arus tenaga dalam yang kuat.</p>
<p>Waktu Kiau Hong memerhatikan penyerang itu, ternyata orangnya bermuka jelek dan lucu, itulah dia si &#8220;badut&#8221; yang tak punya nama, tapi mengaku sebagai &#8220;Tio-ci-sun&#8221; itu.</p>
<p>Diam-diam Kiau Hong tidak berani memandang enteng tokoh yang hebat lwekangnya ini. Sekali ia tarik napas panjang-panjang, pukulan kedua segera dilancarkan bagaikan gugur gunung dahsyatnya.</p>
<p>Rupanya Tio-ci-sun juga tahu melulu dengan sebelah tangannya takkan mampu menahan serangan Kiau Hong itu, maka dengan dorong kedua tangan sekaligus ia berusaha menangkis.</p>
<p>&#8220;Apakah kau cari mampus!&#8221; mendadak suara seorang wanita di sampingnya membentak. Berbareng Tio-ci-sun merasa pundaknya ditarik orang ke samping hingga serangan Kiau Hong itu terhindarkan.</p>
<p>Namun begitu toh tenaga pukulan Kiau Hong itu masih terus menerjang ke depan. Maka celakalah tiga orang di belakang Tio-ci-sun, mereka yang tertimpa malang. Terdengarlah suara gedebukan tiga kali, ketiga orang itu mencelat dan menumbuk dinding dengan keras, begitu hebat tumbukan itu hingga kapur pasir dinding rontok bertebaran.</p>
<p>Waktu Tio-ci-sun menoleh, ia lihat orang yang menariknya tadi adalah Tam-poh, ia menjadi girang, katanya, &#8220;Terima kasih atas pertolonganmu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau serang bagian kiri dan aku akan menyerang dari kanan,&#8221; kata Tam-poh.</p>
<p>Dan baru Tio-ci-sun mengiakan, tahu-tahu sesosok bayangan orang yang kurus kecil sudah mendahului menerjang ke arah Kiau Hong. Ternyata orang itu adalah Tam-kong, si kakek Tam.</p>
<p>Jangan sangka perawakan Tam-kong itu kurus kecil, tenaga dalamnya ternyata sangat kuat, begitu tangan kiri menghantam ke depan, menyusul serangan tangan kanan dilontarkan lagi. Dan sedikit tangan kiri ditarik kembali, segera ia tambahkan tenaga pukulannya pada tangan kanan.</p>
<p>Serangan tiga kali secara berantai ini menjadi mirip damparan ombak yang susul-menyusul, dibandingkan pukulan Tio-ci-sun tadi, terang tiga kali pukulan Tam-kong ini beberapa kali lipat lebih kuat.</p>
<p>&#8220;Pukulan &#8216;Tiang-kang-sam-tiap-long&#8217; (Ombak Mendebur Tiga Susun di Sungai Tiangkang) yang hebat!&#8221; puji Kiau Hong sambil memapak dengan tangan kiri.</p>
<p>Benturan kedua arus tenaga dalam yang hebat itu memaksa orang lain terdesak mundur ke pinggir. Dan pada saat itulah Tam-poh dan Tio-ci-sun pun mengerubut maju, menyusul Ci-tianglo, Thoan-kong Tianglo, Tan-tianglo dan lain-lain juga ikut terjun ke kalangan pertarungan sengit itu.</p>
<p>&#8220;Kiau-hengte, Cidan tidak dapat hidup berdampingan dengan kerajaan Song raya kita, demi kepentingan umum terpaksa kita mesti kesampingkan hubungan pribadi, maafkan bila aku akan berlaku kasar padamu!&#8221; demikian Thoan-kong Tianglo berseru.</p>
<p>&#8220;Sedangkan coat-kay-ciu juga sudah kita minum, buat apa bicara tentang persaudaraan lagi? Awas serangan!&#8221; demikian sahut Kiau Hong sambil mendepak ke arah tokoh Kay-pang itu.</p>
<p>Namun begitu omongnya, toh terhadap tokoh Kay-pang mau tak mau ia berlaku sungkan juga, bukan saja tiada niat mencelakai jiwa mereka, bahkan membikin malu mereka di depan orang banyak juga tidak. Maka depakan itu sampai di tengah jalan mendadak ganti arah, &#8220;bluk&#8221;, tahu-tahu Goay-to Ki Liok yang menjadi sasarannya hingga tertendang mencelat.</p>
<p>Rupanya Ki Liok, Si Golok Kilat itu sama sekali tidak menyangka akan tindakan itu, keruan ia menjerit kaget ketika mendadak pantatnya terasa terdepak dan badannya mencelat ke atas. Goloknya sebenarnya sedang dibacokkan ke kepala Kiau Hong, tapi karena badannya mumbul ke udara, dan goloknya tetap dibacokkan, maka terdengarlah &#8220;crat&#8221;, golok itu tepat kena membacok belandar utama ruangan besar itu.</p>
<p>Gedung utama Cip-hian-ceng yang dibangun Yu-si-siang-hiong itu sangat megah dan kukuh, lebih-lebih belandar itu adalah sejenis kayu pilihan yang sangat kuat. Maka sekali kena bacok dengan kuat, golok Ki Liok itu lantas ambles belasan senti dalamnya hingga senjata itu tergigit dengan kencang dalam belandar.</p>
<p>Golok Ki Liok itu adalah senjata andalan yang membuatnya terkenal, kini harus menghadapi musuh tangguh, mana dia mau kehilangan senjata itu? Maka sekuatnya ia memegangi golok itu dengan tangan kanan. Dengan demikian, tubuhnya menjadi terkatung-katung di udara, keadaannya menjadi lucu dan aneh. Tapi setiap orang di tengah ruangan itu sedang menghadapi detik antara mati dan hidup, dengan sendirinya tiada seorang pun sempat menertawainya.</p>
<p>Kiau Hong sendiri meski sudah banyak menghadapi pertempuran seru dan selamanya tidak pernah kalah, tapi kini harus bertempur dengan jago sebanyak dan selihai ini, hal ini pun selama hidupnya tidak pernah dialami. Namun sama sekali ia tidak gentar sebaliknya semangatnya semakin berkobar, ia mainkan kedua tangannya naik-turun hingga lawan-lawan tangguh sukar mendekatinya.</p>
<p>Sih-sin-ih memang sakti dalam ilmu pengobatan, tapi ilmu silatnya belum tergolong kelas wahid. Dalam ilmu pertabiban memang dia mempunyai bakat pembawaan dan pengalaman yang mendalam. Dalam hal ilmu silat ia pun sangat luas pengetahuannya, tapi luas pengetahuan tidak berarti pandai pula menggunakannya. Oleh karena terlalu luas dan terlalu banyak yang dia pelajari, maka tiada sejurus pun ilmu silat itu benar-benar dilatihnya hingga sempurna. Jadi hanya sepintas lalu saja ia mempelajari berbagai jurus ilmu silat yang diperolehnya dari tokoh-tokoh yang pernah diobati olehnya.</p>
<p>Sebelumnya ia suka bergirang dan puas akan pengetahuan sendiri yang luas dalam hal ilmu silat, tapi kini demi menyaksikan pertarungan sengit antara Kiau Hong melawan orang banyak itu, betapa hebat dan lihainya bekas Pangcu Kay-pang ini benar-benar membuatnya terpesona, sungguh mimpi pun tak terpikir olehnya ada ilmu silat begini lihai. Saking takjubnya hingga ia terkesima di tempatnya, jangankan lagi hendak maju bertempur.</p>
<p>Begitulah ia berdiri mepet tembok dengan rasa takut, cuma untuk merat secara diam-diam betapa pun ia merasa enggan, sebagai pengundang masakah ia sendiri malah kabur lebih dulu? Sekilas tiba-tiba dilihatnya Hian-lan berdiri di sebelahnya, tergerak hatinya, maka katanya perlahan, &#8220;Ucapanku tadi sesungguhnya kurang sopan, harap Taysu suka memaafkan.&#8221;</p>
<p>Sebenarnya Hian-lan asyik mengikuti pertarungan sengit di tengah ruangan itu, ia terkesiap oleh perkataan Sih-sin-ih itu, segera ia tanya, &#8220;Ucapan apa maksudmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tadi aku menyatakan heran mengapa Kiau Hong mampu keluar-masuk Siau-lim-si seorang diri dengan bebas tanpa terluka apa-apa, dan sesudah menyaksikan sekarang, nyata dia memang cukup mampu untuk berbuat begitu,&#8221; kata Sih-sin-ih.</p>
<p>Keruan Hian-lan kurang senang mendengar demikian, sahutnya dengan mendengus, &#8220;Hm, Sih-sin-ih ingin menguji ilmu silat Siau-lim-pay, bukan?&#8221;</p>
<p>Belum lagi Sih-sin-ih menjawab, terus saja ia melangkah maju, sekali lengan bajunya yang komprang itu mengebas, mendadak dari bawah lengan baju timbul suara menderu yang keras, angin pukulan yang dahsyat lantas menyambar ke arah Kiau Hong.</p>
<br />Posted in Jin Yong, Pendekar Kerajaan Tayli  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toanki.wordpress.com/1835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toanki.wordpress.com/1835/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toanki.wordpress.com/1835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toanki.wordpress.com/1835/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toanki.wordpress.com/1835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toanki.wordpress.com/1835/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toanki.wordpress.com/1835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toanki.wordpress.com/1835/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toanki.wordpress.com/1835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toanki.wordpress.com/1835/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toanki.wordpress.com/1835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toanki.wordpress.com/1835/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toanki.wordpress.com/1835/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toanki.wordpress.com/1835/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1835&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-31/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b75e221c0eee4ff517b26695a19675fc?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">Lenghou Tiong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 30</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-30/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-30/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 05:05:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1833</guid>
		<description><![CDATA[Mendengar suara itu, padri di ujung kiri tadi terkejut, cepat ia membuka mata sambil melompat bangun, sekilas ia lihat kawan yang duduk di sebelahnya juga sudah ditendang roboh oleh Ti-jing. Keruan ia terperanjat dan berteriak, &#8220;Hai, Ti-jing, apa yang kau lakukan?&#8221; &#8220;Lihatlah, siapa yang datang itu?&#8221; tiba-tiba Ti-jing menuding keluar. Selagi padri kawannya itu menoleh, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1833&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mendengar suara itu, padri di ujung kiri tadi terkejut, cepat ia membuka mata sambil melompat bangun, sekilas ia lihat kawan yang duduk di sebelahnya juga sudah ditendang roboh oleh Ti-jing. Keruan ia terperanjat dan berteriak, &#8220;Hai, Ti-jing, apa yang kau lakukan?&#8221;</p>
<p><span id="more-1833"></span>&#8220;Lihatlah, siapa yang datang itu?&#8221; tiba-tiba Ti-jing menuding keluar. Selagi padri kawannya itu menoleh, tanpa ayal lagi kaki Ti-jing bekerja pula ke punggung orang.</p>
<p>Tendangan itu sangat cepat dan seharusnya tepat pula mengenai sasarannya. Tapi tempat mereka itu tepat menghadapi cermin perunggu yang besar itu hingga apa yang terjadi dapat dilihat yang bersangkutan dengan jelas. Segera padri pertama tadi berkelit sambil balas menghantam sekali.</p>
<p>&#8220;Ti-jing, apa kau sudah gila?&#8221; bentaknya gusar.</p>
<p>Tapi Ti-jing tidak memberi kesempatan pada lawannya, ia menyerang secara bertubi-tubi. Sampai jurus kedelapan, perut padri itu kena dihantamnya sekali, menyusul kena didepak sekali lagi.</p>
<p>Kiau Hong bertambah heran menyaksikan itu. Cara Ti-jing menyerang itu adalah jurus silat yang ganas tanpa kenal ampun yang tidak layak digunakan terhadap sesama saudara perguruan sendiri.</p>
<p>Rupanya padri pertama tadi juga tahu gelagat tidak beres, segera ia berteriak-teriak, &#8220;Ada mata-mata musuh, ada&#8230;.&#8221;</p>
<p>Tapi sebelum ia berseru lebih lanjut, dadanya sudah kena digenjot sekali lagi oleh Ti-jing, kontan padri itu jatuh pingsan.</p>
<p>Setelah merobohkan kelima padri itu, cepat Ti-jing berlari ke depan cermin perunggu besar itu. Dengan jari telunjuk kanan segera ia pencet beberapa kali pada huruf &#8220;sin&#8221;, yaitu huruf pertama dari 20 huruf kata-kata Buddha yang terpancang di samping cermin itu.</p>
<p>Dari bayangan cermin Kiau Hong dapat melihat wajah Ti-jing menampilkan rasa girang. Menyusul dilihatnya hwesio itu memijat lagi huruf ketujuh, yaitu huruf &#8220;ju&#8221;.</p>
<p>&#8220;Tadi hwesio itu mengatakan &#8216;sin-ju-hud-tim&#8217; apa segala, jika demikian, menyusul huruf yang akan dipijat Ti-jing tentu adalah &#8216;hud&#8217; dan &#8216;tim&#8217;,&#8221; demikian Kiau Hong membatin.</p>
<p>Dan memang benar, habis itu Ti-jing berturut-turut telah pencet huruf tersebut. Lalu terdengar suara keriang-keriut, perlahan cermin perunggu itu dapat membalik sendiri.</p>
<p>Dalam saat begitu kalau Kiau Hong melarikan diri boleh dikatakan sangat mudah dan pasti takkan diketahui oleh siapa pun juga. Tapi karena ia tertarik oleh kejadian ini, ia ingin tahu apa sebenarnya maksud tujuan Ti-jing, mengapa hwesio itu merobohkan kawan sendiri dan barang apa pula yang terdapat di balik cermin itu. Bisa jadi apa yang akan dilihatnya ada sangkut pautnya dengan kematian Hian-koh Taysu.</p>
<p>Begitulah karena suara teriakan si padri pertama tadi, maka dari jauh hwesio-hwesio yang sedang ronda segera ribut mencari dari mana tempat datangnya suara teriakan itu. Segera terdengar di sana-sini ramai dengan suara orang berlari.</p>
<p>&#8220;Jika hwesio yang ronda itu datang kemari, jangan-jangan jejakku akan ketahuan nanti?&#8221; diam-diam Kiau Hong menjadi ragu.</p>
<p>Tapi demi teringat kedatangan hwesio-hwesio itu nanti perhatiannya tentu akan terpusat pada Ti-jing seorang, kesempatan untuk dirinya lolos masih sangat besar, biarlah sementara ini aku tunggu dulu.</p>
<p>Dalam pada itu ia lihat Ti-jing sedang sibuk sendirian, tangan hwesio itu lagi merogoh ke belakang cermin perunggu itu seperti sedang mencari sesuatu, tapi tiada sesuatu yang diperolehnya.</p>
<p>Dan pada saat itulah suara tindakan orang banyak terdengar mendekati pintu Po-te-ih itu.</p>
<p>Wajah Ti-jing tampak mengunjuk rasa kecewa, segera ia bermaksud meninggalkan tempat itu. Tapi tiba-tiba teringat sesuatu olehnya, ia mendak dan melongok ke balik cermin, menyusul terdengar ia berseru tertahan, &#8220;Hah, ini dia!&#8221;</p>
<p>Habis itu, tangannya merogoh ke belakang cermin dan mengeluarkan sebuah bungkusan kecil. Cepat ia masukkan bungkusan itu ke dalam baju, lalu bermaksud melarikan diri. Namun sudah terlambat sedikit, para padri yang ronda sudah berkerumun tiba, segala jalan keluar sudah ditutup.</p>
<p>Ti-jing tampak bingung dan celingukan kian-kemari. Mendadak berlari ke pintu depan.</p>
<p>&#8220;Cara demikian ia keluar ke sana, tidak bisa tidak pasti dia akan tertangkap,&#8221; demikian Kiau Hong membatin.</p>
<p>Dan pada saat itu juga sekonyong-konyong terasa sambaran angin, ada orang menubruk ke tempat sembunyinya. Dengan ilmu &#8220;Thing-hong-pian-gi&#8221; atau mendengarkan angin membedakan benda, tanpa berpaling tangan kirinya terus menangkap hingga tepat urat nadi pergelangan penyergap itu kena dicengkeramnya. Menyusul tangan kanan menahan ke atas, tepat &#8220;leng-tay-hiat&#8221; di punggung orang itu kena disodok, tanpa ampun lagi orang itu kaku linu serta tak dapat berkutik.</p>
<p>Setelah musuh tertangkap, barulah Kiau Hong hendak memeriksa wajah orang. Saat itu di ruangan situ cuma terpasang beberapa pelita minyak, sinarnya agak guram, namun begitu dengan sinar mata Kiau Hong yang tajam dapat dikenali tawanan itu tak-lain-tak-bukan adalah&#8230; Ti-jing.</p>
<p>Untuk sejenak Kiau Hong melengak, tapi ia pun paham duduknya perkara, &#8220;Ya, tahulah aku. Seperti aku, orang ini juga bermaksud bersembunyi ke belakang arca Buddha ini. Kebetulan ia pun menjatuhkan pilihan pada arca ketiga yang terbangun lebih besar dan gemuk ini. Tapi mengapa ia berlari ke pintu depan dulu, lalu masuk kembali dari pintu belakang secara diam-diam? Ehm, tentu ini adalah akalnya. Ia tahu di dalam ruangan masih menggeletak lima padri, sebentar kalau ada orang datang dan tanya mereka, tentu mereka akan mengatakan Ti-jing telah lari melalui pintu depan, dengan demikian ruangan Po-te-ih tentu takkan digeledah lagi. Ai, orang ini benar-benar licin dan banyak tipu akalnya.&#8221;</p>
<p>Sembari berpikir, Kiau Hong tetap pegang Ti-jing dengan kencang. Ia coba tempelkan mulutnya ke telinga padri itu dan membisikinya, &#8220;Jika kau berani bersuara, sekali hantam tentu kumampuskan kau!&#8221;</p>
<p>Ti-jing tidak bersuara, ia hanya mengangguk saja.</p>
<p>Dan pada saat itulah dari pintu depan telah menerobos masuk 7-8 orang hwesio. Tiga di antaranya membawa obor pula hingga seluruh ruangan pendopo itu menjadi terang benderang.</p>
<p>Melihat ada lima orang kawanan mereka menggeletak di situ, seketika gemparlah kawanan hwesio itu, segera ada yang berteriak, &#8220;Hai, kembali bangsat Kiau Hong itu mengganas lagi!&#8221; &#8211; &#8220;Eh, kiranya Ti-kong, Ti-yan Suheng dan lain-lain!&#8221; &#8211; &#8220;Wah, celaka! Kenapa cermin perunggu ini terjungkat? Kiau Hong telah mencuri kitab di dalam Po-te-ih ini!&#8221; &#8211; &#8220;Hayo, lekas lapor kepada Hongtiang!&#8221;</p>
<p>Begitulah Kiau Hong mendengar suara ribut-ribut kawanan padri Siau-lim-si itu, ia hanya dapat tersenyum getir saja dan membatin, &#8220;Kembali dosa ini dicatat atas utangku lagi.&#8221;</p>
<p>Sebentar kemudian, hwesio-hwesio yang berkerumun di Po-te-ih bertambah banyak. Kiau Hong merasa Ti-jing meronta-ronta beberapa kali, mungkin bermaksud melarikan diri. Segera ia paham maksud orang, &#8220;Ya, saat ini para hwesio berkumpul di sini, penjagaan di luar tentu agak kendur, pula Ti-kong, Ti-yan, dan lain-lain belum sadar, kesempatan ini memang sangat baik untuk melarikan diri bagi Ti-jing ini, biarpun dia berjalan terang-terangan di dalam ruangan ini juga tiada orang mencurigai dia, sebab setiap orang telah menyangka akulah pengganasnya.&#8221;</p>
<p>Segera pikirannya tergerak pula, &#8220;Tampaknya Ti-jing ini juga tidak cukup cerdik, mengapa tadi ia bersembunyi ke sini? Kalau dia berjalan keluar ke sana, masakah ada orang akan menegurnya?&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu suasana mendadak menjadi sepi, tiada seorang pun yang berani membuka suara. Kiranya Hian-cu Hongtiang dan hwesio-hwesio pimpinan dari berbagai ruangan telah datang semua.</p>
<p>Lebih dulu Hian-cit Taysu, kepala ruang Liong-si-ih, membuka jalan darah Ti-kong berlima untuk menyadarkan mereka, lalu ditanya, &#8220;Apakah kalian dirobohkan Kiau Hong? Dari mana dia mendapat tahu rahasia di dalam cermin perunggu ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan Kiau Hong, tapi adalah&#8230; adalah&#8230;.&#8221; demikian sahut Ti-kong, dan belum lagi menyebut nama Ti-jing, sekonyong-konyong ia menubruk ke arah seorang padri di samping Hian-cu Hongtiang, ia jambret dada padri itu sambil mendamprat, &#8220;Bagus, bagus! Mengapa kau mendadak membokong kami?&#8221;</p>
<p>Sebenarnya Kiau Hong ingin sekali mengintip siapakah gerangan yang dituduh Ti-kong itu, tapi ia pun khawatir kalau-kalau dipergoki hwesio-hwesio yang banyak berkumpul di situ, maka ia tidak berani sembarangan melongok ke luar.</p>
<p>Maka terdengarlah seorang berseru dengan terkejut, &#8220;Apa? Ti-kong Suheng, ada apa engkau menarik diriku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Engkau telah menendang roboh kami berlima dan mencuri kitab pusaka, sungguh besar sekali nyalimu!&#8221; seru Ti-kong pula. &#8220;Lapor Hongtiang, pengkhianat Ti-jing inilah yang menyerang kami dan membuka cermin rahasia itu serta mencuri kitab pusaka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa? Ap&#8230; apa?&#8221; teriak yang didakwa itu dengan kaget. &#8220;Sejak tadi aku selalu mendampingi Hongtiang, cara bagaimana aku dapat datang ke sini untuk mencuri kitab segala?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tutup dulu cermin perunggu itu, tentang kejadian tadi, coba ceritakan dengan jelas,&#8221; sela Hian-cit tiba-tiba dengan kereng.</p>
<p>Segera Ti-yan membenarkan cermin perunggu itu ke tempatnya semula. Dengan demikian, keadaan di ruangan itu kembali dapat dilihat oleh Kiau Hong melalui cermin itu. Ia lihat seorang hwesio sedang mencak-mencak dengan penasaran oleh karena tanpa berdosa telah dituduh menyerang kawan sendiri.</p>
<p>Waktu Kiau Hong memerhatikan mukanya, ia menjadi terkejut. Kiranya hwesio itu tak-lain-tak-bukan memang Ti-jing adanya.</p>
<p>Dalam herannya, dengan sendirinya Kiau Hong memandang juga kepada Ti-jing yang tertawan olehnya itu. Ia lihat air muka kedua orang itu memang mirip benar, kalau diperhatikan mungkin ada sedikit berlainan, tapi kalau dipandang sepintas lalu, tidak mungkin orang dapat membedakan mereka.</p>
<p>Diam-diam Kiau Hong berpikir, &#8220;Di dunia ini, sedikit sekali orang yang berwajah semirip begini satu sama lain. Ya, ya, tentu mereka adalah saudara kembar. Tipu mereka ini sangat bagus, yang satu menjadi hwesio di Siau-lim-si, yang lain menunggu di luar, begitu ada kesempatan bagus, segera yang satu itu pun menyamar sebagai hwesio untuk mencuri kitab ke dalam biara. Sedangkan Ti-jing itu selalu berdampingan dengan Hongtiang, sudah tentu tiada orang yang berani mencurigai dia.&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu terdengar Ti-kong sedang menguraikan apa yang terjadi tadi, ia ceritakan tentang bagaimana Ti-jing memancing rahasia cermin perunggu itu serta tanpa sadar dia telah mengatakan empat huruf kunci rahasia itu, lalu Ti-jing pura-pura hendak pergi ke kamar kecil dan mendadak membokong mereka dari belakang serta saling gebrak dengan dia, tapi akhirnya ia sendiri dirobohkan. Semuanya ia tuturkan dengan jelas.</p>
<p>Pada waktu Ti-kong melaporkan apa yang terjadi itu, Ti-yan berempat juga tiada hentinya membenarkan apa yang dikatakan kawannya itu untuk memberi kesaksian bahwa cerita itu bukanlah karangan.</p>
<p>Sebaliknya Hian-cu Hongtiang yang menerima laporan itu, wajahnya tampak mengunjuk rasa tidak membenarkan. Ia tunggu sehabis Ti-kong menutur, kemudian barulah ia menanya dengan perlahan, &#8220;Apa yang kau ceritakan itu, apakah engkau sudah melihatnya dengan jelas? Benar-benar engkau yakin adalah perbuatan Ti-jing?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lapor Hongtiang, apa yang terjadi itu telah kami lihat dengan jelas,&#8221; sahut Ti-kong dan Ti-yan beramai-ramai. &#8220;Selamanya kami tiada dendam apa-apa dengan Ti-jing, mengapa kami mesti mengarang cerita yang tak benar untuk memfitnahnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, urusan ini tentu ada apa-apa yang tidak beres. Sebab selama dua jam ini, Ti-jing selalu berada di sampingku, sejengkal pun ia tidak pernah meninggalkan aku,&#8221; ujar Hian-cu kemudian dengan menghela napas.</p>
<p>Ucapan sang hongtiang ini benar-benar membikin semua padri yang hadir di situ tercengang, mereka saling pandang dengan bungkam. Begitu pula Ti-kong dan lain-lain juga tidak berani membuka suara lagi. Maklum, apa yang dikatakan sang ketua ini masakah mungkin omong kosong?</p>
<p>&#8220;Ya, memang aku pun menyaksikan sendiri selama itu Ti-jing selalu berada di samping Hongtiang Suheng, masakah ia dapat datang ke Po-te-ih sini untuk mencuri kitab?&#8221; demikian kata Hian-lan, salah satu tokoh tertinggi dari anak murid Siau-lim-si angkatan &#8220;Hian&#8221;, yaitu setingkat dengan Hian-cu.</p>
<p>&#8220;Ti-kong,&#8221; Hian-cit ikut bertanya, &#8220;waktu Ti-jing itu bergebrak dengan kau, apakah di antara permainan silatnya itu ada sesuatu yang mencurigakan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, memang benar! Mengapa aku melupakan hal itu?&#8221; seru Ti-kong. &#8220;Tadi waktu aku bergebrak dengan dia, terang sekali tipu-tipu serangan yang dia gunakan itu bukanlah ilmu silat dari golongan kita.&#8221;</p>
<p>&#8220;Habis, ilmu silat dari golongan atau aliran mana? Dapatkah engkau melihatnya?&#8221; Hian-cit menegas.</p>
<p>Tapi Ti-kong tampak bingung, ia tidak mampu menjawab.</p>
<p>&#8220;Apakah dia menggunakan pukulan Tiang-kun? Atau kim-na-jiu? Te-tong-kun? Liok-hap-kun atau Theng-pi-kun?&#8221; demikian Hian-cit menanya pula dengan serentetan nama ilmu silat dari golongan lain.</p>
<p>Tapi Ti-kong menggeleng, sahutnya, &#8220;Bu&#8230;. bukan. Ilmu silatnya itu sangat keji, beberapa kali Tecu tanpa sadar kena serangannya.&#8221;</p>
<p>Maka Hian-cit, Hian-lan dan beberapa padri agung lainnya tidak tanya lebih jauh, mereka saling memberi isyarat mata dengan Hongtiang. Mereka tahu hari ini biara mereka telah kedatangan seorang musuh yang berkepandaian sangat tinggi dan telah mempermainkan mereka dengan akal-akal licik. Jalan satu-satunya sekarang adalah melakukan penggeledahan dan penggerebekan secara serentak di samping harus berlaku tenang, supaya suasana dalam biara tidak menjadi kacau.</p>
<p>Kemudian berkatalah Hian-cu sambil merangkap tangan, &#8220;Kitab yang tersimpan dalam Po-te-ih ini adalah buah tangan padri saleh angkatan tua biara kita, jika kitab-kitab itu diperoleh anak murid Buddha, kalau dapat membaca dan memperdalam ajaran dalam kitab itu, dengan sendirinya besar manfaatnya. Tapi kalau orang luar yang memperolehnya tanpa memberi penghargaan sebagaimana mestinya, itu berarti suatu dosa. Para Sute dan para Sutit, sekarang silakan kembali ke tempatnya masing-masing.&#8221;</p>
<p>Mendengar perintah sang ketua itu, para padri lantas bubar dan pergi. Hanya Ti-kong, Ti-yan dan lain-lain masih penasaran dan masih mengomeli Ti-jing. Tapi ketika Hian-cit mendelik, Ti-kong dan lain-lain terkejut, seketika mereka bungkam dan cepat pergi bersama Ti-jing.</p>
<p>Sesudah padri lain pergi semua, kini di ruangan situ hanya tertinggal Hian-cu, Hian-lan dan Hian-cit bertiga. Ketiga saudara seperguruan itu duduk di atas tikar di depan arca Buddha. Mendadak Hian-cu berseru, &#8220;Omitohud! Dosa, dosa!&#8221;</p>
<p>Begitu selesai ucapannya, sekonyong-konyong ketiga padri itu melompat ke atas, tahu-tahu mereka mengitar ke belakang arca Buddha dan berbareng menghantam ke arah Kiau Hong dari tiga jurusan yang berlainan.</p>
<p>Sungguh Kiau Hong sana sekali tidak menduga bahwa jejaknya telah diketahui oleh ketiga padri itu. Lebih-lebih tidak menyangka bahwa ketiga padri yang tampaknya sudah tua dan reyot itu, tahu-tahu lantas menyerang, serangannya juga begitu cepat dan lihai.</p>
<p>Dalam sekejap itu Kiau Hong merata napasnya sesak, dada tertekan tiga arus tenaga yang mahadahsyat. Nyata serangan berbareng ketiga hwesio Siau-lim-si itu bukan main hebatnya. Ia merasa tenaga serangan lawan sudah mengurungnya dari atas, bawah, belakang dan kanan-kiri, lima jurusan sudah tertutup oleh tenaga pukulan ketiga padri, kalau mesti melawannya, itu berarti harus keras lawan, kalau lawan tidak roboh, dirinya sendiri yang pasti celaka.</p>
<p>Namun keadaan sudah tidak memungkinkan dia berpikir lagi, terpaksa ia hantamkan telapak tangan ke depan, &#8220;prak, bruk&#8221;, arca Buddha yang dipakai aling-aling tadi kena dihantam hingga roboh.</p>
<p>Kiau Hong tidak berani ayal, sekalian ia jinjing tubuh &#8220;Ti-jing&#8221; terus melompat ke depan sana. Pada saat itu pula ia merasa punggung disambar oleh tenaga pukulan yang dahsyat, terang orang telah menyerangnya dengan Kim-kong-ciang (pukulan tenaga raksasa) yang merupakan kungfu khas Siau-lim-pay. Bila terkena pukulan itu, bukan mustahil badan akan hancur dan perut akan lebur.</p>
<p>Tapi sedapat mungkin Kiau Hong tidak mau mengadu pukulan dengan padri Siau-lim-si. Dalam keadaan melayang ke depan, cepat tangan terjulur untuk memegang cermin perunggu yang sangat besar itu.</p>
<p>Begitu hebat tenaga sakti Kiau Hong, sekali pegang, kontan cermin perunggu itu kena diangkatnya, dan sekali ia putar, bagaikan perisai saja cermin perunggu itu dipakainya untuk menahan ke belakang.</p>
<p>Maka terdengarlah &#8220;brang&#8221; yang sangat keras, pukulan dahsyat yang dilontarkan oleh Hian-lan tepat kena di atas cermin perunggu, begitu hebat tenaga hantaman itu hingga lengan Kiau Hong seakan-akan patah oleh getaran tenaga itu. Tapi dengan meminjam getaran tenaga pukulan Hian-lan itu, berbareng Kiau Hong dapat melompat beberapa meter lebih jauh ke depan.</p>
<p>Tiba-tiba ia dengar di belakang ada suara orang menarik napas panjang. Suara pernapasan itu jauh berbeda daripada orang biasa. Dari pengalamannya yang luas serta pengetahuannya yang tinggi, segera Kiau Hong tahu pernapasan aneh itu dilakukan oleh seorang jago Siau-lim-pay yang sakti dan segera akan melancarkan serangan sebangsa &#8220;Bik-khong-sin-kun&#8221; (pukulan sakti dari jauh).</p>
<p>Meski dirinya tidak gentar terhadap pukulan apa pun, tapi juga tiada berguna melawannya keras sama keras. Maka cepat ia menggunakan cermin perunggu sebagai tameng pula, sekaligus tenaganya ia pusatkan di tangan kanan itu.</p>
<p>Dan pada saat yang sama itulah ia merasakan angin pukulan orang sudah menyambar tiba. Tapi aneh, arah yang dituju agak janggal. Kiau Hong terkesiap, tapi segera ia pun sadar apa yang terjadi. Pukulan padri itu bukan ditujukan ke punggungnya, tapi yang diincar adalah punggung &#8220;Ti-jing&#8221; yang dibawanya itu.</p>
<p>Sebenarnya Kiau Hong tidak kenal &#8220;Ti-jing&#8221;, dengan sendirinya bukan tujuannya hendak menolong dia. Tapi sekali ia sudah jinjing orang, otomatis timbul rasa kewajibannya untuk melindunginya. Tanpa pikir lagi ia sorong cermin perunggu ke depan. &#8220;Brak&#8221;, suara cermin itu tidak nyaring lagi, tapi suaranya berubah parau, cermin itu dihantam hancur oleh padri tua itu.</p>
<p>Tadi waktu ia putar cermin ke belakang untuk menahan serangan, berbareng Kiau Hong terus melompat ke atas rumah sambil menjinjing Ti-jing. Ia merasa tubuh Ti-jing itu sangat enteng, sama sekali tidak sepadan dengan perawakannya yang kekar dan tegap itu. Dan selagi dia merasa syukur dapat menyelamatkan diri, ketika terdengar suara cermin pecah, tahu-tahu berdirinya di atas emper rumah terasa kurang kuat, sekali kaki terasa lemas, kembali ia terbanting ke bawah.</p>
<p>Keruan kejutnya bukan buatan. Sejak ia malang melintang di Kangouw, belum pernah ia ketemu lawan setangguh itu. Cepat ia melompat bangun dan berdiri tegak dengan siap siaga, dengan tenang ia menghadap ke punggung tiga lawan itu.</p>
<p>&#8220;Omitohud!&#8221; demikian kata Hian-cu pula. &#8220;Kiau-sicu, sesudah kau datang ke Siau-lim-si tanpa permisi dan membunuh orang, kembali kau rusak arca Buddha pula. Nah, rasakan dulu pukulanku ini.&#8221;</p>
<p>Sehabis mengucapkan kata-kata itu dengan kalem, lalu kedua tangannya terpentang dan memutar hingga berwujud sebuah lingkaran, kemudian didorongkan ke depan dengan perlahan. Belum lagi pukulan Hian-cu itu dilontarkan, lebih dulu Kiau Hong sudah merasa napas sesak, dalam sekejap saja tenaga pukulan Hian-cu sudah membanjir tiba bagai gelombang ombak mendampar.</p>
<p>Kiau Hong tidak berani ayal, cepat ia buang cermin perunggu yang sudah bobrok itu sedangkan tangan kanan balas menghantam dengan gerak tipu &#8220;Hang-liong-yu-hwe&#8221;, yaitu salah satu pukulan sakti &#8220;Hang-liong-sip-pat-ciang&#8221;, delapan belas jurus ilmu pukulan penakluk naga, ilmu pukulan mahasakti andalan Kay-pang.</p>
<p>Maka terdengarlah suara mencicit benturan kedua arus tenaga yang tak kelihatan. Meski suara itu sangat lirih, tapi Hian-cu dan Kiau Hong sama-sama terentak mundur tiga tindak.</p>
<p>Sesaat Kiau Hong merasa antero tubuh menjadi lemas seakan-akan tak bertenaga pula, terpaksa ia lepaskan Ti-jing dari pegangannya. Namun dasar lwekangnya memang sangat tinggi, sekali ia kerahkan tenaga murni pula, cepat sekali tenaga pulih kembali. Belum lagi pukulan kedua dari Hian-cu tiba, segera ia berseru, &#8220;Maaf, aku tak dapat mengawani kalian lagi!&#8221;</p>
<p>Berbareng ia angkat Ti-jing dan melompat ke atas rumah.</p>
<p>Sayup-sayup Kiau Hong masih mendengar suara heran Hian-lan dan Hian-cit oleh karena melihat ketangkasannya itu.</p>
<p>Maklum, pukulan Hian-cu tadi telah menggunakan segenap tenaga dalam yang terpupuk selama hidupnya ini. Gerak serangan itu disebut &#8220;It-bik-liang-san&#8221; atau sekali tabok, dua kali buyar. Yang dimaksudkan buyar ialah, bila tubuh manusia terkena pukulan itu, seketika jiwa melayang dan badan hancur lebur.</p>
<p>Ilmu pukulan itu memang melulu terdiri satu jurus itu saja, soalnya karena memakai tenaga dalam yang mahasakti, tatkala menyerang musuh hakikatnya tidak perlu digunakan untuk kedua kalinya, sebab sekali saja musuh pasti akan terbinasa.</p>
<p>Siapa duga, sesudah Kiau Hong menerima pukulan &#8220;It-bik-liang-san&#8221; itu, bukan saja ia tidak mati, sebaliknya dalam waktu singkat sudah dapat memulihkan tenaganya serta melarikan diri pula sambil menggondol seorang lagi. Sudah tentu Hian-lan dan Hian-cit terheran-heran sekali.</p>
<p>&#8220;Ilmu silat orang sekali-kali tidak di bawah kita, bila dia membikin rusuh di dunia Kangouw, sejak kini celakalah kaum bu-lim,&#8221; demikian kata Hian-cu dengan gegetun.</p>
<p>&#8220;Makanya harus lekas dibasmi, supaya tidak menimbulkan bahaya di kemudian hari,&#8221; ujar Hian-cit.</p>
<p>Hian-lan mengangguk-angguk tanda setuju, tapi Hian-cu Hongtiang diam saja, ia hanya termangu-mangu memandang jauh ke arah perginya Kiau Hong tadi.</p>
<p>Pada waktu lari tadi Kiau Hong masih sempat menoleh ke arah padri-padri itu, ia melihat cermin perunggu tadi sudah pecah berkeping-keping kena hantaman Hian-cit, dari setiap kepingan cermin itu tertampak bayangan belakangnya. Tanpa sebab hati Kiau Hong kembali tergetar. Ia tidak habis heran, &#8220;Mengapa setiap kali aku melihat bayanganku sendiri selalu aku merasa tidak enak? Apa sebabnya?&#8221;</p>
<p>Tapi waktu itu ia terburu-buru berusaha meninggalkan Siau-lim-si, perasaan sangsi yang timbul itu segera lenyap terbawa oleh larinya yang cepat itu.</p>
<p>Jalan di lereng Siau-sit-san itu sangat hafal bagi Kiau Hong, boleh dikatakan mata tertutup juga takkan kesasar. Maka sesudah menyusur ke balik gunung itu, selalu ia pilih jalan yang terjal, yang sulit ditempuh.</p>
<p>Sesudah beberapa li jauhnya, ia tidak mendengar suara kejaran hwesio Siau-lim-si lagi, legalah hatinya. Ia taruh Ti-jing ke tanah dan membentaknya, &#8220;Boleh kau jalan sendiri! Tapi jangan coba melarikan diri!&#8221;</p>
<p>Tak terduga, begitu kaki Ti-jing menyentuh tanah, seketika badan lemas lunglai dan terkulai ke tanah seakan-akan cacing mati.</p>
<p>Kiau Hong terkesiap. Ia coba periksa napasnya, ia merasa napas orang sangat lemas, seperti ada seperti hilang. Waktu pegang urat nadinya pula, denyutnya juga sangat lambat seolah-olah orang sudah dekat ajalnya.</p>
<p>Pikir Kiau Hong, &#8220;Banyak persoalan yang belum terjawab bagiku, aku justru hendak menanyai dia, mana boleh dia mati secara begini mudah? Sekali kau jatuh di tanganku, pasti tipu muslihatmu akan terbongkar. Tapi, ya, mungkin khawatir rahasianya ketahuan, maka dia lantas telan racun untuk membunuh diri.&#8221;</p>
<p>Ia coba meraba dada orang untuk memeriksa denyut jantungnya. Tapi Kiau Hong menjadi kaget ketika merasa tempat yang teraba tangannya itu lunak empuk, nyata itu bukan dada seorang laki-laki, hwesio itu ternyata seorang perempuan.</p>
<p>Maka cepat Kiau Hong menarik kembali tangannya, ia semakin heran, &#8220;Jadi dia&#8230; dia samaran seorang wanita?&#8221;</p>
<p>Segera ia keluarkan ketikan api untuk menerangi muka Ti-jing, ia lihat pada dagu hwesio itu penuh tutul-tutul hitam, yaitu akar jenggot, tenggorokan juga terdapat biji leher, terang itu tanda kelakian yang tak dapat dipalsukan.</p>
<p>Hal ini benar-benar membuat Kiau Hong semakin bingung. Ia coba meraba kepala gundul orang, jelas halus kelimis, sedikit pun tidak palsu. Apakah dia banci? Demikian pikirnya.</p>
<p>Kiau Hong adalah seorang yang berjiwa terbuka dan bebas, tidak pikirkan adat istiadat kolot segala, lain daripada Toan Ki yang masih kukuh kepada tata krama yang kolot. Muka segera ia seret Ti-jing serta membentaknya lagi, &#8220;Sebenarnya kau laki-laki atau perempuan? Lekas mengaku sebelum aku membelejeti bajumu untuk diperiksa!&#8221;</p>
<p>Bibir Ti-jing tampak bergerak-gerak seperti ingin bicara, tapi tiada sesuatu suara yang keluar, nyata jiwanya sudah tergantung di ujung rambut saja, keadaannya sudah sangat payah.</p>
<p>Kiau Hong pikir tidak peduli orang ini laki-laki atau perempuan, yang pasti tidak boleh dia mati begitu saja. Maka cepat ia gunakan tangan kanan untuk menahan punggung Ti-jing. Ia kerahkan tenaga dalamnya, melalui tangannya ia salurkan hawa murni ke dalam tubuh Ti-jing.</p>
<p>Sebab apakah mendadak keadaan Ti-jing menjadi begitu payah?</p>
<p>Kiranya tadi waktu Kiau Hong mengadu pukulan dengan Hian-cu, tenaga pukulan &#8220;It-bik-liang-san&#8221; dari Hian-cu itu sungguh tidak kepalang hebatnya, tatkala itu sebelah tangan Kiau Hong mengangkat Ti-jing sehingga getaran tenaga pukulan lawan menembus ke badan Ti-jing dan melukainya.</p>
<p>Begitulah Kiau Hong telah salurkan hawa murninya ke dalam tubuh Ti-jing, semula ia berharap untuk sementara dapat mempertahankannya. Di luar dugaan tenaga dalamnya yang mahahebat itu justru tepat merupakan obat mujarab bagi luka Ti-jing itu. Berangsur-angsur hawa murninya mengalir masuk ke tubuhnya, keadaan Ti-jing menjadi berubah, bagaikan pelita minyak diberi tambah minyak, denyut nadinya mulai kuat dan ucapannya mulai lancar.</p>
<p>Melihat jiwa orang tidak berbahaya lagi, Kiau Hong merasa lega. Ia pikir tidak boleh tinggal lama di tempat yang berdekatan dengan Siau-lim-si ini. Segera ia pondong Ti-jing dengan kedua tangannya, dengan langkah lebar berjalan menuju ke barat laut.</p>
<p>Tapi segera ia rasakan sesuatu kejanggalan lagi, terasa bobot badan Ti-jing itu sangat enteng tidak seimbang dengan perawakannya yang kekar. Ia pikir, &#8220;Untuk membuka bajumu memang kurang sopan, tapi kalau membuka sepatu dan kaus kakimu masakan tidak boleh?&#8221;</p>
<p>Segera ia copot sepatu padri orang sebelah kanan, lalu meremas telapak kakinya, terasa apa yang tergenggam di tangannya itu sangat keras, terang bukan anggota badan manusia hidup. Ia coba menarik sedikit keras, di luar dugaan, sepotong benda kena dibetotnya. Waktu ia perhatikan kiranya sebuah kaki palsu buatan dari kayu.</p>
<p>Ketika raba kaki Ti-jing pula, baru sekarang ia merasakan itulah kaki manusia yang sungguh-sungguh, kaki itu halus lemas dan kecil mungil.</p>
<p>&#8220;Hm, memang benar seorang perempuan,&#8221; jengek Kiau Hong diam-diam.</p>
<p>Segera ia keluarkan ginkangnya yang tinggi, ia berlari dengan cepat. Satu jam kemudian, ia taksir sudah lebih 50 li meninggalkan Siau-lim-si, ufuk timur pun mulai terang, fajar sudah menyingsing.</p>
<p>Dengan membawa Ti-jing sampailah Kiau Hong di suatu hutan kecil, ia melihat sebuah sungai kecil dengan air gunungnya yang jernih. Ia mendekati sungai itu dan meraup sedikit air untuk menyiram muka Ti-jing, lalu menggunakan lengan baju orang untuk mengusap mukanya.</p>
<p>Tiba-tiba ia melihat sesuatu perubahan aneh. Kulit daging pada muka &#8220;Ti-jing&#8221; itu mulai rontok sekeping demi sekeping. Keruan Kiau Hong kaget mengapa kulit daging orang bisa membusuk sedemikian rupa?</p>
<p>Tapi demi diperhatikan pula, ia lihat di bawah kulit muka yang busuk itu tertampaklah kulit daging lapisan bawah yang putih halus bagai kaca.</p>
<p>Waktu dibawa lari oleh Kiau Hong tadi, sebenarnya Ti-jing dalam keadaan tak sadar. Tapi kini karena mukanya disiram air, segera ia siuman, ketika membuka mata dan melihat Kiau Hong, ia bersenyum dan menyapa dengan perlahan, &#8220;Kiau-pangcu!&#8221;</p>
<p>Saking lemahnya, sesudah bersuara, kembali ia pejamkan mata pula.</p>
<p>Melihat muka orang masih belang-bonteng dan lekak-lekuk belum bersih hingga tidak jelas bagaimana wajah aslinya, segera Kiau Hong mencelup lengan baju Ti-jing ke dalam air sungai, lalu dipakai mengusap muka orang dengan agak keras. Maka tertampaklah bubuk tepung rontok berhamburan hingga berwujudlah sebuah wajah anak dara yang jelita.</p>
<p>&#8220;Hai, engkau Nona A Cu!&#8221; seru Kiau Hong tercengang.</p>
<p>Kiranya yang menyaru sebagai Ti-jing dan menyelundup ke Siau-lim-si itu bukan lain daripada A Cu, si dayang pribadi Buyung Hok.</p>
<p>Dasar ilmu menyamar A Cu memang sangat pandai, ia gunakan kaki palsu pula untuk meninggikan perawakannya, memakai kapas untuk menambah kemontokan perutnya, mukanya ditambal dengan adukan tepung terigu dan telur, begitu mirip samarannya hingga siapa pun tidak mengenalnya lagi.</p>
<p>Dalam keadaan sadar-tak-sadar A Cu mendengar seruan Kiau Hong yang menyebut namanya sebenarnya ia ingin menyahut, pula ingin memberi penjelasan mengapa dia menyelundup ke Siau-lim-si. Namun sayang tenaganya sangat lemah, sampai mulut pun tak menurut perintah lagi, sepatah kata pun tak sanggup bicara. Dalam gugupnya ia jatuh pingsan lagi.</p>
<p>Pada waktu membawa lari &#8220;Ti-jing&#8221; tadi, sebenarnya Kiau Hong anggap orang pasti manusia yang mahakeji dan licik, tentu besar sangkut pautnya dengan terbunuhnya ayah-bunda dan Suhu, maka dengan mati-matian ia berusaha menyelamatkan jiwa hwesio itu dengan harapan dapat mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, bahkan ia sudah ambil keputusan, bila hwesio ini tidak mau mengaku, ia tidak segan-segan memberi siksaan yang setimpal untuk mengorek pengakuannya.</p>
<p>Tapi apa yang terjadi kemudian benar-benar mimpi pun tak tersangka olehnya. Tawanannya itu bukan lagi Ti-jing melainkan si nona A Cu yang kecil mungil dan cantik manis itu.</p>
<p>Biarpun Kiau Hong sudah beberapa kali bertemu dengan A Cu dan A Pik, tapi ia tidak tahu bahwa A Cu pandai menyamar dan A Pik mahir seni suara. Coba kalau Toan Ki, tentu sudah dapat menerkanya sejak tadi.</p>
<p>Ia lihat A Cu dalam keadaan pingsan pula, cepat ia menyalurkan tenaga murninya untuk merawat lukanya lagi. Kini ia sudah tahu gadis itu bukan keracunan, tapi disebabkan terluka tenaga pukulan.</p>
<p>Sedikit pikir saja Kiau Hong lantas tahu duduknya perkara. Diam-diam ia menyesal, &#8220;Sebabnya dia terluka oleh tenaga pukulan Hian-cu itu adalah disebabkan dia terpegang di tanganku. Coba, bila aku tidak ikut campur urusannya dan membiarkan dia pergi-datang sesukanya, tentu sejak tadi ia lolos dan tidak nanti terluka separah ini.&#8221;</p>
<p>Oleh karena dalam hati Kiau Hong sudah sangat menghargai Buyung Hok, otomatis terhadap dayangnya juga timbul rasa sayangnya. Karena gadis itu terluka akibat dirinya, maka ia ambil keputusan harus menyembuhkannya. Segera katanya pula, &#8220;Nona A Cu, terpaksa harus kupondongmu ke kota untuk mencari tabib, harap engkau jangan marah.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, kembali ia pondong anak dara itu dan berjalan cepat ke utara.</p>
<p>Tidak lama kemudian hari sudah terang benderang, agar tidak menimbulkan curiga orang, ia gunakan lengan baju si A Cu untuk menutupi muka gadis itu.</p>
<p>Setelah belasan li lagi, akhirnya tibalah mereka di suatu kota cukup besar dan ramai. Waktu Kiau Hong tanya orang di pinggir jalan, diketahui kota itu bernama Kho-keh-cip, suatu kota makmur dengan macam-macam hasil palawijanya. Ia mendapatkan sebuah hotel terbesar di kota itu, ia minta dua kamar kelas satu dan merebahkan A Cu di atas ranjang.</p>
<p>Pelayan hotel agak curiga juga melihat keadaan Kiau Hong dan A Cu yang tidak mirip suami-istri dan tidak memper kakak-beradik pula. Tapi karena melihat sikap Kiau Hong yang gagah berwibawa, pelayan itu tidak berani bertanya.</p>
<p>Kiau Hong lantas dihadapkan pada kesulitan pula karena tidak membawa sangu, ia berkerut kening dengan sedih.</p>
<p>&#8220;Di&#8230; di dalam bajuku ada sebuah&#8230; sebuah bandul kalung emas&#8230;.&#8221; demikian A Cu berkata dengan suara lemah.</p>
<p>&#8220;Baiklah, boleh kau keluarkan, nanti kujual,&#8221; ujar Kiau Hong.</p>
<p>A Cu ingin menurut, tapi ia terlalu lemah untuk bisa bergerak. Terpaksa Kiau Hong tidak pikirkan adat istiadat lagi, segera ia keluarkan benda yang dimaksudkan itu. Ia lihat mainan kalung itu terbuat sangat indah, sebuah bandul kalung dengan untiran emas yang halus. Di atas mainan itu terdapat pula ukiran tulisan yang berbunyi: &#8220;Anak Si genap 10 tahun, semakin besar semakin nakal.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong tersenyum, ia pikir mainan itu tentu pemberian orang tua si A Cu ketika anak dara itu berulang tahun kesepuluh, kalau mesti dijual sesungguhnya terlalu sayang. Maka ia taruh mainan kalung itu ke bawah bantal A Cu, hanya rantai emas itu saja yang dibawanya pergi untuk dijual. Ia mendapatkan 18 tahil perak, lalu mengundang seorang tabib untuk memeriksa luka A Cu.</p>
<p>Sesudah tabib itu memegang nadi A Cu, dia menggeleng kepala tiada hentinya. Setelah berpikir sejenak, membuka resep obat pun tidak tabib itu lantas berbangkit sambil berkata, &#8220;Sayang, sayang! Maaf, maaf!&#8221;</p>
<p>Lalu permisi dan angkat kaki tanpa minta honorarium lagi.</p>
<p>Kiranya tabib itu merasa denyut nadi A Cu sangat lemah dan menaksir sekejap lagi pasti akan putus nyawanya. Ia khawatir kalau tidak lekas tinggal pergi mungkin akan tersangkut dalam utusan jiwa itu.</p>
<p>Sudah tentu Kiau Hong ikut khawatir, kembali ia mengundang seorang tabib lain. Sekali ini si tabib berani membuka resep dan menyatakan penyakit si nona susah disembuhkan lagi, resep obat itu hanya sekadar sebagai suatu kewajiban saja.</p>
<p>Kiau Hong melihat resep obat yang dibuka itu berisi obat sebangsa kamcho (kayu manis), menthol, jeruk purut, dan sebagainya. Ramuan obat ini dipakai untuk menyembuhkan sakit perut saja belum tentu manjur.</p>
<p>Dalam dongkolnya Kiau Hong tidak beli obat itu, segera ia kerahkan tenaga murni sendiri dan disalurkan ke tubuh A Cu. Hanya sebentar saja air muka A Cu yang pucat telah berubah merah bercahaya.</p>
<p>&#8220;Kiau-pangcu,&#8221; dapatlah gadis itu membuka suara, &#8220;syukurlah engkau telah menyelamatkan aku. Jika tertangkap oleh tawanan keledai gundul itu, tentu melayang jiwaku.&#8221;</p>
<p>Mendengar suara orang penuh tenaga, Kiau Hong sangat girang, sahutnya, &#8220;Nona A Cu, sungguh aku sangat khawatir penyakitmu ini tak dapat disembuhkan, tapi kini engkau sudah baik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan panggil aku nona apa segala, langsung panggil namaku saja,&#8221; ujar A Cu. &#8220;Kiau-pangcu, untuk apakah engkau datang ke Siau-lim-si sana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah lama aku bukan pangcu lagi, selanjutnya jangan kau panggil aku sebagai pangcu,&#8221; kata Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Ah, maaf, untuk selanjutnya akan kupanggil Kiau-toaya saja,&#8221; ujar A Cu.</p>
<p>&#8220;Sekarang aku ingin tanya lebih dulu,&#8221; kata Kiau Hong pula. &#8220;Apa maksud tujuanmu datang ke Siau-lim-si?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, kalau kukatakan, janganlah aku ditertawai,&#8221; ujar A Cu. &#8220;Oleh karena kudengar Kongcu kami telah pergi ke Siau-lim-si, maka aku ingin mencarinya untuk menceritakan urusan nona Ong. Siapa duga waktu aku permisi hendak masuk ke biara itu, hwesio penjaganya dengan bengis melarang aku masuk, alasannya karena aku adalah kaum wanita. Aku berdebat padanya, tapi malah didamprat olehnya. Aku justru hendak masuk ke sana, ingin kulihat apakah dia mampu melarang aku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pantas, Si-ji genap 10 tahun, makin besar makin nakal.&#8221; kata Kiau Hong dengan tersenyum. &#8220;Siapakah yang mengukir kalimat itu di atas bandul mainan kalungmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ayahku,&#8221; sahut A Cu. Menyebut ayahnya, air muka si gadis tampak berduka.</p>
<p>Kiau Hong taksir mungkin ayahnya sudah meninggal dunia, maka ia pun tidak tanya lebih jauh, tapi katanya pula, &#8220;Sesudah menyelundup ke Siau-lim-si, padri-padri di situ tentu saja sangat gusar, tapi tak bisa berbuat apa-apa padamu, terutama bila engkau lantas perlihatkan dirimu yang sebenarnya, tentu mereka akan runyam.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, memang,&#8221; sahut A Cu sambil tertawa dan bangun berduduk. &#8220;Sesudah kesehatanku pulih, aku akan menyamar sebagai laki-laki untuk masuk ke biara itu, lalu keluar pula dengan dandanan sebagai wanita, biar hwesio-hwesio itu meledak perutnya saking gusar. Hahaha, sungguh permainan yang menyenangkan, haha&#8230;.&#8221;</p>
<p>Mendadak suara tertawanya putus, badan lantas terkulai di atas ranjang dengan lemas dan tak bergerak lagi.</p>
<p>Kiau Hong terkejut, ia coba periksa napas si gadis, ia merasa pernapasannya seperti sudah terhenti sama sekali. Dalam khawatirnya cepat Kiau Hong tempelkan telapak tangannya ke &#8220;leng-tay-hiat&#8221; di punggung A Cu, ia salurkan hawa murni sendiri ke dalam badan si gadis.</p>
<p>Tidak lama kemudian, perlahan dapatlah A Cu mengangkat tubuhnya, katanya dengan penuh menyesal, &#8220;Ai, tadi kita sedang bicara, mengapa aku lantas tertidur? Maafkan, Kiau-toaya.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong tahu keadaan gadis itu agak payah, jawabnya, &#8220;Badanmu masih kurang kuat, silakan tidur saja untuk memulihkan semangat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak letih, sebaliknya telah bikin susah Kiau-toaya semalaman, engkau yang perlu mengaso sebentar,&#8221; sahut A Cu.</p>
<p>&#8220;Baiklah, sebentar lagi akan kujenguk kau lagi,&#8221; kata Kiau Hong.</p>
<p>Lalu ia keluar ke ruangan makan, ia pesan lima kati arak dan dua kati daging masak, ia makan dan minum sendiri. Sebenarnya dalam hal minum arak Kiau Hong boleh dikata tanpa takaran dan tiada bandingan, tapi kini dalam keadaan masygul, habis lima kati arak itu, ia merasa agak sedikit pening kepala. Ia beli pula dua biji bakpao dan dibawa ke kamar untuk A Cu.</p>
<p>Ia menjadi kaget ketika A Cu dipanggil-panggil tidak menyahut. Waktu ia periksa, ia lihat gadis itu merebah dengan mata terpejam, muka pucat dan pipi melekuk sebagai mayat. Ketika ia meraba jidatnya, syukurlah masih terasa hangat. Cepat ia menolongnya dengan hawa murni sendiri dan perlahan barulah A Cu sadar. Dengan gembira ria kemudian gadis itu makan kedua biji bakpao.</p>
<p>Dengan demikian maka tahulah Kiau Hong bahwa saat itu A Cu hanya bisa hidup jikalau ada saluran tenaga murninya sebagai penyambung nyawa, tapi bila tanpa saluran hawa murni itu, tiada sejam kemudian tentu gadis itu akan mati lemas. Ia menjadi sedih tanpa berdaya.</p>
<p>Melihat Kiau Hong termenung-menung dengan air muka sedih, sebagai seorang gadis cerdik, segera A Cu dapat menduga sebab musababnya. Segera ia tanya, &#8220;Kiau-toaya, lukaku sangat parah dan tabib bilang susah disembuhkan, bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;O, ti&#8230; tidak! Tidak apa-apa, mengasolah beberapa hari lagi tentu engkau akan sembuh kembali,&#8221; sahut Kiau Hong. &#8220;Asal kau mengaso dengan tenang, tentu aku dapat menyembuhkan penyakitmu.&#8221;</p>
<p>Dari nada perkataan orang, A Cu tahu luka sendiri sesungguhnya sangat parah, mau tak mau ia menjadi khawatir, dan sekali tangan gemetar, setengah potong bakpao yang belum habis termakan itu lantas jatuh ke lantai. Menyangka tenaga si gadis kembali lemas, segera Kiau Hong mengulur tangan untuk menahan leng-tay-hiat lagi di punggung A Cu.</p>
<p>Tapi sekali ini pikiran A Cu masih jernih, maka dapat dirasakannya satu arus hawa hangat telah menyalur dari tangan Kiau Hong ke dalam tubuh sendiri dan rasa badannya menjadi enak dan segar. Setelah memikir sejenak, segera A Cu mengerti keadaan sendiri sebenarnya sangat berbahaya, tapi berkat hawa murni yang dikorbankan oleh Kiau Hong itulah jiwanya dapat direnggut dari tangan elmaut. Sungguh terima kasihnya tak terhingga dan berkhawatir pula.</p>
<p>Meski A Cu adalah seorang gadis cerdik, tapi apa pun juga ia masih terlalu muda, tiba-tiba air matanya berlinang-linang, katanya, &#8220;Kiau-toaya, aku tidak mau mati, jangan engkau meninggalkan aku di sini tanpa urus lagi.&#8221;</p>
<p>Mendengar ucapan yang harus dikasihani itu, segera Kiau Hong menghiburnya, &#8220;Tidak, pasti tidak, aku Kiau Hong tidak nanti meninggalkan seorang kawan yang tertimpa malang tanpa menolongnya!&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku akan mati tidak, Kiau-toaya?&#8221; tanya A Cu dengan berduka. &#8220;Engkau adalah kesatria terpuja di bu-lim, orang menyatakan &#8216;Pak Kiau Hong dan Lam Buyung&#8217;, jadi engkau mempunyai nama besar sejajar dengan kongcu kami, tentu selama hidupmu tidak pernah omong kosong, bukan? Engkau mengatakan lukaku tidak berat, engkau tidak mendustai aku, bukan?&#8221;</p>
<p>Demi kebaikan gadis itu, terpaksa Kiau Hong menjawab, &#8220;Aku tidak mendustai kau. Dahulu waktu masih kanak-kanak aku suka bohong, tapi sesudah besar dan berkelana di Kangouw, aku tidak pernah mendustai orang lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika begitu, dapatlah aku merasa lega,&#8221; kata A Cu. &#8220;Kiau-toaya, aku ingin memohon sesuatu padamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentang apa?&#8221; tanya Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Malam ini harap kau sudi mendampingi aku di sini, janganlah meninggalkan aku,&#8221; pinta si gadis. Ia menduga bila ditinggal pergi Kiau Hong, mungkin jiwanya takkan tahan sampai besok pagi.</p>
<p>&#8220;Tentu saja,&#8221; sahut Kiau Hong dengan tertawa. &#8220;Biarpun kau tak omong juga aku akan mengawani kau di sini. Sudahlah, jangan bicara lagi, tidurlah yang tenang.&#8221;</p>
<p>A Cu lantas pejamkan mata, tapi selang sejenak, kembali ia membuka mata dan berkata, &#8220;Kiau-toaya, aku tak bisa tidur. Aku ingin mohon sesuatu padamu, bolehkah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Boleh saja, tentang apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dahulu waktu aku masih kecil, selalu ibuku meninabobokan aku di tepi ranjang. Asal beliau menyanyi dua-tiga lagu, aku lantas terpulas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan berada di sini, ke mana dapat mencari ibumu? Susah tentunya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ibuku sudah lama meninggal dunia,&#8221; kata A Cu. &#8220;Kiau-toaya, sudilah engkau menyanyikan beberapa lagu untukku?&#8221;</p>
<p>Keruan Kiau Hong serbarunyam, laki-laki setua dia masakah disuruh menyanyi apa segala, kan lucu? Maka jawabnya, &#8220;Aku tidak pintar menyanyi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, apa boleh buat, engkau tidak sudi menyanyi,&#8221; kata si gadis.</p>
<p>&#8220;Bukan aku tidak sudi menyanyi, sesungguhnya aku tidak bisa,&#8221; sahut Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Eh, ya, ada sesuatu lagi, sekali ini hendaklah engkau jangan menolak lagi,&#8221; tiba-tiba A Cu berseru girang.</p>
<p>Diam-diam Kiau Hong merasa kewalahan terhadap dara cilik yang kekanak-kanakan dan serbaaneh pikirannya ini, entah permintaan apa lagi yang hendak dikemukakan anak dara itu. Terpaksa ia menjawab, &#8220;Cobalah katakan, asal bisa tentu akan kulakukan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bisa, pasti engkau bisa,&#8221; ujar A Cu tertawa. &#8220;Begini, boleh engkau mendongeng, baik dongengan tentang si kelinci maupun cerita tentang si kucing. Setelah mendengar dongengan itu tentu aku akan dapat tidur.&#8221;</p>
<p>Sungguh Kiau Hong serbasusah. Belum lama berselang ia adalah seorang tokoh Kangouw terkemuka, seorang pangcu yang terpuja, tapi dalam waktu singkat saja kedudukannya sudah hilang dan dipecat dari keanggotaan Kay-pang, bahkan tiga orang yang dicintainya di dalam dunia ini, yaitu kedua orang tua dan seorang gurunya telah tewas semua dalam waktu sehari saja, malahan mengenai asal usul sendiri sebenarnya keturunan bangsa asing atau bangsa Han asli juga belum diketahui, sebaliknya malah menanggung dosa pendurhakaan kepada orang tua sebagaimana orang mendakwanya.</p>
<p>Belum lagi pukulan-pukulan batin itu terhibur, kini ia mesti mendampingi seorang nona kecil yang merengek-rengek minta dia menyanyi dan mendongeng apa segala. Sebagai seorang kesatria, seorang pahlawan sejati, sudah tentu hal-hal tetek bengek itu tidak menarik baginya. Tapi sekilas dilihatnya sorot mata A Cu itu memancarkan sinar yang memohon dengan sangat, air mukanya tampak pucat dan lesu pula, ia menjadi tidak tega, akhirnya ia berkata, &#8220;Baiklah, aku akan mendongeng suatu cerita padamu, tapi entah menarik tidak bagimu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentu sangat menarik, silakan mulai, lekas,&#8221; seru A Cu kegirangan.</p>
<p>Walaupun sudah menyanggupi, tapi dasar Kiau Hong memang bukan seorang pendongeng, dengan sendirinya susah baginya untuk mulai.</p>
<p>Setelah pikir sebentar, kemudian katanya, &#8220;Baiklah, aku akan bercerita tentang seekor serigala. Dahulu ada seorang kakek, waktu dia mencari kayu di gunung, tiba-tiba dilihatnya seekor serigala terjebak di dalam perangkap pemburu. Serigala itu mohon dengan sangat agar si kakek suka menolongnya. Maka kakak itu lantas berdaya upaya mengeluarkan serigala itu dari perangkap. Tapi&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi sesudah serigala ditolong si kakek, serigala itu berbalik hendak menerkam si kakek, bukan?&#8221; sela A Cu.</p>
<p>&#8220;Ai, cerita ini ternyata sudah pernah kau dengar,&#8221; ujar Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Ya, itulah cerita tentang serigala gunung yang pernah kubaca,&#8221; kata A Cu. &#8220;Aku tidak suka dongengan dalam buku, tapi aku minta engkau bercerita tentang kisah nyata di kampung.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kisah nyata di kampung?&#8221; Kiau Hong bergumam sendiri. Dan setelah berpikir, katanya kemudian, &#8220;Baiklah, aku akan bercerita tentang pengalaman satu anak desa.&#8221;</p>
<p>Lalu ia pun mulai, &#8220;Dahulu di suatu pegunungan tinggal satu keluarga miskin. Kecuali ayah, ibu dan anak itu, mereka tiada anggota keluarga lain lagi. Ketika anak itu berumur tujuh tahun, perawakannya sudah sangat besar dan dapat membantu sang ayah mencari kayu di pegunungan. Suatu hari, ayah jatuh sakit, karena keluarga mereka terlalu miskin, mereka tidak mampu mengundang tabib dan membeli obat. Namun penyakit ayah makin hari makin berat, terpaksa ibu membawa kekayaan yang ada, yaitu berupa empat ekor ayam dan satu bakul telur ayam untuk dijual di kota.</p>
<p>&#8220;Dengan uang penjualan ayam dan telur sebanyak delapan gobang itu ibu pergi mengundang tabib. Tapi tabib menolak, katanya jalan pegunungan terlalu jauh dan susah ditempuh, meski ibu memohon dengan sangat, tetap tabib itu menolak. Ibu menyembah dan memohon dengan menangis, tetap tabib itu tidak mau, bahkan menghina, katanya kaum miskin berbau apak. Waktu ibu memohon lagi sambil menarik ujung baju tabib itu hingga robek. Dalam gusarnya tabib itu dorong ibu hingga terjungkal, bahkan mendepaknya pula serta minta ganti kerugian, katanya baju itu baru saja dibuatnya, harganya tiga tahil perak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tabib itu benar-benar keterlaluan,&#8221; kata A Cu perlahan.</p>
<p>Kiau Hong diam sejenak, ia lihat cuaca di luar sudah remang-remang, lalu sambungnya, &#8220;Waktu itu si anak juga berada di samping ibunya, melihat sang ibu dianiaya orang segera ia menerjang maju untuk menggeluti si tabib. Tapi ia cuma seorang anak kecil, dengan mudah saja tabib itu mengangkatnya dan melemparkannya keluar pintu. Oleh karena khawatir akan terjadi apa-apa atas diri anaknya, sang ibu berlari keluar pintu untuk memeriksa keadaan bocah itu. Dan kesempatan itu lantas digunakan oleh si tabib untuk menutup pintu.</p>
<p>&#8220;Jidat bocah itu terluka lecet dan mengeluarkan darah. Sebagai kaum wanita yang lemah, sang ibu tidak berani bikin ribut lagi pada si tabib, segera ia membawa anaknya pulang ke rumah sambil menangis. Waktu lewat sebuah toko besi, si bocah melihat di dasaran toko itu tertaruh banyak pisau jagal yang lancip lagi tajam. Penjualnya sedang sibuk melayani pembeli di dalam toko, kesempatan itu digunakan oleh si bocah untuk mencuri sebuah pisau jagal itu. Ibunya tidak tahu perbuatan anaknya itu.</p>
<p>&#8220;Setiba di rumah, ibu tidak berani menceritakan pengalamannya kepada ayah, sebab khawatir ayah akan gusar dan sedih hingga menambah berat penyakitnya. Waktu ibu hendak mengeluarkan uang hasil penjualan ayam dan telurnya itu, ia menjadi kaget ketika merasa uang itu sudah hilang. Dengan terkejut dan heran ibu keluar untuk tanya si anak, ia lihat bocah itu sedang mengasah sebilah pisau baru pada batu asah, segera ibunya tanya dari mana mendapatkan pisau lancip itu. Si anak tidak berani bilang mencuri, maka membohong pemberian orang. Dengan sendirinya ibunya tidak percaya, pisau jagal itu di pasar sedikitnya berharga empat-lima gobang, mana mungkin ada orang sembarangan memberi pisau mahal pada seorang bocah?</p>
<p>&#8220;Waktu ditanya siapa yang memberi, sudah tentu si anak tak dapat menjelaskan. Maka berkatalah ibunya dengan menghela napas, &#8216;Nak, ayah dan ibu sangat miskin, biasanya tidak dapat membelikan mainan apa pun untukmu, jika sekarang kau ingin mainan pisau, sebagai anak laki-laki dengan sendirinya boleh saja. Cuma uang kelebihan itu hendaklah kau kembalikan pada ibu, ayah sedang sakit, biarlah kita membeli satu-dua tahil daging untuk dibuatkan kaldu bagi ayahmu!&#8217;</p>
<p>&#8220;Anak itu merasa bingung, dengan mata terbelalak ia menjawab, &#8216;Uang kelebihan apa maksud ibu?&#8217; &#8211; &#8216;Yaitu kedelapan gobang hasil penjualan telur dan ayam itu, telah kau gunakan membeli pisau itu, bukan?&#8217;</p>
<p>&#8220;Bocah itu menjadi gugup dan menyangkal, &#8216;Tidak, aku tidak ambil uang itu, aku tidak ambil uang itu!&#8217; &#8211; Kedua orang tua itu selamanya tidak pernah menghajar anaknya, biarpun bocah itu baru berusia beberapa tahun, tapi mereka pandang si anak seperti tamu di rumahnya&#8230;.&#8221;</p>
<p>Bercerita sampai di sini, diam-diam Kiau Hong sendiri merasa heran mengapa kedua orang tua itu sedemikian baik dan ramah tamahnya kepada si anak, tidak lazim ayah-ibu begitu menghargai anaknya biar bagaimanapun kasih sayangnya. Karena pikiran itu, tanpa terasa ia bergumam sendiri, &#8220;Ya, aneh, mengapa bisa begitu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aneh tentang apa?&#8221; tanya A Cu tiba-tiba.</p>
<p>Habis mengucapkan kalimat itu, napas anak dara itu sudah sangat lemah. Kiau Hong tahu tenaga murni dalam tubuh si gadis telah habis lagi, cepat ia tempelkan tangannya lagi ke punggung A Cu dan menyalurkan tenaga murni.</p>
<p>Lambat laun semangat A Cu pulih kembali, katanya dengan gegetun, &#8220;Ai, Kiau-toaya, setiap kali kau salurkan tenagamu kepadaku, setiap kali tenagamu sendiri lantas berkurang, padahal tenaga murni bagi seorang tokoh persilatan adalah mahapenting. Engkau sedemikian baik kepadaku, sungguh entah cara bagaimana aku&#8230; aku harus membalasmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk mana cukup aku bersemadi satu-dua jam saja tentu tenaga murniku akan pulih, masakah berkata tentang belas budi segala?&#8221; sahut Kiau Hong tertawa. &#8220;Biarpun aku tidak kenal majikanmu Buyung-kongcu tapi dalam hatiku dia sudah kuanggap sebagai sahabat. Kau adalah orangnya, mengapa sungkan padaku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi setiap sejam-dua jam tenagaku lantas habis, masakah engkau harus membantuku dengan cara demikian?&#8221; ujar A Cu dengan muram.</p>
<p>&#8220;Kau jangan khawatir, kita pasti akan mendapatkan seorang tabib pandai untuk menyembuhkanmu,&#8221; hibur Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Hihi, mungkin tabib itu juga akan menolak karena aku adalah kaum miskin yang berbau apak,&#8221; ucap A Cu dengan tersenyum. &#8220;Eh, Kiau-toaya, ceritamu tadi belum lagi habis, tadi engkau bilang aneh tentang apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;O, tiada apa-apa, aku melantur tak keruan,&#8221; sahut Kiau Hong. Lalu ia menyambung ceritanya, &#8220;Melihat anaknya tidak mengaku, maka sang ibu juga tidak mendesak lebih jauh dan tinggal masuk ke rumah. Selang tak lama, selesai mengasah pisaunya, anak itu pun masuk ke rumah, sayup-sayup ia mendengar ayah dan ibunya sedang mempercakapkan dia mencuri uang untuk membeli pisau, tapi tidak mau mengaku. Namun sang ayah menyatakan kerelaannya agar bocah itu jangan ditegur lagi karena selama ini kepada anak itu tidak pernah diberi mainan apa-apa.</p>
<p>&#8220;Dan ketika melihat anak itu masuk ke rumah, percakapan kedua orang tua itu lantas berhenti, malahan dengan ramah ayahnya berkata kepada si anak sambil meraba jidatnya yang terluka itu, &#8216;Anak yang baik, selanjutnya jangan berlari-lari, ya, supaya tidak jatuh lagi!&#8217;</p>
<p>&#8220;Ternyata orang tua itu sama sekali tidak menyinggung tentang kehilangan uang dan tentang pembelian pisau itu. Bahkan nada suaranya sama sekali tidak mengunjuk rasa kurang senang sedikit pun.</p>
<p>&#8220;Meski umur bocah itu baru tujuh tahun, tapi ia sudah pintar, diam-diam ia pikir, &#8216;Aku dicurigai ibu mencuri uang untuk membeli pisau, bila mereka menghajar aku atau mendamprat habis-habisan, betapa pun aku rela. Tapi mereka justru sedemikian baik padaku, sedikit pun tidak mengusut lebih jauh.&#8217;</p>
<p>&#8220;Namun disebabkan hatinya tidak tenteram, segera ia berkata kepada sang ayah, &#8216;Ayah, aku tidak mencuri uang, pisau ini pun bukannya kubeli&#8217;.</p>
<p>&#8220;Segera ayahnya menyela, &#8216;Sudahlah, sudahlah! Ibumu memang suka geger, cuma kehilangan sedikit uang, kenapa mesti diributkan? Dasar orang perempuan suka urus tetek bengek. Anak baik, jidatmu masih sakit tidak?&#8217;</p>
<p>&#8220;Terpaksa bocah itu menjawab, &#8216;Tidak sakit, tidak apa-apa!&#8217; &#8211; Sebenarnya ia ingin membela diri dari sangkaan jelek itu, tapi terpaksa tidak jadi. Dengan kesal bocah itu lantas pergi tidur tanpa makan malam lagi.</p>
<p>&#8220;Namun bocah itu tergulang-guling di atas pembaringan tanpa bisa pulas. Ia dengar pula suara keluh-kesah dan tangisan perlahan sang ibu, mungkin sedih karena penyakit sang suami dan penasaran oleh hinaan dan penganiayaan siang hari itu.</p>
<p>&#8220;Perasaan anak itu bergolak, diam-diam ia bangun, ia merayap keluar melalui jendela, malam itu juga ia masuk ke kota lagi dan mendatangi rumah tabib itu. Tapi gedung kediaman tabib itu tertutup rapat, betapa pun bocah itu tidak mampu masuk ke sana.</p>
<p>&#8220;Namun ia tidak kurang akal, badannya masih kecil dan cukup menerobos masuk melalui lubang anjing di pojok pagar tembok. Ia melihat kamar tabib itu masih terang, suatu tanda tabib itu belum tidur dan sedang memasak obat. Perlahan-lahan anak itu mendorong pintu kamar, dan rupanya suara keriutan pintu dapat didengar si tabib yang segera menegur siapa yang datang?</p>
<p>&#8220;Tapi bocah itu tidak bersuara, cepat ia mendekati tabib yang lagi asyik memasak obat, sekali belatinya dicabut, kontan ia tikam perut tabib itu. Tabib itu hanya merintih beberapa kali, lalu menggeletak tak bernyawa lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah, sekali tikam bocah itu membunuh tabib itu?&#8221; seru A Cu terkejut.</p>
<p>&#8220;Ya,&#8221; sahut Kiau Hong sambil mengangguk. &#8220;Kemudian bocah itu merayap keluar lagi melalui lubang anjing dan pulang ke rumah. Seorang bocah cilik dalam waktu singkat dan di tengah malam buta mesti menempuh perjalanan tergesa-gesa sejauh puluhan li, sudah tentu bocah itu kepayahan. Dan esok paginya, keluarga si tabib mendapatkan majikan mereka sudah mati dengan perut sobek dan usus keluar, tapi pintu rumah tetap tertutup rapat hingga tiada tanda-tanda keluar-masuknya pembunuh.</p>
<p>&#8220;Maka orang sama mencurigai jangan-jangan pembunuhan itu dilakukan oleh orang dalam sendiri. Guna pengusutan itu, istri dan saudara tabib itu ditangkap pembesar negeri, mereka ditahan dan diusut hingga bertahun-tahun lamanya, maka keluarga tabib itu menjadi berantakan sejak itu. Dan peristiwa pembunuhan itu sampai sekarang masih tetap merupakan teka-teki bagi penduduk Kho-keh-cip.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau bilang Kho-keh-cip? Jadi kota inilah tempat kediaman tabib yang terbunuh itu?&#8221; A Cu menegas.</p>
<p>&#8220;Benar,&#8221; sahut Kiau Hong. &#8220;Tabib itu she Ting. Sebenarnya adalah tabib paling terkenal dan terpandai di kota ini. Rumah tinggalnya di barat kota sana, tapi gedungnya sekarang sudah tak terawat dan bobrok.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tabib itu suka menghina kaum miskin dan anggap jiwa orang miskin sama sekali tak berharga, pribadinya itu benar-benar tercela, tapi dosanya itu juga tidak mesti dibunuh,&#8221; demikian kata A Cu dengan menyesal. &#8220;Dan anak itu sesungguhnya juga terlalu kejam, sungguh aku tidak percaya bahwa seorang anak umur tujuh tahun berani membunuh orang. Kiau-toaya, ceritamu ini hanya dongengan belaka atau benar-benar kisah nyata?&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar-benar kisah nyata,&#8221; sahut Kiau Hong.</p>
<p>A Cu menghela napas gegetun, katanya, &#8220;Ai, anak kejam begitu mirip benar dengan kaum pengganas orang Cidan!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau&#8230; kau bilang apa?&#8221; tanya Kiau Hong mendadak sambil melonjak bangun dengan badan gemetar.</p>
<p>Melihat perubahan air muka orang yang hebat itu, A Cu terkesiap, mendadak ia paham duduknya perkara, katanya kemudian, &#8220;O, maaf, Kiau&#8230; Kiau-toaya, aku tidak&#8230; tidak sengaja menyinggung perasaanmu.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong berdiri termangu-mangu sejenak, lalu duduk dengan lesu, katanya, &#8220;Jadi&#8230; jadi engkau sudah dapat menerkanya?&#8221;</p>
<p>A Cu mengangguk, diam-diam ia dapat menebak si bocah dalam cerita Kiau Hong itu tak-lain-tak-bukan adalah Kiau Hong sendiri.</p>
<p>&#8220;Ucapan yang tidak disengaja terkadang malah kena dengan jitu,&#8221; kata Kiau Hong. &#8220;Dan sebabnya aku turun tangan secara tak kenal ampun itu apakah lantaran aku keturunan Cidan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kiau-toaya, A Cu sembarangan omong, harap engkau jangan pikirkan lagi,&#8221; hibur A Cu dengan suara lembut. &#8220;Adapun engkau membunuh tabib jahat itu adalah karena jiwa kesatriaanmu yang ingin membalas sakit hati ibumu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebenarnya tidak melulu sakit hati ibuku, tapi disebabkan pula aku dituduh tanpa berdosa,&#8221; kata Kiau Hong sambil pegang kepala sendiri dengan kedua tangannya yang lebar. &#8220;Padahal kedelapan gobang uang ibu itu tentu tercecer waktu si tabib mengiprat dan mendorongnya, tapi aku&#8230; aku yang disangka mencuri uang itu, selama hidupku paling tidak tahan bila dituduh tanpa berdosa.&#8221;</p>
<p>Namun demikian dalam waktu satu hari ini ia susah menanggung tiga peristiwa aneh. Tentang dia orang Cidan atau bukan, belum dapat dipastikan sekarang, tapi kematian Kiau Sam-hoay suami-istri dan Hian-koh Taysu sudah jelas bukan perbuatannya, namun ketiga dosa besar itu justru ditimpakan atas namanya. Padahal siapakah gerangan pembunuh yang sebenarnya? Siapa pula gerangan yang sengaja memfitnahnya itu?</p>
<p>Pada saat itulah tiba-tiba Kiau Hong teringat sesuatu lagi, &#8220;Mengapa ayah dan ibu selalu mengatakan mereka tidak pernah memberikan apa-apa yang bagus padaku? Jika aku adalah putra mereka yang sebenarnya, dengan sendirinya sang putra mesti ikut hidup miskin dengan orang tua yang miskin, mengapa perlu perlakuan yang baik segala? Jika demikian, terang aku memang bukan anak kandung mereka, tapi adalah anak titipan orang lain. Mungkin orang yang menitipkan aku itu sangat dihormati dan disegani oleh ayah dan ibuku. Lantas siapakah gerangan orang yang menitipkan aku kepada ayah dan ibu itu? Besar kemungkinan adalah Ong-pangcu.&#8221;</p>
<p>Berpikir begitu, ia bandingkan pula sifat sendiri yang jauh berbeda daripada kedua orang tua yang welas asih itu, ia menjadi lebih yakin lagi bahwa dirinya pasti keturunan orang Cidan.</p>
<p>Rupanya A Cu dapat meraba perasaan Kiau Hong itu, maka ia coba menghiburnya, &#8220;Kiau-toaya, mereka mengatakan engkau adalah keturunan Cidan, kukira mereka sengaja hendak memfitnah engkau. Jangankan engkau berbudi luhur dan berjiwa kesatria, hal ini tersohor di segenap penjuru dan pelosok, bahkan terhadap seorang budak rendahan seperti aku ini juga engkau sedemikian baiknya. Sebaliknya orang Cidan umumnya sebuas binatang, bedanya dengan engkau seperti langit dan bumi, mana dapat engkau dipersamakan dengan mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;A Cu, jika aku benar-benar orang Cidan, apakah engkau masih sudi menerima perawatanku ini?&#8221; tanya Kiau Hong.</p>
<p>A Cu serbasusah untuk menjawab. Maklum, waktu itu bangsa Han teramat benci kepada bangsa Cidan dan memandangnya sebuas binatang dan sekejam ular berbisa, dianggapnya tiada orang Cidan yang mempunyai rasa perikemanusiaan, semuanya kejam.</p>
<p>Sesudah tertegun sejenak, kemudian jawabnya, &#8220;Sudahlah, jangan kau pikir yang tidak-tidak, betapa pun tidak mungkin engkau adalah orang Cidan. Jika di antara orang Cidan ada yang baik budi seperti engkau, tentu kita pun tidak akan membenci mereka.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong termenung diam, ia pikir kalau benar dirinya adalah keturunan orang Cidan, sampai seorang budak kecil seperti A Cu juga tidak sudi gubris padanya lagi. Sesaat ia merasa dunia seakan-akan sempit baginya, pikirannya bergolak hebat, darah seolah-olah mendidih di dalam rongga dadanya.</p>
<p>Ia tahu tenaga dalam sendiri telah banyak terbuang karena beberapa kali mesti menolong A Cu untuk melancarkan tenaga dan mengatur napas. A Cu juga pejamkan mata untuk mengaso.</p>
<p>Selang tak lama, selesailah Kiau Hong melatih diri. Ia khawatir keadaan A Cu payah lagi, ia hendak memeriksa nadi gadis itu. Tiba-tiba didengarnya di tempat tinggi sebelah barat sana ada suara kletek perlahan dua kali.</p>
<p>Sebagai seorang Kangouw ulung segera Kiau Hong tahu itu adalah suara loncatan orang bu-lim dari atap rumah ke atap rumah yang lain. Menyusul di arah timur sana juga ada suara serupa dua kali, bahkan suara yang belakangan ini lebih lirih, suatu tanda ginkang pendatang itu lebih tinggi daripada yang duluan.</p>
<p>Sekaligus dari beberapa jurusan datang orang Kangouw, Kiau Hong menduga besar kemungkinan dirinya yang sedang dicari. Segera ia bisiki A Cu, &#8220;Aku akan keluar sebentar dan segera kembali lagi, jangan takut.&#8221;</p>
<p>A Cu mengangguk. Lalu Kiau Hong menyelinap keluar dari pintu yang setengah tertutup itu. Dengan enteng ia putar ke belakang rumah dan berdiri mepet dinding luar.</p>
<p>Baru dia berdiri di situ, tiba-tiba dari kamar hotel sebelah timur sana ada suara seorang sedang berkata, &#8220;Apakah Hiang-patya di situ? Silakan turun saja!&#8221;</p>
<p>Lalu terdengar pendatang sebelah barat tadi tertawa dan menjawab, &#8220;Ki-loliok dari Kwansay juga datang!&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus, bagus! Silakan masuk semua!&#8221; ujar orang di dalam kamar itu.</p>
<p>Maka berturut-turut kedua orang di atas atap rumah tadi melompat turun dan masuk ke dalam kamar.</p>
<p>Kiau Hong kenal Ki-loliok dari Kwansay itu berjuluk &#8220;Goay-to Ki Liok&#8221;, Si Golok Kilat, seorang jagoan terkenal di daerah Kwansay (di luar tembok besar bagian barat). Sedang Hiang-patya yang disebut tadi diduganya pasti Hiang Bong-thian dari Siantang, konon orang berbudi dan dermawan, ilmu silatnya juga sangat hebat.</p>
<p>Kedua orang itu bukan manusia jahat, kedatangan mereka tentu tiada sangkut pautnya denganku, kenapa aku mesti curiga? Demikian pikir Kiau Hong.</p>
<p>Dan selagi dia hendak kembali ke kamar, tiba-tiba terdengar Hiang Bong-thian tadi berkata, &#8220;Mendadak &#8216;Giam-ong-tek&#8217; Sih-sin-ih menyebar enghiong-tiap (kartu undangan kesatria dan mengundang para kesatria Kangouw), apakah Pau-toako tahu sebab musababnya?&#8221;</p>
<p>Mendengar nama &#8220;Giam-ong-tek&#8221; Sih-sin-ih disebut, Kiau Hong terkejut dan bergirang, pikirnya, &#8220;Mengapa Sih-sin-ih berada di sekitar sini? Jika demikian, si budak A Cu dapatlah tertolong.&#8221;</p>
<p>Kiranya Sih-sin-ih atau Si Tabib Sakti she Sih itu adalah tabib nomor satu pada zaman itu, oleh karena sebutan &#8220;sin-ih&#8221; (tabib sakti) sangat terkenal sehingga nama asalnya dilupakan orang.</p>
<p>Menurut cerita orang Kangouw yang mungkin berlebih-lebihan, katanya orang mati pun dapat dia hidupkan kembali dengan obatnya. Maka bila orang hidup, betapa parah penyakit atau luka yang diderita pasti akan dapat disembuhkan olehnya.</p>
<p>Oleh karena pengobatannya yang tidak pernah gagal itu hingga tiada orang sakit yang mati di bawah perawatannya, maka orang anggap dia seakan-akan bermusuhan dengan Giam-lo-ong (raja akhirat) sehingga dia julukan &#8220;Giam-ong-tek&#8221; atau musuh raja akhirat.</p>
<p>Sih-sin-ih itu tidak melulu lihai pengobatannya, bahkan ilmu silatnya juga sangat hebat. Ia suka bergaul dengan kawan Kangouw, setiap kali dia mengobati orang, sering ia minta belajar sejurus-dua dari pasiennya itu. Oleh karena merasa utang budi, yang diminta dengan sendirinya memberi petunjuk dengan sungguh-sungguh dan yang diajarkan selalu adalah ilmu silat kebanggaan si pasien.</p>
<p>Begitulah kemudian terdengar Goay-to Ki Liok juga menegur, &#8220;Pau-lopan (Juragan Pau), selama ini ada terjadi jual-beli apa?&#8221;</p>
<p>Diam-diam Kiau Hong mengangguk, &#8220;Pantas, suara orang di dalam kamar itu seperti sudah kukenal, kiranya dia &#8216;Bo-pun-ci&#8217; Pau Jian-leng. Orang ini suka mencuri dari si kaya untuk membantu kaum miskin, namanya cukup harum. Dahulu waktu aku diangkat menjadi pangcu, dia juga datang hadir pada upacara itu.&#8221;</p>
<p>Setelah mengetahui orang di dalam kamar itu adalah &#8220;Bo-pun-ci&#8221; (Tanpa Modal) Pau Jian-leng, seorang maling yang terkenal budiman, maka Kiau Hong tidak ingin mendengarkan lagi pembicaraan mereka. Ia pikir biar besok saja akan kutanya Pau Jian-leng di mana beradanya Sih-sin-ih.</p>
<p>Tapi belum lagi ia putar langkah, sekonyong-konyong terdengar Pau Jian-leng menghela napas dan berkata, &#8220;Ai, selama beberapa hari ini perasaanku lagi kesal, tiada semangat buat jual-beli apa-apa. Malahan hari ini kudengar dia membunuh ayah-ibu sendiri dan membinasakan gurunya pula, sungguh rasa hatiku sangat pedih.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, terdengar ia menghantam meja dengan keras.</p>
<p>Mendengar itu, tahulah Kiau Hong bahwa dirinya yang sedang dipercakapkan. Benar juga, terdengar Hiang Bong-thian menanggapi, &#8220;Nama keparat Kiau Hong itu sangat disegani, ia pura-pura berbudi dan baik hati sehingga selama ini banyak yang tertipu, siapa duga dia akan berbuat durhaka seperti itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dahulu waktu dia diangkat menjadi Pangcu Kay-pang aku pun hadir pada upacara itu dan kenal baik padanya,&#8221; demikian Pau Jian-leng berkata pula. &#8220;Maka waktu mula-mula aku diberi tahu orang bahwa Kiau Hong adalah keturunan Cidan dengan tegas kudamprat ocehan yang sembrono itu, bahkan karena itu aku bertengkar dengan Tio-losam hingga hampir-hampir baku jotos. Ai, orang Cidan memang mirip binatang, untuk sementara ia dapat menutupi sifat aslinya, akhirnya wataknya yang buas lantas kelihatan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lebih-lebih tak tersangka kalau dia keluaran Siau-lim-pay, Hian-koh Taysu ternyata adalah gurunya,&#8221; kata Ki Liok, Si Golok Kilat.</p>
<p>&#8220;Urusan itu sangat dirahasiakan rupanya, sebab ketua Siau-lim-si sendiri juga tidak tahu,&#8221; ujar Pau Jian-leng. &#8220;Coba kalau Kiau Hong sendiri tidak omong dan disiarkan orang Kay-pang sendiri, mungkin tiada seorang pun yang tahu. Setelah membunuh kedua orang tua dan gurunya, orang she Kiau itu mengira dapatlah menutupi asal-usul dirinya, dengan demikian ia dapat menyangkal mati-matian tanpa saksi. Tak terduga kejadiannya malah berbalik tidak menguntungkan dia, dosanya juga makin bertambah.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong cukup kenal jiwa kesatria &#8220;Bo-pun-ci&#8221; Pau Jian-leng, persahabatan mereka pun cukup akrab. Jika sekarang maling agung itu pun mencerca dirinya, maka dapatlah dibayangkan bagaimana orang lain akan memaki dan mengutuknya.</p>
<p>Teringat demikian, hati Kiau Hong menjadi hampa dan putus asa. Tanpa dosa telah tertimpa tuduhan yang susah membela diri, apakah akhirnya ia mampu mencuci bersih fitnahan itu? Tidakkah lebih baik mengasingkan diri saja, setelah bertahun-tahun, tentu orang Kangouw akan melupakan manusia seperti aku. Demikian pikirnya dengan hampa.</p>
<p>Dalam pada itu terdengar Hiang Bong-thian sedang berkata pula, &#8220;Menurut dugaanku, sebabnya Giam-ong-tek menyebar enghiong-tiap, maksudnya apakah untuk menghadapi Kiau Hong. Selama hidup Giam-ong-tek paling benci pada kejahatan, asal dia mendengar ada kejadian tidak adil di kalangan Kangouw, tanpa disuruh dia pasti ikut campur urusan itu. Apalagi persahabatannya dengan Hian-lan dan Hian-cit Taysu dari Siau-lim-si itu sangat kekal, sudah tentu dia tidak dapat tinggal diam urusan yang menyangkut Siau-lim-pay itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kukira betul dugaanmu itu, memang paling akhir ini di kalangan Kangouw juga tiada terjadi geger apa-apa selain perbuatan orang she Kiau itu,&#8221; kata Pau Jian-leng. &#8220;Hiang-heng, Ki-heng, marilah kita habiskan 20 kati arak ini, malam ini kita bicara sepuas-puasnya.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong pikir apa yang akan dibicarakan mereka itu sampai semalam suntuk juga dirinya yang akan dicaci maki habis-habisan dengan dibumbu-bumbui. Maka ia tidak ingin mendengarkan lagi, segera ia pulang ke kamar A Cu.</p>
<p>Melihat air muka Kiau Hong muram durja dan pucat, dengan khawatir A Cu tanya, &#8220;Kiau-toaya, apakah engkau ketemukan musuh?&#8221;</p>
<p>Namun Kiau Hong hanya menggeleng kepala saja.</p>
<p>A Cu masih khawatir, tanyanya pula, &#8220;Engkau tidak terluka apa-apa, bukan? Kiau-toaya?&#8221;</p>
<p>Padahal sejak Kiau Hong berkecimpung di dunia Kangouw, selalu ia dihormati kawan dan disegani lawan, belum pernah ia dihina dan dimaki secara rendah oleh orang seperti beberapa hari ini. Kini demi mendengar pertanyaan A Cu itu, mendadak sifat angkuhnya berkobar-kobar, sahutnya keras-keras, &#8220;Tidak, aku tidak apa-apa. Memang tidak sulit manusia rendah itu hendak menghina dan memfitnah diriku, tapi untuk melukai orang she Kiau, huh, tidaklah gampang.&#8221;</p>
<br />Posted in Jin Yong, Pendekar Kerajaan Tayli  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toanki.wordpress.com/1833/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toanki.wordpress.com/1833/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toanki.wordpress.com/1833/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toanki.wordpress.com/1833/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toanki.wordpress.com/1833/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toanki.wordpress.com/1833/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toanki.wordpress.com/1833/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toanki.wordpress.com/1833/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toanki.wordpress.com/1833/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toanki.wordpress.com/1833/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toanki.wordpress.com/1833/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toanki.wordpress.com/1833/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toanki.wordpress.com/1833/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toanki.wordpress.com/1833/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1833&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-30/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b75e221c0eee4ff517b26695a19675fc?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">Lenghou Tiong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 29</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-29/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-29/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 05:02:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1830</guid>
		<description><![CDATA[A Cu merasa kurang enak bila tinggal lama-lama di situ mengingat orang-orang itu adalah kawan Kiau Hong, kalau pemalsuannya ketahuan, tentu urusan bisa runyam. Maka cepat katanya, &#8220;Urusan pang kita boleh dirundingkan nanti saja, sekarang aku akan pergi melihat kawanan anjing Se He itu.&#8221; Habis berkata, dengan langkah lebar ia lantas kembali ke ruangan depan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1830&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A Cu merasa kurang enak bila tinggal lama-lama di situ mengingat orang-orang itu adalah kawan Kiau Hong, kalau pemalsuannya ketahuan, tentu urusan bisa runyam. Maka cepat katanya, &#8220;Urusan pang kita boleh dirundingkan nanti saja, sekarang aku akan pergi melihat kawanan anjing Se He itu.&#8221;</p>
<p><span id="more-1830"></span>Habis berkata, dengan langkah lebar ia lantas kembali ke ruangan depan dengan diikuti Toan Ki.</p>
<p>Di sana mereka mendengar Helian Tiat-si sedang mencaci maki, &#8220;Lekas suruh periksa siapakah bangsat orang Se He itu, berani dia main gila pada Ciangkunmu ini. Bila kita sudah pulang nanti pasti akan kusikat bersih antero anggota keluarganya tua-muda maupun laki-perempuan. Bangsat, orang Se He malah membantu bangsa lain, mencuri kabut wangi kita untuk merobohkan bangsa sendiri.&#8221;</p>
<p>Toan Ki melengak, ia heran orang Se He mana yang dimakinya itu.</p>
<p>Dalam pada itu Nurhai cuma mengiakan belaka dan tidak berani menimbrung. Terdengar Helian Tiat-si lagi memaki pula, &#8220;Bangsat keparat, coba lihat, apa yang dia tulis itu bukankah sindiran terang-terangan kepada kita?&#8221;</p>
<p>Waktu Toan Ki dan A Cu mendongaki terlihatlah di dinding ruangan itu ada dua baris tulisan, masing-masing baris terdiri dari empat huruf, bunyinya, &#8220;Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin&#8221;.</p>
<p>Toan Ki sampai bersuara heran, bukankah itu istilah khas Buyung Hok yang disamarnya sekarang? Melihat tinta tulisan yang belum lagi kering itu, terang penulisnya belum lama perginya.</p>
<p>Melihat pemuda itu agak gugup, lekas A Cu memperingatkannya, &#8220;Toan-kongcu, jangan lupa bahwa engkau sekarang adalah Buyung-kongcu. Aku sendiri tidak dapat memastikan apakah tulisan itu benar buah tangan kongcu kami atau bukan, sebab beliau memang mahir menulis dalam berbagai macam gaya yang indah.&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu terdengar Nurhai sedang tertawa dingin dan berkata, &#8220;Hehe, benar-benar kepandaian yang lihai, baru hari ini dapat kami saksikan sendiri &#8216;Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin&#8217;.&#8221;</p>
<p>Namun begitu, dalam hati sebenarnya ia sangat khawatir entah cara bagaimana orang Kay-pang hendak memperlakukan mereka, sebab waktu orang-orang Kay-pang tertawan, mereka telah menyiksa kawanan pengemis itu dengan macam-macam cara, kalau sekarang pengemis-pengemis itu pun membalas &#8216;Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin&#8217;, kan bisa celaka mereka?</p>
<p>Sebenarnya Toan Ki agak cemburu kepada Buyung Hok, tapi kini demi merasa pasti tokoh muda itu telah merobohkan orang-orang Se He itu, mau tak mau ia rada kagum juga.</p>
<p>&#8220;Urusan sudah beres, marilah kita tinggal pergi saja,&#8221; tiba-tiba A Cu membisikinya ketika melihat orang-orang Kay-pang sudah banyak yang dapat bergerak dan datang ke ruangan depan itu. Segera ia berseru, &#8220;Para Tianglo, aku masih ada urusan lain yang harus diselesaikan bersama Buyung-kongcu, sampai berjumpa lagi pada lain hari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nanti dulu, Pangcu, nanti dulu!&#8221; cepat Go-tianglo menahannya.</p>
<p>Namun A Cu tidak berani tinggal lebih lama lagi di situ, bahkan jalannya bertambah cepat bersama Toan Ki. Umumnya anggota-anggota Kay-pang sangat segan kepada sang pangcu, maka tiada seorang pun berani menahan mereka.</p>
<p>Setelah beberapa li jauhnya, dengan tertawa berkatalah A Cu, &#8220;Toan-kongcu, benar-benar sangat kebetulan sekali, muridmu yang jelek seperti siluman itu justru ingin menjajal kepandaianmu Leng-po-wi-poh, bahkan memuji engkau lebih lihai daripada gurunya. Hahaha, sungguh lucu!&#8221;</p>
<p>Lalu katanya pula, &#8220;Dan aneh juga, entah siapakah gerangan yang diam-diam menyebarkan kabut racun itu? Orang-orang Se He itu mencaci maki, katanya ada pengkhianat, kukira bukan mustahil memang benar perbuatan seorang Se He.&#8221;</p>
<p>Mendadak Toan Ki teringat akan seorang, cepat katanya, &#8220;He, jangan-jangan perbuatan Li Yan-cong? Yaitu jago Se He yang kutemukan di rumah penggilingan itu?&#8221;</p>
<p>Karena A Cu tidak pernah melihat Li Yan-cong, maka ia tidak berani memberi pendapat, katanya, &#8220;Marilah kita bicarakan dengan Ong-kohnio saja dan minta pendapatnya.&#8221;</p>
<p>Tadinya Toan Ki sangsi penulis di dinding itu adalah Buyung Hok sendiri, dan kalau benar, tentu Buyung Hok berada di sekitar sini, bahkan mungkin sudah berjumpa dengan Giok-yan, hal ini membuatnya sangat masygul. Tapi kini demi teringat orang itu boleh jadi adalah Li Yan-cong seketika lega hatinya dan dapat bicara dengan bergurau lagi.</p>
<p>Tengah berjalan, tiba-tiba terdengar suara derap kuda dari depan, seorang penunggang kuda sedang datang dengan cepat. Waktu Toan Ki memerhatikan, segera ia mengenali orang itu tak-lain-tak-bukan adalah Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Itulah dia Kiau-toako!&#8221; serunya dengan girang terus hendak memapak maju.</p>
<p>Namun A Cu lantas menahannya, &#8220;Jangan bersuara, nanti sandiwara kita terbongkar!&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia sendiri lantas berdiri mungkur.</p>
<p>Tidak lama kemudian, Kiau Hong sudah mendekat dan memandang Toan Ki dan A Cu.</p>
<p>Karena dicegah A Cu tadi, barulah Toan Ki ingat mereka sedang menyamar sebagai orang lain. A Cu justru menyaru sebagai Kiau-toako itu, kalau dilihat orang yang asli, tentu urusan bisa runyam. Maka waktu Kiau Hong sudah dekat, Toan Ki juga tidak berani memandang padanya, sebaliknya ia melengos ke samping.</p>
<p>Kiranya setelah Kiau Hong membebaskan A Cu dan A Pik dari cengkeraman musuh, ia menjadi khawatir ketika mengetahui orang-orang Kay-pang juga ditawan oleh orang-orang Se He. Ia telah mencari kian kemari, akhirnya dapat diketemukan juga kedua hwesio cilik dari Thian-leng-si itu. Sesudah menanyakan tempatnya, segera ia memburu ke kuil itu.</p>
<p>Ketika dilihatnya wajah Toan Ki yang gagah dan ganteng dalam samarannya sebagai Buyung Hok itu, diam-diam Kiau Hong berpendapat, &#8220;Kongcu ini benar-benar tampannya seperti saudaraku Toan Ki itu.</p>
<p>Sedangkan A Cu yang berdiri mungkur itu tidak diperhatikannya, karena mengkhawatirkan keselamatan orang-orang Kay-pang, segera ia mencambuk kudanya melanjutkan perjalanan ke depan dengan cepat.</p>
<p>Setiba di Thian-leng-si, ia lihat belasan anggota Kay-pang sedang menggelandang orang-orang Se He satu per satu keluar dari kuil itu. Sudah tentu Kiau Hong sangat girang dan bangga. Memang orang-orang Kay-pang adalah kesatria yang gagah perkasa, betapa pun dapat mengubah kekalahan menjadi kemenangan.</p>
<p>Sebaliknya demi melihat sang pangcu yang sudah pergi telah kembali lagi, para anggota Kay-pang berbondong-bondong lantas menyambutnya, &#8220;Pangcu, cara bagaimana para tawanan ini harus diatur, harap engkau suka memberi petunjuk.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku sudah bukan anggota Kay-pang lagi, maka jangan kalian sebut aku sebagai pangcu,&#8221; sahut Kiau Hong. &#8220;Kalian baik-baik saja dan tidak kurang apa-apa, bukan?&#8221;</p>
<p>Sementara itu Ci-tianglo dan lain-lain sudah mendapat laporan dan menyambut keluar.</p>
<p>Go-tianglo adalah orang tulus, terus saja ia menyapa, &#8220;Pangcu, begitu engkau meninggalkan kami, seketika kami masuk perangkap musuh. Untung engkau datang tepat pada waktunya bersama Buyung-kongcu sehingga Kay-pang tidak sampai terjungkal habis-habisan. Jika engkau tidak kembali memegang tampuk pimpinan, pasti pang kita akan kacau-balau tak keruan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Buyung-kongcu apa maksudmu?&#8221; tanya Kiau Hong dengan heran.</p>
<p>&#8220;Ah, orang-orang seperti Coan Koan-jing itu cuma mengaco-belo, jangan engkau peduli,&#8221; ujar Go-tianglo. &#8220;Untuk mencari sahabat apa susahnya? Aku percaya engkau juga baru hari ini berkenalan dengan Buyung-kongcu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Buyung-kongcu? Apakah maksudmu Buyung Hok?&#8221; Kiau Hong menegas. &#8220;Tapi selamanya aku tidak pernah kenal dia.&#8221;</p>
<p>Seketika Ci, Song, Ge, Tan, dan Go-tianglo saling pandang dengan bingung. Pikir mereka, &#8220;Bukankah baru saja dia datang bersama Buyung-kongcu hingga kita tertolong, mengapa sekarang dia menyatakan tidak kenal Buyung-kongcu?&#8221;</p>
<p>Go-tianglo pikir sejenak, tiba-tiba ia seperti mengerti duduknya perkara, serunya, &#8220;Aha, tahulah aku! Pemuda tampan tadi itu mengaku she Buyung, tapi dia bukanlah Buyung Hok. Memangnya di dunia ini cuma ada seratus-dua ratus orang she Buyung? Kenapa mesti heran?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi dia menulis tanda pengenal yang khas di dinding itu, kalau bukan Buyung Hok lantas siapa lagi?&#8221; ujar Ci-tianglo.</p>
<p>&#8220;Memang pasti dia, habis siapa lagi?&#8221; tiba-tiba suara seorang melengking aneh menimbrung. &#8220;Bocah itu serbapandai dalam berbagai ilmu silat, bahkan setiap macam kepandaiannya lebih lihai daripada pemilik asalnya. Kalau dia bukan Buyung Hok, siapa yang mampu berbuat demikian? Sudah tentu dia, pasti dia!&#8221;</p>
<p>Waktu semua orang memandang ke arah suara itu tertampak mata orang itu kecil sempit dan penuh berewok, itulah dia Lam-hay-gok-sin.</p>
<p>&#8220;Jadi Buyung Hok tadi telah datang kemari?&#8221; demikian Kiau Hong menegas dengan heran.</p>
<p>&#8220;Kentut anjingmu!&#8221; maki Lam-hay-gok-sin mendadak. &#8220;Tadi kau sendiri datang bersama Buyung-siaucu itu, dan entah dengan ilmu sihir apa kalian telah membikin kami tidak dapat berkutik, tapi sekarang kau malah berlagak pilon? Ayo, lekas lepaskan Locu, kalau tidak, hm, hm &#8230;.&#8221;</p>
<p>Meski dia &#8220;hm, hm&#8221; segala, tapi apa yang dapat dia perbuat?</p>
<p>Maka berkatalah Kiau Hong, &#8220;Tampaknya engkau juga seorang tokoh pilihan dalam Bu-lim, tapi mengapa sembarangan ngoceh tak keruan? Bilakah aku datang kemari? Apalagi bersama Buyung-kongcu, haha, lucu, sungguh lucu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus kau, Kiau Hong! Sia-sia engkau jadi pemimpin Kay-pang, tapi di siang hari bolong kau berani coba membohongi orang!&#8221; teriak Lam-hay-gok-sin dengan marah. &#8220;Nah, para sobat, katakanlah, bukankah tadi Kiau Hong sudah pernah datang ke sini? Bukankah Ciangkun kami telah menyilakan dia duduk dan minum bersama?&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang benar,&#8221; sahut orang-orang Se He serentak. &#8220;Malahan waktu Buyung Hok mempertunjukkan kepandaian &#8216;Leng-po-wi-poh&#8217;, Kiau Hong sendiri memberi sorak pujian tiada habis-habis, katanya &#8216;Pak Kiau Hong dan Lam Buyung&#8217; apa segala, masakah hal itu dapat dipalsukan?&#8221;</p>
<p>Diam-diam Go-tianglo juga menjawil Kiau Hong dan membisikinya, &#8220;Pangcu, orang terang tidak perlu berbuat gelap, kejadian tadi betapa pun memang tak dapat disangkal.&#8221;</p>
<p>Sudah tentu Kiau Hong merasa serbasusah, dengan tersenyum pahit ia tanya, &#8220;Go-siko, apakah tadi engkau pun melihat aku datang kemari?&#8221;</p>
<p>Go-tianglo tidak menjawab, tapi ia lantas menyodorkan botol porselen kecil wadah obat penawar itu kepada Kiau Hong dan berkata, &#8220;Pangcu, botol ini kukembalikan padamu, mungkin kelak masih dapat dipergunakan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kembalikan padaku? Mengapa dikembalikan kepadaku?&#8221; Kiau Hong, menegas dengan terheran-heran.</p>
<p>&#8220;Obat penawar ini adalah pemberianmu tadi, masakah engkau sudah lupa?&#8221; ujar Go-tianglo.</p>
<p>&#8220;Masa bisa bagian? Jadi engkau juga mengatakan tadi telah melihat kudatang ke sini?&#8221; Kiau Hong menegas pula.</p>
<p>Biasanya Kiau Hong sangat cerdik, namun betapa pun tak tersangka olehnya bahwa ada orang telah memalsukan dirinya. Bahkan belum lama berselang pemalsu itu telah datang ke Thian-leng-si. Segera terpikir olehnya di balik kejadian itu pasti tersembunyi suatu muslihat mahakeji.</p>
<p>Ia lihat air muka orang-orang Kay-pang itu berbeda-beda, Ada yang merasa terima kasih karena telah diselamatkan olehnya, tapi merasa sangsi juga demi mendengar Kiau Hong tetap menyangkal. Ada yang mengira pikiran bekas pangcu itu lagi kusut karena mengalami macam-macam pukulan batin selama beberapa hari ini. Ada yang menduga pasti dia yang telah membunuh Be Tay-goan dengan menggunakan Buyung Hok, tapi khawatir muslihatnya ketahuan, maka sengaja menyangkal kenal dengan Buyung Hok. Bahkan ada yang percaya penuh dia adalah orang Cidan yang sengaja melawan orang Se He dan memusuhi orang Song pula.</p>
<p>Menghadapi keadaan yang membingungkan itu, akhirnya Kiau Hong menghela napas panjang, katanya, &#8220;Jika saudara-saudara ternyata baik-baik saja, biarlah sekarang juga Kiau Hong mohon diri.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia memberi salam sekali, segera ia cemplak kudanya dan dilarikan pergi dengan cepat.</p>
<p>&#8220;Kiau Hong, tinggalkan Pak-kau-pang dahulu!&#8221; seru Ci-tianglo mendadak.</p>
<p>Sekonyong-konyong Kiau Hong menghentikan kudanya serta menyahut, &#8220;Pak-kau-pang? Bukankah sudah kukembalikan di tengah hutan sana?</p>
<p>&#8220;Tapi sesudah kami tertawan, Pak-kau-pang telah jatuh di tangan anjing-anjing Se He itu, kami telah mencarinya dengan teliti dan tetap tidak ketemu, maka kami menduga pasti telah kau ambil lagi,&#8221; kata Ci-tianglo.</p>
<p>&#8220;Hahahaha!&#8221; mendadak Kiau Hong terbahak-bahak sambil menengadah, suaranya pedih memilukan. Lalu serunya, &#8220;Aku Kiau Hong sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi dengan Kay-pang, guna apa aku memiliki Pak-kau-pang itu? Ci-tianglo, agaknya engkau terlalu rendah menilai diriku.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia kempit kudanya dan dilarikan secepat terbang ke utara.</p>
<p>Sejak kecil Kiau Hong sangat disayang kedua orang tuanya. Kemudian ia mendapat didikan guru dari Siau-lim-si, akhirnya menjadi murid Ong-pangcu dari Kay-pang. Ia telah banyak mengalami gemblengan dalam pengembaraan, baik guru maupun sahabat, semuanya sangat baik dan jujur padanya. Tapi apa yang dialaminya selama dua hari ini benar-benar merupakan pukulan keras bagi kehidupannya. Pangcu yang terkenal mahajujur dan berbudi ini kini telah dituduh sebagai seorang pengkhianat, seorang penjual kawan yang rendah.</p>
<p>Ia membiarkan kudanya berjalan perlahan, hatinya sangat kusut, pikirnya, &#8220;Andaikan aku benar keturunan Cidan, padahal selama ini tidak sedikit jago Cidan yang telah kubunuh, banyak pula rencana penyerbuan negeri Cidan telah kugagalkan, bukankah aku benar-benar seorang yang tidak setia? Bila benar ayah-bundaku dibunuh oleh bangsa Han di Gan-bun-koan, sebaliknya aku malah mengangkat pembunuh orang tua sebagai guru dan selama 30 tahun ini mengaku orang asing sebagai ayah-bunda, bukankah hal ini benar-benar sangat tidak berbakti? Wahai, Kiau Hong, sedemikianlah engkau tidak setia pada negeri asal dan tidak berbakti pada orang tua, mengapa engkau masih ada muka untuk hidup di dunia ini? Jika Kiau Sam-hoay bukan ayahku yang sebenarnya, itu berarti aku juga bukan Kiau Hong yang sebenarnya? Lantas aku she apa? Siapakah namaku yang asli pemberian orang tua? Hehe, bukan saja aku tidak setia dan tidak berbakti, bahkan aku tidak punya she dan tidak bernama.&#8221;</p>
<p>Tapi segera terpikir pula olehnya. Namun bukan mustahil ada seorang yang mahajahat dan mahadurjana yang sengaja memfitnah diriku. Sebagai seorang laki-laki sejati, masakah aku manda dipermainkan orang sehingga nama runtuh dan badan merana? Kalau aku tinggal diam, tentu durjana itu akan berhasil intriknya yang keji itu. Ya, pendek kata, aku harus menyelidiki urusan ini hingga jelas.&#8221;</p>
<p>Setelah ambil keputusan itu, langkah pertama ia harus menuju ke Siau-sit-san di Holam untuk menanyakan asal usul diri sendiri kepada ayah Kiau Sam-hoay, dan langkah kedua ialah datang ke Siau-lim-si untuk minta petunjuk duduk perkara yang sebenarnya kepada gurunya, Hian-koh Taysu.</p>
<p>Kedua orang tua itu biasanya sangat sayang padanya, rasanya tidak nanti menutupi sesuatu rahasianya. Sebagai seorang kesatria yang bijaksana dan dapat berpikir panjang maka Kiau Hong tidak merasa kesal lagi. Yang masih dirasakannya agak canggung adalah dahulu dengan kedudukannya sebagai pangcu dari Kay-pang, ke mana pun ia pergi, di situ pula adalah rumahnya.</p>
<p>Tapi kini ia telah dipecat dari Kay-pang, ia tidak dapat mendatangi cabang-cabang Kay-pang lagi untuk bermalam atau minta makan, bahkan demi untuk menghindarkan kesulitan-kesulitan yang tak diinginkan, ia malah mencari jalan yang sepi saja supaya tidak kepergok oleh anggota Kay-pang bekas bawahannya.</p>
<p>Sesudah dua hari, sangu yang dia bekal sudah habis terpakai, terpaksa ia menjual kuda yang dirampasnya dari orang Se He itu sekadar sebagai biaya perjalanan.</p>
<p>Tidak lama kemudian, tibalah dia sampai di kaki gunung Siong-san, segera ia menuju ke Siau-sit-san yang merupakan lereng Gunung Siong itu. Pegunungan ini adalah tempat tinggal masa kecilnya, ia merasa suasana lereng gunung itu masih tetap menghijau seperti sediakala.</p>
<p>Sejak ia diangkat sebagai pangcu Kay-pang, karena Kay-pang adalah suatu organisasi terbesar di kalangan Kangouw, sebaliknya Siau-lim-pay adalah suatu aliran persilatan paling besar dalam Bu-lim, bila pangcu dari Kay-pang diketahui mengunjungi Siau-lim-si, pastilah hal ini akan bikin gempar kalangan Bu-lim.</p>
<p>Sebab itulah selamanya dia belum pernah pulang menjenguk kedua orang tua itu. Hanya setiap tahun ia suruh dua orang anak buahnya menyampaikan salam hormat dan membawa sekadar oleh-oleh kepada ayah bunda serta sang guru.</p>
<p>Kini seorang diri ia pulang ke tempat asalnya, teringat teka-teki yang meliputi sejarah hidup sendiri akan segera dapat diketahui dalam waktu tidak lama lagi, betapa pun biasanya ia adalah seorang yang tenang dan sabar, mau tak mau sekarang ia pun merasa bimbang.</p>
<p>Tempat tinggal yang ditinggalkannya itu terletak lereng gunung sebelah timur Siau-sit-san. Dengan cepat Kiau Hong melintasi lereng gunung itu, dari jauh terlihat olehnya di bawah pohon di tepi kebun sayur sana terletak sebuah caping dan sebuah teko. Pegangan teko itu sudah putus. Kiau Hong masih kenal itulah benda milik sang ayah, Kiau Sam-hoay.</p>
<p>Melihat benda-benda itu, seketika timbul rasa haru Kiau Hong, &#8220;Ayah benar-benar seorang yang rajin dan jujur, sudah belasan tahun teko bobrok itu dipakainya dan sampai sekarang masih tak dibuangnya.&#8221;</p>
<p>Melihat pohon kurma itu, Kiau Hong terkenang pada masa kanak-kanak, tatkala buah ang-co sudah masak, sering kali Kiau Sam-hoay mengajaknya memetik buah yang manis dan enak itu.</p>
<p>Sejak dia meninggalkan kampung halamannya tidak pernah lagi ia merasakan buah ang-co. Diam-diam ia berpikir, &#8220;Andaikan mereka bukan ayah-bunda kandungku, namun budi peliharaan mereka padaku sedari kecil betapa pun sukar kubalas. Maka bagaimanapun tentang asal-usul diriku, aku tetap akan memanggil mereka sebagai ayah dan ibu.&#8221;</p>
<p>Segera ia mendekati tiga petak rumah atap di depan sana, ia lihat di luar rumah terbentang sehelai tikar yang penuh jemuran sayuran kering. Seekor induk ayam dengan beberapa ekor anaknya sedang mencari makan di tanah rumput pinggir rumah sana.</p>
<p>Tanpa terasa tersenyumlah Kiau Hong. Pikirnya, &#8220;Malam ini ibu pasti akan sembelih ayam dan masak yang enak-enak untuk menjamu putranya yang sudah lama meninggalkan rumah ini.&#8221;</p>
<p>Segera ia berteriak-teriak memanggil, &#8220;Tia, Nio (ayah, ibu), anak sudah pulang!&#8221;</p>
<p>Namun meski dia mengulangi seruannya keadaan tetap sepi saja tanpa sesuatu jawaban. Ia pikir, &#8220;Ah, mengapa aku begini bodoh, kedua orang tua sekarang tentu telah lanjut usianya, telinga mereka tentu juga sudah tuli.&#8221;</p>
<p>Segera ia mendorong daun pintu dan melangkah masuk ke dalam. Ia lihat keadaan di dalam rumah masih tetap seperti dulu. Meja kursi sudah butut, pacul, luku, arit, dan sebagainya masih tetap berada di tempatnya. Hanya tiada tampak bayangan seorang pun.</p>
<p>Kembali Kiau Hong berseru memanggil dua kali, tapi tetap tiada jawaban apa-apa. Ia agak heran dan bergumam sendiri, &#8220;Ai, ke manakah perginya mereka?&#8221;</p>
<p>Waktu ia melongok ke dalam kamar, seketika ia terkejut. Ia lihat Kiau Sam-hoay suami-istri menggeletak semua di lantai tanpa berkutik.</p>
<p>Cepat Kiau Hong melompat ke dalam kamar. Lebih dulu ia bangunkan sang ibu, ia merasa napas orang tua itu sudah putus, tapi badannya masih rada hangat, suatu tanda belum terlalu lama meninggalnya. Waktu ia membangunkan sang ayah juga, keadaannya ternyata serupa.</p>
<p>Sungguh kaget dan sedih Kiau Hong tak terkatakan. Ia coba membawa jenazah sang ayah keluar rumah, ia coba periksa keadaan mayat itu di bawah sinar matahari. Segera dapat diketahuinya antero tulang iga orang tua itu telah patah semua, nyata tewasnya disebabkan semacam pukulan yang mahadahsyat. Waktu ia periksa pula mayat sang ibu, keadaannya sami mawon alias sama.</p>
<p>Kau Hong benar-tenar dihadapkan kepada suatu persoalan yang mahapelik. Ia tidak habis mengerti, &#8220;Ayah-ibu adalah kaum petani yang jujur tulus, mengapa ada orang Bu-lim yang begini tega turun tangan keji pada mereka? Tentu urusan ini berpangkal pada persoalan diriku.&#8221;</p>
<p>Ia coba mengelilingi ketiga petak rumah itu, ia periksa dengan teliti bagian depan, samping dan belakang rumah-rumah itu, ia ingin tahu macam apakah pembunuh itu. Namun pembunuh itu ternyata sangat cerdik, bahkan bekas tapak kaki tidak sedikit pun tertinggal.</p>
<p>Semakin dipikir semakin pedih hati Kiau Hong, air mata tak tertahan lagi bercucuran, sampai akhirnya ia tak dapat lagi menahan gelora perasaannya, ia menangis tergerung-gerung dengan keras.</p>
<p>Tapi baru saja ia mulai menangis, tiba-tiba terdengar suara orang berkata di belakang, &#8220;Ai, sayang, sayang kita terlambat datang!&#8221;</p>
<p>Cepat Kiau Hong berpaling, ia lihat empat hwesio setengah umur sudah berdiri di situ. Dari dandanan mereka segera Kiau Hong dapat menduga mereka adalah padri Siau-lim-si.</p>
<p>Walaupun ilmu silat Kiau Hong semula diperoleh dari Siau-lim-pay, tapi guru yang mengajar dia, yaitu Hian-koh Taysu, hanya datang di tengah malam setiap hari, tentang dia belajar silat bahkan kedua orang tua sendiri tidak tahu, maka dengan padri Siau-lim-si pun ia tidak kenal.</p>
<p>Oleh karena hati sedang sedih, biarpun di depannya berdiri empat orang tak dikenal, namun seketika Kiau Hong tak dapat menahan tangisnya.</p>
<p>Tiba-tiba salah satu padri di antaranya yang bertubuh tinggi menegurnya dengan suara kasar, &#8220;Kiau Hong, perbuatanmu ini benar-benar melebihi binatang. Kiau Sam-hoay suami-istri meski bukan ayah-bunda kandungmu, namun budi membesarkanmu selama belasan tahun juga tidak kecil, mengapa kau tega turun tangan keji untuk membunuhnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Cayhe juga baru saja sampai rumah dan mendapatkan ayah dan ibu sudah terbunuh, aku justru lagi ingin mencari tahu siapa pengganas itu untuk membalas sakit hati orang tua, mengapa Taysu mengucapkan kata-kata demikian?&#8221; sahut Kiau Hong dengan menangis.</p>
<p>&#8220;Huh, orang Cidan memang berhati buas seperti binatang, kau sendiri yang telah membinasakan ayah-ibu angkatmu, tapi kau masih pura-pura tidak tahu,&#8221; bentak padri itu dengan gusar. &#8220;Orang she Kiau, memang salah kami karena terlambat datang. Tapi bila kau kira Siau-sit-san boleh sembarangan dibuat main gila, terang kau salah hitung besar.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, tanpa ampun lagi ia terus menghantam dada Kiau Hong.</p>
<p>Selagi Kiau Hong hendak mengelak, tiba-tiba dari belakang juga ada kesiur angin perlahan, segera ia tahu ada orang membokong dari belakang. Tapi ia tidak ingin bertempur dengan padri Siau-lim-si itu tanpa mengetahui duduknya perkara. Maka sekali kakinya mengentak, bagaikan burung ia melayang pergi sejauh beberapa meter. Waktu ia menoleh, benar juga padri yang berdiri di belakangnya itu telah menendang tempat kosong.</p>
<p>Melihat cara begitu mudah Kiau Hong menghindarkan serangan mereka dari muka dan belakang, mau tak mau para padri itu terkejut dan heran pula.</p>
<p>&#8220;Biarpun ilmu silatmu tinggi juga jangan coba bertingkah di sini,&#8221; damprat si padri jangkung tadi. &#8220;Engkau sengaja membunuh kedua orang tua untuk menutupi rahasia asal-usul dirimu, cuma sayang tentang dirimu yang keturunan bangsa Cidan itu sudah tersiar luas di Kangouw, siapakah orang Bu-lim yang tidak tahu akan hal ini sekarang? Sekarang kau melakukan perbuatan durhaka sebesar ini, hal ini jelas semakin menambah dosamu yang tak dapat diampuni.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lebih dulu engkau membunuh Be Tay-goan, sekarang kau bunuh pula Kiau Sam-hoay berdua, hm, apakah perbuatanmu yang terkutuk ini dapat kau tutupi?&#8221; demikian padri yang lain ikut mendamprat.</p>
<p>Dalam keadaan berduka, meski mendengar caci maki padri itu sangat menyakitkan hati, namun tak dapat Kiau Hong mengumbar kemarahannya. Selama hidup sudah banyak persoalan besar dan kejadian hebat yang dialaminya, maka kini ia tetap dapat bersabar, ia memberi hormat, lalu katanya, &#8220;Numpang tanya siapakah gelaran suci para Taysu? Bukankah kalian adalah padri saleh Siau-lim-si?&#8221;</p>
<p>Watak salah satu hwesio itu cukup ramah tamah, maka dengan suara tenang ia menjawab, &#8220;Benar, kami adalah anak murid Siau-lim-si. Ai, suami-istri Kiau Sam-hoay selamanya sangat jujur dan baik, tapi toh mendapatkan ganjaran mengenaskan seperti ini. Kiau Hong, bangsa Cidan sungguh teramat keji.&#8221;</p>
<p>Melihat orang tidak sudi memberitahukan gelar mereka, Kiau Hong pikir percuma saja bertanya lagi. Tapi ia mendengar si padri jangkung menyatakan mereka datang terlambat untuk menolong, agaknya mereka telah diberi tahu seseorang, lalu buru-buru datang kemari, tapi siapakah pemberi kabar itu? Siapakah yang sebelumnya sudah mengetahui ayah-bundaku bakal tertimpa malang?</p>
<p>Maka katanya segera, &#8220;Keempat Taysu berhati welas asih dan sengaja buru-buru datang ke sini untuk menolong ayah-bundaku, cuma sayang agak terlambat sedikit &#8230;.&#8221;</p>
<p>Mendadak si padri jangkung yang berwatak keras itu menghantam dengan kepalan sebesar mangkuk sambil membentak, &#8220;Kami datang terlambat, makanya kau dapat berbuat durhaka dengan bebas, ya? Hm, tentu kau merasa senang dan sengaja mengejek kami?&#8221;</p>
<p>Kiau Hong tahu maksud baik kawanan hwesio itu, maka tidak ingin bertempur dengan mereka. Tapi untuk mengetahui duduknya perkara, kalau mereka tidak diberi tahu rasa, tentu urusan ini takkan selesai untuk selamanya. Maka katanya segera, &#8220;Cayhe sangat berterima kasih atas maksud baik keempat Taysu, tapi karena terpaksa, harap suka dimaafkan!&#8221;</p>
<p>Sembari berkata, ia bergerak secepat kilat, pundak padri ketiga segera ditepuknya sekali.</p>
<p>&#8220;Apakah kau ajak bergebrak?&#8221; bentak padri itu. Namun tahu-tahu pundaknya kena ditabok Kiau Hong pula, tubuhnya menjadi lemas dan duduk mendeprok di tanah.</p>
<p>Kiau Hong pernah meyakinkan ilmu silat Siau-lim-pay, meski tidak saling kenal dengan keempat padri itu, tapi dasar ilmu silat mereka cukup dipahaminya, maka beruntun Kiau Hong menepuk empat kali, kontan keempat padri itu pun dirobohkan.</p>
<p>&#8220;Maafkan,&#8221; kata Kiau Hong kemudian, &#8220;numpang tanya, Taysu tadi bilang terlambat datang ke sini, dari manakah kalian mengetahui ayah-bundaku akan tertimpa bahaya? Siapakah gerangan orang yang mengirim kabar kepada para Taysu itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hehe, apa maksudmu si pengirim kabar itu pun kan kau bunuh bila kau tahu nama dia ya?&#8221; sahut padri jangkung tadi dengan gusar. &#8220;Anak murid Siau-lim-pay bukanlah manusia pengecut hingga dapat dipaksa mengaku oleh anjing buduk Cidan seperti dirimu ini. Biarpun kau siksa kami dengan cara paling keji juga jangan harap memperoleh sesuatu pengakuan dari mulut kami.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Kiau Hong gegetun, &#8220;Sungguh celaka, kesalahpahaman ini menjadi semakin mendalam sekarang, kalau kutanya lagi, pasti mereka akan anggap aku hendak memaksa pengakuan mereka.&#8221;</p>
<p>Maka ia tidak tanya lebih jauh, sebaliknya ia pijat beberapa kali punggung keempat padri itu untuk membuka hiat-to mereka, katanya, &#8220;Jika aku hendak membunuh kalian untuk menutupi perbuatanku, saat ini juga jiwa kalian tentu sudah melayang. Tapi aku tidak nanti berbuat demikian, adapun duduk perkara yang sebenarnya kelak pasti akan kubikin terang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hendak membunuh orang untuk menutupi perbuatanmu yang keji? Hm, belum tentu begitu mudah!&#8221; demikian tiba-tiba suara seorang menjengek dari samping lereng bukit.</p>
<p>Waktu Kiau Hong mendongak, ia lihat di lereng sana berdiri belasan padri Siau-lim-si yang bersenjata lengkap, ada yang membawa tongkat padri, ada yang membawa golok suci, tiada seorang pun yang bertangan kosong.</p>
<p>Selintas pandang saja Kiau Hong lihat padri-padri itu dipimpin oleh dua hwesio berumur setengah abad, masing-masing padri itu membawa senjata hong-pian-jan (sekop yang berbentuk bulan sabit), ujung senjata itu hijau kemilau, sinar mata kedua padri itu pun berkilat-kilat, sekali pandang segera orang akan tahu mereka pasti mempunyai lwekang yang sangat tinggi.</p>
<p>Meski Kiau Hong tidak jeri menghadapi musuh macam pun, tapi ia belasan tahu padri ini pasti jauh lebih lihai daripada keempat hwesio yang duluan. Asal sekali sudah bergebrak, sebelum membunuh beberapa di antaranya pasti susah untuk melepaskan diri.</p>
<p>Dengan cepat Kiau Hong dapat menghadapi segala kesulitan dan mengatasi segala kesangsian. Segera ia memberi hormat sambil berkata, &#8220;Kiau Hong telah berlaku kurang ajar, harap para Taysu suka memaafkan!&#8221;</p>
<p>Mendadak tubuhnya melayang mundur ke belakang, punggung membentur daun pintu dan menghilang ke dalam rumah.</p>
<p>Perubahan itu sangat cepat terjadinya, padri Siau-lim-pay sama berteriak kaget dan segera ada 5-6 orang menerjang ke dalam rumah itu. Tapi baru sampai di ambang pintu, tiba-tiba mereka merasa dipapak oleh serangkum angin mahadahsyat. Lekas mereka angkat sebelah tangan untuk bertahan sekuatnya.</p>
<p>Sambaran angin itu sangat hebat hingga debu berhamburan, para padri itu sampai terentak mundur beberapa tindak dan dada pun terasa sesak, dengan muka pucat mereka saling pandang dengan terkejut. Mereka tahu bila Kiau Hong serentak menyerang pula untuk kedua kalinya, pasti mereka tidak mampu bertahan dan bukan mustahil akan binasa, tapi hal itu tidak dilakukan Kiau Hong. Padahal mereka menyangka bekas ketua Kay-pang itu adalah orang jahat.</p>
<p>Selang sejenak, tiba-tiba kedua hwesio yang memimpin itu angkat senjata mereka dan menyerbu ke dalam rumah dengan gerakan &#8220;Siang-liong-jip-tong&#8221; atau dua ekor naga menyusup ke gua. Mereka putar tongkat sedemikian kencangnya hingga terbentuk selapis jaringan sinar untuk melindungi mereka.</p>
<p>Namun sesudah di dalam rumah, mereka lihat keadaan sunyi senyap tiada suatu bayangan pun. Yang lebih aneh adalah jenazah suami-istri Kiau Sam-hoay juga sudah lenyap.</p>
<p>Kedua padri bersenjata tongkat itu adalah hwesio ruang &#8220;Kay-lut-ih&#8221; Siau-lim-si, yaitu bagian pengawasan dan perundang-undangan, tugas mereka adalah mengawasi kelakuan anak murid Siau-lim-si dan ketaatan mereka. Ilmu silat mereka dengan sendirinya sangat tinggi, bahkan pengalaman mereka juga sangat luas.</p>
<p>Keruan mereka ternganga heran melihat dalam sekejap itu Kiau Hong sudah menghilang bahkan menggondol pula mayat suami-istri Kiau Sam-hoay. Tapi mereka tidak percaya Kiau Hong mampu lari jauh, tentu masih bersembunyi di sekitar situ. Maka cepat mereka mencari di sekitar rumah, namun tiada sesuatu yang ditemukan.</p>
<p>Segera kedua padri Kay-lut-ih itu menguber ke bawah gunung, mereka yakin Kiau Hong pasti melarikan diri ke jurusan sana. Tapi meski belasan li mereka mengejar tetap tidak tampak suatu bayangan pun.</p>
<p>Sudah tentu mereka tidak menyangka bukannya Kiau Hong melarikan diri ke bawah gunung, sebaliknya ia malah berlari ke arah Siau-sit-san. Ia mencari suatu tempat yang terjal dan sukar didatangi orang, di situ ia kubur dulu ayah-bundanya, ia memberi penghormatan terakhir kepada tempat semayam abadi kedua orang tua itu sambil berdoa, &#8220;Tia, Nio, siapakah gerangan pembunuh kalian berdua, anak berjanji pasti akan menangkapnya untuk kemudian dikorek hatinya sebagai sesajen kalian.&#8221;</p>
<p>Ia menyesal pulangnya terlambat sebentar saja hingga tidak dapat bertemu lagi dengan ayah-bundanya yang sangat dicintainya itu. Coba kalau dapat berjumpa, tentu kedua orang tua akan betapa senangnya melihat putranya yang kini sudah demikian gagah perkasanya. Alangkah bahagianya bila antara ayah-bunda dan sang putra dapat berkumpul untuk sehari-dua untuk mengenyam sekadar kesenangan orang hidup.</p>
<p>Teringat akan semua itu, tak tertahan lagi air mata Kiau Hong bercucuran, ia menangis terguguk dengan sedih. Sejak kecil wataknya memang sangat keras, jarang sekali ia menangis, sesudah dewasa, lebih-lebih ia tidak pernah meneteskan sebutir air mata pun. Tapi hari ini, saking duka dan pilunya ia tak dapat menguasai perasaannya hingga mengucurkan air mata.</p>
<p>Mendadak terpikir pula olehnya, &#8220;Wah, celaka, guruku yang berbudi Hian-koh Taysu jangan-jangan akan mengalami nasib malang juga! Pembunuh itu telah membinasakan ayah-bundaku, waktunya ternyata begini cepat, yaitu setengah jam sebelum aku pulang. Nyata hal ini memang sudah direncanakan lebih dulu, dan sesudah dia turun tangan, segera ia pergi ke Siau-lim-si untuk memberitahukan kepada para padri di sana. Ya, tentu para padri itu tertipu hingga datang kemari hendak menolong ayah-bunda, tapi kepergok dengan aku. Di dunia ini yang mengetahui asal-usul diriku masih ada pula guruku Hian-koh Taysu, maka aku harus berjaga-jaga pengganas itu akan turun tangan keji pula terhadap guruku itu dan aku lagi yang mesti menanggung dosa perbuatan musuh itu.&#8221;</p>
<p>Demi ingat bisa jadi Hian-koh Taysu juga akan tertimpa malang, perasaan Kiau Hong menjadi seperti terbakar, tanpa pikir lagi ia berlari ke arah Siau-lim-si.</p>
<p>Ia tahu di dalam Siau-lim-si itu penuh orang-orang kosen, beberapa padri tua di Tat-mo-ih lebih-lebih bukan main ilmu silatnya, bila dirinya kepergok hingga dikerubut, tentu sukar sekali untuk meloloskan diri. Sebab itulah meski dia berlari secepatnya, namun yang dipilih selalu jalan kecil yang sepi dan lebih jauh.</p>
<p>Sesudah lebih satu jam, akhirnya tibalah dia di belakang Siau-lim-si. Tatkala itu hari sudah remang-remang, ia merasa girang dan khawatir. Girangnya karena hari sudah gelap dan menguntungkan baginya untuk bersembunyi. Khawatirnya kalau-kalau musuh juga menggunakan kesempatan malam gelap itu untuk menyergap, tentu susah mengetahui jejak musuh.</p>
<p>Selama beberapa tahun akhir ini Kiau Hong malang melintang di dunia Kangouw dan jarang ketemu tandingan, tapi sekali ini bukan saja ilmu silat musuh sangat tinggi, bahkan tipu muslihatnya yang licin itu pun tidak pernah dialaminya.</p>
<p>Meski sekarang ia harus menyerempet bahaya masuk ke Siau-lim-si yang penuh jago kosen itu, tapi mengingat gurunya, Hian-koh Taysu bukan mustahil juga akan mengalami sergapan musuh di luar dugaan, malahan kalau dirinya kepergok menyelundup ke dalam kuil itu tentu susah baginya untuk cuci tangan. Padahal kalau dia mau cari selamat sendiri, ia dapat meninggalkan Siau-lim-si sejauh mungkin. Tapi karena dia khawatirkan keselamatan Hian-koh Taysu, pula ingin mencari kesempatan untuk menangkap pembunuh yang sebenarnya guna membalas sakit hati ayah-bundanya, maka akibat apa yang bakal dihadapinya nanti sudah tak terpikir olehnya.</p>
<p>Meski dia pernah tinggal belasan tahun di pegunungan Siau-sit-san, tapi tidak pernah ia masuk ke Siau-lim-si, maka terhadap keadaan biara yang besar dan banyak ruangan itu, terutama tempat tinggal Hian-koh Taysu, sama sekali tak diketahui olehnya. Ia pikir, &#8220;Semoga Insu (guru berbudi) baik-baik saja tak kurang satu pun apa, mungkin beliau akan dapat memberi penjelasan asal-usul diriku serta mengetahui siapa pembunuh yang sebenarnya.&#8221;</p>
<p>Namun biara Siau-lim-si yang ruangan dan gedungnya tersebar di lereng gunung itu sangat luas, pula Hian-koh Taysu tidak memegang tugas tertentu di biara itu, ia pun bukan padri angkatan tua Tat-mo-ih, sedangkan padri angkatan yang pakai gelar &#8220;Hian&#8221; sedikitnya ada 20 orang lebih, dandanannya serupa pula, lantas ke mana ia harus mencarinya di tengah malam gelap?</p>
<p>Ia pikir, &#8220;Jalan satu-satunya sekarang aku harus menangkap seorang padri dan paksa dia membawaku pergi menemui Suhu. Sesudah bertemu akan kuminta dia memaafkan tindakanku itu. Tapi kalau menuruti watak padri Siau-lim-si yang mengutamakan setia kawan, bila aku disangkanya akan berbuat tidak baik terhadap Hian-koh Taysu biarpun mati tak nanti ia mau mengatakan tempatnya. Ai, jika begitu, lebih baik aku mencari seorang tukang api atau tukang sapu di bagian dapur saja. Namun orang-orang demikian juga belum tentu tahu tempat tinggal guruku.&#8221;</p>
<p>Begitulah ia menjadi serbasusah tapi ia terus menggerayangi ruangan biara itu, setiap kamar dan setiap ruangan diintainya dengan harapan dapat memperoleh sedikit keterangan.</p>
<p>Berkat gerakannya yang gesit, meski tubuhnya tinggi besar, namun ia dapat melompat dan melejit dengan lincah hingga tidak mengeluarkan sesuatu suara dan diketahui orang.</p>
<p>Ia meneruskan penyelidikannya itu, ketika sampai di suatu ruangan samping, tiba-tiba didengarnya di dalam kamar ada suara orang sedang bicara, &#8220;Hongtiang ada urusan penting ingin berunding dengan Susiok, maka Susiok diharap datang ke &#8216;Cin-to-ih&#8217;.&#8221;</p>
<p>Lalu suara seorang tua menjawab, &#8220;Baiklah, segera kudatang ke sana!&#8221;</p>
<p>&#8220;Hongtiang sedang mengumpulkan kerabat untuk berunding urusan penting, tentu guruku juga akan hadir di sana, biarlah kukuntit di belakang orang ini ke sana, tentu akan dapat kujumpai Suhu,&#8221; demikian pikir Kiau Hong.</p>
<p>Maka terdengarlah suara berkeriutnya pintu didorong, keluarlah dua padri dari kamar itu. Padri yang tua menuju ke arah barat, sedangkan yang muda buru-buru menuju ke jurusan lain, mungkin hendak mengundang padri lain lagi.</p>
<p>Kiau Hong menduga padri tua yang diundang hongtiang itu tentu mempunyai kedudukan tinggi dan dengan sendirinya ilmu silatnya sangat tinggi juga. Maka ia tidak berani menguntit terlalu dekat melainkan mengintilnya dari jauh. Ia lihat padri itu menuju ke barat sana hingga sampai di suatu rumah ujung.</p>
<p>Kiau Hong menunggu padri itu masuk ke dalam rumah, lalu ia mengitar ke belakang rumah itu, ia dengarkan dulu keadaan di sekitar situ, setelah yakin tiada orang lain lagi barulah ia mendekam di bawah jendela untuk mendengarkan.</p>
<p>Mengingat kelakuannya sendiri itu, diam-diam Kiau Hong berduka dan menyesal pula, pikirnya, &#8220;Aku Kiau Hong selamanya menghadapi segala urusan dengan secara terang-terangan, tapi hari ini terpaksa aku harus main sembunyi-sembunyi. Bila perbuatanku ini dipergoki, lenyaplah nama baikku selama ini dan tiada muka untuk berkecimpung di kalangan Kangouw lagi.&#8221;</p>
<p>Namun bila terkenang kepada jasa sang guru waktu mengajar ilmu silat padanya, biarpun hujan badai sekalipun juga tidak pernah absen barang semalam, budi sebesar itu biar hancur lebur tubuhnya juga perlu dibalas, apalagi cuma menderita malu dan ternoda namanya saja?</p>
<p>Dalam pada itu ia dengar ada suara tindakan orang di depan rumah sana, berturut-turut ada empat orang masuk ke situ pula. Tidak lama kemudian, kembali datang lagi dua orang. Dengan demikian, dari bayangan orang yang tertampak dari luar jendela, sudah ada belasan orang yang berkumpul di dalam rumah.</p>
<p>Diam-diam Kiau Hong berpikir pula, &#8220;Jika urusan yang mereka rundingkan adalah rahasia Siau-lim-pay, dan kini aku mengintipnya, meski tiada maksud jahat, jelas hal ini pun tidak pantas. Maka lebih baik aku sembunyi di tempat agak jauh dan jangan mendengarkan rahasia yang hendak mereka rundingkan ini. Jika Suhu memang berada di dalam kamar, dengan berkumpulnya tokoh-tokoh Siau-lim-pay sebanyak ini di sini, betapa pun lihainya musuh juga tidak mampu mengganggu seujung rambutnya. Dan nanti kalau perundingan mereka sudah selesai, setelah padri-padri itu bubar, barulah aku mencari akal untuk menemui Suhu dan melaporkan segala apa yang terjadi.&#8221;</p>
<p>Selagi ia hendak menyingkir, tiba-tiba didengarnya suara belasan hwesio di dalam kamar itu serentak membaca kitab. Kiau Hong tidak paham kitab apa yang sedang dibaca mereka itu, tapi suaranya sangat khidmat dan sendu, bahkan suara beberapa orang di antaranya mengandung rasa duka.</p>
<p>Lama sekali padri-padri itu berdoa, lama-kelamaan Kiau Hong merasa ada sesuatu yang tidak beres. Pikirnya, &#8220;Apakah mereka sedang sembahyang? Atau sedang mengadakan sesuatu khotbah? Mungkin Suhu tidak berada di sini.&#8221;</p>
<p>Waktu ia dengarkan dengan cermat, benar juga tiada terdengar suara Hian-koh Taysu yang sangat dikenalnya itu.</p>
<p>Seketika ia menjadi bingung apakah mesti menunggu lagi di situ. Tiba-tiba terdengar suara pembacaan kitab di dalam kamar telah berhenti, lalu suara seorang yang kereng sedang bicara, &#8220;Hian-koh Sute, apa yang hendak kau katakan pula?&#8221;</p>
<p>Mendengar nama gurunya disebut, sungguh girang Kiau Hong tidak kepalang, ternyata orang tua itu pun berada di situ dan dalam keadaan baik-naik tanpa kurang suatu pun apa.</p>
<p>Lalu didengarnya suara gurunya yang dikenalnya sedang menjawab, &#8220;Waktu Siaute diberi nama sebagai Hian-koh oleh Siansu (mendiang guru), maksudnya agar Siaute dapat membebaskan diri dari sengsara dan penderitaan. Akan tetapi untuk ini masih diharapkan bantuan para Suheng dan Sute.&#8221;</p>
<p>Mendengar suara sang Suhu sangat tenang dan penuh tenaga dalam, nyata selama belasan tahun ini lwekang sang guru semakin hebat, diam-diam Kiau Hong bergirang bagi orang tua itu. Cuma apa yang diucapkan itu adalah kata-kata dalam agama Buddha yang dalam artinya, seketika Kiau Hong tidak paham maksudnya.</p>
<p>Lalu terdengar suara kereng tadi berkata, &#8220;Beberapa bulan yang lalu Hian-pi Sute terbinasa di tangan orang jahat, kita sudah menyelidiki si pembunuh dengan sepenuh tenaga, hal ini agak melampaui batas pantangan Buddha yang menghendaki jangan suka marah dan jangan suka murka. Namun membasmi kaum jahat untuk menolong sesamanya adalah menjadi asas utama kaum persilatan kita &#8230;.&#8221;</p>
<p>Mendengar sampai di sini, Kiau Hong menduga pembicara yang bersuara kereng ini tentulah ketua Siau-lim-si, Hian-cu Taysu.</p>
<p>Ia dengar suara itu sedang melanjutkan, &#8220;Setiap gembong iblis yang dapat kita basmi akan besar artinya bagi keselamatan orang banyak. Maka, sudilah Sute memberi tahu, apakah pengganas itu Koh-soh Buyung atau bukan?&#8221;</p>
<p>Kiau Hong terkesiap, &#8220;Kembali menyangkut nama Koh-soh Buyung-si lagi. Sudah lama kudengar bahwa Hian-pi Taysu dari Siau-lim-si telah tewas disergap orang, apakah barangkali mereka pun mencurigai Buyung-kongcu yang berbuat?&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu terdengar Hian-koh Taysu sedang menjawab, &#8220;Hongtiang-suheng, Siaute tidak ingin menambah dosa, hingga membikin Suheng, dan para Sute banyak membuang tenaga bagiku. Bila orang itu dapat meninggalkan golok jagalnya, dengan sendirinya masih belum terlambat untuk kembali ke jalan yang benar. Tapi kalau tetap sesat tak mau sadar, ai, itu pun akan ditanggung sendiri sengsaranya. Tentang bagaimana wujud orang itu, biarlah tak perlu dikatakan saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kesadaran Sute memang lebih tinggi, Suhengmu ini terlalu bodoh, jauh tak dapat mengimbangi Sute,&#8221; ujar Hian-cu Taysu, ketua Siau-lim-si.</p>
<p>&#8220;Kini Siaute ingin duduk tenang sebentar untuk mengenangkan dosa,&#8221; ujar Hian-koh.</p>
<p>&#8220;Baiklah, harap Sute menjaga diri dengan baik,&#8221; sahut Hian-cu. Lalu terdengar pintu dibuka, seorang padri tinggi kurus dan berjubah merah berjalan keluar dengan merangkap tangan sambil berdoa perlahan. Menyusul keluar pula 17 padri yang lain, semuanya juga berkasa merah dan sama menunduk sambil berdoa dengan khidmat.</p>
<p>Sesudah padri-padri itu pergi jauh dan di dalam kamar sunyi senyap, Kiau Hong masih ragu-ragu untuk masuk ke situ mengingat suasana yang khidmat tadi. Tapi tiba-tiba terdengar Hian-koh berkata, &#8220;Jauh-jauh tamu agung berkunjung kemari, mengapa tidak sudi masuk saja?&#8221;</p>
<p>Sungguh kejut Kiau Hong tidak kepalang. Padahal ia sudah sangat hati-hati, sekalipun bernapas juga tidak berani keras, orang berada satu meter di sebelahnya juga belum tentu mengetahui. Tapi kini gurunya seakan-akan orang memiliki telinga sakti, biarpun teraling-aling dinding masih dapat mengetahui kedatangannya. Maka dengan sangat hormat segera Kiau Hong mendekati pintu sambil berkata, &#8220;Baik-baikkah Suhu, Tecu Kiau Hong menyampaikan sembah hormat kepada Suhu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah, kiranya Hong-ji?&#8221; seru Hian-koh. &#8220;Saat ini aku justru lagi terkenang padamu dan berharap dapat berjumpa denganmu, marilah lekas masuk.&#8221;</p>
<p>Dari suara sang guru yang penuh rasa girang itu, Kiau Hong menjadi terharu, cepat ia lari masuk dan berlutut memberi hormat sambil berkata, &#8220;Tecu tidak dapat selalu mendampingi Suhu sehingga membikin Suhu senantiasa terkenang. Kini melihat Suhu dalam keadaan sehat walafiat, sungguh murid merasa sangat girang.&#8221;</p>
<p>Habis berkata ia lantas mendongak untuk memandang Hian-koh.</p>
<p>Sebenarnya wajah Hian-koh tersenyum simpul. Tapi di bawah sinar pelita demi dilihatnya muka Kiau Hong itu, mendadak air mukanya berubah hebat, ia berbangkit sambil berkata dengan suara gemetar, &#8220;Jadi kau &#8230; kau inilah Kiau Hong, murid &#8230; murid yang kudidik sejak kecil itu?&#8221;</p>
<p>Melihat perubahan air muka gurunya yang terkejut, menyesal tercampur rasa kasih sayang itu, seketika Kiau Hong juga melongo heran, sahutnya bingung, &#8220;Ya, Suhu, anak inilah Kiau Hong adanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus, bagus, bagus!&#8221; berturut Hian-koh Taysu mengucapkan tiga kali &#8220;bagus&#8221;, lalu tidak bicara lagi.</p>
<p>Kiau Hong tidak berani tanya pula, dengan tenang ia menunggu apa yang hendak dikatakan sang guru. Siapa duga, tunggu punya tunggu, tetap Hian-koh Taysu tidak buka suara. Waktu Kiau Hong memandang wajah padri itu, ia lihat sikapnya masih tetap seperti tadi, tapi air mukanya tiada sesuatu perasaan.</p>
<p>Kiau Hong terkejut, cepat ia meraba tangan sang guru, ia merasa tangan yang kurus itu sudah dingin, waktu ia memeriksa pernapasan hidungnya, ternyata napasnya sudah berhenti sejak tadi.</p>
<p>Kejadian ini benar-benar membikin Kiau Hong terperanjat tidak kepalang, pikirnya dengan bingung, &#8220;Masakah demi lihat diriku lantas Suhu mati ketakutan? Tidak, tidak mungkin! Apa yang menakutkan beliau? Ah, sebelum melihat diriku besar kemungkinan lebih dulu ia sudah terluka parah.&#8221;</p>
<p>Akan tetapi ia tidak berani memeriksa tubuh orang tua itu, setelah tenangkan diri, ia ambil keputusan, &#8220;Jika aku tinggal pergi begini saja, apakah ini perbuatan seorang laki-laki sejati? Urusan hari ini biarpun betapa bahayanya juga harus kuselidiki hingga jelas duduknya perkara.&#8221;</p>
<p>Segera ia keluar dari kamar itu, dengan suara lantang ia berseru, &#8220;Hongtiang Taysu, Hian-koh Suhu telah wafat! Hian-koh Suhu wafat!&#8221;</p>
<p>Suara Kiau Hong sangat keras, tenaga dalamnya sangat kuat, maka suaranya berkumandang hingga jauh sampai lembah pegunungan mendengung-dengung seakan-akan terguncang. Dan sudah tentu antero penghuni Siau-lim-si mendengar seruannya yang keras tapi mengandung rasa nestapa itu.</p>
<p>Rombongan Hian-cu tadi malahan belum sampai di kamarnya masing-masing, maka demi mendengar suara Kiau Hong itu, serentak mereka berlari kembali ke Cin-to-ih tadi. Maka tertampaklah oleh mereka seorang laki-laki tinggi besar sedang berdiri di depan pintu kamar sambil mengusap air mata dengan lengan baju. Keruan padri-padri Siau-lim-si itu sangat heran.</p>
<p>&#8220;Siapakah Sicu?&#8221; tanya Hian-cu sambil memberi hormat. Karena khawatirkan keselamatan Hian-koh, maka tanpa menunggu jawaban Kiau Hong terus saja ia mendahului masuk ke dalam kamar. Ia lihat Hian-koh berdiri kaku di situ tanpa roboh. Keruan ia tambah terkejut.</p>
<p>Sementara itu padri yang lain juga sudah ikut masuk, mereka menunduk dan memanjatkan doa. Kiau Hong paling akhir masuk ke dalam, ia berlutut dan diam-diam berdoa, &#8220;Suhu, Tecu terlambat membawa berita ke sini hingga engkau akhirnya dicelakai juga oleh musuh. Sakit hati Tecu kepada musuh itu setinggi langit dan sedalam lautan, betapa pun Tecu berjanji akan menuntut balas.&#8221;</p>
<p>Selesai membaca kitab, kemudian Hian-cu mengamat-amati Kiau Hong, lalu tanyanya, &#8220;Siapakah Sicu? Apakah seruan tadi dilakukan olehmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tecu Kiau Hong adanya, waktu Tecu mengetahui Suhu wafat, saking dukanya hingga terpaksa membikin kaget Hongtiang.&#8221;</p>
<p>Hian-cu terkejut mendengar nama Kiau Hong, ia menegas, &#8220;Jadi Sicu adalah &#8230; adalah bekas Pangcu Kay-pang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar,&#8221; sahut Kiau Hong. Diam-diam ia kagum betapa cepat berita yang diterima Siau-lim-si itu. Dan kalau sudah tahu dirinya adalah &#8220;bekas pangcu&#8221;, tentu orang tahu juga sebab musabab dia dipecat Kay-pang.</p>
<p>&#8220;Mengapa tengah malam buta Sicu menggerayangi biara kami? Dan mengapa dapat menyaksikan wafatnya Hian-koh Sute?&#8221; tanya Hian-cu pula.</p>
<p>Seketika Kiau Hong tidak tahu cara bagaimana harus menceritakan perasaannya waktu itu, terpaksa ia jawab, &#8220;Hian-koh Taysu adalah guru pengajar Tecu, waktu Tecu mengetahui &#8230;.&#8221;</p>
<p>Belum lanjut ucapannya, segera Hian-cu memotong, &#8220;Apa katamu? Hian-koh Sute adalah gurumu? Jadi Sicu ini anak murid Siau-lim-si? Ini sungguh &#8230; sungguh aneh.&#8221;</p>
<p>Perlu diketahui bahwasanya nama Kiau Hong tersohor di seluruh jagat dan terkenal sebagai murid ahli waris Ong-pangcu, ilmu silatnya juga tiada sangkut paut dengan Siau-lim-pay. Tapi kini ia mengaku sendiri sebagai anak murid Siau-lim-pay, sudah tentu Hian-cu Taysu tidak percaya dan hampir-hampir menyemprotnya karena dianggap sembarangan mengoceh.</p>
<p>Tapi Kiau Hong lantas menjawab, &#8220;Cerita ini cukup panjang, entah luka apakah yang diderita Insu dan siapa gerangan pengganasnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hian-koh Sute disergap orang, dadanya terkena pukulan dahsyat musuh, tulang iganya patah semua, isi perutnya juga hancur,&#8221; demikian tutur Hian-cu Hongtiang. &#8220;Tapi berkat lwekangnya yang tinggi ia dapat bertahan sampai tadi. Kami telah tanya dia siapakah gerangan musuh itu, namun ia menyatakan tidak kenal dan juga tidak mau menjelaskan bagaimana macam orang itu.&#8221;</p>
<p>Baru sekarang Kiau Hong paham perkataan Hian-koh sebelum meninggal tadi. Katanya dengan mengembeng air mata, &#8220;Para Taysu mengutamakan welas asih, maka tidak ingin mengikat permusuhan lebih dalam. Sebaliknya Tecu adalah orang biasa, harus berusaha menangkap pengganas itu untuk dicencang guna membalas sakit hati Suhu. Padahal biara kalian terjaga sangat ketat, entah cara bagaimana pembunuh itu mampu menyelundup ke sini?&#8221;</p>
<p>Selagi Hian-cu termenung belum menjawab, tiba-tiba seorang hwesio tua pendek di sebelah berkata dengan dingin, &#8220;Hm, Sicu sendiri mampu menyusup ke sini tanpa rintangan apa-apa, dengan sendirinya pembunuh itu pun mampu pergi-datang dengan bebas seakan-akan mendatangi tempat yang tiada manusianya.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong membungkuk minta maaf, sahutnya, &#8220;Tecu terpaksa oleh keadaan hingga tidak sempat permisi dulu di luar, atas kelancanganku ini mohon para Taysu suka memberi maaf. Hubungan Tecu dengan Siau-lim-pay sangat erat, sekali-kali tidak berani memandang rendah dan menghina.&#8221;</p>
<p>Dengan kata-katanya yang terakhir itu ia hendak memberi penjelasan bahwasanya bila Siau-lim-pay dibikin malu, hal itu pun berarti dia ikut malu.</p>
<p>Pada saat itulah, tiba-tiba seorang hwesio cilik membawakan semangkuk obat yang masih mengepul dan masuk ke situ dengan tergesa-gesa, ia berkata kepada jenazah Hian-koh yang disangkanya hidup itu, &#8220;Suhu, silakan minum obat.&#8221;</p>
<p>Kiranya hwesio cilik ini adalah pelayan Hian-koh yang tadi disuruh pergi menyeduh obat luka Siau-lim-si, yaitu &#8220;Kiu-coan-kim-kong-theng&#8221;, maka tentang kematian Hian-koh belum lagi diketahuinya.</p>
<p>Saking pilunya Kiau Hong lantas berkata padanya dengan suara terguguk, &#8220;Suhu &#8230; Suhu sudah &#8230;.&#8221;</p>
<p>Hwesio cilik itu berpaling ke arahnya dan mendadak menjerit kaget, &#8220;Hai, kiranya kau &#8230; kau kembali lagi ke sini!&#8221;</p>
<p>Maka terdengarlah suara jatuhnya mangkuk hingga pecah berantakan, air obat muncrat ke mana-mana, hwesio cilik itu pun melompat mundur dengan ketakutan sambil berteriak, &#8220;Dia &#8230; dia inilah yang menyerang Suhu!&#8221;</p>
<p>Karena teriakan hwesio cilik itu, semua orang terkejut. Lebih-lebih Kiau Hong menjadi gugup dibuatnya. &#8220;Apa katamu?&#8221; serunya keras-keras.</p>
<p>Usia padri kecil itu kira-kira baru 12-13 tahun, ia sangat ketakutan melihat Kiau Hong, ia sembunyi di belakang Hian-cu sambil menarik-narik lengan ketua Siau-lim-si itu dan meratap, &#8220;Hongtiang! Hongtiang!&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan takut, Ceng-siong!&#8221; sahut Hian-cu. &#8220;Katakanlah yang terang, kau bilang dia yang menyerang suhumu tadi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya &#8230; ya!&#8221; sahut hwesio cilik yang bernama Ceng-siong itu. &#8220;Dengan telapak tangannya ia pukul dada Suhu, Tecu sendiri menyaksikan di luar jendela. Suhu, Suhu, ayolah balas hantam dia, mengapa engkau diam saja?&#8221;</p>
<p>Ternyata sampai saat ini ia belum lagi tahu Hian-koh sudah meninggal.</p>
<p>&#8220;Ceng-siong, cobalah kau lihat lagi yang jelas, jangan-jangan kau salah mengenali orang?&#8221; ujar Hian-cu Hongtiang.</p>
<p>&#8220;Tidak, tidak salah lagi!&#8221; seru Ceng-siong. &#8220;Telah kulihat dengan jelas, beginilah pakaiannya, begini pula mukanya yang lebar dan alisnya yang tebal itu, mulutnya lebar dan telinganya besar, memang tidak salah lagi dia ini. Suhu, ayolah balas serang dia, lekas!&#8221;</p>
<p>Saat itu Kiau Hong merasa merinding bulu romanya, tiba-tiba ia sadar, &#8220;Ya, tidak salah lagi. Pembunuh itu telah menyaru sebagai diriku untuk memfitnah aku. Tadi waktu Suhu mendengar aku datang, beliau sangat girang. Tapi begitu melihat wajahku, melihat aku serupa penjahat itu, seketika beliau terkesiap dan menyesalkan karena murid didiknya ternyata adalah orang yang telah menyerangnya pula. Ya, maklum, aku sudahi belasan tahun berpisah dengan Suhu, dari anak cilik kini berubah dewasa, dengan sendirinya wajahku sudah banyak berubah daripada masa kanak-kanak dulu.&#8221;</p>
<p>Waktu Kiau Hong kenangkan kembali kata &#8220;bagus&#8221; tiga kali yang diucapkan Hian-koh Taysu sebelum ajalnya itu, sungguh hatinya pedih bagai disayat-sayat. Pikirnya, &#8220;Suhu telah kena serangan maut musuh, tapi tak diketahui siapa nama musuh itu. Ketika aku datang dan tahu wajahku serupa dengan penyerang itu, maka beliau sangat menyesal dan berduka hingga tewas. Memang luka Suhu sudah terlalu parah, dalam keadaan payah dengan sendirinya tidak dapat berpikir dengan saksama, jika benar aku yang menyerang dia, mengapa untuk kedua kalinya aku menemuinya lagi?&#8221;</p>
<p>Pada saat itu juga, tiba-tiba terdengar suara berisik orang banyak, serombongan padri tampak berlari datang, setiba di luar mereka lantas berhenti, hanya dua padri di antaranya dengan membungkuk tubuh melangkah masuk dengan hormat. Ternyata mereka adalah kedua hwesio bersenjata tongkat yang mengerubut Kiau Hong di kaki gunung itu.</p>
<p>Segera satu di antaranya menutur, &#8220;Lapor Hongtiang &#8230;.&#8221;</p>
<p>Tapi baru sekian ucapannya, sekilas ia lihat Kiau Hong juga berada di situ, seketika wajahnya menampilkan rasa kaget dan gusar. Ia mendelik dengan termangu-mangu lantaran heran mengapa Kiau Hong tahu-tahu sudah berada di situ.</p>
<p>Dengan kereng Hian-cu bersuara, &#8220;Sicu sudah tidak di dalam Kay-pang lagi, tapi apa pun juga kau seorang tokoh Bu-lim yang terkenal. Hari ini sengaja berkunjung ke biara kami dan membinasakan Hian-koh Sute, entah apa maksud tujuanmu, silakan memberi penjelasan.&#8221;</p>
<p>Namun Kiau Hong tidak menjawab, mendadak ia menghela napas panjang sekali, lalu menyembah kepada Hian-koh dan meratap, &#8220;Suhu, O, Suhu, sebelum engkau mengembuskan napas penghabisan, engkau juga mengatakan Tecu yang mencelakai dirimu dan meninggal dengan menanggung penasaran Meski Tecu sekali-kali tidak nanti berani terhadap Suhu, meski karena difitnah musuh sebab musababnya dengan sendirinya berpangkal pada diriku. Umpama Tecu sekarang rela mati untuk membalas budi Suhu, namun sakit hati Suhu selanjutnya menjadi tak terbalas. Adapun Tecu telah membikin rusuh di sini hingga melanggar ketertiban Siau-lim-si, untuk ini harap Suhu suka memaafkan.&#8221;</p>
<p>Selesai berdoa, sekonyong-konyong ia mengembuskan napas dua kali, dua rangkum angin keras menyambar, seketika dua pelita minyak di dalam kamar tertiup padam hingga keadaan lantas gelap gulita.</p>
<p>Kiranya waktu Kiau Hong berdoa tadi, diam-diam ia sudah mempunyai akal untuk meloloskan diri. Begitu pelita minyak tertiup padam, menyusul tangan kirinya menghantam ke depan dan tepat kena punggung siu-lut-ceng, padri pengawas yang pernah ditempurnya di kaki gunung itu.</p>
<p>Cuma hantamannya ini melulu menggunakan tenaga luar yang kuat, maka isi perut padri itu tidak sampai terluka melainkan tubuhnya yang besar itu mencelat ke luar pintu.</p>
<p>Dalam keadaan gelap para hwesio Siau-lim-si itu menyangka Kiau Hong hendak melarikan diri. Tanpa pikir lagi mereka serentak mengeluarkan kim-na-jiu-hoat (ilmu menangkap dan memegang) dan mencengkeram tubuh siu-lut-ceng itu.</p>
<p>Padri itu pun mempunyai pikiran yang sama, yaitu tidak ingin menggunakan pukulan berat untuk membinasakan Kiau Hong, tapi ingin menawannya hidup-hidup untuk ditanyai mengapa membunuh Hian-koh Taysu, muslihat keji apa di balik perbuatannya itu.</p>
<p>Para padri itu adalah jago pilihan Siau-lim-si, dengan sendirinya adalah jago silat terkemuka pula dalam Bu-lim, kim-na-jiu-hoat mereka pun berbeda-beda, semuanya mempunyai ciri khas sendiri-sendiri. Maka kontan siu-lut-ceng itu kena dicengkeram oleh berbagai macam kim-na-jiu-hoat Siau-lim-pay yang lihai seperti Kim-liong-jiu (cengkeraman cakar naga), Eng-jiau-jiu (cakar elang), Hou-jian-kang (cakar harimau), dan lain-lain lagi.</p>
<p>Keruan yang paling sial adalah siu-lut-ceng itu, dalam sekejap hiat-to penting antero tubuhnya kena dicengkeram padri-padri lihai itu, seketika tubuhnya terkatung-katung di udara. Pengalaman demikian mungkin sejak dahulu hingga kini belum pernah dialami siapa pun juga.</p>
<p>Oleh karena berada dalam biara sendiri padri-padri itu tiada yang membawa alat ketikan api segala. Tapi kepandaian mereka tinggi, pengalaman mereka banyak, begitu merasa gelagat tidak beres, segera ada orang melompat ke atas rumah untuk berjaga di sana, begitu pula semua jalan keluar di sekitar situ segera dijaga dengan ketat.</p>
<p>Dalam keadaan begitu, jangankan Kiau Hong bertubuh tinggi besar, sekalipun dia berubah menjadi seekor burung juga sukar mengelabui mata telinga penjaga-penjaga itu.</p>
<p>Tidak lama kemudian, si padri cilik Ceng-siong telah memperoleh batu api, ia menyalakan pelita minyak, dan baru kawanan hwesio Siau-lim-si itu mengetahui mereka telah salah tangkap kawan sendiri.</p>
<p>Segera Hian-lan Taysu, kepala Tat-mo-ih, memerintahkan agar setiap padri jaga di tempatnya masing-masing dan tidak boleh sembarangan bergerak. Mereka khawatir jangan-jangan Kiau Hong membawa bala bantuan dan ada rencana pengacauan lain.</p>
<p>Dalam pada itu padri lain yang dipimpin ji-kay-ceng masih terus mencari dan menggeledah di sekitar Cin-to-ih itu, hampir setiap tempat dan setiap pelosok telah diperiksanya, namun tetap tiada menampak suatu bayangan pun.</p>
<p>Setelah sibuk hampir satu jam, mereka sangat heran, sebab Kiau Hong tetap menghilang. Lalu jenazah Hian-koh diusung ke ruang Sik-li-ih untuk dibakar. Sedang siu-lut-ceng diantar ke Yok-ong-tian untuk diberi obat. Para padri Siau-lim-si itu sama lesu dan cemas, mereka merasa sekali ini benar-benar kehilangan muka.</p>
<p>Di antara jago-jago Siau-lim-pay itu, belasan padri agung yang berkumpul di Cin-to-ih itu semuanya sangat tinggi ilmu silatnya, nama setiap orang tersohor dan disegani di dunia Kangouw. Tapi kini Kiau Hong mampu pergi-datang dengan bebas, jangankan menangkapnya, cara bagaimana Kiau Hong lolos pun mereka tidak tahu.</p>
<p>Lantas lolos ke mana atau sembunyi di manakah Kiau Hong?</p>
<p>Kalau dijelaskan sebenarnya tidaklah mengherankan dan juga tidak aneh. Kiranya Kiau Hong sudah menduga para padri itu akan menguber dan mencarinya keluar. Terhadap tempat yang baru saja dibuat berkumpul itu sebaliknya takkan diperhatikan.</p>
<p>Sebab itulah begitu ia hantam siu-lut-ceng, segera ia mengkeret mundur malah dan diam-diam ia menyusup ke kolong tempat tidur Hian-koh Taysu.</p>
<p>Dengan sepuluh jarinya ia cengkeram papan ranjang, tubuhnya menempel rapat di bawah kolong. Meski tadi ada juga salah seorang memeriksa sekadarnya ke bawah ranjang, tapi cuma sekilas saja dan tidak menemukannya. Apalagi sesudah jenazah Hian-koh Taysu dipindah dan para padri petugas merapatkan pintu kamar itu, keadaan menjadi sepi dan lebih-lebih tiada yang menduga Kiau Hong masih bersembunyi di situ.</p>
<p>Tapi Kiau Hong belum berani sembarangan bergerak, ia dengar para padri itu masih sibuk mencarinya, setelah tengah malam, barulah keadaan mereda. Pikirnya, &#8220;Jika menunggu sampai pagi tentu lebih sukar lagi untuk meloloskan diri. Agaknya sekarang inilah kesempatan paling baik untuk angkat kaki.&#8221;</p>
<p>Maka diam-diam ia menerobos keluar dari kolong ranjang, perlahan ia membuka pintu dan menyelinap ke belakang sebatang pohon besar.</p>
<p>Cin-to-ih adalah ruang ujung barat Siau-lim-si, asal dia berlari ke barat lebih jauh, tentu akan mencapai lereng gunung.</p>
<p>Namun Kiau Hong memang seorang kesatria lihai, biarpun lahirnya tampak kasar, namun pikirannya sangat cerdik. Ia pikir suasana Siau-lim-si sementara ini meski sudah sepi, tapi padri Siau-lim-si bukanlah sembarangan orang, mana mereka sudahi kejadian itu mengendurkan penjagaan? Ia menghilang di barat biara itu, para padri tentu akan menjaga keras jalan di sebelah barat yang menjurus ke lereng Siau-sit-san.</p>
<p>Sebenarnya kalau Kiau Hong mau, asal dia sudah keluar dari Siau-lim-si, setelah kekuatan para padri terpencar, tentu susah untuk merintanginya, apalagi hendak menangkapnya. Tapi ia tidak ingin bertempur dengan padri Siau-lim-si, ia berharap kelak dapat menangkap pembunuh yang sebenarnya untuk dibawa ke Siau-lim-si agar duduk perkasa yang sebenarnya dapat diketahui oleh padri-padri itu.</p>
<p>Memangnya ia pun tidak ingin melawan padri Siau-lim-si itu, semakin banyak bergebrak dengan padri semakin banyak pula musuhnya. Apalagi kalau dirinya kalah, celaka, dan runyamlah segala urusan.</p>
<p>Sebab itulah sesudah berpikir sejenak, ia taksir jalan paling selamat harus menyusup ke tengah biara dan meninggalkan Siau-lim-si dari jurusan yang berlawanan, yaitu sebelah timur.</p>
<p>Segera ia merunduk maju ke bawah aling-aling pohon dan tetumbuhan lain. Ia menyeberangi empat ruang rumah, ketika ia sembunyi di balik pohon beringin lagi, tiba-tiba dilihatnya di belakang pohon di depan sana juga bersembunyi dua orang padri.</p>
<p>Kedua padri itu tidak bergerak sedikit pun, dalam keadaan gelap sebenarnya sangat sukar diketahui. Tapi mata Kiau Hong sangat tajam, sekilas saja ia sudah melihat kemilau senjata yang dipegang salah seorang padri itu. Pikirnya, &#8220;Wah, hampir saja aku kepergok!&#8221;</p>
<p>Dengan tenang ia menunggu di balik pohon itu. Tapi kedua padri itu pun tetap tidak pergi. Cara berjaga secara sembunyi ini benar-benar sangat lihai, asal dirinya sedikit bergerak saja pasti akan segera diketahui, sebaliknya ia juga tidak dapat berdiam terlalu lama situ tanpa berusaha meloloskan diri.</p>
<p>Setelah pikir sebentar, segera Kiau Hong menjemput sepotong batu kecil, ia selentik batu kecil itu dengan kuat.</p>
<p>Cara selentikannya itu sangat bagus, mula-mula lambat, kemudian cepat. Waktu batu mulai melayang ke depan tiada terdengar sesuatu suara, tapi sesudah jauh mendadak timbul suara mendenging yang keras dari angin sambaran batu itu. &#8220;Plok&#8221; batu itu akhirnya menimpuk pada batang pohon.</p>
<p>Dengan sendirinya kedua padri tadi terkejut. Perlahan mereka mendekati pohon itu, menunggu sesudah kedua padri itu melalui tempat sembunyinya, segera Kiau Hong melayang ke depan dan melompat ke dalam ruangan di samping.</p>
<p>Di bawah sinar bulan dapat dilihatnya dengan jelas papan ruangan itu tertulis tiga huruf &#8220;Po-te-ih&#8221;.</p>
<p>Ia tahu bila kedua padri tadi tidak menemukan apa-apa tentu akan segera kembali, maka cepat Kiau Hong berlari ke ruangan belakang.</p>
<p>Sesudah menyusur ruangan depan Po-te-ih itu, akhirnya ia sampai di ruang belakang. Sekilas mendadak terlihat sesosok bayangan orang laki-laki tinggi besar berkelebat lewat di belakangnya dengan kecepatan luar biasa, begitu cepat gerak bayangan itu sungguh tidak pernah dilihatnya.</p>
<p>&#8220;Betapa cepat orang itu, siapakah dia?!&#8221; demikian Kiau Hong terkejut. Sambil siap siaga cepat ia menoleh. Tapi ia lantas tertawa sendiri ketika dilihatnya yang berhadapan dengan dirinya juga seorang laki-laki tegap dan mengambil sikap siap siaga dengan penuh waspada.</p>
<p>Kiranya di ruang belakang, di depan arca Buddha terdapat sebaris pintu angin dan pintu angin itu terpasang sebuah cermin perunggu yang sangat besar dan bundar cermin itu tergosok sedemikian bersih dan mengilap hingga bayangan tertampak jelas dalam cermin itu.</p>
<p>Di atas cermin perunggu itu terpasang sebuah pigura yang bertuliskan kata-kata mutiara sang Buddha:<br />
Badan kuat seperti pohon bodhi<br />
hati bersih laksana cermin<br />
setiap saat rajinlah mengurusnya<br />
jangan ternoda karena debu</p>
<p>Selagi Kiau Hong hendak melanjutkan, sekonyong-konyong hatinya seperti terpukul oleh sesuatu apa. Seketika ia tertegun, dalam sekejap itu tiba-tiba ia teringat pada sesuatu yang mahaaneh dan penting. Tapi mengenai urusan apa, ia pun tak dapat memberi penjelasan.</p>
<p>Ia termangu sejenak di tempatnya. Tanpa terasa ia menoleh ke arah cermin perunggu lagi, melihat bayangan sendiri, mendadak ia sadar, &#8220;He, baru saja aku telah melihat bayanganku sendiri, di manakah itu? Aku tidak pernah melihat cermin sebesar ini, mengapa bisa melihat bayanganku sendiri dengan begitu jelas?&#8221;</p>
<p>Selagi Kiau Hong termenung, tiba-tiba di luar terdengar suara tindakan beberapa orang sedang mendatang.</p>
<p>Karena tiada tempat sembunyi lain, Kiau Hong melihat di ruangan itu terdapat tiga arca Buddha besar, tanpa pikir lagi ia melompat ke altar dan bersembunyi di belakang arca Buddha ketiga.</p>
<p>Dari suara tindakan orang-orang itu dapat diketahui seluruhnya ada enam orang, sesudah masuk ke ruangan pendopo situ, masing-masing lantas duduk di atas tikar.</p>
<p>Dari belakang arca Kiau Hong coba mengintip keluar, ia lihat keenam orang itu semuanya adalah padri setengah umur, terdengar yang sebelah kiri sedang berkata, &#8220;Suhu memberi perintah agar memeriksa dan mengawasi kitab-kitab di ruang Po-te-ih ini untuk menjaga kalau-kalau dicuri musuh.&#8221;</p>
<p>Habis padri itu berkata, kawan-kawannya yang lain tiada yang bersuara, semuanya diam saja. Kiau Hong pikir kalau saat itu mau melarikan diri, mungkin tidaklah terlalu susah. Tapi tiba-tiba ia ingin tahu penjagaan kitab apa yang hendak dilakukan padri-padri itu, ia pikir biarlah aku menunggu lagi sebentar.</p>
<p>Maka terdengar padri yang sebelah kanan sedang berkata, &#8220;Suheng, di ruang Po-te-ih kosong melompong tiada sesuatu benda apa pun, masakah ada kitab pusaka segala? Apa yang Suhu suruh kita jaga di sini?</p>
<p>&#8220;Itu mengenai urusan Po-te-ih ini, tidak perlu banyak bicara,&#8221; sahut padri yang sebelah kiri tadi dengan tersenyum.</p>
<p>&#8220;Ah, kukira engkau sendiri pun tidak tahu,&#8221; ujar padri sebelah kanan.</p>
<p>Karena kata-kata pancingan itu, si padri sebelah kiri lantas berseru, &#8220;Mengapa aku tidak tahu? &#8216;Sin-ju-hud-tim&#8217; &#8230;.&#8221;</p>
<p>Hanya kalimat itu saja yang dia ucapkan, mendadak ia sadar dan cepat bungkam.</p>
<p>&#8220;Apa maksudnya Sin-ju-hud-tim?&#8221; si padri sebelah kanan ingin tahu.</p>
<p>&#8220;Ti-jing Sute,&#8221; mendadak padri kedua yang duduk sebelah kiri menyela, &#8220;biasanya engkau tidak suka ceriwis, mengapa hari ini terus-menerus bertanya saja? Jika kau ingin tahu rahasia Po-te-ih ini, silakan kau tanya kepada gurumu sendiri saja.&#8221;</p>
<p>Maka padri yang bernama Ti-jing itu tidak tanya pula. Selang agak lama, tiba-tiba ia berkata, &#8220;Aku akan ke kamar kecil.&#8221;</p>
<p>Lalu ia berbangkit menuju ke pintu samping sebelah kiri.</p>
<p>Tapi baru saja ia mengitar ke belakang, mendadak kakinya menendang punggung padri kedua dari kanan yaitu yang duduk tepat di sisinya tadi. Tendangan itu tepat mengenai &#8220;koan-ki-hiat&#8221; di tulang punggung. Padri itu sedang duduk bersila di atas tikarnya, dengan sendirinya ia tidak menyangka akan diserang oleh kawan sendiri. Maka tanpa ampun lagi ia roboh perlahan ke samping.</p>
<p>Oleh karena tendangan Ti-jing itu dilakukan dengan sangat cepat, pula tanpa suara. Setelah merobohkan padri itu, menyusul padri di sisinya lagi juga didepak dengan cara yang sama, habis itu padri ketiga. Hanya dalam sekejap saja tiga padri sudah dirobohkan.</p>
<p>Dengan jelas Kiau Hong dapat mengikuti kejadian itu di tempat sembunyinya. Ia menjadi terheran-heran mengapa padri Siau-lim-si itu bertarung antara kawan sendiri? Ia lihat Ti-jing sedang menendang padri yang kedua dihitung dari sisi kanan. Dan baru ujung kaki kena sasarannya sementara itu ketiga padri yang ditendang jalan darahnya itu pun menggeletak, kepala membentur lantai hingga mengeluarkan suara.</p>
<br />Posted in Jin Yong, Pendekar Kerajaan Tayli  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toanki.wordpress.com/1830/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toanki.wordpress.com/1830/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toanki.wordpress.com/1830/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toanki.wordpress.com/1830/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toanki.wordpress.com/1830/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toanki.wordpress.com/1830/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toanki.wordpress.com/1830/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toanki.wordpress.com/1830/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toanki.wordpress.com/1830/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toanki.wordpress.com/1830/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toanki.wordpress.com/1830/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toanki.wordpress.com/1830/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toanki.wordpress.com/1830/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toanki.wordpress.com/1830/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1830&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-29/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b75e221c0eee4ff517b26695a19675fc?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">Lenghou Tiong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 28</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-28/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-28/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 05:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1828</guid>
		<description><![CDATA[Mendengar pemuda itu berdoa agar dirinya menikah dengan sang piauko, Giok-yan sangat senang, ia menjadi tidak tega pula menyaksikan pemuda baik hati itu akan dibunuh orang, maka dengan sedih ia berkata, &#8220;Toan-kongcu, budi pertolonganmu, aku Ong Giok-yan takkan lupa untuk selamanya.&#8221; Sebaliknya Toan Ki memang sudah nekat, ia pikir daripada nanti menyaksikan engkau dipersunting piaukomu, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1828&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mendengar pemuda itu berdoa agar dirinya menikah dengan sang piauko, Giok-yan sangat senang, ia menjadi tidak tega pula menyaksikan pemuda baik hati itu akan dibunuh orang, maka dengan sedih ia berkata, &#8220;Toan-kongcu, budi pertolonganmu, aku Ong Giok-yan takkan lupa untuk selamanya.&#8221;</p>
<p><span id="more-1828"></span>Sebaliknya Toan Ki memang sudah nekat, ia pikir daripada nanti menyaksikan engkau dipersunting piaukomu, lebih baik sekarang juga aku mati di hadapanmu saja. Maka perlahan ia mulai melangkah ke bawah loteng, sebelum itu ia masih sempat menoleh sekejap dan tersenyum kepada Giok-yan.</p>
<p>Diam-diam gadis itu merasa heran, sebentar lagi jiwanya akan melayang, tapi pemuda itu masih bisa tertawa.</p>
<p>Setelah berada di lantai bawah, Toan Ki melotot kepada Li Yan-cong dan menegur, &#8220;Nah, aku sudah turun sekarang. Li-ciangkun, katanya engkau sudah pasti akan membunuh aku, silakan turun tangan. Lekas!&#8221;</p>
<p>Sambil berkata ia terus melangkah maju pula, langkahnya itu bukan lain adalah &#8220;Leng-po-wi-poh&#8221;.</p>
<p>Tanpa bicara lagi segera Li Yan-cong putar goloknya dan membacok tiga kali beruntun-runtun. Setiap kali tidak sama ilmu goloknya. Tapi langkah Toan Ki itu benar-benar ajaib dan aneh sekali perubahannya, beberapa kali Li Yan-cong hendak mengurungnya dengan tipu ilmu goloknya yang berganti-ganti itu, tapi entah mengapa pemuda itu dapat lolos keluar.</p>
<p>Melihat sekali ini Toan Ki dapat bertahan dengan baik, diam-diam Giok-yan merasa lega, ia harap pemuda itu mendadak dapat mengeluarkan serangan aneh untuk merobohkan lawannya.</p>
<p>Diam-diam Toan Ki juga sedang berusaha mengerahkan tenaga dalam dengan maksud menyalurkan ke ujung jari, tapi hawa murni itu selalu mogok di tengah jalan, kalau sampai tangan entah mengapa lantas menyurut kembali. Maklum, ia memang tidak pernah belajar silat sehingga tidak mudah melancarkan hawa murni.</p>
<p>Untunglah &#8220;Leng-po-wi-poh&#8221; cukup hebat, pula sudah sangat hafal, betapa pun cepat Li Yan-cong menyerang, selalu luput mengenai sasarannya.</p>
<p>Tadi Li Yan-cong sendiri sudah menyaksikan cara Toan Ki membinasakan jago-jago Se He, kini melihat pemuda itu bertuding-tuding pula entah sedang main sulap apa, diam-diam ia merinding jangan-jangan pemuda itu mahir ilmu sihir. Segera ia ambil keputusan harus berusaha membunuhnya lebih dulu sebelum pemuda itu sempat mengeluarkan ilmu sihirnya. Tapi apa daya, serangan selalu mengenai tempat kosong.</p>
<p>Dasar pikiran Li Yan-cong memang cerdas, dengan cepat ia mendapat akal, mendadak ia membalik tangan dan menghantam roda air hingga sayap roda sempal, segera ia sambar sempalan kayu terus dilemparkan ke kaki Toan Ki.</p>
<p>Tapi langkah pemuda itu cepat sekali, sudah tentu timpukan itu tidak kena. Namun Li Yan-cong terus menghantam dan memukul serabutan hingga segala alat perabot di dalam ruangan seperti tenggok, tampah, dan sebagainya berjungkir balik tersampuk ke tepi kaki Toan Ki.</p>
<p>Ruangan itu memang sudah penuh menggeletak belasan mayat, ditambah lagi alat-alat perabot itu, sudah tentu tiada tempat luang lagi bagi kaki Toan Ki, setiap tindakannya tentu tersenggol atau kesandung sesuatu benda di lantai itu.</p>
<p>Namun Toan Ki tahu keadaan sangat berbahaya, bila lambat sedikit saja langkahnya pasti jiwa bisa melayang. Maka ia menjadi nekat, ia tidak memandang ke lantai dan tetap menurutkan ilmu langkah ajaib itu, tetap mengisar kian kemari dengan cepat walaupun terkadang mesti naik-turun karena kakinya menginjak sesuatu, entah mayat, entah bakul, dan entah apa lagi, semuanya tak dipedulikannya.</p>
<p>Rupanya Giok-yan juga tahu gelagat jelek, segera ia berseru, &#8220;Toan-kongcu, lekas lari keluar pintu dan menyelamatkan diri sendiri saja, kalau melawan lebih lama lagi tentu jiwamu berbahaya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Biarlah, kecuali dia dapat membunuh aku, kalau tidak, asal aku masih bisa bernapas, pasti akan kubela keselamatan nona,&#8221; sahut Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Hm, kau tidak becus ilmu silat, tapi ternyata seorang sok baik hati dan berbudi, begitu mendalam kasih sayangmu kepada nona Ong, ha?&#8221; ejek Li Yan-cong.</p>
<p>&#8220;Bukan, bukan!&#8221; demikian Toan Ki menirukan lagu Pau-samsiansing. &#8220;Nona Ong adalah manusia dewata, sebaliknya aku cuma seorang biasa saja, mana aku berani bicara tentang kasih dan budi? Soalnya Nona Ong mau menghargai aku dan sudi ikut aku keluar untuk mencari piaukonya, dengan sendirinya aku harus membalas penghargaannya kepadaku ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, jadi dia ikut kau keluar dengan tujuan ingin mencari piaukonya si Buyung-kongcu, jika begitu, hakikatnya dalam hatinya tidak pernah terlintas orang macammu ini, tapi kau sendiri yang melamun seperti katak buduk mengimpikan bidadari! Haha, hahaha! Sungguh menggelikan!&#8221;</p>
<p>Tapi Toan Ki tidak gusar, sebaliknya menjawab dengan sungguh-sungguh, &#8220;Perumpamaan itu memang sangat tepat. Ong-kohnio memang benar laksana bidadari. Cuma katak buduk seperti aku ini juga lain daripada yang lain, asal dapat memandang beberapa kejap kepada sang bidadari rasanya sudah puas dan tiada pikiran lain lagi.&#8221;</p>
<p>Mendengar pemuda itu mengaku dirinya seperti katak buduk yang lain daripada yang lain, Li Yan-cong bertambah geli hingga tertawa terbahak-bahak. Anehnya, biarpun begitu keras ia tertawa, tapi kulit daging air mukanya itu tetap kaku tanpa perasaan.</p>
<p>Toan Ki sudah pernah melihat orang aneh seperti Yan-king Taycu, tanpa gerak bibir, tapi bisa bicara. Maka air muka Li Yan-cong yang aneh itu tidak membuatnya heran. Katanya malah, &#8220;Kalau bicara tentang air muka kaku tanpa perasaan, kau masih selisih jauh kalau dibandingkan Yan-king Taycu, untuk menjadi muridnya mungkin juga belum sesuai.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa itu Yan-king Taycu? Tidak pernah kudengar,&#8221; tanya Li Yan-cong.</p>
<p>&#8220;Dia adalah tokoh terkemuka negeri Tayli, ilmu silatmu jauh di bawahnya,&#8221; sahut Toan Ki.</p>
<p>Padahal mengenai tinggi-rendahnya ilmu silat orang lain, hakikatnya sama sekali Toan Ki tak dapat membedakan, tapi ia sengaja mengucapkan kata-kata yang menilai rendah lawannya, ia pikir daripada mati konyol, paling tidak aku sudah balas mengolok-olok lebih dulu.</p>
<p>Maka Li Yan-cong menjengek, &#8220;Hm, betapa tinggi atau rendah ilmu silatku, masakah bocah seperti dirimu mampu menjajaki?&#8221;</p>
<p>Sembari berkata, ia putar goloknya semakin kencang.</p>
<p>Sudah tentu sejak semula Toan Ki tidak tahu betapa tinggi kepandaian lawan itu. Tapi bagi Giok-yan, semakin dilihat semakin khawatir. Pikir gadis itu, &#8220;Kepintaran orang ini boleh dikatakan sangat luas dan hampir memadai kepintaranku, apalagi lwekangnya sangat tinggi pula, sungguh tidak nyana di negeri Se He terdapat seorang tokoh pilihan seperti ini dan aku justru kepergok di sini, sedangkan Piauko tiada di sini hingga tidak ada yang mampu melindungi keselamatanku, hanya seorang pelajar tolol yang terus main kucing-kucingan dengan dia. Ai, nasibku benar-benar teramat buruk.&#8221;</p>
<p>Pada saat lain, ketika dilihatnya Toan Ki agak sempoyongan, keadaan cukup berbahaya, tanpa terasa timbul juga rasa kasih sayangnya, segera ia berseru, &#8220;Toan-kongcu, lekas lari keluar pintu, bertempur di luar sana juga boleh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak,&#8221; sahut Toan Ki, &#8220;engkau tak dapat bergerak, kalau tinggal sendirian di sini, betapa pun aku merasa khawatir. Apalagi, mayat berserakan sekian banyak di sini, tentu engkau akan merasa seram, maka lebih baik aku tinggal di sini untuk mengawanimu saja.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Giok-yan tidak habis gegetun akan ketolol-tololan pemuda pelajar itu, mana jiwa sendiri terancam maut masih dapat pusingkan orang lain takut pada mayat segala.</p>
<p>Dalam pada itu beberapa kali Toan Ki kesandung dan keserimpet, golok musuh terkadang menyambar lewat di atas kepalanya, cuma selisih satu-dua senti jauhnya, keruan pemuda itu ketakutan setengah mati, berulang timbul pikiran, &#8220;Wah, celaka, kalau buah kepalaku ini tertebas separuh, tentu aku tak bisa hidup lagi. Seorang laki-laki harus bisa mulur-mengkeret, berani menang dan berani kalah, demi nona Ong, biarlah aku berlutut dan minta ampun padanya saja.&#8221;</p>
<p>Namun demikian pikirnya, toh tetap enggan diucapkannya.</p>
<p>&#8220;Hm, kulihat engkau pasti ketakutan setengah mati dan ingin lari terbirit-birit,&#8221; demikian Li Yan-cong mengejek.</p>
<p>&#8220;Mati adalah urusan mahapenting setiap orang, siapa yang tidak takut mati?&#8221; sahut Toan Ki. &#8220;Tentang lari sih memang ada maksudku, namun aku tak dapat melarikan diri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebab apa?&#8221; tanya Yan-cong.</p>
<p>&#8220;Sudahlah, tidak perlu banyak omong,&#8221; ujar Toan Ki. &#8220;Akan kuhitung satu sampai sepuluh, bila engkau tak dapat membunuh aku, terpaksa aku tak mau mengiringimu lagi.&#8221;</p>
<p>Dan tanpa menunggu jawaban apakah Li Yan-cong setuju atau tidak, terus saja ia mulai menghitung, &#8220;Satu, dua, tiga &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa kau sudah gila?&#8221; ujar Li Yan-cong.</p>
<p>Tapi Toan Ki masih terus menghitung, &#8220;Empat, lima, enam &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahaha, masakah di dunia ini ada orang tolol semacam kau, sungguh bikin malu kaum persilatan saja,&#8221; seru Li Yan-cong dengan terbahak-bahak. Berbareng goloknya susul-menyusul membabat ke kanan dan menebas ke kiri.</p>
<p>Namun dengan cepat Toan Ki menggeser kian kemari sambil mulut menghitung makin cepat mengikuti gaya serangan lawan, &#8220;Tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, tiga belas &#8230; sudah, sudah, sudah lebih dari sepuluh kali dan kau tetap tidak mampu membunuh aku, huh, engkau sungguh tidak kenal malu, masakah tidak mau mengaku kalah, ha?&#8221;</p>
<p>Sungguh geli dan mendongkol Li Yan-cong melihat kelakuan Toan Ki itu. Dikatakan tolol, toh pemuda itu tidak tolol, bilang dia pintar, nyatanya juga tidak pintar, benar-benar seorang aneh yang tidak pernah diketemukannya. Kalau sampai terlibat lebih lama, entah bagaimana akhirnya nanti, jangan-jangan sedikit lengah awak sendiri akan terjungkal malah di bawah ilmu sihirnya, demikian pikiran Yan-cong.</p>
<p>Dasar dia memang seorang yang sangat cerdik, ia tahu Toan Ki sangat memerhatikan keselamatan Giok-yan, tiba-tiba ia mendapat akal, ia mendongak ke atas loteng dan berteriak, &#8220;Hah, bagus, boleh kalian bunuh dulu nona itu, lalu turun kemari dan membantu padaku!&#8221;</p>
<p>Keruan Toan Ki kaget, disangkanya benar-benar ada musuh naik ke atas loteng dan jiwa Giok-yan sedang terancam. tanpa pikir lagi ia terus menengadah ke loteng. Dan karena sedikit meleng itulah, kesempatan itu digunakan Li Yan-cong untuk mengayun kakinya, sekali tendang ia bikin Toan Ki terjungkal, menyusul goloknya lantas mengancam leher pemuda itu sambil sebelah kaki menginjak pada dadanya.</p>
<p>Toan Ki masih bermaksud angkat jarinya untuk menutuk, tapi sedikit Li Yan-cong tahan goloknya, segera mata golok melekuk beberapa mili ke leher Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Jangan bergerak, sekali bergerak, segera kupotong kepalamu!&#8221; ancam Yan-cong.</p>
<p>Dalam pada itu Toan Ki telah melihat jelas bahwa di atas loteng sebenarnya tiada musuh. Hatinya menjadi lega, katanya dengan tertawa, &#8220;Ah, kiranya engkau cuma menggertak saja!&#8221;</p>
<p>Menyusul ia menyambung pula dengan gegetun, &#8220;Ai, sayang, sungguh sayang!&#8221;</p>
<p>&#8220;Sayang apa?&#8221; tanya Li Yan-cong.</p>
<p>&#8220;Jika aku mati di tangan jago silat kelas satu seperti dirimu, sebenarnya masih cukup berharga bagiku,&#8221; sahut Toan Ki. &#8220;Siapa nyana engkau tidak mampu menangkan aku dengan ilmu silat, lalu main licik dan menipu, perbuatan rendah dan memalukan ini sungguh membikin aku mati penasaran.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika kau merasa penasaran, nanti boleh kau mengadu pada Giam-lo-ong (raja akhirat) saja,&#8221; ujar Yan-cong.</p>
<p>&#8220;Tahan dulu, Li-ciangkun,&#8221; tiba-tiba Giok-yan berseru.</p>
<p>&#8220;Ada apa?&#8221; tanya Li Yan-cong.</p>
<p>&#8220;Jika engkau membunuh dia, kecuali aku dibunuh pula, kalau tidak, pada suatu hari aku pasti akan membunuhmu juga untuk membalas sakit hati Toan-kongcu,&#8221; kata Giok-yan.</p>
<p>Li Yan-cong melengak. &#8220;Bukankah engkau telah mengatakan piaukomu yang akan membunuh aku?&#8221; tanyanya.</p>
<p>&#8220;Ilmu silat piaukoku belum tentu bisa menangkan engkau, sebaliknya aku pasti dapat,&#8221; sahut Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Hm, apa dasar perhitunganmu?&#8221; jengek Yan-cong.</p>
<p>&#8220;Sudah sekian banyak tipu seranganmu, tapi ternyata juga cuma sekian saja, terang apa yang kau ketahui dan pelajari belum ada separuhnya dari apa yang kuketahui,&#8221; demikian sahut si gadis. &#8220;Buktinya caramu menyerang Toan-kongcu sudah banyak lubang kelemahannya, menurut perhitunganku, dengan mudah mestinya Toan-kongcu dapat kau bunuh, tapi ilmu golok yang kau keluarkan selalu salah. Padahal ada juga ilmu golok dari kalangan To-kau (agama Tao) yang dapat kau gunakan. Tapi nyatanya engkau tidak tahu atau mungkin sama sekali asing dalam hal ilmu silat golongan To-kau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Huh, sombong benar kau,&#8221; sahut Li Yan-cong dengan ragu. &#8220;Engkau bersedia membalaskan sakit hati Toan-kongcu, apakah karena cintamu kepadanya sudah terlalu mendalam?&#8221;</p>
<p>Muka Giok-yan menjadi merah, sahutnya, &#8220;Mendalam apa? Hakikatnya tiada istilah cinta antara diriku dengan dia. Soalnya karena dia mati untukku, dengan sendirinya aku harus membalaskan sakit hatinya.&#8221;</p>
<p>Ternyata Li Yan-cong tidak menjawabnya lagi, tapi hanya tertawa dingin, tiba-tiba ia merogoh keluar sebuah botol porselen kecil dan dilemparkan ke atas badan Toan Ki, lalu ia simpan kembali goloknya, sekali lompat, cepat ia melompat keluar pintu. Maka terdengarlah suara kuda meringkik, menyusul kuda dilarikan, makin lama makin jauh.</p>
<p>Segera Toan Ki merangkak bangun, ia meraba lehernya yang masih kesakitan bekas diancam golok musuh tadi, ia merasa seperti habis sadar dari mimpi buruk saja. Begitu pula Giok-yan juga tidak menduga akan kejadian itu, untuk sejenak mereka hanya saling pandang dengan bingung dan bergirang pula.</p>
<p>&#8220;He, dia sudah pergi,&#8221; kata Toan Ki selang sekian lama dan dibalas Giok-yan dengan mengangguk.</p>
<p>&#8220;Bagus, bagus! Ternyata aku tidak jadi dibunuh olehnya!&#8221; seru Toan Ki pula. &#8220;Nona Ong, nyata pengetahuan ilmu silatmu jauh di atasnya, makanya dia jeri padamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan begitu soalnya, kalau tadi dia membunuhmu, lalu aku pun dibunuhnya pula, bukankah segala urusan sudah beres?&#8221; ujar Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Ehm, benar juga,&#8221; kata Toan Ki sambil garuk-garuk kepala dengan bingung. &#8220;Tapi, tapi &#8230; mungkin dia kesengsem kepada kecantikanmu bagai bidadari, makanya tidak berani membunuh engkau.&#8221;</p>
<p>Diam-Diam Giok-yan geli karena pelajar tolol itu memandangnya seakan-akan bidadari dari kahyangan, tapi senang juga hatinya oleh pujian itu.</p>
<p>Melihat gadis itu tidak bersuara, air mukanya merah jengah, keruan Toan Ki kegirangan dan melangkah maju. Tiba-tiba terdengar suara nyaring jatuhnya sesuatu benda, kiranya botol porselen yang ditinggalkan Li Yan-cong tadi.</p>
<p>Cepat Toan Ki pungut botol itu, ia lihat di atas botol itu tertulis keterangan: &#8220;Bila terkena kabut wangi bunga merah, ciumlah botol ini dan segera punah.&#8221;</p>
<p>Sungguh girang Toan Ki tidak kepalang, serunya segera, &#8220;He, inilah obat penawarnya, inilah obat penawar!&#8221;</p>
<p>Dan segera ia membuka tutup botol itu dan menciumnya, tapi seketika kepalanya pusing dan mata berkunang-kunang, hampir saja ia jatuh kelengar oleh bau bacin isi botol itu. Cepat ia tutup kembali botol itu dan berteriak-teriak, &#8220;Wah, tertipu! Baunya tidak kepalang!&#8221;</p>
<p>&#8220;Coba kulihat, boleh jadi racun menyerang racun akan membawa khasiat di luar dugaan,&#8221; ujar Giok-yan.</p>
<p>Segera Toan Ki mengangsurkan botol itu dan berkata, &#8220;Tapi baunya terlalu bacin, apakah engkau tahan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Biarlah kucoba dulu,&#8221; ujar si gadis.</p>
<p>Toan Ki mengiakan dan membuka tutup botol itu serta diangkat ke depan hidung si nona. Ketika Giok-yan mencium sekali isi botol itu, seketika berteriak, &#8220;Ai, benar-benar sangat bacin.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nah, kau percaya sekarang?&#8221; ujar Toan Ki. &#8220;Boleh coba mengendus sekali lagi jika engkau masih tidak percaya.&#8221;</p>
<p>Namun Giok-yan rupanya sudah kapok, ia melengos sambil pencet hidung dan berkata, &#8220;Ai, bacinnya tidak hilang-hilang, biar bagaimanapun aku tidak mau lagi mencium barang bau begini, ha &#8230; tanganku &#8230; tanganku sudah dapat bergerak!&#8221;</p>
<p>Demikian teriaknya ketika tanpa terasa ia dapat mengangkat tangannya untuk memegang hidung sendiri. Padahal sebesar itu, untuk membetulkan baju saja rasanya tidak kuat.</p>
<p>Saking girangnya terus saja ia rebut botol itu dari tangan Toan Ki dan menciumnya berulang-ulang dengan keras-keras, sekarang ia tidak takut bau bacin lagi, ia tahu semakin busuk bau obat itu, semakin manjur pula khasiatnya.</p>
<p>Maka sebentar saja badan yang tadinya lemas lunglai telah pulih kembali. Lalu katanya kepada Toan Ki, &#8220;Turunlah kau, aku hendak ganti pakaian.&#8221;</p>
<p>Toan Ki mengiakan dan cepat melangkah turun ke bawah loteng. Ketika dilihatnya mayat bergelimpangan memenuhi ruangan, tanpa terasa timbul rasa menyesalnya. Dengan kesima ia berdiri terpaku di situ.</p>
<p>Setelah salin baju, perlahan Giok-yan turun juga ke bawah. Ia heran melihat Toan Ki berdiri termangu-mangu di situ, segera tegurnya, &#8220;He, apa yang sedang kau pikirkan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku merasa menyesal dan terharu karena telah membunuh orang sebanyak ini,&#8221; sahut Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Toan-kongcu, menurut pendapatmu, sebab apa jago Se He she Li itu memberikan obat penawar ini kepadaku?&#8221; tanya Giok-yan tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;Tentang ini &#8230; ini aku tidak tahu &#8230; ah, tahulah aku, sebab &#8230; sebab &#8230; ehm, entahlah &#8230;.&#8221; sebenarnya Toan Ki hendak berkata, &#8220;sebab dia suka padamu&#8221;, tapi urung diucapkannya.</p>
<p>&#8220;Toan-kongcu,&#8221; kata Giok-yan pula, &#8220;tempat ini masih berbahaya, kita harus lekas pergi dari sini. Tapi kita harus pergi ke mana?&#8221;</p>
<p>Meski nona itu serbatahu mengenai segala aliran ilmu silat, tapi pengalamannya di luar rumah sedikit pun tidak punya. Sebenarnya ia sangat ingin pergi mencari sang piauko, cuma tidak enak untuk berkata terus terang.</p>
<p>Sebaliknya Toan Ki meski seorang Su-tay-cu (pelajar tolol), tapi ia cukup paham apa yang dipikirkan si gadis. Maka sengaja balas tanya, &#8220;Habis kau ingin pergi ke mana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku &#8230; aku &#8230;.&#8221; sahut Giok-yan dengan muka merah sambil memainkan botol porselen yang masih dipegangnya itu, dan sejenak kemudian baru ia menyambung, &#8220;Kukira para pahlawan dan kesatria Kay-pang juga terkena racun &#8216;Ang-hoa-hiang-hu&#8217; (kabut wangi bunga merah), kalau piaukoku berada di sini, dia tentu dapat membantu membawakan obat penawar ini kepada mereka. Pula A Cu dan A Pik mungkin juga tertawan musuh, maka &#8230; maka &#8230;.&#8221;</p>
<p>Sebenarnya ia hendak mengajak Toan Ki mencari piauko dulu, kemudian mencari akal untuk menolong mereka.</p>
<p>Siapa duga Toan Ki terus berjingkrak sambil berseru, &#8220;Hai, benar, nona A Cu dan A Pik ada kesulitan, kita harus lekas-lekas menolong mereka!&#8221;</p>
<p>Walaupun agak kecewa karena bukan itu yang dipikirkan, namun terpaksa Giok-yan mengiakan.</p>
<p>&#8220;Dan bagaimana dengan mayat sebanyak ini, apakah tidak perlu aku mengubur mereka dahulu?&#8221; tanya Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Kenapa mesti susah-susah, nyalakan api dan bakar saja rumah ini, kan beres segalanya?&#8221; ujar si gadis.</p>
<p>&#8220;Tapi &#8230; tapi &#8230;.&#8221; sebenarnya Toan Ki tidak tega, apalagi mesti mengorbankan rumah gilingan penduduk itu. Namun jalan lain memang tiada lagi, terpaksa ia membuat lelatu api dan menyalakan rumput jerami yang ada di situ.</p>
<p>Sambil menyalakan api, Toan Ki berkomat-kamit memanjatkan doa agar arwah para korban itu lekas naik ke surga. Habis itu ia mencemplak kudanya dua dilarikan pergi bersama Giok-yan. Sayup-sayup dari jauh terdengar suara gembreng bertalu-talu dan riuh ramai berisik suara orang-orang. Mungkin petani di sekitar rumah gilingan itu beramai-ramai sedang berusaha memadamkan kebakaran.</p>
<p>&#8220;Sungguh aku menyesal harus membakar rumah gilingan orang,&#8221; kata Toan Ki sambil melarikan kudanya.</p>
<p>&#8220;Kau ini memang suka omong bertele-tele,&#8221; ujar Giok-yan. &#8220;Seorang laki-laki seperti dirimu masakah kalah daripada wanita seperti ibuku yang setiap tindak tanduknya selalu tegas dan cepat.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Toan Ki tidak dapat menerima perbandingan itu, ia pikir ibumu sedikit-sedikit suka membunuh orang, daging manusia dijadikan rabuk, mana aku sudi dipersamakan dengan dia. Tapi ia lantas menjawab, &#8220;Karena baru pertama kali ini aku membunuh orang dan membakar rumah, dengan sendirinya hatiku tidak tenteram.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar juga alasanmu,&#8221; ujar Giok-yan. &#8220;Kelak kalau sudah biasa, tentu kau takkan merasakannya lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;He, mana boleh, mana boleh!&#8221; seru Toan Ki berulang-ulang sambil goyang-goyang kedua tangannya. &#8220;Berbuat sekali saja berdosa, mana boleh diulangi lagi? Tentang membunuh orang dan membakar rumah, sebaiknya jangan dibicarakan pula.&#8221;</p>
<p>Giok-yan berpaling dengan rasa heran ke arah pemuda di sebelahnya itu, katanya pula, &#8220;Bagi orang Kangouw, membunuh dan dibunuh adalah soal biasa. Jika engkau takut, mengapa engkau tidak cuci tangan dan jangan berkecimpung lagi di dunia Kangouw?</p>
<p>&#8220;Ai, urusan ini memang susah dikatakan,&#8221; ujar Toan Ki. &#8220;Ayah dan paman memaksa aku belajar silat dan aku tetap tidak mau. Siapa duga dalam keadaan terpaksa, akhirnya aku kebentur pada kenyataan begini. Sungguh aku tidak tahu bagaimana baiknya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah cita-citamu adalah giat belajar sastra untuk kelak akan menjadi pembesar atau menteri, bukan?&#8221; tanya Giok-yan dengan tersenyum.</p>
<p>&#8220;Bukan, menjadi pembesar juga tiada artinya bagiku,&#8221; sahut si pemuda.</p>
<p>&#8220;Habis, apa cita-citamu?&#8221; tanya si gadis. &#8220;Masakah engkau juga seperti piaukoku yang setiap hari mengimpikan menjadi Hongte (kaisar)?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ha, Buyung-kongcu ingin menjadi Hongte?&#8221; tanya Toan Ki dengan heran.</p>
<p>Muka si gadis menjadi merah karena tanpa sengaja telah membocorkan rahasia sang piauko. Cepat ia menjawab, &#8220;Ah, aku cuma bergurau saja, tapi sekali-kali engkau jangan katakan kepada orang lain, lebih-lebih jangan membicarakan hal ini di depan piaukoku, sebab aku pasti akan didamprat habis-habisan olehnya.&#8221;</p>
<p>Kembali hati Toan Ki tertusuk oleh sikap si gadis yang begitu kesengsem kepada sang piauko itu. Tapi terpaksa ia menjawab, &#8220;Baiklah, tidak nanti aku ikut campur urusan tetek bengek piaukomu itu. Apakah dia menjadi Hongte atau akan menjadi pengemis, semuanya aku tidak peduli.&#8221;</p>
<p>Lagi maka Giok-yan marah jengah, ia dengar nada ucapan Toan Ki itu agak kurang senang, segera ia tanya dengan suara lembut, &#8220;Toan-kongcu, apakah engkau marah padaku?&#8221;</p>
<p>Selama berkenalan dengan gadis itu, yang selalu dipikir dan dikatakan melulu Buyung-kongcu seorang, tapi sekali ini dia bicara secara halus dan mesra padanya, keruan Toan Ki kegirangan, saking senangnya, hampir ia terperosot dari pelana kuda. Lekas ia betulkan duduknya dan menjawab dengan tertawa, &#8220;O, tidak, tidak, kenapa aku mesti marah? Nona Ong, selama hidup ini aku pasti takkan marah padamu.&#8221;</p>
<p>Antero cinta-kasih Giok-yan memang cuma tercurahkan kepada Buyung-kongcu seorang, meski tanpa menghiraukan jiwa sendiri Toan Ki telah menolongnya, tapi tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa perbuatan pemuda itu disebabkan jatuh cinta padanya, ia sangka pemuda itu terlalu jujur dan tulus, berhati bajik, dan berjiwa kesatria, maka menolongnya seperti halnya Toan Ki juga akan menolong orang lain.</p>
<p>Tapi kini demi mendengar pernyataan yang serius dan penuh ikhlas bagai bersumpah itu, barulah Giok-yan sadar, &#8220;He, jangan-jangan dia &#8230; dia mencintai diriku?&#8221;</p>
<p>Berpikir demikian, ia menjadi malu dan menunduk.</p>
<p>Dalam senangnya Toan Ki menjadi bingung apa yang harus dikatakan lagi. Pikirnya, &#8220;Aku adalah putra pangeran kerajaan Tayli, paman baginda tidak punya putra, akhirnya pasti aku yang akan menggantikan takhtanya. Tapi takhta kerajaan saja aku tidak kepingin, masakah mencita-citakan menjadi menteri apa segala seperti sangkanya tadi?&#8221;</p>
<p>Segera agak lama, dapatlah ia membuka suara pula, &#8220;Aku tidak mempunyai cita-cita apa-apa. Yang kuharap, bila selamanya bisa seperti saat ini maka puaslah hatiku.&#8221;</p>
<p>Apa yang dia maksudkan &#8220;seperti saat ini&#8221; adalah agar senantiasa dapat berdampingan dengan si nona.</p>
<p>Sudah tentu Giok-yan paham maksud itu, tapi ia tidak suka pemuda itu mengemukakan hal itu lagi, dengan air muka rada masam ia menjawab dengan sungguh-sungguh, &#8220;Toan-kongcu, budi pertolonganmu ini, betapa pun Giok-yan takkan melupakannya. Tetapi hatiku sudah &#8230; sudah lama terisi orang lain, maka kuharap ucapanmu hendaklah pakai aturan, agar kelak kita masih dapat bertemu secara baik-baik.&#8221;</p>
<p>Jawaban itu benar-benar merupakan kemplangan keras bagi Toan Ki hingga mata pemuda itu seakan-akan berkunang-kunang dan hampir-hampir jatuh kelengar.</p>
<p>Apa yang dikatakan Giok-yan itu cukup terang dan gamblang, secara tegas gadis itu telah menyatakan hatinya sudah diisi oleh Buyung-kongcu, maka Toan Ki dilarang mengutarakan perasaan cintanya, kalau tidak, si gadis tidak ingin berkawan lagi dengan dia.</p>
<p>Sudah tentu pernyataan Giok-yan itu sebenarnya tidak berlebihan, tapi bagi pendengaran Toan Ki sungguh sangat menusuk.</p>
<p>Ia coba melirik wajah si gadis, ia lihat sikap Giok-yan sangat prihatin dan agung, mirip benar dengan patung dewi yang pernah disembahnya dalam gua di dasar sungai itu. Tanpa terasa timbal semacam firasat seakan-akan dirinya bakal tertimpa bencana besar. Katanya di dalam hati, &#8220;Wahai Toan Ki, engkau justru jatuh cinta kepada seorang nona yang hatinya lebih dulu telah diisi orang lain, hidupmu ini agaknya sudah suratan nasib akan merana.&#8221;</p>
<p>Begitulah kedua orang melanjutkan perjalanan dengan sama-sama bungkam, siapa pun tidak membuka suara lagi.</p>
<p>Dalam hati Giok-yan berpikir, &#8220;Tentu dia sangat gusar di dalam hati. Tapi lebih baik aku pura-pura tidak tahu saja. Bila sekali ini aku minta maaf padanya, selanjutnya tentu dia akan lebih berani dan bicara yang tidak-tidak padaku, jika hal ini sampai diketahui Piauko, tentu Piauko akan merasa tidak senang.&#8221;</p>
<p>Sebaliknya Toan Ki juga sedang membatin, &#8220;Jika aku bicara lagi tentang rasa cintaku padanya, itu berarti martabatku terlalu rendah dan tidak menghormati dia. Maka sejak kini biarpun mati juga aku tidak akan bicara tentang itu lagi.&#8221;</p>
<p>Dan Giok-yan sedang berpikir pula, &#8220;Dia diam saja, tentu dia mengetahui tempat yang harus didatangi untuk menolong A Cu dan A Pik.&#8221;</p>
<p>Begitu pula Toan Ki juga sedang berpikir sama seperti si gadis. Maka sesudah setengah jam kemudian, ketika sampai di suatu jalan simpang tiga, tanpa berjanji kedua orang sama-sama menanya, &#8220;Belok ke kiri atau ke kanan?&#8221;</p>
<p>Dan sesudah saling mengunjuk rasa ragu-ragu, kembali sama-sama saling menanya lagi, &#8220;Eh, jadi kau tidak kenal jalan? Ai, kusangka kau sudah tahu.&#8221;</p>
<p>Dasar kedua orang adalah anak muda, dengan terjadinya saling tanya serupa itu, seketika terbahak-bahaklah mereka, awan mendung yang meliputi perasaan mereka tadi seketika tersapu bersih.</p>
<p>Tapi mereka berdua memang masih hijau mengenai urusan Kangouw, biarpun sudah saling runding sampai lama juga tidak tahu harus menuju ke mana untuk menolong A Cu dan A Pik. Akhirnya Toan Ki yang berkata, &#8220;Musuh telah menawan anggota Kay-pang sebanyak itu, untuk mencari jejak mereka tentu tidak terlalu susah, maka bolehlah kita kembali ke tengah rimba itu untuk melihat-lihat dulu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kembali ke rimba sana?&#8221; Giok-yan menegas. &#8220;Dan bila kawanan orang Se He itu masih di situ, bukankah kita seperti ular mencari gebuk?&#8221;</p>
<p>&#8220;Setelah hujan lebat tadi, kukira mereka tentu sudah berangkat pergi,&#8221; ujar Toan Ki. &#8220;Boleh begini saja, engkau menunggu saja di luar rimba, biar aku yang masuk ke sana untuk mengintai, bila benar musuh masih berada di sana, segera kita melarikan diri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, tidak boleh selalu engkau sendiri yang menyerempet bahaya,&#8221; ujar Giok-yan. &#8220;Jika kita berangkat berdua ke sana, bila ada bahaya, biarlah kita tanggung bersama.&#8221;</p>
<p>Mendengar si gadis bersedia &#8220;enteng sama dijinjing, berat sama dipikul&#8221; dalam menyerempet bahaya nanti, keruan Toan Ki sangat girang. Katanya, &#8220;Untuk berkelahi terang aku tidak sanggup, tapi untuk lari masakah tidak bisa?&#8221;</p>
<p>Segera mereka berunding cara bagaimana nanti harus menolong si A Cu dan A Pik. Maka diambil keputusan Toan Ki akan mengeluarkan &#8220;Leng-po-wi-poh&#8221; untuk mendekati kedua dayang itu dan mengenduskan obat bacin itu kepada mereka, sesudah racun punah, baru berdaya pula untuk membebaskan mereka.</p>
<p>Begitulah mereka lantas melarikan kuda ke arah Heng-cu-lim atau hutan pohon jeruk itu. Sesudah dekat, mereka turun dan menambat kuda di pohon, Toan Ki siapkan obat di tangan, lalu mereka lari ke tengah hutan dengan berjinjit-jinjit, mereka saling pandang sekejap dengan geli melihat kelakuan masing-masing.</p>
<p>Tanah di tengah hutan itu basah dan becek, semak rumput penuh butiran air. Setiba di tengah hutan, ternyata keadaan sunyi senyap dan kosong melompong, tiada seorang pun terlihat.</p>
<p>&#8220;Benar juga mereka sudah pergi, marilah kita mencari kabar mereka ke kota Bu-sik, saja,&#8221; ajak Giok-yan.</p>
<p>Tanpa pikir, Toan Ki mengiakan. Mengingat akan dapat jalan berendeng lagi dengan si cantik, saking senangnya tanpa terasa wajah Toan Ki berseri-seri.</p>
<p>&#8220;Adakah aku salah omong?&#8221; tanya Giok-yan heran.</p>
<p>&#8220;Tidak, tidak!&#8221; sahut Toan Ki cepat. &#8220;Marilah sekarang juga kita berangkat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Habis, mengapa engkau tersenyum?&#8221; desak Giok-yan.</p>
<p>&#8220;O, aku &#8230; aku memang terkadang suka &#8230; suka angin-anginan, tak perlu engkau pusingkan aku,&#8221; sahut Toan Ki dengan gelagapan.</p>
<p>Jawaban itu membuat Giok-yan merasa geli juga, ia tertawa mengikik. Karena itu Toan Ki ikut tertawa mengakak.</p>
<p>Mereka meneruskan perjalanan ke Bu-sik. Beberapa li lagi, tiba-tiba tertampak di dahan pohon, di tepi jalan tergantung sesosok mayat busu bangsa Se He. Mereka terheran-heran sebab tidak tahu perbuatan siapakah itu?</p>
<p>Beberapa puluh meter pula, kembali di tepi jalan ada dua mayat orang Se He, bahkan darah pada lukanya masih belum kering, suatu tanda matinya belum seberapa lama.</p>
<p>&#8220;Orang-orang Se He itu telah ketemu musuh, menurut pendapatmu, siapakah yang membunuh mereka, nona Ong?&#8221; tanya Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Ilmu silat pembunuh itu sangat tinggi, cara membunuh jago-jago Se He ini dilakukan dengan sangat mudah, sungguh hebat kepandaiannya!&#8221; demikian puji Giok-yan. &#8220;Eh, siapakah yang datang itu?&#8221;</p>
<p>Ternyata dari arah sana tertampak dua penunggang kuda sedang mendatangi dengan cepat, penunggangnya masing-masing berbaju merah dan hijau. Kiranya mereka adalah A Cu dan A Pik.</p>
<p>&#8220;Hai, A Cu, A Pik! Kalian berhasil lolos dari bahaya?&#8221; seru Giok-yan dengan girang.</p>
<p>Sudah tentu keempat orang sama-sama bergirang karena dapat berkumpul kembali.</p>
<p>Segera A Cu berkata, &#8220;Ong-kohnio, Toan-kongcu, mengapa kalian kembali ke sini lagi? Kami justru ingin mencari kalian.&#8221;</p>
<p>&#8220;Cara bagaimana kalian meloloskan diri? Apakah kalian mencium botol berbau busuk itu?&#8221; tanya Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Ya, benar, sungguh bacin sekali baunya,&#8221; sahut A Cu tertawa, &#8220;Apakah engkau juga sudah mengendusnya, nona? Juga Kiau-pangcu yang menolong kalian, bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kiau-pangcu apa maksudmu?&#8221; tanya Giok-yan. &#8220;Jadi lolosnya kalian adalah berkat pertolongan Kiau-pangcu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya,&#8221; sahut A Cu. &#8220;Tatkala itu kami dalam keadaan tak berkutik karena keracunan, bersama orang Kay-pang kami diringkus oleh orang-orang Se He dan dinaikkan ke atas kuda. Di tengah jalan tiba-tiba turun hujan hingga rombongan terpencar ada yang ke timur dan ada yang ke barat, masing-masing mencari tempat berteduh sendiri-sendiri. Aku dan A Pik dibawa meneduh ke suatu gardu oleh beberapa busu dan baru berangkat lagi sesudah hujan berhenti.</p>
<p>&#8220;Pada saat kami hendak digiring pergi pula itulah tiba-tiba dari belakang menyusul datang seorang penunggang kuda, itulah dia Kiau-pangcu. Melihat kami berdua ditawan orang Se He, beliau tampak terheran-heran dan belum lagi beliau tanya segera A Pik berseru minta tolong padanya.</p>
<p>&#8220;Mendengar &#8216;Kiau-pangcu&#8217;, seketika beberapa jago Se He itu gugup, berbareng mereka lolos senjata dan menyerbu Kiau-pangcu. Hasilnya orang-orang Se He itu ada yang terjungkir ke selokan di tepi jalan, ada yang mencelat hingga terkatung-katung di atas pohon, dan semuanya terbinasa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hal itu baru saja terjadi, bukan?&#8221; tanya Giok-yan dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Benar,&#8221; sahut A Cu. &#8220;Aku berkata kepada Kiau-pangcu, &#8216;Kami berdua tak dapat berkutik karena keracunan, harap Kiau-pangcu sudi mencarikan obat penawar racun di tubuh musuh yang terbinasa itu.&#8217; &#8211; Segera Kiau-pangcu menggeledah mayat seorang Se He yang berpangkat cukup tinggi tampaknya, ia mendapatkan sebuah botol kecil, tentang isi botol itu berbau wangi atau bacin rasanya tidak perlu hamba tuturkan lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan di manakah Kiau-pangcu sekarang?&#8221; tanya Giok-yan pula.</p>
<p>&#8220;Ketika mendengar orang-orang Kay-pang juga keracunan dan tertawan, beliau sangat khawatir dan mengatakan hendak pergi menolong mereka, lalu beliau berangkat dengan tergesa-gesa,&#8221; tutur A Cu. &#8220;Beliau juga menanyakan Toan-kongcu dan memerhatikan keselamatan Siocia pula.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, gihengku itu sungguh seorang yang sangat berbudi,&#8221; ujar Toan Ki dengan gegetun.</p>
<p>&#8220;Memang,&#8221; kata A Cu. &#8220;Padahal orang-orang Kay-pang itu sangat keterlaluan, seorang pangcu baik-baik mereka usir begitu saja dan kini mereka harus menerima hasil perbuatan mereka sendiri, biarkan mereka tahu rasa. Kalau aku menjadi Kiau-pangcu tentu aku takkan menolong mereka, biarkan mereka lebih banyak tersiksa supaya kelak tidak sembarangan mengusir orang secara semena-mena.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi gihengku adalah orang yang berbudi luhur, orang boleh mengkhianati dia, tidak nanti ia mengingkar orang,&#8221; ujar Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Dan sekarang kita harus pergi ke mana, nona?&#8221; tanya A Pik.</p>
<p>&#8220;Semula aku dan Toan-kongcu bermaksud menolong kalian, tapi kini kita berempat sudah dalam keadaan selamat, maka kita pun tidak perlu ikut campur urusan Kay-pang yang tiada sangkut paut dengan kita itu. Marilah kita pergi ke Siau-lim-si saja untuk mencari Kongcu kalian,&#8221; demikian sahut Giok-yan.</p>
<p>Memang kedua dara A Cu dan A Pik itu sangat mengkhawatirkan kongcu mereka, yaitu Buyung-kongcu, maka demi mendengar usul Giok-yan itu, serentak mereka menyatakan setuju.</p>
<p>Sudah tentu yang paling kecut rasanya adalah hati Toan Ki. Tapi terpaksa ia pun menyatakan, &#8220;Baiklah, Kongcu kalian itu memang juga sangat kukagumi dan ingin kubelajar kenal dengan dia. Aku tidak mempunyai pekerjaan apa-apa, biarlah aku ikut kalian ke Siau-lim-si.&#8221;</p>
<p>Segera mereka putar kuda dan berangkat menuju jurusan utara. Di tengah jalan Giok-yan ceritakan kepada A Cu dan A Pik tentang pengalamannya di rumah gilingan itu, di mana Toan Ki telah banyak membunuh musuh dan akhirnya Li Yan-cong juga dienyahkan serta mendapatkan obat penawar racun. A Cu dan A Pik terlongong-longong mendengar pengalaman yang aneh itu.</p>
<p>Bila mereka geli pada suatu bagian dari cerita itu, ketiga gadis itu tertawa cekikikan sambil memandang Toan Ki, sudah tentu mereka tidak berani tertawa lepas, tapi menutup mulut mereka dengan lengan baju.</p>
<p>Sebodoh-bodohnya Toan Ki juga tahu bahwa ketiga gadis itu sedang membicarakan kelakuannya yang ketolol-tololan itu. Tapi bila mengingat awak sendiri meski ketolol-tololan, paling tidak akhirnya toh dapat melindungi Giok-yan tanpa kurang suatu apa pun, maka biarpun agak malu-malu juga ia merasa bangga.</p>
<p>Namun bila melihat asyiknya ketiga anak dara itu berbicara hingga dirinya seakan-akan terlupakan, apalagi nanti kalau sudah berkumpul dengan Buyung-kongcu, mungkin dirinya lebih tidak diberi tempat lagi, terpikir demikian, hati Toan Ki menjadi hampa.</p>
<p>Setelah beberapa li pula dan menyusur sebuah hutan arbei, tiba-tiba mereka mendengar suara tangisan dua pemuda yang sangat memilukan. Cepat mereka melarikan kuda ke depan untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata pemuda-pemuda itu adalah dua hwesio cilik belasan tahun, baju padri mereka berlepotan darah, satu di antaranya malah terluka jidatnya.</p>
<p>&#8220;Siausuhu, kenapa kalian menangis? Siapa yang menganiaya kalian?&#8221; tanya A Pik yang berhati welas asih.</p>
<p>Sambil menangis, hwesio cilik yang jidat terluka itu menjawab, &#8220;Kuil kami telah kedatangan segerombolan orang asing yang jahat, guru kami terbunuh dan kami didepak keluar.&#8221;</p>
<p>Mendengar kata-kata &#8220;orang asing jahat&#8221; itu, Giok-yan berempat saling pandang sekejap dan sama-sama berpikir, &#8220;Apakah mereka itu orang Se He?&#8221;</p>
<p>Segera A Cu tanya, &#8220;Di manakah letak kuil kalian? Orang asing jahat macam apakah mereka itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kuil kami bernama Thian-leng-si, itu, di sebelah sana &#8230;.&#8221; sahut si hwesio cilik sambil menuding ke arah timur laut, lalu menyambung, &#8220;Orang-orang asing itu membawa tawanan kira-kira seratusan orang pengemis dan berteduh ke kuil kami karena hujan. Mereka minta arak dan minta daging, minta disembelihkan ayam dan suruh memotong kerbau segala. Sudah tentu Suhu keberatan kuil kami dibikin kotor, dan mereka lantas membunuh Suhu beserta belasan orang suheng kami. Huk-huk &#8230; huk-huk-huk &#8230; huk!&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudahlah, jangan menangis,&#8221; kata A Cu. &#8220;Dan sekarang orang-orang jahat itu sudah pergi belum?&#8221;</p>
<p>&#8220;Belum,&#8221; sahut padri kecil itu sambil menuding kepulan asap di balik hutan sana. &#8220;Itu, mereka lagi sibuk memasak daging kerbau, benar-benar berdosa, Buddha Mahaasih, biarlah mereka kelak dimasukkan neraka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalian lekas lari saja, jangan-jangan sebentar kalian akan ditangkap kawanan penjahat itu dan disembelih sekalian untuk dimakan,&#8221; ujar A Cu.</p>
<p>Keruan kedua padri kecil itu ketakutan, segera mereka angkat kaki dan berlari pergi.</p>
<p>&#8220;Ai, mereka sedang bingung, mengapa Enci A Cu malah menakuti mereka?&#8221; ujar Toan Ki kurang senang.</p>
<p>&#8220;Aku tidak menakuti mereka, tapi aku berkata sungguh-sungguh,&#8221; sahut A Cu tertawa.</p>
<p>&#8220;Wah, orang-orang Kay-pang katanya terkurung di dalam Thian-leng-si situ, jika demikian, tentu Kiau-pangcu akan menubruk tempat kosong bila mencari ke kota Bu-sik,&#8221; ujar A Pik tiba-tiba.</p>
<p>Mendadak A Cu memperoleh suatu akal aneh, katanya, &#8220;Ong-kohnio, aku ingin menyamar sebagai Kiau-pangcu dan menyelundup ke dalam kuil itu untuk mengenduskan bau botol yang bacin itu kepada kawanan pengemis. Setelah mereka terlolos dari bahaya, tentu mereka akan sangat berterima kasih kepada Kiau-pangcu.&#8221;</p>
<p>Giok-yan tersenyum, sahutnya, &#8220;Tapi perawakan Kiau-pangcu tinggi besar, dia adalah seorang laki-laki tegap, masakah kau dapat menyaru sebagai dia?&#8221;</p>
<p>&#8220;Semakin sulit menyamar, semakin kelihatan kepandaian A Cu, boleh lihat nanti,&#8221; ujar A Cu dengan bangga.</p>
<p>&#8220;Walaupun kau dapat menyaru dengan persis, tapi tidak dapat memalsukan ilmu saktinya yang tiada bandingannya itu,&#8221; ujar Giok-yan. &#8220;Padahal di dalam Thian-leng-si itu penuh jago pilihan It-bin-tong dan negeri Se He, mana dapat kau masuk-keluar dengan bebas? Maka kurasa lebih baik engkau menyamar sebagai seorang tukang api atau seorang nenek desa penjual sayur, mungkin akan lebih mudah untuk menyusup ke dalam kuil.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau mesti menyamar sebagai nenek-nenek penjual sayur, rasanya kurang menarik, aku tak mau menyusup ke dalam kuil.&#8221;</p>
<p>Giok-yan memandang sekejap ke arah Toan Ki, bibirnya bergerak, tapi urung bicara.</p>
<p>&#8220;Apakah yang hendak nona katakan?&#8221; tanya Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Sebenarnya aku ingin engkau juga menyaru seseorang dan ikut pergi ke Thian-leng-si bersama A Cu, tapi setelah kupikir pula, agaknya kurang sempurna,&#8221; ujar Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Ingin aku menyamar sebagai siapa?&#8221; tanya Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Sebab para tokoh Kay-pang itu punya penyakit mencurigai orang dan menuduh piaukoku bersekongkol dengan Kiau-pangcu untuk membunuh Be-hupangcu mereka, maka &#8230; maka bila Piauko dan Kiau-pangcu pergi bersama ke sana untuk membebaskan mereka dari bahaya, tentu mereka takkan &#8230; takkan sembarangan mencurigai orang lain.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi maksudmu ingin aku menyamar sebagai piaukomu?&#8221; tanya Toan Ki dengan rasa cemburu.</p>
<p>Wajah Giok-yan berubah merah, sahutnya, &#8220;Tapi musuh di Thian-leng-si itu terlalu kuat, jika kalian berdua pergi ke sana, mungkin sangat berbahaya, mungkin lebih baik jangan pergi saja.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba Toan Ki memikir, &#8220;Bila aku menyamar sebagai piaukonya, boleh jadi sikapnya kepadaku akan berbeda daripada biasanya. Walaupun cuma sebentar saja aku menikmati rasa bahagia juga lumayan.&#8221;</p>
<p>Berpikir demikian, seketika semangatnya menyala-nyala, segera katanya, &#8220;Masakan khawatir bahaya apa segala? Paling-paling angkat kaki melarikan diri, dan cara itu justru adalah kepandaianku yang utama.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi kurasa tidak baik, sebab selamanya piaukoku membunuh musuh semudah membalik tangan sendiri, tidak pernah dia melarikan diri,&#8221; ujar Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Nyes&#8221;, seketika Toan Ki seperti digebyur air es demi mendengar kata-kata itu, pikirnya, &#8220;Ya, ya, memangnya piaukomu adalah seorang kesatria, seorang pahlawan perkasa, memangnya aku tidak sesuai untuk menyamar sebagai dia. Kalau memalsukan dia hingga memalukan di depan orang banyak, bukankah akan menodai nama kebesarannya?&#8221;</p>
<p>Melihat pemuda itu termenung-menung kurang senang, cepat A Pik menghiburnya, &#8220;Toan-kongcu, kita menghadapi musuh lebih banyak jumlahnya, kalau sementara kita mengalah juga tidak mengapa. Toh tujuan kita hanya untuk menolong orang dan bukan bertanding kepandaian dengan mereka.&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu A Cu lagi mengamat-amati Toan Ki dari atas ke bawah dan dari bawah kembali ke atas, lalu ia mengangguk-angguk dan berkata, &#8220;Toan-kongcu, untuk menyamar sebagai Kongcu kami sebenarnya tidak mudah, untung orang-orang Kay-pang tiada yang kenal Kongcu kami, maka tentang wajah dan suara beliau asal dapat mendekati saja sudah cukup mengelabui mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Buyung-kongcu adalah manusia pilihan di antara manusia, orang lain mana dapat sembarangan menyamar sebagai dia?&#8221; ujar Toan Ki. &#8220;Tapi kukira ada baiknya juga samaranku nanti tidak terlalu mirip beliau, dengan begitu, jika nanti mesti angkat langkah seribu melarikan diri, sedikitnya nama baik Buyung-kongcu tidak sampai ternoda.&#8221;</p>
<p>Muka Giok-yan menjadi merah, dengan perlahan ia tanya, &#8220;Tadi aku telah salah omong, apakah Toan-kongcu marah padaku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, tidak, tidak, mana aku berani marah?&#8221; sahut Toan Ki cepat.</p>
<p>Maka tersenyumlah Giok-yan. Tanyanya kemudian, &#8220;Lantas di manakah kalian hendak menyamar?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kita harus mendatangi kota kecil di sana barulah dapat membeli alat-alat keperluan menyamar,&#8221; sahut A Cu.</p>
<p>Segera mereka berempat melarikan kuda ke barat, kira-kira beberapa li jauhnya, tibalah mereka di suatu kota kecil bernama Ma-long-kio. Kota itu terlampau kecil dan tiada rumah penginapan segala, hanya di tepi kota ada sebuah sungai kecil.</p>
<p>Setelah membeli pakaian dan alat-alat menyamar lain yang diperlukan, mereka menyewa sebuah perahu dan berdandan di dalam kendaraan air itu. Lebih dulu A Cu mendandani Toan Ki, memberinya sebuah kipas lempit, pakaiannya berwarna hijau mulus, pada jari kiri memakai sebentuk cincin.</p>
<p>&#8220;Kongcu kami suka memakai cincin bermata batu kemala, tapi susah dicari di sini, maka bolehlah memakai batu akik sebagai ganti sekadarnya,&#8221; ujar A Cu.</p>
<p>Toan Ki hanya tersenyum getir saja, pikirnya, &#8220;Memangnya Buyung-kongcu ibarat batu kemala yang berharga dan aku cuma batu akik yang tak bernilai. Memang begitulah harga diriku dalam pandangan ketiga gadis ini.&#8221;</p>
<p>Selesai A Cu mendandani Toan Ki, lalu katanya kepada Giok-yan, &#8220;Siocia, adakah sesuatu tempat yang kurang mirip?&#8221;</p>
<p>Tapi Giok-yan tidak menjawab, ia sedang memandang Toan Ki dengan termangu-mangu, dengan sorot mata penuh arti seakan-akan lagi berhadapan dengan Buyung Hok.</p>
<p>Perasaan Toan Ki ikut terguncang ketika sinar matanya kebentrok dengan sorot mata si gadis. Tapi segera terpikir olehnya, &#8220;Ah, terang yang terbayang olehnya adalah Buyung Hok dan bukan aku si Toan Ki.&#8221;</p>
<p>Begitulah perasaan Toan Ki, sebentar suka dan sebentar lagi duka. Kedua muda-mudi itu pandang-memandang dengan perasaan yang berbeda-beda sehingga kepergian A Cu dan A Pik ke buritan perahu untuk ganti pakaian terlupakan oleh mereka.</p>
<p>Selang agak lama, tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki sedang menegur, &#8220;Ai, kiranya Toan-hiante berada di sini, sudah lama kucari engkau.&#8221;</p>
<p>Toan Ki terkejut dan cepat mendongak. Ia lihat pembicara itu tak-lain-tak-bukan adalah Kiau Hong. Keruan ia kegirangan dan cepat menyahut, &#8220;Hai, kiranya Toako! Memangnya kami sedang bermaksud menyamar sebagai Toako untuk menolong kawan-kawan Kay-pang, sekarang engkau sendiri sudah datang, maka Enci A Cu tidak perlu menyamar lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Orang-orang Kay-pang telah pecat aku dari keanggotaan mereka, biarkan mereka mati atau hidup tak kupeduli lagi,&#8221; sahut Kiau Hong. &#8220;Adik yang baik, marilah kita pergi ke kota saja untuk mengadu minum, paling sedikit kita harus menghabiskan 50 mangkuk setiap orang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Toako,&#8221; kata Toan Ki, &#8220;para saudara Kay-pang adalah laki-laki yang berjiwa patriot, harap engkau sudi pergi menolong mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Engkau adalah pelajar yang masih hijau, apa yang kau ketahui,&#8221; sahut Kiau Hong dengan marah. &#8220;Ayolah, tak perlu urus mereka, marilah pergi minum arak paling perlu.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, terus saja ia pegang tangan Toan Ki dan hendak menyeretnya pergi.</p>
<p>Terpaksa Toan Ki berkata, &#8220;Baiklah, sesudah kita minum arak, engkau harus pergi menolong mereka.&#8221;</p>
<p>Di luar dugaan, mendadak &#8220;Kiau Hong&#8221; terkikik-kikik, suaranya nyaring genit, tidak mungkin seorang laki-laki kekar sebagai Kiau Hong dapat mengeluarkan suara tertawa yang mirip anak dara.</p>
<p>Keruan Toan Ki tercengang. Tapi segera ia pun paham duduknya perkara, terus saja ia memberi hormat sambil berkata, &#8220;Ai, Enci A Cu, kepandaianmu menyamar sesungguhnya teramat tinggi, sampai suara Toakoku yang kasar itu pun dapat engkau tiru sedemikian miripnya.&#8221;</p>
<p>Memang tidak salah &#8220;Kiau Hong&#8221; itu adalah samaran si A Cu, begitu persis hingga Toan Ki tidak dapat mengenalnya lagi.</p>
<p>Maka dengan nada suara Kiau Hong yang kasar, A Cu lantas berkata pula, &#8220;Toan-hiante, marilah sekarang juga kita berangkat, bawalah botol yang berbau busuk itu.&#8221;</p>
<p>Lalu ia pun berkata kepada Giok-yan dan A Pik, &#8220;Harap kedua nona suka menanti sementara di sini.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia tarik tangan Toan Ki terus diajak mendarat. Entah tangannya dilumuri barang apa, tangan yang halus sebagaimana lazimnya tangan anak dara itu kini telah berubah menjadi kasap dan kehitam-hitaman, meski tidak sebesar tangan Kiau Hong tapi seketika juga susah diketahui orang lain.</p>
<p>Begitulah dengan meninggalkan Giok-yan yang masih termenung-menung mengenangkan sang piauko itu, A Cu dan Toan Ki telah menunggang kuda menuju ke Thian-leng-si. Sesudah dekat dengan kuil itu, khawatir kalau suara kuda mereka didengar musuh, mereka lantas tambat kuda-kuda itu di kandang sapi seorang petani di tepi jalan, lalu berjalan menuju ke kuil itu.</p>
<p>&#8220;Saudara Buyung,&#8221; demikian kata si &#8220;Kiau Hong&#8221; tiruan alias A Cu, &#8220;setiba di dalam kuil nanti, aku lantas buka mulut besar dan membual setinggi langit, kesempatan itu harus engkau gunakan dengan cepat untuk mengenduskan obat penawar di dalam botol itu kepada orang-orang Kay-pang.&#8221;</p>
<p>Dengan menahan perasaan geli, Toan Ki telah mengiakan. Dan mereka pun lantas mendekati pintu kuil yang dijaga oleh belasan busu bangsa Se He yang bersenjata lengkap.</p>
<p>Melihat keadaan itu, hati Toan Ki dan A Cu mulai kebat-kebit dan tanpa terasa menjadi jeri.</p>
<p>&#8220;Toan-kongcu, sebentar harap engkau menyeret aku lari keluar. Kalau tidak, bila aku ditantang bertanding silat dengan mereka, tentu aku bisa celaka,&#8221; kata A Cu.</p>
<p>&#8220;Baiklah,&#8221; sahut Toan Ki dengan suara agak gemetar, nyata ia pun ketakutan.</p>
<p>Begitulah selagi mereka berunding sambil melongak-longok, hal itu segera dapat dilihat oleh seorang busu penjaga itu, terdengar bentakannya, &#8220;Hai, kalian lagi berbuat apa? Mata-mata musuh, tentu!&#8221;</p>
<p>Berbondong-bondong keempat busu lantas mendekati Toan Ki berdua sambil membentak-bentak.</p>
<p>Terpaksa A Cu membusungkan dada dan memapak maju, katanya dengan suara keras, &#8220;Hai, lekas beri tahukan kepada Ciangkun kalian, katakan bahwa Kiau Hong dari Kay-pang dan Buyung Hok dari Kanglam ingin bertemu dengan Helian-tayciangkun dari Se He.&#8221;</p>
<p>Rupanya nama Buyung Hok tidak dikenal oleh orang-orang Se He, tapi nama Kiau Hong telah mereka kenal sebagai pangcu dari Kay-pang. Maka mereka agak terkejut demi mendengar teguran A Cu itu, cepat busu yang menjadi kepala jaga itu memberi hormat dan menyapa, &#8220;O, kiranya Kiau-pangcu berkunjung kemari. Maaf, silakan menunggu sebentar, segera kulaporkan kepada Ciangkun.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia terus putar tubuh berlari ke dalam kuil dengan cepat.</p>
<p>Tidak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara trompet berbunyi, pintu kuil terbuka lebar, pemimpin It-bin-tong dari Se He, Helian Tiat-si tampak menyambut keluar bersama Nurhai dan jago-jago lainnya, di antaranya terdapat Yap Ji-nio, Lam-hay-gok-sin dan In Tiong-ho.</p>
<p>Hati Toan Ki agak kebat-kebit, sedapat mungkin ia melengos ke arah lain dan tidak berani saling pandang dengan kenalan-kenalan lama itu.</p>
<p>Maka terdengarlah Helian Tiat-si mulai berkata, &#8220;Sudah lama kami mendengar nama besar &#8216;Koh-soh Buyung&#8217; yang terkenal dengan filsafatnya &#8216;Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin&#8217;. Untung hari ini dapatlah berjumpa, sungguh kami merasa sangat bahagia.&#8221;</p>
<p>Sembari berkata ia terus merangkap tangannya untuk memberi hormat kepada Toan Ki.</p>
<p>Lekas-lekas Toan Ki membalas hormat dan menjawab, &#8220;Nama kebesaran Helian-ciangkun sudah lama kami kagumi, terutama para kesatria yang terhimpun di dalam It-bin-tong di negeri Se He. Jikalau kedatangan kami ini agak gegabah, harap sukalah dimaafkan.&#8221;</p>
<p>Dasarnya Toan Ki memang seorang pelajar yang lemah lembut, maka cara bicaranya pun menjadi ramah tamah, sedikit pun tidak mencurigakan.</p>
<p>&#8220;Orang Bu-lim suka berkata &#8216;Pak Kiau Hong, Lam Buyung&#8217; (di utara ada Kiau Hong dan di selatan ada Buyung), katanya kesatria Tionggoan kalian berdua inilah yang tiada bandingannya, maka sungguh berbahagia sekali hari ini kalian sudi berkunjung ke sini. Silakan masuk, silakan!&#8221;</p>
<p>Dengan tabahkan hati A Cu dan Toan Ki ikut Helian Tiat-si ke dalam kuil itu. Diam-diam Toan Ki berpikir, &#8220;Dari sikap dan kata-kata jenderal Se He ini, agaknya ia lebih segan terhadap Buyung-kongcu daripada Kiau-toako. Apakah disebabkan pribadi dan ilmu silat Buyung Hok itu memang benar lebih hebat daripada Kiau-toako? Tapi kukira belum tentu.&#8221;</p>
<p>Selagi Toan Ki tenggelam dalam lamunannya, tiba-tiba terdengar suara seruan orang yang melengking tajam, &#8220;Haha, belum tentu, belum tentu!&#8221;</p>
<p>Toan Ki terkejut, ia menoleh dan melihat yang bersuara itu adalah Lam-hay-gok-sin. Si jahat ketiga itu sedang mengincar ke arahnya dengan matanya yang kecil bagai kacang itu sambil goyang-goyang kepala.</p>
<p>&#8220;Wah, celaka, jangan-jangan dia mengenali diriku?&#8221; demikian diam-diam Toan Ki berdebar-debar.</p>
<p>Terdengar Lam-hay-gok-sin sedang berkata pula, &#8220;Melihat potongannya ini, bobotnya paling banyak 50 kati, masakah tahan sekali genjot? Eh, aku ingin tanya padamu. Orang bilang engkau suka &#8216;Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin&#8217;, tapi aku Gak-loji justru tidak percaya. Aku pun tidak perlu engkau bergerak tangan, cukup asal dapat kau katakan kepandaian khas apa yang menjadi andalan Gak-loji ini? Dengan ilmu apa kau mampu menggunakan cara Locu untuk digunakan atas diri Locu ini?&#8221;</p>
<p>Sambil bicara, Lam-hay-gok-sin pakai bertolak pinggang segala, sikapnya sombong dan kasar. Sebenarnya Helian Tiat-si hendak mencegahnya, tapi demi dipikir bahwa nama Buyung Hok sangat tersohor, apakah kepandaiannya sesuai dengan namanya, mengapa tidak membiarkan Lam-hay-gok-sin yang angin-anginan itu coba mengujinya. Sebab itulah ia diam saja dan tidak merintangi.</p>
<p>Tengah bicara, sementara itu mereka sudah berada di ruangan besar. Helian Tiat-si menyilakan Toan Ki duduk di tempat utama, tapi pemuda itu malah mengalah kepada A Cu.</p>
<p>Dalam pada itu Lam-hay-gok-sin sudah tidak sabar lagi, segera ia berteriak, &#8220;Hai, Buyung-siaucu, coba katakan sekarang, kepandaian apa yang menjadi kemahiranku?&#8221;</p>
<p>Toan Ki tersenyum, pikirnya, &#8220;Kalau orang lain yang tanya demikian padaku tentu aku akan melongo dan tak dapat menjawab, tapi sekarang engkau yang tanya, itulah sangat kebetulan sekali.&#8221;</p>
<p>Maka dengan tenang buka kipas dan mengebas perlahan sambil menjawab, &#8220;Lam-hay-gok-sin Gak-losam, julukanmu pakai &#8216;buaya&#8217;, dan kelakuanmu memang mirip buaya. Boleh jadi kedudukanmu dalam urut-urutan Su-ok segera akan merosot menjadi Losi (si keempat). Tentang kepandaianmu yang masih hijau itu, masakah perlu tanya padaku? Mungkin anak kemarin juga tahu. Semua orang tahu kau telah menyembah pada Toan-kongcu dari Tayli sebagai guru dan sedikit pun kau belum mendapat ajaran ilmu sakti apa-apa dari dia. Kepandaianmu cetek, yang sok kau agulkan sekarang tidak lain cuma Gok-bwe-pian dan Gok-cui-cian (ruyung ekor buaya dan gunting congor buaya) saja.&#8221;</p>
<p>Sekaligus Toan Ki dapat menyebutkan senjata andalan orang, yaitu Gok-bwe-pian dan Gok-cui-cian, bukan saja Lam-hay-gok-sin melengak tidak habis kejutnya, bahkan Yap Ji-nio dan In Tiong-ho juga tidak terkatakan herannya.</p>
<p>Maklum, kedua macam senjata itu baru saja berhasil diyakinkan Lam-hay-gok-sin dan selama ini belum pernah dipertunjukkan di depan umum. Hanya tempo hari waktu bergebrak dengan In Tiong-ho di Tayli pernah digunakannya satu kali, tatkala mana kecuali Bok Wan-jing boleh dikatakan tiada orang luar lagi yang melihatnya. Siapa duga kemudian Bok Wan-jing telah menceritakan kejadian itu kepada Toan Ki, sedangkan Buyung Hok yang ada di depannya sekarang justru adalah samaran Toan Ki.</p>
<p>Begitulah Lam-hay-gok-sin coba mengamat-amati Toan Ki dengan kepala miring ke kanan dan ke kiri. Biarpun wataknya sangat jahat, tapi dia juga punya perasaan kagum kepada kaum kesatria yang gagah perkasa. Lewat sejenak, tanpa ragu lagi ia acungkan jempolnya dan memuji, &#8220;Bagus! Memang hebat kau!&#8221;</p>
<p>&#8220;Terima kasih,&#8221; sahut Toan Ki dengan tertawa.</p>
<p>Tapi segera Lam-hay-gok-sin mendapatkan akal lain, tiba-tiba ia berkata pula, &#8220;Buyung-kongcu, tidaklah mengherankan jika engkau dapat memainkan ilmu silatku. Tapi kalau guruku berada di sini, tentu engkau tidak paham ilmu kepandaiannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kutahu kau adalah murid capcai, gurumu tidak cuma seorang saja, coba katakan gurumu yang mana dan ilmu kepandaian apa yang dia miliki?&#8221; sahut Toan Ki dengan senyum ejek.</p>
<p>Lam-hay-gok-sin tidak marah atas olok-olok itu, sebaliknya ia menyahut dengan berseri-seri, &#8220;Guruku yang pertama sudah lama meninggal, maka tidak perlu dibicarakan. Namun guruku yang baru saja kuangkat, ilmu kepandaiannya sungguh luar biar, melulu semacam ilmu langkahnya yang disebut &#8216;Leng-po-wi-poh&#8217; saja kuyakin tiada seorang pun yang paham, termasuk pula engkau.&#8221;</p>
<p>Toan Ki pura-pura termenung sejenak, lalu berkata, &#8220;Maksudmu &#8216;Leng-po-wi-poh&#8217;? Ehm, itu memang ilmu silat yang luar biasa. Dengan kepandaiannya yang sakti itu Toan-kongcu sudi menerima dirimu sebagai murid, sungguh hal ini sangat meragukan aku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Buat apa aku bohong padamu?&#8221; kata Lam-hay-gok-sin cepat. &#8220;Banyak hadirin yang berada di sini dapat menjadi saksi, beliau sendiri memanggil aku sebagai murid.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Toan Ki tertawa geli. Kalau semula si jahat ini ngotot tidak mau menyembah dan mengaku guru padanya, sekarang si jahat ini inilah khawatir dirinya tidak mau mengakui dia sebagai murid. Maka katanya kemudian, &#8220;Jika begitu, tentu kau sudah berhasil meyakinkan ilmu khas gurumu itu, bukan?&#8221;</p>
<p>Lam-hay-gok-sin menggeleng kepalanya bagaikan kelontong goyang cepatnya, sahutnya, &#8220;Tidak, tidak! Jangankan meyakinkan, belajar saja belum pernah. Tapi bila engkau mengaku paham segala macam ilmu silat di dunia ini, asal engkau mahir berjalan tiga langkah &#8216;Leng-po-wi-poh&#8217; saja, aku Gak-loji lantas menyerah padamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Leng-po-wi-poh meski sulit, namun pernah juga kupelajari beberapa langkah di antaranya,&#8221; sahut Toan Ki. &#8220;Nah, Gak-losam, boleh coba-coba menangkap diriku.&#8221;</p>
<p>Sembari berkata terus saja ia terbangkit dan berdiri di tengah ruangan.</p>
<p>Para jago Se He itu tiada seorang pun yang pernah melihat ilmu silat macam apakah &#8220;Leng-po-wi-poh&#8221; itu. Tapi karena Lam-hay-gok-sin memuji ilmu sakti itu setinggi langit, maka mereka pun ingin melihatnya untuk menambah pengalaman. Segera mereka menyingkir ke pinggir ruangan dan membiarkan Toan Ki mempertunjukkan kepandaiannya itu.</p>
<p>Tanpa bicara lagi Lam-hay-gok-sin terus menubruk maju sambil mengerang, tangan kiri menjulur ke depan, mendadak tangan kanan mencengkeram dari bawah tangan kiri. Namun cepat sekali Toan Ki menggeser ke samping dua langkah dan mundur satu tindak, dengan enteng sebagai daun teratai tertiup angin, dengan gaya yang indah ia dapat menghindarkan serangan lawan itu.</p>
<p>&#8220;Crat&#8221;, karena tidak sempat menahan serangannya, kelima kuku jari kanan Lam-hay-gok-sin menancap di atas pilar kayu di tengah ruangan itu.</p>
<p>Melihat begitu hebat tenaga si jahat ketiga itu, seketika semua orang terkesiap. Seharusnya mereka bersorak memuji, tapi saking kejutnya sampai mereka lupa bersorak.</p>
<p>Sekali menyerang tidak kena, suara erangan Lam-hay-gok-sin semakin keras. Mendadak ia meloncat ke atas, bagaikan elang menyambar anak ayam, ia menubruk ke bawah.</p>
<p>Namun Toan Ki sama sekali tidak ambil pusing akan tingkah musuh, biarpun orang berjungkir balik juga ia tidak peduli, ia tetap jalan berlenggang kian kemari menurut ilmu langkah yang telah dipelajarinya dengan baik itu.</p>
<p>Semakin serang Lam-hay-gok-sin semakin kalap, suara erangannya juga bertambah keras laksana binatang buas.</p>
<p>Melihat wajah orang yang memang jelek ditambah beringas seperti sekarang, Toan Ki mulai jeri, ia tidak berani memandang muka orang, bahkan ia terus keluarkan saputangan untuk menutupi matanya dan berkata, &#8220;Biarpun kedua mataku tertutup juga tidak nanti kau mampu menangkap diriku.&#8221;</p>
<p>Benar juga, biar bagaimanapun cara Lam-hay-gok-sin menubruk dan menyeruduk, selalu ia menubruk tempat kosong dan menangkap angin. Terkadang tangannya cuma selisih beberapa senti saja dari tubuh Toan Ki, namun toh tetap susah untuk menjamah pemuda itu.</p>
<p>Kalau penonton sampai berdebar-debar dan menahan napas, adalah sebaliknya Toan Ki malah enak-enak dan tetap berjalan dengan berlenggang kangkung. Dan tatkala Lam-hay-gok-sin semakin kalap dan menubruk serabutan, terpaksa Toan Ki harus mempercepat juga langkahnya, ia tidak dapat berlenggang lagi, tapi terpaksa main serampang 12 dengan irama cepat.</p>
<p>Mau tak mau A Cu ikut berdebar-debar menyaksikan permainan kucing-kucingan di tengah ruangan itu, ia khawatir jangan-jangan pada suatu saat Toan Ki akan meleng hingga kena ditangkap Lam-hay-gok-sin, hal ini berarti akan bikin runyam mereka. Maka cepat ia keraskan suaranya dan membentak, &#8220;Lam-hay-gok-sin, apakah kau belum kapok dan hendak menguber Buyung-kongcu? Bagaimana Leng-po-wi-poh itu dibandingkan dengan gurumu?&#8221;</p>
<p>Lam-hay-gok-sin melengak, ia tertegun di tempatnya bagai balon gembos, mau tak mau ia memuji, &#8220;Bagus, bagus! Memang hebat! Mungkin guruku juga tidak mampu melangkah seperti engkau dengan mata tertutup. Baik, memang Koh-soh Buyung tidak bernama kosong, aku Lam-hay-gok-sin mengaku kalah padamu.&#8221;</p>
<p>Kesempatan itu segera digunakan Toan Ki untuk menanggalkan tutup matanya serta kembali ke tempat duduknya. Maka bergemuruhlah sorak-sorai orang banyak.</p>
<p>Kemudian Helian Tiat-si menyilakan kedua tamunya minum, katanya, &#8220;Atas kunjungan kedua kesatria besar, entah ada keperluan apakah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena beberapa saudara kami entah sebab apa berbuat salah kepada Ciangkun, maka Ciangkun telah mengirim jago pilihan dan menangkap mereka ke sini, sebab itulah dengan memberanikan diri ingin kumohon Ciangkun suka membebaskan mereka,&#8221; sahut A Cu.</p>
<p>Sudah tentu ucapan A Cu itu sengaja dipakai untuk menyindir orang Se He yang telah menangkap orang dengan cara rendah dan memalukan.</p>
<p>Namun Helian Tiat-si tidak risi sedikit pun, dengan tersenyum ia berkata, &#8220;Memang benar. Tapi setelah menyaksikan demonstrasi Buyung-kongcu yang hebat barusan, nyata memang bukan nama kosong belaka. Kiau-pangcu mempunyai nama kebesaran sejajar dengan Buyung-kongcu, hendaklah juga suka unjuk sejurus-dua supaya kami bisa kagum benar-benar, dengan begitu pula agar ada alasan untuk membebaskan para kesatria dari pang kalian.&#8221;</p>
<p>Keruan A Cu agak gugup, pikirnya, &#8220;Untuk menyaru sebagai Kiau-pangcu dan menirukan lagak lagunya tidak susah bagiku. Tapi bila aku disuruh menirukan ilmu silatnya yang hebat itu, bukankah segera rahasia penyamaranku ini akan terbongkar?&#8221;</p>
<p>Selagi dia hendak mencari alasan untuk menutupi rasa serbasusahnya itu, tiba-tiba terasa tangan dan kaki lemas linu, bahkan gerak jari pun tak bisa. Keadaan demikian persis seperti terkena kabut berbisa semalam.</p>
<p>Keruan ia khawatir, keluhnya dalam hati, &#8220;Wah, celaka, sungguh tidak nyana bahwa jahanam orang Se He ini akan menggunakan akal licik pula, bagaimana baiknya sekarang?&#8221;</p>
<p>Di lain pihak Toan Ki yang kebal terhadap segala macam racun sedikit pun tidak merasa terjadi hal-hal yang ganjil itu. Cuma tiba-tiba dilihatnya A Cu lemas lunglai di tempat duduknya, segera ia tahu gadis itu tentu terkena kabut racun lagi, maka cepat ia mengeluarkan botol berbau busuk itu, ia buka sumbat botol dan disodorkan ke ujung hidung A Cu.</p>
<p>Segera A Cu menyedotnya beberapa kali, karena keracunan belum lama, segera ia dapat bergerak kembali. Ia pegang botol yang diangsurkan Toan Ki itu dan mencium pula dengan rasa heran mengapa musuh tidak turun tangan untuk menangkapnya?</p>
<p>Waktu ia perhatikan orang-orang Se He itu, ia lihat mereka pun menggeletak semua di atas kursi tanpa berkutik, hanya biji mata mereka yang tertampak terbelalak lebar seperti terheran-heran.</p>
<p>&#8220;Aneh, mengapa orang-orang ini keracunan sendiri, benar-benar senjata makan tuan,&#8221; demikian ujar Toan Ki.</p>
<p>Segera A Cu mendekati Helian Tiat-si, ia coba dorong-dorong panglima Se He itu, tapi Helian Tiat-si benar-benar lemas lunglai, tidak salah lagi memang keracunan. Tapi badan lemas kan mulut masih dapat bicara, segera ia membentak, &#8220;Hai, siapakah yang mengeluarkan kabut wangi ini? Lekas ambilkan obat penawar, cepat!&#8221;</p>
<p>Meski sudah beberapa kali ia membentak, tapi anak buahnya tetap diam saja dengan lemas, semuanya berkata, &#8220;Lapor Ciangkun, hamba sekalian juga tak dapat berkutik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pasti ada pengkhianat, kalau tidak, masakah lawan tahu cara penggunaan kabut wangi kita yang rumit itu,&#8221; kata Nurhai.</p>
<p>&#8220;Siapa pengkhianatnya, siapa? Lekas cari dan cencang dia hingga hancur lebur,&#8221; teriak Helian Tiat-si dengan murka.</p>
<p>&#8220;Ya, paling penting sekarang harus mendapatkan obat penawar kita,&#8221; sahut Nurhai. Ia melirik dan melihat A Cu memegang sebuah botol kecil, segera katanya, &#8220;Kiau-pangcu, sudilah engkau enduskan obat penawar itu kepada kami, nanti Ciangkun kami pasti akan membalas jasamu ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku harus menolong saudara-saudara pang kami, siapa ingin kepada balas jasa apa segala dari Ciangkun kalian?&#8221; sahut A Cu dengan tertawa.</p>
<p>Terpaksa Nurhai berkata kepada Toan Ki, &#8220;Buyung-kongcu, di bajuku juga ada sebuah botol, tolonglah keluarkan untuk dicium kami.&#8221;</p>
<p>Toan Ki tidak menolak, ia merogoh baju Nurhai dan benar juga dikeluarkannya sebuah botol kecil. Katanya kemudian dengan tertawa, &#8220;Obat penawar memang perlu, tapi takkan kuberikan kepadamu.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia terus menuju ke ruangan belakang bersama A Cu. Maka tertampaklah di serambi timur sana penuh berjubel orang, semuanya adalah anggota Kay-pang yang tertawan. Dan begitu A Cu masuk ke situ, segera Go-tianglo berseru, &#8220;Aha, kiranya engkau yang datang, Kiau-pangcu, lekas tolong kami!&#8221;</p>
<p>Segera A Cu mengenduskan obat penawar itu kepada Go-tianglo dan berkata, &#8220;Ini adalah obat penawar, boleh dienduskan kepada para saudara untuk memunahkan racun mereka.&#8221;</p>
<p>Go-tianglo sangat girang, setelah kaki-tangannya dapat bergerak, segera ia bergantian memunahkan racun Song-tianglo. Di sebelah sana Toan Ki juga telah menyembuhkan racun Ci-tianglo dan begitu seterusnya.</p>
<p>&#8220;Kawan-kawan kita terlalu banyak, kalau satu per satu dipunahkan racunnya seperti tentu akan maka waktu terlalu lama,&#8221; ujar A Cu. &#8220;Go-tianglo, cobalah geledah orang-orang Se He itu, carilah obat penawar serupa ini.&#8221;</p>
<p>Go-tianglo mengiakan dan segera berlari ke ruangan depan untuk menggeledah obat. Maka terdengarlah suara makian dan teriakan disertai suara &#8220;plak-plok&#8221; berulang-ulang.</p>
<p>Nyata sembari menggeledah obat, Go-tianglo tidak lupa memberi persen gamparan kepada orang-orang Se He itu untuk melampiaskan rasa dongkolnya.</p>
<p>Tidak lama kemudian, kembalilah Go-tianglo dengan membawa lima-enam buah botol porselen kecil, katanya dengan tertawa, &#8220;Yang kupilih adalah musuh yang berpakaian perlente, kedudukan mereka tentu lebih tinggi dan benar juga mereka membawa obat penawar seperti ini. Hahaha, baru sekarang mereka tahu rasa!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tahu rasa apa?&#8221; tanya Toan Ki heran.</p>
<p>&#8220;Setiap orang mereka telah kupersen dua kali tamparan, yang memiliki obat penawar sengaja kugampar lebih keras,&#8221; tutur Go-tianglo dengan tertawa. Dan tiba-tiba ia merasa belum pernah kenal Toan Ki dalam samaran itu, segera ia tanya, &#8220;Siapakah nama terhormat saudara ini? Terima kasih banyak atas budi pertolonganmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Cayhe she Buyung,&#8221; sahut Toan Ki. &#8220;Maafkan kedatangan kami agak terlambat sehingga kalian tersiksa sekian lamanya.&#8221;</p>
<p>Mendengar orang mengaku she &#8220;Buyung&#8221;, maka tahulah orang-orang Kay-pang tentu pemuda inilah &#8220;Koh-soh Buyung&#8221; yang terkenal itu.</p>
<p>&#8220;Ai, kita benar-benar sudah buta semua sehingga sembarangan mendakwa Buyung-kongcu telah membunuh Be-hupangcu, hari ini kalau bukan Buyung-kongcu dan Kiau-pangcu yang menolong kita, tentu kita akan celaka di tangan anjing-anjing Se He yang jahat itu,&#8221; demikian seru Song-tianglo.</p>
<p>&#8220;Ya, orang tua tentu suka mengampuni kesalahan kaum hamba, Kiau-pangcu, mohon engkau sudi kembali menjadi pangcu kita saja,&#8221; segera Go-tianglo ikut berkata.</p>
<p>&#8220;Huh, Kiau-ya dan Buyung-kongcu ternyata benar bersahabat baik,&#8221; tiba-tiba Coan Koan-jing menjengek dengan dingin. Ia belum mengendus obat penawar, maka tubuhnya masih belum bisa berkutik.</p>
<p>Ia sebut Kiau Hong sebagai &#8220;Kiau-ya&#8221; (tuan Kiau) dan tidak menyebutnya sebagai &#8220;Kiau-pangcu&#8221;, itu berarti ia tidak mengakui dia lagi sebagai pangcu. Sebaliknya ia bilang Kiau Hong ternyata bersahabat dengan Buyung-kongcu, kata-kata itu pun sangat licin.</p>
<p>Sebab, hendaklah diketahui bahwa orang-orang Kay-pang sama mencurigai Kiau Hong sebagai pembunuh Be Tay-goan secara tidak langsung, yaitu dengan meminjam tangan Buyung Hok. Padahal Kiau Hong selalu menyangkal kenal Buyung Hok. Sebaliknya sekarang kedua orang ini sama-sama datang ke Thian-leng-si, dilihat dari sikap mereka berdua yang akrab itu pastilah mereka bukan kenalan baru saja.</p>
<br />Posted in Jin Yong, Pendekar Kerajaan Tayli  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toanki.wordpress.com/1828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toanki.wordpress.com/1828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toanki.wordpress.com/1828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toanki.wordpress.com/1828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toanki.wordpress.com/1828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toanki.wordpress.com/1828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toanki.wordpress.com/1828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toanki.wordpress.com/1828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toanki.wordpress.com/1828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toanki.wordpress.com/1828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toanki.wordpress.com/1828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toanki.wordpress.com/1828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toanki.wordpress.com/1828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toanki.wordpress.com/1828/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1828&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-28/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b75e221c0eee4ff517b26695a19675fc?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">Lenghou Tiong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 27</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-27/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-27/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 04:57:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1825</guid>
		<description><![CDATA[Untung waktu itu adalah malam dan di tempat sepi hingga tiada orang yang melihat sikapnya yang aneh itu, kalau tidak, tentu orang akan menyangka dia sudah gila. Hujan itu semakin deras, Toan Ki menanggalkan jubahnya untuk menutup badan Giok-yan. Tapi hanya sebentar saja baju kedua orang telah sama-sama basah kuyup lagi. &#8220;Bagaimana keadaanmu, nona Ong?&#8221; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1825&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Untung waktu itu adalah malam dan di tempat sepi hingga tiada orang yang melihat sikapnya yang aneh itu, kalau tidak, tentu orang akan menyangka dia sudah gila.</p>
<p><span id="more-1825"></span>Hujan itu semakin deras, Toan Ki menanggalkan jubahnya untuk menutup badan Giok-yan. Tapi hanya sebentar saja baju kedua orang telah sama-sama basah kuyup lagi.</p>
<p>&#8220;Bagaimana keadaanmu, nona Ong?&#8221; kembali Toan Ki menanya.</p>
<p>&#8220;Ai, basah dan dingin, sebaiknya cari suatu tempat untuk berteduh,&#8221; sahut Giok-yan.</p>
<p>Segala apa yang dikatakan Giok-yan itu bagi pendengaran Toan Ki adalah serupa titah sang ratu. Sekarang gadis itu minta dicarikan tempat meneduh, meski pemuda itu tahu keadaan masih berbahaya, setiap waktu dapat disusul musuh, tapi mau tak mau ia terus mengia. Tiba-tiba timbul pula semacam pikirannya yang ketolol-tololan, &#8220;Orang yang selalu terbayang-bayang dalam benak nona Ong hanya Buyung-kongcu seorang, maka terang tiada harapan selama hidupku untuk mempersunting si cantik. Hari ini aku sama-sama menghadapi bahaya dengan dia, biarlah aku berusaha sepenuh tenaga untuk melindunginya, bila akhirnya aku mati baginya, mungkin di kemudian hari pada masa tuanya secara kebetulan tentu dia akan terkenang juga kepada aku si Toan Ki. Kelak setelah dia menikah dengan Buyung Hok tentu akan punya putra-putri, dan bila mereka sedang bicara di antara anak-cucu sendiri atas kejadian-kejadian di masa lalu, mungkin juga ia akan teringat kepada kejadian hari ini. Tatkala mana ia sudah nenek-nenek yang ubanan, ketika bicara tentang &#8216;Toan-kongcu&#8217;, air matanya lantas bercucuran &#8230;.&#8221; &#8211; begitulah dalam melamunnya itu tanpa merasa matanya menjadi memberambang sendiri.</p>
<p>Melihat pemuda itu termangu-mangu sambil menengadah dan tidak lantas mencari tempat meneduh seperti permintaannya tadi, segera Giok-yan menanya, &#8220;Hei, kenapakah kau? Apakah susah diperoleh suatu tempat berteduh?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tatkala itu engkau tentu akan berkata pada anakmu &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Anakku apa katamu?&#8221; tegur Giok-yan dengan heran sebelum lanjut perkataan pemuda itu.</p>
<p>Keruan Toan Ki kaget dan sadar kembali dari lamunannya, cepat ia menyahut dengan tertawa ewa, &#8220;Ah, maaf, aku lagi melamun sendiri.&#8221;</p>
<p>Segera ia celingukan kian kemari untuk mencari sesuatu tempat bernaung, tiba-tiba dilihatnya di arah timur laut sana ada sebuah rumah gilingan, air sungai kecil di samping rumah gilingan itu mengalir cepat hingga roda gilingan itu berputar terdorong oleh arus air, nyata gilingan itu sedang bekerja.</p>
<p>&#8220;Di sanalah kita dapat berteduh,&#8221; ujar Toan Ki. Segera ia keprak kudanya ke arah sana, tidak lama, sampailah di depan rumah gilingan itu.</p>
<p>Segera Toan Ki melompat turun dari kuda, demi dilihatnya wajah Giok-yan pucat pasi, sungguh betapa rasa kasih sayangnya pemuda itu. Dengan khawatir ia menanya pula, &#8220;Nona Ong, apakah perutmu sakit? Atau barangkali kepalamu pusing? Badanmu panas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, tidak apa-apa,&#8221; sahut Giok-yan sambil menggeleng.</p>
<p>&#8220;Ai, entah racun apa yang digunakan orang Se He itu, kalau aku dapat memperoleh obat penawarnya, tentu segalanya akan beres,&#8221; ujar Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Eh, mengapa engkau tidak memayang aku turun, hujan begini derasnya?&#8221; tegur si gadis.</p>
<p>Dan baru Toan Ki ingat akan hal itu, dengan gugup ia menjawab, &#8220;Eh, ya, ya, aku menjadi linglung ini.&#8221;</p>
<p>Giok-yan tersenyum, ia geli melihat kelakuan si pemuda yang memang mirip orang linglung itu.</p>
<p>Melihat senyuman manis si gadis yang menggiurkan itu, semangat Toan Ki seakan-akan kabur ke awang-awang, hampir ia lupa apa yang harus dilakukannya. Segera ia membukakan dulu pintu rumah gilingan itu, habis itu, ia putar balik hendak menurunkan Giok-yan dari atas kuda. Tapi karena matanya tidak pernah meninggalkan wajah si gadis yang ayu itu, ia menjadi lupa daratan dan tidak ingat bahwa di depan titian rumah gilingan itu ada sebuah selokan. Begitu ia melangkah kembali, sebelah kakinya tepat kejeblos ke dalam selokan.</p>
<p>&#8220;Hei, awas!&#8221; cepat Giok-yan memperingatkan.</p>
<p>Namun sudah telat, Toan Ki sudah kehilangan imbangan badan, disertai jeritan kagetnya, terus saja ia ngusrup jatuh ke dalam pecomberan. Cepat ia merangkak bangun pula, namun mukanya, tangannya, dadanya, antero tubuhnya sudah basah kuyup dan kotor oleh tanah lumpur, bahkan ada beberapa tetes air kotor itu menciprat ke dalam mulutnya.</p>
<p>Keruan Toan Ki kelabakan dan meludah-ludah tiada habis-habis, katanya kemudian, &#8220;Ah, maaf, kau &#8230; kau tak apa-apa, bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, akulah harus menanya engkau tidak apa-apa, bukan? Mengapa malah aku yang ditanya?&#8221; sahut Giok-yan. &#8220;Sakit tidak kau? Apa terluka?&#8221;</p>
<p>Mendengar si gadis sudi memerhatikan keselamatan dirinya, girang Toan Ki melebihi orang yang dapat &#8220;buntut&#8221;. Cepat ia menjawab, &#8220;O, tidak, tidak apa-apa. Sekalipun terbanting patah kakiku juga tidak apa-apa.&#8221;</p>
<p>Habis itu segera ia ulur tangan hendak memayang Giok-yan turun dari kudanya, tapi demi tampak tangan sendiri penuh lumpur, cepat ia tarik kembali lagi dan berkata, &#8220;Nanti dulu, biar kucuci tangan dulu supaya tidak bikin kotor padamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, engkau ini benar-benar suka bertele-tele,&#8221; ujar Giok-yan. &#8220;Sedangkan seluruh badanku juga sudah basah kuyup, kenapa mesti takut pada sedikit lumpur kotor itu?&#8221;</p>
<p>Tapi Toan Ki toh masih mencuci dulu tangannya di dalam air selokan itu, kemudian barulah menurunkan Giok-yan.</p>
<p>Setelah mereka melangkah masuk ke rumah gilingan itu, tertampaklah sebuah alu batu yang digerakkan roda air sedang naik-turun menumbuk padi di dalam lumpang. Tapi tidak tampak seorang pun yang menjaga di situ.</p>
<p>&#8220;Adakah orang di sini?&#8221; segera Toan Ki berseru.</p>
<p>Karena itu, mendadak terdengarlah seruan kaget dua orang di onggok jerami di pojok rumah sana, menyusul berdirilah seorang pemuda dan satu dara. Semuanya baru berusia belasan tahun. Baju kedua muda-mudi itu tampak kumal tak teratur, rambut mereka kusut dan muka merah jengah, sikapnya sangat kikuk.</p>
<p>Kiranya kedua muda-mudi itu adalah sepasang kekasih yang sedang bercumbu-cumbuan di situ. Si gadis itu sebenarnya lagi menunggui lumpang padi, kesempatan itu tidak disia-siakan oleh si pemuda, apalagi hari hujan pula, mereka yakin takkan ada orang datang ke situ, maka dengan bebas mereka sedang main patgulipat. E-eh, siapa sangka mendadak datang Toan Ki dan Giok-yan hingga mengganggu kesenangan mereka.</p>
<p>Maka Toan Ki lantas memberi kiongchiu sambil menyapa, &#8220;Ah, maaf, maaf, banyak mengganggu. Kalian sedang kerja apa, silakan terus, tidak usah mengurus kami.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kembali pelajar tolol seperti kau ini mengaco-belo lagi,&#8221; omel Giok-yan. &#8220;Di hadapan kita masakah mereka bisa bebas bermesra-mesraan?&#8221; &#8211; Sebagai seorang gadis, demi tampak kelakuan kedua muda-mudi itu, seketika muka Giok-yan sudah lantas merah dan tidak berani memandang mereka lagi.</p>
<p>Sebaliknya antero perhatian Toan Ki hanya tercurahkan atas diri Giok-yan, maka sama sekali ia tidak perhatikan apakah sebenarnya yang sedang dilakukan kedua muda-mudi itu tadi.</p>
<p>Begitulah segera ia memayang Giok-yan berduduk ke atas bangku yang berada di situ dan menanya, &#8220;Badanmu basah kuyup semua. Bagaimana baiknya sekarang?&#8221;</p>
<p>Tiba-Tiba pikiran Giok-yan tergerak, ia cabut sebuah tusuk kondenya yang berhias dua butir mutiara dan berkata kepada gadis petani tadi, &#8220;Cici, ini kuberi sebuah tusuk konde emas kepadamu, harap engkau suka meminjamkan seperangkat pakaian padaku.&#8221;</p>
<p>Sudah tentu gadis petani itu tidak kenal betapa berharganya kedua butir mutiara besar itu, yang dia ketahui hanya tusuk konde emas itu memang bernilai, maka ia menjadi ragu-ragu akan tawaran Giok-yan itu, sahutnya kemudian, &#8220;Biarlah aku mengambilkan pakaian untukmu, tentang tusuk &#8230; tusuk konde itu aku tidak mau.&#8221; &#8211; Habis berkata ia terus naik ke atas loteng rumah gilingan itu dengan sebuah tangga kayu di pinggir situ.</p>
<p>&#8220;Cici, harap engkau kemari dulu,&#8221; pinta Giok-yan.</p>
<p>Gadis petani itu sebenarnya sudah naik lima-enam tingkat ke atas tangga itu, tapi ia menurut dan kembali ke hadapan Giok-yan.</p>
<p>Segera Giok-yan serahkan tusuk konde emas itu ke dalam tangan si gadis petani dan berkata, &#8220;Tusuk konde ini paling sedikit bernilai seratus tahil perak, aku benar-benar menghadiahkan kepadamu. Permintaanku ialah sudilah Cici membawa aku untuk mengganti pakaian.&#8221;</p>
<p>Hati gadis petani itu sangat baik, dilihatnya pula Giok-yan sangat cantik menyenangkan, apalagi mendapat persen sebuah tusuk konde berharga pula, keruan ia sangat girang. Segera ia membawa Giok-yan ke atas loteng untuk menukar pakaian.</p>
<p>Di atas loteng penuh tertaruh alat-alat pertanian serta timbunan padi, banyak pula terdapat tampah, tenggok, ayakan bambu dan sebagainya.</p>
<p>Sebenarnya gadis itu sedang tambal sulam pakaian sambil menunggu lumpang padi, tapi kemudian datang si pemuda kekasihnya itu, maka pekerjaan tangan itu ditinggalkannya. Dan kini kebetulan pakaiannya dapat diberikan kepada Giok-yan.</p>
<p>Dalam pada itu si pemuda desa tadi sedang memandang Toan Ki dengan sikap canggung dan tidak berani bersuara. Maka dengan tertawa Toan Ki lantas menyapa, &#8220;Toako, she apakah engkau?&#8221;</p>
<p>&#8220;O, aku &#8230; aku she Kim,&#8221; sahut pemuda desa itu.</p>
<p>&#8220;Ehm, Kim-toako kiranya,&#8221; kata Toan Ki. Dan belum lagi lenyap suaranya, tiba-tiba terdengar suara derap kuda yang dilarikan dengan sangat cepat sedang mendatangi, dari suaranya itu dapat diduga ada belasan orang banyaknya.</p>
<p>Toan Ki terkejut dan khawatir, cepat ia berbangkit dan berseru, &#8220;He, nona Ong, musuh mengejar kemari!&#8221;</p>
<p>Dibantu oleh gadis petani tadi, saat itu Giok-yan baru melepaskan baju dan diperas hingga kering serta sedang mengelap badannya yang basah, ia pun sudah mendengar derap kuda dan sedang khawatir. Tapi karena dalam keadaan kepalang tanggung, maka ia tidak dapat berbuat apa-apa.</p>
<p>Dalam pada itu datangnya kuda-kuda itu ternyata sangat cepat, tahu-tahu sudah sampai di depan rumah, segera terdengar suara orang berseru, &#8220;He, itulah kuda kita, kedua bocah itu tentu sembunyi di sini.&#8221;</p>
<p>Toan Ki dan Giok-yan menjadi khawatir, mereka masing-masing berada di bawah dan atas loteng, diam-diam mereka menyesal tadi kuda itu tidak dibawa masuk sekalian ke dalam rumah.</p>
<p>Sejenak kemudian, terdengarlah suara gedubrakan keras, daun pintu terpentang didobrak orang, menyusul tiga-empat orang busu bangsa Se He lantas menerobos masuk.</p>
<p>Yang dipikir Toan Ki hanya keselamatan Giok-yan, tanpa pikir lagi ia terus berlari ke atas loteng. Waktu itu Giok-yan masih belum sempat pakai baju, terpaksa ia gunakan pakaian yang basah itu untuk menutupi dadanya.</p>
<p>Keruan Toan Ki kaget demi mengetahui keadaan gadis itu, cepat ia berkata, &#8220;Ah, maaf, maaf, aku tidak tahu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, bagaimana baiknya ini?&#8221; tanya Giok-yan dengan gugup.</p>
<p>Dalam pada itu terdengar salah seorang busu di bawah loteng sedang tanya Kim A-toa, yaitu si pemuda desa, &#8220;Apakah anak dara itu berada di atas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Buat apa engkau tanya anak gadis orang?&#8221; sahut Kim A-toa dengan kaku.</p>
<p>&#8220;Blang,&#8221; tanpa bicara lagi busu itu hantam Kim A-toa hingga pemuda desa itu terguling. Namun watak pemuda itu ternyata sangat keras, segera ia mencaci maki.</p>
<p>&#8220;Kim-toako, jangan bertengkar dengan orang!&#8221; demikian si gadis tani tadi berseru kepada kekasihnya dengan khawatir, segera ia turun ke bawah loteng untuk mencegahnya,</p>
<p>Siapa duga busu tadi lantas ayun golok hingga buah kepala Kim A-toa terbelah menjadi dua. Saking kagetnya sampai gadis tani itu pun jatuh terjungkal dari atas tangga.</p>
<p>Segera busu yang lain membangunkannya dan dipeluk sambil menggoda, &#8220;Ini dia si manis datang sendiri padaku!&#8221;</p>
<p>&#8220;Bret&#8221;, segera baju gadis itu dirobeknya.</p>
<p>Di luar dugaan, mendadak gadis itu mencakar muka busu itu hingga seketika berwujud lima jalur luka dengan darah bercucuran. Keruan busu itu menjadi murka, ia menghantam sekuatnya dada si gadis hingga tulang iganya remuk dan binasa seketika.</p>
<p>Ketika mendengar jeritan ngeri di bawah loteng, Toan Ki menoleh dan melihat kedua muda-mudi itu sudah terbinasa dengan mengenaskan, ia menjadi pedih dan menyesal, &#8220;Gara-garaku hingga kalian ikut menjadi korban!&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu dilihatnya busu pertama tadi sedang memanjat ke atas loteng. Cepat Toan Ki mendorong tangga kayu itu ke depan. Karena tangga itu cuma melekat di papan loteng, sekali didorong lantas roboh ke sana.</p>
<p>Namun busu itu keburu melompat turun, ia pegang tangga yang mendoyong itu dan dipasang kembali ke atas loteng.</p>
<p>Dan baru Toan Ki hendak mendorong tangga pula, tiba-tiba busu yang lain menyerangnya dengan sebatang panah. Karena tidak pandai berkelit, &#8220;crat&#8221;, panah itu menancap di pundak kirinya. Ketika Toan Ki kesakitan dan memegang bahunya, kesempatan itu digunakan oleh busu yang lain untuk memperbaiki tangga terus melompat ke atas.</p>
<p>Giok-yan sedang duduk di atas onggok padi di samping Toan Ki, ia menyaksikan cara bagaimana busu itu menghantam mati si gadis tani dan kini melompat ke atas loteng, maka cepat katanya kepada Toan Ki, &#8220;Lekas gunakan jari telunjukmu untuk menutuk &#8216;He-wan-hiat&#8217; bagian perutnya.&#8221;</p>
<p>Waktu Toan Ki mempelajari It-yang-sin-kang, dan Lak-meh-sin-kiam di Tayli, dalam hal hiat-to di tubuh manusia telah dihafalkannya dengan baik. Kini demi mendengar petunjuk Giok-yan itu, sementara itu sebelah kaki busu itu sudah melangkah ke atas loteng, tanpa pikir lagi ia menudingkan jari telunjuknya ke depan, ia tutuk arah &#8220;He-wan-hiat&#8221; di perut orang.</p>
<p>Dalam keadaan melompat ke atas, dengan sendirinya perut busu itu tidak terlindung, maka terdengarlah jeritan sekali, busu itu terjungkal ke bawah dan terbanting mati.</p>
<p>Toan Ki sama sekali tidak menduga bahu tenaga jarinya itu ternyata begitu sakti, ia sampai melenggong sendiri.</p>
<p>Dalam pada itu tertampak seorang busu berewok telah menyerbu ke atas loteng sambil putar senjatanya yang berupa golok besar.</p>
<p>&#8220;Tutuk mana, tutuk mana?&#8221; tanya Toan Ki dengan khawatir.</p>
<p>&#8220;Ai, celaka!&#8221; tiba-tiba Giok-yan mengeluh.</p>
<p>&#8220;Celaka apa?&#8221; tanya Toan Ki gugup.</p>
<p>&#8220;Dia putar golok untuk melindungi tubuhnya, jika kau gunakan jari untuk menutuk &#8216;Tan-tiong-hiat&#8217; di dadanya, sebelum jarimu mengenai sasarannya tentu tanganmu sudah tertebas lebih dulu oleh goloknya,&#8221; ujar Giok-yan.</p>
<p>Namun keadaan sudah mendesak, baru selesai Giok-yan berkata, sementara busu itu sudah melangkah sampai di ujung tangga. Oleh karena yang terpikir hanya keselamatan Giok-yan, maka Toan Ki tidak pikir apakah tangannya bakal terkutung oleh golok lawan atau tidak, begitu jari telunjuk menuding, ia kerahkan tenaga murni, ia tonjok &#8220;Tan-tiong-hiat&#8221; di dada musuh.</p>
<p>Waktu itu si busu sedang angkat golok hendak membacok, mendadak ia menjerit lalu terjungkal ke belakang dan terguling ke bawah loteng dengan dada berlubang kecil, darah menyembur keluar bagai air mancur.</p>
<p>Sungguh girang dan kejut pula Toan Ki dan Giok-yan, sama sekali tak terduga oleh mereka bahwa tenaga tutukan itu bisa begitu lihai.</p>
<p>Harus diketahui bahwa lwekang yang dimiliki Toan Ki sekarang boleh dikatakan tiada bandingannya lagi, sedangkan &#8220;Lak-meh-sin-kiam&#8221; keturunan Toan-si di Tayli merupakan kungfu kelas utama di Bu-lim, yang masih kurang bagi Toan Ki hanya mengenai cara menggunakannya, tapi dengan petunjuk Giok-yan, daya serang yang dilontarkan itu bahkan lebih hebat daripada jago kelas satu seperti Koh-eng Taysu, Ciumoti, Yan-king Taycu dan lain-lain.</p>
<p>Begitulah hanya sekejap saja dua orang sudah binasa oleh tutukannya, busu yang lain menjadi jeri tidak berani naik ke atas loteng lagi, mereka berkumpul di bawah untuk berunding.</p>
<p>&#8220;Toan-kongcu, panah yang menancap di pundakmu itu harus dicabut keluar,&#8221; kata Giok-yan.</p>
<p>Sungguh girang Toan Ki tak terkatakan karena mendapat perhatian si cantik, segera ia cabut keluar panah itu.</p>
<p>Padahal panah itu menancap beberapa senti dalamnya, dengan mencabut begitu saja sebenarnya sangat sakit, tapi saking senangnya ia menjadi lupa sakit. Kemudian katanya, &#8220;Nona Ong, kembali mereka akan menyerang lagi, cara bagaimana harus kulayani mereka?&#8221;</p>
<p>Sembari berkata ia terus menoleh, tapi sekonyong-konyong dilihatnya pakaian Giok-yan belum lagi teratur, lekas ia berpaling kembali sambil minta maaf.</p>
<p>Muka Giok-yan merah jengah, celakanya untuk berpakaian juga tidak kuat, sungguh ia kehilangan akal. Tiba-tiba pikirannya tergerak, ia menyusup ke tengah onggok padi, ia tarik ikatan padi hingga menutup sebatas pundaknya, hanya kepalanya yang menongol keluar tumpukan padi itu, lalu katanya dengan tertawa, &#8220;Sudahlah sekarang, boleh kau berpaling ke sini.&#8221;</p>
<p>Tapi Toan Ki masih khawatir, perlahan ia menggeser kepalanya, ia bersiap-siap bila pakaian si nona masih belum rapi, secepatnya ia akan berpaling pula.</p>
<p>Tak terduga baru saja ia menoleh separuh, sekilas dilihatnya di luar jendela loteng sana ada seorang busu bangsa Se He berdiri di atas pelana kuda dan sedang melongok dan hendak melompat ke loteng. Cepat Toan Ki berseru, &#8220;He, di situ ada musuh!&#8221;</p>
<p>&#8220;Coba kau sambit dia dengan panah tadi,&#8221; kata Giok-yan.</p>
<p>Toan Ki menurut, segera ia timpuk panah yang dia cabut dari bahu sendiri itu. Sudah tentu ia bukan ahli menyambit panah, maka panah yang melayang keluar itu paling sedikit selisih satu meter jauhnya daripada sasarannya,</p>
<p>Busu itu sebenarnya tidak perlu berkelit. Tapi karena tenaga sambitan Toan Ki sangat hebat hingga panah itu bersuara mendenging. Busu itu terkejut dan cepat mendekam di atas kudanya untuk menghindar.</p>
<p>Hanya sedikit gerakan busu itu sudah dapat dilihat jelas oleh Giok-yan, segera katanya kepada Toan Ki, &#8220;Dia adalah jago gulat dari Se He, tak perlu kau takut, biarkan dia menyikap dirimu, lalu kau tabok batok kepalanya, sekali tabok tentu akan menang.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, gampang kalau begitu,&#8221; kata Toan Ki, perlahan ia lantas mendekati jendela.</p>
<p>Dalam pada itu si busu sudah menjebol jendela dan menyerbu ke atas loteng.</p>
<p>&#8220;Mau apa naik sini?&#8221; bentak Toan Ki.</p>
<p>Busu itu tidak paham bahasa Han, maka ia hanya melotot saja, begitu tangan terjulur, segera dada Toan Ki kena dijambret. Gerakan busu itu amat cepat, sekali dapat menjambret lawan, segera ia angkat badan Toan Ki ke atas dengan maksud hendak membanting pemuda itu.</p>
<p>Di luar dugaan, baru saja Toan Ki terangkat ke udara, mendadak tangan pemuda itu menggaplok ke bawah dan tepat mengenai batok kepalanya hingga pecah berantakan.</p>
<p>Selama hidup Toan Ki tidak pernah melukai orang, apalagi membunuh, tapi kini demi untuk membela Giok-yan, hanya sebentar saja sudah tiga nyawa melayang di tangannya.</p>
<p>Keruan ia mengirik, semakin dipikir semakin takut, cepat ia berteriak, &#8220;Aku tidak ingin membunuh orang lagi, suruh aku membunuh lagi terang aku tidak tega, ayolah lekas kalian enyah dari sini!&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia terus dorong mayat jago gulat Se He itu ke bawah.</p>
<p>Jago-jago Se He yang mengejar kemari itu seluruhnya ada 15 orang, kini telah mati tiga, sisanya masih 12 orang. Di antara ke-12 orang ini ada empat adalah jago pilihan It-bin-tong, sedang kedelapan orang lainnya hanya jago tempur biasa saja.</p>
<p>Keempat jago It-bin-tong itu dua antaranya adalah bangsa Han, seorang bangsa Se-ek (asing barat) dan seorang lagi bangsa Se He.</p>
<p>Keempat jago It-bin-tong itu merasa heran dan bingung juga oleh kepandaian Toan Ki yang sebentar lihai dan sebentar lagi lucu hingga sukar dijajaki. Mereka menjadi tidak berani sembarangan menyerang lagi, segera mereka berunding cara bagaimana baiknya.</p>
<p>Sebaliknya kedelapan busu biasa itu mempunyai pendapat lain, mereka terus mengumpulkan jerami di rumah gilingan itu dengan maksud akan membakarnya.</p>
<p>&#8220;Wah, celaka, mereka hendak menyalakan api!&#8221; kata Giok-yan dengan khawatir.</p>
<p>&#8220;Ya, bagaimana baiknya kini?&#8221; sahut Toan Ki kelabakan.</p>
<p>Ia lihat roda air raksasa rumah gilingan itu masih terus berputar terdorong oleh arus air sungai, serupa pikirannya yang juga berputar terus tanpa berdaya.</p>
<p>Dalam pada itu terdengar salah seorang jago bangsa Han tadi sedang berseru, &#8220;Menurut perintah Ciangkun, nona cilik itu sangat pintar, harus ditawannya hidup-hidup dan jiwanya tidak boleh diganggu, maka kalian jangan membakar dulu &#8230;.&#8221;</p>
<p>Lalu ia berteriak pula, &#8220;Hai, anak jadah dan nona cilik itu, lekas kalian turun kemari dan menyerahkan diri, kalau tidak, terpaksa kami menyalakan api biar kalian berdua terbakar hidup-hidup bagai babi panggang.&#8221;</p>
<p>Berulang ia berteriak tiga kali, tapi Toan Ki dan Giok-yan tetap tidak menggubris, segera orang itu menyalakan api, ia menyulut segebung jerami dan diangkat tinggi ke atas, lalu mengancam pula, &#8220;Kalian mau menyerah atau tidak? Jika tidak, terpaksa aku mulai membakar.&#8221;</p>
<p>Sembari berkata, ia ayun obornya dengan gaya hendak melempar ke onggok jerami.</p>
<p>Melihat keadaan sudah gawat, segera Toan Ki berbisik kepada Giok-yan, &#8220;Biar kuturun untuk melabrak mereka.&#8221;</p>
<p>Segera ia melangkah ke atas roda air yang sedang berputar itu.</p>
<p>Roda air itu terbuat dari kayu, besarnya tidak kepalang, bulat tengahnya paling sedikit ada tiga meter. Begitu Toan Ki melangkah ke ujung gigi roda air itu, tangannya lantas memegang ruji roda dan mengikuti putaran roda untuk turun ke bawah.</p>
<p>Jago Se He berbangsa Han tadi masih berteriak-teriak menyuruh Toan Ki dan Giok-yan menyerahkan diri saja, tak terduga diam-diam Toan Ki sudah turun dari loteng sebelah sana, tanpa berkata lagi pemuda itu lantas tudingkan jarinya dan menutuk punggung orang itu.</p>
<p>Yang digunakan Toan Ki adalah gaya ilmu pedang Siau-yang-kiam dari Lak-meh-sin-kiam yang lihai, maksudnya sekaligus merobohkan musuh. Siapa tahu serangan ini dilakukan secara membokong, lebih dulu ia sendiri sudah kebat-kebit, tenaga kurang dan semangat tak ada, tenaga dalam dan hawa murni tak dapat dikerahkan.</p>
<p>Hal ini disebabkan dia tidak paham dasar ilmu silat, maka permainan Lak-meh-sin-kiam itu selalu tergantung keadaan secara kebetulan saja. Sebaliknya sekarang ia sengaja hendak menyerang, tapi justru tenaga murni susah dikerahkan. Meski dia ulangi tutukannya beberapa kali, namun hasilnya tetap nihil.</p>
<p>Ketika mendadak merasa punggungnya seperti disenggol sesuatu dengan perlahan, dengan kaget orang Han itu menoleh, maka dilihatnya Toan Ki yang disangkanya masih di atas loteng itu kini sudah di belakangnya sambil menuding ke arahnya.</p>
<p>Karena sudah menyaksikan cara Toan Ki membinasakan ketiga orang tadi, ia sangka pemuda itu tentu sedang main ilmu sihir apa lagi untuk menyerang dirinya, maka dengan cepat ia melompat ke samping.</p>
<p>Dalam pada itu Toan Ki coba-coba menutuk pula sekali, tapi tetap tiada sesuatu suara dan tenaga, sebaliknya orang itu sudah lantas membentak, &#8220;Anak kurang ajar, tanganmu tuding-tuding apa?&#8221;</p>
<p>Berbareng tangan kanannya terus mencengkeram kepala Toan Ki.</p>
<p>Cepat Toan Ki mengkeret mundur sambil memegangi ruji roda air, maka ia terangkat ke atas oleh roda itu hingga cengkeraman orang salah hantam di atas gigi roda, &#8220;crat&#8221; remukan kayu bertebaran, satu sayap gigi roda itu rompal kena cengkeramannya yang kuat itu.</p>
<p>&#8220;Jika kau tempur dia lagi, asal mengisar ke belakangnya dan menyerang &#8216;Ci-yang-hiat&#8217; di bagian punggungnya, tentu dia akan celaka,&#8221; demikian Giok-yan memberi petunjuk lagi. &#8220;Orang ini adalah murid Hou-jiau-bun (silat cakar harimau) di Cinlam, kepandaiannya masih belum cukup masak untuk melindungi Ci-yang-hiat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus jika begitu!&#8221; seru Toan Ki dengan girang. Segera ia membonceng putaran roda air dan turun pula ke ruangan rumah gilingan itu.</p>
<p>Tapi sekali ini mereka sudah berjaga lebih dulu, belum lagi Toan Ki menginjak tanah, segera ada tiga orang mendahului menyerbu maju hendak menangkapnya.</p>
<p>&#8220;He, he, jangan, jangan! Cayhe hanya sendirian, dengan sendirinya tak dapat melawan orang banyak, aku cuma ingin menempur dia seorang saja,&#8221; seru Toan Ki sambil goyang-goyang kedua tangannya. Berbareng ia mengegos ke samping dengan langkah &#8220;Leng-po-wi-poh&#8221; yang lincah, hanya beberapa kali menyelinap saja ia sudah memutar sampai di belakang laki-laki tadi, segera ia membentak, &#8220;Kena!&#8221;</p>
<p>Dan sekali ia menutuk, &#8220;crit&#8221;, cepat Ci-yang-hiat orang itu tertutuk, tanpa bersuara orang itu terus roboh dan tak berkutik lagi.</p>
<p>Habis membunuh seorang, maksud Toan Ki hendak membonceng roda air untuk naik ke atas loteng lagi, namun sudah terlambat, tahu-tahu jalan mundurnya telah dicegat oleh seorang jago Se He, bahkan goloknya terus membacok ke arah Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Ai, celaka!&#8221; seru Toan Ki. &#8220;Musuh telah memotong jalan mundurku, kini aku terkepung di tengah, tamatlah riwayatku!&#8221;</p>
<p>Berbareng ia terus melangkah ke kiri hingga bacokan musuh mengenai tempat kosong.</p>
<p>Pada lain saat, ke-11 orang di dalam rumah gilingan itu sudah mengepung rapat di sekeliling Toan Ki, senjata mereka terus bekerja berbareng, lebih-lebih ketiga tokoh It-bin-tong yang lihai itu, asal terkena pukulan atau tendangannya, betapa pun jiwa Toan Ki pasti akan melayang.</p>
<p>Keruan pemuda itu berkelit kian kemari dengan kelabakan sambil berteriak-teriak, &#8220;Wah, celaka nona Ong, sampai berjumpa pada jelmaan yang akan datang! Aku sendiri tentu akan terbinasa, biarlah aku menantikan engkau di pintu gerbang akhirat saja!&#8221;</p>
<p>Walaupun mulutnya berteriak-teriak, tapi langkahnya tidak pernah kendur, jalannya sangat cepat dan gayanya indah hingga Giok-yan yang mengikuti ilmu langkahnya itu sampai termangu-mangu kesima.</p>
<p>&#8220;Hei, Toan-kongcu, apakah caramu melangkah itu adalah &#8216;Leng-po-wi-poh&#8217;? Aku hanya pernah mendengar namanya, tapi tidak tahu caranya,&#8221; seru Giok-yan tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;Ya, ya, benar, inilah Leng-po-wi-poh!&#8221; sahut Toan Ki dengan girang. &#8220;Jika nona ingin lihat, biarlah kumulai lagi dari awal. Tapi apakah dapat berlangsung hingga selesai atau tidak, hal ini tergantung nasib buah kepalaku ini.&#8221;</p>
<p>Habis itu, terus saja ia mulai dengan langkah pertama dari ilmu langkah yang pernah dipelajarinya dari cermin perunggu di dalam gua di dasar sungai itu. Dan meski ke-11 orang itu masih terus menghujani dia dengan pukulan, tendangan, dan serangan-serangan senjata, toh tetap tiada mampu menyenggol ujung bajunya sekalipun.</p>
<p>Oleh karena sampai sekian saat masih belum dapat membekuk Toan Ki, ke-11 orang itu menjadi kelabakan sendiri dan berkaok-kaok di antara mereka sendiri, &#8220;Hai, kau cegat sebelah sana!&#8221; &#8211; &#8220;Awas, kau jaga sebelah timur, jangan memberi ampun padanya!&#8221; &#8211; Dan lain saat lantas terdengar teriakan seorang, &#8220;Wah, celaka, lolos lagi!&#8221;</p>
<p>Begitulah selangkah demi selangkah Toan Ki terus berputar-putar di samping roda air dan lumpang padi. Dan biarpun Giok-yan seorang gadis pintar, tetap ia tidak dapat memahami ilmu langkah itu, serunya kemudian, &#8220;Sudahlah, lebih penting kau hindarkan serangan musuh, tak usah mempertunjukkan kepadaku lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi kalau sekarang aku tidak pertunjukkan, bila jiwaku melayang, tentu engkau takkan dapat melihatnya lagi,&#8221; sahut Toan Ki. Dan tanpa menghiraukan mati-hidup sendiri ia terus melanjutkan Leng-po-wi-poh itu hingga langkah terakhir.</p>
<p>Di luar perhitungannya, justru karena ketolol-tololannya itulah malah menyelamatkan jiwanya. Kalau Toan Ki umpamanya berkelit dengan sengaja ketika diserang, pertama ia tidak paham ilmu silat, kedua, jumlah musuh ada 11 orang, ia tentu tidak dapat mengelakkan diri. Tapi kini ia tidak gubris dari mana datangnya serangan, ia melainkan terus melangkah menurutkan iramanya sendiri, dengan demikian menjadi seperti ke-11 orang itu sedang menguber untuk menyerang bersama. Dan &#8220;Leng-po-wi-poh&#8221; itu justru sangat aneh, setiap langkahnya selalu menuju ke arah yang sama sekali tak terduga oleh orang, tampaknya ia melangkah ke kiri, tapi tahu-tahu di sebelah lain. Semakin cepat ke-11 orang itu menyerang, namun sebagian besar serangan mereka mengenai kawan sendiri malah dan sebagian lain selalu mengenai tempat kosong.</p>
<p>Setelah mengikuti sejenak, segera Giok-yan tahu akan sebab musababnya, serunya, &#8220;Toan-kongcu, langkahmu itu sangat bagus dan ruwet pula, seketika aku masih belum jelas, paling baik kalau habis itu engkau suka mengulangi sekali lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, apa yang kau inginkan, pasti kuturuti,&#8221; sahut Toan Ki. Dan habis menjalankan 8 kali 8 sama dengan 64 langkah itu, benar juga ia lantas memulai kembali.</p>
<p>Diam-diam Giok-yan pikir sendiri, &#8220;Sementara ini jiwa Toan-kongcu takkan berhalangan, tapi cara bagaimana supaya kami bisa lolos dari sini? Aku belum lagi memakai baju, mana aku dapat keluar begini saja? Setelah keracunan, tenagaku sedikit pun tidak ada, untuk memegang baju saja lemas rasanya, jalan satu-satunya adalah memberi petunjuk kepada Toan-kongcu untuk membinasakan ke-11 musuh itu.&#8221;</p>
<p>Sebab itulah ia tidak memerhatikan langkah Toan Ki lagi, tapi menyelami kepandaian ke-11 orang musuh. Ia lihat kedelapan busu Se He itu ilmu silatnya terbagi dua aliran, semuanya berasal dari ilmu silat Tionggoan, sedang kepandaian asli jago bangsa Han itu pun dapat diketahuinya, hanya orang Se-ek itulah tampaknya kaku gerak-geriknya, tapi mendadak bisa lincah dan gesit hingga sukar diketahui sumber asli kepandaiannya.</p>
<p>Dan selagi Giok-yan memerhatikan gerakan orang Se-ek itu dengan harapan dapat mengetahui sumber ilmu silatnya, sekonyong-konyong terdengar suara &#8220;keletak&#8221; sekali, ada orang sedang pasang tangga kayu tadi dan hendak naik ke atas loteng.</p>
<p>Kiranya sesudah sekian lama Toan Ki masih susah dibekuk, segera jago Se He yang merupakan pimpinan rombongan itu memberi perintah kepada salah seorang bawahannya agar menangkap dulu si gadis. Keruan Giok-yan menjerit kaget.</p>
<p>Waktu Toan Ki mendongak, ia lihat busu bangsa Se He itu sudah mulai naik ke atas tangga. Cepat ia tanya, &#8220;Serang tempat mana, nona Ong?&#8221;</p>
<p>&#8220;Paling baik cengkeram bagian &#8216;Ci-sit-hiat&#8217;!&#8221; sahut Giok-yan.</p>
<p>Toan Ki menurut, dengan langkah lebar ia mendekati busu yang naik tangga itu, sekali cengkeram &#8220;Ci-sit-hiat&#8221; bagian punggung, kontan orang itu kena dipegangnya, tapi karena tidak tahu harus diapakan tubuh orang, segera ia lemparkannya ke samping sekenanya. Dan sungguh sangat kebetulan, lemparan itu dengan tepat menjebloskan kepala busu itu ke dalam lumpang batu.</p>
<p>Rumah gilingan itu terdiri dari sebuah lumpang batu yang besar dengan alu batu pula yang digerakkan oleh roda air, sejak tadi lumpang itu ditumbuk oleh alu dan butiran padi di dalam lumpang sebenarnya sudah menjadi bubuk, tapi karena tiada yang mengurus, antan batu itu masih terus menumbuk tiada hentinya. Kebetulan tubuh busu itu dilemparkan Toan Ki ke dalam lumpang, ketika antan batu menumbuk pula ke bawah, &#8220;prak&#8221;, tanpa ampun lagi kepala busu itu tertumbuk hancur luluh bagai pepesan.</p>
<p>Di lain pihak tanpa peduli nasib kawannya itu, jago Se He tadi kembali mendesak anak buahnya lagi hingga ada tiga orang menyusul naik ke tangga.</p>
<p>&#8220;Bereskan dengan cara yang sama!&#8221; seru Giok-yan khawatir.</p>
<p>Benar juga, sekali cengkeram, kembali Toan Ki dapat memegang &#8220;Ci-sit-hiat&#8221; salah seorang terus dilemparkan pula ke dalam lumpang. Tapi sekali ini dengan sengaja hingga lemparannya itu malah kurang jitu, badan kaki busu itu yang terjeblos ke tengah lumpang, dan ketika antan batu menumbuk, terdengarlah jeritan ngeri busu itu, kakinya remuk, tapi tidak lantas mati,</p>
<p>Dan pada saat Toan Ki melengak oleh kejadian itu, sementara itu dua busu yang lain sudah mulai melangkah ke atas loteng.</p>
<p>&#8220;E-eh, tidak boleh, lekas turun!&#8221; seru Toan Ki dan jari terus menuding dan menutuk serabutan. Tak terduga, karena gugupnya, hawa murni dalam tubuh ikut bergolak, daya Lak-meh-sin-kiam lantas bekerja lagi, &#8220;crit-crit&#8221; dua kali, dengan tepat punggung kedua busu itu, kena tertusuk dan kontan terjungkal ke bawah.</p>
<p>Melihat Toan Ki hanya tuding-tuding dari jauh lantas dapat membunuh orang, kepandaian demikian dengar pun tidak pernah, keruan jago-jago Se He itu ketakutan. Tapi suruh mereka melarikan diri, mereka pun penasaran, manakah jago It-bin-tong seperti mereka mengeroyok seorang pemuda ingusan saja tidak mampu menang, hal ini kalau diketahui orang, ke mana muka mereka akan ditaruh?</p>
<p>Dalam pada itu Giok-yan tetap mengikuti pertarungan di bawah loteng dengan jelas, ia lihat musuh tinggal tujuh orang, tapi tiga di antaranya sangat lihai, lebih-lebih jago Se He yang membentak-bentak dan memberi perintah itu agaknya merupakan pimpinan rombongan, segera serunya, &#8220;Toan-kongcu, lebih dulu bunuh orang berbaju kuning dan bertopi kulit itu, carilah jalan untuk menghantam &#8216;Giok-cim&#8217; dan &#8216;Thian-cu-hiat&#8217; di belakang kepalanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik,&#8221; sahut Toan Ki terus menerjang ke arah jago Se He itu.</p>
<p>Diam-diam orang Se He itu terperanjat, ia heran dari mana nona cilik itu tahu kedua hiat-to yang memang menjadi ciri kematiannya itu? Sementara itu dilihatnya Toan Ki telah menerjang tiba, cepat ia tebas dulu dengan goloknya agar pemuda itu tidak berani mendekat.</p>
<p>Beberapa kali Toan Ki menggeser tempat dan menerjang maju, tapi selalu teralang, bahkan hampir terluka oleh senjata lawan. Segera ia berteriak, &#8220;Nona Ong, orang ini sangat lihai, aku tidak dapat mencapai belakangnya.&#8221;</p>
<p>Tapi Giok-yan lantas memberi petunjuk lagi, &#8220;Dan tempat kelemahan orang yang berbaju kelabu itu, adalah &#8216;Jin-ging-hiat&#8217; di tenggorokannya. Adapun si orang berbaju hijau itu aku belum dapat menyelami sumber kepandaiannya, boleh coba-coba kau tutuk dadanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik,&#8221; sahut Toan Ki. Dan benar juga ia terus menuding ke dada orang.</p>
<p>Meski gaya tutukannya itu tepat, namun sedikit pun tidak bertenaga dalam, dan sudah tentu hal ini tak diketahui orang Se-ek yang berbaju hijau itu, cepat ia mendak untuk menghindarkan tiga kali tutukan Toan Ki.</p>
<p>Ketika pemuda itu menutuk pula untuk keempat kalinya, mendadak ia meloncat tinggi ke atas, habis itu bagai elang menyambar anak ayam ia terus menukik ke bawah, dengan tenaga hantaman yang hebat, antero tubuh Toan Ki terkurung di bawah pukulan mautnya.</p>
<p>Seketika Toan Ki merasa napasnya sesak dan kepala pening, saking ngeri membayangkan nasibnya jika kena serangan musuh, Toan Ki pejamkan mata dengan tangan menutuk serabutan ke atas, maka terdengarlah suara &#8220;cit-cit&#8221; berulang, Lak-meh-sin-kiam yang terdiri dari Siau-siang-kiam, Siang-yang-kiam, Tiong-ciong-kiam, Koan-ciong-kiam, Siau-ciong-kiam, dan Siau-tik-kiam, sekaligus telah dilontarkan seluruhnya.</p>
<p>Dalam keadaan kepepet dan khawatir, tenaga dalam Toan Ki sekali ini benar-benar bekerja dengan hebat.</p>
<p>Maka tidak ampun lagi badan orang Se-ek itu terluka enam lubang, dan karena hantamannya ke bawah itu tak dapat ditahan, &#8220;plak&#8221;, pundak Toan Ki juga kena digebuk sekali. Tatkala itu hawa murni dalam tubuh pemuda itu lagi bergolak dengan hebat, biarpun hantaman itu sangat keras namun daya tolak badan Toan Ki telah mematahkan serangan itu hingga tidak terluka apa-apa.</p>
<p>Sudah tentu Giok-yan tidak tahu apakah pemuda itu terluka atau tidak, maka dengan khawatir ia tanya, &#8220;Toan-kongcu, bagaimana, terluka tidak?&#8221;</p>
<p>Waktu Toan Ki membuka mata, ia lihat jago Se-ek itu sudah menggeletak, enam lubang kecil di dada dan perutnya memancurkan darah, mukanya beringas, matanya mendelik, napasnya masih kempas-kempis belum lagi mati. Hati Toan Ki berdebar saking ketakutan, serunya, &#8220;Bukan maksudku hendak membunuhmu, tapi engkau sendiri yang menyerang diriku.&#8221;</p>
<p>Sembari berkata, langkahnya tidak pernah berhenti, ia masih terus berlari ke sini dan menyusup ke sana sambil kedua tangan berulang memberi salam kepada sisa ketujuh orang itu, &#8220;Para saudara yang gagah, sejak dulu aku tidak bermusuhan dengan kalian, kelak juga tidak akan dendam, maka haraplah kalian bermurah hati, pergilah sekarang juga. Aku &#8230; aku &#8230; sungguh tidak berani membunuh orang lagi. Sudah &#8230; sudah sekian banyak orang mati, hati &#8230; hatiku sangat sedih. Ai, benar-benar terlalu kejam. Sudahlah lekas kalian pergi saja, aku Toan Ki mengaku kalah, harap kalian bermurah hati.&#8221;</p>
<p>Ketika mendadak ia berputar ke sana, tiba-tiba dilihatnya di samping pintu telah berdiri mula seorang jago Se He yang entah kapan sudah masuk ke situ. Perawakan orang ini sedang, pakaiannya serupa jago Se He yang lain, anehnya parasnya ternyata kuning pucat, sedikit pun tidak berperasaan hingga mirip wajah mayat.</p>
<p>Hati Toan Ki terkesiap, pikirnya, &#8220;Manusia atau setankah dia? Jangan-jangan dia adalah &#8230; adalah arwah jago Se He yang kubinasakan tadi dan kini gentayangan kemari?&#8221;</p>
<p>Berpikir demikian, ia mengirik, dengan suara gemetar ia tanya, &#8220;Siapa &#8230; siapakah kau? Mau apa datang ke &#8230; ke sini?!&#8221;</p>
<p>Namun jago Se He itu hanya berdiri tegak saja tanpa menjawab dan tidak bergerak.</p>
<p>Sambil menghindarkan serangan seorang lawan, segera Toan Ki pegang &#8220;Ci-sit-hiat&#8221; seorang busu terus dilemparkan ke arah orang aneh itu. Namun sedikit mengegos, &#8220;blang&#8221;, kepala busu yang dilemparkan itu tertumbuk pada dinding hingga pecah berantakan.</p>
<p>Melihat orang itu dapat bergerak, Toan Ki menarik napas lega, katanya, &#8220;Ehm, engkau adalah manusia dan bukan setan.&#8221;</p>
<p>Melihat kawannya makin lama makin sedikit, ketiga busu bangsa Se He mulai mengkeret nyalinya, segera mereka bermaksud melarikan diri, seorang di antaranya lantas mendekati pintu hendak mendorong daun pintu.</p>
<p>&#8220;Mau apa kau?&#8221; bentak jago Se He pilihan It-bin-tong tadi. Berbareng ia serang tiga kali kepada Toan Ki.</p>
<p>Toan Ki sendiri sudah tiada nafsu berkelahi lagi, ketika sinar golok musuh berkilauan di depan matanya dan setiap saat mungkin akan berkenalan dengan tubuhnya, ia menjadi ketakutan dan berteriak-teriak, &#8220;Hai, hai, mengapa engkau begini kejam, awas kalau sebentar kuhantam Giok-cim-hiat dan Thian-cu-hiat di badanmu, tentu kau akan celaka, ayolah lekas berhenti dan pergi saja demi kebaikan bersama!&#8221;</p>
<p>Tapi bukannya menurut, sebaliknya orang itu semakin nekat, serangannya semakin bertubi-tubi dan selalu mengancam tempat berbahaya di tubuh Toan Ki. Untung kaki pemuda itu pun cukup cepat menggeser hingga setiap serangan dapat dihindarkan.</p>
<p>Jago bangsa Han itu paling licin, tadi waktu keadaan terdesak, ia selalu berada di belakang. Kini demi mendengar Toan Ki berulang memohon damai, kecuali menghindar belaka, untuk balas menyerang sudah tidak mampu.</p>
<p>Maka timbul segera akal licik jago bangsa Han itu, ia mendekati lumpang batu dan meraup dua genggam bubuk beras yang sudah tertumbuk halus terus dihamburkan ke muka Toan Ki.</p>
<p>Berkat langkah Toan Ki yang cepat dan aneh itu, dengan sendirinya taburan itu tidak kena sasarannya. Tapi menyusul orang Han itu menghamburkan dua genggam lagi, bahkan ia tambahi pula dua genggam lain hingga seketika ruangan penuh debu bubuk beras bagai kabut tebal.</p>
<p>&#8220;Wah, celaka, celaka! Mataku tidak dapat memandang lagi!&#8221; demikian Toan Ki berteriak-teriak.</p>
<p>Giok-yan juga tahu keadaan berbahaya. Hal ini dapat dimengerti, jika Toan Ki diserang oleh jago-jago silat kelas tinggi, ia justru dapat menghindarkan diri dengan Leng-po-wi-poh yang aneh. Tapi kini ruangan itu penuh debu beras, jika terjadi serangan serabutan dari musuh-musuh itu tentu Toan Ki akan celaka malah.</p>
<p>Padahal sejak tadi kalau musuh menyerang dengan mata tertutup umpamanya, boleh jadi hanya beberapa kali gebrak saja Toan Ki sudah dirobohkan.</p>
<p>Begitulah karena pandangan Toan Ki kabur, tanpa pikir lagi ia melompat ke tepi roda air, ia pegang ruji roda dan membonceng putaran ke atas.</p>
<p>Maka terdengarlah suara jeritan ngeri dua kali, dua busu bangsa Se He tadi telah salah terbunuh oleh kawan sendiri. Menyusul terdengar pula &#8220;trang-tring&#8221; dua kali, lantas ada orang berseru, &#8220;Hai, ini akulah!&#8221;</p>
<p>Menyusul yang lain pun berteriak, &#8220;Awas, kawan sendiri.&#8221;</p>
<p>Kiranya senjata antara jago-jago bangsa Han dan Se He itu telah saling beradu, untung mereka masih sempat mengerem. Tapi menyusul lantas terdengar lagi jeritan ngeri yang panjang, busu terakhir entah kena tendangan siapa hingga mencelat keluar jendela, jeritan ngeri sebelum ajalnya itu membuat Toan Ki bergidik hingga gemetar. Dengan suara terputus-putus ia berseru pula, &#8220;Hei &#8230; hei, kalian hanya tinggal dua orang, buat apa mesti berkelahi lagi? Orang kalah paling-paling minta ampun, biarlah aku menyembah padamu dan minta ampun, harap kalian pergi saja.&#8221;</p>
<p>Dengan mengincar tempat datangnya suara Toan Ki itu, segera jago bangsa Han menimpukkan sebatang piau, namun Toan Ki sudah turun pula terbawa oleh roda air. Karena itu sasaran piau jadi meleset, &#8220;plok&#8221;, hanya ujung lengan baju Toan Ki yang terpantek pada rangka roda kayu itu.</p>
<p>Toan Ki terkejut, ia pikir bisa celaka kalau musuh terus menghujani dirinya dengan am-gi, ia pasti tak sanggup berkelit. Dan karena rasa jerinya itu, ia menjadi lemas, tubuh yang masih menggelantung di rangka roda itu lantas terperosot ke bawah, lengan baju yang terpantek piau itu sobek dan ia pun terbanting ke lantai.</p>
<p>Di antara kabut tebal itu samar-samar orang Han itu dapat melihat apa yang terjadi, maka cepat ia menubruk maju untuk menangkap Toan Ki.</p>
<p>Toan Ki masih ingat petunjuk Giok-yan tadi agar menutuk &#8220;Jin-ging-hiat&#8221; orang. Tapi pertama karena dalam keadaan gugup, kedua, walaupun tempat-tempat hiat-to sudah pernah dihafalkannya namun tidak pernah dilatihnya dengan baik, dalam keadaan bingung tutukannya menjadi kurang jitu, agak ke kiri dan jauh menceng ke bawah pula, maka yang tertutuk adalah &#8220;Khi-koh-hiat&#8221; di bagian pinggang.</p>
<p>&#8220;Khi-koh-hiat&#8221; itu adalah hiat-to yang membikin orang tertawa, maka begitu tertutuk, tak tertahan lagi orang Han itu terus terbahak-bahak. Namun pedangnya berturut-turut masih menyerang pula walaupun mulutnya tiada hentinya tertawa.</p>
<p>&#8220;Yong-heng, apa yang kau tertawakan?&#8221; segera jago Se He itu menegur.</p>
<p>Sudah tentu orang Han itu tak dapat menjawab, sebaliknya tertawa lebih keras.</p>
<p>Karena tidak tahu duduknya perkara, orang Se He itu menjadi gusar, dampratnya, &#8220;Di hadapan musuh, kau main gila apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahaha &#8230; aku &#8230; hahaha &#8230; ini &#8230; hahahaha &#8230;.&#8221; begitulah orang Han itu masih terus tertawa, berbareng pedangnya menusuk pula.</p>
<p>Lekas Toan Ki mengisar ke kiri untuk menghindar. Di luar dugaan, karena kabut yang tebal itu, jago Se He itu pun tidak dapat memandang dengan terang, kebetulan ia pun sedang menubruk ke arah sini, maka terjadilah tabrakan di antara mereka berdua.</p>
<p>Jago Se He itu adalah ahli kim-na-jiu, mahir ilmu menangkap. Maka begitu menubruk badan Toan Ki, reaksinya sangat cepat, sekali tangannya bergerak, segera dada Toan Ki kena dijambret olehnya. Ia tahu kepandaian Toan Ki yang diandalkan adalah langkah kakinya, sekali ia dapat memegangnya, kesempatan ini tidak disia-siakan lagi, segera ia membuang senjatanya dan tangan lain hendak dipakai mencengkeram lengan Toan Ki sekuat-kuatnya.</p>
<p>Keruan Toan Ki mengeluh dan meringis kesakitan. Ia coba meronta, namun cengkeraman orang itu bagaikan tanggam kuatnya, semakin ia meronta, semakin kencang pegangan orang Se He itu.</p>
<p>Melihat kesempatan baik, terus saja jago bangsa Han tadi angkat pedangnya menusuk ke punggung Toan Ki sambil tetap tertawa.</p>
<p>Diam-Diam orang Se He itu berpikir jangan-jangan kawannya itu bermaksud tidak baik, kalau tusukannya menembus badan Toan Ki dan didorong terus, bukankah badan sendiri yang merapat pemuda itu juga akan ikut terluka? Karena itu cepat ia seret Toan Ki mundur selangkah.</p>
<p>Sambil masih terbahak-bahak orang Han itu mendesak maju dan hendak menusuk pula, tapi mendadak terdengar suara &#8220;plok&#8221; sekali, sayap roda air itu tepat menghantam belakang kepalanya hingga ia jatuh kelengar. Bahkan waktu robohnya, kembali dadanya tertumbuk sekali lagi oleh gigi roda hingga terbinasa seketika.</p>
<p>Sementara itu orang Se He itu masih terus menyikap kencang-kencang badan Toan Ki. Ia pikir kalau pemuda ini digencet hingga sesak napasnya, tentu sebentar akan menyerah tanpa berkutik. Sebaliknya tangan Toan Ki yang masih bisa bergerak itu terus menuding dan menutuk serabutan, tapi semuanya mengenai tempat kosong.</p>
<p>Giok-yan menjadi khawatir melihat Toan Ki tak dapat meloloskan diri dari pegangan lawan. Ada maksudnya hendak maju membantu, tapi setelah keracunan, anggota badannya sudah tidak mau menurut perintah lagi, bahkan tangannya pun susah diangkat, jangankan lagi hendak menolong orang. Lagi pula di samping pintu masih berdiri seorang jago Se He dengan wajahnya yang menyeramkan itu, asal dia turun tangan sekali pasti jiwa Toan Ki akan melayang segera.</p>
<p>Karena tak berdaya, akhirnya Giok-yan berteriak-teriak, &#8220;Sudahlah, jangan kalian bikin susah Toan-kongcu, aku &#8230; aku menyerah dan akan ikut pergi bersama kalian.&#8221;</p>
<p>Waktu itu Toan Ki sendiri sangat ketakutan, tangannya menuding dan menutuk tak keruan, padahal kalau dia bisa berlaku tenang dan mengendurkan badannya, tentu Cu-hap-sin-kang yang mengeram di dalam badannya pasti akan menyedot tenaga jago Se He itu, dan tanpa dia mencapekkan diri, tentu musuh akan lemas sendiri. Tapi karena ketakutan hingga tenaga dalamnya telah terhimpun di antara jari-jarinya, sedangkan tutukannya selalu mengenai tempat kosong.</p>
<p>Begitulah dalam keadaan bahaya dan napasnya terasa semakin sesak, sekonyong-konyong terdengar suara &#8220;crit-crit&#8221; beberapa kali, tiba-tiba jago Se He itu menjerit perlahan, tangannya lantas mengendur dan akhirnya melambai ke bawah, badannya menjadi lemas juga dan bersandar di dinding dengan kepala terkulai.</p>
<p>Keruan Toan Ki sangat heran, ia coba periksa keadaan orang, ia lihat tepat di &#8220;Giok-cim-hiat&#8221; di belakang kepalanya ada sebuah lubang kecil dan dari situ memancurkan darah segar. Lukanya itu terang adalah akibat kena serangan Lak-meh-sin-kiamnya.</p>
<p>Toan Ki menjadi bingung, ia tidak tahu bahwa di saat gawat tadi, ketika jarinya menuding ke atas, hingga tenaga murninya yang bergolak itu telah menerjang dinding terus membalik dan secara kebetulan mengenai belakang kepala lawan, sebab Giok-cim-hiat di belakang kepala itu memang merupakan tempat paling lemah bagi jago Se He itu, walaupun cuma tenaga membalik juga telah membikin jiwanya melayang. Giok-cim-hiat di belakang kepala memang merupakan tempat lemah bagi Se He itu, walaupun cuma tenaga membalik juga telah membikin jiwanya melayang.</p>
<p>Dengan heran dan girang segera Toan Ki berteriak, &#8220;Aha, nona Ong, semua musuh sudah terbinasa!&#8221;</p>
<p>Nyata ia lupa bahwa di samping pintu sana masih berdiri seorang musuh.</p>
<p>Maka tiba-tiba ia dengar suara dingin menyahut, &#8220;Hm, belum tentu telah mati semua!&#8221;</p>
<p>Dalam kagetnya segera Toan Ki menoleh, ia lihat pembicara itu adalah jago Se He yang mukanya membeku tanpa perasaan itu. Ia pikir kalau orang berani maju, tentu juga akan terbinasa percuma, maka dengan tertawa ia berkata, &#8220;Sudahlah, lekas kau pulang saja, aku takkan membunuhmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, apakah engkau mempunyai kepandaian yang cukup untuk membunuh aku?&#8221; sahut orang itu dengan angkuh.</p>
<p>Sesungguhnya Toan Ki memang tidak ingin membunuh lagi, maka sahutnya dengan rendah hati, &#8220;Ya, mungkin aku bukan tandinganmu, maka sudilah engkau bermurah hati, ampunilah aku ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ucapanmu ini sedikit pun tidak ada maksud minta ampun dengan sungguh-sungguh,&#8221; ujar orang itu. &#8220;Padahal It-yang-ci dan Lak-meh-sin-kiam keluarga Toan di Tayli tersohor di seluruh jagat, ditambah lagi petunjuk-petunjuk nona ini, bukankah engkau sudah terhitung jago nomor satu di dunia ini? Biarlah paku belajar kenal juga dengan kepandaianmu.&#8221;</p>
<p>Namun watak Toan Ki memang tidak suka ilmu silat, kalau ada sekian banyak orang terbunuh olehnya, soalnya adalah karena terpaksa, kalau bicara tentang berkelahi sungguh-sungguh, sedapat mungkin ia ingin menghindari, apalagi ia dengar kata-kata orang ini agak lain daripada yang lain, tentu bukan sembarangan jago silat, sebaiknya jangan lagi bertempur dengan dia.</p>
<p>Maka cepat ia menjawab dengan sungguh-sungguh sambil memberi hormat, &#8220;Teguran saudara memang benar, maksud permintaan ampunku kurang hormat dan tidak jujur, biarlah di sini aku minta diberi maaf. Selamanya aku tidak pernah belajar silat, tadi dapat kurobohkan lawan, sesungguhnya hanya secara kebetulan saja, mana aku berani menantang padamu pula.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hehe, engkau mengaku tidak pernah belajar silat, tapi mampu membinasakan empat jago It-bin-tong negeri Se He dan membunuh pula 11 orang busu kami,&#8221; demikian jengek orang aneh itu. &#8220;Dan bila engkau belajar ilmu silat, bukankah tiada seorang jago silat lagi di kolong langit ini mampu menandingimu?&#8221;</p>
<p>Melihat di sekitarnya bergelimpangan mayat, semuanya berlumuran darah, hati Toan Ki menjadi pedih, katanya sambil tersendat, &#8220;Ai, mengapa aku mem &#8230; membunuh sebanyak ini? Padahal sebenarnya aku tidak &#8230; tidak ingin membunuh orang, bagaimana baiknya ini?&#8221;</p>
<p>Orang aneh itu hanya tertawa dingin saja sambil melirik hina kepada Toan Ki untuk menjajaki apakah ucapan pemuda itu benar-benar timbul dari hati nuraninya?</p>
<p>Toan Ki lantas berkata pula sambil mencucurkan air mata, &#8220;Ai, di rumah orang-orang ini tentu punya anak-istri, tadinya mereka semua sehat dan kuat, tapi sekarang kubinasakan, bagaimana aku harus &#8230; harus bertanggung jawab kepada keluarga mereka?&#8221;</p>
<p>Berkata sampai di sini, bukan saja ia menangis tersedu-sedu, bahkan sambil memukul dada sendiri dan menyambung pula dengan terguguk-guguk, &#8220;Belum tentu mereka bermaksud membunuh diriku, mereka cuma menurut perintah atasan tutuk menangkapku, selamanya aku pun tidak kenal mereka, mengapa aku turun tangan keji?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, jangan pura-pura seperti kucing menangisi tikus, apakah dosamu akan terhapus begini saja?&#8221; jengek jago Se He itu pula.</p>
<p>&#8220;Ya, memang benar,&#8221; kata Toan Ki sambil mengusap air mata, &#8220;orangnya kan sudah terbunuh, dosaku juga sudah terang, apa gunanya menangis pula? Aku harus mengubur secara baik-baik jenazah mereka ini.&#8221;</p>
<p>Mendengar pemuda itu hendak mengubur belasan jenazah itu, Giok-yan menjadi tidak sabar menunggu, segera ia berseru, &#8220;Toan-kongcu, mungkin musuh akan memburu kemari lagi, sebaiknya kita berusaha meninggalkan tempat ini selekasnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, benar,&#8221; sahut Toan Ki terus putar tubuh hendak naik tangga.</p>
<p>&#8220;Kau belum lagi membunuh aku, mengapa akan pergi begini saja,&#8221; tanya orang aneh itu tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;Tidak, aku tak boleh membunuhmu, lagi pula aku pun bukan tandinganmu,&#8221; sahut Toan Ki sambil menggeleng kepala.</p>
<p>&#8220;Kita kan belum lagi bergebrak, dari mana kau tahu bukan tandinganku?&#8221; ujar orang itu. &#8220;Nona Ong telah mengajarkan &#8216;Leng-po-wi-poh&#8217; padamu, hehe, langkah itu memang sangat hebat.&#8221;</p>
<p>Sebenarnya Toan Ki hendak menerangkan bahwa Leng-po-wi-poh itu bukan ajaran Giok-yan, tapi segera terpikir olehnya tidak perlu beri tahukan hal itu pada orang luar, maka jawabnya, &#8220;Ya, aku tidak mengerti ilmu silat apa segala, tapi berkat petunjuk nona Ong, maka aku bisa menyelamatkan diri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan bila kau hendak membunuh aku, terpaksa aku yang akan membunuhmu,&#8221; kata orang itu sambil menjemput sebatang golok dari lantai, sekonyong-konyong ruangan situ penuh gulungan sinar, dalam lingkaran seluas dua-tiga meter melulu sinar golok belaka. Baru saja Toan Ki mulai melangkah, tahu-tahu pundak kena diketuk punggung golok orang hingga ia menjerit kesakitan sambil sempoyongan.</p>
<p>Dan selagi kacau langkahnya, kesempatan itu segera digunakan jago Se He untuk memburu maju, ia ancam kuduk Toan Ki dengan golok, tapi sebagai gantinya sebelah kaki lantas mendepak hingga Toan Ki terjungkal ke depan, batok kepala menumbuk sebuah tong kayu, seketika jidatnya bocor.</p>
<p>&#8220;Lekas naik kemari, Toan-kongcu,&#8221; seru Giok-yan.</p>
<p>Toan Ki mengiakan terus merayap ke atas melalui tangga. Waktu ia menoleh ke bawah, ia lihat orang aneh itu sudah duduk di lantai sambil memegangi goloknya, mukanya masih tetap kaku tanpa perasaan. Nyata sekali ia sengaja membiarkan Toan Ki naik ke atas loteng dan tidak memburu untuk menyerangnya dari belakang.</p>
<p>&#8220;Wah, nona Ong, aku tak dapat menandingi dia, marilah kita lekas mencari akal untuk melarikan diri,&#8221; demikian desis Toan Ki sesudah berada di atas loteng.</p>
<p>&#8220;Dia menunggu di bawah, kita tidak dapat melarikan diri,&#8221; sahut Giok-yan. &#8220;Eh, ambilkan dulu baju itu.&#8221;</p>
<p>Toan Ki mengiakan, segera ia ambilkan baju yang ditinggalkan si gadis tani tadi.</p>
<p>&#8220;Tutup matamu dan berjalan kemari,&#8221; pinta Giok-yan. &#8220;Nah, baiklah, berhenti. Sampirkan baju itu ke atas badanku, tidak boleh membuka mata!&#8221;</p>
<p>Semua perintah itu dituruti dengan baik oleh Toan Ki. Ia adalah seorang pemuda jujur dan polos, ia pandang Giok-yan seakan-akan malaikat dewata pula, dengan sendirinya tidak berani membangkang. Tapi bila teringat gadis itu dalam keadaan tak berbaju, tanpa terasa hatinya berdebur keras.</p>
<p>Habis pemuda itu mengenakan baju baginya, kemudian Giok-yan berkata pula, &#8220;Sudahlah sekarang, bangunkanlah diriku!&#8221;</p>
<p>Oleh karena tidak mendengar perintah agar buka mata, maka Toan Ki masih terus pejamkan kedua matanya, sedikit pun ia tidak berani mengintip. Ketika dengar si gadis bilang &#8220;bangunkanlah diriku&#8221; terus saja ia ulur tangan ke depan.</p>
<p>Di luar dugaan mendadak muka Giok-yan terpegang olehnya, karena merasa tangan menyentuh sesuatu yang halus licin, Toan Ki terperanjat dan berseru gugup, &#8220;O, maaf, maafkan!&#8221;</p>
<p>Sejak tadi muka Giok-yan sudah merah jengah ketika minta pemuda itu mengenakan baju untuknya, kiri mukanya teraba pula oleh tangan Toan Ki, keruan ia tambah malu, cepat ia berkata, &#8220;Hei, aku minta engkau membangunkan aku!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, ya!&#8221; sahut Toan Ki, tapi tetap dalam keadaan mata terpejam, karena itu ia menjadi bingung dan serbasalah, sebab tidak tahu ke mana tangannya harus meraba, ia khawatir jangan-jangan salah menyenggol badan si gadis pula hingga makin menambah dosanya.</p>
<p>Dengan rasa tegang Giok-yan menantikan Toan Ki membangunkannya dari onggok padi itu. Tapi sampai sekian saat pemuda itu masih mematung di tempatnya, akhirnya barulah ia ingat kedua mata Toan Ki harus disuruh buka dulu, maka segera katanya, &#8220;Eh, mengapa engkau tidak membuka matamu?&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu jago Se He di bawah loteng sedang tertawa dingin mengejek mereka, &#8220;Hehehe, aku suruh kau belajar ilmu silat dulu kepada gurumu untuk kemudian buat membunuh aku. Kan tidak kuminta kalian naik pantas dengan lakon gandrung di situ. Huh, sungguh memuakkan.&#8221;</p>
<p>Dan waktu Toan Ki membuka matanya, ia lihat wajah Giok-yan bersemu merah dan kemalu-maluan, seketika ia terkesima dan memandang gadis itu dengan terpesona hingga apa yang dikatakan orang Se He itu sama sekali tak masuk telinganya.</p>
<p>&#8220;Lekas bangunkan aku!&#8221; pinta si gadis pula.</p>
<p>&#8220;Ya, ya!&#8221; sahut Toan Ki, dengan gugup ia memayang bangun si gadis untuk duduk di atas sebuah bangku butut.</p>
<p>Setelah membetulkan baju sendiri dengan sebisanya, lalu Giok-yan menunduk sambil berpikir. Selang agak lama barulah ia membuka suara, &#8220;Ia sengaja tidak mau mengunjukkan ilmu silatnya yang asli, maka aku tidak &#8230; tidak tahu cara bagaimana agar dapat mengalahkan dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia terlalu lihai, bukan!&#8221; tanya Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Ya, ketika dia bergebrak tadi, sekaligus ia telah mengeluarkan 17 macam gerakan ilmu silat dari aliran yang berbeda-beda,&#8221; sahut Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Ha? Apa? Hanya sekejapan itu, sekaligus ia mengeluarkan 17 macam gerakan yang tidak sama?&#8221; Toan Ki menegas dengan terheran-heran.</p>
<p>&#8220;Ya, macam-macam kepandaian yang dia mainkan, mula-mula ia keluarkan ilmu golok dari Siau-lim-pay, lalu ada pula ilmu golok Lay-lo-han di Kwisay, serta aliran-aliran lain,&#8221; ujar Giok-yan. &#8220;Kemudian waktu ia putar punggung goloknya untuk mengetok pundakmu, gayanya adalah &#8216;Cu-pi-to&#8217; ciptaan Sim-koan Hwesio di Lengpo Thian-tong-si, ilmu golok itu cuma untuk membikin musuh tak berkutik dan tidak digunakan untuk membunuh. Lalu ia ancam lehermu dengan goloknya, itu adalah tipu gerakan ilmu golok ciptaan Nyo-jinkong yang terkenal. Dan paling akhir ketika ia mendepak engkau hingga terguling, gaya itu mengambil cara bergulat orang Se He.&#8221;</p>
<p>Ternyata setiap gerak tipu serangan orang Se He itu telah dapat diuraikan satu per satu secara jelas oleh Giok-yan. Sebaliknya bagi Toan Ki sudah tentu penjelasan itu tiada artinya, sebab memang dia tidak paham ilmu silat.</p>
<p>Setelah Giok-yan memikir pula agak lama, akhirnya ia berkata, &#8220;Sudah terang engkau tak dapat melawannya, sudahlah, engkau mengaku kalah saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya sejak tadi aku sudah mengaku kalah,&#8221; sahut Toan Ki. Maka segera ia berseru kepada orang Se He itu, &#8220;Hai, betapa pun aku tidak dapat melawan kau lagi, engkau mau berdamai tidak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk mengampuni jiwamu juga tidak sulit, asal engkau menurut sesuatu syaratku,&#8221; sahut jago Se He itu dengan tertawa dingin.</p>
<p>&#8220;Apakah syaratmu itu?&#8221; tanya Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Sejak kini, apabila engkau ketemu aku, harus segera merangkak di tanah dan menyembah padaku sambil meminta &#8216;ampun tuan&#8217;,&#8221; kata orang itu.</p>
<p>Sungguh gusar Toan Ki tidak kepalang, sahutnya, &#8220;Seorang laki-laki lebih baik terbunuh daripada dihina, engkau ingin aku menyembah dan minta ampun padamu, hm, jangan harap. Jika mau bunuh, silakan sekarang bunuhlah!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau benar-benar tidak takut mati?&#8221; tanya orang itu.</p>
<p>&#8220;Takut sih memang takut,&#8221; sahut Toan Ki, &#8220;tetapi kalau setiap kali bertemu mesti berlutut dan minta ampun padamu, lebih baik aku pilih mati saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, berlutut dan minta ampun padaku, apakah hal ini merendahkan derajatmu?&#8221; jengek orang itu. &#8220;Bila suatu ketika aku menjadi raja di Tionggoan, dan kau ketemu aku, kau akan berlutut dan menyembah tidak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ketemu raja dan menyembah, hal ini adalah soal lain,&#8221; sahut Toan Ki. &#8220;Cara itu namanya memberi hormat dan bukan minta ampun.&#8221;</p>
<p>Mendengar jago Se He itu bicara tentang &#8220;bila suatu ketika aku menjadi raja Tionggoan&#8221; segala, hati Giok-yan terkesiap, ia heran, &#8220;Mengapa ia bicara serupa angan-angan Piaukoku?&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu terdengar orang Se He itu berkata pula, &#8220;Jika begitu, jadi syaratku tak dapat kau terima?&#8221;</p>
<p>Toan Ki menggeleng kepala, sahutnya tegas, &#8220;Maaf, aku tak dapat menurut.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, sekarang boleh kau turun, biar sekali tebas kubunuhmu,&#8221; ujar orang itu.</p>
<p>Toan Ki memandang sekejap pada Giok-yan dengan perasaan cemas, katanya kemudian, &#8220;Jika engkau bertekad ingin membunuh diriku, ya, apa boleh buat! Cuma ada suatu permintaanku padamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentang apa?&#8221; tanya orang itu.</p>
<p>&#8220;Nona ini keracunan aneh, badannya lemas dan tak ada tenaga hingga tidak dapat berjalan, maka harap engkau suka mengantarkannya pulang ke Man-to-san-ceng di tepi Thay-oh sana,&#8221; pinta Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Haha, guna apa aku mesti berbuat begitu?&#8221; seru orang itu dengan tertawa. &#8220;Telah ada perintah dari Ciangkun kami, barang siapa dapat menangkap si gadis cendekia ini akan diberi hadiah emas murni seribu tahil dan diberi pangkat menteri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika engkau kemaruk harta dan pangkat, baiklah begini saja, aku akan menulis sepucuk surat, sesudah kau antar pulang nona ini, engkau boleh membawa suratku ke negeri Tayli untuk menerima lima ribu tahil emas, tentang pangkat menteri juga tetap diberikan padamu,&#8221; ujar Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Hahaha, apa kau anggap aku anak umur tiga, ya?&#8221; sahut orang itu dengan terbahak. &#8220;Kau ini kutu macam apa hingga melulu sepucuk suratmu lantas aku dapat menerima ribu tahil emas dan diberi pangkat?&#8221;</p>
<p>Toan Ki tahu orang tidak percaya omongannya, seketika ia menjadi tidak berdaya lagi, katanya, &#8220;Habis, apa yang dapat kulakukan? Kematianku tidak perlu dibuat sayang, tapi kalau Siocia telantar di sini dan jatuh di bawah cengkeraman musuh, bukankah dosaku tak terampunkan?&#8221;</p>
<p>Giok-yan terharu mendengar kata-kata Toan Ki yang tulus itu, segera ia berseru pada jago Se He itu, &#8220;Hai, jika kau berani kurang ajar padaku, tentu Piaukoku akan membalaskan sakit hatiku, negeri Se He kalian pasti akan diubrak-abrik habis-habisan olehnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapakah gerangan Piaukomu?&#8221; tanya orang itu.</p>
<p>&#8220;Piaukoku adalah Buyung-kongcu yang namanya mengguncangkan dunia persilatan Tionggoan, nama &#8216;Koh-soh Buyung-si&#8217; tentu pernah kau dengar juga,&#8221; demikian sahut Giok-yan. &#8220;Dan bila engkau tidak suka &#8216;Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin&#8217; baiknya engkau jangan mengganggu aku, kalau engkau berbuat sesuatu yang tidak baik padaku, Piaukoku tentu akan membalas engkau dengan sepuluh kali lebih jahat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, Buyung-kongcu dari Koh-soh hanya seorang bocah ingusan yang masih berbau pupuk, namanya cuma nama kosong belaka, kepandaian sejati apa yang dia miliki?&#8221; ejek orang itu. &#8220;Andaikan dia tidak datang mencariku, memang sudah lama juga aku ingin mencarinya untuk menjajalnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Engkau sekali-kali bukan tandingan Piaukoku, maka aku nasihatkan padamu lebih baik pulang kandang ke negerimu saja,&#8221; ujar Giok-yan. &#8220;Pula, bila jiwa Toan-kongcu ini diganggu olehmu, pasti aku akan minta Piauko menuntut balas padamu. Sebab Toan-kongcu sendiri sebenarnya dapat meloloskan diri, tapi demi untuk melindungi aku, maka ia ikut terkurung di sini. Eh, tuan besar, siapakah namamu yang mulia? Beranikah kau beri tahukan padaku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa tidak berani? Li Yan-cong, inilah namaku,&#8221; sahut orang itu.</p>
<p>&#8220;O, jadi engkau she Li, itu kan nama keluarga kerajaan Se He?&#8221; Giok-yan menegas.</p>
<p>&#8220;Ya, tidak hanya nama keluarga kerajaan, bahkan setia membela negara dan siap berbakti bagi tanah air. Negara Song akan kami hancurkan, Liau akan kami caplok, ke barat membasmi Turfan, ke selatan meratakan Tayli,&#8221; kata orang yang bernama Li Yan-cong itu.</p>
<p>&#8220;Haha, cita-citamu ternyata setinggi bintang di langit,&#8221; seru Toan Ki. &#8220;Wahai Li Yan-cong, biarlah kukatakan terus terang padamu, bahwasanya engkau mahir berbagai macam ilmu silat dari setiap aliran, kalau hendak menjadikan ilmu silatmu nomor satu di jagat ini mungkin tidak sulit, tapi kalau engkau bercita-cita menyatakan dunia di bawah kekuasaanmu, hal ini rasanya takkan terjadi bila melulu mengandalkan ilmu silat nomor satu di dunia ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hendak menjadikan ilmu silatmu nomor satu di dunia juga engkau tidak mungkin mampu,&#8221; tukas Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Apa yang menjadi dasar pendapatmu? Coba memberi penjelasan,&#8221; tanya Li Yan-cong.</p>
<p>&#8220;Pada zaman ini, kalau menurut penglihatanku, paling sedikit sudah ada dua orang yang berilmu lebih tinggi daripadamu,&#8221; sahut Giok-yan,</p>
<p>&#8220;Siapa kedua orang itu? tanya Li Yan-cong sambil melangkah maju setindak dan menengadah.</p>
<p>&#8220;Pertama, ialah Kiau Hong, Kiau-pangcu dari Kay-pang,&#8221; kata Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Hm, meski terkenal namanya, belum tentu sesuai dengan kenyataannya,&#8221; jengek Li Yan-cong. &#8220;Dan siapa lagi yang kedua itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Orang kedua adalah Piaukoku. Buyung Hok, Buyung-kongcu dari Koh-soh,&#8221; sahut si gadis.</p>
<p>&#8220;Huh, juga belum tentu benar,&#8221; kata Li Yan-cong sambil geleng kepala. &#8220;Kau sengaja menyebut nama Kiau Hong di depan Buyung Hok, hal ini demi kepentingan pribadimu atau demi kepentingan umum?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kepentingan umum dan pribadi apa maksudmu? tanya Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Jika demi kepentingan umum, tentu dasarnya karena kau anggap ilmu silat Kiau Hong memang berada di atas Buyung Hok,&#8221; sahut Li Yan-cong. &#8220;Dan bila demi kepentingan pribadi, tentu disebabkan Buyung Hok itu ada hubungan famili denganmu, maka kau biarkan nama orang luar di depan nama orang sendiri.&#8221;</p>
<p>Untuk sejenak Giok-yan berpikir, lalu jawabnya, &#8220;Demi kepentingan umum atau pribadi kan sama saja. Sudah tentu kuharap ilmu silat Piaukoku bisa lebih tinggi daripada Kiau-pangcu, tapi pada saat ini belum dapat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sekarang belum dapat? Hm, jadi maksudmu bila ilmu silat Piaukomu setiap hari dapat maju dengan pesat, kelak pasti akan menjadi jago nomor satu di dunia ini?&#8221; jengek Li Yan-cong.</p>
<p>&#8220;Ai, itu pun belum pasti,&#8221; sahut Giok-yan sambil menghela napas. &#8220;Sampai akhirnya kelak, mungkin jago silat nomor satu di dunia ini tak-lain-tak-bukan adalah Toan-kongcu inilah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahaha, benar-benar pandai berkelakar,&#8221; seru Li Yan-cong sambil tertawa. &#8220;Pelajar tolol ini hanya mendapat petunjukmu hingga dapat memainkan &#8216;Leng-po-wi-poh&#8217; sehingga jiwanya untuk sementara dapat selamat, tapi dengan kepandaian angkat langkah seribu dan lari terbirit-birit itu masakah dapat disebut sebagai jago silat nomor satu di dunia?&#8221;</p>
<p>Sebenarnya Giok-yan bermaksud menjelaskan bahwa Leng-po-wi-poh itu bukan dia yang mengajarkan, hanya lwekang Toan Ki memang hebat luar biasa. Tapi demi dipikir pula bahwa musuh mungkin berjiwa sempit, bila mengetahui rahasia itu, bukan mustahil Toan Ki akan dibunuhnya. Maka segera ia berkata, &#8220;Jika dia mau menurut petunjukku dan belajar tiga tahun, sesudah itu untuk menjadi jago nomor satu di dunia ini mungkin belum cukup, namun untuk mengalahkanmu dapat dipastikan semudah membalik telapak tangan sendiri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika begitu, baiklah, aku percaya omonganmu, dan daripada menanam bibit bencana, lebih baik sekarang kubasmi dulu. Nah, Toan-kongcu, silakan turun, aku akan membunuhmu saja,&#8221; demikian kata Li Yan-cong.</p>
<p>Keruan Giok-yan kaget, sungguh di luar dugaan bahwa bandingannya justru membikin urusan menjadi runyam malah, terpaksa ia berkata pula dengan tertawa dingin, &#8220;Huh, kiranya engkau sudah jeri lebih dulu, sebab khawatir tiga tahun lagi engkau tak mampu menangkan dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hehe, kau sengaja mengumpak aku dengan kata-kata pancingan, masakah orang she Li ini mudah tertipu?&#8221; jengek Li Yan-cong. &#8220;Sudahlah, pendek kata, ingin minta aku mengampuni jiwanya juga boleh, asal seperti kataku tadi, setiap kali bertemu dengan aku dia harus berlutut dan minta ampun, dengan demikian pasti aku tidak akan membunuhmu.&#8221;</p>
<p>Giok-yan tidak bersuara lagi, ia pandang Toan Ki, ia pikir tidak mungkin pemuda itu sudi berlutut dan minta ampun. Jalan paling baik sekarang biar coba melawan dengan mati-matian. Maka segera ia berbisik, &#8220;Toan-kongcu, kiam-gi (hawa pedang) pada jarimu itu mengapa adakalanya manjur, tapi terkadang macet, apa sebabnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Entahlah, aku sendiri pun tidak tahu,&#8221; sahut Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Paling baik kau coba sekali lagi sekuat tenaga,&#8221; ujar si nona. &#8220;Engkau boleh menusuk pergelangan tangan orang she Li itu dengan hawa pedang, lebih dulu rampas senjatanya, kemudian dekap dia sekencang-kencangnya untuk mengadu jiwa dengan dia. Tempo hari waktu di Man-to-san-ceng, secara mudah Peng-mama dapat kau taklukkan, sekarang bolehlah kau gunakan cara yang sama.&#8221;</p>
<p>Kiranya Giok-yan tahu tidak mungkin dalam waktu sesingkat Toan Ki dapat diberi petunjuk cara mengalahkan Li Yan-cong yang lihai itu. Tapi ia ingat cara Toan Ki menaklukkan Peng-mama tempo hari, yaitu dengan semacam tenaga sakti yang dapat menyedot hawa murni lawan, asal pemuda itu dapat menyikap Li Yan-cong, tentu ilmu sakti itu dapat dipakai menyedot tenaga lawan.</p>
<p>Begitulah Toan Ki lantas mengangguk tanda setuju, memang kecuali cara itu ia pun tidak berdaya lain, biarpun risiko celaka lebih besar daripada selamatnya, namun terpaksa ia harus mencobanya juga.</p>
<p>Maka sesudah membetulkan baju sendiri, segera Toan Ki berkata dengan tertawa, &#8220;Nona Ong, sungguh aku harus malu karena tak becus melindungi nona. Bila nanti nona dapat lolos dengan selamat dan kelak menikah dengan Piaukomu, harap jangan lupa menyiram beberapa tetes arak pada tangkai bunga kamelia yang kutanam di Man-to-san-ceng itu dan anggaplah aku yang telak minum arak bahagiamu.&#8221;</p>
<br />Posted in Jin Yong, Pendekar Kerajaan Tayli  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toanki.wordpress.com/1825/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toanki.wordpress.com/1825/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toanki.wordpress.com/1825/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toanki.wordpress.com/1825/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toanki.wordpress.com/1825/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toanki.wordpress.com/1825/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toanki.wordpress.com/1825/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toanki.wordpress.com/1825/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toanki.wordpress.com/1825/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toanki.wordpress.com/1825/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toanki.wordpress.com/1825/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toanki.wordpress.com/1825/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toanki.wordpress.com/1825/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toanki.wordpress.com/1825/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1825&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-27/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b75e221c0eee4ff517b26695a19675fc?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">Lenghou Tiong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 26</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-26/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-26/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 04:51:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1822</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Banyak terima kasih atas uraian Ti-kong Taysu sehingga kita semua dapat mengikuti duduknya perkara dari awal,&#8221; kata Ci-tianglo. Lalu ia unjuk surat yang dipegangnya tadi, &#8220;Dan surat ini adalah kiriman pendekar Toako Pemimpin itu kepada Ong-pangcu, isinya berusaha mencegah Ong-pangcu agar jangan mengangkat engkau sebagai gantinya. Nah, silakan baca sendiri, Kiau-pangcu.&#8221; &#8220;Coba kulihat dulu, apakah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1822&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Banyak terima kasih atas uraian Ti-kong Taysu sehingga kita semua dapat mengikuti duduknya perkara dari awal,&#8221; kata Ci-tianglo. Lalu ia unjuk surat yang dipegangnya tadi, &#8220;Dan surat ini adalah kiriman pendekar Toako Pemimpin itu kepada Ong-pangcu, isinya berusaha mencegah Ong-pangcu agar jangan mengangkat engkau sebagai gantinya. Nah, silakan baca sendiri, Kiau-pangcu.&#8221;</p>
<p><span id="more-1822"></span>&#8220;Coba kulihat dulu, apakah surat itu asli atau bukan,&#8221; kata Ti-kong tiba-tiba sambil menerima surat itu dari tangan Ci-tianglo. Setelah membaca, katanya pula, &#8220;Ya, memang betul adalah tulisan tangan Toako Pemimpin.&#8221;</p>
<p>Sembari berkata, diam-diam ia gunakan jari tangan kiri untuk robek bagian yang ada tanda tangan penulis surat itu, lalu dimasukkan ke mulut terus ditelan.</p>
<p>Tatkala itu hari sudah gelap, di tengah hutan hanya remang-remang oleh cahaya bintang yang berkedip, waktu Ti-kong merobek surat itu ia pura-pura kurang jelas membacanya, maka surat itu diangkat ke atas, pada saat itulah ia robek ujung surat dan ditelan.</p>
<p>Sudah tentu Kiau Hong tidak menduga padri saleh itu bisa berbuat selicik itu, sambil membentak terus saja sebelah tangan menabok ke depan, dari jauh ia tepuk hiat-to padri itu, berbareng tangan lain hendak merebut surat itu. Namun tetap terlambat, sobekan kertas surat itu sudah masuk ke perut Ti-kong.</p>
<p>&#8220;Kau &#8230; kau berbuat apa?&#8221; bentak Kiau Hong dengan gusar, menyusul ia menabok pula untuk membuka hiat-to orang.</p>
<p>Ti-kong tersenyum, sahutnya, &#8220;Kiau-pangcu, jika engkau sudah mengetahui asal usul dirimu sendiri, tentu engkau akan membalas sakit hati ayah-bundamu. Karena Ong-pangcu sudah meninggal, dia tidak perlu dibicarakan lagi, tapi siapa Toako Pemimpin justru tidak boleh diketahui olehmu. Dahulu pernah kuikut serta menyerang kedua orang tuamu itu, maka segala dosa dan kesalahan biar aku menanggungnya, hendak kau bunuh atau digantung terserahlah padamu untuk melakukannya sekarang.&#8221;</p>
<p>Melihat sikap padri yang sungguh-sungguh itu, wajah tersenyum welas asih, meski berduka dan penasaran, mau tak mau Kiau Hong menaruh hormat juga padanya, maka katanya, &#8220;Hal ini benar atau tidak, saat ini aku sendiri belum yakin. Hendak membunuhmu juga tidak perlu terburu-buru pada saat demikian.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia melirik sekejap pada Tio-ci-sun.</p>
<p>&#8220;Benar, termasuk juga aku,&#8221; kata Tio-ci-sun sambil mengangkat pundak seakan-akan menghadapi urusan sepele saja, &#8220;utang itu aku pun mempunyai bagian, kapan-kapan saja engkau suka, setiap saat engkau boleh turun tangan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kiau-pangcu,&#8221; seru Tam-poh tiba-tiba, &#8220;setiap tindakan harus dipikirkan masak-masak sebelumnya. Bila sampai menimbulkan persengketaan antarbangsa, maka setiap pahlawan di Tionggoan pasti akan memusuhimu.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong hanya tertawa dingin, perasaannya sangat kusut, ia tidak tahu cara bagaimana harus menjawabnya.</p>
<p>Ia coba membaca surat, isinya sebagai berikut:</p>
<p>Saudaraku Kiam-yan.<br />
Setelah pembicaraan selama beberapa hari, maksud mewariskan kedudukanmu ternyata tidak berubah. Setelah beberapa hari kupikirkan, aku pun tetap tidak menyetujui maksudmu itu. Kepandaian pemuda she Kiau itu memang lain daripada yang lain, jasanya juga sangat besar, berjiwa kesatria dan patriotik, bukan saja menjadi tokoh kebanggaan Kay-pang, bahkan setiap kawan persilatan sebangsa juga merasa kagum padanya. Dengan tokoh sehebat itu untuk menggantikan kedudukanmu, perkembangan Kay-pang kelak sudah dapat diduga pasti akan membubung &#8230;.</p>
<p>Membaca sampai di sini, Kiau Hong merasa cianpwe ini sangat menghargai dirinya, ia merasa sangat berterima kasih, ia membaca lagi:</p>
<p>Namun pertarungan sengit di luar Gan-bun-koan dahulu itu betapa menggetarkan sukma keadaan waktu itu, sampai kini sehari pun tidak pernah kulupakan. Anak itu bukan bangsa kita, ayah bundanya terbinasa di tangan kita. Takkan menjadi soal bila anak ini tidak tahu asal usul sendiri, tetapi bila kelak ia tahu, bukan saja Kay-pang akan musnah di tangannya, bahkan dunia persilatan di Tionggoan juga akan mengalami malapetaka. Orang yang berkepandaian setinggi anak ini pada zaman ini sesungguhnya dapat dihitung dengan jari.<br />
Sebenarnya sebagai orang luar tidaklah pantas aku ikut campur urusan Kay-pang kalian, tapi hubungan kita lain daripada yang lain, urusan ini sangat luas pula akibatnya. Maka sebelum ambil keputusan, haraplah dipikirkan lebih masak lagi.</p>
<p>Tanda tangan penulis surat itu sudah tidak terbaca lagi karena telah dirobek oleh Ti-kong tadi.</p>
<p>Melihat Kiau Hong termangu-mangu setelah membaca surat itu, segera Ci-tianglo mengangsurkan sehelai surat yang lain, katanya, &#8220;Dan ini adalah tulisan Ong-pangcu, engkau tentu kenal tulisan tangannya.&#8221;</p>
<p>Setelah menerima surat itu, Kiau Hong melihat isinya adalah:</p>
<p>Kepada Be-hupangcu, Thoan-kong Tianglo, Cit-hoat Tianglo dan para tianglo yang lain untuk dilaksanakan.<br />
Apabila Kiau Hong bertindak mengkhianati bangsa dan berhubungan dengan musuh, harus segera membunuhnya dan jangan ayal. Cara bagaimana pelaksanaannya terserah kepada kalian menurut keadaan, siapa yang melaksanakan tugas ini dia berjasa dan tidak bersalah.<br />
Tertanda Ong Kiam-thong.</p>
<p>Surat wasiat itu tertanggal tujuh bulan lima tahun keenam Goan Hong. Kiau Hong coba menghitung, ternyata hari itu persis adalah hari dirinya diangkat menjadi Pangcu Kay-pang.</p>
<p>Kiau Hong kenal baik tulisan tangan gurunya yang berbudi itu, maka tentang asal usul dirinya kini tidak perlu disangsikan lagi. Terkenang dahulu betapa Insu mencintai diriku bagai putra sendiri, siapa tahu pada hari aku menjadi pangcu itu diam-diam beliau menulis juga secarik surat wasiat ini. Saking pilunya air mata lantas bercucuran dan menetes di atas surat wasiat tinggalan Ong-pangcu itu hingga basah seketika.</p>
<p>Dalam pada itu Ci-tianglo berkata pula, &#8220;Harap Pangcu jangan marah kepada kekurangajaran kami. Adapun surat wasiat Ong-pangcu ini sebenarnya cuma diketahui oleh Be-hupangcu seorang dan selama ini disimpannya dengan rapi, tidak pernah ia katakan kepada siapa pun. Selama beberapa tahun ini tindak tanduk Pangcu cukup bijaksana dan terpuji, sekali-kali tidak mungkin bersekongkol dengan musuh untuk menindas bangsa Han.</p>
<p>&#8220;Tentang pesan tinggalan Ong-pangcu ini sudah tentu tidak perlu dijalankan. Ketika Be-hupangcu mendadak tewas barulah surat wasiat ini diketemukan Be-hujin. Sebenarnya semua orang bercuriga Be-hupangcu dibunuh oleh Buyung-kongcu dari Koh-soh, bila Pangcu dapat membalaskan sakit hati Tay-goan, tentang asal usul Pangcu mestinya tidak perlu diumumkan pula, demi untuk kepentingan umum, kupikir surat wasiat Ong-pangcu ini sebaiknya dibakar saja. Tapi &#8230; tapi &#8230;.&#8221;</p>
<p>Sampai di sini ia berpaling ke arah Be-hujin, lalu melanjutkan, &#8220;Pertama Be-hujin tidak mungkin mengesampingkan sakit hati terbunuhnya Tay-goan tanpa membalas. Kedua, Kiau-pangcu sengaja melindungi bangsa lain, tindak tanduknya membahayakan kesatuan Kay-pang kita &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku membela orang asing? Dari mana bisa dikatakan demikian?&#8221; tanya Kiau Hong bingung.</p>
<p>&#8220;Perkataan &#8216;Buyung&#8217; adalah nama keluarga &#8216;asing&#8217;,&#8221; sahut Ci-tianglo. &#8220;Buyung-si adalah keturunan bangsa Sianbi, seperti bangsa Cidan, sama-sama merupakan bangsa asing di luar perbatasan.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, kiranya begitu, aku benar-benar tidak tahu,&#8221; kata Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Dan ketiga, tentang Pangcu adalah keturunan Cidan, anggota kita sudah banyak yang tahu sekarang, kekacauan sudah terjadi, untuk menutupi juga tiada faedahnya,&#8221; kata Ci-tianglo akhirnya.</p>
<p>Tiba-tiba Kiau Hong menengadah sambil menarik napas panjang, tanda tanya yang sejak tadi mencekam hatinya baru sekarang terjawab semua. Lalu katanya kepada Coan Koan-jing, &#8220;Coan-thocu, jadi kau tahu aku ini keturunan Cidan, makanya memberontak, begitu bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar,&#8221; jawab Koan-jing tegas.</p>
<p>&#8220;Dan sebabnya Song, Ge, Tan, dan Go berempat tianglo bersepakat melawan aku, apa juga disebabkan hal ini?&#8221; tanya Kiau Hong pula.</p>
<p>&#8220;Benar,&#8221; sahut Koan-jing. &#8220;Cuma mereka masih ragu dan belum berani bertindak, bahkan setiba waktunya, mereka ketakutan malah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentang asal usul diriku, dari mana kau mendapat tahu?&#8221; desak Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Urusan ini menyangkut orang lain lagi, maafkan tak dapat kuberi tahu,&#8221; sahut Koan-jing. &#8220;Maklum, kertas tak dapat membungkus api, betapa pun engkau merahasiakannya, akhirnya pasti juga akan ketahuan.&#8221;</p>
<p>Sesaat itu pikiran Kiau Hong bergolak hebat, sebentar ia berpendapat, &#8220;Tentu mereka iri pada kedudukanku, maka sengaja mengarang berbagai dongengan untuk memfitnah diriku. Sekalipun aku seorang diri juga harus melawan sampai detik penghabisan, tidak boleh menyerah.&#8221;</p>
<p>Tapi lain saat terpikir pula, &#8220;Namun tulisan tangan Insu itu tidak mungkin dipalsukan. Ti-kong Taysu juga seorang padri berilmu, selamanya tiada dendam permusuhan apa-apa denganku, guna apa dia ikut mengatur tipu muslihat ini? Sedang Ci-tianglo adalah tokoh yang paling tua, mana mungkin dia merencanakan pengacauan pada pang sendiri. Begitu pula Tiat-bin-poan-koan Tan Cing, suami-istri Tam-si dan lain-lain adalah tokoh-tokoh Bu-lim yang terhormat, Tio-ci-sun ini meski angin-anginan, tapi juga bukan sembarangan orang, bila mereka pun bersatu pendapat, masakah hal ini perlu disangsikan pula?&#8221;</p>
<p>Di lain pihak, demi mendengar ucapan Ci-tianglo tadi, para anggota Kay-pang juga merasa bingung. Biasanya Kiau Hong sangat berbudi kepada bawahannya, baik ilmu silatnya maupun tindak tanduknya sangat dikagumi mereka. Siapa duga sang pangcu justru adalah keturunan Cidan.</p>
<p>Padahal permusuhan kerajaan Song dengan Cidan semakin hebat, selama bertahun-tahun anggota Kay-pang yang menjadi korban keganasan musuh itu entah berapa jumlahnya, kini Kay-pang dikepalai seorang keturunan musuh, hal ini benar-benar tak dapat dipercaya oleh siapa pun dan dengan sendirinya tidak boleh terjadi.</p>
<p>Tapi bicara memecat Kiau Hong keluar Kay-pang secara terang-terangan, ternyata tiada seorang pun yang sanggup buka suara.</p>
<p>Seketika itu suasana di tengah hutan menjadi hening, yang terdengar cuma suara napas orang yang tertekan.</p>
<p>Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan yang nyaring menggema, &#8220;Para paman dan hadirin sekalian, sungguh malang suamiku telah tewas, sebenarnya siapakah pembunuhnya, sampai saat ini masih sukar dikatakan. Tapi mengingat masa hidupnya tindak tanduk suamiku cukup jujur dan prihatin, rasanya tidak pernah bermusuhan dengan siapa-siapa, maka sesungguhnya aku tidak mengerti siapakah gerangan yang begitu tega mengambil jiwanya. Aku khawatir jangan-jangan pada diri suamiku terdapat sesuatu yang mahapenting dan ingin diperoleh orang lain. Bukan mustahil orang lain khawatir suamiku akan membongkar rahasianya dengan bukti yang berada padanya itu, maka suamiku harus dibunuh olehnya untuk menghilangkan saksi hidup.&#8221;</p>
<p>Yang bicara ini ternyata Be-hujin adanya, nyonya janda Be Tay-goan.</p>
<p>Ucapannya cukup jelas, secara langsung ia telah menuduh Kiau Hong adalah pembunuh Be Tay-goan dan tujuan pembunuhan itu adalah untuk menghilangkan bukti-bukti tentang Kiau Hong adalah keturunan Cidan.</p>
<p>Perlahan Kiau Hong berpaling, ia menatap tajam wanita yang berperawakan kecil dan lemah gemulai dengan pakaian berkabung itu, katanya, &#8220;Jadi engkau mencurigai aku sebagai pembunuh Be-hupangcu?&#8221;</p>
<p>Be-hujin sejak tadi berdiri mungkur dengan menunduk, kini mendadak mengangkat kepalanya dan memandang Kiau Hong. Tertampak biji matanya yang bening bersinar bagai batu permata berkelip di malam gelap. Hati Kiau Hong tergetar.</p>
<p>&#8220;Aku hanya seorang perempuan yang tidak tahu apa-apa,&#8221; demikian Be-hujin berkata pula, &#8220;sebenarnya tidak pantas tampil di depan umum seperti ini, apalagi kalau secara serampangan menuduh kesalahan orang. Cuma kematian suamiku sesungguhnya terlalu penasaran, maka dengan sangat kumohon bantuan para paman sudilah mengingat sesama saudara sendiri, sukalah menyelidiki duduk perkara yang sebenarnya untuk membalas sakit hati suamiku itu.&#8221;</p>
<p>Sembari berkata, terus saja ia berlutut dan ternyata Kiau Hong yang disembah olehnya.</p>
<p>Selama hidup Kiau Hong suka mengalah kepada kehalusan dan pantang mundur terhadap kekerasan. Maka terhadap tindakan Be-hujin itu, ia menjadi tak berdaya.</p>
<p>Nyonya janda itu tidak mengucapkan sesuatu kalimat yang mengatakan Kiau Hong adalah pembunuhnya, tapi setiap kalimat ditujukan kepadanya. Kini nyonya muda itu menyembah pula kepadanya, biarpun gusar di dalam hati, namun tidak dapat ia umbar lagi. Terpaksa ia balas hormat dan berkata, &#8220;Harap Enso suka bangunlah!&#8221;</p>
<p>&#8220;Be-hujin,&#8221; tiba-tiba suara seorang wanita lain berseru di pojok kiri sana, &#8220;ada suatu soal yang kusangsikan, apakah boleh kutanya?&#8221;</p>
<p>Waktu semua orang memandang ke arah suara itu, kiranya pembicara adalah seorang gadis jelita berbaju hijau pupus, itulah Ong Giok-yan adanya.</p>
<p>&#8220;Soal apakah yang hendak nona tanyakan padaku?&#8221; sahut Be-hujin.</p>
<p>&#8220;Tadi kudengar Hujin bilang surat wasiat Be-cianpwe itu masih tertutup rapat dengan segel, begitu pula waktu surat itu dibuka Ci-tianglo segalanya juga masih baik-baik. Jika begitu, pada sebelum Ci-tianglo membuka surat itu, seharusnya tiada seorang pun yang pernah membaca surat itu, bukan?&#8221; demikian tanya Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Ya, benar,&#8221; sahut Be-hujin.</p>
<p>&#8220;Jika begitu, surat wasiat Ong-pangcu dan surat pendekar pemimpin itu kecuali Be-cianpwe sendiri, orang lain kan tiada yang tahu. Maka tuduhan Hujin tadi bahwa ada orang ingin membunuh suamimu untuk menghilangkan bukti, terang tidak masuk di akal,&#8221; ujar Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Siapakah nona? Mengapa ikut campur urusan dalam Kay-pang kami?&#8221; tanya Be-hujin dengan aseran.</p>
<p>&#8220;Urusan dalam Kay-pang kalian dengan sendirinya tidak boleh kuikut campur,&#8221; sahut Giok-yan. &#8220;Tapi kalian hendak memfitnah Piaukoku, hal ini tidak boleh jadi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapakah Piauko nona? Apakah Kiau-pangcu?&#8221; tanya Be-hujin.</p>
<p>&#8220;Bukan,&#8221; sahut Giok-yan dengan tersenyum sambil menggeleng kepala, &#8220;tapi Buyung-kongcu.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, kiranya begitu,&#8221; kata Be-hujin, dan ia pun tidak urus Giok-yan lagi melainkan terus berpaling kepada Cit-hoat Tianglo dan berkata, &#8220;Pek-tianglo, menurut undang-undang pang kita, bila umpamanya tianglo melanggar peraturan organisasi, bagaimana kiranya harus ditindak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tahu aturan tapi melanggarnya sendiri, hukumannya ditambah sekali lebih berat,&#8221; sahut Cit-hoat Tianglo tegas.</p>
<p>&#8220;Tapi bila kedudukan pelanggar itu lebih tinggi daripada tianglo, lantas bagaimana?&#8221; desak Be-hujin.</p>
<p>Pek Si-kia tahu ke mana kata-kata itu hendak ditujukan, maka tanpa terasa ia memandang sekejap ke arah Kiau Hong, lalu jawabnya, &#8220;Undang-undang pang kita ditetapkan sejak leluhur kita dan tidak memedulikan tinggi-rendahnya kedudukan si pelanggar, barang siapa berdosa dia harus dihukum, sama berjasa, sama hukuman, selamanya tidak pandang bulu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah jika begitu,&#8221; ujar Be-hujin. &#8220;Tentang kecurigaan nona itu memang beralasan, semula aku pun berpikir begitu. Tapi sehari sebelum kuterima berita kematian suamiku, tiba-tiba rumahku digerayangi orang pada malam harinya.&#8221;</p>
<p>Semua orang terkejut oleh cerita itu, tanya mereka beramai-ramai, &#8220;Digerayangi orang? Adakah sesuatu yang dicuri? Melukai orang atau tidak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tiada seorang pun yang dilukai,&#8221; sahut Be-hujin. &#8220;Maling itu telah memakai dupa penidur untuk membius diriku bersama dua orang pelayanku. Lalu isi rumahku diubrak-abrik dan kecurian belasan tahil perak. Esok paginya lantas kuterima berita duka tentang tewasnya suamiku, dengan sendirinya aku tiada waktu untuk mengurusi peristiwa pencurian itu. Untunglah sebelumnya suamiku telah menyimpan surat wasiat itu di tempat yang sangat dirahasiakan sehingga tidak sampai diketemukan dan dimusnahkan si pencuri.&#8221;</p>
<p>Jelas sekali uraian Be-hujin ini hendak menuduh Kiau Hong sendiri atau paling tidak telah mengirim orang ke rumah Be Tay-goan untuk mencuri dokumen penting itu. Dan kalau berani mengincar surat wasiat itu dengan sendirinya sebelumnya tentu sudah tahu isi surat itu. Maka tuduhannya tentang membunuh orang untuk menghilangkan bukti boleh dikatakan cukup beralasan.</p>
<p>Tujuan Giok-yan adalah membela nama baik Buyung Hok dan tidak ingin Kiau Hong tersangkut di dalamnya, maka segera ia menyela pula, &#8220;Kalau kemalingan sedikit barang atau uang juga kejadian yang biasa saja, cuma secara kebetulan terjadi berbarengan dengan soal lain, kenapa mesti diributkan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Perkataan nona memang benar, semula aku pun berpikir demikian,&#8221; sahut Be-hujin. &#8220;Tapi kemudian di bawah jendela tempat maling itu masuk-keluar telah kutemukan sesuatu benda, rupanya tinggalan maling itu dalam keadaan tergesa-gesa. Dan begitu melihat benda itu, aku kaget dan tahu urusannya tidaklah sembarangan urusan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Barang apakah itu? Mengapa bukan sembarangan urusan?&#8221; tanya Song-tianglo.</p>
<p>Perlahan Be-hujin mengeluarkan sesuatu benda dari dalam bungkusan, benda itu sepanjang belasan senti, ia serahkan kepada Ci-tianglo dan berkata, &#8220;Mohon para paman suka memberi keadilan!&#8221;</p>
<p>Habis menyerahkan benda itu kepada Ci-tianglo ia mendeprok ke tanah dan menangis dengan sedih.</p>
<p>Waktu semua orang memandang ke arah Ci-tianglo, orang tua itu sedang membuka benda itu dengan perlahan, kiranya adalah sebuah kipas lempit. Dengan suara tertahan Ci-tianglo lantas membacakan syair di atas kipas yang penuh semangat pahlawan itu.</p>
<p>Sungguh kejut Kiau Hong tidak kepalang demi mendengar syair itu. Waktu ia perhatikan, ia lihat di balik kipas itu terlukis gambar seorang pahlawan sedang menyerbu keluar perbatasan untuk membunuh musuh. Terang kipas itu adalah miliknya sendiri, syair itu ditulis oleh gurunya yang berbudi, Ong Kiam-thong, dan lukisan itu adalah buah tangan Ci-tianglo malah. Kipas itu biasanya sangat disayangnya dan disimpannya dengan baik-baik, mengapa kini bisa jatuh di rumah Be Tay-goan?</p>
<p>Ketika Ci-tianglo membalik kipas itu dan melihat lukisan karya sendiri, ia menghela napas panjang dan bergumam, &#8220;Bukan bangsa sendiri, tentu pikirannya berbeda. Wahai, Ong-pangcu, engkau benar-benar salah besar dalam urusan ini!&#8221;</p>
<p>Mendadak mengetahui asal usul sendiri adalah keturunan Cidan, hati Kiau Hong menjadi cemas tak keruan. Padahal selama belasan tahun ini setiap hari yang dipikir olehnya hanya cara bagaimana agar dapat membasmi musuh dan lebih banyak membunuh kaum penjajah, sekalipun biasanya ia sangat tenang, mau tak mau ia menjadi bingung juga.</p>
<p>Tapi sesudah kipas lempit itu dikeluarkan dan Be-hujin menuduh dirinya adalah pembunuh Be Tay-goan, hal ini malah membuat hati Kiau Hong lebih tenang, sesaat itu terkilas sesuatu pikiran bahwa ada orang telah mencuri kipas lempitnya itu untuk memfitnah dirinya, hal ini betapa pun takkan berhasil. Maka tanpa ditanya segera ia berkata, &#8220;Ci-tianglo, kipas ini adalah milikku!&#8221;</p>
<p>Orang Kay-pang yang berkedudukan sedikit tinggi sama tahu bahwa kipas itu adalah milik sang pangcu, hanya sebagian anak buah Kay-pang rendahan yang tidak mengetahui hal itu, maka mereka sama terkesiap demi mendengar pengakuan Kiau Hong itu.</p>
<p>Perasaan Ci-tianglo sendiri pun sangat terguncang, ia bergumam, &#8220;Dalam segala urusan Ong-pangcu selalu menganggap aku sebagai orang kepercayaannya, tapi urusan ini ternyata tidak diberitahukan padaku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ci-tianglo, sebabnya Ong-pangcu tidak memberitahukan padamu adalah demi kebaikanmu sendiri,&#8221; tiba-tiba Be-hujin berkata.</p>
<p>&#8220;Apa? Demi kebaikanku?&#8221; Ci-tianglo menegas.</p>
<p>&#8220;Ya, buktinya Tay-goan, hanya dia yang tahu urusan ini dan dia pun tertimpa bencana, maka &#8230; maka bila engkau juga tahu, pasti juga takkan terhindar dari malapetaka,&#8221; ujar Be-hujin dengan sedih.</p>
<p>&#8220;Sekarang apa lagi yang akan kalian katakan?&#8221; tiba-tiba Kiau Hong berseru dengan lantang, sinar matanya menatap tajam dimulai dari Be-hujin terus Ci-tianglo, Pek Si-kia, Thoan-kong Tianglo dan lain-lain. Tapi tiada seorang pun berani buka suara lagi, semuanya diam.</p>
<p>Setelah menunggu sampai sekian lama tetap tiada jawaban seorang pun, Kiau Hong lantas berkata pula, &#8220;Tentang asal usulku sungguh harus disesalkan karena aku sendiri pun belum tahu dengan pasti. Tapi karena sekian banyak kaum cianpwe berani menjadi saksi, betapa pun aku tidak berani sembarangan menyangkal. Maka jabatanku sebagai Pangcu Kay-pang ini sepantasnya aku harus mengundurkan diri.&#8221;</p>
<p>Sembari berkata ia mengeluarkan sebatang pentung bambu hijau mengilat. Itulah Pak-kau-pang atau pentung penggebuk anjing, tanda pengenal pangcu yang sangat diagungkan anggota Kay-pang.</p>
<p>Kedua tangan Kiau Hong angkat tinggi-tinggi pentung bambu itu dan berseru, &#8220;Pentung ini kuterima dari Ong-pangcu, selama ini meski aku tiada berjasa apa-apa bagi Kay-pang, namun syukur juga tidak pernah berbuat sesuatu kesalahan besar. Hari ini aku meletakkan jabatan, siapakah di antara para saudara yang bijaksana mau menerima tanggung jawab jabatanku ini, silakan maju menerima pentung ini.&#8221;</p>
<p>Menurut peraturan Kay-pang, tatkala pangcu baru menerima jabatan harus dilakukan upacara penyerahan Pak-kau-pang dari pangcu lama. Upacara ini tidak dilakukan kalau pangcu lama meninggal dunia.</p>
<p>Padahal Kiau Hong sekarang masih muda, ilmu silatnya dapat dibanggakan, betapa pun tiada orang kedua di dalam Kay-pang yang dapat memadainya. Sejak dia menjadi pangcu, biarpun ada juga oknum-oknum yang memusuhinya, tapi tiada seorang pun berani mengincar jabatan pangcu. Apalagi sekarang Kiau Hong berdiri gagah perkasa di situ, siapa yang berani maju mencalonkan diri untuk menerima pentung bambu itu?</p>
<p>Setelah tanya tiga kali dan tetap tiada seorang pun yang menyahut, lalu Kiau Hong berkata lagi, &#8220;Karena asal usulku masih belum terang, maka jabatan pangcu ini betapa pun tidak berani kupegang lagi. Ci-tianglo, Thoan-kong dan Cit-hoat Tianglo, Pak-kau-pang yang merupakan pusaka utama Kay-pang kita ini silakan kalian bertiga menjaganya bersama. Kelak bila pangcu baru sudah ditetapkan, bolehlah kalian menyerahkan pentung ini kepadanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar juga ucapanmu,&#8221; sahut Ci-tianglo terus hendak menerima pentung bambu keramat itu.</p>
<p>&#8220;Nanti dulu!&#8221; mendadak Song-tianglo membentak.</p>
<p>Ci-tianglo tertegun dan urung menerima pentung itu, tanyanya, &#8220;Apa yang hendak Song-hiante katakan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Menurut penglihatanku, Kiau-pangcu bukan bangsa Cidan,&#8221; ujar Song-tianglo.</p>
<p>&#8220;Dari mana kau tahu?&#8221; tanya Ci-tianglo.</p>
<p>&#8220;Kulihat dia tidak mirip,&#8221; sahut Song-tianglo.</p>
<p>&#8220;Mengapa tidak mirip,&#8221; desak Ci-tianglo.</p>
<p>&#8220;Umumnya bangsa Cidan sangat kejam dan ganas, sebaliknya Kiau-pangcu seorang kesatria yang berbudi luhur,&#8221; sahut Song-tianglo. &#8220;Tadi kami telah memberontak padanya, tapi ia rela mengorbankan dirinya demi keselamatan kami dan mengampuni dosa kami. Kalau bangsa Cidan, tidak mungkin mau berbuat demikian.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sejak kecil ia telah mendapat didikan Ong-pangcu, dengan sendirinya watak aslinya sebagai bangsa Cidan yang jahat telah berubah,&#8221; ujar Ci-tianglo.</p>
<p>&#8220;Jika wataknya sudah berubah, itu berarti bukan orang jahat lagi, kalau dia menjadi pangcu kita, masa kurang pantas?&#8221; debat Song-tianglo. &#8220;Menurut pendapatku tiada seorang pun di antara kita yang dapat memadai kejantanan dan kebesaran jiwanya. Kalau ada orang lain ingin menjadi pangcu, akulah orang she Song yang pertama-tama akan membangkang.&#8221;</p>
<p>Sebenarnya banyak juga di antara anggota Kay-pang yang mempunyai pikiran sama dengan Song-tianglo. Karena itu, segera terdengarlah suara ramai yang menyokong pendapat Song-tianglo itu. Beramai-ramai mereka berseru, &#8220;Bukan mustahil ada orang hendak memfitnah Kiau-pangcu, kita jangan mudah memercayai omongan orang!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, urusan yang sudah terjadi puluhan tahun yang lalu, siapa yang mau percaya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jabatan pangcu yang penting ini tidak boleh sembarangan diganti!&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku sudah bertekad bulat berdiri di belakang Kiau-pangcu, orang lain yang menjadi pangcu, aku tidak mau terima.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ayo, siapa yang ingin ikut Kiau-pangcu, silakan berdiri di sisiku sini,&#8221; seru Ge-tianglo tiba-tiba. Dengan tangan kiri ia tarik Song-tianglo dan tangan kanan menyeret Ge-tianglo serentak mereka menyisih ke sebelah timur.</p>
<p>Menyusul Tay-jin-hun-tho dan Tay-gi-hun-tho, ketiga thocu itu pun menyusul ke sisi timur. Dan karena ketiga thocu itu sudah memberi contoh, dengan sendirinya anak buah ketiga Tho itu pun ikut berdiri ke sisi timur.</p>
<p>Sebaliknya Coan Koan-jing, Tan-tianglo, Thoan-kong Tianglo dan para Thocu Tay-ti dan Tay-sin-hun-tho masih tetap berdiri di tempat semula.</p>
<p>Dengan demikian anggota Kay-pang sekarang jadi terpecah belah dan terbagi menjadi dua pihak, yang berdiri di sisi timur kira-kira ada separuh, sebaliknya yang tetap berdiri di tempat semula ada tiga bagian, sisanya masih ragu entah mesti ikut pihak mana? Cit-hoat Tianglo biasanya sangat tegas dalam tindak tanduknya, tapi menghadapi persoalan pelik mau tak mau ia jadi ragu juga.</p>
<p>&#8220;Para saudara,&#8221; demikian Coan Koan-jing buka suara, &#8220;memang benar Kiau-pangcu adalah seorang kesatria, seorang pintar dan perkasa, siapa pun tentu kagum padanya. Namun kita adalah rakyat kerajaan Song, mana boleh tunduk di bawah perintah seorang Cidan? Justru semakin besar kepandaian Kiau Hong, semakin berbahaya pula bagi kita.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kentut, kentut makmu!&#8221; segera Ge-tianglo memaki. &#8220;Kulihat tampangmu justru lebih mirip orang Cidan!&#8221;</p>
<p>Namun Coan Koan-jing tidak menggubrisnya, serunya pula, &#8220;Kita semua adalah pahlawan berjiwa patriot, masakah terima diperbudak oleh bangsa asing!&#8221;</p>
<p>Perkataan Coan Koan-jing ini ternyata sangat besar pengaruhnya, seketika ada belasan orang yang tadinya ikut berdiri ke sisi timur segera kembali ke sisi barat.</p>
<p>Karena itu anggota Kay-pang di sisi timur itu menjadi geger, ada yang memaki dan ada yang main tarik, keadaan menjadi kacau, seketika terjadilah pertarungan serabutan di antara berpuluh orang itu.</p>
<p>Para tianglo cepat membentak hendak menguasai keadaan, tapi masing-masing tetap membela anak buah sendiri-sendiri. Go-tianglo dan Tan-tianglo juga saling memaki dan tampaknya akan terjadi juga pertarungan sengit.</p>
<p>Syukur pada saat genting itulah Kiau Hong berseru keras-keras, &#8220;Harap berhenti, saudara-saudara, dengarkan perkataanku!&#8221;</p>
<p>Suaranya keras dan berwibawa membuat para anggota Kay-pang sama melengak, mereka berhenti serentak dan menoleh memandang Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Tentang jabatan pangcu ini, sudah pasti akan kutinggalkan &#8230;.&#8221;</p>
<p>Belum selesai ucapan Kiau Hong itu, mendadak Song-tianglo menyela, &#8220;Pangcu, engkau jangan putus asa &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak putus asa,&#8221; sahut Kiau Hong sambil menggeleng. &#8220;Urusan lain mungkin aku bisa difitnah, tapi bukti-bukti tulisan tangan guruku Ong-pangcu yang berbudi itu tidak mungkin dapat dipalsukan orang lain.&#8221;</p>
<p>Lalu ia perkeras suaranya dan menyambung, &#8220;Kay-pang adalah pang terbesar di kalangan Kangouw, namanya berkumandang ke segenap pelosok jagat ini, siapa orang Bu-lim yang tidak merasa kagum padanya? Bila sekarang terjadi saling membunuh, apakah takkan dibuat tertawaan orang? Maka sebelum aku pergi, ada sesuatu yang ingin kukatakan pada kalian, barang siapa saling berhantam di antara sesama saudara pang kita, maka dia itulah yang berdosa terbesar kepada pang kita.&#8221;</p>
<p>Dasar persaudaraan anggota Kay-pang memang paling mengutamakan keluhuran budi antarkawan. Maka mereka menjadi malu sendiri demi mendengar ucapan Kiau Hong itu.</p>
<p>&#8220;Dan bagaimana kalau ada yang membunuh saudara sesama pang kita?&#8221; tiba-tiba suara seorang wanita bertanya. Ia bukan lain adalah Be-hujin.</p>
<p>&#8220;Membunuh orang harus ganti nyawa, lebih-lebih membunuh sesama saudara pang, ia harus dikutuk habis-habisan,&#8221; sahut Kiau Hong tanpa ragu.</p>
<p>&#8220;Baiklah jika begitu,&#8221; ujar Be-hujin.</p>
<p>&#8220;Orang she Kiau ini selamanya suka blakblakan, selama hidup tidak pernah ada sesuatu rahasia bagi orang lain,&#8221; seru Kiau Hong pula. &#8220;Tentang tewasnya Be-hupangcu sebenarnya siapakah pembunuhnya, dan siapakah yang telah mencuri kipasku untuk memfitnah diriku, pada akhirnya kelak pasti akan kubikin terang urusan ini. Be-hujin, dengan kepandaianku orang she Kiau ini, kalau ingin mengambil sesuatu benda ke tempat tinggalmu, rasanya tidak sampai kembali dengan tangan hampa, lebih-lebih tidak mungkin kehilangan sesuatu barang sendiri. Jangankan kediamanmu cuma tinggal dua-tiga orang kaum wanita, sekalipun di tengah istana keraton atau di markas besar panglima jenderal, kalau orang she Kiau ini ingin mengincar sesuatu barang, rasanya dengan mudah juga akan dapat diperoleh.&#8221;</p>
<p>Ucapan Kiau Hong ini sangat perkasa dan bangga, namun para anggota Kay-pang cukup kenal betapa tinggi kepandaiannya, mereka merasa apa yang dikatakan itu memang beralasan dan bukan bualan belaka. Begitu pula Be-hujin lantas menunduk juga dan tidak berani buka suara lagi.</p>
<p>Lalu Kiau Hong memberi hormat kepada semua orang sekeliling, katanya pula, &#8220;Gunung tetap menghijau, sungai tetap mengalir, para saudara-saudara, selamat tinggal, sampai berjumpa pula kelak. Baiklah apakah aku orang she Kiau ini bangsa Han maupun bangsa Cidan, pendek kata selama hidupku ini pasti tidak akan mencelakai jiwa seorang pun bangsa Han, apabila melanggar sumpah ini, biarlah seperti golok ini.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, mendadak tangan kirinya menjulur cepat ke arah Tan Cing. Seketika Tan Cing merasa tangannya bergetar, golok yang terpegang di tangannya tak tertahan lagi, sedikit kendur cekalannya, golok itu tahu-tahu sudah berpindah ke tangan Kiau Hong.</p>
<p>Ketika jari Kiau Hong menjelentik sekali ke batang golok itu, &#8220;trang&#8221;, kontan golok itu patah menjadi dua, bagian ujung golok terpental beberapa meter jauhnya, sedangkan tangkai golok masih terpegang di tangan Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Maaf!&#8221; katanya kepada Tan Cing sambil membuang tangkai golok itu dan bertindak pergi dengan cepat.</p>
<p>Di tengah rasa kaget para anggota Kay-pang yang sedang saling pandang dengan bingung itu, menyusul lantas ada orang berseru, &#8220;He, jangan pergi, Pangcu!&#8221; &#8211; &#8220;Kembalilah Pangcu, Kay-pang kita masih membutuhkan pimpinanmu!&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba terdengar suara mendesir keras, dari udara tampak jatuh sebatang pentung bambu, itulah Pak-kau-pang yang ditimpukkan kembali oleh Kiau Hong dari jauh.</p>
<p>Cepat Ci-tianglo ulur tangan hendak menangkap pentung itu, tapi baru saja tangan menyentuh pentung bambu sekonyong-konyong terasa lengan hingga bahu dan seluruh tubuh tergetar seakan-akan kena aliran listrik. Lekas-lekas ia lepas tangan, begitu keras sambaran pentung itu hingga menancap tegak di tanah.</p>
<p>Para pengemis itu berseru kaget, seketika pikiran mereka pun bimbang demi melihat pentung simbol pangcu mereka itu.</p>
<p>&#8220;Toako, tunggu, aku ikut!&#8221; seru Toan Ki mendadak. Mestinya ia bermaksud menyusul Kiau Hong, tapi baru dua-tiga langkah, betapa pun ia merasa berat meninggalkan Ong Giok-yan, tanpa merasa, ia menoleh.</p>
<p>Dan sekali pandang itulah tidak dapat lagi ia tinggal pergi. Otomatis timbul semacam rasa ikatan yang erat, segera ia putar kembali ke hadapan Giok-yan dan berkata, &#8220;Nona Ong, sekarang kalian hendak ke mana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Piauko telah difitnah orang, boleh jadi ia sendiri masih belum tahu, maka aku harus pergi memberitahukan kepadanya,&#8221; sahut si gadis.</p>
<p>Kecut rasa hati Toan Ki oleh jawaban itu, namun katanya juga, &#8220;Tapi kalian bertiga adalah nona muda belia, di tengah perjalanan tentu kurang bebas, biarlah aku mengantar kalian ke sana.&#8221;</p>
<p>Dan segera ia menambahkan lagi sebagai penjelasan, &#8220;Aku pun sudah sering mendengar nama kebesaran Buyung-kongcu, sesungguhnya aku memang ingin sekali berkenalan dengan dia.&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu terdengar Ci-tianglo telah berkata kepada para pengemis, &#8220;Cara bagaimana kita harus menuntut balas bagi Be-hupangcu, biarlah kita nanti rundingkan secara saksama. Sekarang pang kita tidak boleh tanpa pimpinan, sesudah Kiau &#8230; Kiau Hong pergi, pengganti jabatan pangcu ini adalah urusan mahapenting yang tidak boleh ditunda. Mumpung kita telah berkumpul semua di sini, marilah kita lantas merundingkannya segera.&#8221;</p>
<p>Segera Song-tianglo menanggapi, &#8220;Menurut pendapatku, marilah kita mencari kembali Kiau-pangcu dan mohon dia suka berpikir panjang dan membatalkan maksudnya mengundurkan diri &#8230;.&#8221;</p>
<p>Belum habis ucapannya, kontan di sebelah sana ada yang menyela, &#8220;Kiau Hong adalah bangsa Cidan, mana boleh dia menjadi pemimpin kita? Hari ini kita mengingat baik hubungan selama ini, lain kali kalau bertemu lagi berarti ia musuh kita, harus kita adu jiwa dengan dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, masa kau ada harganya buat mengadu jiwa dengan Kiau-pangcu?&#8221; jengek Song-tianglo.</p>
<p>&#8220;Aku sendiri tentu tak mampu melawannya,&#8221; sahut orang itu dengan gusar, &#8220;tapi apakah kita cuma satu orang, kita dapat maju sepuluh orang sekaligus, sepuluh orang tidak cukup, maju serentak seratus orang. Kay-pang kita selamanya siap berjuang bagi nusa dan bangsa, masakah jeri kepada seorang musuh?&#8221;</p>
<p>Karena ucapan yang gagah bersemangat ini, seketika banyak anggota Kay-pang bersorak memuji.</p>
<p>Belum lenyap suara sorakan itu, tiba-tiba terdengar suara seorang yang seram tajam berkata di arah barat-laut sana, &#8220;Kay-pang telah berjanji dengan orang untuk bertemu di Hui-san, tapi ingkar janji, tahu-tahu main sembunyi di sini seperti kura-kura! Hehe, sungguh menggelikan!&#8221;</p>
<p>Suara itu tajam menusuk telinga, tapi lafal kata-katanya tidak tepat, seperti suara orang pilek atau bindeng hingga kedengarannya tidak menyedapkan.</p>
<p>Mendengar teguran suara itu, seketika berserulah Cio-thocu dari Tay-gi-hun-tho dan Pui-thocu dari Tay-yong-hun-tho, &#8220;Haya, Ci-tianglo, memang kita telah ingkar janji dengan orang, maka sekarang musuh telah mencari kemari:&#8221;</p>
<p>Segera Toan Ki teringat juga waktu bertemu dengan Kiau Hong siang tadi, mendengar anak buah Kay-pang melapor kepada sang toako bahwa mereka telah berjanji untuk bertemu dengan orang di atas Hui-san tengah malam ini. Kini rembulan telah mendoyong ke barat, terang sudah jauh lewat tengah malam.</p>
<p>Anggota Kay-pang sendiri sebagian besar tidak tahu adanya perjanjian itu, andaikan tahu juga mereka lebih mementingkan peristiwa penting dalam pang sendiri dan menyampingkan urusan perjanjian dengan orang itu. Kini demi mendengar olok-olok pihak lawan baru mendadak mereka sadar telah ingkar janji.</p>
<p>Segera Ci-tianglo bertanya, &#8220;Janji pertemuan apa? Siapakah lawan?&#8221;</p>
<p>Ia sendiri memang sudah lama tidak ikut campur urusan organisasi, maka sama sekali tidak mengetahui apa-apa.</p>
<p>&#8220;Apakah Kiau-pangcu yang berjanji akan bertemu dengan orang?&#8221; Cit-hoat Tianglo coba tanya Cio-thocu dengan suara tertahan.</p>
<p>&#8220;Ya, cuma tadi Kiau-pangcu sudah mengirim utusan ke Hui-san untuk minta kepada pihak lawan agar menunda perjanjian ini sampai tujuh hari lagi,&#8221; tutur Cio-thocu.</p>
<p>Rupanya orang yang bersuara melengking tadi pun sangat tajam telinganya, meski ucapan Cio-thocu itu sangat perlahan, namun dapat didengarnya juga, segera berkata pula, &#8220;Sekali sudah berjanji, masakah pakai tunda segala? Biarpun tunda satu jam juga tidak boleh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, Kay-pang adalah organisasi terkemuka, masakah takut kepada bangsa asing Se He seperti kalian ini?&#8221; sahut Pek Si-kia dengan gusar. &#8220;Soalnya kami sendiri urusan penting di dalam pang hingga tiada tempo untuk menggubris pada kaum keroco seperti kalian ini. Tentang menunda perjanjian adalah urusan biasa, kenapa mesti diributkan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bluk&#8221;, mendadak dari balik pohon sana melayang keluar seorang dan terbanting di tanah tanpa berkutik. Waktu Pek Si-kia memerhatikan, ia lihat muka orang sudah hancur tak keruan, leher sudah putus tergorok, nyata sudah mati agak lama, segera ia pun dapat mengenali korban itu adalah wakil Thocu Tay-sin-hun-tho.</p>
<p>Keruan Cio-thocu terkejut dan gusar, serunya, &#8220;Cia-hengte inilah yang diutus oleh Kiau-pangcu untuk menyampaikan berita penundaan pertemuan dengan musuh itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ci-tianglo,&#8221; kata Cit-hoat Tianglo Pek Si-kia, &#8220;Pangcu tidak ada, harap engkau suka bertindak sementara sebagai pimpinan.&#8221;</p>
<p>Ia tidak ingin musuh mengetahui Kay-pang sedang menghadapi krisis, agar tidak diremehkan oleh musuh.</p>
<p>Ci-tianglo dapat memahami maksud Pek Si-kia itu, ia pikir kalau dirinya tidak tampil ke muka, memang tiada orang kedua lagi yang cocok untuk memegang pimpinan. Maka dengan suara lantang ia berseru, &#8220;Menurut kelaziman pertengkaran di antara kedua negara, tidak boleh membunuh utusan pihak lawan. Mengapa pihak kalian membunuh utusan yang menyampaikan berita penundaan perjanjian ini?</p>
<p>&#8220;Sikap orangmu ini terlalu angkuh, kata-katanya tidak sopan, di hadapan Ciangkun kami juga tidak mau berlutut, kalau tidak dibunuh, mau diapakan?&#8221; sahut suara seram melengking itu.</p>
<p>Kata-kata ini seketika menimbulkan rasa gusar anggota Kay-pang, beramai-ramai mereka lantas mencaci maki keganasan musuh.</p>
<p>Ci-tianglo masih belum tahu macam apakah musuh, tadi didengarnya Pek Si-kia bilang musuh itu bangsa Se He, sedang orang itu mengatakan &#8220;ciangkun&#8221; (jenderal) segala, hal ini semakin membingungkannya. Maka ia berkata pula, &#8220;Mengapa kau main sembunyi-sembunyi, kenapa tidak terang-terangan unjuk diri saja? Hm, ngaco-belo, jangan coba omong besar di sini!&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba orang itu terbahak-bahak, laku berkata, &#8220;Ciangkun, sekarang silakan keluarlah!&#8221;</p>
<p>Sekonyong-konyong terdengar suara trompet berbunyi di tempat jauh, menyusul lamat-lamat terdengar suara tindakan orang banyak dari tempat beberapa li jauhnya.</p>
<p>&#8220;Mereka itu orang macam apakah? Mengenai urusan apa mereka memusuhi kita?&#8221; demikian Ci-tianglo tanya Si-kia dengan bisik-bisik.</p>
<p>&#8220;Mereka itu bangsa Se He,&#8221; sahut Pek Si-kia dengan perlahan, &#8220;di negeri mereka telah didirikan suatu lembaga persilatan yang disebut &#8216;It-bin-tong&#8217; (ruang kelas satu), konon pendirinya adalah maharaja mereka untuk mengundang jago-jago silat dari segenap pelosok, mereka yang memenuhi undangan akan diberi gaji besar dan mendapat kedudukan terhormat, kewajiban mereka hanya mengajar ilmu silat kepada perwira negeri Se He.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ehm, negeri Se He selama ini memupuk kekuatan dan pergiat latihan silat, tujuannya bukankah akan mengganggu kerajaan Song kita?&#8221; ujar Ci-tianglo.</p>
<p>&#8220;Memang begitulah tujuan mereka,&#8221; sahut Pek Si-kia mengangguk. &#8220;Setiap orang yang dapat memasuki &#8216;It-bin-tong&#8217; itu, katanya ilmu silatnya pasti golongan kelas satu. Ketua It-bin-tong itu konon seorang ongya (pangeran) dengan pangkat Ceng-tang-tay-ciangkun (jenderal besar penggempur ke timur), namanya Helian Tiat-si. Paling akhir ini dia pimpin jago-jagonya itu dan diutus ke kota raja kita untuk menemui Hongsiang dan ibu suri. Padahal maksud yang sesungguhnya adalah untuk memata-matai kekuatan negeri kita.</p>
<p>&#8220;Di kota raja, Helian Tiat-si telah pamer kekuatan dan bersikap sombong, ia menantang agar perwira kerajaan Song kita coba-coba bertanding dengan jago-jago yang dia bawa. Kita tahu tiada seorang jago kelas tinggi di antara perwira pasukan kita itu, dengan sendirinya tidak mungkin diajukan sebagai jago aduan. Untunglah So Tong-po, So-haksu telah mengusulkan suatu akal kepada ibu suri agar tantangan orang Se He yang kurang ajar itu dilakukan pada tahun depan di kota raja kita.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ehm, akal ulur tempo yang bagus,&#8221; ujar Ci-tianglo perlahan, &#8220;selama setahun ini kita dapat mengundang jago-jago silat dari seluruh negeri untuk menghadapi musuh pada tahun depan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Malahan sebelum menginjak negeri kita, orang-orang Se He ini sudah cukup mengetahui situasi dunia persilatan kita,&#8221; tutur Pek Si-kia, &#8220;Mereka tahu pang kita adalah salah satu saka guru dunia persilatan Tionggoan, maka bermaksud sekaligus menghancurkan kita dahulu untuk memupuk nama baik, dan tahun depan mereka yakin akan mendapat kemenangan total pula.</p>
<p>&#8220;Bila rakyat kita sudah jeri dan ketakutan kepada kepandaian bangsa Se He mereka, lalu mereka akan mengerahkan pasukan tentaranya untuk menyerbu dan dengan mudah akan dapat merebut negeri kita.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Ci-tianglo terperanjat oleh rencana keji musuh, bisiknya perlahan, &#8220;Ehm, tipu muslihat mereka ini benar-benar sangat keji.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan begitu Helian Tiat-si meninggalkan kota raja segera mereka mendatangi markas besar kita di Lokyang,&#8221; tutur Pek Si-kia lebih jauh. &#8220;Kebetulan waktu itu Kiau-pangcu bersama kami sekaligus telah menuju Kanglam sini hendak menuntut balas bagi Be-hupangcu, maka orang Se He telah menubruk tempat kosong. Dan mereka benar-benar terlalu kurang ajar, mereka menyusul ke Kanglam sini dan akhirnya mengadakan perjanjian dengan Kiau-pangcu untuk bertemu malam ini di Hui-san.&#8221;</p>
<p>Ci-tianglo berpikir sejenak, lalu katanya dengan berbisik, &#8220;Perhitungan mereka sungguh seenaknya, pertama Kay-pang kita akan dihancurkan, boleh jadi mereka akan maju setindak pula untuk menggempur Siau-lim-si, lalu membasmi Hoa-san-pay dan aliran persilatan lain di Tionggoan hingga kocar-kacir, dengan demikian tahun depan kemenangan pasti di tangan mereka.&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu suara derapan kuda yang ramai tadi sudah mendekat, mendadak terdengar trompet berbunyi tiga kali, delapan ekor kuda tampak muncul dengan terbagi menjadi dua barisan. Penunggang kuda itu semuanya bertombak panjang, di atas tombak masing-masing berkibar panji kecil. Ujung tombak bersinar mengilap, lamat-lamat kelihatan keempat panji kecil di sisi barat tersulam dua huruf &#8220;Se He&#8221;, sedangkan empat panji kecil di sebelah lain tersulam dua huruf &#8220;Helian.&#8221;</p>
<p>Menyusul mana muncul delapan ekor kuda yang lain dan berlari cepat ke tengah hutan. Empat penunggangnya segera meniup trompet yang dibawa dan empat orang lainnya menabuh genderang.</p>
<p>Diam-diam para pengemis berkerut kening, pikir mereka, &#8220;Ini kan pasukan tentara di medan perang terbuka, masa dipakai dalam pertemuan dengan kaum persilatan?&#8221;</p>
<p>Setelah bunyi trompet dan genderang tadi, segera muncul pula delapan busu (jago silat) negeri Se He.</p>
<p>Di antara kedelapan orang itu, Ci-tianglo melihat enam orang di antaranya adalah kakek-kakek yang rambut dan jenggotnya sudah ubanan semua, badan mereka pun kurus kering dan reyot.</p>
<p>Diam-diam Ci-tianglo membatin, &#8220;Agaknya inilah tokoh-tokoh dari apa yang disebut It-bin-tong itu?</p>
<p>Segera kedelapan busu itu membagi diri ke sisi kanan dan kiri, lalu seorang penunggang kuda masuk ke tengah hutan situ dengan perlahan.</p>
<p>Penunggang kuda ini berjubah merah, berusia antara 34-35 tahun, hidungnya besar membetet, tampaknya sangat tangkas dan cerdik. Di belakangnya mengikut seorang laki-laki bertubuh sangat tinggi dan berhidung besar.</p>
<p>Begitu masuk ke tengah hutan, segera laki-laki hidung besar itu berseru, &#8220;Ceng-tang-tay-ciangkun dari Se He tiba, silakan Pangcu dari Kay-pang maju menyambut.&#8221;</p>
<p>Dari suaranya yang melengking seram ini, jelas dia inilah yang bicara tadi.</p>
<p>&#8220;Pangcu kami tidak berada di sini, sementara ini aku yang mewakilkan jabatannya,&#8221; sahut Ci-tianglo. &#8220;Para saudara dalam Kay-pang adalah orang Kangouw yang kasar dan rendah, jika Ciangkun dari negeri Se He hendak bertemu dengan kami secara terhormat, rasanya kami tidak berani terima, lebih baik silakan Ciangkun pergi bertemu dengan kaum ningrat kerajaan Song kita saja dan tidak perlu menemui kaum jembel yang kerjanya cuma minta-minta ini. Sebaliknya kalau ingin bertemu secara orang Bu-lim, Ciangkun datang dari jauh, dengan sendirinya adalah tamu, maka silakan turun untuk bicara.&#8221;</p>
<p>Ucapan Ci-tianglo ini sangat tegas, tidak merendah juga tidak kaku, cukup menjaga harga diri pula. Maka diam-diam para pengemis merasa kagum terhadap orang tua itu.</p>
<p>&#8220;Jika Pangcu kalian tidak di sini, Ciangkun kami tidak dapat bicara dengan kalian,&#8221; sahut laki-laki hidung besar itu.</p>
<p>Tiba-tiba ia melihat Pak-kau-pang yang menancap di tanah itu sangat menarik, segera ia berkata, &#8220;Eh, pentung bambu hijau kemilau ini sangat bagus, biarlah kuambil untuk dijadikan tangkai sapu!&#8221;</p>
<p>Dan begitu tangannya bergerak, segera ia ayun cambuknya hendak membelit pentung bambu itu.</p>
<p>Keruan para pengemis menjadi gusar, beramai-ramai mereka memaki, &#8220;Keparat!&#8221; &#8211; &#8220;Anjing buduk!&#8221; &#8211; &#8220;Enyahlah kau, bangsat!&#8221;</p>
<p>Namun ujung cambuk orang itu tampaknya sudah hampir melilit di batang pentung bambu itu, sekonyong-konyong bayangan orang melesat maju secepat kilat, tiba-tiba ia ulur tangan ke depan pentung bambu hingga ujung cambuk kena melilit di tangannya. Dan sekali ia tekuk lengannya, laki-laki hidung besar itu tidak kuat lagi bertahan di atas kudanya, ia terseret turun dari kudanya dan berdiri di tanah. Berbareng kedua orang sama menarik pula sekuatnya, &#8220;prak&#8221;, cambuk itu putus bagian tengah.</p>
<p>Menyusul orang itu lantas mencabut pentung bambu itu dan mengundurkan diri tanpa berkata. Waktu semua orang memerhatikan, orang itu rada bungkuk, itulah Thoan-kong Tianglo. Ia pendiam, tapi ilmu silatnya sangat tinggi, bila Kay-pang menghadapi kesulitan, tanpa bicara ia lantas turun tangan. Dan sekali gebrak tadi ia berhasil menyeret laki-laki hidung besar itu turun dari kudanya, pecutnya terbetot putus pula, hal ini boleh dikatakan Thoan-kong Tianglo sudah menang satu babak.</p>
<p>Ternyata laki-laki hidung besar itu sangat sabar, biarpun kecundang, sedikit pun ia tidak unjuk sikap lesu, bahkan ia berseru, &#8220;Hah, kaum pengemis memang pelit, cuma sebatang bambu juga tidak boleh diambil orang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebenarnya ada urusan apakah para tokoh dan pahlawan Se He mengadakan janji pertemuan dengan Kay-pang kami?&#8221; tanya Ci-tianglo kemudian.</p>
<p>&#8220;Sebab Ciangkun kami mendengar bahwa Kay-pang mempunyai dua macam kepandaian istimewa, yang semacam katanya bernama Pak-niau-pang-hoat dan yang lain Hang-coa-cap-pek-ciang, sebab itulah kami ingin coba-coba belajar kenal,&#8221; demikian sahut laki-laki hidung besar.</p>
<p>Mendengar ejekan itu, seketika gusarlah para pengemis. Kurang ajar benar pikir mereka, masakah Pak-kau-pang-hoat (ilmu pentung penggebuk anjing) sengaja dikatakan sebagai Pak-niau-pang-hoat (ilmu pentung penghajar kucing) dan Hang-liong-sip-pat-ciang (18 jurus ilmu pukulan penakluk naga) diubah menjadi Hang-coa-cap-pek-ciang (18 jurus ilmu pukulan penakluk ular), terang sengaja menghina, maka pertemuan sekarang ini sudah pasti akan diakhiri dengan suatu pertarungan yang menentukan mati dan hidup.</p>
<p>Di tengah caci maki para pengemis itu, sebaliknya diam-diam Ci-tianglo, Thoan-kong Tianglo, Cit-hoat Tianglo dan lain-lain merasa khawatir pula, pikir mereka, &#8220;Pak-kau-pang-hoat dan Hang-liong-sip-pat-ciang ini selamanya cuma pangcu yang mahir menggunakannya, jika lawan sudah kenal kedua macam ilmu ini dan masih berani menantang secara terang-terangan, rasanya mereka pasti bukan sembarangan jago silat dan boleh jadi akan susah dilawan.&#8221;</p>
<p>Maka Ci-tianglo lantas menjawab, &#8220;Kalian ingin belajar kenal dengan Pak-niau-pang-hoat dan Hang-coa-cap-pek-ciang kami, hal ini tidak sulit. Asal ada kucing buduk dan ular belang kesasar ke sini, sudah pasti kaum pengemis mampu menghajarnya. Dan saudara apakah ingin belajar menjadi kucing atau ular, silakan pilih!&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahaha, kalau dia ingin menjadi ular, itulah kebetulan, kaum pengemis paling suka tangkap ular, tanggung cek-gemol, datang satu tangkap satu, datang sepuluh bekuk sepuluh, tidak terbukti, uang kembali!&#8221; demikian Go-tianglo ikut menjawab dengan terbahak-bahak.</p>
<p>Adu kepandaian kalah sebabak, adu mulut, mati kutu pula, keruan laki-laki hidung besar itu menjadi runyam. Dan selagi ia pikir apa yang hendak dikatakan pula, sekonyong-konyong di belakangnya seorang berteriak dengan suaranya yang kasar dan keras, &#8220;Biar ular maupun kucing, ayolah, siapa yang berani maju bertempur dulu denganku?&#8221;</p>
<p>Sembari berkata orang itu terus menyelinap keluar dari rombongannya dan berdiri tegak di tengah kalangan dengan bertolak pinggang. Muka orang ini sangat jelek dan menakutkan.</p>
<p>Semua orang terkesiap dan ragu menghadapi orang yang bengis dan galak dengan mukanya yang jelek ini, sebaliknya tiba-tiba terdengar Toan Ki lantas berseru, &#8220;Hei, muridku, kiranya kau juga datang ke sini? Ayo, ketemu Suhu mengapa tidak lekas menjura?&#8221;</p>
<p>Kiranya laki-laki muka jelek ini tak-lain-tak-bukan adalah Lam-hay-gok-sin Gak-losam, si jahat ketiga dari &#8220;Su-ok&#8221;.</p>
<p>Mendadak tampak Toan Ki juga berada di situ, Gak-losam terkejut, ia merasa kikuk dan serbasalah, sahutnya dengan gelagapan, &#8220;Engkau &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Murid baik,&#8221; segera Toan Ki menyela, &#8220;Pangcu Kay-pang adalah saudara-angkatku, orang-orang ini adalah Supek dan Susiokmu pula, maka jangan kurang ajar, lekas pulang saja.&#8221;</p>
<p>Mendadak Lam-hay-gok-sin mengerang keras hingga pohon sama tergetar, ia memaki, &#8220;Keparat, jahanam, haram jadah!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau memaki siapa haram jadah?&#8221; tegur Toan Ki.</p>
<p>Seperti diketahui, Lam-hay-gok-sin ini meski kejam dan ganas, tapi apa yang pernah ia ucapkan selamanya pasti ditepati dan tidak dijilat kembali. Ia pernah menyembah kepada Toan Ki dan mengaku guru padanya, hal ini tidak pernah disangkalnya. Maka ia lantas menjawab, &#8220;Aku suka memaki, peduli apa denganmu? Aku kan tidak memaki engkau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ehm, dan mengapa ketemu Suhu tidak menjura dan menyampaikan salam? Di manakah letak aturanmu, hah?&#8221; tegur Toan Ki pula.</p>
<p>Dengan menahan gusar terpaksa Lam-hay-gok-sin melangkah maju dan berlutut memberi hormat sambil berkata, &#8220;Suhu, baik-baikkah engkau?&#8221;</p>
<p>Dan saking mengkalnya, begitu berdiri kembali terus saja ia berlari pergi dengan cepat sambil mengerang dengan suaranya yang keras dan mendengung-dengung.</p>
<p>Begitu keras suaranya bagaikan air bah yang surut dengan cepat. Hanya dari suaranya ini saja setiap orang akan tahu betapa tinggi lwekangnya, di antara tokoh-tokoh Kay-pang hanya Ci-tianglo, Thoan-kong Tianglo dan beberapa tertua lain yang mampu menandinginya. Tapi seorang pelajar yang lemah sebagai Toan Ki itu ternyata adalah gurunya, hal ini benar-benar membikin mereka tidak habis heran.</p>
<p>Tertampak dari rombongan jago Se He melompat pula seorang yang bertubuh tinggi bagai galah bambu, gaya lompatnya ternyata cepat luar biasa, kedua tangan masing-masing memegang sebatang senjata yang berbentuk aneh, panjangnya kira-kira satu meter, ujungnya berbentuk lima jari buatan baja. Cakar baja itu mengilat tersorot sinar rembulan.</p>
<p>Segera Toan Ki mengenali orang ini adalah In Tiong-ho yang bergilir Kiong-hiong-kek-ok (terlalu ganas dan mahajahat), yaitu orang keempat Thian-he-su-ok (empat mahadurjana dunia). Diam-diam ia heran mengapa keempat tokoh itu telah mengabdikan diri kepada kerajaan Se He?</p>
<p>Waktu Toan Ki memandang pula ke arah rombongan jago-jago Se He, benar juga lantas dilihatnya &#8220;Bu-ok-put-cok&#8221; (tiada kejahatan yang tak dilakukan) Yap Ji-nio sedang berdiri di situ dengan tersenyum simpul membopong seorang bayi. Hanya si jahat pertama &#8220;Ok-koan-boan-eng&#8221; (kejahatan sudah melebihi takaran) Yan-king Taycu yang tidak kelihatan.</p>
<p>Diam-diam Toan Ki bersyukur si jahat utama itu tidak berada di situ, kalau cuma Ji-ok (si jahat kedua) dan Si-ok (si jahat keempat) saja, tentu jago-jago Kay-pang masih mampu melawannya.</p>
<p>Kiranya sesudah &#8220;Thian-he-su-ok&#8221; itu meninggalkan negeri Tayli, dalam perjalanan mereka ke utara, mereka bertemu dengan utusan It-bin-tong dari negeri Se He yang ditugaskan mencari jago-jago kosen.</p>
<p>Dasar Su-ok itu memang terlalu iseng, terus saja mereka menggabungkan diri ke dalam It-bin-tong. Betapa tinggi ilmu silat mereka, dengan sendirinya hanya sedikit demonstrasi saja mereka sudah lantas diterima sebagai jago pilihan oleh Helian Tiat-si. Dalam perjalanan ke Tionggoan kali ini Helian Tiat-si telah membawa serta keempat durjana itu dan menganggap mereka sebagai tangan kanan-kirinya.</p>
<p>Begitulah sesudah In Tiong-ho melompat maju ke tengah, segera ia berseru, &#8220;Ciangkun kami ingin belajar kenal dengan kedua macam kungfu Kay-pang. Sebenarnya pengemis seperti kalian ini mempunyai kepandaian sejati atau cuma bualan belaka, ayolah, silakan maju untuk coba-coba dengan aku!&#8221;</p>
<p>&#8220;Biarkan aku yang maju dulu,&#8221; tiba-tiba Ge-tianglo berkata.</p>
<p>&#8220;Baiklah!&#8221; sahut Ci-tianglo. &#8220;Tapi ginkang orang ini sangat hebat, Ge-heng harus hati-hati.&#8221;</p>
<p>Ge-tianglo mengiakan dan maju ke tengah kalangan sambil menyeret tongkat bajanya yang panjang itu, katanya, &#8220;Ilmu silat Kay-pang kami hanya digunakan menurut keperluan saja, terhadap Bu-beng-siau-cut (kaum keroco) macammu ini masakah perlu pakai Pak-kau-pang-hoat segala? Ini, rasakan dulu toyaku ini!&#8221;</p>
<p>Segera tongkatnya mengemplang ke atas kepala lawan.</p>
<p>Badan Ge-tianglo itu gemuk buntak, jadi terbalik daripada tubuh In Tiong-ho yang jangkung lencir. Tapi tongkatnya yang sangat panjang itu masih dapat digunakan menghantam dari atas ke bawah.</p>
<p>Dahulu guru Ge-tianglo waktu mengajarkan permainan senjata panjang ini kepadanya, maksud tujuannya memang guna menambal perawakan yang pendek itu, agar dengan tongkat panjang itu dapat dipakai melawan musuh yang lebih tinggi.</p>
<p>Begitulah maka cepat In Tiong-ho berkelit ke samping, &#8220;blang&#8221;, tongkat baja Ge-tianglo menghantam tanah hingga debu pasir bertebaran, ujung tongkat sampai ambles belasan senti ke dalam tanah. Betapa hebat tenaganya sungguh mengejutkan.</p>
<p>In Tiong-ho insaf tenaganya jauh di bawah lawan, maka ia tidak berani menangkis dari depan, tapi terus melompat ke sini dan melesat ke sana, dengan ginkang yang tinggi ia tempur Ge-tianglo dengan main kucing-kucingan.</p>
<p>Ge-tianglo putar tongkatnya sedemikian kencang hingga berwujud segulung kabut putih, tapi tetap tidak dapat menyenggol badan In Tiong-ho.</p>
<p>Selagi Toan Ki terpesona menyaksikan pertarungan itu, tiba-tiba suara seorang yang merdu berkata di tepi telinganya, &#8220;Toan-toako, sebaiknya kita membantu siapa?&#8221;</p>
<p>Waktu Toan Ki berpaling, ia lihat yang bicara itu adalah Giok-yan, seketika hatinya terguncang, sahutnya, &#8220;Membantu apa maksudmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukankah si jangkung itu adalah kawan muridmu? Dan si pengemis pendek gemuk ini adalah anak buah saudara angkatmu, pertarungan mereka makin lama makin sengit, apakah kita mesti membantu atau menjadi juru pisah saja?&#8221; sahut Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Muridku adalah seorang jahat, si jangkung ini lebih-lebih ganas, maka tidak perlu membantu dia,&#8221; sahut Toan Ki.</p>
<p>&#8220;O!&#8221; kata Giok-yan berpikir sejenak. &#8220;Tapi para pengemis itu telah mengusir Gihengmu dan tidak sudi mengaku dia sebagai pangcu lagi, malahan sembarangan menuduh Piaukoku, maka aku tidak suka kepada mereka.&#8221;</p>
<p>Menurut jalan pikiran gadis itu, siapa yang tidak baik kepada piaukonya, maka orang itu dianggapnya sebagai orang paling jahat di dunia ini. Lalu ia menyambung pula, &#8220;Si pengemis buntak ini memainkan Hok-mo-theng dari aliran Ngo-tay-san, tapi karena badannya pendek, maka jurus &#8216;Cin-ong-pian-ciok&#8217; (Raja Cin mencambuk batu) yang dimainkan itu kurang tepat. Asal si jangkung menyerang bagian kakinya, pasti dia akan kewalahan. Cuma si kurus itu tidak tahu, ia sangka si pendek tentu sangat kuat kuda-kudanya, padahal tidak demikian.&#8221;</p>
<p>Meski suara Giok-yan ini sangat perlahan, tapi kebanyakan jago yang hadir di situ adalah ahli lwekang terkemuka, mereka dapat mendengar juga ucapan Giok-yan itu. Walaupun banyak juga di antaranya kenal asal usul ilmu silat Ge-tianglo, tapi sekali pandang hendak mengetahui di mana letak kelemahan tokoh Kay-pang itu sebenarnya sedikit yang mampu. Dan memang benar juga, demi mereka memerhatikan jurus serangan Ge-tianglo yang disebut Giok-yan tadi yang kelihatannya sangat hebat, namun kuda-kuda kakinya memang kurang kuat.</p>
<p>Dengan sendirinya In Tiong-ho juga mendengar komentar Giok-yan itu, ia melirik gadis itu dan memuji, &#8220;Wah, cantik amat anak dara ini, lebih-lebih pandangannya yang tajam, kalau mau ikut aku dan menjadi istriku masih boleh juga.&#8221;</p>
<p>Sambil berkata, senjata cakar bajanya tidak pernah kendur, ia turut petunjuk Giok-yan tadi dan beruntun tiga kali menyerang bagian bawah Ge-tianglo.</p>
<p>Karena hal itu memang benar merupakan kelemahan Ge-tianglo, maka jurus ketiga tak dapat ditangkisnya, &#8220;cret&#8221;, pahanya tergurat cukup parah oleh cakar baja musuh hingga darah bercucuran.</p>
<p>Dasar sifat Giok-yan memang masih kekanak-kanakan dan hijau, mendengar pujian In Tiong-ho akan kecantikannya, ia merasa senang hingga kata-kata yang bernada rendah itu tidak terpikir olehnya. Dengan tersenyum ia malah menjawab, &#8220;Huh, tidak kenal malu. Apamu yang dapat dipilih, aku tidak mau menjadi istrimu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mengapa tidak mau?&#8221; tanya In Tiong-ho. &#8220;Ehm, tentu kau sudah punya pacar bukan? Biarlah kubunuh dulu buah hatimu itu, masakah kau takkan menjadi istriku nanti?&#8221;</p>
<p>Perkataan terakhir ini benar-benar telah menusuk perasaan Giok-yan, maka dengan muka merengut ia tidak gubris orang lagi.</p>
<p>Selagi In Tiong-ho hendak menggoda dengan kata-kata pula, tiba-tiba dari rombongan Kay-pang telah melompat keluar seorang kakek lain, itulah Go-tianglo dengan senjatanya yang berupa kui-thau-to, golok yang ujungnya berbentuk kepala setan. Tanpa bicara lagi Go-tianglo terus membabat ke kanan empat kali dan menebas ke kiri empat kali, memotong ke atas empat kali dan membacok ke bawah empat kali, 4 kali 4 sama dengan 16 kali, daya serangannya sangat hebat.</p>
<p>Karena tidak kenal ilmu permainan golok lawan itu, In Tiong-ho cuma dapat berkelit ke sini dan menghindar ke sana dengan kelabakan.</p>
<p>Segera Giok-yan mengemukakan komentarnya lagi, &#8220;Su-siang-liok-hap-to-hoat yang dimainkan Go-tianglo ini di dalamnya membawa perubahan menurut perhitungan pat-kwa, pastilah si jangkung itu tak kenal ilmu goloknya ini. Entah apakah dia paham tidak permainan &#8216;Ho-coa-pat-tah&#8217; (delapan kali menghantam ular dan bangau), kalau dapat, dengan mudah pasti Go-tianglo akan dikalahkan pula.&#8221;</p>
<p>Mendengar gadis itu memberi petunjuk pula kepada In Tiong-ho, para pengemis menjadi gusar dan sama melotot padanya.</p>
<p>Dalam pada itu In Tiong-ho sudah mengubah serangannya, kakinya yang panjang itu melangkah lebar, cakar bajanya menyapu dari samping hingga mirip seekor bangau sedang pentang sayap.</p>
<p>&#8220;Hihi, si jangkung itu telah tertipu olehku, boleh jadi tangan kirinya akan segera tertebas kutung,&#8221; bisik Giok-yan pada Toan Ki dengan tertawa perlahan.</p>
<p>&#8220;Apa betul?&#8221; sahut Toan Ki dengan heran.</p>
<p>Dan belum lagi Giok-yan menjawab, tertampak serangan golok Go-tianglo sudah mulai kacau, gayanya semakin lambat, tapi mendadak ia menyerang tiga kali dengan cepat, di mana sinar golok berkelebat, sekonyong-konyong In Tiong-ho menjerit kaget, punggung tangan kirinya telah keserempet oleh golok Go-tianglo hingga cakar bajanya jatuh ke tanah. Masih untung juga baginya karena ginkangnya sangat lihai, dengan cepat ia sempat melompat mundur hingga dapat menghindarkan serangan-serangan susulan Go-tianglo yang hebat.</p>
<p>Setelah mengalahkan musuh, segera Go-tianglo mendekati Giok-yan, ia mengucap terima kasih kepada nona itu.</p>
<p>Giok-yan tersenyum, katanya, &#8220;Sungguh &#8216;Ki-bun-sam-cay-to&#8217; yang hebat!&#8221;</p>
<p>Go-tianglo terkejut, tak tersangka olehnya bahwa gadis itu ternyata kenal ilmu goloknya yang sebenarnya.</p>
<p>Kiranya sejak tadi Giok-yan sudah kenal ilmu golok Go-tianglo itu adalah &#8220;Ki-bun-sam-cay-to,&#8221; tapi ia sengaja bilang &#8220;Su-siang-liok-hap-to&#8221; untuk menyesatkan In Tiong-ho, bahkan ia dapat melihat In Tiong-ho pasti mahir menggunakan serangan &#8220;Ho-coa-pat-tah&#8221;, dengan demikian ia sengaja pancing durjana itu masuk perangkap hingga dicecar oleh serangan Go-tianglo, sampai tangan kirinya hampir tertebas kutung.</p>
<p>Itu orang yang berdiri di samping Helian Tiat-si dan suaranya melengking seram tadi namanya Nurhai. Walaupun mukanya tidak menarik, tapi orangnya sangat cerdik dan banyak tipu akalnya, pengetahuannya juga sangat luas.</p>
<p>Demi melihat mula-mula Giok-yan membantu In Tiong-ho mengalahkan Ge-tianglo, kemudian gadis itu bersuara pula dan membikin In Tiong-ho dilukai Go-tianglo, maka ia lantas berkata kepada Helian Tiat-si, &#8220;Ciangkun, nona cilik bangsa Han ini sangat aneh, kalau kita dapat menawannya ke It-bin-tong dan suruh dia mengatakan segala apa yang dia ketahui, pasti akan sangat besar manfaatnya bagi kita.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ehm, bagus, bolehlah kau tawan dia,&#8221; sahut Helian Tiat-si.</p>
<p>Nurhai garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, pikirnya, &#8220;Sifat Ciangkun benar-benar membikin runyam, setiap kali aku mengusulkan sesuatu akal padanya, selalu ia menjawab, &#8216;Ehm, bagus, kerjakanlah!&#8217; Padahal untuk melaksanakan sesuatu tugas tidaklah mudah, apalagi nona cilik ini tampaknya berilmu silat sangat tinggi dan sukar dijajaki, jangan-jangan aku sendiri akan terjungkal dari dibikin malu di depan orang banyak. Urusan hari ini sudah jelas harus membasmi habis kaum pengemis ini, maka lebih baik aku mendahului turun tangan saja.&#8221;</p>
<p>Sesudah ambil keputusan demikian, segera ia melangkah maju, katanya, &#8220;Ci-tianglo, Ciangkun kami cuma ingin belajar kenal Pak-kau-pang-hoat dan Hang-liong-sip-pat-ciang, jika kalian mahir, lekas unjukkan, bila tidak becus, kami tiada tempo buat banyak urusan, maka sekarang juga kami mohon diri saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, jago-jago It-bin-tong negeri kalian itu ternyata juga cuma begini saja kualitasnya, untuk bisa belajar kenal dengan Pak-kau-pang-hoat dan Hang-liong-sip-pat-ciang rasanya belum sesuai kalau hanya keroco-keroco seperti ini saja,&#8221; sahut Ci-tianglo.</p>
<p>&#8220;Habis, cara bagaimana untuk bisa sesuai,&#8221; tanya Nurhai.</p>
<p>&#8220;Lebih dulu harus dapat mengalahkan semua pengemis-pengemis tak becus seperti kami ini, habis itu barulah pimpinan Kay-pang sudi maju sendiri &#8230;.&#8221; belum habis ucapannya, sekonyong-konyong ia terbatuk-batuk hebat, menyusul matanya terasa sakit pedas dan tak dapat dibuka, air mata pun bercucuran tak tertahankan. Dalam kagetnya, tanpa pikir lagi ia terus melompat ke atas.</p>
<p>Sebagai seorang Kangouw yang ulung, begitu merasa matanya tidak beres, segera Ci-tianglo tahu musuh telah main gila, dan begitu badannya terapung di udara, kedua tangan siap menjaga diri sambil menahan napas, sedang kaki kanan beruntun-runtun menerjang tiga kali.</p>
<p>Sama sekali Nurhai tidak menduga bahwa seorang kakek-kakek yang sudah ubanan itu begitu tangkas dan cepat, untung dirinya masih sempat berkelit, namun hanya tempat-tempat berbahaya saja dapat dihindarkan, sebaliknya pundaknya juga kena terdepak sekali oleh Ci-tianglo hingga ia sempoyongan dan cepat-cepat melompat mundur.</p>
<p>Dalam pada itu para anggota Kay-pang sudah lantas berteriak-teriak, &#8220;Celaka! Musuh main gila!&#8221; &#8211; &#8220;Hei, mataku kena apa ini?&#8221; &#8211; &#8220;Wah, mataku tak dapat dibuka!&#8221; &#8211; Begitulah semuanya merasa mata sakit pedas dan mengucurkan air mata.</p>
<p>Giok-yan, A Cu, dan A Pik juga mengalami kejadian yang sama, mata mereka terasa panas dan susah dibuka. Kiranya ini adalah semacam kabut beracun yang tanpa warna dan tiada bau apa-apa yang disebarkan orang-orang Se He. Racun kabut itu adalah buatan dari kabut beracun yang terdapat di pegunungan Se He, mereka isi di dalam botol, waktu menggunakan, lebih dulu mereka minum obat penawarnya, lalu sumbat botol dibuka dan kabut berbisa itu menguar keluar perlahan-lahan. Dengan begitu biarpun orang yang paling cerdik juga takkan merasa, bila matanya sudah mulai sakit pedas dan mengucurkan air mata, saat itu racun sudah masuk kepala.</p>
<p>Maka terdengarlah suara gedebak-gedebuk dan jeritan kaget yang riuh, para pengemis beruntun-runtun terguling semua.</p>
<p>Di antara semua orang itu hanya Toan Ki yang tidak roboh. Ia pernah makan Bong-koh-cu-hap, katak merah yang bisa menguak seperti kerbau, binatang itu antisegala racun, maka kabut berbisa itu pun tidak mempan baginya.</p>
<p>Ia menjadi bingung ketika melihat para pengemis, Giok-yan dan kedua dayangnya roboh semua dengan keadaan mengenaskan. Ia lihat Ci-tianglo dengan mata merem masih menghantam dan menendang untuk menjaga diri, tapi untuk kedua kalinya ketika melompat lagi ke atas, mendadak tangan-kaki terasa kaku linu, tanpa kuasa lagi orang tua itu terbanting jatuh.</p>
<p>Sambil membentak Nurhai segera pimpin jago-jago Se He meringkus para pengemis. Ia sendiri lantas mendekati Giok-yan dan hendak menarik tangan gadis itu.</p>
<p>&#8220;Apa yang hendak kau lakukan?&#8221; bentak Toan Ki mendadak. Dalam gugupnya jari telunjuk kanan terus menuding hingga satu arus hawa murni terpancar kuat ke depan, itulah &#8220;Lak-meh-sin-kiam&#8221; yang sakti dari keluarga Toan di Tayli.</p>
<p>Nurhai tidak kenal betapa lihainya ilmu pedang tanpa wujud itu, sama sekali ia tidak gubris dan masih ulur tangan hendak memegang Giok-yan, sekonyong-konyong &#8220;krek&#8221; sekali, tahu-tahu tulang tangan kanannya patah dan menggantung ke bawah dengan lemas.</p>
<p>Saking kagetnya Nurhai menjerit dan berhenti. Kesempatan itu segera digunakan Toan Ki untuk merangkul pinggang Giok-yan terus dibawa lari dengan ilmu langkah &#8220;Leng-po-wi-poh&#8221; yang aneh, ia mengisar ke sini dan menyusur ke sana, dengan mudah saja ia tinggal pergi.</p>
<p>Sekali Yap Ji-nio menyambitkan sebatang jarum berbisa ke punggung Toan Ki, sambitan itu sangat pesat menyambarnya dan sangat jitu pula, sebenarnya tidak mungkin Toan Ki sanggup menghindarnya.</p>
<p>Tapi karena ilmu langkahnya yang aneh itu, tiba-tiba Toan Ki mengisar ke kanan dan tahu-tahu membelok ke kiri, terkadang mundur pula, maka ketika jarum berbisa Yap Ji-nio menyambar tiba, tahu-tahu Toan Ki sudah berada beberapa meter jauhnya di samping sana.</p>
<p>Ada tiga busu pilihan dari Se He segera melompat turun dari kuda mereka terus mengudak. Tapi tahu-tahu Toan Ki mengisar mundur malah ke samping kuda yang ditinggalkan mereka itu, lebih dulu ia taruh Giok-yan di atas kuda dengan melintang, lalu ia sendiri mencemplak dan dilarikan secepatnya ke tempat yang sepi.</p>
<p>Sekitar hutan itu sudah dijaga oleh jago-jago Se He, ketika melihat Toan Ki melarikan diri dengan menunggang kuda, segera mereka menghujani pemuda itu dengan panah. Tapi hutan itu sangat lebat, di mana-mana hanya pohon belaka, maka anak panah itu menancap semua di batang pohon tanpa mengenai sasarannya.</p>
<p>Dalam kegelapan Toan Ki terus melarikan kudanya, ia tepuk-tepuk kuda itu dan berkata, &#8220;Kuda baik, kuda manis, ayolah cepat, nanti kuberi minum arak!&#8221;</p>
<p>Sudah beberapa lama kuda itu mencongklang, sementara itu musuh sudah ketinggalan jauh.</p>
<p>&#8220;Nona Ong, bagaimanakah keadaanmu?&#8221; tanya Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Aku keracunan, tenagaku hilang sama sekali,&#8221; sahut Giok-yan.</p>
<p>Toan Ki kaget mendengar nona itu keracunan, cepat ia tanya pula, &#8220;Wah, berbahaya tidak? Cara bagaimana agar bisa memperoleh obat penawarnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Entahlah, aku tidak tahu, lekas larikan kudamu lebih cepat, carilah suatu tempat yang aman dan kita bisa berunding nanti,&#8221; ujar Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Ke mana menurut pendapatmu akan lebih aman?&#8221; tanya Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Ke Thay-oh saja!&#8221; sahut si gadis.</p>
<p>Toan Ki coba membedakan arah, agaknya Thay-oh (telaga besar) itu berada di jurusan barat-laut, segera ia larikan kuda ke sana.</p>
<p>Tiada satu jam kemudian, kuda yang dibebani dua orang itu sudah terlalu lelah, menyusul turun hujan pula rintik-rintik.</p>
<p>Selang tak lama, Toan Ki coba tanya, &#8220;Nona Ong, bagaimana keadaanmu?&#8221;</p>
<p>Dapat menunggang kuda bersama gadis cantik, sudah tentu rasa Toan Ki sangat senang, tapi ia khawatir pula kalau racun yang mengenai Giok-yan itu teramat jahat hingga membahayakan jiwanya. Maka sebentar ia tersenyum dan lain saat khawatir.</p>
<br />Posted in Jin Yong, Pendekar Kerajaan Tayli  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toanki.wordpress.com/1822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toanki.wordpress.com/1822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toanki.wordpress.com/1822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toanki.wordpress.com/1822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toanki.wordpress.com/1822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toanki.wordpress.com/1822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toanki.wordpress.com/1822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toanki.wordpress.com/1822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toanki.wordpress.com/1822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toanki.wordpress.com/1822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toanki.wordpress.com/1822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toanki.wordpress.com/1822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toanki.wordpress.com/1822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toanki.wordpress.com/1822/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1822&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-26/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b75e221c0eee4ff517b26695a19675fc?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">Lenghou Tiong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 25</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-25/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-25/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 04:49:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1820</guid>
		<description><![CDATA[Tan Cing menggeleng-geleng kepala menyaksikan itu, katanya dengan suara lantang, &#8220;Meski aku she Tan (tunggal), tapi istriku satu dan gundikku empat, anak-cucuku penuh serumah. Sebaliknya saudara Siang Wai ini, she Siang (genap, banyak) justru hidup sebatang kara tanpa teman hidup. Peristiwa ini seharusnya engkau sesalkan di masa dahulu, kalau sekarang baru dibicarakan, rasanya juga sudah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1820&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tan Cing menggeleng-geleng kepala menyaksikan itu, katanya dengan suara lantang, &#8220;Meski aku she Tan (tunggal), tapi istriku satu dan gundikku empat, anak-cucuku penuh serumah. Sebaliknya saudara Siang Wai ini, she Siang (genap, banyak) justru hidup sebatang kara tanpa teman hidup. Peristiwa ini seharusnya engkau sesalkan di masa dahulu, kalau sekarang baru dibicarakan, rasanya juga sudah terlambat. Nah, Siang-heng, kita diundang kemari oleh Be-hujin apakah tujuannya ialah untuk merundingkan urusan perjodohanmu?&#8221;</p>
<p><span id="more-1820"></span>&#8220;Bukan,&#8221; sahut Tio-ci-sun sambil menggeleng.</p>
<p>&#8220;Jika begitu, seharusnya kita membicarakan dahulu urusan Kay-pang lebih penting,&#8221; ujar Tan Cing.</p>
<p>&#8220;Apa katamu?&#8221; tiba-tiba Tio-ci-sun menjadi gusar. &#8220;Urusan Kay-pang lebih penting, apakah urusanku dengan Siau Koan kurang penting?&#8221;</p>
<p>Mendengar sampai di sini, Tam-kong tidak tahan lagi, segera ia berkata, &#8220;A Hui, jika kau tidak lantas suruh dia hentikan penyakit gilanya, terpaksa aku akan turun tangan.&#8221;</p>
<p>Mendengar sebutan &#8220;A Hui&#8221;, semua orang lantas berpikir, &#8220;Kiranya Tam-poh mempunyai nama kecil yang lain. Dan nama &#8216;Siau Koan&#8217; itu memang benar adalah monopoli si Tio-ci-sun sendiri.&#8221;</p>
<p>Maka terdengar Tam-poh telah menjawab dengan membanting kaki, &#8220;Dia toh tidak gila, tapi engkau yang mengakibatkan dia begini, dan kau masih belum puas, ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aneh, mengapa aku &#8230; aku yang mengakibatkan dia begitu?&#8221; tanya Tam-kong dengan heran.</p>
<p>&#8220;Habis, aku menikah dengan tua bangka yang celaka seperti kau, dengan sendirinya Suhengku kurang senang &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Waktu kita menikah toh aku tidak celaka dan tidak tua pula,&#8221; ujar Tam-kong.</p>
<p>&#8220;Huh, tidak malu, memangnya kau ganteng dan bagus?&#8221; cemooh Tam-poh.</p>
<p>Ci-tianglo dan Tan Cing hanya saling pandang dengan geleng-geleng kepala saja. Mereka pikir ketiga tua bangka ini benar-benar tidak tahu diri, masakah dengan kedudukan mereka bertiga yang disegani dan dihormati orang Bu-lim sebagai kaum cianpwe, tapi terang-terangan bercekcok urusan asmara masa lampau di depan orang banyak, sungguh menggelikan.</p>
<p>Maka Ci-tianglo lantas berdehem sekali, lalu katanya, &#8220;Atas kunjungan suami-istri Tam-si dan saudara ini, kami segenap anggota Kay-pang merasa mendapat kehormatan yang besar. Sekarang silakan Be-hujin suka bicara perkara pokok dari awal sampai akhir.&#8221;</p>
<p>Be-hujin itu sejak tadi hanya berdiri dengan kepala menunduk sambil mungkur, demi mendengar ucapan Ci-tianglo itu, perlahan ia putar tubuh ke depan, lalu katanya dengan suara perlahan, &#8220;Sungguh malang suamiku tewas, Siaulicu (aku perempuan yang bodoh) hanya dapat menyesalkan nasib sendiri, tapi yang paling menyedihkan adalah suamiku tidak meninggalkan seorang anak pun untuk menyambung abu keluarga Be &#8230;.&#8221;</p>
<p>Berkata sampai di sini, suaranya agak tersendat hingga mengharukan bagi para pendengarnya. Sama-sama menangis, tangis Tio-ci-sun membuat orang merasa geli, tangis A Cu membikin orang heran, sebaliknya tangis Be-hujin membuat orang pilu.</p>
<p>Maka terdengar nyonya janda itu sedang meneruskan, &#8220;Sesudah Siaulicu mengebumikan layon suami, ketika berbenah barang-barang tinggalannya, tanpa sengaja di tempat simpanan kitab pelajaran silat dapat kutemukan suatu sampul surat wasiat yang tertutup rapat, di atas sampul tertulis: &#8216;Jika aku meninggal sampai hari tua secara wajar maka surat ini harus segera dibakar, siapa yang berani membuka surat ini berani merusak ragaku ini dan membuat aku tidak tenteram di alam baka. Tapi kalau aku mati secara tidak wajar surat ini harap diserahkan kepada para tianglo untuk dibuka bersama, soalnya sangat penting, jangan keliru!&#8217;&#8221;</p>
<p>Berkata sampai di sini, suasana dalam hutan itu menjadi sunyi senyap, semua orang ingin mendengarkan bagaimana lanjutan ceritanya.</p>
<p>Setelah merandek sejenak, lalu Be-hujin menanggalkan sebuah ransel kecil yang dibawa dan mengeluarkan sebuah kantong surat dari kain minyak, dari dalam kantong surat itu kemudian dilolos keluar sebuah sampul, lalu katanya, &#8220;Inilah surat wasiat suamiku itu. Sesudah kutemukan surat ini dan melihat pesan suamiku itu sangat penting, kutahu urusannya pasti bukan urusan biasa, maka segera hendak kutemui Pangcu untuk mempersembahkan surat wasiat ini. Tapi untung Pangcu telah datang ke Kanglam sini bersama para Tianglo hendak membalaskan sakit hati suamiku, dan syukurlah karena itu juga aku belum dapat berjumpa dengan Pangcu.&#8221;</p>
<p>Ucapan Be-hujin itu kedengaran agak janggal, masakah tidak berhasil bertemu dengan sang pangcu dianggapnya &#8220;untung&#8221; dan &#8220;syukur&#8221;? Tanpa terasa sinar mata semua orang sama beralih ke arah Kiau Hong.</p>
<p>Dari macam-macam kejadian malam ini, memang Kiau Hong sudah mempunyai firasat bahwa pasti ada sesuatu muslihat yang mahabesar sedang diarahkan kepadanya, walaupun soal komplotan Coan Koan-jing yang hendak menggulingkan dirinya sebagai pangcu itu sudah diamankan, namun kasus ini terang masih belum lagi tamat.</p>
<p>Kini mendengar uraian Be-hujin itu, perasaannya yang tertekan tadi menjadi ringan malah dan sikapnya tetap tenang, pikirnya, &#8220;Muslihat apa yang telah kalian atur, silakan keluarkan saja. Seorang laki-laki sejati harus berani menghadapi sesuatu yang menjadi kewajibannya. Selama hidupku tidak pernah berbuat kesalahan apa-apa, biar bagaimana kalian hendak menjebak dan memfitnah diriku, kenapa aku mesti takut?&#8221;</p>
<p>Maka terdengar Be-hujin menyambung ceritanya lagi, &#8220;Karena itulah kutahu surat ini menyangkut urusan penting organisasi kita, sedangkan Pangcu dan Tianglo tidak berada di Lokyang, kukhawatir membuang waktu sia-sia, maka kupergi dulu ke Theciu untuk menghadap Ci-tianglo dan minta beliau mengambil keputusan menurut surat wasiat itu. Tentang kejadian selanjutnya biarlah Ci-tianglo yang akan memberitahukan kalian.&#8221;</p>
<p>Ci-tianglo batuk beberapa kali, lalu katanya, &#8220;Urusan ini sesungguhnya banyak suka-dukanya, aku merasa serbasulit untuk bicara.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba ia ambil surat wasiat itu dari tangan Be-hujin, lalu sambungnya, &#8220;Sejak kakek-moyangnya hingga, ayah Be Tay-goan, beberapa keturunan mereka semuanya adalah orang Kay-pang sendiri, kedudukan mereka kalau bukan tianglo yang berkantong sembilan tentulah Pat-te-tecu (anak murid berkantong delapan). Sejak kecil hingga besar aku pun kenal Tay-goan. Gaya tulisannya kukenal. Maka tidak perlu diragukan lagi tulisan di atas sampul surat wasiat ini memang benar adalah tulisan tangan Tay-goan sendiri.</p>
<p>&#8220;Ketika surat ini diserahkan padaku oleh Be-hujin, segel di atas sampul surat ini masih tertutup rapat dan baik. Karena khawatir membikin runyam urusan penting, maka tanpa menunggu para tianglo yang lain aku lantas membukanya. Waktu kubuka surat ini, Tiat-bin-poan-koan Tan-heng kebetulan juga berada di situ, untuk mana dia dapat menjadi saksi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang benar, tatkala itu kebetulan aku bertamu di tempat kediaman Ci-tianglo dan dengan mataku sendiri kulihat dia membuka dan membaca surat wasiat itu,&#8221; tukas Tan Cing.</p>
<p>Segera Ci-tianglo melolos keluar sehelai surat dari sampul, katanya pula, &#8220;Waktu mula-mula aku membaca gaya tulisan dalam surat ini ternyata bukan tulisan tangan Tay-goan, aku rada heran. Kulihat pembukaan surat itu tertulis: &#8216;Kiam-yan saudaraku&#8217;. Aku menjadi heran. Sebab kalian tentu tahu, &#8216;Kiam-yan&#8217; adalah nama alias mendiang Ong-pangcu kita, bila bukan orang yang bersahabat kental dengan dia, tidak mungkin menyebut nama aliasnya itu.</p>
<p>&#8220;Padahal sudah lama Ong-pangcu wafat, mengapa ada orang menulis surat kepadanya? Maka aku tidak lantas membaca isi surat, tapi membaca nama si penulis surat. Dan begitu lihat, aku bertambah heran hingga bersuara, &#8216;He, kiranya dia!&#8217; &#8211; Dan karena tertarik, Tan-heng yang berada di sampingku lantas ikut melongok surat yang kupegang itu dan serta-merta ia pun bersuara heran, &#8216;Eh, kiranya dia!&#8217;</p>
<p>&#8220;Perbuatanmu itu terang salah, Tan-loji,&#8221; tiba-tiba Tio-ci-sun menyela. &#8220;Surat itu adalah surat rahasia Kay-pang mereka. Engkau bukan anggota Kay-pang yang berkantong satu atau dua, bahkan menjadi pengemis juga tidak pernah, mengapa berani mengintip surat orang yang penting itu?&#8221;</p>
<p>Jangan mengira orang aneh itu suka &#8220;angin-anginan&#8221;, ucapannya ternyata sangat tepat. Keruan muka Tan Cing rada merah, sahutnya, &#8220;Aku cuma melongok nama pengirim surat itu, kan tidak membaca isinya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa bedanya melongok sedikit dan membaca banyak?&#8221; sahut Tio-ci-sun. &#8220;Engkau mencuri seribu tahil emas disebut maling, mencuri satu peser juga maling namanya. Bedanya cuma jumlah uang banyak atau sedikit, maling besar atau maling kecil, tapi kan sama-sama maling namanya? Maling besar adalah maling, maling kecil juga maling. Mengintip surat orang lain berarti bukan seorang kuncu (gentleman), dan kalau bukan kuncu tentu adalah siaujin (orang kecil, tak bermoral), kalau siaujin, itu berarti rendah kotor. Kalau orang rendah begitu, sepantasnya dibunuh!&#8221;</p>
<p>Sungguh gusar Tan Pek-san berlima tak terkatakan, serentak mereka hendak melabrak orang gila itu. Tapi cepat Tan Cing memberi tanda agar putra-putranya itu jangan sembarangan bertindak, biarlah orang itu ngaco-belo sesukanya, nanti saja sekaligus diadakan perhitungan dengan dia.</p>
<p>Diam-diam ia pun heran dan bingung, &#8220;Begitu bertemu dengan aku, orang ini lantas terus-menerus mencari perkara padaku, jangan-jangan dia mempunyai dendam apa-apa padaku? Orang Kangouw yang berani memandang enteng kepada keluarga Tan boleh dikatakan dapat dihitung dengan jari. Tapi siapakah sebenarnya orang ini, mengapa aku tidak mengenalnya?&#8221;</p>
<p>Di lain pihak karena semua orang lagi tertarik ingin tahu siapakah sebenarnya nama pengirim surat yang dimaksudkan Ci-tianglo itu, maka mereka menjadi marah terhadap ocehan Tio-ci-sun yang mengacau itu. Serentak mereka melotot kepada orang tua itu.</p>
<p>&#8220;Kalian melotot apa? Apa yang dikatakan Sukoku memang sedikit pun tidak salah,&#8221; tiba-tiba Tam-poh membuka suara.</p>
<p>Mendengar dirinya dibela bekas kekasih itu, Tio-ci-sun menjadi kegirangan, katanya, &#8220;Nah, kalian sudah dengar sendiri, bahkan Siau Koan juga membenarkan perkataanku, masakah aku bisa salah? Apa yang dikatakan atau dilakukan Siau Koan selamanya pasti benar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar, apa yang dikatakan atau dilakukan Siau Koan selamanya tak bisa salah. Dia menikah dengan Tam-kong dan tidak kawin denganmu, hal itu pun sekali-kali tidak salah,&#8221; demikian tiba-tiba disela suara seorang yang bernada persis seperti Tio-ci-sun.</p>
<p>Orang yang bicara ini bukan lain A Cu adanya. Dia gemas terhadap ucapan Tio-ci-sun yang menghina Buyung-kongcu tadi, maka tiada hentinya ia mencari perkara padanya.</p>
<p>Tio-ci-sun menjadi bungkam dan menyeringai mati kutu demi mendengar ucapan A Cu itu. Sebab cara debat A Cu itu telah menggunakan dialektika yang tepat, yaitu sesuai dengan kesukaan Buyung-si dengan istilahnya yang terkenal &#8216;Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin&#8217; atau menggunakan cara orang untuk diperlakukan kembali terhadap orang itu.</p>
<p>Begitulah maka ada orang yang sangat berterima kasih kepada A Cu, mereka adalah Tam-kong dan Tan Cing. Tapi pada saat itu juga mendadak sesosok bayangan berkelebat, tahu-tahu Tam-poh sudah melesat ke depan A Cu, &#8220;plak&#8221;, kontan nenek itu tampar pipi kanan si gadis sambil membentak, &#8220;Aku salah menikah atau tidak, peduli apa dengan omongan budak busuk macam kau ini?&#8221;</p>
<p>Tamparan Tam-poh itu benar-benar cepat luar biasa, A Cu hendak berkelit juga tidak sempat lagi, orang lain lebih-lebih tidak keburu untuk menolongnya. Maka lenyap suara tamparan menyusul pipi A Cu yang putih mulus itu lantas timbul lima jalur merah biru bekas jari.</p>
<p>Maka terbahak-bahaklah Tio-ci-sun, serunya, &#8220;Tepat benar hajaran itu, biar budak kurang ajar itu tahu rasa!&#8221;</p>
<p>Seketika A Cu memberambang hendak menangis, tapi belum lagi menangis, tiba-tiba Tam-kong mengeluarkan sebuah kotak porselen kecil, ia buka tutup kotak itu dan mencolek sedikit salep dengan ujung jarinya, lalu ia usap-usap beberapa kali di pipi A Cu hingga tempat yang tertampar itu dibubuhi selapis salep tipis.</p>
<p>Belum sempat A Cu berpikir apa yang terjadi, tahu-tahu pipi yang tadinya terasa panas pedas kini berubah menjadi dingin segar, berbareng tangan kiri telah memegang sesuatu benda. Waktu A Cu memeriksanya, ia lihat benda itu adalah sebuah kotak kecil yang putih, ia tahu hadiah dari Tam-kong itu berisi obat luka yang sangat manjur, maka ia tidak jadi menangis, sebaliknya malah tertawa.</p>
<p>Ci-tianglo tidak pusing cara bagaimana kedua kakek dan nenek itu akan bertengkar sendiri, tapi ia lantas bicara pula dengan suaranya yang agak serak, &#8220;Saudara-saudara sekalian, siapakah penulis surat ini sebenarnya saat ini belum waktunya untuk kukatakan. Aku orang she Ci sudah lebih 70 tahun berada dalam Kay-pang, sisa hidup di dunia ini juga takkan lama lagi, selama 30 tahun paling akhir ini aku telah mengasingkan diri dan tidak ikut berkecimpung di dunia Kangouw hingga tidak pernah lagi bercekcok dan bermusuhan dengan orang. Aku sendiri tidak punya anak-cucu, bahkan murid juga tidak punya, aku merasa tiada sedikit pun mempunyai kepentingan pribadi dalam urusan ini. Maka bila aku ingin bicara sedikit, entah apakah saudara-saudara dapat memercayai diriku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Perkataan Ci-tianglo, siapa yang takkan percaya?&#8221; sahut para pengemis dengan serentak.</p>
<p>&#8220;Bagaimana dengan pendapat Pangcu?&#8221; tanya Ci-tianglo kepada Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Selamanya aku sangat menghormat dan menghargai Ci-tianglo, hal ini Cianpwe sendiri cukup tahu,&#8221; sahut Kiau Hong.</p>
<p>Maka tanpa ragu Ci-tianglo meneruskan ceritanya, &#8220;Sesudah kubaca isi surat, aku benar-benar dihadapkan pada sesuatu yang mahasulit dan penasaran pula. Tapi kukhawatir ada sesuatu yang tidak benar, maka surat ini segera kuserahkan pada Tan-heng untuk dibaca. Sebab hubungan Tan-heng dengan penulis surat ini sangat baik dan pasti kenal gaya tulisannya dan cukup tahu pula bagaimana asal usul penulis surat ini. Oleh karena urusan ini mahapenting dan sangat luas sangkut pautnya, maka aku ingin Tan-heng membuktikan surat ini tulen atau palsu.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba Tan Cing melotot sekali ke arah Tio-ci-sun. Sudah tentu maksudnya mengejek, &#8220;Apa abamu sekarang?&#8221;</p>
<p>Siapa duga Tio-ci-sun lantas berkata, &#8220;Ci-tianglo yang minta kau baca, dengan sendirinya boleh kau baca. Tapi waktu pertama kali kau kan mengintip, itu tidak sah. Misalnya seorang dahulu pernah menjadi maling, kemudian menjadi kaya raya dan tidak jadi maling lagi, namun biarpun dia seorang hartawan toh tidak dapat mencuci bersih riwayat hidupnya yang berasal dari maling.&#8221;</p>
<p>Ci-tianglo tidak urus ucapan Tio-ci-sun itu, katanya kepada Tan Cing, &#8220;Tan-heng, silakan katakan kepada para hadirin, apakah surat ini tulen atau palsu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Cayhe adalah sobat rapat si penulis surat ini, di rumahku juga banyak tersimpan surat berasal dari penulis ini,&#8221; demikian tutur Tan Cing. &#8220;Maka segera aku dan Ci-tianglo serta Be-hujin kembali ke tempat tinggalku untuk dicocokkan dengan surat simpananku. Dan nyata gaya tulisannya sama, bahkan sampul suratnya juga serupa, terang surat ini tulen.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebagai seorang tua, setiap tindakan selalu kulakukan dengan cermat, apalagi urusan ini menyangkut mati-hidup pang kita dan menyangkut nama baik seorang enghiong-hokiat (kesatria dan pahlawan), mana boleh aku bertindak secara serampangan,&#8221; tutur Ci-tianglo.</p>
<p>Mendengar sampai di sini, sinar mata semua orang tanpa terasa beralih ke arah Kiau Hong, mereka tahu &#8220;enghiong-hokiat&#8221; yang dimaksudkan itu tentulah Kiau Hong. Tapi demi sinar mata mereka kebentrok dengan sorot mata Kiau Hong, segera mereka menunduk lagi.</p>
<p>&#8220;Aku tahu suami-istri Tam-si dari Hoa-san mempunyai hubungan baik juga dengan penulis surat ini, maka sengaja kudatangi mereka untuk minta nasihat. Untuk mana Tam-poh telah bercerita kepadaku seluk-beluk yang berliku-liku dalam urusan ini. Tapi, ai, sesungguhnya aku tidak tega bicara terus terang, sungguh kasihan, sayang, menyedihkan dan mengharukan!&#8221;</p>
<p>Sampai di sini barulah semua orang tahu bahwa kedatangan Tan Cing dan suami-istri Tam-si adalah karena undangan Ci-tianglo yang minta mereka menjadi saksi.</p>
<p>Lalu Ci-tianglo bertutur lagi, &#8220;Tatkala itu Tam-poh bilang padaku bahwa ada seorang suheng yang pernah ikut melihat dan mengalami sendiri kejadian itu, kalau suhengnya itu diminta menceritakan duduknya perkara pastilah akan terang persoalannya. Dan suhengnya itu bukan lain adalah Tio-ci-sun Siansing ini. Sifat Siansing ini rada berbeda daripada orang biasa, tidak mudah untuk mengundangnya kemari. Tapi berkat bantuan Tam-poh, cukup sehelai surat saja dan Siansing ini sudah sudi berkunjung kemari &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;He, jadi engkau yang mengundang dia ke sini?&#8221; teriak Tam-kong mendadak kepada Tam-poh dengan gusar. &#8220;Mengapa sebelumnya tidak kau beri tahukan padaku? Jadi di luar tahuku kau berbuat sembunyi-sembunyi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Berbuat sembunyi-sembunyi apa?&#8221; sahut Tam-poh tidak mau kalah. &#8220;Aku menulis surat dan minta Ci-tianglo menyuruh orang mengirimkannya, hal ini dilakukan dengan terang-terangan, mengapa dikatakan sembunyi-sembunyi? Dasar memang kau suka minum cuka, maka tidak kuberi tahukan padamu, sebab kutahu kau pasti akan rewel, buktinya sekarang!&#8221;</p>
<p>&#8220;Berbuat sesuatu di luar tahu sang suami, tidak menjaga susila sebagai seorang wanita, itulah tidak pantas!&#8221; seru Tam-kong.</p>
<p>&#8220;Plak&#8221;, kontan Tam-poh menempeleng pipi sang suami.</p>
<p>Sudah jelas ilmu silat Tam-kong jauh lebih tinggi daripada Tam-poh, tapi ketika dipukul sang istri, ia tidak menangkis dan juga tidak berkelit, tanpa bergerak ia biarkan dirinya digampar sekali. Menyusul ia lantas mengeluarkan sebuah kotak kecil lagi, ia colek sedikit salep dan dipoles di pipi sendiri hingga merah biru bekas tamparan itu hilang seketika. Yang satu memukul dengan cepat yang lainnya cepat mengobati. Dengan demikian rasa gusar kedua orang pun lenyap semua.</p>
<p>Semua orang merasa geli oleh kejadian itu. Sebaliknya mendadak Tio-ci-sun menghela napas panjang, dengan suara sedih memilukan ia berkata, &#8220;Kiranya demikian, kiranya demikian! Ai, tahu begini, menyesal aku sekarang. Kalau cuma dipukul beberapa kali seperti ini apa susahnya?&#8221;</p>
<p>Nada suaranya ternyata penuh rasa penyesalan.</p>
<p>&#8220;Setiap kali bila kupukulmu, selalu kau membalas, selamanya tidak mau mengalah sedikit pun,&#8221; demikian kata Tam-poh dengan suara lembut.</p>
<p>Tio-ci-sun termangu-mangu seperti patung, terkenang olehnya masa lampau. Sang sumoay itu lincah dan genit, sedikit-sedikit suka ngambek dan memukul orang, setiap kali tanpa sebab dirinya dipukul, karena penasaran, maka terjadilah pertengkaran, dan sebab itulah perjodohan yang sebenarnya amat bahagia itu akhirnya gagal.</p>
<p>Kini menyaksikan sendiri Tam-kong manda dipukul begitu tanpa membalas, barulah sekarang ia sadar kesalahannya sendiri. Ia menyesal sifatnya yang tidak mau mengalah itu. Pantas selama berpuluh tahun ini ia tidak menemukan jawabannya mengapa sang sumoay bisa jatuh cinta kepada orang lain, kiranya rahasianya cuma satu, yaitu, &#8220;manda dipukul&#8221;.</p>
<p>Maka terdengar Ci-tianglo sedang berkata, &#8220;Tio-ci-sun Siansing, harap suka bicara di depan orang banyak, kejadian yang tertulis dalam surat wasiat ini benar atau tidak?&#8221;</p>
<p>Tapi Tio-ci-sun sedang melayang-layang pikirannya dan bergumam sendiri, &#8220;Ai, aku benar-benar tolol, mengapa waktu itu tidak dapat berpikir? Kusangka belajar silat gunanya untuk menghajar musuh, untuk memukul orang jahat, mengapa dipakai menghantam badan sang kekasih? Siapa tahu memukul itu artinya cinta, memaki itu artinya suka. Ai, ai, jika begitu, apa artinya cuma menerima beberapa kali tempelengan?&#8221;</p>
<p>Semua orang merasa geli dan merasa cinta buta orang aneh itu pantas dikasihani pula. Orang lain sedang menghadapi urusan mahapenting dalam Kay-pang, sebaliknya ia sendiri bicara yang tidak-tidak. Lalu, kebenaran ceritanya apa dapat dipercaya?</p>
<p>Karena tidak mendapat jawaban sebagaimana mestinya, kembali Ci-tianglo tanya lagi, &#8220;Tio-ci-sun Siansing, kami mengundangmu ke sini hanya ingin minta engkau suka menceritakan bagaimana isi surat itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, ya, benar!&#8221; seru Tio-ci-sun. &#8220;Ehm, tentang isi surat itu, meski ringkas saja tulisannya, tapi cukup mengesankan &#8230;. Empat puluh tahun yang lalu kita tinggal dalam serumah dan makan semeja, suasana itu seakan-akan baru saja terjadi, bila terkenang sekarang, tentu kakak pun sudah ubanan, wajah dan senyum pasti tidak lagi seperti sediakala.&#8221;</p>
<p>Buset! Ci-tianglo tanya bagaimana isi surat wasiat Be Tay-goan itu, sebaliknya ia menguraikan isi surat cinta yang diterimanya dari Tam-poh.</p>
<p>Karena kewalahan, akhirnya Ci-tianglo berkata kepada Tam-poh, &#8220;Tam-hujin, harap engkau yang minta dia bicara saja.&#8221;</p>
<p>Tak terduga Tam-poh sendiri juga lagi termangu-mangu ketika mendengar bekas kekasih itu sedemikian memerhatikan sepucuk suratnya, bahkan isi surat dihafalkan di luar kepala, suatu tanda surat itu entah berapa kali telah dibacanya. Dan demi mendengar permintaan Ci-tianglo itu, maka berkatalah dia, &#8220;Suko, harap tuturkan bagaimana kejadian dahulu itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kejadian dahulu itu sampai sekarang masih kuingat dengan baik,&#8221; sahut Tio-ci-sun. &#8220;Rambutmu terkepang menjadi dua kucir, ujung kucir berhiaskan dua pita kupu merah. Waktu Suhu mengajarkan jurus &#8216;Thau-liong-coan-hong&#8217; itu &#8230;.&#8221;</p>
<p>Mendengar istilah &#8220;Thau-liong-coan-hong&#8221; atau mencuri naga dan menukar burung hong, Giok-yan seperti sadar akan sesuatu, ia mengangguk perlahan.</p>
<p>Sedangkan Tam-poh lantas berkata, &#8220;Suko, jangan lagi bicara urusan kita masa lampau, tapi Ci-tianglo sedang tanya padamu tentang banjir darah dalam pertempuran di Loan-ciok-kok di luar Gan-bun-koan dahulu, di mana engkau sendiri ikut menyaksikan, maka ceritakanlah kepada hadirin dari apa yang kau lihat itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentang &#8230; tentang pertempuran di &#8230; di Loan-ciok-kok (lembah batu padas) &#8230; di Gan-bun-koan &#8230;.&#8221; sahut Tio-ci-sun dengan suara gemetar dan air muka berubah hebat, sekali putar tubuh, sekonyong-konyong ia melarikan diri ke arah selatan yang lowong itu dengan cepat luar biasa.</p>
<p>Melihat orang aneh itu dalam sekejap saja akan lenyap di balik hutan sana, untuk mengejar terang tidak keburu lagi, maka semua orang cuma dapat berteriak-teriak untuk mencegahnya. Namun Tio-ci-sun tidak peduli lagi, ia berlari terlebih cepat.</p>
<p>&#8220;Rambut kakak kini tentu sudah ubanan, wajah dan senyummu pastilah tidak lagi seperti sediakala,&#8221; demikian mendadak suara seorang berseru dengan lantang.</p>
<p>Sekonyong-konyong Tio-ci-sun berhenti lari, ia menoleh dan menegur, &#8220;Siapa itu yang bicara?&#8221;</p>
<p>&#8220;Habis, bila bukan karena itu, mengapa engkau merasa malu menghadapi Tam-kong dan mesti melarikan diri?&#8221; sahut suara itu.</p>
<p>Waktu semua orang memandang ke arah suara itu, kiranya yang bicara adalah Coan Koan-jing.</p>
<p>&#8220;Siapa yang merasa malu? Paling-paling dia cuma pandai &#8216;manda dipukul&#8217;, apanya yang mampu mengalahkan aku?&#8221; Tio-ci-sun.</p>
<p>&#8220;Manda dipukul tanpa membalas, itu adalah ilmu nomor satu di dunia ini, masakah gampang dipelajari?&#8221; tiba-tiba suara seorang tua menyela dari balik hutan sana.</p>
<p>Ketika semua orang berpaling, tertampaklah dari balik pohon sana muncul seorang hwesio berjubah warna kelabu, bermuka lebar dan bertelinga besar, wajahnya sangat kereng.</p>
<p>&#8220;Hah, kiranya Ti-kong Taysu dari Thian-tay-san telah tiba, sudah lebih 30 tahun tidak bertemu, Taysu ternyata masih sehat dan kuat,&#8221; segera Ci-tianglo menyapa.</p>
<p>Nama Ti-kong Hwesio tidak terkenal dalam Bu-lim, maka tokoh-tokoh angkatan muda dari Kay-pang tiada yang kenal asal usulnya. Tapi Kiau Hong, Coan Koan-jing dan para tianglo seketika bangkit untuk menyambut kedatangan padri itu.</p>
<p>Mereka kenal padri itu pernah mengembara ke luar lautan untuk mencari obat-obatan yang tepat untuk menyembuhkan penyakit malaria yang berjangkit di sekitar provinsi Kwitang dan Hokkian pada beberapa tahun yang lalu, sebab itulah Ti-kong sendiri sampai jatuh sakit payah dua kali hingga ilmu silatnya pun punah. Namun jasanya bagi kesejahteraan rakyat tidak sedikit artinya. Maka semua orang pun berturut-turut maju untuk memberi hormat padanya.</p>
<p>Segera Ti-kong berkata kepada Tio-ci-sun dengan tertawa, &#8220;Ilmu silat lebih rendah dari lawan dan manda dihantam tanpa membalas, hal ini saja sukar dicari. Bila ilmu silat lebih tinggi, dan diserang tetap tidak membalas, hal ini lebih-lebih jarang terdapat orangnya.&#8221;</p>
<p>Tio-ci-sun termangu-mangu menunduk, ia seperti sadar akan sesuatu.</p>
<p>Maka Ti-kong berkata pula, &#8220;Kebetulan kulewat di sini, tidak nyana para pahlawan sedang berkumpul di sini hingga terganggu, harap dimaafkan, biarlah kumohon diri saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ti-kong Taysu adalah padri saleh yang telah banyak menolong sesamanya, siapa pun tentu menaruh hormat,&#8221; kata Ci-tianglo. &#8220;Hari ini Kay-pang kami sedang menghadapi suatu persoalan mahasulit, kebetulan Taysu berkunjung kemari, sungguh beruntung Kay-pang kami, sebab kalau sengaja mengundang, belum tentu Taysu sudi datang. Maka mumpung datang, betapa pun harap Taysu suka mengaso sebentar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh, ya, pertempuran di Loan-ciok-kok itu Ti-kong Hwesio juga ikut ambil bagian. Nah, suruh dia saja yang bercerita,&#8221; tiba-tiba Tio-ci-sun berseru.</p>
<p>Mendengar tentang &#8220;pertempuran di Loan-ciok-kok&#8221;, sekilas Ti-kong menampilkan rasa heran, seperti takut-takut dan merasa ngeri pula, tapi akhirnya wajahnya kembali kepada perasaan yang welas asih, katanya dengan gegetun, &#8220;Terlalu banyak bunuh-membunuh! Terlalu kejam! Urusan itu kalau diceritakan sungguh sangat memalukan. Peristiwa Loan-ciok-kok itu adalah kejadian 30 tahun yang lalu, mengapa para Sicu hari ini kembali mengungkatnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lantaran saat ini-Kay-pang kami sedang menghadapi pergolakan yang menyangkut isi sepucuk surat ini,&#8221; kata Ci-tianglo sambil mengangsurkan surat wasiat tadi.</p>
<p>Setelah membaca dan mengulangi lagi isi surat itu, Ti-kong geleng kepala dan berkata, &#8220;Permusuhan lebih baik diselesaikan daripada ditambah, urusan yang sudah lalu buat apa diungkat lagi? Menurut pendapatku, surat ini dibakar saja dan urusan pun selesai!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi Be-hupangcu kami telah ditewaskan orang secara mengenaskan, kalau tidak diusut, kematian Be-hupangcu menjadi penasaran dan pang kami pun menghadapi bahaya keretakan,&#8221; ujar Ci-tianglo.</p>
<p>&#8220;Benar juga, benar juga!&#8221; kata Ti-kong mengangguk.</p>
<p>Tatkala itu bulan sabit tampak menghiasi cakrawala dengan sinarnya yang remang-remang menimpa pucuk pohon hutan itu. Ti-kong memandang sekejap ke arah Tio-ci-sun, lalu berkata pula, &#8220;Baiklah, aku telah berbuat salah, untuk mana juga tidak perlu ditutupi, biarlah kuceritakan terus terang saja.&#8221;</p>
<p>Kita berjuang demi nusa dan bangsa, tidak dapat dikatakan berbuat salah,&#8221; ujar Tio-ci-sun.</p>
<p>&#8220;Salah tetap salah, buat apa mesti pakai alasan,&#8221; ujar Ti-kong sambil menggoyang kepala. &#8220;Tiga puluh tahun yang lampau, tiba-tiba para pahlawan Tionggoan mendapat berita, katanya lebih 200 jago Cidan akan menyerbu ke Siau-lim-si untuk merampok kitab-kitab suci yang sudah tersimpan beratus tahun dalam biara itu.&#8221;</p>
<p>Semua orang merasa heran dan menganggap ambisi jago Cidan itu benar-benar kelewat batas. Sebab harus diketahui bahwa ilmu silat Siau-lim-si adalah inti ilmu silat seluruh Tiongkok, kalau pelajaran silat Siau-lim-si sampai dirampas bangsa Cidan dan disebarkan dalam pasukan tentara mereka, tentu pasukan Song takkan mampu melawan mereka lagi di medan perang.</p>
<p>&#8220;Sudah tentu urusan itu sangat penting, bila usaha Cidan itu berhasil, tentu kerajaan Song kita akan menghadapi bahaya kehancuran dan anak cucu kita pasti akan musnah pula,&#8221; demikian Ti-kong melanjutkan. &#8220;Oleh karena urusan sudah mendesak, kami tidak sempat berunding lebih jauh, ketika mendengar jago-jago Cidan itu akan lewat Gan-bun-koan, di samping kami mengirim orang menyampaikan kabar itu kepada Siau-lim-si, kami lantas berangkat beramai-ramai ke Gan-bun-koan untuk mencegat kedatangan musuh dengan maksud akan menghancurkannya lebih dulu &#8230;.&#8221;</p>
<p>Waktu itu kerajaan Song sering mendapat gangguan dari Cidan, dalam pertempuran pasukan Song selalu mengalami kekalahan, harta benda dan jiwa rakyat jelata banyak yang ikut menjadi korban keganasan musuh. Kini mendengar para pahlawan itu akan melabrak musuh, tanpa terasa semua orang ikut bersemangat meski kejadian itu sudah lama lampau.</p>
<p>&#8220;Kiau-pangcu,&#8221; tiba-tiba Ti-kong tanya Kiau Hong dengan sinar mata tajam, &#8220;bila engkau menerima berita begitu, bagaimana kiranya tindakanmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ti-kong Taysu,&#8221; sahut Kiau Hong dengan darah mendidih, &#8220;biarpun aku orang she Kiau tidak punya kepandaian apa-apa hingga sekarang aku dicurigai para saudara anggota, tapi sekalipun aku tidak becus, paling tidak juga seorang lelaki yang punya keberanian dan berjiwa patriot, terhadap kewajiban yang menjadi bagian setiap bangsa tidak nanti aku tinggal diam. Bangsa dan negara kita sudah banyak diganggu musuh, dendam itu siapa yang tidak ingin membalas? Jika kudengar berita itu, sudah pasti juga aku akan pimpin anggota pang kami dan serentak berangkat ke sana.&#8221;</p>
<p>Semua orang ikut terbangkit semangatnya demi mendengar ucapan Kiau Hong yang gagah berani itu.</p>
<p>Ti-kong mengangguk-angguk, katanya, &#8220;Jika begitu, jadi keberangkatan kami ke Gan-bun-koan untuk menggempur musuh itu menurut pendapat Kiau-pangcu adalah tepat bukan?&#8221;</p>
<p>Diam-diam Kiau Hong mendongkol karena pertanyaan itu, masakah jawabannya tadi kurang tegas hingga perlu ditanya pula? Tapi ia bersikap tenang saja dan berkata, &#8220;Kiau Hong justru sangat kagum terhadap tindakan para cianpwe yang patriotik itu, sayang aku tidak dilahirkan lebih tua 30 tahun hingga dapat ikut serta dalam rombongan para cianpwe itu untuk menghajar musuh.&#8221;</p>
<p>Ti-kong memandang lekat-lekat kepada pangcu itu dengan air muka keheran-heranan, lalu katanya pula dengan perlahan, &#8220;Sesudah kami terima pemberitahuan itu, di samping kami mengirim kabar kepada Siau-lim-si, beramai-ramai kami lantas berangkat ke Gan-bun-koan dengan membagi diri dalam beberapa kelompok. Kebetulan saudara ini &#8230;.&#8221;</p>
<p>Ia tuding Tio-ci-sun dan menyambung, &#8220;Dia bersama dalam suatu rombongan kami. Rombongan kami ini seluruhnya berjumlah 21 orang, betapa tinggi ilmu silat Toako Pemimpin tidak perlu dikatakan lagi, kecuali itu masih terdapat Ong-pangcu dari Kay-pang, Koan-in Totiang dari Hoa-san, Ong Hiang-lim, dari Ban-seng-to serta tokoh-tokoh pilihan lain yang terkenal di Bu-lim pada zaman itu. Tatkala mana aku belum lagi menjadi padri, sebenarnya tidak sesuai menggabungkan diri di antara para tokoh terkemuka itu. Cuma terdorong oleh semangat cinta negeri, dalam hal menghadapi musuh tidak mau ketinggalan di belakang orang lain, makanya aku berjuang sepenuh tenaga. Umpama saudara ini, ilmu silatnya waktu itu bahkan jauh di atasku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang benar,&#8221; kata Tio-ci-sun tanpa ditanya, &#8220;ilmu silatmu waktu itu selisih jauh sekali denganku, paling sedikit sekian selisihnya.&#8221;</p>
<p>Sambil berkata ia terus pentang kedua tangannya untuk memberi suatu ukuran jarak, tapi ketika merasa jarak itu kurang jauh, ia pentang tangannya lebih lebar lagi hingga hampir dua meter jauhnya.</p>
<p>Namun Ti-kong tidak urus lagi padanya, ia melanjutkan, &#8220;Setelah kami melintasi Gan-bun-koan (gerbang tembok besar ujung barat), waktu itu sudah dekat magrib, sepanjang jalan kami selalu siap siaga dengan hati berdebar-debar. Setelah belasan li jauhnya, hari pun mulai remang-remang. Tiba-tiba dari arah barat-laut sana terdengar derap lari kuda, dari suara itu terang ada belasan jumlahnya. Segera Toako Pemimpin memberi tanda agar berhenti.</p>
<p>&#8220;Rasa hati semua orang waktu itu bergirang tercampur tegang. Girangnya karena berita yang diterima itu ternyata benar, untung kami dapat tiba tepat pada waktunya. Tapi semua orang pun sadar jago-jago Cidan yang datang ini pasti bukan sembarangan jago, kalau tidak, masakah mereka berani menantang Siau-lim-si yang merupakan tulang punggung dunia persilatan di Tiongkok itu, maka dapat dipastikan jago-jago Cidan ini pasti jago pilihan semua. Dalam pertempuran biasanya kerajaan Song kita selalu mengalami kekalahan melawan Cidan, dan pertarungan kami ini apakah dapat menang, sungguh sulit untuk diramalkan.</p>
<p>&#8220;Ketika Toako pimpinan memberi tanda pula, segera kami menyembunyikan diri di balik batu-batu karang di tepi jalan. Sisi kiri lembah pegunungan itu adalah sebuah jurang curam yang banyak terdapat batu karang dan dalamnya jurang sukar dijajaki. Sementara itu derap kuda tadi sudah makin dekat, menyusul terdengar suara nyanyi beberapa orang, lagunya bersemangat, tapi entah apa artinya.</p>
<p>&#8220;Aku pegang golokku dengan erat, saking tegangnya sampai aku mandi keringat. Kebetulan Toako Pemimpin juga mendekam di sampingku, ia khawatir aku tidak tahan sabar, maka perlahan menepuk pundakku sambil tersenyum, lalu memberi tanda pula dengan gaya menghantam, maksudnya membunuh musuh sebentar lagi. Aku menjawabnya dengan tersenyum mantap.</p>
<p>&#8220;Ketika musuh mulai dekat di tempat sembunyi kami, waktu aku mengintip, kulihat jago-jago Cidan itu semuanya memakai baju kulit, ada yang membawa tombak, ada yang bergolok dan ada yang membawa busur dengan panahnya, bahkan ada yang membawa elang pemburu di pundaknya. Mereka datang dengan tetap bernyanyi-nyanyi, sedikit pun tidak peduli apakah di depan bakal diadang musuh atau tidak. Hanya sebentar saja, kulihat berapa orang Cidan yang berada paling depan itu semuanya berwajah bengis dan penuh berewok. Melihat jarak musuh semakin mendekat, hatiku pun tambah berdebar dan tegang &#8230;.&#8221;</p>
<p>Walaupun apa yang diceritakan Ti-kong itu adalah kejadian pada 30 tahun yang silam, namun semua orang mengikuti cerita itu dengan berdebar-debar.</p>
<p>&#8220;Kiau-pangcu,&#8221; kata Ti-kong kepada Kiau Hong, &#8220;berhasil atau gagalnya usaha kami waktu itu menyangkut nasib negara Song kita dengan berjuta-juta rakyatnya yang tertindas, tapi kami justru tidak yakin akan dapat menang. Keuntungan kami satu-satunya waktu itu adalah kami siap menyerang, sebaliknya musuh tidak tahu. Dalam keadaan begitu, bagaimana kami harus bertindak menurut pendapat Kiau-pangcu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Siasat militer tidak kenal ampun, bila perlu harus memperdayakan musuh,&#8221; sahut Kiau Hong. &#8220;Apalagi dalam pertempuran di antara kedua negara seperti itu, kita tidak kenal lagi peraturan Bu-lim atau etiket Kangouw. Pula ketika bangsa penjajah membunuhi bangsa kita, apakah mereka pernah kenal kasihan? Maka menurut pendapatku kita harus menyerangnya dengan am-gi (senjata gelap), dan am-gi itu harus berbisa pula.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tepat,&#8221; seru Ti-kong sambil menggaplok paha sendiri. &#8220;Pendapat Kiau-pangcu persis seperti apa yang kami pikirkan waktu itu. Maka ketika Toako Pemimpin melihat musuh sudah dekat, sekali bersuit, segera ia memerintahkan serangan umum dengan hamburan am-gi dari macam-macam jenis, ada piau baja, ada panah, ada pisau terbang, ada peluru besi dan macam-macam lagi, semuanya berbisa. Maka terdengarlah suara jeritan di sana-sini, musuh menjadi kacau-balau dan tunggang-langgang jatuh dari kuda mereka.&#8221;</p>
<p>Mendengar sampai di sini, seketika banyak di antara pendengar itu bersorak-sorai.</p>
<p>&#8220;Dalam pada itu aku telah dapat menghitung dengan jelas bahwa penunggang kuda musuh itu berjumlah 18 orang, 11 orang di antaranya telah roboh oleh serangan am-gi kami, sisanya tinggal tujuh orang saja. Segera kami mengerubut maju, di bawah hujan macam-macam senjata, hanya sebentar saja ketujuh orang itu pun dapat kami bunuh semua, satu pun tiada yang lolos.&#8221;</p>
<p>Sampai di sini, kembali orang-orang Kay-pang ada yang bersorak lagi. Tapi Kiau Hong dan Toan Ki justru berpikir, &#8220;Tadi kau bilang jago-jago Cidan itu adalah jago pilihan, tapi mengapa begitu tak becus, hanya sebentar saja sudah terbunuh semua?&#8221;</p>
<p>Maka terdengar Ti-kong berkata pula dengan menghela napas, &#8220;Sekaligus kami dapat membunuh ke-18 jago Cidan itu, meski bergirang, tapi juga curiga dan merasa jago-jago Cidan itu mengapa begitu tak berguna, hanya sekali-dua gebrak saja sudah lantas mampus, sama sekali bukan jago kelas pilihan, jangan-jangan berita yang diterima itu tidak benar? Dan mungkin pula musuh sengaja mengatur perangkap itu untuk menjebak kami. Tapi sebelum kami sempat bertukar pikiran, tiba-tiba terdengar suara berdetaknya kuda pula, dari arah yang sama tampak muncul lagi dua penunggang kuda.</p>
<p>&#8220;Sekali ini kami tidak bersembunyi lagi, tapi terus memapak maju. Ternyata penunggang kuda itu adalah sepasang laki perempuan. Yang lelaki bertubuh tinggi besar, gagah berwibawa, dandanannya juga jauh lebih mentereng daripada ke-18 orang tadi. Yang wanita adalah seorang nyonya muda dan membopong seorang bayi. Sambil keprak kuda mereka asyik bicara dengan sangat mesra tampaknya, terang mereka itu adalah pasangan suami-istri.</p>
<p>&#8220;Ketika melihat rombongan kami, mereka merasa heran, demi kemudian melihat pula mayat ke-18 orang tadi, lelaki itu seketika berubah beringas terus membentak-bentak menanyai kami. Sudah tentu kami tidak tahu apa yang dikatakannya dalam bahasa Cidan itu. Kawan Put Tay-hiong dari Soasay yang berjuluk Thi-tha (si Pagoda Besi), yaitu karena perawakannya tinggi besar dan kuat, segera membentak, &#8216;Anjing asing, serahkan nyawamu!&#8217; &#8211; berbareng senjatanya yang berwujud toya lantas mengemplang lelaki itu. Namun Toako Pemimpin kami merasa ragu, cepat bentaknya, &#8216;Jangan sembrono, Pui-hiati, jangan membinasakan dia, tangkap saja untuk ditanyai.&#8217;</p>
<p>&#8220;Tapi belum lenyap suara Toako Pemimpin, tahu-tahu laki-laki Cidan itu telah ulur tangan kanan hingga toya Pui Tay-hiong kena ditangkapnya, berbareng ia tarik ke samping terus dipuntir, &#8216;krek&#8217;, tanpa ampun tulang lengan Pui Tay-hiong dipatahkan.</p>
<p>&#8220;Karena kami tidak sempat lagi penolongnya, maka segera ada beberapa kawan menghamburkan am-gi ke arah musuh. Tapi sekali orang Cidan itu kebas lengan bajunya, serangkum angin keras menyampuk senjata gelap ke samping. Tampaknya sekali dia menghantam lagi pasti jiwa Pui Tay-hiong akan melayang. Tak tersangka dia cuma sedikit angkat toya yang masih dipegangnya itu hingga tubuh Pui Tay-hiong ikut terangkat ke atas lalu toya bersama pemiliknya dilemparnya jauh-jauh ke tepi jalan, kemudian ia mengoceh entah apa lagi yang tidak kami ketahui maksudnya.</p>
<p>&#8220;Ilmu kepandaian yang ditunjukkan orang Cidan itu keruan membuat kami tertegun semua, betapa lihai ilmu silatnya itu bahkan di Tiongkok sendiri jarang terdapat, nyata berita yang kami terima tentang jago-jago Cidan yang akan menyerbu Siau-lim-si itu bukanlah omong kosong, mungkin jago Cidan yang belum muncul bahkan akan lebih lihai. Kami pikir mumpung menang jumlah orang, biarlah bunuh dulu mereka. Maka sekaligus ada beberapa kawan menerjang ke arah laki-laki itu, sebagian kawan yang lain lantas menyerang si wanita.</p>
<p>&#8220;Tak terduga wanita itu sama sekali tidak mahir ilmu silat, sekali seorang kawan menebas dengan pedangnya, kontan sebelah lengan wanita itu terkutung dan karena itu bayi yang dia gendong itu jatuh ke tanah, menyusul golok kawan lain membacok pula hingga separuh kepala wanita itu terpenggal.</p>
<p>&#8220;Meski ilmu silat laki-laki Cidan itu sangat tinggi, tapi di bawah keroyokan 6-7 orang, betapa pun sukar melepaskan diri untuk menolong anak-istrinya. Semula ia hanya melawan dengan gerak tipu yang hebat untuk merampas senjata para kawan dan tidak melukainya, tapi demi melihat istrinya terbunuh, matanya menjadi merah membara, air mukanya beringas menyeramkan. Tanpa terasa aku merasa jeri tatkala melihat sinar matanya yang menakutkan itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, itu pun tak bisa menyalahkanmu, tak dapat menyalahkanmu!&#8221; tiba-tiba Tio-ci-sun menimbrung dengan suara yang penuh penyesalan dan berduka, jauh berbeda dengan ucapannya yang angin-anginan tadi.</p>
<p>&#8220;Pertarungan sengit itu sudah lampau 30 tahun lamanya,&#8221; demikian Ti-kong menyambung, &#8220;tapi selama 30 tahun ini entah sudah berpuluh kali, bahkan beratus kali dalam mimpiku seakan-akan kembali pada adegan waktu itu. Sungguh pertarungan yang mahasengit itu terlalu mendalam berkesan dalam benakku. Entah dengan cara apa, sekali tangan laki-laki Cidan itu bergerak, tahu-tahu senjata kedua orang kawanku sudah terampas, menyusul sekali bacok dan sekali tebas, seketika kedua kawan itu binasa. Terkadang orang itu menubruk turun dari kudanya, lain saat ia cemplak pula ke atas kudanya, dan hanya dengan pergi-datang begitu secepat hantu iblis, dalam sekejap saja sudah sembilan orang kawan kami terbinasa di tangannya.</p>
<p>&#8220;Karena itu kami menjadi kalap juga, Toako Pemimpin, Ong-pangcu dan lain-lain sama menyerbu maju dengan mati-matian. Namun ilmu silat lawan itu benar-benar aneh luar biasa. Setiap serangan, setiap gerakannya selalu sukar diduga, di tengah deru angin keras di luar Gan-bun-koan itu tercampur jerit ngeri para pahlawan waktu menemui ajalnya, seketika berjatuhan buah kepala dan anggota badan bertebaran, dalam keadaan begitu, betapa pun tinggi ilmu silatmu paling-paling juga cuma dapat menjaga diri saja dan tidak mampu menolong kawan yang lain.</p>
<p>&#8220;Menyaksikan pertarungan sengit itu, hatiku sesungguhnya sangat ketakutan, tapi demi tampak para kawan satu per satu terbinasa dengan mengenaskan, mau tak mau darahku mendidih juga, dengan penuh semangat aku menerjang ke arah musuh. Kuangkat golok dan membacok sekuat tenaga ke kepala lawan. Aku sadar bila seranganku luput, maka jiwakulah yang bakal melayang. Tampaknya golokku tinggal belasan senti jaraknya di atas kepalanya, mendadak kulihat tangan orang itu memegang seorang tawanan dan dengan buah kepala tawanan itu ia papak bacokanku itu.</p>
<p>&#8220;Sekilas kulihat kepala orang itu adalah orang kedua Tho-si-sam-hiong dari Kangsay, keruan aku terkejut, bila bacokanku itu kena, tentu kepalanya akan berpisah dengan tuannya. Maka sebisanya kutarik balik golokku, namun menurunnya yang terlalu keras itu tak dapat kutahan lagi, kepala kuda tungganganku sendiri yang terbacok. Binatang itu meringkik sekali terus berjingkrak. Dan pada saat itulah orang Cidan itu juga menggaplok ke arahku dengan tangannya. Untung pada saat yang sama kudaku menegak hingga mewakilkan aku menahan serangannya itu. Kalau tidak, tentu tulangku yang akan remuk dan jiwa melayang.</p>
<p>&#8220;Tenaga gaplokan orang itu ternyata kuat sekali, seketika aku bersama kudaku mencelat ke belakang, bahkan aku terpental dan jatuhnya persis kecantol di atas dahan pohon besar. Dalam keadaan ketakutan dan merasa entah mati atau hidup, dari atas aku masih sempat menyaksikan kawanku satu per satu disapu roboh oleh orang Cidan itu dan akhirnya tinggal 5-6 orang saja yang masih bertahan sekuatnya. Kulihat saudara ini pun tergeliat roboh bermandikan darah, waktu itu aku menyangka dia sudah mati.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kejadian memalukan itu kalau dibicarakan juga tetap memalukan,&#8221; tukas Tio-ci-sun, &#8220;tapi aku juga tidak perlu berdusta, biar kukatakan terus terang. Waktu itu sebenarnya aku tidak terluka, tapi aku jatuh pingsan ketakutan. Kulihat kedua kaki Tho-jiko kena dipegang tangan musuh sekali pentang dan sekali beset, tahu-tahu tubuh Tho-jiko dirobek menjadi dua, perutnya berhamburan. Melihat itu, mendadak jantungku serasa berhenti berdenyut, mataku menjadi gelap dan segala apa selanjutnya tidak tahu lagi. Ya, memang aku pengecut, melihat pembunuhan itu, saking ketakutan aku jatuh pingsan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa pun bila menyaksikan cara orang Cidan itu membunuh seganas iblis, mustahil jika bilang tidak takut,&#8221; kata Ti-kong. &#8220;Di bawah sinar bulan remang-remang seperti sekarang ini, kulihat kawan-kawan yang masih menempur orang Cidan itu tinggal empat orang saja. Toako Pemimpin insaf takkan lolos dari elmaut, maka berulang-ulang ia membentak, &#8216;Siapa kau? Siapa kau?&#8217;</p>
<p>&#8220;Tapi orang itu tidak menjawab, hanya dua jurus pula, kembali dua orang kawan terbunuh lagi. Mendadak kakinya mendepak hingga hiat-to di punggung Ong-pangcu tertendang, secara berantai menyusul kakinya yang lain menendang pula hingga hiat-to bawah iga Toako Pemimpin kena didepak.</p>
<p>&#8220;Tentang ilmu tiam-hiat sudah pernah kulihat macam-macam caranya, tapi orang itu ternyata dapat menggunakan ujung kaki untuk menutuk hiat-to, baik jitunya maupun cepatnya tendangan musuh sukar dibayangkan. Bila waktu itu aku tidak ingat jiwa sendiri juga terancam elmaut dan kedua korban tendangan itu adalah orang yang paling kuhormati, mungkin saat itu juga aku bisa bersorak memuji.</p>
<p>&#8220;Sesudah semua lawan dirobohkan, orang Cidan itu terus lari ke samping mayat si wanita, ia menangis meraung-raung memeluk jenazah itu, tangisnya sangat memilukan, sampai aku sendiri hampir-hampir ikut meneteskan air mata. Kupikir orang Cidan yang ganas seperti binatang dan iblis ini kiranya juga mempunyai rasa kemanusiaan, betapa rasa dukanya ternyata tidak kalah rendah daripada bangsa Han kita.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya bangsa Cidan juga manusia, sama-sama manusia mengapa bisa lebih rendah dari bangsa Han? Bedanya mereka adalah kaum penjajah, dan kaum penjajah harus diganyang!&#8221; sela Tio-ci-sun tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;Setelah menangis sebentar, kemudian orang Cidan itu mengangkat pula mayat anaknya, ia pandang sejenak, lalu taruh mayat bayi itu di pangkuan ibundanya. Lalu ia mendekati Toako Pemimpin, ia membentak-bentak dan mencaci maki. Namun sedikit pun Toako tidak menyerah, sebaliknya menjawabnya dengan mata mendelik. Celakanya karena tertutuk, maka ia tidak dapat bicara. Sekonyong-konyong orang Cidan itu menengadah sambil bersuit panjang, tiba-tiba ia gunakan jarinya untuk menulis di atas dinding batu, tatkala itu hari sudah gelap, jarakku dengan dia agak jauh pula, maka aku tidak tahu jelas apa yang ditulisnya itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia menulis dalam bahasa Cidan, biarpun dekat juga kau tidak paham,&#8221; ujar Tio-ci-sun.</p>
<p>&#8220;Benar, biarpun dapat membaca dari dekat juga tidak mengerti maksudnya,&#8221; kata Ti-kong. &#8220;Sesudah menulis, kemudian orang itu mengangkat jenazah istri dan anaknya berjalan ke tepi jurang lalu terjun bertiga. Perbuatannya ini benar-benar di luar dugaanku. Semula aku pikir orang yang berilmu silat setinggi ini tentu mempunyai kedudukan terhormat di negeri Cidan, serangan mereka pada Siau-lim-si sekali ini seumpama dia bukan pemimpinnya, paling tidak juga salah seorang tokoh terpenting.</p>
<p>&#8220;Setelah Toako Pemimpin dan Ong-pangcu ditawan olehnya, sisanya terbunuh pula, boleh dikata dia telah memperoleh kemenangan terakhir, siapa tahu dia justru membunuh diri dengan terjun ke jurang. Padahal jurang itu penuh dilapis kabut tebal hingga dalamnya sukar dijajaki, betapa pun tinggi ilmu silatnya, sekali sudah terjun ke situ pasti hancur lebur badannya. Begitulah karena kaget, aku sampai menjerit.</p>
<p>&#8220;Siapa duga di dalam kejadian aneh masih ada yang lebih aneh, justru pada saat aku menjerit, tiba-tiba terdengar suara menguak tangis bayi yang berkumandang dari dalam jurang. Menyusul sepotong benda melayang naik dari dalam jurang, &#8216;bluk&#8217;, benda itu tepat jatuh di atas badan Ong-pangcu. Kudengar suara tangis bayi yang tiada berhenti-henti, kiranya benda yang jatuh di atas badan Ong-pangcu itu adalah si orok. Waktu itu rasa takutku sudah lenyap, cepat kulompat turun dari atas pohon dan berlari ke dekat Ong-pangcu, kulihat anak Cidan itu telentang di atas perut beliau dan masih menangis. Aku terheran-heran. Sesudah berpikir, akhirnya kutahulah duduknya perkara.</p>
<p>Kiranya setelah wanita Cidan itu terbunuh bayinya jatuh ke tanah dan untuk sementara berhenti pernapasannya, tapi sebenarnya belum mati. Waktu laki-laki Cidan itu merasa napas si orok sudah berhenti, ia sangka anak-istrinya sudah tewas semua, maka ia terjun ke jurang bersama kedua sosok mayat. Di luar dugaan, karena mengalami guncangan, mendadak bayi itu siuman kembali terus menangis.</p>
<p>&#8220;Laki-laki Cidan itu sesungguhnya sangat hebat, ia tidak ingin anaknya terkubur hidup-hidup di dasar jurang, maka begitu mengetahui anaknya belum mati, cepat ia melemparkan anaknya ke atas. Ia ingat tempat dan jaraknya, dan dengan persis bayi itu dilemparkan ke atas tubuh Ong-pangcu hingga si orok tidak mengalami cedera apa-apa.</p>
<p>&#8220;Kulihat para kawan hampir seluruhnya binasa dengan mengenaskan, saking duka, bayi itu kupegang dan hendak kubanting mampus. Tapi baru saja kuangkat, tiba-tiba terdengar tangisnya yang lebih keras, aku memandang sekejap mukanya, kulihat mulutnya yang kecil mungil itu terpentang lebar, air mukanya merah padam, kedua matanya yang hitam cemerlang juga sedang menatap padaku. Bila aku tidak memandanginya dan terus membanting mampus dia, mungkin segala urusan menjadi beres. Tapi demi kulihat mukanya yang menyenangkan, betapa pun aku tidak tega turun tangan kejam lagi. Diam-diam aku memaki diriku sendiri, &#8216;Hm, membunuh seorang orok yang berumur beberapa bulan, terhitung laki-laki gagah macam apa&#8217;?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ti-kong Taysu,&#8221; tiba-tiba ada orang Kay-pang berteriak, &#8220;bangsa Han kita tak terhitung banyaknya telah menjadi korban keganasan penjajah Cidan. Dengan mata kepala sendiri juga pernah kusaksikan pasukan anjing Cidan menyunduk anak bayi bangsa kita dengan ujung tombak sebagai satai, bahkan anggap perbuatan itu sebagai suatu kesenangan. Coba katakan, kalau mereka boleh membunuh, mengapa kita tidak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Walaupun benar ucapanmu, tapi manusia tetap manusia, dan setiap manusia tentu mempunyai rasa perikemanusiaan sendiri-sendiri,&#8221; ujar Ti-kong. &#8220;Aku sudah menyaksikan kematian orang begitu banyak, sungguh aku tidak tega membunuh pula seorang bayi yang tak berdosa. Biarlah, kalian boleh anggap aku keliru, boleh juga katakan aku pengecut, pendek kata aku tetap memberi kesempatan hidup kepada bayi itu.</p>
<p>&#8220;Kemudian aku berusaha hendak membuka hiat-to Toako Pemimpin dan Ong-pangcu yang tertutuk itu. Tapi sayang, pertama karena kepandaianku terlalu rendah, kedua, ilmu menendang hiat-to orang Cidan itu terlalu aneh, biarpun aku sudah berusaha macam-macam jalan tetap Toako dan Ong-pangcu tak dapat bergerak dan tak bisa bicara.</p>
<p>&#8220;Karena tak berdaya,&#8221; demikian Ti-kong melanjutkan, &#8220;terpaksa aku mendapatkan tiga ekor kuda dan mengangkut Toako Pemimpin dan Ong-pangcu ke atas kuda, cepat-cepat kami tinggalkan tempat itu. Aku sendiri membopong bayi Cidan itu sambil menuntun kedua ekor kuda yang lain, malam itu juga kami kembali ke Gan-bun-koan untuk mencari tabib pandai, tapi tutukan Toako dan Ong-pangcu itu tetap sukar ditolong. Sampai besok malamnya, setelah genap sehari-semalam, barulah hiat-to itu terbuka sendiri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena masih khawatir tentang rencana penyerbuan jago Cidan kepada Siau-lim-si, maka begitu hiat-to mereka terbuka, Toako Pemimpin dan Ong-pangcu lantas menuju ke luar Gan-bun-koan untuk memeriksa keadaan. Tertampak mayat bergelimpangan di tempat kemarin, waktu kulongok ke dalam jurang, namun aku tidak melihat apa-apa, yang ada cuma kabut belaka. Segera kami bertiga mengubur mereka yang gugur itu. Tapi ketika kami menghitung jumlahnya, ternyata tinggal 17 sosok mayat saja. Jumlah kami semula adalah 21 orang, tinggal kami bertiga, seharusnya yang gugur itu berjumlah 18 orang, mengapa kurang satu?&#8221;</p>
<p>Berkata sampai di sini, sorot matanya lantas menatap ke arah Tio-ci-sun.</p>
<p>&#8220;Ya, sebab salah satu sosok mayat di antaranya telah hidup kembali dan tinggal pergi, sampai sekarang masih tetap gentayangan kian kemari, ialah diriku si &#8216;Tio-ci-sun-li-ciu-go-the-ong-tan ini&#8217;,&#8221; kata Tio-ci-sun dengan senyum pahit.</p>
<p>&#8220;Tapi waktu itu kami pun tidak curiga apa-apa, kami pikir boleh jadi dalam pertarungan sengit itu saudara ini telah terjerumus dalam jurang, maka tidak mengusutnya lebih jauh. Tiba-tiba Toako pimpinan berkata kepada Ong-pangcu, &#8216;Kiam-yan, jika orang Cidan itu mau membunuh kita sebenarnya terlalu mudah, tapi mengapa dia cuma menutuk hiat-to kita dan membiarkan kita terus hidup?&#8217; &#8211; &#8216;Hal ini pun membingungkan aku. Padahal kita berdua terhitung tokoh pimpinan dan telah membunuh anak-istrinya, pantasnya dia pasti akan membunuh mati kita,&#8217; demikian jawab Ong-pangcu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi kami bertiga tetap tidak mengerti, akhirnya Toako Pemimpin berkata, &#8216;Tulisan yang dia gores di dinding batu itu boleh jadi mengandung arti yang mendalam.&#8217; &#8211; Celakanya kami bertiga tidak paham tulisan Cidan. Toako Pemimpin mencari sedikit air sungai untuk mencairkan darah yang sudah membeku di tanah itu, dengan air darah itu lalu dipoles di atas dinding batu lalu baju sendiri yang putih itu ia robek untuk mencetak tulisan di atas dinding.&#8221;</p>
<p>&#8220;Huruf-huruf Cidan yang ditulis dengan tangan di dinding itu ternyata satu senti dalamnya, melulu tenaga jari ini saja kuyakin di dunia ini pasti tiada yang mampu menandinginya. Diam-diam kami merasa ngeri membayangkan pertarungan sengit kemarin malam itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Setiba kembali di Gan-bun-koan, Ong-pangcu mendapatkan seorang saudagar peternakan yang sering membeli kuda dari negeri Cidan, ia perlihatkan huruf darah itu dan minta saudagar itu menyalinnya ke dalam bahasa Han di atas kertas.&#8221; &#8211; berkata sampai di sini, tiba-tiba ia mendongak memandang ke langit sambil menghela napas panjang, lalu sambungnya, &#8220;Sehabis membaca terjemahan dalam bahasa Han itu, kami bertiga cuma saling pandang belaka, sungguh kami tidak dapat memercayai apa yang dimaksudkan itu. Dengan rasa tidak puas kami mencari seorang lain lagi yang mahir tulisan Cidan dan secara bagian-bagian kami minta dia menerjemahkan artinya. Tapi ternyata maksudnya serupa. Ai, jika duduk perkaranya memang benar-benar begitu, maka bukan saja kematian ke-17 saudara itu sangat penasaran, bahkan orang-orang Cidan itu telah menjadi korban tanpa berdosa, dan terhadap sepasang suami-istri bangsa Cidan itu kami benar-benar merasa berdosa.&#8221;</p>
<p>Karena ingin lekas mengetahui apa arti tulisan di atas dinding batu itu, sebaliknya Ti-kong belum lagi menerangkan, maka yang tidak sabar lantas berteriak, &#8220;Apa yang dikatakan tulisan itu?&#8221; &#8211; &#8220;Ya, mengapa merasa berdosa kepada mereka?&#8221;</p>
<p>&#8220;Para saudara,&#8221; sahut Ti-kong, &#8220;bukan aku sengaja merahasiakannya dan tidak mau membeberkan arti tulisan Cidan itu. Tapi hendaklah diketahui bila apa yang dikatakan tulisan itu memang benar, maka Toako Pemimpin, Ong-pangcu dan aku boleh dikata telah berbuat kesalahan yang mahabesar dan malu untuk hidup di dunia ini. Bagiku, yang cuma seorang &#8216;Bu-beng-siau-cut&#8217; (prajurit tak bernama, keroco) dalam Bu-lim, kesalahan begitu boleh dikatakan tidak mengapa, tapi bagi Toako Pemimpin dan Ong-pangcu yang mempunyai kedudukan begitu penting, mana boleh sembarangan kukatakan? Apalagi Ong-pangcu sudah wafat, lebih-lebih aku tidak boleh menodai nama mereka berdua. Maka maafkanlah bila sementara ini aku tidak dapat menerangkan.&#8221;</p>
<p>Mendengar hal itu menyangkut nama baik mendiang Ong-pangcu, betapa pun orang-orang Kay-pang, tidak berani tanya lagi.</p>
<p>Melihat semua orang sudah diam, kemudian Ti-kong menyambung pula, &#8220;Setelah berunding dan tukar pikiran, sungguh kami bertiga sukar memercayai apa yang dikatakan dalam tulisan Cidan itu, tapi mau tak mau harus percaya. Maka kami ambil keputusan untuk memberi hidup pada bayi Cidan itu, lebih dulu kami menuju Siau-lim-si untuk melihat gelagat, bila jago-jago Cidan benar menyerbu dan bila kami tak dapat melawan barulah bayi Cidan itu akan kami bunuh pula. Maka siang-malam kami menuju ke Siau-lim-si, kami lihat tidak sedikit kaum kesatria dan pahlawan dari berbagai daerah telah datang membantu, maklum urusan ini menyangkut nasib dan kehormatan berjuta rakyat bangsa kita, maka setiap orang yang mendapat berita bahaya itu semuanya ingin datang membantu.&#8221;</p>
<p>Sinar mata Ti-kong menyorot dari kiri ke kanan, ke arah pendengarnya, katanya pula, &#8220;Pertemuan di Siau-lim-si waktu itu mungkin ada di antara hadirin yang berusia sedikit lanjut juga ikut serta. Maka tidaklah perlu kuuraikan lebih lanjut. Waktu itu semua orang cuma siap siaga dan penuh waspada untuk menantikan datangnya musuh. Tapi sejak bulan sembilan hingga akhir tahun, selama tiga bulan itu ternyata tiada kabar sedikit pun tentang gerak-gerik musuh.</p>
<p>&#8220;Ketika orang yang menyampaikan berita semula hendak ditanya, tapi orangnya sudah menghilang. Kami baru menduga berita itu pasti tidak benar dan semua orang telah dibodohi. Korban yang jatuh dalam pertempuran Gan-bun-koan dikatakan terlalu penasaran. Cuma tidak lama kemudian, pasukan Cidan benar-benar menyerbu wilayah Hopak, para pahlawan banyak yang ikut dalam perjuangan melawan penjajah itu, tentang jago Cidan akan menyatroni Siau-lim-si atau tidak sudah tak terpikir lagi oleh mereka, pendek kata orang Cidan adalah musuh kita bersama.</p>
<p>&#8220;Tapi Toako Pemimpin, Ong-pangcu dan aku bertiga karena merasa berdosa dalam peristiwa Gan-bun-koan itu, maka kecuali memberitahukan pengalaman itu kepada pihak Siau-lim-si, kami menyampaikan berita duka itu pula kepada keluarga saudara-saudara yang gugur, lebih dari itu kami tidak beri tahukan kepada siapa-siapa pula. Sedangkan anak Cidan itu pun kami titipkan pada suatu keluarga petani di kaki gunung Siau-sit-san (di sini letak Siau-lim-si). Semula kami dihadapkan pada kesulitan cara bagaimana mengatur diri bocah itu.</p>
<p>&#8220;Kami sudah berdosa kepada ayah-bundanya dengan sendirinya tidak dapat membunuhnya pula. Tapi bicara tentang membesarkan anak itu, padahal bangsa Cidan adalah musuh nasional kita, betapa pun kami bertiga merasa ragu apa takkan terjadi &#8216;piara harimau mendatangkan bencana&#8217;? Syukur kemudian Toako Pemimpin mengeluarkan seratus tahil perak kepada petani itu dan minta dia suka merawat anak itu disertai syarat suami-istri petani itu harus mengakui bocah Cidan itu sebagai anak sendiri, bila anak sudah besar, sekali-kali jangan diberi tahu tentang asal-usulnya.</p>
<p>&#8220;Memangnya petani itu tidak punya anak, ia terima dengan kegirangan. Betapa tidak girang, sudah diberi anak, dapat uang pula. Sudah tentu dia tidak tahu anak itu adalah bangsa Cidan, sebab sebelumnya kami sudah mengganti baju anak itu dengan pakaian bangsa Han. Maklum, setiap bangsa kita terlalu benci pada bangsa Cidan, bila tahu anak itu keturunan Cidan, tentu dibunuhnya &#8230;.&#8221;</p>
<p>Mendengar sampai di sini, dalam hati Kiau Hong sudah dapat menerka siapa anak yang dimaksudkan Ti-kong itu, dengan suara gemetar ia tanya, &#8220;Ti-kong Taysu, siapakah nama petani &#8230; petani di kaki gunung Siau-sit-san itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika engkau sudah menerkanya, maka aku pun tidak perlu menutupi lagi,&#8221; sahut Ti-kong. &#8220;Petani itu she Kiau dan bernama Sam-hoay.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak! Ti &#8230; tidak!&#8221; seru Kiau Hong dengan suara terputus-putus. &#8220;Engkau sengaja mengarang cerita yang tidak benar untuk memfitnah diriku. Terang gamblang aku bangsa Han, mana mungkin aku orang Cidan? Kau be &#8230; berani ngaco-belo? &#8230;. Kiau Sam-hoay itu adalah ayahku yang sebenarnya, kau &#8230; kau berani sembarangan mengoceh?&#8221;</p>
<p>Habis berkata, mendadak ia melompat maju, sekali pegang, dada Ti-kong kena dijambretnya.</p>
<p>&#8220;Jangan!&#8221; teriak Ci-tianglo dan Tan Cing berbareng sambil melompat maju hendak menolong Ti-kong.</p>
<p>Tapi Kiau Hong teramat cepat, sekali mengegos, tahu-tahu ia sudah menggeser ke samping sambil menyeret tubuh Ti-kong.</p>
<p>Tan Tiong-san, Tan Siok-san dan Tan Ki-san, ketiga putra Tan Cing, serentak menubruk ke belakang Kiau Hong. Dalam keadaan gusar dan dongkol, Kiau Hong mengamuk, sekali pegang, Tan Siok-san kena dilempar pergi, menyusul Tan Tiong-san didepak pula hingga terguling, ketiga kalinya Tan Ki-san kena dibanting ke tanah, menyusul kakinya menginjak di atas kepala jago Thay-san itu.</p>
<p>Kelima jago Thay-san itu sangat disegani di sekitar Soatang, sudah lama nama kelima saudara keluarga Tan itu tersohor dan bukan lagi bocah yang masih hijau. Tapi sambil menjambret dada Ti-kong, hanya beberapa kali gerakan saja mereka dirobohkan Kiau Hong tanpa bisa melawan sedikit pun, keruan semua orang sampai terkesima.</p>
<p>Sudah tentu Tan Cing, Tan Pek-san dan Tan Siak-san bermaksud menolong anak dan saudara mereka, tapi demi tampak kepala Tan Ki-san terinjak kaki Kiau Hong, asal sedikit Kiau Hong gunakan tenaga, seketika kepala Tan Ki-san bisa pecah. Karena itulah mereka menjadi takut dan tidak berani sembarangan bertindak.</p>
<p>&#8220;Kiau-pangcu, ada persoalan apa, harap bicara secara baik-baik, janganlah pakai kekerasan, keluarga Tan kami juga tiada permusuhan apa-apa denganmu, lepaskanlah putraku,&#8221; demikian seru Tan Cing dengan nada memohon.</p>
<p>Ci-tianglo juga berkata, &#8220;Kiau-pangcu, Ti-kong Taysu adalah tokoh yang sangat dihormati setiap orang Kangouw, jangan kau bikin susah padanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar, aku Kiau Hong memang tiada permusuhan apa-apa dengan keluarga Tan kalian, selamanya aku pun sangat mengindahkan kepribadian Ti-kong Taysu, jika kalian hendak memecat aku sebagai pangcu, aku rela mengundurkan diri, tapi mengapa kalian mengarang dongeng palsu seperti itu untuk menista diriku. Sebenarnya perbuatan jahat apakah yang pernah kulakukan hingga kalian tega memperlakukan diriku sekeji ini?&#8221;</p>
<p>Mendengar suara Kiau Hong itu agak serak, mau tak mau timbul rasa terharu semua orang. Tapi demi terdengar tulang tubuh Ti-kong Taysu bekertakan, semua orang pun sadar jiwa padri itu sudah di tepi jurang, mati atau hidupnya hanya bergantung di tangan Kiau Hong.</p>
<p>Suasana waktu itu menjadi sunyi senyap. Tiada seorang pun berani buka suara. Sampai agak lama tiba-tiba Tio-ci-sun tertawa dingin beberapa kali, katanya, &#8220;Hehe, benar-benar menggelikan! Bangsa Han toh tidak lebih terhormat dari bangsa lain, bangsa Cidan juga belum tentu lebih rendah daripada binatang! Sudah terang orang Cidan, tapi berkeras mengaku sebagai bangsa Han, memangnya apa sih yang menarik? Sampai ayah-bunda sendiri juga tidak sudi diakui, masakah masih dapat disebut seorang laki-laki sejati, seorang kesatria?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi engkau juga mengatakan aku orang Cidan?&#8221; tanya Kiau Hong dengan melotot.</p>
<p>&#8220;Aku tidak tahu,&#8221; sahut Tio-ci-sun. &#8220;Cuma dalam pertempuran di Gan-bun-koan itu, dengan jelas kulihat jago Cidan itu baik air mukanya maupun perawakannya memang sangat mirip engkau. Pertempuran itu boleh dikatakan telah membuat nyaliku pecah, maka air muka orang itu biarpun lewat seabad lagi juga tetap kuingat.&#8221;</p>
<p>Perlahan Kiau Hong melepaskan Ti-kong, ia tarik kembali kakinya pula dan sekali mencukit, tubuh Tan Ki-san didepaknya pergi dengan enteng. Dan begitu jatuh ke tanah, cepat Tan Ki-san meloncat bangun tanpa terluka sedikit pun.</p>
<p>Waktu Kiau Hong pandang Ti-kong, ia lihat padri itu bersikap tenang saja, sedikit pun tiada tanda palsu dan licik. Maka tanyanya, &#8220;Kemudian bagaimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kemudian engkau sendiri pun sudah tahu,&#8221; sahut Ti-kong. &#8220;Ketika engkau berusia tujuh tahun, waktu memetik buah-buahan di pegunungan Siau-sit-san, engkau diserang serigala, untung engkau ditolong padri Siau-lim-si. Selanjutnya tiap-tiap hari padri itu datang padamu dan memberi pelajaran ilmu silat, benar tidak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, kiranya kau pun tahu urusan ini,&#8221; sahut Kiau Hong.</p>
<p>Maklum, pada waktu padri Siau-lim-si itu mengajarkan ilmu silat padanya, lebih dulu ia telah berjanji takkan memberitahukan kepada orang lain. Maka orang Kangouw cuma tahu dia adalah ahli waris Ong-pangcu dari Kay-pang dan tiada yang tahu bahwa dia ada hubungan dengan Siau-lim-si.</p>
<p>Maka Ti-kong melanjutkan lagi, &#8220;Tindakan padri Siau-lim-si itu sebenarnya juga atas permintaan Toako Pemimpin kita untuk memberi ajaran padamu agar engkau tidak sampai sesat jalan. Bahkan berhubung dengan itu, aku, Toako Pemimpin dan Ong-pangcu pernah saling berdebat. Aku berpendapat engkau lebih baik bertani saja dan tidak belajar silat hingga terlibat pula dalam suka-duka orang Kangouw. Tapi Toako Pemimpin justru mengatakan kami telah berdosa kepada ayah-bundamu, maka ingin mendidik dirimu hingga menjadi seorang kesatria sejati.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebenarnya do &#8230; dosa apa kalian itu?&#8221; kata Kiau Hong. &#8220;Toh dalam pertempuran antara dua pihak, kalau tidak membunuh tentu akan dibunuh?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentang itu kelak boleh kau baca sendiri ukiran tulisan di dinding batu di luar Gan-bun-koan itu,&#8221; sahut Ti-kong. &#8220;Akhirnya, waktu engkau berusia 14 tahun, engkau lantas diterima menjadi murid Ong-pangcu. Dan bagaimana kejadian selanjutnya, meski semuanya memang berkat rezekimu sendiri yang besar serta bakatmu yang baik hingga banyak mendapat kemajuan yang luar biasa, namun kalau tiada perhatian Toako Pemimpin dan Ong-pangcu yang setiap saat mengawasi dirimu, mungkin tidaklah mudah bagimu untuk mencapai tingkatan seperti sekarang ini.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Kiau Hong merenungkan masa silam, banyak sudah bahaya yang pernah dialaminya, tapi segala kesulitan itu selalu dapat dipecahkannya dengan mudah tanpa mengalami kerugian yang berarti. Bahkan banyak kesempatan baik selalu datang sendiri seakan-akan sengaja diantarkan kepadanya tanpa diminta.</p>
<p>Dahulu ia sangka hal itu adalah berkat rezeki sendiri yang teramat besar, maka selalu beruntung. Tapi kini demi mendengar cerita Ti-kong itu, ia menjadi ragu apakah mungkin ada seorang pahlawan besar yang diam-diam telah membantunya di luar tahunya? Ia merasa bingung oleh cerita Ti-kong itu. Bila benar seperti apa yang dikatakan maka dirinya adalah bangsa Cidan dan bukan orang Han, begitu pula Ong-pangcu juga bukan lagi gurunya yang berbudi, sebaliknya adalah musuh yang membunuh ayah-bundanya.</p>
<p>Juga pahlawan yang diam-diam membantunya itu bukan lagi sengaja hendak membantunya, tapi karena orang merasa berdosa, maka berusaha menebus kesalahannya itu. &#8220;Tidak, tidak! Bangsa Cidan terkenal sangat buas dan kejam serta menjadi musuh bebuyutan bangsa Han kita, mana boleh aku menjadi bangsa Cidan?&#8221; demikian pikirnya.</p>
<p>Sementara itu Ti-kong telah menyambung, &#8220;Semula Ong-pangcu masih waswas padamu, tapi kemudian demi melihat pelajaran silatmu maju sangat pesat, tingkah lakumu juga sangat mencocoki hatinya, terhadap dia kau pun sangat menghormat dan mengindahkan, maka lambat laun ia pun sayang padamu, lebih jauh sesudah engkau banyak berjasa, namamu tambah disegani baik di dalam maupun di luar Kay-pang, maka setiap orang tahu bahwa jabatan ketua Kay-pang selanjutnya pasti akan diserahkan padamu.</p>
<p>&#8220;Namun Ong-pangcu sendiri masih ragu, yaitu disebabkan engkau adalah keturunan Cidan. Beliau telah menguji tiga soal padamu dan semuanya dapat kau laksanakan dengan baik, habis itu dia mengharuskan pula padamu melakukan tujuh tugas besar yang lain, kemudian barulah dia menurunkan Pak-kau-pang-hoat (ilmu pentung penggebuk anjing) padamu.</p>
<p>&#8220;Pada tahun diadakan Thay-san-tay-hwe, engkau seorang diri telah mengalahkan delapan musuh Kay-pang yang paling tangguh hingga nama Kay-pang menjagoi dunia persilatan, maka tanpa ragu lagi akhirnya beliau mengangkat dirimu sebagai pengganti pangcu. Dan setahuku, selama beratus tahun ini, tiada seorang pangcu yang mendapatkan jabatannya dengan perjuangan sulit seperti engkau ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku hanya mengira Insu (guru berbudi) Ong-pangcu sengaja menggembleng diriku, setelah menghadapi berbagai kesulitan tentu aku akan lebih masak dalam menghadapi tugasku kelak, tapi ternyata &#8230;.&#8221; sampai di sini, sudah delapan bagian Kiau Hong percaya apa yang dikatakan Ti-kong tadi.</p>
<p>&#8220;Dan hanya sekian saja yang kutahu,&#8221; kata Ti-kong. &#8220;Setelah engkau menjabat pangcu, dari kabar yang kuperoleh di Kangouw, semua orang mengatakan engkau banyak melakukan amal kebaikan bagi rakyat dan negara, Kay-pang juga bertambah maju di bawah pimpinanmu, sudah tentu diam-diam aku bergirang bagimu.</p>
<p>&#8220;Apalagi kudengar beberapa kali engkau telah menggagalkan muslihat musuh dan membunuh beberapa jago Cidan, maka kekhawatiran kami semula tentang &#8216;memiara harimau mendatangkan bencana&#8217; itu menjadi tiada beralasan lagi. Sebenarnya urusan dirimu ini tidak perlu diungkat lagi, tapi entah siapa yang telah menyiarkannya, hal ini rasanya takkan mendatangkan manfaat baik bagi Kiau-pangcu sendiri maupun bagi Kay-pang.&#8221;</p>
<br />Posted in Jin Yong, Pendekar Kerajaan Tayli  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toanki.wordpress.com/1820/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toanki.wordpress.com/1820/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toanki.wordpress.com/1820/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toanki.wordpress.com/1820/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toanki.wordpress.com/1820/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toanki.wordpress.com/1820/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toanki.wordpress.com/1820/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toanki.wordpress.com/1820/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toanki.wordpress.com/1820/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toanki.wordpress.com/1820/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toanki.wordpress.com/1820/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toanki.wordpress.com/1820/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toanki.wordpress.com/1820/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toanki.wordpress.com/1820/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1820&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-25/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b75e221c0eee4ff517b26695a19675fc?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">Lenghou Tiong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 24</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-24/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-24/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 04:47:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1818</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kiranya jembatan itu adalah sebuah tok-bok-kip (jembatan balok kayu tunggal) yaitu hanya selonjor balok yang menghubungkan ujung sini dengan seberang sana. Di sebelah sini berdiri seorang laki-laki berbaju hitam dan sebelah sana berdiri seorang desa sambil memikul satu pikulan rabuk kotoran. &#8220;Rupanya kedua orang itu bertengkar karena berebut hak jalan lebih dulu. Si orang desa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1818&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Kiranya jembatan itu adalah sebuah tok-bok-kip (jembatan balok kayu tunggal) yaitu hanya selonjor balok yang menghubungkan ujung sini dengan seberang sana. Di sebelah sini berdiri seorang laki-laki berbaju hitam dan sebelah sana berdiri seorang desa sambil memikul satu pikulan rabuk kotoran.</p>
<p><span id="more-1818"></span>&#8220;Rupanya kedua orang itu bertengkar karena berebut hak jalan lebih dulu. Si orang desa menyatakan dia membawa pikulan yang berat, tidak mungkin mundur, maka laki-laki berbaju hitam itu disuruh memberi jalan dulu.</p>
<p>&#8220;Tapi laki-laki baju hitam itu menjawab, &#8216;Sejak tadi kita saling ngotot sampai sekarang, biarpun ngotot lagi sampai besok juga aku takkan mengalah.&#8217;</p>
<p>&#8220;Si orang desa berkata, &#8216;Jika kau tahan bau busuk kotoran pikulanku ini, boleh coba kau ngotot terus.&#8217; &#8211; &#8216;Pundakmu dibebani pikulan seantap itu, jika engkau tidak lelah, boleh coba, kita lihat saja siapa lebih tahan lama,&#8217; demikian sahut si laki-laki baju hitam.</p>
<p>&#8220;Sudah tentu aku merasa geli menyaksikan peristiwa itu, pikirku watak laki-laki baju hitam ini benar-benar sangat aneh, asal dia mundur dulu dan memberi jalan kepada orang desa itu, kan segala urusan menjadi beres, tapi ia justru ngotot berebut jalan dengan orang desa yang memikul kotoran untuk rabuk sawah itu, apanya yang menarik sih? Dan dari ucapan mereka itu, nyata mereka sudah saling ngotot lebih satu jam lamanya.</p>
<p>&#8220;Tertarik oleh kejadian lucu itu, aku menjadi ingin tahu bagaimana akhirnya pertengkaran mereka itu, apakah akhirnya laki-laki baju hitam itu yang menyerah atau si orang desa yang mengaku kalah?</p>
<p>&#8220;Tapi aku tidak sudi mencium bau busuk kotoran yang dipikul orang desa itu, maka aku bersembunyi di tempat agak jauh, kudengar kedua orang itu masih terus bertengkar tak mau kalah. Orang desa itu benar-benar sangat kuat, kalau capek ia pindahkan pikulannya dari pundak kiri ke pundak kanan dan sebaliknya secara bergiliran, namun selangkah pun ia pantang mundur.&#8221;</p>
<p>Mendengar sampai di sini, Toan Ki coba memandang Giok-yan, A Cu, dan A Pik bertiga. Ternyata ketiga nona itu sedang mendengarkan dengan penuh perhatian dan merasa sangat tertarik.</p>
<p>Diam-diam Toan Ki membatin, &#8220;Toako ini benar-benar rada aneh tabiatnya, menghadapi suasana yang tegang di tengah pengkhianatan anggota Kay-pang, ternyata dia masih bisa iseng menceritakan hal-hal yang tiada sangkut pautnya dengan kepentingannya itu. Ceritanya bagi nona Ong bertiga sudah tentu menarik, tapi Kiau-toako yang gagah kesatria seperti ini mengapa juga masih kekanak-kanakan sifatnya?&#8221;</p>
<p>Akan tetapi tidak cuma Giok-yan bertiga saja yang tertarik oleh cerita Kiau Hong itu, sebab semua anggota Kay-pang yang hadir di situ tampaknya juga sedang mendengarkan dengan penuh perhatian, sama sekali tidak merasa cerita Kiau Hong itu sebagai dongengan kosong.</p>
<p>Maka Kiau Hong telah melanjutkan, &#8220;Setelah mengikuti kejadian itu sebentar, lambat laun aku terkejut, kulihat laki-laki baju hitam yang berdiri di atas jembatan balok itu tetap menegak bagai gunung antengnya, terang ia seorang yang memiliki ilmu silat yang sangat tinggi. Sebaliknya orang desa itu hanya seorang biasa saja, sedikit pun tidak paham ilmu silat.</p>
<p>&#8220;Makin melihat makin heran aku, kupikir ilmu silat laki-laki baju hitam ini begini hebat, asal dia gunakan sebuah jarinya saja sudah cukup untuk dorong orang desa berikut pikulannya terguling ke dalam sungai, akan tetapi ia justru tidak mau menggunakan ilmu silatnya.</p>
<p>&#8220;Pada umumnya jago silat setinggi itu seharusnya seorang yang sabar dan peramah, umpama tidak mau mengalah cukup sekali melompat saja sudah dapat lewat ke seberang sana dengan melintasi kepala orang desa itu, hal ini dengan mudah dapat dilakukannya, tapi mengapa dia justru cari gara-gara dengan orang desa itu? Sungguh aneh dan menggelikan!</p>
<p>&#8220;Dalam pada itu kudengar laki-laki baju hitam itu lagi berseru, &#8216;Ayo, kau mau mengalah atau tidak, kalau tidak, terpaksa aku memaki!&#8217;</p>
<p>&#8220;Tapi orang desa itu tetap ngotot, sahutnya, &#8216;Mau maki boleh maki. Kau bisa memaki, memangnya aku tidak bisa?&#8217; &#8211; Bahkan ia terus memaki lebih dulu. Maka laki-laki baju hitam itu pun balas memaki kalang kabut. Ramai sekali mereka saling caci maki, dari yang halus sampai yang paling kotor, yang lucu dan yang aneh-aneh, semuanya mereka keluarkan.</p>
<p>&#8220;Kira-kira satu jam pula perang mulut itu berlangsung, sementara itu si orang desa tampak agak payah, tenaga habis dan keringat mengucur. Sebaliknya laki-laki baju hitam itu sangat kuat tenaga dalamnya, ia tetap bertahan dengan penuh semangat. Kulihat badan si orang desa mulai bergoyang-goyang, tampaknya tidak lama lagi tentu ia akan kecebur ke dalam sungai.</p>
<p>&#8220;Tak tersangka, mendadak orang desa itu mencelupkan sebelah tangannya ke dalam tong kotoran yang dia pikul itu, ia meraup satu comot kotoran terus dilemparkan ke arah laki-laki baju hitam. Sudah tentu laki-laki baju hitam sama sekali tidak menduga akan perbuatan lawan itu, ia berseru kaget, kontan mukanya dan mulutnya penuh terciprat air kotoran.</p>
<p>&#8220;Diam-diam aku mengeluh orang desa itu pasti bakal celaka, ia mencari mati sendiri dan tak bisa menyalahkan laki-laki baju hitam itu. Benar juga laki-laki itu menjadi murka, sekali angkat tangannya, terus saja menabok ubun-ubun kepala orang desa itu.&#8221;</p>
<p>Mendengar sampai di sini, rupanya saking tertarik oleh cerita Kiau Hong itu hingga mulut Giok-yan yang kecil mungil itu tampak agak melongo. Sedangkan A Cu dan A Pik tampak saling pandang dengan tersenyum.</p>
<p>Kiau Hong sedang melanjutkan, &#8220;Kejadian itu datangnya terlalu mendadak, hendak kutolong orang desa itu pun tidak keburu lagi. Tak terduga ketika tangan laki-laki itu sudah dekat batok kepala orang desa itu, tiba-tiba ia hentikan serangannya hingga tangan tertahan di udara. Ia tertawa dan bertanya, &#8216;Lauhia (saudara), engkau bertanding ketekunan denganku, sebenarnya siapakah yang menang, ha?&#8217;</p>
<p>&#8220;Tapi orang desa itu ternyata sangat bandel, sudah terang ia kalah, namun tetap tidak mau mengaku, sahutnya, &#8216;Aku memikul barang berat, sudah tentu kau lebih tahan. Coba kau bawa pikulan dan aku berdiri dengan bebas, marilah kita boleh coba-coba lagi siapa yang menang dan siapa yang akan kalah?&#8217; &#8211; &#8216;Benar juga ucapanmu,&#8217; sahut laki-laki itu. Terus saja dengan tangan kiri ia angkat pikulan dari pundak si orang desa, ia tidak taruh pikulan itu di pundak sendiri, tapi terus diangkat tinggi ke atas dengan tangan lurus tegak.</p>
<p>&#8220;Meski orang desa itu tidak paham ilmu silat namun tenaganya sebenarnya sangat besar. Demi tampak laki-laki itu mampu angkat pikulannya yang berat itu dengan sebelah tangan tanpa bergoyang sedikit pun, mau tak mau orang desa itu ternganga kaget. &#8216;Nah, biar aku angkat pikulanmu ini cara begini dan takkan berganti tangan, marilah kita coba bertanding lagi, siapa yang kalah nanti harus minum habis kotoran satu pikul ini!&#8217; demikian kata laki-laki itu dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Keruan orang desa itu tidak berani bertengkar lagi demi menyaksikan betapa hebat tenaga sakti laki-laki itu, buru-buru ia hendak mundur ke belakang. Tapi saking gugupnya ia terpeleset hingga tercemplung ke dalam sungai. Syukur laki-laki baju hitam sempat ulur sebelah tangannya untuk menjambret leher baju orang desa itu.</p>
<p>&#8220;Dan sambil sebelah tangan mengangkat pikulan kotoran dan tangan lain menjinjing orang desa itu, laki-laki itu terbahak-bahak dan berseru, &#8216;Hahaha! Sungguh puas!&#8217; &#8211; Habis itu sekali lompat ia sudah sampai di seberang sungai dengan enteng. Ia taruh orang desa dan pikulannya ke tanah, lalu tinggal pergi dan menghilang di dalam hutan dengan ginkang yang tinggi.</p>
<p>&#8220;Nah, saudara-saudara, laki-laki baju hitam itu telah dicaci maki oleh orang desa itu, bahkan telah disiram air kotoran, kalau ia mau membunuhnya boleh dikatakan semudah menggecek seekor semut. Seumpama dia tidak ingin sembarangan membunuh orang, paling tidak ia dapat memberi sekali gebukan atau tendangan kepada orang desa itu pun pantas rasanya. Akan tetapi ia justru tidak mau main kekerasan, tidak mau mentang-mentang lebih pandai, sifat laki-laki itu benar-benar luar biasa, sungguh sukar dicari bandingannya di kalangan Bu-lim.</p>
<p>&#8220;Saudara-saudara, kejadian itu telah kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, jarak tempat kusembunyi waktu itu agak jauh, rasanya tidak mungkin aku diketahui olehnya hingga dia sengaja berbuat apa yang terjadi itu untuk mengelabui pikiranku. Coba katakanlah, saudara-saudara, orang begitu terhitung kawan pilihan tidak? Termasuk seorang laki-laki sejati bukan?&#8221;</p>
<p>Song-tianglo, Ge-tianglo dan Go-tianglo serentak menjawab, &#8220;Benar, dia seorang kawan pilihan, seorang laki-laki sejati!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi sayang Pangcu tidak tahu siapa namanya,&#8221; Tan-tianglo juga berkata, &#8220;kalau tahu, tentu kita pun ingin tahu bahwa di daerah Kanglam sini ternyata ada seorang tokoh sehebat itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kawan itu tadi malahan sudah saling gebrak dengan Tan-tianglo sendiri,&#8221; sahut Kiau Hong perlahan. &#8220;Bahkan tangannya kena diantup oleh kalajengking Tan-tianglo.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah, dia It-tin-hong Hong Po-ok?&#8221; seru Tan-tianglo terperanjat.</p>
<p>&#8220;Benar!&#8221; sahut Kiau Hong sambil mengangguk.</p>
<p>Dan baru sekarang Toan Ki paham sebabnya Kiau Hong mendongeng, tujuannya adalah ingin melukiskan secara nyata watak Hong Po-ok yang sejati, bahwa manusia itu tidak boleh dinilai dari lahirnya, bahwa wajah bagus belum tentu juga berhati baik.</p>
<p>Biarpun muka Hong Po-ok itu jelek, lebih mirip setan daripada manusia, suka cari gara-gara dan berkelahi pula, tapi jiwanya ternyata sangat luhur dan bajik.</p>
<p>Dari itu juga Toan Ki paham mengapa Giok-yan, A Cu dan A Pik begitu tertarik oleh cerita itu, sudah tentu disebabkan mereka tahu siapa yang dimaksudkan karena kenal watak Hong Po-ok yang suka bertengkar dengan orang tanpa sebab, tapi juga tidak nanti sembarangan membikin susah orang.</p>
<p>Dalam pada itu terdengar Kiau Hong sedang berkata pula, &#8220;Nah, Tan-tianglo, kita selalu anggap Kay-pang kita adalah suatu pang-hwe terbesar di dunia Kangouw, engkau sendiri adalah tokoh utama Kay-pang kita, kedudukan dan nama baikmu sudah tentu tak dapat disejajarkan dengan seorang keroco daerah Kanglam seperti Hong Po-ok itu. Tapi Hong Po-ok sesudah dihina toh masih bisa menjaga harga diri dari tidak mau sembarangan membikin susah orang lain, masakah tokoh-tokoh Kay-pang kita mesti kalah daripada dia?&#8221;</p>
<p>Muka Tan-tianglo menjadi merah, sahutnya, &#8220;Ajaran Pangcu memang tepat. Engkau suruh aku memberikan obat penawar padanya, kiranya adalah demi kehormatanku. Untuk itu Tan Put-peng tidak tahu maksud baik Pangcu, sebaliknya malah merasa tidak senang. Sungguh aku ini goblok seperti kerbau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nama baik Kay-pang kita dan kehormatan Tan-tianglo adalah soal kedua, yang paling utama adalah orang persilatan seperti kita ini dilarang keras membunuh sesamanya yang tak berdosa,&#8221; ujar Kiau Hong. &#8220;Biarpun Tan-tianglo umpamanya bukan tokoh Kay-pang kita dan bukan jago tersohor di Bu-lim, juga tidak boleh sembarangan mencelakai orang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, Tan Put-peng sekarang insaf telah berbuat salah,&#8221; sahut Tan-tianglo sambil menunduk.</p>
<p>Melihat uraiannya itu dapat menundukkan Tan Put-peng yang terhitung paling angkuh di antara Su-tay-tianglo itu, tentu saja Kiau Hong sangat senang, perlahan katanya pula, &#8220;Kongya Kian sangat kesatria, Hong Po-ok dapat membedakan di antara salah dan benar, sedangkan Pau Put-tong itu suka terus terang dan bebas, sekalipun ketiga nona ini pun sangat ramah dan bajik. Mereka ini kalau bukan bawahan Buyung-kongcu tentu adalah sanak keluarganya. Kata peribahasa, &#8216;Binatang itu hidup berkumpul menurut jenis masing-masing, manusia hidup terpisah menurut kelompok sendiri-sendiri&#8217;. Cobalah para saudara mengheningkan cipta dan pikirlah secara tenang, sedangkan orang-orang yang bergaul setiap hari dengan Buyung-kongcu itu adalah orang-orang yang telah kita kenal ini, lantas dia sendiri apa mungkin seorang durjana yang mahajahat, seorang pengecut yang rendah dan kotor?&#8221;</p>
<p>Tokoh-tokoh dalam Kay-pang itu adalah kesatria yang mengutamakan setia kawan dan cinta sahabat, setelah mendengarkan cerita Kiau Hong, semuanya merasa pendapat sang pangcu yang membela kehormatan Buyung Hok itu cukup beralasan, maka terdengarlah banyak suara yang menyatakan persetujuan mereka.</p>
<p>Sebaliknya Coan Koan-jing lantas berkata, &#8220;Pangcu, jadi menurut pendapatmu, pembunuh Be-hupangcu sudah pasti bukan Buyung Hok?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak berani memastikan Buyung Hok adalah pembunuh Be-hupangcu, tetapi juga tidak berani mengatakan dia pasti bukan pembunuhnya,&#8221; sahut Kiau Hong. &#8220;Urusan menuntut balas ini kita tidak boleh bertindak gegabah, tapi harus mengusutnya secara teliti, bila cuma berdasarkan kepada dugaan saja hingga salah membunuh orang baik, sebaliknya pembunuh yang sebenarnya hidup bebas, tentu dia akan menertawai Kay-pang kita terlalu goblok. Dan kalau demikian, bukankah sangat memalukan?&#8221;</p>
<p>Sejak tadi Thoan-kong Tianglo Hang Po-hoa berdiri diam saja, kini ia mengelus-elus jenggotnya yang jarang-jarang itu sambil berkata, &#8220;Ehm, ucapan ini memang beralasan, sangat beralasan. Aku jadi teringat pada pengalamanku dahulu, pernah aku salah membunuh seorang yang tak berdosa, hal mana senantiasa mengganjal dalam hatiku sampai sekarang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pangcu,&#8221; tiba-tiba Go-tianglo berseru, &#8220;sebabnya kami mengkhianati engkau adalah disebabkan mudah percaya ocehan orang, katanya engkau tidak sepaham dengan Be-hupangcu dan diam-diam bersekongkol dengan begundalnya Buyung Hok untuk membinasakan dia, ditambah lagi urusan kecil lain-lain sehingga kami percaya begitu saja. Tapi kini setelah dipikir, memang kami yang terlalu gegabah dan sembrono. Maka Cit-hoat Tianglo silakan keluarkan hoat-to (golok hukuman) dan membiarkan kami membereskan diri sendiri menurut undang-undang organisasi kita.&#8221;</p>
<p>Dengan air muka membeku Cit-hoat Tianglo Pek Si-kia berkata, &#8220;Cit-hoat-tecu, keluarkan hoat-to!&#8221;</p>
<p>Segera sembilan anak buahnya mengiakan berbareng. Lalu dari kantong masing-masing dikeluarkannya sebuah bungkusan kain kuning yang sudah tua. Sembilan bungkusan itu ditaruhnya menjadi satu, kemudian mereka berseru serentak, &#8220;Hoat-to sudah siap, sudah diperiksa dengan betul!&#8221;</p>
<p>Segera mereka membuka bungkusan masing-masing itu.</p>
<p>Seketika Toan Ki merasa silau oleh sembilan bilah belati yang gemilapan dan tertaruh sejajar di depan situ. Belati-belati itu sama panjangnya, mata pisau mengeluarkan sinar gilap bersemu kebiru-biruan, sekali pandang saja pasti orang akan tahu bahwa belati-belati itu adalah senjata yang sangat tajam.</p>
<p>Sambil menghela napas, berkatalah Pek Si-kia, &#8220;Song, Ge, Tan dan Go berempat tianglo telah kena dihasut orang dan berusaha hendak memberontak kepada pimpinan dan membahayakan kekuatan Kay-pang kita. Dosa mereka harus dihukum mati. Tay-ti-hun-tho Thocu Coan Koan-jing, menyebarkan cerita bohong dan sengaja menghasut untuk berkhianat, dosanya juga harus dihukum mati. Tentang anak murid yang ikut serta dalam komplotan durhaka ini, semuanya akan mendapat hukuman setimpal, untuk itu kelak akan diusut dan diputuskan tersendiri-sendiri.&#8221;</p>
<p>Pada waktu Pek-tianglo mengumumkan keputusan hukumnya, semua orang diam saja. Hal ini dapat dimengerti karena komplotan itu bertujuan menggulingkan sang pangcu dan dosa itu pantas dihukum mati, mata tiada seorang pun berani menyatakan keberatannya atas keputusan hukuman itu. Bagi yang ikut serta dalam komplotan itu, juga sebelumnya sudah tahu akan akibat tersebut.</p>
<p>Begitulah Go Tiang-hong segera mendahului maju ke hadapan Kiau Hong, ia membungkuk memberi hormat, katanya, &#8220;Pangcu, Go Tiang-hong bersalah padamu dan siap membereskan diri sendiri, mohon engkau suka memaafkan kekurangajaranku.&#8221;</p>
<p>Habis itu, ia berjalan ke depan barisan hoat-to tadi dan berseru, &#8220;Go Tiang-hong siap membunuh diri, silakan Cit-hoat-tecu membuka tali ringkusanku.&#8221;</p>
<p>Salah seorang Cit-hoat-tecu mengiakan sambil bertindak maju hendak membuka tali pengikat Go-tianglo itu, mendadak Kiau Hong berseru, &#8220;Nanti dulu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Pangcu,&#8221; kata Go-tianglo dengan suara lemah dan muka pucat, &#8220;dosaku teramat besar dan engkau melarangku bunuh diri sendiri?&#8221;</p>
<p>Kiranya di dalam undang-undang Kay-pang ada satu pasal yang menentukan bahwasanya bila pelanggar hukum organisasi itu membunuh diri, sesudah mati dosanya berarti sudah tercuci bersih dan kehormatannya tetap tak ternoda. Segala dosanya juga disiarkan keluar, kalau ada orang Kangouw membicarakan dosanya, orang Kay-pang akan bertindak untuk membelanya malah. Hal ini sesuai dengan jiwa orang Bu-lim yang sangat mengutamakan nama baik, sesudah mati juga nama baiknya tidak boleh dihina orang. Sebab itulah maka Go-tianglo merasa gugup ketika melihat Kiau Hong melarang dia membunuh diri untuk menebus dosanya.</p>
<p>Dan ternyata Kiau Hong tidak menjawabnya melainkan terus mendekati deretan belati tadi dan berkata, &#8220;Lima belas tahun yang lalu ketika mendadak pasukan berkuda bangsa Cidan menyerbu Gan-bun-koan, kabar itu diketahui Song-tianglo, selama tiga hari empat malam beliau tidak makan dan tidur terus menempuh perjalanan pulang ke tanah air untuk memberitahukan berita genting itu, di tengah jalan ia ganti sembilan ekor kuda yang mati saking lelah, saking capeknya beliau sampai muntah darah. Namun begitu, berita yang beliau bawa itu telah memberi kesempatan kepada tentara Song kita untuk bersiap-siap menghadapi musuh sehingga pasukan Cidan akhirnya terpaksa mengundurkan diri. Jasa mahabesar bagi nusa dan bangsa itu meski tidak banyak diketahui orang Kangouw, tapi setiap anggota Kay-pang kita cukup mengetahuinya. Nah, Cit-hoat Tianglo, atas jasa Song-tianglo itu, mohon kebijaksanaanmu agar mengizinkan beliau menebus dosanya dengan jasa yang pernah dia persembahkan itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pangcu memintakan ampun bagi Song-tianglo dengan alasan yang cukup kuat,&#8221; ujar Pek Si-kia. &#8220;Tetapi undang-undang Kay-pang kita menyatakan, dosa pengkhianatan betapa pun tidak dapat diampuni, sekalipun pernah berjasa besar juga tak dapat menebus kesalahannya itu. Ketetapan ini diadakan demi untuk menjaga agar tiada anggota yang menganggap dirinya berjasa, lalu membahayakan organisasi kita yang sudah bersejarah ratusan tahun ini. Sebab itu, permintaan Pangcu tadi tidak dapat diterima oleh tata tertib organisasi, terpaksa kita tidak dapat merusak undang-undang warisan pangcu kita yang terdahulu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ucapan Cit-hoat Tianglo memang benar,&#8221; ujar Song-tianglo sambil bangkit dan tersenyum getir. &#8220;Sebagai tertua dalam pang kita, siapa orangnya yang tidak banyak berjasa? Bila setiap orang minta ganti jasa, lantas bagaimana jadinya, bukankah setiap orang boleh berbuat sewenang-wenang untuk kemudian minta dibebaskan karena pernah berjasa? Dari itu, harap Pangcu suka kasihan pada diriku, izinkanlah kubunuh diri.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, mendadak terdengar suara &#8220;prak-prak&#8221; dua kali, tali kulit yang mengikat tangan dan kaki tahu-tahu putus semua.</p>
<p>Keruan para pengemis terperanjat melihat sekali bergerak saja Song-tianglo dapat memutuskan tali kulit yang sangat ulet itu, maka dapat dibayangkan betapa lihai tenaga dalamnya, dan begitu membebaskan diri, terus saja Song-tianglo hendak ulur tangan mengambil sebilah belati guna membunuh diri.</p>
<p>Tak terduga baru tubuh membungkuk sedikit tahu-tahu satu arus tenaga yang halus tapi kuat menolak ke arahnya hingga ia dirintangi berjongkok. Meski tangannya sudah terulur, tapi tak dapat memegang belati yang tinggal belasan senti jauhnya itu. Nyata Kiau Hong yang telah bertindak mencegahnya.</p>
<p>Wajah Song-tianglo berubah pucat seketika, serunya, &#8220;Pangcu, jadi engkau juga &#8230; juga &#8230;.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba Kiau Hong sambar sebilah belati di antara deretan hoat-to itu.</p>
<p>&#8220;Ya, memangnya salahku karena timbul niatku hendak membunuhmu, maka sudah sepantasnya sekarang engkau melaksanakan hukuman atas dosaku itu,&#8221; demikian kata Song-tianglo dengan menghela napas.</p>
<p>Segera sinar belati berkelebat, &#8220;crat&#8221;, bukannya Song-tianglo yang menerima hukuman mati, sebaliknya Kiau Hong tikam bahu kiri sendiri dengan belati itu.</p>
<p>Keruan para pengemis menjerit kaget, serentak mereka berbangkit. Begitu pula Toan Ki ikut terkejut, &#8220;Toako, kenapa?&#8221; serunya.</p>
<p>Bahkan Giok-yan yang merupakan orang di luar garis juga ikut terperanjat oleh peristiwa di luar dugaan itu, tanpa terasa ia pun berseru, &#8220;Kiau-pangcu, jangan &#8230;.&#8221;</p>
<p>Namun Kiau Hong lantas bicara, &#8220;Pek-tianglo, undang-undang kita juga ada satu pasal yang menyatakan, &#8216;Setiap dosa anggota tidak boleh sembarangan diampuni, kalau Pangcu hendak mengampuni, dia sendiri harus mengalirkan darah dulu untuk mencuci bersih dosa si anggota&#8217;. Ada tidak pasal demikian?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, memang ada satu pasal demikian dalam undang-undang kita,&#8221; sahut Pek Si-kia dengan wajah tetap kaku tanpa perasaan. &#8220;Tapi Pangcu perlu juga menimbang dahulu apakah ada harganya untuk mengalirkan darah buat mencuci dosa orang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Asal tidak melanggar undang-undang warisan leluhur sudah cukup,&#8221; ujar Kiau Hong. Lalu ia berpaling dan berkata kepada Ge-tianglo, &#8220;Ge-tianglo dahulu telah mengajar ilmu silat padaku, meski tiada hubungan perguruan, tapi sesungguhnya seperti guru. Hal ini boleh dikatakan urusan pribadiku. Lebih dari itu, mengingat dahulu waktu Ong-pangcu ditawan lima jago terkemuka negeri Cidan, beliau telah dikurung di dalam gua Hek-hong-tong, beliau dipaksa agar menyerah kepada Cidan, tapi berkat Ge-tianglo yang telah rela menyaru sebagai Ong-pangcu untuk menghadapi segala bahaya hingga Ong-pangcu sendiri dapat lolos dengan selamat. Jasanya bagi Kay-pang kita dan demi nusa dan bangsa yang mahabesar itu, betapa pun harus kubebaskan kesalahannya sekarang ini.&#8221;</p>
<p>Sembari berkata, kembali ia sambar hoat-to kedua, ia potong dulu tali pengikat Ge-tianglo itu, menyusul belati itu menikam, lagi-lagi belati itu menancap di bahu sendiri.</p>
<p>Dengan tenang sinar mata Kiau Hong beralih ke arah Tan-tianglo. Tan-tianglo itu biasanya berjiwa sempit, dahulu telah berbuat sesuatu yang berdosa terhadap keluarga sendiri, maka ia ganti nama dan masuk ke Kay-pang, untuk mana ia paling sirik bila ada yang coba mengorek-ngorek boroknya itu, maka selama ini ia tiada hubungan rapat dengan Kiau Hong. Kini melihat sinar mata Kiau Hong memandang kepadanya, segera ia mendahului berseru, &#8220;Kiau-pangcu, aku tiada hubungan baik apa-apa denganmu, biasanya lebih banyak selisih paham dengan engkau, maka aku pun tidak berani terima budi pertolonganmu!&#8221;</p>
<p>Sekonyong-konyong kedua tangannya yang terikat di belakang itu terangkat ke atas terus membalik itu depan dengan tetap terikat tali kulit. Ternyata &#8220;Thong-pi-kun-kang&#8221; yang diyakinkan Tan-tianglo sudah mencapai tingkatan yang tiada taranya, kedua lengannya dapat mulur-mengkeret dengan bebas. Maka begitu tangan menjulur pula, sebilah hoat-to sudah disambarnya.</p>
<p>Namun Kiau Hong sempat bergerak, dengan &#8220;Kim-liong-kang&#8221; (ilmu menangkap naga) yang lihai dan cepat, dengan mudah saja belati itu dirampasnya. Katanya dengan suara nyaring, &#8220;Tan-tianglo, aku Kiau Hong adalah seorang laki-laki kasar, tidak suka pada orang yang sok hati-hati tindak tanduknya, juga tidak menyukai orang yang tidak minum arak dan tidak mau tertawa, tetapi hal ini adalah watak pembawaan setiap orang, tak dapat disebut baik atau busuk. Watakku sendiri tidak cocok denganmu, biasanya jarang bicara dengan baik. Aku pun tidak suka pada perilaku Be-hupangcu, bila berhadapan, sedapat mungkin aku ingin menghindar pergi, aku lebih suka pergi minum arak dan makan daging anjing bersama anak murid rendahan yang berkantong satu atau dua.</p>
<p>&#8220;Watakku ini telah dikenal semua orang, untuk mengubah watak sendiri terang tidak mungkin. Tapi jika sebab itu engkau mengira aku dendam dan ingin melenyapkan engkau dan Be-hupangcu, sungguh salah besar pikiran kalian ini. Tentang kalian tidak minum arak dan tidak makan barang berjiwa itu adalah kebaikan kalian, aku Kiau Hong mengaku tidak dapat menyamai kalian.&#8221;</p>
<p>Berkata sampai di sini, tiba-tiba belati ketiga pun ditikamkan ke bahu sendiri, lalu sambungnya, &#8220;Jasamu membunuh Yalu Puru, itu panglima besar negeri Cidan, mungkin tak diketahui orang luar, tapi masakah aku tidak tahu?&#8221;</p>
<p>Seketika ramailah suara heran para pengemis tercampur suara memuji dan kagum.</p>
<p>Kiranya tahun yang lalu waktu negeri Cidan menyerbu ke wilayah Tiongkok secara besar-besaran, mendadak beberapa panglimanya yang terkemuka telah binasa, karena alamat itu dirasakan tidak baik, akhirnya pasukan Cidan itu ditarik mundur hingga kerajaan Song terhindar dari bencana. Dan di antara panglima yang mati mendadak itu terdapat Yalu Puru yang terkemuka. Kejadian itu kecuali beberapa tokoh tertentu dalam Kay-pang, orang lain tiada yang tahu bahwa jasa itu adalah hasil karya Tan-tianglo.</p>
<p>Kini dirinya dipuji Kiau Hong di depan orang banyak, betapa pun siriknya Tan-tianglo kepada sang pangcu, mau tak mau ia menjadi terhibur.</p>
<p>Hendaklah diketahui bahwa selama ini Kay-pang menjalankan kewajiban sebagai anak negeri dan membantu kerajaan Song melawan kaum penjajah dari luar, cuma cara pergerakan mereka dilakukan dengan diam-diam atau di bawah tanah, baik perjuangan mereka berhasil atau gagal, selama ini tidak pernah siarkan, sebab itulah jarang orang tahu perjuangan Kay-pang yang patriotik itu.</p>
<p>Tan-tianglo aslinya bernama Tan Put-peng, biasanya sangat angkuh, terutama karena usianya lebih tua dan sejarahnya dalam Kay-pang lebih lama daripada Kiau Hong, maka sikapnya pada sang pangcu itu tidak terlalu hormat. Hal itu cukup diketahui oleh anggota Kay-pang yang lain. Tapi kini ternyata Kiau Hong tidak pikirkan perselisihan pribadi, sebaliknya rela mengalirkan darah sendiri untuk menebus dosa Tan-tianglo, mau tak mau kawanan pengemis menjadi terharu.</p>
<p>Kemudian Kiau Hong mendekati Go Tiang-hong, katanya, &#8220;Go-tianglo, seorang diri dahulu engkau berjaga di Eng-jiu-kiap (selat elang) dan sekuat tenaga melawan serbuan musuh dari kerajaan Se-he hingga usaha musuh hendak membunuh Nyo-keh-ciang sukar terlaksana, untuk jasamu itu Nyo-goanswe telah menghadiahkan sebuah kim-pay (medali) tanda jasa padamu. Asal engkau keluarkan medali itu sudah lebih dari cukup untuk menebus dosamu sekarang ini. Nah, silakan tunjukkan medali itu agar semua orang dapat melihatnya!&#8221;</p>
<p>Mendadak air muka Go-tianglo berubah merah, sikapnya agak kikuk, sahutnya dengan tak lancar, &#8220;E &#8230; eh &#8230; tentang ini &#8230; ini &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kita sama-sama saudara sendiri, bila Go-tianglo ada kesulitan apa-apa, silakan berkata terus terang saja,&#8221; ujar Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Tentang &#8230; tentang medali emas itu, sebenarnya &#8230; sebenarnya sudah &#8230; sudah hilang,&#8221; sahut Go-tianglo gelagapan.</p>
<p>Kiau Hong menjadi heran. &#8220;Mengapa hilang?&#8221; tanyanya.</p>
<p>&#8220;Hi &#8230; hilang sendiri,&#8221; sahut Go-tianglo. Tapi sesudah merandek sejenak, mendadak ia berseru, &#8220;Sebenarnya tidak hilang, tapi sudah kujual. Pada suatu hari, mendadak aku ketagihan arak, tapi kantongku kempis, terpaksa kujual medali emas itu kepada sebuah toko emas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahaha! Go-tianglo suka berterus terang, sungguh jujur. Memang hal ini agak kurang enak terhadap Nyo-goanswe yang memberikan tanda jasa padamu itu,&#8221; ujar Kiau Hong dengan terbahak-bahak. Habis itu mendadak ia sambar sebilah hoat-to lagi, ia potong dulu tali pengikat Go-tianglo, lalu belati itu ditikamkan pula ke bahu kiri sendiri.</p>
<p>Go-tianglo adalah seorang laki-laki yang jujur dan suka terus terang, segera katanya, &#8220;Pangcu, jiwa Go Tiang-hong sejak kini sudah kupasrahkan padamu.&#8221;</p>
<p>Perlahan Kiau Hong tepuk bahunya sambil berkata dengan tertawa, &#8220;Pengemis seperti kita kalau ingin makan atau minum arak, minta saja sedekah orang, tidak perlu mesti menjual medali emas segala.&#8221;</p>
<p>&#8220;Minta makan sih gampang, minta arak itulah susah,&#8221; sahut Go-tianglo dengan tertawa. &#8220;Sebab semua orang tentu akan bilang, &#8216;Pengemis busuk, sudah dapat makan masih minta arak? Hm, terlalu! Tidak kasih, tidak kasih&#8217;!&#8221;</p>
<p>Mendengar banyolan itu, menggelegarlah tawa para pengemis. Sebab minta-minta arak pada orang dan ditolak atau didamprat, pengalaman ini memang sering dijumpai para pengemis.</p>
<p>Dalam pada itu mereka merasa lega pula demi menyaksikan sang pangcu suka mengampuni dosa keempat tianglo itu. Kini perhatian mereka tinggal terpusat ke arah Coan Koan-jing yang merupakan biang keladi komplotan ini, tentu Kiau Hong tidak mudah mengampuninya begitu saja.</p>
<p>Tertampak Kiau Hong mendekati Coan Koan-jing dan berkata, &#8220;Dan sekarang apa yang dapat kau katakan lagi, Coan-thocu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pangcu,&#8221; sahut Koan-jing, &#8220;sebabnya aku berkomplotan hendak menggulingkan engkau adalah demi untuk kepentingan nusa dan bangsa kerajaan Song kita serta demi perkembangan Kay-pang kita yang sudah bersejarah ratusan tahun ini. Cuma sayang, orang yang menceritakan asal usul dirimu itu sampai detik terakhir, menjadi pengecut dan tidak berani muncul. Maka bolehlah engkau membunuh aku saja.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong pikir sejenak oleh jawaban itu, tanyanya kemudian, &#8220;Adakah sesuatu yang mencurigakan mengenal asal usulku? Coba katakan saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betapa pun aku berputar lidah pada saat ini juga takkan dipercaya, maka lebih baik engkau membunuh aku saja,&#8221; sahut Koan-jing sambil menggeleng.</p>
<p>Kiau Hong menjadi tambah curiga, katanya dengan suara keras, &#8220;Seorang laki-laki sejati, apa yang ingin dikatakan harus dikatakan dengan blakblakan, kenapa main plintat-plintut begitu? Coan Koan-jing, bila kau benar seorang laki-laki yang tak gentar mati, kenapa kau pantang bicara terus terang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang benar, mati saja tak gentar, masakah masih ada hal-hal lain di dunia ini yang lebih menakutkan daripada mati?&#8221; sahut Koan-jing dengan tertawa dingin. &#8220;Nah, orang she Kiau, silakan cepat bereskan nyawaku saja agar aku tidak perlu hidup di dunia ini dan menyaksikan Kay-pang yang jaya ini jatuh ke dalam cengkeraman bangsa Oh (asing) dan menyaksikan tanah air sendiri yang indah permai ini diinjak-injak bangsa lain.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa Kay-pang akan jatuh ke dalam cengkeraman bangsa asing? Coba katakan terus terang,&#8221; tanya Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Biarpun kukatakan sekarang juga para saudara takkan percaya,&#8221; sahut Koan-jing. &#8220;Mungkin malah aku akan dituduh sebagai pengecut yang takut mati dan sengaja putar lidah untuk memfitnah orang. Memangnya aku sudah bertekad menyabung jiwa, buat apa mesti menerima kutukan pula sesudah mati?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pangcu,&#8221; seru Pek-tianglo tiba-tiba dengan tak sabar, &#8220;orang ini banyak tipu muslihatnya, dengan obrolannya itu dia berharap engkau akan mengampuni jiwanya. Cit-hoat-tecu, siapkan hoat-to untuk menjalankan hukuman!&#8221;</p>
<p>Segera salah seorang Cit-hoat-tecu mengiakan sambil melangkah maju dan menjemput sebilah belati serta mendekati Coan Koan-jing.</p>
<p>Dengan mata tak berkedip Kiau Hong memandang Coan Koan-jing, ia lihat sikap thocu itu penuh rasa penasaran, sedikit pun tidak unjuk rasa jeri atau takut, pula tiada tanda kepalsuan yang licik sebagai umumnya seorang yang berdosa.</p>
<p>Kiau Hong tambah bersangsi, katanya kepada Cit-hoat-tecu yang siap menjalankan tugas itu, &#8220;Berikan hoat-to kepadaku!&#8221;</p>
<p>Dengan sangat hormat segera Cit-hoat-tecu itu serahkan belati yang dipegangnya itu kepada sang pangcu.</p>
<p>&#8220;Coan-thocu,&#8221; kata Kiau Hong sesudah memegang belati itu, &#8220;kau menyinggung tentang asal usulku, pula hal ini besar sangkut pautnya dengan mati dan hidup Kay-pang kita. Bagaimana duduknya perkara yang sebenarnya juga kau tidak berani mengaku.&#8221;</p>
<p>Berkata sampai di sini, ia simpan hoat-to itu ke dalam sarungnya dan dimasukkan ke dalam baju sendiri, lalu katanya pula, &#8220;Kau menghasut dan berkomplot hendak memberontak, dosamu seharusnya dihukum mati, tapi pelaksanaan hukum itu sementara ini ditunda, biar setelah duduk perkara sudah dibikin terang, aku sendiri kelak yang akan membunuhmu. Aku Kiau Hong bukan manusia yang sok pura-pura, kalau sudah bertekad hendak membunuhmu, rasanya kau pun tidak mungkin dapat lolos dari tanganku. Nah, pergilah sekarang, tinggalkan kantong pada punggungmu itu sejak kini Kay-pang tiada terdaftar anggota seperti dirimu ini.&#8221;</p>
<p>Apa yang dimaksudkan &#8220;tanggalkan kantong pada punggungmu&#8221; itu berarti memecatnya dari keanggotaan Kay-pang. Setiap anggota Kay-pang, kecuali anggota yang baru masuk atau anggota tanpa tugas, paling tidak tentu menyandang sebuah kantong, dan yang terbanyak sampai sembilan buah kantong. Tinggi rendahnya kedudukan anggota juga berdasarkan banyak atau sedikit kantong yang dimiliki mereka.</p>
<p>Begitulah maka ketika diperintahkan menanggalkan kantong yang digendongnya, mendadak sinar mata Coan Koan-jing memancarkan nafsu membunuh, sekali sambar sebilah hoat-to lantas dipegangnya, ujung belati itu lantas diarahkan ke dada sendiri.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa setiap orang Kangouw paling mengutamakan keharuman nama dan kehormatan diri. Kini Coan Koan-jing dipecat begitu saja dari Kay-pang, hal ini dipandangnya sebagai sesuatu hinaan dan noda yang tidak mungkin dapat dicuci bersih, jauh lebih menyakitkan daripada ia dihukum mati seketika. Makanya ia menjadi nekat.</p>
<p>Tapi Kiau Hong ternyata bersikap dingin saja dan menyaksikan apakah benar-benar Coan Koan-jing berani menikam dirinya sendiri.</p>
<p>Tangan Coan Koan-jing yang memegang belati itu ternyata sangat teguh, sedikit pun tidak gemetar. Sambil mengancam dada sendiri ia berpaling memandang Kiau Hong hingga terjadilah saling pandang di antara kedua orang itu. Seketika suasana di tengah hutan itu menjadi sunyi senyap.</p>
<p>&#8220;Kiau Hong,&#8221; seru Koan-jing mendadak, &#8220;santai benar sikapmu ini, apakah engkau sendiri benar-benar tidak tahu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tahu apa?&#8221; tanya Kiau Hong.</p>
<p>Bibir Koan-jing tampak bergerak sekali, tapi akhirnya urung bicara, sebaliknya perlahan ia taruh kembali belatinya ke tempat semula, lalu perlahan pula menanggalkan kedelapan buah kantong yang tergendong di punggungnya itu, satu per satu ditaruhnya di tanah dengan sikap sangat menghormat.</p>
<p>Toan Ki mengerti Coan Koan-jing itu pasti seorang yang sangat culas dan lihai, tapi demi melihat derita batinnya ketika menanggalkan kantong-kantong itu, mau tak mau ia pun merasa terharu.</p>
<p>Ketika Coan Koan-jing sudah menanggalkan lima buah kantongnya, tiba-tiba terdengar derapan kuda yang dilarikan dengan cepat di luar hutan menyusul terdengar pula suara suitan. Segera ada beberapa orang Kay-pang menjawab suara suitan itu, lalu suara derapan kuda itu makan lama makin mendekat dengan sangat cepat.</p>
<p>&#8220;Ada kejadian genting apakah seperti ini?&#8221; demikian Go-tianglo bergumam sendiri.</p>
<p>Dan belum lagi kuda tunggangan itu datang, sekonyong-konyong dari arah timur sana juga ada suara derapan seekor kuda sedang menuju ke arah sini. Cuma jaraknya masih jauh, suaranya agak samar-samar, maka arah yang dituju belum dapat diketahui dengan tepat.</p>
<p>Hanya sekejap saja kuda pertama dari arah utara itu sudah masuk ke dalam hutan situ. Lalu tampak seorang melompat turun terus berlari ke tempat orang banyak. Orang itu berpakaian longgar dan sangat perlente, tapi segera ia menanggalkan baju yang mewah itu hingga tertampaklah baju dalamnya yang compang-camping penuh tambalan di sana-sini, yaitu pakaian untuk mengelabui pandangan orang luar supaya pembawa berita itu tidak menemui alangan di tengah jalan.</p>
<p>Begitulah dengan sangat hormat kurir itu mendekati Thocu Tay-sin-hun-tho dan menyerahkan sebuah bungkusan kecil sambil melapor, &#8220;Ada urusan militer yang penting &#8230;.&#8221;</p>
<p>Hanya kata-kata ini saja sempat diucapkannya, sebab napasnya lantas tersengal-sengal dengan hebat. Sedangkan kuda tunggangannya itu mendadak meringkik sekali terus roboh ke tanah dan binasa karena kehabisan tenaga.</p>
<p>Setelah terhuyung-huyung, mendadak kurir itu pun muntah darah dan terguling ke tanah. Nyata bahwa saking lelah karena menempuh perjalanan jauh tanpa beristirahat, maka kuda beserta penunggangnya sama-sama kehabisan tenaga.</p>
<p>Thocu bagian Tay-sin-hun-tho itu mengenali kurir itu adalah anak buahnya yang dikirim ke negeri Cidan untuk menjadi mata-mata di sana, pangkatnya tergolong Go-te-tecu atau anak murid kantong lima, suatu tingkatan yang tidak rendah.</p>
<p>Negeri Cidan pada zaman itu adalah musuh utama kerajaan Song, kerap kali tanpa sebab mengerahkan pasukannya mengacau di daerah perbatasan dan menyusahkan rakyat setempat. Sebagai suatu organisasi yang patriotik, anggota Kay-pang banyak tersebar di antara kedua negeri dan diam-diam mengumpulkan berita yang berfaedah bagi ibu negeri.</p>
<p>Kini melihat Go-te-tecu itu pulang membawa berita penting tanpa pikirkan mati-hidup sendiri, terang kabar berita yang dibawa kembali itu pasti mahapenting dan genting pula. Maka Tay-sin-thocu juga tidak berani membuka berita laporan itu, bungkusan kecil itu dipersembahkan kepada Kiau Hong sambil berkata, &#8220;Ada berita militer dari negeri Cidan, Pangcu!&#8221;</p>
<p>Waktu Kiau Hong membuka bungkusan itu, ternyata isinya adalah sebutir cek-wan atau bola lilin. Sesudah cek-wan itu dipencet pecah, Kiau Hong mengeluarkan segulung kertas. Dan selagi ia hendak membuka kertas itu untuk membaca isinya, tiba-tiba terdengar derapan kuda dari jurusan timur tadi telah mendekat dengan cepat luar biasa.</p>
<p>Baru saja kepala kuda menongol di balik hutan sana, penunggangnya sudah tidak sabar lagi terus melayang turun dari binatang tunggangannya sambil membentak, &#8220;Kiau Hong, tentang situasi militer negeri Cidan itu engkau tak boleh membacanya.&#8221;</p>
<p>Semua orang terkesiap oleh ucapan orang yang berani merintangi sang pangcu itu. Waktu dipandang ternyata orang itu berjenggot putih, pakaiannya juga compang-camping penuh tambalan. Itulah seorang pengemis yang sudah berusia lanjut.</p>
<p>Melihat pengemis tua itu, seketika Thoan-kong dan Cit-hoat Tianglo berbangkit untuk menyambut, &#8220;Kiranya Ci-tianglo, entah ada urusan apakah hingga Ci-tianglo memerlukan berkunjung ke sini?&#8221;</p>
<p>Kawanan pengemis itu menjadi gempar demi mendengar pendatang itu adalah Ci-tianglo mereka.</p>
<p>Kiranya Ci-tianglo itu sangat tinggi tingkatannya dalam angkatan tokoh-tokoh Kay-pang, usianya kini sudah 87 tahun, bahkan mendiang Ong-pangcu, yaitu pangcu sebelum Kiau Hong, juga menyebutnya sebagai Supek (paman guru). Di antara tokoh-tokoh Kay-pang sekarang boleh dikatakan tiada seorang pun lebih tua atau lebih tinggi angkatannya daripada Ci-tianglo.</p>
<p>Sudah lama Ci-tianglo mengundurkan diri dari dunia ramai, tiap tahun Kiau Hong dan para tianglo seperti biasanya tentu pergi memberi selamat padanya, tapi paling-paling juga cuma bicara sedikit tentang urusan rumah tangga biasa. Siapa duga sekarang mendadak tokoh tua ini bisa muncul, bahkan lantas mencegah Kiau Hong membaca laporan tentang gerakan militer musuh itu. Sudah tentu semua orang terkejut dan terheran-heran.</p>
<p>Maka ketika mendengar seruan Ci-tianglo tadi, cepat Kiau Hong meremas kembali gulungan kertas itu, lalu memberi hormat kepada tokoh tua itu. Kemudian ia angsurkan gulungan kertas itu ke hadapan Ci-tianglo.</p>
<p>Sebagai pangcu, biarpun menurut urutan angkatan Kiau Hong jauh lebih muda daripada Ci-tianglo, tapi segala urusan organisasi yang penting, walaupun sang pangcu angkatan yang lebih dulu dihidupkan kembali juga harus tunduk kepada pangcu yang baru.</p>
<p>Siapa duga datang-datang Ci-tianglo lantas melarang Kiau Hong membaca laporan tentang gerakan militer musuh itu dan sedikit pun Kiau Hong tidak membangkang. Keruan hal ini membuat semua orang heran, bahkan Ci-tianglo sendiri pun melengak.</p>
<p>Rupanya sudah tahu urusannya sangat penting maka sambil minta maaf Ci-tianglo lantas ambil gulungan kertas itu dari tangan Kiau Hong dan digenggam di tangan kiri, lalu serunya dengan lantang, &#8220;Be-hujin (nyonya Be), janda saudara Be Tay-goan, sebentar lagi akan tiba untuk membeberkan sesuatu kepada para hadirin di sini. Untuk mana haraplah kalian suka menunggunya sebentar lagi.&#8221;</p>
<p>Maka pandangan para pengemis sama terpusat ke arah Kiau Hong untuk mendengarkan bagaimana reaksinya.</p>
<p>&#8220;Jika urusan ini sangat besar sangkut pautnya, tiada alangannya kita menunggu di sini,&#8221; ujar Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Ya, urusan ini sangat penting,&#8221; kata Ci-tianglo pula. Dan hanya sekian saja ucapannya, lalu ia melangkah maju untuk memberi hormat kepada Kiau Hong selaku seorang bawahan kepada sang pangcu, kemudian ia ambil tempat duduk di samping.</p>
<p>Diam-diam Toan Ki heran menyaksikan itu. Kesempatan digunakannya untuk bicara dengan Ong Giok-yan, ia membisiki gadis itu, &#8220;Nona Ong, urusan di dalam Kay-pang benar-benar sangat banyak. Apakah kita perlu menyingkir dari sini ataukah tinggal di sini untuk melihat ramai-ramai?&#8221;</p>
<p>Giok-yan berkerut kening, sahutnya, &#8220;Kita adalah orang luar, sebenarnya tidak pantas ikut mencampuri urusan dalam orang lain. Cuma &#8230; cuma urusan yang akan mereka bicarakan itu ada sangkut pautnya dengan Piaukoku, maka aku ingin mendengarkannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang benar,&#8221; kata Toan Ki, &#8220;katanya Be-hupangcu itu dibunuh oleh Piaukomu hingga tertinggal seorang janda yang sebatang kara, tentu dia sangat kesepian dan harus dikasihani.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, tidak!&#8221; sahut Giok-yan cepat. &#8220;Be-hupangcu pasti bukan dibunuh oleh Piauko, hal ini kan juga sudah dikatakan oleh Kiau-pangcu sendiri?&#8221;</p>
<p>Bicara sampai di sini, mendadak terdengar derapan kuda pula, datanglah dua penunggang kuda.</p>
<p>Semua orang mengira di antara penunggang kuda itu pasti terdapat istri Be Tay-goan. Siapa tahu kedua penunggang itu terdiri dari seorang kakek dan seorang lagi nenek. Yang kakek pendek kecil sebaliknya si nenek tinggi besar hingga tampaknya lucu benar.</p>
<p>Melihat kedua orang itu, cepat Kiau Hong berbangkit menyambut kedatangan mereka sambil berseru, &#8220;Kiranya kedua Locianpwe Tam-kong dan Tam-poh dari Ciong-siau-tong di Hoa-san telah tiba, maafkan Kiau Hong tidak mengadakan penyambutan dengan baik.&#8221;</p>
<p>Perbuatan Kiau Hong itu segera diturut oleh para tianglo dari Kay-pang.</p>
<p>Melihat gelagat itu, Toan Ki tahu kedua orang tua yang dipanggil Tam-kong dan Tam-poh (si kakek Tam dan si nenek Tam) itu tentu tokoh-tokoh Bu-lim terkemuka.</p>
<p>Maka terdengar Tam-poh atau si nenek Tam sedang berkata, &#8220;Kiau-pangcu, apa-apaan permainan di atas pundakmu ini?&#8221;</p>
<p>Berbareng tangannya lantas terjulur, sekaligus keempat hoat-to yang menancap di bahu Kiau Hong itu dicabutnya semua, gerak tangannya cepat luar biasa.</p>
<p>Ternyata tindakan Tam-poh itu tidak menyendiri, tapi segera disusul oleh Tam-kong yang merogoh keluar sebuah botol porselen kecil, sumbat botol dibuka, dituangnya sedikit obat bubuk dan dibubuhkan di atas bahu Kiau Hong.</p>
<p>Begitu obat luka itu dibubuhkan, darah yang mancur bagai mata air itu lantas mampat seketika.</p>
<p>Betapa cepat cara Tam-poh mencabut belati yang menancap di pundak Kiau Hong itu sudah jarang dilihat orang, tapi apa pun juga suatu gerakan ilmu silat, sebaliknya cara Tam-kong mengambil botol, membuka sumbat botol, menuang obat, membubuhkan obat dan membikin darah mampat, beberapa tindakan ini sangat lincah dan cepat luar biasa, namun setiap perbuatannya itu dengan jelas dapat diikuti setiap orang bagaikan menyaksikan permainan sulap saja. Bahkan khasiat obat luka membikin mampat darah juga sangat mujarab, boleh dikatakan &#8220;cespleng&#8221;.</p>
<p>Kiau Hong sendiri cukup kenal dua sejoli Tam-kong dan Tam-poh adalah tokoh angkatan tua dalam Bu-lim, kini datang-datang terus mencabut belati dan mengobati lukanya, meski tindakan mereka itu agak gegabah, namun mau tak mau ia sangat berterima kasih. Dan tengah dia mengaturkan terima kasihnya itu, rasa sakit di pundaknya sudah mulai mereda dan akhirnya lenyap.</p>
<p>&#8220;Kiau-pangcu, siapakah yang bernyali sebesar itu hingga berani melukaimu dengan belati?&#8221; tanya Tam-poh kemudian.</p>
<p>&#8220;Aku sendirilah yang menikam diriku sendiri,&#8221; sahut Kiau Hong tertawa.</p>
<p>&#8220;Kenapa menikam diri sendiri? Apa barangkali kau sudah bosan hidup?&#8221; tanya Tam-poh dengan heran.</p>
<p>Kiau Hong pikir tidak mungkin menceritakan urusan pengkhianatan dalam Kay-pang kepada orang luar hingga memalukan para tianglo dan merosotkan nama baik Kay-pang. Maka sahutnya, &#8220;Aku hanya main-main saja, kulit daging pundakku cukup tebal dan kuat, toh tidak sampai melukai otot dan tulang.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Song, Ge, Tan dan Go-tianglo bersyukur dan merasa malu diri pula terhadap kebaikan Kiau Hong yang menutupi perbuatan mereka yang durhaka hendak menggulingkan sang pangcu itu.</p>
<p>Tapi si nenek Tam lantas terbahak-bahak dan berkata, &#8220;Hahaha, jangan berdusta! Tahulah aku, dasar engkau memang pintar dan mengetahui Tam-kong dan Tam-poh baru saja memperoleh peng-jan (ulat sutra es) dan pek-giok-siam-sia (katak kemala putih) serta telah meraciknya menjadi semacam obat luka yang sangat mujarab, makanya kau ingin mencobanya bukan?&#8221;</p>
<p>Kiau Hong tidak membenarkan juga tidak menyangkal, ia hanya tersenyum saja, ia pikir nenek ini sungguh bodoh-bodoh polos, masakah di dunia ini ada orang iseng begitu dengan menikam badan sendiri untuk mencoba khasiat obat luka buatanmu itu?</p>
<p>Maka terdengar Tam-poh tanya pula, &#8220;Dan di manakah nyonya Be? Jauh-jauh ia mengundang kehadiran kami ke sini, mengapa dia sendiri belum datang?&#8221;</p>
<p>Sedang Kiau Hong terkesiap oleh pertanyaan itu, tiba-tiba terdengar suara derapan kaki binatang yang berdetak-detak, seekor keledai tampak menerobos masuk ke tengah hutan situ, di atas keledai ada seorang penunggang dengan punggung menghadap kepala keledai dan mukanya menghadap ekor, jadi menunggang keledai dengan mungkur.</p>
<p>Melihat penunggang keledai itu, Tam-poh menjadi gusar, bentaknya, &#8220;Tio-ci-sun, di hadapan Tam-kek-popo kau berani kurang ajar? Apa minta kuhajar bokongmu?&#8221;</p>
<p>Berbareng sebelah tangan terus menghantam pantat penunggang keledai itu.</p>
<p>Waktu semua orang memerhatikan si penunggang keledai, ternyata orang itu mendekam di atas binatang tunggangannya hingga tubuh mengkeret bagai anak berumur 7-8 tahun. Tapi begitu hendak digaplok Tam-poh, cepat ia memberosot turun dari keledainya dan berdiri tegak, tahu-tahu badannya berubah tinggi dan besar.</p>
<p>Semua orang agak terperanjat, sebaliknya Tam-kong tampak kurang senang, katanya, &#8220;Li-heng, apa engkau akan main gila lagi di sini? Setiap melihatmu tentu hatiku mendongkol!&#8221;</p>
<p>Corak penunggang keledai itu pun agak aneh, dikatakan sudah tua, toh belum tua, dibilang masih muda, toh juga tidak muda. Usianya mungkin di antara 30 hingga 60 tahun, wajahnya jelek tidak, bagus pun tidak. Ia tidak gubris pada ucapan Tam-kong tadi, tapi lantas berkata kepada Tam-poh, &#8220;Siau Koan, bagaimana selama ini? Baik-baik dan senang bukan?&#8221;</p>
<p>Perawakan Tam-poh itu tinggi besar, rambutnya sudah berubah semua dan mukanya penuh keriput, tapi namanya dipanggil &#8220;Siau Koan&#8221; atau si Koan cilik yang mengingatkan orang kepada gadis cilik. Sudah tentu kedengarannya sangat janggal dan menggelikan orang. Namun setiap nenek tentu pernah muda, Siau Koan itu jelas adalah nama kecil Tam-poh masa gadisnya.</p>
<p>Tengah Toan Ki pikirkan hal itu, kembali terdengar derapan kuda pula, ada beberapa penunggang kuda datang lagi.</p>
<p>Dalam pada itu Kiau Hong sendiri sedang mengamat-amati si penunggang keledai yang dipanggil sebagai &#8220;Tio-ci-sun&#8221; (semuanya terdiri dari she), ia tidak dapat menerka tokoh macam apakah orang aneh ini. Tapi mengingat dia kenal Tam-kong dan Tam-poh, pula &#8220;Sok-kut-kang&#8221; atau ilmu menyurutkan tulang yang diunjukkan ketika menunggang keledai tadi sudah sedemikian lihainya maka dapat dipastikan adalah seorang tokoh yang lain daripada yang lain. Anehnya, kalau orang tergolong jago kelas tinggi, mengapa dirinya tidak kenal dan tidak pernah mendengar namanya yang aneh, bukankah sangat mengherankan?</p>
<p>Sementara itu beberapa penunggang kuda itu sudah sampai di tengah hutan, di bagian depan adalah lima orang muda, semuanya bermata besar dan beralis tebal, air muka mereka satu sama lain sangat mirip, usia yang paling kira-kira lebih 30 tahun dan yang paling muda lebih 20 tahun. Terang kelima orang itu adalah saudara sekandung.</p>
<p>&#8220;Aha, kiranya Thay-san-ngo-hiong yang datang! Bagus, bagus! Angin apakah yang meniup kalian ke sini?&#8221; demikian Go-tianglo, Go Tiang-hong, lantas berseru.</p>
<p>Orang ketiga Thay-san-ngo-hiong (lima kesatria dari Thay-san) itu bernama Tan Siok-san, ia adalah sobat kental Go-tianglo, segera ia mendahului menjawab, &#8220;Selamat bertemu Go-siko, baik-baikkah engkau? Ayah juga ikut datang kemari!&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa benar? Ayahmu &#8230;.?&#8221; Go-tianglo menegas dengan air muka berubah. Ia telah berbuat salah melanggar tata tertib organisasi, sebagai orang berdosa, ia menjadi jeri mendadak tahu kedatangan ayah Thay-san-ngo-hiong, yaitu &#8220;Tiat-bin-poan-koan&#8221; Tan Cing, si Hakim Bermuka Besi, artinya orang yang berani bertindak tegas dan tidak kenal ampun serta tidak pandang bulu.</p>
<p>Selama hidup Tiat-bin-poan-koan Tan Cing paling benci pada kejahatan, bila tahu ada terjadi sesuatu ketidakadilan di kalangan Kangouw, pasti dia akan ikut campur tangan. Ilmu silatnya memang sangat tinggi, kecuali kelima putranya banyak pula murid dan cucu murid yang jumlahnya lebih ratusan orang. Nama &#8220;Thay-san Tan-keh&#8221; atau keluarga Tan dari Thay-san cukup disegani setiap orang Bu-lim.</p>
<p>Dalam pada itu di belakang Thay-san-ngo-hiong itu tampak menyusul seorang penunggang kuda yang lain, kelima jago muda Thay-san itu lantas memapak ke belakang untuk menahan kendali kuda dan menyilakan turun penunggangnya, yaitu seorang kakek yang berbaju satin panjang.</p>
<p>Begitu turun segera kakek itu memberi kiongchiu kepada Kiau Hong dan berkata, &#8220;Kiau-pangcu, tanpa diundang Tan Cing berkunjung ke sini, tentu banyak mengganggu engkau.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong sudah lama kenal nama Tan Cing, baru sekarang ia dapat bertemu, ia lihat orang tua itu berwajah merah bercahaya, boleh dikatakan &#8220;rambut tua muka muda&#8221;, sikapnya ramah tamah pula, berbeda seperti cerita orang Kangouw bahwa Tan Cing berwatak keras tanpa kenal ampun.</p>
<p>Maka cepat ia membalas hormat orang dan berkata, &#8220;Maafkan Cayhe tidak tahu kedatangan Tan-locianpwe hingga tidak diadakan penyambutan sebagaimana mestinya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus, bagus!&#8221; mendadak si orang tua yang menunggang keledai dengan mungkur itu berteriak dengan suara yang dibuat-buat. &#8220;Tiat-bin-poan-koan datang lantas diadakan penyambutan sebagaimana mestinya. Sebaliknya ketika aku &#8216;Thi-bi-koh-poan-koan&#8217; datang mengapa engkau tidak mengadakan penyambutan semestinya?&#8221;</p>
<p>Mendengar kata &#8220;Thi-bi-koh-poan-koan&#8221; atau si Hakim Pantat Besi, seketika semua orang bergelak tertawa. Meski Giok-yan, A Cu dan A Pik bertiga merasa kurang sopan kalau ikut tertawa, tidak urung mereka pun merasa geli.</p>
<p>Thay-san-ngo-hiong mengerti bahwa kata-kata orang itu sengaja hendak menghina ayah mereka, keruan mereka menjadi gusar. Cuma disiplin keluarga Tan sangat keras, sebelum sang ayah membuka suara, betapa pun mereka tidak berani sembarangan mendahului bertindak.</p>
<p>Tan Cing itu ternyata seorang yang sangat sabar dan dapat menahan perasaannya, pula ia pun belum mengetahui bagaimana asal usul orang aneh itu, maka ia berlagak pilon saja, pura-pura tidak mendengar. Katanya pula, &#8220;Sekarang silakan Be-hujin kemari untuk bicara.&#8221;</p>
<p>Maka dari balik hutan sana lantas muncul sebuah joli kecil dengan digotong dua laki-laki kekar dan datang dengan cepat sekali. Sampai di tengah hutan situ, joli itu ditaruh dan kerai disingkap, perlahan keluarlah seorang nyonya muda berpakaian putih mulus tanda orang berkabung.</p>
<p>Dengan kepala menunduk nyonya muda itu memberi hormat kepada Kiau Hong dan berkata, &#8220;Janda keluarga Be menyampaikan sembah bakti kepada Pangcu.&#8221;</p>
<p>Biasanya Kiau Hong juga jarang berhadapan dengan Be Tay-goan, apalagi dengan nyonya Be yang tidak pernah keluar rumah, dengan sendirinya ia tidak kenal. Segera ia membalas hormat dan menjawab, &#8220;Soso (atau enso, istri kakak) tidak perlu banyak adat!&#8221;</p>
<p>&#8220;Sungguh malang suamiku telah meninggal, atas bantuan para paman yang telah sudi menguruskan layon suamiku itu, sungguh aku merasa sangat berterima kasih,&#8221; demikian kata Be-hujin pula.</p>
<p>Suara janda itu kedengaran sangat lembut dan merdu, agaknya masih sangat muda usianya. Cuma sejak mula matanya selalu menatap ke tanah, maka wajahnya tidak kelihatan jelas.</p>
<p>Dari lagak lagu nyonya muda itu, Kiau Hong tahu tentu Be-hujin telah menemukan sesuatu tanda bukti kematian suaminya, maka sekarang datang sendiri menghadap sang pangcu. Tapi urusan dalam sepenting itu tidak dilaporkan dulu kepada pangcu, sebaliknya Tiat-bin-poan-koan yang diminta tampil ke muka, hal ini sesungguhnya agak ganjil.</p>
<p>Ketika Kiau Hong berpaling ke arah Cit-hoat-tianglo Pek Si-kia, ia lihat jago tua itu pun sedang memandang padanya, sinar mata kedua orang sama mengunjuk rasa heran dan curiga.</p>
<p>Lebih dulu Kiau Hong menyambut tamu, habis itu baru bicara urusan dalam, maka katanya kepada Tan Cing, &#8220;Tan-locianpwe dan suami-istri Tam-si dari Ciong-siau-tong di Hoa-san apakah sudah saling kenal?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah lama kudengar nama suami-istri Tam-si yang tersohor, hari ini dapat berjumpa, sungguh beruntung,&#8221; ujar Tan Cing sambil kiongchiu.</p>
<p>&#8220;Dan tentang Cianpwe yang ini, masih diharapkan Tam-loyacu suka memperkenalkannya kepada kami,&#8221; ujar Kiau Hong.</p>
<p>Tapi belum lagi Tam-kong atau si kakek Tam menjawab, cepat si penunggang keledai sudah mendahului buka suara, &#8220;Aku she Siang, bernama Wai, berjuluk &#8216;Thi-bi-koh-poan-koan&#8217;.&#8221;</p>
<p>Mendengar ucapan si penunggang keledai ini, betapa sabarnya Tan Cing juga naik darah akhirnya. Kurang ajar benar, demikian pikirnya. Masakah aku she Tan (tunggal, ganjil), kau lantas mengaku she Siang (sepasang, genap). Aku bernama Cing (benar, lurus), kau lantas bernama Wai (menceng, bengkok). Bukankah ini sengaja hendak mengolok-olok diriku?</p>
<p>Dan selagi dia hendak mengambil tindakan tiba-tiba Tam-poh, si nenek Tam membuka suara, &#8220;Tan-loyacu, engkau jangan gubris ocehan Tio-ci-sun ini, dia orang gila, jangan kau anggap sungguh-sungguh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maafkan kalau di sini tiada tempat duduk, diharap para hadirin sudilah duduk di tanah,&#8221; kata Kiau Hong kemudian. Dan sesudah melihat semua orang telah mengambil tempat duduk sendiri-sendiri, lalu ia menyambung, &#8220;Dalam sehari saja telah dapat berjumpa dengan tokoh-tokoh locianpwe sebanyak ini, sungguh bahagia dan beruntung kami ini. Tapi entah ada keperluan apakah kunjungan para Cianpwe ke sini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kiau-pangcu,&#8221; kata Tan Cing. &#8220;Kay-pang kalian adalah suatu organisasi terbesar di dunia Kangouw, selama ratusan tahun ini namanya tersohor di seluruh pelosok, setiap kawan Bu-lim asal mendengar nama &#8216;Kay-pang&#8217; tentu menaruh hormat dengan sungguh-sungguh, aku orang she Tan biasanya juga sangat mengindahkannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terima kasih,&#8221; kata Kiau Hong.</p>
<p>Tiba-tiba Tio-ci-sun menimbrung, &#8220;Kiau-pangcu, Kay-pang kalian adalah suatu organisasi terbesar di kalangan Kangouw, selama ratusan tahun ini namanya tersohor di seluruh pelosok dunia, setiap kawan Bu-lim asal mendengar nama Kay-pang tentu menaruh hormat dengan sungguh-sungguh, aku orang she Siang biasanya juga sangat mengindahkannya.&#8221;</p>
<p>Ucapannya itu sama persis seperti apa yang dikatakan Tan Cing, hanya she Tan diganti dengan she Siang.</p>
<p>Kiau Hong tahu kaum cianpwe dalam Bu-lim itu banyak yang mempunyai watak aneh dan sifat istimewa, orang yang dipanggil sebagai Tio-ci-sun ini selalu menentang Tan Cing, entah apa maksud tujuannya. Tapi sebagai tuan rumah, ia pikir tidak enak mengeloni salah satu pihak, maka ia pun mengucapkan terima kasih kepada penunggang keledai yang aneh itu.</p>
<p>Sebaliknya Tan Cing hanya tersenyum saja, katanya kepada putranya yang tertua, &#8220;Pek-san, lanjutannya boleh kau katakan saja kepada Kiau-pangcu. Jika orang lain ingin menirukan putraku, biarkan dia menirukan saja.&#8221;</p>
<p>Diam-diam semua orang tertawa dan menganggap Tiat-bin-poan-koan yang tampaknya jujur polos itu ternyata juga licik. Sebab kalau Tio-ci-sun nanti menirukan cara bicara Tan Pek-san, itu berarti ikut mengaku menjadi putranya Tan Cing.</p>
<p>Tak terduga Tio-ci-sun lantas berkata, &#8220;Pek-san, lanjutannya boleh kau katakan saja kepada Kiau-pangcu. Jadi orang lain ingin menirukan putraku, biarkan dia menirukan saja.&#8221;</p>
<p>Dengan demikian, berbalik Tio-ci-sun yang menang angin sebab Tan Pek-san juga diakui menjadi putranya.</p>
<p>Tan Siau-san, putra Tan Cing yang kelima dan paling kecil, berwatak paling berangasan, kontan ia memaki, &#8220;Bajingan, benar-benar-sudah bosan hidup barangkali!&#8221;</p>
<p>Tio-ci-sun lantas bergumam juga, &#8220;Bajingan putra semacam ini, punya empat orang juga sudah terlalu banyak, yang kelima sebenarnya tidak perlu dilahirkan. Hehe, pula entah keturunan sendiri atau bukan?&#8221;</p>
<p>Sudah diolok olok, putranya dimaki pula seakan-akan anak haram, betapa pun sabarnya Tan Cing juga ada batasnya. Segera katanya kepada Tio-ci-sun, &#8220;Kita adalah tamu Kay-pang, kalau sampai cekcok di sini tentu akan mempersulit tuan rumahnya. Biarlah kalau urusan di sini sudah selesai pasti akan kuminta belajar kenal kepandaianmu. Nah, Pek-san, bicaralah terus!&#8221;</p>
<p>Namun Tio-ci-sun tetap menirukannya, &#8220;Kita adalah tamu Kay-pang, kalau sampai cekcok di sini, tentu akan mempersulit tuan rumah. Biarlah kalau urusan di sini sudah selesai, nanti akan kuminta belajar kepandaianmu. Nah, Pek-san, Locu (bapak) suruh kau bicara, bolehlah bicara terus!&#8221;</p>
<p>Sungguh gemas Tan Pek-san tak terkatakan, kalau bisa ia ingin bacok orang hingga hancur lebur baru puas rasanya. Maka dengan menahan gusar katanya kepada Kiau Hong, &#8220;Kiau-pangcu, urusan dalam kalian, kami ayah dan anak sebenarnya tidak berani ikut campur. Tapi ayahku bilang, seorang laki-laki sejati harus mencintai sesamanya dengan kebajikan &#8230;.&#8221;</p>
<p>Berkata sampai di sini ia sengaja melirik ke arah Tio-ci-sun untuk melihat apakah orang itu akan menirukan lagi atau tidak. Kalau meniru, tentu orang akan mengatakan, &#8220;Tapi ayahku bilang&#8221;, dan itu berarti akan memanggil Tan Cing sebagai ayah.</p>
<p>Tak tersangka, benar-benar Tio-ci-sun menirukan ucapan itu, katanya, &#8220;Kiau-pangcu, urusan dalam kalian, kami ayah dan anak sebenarnya tidak berani ikut campur. Tapi anakku bilang seorang laki-laki sejati harus mencintai sesamanya dengan kebajikan.&#8221;</p>
<p>Jadi Tio-ci-sun sengaja mengubah kata &#8220;ayah&#8221; menjadi &#8220;anak&#8221; dan itu berarti suatu kerugian pula bagi Tan Cing.</p>
<p>Keruan semua orang berkerut kening, mereka menganggap kelakuan Tio-ci-sun itu sungguh terlalu, mungkin segera akan terjadi banjir darah di situ.</p>
<p>Maka terdengar Tan Cing berkata, &#8220;Senantiasa saudara menentang diriku, padahal kita selamanya tidak paling kenal, entah di manakah aku berbuat salah padamu, silakan saudara memberi penjelasan. Bila memang benar Cayhe bersalah, sekarang juga aku akan minta maaf padamu.&#8221;</p>
<p>Diam-diam semua orang memuji sikap kesatria Tan Cing yang tidak malu sebagai seorang pendekar besar tersohor itu.</p>
<p>&#8220;Kau tidak berbuat salah padaku, tapi bersalah kepada Siau Koan, hal ini lebih jahat sepuluh kali daripada bersalah padaku, tahu?&#8221; demikian Tio-ci-sun menjawab.</p>
<p>&#8220;Siau Koan? Siapa itu Siau Koan? Bilakah aku berbuat salah padanya?&#8221; tanya Tan Cing heran.</p>
<p>&#8220;Dia inilah Siau Koan,&#8221; sahut Tio-ci-sun sambil menunjuk si nenek Tam. &#8220;Siau Koan adalah nama gadisnya, di dunia ini kecuali aku, siapa pun tidak boleh memanggil namanya itu.&#8221;</p>
<p>Mendongkol dan geli pula Tan Cing, katanya, &#8220;O, kiranya nama gadis Tam-popoh, Cayhe tidak tahu hingga telanjur menyebutnya, harap maaf.&#8221;</p>
<p>&#8220;Yang tidak tahu tidak salah, untuk pelanggaranmu yang pertama ini biar kuampuni, tapi lain kali jangan mengulangi lagi, ya!&#8221; kata Tio-ci-sun dengan lagak sebagai seorang bapak memberi petuah kepada si bocah.</p>
<p>Lalu Tan Cing berkata lagi, &#8220;Meski sudah lama Cayhe kenal nama suami-istri Tam-si yang tersohor dari Hoa-san, tapi sayang selama ini tidak sempat berjumpa. Aku sendiri merasa tidak pernah mengolok-olok nama baik mereka di depan siapa pun, entah mengapa aku dituduh bersalah kepada Tam-popoh?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tadi aku sedang tanya Siau Koan dan dia belum lagi menjawab, tiba-tiba kelima putramu menyerobot datang hingga mengacaukan pembicaraan kami, malahan sampai sekarang ia masih belum sempat menjawab pertanyaanku tadi,&#8221; demikian sahut Tio-ci-sun. &#8220;Nah, Tan tua, boleh coba kau cari tahu, orang macam apakah Siau Koan? Dan aku si &#8216;Tio-ci-sun-li-go-tan-ong&#8217; orang macam apa pula? Masakah pada waktu kami sedang bicara boleh sembarangan dikacau begitu saja?&#8221;</p>
<p>Diam-diam Tan Cing geli mendengar ucapan yang &#8220;angin-anginan&#8221; itu, tapi lantas katanya pula, &#8220;Masih ada sesuatu yang aku tidak mengerti, tolong suka memberi penjelasan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Soal apa? Jika aku senang, tiada alangan juga akan kuberi petunjuk padamu,&#8221; sahut Tio-ci-sun dengan lagak mahaguru.</p>
<p>&#8220;Terima kasih,&#8221; ujar Tan Cing. &#8220;Tadi Anda bilang nama kecil Tam-popoh hanya boleh dipanggil olehmu seorang saja, bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, sudah tentu!&#8221; seru Tio-ci-sun. &#8220;Kalau kau tidak percaya, boleh coba memanggilnya sekali lagi, lihatlah kalau aku si &#8216;Tio-ci-sun-li-go-tan-ong-the-sim-nyo&#8217; tidak memberi hajaran padamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah tentu aku tidak berani memanggilnya lagi,&#8221; sahut Tan Cing. &#8220;Tapi masakah Tam-kong juga tidak berani memanggilnya?&#8221;</p>
<p>Jawaban ini rupanya mengenai lubuk hati Tio-ci-sun hingga seketika ia bungkam dengan muka merah padam. Sejenak kemudian mendadak orang aneh itu menangis tergerung-gerung dengan suara yang sedih memilukan.</p>
<p>Kelakuannya ini benar-benar di luar dugaan siapa pun, sungguh tiada yang menyangka bahwa seorang yang tidak takut tingginya langit dan jeri pada tebalnya bumi, sampai Tiat-bin-poan-koan juga berani ditantangnya, tapi hanya dengan satu kalimat pertanyaan itu sudah membuatnya menangis begitu rupa.</p>
<p>Melihat seterunya menangis sedih, Tan Cing menjadi tidak enak malah, api kemarahannya yang semula berkobar itu seketika sirap, sebaliknya ia malah menghiburnya, &#8220;Tio-heng, maafkan aku &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku &#8230; aku tidak she Tio,&#8221; sahut Tio-ci-sun dengan terguguk.</p>
<p>Keruan Tan Cing tambah heran, &#8220;Habis, saudara she apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak she Tio, tidak she Ci, juga tidak she Sun, aku tidak punya she, tidak perlu tanya,&#8221; sahut Tio-ci-sun.</p>
<p>Mendengar suara tangis Tio-ci-sun itu begitu sedih, semua jago yang hadir menduga pasti ada sesuatu yang pernah melukai hatinya. Dan bagaimana urusannya kalau dia sendiri tidak omong orang lain dengan sendirinya tidak enak untuk bertanya.</p>
<p>Dalam pada itu Tio-ci-sun masih tetap menangis sedih dengan tersenggak-sengguk tiada hentinya.</p>
<p>&#8220;Kembali penyakitmu kumat lagi, di depan orang banyak, menangis seperti anak kecil, engkau punya kulit muka atau tidak?&#8221; demikian Tam-popoh atau si nenek Tam menyemprotnya.</p>
<p>&#8220;Habis engkau &#8230; engkau rela meninggalkan aku dan menikah dengan tua &#8230; tua bangka seperti Tam-kong ini, sudah tentu hatiku sedih dan pilu,&#8221; demikian sahut dengan sesenggukan. &#8220;Hati sudah remuk, jantungku sudah hancur, ususku sudah putus, tinggal kulit muka yang tipis ini, apa gunanya?&#8221;</p>
<p>Semua orang tersenyum geli oleh kata-kata lucu itu. Kiranya begitulah duduk perkara yang sebenarnya.</p>
<p>Rupanya Tio-ci-sun dan Tam-popoh itu pernah terjalin kisah asmara, tapi entah mengapa Tam-poh menikah dengan Tam-kong. Dan karena sedihnya sampai Tio-ci-sun membuang nama aslinya dan kelakuannya menjadi gila-gilaan seperti orang sinting. Padahal suami-istri Tam-si itu usianya lebih dari 60 tahun, entah mengapa cinta Tio-ci-sun itu bisa sedemikian mendalamnya, selama berpuluh tahun masih belum berkurang dendam asmaranya.</p>
<p>Si nenek Tam sendiri mukanya sudah penuh keriput dan kasap seperti kulit ayam, rambutnya ubanan semua, siapa pun tidak mengira bahwa nenek yang berperawakan tinggi besar potongan &#8220;kuda teji&#8221; itu pada masa mudanya mempunyai kecantikan yang menggiurkan orang hingga sampai tua Tio-ci-sun masih tetap mencintainya.</p>
<p>Begitulah maka tampak sikap Tam-poh agak kikuk dan malu-malu kucing seperti anak perawan, sahutnya kemudian, &#8220;Suko, buat apa engkau mengungkat kejadian masa lampau? Hari ini Kay-pang ada urusan penting yang perlu dibicarakan, lekas mendengarkan dan jangan mengacau pula.&#8221;</p>
<p>Ucapan yang lembut dan bernada nasihat itu besar pengaruh bagi Tio-ci-sun, sebab dia lantas berkata, &#8220;Baiklah, tapi tersenyumlah dahulu kepadaku baru aku akan menurut perkataanmu.&#8221;</p>
<p>Belum lagi Tam-poh tersenyum atau orang-orang lain sudah mendahului tertawa menggelegar, namun nenek Tam itu seperti tidak ambil pusing, benar juga ia berpaling dan tersenyum &#8220;manis&#8221; sekali kepada Tio-ci-sun.</p>
<p>Sukma Tio-ci-sun seperti terbang ke awang-awang oleh senyuman itu hingga seketika ia termangu-mangu.</p>
<p>Sudah tentu semua itu disaksikan pula oleh Tam-kong yang duduk di sebelah dengan rasa gusar, tapi toh tidak dapat berbuat apa-apa.</p>
<p>Kejadian itu mendadak memengaruhi pikiran Toan Ki juga, pikirnya, &#8220;Cinta ketiga orang ini benar-benar sangat mendalam hingga orang yang berada di sini sampai tak dipusingkan oleh mereka. Dan apakah perasaanku kepada nona Ong kelak juga akan berakhir seperti ini? Ah, tidak, tidak! Sebab Tam-poh juga kelihatan rada mencintai sukonya, sebaliknya yang selalu dikenang nona Ong adalah Buyung-kongcu, dibandingkan Tio-ci-sun terang aku bukan apa-apa lagi.&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu demi mendengar suka-duka Tio-ci-sun dan suami-istri Tam-si masa lampau, diam-diam Kiau Hong menimbang-nimbang, &#8220;Tio-ci-sun itu sebenarnya tidak she Tio, tapi suheng Tam-poh. Aku sering mendengar bahwa Tam-kong dan Tam-poh dari Ciong-siau-tong di Hoa-san terkenal di Bu-lim oleh karena ilmu silat aliran Hoa-san-pay mereka yang hebat. Tapi dari percakapan mereka tadi, agaknya mereka bertiga bukan sesama perguruan. Lalu, sebenarnya Tam-kong yang benar orang Hoa-san-pay ataukah Tam-poh yang berasal dari Hoa-san-pay?&#8221;</p>
<p>Tengah Kiau Hong merasa ragu, tiba-tiba terdengar Tio-ci-sun berkata pula, &#8220;Sudah lama Locu tidak datang ke daerah Kanglam sini, maka tidak tahu bahwa di Koh-soh telah muncul seorang Buyung Hok yang katanya suka &#8216;Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin&#8217; dengan perbuatannya yang sewenang-wenang. Locu justru ingin bertemu dengan dia untuk melihat cara bagaimana dia mampu memperlakukan aku si &#8216;Tio-ci-sun-li-cin-go-the-ong&#8217; ini?&#8221;</p>
<p>Baru habis ucapannya sekonyong-konyong terdengar suara orang menangis dengan sedih sekali, suara tangisan yang meraung-raung itu sama persis seperti tangisan Tio-ci-sun tadi.</p>
<p>Keruan semua orang melengak.</p>
<p>Bahkan terdengar suara tangisan itu sedang sesambatan pula, &#8220;O, Sumoayku, di manakah Locu pernah bersalah padamu? Mengapa engkau meninggalkan daku dan menikah dengan si tua bangka she Tam yang celaka itu? Siang dan malam Locu selalu merindukan dikau. Teringat masa hidup Suhu kita, beliau pandang kita seperti anak kandung sendiri, tapi engkau tidak kawin denganku, apakah engkau tidak ingat kebaikan Suhu?&#8221;</p>
<p>Suara dan ucapan itu persis sekali seperti Tio-ci-sun, kalau semua orang tidak menyaksikan orang aneh itu termangu-mangu dan melongo dengan penuh keheranan, tentu semua orang akan percaya suara itu diucapkan dari mulut Tio-ci-sun sendiri. Tapi ketika semua orang memandang ke arah datangnya suara itu, ternyata suara itu timbul dari seorang gadis jelita berbaju jambon yang berdiri mungkur.</p>
<p>Kiranya gadis itu adalah A Cu.</p>
<p>Toan Ki, Giok-yan, dan A Pik cukup kenal kepandaian cara A Cu menirukan tingkah laku dan suara orang, dengan sendirinya mereka tidak heran. Sebaliknya orang lain menjadi terheran-heran dan geli pula, mereka menduga pasti Tio-ci-sun akan marah karena suaranya ditirukan orang.</p>
<p>Tak tersangka bahwa tangisan dan keluhan A Cu tadi justru tepat mengenai lubuk hati Tio-ci-sun, maka bukannya marah sebaliknya matanya tampak merah basah, mulutnya mewek-mewek, air matanya meleleh, akhirnya menangislah dia berpadu dengan suara tangisan A Cu.</p>
<br />Posted in Jin Yong, Pendekar Kerajaan Tayli  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toanki.wordpress.com/1818/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toanki.wordpress.com/1818/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toanki.wordpress.com/1818/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toanki.wordpress.com/1818/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toanki.wordpress.com/1818/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toanki.wordpress.com/1818/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toanki.wordpress.com/1818/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toanki.wordpress.com/1818/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toanki.wordpress.com/1818/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toanki.wordpress.com/1818/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toanki.wordpress.com/1818/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toanki.wordpress.com/1818/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toanki.wordpress.com/1818/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toanki.wordpress.com/1818/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1818&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-24/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b75e221c0eee4ff517b26695a19675fc?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">Lenghou Tiong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 23</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-23/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-23/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 04:44:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1816</guid>
		<description><![CDATA[Keruan Tiang-pi-soh atau si kakek lengan panjang yang dipanggil sebagai Tan-tianglo itu melengak, sahutnya, &#8220;Pangcu, orang ini terlalu kurang ajar, ilmu silatnya juga tidak rendah, kalau dibiarkan hidup, kelak tentu akan membahayakan.&#8221; &#8220;Benar juga katamu,&#8221; ujar Kiau Hong sambil mengangguk. &#8220;Tapi kita belum lagi ketemu lawan utama dan belum-belum sudah melukai bawahannya, hal ini akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1816&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keruan Tiang-pi-soh atau si kakek lengan panjang yang dipanggil sebagai Tan-tianglo itu melengak, sahutnya, &#8220;Pangcu, orang ini terlalu kurang ajar, ilmu silatnya juga tidak rendah, kalau dibiarkan hidup, kelak tentu akan membahayakan.&#8221;</p>
<p><span id="more-1816"></span>&#8220;Benar juga katamu,&#8221; ujar Kiau Hong sambil mengangguk. &#8220;Tapi kita belum lagi ketemu lawan utama dan belum-belum sudah melukai bawahannya, hal ini akan merosotkan pamor kita sendiri. Maka menurut pendapatku, lebih baik kita jaga nama dan wibawa kita lebih dulu.&#8221;</p>
<p>Namun dengan marah-marah Tiang-pi-soh menjawab, &#8220;Sudah terang Be-hupangcu terbinasa di tangan bocah she Buyung itu, untuk menuntut balas masakah perlu jaga nama dan peduli tentang perbawa segala?&#8221;</p>
<p>Wajah Kiau Hong mengunjuk kurang senang, katanya, &#8220;Sudahlah, berikan obatmu dahulu, urusan dapat kita bicarakan belakang.&#8221;</p>
<p>Walaupun dalam hati seribu kali tidak rela, tapi perintah sang pangcu juga tidak berani membangkangnya, terpaksa Tan-tianglo mengeluarkan sebuah botol kecil dan melangkah maju, katanya kepada A Cu dan A Pik, &#8220;Ini, Pangcu kami mengutamakan budi luhur dan suruh memberikan obat penawar, lekas ambil ini!&#8221;</p>
<p>Dengan girang segera A Pik berlari maju, lebih dulu ia memberi hormat kepada Kiau Hong, lalu menghormat pula kepada Tan-tianglo, katanya, &#8220;Terima kasih Kiau-pangcu dan terima kasih Tianglo.&#8221;</p>
<p>Dan setelah menerima botol kecil yang diangsurkan itu, kemudian ia tanya, &#8220;Tolong tanya Tianglo, obat ini cara bagaimana menggunakannya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Isap dulu racun pada lukanya, kemudian bubuhkan obatnya,&#8221; sahut si kakek. Dan setelah merandek, ia menambahkan pula, &#8220;Bila racun belum bersih terisap, percumalah obat yang dibubuhkan itu, bahkan akan tambah parah. Hal ini penting diketahui.&#8221;</p>
<p>A Pik mengiakan pesan itu, lalu ia mendekati Hong Po-ok, ia angkat tangan yang terantup kalajengking itu, ia menunduk kepala lantas hendak mengisap racun pada luka itu.</p>
<p>&#8220;Nanti dulu!&#8221; mendadak si kakek tangan panjang berteriak.</p>
<p>A Pik jadi kaget. &#8220;Ada apa?&#8221; tanyanya tercengang.</p>
<p>&#8220;Wanita dilarang mengisapnya!&#8221; seru si kakek.</p>
<p>&#8220;Sebab apa?&#8221; tanya A Pik dengan muka merah.</p>
<p>&#8220;Racun, kalajengking itu tergolong racun im-tok, sedangkan wanita adalah jenis im, sudah im ditambah im lagi, racun itu akan tambah jahat malah,&#8221; demikian kata si kakek.</p>
<p>A Pik, A Cu, dan Giok-yan menjadi ragu, mereka merasa keterangan kakek itu agak janggal, tapi juga bukan mustahil memang demikian halnya. Dan kalau benar, hingga racunnya tambah jahat, bukankah jiwa Hong-siko akan lebih konyol? Sedangkan pihak sendiri hanya tinggal Pau Put-tong yang merupakan satu-satunya lelaki yang saat itu lagi bertempur mati-matian dengan si kakek pendek, untuk memanggilnya kembali terang sukar dilaksanakan dalam waktu singkat itu.</p>
<p>Tapi selain Pau Put-tong, terang tiada kawan lelaki yang lain. Terpaksa A Cu berteriak, &#8220;Pau-samko, berhentilah sementara, kembalilah menolong Siko lebih dulu!&#8221;</p>
<p>Namun ilmu silat Pau Put-tong itu sama kuatnya dengan kakek pendek, sekali mereka sudah bergebrak, untuk lolos mundur terang sukar terlaksana dalam beberapa jurus saja. Dalam pertarungan ilmu silat kelas tinggi, sedikit lengah saja pasti akan mengakibatkan jiwa melayang, maka sangat sulit untuk mengundurkan diri dengan sesukanya.</p>
<p>Dengan sendirinya Pau Put-tong khawatir ketika mendengar seruan A Cu, ia tahu keadaan Hong Po-ok pasti bertambah buruk. Maka mendadak ia menyerang beberapa kali dengan tujuan melepaskan diri dari rangsakan si kakek pendek.</p>
<p>Tapi sebagai salah satu tokoh di antara Kay-pang-su-lo, dengan sendirinya si kakek pendek tak dapat dipersamakan jago-jago sebangsa Suma Lim, Cu Po-kun, Yau Pek-tong, dan lain-lain yang sekali gebrak mudah terjungkal di bawah tangan atau kaki Pau Put-tong. Walaupun dengan serangan kilat secara bertubi-tubi itu Pau Put-tong dapat merebut kedudukan di atas angin, tapi untuk menang satu jurus saja masih bergantung atas keuletan lawan, dan si kakek pendek itu justru teramat ulet. Maka betapa pun ia menyerang dari sini-sana, tetap tidak dapat melepaskan diri.</p>
<p>Dalam pada itu Kiau Hong senantiasa mengikuti wajah Giok-yan bertiga yang penuh rasa khawatir itu. Bila mengingat racun kalajengking piaraan Tan-tianglo itu jahat luar biasa, pula tidak diketahui apakah ucapan si kakek bahwa wanita tidak boleh mengisap racun kalajengking itu benar atau cuma gertakan.</p>
<p>Walaupun anak murid Kay-pang jumlahnya tidak sedikit, namun pekerjaan mengisap racun adalah suatu risiko yang mungkin membikin celaka si pengisap sendiri, maka tidak mungkin ia memerintahkan salah satu anggota Kay-pang untuk mengisapkan racun Hong Po-ok. Apalagi bawahan diperintahkan mengisap racun untuk menolong jiwa musuh, perintah demikian terang tidak mungkin dikeluarkannya.</p>
<p>Tapi dasar jiwa Kiau Hong memang kesatria dan berbudi luhur, tanpa ragu ia lantas berseru, &#8220;Aku orang laki-laki, biar aku yang mengisap racun Hong-siya.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, segera ia melangkah ke arah Hong Po-ok.</p>
<p>Waktu melihat wajah Giok-yan muram sedih, sejak mula sebenarnya sudah timbul niat Toan Ki hendak mengisap racun bagi Hong Po-ok. Cuma ia pikir Kiau Hong adalah kakak angkat sendiri, kalau dirinya membantu pihak musuh, hal ini akan merugikan hubungan persaudaraan.</p>
<p>Meski kemudian ia saksikan Kiau Hong memerintahkan Tan-tianglo memberikan obat penawar kepada lawan, tapi Toan Ki masih sangsikan ketulusan hati sang kakak-angkat.</p>
<p>Baru sekarang sesudah melihat Kiau Hong benar-benar mendekati Hong Po-ok untuk mengisap racun pada tangannya, yakinlah dia akan kebesaran jiwa kakak-angkat itu. Maka dengan cepat ia berseru, &#8220;Toako, biarkan Siaute saja yang melakukannya!&#8221;</p>
<p>Dan sekali melangkah, dengan sendirinya ia keluarkan ilmu langkah &#8220;Leng-po-wi-poh&#8221; yang cepat, tahu-tahu ia sudah menyerobot di depan Kiau Hong. Terus saja ia angkat tangan Hong Po-ok dan segera hendak dikecupnya.</p>
<p>Tatkala itu seluruh telapak tangan Hong Po-ok sudah bengkak menghitam, kedua mata melotot, rupanya kelopak matanya ikut menjadi kaku juga sehingga sukar berkedip. Ketika Toan Ki memegang tangannya, otomatis daya sakti Cu-hap-sin-kang lantas bekerja. Belum lagi mulut Toan Ki mengecup tempat luka itu, sekonyong-konyong dari lubang luka merembes keluar air hitam.</p>
<p>Toan Ki tertegun, ia pikir biarkan air hitam itu habis merembes keluar baru akan diisapnya. Ia tidak tahu bahwa Cu-hap, yaitu katak merah yang telah dimakannya dahulu itu adalah binatang antisegala jenis racun. Maka begitu anggota badan kedua orang saling sentuh, asal Toan Ki tidak mengerahkan tenaga dalamnya, maka tenaga murni Hong Po-ok juga takkan tersedot, sebaliknya karena dia keracunan sangat parah, sekali kebentur khasiat Cu-hap-sin-kang, terus saja darah berbisa di dalam tubuhnya terdesak keluar.</p>
<p>Begitulah selagi semua orang terheran-heran dan sangsi, mendadak badan Hong Po-ok bergerak sekali, lalu terdengar ia membuka suara, &#8220;Terima kasih!&#8221;</p>
<p>Keruan Giok-yan bertiga sangat girang. A Cu lantas berseru, &#8220;He, Siko, engkau sudah dapat bicara!&#8221;</p>
<p>Maka tertampaklah darah hitam yang merembes keluar dari luka Hong Po-ok itu mulai berubah menjadi warna ungu, kemudian memerah.</p>
<p>Dan sesudah warna darah kembali seperti biasa, tangan Po-ok yang bengkak itu lantas kempis dan dapat bergerak lagi seperti semula. Segera ia memberi hormat kepada Toan Ki sambil berkata, &#8220;Banyak terima kasih atas pertolongan Kongcuya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, soal kecil, buat apa dipikirkan?&#8221; sahut Toan Ki merendah.</p>
<p>&#8220;Jiwaku dalam pandangan Kongcuya mungkin soal kecil, tapi bagiku sendiri adalah urusan besar,&#8221; kata Hong Po-ok dengan tertawa. Lalu ia ambil botol obat dari tangan A Pik terus dilemparkan kembali kepada Tan-tianglo, katanya, &#8220;Ini, ambil kembali obatmu!&#8221;</p>
<p>Kemudian ia memberi hormat kepada Kiau Hong dan berkata, &#8220;Kiau-pangcu benar berbudi luhur, Hong Po-ok sangat kagum. Pangcu tidak malu sebagai pemimpin suatu organisasi terbesar di Bu-lim ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terima kasih atas pujian Hong-siya,&#8221; sahut Kiau Hong sambil membalas hormat.</p>
<p>Sesudah menyatakan terima kasihnya kepada kedua orang penolongnya, Hong Po-ok lantas jemput kembali goloknya, ia tuding Tan-tianglo sambil berkata, &#8220;Hari ini aku dikalahkanmu, Hong Po-ok mengaku kalah, lain kali bila ketemu lagi kita akan coba-coba pula, urusan hari ini kita sudahi saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan khawatir, setiap saat aku siap,&#8221; sahut Tan-tianglo tertawa.</p>
<p>Mendadak Po-ok berpaling kepada si kakek yang bersenjatakan gada astakona, serunya, &#8220;Biarlah sekarang kubelajar kenal dengan kepandaianmu!&#8221;</p>
<p>Keruan A Cu dan A Pik terkejut, seru mereka, &#8220;Jangan Siko, kesehatanmu belum pulih!&#8221;</p>
<p>Namun Hong Po-ok tidak ambil pusing, serunya, &#8220;Mumpung dapat berkelahi, kenapa sia-siakan kesempatan bagus!&#8221;</p>
<p>Menyusul golok terus berputar dan menerjang ke arah si kakek bergada.</p>
<p>Melihat beberapa saat sebelumnya keadaan Hong Po-ok sudah sangat payah, siapa tahu hanya sekejap saja orang aneh itu pulih gagah perkasa pula. Orang sedemikian sungguh jarang terlihat.</p>
<p>Kakek bersenjata gada itu sudah ubanan alis dan jenggotnya, usianya terhitung paling tua di antara Kay-pang-su-lo, sudah berpuluh tahun namanya terkenal, segala macam tokoh Kangouw juga pernah dihadapinya. Tapi orang yang nekat seperti Hong Po-ok benar-benar jarang terlihat. Karena itu, mau tak mau ia terkesiap juga.</p>
<p>Sebenarnya permainan gada si kakek sangat hebat perubahannya, di samping digunakan menyerang bermanfaat pula untuk merampas senjata lawan. Tapi kini karena rada jeri, permainan gadanya menjadi agak kacau hingga ia cuma mampu menangkis saja oleh berondongan serangan Hong Po-ok.</p>
<p>Dalam pada itu Kiau Hong menjadi kurang senang juga, pikirnya, &#8220;Sobat she Hong ini agak keterlaluan juga. Dengan baik-baik Toan-hiante telah menolong jiwamu, mengapa secara sembrono mengajak berkelahi lagi?&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu sambil menjinjing karung Tan-tianglo sedang memandangi Ong Giok-yan, lalu pandang Toan Ki pula sembari diam-diam berpikir, &#8220;Kedua muda-mudi ini entah dari mana asal-usulnya, tampaknya kedatangan mereka sangat tidak menguntungkan diriku.&#8221;</p>
<p>Kiranya Tan-tianglo ini aslinya she Ui, yaitu berasal dari keluarga Ui yang terkenal di Oupak, ia sengaja menyamar sebagai orang she Tan, rahasia ini tiada seorang pun mengetahui di jagat ini. Maka terhadap ucapan Giok-yan yang menyatakan ilmu silatnya seperti berasal dari keluarga Ui, mau tak mau timbul rasa curiganya.</p>
<p>Sementara itu pertarungan Pau Put-tong dan Hong Po-ok melawan kedua kakek Kay-pang itu semakin sengit, tampaknya Put-tong dan Po-ok sedikit di atas angin, tapi untuk mengalahkan lawan mereka terang sukar terjadi dalam waktu singkat.</p>
<p>Selagi semua orang asyik mengikuti pertarungan hebat itu, telinga Toan Ki yang tajam itu tiba-tiba mendengar dari arah timur ada suara tindakan orang yang ramai sedang mendatang ke arah sini dengan cepat. Menyusul dari jurusan utara juga datang satu rombongan lain, bahkan dari suaranya kedengaran berjumlah lebih banyak.</p>
<p>&#8220;Toako, ada orang banyak sedang mendatang,&#8221; demikian Toan Ki membisiki Kiau Hong.</p>
<p>Kiau Hong sendiri pun sudah mendengar, ia mengangguk. Ia menduga orang-orang yang datang itu besar kemungkinan adalah lawan dan bukan kawan. Boleh jadi pengikut Buyung Hok yang sengaja dipasang di sekitar situ untuk mengepung. Maka diam-diam Kiau Hong rada menyesal telah diakali musuh.</p>
<p>&#8220;Kiranya orang-orang she Pau dan Hong ini sengaja menggoda kita agar tanpa sadar kita masuk kepungan mereka,&#8221; demikian pikirnya.</p>
<p>Namun Kiau Hong tetap bersikap tenang, selagi ia hendak memberi isyarat kepada bawahannya agar sebagian mengundurkan diri ke jurusan selatan dan barat yang tidak dijaga musuh, tiba-tiba terdengar dari kedua jurusan itu juga ada suara ramai orang berjalan. Nyata setiap penjuru sudah penuh dengan musuh.</p>
<p>Perlahan Kiau Hong memberi perintah kepada bawahannya, &#8220;Cio-thocu, kekuatan musuh di sebelah selatan paling lemah, sebentar bila kuberi tanda, segera pimpin para saudara mengundurkan diri ke jurusan sana.&#8221;</p>
<p>Dan baru saja Cio-thocu mengiakan, tiba-tiba dari jurusan timur hutan itu sudah muncul 30-an orang, semuanya berbaju compang-camping, rambut kusut, ada yang membawa senjata, ada yang cuma membawa tongkat dan mangkuk butut, jelas semuanya anggota Kay-pang. Menyusul dari arah utara juga muncul berpuluh orang Kay-pang, sikap mereka sangat pongah, melihat Kiau Hong juga tidak memberi hormat, sebaliknya seakan-akan bersikap bermusuhan.</p>
<p>Ketika mendadak tampak munculnya anggota Kay-pang sebanyak itu, diam-diam Pau Put-tong dan Hong Po-ok menjadi khawatir juga. Pikir mereka, &#8220;Wah, celaka, cara bagaimana agar dapat menyelamatkan nona Ong bertiga?&#8221;</p>
<p>Namun di antara orang yang terkesiap rasanya yang paling terkejut adalah Kiau Hong. Sebab memang dia kenal pengemis-pengemis yang muncul itu adalah anggota Kay-pang kelas menengah, ada yang menggendong lima buah kantong dan ada yang membawa tujuh buah kantong. Biasanya anggota-anggota ini sangat menghormat padanya, asal melihat sang pangcu, dari jauh mereka pasti akan berlari mendekat untuk memberi hormat. Tapi mengapa hari ini sikap mereka begini aneh, sudah tidak memberi hormat, bahkan menyapa pun tidak.</p>
<p>Tengah Kiau Hong sangsi, sementara itu dari jurusan selatan dan barat juga muncul berpuluh anggota Kay-pang yang lain. Rombongan anggota Kay-pang itu datangnya ternyata susul-menyusul, di belakang rombongan pertama masih muncul pula rombongan yang lain sehingga sebentar saja tanah lapang di tengah hutan itu sudah penuh berjubel dengan kaum pengemis.</p>
<p>Kiau Hong coba menghitung sekadarnya dan ternyata di antara anggota Kay-pang di kota Bu-sik itu sudah lebih sembilan bagian yang hadir, hanya ketiga thocu dari kepala bagian Tay-jin, Tay-sin dan Tay-yong yang tidak kelihatan, di samping itu beberapa anggota pengurus pusat seperti Thoan-kong Tianglo, Cit-hoat Tianglo juga tidak muncul.</p>
<p>Semakin dipikir Kiau Hong semakin khawatir hingga diam-diam ia berkeringat dingin. Selamanya Kiau Hong tidak pernah khawatir seperti sekarang ini biarpun menghadapi musuh yang paling lihai sekalipun. Sebab mendadak timbul suatu pikiran dalam benaknya, &#8220;Wah, akan terjadi pemberontakan, apakah para anggota akan mengkhianati aku?&#8221;</p>
<p>Selaku pangcu, subur atau runtuhnya Kay-pang dianggap Kiau Hong jauh lebih penting daripada nama baik dan kedudukan atau mati-hidup sendiri. Kini beratus anggota Kay-pang ini sudah mengelilingi dirinya dengan tidak bicara apa pun juga, terang di dalam organisasi telah terjadi sesuatu yang hebat.</p>
<p>Namun di tengah kalangan Pau Put-tong dan Hong Po-ok masih saling gebrak dengan kedua kakek dengan sengit dan tak terhentikan, di depan orang luar, Kiau Hong menjadi tidak enak untuk menegur.</p>
<p>Dalam pada itu tiba-tiba Tan-tianglo berseru, &#8220;Pasang Pak-kau-tin!&#8221;</p>
<p>Sekonyong-konyong di antara anggota Kay-pang dari berbagai penjuru itu masing-masing memburu keluar belasan orang dengan senjata terhunus, maka Pau Put-tong dan Hong Po-ok jadi terkepung di tengah bersama kedua kakek lawannya itu.</p>
<p>Melihat jumlah musuh sekaligus maju sebegitu banyak, apalagi orang-orang Kay-pang sudah terlatih semua, Pau Put-tong tahu bila musuh mengepung rapat, pasti dirinya bersama Hong Po-ok akan dicincang menjadi bakso.</p>
<p>Ketika ia melirik pihak lawan, ternyata kawanan pengemis itu dalam sekejap saja sudah memasang suatu barisan yang sangat rapat, andaikan harus menerjang keluar kepungan bersama Po-ok, sendiri mungkin bisa selamat, tapi Po-ok habis keracunan dan tenaga masih lemah, tentu takkan terhindar dari terluka parah, begitu pula kalau hendak menolong Giok-yan bertiga, pasti sangat sulit.</p>
<p>Kalau mau, jalan satu-satunya supaya selamat adalah menyerah alias mengaku kalah. Toh kalah karena dikeroyok, hal ini takkan merugikan nama baiknya. Tapi tabiat Pau Put-tong justru sangat kepala batu, cocok seperti namanya, dia memang &#8220;Put-tong&#8221; atau berbeda daripada orang lain. Sesuatu urusan yang orang lain anggap lumrah, baginya justru dianggap sebaliknya. Begitu pula Hong Po-ok paling gemar berkelahi, asal diberi kesempatan berkelahi, tidak peduli kalah atau menang, bakal mati atau hidup, benar atau salah, baginya semua itu urusan belakang, berkelahi paling perlu.</p>
<p>Sebab itulah biarpun kedudukan di tengah itu sudah jelas pihak mana yang akan menang, namun Pau Put-tong dan Hong Po-ok masih terus berteriak-teriak sambil menyerang terlebih bersemangat sedikit pun pantang menyerah.</p>
<p>&#8220;Pau-samko, Hong-siko, terimalah sudah,&#8221; demikian tiba-tiba Giok-yan berseru. &#8220;Pak-kau-tin dari Kay-pang ini meski aku pun tahu cara memecahkannya, namun kepandaian kita terlalu cetek, kita takkan dapat berbuat apa-apa. Di dunia ini hanya Lak-meh-sin-kiam dan Hang-liong-sip-pat-ciang saja dapat bobol barisan itu. Maka kalian berdua lebih baik berhenti saja.&#8221;</p>
<p>Mendengar Giok-yan bilang Lak-meh-sin-kiam yang dipelajarinya itu dapat memecahkan Pak-kau-tin, Toan Ki tercengang, diam-diam ia pun ragu bagaimana harus bertindak nanti, apakah mesti membela nona Ong bila anak buah Kiau-toako akan menangkapnya?</p>
<p>Sesudah berpikir pula, ia lantas ambil keputusan, &#8220;Jika Pau Put-tong yang berkelahi dengan orang-orang Kay-pang, maka aku takkan ikut campur, tapi bila Ong-kohnio diganggu mereka terpaksa aku harus melindunginya.&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu Hong Po-ok telah menjawab seruan Giok-yan tadi, &#8220;Biarlah aku berkelahi sebentar lagi, bila benar-benar tak tahan barulah aku berhenti.&#8221;</p>
<p>Dan karena sedikit ayal itu, &#8220;cret&#8221;, pundaknya keserempet sekali oleh gada si kakek yang berkait itu hingga kulit pecah dan darah bercucuran.</p>
<p>&#8220;Keparat, hebat juga seranganmu ini,&#8221; Hong Po-ok memaki. Berbareng goloknya menyerang tiga kali secara nekat.</p>
<p>Si kakek berjenggot itu menjadi jeri oleh kekalapan Po-ok, ia pikir toh tiada permusuhan apa-apa, kenapa mesti bertempur mati-matian begini? Karena itulah ia hanya menjaga diri dengan rapat dan tiada balas menyerang pula.</p>
<p>Tiba-tiba Tan-tianglo berseru dengan nada tembang, &#8220;Ooi, para saudara sebelah selatan ingin minta nasi, haya-auuuuh &#8230;.&#8221;</p>
<p>Yang ditembangkan itu adalah lagu minta-minta kaum pengemis, tapi sebenarnya adalah tanda perintah kepada anak-buahnya untuk menyerang.</p>
<p>Maka tertampaklah berpuluh anggota Kay-pang yang berdiri di sebelah selatan serentak mengangkat senjata mereka, asal tarikan suara Tan-tianglo itu berhenti, segera mereka akan menyerbu maju.</p>
<p>Sudah tentu Kiau Hong tahu betapa lihainya Pak-kau-tin (barisan penghajar anjing) Kay-pang sendiri. Bila barisan itu sudah dikerahkan, serentak anggota Kay-pang keempat penjuru itu secara bergiliran akan menyerbu maju tanpa berhenti sampai musuh dibinasakan atau dirobohkan.</p>
<p>Padahal sebelum bertemu dengan Buyung Hok dan sebelum duduk perkara yang sebenarnya dibikin terang, ia tidak ingin mengikat permusuhan dulu dengan orang. Maka cepat ia memberi tanda sambil membentak, &#8220;Nanti dulu!&#8221;</p>
<p>Berbareng ia terus melompat-maju dan tahu-tahu sudah berada di samping Hong Po-ok, dengan tangan kiri ia cakar muka orang itu.</p>
<p>Keruan Po-ok terkejut, cepat ia mengegos ke samping, tapi mendadak tangan Kiau Hong terus menurun ke bawah dan tepat kena tangkap pergelangan tangannya, segera golok Hong Po-ok itu dirampasnya.</p>
<p>&#8220;Bagus Kiau-pangcu dengan seranganmu &#8216;Jio-cu-sam-sik&#8217; (tiga gaya merebut mutiara) dari Liong-jiau-cu (cakar naga) itu,&#8221; seru Giok-yan tiba-tiba. Segera ia pun memperingatkan Pau Put-tong, &#8220;Awas Pau-samko, ia hendak menyikut dadamu dengan sikut kiri dan tangan kanan akan memotong igamu menyusul tangan kiri akan mencengkeram pula &#8216;Gi-koh-hiat&#8217; pundakmu, serangan itu adalah satu di antara tiga gaya cakar naga yang disebut &#8216;Ti-yan-yu-uh&#8217; (mendadak turun hujan)!&#8221;</p>
<p>Tapi gerakan Kiau Hong ternyata cepat luar biasa, baru saja Giok-yan memperingatkan Pau Put-tong bahwa dadanya akan disikut, tahu-tahu serangan Kiau Hong memang benar seperti apa yang dikatakan itu dan hampir berbareng pada saat itu pun menyikut hingga Pau Put-tong tidak sempat berjaga-jaga sebelumnya.</p>
<p>Begitu pula tentang iganya akan dipotong serta Gi-koh-hiatnya akan dicengkeram, tahu-tahu Pau Put-tong merasakan tubuhnya menjadi lemas lumpuh tak dapat berkutik.</p>
<p>&#8220;Sungguh serangan bagus,&#8221; seru Pau Put-tong dengan penasaran. &#8220;Wah, Siaumoay, peringatanmu terlalu tepat waktunya hingga tiada gunanya. Kalau engkau bilang sedetik lebih dulu, kan aku dapat berjaga-jaga sebelumnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, maaflah,&#8221; sahut Giok-yan dengan menyesal. &#8220;Karena ilmu silatnya terlalu lihai, maka sebelumnya sama sekali aku tak dapat mengetahui serangan apa yang akan dilontarkannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maaf apa segala?&#8221; seru Pau Put-tong. &#8220;Pendek kata perkelahian hari ini terang kita terjungkal semua, pamor Yan-cu-oh benar-benar runtuh!&#8221;</p>
<p>Waktu ia berpaling ia lihat keadaan Hong Po-ok lebih runyam lagi, kawan itu tampak terpaku di tempatnya seperti patung. Rupanya waktu Kiau Hong merampas goloknya sekalian telah tutuk pula hiat-tonya. Kalau tidak, mana mau dia berhenti dengan begitu saja?</p>
<p>Melihat sang pangcu sudah dapat mengalahkan kedua lawan, maka Tan-tianglo mengurungkan tembangnya yang belum selesai tadi.</p>
<p>Diam-diam Kay-pang-su-lo sangat kagum demi menyaksikan betapa saktinya sang pangcu, hanya sekali gebrak saja dua lawan tangguh telah ditaklukkan.</p>
<p>Kemudian Kiau Hong melepaskan tangannya yang mencengkeram Gi-koh-hiat di pundak Pau Put-tong itu. Menyusul tangannya membalik ke belakang untuk menepuk perlahan di punggung Po-ok dan membuka hiat-to yang ditutuknya itu, lalu katanya, &#8220;Silakan kalian pergi saja!&#8221;</p>
<p>Dalam keadaan demikian, betapa pun bandelnya Pau Put-tong juga, terpaksa menyerah, ia tahu ilmu silat sendiri selisih terlalu jauh dengan Kiau Hong. Maka tanpa bicara lagi ia lantas mengeluyur ke samping Giok-yan.</p>
<p>Sebaliknya Hong Po-ok lantas berkata, &#8220;Kiau-pangcu, ilmu silatku memang tak dapat menandingimu, tapi seranganmu barusan membikin aku penasaran, sebab engkau menyerang pada waktu aku sama sekali tidak berjaga-jaga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang benar aku menyerang secara mendadak,&#8221; sahut Kiau Hong. &#8220;Tapi kita boleh coba-coba beberapa jurus pula, biar kusambut serangan golokmu.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, mendadak ia mencengkeram ke depan, suatu arus tenaga menggetar golok Hong Po-ok yang dibuang ke tanah oleh Kiau Hong tadi bahkan golok itu lantas mencelat ke atas seakan-akan melompat sendiri ke tangan Kiau Hong. Dan sekali Kiau Hong menyampuk perlahan, tangkai golok itu terus membalik ke depan seperti diangsurkan kembali kepada Hong Po-ok.</p>
<p>Hong Po-ok tercengang, katanya dengan tergegap, &#8220;Apakah ini &#8230; Kim-liong-kang (ilmu menangkap naga)? Di dunia ini ternyata benar ada orang mahir ilmu sakti ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku cuma belajar sedikit dasarnya saja, lebih jauh masih harus minta petunjuk pihak yang mahir,&#8221; Kiau Hong tertawa sambil memandang ke arah Giok-yan. Ia ingin mengetahui bagaimana penilaian si nona yang mahir segala macam ilmu silat itu atas ilmu saktinya yang tiada bandingan itu.</p>
<p>Tak tersangka Giok-yan tampak lagi termangu-mangu seperti sedang memikirkan sesuatu, maka apa yang dikatakan Kiau Hong itu seakan-akan tak didengarnya.</p>
<p>Mau tak mau Hong Po-ok harus menyerah, katanya, &#8220;Ya, sudahlah, ilmu silatku memang bukan tandinganmu, selisih kita terlalu jauh, kalau berkelahi juga kurang menarik. Nah, sampai berjumpa, Kiau-pangcu!&#8221;</p>
<p>Meski lahiriah Hong Po-ok ini jelek, wajahnya tidak sedap dipandang, tapi jiwanya cukup kesatria, biarpun kalah berkelahi, sama sekali ia tidak patah semangat. Kalah atau menang dianggapnya soal lumrah. Baginya sudah senang asal dapat berkelahi.</p>
<p>Segera ia memberi salam perpisahan kepada Kiau Hong, lalu katanya kepada Pau Put-tong, &#8220;Samko, kabarnya Kongcuya pergi ke Siau-lim-si, di sana sangat banyak orang, kita tentu dapat berkelahi lagi. Biarlah sekarang juga aku berangkat ke sana dan kalian boleh menyusul belakangan!&#8221;</p>
<p>Begitulah sifat Hong Po-ok itu, ia tidak pernah sia-siakan setiap kesempatan berkelahi. Maka tanpa menunggu jawaban Pau Put-tong, terus saja ia mendahului berlari pergi.</p>
<p>&#8220;Ya, marilah pergi! Lebih baik pergi, daripada cari mati! Kalah berkelahi, apa lagi yang dinanti?&#8221; demikian sambil bersenandung Pau Put-tong ikut meninggalkan tempat itu secara kesatria.</p>
<p>Tinggal Giok-yan bertiga yang masih di situ, maka tanyanya kepada A Cu dan A Pik, &#8220;Samko dan Siko sudah pergi, lantas kita mesti ke mana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Para pengemis ini rupanya akan berunding urusan penting, kita lebih baik kembali ke Bu-sik saja,&#8221; demikian sahut A Cu perlahan. Lalu katanya kepada Kiau Hong, &#8220;Kiau-pangcu, kami juga ingin mohon diri saja!&#8221;</p>
<p>&#8220;Silakan!&#8221; sahut Kiau Hong sambil mengangguk.</p>
<p>Dan selagi Giok-yan bertiga hendak berlalu, tiba-tiba dari rombongan Kay-pang di sebelah timur sana tampil ke muka seorang pengemis setengah umur berwajah bersih dan berseru, &#8220;Kiau-pangcu, sakit hati kematian Be-hupangcu yang mengenaskan itu belum lagi dibalas, mengapa sembarangan melepaskan musuh begini saja?&#8221;</p>
<p>Kedengarannya ia bicara dengan hormat, tapi sikapnya dan nadanya menantang, sedikit pun tidak mirip sebagai seorang bawahan.</p>
<p>&#8220;Kedatangan kita ke sini memang tujuannya ingin membalas sakit hati Be-jiko,&#8221; sahut Kiau Hong. &#8220;Tapi setelah kuselidiki selama beberapa hari ini, aku merasa pembunuh Be-jiko itu belum pasti Buyung-kongcu.&#8221;</p>
<p>Pengemis setengah umur itu bernama Coan Koan-jing, orang memberi julukan &#8220;Sip-hong-siucay&#8221; padanya, artinya si Pelajar Serbatahu. Orangnya memang pintar dan banyak akal, ilmu silatnya juga tinggi, ia adalah salah satu thocu berkantong delapan, kedudukannya hanya di bawah para tianglo (tertua) kantong sembilan.</p>
<p>Coan Koan-jing adalah kepala bagian Tay-ti-hun-tho, kedudukannya sangat terhormat. Tapi betapa tinggi kedudukannya juga takkan lebih agung daripada sang pangcu. Dalam hal huru-hara dalam Kay-pang ini meski sebelumnya orang-orang telah banyak mendengar keterangannya, tapi di bawah sinar mata Kiau Hong yang kereng itu tanpa terasa semuanya menjadi jeri dan menunduk. Sebaliknya atas keberanian Coan Koan-jing dengan tegurannya kepada sang pangcu, diam-diam mereka pun berkhawatir.</p>
<p>Maka si Siucay Serbatahu Coan Koan-jing berkata pula, &#8220;Dengan dasar apa hingga Pangcu mengatakan bukan perbuatan Buyung-kongcu?&#8221;</p>
<p>Sebenarnya Giok-yan sudah akan melangkah pergi, tapi demi didengarnya Be-hupangcu, wakil pemimpin Kay-pang itu, katanya ditewaskan orang dan Buyung-kongcu yang dituduh sebagai pembunuhnya, sebaliknya Kiau Hong berpendapat pembunuhnya mungkin orang lain, maka Giok-yan bertiga menjadi urung berangkat pergi, mereka terus tinggal dan diam di situ untuk mendengarkan perdebatan tadi.</p>
<p>Maka terdengar Kiau Hong sedang berkata, &#8220;Aku sendiri pun cuma menduga saja, dengan sendirinya tiada dasar bukti apa-apa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika begitu, bagaimana dasar dugaan Pangcu, silakan memberi penjelasan, supaya para kawan dapat ikut mengetahuinya,&#8221; ujar Coan Koan-jing.</p>
<p>&#8220;Waktu aku berada di Lokyang, ketika mendengar Be-jiko dibinasakan orang dengan ilmu &#8216;Soh-au-kim-na-jiu&#8217; yang andalannya itu, aku lantas teringat kepada orang she Buyung yang terkenal dengan istilah &#8216;Ih-pi-ci-to hoan-si-pi-sin&#8217; itu. Kupikir ilmu kepandaian Be-jiko itu tiada tandingannya di jagat ini, kecuali orang dari keluarga Buyung memang tiada seorang pun yang mampu membunuhnya dengan ilmu andalan Be-jiko sendiri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar!&#8221; tukas Coan Koan-jing.</p>
<p>&#8220;Tetapi sesudah aku berada di Kanglam sini, makin lama makin kurasakan dugaan kita semula jadi tidak benar, bukan mustahil di balik kejadian ini terdapat pula hal-hal lain yang berliku-liku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hal apa yang berliku-liku? Para kawan siap mendengarkan, silakan Pangcu memberi penjelasan,&#8221; kata Koan-jing.</p>
<p>Melihat sikap para anggota berbeda daripada biasanya, Kiau Hong menduga di dalam organisasi pasti sudah terjadi apa-apa yang ia sendiri belum mengetahui. Maka ia coba tanya, &#8220;Thoan-kong dan Cit-hoat Tianglo kenapa tidak kelihatan, di manakah mereka itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hari ini Siokhe (bawahan) belum bertemu dengan kedua Tianglo itu,&#8221; sahut Koan-jing.</p>
<p>&#8220;Dan para thocu dari Tay-jin, Tay-sin dan Tay-yong berada di mana pula?&#8221; tanya Kiau Hong pula.</p>
<p>&#8220;Thio Coan-siang,&#8221; tiba-tiba Koan-jing berpaling dan tanya kepada seorang anggota berkantong tujuh, &#8220;mengapa Thocu kalian tidak hadir ke sini?&#8221;</p>
<p>&#8220;En &#8230; entahlah, aku ti &#8230; tidak tahu,&#8221; demikian orang yang dipanggil Thio Coan-siang itu menjawab dengan gelagapan.</p>
<p>Biasanya Kiau Hong cukup kenal Coan Koan-jing. Thocu Tay-ti-hun-tho ini cerdik lagi licin, tindak tanduknya sukar diraba, sebenarnya terhitung salah seorang bawahan yang boleh diandalkan. Tapi dalam keadaan tegang begini berbalik merupakan seorang musuh yang lihai. Maka demi melihat Thio Coan-siang menjawab gelagapan dengan air muka yang penuh penyesalan serta tidak berani memandang ke arahnya, segera Kiau Hong membentaknya, &#8220;Thio Coan-siang, apa barangkali kau membunuh Thocumu sendiri, ya?&#8221;</p>
<p>Coan-siang menjadi ketakutan dan cepat menjawab, &#8220;O, tidak, ti &#8230; tidak! Pui-thocu masih baik-baik di sana dan belum &#8230; belum mati. Ini bukan &#8230; bukan urusanku, aku tidak &#8230; tidak ikut berbuat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika begitu perbuatan siapa?&#8221; bentak Kiau Hong dengan bengis.</p>
<p>Walaupun bentakannya tidak terlalu keras, tapi berwibawa. Sebagai seorang pangcu yang gagah perkasa dan bijaksana pula, maka biasanya para anggota sangat hormat dan jeri kepadanya.</p>
<p>Karena mendadak ditegur secara bengis, tanpa terasa Thio Coan-siang menjadi ketakutan hingga gemetar, ia tidak berani bicara lagi, hanya sinar matanya melirik sekejap ke arah Coan Koan-jing.</p>
<p>Kiau Hong dapat mengambil tindakan cepat, ia tahu kerusuhan telah terjadi, Thoan-kong, Cit-hoat dan para tianglo lain berada dalam keadaan bahaya, sang waktu tidak boleh dilewatkan percuma, tindakan tegas harus segera dilakukan, maka mendadak ia menghela napas panjang, ia berputar menghadap Su-tay-tianglo (empat tertua) dan berkata, &#8220;Harap para Tianglo suka memberi tahu, sebenarnya apa yang telah terjadi dalam organisasi kita?&#8221;</p>
<p>Tapi keempat kakek itu hanya saling pandang belaka dan tiada seorang pun berani membuka suara.</p>
<p>Maka tahulah Kiau Hong bahwa keempat tianglo itu pun pasti tersangkut dalam urusan ini, dengan tersenyum katanya pula, &#8220;Setiap anggota kita, dimulai dari diriku, semuanya mengutamakan setia kawan &#8230;.&#8221;</p>
<p>Berkata sampai di sini, sekonyong-konyong ia melompat mundur dua tindak, setiap tindaknya sejauh lebih dua meter. Bagi orang lain, biarpun berlompatan ke depan juga tidak secepat dan sejauh itu.</p>
<p>Dengan lompatan mundur itu, maka sekarang jarak Kiau Hong dengan Coan Koan-jing sudah tinggal tiada satu meter jauhnya. Tanpa putar tubuh lagi terus saja tangan kirinya menangkap ke belakang dan tangan kanan bergerak mencengkeram dari jauh, gerakan ini tepat mengenai &#8220;Tiong-ting-hiat&#8221; dan &#8220;Kiu-bwe-hiat&#8221; di dada sasarannya.</p>
<p>Ilmu silat Coan Koan-jing sebenarnya tergolong kelas satu di antara jago-jago Kay-pang, hanya selisih sedikit saja daripada Kay-pang-su-lo. Tapi cukup sejurus saja, sampai berkelit pun tidak sempat dan tahu-tahu sudah kena dipegang oleh sang pangcu.</p>
<p>Ketika Kiau Hong kerahkan tenaga dalam hingga menyalur ke tubuh Coan Koan-jing melalui kedua hiat-to yang tercengkeram, dari urat nadi itu tenaga dalam menyalur ke Tiong-wi-hiat dan Yang-tay-hiat di dengkul Koan-jing. Seketika Coan Koan-jing merasa dengkul menjadi lemas dan tanpa terasa terus berlutut.</p>
<p>Melihat Coan Koan-jing tekuk lutut, keruan anggota Kay-pang yang lain sama terkejut dan khawatir tanpa berdaya.</p>
<p>Kiranya Kiau Hong darat melihat gelagat, ia tahu terjadinya kerusuhan biang keladinya tak-lain-tak-bukan adalah Coan Koan-jing. Kalau orang ini tidak segera dibekuk tentu akan membawa bencana yang tak terduga. Terutama bila di antara anggota Kay-pang terjadi pertempuran sendiri, pasti akan sangat melemahkan kekuatan organisasi yang sudah terpupuk selama seratus tahun ini.</p>
<p>Apalagi di antara anggota Kay-pang yang hadir ini, kecuali beberapa puluh orang dari Tay-gi-hun-tho, selebihnya boleh dibilang sudah dipengaruhi oleh hasutan Coan Koan-jing. Lebih-lebih kalau Kay-pang-su-lo juga berdiri di pihak lawan, pasti dirinya sukar melawan mereka.</p>
<p>Sebab itu, maka ia pura-pura bertanya-jawab dengan Kay-pang-su-lo, dan pada waktu Coan Koan-jing tidak menyangka, mendadak ia melompat mundur dan dapat membekuknya.</p>
<p>Beberapa kali lompatan dan sergapan Kiau Hong itu tampaknya sepele saja, tapi sebenarnya sudah memakan seluruh intisari kepandaiannya.</p>
<p>Bila cengkeramannya ke belakang tadi sedikit meleset, walaupun Coan Koan-jing dapat dibekuknya juga, tapi tenaga dalamnya akan sukar menyalur ke tubuh orang untuk menyerang hiat-to di dengkul kaki dan membuatnya berlutut, maka akibatnya tentu kawan-kawan sekomplotannya akan menerjang maju untuk menolongnya hingga suatu pertarungan sengit pasti sukar terhindarkan.</p>
<p>Tapi sekarang Coan Koan-jing telah dipaksa berlutut, bagi kawan-kawannya tentu akan menyangka Coan Koan-jing telah mendahului menyerah dan mengaku salah. Dengan sendirinya para begundalnya tiada yang berani berkutik lagi.</p>
<p>Begitulah kemudian Kiau Hong baru berputar tubuh dan menepuk perlahan pundak Coan Koan-jing sambil berkata, &#8220;Tidak perlu berlutut. Jika kau sudah sadar akan kesalahanmu, tentang dosamu yang masih harus diperiksa ini biarlah nanti dibicarakan lebih jauh.&#8221;</p>
<p>Sambil berkata, perlahan sikutnya bekerja pula hingga hiat-to bisu di tubuh Coan Koan-jing kena ditutuknya.</p>
<p>Hendaklah diketahui bahwa Coan Koan-jing adalah seorang yang pandai bicara dan pintar berdebat. Bila dia diberi kesempatan membuka suara bukan mustahil anggota Kay-pang yang lain akan mudah terpengaruh oleh provokasinya. Maka terpaksa Kiau Hong bertindak secara licik, yaitu membekuk Coan Koan-jing lebih dulu, dengan dibekuknya biang keladi mereka, terpaksa komplotan yang siap memberontak itu tak berani berkutik.</p>
<p>Dan sesudah dapat membekuk Coan Koan-jing serta membuatnya berlutut dengan menunduk kemudian Kiau Hong berseru pula kepada Thio Coan-siang, &#8220;Hendaknya tunjukkan tempatnya, bawalah Tay-gi-thocu pergi mengundang Thoan-kong dan Cit-hoat Tianglo ke sini. Kau harus tunduk pada perintah dengan baik, supaya dapat mengurangi dosamu. Kawan-kawan yang lain harap duduk menunggu di sini, dilarang sembarangan bergerak.&#8221;</p>
<p>Dengan takut-takut girang, berulang Thio Coan-siang mengiakan perintah sang pangcu.</p>
<p>Cio Ci-tong, itu Thocu dari Tay-gi-hun-tho, tidak ikut serta dalam komplotan pemberontakan, maka ia menjadi sangat gusar demi mendengar Coan Koan-jing dan begundalnya merencanakan pengkhianatan itu. Saking gusarnya seketika ia tidak sanggup ikut bersuara. Baru sesudah mendengar perintah Kiau Hong agar menyertai Thio Coan-siang pergi mengundang Thoan-kong dan Cit-hoat Tianglo, dapatlah ia tenangkan pikirannya yang bergolak tadi. Katanya segera kepada anak buahnya yang berjumlah 20-an orang itu, &#8220;Sungguh celaka bahwa dalam perkumpulan kita terjadi kerusuhan, maka tibalah saatnya bagi kita harus curahkan sepenuh tenaga kita untuk membalas budi kebaikan Pangcu. Kita harus taat kepada perintah Pangcu, jangan lengah!&#8221;</p>
<p>Sebabnya ia memberi perintah begitu adalah khawatir bahwa Su-tay-tianglo juga ikut melawan pangcu, seorang diri tentu sang pangcu sulit melawan orang banyak. Meski orang Tay-gi-hun-tho terlalu sedikit dibanding pihak yang memberontak, tapi paling tidak sudah lebih baik daripada tiada pengikut sama sekali.</p>
<p>Di luar dugaan Kiau Hong berkata, &#8220;Tidak, Cio-thocu, bawalah bersama anak buah bagianmu itu, menolong para tianglo lebih penting, jangan terlambat.&#8221;</p>
<p>Cio Ci-tong tidak berani membantah, terpaksa mengia. Katanya pula, &#8220;Harap Pangcu bertindak secara hati-hati, selekasnya kami pasti akan kembali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Para saudara yang hadir di sini adalah kawan-kawan sehidup-semati yang tidak perlu disangsikan lagi, biarpun untuk sementara mungkin mereka salah pikir, namun mereka pasti akan dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Engkau tidak usah khawatir, pergilah!&#8221; sahut Kiau Hong dengan tersenyum.</p>
<p>Meskipun Kiau Hong bicara dengan sikap tenang dan sewajarnya, tapi dalam batin sebenarnya sangat terguncang. Ia saksikan keberangkatan Cio Ci-tong bersama anak buahnya. Di tengah rimba kini selain Toan Ki, Ong Giok-yan, A Cu dan A Pik berempat, selebihnya kira-kira dua ratusan orang semuanya tersangkut di dalam kerusuhan ini, asal ada di antaranya memberi hasutan dan memberi perintah, tentu akan terjadi serbuan serentak dan susah dilayani. Kiau Hong coba memandang sekitarnya, ia lihat macam-macam sikap para pengemis itu, ada yang kikuk, ada yang berlagak tenang, dan ada yang khawatir, tapi ada juga yang petantang-petenteng.</p>
<p>Dua ratusan orang di situ semuanya terdiam, tiada seorang pun yang berani membuka suara. Tapi sekali ada yang bicara, pasti kerusuhan akan terjadi. Pikir Kiau Hong, &#8220;Dalam keadaan demikian, paling baik kalau suasana tetap dalam keadaan tenang. Kalau dapat pokok persoalan dikesampingkan dulu, baru sebentar Thoan-kong Tianglo dan lain-lain sudah datang, urusan tentu akan menjadi mudah diselesaikan.&#8221;</p>
<p>Sekilas terlihat olehnya Toan Ki berdiri di sampingnya, maka katanya segera, &#8220;Para saudara, hari ini aku sangat gembira karena baru saja dapat berkenalan dengan seorang sobat baru. Karena kami berdua cocok satu-sama-lain, maka aku sudah mengangkat saudara dengan adik Toan Ki ini. Nah, Toan-hiante, marilah kuperkenalkan kepada tokoh-tokoh utama di dalam Kay-pang kami.&#8221;</p>
<p>Lalu ia gandeng tangan Toan Ki dan mendekati kakek beruban dan bersenjatakan gada bergigi kait itu, katanya, &#8220;Beliau adalah Song-tianglo, usianya sudah lanjut dan namanya dihormati. Beliau adalah tetua yang dipuja di dalam perkumpulan kami. Senjatanya yang istimewa ini dahulu pernah malang melintang di Kangouw, tatkala itu Toan-hiante sendiri mungkin belum lahir.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, kiranya Song-tianglo, sudah lama kukagum, sungguh beruntung hari ini bisa bertemu,&#8221; demikian Toan Ki memberi hormat.</p>
<p>Terpaksa dan dengan kaku Song-tianglo membalas hormat juga.</p>
<p>Kemudian Kiau Hong memperkenalkan si kakek pendek gemuk dan bersenjata tongkat baja itu kepada Toan Ki. Katanya, &#8220;Dia Ge-tianglo, ahli gwakang terkemuka dalam perkumpulan kita. Belasan tahun dulu kakak angkatmu ini sering belajar ilmu silat padanya. Terhadap diriku Ge-tianglo boleh dikata ya guru ya kawan, hubungan kami tak dapat diartikecilkan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, tadi aku sudah menyaksikan Ge-tianglo menempur kedua orang, ilmu silatnya memang benar luar biasa, sungguh sangat mengagumkan,&#8221; ujar Toan Ki.</p>
<p>Watak Ge-tianglo itu sangat jujur dan tulus, mendengar Kiau Hong toh tidak pernah melupakan hubungan baik di masa lampau, terutama mengungkap bahwa dirinya pernah memberi petunjuk ilmu silat, mau tak mau Ge-tianglo merasa lega dan malu hati pula, ia yakin Kiau Hong pasti takkan mengusut terlalu keras tentang ikut sertanya dalam komplotan kerusuhan ini, sebaliknya dirinya secara sembrono telah kena dihasut oleh Coan Koan-jing, hal ini benar-benar sangat tercela.</p>
<p>Dan sesudah Kiau Hong memperkenalkan Tan-tianglo yang bersenjatakan karung goni itu kepada Toan Ki, selagi hendak mengenalkan Go-tianglo yang bermuka merah dan bersenjatakan kui-thau-to itu, tiba-tiba didengarnya suara tindakan orang yang ramai dari arah timur laut sana. Menyusul terdengar suara berisik orang banyak yang berkata, &#8220;Bagaimana keadaan Pangcu. Di mana pengkhianatnya?&#8221; &#8211; &#8220;Kita telah tertipu dan sebal karena dikurung mereka.&#8221;</p>
<p>Begitulah suara berisik itu. Kiau Hong menjadi girang. Tapi ia tidak ingin mengurangi penghormatannya kepada Go-tianglo hingga menimbulkan dendam, maka ia tetap memperkenalkan juga kedudukan dan nama baik Go-tianglo kepada Toan Ki.</p>
<p>Ketika ia berpaling, ia lihat Thoan-kong Tianglo, Cit-hoat Tianglo, para thocu dari Tay-jin-hun-tho dan lain-lain sudah datang semua. Dalam hati mereka sebenarnya banyak yang hendak mereka katakan, tapi di hadapan sang pangcu mereka pun tidak berani sembarangan membuka suara.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa Kay-pang adalah suatu organisasi terbesar di dalam Bu-lim dengan tata tertib organisasi yang sangat ketat. Pada umumnya anggota-anggota Kay-pang sangat patuh pada disiplin.</p>
<p>Begitulah maka Kiau Hong lantas berkata sesudah hadirnya para tianglo dan thocu itu, &#8220;Silakan para saudara suka duduk, aku ingin bicara.&#8221;</p>
<p>Beramai-ramai semua orang mengia, lalu mengambil tempat duduk masing-masing menurut urutan-urutan tingkat, tugas dan usia, ada yang menghadap ke kanan, ada yang ke kiri, ke depan, atau ke belakang. Tapi semuanya duduk dengan anteng.</p>
<p>Dalam pandangan Toan Ki, cara duduk pengemis-pengemis itu rada kacau dan tak keruan, tapi sebenarnya mereka sangat teratur, sedikit pun tidak bingung.</p>
<p>Melihat para anak buah menaati perintahnya dengan baik, diam-diam Kiau Hong sudah merasa lega lebih dulu.</p>
<p>Lalu dengan tersenyum Kiau Hong mulai bicara, &#8220;Berkat penghargaan kawan-kawan Kangouw, maka Kay-pang kita selama ratusan tahun ini dapat disebut sebagai pang-hwe terbesar di dalam Bu-lim. Dan karena sudah disebut sebagai yang &#8216;terbesar&#8217;, karena anggota kita terlalu banyak, pendapat tiap-tiap orang tidak selalu sama, hal ini pun dengan sendirinya susah dihindarkan. Tapi asal diberi pengertian, ada persoalan, marilah bermusyawarah, maka selamanya kita akan tetap bersatu dalam persaudaraan yang saling sayang-menyayangi. Terhadap setiap perbedaan paham dan perselisihan pendapat, kita pun tidak perlu pandang sebagai sesuatu yang luar biasa.&#8221;</p>
<p>Pada waktu bicara, wajah Kiau Hong tetap tenang-tenang dan ramah tamah, maka setelah mendengar uraiannya, suasana yang tadinya agak tegang itu mulai mereda.</p>
<p>&#8220;Numpang tanya kepada Song, Ge, Go, dan Tan-tianglo, kalian telah mengurung kami dalam perahu di tengah Thay-oh, apakah artinya itu?&#8221; demikian tiba-tiba seorang pengemis tua bermuka kuning dan duduk di sisi Kiau Hong menegur sambil berbangkit.</p>
<p>Kiranya dia ini Cit-hoat Tianglo, tertua yang memegang tata tertib organisasi, she Pek bernama Si-kia. Orangnya jujur dan keras, tidak pandang bulu kepada siapa pun juga. Sekalipun tidak berdosa, anggota Kay-pang juga jeri padanya. Sebabnya disiplin Kay-pang begitu baik, jasa Pek Si-kia boleh dikatakan sangat besar.</p>
<p>Di antara Su-tay-tianglo, usia Song-tianglo paling tua, sebab itulah ia merupakan simbol dari empat serangkai itu. Maka wajahnya menjadi merah oleh teguran Pek Si-kia, ia berdehem sekali, lalu menjawab, &#8220;Tentang itu &#8230; itu, kita &#8230; kita adalah saudara sehidup-semati, dengan sendirinya tiada maksud jahat, maka &#8230; maka harap mengingat diriku ini, hendaklah &#8230; Pek-cit-hoat suka memaafkan.&#8221;</p>
<p>Mendengar itu, semua anggota merasa Song-tianglo ini benar-benar sudah pikun. Masakah urusan membangkang kepada pangcu dapat dianggap sepele dan cukup dengan minta maaf begitu saja lalu urusan menjadi selesai?</p>
<p>Maka Pek Si-kia berkata pula, &#8220;Song-tianglo bilang tiada maksud jahat, kenyataannya tidaklah demikian. Aku dan Pui-thocu telah dikurung bersama di dalam sebuah perahu, perahu ini berlabuh di tengah telaga Thay-oh dan di atas perahu itu penuh tertumpuk kayu dan bahan bakar lain, katanya kalau kami berani melarikan diri, perahu itu segera akan dibakar. Nah, Song-tianglo, cara demikian itu apakah bukan maksud jahat?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hal ini me &#8230; memang benar agak &#8230; agak keterlaluan,&#8221; sahut Song-tianglo dengan tergegap-gegap. &#8220;Kita adalah saudara sendiri, mana boleh berlaku sekasar itu? Kelak bila saling bertemu, bukankah akan merasa tidak enak?&#8221;</p>
<p>Kata-katanya yang terakhir itu jelas ditujukan kepada Tan-tianglo.</p>
<p>&#8220;Dan kau,&#8221; mendadak Pek Si-kia menuding salah seorang pengemis di sebelah sana. &#8220;Kau telah menipu kami ke atas perahu itu, katanya Pangcu mengundang kami. Kau memalsukan perintah Pangcu, apa hukumanmu?&#8221;</p>
<p>Laki-laki itu menjadi ketakutan hingga bergemetaran, sahutnya dengan terputus-putus, &#8220;Kedudukan Tecu sangat &#8230; sangat rendah, mana Tecu berani melakukan perbuatan durhaka? Soalnya karena &#8230; karena &#8230;.&#8221;</p>
<p>Berkata sampai di sini, sinar matanya beralih ke arah Coan Koan-jing seakan-akan hendak bilang Coan-thocu yang memerintahkan agar menipu kalian ke atas perahu itu.</p>
<p>Pek Si-kia lantas menegas, &#8220;Apakah Coan-thocu yang memberi perintah begitu padamu?&#8221;</p>
<p>Laki-laki itu hanya menunduk saja tanpa berkata, tidak mengiakan juga tidak membantah.</p>
<p>&#8220;Kau diperintahkan Coan-thocu agar memalsukan titah Pangcu untuk menipu kami ke atas perahu itu, tatkala itu kau tahu tidak bahwa titah itu palsu?&#8221; tanya Pek Si-kia pula.</p>
<p>Seketika wajah laki-laki itu pucat pasi dan tidak berani bersuara.</p>
<p>&#8220;Hm, Li Sam-jun,&#8221; jenguk Pek Si-kia, &#8220;biasanya kau adalah seorang laki-laki, berani berbuat berani bertanggung jawab. Kini kenapa menjadi pengecut dan tidak berani mengaku salah?&#8221;</p>
<p>Mendadak Li Sam-jun membusungkan dada dan melangkah maju, serunya dengan lantang, &#8220;Ucapan Pek-tianglo memang tepat. Aku Li Sam-jun telah berbuat salah, apakah akan dibunuh atau digantung terserah keputusanmu, kalau orang she Li ini berkerut kening sedikit saja bukan laki-laki sejati. Tatkala kusampaikan perintah palsu Pangcu kepadamu, waktu itu aku sendiri tahu kalau itu perintah palsu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebenarnya Pangcu kurang baik padamu atau aku yang bersalah padamu?&#8221; tanya Pek Si-kia.</p>
<p>&#8220;Tidak semua,&#8221; sahut Li Sam-jun. &#8220;Terhadap Siokhe (hamba), Pangcu selalu sangat berbudi, begitu pula Pek-tianglo sangat adil dan jujur, siapa pun tiada yang mengomel.&#8221;</p>
<p>&#8220;Habis, disebabkan apa? Urusan apa yang menyebabkan kau berkhianat?&#8221; bentak Pek-tianglo dengan bengis.</p>
<p>Li Sam-jun pandang sekejap pada Coan Koan-jing yang berlutut itu, lalu memandang pula ke arah Kiau Hong, kemudian katanya dengan suara keras, &#8220;Siokhe telah melanggar pang-kui (tata tertib organisasi), ganjaran yang setimpal adalah mati, tapi tentang sebab musababnya, Siokhe tidak berani menerangkan.&#8221;</p>
<p>Habis berkata sekali tangannya bergerak, sinar putih berkelebat, &#8220;bles&#8221;, tahu-tahu sebilah belati telah menancap hulu hatinya.</p>
<p>Tikaman sendiri itu sangat cepat, pula tepat mengenai jantung, ujung belati sampai menembus ke punggung, keruan Li Sam-jun terjungkal seketika dan binasa.</p>
<p>Dalam kagetnya para pengemis yang lain sama menjerit, tapi semuanya tetap duduk di tempat masing-masing, tiada seorang pun berani bergerak.</p>
<p>Dengan wajah yang kereng Pek Si-kia berkata pula, &#8220;Kau tahu perintah Pangcu itu palsu, tapi tidak melapor pada Pangcu, bahkan menipu aku, hukumanmu memang seharusnya mati.&#8221;</p>
<p>Lalu ia berpaling pada Thoan-kong Tianglo dan berkata, &#8220;Hang-heng, siapa pula orang yang menipumu ke atas perahu?&#8221;</p>
<p>Belum lagi Hang-tianglo menjawab, sekonyong-konyong seorang melompat pergi dari rombongan sana dan berlari sekencang-kencangnya. Orang ini menyandang lima kantong, terang dia adalah Go-te-tecu. Melihat larinya itu, jelas dia inilah orang yang menyampaikan perintah palsu untuk menipu Hang-tianglo ke atas perahu itu.</p>
<p>Thoan-kong dan Cit-hoat Tianglo saling pandang dengan menghela napas gegetun, keduanya tidak bicara lagi.</p>
<p>Dalam pada itu tiba-tiba sesosok bayangan orang melesat dengan cepat sekali dan tahu-tahu sudah mengadang di depan Go-te-tecu yang hendak melarikan diri itu.</p>
<p>Pengadang itu ternyata bermuka merah dan bergolok kui-thau-to, ialah Go-tianglo di antara Kay-pang-su-lo itu.</p>
<p>Terdengar kakek itu membentak dengan bengis, &#8220;Lau Tiok-ceng, mengapa kau hendak melarikan diri?&#8221;</p>
<p>Melihat dirinya diadang Go-tianglo, saking ketakutan Go-te-tecu yang dipanggil sebagai Lau Tiok-ceng itu sampai lemas kakinya, sahutnya dengan tak lancar, &#8220;Aku &#8230; aku &#8230;.&#8221;</p>
<p>Begitulah hampir sepuluh kali ia mengucapkan &#8220;aku&#8221; dan tidak sanggup meneruskan lagi.</p>
<p>&#8220;Sebagai anggota Kay-pang, kita harus taat kepada tata tertib yang kita warisi dari leluhur. Seorang laki-laki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab. Kalau salah berani mengaku salah kalau benar, apa lagi yang mesti ditakutkan?&#8221;</p>
<p>Demikian seru Go-tianglo. Lalu ia berpaling ke arah Kiau Hong dan meneruskan, &#8220;Pangcu, kami memang berkomplotan hendak menggulingkan kedudukanmu sebagai pangcu. Dalam komplotan ini, Ge, Tan, Song dan Go keempat tianglo semuanya tersangkut. Kami khawatir Thoan-kong dan Cit-hoat Tianglo tidak setuju dengan rencana kami, maka berdaya mengurungnya. Hal ini demi untuk perkembangan Kay-pang kita di hari depan terpaksa mesti berani mengambil risiko. Tapi pergerakan kami rupanya kurang mujur hingga dapat dibongkar oleh kalian. Nah, terserahlah bagaimana kalian akan mengambil keputusan. Aku Go Tiang-hong sudah lebih 30 tahun menjadi anggota Kay-pang, siapa pun tahu aku bukan manusia yang takut mati.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, golok kui-thau-to mendadak dilemparkannya jauh-jauh, lalu kedua tangannya bersedekap di depan dada, sikapnya angkuh dan pantang takut.</p>
<p>Dengan terus terang Go-tianglo mengatakan komplotan hendak menggulingkan sang pangcu, keruan seketika gegerlah anggota Kay-pang yang lain. Sudah tentu rencana itu diketahui siapa pun yang ikut dalam komplotan itu, tapi justru untuk mengaku terus terang itulah tiada yang berani. Kini Go Tiang-hong orang pertama yang berani mengaku terus terang, mau tak mau semua orang harus mengagumi kejujuran dan keberaniannya.</p>
<p>&#8220;Song, Ge, Tan dan Go berempat tianglo berkomplot hendak menggulingkan Pangcu, perbuatan ini melanggar pasal satu undang-undang organisasi kita,&#8221; demikian Pek Si-kia, tertua pelaksana hukum, menyatakan keputusannya, &#8220;Cit-hoat-tecu (murid pelaksana hukum), ringkuslah keempat tianglo!&#8221;</p>
<p>Segera anak buahnya yang menerima perintah itu mengeluarkan tali kulit kerbau, lebih dulu Go Tiang-hong diringkus, tertua itu hanya tersenyum saja dan membiarkan dirinya diikat tanpa melawan sedikit pun. Menyusul Song-tianglo dan Go-tianglo juga meletakkan senjata dan menyerah untuk diringkus.</p>
<p>Hanya wajah Tan-tianglo yang kelihatan penasaran, ia mengomel sendiri, &#8220;Pengecut, pengecut semua! Kalau tadi kita serbu serentak, belum tentu kita dikalahkan, tapi justru setiap orang jeri kepada Kiau Hong.&#8221;</p>
<p>Apa yang dikatakan memang benar, ketika Coan Koan-jing ditundukkan, bila anggota yang ikut berkomplot itu serentak menyerbu maju, betapa pun Kiau Hong pasti susah melawannya. Malahan kemudian dengan datangnya Thoan-kong Tianglo, Cit-hoat Tianglo dan para thocu dari Tay-jin, Tay-gi, Tay-sin dan Tay-yong, tetap jumlah pengikut komplotan jauh lebih banyak.</p>
<p>Akan tetapi di hadapan Kiau Hong yang gagah perkasa dan berwibawa itu, ternyata tiada seorang pun berani mendahului turun tangan sehingga kesempatan baik berlalu dengan sia-sia, akhirnya satu per satu kena diringkus malah.</p>
<p>Sekarang biarpun Tan-tianglo bertekad bertempur mati-matian, namun ia sudah terpencil seorang diri. Maka dengan menghela napas ia lempar karung goninya dan membiarkan kaki dan tangannya diikat dengan tali oleh anak buah Cit-hoat Tianglo.</p>
<p>&#8220;Lau Tiok-ceng,&#8221; seru Cit-hoat Tianglo kemudian, &#8220;cara tindak tandukmu seperti ini apakah kau masih ada harganya untuk menjadi anggota Kay-pang? Kau akan membereskan diri sendiri atau perlu bantuan orang lain?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku &#8230; aku &#8230;.&#8221; sahut Lau Tiok-ceng dengan tergegap dan tak dapat melanjutkan lagi, ia melolos golok dan bermaksud menggorok leher sendiri, tapi tangannya terlalu gemetar hingga tidak kuat mengangkat goloknya.</p>
<p>&#8220;Huh, tak becus seperti ini juga mengaku sebagai anggota Kay-pang,&#8221; jengek salah seorang anak buah Cit-hoat-tecu tadi. Segera ia bantu memegang tangan Lau Tiok-ceng yang bersenjata itu, lalu menggorok sekuatnya untuk memutuskan lehernya.</p>
<p>&#8220;Te &#8230; terima kasih &#8230;.&#8221; kata Lau Tiok-ceng dengan terputus-putus, lalu melayanglah jiwanya.</p>
<p>Kiranya menurut peraturan Kay-pang, setiap anggota yang berdosa dan harus dihukum mati, kalau pelaksanaan itu dilakukan dengan tangan sendiri, maka dia masih tetap dianggap sebagai saudara dalam Kay-pang dan dengan matinya itu berarti dosanya sudah tercuci bersih. Tapi kalau dilakukan oleh Cit-hoat-tecu, itu berarti dosanya tidak pernah diampuni selamanya.</p>
<p>Tadi Cit-hoat-tecu itu melihat Lau Tiok-ceng bermaksud membunuh diri, tapi tenaga kurang, maka telah membantu melaksanakan keinginannya itu.</p>
<p>Begitulah Toan Ki, Ong Giok-yan, A Cu dan A Pik berempat tanpa sengaja telah menyaksikan kerusuhan di dalam Kay-pang, diam-diam mereka merasa menyesal telah ikut-ikut mendengar dan melihat urusan dalam orang lain yang mestinya tidak boleh diketahui orang luar.</p>
<p>Tapi kalau mereka pergi begitu saja, tentu akan menimbulkan curiga orang-orang Kay-pang. Terpaksa mereka tetap duduk tenang di tempatnya dengan lagak seakan-akan tidak ambil pusing apa yang terjadi itu. Namun bukan mustahil dengan binasanya Lau Tiok-ceng dan Li Sam-jun serta diringkusnya Su-tay-tianglo yang tadinya tampak gagah perkasa itu, mungkin banyak kejadian mengerikan masih akan berlangsung pula.</p>
<p>Maka mereka berempat cuma saling pandang saja, mereka merasa serbasalah menghadapi keadaan begitu. Toan Ki sendiri adalah saudara angkat Kiau Hong, sedangkan waktu Hong Po-ok keracunan, Kiau Hong telah memintakan obat baginya. Hal ini membuat Ong Giok-yan, A Cu dan A Pik merasa sangat berterima kasih padanya. Kini melihat Kiau Hong dapat memulihkan kerusuhan di dalam Kay-pang dan berhasil meringkus biang keladi komplotan pengkhianat, sudah tentu mereka ikut bersyukur bagi Kiau Hong.</p>
<p>Dalam pada itu Kiau Hong sendiri lagi duduk dengan termangu-mangu di samping sana, meski anggota yang berkhianat satu per satu telah dapat diringkus, tapi sedikit pun ia tidak merasa senang sebagai pihak yang menang.</p>
<p>Terkenang olehnya waktu dia menerima jabatan pangcu dari Ong-pangcu almarhum yang berbudi itu, selama delapan tahun memegang pimpinan, sudah banyak peristiwa ke luar maupun ke dalam yang telah diselesaikan dengan baik, sedikit pun tidak pernah memikirkan kepentingan diri pribadi hingga Kay-pang selama di bawah pimpinannya bertambah jaya dan makin disegani oleh sesama kawan Kangouw.</p>
<p>Berdasarkan itu, dirinya boleh dikatakan banyak jasanya dan tidak merasa pernah berbuat sesuatu kesalahan, mengapa sekarang mendadak ada komplotan seluas ini hendak menggulingkan dirinya? Kalau melulu Coan Koan-jing yang bernafsu besar hendak menghancurkan Kay-pang, mengapa Su-tay-tianglo yang dapat dipercaya itu juga ikut dalam komplotan ini? Apa barangkali tanpa sengaja dan tanpa sadar dirinya telah berbuat sesuatu kesalahan yang menimbulkan kemarahan para kawan?</p>
<p>Sementara itu terdengar Pek Si-kia mulai berkata lagi dengan lantang, &#8220;Para saudara, Kiau-pangcu diangkat sebagai pengganti Ong-pangcu almarhum, selama ini beliau menjalankan tugas dengan baik hingga Kay-pang kita mendapat kemajuan yang tidak sedikit, waktu ditunjuk sebagai pengganti pangcu, dahulu Ong-pangcu telah banyak mengujinya lebih dulu dengan soal-soal sulit. Di antaranya ada tiga syarat berat serta mengharuskan dia melaksanakan tujuh macam pahala besar bagi Kay-pang habis itu barulah mewariskan Pak-kau-pang (pentung penggebuk anjing) padanya.</p>
<p>&#8220;Dahulu waktu diadakan Thay-san-tay-hwe (pertemuan besar di Thay-san), seorang diri Kiau-pangcu telah menjatuhkan delapan lawan tangguh, banyak kawan-kawan yang hadir di sini ikut menyaksikan kejadian itu. Selama delapan tahun ini Kiau-pangcu selalu bertindak adil dan berbudi, nama baik Kay-pang kita pun semakin membubung tinggi, untuk mana seharusnya kita berterima kasih dan mencintainya dengan sepenuh jiwa raga kita, tapi kini ternyata ada orang yang hendak berkhianat. Nah, Coan Koan-jing, boleh coba kau bicara sendiri di hadapan para kawan!&#8221;</p>
<p>Karena Coan Koan-jing ditutuk bisu oleh Kiau Hong, maka apa yang dikatakan Pek-tianglo itu dapat didengar dengan jelas, susahnya ia sendiri tak dapat membuka suara untuk menjawabnya.</p>
<p>Maka Kiau Hong mendekatinya dan menepuk perlahan punggung Coan Koan-jing untuk membuka hiat-to yang ditutuknya itu, katanya, &#8220;Coan-thocu, aku Kiau Hong pernah berbuat sesuatu dosa apa kepada para saudara, silakan bicara terus terang di sini, tidak perlu takut dan tidak perlu pantang bicara.&#8221;</p>
<p>Karena hiat-to telah lancar kembali, segera Coan Koan-jing melompat bangun dan berseru, &#8220;Dosamu kepada para saudara belum kau lakukan sekarang, tapi tidak lama lagi tentu akan kau jalankan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ngaco-belo!&#8221; bentak Cit-hoat Tianglo Pek Si-kia. &#8220;Pribadi Kiau-pangcu cukup kesatria dan berjiwa besar, sebelum ini tiada sesuatu kejahatan yang dilakukannya, untuk selanjutnya juga takkan diperbuatnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pek-tianglo,&#8221; sela Kiau Hong, &#8220;harap sabarlah, biarkan Coan-thocu bertutur sejelasnya dari awal sampai akhir duduk perkara. Jika Song-tianglo dan Ge-tianglo berempat juga menyalahkan diriku, mungkin aku pernah berbuat sesuatu kesalahan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku memberontak padamu adalah salahku,&#8221; seru Ge-tianglo mendadak, &#8220;maka tidak perlu kau singgung lagi. Sebentar sesudah urusan selesai aku sendiri akan penggal kepalaku ini untukmu.&#8221;</p>
<p>Walaupun ucapan Ge-tianglo itu kedengarannya rada lucu namun perasaan setiap orang sedang dirundung kepedihan karena adanya perpecahan di dalam organisasi, maka tiada seorang pun yang merasa geli.</p>
<p>Terdengar Pek-tianglo membenarkan ucapan Kiau Hong tadi, sahutnya, &#8220;Baiklah. Nah, uraikanlah, Coan Koan-jing.&#8221;</p>
<p>Melihat komplotannya telah gagal, sekutunya seperti Song-tianglo berempat telah diringkus, terang usahanya akan sia-sia belaka. Namun ia masih ingin menempuh jalan terakhir, maka serunya dengan lantang, &#8220;Kematian Be-hupangcu dibunuh orang, kuyakin atas suruhan Kiau Hong!&#8221;</p>
<p>Keruan Kiau Hong terguncang hebat oleh tuduhan itu. &#8220;Apa katamu?&#8221; serunya.</p>
<p>Saking kejutnya sampai suaranya agak parau.</p>
<p>&#8220;Sebab apa engkau diam-diam benci kepada Be-hupangcu dan ingin mengenyahkannya, kalau tidak melenyapkan beliau dirasakan olehmu serupa duri dalam daging, kedudukan pangcu menjadi tidak teguh bagimu,&#8221; demikian kata Coan Koan-jing.</p>
<p>Kiau Hong menggeleng perlahan, katanya, &#8220;Tidak. Hubunganku dengan Be-hupangcu meski tidak begitu rapat, dalam tutur kata juga tidak cocok, tapi selamanya aku tidak pernah punya maksud mencelakai dia. Tuhan sebagai saksi, bila aku Kiau Hong ada niat mencelakai Be-hupangcu, biarlah aku hancur lebur dicencang dan selamanya aku akan dikutuk setiap kesatria di jagat ini.&#8221;</p>
<p>Melihat sikap Kiau Hong yang sungguh-sungguh dan penuh semangat kesatria itu, maka tiada seorang pun yang berprasangka lagi padanya.</p>
<p>Tapi Coan Koan-jing lantas berkata lagi, &#8220;Jika begitu, tujuan kita datang ke Koh-soh sini untuk menuntut balas kepada Buyung-kongcu, mengapa berulang-ulang engkau bersekongkol dengan musuh?&#8221;</p>
<p>Ia tuding Giok-yan bertiga, lalu melanjutkan, &#8220;Ketiga orang ini adalah anak keluarga Buyung Hok dan engkau malah membelanya.&#8221;</p>
<p>Ia tuding Toan Ki pula dan berkata, &#8220;Dan orang ini adalah kawan Buyung Hok, engkau justru mengangkat saudara dengan dia &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan, bukan!&#8221; demikian seru Toan Ki menirukan lagu Pau Put-tong sambil goyang-goyang kedua tangannya. &#8220;Aku bukan kawan Buyung Hok, sedangkan macam apa Buyung Hok itu, apakah dia bundar atau gepeng, sama sekali aku tidak tahu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pau Put-tong, itu orang yang suka &#8216;bukan-bukan&#8217; adalah Cengcu Pek-in-ceng merupakan bawahan Buyung Hok, &#8216;It-tin-hong&#8217; Hong Po-ok juga pengikut Buyung Hok yang mengepalai Jik-sia-ceng,&#8221; demikian Coan Koan-jing berkata pula. &#8220;Kalau mereka tidak tertolong olehmu, sudah sejak tadi yang satu mati keracunan dan yang lain binasa tercencang. Kejadian tadi telah disaksikan orang banyak, dalam hal ini apakah engkau mampu menyangkal?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah ratusan tahun sejarah Kay-pang kita dan selama itu selalu mendapat dukungan dan dihormati sesama orang Kangouw, sebabnya bukan karena menang pengaruh atau menang pintar, tapi karena kita senantiasa berbuat kebajikan, suka membela kaum lemah dan menegakkan keadilan,&#8221; kata Kiau Hong dengan perlahan. &#8220;Coan-thocu, engkau menuduh aku membela ketiga nona itu, memang benar aku telah membela mereka, hal itu disebabkan aku ingin menjaga nama baik Kay-pang yang sudah bersejarah ratusan tahun ini agar tidak sampai ditertawai kawan Kangouw bahwa para Tianglo Kay-pang mengeroyok tiga orang nona lemah. Coba pikirkan, Song, Ge. Tan dan Go berempat tianglo adalah kaum locianpwe yang disegani, masakah nama baik mereka tidak harus dijaga? Mungkin engkau memang tidak, tapi orang lain tak dapat membiarkan nama baik mereka tercemar.&#8221;</p>
<p>Mendengar jawaban Kiau Hong ini, semua orang merasa cukup beralasan juga. Bila beramai-ramai mereka mempersulit ketiga nona seperti Giok-yan dan hal ini tersiar, memang nama baik Kay-pang pasti akan tercemar.</p>
<p>&#8220;Nah, Coan Koan-jing, apa yang dapat kau katakan lagi?&#8221; tanya Pek-tianglo kemudian. Lalu ia berpaling kepada Kiau Hong dan berkata pula, &#8220;Pangcu, manusia yang tidak kenal adat begini, buat apa banyak bicara dengan dia, biarlah jatuhkan hukuman yang setimpal menurut peraturan saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sabar dulu,&#8221; ujar Kiau Hong. &#8220;Menurut dugaanku, sebabnya Coan-thocu dapat memengaruhi orang sebanyak ini untuk melawan diriku, tentu dia mempunyai alasan yang teguh. Seorang laki-laki sejati, segala tindakan harus dilakukan secara blakblakan, kalau salah biar salah, aku Kiau Hong selamanya tidak pernah menyembunyikan sesuatu perbuatan yang tak boleh diketahui orang lain, andaikan ada kesalahanku, biarlah para saudara suka katakan terus terang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pangcu,&#8221; tiba-tiba Go-tianglo menyela dengan menghela napas, &#8220;mungkin engkau adalah seorang durjana besar yang pintar berlagak, boleh jadi engkau adalah seorang kesatria sejati pula. Tapi aku Go Tiang-hong sudah terang tidak dapat membeda-bedakannya. Maka lebih baik lekas kau bunuh diriku saja.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong menjadi heran dan curiga, tanyanya cepat, &#8220;Go-tianglo, mengapa engkau bilang aku mungkin seorang durjana? Hal apakah yang menyebabkan engkau men &#8230; mencurigai aku?&#8221;</p>
<p>Namun Go Tiang-hong menggeleng kepala, sahutnya, &#8220;Kalau diceritakan, urusan ini akan sangat luas sangkutannya, sebenarnya kami ingin membunuhmu agar selesailah urusannya.&#8221;</p>
<p>Keruan Kiau Hong tambah bingung oleh ucapan kakek itu. &#8220;Mengapa? Ada apa?&#8221;</p>
<p>Demikian ia bergumam sendiri. Lalu ia mendongak dan berseru, &#8220;Apakah karena aku telah menolong dua pembantu Buyung Hok, lantas kalian mendakwa aku bersekongkol dengan dia? Soalnya memang begitu atau tidak, saat ini masih sukar diputuskan. Tapi menurut perasaanku, aku tetap yakin tewasnya Be-hupangcu bukan dibunuh oleh Buyung Hok.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dari mana kau tahu?&#8221; tanya Coan Koan-jing.</p>
<p>Pertanyaan ini tadi sudah pernah diajukannya, tapi karena terseling banyak kejadian lain, maka belum terjawab, dan baru sekarang pertanyaannya dapat diulang lagi.</p>
<p>&#8220;Sebab kupikir Buyung Hok adalah seorang kesatria, seorang laki-laki sejati, tidak nanti dia turun tangan membunuh Be-jiko,&#8221; sahut Kiau Hong kemudian.</p>
<p>Mendengar Kiau Hong memuji Buyung Hok, hati Giok-yan merasa senang, diam-diam ia pun pikir Kiau-pangcu ini benar-benar seorang yang baik. Sebaliknya Toan Ki berpikir lain, dengan kening bekernyit ia anggap pujian sang toako ini mungkin tidak benar, belum tentu Buyung Hok itu seorang kesatria apa segala?</p>
<p>Maka terdengarlah Coan Koan-jing berkata pula, &#8220;Selama dua bulan ini, jago-jago Kangouw yang terbunuh berjumlah tidak sedikit, dan setiap orang itu selalu terbinasa di bawah kungfu andalannya sendiri. Hal ini kalau bukan perbuatan Buyung-si dari Koh-soh, lantas perbuatan siapa?&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba Kiau Hong berjalan mondar-mandir perlahan di tengah kalangan sambil bicara dengan suara tenang, &#8220;Saudara-saudara sekalian, kemarin malam ketika aku sedang minum arak di rumah makan Bong-kan-lau di tepi sungai Tiangkang di kota Kang-im, aku bertemu dengan seorang sastrawan setengah umur yang ternyata mampu minum sepuluh mangkuk arak sekaligus tanpa mabuk sedikit pun. Sungguh kuat cara minumnya dan benar-benar seorang lelaki sejati.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Toan Ki tersenyum geli, katanya di dalam hati, &#8220;Kiranya kemarin malam Toako sudah berlomba minum arak dengan orang. Dan karena orang itu sangat kuat minum, cara minumnya sederhana, lantas dia merasa senang serta memuji orang sebagai lelaki sejati, padahal semua orang tidak dapat disamaratakan.&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu Kiau Hong sedang menyambung ceritanya, &#8220;Maka telah kuajak minum tiga mangkuk dengan dia, ketika berbicara tentang tokoh-tokoh di daerah Kanglam, dia menyombongkan diri bahwa tenaga pukulannya nomor satu di daerah Kanglam. Maka lantas kuajak dia bertanding tiga kali pukulan.</p>
<p>&#8220;Pukulan pertama dan kedua dapat dia tangkis dengan sama kuatnya, tapi pukulan ketiga telah membuat mangkuk yang dipegang tangan kirinya pecah tergetar dan remukan beling mangkuk melukai mukanya hingga berdarah.</p>
<p>&#8220;Tapi dengan tenang seperti tidak terjadi apa-apa ia berkata, &#8216;Sayang, sayang semangkuk arak yang bagus ini!&#8217;</p>
<p>&#8220;Aku merasa senang padanya, maka pukulan keempat tidak kulakukan lagi. Kataku, &#8216;Tenaga pukulan saudara memang sangat hebat, sebutan &#8216;Kanglam-te-it&#8217; (nomor satu di Kanglam) memang sesuai.&#8217;</p>
<p>&#8220;Ia menjawab, &#8216;Kanglam-te-it, tapi Thian-he-te-cap (nomor sepuluh di dunia).&#8217;</p>
<p>&#8220;Ujarku, &#8216;Hengtay tidak perlu rendah diri, walaupun bukan nomor satu, tapi nomor lima atau nomor enam di dunia ini pasti jadi.&#8217;</p>
<p>&#8220;Tiba-tiba ia berkata, &#8216;Kiranya Pangcu dari Kay-pang yang tiba, Hang-liong-sip-pat-ciang memang bukan omong kosong, marilah ingin kuhormati engkau satu mangkuk lagi.&#8217;</p>
<p>&#8220;Segera kami minum pula masing-masing tiga mangkuk. Ketika hendak berpisah telah kutanya namanya, ia mengatakan she Kongya, namanya cuma satu, Kian, artinya kering, kalau minum pasti kering isi cawannya. Nama aliasnya ialah &#8216;Lan-cui&#8217; (susah mabuk). Ia mengaku sebagai pengikut Buyung-kongcu dan menjabat sebagai Cengcu Hian-siang-ceng, aku telah diundang ke tempat tinggalnya untuk minum lagi. Nah, coba katakan, saudara-saudara, pribadi laki-laki seperti itu bagaimana menurut pendapat kalian? Pantas diajak bersahabat tidak?&#8221;</p>
<p>Watak Go-tianglo paling jujur dan suka terus terang, maka segera ia acung jempolnya dan berseru, &#8220;Kongya Kian itu benar-benar seorang laki-laki sejati dan sobat baik. Pangcu, kapan-kapan harap engkau suka memperkenalkannya kepadaku.&#8221;</p>
<p>Ia lupa bahwa dirinya adalah orang hukuman yang diringkus dan sebentar lagi mungkin akan mendaftarkan diri kepada raja akhirat. Tapi demi mendengar cerita tentang seorang kesatria, seorang laki-laki sejati, tanpa terasa ia mengutarakan perasaan kagumnya serta ingin berkenalan.</p>
<p>Kiau Hong tersenyum, diam-diam ia merasa gegetun seorang yang polos sebagai Go-tianglo itu ternyata ikut tersangkut di dalam komplotan pengkhianatan ini. Entah bagaimana nasibnya nanti di bawah keputusan Pek-tianglo yang keras dan tidak pandang bulu itu?</p>
<p>&#8220;Kemudian bagaimana, Pangcu?&#8221; tiba-tiba Song-tianglo ikut tanya.</p>
<p>&#8220;Setelah berpisah dengan Kongya Kian, aku terus menuju ke Bu-sik sini,&#8221; tutur Kiau Hong pula. &#8220;Menjelang petang, tiba-tiba kudengar suara pertengkaran dua orang yang berdiri di atas sebuah jembatan kecil. Tatkala itu hari sudah mulai gelap, tapi kedua orang itu masih bertengkar di situ, aku heran dan coba mendekatinya.&#8221;</p>
<br />Posted in Jin Yong, Pendekar Kerajaan Tayli  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toanki.wordpress.com/1816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toanki.wordpress.com/1816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toanki.wordpress.com/1816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toanki.wordpress.com/1816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toanki.wordpress.com/1816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toanki.wordpress.com/1816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toanki.wordpress.com/1816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toanki.wordpress.com/1816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toanki.wordpress.com/1816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toanki.wordpress.com/1816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toanki.wordpress.com/1816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toanki.wordpress.com/1816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toanki.wordpress.com/1816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toanki.wordpress.com/1816/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1816&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-23/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b75e221c0eee4ff517b26695a19675fc?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">Lenghou Tiong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 22</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-22/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-22/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 04:42:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1814</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Ilmu silat Loji dengan sendirinya bukan nomor satu di dunia ini,&#8221; demikian tutur Pau-sam. &#8220;Tapi kalau dia tak sanggup melawan orang dan ingin melarikan diri, kuyakin di jagat ini juga tiada seorang pun mampu menahannya. Apalagi mereka suami-istri gabung bersama, tiada seorang pun yang mereka takuti. Tapi demi keselamatan Buyung-hiante, ia pikir mendatangkan bala bantuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1814&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Ilmu silat Loji dengan sendirinya bukan nomor satu di dunia ini,&#8221; demikian tutur Pau-sam. &#8220;Tapi kalau dia tak sanggup melawan orang dan ingin melarikan diri, kuyakin di jagat ini juga tiada seorang pun mampu menahannya. Apalagi mereka suami-istri gabung bersama, tiada seorang pun yang mereka takuti. Tapi demi keselamatan Buyung-hiante, ia pikir mendatangkan bala bantuan lebih banyak akan lebih baik.&#8221;</p>
<p><span id="more-1814"></span>&#8220;Apa yang dikatakan tujuh golongan dan aliran keempat provinsi itu entah terdiri dari orang-orang macam apa?&#8221; tanya Giok-yan. Terhadap ilmu silat dari berbagai aliran tiada satu pun yang tak dikenalnya. Maka asal ia tahu dari golongan atau aliran mana, untuk menghadapinya menjadi sangat mudah.</p>
<p>Setelah membaca pula surat itu, Pau-sam menjawab, &#8220;Dalam surat Jiko ini tidak diterangkan siapa-siapa ketujuh aliran dan golongan itu. Agaknya dia sendiri tidak tahu, biasanya Jiko sangat cermat setiap tindak tanduknya, kalau tahu tentu dia jelaskan di sini.&#8221;</p>
<p>Habis ini, mendadak ia berpaling kepada Toan Ki dan berkata kepadanya, &#8220;Hai, orang she Toan, sekarang silakan kau pergi saja! Kami hendak berunding urusan pribadi, tidak perlu kau ikut serta. Kami pergi bertanding dengan orang juga tidak perlu kehadiranmu untuk memberi sorakan.&#8221;</p>
<p>Dari tadi Toan Ki memang sedang merasa sangat tawar karena dirinya hanya mendengarkan percakapan mereka tentang Buyung-kongcu hendak bertanding dengan orang. Kini secara terang-terangan Pau-samsiansing menuding pintu pula baginya, keruan ia tambah tersinggung. Meski rasanya sangat berat meninggalkan Giok-yan, namun dia toh tidak dapat tinggal di situ tanpa kenal malu.</p>
<p>Maka dengan keraskan hati segera ia berkata, &#8220;Baiklah, Ong-kohnio, nona-nona A Cu dan A Pik, sekarang juga kumohon diri saja, sampai berjumpa pula.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tengah malam buta engkau hendak pergi ke mana?&#8221; tanya Giok-yan. &#8220;Apalagi jalanan air di sini engkau juga tidak paham, lebih baik engkau tinggal semalam di sini, esok pagi engkau boleh berangkat.&#8221;</p>
<p>Ucapan Giok-yan seperti menahan tamunya agar jangan pergi dulu, tapi Toan Ki dapat menyelami perasaan gadis itu jelas sudah melayang kepada diri Buyung-kongcu. Mau tak mau Toan Ki jadi dongkol dan merasa terhina.</p>
<p>Jelek-jelek dia adalah calon putra mahkota kerajaan Tayli, sejak kecil ia pun biasa disanjung puji, walaupun sejak berkelana di Kangouw telah banyak mengalami penderitaan dan bahaya, tapi belum pernah dipandang rendah sebagai sekarang ini. Maka katanya segera, &#8220;Berangkat sekarang atau besok sama saja, biarlah aku mohon diri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika begitu, akan kusuruh orang mengantar engkau keluar dari danau ini,&#8221; kata A Cu.</p>
<p>Melihat A Cu juga tidak menahannya, Toan Ki tambah kurang senang. Ia semakin iri kepada Buyung-kongcu yang dipuja berlebih-lebihan itu. Maka jawabnya, &#8220;Tidak perlu antar, cukup pinjamkan sebuah perahu, biar aku mendayung sendiri ke mana saja tibanya nanti.&#8221;</p>
<p>&#8220;Engkau kurang paham jalanan air di danau luas itu, mungkin engkau akan kesasar,&#8221; ujar A Pik.</p>
<p>Namun dengan marah-marah Toan Ki lantas menyahut, &#8220;Kalian sudah memperoleh kabar Buyung-kongcu, maka lekas berunding untuk pergi membantunya. Aku tiada punya perjanjian apa-apa dengan jago silat segala, pula bukan Piaute kalian, tidak perlu kalian pikirkan.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, dengan langkah lebar ia lantas bertindak keluar.</p>
<p>A Cu dan A Pik terpaksa mengantar tamunya keluar. Kata A Pik, &#8220;Toan-kongcu, kelak kalau bertemu dengan Kongcu kami, boleh jadi kalian akan menjadi sahabat baik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, mana aku berani mengharapkan,&#8221; sahut Toan Ki dingin.</p>
<p>Mendengar nada perkataan pemuda itu agak marah, A Pik menjadi heran, ia tanya, &#8220;Toan-kongcu, sebab apakah engkau kurang senang? Apakah pelayanan kami ada yang kurang sempurna?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, sifat Pau-samko kami memang begitulah, jika Toan-kongcu merasa tersinggung, harap dimaafkan,&#8221; A Cu ikut berkata.</p>
<p>Toan Ki tidak bicara lagi, cepat ia menuju ke tepi danau dan melompat ke dalam perahu, ia angkat pengayuhnya terus didayung sekuatnya ke tengah danau. Ia merasa dadanya sesak, apa sebabnya, ia sendiri tidak dapat menerangkan. Yang terpikir olehnya adalah selekasnya pergi, kalau tinggal lebih lama di situ, boleh jadi air matanya akan meleleh keluar.</p>
<p>Sudah banyak Toan Ki menderita. Ia pernah dianiaya orang Bu-liang-kiam dan Sin-long-pang, pernah disiksa Lam-hay-gok-sin, pernah dikurung oleh Yan-king Taycu dan pernah diculik Ciumoti dari Hunlam hingga sampai di daerah Koh-soh. Duka derita kesemua itu belum pernah dirasakannya sehebat sekarang ini.</p>
<p>Padahal di dalam Thing-hiang-cing-sik itu tiada seorang pun yang menyinggungnya. Pau-samsiansing walaupun kasar padanya, tapi tidak keterlaluan seperti dia memperlakukan Cu Po-kun dan Yau Pek-tong. Giok-yan juga sudah buka suara minta ia tinggal lagi semalam, A Cu dan A Pik juga mengantarnya keluar dengan ramah tamah. Akan tetapi perasaan Toan Ki justru sangat gundah dan kesal tak terkatakan.</p>
<p>Angin malam meniup sepoi-sepoi di tengah danau dengan harum bunga teratai yang semerbak, Toan Ki mendayung terus dengan perasaan yang tetap kesal. Sungguh ia tidak tahu apa yang ia kesalkan dan kepada siapa ia mesti kuras rasa kesalnya itu.</p>
<p>Dahulu ketika ia dianiaya dan disiksa oleh Lam-hay-gok-sin, Yan-king Taycu dan lain-lain derita waktu itu sangat hebat, tetapi semuanya itu ia hadapi dengan lapang dada.</p>
<p>Tapi sekarang benar-benar luar biasa. Lamat-lamat hati kecilnya merasa kesalnya ini disebabkan ia jatuh cinta kepada Ong Giok-yan, sebaliknya dalam hati si nona ternyata tiada tempat bagi Toan Ki, bahkan dayang-dayang seperti Cu dan A Pik juga pandang sebelah mata padanya.</p>
<p>Padahal sejak kecil Toan Ki sudah disanjung sebagai permata hati oleh ayah-bunda, bahkan raja dan ratu negeri Tayli juga sangat sayang padanya. Malahan musuh sekalipun seperti Lam-hay-gok-sin melihat dia juga lantas kepincut dan ingin mengambilnya sebagai murid. Lebih-lebih gadis jelita seperti Ciong Ling dan Bok Wan-jing, siapa yang tidak jatuh hati padanya?</p>
<p>Tapi hari ini benar-benar untuk pertama kalinya ia dihadapkan pada sikap dingin, meski orang lain cukup menghormat padanya, tapi hormat itu adalah hormat tanpa perhatian.</p>
<p>Terasa olehnya bahwa dalam pandangan orang, kedudukan Buyung-kongcu jauh lebih penting daripadanya. Selama beberapa hari ini, Buyung-kongcu itu seakan-akan menjadi pusat perhatian setiap orang. Siapa saja asal menyebut Buyung-kongcu seketika menimbulkan perhatian setiap orang. Giok-yan, A Cu, A Pik, Ong-hujin, Pau-samsiansing dan orang yang disebut Ting-toaya, Kongya-jiya, Hong-suya segala, semuanya seperti dilahirkan melulu untuk menjunjung Buyung-kongcu.</p>
<p>Selama hidup Toan Ki tidak pernah merasa iri dan cemburu, kini seorang diri berada dalam perahu di tengah danau seluas ini, samar-samar ia seperti melihat bayangan Buyung-kongcu sedang tertawa ejek padanya, &#8220;Toan Ki, wahai Toan Ki. Bukankah engkau ini mirip si cebol merindukan rembulan? Haha, apa engkau tidak merasa malu?&#8221;</p>
<p>Karena kesal hatinya, caranya mendayung menjadi sekuat-kuatnya. Sampai lebih satu jam lamanya, bukannya ia merasa lelah, sebaliknya tenaga dalamnya semakin berkobar dan penuh semangat. Dan karena berkobarnya semangat itu, rasa kesalnya perlahan lenyap juga.</p>
<p>Setelah mendayung pula satu-dua jam lamanya, fajar sudah mulai menyingsing, ufuk timur mulai terang. Ia lihat di sisi utara di balik awan yang tebal itu menjulang tinggi sebuah gunung. Ia coba menaksir kedudukannya waktu itu berada di mana, ia taksir Thing-hiang-cing-sik dan Khim-im-siau-tiok itu berada di arah timur, maka asal perahu itu didayungnya ke utara, dengan sendirinya takkan balik kembali ke tempat semula.</p>
<p>Tapi aneh, setiap ia mendayung sekali, hatinya bertambah berat rasanya, tanpa terasa terkenang olehnya akan diri Giok-yan yang semakin jauh ditinggalkan itu.</p>
<p>Sekitar tengah hari, Toan Ki telah mendayung perahunya sampai di kaki gunung itu. Ia coba mendarat dan tanya penduduk setempat. Kiranya gunung itu bernama Ma-jik-san atau gunung tapak kuda, jaraknya dengan kota Bu-sik sudah tak seberapa jauh lagi.</p>
<p>Ketika di Tayli pernah juga Toan Ki membaca nama Bu-sik itu adalah sebuah kota yang terkenal. Ia pikir toh tiada pekerjaan apa-apa, biarlah pergi ke kota itu saja.</p>
<p>Segera ia kembali ke atas perahu dan mendayung pula ke utara, tiada sejam kemudian, tibalah dia di tepi kota Bu-sik.</p>
<p>Ia tinggalkan perahunya dan masuk ke kota. Ia lihat orang ramai berlalu-lalang di dalam kota, dibandingkan kota Tayli, masing-masing memang mempunyai suasana sendiri-sendiri.</p>
<p>Ia berjalan terus sambil menikmati pemandangan kota. Tiba-tiba ia mengendus bau sedapnya masakan. Sudah setengah harian ia tidak makan, ditambah mendayung perahu selama beberapa jam, ia menjadi sangat lapar. Maka ia kegirangan demi mengendus bau makanan lezat itu.</p>
<p>Cepat ia menuju ke arah bau sedap itu. Setelah membelok sebuah jalan, ia lihat sebuah restoran besar, papan mereknya tertulis tiga huruf &#8220;Siong-ho-loa&#8221; yang sangat besar. Bau sedap masakan itu ternyata tersiar dari restoran ini. Malahan sesudah dekat, terdengarlah suara sibuk pelayan restoran itu sedang melayani tetamunya, hal ini menandakan restoran itu pasti sangat tersohor di kota ini.</p>
<p>Segera Toan Ki masuk dan naik ke atas loteng restoran, pelayan memapaknya dengan sangat hormat serta menyilakannya memilih tempat duduk.</p>
<p>Toan Ki minta disediakan sepoci arak, empat macam makanan. Sambil bersandar di langkan loteng restoran, ia makan minum sendiri. Mendadak hatinya terasa kesepian dan masygul. Tanpa merasa ia menghela napas panjang.</p>
<p>Karena itu, tiba-tiba seorang laki-laki yang duduk di depannya menoleh, sinar matanya yang tajam mengilat itu mengerling dua kali pada Toan Ki.</p>
<p>Waktu Toan Ki balas pandang orang, ia lihat perawakan orang itu sangat gagah, usianya kurang lebih 33-34 tahun, berbaju besar beraut muka lebar. Walaupun wajahnya tidak bisa dikatakan cakap, tapi gagah dan berwibawa.</p>
<p>Diam-diam Toan Ki menanggapi, &#8220;Sungguh seorang yang hebat! Pastilah seorang kesatria pilihan, baik di Kanglam maupun di Tayli pasti sukar mendapatkan kesatria semacam ini.&#8221;</p>
<p>Ia lihat di atas meja laki-laki itu tertaruh senampan daging masak, semangkuk kuah dan sepoci arak, kecuali itu tiada masakan lain, suatu tanda cara makan minum orang itu pun sangat sederhana.</p>
<p>Setelah memandang sekejap-dua-kejap kepada Toan Ki, tampaknya laki-laki itu merasa agak heran, tapi ia pun tidak urus lebih jauh dan berpaling pula ke sana untuk makan minum sendiri.</p>
<p>Toan Ki sedang merasa kesepian, maka bermaksud mencari sahabat. Segera ia panggil pelayan, katanya sambil menunjuk bayangan belakang laki-laki itu, &#8220;Sebentar rekening tuan ini sekalian dihitung ke dalam rekeningku.&#8221;</p>
<p>Rupanya laki-laki gagah itu mendengar ucapan Toan Ki, ia menoleh dan tersenyum serta mengangguk perlahan, tapi tidak berkata apa-apa. Maksud Toan Ki hendak berkenalan untuk menghilangkan kesepian menjadi belum ada kesempatan.</p>
<p>Setelah minum beberapa cawan lagi, Toan Ki mendengar tangga loteng berdetak, dari bawah naik pula dua orang. Seorang yang berjalan di depan sebelah kakinya pincang, maka ia membawa tongkat, tapi jalannya tetap sangat cepat. Orang kedua adalah seorang kakek yang bermuka muram durja seperti kebanyakan utang.</p>
<p>Pakaian kedua orang itu pun berwarna kelabu. Mereka mendekati meja laki-laki tadi dan memberi hormat dengan membungkuk. Laki-laki muda itu cuma manggut-manggut saja tanpa berdiri atau membalas hormat.</p>
<p>Maka berkatalah si pincang dengan hormat, &#8220;Lapor Toako, pihak lawan menentukan tengah malam nanti bertemu di gardu pemandangan di atas Hui-san.&#8221;</p>
<p>&#8220;Malam ini?&#8221; kata laki-laki muda itu sambil mengangguk. &#8220;Apakah tidak terlalu mendesak waktunya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebenarnya kita tetapkan pertemuan dengan mereka tiga hari lagi,&#8221; tutur si kakek. &#8220;Tapi pihak lawan rupanya mengetahui jumlah kita tidak seberapa orang, mereka sengaja berolok-olok, katanya kalau kita tidak berani menepati janji, malam nanti tidak usah datang ke sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah,&#8221; sahut laki-laki muda itu. &#8220;Sekarang juga sampaikan kepada kawan-kawan agar sebelum tengah malam nanti beramai-ramai kita berkumpul di Hui-san. Kita harus tiba di sana lebih dulu untuk menunggu kedatangan pihak lawan.&#8221;</p>
<p>Kedua orang itu mengiakan dan turun lagi ke bawah loteng.</p>
<p>Percakapan ketiga orang itu sebenarnya dilakukan dengan perlahan, tamu lain di atas loteng itu tiada yang dengar. Tapi Lwekang Toan Ki sekarang sudah sangat tinggi, matanya jeli dan telinganya tajam, meski dia tidak sengaja mendengarkan percakapan mereka, namun dengan sendirinya apa yang dibicarakan orang-orang itu terdengar olehnya.</p>
<p>Seperti tidak sengaja tiba-tiba laki-laki itu berpaling ke arah Toan Ki. Melihat pemuda itu sedang termangu-mangu, terang lagi memerhatikan percakapannya mendadak sinar mata laki-laki itu memancar tajam hingga Toan Ki terkejut, tanpa terasa cawan yang dipegang tangan kirinya terjatuh dan terbanting hancur.</p>
<p>&#8220;Ada urusan apakah saudara ini menjadi gugup?&#8221; kata laki-laki itu sambil tersenyum. &#8220;Apa sekiranya sudi pindah ke meja sini, marilah kita minum bersama?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus, bagus sekali!&#8221; sambut Toan Ki dengan gembira. Segera ia minta pelayan memindahkan mangkuk-piringnya ke meja orang itu kemudian ia tanya nama orang.</p>
<p>&#8220;Sudah tahu, mengapa saudara pura-pura tanya?&#8221; demikian jawab laki-laki itu dengan tertawa. &#8220;Kita tidak perlu saling tanya, minumlah beberapa mangkuk, bukankah suatu pertemuan yang menggembirakan? Bila nanti kawan atau lawan sudah menjadi terang tentu takkan gembira seperti ini.&#8221;</p>
<p>Toan Ki rada heran oleh jawaban itu. Dengan tersenyum ia berkata pula, &#8220;Rasanya Hengtay (saudara terhormat) telah salah mengenali orang dan menyangka aku sebagai musuh. Tapi kata-kata &#8216;tidak perlu saling tanya&#8217; menang sangat cocok dengan seleraku. Marilah minum, silakan!&#8221;</p>
<p>Segera ia menuang secawan penuh dan sekali tenggak dihabiskan.</p>
<p>&#8220;Saudara ini ternyata suka bicara secara blakblakan dan tidak mirip seorang Susing (kaum pelajar) yang tengik tingkah lakunya,&#8221; ujar laki-laki itu dengan tersenyum. &#8220;Rupanya boleh juga kekuatan minum saudara, cuma cawanmu itu terlalu kecil!&#8221;</p>
<p>Segera ia berteriak, &#8220;Hai, pelayan, ambilkan dua mangkuk besar dan bawakan 10 kati Ko-liang-ciu.&#8221;</p>
<p>Mendengar laki-laki itu pesan 10 kati arak Ko-liang-ciu yang terkenal keras, keruan Toan Ki dan si pelayan kaget semua.</p>
<p>&#8220;Tuan besar,&#8221; dengan tertawa si pelayan coba tanya, &#8220;sepuluh kati Ko-liang-ciu apakah dapat habis?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kongcuya ini sudah menyatakan akan menanggung pembayaranku, kenapa kau menghemat baginya?&#8221; kata laki-laki itu sambil tunjuk Toan Ki. &#8220;Ayo, lekas ambilkan, kalau 10 kati kurang, sebentar ambilkan lagi 20 kati.&#8221;</p>
<p>Pelayan itu tidak berani banyak omong lagi, dengan tertawa segera ia lari pergi menyediakan pesanan itu. Tidak antara lama, dua mangkuk besar dan satu guci arak sudah tertaruh di atas meja.</p>
<p>&#8220;Tuanglah sepenuhnya kedua mangkuk itu,&#8221; perintah laki-laki itu.</p>
<p>Pelayan menurut membuka guci, ia isi penuh kedua mangkuk itu dengan arak Ko-liang itu hingga hampir luber.</p>
<p>Seketika hidung Toan Ki terserengguk oleh bau arak yang keras itu hingga rasanya memabukkan. Waktu tinggal di rumah sendiri, paling-paling ia cuma terkadang minum secawan dua cawan bilamana suka dan belum pernah menyaksikan orang minum arak dengan memakai mangkuk sebesar itu, apalagi isinya adalah Ko-liang-ciu yang keras. Keruan ia berkerut kening.</p>
<p>&#8220;Ayolah kita masing-masing minum sepuluh mangkuk, habis itu, anggaplah kita sudah bersahabat, sudikah engkau?&#8221; tanya laki-laki itu tertawa.</p>
<p>Melihat waktu bicara sorot mata orang mengandung rasa memandang rendah dan menyindir, jika dalam keadaan biasa, tentu Toan Ki menolaknya dan menyatakan terima kasih, tapi semalam ia habis dihina dan kenyang diperlakukan dengan kasar di Thing-hiang-cing-sik, kini melihat sikap orang ini besar kemungkinan adalah sekomplotan dengan Buyung-kongcu, kalau bukan Ting-toaya, Kongya-jiya, tentulah Hong-siya. Katanya mereka sudah berjanji akan bertempur melawan jago-jago tujuh aliran besar dari berbagai provinsi. Hm, Buyung-kongcu itu kutu macam apa? Aku justru tidak sudi dihina oleh begundalnya, paling-paling mati mabuk, kenapa aku mesti takut.</p>
<p>Karena pikiran itu, segera Toan Ki membusungkan dada dan menyahut, &#8220;Marilah, sudah tentu kuterima ajakan Hengtay, cuma sebentar bila aku mabuk, tentu akan bikin susah pada Hengtay.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, tanpa pikir ia terus angkat mangkuk di depannya dan sekali tenggak habislah isi mangkuk itu mengalir ke dalam perutnya.</p>
<p>Sebabnya dia nekat menghabiskan arak semangkuk penuh itu adalah karena rasa tidak mau kalah, biarpun Ong Giok-yan tidak di situ, tapi Toan Ki anggap seperti sedang diperlihatkan kepada nona itu sebagai tanda tidak mau kalah daripada Buyung Hok. Jangankan cuma semangkuk arak, sekalipun yang harus diminum itu racun juga tanpa ragu akan diminumnya.</p>
<p>Melihat cara minum Toan Ki sangat cepat, hal ini rada di luar dugaan laki-laki itu, ia terbahak-bahak dan berkata, &#8220;Sungguh menyenangkan cara minum saudara ini!&#8221;</p>
<p>Segera ia pun angkat mangkuknya dan menenggak habis isinya. Menyusul ia menuang dua mangkuk penuh pula.</p>
<p>&#8220;Ehm, arak bagus, arak bagus!&#8221; seru Toan Ki dengan tertawa. Dan kembali mangkuk diangkatnya dan ditenggaknya hingga kering.</p>
<p>Laki-laki itu menirukan juga menghabiskan isi mangkuknya, lalu menuang lagi dua mangkuk.</p>
<p>Semangkuk penuh itu isinya satu kati arak. Kini dalam perut Toan Ki sudah terisi dua kati arak keras, keruan perutnya terasa panas bagai dibakar, kepalanya juga mulai pusing, tapi masih teringat olehnya, &#8220;Hm, Buyung Hok itu kutu macam apa? Masakah aku kalah daripada begundalnya?&#8221;</p>
<p>Karena itu, untuk ketiga kalinya mangkuk diangkat pula dan diminum habis.</p>
<p>Melihat muka pemuda itu dalam sekejap saja sudah merah membara, diam-diam laki-laki itu merasa geli, ia yakin setelah menghabiskan tiga mangkuk arak itu, sebentar lagi pasti Toan Ki akan menggeletak mabuk.</p>
<p>Setelah minum mangkuk kedua tadi memang rasa Toan Ki sudah mual dan ingin tumpah, kini ditambahi pula isi mangkuk ketiga itu, keruan isi perutnya seketika bagai diaduk-aduk dan berjungkir balik.</p>
<p>Namun ia tutup mulut rapat-rapat supaya air arak itu tidak tersembur keluar. Sekonyong-konyong perutnya terasa bergetar, arus hawa murni menerjang ke atas hingga keadaan badan rasanya seperti dahulu waktu hawa murni dalam tubuh tak dapat dipusatkan, segera ia menurut ajaran sang paman tempo hari untuk menarik hawa murni ke &#8220;Tay-cui-hiat&#8221; di pusatnya.</p>
<p>Tak terduga, karena arak yang diminumnya terlalu banyak, arak itu ikut terbawa hawa murni itu hingga tidak dapat terhimpun di Tay-cui-hiat, sebaliknya terus merembes ke Thian-cong-hiat di bagian bahu, terpaksa Toan Ki membiarkannya, dan arak itu terus menyusur ke Kok-cin-hiat di lengan kiri, dari situ akhirnya sampai di Siau-tik-hiat di jari kecil kiri, maka tercurah keluarlah arak itu bagai mata air.</p>
<p>Jalan yang dilalui hawa murni yang dikerahkannya sekarang tiada ubahnya seperti &#8220;Siau-tik-kiam&#8221;, yaitu satu di antara &#8220;Lak-meh-sin-kiam&#8221; dari keluarga Toan mereka yang hebat itu. Sebenarnya Siau-tik-kiam itu adalah semacam hawa pedang yang tanpa wujud, tapi kini dari jari kecilnya itu ternyata menetes keluar air arak dengan perlahan.</p>
<p>Tantang air arak menetes keluar dari jari kecilnya, semula Toan Ki sendiri tidak tahu, menyusul &#8220;Koan-ciong-hiat&#8221; di jari manis kiri pun merembes keluar air arak. Maka sebentar saja pikiran Toan Ki sudah jernih kembali.</p>
<p>Karena tangan kiri Toan Ki itu dilambaikan ke bawah, maka apa yang terjadi itu tidak diketahui oleh laki-laki itu.</p>
<p>Ketika dilihatnya muka Toan Ki yang tadinya merah, sinar matanya buram sebagaimana biasanya orang mabuk, tapi hanya sekejap saja kembali mukanya bercahaya dan segar penuh semangat, keruan orang itu terheran-heran, katanya dengan tertawa, &#8220;Tampaknya Hengtay ini lemah gemulai, tapi kekuatan minum arak ternyata sangat hebat.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, kembali ia menuang penuh dua mangkuk.</p>
<p>&#8220;Kekuatan minumku ini tergantung dari keadaan,&#8221; ujar Toan Ki dengan tertawa. &#8220;Kata orang, &#8216;ketemu sobat sejati, seribu cawan arak pun sedikit&#8217;. Menurut perkiraanku, isi mangkuk ini paling-paling sama banyaknya dengan isi 20 cawan. Maka untuk mencukupi seribu cawan, sedikitnya harus 50 mangkuk besar ini terisi penuh. Cuma Siaute mungkin tidak sanggup menghabiskan 50 mangkuk ini.&#8221;</p>
<p>Sembari berkata, segera tangan kanan mengangkat pula mangkuknya dan kembali diminum habis.</p>
<p>Karena tangan kirinya terjulur ke bawah dan bersandar di langkan jendela, maka air arak yang merembes keluar dari jari kecil dan manis tangan kiri itu lantas mengalir ke bawah melalui dinding yang bergandengan dengan langkan jendela itu.</p>
<p>Tentu saja tiada seorang pun yang tahu akan kejadian itu dan tiada sedikit pun tanda yang mencurigakan. Maka tidak antara lama empat mangkuk arak yang diminumnya itu merembes keluar semua melalui jari tangannya itu.</p>
<p>Orang itu sebenarnya yakin dirinya pasti paling kuat minum arak di seluruh jagat ini, tapi kini melihat seorang pelajar kurus lemah seperti Toan Ki ternyata sekaligus mampu menghabiskan empat mangkuk arak keras tanpa sinting sedikit pun, keruan ia terheran-heran. Katanya kemudian, &#8220;Bagus, bagus! Memang seribu cawan terlalu sedikit minum bersama sobat sejati. Marilah kuminum dulu.&#8221;</p>
<p>Segera ia menuang dua mangkuk penuh dan berturut-turut dihabiskannya. Lalu ia menuangkan dua mangkuk pula untuk Toan Ki. Sekarang Toan Ki sengaja pamerkan kekuatannya minum arak dengan acuh tak acuh serta bersenda gurau, ia tenggak pula kedua mangkuk arak itu seperti orang sedang minum teh saja.</p>
<p>Tentu saja perlombaan minum arak mereka ini menggemparkan tamu-tamu lain, bahkan tukang api, tukang masak dan kuasa restoran sama datang merubung untuk menyaksikan cara minum mereka.</p>
<p>&#8220;Pelayan,&#8221; tiba-tiba laki-laki itu berseru, &#8220;lekas ambilkan pula 20 kati arak!&#8221;</p>
<p>Pelayan melelet lidah, tapi ia tidak berani banyak omong terus berlari ke belakang untuk mengeluarkan pula satu guci arak yang dua kali lebih besar daripada tadi.</p>
<p>Begitulah satu mangkuk sama satu mangkuk Toan Ki bergiliran minum dengan laki-laki itu, tampaknya kekuatan kedua orang setanding, maka tiada setengah jam, masing-masing orang sudah menghabiskan lebih 30 mangkuk.</p>
<p>Dengan sendirinya Toan Ki tahu dirinya main sulap dengan jari, arak yang diminumnya itu cuma menyalur ke dalam tubuh untuk kemudian mengalir keluar lagi dengan cepat, maka kekuatan minumnya boleh dikatakan tanpa takaran, biarpun seratus atau dua ratus mangkuk juga bukan apa-apa baginya.</p>
<p>Sebaliknya laki-laki itu benar-benar minum dengan kepandaian yang sejati. Tampaknya sudah lebih 30 mangkuk arak ditenggaknya, tapi mukanya masih tetap tenang-tenang saja tanpa ada tanda mabuk sedikit pun, mau tak mau Toan Ki sangat kagum juga.</p>
<p>Dan karena melihat laki-laki itu sangat gagah perkasa, perasaan permusuhan Toan Ki semula karena menganggap orang adalah begundal Buyung-kongcu, kini berbalik timbul rasa suka bersahabat dengan laki-laki itu. Diam-diam Toan Ki pikir, &#8220;Jika minum secara begini dipaksakan terus, sudah tentu aku takkan kalah, tapi bagi orang ini tentu kesehatannya akan terganggu.&#8221;</p>
<p>Karena itu, setelah persis minum sampai 40 mangkuk, segera Toan Ki buka suara, &#8220;Kita masing-masing sudah minum 40 mangkuk bukan, saudara?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hitungan Hengtay ternyata tepat,&#8221; ujar laki-laki itu dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Rupanya kita benar-benar telah ketemukan tandingan yang setimpal dan sama-sama kuat,&#8221; kata Toan Ki dengan tertawa. &#8220;Untuk bisa menentukan kalah atau menang, mungkin tidaklah mudah. Tapi kalau kita minum terus tanpa batas seperti wah, isi kantongku yang bakal jebol, pasti tidak cukup untuk membayar.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, terus saja ia merogoh saku dan mengeluarkan sebuah dompet sulaman indah dan dilemparkan ke atas meja. &#8220;Tek&#8221;, memang benar isi dompetnya itu agak kempis.</p>
<p>Sebagai seorang pangeran, dengan sendirinya Toan Ki tidak perlu banyak membekal uang, sebab kalau perlu tentu ada pengawalnya yang akan membayarkan kepentingannya. Apalagi datangnya ke Kanglam ini karena diculik oleh Ciumoti, dengan sendirinya berangkatnya itu tiada membawa sangu apa-apa.</p>
<p>Dompet kain sulaman yang dikeluarkannya ini sangat indah, sekali pandang saja orang akan tahu adalah benda yang bernilai, tapi isinya memang kempis, hal ini pun sekali pandang saja orang akan tahu.</p>
<p>Maka tertawalah laki-laki itu, katanya tiba-tiba kepada salah seorang tamu restoran yang gemuk, &#8220;Thio-toaya, rekening kami ini haraplah suka kau bereskannya.&#8221;</p>
<p>Tetamu gemuk itu adalah seorang saudagar setengah umur, ia menjawab dengan tertawa, &#8220;Sudah tentu, sudah tentu! Jika Kiau-toako sudi memberi muka, pasti Siaute akan menjadi tuan rumah sekadarnya.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia terus mengeluarkan serenceng uang perak dan diserahkan kepada pelayan.</p>
<p>&#8220;Terima kasih!&#8221; kata laki-laki itu sambil memberi hormat. Lalu Toan Ki digandengnya keluar sambil berkata, &#8220;Sobat baik, marilah kita pergi!&#8221;</p>
<p>Sungguh girang Toan Ki tak terkatakan. Selama tinggal di negeri Tayli ia adalah putra pangeran yang diagungkan, jarang bisa bergaul dengan kawan-kawan baik sejati. Tapi hari ini tanpa susah-susah, bukan dengan ilmu sastra atau ilmu silat, tapi hanya dengan cara yang aneh, yaitu berlomba minum arak, dan dapatlah mengikat persahabatan dengan seorang laki-laki segagah ini, sungguh kejadian ini dirasakannya sebagai sesuatu yang paling aneh selama hidupnya.</p>
<p>Sambil menggandeng tangan Toan Ki, laki-laki itu lantas mengajaknya turun ke bawah loteng dan meninggalkan restoran itu. Jalan laki-laki itu makin lama makin cepat, hanya sebentar saja mereka sudah sampai di luar kota.</p>
<p>Langkah laki-laki itu bertambah cepat lagi mengikuti jalan raya. Toan Ki himpun tenaga dan selalu berjalan berendeng dengan laki-laki itu, meski dia tidak mahir ilmu silat, tapi tenaga dalamnya sangat kuat, kalau cuma berjalan cepat seperti itu, sama sekali takkan membuatnya lelah atau tersengal-sengal.</p>
<p>Melihat Toan Ki mengikuti jalannya dengan sama cepatnya, laki-laki itu tersenyum, katanya, &#8220;Sobat baik, marilah kita berlomba lari!&#8221;</p>
<p>Toan Ki menjadi ragu, ia sendiri tidak pernah belajar ilmu silat atau Ginkang segala, cara bagaimana sanggup berlomba dengan orang. Celakanya, sehabis laki-laki itu berkata tadi, tanpa tunggu jawaban Toan Ki terus saja orang tarik tangan anak muda itu dan dilarikan secepat terbang ke depan.</p>
<p>Karena tidak siap sebelumnya, sesudah ikut lari beberapa langkah, hampir saja ia jatuh tersandung, syukur ia dapat menggeser kaki kiri ke samping, dengan demikian barulah ia dapat berdiri tegak lagi. Ternyata langkahnya yang tidak sengaja ini tepat adalah salah satu ilmu langkah dari &#8220;Leng-po-wi-poh&#8221; yang pernah diyakinkannya itu.</p>
<p>Dan karena langkah yang tak sengaja tapi tepat itu, tanpa terasa ia terus dapat mendahului malah hingga beberapa tindak di muka.</p>
<p>Toan Ki merasa senang, maka langkah kedua segera pakai &#8220;Leng-po-wi-poh&#8221; pula. Cuma waktu menjalankan ilmu langkah ini harus mencurahkan perhatian sepenuhnya dan tidak boleh berpikir lain.</p>
<p>Tadi ia bergandengan tangan dengan laki-laki itu sambil menahan tenaga dalamnya menurut ajaran sang paman hingga Cu-hap-sin-kang dalam tubuh tidak sampai menyedot hawa murni laki-laki itu. Tapi kini sekali ia menggunakan langkah &#8220;Leng-po-wi-poh&#8221;, seketika tubuh laki-laki itu tergetar, kesempatan itu segera digunakan Toan Ki untuk melepaskan tangannya.</p>
<p>Maka kedua orang itu sekarang berlari berjajar, begitu cepat mereka berlari hingga pohon-pohon di tepi jalan seakan-akan melayang lewat di samping mereka.</p>
<p>Waktu Toan Ki mempelajari &#8220;Leng-po-wi-poh&#8221; itu sama sekali tak terpikir olehnya bahwa kepandaian itu akan dipakai untuk berlomba lari dengan orang. Tapi kini sekali dia mainkan ilmu langkah itu, sebagai anak panah yang sudah terpentang di busurnya, mau tak mau harus dilepaskannya. Cuma pikiran untuk menangkan laki-laki itu juga tak ada pada benaknya, ia cuma berlari menurutkan ilmu langkah yang sudah masak diyakinkannya itu, ditambah Lwekangnya sangat tinggi, tentu saja larinya melebihi juara marathon. Apakah laki-laki itu sudah mendahului atau masih ketinggalan di belakang tak sempat dipikirnya lagi.</p>
<p>Dan lari laki-laki itu ternyata makin lama yakin cepat. Hanya sekejap saja Toan Ki sudah ketinggalan jauh di belakang. Tapi asal ayal sedikit, segera Toan Ki dapat menyusulnya lagi. Ia coba melirik pemuda itu, ternyata tindakan Toan Ki tampak berlenggang seenaknya saja, jadi seperti orang lagi berjalan jalan biasa, sedikit pun tiada tanda dipaksakan.</p>
<p>Keruan laki-laki itu sangat heran dan diam-diam bertambah kagum. Segera ia tancap gas hingga Toan Ki tertinggal lagi di belakang.</p>
<p>Begitulah beberapa kali dicoba dan laki-laki itu pun tahu tenaga dalam Toan Ki ternyata sangat kuat, untuk menangkan anak muda itu dalam jarak dekat memang gampang, tapi kalau berlari jauh, pasti dirinya akan menyerah kalah.</p>
<p>Mendadak ia terbahak-bahak, lalu berhenti dan berduduk di atas batu di bawah pohon yang rindang, serunya, &#8220;Buyung-kongcu, hari ini Kiau Hong benar-benar menyerah padamu, Koh-soh Buyung memang bukan omong kosong belaka!&#8221;</p>
<p>Cepat Toan Ki berhenti juga, dan ketika dipanggil sebagai &#8220;Buyung-kongcu&#8221;, keruan ia terheran-heran. Segera jawabnya, &#8220;Siaute she Toan bernama Ki, berasal dari negeri Tayli, agaknya Hengtay salah mengenali orang!&#8221;</p>
<p>Seketika wajah laki-laki itu menampilkan rasa heran dan sangsi, katanya dengan tak lancar, &#8220;Apa? Kau &#8230; kau &#8230; bukan Buyung Hok, Buyung-kongcu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sejak Siaute datang di Kanglam sini, setiap hari selalu mendengar orang menyebut nama Buyung-kongcu, sungguh Siaute kagum tak terhingga kepada nama itu, cuma sayang sampai saat ini tidak sempat berkenalan dengan dia,&#8221; demikian sahut Toan Ki.</p>
<p>Diam-diam ia pun heran, laki-laki itu salah sangka dirinya sebagai Buyung Hok, sikapnya itu tampak bukan pura-pura saja. Jika demikian, dengan sendirinya ia bukan begundal Buyung Hok itu?</p>
<p>Berpikir demikian, makin besar rasa sukanya kepada laki-laki itu, maka tanyanya, &#8220;Hengtay barusan menyebut namanya sendiri, apakah benar she Kiau bernama Hong?&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar, Cayhe Kiau Hong adanya,&#8221; sahut laki-laki itu dengan tetap heran.</p>
<p>Toan Ki lantas duduk juga di atas batu itu, katanya, &#8220;Siaute baru saja datang ke Kanglam sini lantas dapat bersahabat dengan kesatria gagah seperti Kiau-heng, sungguh sangat beruntung.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, jadi engkau anak murid keluarga Toan dari Tayli, pantas, pantas!&#8221; kata Kiau Hong sesudah berpikir sejenak. &#8220;Toan-heng ada urusan apa datang ke daerah selatan sini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sungguh memalukan kalau diceritakan, kedatanganku ke sini sebenarnya ditawan orang,&#8221; tutur Toan Ki.</p>
<p>Lalu ia ceritakan pengalamannya cara bagaimana Ciumoti menawannya dan menggondolnya ke sini serta bertemu dengan kedua dayang Buyung Hok, semua itu ia tuturkan secara ringkas. Namun begitu sedikit pun tidak mengurangi apa yang telah terjadi sebenarnya, sama sekali ia tidak malu-malu untuk menceritakan tentang dirinya dihina dan disiksa orang.</p>
<p>Habis mendengar, Kiau Hong terheran-heran dan senang pula, katanya, &#8220;Toan-heng, engkau sungguh seorang yang berhati jujur dan suka terus terang, biarpun baru kenal, namun kita sudah bergaul sebagai kawan lama. Jika engkau sudi, maukah kita mengangkat saudara?&#8221;</p>
<p>Ternyata umur Kiau Hong lebih tua 12 tahun daripada Toan Ki, dengan sendirinya Toan Ki harus memanggilnya sebagai Toako dan Kiau Hong memanggilnya Hiante. Begitulah mereka mengadakan upacara singkat dan sederhana untuk mengangkat saudara.</p>
<p>&#8220;Ketika di atas restoran itu, Siaute dengar bahwa Toako telah berjanji untuk bertemu dengan musuh pada malam ini,&#8221; demikian kata Toan Ki kemudian. &#8220;Meski Siaute tidak mahir ilmu silat tapi juga ingin melihat ramai-ramai ke sana. Dapatkah Toako mengizinkan Siaute ikut?&#8221;</p>
<p>Kiau Hong coba tanya lagi dan benar-benar mengetahui Toan Ki memang tidak bisa ilmu silat, keruan ia tambah heran, katanya, &#8220;Dengan tenaga dalam Hiante yang hebat ini untuk belajar silat tingkat tinggi sudah tentu seperti orang merogoh saku mengambil barang sendiri, sedikit pun tidak sukar. Kalau Hiante ingin menyaksikan pertempuran malam ini, apa alangannya? Sebentar bolehlah ikut ke sana. Cuma musuh terlalu ganas dan keji, Hiante sekali-kali jangan unjukkan diri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah tentu Siaute menurut segala pesan Toako,&#8221; kata Toan Ki dengan girang.</p>
<p>&#8220;Dan sekarang waktunya masih cukup, marilah kita kembali ke kota untuk minum arak pula, setelah itu barulah kita berangkat ke Hui-san untuk menemui musuh,&#8221; ajak Kiau Hong.</p>
<p>Mendengar sang Toako ingin minum arak lagi Toan Ki kaget. Masakan baru habis minum 40 mangkuk besar dan sekarang sudah ingin minum lagi? Maka sahutnya segera, &#8220;Toako, cara Siaute berlomba minum denganmu tadi sebenarnya cuma tipuan belaka, harap Toako jangan marah.&#8221;</p>
<p>Segera ia acungkan jari kecil kiri ke depan, &#8220;crit&#8221;, arus hawa terus muncrat keluar dari Siau-tik-hiat hingga debu di tanah bertebaran oleh semburan hawa itu.</p>
<p>Keruan Kiau Hong terkejut, katanya dengan tergegap, &#8220;Hiante, apakah &#8230; apakah ini ilmu sakti &#8216;Lak-meh-sin-kiam&#8217;?&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar,&#8221; sahut Toan Ki, &#8220;belum lama Siaute mempelajarinya, masih sangat hijau.&#8221;</p>
<p>Untuk sejenak Kiau Hong termangu-mangu, katanya kemudian dengan gegetun, &#8220;Pernah kudengar cerita guruku almarhum bahwa keluarga Toan di Tayli memiliki semacam ilmu &#8216;Lak-meh-sin-kiam&#8217; yang dapat membunuh orang dengan hawa pedang tanpa wujud, cuma ilmu sakti itu sudah lama lenyap, maka di zaman ini tiada seorang yang dapat memainkannya. Tak terduga Hiante ternyata mahir ilmu sakti itu, sungguh aku tidak pernah menyangka sebelumnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, Toako terlalu memuji,&#8221; sahut Toan dengan menyesal. &#8220;Padahal ilmu ini kecuali dipakai main licik tatkala berlomba minum arak dengan Toako, toh tiada berguna pula. Buktinya aku ditawan Ciumoti, sedikit pun aku tidak mampu melawannya. Tentang Lak-meh-sin-kiam ini sebenarnya terlalu dibesar-besarkan oleh orang luar. Toako, arak kurang baik bagi kesehatan badan, minum sedikit saja, kita jangan minum lagi.&#8221;</p>
<p>Kiau Hong terbahak-bahak, katanya, &#8220;Nasihat Hiante memang benar. Cuma Engkohmu ini sehat sebagai kerbau, sejak kecil sudah suka minum arak, semakin banyak minum semakin bersemangat. Malam ini aku akan menghadapi musuh, maka perlu minum lebih banyak agar dapat melayani mereka dengan baik.&#8221;</p>
<p>Begitulah sambil bicara mereka kembali ke kota Bu-sik, kini mereka tidak balapan lari lagi, tapi jalan berendeng dengan perlahan.</p>
<p>Sifat Toan Ki memang suka bersahabat, maka hatinya sangat gembira dapat mengikat saudara dengan Kiau Hong. Tapi ia pun tidak pernah lupa pada Buyung Hok dan Ong Giok-yan. Karena itu kemudian ia lantas tanya Kiau Hong, &#8220;Toako, semula engkau salah sangka Siaute sebagai Buyung-kongcu, jangan-jangan muka Buyung-kongcu itu rada mirip mukaku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku pun tidak pernah kenal dia, hanya namanya yang tersohor sudah lama kudengar, kedatanganku ke sini ini justru disebabkan dia,&#8221; sahut Kiau Hong. &#8220;Kabarnya Buyung Hok itu baru berusia 25-26 tahun, cakap dan gagah, sebenarnya masih lebih tua daripada Hiante. Tapi tidak terduga bahwa di selatan sini kecuali Buyung Hok masih terdapat pula seorang muda dan cakap dengan ilmu silat yang tinggi seperti diri Hiante, makanya aku salah mengenalimu. Sungguh aku merasa malu.&#8221;</p>
<p>Mendengar Buyung Hok itu &#8220;ilmu silatnya tinggi dan mukanya cakap&#8221;, mau tak mau Toan Ki merasa iri. Tanyanya pula, &#8220;Dan jauh-jauh Toako datang ke sini untuk mencari dia, maksudnya hendak berkawan atau menjadi lawannya?&#8221;</p>
<p>Kiau Hong menghela napas, mukanya menjadi muram, sahutnya, &#8220;Sebenarnya aku sangat berharap dapat mengikat persahabatan dengan seorang tokoh muda seperti dia. Tapi mungkin sukar terkabul cita-citaku ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebab apa?&#8221; tanya Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Sebab seorang kawanku yang paling karib, dua bulan yang lalu telah tewas di atas Hui-san di Bu-sik sini, semua orang mengatakan hal itu adalah perbuatan Buyung Hok,&#8221; tutur Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Ai, Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin (gunakan cara orang itu untuk dilakukan atas dia sendiri)!&#8221; tiba-tiba Toan Ki bergumam.</p>
<p>&#8220;Benar,&#8221; kata Kiau Hong. &#8220;Justru kawanku itu menjagoi dunia Kangouw dengan &#8216;Soh-au-kim-na-jiu&#8217; (ilmu menangkap dengan mencekik leher), tapi dari mayatnya ternyata tulang lehernya remuk, tidak salah lagi dia dibinasakan oleh Soh-au-kim-na-jiu andalannya itu.&#8221;</p>
<p>Bicara sampai di sini, suara Kiau Hong menjadi parau, tenggorokan seakan-akan tersumbat, wajah sangat sedih. Setelah merandek sejenak, kemudian ia meneruskan, &#8220;Tapi kejadian di Kangouw memang aneh-aneh dan di luar dugaan orang, tidak boleh melulu percaya kepada berita sepihak lantas sembarangan menuduh kesalahan orang. Sebab itulah maka kudatang sendiri ke sini untuk menyelidiki duduk perkara yang sebenarnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan bagaimanakah duduk perkara yang sebenarnya?&#8221; tanya Toan Ki.</p>
<p>Kiau Hong menggeleng kepala, sahutnya, &#8220;Masih sulit untuk dikatakan sekarang. Kawanku itu sudah lama tersohor namanya, tindak tanduknya sangat prihatin, rasanya tanpa sebab tidak mungkin cekcok dengan Buyung-kongcu. Dan mengapa dia sampai ditewaskan orang, sungguh hal ini agak membingungkan.&#8221;</p>
<p>Toan Ki mengangguk-angguk, pikirnya, &#8220;Meski lahirnya Toako kelihatan kasar, tapi batinnya sebenarnya sangat cermat, dibanding Ho-siansing, Suma Lim dan lain-lain yang tanpa mencari tahu lebih dulu lantas menuduh Buyung-kongcu sebagai pembunuh. Nyata cara bertindak Toako ini lebih hati-hati dan lebih bijaksana.&#8221;</p>
<p>Maka ia lantas tanya lagi, &#8220;Dan musuh yang berjanji akan bertemu dengan Toako itu orang macam apa lagi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Itulah &#8230;.&#8221; baru sekian katanya, tiba-tiba terlihat dua orang berdandan mirip pengemis berlari datang dari depan sana dengan cepat. Rupanya kedua orang itu berlari dengan sekuat Ginkang mereka, maka hanya sekejap saja sudah sampai di depan Kiau Hong.</p>
<p>Kira-kira beberapa meter di depan Kiau Hong, kedua orang itu berhenti serta menyingkir ke tepi jalan, lalu membungkuk memberi hormat sambil menutur, &#8220;Lapor Kiau-pangcu, ada empat orang musuh telah menerjang ke dalam &#8216;Tay-gi-hun-tho&#8217; (cabang pimpinan bagian Gi), kepandaian mereka sangat hebat, Cio-thocu sampai kewalahan, maka hamba diperintahkan minta bala bantuan kepada &#8216;Tay-jin-hun-tho&#8217; (cabang pimpinan Jin).&#8221;</p>
<p>Mendengar dua orang itu menyebut Kiau Hong sebagai &#8220;Pangcu&#8221;, sikap mereka pun sangat hormat, diam-diam Toan Ki membatin sang Toako pasti ketua dari sesuatu Pang-hwe (perkumpulan atau organisasi) dunia Kangouw.</p>
<p>Sementara itu dilihatnya Kiau Hong telah mengangguk, lalu bertanya, &#8220;Macam apakah musuh itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Terdiri dari tiga wanita dan seorang laki-laki,&#8221; sahut salah seorang pengemis itu. &#8220;Laki-laki itu tinggi kurus dan setengah umur, tapi sangat kasar dan kurang ajar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, Cio-thocu juga terlalu, masakan melawan seorang saja kewalahan?&#8221; jengek Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Lapor Pangcu,&#8221; demikian orang itu menutur pula. &#8220;Ketiga wanita itu pun sangat lihai.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, ya? Baiklah, coba kulihat ke sana,&#8221; kata Kiau Hong dengan tertawa.</p>
<p>Kedua laki-laki itu mengiakan dengan girang, lalu membungkuk menyilakan sang Pangcu berjalan dulu.</p>
<p>&#8220;Dan kalian tetap pergi kepada Tay-jin-hun-tho dan minta Sin-thocu mengirim bala bantuan,&#8221; ujar Kiau Hong pula.</p>
<p>Segera laki-laki yang lebih tua berkata, &#8220;Semula Cio-thocu tidak tahu Pangcu berada di sini, maka hamba disuruh minta bantuan kepada Sin-thocu. Tapi kini Pangcu sendiri sudi turun tangan, hanya beberapa musuh tak berarti itu sudah tentu dengan mudah dapat dibekuk.&#8221;</p>
<p>&#8220;Segala apa harus bertindak lebih hati-hati,&#8221; kata Kiau Hong dengan menarik muka.</p>
<p>Maka kedua laki-laki itu tidak berani bicara lagi, mereka mengiakan dan memberi hormat pula, lalu berlari pergi ke arah yang dituju tadi.</p>
<p>&#8220;Hiante, apakah engkau akan ikut ke sana bersamaku?&#8221; tanya Kiau Hong.</p>
<p>&#8220;Tentu saja,&#8221; sahut Toan Ki tanpa pikir.</p>
<p>Kiau Hong lantas membawa Toan Ki berangkat, setelah berjalan beberapa li, mereka membelok ke kiri menyusur gili-gili sawah ladang yang berliku-liku, tidak lama Toan Ki sudah tak dapat mengenali jalan yang dilaluinya itu.</p>
<p>Kira-kira beberapa li pula, baru saja mereka melintasi sebuah hutan, maka terdengarlah suara seorang yang lucu sedang berkata, &#8220;Buyung-hiante kami telah pergi ke Lokyang untuk mencari Pangcu kalian, mengapa orang-orang Kay-pang kalian berbalik datang ke Bu-sik sini? Bukankah ini sengaja menghindari untuk bertemu? Jika kalian takut, itulah urusan kalian sendiri, tapi Buyung-hiante kami bukankah akan buang tenaga percuma pergi ke sana? Huh, benar-benar tidak tahu aturan!&#8221;</p>
<p>Mendengar suara orang itu, seketika hati Toan Ki berdebar. Kiranya itulah suara Pau-samsiansing yang suka berkata &#8220;bukan-bukan&#8221; itu. Diam-diam ia pikir apakah nona Ong juga datang bersama dia?</p>
<p>Lalu terdengar suara seorang dengan logat utara menjawab, &#8220;Apakah Buyung-kongcu sudah lebih dulu mengadakan perjanjian dengan Kiau-pangcu kami?&#8221;</p>
<p>&#8220;Berjanji atau tidak sama saja,&#8221; sahut Pau-samsiansing, &#8220;kalau Buyung-kongcu sudah pergi ke Lokyang, betapa pun Pangcu kalian tidak boleh pergi ke lain tempat hingga Buyung-hiante datang percuma. Sungguh tak tahu aturan, tidak tahu aturan!&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika begitu, apakah Buyung-kongcu telah mengirim berita kepada Kay-pang kami tentang kunjungannya?&#8221; tanya orang itu.</p>
<p>&#8220;Dari mana kutahu? Aku toh bukan Buyung-kongcu, pertanyaanmu benar-benar terlalu, sungguh tidak tahu aturan!&#8221; demikian sahut Pau-samsiansing.</p>
<p>Sungguh mendongkol Kiau Hong oleh kata-kata Pau-samsiansing yang suka menang sendiri itu. Dengan langkah lebar segera ia menuju tempat suara itu. Maka tertampaklah di situ telah berdiri dua orang berhadapan.</p>
<p>Akan tetapi bagi Toan Ki yang lantas terlihat olehnya adalah si gadis jelita yang berdiri di belakang Pau-samsiansing itu. Dan sekali sinar matanya kontak dengan sorot mata si nona, maka tak terpisahkan lagi pandangannya.</p>
<p>Gadis jelita itu memang benar Giok-yan adanya. Ia bersuara heran perlahan ketika melihat munculnya Toan Ki. &#8220;Engkau juga datang ke sini?&#8221; sapanya perlahan.</p>
<p>&#8220;Ya, dan engkau pun berada di sini?&#8221; sahut Toan Ki. Terus saja ia pandang si nona dengan termangu-mangu seperti orang linglung.</p>
<p>Dengan wajah merah lekas Giok-yan berpaling ke arah lain, pikirnya, &#8220;Mengapa orang ini sedemikian kurang ajar, memandang orang tanpa berkedip?&#8221;</p>
<p>Namun demikian, ia tahu Toan Ki sangat kesengsem pada kecantikannya, hal ini dengan sendirinya menyenangkan hatinya, maka ia pun tidak menjadi marah oleh kelakuan pemuda itu.</p>
<p>Melihat gadis secantik Giok-yan, mau tak mau Kiau Hong juga tergetar hatinya. Tapi segera ia pun memerhatikan ketiga orang yang lain.</p>
<p>Ia lihat kedua gadis yang lain, yaitu A Cu dan A Pik, yang satu lincah centil dan yang lain ramah halus. Tapi kedua gadis itu tidak menjadikan pikiran Kiau Hong, yang mendongkolkan dia adalah sikap Pau-samsiansing yang mentang-mentang, seorang tokoh seperti Cio Ci-tong, Thocu Kay-pang, ternyata sama sekali dipandang sebelah mata olehnya.</p>
<p>Begitulah Cio Ci-tong menjadi girang ketika melihat sang Pangcu datang, segera ia menyambut maju dan memberi hormat diikut oleh anggota-anggota Kay-pang yang berada di belakangnya.</p>
<p>&#8220;Hamba sekalian memberi sembah bakti kepada Pangcu!&#8221; seru Cio Ci-tong.</p>
<p>Ternyata sama sekali Pau-samsiansing tidak ambil pusing atas kedatangan Kiau Hong, seperti tidak terjadi apa-apa kemudian ia pun bertanya, &#8220;Ehm, apakah saudara ini Kiau-pangcu dari Kay-pang? Awak bernama Pau Put-tong, tentu pernah kau dengar namaku.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, kiranya Pau-samsiansing, memang nyata tingkah lakumu benar-benar Pau-put-tong (tanggung tidak sama dengan orang lain),&#8221; sahut Kiau Hong. &#8220;Sudah lama kukagum kepada namamu yang besar, kini dapat berjumpa, sungguh sangat beruntung.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, nama besar apa?&#8221; ujar Pau-samsiansing alias Pau Put-tong. Kalau nama busuk sih memang sudah terkenal di Kangouw. Setiap orang juga tahu aku Pau Put-tong paling suka cari gara-gara dan banyak berbuat kejahatan. Hehehe, Kiau-pangcu, secara sembarangan kau datang ke Kanglam sini, inilah terang kesalahanmu.&#8221;</p>
<p>Kay-pang adalah suatu organisasi terbesar pada zaman itu, kedudukan Pangcu sangat diagungkan siapa pun juga terutama anggota Kay-pang memandang Pangcu mereka seakan-akan malaikat dewata yang terpuji. Kini melihat Pau Put-tong bersikap kasar terhadap sang Pangcu, bahkan mengucapkan kata-kata mencela, keruan anggota Kay-pang yang berada di situ menjadi gusar. Beberapa orang yang berdiri di belakang Cio Ci-tong lantas gosok-gosok kepalan dan ingin memberi hajaran kepada Pau Put-tong.</p>
<p>Namun Kiau Hong ternyata tenang-tenang saja, sahutnya dengan tawar, &#8220;Mengapa aku dituduh bersalah, coba Pau-samsiansing memberi penjelasan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, terang engkau salah,&#8221; seru Pau Put-tong. &#8220;Buyung-hiante kami tahu engkau Kiau-pangcu adalah seorang tokoh, tahu pula dalam Kay-pang tidak banyak jago-jago lain, makanya dia ke Lokyang dengan maksud berkenalan dengan engkau, tapi mengapa kalian berlaku senang-senang dan datang ke Kanglam malah? Hehe, sungguh tidak tahu aturan!&#8221;</p>
<p>Kiau Hong hanya tersenyum, sahutnya, &#8220;Buyung-kongcu sudi berkunjung ke tempat kami di Lokyang, bila sebelumnya kudapat kabar, memang seharusnya kunanti kedatangan tamu agungnya. Tentang keayalanku menyambut dia, biarlah di sini aku minta dimaafkan.&#8221;</p>
<p>Sambil berkata, ia terus memberi hormat dengan Kiongchiu (kedua kepalan dirangkap di depan dada).</p>
<p>Diam-diam Toan Ki memuji kebesaran jiwa Toako itu, pikirnya, &#8220;Kata-kata Toako ini benar-benar sangat bijaksana, memang sesuai dengan wibawa seorang Pangcu. Sebaliknya kalau dia marah kepada Pau-samsiansing, hal ini malah akan merosotkan kedudukannya yang diagungkan itu.&#8221;</p>
<p>Tak terduga Pau Put-tong itu terima mentah-mentah penghormatan Kiau Hong tanpa sungkan-sungkan, ia manggut-manggut dan berkata, &#8220;Ehm, orang salah seharusnya minta maaf. Kata peribahasa, orang yang tidak tahu, tidak berdosa. Tapi apakah perlu dihukum atau didenda, hak ini bukanlah kami yang menentukan.&#8221;</p>
<p>Begitulah sedang Pau Put-tong mencerocos dengan senang, tiba-tiba terdengar di balik hutan sana riuh ramai dengan suara orang terbahak-bahak hingga menggema angkasa, lalu suara seorang berkata, &#8220;Haha, sudah sering kudengar bahwa Pau Put-tong di daerah Kanglam suka kentut, nyatanya memang bukan omong kosong belaka!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, ya, orang bilang kentut yang berbunyi itu tidak bau, yang bau itu tentu kentut tak berbunyi,&#8221; demikian kontan Pau-samsiansing menjawab, &#8220;Tapi kentut Kay-pang-su-lo (empat tertua Kay-pang) ini sudah berbunyi keras lagi berbau busuk, nyata memang tidak omong kosong belaka!&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika Pau-samsiansing sudah kenal nama Kay-pang-su-lo, mengapa masih jual lagak di sini?&#8221; seru suara di balik pohon itu.</p>
<p>Lenyap suaranya, sekonyong-konyong dari empat penjuru semak pohon masing-masing muncul seorang tua, ada yang rambut dan jenggotnya sudah ubanan, ada yang bermuka merah bergigi rajin, semuanya masih gagah dan kuat.</p>
<p>Begitu muncul, keempat kakek ini lantas menduduki empat penjuru hingga Pau-samsiansing dan Giok-yan bertiga terkurung di tengah.</p>
<p>Kakek-kakek itu bersenjata pula, ada yang berwajah kereng, ada yang tertawa-tawa dengan sikap yang berbeda-beda.</p>
<p>Pau Put-tong sendiri cukup tahu Kay-pang adalah suatu perkumpulan terkemuka di kalangan Kangouw, jago Kay-pang tak terhitung banyaknya, lebih-lebih Kay-pang-su-lo sangat terkenal dalam Bu-lim, setiap kakek itu memiliki ilmu silat yang lihai. Tapi dasar watak Pau Put-tong memang angkuh dan tidak mau kalah, sejak kecil sifatnya tidak gentar kepada siapa pun juga.</p>
<p>Kini melihat Kay-pang-su-lo muncul sekaligus serta menduduki tempat mengepung, mau tak mau ia mengeluh juga, &#8220;Wah, celaka, hari ini nama baik Pau-samsiansing, mungkin akan runtuh habis-habisan.&#8221;</p>
<p>Namun lahirnya sedikit pun ia tidak memberi tanda khawatir, segera ia pun berseru, &#8220;Kalian berempat orang tua ini ada urusan apa dengan aku? Akan mengerubut maju sekaligus untuk berkelahi dengan Pau-samsiansing? Silakan jika begitu, memang selama hidup Pau-samsiansing paling suka berkelahi!&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapakah orang di jagat ini paling gemar berkelahi? Apakah Pau-samsiansing?&#8221; tiba-tiba suara seorang bergema di udara. &#8220;Salah, salah! Bukan dia melainkan Hong Po-ok, Hong-siya!&#8221;</p>
<p>Waktu Toan Ki mendongak, tertampak di atas pucuk dahan pohon sana berdiri satu orang. Dahan melambai-lambai hingga orang itu pun turut bergoyang naik turun dengan gaya indah. Perawakan orang itu kecil, usianya antara 30 tahun lebih, pipinya cekung, berkumis mirip ekor tikus, alisnya panjang melambai ke bawah, mukanya itu lebih mirip setan daripada manusia.</p>
<p>Tapi lantas terdengar A Pik berseru dengan girang, &#8220;He, Hong-siko, apakah engkau sudah mendapat kabar baik Kongcu?&#8221;</p>
<p>Kiranya laki-laki jelek ini adalah Hong Po-ok berjuluk &#8220;It-tin-hong&#8221; atau angin lesus. Ia merupakan salah seorang pembantu kepercayaan Buyung Hok.</p>
<p>Maka terdengar Hong Po-ok berteriak, &#8220;Bagus, bagus! Hari ini dapat menemukan lawan yang baik. Tentang urusan Kongcu, biarlah tunggu sebentar, kita bicarakan nanti, A Pik!&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia terjun ke bawah dengan berjumpalitan, ketika hampir mendekat tanah, mendadak ia menubruk ke arah si kakek gemuk yang berdiri di sisi utara sana.</p>
<p>Kakek yang bertubuh potongan gajah dungkul itu bersenjatakan sebatang tongkat baja. Mendadak tongkatnya menyodok ke depan mengincar dada Hong Po-ok.</p>
<p>Bulat tengah tongkat itu kira-kira sebesar telur. Panjangnya dua meter, jadi lebih tinggi daripada tubuh kakek itu sendiri. Biarpun badannya gemuk pendek, tapi kepandaiannya sangat hebat, begitu tongkatnya bergerak, seketika menyambar serangkum angin yang keras.</p>
<p>Tapi Hong Po-ok benar-benar pemberani, bukannya menghindar atau mundur, sebaliknya ia memapak maju malah dan hendak merebut tongkat lawan. Tapi mendadak kakek itu menyendal tongkatnya hingga menjengkit ke atas untuk menyodok muka Hong Po-ok.</p>
<p>&#8220;Bagus?&#8221; seru Po-ok sambil mendak ke bawah, menyusul tangannya lantas terulur hendak mencengkeram iga si kakek.</p>
<p>Sesudah tongkatnya didorong maju, untuk menarik kembali senjatanya buat menangkis sudah tidak keburu lagi, sedangkan musuh tampak menerjang maju, terpaksa kakek itu angkat sebelah kakinya untuk mendahului menendang perut Hong Po-ok.</p>
<p>Namun Po-ok sempat berkelit ke samping, berbareng si kakek di sebelah timur yang bermuka merah bercahaya itu lantas diterjang, belum tiba di depan musuh, tahu-tahu sinar putih berkelebat, tangannya sudah memegang sebatang golok dan lantas digunakan untuk menebas.</p>
<p>Senjata yang dipegang kakek bermuka merah itu pun sebatang golok yang berkepala setan atau Kui-thau-to, punggung golok itu tebal dan mata golok tipis, batang golok itu sangat panjang. Melihat Hong Po-ok menebas dengan goloknya, cepat kakek itu tegakkan Kui-thau-to untuk menangkis sambil menyampuk sekeras-kerasnya untuk mengadu senjata dengan lawan.</p>
<p>&#8220;Senjatamu lihai, aku tidak ingin mengadu golok denganmu!&#8221; seru Hong Po-ok mendadak. Segera ia tarik kembali goloknya dan putar ke arah lain untuk membacok si kakek berjenggot putih yang berdiri di sebelah selatan.</p>
<p>Senjata kakek berjenggot putih adalah sebatang gada bersegi banyak (astakona), di atas gada penuh bergigi tajam melengkung seperti kait. Senjata aneh ini dapat digunakan merampas senjata lawan.</p>
<p>Melihat Hong Po-ok menyerang ke arahnya dengan cepat, sedangkan serangan si kakek bermuka merah masih belum ditarik kembali, maka kakek berjenggot ini tidak ingin bergebrak, sebab dia ikut menyerang, itu berarti Hong Po-ok digencet dari muka dan belakang, hal mana akan merosotkan pamor Kay-pang-su-lo yang tidak pernah main keroyok. Maka ia lantas melompat menyingkir dan mengalah sejurus kepada lawan.</p>
<p>Tak tersangka orang she Hong itu paling suka berkelahi, semakin ramai semakin memenuhi seleranya. Sedang mengenai kalah atau menang tidak menjadi soal baginya, bahkan peraturan-peraturan umum di waktu berkelahi juga tidak ditaati olehnya. Maka begitu si kakek berjenggot menyingkir, sebaliknya Hong Po-ok lantas merangsang maju, kesempatan itu digunakan untuk membacok empat kali secara bertubi-tubi, setiap serangannya cepat dan berbahaya.</p>
<p>Sungguh sama sekali tak terduga oleh siapa pun bahwa tindakan si kakek yang sengaja mengalah itu lantas disalahgunakan oleh Hong Po-ok, keruan si kakek sangat mendongkol dan terpaksa menangkis sambil mundur empat tindak baru dapat berdiri dengan kuat pula, kini ia sudah membelakangi sebatang pohon, untuk mundur lagi terang tidak mungkin. Tapi sedikit ia himpun tenaga murni, mendadak gadanya menyabet ke depan. Serangan ini adalah salah satu serangan mematikan dari kepandaiannya, hanya dikeluarkan bila dalam kepepet.</p>
<p>&#8220;Coba lagi yang lain!&#8221; tiba-tiba Hong Po-ok berseru, dan serangan si kakek ternyata tak ditangkisnya, tapi terus melompat mundur sambil putar goloknya, tahu-tahu si kakek keempat dari Kay-pang-su-lo itu yang diserang.</p>
<p>Keruan si kakek berjenggot yang baru sempat balas menyerang sekali, tapi musuh sudah lantas menyingkir pergi, sungguh gusarnya tak terkatakan.</p>
<p>Kedua tangan kakek keempat itu ternyata sangat panjang, sedikitnya lebih panjang belasan senti daripada orang biasa. Tangan kirinya membawa semacam senjata yang lemas, begitu melihat Hong Po-ok menyerang tiba, cepat tangan kirinya bergerak, senjata yang dipegangnya itu dikebas hingga terpentang.</p>
<p>Dan baru sekarang semua orang dapat melihat jelas, kiranya senjatanya itu adalah sebuah karung beras biasa. Karena dipentang dan kemasukan angin, mulut karung itu lantas terbuka terus mengurung ke atas kepala Hong Po-ok.</p>
<p>Kaget dan girang Hong Po-ok, serunya, &#8220;Bagus, bagus! Biar aku berkelahi dengan kau!&#8221;</p>
<p>Kiranya selama hidup Hong Po-ok ini paling suka berkelahi, apabila lawan mempunyai senjata yang berbentuk aneh, atau ilmu silat luar biasa, maka ia pasti sangat senang untuk menjajalnya.</p>
<p>Sifat ini mirip orang yang gemar makan enak misalnya, kalau mendengar koki dari rumah makan mana pandai menyajikan sesuatu masakan yang aneh dan lezat, maka pasti akan dicobanya.</p>
<p>Kini dilihatnya lawan bersenjatakan sebuah karung, bahkan mendengar pun belum pernah. Di samping senang diam-diam ia pun waspada, sebab belum diketahuinya cara bagaimana nanti harus mematahkan serangan senjata lawan yang aneh itu.</p>
<p>Sebagai percobaan, dengan hati-hati ia gunakan ujung golok untuk menikam karung lawan apakah benda itu dapat dilubangi atau tidak.</p>
<p>Tak terduga si kakek tangan panjang itu cepat pindahkan karung ke tangan kanan, sedang tangan kiri mendadak menjotos ke depan.</p>
<p>Namun Hong Po-ok sempat dongak kepala ke belakang, menyusul cepat ia putar golok untuk mengutik selangkangan kakek itu. Tapi di luar dugaannya, kakek itu ternyata sudah berhasil meyakinkan &#8220;Thong-pi-kun&#8221; (ilmu pukulan memulurkan tangan), pukulannya tampaknya sudah sepenuhnya dilontarkan, namun justru di luar dugaan orang kepalannya mendadak dapat mulur lebih panjang belasan senti.</p>
<p>Untung selama hidup Hong Po-ok paling gemar berkelahi, pertempuran besar atau kecil entah sudah berapa ratus kali dialaminya. Dalam hal pengalaman serta taktik boleh dikata tiada bandingannya. Maka pada saat tiada jalan lain untuk menghindari jotosan kakek itu, mendadak mulutnya mengap hendak menggigit kepalan lawan yang mengancam itu.</p>
<p>Dengan jotosan itu, si kakek tangan panjang yakin paling sedikit pasti akan bikin rontok beberapa buas gigi orang, siapa duga ketika kepalan sudah dekat serangannya, sekonyong-konyong lawan membuka mulut, dengan giginya yang putih gilap itu hendak menggigit. Dalam kagetnya cepat si kakek menarik kembali tangannya, namun toh terlambat sedetik, ia menjerit sekali, jarinya kena digigit sekali oleh Hong Po-ok.</p>
<p>Keruan di antara penonton ada yang gusar dan geli oleh kejadian itu, mereka sama memaki dan tertawa.</p>
<p>Sebaliknya dengan sungguh-sungguh Pau Put-tong lantas berseru, &#8220;Bagus Hong-site, tipu seranganmu &#8216;Lu-Tong-pin-kah-kau&#8217; ini benar-benar sudah terlatih sampai puncaknya sempurna, tidak percumalah engkau berlatih giat selama berpuluh tahun ini, sudah beratus, bahkan beribu anjing belang hitam, putih, dan warna lain yang telah kau gigit mampus dan baru dapat mencapai kesempurnaan seperti hari ini.&#8221;</p>
<p>Padahal caranya Hong Po-ok menggigit orang adalah perbuatan yang terpaksa dan licik, seorang yang sedikit tahu harga diri tentu tidak berkelahi dengan cara begini. Tapi selamanya Hong Po-ok memang tidak pantang memakai cara apa pun, yang penting baginya cuma berkelahi.</p>
<p>Justru Pau Put-tong sengaja membual samping, caranya menggigit yang tidak masuk dalam kamus silat itu sengaja dikatakan sebagai suatu, tipu silat mahalihai dengan nama &#8220;Lu-Tong-pin-kah-kau&#8221; atau Lu Tong-pin menggigit anjing.</p>
<p>Lu Tong-pin adalah dewa terkenal dalam cerita Pat-sian (delapan dewa), menurut pemeo yang lazim, yang ada cuma &#8220;Kau-kah Lu Tong-pin&#8221;, artinya maksud baik orang disangka jelek. Tapi kini hal itu oleh Pau Put-tong sengaja dibalik hingga menjadi Lu Tong-pin menggigit anjing.</p>
<p>Begitulah saking gelinya Toan Ki lantas tanya juga kepada Ong Giok-yan, &#8220;Nona Ong, segala macam ilmu silat di dunia ini, semuanya kau pelajari dengan baik. Tapi cara menggigit orang ini termasuk kungfu aliran atau golongan mana?&#8221;</p>
<p>Giok-yan tersenyum, sahutnya, &#8220;Ilmu ini adalah kepandaian khas Hong-siko, aku sendiri tidak tahu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Haha, kau tidak tahu?&#8221; seru Pau Put-tong dengan tertawa. &#8220;Ah, terlalu dangkal pengetahuanmu, masakah tipu &#8216;Lu Tong-pin-kah-kau&#8217; juga tidak tahu, tipu ini meliputi 8 kali 9 menjadi 72 jurus perubahan, semacam ilmu silat yang mahatinggi.&#8221;</p>
<p>Melihat Giok-yan bergembira hati, Toan Ki menjadi lupa daratan dan mestinya akan ikut berkelakar dengan Pau Put-tong, tapi mendadak teringat olehnya bahwa si kakek tangan panjang yang digigit itu adalah bawahan Kiau Hong, mana boleh dirinya ikut mencemoohkannya? Maka lekas ia urungkan maksudnya.</p>
<p>Sementara itu pertarungan di tengah kalangan masih berlangsung dengan seru, tampak si kakek tangan panjang sedang putar karung dengan kencang hingga berwujud suatu lingkaran bayangan dan Hong Po-ok seakan-akan terkurung di tengah-tengah karung itu. Tapi ia dapat melayani lawan dengan sama kuatnya, sedikit pun tidak kelihatan kewalahan. Ia sudah merasakan ilmu Thong-pi-kun yang lihai si kakek, yang masih belum diketahui adalah sampai di mana kehebatan karung lawan itu. Sedangkan tipu &#8220;Lu Tong-pin-kah-kau&#8221; tadi cuma digunakan secara kebetulan saja, terang tidak mungkin dapat diulangi lagi.</p>
<p>Melihat Hong Po-ok ternyata sanggup menempur si kakek tangan panjang yang terhitung salah satu tokoh terkemuka dari Kay-pang-su-lo, diam-diam Kiau Hong merasa heran, karena itu penilaiannya kepada Buyung-kongcu menjadi lebih tinggi lagi setingkat.</p>
<p>Ketiga kakek Kay-pang yang lain sudah mundur ke tempat masing-masing untuk menyaksikan pertempuran kawannya itu, tapi biarpun si kakek tangan panjang bakal menang atau kalah, terang mereka tidak mungkin maju membantu, mereka harus menjaga nama baik mereka, tidak nanti mereka main keroyok hingga diolok-olok orang.</p>
<p>Di sebelah sana A Pik menjadi khawatir melihat sampai sekian lama Hong Po-ok, masih belum dapat mengalahkan lawannya, tanyanya kepada Giok-yan, &#8220;Siocia, permainan karung si kakek itu berasal dari golongan manakah?&#8221;</p>
<p>Giok-yan berkerut kening, sahutnya, &#8220;Ilmu silat begini tidak pernah kubaca dalam buku. Tipu pukulannya adalah Thong-pi-kun, sedangkan permainan karung itu mendekati 13 jurus ilmu permainan ruyung dari Hok-gu-san dan juga mirip gaya permainan 81 jurus Sam-ciat-kun (toya tiga ruas) dari keluarga Ui di Oupak.&#8221;</p>
<p>Kata-kata Giok-yan itu sebenarnya tidak keras, tapi bagi pendengaran si kakek tangan panjang bagaikan halilintar yang memekak telinga. Kiranya ia sendiri memang anak murid keluarga Ui di Oupak, ilmu Sam-ciat-kun adalah ilmu warisan leluhur, tapi kemudian ia berbuat dosa dan melarikan diri, ia ganti nama dan tukar she serta tidak pernah menggunakan Sam-ciat-kun lagi, hingga orang lain tidak kenal asal usulnya. Tapi kini dalam pertarungan sengit itu, tanpa merasa sedikit banyak ia terpaksa mengeluarkan kepandaian aslinya hingga dapat diketahui oleh Giok-yan. Keruan ia terkejut dari mana dara jelita itu dapat mengorek asal usulnya.</p>
<p>Sudah tentu ia tidak tahu bahwa pengetahuan Giok-yan sangat luas, segala ilmu silat dari aliran mana pun tiada satu pun yang tak diketahuinya. Sebaliknya si kakek lantas menyangka rahasianya yang sudah berpuluh tahun ini tertutup telah terbongkar oleh gadis itu. Dan karena sedikit lengah itu, ia menjadi tercecer oleh serangan Hong Po-ok hingga rada kerepotan.</p>
<p>Berturut-turut ia mundur tiga langkah, cepat ia melangkah ke samping pula, sementara itu dilihatnya lawan sedang membacok lagi, segera ia ayun sebelah kaki untuk menendang pergelangan tangan Hong Po-ok yang memegang senjata itu.</p>
<p>Sudah tentu Hong Po-ok tidak gampang diserang, mendadak goloknya menyerang, berbalik kaki si kakek hendak ditebasnya malah. Tapi menyusul sebelah kaki si kakek juga lantas melayang secara berantai hingga tubuh terapung di udara.</p>
<p>Biarpun sudah tua, tapi gerak-geriknya tidak di bawah orang muda, mau tak mau Hong Po-ok memuji juga akan ketangkasan lawan itu.</p>
<p>Mendadak ia pukul dengkul orang tua itu. Dalam keadaan tubuh terapung di udara, untuk menggeser terang tidak mudah, asal dengkul kakek itu kena terketuk, andaikan tidak remuk juga paling sedikit tulang kakinya akan patah.</p>
<p>Melihat pukulannya sudah dekat dengan dengkul lawan dan si kakek masih belum tampak siap untuk menghindar, Hong Po-ok menjadi girang.</p>
<p>Tak tersangka mendadak angin menyambar, tahu-tahu karung orang sudah terpentang, mulut karung yang lebar itu mengerudung ke atas kepalanya. Dalam keadaan demikian, meski ia berhasil mematahkan tulang kaki si kakek, tapi kepala sendiri pasti juga akan dikerudung ke dalam karung orang, andaikan dapat segera meloloskan diri tentu juga akan ditertawai orang.</p>
<p>Karena itu, pukulannya mendadak berganti arah untuk menyampuk karung lawan. Tapi sedikit karung si kakek menggeser, mulut karung yang ternganga itu pun berputar dan tepat mengerudung kepalan Hong Po-ok.</p>
<p>Perbandingan mulut karung dengan kepalan dengan sendirinya sangat besar. Meski gampang saja kepalan kena dikurung, tentu mudah pula terlolos. Maka sekali Hong Po-ok menarik tangannya, dengan gampang saja sudah lolos dari mulut karung lawan.</p>
<p>Siapa tahu, &#8220;cekit&#8221;, mendadak punggung tangan kesakitan seperti tertusuk jarum. Waktu ia periksa, ia menjadi kaget. Ternyata punggung tangan terantup seekor kalajengking kecil.</p>
<p>Kalajengking itu jauh lebih kecil daripada kala biasa, tapi badannya berwarna-warni, macamnya sangat mengerikan. Hong Po-ok tahu bisa celaka, sekuatnya ia kiprat-kipratkan tangannya, tapi kalajengking itu ternyata menyengat dengan sangat kencang dan susah terlepas. Namun ia cukup cekatan, ia tepuk kalajengking itu dengan batang goloknya hingga binatang itu seketika gampang terbinasa.</p>
<p>Sebagai orang yang berpengalaman, Hong Po-ok tahu kalajengking yang dilepaskan dari karung tokoh Kay-pang itu pasti bukan sembarangan, kalau anak murid Kay-pang biasa saja sangat lihai menggunakan binatang berbisa apalagi seorang kakek daripada Kay-pang-su-lo ini?</p>
<p>Dengan wajah berubah cepat ia melompat ke luar kalangan pertempuran, ia keluarkan sebutir pil penawar racun dan ditelannya segera.</p>
<p>Tiang-pi-soh atau si kakek lengan panjang juga tidak mengudak pula, ia simpan kembali karungnya sambil mengamat-amati Ong Giok-yan, ia heran dari mana dara jelita ini mengetahui asal usulku?</p>
<p>Dalam pada itu Pau Put-tong lantas tanya keadaan kawannya itu, &#8220;Kenapa, Site?&#8221;</p>
<p>Po-ok kebas-kebas tangannya beberapa kali dan merasa tiada sesuatu yang aneh, tapi ia tetap sangsi, kalajengking itu mustahil tidak ada sesuatu guna dengan disembunyikan di dalam karung? Maka ia menjawab, &#8220;Tidak apa-apa, tapi &#8230;.&#8221;</p>
<p>Belum lanjut ucapannya, mendadak tubuh roboh tersungkur.</p>
<p>Lekas Pau Put-tong melompat maju untuk membangunkannya sambil tanya berulang-ulang, &#8220;Kenapa? Kenapa?&#8221;</p>
<p>Namun Hong Po-ok tidak sanggup bicara lagi, mukanya tampak berkerut-kerut dan senyumnya sangat dipaksakan.</p>
<p>Keruan kaget Pau Put-tong tak terkatakan, lekas ia tutuk beberapa Hiat-to tangan, lengan, dan bahu sang kawan untuk menahan menjalarnya racun.</p>
<p>Di luar dugaan bekerja racun kalajengking berwarna itu ternyata sangat cepat, walaupun tidak sampai &#8216;Kian-hiat-hong-au&#8217; atau masuk ke darah lantas putus napasnya, tapi jahatnya juga tidak kepalang, jauh lebih lihai daripada racun ular yang paling berbisa.</p>
<p>Pikiran Hong Po-ok masih cukup jernih, tapi antero tubuh sudah kaku rasanya, mulut terbuka ingin bicara, tapi yang terdengar cuma suara serak yang tak jelas.</p>
<p>Melihat kawannya begitu hebat keracunan, Pau Put-tong menjadi khawatir sukar menolong jiwanya lagi, dalam dukanya ia menjadi murka, sekali menggerung, terus saja ia terjang si kakek tangan panjang.</p>
<p>Namun si kakek pendek gemuk dan bersenjata tongkat baja tadi lantas mengadangnya sambil berseru, &#8220;Apa kau juga ingin berkelahi, marilah biar aku si pendek ini berkenalan dengan kesatria Koh-soh!&#8221;</p>
<p>Begitu tongkatnya terangkat, segera ia sodok ke arah Pau Put-tong.</p>
<p>Tongkatnya sangat antap bobotnya, tapi bagi si kakek pendek gemuk senjata itu dapat dimainkan dengan enteng dan cepat sekali. Biarpun Pau Put-tong dalam keadaan murka, namun menghadapi lawan setangguh itu terpaksa ia tidak berani ayal. Ia pikir asal dapat menawan salah satu jago musuh sebagai sandera untuk memaksa pihak lawan menyerahkan obat penawar racun, tentu jiwa Hong-site dapat diselamatkan. Maka segera ia gunakan &#8220;Kim-na-jiu&#8221;, ia mencari lubang kelemahan musuh untuk menangkapnya.</p>
<p>Dalam pada itu A Pik dan A Cu sedang mengerumuni Hong Po-ok dengan air mata berlinang sambil memanggil-manggil tanpa berdaya. Ong Giok-yan memang sangat pandai dan luas pengetahuannya dalam ilmu silat dan kesusastraan, tapi mengenai penggunaan racun serta cara penyembuhannya, ia sama sekali tidak paham. Karena itu ia jadi menyesal dahulu waktu membaca kitab ilmu silat dan pertabiban, dalam kitab itu tidak sedikit dibicarakan tentang penyembuhan racun, tapi karena menganggap tiada gunanya mempelajari hal-hal itu, maka sama sekali ia tidak pernah mempelajarinya. Coba dahulu sedikit-banyak menghafalkan, tentu sekarang takkan mati kutu seperti ini dan menyaksikan tewasnya Hong-siko tanpa berdaya.</p>
<p>Di lain pihak, ketika melihat pertarungan Pau Put-tong melawan si pendek semakin lama semakin sengit, untuk waktu singkat terang sukar menentukan kalah atau menang, maka berkatalah Kiau Hong kepada si kakek tangan panjang, &#8220;Tan-tianglo, harap keluarkan obat penawarnya, sembuhkanlah racun Hong-siya itu!&#8221;</p>
<br />Posted in Jin Yong, Pendekar Kerajaan Tayli  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toanki.wordpress.com/1814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toanki.wordpress.com/1814/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toanki.wordpress.com/1814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toanki.wordpress.com/1814/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toanki.wordpress.com/1814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toanki.wordpress.com/1814/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toanki.wordpress.com/1814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toanki.wordpress.com/1814/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toanki.wordpress.com/1814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toanki.wordpress.com/1814/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toanki.wordpress.com/1814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toanki.wordpress.com/1814/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toanki.wordpress.com/1814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toanki.wordpress.com/1814/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1814&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-22/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b75e221c0eee4ff517b26695a19675fc?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">Lenghou Tiong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 21</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-21/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-21/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 04:39:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1811</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Bunuhlah murid durhaka ini untuk membalaskan sakit hati ayah!&#8221; teriak Suma Lim mendadak sambil menerjang ke depan, palunya lantas mengetuk kepala Cu Po-kun. Tapi sekali mengegos dapatlah Po-kun menghindar, menyusul ia pun balas menghantam dengan gurdinya. &#8220;Murid murtad, kau masih punya muka untuk menggunakan ilmu silat Jing-sia-pay?&#8221; bentak si kakek she Kiang. Berbareng gurdinya menikam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1811&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Bunuhlah murid durhaka ini untuk membalaskan sakit hati ayah!&#8221; teriak Suma Lim mendadak sambil menerjang ke depan, palunya lantas mengetuk kepala Cu Po-kun.</p>
<p><span id="more-1811"></span>Tapi sekali mengegos dapatlah Po-kun menghindar, menyusul ia pun balas menghantam dengan gurdinya.</p>
<p>&#8220;Murid murtad, kau masih punya muka untuk menggunakan ilmu silat Jing-sia-pay?&#8221; bentak si kakek she Kiang. Berbareng gurdinya menikam leher Po-kun, sedang palu yang kecil itu beruntun mengetuk tiga kali.</p>
<p>Karena dikeroyok tiga, Cu Po-kun menjadi kerepotan, dalam sekejap saja ia sudah menghadapi ancaman-ancaman maut. Suma Lim terlalu bernafsu hendak membalas sakit hati ayahnya, maka tipu serangannya agak kasar, untuk mana Cu Po-kun masih dapat melawannya. Tapi kedua kakek she Kiang dan Beng itu adalah tokoh tertua Jing-sia-pay, serangan mereka penuh dengan tipu keji andalan Jing-sia-pay, setiap serangan mereka selalu mengincar tempat berbahaya di badan Cu Po-kun.</p>
<p>Untungnya setiap serangan ketiga orang itu sudah hafal bagi Cu Po-kun, ia dapat menduga bagaimana serangan-serangan berikutnya, dengan demikian barulah ia sanggup satu lawan tiga untuk sementara.</p>
<p>Setelah belasan jurus pula, tiba-tiba hatinya merasa pedih, pikirnya, &#8220;Sesungguhnya Suma-suhu sangat baik padaku, buktinya tiada suatu pun jurus serangan Suma-suheng dan kedua Susiok itu yang tak diketahui olehku, jadi apa yang diajarkan padaku sudah meliputi semua ilmu silat Jing-sia-pay yang ada, hal ini nyata tertampak dari jurus serangan Suma-suheng bertiga sekarang, dalam keadaan demikian pasti mereka mengerahkan segenap kepandaian untuk menyerang aku, tapi setiap tipu sekarang mereka jelas sudah kukenal. Hal ini pun menandakan ilmu silat Jing-sia-pay juga memang cuma sekian saja.&#8221;</p>
<p>Dan oleh karena rasa terima kasihnya kepada budi sang guru, segera ia berteriak-teriak lagi, &#8220;Suma-suhu sama sekali bukan aku yang mencelakainya &#8230;.&#8221;</p>
<p>Sedikit lengah itulah telah memberi kesempatan kepada Suma Lim untuk menubruk maju. Senjata andalan Jing-sia-pay sangat kecil dan pendek, dan di sinilah letak kelihaiannya dalam pertarungan jarak dekat.</p>
<p>Sekali Suma Lim telah mendesak maju, bila lawannya adalah dari golongan lain, itu berarti ia sudah menang angin lebih dulu. Tapi kini lawannya adalah Cu Po-kun yang ilmu silatnya serupa dengan dirinya, maka keuntungan bertarung dari jarak dekat ini berarti sama diperoleh kedua pihak.</p>
<p>Di bawah cahaya lilin, sesaat itu pandangan semua orang menjadi silau. Tertampak Suma Lim dan Cu Po-kun berdua sama cepatnya, tangan mereka sama bergerak cepat, hanya dalam sekejap saja mereka sudah saling gebrak 7-8 jurus. Tapi karena kedua orang sama paham serangan masing-masing, maka setiap serangan lawan selalu dapat ditangkis atau dihindar dengan tepat.</p>
<p>Dengan pertarungan Suma Lim dan Cu Po-kun dari jarak dekat ini, seketika kelihatanlah di mana letak kebagusan ilmu silat Jing-sia-pay. Keduanya didikan dari satu guru yang sama, maka kepandaian masing-masing adalah serupa. Suma Lim menang muda dan tenaga kuat, sebaliknya Cu Po-kun lebih berpengalaman dan lebih ulet. Maka dalam pertarungan sengit ini semua orang cuma mendengar suara gemerantang dan gemerencing yang ramai, tapi cara bagaimana mereka saling serang tidak terlihat jelas lagi.</p>
<p>Melihat Suma Lim belum dapat menundukkan lawannya, kedua kakek she Kiang dan Beng itu mendadak bersuit berbareng, keduanya terus jatuhkan diri ke lantai dan mendadak menggelinding ke depan untuk menyerang bagian bawah Cu Po-kun.</p>
<p>Pada umumnya orang yang biasa menggunakan senjata pendek, kecuali kaum wanita, tentu mahir pula kepandaian &#8220;Kun-te-tong&#8221; atau main bergelinding di tanah, dengan cara demikian, terkadang musuh akan menjadi kelabakan.</p>
<p>Sebenarnya Po-kun juga paham ilmu &#8220;Lui-kong-tio-ke-bong&#8221; atau beledek menyambar dari bawah tanah itu. Tapi celakanya kedua tangannya harus dipakai melayani Suma Lim, dengan sendirinya ia tidak sanggup menghadapi serangan kedua kakek, terpaksa ia hanya bisa menghindar sambil berloncatan kian kemari.</p>
<p>Mendadak si kakek Kiang mengetuk dengan palunya dari kiri ke kanan, sebaliknya gurdi si kakek Beng menikam dari kiri. Terpaksa Po-kun hanya dapat menyerang salah seorang, ia ayun sebelah kakinya untuk menendang iga kakek Beng.</p>
<p>Kesempatan itu disia-siakan si kakek Kiang, ia menubruk lebih dekat, palu terus mengetuk. Pada saat yang sama itulah palu Suma Lim juga menghantam jidat Cu Po-kun.</p>
<p>Dalam keadaan berbahaya itu, Po-kun terpaksa menangkis serangan yang paling berbahaya, ia angkat palu sendiri untuk menangkis serangan Suma Lim, &#8220;trang&#8221;, kedua palu saling bentur hingga lelatu api meletik. Sebaliknya paha kiri Po-kun kena diketuk mentah-mentah oleh si kakek Kiang.</p>
<p>Jangan kira palu sekecil itu tiada berarti, tenaga hantamannya ternyata sangat lihai, saking sakitnya sampai Cu Po-kun meringis, seketika ia tidak tahu apakah tulang kaki patah atau tidak, tapi seluruh tenaganya ia pusatkan pada kaki lain yang masih kuat.</p>
<p>Sekali berhasil serangannya, si kakek Kiang mendapat hati, kembali palunya menghantam untuk kedua kalinya. Terpaksa Po-kun menangkis dengan palunya, &#8220;trang&#8221;, kedua palu saling beradu lagi. Mendadak terdengar Po-kun menjerit kesakitan, kiranya kaki kiri itu sekarang kena ditikam oleh gurdi si kakek Beng.</p>
<p>Dalam keadaan repot itu sebenarnya Po-kun masih dapat menghindarkan tikaman gurdi si kakek Beng, tapi ia pikir kalau serangan itu dielakkan, tentu akan memberi kesempatan kepada kedua kakek Beng dan Kiang untuk membentuk jaring serangan Lui-kong-hong yang lebih hebat dan tentu dirinya bisa celaka. Toh kaki kiri sudah kena ketuk dan tidak diketahui patah atau tidak, maka biarlah tertikam lagi juga tidak menjadi soal.</p>
<p>Dan karena tikaman yang cukup dalam itu, seketika darah muncrat ketika ia loncat untuk menempur ketiga lawannya itu, darah ikut berciprat ke mana-mana hingga dinding di sekitarnya yang putih bersih itu penuh noda darah.</p>
<p>Melihat A Cu bersungut, Giok-yan tahu kawannya itu kurang senang terhadap pertarungan orang-orang itu hingga rumahnya yang indah bersih itu ikut menjadi kotor. Maka berkatalah Giok-yan dengan tersenyum, &#8220;Hai, jangan kalian berkelahi lagi, ada urusan apa boleh bicara secara baik-baik, mengapa mesti main hantam cara begini?&#8221;</p>
<p>Cu Po-kun ada maksud menuruti keinginan Giok-yan itu, tapi di bawah keroyokan tiga orang, mana dia dapat berhenti begitu saja?</p>
<p>Sebaliknya Suma Lim bertiga sudah bertekad akan mematikan Cu Po-kun untuk membalas sakit hati ayahnya, tentu saja mereka tidak mau gubris seruan si nona.</p>
<p>Melihat anjurannya tidak dipedulikan orang, terutama pihak Suma Lim bertiga, maka Giok-yan berkata pula, &#8220;Semuanya gara-gara ucapanku tentang &#8216;Thian-ong-po-sim-ciam&#8217; hingga rahasia Cu-siangkong terbongkar. Tapi itu adalah salahku, maka kalian, hai, Suma-siangkong, lekas kalian berhenti!&#8221;</p>
<p>&#8220;Sakit hati ayah masa tidak boleh kubalas? Kenapa engkau ikut cerewet!&#8221; bentak Suma Lim gusar.</p>
<p>&#8220;Kalian mau berhenti atau tidak? Jika tidak, awas, akan kubantu dia, lho!&#8221; kata Giok-yan.</p>
<p>Terkesiap juga Suma Lim oleh ancaman gadis itu. Pikirnya, &#8220;Pandangan nona cantik sangat tajam dan jitu, bila ilmu silatnya juga sama lihainya, sekali dia membantu lawan, tentu susah untuk menuntut balas.&#8221;</p>
<p>Tapi segera terpikir pula olehnya, &#8220;Jago-jago pilihan Jing-sia-pay kami sudah dikerahkan ke sini, paling-paling kami mengerubut maju sekaligus, masakah terhadap seorang nona lemah-lembut seperti ini juga mesti takut?&#8221;</p>
<p>Karena itu, ia tidak gubris lagi kepada Giok-yan, sebaliknya serangannya semakin gencar.</p>
<p>&#8220;Cu-siangkong,&#8221; kata Giok-yan tiba-tiba kepada Po-kun, &#8220;gunakan jurus &#8216;Li Cun-hau-pak-hou-se&#8217; (gaya Li Cun-hau menghajar harimau), kemudian pakai jurus &#8216;Thio Ko-lau-to-ki-lo&#8217; (Thio Ko-lau menunggang keledai dengan mungkur)!&#8221;</p>
<p>Cu Po-kun tercengang oleh petunjuk si gadis. Ia tahu jurus pertama yang dikatakan itu adalah ilmu silat Jing-sia-pay, sebaliknya jurus kedua adalah Kungfu golongan Hong-lay-pay, kedua jurus dari aliran yang tidak sama itu mana dapat dicampurbaurkan?</p>
<p>Namun demikian, dalam keadaan kepepet, tiada waktu baginya untuk berpikir lebih jauh, segera ia mainkan jurus &#8216;Li Cun-hau-pak-hou-se&#8217;. Maka terdengarlah suara gemerantang dua kali, tepat sekali berturut palunya dapat membentur palu Suma Lim dan si kakek Kiang yang lagi dihantamkan ke arahnya. Menyusul tubuhnya berputar dan menyurut mundur tiga tindak dengan terincang-incut dan tepat dapat menghindarkan serangan si kakek Beng.</p>
<p>Padahal serangan berantai si kakek Beng memakai palu dan gurdi sekaligus, sebenarnya sangat ganas dan sukar dihindarkan lawan. Bahkan Yau Pek-tong dan jago-jago Cin-keh-ce yang menonton di samping pun kebat-kebit berkhawatir bagi Cu Po-kun.</p>
<p>Siapa duga setelah Po-kun membentur pergi palu-palunya Suma Lim dan si kakek Kiang, lalu sekali berputar dengan gaya &#8220;Thio Ko-lau menunggang keledai terbalik&#8221;, beruntun-runtun ia sudah lolos dari ancaman si kakek Beng yang lihai itu. Saking terpesona dan kagumnya sampai jago-jago Cin-keh-ce ikut bersorak-sorai oleh ketangkasan Cu Po-kun itu.</p>
<p>Memangnya wajah orang-orang Jing-sia-pay selalu kaku membesi, kini mereka tambah merengut lagi.</p>
<p>Sebaliknya Toan Ki lantas ikut bersorak-sorak juga, &#8220;Bagus, bagus! Apa yang dikatakan Ong-siocia lakukanlah menurut perintahnya, tanggung takkan merugikan engkau.&#8221;</p>
<p>Waktu Cu Po-kun menghindari serangan berantai lawan dengan gaya &#8220;Thio Ko-lau menunggang keledai terbalik&#8221; tadi, sebenarnya saat itu ia sendiri merasa bingung, yang terpikir olehnya cuma pasrah nasib belaka, baik mati maupun hidup masa bodoh.</p>
<p>Sungguh tak tersangka olehnya bahwa ilmu silat dari Jing-sia-pay dan Hong-lay-pay yang berlawanan itu satu-sama lain dapat digunakan bersama. Keruan yang paling terperanjat adalah dia sendiri daripada orang-orang Cin-keh-ce dan Jing-sia-pay.</p>
<p>Dalam pada itu terdengar Giok-yan telah berkata pula, &#8220;Sekarang gunakanlah jurus &#8216;Han Siang-cu-swat-yong-lam-koan&#8217; (Han Siang-cu memeluk Lam Koan di bawah salju), lalu mainkan jurus &#8216;Kok-keng-thong-yu-se&#8217; (sikut ditekuk menjulur perlahan).&#8221;</p>
<p>Cu Po-kun tahu jurus-jurus itu kebalikan daripada jurus duluan tadi, sekarang jurus ilmu silat Hong-lay-pay dimainkan lebih dulu, menyusul barulah Kungfu Jing-sia-pay. Tanpa pikir segera ia menurut, ia siapkan palu dan gurdinya di depan dada. Dan pada saat itulah gurdi si kakek Beng dan Suma Lim telah menikam berbareng ke arahnya.</p>
<p>Gerakan ketiga orang sebenarnya dilakukan pada saat yang sama, tapi bagi penonton menjadi seperti Cu Po-kun berjaga rapat pada saat sebelumnya, sebaliknya Suma Lim dan si kakek Beng kelihatan menjadi bodoh benar, sudah tahu lawan telah menjaga diri dengan rapat toh mereka masih tetap menyerang. Maka terdengarlah suara gemerencing yang nyaring, kedua gurdi mereka membentur palu Cu Po-kun hingga terpental ke samping.</p>
<p>Tanpa pikir Po-kun terus mendak tubuh, gurdinya ikut menikam miring dari samping. Saat itu si kakek Kiang kebetulan sedang hendak menyerang bagian belakang Cu Po-kun, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa gurdi lawan bisa muncul dari arah yang tak terduga itu.</p>
<p>Karena itulah si kakek Kiang menjadi seperti orang hendak membunuh diri saja, dengan cepat tubuhnya disodorkan ke ujung gurdi lawan, tahu juga dia keadaan yang runyam tapi untuk menghindar sudah telat.</p>
<p>&#8220;Cret&#8221;, tanpa ampun lagi pinggangnya tertusuk gurdi hingga darah bercucuran bagai mata air.</p>
<p>Kakek Kiang terhuyung hingga akhirnya roboh terkulai. Cepat dua orang Jing-sia-pay memburu maju untuk memayangnya ke pinggir.</p>
<p>&#8220;Keparat Cu Po-kun, dengan tanganmu sendiri kau lukai Kiang-susiok, apa sekarang kau masih berani menyangkal?&#8221; bentak Suma Lim dengan gusar.</p>
<p>&#8220;Bukan salahnya, akulah yang suruh dia melukai Kiang-siansing itu,&#8221; sela Giok-yan tiba-tiba. &#8220;Sudahlah, lekas kalian berhenti saja!</p>
<p>&#8220;Jika kau mampu, suruhlah dia membunuh diriku!&#8221; teriak Suma Lim murka.</p>
<p>&#8220;Apa susahnya untuk itu?&#8221; ujar Giok-yan dengan tersenyum. &#8220;Cu-siangkong, boleh gunakan jurus &#8216;Tiat-koay-li-gwat-he-ke-tong-ting&#8217; (Tiat-koay-li menyeberang danau Tong-ting di bawah sinar bulan purnama), kemudian gunakan jurus &#8216;Tiat-koay-li-giok-tong-lun-to&#8217; (Tiat-koay-li berkhotbah di gua Giok)!&#8221;</p>
<p>Cu Po-kun mengiakan saja petunjuk Giok-yan itu, tapi diam-diam ia berpikir, &#8220;Di dalam ilmu silat Hong-lay-pay kami yang ada cuma &#8216;Lu Sun-yang-gwat-he-ko-tong-ting&#8217; dan &#8216;Han-ciong-li-giok-tong-lun-to&#8217;, mengapa Lu Sun-yang dan Han-ciong-li disebut sebagai Tiat-koay-li oleh si nona ini? Ah, tentu karena pengetahuannya akan ilmu silat Hong-lay-pay kami terbatas, maka salah ucap!&#8221;</p>
<p>Akan tetapi Suma Lim dan si kakek Beng tidak memberi kesempatan padanya bertanya atau minta penjelasan pada si gadis, terpaksa Po-kun mainkan menurut gaya yang dipahaminya, segera ia mainkan jurus &#8220;Lu Sun-yang menyeberang danau Tong-ting di bawah sinar bulan purnama&#8221;, jadi bukan lagi Tiat-koay-li seperti yang dikatakan Giok-yan itu.</p>
<p>Lu Sun-yang atau Lu Tong-ping, Han Ciong-li dan serta Han Siang-cu seperti apa yang disebut Giok-yan itu adalah nama dewa di antara Pat-sian atau Delapan Dewa.</p>
<p>Tiat-koay-li adalah dewa pincang yang bertongkat, sebaliknya Lu Sun-yang itu gagah bergas. Maka jurus menyeberang danau itu seharusnya dilakukan Lu Sun-yang dengan langkah lebar, gayanya indah dan cepat bagai terbang.</p>
<p>Tapi karena kaki kiri Cu Po-kun terluka dua kali, ketika hendak melangkah lebar, tanpa terasa menjadi berincang-incut, dengan sendirinya bukan lagi gaya Lu Sun-yang yang gagah, tapi mirip benar dengan gaya jalan Tiat-koay-li yang pincang itu.</p>
<p>Dan dengan berjalan pincang itu ada manfaatnya juga bagi si pincang, sebab serangan Suma Lim dan si kakek Beng buktinya meleset semua.</p>
<p>Menyusul Po-kun mainkan jurus &#8220;Han Ciong-li-giok-tong-lun-to&#8221;. Han Ciong-li adalah dewa yang selalu membawa kipas dan berbadan kekar kuat. Tapi karena kakinya pincang kembali Po-kun berincang-incut miring ke kiri, sedangkan palu di tangan kanan mengebas dengan gaya seperti sedang mengipas.</p>
<p>Kebetulan sekali saat itu kepala si kakek Beng sedang menyelonong ke arahnya, keruan kepala kakak itu menjadi seperti sengaja disodorkan. Tanpa ampun lagi &#8220;prak&#8221;, mulutnya tepat kena terketok oleh palu, kontan saja belasan giginya rontok, saking kesakitan sampai si kakek Beng berteriak-teriak dan melonjak-lonjak, ia buang senjatanya dan duduk di lantai sambil memegangi mulutnya yang kini menjadi ompong itu.</p>
<p>Keruan Suma Lim ketakutan, seketika ia menjadi bingung apa mesti bertempur terus atau berhenti saja untuk mencari jalan lain menuntut balas di kemudian hari.</p>
<p>Hendaklah diketahui bahwa kedua jurus yang diajarkan Giok-yan kepada Cu Po-kun tadi sungguh teramat bagus dan tepat. Sebelumnya si gadis sudah menaksir, setelah si kakek Beng menyerang tiga kali tidak kena tentu akan menubruk ke samping Cu Po-kun, sebaliknya pada saat itu palu Po-kun harus mengebas keluar hingga tepat akan mengetuk mulut kakek itu. Sungguh cara menaksir Giok-yan itu boleh dikatakan dapat mengetahui apa yang bakal terjadi, seakan-akan cara bagaimana ketiga orang itu akan saling serang sudah dapat diketahui olehnya, betapa tepat dan jitu cara menaksirnya itu sungguh sukar dibayangkan orang lain.</p>
<p>Biarpun Suma Lim sangat bernafsu ingin menuntut balas sakit hati sang ayah, tapi ia bukan orang bodoh, pikirnya, &#8220;Untuk bisa membunuh jahanam Cu Po-kun ini, si nona harus dicegah agar jangan memberi petunjuk padanya.&#8221;</p>
<p>Dan sedang Suma Lim hendak mencari akal untuk menghadapi Giok-yan, tiba-tiba terdengar si gadis berkata pula, &#8220;Cu-siangkong, engkau adalah orang Hong-lay-pay yang menyelundup ke dalam Jing-sia-pay dengan maksud tujuan jahat, inilah kesalahanmu yang tidak pantas. Tapi gurumu Suma Wi besar kemungkinan bukan dibunuh olehnya, namun engkau telah mencolong ilmu lain, betapa pun kau tetap berdosa, maka lekas kau minta ampun kepada Ciangbun-suhengmu!&#8221;</p>
<p>Po-kun pikir apa yang dikatakan si nona memang benar juga, apalagi dirinya telah menerima budi pertolongannya jiwa diselamatkan dari beberapa jurus serangan yang mematikan tadi, apa yang dianjurkan gadis itu tidaklah enak untuk dibantah. Maka dengus sungguh-sungguh ia pun memberi hormat kepada Suma Lim sambil berkata, &#8220;Ciangbun-suheng, harap maafkan &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau masih ada muka untuk memanggil Ciangbun-suheng padaku?&#8221; bentak Suma Lim gusar sambil mengelak ke samping.</p>
<p>Sekonyong-konyong Giok-yan berseru kepada Po-kun, &#8220;Lekas! &#8216;Go-yu-tang-hay&#8217;!&#8221;</p>
<p>Cu Po-kun terkesiap, tapi seketika ia pun menurut, cepat ia mengapungkan diri ke atas setinggi dua meter lebih, maka terdengarlah suara mendesis riuh, belasan batang jarum Jing-hong-ciam menyambar lewat di bawah tapak kakinya. Selisih waktunya cuma sekejap saja, sedetik Po-kun terlambat, pasti badannya sudah menjadi sarang jarum musuh.</p>
<p>Untung pada saat yang tepat Giok-yan berseru padanya agar menggunakan gerakan &#8220;Go-yu-tang-hay&#8221; atau Berpiknik ke Lautan Timur. Coba bila gadis itu cuma memperingatkan, awas Am-gi, mungkin Po-kun akan celingukan mengawasi gerak-gerik musuh, tak tersangka kalau Jing-hong-ciam itu justru dihamburkan oleh Suma Lim dari dalam lengan baju yang tidak tertampak dari luar, maka pasti akan celakalah Cu Po-kun.</p>
<p>Kiranya ilmu Am-gi atau senjata gelap Suma Lim yang disebut &#8220;Siau-lay-kian-gun&#8221; atau Dunia Tergenggam di Dalam Lengan Baju, kepandaian ini benar-benar semacam Kungfu khas Jing-sia-pay yang cuma diturunkan kepada putra sendiri dan tidak kepada murid. Hal ini memang sudah menjadi peraturan turun-temurun keluarga Suma, jangankan Cu Po-kun tidak memperoleh pelajaran ilmu Am-gi itu, sekalipun si kakek Kiang dan Beng pun tidak.</p>
<p>Cara menghamburkan Jing-hong-ciam itu juga sangat luar biasa, yaitu dengan diam-diam menarik jepretan dalam lengan baju. Sungguh di luar dugaan Suma Lim bahwa pada saat terakhir itu Giok-yan sempat berseru kepada Cu Po-kun untuk menghindarkan pembokongan itu dengan gerakan yang dapat menyelamatkan diri, yaitu dengan gerakan tipu &#8220;Go-yu-tang-hay&#8221; dari Hong-lay-pay.</p>
<p>Serangan yang sudah dipastikan akan mengenai sasarannya ternyata gagal pula, keruan Suma Lim semakin ketakutan dan seperti ketemu hantu, ia berteriak-teriak, &#8220;Kau &#8230; kau bukan manusia, tapi &#8230; setan, hantu!&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu karena belasan giginya rontok kena digampar oleh palu Cu Po-kun tadi, si kakek Beng sedang terbatuk-batuk, sebab ada dua-tiga biji gigi rontok itu tertelan ke dalam perut, dan karena keselak, hampir saja ia mati sesak napas.</p>
<p>Usia si kakek Beng sudah lanjut, tapi matanya masih tajam, rambutnya hitam gilap, giginya juga masih rajin, semua ini biasanya merupakan kebanggaannya di antara kaum sebaya. Siapa duga giginya sekarang rontok sedemikian rupa.</p>
<p>Di zaman dahulu dengan sendirinya tiada tukang gigi segala, apalagi dokter gigi. Maka bila kehilangan sebuah gigi, itu berarti berkuranglah satu giginya yang tak dapat ditambal lagi. Apalagi sekarang si kakek Beng benar-benar telah ompong seluruhnya, keruan ia sangat menyesal dan murka pula, terus saja ia berteriak-teriak, &#8220;Kita pegang dulu anak dara ini, pegang dulu anak dara ini!&#8221;</p>
<p>Tapi disiplin Jing-sia-pay sangat keras, biarpun si kakek Beng sangat tinggi kedudukannya, tanpa perintah Ciangbunjin sendiri, tiada seorang pun jago Jing-sia-pay berani sembarangan bergerak. Maka sinar mata semua anak murid Jing-sia-pay lantas terarah pada Suma Lim, asal sang ketua memberi perintah, serentak mereka akan mengerubuti si nona.</p>
<p>Maka berkatalah Suma Lim dengan dingin, &#8220;Nona Ong, ilmu silat golongan kami mengapa engkau sedemikian hafal?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku dapat membacanya dari buku,&#8221; sahut Giok-yan. &#8220;Ilmu silat Jing-sia-pay mengutamakan serangan secara mendadak dan memakai tipu muslihat, tapi perubahannya tidak terlalu ruwet, dengan sendirinya mudah diingat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Buku apa yang telah nona baca?&#8221; tanya Suma Lim.</p>
<p>&#8220;Ah, juga bukan buku yang luar biasa,&#8221; sahut Giok-yan. &#8220;Buku yang mencatat ilmu silat Jing-sia-pay itu ada dua jilid, yang satu adalah &#8216;Jing-ji-cap-pek-tah&#8217; (18 serangan dari huruf Jing), dan jilid yang lain adalah &#8216;Sia-si-san-cap-lak-boh&#8217; (36 jenis gempuran dari huruf Sia). Engkau adalah ketua Jing-sia-pay, dengan sendirinya pernah membacanya juga.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Suma Lim jengah sendiri. Ia menjadi teringat kepada cerita mendiang ayahnya dahulu bahwa di antara ilmu silat Jing-sia-pay itu memang ada yang disebut 18 serangan dan 36 gempuran. Cuma sayang lama-kelamaan ilmu-ilmu itu sebagian tak diwariskan hingga tidak lengkap jadinya, maka untuk mengalahkan Hong-lay-pay menjadi agak sulit. Tapi kalau dapat menemukan kembali ilmu silat leluhur itu dalam keadaan lengkap, jangankan cuma Hong-lay-pay saja, sekalian untuk merajai dunia persilatan rasanya juga tidak sulit.</p>
<p>Teringat cerita itu, kini mendengar pula Giok-yan pernah membaca kitab pusaka mereka itu, tentu saja Suma Lim sangat tertarik, segera ia tanya lebih jauh, &#8220;Apakah nona dapat meminjamkan buku itu kepadaku untuk membandingkannya dengan ilmu silat yang kami pelajari sekarang, agar kutahu di mana letak perbedaannya?&#8221;</p>
<p>Belum lagi Giok-yan menjawab, tiba-tiba Yau Pek-tong terbahak-bahak dan menyela, &#8220;Awas, nona, jangan engkau tertipu oleh Jing-sia-pay ini. Ilmu silat mereka sangat rendah dan jelek, paling-paling cuma beberapa jurus permainan cakar ayam, tapi dia bermaksud memancing kitab pusakamu, maka jangan sekali-kali kau pinjamkan padanya.&#8221;</p>
<p>Karena isi hatinya tepat kena dikorek, Suma Lim menjadi marah hingga mukanya merah padam, bentaknya gusar, &#8220;Aku lagi bicara sendiri dengan nona ini, apa sangkut pautnya dengan Cin-keh-ce kalian?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak ada sangkut pautnya? Haha, justru sangat besar sangkut pautnya!&#8221; sahut Yau Pek-tong dengan terbahak-bahak. &#8220;Nona Ong ini dapat mengingat sekian banyak Kungfu yang hebat dan aneh-aneh, dengan sendirinya siapa mendapatkan dia, siapa pula akan merajai dunia persilatan ini. Aku orang she Yau selamanya kalau menemukan harta benda atau gadis jelita tentu akan menaruh perhatian sepenuhnya, apalagi terhadap nona Ong yang merupakan bawang mestika yang sukar dicari ini, mana dapat kutinggal diam tanpa turun tangan? Makanya, haha, jika saudara Suma ingin pinjam buku, silakan minta izin dulu padaku. Dan, hahahaha, cobalah terka, apakah aku mengizinkan atau tidak?&#8221;</p>
<p>Perkataan Yau Pek-tong itu sangat kasar dan sombong, tapi mendadak hati Suma Lim dan kedua Susioknya tergetar juga, pikir mereka, &#8220;Gadis ini meski masih muda belia, tapi dalam hal ilmu silat ternyata mempunyai pengetahuan sedalam ini. Tampaknya dia lemah gemulai, siapa pun takkan percaya dia dapat menangkan kami. Tapi sudah jelas terbukti dia sangat luas pengetahuannya dalam berbagai aliran ilmu silat, bila kami dapat mengundangnya ke tempat Jing-sia-pay kami, bukan mustahil akan memperoleh ajaran lengkap 18 serangan dan 36 gempuran Jing-sia-pay asli, bahkan mungkin akan bertambah lagi ilmu silat dari aliran lain. Namun Cin-keh-ce juga sudah timbul niat jahatnya, tampaknya hari ini pasti akan terjadi pertarungan besar-besaran.&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu terdengar Yau Pek-tong berkata pula, &#8220;Nona, kedatangan kami sebenarnya ingin mencari setori kepada keluarga Buyung, melihat gelagatnya, agaknya nona adalah anggota keluarga Buyung, bukan?&#8221;</p>
<p>Mendengar dirinya disangka anggota keluarga Buyung, Giok-yan merasa senang dan malu-malu juga, dengan muka bersemu merah ia mengomel perlahan, &#8220;Aku bukan orang she Buyung, tapi Buyung-kongcu adalah aku punya Piauko. Ada keperluan apakah engkau mencari dia? Apakah dia berbuat kesalahan apa-apa padamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Haha, kiranya nona ini Piaumoay Buyung-kongcu, itulah lebih bagus lagi,&#8221; seru Yau Pek-tong dengan terbahak-bahak. &#8220;Leluhur Koh-soh Buyung telah utang satu juta tahil emas dan sepuluh juta tahil perak kepada keluarga Yau kami, sampai sekarang sudah ratusan tahun lamanya, tapi utang itu belum pernah dibayar atau dicicil, belum lagi ditambah dengan rentenya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mana bisa jadi begitu?&#8221; ujar Giok-yan dengan tercengang. &#8220;Keluarga Kuku terkenal kaya raya, mana mungkin utang kepada keluargamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Utang atau tidak masakah orang semuda nona bisa tahu?&#8221; sahut Pek-tong. &#8220;Yang pasti kedatanganku ini ingin menagih utang kepada Buyung Bok, tapi utang itu belum lagi dibayar dan Buyung Bok ternyata sudah mati. Bapaknya mati, terpaksa menagih kepada anaknya. Siapa tahu si bocah Buyung Hok itu selalu menghindari setiap penagih utang dan selalu mengumpat. Dengan sendirinya aku tidak berdaya, ya, terpaksa aku mesti mencari sandera yang berharga sebagai jaminan utang itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Piaukoku orangnya sangat baik, tangannya selalu terbuka, kalau benar-benar keluarganya ada utang padamu, tentu sudah lama dibayarnya. Seumpama dia tidak utang, tapi engkau kekurangan uang dan ingin minta bantuan padanya, tentu ia pun takkan mengecewakan harapanmu. Mana mungkin dia takut menemuimu dan main sembunyi?&#8221; demikian kata Giok-yan.</p>
<p>Pek-tong pura-pura berkerut kening, katanya pula, &#8220;Baiknya begini saja. Urusan ini sukar juga dijelaskan padamu. Marilah sekarang juga silakan nona ikut kami ke utara untuk tinggal barang setahun-dua tahun di Cin-keh-ce kami. Di sana kami jamin takkan mengganggu seujung rambut nona. Apalagi biniku terkenal sebagai macan betina, dalam hal perempuan, aku orang she Yau sangat prihatin, tidak berani main gila, maka nona tak perlu khawatir. Dan engkau juga tidak perlu berkemas-kemas, sekarang juga kita lantas berangkat. Nanti bila Piaukomu sudah cukup menyediakan uang dan membereskan utang lama itu, dengan sendirinya aku akan mengantar nona pulang ke Koh-soh sini untuk menikah dengan Piaukomu. Bahkan Cin-keh-ce pasti akan menyumbang sebagaimana mestinya, dan aku si orang she Yau akan ikut datang ke sini untuk minum arak nikahmu!&#8221;</p>
<p>Habis berkata, kembali Yau Pek-tong terbahak-bahak.</p>
<p>Sebenarnya ucapan Pek-tong itu sangat kasar, tapi bagi pendengaran Giok-yan, terutama bagian terakhir itu, ternyata dirasakan sangat senang dan kena di hatinya.</p>
<p>Maklum, sejak kecil Giok-yan sudah kesengsem pada sang Piauko, beberapa tahun paling akhir ini, setelah menginjak remaja dewasa, ia menjadi lebih rindu dan jatuh cinta kepada kakak misan itu. Namun entah Buyung Hok, memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, ia tetap sibuk pada urusannya sendiri dan tiada waktu memikirkan soal cinta, terhadap sang Piaumoay tetap dianggapnya sebagai adik cilik saja, kecuali bicara tentang ilmu silat dan ilmu sastra, selamanya tidak pernah menyinggung sesuatu tentang hubungan antara muda dan mudi.</p>
<p>Akhir-akhir ini karena terjadi ketegangan di antara hubungan keluarga, Ong-hujin, yaitu ibu Giok-yan, melarang Buyung Hok datang ke Man-to-san-ceng. Sebab itulah Giok-yan menjadi sedih, apalagi ia adalah gadis pingitan yang selamanya tidak pernah keluar rumah, belum pernah dengar orang bicara secara blakblakan padanya tentang urusan perjodohannya dengan sang Piauko.</p>
<p>Kini apa yang dikatakan Yau Pek-tong itu meski maksudnya cuma untuk berolok-olok saja, siapa tahu justru kena di lubuk hati si gadis dan menimbulkan rasa senangnya sebagai seorang yang tahu perasaannya, sebab itulah di kemudian hari beberapa kali mestinya jiwa Yau Pek-tong akan melayang, tapi akhirnya menjadi selamat, yaitu berkat kata-katanya sekarang yang menimbulkan rasa senang Giok-yan itu.</p>
<p>Begitulah karena senang, maka Giok-yan berkata pula, &#8220;Ai, engkau ini suka omong yang tidak-tidak. Guna apa kuikut ke Cin-keh-ce? Bila betul Kuku utang padamu, hal ini mungkin sudah terlalu lama dan dia tidak tahu, maka melalaikan kewajibannya. Namun sesudah kedua pihak mengajukan bukti-bukti yang sah, Piauko pasti sanggup membayar padamu.&#8221;</p>
<p>Sebenarnya maksud Yau Pek-tong cuma untuk membohongi si gadis saja, yaitu hendak menculiknya ke Cin-keh-ce untuk dipancing ilmu silat yang diketahui Giok-yan, tentang utang satu juta tahil emas dan sebagainya dengan sendirinya cuma bualan belaka.</p>
<p>Tapi Giok-yan masih hijau, terlalu kekanak-kanakan dan percaya penuh kepada bualannya. Maka cepat Yau Pek-tong menambahi lagi, &#8220;Namun akan lebih baik engkau ikut kami ke Cin-keh-ce saja. Di sana tempatnya sangat enak, pemandangan indah permai, pada waktu senggang kami sering berburu, kami ada piara elang dan macan tutul, tanggung takkan bosan biarpun bermain setahun dua tahun di sana. Dan bila Piaukomu mendapat kabar, tentu dia akan menyusul ke sana, seandainya dia tidak lantas membayar utangnya juga kami akan menyerahkan dirimu padanya untuk dibawa pulang ke Koh-soh sini. Nah, kau mau tidak?&#8221;</p>
<p>Propaganda ini benar-benar sangat menarik hati Giok-yan hingga air mukanya tampak berseri-seri. Cuma ia tidak lantas menjawab.</p>
<p>Sebagai orang berpengalaman, segera Suma Lim dapat melihat sikap Giok-yan yang cenderung percaya pada obrolan Yau Pek-tong itu. Ia pikir kalau si gadis sampai terima baik ajakan orang dan baru dirintangi, hal itu berarti sudah ketinggalan satu tindak. Maka belum Giok-yan membuka suara, segera ia menyela, &#8220;Cin-keh-ce yang terletak di Huiciu itu adalah suatu tempat yang tandus dan dingin, sebaliknya Ong-kohnio adalah seorang nona jelita selemah ini, mana tahan derita kedinginan di sana? Berbeda dengan Sengtoh kami yang terkenal sebagai kota yang ramai dan megah, bukan saja hasil satin dan sutranya merajai sutra keluaran tempat lain, bahkan pemandangan di sana juga tidak kalah daripada daerah Kanglam sini. Seorang nona cantik sebagai Ong-kohnio kalau dapat pesiar ke Sengtoh serta membeli sedikit kain sutra yang tersohor itu untuk baju, pasti kecantikan nona akan bertambah dan tak ada bandingannya. Buyung-kongcu adalah pemuda yang serbapandai, tentu ia pun akan senang kepada gadis yang cantik ayu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kentut! Kentut busuk! Masakah di daerah Sohciu sini kekurangan satin dan sutra, kenapa mata anjingmu tidak dipentang lebar, lihatlah apakah ketiga gadis di depan matamu ini memakai kain sutra atau tidak?&#8221; demikian maki Yau Pek-tong karena merasa usahanya disabot.</p>
<p>Namun kontan juga Suma Lim menjengek, &#8220;Ya, memang sangat busuk, teramat busuk!&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang busuk? Kau maksudkan aku?&#8221; teriak Yau Pek-tong dengan gusar.</p>
<p>&#8220;Mana aku berani mengatakan dirimu!&#8221; sahut Suma Lim. &#8220;Tapi kubilang kentut anjing barusan memang sangat busuk!&#8221;</p>
<p>&#8220;Sret&#8221;, terus saja Pek-tong lolos goloknya sambil membentak, &#8220;Suma Lim, kalau Cin-keh-ce melawan Jing-sia-pay kalian bobotnya mungkin satu kati 16 tahil alias sama kuat. Tapi kalau Cin-keh-ce bergabung dengan Hong-lay-pay, kau bilang Jing-sia-pay kalian bakal dihancurkan atau tidak?&#8221;</p>
<p>Air muka Suma Lim berubah seketika, pikirnya, &#8220;Benar juga ancamannya. Sejak ayahku wafat kekuatan Jing-sia-pay sudah jauh berkurang. Ditambah lagi jahanam Cu Po-kun telah mencolong ilmu silat golongan sendiri, kalau dia bergabung dengan Cin-keh-ce untuk mengeroyok kami, hal ini memang perlu dipikirkan. Kata peribahasa, &#8216;Turun tangan lebih dulu akan menang, turun tangan kemudian akan celaka&#8217;. Urusan hari ini rasanya harus kudahului menyerang mereka sebelum mereka siap.&#8221;</p>
<p>Berpikir demikian, segera katanya dengan tawar, &#8220;Habis apa abamu sekarang?&#8221;</p>
<p>Melihat kedua tangannya dimasukkan ke dalam lengan baju, Pek-tong tahu setiap saat Suma Lim bisa menyerang dengan senjata gelapnya yang berbisa keji.</p>
<p>Tindak tanduk Yau Pek-tong itu ternyata berbeda daripada jago silat umumnya. Orangnya kasar, tapi waktu menghadapi musuh ia justru bisa berlaku cermat.</p>
<p>Maka ia lantas pusatkan perhatian dengan penuh waspada, jawabnya kemudian, &#8220;Aku hendak mengundang nona Ong pesiar beberapa lama ke Cin-keh-ce dan kelak biar dipapak oleh Buyung-kongcu, tapi sengaja kau rintangi maksud baikku bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kubilang tempat kalian itu banyak kekurangannya dan tentu akan bikin susah nona Ong, maka lebih baik kuundang nona Ong pesiar ke Sengtoh,&#8221; sahut Suma Lim ngotot.</p>
<p>&#8220;Baik, jika begitu, marilah kita tentukan menang atau kalah di atas senjata,&#8221; tantang Yau Pek-tong. &#8220;Siapa yang menang, dia yang akan menjadi tuan rumah bagi nona Ong.&#8221;</p>
<p>&#8220;Akur,&#8221; seru Suma Lim. &#8220;Memangnya bagi yang kalah juga tidak mungkin mengundang nona Ong ke akhirat.&#8221;</p>
<p>Dengan ucapan itu tegas Suma Lim menyatakan pertarungan ini bakal dilakukan dengan mati-matian bukan lagi pertandingan biasa.</p>
<p>Pek-tong terbahak-bahak, sahutnya, &#8220;Hidup orang she Yau selalu berdiri di ujung senjata. Suma-ciangbun hendak menggertak aku dengan kematian, ha, tidak nanti orang she Yau jeri!&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan cara bagaimana kita akan bertanding? Siapa yang menjadi wasit? Memakai senjata atau bertangan kosong?&#8221; tanya Suma Lim.</p>
<p>&#8220;Sudah tentu pakai senjata, siapa sabar bertanding dengan tangan kosong &#8230;.&#8221; belum habis ucapannya, sekonyong-konyong terdengar suara mendesis-desis tiga kali.</p>
<p>Padahal pada waktu bicara pandangan Yau Pek-tong tidak pernah meninggalkan gerak-gerik Suma Lim yang sangat lihai, terkadang orang yang diserangnya belum lagi merasakan dan tahu-tahu sudah binasa. Tapi sama sekali tak terpikir olehnya bahwa ketika kedua pihak sedang bicara, mendadak lawan terus melakukan pembokongan.</p>
<p>Waktu itu tampaknya pandangan Suma Lim sedang diarahkan ke samping seakan-akan di sana sidang terjadi sesuatu, padahal maksudnya cuma untuk memancing perhatian Yau Pek-tong. Dan ketika Pek-tong sadar telah diserang musuh, namun jarak Am-gi dengan dadanya sudah tinggal setengah meter jauhnya. Seketika ia cemas dan yakin sekali ini jiwanya pasti melayang.</p>
<p>Tapi pada detik yang berbahaya itulah, sekonyong-konyong ada sepotong benda aneh warna hitam-putih menyelip di depan dadanya hingga beberapa batang jarum berbisa musuh itu terbentur jatuh ke lantai.</p>
<p>Jarum-jarum itu sebenarnya sangat cepat menyambarnya, sebagai seorang jagoan Yau Pek-tong sendiri juga merasa tidak mungkin berkelit lagi. Tapi datangnya benda penangkis itu beberapa kali lebih cepat daripada sambaran jarum hingga tepat sekali jarum itu terbentur jatuh, sedangkan macam apa benda aneh itu, putih atau hitam, baik Yau Pek-tong maupun Suma Lim sama-sama tidak lihat jelas.</p>
<p>Sebaliknya Giok-yan menjadi girang, terus saja ia bersorak, &#8220;Hai, apakah Pau-sioksiok yang datang itu?&#8221;</p>
<p>Maka terdengarlah suara seorang yang sangat aneh menjawab, &#8220;Bukan, bukan! Bukan Pau-sioksiok yang datang!&#8221;</p>
<p>&#8220;Masakah engkau bukan Pau-sioksiok?&#8221; kata Giok-yan dengan tertawa. &#8220;Engkau belum muncul, tapi istilahmu &#8216;bukan, bukan&#8217; sudah terdengar lebih dulu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan, bukan! Aku bukan Pau-sioksiokmu!&#8221; seru suara itu pula.</p>
<p>&#8220;Bukan, bukan! Habis engkau siapa?&#8221; tukas Giok-yan dengan menirukan lagu orang.</p>
<p>&#8220;Buyung-hiante panggil aku sebagai Samko, tapi kau panggil aku Sioksiok. Bukan, bukan! Engkau salah panggil,&#8221; demikian suara aneh itu.</p>
<p>Paham akan maksud ucapan orang, Giok-yan menjadi girang hingga muka pun merah, segera katanya pula, &#8220;Habis aku harus panggil &#8230; panggil apa padamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Haha, soal itu boleh kau pikir sendiri!&#8221; kata suara itu. &#8220;Engkau boleh panggil apa saja, kalau tepat, aku akan menjadi kawanmu, kalau salah panggil, selamanya aku akan mengacau padamu, supaya kau tidak jadi istri Buyung-hiante!&#8221;</p>
<p>&#8220;Cis, ayolah lekas keluar!&#8221; semprot Giok-yan.</p>
<p>Suara itu tidak menjawab lagi. Selang sejenak tetap tiada sesuatu suara apa-apa, maka Giok-yan berseru pula, &#8220;Hai, keluarlah dan bantulah aku mengenyahkan orang-orang yang tak keruan macamnya ini!&#8221;</p>
<p>Tapi keadaan tetap sunyi senyap, terang orang she Pau itu sudah pergi jauh. Giok-yan tampak agak kecewa, katanya, &#8220;Dia memang suka begini, selalu bikin orang tak dapat meraba jejaknya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang begitulah tabiat Pau-samsiansing,&#8221; ujar A Cu dengan tertawa. &#8220;Waktu nona menyuruhnya keluar tadi sebenarnya ia sudah akan muncul, tapi demi mendengar ucapanmu, ia justru sengaja jual mahal padamu. Dan saat ini mungkin dia sudah berada di tempat jauh, hari ini terang takkan muncul lagi.&#8221;</p>
<p>Sebenarnya Giok-yan sangat ingin bertemu dengan Pau-samsiansing untuk diajak berunding cara bagaimana harus pergi membantu Buyung-kongcu di Siau-lim-si. Tapi orang she Pau ini ternyata segera menghilang begitu saja, hal ini membuat Giok-yan merasa kurang senang.</p>
<p>Di lain pihak diam-diam Suma Lim dan Yau Pek-tong merasa senang. Tadi waktu Pau-samsiansing bersuara, mereka berdua celingukan kian kemari hendak mencari di mana tempat sembunyi orang she Pau itu. Akan tetapi suara itu sangat aneh, tiba-tiba kedengaran sangat dekat, tahu-tahu lantas menjauh, disangka berada di sebelah timur, ternyata sudah berpindah ke barat. Maka mereka tetap tak dapat menemukan orang she Pau itu berada di mana.</p>
<p>Dari perkataan orang aneh itu, ia sebut saudara kepada Buyung Hok dan sangat baik pula hubungannya dengan Giok-yan, bila tokoh seperti itu ikut muncul, tentu mereka sukar melawannya. Kini orang aneh itu telah pergi jauh, sudah tentu mereka sangat senang dan bersyukur.</p>
<p>Jiwa Yau Pek-tong sendiri sembilan bagian tadi sudah masuk liang kubur, tapi berkat pertolongan orang she Pau itu, jiwanya dapat ditarik kembali mentah-mentah Dengan sendirinya timbul rasa terima kasih kepada tokoh aneh itu. Sebenarnya ia tiada permusuhan apa-apa dengan Jing-sia-pay, tapi karena tadi diserang dan jiwanya hampir melayang, kini ia benar-benar dendam dan Suma Lim itu ingin dibunuhnya.</p>
<p>Maka sekali golok diangkat, segera ia membentak, &#8220;Keparat yang tidak kenal malu, main membokong dengan senjata gelap, apa kau sangka kakekmu she Yau ini mudah diserang begitu saja?&#8221;</p>
<p>Habis berkata, segera golok membacok kepala Suma Lim.</p>
<p>Cepat Suma Lim berkelit, ia mainkan ilmu silat Jing-sia-pay dengan senjata palu dan gurdi untuk melawan golok tunggal Yau Pek-tong. Suma Lim memang lincah dan gesit, sebaliknya Yau Pek-tong unggul dalam hal tenaga, serangan golok juga sangat ganas.</p>
<p>Anak murid Jing-sia-pay belum pernah bertanding melawan orang Cin-keh-ce. Kini kedua pemimpin masing-masing saling gebrak sendiri untuk pertama kalinya, menang atau kalah salah satu pihak pasti akan terbinasa, dan yang lebih penting lagi adalah menyangkut nama baik masing-masing pihak, maka Yau Pek-tong dan Suma Lim tidak berani ayal sedikit pun, keduanya bertempur dengan sepenuh tenaga.</p>
<p>Kira-kira 70-an jurus, tiba-tiba Giok-yan berkata kepada A Cu, &#8220;Lihatlah, &#8220;Ngo-hou-hoan-bun-to dari Cin-keh-ce ternyata jauh lebih buruk daripada sangkaanku, tadinya kusangka kurang lima jurus, tapi kini tampaknya lebih dari itu. Buktinya jurus seperti &#8216;Hu-cu-toh-ho&#8217; (mengutamakan kehormatan dan setia kawan) entah sebab apa tak dimainkan oleh Yau Pek-tong?&#8221;</p>
<p>Sudah tentu A Cu tidak paham ilmu silat seluas itu seperti Giok-yan, maka ia cuma mengiakan saja. Sebaliknya Yau Pek-tong yang sedang bertempur itu demi mendengar ucapan Giok-yan, kembali ia terkejut. Pikirnya, &#8220;Mengapa pandangan nona cilik ini sedemikian tajamnya? Selama berpuluh tahun terakhir ini ke-64 jurus Ngo-hou-toan-bun-to kami memang hilang sebagian dan paling akhir tinggal sisa 59 jurus saja, hal ini memang tepat sebagaimana dikatakan olehnya tadi. Tapi sejak ayahku menjabat ketua, karena bakatnya kurang dan kecerdasannya puntul, maka dua jurus &#8216;Hu-cu-toh-ho&#8217; dan &#8216;Tiong-ciat-siu-gi&#8217; tak berhasil dipelajarinya, sebab itulah kedua jurus itu pun lenyap dari ajaran perguruan selanjutnya termasuk diriku. Tapi aku telah mengubah kedua jurus itu sekadar untuk menambal kekosongan ilmu silat Cin-keh-ce. Siapa duga tetap diketahui juga oleh nona muda ini.&#8221;</p>
<p>Dan karena rahasianya terbongkar, Yau Pek-tong menjadi malu diri dan buru-buru ingin merobohkan Suma Lim sekadar mempertahankan gengsinya sebagai pemimpin.</p>
<p>Akan tetapi dalam pertandingan silat sedikit pun tidak boleh gopoh. Sebenarnya kalau Pek-tong bertanding dengan tenang dan sabar, semakin lama kemenangan pasti akan diperoleh dia. Tapi karena ingin buru-buru menjatuhkan lawan, seketika pemusatan perhatiannya menjadi terganggu. Beruntun Pek-tong melancarkan serangan berbahaya, tapi selalu dapat dihindar oleh Suma Lim.</p>
<p>Mendadak Pek-tong menggertak sekali, golok terus membabat dari samping. Ketika Suma Lim melompat ke kiri untuk menghindar, cepat Pek-tong ayun sebelah kaki untuk menendang.</p>
<p>Dalam keadaan tubuh masih terapung di udara Suma Lim sukar menghindar, tapi ia cukup cekatan dan dapat ganti gerakan dengan cepat. Mendadak ia gunakan gurdi untuk menikam kaki orang. Dengan demikian bila tendangan Pek-tong itu diteruskan berarti kaki akan patah sendiri.</p>
<p>Benar juga Pek-tong tidak berani meneruskan tendangannya. Tapi tendangannya itu ternyata tendangan Wan-yang-lian-goan-tui atau tendangan secara berantai, yaitu susul-menyusul kedua kakinya menendang bergiliran. Begitu kaki kanan ditarik kembali, segera kaki kiri melayang ke lambung lawan.</p>
<p>Namun palu kecil Suma Lim saat itu juga sedang menyampuk ke samping, &#8220;plok&#8221;, dengan tepat batang hidung Yau Pek-tong kena ketuk lebih dulu, keruan hidungnya lantas bocor dan keluar kecapnya. Dan pada saat yang sama itulah pinggang Suma Lim juga kena tendangan Yau Pek-tong.</p>
<p>Cuma karena muka Pek-tong lebih dulu kena palu, dalam kaget dan sakitnya tendangannya menjadi tak bertenaga lagi, biarpun kena tertendang, Suma Lim tidak terluka apa-apa, hanya tulang iganya kesakitan.</p>
<p>Dan justru selisih dua detik dari serangan masing-masing itulah, kalah-menang kedua pihak menjadi jelas kelihatan. Dengan mengerang murka Yau Pek-tong bermaksud menerjang maju untuk mengadu jiwa, namun kepala serasa akan pecah, kaki pun menjadi ampang, jalannya menjadi sempoyongan dan hampir-hampir roboh.</p>
<p>Kemenangan Suma Lim barusan sebenarnya diperoleh dengan agak kebetulan. Ia tahu bila jiwa lawan dibiarkan hidup, kelak pasti akan merupakan bibit bencana baginya, maka timbul niat jahatnya untuk membunuh lawan. Segera ia lontarkan tipu pancingan, ia ayun palu ke depan, ketika Yau Pek-tong angkat golok hendak menangkis, sekonyong-konyong gurdi lantas menjuju ke hulu hati pemimpin Cin-keh-ce itu.</p>
<p>Melihat Cecu mereka terancam maut, wakil Cecu dari Cin-keh-ce cepat bersuit sekali, mendadak golok ditimpukkan, begitu pula kawan-kawannya segera menirukannya hingga dalam sekejap saja belasan golok menyambar berbareng ke atas badan Suma Lim.</p>
<p>Kiranya dalam ilmu silat Cin-keh-ce itu terdapat sejurus menimpuk golok sebagai senjata gelap yang lihai. Tiap-tiap golok bobotnya 8 sampai 10 kati, bila ditimpukkan, daya serangnya menjadi sangat hebat, apalagi sekaligus belasan golok menghambur bersama, keruan Suma Ling kerepotan baik untuk menangkis maupun hendak menghindar.</p>
<p>Tampaknya dengan segera Suma Lim akan menjadi perkedel dihujani golok terbang itu, sekonyong-konyong sesosok bayangan orang berkelebat, dua tangan orang yang panjang kurus mirip cakar ayam menyambar ke sini dan meraup ke sana secepat kilat, sekaligus belasan golok terbang tadi kena ditangkap oleh tangan itu. Lalu terdengarlah suara gelak tawa orang, tahu-tahu di atas kursi tengah ruangan itu sudah bertambah dengan seorang aneh. Menyusul lantas terdengar pula suara gemerantang riuh, belasan golok yang ditangkap orang itu dibuang ke lantai di samping kakinya.</p>
<p>Dengan kaget semua orang saling pandang dengan melongo. Ternyata orang itu adalah seorang laki-laki tinggi kurus, mukanya tirus, memakai jubah panjang warna kelabu, sikapnya menantang dan tidak mau kalah.</p>
<p>Tadi semua orang sudah menyaksikan betapa tangkasnya orang itu menangkap golok terbang, kepandaian itu boleh dikatakan sudah mencapai tingkatan yang susah diukur, semua orang menjadi kagum dan jeri, tiada seorang pun berani bersuara.</p>
<p>Hanya Toan Ki saja yang tidak kenal tingginya langit dan tebalnya bumi, dengan tertawa ia berkata, &#8220;Wah, gerakan Hengtay (saudara terhormat) barusan ini sungguh sangat cepat, tentu ilmu silatmu juga sangat tinggi. Siapakah nama Anda yang terhormat, bolehkah kutahu?&#8221;</p>
<p>Belum lagi laki-laki jangkung itu menjawab, tiba-tiba Giok-yan tampil ke depan, katanya dengan tertawa, &#8220;Pau-samko, kukira engkau tidak datang lagi, aku menjadi khawatir. Siapa tahu akhirnya kau muncul juga, legalah hatiku sekarang.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, kiranya Pau-samsiansing,&#8221; sela Toan Ki.</p>
<p>Pau-samsiansing melotot sekali kepada Toan Ki, katanya dengan mendongkol, &#8220;Siapakah bocah ini? Berani ceriwis padaku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Cayhe she Toan bernama Ki, sesama hidup tidak pernah belajar ilmu silat apa-apa, tapi sudah sekian lama berkecimpung di Kangouw dan sampai sekarang ternyata tidak mati, rupanya nasibku memang lagi mujur!&#8221; demikian sahut Toan Ki dengan tertawa.</p>
<p>Mata Pau-samsiansing mendelik lagi, seketika ia tidak tahu tindakan apa yang harus dilakukan terhadap pemuda itu.</p>
<p>Tiba-tiba Suma Lim maju ke depan dan memberi hormat, katanya, &#8220;Suma Lim dari Jing-sia-pay barusan mendapat pertolonganmu, budi mahabesar itu selamanya takkan kulupakan. Numpang tanya siapakah nama Pau-samsiansing yang terhormat, supaya kelak Cayhe dapat selalu mengingatnya.&#8221;</p>
<p>Sekonyong-konyong mata Pau-samsiansing mendelik kepada Suma Lim, tahu-tahu sebelah kakinya melayang ke atas, &#8220;blang&#8221;, kontan Suma Ling ditendangnya hingga terjungkal. Lalu bentaknya, &#8220;Hm, hanya macammu saja berani tanya namaku? Aku toh tidak sengaja hendak menolong jiwamu, soalnya karena tempat ini rumah adik A Cu yang indah, kalau jiwamu melayang dan badanmu tercacah menjadi bakso di sini, bukankah akan bikin kotor tempat adik A Cu ini? Nah, lekas enyah, lekas pergi!&#8221;</p>
<p>Ketika kaki orang menendang, sebenarnya Suma Lim segera bermaksud menghindar, tapi tetap tidak keburu hingga ia tertendang terjungkal. Keruan ia sangat malu dan serbasusah.</p>
<p>Jika menuruti peraturan Kangouw, ada dua jalan yang dapat ia pilih. Pertama, segera melabrak orang untuk menentukan mati atau hidup. Kedua, mengadakan perjanjian waktu untuk kemudian mengadakan perhitungan terakhir.</p>
<p>Dengan sendirinya Suma Lim tidak rela menerima hinaan demikian di hadapan orang banyak tanpa unjuk jiwa kesatrianya. Maka dengan berani ia lantas berkata, &#8220;Pau-samsiansing, barusan jiwaku hampir melayang di bawah keroyokan golok musuh, untung telah ditolong olehmu. Suma Lim selamanya dapat membedakan budi dan dendam dengan jelas, kalau terima budi tentu kubalas, kalau dihina pasti kubayar kembali.&#8221;</p>
<p>Padahal ia cukup tahu biarpun belajar sampai tua juga tidak mampu menandingi Pau-samsiansing yang lihai ini. Terpaksa ia gunakan kata-kata yang samar-samar itu untuk menutupi rasa malunya.</p>
<p>Sebaliknya Pau-samsiansing ternyata tidak mendengarkan ocehannya, ia asyik bicara sendiri dengan Giok-yan, &#8220;Nah, jika kau panggil aku Pau-samko, inilah tepat. Seterusnya kau harus panggil Samko padaku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk panggil Samko padamu juga boleh, tapi engkau harus memenuhi suatu syaratku?&#8221; kata Giok-yan dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Eeh, pakai syarat segala? Nah, coba katakan syarat apa?&#8221; tanya Pau-samsiansing dengan mimik wajah yang lucu.</p>
<p>&#8220;Begini,&#8221; kata Giok-yan. &#8220;Engkau boleh main gila dengan siapa pun, tapi janganlah menggoda Piauko.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sama sekali aku tidak boleh menggoda dia? Hah, tak usah ya!?&#8221; kata Pau-samsiansing. &#8220;Tapi bagimu, baiklah, boleh kukurangi perbuatanku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terima kasih, Samko,&#8221; bata Giok-yan dengan tersenyum manis.</p>
<p>Melihat senyuman si gadis yang menggiurkan itu, hati Toan Ki benar-benar terpukul, kepala terasa pening dan timbul pula rasa irinya. Pikirnya, &#8220;Pau-samsiansing ini cuma berjanji akan mengurangi main gilanya kepada Buyung-kongcu, lantas dia begitu senang padanya. Wahai, Buyung Hok! Alangkah bahagia hidupmu ini dapat memperoleh cinta kasih sedalam ini dari gadis secantik ini?&#8221;</p>
<p>Sungguh dongkol Suma Lim tak terkatakan karena ucapannya tadi sama sekali tak digubris oleh Pau-samsiansing. Sekali ia memberi tanda, segera ia membawa anak buahnya hendak meninggalkan tempat ini.</p>
<p>&#8220;Nanti dulu, dengarlah pesanku!&#8221; tiba-tiba Pau-samsiansing berseru.</p>
<p>&#8220;Ada apa?&#8221; sahut Suma Lim sambil putar balik.</p>
<p>&#8220;Kabarnya kedatanganmu ke Koh-soh sini ingin menuntut balas bagi kematian ayahmu?&#8221; tanya Pau-samsiansing. &#8220;Jika demikian, engkau telah salah alamat. Ayahmu, Suma Wi, bukan dibunuh oleh Buyung-kongcu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa yang bilang? Dari mana Pau-samsiansing mendapat tahu?&#8221; tanya Suma Lim.</p>
<p>Pau-samsiansing menjadi gusar, bentaknya, &#8220;Sekali aku bilang bukan Buyung-kongcu yang membunuhnya, dengan sendirinya bukan dia. Seumpama benar dia yang bunuh, kalau aku sudah bilang bukan, ya tetap bukan. Masa ucapanku tidak masuk hitungan?&#8221;</p>
<p>Sungguh mendongkol dan penasaran sekali Suma Lim oleh ucapan orang yang mau menang sendiri itu. Tapi dengan sabar ia menjawab, &#8220;Sakit hati kematian ayah sedalam lautan, meski ilmu kepandaian Suma Lim terlalu rendah juga ingin menuntut balas biarpun akhirnya akan hancur lebur. Maka siapakah sebenarnya pembunuh ayahku, mohon sudilah memberi tahu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahaha, ayahmu kan bukan anakku, dia dibunuh oleh siapa, peduli apa denganku?&#8221; sahut Pau-samsiansing dengan tergelak. &#8220;Kan sudah kukatakan Buyung-kongcu bukan pembunuh ayahmu, barangkali kau masih tidak percaya, ya? Baiklah, anggaplah aku pembunuhnya, jika kau ingin menuntut balas, boleh terjang padaku saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sakit hati pembunuhan ayah mana boleh dibuat permainan?&#8221; sahut Suma Lim dengan wajah merah padam. &#8220;Pau-samsiansing, kutahu diriku bukan tandinganmu, engkau boleh membunuh aku, tapi kalau dihina secara demikian, betapa pun aku tidak terima.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku justru ingin menghinamu, dan aku justru tidak mau membunuhmu, nah, apa yang dapat kau lakukan padaku?&#8221; ucap Pau-samsiansing dengan tertawa.</p>
<p>Keruan dada Suma Lim hampir-hampir meledak saking gusarnya. Tapi suruh dia menerjang maju untuk mengadu jiwa, ia pun tidak berani. Karena itu ia menjadi terpaku di tempatnya dengan serbasalah.</p>
<p>Maka Pau-samsiansing berkata pula, &#8220;Hanya sedikit kepandaian Suma Wi yang tak berarti itu masakah perlu Buyung-hiante kami yang turun tangan sendiri? Ilmu silat Buyung-kongcu sepuluh kali lebih tinggi daripadaku, coba kau pikir, apakah Suma Wi sesuai untuk dibunuh olehnya?&#8221;</p>
<p>Belum lagi Suma Lim menjawab, tiba-tiba Cu Po-kun lolos senjatanya dan berseru, &#8220;Pau-samsiansing, Suma Wi Losiansing adalah guruku yang berbudi, aku melarang engkau menghina nama baiknya sesudah beliau meninggal.&#8221;</p>
<p>&#8220;Haha, engkau ini mata-mata yang menyelundup ke Jing-sia-pay, peduli apa denganmu?&#8221; ujar Pau-samsiansing dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Suma-suhu teramat baik padaku, aku Cu Po-kun merasa malu tak dapat membalas budi kebaikannya, kini meski mati demi membela nama baiknya, sedikitnya dapatlah kutebus dosa karena aku telah menipunya. Pau-samsiansing, harap kau minta maaf dan mengaku salah kepada Suma-siansing.&#8221;</p>
<p>Pau-samsiansing cuma tertawa-tawa saja, sahutnya, &#8220;Selama hidup Pau-samsiansing tidak pernah mengaku salah dan juga tidak nanti minta maaf pada orang, biarpun tahu berbuat salah juga akan tetap berbuat sampai akhirnya. Pada masa hidupnya Suma Wi juga tidak punya nama harum, sesudah mati namanya terlebih celaka lagi. Orang macam begitu memangnya sudah lama harus dibunuh. Maka kematiannya itu adalah pantas, lebih daripada pantas!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Silakan Pau-samsiansing keluarkan senjata!&#8221; seru Cu Po-kun.</p>
<p>&#8220;Hahahaha!&#8221; Pau-samsiansing terbahak-bahak. &#8220;Anak murid Suma Wi pintarnya memang cuma main membokong dengan senjata gelap, selain itu, segala apa tidak becus lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Awas serangan!&#8221; seru Cu Po-kun segera. Palu dan gurdi terus menyerang sekaligus.</p>
<p>Sama sekali Pau-samsiansing tidak berbangkit, lengan baju kiri mendadak mengebas hingga serangkum angin keras menyambar ke arah musuh.</p>
<p>Seketika Po-kun merasakan napas sesak, cepat ia mendoyong ke samping. Tak tersangka kaki kiri Pau-samsiansing lantas menjegalnya hingga Po-kun terpelanting, menyusul kaki Pau-samsiansing yang lain terus mendepak hingga tepat kena bokong Cu Po-kun, kontan saja tubuhnya yang gede itu mencelat keluar ruangan.</p>
<p>Tapi begitu jatuh segera Po-kun berbangkit dan berlari balik, kembali palu dan gurdi menyerang lagi dada Pau-samsiansing.</p>
<p>Tak terduga mendadak Pau-samsiansing ulur kedua tangan hingga tangan Po-kun terpegang, sekenanya ia lemparkan hingga tubuh Po-kun melambung ke atas, &#8220;bluk&#8221;, tubuh Po-kun membentur belandar dan jatuh kembali ke lantai. Terang jatuhnya Cu Po-kun itu sangat keras dan tentu kesakitan, tapi Po-kun benar-benar sangat bandel, untuk ketiga kalinya kembali ia menerjang lagi ke arah Pau-samsiansing.</p>
<p>Mau tak mau Pau-samsiansing berkerut kening oleh kenekatan orang. Katanya, &#8220;Kau ini benar-benar tidak tahu diri? Apa kau sangka tak mampu membunuhmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika berani, lekaslah bunuh aku!&#8221; tantang Po-kun malah.</p>
<p>Tanpa ampun lagi Pau-samsiansing pegang kedua tangan Cu Po-kun. Mendadak ia tolak tangannya ke depan, &#8220;krak-krek&#8221;, kontan lengan Cu Po-kun dipatahkan, bahkan gurdinya lantas menikam bahu kanan dan palu mengetuk pundak kiri sendiri. Seketika darah bercucuran dari bahu yang terluka itu dan tulang pundak remuk oleh ketukan palu, keadaan demikian tepat sekali seperti orang yang dilukai dengan tipu &#8220;Co-yu-hong-goan&#8221; (mendapat hadiah dari kanan-kiri alias ketuplek rezeki), yaitu salah satu jurus lihai Kungfu Jing-sia-pay.</p>
<p>Luka Cu Po-kun sudah sangat parah, walaupun ada maksudnya hendak mengadu jiwa lagi tapi keinginan ada, tenaga kurang, apa daya?</p>
<p>Orang-orang Jing-sia-pay hanya saling pandang belaka dan bingung apa mesti maju untuk menolong Cu Po-kun atau tidak. Terang gamblang tipu serangan &#8220;Co-yu-hong-goan&#8221; itu adalah Kungfu Jing-sia-pay, entah dari mana Pau-samsiansing juga dapat mempelajarinya?</p>
<p>Maka berkatalah Giok-yan kepada Cu Po-kun, &#8220;Nah, bagaimana Cu-ya? Kataku tadi bahwa tidak cukup dan percuma, sekarang kau mau percaya tidak?&#8221;</p>
<p>Cu Po-kun menggila napas panjang, jawabnya, &#8220;Taksiran nona memang sangat jitu, aku benar-benar sangat kagum.&#8221;</p>
<p>Lalu ia berpaling, kepada Suma Lim dan berkata, &#8220;Ciangbun-suheng, beruntung ilmu silat kedua aliran kita satu sama lain saling mengatasi dan sama kuatnya, Siaute telah belajar kepandaian Jing-sia-pay, tapi belum mampu menggunakannya untuk menangkis serangan Kungfu Jing-sia-pay, sudah dibuktikan oleh serangan Pau-samsiansing barusan. Ai, percumalah guruku memeras otak, akhirnya toh tidak berhasil apa-apa.&#8221;</p>
<p>Suma Lim dapat menerima apa yang dikatakan Cu Po-kun itu memang benar, meski Po-kun sudah mahir ilmu silat Jing-sia-pay, tapi tetap terluka oleh tipu serangan Jing-sia-pay sendiri. Hal ini menandakan betapa tinggi Cu Po-kun mempelajari silat Jing-sia-pay toh belum mampu mencapai tingkatan yang sempurna, dan dengan sendirinya tidak mungkin ia mengajarkan pula kepada Hong-lay-pay untuk membunuh ayahnya. Berpikir demikian hati Suma Lim menjadi banyak terhibur.</p>
<p>A Cu yang sejak tadi diam saja kini tiba-tiba menyela, &#8220;Suma-toaya, Cu-toaya, kalian sudah menyaksikan sendiri barusan Pau-samsiansing menggunakan ilmu silat Jing-sia-pay, hal ini membuktikan orang yang mahir ilmu silat Jing-sia-pay tidak melulu Kongcu kami saja. Maka sebenarnya siapa gerangan pembunuh Suma-losiansing, lebih baik kalian pulang saja untuk menyelidiki lebih jauh.&#8221;</p>
<p>Tampaknya Suma Lim masih hendak berkata apa-apa, namun Pau-samsiansing menjadi gusar, bentaknya, &#8220;Tempat ini adalah rumah tinggal adik A Cu, pemilik rumah sudah minta kalian pergi, apa kalian masih tidak tahu diri?&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah kami mohon diri, sampai berjumpa pula kelak,&#8221; kata Cu Po-kun segera. Ia tak dapat memberi hormat karena kedua lengan terluka, maka ia hanya mengangguk saja lalu bertindak pergi.</p>
<p>Suma Lim juga tahu gelagat takkan menguntungkan jika tinggal lebih lama di situ, maka beramai-ramai ia pun mohon diri bersama anak buahnya.</p>
<p>Melihat ilmu silat Pau-samsiansing begitu tinggi, tindak tanduknya juga sangat aneh, Yau Pek-tong menjadi ingin belajar kenal dengan tokoh Kangouw yang sakti ini, ditambah lagi ia masih mengincar kepandaian Giok-yan yang meliputi segala macam ilmu silat yang tak terhitung banyaknya itu. Maka sesudah orang-orang Jing-sia-pay pergi, segera ia melangkah maju dan ingin bicara dengan Pau-samsiansing.</p>
<p>Di luar dugaan mendadak Pau-samsiansing mendahului buka suara, &#8220;Yau Pek-tong, aku melarang kau bicara sepatah kata pun, lekas menggelinding pergi dari sini!&#8221;</p>
<p>Keruan Yau Pek-tong melengak, saking malunya wajahnya berubah merah padam, tanpa terasa tangannya lantas meraba golok.</p>
<p>&#8220;Yau Pek-tong,&#8221; jengek Pau-samsiansing, &#8220;hanya sedikit kepandaianmu yang tak berarti ini jangan kau coba-coba main gila di depanku. Sekali kusuruh menggelinding pergi, kau harus segera menggelinding pergi, tidak ada hak bicara apa-apa bagimu, tahu?!&#8221;</p>
<p>Melihat pemimpin mereka dihina Pau-samsiansing, anak buah Cin-keh-ce menjadi gusar juga dan bermaksud main kerubut sekuatnya, tapi senjata mereka tadi sudah dirampas Pau-samsiansing ketika menghujani Suma Lim dengan golok terbang, maka mereka cuma gusar dalam hati, tapi tiada seorang pun berani sembarangan menerjang maju dengan bertangan kosong.</p>
<p>Tiba-tiba Pau-samsiansing terbahak-bahak sambil kaki kanan menendang dan mendepak serabutan, tahu-tahu belasan batang golok yang berserakan di samping kakinya itu mencelat ke arah orang-orang Cin-keh-ce. Cuma sambaran golok yang ditendang itu sangat lamban dan dengan persis dapat ditangkap pemiliknya masing-masing, hal itu menandakan Pau-samsiansing tidak bermaksud melukai mereka.</p>
<p>Keruan orang-orang Cin-keh-ce tercengang oleh tindakan Pau-samsiansing itu, mereka sadar bila tokoh itu mau melukai mereka, rasanya tidak mungkin golok dapat mereka pegang cara begitu gampang? Sebab itulah mereka hanya berdiri dengan bingung.</p>
<p>&#8220;Yau Pek-tong,&#8221; kata Pau-samsiansing kemudian, &#8220;kukatakan lekas gelinding pergi, kau mau gelinding pergi tidak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pau-samsiansing ada budi pertolongan jiwa padaku, dengan sendirinya apa yang kau perintahkan pasti kuturut. Baiklah kumohon diri,&#8221; sahut Pek-tong dengan tertawa ewa sambil membungkuk memberi hormat. Lalu serunya kepada begundalnya, &#8220;Mari pergi semua!&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku suruh kau menggelinding pergi dan bukan menyuruhmu berjalan keluar!&#8221; kata Pau-samsiansing.</p>
<p>Pek-tong melengak bingung, tanyanya, &#8220;Cayhe tidak paham apa maksud Pau-samsiansing?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kukatakan menggelinding pergi,&#8221; ucap Pau-samsiansing. &#8220;Gelinding ya gelinding, masakah gelinding tidak tahu? Nah, kau mau menggelinding pergi tidak?&#8221;</p>
<p>Keruan Yau Pek-tong semakin tidak mengerti, ia pikir orang ini barangkali gila, lebih baik jangan digubris. Maka tanpa bicara ia terus putar tubuh dan bertindak pergi dengan langkah lebar.</p>
<p>&#8220;Bukan, bukan,&#8221; seru Pau-samsiansing tiba-tiba. &#8220;Kukatakan gelinding, dan caramu itu adalah berjalan dan bukan menggelinding. Jika kau tidak paham, inilah caranya!&#8221;</p>
<p>Habis berkata, mendadak ia melesat maju, sekali cengkeram, tahu-tahu kuduk Yau Pek-tong kena dipegangnya.</p>
<p>Segera Pek-tong menyikut ke belakang, tapi sedikit Pau-samsiansing angkat tangannya, tubuh Pek-tong lantas terkatung-katung hingga sikutannya mengenai tempat kosong. Menyusul Pau-samsiansing lantas jambret pula bebokong Pek-tong sambil membentak, &#8220;Di rumah adik A Cu mana boleh kau masuk-keluar sesukanya. Hm, menggelindinglah ke rumah kakek moyangmu!&#8221;</p>
<p>Selesai ucapannya ini, sekali ia ayun tangannya, tubuh Yan Pek-tong segede kerbau itu terus dilemparkan keluar ruangan hingga terguling-guling seperti bola menggelinding.</p>
<p>Melihat pimpinan mereka dibuang keluar begitu saja, beramai-ramai begundal Cin-keh-ce itu terus memburu keluar untuk membangunkan Pek-tong, kemudian bersama lantas melarikan diri dengan sipat kuping.</p>
<p>Kini menjadi giliran Toan Ki yang dipelototi oleh Pau-samsiansing, tapi karena tak diketahuinya asal usul pemuda itu, ia lantas tanya Giok-yan, &#8220;Siaumoay, apakah suruh dia juga enyah atau biarkan dia tinggal?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku bersama A Cu dan A Pik tadi telah ditawan oleh Peng-mama, tapi berkat pertolongan Toan-kongcu ini, dapatlah kami diselamatkan. Pula, ia menyatakan tahu seluk-beluk di Siau-lim-si, maka kita dapat menanyakan keterangan kepadanya,&#8221; demikian sahut Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Jika begitu, jadi engkau ingin dia tinggal di sini?&#8221; Pau-samsiansing menegas.</p>
<p>&#8220;Benar,&#8221; jawab si gadis.</p>
<p>&#8220;Apakah engkau tidak khawatir saudaraku Buyung itu akan minum cuka?&#8221; tanya Pau-samsiansing dengan tertawa.</p>
<p>Giok-yan terbelalak bingung, balasnya menanya, &#8220;Minum cuka apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Orang ini pintar putar lidah dan pandai bertingkah, jangan-jangan engkau akan tertipu olehnya,&#8221; kata Pau-samsiansing sambil menuding Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Aku tertipu oleh apanya?&#8221; tanya Giok-yan heran. &#8220;Apa mungkin dia sengaja mengarang hal-hal tidak benar tentang keadaan Siau-lim-si? Ah, rasanya dia juga takkan berani sembrono.&#8221;</p>
<p>Mendengar ucapan gadis itu yang masih kekanak-kanakan dan sangat polos, sedikit pun belum kenal seluk-beluk hubungan muda-mudi, Pau-samsiansing menjadi tidak enak untuk bicara lagi. Segera ia tertawa dingin sambil bertanya kepada Toan Ki, &#8220;Bagaimana keadaan saudaraku?&#8221;</p>
<p>Keruan Toan Ki menjadi dongkol, sahutnya dengan ketus, &#8220;Memangnya kau sedang menanya pesakitanmu? Dan kalau aku tidak mau omong, lantas kau akan menyiksa aku, bukan?&#8221;</p>
<p>Di dunia ini orang yang berani mengadu mulut dengan Pau-samsiansing boleh dikata dapat dihitung dengan jari. Mula-mula Pau-samsiansing tercengang juga, tapi segera ia terbahak-bahak malah, katanya, &#8220;Hahaha, bocah berani, bocah berani!&#8221;</p>
<p>Mendadak ia melangkah maju, sekali cengkeram, ia pencet lengan kiri Toan Ki, dan sedikit ia tambahi tenaga, seketika Toan Ki meringis kesakitan.</p>
<p>&#8220;Hai, hai! Apa-apaan ini?&#8221; seru Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Aku sedang tanya pesakitanku dan menggunakan siksaan, tahu?&#8221; sahut Pau-samsiansing.</p>
<p>Toan Ki sengaja tersenyum dan anggap lengan yang dipencet orang itu bukan lengan sendiri lagi, sahutnya kemudian, &#8220;Boleh kau siksa aku, tapi aku takkan gubris padamu lagi.&#8221;</p>
<p>Waktu Pau-samsiansing remas lebih keras, sakit Toan Ki meresap sampai ke tulang sumsum, bahkan, tulang lengan sampai berkeriutan seakan-akan hampir patah. Namun pemuda itu benar-benar sangat kepala batu, ia tetap diam saja.</p>
<p>&#8220;Pau-samko,&#8221; cepat A Pik berseru, &#8220;Toan-kongcu ini berwatak sangat angkuh, tapi dia adalah tuan penolong kami. Jangan engkau bikin susah padanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus, bagus. Wataknya angkuh, itulah cocok dengan seleraku yang suka dengan &#8216;bukan, bukan&#8217;!&#8221; ujar Pau-samsiansing sambil perlahan-lahan melepaskan cekalannya.</p>
<p>&#8220;Ya, bicara tentang selera, kita benar-benar sudah merasa lapar,&#8221; kata A Cu dengan tertawa dan segera ia memanggil si koki, &#8220;Hai, Lau Koh! Lau Koh!&#8221;</p>
<p>Setelah digembor lagi beberapa kali, baru kelihatan koki gendut itu melongok dari pintu samping sana. Melihat kawanan perusuh sudah tiada lagi, dengan gembira ia lantas mendekati sang majikan.</p>
<p>&#8220;Pergilah kau sikat gigi tiga kali dulu, lalu cuci muka tujuh kali serta cuci tanganmu dua belas kali, habis itu barulah membuatkan daharan untuk kami,&#8221; demikian perintah A Cu. &#8220;Tapi awas, kalau terdapat sedikit kotor saja pasti kau akan dihajar mampus oleh Pau-samya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tanggung bersih, tanggung bersih!&#8221; seru Lau Koh berulang-ulang sambil tersenyum.</p>
<p>Maka kaum hamba di dalam Thing-hiang-cing-sik itu lantas muncul lagi untuk memperbarui jamuan. A Cu menyilakan Pau-samsiansing berduduk di tempat utama, Toan Ki di tempat kedua dan Giok-yan ketiga. Ia sendiri bersama A Pik mengiringi di tempat tuan rumah.</p>
<p>Karena buru-buru ingin mengetahui keadaan Buyung-kongcu, segera Giok-yan menanya, &#8220;Samko, dia &#8230; dia &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia katanya sudah pergi ke Siau-lim-si,&#8221; tutur Pau-samsiansing segera, &#8220;mendengar berita itu, malam-malam Hong-sute lantas berangkat pergi membantunya. Tapi aku merasa urusan ini agak meragukan, lebih baik harus dirundingkan dulu dengan para kawan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Samko, keadaan sudah mendesak, seorang diri Piauko telah masuk ke Siau-lim-si yang terkenal sangat banyak jago-jago pilihan, maka kita harus lekas-lekas pergi membantunya, mengapa mesti ragu-ragu dan pakai berunding dulu segala?&#8221; ujar Giok-yan tak sabar.</p>
<p>&#8220;Bukan, bukan!&#8221; demikian Pau-samsiansing dengan istilahnya yang khas. &#8220;Siaumoay, engkau masih terlalu muda dan tidak kenal betapa palsunya hati manusia. Kepergian Buyung-hiante ke Siau-lim-si sekali ini agak berbeda daripada tindak tanduk biasanya. Karena itu aku telah pergi mencari Ting-toako untuk berunding, tapi rumahnya kosong, lalu aku pergi ke Jik-sia-cheng, tapi Kongya-jiko suami istri juga tidak di rumah. Coba pikir, bukankah ini agak ganjil?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ting-toasiok &#8230; O, Ting-toako dan Kongya-jiko mereka sudah biasa pergi keluar rumah, hal ini toh tidak perlu diherankan?&#8221; ujar Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Bukan, bulan,!&#8221; kata Pau-samsiansing sambil menggeleng. &#8220;Menurut para Koankeh di sana, katanya Toako dan Jiko suami-istri waktu meninggalkan rumah tampaknya sangat tergesa-gesa dan tidak meninggalkan sesuatu untukku. Bukankah hal ini sangat aneh dan luar biasa?&#8221;</p>
<p>Sudah tentu Toan Ki sama sekali tidak dapat mengikuti percakapan mereka tentang Ting-toako dan Kongya-jiko apa segala, ia taksir orang-orang itu adalah kaum kerabat mereka dan merupakan begundal Buyung-kongcu.</p>
<p>Tidak lama, dua pelayan laki-laki mengantarkan masakan yang masih panas. Kata A Cu dengan tertawa, &#8220;Samko, hari ini Siaumoay tak dapat memasak sendiri bagimu, lain kali tentu akan kuganti kekurangan ini &#8230;.&#8221;</p>
<p>Baru sekian bicaranya, tiba-tiba terdengar suara nyaring kelinting-kelinting dua kali di udara.</p>
<p>&#8220;Itu dia, Jiko telah kirim berita kemari,&#8221; seru Pau-samsiansing bersama A Cu dan A Pik berbareng.</p>
<p>Serentak mereka lari keluar rumah dan melihat seekor burung merpati putih sedang mengitar di udara, mendadak merpati itu menukik ke bawah dan hinggap di pundak A Cu.</p>
<p>Segera A Pik melepaskan sebuah ikatan di kaki merpati itu, sesudah dibuka bungkusan kecil itu adalah secarik kertas. Cepat Pau-samsiansing menyambut untuk dilihatnya. Kemudian ia lantas berseru, &#8220;Aha, jika begitu, kita harus lekas berangkat!&#8221;</p>
<p>Beramai-ramai mereka lantas berlari masuk dan berkata kepada Giok-yan, &#8220;Engkau mau ikut pergi atau tidak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pergi ke mana dan tentang urusan apa?&#8221; tanya si gadis.</p>
<p>&#8220;Jiko mengirim surat, katanya Buyung-hiante sudah mengadakan perjanjian dengan tujuh golongan dan aliran dari provinsi-provinsi Holam, Hopak, Soatang, dan Soasay, untuk bertanding di kota Celam pada tanggal 24 bulan tiga. Hari ini adalah tanggal 12, jadi masih ada waktu 12 hari, engkau mau ikut ke Celam atau tidak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah tentu ikut,&#8221; sahut Giok-yan cepat dengan girang. &#8220;Dia dalam surat mengatakan apa lagi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ehm, dalam surat A Cu disuruh berusaha mencari Ting-toako, Hong-sute dan diriku agar beramai-ramai pergi ke sana.&#8221; Sahut Pau-samsiansing. &#8220;Tampaknya pihak musuh sangat kuat dan susah ditempur.&#8221;</p>
<p>&#8220;Samko,&#8221; sela A Cu tiba-tiba, &#8220;Jiko dan Jiso biasanya sangat angkuh, betapa pun tangguhnya musuh juga tidak pernah mengirim surat untuk minta bala bantuan. Tapi sekali ini telah minta kita keluar semua, mungkin pihak lawan benar-benar sangat lihai.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tabiat Loji memang seperti apa yang kau katakan,&#8221; sahut Pau-samsiansing dengan tertawa, &#8220;tapi kupikir sebabnya dia minta bala bantuan agaknya bukan untuk kepentingannya, tapi demi kepentingan Buyung-hiante.&#8221;</p>
<p>Mendengar Buyung-kongcu disinggung, Giok-yan menjadi ketarik dan cepat menanya, &#8220;Sebab apa demi untuk dia?&#8221;</p>
<br />Posted in Jin Yong, Pendekar Kerajaan Tayli  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toanki.wordpress.com/1811/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toanki.wordpress.com/1811/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toanki.wordpress.com/1811/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toanki.wordpress.com/1811/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toanki.wordpress.com/1811/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toanki.wordpress.com/1811/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toanki.wordpress.com/1811/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toanki.wordpress.com/1811/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toanki.wordpress.com/1811/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toanki.wordpress.com/1811/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toanki.wordpress.com/1811/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toanki.wordpress.com/1811/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toanki.wordpress.com/1811/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toanki.wordpress.com/1811/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1811&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-21/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b75e221c0eee4ff517b26695a19675fc?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">Lenghou Tiong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 20</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-20/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-20/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 04:37:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1808</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Aku adalah tukang kebun yang disuruh menanam bunga oleh Hujin,&#8221; sahut Toan Ki dengan berlagak tertawa. &#8220;Peng-mama, apakah sudah siap rabuknya?&#8221; &#8220;Tunggulah sebentar, tidak lama lagi akan tersedia,&#8221; sahut Peng-mama. Lalu ia berpaling kembar dan tanya Giok-yan, &#8220;Siocia, Buyung-siauya sangat sayang kepada kedua pelayannya ini, bukan?&#8221; Dasar Giok-yan memang tidak biasa berdusta, maka jawabnya tanpa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1808&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Aku adalah tukang kebun yang disuruh menanam bunga oleh Hujin,&#8221; sahut Toan Ki dengan berlagak tertawa. &#8220;Peng-mama, apakah sudah siap rabuknya?&#8221;</p>
<p><span id="more-1808"></span>&#8220;Tunggulah sebentar, tidak lama lagi akan tersedia,&#8221; sahut Peng-mama. Lalu ia berpaling kembar dan tanya Giok-yan, &#8220;Siocia, Buyung-siauya sangat sayang kepada kedua pelayannya ini, bukan?&#8221;</p>
<p>Dasar Giok-yan memang tidak biasa berdusta, maka jawabnya tanpa pikir, &#8220;Ya, makanya lebih baik jangan engkau melukainya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan saat ini Hujin sedang bersemadi bukan, Siocia?&#8221; tanya pula Peng-mama.</p>
<p>&#8220;Ya,&#8221; sahut Giok-yan. Tapi segera ia tutup mulut sendiri ketika sadar telah salah omong.</p>
<p>Diam-diam Toan Ki mengeluh, &#8220;Ai, Siocia ini benar-benar lugu luar biasa, berdusta sedikit pun tidak bisa.&#8221;</p>
<p>Untunglah Peng-mama ini seperti orang tua yang sudah pikun dan tidak memerhatikan kesalahan itu, terdengar ia berkata pula, &#8220;Siocia, tali pengikatnya ini sangat erat, harap engkau bantu melepaskannya.&#8221;</p>
<p>Sembari berkata ia terus mendekati A Cu yang diringkus di pilar itu untuk melepaskan tali pengikatnya.</p>
<p>Giok-yan mengiakan sambil mendekatinya. Di luar dugaan, mendadak terdengar suara &#8220;krak&#8221; sekali, dari dalam pilar besi itu tahu-tahu menjulur keluar sebatang baja melingkar bulat hingga tepat pinggang si gadis terkurung.</p>
<p>Keruan Giok-yan menjerit kaget. Namun gelang baja itu sangat kuat, untuk melepaskan diri terang sangat sulit.</p>
<p>Toan Ki terkejut juga oleh kejadian itu, cepat ia memburu masuk dan membentak, &#8220;Apa yang kau lakukan? Lekas lepaskan Siocia!&#8221;</p>
<p>Peng-mama terkekeh-kekeh seram, sahutnya, &#8220;Katanya Hujin sedang bersemadi, mengapa kedua budak ini bisa dipanggil ke sana? Banyak sekali pelayan Hujin, masakah perlu menyuruh Siocia sendiri memanggil ke sini? Di dalam ini tentu ada apa-apanya, silakan engkau menunggu dulu di sini, Siocia!&#8221;</p>
<p>Kiranya &#8220;Hoa-pui-pang&#8221; atau kamar rabuk bunga itu adalah tempat Ong-hujin menghukum atau membunuh orang. Di dalam rumah batu itu penuh terpasang pesawat rahasia untuk membikin tawanannya tidak bisa berkutik.</p>
<p>Peng-mama itu dahulunya adalah seorang begal wanita yang terkenal sangat kejam, entah sudah berapa banyak jiwa manusia telah menjadi korban keganasannya. Tapi ia telah ditaklukkan oleh Ong-hujin, dan karena orangnya sangat cerdik dan rajin, maka ia diberi tugas melaksanakan kekejaman di kamar rabuk ini.</p>
<p>Peng-mama memang sangat cerdik, ia melihat tingkah laku Giok-yan sangat mencurigakan, ia pun tahu Ong-hujin biasanya sangat benci kepada keluarga Buyung. Ia pikir ilmu silat Siocia sangat tinggi, dirinya pasti bukan tandingannya, bila tidak turut perintahnya, mungkin gadis itu akan bertindak dengan kekerasan. Karena itulah dengan muslihatnya ia kurung Giok-yan dengan gelang baja, salah satu pesawat rahasia yang terpasang pada pilar besi itu.</p>
<p>Maka Giok-yan menjadi gusar, bentaknya, &#8220;Kurang ajar! Kau berani padaku? Lekas lepaskan aku!&#8221;</p>
<p>&#8220;Siocia,&#8221; sahut Peng-mama, &#8220;aku selalu jujur menjalankan tugas, sedikit pun tidak berani berbuat salah. Maka ingin kutanya Hujin dahulu, bila memang benar beliau suruh melepaskan kedua budak ini, tentu aku akan menjura pada Siocia untuk minta maaf.&#8221;</p>
<p>Keruan Giok-yan bertambah gugup, serunya, &#8220;Hei, jangan kau tanya Hujin, ibuku tentu akan marah!&#8221;</p>
<p>Sebagai seorang yang banyak pengalamannya, Peng-mama semakin yakin si gadis itu hendak main gila di luar tahu ibunya. Ia menjadi girang telah berjasa bagi majikannya, maka katanya pula, &#8220;Baiklah! Silakan Siocia tunggu sebentar, segera aku kembali!&#8221;</p>
<p>&#8220;Engkau lepaskan aku dahulu!&#8221; seru Giok-yan.</p>
<p>Namun Peng-mama tidak gubris lagi padanya, dengan langkah cepat segera ia hendak bertindak keluar.</p>
<p>Melihat keadaan sudah gawat, tanpa pikir lagi Toan Ki pentang kedua tangan merintangi kepergian si nenek sambil berkata dengan tertawa, &#8220;Harap engkau bebaskan Siocia dahulu, kemudian barulah pergi melapor kepada Hujin. Betapa pun dia adalah putri majikanmu, bila engkau bikin susah padanya, tentu takkan menguntungkan dirimu sendiri.&#8221;</p>
<p>Di luar dugaan, mendadak Peng-mama membaliki tangannya dan tahu-tahu sebelah tangan Toan Ki kena dipegang olehnya. Karena urat nadi tergenggam, seketika tubuh Toan Ki menjadi lumpuh, meski tenaga dalam Toan Ki luar biasa kuatnya, tapi sayang ia tidak dapat menggunakannya. Maka ia kena diseret oleh Peng-mama ke depan pilar, ketika nenek itu menekan pesawat rahasia pula, &#8220;krak&#8221;, dari pilar besi yang lain mendadak terjulur keluar geleng baja hingga pinggang Toan Ki juga terjepit.</p>
<p>Tadi begitu tangan Peng-mama memegang pergelangan tangan Toan Ki, seketika ia merasa tenaga dalamnya tiada hentinya merembes keluar dan rasanya sangat menderita. Maka sesudah pemuda itu dikurung oleh gelang baja, segera ia lepaskan pegangannya.</p>
<p>Merana pegangan nenek itu sudah dikendurkan, dalam gugupnya tanpa pikir Toan Ki terus menyikap leher Peng-mama dengan kedua tangan sambil berteriak, &#8220;Jangan kau pergi!&#8221;</p>
<p>Keruan Peng-mama kaget oleh rangkulan itu, dengan gusar ia membentak, &#8220;Lepas, lepaskan!&#8221;</p>
<p>Dan karena bersuara, tenaga dalamnya yang merembes keluar itu semakin santer.</p>
<p>Sejak mendapat pelajaran sang paman ketika berada di Thian-liong-si, kini Toan Ki sudah paham tentang ilmu memusatkan hawa murni ke dalam perut. Maka tenaga dalam yang disedotnya itu segera dapat ditabung ke dalam pusatnya.</p>
<p>Berulang-ulang Peng-mama meronta, namun sedikit pun tidak sanggup melepaskan diri dari dekapan Toan Ki. Ia menjadi takut luar biasa dan berteriak-teriak, &#8220;Hai, engkau mahir &#8230; mahir &#8216;Hoa-kang-tay-hoat&#8217;? Lepas &#8230; lepaskan aku.&#8221;</p>
<p>Karena leher Peng-mama didekap, terjadi muka Toan Ki berhadapan dengan muka nenek itu, jaraknya cuma belasan senti saja, maka ia dapat melihat nenek tua itu sekuatnya berusaha melepaskan diri dengan meringis, giginya yang kuning penuh gudal dengan siungnya yang lancip, napasnya kerbau bacin pula. Toan Ki menjadi muak dan hampir-hampir tumpah.</p>
<p>Tapi ia pun tahu, dalam saat berbahaya itu, kalau ia lepas tangan, tentu Giok-yan akan mendapat hukuman dari sang ibu dan ia sendiri bersama A Cu dan A Pik juga tak terhindar dari kematian. Karena itulah terpaksa ia menahan napas dan pejamkan mata, ia tidak pandang Peng-mama lagi, tapi membiarkan nenek itu kelabakan sendiri.</p>
<p>&#8220;Kau &#8230; kau mau melepaskan aku tidak!&#8221; teriak Peng-mama pula dengan nada mengancam. Akan tetapi, napas ada tenaga sudah berkurang.</p>
<p>Seperti diketahui, bila tenaga dalam Toan Ki semakin bertambah, daya sedot Cu-hap-sin-kang juga semakin kuat. Dahulu waktu mula-mula ia menyedot tenaga murni tokoh-tokoh seperti Boh-tin, Boh-tam dan kawannya, waktu yang dibutuhkannya sangat lama, kemudian dapat menyedot pula antero tenaga murni tokoh kelas satu Ui-bi-ceng dan Ciok-jing-cu, serta sebagian tenaga dalam Po-ting-te, Thian-in, Thian-koan dan lain-lain, kini daya sedot Cu-hap-sin-kang itu boleh dikatakan sudah luar biasa kerasnya, maka untuk menyedot tenaga dalam Peng-mama hanya diperlukan waktu singkat saja sudah selesai.</p>
<p>Begitulah, maka tiada seberapa lama keadaan Peng-mama sudah sangat payah dan lemas lunglai dengan napas kempas-kempis. Akhirnya terpaksa ia memohon, &#8220;Lepaskan aku, lepaskanlah!&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik, buka dulu pesawat rahasianya!&#8221; kata Toan Ki.</p>
<p>Peng-mama mengiakan. Tapi Toan Ki masih khawatir, ia pegang tangan kiri nenek itu dan membiarkan tangan kanannya menekan alat rahasia di bawah meja, &#8220;krek&#8221;, segera gelang baja yang mengurung pinggang Toan Ki itu mengkeret masuk ke dalam pilar.</p>
<p>Segera Toan Ki perintahkan Peng-mama membebaskan pula Giok-yan, A Cu dan A Pik.</p>
<p>Namun meski Peng-mama sudah berusaha membuka pesawat rahasia yang mengurung Ong Giok-yan itu, ternyata sedikit pun tidak berhasil.</p>
<p>&#8220;Kau berani main gila? Ayo lekas!&#8221; bentak Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Tapi &#8230; tapi tenagaku sudah habis!&#8221; sahut Peng-mama dengan muka muram dan lesu.</p>
<p>Toan Ki coba meraba ke bawah meja dan menarik sekali alat jeplakannya, perlahan gelang baja yang melingkari pinggang Giok-yan pun mengkeret masuk ke dalam pilar.</p>
<p>Toan Ki sangat girang, tapi ia belum mau melepaskan Peng-mama, sambil masih pegang tangan nenek itu, ia jemput golok dan memotong tali pengikat A Cu dan A Pik, kemudian kedua dayang itu mengeluarkan sendiri sumbat mulut mereka, saking girang dan terharunya sampai kedua dayang itu tidak sanggup bersuara untuk sejenak lamanya.</p>
<p>Giok-yan melototi Toan Ki dengan sikap terheran-heran, katanya kemudian, &#8220;Jadi kau mahir &#8216;Hoa-kang-tay-hoat&#8217;? Ilmu yang terkenal kotor itu juga engkau pelajari?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kepandaianku ini bukan &#8216;Hoa-kang-tay-hoat&#8217; segala, tapi adalah ilmu warisan keluarga Toan kami yang disebut &#8216;Thay-yang-yong-swat-kang&#8217; (ilmu sang surya mencairkan salju), yaitu semacam ilmu perubahan dari campuran It-yang-ci dan Lak-meh-sin-kiam, boleh dikatakan merupakan ilmu lawan dari Hoa-kang-tay-hoat yang jahat itu, maka tidak dapat disamaratakan,&#8221; demikian sahut Toan Ki. Ia pikir tidak mungkin menceritakan pengalamannya tentang mendapat ilmu Cu-hap-sin-kang yang panjang dan makan waktu itu, maka sengaja dikarangnya suatu nama sekenanya atas ilmu itu.</p>
<p>Ternyata Giok-yan percaya sepenuhnya, katanya dengan tertawa, &#8220;Maaf, jika begitu adalah aku sendiri yang kurang pengalaman. Bahkan tentang It-yang-ci dan Lak-meh-sin-kiam dari keluarga Toan kalian di Tayli juga aku cuma tahu namanya saja, maka kelak masih diharapkan petunjukmu.&#8221;</p>
<p>Bagi Toan Ki, asal si cantik sudi minta petunjuk padanya, itulah jauh melebihi harapannya, maka cepat sahutnya, &#8220;Asal Siocia suka, segala pertanyaanmu pasti akan kujelaskan sampai sekecil-kecilnya.&#8221;</p>
<p>Sungguh mimpi pun tak diduga oleh A Cu dan A Pik bahwa pada saat yang genting itu tiba-tiba Toan Ki bisa datang menolong mereka, bahkan tampak bicara sangat akrab dengan Ong-siocia, tentu saja mereka lebih-lebih heran. Segera A Cu berkata, &#8220;Banyak terima kasih atas pertolonganmu, Kohnio! Agar rahasia kami tidak sampai bocor, kami ingin membawa pergi Peng-mama ini.&#8221;</p>
<p>Keruan Peng-mama menjadi khawatir, serunya dengan lemah, &#8220;Jang &#8230; jangan &#8230;.&#8221;</p>
<p>Namun A Cu sudah lantas pencet pipi nenek itu hingga mulutnya mengap, terus saja ia masukkan sumbat yang dikeluarkannya dari mulut sendiri tadi ke dalam mulut Peng-mama.</p>
<p>&#8220;Haha! Bagus!&#8221; seru Toan Ki dengan tertawa. &#8220;Ini namanya &#8216;Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin&#8217;, sesuai dengan istilah &#8216;senjata makan tuan&#8217; dari keluarga Buyung kalian!&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba Giok-yan ikut berkata, &#8220;Marilah biar aku ikut pergi bersama kalian untuk melihat bagaimana &#8230; bagaimana dengan dia.&#8221;</p>
<p>A Cu dan A Pik menjadi girang, mereka tahu siapa yang dimaksudkan si &#8220;dia&#8221; itu, serta mereka berbareng, &#8220;Jika nona sudi pergi membantunya, itulah paling baik.&#8221;</p>
<p>Segera kedua dayang itu menyeret Peng-mama ke dekat pilar dan menarik alat jeplakan hingga nenek itu kena dikurung di dalam lingkaran gelang baja Habis itu mereka berempat lantas menuju ke tepi danau.</p>
<p>Syukurlah sepanjang jalan mereka tidak dipergoki kawanan dayang yang lain. Sesudah berada di atas perahu, segera A Cu dan A Pik mendayung dengan cepat meninggalkan Man-to-san-ceng.</p>
<p>Berkat petunjuk Giok-yan, maka dengan mudah dapatlah mereka keluar dari perairan yang membingungkan itu. Setiba di luar danau yang bebas, A Cu dan A Pik sendiri sudah dapat mengenali jalanan air di situ. Sementara itu hari sudah dekat magrib, cuaca sudah remang-remang.</p>
<p>&#8220;Nona, dari sini paling dekat kalau menuju ke pondok hamba, malam ini terpaksa mesti bikin susah nona menginap semalam di tempat hamba dan besok kita dapat berunding cara bagaimana harus pergi mencari Kongcu,&#8221; demikian kata A Cu.</p>
<p>&#8220;Baiklah,&#8221; sahut Giok-yan singkat.</p>
<p>Semakin jauh meninggalkan Man-to-san-ceng, gadis itu bertambah pendiam tampaknya.</p>
<p>Setelah perahu didayung sekian lama pula, cuaca sudah mulai gelap, hanya jauh di arah timur sana tampak sinar api yang berkelip-kelip. Maka berkatalah A Pik, &#8220;Tempat yang ada sinar api itulah Thing-hiang-cing-sik tempat tinggal Enci A Cu.&#8221;</p>
<p>Segera perahu didayung ke arah sinar pelita itu.</p>
<p>Tiba-tiba timbul pikiran Toan Ki, &#8220;Alangkah senangnya bila selama hidup ini dapat berada dalam perahu seperti sekarang ini dan selamanya takkan mencapai tempat sinar pelita itu!&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu terdengar Giok-yan lagi menghela napas perlahan, lalu terdengar A Pik menghiburnya dengan suara halus, &#8220;Harap nona jangan khawatir. Selamanya Kongcu tidak pernah mengalami kesukaran apa-apa, sekali ini tentu juga akan pulang dengan selamat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau dia pergi ke tempat orang Kay-pang tentu aku tidak perlu khawatir,&#8221; kata Giok-yan. &#8220;Tapi Siau-lim-si itu tidak boleh dipandang remeh. Meski ke-72 macam ilmu Siau-lim-si telah dipahami semua olehnya, tetapi bila tiba-tiba ada orang menyerangnya dengan ilmu aneh yang jarang diketahui orang luar, kan berbahaya. Ai &#8230;.&#8221;</p>
<p>Mendengar ucapan si nona yang penuh rasa khawatir dan bernada gegetun, seketika timbul rasa cemburu Toan Ki. Tiba-tiba terpikir olehnya, &#8220;Bilamana di dunia ini ada juga seorang gadis jelita seperti nona ini sedemikian mendalam cintanya padaku, entah betapa rasa bahagia hidupku ini? Pernah juga Wan-moay mencintaiku, sejak dia tahu aku ini kakak kandungnya, tentu perasaannya kepadaku sudah berubah sekarang. Dan selama ini entah dia berada di mana? Tentang nona Ciong? Nona cilik ini masih kekanak-kanakan dan hijau, kalau terkadang dia terkenang padaku, paling-paling juga cuma sepintas ingat saja untuk lain saat akan lupa lagi, tidak nanti ia merindukan kekasihnya setiap saat sebagaimana Ong-kohnio sekarang ini. Dan entah bagaimana nasib gadis cilik yang digondol lari In Tiong-ho itu? Ayah dan paman telah menjodohkan aku dengan putri Ko-pepek. Tapi muka nona Ko itu selamanya belum pernah kukenal, apakah dia cantik atau jelek, apakah tinggi atau pendek, bundar atau gepeng, sama sekali aku tidak tahu, dengan sendirinya aku tidak dapat mengenangkan dia dan dia tentu juga takkan merindukan aku.&#8221;</p>
<p>Sementara itu perahu mereka sudah makin mendekati tempat tujuan. Tiba-tiba A Cu membisiki A Pik, &#8220;Lihatlah A Pik, tampaknya agak kurang beres gelagatnya!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, kenapa begitu banyak sinar pelitanya?&#8221; sahut A Pik sambil mengangguk. Tapi segera katanya pula dengan tertawa, &#8220;Ah, mungkin di rumahmu sedang diadakan perayaan Cap-go-meh, maka terang benderang begitu? Atau boleh jadi mereka sedang menantikan engkau untuk merayakan hari lahirmu?&#8221;</p>
<p>Namun A Cu diam saja sambil terus memerhatikan titik sinar api di kediamannya sana. Kini Toan Ki juga dapat melihat jelas bahwa pada suatu benua kecil sana terdapat beberapa bangunan rumah, di antaranya ada dua gedung bersusun dan dari jendela rumah itulah tampak banyak sinar pelitanya.</p>
<p>&#8220;Rumah tinggal A Cu ini namanya &#8216;Thing-hiang-cing-sik&#8217;, tentu sama indahnya seperti &#8216;Khim-im-siau-tiok&#8217; tempat tinggal A Pik itu,&#8221; demikian pikir Toan Ki.</p>
<p>Kira-kira beberapa ratus meter sebelum tiba di rumah A Cu itu, mendadak A Cu tidak mendayung lagi, katanya, &#8220;Ong-kohnio, di rumahku kedatangan musuh!&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa katamu? Kedatangan musuh? Dari mana kau tahu dan siapakah musuhmu?&#8221; tanya nona Ong terkejut.</p>
<p>&#8220;Musuh macam apa belum kuketahui,&#8221; sahut A Cu. &#8220;Namun cobalah engkau menciumnya, bau arak yang keras ini pastilah perbuatan kaum perusuh itu.&#8221;</p>
<p>Giok-yan coba mengendus beberapa kali sekeras-kerasnya, tapi tidak mencium sesuatu bau apa-apa. Begitu pula Toan Ki dan A Pik juga tidak mengendus sesuatu bau aneh.</p>
<p>Kiranya daya endus A Cu memang lain daripada orang lain tajamnya, dari tempat jauh ia dapat membedakan sesuatu bau yang aneh. Maka katanya, &#8220;Wah, celaka! Mereka telah mengubrak-abrik macam-macam sari bunga melati, mawar dan lain-lain yang kukumpulkan dengan susah payah itu, wah, ludeslah sudah &#8230;.&#8221;</p>
<p>Begitulah ia mengeluh dan hampir-hampir menangis.</p>
<p>Toan Ki menjadi heran dari mana A Cu mengetahui hal itu? Maka ia coba tanya, &#8220;Dari mana kau tahu? Masa matamu begitu tajam hingga dapat melihat tempat jauh?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan melihat, tapi aku dapat mengendusnya,&#8221; sahut A Cu. &#8220;Ai, dengan hati-hati aku membuat sari bunga itu, kini pasti telah habis diminum oleh orang-orang jahat itu sebagai arak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lantas bagaimana Enci A Cu?&#8221; tanya A Pik. &#8220;Kita tetap pergi ke sana melabrak mereka atau menyingkir saja?&#8221;</p>
<p>&#8220;Entah musuh lihai atau tidak &#8230;.&#8221; sahut A Cu dengan ragu.</p>
<p>&#8220;Benar,&#8221; sela Toan Ki tiba-tiba, &#8220;kalau lihai, lebih baik kita menghindari saja. Bila cuma kaum keroco, ayolah kita tabrak mereka biar kapok.&#8221;</p>
<p>Memangnya A Cu lagi mendongkol, mendengar ucapan Toan Ki yang tidak berguna itu, segera ia mengomel, &#8220;Hm, hanya berani pada yang lemah, terhitung orang gagah macam apa? Dan dari mana kau tahu musuh lihai atau tidak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hal ini sangat mudah,&#8221; sahut Toan Ki. &#8220;Biarlah kupergi ke sana untuk menyelidiki lebih dulu dan kalian bertiga boleh menunggu saja di dalam perahu, jika gelagatnya jelek, cepatan kalian melarikan diri dan jangan urus diriku.&#8221;</p>
<p>Sungguh ucapan Toan Ki ini sama sekali di luar dugaan ketiga gadis itu. Mereka melihat tingkah laku pemuda ini sangat kaku, sedikit pun tiada tanda-tanda mahir ilmu silat. Akan tetapi nyatanya Peng-mama, penjaga gudang rabuk bunga yang ganas itu sekali tangannya kena dipegang olehnya terus tak bisa berkutik, bahkan tenaganya lantas hilang dalam waktu sekejap saja. Apakah sesungguhnya pemuda ini memiliki ilmu silat mahahebat dan sengaja berlagak bodoh saja?</p>
<p>Segera Giok-yan berkata, &#8220;Jika engkau pergi ke sana dan dipergoki musuh, lalu engkau dihajar atau dibunuh, lantas bagaimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika begitu, ya, apa boleh buat?&#8221; sahut Toan Ki sambil angkat pundak. &#8220;Tapi biasanya aku selalu dilindungi Yang Mahakuasa, kalau ada bahaya selalu berubah selamat.&#8221;</p>
<p>Di mulut ia berkata demikian, tapi dalam hati ia merasa biarpun mati bagi gadis jelita seperti dikau juga aku rela.</p>
<p>Mendadak Giok-yan angkat jari kiri terus menutuk Thay-yang-hiat di pelipis Toan Ki. Hiat-to itu adalah salah satu tempat mematikan di tubuh manusia, kalau kena tertutuk seketika akan terbinasa. Tak peduli betapa tinggi ilmu silat orangnya, tidak mungkin Hiat-to berbahaya itu dapat ditutup. Namun dalam kegelapan sama sekali Toan Ki tidak sadar bahwa jiwanya lagi terancam.</p>
<p>Melihat itu, A Pik bersuara kaget, sebaliknya A Cu diam saja, ia tahu sang Siocia sengaja lagi menjajal Toan Ki apakah benar-benar tidak mahir ilmu silat atau cuma berlagak pilon?</p>
<p>Ternyata ketika jari Giok-yan hampir menempel Thay-yang-hiat, tapi Toan Ki tetap tidak berasa, bahkan pemuda itu berkata, &#8220;Kalian bertiga nona muda belia, kalau mesti menghadapi musuh jahat, rasanya memang kurang baik.&#8221;</p>
<p>Maka perlahan Giok-yan tarik kembali jarinya dan bertanya, &#8220;Apa benar-benar engkau tidak pernah belajar silat?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika kepandaianku Thay-yang-yong-swat-kang ini tidak terhitung sebagai ilmu silat, maka aku benar-benar tidak pernah belajar,&#8221; sahut Toan Ki dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;He, aku mendapat akal,&#8221; tiba-tiba A Cu berkata. &#8220;Marilah kita berganti pakaian dahulu, kita pergi menemui mereka dengan menyamar sebagai kaum nelayan.&#8221;</p>
<p>Segera ia menunjuk ke sebelah timur sana dan berkata pula, &#8220;Di situ terdapat beberapa keluarga kaum nelayan, semuanya kukenal, marilah kita ke sana dulu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus, akal bagus!&#8221; seru Toan Ki dengan tertawa.</p>
<p>Segera perahu mereka didayung ke sana. Rumah kaum nelayan itu berdekatan dengan Thing-hiang-cing-sik, maka A Cu cukup kenal para tetangga itu.</p>
<p>Lebih dulu A Cu, A Pik dan Giok-yan minta pinjam beberapa perangkat pakaian keluarga nelayan itu. Sesudah menyamar sebagai wanita tukang tangkap ikan, lalu datang giliran Toan Ki menyaru sebagai nelayan setengah umur.</p>
<p>Kepandaian menyamar A Cu ternyata sangat hebat dan persis sekali. Ia gunakan tepung dan tanah liat sebagai bahan pembantu untuk mengubah muka mereka. Ia sendiri menyaru sebagai nenek pula, Giok-yan dan A Pik menjadi wanita nelayan setengah umur. Hanya sekejap saja wajah mereka sudah berubah jauh daripada usia mereka yang sebenarnya.</p>
<p>Kemudian A Cu pinjam pula perahu nelayan, jala, pancing, dan ikan yang masih segar. Dengan perahu pinjaman itu mereka lantas menuju ke Thing-hiang-cing-sik.</p>
<p>Meski wajah mereka sekarang sudah sukar dikenali, tetapi suara Toan Ki, Giok-yan dan A Pik tetap tidak berubah, begitu pula tingkah laku mereka mudah diketahui. Maka berkatalah Giok-yan dengan tertawa, &#8220;A Cu, segala apa nanti terserahlah padamu, kami terpaksa menjadi orang gagu untuk sementara.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang begitulah harapanku, tanggung rahasia kita takkan diketahui musuh,&#8221; sahut A Cu dengan tertawa.</p>
<p>Perlahan perahu mereka meluncur sampai di depan rumah tinggal A Cu itu. Ternyata sekeliling rumah itu penuh pohon Yangliu, dari dalam rumah terus-menerus terdengar suara teriakan dan gelak tawa orang yang kasar dan kotor hingga sangat bertentangan dengan keindahan rumah dan pemandangan di sekitar rumah.</p>
<p>A Cu menghela napas dengan mendongkol. Segera A Pik membisikinya, &#8220;Jangan resah Enci A Cu, setelah mengenyahkan musuh akan kubantu membersihkan rumahmu.&#8221;</p>
<p>A Cu meremas-remas tangan A Pik dengan perlahan sebagai tanda terima kasih. Lalu ia membawa Toan Ki bertiga berputar ke arah dapur di belakang rumah. Di sana tampak koki Lau Koh yang gendut sedang sibuk hingga mandi keringat, anehnya koki itu terus-menerus meludahi santapan dalam wajan, lalu mencomot pula segenggam debu kotoran dan ditaburkan juga ke dalam wajan.</p>
<p>A Cu merasa heran dan dongkol, serunya segera, &#8220;Hei, Lau Koh, apa yang kau lakukan?&#8221;</p>
<p>Keruan Lau Koh berjingkrak kaget, sahutnya tergegap, &#8220;O, aku &#8230; aku &#8230; engkau &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku nona A Cu,&#8221; kata A Cu dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Hah, kiranya nona A Cu sudah pulang,&#8221; seru Lau Koh dengan girang. &#8220;Di depan banyak kedatangan orang jahat dan aku dipaksa menyediakan daharan, lihatlah!&#8221;</p>
<p>Habis berkata ia mengusap ingusnya dan dibuang ke dalam sayur, bahkan tambah diludahi sekali lagi, lalu tertawalah koki gendut itu dengan terkekeh-kekeh.</p>
<p>Melihat kelakuan si koki yang lucu itu, diam-diam A Cu dan A Pik juga geli menahan tawa.</p>
<p>Kiranya musuh yang bikin rusuh ke rumah A Cu itu telah memerintah dan memanggil Lau Koh ke sini dan ke sana hingga koki itu sibuk tak keruan, akhirnya disuruhnya pula cepat menyediakan perjamuan. Karena penasaran, terpaksa Lau Koh membalas dendam dengan menaruh kotoran di dalam masakan yang dibuatnya itu.</p>
<p>&#8220;Idiih, masakanmu begini kotor,&#8221; demikian kata A Cu dengan kening bekernyit.</p>
<p>&#8220;O, tidak, tidak! Masakan untuk nona, tentu sebelumnya kucuci tangan sebersih-bersihnya,&#8221; cepat Lau Koh menyahut. &#8220;Tapi masakan untuk orang jahat, sengaja kubikin sekotor-kotornya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kelak kalau kulihat sayur masakanmu, bila teringat perbuatanmu sekarang pasti aku akan merasa muak,&#8221; ujar A Cu.</p>
<p>&#8220;Tidak, pasti tidak sama! Santapan untuk nona, tanggung seratus persen bersih,&#8221; sahut Lau Koh agak gugup.</p>
<p>Harus diketahui bahwa meski A Cu adalah pelayan Buyung-kongcu, tapi di Thing-hiang-cing-sik ia adalah majikan dan mempunyai pelayan dan koki sendiri serta tukang kebun dan lain-lain.</p>
<p>Kemudian A Cu tanya, &#8220;Ada berapa orang musuh yang datang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pertama datang satu rombongan kira-kira belasan orang jumlahnya, kemudian datang lagi serombongan lebih 20 orang,&#8221; tutur Lau Koh.</p>
<p>&#8220;Jadi terdiri dari dua rombongan? Orang-orang macam apa saja? Bagaimana dandanan mereka? Dari logat bicara mereka kedengarannya orang dari daerah mana?&#8221; tanya A Cu.</p>
<p>&#8220;Tampaknya yang satu rombongan orang utara, kelakuan mereka mirip bandit, dan rombongan yang lain terang orang Sujoan, semuanya memakai jubah putih, tapi tidak diketahui asal usulnya,&#8221; tutur Lau Koh.</p>
<p>&#8220;Mereka ingin mencari siapa? Apakah sudah melukai kita?&#8221; tanya A Cu.</p>
<p>&#8220;Kedua gerombolan itu begitu datang lantas menanyakan di mana Kongcu berada, kami menjawab tidak tahu, tapi mereka tidak percaya terus menggeledah seluruh isi rumah hingga para pelayan sama ketakutan dan bersembunyi, hanya aku merasa penasaran melihat tingkah laku mereka yang tidak kenal aturan itu, maka telah kutegur mereka, mak &#8230;.&#8221;</p>
<p>Sebenarnya Lau Koh hendak memaki dengan kata-kata kotor, tapi teringat olehnya sedang bicara dengan A Cu, maka kata-kata yang sudah setengah diucapkannya itu ditelannya kembali mentah-mentah.</p>
<p>A Cu dapat melihat mata kiri Lau Koh matang biru, pipi merah bengap, terang tadi habis dihajar oleh kawanan perusuh itu, pantas ia masih dendam, maka meludah dari mengingusi masakan yang akan disajikan kepada kawanan penyatron itu.</p>
<p>Setelah berpikir sejenak, segera A Cu membawa Giok-yan bertiga keluar dari pintu samping dapur dan menuju ke ruangan depan. Kira-kira beberapa meter sebelum sampai di samping ruangan tengah yang dituju, tiba-tiba terdengar suara ribut orang.</p>
<p>Giok-yan adalah gadis yang tidak pernah keluar rumah, sedang Toan Ki tinggal di daerah selatan yang jauh terpencil, maka mereka kurang pengalaman dan tidak mendengar sesuatu yang mencurigakan dari suara orang-orang itu.</p>
<p>Akan tetapi A Cu yang pandai menyamar dan pintar menirukan macam-macam suara dan nada orang itu, begitu mendengar suara ramai orang-orang itu segera merasa heran, sebab suara ribut itu kedengarannya sangat kasar, banyak kata-kata di antaranya sukar dimengerti, biarpun A Cu mahir berbagai bahasa daerah. Malahan logat orang Sujoan sama sekali tidak terdengar, padahal menurut cerita Lau Koh tadi, katanya salah satu rombongan orang itu terdiri dari orang Sujoan.</p>
<p>Dengan perlahan A Cu mendekati jendela panjang ruangan itu, ia robek sedikit kertas jendela dengan kukunya dan mengintip ke dalam. Ia lihat sinar lilin terang benderang, tapi hanya sebelah timur saja yang tersorot jelas dan kelihatan balasan laki-laki kasar dan kekar sedang makan-minum dengan senang dan bebas, mangkuk piring di atas meja tampak tumpang-siur tak keruan, di sekitar meja pun morat-marit, beberapa orang di antaranya tampak duduk di atas meja, sumpit yang tersedia juga tak diperlukan lagi, dengan tangan mereka menyambar paha ayam dan daging terus digerogoti dengan lahap. Bahkan ada di antaranya terus menggunakan golok mereka untuk memotong daging dan ikan serta menyunduk dengan ujung golok, lalu dicaplok begitu saja dengan lahapnya.</p>
<p>Sungguh A Cu sangat gemas melihat tempatnya yang rajin bersih itu dipakai pesta pora hingga morat-marit tak keruan macamnya. Ia lihat tingkah laku orang-orang itu sangat kasar, terang adalah orang dari daerah perbatasan yang kurang beradab.</p>
<p>Sesudah mengintip rombongan orang kasar itu, kemudian ia memandang pula ke arah lain, semula ia tidak menaruh perhatian, tapi sesudah dipandang pula, tanpa terasa ia bergidik sendiri.</p>
<p>Kiranya rombongan lebih 20 orang di sebelah lain semuanya mengenakan jubah putih dan duduk dengan rajin dan prihatin. Di atas meja mereka cuma tersulut sebatang lilin kecil hingga tempat yang dicapai cahaya lilin itu cuma satu-dua meter jauhnya, hanya beberapa orang di antaranya yang berdekatan dengan api lilin itu dapat terlihat jelas, wajah mereka tampak kurus kering, perawakan juga tinggi kurus, muka kaku tanpa perasaan hingga lebih mirip mayat hidup belaka.</p>
<p>Makin dipandang A Cu makin mengirik. Orang-orang itu tetap duduk saja tanpa bergerak dan tidak bersuara, kalau bukan beberapa orang di antaranya terkadang mengedip mata, mungkin mereka akan disangka sebagai mayat hidup sungguh-sungguh.</p>
<p>Melihat A Cu terpaku di tempatnya, segera A Pik mendekatinya, ketika ia memegang tangan kawan itu, ia merasa tangan A Cu sedingin es, bahkan rada gemetar. Ia menjadi heran, ia pun mencukit setitik lubang kertas jendela dan ikut mengintip ke dalam. Kebetulan sorot matanya kebentrok dengan seorang laki-laki yang berwajah kaku dan kurus, orang itu melototi A Pik sekali serupa setan iblis. Keruan A Pik terkejut dan menjerit tertahan.</p>
<p>Sedikit suara berisik itu lantas didengar oleh orang-orang di dalam ruangan, terdengarlah suara gedubrakan, daun jendela menjadi jebol dan berbareng empat orang melompat keluar. Persis yang dua orang adalah jago perbatasan dan dua orang yang lain adalah manusia aneh dari Sujoan.</p>
<p>&#8220;Siapa kalian?&#8221; bentak kedua laki-laki kekar itu segera.</p>
<p>&#8220;Kami nelayan di sekitar sini, kami dapat menangkap beberapa ekor ikan segar dan ingin dijual kepada tuan rumah di sini. Wah, ikan dan udang yang benar-benar masih sangat segar!&#8221; demikian sahut A Cu dengan bahasa daerah Sujoan sambil menunjukkan ikan dan udang besar yang sengaja dibawanya itu.</p>
<p>Sebenarnya laki-laki itu tidak paham bahasa yang diucapkan A Cu itu, tapi demi melihat dandanan A Cu sebagai wanita nelayan serta ikan dan udang yang dibawanya itu, dengan sendirinya mereka dapat menangkap maksud perkataannya. Segera salah seorang di antaranya merampas ikan yang dibawa A Cu sambil berseru, &#8220;Ah, kebetulan sekali. Hai, koki, mana koki! Ini, bawalah ke dapur untuk dimasak sebagai pengiring arak!&#8221;</p>
<p>Begitu pula laki-laki yang lain segera menerima ikan yang dipegang Toan Ki terus dibawa ke dapur.</p>
<p>Kedua tokoh aneh dari Sujoan yang kurus kering itu melihat A Cu berempat hanya kaum nelayan saja, mereka tidak urus lebih jauh dan hendak masuk kembali ke dalam.</p>
<p>Ketika kedua orang Sujoan itu berjalan lewat di samping A Pik, tiba-tiba A Pik mengendus semacam bau bacin seperti ikan busuk yang memualkan. Saking tak tahan, A Pik angkat sebelah tangan hendak mendekap hidung.</p>
<p>Karena itu sekilas salah seorang jago Sujoan itu dapat melihat lengan A Pik yang putih bersih laksana salju, ia menjadi curiga seketika. Pikirnya, &#8220;Masakah seorang wanita tukang tangkap ikan setengah umur bisa mempunyai lengan sedemikian putih dan halusnya?&#8221;</p>
<p>Langsung ia pegang lengan A Pik sambil membentak, &#8220;Aha, berapakah umurmu, hah?&#8221;</p>
<p>Keruan A Pik terkejut, tanpa pikir ia kipratkan tangannya sambil menjawab, &#8220;Apa yang hendak kau lakukan? Mengapa main pegang-pegang segala?&#8221;</p>
<p>Suara A Pik kedengaran nyaring dan lembut, tenaga kipratannya itu sangat cekatan pula hingga tangan Sujoan-koay-khek atau orang aneh dari Sujoan itu kesemutan, ia terentak hingga terhuyung-huyung mundur beberapa tindak.</p>
<p>Karena kejadian ini, pecahlah guci wasiat A Cu, terbongkarlah rahasia penyaruannya. Begitu keempat orang di luar itu berteriak, lantas saja dari dalam membanjir keluar pula belasan orang hingga Toan Ki berempat dikepung rapat di tengah.</p>
<p>Segera seorang laki-laki kekar menarik sekuatnya jenggotnya Toan Ki, untuk menghindar terang Toan Ki tidak mampu, maka terlepaslah jenggot palsunya itu. Seorang lagi hendak memegang A Pik, tapi sekali mengegos sambil mendorong, kontan orang itu disengkelit roboh oleh si gadis. Menyusul seorang lain tiba-tiba membabat dengan pedangnya dari belakang, cepat A Pik mendakkan tubuh untuk menghindar, tapi ia lupa telah memakai rambut palsu hingga sanggulnya lebih tinggi beberapa senti daripada biasanya. &#8220;Sreet&#8221;, tahu-tahu rambut palsunya yang ubanan itu jatuh tersapu pedang hingga kelihatanlah rambut asli A Pik yang hitam mengilap.</p>
<p>Keruan suasana menjadi geger seketika, beramai-ramai kawanan penyatron itu berteriak-teriak, &#8220;Hai, mata-mata musuh, tangkap mereka!&#8221; &#8211; &#8220;Ya, malah sengaja menyamar hendak menipu kita!&#8221; &#8211; &#8220;Lekas tangkap mereka dan beri hajaran yang setimpal!&#8221;</p>
<p>Namun A Cu lantas balas membentak dengan gusar, &#8220;Tutup mulut kalian! Rumah siapa ini? Siapa yang menjadi mata-mata?&#8221;</p>
<p>Tapi orang-orang itu lantas menggiring A Cu berempat ke dalam ruangan dan memberi laporan kepada seorang tua yang berduduk di pojok timur sana, &#8220;Yau-cecu, kita telah dapat menangkap mata-mata yang menyamar sebagai nelayan!&#8221;</p>
<p>Di tengah kepungan orang sebanyak itu, Giok-yan, A Cu, dan A Pik menjadi ragu-ragu. Meski mereka bertiga mempunyai ilmu silat yang sangat tinggi, tapi mereka kurang pengalaman dan masih muda, mereka menjadi bingung apakah mesti melabrak perusuh-perusuh ini atau menunggu sampai nanti bila keadaan sudah terpaksa. Lebih-lebih Toan Ki, ia tidak mahir ilmu silat, sama sekali ia tidak tahu siapa di antara perusuh-perusuh itu paling kuat dan siapa lebih lemah. Karena itu mereka berempat hanya saling pandang saja dengan bingung, terpaksa mereka berdiri di depan orang tua itu untuk mendengarkan apa yang hendak dikatakan olehnya.</p>
<p>Perawakan orang itu sangat kekar dan tegap, jenggotnya yang putih itu memanjang sampai di dada, sebelah tangannya sedang memainkan tiga butir bola besi hingga menerbitkan suara gemerantang yang nyaring.</p>
<p>Terdengarlah ia bersuara, &#8220;Mata-mata musuh dari manakah kalian ini? Kalian menyamar dengan tingkah laku yang mencurigakan, kalian pasti bukan manusia baik-baik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Menyamar sebagai nenek tidak menarik, aku tidak mau lagi A Cu,&#8221; tiba-tiba Giok-yan berkata sambil membuang rambut palsunya serta mengucap muka sendiri hingga rontok semua tepung dan tamah yang lengket di mukanya itu.</p>
<p>Ketika mendadak seorang nenek berubah menjadi seorang gadis cantik tak terhingga, seketika laki-laki yang berada di situ terlongong-longong kesima, untuk sesaat di tengah ruangan itu menjadi sunyi senyap. Bahkan jago-jago Sujoan mengarahkan sinar mata mereka kepada Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Kalian pun buang saja penyamaranmu,&#8221; kata Giok-yan kepada A Cu dan lain-lain. Lalu dengan tertawa katanya pula kepada A Pik, &#8220;Gara-garamu hingga rahasia kita terbongkar.&#8221;</p>
<p>Meski sekelilingnya dikepung rapat oleh laki-laki buas sebanyak itu, namun Giok-yan tetap bicara dengan sewajarnya saja seperti pandang sebelah mata kepada kawanan perusuh itu.</p>
<p>Segera Toan Ki, A Cu dan A Pik menurut dan membersihkan samaran mereka. Untuk sejenak semua laki-laki yang berada di situ sama ternganga, mereka pandang Giok-yan, lalu memandang pula A Cu dan A Pik, sungguh tak terpikir oleh mereka bahwa di dunia ini ada nona-nona cantik bagaikan bidadari seperti ini?</p>
<p>Selang agak lama orang tua yang tegap kekar itu baru membuka suara lagi, &#8220;Siapakah kalian? Untuk apa kalian datang ke sini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Haha, sungguh lucu!&#8221; sahut A Cu dengan tertawa. &#8220;Aku inilah pemilik Thing-hiang-cing-sik, bukannya aku menegur kalian, sebaliknya kalian malah tanya padaku. Bukankah sangat janggal? Nah, siapakah kalian, untuk apa kalian datang ke sini?&#8221;</p>
<p>&#8220;O, jadi kau tuan rumah di sini, itulah bagus sekali,&#8221; kata orang tua itu. &#8220;Apakah engkau ini Buyung-siocia? Tentunya Buyung Bok itu ayahmu, bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku cuma seorang budak rendahan, masakah punya rezeki sebesar itu untuk menjadi putri Loya?&#8221; sahut A Cu dengan tersenyum. &#8220;Siapakah tuan? Ada keperluan apa datang ke sini?&#8221;</p>
<p>Mendengar A Cu mengaku sebagai seorang budak saja, kakek itu separuh tidak percaya, ia pikir sejenak, kemudian baru berkata, &#8220;Jika demikian, silakan panggil keluar majikanmu, nanti akan kuberi tahukan maksud kedatanganku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Majikanku sedang bepergian,&#8221; sahut A Cu. &#8220;Tuan ada keperluan apa, katakan padaku juga sama saja. Siapakah nama tuan yang terhormat, apakah tidak dapat memberi tahu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ehm, aku Yau-cecu dari Cin-keh-ce di Hunciu, namaku Yau Pek-tong adanya,&#8221; sahut si kakek.</p>
<p>&#8220;O, kiranya Yau-loyacu, kagum, sudah lama kagum!&#8221; ujar A Cu.</p>
<p>&#8220;Haha, seorang nona cilik seperti dirimu bisa tahu apa?&#8221; kata Yau Pek-tong dengan tertawa.</p>
<p>Di luar dugaan Ong Giok-yan lantas menyambung, &#8220;Cin-keh-ce di Hunciu terkenal karena &#8216;Ngo-hou-toan-bun-to&#8217;. Dahulu Yau Kong-bang menciptakan 64 jurus Toan-bun-to itu, namun keturunannya telah melupakan lima jurus di antaranya dan kabarnya tinggal 59 jurus saja yang masih turun-temurun diajarkan anak muridnya. Yau-cecu, engkau sendiri sudah mahir sampai jurus keberapa?&#8221;</p>
<p>Sungguh kejut Yau Pek-tong tak terkatakan, tanpa terasa tercetus jawabannya, &#8220;Ngo-hou-toan-bun-to dari Cin-keh-ce kami memang aslinya ada 64 jurus, dari mana engkau dapat tahu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Begitulah apa yang tertulis dalam buku, tentunya tidak salah bukan?&#8221; sahut Giok-yan dengan tawar. &#8220;Dan kelima jurus yang kurang itu masing-masing adalah Pek-hou-tiau-kang (harimau putih melompat parit), &#8216;It-siu-hong-sing&#8217; (sekali bersuit keluarlah angin), &#8216;Cian-bok-cu-ju&#8217; (memotong dan menubruk dengan bebas), &#8216;Hiong-pa-kun-san&#8217; (merajai di antara gunung-gunung) dan jurus terakhir adalah &#8216;Hong-siang-seng-say&#8217; (taklukkan gajah dan kalahkan singa), betul tidak?&#8221;</p>
<p>Yau Pek-tong mengelus jenggotnya dengan heran. Tentang kekurangan lima jurus paling bagus dari ilmu golok perguruan sendiri itu diketahuinya memang sejak dulu tidak diajarkan lagi, dan tentang kelima jurus apa yang hilang itu pun tiada seorang yang tahu. Tapi kini nona ini dapat menguraikan secara lancar dan tepat, keruan Yau Pek-tong terkejut dan curiga, pertanyaan Giok-yan itu pun tak bisa dijawabnya.</p>
<p>Segera seorang laki-laki setengah umur di antara rombongan jago-jago Sujoan yang aneh itu berkata dengan suara yang banci, &#8220;Ngo-hou-toan-bun-to dari Cin-keh-ce sangat disegani di daerah Hosiok, baik lebih lima jurus ataupun kurang lima jurus juga tidak menjadi soal. Numpang tanya ada hubungan apakah nona ini dengan Buyung Hok Buyung-siansing?&#8221;</p>
<p>&#8220;Buyung-loyacu adalah aku punya Kuku, dan siapa nama tuan yang terhormat?&#8221; sahut Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Nona berasal dari keluarga terpelajar, sekali melihat lantas dapat mengatakan asal usul ilmu silat Yau-cecu,&#8221; kata laki-laki itu dengan dingin. &#8220;Maka tentang asal-usul kami, ingin kuminta nona juga coba-coba menerkanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk itu coba mengunjuk sejurus-dua lebih dulu,&#8221; sahut Giok-yan. &#8220;Kalau cuma berdasarkan beberapa patah kata saja aku tidak sanggup menerkanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar,&#8221; ujar laki-laki itu sambil mengangguk. Habis itu ia lantas masukkan tangan kanan ke dalam lengan baju kiri dan tangan kiri menyusup ke dalam lengan baju kanan hingga mirip orang yang kedinginan. Tapi ketika kemudian kedua tangan dilolos keluar, tahu-tahu setiap tangan sudah bertambah dengan semacam senjata yang aneh bentuknya.</p>
<p>Senjata yang dipegang tangan kiri adalah sebatang Thi-cui (gurdi) sepanjang belasan senti, bagian ujungnya yang runcing itu melengkung-lengkung seperti keris. Sedangkan tangan kanan memegang senjata sebatang palu kecil, palu itu berbentuk astakona atau segi delapan, panjangnya kurang lebih 30 senti. Senjata-senjata yang kecil mungil itu lebih mirip mainan kanak-kanak, tampaknya kurang berguna dipakai sebagai alat bertempur.</p>
<p>Karena itu segera beberapa laki-laki kekar dari rombongan sebelah timur sana lantas bergelak tertawa. Kata mereka di antaranya, &#8220;Hahaha, mainan anak kecil juga dikeluarkan di sini!&#8221;</p>
<p>Tapi Giok-yan lantas berkata, &#8220;Ehm, senjatamu ini adalah &#8216;Lui-kong-hong&#8217; (beledek menyambar), agaknya tuan ini mahir menggunakan Am-gi dan Ginkang. Menurut catatan di dalam buku, &#8216;Lui-kong-hong&#8217; adalah senjata tunggal dari Jing-sia-pay dari Sujoan. &#8216;Jing&#8217; meliputi 18 macam senjata dan &#8216;Sia&#8217; mencakup 36 tipu serangan. Caranya sangat aneh dan hebat. Besar kemungkinan tuan she Suma, bukan?&#8221;</p>
<p>Wajah laki-laki itu sebenarnya selalu membeku tanpa perasaan, tapi demi mendengar uraian Giok-yan itu, seketika wajahnya berubah, ia saling pandang dengan kedua pembantu di kanan-kirinya. Selang sejenak baru ia berkata pula, &#8220;Betapa luas pengetahuan ilmu silat dari Buyung-si di Koh-soh, nyata memang bukan omong kosong belaka. Cayhe memang she Suma dan bernama Lim. Numpang tanya sekalian pada nona, apa benar-benar istilah &#8216;Jing&#8217; meliputi 18 macam senjata dan &#8216;Sia&#8217; mencakup 36 tipu serangan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pertanyaanmu ini sangat kebetulan,&#8221; sahut Giok-yan. &#8220;Aku justru merasa &#8216;Jing&#8217; itu meliputi 19 jenis senjata, sebab di antaranya Po-te-ci (biji tasbih) dan Thi-lian-ci (biji teratai) tidak dapat dipersamakan, bentuknya memang hampir mirip, tapi cara menggunakannya berbeda. Sedang mengenai &#8216;Sia&#8217; yang mencakup 36 tipu serangan itu, kukira tiga serangan &#8216;Boh-kah&#8217; (memecahkan perisai), &#8216;Boh-tun&#8217; (memecahkan tameng), dan &#8216;Boh-pay&#8217; (memecahkan utar-utar) satu-sama-lain tidak banyak bedanya, maka lebih baik dihapuskan, hingga tinggal 33 jurus saja, supaya lebih sempurna.&#8221;</p>
<p>Suma Lim terlongong-longong mendengarkan cerita Ong Giok-yan itu. Padahal dalam ilmu silat perguruannya itu, sebagian belum pernah lengkap dipelajarinya, dan bagian lain justru sangat diandalkan olehnya. Tapi kini gadis semuda ini berani memberi komentar tentang ilmu silat perguruannya itu, keruan ia menjadi gusar dan menyangka orang keluarga Buyung sengaja hendak menghina padanya.</p>
<p>Namun watak Suma Lim sangat sabar, ia dapat menahan perasaannya, maka katanya, &#8220;Banyak terima kasih atas petunjuk nona, sungguh aku seperti orang bodoh yang menjadi pintar sekarang.&#8221;</p>
<p>Dan sesudah berpikir sejenak, timbul suatu akalnya, segera ia berkata kepada pembantu di sisi kiri, &#8220;Cu-sute, boleh coba kau minta sedikit pengajaran kepada nona ini.&#8221;</p>
<p>Sutenya yang she Cu itu adalah seorang laki-laki setengah umur bermuka jelek karena seantero mukanya burik, kecuali jubahnya yang putih mulus itu, kepalanya juga memakai ubel-ubel putih hingga mirip orang sedang berkabung. Di bawah sinar lilin yang remang-remang itu tampaknya menjadi tambah seram.</p>
<p>Kiranya nama lengkap laki-laki ini Cu Po-kun, sebelum masuk perguruan Jing-sia-pay ia sudah pernah belajar silat. Usianya sebenarnya balasan tahun lebih tua daripada Suma Lim, tapi karena masuk perguruan lebih belakang, maka urut-urutannya menjadi lebih muda daripada Suheng yang kini menjabat ketua perguruan itu.</p>
<p>Tentang asal usul ilmu silat yang dipelajari Cu Po-kun sebelum masuk Jing-sia-pay, karena selama ini dia bungkam saja dan tidak pernah dipamerkan, maka Suma Lim sendiri pun tidak jelas, beberapa kali ia pernah tanya, tapi Cu Po-kun selalu menjawab dengan samar-samar. Yang terang bagi Sama Lim adalah ilmu silat Cu Po-kun itu sangat tinggi dan pasti tidak di bawah dirinya.</p>
<p>Sekarang ia sengaja suruh Cu Po-kun bergebrak dengan Ong Giok-yan, taktiknya memang sangat bagus. Pertama, kalau si nona dapat membongkar rahasia Cu Po-kun, itu berarti akan terjawablah teka-teki sang Sute yang belum terpecahkan selama ini.</p>
<p>Maka Cu Po-kun lantas berdiri, ia pun memberi hormat sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam lengan baju, ketika tangan terlolos keluar, tahu-tahu sudah memegang sepasang senjata gurdi dan palu atau Lui-kong-hong serupa apa yang dikeluarkan Suma Lim tadi.</p>
<p>&#8220;Silakan nona memberi petunjuk,&#8221; demikian katanya segera.</p>
<p>Semua orang menjadi heran, kalau dengan mudah senjata Suma Lim dapat ditebak dengan jitu oleh si nona, kini senjata Cu Po-kun juga serupa dengan Suma Lim, masakah suruh orang menebak lagi?</p>
<p>Maka Giok-yan lantas berkata, &#8220;Jika tuan juga memakai senjata &#8216;Lui-kong-hong&#8217;, dengan sendirinya juga berasal dari Jing-sia-pay.&#8221;</p>
<p>Namun Suma Lim lantas memberi penjelasan, &#8220;Cu-sute sebelum masuk perguruan kami sudah belajar ilmu silat aliran lain. Dan dari aliran manakah asal usulnya itulah kami ingin menguji ketajaman pandangan nona.&#8221;</p>
<p>Ini benar-benar persoalan sulit pikir Giok-yan. Dan belum lagi ia membuka suara, tiba-tiba Yau Pek-tong mendahului buka suara, &#8220;Suma-ciangbun, apa artinya caramu minta si nona mengenali Kungfu asli Sutemu itu? Bukankah hal ini terlalu janggal?&#8221;</p>
<p>&#8220;Terlalu janggal bagaimana?&#8221; tanya Suma Lim dengan tercengang.</p>
<p>&#8220;Habis, muka Sutemu penuh lubang-lubang, ukirannya sangat bagus dan rata, muka aslinya dengan sendirinya sukar diterka,&#8221; kata Yau Pek-tong dengan tertawa.</p>
<p>Mendengar Cecu mereka mengolok-olok muka Cu Po-kun yang bopeng itu, seketika bergelak tawalah orang-orang dari Cin-keh-ce hingga riuh rendah.</p>
<p>Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar suara mendenging, secepat kilat sebuah senjata rahasia kecil lembut menyambar ke arah dada Yau Pek-tong.</p>
<p>Kiranya watak Cu Po-kun itu sangat keji dan culas, biasanya paling benci kalau ada orang menertawakan mukanya yang burik itu. Apalagi kini Yau Pek-tong mengolok-oloknya di muka wanita cantik, keruan bencinya sampai tujuh turunan, tanpa pikir lagi segera ia arahkan gurdinya ke dada Yau Pek-tong, sekali jarinya memijat ujung gurdi, terus saja sebatang Am-gi atau senjata gelap menyambar ke depan.</p>
<p>Meski Yau Pek-tong juga sudah menduga bahwa olok-oloknya itu pasti akan menimbulkan serangan lawan, tapi tak tersangka olehnya serangan Cu Po-kun bisa begitu cepat datangnya. Dalam gugupnya ia tidak sempat mencabut golok buat menangkis, terpaksa tangan kirinya menyambar tatakan lilin di atas meja untuk menyampuk Am-gi itu.</p>
<p>&#8220;Creng&#8221;, Am-gi itu mencelat ke atas dan menancap di belandar, kiranya Am-gi itu adalah sebatang jarum yang panjangnya cuma beberapa senti saja. Dan ternyata jarum sekecil itu membawa tenaga yang sangat besar, tangan Yau Pek-tong sampai pegal dan kesemutan hingga tatakan lilin itu terbentur jatuh ke lantai dan menerbitkan suara gemerantang nyaring.</p>
<p>Seketika gempar gerombolan Cin-keh-ce itu. Mereka berkaok-kaok dan mencaci-maki kalang kabut dari yang halus sampai yang paling kasar. Tapi kawanan orang Jing-sia-pay tetap bersikap dingin dan bungkam saja terhadap teriakan dan makian pihak Cin-keh-ce dianggap seperti tidak mendengar dari tidak melihat saja.</p>
<p>Sungguh tak terduga oleh Yau Pek-tong bahwa tatakan lilin seantap itu dapat terlepas dari cekalannya hanya terbentur oleh sebatang jarum selembut itu. Kalau menurut peraturan Bu-lim itu berarti dirinya telah kalah satu jurus lebih dulu. Pikirnya dalam hati, &#8220;Ilmu silat lawan tampaknya agak aneh, seumpama mesti bertempur dengan mereka juga harus berhadapan secara terang-terangan. Tapi menurut uraian nona cilik itu tadi katanya Jing-sia-pay mempunyai 18 macam jenis serangan, mungkin maksudnya 18 jenis Am-gi, untuk ini aku harus berlaku hati-hati supaya tidak kecundang lagi.&#8221;</p>
<p>Segera ia hentikan teriakan begundalnya, lalu katanya dengan tertawa, &#8220;Kepandaian saudara Cu barusan sungguh sangat bagus dan teramat keji pula! Apa namanya kepandaianmu ini?&#8221;</p>
<p>Tapi Cu Po-kun cuma tertawa dingin saja tanpa menjawab. Sebaliknya orang-orang Cin-keh-ce lantas berteriak-teriak lagi. Satu di antaranya berbadan segendut babi menggembor, &#8220;Namanya tidak punya muka!&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahaha! Sungguh tepat, sungguh jitu! Memang orangnya tidak punya muka, nama ini benar-benar sesuai sekali!&#8221; demikian seorang lagi yang bermuka mirip monyet menanggapi.</p>
<p>Teranglah ucapan orang Cin-keh-ce itu sengaja digunakan untuk menyindir muka Cu Po-kun yang burik bagai sarang tawon itu.</p>
<p>Giok-yan menggeleng kepala, katanya kemudian dengan suara lembut, &#8220;Yau-cecu, ini terang engkau yang salah!&#8221;</p>
<p>&#8220;Salah apa?&#8221; tanya Pek-tong melengak.</p>
<p>&#8220;Setiap manusia jarang yang tidak punya cacat badan, baik besar maupun kecil cacat itu,&#8221; sahut Giok-yan. &#8220;Umpama waktu kecil terjatuh mungkin akan mengakibatkan kakinya patah dan menjadi pincang. Dalam pertempuran, siapa berapi menjamin takkan kehilangan sebelah kaki atau sebelah matanya. Maka kalau di antara kawan Bu-lim ada yang badan terdapat sesuatu cacat sebenarnya adalah soal jamak bukan?&#8221;</p>
<p>Terpaksa Yau Pek-tong membenarkan.</p>
<p>&#8220;Dan tentang Cu-ya ini, karena waktu kecilnya menderita sesuatu penyakit sehingga mengakibatkan mukanya cacat, apanya yang perlu ditertawakan?&#8221; kata Giok-yan lebih lanjut. &#8220;Seorang laki-laki sejati yang harus diutamakan pertama adalah kepribadiannya, jiwa yang bersih. Kedua adalah perbuatannya, amal bakti bagi sesamanya, dan ketiga mengenai ilmu silatnya atau ilmu sastranya. Orang laki-laki tidak bersolek seperti wanita, tentang bagus atau tidak mukanya, apa alangannya?&#8221;</p>
<p>Uraian Giok-yan yang terus terang dan wajar ini membikin Yau Pek-tong tak bisa menjawab. Akhirnya ia terbahak-bahak dan berkata, &#8220;Hahaha, ada benarnya juga kata-kata nona cilik ini. Haha, jika demikian, jadi aku yang salah menertawakan Cu-heng!&#8221;</p>
<p>Giok-yan tersenyum, katanya, &#8220;Loyacu berani mengaku salah secara terus terang, suara tanda jiwa kesatria Loyacu pantas dipuji.&#8221;</p>
<p>Sampai di sini, tiba-tiba ia berpaling kepada Cu Po-kun dan berkata dengan menggeleng kepala, &#8220;Tidak, cukup, percumalah itu!&#8221;</p>
<p>Nada ucapannya sangat ramah dan penuh simpati mirip seorang kakak sedang memberi nasihat kepada adiknya.</p>
<p>Sudah tentu ucapan terakhir si nona bukan saja membingungkan orang lain, bahkan Cu Po-kun juga melongo tidak paham apa maksud perkataan Giok-yan itu.</p>
<p>Tadi ia merasa sangat senang dan berterima kasih kepada si nona oleh karena selama hidupnya yang paling disesalkan adalah mukanya yang burik itu, kini gadis itu membela orang yang cacat dan katanya yang penting bagi seorang pria adalah jiwa pribadi dan tingkah lakunya.</p>
<p>Tapi sekarang didengarnya pula gadis itu berkata &#8220;tidak cukup dan percumalah&#8221;, entah apa yang dimaksudkannya? Apa mungkin maksudnya aku punya &#8216;Thian-ong-po-sim-ciam&#8217; belum sempurna dan percuma kalau digunakan? Demikian pikir Cu Po-kun.</p>
<p>Padahal ia yakin &#8216;Thian-ong-po-sim-ciam&#8217; atau Jarum Raja Langit yang jumlah seluruhnya ada 12 batang itu kalau sekali dibidikkan pasti jiwa si tua bangka Yau Pek-tong sudah melayang sejak tadi. Ia pikir setiap saat aku toh dapat menghabiskan nyawanya, sementara ini biarlah aku tidak gubris padanya, supaya tidak sampai rahasiaku terbongkar di hadapan Suheng Suma Lim.</p>
<p>Karena pikiran itu, ia pura-pura bodoh dan tanya Giok-yan, &#8220;Apa artinya yang nona katakan itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kumaksudkan kau punya &#8216;Thian-ong-po-sim-ciam&#8217; benar-benar semacam Am-gi yang sangat ganas, tetapi &#8230;.&#8221;</p>
<p>Belum selesai Giok-yan bicara, serentak Suma Lim dan ketiga tokoh Jing-sia-pay yang lain berseru kaget, &#8220;Hah, apa? Thian-ong-po-sim-ciam?&#8221;</p>
<p>Cu Po-kun sendiri juga tergetar dan air muka berubah tapi cepat ia tenangkan diri dan menjawab, &#8220;Salah pandangan nona ini, bukan Thian-ong-po-sim-ciam, tapi Am-gi andalan Jing-sia-pay kami yang disebut &#8216;Jing-hong-ciam&#8217; (jarum tawon hijau).&#8221;</p>
<p>&#8220;Bentuk Jing-hong-ciam memang demikian adanya,&#8221; sahut Giok-yan dengan tertawa. &#8220;Caramu membidik Thian-ong-po-sim-ciam juga serupa dengan cara menggunakan Jing-hong-ciam. Tapi dasar dari Am-gi masing-masing terletak pada tenaga yang digunakannya dan daya menyambarnya. Seperti melempar pisau Siau-lim-pay mempunyai tenaga lemparan Siau-lim-pay sendiri, Hoa-san-pay juga mempunyai gaya sendiri yang tidak sama. Tentang caramu &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nona cilik tahu apa? Hendaknya jangan banyak omong hingga mencari kematian sendiri, tiba-tiba Cu Po-kun menyela dengan bengis. Sekilas sinar matanya penuh nafsu membunuh, gurdi baja terangkat di depan dada, asal palu mengetok sekali pada ujung gurdi, seketika jarum bajanya akan menyambar ke arah Giok-yan.</p>
<p>Namun demikian, biarpun ia sangat keji, demi melihat si gadis yang cantik molek, pula tadi orang telah membela cacat mukanya, seketika ia tidak tega turun tangan jahat untuk membunuh Giok-yan.</p>
<p>Namun Giok-yan menghadapinya dengan tersenyum saja, katanya, &#8220;Engkau tidak tega membunuhku, terima kasih atas kebaikanmu. Tapi andaikan kau berani turun tangan, rasanya juga percuma. Jing-sia-pay dan Hong-lay-pay bermusuhan turun-temurun, usahamu sekarang sudah pernah dicoba oleh Ciangbunjin angkatan ketujuh golongan kalian, yaitu Hay-hong-cu Totiang. Kepintarannya dan ilmu silatnya kurasa tidak berada di bawahmu.&#8221;</p>
<p>Toan Ki, A Cu, A Pik, Yau Pek-tong, Suma Lim dari lain-lain menyaksikan gurdi Cu Po-kun sudah diarahkan pada Giok-yan, akan tetapi tampaknya agak takut-takut. Padahal tadi waktu ia menyerang Yau Pek-tong, betapa cepat dan kuat sambaran senjata rahasianya sungguh jarang ada bandingannya, terang di dalam gurdi itu terpasang pegas yang daya jepretnya sangat keras. Untung Yau Pek-tong cukup gesit hingga terhindar dari maut. Tapi kini kalau Cu Po-kun juga membidikkan Am-gi seperti tadi, apakah gadis jelita seperti Giok-yan ini sanggup menghindar?</p>
<p>Namun menghadapi ancaman elmaut Giok-yan ternyata anggap sepi saja, bahkan seenaknya ia menceritakan pula rahasia besar Bu-lim tentang permusuhan Jing-sia-pay dan Hong-lay-pay, keruan seketika tokoh-tokoh Jing-sia-pay menjadi curiga dan sama melototi Cu Po-kun, pikir mereka, &#8220;Jangan-jangan Cu-sute ini orang Hong-lay-pay yang menjadi musuh bebuyutan kita dan sengaja menyusup ke dalam Jing-sia-pay kita? Akan tetapi mengapa logat suaranya orang Sujoan dan tiada tanda logat orang Soatang?&#8221;</p>
<p>Kiranya Hong-lay-pay itu berada di daerah Soatang-poan-to (semenanjung Santung), dan sudah ratusan tahun lamanya bermusuhan dengan Jing-sia-pay di Sujoan, awal mula permusuhan itu adalah karena berdebat tentang ilmu silat hingga akhirnya jadi bunuh-membunuh. Tapi karena ilmu silat kedua pihak sama kuatnya, masing-masing mempunyai keunggulan sendiri-sendiri, maka kedua pihak sama-sama belum terkalahkan, sebaliknya telah banyak memakan korban.</p>
<p>Hay-hong-cu yang disebut Giok-yan tadi adalah seorang tokoh kenamaan Hong-lay-pay, ia merasa ilmu silat kedua pihak sama kuatnya, untuk mengalahkan lawan terang tidak mungkin. Jalan satu-satunya adalah mempelajari juga ilmu silat pihak lawan, dengan demikian lawan dapat dikalahkan.</p>
<p>Karena itulah ia kirim salah seorang murid pilihannya untuk menyelundup ke dalam Jing-sia-pay. Akan tetapi sebelum murid itu cukup sempurna mempelajari ilmu silat Jing-sia-pay, ia keburu diketahui dan dihukum mati oleh ketua Jing-sia-pay.</p>
<p>Karena kejadian itu, permusuhan kedua pihak semakin mendalam dan kewaspadaan masing-masing pihak pun tambah tinggi, khawatir kalau pihak lawan menyelundupkan mata-mata ke dalam perguruan sendiri.</p>
<p>Maka selama berpuluh tahun ini Jing-sia-pay menetapkan peraturan tidak mau menerima orang dari daerah utara sebagai murid, bahkan sampai akhirnya penerimaan anak murid hanya terbatas pada orang Sujoan sendiri saja.</p>
<p>&#8220;Jing-hong-ciam&#8221; yang dikatakan itu adalah Am-gi khas golongan Jing-sia-pay, sebaliknya &#8220;Thian-ong-po-sim-ciam&#8221; yang disebut Giok-yan itu adalah senjata andalan Hong-lay-pay.</p>
<p>Sebagai murid Jing-sia-pay, senjata yang dibidikkan Cu Po-kun itu dengan sendirinya adalah Jing-hong-ciam, tapi Giok-yan justru bilang itu adalah Thian-ong-po-sim-ciam, keruan hal itu membikin jago-jago Jing-sia-pay terkejut dan curiga. Sebab sama halnya dengan Jing-sia-pay, dalam Hong-lay-pay juga ada peraturan yang melarang menerima anak murid dari daerah lain, kecuali orang Soatang sendiri. Sedang Cu Po-kun adalah keturunan keluarga Cu yang terkenal di kabupaten Khekoan di Sujoan Barat, mana bisa dia menjadi murid Hong-lay-pay?</p>
<p>Maksud Suma Lim menyuruh Cu Po-kun maju menghadapi Giok-yan juga cuma timbul dari rasa ingin tahu asal usul Cu-sute itu dan bukan timbul dari niat jahat. Maka ia benar-benar tidak mengerti mengapa senjata rahasia Cu-sute itu adalah senjata andalan Hong-lay-pay yang merupakan musuh besar itu?</p>
<p>Kalau ada orang yang paling kaget, maka orang itu adalah Cu Po-kun sendiri, yaitu karena rahasia pribadinya kena dibongkar oleh Giok-yan.</p>
<p>Kirinya guru Cu Po-kun yang pertama bernama To-leng-cu, seorang tokoh terkemuka dari Hong-lay-pay. Pada waktu mudanya To-leng-cu pernah juga dihajar orang Jing-sia-pay, maka dengan mati-matian ia mencari jalan untuk membalas dendam. Akhirnya ia mendapat satu akal.</p>
<p>Ia suruh seorang kawannya menyaru sebagai begal besar dan menggerayangi keluarga Cu di Khekoan, tuan rumahnya diringkus serta akan memerkosa anak istrinya. Sementara itu To-leng-cu sudah menunggu di luar rumah, pada saat yang paling genting itulah baru ia muncul dan pura-pura menolong keluarga Cu serta mengenyahkan penjahat itu.</p>
<p>Sudah tentu tuan rumah sangat berterima kasih dan menganggapnya sebagai dewa penolong. To-leng-cu sengaja berlagak sebagai imam bisu, ia memberi isyarat bahwa bukan mustahil kawanan begal itu akan datang kembali, keruan tuan rumahnya ketakutan setengah mati dan minta tolong supaya To-leng-cu suka tinggal sementara waktu di rumah keluarga Cu.</p>
<p>Padahal sebelumnya To-leng-cu sudah menyelidiki dan mendapat tahu putra keluarga Cu, yaitu Cu Po-kun mempunyai bangun tubuh dan bakat yang bagus, semula ia pura-pura keberatan, tapi kemudian setelah dimohon pula akhirnya ia terima undangan tuan rumah dan tinggal di situ.</p>
<p>Maju setindak, pada suatu kesempatan lain ia lantas memancing agar Cu Po-kun mengangkatnya sebagai guru. Dan nyata, Cu Po-kun memang sangat pintar, bakatnya sangat menonjol, belajarnya juga giat maka kemajuannya sangat pesat. Tiada seberapa tahun, jadilah Cu Po-kun seorang tokoh pilihan Hong-lay-pay.</p>
<p>To-leng-cu itu kecuali bermaksud membalas dendam kepada Jing-sia-pay, sebenarnya tiada niat jahat lain. Ia pun sangat sabar dan telaten, sedari mulai sampai akhir ia tetap pura-pura bisu dan tidak pernah bicara sepatah kata pun.</p>
<p>Pada waktu memberi pelajaran pada Cu Po-kun juga dilakukan dengan isyarat-isyarat tangan dan bila perlu dengan tulisan, sebab itulah meski ia tinggal bersama Cu Po-kun selama sepuluh tahun, si murid tetap tidak pernah mendengar sepatah kata sang guru yang berlogat Soatang.</p>
<p>Ketika Cu Po-kun sudah tamat belajar, To-leng-cu lantas menuliskan sebab musabab tentang dirinya memondok di rumah keluarga Cu serta minta keputusan si murid. Sudah tentu mengenai muslihat kawannya disuruh menyamar sebagai begal dan dirinya pura-pura menolong itu sama sekali tidak disinggungnya.</p>
<p>Oleh karena selama sepuluh tahun itu To-leng-cu sangat berbudi padanya, boleh dikatakan segenap ilmu silat Hong-lay-pay telah diturunkan padanya, karena terima kasihnya, setelah mengetahui maksud tujuan sang guru, segera Cu Po-kun terima tugas dengan baik dan masuk Jing-sia-pay sebagai murid Suma Wi.</p>
<p>Suma Wi adalah ayah Suma Lim yang menjadi ketua Jing-sia-pay sekarang. Tatkala itu usia Cu Po-kun sudah tidak muda lagi, sebenarnya Suma Wi tidak mau menerimanya. Tapi keluarga Cu adalah hartawan berpengaruh di Sujoan Barat, betapa pun Jing-sia-pay juga ingin menambah nama baik dengan dukungan golongan berpengaruh, maka akhirnya ia pun menerimanya.</p>
<p>Di dalam memberi pelajaran, Suma Wi dapat mengetahui juga bahwa Cu Po-kun sudah menguasai dasar ilmu silat yang lumayan, beberapa kali ia coba tanya, tapi Po-kun memberi jawaban bahwa kepandaiannya itu diperoleh dari guru silat pasaran yang diundang ke rumah oleh orang tua. Suma Wi pikir hartawan besar seperti keluarga Cu memang bukan mustahil ada beberapa penjaga rumah yang berilmu silat, maka ia pun tidak tanya lebih jauh.</p>
<p>Cu Po-kun sendiri sebelum masuk Jing-sia-pay lebih dulu sudah diberi petunjuk oleh To-leng-cu tentang ilmu silat Jing-sia-pay mana yang harus diperhatikan dan diselami secara mendalam. Apalagi setiap tahun baru atau hari raya ia suka memberi sumbangan-sumbangan kepada sang guru dan para saudara seperguruan, bila Suhu ada kesukaran apa-apa, berkat keluarganya yang berharta dan berpengaruh, segala apa dapat dibereskannya dengan baik olehnya.</p>
<p>Karena itulah Suma Wi merasa tidak enak sendiri, dalam hal pelajaran ia berikan apa semestinya, maka apa yang dipahami Cu Po-kun boleh dikatakan tiada berbeda daripada Suma Lim yang merupakan putra tunggal Suma Wi itu.</p>
<p>Sebenarnya tiga-empat tahun yang lalu To-leng-cu telah minta pada Po-kun agar pura-pura ingin berkelana untuk menambah pengalaman, lalu datang ke Hong-lay-pay untuk mempertunjukkan ilmu silat Jing-sia-pay yang telah dipelajarinya itu. Dengan begitu supaya Hong-lay-pay bisa menyelami kepandaian musuh untuk kemudian dapat membasminya habis-habisan.</p>
<p>Namun sejak Cu Po-kun menjadi murid Jing-sia-pay, ia merasa Suma Wi memandangnya tidak berbeda serupa putra sendiri, kalau dia disuruh membasmi Jing-sia-pay dengan tangan sendiri dan membunuh keluarga Suma, betapa pun ia tidak tega.</p>
<p>Maka diam-diam ia ambil keputusan kalau nanti Suma Wi sudah wafat barulah ia tega melaksanakan niat To-leng-cu itu. Mengenai Suma Lim karena Suheng ini lumrah saja terhadapnya dan tiada sesuatu yang luar biasa, kalau membunuhnya terasa tidak menjadi soal. Sebab itulah rencana To-leng-cu menjadi tertunda lagi beberapa tahun.</p>
<p>Beberapa kali To-leng-cu pernah mendesaknya, tapi selalu Po-kun memberi alasan belum sempurna mempelajari kepandaian Jing-sia-pay, belum lengkap apa yang dipahaminya, kalau buru-buru turun tangan, mungkin akan gagal setengah jalan. Karena itu, dengan sendirinya To-leng-cu tidak berani memaksa dan terpaksa bersabar terus.</p>
<p>Sampai pertengahan tahun yang lalu, tiba-tiba terjadilah sesuatu di luar dugaan. Suma Wi telah dibinasakan orang di dekat Pek-te-sia dengan &#8220;Boh-goat-cui&#8221;, salah satu di antara ke-36 macam Kungfu Jing-sia-pay sendiri. Telinganya pecah dan otaknya terluka hingga tewas.</p>
<p>Apa yang disebut &#8220;Boh-goat-cui&#8221; itu tidak berwujud gurdi sungguh-sungguh, tapi kelima jari tangan disatukan hingga lancip tampaknya terus dijujukan untuk menyerang telinga musuh dengan tenaga dalam yang dahsyat.</p>
<p>Ketika Suma Lim dan Cu Po-kun mendapat kabar kematian Suma Wi itu, siang malam mereka memburu ke tempat kejadian, yaitu Pek-te-sia. Ketika memeriksa luka sang guru, ternyata bekas ditewaskan dengan ilmu &#8220;Boh-goat-cui&#8221; atap Gurdi Perusak Bulan, padahal ilmu itu adalah Kungfu andalan Jing-sia-pay sendiri.</p>
<p>Keruan kejut dan berduka kedua orang itu. Setelah mereka berunding, mereka berpendapat kecuali Suma Wi sendiri yang mahir menggunakan &#8220;Boh-goat-cui&#8221; cuma Suma Lim dan Cu Po-kun sendiri, ditambah lagi dua tokoh tua Jing-sia-pay yang lain. Tapi pada waktu peristiwa terbunuhnya Sama Wi itu keempat orang yang mahir &#8220;Boh-goat-cui&#8221; itu sedang berada di rumah dan berkumpul menjadi satu hingga tiada seorang pun yang mungkin dicurigai. Dan jika begitu pembunuh Suma Wi itu selain Buyung-si dari Koh-soh yang terkenal &#8220;Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin&#8221;, terang tiada orang lain lagi.</p>
<p>Sebab itulah segenap anggota Jing-sia-pay telah dikerahkan serentak untuk mengaduk ke Koh-soh dan hendak bikin perhitungan dengan Buyung-si.</p>
<p>Sebelum berangkat, diam-diam Cu Po-kun tanya kepada To-leng-cu apakah matinya Suma Wi itu adalah perbuatan orang Hong-lay-pay? Tapi To-leng-cu memberi jawaban tertulis, &#8220;Ilmu silat Suma Wi setingkat dengan aku. Kalau aku harus menyergap dia tentu kugunakan Thian-ong-po-sim-ciam baru dapat membinasakan dia. Kalau main keroyok, kita harus pakai Tiat-koay-tin (barisan tongkat besi)&#8221;.</p>
<p>Po-kun pikir keterangan To-leng-cu itu memang benar. Tatkala itu diketahuinya ilmu silat kedua guru itu memang setingkat, siapa pun tak bisa mengalahkan pihak yang lain. Kalau hendak membunuh Suma Wi dengan &#8220;Boh-goat-cui&#8221;, jangankan To-leng-cu memang tidak mahir ilmu itu, sekalipun mahir juga takkan mampu melawan kekuatan Suma Wi. Karena itu, tanpa sangsi lagi Cu Po-kun lantas ikut ke Koh-soh untuk menuntut balas.</p>
<p>Setiba di Koh-soh, setelah tanya ke sini-sana, akhirnya dapatlah mereka sampai di Thing-hiang-cing-sik. Tak tersangka lebih dulu kawanan bandit dari Cin-keh-ce itu sudah berada di situ. Orang-orang Jing-sia-pay mempunyai disiplin yang sangat keras, kalau tidak diperintah pemimpin tiada serang pun yang berani sembarangan bicara atau bertindak. Maka demi melihat kelakuan orang-orang Cin-keh-ce yang kasar itu, mereka sangat memandang hina tingkah laku yang tidak patut itu.</p>
<p>Tujuan kedatangan Jing-sia-pay adalah membalas sakit hati, maka terhadap setiap benda di dalam Thing-hiang-cing-sik sama sekali tidak diusik sedikit pun, santapan yang mereka makan juga ialah ransum yang mereka bawa sendiri. Dengan demikian mereka menjadi selamat malah, sebab mereka tidak ikut merasakan kelezatan ingus dan ludah serta kotoran yang ditaburkan oleh si koki gendut alias Lau Koh, yang kenyang makan kotoran adalah orang-orang Cin-keh-ce.</p>
<p>Siapa duga kemudian datanglah Giok-yan berempat hingga rahasia Cu Po-kun sekaligus terbongkar. Segera timbul maksudnya membunuh si nona untuk menutup mulutnya, tapi sedikit ayal lantas terlambat, kata-kata &#8220;Thian-ong-po-sim-ciam&#8221; sudah keburu didengar oleh Suma Lim, sekalipun umpamanya Giok-yan dapat dibunuh olehnya juga tiada faedah baginya, paling-paling malahan akan menandakan rasa takutnya karena rahasianya terbongkar.</p>
<p>Kemudian didengarnya pula Giok-yan mengatakan, &#8220;Usahamu ini dahulu sudah pernah dilakukan oleh ketua angkatan ketujuh kalian, Hay-hong-cu, kepintarannya pasti tidak di bawahmu, tapi dia toh juga gagal.&#8221;</p>
<p>Pula gadis itu mengatakan, &#8220;Tidak cukup, percumalah!&#8221;</p>
<p>Apakah maksudnya ilmu silat Jing-sia-pay yang kupelajari dari Suma Wi ini masih kurang cukup dan belum meliputi seluruh ilmu silat Jing-sia-pay? Atau masuknya ke Jing-sia-pay sudah dicurigai, cuma Suhu tidak mau membongkar rahasiaku ini? Dan sekarang sesudah orang-orang Jing-sia-pay mengetahui aku adalah mata-mata musuh, lalu apa yang mereka akan perbuat atas diriku? Sejak kini pastilah namaku akan runtuh di dunia persilatan dan sukar menancapkan kaki lagi di kalangan Kangouw!</p>
<p>Begitulah makin dipikir makin risau hati Cu Po-kun. Ketika berpaling, ia lihat Suma Lim dan lain-lain sedang melotot padanya dengan tangan sedekap di dalam lengan baju masing-masing.</p>
<p>&#8220;Hm, jadi Cu-ya sebenarnya adalah orang Hong-lay-pay! Hm, bagus, bagus sekali!&#8221; demikian terdengar Suma Lim bersuara mengejek dengan dingin.</p>
<p>Ia tidak menyebut Po-kun sebagai Cu-sute lagi, tapi memanggilnya Cu-ya atau tuan Cu, ini berarti ia tidak anggap Po-kun sebagai saudara seperguruan lagi.</p>
<p>Tentu saja Cu Po-kun menjadi serbasusah, kalau mengaku, terang, salah, bila tidak mengaku, lebih-lebih salah, jadi serbasalah.</p>
<p>Maka Suma Lim berkata pula, &#8220;Jadi maksud tujuanmu menyelundup ke Jing-sia-pay adalah ingin mempelajari ilmu &#8216;Bok-goat-cui&#8217;, sesudah pintar akan dipakai untuk membunuh ayahku. Hm, manusia berhati binatang seperti dirimu ini sungguh teramat kejam!&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ketika kedua tangannya terpentang, masing-masing tangan tahu-tahu sudah bertambah semacam senjata.</p>
<p>Menurut pikiran Suma Lim, jika ilmu silat perguruan sendiri sudah berhasil dicolong oleh Po-kun, dengan sendirinya pasti telah diajarkan pula kepada jago-jago Hong-lay-pay. Walaupun waktu ayahnya terbunuh, Cu Po-kun berada Sengtoh, yaitu di tempat tinggal Jing-sia-pay, bukan mustahil semua itu adalah tipu muslihat Po-kun untuk mengelabui mata orang Jing-sia-pay.</p>
<p>Begitulah muka Cu Po-kun tampak merah padam. Sebabnya dia menyelundup ke dalam Jing-sia-pay sebenarnya memang bertujuan jahat, selama ini sesungguhnya sedikit pun ia tidak pernah membocorkan ilmu silat Jing-sia-pay. Namun urusan sudah telanjur begini, cara bagaimana ia bisa membela diri? Tampaknya segera bakal terjadi suatu pertarungan mati-matian, mungkin sukar menghindarkan malapetaka yang akan menimpa dirinya. Ia pikir andaikan jiwanya mesti melayang dibunuh Suma Lim dan kawan-kawannya, dasar dirinya memang bermaksud jahat, rasanya juga pantas mendapat ganjaran seperti itu.</p>
<p>Karena itulah ia coba keraskan hati dan menjawab, &#8220;Suma-suhu bukan aku yang mencelakainya &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah tentu bukan tanganmu berdiri yang menewaskannya,&#8221; bentak Suma Lim. &#8220;Tapi secara tidak langsung, apa bedanya dengan kau sendiri yang turun tangan?&#8221;</p>
<p>Lalu ia berkata kepada kedua kakek tinggi kurus di sampingnya, &#8220;Kiang-susiok dan Beng-susiok, terhadap murid murtad seperti ini, tidak perlu kita bicara tentang peraturan Bu-lim lagi, marilah kita maju bersama.&#8221;</p>
<p>Kedua kakek itu mengangguk, kedua tangan mereka lantas dilolos keluar dari lengan baju, semuanya tangan kiri memegang gurdi dan tangan kanan memegang palu, dari kanan-kiri mereka terus mendesak maju.</p>
<p>Cepat Po-kun mundur beberapa langkah dan mepetkan punggung di suatu pilar dalam ruangan itu untuk menghindarkan serangan dari belakang.</p>
<br />Posted in Jin Yong, Pendekar Kerajaan Tayli  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toanki.wordpress.com/1808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toanki.wordpress.com/1808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toanki.wordpress.com/1808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toanki.wordpress.com/1808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toanki.wordpress.com/1808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toanki.wordpress.com/1808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toanki.wordpress.com/1808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toanki.wordpress.com/1808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toanki.wordpress.com/1808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toanki.wordpress.com/1808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toanki.wordpress.com/1808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toanki.wordpress.com/1808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toanki.wordpress.com/1808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toanki.wordpress.com/1808/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1808&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-20/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b75e221c0eee4ff517b26695a19675fc?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">Lenghou Tiong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 19</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-19/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-19/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 04:34:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1805</guid>
		<description><![CDATA[Toan Ki melongo kesima menyaksikan tindak-tanduk Ong-hujin yang aneh dan tidak masuk akal itu. Yang terpikir dalam benaknya waktu itu hanya &#8220;masakah ada peraturan begitu&#8221; atas keputusan si nyonya. Saking penasarannya tanpa terasa ia berseru, &#8220;Masakah ada peraturan begitu?!&#8221; &#8220;Hm, mengapa tidak ada?&#8221; jengek Ong-hujin. &#8220;Di dunia ini terlalu banyak peraturan begini?&#8221; Sungguh kecewa dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1805&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Toan Ki melongo kesima menyaksikan tindak-tanduk Ong-hujin yang aneh dan tidak masuk akal itu. Yang terpikir dalam benaknya waktu itu hanya &#8220;masakah ada peraturan begitu&#8221; atas keputusan si nyonya. Saking penasarannya tanpa terasa ia berseru, &#8220;Masakah ada peraturan begitu?!&#8221;</p>
<p><span id="more-1805"></span>&#8220;Hm, mengapa tidak ada?&#8221; jengek Ong-hujin. &#8220;Di dunia ini terlalu banyak peraturan begini?&#8221;</p>
<p>Sungguh kecewa dan cemas Toan Ki oleh tindakan Ong-hujin itu. Tempo hari, waktu ia lihat patung dewi cantik dalam gua di tepi sungai wilayah Tayli itu, begitu kagum dan begitu kesengsemnya kepada patung cantik itu. Dan kini, wajah wanita yang berada di hadapannya ini sungguh mirip benar dengan patung dewi itu, namun tindak tanduknya ternyata lebih mirip setan iblis yang tak kenal ampun.</p>
<p>Untuk sejenak Toan Ki hanya menunduk dengan termangu-mangu saja. Kemudian dilihatnya empat dayang Ong-hujin itu masuk lagi ke dalam kapalnya untuk membawa keluar empat pot besar bunga yang indah. Melihat itu, seketika semangat Toan Ki berbangkit.</p>
<p>Kiranya keempat pot bunga itu semuanya adalah bunga kamelia dan terdiri dari jenis-jenis yang terpilih.</p>
<p>Dalam hal kembang kamelia, di seluruh dunia ini tiada yang bisa melawan kamelia keluaran Tayli, lebih-lebih yang tertanam di Tin-lam-onghu. Karena itu sejak kecil Toan Ki sudah biasa dengan bunga kamelia di sekitarnya itu, pada waktu iseng ia pun sering mendengarkan percakapan belasan tukang kebun membicarakan jenis-jenis bunga kamelia, sebab itulah tanpa belajar ia pun sangat paham pengetahuan bunga itu.</p>
<p>Tadi ia sudah jauh menyusuri kebun Man-to-san-ceng itu dan melihat tiada satu jenis bunga Mantolo yang tumbuh di situ ada harganya untuk dinikmati. Maka kesannya kepada perkampungan yang ternama &#8220;Man-to-san-ceng&#8221; ini rada kecewa, sebab dianggapnya nama tidak sesuai dengan kenyataannya.</p>
<p>Terdengar Ong-hujin sedang pesan kepada dayang-dayang yang membawakan pot bunga tadi, &#8220;Siau Teh, keempat pot kamelia &#8216;Moa-gwe&#8217; (bulan purnama) itu tidak mudah mendapatkannya, maka kalian harus merawatnya baik-baik.&#8221;</p>
<p>Dayang yang dipanggil Siau Teh itu mengiakan.</p>
<p>Toan Ki tertawa geli oleh ucapan Ong-hujin yang dianggapnya masih hijau itu.</p>
<p>Namun Ong-hujin tidak gubris padanya, kembali ia pesan si dayang, &#8220;Angin danau terlalu keras, bunga itu pun sudah tersimpan beberapa hari di dalam kapal dan tidak pernah terjemur sinar matahari, maka lekas kalian menaruhnya di tempat terbuka, dijemur sebentar dan tambahi sedikit rabuk.&#8221;</p>
<p>Kembali Siau Teh mengiakan.</p>
<p>Mendengar itu, Toan Ki bertambah geli hingga saking tak tahan ia terbahak-bahak, &#8220;Hahahaha!&#8221;</p>
<p>Karena heran oleh suara tertawa si pemuda yang agak aneh itu, dengan mendongkol Ong-hujin menegur, &#8220;Apa yang kau tertawakan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tertawa karena engkau tidak paham tentang bunga kamelia, tapi justru senang tanam bunga ini,&#8221; sahut Toan Ki. &#8220;Bunga sebagus itu jatuh dalam tanganmu, itu sama dengan membakar sangkar untuk memasak burung kenari, sungguh runyam.&#8221;</p>
<p>Ong-hujin menjadi gusar, dampratnya, &#8220;Hm, aku tidak paham kamelia, apakah kau yang pintar?&#8221;</p>
<p>Tapi segera terpikir olehnya bukankah baru saja pemuda ini mengaku she Toan dan berasal dari Tayli, jika begitu bukan mustahil pemuda ini memang paham bunga kamelia.</p>
<p>Walaupun begitu pikirnya, namun di mulut ia tidak mau kalah, &#8220;Tempat ini bernama Man-to-san-ceng (perkampungan bunga Mantolo atau kembang kamelia), di mana-mana tumbuh bunga Mantolo dengan subur dan indah permai, bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, barang kasar sudah tentu dapat ditanam secara kasar dan hidup kasar pula, &#8221; sahut Toan Ki dengan tersenyum. &#8220;Tetapi bila keempat pot kamelia putih ini dapat kau tanam hingga hidup subur, biarlah aku tidak she Toan lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, celaka!&#8221; demikian pikir A Cu dari A Pik, bahaya sudah di depan mata, pemuda ini malah berani mengolok-olok Ong-hujin tidak pandai tanam bunga, barangkali pemuda ini ingin mati lebih cepat?</p>
<p>Kiranya sifat Ong-hujin itu sangat suka kepada bunga kamelia, untuk mana ia tidak sayang membuang biaya besar untuk mengumpulkan jenis-jenis yang baik. Akan tetapi bila jenis pilihan itu sudah ditanam di Man-to-san-ceng, selalu bunga itu mati layu, paling lama juga cuma tahan setengah atau satu tahun saja. Karena itulah Ong-hujin sangat kesal oleh kegagalannya menanam bunga itu.</p>
<p>Kini demi mendengar ucapan Toan Ki, bukannya dia marah sebaliknya menjadi girang malah. Segera ia melangkah maju dan bertanya, &#8220;Menurut pendapatmu keempat pot kameliaku ini terdapat kesalahan apa? Cara bagaimana untuk bisa menanamnya dengan baik?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika maksudmu hendak minta petunjuk padaku, kan ada tata caranya orang minta petunjuk,&#8221; demikian sahut Toan Ki. &#8220;Tapi kalau engkau ingin pakai kekerasan untuk memaksa aku mengaku itulah jangan kau harap dan bila perlu boleh kau tebas dulu kedua kakiku.&#8221;</p>
<p>Ong-hujin menjadi gusar, serunya, &#8220;Untuk menebas kakimu apa susahnya? Siau Si, tebas kaki kirinya dahulu.&#8221;</p>
<p>Pelayan yang dipanggil Siau Si itu mengiakan dan segera melangkah maju dengan pedang terhunus.</p>
<p>&#8220;Jangan, Hujin!&#8221; cepat A Pik mencegah. &#8220;Sifat orang ini sangat kepala batu. Bila engkau melukainya, biarpun mati ia takkan bicara lagi.&#8221;</p>
<p>Memangnya maksud Ong-hujin juga cuma menggertak saja. Maka ia lantas memberi tanda agar Siau Si urungkan maksudnya.</p>
<p>&#8220;Haha, paling baik kalau kau potong kedua kakiku untuk ditanam di samping keempat pot bunga, tentu akan merupakan rabuk paling subur dan kelak kamelia putih itu pasti akan mekar dengan indah. Wah, tentu akan sangat cantik dan baguuus sekali!&#8221; demikian Toan Ki sengaja berolok-olok.</p>
<p>&#8220;Tidak perlu membual,&#8221; sahut Ong-hujin dengan mendongkol. &#8220;Di mana letak kebaikan dari kejelekan keempat jenis bunga kameliaku ini, coba katakan lebih dulu. Bila uraianmu beralasan dan dapat kuterima, mungkin akan kuterima dirimu dengan hormat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ong-hujin,&#8221; segera Toan Ki berkata, &#8220;engkau bilang keempat jenis kamelia ini bernama &#8216;Moa-gwe&#8217;, sebenarnya engkau salah besar. Satu di antaranya justru bernama &#8216;Ang-ceng-soh-kwe&#8217; (berdandan sederhana dengan pupur merah) dan satu jenis lagi bernama &#8216;Coa-boa-bi-jin-bin&#8217; (mencakar muka orang cantik).&#8221;</p>
<p>&#8220;Coa-boa-bi-jin-bin? Kenapa begitu aneh namanya? Jenis yang manakah?&#8221; tanya Ong-hujin dengan heran.</p>
<p>&#8220;Haha, jika ingin minta petunjuk padaku, engkau harus pakai aturan sebagaimana mestinya,&#8221; sahut Toan Ki dengan tertawa.</p>
<p>Ong-hujin menjadi kewalahan. Tapi demi mendengar di antara bunga yang dikumpulkannya itu satu di antaranya terdapat nama yang aneh menarik, ia menjadi sangat girang. Dengan tersenyum katanya pula, &#8220;Baiklah! Nah, Siau Si, perintahkan kepada koki, suruh menyiapkan perjamuan di &#8216;Hun-kin-lau&#8217; untuk menghormati Toan-siansing ini.&#8221;</p>
<p>Siau Si mengiakan terus bertindak pergi.</p>
<p>Untuk sejenak A Cu dan A Pik hanya saling pandang dengan melongo. Sungguh mimpi pun tak terpikirkan bahwa Toan Ki bisa lolos dari kematian, bahkan Ong-hujin malah akan menjamunya sebagai tamu terhormat.</p>
<p>Dalam pada itu Ong-hujin telah memberi perintah pula kepada pelayan yang menjinjing ketiga buah kepala manusia itu agar ditanam di tepi kamelia merah di depan rumah &#8220;Ang-he-lau&#8221;. Segera pelayan itu mengiakan dan pergi.</p>
<p>Habis itu barulah Ong-hujin berkata kepada Toan Ki, &#8220;Marilah silakan ke kediamanku, Toan-kongcu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk itu tentu akan mengganggu ketenteraman Hujin, harap dimaafkan,&#8221; sahut Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Atas kunjungan Toan-kongcu yang serbapandai, sungguh suatu kehormatan bagi Man-to-san-ceng kami,&#8221; kata Ong-hujin pula.</p>
<p>Begitulah di antara nyonya rumah dan tamunya saling mengucapkan kata-kata merendah sambil berjalan ke sana.</p>
<p>Suasananya sama sekali sudah berubah, kalau tadi A Cu dan A Pik kebat-kebit mengkhawatirkan keselamatan Toan Ki, adalah sekarang mereka menjadi lega dan ikut dari belakang. Tapi mereka kenal watak Ong-hujin yang susah diraba, sekarang sikapnya ramah tamah, sebentar lagi bisa berubah menjadi gusar dan kasar. Maka mereka tetap berkhawatir bagi Toan Ki entah bagaimana jadinya nanti.</p>
<p>Sesudah menyusuri tanaman bunga yang lebat, akhirnya Ong-hujin membawa Toan Ki sampai di depan sebuah gedung bertingkat yang kecil mungil. Pada papan di bawah emper rumah itu Toan Ki melihat tertulis tiga huruf &#8220;Hun-kin-lau&#8221;. Di sekitar rumah itu pun penuh tertanam bunga kamelia. Tapi bunga sebanyak itu kalau dibandingkan kamelia yang terpelihara di Tayli boleh dikatakan tidak berarti, paling-saling juga cuma kelas tiga atau empat saja. Dibandingkan gedung indah itu sungguh tidak serasi.</p>
<p>Sebaliknya Ong-hujin merasa sangat bangga, katanya, &#8220;Toan-kongcu, kamelia di negerimu Tayli sangat banyak, tapi kalau dibandingkan dengan tanamanku ini mungkin masih jauh ketinggalan.&#8221;</p>
<p>Toan Ki mengangguk, sahutnya, &#8220;Kamelia seperti ini memang tiada seorang pun yang mau tanam di Tayli kami.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, ya?&#8221; Ong-hujin semakin bangga dan berseri-seri.</p>
<p>&#8220;Ya,&#8221; Toan Ki menegas. &#8220;Seorang petani yang paling bodoh sekalipun di Tayli kami juga tahu bila menanam bibit bunga yang jelek seperti ini akan merosotkan harga diri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa katamu?&#8221; seru Ong-hujin cepat dengan muka berubah. &#8220;Jadi kau maksudkan Teh-hoa yang kutanam ini semuanya bernilai rendah? Ah, engkau ini ke &#8230; keterlaluan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika engkau tidak percaya, terserahlah!&#8221; sahut Toan Ki. Ia tuding setangkai Teh-hoa atau kamelia pancawarna di depan rumah itu dan berkata pula, &#8220;Ini, seperti jenis ini tentu kau pandang sangat berharga bukan? Ya, pagar kemala yang mengelilingi bunga itulah yang benar-benar barang berharga dan sangat indah.&#8221;</p>
<p>Ia hanya mengagumi kebagusan pagar kemala yang mengelilingi bunga dan tidak memuji bunganya, hal ini sama seperti memuji keindahan baju seorang wanita, tapi tidak memuji akan kecantikan orangnya.</p>
<p>Keruan Ong-hujin rada mendongkol, padahal kamelia pancawarna itu justru dipandangnya sebagai jenis yang jarang terdapat masakah sekarang dicela oleh pemuda itu.</p>
<p>Tapi Toan Ki lantas berkata pula, &#8220;Numpang tanya Hujin, bunga ini di daerah Kanglam sini disebut dengan nama apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kami tidak tahu apa namanya yang asli, maka kami menyebutnya Ngo-sik-teh-hoa (kamelia pancawarna),&#8221; sahut Ong-hujin.</p>
<p>&#8220;Tapi di Tayli kami terkenal dengan nama yang hebat, yaitu &#8216;Loh-te-siucay&#8217; (sastrawan yang masuk kotak),&#8221; kata Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Huh, begitu jelek namanya, tentu sengaja kau bikin-bikin sendiri,&#8221; ujar Ong-hujin. &#8220;Bunga itu indah dan megah, masa mirip seorang Loh-te-siucay?&#8221;</p>
<p>&#8220;Silakan Hujin coba hitung, warna bunga itu seluruhnya ada berapa?&#8221; tanya Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Sudah lama kuhitung, paling sedikit juga ada belasan warna,&#8221; sahut Ong-hujin.</p>
<p>&#8220;Tepatnya ada 17 warna,&#8221; tukas Toan Ki. &#8220;Di Tayli kami ada sejenis yang disebut &#8216;Cap-pek-haksu&#8217; (delapan belas sarjana). Itulah jenis yang tiada bandingannya di dunia ini. Satu pohon dapat mekar 18 tangkai bunga dan setiap tangkai warnanya berbeda, kalau merah ya merah mulus, bila ungu ya ungu seluruhnya, sama sekali tidak bercampur warna lain. Bahkan ke-18 tangkai bunga itu bentuknya berbeda-beda pula dan masing-masing mempunyai keindahan sendiri-sendiri, pada waktu mekar serentak mekar, kalau layu, seluruhnya layu. Apakah Hujin pernah melihat jenis bunga begitu.&#8221;</p>
<p>Dengan terkesima Ong-hujin mendengarkan cerita Toan Ki itu, sungguh ia sangat tertarik. Maka sahutnya dengan menggeleng kepala, &#8220;Apa betul di dunia ini ada Teh-hoa sebagus itu? Dengar saja baru sekarang, apalagi melihatnya!&#8221;</p>
<p>&#8220;Jenis lain yang kualitasnya di bawah Cap-pek-haksu itu juga masih ada seperti &#8216;Pat-sian-kue-hay&#8217; (delapan dewa menyeberang laut), jenis ini adalah delapan tangkai bunga dengan warna yang berlainan tumbuh pada satu pohon. &#8216;Cit-sian-li&#8217; (tujuh bidadari) jumlahnya tujuh tangkai, &#8216;Hong-tim-sam-hiap&#8217; (tiga pendekar pengembara) ada tiga tangkai, dan &#8216;Ji Kiau&#8217; (dua wanita ayu zaman Sam Kok) terdiri dari dua tangkai berwarna merah dan putih. Warna kamelia itu harus mulus dan murni, bila umpama di antara warna merah terdapat warna putih, maka itu adalah jenis yang berkualitas rendah.&#8221;</p>
<p>Ong-hujin mengangguk dengan kesengsem, sungguh selama hidupnya belum pernah didengarnya bahwa di antara bunga kamelia terdapat jenis sebanyak dan sebagus ini.</p>
<p>Maka Toan Ki meneruskan, &#8220;Umpama kita bicara tentang &#8216;Hong-tim-sam-hiap&#8217;, jenis ini lebih istimewa lagi, ada yang ciamik (tulen) dan ada yang kemik (gadungan). Kalau barang ciamik, di antara ketiga tangkai itu yang paling besar harus warna ungu, kemudian warna putih dan yang paling kecil warna merah. Bila umpama bunga merah lebih besar daripada bunga ungu dan bunga putih, maka itu adalah jenis yang rendah, nilainya menjadi jauh berkurang.&#8221;</p>
<p>Ong-hujin benar-benar terpesona oleh cerita Toan Ki itu, katanya dengan gegetun, &#8220;Jenis yang rendahan saja aku tidak pernah melihat, apalagi jenis yang ciamik.&#8221;</p>
<p>Sampai di sini, Ong-hujin sudah percaya benar-benar dan kagum kepada kepandaian Toan Ki yang paham tentang Teh-hoa atau bunga kamelia itu. Terus saja ia mengajak pemuda itu ke atas loteng, dan tidak lama perjamuan pun dimulai dengan macam-macam masakan yang enak dan mahal. Sedang A Cu dan A Pik ada kawan pelayan yang mengawani makan-minum di ruangan lain.</p>
<p>Sekarang Ong-hujin sudah sangat menghormat kepada Toan Ki, ia duduk mengiringi makan-minum di depan pemuda itu. Sesudah tiga cawan arak dihabiskan, lalu Ong-hujin menanya pula, &#8220;Tadi aku telah mendengarkan uraian Kongcu yang panjang lebar tentang jenis-jenis Teh-hoa, aku menjadi seperti orang bodoh yang mendadak menjadi pintar. Tapi dari tukang bunga di kota Sohciu yang kubeli keempat pot kamelia itu, katanya bunga-bunga itu bernama &#8216;Moa-gwe&#8217;, sebaliknya Kongcu mengatakan satu di antaranya bernama &#8216;Ang-ceng-soh-kwe&#8217; dan yang lain bernama &#8216;Coa-boa-bi-jin-bin&#8217;, entah cara bagaimana membeda-bedakan jenis bunga itu, dapatlah Kongcu memberi penjelasan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mudah sekali membedakannya,&#8221; sahut Toan Ki. &#8220;Di atas daun bunga putih yang terdapat bintik-bintik merah, itulah yang bernama &#8216;Ang-ceng-soh-kwe&#8217; dan daun bunga putih di atasnya terdapat garis-garis merah yang kecil, itu yang bernama &#8216;Coa-boa-bi-jin-bin&#8217;. Sebaliknya kalau garis-garis merahnya terlalu banyak dan kasar, namanya menjadi &#8216;Bi-jin-coa-boa-bin&#8217; (muka si cantik babak-bonyok). Sebabnya, coba pikirkan, seorang wanita cantik seharusnya lemah lembut dan sopan santun, jika kebetulan mukanya tercakar luka sedikit, itulah tiada menjadi soal. Tetapi kalau mukanya selalu bonyok main cakar-cakaran dengan orang, terang wanita cantik itu suka berkelahi, lantas kecantikan apa yang dapat dikagumi?&#8221;</p>
<p>Sebenarnya Ong-hujin mendengarkan uraian itu dengan penuh perhatian, tapi mendadak ia lantas menarik muka dan membentak, &#8220;Kurang ajar! Kau berani menyindir aku?&#8221;</p>
<p>Toan Ki terkejut, sahutnya gugup, &#8220;Mana Cayhe berani, entah di manakah Cayhe menyinggung perasaan Hujin?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebenarnya kau disuruh siapa ke sini untuk sengaja omong yang tak keruan untuk menghina diriku?&#8221; damprat Ong-hujin. &#8220;Siapa bilang wanita akan tidak cantik bila belajar ilmu silat? Kalau lemah lembut apanya yang baik?&#8221;</p>
<p>Toan Ki tertegun sejenak, sahutnya kemudian, &#8220;Tapi apa yang kukatakan tadi cuma berdasarkan kejadian umum, di antara wanita yang mahir ilmu silat memang juga banyak yang cantik dan sopan santun.&#8221;</p>
<p>Tak terduga ucapan ini bagi pendengaran Ong-hujin tetap menyinggung perasaannya, tanyanya segera dengan gusar, &#8220;Jadi kau maksudkan aku tidak sopan-santun ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sopan atau tidak Hujin sendiri tentu lebih tahu, mana kuberani sembarangan menarik kesimpulan,&#8221; sahut Toan Ki tegas, akhirnya ia menjadi marah juga hingga tidak sungkan-sungkan lagi. &#8220;Tapi seperti memaksa orang membunuh istri untuk menikah lagi, tindakan demikian betapa pun tidak mungkin dilakukan oleh orang yang beradab.&#8221;</p>
<p>Ong-hujin tidak berkata lagi, ia tepuk tangan perlahan, segera tiga pelayan berlari ke atas loteng dan berdiri di situ menunggu perintah.</p>
<p>&#8220;Gusur orang ini ke bawah, suruh dia pikul air dan menyiram bunga,&#8221; pesan Ong-hujin.</p>
<p>Ketiga pelayan itu serentak mengiakan.</p>
<p>&#8220;Toan Ki,&#8221; kata Ong-hujin pula. &#8220;Kau she Toan dan orang berasal dari Tayli pula, seharusnya sejak tadi mesti kubunuh. Tetapi bila kau benar-benar paham sifat kehidupan Teh-hoa, biarlah sementara ini jiwamu kuampuni dan hanya kuhukum kerja paksa menanam dan merawat Teh-hoa yang tumbuh di kebunku ini, lebih-lebih terhadap keempat kamelia putih yang baru kubeli ini, harus kau rawatnya dengan baik-baik. Ingin kukatakan padamu, bila satu di antara keempat pot kamelia putih itu mati, sebagai hukumannya sebelah tanganmu akan kutebas, kalau mati dua kamelia, dua tanganmu ditebas semua, empat mati seluruhnya, empat anggota badanmu juga putus semua.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan kalau keempat pohon bunga itu hidup semua?&#8221; tanya Toan Ki dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Kalau keempat pohon itu hidup semua, kau harus menanam dan merawat bunga yang lain, terutama jenis pilihan seperti Cap-pek-haksu, Pat-sian-kue-hay, Cit-nian-li, Ji Kau dan lain-lain, setiap jenisnya harus kau tanamkan beberapa pohon. Kalau tidak dapat kau laksanakan, kedua matamu akan kukorek.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lebih baik sekarang juga kau bunuh aku saja,&#8221; sahut Toan Ki. &#8220;Aku tidak sudi terima hukuman sehari dipotong tangannya, lain hari ditebas kakinya, bahkan kedua mata akan dikorek pula!&#8221;</p>
<p>&#8220;Dasar kau sudah bosan hidup ya? Di hadapanku berani sembarang mengoceh?&#8221; damprat Ong-hujin. &#8220;Gusur pergi!&#8221;</p>
<p>Ketiga pelayan tadi mengiakan terus melangkah maju, yang dua memegangi lengan Toan Ki dan yang lain mendorongnya dari belakang serta diseret ke bawah loteng. Ketiga pelayan itu mahir ilmu silat, Toan Ki menjadi tak bisa berkutik, ia cuma dapat mengeluh saja di dalam hati.</p>
<p>Sesudah menyeret Toan Ki ke suatu tempat di dalam taman, segera salah seorang pelayan itu mengambilkan cangkul dan pelayan lain menyodorkan sebuah ember kepadanya sambil berkata, &#8220;Turutlah perintah Hujin dan tanamlah bunga dengan baik-baik, dengan demikian jiwamu mungkin masih ada harapan buat hidup terus. Engkau tergolong orang yang beruntung juga, padahal tiada seorang laki-laki yang dapat hidup keluar dari sini bila menginjak tanah Man-to-san-ceng ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Selain menanam dan merawat tanaman, jangan sekali-kali engkau berkeliaran di dalam taman ini,&#8221; kata pelayan yang lain. &#8220;Bila engkau berani sembarangan mendatangi tempat terlarang, itu berarti engkau mencari mampus sendiri dan tiada seorang pun yang dapat menolongmu.&#8221;</p>
<p>Begitulah pelayan-pelayan itu memberi pesan dengan wanti-wanti kepada Toan Ki, habis itu barulah mereka tinggal pergi. Untuk sejenak Toan Ki hanya berdiri menjublek di situ dengan serbarunyam.</p>
<p>Di negeri Tayli kedudukan Toan Ki hanya di bawah paman-baginda Po-ting-te dan ayahnya, Tin-lam-ong. Kelak kalau sang ayah menggantikan sang paman dan naik takhta, itu berarti dengan sendirinya ia menjadi putra mahkota. Siapa tahu sampai di daerah Kanglam ia mesti mengalami nasib begini jelek, mula-mula ia hendak dibunuh orang, anggota badannya akan dipotong dan matanya akan dikorek, bahkan sekarang dipaksa untuk menjadi tukang kebun.</p>
<p>Syukurlah watak pembawaan Toan Ki memang ramah tamah terhadap kaum bawakan, sering pula ia bergaul dengan tukang kebun dan ikut menanam bunga dan mencangkul segala. Kecuali itu sifatnya juga periang dan dapat berpikir panjang, tidak peduli mengalami kegagalan apa pun, paling-paling ia cuma lesu setengah hari saja untuk kemudian lantas gembira pula.</p>
<p>Kini ia pun coba menghibur diri sendiri, &#8220;Ketika di dalam gua tempo hari aku sudah menyembah beratus kali kepada patung dewi itu sebagai guru. Sekarang Ong-hujin ini wajahnya serupa dengan Enci Dewi itu, hanya usianya lebih lanjut sedikit, biarlah aku tetap menganggapnya sebagai Suhuku. Dan kalau Suhu ada perintah, sudah sepantasnya anak murid mesti melaksanakannya. Apalagi tanam bunga memang juga pekerjaan iseng kaum pelajar, jauh lebih baik daripada mesti main silat dan beradu senjata. Lebih-lebih kalau dibandingkan daripada ditawan Ciumoti dan akan dibakar hidup-hidup di depan kuburan Buyung-siansing, kan lebih enak menjadi tukang kebun bunga. Cuma sayang jenis bunga yang terdapat di sini jenisnya terlalu jelek hingga rasanya tidak sesuai kalau mesti dirawat oleh seorang putra pangeran kerajaan Tayli.&#8221;</p>
<p>Begitulah, dengan bernyanyi-nyanyi kecil sambil memanggul pacul dan menjinjing ember, kemudian Toan Ki berjalan ke depan sembari berpikir, &#8220;Ong-hujin suruh aku menanam keempat pot kamelia yang baru dibelinya itu. Ehm, betapa pun keempat jenis ini terhitung lumayan juga, aku harus mencari suatu tempat yang baik untuk menanamnya agar bunga dan tempatnya cocok satu sama lain.&#8221;</p>
<p>Sambil berjalan ia terus mengawasi sekitarnya. Mendadak ia terbahak-bahak geli melihat pemandangan di situ, pikirnya, &#8220;Dalam hal menanam Teh-hoa sebenarnya Ong-hujin sama sekali tidak paham, tapi ia justru sangat suka menanam Teh-hoa di sini dan menyebut kediamannya ini sebagai Man-to-san-ceng apa segala. Nyata ia tidak tahu bahwa Teh-hoa suka tempat yang lembap dan takut cahaya matahari. Kalau ditanam di tempat terbuka, meski tidak mati oleh sinar matahari, tentu juga sulit mekar bunganya, ditambah lagi diberi rabuk sebanyak-banyaknya, biarpun bunga dari jenis paling bagus juga akan mati. Sayang, sungguh sayang!&#8221;</p>
<p>Segera ia pilih tempat yang rindang dan menuju ke sana. Sesudah melintasi sebuah gunung-gunungan kecil, ia dengar gemerciknya air sungai kecil. Di sisi kiri penuh pohon bambu yang rindang, sekitarnya sunyi senyap.</p>
<p>Tempat itu lembap dan tidak tercapai oleh sinar matahari, maka Ong-hujin menyangka tidak cocok untuk ditanami Teh-hoa. Namun kini Toan Ki menjadi girang, katanya sendiri, &#8220;Inilah dia tempat yang cocok sekali!&#8221;</p>
<p>Cepat ia berlari kembali ke tempat tadi dan mengusung keempat pot bunga menjadi dua kali ke bawah pohon bambu yang rindang itu. Ia hancurkan pot bunga itu, lalu pohon bunga bersama tanah yang masih melengket di akar pohon ditanamnya ke liang yang telah digalinya.</p>
<p>Meski Toan Ki tidak pernah bekerja menanam bunga, tapi pada waktu kecilnya sering menyaksikan pekerjaan tukang kebun, muka sekarang ia pun menirukan caranya hingga cukup memenuhi syarat sebagai tukang kebun. Tiada setengah jam lamanya, keempat pot kamelia putih itu sudah selesai ditanamnya.</p>
<p>Lalu ia berdiri menjauh dan menikmatinya dari kanan dan kiri, dari sudut sana dan sudut sini. Sesudah merasa puas barulah ia tepuk-tepuk tangan yang kotor dan pergi mencuci tangan ke tepi sungai.</p>
<p>Selesai cuci tangan, ia kembali ke depan bunga yang ditanamnya itu untuk menikmati pula hasil karyanya itu.</p>
<p>Tengah Toan Ki merasa senang menyaksikan buah tangannya yang berhasil itu. Tiba-tiba terdengar suara tindakan orang, ada dua wanita sedang berjalan mendatangi. Terdengar satu di antaranya lagi berkata, &#8220;Di sini keadaan sangat sunyi, tak mungkin didatangi orang lain lagi &#8230;.&#8221;</p>
<p>Mendengar suara itu, seketika hati Toan Ki berdebar-debar. Kiranya itulah suara si nona berbaju putih yang cuma dilihat bayangan belakangnya siang tadi.</p>
<p>Segera Toan Ki menahan napas, sedikit pun tidak berani bersuara. Pikirnya, &#8220;Dia telah menyatakan tidak mau menemui laki-laki yang tiada sangkut paut dengan dia, dan aku Toan Ki dengan sendirinya adalah laki-laki yang tiada sangkut paut apa-apa dengan dia. Tapi aku ingin mendengar beberapa patah katanya, asal dapat kudengar suaranya yang merdu bagai musik malaikat dewata itu, rasaku sudah seperti mendapat rezeki besar. Maka jangan sekali-kali aku dilihat olehnya.&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu terdengar nona itu sedang berkata pula, &#8220;Siau Si, kabar apa yang kau dengar tantang dia?&#8221;</p>
<p>Kecut rasa hati Toan Ki. Ia tahu si &#8220;dia&#8221; yang dimaksudkan nona itu tentulah Buyung-kongcu yang nama lengkapnya menurut Ong-hujin adalah Buyung Hok. Suara si gadis tadi penuh nada rindu dan penuh perhatian. Diam-diam Toan Ki berpikir, &#8220;Bila nona ini sedemikian menaruh perhatian dan rindu padaku, biarpun aku Toan Ki harus mati seketika juga rela rasanya.&#8221;</p>
<p>Pikiran Toan Ki itu memang sungguh-sungguh, sedikit pun tidak bergurau. Padahal selama ini wajah si nona baju putih itu belum dilihatnya, entah cantik entak jelek, namanya juga tidak diketahui, tentang tabiatnya bajik atau jahat, sifatnya halus atau kasar, sama sekali ia tidak tahu. Namun sejak mendengar beberapa patah tata ucapan si nona baju putih di tepi danau, aneh juga ia menjadi jatuh cinta padanya dan merasa mati pun rela untuknya.</p>
<p>Sebab apa bisa begitu dan mengapa timbul perasaan demikian, ia sendiri pun tidak dapat memberi penjelasan. Dan oleh karena itulah, ketika didengarnya sedemikian perhatian si nona kepada Buyung-kongcu, tak tertahan lagi timbul rasa cemburu dan penyesalannya.</p>
<p>Sementara itu terdengar Siau Si lagi tergegap-gegap seperti tidak berani menjawab terus terang. Maka si nona baju putih berkata pula, &#8220;Ayolah, katakanlah padaku! Pasti takkan kulupakan kebaikanmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hamba takut &#8230; takut didamprat Hujin,&#8221; sahut Siau Si akhirnya.</p>
<p>&#8220;Budak tolol,&#8221; omel si nona, &#8220;asalkan tidak kukatakan kepada Hujin bahwa kau yang memberitahukan padaku, kan beres? Bila kau tidak mau bicara, sebentar akan kutanya Siau Teh dan kelak kalau ditanya Hujin, tentu akan kubilang kaulah yang memberitahukan padaku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siocia, jangan bikin susah padaku,&#8221; seru Siau Si gugup.</p>
<p>&#8220;Habis bagaimana?&#8221; ujar si nona. &#8220;Siapa yang menjadi orang kepercayaanku, tentu akan kubela, dan siapa yang tidak menurut keinginanku apa salahnya kubikin susah dia?&#8221;</p>
<p>Siau Si berpikir sejenak, lalu berkata, &#8220;Baiklah, akan kuceritakan padamu, tapi jangan sekali-kali Siocia mengatakan aku yang membocorkan rahasia ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudahlah, Siau Si, jangan bertele-tele, lekas katakan, tanggung takkan terjadi apa-apa atas dirimu,&#8221; ujar si nona baju putih.</p>
<p>Siau Si menghela napas dulu, kemudian katanya, &#8220;Kabarnya Piausiauya pergi ke Siau-lim-si.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siau-lim-si? Kenapa A Cu dan A Pik bilang dia pergi ke Lokyang tempat Kay-pang?&#8221; si nona menegas.</p>
<p>Diam-diam Toan Ki heran mengapa Buyung-kongcu disebut &#8220;Piausiauya&#8221; atau tuan muda misan. Pikirnya, &#8220;Jadi Buyung-kongcu itu Piauko (kakak misan) si nona. Dengan sendirinya mereka adalah kawan main sejak kecil, pantas maka &#8230; maka &#8230;.&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu terdengar Siau Si sedang berkata pula, &#8220;Kepergian Hujin kali ini, di tengah perjalanan telah bertemu dengan Hong-siya dari Yan-cu-oh yang katanya sedang menuju ke Siau-lim-si untuk memberi bantuan kepada Piausiauya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk apa mereka pergi ke Siau-lim-si?&#8221; tanya si nona.</p>
<p>&#8220;Menurut Hong-siya, katanya Piausiauya telah mengirim berita padanya bahwa kali ini banyak orang Kangouw dan jago dari berbagai golongan sedang menghadiri apa yang disebut Enghiong-tay-hwe di Siau-lim-si untuk merundingkan cara bagaimana melawan Buyung-si dari Koh-soh. Karena buru-buru, Piausiauya lantas berangkat lebih dulu seorang diri. Kabarnya Yan-cu-oh sudah kirim orang memberi bantuan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika Hujin sudah mendapat kabar itu, mengapa ia malah pulang dan tidak pergi membantu kesukaran Piausiauya?&#8221; tanya si nona.</p>
<p>&#8220;Tentang ini hamba &#8230; hamba tidak tahu,&#8221; sahut Siau Si. &#8220;Mungkin disebabkan Hujin tidak suka kepada Piausiauya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, suka atau tidak suka betapa pun adalah orang sendiri,&#8221; kata si nona dengan kurang senang. &#8220;Kalau Buyung-si dari Koh-soh terjungkal di luaran, apakah keluarga Ong kita tidak ikut malu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, Siocia,&#8221; sahut Siau Si.</p>
<p>&#8220;Ya apa?&#8221; bentak si gadis dengan gusar.</p>
<p>Siau Si kaget, sahutnya gelagapan, &#8220;Hamba &#8230; maksudkan kita tentu akan ikut merasa malu.&#8221;</p>
<p>Lalu gadis itu berjalan mondar-mandir di bawah pohon bambu itu seperti sedang memikirkan sesuatu akal. Tiba-tiba ia lihat pohon kamelia putih yang ditanam Toan Ki dan pot bunga yang baru saja dipecahkan itu. Ia bersuara heran, segera ia tanya kepada Siau Si, &#8220;Siapakah yang tanam Teh-hoa di sini?&#8221;</p>
<p>Tanpa ayal lagi Toan Ki menyelinap keluar dari tempat sembunyinya, ia memberi hormat dan berkata, &#8220;Cayhe diperintahkan oleh Hujin agar menanam Teh-hoa di sini, bila hal ini mengganggu Siocia, harap dimaafkan.&#8221;</p>
<p>Meski ia membungkuk memberi hormat, tapi matanya tetap menatap ke depan, sebab khawatir si nona akan berkata &#8220;tidak sudi bertemu dengan laki-laki asing&#8221;, lalu putar tubuh dan tinggal pergi hingga kesempatan untuk melihat muka si jelita tersia-sia lagi.</p>
<p>Tak terduga, begitu sinar matanya bertemu dengan sinar mata si nona, seketika telinganya serasa mendengung dan mata seakan-akan gelap, kakinya menjadi lemas pula dan tanpa merasa bertekuk lutut di hadapan si jelita, bahkan kalau ia tidak bertahan sekuatnya, hampir saja ia menyembah, namun begitu toh tercetus juga kata-kata dari mulutnya, &#8220;O, Enci Dewi, betapa &#8230; betapa aku merindukan dikau selama ini!&#8221;</p>
<p>Ternyata si nona baju putih yang berada di depan mata ini sungguh mirip benar dengan patung dewi yang telah dilihatnya dalam gua di daerah Tayli itu. Ong-hujin yang telah dilihatnya itu juga mirip patung cantik itu, cuma usianya yang berbeda. Tapi si jelita baju putih ini, selain dandanannya agak berbeda sedikit, namun baik raut muka, mata, hidung, bibir, telinga, kulit badan, perawakan, kaki dan tangan, semuanya mirip, semuanya persis hingga seperti patung dewi itu hidup kembali.</p>
<p>Sungguh Toan Ki merata dirinya seakan-akan dalam mimpi. Entah sudah beratus kali atau beribu kali ia merindukan patung dewi itu, kini dengan mata kepala sendiri yang dilihatnya bukan lagi patung melainkan duplikatnya dalam keadaan hidup, sungguh ia tidak tahu dirinya sebenarnya berada di mana, di alam baka atau di surga?</p>
<p>Ketika mendengar suara seruan Toan Ki tadi, ditambah lagi kelakuan aneh pemuda itu, si gadis berseru kaget juga dan mengira sedang berhadapan dengan seorang sinting, cepat ia melangkah mundur dan menegur, &#8220;Engkau &#8230; engkau &#8230;.&#8221;</p>
<p>Namun Toan Ki lantas menyela sambil berbangkit, &#8220;Tempo hari Toan Ki sudah diberi kesempatan menyembah di hadapan patung Enci Dewi, hal itu kuanggap sebagai suatu karunia yang mahabahagia, tak terduga hari ini dengan mata kepala sendiri dapat kulihat wajah asli Enci Dewi, nyata di dunia ini memang benar-benar terdapat bidadari dan bukan omong kosong belaka!&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa &#8230; apa yang dia maksudkan, Siau Si? Sia &#8230; siapa dia?&#8221; tanya si jelita kepada Siau Si.</p>
<p>&#8220;Dia adalah si pelajar tolol yang dibawa kemari oleh A Cu dan A Pik itu,&#8221; sahut Siau Si. &#8220;Katanya ia pandai menanam berbagai macam Teh-hoa. Hujin menjadi percaya kepada obrolannya dan suruh dia tanam bunga di sini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hai, si tolol, jadi percakapan kami tadi telah kau dengar semua, ya?&#8221; tanya si gadis kepada Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Cayhe bernama Toan Ki, orang berasal dari negeri Tayli dan bukan si tolol,&#8221; sahut Toan Ki dengan tertawa. &#8220;Percakapan Enci Dewi dan Enci Siau Si tadi memang telah kudengar dengan tidak sengaja. Tapi Enci Dewi jangan khawatir, Cayhe pasti takkan membocorkannya barang sepatah pun dan tanggung Enci Siau Si takkan didamprat oleh Hujin.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba si gadis menarik muka, ia menyemprot, &#8220;Siapa sudi mengaku Enci segala denganmu? Kau tidak mau disebut sebagai pelajar tolol, bilakah pernah kau lihat diriku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Habis, kalau tidak kupanggil engkau Enci Dewi, lalu memanggil apa?&#8221; sahut Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Aku she Ong, cukup kau sebut Ong-kohnio saja,&#8221; ujar si gadis.</p>
<p>&#8220;Ong-kohnio! Ah, tidak bisa!&#8221; kata Toan Ki sambil menggeleng kepala ketolol-tololan. &#8220;Nona she Ong di dunia ini entah betapa banyak jumlahnya, barangkali ada berjuta-juta, sedangkan Enci Dewi secantik bidadari, mana boleh hanya kupanggil sebagai Ong-kohnio saja? Akan tetapi panggilan apakah yang paling tepat? Wah, sukar juga! Umpama kupanggil engkau Ong-siancu (si dewi she Ong), rasanya terlalu umum dan kurang agung. Misalnya kusebut engkau Man-to-kongcu (putri bunga kamelia), rasanya juga kurang cocok, banyak terdapat putri raja di dunia ini, tapi siapakah yang dapat menandingi engkau?&#8221;</p>
<p>Melihat pemuda itu berkomat-kamit tak keruan bicaranya, semakin dipandang semakin ketolol-tololan, yang diucapkan itu melulu pujian-pujian atas kecantikannya, betapa pun si jelita menjadi geli-geli girang. Katanya kemudian dengan tersenyum, &#8220;Rupanya nasibmu masih baik juga, maka ibuku tidak potong kedua kakimu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wajah ibumu serupa cantiknya dengan Enci Dewi, hanya tabiatnya yang luar biasa aneh, sedikit-sedikit suka membunuh orang, rasanya menjadi kurang sesuai dengan bangunnya yang mirip dewi kahyangan &#8230;.&#8221;</p>
<p>Mendadak si gadis berkerut kening, katanya dengan kurang senang, &#8220;Lekas pergi menanam bunga saja dari jangan mengoceh tak keruan di sini, kami masih akan bicara urusan penting lagi.&#8221;</p>
<p>Nyata nadanya menganggap Toan Ki seperti tukang kebun benar-benar.</p>
<p>Namun Toan Ki tidak ambil pusing, yang dia harap hanya dapatlah bicara lebih lama sedikit dengan si jelita dan memandangnya sekejap lagi. Pikirnya, &#8220;Untuk bisa memancing dia bicara denganku secara suka rela terpaksa harus kuajak bicara padanya mengenai diri Buyung-kongcu, kecuali itu, segala apa tentu takkan menarik perhatiannya lagi.&#8221;</p>
<p>Maka segera Toan Ki berkata, &#8220;Para kesatria dari segala pelosok saat ini sedang berkumpul di Siau-lim-si untuk berunding cara bagaimana menghadapi Buyung-si dari Koh-soh, tokoh-tokoh dan jago-jago berbagai golongan dan aliran yang hadir di sana sungguh tidak sedikit jumlahnya, sebaliknya Buyung-kongcu hanya seorang diri, kalau secara gegabah ia menempuh bahaya ke sana, rasanya tidaklah menguntungkan dia.&#8221;</p>
<p>Benar juga badan si gadis tergetar karena ucapan Toan Ki itu. Tapi Toan Ki pura-pura tidak tahu dan tidak berani memandang wajah si gadis. Hanya dalam hati diam-diam ia mengomel, &#8220;Perhatiannya kepada bocah Buyung Hok itu benar-benar lain daripada yang lain. Kalau aku memandang wajahnya, mungkin aku sendiri akan menangis saking irinya.&#8221;</p>
<p>Ia lihat baju sutra si gadis yang panjang itu tiada hentinya bergemetar, suatu tanda betapa hebat guncangan perasaannya. Lalu terdengar suara si gadis yang merdu melebihi seruling itu lagi bertanya, &#8220;Tentang keadaan di Siau-lim-si itu apakah engkau tahu? Le &#8230; lekas katakan padaku.&#8221;</p>
<p>Mendengar permohonan si gadis yang lemah lembut itu, karena tidak tega hampir-hampir Toan Ki menceritakan apa yang diketahuinya. Tapi segera terpikir olehnya, &#8220;Ah, jangan kuceritakan sekarang. Kalau selesai kukatakan, sebentar aku tentu akan didesak pergi menanam bunga pula, dan untuk mengajaknya bicara lagi kelak pasti tidak mudah, maka sekarang aku harus putar lidah sebisanya, cerita pendek kubikin panjang, urusan kecil sengaja kubesarkan, setiap hari aku hanya bicara sedikit, sedapat mungkin akan kutarik sepanjang-panjangnya, agar setiap hari ia mesti mencari dan mengajak bicara padaku, kalau mencariku dan tidak bertemu, biar dia kelabakan serupa orang gatal tapi tak bisa menggaruk.&#8221;</p>
<p>Setelah ambil keputusan demikian, ia berdehem perlahan lalu berkata, &#8220;Sebenarnya aku sendiri tidak paham ilmu silat, sejurus pun tidak bisa, biarpun jurus-jurus sederhana seperti &#8216;Kim-khe-tok-lip&#8217; (ayam emas berdiri dengan kaki tunggal) atau Hek-hou-thau-sim (harimau kumbang mencuri hati) segala, sama sekali aku tidak paham. Tapi di rumahku ada seorang sobat baikku bernama Cu Tan-sin berjuluk &#8216;Pit-hi-sing&#8217; (si Sastrawan Ahli Tulis). Jangan kau kira dia cuma seorang pelajar yang ketolol-tololan dan lemah seperti aku, tapi ilmu silatnya, wah, lihai sekali! Satu kali aku pernah menyaksikan dia melipat kipasnya dan tepat menutuk sekali pada bahu seorang lawannya, kontan lawannya roboh meringkuk bagai cacing dan tidak berkutik pula.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, itu adalah ilmu Tiam-hiat &#8216;Cing-liang-sian-hoat&#8217; jurus ke-38 yang disebut &#8216;Tau-kut-sian&#8217; (tutukan kipas penembus tulang), tangkai kipas dipegang terbalik dan menutuk dengan miring,&#8221; demikian kata si gadis. &#8220;Rupanya Cu-siansing itu adalah orang Kun-lun-pay, mungkin anak murid Sam-in-koan. Ilmu silat golongan ini mengutamakan memakai senjata pit (pensil) dan lebih lihai daripada memakai senjata kipas.&#8221;</p>
<p>Bila uraian si gadis ini didengar oleh Cu Tan-sin sendiri atau didengar oleh Po-ting-te atau Toan Cing-sun, tentu mereka akan terkejut mengapa gadis yang masih muda belia ini begini luas pengetahuannya akan berbagai ilmu silat cabang lain. Bahkan hanya mendengar cerita Toan Ki sekadarnya saja ia dapat mengatakan dengan tepat tentang asal usul aliran ilmu silat Cu Tan-sin. Bila Toan Ki paham ilmu silat dan menyiarkan kepandaian si gadis itu, maka pastilah orang Kangouw akan gempar oleh peristiwa luar biasa ini.</p>
<p>Namun kini cara uraian si nona jelita itu hanya sepintas lalu saja seakan-akan membicarakan sesuatu yang umum. Sebaliknya Toan Ki juga mendengarkan uraian si gadis dengan tawar saja.</p>
<p>&#8220;Kemudian bagaimana?&#8221; demikian tanya si gadis pula.</p>
<p>&#8220;Kemudian? Wah, ceritanya terlalu panjang, marilah silakan Siocia duduk di sana, nanti akan kuceritakan lebih jelas,&#8221; demikian Toan Ki sengaja mengulur waktu dan menunjuk satu bangku batu di bawah pohon bambu sana.</p>
<p>Namun gadis itu menjadi kurang senang, sahutnya, &#8220;Kenapa kau suka bertele-tele dan tidak ceritakan saja cepat-cepat? Aku tiada waktu untuk mendengarkan ocehanmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika hari ini Siocia tiada waktu, besok datang lagi juga boleh, dan kalau besok tiada tempo luang masih dapat mencari aku lagi, asal saja Hujin tidak memotong lidahku, tentu aku dapat bercerita, apa yang Siocia ingin dengar tentu akan kuceritakan sejelas-jelasnya.&#8221;</p>
<p>Si gadis mengentak kaki sekali dan tidak gubris lagi pada Toan Ki, ia terus berpaling dan tanya Siau Si, &#8220;Lalu Hujin berkata apa lagi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Semula Hujin akan pergi mencari Kongya-hujin untuk diajak main catur,&#8221; tutur Siau Si. &#8220;Tapi demi mendengar Buyung-kongcu pergi ke Siau-lim-si, di tengah jalan beliau lantas suruh putar haluan kapal untuk pulang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebab apa?&#8221; tanya si gadis, tapi sebelum Siau Si menjawab ia sudah bergumam sendiri, &#8220;Ya, tahulah aku, tentu ibu khawatir dimintai bantuan oleh Kongya-hujin, maka ia pikir lebih baik pura-pura tidak tahu saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siocia,&#8221; kata Siau Si, &#8220;mungkin Hujin mencari aku, hamba ingin mohon diri saja.&#8221;</p>
<p>Si gadis mengangguk, dan sesudah Siau Si pergi, perlahan ia mendekati bangku batu yang ditunjuk Toan Ki tadi dan duduk, namun Toan Ki tak disuruhnya duduk, dengan sendirinya pemuda itu pun tak berani sembarangan duduk di samping si jelita.</p>
<p>Melihat si nona duduk menyanding bunga kamelia putih yang jaraknya tidak jauh, bunganya indah dan gadisnya cantik, sungguh perpaduan yang sangat serasi. Tanpa terasa Toan Ki berkata dengan gegetun, &#8220;Dahulu Li Tay-pek suku membandingkan kecantikan Nyo Kui-hui dengan bunga botan (peony), tapi bila dia beruntung dapat melihat Siocia sekarang, tentu dia akan tahu betapa indahnya bunga, namun benda mati mana dapat menandingi si cantik yang hidup.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terus-menerus kau memuji kecantikanku, padahal aku sendiri tidak tahu apakah diriku betul-betul cantik atau tidak?&#8221; kata si nona.</p>
<p>Toan Ki menjadi heran, katanya, &#8220;Sungguh aneh, nona tidak tahu akan kecantikan sendiri? Apa barangkali engkau sudah terlalu banyak mendengar pujian serupa, maka sudah bosan rasanya?&#8221;</p>
<p>Si gadis menggeleng kepala perlahan, sinar matanya mengunjuk rasa penuh kekosongan hati, sahutnya, &#8220;Selama ini tiada seorang pun yang berkata padaku apakah aku ini cantik atau tidak. Di tengah Man-to-san-ceng sini, kecuali ibuku, selebihnya adalah pelayan dan kaum hamba lainnya. Mereka cuma tahu aku adalah Siocia, siapa peduli apakah aku cantik atau tidak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu bagaimana dengan pendapat orang luar?&#8221; tanya Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Orang luar apa maksudmu?&#8221; si gadis menegas.</p>
<p>&#8220;Umpamanya engkau keluar dan orang lain tentu akan melihat kecantikanmu sebagai bidadari, masakah mereka pun tidak berkata apa-apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Selamanya aku tidak pernah keluar, untuk apa aku keluar? Bahkan ibu juga melarang aku ke Lang-goan-kok, bila menumpang kapal, daun jendela kapal pun ditutup rapat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lang-goan-kok? Jadi benar ada suatu tempat yang bernama demikian? Apa sangat banyak kitab yang tersimpan di sana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak terlalu banyak, cuma kira-kira tiga-empat kamar banyaknya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah dia juga &#8230; juga tidak pernah mengatakan kecantikanmu?&#8221; tanya Toan Ki tiba-tiba.</p>
<p>Mendengar Toan Ki menyinggung Buyung-kongcu, gadis itu menunduk dengan sedih, tiba-tiba dua titik air mata menggelinding jatuh dari kelopak mata si nona.</p>
<p>Toan Ki tercengang sejenak, ia tidak berani tanya lagi, tapi juga tidak tahu cara bagaimana harus menghiburnya.</p>
<p>Selang agak lama barulah si gadis buka suara perlahan, &#8220;Dia justru selalu &#8230; selalu sibuk, setiap hari, setiap tahun selalu sibuk saja tiada waktu senggang sejenak pun. Bila dia berada bersama denganku, kalau bukan bicara tentang ilmu silat tentu berunding urusan rumah tangga. Aku &#8230; aku justru benci pada ilmu silat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Cocok!&#8221; seru Toan Ki mendadak. &#8220;Aku juga benci pada ilmu silat! Ayah dan pamanku selalu menyuruhku belajar silat, tetapi aku tidak mau aku lebih suka minggat dari rumah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi agar aku bisa sering berjumpa dengan dia, biarpun dalam hati tidak suka, aku tetap tekun mempelajarinya, bila di antaranya dia kurang paham aku pasti memberi petunjuk padanya. Dia suka pada cerita kuno tantang bunuh-membunuh di antara raja satu dan raja yang lain, terpaksa aku pun mesti membaca untuk menceritakan kembali padanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aneh, mengapa engkau yang menceritakan padanya? Apa dia sendiri tidak dapat membaca?&#8221; tanya Toan Ki.</p>
<p>Gadis itu melototi Toan Ki sekejap, katanya, &#8220;Memangnya kau sangka dia buta huruf?&#8221;</p>
<p>&#8220;O, tidak, tidak!&#8221; sahut Toan Ki cepat. &#8220;Biarlah kukatakan saja dia orang paling baik di dunia ini, nah, puas?&#8221;</p>
<p>Si gadis tersenyum, katanya pula, &#8220;Ia adalah aku punya Piauko (kakak misan), di tempat kami ini, kecuali Kuku dan Kubo (paman dan bibi, saudara ibu) serta Piauko, selamanya tiada orang lain yang datang kemari. Tapi sejak ibuku berselisih paham dengan Kuku, ibu pun melarang Piauko datang ke sini. Maka aku pun tidak tahu apakah dia terhitung orang yang paling baik di dunia ini atau bukan. Maklum, orang jahat atau orang baik di dunia ini tiada seorang pun yang pernah kulihat.&#8221;</p>
<p>Berkata sampai di sini, si gadis menjadi sedih, dan mata merah basah.</p>
<p>&#8220;Ehm, jadi ibumu adalah adik Kukumu dan ia &#8230; ia adalah putra Kukumu,&#8221; demikian Toan Ki mengulangi.</p>
<p>&#8220;Huh, kau benar-tenar ketolol-tololan,&#8221; omel si nona dengan tertawa. &#8220;Memangnya Kuku adalah kakak ibuku dan dia putra Kuku, dengan sendirinya dia adalah Piaukoku.&#8221;</p>
<p>Toan Ki merasa senang melihat si gadis dapat dipancing tertawa, katanya, &#8220;Ah, tahulah aku sekarang. Tentu karena Piaukomu sangat sibuk, tiada waktu buat membaca, maka engkau yang mewakilinya membaca.&#8221;</p>
<p>&#8220;Boleh juga dikatakan begitu,&#8221; sahut si gadis dengan tertawa. &#8220;Tetapi masih ada satu sebab lain. Ingin katanya padamu, jago aliran manakah yang mengadakan Enghiong-tay-hwe apa segala di Siau-lim-si?&#8221;</p>
<p>Toan Ki tidak menjawab, sebab dia sedang kesengsem pada bulu mata si gadis yang panjang hitam dengan setitik air mata laksana embun di pagi hari itu.</p>
<p>Melihat pemuda itu tidak menyahut, si gadis menjawil perlahan punggung tangan Toan Ki dan menegur, &#8220;Hai, kenapa engkau?&#8221;</p>
<p>Tubuh Toan Ki seakan-akan terkena aliran listrik, ia melonjak kaget dan berseru, &#8220;Oo &#8230;.&#8221;</p>
<p>Karena tidak terduga-duga, si gadis ikut kaget juga oleh kelakuan Toan Ki yang lucu itu. &#8220;Ada apa?&#8221; tanyanya segera.</p>
<p>Dengan muka merah Toan Ki menjawab, &#8220;Jarimu menyentuh tanganku, Hiat-toku jadi seperti tertutuk olehmu.&#8221;</p>
<p>Mata si gadis terbelalak lebar, ia tidak tahu pemuda itu sedang bergurau, maka katanya dengan sungguh-sungguh, &#8220;Di punggung tangan tiada terdapat Hiat-to, yang ada cuma di telapak tangan, di sini &#8230;.&#8221;</p>
<p>Sambil berkata ia angkat tangan sendiri untuk memberi contoh.</p>
<p>Melihat jari-jemari tangan si gadis yang putih halus dan lentik itu, seketika Toan Ki terlongong-longong. Akhirnya dengan tergegap-gegap ia tanya, &#8220;No &#8230; nona, siapa &#8230; siapakah namamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kelakuanmu benar-benar aneh,&#8221; omel si gadis dengan tersenyum. &#8220;Tapi baiklah, tiada alangannya kukatakan padamu.&#8221;</p>
<p>Lalu ia menggores-gores dengan jari di atas punggung tangan sendiri untuk menulis tiga huruf &#8220;Ong Giok-yan.&#8221;</p>
<p>Toan Ki rada tercengang oleh nama orang, pikirnya, &#8220;Gadis secantik ini mengapa pakai nama yang begini umum? Pantasnya ia pakai nama yang romantis dan puitis.&#8221;</p>
<p>Tapi sesudah dipikir pula. Toan Ki ketok-ketok jidat sendiri dan berseru, &#8220;Ya, bagus, bagus sekali namamu ini! Memangnya engkau mirip burung Yan (layang-layang) yang suci murni dan terbang bebas di angkasa!&#8221;</p>
<p>&#8220;Nama setiap orang memang suka cari yang enak didengar dan bermakna baik pula, banyak juga penjahat dan pengkhianat yang bernama bagus, sebaliknya perbuatannya tidak dapat dipuji. Engkau sendiri bernama Toan Ki, apa engkau punya Bengki (nama baik) benar baik? Haha, mungkin sedikit &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sedikit dogol bukan?&#8221; sambung Toan Ki. Maka tertawalah keduanya dengan terbahak-bahak.</p>
<p>Sebenarnya wajah Ong Giok-yan senantiasa kelihatan murung, tapi kini ia benar-benar merasa senang dengan muka berseri-seri.</p>
<p>Diam-diam Toan Ki gegetun, &#8220;Coba bila selama hidupku dapat membuatmu selalu tertawa, rasanya hidupku ini takkan sia-sia lagi.&#8221;</p>
<p>Tak terduga kegembiraan Ong Giok-yan itu hanya terjadi dalam waktu singkat saja, kembali sorot matanya tampak sayu menanggung sesuatu pikiran. Katanya dengan perlahan, &#8220;Dia &#8230; dia selalu bersikap sungguh-sungguh dan tidak pernah mengobrol iseng padaku. Ai, Yan-kok, selalu Yan-kok, apa benar begitu pentingnya bagimu?&#8221;</p>
<p>Sebagai seorang yang banyak membaca kitab-kitab kuno, demi mendengar kata-kata &#8220;Yan-kok&#8221; itu, seketika beberapa istilah yang didengarnya akhir-akhir ini sekaligus teringat kembali oleh Toan Ki dan dirangkainya menjadi satu Buyung-si Yan-cu-oh, Som-hap-ceng, Yan-kok &#8230;.</p>
<p>Tanpa terasa lantas tercetus kata-kata dari mulutnya, &#8220;He, jadi Buyung-kongcu ini keturunan Buyung-si dari suku Sianbi pada zaman Ngo-oh-loan-hoa ? Jadi dia orang asing dan bukan bangsa Tionghoa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, dia memang anak cucu keturunan Buyung-si dari Yan-kok (negeri Yan) pada zaman Ngo-oh. Tapi sudah beratus tahun lamanya, mengapa dia masih belum melupakan peristiwa leluhurnya? Dia tidak suka menjadi orang Tionghoa dan lebih suka menjadi orang Oh (asing), bahkan tulisan Tionghoa tak mau dipelajarinya dan kitab Tionghoa tak mau dibacanya. Pernah satu kali aku minta dia menulis bahasa Tionghoa dan dia lantas marah-marah.&#8221;</p>
<p>Berbicara tentang Buyung-kongcu, rupanya Ong Giok-yan menjadi begitu kesengsem, ia memandang jauh ke sana, lalu tuturnya pula dengan penuh pada rindu, &#8220;Ia lebih tua sepuluh tahun daripadaku, selamanya ia pandang aku sebagai adiknya yang masih kecil, ia sangka aku cuma tahu membaca dan belajar silat, hal-hal lain tidak paham. Padahal kalau bukan untuk dia, aku benar-benar tidak sudi belajar hal begituan, aku lebih suka piara ayam, tulis-menulis atau petik Khim.&#8221;</p>
<p>&#8220;Masakah ia sama &#8230; sama sekali tidak tahu engkau sangat baik padanya?&#8221; tanya Toan Ki dengan suara tak lampias.</p>
<p>&#8220;Sudah tentu ia tahu, makanya ia sangat baik padaku,&#8221; sahut Giok-yan. &#8220;Tapi kebaikannya padaku hanya &#8230; hanya kebaikan seperti saudara sekandung dan tidak lebih dari itu. Selamanya ia tidak pernah katakan padaku bagaimana perasaannya dan selamanya tidak pernah pula menanyakan bagaimana isi hatiku.&#8221;</p>
<p>Berkata sampai di sini, pipi si nona menjadi bersemu merah hingga makin menambah kecantikannya yang menggiurkan.</p>
<p>Sebenarnya Toan Ki ingin berkelakar dan tanya apa isi hati si gadis, tapi khawatir disemprot, maka urung, hanya katanya dengan tersenyum, &#8220;Engkau kan dapat menolak bicara tentang ilmu silat dan membaca baginya. Pula engkau kan dapat mengutarakan perasaanmu dengan berpantun dan bersyair?&#8221;</p>
<p>Ia maksudkan si gadis mestinya dapat memancing perasaan cinta Buyung-kongcu dengan pantun dan syair percintaan. Tapi setelah diucapkan, ia menjadi menyesal telah telanjur omong. Pikirnya, &#8220;Wah, kenapa aku begini goblok dan mengajar demikian padanya?&#8221;</p>
<p>Sebaliknya Giok-yan menjadi malu mendengar ajaran Toan Ki itu, cepat sahutnya, &#8220;Mana &#8230; mana boleh begitu? Aku adalah anak gadis yang pegang aturan, bagaimana bila aku dipandang hina oleh Piauko karena kelakuanku itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, ya, benar! Aku yang salah omong!&#8221; seru Toan Ki. Diam-diam ia memaki diri sendiri mengapa mengajarkan seorang gadis suci murni untuk berbuat menyeleweng?</p>
<p>Selamanya Giok-yan tidak pernah mengutarakan isi hatinya kepada siapa pun. Tapi aneh, setelah bertemu dengan Toan Ki yang bersifat bebas lepas, entah mengapa ia menjadi menaruh kepercayaan penuh dan menceritakan segala isi hatinya yang penuh manisnya madu itu.</p>
<p>Bahwa diam-diam ia cinta dan merindukan sang Piauko, sudah tentu A Cu, A Pik, Siau Si, Siau Teh dan dayang-dayang lain sama tahu, cuma saja mereka tidak berani membicarakannya.</p>
<p>Setelah Giok-yan mengutarakan isi hatinya, rasa masygulnya menjadi agak hilang, katanya kemudian, &#8220;Sudah sekian banyak aku mengobrol padamu, tapi belum lagi kita bicara tentang persoalan pokok, katakanlah, jago dari mana saja yang berkumpul di Siau-lim-si dan mengapa mereka hendak melabrak Piauko?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ketua Siau-lim-si bergelar Hian-cu Taysu, beliau mempunyai seorang Sute yang bergelar Hian-pi Taysu,&#8221; tutur Toan Ki. &#8220;Hian-pi Taysu itu mahir ilmu Kim-kong-cu (gada baja raksasa). Tapi entah mengapa Hian-pi Taysu itu telah dibunuh orang dan cara musuh membinasakannya itu justru menggunakan ilmu &#8216;Kim-kong-cu&#8217; andalan Hian-pi Taysu itu. Menurut kesimpulan mereka, cara membunuh orang demikian itu adalah ciri perbuatan Buyung-si dari Koh-soh yang disebut &#8216;Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin&#8217; (gunakan caranya untuk dipakai atas dirinya). Sebab itulah Siau-lim-pay bertekad hendak membalas dendam kepada Buyung-si. Cuma ilmu silat Buyung-si teramat lihai, mereka khawatir sukar melawannya, maka mengundang kawan-kawan lain untuk berunding cara bagaimana menghadapi musuh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Masuk di akal juga ceritamu ini,&#8221; kata Giok-yan. &#8220;Lalu siaga lagi kecuali tokoh-tokoh Siau-lim-pay?&#8221;</p>
<p>&#8220;Masih ada seorang yang bernama Kwa Pek-hwe dari Ko-san-pay, katanya juga tewas di bawah ilmu ruyung andalannya sendiri yang disebut &#8216;Leng-coa-siam-keng&#8217; (ular sakti melibat leher), maka Sute dan muridnya juga ingin menuntut balas pada Buyung-si. Kecuali itu, masih &#8230; masih banyak lagi yang aku tidak kenal.&#8221;</p>
<p>Sudah tentu ia tidak berani bilang bahwa Toan-si mereka dari Tayli juga ikut campur dalam urusan itu.</p>
<p>&#8220;Aku kenal tabiat Piauko, bila ia tahu ada orang begitu banyak akan memusuhinya, tanpa menunggu orang datang padanya, lebih dulu ia akan pergi ke sana,&#8221; tutur Giok-yan. &#8220;Cuma, belum tentu ia dapat memahami ilmu silat aliran sebanyak itu. Apalagi mereka berjumlah banyak, bila mengerubutnya serentak, tentu akan sukar dilawan.&#8221;</p>
<p>Bicara sampai di sini, tiba-tiba terdengar suara orang berlari datang, kiranya Siau Si dan Yu Chau. Dengan khawatir Yu Chau berseru, &#8220;Wah, celaka Siocia! Hujin telah memerintahkan agar A Cu dan A Pik &#8230;.&#8221;</p>
<p>Berkata sampai di sini mulut Yu Chau serasa tersumbat dan tidak sanggup meneruskan lagi.</p>
<p>Maka cepat Siau Si menyambung, &#8220;Mereka hendak dipotong kaki dan tangannya sebagai hukuman atas kesalahan mereka berani datang ke Man-to-san-ceng ini. Siocia, bag &#8230; bagaimana baiknya ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, jika begitu, engkau harus lekas mencari akal untuk menolong mereka, nona Ong!&#8221; seru Toan Ki khawatir.</p>
<p>Giok-yan juga sangat khawatir, katanya, &#8220;A Cu dan A Pik adalah pelayan pribadi Piauko, kalau mereka dibikin cacat, bagaimana aku harus bicara dengan Piauko. Mereka berada di mana, Yu Chau?&#8221;</p>
<p>Mendengar Siocia mereka ada maksud menolong A Cu dan A Pik, segera Yu Chau menyahut, &#8220;Hujin memerintahkan menggusur mereka ke &#8216;Hoa-pui-pang&#8217; (kamar rabuk bunga). Telah kumohon kepada nenek galak di sana agar menunda hukumannya setengah jam lagi, bila sekarang juga Siocia pergi minta ampun kepada Hujin mungkin masih keburu.&#8221;</p>
<p>Walaupun Giok-yan tidak yakin usahanya akan berhasil, tapi tiada jalan lain, terpaksa ia mengangguk, segera ia bertindak pergi bersama Yu Chau dan Siau Si. Tinggal Toan Ki yang berdiri kesima di tempatnya sambil memandangi bayangan si gadis yang menghilang di balik semak-semak bunga sana.</p>
<p>Ketika Giok-yan sampai di kamar sang ibu, ia lihat ibunya lagi duduk bersila, di depannya dupa mengepul di dalam Hiolo, terang ibunda bersemadi, betapa pun besarnya urusan juga tidak dapat mengganggunya. Maka cepat ia berdatang sembah, &#8220;Mak, ada sedikit urusan ingin kubicarakan.&#8221;</p>
<p>Perlahan Ong-hujin membuka mata, dengan wajah kereng ia tanya, &#8220;Urusan apa? Kalau ada sangkut pautnya dengan keluarga Buyung, aku tidak ingin mendengarkan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mak, A Cu dan A Pik tidak sengaja datang ke sini, maka sukalah engkau mengampuni mereka,&#8221; pinta si nona.</p>
<p>&#8220;Dari mana kau tahu mereka tidak sengaja?&#8221; tanya Ong-hujin. &#8220;Hm, tentu kau khawatir Piaukomu takkan gubris padamu lagi bila kupotong kaki-tangan mereka bukan?&#8221;</p>
<p>Dengan mengembeng air mata Giok-yan menjawab, &#8220;Piauko terhitung keponakanmu sendiri, mengapa ibu membencinya sedemikian rupa? Andaikan Kuku berbuat salah padamu, tidak perlu Piauko juga dibenci.&#8221;</p>
<p>Dengan berani Giok-yan mengucapkan kata-kata itu, segera ia berdebar-debar karena dirinya berani membantah sana ibu.</p>
<p>Sinar mata Ong-hujin menyorot sekilas muka putrinya itu, untuk sejenak ia tidak bicara dan mata lantas terpejam pula. Dengan menahan napas Giok-yan berdiri terpaku di situ, ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan ibundanya.</p>
<p>Selang agak lama barulah Ong-hujin membuka mata pula dan berkata, &#8220;Kau tahu Kuku berbuat salah padaku? Di mana letak kesalahannya? Coba katakan!&#8221;</p>
<p>Mendengar pertanyaan yang bernada tajam dan dingin itu, seketika Giok-yan menjadi bungkam dan takut.</p>
<p>&#8220;Cobalah katakan. Usiamu sekarang juga sudah dewasa, boleh tidak menurut kataku lagi,&#8221; demikian ucap Ong-hujin.</p>
<p>Tak tertahan lagi air mata Giok-yan berlinang-linang, sahutnya dengan penasaran dan takut pula, &#8220;Mak, engkau sedemikian benci kepada Kuku, dengan sendirinya lantaran Kuku berdosa padamu. Akan tetapi apa kesalahannya, selama ini ibu tidak pernah bicara padaku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pernah dengar dari orang lain tidak?&#8221; tanya Ong-hujin dengan suara bengis.</p>
<p>&#8220;Tidak,&#8221; sahut Giok-yan sambil menggeleng, &#8220;Selamanya ibu melarangku keluar Man-to-san-ceng ini, orang luar juga dilarang masuk kemari, dari siapa dapat kudengarnya?&#8221;</p>
<p>Ong-hujin menghela napas lega, nada suaranya sekarang juga lebih halus, katanya, &#8220;Semuanya itu adalah demi kebaikanmu. Orang jahat di dunia ini terlalu banyak, dibunuh juga tidak habis-habis. Usiamu masih muda, seorang gadis lebih baik jangan bertemu dengan orang jahat.&#8221;</p>
<p>Ia merandek sejenak, tiba-tiba teringat sesuatu olehnya, segera ia menyambung, &#8220;Seperti si tukang kebun she Toan itu, ia pandai omong dan pintar putar lidah, pasti bukan orang baik-baik. Maka kalau dia berani omong sepatah saja padamu, seketika kau bunuhnya, jangan membiarkan dia omong kedua kalinya.&#8221;</p>
<p>Giok-yan terdiam, ia pikir, &#8220;Jangankan cuma sepatah-dua kata, mungkin seratus patah dua ratus kata pun sudah lebih.&#8221;</p>
<p>Melihat putrinya diam saja, Ong-hujin menegur, &#8220;Kenapa? Apa kau tidak tega? Gadis berhati lemah seperti kau ini, selama hidup entah betapa banyak akan diperdayai orang.&#8221;</p>
<p>Lalu ia tepuk tangan dua kali dan Siau Si segera masuk, Ong-hujin berkata padanya, &#8220;Sampaikan perintahku bahwa siapa pun dilarang bicara dengan orang she Toan itu. Siapa yang melanggar keduanya akan dipotong.&#8221;</p>
<p>Siau Si mengiakan dengan wajah kaku tanpa perasaan seakan-akan apa yang dikatakan Ong-hujin adalah sesuatu hal yang sudah biasa serupa orang memotong babi atau menyembelih ayam saja, lalu mengundurkan diri.</p>
<p>&#8220;Nah, pergilah kau!&#8221; kata Ong-hujin kemudian sambil memberi tanda kepada Giok-yan.</p>
<p>Si gadis mengiakan, tapi sampai dia ambang pintu, ia berhenti dan menoleh, katanya, &#8220;Mak, engkau mengampuni A Cu dan A Pik saja dan peringatkan mereka agar lain kali jangan lagi datang kemari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang sudah kukatakan kapan pernah ketarik kembali? Percumalah meski kau banyak bicara pula,&#8221; sahut Ong-hujin.</p>
<p>Tiba-tiba Giok-yan menggigit-gigit gigi dan berkata dengan perlahan, &#8220;Kutahu sebab ibu benci pada Kuku dan mengapa pula benci pada Piauko.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia terus putar tubuh dan bertindak keluar.</p>
<p>&#8220;Kembali!&#8221; bentak Ong-hujin mendadak.</p>
<p>Giok-yan tidak berani membangkang, dengan kepala menunduk ia masuk kembali ke dalam kamar.</p>
<p>Sambil memandangi tubuh putrinya yang agak gemetar itu, Ong-hujin bertanya, &#8220;Apa yang kau ketahui, Yan-ji? Coba katakan saja terus terang, tidak perlu membohongi aku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kutahu &#8230; kutahu ibu menyesalkan Kuku tidak becus, dan gemas pada Piauko yang kurang berlatih silat sehingga tidak dapat mengembangkan keturunan Buyung yang tiada tandingannya di dunia ini,&#8221; demikian sahut Giok-yan sambil menggigit bibir.</p>
<p>Ong-hujin menjengek sekali, katanya, &#8220;Hm, anak kecil tahu apa? Ibumu sudah lama tidak she Buyung lagi, tahu? Peduli apa keluarga Buyung dapat menjagoi dunia atau tidak, aku tidak pusing lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kutahu ibu menyesal bukan lelaki sehingga tidak dapat membangun kembali keluarga Buyung, maka ibu menyalahkan Kuku dan Piauko tidak tekun belajar silat dan cuma bercita-cita membangun kembali kerajaan Yan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa yang berkata demikian padamu?&#8221; tanya Ong-hujin dengan kereng.</p>
<p>&#8220;Tanpa orang mengatakan juga anak dapat menerka,&#8221; sahut Giok-yan.</p>
<p>&#8220;Hm, tentu Piaukomu yang bilang begitu padamu, bukan?&#8221;</p>
<p>Giok-yan tidak dusta kepada sang ibu, tapi juga tidak mengaku. Ia hanya bungkam saja.</p>
<p>Maka Ong-hujin berkata pula, &#8220;Usia Piaukomu lebih tua 10 tahun daripadamu, tapi tidak belajar yang baik, setiap hari hanya gentayangan kian kemari entah apa yang dikerjakan hingga ilmu silatnya jauh di bawahmu. Sungguh bikin malu nama baik Buyung-si saja. Selama ratusan tahun ini betapa tenar nama kebesaran &#8216;Koh-soh Buyung-si&#8217;, akan tetapi bagaimana dengan ilmu silat Piaukomu itu? Apa dia sesuai menyebut dirinya keturunan Buyung-si?&#8221;</p>
<p>Dengan wajah sebentar merah sebentar pucat Giok-yan mendengarkan ucapan sang ibu yang ada benarnya juga itu. Seketika ia tidak dapat menjawab.</p>
<p>Lalu Ong-hujin meneruskan, &#8220;Sekarang katanya dia telah pergi ke Siau-lim-si, tentu budak-budak ceriwis itu buru-buru datang memberitahukan padamu. Hm, dia berani pergi ke Siau-lim-si, mustahil takkan dibuat buah tertawaan orang di sana? Bahkan aku akan berterima kasih, karena dengan begitu orang tentu tidak percaya seorang keroco begitu adalah anak cucu Buyung-si dari Koh-soh. Lebih baik lagi jika jiwanya melayang sekalian hingga asal-usulnya sukar diusut.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mak,&#8221; kata Giok-yan tiba-tiba sambil melangkah maju, &#8220;harap engkau pergi menolongnya. Betapa pun Piauko adalah satu-satunya keturunan keluarga Buyung. Bila terjadi apa-apa atas dirinya maka musnahlah selanjutnya keturunan Buyung-si dari Koh-soh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, musnah? Mereka tidak pikirkan diriku, buat apa mesti kupikirkan mereka? Sudahlah, pergi sana, pergi!&#8221;</p>
<p>&#8220;Mak, Piauko kan &#8230;.&#8221;</p>
<p>Namun Ong-hujin lantas membentaknya dengan bengis, &#8220;Makin lama kau semakin berani, ya?&#8221;</p>
<p>Dengan cemas dan mengembeng air mata terpaksa Giok-yan bertindak keluar dengan kepala menunduk. Hatinya bingung dan tak berdaya. Sampai di serambi sana, tiba-tiba didengarnya teguran seorang dengan suara tertahan, &#8220;Bagaimana hasilnya, nona?&#8221;</p>
<p>Waktu Giok-yan mendongak, kiranya Toan Ki. Cepat ia menyahut, &#8220;Engkau jang &#8230; jangan bicara lagi denganku.&#8221;</p>
<p>Kiranya sesudah ditinggal pergi Giok-yan tadi, Toan Ki menjadi seperti kehilangan sesuatu. Dengan linglung kemudian ia mengikutinya dan menunggu dari jauh. Begitu melihat si gadis keluar dari kamar Ong-hujin segera ia memapaknya dan tanya.</p>
<p>Melihat wajah Giok-yan mengunjuk sedih dan putus asa, ia tahu permintaannya tentu ditolak Ong-hujin. Maka katanya segera, &#8220;Seumpama ibumu tidak mau mengabulkan permintaan nona, kita kan harus mencari akal lain.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau ibu sudah menolak permohonanku, akal apa yang dapat kau gunakan?&#8221; sahut si nona. &#8220;Piauko lagi terancam bahaya, tapi dia &#8230; dia tega membiarkannya.&#8221;</p>
<p>Dan saking sedihnya, air mata hampir-hampir menetes.</p>
<p>&#8220;O, kiranya Buyung-kongcu sedang terancam bahaya &#8230;.&#8221; tiba-tiba Toan Ki teringat sesuatu, cepat ia menyambung pula, &#8220;He, ilmu silatmu kan lebih tinggi daripada Piaukomu, kenapa engkau sendiri tidak pergi menolongnya?&#8221;</p>
<p>Kedua mata si nona terbelalak lebar, heran seakan-akan tiada sesuatu ucapan lain di dunia ini yang lebih aneh daripada ucapan Toan Ki itu. Selang agak lama barulah ia berkata, &#8220;Cara bagaimana aku &#8230; aku bisa pergi? Tidak mungkin ibu mengizinkan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah tentu ibumu takkan mengizinkan, namun engkau sendiri dapat pergi secara diam-diam?&#8221; ujar Toan Ki dengan tersenyum. &#8220;Aku sendiri sudah pernah minggat dari rumah, kemudian waktu kupulang, ayah dan ibu juga cuma mengomel saja padaku.&#8221;</p>
<p>Mendengar uraian itu, seketika Giok-yan seakan-akan orang bodoh yang mendadak menjadi pintar. Katanya dalam hati, &#8220;Benar, mengapa aku tidak pergi secara diam-diam untuk menolong Piauko, andaikan nanti ibu mendampratku kan nasi sudah menjadi bubur, Piauko sudah dapat kuselamatkan. Orang ini bilang pernah minggat dari rumahnya, mengapa aku sendiri tidak pernah berpikir hal ini?&#8221;</p>
<p>Melihat si gadis ragu-ragu, segera Toan Ki menghasut lebih lanjut, &#8220;Orang hidup seperti engkau sebenarnya harus merasa bosan. Apakah engkau akan tinggal di Man-to-san-ceng ini sampai hari tua dan tidak ingin pergi melihat dunia luar yang indah permai itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apanya yang indah?&#8221; sahut Giok-yan sambil menggeleng. &#8220;Yang kupikir hanya untuk membantu Piauko saja karena dia sedang menghadapi bahaya. Namun aku sendiri belum pernah melangkah keluar rumah, di mana letak Siau-lim-si juga aku tidak tahu.&#8221;</p>
<p>Tanpa diminta lagi segera Toan Ki mencalonkan diri sebagai &#8220;sukarelawan&#8221;, katanya cepat, &#8220;Akan kubawa engkau ke sana, segala apa dalam perjalanan biarlah aku yang mengurus bagimu.&#8221;</p>
<p>Namun Giok-yan masih ragu-ragu. Maka Toan Ki bertanya pula, &#8220;Dan bagaimana dengan A Cu dan A Pik?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ibu juga tidak mau mengampuni mereka,&#8221; sahut si nona.</p>
<p>&#8220;Sekali berbuat, jangan tanggung-tanggung lagi. Bila A Cu dan A Pik dikutungi kaki tangannya tentu Piaukomu akan menyalahkan dirimu. Marilah kita pergi menolong mereka sekalian dan kita berempat lantas minggat bersama!&#8221;</p>
<p>Giok-yan melelet lidah, katanya khawatir, &#8220;Perbuatan durhaka seperti ini tentu takkan diampuni ibuku. Nyalimu ini benar-benar setinggi langit.&#8221;</p>
<p>Toan Ki tahu si gadis susah dibujuk kecuali memperalat Piauko yang dicintainya itu. Maka ia sengaja berkata, &#8220;Jika demikian, marilah kita berdua saja segera berangkat, biarlah A Cu dan A Pik dibikin cacat oleh ibumu. Kelak bila engkau ditanya Piaukomu, jawablah engkau tidak tahu dan aku pun tidak akan membocorkan rahasia ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mana boleh jadi,&#8221; sahut Giok-yan. &#8220;Dengan demikian, berarti aku mendustai Piauko, bukan?&#8221;</p>
<p>Tapi sesudah berpikir sejenak, akhirnya ia mengambil keputusan, katanya tiba-tiba, &#8220;Marilah ikut padaku!&#8221;</p>
<p>Melihat si nona berjalan ke arah barat secepat terbang, buru-buru Toan Ki ikut berlari menyusulnya.</p>
<p>Tidak lama Giok-yan sampai di depan sebuah rumah batu. Dari luar gadis itu berseru, &#8220;Peng-mama (ibu Peng), marilah keluar, ingin kubicara padamu.&#8221;</p>
<p>Mata terdengarlah suara orang tertawa terkekeh, lalu suara seorang berkata dengan serak, &#8220;Nona baik, apakah engkau sengaja datang kemari untuk melihat Peng-mama membuat rabuk bunga?&#8221;</p>
<p>Tadi waktu Toan Ki mendengar laporan Siau Si dan Yu Chau bahwa A Cu dan A Pik telah digusur ke Hoa-pui-pang atau kamar rabuk bunga, tatkala itu ia tidak perhatikan tentang istilah itu. Tapi kini demi mendengar kata-kata &#8220;rabuk bunga&#8221; dan diucapkan orang dengan suara seram itu, mendadak ia terperanjat dan berpikir, &#8220;Hoa-pui-pang apa maksudnya? Apakah rabuk tanaman bunga? Haya, memang benarlah begitu! Ong-hujin sangat kejam, suka membunuh orang untuk dijadikan rabuk bunga kamelia. Wah, untung kedatangan kami tepat waktunya, kalau tidak, tentu kaki dan tangan kedua dayang itu sudah dipotong untuk dijadikan rabuk.&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu Giok-yan sedang berkata lagi, &#8220;Peng-mama, engkau dipanggil ibu, hendaklah lekas ke sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Peng-mama sedang repot,&#8221; sahut suara tadi dari dalam rumah. &#8220;Ada urusan penting apakah hingga Hujin menyuruh Siocia memanggilku ke sini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kata ibu &#8230;.&#8221; Giok-yan tidak meneruskan, tapi lantas melangkah masuk ke dalam rumah batu itu. Segera terlihat olehnya A Cu dan A Pik terikat kencang pada dua pilar besi, mulut mereka tersumbat, hanya air mata saja berlinang-linang, tapi tak dapat bersuara.</p>
<p>Lega hati Toan Ki sesudah melongok ke dalam rumah dan melihat keadaan A Cu dan A Pik masih baik-baik tanpa kurang sesuatu apa. Tapi jantungnya kembali berdebar-debar pula ketika dilihatnya di dalam rumah situ terdapat seorang nenek bungkuk, rambut putih bagaikan perak, tangan menghunus sebilah pisau jagal, di sampingnya terdapat baskom air mendidih.</p>
<p>&#8220;Peng-mama,&#8221; demikian Giok-yan berkata pula, &#8220;ibu ingin tanya mereka tentang suatu hal penting, maka engkau disuruh melepaskan mereka.&#8221;</p>
<p>Ketika nenek itu menoleh, sekilas Toan Ki dapat melihat kedua siungnya yang kuning dan lancip hingga mirip hantu yang menakutkan, tanpa merasa ia bergidik.</p>
<p>Ia dengar nenek itu berkata, &#8220;Baiklah, sesudah ditanya, kirim kembali lagi ke sini untuk dipotong kaki dan tangan mereka.&#8221;</p>
<p>Lalu nenek itu pun bergumam pula, &#8220;Peng-mama selamanya tidak suka melihat anak dara cantik, maka kedua budak ini harus ditebas tangan-kakinya, supaya lebih menarik kalau dipandang.&#8221;</p>
<p>Toan Ki menjadi gusar, ia pikir nenek ini tentu sangat jahat, entah sudah betapa banyak orang yang dibunuh olehnya. Sayang dirinya tidak bertenaga, kalau tidak, ingin sekali ia memberi persen beberapa kali tamparan pada nenek jahat itu.</p>
<p>&#8220;Siapa itu yang berada di luar?&#8221; tanya Peng-mama mendadak. Nyata biarpun usianya sudah lanjut, namun pendengarannya masih sangat tajam. Suara napas Toan Ki yang memburu karena menahan rasa gusar itu segera dapat didengarnya. Ketika ia melongok keluar dan melihat pemuda itu seketika timbul rasa curiganya, tanyanya, &#8220;Siapa kau?&#8221;</p>
<br />Posted in Jin Yong, Pendekar Kerajaan Tayli  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toanki.wordpress.com/1805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toanki.wordpress.com/1805/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toanki.wordpress.com/1805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toanki.wordpress.com/1805/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toanki.wordpress.com/1805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toanki.wordpress.com/1805/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toanki.wordpress.com/1805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toanki.wordpress.com/1805/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toanki.wordpress.com/1805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toanki.wordpress.com/1805/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toanki.wordpress.com/1805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toanki.wordpress.com/1805/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toanki.wordpress.com/1805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toanki.wordpress.com/1805/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1805&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-19/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b75e221c0eee4ff517b26695a19675fc?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">Lenghou Tiong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 18</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-18/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-18/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 04:32:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1803</guid>
		<description><![CDATA[Maka sekilas pandang saja Ciumoti sudah dapat melihat rahasia A Cu itu, katanya dengan tertawa, &#8220;Haha, masakah di dunia ini ada seorang nenek berumur cuma belasan tahun? Memangnya kau sangka Hwesio dapat kau bohongi terus?&#8221; Berbareng telapak tangannya membalik dan menghantam, &#8220;krek&#8221;, tongkat A Cu itu kontan tergetar patah menjadi tiga potong. Menyusul serangan Ciumoti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1803&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Maka sekilas pandang saja Ciumoti sudah dapat melihat rahasia A Cu itu, katanya dengan tertawa, &#8220;Haha, masakah di dunia ini ada seorang nenek berumur cuma belasan tahun? Memangnya kau sangka Hwesio dapat kau bohongi terus?&#8221;</p>
<p><span id="more-1803"></span>Berbareng telapak tangannya membalik dan menghantam, &#8220;krek&#8221;, tongkat A Cu itu kontan tergetar patah menjadi tiga potong. Menyusul serangan Ciumoti dilontarkan pula ke arah A Pik.</p>
<p>Dalam gugup dan khawatirnya, cepat A Pik sambar meja di sampingnya untuk menangkis serangan orang. &#8220;Prak-prak&#8221; dua kali, meja yang terbuat dari kayu gaharu seketika pecah berantakan, tinggal dua kaki meja yang masih terpegang di tangan A Pik.</p>
<p>Melihat A Pik terdesak mepet dinding, untuk mundur lagi sudah buntu, hendak lari pun susah, sementara itu serangan Ciumoti telah dilancarkan pula, Toan Ki tak bisa tinggal diam lagi, yang ia pikir hanya lekas menolong si gadis, tak terpikir olehnya bahwa diri sendiri sama sekali bukan tandingan Ciumoti.</p>
<p>Maka cepat jari tengah kanan terus menuding ke depan, tenaga dalamnya lantas terpancar keluar melalui &#8220;Tiong-ciong-hiat&#8221; di ujung jari dengan membawa suara mencicit, itulah Tiong-ciong-kiam-hoat dari Lak-meh-sin-kiam yang lihai.</p>
<p>Sebenarnya Ciumoti tidak bermaksud membunuh A Pik, tujuannya cuma hendak memancing Toan Ki ikut turun tangan. Bila dia benar-benar membunuh, mana A Pik mampu menghindari &#8220;Hwe-yam-to&#8221; yang tanpa wujud dan lihai luar biasa itu?</p>
<p>Melihat Toan Ki tertipu olehnya dan turun tangan, segera Ciumoti membalik tangan dan ganti menyerang A Cu. Begitu hebat tenaganya, di mana angin tebasannya tiba, tertampaklah A Cu terhuyung-huyung, baju bagian pundak terobek juga, gadis itu menjerit kaget.</p>
<p>Cepat Toan Ki menolong pula, jari kecil tangan kiri terus menusuk ke depan dengan &#8220;Siau-tik-kiam&#8221; untuk menangkis &#8220;Hwe-yam-to&#8221; musuh.</p>
<p>Dengan demikian, A Cu dan A Pik terhindar dari bahaya, akan tetapi sebaliknya Toan Ki yang harus melayani serangan Hwe-yam-to-hoat Ciumoti dengan Lak-meh-sin-kiam.</p>
<p>Pertama Ciumoti sengaja hendak pamer kepandaiannya, kedua ingin orang lain menyaksikan bahwa Toan Ki benar-benar mahir &#8220;Lak-meh-sin-kiam&#8221; yang dikatakan tadi. Maka ia sengaja mengeluarkan Lwekangnya untuk saling bentrok dengan tenaga dalam Toan Ki hingga menerbitkan suara mencicit.</p>
<p>Dengan menghimpun tenaga dalam dari berbagai tokoh kelas wahid yang pernah disedotnya dengan Cu-hap-sin-kang, sebenarnya tenaga Toan Ki sekarang sudah lebih kuat daripada Ciumoti. Celakanya dia sama sekali tidak mengerti ilmu silat, Kiam-hoat yang dipahaminya di Thian-liong-si itu juga cuma dihafalkannya begitu saja, sedikit pun tak bisa digunakannya secara hidup. Maka dengan mudah saja Ciumoti dalam mempermainkannya dan berulang-ulang memancing tusukan jarinya itu hingga daun pintu dan jendela berlubang oleh tenaga dalam Toan Ki yang hebat, berbareng ia pun mengoceh, &#8220;Wah, sungguh hebat Lak-meh-sin-kiam ini, pantas mendiang Buyung-siansing memujinya setinggi langit.&#8221;</p>
<p>Cui Pek-khe juga ternganga heran, pikirnya, &#8220;Kukira Toan-kongcu ini sama sekali tidak mengerti ilmu silat, siapa tahu kepandaiannya sehebat ini. Toan-si dari Tayli benar-benar tidak bernama kosong. Untunglah ketika meneduh di Tin-lam-onghu dahulu aku tidak pernah berbuat sesuatu yang jahat, kalau tidak, masakah aku dapat keluar dari istana itu dengan hidup?&#8221;</p>
<p>Makin dipikir ia jadi merinding sampai jidat penuh keringat dingin.</p>
<p>Setelah menempur Toan Ki sebentar, kalau mau, sebenarnya setiap jurus dan setiap waktu Ciumoti dapat mematikan pemuda itu, tapi seperti kucing permainkan tikus saja, ia sengaja menggoda Toan Ki agar mengeluarkan jurus-jurus Lak-meh-sin-kiam.</p>
<p>Tapi sesudah lama, lambat laun hilanglah rasa memandang rendah Ciumoti, ia merasa Kiam-hoat yang dimainkan pemuda itu sesungguhnya lain daripada yang lain, cuma entah mengapa, di mana letak kelihaiannya sama sekali tak dapat digunakan oleh Toan Ki.</p>
<p>Jadi seperti seorang anak kecil, meski dibekali harta berjuta-juta toh tidak tahu cara bagaimana menggunakannya.</p>
<p>Setelah bergebrak beberapa jurus lagi, tiba-tiba pikiran Ciumoti tergerak, &#8220;Bila kelak timbul ilhamnya dan mendadak ia sadar serta memahami kunci kemukjizatan ilmu silatnya ini, ditambah lagi tenaga dalamnya dan Kiam-hoat yang bagus ini pastilah akan merupakan lawan tangguh paling lihai bagiku!&#8221;</p>
<p>Toan Ki sendiri juga sudah sadar mati-hidupnya sekarang bergantung di bawah tangan Ciumoti, cepat ia berseru, &#8220;A Cu dan A Pik berdua Cici, lekas kalian melarikan diri, kalau terlambat mungkin tidak keburu lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mengapa engkau menolong kami, Toan-kongcu?&#8221; hanya A Cu.</p>
<p>&#8220;Hwesio ini mengira ilmu silatnya mahatinggi dan suka malang melintang menghina orang lain. Cuma sayang aku tidak paham ilmu silat, susah untuk melawannya, maka lekas kalian melarikan diri!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi sudah terlambat!&#8221; seru Ciumoti tiba-tiba dengan tertawa. Ia melangkah maju setindak, jari tangan kiri terus terjulur hendak menutuk Toan Ki.</p>
<p>Toan Ki menjerit kaget dan bermaksud menghindar, namun sudah terlambat. Tiga Hiat-to penting pada tubuhnya sekaligus tertutuk, seketika kaki terasa lemas terus roboh ke lantai. Akan tetapi ia masih berteriak-teriak, &#8220;A Cu, A Pik, lekas kalian lari, lekas!&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, jiwamu sendiri tak terjamin masih ada pikiran untuk mengurus orang lain?&#8221; jengek Ciumoti sambil kembali ke tempat duduknya. Lalu katanya kepada A Cu, &#8220;Nona ini pun tidak perlu lagi main sandiwara segala. Sebenarnya siapa yang berkuasa di rumah ini, lekas katakan? Toan-kongcu ini telah hafal Lak-meh-sin-kiam-boh dengan lengkap, cuma ia tidak paham ilmu silat, maka tak dapat menggunakannya. Besok juga anak kubakar dia di hadapan makam Buyung-siansing, bila Buyung-siansing mengetahui di alam baka, tentu beliau akan dapat memahami pula bahwa sobat lamanya ini telah menemui janji dengan baik.&#8221;</p>
<p>A Cu tahu di pondok Khiam-im-cing-sik ini tiada seorang pun yang mampu menandingi si Hwesio. Tapi segera ia mendapat akal, katanya dengan tertawa, &#8220;Baiklah, Toahwesio. Sekarang kami sudah percaya, kami akan membawa engkau ke makam Loya, tapi perjalanan ke sana memerlukan satu hari penuh, hari ini sudah tidak keburu lagi, esok pagi-pagi biarlah kami berdua mengantar sendiri Toahwesio dan Toan-kongcu berziarah ke makam Loya. Kini kalian berempat silakan mengaso, sebentar harap makan malam seadanya.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia gandeng tangan A Pik terus masuk ke ruangan belakang.</p>
<p>Memandangi bayangan kedua gadis jelita itu, Toan Ki cuma dapat tersenyum getir saja.</p>
<p>Selang satu jam kemudian, seorang budak laki-laki keluar memberi tahu, &#8220;Nona A Pik mengundang tuan-tuan menghadiri perjamuan sederhana di &#8216;Thing-uh-ki&#8217;!&#8221;</p>
<p>Ciumoti menyatakan terima kasih, segera ia pegang tangan Toan Ki dan mengikuti hamba itu ke belakang disusul oleh Cui Pek-khe dan Ko Gan-ci.</p>
<p>Setelah menyusuri sebuah jalan kecil yang berliku-liku dengan batu kecil berserakan, akhirnya sampailah di tepi sebuah danau. Di bawah pohon Liu tampak tertambat sebuah perahu kecil.</p>
<p>&#8220;Itu di sana!&#8221; kata hamba tadi sambil menuding ke arah sebuah rumah kecil yang dikelilingi air danau.</p>
<p>Sesudah dekat, kiranya &#8220;Thing-uh-ki&#8221; (vila mendengarkan hujan) yang dimaksudkan dibangun dengan dahan pohon Siong yang tak terkupas kulitnya, mungil dan indah seperti buatan alam.</p>
<p>Setelah mendarat, Toan Ki melihat A Pik sudah berdiri di depan rumah menanti kedatangan tetamunya. Kini gadis ini memakai baju hijau pupus, berbedak tipis dengan yanci yang kemerah-merahan. Di sampingnya berdiri pula seorang gadis cilik lain berusia sebaya dengan A Pik, berbaju merah dadu, dengan sikap yang lincah dan nakal sedang memandang Toan Ki dengan tersenyum simpul. Kalau raut muka A Pik berbentuk bulat telur, adalah gadis jelita ini berbentuk bundar bagai bulan purnama, bola matanya hitam dengan kerlingannya yang tajam hingga menjadikan kecantikannya mempunyai daya tarik tersendiri.</p>
<p>Begitu Toan Ki menghampiri, segera tercium olehnya bau harum yang halus. Tanpa pikir lagi ia menegur dengan tertawa, &#8220;Enci A Cu, sungguh tidak nyana gadis cilik yang cantik seperti engkau ini ternyata juga pandai memainkan peranan sebagai nenek-nenek!&#8221;</p>
<p>Gadis jelita di samping A Pik itu memang benar A Cu adanya. Ia melirik Toan Ki sekejap, lalu menyahut dengan tersenyum, &#8220;Engkau telah menjura tiga kali padaku, sekarang engkau menyesal bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, tidak!&#8221; sahut Toan Ki sambil menggeleng kepala. &#8220;Aku justru merasa perbuatanku itu cukup berharga. Cuma terkaanku saja yang agak meleset.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terkaan apa yang meleset?&#8221; tanya A Cu.</p>
<p>&#8220;Sejak mula sudah kuduga bahwa Enci sendiri pasti serupa Enci A Pik, sama-sama gadis cantik yang jarang terdapat di dunia ini,&#8221; ujar Toan Ki. &#8220;Cuma dalam anggapanku, kuyakin Enci pasti tidak banyak berbeda daripada Enci A Pik, siapa tahu sesudah bertemu muka, ternyata &#8230; ternyata &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ternyata jauh kalah dibandingkan A Pik, begitu bukan?&#8221; sela A Cu cepat.</p>
<p>Segera A Pik menceletuk juga, &#8220;Ternyata berpuluh kali lebih cantik daripadaku hingga engkau terpesona, bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan, bukan! Salah semua!&#8221; sahut Toan Ki. &#8220;Kupikir Tuhan ini memang mahaadil, sudah menciptakan gadis cantik serupa Enci A Pik, juga menciptakan gadis cantik yang lain seperti Enci A Cu. Raut muka keduanya sama sekali berbeda, tapi sama-sama bagus dan sama-sama menariknya, hatiku ingin mengucapkan berbagai pujian padamu, tapi mulutku justru sukar mengucapkan kata-kata yang tepat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Cis!&#8221; semprot A Cu dengan tertawa. &#8220;Engkau ludah mencerocos panjang lebar, tapi bilang sukar mengucapkan sepatah kata?&#8221;</p>
<p>Kalau A Cu bicara dengan lincah dan mengomel, sebaliknya A Pik lantas berkata dengan lemah lembut, &#8220;Atas kunjungan tuan-tuan ke tempat kami yang sunyi ini, tiada sesuatu yang dapat kami persembahkan, hanya tersedia sedikit arak tawar dan sekadar makanan yang terdapat di daerah Kanglam sini.&#8221;</p>
<p>Lalu ia persilakan tetamunya mengambil tempat duduk masing-masing, ia bersama A Cu mengiringinya semeja.</p>
<p>Melihat cangkir, mangkuk dan alat perkakas yang disediakan itu terdiri dari benda halus semua, diam-diam Toan Ki memuji. Ketika kemudian pelayan laki-laki menyuguhkan makanan pengantar, menyusul lantas masakan panas seperti &#8220;Leng-pek-he-jin&#8221; (udang goreng sawi putih), &#8220;Ho-yap-tang-sun-theng&#8221; (rebung muda masak daun teratai kuah), &#8220;Eng-tho-hwe-tui&#8221; (buah Tho masak ham), &#8220;Bwe-hoa-keh-ting&#8221; (bunga Bwe masak ayam), dan macam-macam lagi, setiap masakannya sangat istimewa dan lain daripada yang lain, di tengah udang, ikan, daging dan lain-lain dicampur dengan buah-buahan dan bunga-bungaan, warnanya indah dan masanya lezat, dengan sendirinya membawa semacam bau harum dan cita rasa yang sedap.</p>
<p>Keruan yang tidak habis-habis memberi pujian adalah Toan Ki, katanya sambil tidak lupa melangsir makanan di hadapannya ke dalam mulut, &#8220;Ada tempat seindah ini barulah ada manusia sepandai ini. Ada orang sepandai ini barulah dapat menyuguhkan makanan seenak ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh, coba terka, makanan ini masakanku atau masakan A Pik?&#8221; tanya A Cu dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Eng-tho-hwe-tui dan Bwe-hoa-keh-ting itu kuyakin Enci yang memasaknya,&#8221; sahut Toan Ki tanpa pikir. &#8220;Dan Ho-yap-tang-sun-theng, Leng-pek-he-jin dan lainnya tentulah buatan Enci A Pik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ehm, engkau memang pintar,&#8221; seru A Cu dengan tertawa. &#8220;Hai, A Pik, cara bagaimana kita harus memberi hadiah kepada kepandaiannya ini?&#8221;</p>
<p>Dengan tersenyum A Pik menyahut, &#8220;Toan-kongcu ingin apa, sudah tentu kita akan menurut saja, masakah pakai memberi hadiah apa segala, kaum hamba seperti kita masa ada harganya untuk bicara demikian?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aduh, dasar mulutmu ini memang pandai memikat hati orang, pantas setiap orang memuji kebaikanmu dan mengatakan aku jahat,&#8221; kata A Cu.</p>
<p>&#8220;Yang satu lemah lembut, yang lain lincah gembira, keduanya sama-sama baik,&#8221; ujar Toan Ki dengan tertawa. &#8220;Enci A Pik, di dalam perahu siang tadi engkau telah memetik sebuah lagu dengan senjata ruyung milik Ko-toaya, suara tetabuhan itu sampai saat ini seakan-akan masih mengiang di telingaku. Bila nona tidak keberatan, kumohon sudilah engkau memperdengarkan beberapa lagu pula dengan alat tetabuhan yang sungguh-sungguh, untuk mana andaikan besok aku harus menjadi abu dibakar oleh Toahwesio ini, rasanya pun takkan kecewa hidupku ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika Kongcu sudi mendengarkan, sudah tentu akan kumainkan sekadar menghibur tuan tamu,&#8221; sahut A Pik terus berbangkit menuju ke ruangan belakang. Waktu keluar pula ia membawa sebuah Khim atau kecapi.</p>
<p>Toan Ki heran melihat Khim itu jauh lebih kecil daripada Khim umumnya, bahkan senarnya juga tidak tujuh, tapi sembilan senar dengan warna yang berbeda-beda.</p>
<p>A Pik mengambil tempat duduk di suatu bangku kecil, ia taruh kecapi itu di atas pangkuannya, lalu katanya kepada Ciumoti, &#8220;Harap Toasuhu memberi petunjuk nanti!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, jangan sungkan,&#8221; sahut Ciumoti. Dalam hati ia merasa curiga, &#8220;Mengapa dia menyatakan hendak minta petunjuk padaku?&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu kedua tangan A Pik yang putih bersih bagai salju itu telah mulai beraksi, kelima jari kiri menekan perlahan di atas senar, sekali jari tangan kanan memetik, terdengarlah suara &#8220;creng&#8221; yang nyaring merdu.</p>
<p>Meski Toan Ki sama sekali tidak paham ilmu silat, tapi dalam hal &#8220;Su-wah-khim-ki&#8221; atau seni tulis, seni lukis, seni musik (Khim) dan seni catur, semuanya ia mahir. Maka begitu mendengar suara pembukaan yang dipetik A Pik itu, segera ia tahu bahwa kesembilan senar Khim itu terbuat dari bahan yang berbeda-beda. Ada senar baja, ada pula senar tembaga, dan ada pula senar benang biasa. Yang keras teramat keras, yang lemas sangat lemas.</p>
<p>Hanya beberapa kali A Pik memetik perlahan suara kecapi itu sudah mulai mengalun dengan lambat dan makin lama makin ulem hingga keempat pendengarnya itu merasa kelopak matanya menjadi berat, rasanya menjadi kantuk dan ingin tidur.</p>
<p>Cui Pek-khe adalah tokoh yang luas pengalamannya dan cerdik, ia kenal betapa liciknya orang Kangouw. Maka begitu memasuki perkampungan keluarga Buyung, setiap saat ia selalu waspada. Waktu matanya merasa sepat dan layap-layap akan pulas mendadak ia tersadar, &#8220;Celaka! Rupanya budak setan ini sedang merancang sesuatu muslihat untuk menggasak kami.&#8221;</p>
<p>Segera ia berseru, &#8220;Awas, Ko-hiantit, banyak orang Kangouw berjiwa keji dan banyak tipu muslihatnya yang serbaaneh, engkau harus hati-hati dan waspada.&#8221;</p>
<p>Ko Gan-ci mengangguk dan menyahut dengan samar-samar, &#8220;Benar! Sampai bertemu esok pagi!&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia terus menguap.</p>
<p>Kuapan Ko Gan-ci ini ternyata membawa daya menular, seketika Cui Pek-khe dan Toan Ki ikut menguap dengan pikiran mulai melayap-layap, yang terdengar hanya suara Khim yang ulem merdu, sekelilingnya terasa sunyi senyap, setiap orang merasakan tubuh penat dan ingin tidur, kalau bisa terus hendak selonjor dan terpulas segera.</p>
<p>Pada saat itulah, sekonyong-konyong terdengar &#8220;cring&#8221; sekali, dada Toan Ki serasa diketok dan &#8220;Thian-ti-hiat&#8221; di samping ketiak seketika lancar kembali dari tutukan Ciumoti tadi.</p>
<p>Sungguh girang, dan kejut Toan Ki tak terkatakan, ia menyangka tutukan Ciumoti tadi kurang keras hingga Hiat-to yang tertutuk itu tidak buntu seluruhnya, maka setelah lewat sekian lama jalan darahnya lantas lancar kembali dengan sendirinya.</p>
<p>Tak terduga suara kecapi A Pik kembali dipetik sekali pula, &#8220;cring&#8221;, lagi-lagi &#8220;Pek-hou-hiat&#8221; di punggung Toan Ki terasa lancar pula dengan sendirinya.</p>
<p>Ketika Toan Ki coba mengerahkan tenaga dalamnya, ia merasa separuh tubuh bagian atas sudah dapat bergerak dengan bebas, jalan darah pun lancar tanpa suatu rintangan.</p>
<p>Baru sekarang ia tahu suara kecapi A Pik itu dapat mengadakan kontak dengan hawa murni dalam tubuh orang dan mampu melancarkan jalan darah.</p>
<p>Selang sebentar, Hiat-to bagian kaki yang tertutuk juga terbuka semua mengikuti bunyi kecapi.</p>
<p>Dengan termangu-mangu Toan Ki memandangi A Pik, hati merasa terima kasih tak terhingga. Ia lihat A Pik masih terus memetik kecapi dengan penuh perhatian, di sampingnya terdengar suara orang mendengkur dengan keras, Cui Pek-khe dan Ko Gan-ci sudah tertidur nyenyak. Sebaliknya Ciumoti masih tetap duduk dengan tenang, tampak jelas sedang mengerahkan Lwekang untuk melawan suara kecapi si A Pik.</p>
<p>Tidak lama kemudian, Toan Ki lihat jidat A Pik mulai berkeringat, di atas kepala kabut tipis mulai menguap. Sebaliknya Ciumoti tetap tenang dengan mengulum senyum dan berseri-seri.</p>
<p>Diam-diam Toan Ki jadi khawatir, &#8220;Bila suara kecapi si A Pik tak dapat mengatasi kekuatan si Hwesio hingga malah dilukai olehnya, lantas bagaimana baiknya nanti?&#8221;</p>
<p>Pada saat yang genting itulah tiba-tiba terdengar A Cu menyanyi dengan suara yang merdu, lagunya, &#8220;Angin mendesir dingin di sungai Ih, sekali pergi sang pahlawan tak kembali lagi!&#8221;</p>
<p>Suara kecapi sangat kalem dan halus, sebaliknya suara nyanyian gagah penuh semangat, keduanya berbeda irama, Toan Ki menjadi heran.</p>
<p>Tapi berulang A Cu masih terus membolak-balik menyanyikan lagu &#8220;angin mendesir &#8230;&#8221; hingga tiga-empat kali, Toan Ki lihat tangkai bunga yang tersunting di atas sanggul A Pik tiada hentinya bergemetar, bibir si gadis yang tadinya merah kini pun mulai pucat.</p>
<p>Hati Toan Ki tergerak, mendadak ia sadar, &#8220;Ah, tahulah aku. Sebabnya A Cu menyanyikan dua kalimat lagunya itu, maksudnya minta aku menirukan perbuatan Keng Ko, membunuh raja Cin di zaman Ciongkok. Ya, tenaga dalam A Pik terang bukan tandingan si Hwesio, kalau bertambah lebih lama lagi mungkin akan terluka dalam parah.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Toan Ki mulai menghafalkan kembali Lak-meh-sin-kiam, ia coba menjalankan tenaga dalam dan terasa lancar tanpa sesuatu rintangan.</p>
<p>Cuma sejak kecil ia mendapat ajaran falsafah Kongcu dan Buddha yang menyuruh setiap manusia harus berlaku bajik dan welas asih kepada sesamanya, karena itu ia menjadi ragu untuk menyerang, ia pikir seorang laki-laki harus bertindak secara terang-terangan, kalau menyerang orang secara mendadak dan di luar penjagaan, rasanya terlalu kotor dan rendah.</p>
<p>Tengah Toan Ki ragu itulah, sekonyong-konyong &#8220;creng&#8221; sekali, seutas senar kecapi si A Pik putus, tubuh gadis itu pun tergeliat sedikit, suara nyanyian A Cu pun terhenti mendadak, sepasang sumpit yang terpegang di tangannya segera siap hendak ditusukkan ke arah Ciumoti.</p>
<p>Menyusul terdengar pula suara &#8220;cring&#8221;, kembali seutas senar kecapi putus. Berbareng Cui Pek-khe dan Ko Gan-ci berseru kaget, keduanya sama-sama terjaga bangun.</p>
<p>Toan Ki tahu keadaan sangat mendesak, diam-diam ia bergumam, &#8220;Demi menolong orang, terpaksa aku harus berlaku pengecut sebentar.&#8221;</p>
<p>Segera ia angkat tangan kanan, dengan telunjuk dan jari tengah mengacung ke arah Ciumoti, &#8220;cus-cus&#8221;, seketika dua arus kekuatan yang tak kelihatan menusuk dengan cepat.</p>
<p>Itulah jurus serangan &#8220;Siang-yang-kiam&#8221; dan &#8220;Tiong-ciong-kiam&#8221; yang lihai.</p>
<p>Bila Ciumoti lagi bertanding berhadapan dengan Toan Ki, betapa pun cepatnya serangan itu pasti dapat dipatahkan olehnya. Tapi kini Ciumoti menyangka Hiat-to pemuda yang telah ditutuknya, untuk sementara ini pemuda itu terang tidak dapat berbuat apa-apa, maka antero perhatiannya dicurahkan untuk menempur suara kecapi si A Pik.</p>
<p>Tatkala itu Ciumoti sudah mulai di atas angin dan A Pik terdesak, ia sudah berusaha mengacaukan suara kecapi untuk membingungkan pemusatan pikiran A Pik, kemudian suara kecapi segera akan diperalat olehnya untuk melukai A Cu sekalian.</p>
<p>Sama sekali tak terduga olehnya bahwa Toan Ki mendadak menyerang dengan Lak-meh-sin-kiam. Dalam kagetnya Ciumoti bersuit panjang sembari meloncat ke atas, &#8220;brak&#8221;, sekaligus lima senar kecapi si A Pik sama putus. Menyusul tertampaklah darah mengucur di badan Ciumoti. Bu-heng-sin-kiam atau pedang sakti tak berwujud yang dilontarkan Toan Ki ternyata berhasil menusuk bahu kanannya.</p>
<p>Cepat sekali A Pik tarik A Cu dan tangan lain menggandeng Toan Ki, sekali kaki mengentak, ketiga orang lantas melayang keluar melalui jendela pondok di atas air itu dan tepat turun ke dalam perahu yang tertambat di tepi gili-gili. Segera A Cu menyuruh Toan Ki mendekam di dalam perahu, ia sendiri sambar pengayuh terus didayung cepat ke tengah danau.</p>
<p>Maka terdengarlah suara &#8220;blang-blung&#8221; yang keras, perahu kecil itu terombang-ambing bagai didampar ombak raksasa di tengah samudra, air danau muncrat ke dalam perahu hingga Toan Ki basah kuyup.</p>
<p>Waktu ia mendongak, ia lihat Ciumoti berdiri di tepi gili-gili sedang melemparkan meja batu, bangku batu dan sebagainya, untung A Cu cukup cekatan dan dapat mendayung dengan cepat, pula Ciumoti telah terkena pedang tanpa wujud Toan Ki tadi hingga lukanya cukup parah, tenaganya banyak berkurang, maka timpukannya tiada satu pun yang tepat mengenai perahu itu.</p>
<p>Namun begitu A Cu terkejut juga oleh ketangkasan si Hwesio. Diam-diam ia bersyukur dapat lolos dari bahaya. Sekuatnya ia mendayung lebih jauh hingga dapat diduga Ciumoti tidak dapat menyusul mereka lagi.</p>
<p>&#8220;Toan-kongcu,&#8221; kata A Pik kemudian, &#8220;terima kasih atas pertolonganmu tadi, kalau tidak, saat ini aku tentu sudah binasa di tangan Hwesio itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Akulah yang harus berterima kasih padamu,&#8221; sahut Toan Ki. &#8220;Hwesio itu berani berkata berani berbuat, bukan mustahil aku benar-benar akan dibakar hidup-hidup olehnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudahlah, tidak perlu lagi terima kasih sini dan terima kasih sana, apakah kita dapat lolos dari kekejaman padri itu masih belum dapat dipastikan,&#8221; ujar A Cu.</p>
<p>Pada saat itu juga Toan Ki mendengar suara tersiahnya air, ada perahu sedang didayung ke arah sini, segera katanya, &#8220;Benar juga, Hwesio itu sedang mengejar kemari!&#8221;</p>
<p>Karena pertarungan Lwekang tadi, keadaan A Pik sudah sangat lelah, seketika tenaganya belum dapat dipulihkan, ia bersandar di dinding perahu katanya, &#8220;A Cu Cici, marilah kita menyingkir sementara ke tempat Liok-toaya saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, terpaksa begitulah,&#8221; sahut A Cu dengan mendongkol. &#8220;Sungguh sialan, tentu kita akan ditertawai Liok-toaya lagi bahwa ilmu silat kita tak berguna, baru ketemu musuh lantas lari berlindung ke rumahnya. Hidup kita selanjutnya pasti akan selalu dibuat buah tertawaan olehnya.&#8221;</p>
<p>Toan Ki sendiri sejak tenaga dalamnya bertambah kuat, daya pendengarannya menjadi sangat tajam pula. Ia dapat mendengar perahu yang sedang mengejar mereka itu makin mendekat. Cepat saja ia pun sambar pengayuh lain dan bantu mendayung, bertambah tenaga seorang, daya luncur perahu mereka menjadi seperti anak panah terlepas dari busurnya, jarak dengan perahu pengejar itu pun makin lama makin jauh.</p>
<p>&#8220;Kepandaian Hwesio itu sungguh luar biasa, kalau kedua Cici yang masih muda belia dikalahkan olehnya, kenapa mesti dibuat pikiran, apa yang memalukan?&#8221; ujar Toan Ki kemudian.</p>
<p>Tiba-tiba dari jauh sana terdengar suara seruan orang, &#8220;Wahai, A Cu dan A Pik! Kembalilah kalian!&#8221;</p>
<p>Terang itulah suara Ciumoti, ucapannya itu terdengar lemah lembut dan bersahabat hingga menimbulkan daya tarik yang sukar ditahan, rasanya ingin menurut saja apa yang dikatakan itu.</p>
<p>A Cu tertegun juga, pikirnya, &#8220;Dia menyerukan kita kembali ke sana dan menyatakan takkan membikin susah kita.&#8221;</p>
<p>Sembari berkata ia menghentikan dayungnya dengan pikiran tergerak dan bermaksud memenuhi permintaan Ciumoti itu.</p>
<p>Bahkan A Pik lantas ikut menyokong, &#8220;Jika begitu, marilah kita putar kembali ke sana!&#8221;</p>
<p>Syukur tenaga dalam Toan Ki sangat kuat dan tidak mudah terpengaruh oleh seruan Ciumoti yang membawa daya tarik itu, cepat ia berkata, &#8220;Jangan kalian percaya, ia sengaja hendak menipu kalian!&#8221;</p>
<p>Namun suara Ciumoti yang halus dan enak didengar itu kembali berkumandang pula, &#8220;Kedua nona cilik A Cu dan A Pik, Kongcu kalian telah pulang dan sedang mencari kalian, lekaslah dayung kembali, lekas kembali!&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah!&#8221; kata A Cu tiba-tiba terus angkat pengayuh untuk membelokkan arah perahu.</p>
<p>Toan Ki menjadi khawatir. Diam-diam ia pikir, &#8220;Jika benar Buyung-kongcu sudah pulang, tentu ia sendiri akan panggil A Cu dan A Pik, kenapa mesti si Hwesio yang memanggilnya? Jelas suaranya itu adalah semacam ilmu penggoda sukma orang yang sangat lihai.&#8221;</p>
<p>Cepat Toan Ki menyobek dua potong ujung bajunya untuk menyumbat telinganya A Cu, lalu menyumbat pula telinga A Pik.</p>
<p>Setelah tenangkan diri sejenak, A Cu berseru kaget, &#8220;Wah, hampir saja kita terjebak!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, Hwesio itu dapat menggunakan Liap-hun-tay-hoat (ilmu sakti pencabut sukma, sebangsa hipnotis), hampir kita masuk perangkapnya,&#8221; tukas A Pik.</p>
<p>Segera A Cu mendayung lagi sekuatnya, katanya, &#8220;Toan-kongcu, lekas mendayung, cepat!&#8221;</p>
<p>Kedua orang terus mendayung dengan gotong royong hingga dalam sekejap suara Ciumoti tidak terdengar pula. Toan Ki lalu memberi tanda agar sumbat telinga kedua nona itu dibuka.</p>
<p>Sambil menepuk dada A Cu berkata sembari menarik napas lega, &#8220;Selamatlah sekarang. Tapi lantas bagaimana selanjutnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Enci A Cu,&#8221; kata A Pik, &#8220;jika kita berlindung ke tempat Liok-toaya di Siau-thian-jun, bila nanti si Hwesio juga menyusul ke sana, tentu ia akan bergebrak dengan Liok-toaya dengan sengit.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar, dan bila terjadi begitu, tentu runyam,&#8221; sahut A Cu. &#8220;Meski ilmu silat Liok-toaya cukup tinggi, tapi tampaknya bukan tandingan si Hwesio yang aneh dan licin itu. Biar begini saja, kita terus main kucing-kucingan di danau yang luas ini, kita putar kian kemari menghindari pengejarannya. Kalau lapar, kita bisa petik lengkak dan ubi teratai untuk tangsel perut, meski harus bertahan sampai 10 hari atau setengah bulan juga kita sanggup.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, terserah kepada keinginanmu,&#8221; ujar A Pik dengan tersenyum. &#8220;Cuma entah bagaimana dengan pendapat Toan-kongcu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Haha, justru itulah melebihi harapanku,&#8221; sahut Toan Ki sambil bertepuk tangan kegirangan. &#8220;Pemandangan danau ini indah permai, ditambah ada kawan dua nona cantik, jangankan cuma setengah bulan, sekalipun selamanya juga aku setuju hidup demikian, biarpun malaikat dewata juga tidak sebahagia ini!&#8221;</p>
<p>A Pik tersenyum geli oleh banyolan pemuda itu, katanya pula, &#8220;Dari sini menuju ke arah tenggara banyak sekali terdapat anak sungai dan teluk, kecuali nelayan setempat, jarang yang hafal perjalanan di sekitar sini. Bila kita sudah dapat memasuki &#8216;Pek-kiok-oh&#8217; (danau beratus muara) itu, betapa pun lihai si Hwesio takkan dapat menemukan kita lagi.&#8221;</p>
<p>Dengan girang terus saja Toan Ki mendayung lebih giat, tidak lama sampailah mereka di tengah danau yang banyak terdapat muara sungai. Bila ketemu simpang jalan begitu, terkadang A Cu dan A Pik perlu berunding lebih dulu barulah dapat menentukan arah mana yang harus ditempuh.</p>
<p>Dengan begitu perahu mereka telah meluncur hingga satu-dua jam lamanya. Tiba-tiba bidang Toan Ki mengendus semacam bau harum bunga yang aneh, waktu tercium mula-mula kepalanya meraba pening, tapi lantas terasa sangat enak dan segar pula.</p>
<p>&#8220;Kedua Cici, bunga apakah yang harum itu? Kenapa aku tidak pernah mencium bau harum begini di negeri Tayli kami?&#8221; tanya Toan Ki.</p>
<p>Tiba-tiba A Pik membisikinya, &#8220;Jangan kau tanya, kita harus lekas meninggalkan tempat ini.&#8221;</p>
<p>Toan Ki heran oleh suara si nona yang rada gugup dan khawatir itu. Dalam pada itu didengarnya A Cu juga sedang berkata dengan lirih, &#8220;Akulah yang tersesat. Tadi kau bilang lebih tepat membelok ke kiri, tapi aku berkeras menyatakan ke kanan, dan nyatanya aku salah jalan. A Pik, jika kau yakin arahmu yang tepat, mengapa engkau menuruti arahku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Waktu itu aku sendiri pun ragu, kupikir jangan-jangan arahmu yang benar,&#8221; sahut A Pik dengan gegetun.</p>
<p>Kiri semangat A Pik sudah pulih kembali, ia ambil pengayuh dari tangan A Cu dan menggantikannya mendayung.</p>
<p>Mendengar percakapan kedua nona itu, Toan Ki menduga di balik bau harum bunga yang aneh itu tentu terdapat sesuatu yang membahayakan. Sebenarnya ia ingin tanya, namun A Cu telah menggoyang tangan untuk mencegahnya supaya jangan bersuara.</p>
<p>Dalam kegelapan Toan Ki tak jelas melihat air muka kedua nona itu. Tapi dapat diduga keadaan pasti gawat melebihi bahaya waktu terancam pengejaran Ciumoti tadi.</p>
<p>Tiba-tiba A Cu mendekatkan mulutnya ke telinganya Toan Ki dan membisikinya, &#8220;Toan-kongcu, aku dan A Pik akan bicara dengan suara keras, tapi engkau jangan ikut campur sepatah kata pun, paling baik engkau berbaring saja di dalam perahu.&#8221;</p>
<p>Toan Ki bingung karena tidak paham apa maksud nona itu. Namun ia mengangguk dan menurut, ia menyerahkan pengayuh kepada A Cu dan merebahkan diri di geladak perahu. Ia lihat bintang berkelip-kelip di tengah cakrawala, hati merasakan semacam keheranan yang tak terkatakan.</p>
<p>&#8220;Adik A Pik,&#8221; demikian terdengar A Cu sedang berkata, &#8220;jalan di sini susah dibeda-bedakan, kita harus hati-hati, jangan sampai kesasar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya,&#8221; sahut A Pik, &#8220;Hwesio yang mengejar kita itu tentu tidak bermaksud baik. Sebaliknya kalau kita sampai tersesat jalan, orang akan menyalahkan kita sengaja datang ke sini dan tentu akan banyak membawa kesukaran bagi Kongcu.&#8221;</p>
<p>Suara percakapan A Pik dan A Cu itu dilakukan dengan keras seakan-akan sengaja diperdengarkan kepada seseorang.</p>
<p>Tapi ketika Toan Ki melirik jauh ke depan, yang terlihat cuma daun lengkak melulu yang menghijau terapung rapat di permukaan air. Kecuali suara gesekan antara badan perahu dengan daun tetumbuhan itu, keadaan sunyi senyap tiada sesuatu pun yang mencurigakan, bau harum bunga yang bukan mawar bukan melati, semacam bau harum yang susah dilukiskan dan sukar diterka.</p>
<p>Tiba-tiba A Pik bernyanyi perlahan, suara nyanyiannya terasa mengandung rasa takut. Nyata ia menyanyi hanya untuk menghilangkan perasaan takutnya.</p>
<p>&#8220;Apakah Hwesio itu mengejar kemari?&#8221; demikian Toan Ki bertanya.</p>
<p>&#8220;Ssstt!&#8221; cepat A Cu mendekap mulut pemuda itu agar jangan bersuara. Ia celingukan kian kemari, setelah sekitarnya sunyi senyap barulah dia membisiki telinga Toan Ki, &#8220;Jangan bersuara. Kita telah kesasar ke tempat yang berbahaya, tuan rumah di sini jauh lebih lihai daripada Hwesio tadi!&#8221;</p>
<p>&#8220;Sungguh celaka tiga belas,&#8221; demikian pikir Toan Ki, &#8220;belum terhindar dari bahaya yang satu, bahaya yang lain mengancam pula.&#8221;</p>
<p>Tapi segera terpikir pula olehnya, &#8220;Ah, kedua nona adik ini belum kenal betapa lihainya Ciumoti, di dunia ini masakah ada jago lain yang lebih lihai daripada Hwesio itu? Apalagi di sini adalah tempat bercokolnya orang she Buyung, mana dia boleh membiarkan seorang tokoh lain hidup berdampingan dengan dirinya?&#8221;</p>
<p>Habis nyanyi A Pik tidak bicara pula, ia menengadah, memandang bintang-bintang di langit. Ia sedang berusaha membedakan arah berdasarkan kedudukan bintang yang bertaburan di cakrawala itu sambil mendayung bersama A Cu.</p>
<p>Toan Ki memandang sekitarnya, keadaan hening sepi, di tengah danau seluas itu melulu perahu mereka saja yang menyiah air hingga menerbitkan suara gemeresik perlahan. Ia merasa heran mengapa kedua gadis itu begitu ketakutan menghadapi suasana yang cuma sepi ini?</p>
<p>Setelah perahu meluncur lagi agak jauh dan tiba pula di suatu muara sungai, A Cu dan A Pik bertukar pikiran ke mana perahu mereka harus menuju.</p>
<p>Padahal dalam pandangan Toan Ki, ia merasa jalanan air di sini sama saja tanpa sesuatu perbedaan, ia menjadi heran berdasarkan tanda apa hingga kedua nona itu mengadakan perdebatan?</p>
<p>Sesudah mendayung lagi sekian lamanya, Toan Ki mendengar napas kedua gadis itu tersengal-sengal. Segera ia mengambil pengayuh dari tangan A Cu dan menggantikannya mendayung.</p>
<p>Tidak hina kemudian, tiba-tiba A Pik berseru kaget, &#8220;Hai, kita &#8230; kita kembali lagi ke tempat tadi.&#8221;</p>
<p>Benar juga, segera Toan Ki mengendus bau harum bunga yang aneh tadi. Ia menjadi lemas dan kecewa, tampaknya mereka cuma berputar-putar saja di tengah danau itu, percuma mereka mendayung dengan susah payah selama setengah malam di situ.</p>
<p>Sementara itu sudah dekat fajar, ufuk timur mulai remang-remang. Wajah A Pik tampak sedih. Tiba-tiba ia membuang pengayuh ke atas perahu dan menangis terguguk sambil menutupi mukanya.</p>
<p>A Cu merangkul A Pik dan menghiburnya, &#8220;Kita toh tidak sengaja datang kemari. Sebentar bila bertemu dengan Ong-hujin, kita katakan saja terus terang, jangan khawatir.&#8221;</p>
<p>Walaupun menghibur kawannya, sebenarnya perasaan sendiri juga kacau dan khawatir.</p>
<p>Pada saat itulah tiba-tiba di angkasa terdengar suara burung mencicit, dari arah barat sana terbang datang seekor burung putih mirip bangau. Burung itu terbang mengitari perahu beberapa kali, kemudian terbang ke arah barat pula dengan perlahan.</p>
<p>A Cu mengangkat pengayuh dengan menghela napas, katanya, &#8220;Sudah diketahui, terpaksa mesti ke sana, marilah kita ke sana!&#8221;</p>
<p>Segera ia mendayung perahunya mengikuti arah burung tadi.</p>
<p>&#8220;Kiranya burung itu adalah penunjuk jalan yang diutus majikannya,&#8221; ujar Toan Ki dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Toan-kongcu,&#8221; kata A Pik tiba-tiba, &#8220;engkau adalah orang luar dan tidak tahu peraturan di tempat ini. Sebentar bila sampai di &#8216;Man-to-san-ceng&#8217;, tak peduli apa yang terjadi, hendaklah engkau menurut perintah saja, biarpun dihina juga engkau jangan membangkang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebab apa?&#8221; tanya Toan Ki. &#8220;Apakah tuan rumahnya sangat kasar dan sewenang-wenang? Kita hanya sesat jalan, kalau perlu kita segera pergi dari sini, dosa apakah kalau cuma kesasar saja?&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba mata A Pik memberambang, katanya, &#8220;Toan-kongcu, di dalam persoalan ini banyak hal-hal yang sukar kujelaskan. Mereka berani berlaku kasar tentu mereka mempunyai alasannya sendiri. Pendek kata, semua gara-gara Hwesio jahat itu hingga kita diuber-uber dan kesasar kemari. Kalau tidak, masakah kita bisa masuk ke sini?&#8221;</p>
<p>Rupanya sifat A Cu lebih periang, dengan tertawa ia berkata. &#8220;Orang baik tentu diberkahi dengan rezeki besar. Kalau kita berdua datang kemari, tentu bakal celaka, tapi Toan-kongcu adalah seorang agung, seorang yang membawa berkah, siapa tahu kita akan ikut diberkahi dengan keselamatan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku justru khawatir bagi Toan-kongcu, soal kita berdua malah tak kupikirkan,&#8221; ujar A Pik. &#8220;Ong-hujin telah menyatakan bila ada lagi orang laki-laki menginjak Man-to-san-ceng, maka kedua kaki orang itu akan ditebasnya dan kedua matanya akan dikorek. Enci A Cu, sifat Ong-hujin sudah kau kenal, sekali dia sudah omong, pasti dilaksanakannya. Kini kita membawa Toan-kongcu ke sini, bukankah kita yang membikin susah padanya &#8230;.&#8221;</p>
<p>Berkata sampai di sini, tak tertahan lagi air matanya bercucuran.</p>
<p>&#8220;A Pik,&#8221; kata A Cu, &#8220;siapa tahu mendadak timbul rasa welas asih orang, bisa jadi Toan-kongcu pandai omong dan pintar berdebat hingga dapat mematahkan perasaan baja orang, lalu kita bertiga dilepas pergi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebenarnya tokoh macam apakah Ong-hujin itu?&#8221; tanya Toan Ki.</p>
<p>A Pik memandang A Cu sekejap, hendak menjawab tapi urung. Sebaliknya A Cu lantas memberi tanda beberapa kali dengan tangannya, lalu celingukan, kemudian baru berkata, &#8220;Tentang diri Ong-hujin? Wah, betapa tinggi ilmu silatnya boleh dikata sudah mencapai tingkatan yang sukar diukur, di dunia persilatan sekarang tiada seorang pun yang dapat menandinginya. Kongcu kami biasanya tidak mau tunduk kepada siapa pun, hanya Ong-hujin saja yang paling dikagumi olehnya.&#8221;</p>
<p>Meski begitu mulutnya berkata, tapi mimik wajahnya mengunjuk tanda-tanda yang aneh, mulut merat-merot dan mata terpicing sambil mengangkat bahu pula. Pendek kata tanda-tanda yang menyatakan apa yang dikatakan itu sama sekali tidak dapat dipercaya melainkan buatan belaka sekadar menyenangkan hati orang.</p>
<p>Keruan Toan Ki heran, pikirnya, &#8220;Masakah bicara di tengah perahu yang sekelilingnya cuma air belaka juga khawatir didengar orang? Apakah Ong-hujin itu begitu sakti sehingga memiliki telinga yang mampu mendengar dari jauh?&#8221;</p>
<p>Ia lihat burung putih tadi telah terbang kembali dan mengitar pula di atas perahu mereka seperti tidak sabar menunggu lagi, setelah berputar lagi dua kali, kembali burung itu mendahului terbang ke depan. Setelah perahu didayung lagi mengikuti arah burung putih itu, kini jalanan air itu penuh dengan teluk dan muara sungai yang berliku-liku.</p>
<p>Akhirnya perahu mereka tiba di depan sebaris pagar bambu. Pagar bambu itu jarang-jarang anyamannya sebagaimana umumnya dipakai kaum nelayan untuk mengurung ikan.</p>
<p>Sesudah dekat dengan pagar bambu itu, tampaknya perahu mereka teralang dan tak dapat meluncur maju lagi.</p>
<p>Tak terduga begitu haluan perahu membentur pagar bambu itu, seketika pagarnya ambruk ke bawah air hingga perahu dapat meluncur terus.</p>
<p>Kiranya pagar bambu itu dipasang dengan pesawat rahasia yang bisa dibukatutupkan.</p>
<p>Setelah melintasi beberapa rintangan pagar bambu lagi, akhirnya tertampaklah di depan sana pohon Liu melambai-lambai di tepi pantai, dari jauh kelihatan pula di tepi pantai penuh tumbuh bunga kamelia yang kemerah-merahan bercerminkan air danau.</p>
<p>Melihat itu, tak tertahan lagi Toan Ki berseru heran dengan perlahan.</p>
<p>&#8220;Ada apa?&#8221; tanya A Cu.</p>
<p>&#8220;Itu adalah San-teh-hoa (bunga kamelia) di negeri Tayli kami, mengapa di tengah danau ini tumbuh juga jenis bunga ini?&#8221; sahut Toan Ki sambil menunjuk pohon kembang itu.</p>
<p>&#8220;Oya? Tapi mungkin San-teh-hoa di Tayli tidak dapat menandingi San-teh-hoa di tempat kami ini,&#8221; kata A Cu. &#8220;Tempat ini bernama Man-to-san-ceng, bunga mantolo di sini terhitung nomor satu di dunia, betapa pun bunga keluaran Tayli kalian juga takkan mampu menandinginya.&#8221;</p>
<p>Kiranya nama lain dari San-teh-hoa atau bunga kamelia adalah kembang mantolo, yaitu berasal dari kata Mandala dalam bahasa Sanskerta. Dan kembang mantolo yang paling terkenal adalah keluaran provinsi Hunlam, orang menyebutnya sebagai &#8220;Tin-teh&#8221; atau bunga kamelia dari Hunlam.</p>
<p>Oleh karena itulah Toan Ki tidak dapat menerima pendapat A Cu tadi, bahwa kamelia Tayli tak dapat menandingi bunga yang tumbuh di Man-to-san-ceng atau perkampungan bunga mantolo ini. Pikirnya, &#8220;Pemandangan alam di daerah Kanglam memang harus diakui indah permai dan sukar ditandingi Tayli. Tapi bicara tentang bunga kamelia yang merupakan bunga pusaka negeri kami kuyakin tiada tempat lain yang dapat melebihinya.&#8221;</p>
<p>Sebenarnya ia bermaksud menyanggah ucapan A Cu tadi, tapi dilihatnya gadis itu sedang memicingkan mata dan memerotkan mulut pula sebagai tanda jangan banyak bicara, maka Toan Ki urung buka suara. Ia pikir Man-to-san-ceng itu sudah di depan mata, lebih baik jangan sembarangan bicara.</p>
<p>Dalam pada itu A Cu telah mendayung perahunya menuju ke semak bunga kamelia itu. Sampai di tepi pantai, Toan Ki melihat sepanjang mata memandang di situ hanya bunga kamelia belaka yang berwarna merah dan putih, sebuah rumah pun tidak tertampak.</p>
<p>Ia dibesarkan di negeri Tayli yang terkenal sebagai negeri kembang kamelia, maka ia tidak heran oleh bunga San-teh yang berserakan itu. Bahkan ia merasa bunga kamelia sebanyak itu tiada satu pun terdiri dari jenis yang berharga.</p>
<p>Setelah merapatkan perahunya ke gili-gili, segera A Cu berseru dengan suara nyaring dan penuh hormat, &#8220;Hamba A Cu dan A Pik dari keluarga Buyung dalam menghindari kejaran musuh secara tidak sengaja telah tersesat ke sini, sungguh dosa kami pantas dihukum mati, mohon kemurahan hati Ong-hujin sudilah mengingat ketidaksengajaan kami dan memberi ampun, untuk mana hamba berdua akan sangat berterima kasih.&#8221;</p>
<p>Akan tetapi biar A Cu sudah gembar-gembor sendiri, di balik semak-semak pohon sana tetap tiada suara sahutan orang.</p>
<p>Nona itu berseru lagi, &#8220;Dan orang yang datang bersama kami ini adalah Toan-kongcu yang tak kami kenal sebelumnya, ia adalah tamu asing dan juga tidak kenal-mengenal dengan Kongcu kami, tiada sangkut paut apa-apa dengan kesasaran kami ini.&#8221;</p>
<p>Segera A Pik ikut berkata juga, &#8220;Kedatangan orang she Toan ini ke tempat kami sebenarnya tidak punya maksud baik melainkan hendak membikin onar pada Kongcu kami. Tak terduga secara kebetulan ia ikut kesasar kemari.&#8221;</p>
<p>Toan Ki menjadi heran, pikirnya, &#8220;Kenapa mereka menegaskan aku adalah musuh Buyung-kongcu, apa barangkali tuan rumah di sini sangat benci kepada Buyung-kongcu, asal aku mengaku sebagai musuh orang she Buyung itu lantas aku takkan dipersulit di sini?&#8221;</p>
<p>Tidak beberapa lama, tiba-tiba di tengah hutan kembang kamelia itu terdengar suara tindakan orang, kemudian muncul seorang pelayan kecil berbaju hijau, tangan membawa segebung karangan bunga, usianya lebih tua satu-dua tahun daripada A Cu dan A Pik. Sampai di tepi pantai, dengan tertawa dayang itu berkata dengan tersenyum, &#8220;A Cu, A Pik, kalian benar-benar bernyali besar sekali dan berani ngelayap ke sini. Karena itu Hujin memerintahkan muka kalian masing-masing harus disilang dengan pisau agar wajah kalian yang cantik ayu terusak!&#8221;</p>
<p>Namun A Cu jadi lega malah demi tampak sikap dayang yang bicara itu. Sahutnya dengan tertawa, &#8220;Enci Yu Cau, Hujin tidak berada di rumah bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, Hujin justru mengatakan bahwa kalian berani membawa laki-laki asing ke sini, maka kedua kaki orang itu harus segera dipotong,&#8221; demikian sahut si dayang yang dipanggil dengan nama Yu Cau itu. Tapi belum selesai ia omong sudah lantas menutup mulut dengan tangan dan tertawa cekikikan.</p>
<p>&#8220;Enci Yu Cau,&#8221; A Pik ikut bicara sambil tepuk dada, &#8220;jangan engkau menakut-nakuti orang. Sebenarnya sungguh-sungguh atau tidak ucapanmu itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;A Pik,&#8221; ujar A Cu dengan tertawa, &#8220;jangan gampang digertak olehnya. Kalau Hujin ada di rumah masakah budak ini berani main gila seperti ini? Adik Yu Cau, katakanlah, ke manakah Hujin pergi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Huh, berapakah umurmu sekarang, berani kau panggil aku sebagai adik?&#8221; sahut Yu Cau dengan tertawa. &#8220;Kau memang siluman cilik cerdik, dengan tepat dapat kau terka Hujin tidak berada di rumah.&#8221;</p>
<p>Ia merandek sejenak, tiba-tiba ia menghela napas, lalu meneruskan, &#8220;A Cu dan A Pik, syukurlah kalian dapat berkunjung kemari pula, sungguh aku ingin menahan kalian agar dapat tinggal barang beberapa hari di sini, cuma &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, sudah tentu kami pun suka tinggal sementara denganmu di sini,&#8221; sahut A Pik. &#8220;Enci Yu Cau, sebaiknya engkau dapat datang ke tempat kami saja. Untuk mana kami siap tiga-hari-tiga malam tidak tidur selalu menemanimu.&#8221;</p>
<p>Tengah bicara, tiba-tiba dari semak-semak bunga sana terdengar suara keresekan, kemudian muncul pula seorang dayang cilik dengan tertawa, dayang ini pun berseru girang, &#8220;Hai, A Cu dan A Pik, nona kami mengundang kalian ke tempatnya sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;He, kiranya adik Hong Le,&#8221; sahut A Cu dengan tertawa. &#8220;Terima kasih atas kebaikan nona kalian. Sampaikanlah bahwa Kongcu kami sedang bepergian, kedatangan kami ke sini sungguh-sungguh karena sesat jalan. Harap dimaafkan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus,&#8221; kata Hong Le setengah mengomel, &#8220;nona kami mengundang kalian, tapi kalian menolak. Baiklah, dan kalian juga jangan mengharapkan Pek-ih-sucia (penunjuk jalan berbaju putih, maksudnya burung putih tadi) akan membawa kalian keluar dari sini.&#8221;</p>
<p>A Cu saling pandang sekejap dengan A Pik, sikap mereka tampak serbasalah. Kemudian A Pik membuka suara, &#8220;Enci Hong Le, engkau sendiri tentu tahu, mana kami berani menolak undangan nonamu? Akan tetapi bila nanti kebetulan Hujin pulang, lantas &#8230; bagaimana &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hujin sedang pergi ke tempat yang jauh, kemarin beliau berangkat, tidak mungkin pulang dengan cepat,&#8221; sahut Hong Le atau si burung kenari kuning. &#8220;Ayolah ikut ke sana, masakan kalian tidak tahu isi hati nona kami?&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, marilah A Pik, terpaksa kita menempuh bahaya lagi,&#8221; ujar A Cu.</p>
<p>Kedua gadis itu lantas melangkah ke gili-gili. Kata A Pik kepada Toan Ki, &#8220;Toan Ki, Toan-kongcu, harap menunggu sebentar di sini, kami pergi menemui tuan rumahnya, segera kami kembali.&#8221;</p>
<p>Toan Ki mengiakan dan menyaksikan kepergian keempat gadis cilik yang lincah dan riang gembira itu.</p>
<p>Sesudah sekian lama duduk di dalam perahu, Toan Ki menjadi iseng, pikirnya, &#8220;Biarlah aku mendarat untuk melihat bunga mantolo yang ditanam di sini, ingin kulihat apakah ada jenis-jenis yang bagus atau tidak?&#8221;</p>
<p>Terus saja ia melangkah ke pantai dan menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Ia lihat di antara tetumbuhan bunga selebat itu, kecuali bunga kamelia, sama sekali tiada jenis bunga lain lagi. Akan tetapi bunga kamelia itu juga terdiri dari jenis-jenis yang umum tiada sesuatu yang bernilai tinggi, satu-satunya keistimewaannya adalah dalam hal jumlah. Memang jumlahnya sangat banyak.</p>
<p>Tengah Toan Ki memandang kian kemari, tiba-tiba hidungnya mengendus bau harum pula. Harum bunga itu sebentar keras sebentar halus hingga sukar diraba dari mana datangnya, bau harum itu serupa bau harum aneh yang diciumnya selama di dalam perahu itu.</p>
<p>Diam-diam Toan Ki heran, pikirnya, &#8220;Di sini tidak tampak ada jenis bunga lain lagi kecuali kamelia, apakah mungkin di antara kamelia sebanyak ini terdapat sejenis yang dapat mengeluarkan bau harum yang aneh ini?&#8221;</p>
<p>Tertarik oleh rasa ingin tahu, terus saja Toan Ki mengusut lebih jauh mengikuti arah datangnya bau harum itu. Setelah berpuluh meter jauhnya, ia lihat jenis-jenis kamelia yang mekar bertambah banyak, terkadang juga ada satu-dua jenis yang bernilai lumayan.</p>
<p>Tidak lama pula, sedang Toan Ki asyik memerhatikan bunga kamelia yang luar biasa jumlahnya itu, mendadak bau harum yang aneh itu lenyap sama sekali.</p>
<p>Meski Toan Ki sudah menyusuri ke sana dan ke sini bau harum itu tetap tak terendus lagi. Ia pikir, &#8220;Sudahlah, aku harus lekas kembali ke sana, sebentar kalau A Cu dan A Pik kembali dan melihat aku tiada berada di sana, tentu mereka akan khawatir.&#8221;</p>
<p>Segera ia putar tubuh hendak kembali ke arah datangnya tadi. Akan tetapi celaka, ia mengeluh. Kiranya sudah sekian jauh ia menyusur kian kemari di antara hutan bunga itu, ia lupa memberi tanda pada jalan yang dilaluinya itu. Kini hendak balik ke tempat perahunya berlabuh terang menjadi sulit.</p>
<p>Ia coba membedakan arah menurut keyakinannya sendiri, pikirnya asal dapat mencapai tepi danau, urusan tentu akan menjadi mudah.</p>
<p>Tak tersangka makin jauh ia berjalan, makin tak keruan jurusan yang dipilihnya itu. Mendadak didengarnya ada suara orang bicara di sisi kiri hutan bunga sana, segera dapat dikenali itulah suara A Cu. Pikir Toan Ki dengan girang, &#8220;Biarlah kutunggu sebentar di sini, bila mereka selesai bicara, tentu dapat aku ikut kembali ke tempat tadi bersama mereka.&#8221;</p>
<p>Ia dengar A Cu sedang berkata, &#8220;Kesehatan Kongcu sangat baik, nafsu makannya juga bertambah. Selama dua bulan ini beliau tekun mempelajari &#8216;Pak-kau-pang-hoat&#8217; (ilmu pentung penggebuk anjing) dari Kay-pang, mungkin sedang menyiapkan diri untuk mengukur kepandaian dengan tokoh Kay-pang.&#8221;</p>
<p>Toan Ki menjadi ragu mendengar percakapan itu, pikirnya, &#8220;A Cu sedang membicarakan urusan Kongcu mereka, tidaklah pantas kalau diam-diam aku mendengarkan di sini. Aku harus menyingkir yang jauh. Tapi juga tidak boleh terlalu jauh, sebab sebentar bila mereka selesai bicara dan berangkat, jangan-jangan aku malah tidak tahu.&#8221;</p>
<p>Dan pada saat itulah, tiba-tiba Toan Ki mendengar suara seorang perempuan menghela napas dengan perlahan. Begitu mendengar suara helaan napas itu, seketika tubuh Toan Ki terguncang, hati berdebar dan muka berubah merah. Pikirnya, &#8220;Suara orang menghela napas itu sungguh enak sekali didengar, mengapa di dunia ini terdapat suara semerdu itu?&#8221;</p>
<p>Sementara itu didengarnya suara yang halus dan merdu tadi sedang tanya pula, &#8220;Kepergiannya sekali ini menuju ke manakah?&#8221;</p>
<p>Ketika mendengar suara helaan napas tadi perasaan Toan Ki sudah terguncang, kini demi mendengar pula ucapannya, darah seluruh tubuh terasa bergolak, tapi hati timbul semacam rasa getir dan kecut, rasa kagum dan iri yang tak terkatakan. Pikirnya, &#8220;Yang ditanyakannya terang adalah Buyung-kongcu. Ternyata sedemikian besar perhatiannya kepada Buyung-kongcu hingga selalu dirindukan olehnya. Wahai, Buyung-kongcu, betapa bahagianya hidupmu ini!&#8221;</p>
<p>Terdengar A Cu sedang menyahut, &#8220;Waktu Kongcu hendak berangkat, beliau menyatakan hendak pergi ke Lokyang untuk menjumpai jago-jago Kay-pang. Malahan Lu-toako dan Pau-siansing juga ikut pergi, harap nona jangan khawatir.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pada waktu Kongcu kalian berlatih Pak-kau-pang-hoat, apakah ada sesuatu kesukaran atau rintangan?&#8221; tanya suara wanita itu.</p>
<p>&#8220;Tidak,&#8221; sahut A Pik. &#8220;Kongcu dapat memainkan Pak-kau-pang-hoat dengan sangat lancar dan cepat sekali &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hai, salah besar!&#8221; tiba-tiba wanita itu berseru, &#8220;apa betul dia memainkannya dengan sangat cepat?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, kenapa dikatakan salah malah?&#8221; tanya A Pik heran.</p>
<p>&#8220;Sudah tentu salah,&#8221; kata perempuan itu. &#8220;Pak-kau-pang-hoat itu mengutamakan keuletan, makin lambat makin baik, bila perlu dapat dipercepat dan segera diperlambat lagi. Tapi kalau terus-menerus dimainkan dengan cepat, tentu sukar mengerahkan kelihaian ilmu pentung itu. Ai, apakah &#8230; apakah kalian dapat menyampaikan sedikit pesan kepada Kongcu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi sekarang Kongcu berada di mana, kami sama sekali tidak tahu, bukan mustahil saat ini beliau sudah selesai pula bertemu dengan tokoh-tokoh Kay-pang,&#8221; demikian sahut A Cu. &#8220;Nona, apakah terlalu cepat memainkan Pak-kau-pang-hoat benar-benar tidak boleh?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah tentu tidak boleh, masakah perlu kujelaskan lagi!&#8221; sahut si nona. &#8220;Mengapa &#8230; mengapa waktu akan berangkat dia tidak &#8230; tidak datang menemui atau dulu?&#8221;</p>
<p>Sembari berkata ia pun mengentak kaki dengan rasa khawatir dan cemas.</p>
<p>Toan Ki menjadi heran, pikirnya, &#8220;Biasanya nama Koh-soh Buyung sangat dihormati dan disegani, tapi dari ucapan nona ini, agaknya ilmu silat Buyung-kongcu itu seakan-akan memerlukan petunjuknya. Apa mungkin seorang nona muda belia seperti ini mempunyai kepandaian setinggi langit?&#8221;</p>
<p>Ia dengar si nona sedang berjalan mondar-mandir, suatu tanda betapa gelisah perasaannya waktu itu. Tiba-tiba terdengar nona itu berkata lagi dengan perlahan, &#8220;Tempo hari kuminta dia mempelajari ilmu gerak langkah itu, tapi dia justru tidak mau belajar, coba kalau dia sudah paham &#8216;Leng-po-wi-poh&#8217; itu &#8230;.&#8221;</p>
<p>Mendadak mendengar kalimat &#8220;Leng-po-wi-poh&#8221; atau langkah indah si dewi cantik, seketika Toan Ki kaget dan tanpa terasa berseru sekali, cepat ia dekap mulut sendiri, namun sudah terlambat.</p>
<p>&#8220;Siapa itu?&#8221; segera terdengar nona itu menegur.</p>
<p>Tahu tak bisa menyembunyikan diri, terpaksa Toan Ki berdehem lebih dulu, lalu menjawab, &#8220;Cayhe bernama Toan Ki, karena terpesona oleh keindahan bunga kamelia sekitar sini hingga tanpa sengaja kesasar kemari, mohon diberi maaf.&#8221;</p>
<p>&#8220;A Cu, apakah dia itu Siangkong yang datang bersama kalian itu?&#8221; tanya nona itu kepada A Cu dengan perlahan.</p>
<p>&#8220;Benar Kohnio (nona),&#8221; sahut A Cu cepat. &#8220;Orang ini adalah Sutaycu (pelajar tolol), jangan nona mengurusnya. Biarlah sekarang juga kami mohon diri saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nanti dulu,&#8221; kata si nona, &#8220;tunggu kutulis sepucuk surat untuk menerangkan tanda-tanda rahasia Pak-kau-pang-hoat itu dan harap kalian segera berusaha untuk disampaikan kepada Kongcu kalian.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hal ini &#8230; Hujin pernah menyatakan &#8230;.&#8221; sahut A Cu dengan ragu.</p>
<p>&#8220;Menyatakan apa? Jadi kalian cuma menurut kata-kata Hujin dan tidak mau menurut perintahku?&#8221; ucap nona itu dengan nada marah.</p>
<p>Cepat A Cu menjawab, &#8220;Mana kami berani membangkang perintah nona. Asal saja tidak diketahui Hujin, sudah tentu kami akan menurut. Apalagi kalau ada faedahnya bagi Kongcu kami.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, mari kalian ikut aku ke kamar,&#8221; kata nona itu.</p>
<p>Terpaksa A Cu mengiakan.</p>
<p>Dalam pada itu Toan Ki tambah kesengsem sejak mendengar suara helaan napas yang penuh daya tarik itu. Kini mendengar si nona akan pergi, ia pikir sekali si nona sudah pergi, mungkin selamanya takkan dapat melihatnya lagi, hal itu bukankah akan dibuat penyesalan selama hidup? Meski nanti akan dikatai orang karena kelakuannya yang sembrono, paling-paling juga cuma didamprat saja, betapa pun aku harus melihat muka aslinya.</p>
<p>Karena pikiran itu, segera Toan Ki berseru sambil melangkah keluar, &#8220;Enci A Pik, harap tinggal di sini untuk menemani aku, ya?&#8221;</p>
<p>Mendengar Toan Ki berjalan keluar, nona itu berseru kejut dan cepat membalik ke sana. Waktu Toan Ki menerobos keluar dari semak-semak, yang terlihat olehnya cuma seorang wanita berbaju putih mulus dan berdiri mungkur, perawakannya ramping, rambut panjang terurai sampai di punggung dan hanya diikat oleh seutas benang sutra warna perak. Cukup melihat bayangan belakang si gadis saja Toan Ki yakin gadis itu pasti sangat cantik laksana dewi kahyangan dan anggun. Segera ia memberi hormat dari jauh sambil berkata, &#8220;Terimalah hormatku nona!&#8221;</p>
<p>&#8220;A Cu,&#8221; tiba-tiba gadis itu mengentak kaki, &#8220;gara-garamu membawa semua orang ke sini. Aku tidak ingin bertemu dengan laki-laki luar yang tiada sesuatu hubungan.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, terus saja ia berjalan cepat ke depan, hanya sekejap saja bayangan gadis itu sudah menghilang di balik semak-semak bunga sana.</p>
<p>Dengan tersenyum A Pik menoleh dan berkata kepada Toan Ki, &#8220;Toan-kongcu, tabiat nona ini sangat angkuh, kini kebetulan malah, marilah kita pergi dari sini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, berkat pertolongan Toan-kongcu yang melepaskan kami dari kesukaran,&#8221; A Cu ikut berkata dengan tertawa. &#8220;Kalau Toan-kongcu tidak muncul, tentu Ong-kohnio akan suruh kami antar surat segala dan jiwa kami ini menjadi berbahaya akibatnya.&#8221;</p>
<p>Semula sebenarnya Toan Ki merasa khawatir akan diomeli A Cu dan A Pik karena secara sembrono telah berani unjuk diri hingga membikin nona Ong kurang senang. Tak tersangka kedua dayang cilik itu malah memberi pujian padanya, keruan Toan Ki menjadi bingung malah.</p>
<p>Segera mereka bertiga kembali ke perahu mereka. A Cu angkat pengayuh hendak mulai mendayung lagi. Tapi belum sampai perahu meluncur, tiba-tiba A Pik berkata, &#8220;Enci A Cu, tanpa diberi petunjuk jalan oleh Pek-ih-sucia, betapa pun kita sukar keluar dari sini. Terpaksa kita harus menunggu dulu surat Ong-kohnio. Kita cuma terdesak oleh keadaan dan bukan sengaja datang ke sini, andaikan diketahui Ong-hujin juga tak dapat menyalahkan kita.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, semuanya gara-gara si Hwesio busuk itu &#8230;.&#8221; demikian sahut A Cu dengan menyesal.</p>
<p>Belum selesai ucapannya, tiba-tiba dari jauh terdengar suara suitan nyaring panjang bagai naga meringkik.</p>
<p>Demi mendengar suara suitan aneh itu, seketika wajah A Cu dan A Pik berubah pucat. Begitu pula Toan Ki terkejut. Pikirnya, &#8220;He, suara suitan ini sudah kukenal dengan baik. Wah, celaka, itulah dia muridku Lam-hay-gok-sin yang datang. Tetapi, ah, salah, bukan dia, bukan dia!&#8221;</p>
<p>Sebagaimana diketahui, ketika mula-mula Toan Ki bertemu dengan Lam-hay-gok-sin ia pernah dengar suara ringkikan naga seperti tadi. Tapi kemudian waktu Lam-hay-gok-sin berada di depannya, kembali suara suitan nyaring itu terdengar pula, karena itu, Lam-hay-gok-sin lantas buru-buru menyusul ke arah datangnya suara itu. Maka dapat dipastikan suara suitan itu bukan suara Lam-hay-gok-sin, tapi suara seorang lain lagi.</p>
<p>Biasanya sifat A Cu sangat lincah dan periang, kini demi mendengar suara suitan itu, seketika badan gemetar ketakutan.</p>
<p>&#8220;Toan-kongcu,&#8221; kata A Pik dengan bisik-bisik, &#8220;Ong-hujin telah pulang, terpaksa kita terserah pada nasib masing-masing. Tapi sebaiknya engkau berlaku kasar kepada kami, lebih kasar dan lebih kurang sopan kepada kami akan lebih baik bagimu.&#8221;</p>
<p>Akan tetapi Toan Ki tidak mungkin disuruh berlaku kasar terhadap kedua dara cilik itu. Sejak dia meninggalkan rumah, sudah banyak pengalaman dan bahaya yang dihadapinya. Ia pikir bila aku ditakdirkan harus mati, biarlah kuterima nasib saja, masakah aku diharuskan berbuat tidak sopan kepada dua nona cilik?</p>
<p>Karena itu, segera ia menjawab, &#8220;Lebih baik mati secara sopan daripada hidup dengan kurang ajar. Enci A Cu, engkau menyebut aku sebagai Sutaycu, dan memang begitulah sifat ketolol-tololan seorang Sutaycu seperti diriku ini.&#8221;</p>
<p>A Cu hanya melototinya sambil menghela napas gegetun.</p>
<p>Pada saat itulah dari jauh tertampak sebuah perahu meluncur tiba secepat terbang, hanya sekejap saja sudah mendekat. Tampak jelas perahu itu sangat besar dengan ujung berbentuk kepala naga dan mulutnya terpentang lebar dengan rupa sangat menakutkan.</p>
<p>Sesudah kapal itu lebih dekat lagi, mendadak Toan Ki menjerit kaget. Ia lihat di ujung tanduk kepala naga kapal itu tergantung tiga buah kepala manusia yang darahnya masih berketes-ketes, nyata kepala manusia itu baru saja dipenggal.</p>
<p>&#8220;Rupanya di tengah jalan Ong-hujin memergoki musuh dan lantas dibunuhnya, makanya pulang lebih cepat daripada rencananya. Ai, dasar nasib kita lagi jelek,&#8221; demikian ujar A Cu perlahan.</p>
<p>Sementara itu kapal berkepala naga itu sudah merapat dengan gili-gili. A Cu dan A Pik bangkit berdiri dengan kepala menunduk, sikapnya sangat menghormat. Berulang-ulang A Pik memberi tanda kepada Toan Ki dengan maksud menyuruh pemuda itu pun ikut berdiri.</p>
<p>Namun Toan Ki menggeleng kepala, katanya dengan tertawa, &#8220;Biarlah tuan rumahnya muncul dulu, tentu aku akan bangkit menghormatinya. Seorang laki-laki masakah mesti merendahkan derajat sendiri?&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba suara seorang wanita berkata dari dalam kapal itu, &#8220;Lelaki dari manakah berani sembarangan masuk ke Man-to-san-ceng ini? Apakah tidak pernah dengar bahwa setiap laki-laki yang berani masuk ke sini pasti akan ditebas kedua kakinya?&#8221;</p>
<p>Suara wanita itu sangat kereng, nyaring dan merdu, pula enak didengar.</p>
<p>Segera Toan Ki menjawab, &#8220;Cayhe bernama Toan Ki, Cayhe tersesat kemari tanpa sengaja, harap suka dimaafkan!&#8221;</p>
<p>Wanita itu cuma mendengus sekali dan tidak menggubrisnya.</p>
<p>Sesudah kapal itu berlabuh, dari dalam anjungan kapal muncul dua dayang muda berbaju hijau, yang seorang lantas melompat menyambar ketiga kepala manusia yang tergantung di tanduk naga itu, dengan enteng ia turun kembali ke geladak kapal sambil menjinjing ketiga buah kepala manusia itu. Gerakannya cepat dan gayanya indah.</p>
<p>Melihat kedua dayang itu menghunus pedang, diam-diam Toan Ki membatin, &#8220;Kaum hambanya saja begini lihai, apalagi majikannya? Biarlah, toh kepalaku cuma sebuah saja, kalau mau boleh mereka penggal sekalian.&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu terdengar wanita di dalam kapal itu berkata pula, &#8220;Hm, A Cu dan A Pik ini memang kepala batu dan berani sembarangan datang kemari lagi, dasar majikanmu si bocah Buyung Hok itu juga tidak pernah berbuat baik, selalu main gila dan berbuat hal-hal yang jahat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lapor Hujin,&#8221; sahut A Pik tiba-tiba, &#8220;hamba tidak sengaja datang kemari, tapi kesasar waktu diuber musuh dan tanpa sengaja masuk ke sini lagi. Kongcu kami sedang bepergian, maka tiada sangkut-pautnya dengan beliau.&#8221;</p>
<p>Karena urusan sudah kadung begini, dara yang tampaknya lemah lembut itu menjadi berani mendebat dengan tegas.</p>
<p>Kemudian dari dalam kapal itu muncul berpasang-pasang gadis berbaju hijau yang lain, semuanya berdandan dayang dan menghunus pedang. Seluruhnya yang keluar itu ada delapan pasang, ditambah dengan kedua dayang yang pertama tadi, jumlah seluruhnya menjadi 18 orang. Mereka berbaris menjadi dua baris dengan sikap kereng, habis itu, barulah dari dalam kapal keluar seorang wanita berpakaian istana.</p>
<p>Begitu melihat wajah wanita itu, terus saja Toan Ki berseru kaget, seketika ia melongo dan merasa seperti di dalam mimpi.</p>
<p>Kiranya wanita itu berpakaian sutra putih mulus, dandanannya ternyata mirip benar dengan patung dewi yang telah dilihatnya dalam gua di Tayli itu. Bedanya cuma wanita ini sudah setengah umur, sebaliknya patung dewi itu adalah seorang gadis jelita berusia belasan tahun.</p>
<p>Dalam kejutnya Toan Ki coba mengamat-amati wanita cantik itu pula. Ia melihat wajahnya benar-benar seperti patung dewi di dalam gua itu, kecuali perbedaan dalam umur, wajahnya juga sudah mulai berkerut, tapi makin dipandang makin mirip seakan-akan saudara kembar dengan patung cantik di dalam gua itu.</p>
<p>A Cu dan A Pik menjadi khawatir melihat Toan Ki memandangi Ong-hujin itu dengan mata tanpa berkedip, kelakuannya itu benar-benar sangat kurang ajar, tiada ubahnya seperti seorang pemuda yang mata keranjang. Berulang-ulang mereka memberi isyarat agar Toan Ki jangan menatap begitu rupa kepada Ong-hujin itu tapi sepasang mata Toan Ki itu seakan-akan sudah tak berkuasa dan terpaku pada wajah Ong-hujin.</p>
<p>Segera Ong-hujin itu menjadi gusar juga, katanya kepada kaum hambanya, &#8220;Orang ini sangat kurang ajar, sebentar sesudah potong kedua kakinya, harus korek pula kedua matanya dan iris lidahnya.&#8221;</p>
<p>Salah seorang dayangnya yang berbadan lencir dan berkulit badan hitam manis lantas mengiakan.</p>
<p>Diam-diam Toan Ki gelisah juga, pikirnya, &#8220;Kalau aku dibunuh, paling-paling juga mati akhirnya. Tapi kalau kedua kakiku dipotong lebih dulu, mataku dikorek, dan lidahku diiris hingga mati tidak hidup celaka, wah, rasa derita ini tentu sangat berat.&#8221;</p>
<p>Baru sekarang timbul rasa takutnya. Ia coba berpaling memandang A Cu dan A Pik, ia lihat wajah kedua dara itu pun pucat pasi seperti mayat dan berdiri terpaku bagai patung.</p>
<p>Setelah Ong-hujin mendarat, menyusul dari dalam kapalnya berjalan keluar pula dua dayang berbaju hijau yang lain, tangan mereka memegang seutas tali sutra dan menyeret keluar dua orang laki-laki.</p>
<p>Toan Ki melihat salah seorang laki-laki yang terikat tali dan diseret keluar itu bermuka putih bersih dan cakap seperti putra keluarga hartawan. Seorang lagi segera dapat dikenalinya sebagai Cin Goan-cun yang bergelar &#8220;Nau-kang-ong&#8221; atau si Raja Pengamuk Sungai itu.</p>
<p>Waktu mengeroyok Bok Wan-jing dahulu, lagak Cin Goan-cun luar biasa garangnya. Tapi kini kedua tangannya terikat oleh tali sutra, kepala menunduk dengan lesu seperti orang sudah pasrah nasib.</p>
<p>Toan Ki menjadi heran, orang ini selamanya tinggal di Hunlam, mengapa sekarang kena ditangkap ke sini oleh Ong-hujin.</p>
<p>Sementara itu terdengar Ong-hujin sedang bertanya kepada Cin Goan-cun, &#8220;Sudah terang kau orang Tayli, mengapa tidak mengaku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku memang orang Hunlam, tapi kampung halamanku tidak berada di bawah kekuasaan negeri Tayli,&#8221; sahut Cin Goan-cun.</p>
<p>&#8220;Hm, berapa jauh jarak tempat tinggalmu dengan Tayli?&#8221; tanya Ong-hujin pula.</p>
<p>&#8220;Lebih dari empat ratus li jauhnya,&#8221; sahut Cin Goan-cun.</p>
<p>&#8220;Belum ada lima ratus li, engkau termasuk pula orang Tayli,&#8221; kata Ong-hujin. &#8220;Harus dipendam hidup-hidup di bawah bunga mantolo sebagai rabuk.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku salah apa?&#8221; teriak Cin Goan-cun penasaran. &#8220;Silakan memberi penjelasan, kalau tidak mati pun aku tidak rela.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm,&#8221; jengek Ong-hujin, &#8220;aku tidak peduli kau salah apa! Asal orang Tayli atau orang she Toan, sekali kebentur di tanganku, tentu ikan kupendam hidup-hidup. Meski kau bukan orang Tayli, tapi orang tetangga Tayli, bukankah sama juga?&#8221;</p>
<p>Sungguh gemas Toan Ki tak terkatakan, pikirnya, &#8220;Aha, kiranya akulah yang kau maksudkan, mengapa mesti main sandiwara segala? Biarlah aku mengaku lebih dulu dan tidak perlu kau tanya padaku.&#8221;</p>
<p>Karena itu, segera ia berteriak keras-keras, &#8220;Ini dia orangnya, aku inilah orang Tayli tulen dan she Toan pula. Kalau engkau mau kubur aku hidup-hidup, silakan kerjakan!&#8221;</p>
<p>&#8220;Dari tadi kau sudah mengaku, katanya Toan Ki namamu,&#8221; demikian jengek Ong-hujin. &#8220;Hm, orang she Toan dari Tayli tidak boleh mati secara begitu mudah.&#8221;</p>
<p>Habis berkata ia memberi tanda dan si dayang tadi lantas menyeret pergi Cin Goan-cun yang tak berdaya itu, entah karena Hiat-to tertutuk atau karena terluka dalam yang parah, yang terang sama sekali Cin Goan-cun tidak dapat membangkang sedikit pun. Ia cuma dapat berteriak-teriak saja, &#8220;Di dunia ini masakah ada peraturan begini? Orang Tayli ada berjuta-juta jumlahnya, apakah engkau dapat membunuhnya hingga habis?&#8221;</p>
<p>Akan tetapi ia lantas diseret ke tengah hutan bunga itu, makin lama makin jauh dan semakin perlahan suaranya hingga akhirnya tak terdengar lagi.</p>
<p>Kemudian Ong-hujin berpaling ke arah tawanannya yang lain yang bermuka putih bersih itu, lalu tanyanya, &#8220;Dan apa yang hendak kau katakan?&#8221;</p>
<p>Mendadak orang itu tekuk lutut di hadapan si nyonya dan berulang-ulang memberi sembah, katanya, &#8220;Ayahku adalah pembesar pemerintah pusat, beliau hanya mempunyai seorang putra seperti diriku ini, maka mohon Hujin memberi ampun. Untuk mana, apa saja permintaan Hujin pasti akan dipenuhi ayahku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, ayahmu adalah pembesar negeri, apa kau sangka aku tidak tahu?&#8221; jengek Ong-hujin dengan dingin. &#8220;Untuk mengampuni jiwamu tidaklah sukar, asal sesudah pulang segera istrimu di rumah itu kau bunuh dan esoknya lantas menikah dengan nona Biau yang berhubungan gelap denganmu di luar nikah itu, tapi harus dengan upacara resmi dan lengkap memakai emas kawin. Nah, dapat tidak kau laksanakan syarat ini?&#8221;</p>
<p>Pemuda bangsawan itu serbasusah, sahutnya dengan gemetar, &#8220;Su &#8230; suruh aku membunuh istri-kawin sendiri, wah, aku &#8230; aku tidak tega. Menikah secara resmi dengan nona Biau, orang tuaku tentu &#8230; tentu melarang pula. Bukan aku &#8230; aku &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Seret pergi dan kubur dia hidup-hidup,&#8221; bentak Ong-hujin segera. Dayang yang menuntun tali pengikat pemuda itu mengiakan sekali, lalu menyeretnya pergi.</p>
<p>Dengan ketakutan cepat pemuda itu berseru dengan gemetar, &#8220;Ba &#8230; baiklah, aku terima syaratmu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Nah, Siau Jui, giring dia kembali ke kota Sohciu dan saksikan sendiri dia membunuh istrinya, kemudian dia harus menikah dengan nona Biau, habis itu barulah kau boleh pulang,&#8221; pesan Ong-hujin kepada dayang yang menuntun pemuda itu.</p>
<p>Siau Jui mengiakan lagi dan menarik pemuda bangsawan itu melangkah ke dalam perahu yang tadi ditumpangi Toan Ki itu.</p>
<p>&#8220;Harap Hujin menaruh belas kasihan,&#8221; demikian pemuda bangsawan itu memohon pula. &#8220;Istriku kan tiada sakit hati apa-apa denganmu dan engkau pun tidak kenal nona Biau, buat apa engkau mesti membantunya dan memaksa aku membunuh istriku sendiri dan menikah lagi padanya? Biasa &#8230; biasanya aku pun tidak kenal engkau, apalagi juga tidak pernah berbuat salah apa-apa kepadamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak peduli kenal atau tidak,&#8221; sahut Ong-hujin dengan gusar. &#8220;Jika kau sudah punya istri, mengapa mesti menggoda anak gadis orang lagi? Dan sekali kau berani main gila dengan gadis lain, kau harus kawin dengan dia, sekali hal ini kuketahui pasti akan kuselesaikan seperti ini, apa lagi perbuatanmu ini bukanlah yang pertama kalinya, apa yang perlu kau sesalkan? Siau Jui, coba katakan, perbuatan ke berapakah kejahatannya ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hamba telah menyelidiki kota Busik, Kahia dan tempat lain, semuanya tujuh kali terjadi perbuatannya yang tidak senonoh, belum lagi Siau Lan dan Siau Si yang mengusut ke kota lain,&#8221; sahut dayang itu.</p>
<p>Mendengar memang begitu ketetapan hukuman yang biasa dijalankan Ong-hujin, pemuda itu cuma dapat mengeluh saja dan tidak berani membantah pula. Segera Siau Jui mendayung perahunya dan membawanya pergi.</p>
<br />Posted in Jin Yong, Pendekar Kerajaan Tayli  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toanki.wordpress.com/1803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toanki.wordpress.com/1803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toanki.wordpress.com/1803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toanki.wordpress.com/1803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toanki.wordpress.com/1803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toanki.wordpress.com/1803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toanki.wordpress.com/1803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toanki.wordpress.com/1803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toanki.wordpress.com/1803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toanki.wordpress.com/1803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toanki.wordpress.com/1803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toanki.wordpress.com/1803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toanki.wordpress.com/1803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toanki.wordpress.com/1803/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1803&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-18/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b75e221c0eee4ff517b26695a19675fc?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">Lenghou Tiong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 17</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-17/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-17/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 04:29:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1801</guid>
		<description><![CDATA[Meski tangannya menjinjing seorang, namun tindakan Ciumoti tidak menjadi lambat. Makin lama makin jauh dan makin cepat jalannya. Dalam waktu beberapa jam lamanya ia selalu berkeliaran di antara lereng gunung yang sunyi. Toan Ki melihat sang surya sudah mendoyong ke ufuk barat dan menyorot dari sebelah kiri, maka tahulah dia bahwa Ciumoti membawanya menuju ke [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1801&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Meski tangannya menjinjing seorang, namun tindakan Ciumoti tidak menjadi lambat. Makin lama makin jauh dan makin cepat jalannya. Dalam waktu beberapa jam lamanya ia selalu berkeliaran di antara lereng gunung yang sunyi.</p>
<p><span id="more-1801"></span>Toan Ki melihat sang surya sudah mendoyong ke ufuk barat dan menyorot dari sebelah kiri, maka tahulah dia bahwa Ciumoti membawanya menuju ke utara.</p>
<p>Petangnya, Ciumoti angkat tubuh Toan Ki untuk diletakkan di atas dahan pohon, ia ikat sabuk kulit itu pada ranting pohon, sama sekali ia tidak ajak bicara pemuda itu, bahkan memandang pun tidak, hanya sambil berdiri mungkur ia sodorkan beberapa potong roti kering padanya, ia pun membuka Hiat-to lengan kiri Toan Ki agar pemuda itu dapat bergerak untuk makan.</p>
<p>Dengan tangan kiri yang sudah dapat bergerak itu, Toan Ki pikir hendak menyerangnya dengan Siau-tik-kiam, siapa duga sekali Hiat-to besar tertutuk, hawa murni seluruhnya ikut macet, maka jari tangannya cuma dapat bergerak saja dan tak bertenaga sedikit pun.</p>
<p>Begitulah, selama beberapa hari Ciumoti terus menjinjingnya ke utara. Beberapa kali Toan Ki memancing pembicaraan orang dan tanya mengapa dirinya ditawan serta untuk apa menuju ke utara? Namun tetap Ciumoti tidak menjawab.</p>
<p>Setelah belasan hari, mereka berada di luar wilayah Tayli, Toan Ki merasa arah yang ditempuh Ciumoti berganti menuju ke timur-laut, tapi tetap tidak mengambil jalan raya, sebaliknya selalu menjelajahi lereng gunung dan hutan belukar, cuma tanahnya kian lama kian datar, sungai pun semakin banyak, setiap hari hampir beberapa kali menyeberang sungai.</p>
<p>Cara perjalanan Ciumoti dengan menjinjing Toan Ki seakan-akan orang mencangking hewan saja, sudah tentu sangat mengherankan orang yang berlalu-lalang di sampingnya. Sampai akhirnya Toan Ki sendiri merasa bosan juga setiap kali berjumpa dengan orang di tengah jalan.</p>
<p>Sungguh dongkol Toan Ki tak terkatakan. Dahulu ketika ia ditawan oleh adik perempuannya, yaitu Bok Wan-jing, walaupun setiap hari ia dihajar dan disiksa, banyak penderitaan yang dirasakannya, tapi rasanya tidak kesal seperti ditawan Ciumoti sekarang.</p>
<p>Setelah belasan hari lagi, Toan Ki mendengar logat bicara orang yang berlalu-lalang mulai ramah tamah dan enak didengar, diam-diam ia membatin, &#8220;Ah, tentu tempat ini adalah daerah Kanglam (selatan sungai Yangce). Ia membawa diriku ke kuburan Buyung-siansing, rasanya tidak lama lagi sudah akan tiba di tempat tujuannya. Ilmu silat padri asing ini sedemikian lihai, sampai Pekhu berenam juga tak mampu merobohkan dia. Sekarang aku berada dalam cengkeramannya, terpaksa aku menyerah pada nasib, masakah ada harapan buat lolos?&#8221;</p>
<p>Berpikir begitu, hatinya menjadi lapang malah, tanpa pikir lagi ia mendongak untuk memandang keadaan sekitarnya. Tatkala itu adalah pergantian antara musim semi dan musim panas, hawa sejuk pemandangan indah, angin meniup silir-semilir memabukkan orang.</p>
<p>Sudah lebih sebulan Toan Ki menjadi &#8220;barang cangkingan&#8221; Ciumoti, hal itu sudah terbiasa baginya. Kini melihat pemandangan alam yang indah permai itu, hatinya menjadi gembira, tanpa merasa ia pun bernyanyi-nyanyi kecil sambil menikmati pemandangan danau yang indah di pinggir jalan.</p>
<p>&#8220;Huh, ajal sudah dekat, masih begini iseng?&#8221; jengek Ciumoti.</p>
<p>&#8220;Manusia mana di dunia ini yang takkan mati?&#8221; sahut Toan Ki dengan tertawa. &#8220;Paling banyak engkau cuma hidup lebih lama buat beberapa tahun, apa bedanya kelak?&#8221;</p>
<p>Ciumoti tidak gubris padanya lagi. Ia coba tanya orang di mana letaknya &#8220;Som-hap-ceng.&#8221; Tapi meski sudah beberapa orang ditanya, tetap tiada seorang pun yang tahu di mana kampung itu.</p>
<p>&#8220;Tidak pernah kudengar dusun yang bernama Som-hap-ceng, barangkali engkau salah dengar, Hwesio,&#8221; demikian sahut seorang tua.</p>
<p>&#8220;Jika begitu, apakah tahu seorang hartawan she Buyung, di mana rumahnya?&#8221; tanya Ciumoti.</p>
<p>&#8220;Di kota Sohciu sini banyak orang she Tan, she Li dan she lain, semua hartawan besar, tapi tidak pernah terdengar ada hartawan she Buyung,&#8221; sahut orang tua itu.</p>
<p>Sedang Ciumoti bingung, tiba-tiba didengarnya suara seorang sedang berkata di jalan kecil di tepi danau sana, &#8220;Kabarnya orang she Buyung itu tinggal di Yan-cu-oh kira-kira tiga puluh li di barat kota, mari kita menuju ke sana!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, sudah sampai di tempatnya, kita harus berhati-hati!&#8221; demikian sahut seorang lain.</p>
<p>Suara percakapan kedua orang itu sangat perlahan, maka Toan Ki tidak mendengar, sebaliknya Lwekang Ciumoti sangat tinggi, ia dapat mendengar dengan jelas. Diam-diam ia heran apakah orang sengaja bicara padanya?</p>
<p>Ketika Ciumoti berpaling, ia lihat seorang berperawakan gagah berpakaian berkabung, seorang lagi kurus kecil mirip pencoleng. Tapi sekilas pandang saja dapatlah diketahui Ciumoti bahwa kedua orang itu memiliki ilmu silat tinggi. Belum lagi ia ambil keputusan apa mesti tanya kedua orang itu atau tidak, mendadak Toan Ki berseru, &#8220;Hai, Ho-siansing, Ho-siansing!&#8221;</p>
<p>Kiranya laki-laki kurus kecil bermuka jelek itu tak-lain tak-bukan adalah Kim-sui-poa Cui Pek-khe, si Mesin Hitung Emas. Dan laki-laki yang lain adalah murid keponakannya, Tui-hun-jiu Ko Gan-ci.</p>
<p>Sesudah kedua tokoh itu meninggalkan Tayli, dengan semangat yang berkobar-kobar mereka hendak membalaskan dendam Kwa Pek-hwe. Walaupun mereka juga tahu sukar untuk melawan orang she Buyung, tapi sakit hati itu harus dibalas betapa pun akibatnya, maka akhirnya mereka tiba juga di Koh-soh.</p>
<p>Sebelumnya mereka telah menyelidiki dan mendapat tahu tempat tinggal keluarga Buyung, yaitu Yan-cu-oh, dan secara kebetulan tiba pada waktu yang sama dengan Ciumoti dan Toan Ki.</p>
<p>Ketika mendadak mendengar seruan Toan Ki tadi, Cui Pek-khe tercengang sejenak, tapi segera ia melompat ke depan Ciumoti dan berkata dengan heran, &#8220;He, Siauongcu (putra pangeran kecil), kiranya engkau? Eh, Toahwesio, lekas melepaskan Kongcuya ini, apa kau tahu siapa dia?&#8221;</p>
<p>Sudah tentu Ciumoti tidak pandang sebelah mata kepada kedua orang itu, tapi karena dia lagi bingung mengenai tempat tinggal Buyung-siansing, kini kebetulan orang ini mengetahui tempatnya, maka ia pun tidak marah terhadap ucapan Cui Pek-khe. Ia taruh Toan Ki ke tanah membiarkan pemuda itu berdiri sendiri, lalu melepaskan Hiat-to kakinya, kemudian berkata, &#8220;Aku hendak pergi ke rumah keluarga Buyung, harap kalian berdua suka menunjukkan jalannya.&#8221;</p>
<p>Pengetahuan dan pengalaman Cui Pek-khe sangat luas, tapi meski dipikir toh tak teringat olehnya siapa gerangan Hwesio ini. Maka tanyanya, &#8220;Numpang tanya, siapakah gelaran suci Taysu? Mengapa membikin susah Siauongcu ini dan untuk keperluan apa hendak pergi ke rumah keluarga Buyung?&#8221;</p>
<p>&#8220;Banyak omong tiada gunanya, nanti tentu akan tahu sendiri,&#8221; sahut Ciumoti.</p>
<p>&#8220;Apakah Taysu sobat baik Buyung-siansing?&#8221; tanya Cui Pek-khe pula.</p>
<p>&#8220;Benar, makanya kalau Ho-siansing mengetahui di mana letak Som-hap-ceng tempat tinggal Buyung-siansing itu, harap memberitahukan jalannya,&#8221; sahut Ciumoti.</p>
<p>Tadi ia dengar Toan Ki menyerukan &#8220;Ho-siansing&#8221; kepada Cui Pek-khe, maka ia menyangka tokoh Ko-san-pay itu benar-benar she Ho.</p>
<p>Geli-geli dongkol Cui Pek-khe, sambil menggaruk kepala ia coba tanya Toan Ki, &#8220;Bagaimana baiknya, Siauongcu?&#8221;</p>
<p>Toan Ki menjadi sulit juga oleh pertanyaan itu. Ia pikir ilmu silat Ciumoti itu teramat tinggi, di dunia ini mungkin tiada seorang pun yang mampu melawannya, apalagi cuma kedua tokoh Ko-san-pay ini, terang bukan tandingannya, kalau berani berusaha buat menolongnya, paling-paling cuma mengantarkan nyawa saja, lebih baik memperingatkan mereka saja agar lekas melarikan diri. Maka cepat katanya, &#8220;Taysu ini seorang diri telah mengalahkan pamanku dan kelima tokoh tertinggi dari Tayli, akhirnya aku pun tertawan olehnya. Katanya dia sobat kental Buyung-siansing, maka aku hendak dibakarnya hidup-hidup di depan kuburan Buyung-siansing untuk memenuhi sesuatu janjinya. Kalian berdua selamanya tiada sangkut paut apa-apa dengan keluarga Buyung, maka silakan menunjukkan jalannya saja, lalu bolehlah kalian pergi.&#8221;</p>
<p>Mendengar Hwesio itu telah mengalahkan Po-ting-te dan jago-jago lain di Tayli, Cui Pek-khe dan Ko Gan-ci menjadi kaget. Lebih-lebih ketika mendengar pula bahwa padri ini sobat baik orang she Buyung.</p>
<p>Namun meskipun lahiriah Cui Pek-khe itu jelek, tapi ia kesatria. Ia pikir sudah belasan tahun dirinya bersembunyi di Tin-lam-onghu, untuk itu belum pernah ia membalas sesuatu kebaikan apa-apa. Kini Siauongcu berada dalam kesulitan, mana boleh dirinya tinggal diam? Betapa pun sekarang sudah berada di Koh-soh, keselamatan jiwa sendiri sudah tak terpikir, biarpun akan mati di tangan musuh atau orang lain kan sama saja.</p>
<p>Berpikir begitu, sekali tangan bergerak, segera ia menarik keluar sebuah Swipoa bersinar emas kemilau, ia angkat tinggi-tinggi senjatanya itu dan dikocak hingga mengeluarkan suara gemerencing yang ramai. Katanya, &#8220;Toahwesio, kau bilang Buyung-siansing adalah sobat baikmu, sebaliknya Siauongcu ini adalah kawan karibku. Maka lebih baik kau lepaskan dia saja!&#8221;</p>
<p>Melihat sang Susiok sudah siap, Ko Gan-ci cepat melolos juga ruyung lemas yang melilit di pinggangnya.</p>
<p>&#8220;Hehe, apakah kalian mengajak berkelahi?&#8221; jengek Ciumoti.</p>
<p>&#8220;Sekalipun tahu takkan mampu menandingimu, namun apa boleh buat, betapa pun aku ingin mencoba, mati atau hidup &#8230; auuuh!&#8221; mendadak Cui Pek-khe mengaduh sebelum selesai ucapannya.</p>
<p>Kiranya mendadak Ciumoti telah sambar ruyung yang dipegang Ko Gan-ci itu, sekali sabet, tahu-tahu Swipoa emas Cui Pek-khe itu kena terlilit, ketika ruyung bergerak pula, kedua macam senjata itu mencelat berbareng ke tengah danau sebelah kanan.</p>
<p>Tampaknya kedua senjata itu sekejap lagi akan kecemplung ke dalam danau, tak tersangka tenaga yang dikeluarkan Ciumoti itu ternyata sangat aneh dan tepat, ujung ruyung itu mendadak menjungkat ke atas dan tepat melilit pada suatu ranting pohon Liu di tepi danau itu. Ranting pohon Liu itu sangat lemas, digantungi lagi dengan sebuah Swipoa emas, maka tiada hentinya ranting berguncang naik turun, air danau pun beriak karena Swipoa emas itu menyentuh air.</p>
<p>Ko Gan-ci itu berjuluk &#8220;Tui-hun-jiu&#8221; atau si Penguber Nyawa, suatu tanda betapa cepat gerak-geriknya, apalagi ruyung itu adalah senjata andalan perguruan yang terkenal, siapa sangka hanya sekali gebrak saja sudah dirampas musuh, bahkan cara bagaimana Ciumoti mendekat dan merebut senjata, cara bagaimana melilit Swipoa emas lalu melompat kembali ke tempat semula, Cui Pek-khe dan Ko Gan-ci sama sekali tidak jelas melihatnya.</p>
<p>Sambil merangkap kedua tangan kemudian Ciumoti berkata dengan suara lemah lembut, &#8220;Harap kedua tuan ini sudi menunjukkan jalannya.&#8221;</p>
<p>Cui Pek-khe saling pandang dengan Ko Gan-ci dan bingung apa yang harus mereka lakukan. Maka Ciumoti berkata pula, &#8220;Jika kalian tidak suka mengajak kami ke sana, silakan menunjukkan arahnya saja, biar aku mencarinya sendiri ke sana.&#8221;</p>
<p>Melihat ilmu silat si Hwesio begitu tinggi, tapi sikapnya ramah tamah, Cui Pek-khe berdua menjadi ragu dan serbasalah, hendak main kasar toh orang bersikap sopan, hendak mengajaknya bicara secara baik-baik, terang putra pangeran Tayli ditawan olehnya.</p>
<p>Untunglah pada saat itu terdengar suara debur air, dari ujung danau sana tampak tiba sebuah sampan didayung oleh seorang gadis kecil berbaju hijau, sambil mendayung sembari bernyanyi dengan gembiranya, lagunya indah, suaranya merdu, hingga makin menambah permainya suasana danau.</p>
<p>Sudah lama Toan Ki mengagumi keindahan alam Kanglam dari syair gubahan pujangga yang pernah dibacanya. Kini dihadapi pemandangan permai dengan nyanyian merdu, semangatnya seakan-akan terbang ke awang-awang dan lupa daratan bahwa dirinya waktu itu sedang terancam bahaya, serentak ia memandang ke arah si gadis. Ia lihat kedua tangan si gadis putih bersih bagai batu kemala yang bening tembus.</p>
<p>Cui Pek-khe dan Ko Gan-ci ikut tertarik juga dan memandang si gadis. Hanya Ciumoti saja tetap membuta dan membudek, katanya, &#8220;Jika kalian tidak sudi memberi tahu letak Som-hap-ceng, biarlah kumohon diri saja.&#8221;</p>
<p>Saat itu sampan si gadis sudah dekat menepi. Maka ucapan Ciumoti itu dapat didengarnya, tiba-tiba ia menyela, &#8220;Taysu ini hendak pergi ke Som-hap-ceng, entah ada keperluan apa?&#8221;</p>
<p>Suara gadis itu ternyata sangat nyaring dan manis hingga bagi yang dengar akan timbul rasa nikmat tak terkatakan. Usia gadis ini ternyata baru belasan tahun, wajah lemah lembut, dandanan serasi. Diam-diam Toan Ki memuji, &#8220;Wanita daerah Kanglam sungguh tak tersangka secantik ini.&#8221;</p>
<p>Maka menjawablah Ciumoti, &#8220;Siauceng (padri kecil) hendak pergi ke Som-hap-ceng, apakah nona sudi menunjukkan jalannya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nama Som-hap-ceng jarang diketahui orang luar, dari mana Thaysuhu mengetahuinya?&#8221; tanya gadis itu dengan tersenyum.</p>
<p>&#8220;Siauceng adalah sobat lama Buyung-siansing, kini sengaja datang berziarah ke kuburannya sekadar memenuhi janji masa dulu,&#8221; sahut Ciumoti.</p>
<p>Gadis itu termenung sejenak, katanya, &#8220;Wah, agak tidak kebetulan. Kemarin dulu Buyung-kongcu baru bepergian, kalau Thaysuhu datang lebih dulu tiga hari, tentu dapat berjumpa dengan Kongcu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sungguh menyesal tidak sempat berkenalan dengan Kongcu, namun jauh-jauh Siauceng datang dari negeri Turfan, biarlah aku berkunjung ke makam Buyung-siansing sekadar memberi penghormatan terakhir.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika Thaysuhu adalah sobat baik Buyung-loya, marilah silakan minum dulu ke tempat kami, kemudian akan kusampaikan maksudmu, mau?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa hubungan nona dengan Buyung-siansing dan cara bagaimana harus kusebut secara hormat?&#8221; tanya Ciumoti.</p>
<p>&#8220;Ah, aku cuma dayang yang melayani Kongcu memetik Khim dan meniup seruling,&#8221; sahut si gadis dengan tersenyum manis. &#8220;Namaku A Pik, maka janganlah Thaysuhu sungkan-sungkan, panggil saja aku A Pik.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, baiklah,&#8221; kata Ciumoti dengan hormat.</p>
<p>Lalu si A Pik berkata, &#8220;Jalan dari sini ke Yan-cu-oh harus melalui lintas air danau, marilah kuantar dengan sampan ini.&#8221;</p>
<p>Setiap kata yang ditanyakan oleh A Pik kedengarannya begitu luwes dan simpati hingga membuat orang tidak enak untuk menolak.</p>
<p>Maka berkatalah Ciumoti, &#8220;Jika begitu, terpaksa membikin repot nona.&#8221;</p>
<p>Berbareng ia terus gandeng tangan Toan Ki dan melompat ke atas sampan dengan enteng. Sampan itu hanya ambles ke bawah sedikit dan sama sekali tidak terguncang.</p>
<p>A Pik tersenyum kepada Ciumoti dan Toan Ki, maksudnya seakan-akan memuji kehebatan kepandaian orang.</p>
<p>Lalu Ko Gan-ci membisiki Cui Pek-khe, &#8220;Bagaimana, Susiok?&#8221;</p>
<p>Sebenarnya kedatangannya ingin menuntut balas pada orang she Buyung, tapi kedudukan mereka kini menjadi serbasalah dan sangat lucu kelihatannya.</p>
<p>&#8220;Jika tuan-tuan sudah datang di Sohciu, bila tiada urusan penting lain, marilah silakan mampir juga ke tempat kami untuk minum-minum,&#8221; demikian kata A Pik lagi dengan tertawa. &#8220;Jangan tuan-tuan ragu terhadap sampan kecil ini, biarpun bertambah lagi beberapa orang juga tidak nanti tenggelam.&#8221;</p>
<p>Perlahan A Pik mendayung sampannya, ketika lewat di bawah pohon Liu tadi, tiba-tiba ia ambil Kim-sui-poa dan ruyung yang tergantung di ranting pohon itu. Sekenanya ia ketik-ketik biji Swipoa hingga menerbitkan suara &#8220;crang-creng&#8221; yang nyaring.</p>
<p>Mendengar beberapa suara nyaring itu, dengan girang Toan Ki berkata, &#8220;He, apakah nona sedang memetik lagu &#8216;Jay-song-cu&#8217; (memetik biji arbei)?&#8221;</p>
<p>Kiranya biji Swipoa yang dipetik si A Pik telah mengeluarkan suara yang berbeda-beda hingga berwujud irama musik lagu &#8216;Jay-song-cu&#8217; yang merdu.</p>
<p>Dengan tersenyum A Pik menjawab, &#8220;Ah, kiranya Kongcu juga pandai seni suara, maukah memetik barang satu lagu juga?&#8221;</p>
<p>Melihat gadis itu lincah kekanak-kanakan, ramah tamah menarik, sahut Toan Ki dengan tertawa, &#8220;Ya, tapi aku tidak dapat memetik Swipoa.&#8221;</p>
<p>Lalu ia menoleh kepada Cui Pek-khe, katanya, &#8220;Ho-siansing, Swipoamu telah digunakan orang sebagai alat musik yang bagus.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, benar!&#8221; sahut Cui Pek-khe dengan senyum ewa, &#8220;nona sungguh seorang seniwati, alat hitungku yang kasar itu sekali berada di tangan nona, jadilah segera sebuah alat musik yang bagus.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, ai, maafkan, jadi ini milik tuan?&#8221; seru A Pik gugup. &#8220;Wah, alangkah bagusnya Swipoamu ini. Ehm, tentu tuan ini seorang hartawan, sampai Swipoa juga terbuat dari emas. Ho-siansing, ini kukembalikan.&#8221;</p>
<p>Sambil berkata, terus saja A Pik angsurkan Swipoa yang dipegangnya itu. Tapi Cui Pek-khe berdiri di tepi danau, dengan sendirinya tidak sampai menerimanya.</p>
<p>Ia merasa berat bila kehilangan kawan setianya yang selalu dibawanya itu. Maka dengan ringan ia lompat ke haluan sampan untuk menerima Swipoa itu. Kemudian ia berpaling dan melotot sekali ke arah Ciumoti. Namun wajah padri itu tetap tersenyum simpul dengan welas asih, sedikit pun tidak marah.</p>
<p>Setelah Swipoa dikembalikan ke pemiliknya, kini tinggal ruyung itu yang masih dipegang si A Pik. Ketika tangan kanannya memegang batang ruyung dan sekali diusap dari atas ke bawah, karena gesekan kuku jarinya dengan ruas ruyung itu, maka terbitlah macam-macam suara nyaring yang menarik hingga mirip orang memetik harpa.</p>
<p>Ternyata senjata yang pernah melayani berbagai jago Bu-lim itu setelah berada di tangan A Pik telah berubah menjadi semacam alat musik lagi.</p>
<p>&#8220;Bagus, bagus!&#8221; saking senangnya Toan Ki berteriak-teriak. &#8220;Sungguh pintar sekali nona, ayolah silakan memetiknya satu lagu.&#8221;</p>
<p>Tapi A Pik lantas berkata kepada Ko Gan-ci, &#8220;Mungkin ruyung ini milik tuan ini bukan? Aku sembarangan mengambilnya, sungguh terlalu tidak tahu aturan, mohon dimaafkan. Marilah tuan, silakan naik juga ke atas sampan, sebentar akan kusuguh dengan santapan enak.&#8221;</p>
<p>Sebenarnya Ko Gan-ci merasa dendam karena gurunya dibunuh orang she Buyung, tapi menghadapi seorang nona cilik yang selalu tersenyum manis dan kekanak-kanakan, betapa pun rasa dendam dalam hatinya juga tidak mungkin dilampiaskan atas diri gadis itu. Pikirnya, &#8220;Dia bersedia membawa kami ke tempat tinggal orang she Buyung, inilah yang sangat kami inginkan, bagaimanapun juga aku harus membunuh beberapa orang mereka untuk membalas sakit hati Suhu.&#8221;</p>
<p>Karena itu, ia mengangguk menerima tawaran A Pik, lalu melompat ke atas perahu.</p>
<p>Dengan hati-hati dan menghormat A Pik menggulung ruyung itu dan dikembalikan kepada Gan-ci. Sekali dayung bekerja, segera sampan meluncur ke arah barat.</p>
<p>Cui Pek-khe saling menukar isyarat mata beberapa kali dengan Ko Gan-ci. Diam-diam mereka pikir, &#8220;Hari ini kita telah masuk gua harimau, entah bakal mati atau hidup. Menghadapi keluarga Buyung yang kejam dan si nona yang kelihatan lemah lembut ini, betapa pun kita harus waspada, jangan sampai masuk perangkap musuh.&#8221;</p>
<p>Begitulah sampan si A Pik terus meluncur ke depan, setelah membelok kian kemari, akhirnya masuklah sampan itu ke tengah danau yang luas. Sepanjang mata memandang, danau itu seakan-akan tanpa ujung dan merapat dengan langit. Keruan Ko Gan-ci bertambah waswas, pikirnya, &#8220;Danau besar ini tentulah Thay-oh adanya. Aku dan Cui-susiok tidak dapat berenang, bila nona cilik ini membalik sampannya, pasti kami berdua akan kelelap ke dasar danau sebagai umpan ikan, jangankan lagi bicara hendak menuntut balas bagi Suhu.&#8221;</p>
<p>Rupanya Cui Pek-khe juga mempunyai firasat yang sama. Ia pikir kalau dayung sampan dapat dipegang sendiri, bila nona itu hendak tenggelamkan sampannya tentu akan lebih sulit. Maka segera katanya, &#8220;Nona, marilah kubantu mendayung, engkau cukup menunjukkan arah saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, mana boleh jadi begitu,&#8221; sahut A Pik tertawa. &#8220;Kalau diketahui Kongcuya, wah, tentu aku akan didamprat tidak menghormati tuan tamu.&#8221;</p>
<p>Melihat orang tidak mau, rasa curiga Cui Pek-khe semakin bertambah, katanya pula dengan tertawa, &#8220;Haha, bicara terus terang, sebenarnya kami ingin nona memperdengarkan ilmu kepandaian memetik sesuatu lagu dengan ruyung lemas kawanku itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ilmu kepandaian apa?&#8221; ujar A Pik tertawa. &#8220;Kalau diketahui A Cu, pasti dia akan mencemoohkan aku suka pamer di depan tetamu.&#8221;</p>
<p>Tapi Cui Pek-khe terus mengambil ruyung Gan-ci dan diserahkan kepada A Pik, katanya, &#8220;Ini, petiklah lekas!&#8221;</p>
<p>Sembari berkata, terus saja ia ambil dayung sampan dari tangan si gadis.</p>
<p>&#8220;Baiklah, dan sekalian Kim-sui-poamu juga pinjamkan aku sebentar,&#8221; kata A Pik.</p>
<p>Diam-diam Pek-khe menjadi khawatir, &#8220;Dia telah ambil senjata kami, jangan-jangan ada tipu muslihat apa-apa?&#8221;</p>
<p>Namun karena sudah telanjur, terpaksa ia pun menyerahkan Swipoa emasnya itu.</p>
<p>Tapi Swipoa itu lantas ditaruh di atas geladak sampan oleh A Pik, sambil duduk ia tarik batang ruyung dengan tangan kiri, ujung ruyung itu diinjak dengan kaki kanan hingga ruyung lemas itu tertarik lempeng, lalu menarilah kelima jari kanannya menggesek-gesek di atas ruyung hingga menerbitkan macam-macam nada suara yang nyaring merdu melebihi Pi-pe (alat musik Tionghoa mirip gitar).</p>
<p>Sambil menggesek ruyung, terkadang jari A Pik juga sempat memainkan biji Swipoa yang terletak di depannya itu, suara &#8220;crang-cring&#8221; dari biji Swipoa itu berselang-seling dengan suara &#8220;trang-tring&#8221; gesekan ruyung hingga kedengarannya sangat menarik. Sampai di puncaknya, saking gembiranya A Pik bernyanyi pula mengiringi irama musik yang dimainkannya dengan merdu itu.</p>
<p>Mendengar suara si gadis yang mengalun empuk itu, sungguh sukma Toan Ki seakan-akan terombang-ambing di angkasa dan seperti orang linglung. Ia gegetun mengapa baru sekarang dirinya sempat pesiar ke Kanglam, ia kagum pula Buyung-kongcu mempunyai seorang dayang sepandai itu, maka dapatlah dibayangkan tokoh macam apa majikan dayang ini.</p>
<p>Selesai A Pik membawakan satu lagu, kemudian ia pun kembalikan Swipoa dan ruyung itu kepada Pek-khe berdua. Katanya dengan tertawa, &#8220;Memalukan, tidak enak didengar, harap jangan ditertawai tuan tamu. Nah, dayunglah ke sana, ya benar sana!&#8221;</p>
<p>Pek-khe menurut dan mendayung sampan itu ke suatu muara sungai kecil, di permukaan air situ tampak banyak tumbuh daun teratai yang lebat. Coba kalau tiada petunjuk si A Pik, tentu tiada yang tahu bahwa di situ ada jalannya.</p>
<p>Setelah mendayung pula sebentar, kemudian A Pik berkata, &#8220;Beloklah ke sana!&#8221;</p>
<p>Pada permukaan air tempat baru ini ternyata penuh tumbuh daun lengkak dengan buahnya yang kemerah-merahan. A Pik memetik beberapa buah lengkak yang merah itu, ia berikan Ko Gan-ci tiga buah, kemudian memetik pula bagi yang lain.</p>
<p>Meski kedua tangan Toan Ki dapat bergerak, tapi setelah Hiat-to ditutuk orang, sedikit pun ia tak bertenaga, untuk mengupas kulit lengkak terasa tidak kuat.</p>
<p>Maka berkatalah A Pik dengan tertawa, &#8220;Rupanya Kongcuya bukan orang Kanglam, maka tidak biasa mengupas lengkak. Biarlah aku mengupasnya untukmu.&#8221;</p>
<p>Segera ia mengupas beberapa biji dan diserahkan kepada Toan Ki. Melihat daging lengkak itu putih bersih, ketika dimakan rasanya manis gurih, dengan tertawa Toan Ki berkata, &#8220;Rasa lengkak ini enak dan tidak membosankan, mirip sekali dengan nyanyian nona tadi.&#8221;</p>
<p>Muka A Pik sedikit bersemu merah, sahutnya dengan tersenyum, &#8220;Membandingkan nyanyianku dengan lengkak, baru pertama kali ini kudengar. Terima kasih, Kongcu!&#8221;</p>
<p>Dan belum selesai sampan itu menyusuri rawa lengkak itu, A Pik telah menunjuk arah lain lagi yang penuh tumbuh rumput lalang yang lebat.</p>
<p>Mau tak mau akhirnya Ciumoti jadi waswas juga, diam-diam ia mengingat baik-baik jalan yang dilalui perahu itu, agar nanti kembalinya tidak kesasar.</p>
<p>Tapi rawa-rawa daun teratai, lengkak dan rumput lalang itu pada hakikatnya serupa saja tak ada perbedaannya, apalagi tumbuh-tumbuhan air itu setiap waktu bisa berubah bila tertiup angin hingga dalam sekejap saja keadaan sudah berlainan daripada semula.</p>
<p>Ciumoti, Cui Pek-khe dan Ko Gan-ci telah berusaha juga mengikuti kerling mata si A Pik untuk mengetahui cara bagaimana gadis itu mengenali jalannya, namun tampaknya gadis itu acuh tak acuh saja, sambil memetik lengkak sembari bermain air dan memberi petunjuk tanpa pikir, seakan-akan jalanan air yang bersimpang-siur itu sudah sangat hafal baginya.</p>
<p>Begitulah setelah sampan itu didayung berliku-liku kian kemari selama dua jam, lewat tengah hari, dari jauh tertampaklah pohon Liu melambai-lambai dengan rindangnya dan di balik pohon tertampak ujung emper rumah.</p>
<p>&#8220;Itulah dia, sudah sampai,&#8221; seru A Pik segera. &#8220;Ho-siansing, telah setengah hari membikin capek padamu, terima kasih.&#8221;</p>
<p>Ia dengar Toan Ki memanggil Pek-khe sebagai Ho-siansing, maka ia pun menirukannya.</p>
<p>Dengan tertawa getir Pek-khe menjawab, &#8220;Asal bisa makan lengkak sambil mendengarkan nyanyianmu, biarpun aku disuruh mendayung selama setahun-dua tahun juga mau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah, apa susahnya jika engkau benar-benar senang makan lengkak dan suka mendengarkan nyanyianku,&#8221; seru A Pik sambil bertepuk tangan dan tertawa. &#8220;Untuk mana asal engkau tinggal saja di lembah danau ini dan selama hidup ini jangan meninggalkan sini.&#8221;</p>
<p>Pek-khe kaget oleh ucapan, &#8220;selama hidup tinggal di lembah danau ini&#8221;, ia coba melirik gadis itu, ia lihat A Pik tetap tersenyum simpul saja seperti tidak punya maksud apa-apa di balik kata-katanya itu. Namun begitu hati Pek-khe menjadi kebat-kebit juga.</p>
<p>Segera A Pik mengambil pengayuh dari tangan Pek-khe dan mendayung sampannya ke tepian yang penuh pohon Liu itu. Sesudah dekat, tertampaklah sebuah tangga kayu menjulur dari tepian ke dalam air. A Pik menambat perahunya pada ranting pohon serta mendahului mendarat.</p>
<p>Ketika semua orang ikut mendarat, terlihatlah di sana-sini ada beberapa buah gubuk yang dibangun di tengah sebuah pulau kecil atau semenanjung. Gubuk-gubuk itu kecil mungil dan cukup indah.</p>
<p>&#8220;Apakah di sini ini Som-hap-ceng dari Yan-cu-oh?&#8221; tanya Ciumoti.</p>
<p>&#8220;Bukan,&#8221; sahut A Pik menggeleng kepala. &#8220;Tempat ini adalah kediamanku yang dibangun oleh Kongcu, jelek dan sederhana, sebenarnya tidak pantas untuk menerima tamu. Cuma Toasuhu ini menyatakan ingin berziarah ke makam Buyung-loya, untuk itu aku sendiri tidak berani mengambil keputusan, maka terpaksa silakan tuan-tuan tunggu sementara di sini, biarlah kubicarakan dulu dengan Enci A Cu.&#8221;</p>
<p>Mendengar itu Ciumoti mendongkol dan menarik muka. Betapa tinggi dan diagungkan kedudukannya sebagai Hou-kok-hoat-ong atau imam negara di negeri Turfan. Jangankan di negerinya sendiri dia sangat dihormati oleh kepala negara Turfan, sekalipun pemerintah Song, Tayli dan negara tetangga lain juga pasti menyambut kedatangannya dengan penuh penghormatan.</p>
<p>Apalagi dia adalah sobat lama Buyung-siansing, kini ia datang sendiri buat ziarah, kalau Buyung-kongcu bepergian karena memang sebelumnya tidak tahu, itulah tak dapat disalahkan, tetapi seorang dayang seperti A Pik ini, tamu agung tidak dibawa ke ruang tamu untuk dihormati sebagaimana mestinya, sebaliknya malah dibawa ke suatu gubuk tempat tinggal kaum pelayan, keruan Ciumoti merasa terhina.</p>
<p>Tapi demi terlihat sikap A Pik tetap kekanak-kanakan dan lugas, sedikit pun tidak mengunjuk maksud merendahkan dia, maka ia pikir mengapa mesti merecoki urusan begini dengan seorang pelayan kecil.</p>
<p>Kemudian Cui Pek-khe bertanya, &#8220;Siapakah Enci A Cu yang kau katakan itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;A Cu ialah A Cu, dia cuma lebih tua sebulan daripadaku, ia sok berlagak sebagai Enci (kakak) orang,&#8221; demikian sahut A Pik dengan tertawa. &#8220;Ya, apa boleh buat, terpaksa aku harus memanggil dia Enci. Habis, siapa suruh dia lahir sebulan lebih dulu? Namun engkau tidak perlu memanggilnya sebagai Enci, kalau tidak, tentu lagaknya akan semakin garang.&#8221;</p>
<p>Sembari bicara, dengan lincahnya A Pik terus menyilakan keempat tamunya itu masuk ke pondoknya.</p>
<p>Toan Ki melihat di dalam gubuk itu tergantung sebuah papan kecil yang bertuliskan &#8220;Khim-im-siau-tiok&#8221; atau pondok mungil suara harpa. Gaya tulisannya sangat bagus.</p>
<p>Setelah masuk, A Pik silakan semua orang berduduk, kemudian disuguhkannya air teh dan beberapa macam makanan kecil. Tehnya wangi, makanannya sedap, keruan tiada hentinya Toan Ki memuji.</p>
<p>&#8220;Silakan Kongcu menghabiskannya, persediaan masih cukup,&#8221; demikian kata A Pik.</p>
<p>Sambil melangsir penganan ke dalam perut, terus-menerus Toan Ki memberi pujian tiada habis-habisnya. Sebaliknya Ciumoti, Pek-khe dan Gan-ci bertiga tidak berani menyentuh minuman dan makanan itu, sebab khawatir di dalam makanan itu ditaruh racun.</p>
<p>Diam-diam Toan Ki menjadi curiga juga, pikirnya, &#8220;Ciumoti ini mengaku sebagai sobat lama Buyung-siansing, tapi kenapa berlaku sehati-hati ini? Pula cara orang keluarga Buyung menyambut kedatangannya juga rada tidak beres.&#8221;</p>
<p>Ciumoti ternyata sangat sabar, ia menunggu hingga Toan Ki sudah habis minum dan selesai mencicipi semua penganan yang disuguhkan itu dengan pujian setinggi langit, kemudian barulah dia berkata, &#8220;Dan sekarang harap nona suka memberitahukan kepada Enci A Cu seperti kau katakan tadi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tempat pondok A Cu itu dari sini masih berpuluh li jauhnya, hari ini terang tidak keburu ke sana lagi, biarlah tuan-tuan berempat tinggal semalam di sini, esok pagi akan kubawa kalian ke &#8220;Thing-hiang-siau-tiok&#8221; (pondok kecil yang wangi).&#8221;</p>
<p>&#8220;Tahu begitu, mengapa nona tidak sejak tadi membawa kami langsung ke sana?&#8221; tanya Ciumoti dengan mendongkol.</p>
<p>&#8220;Kenapa mesti terburu-buru?&#8221; sahut A Pik. &#8220;Selama ini aku tiada teman mengobrol, rasanya terlalu sunyi. Kini kedatangan tamu sebanyak ini, sudah tentu aku ingin kalian suka tinggal barang sehari untuk meramaikan suasana pondokku ini.&#8221;</p>
<p>Sejak tadi Ko Gan-ci hanya diam saja. Kini mendadak ia berbangkit dan membentak, &#8220;Di mana tempat tinggal anggota keluarga Buyung? Kedatanganku ke sini bukan untuk minta makan dan minum serta mengobrol denganmu, tapi kami datang buat membunuh musuh. Sekali orang she Ko sudah berani datang kemari, memangnya aku pun tidak pikir akan keluar dari sini dengan hidup. Maka lekas kau laporkan sana, nona, katakan aku anak murid Kwa Pek-hwe dari Ko-san-pay, hari ini sengaja datang untuk menuntut balas sakit hati Suhuku.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, sekali ruyung menyabet, terdengarlah suara gedubrakan yang keras disertai hancurnya sebuah meja dan kursi.</p>
<p>Namun sedikit pun A Pik tidak kaget, juga tidak marah, katanya dengan tenang, &#8220;Sudah banyak orang Kangouw yang gagah perkasa datang hendak mencari Kongcu, setiap bulannya paling sedikit ada beberapa rombongan. Di antaranya banyak juga berlagak garang dan kasar seperti Ko-toaya ini &#8230;.&#8221;</p>
<p>Belum selesai ucapannya, tiba-tiba dari ruangan belakang muncul seorang kakek pendek kecil berjenggot dan berambut putih bagai perak, kakek itu membawa tongkat, sambil melangkah ia berkata, &#8220;A Pik, siapa yang lagi ribut-ribut di sini?&#8221;</p>
<p>Cepat Cui Pek-khe melompat bangun dan berdiri sejajar dengan Ko Gan-ci sambil membentak, &#8220;Suhengku Kwa Pek-hwe sebenarnya ditewaskan oleh siapa?&#8221;</p>
<p>Toan Ki melihat kakek itu rada bungkuk, mukanya penuh keriput, usianya kalau tiada seabad, paling sedikit juga lebih 80 tahun.</p>
<p>Maka terdengarlah kakek itu berkata dengan suara yang serak, &#8220;Kwa Pek-hwe? Ehm, manusia dapat hidup sampai Pek-hwe (seratus tahun), sudah tiba waktunya juga untuk mati!&#8221;</p>
<p>Memangnya Ko Gan-ci tidak sabar lagi dan ingin membalas sakit hati sang Suhu, kini mendengar kata-kata si kakek yang kasar itu, ia menjadi murka, sekali ruyung bekerja, terus saja ia sabet punggung kakek itu. Ia khawatir Ciumoti merintangi tindakannya, maka serangannya sengaja dilontarkan dari jurusan yang tak bisa dialangi padri itu.</p>
<p>Siapa duga Ciumoti cuma ulur sebelah tangan saja, seketika tangannya seperti timbul daya sedot, ruyung Ko Gan-ci itu kena ditariknya dari jauh. Lalu katanya, &#8220;Ko-tayhiap, kedatangan kita ini adalah tamu, ada urusan apa hendaknya dibicarakan secara baik-baik, jangan pakai kekerasan.&#8221;</p>
<p>Habis berkata ia remas-remas ruyung rampasannya itu hingga tergulung menjadi satu, lalu dikembalikan kepada Gan-ci.</p>
<p>Muka Ko Gan-ci menjadi merah jengah, ia kikuk apakah mesti menerima kembali senjatanya itu atau tidak. Tapi demi dipikir tujuan pokok adalah untuk menuntut balas, hinaan sementara waktu harus berani ditanggungnya. Maka dengan agak malu ia terima kembali ruyung itu.</p>
<p>Lalu Ciumoti berkata kepada si kakek, &#8220;Siapakah nama Sicu yang terhormat ini? Apakah masih famili dengan Buyung-siansing atau sahabatnya?&#8221;</p>
<p>Kakek itu tertawa, sahutnya, &#8220;Aku cuma seorang budak tua Kongcu saja, masakah punya nama terhormat segala? Kabarnya Thaysuhu adalah sobat baik mendiang Loya kami, entah ada keperluan apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Urusanku harus kukatakan langsung dengan Buyung-kongcu,&#8221; sahut Ciumoti.</p>
<p>&#8220;Tapi sayang, kemarin dulu Kongcu baru bepergian, entah kapan baru dapat pulang,&#8221; kata si kakek.</p>
<p>&#8220;Jika begitu, ke manakah Kongcu pergi?&#8221; tanya Ciumoti.</p>
<p>&#8220;Wah, aku lupa,&#8221; sahut kakek itu sambil ketok-ketok jidat sendiri. &#8220;Beliau seperti mengatakan hendak pergi ke negeri He atau Tayli, entah Turfan atau negeri mana lagi.&#8221;</p>
<p>Ciumoti kurang senang oleh jawaban itu, terang tidak mungkin seorang sekaligus mengunjungi negeri sebanyak itu, ia tahu budak tua ini sengaja berlagak pikun, maka katanya, &#8220;Jika demikian, aku pun tidak menunggu lagi pulangnya Kongcu, harap Koankeh (kepala pengurus rumah tangga) suka membawaku bersembahyang ke makam Buyung-siansing sekadar memenuhi kewajiban sebagai seorang sobat lama.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, permintaan ini tidak berani kuterima, aku pun bukan Koankeh apa segala,&#8221; sahut si kakek sambil goyang-goyang tangan.</p>
<p>&#8220;Jika begitu, siapakah gerangan Koankeh kalian? Dapatkah kutemui dia?&#8221; tanya Ciumoti.</p>
<p>&#8220;Ehm, baiklah, akan kupanggilkan Koankeh,&#8221; kata si kakek sambil mengangguk. Ia putar masuk ke belakang dengan langkah sempoyongan sebagaimana lazimnya orang tua sambil menggerundel panjang-pendek, &#8220;Ai, zaman ini memang terlalu banyak orang jahat, banyak yang menyamar Hwesio dan Tosu untuk menipu orang. Huh, orang tua seperti aku, pengalaman apa yang tak pernah kulihat, mana dapat aku ditipu!&#8221;</p>
<p>Mendengar itu, saking gelinya Toan Ki tertawa.</p>
<p>Sebaliknya lekas-lekas A Pik berkata kepada Ciumoti, &#8220;Thaysuhu, harap engkau jangan marah, Ui-pepek itu benar-benar seorang pikun. Ia mengira dirinya sendiri sangat pintar, kata-katanya memang menyakiti orang.&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu Cui Pek-khe lantas menarik Ko Gan-ci ke samping serta membisikinya, &#8220;Keledai gundul ini mengaku sebagai sobat orang she Buyung, tapi orang di sini jelas tidak pandang dia sebagai tamu terhormat. Ko-sutit, kita jangan sembarangan bertindak, biarlah kita lihat dulu apa yang akan terjadi.&#8221;</p>
<p>Ko Gan-ci mengiakan dan kembali ke tempatnya tadi. Tapi karena kursinya sendiri telah dihancurkan oleh sabetan ruyung, ia menjadi tidak punya tempat duduk lagi.</p>
<p>Maka dengan tersenyum ramah A Pik memberikan kursinya, katanya dengan tersenyum, &#8220;Harap Ko-toaya duduk di kursi ini!&#8221;</p>
<p>Gan-ci mengangguk puas, pikirnya, &#8220;Andaikan dapat kubunuh bersih antero anggota keluarga Buyung, paling sedikit dayang cilik ini akan kuampuni.&#8221;</p>
<p>Sementara itu hati Toan Ki sedang diliputi suatu tanda tanya yang aneh. Ketika si budak tua she Ui tadi masuk, diam-diam ia merasa ada sesuatu yang kurang beres. Tapi soal apa, ia sendiri pun tak bisa menjawab. Ia coba memerhatikan alat perabot ruangan itu, kemudian memandang A Pik, Ciumoti, Cui Pek-khe dan Ko Gan-ci, namun tiada sesuatu tanda mencurigakan yang dilihatnya. Anehnya nalurinya justru semakin merasa ada sesuatu yang tidak beres.</p>
<p>Tidak lama kemudian, terdengarlah suara tindakan orang, dari belakang muncul seorang laki-laki kurus setengah umur. Orang ini memiara jenggot macam jenggot kambing, gerak-geriknya menunjukkan seorang yang cekatan dan pandai mengatur rumah tangga, pakaiannya juga rajin, jari tengah kiri memakai sebuah cincin berbatu kemala yang besar. Agaknya inilah dia Koankeh keluarga Buyung.</p>
<p>Orang ini memberi hormat kepada tamu-tamunya dan berkata, &#8220;Hamba Sun Sam menyampaikan salam hormat kepada tuan-tuan sekalian. Thaysuhu, engkau bermaksud ziarah ke makam Loya kami, untuk mana kami menyatakan sangat berterima kasih. Tapi Kongcuya sedang bepergian, tiada orang yang dapat membalas kehormatan Thaysuhu nanti, hal ini kan kurang pantas. Biarlah kelak kalau Kongcuya pulang, pasti kusampaikan maksud baik Thaysuhu ini &#8230;.&#8221;</p>
<p>Sampai di sini, tiba-tiba Toan Ki mengendus semacam bau harum yang lembut. Seketika pikirannya tergerak, ia curiga, &#8220;Apakah mungkin demikian halnya?&#8221;</p>
<p>Kiranya tadi waktu si budak tua masuk ke situ, Toan Ki lantas mencium semacam bau wangi yang halus sedap. Bau harum ini lamat-lamat seperti bau harum yang teruar dari badan Bok Wan-jing, walaupun masih banyak perbedaannya, namun satu hal adalah pasti, yaitu bau wangi badan anak perawan.</p>
<p>Semula Toan Ki menyangka bau harum itu timbul dari badan A Pik, maka tidak menaruh perhatian. Tetapi sesudah budak tua itu pergi, bau wangi itu pun lenyap. Karena itulah maka timbul perasaan Toan Ki bahwa ada sesuatu yang kurang beres. Sebab mustahil badan seorang kakek tua bangka begitu bisa mengeluarkan bau harum anak perawan?&#8221;</p>
<p>Kemudian ketika Koankeh kurus yang mengaku bernama Sun Sam itu muncul, kembali Toan Ki mengendus bau harum yang sama, maka timbul pula pikirannya, &#8220;Barangkali di belakang rumah ini tertanam bunga apa-apa yang aneh, siapa saja yang keluar dari ruangan belakang tentu membawa bau harum yang mengguncangkan sukma itu. Kalau tidak, maka budak tua itu dan si kurus ini pastilah samaran kaum wanita.&#8221;</p>
<p>Meski bau wangi itu menimbulkan rasa curiga Toan Ki, tapi karena terlalu halus baunya, maka Ciumoti bertiga sedikit pun tidak tahu.</p>
<p>Sebabnya Toan Ki dapat membedakan bau harum yang halus itu adalah karena dahulu ia pernah disekap bersama Bok Wan-jing di dalam kamar batu oleh Jing-bau-khek alias Yan-king Taycu itu. Maka bau harum khas yang timbul dari badan anak perawan itu susah dirasakan orang lain, tapi bagi Toan Ki pengalaman dahulu itu sangat berkesan dan jauh lebih keras daripada bau harum segala macam wangi-wangian lainnya.</p>
<p>Meski ia mencurigai Sun Sam itu samaran wanita, tapi sesudah dipandang dan diamat-amati, toh tiada sesuatu tanda yang meyakinkan. Bukan saja gerak-gerik Sun Sam itu memang laku kaum laki-laki, bahkan mukanya dan suaranya juga persis seperti kaum laki-laki umumnya.</p>
<p>Tiba-tiba teringat oleh Toan Ki, &#8220;Kalau wanita menyamar sebagai lelaki, biji lehernya sekali-kali tak mungkin dipalsukan.&#8221;</p>
<p>Karena itu, ia coba memerhatikan leher Sun Sam, namun jenggot kambingnya itu tepat menjulur ke bawah dan menutupi leher hingga tidak kelihatan apakah ada biji leher atau tidak.</p>
<p>Toan Ki masih penasaran, ia berbangkit dan pura-pura menikmati lukisan yang tergantung di dinding sana, dari samping ia lalu melirik untuk mengincar leher Sun Sam.</p>
<p>Sekali ini dapat dilihatnya dengan jelas bahwa leher Sun Sam halus lurus tiada sesuatu yang menonjol. Ketika mengawasi dadanya pula, tampak dada Sun Sam itu montok. Walaupun tanda ini tidak dapat dipastikan sebagai tanda wanita, tapi seorang laki-laki kurus tidaklah lazim memiliki dada yang montok.</p>
<p>Dapat membongkar rahasia itu, Toan Ki merasa sangat senang, pikirnya, &#8220;Ini dia, sandiwaranya belum tamat, biarlah kuikuti terus permainannya.&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu terdengar Ciumoti sedang berkata dengan gegetun, &#8220;Dahulu aku berkenalan dengan Loya kalian di negeri Thian-tiok dan saling mengagumi ilmu silat masing-masing, di sanalah kami mengikat persahabatan yang kekal. Sungguh tidak nyana segala apa di dunia fana ini memang mudah berubah, orang bodoh seperti aku ini justru masih diberi hidup, sebaliknya Loya kalian malah sudah mendahului ke nirwana. Jauh-jauh aku sengaja datang dari Turfan untuk sekadar memberi hormat di hadapan makam sobat lama, soal ada orang membalas hormat atau tidak, mengapa mesti dipikirkan? Maka, haraplah Koankeh suka membawaku ke sana.&#8221;</p>
<p>Kening Sun Sam tampak bekernyit, agaknya merasa serbasalah, katanya, &#8220;Aku &#8230; aku &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Entah Koankeh merasakan ada kesulitan apa, silakan memberi penjelasan,&#8221; tanya Ciumoti.</p>
<p>&#8220;Watak Loya kami, sebagai sobatnya tentu Thaysuhu cukup tahu,&#8221; sahut Sun Sam. &#8220;Loya kami paling tidak suka ada orang berkunjung kepadanya, ia bilang orang yang datang mencarinya kalau bukan hendak menuntut balas dan membikin rusuh, tentu ingin mohon belajar dan menjadi muridnya. Yang lebih rendah lagi bisa juga datang untuk pinjam uang atau bila yang empunya rumah lengah, terus mencuri. Beliau mengatakan kaum Hwesio dan Nikoh lebih-lebih tak dapat dipercaya. Oo &#8230; maaf &#8230;.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba ia seperti sadar telah menyinggung perasaan Ciumoti, maka cepat ia tutup mulut.</p>
<p>Tingkah laku menutup mulut dengan tangan itu terang lazimnya dilakukan oleh kaum anak gadis, biji matanya yang hitam pekat mendelik itu pun mengerling sekejap. Meski hanya sekilas saja tingkah laku demikian, namun Toan Ki yang selalu menaruh perhatian itu dapat melihatnya, ia bertambah senang lagi, &#8220;Ha, Sun Sam ini bukan saja memang samaran orang perempuan, bahkan adalah seorang nona yang masih sangat muda.&#8221;</p>
<p>Ketika ia melirik A Pik, ia lihat ujung mulut gadis itu tersembul senyuman yang licik. Maka Toan Ki jadi lebih yakin lagi, pikirnya, &#8220;Sun Sam ini terang sama orangnya dengan si budak tua tadi. Bisa jadi dia ini Enci A Cu yang dikatakan itu.&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu Ciumoti sedang berkata, &#8220;Memang manusia baik-baik di dunia ini lebih sedikit daripada orang jahat. Maka kalau Buyung-siansing tidak suka banyak bergaul dengan khalayak ramai, itu pun jamak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, sebab itulah Loya kami meninggalkan pesan agar siapa pun yang datang hendak berziarah ke makamnya, semuanya harus ditolak,&#8221; tutur Sun Sam. &#8220;Beliau bilang para keledai gundul itu tidak nanti berniat baik, tentu bermaksud membongkar kuburannya. Ai, maaf Thaysuhu, keledai gundul yang dimaksudkan Loya kami itu sangat mungkin bukan ditujukan kepadamu.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Toan Ki geli oleh pertunjukan itu, ada pepatah &#8220;di hadapan Hwesio memaki keledai gundul&#8221;, sungguh sangat tepat. Pikirnya, &#8220;Keledai gundul ini tetap tidak marah sama sekali, semakin jahat dan semakin licik orangnya, semakin pandai dia berlaku sabar. Keledai gundul ini benar-benar bukan sembarangan orang.&#8221;</p>
<p>Malahan Ciumoti berkata lagi, &#8220;Apa yang dipesan Loya kalian itu memang ada benarnya juga. Pada masa hidupnya dahulu terlalu banyak mengikat permusuhan, waktu hidupnya musuh tidak berani padanya, sesudah beliau wafat, bukan mustahil ada yang berusaha membongkar jenazahnya untuk membalas dendam.&#8221;</p>
<p>&#8220;Berani mengincar jenazah Loya kami? Hahaha, jangan mimpi!&#8221; ujar Sun Sam dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Tapi aku adalah sobat baik Buyung-siansing, aku hanya ingin memberi hormat di depan makamnya dan tiada maksud lain, hendaklah Koankeh jangan berprasangka jelek,&#8221; kata Ciumoti.</p>
<p>&#8220;Sungguh hamba tidak berani mengambil keputusan, sebab bila pesan Loya dilanggar, nanti kalau Kongcu pulang dan mengetahui, bukan mustahil hamba akan mendapat ganjaran yang setimpal,&#8221; kata Sun Sam. &#8220;Begini sajalah, biarlah kumintakan keputusan Lothaythay, nanti kuberi tahukan lagi ke sini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lothaythay (nyonya besar)? Lothaythay yang mana?&#8221; tanya Ciumoti heran.</p>
<p>&#8220;Buyung-lothaythay adalah Enci daripada Loya kami,&#8221; sahut Sun Sam. &#8220;Setiap tamu yang berkunjung kemari kebanyakan menghadap untuk menjura dan menghormatinya. Kini Kongcu tidak di rumah, segala apa harus minta keputusan kepada Lothaythay.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah jika begitu,&#8221; kata Ciumoti. &#8220;Harap kau sampaikan kepada Lothaythay bahwa Ciumoti dari Turfan menyampaikan salam hormat kepada beliau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, engkau sangat baik, terima kasih, tentu akan kusampaikan,&#8221; sahut Sun Sam. Lalu masuklah dia ke belakang.</p>
<p>Diam-diam Toan Ki membatin, &#8220;Nona ini sangat licin dan kocak, entah apa maksud tujuannya mempermainkan keledai gundul Ciumoti ini?&#8221;</p>
<p>Selang tidak lama, terdengarlah suara keriang-keriut orang berjalan, dari dalam muncul seorang nenek. Belum tiba orangnya bau harum yang sedap halus tadi sudah tercium oleh Toan Ki, diam-diam ia geli, &#8220;Hah, sekali ini dia menyamar sebagai nyonya tua.&#8221;</p>
<p>Tertampak nyonya tua itu memakai Kun (gaun) sutra warna cokelat, tangan memakai gelang kemala, gelung rambutnya berhias aneka mutiara permata, dandanannya agung terhormat, mukanya sudah keriput, matanya lamat-lamat seperti sudah kurang penglihatannya. Mau tak mau Toan Ki harus memuji dalam hati akan kepandaian menyamar orang, bukan saja samarannya sangat persis, bahkan dapat dilakukan dalam waktu singkat.</p>
<p>Begitulah sambil beringsut-ingsut dengan tongkatnya nyonya tua itu berjalan ke tengah ruangan, lalu berkata, &#8220;A Pik, apakah sobat baik mendiang datang? Kenapa dia tidak menjura padaku?&#8221;</p>
<p>Sembari berkata, kepalanya tampak menoleh ke sana-sini seperti lazimnya orang tua yang sudah pikun dan kurang penglihatannya.</p>
<p>A Pik memberi tanda kepada Ciumoti dan membisikinya, &#8220;Lekas menjura! Sekali engkau sudah menjura, Lothaythay tentu akan senang dan segala permintaanmu mungkin akan diluluskan.&#8221;</p>
<p>Nyonya tua itu lantas miringkan kepalanya, tangannya terangkat di tepi telinga seperti orang sedang mendengarkan sesuatu, lalu tanya keras-keras, &#8220;A Pik, kau bicara dengan siapa? Orang sudah menjura belum?&#8221;</p>
<p>Maka berkatalah Ciumoti, &#8220;Lothaythay, baik-baikkah engkau? Siauceng memberikan salam hormat.&#8221;</p>
<p>Lalu ia membungkuk memberi hormat, berbareng kedua tangan mengerahkan tenaga hingga terdengar suara &#8220;dak-duk&#8221; seperti kepala orang membentur lantai bila bersujud.</p>
<p>Cui Pek-khe saling pandang dengan Ko Gan-ci, diam-diam mereka terkesiap oleh tenaga dalam si Hwesio yang hebat itu, kalau bertanding, sudah pasti mereka berdua tidak mampu menangkis satu jurus serangannya.</p>
<p>Sementara itu si nyonya tua lagi manggut-manggut dan berkata, &#8220;Baik, baik, sangat baik! Orang jahat di zaman ini memang terlalu banyak, jarang sekali ada orang jujur. Umpama orang menyembah sengaja membikin lantai bersuara dak-duk untuk mengelabui pandanganku yang sudah berkurang ini. Ehm, kau ini sangat baik, sangat penurut, keras sekali caramu menyembah ya.&#8221;</p>
<p>Saking gelinya tak tertahan lagi Toan Ki tertawa mengakak.</p>
<p>Perlahan nyonya tua itu menoleh dan mendengarkan dengan pandangan yang riyap-riyip, tanyanya, &#8220;A Pik, suara apa tadi? Apa ada orang kentut?&#8221;</p>
<p>Sambil berkata, ia terus mengipas-ngipas di depan hidungnya.</p>
<p>&#8220;Bukan orang kentut, Lothaythay,&#8221; sahut A Pik dengan menahan tawa. &#8220;Tapi Toan-kongcu ini lagi tertawa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Toan? Apanya yang putus?&#8221; tanya si nenek.</p>
<p>&#8220;Bukan Toan arti putus, Lothaythay, tapi orang she Toan, Kongcu keluarga Toan,&#8221; sahut A Pik menerangkan.</p>
<p>&#8220;Ehm, Kongcu terus-menerus, yang selalu kau ingat hanya Kongcu saja,&#8221; ujar si nenek sambil manggut-manggut.</p>
<p>&#8220;Lothaythay sendiri masakah tidak selalu terkenang pada Kongcuya?&#8221; sahut A Pik dengan muka agak merah.</p>
<p>&#8220;Apa katamu? Kongcuya ingin makan jenang?&#8221; tanya si nenek.</p>
<p>&#8220;Ya, Kongcuya ingin makan jenang, bahkan lebih suka engkau punya kue mangkuk,&#8221; sahut si A Pik.</p>
<p>Sudah tentu Toan Ki mengerti percakapan bercabang kedua orang itu, maka ia jadi lebih yakin lagi si nenek itu pasti samaran si A Cu.</p>
<p>Kemudian nenek itu memandang ke arah Toan Ki dan berkata, &#8220;Berhadapan dengan orang tua, mengapa kau tidak menjura?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lothaythay,&#8221; sahut Toan Ki. &#8220;Ada sesuatu ingin kubicarakan denganmu, tapi tidak enak bila didengar orang lain.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau bilang apa?&#8221; tanya si nenek sambil menjulurkan kepalanya ke depan.</p>
<p>&#8220;Begini,&#8221; kata Toan Ki. &#8220;Di rumahku ada seorang keponakan perempuan kecil, namanya A Cu, ia pesan padaku agar menyampaikan beberapa patah kata kepada Lothaythay keluarga Buyung.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, sembrono, sungguh sembrono!&#8221; berulang si nenek menggeleng kepala.</p>
<p>Namun Toan Ki melanjutkan pula dengan tertawa, &#8220;Keponakanku si A Cu itu memang sembrono dan nakal. Dia suka menyaru seperti monyet, hari ini menyaru monyet jantan, besok menyamar monyet betina, malahan pintar main sulap segala. Tapi sering kutangkap dia dan kuhajar bokongnya.&#8221;</p>
<p>Kiranya si nenek ini memang benar samaran si A Cu, teman A Pik. Kepandaiannya menyamar memang pintar luar biasa, bukan saja wujudnya mirip, bahkan tutur kata dan gerak-geriknya dapat menirukan dengan tepat dan bagus tanpa cacat sedikit pun. Sebab itulah maka orang sepintar Ciumoti dan sepengalaman Cui Pek-khe juga kena dikelabui. Siapa duga dari bau harum yang teruar dari badannya itulah rahasianya dapat dibongkar oleh Toan Ki.</p>
<p>Keruan saja A Cu sangat terkejut, namun lahirnya ia tetap tenang saja, katanya kemudian, &#8220;Anak baik, sungguh pintar sekali kau, belum pernah kulihat anak secerdik engkau ini. Anak baik jangan usil, nanti nenek tentu memberikan kebaikan padamu.&#8221;</p>
<p>Toan Ki pikir di balik kata-kata orang terang meminta agar dia jangan membuka rahasianya, karena tujuannya adalah untuk melayani si keledai gundul Ciumoti.</p>
<p>Karena pikiran demikian, Toan Ki lantas menjawab, &#8220;Lothaythay jangan khawatir, sekali Cayhe sudah datang di sini, segala apa aku tentu menurut perintah Lothaythay.&#8221;</p>
<p>Dasar A Cu itu memang sangat nakal, segera katanya pula, &#8220;Bagus, anak baik, kau benar-benar anak penurut sekali. Nah, sekarang lekas menjura tiga kali kepada nenek, pasti nenek nanti takkan bikin rugi padamu.&#8221;</p>
<p>Toan Ki melengak. Kurang ajar, pikirnya, masakah seorang putra pangeran yang diagungkan dari negeri Tayli disuruh menjura kepada budak kecil?</p>
<p>Melihat sikap Toan Ki ragu-ragu dan serbasusah, A Cu tertawa dingin, katanya, &#8220;Ada manusia yang sudah dekat ajalnya, tapi masih sombong dan angkuh. Anak baik, ingin kukatakan padamu, pasti takkan merugikanmu jika menjura beberapa kali kepada nenekmu ini.&#8221;</p>
<p>Ketika Toan Ki berpaling, ia lihat A Pik dengan bersenyum simpul sedang melirik padanya, kulit badannya yang putih bersih itu bagai buah manggis segar yang baru dibuka, ujung mulutnya terdapat setitik andeng-andeng kecil menambah kecantikannya yang menggiurkan. Hati Toan Ki tergerak, segera ia tanya A Pik, &#8220;Katamu masih mempunyai seorang teman Enci A Cu. Apakah dia &#8230; dia secantik molek engkau?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, rupaku yang jelek melebihi siluman ini mana berani kubandingkan Enci A Cu,&#8221; sahut A Pik dengan tersenyum. &#8220;Rupaku ini masih belum masuk hitungan, kalau Enci A Cu mendengar pertanyaanmu ini, pasti dia akan marah. Ketahuilah bahwa Enci A Cu itu berpuluh kali lebih ayu daripadaku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa betul?&#8221; Toan Ki menegas.</p>
<p>&#8220;Guna apa aku mendustai kau?&#8221; sahut A Pik tertawa.</p>
<p>&#8220;Berpuluh kali lebih cantik daripadamu, di dunia ini kukira tidak ada lagi,&#8221; ujar Toan Ki. &#8220;Ya, kecuali &#8230; kecuali si dewi di dalam gua, secantik dirimu saja sukar dicari orangnya.&#8221;</p>
<p>Wajah A Pik menjadi kemerah-merahan, katanya dengan malu-malu kucing, &#8220;Kau disuruh menjura kepada Lothaythay, tidak perlu memuji-muji diriku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, pada masa mudanya Lothaythay pasti juga seorang wanita mahacantik,&#8221; kata Toan Ki pula. &#8220;Bicara terus terang, soal rugi atau tidak kepadaku sama sekali tidak kupikirkan, tapi disuruh menjura kepada wanita mahacantik, aku benar-benar suka dan rela.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, benar saja ia terus berlutut sambil membatin, &#8220;Sekali sudah mau menjura, maka harus yang keras. Memangnya aku sudah pernah menjura beratus kali kepada patung dewi di dalam gua itu, apa alangannya kalau kini cuma menjura tiga kali kepada wanita cantik di Kanglam?&#8221;</p>
<p>Lalu ia pun menjura tiga kali hingga kepalanya membentur lantai.</p>
<p>Dalam hati A Cu sangat girang, pikirnya, &#8220;Kongcuya ini terang sudah tahu kalau aku cuma seorang pelayan, tapi sudi menjura padaku, sungguh susah dicari orangnya.&#8221;</p>
<p>Maka katanya kemudian, &#8220;Ehm, anak baik, pintar sekali kau. Cuma sayang aku tidak membawa uang receh untuk jajanmu &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudahlah, asal Lothaythay jangan lupa, berilah lain kali bila ketemu lagi,&#8221; sela A Pik tiba-tiba.</p>
<p>A Cu melotot sekali pada kawan itu, lalu ia berpaling dan berkata kepada Cui Pek-khe dan Ko Gan-ci, &#8220;Dan kedua tamu ini mengapa tidak menjura juga kepada nenek?&#8221;</p>
<p>Gan-ci mendengus dengan gusar, serunya keras-keras, &#8220;Kau bisa ilmu silat atau tidak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh, kau bilang apa?&#8221; A Cu menegas.</p>
<p>&#8220;Kutanya kau bisa ilmu silat atau tidak?&#8221; Gan-ci mengulangi. &#8220;Jika berilmu silat tinggi, biarlah orang she Ko ini terima kematian di bawah tangan Lohujin (nyonya tua). Tapi kalau bukan orang persilatan, aku pun tidak perlu banyak omong denganmu.&#8221;</p>
<p>A Cu menggeleng kepala, katanya berlagak pilon, &#8220;Kau berkata tentang ulat atau lalat apa segala. Ulat tidak ada di sini, kalau lalat sih banyak. Idiiiih kotor ah!&#8221;</p>
<p>Lalu ia pun berpaling kepada Ciumoti, &#8220;Toahwesio, katanya engkau hendak membongkar kuburan Buyung-siansing, memangnya engkau ingin mencuri benda mestika apa di kuburannya?&#8221;</p>
<p>Ciumoti sudah dapat melihat juga bahwa nenek itu berlagak sangat pikun dan pura-pura tuli, cuma ia belum tahu A Cu sebenarnya adalah seorang gadis cilik yang menyaru sebagai seorang tua. Maka diam-diam ia bertambah waspada, ia pikir, &#8220;Buyung-siansing saja sudah begitu lihai, angkatan tua di rumahnya tentu lebih-lebih hebat lagi.&#8221;</p>
<p>Maka ia sengaja pura-pura tidak dengar tentang pertanyaan tadi, tapi menjawab, &#8220;Siauceng adalah sobat baik Buyung-siansing, karena mendengar berita wafatnya, jauh-jauh dari negeri Turfan datang kemari memberi hormat padanya. Waktu almarhum masih hidup, Siauceng pernah berjanji akan mengambilkan gambar Lak-meh-sin-kiam-boh dari keluarga Toan di Tayli untuk dipersembahkan kepada Buyung-siansing. Selama janji itu belum terpenuhi, sungguh Siauceng merasa sangat malu.&#8221;</p>
<p>Mendengar kata-kata &#8220;Lak-meh-sin-kiam-boh&#8221;, seketika A Cu terkesiap. Ia tahu ilmu silat itu bukan sembarangan, dirinya juga belum lama dapat mendengar dari Kongcuya. Ia saling pandang sekejap dengan A Pik dan sama-sama berpikir si Hwesio itu sudah mulai bicara acara pokoknya.</p>
<p>Maka sahut A Cu, &#8220;Ada apa tentang Lak-meh-sin-kiam-boh segala?&#8221;</p>
<p>&#8220;Begini,&#8221; tutur Ciumoti. &#8220;Dahulu Buyung-siansing berjanji padaku asal dapat mengambilkan Lak-meh-sin-kiam-boh untuk dibacanya barang beberapa hari, sebagai timbal baliknya beliau membolehkan kubaca kitab-kitabnya beberapa hari di pondok &#8216;Lang-goan-cui-kok&#8217; di kediaman kalian ini.&#8221;</p>
<p>A Cu terkejut, ternyata padri asing itu kenal nama &#8220;Lang-goan-cui-kok&#8221; atau pondok air indah, mungkin apa yang dikatakan itu memang benar-benar adanya. Tetapi ia tetap berlagak pilon dan tanya pula, &#8220;Kau bilang &#8216;Lang-goan-cui-kok&#8217; apa? O, kau kepingin makan kue mangkuk? Itulah mudah, di rumah kami selalu sedia kue mangkuk.&#8221;</p>
<p>Ciumoti benar-benar kewalahan, ia berpaling dan berkata kepada A Pik, &#8220;Lothaythay ini entah benar-benar sudah pikun atau cuma berlagak pilon. Yang terang sekarang berbagai tokoh dari aliran persilatan di Tionggoan sedang berkumpul di Siau-lim-si untuk berunding cara bagaimana menghadapi Buyung-si dari Koh-soh sini. Mengingat Siauceng pernah bersahabat dengan Buyung-siansing maka sebenarnya bermaksud mencurahkan sedikit tenagaku yang tak berarti itu untuk membantunya. Tapi Lothaythay sedemikian sikapnya, sungguh membikin hati orang menjadi dingin.&#8221;</p>
<p>A Cu sama sekali tidak gubris ucapannya itu, ia malah berseru kepada A Pik, &#8220;He, A Pik, kau dengar tidak, hati Toahwesio ini kedinginan, lekaslah kau membuatkan kue mangkuk yang hangat-hangat untuknya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Gulanya belum beli, Lothaythay,&#8221; sahut A Pik dengan menahan geli.</p>
<p>&#8220;Pakailah gula batu,&#8221; kata A Cu.</p>
<p>&#8220;Tepungnya habis, Lothaythay!&#8221; sahut A Pik pula.</p>
<p>&#8220;Wah, aku benar-benar sudah pikun, lantas bagaimana baiknya?&#8221; ujar A Cu akhirnya.</p>
<p>Dasar anak gadis Sohciu memang terkenal lincah dan pintar bicara, pula kedua dayang cilik ini sehari-hari sudah biasa bergurau dan saling berolok-olok, keruan tingkah laku mereka ini membuat Ciumoti benar-benar mati kutu.</p>
<p>Maksud kedatangannya ke Sohciu ini memangnya berharap dapat berjumpa dengan Buyung-kongcu untuk berunding sesuatu urusan penting. Siapa duga orang yang dicari tidak ada, sebaliknya masih bertemu dengan orang-orang yang mengoceh tak keruan hingga membuatnya bingung.</p>
<p>Namun Tay-lun-beng-ong ini memang tokoh yang hebat, sedikit berpikir, segera ia yakin Buyung-lothaythay, Sun Sam, si budak tua dan A Pik itu telah sengaja merintanginya agar tidak dapat masuk perpustakaan &#8220;Lang-goan-cui-kok&#8221; untuk membaca.</p>
<p>Kini tidak peduli lagi mereka berlagak apa pun juga, asalkan sudah ketemukan kata-kata tepat, kelak apakah mesti pakai kekerasan atau secara halusan, dirinya sendiri sudah lebih dulu di pihak yang benar.</p>
<p>Maka dengan sabar dan ramah ia pun berkata, &#8220;Lukisan Lak-meh-sin-kiam-boh itu sekarang juga sudah kubawa. Sebab itulah kumohon dapat diperkenankan pergi membaca ke &#8216;Lang-goan-cui-kok&#8217;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Buyung-siansing sudah wafat kini,&#8221; kata A Pik. &#8220;Pertama janji lisan itu tak ada bukti. Kedua, meski Kiam-boh itu sudah dibawa kemari, tapi tiada seorang pun di antara kami yang paham. Maka sekalipun dahulu ada perjanjian apa-apa, dengan sendirinya batal.&#8221;</p>
<p>Namun A Cu lantas berkata, &#8220;Kiam-boh apakah itu? Di mana? Coba kulihat dulu apakah tulen atau palsu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Toan-kongcu ini telah hafal seluruh lukisan Lak-meh-sin-kiam-boh itu,&#8221; sahut Ciumoti sambil menunjuk Toan Ki. &#8220;Kini kubawanya kemari, sama saja seperti kubawa gambar-gambar aslinya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Huh, kukira Kiam-boh apa segala, rupanya Thaysuhu cuma bergurau saja,&#8221; jengek A Pik.</p>
<p>&#8220;Siauceng mana berani bergurau?&#8221; sahut Ciumoti sungguh-sungguh. &#8220;Lak-meh-sin-kiam-boh yang asli itu telah dibakar Koh-eng Taysu di Thian-liong-si, syukur Toan-kongcu ini dapat menghafalkan seluruh isinya dengan baik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sekalipun Toan-kongcu benar-benar hafal, itu pun adalah urusan Toan-kongcu sendiri,&#8221; ujar A Pik. &#8220;Dan andaikan perlu pergi ke Lang-goan-cui-kok, yang benar juga Toan-kongcu yang pantas ke sana. Apa sangkut pautnya dengan Taysu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk memenuhi janjiku dahulu itu, ingin kubakar Toan-kongcu ini di hadapan makam Buyung-siansing,&#8221; kata Ciumoti.</p>
<p>Keruan Semua orang terperanjat. Tapi melihat sikap padri itu sungguh-sungguh dan sekali-kali bukan berkelakar, kejut mereka menjadi lebih hebat.</p>
<p>Maka berkatalah A Cu, &#8220;Hah, bukankah Taysu ini sedang bergurau? Masakah orang baik-baik akan kau bakar hidup-hidup?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, Siauceng hendak membakarnya, rasanya ia pun takkan mampu membangkang,&#8221; sahut Ciumoti dengan tawar.</p>
<p>Segera A Pik berkata pula, &#8220;Taysu bilang Toan-kongcu telah hafal isi Lak-meh-sin-kiam-boh, jelas alasanmu ini sengaja dicari-cari saja. Pikirlah betapa lihai ilmu Lak-meh-sin-kiam itu, kalau benar-benar Toan-kongcu mahir ilmu pedang sakti itu, masakah dia bisa dikalahkan olehmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, benar juga ucapanmu ini,&#8221; sahut Ciumoti. &#8220;Tapi nona cuma tahu kepalanya tidak tahu ekornya. Toan-kongcu ini telah kututuk Hiat-to kelumpuhannya, antero tenaga dalamnya tak dapat dikeluarkannya.&#8221;</p>
<p>Namun A Cu masih menggeleng kepala, katanya, &#8220;Lebih-lebih aku tidak percaya pada alasanmu ini. Untuk membuktikan kebenarannya, coba kau buka Hiat-to Toan-kongcu dan suruhlah dia memainkan Lak-meh-kiam-hoat itu. Tapi kuyakin 99% engkau pasti bohong.&#8221;</p>
<p>Ciumoti manggut-manggut, sahutnya, &#8220;Baiklah, boleh juga dicoba!&#8221;</p>
<p>Kiranya waktu datang tadi, karena kesengsem oleh kecantikan A Pik, pula sangat tertarik oleh nyanyiannya yang merdu, maka Toan Ki telah memberi pujian kepada dayang itu. Kemudian Toan Ki sudi pula menjura tiga kali kepada A Cu, hal ini pun memperoleh simpatik dayang ini. Maka demi mendengar Toan Ki tertutuk oleh Ciumoti, segera kedua dayang cilik itu sengaja menipu padri itu supaya melepaskan Hiat-to Toan Ki.</p>
<p>Tak tersangka permintaan mereka itu telah diterima begitu saja oleh Ciumoti. Segera padri itu menepuk beberapa kali dada, paha dan pundak lalu Toan Ki hingga jalan darahnya lancar kembali, sedikit Toan Ki mengerahkan hawa murninya, terasalah bergerak dengan sempurna.</p>
<p>Ia coba menjalankan tenaga menurut Tiong-ciong-kiam-hoat dari Lak-meh-sin-kiam itu, ia tarik tenaga dalamnya ke Tiong-ciong-hiat di jari tengah kanan, maka terasalah jari itu sangat panas, ia tahu asal sekali jarinya menuding ke depan, jadilah sejurus tusukan pedang yang lihai.</p>
<p>&#8220;Toan-kongcu,&#8221; demikian Ciumoti lantas berkata, &#8220;Buyung-lothaythay tidak percaya engkau sudah mahir Lak-meh-sin-kiam, maka silakan engkau mempertunjukkannya. Begini, seperti aku menebas sebatang ranting pohon ini.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, dengan telapak tangan kiri ia terus memotong miring ke depan dengan penuh tenaga dalam yang hebat. Itulah satu jurus yang lihai dari &#8220;Hwe-yam-to&#8221;.</p>
<p>Maka terdengarlah suara &#8220;krak&#8221; sekali, sebatang ranting pohon yang cukup besar dan berada di pelataran sana tahu-tahu telah patah sendiri.</p>
<p>Saking kagetnya sampai Cui Pek-khe dan Ko Gan-ci menjerit. Meski sebelumnya mereka tahu Kungfu padri asing itu sangat lihai lagi aneh, tapi mereka percaya paling-paling juga cuma sebangsa ilmu sihir dari kalangan hitam. Tapi kini demi menyaksikan betapa tinggi Lwekangnya yang digunakan untuk menebas ranting pohon dari jauh itu, barulah mereka sadar telah salah sangka.</p>
<p>Maka Toan Ki berkata sambil menggoyang kepala, &#8220;Tidak, aku tidak bisa ilmu silat apa-apa, lebih-lebih tidak tahu tentang Lak-meh atau Cit-meh-kiam-hoat segala. Batang pohon yang indah itu kenapa kau rusak tanpa sebab?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa Toan-kongcu mesti merendah diri,&#8221; sahut Ciumoti. &#8220;Di antara jago-jago Toan-si di Tayli, engkaulah tokoh nomor satu. Di dunia ini kecuali Buyung-kongcu dan aku si Hwesio mungkin tiada seberapa orang lagi yang mampu menandingimu. Tapi keluarga Buyung di Koh-soh ini adalah gudangnya ilmu silat di dunia ini, bila kau mau pertunjukkan beberapa jurus, bila ada kesalahan, boleh jadi Lothaythay nanti akan memberi petunjuk seperlunya, bukankah hal ini akan menguntungkanmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Toahwesio, sepanjang jalan kau perlakukan aku dengan kasar, kau banting dan menyeret aku ke sini, untuk itu aku terima saja diperlakukan sesukamu karena aku bukan tandinganmu. Sebenarnya aku tidak sudi bicara denganmu, namun setiba di sini, aku telah dapat menikmati pemandangan indah dengan gadis-gadisnya yang cantik, maka rasa dendamku padamu menjadi terhapus juga. Maka untuk selanjutnya hubungan kita kuputuskan sampai di sini, masing-masing tidak perlu saling urus.&#8221;</p>
<p>Diam-diam A Pik dan A Cu merasa geli oleh ketolol-tololan Toan Ki itu. Tapi demi mendengar mereka dipuji cantik, betapa pun mereka sangat senang.</p>
<p>Lalu Ciumoti berkata, &#8220;Kongcu tidak sudi mengunjukkan Lak-meh-sin-kiam, bukankah itu berarti omonganku tadi cuma bualan belaka?&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya mulutmu tidak bisa dipercaya,&#8221; sahut Toan Ki. &#8220;Jikalau benar engkau ada janji dengan Buyung-siansing, mengapa tidak dulu-dulu mengambil Kiam-boh ke Tayli, tapi menunggu setelah Buyung-siansing meninggal, sesudah tiada saksi, baru kau bikin rusuh ke sini.</p>
<p>&#8220;Hm, kulihat engkau sebenarnya mempunyai maksud tertentu, kau kagum pada ilmu silat keluarga Buyung yang hebat, maka sengaja mengarang dongeng yang susah dipercaya untuk menipu Lothaythay, tujuanmu sebenarnya ingin mengintip kitab pusaka ajaran silat di kamar perpustakaan keluarga Buyung ini, dengan begitu engkau akan merajai dunia persilatan.</p>
<p>&#8220;Tapi, hah, Ciumoti, kenapa tidak kau pikir, bahwa nama orang sedemikian gemilangnya di dunia persilatan, masakah tidak tahu akalmu yang licik ini? Bila cuma mengandalkan sedikit ocehanmu ini lantas kau kira rahasia ilmu silat keluarga Buyung dapat kau tipu, wah, mungkin setiap orang di dunia ini bisa menjadi penipu ulung.&#8221;</p>
<p>Namun Ciumoti ternyata menggeleng-geleng kepala, katanya, &#8220;Tafsiran Toan-kongcu salah besar. Meski sudah lama ada janjiku dengan Buyung-siansing, soalnya karena selama ini Siauceng sedang menyepi untuk meyakinkan &#8216;Hwe-yam-to&#8217;, sudah sembilan tahun Siauceng tidak pernah keluar rumah, maka tidak sempat pula mengunjungi Tayli. Bila &#8216;Hwe-yam-to&#8217; itu tidak berhasil kuyakinkan, mungkin Siauceng tak dapat keluar lagi dari Thian-liong-si dengan selamat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Toahwesio,&#8221; kata Toan Ki pula, &#8220;bicara tentang nama, engkau memang sudah terkenal. Tentang kedudukan, engkau adalah Hou-kok-hoat-ong negeri Turfan, ilmu silatmu pun sudah sekian tingginya. Tapi mengapa engkau tidak mau hidup tenteram di rumah dengan kedudukanmu yang agung itu, sebaliknya malah datang ke sini untuk menipu orang? Kupikir lebih baik engkau lekas pulang saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudahlah, tak perlu banyak omong, bila Kongcu tidak sudi unjuk Lak-meh-sin-kiam, janganlah menyalahkan bila Siauceng berlaku kasar,&#8221; kata Ciumoti dongkol.</p>
<p>&#8220;Kasar? Engkau memangnya sudah kasar padaku, masakah masih ada pula yang lebih kasar?&#8221; sahut Toan Ki dengan gusar. &#8220;Ya, paling-paling sekali bacok kau matikan aku, kenapa aku takut?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kongcu mau menurut kata-kata Siauceng atau tidak?&#8221; Ciumoti menegas pula.</p>
<p>&#8220;Ya, boleh,&#8221; sahut Toan Ki.</p>
<p>Ciumoti menjadi girang, katanya, &#8220;Jika begitu, silakan unjukkan ilmu pedangmu yang sakti itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ilmu pedang sakti? Apa kau bawa pedang? Boleh dipinjamkan padaku,&#8221; sahut Toan Ki.</p>
<p>Sungguh dongkol Ciumoti tidak kepalang. Serunya tidak sabar lagi, &#8220;Rupanya Kongcuya sengaja hendak menghinaku, ya? Awas serangan!&#8221;</p>
<p>Berbareng telapak tangan kirinya terangkat miring terus memotong ke muka Toan Ki dengan tenaga yang kuat.</p>
<p>Namun Toan Ki sudah ambil keputusan bandel. Ia tahu ilmu silat orang teramat tinggi, bertempur atau tidak tetap dirinya tak bisa menang. Maksud padri itu ingin dirinya memainkan Lak-meh-sin-kiam untuk membuktikan ucapannya bukan bualan belaka, maka ia justru tidak sudi memenuhi keinginan orang. Ketika serangan Ciumoti itu tiba, dengan nekat Toan Ki sama sekali tidak menghindar, juga tidak menangkis.</p>
<p>Keruan Ciumoti menjadi kaget malah. Sudah pasti ia akan membakar Toan Ki di depan kuburan Buyung-siansing, maka ia tidak ingin membunuhnya sekarang dengan tenaga dalam serangannya itu. Cepat ia angkat tangan sedikit ke atas, &#8220;sret&#8221;, serangkum angin tajam menyambar lewat di atas kepala Toan Ki hingga secomot rambutnya terkupas.</p>
<p>Cui Pek-khe saling pandang dengan Ko Gan-ci dengan terperanjat. Begitu pula A Pik dan A Cu tidak kurang kejutnya menyaksikan ilmu sakti padri itu.</p>
<p>&#8220;Apakah Toan-kongcu lebih suka korbankan jiwa daripada memenuhi permintaan Siauceng?&#8221; tanya Ciumoti.</p>
<p>Toan Ki memang sudah tidak pikirkan mati atau hidup lagi, maka sahutnya dengan tertawa, &#8220;Haha, Toahwesio sama sekali belum hilang dari segala macam pikiran duniawi, mana ada harganya disebut sebagai padri saleh. Huh, hanya nama kosong belaka.&#8221;</p>
<p>Ciumoti tidak meladeni ocehan Toan Ki lagi, tapi mendadak serangannya ditujukan kepada A Pik sambil berkata, &#8220;Maaf, terpaksa kukorbankan dulu seorang budak keluarga Buyung ini!&#8221;</p>
<p>Sungguh kaget A Pik tak terkatakan oleh serangan mendadak itu, cepat ia berkelit, &#8220;brak&#8221;, kursi di belakangnya seketika hancur berkeping-keping oleh tenaga pukulan Ciumoti. Bahkan golok tangan kanan Ciumoti menyusul memotong pula.</p>
<p>Syukurlah A Pik sempat jatuhkan diri ke lantai dan menggelundung ke samping dengan cepat, namun begitu keadaannya pun sangat mengenaskan.</p>
<p>Pada saat lain, mendadak Ciumoti menggertak sekali, golok tangan untuk ketiga kalinya membacok lagi.</p>
<p>Saking takutnya sampai muka A Pik menjadi pucat, meski gerak-geriknya sangat cepat, tapi ia bingung juga menghadapi bacokan tenaga dalam yang tak kelihatan itu.</p>
<p>Hubungan A Cu dengan A Pik bagai saudara sekandung, melihat kawannya terancam bahaya, tanpa pikir lagi A Cu terus angkat tongkatnya dan menghantam punggung Ciumoti.</p>
<p>Dalam samarannya baik jalannya maupun bicaranya, lagak-lagu A Cu memang mirip benar seorang nenek reyot. Tapi kini dalam keadaan gugup dan buru-buru, gerak tubuhnya menjadi sangat gesit dan cepat sekali.</p>
<br />Posted in Jin Yong, Pendekar Kerajaan Tayli  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toanki.wordpress.com/1801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toanki.wordpress.com/1801/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toanki.wordpress.com/1801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toanki.wordpress.com/1801/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toanki.wordpress.com/1801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toanki.wordpress.com/1801/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toanki.wordpress.com/1801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toanki.wordpress.com/1801/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toanki.wordpress.com/1801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toanki.wordpress.com/1801/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toanki.wordpress.com/1801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toanki.wordpress.com/1801/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toanki.wordpress.com/1801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toanki.wordpress.com/1801/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1801&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-17/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b75e221c0eee4ff517b26695a19675fc?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">Lenghou Tiong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 16</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-16/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-16/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 04:26:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1798</guid>
		<description><![CDATA[Tempat yang berkedut-kedut seperti diterobos tikus itu tercatat sebagai &#8220;Hwe-cong-hiat&#8221; pada lukisan itu. Waktu ia melirik sang paman, terlihat Po-ting-te sedang memerhatikan gambar Siau-yang-keng yang khusus harus dilatihnya dan tergantung di depannya itu, jari manis sang paman tampak sedang bergerak perlahan. Toan Ki coba mengikuti tanda-tanda yang tercatat di atas gambar itu. Aneh juga, karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1798&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tempat yang berkedut-kedut seperti diterobos tikus itu tercatat sebagai &#8220;Hwe-cong-hiat&#8221; pada lukisan itu. Waktu ia melirik sang paman, terlihat Po-ting-te sedang memerhatikan gambar Siau-yang-keng yang khusus harus dilatihnya dan tergantung di depannya itu, jari manis sang paman tampak sedang bergerak perlahan.</p>
<p><span id="more-1798"></span>Toan Ki coba mengikuti tanda-tanda yang tercatat di atas gambar itu. Aneh juga, karena pikirannya dicurahkan untuk mengikuti garis-garis yang menghubungkan Hiat-to satu dan lain menurut gambar, sekonyong-konyong hawa murni dalam tubuhnya ikut berjalan menurut perasaannya, mula-mula hawa itu timbul dari lengan naik ke atas bahu dan terus mengalir ke pundak.</p>
<p>Dan meski cuma sedikit hawa murni itu teralir, namun rasa Toan Ki yang mual tadi lantas longgar. Nyata tanpa sengaja ia telah tarik hawa murni itu ke urat nadi Sam-jiu. Tetapi karena cara menjalankan hawa murni itu sebenarnya semacam Lwekang yang sangat tinggi, Toan Ki tidak paham seluk-beluknya secara tepat, baru sebentar ia kerahkan tenaganya, seketika ia menjerit. Untunglah sebelum hawa dalam badan itu tersesat, karena mendengar teriakannya, segera Po-ting-te bertanya, &#8220;Kenapa Ki-ji?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dalam badanku terasa penuh terisi hawa yang bergolak dan menerjang kian kemari, rasanya sangat menderita, waktu kuikut garis-garis merah pada lukisanmu itu, hawa lantas mengalir masuk ke dalam perut, tetapi, aduuuuh &#8230; tapi hawa dalam perut makin lama makin penuh dan sekarang rasa perutku seakan meledak!&#8221; demikian tutur Toan Ki sambil meringis.</p>
<p>Perasaan Toan Ki itu hanya dapat dirasakan oleh si penderita sendiri, ia merasa perutnya melembung dan seakan-akan meledak, tapi bagi penglihatan orang lain toh keadaannya biasa saja tiada sesuatu yang aneh.</p>
<p>Namun Po-ting-te cukup paham tentang segala kemungkinan bagi orang yang melatih Lwekang. Perasaan perut melembung akan meledak itu umumnya cuma bisa terjadi pada orang yang berlatih Lwekang berpuluh tahun lamanya, tapi selamanya Toan Ki tidak pernah belajar silat, dari mana bisa terjadi begitu?</p>
<p>Ia pikir tentu gara-gara racun yang mengeram di dalam tubuhnya itu. Karena itu, Po-ting-te menjadi khawatir kalau-kalau racun akan mengamuk hingga hawa jahat telanjur masuk ke jantung, untuk melenyapkannya tentu akan susah.</p>
<p>Biasanya Po-ting-te dapat bertindak tegas dan cepat ambil keputusan. Tapi kejadian di depan matanya sekarang menyangkut baik buruk selama hidup Toan Ki. Kalau sedikit ayal, mungkin akan membahayakan jiwa anak muda itu. Dalam keadaan kepepet, biarpun akibatnya mungkin celaka, terpaksa harus dicobanya juga. Maka katanya, &#8220;Ki-ji, biar kuajarkan padamu tentang memutarkan hawa menuju ke pusat.&#8221;</p>
<p>Habis ini, segera ia mengajarkan penuntun ilmu itu kepada Toan Ki sambil tangan sendiri tetap berlatih menurut gambar.</p>
<p>Sambil mendengarkan petunjuk sang paman, satu kata demi kata dituruti Toan Ki untuk melaksanakannya. Inti Lwekang keluarga Toan dari Tayli itu memang sangat hebat, selesai Toan Ki melakukan petunjuk sang paman, hawa yang bergolak tadi juga sudah dapat ditarik masuk ke pusat. Maka terasalah badannya makin segar, rasanya enteng seakan-akan melayang ke udara.</p>
<p>Melihat wajah pemuda itu berseri-seri girang, Po-ting-te malah menyangka sang keponakan terlalu dalam keracunan dan kelak akan sukar disembuhkan lagi. Maka diam-diam ia sangat menyesal.</p>
<p>Meski Koh-eng Taysu sejak tadi tetap duduk menghadap dinding, tapi percakapan kedua orang dapat diikutinya semua. Setelah selesai mendengar Po-ting-te mengajarkan kepandaiannya kepada Toan Ki, segera ia berkata, &#8220;Thian-tim, ketahuilah bahwa segala apa sudah takdir Ilahi, maka engkau tidak perlu khawatir bagi orang lain, yang penting sekarang lekas kau latih Siau-yang-kiam saja!&#8221;</p>
<p>Po-ting-te mengiakan dan memusatkan kembali perhatiannya untuk melatih Siau-yang-kiam yang diwajibkan di antara Lak-meh-kiam-hoat itu.</p>
<p>Dalam pada itu hawa murni dalam tubuh Toan Ki yang sangat padat itu sudah tentu tak dapat dipusatkan seluruhnya dalam waktu singkat, cuma penuntun dasar yang diterimanya dari Po-ting-te itu dapat berjalan dengan lancar dan semakin cepat.</p>
<p>Begitulah ketujuh orang yang berada di dalam pondok itu masing-masing melatih ilmunya sendiri-sendiri, tanpa terasa hari sudah malam dan subuh sudah tiba pula.</p>
<p>Menjelang pagi itulah Toan Ki merasa kaki-tangannya enteng leluasa tidak tersisa sedikit pun hawa yang akan meledak seperti kemarin itu. Ia coba berdiri dan melemaskan otot.</p>
<p>Ia lihat sang paman dan kelima padri saleh itu masih asyik melatih ilmu pedang masing-masing.</p>
<p>Ia tidak berani membuka pintu untuk keluar, pula tidak berani bersuara mengganggu keenam orang itu, saking iseng ia coba mengikuti gambar di depan sang paman yang melukiskan letak urat nadi dengan ilmu pedang Siau-yang-kiam itu, tatkala perhatiannya terhadap gambar itu terpusat, tiba-tiba terasa suatu arus hawa murni membanjir keluar dari perutnya terus menerjang ke bahu.</p>
<p>Yang paling aneh adalah bila pikiran Toan Ki dicurahkan pada titik urat nadi dalam gambar itu, segera hawa murni yang mengalir dalam tubuh lantas menyusup ke sana, jadi dari bahu ke lengan dan dari lengan ke jari.</p>
<p>Tapi Toan Ki tidak dapat menjalankan Lwekangnya untuk mengatur hawa murni itu, maka ketika hawa murni menerjang ke ujung jari, ia terasa seperti bengkak hendak pecah, maka pikirnya, &#8220;Ah, biarkan arus hawa ini putar kembali saja.&#8221;</p>
<p>Aneh juga, begitu pikirannya, begitu pula hawa murni itu lantas mengalir kembali ke perut.</p>
<p>Kiranya tanpa terasa Toan Ki telah berhasil memperoleh inti dasar ilmu Lwekang yang tinggi, tapi ia sendiri sama sekali tidak tahu. Ia hanya merasa arus hawa yang mengalir kian kemari di lengan itu dapat dimainkan sesukanya.</p>
<p>Kemudian ia lihat Thian-siang Taysu di antara ketiga padri Bo-ni-tong itu paling ramah tamah, ia coba melongok gambar &#8220;Siau-im-keng-meh-toh&#8221; yang wajib dilatih padri itu.</p>
<p>Ia lihat titik nadi gambar itu dimulai dari &#8220;Kek-coan-hiat&#8221; di bawah ketiak terus menurun sampai di &#8220;Siau-ciong-hiat&#8221; di ujung jari kecil. Kembali satu per satu ia mengikuti garis Hiat-to itu hingga arus hawa murni dalam tubuhnya kembali mengalir lagi seperti tadi menurut perasaannya.</p>
<p>Ternyata dalam waktu singkat saja Toan Ki sudah dapat menembus semua urat nadi lengan. Dan karena Lak-meh atau enam nadi itu dapat ditembus, semangatnya menjadi segar malah.</p>
<p>Dalam isengnya ia terus memeriksa pula gambar lain yang sedang dilatih Thian-in dan lain-lain, namun ia menjadi pusing melihat garis-garis merah, biru, hitam dan lain-lain yang ruwet itu. Pikirnya, &#8220;Ah, begini sulit ilmu pedang itu, mana dapat aku ingat seluruhnya?&#8221;</p>
<p>Lalu pikirnya pula, &#8220;Aneh, kenapa kedua padri kecil itu tidak mengantarkan makanan kemari? Biarlah diam-diam aku mengeluyur keluar untuk mencari makanan.&#8221;</p>
<p>Tapi pada saat itu juga hidungnya lantas mencium semacam bau wangi yang halus, menyusul terdengarlah suara orang bernyanyi dalam pujian Buddha, suara itu hanya sayup-sayup saja, sebentar terdengar sebentar tidak.</p>
<p>&#8220;Siancay, Siancay! Tay-lun-beng-ong telah tiba, bagaimana dengan latihan kalian?&#8221; demikian Koh-eng Taysu berkata dengan gegetun.</p>
<p>&#8220;Meski belum masak betul-betul, namun sudah cukup untuk menghadapi musuh,&#8221; sahut Thian-som.</p>
<p>&#8220;Thian-in,&#8221; kata Koh-eng pula, &#8220;aku tidak suka bergerak, bolehlah kau undang Beng-ong bicara ke ruang Bo-ni-tong ini.&#8221;</p>
<p>Thian-in mengiakan dan keluar.</p>
<p>Segera Thian-koan menyiapkan lima kasuran tikar dan dijajarkan menjadi satu baris. Ia sendiri lantas menduduki kasuran pertama, Thian-siang kedua, Po-ting-te keempat, Thian-som kelima dan ketiga yang luang itu disediakan untuk Thian-in. Toan Ki tidak punya tempat duduk, terpaksa ia berdiri di belakang Po-ting-te.</p>
<p>Tahu musuh tangguh bakal tiba, lekas-lekas Koh-eng dan Thian-koan berlima menghafalkan sekali lagi petunjuk Kiam-hoat dalam gambar, lalu lukisan cepat digulung dan ditaruh di depan Koh-eng.</p>
<p>&#8220;Ki-ji,&#8221; kata Po-ting-te, &#8220;sebentar bila terjadi pertarungan sengit, tentu di ruangan ini akan penuh hawa pedang yang tajam dan bisa jadi akan membahayakan dirimu, sedangkan paman tak dapat melindungimu, maka lebih baik kau keluar saja sana!&#8221;</p>
<p>Toan Ki menjadi terharu, pikirnya, &#8220;Dari percakapan paman dan lain-lain, agaknya ilmu silat Tay-lun-beng-ong teramat lihai, sedangkan ilmu pedang paman ini baru saja dilatih, entah mampu atau tidak melawan musuh, dan kalau terjadi apa-apa, lantas bagaimana baiknya?&#8221;</p>
<p>Maka katanya segera, &#8220;Pekhu, aku &#8230; aku ingin tinggal di sini, kukha &#8230; kukhawatirkan pertempuran nanti &#8230;.&#8221;</p>
<p>Bicara sampai di sini, suaranya menjadi parau dan tak lancar.</p>
<p>Hati Po-ting-te terharu juga, pikirnya, &#8220;Anak ini ternyata sangat berbakti kepada orang tua.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ki-ji,&#8221; tiba-tiba Koh-eng buka suara, &#8220;boleh kau duduk di depanku sini, betapa lihainya Tay-lun-beng-ong juga takkan mengganggu seujung rambutmu!&#8221;</p>
<p>Meski nada Koh-eng Taysu itu tetap dingin saja tanpa perasaan, namun dari kalimat ucapannya itu kentara sekali rasa angkuhnya.</p>
<p>Cepat Toan Ki mengiakan dan mendekati Koh-eng Taysu, ia tidak berani memandang muka padri itu, ia duduk bersila dengan menghadap dinding.</p>
<p>Tubuh Koh-eng jauh lebih tinggi daripada Toan Ki, maka badan pemuda itu hampir teraling seluruhnya.</p>
<p>Po-ting-te menjadi girang dan terima kasih, tadi ketika Koh-eng mencukur rambutnya dengan ilmu sakti, kepandaian itu sudah cukup untuk ditonjolkan dalam dunia persilatan. Sekarang Toan Ki berada di bawah perlindungannya, sudah tentu tidak perlu khawatir lagi.</p>
<p>Selang agak lama, terdengar suara Thian-in Hongtiang lagi berkata di luar, &#8220;Atas kunjungan Beng-ong, silakan masuk ruang Bo-ni-tong ini!&#8221;</p>
<p>Lalu suara seorang menyahut, &#8220;Harap Hongtiang suka menunjukkan jalan!&#8221;</p>
<p>Mendengar suara orang yang halus dan ramah tamah itu, Toan Ki yakin Tay-lun-beng-ong itu pasti bukan seorang yang kejam dan buas. Dari suara langkah orang di luar, kedengarannya berjumlah belasan orang banyaknya.</p>
<p>Kemudian terdengar suara pintu didorong oleh Thian-in sambil berkata, &#8220;Silakan Beng-ong masuk!&#8221;</p>
<p>&#8220;Maaf!&#8221; sahut Tay-lun-beng-ong sambil melangkah masuk. Lalu ia memberi hormat kepada Koh-eng Taysu dan berkata, &#8220;Wanpwe Ciumoti dari negeri Turfan, dengan ini memberi hormat kepada Cianpwe Taysu.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Toan Ki membatin, &#8220;Kiranya nama asli Tay-lun-beng-ong ini adalah Ciumoti.&#8221;</p>
<p>Maka menyahutlah Koh-eng Taysu, &#8220;Beng-ong datang dari jauh, maafkan tidak kuberi sambutan yang pantas.&#8221;</p>
<p>Dan sesudah saling mengucapkan kata-kata merendah pula, kemudian Thian-in menyilakan duduk Tay-lun-beng-ong alias Ciumoti itu.</p>
<p>Diam-diam Toan Ki ingin tahu macam apakah Tay-lun-beng-ong yang disegani itu. Perlahan ia menoleh sedikit dan melirik dari samping Koh-eng Taysu. Ia lihat di sebelah sana duduk seorang padri berjubah kuning, usianya belum ada setengah abad, sederhana dandanannya, tapi mukanya bercahaya bagai permata kemilauan.</p>
<p>Baru sekejap saja lantas timbul rasa suka dan kagum Toan Ki. Waktu memandang pula ke luar pintu, ternyata di luar sana berdiri 8 atau 9 lelaki berperawakan berbeda-beda dan wajah berlainan, tapi kebanyakan bengis menakutkan, tidak seperti orang Tiongkok umumnya. Terang mereka pengiring Tay-lun-beng-ong yang dibawanya dari daerah barat.</p>
<p>Kemudian dengan merangkap tangan dan memberi hormat, Ciumoti berkata, &#8220;Buddha berkata, tiada hidup takkan mati, tiada kotor takkan bersih. Bakatku terlalu bodoh dan belum dapat memahami suka duka dan mati hidup manusia. Cuma selama hidupku mempunyai seorang kawan karib, yaitu orang she Buyung dari Koh-soh di negeri Song. Aku berkenalan dengan dia di negeri Thian-tiok, di sana kami bertukar pikiran tentang ilmu silat dan pedang. Buyung-siansing itu ternyata sangat luas pengetahuannya, tiada sesuatu ilmu silat di dunia ini yang tak dipahaminya, berkat petunjuknya dalam beberapa hari, segala pertanyaanku selama hidup yang tak terjawab telah dipecahkannya dalam sekejap. Tak terduga orang pandai itu justru berumur pendek, kini Buyung-siansing telah pulang ke nirwana. Karena itu ada sesuatu permohonanku yang tidak pantas, sukalah para Tianglo menaruh belas kasihan padaku.&#8221;</p>
<p>Sudah tentu Thian-in paham apa maksud tujuan di balik ucapan itu. Jawabnya segera, &#8220;Beng-ong dapat bersahabat dengan Buyung-siansing, itu berarti ada jodoh, dan bila masa jodoh itu sudah habis, guna apa mesti dipaksakan lagi? Buyung-siansing sudah lama wafat, mengapa terhadap ilmu silat di dunia fana ini mesti disayangkan? Tindakan Beng-ong ini apa tidak berlebihan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nasihat Hongtiang memang benar juga,&#8221; sahut Ciumoti. &#8220;Cuma dasar berwatak rada bandel, meskipun sudah sekian lama lalu kebaikan persahabatan dahulu sukar untuk dilupakan. Dahulu ketika Buyung-siansing bicara tentang Kiam-hoat di dunia ini, ia yakin &#8216;Lak-meh-sin-kiam&#8217; Thian-liong-si ini adalah nomor satu dari segala ilmu pedang, ia menyatakan sangat menyesal karena selama hidupnya tidak sempat melihat ilmu pedang sakti itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tempat kami ini terpencil di daerah perbatasan selatan, namun juga mendapat perhatian Buyung-siansing, sungguh kami merasa sangat bangga,&#8221; sahut Thian-in. &#8220;Tetapi pada waktu hidupnya mengapa Buyung-siansing tidak datang sendiri untuk meminjam lihat Kiam-keng (kitab ilmu pedang) kami ini?&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba Ciumoti menghela napas panjang dan wajah berubah sedih, sejenak kemudian baru ia berkata, &#8220;Buyung-siansing sendiri tahu bahwa kitab itu adalah pusaka kalian, meskipun mohon lihat dengan terus terang juga tak mungkin diizinkan. Ia bilang keluarga Toan dari Tayli diagungkan sebagai raja, namun tidak melupakan setia kawan dunia Kangouw, cinta negeri dan sayang rakyat, maka ia tidak boleh melakukan pencurian atau main ambil secara paksa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terima kasih atas pujian Buyung-siansing itu,&#8221; ujar Thian-in. &#8220;Dan bila Buyung-siansing benar menghargai keluarga Toan dari Tayli, Beng-ong adalah sobat karibnya, seharusnya juga dapat memaklumi jiwanya itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, namun tempo dulu aku sudah telanjur omong besar bahwa aku ini Koksu (imam negara) dari Turfan, bukan sanak dan lain kadang dari keluarga Toan di Tayli, jika Buyung-siansing merasa sungkan untuk memintanya sendiri, biarlah aku akan mewakilinya. Sekali seorang laki-laki sejati sudah buka suara, biarpun mati atau hidup tak boleh menyesal. Dari itulah janjiku kepada Buyung-siansing itu tidak boleh kujilat kembali.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, ia terus tepuk tangan tiga kali. Maka masuklah dua laki-laki sambil menggotong sebuah peti kayu cendana dan ditaruh di lantai. Waktu lengan baju Ciumoti mengebas, tanpa disentuh tutup peti itu lantas terbuka sendiri. Maka tertampaklah sinar kemilauan, di dalam peti terdapat sebuah kotak emas kecil. Segera Ciumoti ambil kotak emas itu.</p>
<p>&#8220;Kita sama-sama orang beragama, masakah masih tamak terhadap benda mestika segala?&#8221; diam-diam Thian-in membatin. &#8220;Apalagi keluarga Toan diagungkan sebagai raja di negeri Tayli, dengan harta pusaka kumpulannya selama ratusan tahun masakah masih kekurangan?&#8221;</p>
<p>Ciumoti lantas membuka tutup kotak emas itu, apa yang dikeluarkan dari kotak itu ternyata tiga jilid kitab lama. Ketika ia balik-balik halaman kitab itu, sekilas Thian-in dan lain-lain dapat melihat isi kitab itu ada gambar juga ada tulisan, semuanya tulisan tangan dengan tinta merah.</p>
<p>Tiba-tiba Ciumoti termangu-mangu memandangi ketiga kitab itu dengan air mata berlinang-linang, sikapnya sangat menyesal dan berduka luar biasa. Keruan Thian-in dan lain-lain menjadi heran.</p>
<p>Koh-eng Taysu lantas berkata, &#8220;Beng-ong terkenang kepada sahabat yang sudah meninggal, batin belum bersih dari keduniawian, apa tidak malu disebut sebagai padri saleh?&#8221;</p>
<p>&#8220;Taysu mahapintar dan mahasakti, sudah tentu tak mampu kusamai,&#8221; sahut Tay-lun-beng-ong. &#8220;Cuma ketiga jilid kunci ilmu silat ini adalah tulisan tangan Buyung-siansing yang menguraikan tentang titik pokok ke-72 jenis Kungfu khas Siau-lim-pay, diuraikan pula tentang cara melatihnya dan cara mematahkannya.&#8221;</p>
<p>Semua orang terkejut oleh keterangan itu, pikir mereka, &#8220;Ilmu silat Siau-lim-pay termasyhur di seluruh dunia, konon sejak Siau-lim-pay didirikan, kecuali pada permulaan dinasti Song pernah ada seorang padri sakti yang berhasil melatih ke-36 jenis ilmu itu, selamanya tiada orang kedua lagi yang melebihinya. Tapi Buyung-siansing ini dapat memahami kunci ke-72 jenis ilmu silat Siau-lim-pay yang lihai, bahkan cara bagaimana mematahkan ilmu silat itu pun dapat dipecahkannya, hal ini benar-benar sukar untuk dimengerti.&#8221;</p>
<p>Maka berkata pula Tay-lun-beng-ong, &#8220;Buyung-siansing telah menghadiahkan ketiga jilid kitab ini kepadaku, sesudah kubaca, sungguh tidak sedikit kuperoleh manfaatnya. Kini aku bersedia menukar ketiga jilid kitab ini dengan Lak-meh-kiam-keng kalian. Bila para Taysu setuju hingga kudapat memenuhi janji kepada sahabat lama, sungguh aku terasa terima kasih tak terhingga.&#8221;</p>
<p>Thian-in terdiam, pikirnya dalam hati, &#8220;Apa yang tercatat di dalam kitab-kitab itu bila benar ke-72 jenis ilmu tunggal Siau-lim-si, maka sesudah kami memperolehnya bukan saja ilmu silat Thian-liong-si bakal sejajar dengan nama Siau-lim-si, bahkan mungkin lebih tinggi daripada mereka. Sebab Thian-liong-si dapat memahami seluruh Kungfu Siau-lim-si, sebaliknya ilmu silat kami tak diketahui oleh Siau-lim-si.&#8221;</p>
<p>Lalu Tay-lun-beng-ong menyambung lagi, &#8220;Dan pada waktu kalian menyerahkan kitab pusaka kepadaku, silakan menyalin dulu turunannya, dengan begitu, pertama Taysu berbuat baik kepadaku, untuk budi kebaikan itu takkan kulupakan sampai tua, sebaliknya tidak merugikan pihak Taysu, kedua, sesudah kuterima kitab pusaka kalian, akan kubungkus rapat-rapat, sekali-sekali takkan kuintip isinya dan akan kusampaikan sendiri kitab pusaka ke hadapan makam Buyung-siansing dan kubakar di sana, dengan demikian ilmu sakti kuil kalian ini takkan tersiar di luar. Ketiga, ilmu sakti ke-72 jenis Siau-lim-pay ini, di antaranya seperti &#8216;Ciam-hoa-ci&#8217;, &#8216;Bu-siang-jiat-ci&#8217; dan &#8216;To-lo-yap-ci&#8217; sangat berguna juga untuk bahan perbandingan dengan It-yang-ci kalian.&#8221;</p>
<p>Cara berkata Ciumoti itu sangat enak didengar dan menarik, masuk di akal pula, maka Po-ting-te dan Thian-siang Taysu sangat tertarik. Cuma di atas mereka masih ada Hongtiang dan sang Susiok, maka mereka pun tidak enak untuk mengutarakan pikiran mereka.</p>
<p>Segera Tay-lun-beng-ong melanjutkan lagi, &#8220;Mungkin usiaku masih muda dan pengalaman cetek, apa yang kukatakan barusan belum tentu dapat dipercaya para Taysu. Maka tentang ketiga jenis Ci-hoat (ilmu jari) tadi boleh juga kuberi pertunjukan sekadarnya sekarang.&#8221;</p>
<p>Segera ia berbangkit dan berkata pula, &#8220;Cuma apa yang kupahami ini masih sangat cetek dan kasar, bila ada kesalahan, mohon para Taysu suka memberi petunjuk. Sekarang aku mulai dengan Ciam-hoa-ci.&#8221;</p>
<p>Habis itu, ia menggunakan jari jempol dan telunjuk kanan dengan gaya seakan-akan memetik setangkai bunga, dengan wajah tersenyum kelima jari tangan kiri kemudian menjentik perlahan ke kanan.</p>
<p>Di antara semua orang yang berada di dalam ruangan itu, kecuali Toan Ki, yang lain-lain adalah ahli Ci-hoat kelas wahid. Maka mereka dapat melihat betapa indah dan lemah lembutnya gaya gerakan itu.</p>
<p>Setelah menjentik belasan kali, tiba-tiba Tay-lun-beng-ong mengangkat lengan baju kanan, menyusul ia meniup ke muka lengan baju sendiri, dalam sekejap saja bertebaranlah berpotong-potong kain kecil sebesar mata uang hingga lengan bajunya berwujud belasan lubang bundar.</p>
<p>Kiranya jentikan ilmu &#8220;Ciam-hoa-ci&#8221; tadi telah mengenai lengan baju sendiri dari jauh, tenaganya lembut, tapi merusak baju, semula tertampak bajunya tiada kurang suatu apa pun, tapi sekali ditiup angin, barulah kentara betapa sakti kepandaian padri itu.</p>
<p>Thian-in, Thian-koan dan Po-ting-te saling pandang sekejap, dalam hati mereka diam-diam terperanjat. Dengan ilmu It-yang-ci untuk melubangi baju seperti itu tidaklah sulit bagi mereka, tapi untuk mencapai tingkatan selihai lawan, mau tak mau mereka harus mengaku masih kalah setingkat.</p>
<p>&#8220;Sekianlah,&#8221; kata Ciumoti dengan tersenyum. &#8220;Tenaga jari Ciam-hoa-ci barusan terang jauh di bawah Hian-toh Taysu dari Siau-lim-si. Dan tentang &#8216;To-lo-yap-ci&#8217; tentu saja selisih lebih jauh lagi.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, cepat ia berputar mengitari peti kayu yang berada di lantai tadi dan menutuk beruntun-runtun dengan sepuluh jarinya, maka tertampaklah potongan kayu bertebaran dan dalam sekejap peti itu sudah berwujud seonggok bubuk kayu.</p>
<p>Sebenarnya Po-ting-te dan lain-lain tidak heran oleh kepandaian orang meremukkan peti kayu menjadi bubuk itu, tapi demi tampak engsel dan sebagainya dari logam yang berada di peti itu pun hancur berkeping-keping oleh tenaga jarinya, mau tak mau mereka terkejut juga.</p>
<p>Lalu berkatalah Ciumoti, &#8220;Caraku menggunakan To-lo-yap-ci ini masih sangat dangkal, diharap Taysu jangan menertawakannya.&#8221;</p>
<p>Sembari berkata kedua tangannya sembari dimasukkan lengan baju sendiri. Mendadak tumpukan bubuk kayu itu menari-nari di udara seakan-akan didalangi orang dengan sesuatu alat yang tak kelihatan.</p>
<p>Waktu Po-ting-te dan lain-lain memandang Tay-lun-beng-ong, padri itu kelihatan tetap bersenyum simpul, jubahnya sedikit pun tidak bergerak, nyata tenaga jarinya dilontarkan dari dalam lengan bajunya hingga tidak kelihatan wujudnya.</p>
<p>&#8220;Hah, inilah Bu-siang-jiat-ci (tutukan maut tak kelihatan)! Sungguh hebat, kagum, kagum!&#8221; demikian seru Thian-siang Taysu tak tahan.</p>
<p>&#8220;Ah, Taysu terlalu memuji,&#8221; ujar Ciumoti. &#8220;Padahal bubuk kayunya tampak bergerak, itu berarti masih kelihatan wujudnya. Untuk bisa mencapai tingkatan sesuai dengan namanya hingga tanpa kelihatan, rasanya perlu berlatih selama hidup.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah di dalam kitab pusaka tinggalan Buyung-siansing terdapat cara-cara mematahkan &#8216;Bu-siang-jiat-ci&#8217; itu?&#8221; tanya Thian-siang.</p>
<p>&#8220;Ada,&#8221; sahut Ciumoti. &#8220;Ilmu pemecahannya memakai nama seperti gelaran Taysu.&#8221;</p>
<p>Thian-siang termenung sejenak, katanya kemudian, &#8220;Ehm, namanya Thian-siang-ci-hoat, Thian-siang mengalahkan Bu-siang, sungguh pintar sekali.&#8221;</p>
<p>Setelah menyaksikan pertunjukan ketiga macam tenaga jari sakti dari Ciumoti itu, Thian-in, Thian-koan, dan Thian-som menjadi tertarik juga. Mereka tahu ketiga jilid kitab pusaka itu benar-benar memuat ke-72 jenis ilmu silat Siau-lim-si yang termasyhur di seluruh dunia, apakah mesti terima tawaran tukar-menukar dengan &#8220;Lak-meh-sin-kiam&#8221;, sungguh hal ini sangat meragukan.</p>
<p>Maka berkatalah Thian-in, &#8220;Susiok, jauh-jauh Beng-ong berkunjung kemari, suatu tanda betapa teguh maksud tujuannya ini. Lantas bagaimana kita harus bertindak, harap Susiok suka memberi petunjuk.&#8221;</p>
<p>&#8220;Thian-in, apa tujuan kita belajar silat dan berlatih diri?&#8221; tanya Koh-eng Taysu tiba-tiba.</p>
<p>Sama sekali Thian-in tidak menduga bakal ditanya demikian oleh sang Susiok, ia terkesiap, tapi segera jawab, &#8220;Demi membela agama dan negara.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bila kita kedatangan orang jahat dan kita tidak dapat menginsafkannya dengan jalan Buddha dan terpaksa mesti turun tangan membasminya, untuk mana harus menggunakan ilmu apa?&#8221; tanya Koh-eng pula.</p>
<p>&#8220;Jika sudah terpaksa, harus menggunakan It-yang-ci,&#8221; sahut Thian-in.</p>
<p>&#8220;Dan dalam hal It-yang-ci, sampai tingkat ke berapa telah berhasil kau yakinkan?&#8221; tanya Koh-eng.</p>
<p>&#8220;Tecu terlalu bodoh, pada waktu latihan kurang giat, maka sampai sekarang baru mencapai tingkatan kelima,&#8221; jawab Thian-in dengan berkeringat.</p>
<p>&#8220;Kalau menurut pendapatmu, It-yang-ci keluarga Toan di Tayli ini bila dibandingkan Ciam-hoa-ci, To-lo-yap-ci dan Bu-siang-jiat-ci dari Siau-lim-si itu, manakah yang lebih bagus dan mana lebih jelek?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ilmu tutukan itu sama-sama bagus dan bergantung keuletan masing-masing,&#8221; sahut Thian-in.</p>
<p>&#8220;Benar, dan kalau It-yang-ci kita terlatih sampai tingkatan tertinggi, lalu bagaimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dalamnya sukar dijajaki, Tecu tidak berani sembarangan omong!&#8221;</p>
<p>&#8220;Bila misalnya kau dapat hidup seabad lagi, dapat meyakinkannya sampai tingkat ke berapa?&#8221;</p>
<p>Keringat dingin di jidat Thian-in mulai berketes-ketes, jawabnya dengan gemetar, &#8220;Tecu tak dapat menjawab.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dapatkah mencapai tingkat teratas?&#8221; tanya Koh-eng.</p>
<p>&#8220;Pasti tak dapat,&#8221; sahut Thian-in.</p>
<p>Maka Koh-eng Taysu tidak bicara lagi.</p>
<p>Akhirnya Thian-in berkata pula, &#8220;Petunjuk Susiok memang tepat. Sedangkan It-yang-ci sendiri saja kita tak mampu meyakinkannya hingga sempurna, untuk apa mesti mengambil kepandaian orang lain lagi? Beng-ong datang dari jauh, biarlah kami sekadar memenuhi kewajiban sebagai tuan rumah.&#8221;</p>
<p>Dengan ucapannya ini, tegasnya ia telah menolak tawaran Tay-lun-beng-ong tadi.</p>
<p>Ciumoti menghela napas, katanya kemudian, &#8220;Ai, semuanya gara-gara mulutku yang usil, kalau tidak, tentunya tidaklah sulit seperti sekarang ini. Tapi ada juga sepatah kataku yang mungkin kurang sopan, bila Lak-meh-sin-kiam itu benar-benar sebagus seperti apa yang dikatakan Buyung-siansing, sekalipun kuil kalian memiliki lukisan pusakanya, namun bukan mustahil belum ada seorang pun yang berhasil meyakinkannya. Dan kalau ada yang dapat meyakinkannya berarti ilmu pedang itu tidak sebagus seperti apa yang dikagumi Buyung-siansing.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebenarnya ada sesuatu yang kurasakan tidak mengerti, bolehkah Beng-ong memberi penjelasan?&#8221; tanya Koh-eng.</p>
<p>&#8220;Coba katakan?&#8221; sahut Ciumoti.</p>
<p>&#8220;Tentang kuil kami memiliki Lak-meh-sin-kiam-keng itu, sekalipun anggota keluarga Toan kami juga tiada yang tahu, tapi dari manakah Buyung-siansing bisa mengetahuinya?&#8221; tanya Koh-eng.</p>
<p>&#8220;Hal itu dahulu tidak dijelaskan oleh Buyung-siansing,&#8221; kata Ciumoti. &#8220;Tapi menurut dugaanku, tentu ada hubungannya dengan Yan-king Taycu dari keluarga Toan.&#8221;</p>
<p>Thian-in mengangguk-angguk dan ikut bertanya, &#8220;Jadi Yan-king Taycu kenal Buyung-siansing?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, pernah Buyung-siansing memberi petunjuk beberapa jurus ilmu silat padanya, tapi menolak menerimanya sebagai murid.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebab apa menolak?&#8221; tanya Koh-eng Taysu.</p>
<p>&#8220;Itu urusan pribadi Buyung-siansing, tidak enak banyak kutanya,&#8221; sahut Ciumoti. Di balik kata-katanya ini seakan-akan juga minta Koh-eng jangan banyak bertanya.</p>
<p>Tapi Koh-eng justru berkata pula, &#8220;Yan-king Taycu itu adalah keturunan keluarga Toan-si kami, segala tindak tanduknya di luar, Thian-liong-si dan kepala keluarga Toan berhak mengurusnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar,&#8221; sahut Ciumoti dengan tawar.</p>
<p>Segera Thian-in Hongtiang ikut bicara, &#8220;Selama belasan tahun Susiok kami tidak menemui orang luar, tapi mengingat Beng-ong adalah padri saleh zaman ini, barulah Susiok mau menemuimu. Sekarang sudah selesai, silakanlah!&#8221;</p>
<p>Sembari berkata ia terus berdiri sebagai tanda menyilakan tamunya pergi.</p>
<p>Namun Ciumoti menjawab, &#8220;Bila Lak-meh-sin-kiam cuma pujian kosong belaka, mengapa kalian memandangnya begitu penting hingga mesti mengorbankan persahabatan Thian-liong-si dengan Tay-lun-si dan antara negara Tayli dengan Turfan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah Beng-ong maksudkan, bila kami tidak meluluskan permintaanmu, Tayli dan Turfan akan perang?&#8221; tanya Thian-in.</p>
<p>Sebagai kepala negara, sudah tentu Po-ting-te paling tertarik oleh tanya jawab terakhir itu.</p>
<p>Perlahan Ciumoti berkata, &#8220;Sudah lama Kokcu kami kagum pada negeri Tayli yang makmur, sudah lama beliau ingin mengadakan perburuan ke sini. Tapi kupikir tindakan itu pasti akan banyak ambil korban jiwa dan harta, maka selama beberapa tahun aku selalu berusaha mencegahnya.&#8221;</p>
<p>Sudah tentu Thian-in dan lain-lain paham akan kata-kata orang yang bersifat mengancam itu. Sebab Ciumoti adalah Koksu kerajaan Turfan. Seperti juga Tayli, rakyat Turfan juga memeluk agama Buddha dan Ciumoti itu sangat dipercaya rajanya, perang atau damai banyak bergantung kepada kekuasaannya. Kini kalau cuma urusan sejilid kitab hingga kedua negara mesti terlibat dalam peperangan, hal ini benar-benar tidak perlu. Tapi bila sedikit digertak lantas menyerah mentah-mentah, bukankah sangat merosotkan kehormatan Thian-liong-si dan kerajaan Tayli?</p>
<p>Maka berkatalah Koh-eng Taysu, &#8220;Jika Beng-ong bertekad harus mendapatkan kitab kami ini, mengapa aku mesti pelit. Beng-ong bersedia menukar dengan ilmu silat Siau-lim-si, kami pun tidak berani menerimanya. Meski sudah berpuluh tahun aku menyepi, namun kutahu juga kepandaian Beng-ong dari Tay-lun-si itu jauh lebih hebat daripada ke-72 jenis ilmu Siau-lim-pay.&#8221;</p>
<p>Ciumoti merangkap kedua tangannya dan berkata, &#8220;Apakah maksud Taysu supaya kupertunjukkan sedikit kepandaianku yang jelek ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Beng-ong mengatakan bahwa Lak-meh-sin-kiam-keng kami cuma pujian kosong belaka dan tidak berguna dipraktikkan, maka biarlah kami belajar kenal beberapa jurus dengan Beng-ong,&#8221; demikian sahut Koh-eng. &#8220;Apakah benar seperti apa yang dikatakan Beng-ong bahwa Lak-meh-kiam-hoat kami ini hanya bernama kosong dan tidak berguna, lalu untuk apa lagi mesti kami sayangkan? Dengan rela akan kami serahkan kitab yang diminta Beng-ong.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Ciumoti terkesiap oleh jawaban itu, ia pikir dahulu waktu kubicara tentang &#8220;Lak-meh-sin-kiam&#8221; dengan Buyung-siansing, keduanya berpendapat Kiam-hoat itu memang sangat bagus, tapi mungkin susah diyakinkan oleh tenaga manusia. Kini mendengar ucapan Koh-eng, agaknya bukan Koh-eng saja yang dapat memainkan Kiam-hoat itu, bahkan kelima kawannya yang lain juga bisa.</p>
<p>Segera ia menjawab, &#8220;Jika Taysu sekalian sudi memberi petunjuk dengan Kiam-hoat yang hebat itu, sungguh aku merasa sangat beruntung sekali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Senjata apa yang dipakai Beng-ong, silakan mengeluarkannya,&#8221; kata Thian-in segera.</p>
<p>Tiba-tiba Ciumoti bertepuk tangan, maka masuklah laki-laki tinggi besar yang menunggu di luar, Ciumoti berkata beberapa patah dalam bahasanya dan laki-laki itu pun mengangguk-angguk, lalu keluar dan membawa masuk seikat dupa kepada Ciumoti, kemudian laki-laki itu undurkan diri pula keluar.</p>
<p>Semua orang terasa heran untuk apakah dupa itu. Dupa itu adalah benda lemah dan mudah patah, masakah dapat digunakan sebagai senjata?</p>
<p>Tertampak Ciumoti lolos sebatang dupa, lalu tangan lain meraup segenggam bubuk kayu terus dikepal hingga mengeras, dupa itu lantas ditancapkan di tengahnya dan ditaruh di lantai. Dengan cara yang sama ia jajarkan enam batang dupa dalam jarak kira-kira belasan senti satu sama lain. Menyusul ia menggosok-gosok kedua telapak tangannya terus menampar ke depan, serentak ujung keenam batang dupa itu lantas menyala tersulut.</p>
<p>Keruan Thian-in dan lain-lain terkejut, betapa tinggi tenaga dalam padri asing ini sungguh sudah mencapai tingkatan yang susah diukur. Tapi Thian-in dan Po-ting-te lantas mengendus pula bau belerang terbakar, maka tahulah mereka. Kiranya pada pucuk dupa itu terdapat obat bakar, sekali Ciumoti menggosok obat bakar itu dengan tenaga dalamnya, segera dupa-dupa itu menyala. Meski perbuatan itu tidak mudah dilakukan, namun Po-ting-te merasa dirinya masih mampu melakukannya juga.</p>
<p>Sesudah menyala, asap dupa lantas mengepul menjadi enam jalur. Ciumoti duduk sambil kedua tangan terpentang mencakup ke depan, sekali ia kerahkan tenaga dalamnya, keenam jalur asap itu lantas berkisar menuju ke arah Koh-eng dan Po-ting-te berenam.</p>
<p>Kiranya ilmu Ciumoti ini disebut &#8220;Hwe-yam-to&#8221; atau golok kobaran api. Meski tanpa wujud dan tak dapat diraba, tapi lihainya tidak kepalang untuk membinasakan lawan.</p>
<p>Namun maksud tujuan Ciumoti sekarang cuma ingin mendapat kitab pusaka dan tiada niat membunuh orang, maka hanya enam batang dupa dinyalakan untuk menunjukkan ke mana arah tenaga serangannya tertuju, pertama sebagai tanda ia yakin pasti lebih unggul daripada lawan-lawannya, kedua sebagai tanda rasa welas asihnya yang tidak ingin membunuh orang, melainkan cuma saling ukur kepandaian masing-masing.</p>
<p>Begitulah, ketika enam jalur asap itu sampai di depan Thian-in dan lain-lain, mendadak asap itu lantas berhenti dan tidak menyambar maju lagi.</p>
<p>Sungguh kejut Thian-in dan lain-lain bukan buatan. Menggunakan tenaga dalam untuk mendesak majunya asap tidaklah sulit, tapi memakai tenaga dalam untuk menghentikannya, terang kepandaian ini berpuluh kali lebih sukar daripada yang duluan.</p>
<p>Thian-som tidak mau unjuk lemah, sekali jari kecil kiri terangkat, &#8220;cus&#8221;, sejalur hawa putih terpancar dari Siau-ciong-hiat ke arah asap yang berada di depannya. Karena tolakan tenaga dalam Thian-som, dengan cepat tali asap itu lantas menyambar kembali ke arah Ciumoti. Tapi ketika mendekat, waktu tenaga &#8220;Hwe-yam-to&#8221; yang dikerahkan Ciumoti diperkeras lagi, jalur asap itu lantas berhenti dan tidak mampu maju pula.</p>
<p>&#8220;Ehm, memang hebat,&#8221; kata Ciumoti sambil mengangguk. &#8220;Ternyata di dalam Lak-meh-sin-kiam memang ada &#8216;Siau-ciong-kiam&#8217; seperti ini.&#8221;</p>
<p>Setelah kedua orang saling gempur dengan tenaga dalam, Thian-som merasa bila dirinya tetap duduk, daya tekan ilmu pedangnya itu akan sukar dilancarkan. Segera ia berdiri dan melangkah tiga tindak ke kiri, dengan tenaga dalamnya ia serang lebih kuat dari sana.</p>
<p>Segera Ciumoti angkat tangan kiri dan tenaga serangan itu tertahan. Thian-koan ikut bertindak juga, sekali jari tengahnya menegak, &#8220;cus&#8221;, ia pun menusuk dengan &#8220;Tiong-ciong-kiam&#8221;.</p>
<p>&#8220;Bagus, inilah Tiong-ciong-kiam-hoat!&#8221; seru Ciumoti sambil menangkis. Meski satu lawan dua, namun sama sekali tak tampak terdesak.</p>
<p>Toan Ki duduk di depan Koh-eng, ia dapat menoleh ke kanan dan miring ke kiri untuk mengikuti pertarungan hebat yang jarang terlihat dalam Bu-lim itu. Meski dia tidak paham ilmu silat, tapi tahu juga bahwa para Hwesio itu sedang bertanding pedang dengan Lwekang mereka, lihai dan bahaya pertandingan Lwekang ini jauh lebih hebat daripada bertanding dengan senjata tajam.</p>
<p>Ia lihat jurus ilmu pedang dan golok yang dikeluarkan Ciumoti, Thian-som dan Thian-koan itu sangat lambat. Setelah belasan jurus, tiba-tiba pikirannya tergerak, &#8220;He, bukankah Tiong-ciong-kiam yang dimainkan Thian-koan Taysu itu tiada ubahnya seperti apa yang kubaca dalam gambar tadi?&#8221;</p>
<p>Perlahan ia buka lukisan Tiong-ciong-kiam-hoat yang memang terletak di depannya itu. Ia cocokkan antara gerakan hawa putih yang menyambar kian kemari itu dengan petunjuk dalam gambar, nyata ilmu pedang itu memang sama.</p>
<p>Sungguh girang Toan Ki bukan buatan. Segera ia mengikuti Siau-tik-kiam-hoat yang dimainkan Thian-som itu. Ilmu pedang ini pun sama dengan gambar, cuma Tiong-ciong-kiam-hoat itu lingkupnya lebih luas dan daya tekannya lebih keras, sebaliknya Siau-tik-kiam lebih lincah, menyusup kian kemari dengan macam-macam perubahan yang rumit.</p>
<p>Melihat kedua Sutenya sama sekali tidak lebih unggul mengeroyok Ciumoti, Thian-in menjadi khawatir latihan mereka belum masak, jangan-jangan permainan pedang mereka keburu dipahami Tay-lun-beng-ong yang mahapintar itu. Segera ia berseru, &#8220;Thian-siang dan Thian-tim Sute, marilah kita turun tangan!&#8221;</p>
<p>Berbareng Thian-in acungkan jari telunjuknya, ia keluarkan Siang-yang-kiam-hoat. Menyusul Thian-siang juga memainkan &#8220;Siau-ciong-kiam&#8221; dengan jari kecil kanan. Sedang Po-ting-te menyerang dengan &#8220;Koan-ciong-kiam&#8221;, yaitu dengan jari manis. Tiga arus hawa pedang yang hebat serentak menerjang ketiga jalur asap musuh.</p>
<p>Sudah tentu yang paling untung adalah Toan Ki, melihat &#8220;Siang-yang-kiam&#8221; yang dilontarkan Thian-in itu lebih kuat daripada Thian-som berdua, cepat ia membuka gambar ilmu pedang itu, tapi ia menjadi heran pula ketika melihat gerak ilmu pedang sang paman sebaliknya sangat lambat dan berat.</p>
<p>Memang di antara jari-jari tangan umumnya, jari telunjuk paling lincah dan hidup, sebaliknya jari manis kaku dan lamban. Maka Siang-yang-kiam mengutamakan kegesitan dan kelincahan, sebaliknya Koan-ciong-kiam lambat dan berat gerak-geriknya.</p>
<p>Saking asyiknya Toan Ki mengikuti ilmu pedang itu sambil berpaling ke sini dan menoleh ke sana, tanpa terasa suatu waktu kepalanya menempel di depan hidung Koh-eng Taysu. Ia merasa risi ketika kuduk seakan-akan ditiup-tiup karena napas orang tua itu. Tanpa sengaja ia mendongak, tapi apa yang dilihatnya membuatnya melongo kaget.</p>
<p>Ternyata wajah yang dilihatnya itu aneh luar biasa, separuh muka sebelah kiri merah bercahaya, daging penuh, kulit gilap, mirip muka anak kecil. Tapi separuh muka yang sebelah kanan kurus kering tinggal kulit membungkus tulang. Kecuali kulitnya yang kuning hangus itu, sedikit pun tiada dagingnya hingga tulang pipinya menonjol mirip tengkorak.</p>
<p>Dalam kagetnya cepat Toan Ki menoleh dan tidak berani memandang lagi, hati terasa berdebar-debar pula. Ia tahu muka Koh-eng Taysu itu pasti akibat meyakinkan &#8220;Koh-eng-sin-kang&#8221; ilmu Buddha subur dan kering, makanya wajahnya separuh &#8220;Koh&#8221; (kering) dan separuh &#8220;Eng&#8221; (subur).</p>
<p>Tiba-tiba Koh-eng Taysu membisikinya, &#8220;Kesempatan bagus jangan dibuang, lekas memerhatikan ilmu pedang!&#8221;</p>
<p>Toan Ki tersadar, ia mengangguk dan cepat mencurahkan perhatiannya untuk mengikuti ilmu pedang Thian-in, Thian-siang dan Po-ting-te serta dicocokkan dengan gambar Kiam-boh yang bersangkutan.</p>
<p>Setelah ketiga jenis Kiam-hoat itu selesai dipelajarinya, sementara itu permainan ilmu pedang Thian-som dan Thian-koan sudah mengulang kedua kalinya. Kini tanpa membandingkan dengan gambarnya, Toan Ki dapat memahami di mana letak kebagusan Lak-meh-kiam-hoat itu. Ia terasa garis-garis yang terlukis pada gambar itu adalah barang mati, tapi hawa putih yang dipancarkan dengan tenaga dalam itu benar-benar tiada habis-habis perubahannya dan dapat dikerahkan pergi datang dengan hidup, kalau dibandingkan apa yang terlukis dalam gambar, terang lebih ruwet tapi lebih padat.</p>
<p>Setelah mengikuti pula sebentar, terlihat Kiam-hoat yang dimainkan Thian-in, Thian-siang dan Po-ting-te juga sudah selesai. Tiba-tiba jari kecil Thian-siang menjentik pula dengan jurus &#8220;Hun-hoa-hut-liu&#8221; atau membelai bunga menyingkap daun Liu. Nyata untuk kedua kalinya ia mainkan ilmu pedangnya pula.</p>
<p>Menyusul Thian-in dan Po-ting-te juga mengadakan perubahan pada permainan ilmu pedang mereka yang sudah selesai itu. Tapi mendadak di depan tubuh Ciumoti bersuara mencicit, daya tekan &#8220;Hwe-yam-to&#8221; ternyata bertambah hebat hingga tenaga dalam dari gerakan pedang kelima lawannya tertolak kembali semua.</p>
<p>Kiranya semula Ciumoti cuma bertahan saja dengan tujuan mengikuti permainan Lak-meh-sin-kiam kelima orang lawan itu hingga selesai, habis itu barulah mengadakan serangan balasan. Dan sekali ia sudah balas menyerang, kelima jalur asap putih segera menari dan beterbangan dengan hidup sekali, sedang jalur asap keenam tetap berhenti kira-kira satu meter di belakang tubuh Koh-eng Taysu.</p>
<p>Koh-eng Taysu sengaja hendak melihat sampai di mana kekuatan bertahan musuh. Namun Ciumoti sadar juga bila terlalu lama menahan jalur asap yang keenam itu, tenaga dalamnya yang terbuang akan terlalu banyak. Maka kini ia mulai pusatkan tekanannya ke jalur asap keenam itu hingga sedikit demi sedikit mulai mendesak maju ke belakang kepala Koh-eng.</p>
<p>Toan Ki menjadi khawatir, cepat katanya, &#8220;Thaysuhu, awas jalur asap musuh sedang menyerang padamu.&#8221;</p>
<p>Koh-eng mengangguk, ia terus membentang lukisan &#8220;Siau-siang-kiam&#8221;, yaitu bagian dari Lak-meh-sin-kiam menurut gambar yang harus dimainkannya itu di depan Toan Ki.</p>
<p>Pemuda itu tahu maksud baik Koh-eng Taysu. Maka dengan memusatkan perhatian, segera ia membaca isi gambar itu. Ia lihat ilmu pedang Siau-siang-kiam dalam lukisan itu hanya sederhana saja garis-garis petunjuknya, tapi memiliki tenaga mahakuat yang tiada taranya.</p>
<p>Sambil membaca lukisan itu, Toan Ki tidak lupa jalur asap musuh yang mengancam Koh-eng tadi. Ketika ia menoleh pula, ia lihat jalur asap itu tinggal beberapa senti saja di belakang kepala Koh-eng. Ia menjadi kaget dan berseru, &#8220;Awas!&#8221;</p>
<p>Mendadak Koh-eng membalik tangan ke belakang, kedua jari jempol menahan ke depan berbareng, dengan suara mencicit dua kali, sekaligus ia serang dada kanan dan pundak kiri Ciumoti.</p>
<p>Kiranya serangan musuh tadi tak ditangkisnya, sebaliknya Koh-eng melakukan serangan kilat di luar dugaan musuh. Ia memperhitungkan Hwe-yam-to musuh agak lambat majunya, untuk bisa mengenai dirinya masih diperlukan sementara waktu lagi, tapi kalau ia mendahului menyerang, tentu musuh akan kerepotan.</p>
<p>Ciumoti sendiri dapat menduga kemungkinan itu, maka sebelumnya ia sudah siap untuk menjaga kalau mendadak diserang oleh Koh-eng Taysu yang merupakan lawan paling kuat. Tapi yang ia duga cuma jurus serangan Siau-yang-kiam yang lihai dan tidak menyangka Koh-eng sekaligus dapat menyerang dengan dua pedang pada sasaran dua tempat.</p>
<p>Cepat ia kerahkan tenaga yang sudah disiapkan itu untuk menangkis tenaga tusukan yang mengarah dadanya, menyusul kakinya mengentak, buru-buru ia melompat mundur. Tapi betapa pun cepatnya tetap kalah cepat daripada hawa pedang yang tak kelihatan itu, &#8220;cret&#8221;, tahu-tahu jubah bagian pundak terobek dan darah merembes keluar.</p>
<p>Saat lain Koh-eng Taysu menarik kembali jarinya dan hawa pedang ikut mengkeret kembali, maka patahlah keenam batang dupa sekaligus.</p>
<p>Berbareng Thian-in, Po-ting-te dan lain-lain ikut menarik kembali juga hawa pedang mereka, perasaan khawatir mereka baru sekarang dapat terasa longgar.</p>
<p>Ciumoti melangkah maju lagi, katanya, &#8220;Ilmu sakti Koh-eng Taysu memang bukan main hebatnya, aku terasa kagum tak terhingga. Tapi tentang Lak-meh-sin-kiam itu, haha, kiranya cuma omong kosong belaka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa omong kosong, silakan memberi penjelasan,&#8221; kata Thian-in.</p>
<p>&#8220;Dahulu yang dikagumi Buyung-siansing adalah Kiam-hoat (ilmu permainan pedang) dan bukan Kiam-tin (barisan pedang) dari Lak-meh-sin-kiam,&#8221; sahut Ciumoti. &#8220;Walaupun benar Kiam-tin Thian-liong-si barusan ini sangat kuat dan hebat, tapi kalau diukur juga tidak lebih daripada Lo-han-kiam-tin dari Siau-lim-si dan Kun-goan-kiam-tin dari Kun-lun-pay. Agaknya belum dapat dikatakan Kiam-tin yang tiada bandingannya di dunia ini.&#8221;</p>
<p>Dengan menekankan Kiam-tin dan bukan Kiam-hoat, Ciumoti anggap dirinya sekaligus telah menandingi keenam lawan, sebaliknya pihak lawan tiada seorang pun yang mampu menggunakan Lak-meh-sin-kiam sebagaimana dirinya memainkan Hwe-yam-to itu.</p>
<p>Thian-in terasa apa yang dikatakan orang memang benar, ia menjadi bungkam tak bisa menjawab. Namun Thian-som lantas menjengek, katanya, &#8220;Biar Kiam-tin atau Kiam-hoat, namun pertandingan tadi Beng-ong yang menang atau pihak Thian-liong-si kami yang menang?&#8221;</p>
<p>Ciumoti tidak menjawab, ia pejamkan mata dan berpikir sejenak, selang agak lama, lalu jawabnya, &#8220;Babak pertama kalian memang lebih unggul, tapi babak kedua ini aku pasti akan menang.&#8221;</p>
<p>Thian-in terkejut, tanyanya, &#8220;Jadi Beng-ong masih ingin bertanding lagi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa boleh buat,&#8221; sahut Ciumoti. &#8220;Seorang laki-laki harus dapat dipercaya. Sekali aku sudah berjanji pada Buyung-siansing, mana boleh mundur setengah jalan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu, dengan andalan apa Beng-ong yakin pasti akan menang?&#8221; tanya Thian-in.</p>
<p>Ciumoti tersenyum, sahutnya, &#8220;Kalian adalah gembong-gembong persilatan, masakah masih belum dapat menerkanya? Terimalah seranganku!&#8221;</p>
<p>Sembari berkata, kedua tangannya terus mendorong ke depan dengan perlahan.</p>
<p>Koh-eng, Thian-in, Po-ting-te dan lain-lain seketika merasa terdesak oleh dua arus tenaga dalam yang kuat dari arah yang berlainan. Thian-in dan lain-lain terasa daya tekan musuh itu tidak dapat ditahan dengan Lak-meh-sin-kiam, maka mereka menggunakan kedua tangan untuk menangkis, hanya Koh-eng Taysu saja tetap pakai kedua jari jempol untuk menyambut tenaga musuh dengan ilmu &#8220;Siau-yang-kiam&#8221; dari Lak-meh-sin-kiam itu.</p>
<p>Namun setelah melontarkan tenaga serangan itu, segera Ciumoti menarik kembali lagi serangannya dan berkata, &#8220;Maaf!&#8221;</p>
<p>Thian-in saling pandang sekejap dengan Po-ting-te, keduanya sama-sama paham bahwa ilmu Hwe-yam-to padri asing itu terang lebih unggul daripada Lak-meh-sin-kiam mereka. Sekali bergerak Ciumoti mampu mengeluarkan berbagai tenaga yang berlainan, maka sekalipun Siau-yang-kiam yang dilontarkan Koh-eng Susiok itu mendesak lebih kuat juga tak mampu mengalahkan dia.</p>
<p>Pada saat itu juga, tiba-tiba tertampak asap mengepul di depan Koh-eng Taysu, asap itu mengepul menjadi empat jurusan dan mengepung ke arah Ciumoti.</p>
<p>Terhadap Hwesio yang duduk menghadap dinding itu Ciumoti memang sangat jeri, kini mendadak tampak ada asap hitam menyerang ke arahnya, seketika ia menjadi bingung apa maksud orang, ia pun keluarkan Hwe-yam-to-hoat untuk bertahan dari empat jurusan dan tidak balas menyerang, di samping berjaga-jaga kalau Thian-in dan lain-lain ikut mengerubut, diam-diam ia perhatikan serangan apa yang hendak dilakukan Koh-eng Taysu.</p>
<p>Namun yang kelihatan hanya asap hitam makin lama makin tebal, daya serangan Koh-eng bertambah hebat. Diam-diam Ciumoti menjadi heran, &#8220;Cara menyerangnya dengan sekuat tenaga ini apakah dapat bertahan lama? Koh-eng Taysu adalah seorang padri terkemuka di zaman ini, kenapa menggunakan cara keras seperti ini?&#8221;</p>
<p>Ia menduga Koh-eng Taysu pasti tidak mungkin bertindak sembrono, tentu di balik serangan itu ada pula muslihat lain, maka dengan waswas ia menantikan segala kemungkinan.</p>
<p>Selang tak lama, mendadak keempat jalur asap itu terpencar lagi, satu menjadi dua dan dua menjadi empat, dalam sekejap saja jalur asap berubah menjadi 16 jalur dan merubung ke arah Ciumoti.</p>
<p>&#8220;Hanya kekuatan panah yang sudah hampir jatuh, apa artinya?&#8221; demikian pikir Ciumoti sambil mengerahkan Hwe-yam-to-hoat untuk menahan setiap jalur asap lawan.</p>
<p>Dan begitu tenaga kedua pihak saling bentur, tiba-tiba jalur-jalur asap itu bertebaran memenuhi ruangan hingga seperti kabut tebal.</p>
<p>Namun sedikit pun Ciumoti tidak gentar, ia pun mengerahkan segenap kekuatannya untuk melindungi seluruh tubuhnya. Lambat laun kabut asap itu mulai menipis, Thian-in berlima kelihatan berlutut di lantai dengan sikap sungguh-sungguh, bahkan wajah Thian-koan dan Thian-som tampak mengunjuk rasa sedih.</p>
<p>Ciumoti tertegun sejenak, segera ia menjadi sadar, &#8220;Wah, celaka! Kiranya si tua Koh-eng ini merasa tak mampu menandingi aku, maka Lak-meh-sin-kiam-boh lantas dibakar olehnya.&#8221;</p>
<p>Ternyata lukisan Lak-meh-sin-kiam-boh itu memang telah terbakar oleh tenaga dalam It-yang-ci yang dipancarkan Koh-eng Taysu itu. Ia khawatir Kiam-boh itu akan direbut Ciumoti, maka untuk mengelabui lawan ia sengaja menyerangnya dengan kabut asap, ketika kabut asap lenyap, sementara itu Lak-meh-sin-kiam-boh juga sudah terbakar habis.</p>
<p>Thian-in dan kawan-kawannya adalah tokoh ahli It-yang-ci, maka begitu melihat asap hitam tadi, mereka lantas tahu sebab musababnya. Mereka tahu sang Susiok lebih suka membakar kitab pusaka sendiri daripada benda itu jatuh di tangan musuh. Dan dengan demikian, permusuhan Thian-liong-si dengan Tay-lun-beng-ong menjadi tak bisa diselesaikan dengan mudah.</p>
<p>Kejut dan gusar Ciumoti tak terkatakan, biasanya ia sangat mengagulkan kecerdasannya, tapi kini telah dua kali kecundang di bawah tangannya Koh-eng Taysu. Dan kalau Lak-meh-sin-kiam-boh sudah terbakar, perjalanannya ini menjadi sia-sia belaka tanpa hasil, sebaliknya malah mengikat permusuhan dengan Thian-liong-si.</p>
<p>Segera ia berkata sambil memberi hormat, &#8220;Buat apa Koh-eng Taysu mesti bertindak sekeras ini? Aku merasa tidak enak mengakibatkan musnahnya kitab pusaka kalian, untung kitab itu tak dapat dilatih oleh tenaga seorang saja, musnah atau tidak memang juga sama, sekarang kumohon diri.&#8221;</p>
<p>Dan sebelum Koh-eng dan lain-lain memberi jawaban, sedikit ia putar tubuh, sekonyong-konyong pergelangan tangan Po-ting-te dipegangnya, lalu katanya pula, &#8220;Kokcu (kepala negara) kami sudah lama mengagumi nama kebesaran Po-ting-te dan sangat ingin berkenalan, maka sekarang juga silakan ikut padaku pergi ke Turfan.&#8221;</p>
<p>Kejadian ini benar-benar di luar dugaan dan sangat mengejutkan, sergapan mendadak itu ternyata sama sekali tak dapat dihindari oleh Po-ting-te yang berilmu silat tinggi itu, apalagi Kim-na-jiu-hoat atau ilmu cara menangkap dan memegang Ciumoti itu sangat aneh, sekali Hiat-to pergelangan tangan terpegang, biarpun dengan cepat Po-ting-te mengerahkan tenaga dalam untuk melepaskan diri, namun sama sekali tidak berhasil.</p>
<p>Dalam keadaan begitu, keselamatan Po-ting-te setiap waktu akan terancam, maka orang lain menjadi serbasulit untuk menolongnya. Meski Thian-in dan lain-lain merasa tindakan Ciumoti itu terlalu rendah, sangat merosotkan pamornya sebagai tokoh ternama, tapi mereka cuma marah belaka tanpa berdaya.</p>
<p>Maka tertawalah Koh-eng Taysu dengan terbahak-bahak, katanya kemudian, &#8220;Sebelum ini dia memang benar Po-ting-te, tapi kini ia sudah meninggalkan takhta dan menjadi padri, gelarnya Thian-tim. Nah, Thian-tim, jika kepala negara Turfan sudah mengundangmu, tiada alangannya ikut berkunjung ke sana.&#8221;</p>
<p>Dalam keadaan terpaksa, mau tak mau Po-ting-te mengiakan. Ia tahu maksud sang Susiok. Kalau dirinya dalam kedudukannya sebagai raja Tayli ditawan musuh, tentu Ciumoti akan pandang dirinya sebagai tawanan penting. Tapi kalau dirinya sudah turun takhta dan kini sudah menjadi Hwesio, maka apa yang ditawan Ciumoti sekarang tidak lebih hanya seorang Hwesio biasa dari Thian-liong-si saja, boleh jadi dirinya akan segera dibebaskan.</p>
<p>Akan tetapi Ciumoti tidak mudah diakali. Sebelumnya ia sudah menyelidiki dan tahu di dalam Thian-liong-si itu kecuali Koh-eng Taysu, di antara padri-padri angkatan &#8220;Thian&#8221; cuma ada empat orang, tapi kini tiba-tiba bertambah lagi seorang Thian-tim, tenaga dalamnya juga tidak lebih lemah daripada keempat padri yang lain, pula dari wajahnya yang kereng dan sikapnya yang agung, begitu melihat segera Ciumoti menduga dia pastilah Po-ting-te.</p>
<p>Ketika mendengar Koh-eng Taysu bilang Po-ting-te sudah turun takhta dan menjadi Hwesio, diam-diam Ciumoti berpikir pula, &#8220;Ya, konon setiap raja Tayli bila sudah lanjut usia tentu mengundurkan diri untuk kemudian menjadi padri, maka kini kalau Po-ting-te juga menyucikan diri ke Thian-liong-si sini, hal ini pun tidak mengherankan. Tapi umumnya bila seorang raja menjadi Hwesio tentu diadakan upacara keagamaan secara besar-besaran, tidak mungkin dilakukan secara diam-diam tanpa diketahui umum.&#8221;</p>
<p>Karena itu, segera katanya, &#8220;Baik Po-ting-te sudah menjadi Hwesio atau belum, pendek kata aku ingin mengundangnya berkunjung ke Turfan untuk menemui kepala negara kami.&#8221;</p>
<p>Sembari berkata terus saja Po-ting-te diseretnya keluar.</p>
<p>&#8220;Nanti dulu!&#8221; seru Thian-in mendadak, sekali melompat, bersama Thian-koan mereka mengadang di ambang pintu.</p>
<p>&#8220;Tiada maksudku membikin susah Po-ting-te, tapi kalau kalian terlalu mendesak, terpaksa tidak dapat kujamin keselamatannya lagi,&#8221; kata Ciumoti. Berbareng tangannya bersiap-siap mengancam di punggung Po-ting-te.</p>
<p>Thian-in cukup kenal betapa lihainya orang, sekali Po-ting-te sudah dicengkeram urat nadinya, pasti tak berdaya lagi untuk melawan. Maka ia menjadi bungkam, tapi tetap mengadang di tempatnya.</p>
<p>&#8220;Kedatanganku ke sini tidak membawa hasil apa-apa, sungguh malu terhadap mendiang Buyung-siansing, beruntung sekarang dapat mengundang Po-ting-hongya, tidaklah hilang sama sekali arti perjalananku ini, maka sukalah kalian memberi jalan,&#8221; kata Ciumoti pula.</p>
<p>Namun Thian-in dan Thian-koan masih ragu, mereka pikir Po-ting-te adalah kepala negara Tayli, mana boleh digondol lari oleh musuh?</p>
<p>Ciumoti menjadi tidak sabar, serunya, &#8220;Kabarnya para padri Thian-liong-si sini sangat bijaksana, kenapa menghadapi urusan kecil ini mesti bingung seperti anak kecil?&#8221;</p>
<p>Dalam pada itu yang paling khawatir adalah Toan Ki demi melihat sang paman ditawan musuh. Semula ia menduga sang paman tentu dapat melepaskan diri dari tangan musuh, siapa tahu makin lama Ciumoti makin garang. Thian-in dan lain-lain tampak cemas dan gusar, tapi tak bisa berbuat apa-apa, apalagi setindak demi setindak Ciumoti mulai melangkah keluar lagi.</p>
<p>Tanpa pikir lagi Toan Ki berteriak, &#8220;Hai, lepaskan pamanku!&#8221;</p>
<p>Segera ia melangkah keluar dari aling-aling Koh-eng Taysu.</p>
<p>Sejak tadi Ciumoti sudah mengetahui juga di depan Koh-eng ada duduk seorang lagi yang tak diketahui siapa, pula tidak paham apa maksud Koh-eng menyuruh seorang duduk di depannya, kini melihat orang itu bertindak keluar, ia menjadi heran, tanyanya segera, &#8220;Siapakah engkau?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tak perlu kau tanya siapa aku, lepaskan pamanku,&#8221; sahut Toan Ki sambil ulur tangannya hendak menarik tangan Po-ting-te yang lain.</p>
<p>Segera Po-ting-te menjabat juga tangan Toan Ki yang diulurkan sambil berkata, &#8220;Ki-ji, jangan urus diriku, lekas pulang dan minta ayahmu segera naik takhta menggantikan aku. Kini aku sudah menjadi seorang Hwesio tua yang tiada artinya, buat apa dipikirkan?&#8221;</p>
<p>Dan karena tangan bergandeng tangan, seketika tubuh Po-ting-te bergetar, segera ia merasakan daya sedot &#8220;Cu-hap-sin-kang&#8221; dari tubuh Toan Ki. Dan pada saat yang sama Ciumoti juga merasakan tenaga murninya terus merembes keluar.</p>
<p>Dalam hal Lwekang Ciumoti lebih tinggi daripada Po-ting-te, ia menyangka Po-ting-te menggunakan semacam ilmu gaib untuk mengisap tenaga dalamnya, cepat ia himpun kekuatan untuk saling berebut hawa murni dengan Po-ting-te.</p>
<p>Kalau Po-ting-te tertawan oleh Ciumoti adalah karena sama sekali tidak menduga padri asing itu bakal bertindak secara pengecut, tapi tenaga dalam dan ilmu silat Po-ting-te sedikit pun tidak berkurang, maka ketika mendadak terasa kedua tangan sendiri berbareng timbul dua arus tenaga mahakuat dan saling betot, segera timbul akalnya untuk &#8220;meminjam tenaga orang untuk melawan tenaga yang lain&#8221;, ia gunakan ilmu itu untuk mempertemukan kedua arus tenaga yang hebat itu.</p>
<p>Dan begitu kedua tenaga itu saling bentrok, Po-ting-te yang berada di tengah itu jadi bebas dari tekanan tenaga-tenaga itu dan terhindarlah dia dari tawanan Ciumoti. Cepat ia melompat mundur sambil menarik Toan Ki, dalam hati diam-diam ia bersyukur hari ini selamat berkat pertolongan keponakannya itu.</p>
<p>Dalam pada itu kejut Ciumoti sungguh tak terkatakan, pikirnya, &#8220;Ternyata dunia persilatan di Tionggoan telah muncul pula seorang jago kelas wahid, mengapa aku sama sekali tidak tahu? Usia orang ini paling banyak cuma 20-an, mengapa sudah setinggi ini kepandaiannya?&#8221;</p>
<p>Tadi Ciumoti mendengar Toan Ki memanggil Po-ting-te sebagai paman, ia menjadi lebih ragu lagi, sebab selamanya belum didengarnya bahwa di antara angkatan muda keluarga Toan di Tayli terdapat seorang tokoh kelas satu begini? Sungguh tak tersangka olehnya bahwa sergapannya yang sudah berhasil menawan Po-ting-te itu mendadak digagalkan oleh seorang pemuda tak terkenal, tentu saja membuatnya sangat penasaran.</p>
<p>Maka dengan mengangguk perlahan ia pun berkata, &#8220;Selama ini aku menyangka Toan-si di Tayli ini khusus hanya meyakinkan ilmu keturunan leluhur dan tidak mempelajari ilmu kepandaian dari luar, siapa tahu angkatan mudanya yang gagah begini ternyata sudi berkawan dengan iblis dari Sing-siok-hay untuk mempelajari &#8216;Hoa-kang-tay-hoat&#8217; yang hebat itu. Aneh, sungguh aneh!&#8221;</p>
<p>Nyata biarpun Ciumoti seorang cerdik pandai juga telah salah sangka Cu-hap-sin-kang yang dimiliki Toan Ki itu sebagai Hoa-kang-tay-hoat.</p>
<p>Dengan tertawa dingin Po-ting-te menjawab, &#8220;Sudah lama kudengar Tay-lun-beng-ong adalah seorang saleh dan mempunyai pengetahuan yang luas, tapi mengapa bisa menarik kesimpulan yang lucu ini? Sing-siok Lomo (iblis tua dari Sing-siok-hay) banyak melakukan kejahatan, mana boleh keturunan keluarga Toan kami mengadakan hubungan dengan dia?&#8221;</p>
<p>Selagi Ciumoti tercengang oleh jawaban itu, tiba-tiba Toan Ki ikut berkata, &#8220;Engkau adalah tamu, maka Thian-liong-si menyambutmu dengan hormat, tapi secara licik engkau membokong pamanku, mengingat kita sesama murid Buddha, maka kami mengalah sedapat mungkin, sebaliknya engkau semakin garang, seorang alim masakah sekasar seperti engkau ini?&#8221;</p>
<p>Diam-diam semua orang ikut senang mendengar Toan Ki mendamprat Ciumoti, berbareng mereka pun waspada kalau-kalau dari malu Ciumoti menjadi gusar dan mendadak melontarkan serangan kepada pemuda itu.</p>
<p>Tak tersangka Ciumoti tetap tenang-tenang saja, katanya, &#8220;Sungguh hari ini aku sangat beruntung dapat berkenalan dengan seorang tokoh muda. Sudilah memberi petunjuk barang beberapa jurus agar menambah pengalamanku.&#8221;</p>
<p>Tapi dengan terus terang Toan Ki menjawab, &#8220;Aku tidak mahir ilmu silat, aku tidak pernah belajar apa-apa.&#8221;</p>
<p>Ciumoti terbahak-bahak, sudah tentu ia tidak percaya, katanya, &#8220;Pandai, sungguh pandai. Biarlah kumohon diri saja!&#8221;</p>
<p>Dan sedikit tubuh bergerak, di mana lengan bajunya mengebas, tahu-tahu tangannya menyusup keluar, sekaligus empat tipu serangan Hwe-yam-to terus dilontarkan ke arah Toan Ki.</p>
<p>Toan Ki sama sekali tidak paham cara bagaimana bertempur dengan ilmu silat mahatinggi itu, maka ketika diserang musuh dengan tipu yang lihai, ia sendiri belum lagi menyadari. Syukur Po-ting-te dan Thian-som segera menolongnya dari samping, berbareng mereka memapak serangan Ciumoti itu dengan jari mereka. Cuma begitu membentur tenaga dalam Ciumoti yang mahakuat itu, tubuh mereka lantas tergeliat, bahkan Thian-som terus tumpah darah segar.</p>
<p>Melihat Thian-som tumpah darah, barulah Toan Ki sadar bahwa barusan Ciumoti telah membokongnya. Ia menjadi gusar, ia tuding padri itu sambil memaki, &#8220;Kau Hwesio asing yang tidak kenal aturan ya!&#8221;</p>
<p>Dan karena dia menuding sekuatnya, pikirannya bekerja, hawa murni pun mengalir, dengan sendirinya lantas keluar satu jurus Kiam-hoat dari &#8220;Siau-yang-kiam.&#8221;</p>
<p>Lwekang Toan Ki sekarang sudah tiada bandingannya di dunia ini, sejak ia duduk di depan Koh-eng Taysu dan membaca gambar Lak-meh-sin-kiam-boh serta cara bergeraknya, ketika tanpa sengaja jarinya menuding, tanpa disadarinya gerakan itu tepat seperti apa yang dilihatnya dalam gambar, maka terdengarlah suara &#8220;cus&#8221;, serangkum tenaga dalam yang mahakuat dengan gaya &#8220;Kim-ciam-to-jiat&#8221; atau jarum emas menghindarkan maut, langsung menutuk ke arah Ciumoti.</p>
<p>Sama sekali Ciumoti tidak menyangka tenaga dalam pemuda itu bisa sedemikian kuatnya, bahkan jurus tutukan &#8220;Kim-ciam-to-jiat&#8221; itu tampak sangat cekatan dan merupakan serangan Kiam-hoat yang paling tinggi. Dalam kagetnya cepat ia keluarkan Hwe-yam-to-hoat, ia menangkis dengan tapak tangan.</p>
<p>Serangan Toan Ki itu ternyata tidak melulu mengejutkan Ciumoti saja, bahkan Koh-eng, Thian-in dan lain-lain juga merasa heran, di antaranya yang paling heran sudah tentu adalah Po-ting-te dan Toan Ki sendiri. Pikir Toan Ki, &#8220;Sungguh aneh sekali? Aku cuma menuding sekenanya, mengapa Hwesio ini menangkis dengan sungguh-sungguh? Eh, barangkali tudinganku tadi gayanya mirip dengan sesuatu tipu serangan dan Hwesio ini menyangka aku mahir Lak-meh-sin-kiam. Hahaha, jika demikian, biarlah aku menggertaknya lagi.&#8221;</p>
<p>Segera Toan Ki berseru, &#8220;Siau-yang-kiam barusan masih belum apa-apa! Lihatlah sekarang kumainkan Kiam-hoat dari Tiong-ciong-kiam!&#8221;</p>
<p>Berbareng jari tengahnya menuding. Gayanya memang tepat, tapi sekali ini ternyata tidak membawa tenaga dalam yang kuat.</p>
<p>Ketika melihat pemuda itu menutuk lagi, cepat Ciumoti siapkan tenaganya untuk menyambut, tak terduga serangan Toan Ki ternyata tak membawa kekuatan apa-apa. Semula ia terkejut sebab mengira serangan pemuda itu mungkin hanya pancingan belaka, tetapi sesudah tutukan kedua kalinya tetap kosong tak terisi, barulah Ciumoti bergirang, &#8220;Memangnya aku tidak percaya di dunia ini ada orang mahir memainkan Siau-yang-kiam dan Tiong-ciong-kiam sekaligus, dan nyatanya bocah ini memang cuma main gertak saja hingga aku ditipu.&#8221;</p>
<p>Dasar watak Ciumoti memang tinggi hati, dan orang yang tinggi hati tentu dengki. Kedatangannya ke Thian-liong-si tidak berhasil apa-apa, bahkan telah kecundang beberapa kali, ia pikir kalau tidak balas unjuk gigi sedikit, tentu nama baik Tay-lun-beng-ong akan tercemar.</p>
<p>Segera telapak tangan kirinya memotong ke kanan dan ke kiri beberapa kali, lebih dulu ia tutup jalur bantuan Po-ting-te dan lain-lain dengan tenaga dalamnya, menyusul tangan kanan terus memotong ke pundak kanan Toan Ki. Tipu serangan &#8220;Pek-hong-koan-jit&#8221; atau pelangi putih menembus sinar matahari, adalah salah satu jurus paling bagus Hwe-yam-to-hoat, ia yakin bahu Toan Ki pasti akan terbelah olehnya.</p>
<p>Melihat itu, Po-ting-te, Thian-in dan Thian-som berseru khawatir, &#8220;Awas!&#8221;</p>
<p>Berbareng jari mereka terus menutuk serentak ke arah Ciumoti.</p>
<p>Serangan serentak mereka itu adalah serangan yang memaksa musuh harus menolong diri sendiri lebih dulu. Tak tersangka lebih dulu Ciumoti sudah membungkus bagian bahaya tubuhnya dengan tenaga dalam yang kuat, sedang serangannya kepada Toan Ki tetap dilontarkan tanpa menghiraukan ancaman Po-ting-te bertiga.</p>
<p>Ketika mendengar seruan kaget Po-ting-te bertiga tadi, Toan Ki tahu gelagat tentu tidak menguntungkan, tanpa pikir tangan kanan dan kiri terus menutuk ke depan sekuatnya, dalam khawatirnya itu, hawa murni dalam tubuh dengan sendirinya bergolak, maka sekaligus Siau-ciong-kiam di tangan kiri dan Siau-tik-kiam di tangan kanan dilontarkan untuk menangkis Hwe-yam-to-hoat musuh, begitu kuat tenaganya hingga mampu balas menghantam Ciumoti dengan daya tekan yang hebat.</p>
<p>Keruan Ciumoti kelabakan, tanpa pikir ia bertahan sekuatnya.</p>
<p>Setelah beberapa kali menutuk, lamat-lamat Toan Ki bisa merasakan bahwa terlebih dulu harus timbul sesuatu hasrat, habis itu barulah mengerahkan tenaga dan menutuk, dengan demikian tenaga dalam dan hawa murninya baru dapat bekerja serentak. Namun mengapa bisa begitu, dengan sendirinya ia bingung.</p>
<p>Begitulah dalam sekejap saja Toan Ki menutuk berulang-ulang menurut perasaannya yang timbul dari apa yang dilihatnya pada gambar Lak-meh-sin-kiam itu. Jari bekerja dengan cepat dan indah hingga makin lama Ciumoti makin heran dan terkesiap. Sekuatnya ia kerahkan tenaga dalam untuk melawan Lak-meh-sin-kiam yang lihai itu, seketika hawa pedang sambar-menyambar dengan tajamnya.</p>
<p>Selang sebentar, Ciumoti merasakan tenaga dalam lawan makin lama makin kuat, perubahan Kiam-hoatnya juga tiada habis-habisnya dan sukar diraba. Makin lama Ciumoti tambah heran dan menyesal telah gegabah merecoki Thian-liong-si, tahu-tahu kini muncul seorang tokoh muda selihai ini. Sekonyong-konyong ia menyerang tiga kali, lalu berseru, &#8220;Berhenti dulu!&#8221;</p>
<p>Namun meski Toan Ki mahir Lak-meh-sin-kiam, ia tak dapat menguasai hawa murni dalam tubuhnya, maka ketika lawan berseru minta berhenti, seketika ia menjadi bingung cara menarik kembali tenaga dalamnya, terpaksa jarinya diangkat ke atas hingga menuding ke atap rumah. Berbareng ia berpikir, &#8220;Biarlah aku tidak keluarkan tenaga lagi, coba apa yang hendak ia katakan.&#8221;</p>
<p>Hanya sekilas saja Ciumoti yang mahapintar itu sudah dapat melihat sikap bingung Toan Ki itu, caranya menarik kembali hawa murninya tampak kerepotan, kentara bingung dan masih hijau. Sedikit tergerak pikirannya, segera Ciumoti melompat maju terus menjotos ke muka Toan Ki.</p>
<p>Bahwa Toan Ki berhasil memperoleh pelajaran Lak-meh-sin-kiam yang hebat itu adalah disebabkan secara kebetulan saja dan ada jodoh, tapi mengenai ilmu silat yang paling umum sekalipun sebenarnya ia tidak paham. Maka ketika jotosan Ciumoti itu tiba, biarpun serangan ini sangat sederhana dan mudah dihindari, namun bagi Toan Ki malah sukar ditangkis.</p>
<p>Segala kepandaian di dunia ini lazimnya dipelajari mulai dari yang cetek, kemudian menuju yang dalam, tidak mungkin hanya memahami yang dalam, tapi malah tidak bisa yang cetek, hanya ilmu silat Toan Ki itulah merupakan suatu kecuali besar.</p>
<p>Ketika melihat dirinya dijotos, walaupun serangan itu sangat sederhana, tapi ia justru kelabakan cara menangkisnya. Keruan kesempatan itu tidak diabaikan Ciumoti, mendadak ia hentikan jotosannya di tengah jalan dan menyampuk tangan Toan Ki ke samping, menyusul dada pemuda itu lantas dijambretnya bagian &#8220;Sin-hong-hiat.&#8221; Tanpa ampun lagi antero tubuh Toan Ki terasa lemas linu tak bisa berkutik.</p>
<p>Walaupun Ciumoti dapat melihat di antara ilmu silat Toan Ki itu terdapat banyak titik kelemahannya, tapi tak terduga olehnya bahwa secara begitu gampang pemuda itu dapat ditangkapnya. Ia khawatir Toan Ki sengaja tertawan dan masih ada tipu muslihat lain, maka begitu mencengkeram Sin-hong-hiat dada pemuda itu, menyusul ia menutuk pula &#8220;Tan-tiong&#8221;, &#8220;Tay-tui&#8221; dan beberapa Hiat-to penting lainnya.</p>
<p>Tapi pada saat yang sama, Ciumoti juga terasa tenaga murni dalam tubuh sendiri terus merembes keluar melalui telapak tangan kanan yang mencengkeram dada Toan Ki itu.</p>
<p>Cepat ia pegang pergelangan tangan kanan dengan tangan kiri sambil menyurut mundur beberapa tindak, lalu katanya, &#8220;Siausicu (tuan kecil) ini sudah hafal benar ilmu Lak-meh-sin-kiam, sedangkan Kiam-boh itu sudah dibakar oleh Koh-eng Taysu &#8230;.&#8221;</p>
<p>Sambil bicara, ia megap-megap juga, sebab sekali mulutnya mengap, tak tertahan lagi hawa murninya lantas merembes keluar, terpaksa ia bicara dengan cepat dan terputus-putus, &#8220;Namun Siausicu ini sama &#8230; sama saja seperti Kiam-boh hidup, biarlah kubawa ke &#8230; ke kuburan Buyung-siansing untuk dibakar hidup-hidup di sana, bukankah sa &#8230; sama juga &#8230;.&#8221;</p>
<p>Dan karena khawatir kelemahannya diketahui Koh-eng dan kawan-kawannya, cepat Ciumoti keluarkan serangan Hwe-yam-to-hoat lagi beberapa kali, sekali melompat keluarlah dia dari ruang Bo-ni-tong itu. Ketika Po-ting-te, Thian-in dan lain-lain hendak mengejar, namun mereka dipaksa mundur kembali oleh serangan Ciumoti yang hebat itu.</p>
<p>Begitu sampai di luar, segera Ciumoti lemparkan Toan Ki kepada kesembilan laki-laki yang berjaga di luar sambil membentak, &#8220;Lekas berangkat!&#8221;</p>
<p>Segera dua laki-laki di antaranya berlari maju menyambut tubuh Toan Ki dan digondol lari melalui jalan yang tidak semestinya seperti mereka datang tadi.</p>
<p>Ciumoti sendiri lantas merasa tenaga murninya tidak merembes keluar lagi begitu terpisah dengan tubuh Toan Ki, ia tetap melontarkan serangan Hwe-yam-to-hoat yang hebat ke pintu keluar Bo-ni-tong, seketika Po-ting-te dan lain-lain menjadi tertahan di dalam dan sukar membobol jaringan golok musuh yang tak berwujud itu.</p>
<p>Setelah mendengar derap kuda begundalnya sudah pergi agak jauh dengan menggondol Toan Ki, maka tertawalah Ciumoti, katanya, &#8220;Haha, Kiam-boh kertas terbakar, kini dapat Kiam-boh yang hidup malah. Buyung-siansing tentu takkan merasa kesepian lagi di alam baka, beliau segera akan mendapat teman.&#8221;</p>
<p>Dan sekali tangannya memotong, terdengarlah suara gemuruh, dua pilar Bo-ni-tong dipatahkan olehnya, menyusul tertampaklah bayangan orang berkelebat, secepat angin ia menghilang dari pandangan mata.</p>
<p>Ketika Po-ting-te dan Thian-som memburu keluar, namun Ciumoti sudah pergi jauh.</p>
<p>&#8220;Hayo, lekas kita kejar!&#8221; seru Po-ting-te. Segera ia mendahului berlari ke depan. Cepat Thian-som ikut di belakangnya untuk mengejar musuh.</p>
<p>Dalam keadaan tak dapat berkutik karena Hiat-to tertutuk, Toan Ki merasa dirinya ditaruh di atas kuda dengan tengkurap hingga kepala terjulur ke bawah. Karena itu ia dapat melihat sibuknya kaki kuda bekerja, debu bertebaran memenuhi mukanya.</p>
<p>Ia dengar beberapa laki-laki itu sedang membentak-bentak dalam bahasa asing, entah apa yang dipercakapkan. Ia coba menghitung kaki kuda, seluruhnya ada 40, itu berarti ada 10 penunggang kuda.</p>
<p>Setelah belasan li jauhnya, sampailah mereka di suatu simpang jalan. Terdengar Ciumoti berkata beberapa patah, lalu lima penunggang kuda mengambil jalan ke kiri, sedangkan Ciumoti sendiri bersama laki-laki yang menggondol Toan Ki serta tiga orang lain lagi membelok ke kanan.</p>
<p>Beberapa li pula, kembali ada simpang jalan lagi, segera Ciumoti membagi diri mereka menjadi dua rombongan pula.</p>
<p>Toan Ki tahu Ciumoti sengaja hendak memencarkan perhatian pengejarnya agar bingung ke mana harus mengejar mereka.</p>
<p>Tidak lama kemudian, tiba-tiba Ciumoti melompat turun dari kudanya, ia ambil seutas sabuk kulit untuk mengikat pinggang Toan Ki, lalu tubuh pemuda itu dijinjingnya terus dibawa menuju ke lereng bukit. Sedangkan kedua begundalnya melarikan kuda mereka ke jurusan lain.</p>
<p>Diam-diam Toan Ki mengeluh, &#8220;Wah, celaka! Jika demikian, sekalipun Pekhu mengerahkan pasukan besar untuk mengejar, paling banyak cuma kesembilan lelaki itu yang dapat ditangkap kembali, tapi sukar menemukan aku.&#8221;</p>
<br />Posted in Jin Yong, Pendekar Kerajaan Tayli  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toanki.wordpress.com/1798/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toanki.wordpress.com/1798/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toanki.wordpress.com/1798/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toanki.wordpress.com/1798/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toanki.wordpress.com/1798/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toanki.wordpress.com/1798/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toanki.wordpress.com/1798/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toanki.wordpress.com/1798/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toanki.wordpress.com/1798/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toanki.wordpress.com/1798/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toanki.wordpress.com/1798/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toanki.wordpress.com/1798/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toanki.wordpress.com/1798/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toanki.wordpress.com/1798/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1798&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-16/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b75e221c0eee4ff517b26695a19675fc?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">Lenghou Tiong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 15</title>
		<link>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-15/</link>
		<comments>http://toanki.wordpress.com/2008/10/29/pendekar-kerajaan-tayli-jilid-15/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 04:24:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenghou Tiong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jin Yong]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar Kerajaan Tayli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toanki.wordpress.com/?p=1795</guid>
		<description><![CDATA[Mula-mula Po-ting-te dan lain-lain merasa heran ketika mendengar ucapan Ciok-jing-cu tadi, mereka mengira imam yang biasanya jenaka itu sedang membadut. Tapi kini demi tampak sikap Ui-bi-ceng yang sungguh-sungguh itu, barulah mereka tahu urusan benar-benar sangat gawat. Segera Po-ting-te pegang tangan Toan Ki dan hendak menyeretnya bangun. Ketika tangan menempel tangan, tiba-tiba hati tergetar juga, tenaga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toanki.wordpress.com&amp;blog=4564196&amp;post=1795&amp;subd=toanki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mula-mula Po-ting-te dan lain-lain merasa heran ketika mendengar ucapan Ciok-jing-cu tadi, mereka mengira imam yang biasanya jenaka itu sedang membadut. Tapi kini demi tampak sikap Ui-bi-ceng yang sungguh-sungguh itu, barulah mereka tahu urusan benar-benar sangat gawat.</p>
<p><span id="more-1795"></span>Segera Po-ting-te pegang tangan Toan Ki dan hendak menyeretnya bangun. Ketika tangan menempel tangan, tiba-tiba hati tergetar juga, tenaga dalam terus merembes keluar. Cepat ia tahan sekuatnya berbareng lengan jubah mengebas hingga Toan Ki terentak ke samping beberapa tindak. Lalu bentaknya dengan suara bengis, &#8220;Sejak kapan kau belajar ilmu sesat begini?&#8221;</p>
<p>Sejak kecil sampai dewasa, jarang sekali Toan Ki melihat pamannya bicara dengan suara bengis padanya. Saking gugupnya cepat ia berlutut dan menjawab, &#8220;Kecuali &#8216;Leng-po-wi-poh&#8217; itu selamanya anak tidak pernah belajar ilmu apa-apa lagi. Apa barangkali ilmu gerak langkah itu sejahat ini? Jika &#8230; jika demikian, biarlah anak takkan menggunakannya lagi mulai sekarang, bahkan akan kulupakan saja seluruhnya.&#8221;</p>
<p>Po-ting-te cukup kenal watak keponakannya, selamanya tidak pernah berdusta, terhadap orang tua juga sangat hormat, maka apa yang dikatakan pasti salah. Tentu di dalamnya ada sesuatu yang ganjil, maka katanya pula, &#8220;Kau gunakan ilmu melenyapkan tenagaku, hal ini sengaja kau lakukan atau karena terpaksa lantaran mendapat tekanan orang lain?&#8221;</p>
<p>Toan Ki bertambah heran dan bingung, &#8220;Titji ben &#8230; benar tidak tahu sama sekali, dari mana Titji berani melenyapkan tenaga paman? Hakikatnya Titji tidak bisa sesuatu ilmu apa-apa!&#8221;</p>
<p>Tadi waktu Hui-cin dan Hui-sian menemui Po-ting-te, sebagai Onghui yang diagungkan, Si Pek-hong tidak bebas bertemu dengan orang luar, maka dia menyingkir ke dalam. Kemudian waktu mendapat laporan bahwa putra kesayangannya di depan terjungkal oleh tindakan Ui-bi-ceng dan sedang dimarahi Po-ting-te, saking gugupnya cepat ia keluar lagi.</p>
<p>Dan ketika melihat Toan Ki berlutut di hadapan sang paman dengan sikap bingung dan takut, sebagai ibu yang mahakasih, segera ia menarik bangun sang putra sambil berkata, &#8220;Ki-ji, jangan khawatir, segala urusan boleh katakan terus terang pada Pekhu dan aduuuuh &#8230;.&#8221;</p>
<p>Sekonyong-konyong ia merasa tangan sendiri seakan-akan tersedot dan tenaga dalam terus merembes keluar tak terhentikan.</p>
<p>Untunglah sebelum itu Po-ting-te sudah bersiap-siap, cuma di antara ipar tidak boleh bersentuhan badan, maka tidak enak baginya menarik tangan Si Pek-hong, tapi cepat ia kebas lengan bajunya hingga berjangkit serangkum angin keras ke tengah-tengah kedua orang itu, dengan paksa ia pisahkan daya lengket tangan ibu dan anak itu.</p>
<p>&#8220;Kenapa kau &#8230; kau &#8230;.&#8221; seru Si Pek-hong kaget setelah dapat menarik kembali tangannya.</p>
<p>Melihat kelakuan sang ibu yang kaget dan gugup itu, Toan Ki belum sadar kalau dirinya yang menjadi gara-gara, cepat ia berbangkit hendak memegang sang ibu.</p>
<p>&#8220;Jangan Ki-ji!&#8221; lekas Cing-sun mencegahnya sambil mengadang di antara istri dan anaknya.</p>
<p>Maka sekarang tahulah semua orang bahwa pada badan Toan Ki ada sesuatu yang tidak beres, tapi mereka pun tidak mencurigai lagi bahwa arak muda itu mahir &#8220;Hoa-kang-tay-hoat&#8221; dan sengaja hendak mencelakai orang. Hal ini dapat mereka ketahui dari sikap Toan Ki yang polos dan lugu itu, sedikit pun tidak berpura-pura atau palsu. Pula, seumpama pemuda itu benar-benar jahat dari keji, rasanya tidak mungkin membunuh ibu kandung sendiri.</p>
<p>&#8220;Ui-bi Taysu, Ciok-jing-cu,&#8221; tiba-tiba Sing-thay berkata, &#8220;apakah sebabnya Toan-kongcu bisa begitu? Ayolah, coba siapa yang lebih dulu dapat menerangkannya!&#8221;</p>
<p>Mendengar itu, Ui-bi-ceng dan Ciok-jing-cu saling melotot sekali, lalu sama-sama memeras otak untuk menemukan jawabannya.</p>
<p>Kiranya Ui-bi-ceng dan Ciok-jing-cu sebenarnya adalah dua kawan karib pada masa lalu. Suatu kali, karena berdebat tentang agama yang dianut masing-masing itu, keduanya sama-sama tidak mau mengalah hingga akhirnya saling gebrak.</p>
<p>Tapi karena kepandaian masing-masing mempunyai keunggulan sendiri-sendiri, muka kekuatan kedua pihak boleh dikatakan setali-tiga-uang alias sama kuat.</p>
<p>Beberapa kali mereka pernah bertanding, pada penghabisan kalinya, hampir-hampir keduanya menggeletak dan gugur bersama. Untunglah datang Po-ting-te memisahkan mereka dengan Lwekang yang tinggi, tapi ketiga orang sama menderita kerugian tenaga dalam yang besar hingga perlu merawat diri dalam waktu cukup lama. Sejak itu Hwesio dan Tosu itu sama bersumpah tidak sudi bertemu muka lagi. Siapa duga hari ini justru saling berjumpa pula di istana pangeran Tin-lam-ong ini.</p>
<p>Ko Sing-thay bermaksud melenyapkan persengketaan di antara kedua tokoh itu, maka sengaja ia kemukakan persoalan tadi dengan maksud agar kedua orang itu bertanding kecerdasan otak dan tidak bertanding ilmu silat, jika pertanyaannya tadi dapat dimenangkan oleh salah satu pihak, ia harap dapatlah mengakhiri percekcokan di antara kedua orang itu.</p>
<p>Pertanyaan Ko Sing-thay itu sebenarnya lebih menguntungkan Ciok-jing-cu, sebab imam itu telah menjelajah ke mana saja, dengan pengalamannya yang luas terang lebih menguntungkan daripada Ui-bi-ceng yang sudah sekian lama terasing di pegunungan sunyi.</p>
<p>Namun biarpun Ui-bi-ceng tidak tahu apa sebabnya Toan Ki menjadi begitu, bagi Ciok-jing-cu, kecuali menduga kepandaian pemuda itu adalah Hoa-kang-tay-hoat ajaran iblis tua Sing-siok-hay, lebih dari itu ia pun tidak bisa mengemukakan pendapat lain.</p>
<p>Maka dengan gusar Cing-sun berkata, &#8220;Ketika Ki-ji disekap di rumah batu itu, tentu dia telah dicekoki sesuatu obat racun apa-apa oleh Jing-bau-khek itu hingga ada ilmu sihir masuk tubuhnya tanpa disadarinya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, masuk akal juga pendapatmu ini,&#8221; ujar Po-ting-te mengangguk. &#8220;Tentu Ki-ji terkena apa-apanya, makanya bisa begini. Ki-ji, coba katakan, waktu dikurung di rumah batu itu, apa kau pernah pingsan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pernah,&#8221; sahut Toan Ki, &#8220;bahkan beberapa kali Titji tak sadarkan diri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Itulah dia!&#8221; seru Cing-sun. &#8220;Pasti kesempatan pada waktu Ki-ji tak sadar itu telah digunakan oleh Jing-bau-khek untuk memasukkan ilmu sihir yang bisa menghilangkan kepandaian orang ke dalam badannya. Maksud tujuannya tentu secara tak langsung Ki-ji hendak dipakai untuk mencelakai sanak familinya, yaitu, supaya kepandaian kita lenyap semua di tangan Ki-ji. Sungguh tipu muslihat yang keji dan terkutuk. Toako, urusan tak boleh terlambat, marilah kita segera mencari akal untuk melenyapkan ilmu sihir dalam tubuh Ki-ji itu.&#8221;</p>
<p>Dan di antara semua orang itu, dengan sendirinya Si Pek-hong yang paling khawatir, tanyanya cepat, &#8220;Ki-ji, apakah kau rasakan badanmu menderita sesuatu?&#8221;</p>
<p>Toan Ki berkerut kening, sahutnya, &#8220;Antero tubuhku terasa penuh terisi tenaga belaka, di mana-mana seakan-akan melembung, tepi justru susah untuk ditumpah keluar. Hawa itu terasa meresap ke sana-sini di dalam badan, mungkin seluruh isi perutku kacau-balau diterjang olehnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, kasihan!&#8221; seru Si Pek-hong terus hendak merangkul sang putra.</p>
<p>Syukur Cing-sun keburu mencegahnya sambil berkata, &#8220;Jangan menyentuh Ki-ji! Badannya keracunan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Badan keracunan&#8221;, memang demikianlah pendapat semua orang yang hadir di situ. Mereka menjadi kasihan dan gegetun pemuda yang tampan itu mesti menderita penyakit yang aneh itu.</p>
<p>&#8220;Toapek, kita harus lekas berdaya untuk menyembuhkan Ki-ji,&#8221; pinta Si Pek-hong kepada Po-ting-te.</p>
<p>&#8220;Harap adik ipar jangan khawatir,&#8221; sahut Po-ting-te. &#8220;Di depan kita sekarang sudah siap seorang Hwesio dan seorang Tosu, keduanya tokoh nomor wahid dalam Bu-lim, satu tadi telah memaki Ki-ji habis-habisan, yang lain bahkan telah menendangnya hingga terjungkal, dengan sendirinya penyakit Ki-ji wajib mereka sembuhkan.&#8221;</p>
<p>Saat itu Ui-bi-ceng dan Ciok-jing-cu justru sedang peras otak memikirkan penyakit apa yang diderita Toan Ki. Maka apa yang dikatakan Po-ting-te itu sama sekali tak masuk dalam telinga mereka.</p>
<p>Sekonyong-konyong Ui-bi-ceng berteriak, &#8220;He, ya!</p>
<p>Semua orang ikut girang dan mengarahkan pandang kepadanya. Siapa duga padri itu lantas goyang-goyang tangan dan menyatakan dengan menyesal, &#8220;Ah, salah, salah! Obat racun itu melulu dapat merusak kepandaian sendiri dan tak bisa melenyapkan kepandaian pihak lain.&#8221;</p>
<p>Penjelasan itu membikin semua orang merasa kecewa.</p>
<p>Tiba-tiba Ciok-jing-cu juga berseru, &#8220;Ya, tentu begitu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus!&#8221; teriak Sing-thay ikut bergirang. &#8220;Nah, apa sebabnya, lekas katakan?&#8221;</p>
<p>Dengan berseri-seri segera Ciok-jing-cu bercerita, &#8220;Di luar lautan sana, di pantai semenanjung Liautang terdapat sebuah pulau ular &#8230;.&#8221; tiba-tiba wajah yang berseri-seri tadi membuyar hingga akhirnya berubah menjadi lesu, ia geleng-geleng kepala dan menyambung, &#8220;Wah, salah rekaanku, tak mungkin terjadi begini.&#8221;</p>
<p>Begitulah, suasana di dalam ruangan itu menjadi sunyi senyap, tiada seorang pun membuka suara lagi.</p>
<p>Dalam keadaan hening itulah, terdengar di luar ada tindakan orang datang dan segera ada suara seorang berseru, &#8220;Lapor Sri Baginda, ada dua orang mata-mata musuh berpura-pura tuli dan bisu telah tertawan di luar, pada mereka terdapat tulisan-tulisan yang tak bisa diampuni.&#8221;</p>
<p>Mendengar kata-kata &#8220;tuli dan bisu&#8221;, pikiran Po-ting-te tergerak, cepat tanyanya, &#8220;Apakah benar-benar orang bisu, atau bisu disebabkan lidah mereka terpotong?&#8221;</p>
<p>&#8220;Baginda memang mahasakti, lidah kedua mata-mata itu memang bekas terpotong,&#8221; sahut pelapor di luar.</p>
<p>Po-ting-te memandang sekejap kepada Ui-bi-ceng, Ciok-jing-cu dan Toan Cing-sun, diam-diam ia membatin, &#8220;Nyata Liong-ah Lojin juga sudah muncul, kesulitan-kesulitan selanjutnya tentu semakin banyak lagi.&#8221;</p>
<p>Segera ia pun berkata, &#8220;Thian-sik, coba keluar membawa masak kedua tamu itu!&#8221;</p>
<p>Thian-sik memberi hormat dan bertindak keluar.</p>
<p>Tidak lama, masuklah Thian-sik dengan membawa dua pemuda berusia antara 18 atau 19 tahun dan memberi lapor, &#8220;Cong-pian Siansing mengirim utusan untuk menghadap Sri Baginda.&#8221;</p>
<p>Kiranya apa yang disebut Liong-ah Lojin atau si Kakek Bisu Tuli itu justru sengaja memakai gelaran &#8220;Cong-pian Siansing&#8221; atau si Tajam Telinga dan Tangkas Mulut. Maksudnya mengatakan meski kuping budek, tapi dapat mendengar lebih jelas daripada orang lain, dan meski bisu, namun kalau bicara sebenarnya jauh lebih tangkas daripada siapa pun.</p>
<p>Nama tokoh bisu tuli itu sangat tenar di dunia persilatan, tindak tanduknya agak aneh, tidak suci, tidak jahat. Kalau ada orang bermusuhan dengan dia, maka celakalah orang itu, selama hidupnya pasti akan selalu terlibat dalam pertempuran dengan si kakek tuli-bisu itu, kalau sakit hatinya belum terbalas, tentu takkan selesai urusannya. Sebab itulah, siapa pun juga, baik ilmu silatnya sama kuat atau lebih tinggi daripada kakek itu, tentu mengindahkan dan menghormatinya untuk menghindari kesukaran-kesukaran yang mungkin terjadi.</p>
<p>Sikap kedua pemuda tadi ternyata cukup gagah, wajah putih bagus, semuanya memakai baju putih, tapi di bagian dada tertulis dua baris huruf, &#8220;Utusan Cong-pian Siansing, ada sesuatu urusan hendak disampaikan kepada Toan Cing-beng Siansing dari Tayli.&#8221;</p>
<p>Sebagai raja, nama &#8220;Cing-beng&#8221; di negeri Tayli tidak boleh sembarangan disebut oleh siapa pun. Tapi tulisan di dada baju pemuda itu terang-terangan menyebut &#8220;Cing-beng Siansing&#8221; tanpa sebutan kebesaran lain, dengan sendirinya oleh pelapor tadi dianggap perbuatan berdosa.</p>
<p>Namun Po-ting-te hanya tersenyum saja, katanya, &#8220;Cong-pian Siansing ternyata sudi menyebut Siansing padaku, hal itu sudah boleh dikatakan mengindahkan diriku.&#8221;</p>
<p>Kemudian kedua pemuda tadi mendekati Po-ting-te, mereka hanya menghormat dengan membungkuk badan, tidak berlutut dan menyembah.</p>
<p>Segera Thian-sik mengambil pensil dan menulis di atas secarik kertas, &#8220;Cong-pian Siansing ada urusan apa, boleh segera lapor kepada Hongsiang.&#8221;</p>
<p>Hendaklah diketahui bahwa watak Liong-ah Lojin itu sangat aneh. Setiap anak murid atau pengikutnya, semuanya dipotong lidah dan dirusak anak telinganya hingga berwujud orang bisu tuli seperti dia sendiri, supaya tidak bisa mendengarkan pembicaraan orang, tapi ia sendiri juga tak dapat bicara. Peraturan yang aneh dan istimewa itu sudah diketahui oleh orang Kangouw umumnya.</p>
<p>Maka untuk menjawab pertanyaan Thian-sik itu, dengan sendirinya kedua pemuda itu tak bisa bicara, tapi pemuda sebelah kanan lantas menanggalkan buntelan yang dibawanya, ia mengeluarkan sepotong baju wanita warna jambon dan dikenakan di badan sendiri, lalu mengeluarkan bedak dan gincu untuk bersolek sekadarnya.</p>
<p>Pemuda yang lain lantas membantu kawan itu melepaskan rambutnya untuk dikepang menjadi dua kucir serta diberi pita merah pula hingga serupa dandanan gadis remaja.</p>
<p>Melihat kelakuan mereka, semua orang merasa heran dan geli pula. Tapi tiada seorang pun yang dapat menerka apa maksud tujuan Liong-ah Lojin dengan mengirim kedua utusannya ini.</p>
<p>Selesai pemuda itu berdandan sebagai seorang gadis, lalu ia berjalan beberapa tindak dengan berlenggak-lenggok, kemudian melompat dan berjingkrak sebagaimana lazimnya gadis remaja yang lincah dan riang.</p>
<p>Meski geli melihat kelakuan pemuda yang menyamar sebagai gadis itu, namun semua orang menduga tindakan Liong-ah Lojin ini tentu mempunyai maksud dalam, maka tiada seorang pun berani tertawa.</p>
<p>Hanya Toan Ki saja yang tidak kenal siapakah gerangan Liong-ah Lojin itu, dengan bertepuk tangan ia tanya dengan tertawa, &#8220;Haha, kau berperan sebagai nona cilik, dan dia menjadi siapa lagi?&#8221;</p>
<p>Pemuda yang lain ternyata tidak menyamar apa-apa, ia sengaja mendongak dan berjalan dengan membusungkan dada seakan-akan dunia ini aku punya. Dengan lagak tuan besar ia berjalan satu putaran di ruangan itu, ketika sampai di depan &#8220;gadis remaja&#8221; tadi, tiba-tiba ia mengamati-matinya dengan tersenyum-senyum, bahkan terus mencubit perlahan pipi gadis gadungan itu.</p>
<p>Gadis palsu itu tampak tersenyum dan bibirnya bergerak-gerak menandakan telah bicara apa-apa. Mendadak pemuda itu tempelkan muka dan mencium sekali pipi si gadis palsu. &#8220;Plak&#8221;, tiba-tiba si gadis palsu memberi persen sekali tamparan kepada pemuda bangor itu. Namun dengan cepat pemuda itu menjulurkan jari telunjuknya dan menutuk iga si gadis palsu.</p>
<p>Melihat gerak tutukan jari itu, seketika Po-ting-te, Toan Cing-sun, Ko Sing-thay, Ui-bi-ceng, Ciok-jing-cu, Hoa Hek-kin dan kawan-kawannya sama terkejut hingga bersuara heran. Bahkan saking heran Cing-sun dan Ciok-jing-cu berbangkit dari tempat duduknya.</p>
<p>Kiranya tutukan jari yang digunakan pemuda itu, baik gayanya maupun tempat yang diarah persis adalah kepandaian khas keluarga Toan, yaitu &#8220;It-yang-ci&#8221; yang hebat itu.</p>
<p>Gerak tutukan &#8220;It-yang-ci&#8221; itu tampaknya tidak sulit, tapi sebenarnya membawa gerak perubahan yang hebat, sekali tutuk, baik tempat yang diarah atau jaraknya, sedikit pun tidak boleh salah, kalau tidak, daya tekanannya tak bisa dilontarkan seluruhnya.</p>
<p>Meski Ui-bi-ceng, Ciok-jing-cu, Ko Sing-thay dan lain-lain tidak pernah belajar ilmu itu, tetapi hubungan mereka dengan keluarga Toan sangat erat, maka benar atau salah It-yang-ci yang digunakan itu cukup diketahui mereka.</p>
<p>Mereka pun tahu ilmu silat Liong-ah Lojin itu adalah suatu aliran tersendiri dan tergolong lunak, sama sekali berbeda seperti It-yang-ci yang mengutamakan kekerasan. Tapi mengapa anak muridnya juga dapat mempelajari ilmu tutuk itu?</p>
<p>Hanya sekejap itu saja rasa heran orang, sebab di tengah kalangan itu keadaan telah berubah lagi. Ketika melihat lawan menutuk iganya, tiba-tiba si gadis palsu mengulur tangan dan dengan cepat menangkap jari lawan. &#8220;Krek&#8221;, tahu-tahu tulang jari si pemuda dipatahkannya.</p>
<p>Serangan balasan si gadis palsu ini meski dilakukan dengan sangat aneh dan cepat, namun dapat diikuti semua orang dengan jelas. Tapi tiada seorang pun menduga sebelumnya bahwa gadis palsu itu bisa melontarkan tipu serangan itu.</p>
<p>Maka menyusul pemuda tadi melangkah maju, kembali jari tangan kiri menutuk ke dada si gadis palsu, tipu serangan yang dipakai tetap bergaya It-yang-ci. Tapi ketika kedua tangan si gadis palsu menyambar, &#8220;krek&#8221;, lagi-lagi jari pemuda itu dipatahkan.</p>
<p>Meski dua jarinya sudah patah, namun, pemuda itu seperti tidak kenal apa artinya sakit, ia masih tetap menyerang terus, hanya sekejap saja kembali ia keluarkan enam gerak It-yang-ci. Tapi gadis palsu itu pun dapat menangkis dengan cepat dan menggunakan enam gerakan yang berbeda-beda untuk mematahkan serangan jari si pemuda.</p>
<p>Karena delapan jarinya telah dipatahkan dan tinggal dua buah jari jempol saja, pemuda itu tidak berani menyerang pula, ia putar tubuh dan terus melarikan diri ke samping. Si gadis palsu bertepuk tangan dengan tertawa sebagai tanda sangat senang. Menyusul ia lantas ambil pensil dan menulis di atas kertas, &#8220;Keluarga Toan dari Tayli, tak bisa menangkan Buyung di Koh-soh.&#8221;</p>
<p>Habis menulis, segera si pemuda yang patah jarinya itu digandengnya pergi.</p>
<p>&#8220;Nanti dulu!&#8221; segera Thian-sik bermaksud mencegat.</p>
<p>Namun Po-ting-te goyang-goyang kepala dan berkata, &#8220;Biarlah mereka pergi!&#8221;</p>
<p>Sesudah kedua pemuda itu pergi, pikiran semua orang merasa tertekan, mereka paham bahwa maksud Liong-ah Lojin mengirim kedua utusannya itu adalah untuk menunjukkan kepada Po-ting-te dan Toan Cing-sun bahwa orang she Buyung di Koh-soh itu sudah mempunyai ilmu khusus untuk mematahkan It-yang-ci.</p>
<p>Walaupun It-yang-ci itu kalau dimainkan Po-ting-te atau Toan Cing-sun, daya tekannya tentu jauh lebih lihai daripada permainan pemuda tadi. Akan tetapi sama halnya pihak lawan juga cuma seorang gadis remaja saja, kalau orang dewasa yang memainkan, dengan sendirinya kekuatannya juga jauh lebih hebat.</p>
<p>Yang harus dipuji adalah si pemuda bisu-tuli tadi ternyata bisa menirukan gerakan kedelapan jurus It-yang-ci dengan sangat tepat, meski cara mengerahkan tenaganya masih banyak kesalahannya, tapi gayanya yang indah itu sedikit pun tidak keliru. Sebaliknya cara si gadis palsu itu mematahkan jari-jarinya itu terlebih hebat dan aneh pula, perubahan-perubahan ternyata sukar diduga.</p>
<p>Namun Po-ting-te ternyata tidak mau mempersoalkan hal itu, dengan tersenyum ia tanya Ciok-jing-cu, &#8220;Ciok-heng, jauh-jauh kau datang kemari, apakah ada hubungannya dengan persoalan orang Buyung di Koh-soh itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, tiada sangkut pautnya dengan orang Buyung di Koh-soh,&#8221; sahut Ciok-jing-cu menggeleng kepala. &#8220;Tapi besar sangkut pautnya dengan keluarga Toan kalian. Anak murid Toan kalian telah keterlaluan menggemparkan kota Yangciu. Kaisar kerajaan Song mungkin tidak enak mengusut perkara itu mengingat nama baikmu, tapi orang-orang Bu-lim dari Tionggoan merasa penasaran padamu.&#8221;</p>
<p>Keruan Po-ting-te terkejut, cepat tanyanya, &#8220;Mana bisa jadi begitu? Keturunan keluarga Toan kami melulu Ki-ji seorang, tapi selamanya ia tidak pernah meninggalkan wilayah Tayli, dari mana bisa mengacaukan kota Yangciu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Yangciu-sam-hiong, yaitu He Hou-siu, Kim Tiong dan Ong Siok-kian, dan anggota keluarga laki-laki mereka yang berjumlah 28 jiwa dalam semalam saja telah tewas semua di bawah tutukan It-yang-ci,&#8221; demikian tutur Ciok-jing-cu, &#8220;Toan-hongya, katakanlah, dosa apakah Yangciu-sam-hiong itu terhadap Toan-keh kalian?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dua puluh delapan jiwa mati semua di bawah tutukan It-yang-ci, apa betul dan tidak salah lihat, Ciok-toheng?&#8221; sahut Po-ting-te.</p>
<p>&#8220;Cara It-yang-ci membunuh orang sangat halus, pihak yang terkena seluruh badan terasa nikmat, anggota badan juga hangat tanpa derita sedikit pun, makanya korban tetap bersenyum tanpa luka, betul tidak begitu tanda terkena It-yang-ci?&#8221; tanya Ciok-jing-cu.</p>
<p>&#8220;Sedikit pun tidak salah cara hidung kerbau melukiskan itu, seakan-akan dia sendiri pernah mencicipi rasanya It-yang-ci,&#8221; ujar Cing-sun dengan tertawa.</p>
<p>Namun Ciok-jing-cu tidak bisa tertawa lagi, katanya dengan sungguh-sungguh, &#8220;Anggota keluarga Yangciu-sam-hiong yang terbunuh itu semuanya mati dengan wajah tersenyum, pada badan mereka pun tiada tanda luka apa-apa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi mayat mereka lemas seperti orang hidup, sedikit pun tidak kaku bukan?&#8221; sela Cing-sun.</p>
<p>&#8220;Ya,&#8221; sahut Ciok-jing-cu. &#8220;Kita tahu ada beberapa macam racun bila membinasakan orang, wajah sang korban juga tampak tersenyum-senyum, namun tiada sesuatu ilmu lain lagi di dunia ini yang bisa menjadikan mayat sang korban tetap lemas tanpa kaku sedikit pun seperti halnya korban yang terkena It-yang-ci.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi di antara anak murid dan keturunan keluarga Toan kami, sampai kini melulu Ki-ji seorang saja, sedangkan dia sampai saat ini belum pernah belajar It-yang-ci,&#8221; ujar Cing-sun.</p>
<p>&#8220;Ciok-toheng,&#8221; kata Po-ting-te. &#8220;Kau bilang anggota keluarga Yangciu-sam-hiong yang terbunuh itu adalah kaum laki-laki semua, jika begitu kaum wanitanya tentu masih hidup dan telah melihat wajah si pembunuh itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Menurut cerita He-hujin dan Ong-hujin, katanya pembunuh itu memakai kedok kain hijau, mukanya tidak jelas kelihatan, cuma menurut taksiran usianya masih muda,&#8221; sahut Ciok-jing-cu.</p>
<p>Po-ting-te menghela napas dan memandang sekejap kepada Toan Cing-sun.</p>
<p>Maka berkatalah Cing-sun, &#8220;Ciok-toheng, putraku ini kesurupan ilmu sihir, orang yang mencelakainya itu justru adalah anggota keluarga Toan kami sendiri, orang itu terkenal sebagai &#8216;Thian-he-te-it-ok-jin&#8217; (orang jahat nomor satu di jagat ini).&#8221;</p>
<p>Lalu ia bercerita cara bagaimana Toan Ki diculik dan dikurung oleh Yan-king Taycu di dalam rumah batu itu, kemudian Ui-bi-ceng berusaha menolongnya.</p>
<p>Pertandingan antara Yan-king Taycu dan Ui-bi-ceng sebenarnya dimenangkan Yan-king, tetapi Cing-sun sengaja bilang Yan-king Taycu salah menjalankan caturnya hingga mengaku kalah.</p>
<p>Karena itu Ui-bi-ceng lantas berkata, &#8220;Toan-ongya tidak perlu menutupi maluku, pertandingan itu terang aku yang kalah. Seumpama Gu-pit-cu yang melawan Yan-king Taycu, dia juga pasti akan kalah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, belum tentu,&#8221; sahut Ciok-jing-cu.</p>
<p>&#8220;Jika begitu, marilah kita boleh coba-coba satu babak,&#8221; kata Ui-bi-ceng.</p>
<p>&#8220;Bagus, aku justru ingin minta petunjuk padamu,&#8221; kontan Ciok-jing-cu terima tantangan itu.</p>
<p>&#8220;Hahaha, sungguh menertawakan orang,&#8221; tiba-tiba Ui-bi-ceng terbahak-babak.</p>
<p>&#8220;Apa yang menggelikanmu?&#8221; tanya Ciok-jing-cu mendongkol.</p>
<p>&#8220;Aku tertawa karena ada orang begitu tolol,&#8221; sahut Ui-bi-ceng. &#8220;Sudah terang kejahatan itu dilakukan anak murid Toan Yan-king, tapi Toan-hongya yang dimintai tanggung jawabnya.&#8221;</p>
<p>Muka Ciok-jing-cu menjadi merah, sahutnya, &#8220;Memangnya kalau anak murid Toan Yan-king itu bukan anak murid keluarga Toan? Toan Yan-king itu she Toan atau bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, pokrol bambu!&#8221; sahut Ui-bi-ceng.</p>
<p>&#8220;Ah, ngaco-belo!&#8221; jengek Ciok-jing-cu tak mau kalah.</p>
<p>Po-ting-te sudah biasa menyaksikan pertengkaran kedua tokoh itu, maka ia hanya tersenyum saja, katanya kemudian, &#8220;Cong-pian Siansing telah menyaksikan gadis keluarga Buyung mematahkan ilmu It-yang-ci, boleh jadi pemuda yang coba menggoda si gadis yang dimaksudkan itulah si pembunuh Yangciu-sam-hiong.&#8221;</p>
<p>Bicara sampai di sini, tiba-tiba sikapnya berubah kereng, katanya pula, &#8220;Sun-te, menurut pesan leluhur, soal permusuhan dan bunuh-membunuh dalam Bu-lim, jelas kita tak boleh ikut campur. Tapi sekarang ternyata ada orang menggunakan It-yang-ci untuk melakukan kejahatan di luaran, hal mana rasanya keluarga Toan kita tidak boleh tinggal diam lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar,&#8221; sahut Cing-sun.</p>
<p>Dalam hati kedua saudara itu sebenarnya mempunyai pikiran yang sama, cuma tidak mereka katakan. Kalau ternyata orang she Buyung di Koh-soh itu mampu menggunakan ilmu lihai untuk mematahkan jari anak murid keluarga Toan dan hal ini didiamkan saja, tentu nama baik keluarga Toan di Tayli akan sangat dirugikan.</p>
<p>Maka Po-ting-te lantas berkata, &#8220;Sun-te, hendaknya segera membawa serta Sam-kong Su-un (tiga tokoh dan empat jago, maksudnya Pah Thian-sik bertiga dan Leng Jian-li berempat) berangkat ke Siau-lim-si untuk menemui Hian-cu Taysu, sekalian boleh juga belajar kenal dengan ilmu silat keluarga Buyung di Koh-soh yang lihai itu. Yan-king Taycu adalah keturunan lurus dari mendiang raja yang dulu, kalau ketemu dia hendaklah berlaku sopan dan menghormatinya. Kalau anak muridnya ada berbuat sesuatu yang tidak senonoh, paling baik selidiki dulu hingga terang, lalu tangkap dan serahkan pada Yan-king Taycu untuk dihajar sendiri, kita jangan sembarangan mencelakai mereka.&#8221;</p>
<p>Cing-sun dan ketiga tokoh serta empat jago sama mengiakan menerima titah baginda itu.</p>
<p>Melihat Ko Sing-thay ada maksud ingin ikut serta, dengan tersenyum Po-ting-te berkata, &#8220;Jago-jago kita seakan-akan dikerahkan semua, biarlah Sian-tan-hou tinggal di rumah untuk membantu aku saja.&#8221;</p>
<p>Ko Sing-thay mengiakan atas titah itu.</p>
<p>&#8220;Pekhu,&#8221; tiba-tiba Toan Ki berkata, &#8220;bolehkah Titji ikut pergi bersama ayah untuk menambah pengalaman?&#8221;</p>
<p>Po-ting-te menggeleng kepala, sahutnya, &#8220;Badanmu kesurupan ilmu sesat, aku masih harus menyembuhkan kau, apalagi kau tak bisa ilmu silat, kalau ikut pergi mungkin malah bikin malu keluarga Toan kita saja.&#8221;</p>
<p>Wajah Toan Ki menjadi merah, baru sekarang ia menyesal mengapa dahulu tidak belajar silat hingga kini tak boleh ikut pesiar ke Tionggoan yang indah permai itu.</p>
<p>Dalam pada itu perjamuan untuk menyambut kedatangan Ciok-jing-cu lantas dilangsungkan dengan meriah. Toan Ki duduk menyendiri, orang lain tiada yang berani mendekatinya, sebab khawatir tersentuh racun jahat di tubuh pemuda itu.</p>
<p>Tentu saja yang paling kesal adalah Toan Ki karena seakan-akan terasing dari pergaulan, sedangkan hawa murni dalam badannya masih terus bergolak karena tak bisa dipusatkan.</p>
<p>Semakin lama duduk di situ, semakin tak tahan Toan Ki, hanya minum dua cawan arak ia lantas mohon diri untuk kembali ke kamarnya. Teringat olehnya pengalaman yang aneh selama beberapa hari ini, ia terkenang pada Bok Wan-jing dan Ciong Ling, kedua nona jelita yang baru dikenalnya itu entah ke mana perginya sekarang.</p>
<p>Terpikir juga olehnya putri Ko Sing-thay, Ko Bi, yang telah dilamarkan oleh kedua orang tuanya itu, nona itu selama ini tidak pernah dilihatnya, entah bagaimana perangainya dan cocok tidak dengan dirinya, pula entah cantik atau jelek makanya.</p>
<p>Begitulah Toan Ki rebah di ranjang dengan macam-macam pikiran yang berkecamuk dalam benaknya, hawa murni dalam badannya masih terus bergolak tak keruan rasanya, walaupun deritanya tidak sehebat seperti berkobarnya nafsu waktu minum Im-yang-ho-hap-san, tapi rasanya juga sukar ditahan, syukurlah akhirnya ia dapat tidur pula.</p>
<p>Sampai tengah malam, mendadak ia terjaga dari tidurnya ketika merasa kedua tangannya digenggam kencang oleh orang, dan baru saja mulutnya terpentang hendak menjerit, tahu-tahu sepotong kain dijejalkan ke dalam mulutnya.</p>
<p>Waktu ia berpaling sedikit, di bawah sinar lilin remang-remang ia lihat seraut wajah yang putih cakap sedang tersenyum padanya. Itulah Ciok-jing-cu adanya.</p>
<p>Cepat ia berpaling pula ke sisi lain, yang pertama-tama tertampak olehnya adalah dua jalur alis kuning yang panjang melambai, itulah dia Ui-bi-ceng. Muka padri yang kurus itu pun mengunjuk senyum penuh welas asih dan sedang mengangguk perlahan sebagai tanda agar pemuda itu jangan khawatir. Menyusul ia lantas keluarkan kain penyumbat mulut Toan Ki tadi.</p>
<p>Toan. Ki merasa lega melihat tokoh itu, segera ia merangkak bangun untuk memberi hormat. Namun Ciok-jing-cu lantas berkata padanya, &#8220;Hiantit tak perlu banyak adat, hendaklah rebah saja dengan tenang, biar kami berdua menyembuhkan racun jahat dalam tubuhmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sungguh Wanpwe merasa terima kasih harus membikin susah kedua Cianpwe,&#8221; kata Toan Ki.</p>
<p>&#8220;Kami berdua adalah kawan karib pamanmu, hanya sedikit urusan ini, kenapa mesti dipikirkan?&#8221; sahut Ui-bi-ceng.</p>
<p>&#8220;Sedikit urusan? Huh, jangan membual dahulu, Hwesio,&#8221; jengek Ciok-jing-cu tiba-tiba. &#8220;Dapat tidak kita sembuhkan dia masih harus melihat hasilnya dulu.&#8221;</p>
<p>Selagi Toan Ki hendak berkata pula, sekonyong-konyong terasa kedua telapak tangannya tergetar, dua arus hawa sekaligus merembes masuk dari kanan-kiri, badan Toan Ki terguncang sedikit, mukanya menjadi merah membara seakan-akan orang mabuk arak.</p>
<p>Kedua arus hawa murni itu mula-mula berkeliaran kian kemari di antara urat-urat nadinya, tapi kemudian semakin lemah dan semakin lambat, akhirnya lantas lenyap. Menyusul dari telapak tangan yang dipegang Ui-bi-ceng dan Ciok-jing-cu itu terasa merembes masuk lagi hawa murni yang lain.</p>
<p>Begitulah kira-kira sepertanak nasi lamanya, Toan Ki merasa separuh tubuh bagian kanan semakin lama semakin panas, sebaliknya separuh tubuh sisi kiri makin lama makin dingin, yang kanan seperti dibakar, yang kiri seperti direndam es. Tapi aneh bin ajaib, biarpun panas dingin rasanya, namun nikmatnya tak terkatakan. Ia tahu kedua tokoh terkemuka itu sedang menggunakan Lwekang mereka yang tinggi untuk mengusir racun dalam tubuhnya.</p>
<p>Sudah tentu apa yang diduga Toan Ki itu tidak benar seluruhnya.</p>
<p>Ui-bi-ceng dan Ciok-jing-cu entah sudah berapa kali bertanding, baik mengadu kecerdasan maupun mengadu ketangkasan, dari pertandingan kasar sampai perlombaan secara halus, namun selalu sama kuat hingga sukar ditentukan siapa lebih unggul.</p>
<p>Ketika mereka bertengkar dan saling sindir pula siang tadi, keduanya sama-sama masih mendongkol. Sampai tengah malam, diam-diam kedua orang itu mengeluyur ke taman untuk berunding cara bagaimana harus bertanding lagi. Akhirnya acara jatuh pada diri Toan Ki, mereka sepakat untuk menyembuhkan pemuda itu sebagai batu ujian mereka.</p>
<p>Dahulu sudah dua kali mereka bertanding Lwekang dan banyak membuang tenaga, untung ditolong oleh Po-ting-te hingga jiwa mereka dapat diselamatkan. Karena itu, sekarang mereka ingin memberi jasa-jasa baik bagi Po-ting-te untuk mengusir racun dalam tubuh Toan Ki. Sebab, kalau bicara tentang menyembuhkan penyakit dengan Lwekang di dunia ini rasanya tiada yang lebih kuat daripada It-yang-ci, cuma tenaga dalam yang harus dikorbankan si pemakai It-yang-ci itu terlalu besar.</p>
<p>Dari itu Ui-bi-ceng dan Ciok-jing-cu telah bersepakat untuk menyembuhkan Toan Ki masing-masing separuh badan, kanan dan kiri, siapa yang lebih dulu berhasil, dia yang menang.</p>
<p>Hwesio dan Tosu itu sudah pernah merasakan kelihaian racun dalam tubuh Toan Ki itu. Mereka tahu begitu menyenggol badan pemuda itu, tenaga dalam mereka segera akan buyar. Sebab itulah, begitu mulai, terus saja mereka mengerahkan sepenuh tenaga, sedikit pun tidak berani ayal, pikir mereka dengan tenaga kedua jago pilihan seperti mereka, paling-paling cuma racunnya tidak bersih dilenyapkan, tapi pasti tiada halangan bagi kesehatan Toan Ki.</p>
<p>Tak mereka duga bahwa apa yang mengeram d
