Monthly Archives: August 2008

Siluman Goa Tengkorak (Jilid ke-11) Tamat

Pukulan mereka mengandung angin yang amat kuat sehingga terdengar suara bercuitan dan angin menyambarnyambar sedangkan panggung di mana mereka bertanding itu berderak-derak dan terguncang. Semua tamu menjadi panik, akan tetapi karena mereka itu sebagian besar adalah ahli-ahli silat, mereka masih tetap di tempat sambil menonton perkelahian hebat di atas panggung itu. Bu Beng Tojin ternyata memang hebat sekali. Tokoh tingkat tiga dari Kun-lun-pai itu adalah orang yang berilmu tinggi, akan tetapi menghadapi Bu Beng Tojin, dia mulai terdesak. Setiap kali lengan mereka bertemu, Bu Beng Tojin membentak dan bentakan ini menambah tenaga pada lengannnya. Thian To Sinjin merasa lengannya tergetar dan juga jantungnya terguncang oleh bentakan lawan.

Continue reading

Advertisements

Siluman Goa Tengkorak (Jilid ke-10)

Pada saat itu dia berada dalam ketakutan yang luar biasa, maka mendengar ucapan itu, tanpa pikir panjang lagi diapun mengaku saja. Pokoknya, apapun yang per-nah dilakukannya akan diakui tanpa malu-malu lagi asal dia dibebaskan dan tidak dibunuh. Hati-nya sudah ketakutan melihat betapa orang-orang Bu-tong-pai itu mengamuk dan membunuhi banyak orang berkedok tengkorak dan begitu Thian Sin muncul, diapun mengenalnya sebagai pemuda yang diperkenalkan sebagai Pendekar Sadis, maka biarpun dengan merangkak-rangkak, dia menghampiri dan minta ampun. “Benar, taihiap… tapi ampunkan saya…” “Desss…!” Tendangan yang dilakukan oleh Thian Sin mengenai dagu pemuda she Phang itu. Tulang rahangnya patah-patah dan pemuda itu menangis, melolong-lolong. Thian Sin sudah menghampiri dengan langkah lebar dan sekali dia menurunkan kaki kanannya, dia telah menginjak pecah kepala orang she Phang itu seperti orang menginjak kepala ular saja. kemudian Thian Sin terjun ke dalam arena perkelahian dan begitu dia terjun, tentu saja keadaan menjadi berobah sama sekali. Setiap gerakan kaki tangannya disusul oleh teriakan mengerikan dan seorang pengeroyok terjengkang dan tewas. Dalam beberapa gebrakan saja dia telah merobohkan enam orang pengeroyok dan hal ini tentu saja membuat para anak buah gerombolan itu menjadi gentar sekali dan sebaliknya membuat lima orang Bu-tong-pai bertambah semangat.

Continue reading


Siluman Goa Tengkorak (Jilid ke-9)

Tosu ini menerima peti, mengangguk dan segera meloncat pergi dari kamar rahasia itu, bersimpang jalan dengan ketuanya. Memang telah terjadi pertempuran semenjak di terowongan. Seperti kita ketahui, Thian Sin dan Kim Hong menuju ke balik tebing untuk menyerbu sarang Jit-sian-kauw itu dari belakang, melalui jalan rahasia, yang telah mereka berdua ketahui. Akan tetapi sebelum menuju ke situ, Thian Sin mengajak Kim Hong untuk lebih dulu memasuki sebuah hutan kecil tak jauh dari situ. “Eh, kita ke mana?” tanya Kim Hong yang seperti juga kekasihnya telah menanggalkan pakaian dan topeng tengkorak. “Sudah kuceritakan kepadamu bahwa aku pernah terpaksa mengusir lima owang tokoh Bu-tongpai dan aku berhasil memberi tahu mereka tentang keadaanku dan minta kepada mereka untuk menanti di hutan ini. Nah, itu mereka!” kata Thian Sin ketika melihat Liang Hi Tojin keluar dari sebuah gubuk kecil bersama empat orang murid Bu-tong-pai. Cepat Thian Sin dan Kim Hong menghampiri mereka. “Siancai, siancai… sungguh tidak sabar kami menanti-nanti berita darimu, Ceng-taihiap,” kata Liang Hi Tojin sambil menjura ke arah dua pendekar itu.

Continue reading


Siluman Goa Tengkorak (Jilid ke-8)

“Perkumpulan kita selalu berusaha menjauhkan diri permusuhan. Akan tetapi dua orang murid kita tewas dan tentu saja kita tidak dapat membiarkan kematian itu lewat tanpa terbalas. Cuma ada satu hal yang harus diselidiki dengan teliti, apakah benar kedua orang murid kita itu tewas di tangan orang yang berjuluk Siliman Guha Tengkorak itu.” Suhengnya, Im Yang Tosu, menarik napas panjang. “Siancai…! Pinto sendiri tidak menghendaki adanya permusuhan antara Hong-kiam-pang dengan pihak manapun juga dan di dunia ini banyak terdapat orang jahat yang memenuhi pemukaan bumi. Tidak mungkin kalau Hong-kiampang lalu harus memusuhi dan berusaha membasmi semua penjahat itu. Maka kitapun tidak pernah mencampuri urusan Siluman Guha Tengkorak selama dia tidak mengganggu kita. Akan tetapi, Tujuh Pendekar Tai-goan adalah murid-murid kita, dan terutama sekali Cia Kok Heng dan Kwee Siu yang langsung adalah murid-murid pinto sendiri. Tak dapat disangkal lagi bahwa tentu Siluman Guha Tengkorak yang membunuh mereka. Bukankah isteri Kok Heng juga telah diculiknya?” Bu Beng Tojin juga menarik napas panjang. “Tidak ada akibat tanpa sebab, dan itulah hukum alam!

Continue reading


Siluman Goa Tengkorak (Jilid ke-7)

Tahulah mereka bahwa siluman ini benar-benar amat lihai sekali dan merekapun tidak merasa heran sekarang bahwa Tujuh Pendekar Tai-goan tewas di tangan siluman ini. Liang Hi Tojin menyerang makin hebat karena marah dan karena dia beranggapan bahwa siluman selihai dan sejahat ini harus dilenyapkan dari permukaan bumi agar rakyat terbebas dari pada ancaman malapetaka yang ganas dan jahat. Thian Sin merasa kewalahan juga. Kalau dia mengeluarkan ilmu-ilmu simpanannya seperti Thikhi-i-beng misalnya, sin-kang yang dapat menyedot tenaga lawan, atau Thian-te Sin-ciang atau Thai-kek Sin-kun, tentu kakek Bu-tong-pai itu akan mengenal ilmu-ilmu dari Lembah Naga dan Cin-ling-pai itu. Kalau dia menggunakan ilmu peninggalan mendiang ayah kandungnya, yaitu ilmu-ilmu pukulan yang dahsyat Hok-liang Sin-ciang atau Hok-te Sin-kun, akibatnya bisa berbahaya sekali dan belum tentu lima orang itu akan mampu menahannya. Padahal, tentu saja dia tidak ingin membunuh lima orang tokoh Bu-tong-pai ini. Maka dia hanya mempergunakan Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun, ilmu yang dipelajarinya dari kakek sakti Yap Kun Liong dan mengerahkan tenaga Thian–te Sin-ciang untuk menangkisi pedang-pedang itu.

Continue reading


Siluman Goa Tengkorak (Jilid ke-6)

Secara resmi, agama ini mengadakan pelajaran-pelajaran agama yang diambil dari Agama Buddha Hinayana dan Agama To, dicampur dengan unsur dari agama kuno seperti Im-yangkauw dan lain-lain yang menjurus kepada pelajaran kebatinan yang mengejar hal-hal gaib. Di antara tujuh dewa yang dipuja oleh Jit-sian-kauw (Agama Tujuh Dewa) itu yang terutama sekali dan menjadi pusat dari pemujaan mereka adalah Dewa Kematian. Di bawah pimpinan Sian-su, para anggauta dituntun untuk memuja dewa ini yang dianggap dapat memberi usia panjang dan dapat mengatur nasib mereka kelak setelah mereka mati. Pemimpin yang disebut Sian-su itu adalah seorang yang selalu bersembunyi di balik topeng tengkorak sehingga belum pernah ada yang melihat atau mengenal wajah aselinya. Akan tetapi semua anggauta dan pengikut amat hormat dan taat kepadanya karena memang orang ini memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, bukan hanya dalam ilmu silat akan tetapi juga ilmu gaib. Sian-su ini dikabarkan memiliki kepandaian seperti dewa, dapat menghilang, dapat mendatangkan tujuh dewa yang dipuja-puja itu.

Continue reading


Siluman Goa Tengkorak (Jilid ke-5)

Di samping kiri terdapat sekelompok pemain musik yang pada saat itu memainkan alat musik mereka dengan lembut sehingga membuat suasana menjadi romantis dan syahdu. Di depan mereka terdapat lantai tembok yang halus itu dan di sana-sini, bahkan sampai ke lapangan-lapangan rumput, terdapat kasur-kasur kecil yang beraneka warna dengan selubung bersulam. Di tempat-tempat yang dipasang secara nyeni terdapat lampu-lampu dengan penutup warna-warni dan di sana-sini mengepul asap dupa wangi yang mendatangkan rasa nyaman dan menyenangkan. Di sebelah kanan, di tepi tempat itu, terdapat bangunan-bangunan kecil yang agaknya belum selesai dibangun, dan Thian Sin dapat menduga bahwa bangunan-bangunan kecil itu merupakan bangunan yang diperuntukkan para “dewa” seperti biasa dipergunakan untuk tempat arca atau patung yang dipuja orang dalam kuil-kuil. Akan tetapi yang hebat bukan main adalah kenyataan bahwa pondok-pondok itu kecil seperti pondok boneka itu terbuat dari pada emas terukir indah. Sukar dibayangkan betapa mahalnya membuat pondok-pondok pemujaan dewa-dewa seperti itu. Tiba-tiba suara musik yang tadinya lembut itu mulai berobah.

Continue reading


Siluman Goa Tengkorak (Jilid ke-4)

Akan tetapi hatinya merasa lega ketika mendapatkan kenyataan bahwa lantai itu merupakan lantai batu yang tidak mongandung sesuatu yang mencurigakan. “Sekarang katakan, apakah yang dapat pinto lakukan untuk membantumu, nona?” Diam-diam Kim Hong memuji kakek itu. Biarpun ia tidak akan melihat dengan jelas, ia dapat menduga bahwa orang itu tentulah seorang pria yang sudah tua, apa lagi bukankah pria ini merupakan paman guru dari tosu Siok Cin Cu? Bagaimanapun juga, kakek ini tidak sombong, biarpun sudah jelas tahu apa yang menjadi kesulitannya, namun kakek itu masih bertanya dan tidak mendahuluinya menyombongkan pengetahuannya. “Locianpwe, saya mencari seorang sahabat saya yang hilang ketika dia memasuki sebuah guha dan saya tidak lagi menemukan jejaknya. Mohon pertolongan locianpwe untuk memberi petunjuk di mana adanya sahabat saya itu.”

Continue reading


Siluman Goa Tengkorak (Jilid ke-3)

Apalagi kalau di balik penantian itu terdapat urusan yang menggelisahkan hati seperti halnya Kim Hong ketika ia menanti datangnya Thian Sin di dalam hutan, di tempat yang telah dijanjikan tadi. Kim Hong membiarkan kudanya makan rumput dan ia sendiri duduk di atas batu besar di tepi jalan. Kadang-kadang matanya ditujukan ke arah gundukan tanah yang menjdi kuburan Kwee Siu, seorang di antara Tujuh Pendekar Tai-goan. Berada seorang diri di dekat kuburan baru itu menimbulkan rasa kesepian yang mencekam, menimbulkan bayangan pikiran yang bukan-bukan. Orang yang dikubur itu adalah seorang pendekar, yang agaknya tewas dalam tugasnya sebagai seorang pendekar, dalam usahanya menyelamatkan dua orang anak itu. Begitukah saat terakhir seorang pendekar? Tewas di tempat sunyi, tanpa ada yang mengetahui, bahkan mungkin orang she Kwee ini meninggalkan keluarga yang masih belum tahu akan kematiannya. Betapa menyedihkan! Akan seperti itu jugakah nasibnya? Nasib Thian Sin? Betapa menyedihkan. Tiba-tiba gadis itu menepuk mati seekor semut yang merayap dan menggigit punggung tangannya. Ah, kenapa ia tiba-tiba menjadi selemah itu?

Continue reading


Siluman Goa Tengkorak (Jilid ke-2)

Melihat ini, Siok Bu Ham maklum bahwa orang itu memang kebal. Ketika melihat orang itu hendak mendesak Liu Ji yang belum sempat meloncat bangun, diapun membentak marah sambil menggerakkan sepasang tombaknya. “Siluman keparat, rasakan tombakku!” Dan diapun sudah menerjang dengan dahsyat. Siluman itu mengeluarkan suara dari hidungnya dan cepat mengelak. Kesempatan ini dipergunakan oleh Liu Ji untuk meloncat bangun dan menerjang lagi dengan pedangnya, membantu Siok Bu Ham mengeroyok siluman yang lihai ini. Pundak kanannya tergores kuku dan bajunya robek, terluka sedikit akan tetapi rasanya panas dan perih sekali. Baru mengeroyok sebentar saja, dua orang pende-kar ini maklum bahwa lawan mereka sungguh amat lihai, maka mereka berduapun bersuit-suit memberi tanda kepada para teman mereka. Akan tetapi tidak ada seorangpun yang muncul. Mereka tidak tahu bahwa pada saat itu, Ciok Khim dan Ciok Lun juga sedang mengeroyok seorang siluman, dan bagaimana dengan Kwee Siu dan Siu Louw Ciang Su yang berjaga di ruangan dalam, di depan kamar keluarga Cia?

Continue reading


Siluman Goa Tengkorak (Jilid ke-1)

Siluman Goa Tengkorak

(Lanjutan Pendekar Sadis, Harta Karun Jengkhis Khan)


Pesta pernikahan yang dirayakan orang di dusun biasanya jauh lebih meriah dari pada pesta pernikahan yang dirayakan orang di kota itu. Meriah di sini bukan berarti mewahnya perayaan itu, melainkan kemeriahan yang terasa benar di dalam hati mereka yang hadir, tercermin dari wajah mereka yang berseri-seri. Pesta pernikahan di kota besar hanya merupakan pesta makan minum yang mewah dan berlebihan, kegembiraan yang timbul karena pengaruh arak yang terlalu banyak memenuhi perut sehingga arak itu menguap memenuhi benak membuat orang menjadi lupa diri. Pesta di kota hanya merupakan perlombaan memamerkan kekayaan. Akan tetapi di dusun lebih terasa keakraban dan kegotongroyongan, sehinga para tamu itu seolah-olah merasa sebagai keluarga dan sebagai orang yang ikut ambil bagian dalam perayaan itu, bahkan seperti keluarga yang merayakan, bukan sekedar tamu yang datang untuk makan minum. Pesta pernikahan antara Thio Siang Ci dan The Si Kun di dusun Ban-ceng itu sungguh amat meriah. Seluruh penghuni dusun Ban-ceng ikut merayakannya.

Continue reading


Harta Karun Jenghis Khan (Jilid ke-16) Tamat

Kim Hong tadinya menghadapi Tiat-ciang Lui Cai Ko dengan tenang, bertangan kosong dan dengan senyum mengejek. “Nah, gendut, sekarang kita berhadapan satu lawan satu! Keluarkanlah semua kepandaianmu!”

Tiat-ciang Lui Cai Ko masih hendak borlagak karena dia melawan seorang gadis cantik. Dia masih merasa malu kalau harus mengeluarkan senjata, maka diapun tertawa dan berkata. “Nona yang manis, kalau sekali ini aku dapat meringkusmu, engkau akar kutelanjangi dan kuperkosa di sini juga!” Dan sebelum kata-katanya habis, dia sudah menubruk ke depan, tangan kirinya menyambar ke arah dada sedangkan tangan kanan menyusul kaki kanan yang menendang, mencengkeram ke arah pundak. Serangan yang amat hebat dan sekaligus telah menggunakan kedua tangan dan sebelah kaki. Akan tetapi, Kim Hong yang memiliki tingkat kepandaian jauh lebih tinggi itu, dengan mudahnya berloncatan mengelak dan ketika tubuhnya turun, kakinya mencuat dengan gerakan kilat yang sama sekali tidak dapat diikuti oleh pandang mata lawan.

Continue reading


Harta Karun Jenghis Khan (Jilid ke-15)

“Hemm, kematian kita sudah berada di depan mata, aku tidak pernah putus asa, akan tetapi akupun tahu apa bila keadaan kita sudah tidak ada kemungkinan untuk lolos pula.” kata Kok Siang.

“Aku tidak takut mati selama bersamamu, koko.” kata In Bwee sambil merebahkan diri di atas pangkuan kekasihnya.

Kim Hong tersenyum. “Kalian lupa bahwa di luar masih ada kekasihku yang takkan mungkin membiarkan kita mati.”

“Pendekar Sadis?” kata In Bwee penasaran. “Kalau memang dia memperdulikan kita, kenapa tidak sejak tadi dia turun tangan?”

Continue reading


Harta Karun Jenghis Khan (Jilid ke-14)

Pat-pi Mo-ko adalah seorang yang sudah kenyang akan asam garam di dunia kang-ouw maka diapun tahulah bahwa tidak ada gunanya untuk menggertak dua orang muda ini lagi.

“Bagus, katakanlah bahwa pendapat kalian benar. Aku tidak dapat membunuh kalian, akan tetapi jangan mengira bahwa aku tidak dapat memaksa kalian bicara. Ada hal-hal lain yang lebih hebat dari kematian!” Dia lalu menghampiri dipan di mana Kim Hong menggeletak terlentang dengan kaki dan tangan dibelenggu rantai besi. “Bu-siucai, hendak kulihat apakah engkau tetap hendak menutup mulut kalau melihat gadis ini diperkosa dan dihina di depan matamu!” Lalu jari-jari tangannya bergerak ke depan.

Continue reading


Harta Karun Jenghis Khan (Jilid ke-13)

Pada sore hari berikutnya, barulah Pat-pi Mo-ko mengatakan apa adanya ujian ke dua itu. Kim Hong dibawa ke dalam ruangan yang luas, ruangan yang agaknya menjadi tempat berlatih silat atau juga mungkin menjadi tempat penyiksaan di kompleks perumahan kejaksaan bagian penjara itu. Dan di dalam ruangan yang tertutup oleh jendela-jendela besi baja dan pintu baja pula, yang terjaga ketat oleh pasukan penjaga dan para pembantu iblis itu. Kim Hong melihat Kok Siang duduk di atas bangku besi dengan kaki dirantai! Pemuda itu agak pucat, akan tetapi tersenyum mengejek ketika melihatnya masuk bersama Pat-pi Mo-ko. Di dalam ruangan itupun sudah hadir para pembantu iblis itu, yaitu keempat Siang-to Ngo-houw, Hai-pa-cu Can Hoa, Tiat-ciang Lui Cai Ko dan tidak ketinggalan terdapat pula Su Tong Hak yang wajahnya agak pucat dan sikapnya tidak segembira ketika Kim Hong melihatnya kemarin.

Continue reading


Harta Karun Jenghis Khan (Jilid ke-12)

Ucapan Kim Hong ini seporti sinar terang di antara kegelapan yang menyelubungi pikiran Pat-pi Mo-ko, juga membuat semua orang yang hadir di situ memandang ke arahnya. Tidak ketinggalan Kok Siang menoleh dan memandang kepada Kim Hong dengan alis berkerut dan pandang mata kaget.

Pat-pi Mo-ko sudah sering mendengar akan kelihaian dan kecerdikan Pendekar Sadis. Dan karena wanita cantik ini adalah sahabat dan kekasih Pendekar Sadis, maka tentu bukan merupakan seorang wanita sembarangan. Timbullah harapan di dalim hatinya. Sudah berbulan-bulan dia tersiksa oleh rahasia harta karun Jenghis Khan ini. Ketika dia mula-mula dihubungi oleh Su Tong Hak, dia tidak percaya dan tidak begitu menaruh perhatian. Dia mengenal saudagar ini melalui Phang-taijin, jaksa di kota raja yang kini menjadi sahabat baik dan pelindungnya.

Continue reading


Harta Karun Jenghis Khan (Jilid ke-11)

“Kenapa tidak?” jawab pemuda itu dan senyumnya melebar. “Hadapilah segala sesuatu dalam hidup ini dengan senyum! Kematianpun rasanya ringan jika dihadapi dengan senyum. Sama-sama menggerakkan mulut, dan sama-sama tidak akan mampu merobah keadaan, mengapa tidak memilih senyum di antara senyum dan tangis? Ha-ha, kalau dipikir lucu juga, ya?”

Diam-diam kekaguman Kim Hong terhadap pemuda ini melonjak. Seorang pemuda yang hebat, pikirnya. Seorang pemuda yang ahli sastra, memiliki ilmu silat yang tidak rendah, juga memiliki keberanian yang mengagumkan, hampir menyamai Thian Sin, dan patut dijadikan seorang sahabat baik. Di samping itu, masih menyimpan rahasia peta yang amat menarik itu!

“Apanya yang lucu?” tanyanya untuk menanggapi sikap gembira yang mengagumkan hatinya itu.

Continue reading


Harta Karun Jenghis Khan (Jilid ke-10)

Thian Sin mengerti bahwa tangis ini bukanlah air mata buaya, bukan tangis buatan untak menundukkan hatinya, melainkan tangis yang timbul dari hati duka dan menyesal. Maka diapun merasa kasihan, lalu merangkul dan menggunakan tangannya untuk mengelus rambut kepala yang agak kusut itu. Sentuhan tangannya, rabaan dan elusan tangan yang lembut itu sama sekali tidak mengandung gelora berahi, melainkan rasa iba ygng tulus dan hal ini terasa oleh In Bwee yang menjadi makin terharu.

Maafkan aku… ah, Ceng-taihiap, maafkan aku…” Demikian ia berbisik-bisik di antara isaknya.

Thian Sin mendekap tubuh itu, dipeluknya dengan erat, diciumnya rambut yang harum itu dan diapun berkata. “Menangislah sepuasmu, kemudian kalau engkau suka, ceritakan padaku apa artinya semua ini, In Bwee.”

Continue reading


Harta Karun Jenghis Khan (Jilid ke-9)

“Ciangkun, kami berdua tidak bersalah. Kami berdua sedang duduk bercakap-cakap di sini lalu gerombolan ini datang menyerang kami, agaknya mereka hendak merampok kami!” katanya membela diri.

“Bohong! Mana buktinya kami merampok?” Lui Cai Ko membentak marah.

“Cukup, tidak perlu cekcok!” Perwira itu menegur. “Tidak perduli siapa di antara kalian yang bersalag. Yang sudah jelas, kalian berkelahi di sini dan hal ini berarti mendatangkan kekacauan. Kalian semua harus menyerah untuk kami bawa ke pengadilan!”

Continue reading


Harta Karun Jenghis Khan (Jilid ke-8)

“Tidak… aku tidak berani… engkau tidak tahu betapa lihainya pamanku.” Gadis itu berkata dengan muka pucat dan mata liar memandang ke kanan kiri. “Engkau pergilah, Siang-ko, pergilah dulu… biarkan aku berpikir dengan matang… kedatanganmu terlalu tiba-tiba. Besok… besok atau lusa kita bertemu lagi, di sini… malam-malam begini… sekarang kau pergilah…”

Kok Siang menghela napas, tidak berani memaksa. “Baiklah, akan tetapi ingatlah selalu bahwa di dunia ini ada Bu Kok Siang yang akan melindungimu dengan taruhan nyawa, yang akan tetap mencintamu dan tidak memperdulikan riwayatmu yang sudah lalu. Nah, selamat tinggal, sampai jumpa besok atau lusa malam.”

“Baik, Siang-ko… kalau engkan melihat lampu merah di pondok ini, jendelanya terbuka, berarti aku menantimu di sini…”

Continue reading


Harta Karun Jenghis Khan (Jilid ke-7)

“Nama yang indah sekali!” kata Bu Kok Siang, sastrawan muda yang usianya kurang lebih dua puluh tiga tahun itu. “Dan aku pernah mendengar bahwa di kota raja ada seorang hartawan besar. Nama Bouw-wan-gwe (Hartawan Bouw) amat terkenal bukan hanya karena kaya raya melainkan juga karena dermawan…”

“Ah, berita dilebih-lebihkan. Bouw-wan-gwe adalah ayahku, dan jangan terlalu memuji…” kata Bouw In Bwee dan sekali ini mau tidak mau dipandangnya Kok Siang sambil tersenyum simpul.

“Aha, kiranya puteri Bouw-wan-gwe! Wah, dibandingkan dengan harta kekayaan orang tuamu, aku tidak lebih hanya seorang jembel saja, siocia!” kata pula Kok Siang.

Continue reading


Harta Karun Jenghis Khan (Jilid ke-6)

Gadis manis itu hanya memandang kepada mereka dengan anggukan sedikit sebagai pernyataan terima kasih. Mendongkol juga rasa hati Kim Hong melihat ini. “Ini namanya tidak mengenal budi!” katanya agak keras sehingga tentu saja terdengar oleh nona itu, akan tetapi karena ia bicara bukan sebagai penyerang langsung, nona itupun hanya melirik saja. Setelah dua pasangan itu pindah dan meja dibersihkan, nona itu lalu duduk sambil mengipasi lehernya. Kemudian diamblinya sebuah tas kecil, dibukanya dan dibereskan rambutnya sambil memandang sebuah cermin kecil yang berada di dalam tas. Akan tetapi, Thian Sin yang berada di belakang gadis itu agak ke samping, sempat melihat cermin itu dan melihat sepasang mata jeli memandang langsung kepadanya, kemudian sebuah di antara dua mata jeli itu berkedip kepadanya! Kedipan yang disengaja, kedipan yang ada maksudnya! Dan kini nampak sepasang bibir merah di cermin itu tersenyum kepadanya, memperlihatkan deretan gigi putih mengintai dari balik daging merah mulut itu! Sebuah tantangan yang manis!

Continue reading


Harta Karun Jenghis Khan (Jilid ke-5)

Tentu saja kalau dibandingkan satu lawan satu, tingkat kepandaian Kim Hong masih jauh lebih tinggi, baik dalam ilmu silat maupun tenaga sin-kang, terutama sekali dalam hal gin-kang karena memang gadis ini memiliki ilmu meringankan tubuh yang sukar dicari bandingannya. Akan tetapi karena mereka itu maju berlima dan membentuk barisan golok yang amat tangguh itu, Kim Hong yang bertangan kosong mengalami kesulitan juga untuk menundukkan mereka. Ia tetap tidak mau mengeluarkan pedangnya, karena merasa bahwa ia belum terdesak, hanya belum mampu merobohkan mereka.

“Heh, bandel, kenapa tidak menggunakan siang-kiammu itu?” berkali-kali Thian Sin berseru, akan tetapi Kim Hong hanya tersenyum saja.

“Darah lima ekor tikus ini terlalu busuk untuk mengotori pedang-pedangku!” akhirnya ia menjawab dan jawaban ini membuat Siang-to Ngo-houw menjadi semakin marah.

Continue reading


Harta Karun Jenghis Khan (Jilid ke-4)

“Baiklah, sekarang sebaiknya engkau pulang ke dusun dan membuat laporan kepada ayahmu tentang peta ini, dan sekilian kalian mencari kunci emas itu. Kalau belum kalian temukan, mungkin masih terpendam di tempat di mana kalian menemukan peta.”

“Akan tetapi peta itu…”

“Sebaiknya kita bagi dua saja, Kim Su. Ingat, benda ini amat berharga dan kalau kaubawa semua, sungguh amat berbahaya bagimu. Biarlah kita potong menjadi dua bagian, kita masing-masing membawa sepotong. Kaubawa yang sepotong pulang ke dusun, kemudian bersama ayahmu mencari kunci emas itu. Kalau sudah ketemu, engkau ayah dan ibumu datanglah ke sini dan kita bersama akan pergi mencari harta karun itu. Semua biaya perjalanan mencarinya akan kutanggung.”

Continue reading


Harta Karun Jenghis Khan (Jilid ke-3)

Kembali kepala penjahat itu tertawa bergelak. “Engkau seorang wanita yang cantik sekali, untung bertemu denganku sehingga engkau akan mati tanpa ternoda. Kalau engkau bertemu dengan Pat-pi Mo-ko, jangan harap dapat mati seenak itu, tentu engkau akan dipermainkannya sampai rusak binasa. Ha-ha-ha! Hayo serbu…!” Dia memberi aba-aba lagi. Puluhan orang itu memperketat kurungan dan mereka mulai mendekat dengan senjata ditodongkan.

Tentu saja ancaman maut yang bagi orang lain tentu akan menimbulkan kengerian itu, bahkan nampak menggelikan bagi pasangan pendekar yang memiliki kepandaian amat tinggi itu. Thian Sin membuang sikapnya yang pura-pura takut tadi dan diapun tersenyum.

Continue reading