Petualang Asmara (Jilid ke-10)

“Sebetuinya di sini sudah tidak membutuhkan lagi bantuan seorang kacung, karena banyak sudah anak murid yang melakukan semua pekerjaannya, akan tetapi karena secara mujijat sekali rambut kepalamu menjadi habis tanpa dicukur, seolah?olah Tuhan sendiri yang menakdirkan engkau menjadi calon hwesio, maka biarlah pinceng (aku) menerima pengabdianmu. Kau bekerjalah di sini membantu para hwesio kecil, kelak kalau memenuhi syarat, engkau boleh menjadi anak murid dan masuk menjadi hwesio. Siapakah namamu?”

“Teecu she Liong, bernama Kun.” Kun Liong membohong.

“Baiklah, kami sebut engkau Liong-ji (Anak Liong). Kau ikutlah kepada kepala penjaga ini. Berikan sebuah kamar untuk dia bersama para hwesio kecil dan serahkan beberapa pekerjaan harian suruh dia bantu,” kata ketua itu yang sudah duduk bersila kembali sambil memejamkan mata. Kepala penjaga itu memberi hormat, kemudian menyentuh lengan Kun Liong diajak keluar dari kamar ketua itu.

Demikianlah, Kun Liong yang di situ terkenal dengan sebutan Liong-ji, bekerja di dalam Kuil Siauw-lim-si, membantu tukang kebun. Pekerjaan ini menyenangkan hatinya karena dia lebih bebas. Dari percakapannya dengan para hwesio kecil yang dipancing-pancingnya secara lihai, Kun Liong mendengar, bahwa ayahnya dan ibunya tidak pernah datang ke kuil ini semenjak yang terakhir ayahnya datang minta obat. Juga dia mendengar bahwa Tiang Pek Hosiang masih bertapa di dalam Ruang Kesadaran tanpa ada yang berani mengusiknya. Dia telah tahu pula di mana letak kamar itu, di dekat kamar gudang penyimpanan pusaka Siauw-lim-pai yang siang malam dijaga oleh empat orang hwesio secara bergilir.

Kecewa juga hati Kun Liong mendengar bahwa ayah bundanya tidak pernah datang ke kuil itu, apalagi ketika dia mendapat kenyataan bahwa siapapun juga, baik dia anggauta Siauw-lim-pai atau orang luar, dilarang keras memasuki dua tempat tanpa ijin ketua sendiri, pertama adalah kamar Ruang Kesadaran yang pintunya selalu tertutup dan kabarnya ketua sendiri tidak berani mengusiknya, ke dua adalah gudang pusaka yang hanya jarang dibuka oleh ketua sendiri untuk mengambil atau menyimpan sesuatu. Hilanglah harapannya untuk dapat berguru kepada Tiang Pek Hosiang yang telah belasan tahun lamanya bertapa di dalam kamar itu!

Sebulan telah lewat. Malam itu gelap dan sunyi. Agaknya semua hwesio telah tidur pulas, kecuali tentu saja mereka yang bertugas jaga. Akan tetapi Kun Liong tak dapat tidur. Dia telah membuang waktu sia-sia selama sebulan dan dia sudah mengambil keputusan tetap untuk mencoba menghadap Tiang Pek Hosiang, apapun juga yang menjadi risikonya. Dia mendengar bahwa siapa berani melanggar dua larangan itu akan dihukum mati. Biarlah kalau dia ketahuan dan dihukum mati. Biarlah kalau orang-orang yang sudah menjadi hwesio, berarti memasuki penghidupan suci masih mau menghukum mati orang! Kalau dalam hal ini dia gagal, besok pagi dia akan minggat dari tempat ini. Hal ini mudah dilakukan karena tugasnya sebagai pembantu tukang kebun memungkinkan dia untuk keluar dari pintu gerbang, membersihkan halaman di luar pintu gerbang.

Menjelang tengah malam, setelah keadaan sunyi benar, Kun Liong keluar dengan hati-hati dari kamarnya. Dua orang hwesio kecil yang menjadi temannya sekamar sudah tidur meringkuk di bawah selimut karena malam itu dingin sekali, di luar penuh kabut sehingga malam bertambah gelap.

Karena sudah hafal akan tempat-tempat penjagaan, Kun Liong dapat menyelinap ke dekat dua kamar terlarang yang letaknya berdekatan itu. Kamar pusaka dan kamar pertapaan Tiang Pek Hosiang. Dia tahu bahwa seperti biasa, tentu ada empat orang hwesio penjaga di depan dan belakang kamar pusaka itu, maka dia sudah mempunyai rencana untuk menyelinap dan menghampiri Ruang Kesadaran dari samping sehingga tidak tampak oleh ke empat orang hwesio penjaga. Dia hendak memasuki kamar itu melalui jendela yang selalu tertutup pula.

Akan tetapi ketika dia menyelinap di balik tembok dan mengintai untuk melihat dua orang penjaga di depan kamar pusaka, dia terbelalak kaget melihat dua orang hwesio penjaga itu menggeletak tak bergerak! Tidurkah mereka? Tidak mungkin! Tertidur di waktu menjaga kamar pusaka bisa mendapat hukuman yang amat berat! Andaikata tertidur, masa dua-duanya? Tentu ada apa?apa yang tidak beres, pikirnya. Dia lalu menyelinap dengan hati-hati sekali, memutari dua kamar itu dan mengintai untuk melihat dua penjaga yang biasanya duduk di sebelah belakang kamar pusaka. Hampir dia berseru heran dan kaget ketika melihat bahwa kedua orang hwesio ini pun sama keadaannya dengan para penjaga di depan. Tertidur! Atau lebih tepat lagi, menggeletak di lantai seperti orang tidur!

Musuh! Dia teringat akan ucapan kepala penjaga akan kekhawatiran mereka ada musuh menyelundup. Apakah malam ini ada musuh Siauw-lim-pai yang menyelundup masuk ke Siauw-lim-pai? Kun Liong lalu menghampiri kamar pusaka. Terdengar suara perlahan dan dia melihat jendela kamar pusaka terbuka, dan ada sinar penerangan menyorot dari dalam. Cepat namun hati-hati sekali Kun Liong menghampiri jendela itu dan mengintai. Tak salah apa yang dikhawatirkannya! Ada tiga orang laki?laki berada di dalam kamar pusaka! Tiga orang laki-laki membongkar lemari dan sedang mengumpulkan benda-benda pusaka, dibuntal kain dan muka mereka memakai kain penutup.

“Maling…!” Kun Liong berteriak dan meloncat ke dalam kamar pusaka melalui jendela yang terbuka.

Tiga orang itu terkejut, melepaskan buntalan, bahkan pemimpin mereka yang biarpun mukanya ditutup sebagian dengan saputangan tampak sebagai seorang pemuda tampan, melepaskan pula buntalannya. “Robohkan dia, hwesio cilik itu!” katanya kepada seorang di antara mereka.

Orang ini menerjang ke depan dengan totokan yang lihai sekali. Akan tetapi kini Kun Liong telah siap karena dia berhadapan dengan maling-maling yang dianggapnya berbahaya. Melihat totokan, dia memasang tubuhnya dan mengerahkan sin-kangnya, menggoyang sedikit tubuh itu sehingga totokan meleset mengenai tubuh yang kebal, sedangkan dia sendiri membarengi dengan pukulan dari jurus Ilmu Silat Pat-hong-sin-kun, mendorong perut orang itu. Maksudnya hanya mendorong, akan tetapi karena sinkangnya masih tersalur, orang yang didorong perutnya itu mengeluarken suara “hekkkhh!” dan roboh pingsan.

“Crattt! Augghh…!” Kun Liong terhuyung-huyung ketika ada sebuah benda merah menancap di leher kirinya. Pandang matanya gelap dan dia terjungkal keluar dari jendela kamar. Sebelum pingsang dia melihat banyak bayangan hwesio-hwesio berkelebatan masuk ke dalam kamar itu.

Dan memang teriakannya tadi telah menggegerkan Siauw-lim-si. Thian Le Hwesio, sute atau wakil Ketua Siauw-lim-si, memimpin sendiri murid-muridnya menuju ke kamar pusaka. Akan tetapi, pemuda yang memimpin pencurian itu lihai bukan main. Dia menyebar jarum merahnya, mencelat ke atas genteng membobol langit-langit kamar itu dan biarpun dikejar, dia sempat menghilang keluar dari Siauw-lim-si. Anak buahnya yang seorang lagi dapat dirobohkan dan ditangkap, bersama seorang yang telah dibikin pingsan oleh Kun Liong dengan dorongan pada perutnya.

Thian Lee Hwesio merasa cemas melihat buntalan-buntalan yang berserakan. Kalau saja tidak ketahuan, tentu banyak pusaka penting Siauw-lim-pai tercuri. Dia cepat melakukan pemeriksaan dan ternyata ada dua buah benda pusaka yang hilang, agaknya terbawa oleh pencuri yang lihai tadi. Kedua benda itu adalah sebuah pedang dan sebuah hio-louw (tempat abu hio) yang amat berharga karena merupakan pusaka kuno dari Siauw-lim-si! Namun masih untung bahwa bukan semua yang berada di buntalan terbawa. Hal ini berkat kewaspadaan Liong-ji, karena empat orang hwesio telah tewas!

“Liong-ji, ke mana dia? Suruh dia ke sini!” Thian Le Hwesio berkata.

Para hwesio mencari-cari, namun mereka tidak dapat menemukan Kun Liong. Thian Le Hwesio sendiri pergi mencari, namun hasilnya kosong sehingga dia termangu dan terheran-heran penuh kekhawatiran. Apakah memergoki maling, lalu pimpinan maling itu menaruh dendam dan membawa lari anak itu? Dengan hati cemas dia lalu menghadap suhengnya, Thian Kek Hwesio Ketua Siauw-lim-pai untuk membuat laporan.

Ke manakah sebetulnya Kun Liong pergi? Tentu saja pemuda itu tidak dapat pergi ke mana-mana kalau tidak ada yang membawanya karena dia tadi terguling pingsan terkena jarum merah pemuda berkedok saputangan yang lihai tadi. Dia terhuyung ke belakang dan terjungkal keluar dari jendela kamar pusaka.

Ketika siuman kembali, Kun Liong mendapatkan dirinya telah berada di dalam sebuah kamar yang luas dan kamar ini kosong tidak ada perabotnya, hanya lantainya bersih sekali, ditilami permadani kuning dan di atas permadani itu duduk bersila seorang kakek yang amat tua, dengan rambut putih dan jenggot panjang. Lehernya masih terasa sakit dan ketika dia meraba lehernya, luka di lehernya telah tertutup obat. Mengertilah dia bahwa dia telah tertolong oleh kakek ini, dan otaknya yang cerdik cepat bekerja. Kakek ini tua sekali, dan bukan hwesio karena rambutnya panjang. Siapa lagi yang dapat menolongnya seperti itu selagi dia berada dalam kuil Siauw-lim-si tanpa diketahui orang? Cepat dia bangkit dan berlutut di depan kakek itu sambil berkata,

“Sukong (Kakek Guru), teecu (murid) Yap Kun Liong menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan Sukong dan membawa teecu ke dalam Ruang Kesadaran ini.”

Kakek itu tercengang dan mengelus jenggotnya. “Aihhh, bagaimana engkau bisa tahu bahwa kau berada di Ruang Kesadaran? Tahukah kau siapa aku?”

“Sukong adalah Tiang Pek Hosiang…”

“Hemm, anak cerdik. Agaknya engkau bukan kacung biasa di kuil. Aku melihat engkau berindap seperti maling, akan tetapi malah memergoki maling-maling itu. Kelakuanmu aneh, aku menolongmu selagi kau pingsan akan tetapi kau dapat mengenalku. Siapakah engkau dan mengapa kau menyebut aku kakek guru?”

“Harap Sukong sudi mengampunkan teecu. Sesungguhnya karena ingin menghadap Sukong sematalah maka teecu berani melakukan kelancangan dan membohong kepada para losuhu. Teecu bernama Yap Kun Liong, ayah teecu Yap Cong San murid Sukong…”

“Aha! Kiranya engkau anak Cong San? Engkau menyamar sebagai kacung karena hendak bertemu denganku? Apakah kau disuruh oleh ayahmu?”

“Tidak, Sukong. Teecu menghadap Sukong untuk berguru kepada Sukong.”

Kakek itu tersenyum lebar. “Wah, agaknya engkau nakal sekali, sampai-sampai rambut kepalamu habis karena racun. Mengapa engkau ingin berguru kepadaku? Bukankah ayah dan ibumu memiliki kepandaian juga, apalagi engkau dapat minta petunjuk supokmu Cia Keng Hong?”

“Teecu tidak berani minta petunjuk Supek! Teecu telah dibimbing selama lima tahun…” Tiba-tiba dia teringat akan janjinya kepada Sun Hoat Tosu, maka cepat dia menyambung. “Maaf, teecu tidak dapat menyebutkan namanya karena sudah berjanji.”

“Ha-ha, Bun Hoat Tosu sungguh tua bangka yang aneh. Mengapa justeru kepadamu dia menurunkan ilmunya?”

“Aihhh…! Teecu tidak pernah menyebut nama beliau…!”

“Jangan khawatir, engkau tidak melanggar janji. Dari gerakanmu ketika kau merobohkan seorang maling, ada dasar gerakan rahasia dari Hoa-san-pai. Dahulu dia pernah mengatakan kepadaku untuk menciptakan sebuah ilmu silat yang mempunyai dasar delapan penjuru. Benarkah?”

“Sukong sungguh waspada. Memang demikianlah. Teecu selama lima tahun diajar oleh beliau dan diberi ilmu silat tongkat Siang-liong-pang dan ilmu silat tangan kosong Pat-hong-sin-kun, juga latihan tenaga sin-kang yang mempunyai daya membetot.”

“Ha-ha-ha! Tentu untuk melawan Thi-khi-i-beng, bukan?”

“Ehh…! Sukong tahu juga?”

“Kakek tua Hoa-san-pai itu terlalu jujur sehingga segalanya dapat dilihat dari perubahan mukanya. Dahulu dia merasa penasaran sekali mengapa tidak ada ilmu yang dapat menandingi Thi-khi-i-beng, maka kalau dia menurunkan sinkang kepadamu dengan daya membetot, tentu dia tujukan untuk melawan Thi-khi-i-beng.”

Kun Liong mengangguk-angguk sampai dahinya membentur lantai. “Mohon petunjuk dari Sukong.”

“Baiklah. Bun Hoat Tosu yang tidak mempunyai hubungan apa-apa denganmu telah rela melatihmu selama lima tahun. Engkau yang masih putera muridku yang paling baik, tentu saja berhak mewarisi ilmu-ilmuku, terutama ilmu yang selama ini kuciptakan di sini. Apa artinya ilmu itu kalau aku mati? Tak dapat kubawa, maka biar engkau yang mewarisinya.”

Bukan main girangnya hati Kun Liong. Mulai hari itu, di luar pengetahuan para penghuni kuil, dia mendapat gemblengan ilmu silat tinggi dari kakek sakti itu. Mengapa hal ini sampai tidak ketahuan oleh para penghuni kuil? Karena memang tidak ada seorang pun hwesio yang berani memasuki ruangan itu, dan setiap hari seorang hwesio pelayan kecil mengantar makanan dan minuman serta semua keperluan Tiang Pek Hosiang, meletakkannya dengan penuh hormat di depan pintu ruangan yang tertutup lalu pergi lagi. Ransum makanan dan minuman ini cukup untuk makan minvm mercka berdua, apalagi karena kakek itu jarang sekali makan.

Sementara itu, dua orang tawanan diseret ke depan kaki Ketua Siauw-lim-pai dan dengan suara halus Thian Kek Hwesio, Ketua Siauw-lim-Pai, berkata, “Ji-wi (Kalian Berdua) siapakah dan siapa pula pemimpin kalian yang sudah mencuri pedang dan bokor? Kalian dari golongan mana?”

Biarpun Thian Kek Hwesio bicara dengan suara halus, namun karena sikapnya memang angker sekali dengan tubuhnya yang tinggi besar bermuka hitam matanya lebar, mendatangkan rasa takut dan ngeri di dalam hati dua orang maling itu. Mereka mencoba menggerakkan kaki tangan, namun sia-sia saja karena tubuh mereka sudah lemas dan lumpuh oleh totokan lihai.

“Bebaskan totokan mereka,” kata pula Ketua Siauw-lim-pai itu kepada sutenya, Thian Le Hwesio yang menggerakkan tangan dan ujung lengannya yang panjang menyambar dua kali ke arah punggung dua orang tawanan. Mereka mengeluh dan dapat bergerak kembali.

“Nah, sekarang katakan siapa yang menyuruh kalian. Kalau kalian suka berterus terang, tentu pinceng akan memaafkan kalian dan membolehkan kalian pergi dengan aman.”

Dua orang itu kembali mengeluh, kemudian saling pandang dan tangan mereka merogoh saku dalam baju. Semua tokoh Siauw-lim-pai yang hadir di situ sudah siap untuk menjaga diri kalau-kalau kedua orang tawanan itu hendak menyerang mereka, atau siap untuk menangkapnya kembali kalau mereka mencoba untuk melarikan diri. Akan tetapi, tiba-tiba dua orang itu mencabut lagi tangan mereka, meraba leher dan keduanya terguling, berkelojotan dan mati.

Thian Le Hwesio meloncat dekat, memeriksa leher mereka yang menjadi bengkak menghijau. Dengan ails berkerut hwesio tua ini mengeluarkan saputangan dan mencabut benda kecil dari leher kedua orang itu, lalu berkata, “Omitohud… kalau tidak salah ini duri kembang hijau…!”

Dia melangkah maju memperlihatkan dua batang duri itu kepada suhengnya, Ketua Siauw-lim-pai. Thian Kek Hwesio memeriksanya sebentar, lalu mengangguk-angguk dan berkata, “Engkau benar, Sute. Ini tentu duri kembang hijau dan kembang itu hanya tumbuh di tepi Kwi-ouw (Telaga Setan).”

“Kalau begitu mereka adalah orang-orang Kwi-eng-pai (Perkumpulan Bayangan Hantu)!” Thian Le Hwesio berseru kaget. “Kita harus segera mengejarnya ke sana dan menuntut kepada ketuanya!”

Pada saat itu, Thian Kek Hwesio duduk memejamkan matanya dan sikapnya penuh perhatian sehingga sutenya, Thian Le Hwesio memandang heran dan tidak mendesak. Memang pada saat itu Thian Kek Hwesio sedang mencurahkan perhatian terhadap suara bisikan halus yang memasuki telinganya seperti hembusan angin lalu, suara yang amat dikenalnya karena suara itu adalah suara gurunya, suara Tiang Pek Hosiang!

“Kacung itu kini menjadi sute kalian yang termuda, dan biarlah urusan pusaka hilang kelak dia yang akan mencarinya.”

Thian Kek Hwesio membuka matanya dan berkata, “Sute, tidak usah kita menyusul ke sana. Kelak akan ada orang yang bertugas mengambilnya kembali. Sekarang harap Sute menyuruh para murid memakamkan dua jenazah ini sebagaimana mestinya.”

Thian Le Hwesio memandang penasaran, akan tetapi tentu saja dia tidak berani membantah kehendak ketuanya, mengangguk dan mengundurkan diri untuk memimpin para anak buah Siauw-lim-pai untuk mengubur dua jenazah maling itu. Diam-diam hwesio tua ini merasa tidak puas dan penasaran sekali. Boleh jadi Kwi-eng-pai merupakan perkumpulan kaum sesat yang amat terkenal dan ditakuti, apalagi ketuanya yang berjuluk Kwi-eng Niocu (Nona Bayangan Hantu) yang kabarnya menjadi seorang di antara datuk-datuk kaum hitam di waktu itu. Akan tetapi Siauw-lim-pai juga sebuah perkumpulan bersih yang amat besar. Kalau sampai terdengar dunia kang-ouw betapa Siauw-lim-pai dihina, pusakanya dicuri oleh orang Kwi-eng-pai tanpa berani membalas atau mencari, bukankah Siauw-lim-pai akan ditertawakan orang dan para tokoh Siauw-lim-pai dianggap penakut?

Betapapun juga, Thian Le Hwesio masih tidak berani membantah kehendak suhengnya yang menjadi ketua, dan hanya menanti kesempatan baik untuk merebut kembali pedang dan hio-louw pusaka Siauw-lim-pai yang dicuri orang itu. Adapun Thian Kek Hwesio yang maklum bahwa kini di dunia kang-ouw timbul pertentangan dan persaingan antara mereka yang pro dan anti pemerintah, bersikap bijaksana. Tidak saja dia ingin mentaati pesan gurunya yang berdiam di Ruangan Kesadaran, dan yang kini menggembleng sutenya yang termuda, Si Bekas Kacung itu, akan tetapi juga Ketua Siauw-lim-pai yang bijaksana ini tidak mau melibatkan Siauw-lim-pai ke dalam gelanggang pertentangan hanya karena dua buah pusaka saja. Kalau dia atau Thian Lee Hwesio atau para tokoh Siauw-lim-pai yang lain maju menyerbu Kwi-eng-pai, tentu berarti melibatkan Siauw-lim-pai ke dalam pertentangan. Sebaliknya kalau kacung yang kini digembleng suhunya itu yang kelak menyerbu, karena bocah itu bukan jadi anggauta Siauw-lim-pai resmi, tidak ada hubungannya dengan Siauw-lim-pai, tentu Siauw-lim-pai akan bebas dari libatan permusuhan.

Lima tahun lewat dengan amat cepatnya. Di dalam Ruang Kesadaran yang terletak di bagian belakang kompleks bangunan Kuil Siauw-lim-si terasing dari dunia luar, Kun Liong digembleng setiap hari oleh Tiang Pek Hosiang yang sudah menjadi makin tua. Selama lima tahun itu Kun Liong hanya menerima dua macam ilmu yang amat tinggi, yaitu Ilmu Silat Im-yang-sin-kun yang dapat dipergunakan untuk main silat tangan kosong maupun dengan sepasang senjata apa saja, dan ilmu sin-kang yang disebut Pek-in-ciang (Tangan Awan Putih), sin-kang yang amat lembut namun memiliki kekuatan yang amat dahsyat. Siang malam Kun Liong berlatih. Tubuhnya menjadi kurus karena kurang makan, mukanya agak pucat karena tak pernah kenyang menerima sinar matahari, namun matanya kini mengeluarkan cahaya yang aneh dan tajam menusuk seolah-olah menembus jantung orang yang dipandangnya. Yang tidak pernah berubah adalah kepalanya. Tetap gundul, tidak ada sehelai pun rambutnya tumbuh! Dia telah menjadi seorang pemuda dewasa berusia dua puluh tahun, tampan wajahnya, amat sederhana gerak-geriknya, dan yang paling menarik adalah kepala gundulnya. Melihat kepalanya, semua orang tentu menganggap dia sebagai orang hwesio, akan tetapi pakaiannya sama sekali bukan pakaian hwesio.

Pada suatu pagi, Tiang Pek Hosiang berkata kepada Kun Liong yang sudah menghadap dan berlutut di depannya, “Kun Liong, tibalah saatnya engkau keluar dari ruangan ini dan beritahukan kepada Ketua Siauw-lim-pai agar menyediakan sebuah peti mati sederhana untukku, dan kelak membakar jenazahku di puncak bukit belakang kuil tanpa upacara, tak perlu mengundang orang-orang kang-ouw.”

“Sukong…!” Kun Liong terkejut bukan main mendengar pesan kakek itu, memandang terbelalak dan mukanya pucat.

Kakek itu tersenyum lebar. “Mengapa, Kun Liong? Mengapa mendengar aku akan mati engkau menjadi terkejut dan pucat mukamu seperti orang takut?”

“Sukong, siapakah yang tidak ngeri dan takut menghadapi kematian?”

“Mengapa timbul takut, Kun Liong?”

“Karena kita tidak tahu apa dan bagaimana kematian itu, Sukong. Kita menjadi ngeri membayangkan apa yang akan terjadi dengan kita.”

“Ha-ha, benarkah demikian? Kalau kematian itu sesuatu yang tidak kita kenal, mana mungkin kita menjadi takut akan sesuatu yang tidak kita ketahui? Barulah timbul takut kalau kita mengetahui sesuatu akan kematian yang kita ketahui dari dongeng nenek moyang kita, dari tahyul, mengenal siksaan-siksaan sesudah mati, semua itulah yang menimbulkan rasa takut, bayangan kita sendiri yang timbul dari dongeng-dongeng itu.”

“Tidak hanya itu, Sukong. Teecu sendiri tidak percaya akan adanya dongeng tentang neraka, akan tetapi teceu merasa ngeri kalau membayangkan kematian.”

“Hemm, kalau begitu, yang kautakutkan bukanlah kematian itu sendiri, melainkan kau takut untuk berpisah dari hidup yang kau kenal ini, takut untuk meninggalkan segala yang kaukenal di dunia kehidupan ini. Andaikata orang-orang yang kausayang, benda-benda yang kausukai di dunia ini, dapat bersamamu pergi ke kematian, agaknya takut itu pun akan lenyap. Bukankah begitu?”

Kun Liong berpikir dan mengangguk, “Agaknya teecu tidak akan takut lagi, Sukong.”

“Jelas bahwa orang takut akan kematian karena sesungguhnya dia takut akan berpisah dari isi dunia kehidupan yang disukainya. Bagi seseorang yang sudah dapat mematikan akunya sewaktu hidup, tiada perubahan keadaan antara hidup dan mati. Yang berbeda hanya sebutannya saja karena bagi dia yang tiada lagi ber-aku, setiap saat adalah sama, apa pun yang akan terjadi dengan dia. Mengertikah engkau, Kun Liong?”

Kun Liong mengangguk-anggukkan kepalanya yang gundul, akan tetapi mulutnya berkata terus terang, “Teecu mengerti akan tetapi masih sukar untuk menyelami wejangan ini, Sukong. Akan tetapi, kalau benar Sukong hendak pergi meninggalkan penghidupan ini, perkenankanlah teecu merawat Sukong sampai saat terakhir.”

“Jangan, Kun Liong. Sudah tiba waktunya engkau keluar dari sini, biarlah aku melewatkan beberapa hari lagi ini seorang diri saja di sini. Nah, keluarlah dan sampaikan pesanku kepada Thian Kek Hwesio. Pergilah!” Kakek itu sudah memejamkan matanya kembali sambil duduk bersila.

Kun Liong merasa terharu juga. Selama lima tahun dia tidak pernah berpisah dari kakek itu dan menerima gemblengan-gemblengan yang hebat. Dia berlutut dan membentur-benturkan dahinya di atas lantai depan kaki sukongnya itu, menitikkan air mata, kemudian sambil menarik napas panjang keluarlah dia dari ruangan itu membuka daun pintu, menutupkan lagi dari luar dan melangkah ke ruangan dalam.

Dua orang hwesio penjaga terkejut sekali melihat seorang pemuda gundul keluar dari Ruangan Kesadaran. Cepat mereka meloncat menghampiri dan siap untuk menerjang, akan tetapi mereka melongo ketika mengenal Kun Liong, apalagi karena Kun Liong cepat menjura kepada mereka dan berkata,

“Ji-wi Suhu apakah lupa kepada Liong-ji? Aku mendapat pesan dari Sukong untuk disampaikan kepada Thian Kek-losuhu.”

“Kau… kau kacung Liong-ji…? Bagaimana bisa keluar dari Ruangan Kesadaran?” Seorang di antara dua hwesio itu bertanya, membelalakkan matanya dan hampir tidak percaya.

“Panjang ceritanya, akan tetapi Thian Kek-losuhu tentu mengerti, harap bawa aku menghadap beliau.”

Dua orang hwesio itu saling pandang, kemudian mereka mengiringkan Kun Liong pergi menghadap Thian Kek Hwesio yang tentu saja tidak kaget melihat munculnya Kun Liong. Kakek tinggi besar ini memandang penuh kagum, juga diam-diam dia girang mempunyai seorang sute (adik seperguruan) begini muda dan gagah.

“Liong-ji, engkau baru keluar sekarang?” Ketua Siauw-lim-pai itu menyambut dengan kata-kata ini.

Kun Liong segera berlutut di depan kakek itu dan berkata, “Pertama-tama teecu mohon maaf sebanyaknya bahwa teecu telah membohong kepada Locianpwe. Teecu sebenarnya she Yap bernama Kun Liong, teecu adalah putera tunggal Ayah Yap Cong San di Leng-kok.”

Para hwesio yang kebetulan berada di kamar itu terbelalak kaget, akan tetapi Thian Kek Hwesio tersenyum dan mengangguk-angguk. “Pengakuanmu ini makin menggirangkan hatiku, Yap-sicu karena berarti babwa Sicu adalah orang sendiri. Tentu saja pinceng (aku) memaafkan hal itu.”

“Terima kasih atas kebijaksanaan Locianpwe. Hal ke dua yang perlu teecu laporkan adalah bahwa selama lima tahun ini, teecu berada di dalam Ruangan Kesadaran bersama Sukong.”

“Hal itu pun pinceng sudah tahu, Yap-sicu dan pinceng merasa girang sekali mendengar bahwa Suhu berkenan menurunkan ilmunya kepada seorang pilihan seperti Sicu. Mudah-mudahan saja Sicu dapat mempergunakan pelajaran dari Suhu itu untuk membela kebenaran dan keadilan.”

“Tentu saja teecu akan memperhatikan pesan Locianpwe. Dan laporan ke tiga dari teecu adalah pesan dari Sukong bahwa Sukong minta agar Locianpwe suka menyediakan sebuah peti mati sederhana untuk Sukong dan kelak Sukong minta agar jenazahnya diperabukan di puncak bukit di belakang kuil tanpa upacara dan tidak perlu memberi tahu orang-orang kang-ouw.”

“Omitohud…!” Thian Kek Hwesio menangkap kedua tangan ke depan dada dan memejamkan kedua matanya. “Pinceng akan melaksanakan semua perintah Suhu.”

“Sekarang teecu mohon diri dari Locianpwe, akan meninggalkan Siauw-lim-si,” kata Kun Liong sambil memberi hormat.

“Nanti dulu, Sicu. Tidakkah Suhu memerintahkan sesuatu untuk Sicu kerjakan?”

“Tidak, Locianpwe.”

“Kalau begitu, agaknya Subu menghendaki agar pinceng yang minta bantuan Sicu. Dahulu ketika Suhu memberi tahu kepada pinceng bahwa Sicu diambilnya sebagai murid, Suhu mengatakan bahwa Siculah yang akan ditugaskan untuk mencari kembali dua buah pusaka yang dahulu dicuri oleh maling-maling itu. Karena itu, sekarang pinceng mengharapkan bantuan Sicu untuk mendapatkan kembali dua buah pusaka yang dicuri itu.”

“Ahh, jadi maling-maling itu berhasil membawa pergi dua buah pusaka? Pusaka apakah yang dibawanya dan siapakah maling itu, Locianpwe?”

“Yang diambil adalah sebatang pedang Liong-bwe-kiam (Pedang Ekor Naga) dan sebuah hio-louw emas berukirkan burung hong bermata kemala. Adapun pencurinya, kalau tidak salah dugaan kami adalah tokoh-tokoh dari Kwi-eng-pai yang berpusat di pulau di tengah-tengah Telaga Kwi-ouw (Telaga Hantu).” Hwesio tua itu lalu menceritakan tentang dua orang anggauta maling yang tertangkap dan betapa mereka membunuh diri dengan duri kembang hijau sehingga tidak sempat mengaku.

“Yang mengkhawatirkan hati kami adalah Sute Thian Le Hwesio. Suhu telah memesan bahwa Sicu yang akan mencari kembali pusaka-pusaka yang tercuri, akan tetapi Sute tidak sabar lagi dan dua bulan yang lalu Sute Thian Le Hwesio sudah diam-diam meninggalkan kuil dan menurut para murid, katanya Sute menyatakan bahwa dia pergi untuk merampas kembali pusaka-pusaka itu. Karena itu, pinceng harap sukalah Sicu membantu dan menyusul Sute ke Kwi-ouw untuk membantunya mengambil kembali pusaka yang tercuri.”

“Baikiah, Locianpwe. Teecu akan berusaha sedapat mungkin untuk mendapatkan kembali dua pusaka itu.”

Setelah Thian Kek Hwesio memberi petunjuk kepada Kun Liong di mana letaknya Telaga Hitam, berangkatlah Kun Liong meninggalkan kuil itu. Setelah berada di luar dan melihat pandangan alam yang indah, terlupalah olehnya akan hal-hal yang tidak menyenangkan, akan kematian sukongnya, akan tugas berat yang dipikulnya, dan yang terasa olehnya hanyalah kelegaan hati yang membuat dadanya seperti melembung dan ringan.

Betapa indahnya pemandangaa alam yang telah dipisahkan dengan dia selama lima tahun! Keluar dari Ruangan Kesadaran yang hanya berupa empat dinding tembok itu dan memasuki dunia luas ini, dia seolah-olah seperti hidup lagi, seperti memasuki dunia baru! Hawa yang amat sejuk segar terasa, nikmat dan sedap sekali memasuki paru-parunya, membawa keharuman bau tanah, rumput, pohon dan kembang-kembang. Ingin dia bernyanyinyanyi, demikian senang dan gembira hatinya. Begini agaknya perasaan seekor burung yang dilepas dari kurungan selama bertahun-tahun!

Hati yang gembira, tubuh yang ringan karena tanpa disadarinya sendiri dia kini telah memiliki ilmu kepandaian yang hebat, membuat Kun Liong dapat bergerak cepat sekali menuruni bukit. Pagi hari itu amat indah dan cerah dan suasana di pegunungan sunyi sekali. Menjelang tengah hari, Kun Liong melihat enam orang laki-laki yang kelihatannya kuat dan gagah mengawal sebuah kereta naik ke puncak gunung dan di atas kereta itu tampak berkibar bendera yang menandakan bahwa para pengawal itu adalah para piauwsu dari Sam-to Piauw-kiok (Perusahaan Expedisi Tiga Golok).

Enam orang itu memandang dengan sinar mata tajam menyelidiki ketika bertemu dengan Kun Liong, akan tetapi karena pemuda gundul itu tidak mempedulikan mereka, maka tidak terjadi sesuatu. Kun Liong hanya menganggap bahwa ada barang kiriman untuk Siauw-lim-pai, maka tentu saja dia tidak berani bertanya-tanya, dan dia tidak tahu barang apa yang berada di dalam kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda itu. Dia melanjutkan perjalanamya turun gunung sambil bersenandung dengan hati riang.

Sukongnya benar, pikirnya sambil menikmati hawa udara yang jernih sejuk. Hidup adalah saat sekarang ini yang sesungguhnya nikmat kalau pikiran kita tidak kita biarkan untuk mengenang hal-hal lalu atau hal-hal mendatang, bahkan kematian bukan merupakan hal yang menakutkan atau mendukakan. Apa sih kematian? Kita tidak tahu bagaimana kematian itu, dan tidak mungkin kita takut akan sesuatu yang kita belum tahu. Ketakutan timbul dari bayangan-bayangan, dari angan-angan tentang hal yang kita ketahui atau yang kita anggap telah kita ketahui dari kitab atau dari orang lain. Kalau kematian hanya menjadi kelanjutan dari hidup, perlu apa takut?

Hidup sendiri pun sesungguhnya bukanlah suatu keadaan yang amat menyenangkan. Lihat saja pengalamannya sejak dia meninggalkan rumah. Betapa hidup manusia penuh dengan pertentangan, penuh persoalan yang agaknya sambung menyambung tiada kunjung henti. Dan kalau dia pelajari persoalan-persoalan itu, kesemuanya timbul dari nafsu keinginan manusia memperebutkan sesuatu, baik yang diperebutkan itu benda atau kebenaran! Semua demi si-akunya manusia, sampai-sampai kebenaran sekalipun ingin dimonopoli. Kebenaran-Ku! Si aku inilah sumber dari segala persengketaan, sumber dari segala pertentangan dan permusuhan, membuat hidup menjadi semacam gelanggang pertempuran demi si aku masing-masing. Memang benar sukongnya yang berkata bahwa bagi seseorang yang sudah dapat mematikan akunya sewaktu hidup, tiada perubahan keadaan antara hidup dan mati!

Setelah hari senja baru Kun Liong tiba di sebuah dusun di kaki bukit. Dari jauh dia melihat sebuah warung makan di dekat sebuah rumah penginapan kecil sederhana. Dirogohnya bajunya yang lebar sederhana. Tadi dia diberi bekal uang sekedarnya oleh Thian Kek Hwesio. Lima tahun lamanya dia tidak pernah makan masakan yang enak, hanya makan sayur-sayuran sederhana saja seperti yang dimakan sukongnya. Minumnya pun selama lima tahun itu hanya air jernih. Ada tercium bau arak dan daging panggang dari warung itu, membangkitkan seleranya. Maka masuklah dia ke dalam warung itu, warung kecil yang hanya mempunyai beberapa bangku panjang, meja reyot dan diterangi oleh lampu minyak kecil tergantung di bawah genteng.

Tiga orang tamu yang sudah lebih dulu duduk di dalam warung, mengangkat muka memandang Kun Liong dengan penuh perhatian. Melihat orang-orang itu memandangnya penuh selidik, Kun Liong merasa tidak enak, akan tetapi dengan sikap tidak peduli dia menoleh kepada seorang pelayan yang sedang melayani mereka dan berkata sederhana, “Bung pelayan, tolong sediakan arak dan bakmi semangkuk!”

Pelayan itu menoleh, kelihatan ragu-ragu dan mengulang, “Arak? Dan bakmi dengan daging?”

Kun Liong mengangguk, lalu dia mengambil tempat duduk di ujung sebuah bangku panjang karena tidak ada tempat duduk lain yang kosong. Bangku ini di ujung sana telah diduduki oleh seorang di antara tiga tamu itu, seorang setengah tua yang berjenggot pendek dan agaknya sudah terlalu banyak minum arak karena mukanya merah dan wajahnya berseri. Dengan menggerakken kedua pundaknya dan bertukar pandang dengan tiga orang tamunya, pelayan itu lalu pergi ke belakang untuk mengambilkan arak dan bakmi yang dipesan Kun Liong.

“Aku mendengar bahwa Siauw-lim-pai merupakan partai persilatan yang paling besar dan telah terkenal sekali bahwa hwesio-hwesio Siauw-lim-pai adalah para hwesio yang tidak pernah menyeleweng.” Terdengar suara yang tinggi sekali seperti kaleng digurat menyakitkan anak telinga. Kun Liong melirik dan melihat bahwa yang bicara ini adalah seorang di antara tiga tamu tadi, orang yang mukanya kecil, bertopi kain dan bermuka pucat.

“Ha-ha-ha-ha, apa yang kaudengar itu memang benar, Kui-suheng (Kakak Seperguruan Kui). Kalau ada seorang hwesio melakukan pelanggaran, sudah hampir dapat dipastikan dia itu bukan seorang anggauta Siauw-lim-pai!” kata orang yang duduk sebangku dengan Kun Liong.

Arak dan bakmi yang dipesan Kun Liong tiba, dan pemuda ini segera mulai makan tanpa mempedulikan tiga orang tamu itu. Orang ke tiga di antara tamu itu sudah tua, kurus dan lucu sekali karena kelihatan selalu mengantuk. Biarpun kadang-kadang dia mengangkat cawan araknya, akan tetapi matanya seperti terus tidur melenggut dan tidak pernah ikut bicara dengan kedua orang temannya, bahkan sama sekali tidak mempedulikan Kun Liong.

“Benarkah bahwa setiap ada anak murid yang melanggar, Siauw-lim-si bertindak keras sekali dengan hukumannya?” tanya pula Si Muka Pucat yang disebut Kui-suheng oleh Si Jenggot Pendek tadi.

“Kabarnya demikian. Bahkan seorang murid tidak akan diijinkan keluar sebelum lulus dari ujian yang diadakan. Apakah Suheng tidak mendengar betapa ketuanya yang lama, Tiang Pek Hosiang yang terkenal di seluruh dunia kang-ouw itu, terpaksa harus mengundurkan diri karena pelanggaran?”

“Ya, kabarnya begitu. Bahkan murid Siauw-lim-pai yang paling lihai, Yap Cong San yang kabarnya mewarisi ilmu kepandaian kakek sakti itu, terpaksa pula harus meninggalkan keanggautaannya dari Siauw-lim-pai karena pelanggaran.”

“Urusan apakah?”

“Entahlah, Sute. Aku sendiri pun tidak tahu jelas. Tentu Tio-taihiap (Pendekar Besar Tio) yang lebih tahu,” jawab Si Muka Pucat sambil memandang kepada teman yang sejak tadi seperti orang mengantuk itu. Kedua orang itu kini memandang kepadanya dan diam-diam Kun Liong juga memperhatikan dengan kerling matanya kepada Si Pengantuk yang disebut Pendekar Besar Tio itu.

“Sudahlah, perlu apa bicara tentang urusan orang lain? Yang penting malam ini kita mengaso di losmen dan baru besok pagi kita naik ke Siauw-lim-si. Mudah-mudahan saja perjalanan jauh kita akan berhasil.”

Mendengar ini, timbul kecurigaan di dalam hati Kun Liong. Tiga orang ini sikapnya mencurigakan dan mereka ini besok mau nalk ke Siauw-lim-si! Mau apakah mereka? Apakah ada hubungan mereka dengan Kwi-eng-pai yang telah mencuri pusaka Siauw-lim-si?

“Ucapan Tio-taihiap benar,” kata Si Jenggot Pendek. “Kita harus menghormati para pendeta Siauw-lim-pai yang terhormat, akan tetapi bagaimana mungkin aku dapat menghormat pendeta munafik yang terang-terangan melanggar pantangan di depan umum?” Setelah berkata demikian, Si Muka Merah yang berjenggot pendek ini mengangkat cawan araknya melirik ke kiri ke arah Kun Liong sambil mengerahkan tenaga sinkang di tubuh bagian bawah.

Kun Liong terkejut bukan main ketika tiba-tiba bangku yang didudukinya itu bergetar dan bergerak terangkat naik! Maklumlah dia bahwa Si Muka Merah ini sengaja main gila hendak mempermainkan dia yang tentu dianggap seorang hwesio yang melanggar pantangan makan daging dan minum arak. Perutnya terasa panas, akan tetapi dia bersikap tenang saja seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi, akan tetapi dia pun lalu mengerahkan sin-kang sehingga ujung bangku yang didudukinya itu, yang tadinya sudah terangkat sampai sejengkal lebih dari lantai, kini turun kembali! Si Muka Merah terbelalak dan heran, lalu menjadi penasaran. Sin-kangnya dikerahkan dengan sekuatnya, dan andaikata Kun Liong bukan seorang yang telah memiliki sin-kang kuat, tentu dia akan terlempar jauh oleh getaran ujung bangku yang didudukinya! Akan tetapi, tubuh pemuda ini sama sekali tidak berguncang, bahkan ketika dia mengerahkan tenaganya, terdengar suara “krakkk!” bangku itu patah pada tengahnya dan tubuh Si Muka Merah itu terlempar ke atas seperti dilontarkan oleh tenaga raksasa yang tidak tampak! Cawan araknya terlepas dari tangannya dan tentu akan terbanting tumpah di atas meja kalau saja Si Pengantuk yang disebut Tio-taihiap itu tidak mengulur tangan menyambar cawan itu dan aneh sekali… arak yang tumpah itu seakan-akan tersedot dan melayang kembali ke dalam cawan itu! Sedangkan Si Muka Merah sudah berjungkir-balik dan tidak sampai terbanting. Dia sudah mengepal tinju dan memandang kepada Kun Liong dengan mata mendelik, melihat pemuda gundul itu tetap enak-enak duduk di ujung bangku yang sudah patah tengahnya, menghabiskan sisa arak dalam cawannya!

“Pendeta palsu hayo lawan aku orang she Song kalau kau ada kepandaian!” Si Muka Merah itu membentak marah.

Kun Liong menghabiskan sisa arak dalam cawan, kemudian meletakkan cawan kosong di atas meja dan bangkit berdiri. Tentu saja bangku yang sudah patah tengahnya itu terguling roboh ketika dia bangkit, mengeluarkan bunyi nyaring memecah kesunyian yang menegangkan itu. Dia merogoh saku dan menggapai kepada pelayan yang datang membungkuk-bungkuk dengan ketakutan, kemudian membayar harga makanan dan minuman setelah menanyakan harganya. Setelah pelayan bergegas pergi, dia berpaling kepada Si Muka Merah dan berkata, “Semenjak tadi aku makan dan minum di sini dengan aman, tidak pernah mengganggu orang baik dengan ucapan atau dengan tingkah laku. Engkau hampir jatuh oleh tingkah sendiri, mengapa sekarang ribut-ribut hendak menantang orang?”

“Pendeta palsu, tak usah banyak cakap. Keluarlah kalau kau berani!”

“Saudara Song, duduklah!” Tiba-tiba Si Pengantuk itu berseru nyaring dan Kun Liong melihat betapa Si Muka Merah itu, biarpun bersungut-sungut, mengangguk tak berani membantah, sudah duduk di sudut dengan muka merah. Si Pengantuk itu lalu berdiri menghadapi Kun Liong, mengangkat tangan ke depan dada sambil berkata, “Siauw-suhu, harap suka memaafkan kekasaran kawanku. Akan tetapi aku pun tidak dapat terlalu menyalahkannya karena dia memang paling tidak suka menyaksikan sesuatu yang ganjil, misalnya seorang pendeta yang melanggar pantangan di depan umum, makan daging dan arak.”

Kun Liong tersenyum lebar dan memandang Si Pengantuk itu dengan wajah berseri. Dia tidak marah lagi, bahkan merasa betapa lucunya keadaan. Sambil balas menjura dia menjawab, “Sudahlah, tidak ada apa-apa yang harus diributkan kalau hanya karena kesalahpahaman diakibatkan oleh kepalaku yang gundul Tai-hiap, aku bukanlah seorang hwesio dan tidak ada seorang manusia pun di dunia ini yang berhak melarang aku berkepala gundul, minum arak dan makan daging!”

SI MUKA PUCAT tertawa dan sungguh aneh. Biarpun dia kelihatan mengantuk, setelah tertawa wajahnya yang tua kurus itu berseri dan sepasang mata yang sipit itu mengeluarkan sinar mata yang menyambar amat tajamnya, membuat Kun Liong terkejut sekali dan diam-diam pemuda ini maklum bahwa dia berhadapan dengan orang pandai.

“Ha-ha-ha, Song-laote, kaulihat betapa lucunya dan betapa merugikan kalau kau tidak teliti, menyangka orang yang bukan-bukan dan sudah tergesa-gesa turun tangan sebelum yakin akan kesalahan orung. Saudara muda ini sama sekali bukan hwesio, tentu saja bukan merupakan hal aneh kalau dia makan daging dan minum arak.”

Orang she Ong itu kini berubah sikapnya. Dia cepat bangkit dan menjura ke arah Kun Liong sambil berkata, “Aihh, mataku seperti buta! Harap suka memaafkan kecurigaan saya tadi, Siauw-eng-hiong. Semuda ini engkau telah memiliki kepandaian hebat, sungguh mengagumkan hatiku. Pertemuan ini harus dilanjutkan dengan persahabatan dan sudilah engkau menjadi tamu kami!”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: