Petualang Asmara (Jilid ke-11)

Heran hati pemuda ini menyaksikan kesibukan anak murid Siauw-lim-pai, dan setelah dia berhadapan dengan ketua dan para tokoh Siauw-lim-pai di ruangan depan, dapat dibayangkan betapa kagetnya mendengar berita bahwa Thian Lee Hwesio telah tewas terbunuh orang dan baru saja kemarin jenazahnya tiba, dibawa oleh rombongan piauwsu yang kemarin dijumpai di tengah jalan. Kiranya yang berada di dalam kereta adalah sebuah peti yang terisi jenazah Thian Le Hwesio!

Di dalam ruangan itu terdapat dua buah peti mati dan Kun Liong segera berlutut memberi hormat di depan kedua peti mati itu setelah dia mengetahui bahwa dua peti mati itu berisi jenazah sukongnya, Tiang Pek Hosiang, dan jenazah Thian Le Hwesio!

“Bukan pinceng tidak mentaati pesan terakhir dari Suhu,” kata Thian Kek Hwesio kepada Kun Liong setelah mempersilakan pemuda itu duduk. “Akan tetapi sebelum kami dapat melaksanakan perintah Suhu dan memperabukan jenazahnya, telah datang jenazah Sute. Maka biarlah kita sekarang mengadakan upacara kepada dua jenazah, apalagi karena sudah sepatutnya kalau jenazah Suhu memperoleh kehormatan dan menerima penghormatan para tokoh kang-ouw yang tentu akan berdatangan mendengar berita kematian Suhu dan Sute. Pinceng harap Sicu akan suka menunggu di sini sampai kedua jenazah disempurnakan.”

Kun Liong mengangguk. “Tentu saja, teecu akan menanti di sini karena teecu juga ingin sekali bertemu dengan tokoh-tokoh kang-ouw. Sudah menjadi kewajiban teecu pula untuk menunggu jenazah Sukong sampai diperabukan. Akan tetapi yang sangat mengherankan hati teccu, bagaimanakah Thian Lee-losuhu yang katanya mencari pusaka yang hilang, tahu-tahu kembali dalam keadaan telah tewas dan siapa pula yang mengantar dengan kereta piauw-kiok itu?”

“Yap-sicu telah kami beri tugas untuk mencari kembali pusaka sesuai dengan pesan Suhu, sekarang dengan terjadinya kematian Sute, tugas Sicu menjadi lebih berat. Agar jelas, baiknya Sicu mendengar sendiri penuturan para piauwsu yang mengawal jenazah Sute,” kata Ketua Siauw-lim-pai yang segera memanggil enam orang piauwsu itu ke ruangan, sedangkan dia sendiri melanjutkan memimpin para anak murid melakukan upacara sembahyangan terhadap dua peti mati terisi jenazah.

Enam orang piauwsu itu tercengang juga ketika diperkenalkan kepada Kun Liong yang mereka kenal sebagai pemuda gundul yang kemarin berjumpa dengan mereka di tengah jalan. Ketika mendengar bahwa pemuda itu adalah sahabat baik Ketua Siauw-lim-pai, mereka segera memberi hormat, apalagi ketika Ketua Siauw-lim-pai minta agar mereka menceritakan semua kepada Kun Lion, pimpinan piauwsu yang bermuka hitam segera mulai dengan penuturannya.

Sam-to-piauw-kiok adalah sebuah perusahaan pengawalan dan pengiriman barang di kota Lam-san-bun yang sudah amat terkenal karena perusahaan ini dipimpin tiga orang kakak beradik yang tinggi ilmu silatnya, terutama sekali ilmu golok mereka yang sukar dicari tandingannya, sehingga terkenallah sebutan Sam-to-eng (Tiga Pendekar Golok). Karena itu, perkumpulan yang juga memakai nama Tiga Golok ini amat dipercaya orang untuk mengawal pelancong atau barang-barang berharga.

Pada suatu hari, seorang pemuda tampan datang berkereta dan membawa sebuah peti yang panjang besar, menyerahkan peti itu kepada Sam-to-piauw-kok dan minta agar peti itu dikirimkan secepatnya ke Siauw-lim-pai dengan biaya mahal dan dibayar kontan pula!

“Karena pada waktu peti itu datang tiga orang pimpinan kami sedang tidak ada di rumah, maka kami sebagai pembantu-pembantunya menerima barang itu dan kami tidak mengutus anak buah, melainkan kami mengawalnya sendiri mengingat akan baiknya hubungan antara tiga orang pemimpin kami dengan Siauw-lim-pai. Karena barang kiriman itu untuk Siauw-lim-si, maka harus kami jaga agar jangan sampai terjadi sesuatu di tengah jalan. Sama sekali kami tidak pernah menyangka bahwa peti itu berisi… berisi…”

“Jenazah Thian Le-losuhu?” Kun Liong melanjutkan karena pemimpin para piauwsu yang bermuka bitam itu kelihatan gagap.

“Benar, Yap-sicu. Kalau kami tahu apa isinya, hemmm… tentu kami akan menahan dia!”

“Siapakah dia yang mengirim peti itu?”

“Seorang pemuda tampan, dan sekarang, melihat bahwa peti itu berisi jenazah wakil Ketua Siauw-lim-pai, timbul dugaan kami babwa agaknya pemuda itu adalah penyamaran dari dia…” Si Muka Hitam yang biasanya bersikap gagah itu kelihatan ragu-ragu dan jerih, tampak dari matanya yang otomatis melirik ke kanan kiri, seolah-olah dia merasa takut kalau-kalau suaranya terdengar orang lain!

“Siapakah dia yang kaumaksudkan?”

“Giok… hong… cu…”

Kun Liong mengerutkan alisnya karena dia sama sekali tidak mengenal nama julukan Giok-hong-cu (Si Burung Hong Kemala) itu. “Hemmm, dia itu orang apakah?”

Pemimpin rombongan piauwsu itu memandang dengan heran, kemudian dia dapat menduga bahwa pemuda gundul yang diakui sebagai sahabat oleh Ketua Siauw-lim-pai itu agaknya adalah seorang yang sama sekali belum mengenal keadaan dunia kang-ouw, maka dengan penuh gairah seorang yang suka bercerita dia berkata, “Dia adalah seorang wanita muda yang namanya tersohor di seluruh dunia kang-ouw selama dua tahun ini. Ilmu kepandaiannya hebat dan mengerikan, sepak terjangnya ganas sekali dan melihat betapa banyaknya tokoh-tokoh golongan putih yang menjadi korban keganasan tangannya, agaknya dia adalah seorang tokoh baru golongan hitam, sungguhpun ada pula golongan hitam yang dibasminya. Dia seorang tokoh penuh rahasia dan melihat bahwa isi peti adalah jenazah wakil Ketua Siauw-lim-pai, kami terus saja ingat kepadanya.”

“Hemm, sungguh tidak baik kalau menuduh orang tanpa bukti, siapapun juga orang itu.” Kun Liong membantah, hatinya merasa tidak rela ada orang menuduh seorang wanita muda yang melakukan pembunuhan keji terhadap Thian Le Hwesio.

“Kami tidak menuduh sembarangan!” Si Muka Hitam membantah. “Biarpun dia berpakaian seperti seorang pemuda, akan tetapi wajahnya demikian tampan dan suara serta gerak-geriknya demikian halus. Dia pasti seorang wanita muda yang menyamar.”

“Tapi bagaimana kau dapat memastikan dia itu tokoh wanita yang berjuluk Giok-hong-cu?”

“Karena Giok-hong-cu juga seorang dara muda yang cantik jelita, dan… di baju pemuda itu, di bagian dada kiri, terdapat sebuah hiasan burung hong terbuat dari batu kemala. Kabarnya, kami sendiri belum pemah bertemu dengan Giok-hong-cu, tokoh itu pun selalu menghias rambutnya dengan burung hong batu kemala, maka benda itu dijadikan julukannya karena tidak ada seorang pun tahu siapa namanya.”

Kun Liong mengerutkan alisnya makin dalam. Blarpun dia tidak yakin benar akan tuduhan ini, namun dia mencatat semua itu di dalam hatinya untuk bahan penyelidikannya kelak. Dia bertugas dan ini perintah mendiang sukongnya, untuk mendapatkan kembali dua buah benda pusaka Siauw-lim-pai yang dicuri orang. Dan karena Thian Le Hwesio tewas dalam usahanya mencari pula pusaka itu, maka agaknya pembunuh hwesio tua itu tentulah orang yang mempunyai hubungan dengan pencurian pusaka itu. Dahulu pun orang yang memimpin pencurian, yang telah melukainya, adalah seorang pemuda yang amat lihai sehingga tidak dapat tertangkap oleh tokoh-tokoh Siauw-lim-pai. Akan tetapi, pemuda itu dahulu berkedok saputangan, dan tubuhnya memang kecil namun tegap dan gagah. Menurut penuturan Ketua Siauw-lim-pai, dua orang pencuri yang tertangkap kemudian membunuh diri, mungkin sekali adalah anggauta Kwi-eng-pai di Kwi-ouw, melihat dari duri yang mereka pakai membunuh diri.

“Apakah Giok-hong-cu yang kausebut itu seorang anggauta Kwi-eng-pai?” tanyanya.

Kembali piauwsu itu kelihatan kaget dan jerih, menggeleng kepala dengan kuat. “Ah, saya rasa tidak ada hubungannya dengan Kwi-eng-pai… akan tetapi entahlah, sepanjang pendengaran kami, Giok-hong-cu selalu bergerak sendiri. Kwi-eng-pai terlalu besar untuk hanya diwakili oleh satu orang saja yang tidak pernah menyebut nama perkumpulan itu.”

Kun Liong mengangguk-angguk. “Jadi orang yang mungkin sekali menyamar Giok-hong-cu itu mendatangi Sam-to-piauwkiok di Lam-san-bun? Apakah memang dia tinggal di Lam-san-bun?”

“Yap-sicu, siapakah yang dapat mengetahui di mana tempat tinggalnya? Akan tetapi memang pada bulan-bulan terakhir ini sepak terjangnya berbekas di antara Lam-san-bun sampai ke kota raja.”

Kun Liong merasa lega mendengar keterangan ini. Biarpun dia belum yakin benar bahwa tokoh wanita terkenal itu yang membunub wakil Ketua Siauw-lim-pai, namun sedikitnya dia dapat menyelidikinya dan mencarinya antara Lam-san-bun dan kota raja.

Para piauwsu Sam-to-piauwkiok itu tidak lama berada di Siauw-lim-si. Mereka segera berpamit untuk kembali ke Lam-san-bun dan melaporkan peristiwa hebat itu kepada tiga orang pimpinan mereka. Setelah para piauwsu itu pergi, teringatlah Kun Liong akan tiga orang yang ditemuinya di warung, dan kecurigaannya bertambah. Dalam keadaan seperti pada waktu itu, setelah peristiwa hebat yang menimpa diri wakil Ketua Siauw-lim-pai, maka setiap orang yang datang ke Siauw-lim-si tentu mengandung niat yang meragukan. Siapa tahu kalau-kalau tiga orang yang dijumpainya itu, yang jelas bukanlah orang-orang biasa, adalah anak buah Kwi-eng-pai atau setidaknya mempunyai hubungan dengan pembunuh Thian Le Hwesio.

Pikiran ini mendorong Kun Liong untuk meninggalkan kuil dan menghadang di depan kuil, menanti munculnya tiga orang yang dicurigai itu. Dia tidak menanti lama, karena segera tampak olehnya tiga orang yang ditunggu-tunggu itu berlari mendaki puncak dengan gerakan cepat. Diam-diam dia terkejut juga. Dia memang tahu bahwa mereka itu adalah orang-orang berkepandaian, terutama sekali Si Pengantuk yang telah ia saksikan kelihaiannya ketika Si Pengantuk yang disebut Tio-taihiap itu menyambar cawan arak yang terlempar dan menyedot arak yang tumpah keluar kembali ke dalam cawan, membuktikan tenaga sin-kang yang amat kuat. Akan tetapi melihat tiga orang itu menaiki puncak sambil berlari sedemikian cepatnya, dia benar-benar tercengang dan kecurigaannya bertambah. Siauw-lim-pai telah kedatangan tiga orang lawan berat, pikirnya. Lebih baik dia menghalangi mereka itu di luar agar tidak mengacaukan dalam kuil di mana sedang diadakan upacara sembahyang terhadep dua jenazah dalam peti-peti mati.

Hari masih pagi di waktu itu. Kun Liong berdiri di tengah lorong kecil yang menuju ke kuil, membelakangi pintu kuil yang terbuka sebelah. Keadaan di luar kuil sunyi karena semua hwesio sibuk di sebelah dalam, melayani ketua dan para pimpinan yang melakukan sembahyangan. Dari luar terdengar bunyi liam-keng (doa) mereka dan suara ketukan-ketukan mengiringi doa sembahyang seperti nyanyian puji-puji yang penuh khidmat.

Tiga orang itu menghentikan gerakan kaki mereka dan berdiri berhadapan dengan Kun Liong. Si Pengantuk berusaha melebarkan matanya yang sipit ketika melihat Kun Liong, sedangkan Si Muka Merah dan yang seorang lagi memandang dengan penuh keheranan dan juga mereka kelihatan marah ketika mengenal bahwa yang menghadang di tengah jalan itu bukanlah seorang hwesio yang menyambut kedatangan mereka, melainkan pemuda gundul yang pernah ribut dengan Si Muka Merah di dalam warung! Kalau tadinya mereka itu sudah menghabiskan kecurigaan mereka setelah mendengar bahwa pemuda itu bukan seorang hwesio, kini mereka menjadi curiga lagi melihat pemuda itu menghadang mereka di depan pintu gerbang kuil Siauw-lim-si!

Orang she Tio yang tinggi kurus dan seperti mengantuk, sudah mendahului dua orang kawannya, maju dan menjura kepada Kun Liong sambil berkata, “Kiranya sahabat muda yang menghadang kami di sini. Harap kau orang muda suka minggir dan membiarkan kami pergi memasuki kuil Siauw-lim-si, dan kalau ada urusan dengan kami, biarlah akan kita bicarakan kelak kalau urusan kami di Siauw-lim-si sudah selesal.”

Kun Liong bersikap tenang akan tetapi dia menggeleng kepalanya. “Pada saat ini Siauw-lim-si tidak menerima kunjungan orang-orang asing. Harap Sam-wi kembali saja dari mana Sam-wi datang dan jangan memasuki kuil karena para suhu sedang sibuk.”

“Eh, eh, omongan apa ini?” Orang she Song yang bermuka merah menegur dengan suaranya yang galak. Dia memang termasuk orang yang wataknya berangasan. “Engkau bilang bahwa kau bukan seorang hwesio biarpun kepalamu gundul. Sekarang engkau menghalangi kami hendak memasuki Siauw-lim-si. Sebenarnya siapakah engkau dan apa kehendakmu terhadap kami?”

“Aku adalah seorang sahabat baik dari para pimpinan Siauw-lim-pai, karena itu aku harus mencegah kalian melakukan pengacauan di Siauw-lim-si.”

“Manusla sombong! Apakah ehgkau menantang berkelahi?” Si Muka Merah membentak.

Kun Liong menggeleng kepalanya. “Aku tidak menantang siapa pun, akan tetapi aku tidak ingin melihat orang-orang menggunakan kepandaian untuk melakukan kejahatan, apalagi terhadap Siauw-lim-pai. Karena itu, harap Sam-wi (Tuan Bertiga) suka pergi lagi dan jangan mengganggu para pimpinan Siauw-lim-pai yang sedang sibuk.”

“Bocah lancang! Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa! Manusia sombong seperti engkau layak dlhajar!” Si Muka Merah sudah mengepal tinju dan hendak menerjang maju, akan tetapi Si Pengantuk melarangnya,

“Saudara Song, jangan!”

Si Muka Merah itu mundur kembali, akan tetapi mukanya menjadi makin merah karena dia marah bukan main. Kini Si Pengantuk melangkah maju menghadapi Kun Liong dan memandang penuh selidik, kemudian berkata, “Sahabat muda, engkau dengan tegas melarang kami memasuki kuil Siauw-lim-si dan menuduh kami hendak mengadakan pengacauan. Agaknya engkau salah sangka. Kami bukan berniat melakukari kekacauan, karena itu harap engkau jangan menghalangi kami.”

Kun Liong menggeleng kepalanya. “Melihat sikap kalian, aku tidak dapat percaya dan aku menduga bahwa tentu engkau tidak mempunyai niat baik. Akan tetapi, kalau engkau suka memberi tahu kepadaku apa niat kedatangan kalian bertiga, aku akan melaporkan kepada Ketua Siauw-lim-pai dan kalian menanti dulu di sini.”

Akan tetapi Si Pengantuk masih kelihatan tenang dan sabar. “Orang muda, kami memang ada urusan penting dengan Ketua Siauw-lim-pai, akan tetapi urusan ini tidak dapat kuberitahukan kepada siapapun juga.”

“Kalau begitu menyesal sekali, harap kalian suka pergi lagi saja.” Kun Liong berkata tegas.

“Kalau kami tidak mau dan hendak terus memasuki kuil?”

“Terpaksa aku mencegah kalian.”

“Orang muda, engkau menantang kami?”

“Nah, lagi-lagi aku dituduh menantang!” Kun Liong tersenyum. “Engkau ini orang tua disebut tai-hiap yang berarti pendekar besar dan dengan sendirinya tentu seorang pendekar maklum akan duduknya perkara. Sam-wi datang hendak memaksa memasuki kuil, aku sebagai seorang yang merasa pula bertanggung jawab akan keselamatan kuil Siauw-lim-si, menolak kedatangan Sam-wi dan minta agar Sam-wi pergi lagi saja, akan tetapi Sam-wi hendak memaksa. Tentu saja kalau Sam-wi memaksa aku akan mencegah. Eh, kini Sam-wi menuduh aku menantang! Benarkah pendapat seperti itu?”

Si Pengantuk she Tio berkata, kini suaranya dingin dan tegas. “Orang muda, agaknya engkau memiliki sedikit kepandaian dan terlalu mengandalkan kepandaian itu sehingga berani bicara main-main dengan kami. Minggir dan jangan mencari perkara!”

“Kalian yang terlalu, aku tidak mau minggir.”

“Kalau begitu bersiaplah kau, orang muda. Mari kita memutuskan urusan ini dengan mengadu kepandalan.”

“Aku tidak mau berkelahi.”

Si Pengantuk tercegang dan bingung juga bagaimana harus bersikap terhadap pemuda gundul yang aneh ini. Si Muka Merah sudah membentak lagi, “Dia pengecut!”

“Aku tidak takut kepada kalian bertiga, pasti bukan pengecut,” bantah Kun Liong yang tersinggung juga disebut pengecut.

“Kalau berani, majulah!” tantang Si Muka Merah.

“Tentu saja berani, akan tetapi aku tidak suka berkelahi!”

“Eh, orang muda! Engkau bersikap menantang kami akan tetapi menyatakan tidak suka berkelahi, sebenarnya apakah maksudmu!”

“Maksudku sudah jelas, Tai-hiap. Aku minta agar kalian bertiga tidak memasuki kuil dan suka pergi dengan aman dan damai. Nah, bukankah kita tidak saling mengganggu dan urusan dapat dihabiskan sampai di sini saja?”

“Bocah sombong! Tio-taihiap, biar aku menghajarnya!” orang she Song yang bermuka merah tak dapat menahan kemarahannya lagi karena merasa bahwa pemuda gundul itu sengaja mempermainkan mereka. Teriakannya ini disusul dengan gerakan tubuhnya yang sudah menerjang maju dan mengirim pukulan tangan kanannya ke arah dada Kun Liong.

Pukulan kasar ini biarpun dilakukan dengan pengerahan sin-kang dan cepat serta keras sekali datangnya, bagi Kun Liong yang sudah dapat mengukurnya bukan merupakan serangan berbahaya. Karena itu, pemuda ini sama sekali tidak mau mengelak atau menangkis, melainkan dia menerima pukulan dengan dadanya sambil mengerahkan tenaga sin-kang yang dahulu dipelajarinya dari Bun Hwat Tosu.

Dengan sin-kang yang sama, Bun Hwat Tosu dahulu pernah menerima pukulan Hek-tok-ciang (Tangan Beracun Hitam) dari Ketua Ui-hong-pang tanpa terluka, bahkan Si Ketua itu sendiri yang terluka tangannya oleh pukulan sendiri yang membalik hawanya.

“Bukkkk!”

Keras sekali datangnya pukulan itu, mengenai dada Kun Liong dan membuat tubuh pemuda gundul itu terguncang, namun berkat tenaga sin-kang yang menolak dan membetot, tangan yang memukul itu meleset seolah-olah memukul karet yang amat keras dan Si Muka Merah itu meringis ketika tangannya menyeleweng dan tubuhnya terpental sampai terhuyung ke kiri! Ketika dia melihat ke arah tangan kanannya, tangannya itu telah bengkak-bengkak! Dan ketika dia melirik ke arah pemuda gundul itu, Si Pemuda masih berdiri tegak dengan sikap tenang dan mulut tersenyum.

“Hemm, tukang pukul orang! Masih ada lagikah pukulanmu yang lunak seperti tahu tadi?” Kun Liong mempermainkan Si Muka Merah yang menjadi marah sekali. Dengan tangan kirinya, Si Muka Merah sudah meraba punggung dan tampaklah sinar berkilauan ketika dia telah mencabut pedangnya.

“Saudara Song, jangan main senjata!” Si Pengantuk menegur.

“Sute, mundurlah!” Orang bermuka pucat she Kui yang menjadi suheng dari Si Muka Merah sudah meloncat ke depan. Gerakannya lincah, ringan dan cepat bukan main. Sekaii pandang saja, tahulah Kun Liong bahwa kepandaian Si Muka Pucat ini lebih lihai darlpada Si Muka Merah yang kasar. Begitu menyerang, Si Muka Pucat she Kui itu telah mengirm totokan halus yang cepat sekali ke arah leher dan pundak Kun Liong.

Biarpun dia sama sekali belum berpengalaman, namun berkat bimbingan dua orang sakti yang berilmu tinggi, pandang mata Kun Liong menjadi awas sekali. Dia maklum bahwa amat berbahayalah untuk melindungi tubuhnya dengan sin-kang seperti yang dilakukannya tadi karena kini yang menjadi sasaran serangan lawan adalah jalan darah yang lemah dan totokan lawan itu selain cepat juga mengandung hawa pukulan yang amat kuat. Maka dia pun lalu menggerakkan tubuh mengelak dan begitu dia bergerak, Si Pengantuk menahan seruannya saking kagum. Gerakan Kun Liong jauh lebih cepat daripada gerakan Si Muka Pucat dan serangan bertubi-tubi yang dilanjutkan oleh orang she Kui itu selalu tak dapat berhasil, kalau tidak dielakkan tentu kena ditangkis secara tepat sekali oleh Kun Liong. Tidaklah mengherankan kalau semua serangan itu gagal karena Kun Liong sudah melindungi dirinya dengan gerakan Ilmu Silat Sakti Im-yang-sin-kun bagian pertahanan.

Si Pengantuk yang memperhatikan dengan teliti gerakan Kun Liong, terkejut menangkap dasar-dasar Ilmu Silat Siauw-lim-pai, akan tetapi ilmu silat yang dimainkan pemuda itu hanya mempunyai dasar ilmu silat Siauw-lim-pai, sedangkan perkembangan dan gerakannya sama sekali tidak dia kenal! Padahal, biasanya dia boleh berbangga bahwa jarang ada ilmu silat yang tidak dikenalnya, apalagi ilmu silat yang berdasar Siauw-lim-pai.

Ketika kakek pengantuk itu melihat betapa pemuda gundul itu sama sekali tidak membalas serangan temannya, namun semua serangan temannya itu sama sekali tidak pernah berhasil tahulah dia bahwa temannya she Kui itu pun bukan lawan pemuda gundul yang amat aneh ilmu silatnya itu. Maka dengan gerakan ringan sekali seperti seekor burung terbang dia sudah meloncat ke depan, menyambar lengan temannya, menarik sambil berseru, “Mundurlah, Saudara Kui!”

Tubuh orang she Kui yang bermuka pucat itu tertarik dan melayang meninggalkan lawan. Kun Liong yang kehilangan lawan itu memandang kaget ketika melihat betapa tahu-tahu lawannya telah berganti orang, yaitu Si Pengantuk yang ia tahu amat lihai.

“Sam-wi benar-benar keras kepala dan ingin mengandalkan kepandaian untuk memaksakan kehendak sendiri!” Kun Liong mencela, namun tetap siap siaga menghadapi lawan yang ia tahu tak boleh dipandang ringan itu.

“Orang muda, engkaulah yang keras kepala. Pergilah!” Si Pengantuk sudah menyerang, akan tetapi gaya serangannya jauh berbeda dengan gerakan kedua orang temannya tadi, Si Pengantuk ini hanya menggerakkan tangan kirinya, dan ujung jari tangan kirinya melecut seperti ujung cambuk yang lemas, mengarah leher dan pundak Kun Liong.

Pemuda itu terkejut bukan main. Biarpun serangan itu kelihatannya bersahaja dan tidak sungguh-sungguh, namun kepretan tangan itu mendatangkan hawa pukulan yang panas sekali! Tentu saja dia tidak berani menerima serangan sehebat itu, maka cepat dia pun mengerahkan tenaganya ke arah tangan, menggerakkan tangan kanannya menangkis jari-jari tangan lawan itu dan dari tangannya mengepul uap putih.

“Plak! Plakkk!”

Kakek pengantuk itu mencelat mundur dengan terkejut sekali. Ternyata bahwa lengan pemuda gundul itu mampu menangkis kepretan ujung jari tangannya, padahal dia tahu benar bahwa jarang ada orang kang-ouw yang sanggup menangkisnya tanpa terdorong mundur atau terluka tangannya. Pemuda itu menangkis dengan kekuatan dahsyat dan sama sekali tidak kelihatan menderita! Bahkan tangan pemuda itu mengeluarkan uap putih yang aneh! Lagi-lagi dia tadi telah mempergunakan Pek-in-ciang yang dipelajarinya dari Tiang Pek Hosiang.

Kalau lawannya terkejut dan terheran, Kun Liong juga kagum sekali ketika merasa betapa hawa tamparan ujung jari itu membuat lengannya tergetar hebat. Makin yakinlah hatinya bahwa lawannya ini benar-benar berilmu tinggi!

“Orang muda, terpaksa aku tidak boleh mengalah lagi kepadamu!” Kakek pengantuk itu berkata, kedua lengannya bergerak dan terdengarlah suara berkerotokan seolah-olah seluruh tulang-tulang lengannya patah-patah! Kun Liong yang belum berpengalaman, memandang dengan mata terbelalak dan hati ngeri karena dia dapat menduga bahwa tentu kakek itu mengeluarkan ilmunya yang mujijat.

“Omitohud… harap tahan dulu, Tio-taihiap…!”

Si Pengantuk dan Kun Liong yang sudah siap untuk bertanding mati-matian karena maklum bahwa lawan tak boleh dibuat main-main, segera melangkah mundur dan menoleh. Kiranya Thian Kek Hwesio sendiri, Ketua Siauw-lim-pai yang telah berada di situ. Melihat kakek ini, Si Pengantuk cepat menjura dengan hormat diikuti dua orang temannya dan Si Pengantuk berkata,

“Harap Thian Kek-suhu suka memaafkan kami…”

Thian Kek Hwesio memandang Kun Liong dengan terheran-heran lalu bertanya, “Yap-sicu, apakah yang telah terjadi?”

Kun Liong sudah merasa terkejut dan menyesal sekali karena ternyata bahwa tiga orang itu benar-benar mengenal Ketua Siauw-lim-pai! Dengan terus terang dia menjawab, “Karena teecu curiga kepada mereka dan mengira mereka datang untuk mengacau Siauw-lim-si, maka teecu melarang mereka memasuki kuil sehingga terjadi pertengkaran.”

Hwesio tua itu tampak kaget sekali. “Aihhh… engkau tidak tahu siapa yang kautentang ini, Sicu!” Dia kembali menghadapi Si Pengantuk dan menjura sambil berkata, “Harap Taihiap sudi memaafkan Yap-sicu yang masih amat muda. Sesungguhnya Yap-sicu berniat baik untuk membela Siauw-lim-pai. Dia adalah seorang sahabat kami yang baik… dan Yap-sicu, ketahuilah bahwa taihiap ini adalah Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan dan Tio-taihiap ini adalah pengawal kepala yang mulia Panglima Besar The Hoo!”

Si Pengantuk yang ternyata bukan orang sembarangan itu mengangkat tangan ke atas mencegah Ketua Siauw-lim-pai itu melanjutkan perkenalan itu sambil berkata, “Losuhu, marilah kita bicara di dalam saja.” Hwesio itu mengangguk-angguk, kemudian mempersilakan mereka semua memasuki kuil. Kun Liong juga ikut masuk sambil memandang dengan penuh perhatian, diam-diam dia terkejut mendengar disebutnya nama Panglima Besar The Hoo tadi. Kiranya kakek pengantuk itu seorang yang berpangkat tinggi! Dan mendengar julukannya, Ban-kin-kwi (Setan Bertenaga Selaksa Kati) dapat diduga bahwa kakek pengantuk itu tentu memiliki sin-kang yang amat kuat. Biarpun dia belum pernah mendengar nama Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan, namun melihat sikap Ketua Siau-wlim-pai itu terhadap Si Pengantuk ini, dia mengerti bahwa kakek pengantuk ini tentu seorang tokoh kang-ouw yang terkenal.

Memang demikianlah, kakek berusia lima puluh tahun yang ketihatan seperti seorang pengantuk itu bukanlah seorang biasa, melainkan seorang yang amat terkenal dan memiliki ilmu kepandaian tinggi. Nama besar Panglima The Hoo siapakah yang tidak mengenalnya? Dan pengawal panglima itu adalah Si Pengantuk ini yang merupakan pengawal paling setia, paling dipercaya oleh Panglima The dan paling lihai. Melihat orangnya memang sama sekall tidak pantas kalau dia seorang kepala pengawal yang berkedudukan tinggi, lebih patut seorang pemalas yang selalu kurang tidur! Aken tetapi, pengawal itulah yang selalu mengawal Sang Panglima ketika Panglima Besar The Hoo melakukan pelayaran memimpin armada sampai jauh menyeberangi lautan dan menjelajah di negara-negara asing.

Adapun dua orang temannya itu adalah dua orang pengawal yang menjadi anak buahnya. Mereka juga bukan orang-orang biasa, melainkan kakak beradik seperguruan yang tentu saja sudah memiliki kepandaian tinggi untuk dapat diterima menjadi pengawal-pengawal Panglima The Hoo. Si Muka Pucat itu bernama Kui Siang Han, berusia empat puluh lima tahun sedangkan sutenya, Si Muka Merah bernama Song Kin berusia empat puluh tahun.

Ketika Tio Hok Gwan dan dua orang temannya memasuki kuil dan melihat dua buah peti jenazah, dia terkejut bukan main. Apalagi ketika mendapat keterangan bahwa peti-peti itu terisi jenazah Tiang Pek Hosiang dan Thian Le Hwesio!

“Ah… maafkan kami yang sama sekali tidak tahu akan hal yang menyedihkan ini dan berani datang mengganggu!” katanya dan cepat dia bersama dua orang anak buahnya lalu menyalakan hio (dupa) dan bersembahyang di depan kedua peti mati dengan penuh khidmat.

Setelah selesai sembahyang, tiga orang pengawal itu segera bertanya apa yang menyebabkan kematian dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu. Thian Kek Hwesio memejamkan mata dan menarik napas panjang sambil merangkap kedua tangan di depan dada. “Omitohud… mati hidup manusia berada di tangan Tuhan, tidak ada yang harus disesalkan dalam menghadapi kematian seseorang. Akan tetapi, kalau Suhu meninggal dunia dengan wajar karena usia beliau sudah amat tua, adalah Sute Thian Le Hwesio meninggal secara menyedihkan sekali.” Dia lalu menceritakan betapa rombongan piauwsu yang tidak tahu-menahu datang membawa peti yang terisi jenazab Thian Le Hwesio yang terbunuh orang!

“Sungguh penasaran sekali!” Tio Hok Gwan berseru. “Ini merupakan tanda bahwa kaum sesat di dunia kang-ouw sudah mulai berani bergerak lagi!” Tentu saja hati pengawal ini menjadi penasaran karena semenjak Panglima The Hoo melakukan pembersihan, kaum sesat di dunia persilatan banyak yang terbasmi dan tidak berani sembarangan bergerak. Kini, wakil Ketua Siauw-lim-pai terbunuh, berarti bahwa kaum sesat agaknya sudah mulai berani unjuk gigi dan merupakan tantangan tak langsung kepada pemerintah!

Ketika diperkenalkan kepada tiga orang pengawal itu, Kun Liong lalu menjura dan berkata, “Harap Tio-taihiap bertiga suka memaafkan saya yang karena tidak mengenal telah bersikap kurang hormat.”

Orang she Tio itu memandang Kun Liong dengan mata hampir terpejam, kemudian mengangguk-angguk dan memuji, “Yap-sicu tidak usah bersikap sungkan. Kami kagum sekali melihat kegagahan Sicu, dan tidak merasa heran setelah mendengar bahwa Sicu adalah putera tunggal Yap Cong San yang kami kenal. Siauw-lim-pai boleh merasa beruntung mempunyai seorang sahabat seperti Sicu yang setia dan menjaga Siauw-lim-pai dengan gagah.”

Sebagai tamu-tamu yang dihormati, tiga orang itu dijamu makan oleh para pimpinan Siauw-lim-pai dan mereka pun tidak bersikap sungkan dan menerima undangan makan, sungguhpun hidangannya hanya terdiri dari masakan tak berdaging yang bersahaja dan minumnya hanya air dan teh tanpa setetespun arak! Kun Liong yang dianggap “keluarga sendiri” juga hadir. Setelah selesai makan, barulah Ketua Siauw-lim-pai bertanya, “Pinceng mengerti bahwa kedatangan Sam-wi tentulah membawa urusan yang amat penting. Pinceng harap Sam-wi tidak bersikap sungkan, dan biarpun di sini sedang tertimpa malapetaka, namun kami selalu siap untuk membantu Sam-wi. Maka harap Sam-wi suka menjelaskan urusan apa yang Sam-wi bawa dari kota raja.”

Tio Hok Gwan menarik napas panjang, agaknya sukar baginya untuk membuka mulut menceritakan keperluan kedatangannya. Akhirnya dia berkata setelah beberapa kali meragu, “Memang benar apa yang Losuhu katakan. Kalau kami tahu bahwa di Siauw-lim-pai terjadi hal yang amat menyedihkan ini, tentulah kedatangan kami hanya khusus untuk melayat dan berkabung. Akan tetapi karena kami tidak tahu, sebaiknya kami berterus terang saja. Kami memang sedang melaksanakan tugas, Losuhu, dan kami datang sebagai utusan pribadi dari Panglima The sendiri.”

Thian Kek Hwesio cepat bangkit berdiri dan menjura penuh hormat kepada tiga orang itu, “Pinceng dan para anak murid Siauw-lim-pai siap untuk melaksanakan perintah Yang Mulia Panglima The.”

“Terima kasih atas kebaikan Losuhu. Sebetulnya tidak ada permintaan sesuatu kepada Losuhu dan Siauw-lim-pai, hanya kami diutus melakukan penyelidikan dan mengingat akan luasnya pengaruh dan hubungan Siauw-lim-pai dengan dunia kang-ouw, kami ingin mohon bantuan Siauw-lim-pai dalam hal ini.”

Thian Kek Hwesio menarik napas lega. Jelas, bahwa urusan itu tidak langsung menyangkut Siauw-lim-pai sehingga tidak akan timbul hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan sikap ramah dia berkata, “Harap Tio-taihiap tidak bersikap sungkan dan ceritakanlah, bantuan apa yang dapat kami berikan kepada Taihiap demi terlaksananya perintah yang mulia itu.”

Tio Hok Gwan lalu bercerita dengan suara perlahan namun jelas, “Panglima The telah kehilangan sebuah pusaka, belasan tahun yang lalu dan hal ini tadinya dirahasiakan saja dan tidak dibocorkan ke luar karena telah diketahui bahwa yang mencuri dan melarikan pusaka itu adalah seorang pengawal panglima sendiri. Diam-diam panglima mengutus orang-orang kepercayaannya untuk melakukan pengejaran dan mencari pengawal yang mencuri pusaka itu. Namun semua usaha sia-sia belaka, sampai terdengar kabar bahwa pengawal yang berkhianat itu ternyata telah kehilangan pusaka yang dicurinya, dan kabarnya pusaka itu hilang tenggelam di Sungai Huang-ho. Sepuluh tahun yang lalu, pengawal khianat itu terbunuh bersama anak buahnya yang telah menjadi bajak sungai, dan pusaka itu masih belum diketahui berada di mana. Hanya ada kabar angin yang mengatakan bahwa pusaka itu telah diangkat dari dasar sungai, akan tetapi tidak seorang pun tahu siapa yang membawanya. Kemudian kami mendengar berita pula bahwa pada saat pergawal khianat dan anak buahnya tewas, di sekitar daerah itu tampak bayangan Siang-tok Mo-li. Kami masih meragukan semua berita itu dan mengingat akan pengetahuan Losuhu yang amat luas, kami sengaja datang menghadap mohon petunjuk.”

Jantung Kun Liong berdebar tegang mendengar penuturan itu. Tidak salah lagi tentu bokor emas yang dimaksudkan oleh Tio Hok Gwan ini. Dia mendengar disebutnya nama Siang-tok Mo-li, teringat dia kepada Bi Kiok yang manis!

Bi Kiok tentu sekarang telah menjadi seorang dara yang cantik manis! Dan dara itu pernah monolongnya, dua kali malah telah menolongnya. Pertama ketika bersama mendiang kakeknya, Bi Kiok menyelamatkannya dari gelombang air Sungai Huang-ho. Kedua kalinya ketika Bi Kiok membebaskannya pada waktu dia menjadi tawanan para tokoh Pek-lian-kauw dan Ketua Ui-hong-pang. Betapa manisnya anak itu! Kun Liong tak sengaja tersenyum ketika membayangkan wajah Bi Kiok.

Melihat pemuda gundul itu tersenyum-senyum, diam-diam Tio Hok Gwan melirik dengan penuh perhatian dan selidik. Sementara itu, Thian Kek Hwesio sudah berkata, “Pinceng sendiri tidak pernah mendengar akan urusan itu, Taihiap. Akan tetapi pinceng akan mengumpulkan semua anak murid dan memperingatkan mereka agar memasang mata telinga, juga bertanya-tanya di dunia kang-ouw kepada para sahabat. Tentu saja kami akan segera melapor kalau ada berita bahkan pinceng akan memerintahkan kepada para anak murid untuk membantu Taihiap mendapatkan kembali pusaka itu.”

“Terima kasih atas kebaikan hati Losuhu. Eh, Yap-sicu, agaknya Sicu mempunyai suatu pendapat yang ada hubungannya dengan urusan ini, bukan?”

Kun Liong yang sedang termenung membayangkan wajah Bi Kiok yang manis itu, terkejut mendengar teguran ini. “Ahh, saya hanya merasa heran mengapa seperti yang sering kali saya dengar, di dunia kang-ouw banyak terjadi perebutan pusaka-pusaka. Pusaka apa pula yang Taihiap ceritakan tadi? Sebuah senjatakah ataukah sebuah kitab?”

“Benar sekali pertanyaan itu, pinceng sendiri pun perlu mengetahui apa macamnya Pusaka yang hilang itu.” Thian Kek Hwesio berkata.

“Pusaka dari The-ciangkun itu adalah sebuah bokor emas kuno yang amat berharga.”

“Sebuah bokor emas…?” Thian Kek Hwesio berkata sambil mengangguk-angguk.

“Kalau hanya emas yang merupakan harta, mengapa orang-orang gagah di dunia kang-ouw sampai berebutan? Sungguh tiada bedanya dengan para perampok saja sikap ini!” Kun Liong berkata lagi, diam-diam jantungnya makin keras berdebar karena ternyata dugaannya tepat, pusaka yang dimaksudkan itu adalah bokor emas yang telah dia sembunyikan!

Tio Hok Gwan menghela napas panjang. “Agaknya engkau tidak tahu, Yap-sicu. Kalau hanya emas belaka, kiranya Panglima The tidak akan menyimpannya dan menganggapnya sebagai sebuah pusaka yang berharga. Kami hanya mengharapkan bantuan Losuhu, juga bantuan Yap-sicu yang kami anggap sebagai orang sendiri sehingga kami ceritakan semua tentang pusaka.”

“Jangan khawatir, Taihiap. Setelah kami selesai dengan perkabungan kami, tentu kami akan bekerja keras membantu melakukan penyelidikan tentang bokor emas itu,” kata Thian Kek Hwesio.

“Saya pun akan berusaha membantu, Tio-taihiap. Saya akan membantu menyelidiki dan kalau saya beruntung dapat menemukan benda pusaka itu, tentu akan saya persembahkan sendiri kepada Panglima The yang mulia.”

Thio Hok Gwan menghaturkan terima kasih, kemudian bersama kedua orang pembantunya, dia segera berpamit den meninggalkan kuil yang sedang berkabung itu. Kun Liong tetap tinggal di dalam kuil, membantu persiapan yang diadakan oleh Siauw-lim-pai untuk menerima kedatangan para tamu yang tentu akan membanjiri Siauw-lim-si untuk memberi penghormatan terakhir kepada jenazah dua orang tokoh besar itu. Selain merasa berkewajiban untuk membantu, juga Kun Liong sengaja hendak menanti dengan penuh harapan ayah bundanya akan datang pula ke Siauw-lim-si. Ayahnya adalah murid Tiang Pek Hosiang dan bekas tokoh Siauw-lim-pai, dia merasa yakin ayahnya akan datang kalau mendengar akan kematian Tiang Pek Hosiang dan Thian Le Hwesio yang menjadi suhengnya. Selain mengharapkan kedatangan ayah bundanya di kuil Siauw-lim-si, juga Kun Liong ingin sekali mellhat dan bertemu dengan para tokoh kang-ouw yang diduga tentu akan datang memberi penghormatan terakhir kepada jenazah seorang tokoh besar seperti Tiang Pek Hosiang.

Kita tinggalkan dulu kuil Siauw-lim-si yang sedang berkabung dan mari kita tengok keadaan Pendekar Sakti Cia Keng Hong dan keluarganya yang merupakan tokoh-tokoh penting dalam cerita ini.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, lima tahun yang lalu, ketika Kun Liong berusia lima belas tahun dan dia pergi ke Cin-ling-san mencari ayah bundanya, dan hanya bertemu dengan Cia Giok Keng, puteri tunggal keluarga pendekar itu, karena pada waktu itu Cia Keng Hong den isterinya sedang turun den mereka justeru pergi ke kota Leng-kok, mengunjungi sahabat baik mereka, yaitu Yap Cong San suami isteri.

Dengan perasaan penuh harap dan gembira karena akan dapat berjumpa dengan sahabat-sahabat mereka, Cia Keng Hong dan isterinya, Sie Biauw Eng, memasuki kota Leng-kok. Mereka berjalan kaki memasuki kota itu dengan wajah berseri gembira. Kalau orang melihat mereka sepintas lalu, tentu akan mengira bahwa mereka itu hanyalah dua orang pelancong biasa saja karena tidak ada apa-apa yang menonjol pada diri mereka, kecuali bahwa mereka merupakan sepasang suami isteri setengah tua yang tampan dan cantik. Cia Keng Hong sudah berusia empat puluh tahun, tampak gagah dan tampan, dengan kumis dan jenggotnya yang panjang, akan tetapi tidak terlalu panjang. Rambutnya digelung ke atas dan dibungkus sehelai kain kepala berwarna kuning. Tubuhnya masih tegap dan langkahnya seperti seekor harimau. Pakaiannya longgar dan sederhana, jubah yang panjang menyembunyikan pedang Siang-bhok-kiam yang terselip di pinggangnya. Pedang Kayu Harum ini pernah menggegerkan dunia kang-ouw belasan tahun yang lalu (baca ceritaPedang Kayu Harum ). Kalau ada yang dapat menduga bahwa dia pandai ilmu silat, agakhya hanya karena sepatunya, sepatu kulit yang tinggi, kuat dan biasa dipergunakan merantau.

Isterinya, Sie Biauw Eng, masih tampak cantik jelita walaupun usianya sudah mendekati empat puluh tahun. Tubuhnya masih ramping padat, kedua pipinya belum diserang keriputan, masih halus putih dan agak kemerahan karena sehari itu dia berjalan kaki sampai jauh. Juga nyonya cantik ini tidak kelihatan membawa senjata. Siapa yang akan menyangka bahwa sabuk sutera putih yang dengan indahnya membelit pinggang ramping itu merupakan senjata maut yang belasan tahun lalu menimbulkan kengerian di dalam hati setiap orang lawan? Pakaiannya juga sederhana namun bersih dan tidak dapat menyembunyikan bentuk tubuhnya yang matang dan padat itu. Seperti suaminya, dia pun memakai sepatu kulit yang tinggi.

Biarpun kenyataan bahwa suami isteri ini melakukan perjalanan jauh berdua saja sudah menimbulkan dugaan bahwa mereka bukanlah orang-orang lemah, namun kiranya tidak akan ada orang yang pernah mimpi bahwa pria itu adalah Pendekar Sakti Cia Keng Hong yang lebih terkenal dengan julukan yang diberikan karena pedangnya, yaitu Siang-bhok-kiam. Dan siapa yang akan mengira bahwa wanita cantik yang wajahnya berseri dan bibirnya selalu tersenyum itu adalah Sie Biauw Eng, yang di waktu masih gadis dahulu berjuluk Song-bun Siu-li (Dara Cantik Berkabung)? Nama julukan yang amat terkenal di kalangan kaum sesat?

Pada waktu itu, kiranya tidak ada tokoh kang-ouw atau datuk kaum sesat yang lebih terkenal daripada Siang-bhok-kiam Cia Keng Hong dan isterinya, Song-bun Siu-li Sie Biauw Eng. Bahkan Cinling-pai yang sebetulnya hanya sekumpulan penduduk dusun pegunungan, karena diketuai dan dipimpin oleh Cia Keng Hong, menjadi amat terkenal dan disegani dunia kang-ouw.

Sambil menoleh ke kanan kiri memandangi bangunan-bangunan di dalam kota Leng-kok, Sie Biauw Eng berkata, “Aihhh, sungguh banyak kemajuan terjadi di dalam kota ini. Hampir aku tidak mengenalnya lagi, padahal baru beberapa tahun kita tidak melihat Leng-kok.”

Cia Keng Hong tersenyum, “Kaukira baru berapa tahun? Jangan mimpi, sudah lima belas tahun kita tidak pernah ke sini dan lima belas tahun bukanlah waktu singkat, tentu saja banyak terjadi perubahan.”

“Hemmm, waktu berlalu dengan cepat sekali, tanpa terasa belasan tahun telah lewat! Betapapun juga, kemajuan di Leng-kok mengagumkan dan aku yakin bahwa jasa Cong San dan Yan Cu dalam kota ini tidaklah kecil.”

“Tentu saja! Mereka merupakan tabib-tabib yang terkenal di sini, agaknya tentu tidak ada seorang pun penduduk yang belum pernah mereka tolong. Kuharap saja putera mereka mewarisi kegagahan ayah bundanya sehingga tidak akan mengecewakan hati kita.”

“Hem, mengapa kita akan kecewa andaikata anak mereka itu tidak seperti yang kita harapkan?” Sie Biauw Eng bertanya, “Anak itu bukanlah kita, dan harapan kita belum tentu sama dengan harapan orang tuanya. Apa yang kita anggap tidak baik, belum tentu dianggap buruk pula oleh orang lain.”

“Wah, isteriku yang baik, lagi-lagi engkau berfilsafat!” Keng Hong menggoda.

“Bukan filsafat. Kau tahu bahwa aku tidak suka akan filsafat muluk-muluk yang hanya menjadi permainan kata-kata kosong belaka. Yang kukatakan tadi adalah kenyataan. Telah menjadi kesalahan kita pada umumnya bahwa kita selalu digoda harapan-harapan akan sesuatu, ingin melihat sesuatu sesuai dengan yang kita kehendaki. Inilah salahnya maka seringkali kita mengalami puas dan kecewa. Kita tidak dapat menerima apa adanya sehingga tidak pernah tenang. Anak Cong San itu… eh, siapa namanya…?”

“Yap Kun Liong, masa kau lupa lagi?”

“Oya, Kun Liong, seperti apa pun dia, kita harus dapat menerima dan melihat dia seperti keadaannya, bebas dari prasangka dan harapan kosong.”

“Ah, mana mungkin begitu, isteriku? Dia bukan orang lain, dia calon mantu kita…”

“Hemm, belum juga melihat orangnya, bagaimana sudah hendak memastikan bahwa dia calon jodoh Giok Keng? Kita harus melihatnya dulu, apa sekiranya cocok kalau dijodohkan dengan anak kita. Selain itu, kita pun harus menanyakan pendapat dua orang anak yang bersangkutan itu pula.”

“Hemmm… hemmm…”

“Hemm?hemm apa maksudmu?” Biauw Eng memandang suaminya.

“Kalau kau terlalu memanjakan Keng-ji, bahkan dalam soal perjodohan, engkau hanya akan merusak hidupnya…”

“Ehh! Apakah yang kaukatakan ini? Mari kita bicarakan hal ini dulu sebelum kita bertemu Cong San dan Yan Cu.”

“Sudahlah, isteriku. Perlukah kita bertengkar setelah tiba di tempat ini? Kita bicarakan urusan jodoh perlahan-lahan…”

“Tidak bisa! Harus sekarang kita bicarakan lebih dulu. Aku mau ketegasan dalam hal ini, itu di sana ada warung, kita berhenti dulu di sana!”

“Tenanglah… ingat akan kandunganmu…” Keng Hong memperingatkan.

“Engkau sih yang bicara tidak beres. Hal ini tidak ada sangkut-pautnya dengan ini… apalagi baru dua bulan… ah, semua gara-gara engkau!”

Mereka memasuki warung dan memilih tempat duduk di sudut, jauh dari tamu lainnya. Setelah hidangan yang mereka pesan disediakan, mereka bicara bisik-bisik namun kelihatan serius sekali.

“Semua salahmu! Sampai bingung memikirkan bagaimana harus memberitahukan Giok Keng! Dia sudah lima belas tahun dan… akan mempunyai adik! Betapa terlambatnya! Dan aku sudah tua! Salahmu…!” Suara Biauw Eng mengandung isak tertahan.

“Hishhh! Kenapa hanya aku saja yang salah? Bukankah hal ini akibat perbuatan kita berdua? Sudahlah, isteriku. Perlukah hal seperti ini dibuat cekcok? Engkau masih muda! Siapa bilang engkau sudah tua? Engkau masih patut mempunyai anak lima orang lagi!”

“Ngacau…!” Blauw Eng membentak dan mendelik, akan tetapi melihat suaminya yang tercinta itu tersenyum-senyum, perlahan-lahan kemarahannya mereda dan kedua pipinya menjadi merah.

“Tidak perlu kau bingung, Keng-ji tentu akan menari kegirangan kalau mendengar akan mempunyai seorang adik yang sudah bertahun-tahun diinginkannya.”

“Sebetulnya aku pun tidak hendak membicarakan hal kandungan. Aku sudah menerimanya sebagai anugerah Tuhan, akan tetapi engkau sih, membawa-bawa dalam persoalan perjodohan Giok Keng. Apakah engkau akan berkeras kepala mengambil keputusan tentang perjodohan anak kita tanpa mempedulikan perasaan hatinya sendiri?”

Keng Hong menarik napas panjang. “Isteriku, Giok Keng masih kanak-kanak, mana mungkin dia mempunyai pendapat tentang jodoh? Kita adalah ayah bundanya, andaikata aku salah pilih, kiranya engkau tidak akan membiarkan saja. Pilihan kita tentu telah kita pikirkan masak-masak, dan kita tujukan semata demi kebahagiaan anak kita.”

“Aku percaya, akan tetapi harus kita sadari bahwa pendapat kita belum tentu sama dengan pendapat Giok Keng. Pemuda yang kita anggap baik belum tentu menyenangkan hatinya. Suamiku, mengapa kau tidak bersikap bijaksana dalam hal ini? Ingatlah akan riwayat kita sendiri. Perjodohan tidak boleh dipaksakan. Perjodohan harus terjadi atas dasar dorongan hasrat kedua orang anak yang hendak berjodoh itu sendiri. Perjodohan bukan hal main-main, melainkan dilakukan satu kali untuk selama hidup. Sekali salah pilih, akan menderita selamanya.”

“Nah, itulah! Karena tidak ingin anak kita salah pilih, sebaiknya kita yang memilihkan, dan kurasa anak suami isteri seperti Cong San dan Yan Cu tentulah baik!”

“Betapapun juga, biarkan dia memilih sendiri.”

“Kalau dia yang masih hijau dan bodoh itu salah pilih?”

“Kewajiban kita untuk turun tangan menyadarkannya!”

“Hemm, aku tetap ingin berbesan dengan Cong San.”

“Mungkin saja, kalau Keng-ji cocok dan suka kepada Kun Liong. Mengapa engkau bingung seperti kucing hendak bertelur? Kalau memang sudah jodoh, apa yang dikhawatirkan kelak tidak akan

bertemu?”

Keng Hong merengut. “Gila kau! Masa aku disamakan kucing hendak bertelur? Mana ada kucing bisa bertelur?”

Biauw Eng tertawa, girang dapat membalas dan membikin suaminya marah.

“Karena bingungnya, kau seperti kucing hendak bertelur! Soal jodoh kita bicarakan nanti kalau semua pihak sudah setuju. Mengapa tergesa-gesa? Bukankah kedatangan kita ini untuk mengunjungi mereka dan sekalian melihat bagaimana macamnya putera mereka itu?”

“Ya, sudahlah, asal engkau jangan berkokok ribut seperti ayam hendak beranak!”

“Hehh? Mana ada ayam beranak…? Wah, engkau membalas, ya?” Biauw Eng mencubit lengan suaminya dan keduanya tertawa. Dalam keadaan seperti itu, suami isteri itu masih seperti ketika mereka berbulan madu dahulu! Dan memang demikianlah cinta kasih antara suami isteri yang benar-benar saling mencinta. Tidak ada usia tua, tidak ada keriput, tidak ada uban, tidak ada dan tidak pernah ada istilah buruk bagi mereka yang saling mencinta!

“Husshhh! Malu dilihat orang! Dan kalau tiba-tiba Cong San dan Yan Cu muncul dan melihat kita bukan langsung ke rumah mereka melainkan bersendau-gurau di warung arak, bisa kita dicap sombong!” Keng Hong segera membayar harga makanan, kemudian mereka bergegas keluar dari warung dan langsung menuju ke rumah Yap Cong San yang di kota itu terkenal sebagai Yap-sinshe (Tabib Yap).

Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka mendengar bahwa suami isteri sahabat baik mereka itu telah kurang lebih lima tahun meninggalkan Leng-kok tanpa pamit dan tak seorang pun mengetahui ke mana mereka pergi.

“Ji-wi (Kalian Berdua) sudah lama sekali terlambat. Yap-sinshe dan isterinya, juga puteranya, telah bertahun-tahun pergi.”

“Mengapa? Apa yang terjadi?” Keng Hong bertanya, masih dicekam keheranan.

“Mereka… melarikan diri…” Seorang kakek bekas tetangga Yap-sinshe menjelaskan.

“Tidak mungkin!” Biauw Eng berseru. “Mereka bukanlah orang-orang pengecut yang melarikan diri begitu saja! Siapa yang mereka takutkan?”

“Mereka menjadi orang-orang buruan pemerintah.”

“Ehhh…?” Keng Hong segera memegang tangan kakek itu dan berbisik, “Harap Loheng sudi menceritakan kepada kami.”

Kakek itu mengangguk. “Marilah, mari singgah di rumahku dan nanti kuceritakan kepada Ji-wi.”

Dengan hati berdebar penuh kekhawatiran, Keng Hong dan Biauw Eng mengikuti kakek itu memasuki rumahnya yang sederhana dan miskin. Setelah mereka dipersilakan duduk dan disuguhi air teh, kakek itu lalu bercerita tentang kesalahan Yap-sinshe tidak berhasil mengobati para perwira yang terluka sehingga ditangkap dan kemudian bersama isterinya, Yap-sinshe melarikan diri dari tahanan dan menjadi orang buruan.

“Mengapa tidak berhasil mengobati sampai ditangkap?” Keng Hong bertanya.

Kakek itu menarik napas panjang dan menggerakkan kedua pundaknya. “Aku tidak tahu, akan tetapi agaknya sudah pasti sekali Yap-sinshe bentrok dengan Pembesar Ma, kepala daerah di Leng-kok ini. Apa sebabnya aku tidak tahu, dan agaknya tidak ada orang yang tahu kecuali mereka sendiri.”

“Dan puteranya? Ke mana perginya putera mereka, Yap Kun Liong?”

“Ahhh, Yap-kongcu sudah lebih dulu pergi sebelum ayahnya ditangkap. Entah ke mana. Sampai sekarang mereka bertiga tidak pernah muncul. Bahkan ketika kakek Liok Siu Hok meninggal dunia dua minggu yang lalu, mereka tidak muncul.” Keng Hong dan isterinya teringat bahwa Kakek Liok Siu Hok adalah paman tua dari Cong San, satu-satunya keluarga sahabat mereka itu yang tinggal, karena itu, agak aneh kalau sampai Cong San seanak isteri tidak muncul ketika kakek itu meninggal dunia.

“Bagaimana matinya?”

“Mati tua… dan agaknya karena duka. Kasihan kakek itu tidak mempunyai keluarga lagi, mati dalam kesunyian.”

Keng Hong dan isterinya menghaturkan terima kasih, lalu keluar dari rumah kakek itu. “Ke mana kita harus mencari mereka?” katanya dengan suara kecewa.

“Tiada gunanya dicari kalau mereka itu melarikan diri. Kalau mereka ingin berjumpa dengan kita, tentu mereka yang akan datang mengunjungi Cin-ling-san.”

“Benar kata-katamu. Kalau begitu kita pulang saja.”

“Tidak, aku masih belum puas. Aku harus mengerti duduknya perkara ini dan memaksa dia mengaku!” kata Biauw Eng gemas.

“Dia? Siapa?”

“Siapa lagi kalau bukan pembesar jahat she Ma itu!”

“Wah-wah! Isteriku, ingat, kita bukan orang muda petualang seperti dahulu lagi! Kita adalah pemimpin Cin-ling-pai dan orang she Ma itu adalah orangnya pemerintah! Apa kau ingin dicap pemberontak?”

“Serahkan saja kepadaku. Mari ikut!”

“Eh, ke mana?” Keng Hong tak berdaya menghadapi isterinya yang ia tahu sedang marah dan penasaran itu!

“Ke gedung Kepala Daerah!”

Keng Hong tidak membantah dan diam-diam ia gembira melihat betapa isterinya sama sekali belum berubah, masih seperti Song-bun Siu-1i dia dahulu, dara cantik jelita yang kadang-kadang disebut dewi akan tetapi adakalanya disebut iblis betina yang ganas! Isterinya ini, biarpun usianya sudah tiga puluh tujuh lebih, ibarat gunung berapi belum kehilangan kawahnya, bagaikan merica belum kehilangan pedasnya, dan bagaikan bunga mawar harum belum kehilangan durinya! Tanpa disadarinya, mulut Cia Keng Hong tersenyum-senyum dan dia tidak tahu betapa isterinya mengerling kepadanya dan mengerutkan alis penuh curiga ketika melihat senyumnya. Tiba-tiba Biauw Eng berhenti melangkah.

Kun Liong cepat menjura, “Maaf, saya tidak dapat menerima kehormatan itu. Saya adalah seorang petualang biasa yang tidak ada artinya, dan saya lelah sekali ingin mengaso. Maaf!” Dia lalu melangkah keluar dari warung itu, memasuki losmen sederhana, memesan kamar dan merebahkan dirinya di atas dipan di dalam kamar yang sempit itu, melupakan lagi urusan tadi, akan tetapi diam-diam dia masih menaruh hati curiga terhadap ketiga orang yang hendak naik ke Siauw-lim-si. Kecurigaannya ini membuat Kun Liong gelisah dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, dia mendahului tiga orang itu naik ke puncak, kembali ke Siauw-lim-si. Sedikitnya dia harus memberitahukan Thian Kek Hwesio akan tiga orang aneh yang hendak mengunjungi kuil dan yang keadaannya mencurigakan agar Siauw-lim-pai dapat berjaga-jaga.

Biarpun kini Kun Liong melalui jalan yang jauh lebih sukar daripada ketika dia meninggalkan puncak, yaitu jalannya terus mendaki, namun karena dia tergesa-gesa dan mempergunakan ilmu berlari cepat, maka menjelang senja sampai juga dia ke puncak dan memasuki halaman kuil Siauw-lim-si yang amat luas.

Heran hati pemuda ini menyaksikan kesibukan anak murid Siauw-lim-pai, dan setelah dia berhadapan dengan ketua dan para tokoh Siauw-lim-pai di ruangan depan, dapat dibayangkan betapa kagetnya mendengar berita bahwa Thian Lee Hwesio telah tewas terbunuh orang dan baru saja kemarin jenazahnya tiba, dibawa oleh rombongan piauwsu yang kemarin dijumpai di tengah jalan. Kiranya yang berada di dalam kereta adalah sebuah peti yang terisi jenazah Thian Le Hwesio!

Di dalam ruangan itu terdapat dua buah peti mati dan Kun Liong segera berlutut memberi hormat di depan kedua peti mati itu setelah dia mengetahui bahwa dua peti mati itu berisi jenazah sukongnya, Tiang Pek Hosiang, dan jenazah Thian Le Hwesio!

“Bukan pinceng tidak mentaati pesan terakhir dari Suhu,” kata Thian Kek Hwesio kepada Kun Liong setelah mempersilakan pemuda itu duduk. “Akan tetapi sebelum kami dapat melaksanakan perintah Suhu dan memperabukan jenazahnya, telah datang jenazah Sute. Maka biarlah kita sekarang mengadakan upacara kepada dua jenazah, apalagi karena sudah sepatutnya kalau jenazah Suhu memperoleh kehormatan dan menerima penghormatan para tokoh kang-ouw yang tentu akan berdatangan mendengar berita kematian Suhu dan Sute. Pinceng harap Sicu akan suka menunggu di sini sampai kedua jenazah disempurnakan.”

Kun Liong mengangguk. “Tentu saja, teecu akan menanti di sini karena teecu juga ingin sekali bertemu dengan tokoh-tokoh kang-ouw. Sudah menjadi kewajiban teecu pula untuk menunggu jenazah Sukong sampai diperabukan. Akan tetapi yang sangat mengherankan hati teccu, bagaimanakah Thian Lee-losuhu yang katanya mencari pusaka yang hilang, tahu-tahu kembali dalam keadaan telah tewas dan siapa pula yang mengantar dengan kereta piauw-kiok itu?”

“Yap-sicu telah kami beri tugas untuk mencari kembali pusaka sesuai dengan pesan Suhu, sekarang dengan terjadinya kematian Sute, tugas Sicu menjadi lebih berat. Agar jelas, baiknya Sicu mendengar sendiri penuturan para piauwsu yang mengawal jenazah Sute,” kata Ketua Siauw-lim-pai yang segera memanggil enam orang piauwsu itu ke ruangan, sedangkan dia sendiri melanjutkan memimpin para anak murid melakukan upacara sembahyangan terhadap dua peti mati terisi jenazah.

Enam orang piauwsu itu tercengang juga ketika diperkenalkan kepada Kun Liong yang mereka kenal sebagai pemuda gundul yang kemarin berjumpa dengan mereka di tengah jalan. Ketika mendengar bahwa pemuda itu adalah sahabat baik Ketua Siauw-lim-pai, mereka segera memberi hormat, apalagi ketika Ketua Siauw-lim-pai minta agar mereka menceritakan semua kepada Kun Lion, pimpinan piauwsu yang bermuka hitam segera mulai dengan penuturannya.

Sam-to-piauw-kiok adalah sebuah perusahaan pengawalan dan pengiriman barang di kota Lam-san-bun yang sudah amat terkenal karena perusahaan ini dipimpin tiga orang kakak beradik yang tinggi ilmu silatnya, terutama sekali ilmu golok mereka yang sukar dicari tandingannya, sehingga terkenallah sebutan Sam-to-eng (Tiga Pendekar Golok). Karena itu, perkumpulan yang juga memakai nama Tiga Golok ini amat dipercaya orang untuk mengawal pelancong atau barang-barang berharga.

Pada suatu hari, seorang pemuda tampan datang berkereta dan membawa sebuah peti yang panjang besar, menyerahkan peti itu kepada Sam-to-piauw-kok dan minta agar peti itu dikirimkan secepatnya ke Siauw-lim-pai dengan biaya mahal dan dibayar kontan pula!

“Karena pada waktu peti itu datang tiga orang pimpinan kami sedang tidak ada di rumah, maka kami sebagai pembantu-pembantunya menerima barang itu dan kami tidak mengutus anak buah, melainkan kami mengawalnya sendiri mengingat akan baiknya hubungan antara tiga orang pemimpin kami dengan Siauw-lim-pai. Karena barang kiriman itu untuk Siauw-lim-si, maka harus kami jaga agar jangan sampai terjadi sesuatu di tengah jalan. Sama sekali kami tidak pernah menyangka bahwa peti itu berisi… berisi…”

“Jenazah Thian Le-losuhu?” Kun Liong melanjutkan karena pemimpin para piauwsu yang bermuka bitam itu kelihatan gagap.

“Benar, Yap-sicu. Kalau kami tahu apa isinya, hemmm… tentu kami akan menahan dia!”

“Siapakah dia yang mengirim peti itu?”

“Seorang pemuda tampan, dan sekarang, melihat bahwa peti itu berisi jenazah wakil Ketua Siauw-lim-pai, timbul dugaan kami babwa agaknya pemuda itu adalah penyamaran dari dia…” Si Muka Hitam yang biasanya bersikap gagah itu kelihatan ragu-ragu dan jerih, tampak dari matanya yang otomatis melirik ke kanan kiri, seolah-olah dia merasa takut kalau-kalau suaranya terdengar orang lain!

“Siapakah dia yang kaumaksudkan?”

“Giok… hong… cu…”

Kun Liong mengerutkan alisnya karena dia sama sekali tidak mengenal nama julukan Giok-hong-cu (Si Burung Hong Kemala) itu. “Hemmm, dia itu orang apakah?”

Pemimpin rombongan piauwsu itu memandang dengan heran, kemudian dia dapat menduga bahwa pemuda gundul yang diakui sebagai sahabat oleh Ketua Siauw-lim-pai itu agaknya adalah seorang yang sama sekali belum mengenal keadaan dunia kang-ouw, maka dengan penuh gairah seorang yang suka bercerita dia berkata, “Dia adalah seorang wanita muda yang namanya tersohor di seluruh dunia kang-ouw selama dua tahun ini. Ilmu kepandaiannya hebat dan mengerikan, sepak terjangnya ganas sekali dan melihat betapa banyaknya tokoh-tokoh golongan putih yang menjadi korban keganasan tangannya, agaknya dia adalah seorang tokoh baru golongan hitam, sungguhpun ada pula golongan hitam yang dibasminya. Dia seorang tokoh penuh rahasia dan melihat bahwa isi peti adalah jenazah wakil Ketua Siauw-lim-pai, kami terus saja ingat kepadanya.”

“Hemm, sungguh tidak baik kalau menuduh orang tanpa bukti, siapapun juga orang itu.” Kun Liong membantah, hatinya merasa tidak rela ada orang menuduh seorang wanita muda yang melakukan pembunuhan keji terhadap Thian Le Hwesio.

“Kami tidak menuduh sembarangan!” Si Muka Hitam membantah. “Biarpun dia berpakaian seperti seorang pemuda, akan tetapi wajahnya demikian tampan dan suara serta gerak-geriknya demikian halus. Dia pasti seorang wanita muda yang menyamar.”

“Tapi bagaimana kau dapat memastikan dia itu tokoh wanita yang berjuluk Giok-hong-cu?”

“Karena Giok-hong-cu juga seorang dara muda yang cantik jelita, dan… di baju pemuda itu, di bagian dada kiri, terdapat sebuah hiasan burung hong terbuat dari batu kemala. Kabarnya, kami sendiri belum pemah bertemu dengan Giok-hong-cu, tokoh itu pun selalu menghias rambutnya dengan burung hong batu kemala, maka benda itu dijadikan julukannya karena tidak ada seorang pun tahu siapa namanya.”

Kun Liong mengerutkan alisnya makin dalam. Blarpun dia tidak yakin benar akan tuduhan ini, namun dia mencatat semua itu di dalam hatinya untuk bahan penyelidikannya kelak. Dia bertugas dan ini perintah mendiang sukongnya, untuk mendapatkan kembali dua buah benda pusaka Siauw-lim-pai yang dicuri orang. Dan karena Thian Le Hwesio tewas dalam usahanya mencari pula pusaka itu, maka agaknya pembunuh hwesio tua itu tentulah orang yang mempunyai hubungan dengan pencurian pusaka itu. Dahulu pun orang yang memimpin pencurian, yang telah melukainya, adalah seorang pemuda yang amat lihai sehingga tidak dapat tertangkap oleh tokoh-tokoh Siauw-lim-pai. Akan tetapi, pemuda itu dahulu berkedok saputangan, dan tubuhnya memang kecil namun tegap dan gagah. Menurut penuturan Ketua Siauw-lim-pai, dua orang pencuri yang tertangkap kemudian membunuh diri, mungkin sekali adalah anggauta Kwi-eng-pai di Kwi-ouw, melihat dari duri yang mereka pakai membunuh diri.

“Apakah Giok-hong-cu yang kausebut itu seorang anggauta Kwi-eng-pai?” tanyanya.

Kembali piauwsu itu kelihatan kaget dan jerih, menggeleng kepala dengan kuat. “Ah, saya rasa tidak ada hubungannya dengan Kwi-eng-pai… akan tetapi entahlah, sepanjang pendengaran kami, Giok-hong-cu selalu bergerak sendiri. Kwi-eng-pai terlalu besar untuk hanya diwakili oleh satu orang saja yang tidak pernah menyebut nama perkumpulan itu.”

Kun Liong mengangguk-angguk. “Jadi orang yang mungkin sekali menyamar Giok-hong-cu itu mendatangi Sam-to-piauwkiok di Lam-san-bun? Apakah memang dia tinggal di Lam-san-bun?”

“Yap-sicu, siapakah yang dapat mengetahui di mana tempat tinggalnya? Akan tetapi memang pada bulan-bulan terakhir ini sepak terjangnya berbekas di antara Lam-san-bun sampai ke kota raja.”

Kun Liong merasa lega mendengar keterangan ini. Biarpun dia belum yakin benar bahwa tokoh wanita terkenal itu yang membunub wakil Ketua Siauw-lim-pai, namun sedikitnya dia dapat menyelidikinya dan mencarinya antara Lam-san-bun dan kota raja.

Para piauwsu Sam-to-piauwkiok itu tidak lama berada di Siauw-lim-si. Mereka segera berpamit untuk kembali ke Lam-san-bun dan melaporkan peristiwa hebat itu kepada tiga orang pimpinan mereka. Setelah para piauwsu itu pergi, teringatlah Kun Liong akan tiga orang yang ditemuinya di warung, dan kecurigaannya bertambah. Dalam keadaan seperti pada waktu itu, setelah peristiwa hebat yang menimpa diri wakil Ketua Siauw-lim-pai, maka setiap orang yang datang ke Siauw-lim-si tentu mengandung niat yang meragukan. Siapa tahu kalau-kalau tiga orang yang dijumpainya itu, yang jelas bukanlah orang-orang biasa, adalah anak buah Kwi-eng-pai atau setidaknya mempunyai hubungan dengan pembunuh Thian Le Hwesio.

Pikiran ini mendorong Kun Liong untuk meninggalkan kuil dan menghadang di depan kuil, menanti munculnya tiga orang yang dicurigai itu. Dia tidak menanti lama, karena segera tampak olehnya tiga orang yang ditunggu-tunggu itu berlari mendaki puncak dengan gerakan cepat. Diam-diam dia terkejut juga. Dia memang tahu bahwa mereka itu adalah orang-orang berkepandaian, terutama sekali Si Pengantuk yang telah ia saksikan kelihaiannya ketika Si Pengantuk yang disebut Tio-taihiap itu menyambar cawan arak yang terlempar dan menyedot arak yang tumpah keluar kembali ke dalam cawan, membuktikan tenaga sin-kang yang amat kuat. Akan tetapi melihat tiga orang itu menaiki puncak sambil berlari sedemikian cepatnya, dia benar-benar tercengang dan kecurigaannya bertambah. Siauw-lim-pai telah kedatangan tiga orang lawan berat, pikirnya. Lebih baik dia menghalangi mereka itu di luar agar tidak mengacaukan dalam kuil di mana sedang diadakan upacara sembahyang terhadep dua jenazah dalam peti-peti mati.

Hari masih pagi di waktu itu. Kun Liong berdiri di tengah lorong kecil yang menuju ke kuil, membelakangi pintu kuil yang terbuka sebelah. Keadaan di luar kuil sunyi karena semua hwesio sibuk di sebelah dalam, melayani ketua dan para pimpinan yang melakukan sembahyangan. Dari luar terdengar bunyi liam-keng (doa) mereka dan suara ketukan-ketukan mengiringi doa sembahyang seperti nyanyian puji-puji yang penuh khidmat.

Tiga orang itu menghentikan gerakan kaki mereka dan berdiri berhadapan dengan Kun Liong. Si Pengantuk berusaha melebarkan matanya yang sipit ketika melihat Kun Liong, sedangkan Si Muka Merah dan yang seorang lagi memandang dengan penuh keheranan dan juga mereka kelihatan marah ketika mengenal bahwa yang menghadang di tengah jalan itu bukanlah seorang hwesio yang menyambut kedatangan mereka, melainkan pemuda gundul yang pernah ribut dengan Si Muka Merah di dalam warung! Kalau tadinya mereka itu sudah menghabiskan kecurigaan mereka setelah mendengar bahwa pemuda itu bukan seorang hwesio, kini mereka menjadi curiga lagi melihat pemuda itu menghadang mereka di depan pintu gerbang kuil Siauw-lim-si!

Orang she Tio yang tinggi kurus dan seperti mengantuk, sudah mendahului dua orang kawannya, maju dan menjura kepada Kun Liong sambil berkata, “Kiranya sahabat muda yang menghadang kami di sini. Harap kau orang muda suka minggir dan membiarkan kami pergi memasuki kuil Siauw-lim-si, dan kalau ada urusan dengan kami, biarlah akan kita bicarakan kelak kalau urusan kami di Siauw-lim-si sudah selesal.”

Kun Liong bersikap tenang akan tetapi dia menggeleng kepalanya. “Pada saat ini Siauw-lim-si tidak menerima kunjungan orang-orang asing. Harap Sam-wi kembali saja dari mana Sam-wi datang dan jangan memasuki kuil karena para suhu sedang sibuk.”

“Eh, eh, omongan apa ini?” Orang she Song yang bermuka merah menegur dengan suaranya yang galak. Dia memang termasuk orang yang wataknya berangasan. “Engkau bilang bahwa kau bukan seorang hwesio biarpun kepalamu gundul. Sekarang engkau menghalangi kami hendak memasuki Siauw-lim-si. Sebenarnya siapakah engkau dan apa kehendakmu terhadap kami?”

“Aku adalah seorang sahabat baik dari para pimpinan Siauw-lim-pai, karena itu aku harus mencegah kalian melakukan pengacauan di Siauw-lim-si.”

“Manusla sombong! Apakah ehgkau menantang berkelahi?” Si Muka Merah membentak.

Kun Liong menggeleng kepalanya. “Aku tidak menantang siapa pun, akan tetapi aku tidak ingin melihat orang-orang menggunakan kepandaian untuk melakukan kejahatan, apalagi terhadap Siauw-lim-pai. Karena itu, harap Sam-wi (Tuan Bertiga) suka pergi lagi dan jangan mengganggu para pimpinan Siauw-lim-pai yang sedang sibuk.”

“Bocah lancang! Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa! Manusia sombong seperti engkau layak dlhajar!” Si Muka Merah sudah mengepal tinju dan hendak menerjang maju, akan tetapi Si Pengantuk melarangnya,

“Saudara Song, jangan!”

Si Muka Merah itu mundur kembali, akan tetapi mukanya menjadi makin merah karena dia marah bukan main. Kini Si Pengantuk melangkah maju menghadapi Kun Liong dan memandang penuh selidik, kemudian berkata, “Sahabat muda, engkau dengan tegas melarang kami memasuki kuil Siauw-lim-si dan menuduh kami hendak mengadakan pengacauan. Agaknya engkau salah sangka. Kami bukan berniat melakukari kekacauan, karena itu harap engkau jangan menghalangi kami.”

Kun Liong menggeleng kepalanya. “Melihat sikap kalian, aku tidak dapat percaya dan aku menduga bahwa tentu engkau tidak mempunyai niat baik. Akan tetapi, kalau engkau suka memberi tahu kepadaku apa niat kedatangan kalian bertiga, aku akan melaporkan kepada Ketua Siauw-lim-pai dan kalian menanti dulu di sini.”

Akan tetapi Si Pengantuk masih kelihatan tenang dan sabar. “Orang muda, kami memang ada urusan penting dengan Ketua Siauw-lim-pai, akan tetapi urusan ini tidak dapat kuberitahukan kepada siapapun juga.”

“Kalau begitu menyesal sekali, harap kalian suka pergi lagi saja.” Kun Liong berkata tegas.

“Kalau kami tidak mau dan hendak terus memasuki kuil?”

“Terpaksa aku mencegah kalian.”

“Orang muda, engkau menantang kami?”

“Nah, lagi-lagi aku dituduh menantang!” Kun Liong tersenyum. “Engkau ini orang tua disebut tai-hiap yang berarti pendekar besar dan dengan sendirinya tentu seorang pendekar maklum akan duduknya perkara. Sam-wi datang hendak memaksa memasuki kuil, aku sebagai seorang yang merasa pula bertanggung jawab akan keselamatan kuil Siauw-lim-si, menolak kedatangan Sam-wi dan minta agar Sam-wi pergi lagi saja, akan tetapi Sam-wi hendak memaksa. Tentu saja kalau Sam-wi memaksa aku akan mencegah. Eh, kini Sam-wi menuduh aku menantang! Benarkah pendapat seperti itu?”

Si Pengantuk she Tio berkata, kini suaranya dingin dan tegas. “Orang muda, agaknya engkau memiliki sedikit kepandaian dan terlalu mengandalkan kepandaian itu sehingga berani bicara main-main dengan kami. Minggir dan jangan mencari perkara!”

“Kalian yang terlalu, aku tidak mau minggir.”

“Kalau begitu bersiaplah kau, orang muda. Mari kita memutuskan urusan ini dengan mengadu kepandalan.”

“Aku tidak mau berkelahi.”

Si Pengantuk tercegang dan bingung juga bagaimana harus bersikap terhadap pemuda gundul yang aneh ini. Si Muka Merah sudah membentak lagi, “Dia pengecut!”

“Aku tidak takut kepada kalian bertiga, pasti bukan pengecut,” bantah Kun Liong yang tersinggung juga disebut pengecut.

“Kalau berani, majulah!” tantang Si Muka Merah.

“Tentu saja berani, akan tetapi aku tidak suka berkelahi!”

“Eh, orang muda! Engkau bersikap menantang kami akan tetapi menyatakan tidak suka berkelahi, sebenarnya apakah maksudmu!”

“Maksudku sudah jelas, Tai-hiap. Aku minta agar kalian bertiga tidak memasuki kuil dan suka pergi dengan aman dan damai. Nah, bukankah kita tidak saling mengganggu dan urusan dapat dihabiskan sampai di sini saja?”

“Bocah sombong! Tio-taihiap, biar aku menghajarnya!” orang she Song yang bermuka merah tak dapat menahan kemarahannya lagi karena merasa bahwa pemuda gundul itu sengaja mempermainkan mereka. Teriakannya ini disusul dengan gerakan tubuhnya yang sudah menerjang maju dan mengirim pukulan tangan kanannya ke arah dada Kun Liong.

Pukulan kasar ini biarpun dilakukan dengan pengerahan sin-kang dan cepat serta keras sekali datangnya, bagi Kun Liong yang sudah dapat mengukurnya bukan merupakan serangan berbahaya. Karena itu, pemuda ini sama sekali tidak mau mengelak atau menangkis, melainkan dia menerima pukulan dengan dadanya sambil mengerahkan tenaga sin-kang yang dahulu dipelajarinya dari Bun Hwat Tosu.

Dengan sin-kang yang sama, Bun Hwat Tosu dahulu pernah menerima pukulan Hek-tok-ciang (Tangan Beracun Hitam) dari Ketua Ui-hong-pang tanpa terluka, bahkan Si Ketua itu sendiri yang terluka tangannya oleh pukulan sendiri yang membalik hawanya.

“Bukkkk!”

Keras sekali datangnya pukulan itu, mengenai dada Kun Liong dan membuat tubuh pemuda gundul itu terguncang, namun berkat tenaga sin-kang yang menolak dan membetot, tangan yang memukul itu meleset seolah-olah memukul karet yang amat keras dan Si Muka Merah itu meringis ketika tangannya menyeleweng dan tubuhnya terpental sampai terhuyung ke kiri! Ketika dia melihat ke arah tangan kanannya, tangannya itu telah bengkak-bengkak! Dan ketika dia melirik ke arah pemuda gundul itu, Si Pemuda masih berdiri tegak dengan sikap tenang dan mulut tersenyum.

“Hemm, tukang pukul orang! Masih ada lagikah pukulanmu yang lunak seperti tahu tadi?” Kun Liong mempermainkan Si Muka Merah yang menjadi marah sekali. Dengan tangan kirinya, Si Muka Merah sudah meraba punggung dan tampaklah sinar berkilauan ketika dia telah mencabut pedangnya.

“Saudara Song, jangan main senjata!” Si Pengantuk menegur.

“Sute, mundurlah!” Orang bermuka pucat she Kui yang menjadi suheng dari Si Muka Merah sudah meloncat ke depan. Gerakannya lincah, ringan dan cepat bukan main. Sekaii pandang saja, tahulah Kun Liong bahwa kepandaian Si Muka Pucat ini lebih lihai darlpada Si Muka Merah yang kasar. Begitu menyerang, Si Muka Pucat she Kui itu telah mengirm totokan halus yang cepat sekali ke arah leher dan pundak Kun Liong.

Biarpun dia sama sekali belum berpengalaman, namun berkat bimbingan dua orang sakti yang berilmu tinggi, pandang mata Kun Liong menjadi awas sekali. Dia maklum bahwa amat berbahayalah untuk melindungi tubuhnya dengan sin-kang seperti yang dilakukannya tadi karena kini yang menjadi sasaran serangan lawan adalah jalan darah yang lemah dan totokan lawan itu selain cepat juga mengandung hawa pukulan yang amat kuat. Maka dia pun lalu menggerakkan tubuh mengelak dan begitu dia bergerak, Si Pengantuk menahan seruannya saking kagum. Gerakan Kun Liong jauh lebih cepat daripada gerakan Si Muka Pucat dan serangan bertubi-tubi yang dilanjutkan oleh orang she Kui itu selalu tak dapat berhasil, kalau tidak dielakkan tentu kena ditangkis secara tepat sekali oleh Kun Liong. Tidaklah mengherankan kalau semua serangan itu gagal karena Kun Liong sudah melindungi dirinya dengan gerakan Ilmu Silat Sakti Im-yang-sin-kun bagian pertahanan.

Si Pengantuk yang memperhatikan dengan teliti gerakan Kun Liong, terkejut menangkap dasar-dasar Ilmu Silat Siauw-lim-pai, akan tetapi ilmu silat yang dimainkan pemuda itu hanya mempunyai dasar ilmu silat Siauw-lim-pai, sedangkan perkembangan dan gerakannya sama sekali tidak dia kenal! Padahal, biasanya dia boleh berbangga bahwa jarang ada ilmu silat yang tidak dikenalnya, apalagi ilmu silat yang berdasar Siauw-lim-pai.

Ketika kakek pengantuk itu melihat betapa pemuda gundul itu sama sekali tidak membalas serangan temannya, namun semua serangan temannya itu sama sekali tidak pernah berhasil tahulah dia bahwa temannya she Kui itu pun bukan lawan pemuda gundul yang amat aneh ilmu silatnya itu. Maka dengan gerakan ringan sekali seperti seekor burung terbang dia sudah meloncat ke depan, menyambar lengan temannya, menarik sambil berseru, “Mundurlah, Saudara Kui!”

Tubuh orang she Kui yang bermuka pucat itu tertarik dan melayang meninggalkan lawan. Kun Liong yang kehilangan lawan itu memandang kaget ketika melihat betapa tahu-tahu lawannya telah berganti orang, yaitu Si Pengantuk yang ia tahu amat lihai.

“Sam-wi benar-benar keras kepala dan ingin mengandalkan kepandaian untuk memaksakan kehendak sendiri!” Kun Liong mencela, namun tetap siap siaga menghadapi lawan yang ia tahu tak boleh dipandang ringan itu.

“Orang muda, engkaulah yang keras kepala. Pergilah!” Si Pengantuk sudah menyerang, akan tetapi gaya serangannya jauh berbeda dengan gerakan kedua orang temannya tadi, Si Pengantuk ini hanya menggerakkan tangan kirinya, dan ujung jari tangan kirinya melecut seperti ujung cambuk yang lemas, mengarah leher dan pundak Kun Liong.

Pemuda itu terkejut bukan main. Biarpun serangan itu kelihatannya bersahaja dan tidak sungguh-sungguh, namun kepretan tangan itu mendatangkan hawa pukulan yang panas sekali! Tentu saja dia tidak berani menerima serangan sehebat itu, maka cepat dia pun mengerahkan tenaganya ke arah tangan, menggerakkan tangan kanannya menangkis jari-jari tangan lawan itu dan dari tangannya mengepul uap putih.

“Plak! Plakkk!”

Kakek pengantuk itu mencelat mundur dengan terkejut sekali. Ternyata bahwa lengan pemuda gundul itu mampu menangkis kepretan ujung jari tangannya, padahal dia tahu benar bahwa jarang ada orang kang-ouw yang sanggup menangkisnya tanpa terdorong mundur atau terluka tangannya. Pemuda itu menangkis dengan kekuatan dahsyat dan sama sekali tidak kelihatan menderita! Bahkan tangan pemuda itu mengeluarkan uap putih yang aneh! Lagi-lagi dia tadi telah mempergunakan Pek-in-ciang yang dipelajarinya dari Tiang Pek Hosiang.

Kalau lawannya terkejut dan terheran, Kun Liong juga kagum sekali ketika merasa betapa hawa tamparan ujung jari itu membuat lengannya tergetar hebat. Makin yakinlah hatinya bahwa lawannya ini benar-benar berilmu tinggi!

“Orang muda, terpaksa aku tidak boleh mengalah lagi kepadamu!” Kakek pengantuk itu berkata, kedua lengannya bergerak dan terdengarlah suara berkerotokan seolah-olah seluruh tulang-tulang lengannya patah-patah! Kun Liong yang belum berpengalaman, memandang dengan mata terbelalak dan hati ngeri karena dia dapat menduga bahwa tentu kakek itu mengeluarkan ilmunya yang mujijat.

“Omitohud… harap tahan dulu, Tio-taihiap…!”

Si Pengantuk dan Kun Liong yang sudah siap untuk bertanding mati-matian karena maklum bahwa lawan tak boleh dibuat main-main, segera melangkah mundur dan menoleh. Kiranya Thian Kek Hwesio sendiri, Ketua Siauw-lim-pai yang telah berada di situ. Melihat kakek ini, Si Pengantuk cepat menjura dengan hormat diikuti dua orang temannya dan Si Pengantuk berkata,

“Harap Thian Kek-suhu suka memaafkan kami…”

Thian Kek Hwesio memandang Kun Liong dengan terheran-heran lalu bertanya, “Yap-sicu, apakah yang telah terjadi?”

Kun Liong sudah merasa terkejut dan menyesal sekali karena ternyata bahwa tiga orang itu benar-benar mengenal Ketua Siauw-lim-pai! Dengan terus terang dia menjawab, “Karena teecu curiga kepada mereka dan mengira mereka datang untuk mengacau Siauw-lim-si, maka teecu melarang mereka memasuki kuil sehingga terjadi pertengkaran.”

Hwesio tua itu tampak kaget sekali. “Aihhh… engkau tidak tahu siapa yang kautentang ini, Sicu!” Dia kembali menghadapi Si Pengantuk dan menjura sambil berkata, “Harap Taihiap sudi memaafkan Yap-sicu yang masih amat muda. Sesungguhnya Yap-sicu berniat baik untuk membela Siauw-lim-pai. Dia adalah seorang sahabat kami yang baik… dan Yap-sicu, ketahuilah bahwa taihiap ini adalah Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan dan Tio-taihiap ini adalah pengawal kepala yang mulia Panglima Besar The Hoo!”

Si Pengantuk yang ternyata bukan orang sembarangan itu mengangkat tangan ke atas mencegah Ketua Siauw-lim-pai itu melanjutkan perkenalan itu sambil berkata, “Losuhu, marilah kita bicara di dalam saja.” Hwesio itu mengangguk-angguk, kemudian mempersilakan mereka semua memasuki kuil. Kun Liong juga ikut masuk sambil memandang dengan penuh perhatian, diam-diam dia terkejut mendengar disebutnya nama Panglima Besar The Hoo tadi. Kiranya kakek pengantuk itu seorang yang berpangkat tinggi! Dan mendengar julukannya, Ban-kin-kwi (Setan Bertenaga Selaksa Kati) dapat diduga bahwa kakek pengantuk itu tentu memiliki sin-kang yang amat kuat. Biarpun dia belum pernah mendengar nama Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan, namun melihat sikap Ketua Siau-wlim-pai itu terhadap Si Pengantuk ini, dia mengerti bahwa kakek pengantuk ini tentu seorang tokoh kang-ouw yang terkenal.

Memang demikianlah, kakek berusia lima puluh tahun yang ketihatan seperti seorang pengantuk itu bukanlah seorang biasa, melainkan seorang yang amat terkenal dan memiliki ilmu kepandaian tinggi. Nama besar Panglima The Hoo siapakah yang tidak mengenalnya? Dan pengawal panglima itu adalah Si Pengantuk ini yang merupakan pengawal paling setia, paling dipercaya oleh Panglima The dan paling lihai. Melihat orangnya memang sama sekall tidak pantas kalau dia seorang kepala pengawal yang berkedudukan tinggi, lebih patut seorang pemalas yang selalu kurang tidur! Aken tetapi, pengawal itulah yang selalu mengawal Sang Panglima ketika Panglima Besar The Hoo melakukan pelayaran memimpin armada sampai jauh menyeberangi lautan dan menjelajah di negara-negara asing.

Adapun dua orang temannya itu adalah dua orang pengawal yang menjadi anak buahnya. Mereka juga bukan orang-orang biasa, melainkan kakak beradik seperguruan yang tentu saja sudah memiliki kepandaian tinggi untuk dapat diterima menjadi pengawal-pengawal Panglima The Hoo. Si Muka Pucat itu bernama Kui Siang Han, berusia empat puluh lima tahun sedangkan sutenya, Si Muka Merah bernama Song Kin berusia empat puluh tahun.

Ketika Tio Hok Gwan dan dua orang temannya memasuki kuil dan melihat dua buah peti jenazah, dia terkejut bukan main. Apalagi ketika mendapat keterangan bahwa peti-peti itu terisi jenazah Tiang Pek Hosiang dan Thian Le Hwesio!

“Ah… maafkan kami yang sama sekali tidak tahu akan hal yang menyedihkan ini dan berani datang mengganggu!” katanya dan cepat dia bersama dua orang anak buahnya lalu menyalakan hio (dupa) dan bersembahyang di depan kedua peti mati dengan penuh khidmat.

Setelah selesai sembahyang, tiga orang pengawal itu segera bertanya apa yang menyebabkan kematian dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu. Thian Kek Hwesio memejamkan mata dan menarik napas panjang sambil merangkap kedua tangan di depan dada. “Omitohud… mati hidup manusia berada di tangan Tuhan, tidak ada yang harus disesalkan dalam menghadapi kematian seseorang. Akan tetapi, kalau Suhu meninggal dunia dengan wajar karena usia beliau sudah amat tua, adalah Sute Thian Le Hwesio meninggal secara menyedihkan sekali.” Dia lalu menceritakan betapa rombongan piauwsu yang tidak tahu-menahu datang membawa peti yang terisi jenazab Thian Le Hwesio yang terbunuh orang!

“Sungguh penasaran sekali!” Tio Hok Gwan berseru. “Ini merupakan tanda bahwa kaum sesat di dunia kang-ouw sudah mulai berani bergerak lagi!” Tentu saja hati pengawal ini menjadi penasaran karena semenjak Panglima The Hoo melakukan pembersihan, kaum sesat di dunia persilatan banyak yang terbasmi dan tidak berani sembarangan bergerak. Kini, wakil Ketua Siauw-lim-pai terbunuh, berarti bahwa kaum sesat agaknya sudah mulai berani unjuk gigi dan merupakan tantangan tak langsung kepada pemerintah!

Ketika diperkenalkan kepada tiga orang pengawal itu, Kun Liong lalu menjura dan berkata, “Harap Tio-taihiap bertiga suka memaafkan saya yang karena tidak mengenal telah bersikap kurang hormat.”

Orang she Tio itu memandang Kun Liong dengan mata hampir terpejam, kemudian mengangguk-angguk dan memuji, “Yap-sicu tidak usah bersikap sungkan. Kami kagum sekali melihat kegagahan Sicu, dan tidak merasa heran setelah mendengar bahwa Sicu adalah putera tunggal Yap Cong San yang kami kenal. Siauw-lim-pai boleh merasa beruntung mempunyai seorang sahabat seperti Sicu yang setia dan menjaga Siauw-lim-pai dengan gagah.”

Sebagai tamu-tamu yang dihormati, tiga orang itu dijamu makan oleh para pimpinan Siauw-lim-pai dan mereka pun tidak bersikap sungkan dan menerima undangan makan, sungguhpun hidangannya hanya terdiri dari masakan tak berdaging yang bersahaja dan minumnya hanya air dan teh tanpa setetespun arak! Kun Liong yang dianggap “keluarga sendiri” juga hadir. Setelah selesai makan, barulah Ketua Siauw-lim-pai bertanya, “Pinceng mengerti bahwa kedatangan Sam-wi tentulah membawa urusan yang amat penting. Pinceng harap Sam-wi tidak bersikap sungkan, dan biarpun di sini sedang tertimpa malapetaka, namun kami selalu siap untuk membantu Sam-wi. Maka harap Sam-wi suka menjelaskan urusan apa yang Sam-wi bawa dari kota raja.”

Tio Hok Gwan menarik napas panjang, agaknya sukar baginya untuk membuka mulut menceritakan keperluan kedatangannya. Akhirnya dia berkata setelah beberapa kali meragu, “Memang benar apa yang Losuhu katakan. Kalau kami tahu bahwa di Siauw-lim-pai terjadi hal yang amat menyedihkan ini, tentulah kedatangan kami hanya khusus untuk melayat dan berkabung. Akan tetapi karena kami tidak tahu, sebaiknya kami berterus terang saja. Kami memang sedang melaksanakan tugas, Losuhu, dan kami datang sebagai utusan pribadi dari Panglima The sendiri.”

Thian Kek Hwesio cepat bangkit berdiri dan menjura penuh hormat kepada tiga orang itu, “Pinceng dan para anak murid Siauw-lim-pai siap untuk melaksanakan perintah Yang Mulia Panglima The.”

“Terima kasih atas kebaikan Losuhu. Sebetulnya tidak ada permintaan sesuatu kepada Losuhu dan Siauw-lim-pai, hanya kami diutus melakukan penyelidikan dan mengingat akan luasnya pengaruh dan hubungan Siauw-lim-pai dengan dunia kang-ouw, kami ingin mohon bantuan Siauw-lim-pai dalam hal ini.”

Thian Kek Hwesio menarik napas lega. Jelas, bahwa urusan itu tidak langsung menyangkut Siauw-lim-pai sehingga tidak akan timbul hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan sikap ramah dia berkata, “Harap Tio-taihiap tidak bersikap sungkan dan ceritakanlah, bantuan apa yang dapat kami berikan kepada Taihiap demi terlaksananya perintah yang mulia itu.”

Tio Hok Gwan lalu bercerita dengan suara perlahan namun jelas, “Panglima The telah kehilangan sebuah pusaka, belasan tahun yang lalu dan hal ini tadinya dirahasiakan saja dan tidak dibocorkan ke luar karena telah diketahui bahwa yang mencuri dan melarikan pusaka itu adalah seorang pengawal panglima sendiri. Diam-diam panglima mengutus orang-orang kepercayaannya untuk melakukan pengejaran dan mencari pengawal yang mencuri pusaka itu. Namun semua usaha sia-sia belaka, sampai terdengar kabar bahwa pengawal yang berkhianat itu ternyata telah kehilangan pusaka yang dicurinya, dan kabarnya pusaka itu hilang tenggelam di Sungai Huang-ho. Sepuluh tahun yang lalu, pengawal khianat itu terbunuh bersama anak buahnya yang telah menjadi bajak sungai, dan pusaka itu masih belum diketahui berada di mana. Hanya ada kabar angin yang mengatakan bahwa pusaka itu telah diangkat dari dasar sungai, akan tetapi tidak seorang pun tahu siapa yang membawanya. Kemudian kami mendengar berita pula bahwa pada saat pergawal khianat dan anak buahnya tewas, di sekitar daerah itu tampak bayangan Siang-tok Mo-li. Kami masih meragukan semua berita itu dan mengingat akan pengetahuan Losuhu yang amat luas, kami sengaja datang menghadap mohon petunjuk.”

Jantung Kun Liong berdebar tegang mendengar penuturan itu. Tidak salah lagi tentu bokor emas yang dimaksudkan oleh Tio Hok Gwan ini. Dia mendengar disebutnya nama Siang-tok Mo-li, teringat dia kepada Bi Kiok yang manis!

Bi Kiok tentu sekarang telah menjadi seorang dara yang cantik manis! Dan dara itu pernah monolongnya, dua kali malah telah menolongnya. Pertama ketika bersama mendiang kakeknya, Bi Kiok menyelamatkannya dari gelombang air Sungai Huang-ho. Kedua kalinya ketika Bi Kiok membebaskannya pada waktu dia menjadi tawanan para tokoh Pek-lian-kauw dan Ketua Ui-hong-pang. Betapa manisnya anak itu! Kun Liong tak sengaja tersenyum ketika membayangkan wajah Bi Kiok.

Melihat pemuda gundul itu tersenyum-senyum, diam-diam Tio Hok Gwan melirik dengan penuh perhatian dan selidik. Sementara itu, Thian Kek Hwesio sudah berkata, “Pinceng sendiri tidak pernah mendengar akan urusan itu, Taihiap. Akan tetapi pinceng akan mengumpulkan semua anak murid dan memperingatkan mereka agar memasang mata telinga, juga bertanya-tanya di dunia kang-ouw kepada para sahabat. Tentu saja kami akan segera melapor kalau ada berita bahkan pinceng akan memerintahkan kepada para anak murid untuk membantu Taihiap mendapatkan kembali pusaka itu.”

“Terima kasih atas kebaikan hati Losuhu. Eh, Yap-sicu, agaknya Sicu mempunyai suatu pendapat yang ada hubungannya dengan urusan ini, bukan?”

Kun Liong yang sedang termenung membayangkan wajah Bi Kiok yang manis itu, terkejut mendengar teguran ini. “Ahh, saya hanya merasa heran mengapa seperti yang sering kali saya dengar, di dunia kang-ouw banyak terjadi perebutan pusaka-pusaka. Pusaka apa pula yang Taihiap ceritakan tadi? Sebuah senjatakah ataukah sebuah kitab?”

“Benar sekali pertanyaan itu, pinceng sendiri pun perlu mengetahui apa macamnya Pusaka yang hilang itu.” Thian Kek Hwesio berkata.

“Pusaka dari The-ciangkun itu adalah sebuah bokor emas kuno yang amat berharga.”

“Sebuah bokor emas…?” Thian Kek Hwesio berkata sambil mengangguk-angguk.

“Kalau hanya emas yang merupakan harta, mengapa orang-orang gagah di dunia kang-ouw sampai berebutan? Sungguh tiada bedanya dengan para perampok saja sikap ini!” Kun Liong berkata lagi, diam-diam jantungnya makin keras berdebar karena ternyata dugaannya tepat, pusaka yang dimaksudkan itu adalah bokor emas yang telah dia sembunyikan!

Tio Hok Gwan menghela napas panjang. “Agaknya engkau tidak tahu, Yap-sicu. Kalau hanya emas belaka, kiranya Panglima The tidak akan menyimpannya dan menganggapnya sebagai sebuah pusaka yang berharga. Kami hanya mengharapkan bantuan Losuhu, juga bantuan Yap-sicu yang kami anggap sebagai orang sendiri sehingga kami ceritakan semua tentang pusaka.”

“Jangan khawatir, Taihiap. Setelah kami selesai dengan perkabungan kami, tentu kami akan bekerja keras membantu melakukan penyelidikan tentang bokor emas itu,” kata Thian Kek Hwesio.

“Saya pun akan berusaha membantu, Tio-taihiap. Saya akan membantu menyelidiki dan kalau saya beruntung dapat menemukan benda pusaka itu, tentu akan saya persembahkan sendiri kepada Panglima The yang mulia.”

Thio Hok Gwan menghaturkan terima kasih, kemudian bersama kedua orang pembantunya, dia segera berpamit den meninggalkan kuil yang sedang berkabung itu. Kun Liong tetap tinggal di dalam kuil, membantu persiapan yang diadakan oleh Siauw-lim-pai untuk menerima kedatangan para tamu yang tentu akan membanjiri Siauw-lim-si untuk memberi penghormatan terakhir kepada jenazah dua orang tokoh besar itu. Selain merasa berkewajiban untuk membantu, juga Kun Liong sengaja hendak menanti dengan penuh harapan ayah bundanya akan datang pula ke Siauw-lim-si. Ayahnya adalah murid Tiang Pek Hosiang dan bekas tokoh Siauw-lim-pai, dia merasa yakin ayahnya akan datang kalau mendengar akan kematian Tiang Pek Hosiang dan Thian Le Hwesio yang menjadi suhengnya. Selain mengharapkan kedatangan ayah bundanya di kuil Siauw-lim-si, juga Kun Liong ingin sekali mellhat dan bertemu dengan para tokoh kang-ouw yang diduga tentu akan datang memberi penghormatan terakhir kepada jenazah seorang tokoh besar seperti Tiang Pek Hosiang.

Kita tinggalkan dulu kuil Siauw-lim-si yang sedang berkabung dan mari kita tengok keadaan Pendekar Sakti Cia Keng Hong dan keluarganya yang merupakan tokoh-tokoh penting dalam cerita ini.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, lima tahun yang lalu, ketika Kun Liong berusia lima belas tahun dan dia pergi ke Cin-ling-san mencari ayah bundanya, dan hanya bertemu dengan Cia Giok Keng, puteri tunggal keluarga pendekar itu, karena pada waktu itu Cia Keng Hong den isterinya sedang turun den mereka justeru pergi ke kota Leng-kok, mengunjungi sahabat baik mereka, yaitu Yap Cong San suami isteri.

Dengan perasaan penuh harap dan gembira karena akan dapat berjumpa dengan sahabat-sahabat mereka, Cia Keng Hong dan isterinya, Sie Biauw Eng, memasuki kota Leng-kok. Mereka berjalan kaki memasuki kota itu dengan wajah berseri gembira. Kalau orang melihat mereka sepintas lalu, tentu akan mengira bahwa mereka itu hanyalah dua orang pelancong biasa saja karena tidak ada apa-apa yang menonjol pada diri mereka, kecuali bahwa mereka merupakan sepasang suami isteri setengah tua yang tampan dan cantik. Cia Keng Hong sudah berusia empat puluh tahun, tampak gagah dan tampan, dengan kumis dan jenggotnya yang panjang, akan tetapi tidak terlalu panjang. Rambutnya digelung ke atas dan dibungkus sehelai kain kepala berwarna kuning. Tubuhnya masih tegap dan langkahnya seperti seekor harimau. Pakaiannya longgar dan sederhana, jubah yang panjang menyembunyikan pedang Siang-bhok-kiam yang terselip di pinggangnya. Pedang Kayu Harum ini pernah menggegerkan dunia kang-ouw belasan tahun yang lalu (baca ceritaPedang Kayu Harum ). Kalau ada yang dapat menduga bahwa dia pandai ilmu silat, agakhya hanya karena sepatunya, sepatu kulit yang tinggi, kuat dan biasa dipergunakan merantau.

Isterinya, Sie Biauw Eng, masih tampak cantik jelita walaupun usianya sudah mendekati empat puluh tahun. Tubuhnya masih ramping padat, kedua pipinya belum diserang keriputan, masih halus putih dan agak kemerahan karena sehari itu dia berjalan kaki sampai jauh. Juga nyonya cantik ini tidak kelihatan membawa senjata. Siapa yang akan menyangka bahwa sabuk sutera putih yang dengan indahnya membelit pinggang ramping itu merupakan senjata maut yang belasan tahun lalu menimbulkan kengerian di dalam hati setiap orang lawan? Pakaiannya juga sederhana namun bersih dan tidak dapat menyembunyikan bentuk tubuhnya yang matang dan padat itu. Seperti suaminya, dia pun memakai sepatu kulit yang tinggi.

Biarpun kenyataan bahwa suami isteri ini melakukan perjalanan jauh berdua saja sudah menimbulkan dugaan bahwa mereka bukanlah orang-orang lemah, namun kiranya tidak akan ada orang yang pernah mimpi bahwa pria itu adalah Pendekar Sakti Cia Keng Hong yang lebih terkenal dengan julukan yang diberikan karena pedangnya, yaitu Siang-bhok-kiam. Dan siapa yang akan mengira bahwa wanita cantik yang wajahnya berseri dan bibirnya selalu tersenyum itu adalah Sie Biauw Eng, yang di waktu masih gadis dahulu berjuluk Song-bun Siu-li (Dara Cantik Berkabung)? Nama julukan yang amat terkenal di kalangan kaum sesat?

Pada waktu itu, kiranya tidak ada tokoh kang-ouw atau datuk kaum sesat yang lebih terkenal daripada Siang-bhok-kiam Cia Keng Hong dan isterinya, Song-bun Siu-li Sie Biauw Eng. Bahkan Cinling-pai yang sebetulnya hanya sekumpulan penduduk dusun pegunungan, karena diketuai dan dipimpin oleh Cia Keng Hong, menjadi amat terkenal dan disegani dunia kang-ouw.

Sambil menoleh ke kanan kiri memandangi bangunan-bangunan di dalam kota Leng-kok, Sie Biauw Eng berkata, “Aihhh, sungguh banyak kemajuan terjadi di dalam kota ini. Hampir aku tidak mengenalnya lagi, padahal baru beberapa tahun kita tidak melihat Leng-kok.”

Cia Keng Hong tersenyum, “Kaukira baru berapa tahun? Jangan mimpi, sudah lima belas tahun kita tidak pernah ke sini dan lima belas tahun bukanlah waktu singkat, tentu saja banyak terjadi perubahan.”

“Hemmm, waktu berlalu dengan cepat sekali, tanpa terasa belasan tahun telah lewat! Betapapun juga, kemajuan di Leng-kok mengagumkan dan aku yakin bahwa jasa Cong San dan Yan Cu dalam kota ini tidaklah kecil.”

“Tentu saja! Mereka merupakan tabib-tabib yang terkenal di sini, agaknya tentu tidak ada seorang pun penduduk yang belum pernah mereka tolong. Kuharap saja putera mereka mewarisi kegagahan ayah bundanya sehingga tidak akan mengecewakan hati kita.”

“Hem, mengapa kita akan kecewa andaikata anak mereka itu tidak seperti yang kita harapkan?” Sie Biauw Eng bertanya, “Anak itu bukanlah kita, dan harapan kita belum tentu sama dengan harapan orang tuanya. Apa yang kita anggap tidak baik, belum tentu dianggap buruk pula oleh orang lain.”

“Wah, isteriku yang baik, lagi-lagi engkau berfilsafat!” Keng Hong menggoda.

“Bukan filsafat. Kau tahu bahwa aku tidak suka akan filsafat muluk-muluk yang hanya menjadi permainan kata-kata kosong belaka. Yang kukatakan tadi adalah kenyataan. Telah menjadi kesalahan kita pada umumnya bahwa kita selalu digoda harapan-harapan akan sesuatu, ingin melihat sesuatu sesuai dengan yang kita kehendaki. Inilah salahnya maka seringkali kita mengalami puas dan kecewa. Kita tidak dapat menerima apa adanya sehingga tidak pernah tenang. Anak Cong San itu… eh, siapa namanya…?”

“Yap Kun Liong, masa kau lupa lagi?”

“Oya, Kun Liong, seperti apa pun dia, kita harus dapat menerima dan melihat dia seperti keadaannya, bebas dari prasangka dan harapan kosong.”

“Ah, mana mungkin begitu, isteriku? Dia bukan orang lain, dia calon mantu kita…”

“Hemm, belum juga melihat orangnya, bagaimana sudah hendak memastikan bahwa dia calon jodoh Giok Keng? Kita harus melihatnya dulu, apa sekiranya cocok kalau dijodohkan dengan anak kita. Selain itu, kita pun harus menanyakan pendapat dua orang anak yang bersangkutan itu pula.”

“Hemmm… hemmm…”

“Hemm?hemm apa maksudmu?” Biauw Eng memandang suaminya.

“Kalau kau terlalu memanjakan Keng-ji, bahkan dalam soal perjodohan, engkau hanya akan merusak hidupnya…”

“Ehh! Apakah yang kaukatakan ini? Mari kita bicarakan hal ini dulu sebelum kita bertemu Cong San dan Yan Cu.”

“Sudahlah, isteriku. Perlukah kita bertengkar setelah tiba di tempat ini? Kita bicarakan urusan jodoh perlahan-lahan…”

“Tidak bisa! Harus sekarang kita bicarakan lebih dulu. Aku mau ketegasan dalam hal ini, itu di sana ada warung, kita berhenti dulu di sana!”

“Tenanglah… ingat akan kandunganmu…” Keng Hong memperingatkan.

“Engkau sih yang bicara tidak beres. Hal ini tidak ada sangkut-pautnya dengan ini… apalagi baru dua bulan… ah, semua gara-gara engkau!”

Mereka memasuki warung dan memilih tempat duduk di sudut, jauh dari tamu lainnya. Setelah hidangan yang mereka pesan disediakan, mereka bicara bisik-bisik namun kelihatan serius sekali.

“Semua salahmu! Sampai bingung memikirkan bagaimana harus memberitahukan Giok Keng! Dia sudah lima belas tahun dan… akan mempunyai adik! Betapa terlambatnya! Dan aku sudah tua! Salahmu…!” Suara Biauw Eng mengandung isak tertahan.

“Hishhh! Kenapa hanya aku saja yang salah? Bukankah hal ini akibat perbuatan kita berdua? Sudahlah, isteriku. Perlukah hal seperti ini dibuat cekcok? Engkau masih muda! Siapa bilang engkau sudah tua? Engkau masih patut mempunyai anak lima orang lagi!”

“Ngacau…!” Blauw Eng membentak dan mendelik, akan tetapi melihat suaminya yang tercinta itu tersenyum-senyum, perlahan-lahan kemarahannya mereda dan kedua pipinya menjadi merah.

“Tidak perlu kau bingung, Keng-ji tentu akan menari kegirangan kalau mendengar akan mempunyai seorang adik yang sudah bertahun-tahun diinginkannya.”

“Sebetulnya aku pun tidak hendak membicarakan hal kandungan. Aku sudah menerimanya sebagai anugerah Tuhan, akan tetapi engkau sih, membawa-bawa dalam persoalan perjodohan Giok Keng. Apakah engkau akan berkeras kepala mengambil keputusan tentang perjodohan anak kita tanpa mempedulikan perasaan hatinya sendiri?”

Keng Hong menarik napas panjang. “Isteriku, Giok Keng masih kanak-kanak, mana mungkin dia mempunyai pendapat tentang jodoh? Kita adalah ayah bundanya, andaikata aku salah pilih, kiranya engkau tidak akan membiarkan saja. Pilihan kita tentu telah kita pikirkan masak-masak, dan kita tujukan semata demi kebahagiaan anak kita.”

“Aku percaya, akan tetapi harus kita sadari bahwa pendapat kita belum tentu sama dengan pendapat Giok Keng. Pemuda yang kita anggap baik belum tentu menyenangkan hatinya. Suamiku, mengapa kau tidak bersikap bijaksana dalam hal ini? Ingatlah akan riwayat kita sendiri. Perjodohan tidak boleh dipaksakan. Perjodohan harus terjadi atas dasar dorongan hasrat kedua orang anak yang hendak berjodoh itu sendiri. Perjodohan bukan hal main-main, melainkan dilakukan satu kali untuk selama hidup. Sekali salah pilih, akan menderita selamanya.”

“Nah, itulah! Karena tidak ingin anak kita salah pilih, sebaiknya kita yang memilihkan, dan kurasa anak suami isteri seperti Cong San dan Yan Cu tentulah baik!”

“Betapapun juga, biarkan dia memilih sendiri.”

“Kalau dia yang masih hijau dan bodoh itu salah pilih?”

“Kewajiban kita untuk turun tangan menyadarkannya!”

“Hemm, aku tetap ingin berbesan dengan Cong San.”

“Mungkin saja, kalau Keng-ji cocok dan suka kepada Kun Liong. Mengapa engkau bingung seperti kucing hendak bertelur? Kalau memang sudah jodoh, apa yang dikhawatirkan kelak tidak akan

bertemu?”

Keng Hong merengut. “Gila kau! Masa aku disamakan kucing hendak bertelur? Mana ada kucing bisa bertelur?”

Biauw Eng tertawa, girang dapat membalas dan membikin suaminya marah.

“Karena bingungnya, kau seperti kucing hendak bertelur! Soal jodoh kita bicarakan nanti kalau semua pihak sudah setuju. Mengapa tergesa-gesa? Bukankah kedatangan kita ini untuk mengunjungi mereka dan sekalian melihat bagaimana macamnya putera mereka itu?”

“Ya, sudahlah, asal engkau jangan berkokok ribut seperti ayam hendak beranak!”

“Hehh? Mana ada ayam beranak…? Wah, engkau membalas, ya?” Biauw Eng mencubit lengan suaminya dan keduanya tertawa. Dalam keadaan seperti itu, suami isteri itu masih seperti ketika mereka berbulan madu dahulu! Dan memang demikianlah cinta kasih antara suami isteri yang benar-benar saling mencinta. Tidak ada usia tua, tidak ada keriput, tidak ada uban, tidak ada dan tidak pernah ada istilah buruk bagi mereka yang saling mencinta!

“Husshhh! Malu dilihat orang! Dan kalau tiba-tiba Cong San dan Yan Cu muncul dan melihat kita bukan langsung ke rumah mereka melainkan bersendau-gurau di warung arak, bisa kita dicap sombong!” Keng Hong segera membayar harga makanan, kemudian mereka bergegas keluar dari warung dan langsung menuju ke rumah Yap Cong San yang di kota itu terkenal sebagai Yap-sinshe (Tabib Yap).

Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka mendengar bahwa suami isteri sahabat baik mereka itu telah kurang lebih lima tahun meninggalkan Leng-kok tanpa pamit dan tak seorang pun mengetahui ke mana mereka pergi.

“Ji-wi (Kalian Berdua) sudah lama sekali terlambat. Yap-sinshe dan isterinya, juga puteranya, telah bertahun-tahun pergi.”

“Mengapa? Apa yang terjadi?” Keng Hong bertanya, masih dicekam keheranan.

“Mereka… melarikan diri…” Seorang kakek bekas tetangga Yap-sinshe menjelaskan.

“Tidak mungkin!” Biauw Eng berseru. “Mereka bukanlah orang-orang pengecut yang melarikan diri begitu saja! Siapa yang mereka takutkan?”

“Mereka menjadi orang-orang buruan pemerintah.”

“Ehhh…?” Keng Hong segera memegang tangan kakek itu dan berbisik, “Harap Loheng sudi menceritakan kepada kami.”

Kakek itu mengangguk. “Marilah, mari singgah di rumahku dan nanti kuceritakan kepada Ji-wi.”

Dengan hati berdebar penuh kekhawatiran, Keng Hong dan Biauw Eng mengikuti kakek itu memasuki rumahnya yang sederhana dan miskin. Setelah mereka dipersilakan duduk dan disuguhi air teh, kakek itu lalu bercerita tentang kesalahan Yap-sinshe tidak berhasil mengobati para perwira yang terluka sehingga ditangkap dan kemudian bersama isterinya, Yap-sinshe melarikan diri dari tahanan dan menjadi orang buruan.

“Mengapa tidak berhasil mengobati sampai ditangkap?” Keng Hong bertanya.

Kakek itu menarik napas panjang dan menggerakkan kedua pundaknya. “Aku tidak tahu, akan tetapi agaknya sudah pasti sekali Yap-sinshe bentrok dengan Pembesar Ma, kepala daerah di Leng-kok ini. Apa sebabnya aku tidak tahu, dan agaknya tidak ada orang yang tahu kecuali mereka sendiri.”

“Dan puteranya? Ke mana perginya putera mereka, Yap Kun Liong?”

“Ahhh, Yap-kongcu sudah lebih dulu pergi sebelum ayahnya ditangkap. Entah ke mana. Sampai sekarang mereka bertiga tidak pernah muncul. Bahkan ketika kakek Liok Siu Hok meninggal dunia dua minggu yang lalu, mereka tidak muncul.” Keng Hong dan isterinya teringat bahwa Kakek Liok Siu Hok adalah paman tua dari Cong San, satu-satunya keluarga sahabat mereka itu yang tinggal, karena itu, agak aneh kalau sampai Cong San seanak isteri tidak muncul ketika kakek itu meninggal dunia.

“Bagaimana matinya?”

“Mati tua… dan agaknya karena duka. Kasihan kakek itu tidak mempunyai keluarga lagi, mati dalam kesunyian.”

Keng Hong dan isterinya menghaturkan terima kasih, lalu keluar dari rumah kakek itu. “Ke mana kita harus mencari mereka?” katanya dengan suara kecewa.

“Tiada gunanya dicari kalau mereka itu melarikan diri. Kalau mereka ingin berjumpa dengan kita, tentu mereka yang akan datang mengunjungi Cin-ling-san.”

“Benar kata-katamu. Kalau begitu kita pulang saja.”

“Tidak, aku masih belum puas. Aku harus mengerti duduknya perkara ini dan memaksa dia mengaku!” kata Biauw Eng gemas.

“Dia? Siapa?”

“Siapa lagi kalau bukan pembesar jahat she Ma itu!”

“Wah-wah! Isteriku, ingat, kita bukan orang muda petualang seperti dahulu lagi! Kita adalah pemimpin Cin-ling-pai dan orang she Ma itu adalah orangnya pemerintah! Apa kau ingin dicap pemberontak?”

“Serahkan saja kepadaku. Mari ikut!”

“Eh, ke mana?” Keng Hong tak berdaya menghadapi isterinya yang ia tahu sedang marah dan penasaran itu!

“Ke gedung Kepala Daerah!”

Keng Hong tidak membantah dan diam-diam ia gembira melihat betapa isterinya sama sekali belum berubah, masih seperti Song-bun Siu-1i dia dahulu, dara cantik jelita yang kadang-kadang disebut dewi akan tetapi adakalanya disebut iblis betina yang ganas! Isterinya ini, biarpun usianya sudah tiga puluh tujuh lebih, ibarat gunung berapi belum kehilangan kawahnya, bagaikan merica belum kehilangan pedasnya, dan bagaikan bunga mawar harum belum kehilangan durinya! Tanpa disadarinya, mulut Cia Keng Hong tersenyum-senyum dan dia tidak tahu betapa isterinya mengerling kepadanya dan mengerutkan alis penuh curiga ketika melihat senyumnya. Tiba-tiba Biauw Eng berhenti melangkah.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: