Petualang Asmara (Jilid ke-12)

“Mengapa kau mesam-mesem? Mentertawakan aku, ya?”

“Wah, tidak! Aku hanya…”

“Hanya apa…?”

“Kasihan kepada Ma-taijin!”

“Huh! Lihat saja nanti, si keparat itu!”

Waktu itu hari telah sore dan kantor pembesar kepala daerah sudah lama ditutup. Pembesar Ma sedang beristirahat di dalam kamar seorang di antara selirnya, tidur nyenyak kelelahan. Semalam pembesar ini kurang tidur, menjamu beberapa orang tamu rahasia yang kini masih berada di dalam gedungnya dan juga beristirahat di dalam kamar-kamar tamu yang disediakan untuk mereka.

Ketika Keng Hong dan isterinya tiba di halaman gedung pembesar Ma, tentu saja mereka dihadang oleh para penjaga. Akan tetapi kepala penjaga bersikap hormat ketika melihat sikap suami isteri itu yang tenang dan gagah. Dia menjura dan bertanya, “Ada keperluan apakah Ji-wi (Anda Berdua) datang ke sini? Tanpa ijin, siapa pun dilarang memasuki halaman ini.”

Pada waktu itu, Biauw Eng masih marah dan penasaran sekali mengingat akan nasib Yap Cong San dan isterinya, akan tetapi dia masih ingat akan kedudukannya sebagai isteri Ketua Cin-ling-pai maka dia menahan diri dan tidak terlalu ringan tangan seperti wataknya ketika masih gadis dahulu. Akan tetapi suaranya ketus dan dingin ketika dia berkata, “Laporkan kepada Ma-taijin bahwa kami ingin bertemu dan bicara dengannya!”

Kepala penjaga mengerutkan alisnya. Hatinya tidak senang mendengar suara ketus dan melihat sikap yang amat tidak menghormat terhadap Ma-taijin itu, maka dia menjawab, “Tidak mungkin begitu mudah. Siapa pun yang hendak menghadap, harus lebih dulu mengajukan permohonan disertai keterangan nama, tempat tinggal dan keperluannya. Pula, permintaan itu baru bisa diajukan besok pagi karena sekarang kantor sudah tutup dan Taijin sedang beristirahat, tidak boleh diganggu.”

“Apa kaubilang?” Biauw Eng menudingkan telunjuknya ke arah muka kepala penjaga itu. “Apa kaukira tanpa laporanmu kami tidak bisa menemui orang she Ma itu?”

Para penjaga terkejut dan delapan orang penjaga sudah datang mendekat dan siap untuk menghadapi suami isteri itu. Akan tetapi Keng Hong cepat menjura dan berkata halus, “Harap kalian suka melaporkan kepada Ma-taijin bahwa Cia Keng Hong dan isterinya mohon bertemu dan bicara dengan Ma-taijin.”

Akan tetapi para penjaga itu tidak mengenal nama ini. Biarpun nama ini amat terkenal, akan tetapi tentu saja yang mengenalnya hanyalah tokoh-tokoh kang-ouw saja dan tidak sembarangan orang seperti para penjaga itu mengenalnya. Karena itu, disebutnya nama ini sama sekali tidak ada artinya bagi mereka.

“Siapapun adanya Ji-wi, tanpa surat ijin khusus, tak berani kami mengganggu Taijin, dan sebaliknya Ji-wi segera pergi dan jangan membikin ribut di sini. Kami masih bersikap sabar, kalau sampai para pengawal tahu, tentu Ji-wi akan mendapat susah. Kalau Ji-wi ada urusan penting dengan Taijin, harap besok pagi saja mengajukan surat permobonan menghadap.”

“Keparat! Kalau begini kami tidak perlu dengan kalian!” Blauw Eng sudah tidak sabar lagi, langsung dia melangkah ke depan, sama sekali tidak mempedulikan para penjaga yang menghadang di depannya.

DELAPAN orang itu tentu saja agak segan untuk menyerang seorang wanita, maka mereka hanya berdiri menghadang dan menghalangi di depan Biauw Eng sambil melintangkan tombak dan golok di tangan.

“Pergi!” Biauw Eng membentak dan terdengar suara senjata-senjata itu terlempar disusul tubuh delapan orang penjaga itu terpelanting ke kanan kiri. Mereka berteriak kaget dan marah. Ketika mereka cepat melompat bangun lagi dan siap menerjang, mereka terbelalak melihat Keng Hong sudah berdiri tegak di depan mereka. Pendekar ini menyambar sebatang golok yang tadi terlempar, kemudian sambil memandang mereka dengan senyum di bibir, kedua tangannya mematah-matahkan golok itu sedemikian mudahnya seperti orang mematahkan sebatang lidi saja! Melihat demonstrasi kehebatan kedua tangan ini delapan orang itu terbelalak dengan muka pucat, kedua kaki mereka mundur-mundur dan tak seorang pun di antara mereka berani menerjang ke depan.

“Anjing-aniing pengacau dari mana berani membikin ribut di sini?” Bentakan ini disusul munculnya tiga orang pengawal yang bertubuh tinggi besar dan bersikap garang. Melihat munculnya tiga orang pengawal yang terkenal jagoan ini, delapan orang penjaga itu berbesar hati. Kepala penjaga segera berkata, “Mereka memukul kami, mereka hendak membunuh Taijin,”

Mendengar ini, Keng Hong dan Biauw Eng marah sekali, sedangkan tiga orang pengawal itu terkejut bukan main. Tampak sinar berkilat ketika mereka mencabut pedang dan meloncat ke depan menghadapi Keng Hong dan Biauw Eng. Karena khawatir kalau-kalau isterinya tidak mampu mengendalikan diri dan membunuh alat pemerintah, Keng Hong sudah mendahului isterinya, melangkah ke depan, mendorongkan tangan kirinya ke arah tiga orang pengawal yang menerjang maju itu sambil membentak, “Mundur kalian!”

Tentu saja tiga orang pengawal itu tidak mempedulikan bentakan ini dan sama sekali tidak peduli akan dorongan tangan Keng Hong, akan tetapi segera mereka itu berteriak kaget ketika merasa betapa tubuh mereka terdorong oleh angin yang amat dahsyat, yang membuat mereka tidak mampu mempertahankan diri dan terjengkang ke belakang! Ketika mereka merangkak bangun dan memandang, ternyata kedua orang suami isteri itu telah lenyap.

“Heii, ke mana mereka…?” tanya mereka.

“Celaka… mereka memasuki gedung…” jawab para penjaga yang tadi hanya memandang dengan mata terbelalak.

“Hayo kejar…!” Berbondong mereka mengejar ke dalam gedung dan seorang di antara para perigawal sudah membunyikan kentungan tanda bahaya, memanggil berkumpul semua pengawal dan penjaga.

Keng Hong dan Biauw Eng memang telah berlari memasuki gedung, tidak rnau membuang waktu melayani para penjaga dan pengawal. Biauw Eng menangkap seorang pelayan wanita yang berlari ketakutan, menjambak rambutnya, dan menghardik, “Lekas katakan di mana kamar Taijin!” Jari-jari tangan Biauw Eng sengaja mencengkeram pundak pelayan itu yang merasa nyeri bukan main, sampai mukanya yang pucat mengeluarkan peluh dingin. Akan tetapi saking takutnya dia tidak dapat mengeluarkan suara, hanya menudingkan telunjuknya ke arah kamar besar di dekat ruangan tengah. Biauw Eng melepaskan tubuh pelayan itu yang mendeprok berlutut dan tidak mampu bergerak lagi saking takutnya, hanya menangis di atas lantai tak berani mengangkat muka.

Ketika Biauw Eng dan Keng Hong tiba di depan pintu kamar itu, Keng Hong berbisik, “Isteriku, jangan membunuh orang…”

Biauw Eng mengangguk lalu menggunakan kakinya menendang daun pintu. “Brakkk!” daun pintu jebol dan tampaklah seorang laki-laki tua, berusia hampir enam puluh tahun berdiri dengan mata terbelalak marah. Seorang wanita muda dan cantik dengan pakaian tidak lengkap menjerit kecil dan cepat bersembunyi di atas pembaringan, di bawah selimut. Kakek itu sudah berpakaian lengkap, agaknya tadi terkejut mendengar kentungan tanda bahaya. Dia adalah Ma-taijin yang tentu saja menjadi marah sekali, terganggu dari istirahatnya yang asyik bersama selirnya.

“Apa ini? Siapa kalian berani kurang ajar? Pengawal! Tangkap mereka…!” Mataijin berseru marah.

Biauw Eng sudah melangkah masuk kamar. “Apakah engkau Ma-taijin?” tanyanya.

Pembesar itu mengangkat muka membusungkan dada. “Sudah tahu aku Ma-taijin, hayo lekas berlutut minta ampun!”

“Manusia rendah!” Biauw Eng telah menyambar sehelai sabuk merah, agaknya sabuk milik wanita muda selir pembesar itu yang tadi ditanggalkan dan mungkin dalam keadaan tergesa dilempar begitu saja di atas lantai! Sekali tangan nyonya perkasa ini bergerak, tampak sinar merah berkelebat kemudian bergulung-gulung dan ujung sabuk telah menjerat leher Ma-taijin. Begitu sabuk ditarik dengan sentakan mendadak, pembesar itu berteriak dan roboh menelungkup di atas lantai. Karena sabuk yang menjerat lehernya itu ditarik terus oleh Biauw Eng, terpaksa pembesar itu merangkak dan terseret sampai ke depan kaki Biauw Eng.

“Hayo katakan, apa yang telah kaulakukan lima tahun yang lalu terhadap Yap-sin-she dan isterinya!” Biauw Eng membentak. Dia sengaja menarik ujung sabuk merah sehingga libatan yang mencekik leher makin ketat, membuat pembesar itu hampir mendelik dan napasnya terengah-engah.

“Yap-sinshe… dia… dia dan isterinya… pemberontak…!” katanya dengan kedua tangan sia-sia mencoba melepaskan libatan yang mencekik leher.

Biauw Eng menarik ujung sabuk. “Uukhhh!” Pembesar itu terengah, lidahnya terjulur ke luar.

“Tidak mungkin! Kalau engkau tidak berlaku sewenang-wenang mengandalkan kedudukanmu, mereka tentu tidak akan memberontak! Mereka tidak berhasil menyembuhkan para pengawalmu, mengapa hal itu kausalahkan? Mereka bukanlah dewa atau iblis yang berkuasa atas kesembuhan atau kematian seseorang!”

“Am… ampun, Li-hiap…” Pembesar itu terpaksa mengeluh karena libatan pada lehernya makin mencekik erat.

“Orang macam engkau ini sepatutnya dikirim ke neraka! Akan tetapi mengingat bahwa engkau hanya seorang pejabat rendahan saja, biarlah kuberi peringatan!” Setelah berkata demikian, Biauw Eng mengebutkan ujung sabuk merah itu ke arah telinga Ma-taijin.

“Prettt… aduuuuhhh…!” Ma-taijin bergulingan mendekap pinggir kepalanya sebelah kanan yang bercucuran darah karena daun telinganya telah hancur dan lenyap terpukul ujung sabuk merah tadi. Bukan main nyeri rasanya sampai menusuk jantung, pandang matanya berkunang dan ubun-ubun kepala rasanya berdenyut seperti hendak pecah. Dia merintih-rintih sedangkan selirnya sudah roboh pingsan di bawah selimut.

“Sebagai peringatan, kuambil telingamu. Kalau aku mendengar lagi kau masih berlaku sewenang-wenang mengandalkan kedudukanmu, aku akan datang dan mengambil kepalamu!”

“Tar-tar-tarrr…!!”

Biauw Eng maklum bahwa ada orang menyerangnya dari belakang dengan senjata lemas. Dia sendiri seorang ahli cambuk, maka tahulah dia bahwa penyerangnya menggunakan cambuk dan memiliki tenaga kuat, maka cepat dia menggerakkan tangannya dan gulungan sinar merah dari sabuk sutera melayang ke atas kepalanya, meluncur ke belakang dan menyambut datangnya sinar putih yang menyambar ke arah kepalanya dengan bunyi meledak-ledak tadi.

“Tarrr… bretttt!!” Biauw Eng meloncat ke samping dan memandang dengan kaget. Sabuk merah di tangannya telah hancur ujungnya bertemu dengan ujung cambuk penyerangnya dan kini dia melihat betapa ujung cambuk putih itu seperti seekor ular hidup melayang ke arah pinggang Ma-taijin dan di lain saat tubuh Ma-taijin telah melayang ke arah penyerangnya tadi dan diterima dengan tangan kiri yang amat besar dan kuat, disusul suaranya yang nyaring akan tetapi terdengar asing dan kaku, “Ma-taijin harap mundur dan mengobati lukanya, biarlah saya menghadapi dua orang penjahat ini.”

Keng Hong dan Biauw Eng memandang orang itu dengan mata terbelalak penuh kaget dan keheranan. Kiranya telah datang tiga orang di dalam kamar itu. Dua orang di kanan kiri adalah kakek-kakek berusia enam puluh tahun dan pakaian mereka sederhana, memandang tak acuh. Akan tetapi orang yang berdiri di tengah dan yang memegang cambuk putih itu yang amat mengherankan kedua suami isteri itu. Biarpun mereka adalah tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, bahkan Cia Keng Hong terkenal sebagai datuk muda yang belum dapat dicari tandingannya, namun dia sendiri belum pernah bertemu dengan seorang manusia yang seaneh pemegang cambuk itu sehingga dia sendiri pun sampai bengong terlongong!

Orangnya tinggi besar ukuran raksasa. Keng Hong yang berawak sedang itu hanya setinggi pundaknya. Tubuh orang itu besar dan perutnya berbentuk seperti gentong. Punggung tangannya penuh bulu kuning yang panjang-panjang seperti tangan monyet. Kepalanya botak kelimis di bagian atasnya, akan tetapi di bagian bawah sekeliling kepala tumbuh rambut yang warnanya amat luar biasa, seperti uban putih akan tetapi bercampur kuning emas berombak indah sekali, seolah-olah bukan rambut melainkan benang-benang perak dan emas ditempelkan di sekeliling kepala. Demikian pula kumis dan jenggotnya, biarpun ada yang agak gelap warnanya, tetap saja bercampur dengan warna kuning emas dan putih, juga alis matanya. Alisnya tebal, matanya lebar sekali dan mata itu bukan seperti mata biasa, karena maniknya bukan hitam melainkan biru! Biru laut! Selama hidupnya, baru satu kali itulah Keng Hong dan Biauw Eng melihat orang dengan mata yang berwarna biru laut! Hidungnya amat panjang, bukan mancung lagi namanya, bibir yang sebagian tertutup kumis itu terbentuk manis seperti bibir wanita, benar-benar seorang laki-laki yang amat aneh dan sukar ditaksir usianya. Akan tetapi pakaiannya lebih aneh lagi! Sepatu kulitnya mengkilap dan tinggi sampai ke bawah lutut. Celananya sempit dan membungkus ketat tubuh bawahnya sehingga memandangnya saja membuat wajah Biauw Eng menjadi merah. Betapa tidak sopannya, pikir pendekar wanita itu. Pakaian bagian atasnya yang aneh. Di sebelah dalam merupakan baju pendek yang berkancing emas. Di bagian luar tertutup oleh jubah lebar dan panjang sampai ke lutut, berlengan panjang pula, dengan saku-saku yang besar, akan tetapi lucunya, bagian depan jubah ini terbuka sama sekali dan lehernya diikat dengan sehelai kain seperti kapas.

Keng Hong dan Biauw Eng saling pandang. Mereka pernah mendengar dongeng bahwa di beberapa tempat sebelah selatan orang-orang geger mengabarkan adanya seorang manusia asing yang aneh, yang kabarnya datang dari tempat yang amat jauh dari seberang lautan, manusia “biadab” yang pakaiannya aneh-aneh, rambutnya ada yang putih, ada yang kuning dan ada pula yang coklat atau biru, matanya juga bermacam-macam warnanya, akan tetapi tadinya mereka menganggap kabar itu kosong dan seperti dongeng tentang iblis dan setan saja untuk menakuti anak-anak atau orang yang penakut. Akan tetapi kini mereka berhadapan dongan seorang yang bahkan keanehannya jauh melampaui dongeng yang pernah mereka dengar

Laki-laki asing itu memandang Keng Hong dan Biauw Eng dengan sinar mata penuh selidik kemudian terdengar dia bertanya, “Siapakah Anda berdua yang berani mati mengganggu seorang pembesar pemerintah?”

Keng Hong mewakili isterinya, melangkah maju dan menjawab, “Kami tidak mengganggu seorang pembesar, karena urusan kami tidak ada hubungannya dengan pemerintah, melainkan urusan pribadi. Orang she Ma itu telah berlaku sewenang-wenang terhadap saudara kami, karena itu kami perlu memberi hajaran agar dia lain kali tidak lagi berani mengandalkan kedudukannya dan bertindak sewenang-wenang. Kami tidak ada urusan dengan kalian.”

Sepasang mata biru itu berkilat dan wajah yang kemerahan itu berseri. “Hemm, sepasang pendekar, ya? Bagus sekali, ingin kami berkenalan dengan kalian!”

Karena ucapan itu dikeluarkan dengan lidah asing, maka Biauw Eng sudah salah menduga. Dalam istilah kang-ouw, kalau dua orang berkepandaian tinggi berhadapan, maka kata-kata “berkenalan” dapat juga diartikan tantangan mengadu kepandaian, karena yang akan dikenal bukan orangnya melainkan ilmunya. Maka dia sudah membentak, “Iblis bermata biru! Siapa takut menghadapi tantanganmu?”

Akan tetapi Keng Hong yang sudah melihat pembesar she Ma yang menjadi biangkeladi malapetaka yang menimpa keluarga Yap Cong San telah dihukum olch isterinya, tidak menghendaki urusan berlarut-larut dan timbul permusuhan antara mereka berdua dengan pemerintah, telah menggandeng tangan isterinya dan berkata “Mari kita pergi dari sini!”

Biauw Eng sadar kembali ketika merasa tangan suaminya menggandengnya. Dia menekan kemarahannya dan tidak membantah. Sambil bergandeng tangan suami isteri ini melangkah ke luar dari dalam kamar itu, tidak mempedulikan tiga orang itu dan para pengawal yang berkerumun di luar kamar.

“Eh-eh, sahabat gagah… tunggu dulu!” Suara asing itu berseru dan tangannya diulurkan ke depan seperti hendak mencegah suami isteri itu pergi.

Biarpun gerakan ini biasa saja, namun diam-diam Biauw Eng dan Keng Hong terkejut juga karena ada sambaran angin yang dahsyat dari tangan itu! Namun angin pukulan ini bukan merupakan serangan, melainkan lebih merupakan “ujian” karena tangan itu tidak menampar atau memukul, melainkan mencengkeram untuk memegang lengan Keng Hong. Karena itu, pendekar sakti ini pun tidak mau balas menyerang hanya menggoyang tangannya seperti menolak dan berkata,

“Kami tidak ada waktu untuk melayani Tuan!”

“Plak! Plakk!”

Biarpun kedua tangan itu tidak saling sentuh, namun pertemuan dua hawa pukulan di antara kedua telapak tangan itu mengeluarkan bunyi nyaring dan orang asing botak itu terkejut bukan main ketika merasa betapa tangannya terpental dan terasa panas. Ia berdiri bengong memandang suami isteri yang terus melangkah ke luar itu, terheran-heran dan akhirnya membentak teman-temannya yang sudah bergerak mengejar, “Biarkan mereka pergi, jangan ganggu!”

Dua orang temannya menghentikan gerakan kaki mereka, kembali kepada orang asing botak dengan mata memandang penuh pertanyaan. Si Botak ini menghela napas panjang, menggelenggeleng kepalanya dan mengomel, “Hebat…! Semuda itu sudah demikian hebat tenaganya…! Aihhh, ternyata benar cerita guruku bahwa bagian dunia ini penuh dengan orang-orang yang berkepandaian tinggi.” Kemudian dia menoleh kepada dua orang temannya tadi dan berkata, “Amat keliru kalau kita mulai pekerjaan kita dengan menanam permusuhan dengan orang-orang pandai seperti mereka. Tugas kita bahkan harus mendekati orang-orang pandai, bukan memusuhi mereka.”

“Akan tetapi, mereka telah melukai Taijin?” bantah seorang temannya.

“Hanya luka ringan. Ma-taijin tentu dapat menyudahi perkara ini, demi tugas yang lebih penting. Pula, kehilangan sebuah daun telinga untuk menebus kesalahan lalu, masih murah!” Dua orang temannya mengangguk dan mereka bertiga segera menuju ke kamar Ma-taijin untuk bantu mengobati luka yang diderita pembesar itu.

Keng Hong dan isterinya terus meninggalkan Leng-kok pada malam hari itu juga, menuju pulang ke Cin-ling-san. Di sepanjang perjalanan suami isteri ini dengan penuh keheranan membicarakan tentang orang asing yang lihai itu.

“Sungguh membuat orang penasaran sekali!” kata Keng Hong. “Jelas dia adalah seorang asing biadab seperti yang kita dengar dari berita angin tentang munculnya orang-orang seperti itu di sepanjang pantai selatan dan timur. Akan tetapi mengapa dia menguasai ilmu kita? Sambaran tangannya tadi selain mengandung sin-kang yang cukup kuat, juga merupakan gerakan Eng-jiauw-kang (Cengkeraman Garuda) yang cepat dan baik sekali!”

“Hanya tokoh-tokoh golongan sesat saja yang sudi mengajarkan ilmu bangsa kita kepada orang asing!” kata Biauw Eng.

“Belum tentu!” kata pula suaminya. “Kaulihat tadi selain gerakannya lihai, ilmu cambuknya juga hebat, sikapnya amat baik, tidak kejam dan tidak pula kasar. Kalau dia termasuk anggauta kaum sesat, tentu dia tidak akan demikian mudah saja membiarkan kita pergi. Agaknya sudah banyak terjadi perubahan di dunia kang-ouw. Sudah terlalu lama kita mengubur diri di dalam kesunyian di puncak Cin-ling-san. Sebaiknya kita menggunakan kesempatan ini, dalam perjalanan pulang singgah di tempat tokoh-tokoh kang-ouw yang kita kenal, selain mendenngar tentang keadaan kang-ouw, juga mencari keterangan tentang di mana adanya Yap Cong San, isterinya, dan puteranya.”

“Memang sebaiknya begitu. Sekarang ini kesempatan terakhir bagiku karena beberapa bulan lagi, dengan seorang bayi mana aku mampu berpergian lagi sebelum dia berusia dua tiga tahun?”

Demikianlah, kedua suami isteri itu melakukan perjalanan ke Cin-ling-pai dengan beberapa kali berhenti dan singgah di rumah tokoh-tokoh kang-ouw yang mereka kenal. Akan tetapi mereka kecewa sekali karena tidak ada seorang pun di antara para kenalan itu yang tahu di mana adanya Yap Cong San dan isterinya! Betapapun juga, mereka berdua sudah mendengar jelas akan perubahan di dunia kang-ouw pada waktu itu. Mereka mendengar bahwa kini muncul lima orang datuk kejam sesat yang sepak terjangnya mengerikan, tidak saja menjagoi dunia kaum sesat, bahkan seringkali mengacau dunia kang-ouw dan merobohkan banyak orang gagah.

Mereka itu adalah Ban-tok Coa-ong Ouw-yang Kok, Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci, Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio, Hek-bin Thian-sin (Malaikat Muka Hitam) Louw Ek Bu, dan seorang lagi yang hanya dikenal namanya akan tetapi belum pernah ada yang bertemu dengannya yang terkenal julukannya saja, yaitu Toat-beng Hoat-su (Kakek Ajaib Pencabut Nyawa)!

Mendengar penuturan para tokoh kang-ouw yang menceritakan kepada mereka akan kelihaian lima orang datuk kaum sesat ini, timbul keinginan di hati Keng Hong dan terutama Biauw Eng untuk bertemu dengan mereka dan mencoba kesaktian mereka. Keinginan seperti ini memang wajar dimiliki oleh ahli-ahli seperti mereka, bukan keinginan menundukkan dan menjagoi, melainkan keinginan untuk mengukur kepandaian masing-masing. Namun Keng Hong mencegah isterinya dengan menyabarkan diri dan berkata bahwa tidak semestinya mereka yang telah memimpin sebuah partai seperti Cin-ling-pai merendahkan diri berkenalan dengan tokoh-tokoh yang dianggap jahat seperti iblis itu.

“Pula, dalam keadaan dirimu sedang mengandung, amat berbahaya untuk bertanding menghadapi lawan yang sakti, selain itu tidak baik kalau kita terlalu lama meninggalkan Giok Keng seorang diri saja di Cin-ling-san. Sebaiknya kita lekas pulang dan mengingat akan munculnya banyak orang pandai di kalangan kaum sesat, kita harus lebih tekun menggembleng Giok Keng dan meningkatkan kepandaian para anggauta Cin-ling-pai.”

Mendengar ucapan suaminya yang tak dapat dibantah kebenarannya, Biauw Eng tidak membantah, maka pulanglah suami isteri pendekar ini ke Cin-ling-san dengan hati kecewa karena mereka tidak berhasil bertemu dengan Yap Cong San dan Gui Yan Cu seperti yang mereka harap-harapkan.

Tentu saja mereka berdua sama sekali tidak pernah mimpi bahwa putera tunggal sahabat-sahabat mereka itu, Yap Kun Liong, baru beberapa pekan saja datang mengunjungi Cin-ling-san, bahkan telah bentrok dan bertanding dengan puteri mereka. Ketika mereka tiba di Cin-ling-san, Giok Keng yang merasa takut kalau-kalau ayahnya mendengar akan penyambutannya terhadap Yap Kun Liong, tentu saja menutup mulutnya dan sama sekali tidak menceritakan tentang kedatangan pemuda gundul itu kepada ayah bundanya.

Ketika Cia Keng Hong mendengar penuturan ayah bundanya akan nasib yang menimpa diri keluarga Yap, diam-diam Giok Keng merasa kasihan sekali kepada Kun Liong. Kemudian dia mendengar tentang lima orang datuk kaum sesat yang selain amat lihai juga kabarnya jahat seperti iblis, maka dia merasa ngeri dan dengan tekun dia memperdalam ilmu-ilmunya di bawah bimbingan ayahnya sendiri. Selama hampir tiga tahun dara yang telah berangkat dewasa ini berlatih dengan rajin sehingga dia hampir dapat mewarisi seluruh ilmu kepandaian ibunya dan hanya beberapa macam ilmu yang terlalu tinggi dan sulit saja yang belum dapat dia warisi dari ayahnya. Namun harus diakui bahwa untuk mencari tanding bagi Giok Keng di waktu itu, benar-benar bukan merupakan pekerjaan yang mudah!

Cia Giok Keng telah menjadi seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang amat cantik jelita dan gagah perkasa. Adiknya lahir tak lama setelah ibunya pulang ke Cin-ling-san sehingga pada waktu itu Cia Bun Houw telah menjadi seorang anak laki-laki berusia hampir tiga tahun, bertubuh sehat berwajah tampan dan berwatak gembira seperti encinya (kakaknya) ketika masih kecil. Dengan labirnya adik laki-laki ini, berkuranglah sifat kemanjaan Giok Keng, apalagi karena dia kini sudah dewasa, dan yang tinggal kepada dara ini hanya kekerasan hatinya yang diwarisi dari ibunya. Ayahnya seringkali memandang kagum karena melihat puterinya ini seolah-olah melihat isterinya ketika masih gadis! Begitu presis wataknya! Maka diam-diam Keng Hong suka merasa khawatir sendiri. Biarpun watak isterinya tidak jahat, namun andaikata isterinya itu tidak saling mencinta dengan dia dan kemudian menjadi isterinya yang cinta dan setia, andaikata isterinya itu tetap berkecimpung di dalam dunia kaum sesat, agaknya isterinya akan memiliki kekerasan yang mengerikan, dapat terjerumus ke dalam watak yang kejam! Yang lebih menggelisahkan hati Cia Keng Hong, dan menambah kerut di wajahnya adalah sikap Giok Keng yang sama sekali tidak mengacuhkan tentang perjodohan! Padahal usianya sudah tujuh belas tahun! Sedikit pun dara itu tidak mau mendengar kalau orang tuanya bicara tentang perjodohan, dan berkelebat pergi dengan marah kalau mendengar usul dan bujukan orang tuanya agar dia segera menentukan pilihan untuk menjadi jodohnya.

“Aku tidak ingin kawin. Harap Ayah dan Ibu jangan bicara tentang itu-itu saja. Muak aku mendengar tentang kawin!” Pernah dia berkata demikian kepada ayah bundanya yang hanya dapat saling pandang dengan melongo.

“Nah, lihat. Betapa dia manja dan membawa kehendak sendiri!” Keng Hong mengomel.

“Sabarlah, suamiku. Kalau memang dia belum ingin, apakah kita harus memaksanya?”

Cia Keng Hong hanya dapat menarik napas panjang dan diam-diam dia makin merasa rindu kepada Cong San dan Yan Cu, ingin sekali dia dapat bertemu dengan mereka yang hilang tak tentu rimbanya itu untuk membicarakan tentang jodoh anak mereka.

Pada suatu hari lewat tengah hari keadaan di Cin-ling-san sunyi dan nyaman. Matahari yang bersinar terang tidak terhalang awan tebal seperti biasanya mendatangkan hawa yang hangat mengusir dingin yang biasanya membuat orang kedinginan. Kenyamanan hawa di siang hari itu dimanfaatkan oleh Pendekar Sakti Cia Keng Hong dan isterinya. Pada waktu itu, Cia Keng Hong telah berusia empat puluh tahun sedangkan isterinya sudah tiga puluh tujuh tahun. Mereka berdua yang telah mendengar akan banyaknya tokoh kaum sesat yang lihai, biarpun makin tua mereka tidak pernah lalai untuk berlatih ilmu silat dan menjaga daya tahan tubuh dan kekuatan sin-kang dengan bersamadhi setiap hari.

Pada siang hari itu pun mereka memanfaatkan hawa yang hangat nyaman dengan duduk bersamadhi berdua di dalam kamar mereka. Putera mereka, Bun Houw, sedang tidur di dalam kamarnya sendiri yang berdekatan dengan kamar mereka, sedangkan Giok Keng, seperti biasa di saat seperti itu, sedang berlatih seorang diri di lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) yang berada di samping rumah.

Pada waktu itu, para penduduk dusun di lereng Puncak Cin-ling-san yang juga dikenal sebagai anggauta-anggauta Cinling-pai, telah mendapat latihan keras sehingga tingkat kepandaian mereka memperoleh kemajuan pesat selama tiga tahun ini. Pada siang hari itu, sebagian dari mereka bekerja di sawah ladang, dan sebagian pula ada yang berlatih di bawah pohon-pohon rindang. Seperti yang diajarkan oleh pimpinan mereka, para anggauta ini berlatih berpasangan, baik laki-lakinya, wanitanya, maupun anak-anaknya. Gerakan mereka cepat-cepat dan terutama kaum dewasanya, mereka memiliki sin-kang yang kuat yang merupakan ilmu khas dari para anggauta Cin-ling-pai. Untuk para anggauta ini, Cia Keng Hong menurunkan ilmu silatnya yang ampuh dan lihai sekali, yaitu San-in-kun-hoat (Ilmu Silat Awan Gunung) dan menggembleng mereka dengan cara-cara bersamadhi untuk menghimpun sin-kang yang kuat. Isterinya, Sie Biauw Eng, menurunkan ilmu meringankan tubuh yang disebut Hui-niau-coan-in (Burung Terbang Menerjang Awan) sehingga rata-rata para anggauta Cin-ling-pai memiliki kecepatan gerak yang mengagumkan. Gabungan ilmu dari suami isteri pendekar ini yang masing-masing merupakan ilmu-ilmu pilihan yang tinggi nilainya, dikombinasikan dan menjadi landasan ilmu silat para anggauta Cin-ling-pai. Tentu saja di samping ilmu ini, Keng Hong masih mengajarkan ilmu silat yang lebih tinggi, akan tetapi hanya kepada beberapa orang yang dianggapnya telah cukup matang ilmunya dan mereka ini berjumlah sebelas orang merupakan anggauta-anggauta pimpinan atau murid-murid tertua. Betapapun juga, tidak ada seorang di antara mereka yang diwarisi dua macam ilmu yang jarang tandingannya di dunia persilatan, yaitu Thai-kek-sin-kun dan Thi-khi-i-beng. Yang pertama adalah karena ilmu itu merupakan ilmu rahasia dari Kun-lun-pai dan karena dia bukan murid Kun-lun-pai, tentu saja dia tidak berani mengajarkan ilmu rahasia itu kepada orang lain. Yang ke dua, Thi-khi-i-beng, adalah ilmu mujijat yang pernah diperebutkan para jagoan di dunia kang-ouw (baca ceritaPedang Kayu Harum ) dan di dunia ini hanya dia seorang yang memilikinya. Ilmu ini amat ganas, merupakan sin-kang yang dapat menyedot habis tenaga sakti lawan, membuat lawan kehabisan tenaga, lumpuh bahkan bisa tewas. Kalau belum memiliki dasar yang amat kuat, berbahayalah memiliki ilmu ini. Karena itu, Keng Hong tidak berani menurunkan kepada orang lain bahkan belum berani mengajarkan kepada puterinya sendiri karena dia menganggap puterinya belum kuat menerima ilmu mujijat itu.

Pada siang hari itu, serombongan pemuda Cin-ling-san sedang berlatih silat berpasangan, dipimpin oleh dua orang kakak beradik yang menjadi murid-murid kepala dari Cin-ling-pai. Mereka berdua ini adalah Kwee Kin Ta, berusia tiga puluh lima tahun, dan Kwee Kin Ci, adiknya berusia tiga puluh tahun. Keduanya adalah dua orang pemuda ketika Cin-ling-pai mula-mula berdiri, dan telah belajar ilmu silat cukup lama di bawah pimpinan Cia Keng Hong, maka boleh dibilang mereka adalah dua orang yang paling tinggi tingkat kepandaiannya di antara para anggauta Cin-ling-pai. Kedua orang ini tidak pernah menikah dan hidup membujang di cin-ling-san, merupakan wakil-wakil dari Ketua Cin-ling-pai, bersama sembilan orang adik-adik seperguruannya, murid-murid kepala yang kesemuanya berjumlah sebelas orang itu. Dengan penuh ketekunan kedua orang ini mewakili ketua mereka mengawasi para pemuda sebanyak lima belas orang yang sedang berlatih di siang hari itu.

Tiba-tiba kedua orang saudara Kwee ini terkejut ketika mendengar suara orang tertawa, juga para pemuda yang sedang berlatih berhenti bersilat dan menoleh ke arah dua orang kakek berjenggot panjang yang tertawa-tawa dan tahu-tahu telah berada di dekat mereka. Yang mengejutkan kedua orang saudara Kwee itu adalah karena hadirnya dua orang kakek ini sama sekali tidak mereka ketahui dan hal ini saja sudah membuktikan bahwa dua orang tua itu bukan orang sembarangan!

“Ha-ha-ha, nama Cin-ling-pai dan ketuanya memang setinggi awan, akan tetapi mengapa para anggautanya hanya begini saja?” Seorang di antara mereka, kakek yang mukanya merah berkata sambil menyeringai lebar.

“Ahh, Ang-kui (Setan Merah), tentu saja karena mereka ini tentu hanya orang-orang rendahan dari Cin-ling-pai. Betapapun jugat kurasa orang Cin-ling-pai bukan dewa-dewa yang berkepala tiga berlengan enam dan pandai terbang, ha-ha!!”

Para anggauta Cin-ling-pai itu adalah pemuda-pemuda yang biarpun sudah banyak digembleng selain ilmu silat juga kesabaran, tetap saja naik darah mendengar ucapan~ucapan yang nadanya mengejek itu. Dua orang di antara mereka tak dapat menahan kemarahan lagi, meloncat ke depan dua orang kakek itu sambil berteriak hampir berbareng,

“Orang tua sombong, berani engkau menghina Cin-ling-pai?”

“Kalau kau menantang, terimalah seranganku!”

Dua orang muda itu segera menerjang dengan pukulan keras ke arah kedua orang kakek itu dan dua orang bersaudara she Kwee tidak sempat lagi mencegah mereka. Akan tetapi kakek-kakek asing yang diserang hanya tersenyum, sama sekali tidak gugup melainkan mengangkat kedua tangan mereka dengan gerakan lambat, satu tangan menangkis dan tangan ke dua menampar dari samping. Biarpun gerakan mereka kelihatan lambat, namun aneh sekali, dua orang pemuda itu tidak mampu menghindar lagi. Mereka mengaduh dan terpelanting tak dapat bangun kembali. Melihat dua orang teman mereka roboh dengan muka di bagian pipi terdapat tanda telapak tangan hitam dan mereka itu pingsan, para pemuda menjadi marah sekali dan serta-merta dua orang kakek itu mereka terjang dan keroyok! Sambil tertawa-tawa, kedua orang kakek itu bergerak dan terjadilah pertempuran yang seru, akan tetapi baru beberapa jurus saja, kembali empat orang pemuda terpelanting dengan tanda telapak tangan hitam di tubuh mereka dan mereka itu pingsan.

“Mundur kalian!” Kwee Kin Ta dan Kwee Kin Ci berteriek nyaring, kemudian mereka berdua meloncat ke depan, tanpa banyak cakap lagi sudah menyerang dengan pukulan-pukulan berat. Kwee Kin Ta menyerang kakek muka merah dengan kedua lengan dilonjorkan ke depan, yaitu jurus dari Ilmu Silat San-in-kun-hoat yang disebut Siang-in-twi-san (Sepasang Awan Mendorong Gunung), jurus yang ke tiga.

Dua orang kakek itu ketika tertawa-tawa tadi bukan semata-mata sengaja hendak mengejek melainkan karena mereka memang kecewa dan terheran melihat pemuda-pemuda itu berlatih dengan gerakan yang mereka anggap terlampau rendah. Akan tetapi, ketika kakek muka merah itu menghadapi serangan yang dilakukan oleh Kwee Kin Ta, dia terkejut bukan main. Dari kedua tangan yang didorongkan itu menyambar hawa pukulan yang dahsyat sekali! Memang, Ilmu Silat San-in-kun-hoat yang diajarkan oleh Cia Keng Hong kepada para anggauta Cin-ling-pai, dan yang telah dikuasai dengan baik oleh dua orang saudara Kwee, adalah ilmu tingkat tinggi yang hebat. Ilmu silat ini hanya terdiri dari delapan jurus, namun jurus-jurus itu dahsyat sekali dan dapat dikembangkan dengan hebat sesuai dengan bakat masing-masing. Kini, menghadapi jurus Siang-in-twi-san, kakek muka merah cepat-cepat membuang diri ke samping dan balas menyerang dari samping. Namun, jurus Siang-in-twi-san telah dilanjutkan sebagai jurus bertahan, tangan yang tadinya mendorong itu membalik ke bawah, lengannya dipergunakan untuk menangkis pukulan tangan kakek yang selalu meninggalkan tanda telapak tangan hitam itu.

“Plakkk!” Kakek Muka Merah kembali berseru kaget. Tangkisan itu membuat dia terhuyung mundur, biarpun lawannya juga terpental ke belakang dengan kaget. Mereka segera bertanding kembali dan kali ini mereka bergerak lebih hati-hati, maklum bahwa lawan amat tangguh.

Demikian pula dengan Kin Ci yang bertanding melawan kakek muka putih, pertandingan di antara mereka juga seru dan ramai sekali. Para anggauta Cin-ling-pai yang muda telah maklum bahwa dua orang kakek yang telah melukai enam orang teman mereka itu tidak boleh dipandang ringan, maka mereka tidak sembrono membantu suheng-suheng mereka, melainkan menolong enam orang teman yang masih pingsan, ada pula yang segera memanggil suheng-suheng dan suci-suci mereka yang lebih pandai dan ada pula yang lari melapor kepada nona Cia Giok Keng.

“Siocia… Siocia (Nona)… lekas! Ada dua orang kakek jahat mengacau, melukai enam orang anggauta kita…!”

Cia Giok Keng yang berlatih seorang diri, kaget mendengar laporan ini. Dia cepat meloncat dan lari ke luar setelah menyarungkan pedangnya yang tadi dipakai untuk berlatih. Ketika tiba di tempat pertandingan, Giok Keng melihat betapa dua orang saudara Kwee yang sudah dibantu oleh tiga orang sute-sutenya, masih juga belum dapat mendesak dua orang kakek itu, apalagi merobohkan. Merah wajah Giok Keng. Sungguh memalukan sekali. Murid-murid kepala Cin-ling-pai sampai harus mengeroyok dua orang kakek itu! Dan ada enam orang murid yang terluka. Dengan sudut matanya dia melihat betapa anggauta Cin-ling-pai yang terluka itu masih pingsan dan ada tanda telapak tangan hitam di tubuh mereka, di pipi, di leher, bahkan pukulan yang mengenai pundak atau dada membuat baju hangus terbakar dan kulitnya juga ternoda hitam berbentuk telapak tangan. Diam-diam dia terkejut dan marah. Tak salah lagi, tentulah itu pukulan beracun, kalau bukan Hek-tok-ciang (Tangan Beracun Hitam) tentu semacam itu.

“Paman Kwee berdua mundurlah!”

Teriakan Giok Keng ini membuat hati Kwe Kin Ta dan empat orang sutenya dan mereka segera meloncat ke belakang. Dua orang kakek itu membalik dan memandang Giok Keng penuh perhatian.

Mereka itu lalu menjura dan kakek yang bermuka putih bertanya, “Apakah Nona ini Cia-siocia (Nona Cia) yang terhormat? Kami berdua adalah Siang-lo-kui (Dua Setan Tua) dari…”

“Tidak peduli kalian ini sepasang setan, sepasang iblis atau siluman dari neraka, kalian sudah bosan hidup. Mampuslah!” Tiba-tiba Giok Keng menggerakkan kedua tangannya dan segulung sinar merah muda menyambar ke depan, ke arah kedua orang kakek itu.

Dua orang kakek yang mengaku berjuluk Sepasang Setan Tua itu terkejut sekali. Sinar merah muda itu adalah ujung sabuk sutera merah muda yang menyambar cepat bukan main, kedua ujung sabuk itu telah menyambar seperti ular-ular hidup mengarah jalan darah kematian di leher kedua orang kakek itu. Dari angin sambaran ujung sabuk itu mengertilah mereka bahwa kalau totokan ujung sabuk itu mengenai sasaran, mereka benar-benar terancam bahaya maut! Cepat keduanya meloncat dan mengelak, akan tetapi betapa kaget hati mereka ketika kedua siner merah muda itu seolah-olah hidup dan mengejar mereka, tetap menghujankan totokan-totokan maut bertubi-tubi! Dengan kaget sekali terpaksa mereka membuang diri ke belakang dan bergulingan di atas tanah membuat totokan-totokan itu sukar untuk mengenai sasaran. Melihat ini, dalam kegemasannya, Giok Keng merobah serangan, kini menggunakan kedua ujung sabuknya bukan untuk menotok jalan darah yang tidak mungkin berhasil lagi karena kedua orang kakek itu terus menggerakkan tubuh, melainkan untuk melecut! Sabuk sutera merah muda itu dipegang di bagian tengah dan gerakan kedua tangannya membuat kedua ujung sabuk itu melecut-lecut dan mengeluarkan suara ledakan-ledakan keras.

“Tar-tar-tat-tar…!!”

Kedua orang kakek itu berusaha mengelak, namun tetap saja tubuh mereka terkena hujan cambukan, membuat pakaian mereka robek-robek dan kulit tubuh mereka luka-luka. Walaupun hanya luka di bagian luar yang ringan, namun mengeluarkan darah dan rasanya cukup nyeri dan pedih!

“Tar-tar… wuuuuttt! Aihhh!” Giok Keng berteriak kaget dan marah ketika tiba-tiba ujung sabuk suteranya terhenti di udara. Ketika dia membalik, tahu-tahu kedua ujung sabuk itu telah dipegang oleh seorang pemuda yang berwajah tampan dan gagah sekali! Dia terkejut. Sabuk sutera di tangannya adalah senjata yang hebat, dengan ilmu yang ia pelajari dari ibunya. Ibunya terkenal sekali dengan Ilmu Pek-in-sin-pian (Cambuk Lemas Awan Putih) yang dimainkan dengan sabuk sutera putih. Dia tidak menyukai warna putih seperti ibunya, melainkan lebih suka menggunakan sabuk warna merah muda. Biarpun ilmu cambuknya belum semahir dan sehebat ibunya, namun menurut ibunya, sudah cukup untuk menghadapi senjata lawan yang bersifat keras. Kini tahu-tahu kedua ujung sabuknya dapat dipegang oleh seorang lawan, hal ini membuktikan bahwa lawan ini tentu amat lihai!

Pemuda itu sudah berkata kepada kedua orang kakek dengan nada suara memerintan, “Kalian mundurlah! Sungguh tak tahu diri berani melawan Cia-siocia!” Setelah kedua orang kakek itu mundur, pemuda itu menjura kepada Giok Keng dengan sikap menghormat sekali sambil berkata dengan wajah berseri, bibir tersenyum dan suara halus.

“Saya mohon dengan hormat sudilah Cia-siocia memaafkan kedua orang paman ini. Sesungguhnya kedatangan kami bukan dengan niat buruk. Saya Liong Bu Kong den bersama kedua Paman Siang-lo-kui datang hendak menghadap Ketua Cin-ling-pai, Yang Mulia Cia Keng Hong Locianpwe…”

“Cukup!” Giok Keng memotong ucapan pemuda itu dengan bentakan nyaring. “Tidak membawa niat buruk akan tetapi melukai enam orang anggauta Cin-ling-pai. Ditebus nyawa pun masih belum impas!” Setelah berkata demikian, dengan tangan kiri dara itu menggulung sabuknya dan menyimpannya, tangan kanannya bergerak mencabut pedang.

“Singggg!” Sinar putih menyilaukan mata berkelebat ketika pedang yang terbuat dari perak murni itu tercabut. Itulah pedang Gin-hwa-kiam (Pedang Bunga Perak), terbuat dari perak yang diukir bunga-bunga, pedang pemberian ibunya. Biarpun dia tidak suka akan warna puth seperti ibunya, namun pedang itu amat indah buatannya, pula merupakan sebuah pusaka yang ampuh, maka Giok Keng sayang sekali kepada pedangnya ini.

“Eiiitt, Nona, tunggu… saya bukan hendak bermusuh…”

“Wuuuuttt… singggg!!” Sinar putih itu menyambar laksana kilat dan andaikata tidak dielakkan cepat-cepat oleh pemuda yang mengaku bernama Liong Bu Kong itu, tentulah leher itu akan terbabat putus dan kepala dengan wajah ganteng itu akan berpisah dari tubuhnya!

Liong Bu Kong terpaksa harus berloncatan ke kanan dan kiri, ke atas dan dua kali terpaksa menggulingkan tubuhnya ke atas tanah, terus dikejar sinar putih menyilaukan mata itu.

“Nanti dulu, Nona… brettt!” Ujung lengan baju yang dipakai pemuda itu terbabat buntung. Nyaris tangannya yang buntung!

“Srattt!” Pemuda itu mencabut sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kebiruan dan terpaksa menggunakan pedangnya menangkis.

“Tringgg… cranggg… tranggg!” Bunga api berpijar-pijar ketika berkali-kali dua batang pedang itu bertemu di udara. Giok Keng merasa betapa telapak tangannya panas dan pedangnya tergetar, tanda bahwa selain lawan memiliki sin-kang yang kuat, juga pedangnya yang bersinar biru itu adalah sebatang pedang yang baik dan hebat pula.

“Nona… sabarlah, saya tidak ingin bertanding…”

“Singgg… trangggg!” Kembali pemuda itu menangkis dan tangan Giok Keng gemetar dan terasa panas telapak tangannya.

“Tak usah banyak cakap!” bentak Giok Keng yang kembali telah menerjang dengan ganas. Maklum bahwa lawannya lihai dan memiliki pedang pusaka pula, Giok Keng menyerang dengan pengerahan tenaga dan menggunakan jurus-jurus pilihan. Namun dia terkejut dan diam-diam kagum sekali karena pemuda itu selain memiliki tenaga sin-kang amat kuat, juga memiliki kecepatan gerak mengagumkan sehingga setiap serangannya dapat dihindarkan dengan tangkisan atau elakan. Para anggauta Cin-ling-pai dan dua orang kakek tadi menonton dengan mata terbelalak penuh kagum menyaksikan betapa dua gulung sinar pedang putih dan biru saling belit, saling desak dan saling dorong. Demikian terang sinar kedua pedang itu sehingga menyelimuti bayangan kedua orang yang memainkannya.

“Tahan senjata!” Bentakan ini menggetarkan jantung kedua orang muda yang sedang bertanding, membuat tangan mereka menggigil beberapa detik dan gerakan mereka tertahan. Detik-detik ini cukup bagi Keng Hong untuk menangkap kedua tangan yang memegang pedang dan mendorong Giok Keng dan pemuda itu sampai terhuyung ke belakang. Selagi pemuda itu terhuyung, Keng Hong sudah menggerakkan tangannya, jari-jari tangannya menangkap ujung pedang bersinar kebiruan tenaga sin-kang mujijat dia keluarkan, jari-jari tangan membuat gerakan menekuk.

“Krakkk!” Ujung pedang pusaka yang mengeluarkan sinar kebiruan itu patah!

Pemuda itu terbelalak dengan muka pucat sekali. Matanya memandang pedang di tangannya yang telah menjadi pedang buntung. Hampir dia tidak dapat percaya. Begitu mudahnya Ketua Cin-ling-pai itu mematahkan pedang pusakanya, seolah-olah pedang itu sama dengan sebatang lidi kering saja! Padahal pedangnya adalah sebatang pedang pusaka yang ampuh! Diam-diam dia bergidik ngeri membayangkan betapa kuatnya jari-jarl tangan orang setengah tua yang berdiri tenang di depannya itu, lebih ngeri lagi ketika mendengar suara Cia Keng Hong yang halus dan penuh kesabaran dan ketenangan, namun juga penuh wibawa, “Orang muda, siapapun adanya engkau, seorang tamu yang datang dengan pedang terhunus tentu bukan seorang yang beriktikad baik!”

“Engkau masih beruntung bukan aku yang turun tangan, kalau demikian halnya jangan harap engkau masih dapat bernapas!” Ucapan ini keluar dari mulut seorang wanita yang usianya sudah setengah tua akan tetapi masih tampak cantik jelita dan gagah perkasa. Mudah saja bagi Liong Bu Kong untuk menduga bahwa tentu nyonya itulah isteri Ketua Cin-ling-pai yang bemama Sie Biauw Eng, yang dahulu berjuluk Song-bun Siu-li!

Dengan jantung berdebar dan keringat dingin membasahi lehernya, pemuda itu cepat menyarungkan pedang buntungnya dan menjura penuh hormat kepada Cia Keng Hong dan Sie Biauw Eng sambil berkata, “Mohon Ji-wi-locianpwe (Kedua Orang Tua Sakti) sudi mengampunkan saya yang lancang berani mendatangi Cin-ling-san. Saya bernama Liong Bu Kong dan sengaja dari tempat jauh sekali datang ke sini bersama kedua orang Paman Ang-kui Tung Sek dan Pek-kui Gak Song.”

Cia Keng Hong melirik ke arah dua orang kakek itu yang juga sudah menjura dengan hormat. Melihat bahwa mereka adalah orang-orang yang usianya sudah enam puluh lebih, dia pun membalas penghormatan mereka dengan sikap dingin. Dua orang itu berjuluk Ang-kui (Setan Merah) dan Pek-kui (Setan Putih), tentu termasuk golongan hitam atau kaum sesat, maka dia cepat bertanya,

“Setelah tahu bahwa engkau lancang, mengapa masih berani? Ada keperluan apakah?”

Pemuda itu dengan sikap hormat dan kedua tangan di depan dada melirik ke arah Giok Keng. Dara itu juga sedang memandang kepadanya. Dua pasang mata bertemu pandang dan jantung Giok Keng berdebar, mukanya berubah merah. Pemuda itu benar-benar tampan dan gagah, juga sikapnya begitu halus dan penuh hormat! “Harap Locianpwe sudi memaafkan, sebetulnya kedatangan kami… yaitu kedua paman ini… dengan maksud… eh, Paman Gak, harap Totiang menjelaskan kepada Cia-locianpwe.” Agaknya sukar sekali bagi pemuda itu untuk melanjutkan kata-katanya, beberapa kali dia harus menelan ludah dan lehernya serasa tercekik.

Kini kedua orang kakek itu yang melangkah maju menghadap Keng Hong sambil menjura, kemudian Pek-kui Cak Song berkata, “Tidak perlu kiranya kami membohong kepada Pai-cu (Ketua). Sesungguhnya telah lama sekali Liong-kong-cu (Tuan Muda Liong) mendengar akan nama besar Pai-cu dan akan kehebatan puteri Pai-cu, yaitu Nona Cia Giok Keng. Harap Pai-cu ketahui bahwa Liong-kongcu adalah putera tunggal dari pangcu kami di Kwi-ouw (Telaga Setan).”

“Hemmm… bukankah di Kwi-ouw adalah serang Kwi-eng-pang dan ketuanya adalah Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio, datuk kaum sesat?” Biauw Eng memotong.

Dua orang kakek itu tersenyum. “TIdak salah dugaan itu, pangcu kami adalah Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio.” Tentu saja mereka merasa bangga menyebut nama yang sudah tersohor itu. “Dan kami berdua adalah pembantu-pembantu utamanya, juga termasuk murid-murid pangcu kami yang setia.”

“Coba kalian lanjutkan, apa keperluan kalian dan Liong Bu Kong ini datang ke sini?” Keng Hong mendesak, hatinya tidak enak.

Melihat sikap tuan dan nyonya rumah, Pek-kui Gak Song juga kelihatan gugup dan jerih. “Sesungguhnya kami ditugaskan Pangcu kami untuk mengiringkan kongcu kami untuk… untuk dapat bertemu muka dengan Cia-siocia… dan hal ini sudah terlaksana… tentu tidak lama lagi pangcu kami akan segera resmi mengajukan pinangan, melamar Nona Cia Giok Keng untuk menjadi jodoh kongcu kami…”

“Keparat!” Tiba-tiba Biauw Eng membentak marah, “Hendak melamar setelah mengacau di Cin-ling-san dan melukai enam orang anggauta Cin-ling-pai dengan pukulan Hek-tok-ciang?”

Dua orang kakek itu menjadi pucat wajahnya. “Ini… ini… hanya kesalahpahaman… hanya keinginan menguji kepandaian… bukan berniat buruk… kami mohon maaf dan biarlah kami mengobati mereka yang terluka…”

“Siapa butuh bantuan kalian? Tidak perlu memberi obat, pukulan Hek-tok-ciang macam itu saja apa sih artinya? Biarlah aku menukarnya dengan pukulanku. Terimalah!” Biauw Eng memberi kesempatan kepada dua orang kakek itu untuk “menjaga diri” lebih dulu sebelum dia bergerak. Biarpun dua orang kakek itu jauh lebih tua daripadanya, namun dia adalah isteri Ketua Cin-ling-pai sedangkan dua orang kakek itu hanya utussan dan murid Ketua Kwi-eng-pai, maka kedudukannya jauh lebih tinggi. Karena ini, dia tidak mau menggunakan kecepatannya menyerang dua orang yang belum siap. Setelah dua orang kakek itu yang maklum akan dipukul berjaga-jaga, barulah ia menggerakkan tubuhnya sambil berseru, “Robohlah!”

Dua orang kakek yang di dunia kang-ouw sudah amat terkenal dengan julukan Siang-lo-kui (Sepasang Setan Tua) ini cepat menggerakkan tangan menangkis.

“Des! Dess! Plak-plak!”

Kedua tangan Biauw Eng yang menampar itu memang dapat tertangkis oleh mereka, namun lengan mereka yang menangkis terdorong dan terpental sedangkan kedua buah tangan halus itu tetap saja menyambar terus dan menampar dada mereka. Tamparan yang tidak begitu kuat,akan tetapi akibatnya hebat karena kedua orang kakek itu roboh, muntah darah dan pingsan. Kiranya mereka telah menderita luka dalam yang cukup hebat, dan juga pukulan Biauw Eng itu beracun, tidak kalah dahsyatnya dibandingkan dengan Hek-tok-ciang. Tidaklah aneh kalau Sie Biauw Eng mampu menggunakan ilmu pukulan beracun yang biasanya hanya dikuasai oleh kaum sesat karena dia adalah puteri mendiang Lam-hai Sin-ni (Wanita Sakti Laut Selatan).

Pukulannya tadi adalah Ngo-tok-ciang (Tangan Panca Racun) yang mengandung inti sari lima macam hawa beracun dan tentu saja jauh lebih berbahaya daripada Hek-tok-ciang, apalagi dilakukan oleh seorang yang tingkat kepandaiannya sudah setinggi nyonya itu!

Liong Bu Kong terkejut sakali. Dia tadi sudah menyaksikan kehebatan ilmu kepandaian Cia Keng Hong Ketua Cin-ling-pai yang dengan amat mudahnya mematahkan ujung pedang pusakanya. Kini dia menyaksikan kelihaian nyonya ketua itu yang dalam segebrakan saja mampu merobohkan Siang-lo-kui, padahal dua orang kakek itu adalah murid-murid kelas satu dari ibunya! Pemuda yang amat cerdik ini tidak memperlihatkan perasaan menyesal di mukanya, bahkan dia menjura kepada Sie Biauw Eng sambil berkata, “Hukuman bagi kedua paman yang lancang ini memang sudah sepantasnya. Saya menghaturkan terima kasih kepada Locianpwe yang telah menghajarnya dan mengampuni nyawa mereka.”

Biarpun Bu Kong mengambil sikap sabar, sopan dan manis budi, namun dalam pandangan Cia Keng Hong, pemuda itu amat tidak menyenangkan, maka dia pun berkata, “Sudahlah, bawa mereka pulang dan jangan sekali-kali berani menginjakkan kaki di daerah Cin-ling-san. Adapun soal jodoh, tidak perlu lagi dibicarakan dan tidak perlu datang meminang karena bagaimanapun juga, kami tidak suka berbesan dengan golongan hitam. Nah, pergilah!”

Bu Kong merasa betapa jantungnya seperti ditusuk oleh kekecewaan dan putus harapan. Sudah lama dia mendengar akan kecantikan puteri Ketua Cin-ling-pai, dan setelah bertemu dengan orangnya, apalagi setelah menyaksikan kelihaian Giok Keng, sekaligus dia tergila-gila dan jatuh cinta. Akan tetapi dia pun tahu bahwa kedua orang tua dara itu menentang keras. Kembali pemuda itu menjura dan berkata, “Maafkan saya, Ji-wi-locianpwe. Saya mengaku bahwa kami bertiga telah lancang, mudah-mudahan saja kelak saya akan dapat menghadap Ji-wi dalam keadaan yang lebih baik dan menyenangkan. Selamat tinggal dan sekali lagi terima kasih atas semua pelajaran yang kami terima.” Dia menjura, membungkuk, mengempit tubuh kedua orang kakek yang masih pingsan, kemudian turun dari puncak sambil berlari cepat. Semua orang, termasuk Cia Keng Hong, Sie Biauw Eng, dan Cia Giok Keng, memandang dengan hati kagum. Pemuda itu benar-benar lihai!

Setelah mengobati luka keenam pemuda akibat pukulan Hek-tok-ciang, Keng Hong dan anak isterinya kembali ke dalam rumah. Setelah berada di dalam, Keng Hong berkata kepada puterinya, “Nah, kaulihat sendiri betapa tidak baiknya bagi seorang dara yang sudah dewasa kalau tidak segera menikah. Tentu banyak godaan dan penolakan-penolakan hanya akan mendatangkan permusuhan.”

“Ayahmu benar, Anakku. Sebaiknya kalau engkau segera menentukan pilihan hatimu dan mendapatkan jodoh.”

Giok Keng cemberut. “Ayah dan Ibu tentu akan memaksaku, soal jodoh tak perlu dibicarakan lagi karena aku tidak mau! Dalam penolakan lamaran Ayah dan Ibu bertindak tanpa persetujuanku, tentu kelak Ayah dan Ibu pun akan menerima lamaran orang tanpa mengajukan persetujuanku pula! Karena itu, aku tidak mau menikah!”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: