Petualang Asmara (Jilid ke-13)

Keng Hong dan isterinya saling pandang dan Keng Hong berkata agak keras, “Tentu saja kita tolak lamaran seorang pemuda dari golongan hitam itu. Apalagi kalau dia putera Iblis Betina Kwi-eng Niocu yang tersohor!”

Giok Keng tetap cemberut. Sedikit banyak hatinya telah tertarik oleh sikap pemuda tampan tadi, dan biarpun hal itu bukan berarti bahwa dia jatuh cinta dan menerima pinangan, akan tetapi dia tersinggung juga menyaksikan betapa ayah bundanya menolak mentah-mentah tanpa mempedulikan perasaannya sendiri!

“Menolak atau menerima lamaran bukan soal, yang menjadi soal adalah bahwa saya seorang manusia, yang berperasaan pula dan patut menentukan hidup dan masa depan saya sendiri. Hal ini harap Ayah dan Bunda tidak lupa! Sudahlah, siapa sih yang ingin menikah?” Setelah berkata demikian Giok Keng meninggalkan ayah bundanya, memasuki kamarnya sendiri dan menangis!

Keng Hong menggeleng-geleng kepalanya. Isterinya menghibur, “Sabarlah. Dia baru berusia tujuh belas tahun, belum lenyap sama sekali sifat kekanak-kanakannya!”

“Kekanak-kanakan apa? Itulah kalau anak manja!” Akan tetapi Keng Hong tidak melenjurken kemarahannya ketika melihat pandang mata isterinya yang mengalah, bahkan dia lalu memeluk isterinya dan berkata, “Biarlah kita serahkan jodoh anak kita kepada nasib.”

“Perlu apa dipusingkan? Biarlah dia memilih sendiri dan kita hanya mengawasi dari belakang agar dia jangan salah pilih.”

Semenjak terjadinya pengacauan yang dilakukan oleh orang-orang Kwi-eng-pai itu dan mendapat kenyataan bahwa kepandaiannya masih jauh dari cukup sehingga ketika dia menyerang pemuda bernama Liong Bu Kong itu dia sama sekali tidak berhasil, Giok Keng makin tekun berlatih silat. Hal ini menggirangkan hati Keng Hong dan pendekar ini pun melatih puterinya dengan sungguh-sungguh sehingga akhirnya dia menurunkan juga Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun kepada puterinya itu dengan janji agar dara itu tidak membocorkannya kepada orang lain! Dua tahun lamanya Giok Keng berlatih dengan tekun siang malam sehingga setelah dia berusia sembilan belas tabun, ilmu kepandaiannya meningkat dengan hebatnya. Bahkan dia berhasil pula mempelajari Ngo-tok-ciang dari ibunya yang memesan agar puterinya jangan sembarangan menggunakan ilmu ini, kecuali kalau menghadapi golongan hitam karena ilmu ini adalah ilmu keji dari kaum sesat. Betapapun juga, Keng Hong masih belum berani mengajarkan Thi-ki-i-beng kepada puterinya. Kalau puterinya mendesak agar ayahnya menurunkan ilmu itu, dia menjawab, “Kaukira mudah saja menguasai Thi-khi-i-beng? Kalau belum kuat benar dasarnya, ilmu ini bisa mencelakakan diri sendiri. Ayahmu mendapatkan ilmu ini secara kebetulan saja, akan tetapi ketahuilah, dahulu seorang tokoh golongan hitam yang tinggi ilmu kepandaiannya bernama Kiu-bwe-toanio Lu Sian Cu, yang berhasil memaksaku memberikan Thi-khi-i-beng, telah mati karena ilmu itu sendiri. Mempelajari ilmu ini kalau belum memiliki kekuatan yang melebihi ukuran sin-kang biasa, berarti menghadapi bahaya maut. Ilmu-ilmu yang kaupelajari sudah cukup, Keng-ji, kalau semua itu kaukuasai dengan baik disertai latihan dan ketenangan, kiranya sukar sekali akan dapat dikalahkan lawan, biarpun engkau tidak menggunakan Thi-ki-i-beng.”

Mendengar keterangan ini, Giok Keng menjadi ngeri sendiri dan merasa puas dengan ilmu-ilmu yang telah dimilikinya. Akan tetapi, Cia Keng Hong dan Sie Biauw Eng makin berduka karena belasan kali datang lamaran dari pemuda-pemuda yang bukan orang-orang sembarangan, putera ketua-ketua partai besar, pemuda-pemuda sastrawan dan hartawan, bahkan pernah seorang pemuda putera pangeran dari kota raja melamar, semua itu ditolak mentah-mentah oleh Giok Keng. Padahal, usia dara itu kini telah meningkat, sudah sembilan belas tahun!

Ketika Keng Hong dan Biauw Eng mendengar akan kematian Tiang Pek Hosiang dan Thian Le Hwesio, mereka segera berangkat untuk melayat, sekalian untuk menghibur kekecewaan hati mereka dan mengharapkan pertemuan dengan Yap Cong San. Siapa tahu kalau jodoh puteri mereka itu adalah putera sahabat ini yang sudah hampir dua puluh tahun, atau sedikitnya delapan belas tahun tak pernah mereka jumpai.

Giok Keng disuruh menjaga Cin-ling-pai dan mengawasi adiknya, Cia Bun Houw yang baru berusia lima tahun. Hati Giok Keng agak kecewa karena setelah kini ilmunya maju pesat, dia ingin sekali ikut merantau dan bertemu dengan tokoh-tokoh besar. Akan tetapi dia tahu juga bahwa selain Cin-ling-pai perlu dijaga, juga tidak baik kalau adiknya ditinggalkan seorang diri bersama para pimpinan Cin-ling-pai dalam keadaan di mana bahaya selalu mengancam dari pihak kaum sesat.

Akan terpenuhikah harapan Keng Hong dan Biauw Eng bahwa mereka akan berjumpa dengan sahabat baik mereka Yap Cong San dan isterinya di kuil Siauw-lim-si? Untuk mengetahui ini. sebaiknya kita mencari Yap Cong San dan isterinya dan melihat keadaan mereka. Sudah terlampau lama kita meninggalkan mereka dan marilah kita mengikuti perjalanan mereka semenjak mereka meninggalkan Leng-kok.

Seperti telah kita ketahui, Yap Cong San dan isterinya lari meninggalkan Leng-kok sebagai orang buruan setelah dengan kekerasan Yan Cu membebaskan suaminya dari tahanan Ma-taijin. Mereka lalu mulai mencari putera mereka yang hilang. Akan tetapi karena kepergian Kun Liong tidak meninggalkan bekas yang jelas, mereka tersesat dan sampai dua tahun mereka menjelajah ke selatan dan ke timur, belum juga mereka berhasil menemukan putera mereka itu! Akhirnya mereka terpaksa kembali ke utara. Tiga tahun telah lewat semenjak mereka meninggalkan Leng-kok tanpa hasil sama sekali dalam usaha mereka mencari Kun Liong. Hampir mereka putus harapan dan timbul kekhawatiran bahwa putera mereka yang lenyap itu tewas, ketika pada suatu hari harapan itu timbul kembali secara kebetulan ketika mereka mendengar tentang putera mereka itu.

Hal itu terjadi ketika perjalanan mereka membawa mereka tiba di tepi Sungai Huang-ho di lereng Pegunungan Luliang-san yang menjadi tapal batas antara Propinsi Shansi di timur dan Propinsi Sensi di barat. Mereka bermalam di dalam sebuah kamar rumah penginapan kecil sederhana, di sebuah dusun nelayan di tepi Sungai Huang-ho. Menjelang tengah malam, setelah suami isteri yang kelelahan ini tertidur, tiba-tiba Yan Cu terbangun oleh suara bisik-bisik. Dia terbangun, memasang telinga mendengarkan percakapan lirih yang terjadi di kamar sebelah, percakapan yang dapat didengarnya jelas karena agaknya dua orang wanita yang bercakap-cakap itu tidak menyembunyikan suara mereka dan antara kamamya dan kamar sebelah itu hanya teraling oleh dinding papan yang sambungannya tidak begitu rapat.

Tentu saja Yan Cu tidak akan sudi mendengarkan percakapan orang lain kalau saja dia tidak tertarik karena mendengar disebutnya nama puteranya, nama Kun Liong!

“Sungguh heran sekali! Ke mana perginya bocah setan itu? Kalau dia melarikan diri dengan perahu, masa dia bisa naik perahu sampai ke langit? Mengapa jejaknya lenyap sama sekali?” terdengar suara wanita yang mengandung penasaran dan kemarahan.

“Memang dia bukan bocah biasa, Subo (Ibu Guru),” terdengar jawaban suara seorang anak perempuan. “Dahulu Kong-kong sudah bilang bahwa anak itu memang luar biasa, munculnya pun secara aneh sekali, dari dalam sungai!”

“Huh! Apakah dia anak iblis sungai? Siapa namanya?”

“Dia mengaku bernama Kun Liong, Subo. Akan tetapi teecu (murid) tidak yakin bahwa dia yang membawa pergi benda itu karena benda itu tadinya berada di tangan Phoa Sek It. Ketika Phoa Sek it membunuhi semua orang, Kun Liong melarikan diri. Mana mungkin dia merampasnya dari tangan Phoa Sek It?”

“Siapa tahu? Bocah itu setidaknya tentu mengetahui di mana adanya benda itu. Hemmm… kalau dia dapat tertangkap olehku, akan kupaksa dia mengaku, akan kupatah-patahkan semua tulang tubuhnya agar dia suka mengaku!”

Mendengar itu, Yan Cu sudah tidak dapat menahan hatinya lagi. Biarpun dia merasa heran dan ragu-ragu mendengar percakapan itu, namun besar kemungkinan mereka itu bicara tentang puteranya yang hilang. Cepat dia turun dari pembaringan, menghampiri dinding dan mengintai dari celah-celah dinding papan. Dilihatnya dalam kamar sebelah itu seorang wanita berusia empat puluh tahun lebih, bertubuh pendek, cantik manis akan tetapi matanya menyinarkan kekejaman dan bentuk mulutnya selalu menyeringai seperti orang mengejek, rambutnya panjang, sedang duduk di kursi berhadapan dengan seorang anak perempuan berusia kurang lebih sebelas tahun yang bersikap pendiam dan berwajah cantik dan dingin. Di atas meja depan wanita rambut panjang itu terdapat sebatang pedang panjang yang bentuknya agak melengkung dan gagangnya panjang, sebatang pedang berbentuk asing bagi Yan Cu.

Yan Cu menduga bahwa tentu wanita itu bukan orang sembarangang maka dia pun bersikap hati-hati sekali. Melihat suaminya masih tidur pulas, dia berindap keluar dari dalam kamarnya, kemudian menyelinap ke luar rumah penginapan yang sunyi karena semua orang telah tidur, dengan ringan tubuhnya mencelat ke atas genteng dan dia membuka genting tepat di atas kamar sebelah tadi. Sebagai penjagaan, sebelum keluar kamarnya Yan Cu sudah menyambar pedangnya.

AKAN tetapi, pada saat dia membuka genting, tiba-tiba dari bawah menyambar sinar hijau dengan kecepatan kilat ke arahnya! Yan Cu terkejut tetapi tidak menjadi gugup. Dia sudah meloncat ke belakang dan berjungkir balik. Ketika dia turun lagi dan berdiri di wuwungan genting rumah itu, terlihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu wanita pendek berambut panjang tadi telah berada di depannya, berdiri dengan sebatang pedang panjang melengkung yang berkilauan di tangannya!

Yan Cu menjadi marah sekali, apalagi ketika teringat betapa wanita ini mengancam untuk mematahkan semua tulang di tubuh puteranya dan memaksanya mengaku! Andaikata yang diancam itu bukan puteranya, melainkan seorang anak lain yang namanya juga Kun Liong, tetap saja ancaman itu menunjukkan bahwa wanita pendek ini adalah seorang yang kejam dan jahat sekali, patut untuk dibasmi. Namun, pada saat itu, yang terpenting bagi Yan Cu adalah untuk mengetahui apakah benar puteranya yang dibicarakan mereka itu.

“Perempuan kejam! Apakah yang kaubicarakan dalam kamar tadi, yang kausebut namanya, anak yang bemama Kun Liong itu adalah seorang anak laki-laki yang berusia kira-kira tiga belas tahun sekarang ini dan she Yap?”

“Kalau benar dia kau mau apa?” Wanita itu balas bertanya dan mulutnya makin mengejek.

“Tapi benarkah dia? Wajahnya tampan, matanya lebar, kepalanya bundar dan dahinya lebar, alisnya seperti golok, hidungnya mancung? Benarkah dia Yap Kun Liong?”

“Perempuan lancang, kau telah berani melakukan pengintaian. Hemmm, kau tidak mengenal Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci?”

Yan Cu tentu saja sudah mendengar nama datuk kaum sesat ini selama perantauannya mencari Kun Liong, akan tetapi pada saat itu dia tidak mempedulikan semua hal kecuali persoalan di mana adanya puteranya. “Tidak peduli kau siapa, akan tetapi benarkah Yap Kun Liong yang kaubicarakan tadi?”

Sinar mata wanita pendek itu mengeluarkan kilat kemarahan. Namanya sudah tersohor di seluruh jagat sebagai seorang datuk dari daerah selatan. Tidak ada orang kang-ouw yang tidak menjadi gentar mendengar namanya, apalagi bertemu dengan dia! Dan perempuan ini sama sekali tidak peduli!

“Perempuan bosan hidup! Kalau benar dia itu Yap Kun Liong kau mau apa?”

“Mau apa? Membunuh engkau yang mengancam dia! Di mana dia sekarang?”

“Hi-hi-hik, lagakmu seperti jagoan sendiri! Aku pun sedang mencari dia. Engkau siapakah?”

“Aku ibunya!” Yan Cu sudah marah sekali, dicabutnya pedangnya dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menubruk maju, mengirim serangan kilat dengan tusukan ke arah dada lawan.

“Hi-hik, ibunya?” Bu Leng Ci, wanita itu terkekeh dan mengelak cepat sambil membabatkan pedang panjangnya dari samping.

“Singgg!” Pedang samurai pedang model Jepang itu dipegang gagangnya dengan kedua tangan dan ketika dibabatkan cepatnya seperti kilat menyambar dan mengandung tenaga yang amat dahsyat. Tentu saja Yan Cu terkejut bukan main, karena sama sekali tidak menyangka bahwa datuk wanita yang tersohor ini benar-benar amat berbahaya. Dia sudah meloncat ke belakang untuk menghindarkan diri dari sambaran pedang panjang, lalu bersiap menghadapi lawan tangguh ini.

“Kau ibunya? Hi-hi-hik, kalau begitu kau harus mampus. Anakmu telah membikin jengkel hatiku!”

Bertandinglah dua orang wanita itu di atas genting, dan keduanya sama-sama terkejut sekali, lebih-lebih Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci. Selama dia merantau ke utara dari pantai laut selatan, belum pernah dia bertemu tanding dan jarang pula dia mempergunakan pedang samurainya. Tadi ketika dia menggunakan senjata rahasia Siang-tok-toa (Pasir Beracun Wangi) dari bawah, dia sudah terkejut karena orang yang tadi mengintai dari kamar sebelah kemudian mengintai dari atas genting dapat menghindarkan diri. Karena itu maka dia menyusul ke atas sambil membawa pedang samurainya. Kini, setelah mereka bergebrak selama belasan jurus, Bu Leng Ci benar-benar kaget sekali. Wanita cantik jelita di depannya ini benar-benar memiliki ilmu kepandaian hebat! Bukan saja ilmu pedangnya luar biasa, juga lawannya ini memiliki keringanan tubuh dan kekuatan tenaga sakti yang mampu menandinginya!

Merasa kurang leluasa bertanding di atas genting, Bu Leng Ci melayang turun. Tentu saja Yan Cu tidak mau melepaskannya, dan cepat menyusul dengan loncatan cepat. Kini mereka berhadapan di atas tanah, di sebelah belakang rumah penginapan itu, dan saling memandang di bawah sinar bulan sepotong yang mendatangkan cahaya penerangan remang-remang.

“Siapakah engkau?” Bu Leng Ci membentak, tertarik juga untuk mengenal siapa adanya lawan tangguh ini.

“Aku ibunya Yap Kun Liong! Ketahuilah, perempuan iblis, bahwa aku adalah Gui Yan Cu. Isteri dari Yap Cong San. Engkau tentu tidak mengenal kami, karena kami bukan golongan iblis kaum sesat yang suka malang-melintang berbuat kejam mengandalkan kepandaian yang tidak seberapa seperti engkau!”

“Hi-hi-hik, sombong. Mampuslah engkau!” Bu Leng Ci kembali menerjang, samurainya membentuk gulungan sinar yang lebar dan panjang, digerakkan dengan kedua tangannya.

“Trang! Cringgg!!”

Yan Cu merasa betapa telapak tangannya yang memegang pedang tergetar. Diam-diam dia harus mengakui bahwa wanita iblis yang tersohor sebagai seorang di antara datuk-datuk kaum sesat yang bermunculan di waktu itu, yang bertubuh pendek dan berpedang panjang ini benar-benar amat tangguh. Maka dia pun mengerahkan tenaga dan memutar pedangnya dengan cepat. Yan Cu adalah seorang wanita perkasa. Biarpun dia tahu bahwa lawannya tangguh, namun untuk berteriak memanggil suami isterinya dia merasa malu karena berteriak minta bantuan bukanlah kelakuan seorang gagah!

Tiba-tiba pedang dan samurai kembali bertemu dan menempel untuk beberapa detik lamanya, karena Bu Leng Ci mempergunakan kekuatan kedua lengannya, pedang Yan Cu agak tertindih dan saat itu dipergunakan oleh Bu Leng Ci untuk menggerakkan kepalanya. Rambutnya yang panjang menyambar ke arah Yan Cu seperti ribuan ekor ular menyerang!

Yan Cu terkesiap dan cepat dia menarik kembali pedangnya, melempar tubuh ke belakang dan berjungkir-balik. Sambil membalikkan tubuhnya yang berpoksai (bersalto) tiga kali di udara, pedangnya menyambar untuk melindungi dirinya.

“Cringgg…!” Pedangnya bertemu dengan samurai yang kini dipegang dengan tangan kanan sedangkan pada detik itu, tangan kiri Bu Leng Ci yang jari-jarinya merupakan jari baja telah menusuk ke arah dada dengan maksud menembus dada itu dan merogoh jantung seperti yang biasa dia lakukan terhadap para korbannya!

“Ihhh…!” Yan Cu cepat menggulingkan tubuhnya ke kanan, terus bergulingan di atas tanah untuk membebaskan diri dari serangan itu.

“Wut…!”

Yan Cu menahan jeritnya ketika merasa betapa dadanya sebelah kanan sakit sekali. Kiranya dia telah disusul oleh serangan Pasir Beracun Wangi yang dilepas dari jarak dekat. Biarpun Yan Cu telah bergulingan sambil memutar pedangnya, tetap saja ada sebagian dari Siang-tok-soa yang mengenai dadanya. Seketika kepalanya pening, matanya berkunang dan ketika dia meloncat berdiri, tubuhnya terhuyung!

“Hi-hi-hik, sayang sekali kau harus mampus!” Bu Leng Ci sudah meloncat maju, mengayun samurainya ke arah pinggang Yan Cu.

“Singg… tranggg…!!” Yan Cu dalam keadaan pening itu masih dapat menangkis dengan tangan karena tubuhnya menggigil kedinginan akibat pasir beracun itu dan tenaganya berkurang, apalagi karena dia memang kalah tenaga, pedangnya terpental dan terlepas dari pegangannya. Sementara itu, pedang samurai sudah menyambar lagi ke arah lehernya.

“Tranggg…! Eihhh…!” Bu Leng Ci meloncat ke belakang ketika samurainya ditangkis oleh sebatang mouw-pit (pena bulu) yang membuat lengannya tergetar. Kiranya Yap Cong San yang telah menyelamatkan isterinya, Cong San cepat memegang lengan isterinya, dan berbisik, “Mundurlah… cepat telan obat penawar…!”

“Hi-hi-hi, agaknya ini suaminya, ya? Ha-ha, tidak ada obat penawar untuk melawan Siang-tok-soa dari Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci. Isterimu akan mampus, dan engkau juga!”

Mendengar nama ini, Yap Cong San terkejut. Tadi dia terbangun oleh suara pertandingan yang lapat-lapat dan terkejut ketika tidak melihat isterinya rebah di sampingnya dan pedang isterinya tidak tampak. Cepat ia berpakaian dan melompat keluar sambil membawa sebatang mouw-pit yang menjadi senjatanya yang ampuh. Dapat dibayangkan betapa kagetnya melihat isterinya terhuyung, pedangnya terlempar dan pedang panjang lawan isterinya itu mengancam nyawa isterinya. Untung dia tidak terlambat dan setelah dapat menangkis pedang samurai itu, dia melihat bahwa isterinya telah terluka dan melihat warna mukanya, tentu terluka senjata beracun.

Dengan marah dan khawatir sekali Yap Cong San segera menerjang ke depan menggunakan senjata Im-yang-pit hitam putih dengan gerakan cepat seperti kilat. Kembali Bu Leng Ci terkejut. Sungguh tak pernah disangka bahwa di dunia kang-ouw sebelah utara ini terdapat orang-orang pandai seperti suami isteri ini yang sama sekali tidak terkenal namanya. Bahkan sang suami ini lebih lihai daripada isterinya!

Bu Leng Ci berteriak keras dan samurainya kembali berkelebat membentuk gulungan sinar seperti seekor ular naga mengamuk. Namun Yap Cong San yang bersikap hati-hati selalu dapat membendung amukan sinar samurai, bahkan membalas dengan totokan-totokan maut yang bukan tidak berbahaya bagi Bu Leng Ci. Betapapun juga, segera murid lihai dari Siauw-lim-pai ini mendapat kenyataan bahwa lawannya amat tangguh, bahkan dalam hal tenaga sin-kang, dia masih belum mampu menandinginya, terbukti dari getaran-getaran pada kedua tangannya setiap kali Im-yang-pit di tangannya terbentur oleh pedang samurai. Pantas wanita ini menjadi seorang di antara datuk-datuk golongan hitam, kiranya memang amat lihai.

Biarpun demikian, tidak mudah bagi Bu Leng Ci untuk mengalahkan murid Siauw-lim-pai ini yang memiliki ilmu silat aseli dari Siauw-lim-pai dan dapat membentuk pertahanan yang bukan main kuatnya, laksana batu karang yang menahan gempuran badai! Dan lebih celaka lagi bagi Bu Leng Ci ketuka Yan Cu sudah menyambar lagi pedangnya dan biarpun wajah wanita itu ada bayangan gelap, namun peningnya lenyap dan kini ia membantu suaminya menerjang Bu Leng Ci! Menghadapi Yap Cong San saja sudah amat sukar baginya untuk merobohkan pendekar ini, apalagi dikeroyok dua dengan suaminya yang marah itu.

“Robohlah!” Tiba-tiba Bu Leng Ci mengeluarkan suara teriakan nyaring, tangannya bergerak dan sinar hijau menyambar, itulah Siang-tok-soa!

“Awas…!!” Yap Cong San berteriak memperingatkan isterinya dan keduanya cepat melompat jauh ke belakang untuk menghindarkan diri. Akan tetapi Bu Leng Ci telah mempergunakan kesempatan itu meloncat ke dalam rumah penginapan. Suami isteri itu mengejar dengan cepat.

Karena merasa tidak kuat kalau harus menandingi suami isteri itu, Bu Leng Ci sudah memondong anak perempuan yang menjadi muridnya dan lari ke luar.

“Iblis betina, hendak lari ke mana kau?” Cong San dan Yan Cu mengejar dan pendekar ini cepat menggunakan senjata rahasianya untuk menyambit bayangan di depan. Senjata rahasia dari Yap Cong San ini berupa mata uang tembaga, uang biasa yang dapat dipergunakan untuk berbelanja, akan tetapi kalau dipergunakan sebagai senjata rahasia, amat hebat dan dapat menembus tulang!

Bu Leng Ci menjerit lirih ketika pundaknya disambar sebuah mata uang, mendatangkan rasa nyeri bukan main. Akan tetapi hal ini malah membuat dia mempercepat larinya. Dengan penasaran Yap Cong San mengejar terus.

“Aduhhh…”

Rintihan isterinya ini membuat Cong San terkejut dan membalik. Ketika dia melihat isterinya terhuyung hampir jatuh, dia cepat menyambar tubuh isterinya. Ternyata Yan Cu telah pingsan. Melihat keadaan isterinya, terpaksa Cong San membatalkan pengejarannya dan cepat berusaha menolong isterinya.

Pasir beracun yang memasuki dada kanan bagian atas itu benar-benar amat hebat. Kulit di bagian dada itu membengkak biru, dan warna kebiruan menjalar sampai ke muka! Tubuh Yan Cu panas sekali, akan tetapi anehnya, wanita itu menggigil kedinginan!

Yap Cong San sudah banyak mempelajari pengobatan dari isterinya. Dia memeriksa sebentar penuh ketelitian setelah merebahkan tubuh isterinya di atas pembaringan dalam kamar mereka. Akhirnya dia menghela napas, menekan kekhawatiran hatinya. Racun wangi itu benar-benar amat berbahaya dan dia sudah tahu akan sifat racun itu. Dia harus menggunakan sin-kang dan obat-obat yang sukar dicari, dan biarpun demikian, agaknya bukan hal yang mudah untuk menyelamatkan nyawa isterinya dari renggutan maut!

Keadaan ini memaksa Yap Cong San menghentikan usahanya mencari puteranya, bahkan dia lalu membawa isterinya untuk beristirahat dan berobat di puncak Pegunungan Lu-liang-san yang sunyi, selain untuk menghindarkan diri dari pengejaran alat pemerintah, juga untuk bersembunyi dari pengejaran tokoh-tokoh hitam. Dalam keadaan seperti itu, amatlah berbahaya bagi isterinya kalau ada lawan kuat datang menyerang.

Demikianiah, dengan penuh ketekunan dan kesabaran Cong San merawat isterinya di puncak Lu-liang-san. Tepat seperti yang diduga dan dikhawatirkannya, pengobatan itu memakan waktu sampai hampir dua tahun! Setelah menghabiskan banyak akar dan daun obat yang dengan susah payah dapat dia temukan di semak-semak belukar dalam hutan di Pegunungan Lu-liang-san, dan banyak pula memeras tenaga sin-kangnya untuk membantu isterinya mengusir hawa beracun, dan memakan waktu dua tahun kurang sedikit, barulah semua racun itu dapat terusir bersih dari tubuh Gui Yan Cu! Setelah isterinya sembuh, mereka telah meninggalkan rumah selama lima tahun lebih!

Nasib buruk yang menimpa sepasang suami isteri ini, cara hidup bersunyi dan segala macam kekhawatiran dan kedukaan berhubung dengah lenyapnya putera mereka, menjadi pupuk yang menambah dalam cinta kasih di antara mereka. Setelah Yan Cu sembuh dan Cong San menganggap perlu bagi isterinya untuk selama beberapa bulan beristirahat memulihkan kesehatan di puncak yang indah pemandangannya dan sejuk hawanya itu, curahan cinta kasih mereka yang makin mendalam sebagai hiburan duka karena memikirkan Kun Liong membuat Yan Cu mengandung lagi! Hal ini mendatangkan kegirangan besar di hati suami isteri itu dan terpaksa mereka memperpanjang kediaman mereka di puncak Pegunungan Lu-liang-san

Dengan hati penasaran dan marah, Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci menurunkan muridnya, yang tadi dipondongnya setelah merasa yakin bahwa suami isteri yang lihai itu tidak mengejarnya. Dia membuka bajunya, mengambil obat dan mengobati luka di pundaknya yang terkena sambitan Touw-kut-ci yang dilepas oleh

Yap Cong San. Hatinya merasa penasaran sekali, akan tetapi Bu Leng Ci bukanlah seorang bodoh yang nekat. Dia maklum bahwa menghadapi kedua orang suami isteri itu amatlah berbahaya. Kalau hanya melawan seorang di antara mereka, agaknya dia masih menang sedikit. Akan tetapi kalau harus menghadapi mereka berdua, benar-benar berbahaya sekali.

“Subo, siapakah yang bertanding dengan Subo sampai membuat Subo terluka?” anak perempuan itu bertanya sambil memandang dengan heran dan penasaran. Anak perempuan ini adalah Yo Bi Kiok. Seperti telah diceritakan di bagian depan, hampir enam tahun yang lalu Bi Kiok diambil murid oleh Siang-tok Mo-li setelah ditolong dari tangan Phoa Sek It bekas pengawal Panglima Besar The Hoo yang mencuri bokor emas.

Dengan sia-sia Bu Leng Ci mencari Kun Liong yang disangkanya melarikan bokor emas. Tentu saja dia tidak dapat menemukan Kun Liong karena anak ini telah diambil murid oleh Bun Hoat Tosu di puncak Gunung Teratai Biru dan digembleng selama lima tahun oleh kakek sakti itu.

Selama itu, Bu Leng Ci melatih ilmu silat kepada muridnya dan dia girang sekali memperoleh kenyataan bahwa Bi Kiok memiliki bakat yang baik sekali. Akan tetapi setiap kali teringat akan bokor emas yang dicurinya, dia selalu merasa penasaran sehingga berkali-kali dia mengajak muridnya merantau di sepanjang Sungai Huang-ho untuk menyelidiki dan mencari bokor itu.

Pada waktu itu, dia berada di tepi Huang-ho di lereng Lu-liang-san juga untuk menyelidiki bokor emas dan secara tidak tersangka-sangka, di tempat ini dia sampai terluka oleh suami isteri yang sama sekali tidak terkenal! Hatinya penasaran sekali. Tentu saja dia tidak pernah mimpi bahwa baru beberapa bulan yang lalu dia telah berhadapan muka dengan orang yang menyimpan bokor emas yang diinginkannya itu. Ketika dia membunuhi orang-orang Pek-lian-kauw yang berani melawannya, kemudian bertemu dengan pemuda gundul yang memiliki keberanian luar biasa, dia sama sekali tidak mengira bahwa pemuda gundul itulah yang dahulu dicari-carinya bersama Bi Kiok! Kalau saja dia tahu! Dan semua ini adalah karena Bi Kiok merahasiakan tentang diri Kun Liong, karena dara remaja ini tidak ingin melihat Kun Liong dibunuh oleh gurunya, hal yang sudah pasti terjadi kalau dia beritahukan bahwa bokor itu dilarikan Kun Liong. Karena itu pula, sebelum pergi meninggalkan kuil tua, dengan ujung sepatunya Bi Kiok membuat coretan-coretan di atas tanah memperingatkan Kun Liong agar jangan membicarakan tentang bokor dengan siapapun juga!

Biarpun lukanya tidak hebat, namun hati Bu Leng Ci mendongkol bukan main. Sudah bertahun-tahun dia merantau dan belum pernah dia dikalahkan lawan, jangankan sampai terluka! Hanya sedikit hiburan hatinya bahwa dia telah melukai wanita bernama Gui Yan Cu itu dengan Pasir Beracun Wangi. Mengingat ini, dia tersenyum sendiri dan kemarahannya lenyap.

“Hemm, aku terluka hanya sedikit, tidak ada artinya, akan tetapi perempuan itu akan mampus oleh Siang-tok-soa yang mengenai dadanya. Tidak ada obat yang akan dapat menyembuhkan racun pasirku!” katanya dengan menjawab pertanyaan muridnya tadi.

“Subo, selama enam bulan ini Subo selalu mencari bokor emas tanpa mengenal lelah. Sebetulnya apa sih gunanya bokor itu?” Mereka duduk di bawah pohon dan Bi Kiok memandang gurunya yang sudah selesai membalut luka di pundaknya. Bi Kiok telah menjadi seorang dara remaja berusia empat belas tahun, wajahnya cantik namun sikapnya selalu serius dan dingin. Hal ini agaknya, karena terlampau banyak kepahitan yang dideritanya selama hidupnya.

Bu Leng Ci memandang muridnya. Dia amat sayang kepada muridnya ini yang selalu patuh, rajin berlatih, dan juga kelihatan berbakti dan sayang kepadanya. Iblis betina ini tersenyum. “Aihh, kau tidak tahu, muridku. Bokor itu merupakan benda pusaka yang amat berharga, mungkin pusaka yang paling berharga yang dimiliki The Hoo.”

“Hemm, apakah Subo membutuhkan emas? Betapa mudahnya kalau Subo menghendaki emas.” Dengan kata-kata ini Bi Kiok hendak menyatakan babwa kalau gurunya menghendaki, mereka dapat saja mengambil dan merampas emas milik siapapun juga, tidak perlu mencari-cari benda yang telah hilang itu.

“Emas- Hi-hi-hi, siapa butuh emas- Bokor itu kabarnya, dan ini hanya kabar angin yang membocor dari rahasia Panglima The Hoo, mengandung peta rahasia yang menunjukkan tempat persembunyian harta pusaka terpendam yang tak ternilai harganya.”

“Apakah Subo membutuhkan harta?”

Kembali iblis betina itu tertawa sambil menggeleng kepalanya. Kalau melihat dia sedang bercakap-cakap dengan muridnya sambil tersenyum manis seperti itu, orang tidak akan menyangka bahwa dialah Siang-tok Mo-li, iblis betina yang menggemparkan dunia kang-ouw karena kelihaian dan kekejamannya, mengerikan hati orang karena kebiasaannya yang menyeramkan dan menjijikkan, yaitu mengganyang jantung manusia mentah-mentah, diambil langsung dari rongga dada seorang lawan hidup-hidup! Sepatutnya dia seorang wanita bertubuh pendek yang cantik manis dan sayang kepada muridnya.

“Aku tidak membutuhkan harta karena apa saja yang bisa didapatkan dengan harta, dapat pula kuperoleh asal aku menghendakinya. Akan tetapi harta yang amat besar itu perlu untuk mencapai suatu tingkat kedudukan tinggi, dan pula, yang amat menarik hati adalah kitab pusaka ilmu kesaktian simpanan yang dirahasiakan manusia sakti The Hoo!”

Memang demikianlah, seperti Siang-tok Mo-li itulah isi pikiran sebagian besar manusia di dunia ini. Betapa menyedihkan! Manusia diombang-ambingkan oleh keinginan, dan membagi-bagi keinginan itu sebagai keinginan baik, keinginan luhur, keinginan suci dan sebagainya. Padahal, apakah perbedaan antara keinginan yang ini dengan keinginan yang itu? Apakah perbedaan antara keinginan menjadi pandai, menjadi kaya, menjadi mulia dan lain-lain? Bahkan, apakah bedanya antara keinginan duniawi dan keinginan batiniah? Tetap sama, keduanya keinginan juga yang terdorong oleh hati tidak puas akan keadaan sekarang dan menginginkan keadaan lain yang belum terlaksana, atau terdorong oleh rasa takut akan masa depan, takut akan sesuatu yang tidak disukainya. Kita lupa bahwa keinginan melahirkan kekecewaan apabila tidak tercapai. Apakah akan mendatangkan kepuasan mutlak apabila tercapai? Biasanya tidak! Keinginan yang tercapai akan terasa hampa, tidaklah seindah dan senikmat kalau belum tercapai, kalau masih menjadi angan-angan, karena pikiran yang selalu terbetot untuk mencari sesuatu yang belum ada, selalu akan tertarik pula untuk menjangkau yang baru lagi. Keadaan sekarang dianggap sudah lama dan membosankan, selalu ingin yang baru, lupa bahwa yang baru itu kalau sudah tercapai tangan, akan membosankan pula dan menjadi barang lama juga! Demikianlah, kita akan terperosok ke dalam lingkaran setan, terus beringin, terus menjangkau dan hidup menjadi hamba keinginan!

Ada sebagian orang yang menganggap bahwa adanya keinginan itulah yang membuat manusia hidup menjadi maju! Apakah yang dimaksudkan dengan kemajuan? Apakah adanya pertentangan antar manusia, perang, kelaparan di sana-sini, permusuhan, dendam, iri dan benci-membenci ini termasuk kemajuan? Apakah setiap perbuatan, setiap pekerjaan yang dilakukan, harus didasari keinginan? Apakah kalau orang menanam jagung tanpa mengharapkan apa-apa, melakukan demi cintanya kepada pekerjaan itu saja, maka hasilnya akan berkurang? Apakah benar bahwa kemajuan lahir karena keinginan? Keinginan membuat manusia menjadi hamba, terikat, dan hidupnya seperti boneka yang digerakkan oleh benang-benang nafsu keinginan. Tidak ada kebebasan dalam arti kata yang selengkapnya. Dan selama hidup kita dicengkeram sepenuhnya setiap saat oleh keinginan, maka pertentangan antar manusia tentu saja takkan pernah berhenti karena keinginan mutlak dikuasai oleh si aku, demi aku, punyaku dan selamanya kita bergerak demi aku masing-masing, damai dan tenteram antara manusia takkan pernah terujud! Pertentangan, persaingan, perebutan untuk aku masing-masing akan terus berlangsung, baik antara perorangan, antara kelompok, antara ras, antara bangsa!

Betapa menyedihkan. Bilakah manusia sadar sepenuhnya akan hal ini? Bukan hanya untuk mengetahui, karena pengetahuan hanyalah pengekoran belaka, mengekor yang sudah ada, yang sudah lalu. Setiap orang pencuri TAHU bahwa mencuri adalah tidak baik. Setiap orang penjudi TAHU bahwa berjudi adalah tidak baik. Namun dia tetap mencuri, dia tetap berjudi. Akan tetapi sekali dia MENGERTI, dalam arti kata mengerti sampai ke akarnya, mengenal diri dan keadaan dirinya sendiri, maka pengertian ini akan menghapus semua itu sehingga lenyap tanpa bekas!

“Subo,” Bi Kiok berkata lagi, “teecu (murid) kira akan percuma saja mencari sebuah benda yang tidak kita ketahui di mana adanya. Bagaimana mungkin mencari sebuah bokor emas dan sepanjang sungai Huang-ho yang begini luas dan panjang? Biar membuang waktu seratus tahun, mana mungkin dapat memeriksa daerah Huang-ho sampai habis?

“Engkau benar, Bi Kiok. Agaknya bocah itu berada di tangan orang lain. Suami isteri yang lihai itu mencurigakan. Akan tetapi berat untuk melawan mereka seorang diri. Biarlah sekarang kita pergi mengunjungi Telaga Kwi-ouw yang tidak jauh dari sini.”

Bi Kiok mengerutkan alisnya yang hitam panjang kecil. “Telaga Kwi-ouw? Bukankah di sana sarang Kwi-eng-pang?”

“Benar. Aku hendak menemui Kwi-eng-pangcu (Ketua Kwi-eng-pang), yaitu Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio. Kedudukan kami berdua setingkat. Di dunia sekarang ini hanya ada lima orang yang diakui sebagai tokoh-tokoh yang mewakili kelima penjuru. Aku mewakili selatan, Kwi-eng Niocu mewakili barat, Ban-tok Coaong mewakili utara, Hek-bin Thian-sin mewakili timur, dan Toat-beng Hoatsu mewakili daerah di tengah daratan. Kabarnya mereka itu semua condong untuk bersekutu dengan Pek-lian-kauw dan bersama-sama menyusun kekuatan untuk menghadapi pemerintah. Dengan bergabung bersama mereka, tentu kelak akan terbuka jalan bagiku untuk memperoleh bokor itu.”

“Akan tetapi… Subo telah membunuh orang-orang Pek-lian-kauw di kuil itu, melukai tosu Pek-lian-kauw, membunuh teman murid Kwi-eng Niocu dan melukai murid kepala yang menjadi Ketua Ui-hong-pang itu! Tentu Subo akan dimusuhi mereka.”

“Heh-heh, memang kusengaja! Itulah semacam kartu namaku untuk mereka, agar mereka membuka mata dan tahu siapa Siang-tok Mo-li dari selatan! Orang-orang itu berani menentangku, bukan? Sudah sepatutnya dibunuh. Hal ini tentu dimengerti oleh para pimpinan Pek-lian-kauw, maka kubiarkan tosu itu hidup. Dan kulukai murid Kwi-eng Niocu agar dia tidak memandang rendah kepadaku!”

“Akan tetapi, mungkinkah mereka mau mengerti setelah Subo melakukan kesukaan Subo atas diri para anggauta Pek-lian-kauw itu? Subo tidak hanya membunuh mereka, akan tetapi makan jantung mereka. Teecu tahu bahwa Subo mempunyai kebiasaan itu untuk memperkuat diri Subo, dan biarpun teecu sendiri tidak suka karena jijik untuk melakukannya, akan tetapi teecu tidak menentang. Hanya yang teecu sangsikan, apakah pihak Pek-lian-kauw dan Kwi-eng-pang akan dapat menerimanya?”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: