Petualang Asmara (Jilid ke-14)

“Mereka sudah tahu akan kebiasaan dan kesukaanku, tentu mereka mengerti.”

“Jadi mereka sudah mengerti? Akan tetapi teecu yang menjadi murid Subo malah belum mengerti mengapa Subo hanya suka makan jantung pria saja.”

“Hal itu ada hubungannya dengan riwayatku, Bi Kiok.”

“Mengapa tidak Subo ceritakan kepada teecu?”

Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci menarik napas panjang, lalu berkata, “Aku tidak suka menggali riwayat lama yang menyakitkan hati, akan tetapi tidak kuceritakan pun kelak engkau akan mengetahui.

Daripada mendengar dari orang lain yang mungkin memutarbalikkan kenyataan, baiklah kaudengarkan riwayat singkatku yang menjadi pendorong mengapa aku hanya suka mengganyang jantung pria.”

Iblis Betina Racun Wangi itu lalu bercerita dengan singkat. Ketika dia masih muda sekali, dia telah mengalami bermacam penghinaan dan perlakuan buruk dari kaum pria. Bu Leng Ci adalah seorang peranakan Jepang. Ibunya diculik bajak laut Jepang, karena ibunya adalah seorang gadis nelayan di pantai laut selatan, kemudian ibunya dipaksa menjadi isteri muda kepala bajak itu sampai melahirkan dia. Kemudian, dalam usia empat belas tahun dia dikawinkan dengan seorang laki-laki tua bangsa Jepang dan tinggal di Jepang. Biarpun tua, laki-laki itu adalah seorang pendekar samurai yang kenamaan. Hanya sayang, kakek itu hanya memperisterinya untuk melayaninya dalam keperluan sehari-hari belaka dan semenjak menjadi isterinya, jago samurai itu tidak pernah tidur dengannya! Tentu saja hal ini menjadi siksaan dan barulah diketahui bahwa jago samurai yang dalam istilah dunia persilatan adalah seorang kiam-hiap (pendekar pedang) itu pantang untuk tidur dengan wanita. Maka terjadilah hal yang wajar dalam keadaan seperti itu. Seorang pemuda, tetangga mereka, seorang pemuda Jepang yang tampan, menarik hatinya. Mereka saling jatuh cinta. Hal ini diketahui oleh suaminya. Namun pendekar Jepang itu, bersikap murah dan bijaksana, bahkan memberikan Leng Ci untuk menjadi lateri pemuda itu.

Namun, masa penuh madu itu hanya berlangsung tidak lebih dari beberapa bulan saja bagi Leng Ci. Suaminya, pemuda yang tadinya bersumpah kerak-keruk mencintainya, segera berpaling muka dan bermain gila dengan wanita-wanita lain. Dia menjadi seorang wanita yang disia-siakan oleh suami!

Pada waktu itu, Leng Ci pandai bermain pedang samurai, dilatih oleh suaminya yang pertama. Setelah beberapa kali bercekcok, akhirnya Leng Ci membunuh suami ke dua ini bersama kekasih suaminya, dan melarikan diri, ikut ayahnya menjadi bajak laut.

Dalam beberapa tahun saja, karena dia memiliki wajah yang cantik manis, dia jatuh ke dalam pelukan berbagai pria yang tadinya bertekuk lutut bersumpah menyatakan cinta, akan tetapi kemudian meninggalkannya untuk wanita lain. Belasan orang pria yang sudah dibunuhnya karena itu, dan akhirnya, ketika dia betul-betul jatuh cinta kepada seorang laki-laki gagah di pantai selatan, dia kembali menjadi isteri laki-laki ini dan hidup bahagia di pantai selatan. Pada waktu itu dia baru berusia tujuh belas tahun!

Betapa menyedihkan hatinya ketika suami terakhir yang benar-benar dicintanya ini pun tidak setia kepadanya, dan mata duitan pula. Suaminya adalah seorang tokoh dunia kaum sesat, dan pada suatu hari, suaminya itu membiusnya dengan obat sehingga dia tertidur dan dalam keadaan seperti itu, dia telah “dijual” oleh suaminya kepada lima laki-laki golongan hitam yang berani membayar mahal. Selama dua hari dua malam, dalam keadaan pulas karena selalu dilolohi obat bius ini, dia dipermainkan dan ditiduri oleh lebih dari sepuluh orang laki-laki dan untuk itu suaminya telah mengantongi banyak uang!

Setelah sadar, Leng Ci mendapatkan dirinya telah terhina dan suaminya telah kabur membawa uang hasil penjualan dirinya dan semua barang berharga dalam rumah. Bu Leng Ci lalu mencari suaminya itu dan beberapa bulan kemudian, dia dapat menemukan suaminya, membunuhnya dan mengganyang jantung pria itu hidup-hidup! Itulah pertama kalinya makan jantung pria semenjak itu, setiap membunuh seorang pria, dia selalu makan jantungnya. Makin lama Bu Leng Ci makin lihai, apalagi ketika kemudian dia berhasil menarik hati seorang datuk kaum sesat yang menjagoi daerah selatan, yaitu Lam-hai Sin-ni (ibu Sie Biauw Eng) yang berkenan menurunkan beberapa ilmu silat tinggi, kepandaian Bu Leng Ci meningkat tinggi. Bahkan dia memperdalam pula ilmu pedang samurai dari suami pertamanya yang masih sayang kepadanya dan dengan suka hati menggemblengnya.

Selama Lam-hai Sin-ni masih hidup, tentu saja Bu Leng Ci tidak berani menjagoi di daratan dan dia bahkan bersembunyi di Jepang untuk memperdalam ilmu samurainya. Ketika jago samurai, suami pertamanya meninggal dunia, dia mewarisi semua milik bekas suami itu, termasuk pedang samurainya. Dia telah mendengar akan kematian Lam-hai Sin-ni, barulah dia berani mendarat dan mulai melakukan petualangannya di daerah selatan sehingga belasan tahun kemudian dia menjadi datuk dari kaum sesat untuk daerah selatan.

“Demikianlah riwayat singkatku, muridku. Kaum pria hanya memandang wanita sebagai alat untuk memuaskan nafsu birahinya belaka! Cinta yang didengang-dengungkan, yang diucapkan dengan seribu satu macam sumpah, hanya dipergunakan sebagai umpan untuk memikat. Setelah kepuasan nafsu berahinya terpenuhi, maka mulailah matanya melirik ke kanan kiri mencari korban baru untuk memuaskan nafsu-nafsunya. Karena itu, aku muak dan aku benci kepada kaum pria umumnya!”

Biarpun dia sendiri telah banyak mengalami hal-hal yang mengerikan dan yang membuat hatinya mengeras, mendengar cerita gurunya ini, meremang juga bulu tengkuk Bi Kiok.

Maka berangkatlah guru dan murid itu melanjutkan perjalanan, meninggalkan pantai Sungai Huang-ho menuju ke barat untuk mengunjungi Kwi-eng-pai di Telaga Setan di barat. Akan tetapi, baru berjalan setengah hari lamanya, di luar sebuah hutan mereka bertemu dengan lima orang laki-laki yang keluhatannya gagah perkasa dan yang melakukan perjalanan dengan ilmu berlari cepat. Setelah dekat, guru dan murid ini mengenal seorang di antara mereka yang bukan lain adalah Kiang Ti, Ketua Ui-hong-pang yang berpakaian serba kuning, murid kepala Kwi-eng Niocu Si Bayangan Hantu yang pernah dilukai oleh Bu Leng Ci. Melihat orang ini, sambil terkekeh Bu Leng Ci menggerakkan kakinya melompat dan dia telah berdiri menghadang di tengah jalan! Akan tetapi, ketika melihat wanita itu, Kiang Ti tidak menjadi takut atau kaget, bahkan tersenyum lebar dan cepat dia menjura sambil berkata, “Aihh, sungguh beruntung sekali dapat berjumpa dengan Locianpwe di sini! Kami memang sedang menanti Locianpwe.”

Bibir yang tipis merah itu tersenyum mengejek, “Apakah kau membawa teman untuk membalas pukulanku dahulu itu? Kalau hendak membalas, mengapa bukan gurumu sendiri saja yang datang?”

Biarpun ucapan itu terdengar mengandung ejekan dan penghinaan, namun ketua dari Ui-hong-pang itu sama sekali tidak menjadi marah, bahkan tersenyum makin lebar. “Maaf, maaf… mana saya berani? Sama sekali bukan demikian, Locianpwe. Sesungguhnya kami diutus oleh Subo (Ibu Guru) untuk mencari Locianpwe dan mengundang Locianpwe untuk hadir dalam pertemuan puncak antara lima datuk yang akan mengadakan pertemuan dengan pimpinan Pek-lian-kauw, berempat di Kwi-ouw.”

Girang sekali hati Bu Leng Ci. Ternyata bahwa pengiriman “kartu nama” darinya itu berhasil. Dia telah diakui dan mendapat kehormatan besar! Betapapun juga, dia menekan kegirangan hatinya sehingga tidak tampak pada mukanya, dan dia berkata, “Apakah kalian mengenal seorang bernama Yap Cong San dan isterinya bernama Gui Yan Cu?”

Kian Ti dan teman-temannya saling pandang. Mereka berlima adalah tokoh-tokoh Kwi-eng-pang, murid-murid terkemuka dari Kwi-eng Niocu dan sudah mempunyai pengalaman luas. Namun karena mereka itu bergerak di daerah barat, sedangkan Yap Cong San dan isterinya bertahun-tahun berada di Leng-kok dan tak pernah terjun ke dunia kang-ouw, maka mereka tidak mengenal suami isteri ini.

“Kami tidak pernah mendengar nama mereka, Locianpwe.”

“Mereka adalah orang-orang penting, sebaiknya kalau kalian mencari mereka yang berada di daerah ini. Kalau berhasil menangkap mereka, bawa ke Kwi-ouw. Aku dan muridku akan langsung mendahului ke Kwi-ouw.”

Kiang Ti dan teman-temannya menyanggupi dan kelima orang itu lalu melanjutkan perjalanan mencari suami isteri seperti yang diperintahkan Bu Leng Ci. Sedangkan Bu Leng Ci sendiri melanjutkan perjalanan menuju ke Kwi-ouw dan diam-diam dia mentertawakan murid-murid Kwi-eng Niocu itu.

“Subo, dua orang yang telah berhasil dilukai Subo, mana mungkin dapat ditangkap oleh lima orang itu?” Tiba-tiba Bi Kiok bertanya.

“Heh-heh, kau cerdik muridku. Memang kecil sekali kemungkinan mereka akan dapat menangkap suami isteri itu biarpun si isteri telah terluka oleh Siang-tok-soa di dadanya. Akan tetapi peduli apa? Kalau lima orang Kwi-eng-pai itu tewas, berarti suami isteri itu menjadi musuh Kwi-eng-pang, dan kalau sampai mereka berhasil menawan suami isteri itu, ada gunanya juga bagi kita. Mereka itu adalah ayah bunda bocah setan yang bernama Kun Liong itu.”

Sebelum Bi Kiok menjadi murid iblis betina itu, tentu dia akan berseru kaget mendengar ini, atau setidaknya tentu akan berubah air mukanya. Akan tetapi, semuda itu, Bi Kiok telah dapat menguasai perasaannya sehingga biarpun dia kaget bukan main, namun tidak ada perubahan pada wajahnya yang cantik dan dingin.

Namun pertemuan puncak antara lima orang datuk itu tidak lengkap. Yang hadir dalam pertemuan itu hanyalah Bu Leng Ci, Kwi-eng Niocu, dan Hek-bin Thian-sin saja. Sedangkan dua orang datuk yang lebih tua dan lebih terkenal, yang dianggap sebagai datuk nomor satu dan nomor dua, yaitu Toat-beng Hoatsu dan Ban-tok Coa-ong, tidak muncul. Hal ini mengecewakan para pimpinan Pek-lian-kauw, maka atas persetujuan bersama, pertemuan puncak diundur sampai kedua orang datuk itu dapat ditemukan dan diundang.

Melihat sarang yang menjadi pusat Kwi-eng-pang di mana Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio menjadi ketuanya, Bu Leng Ci merasa iri hati sekali. Sebagai seorang perantau dan petualang, melihat keadaan “rekannya” yang makmur ini, hatinya ingin sekali seperti rekannya itu.

Keadaan Kwi-eng-pang memang kuat sekali. Markas mereka berada di pulau kecil yang letaknya di tengah-tengah Kwi-ouw, sebuah telaga yang besar dikurung hutan-hutan pegunungan sehingga bayangan hutan-hutan yang gelap membuat air telaga yang tenang dan dalam itu kelihatan hitam menyeramkan. Karena ini agaknya maka telaga ini disebut Telaga Setan. Di atas pulau ini didirikan rumah-rumah, memenuhi pulau. Rumah gedung yang mewah di tengah-tengah adalah tempat tinggal Sang Ketua, sedangkan rumah-rumah di sekitarnya ditinggali para pimpinan dan anggauta Kwi-eng-pang yang jumlahnya lebih dari dua ratus orang, laki-laki dan wanita. Pekerjaan para anggauta Kwi-eng-pang, selain berlatih silat, juga sebagai nelayan di telaga, ada yang bercocok tanam di sekeliling telaga yang memiliki tanah subur, ada pula yang berburu binatang di dalam hutan-hutan. Akan tetapi yang menjamin kehidupan mereka hidup mewah dan makmur adalah “sumbangan-sumbangan” dari para penduduk di daerah itu, sumbangan atau “pajak” yang diberikan baik secara sukarela karena takut atau dengan paksaan!

Telaga itu sendiri sebetulnya amat dalam dan mengandung banyak ikan. Akan tetapi semenjak Kwi-eng Niocu bermarkas di tempat itu belasan tahun yang lalu, keadaan telaga berubah menjadi tempat yang berbahaya sekali, Di sekeliling pulau, di dalam air telaga dipasangi banyak alat rahasia yang membahayakan para pendatang, dan setelah banyak penduduk sekitar daerah itu yang biasanya mencari ikan di telaga tewas dalam kedaan mengerikan, kini tidak ada lagi orang berani mendekati telaga itu.

Hanya para anggauta Kwi-eng-pang saja yang berani mendayung perahunya di atas telaga karena mereka telah hafal akan rahasia di situ. Dengan demikian, selain memonopoli semua ikan yang berada di dalam air telaga, juga keadaan markas di pulau itu terlindung kuat, tidak mudah diserbu musuh seperti keadaan sebuah benteng saja layaknya!

Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio adalah seorang wanita berusia lima puluh tahun lebih. Selamanya belum pernah menikah sehingga orang-orang yang tidak suka kepadanya mengatakan bahwa saking jahatnya maka Ang Hwi Nio menjadi seorang perawan tua! Tubuhnya masih ramping, agak tinggi, dan biarpun usianya sudah mendekati enam puluh tahun, rambutnya belum ada ubannya sama sekali, matanya masih terang dan giginya masih utuh tersusun rapi seperti keadaan seorang perawan muda saja! Pakaiannya selalu bersih dan rapi, seperti pakaian seorang nyonya bangsawan, juga rambutnya diminyaki dan digelung rapi, dihias emas permata yang mahal-mahal. Melihat orangnya, yang tidak mengenalnya tentu akan mengira dia seorang wanita yang mulai berangkat menjadi nenek-nenek lemah! Akan tetapi sesungguhnya dia adalah seorang yang berilmu tinggi, seorang yang ditakuti dunia kang-ouw.

Bahkan mendengar namanya disebut saja sudah cukup membuat jantung orang berdebar tegang dan bulu tengkuk meremang karena sudah terkenal di mana-mana nama ini, sudah diketahui semua orang bahwa wanita yang tak pernah keluar dari pulau itu, sekali keluar tentu akan ada yang tewas di tangannya. Hebatnya, setiap kali dia turun tangan membunuh orang yang dikehendakinya, tidak ada yang dapat melihatnya, hanya melihat bayangannya saja dan mendengar suara ketawanya yang halus. Karena sepak terjangnya inilah maka dia dijuluki Kwi-eng Niocu (Nona Bayangan Hantu). Disebut nona karena dia masih perawan dan disebut Bayangan Hantu karena yang tampak hanya bayangannya.

Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio tinggal di pulau telaga itu dan hidup sebagai seorang ratu! Rumahnya merupakan gedung indah dan mewah seperti sebuah istana saja, setiap hari dikelilingi pelayan-pelayan cantik dan cara hidupnya royal dan mewah sekali.

Memang Ang Hwi Nio ini tidak pernah menikah. Akan tetapi dia mempunyai seorang anak angkat, juga merupakan murid yang paling pandai. Anak angkat ini bernama Liong Bu Kong, pada waktu itu berusia sembilan belas tahun. Seorang pemuda yang berwajah tampan dan gagah sekali sehingga patut tinggal di dalam istana itu, patut menjadi putera seorang bangsawan, dan mengherankan kalau pemuda setampan ini menjadi putera seorang iblis betina seperti Kwi-eng Niocu! Wajah pemuda ini tampan dan bibirnya selalu menyungging senyum dikulum, sepasang matanya bersinar-sinar dan wajahnya selalu berseri. Akan tetapi bagi yang memperhatikan, di balik sinar mata itu terdapat sesuatu yang membuat orang menjadi curiga dan ngeri. Tidak ada seorang pun mengetahui dari mana datangnya pemuda ini. Para anggauta Kwi-eng-pang sendiri hanya mengetahui bahwa ketua mereka itu datang-datang membentuk Kwi-eng-pang sudah membawa seorang anak laki-laki bernama Liong Bu Kong yang menurut pengakuannya adalah anak angkatnya.

Melihat keadaan ini semua, tidak mengherankan apabila timbul iri dan ingin di dalam hati Bu Leng Ci. Dia merasa suka tinggal di tempat itu, dan melihat betapa rekannya itu, Ang Hwi Nio, hidup dalam kernewahan dan kemuliaan, dihormati sebagai ratu oleh dua ratus orang lebih, disegani dan ditakuti orang-orang di sekitar daerah itu.

“Tempatmu ini hebat sekali, membuat orang betah berada di sini,” kata Bu Leng Ci ketika pada suatu siang dia bersama muridnya duduk berhadapan dengan Ang Hwa Nio di tepi telaga, dalam sebuah taman buatan yang indah, di bawah pohon yangliu yang bergerak-gerak meliuk-liuk seperti tubuh seorang penari yang lemah gemulai!

“Engkau suka dengan tempat ini?” Kwi-eng Niocu bertanya tanpa mengangkat muka karena dia sedang asik memeriksa kuku jari-jari tangannya. Kukunya panjang-panjang dan terpelihara baik-baik, diberi warna merah muda, dan dipelihara meruncing. Kelihatannya memang bagus dan cantik sekali, akan tetapi dalam pandangan orang kang-ouw tangan dengen kuku jari panjang-panjang menarik itu sama sekali tidak tampak indah menggairahkan, bahkan sebaliknya mendatangkan rasa ngeri karena satu di antara kehebatan ilmu wanita ini terletak pada kukunya yang beracun itu! Jangankan sampai kena dicengkeram, baru tergurat sedikit saja sudah cukup mengirim nyawa lawan ke neraka! “Kalau memang suka mengapa tidak tinggal di sini saja?”

Bu Leng Ci mengangkat muka, sinar matanya menyambar dan kedua alisnya berkerut.

“Apa maksudmu, Pangcu (Ketua)?” tanyanya, suaranya mengandung kemarahan. “Engkau begitu berani memandang rendah kepadaku dan menyuruh aku menjadi kaki tanganmu atau anak buahmu?”

Kwi-eng Niocu Ang Hwa Nio melirik dan senyum yang menghias bibirnya amat menyeramkan. “Siapa yang ingin engkau menjadi anak buahku, Mo-li? Kita adalah rekan dan kedudukan kita setingkat, sungguhpun aku menjadi seorang pangcu dan engkau hanya seorang petualang tanpa tempat tinggal. Engkau tadi mengatakan suka kepada tempat ini dan aku menawarkan kepadamu untuk tinggal di sini, bukan sebagai anak buah, bukan pula sebagai pembantuku karena engkau memang bukan anggauta Kwi-eng-pang.”

“Habis, sebagai apa? Tamu? Mana ada tamu tinggal terus-menerus?”

“Juga bukan tamu, tetapi sebagai adik angkat. Maukah?”

Bu Leng Ci bangkit berdiri dan mukanya menjadi merah. Bi Kiok yang sejak tadi duduk mendengarkan dan menonton, diam saja namun diam-diam dia merasa tegang juga karena kalau sampai gurunya dan Ketua Kwi-eng-pang itu bertanding, tentu hebat bukan main akibatnya. “Kwi-eng-pangcu! Menjadi adik angkat berarti harus tunduk dan taat kepada kakak angkatnya, berarti sama saja! Apakah dengan memberi tempat tinggal kepadaku harus kubayar dengan tunduk dan taat kepadamu?”

Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio tertawa, suara ketawanya merdu dan halus, akan tetapi ada sesuatu yang dingin dan menyerannkan di balik suara ketawa ini, seperti suara ketawa seekor ibils betina yang merayu dan menjatuhkan hati orang-orang yang kurang kuat batinnya.

“Siang-tok Mo-li, tepat sekali apa yang kudengar tentang dirimu. Kau amat keras hati dan penuh prasangka. Cocok untuk menjadi adikku! Tentu saja sudah sepatutnya kalau kau menjadi adik angkatku, bukankah aku lebih tua darimu, sedikitnya sepuluh tahun lebih tua? Apa engkau merasa rendah dengan menjadi adik angkat Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio, ketua dari Kwi-eng-pang?”

“Betapapun juga, seorang adik angkat tentu lebih rendah dari kakaknya, dan hal ini sama sekali tidak ada sangkutpautnya dengan usia.”

“Hemmm, habis apa yang menentukannya kalau bukan usia? Kaumaksudkan kepandaian? Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci, apakah engkau tidak percaya bahwa kepandaianku lebih tinggi daripada kepandaianmu?”

“Ah, aku tidak percaya!”

Mereka berdua kini sudah berdiri saling berhadapan dan Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio sudah lupa akan kukunya, kini memandang kepada wanita pendek di depannya itu penuh perhatian.

“Kalau begitu, biarlah kepandaian yang menentukan!”

“Kwi-eng Niocu, aku tidak takut kepadamu! Akan tetapi, aku diundang ke sini untuk menghadiri pertemuan puncak yang sayangnya gagal. Setelah semua orang pergi, kau menahan aku untuk tinggal beberapa hari di sini. Sepantasnya aku berterima kasih kepadamu dan akan ditertawakan orang kalau aku sekarang bertanding melawanmu sebagai musuh! Pikirlah baik-baik! Benarkah kita harus saling bermusuh, bukan bersekutu seperti yang direncanakan semula?”

Kembali Kwi-eng-cu Ang Hwi Nio tertawa halus. “Hi-hi-hih, Bu Leng Ci, engkau benar-benar keras seperti baja! Diajak menguji kepandaian kauanggap bertempur seperti musuh! Dikalahkan dengan usia kau tidak mau, maka jalan satu-satunya untuk menentukan siapa yang patut menjadi kakak dan siapa adik, hanyalah dengan mengukur kepandaian masing-masing!”

Bu Leng Ci mengerutkan alisnya. Kini dia mengerti apa yang dikehendaki oleh Ketua Kwi-eng-pang yang aneh ini. Akan tetapi, dia tetap ragu-ragu biarpun dia akan suka sekali tinggal di tempat yang indah itu.

“Tetap saja tidak baik, Pangcu” Dia menggeleng kepala. “Kalau aku kalah atau menang, tidak akan berubah, kita tidak mungkin tinggal terus bercampur menjadi satu di tempat ini. Kalau aku menang, aku tidak mau menjadi Ketua Kwi-eng-pang.”

“Di sebelah timur pulau ini ada sebuah pulau lain yang lebih kecil, akan tetapi tidak kalah indahnya. Tempat itu sekarang masih kubiarkan kosong dan dapat dijadikan tempat tinggal seorang di antara kita.”

Sinar mata Bu Leng Ci berseri dan dia menoleh ke kiri. Benar saja, dari tempat yang agak tinggi di taman itu, dia melihat sebuah pulau lain yang penuh dengan pohon-pohon.

“Hemm, kalau begitu, lain persoalannya. Bagaimana kita akan mengukur kepandaian masing-masing? Dengan bertanding? Besar kemungkinan yang kalah akan tewas seketika!”

Ang Hwa Nio mengangguk. “Kau benar, tidak perlu kita bertanding tanpa sebab dan menghadapi bahaya maut secara konyol. Aku mendengar kau memiliki banyak macam ilmu, akan tetapi yang paling terkenal adalah samuraimu itu. Nah, kita berlumba, siapa yang lebih unggul, samuraimu ataukah kuku jariku.”

“Pangcu, jangan main-main! Ataukah kau benar-benar memandang rendah samuraiku? Kalau cuma kuku jarimu yang rusak, masih tidak apa, bagaimana kalau sampai jari tanganmu ikut putus?”

“Hi-hi-hik, kembali kau salah sangka. Jangan membesarkan prasangka, kataku tadi. Kita bukan bertanding, melainkan berlumba. Llhat di permukaan air telaga itu, banyak ikan-ikan kecil bukan? Nah, kita berlumba cepat, mana yang lebih cepat menangkap ikan-ikan itu, samuraimu ataukah kuku jariku. Tentu saja hal itu bukan menjadi tanda siapa yang lebih lihai kalau bertanding sungguh-sungguh, akan tetapi setidaknya dapat dipakai untuk menentukan siapa patut menjadi kakak dan siapa adik.”

Bu Leng Ci mengangguk-angguk. Tentu saja dia berani berlumba seperti itu. Betapapun juga, samurainya lebih paniang dan tentu dia lebih cepat.

“Kalau sudah ketahuan siapa yang menang bagaimana?”

“Yang menang akan menjadi kakak angkat dan tetap tinggal di pulau ini, yang kalah menjadi adik angkat dan tinggal di pulau yang lebih kecil. Kita tetap bersaudara.”

Apa pun akibatnya, kalah atau menang, tetapi enak dan menyenangkan hati Bu Leng Ci. Andaikata kalah sekalipun, bukan hal yang merendahkan untuk menjadi adik angkat Ketua Kwi-eng-pang, bukan berarti menjadi anak buahnya atau menjadi orang yang lebih rendah tingkat kedudukannya!

Betapapun juga, pengalaman hidupnya yang penuh kepahitan membuat wanita iblis ini selalu penuh prasangka dan amat hati?hati menjaga diri. Maka dia masih belum puas dan belum mau menerima begitu saja sebelum dia mengetahui apa yang menjadi sebabnya maka Ang Hwa Nio sebaik itu kepadanya, malah suka mengangkatnya sebagai saudara. Dia sudah terbiasa dengan kehidupan kaum sesat, di antara bajak-bajak. Tidak ada perbuatan yang tidak berdasarkan suatu kehendak atau keinginan demi keuntungan diri sendiri. Perbuatan yang menyimpang dari dasar ini merupakan hal yang tidak mungkin, atau tidak lumrah!

“Aku dapat menerima usul itu, Pangcu. Akan tetapi, apakah sebabnya engkau ingin menjadi saudara angkatku?”

“Tentu saja ada sebabnya, Mo-li. Akan tetapi jangan khawatir, bukan hanya untuk kepentinganku pribadi, melainkan juga keuntunganmu, keuntungan kita berdua sebagai wanita-wanita yang sama membenci pria.”

“Eh? Apa maksudmu?”

“Dengar baik-baik. Pada waktu sekarang ini, di dunia kita hanya ada lima orang datuk, bukan? Dua di antaranya adalah kita, dan yang tiga lagi semua pria. Menurut pendapatku, tingkat kepandaian kita berlima seimbang dan mungkin sekali tingkat kepandaian dua di antara mereka, Toat-beng Hoat-su dan Ban-tok Coa-ong, agak lebih tinggi. Sekali waktu tentu akan timbul perebutan untuk diakui sebagai nomor satu yang akan menjadi pemimpin, dan agaknya seorang di antara mereka itu tentu akan menang. Akan tetapi, kalau kita menjadi enci dan adik angkat, dengan maju berdua, siapakah di antara mereka bertiga yang akan mampu mengalahkan kami? Mengertikah kau?”

Bu Leng Ci mengangguk-angguk dan diam-diam memuji kecerdikan Ketua Kwi-eng-pang itu. Memang akan sial sekali kalau sampai seorang pria menjadi pimpinan kelima orang datuk. Harus tunduk kepada seorang pria. Tidak sudi! Melawan seorang diri akan berat sekali.

“Akan tetapi, bagaimana kalau mereka pun bersatu seperti kita?”

“Tidak mungkin! Mereka bertiga bersaing, mana mau bersatu! Nah, bagaimana? Maukah engkau menjadi saudara angkatku?”

“Baik, mari kita mulai berlumba!”

Kedua orang wanita sakti itu lalu berdiri di tepi pulau, memandang ke arah air telaga, menanti munculnya ikan-ikan kecil yang kadang-kadang tenggelam, bermain-main di permukaan air. Bi Kiok juga berdiri dan menonton dengan wajah tak berubah, biarpun diam-diam dia merasa girang juga akan keputusan gurunya. Dia pun sudah bosan diajak merantau terus, tidak tentu tempat tinggalnya. kadang-kadang tidur di atas pohon, di kuil-kuil kotor. Tempat tinggal itu memang indah dan dia suka sekali tinggal di situ.

Ketika ikan-ikan mulai muncul di permukaan air telaga, Ang Hwa Nio berkata lirih. “Nah, kita mulai sebelum mereka menyelam kembali. Mari!”

Bu Leng Ci dan Ang Hwi Nio meloncat dengan berbareng. Bu Leng Ci sudah mencabut samurainya dengan gerakan kilat, setelah tubuhnya tiba di atas tempat di mana ikan-ikan berenang, samurainya berkelebat seperti kilat menyambar ke permukaan air. Ang Hwi Nio berjungkir balik, kepala di bawah dan kedua lengannya bergerak cepat sehingga sukar diikuti pandang mata, mencengkeram ke arah air.

Ikan-ikan itu tentu saja kaget dan segera menyelam kembali. Dua orang wanita sakti itu dengan gerakan berputar di udara, dapat melayang kembali ke tepi pulau. Gerakan mereka seperti burung walet beterbangan, indah dan cepat sekali membuat Bi Kiok terbelalak kagum.

“Hemm, lihat berapa ikan yang mampus oleh samuraiku!” Bu Leng Ci berkata bangga dan sebelum kakinya menginjak tanah, samurainya telah bersarung kembali.

“Satu-dua-tiga… aihh, ada sepuluh ekor yang mati terbelah. Kepandaianmu hebat, Moi-moi. Aku akan berpikir panjang dulu sebelum melawan samuraimu dalam pertempuran!” Kata Ang Hwi Nio setelah menghitung bangkai-bangkai ikan yang telah mengambang di permukaan air dengan tubuh terpotong menjadi dua!

“Apa? Kau menyebutku moi-moi (adik perempuan)!” Bu Leng Ci menegur penasaran.

Ang Hwi Nio tertawa halus dan memperlihatkan kedua tangannya yang tadi dia sembunyikan di belakang tubuhnya. Bu Leng Ci memandang terbelalak melihat betapa kesepuluh buah kuku jari itu masing-masing telah menusuk seekor ikan, dan ikan-ikan itu telah berubah mengering seperti dibakar!

“Bukan main! Engkau hebat! Akan tetapi, engkau pun hanya dapat membunuh sepuluh ekor, tidak lebih banyak dan aku!” Bu Leng Ci menegur.

Ang Hwi Nio menggerakkan kedua tangannya dan kesepuluh ekor ikan itu terlempar kembali ke atas air telaga, mengambang dekat ikan-ikan yang menjadi korban samurai Bu Leng Ci.

“Benar, kita masing-masing membunuh sepuluh ekor. Akan tetapi aku dapat membawa ikan-ikan itu ke darat. Apakah kau tadi sanggup untuk membawa korban-korbanmu ke darat? Bukankah hal itu berarti bahwa aku masih menang cepat sedikit dibandingkan denganmu, Moi-moi?”

Bu Leng Ci tak dapat membantah kebenaran ucapan itu, maka dia lalu menjura dan berkata, “Engkau benar, Ang-cici (Kakak Perempuan Ang). Aku mengaku kalah dan aku senang sekali menjadi adik angkatmu. Bi Kiok, ayo kau memberi hormat kepada bibi gurumu!”

Yo Bi Kiok yang semenjak tadi menyaksikan itu semua, lalu melangkah maju menghadapi Ketua Kwi-eng-pang itu, memberi hormat dengan berlutut dan berkata, “Su?i!”

Ang Hwi Nio tertawa girang. “Berdirilah, Nak. Muridmu ini manis sekali, Bi-moi. Siapa namamu?”

“Nama teecu (murid) Yo Bi Kiok, Su-i”

“Bagus, engkau akan menjadi teman baik puteraku. Kauterimalah hadiahku ini, Bi Kiok.” Wanita itu meloloskan hiasan rambutnya yang terbuat dari batu kemala berbentuk burung Hong dan memberikannya kepada Bi Kiok.

Tentu saja Bi Kiok girang sekali, menerima benda berharga itu dengan kedua tangan dan menghaturkan terima kasih. Melihat betapa Bi Kiok hanya memegangi benda itu dan memandang dengan mata bersinar-sinar, Ang Hwi Nio tertawa. “Giok-hong-cu (Burung Hong Kemala) itu bukan untuk dipegang, melainkan untuk hiasan rambut atau baju di dada. Sini, kupakaikan di rambutmu!”

Bi Kiok maju berlutut dan Ang Hwi Nio memasangkan benda itu di atas kepala Bi Kiok. Kemudian dara itu disuruhnya berdiri.

“Lihat, muridmu menjadi makin cantik saja, Bu-moi!”

Bu Leng Ci tersenyum bangga dan kedua orang wanita sakti itu merasa girang karena kini mereka berdua dapat menjagoi di dunia kaum sesat, tidak takut lagi menghadapi seorang di antara datuk, yang manapun juga!

Sebuah rumah yang cukup indah dibangun di pulau kecil di sebelah timur untuk tempat tinggal Bu Leng Ci dan muridnya, dan Bu Leng Ci yang merasa berterima kasih lalu menceritakan semua pengalamannya kepada kakak angkatnya, juga menceritakan tentang bokor emas dan tentang suami isteri lihai yang dijumpainya di tepi sungai Huang-ho di lereng pegunungan Lu-liang-san.

Ketika Liong Bu Kong yang pergi memburu binatang bersama beberapa orang anggauta Kwi-eng-pang pulang dan bertemu dengan Bu Leng Ci dan Bi Kiok, dia terheran dan menjadi girang mendengar bahwa Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci yang namanya sudah dikenalnya sebagai seorang di antara lima datuk itu kini telah menjadi adik angkat ibunya! Lebih girang lagi hatinya melihat Yo Bi Kiok yang cantik manis. Dara remaja ltu telah menjadi saudara misannya, biarpun hanya saudara angkat! Akan tetapi sikap Bi Kiok yang selalu berwajah dingin dan pendiam itu mengecewakan hati Bu Kong sehingga pemuda ini pun membuang niatnya untuk mengajak dara remaja itu main-main dengannya.

Beberapa hari kemudian, Kian Ti dan empat temannya yang mentaati permintaan Bu Leng Ci pergi mencari suami isteri yang bernama Yap Cong San dan Gui Yan Cu, kembali ke pulau dengan tangan hampa. Mereka tidak berhasil menemukan suami isteri yang dicarinya itu. Mereka juga girang sekali ketika mendengar bahwa Siang-tok Mo-li yang terkenal itu kini menjadi adik angkat ketua mereka. Hal ini berarti bahwa kedudukan mereka lebih kuat lagi biarpun adik angkat ketua mereka itu tidak menjadi anggauta Kwi-eng-pang.

Namun, beberapa bulan kemudian, pulau kecil yang dijadikan tempat tinggal Bu Leng Ci itu menjadi tempat yang menyeramkan dan menakutkan bagi para anggauta Kwi-eng-pai karena wanita itu terkenal sebagai pembenci pria sehingga tidak ada yang berani mendekati pulau! Bahkan Liong Bu Kong sendiri pun tidak berani mendekat. Hanya Kwi-eng-pangcu saja yang berani mengunjungi adik angkatnya. Dan kalau ada keperluan mengantarkan sesuatu, Kwi-eng-pangcu selalu mengutus pelayan atau anggauta Kwi-eng-pang wanita. Dia sendiri pun tidak suka kepada pria, akan tetapi tidaklah membenci mati-matian seperti Bu Leng Ci. Dia sudah merasa puas melihat para pria menjadi muridnya, menjadi anak buahnya, dan menjadi kaki tangannya yang setia dan taat kepadanya. Yang tidak disukainya adalah kalau pria itu menguasainya atau lebih tinggi tingkatnya daripada dia. Karena ini pula maka dia sengaja menarik Bu Leng Ci sebagai adik angkat sehingga merasa kuat untuk menghadapi tiga orang di antara kelima datuk.

Kurang lebih dua tahun lamanya Bu Leng Ci bersama muridnya menjadi penghuni pulau kecil itu. Bi Kiok telah menjadi seorang dara yang cantik manis, berusia enam belas tahun, akan tetapi makin tampak sikapnya yang dingin dan wataknya yang pendiam. Hadiah dari Kwi-eng Niocu berupa hiasan rambut burung hong kemala menjadi benda kesayangannya yang tak pernah terpisah dari rambutnya atau bajunya. Bu Leng Ci yang menyayang dara itu bukan hanya sebagai murid tunggal, bahkan seperti anak sendiri, menurunkan semua ilmunya kepada Yo Bi Kiok sehingga dara itu setelah selama tujuh tahun lebih menjadi muridnya, kini telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

PADA suatu pagi, seorang pelayan wanita dari Kwi-eng Niocu menyampaikan undangan ketua ini kepada Bu Leng Ci. Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci segera datang menumpang perahu kecil pelayan itu bersama Bi Kiok, menghadap kakak angkatnya.

“Seorang anggauta kita telah menemukan suami isteri yang pernah kausebut dahulu itu!” Ang Hwi Nio menyambut kedatangan adik angkatnya dengan pemberitahuan ini, suaranya penuh ketegangan. “Dan isterinya yang menurut katamu dahulu terkena Siang-tok-soa, ternyata tidak mati”

“Ah, kalau begitu kita harus dapat menawan mereka. Mereka adalah ayah bunda dari Yap Kun Liong yang tahu di mana adanya bokor emas!”

“Perlukah itu? Menurut ceritamu, yang tahu mungkin sekali hanyalah bocah itu, dan perlu apa menawan orang tuanya?”

“Kalau kita tawan orang tuanya, tentu kelak anak itu muncul. Sukar sekali mencari bocah setan itu. Sudah bertahun-tahun aku mencari tanpa hasil, Ang-ci.”

“Mungkin karena kau belum pernah bertemu dengan anak itu, bagaimana bisa mencarinya?”

“Memang aku belum pernah bertemu dengannya, akan tetapi Bi Kiok tentu akan mengenal mukanya.”

Diam?diam jantung Bi Kiok berdebar tegang. Tentu saja dia akan mengenal Kun Liong si gundul itu, dan gurunya pun pernah bertemu dengan Kun Liong, akan tetapi gurunya tidak tahu bahwa anak itulah yang mereka kini cari?cari. Entah bagaimana, dia tidak tega untuk mencelakakan anak itu, bahkan kini mendengar bahwa ayah bunda Kun Liong hendak ditawan, dia merasa tidak enak sekali. Akan tetapi dia diam saja, hanya menjawab karena kedua orang wanita sakti itu memandangnya penuh pertanyaan. “Tentu saja teecu akan mengenalnya kalau bertemu dengan Kun Liong.”

“Biarlah aku mengutus enam orang murid kepala untuk menangkap mereka. Kita harus menjaga nama. Tidak perlu aku turun tangan sendiri menghadapi orang?orang yang tidak terkenal seperti mereka. Aku akan mengundang mereka, kalau mereka tidak mau, barulah orang?orangku akan menawan mereka. Menurut keterangan penyelidik mereka kini tinggal di Puncak Cemara di Lu?liang?san.”

Bu Leng Ci hendak mencegah, mengingat bahwa suami isteri itu lihai sekali. Akan tetapi dia tidak membuka mulutnya karena tentu saja dia tidak mau menceritakan betapa dia sendiri tidak dapat mengalahkan mereka. Biarlah kakak angkatnya ini membuktikan sendiri setelah mengirim murid-muridnya.

Demikianlah, enam orang laki-laki setengah tua yang merupakan murid-murid kepala dari Kwi-eng Niocu dan tokoh-tokoh Kwi-eng-pang, berangkat ke Lu-liang-san yang tidak jauh dari Kwiouw, hanya makan waktu satu hari perjalanan.

Seperti kita ketahui, Yap Cong San dan isterinya berada di Puncak Cemara di Pegunungan Lu-liang-san. Gui Yan Cu telah sembuh sama sekali dari luka akibat pasir beracun, dan tak lama kemudian telah sembuh sama sekali, dia mengandung sehingga terpaksa mereka memperpanjang waktu untuk tinggal dulu di tempat yang indah menyenangkan itu.

Pada waktu itu, kandungan Yan Cu berusia dua bulan. Suami isteri yang berbahagia itu sedang duduk berdua di atas rumput, tak jauh dari pondok mereka, memandang ke bawah di mana tampak pemandangan yang mempesonakan.

“Ah, betapa rinduku kepada dunia di bawah sana,” Yan Cu menarik napas panjang. “Betapa rinduku kepada Kun Liong, kepada Cia Keng Hong-suheng dan Enci Biauw Eng. Betapa rinduku kepada masakan-masakan kota yang lezat… aaihh…”

Cong San meraih pundak isterinya dan memeluknya, hatinya terharu dan dia merasa kasihan sekali kepada isterinya. “Jangan khawatir, isteriku. Kita tinggal di sini sampai engkau melahirkan. Keadaan seperti sekarang ini tentu saja amat tidak baik kalau melakukan perjalanan jauh, apalagi dengan adanya banyak bahaya di tengah jalan. Setelah nanti anak kita cukup kuat, kira-kira setahun, kita berangkat meninggalkan tempat sunyi ini, langsung ke Cin-ling-san.”

“Ke tempat Suheng?”

“Ya. Engkau dan anak kita yang masih kecil biar tinggal bersama isterinya, sedangkan aku akan minta bantuan Keng Hong untuk bersamaku mencari Kun Liong. Dengan bantuannya, mustahil kalau aku tidak akan dapat menemukan anak itu.”

Yan Cu menarik napas lega. “Aahhh, anak nakal itu! Tentu akan dapat ditemukan kalau Suheng membantumu. Ingin aku mendengar apa yang akan dikatakan Kun Liong kalau berada di depanku setelah dia pergi selama tujuh tahun ini…”

Tiba?tiba tangan Cong San yang merangkul pundak isterinya itu menegang. Yan Cu merasakan ini dan keduanya menoleh. “Ada orang…” bisik Cong San. Mereka telah berdiri ketika enam orang laki-laki setengah tua itu tiba di situ.

“Apakah kalian yang bernama Yap Cong San dan Gui Yan Cu?” Seorang di antara mereka bertanya, suaranya kasar dan nyaring. Cong San dan Yan Cu bersikap tenang, mengira bahwa tentu orang-orang ini petugas pemerintah yang hendak menangkap mereka berhubung dengan urusan Ma-taijin di Leng-kok tujuh tahun yang lalu.

“Saya bernama Yap Cong San dan ini isteri saya Gui Yan Cu. Siapakah Cuwi (Tuan Sekalian) dan ada perlu apakah mencari kami?” jawab Cong San dengan sikap masih tenang sekali karena dia tidak menyangka akan terjadi hal yang tidak baik. Kalau benar mereka itu orang-orang pemerintah, urusannya dengan Ma-taijin bukanlah urusan besar. Dan mustahil kalau untuk urusan begitu saja setelah lewat tujuh tahun masih akan dibesar-besarkan.

“Kami melaksanakan tugas yang diperintahkan pangcu kami untuk mengundang Ji-wi menghadap pangcu.”

Berkerut alis Cong San dan Yan Cu. Kalau bukan orang pemerintah, tentu akan terjadi hal yang gawat.

“Siapa pangcu (ketua) kalian?” Cong San bertanya, hatinya mulai tegang dan dia bersikap waspada menghadapi segala kemungkinan buruk.

“Kami dari Kwi-eng-pang di Telaga Kwi-ouw. Harap Ji-wi ikut bersama kami menghadap Pangcu sekarang juga!”

“Kami berdua tidak pernah mengenal pangcu dari Kwi-eng-pang. Ada keperluan apakah ketua kalian dengan kami?”

“Hal ini bukan urusan kami! Tentu ada urusan penting maka Pangcu memanggil kalian,” jawab pemimpin rombongan itu dengan suara tak sabar.

Cong San dapat menduga bahwa tentu keselamatan mereka berdua takkan terjamin kalau dia bersama isterinya pergi mengunjungi ketua kaum sesat yang sudah amat terkenal di dunia kang-ouw itu.

Pula, dia tidaklah demikian bodoh untuk datang memasuki guha harimau.

“Maaf, Cuwi. Karena kami tidak mengenal Kwi-eng-pangcu dan tidak mempunyai urusan dengannya, kalau memang pangcu kalian ada urusan dengan kami, harap dia datang saja ke sini untuk bicara.”

Tiba-tiba enam orang itu merobah sikap, tidak seramah tadi. Pandangan mata mereka mengandung kemarahan dan seorang di antara mereka berseru, “Manusia sombong! Berani membantah perintah Pangcu?”

“Kawan-kawan, maju!”

“Kalian mau apa?” Yan Cu membentak marah dan tangannya meraba gagang pedang.

“Perintah Pangcu, kalau kalian mau menghadap, baik. Kalau tidak mau, terpaksa kami pergunakan kekerasan menawan kalian!”

“Singggg! Keparat, kalian mengira begitu mudah?” Yan Cu sudah mencabut senjata pedangnya dan hendak menerjang maju, akan tetapi tiba-tiba suaminya menyentuh lengannya.

“Tidak perlu menyerang. Biarkan mereka bergerak, kita lihat saja sampai di mana kepandaian manusia-manusia sesat ini.”

Suami isteri itu berdiri beradu punggung, sikap mereka tetap tenang walaupun mereka marah sekali. Yan Cu berdiri dengan siap dengan pedang di tangan sedangkan Cong San sudah mengeluarkan sepasang Im-yang-pit dan memegangnya dengan kedua tangan. Dia tadi melarang isterinya bergerak, karena amat tidak baik bagi kandungan isterinya kalau banyak mengerahkan sin-kang.

Enam orang anggauta Kwi-eng-pang itu sudah mulai mengurung. Terdengar suara menyeramkan ketika mereka itu menggerak-gerakkan senjata mereka yang beraneka macam itu. Melihat betapa kedua orang suami isteri itu mengeluarkan senjata dan hendak melawan, mereka gembira sekali dan juga tidak menyangka-nyangka. Ketua mereka hanya memberi perintah untuk menangkap, tidak memberi tahu bahwa suami isteri itu akan melawan. Kalau mereka tidak melawan, tentu mereka hanya akan menawan mereka dan tidak akan mengganggu mereka. Sekarang mereka mendapat kesempatan untuk memperlihatkan kepandaian dan menawan suami isteri yang melawan itu setelah melukai mereka. Betapapun juga, enam orang itu bukanlah orang sembarangan, melainkan murid-murid pilihan dari Kwi-eng Niocu dan mereka sudah berpengalaman dalam banyak pertandingan. Melihat sikap dan cara suami isteri itu menghadapi mereka, mereka dapat menduga bahwa suami isteri itu “berisi”, maka tanpa sungkan-sungkan lagi karena di tempat sunyi itu tidak ada orang lain, mereka serentak maju berenam, mengeroyok!

Terdengar suara nyaring hiruk-pikuk ketika mereka menerjang maju, suara beradunya senjata mereka yang terpental ke sana-sini, ditambah suara teriakan mereka penuh kekagetan karena dalam beberapa gebrakan saja, selain senjata mereka terlempar ke sana-sini, juga mereka roboh malang-melintang, empat orang roboh terluka oleh sepasang pit di tangan Cong-Sai, sedangkan dua orang lagi roboh dan terluka paha dan pundak mereka oleh kilatan pedang di tangan Yan Cu! Semua ini terjadi tanpa suami isteri itu pindah dari tempat mereka!

Dapat dibayangkan betapa kaget hati enam orang itu. Muka mereka pucat dan mereka memandang dengan mata terbelalak, maklum bahwa kalau kedua orang suami isteri itu menghendaki, di lain saat mereka semua tentu akan dapat terbunuh dengan mudah. Mengertilah sekarang mereka, bahwa jangankan menghadapi suami isteri itu, biar menghadapi seorang di antara mereka saja, mereka berenam takkan mampu menang!

“Pergilah kalian dari sini!” Cong San membentak dengan sikap keren. “Dan katakan kepada pangcu kalian bahwa karena kami tidak mempunyai urusan dengan dia, maka kami tidak membunuh kalian dan kami tidak dapat pergi menemuinya. Nah, pergilah cepat!”

Enam orang itu merangkak bangun dan dengan penuh rasa sukur karena tidak dibunuh, mereka itu saling membantu dan pergi secepat mungkin meninggalkan tempat itu.

Cong San dan Yan Cu saling pandang masih merasa penasaran dan juga terheran-heran mengapa secara tiba-tiba mereka itu dimusuhi oleh Kwi-eng-pang. Padahal belum pernah mereka berurusan dengan Kwi-eng-pang, bahkan bertemu pun belum dengan ketua Kwi-eng-pang yang tersohor itu. Mereka tahu bahwa Ketua Kwi-eng-pang adalah Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio yang kabarnya adalah seorang di antara lima datuk kaum sesat yang terkenal sebagai manusia-manusia iblis.

“Kita harus pergi dari sini sekarang juga,” kata Cong San. “Mereka itu berbahaya. Kalau tadi mereka tidak memandang rendah kepada kita, agaknya belum tentu kita dapat mengusir mereka dalam waktu singkat. Kepandaian mereka rata-rata cukup tangguh.”

“Aku tidak takut!” kata Yan Cu. “Masa kita harus melarikan diri dari mereka? Biarpun Kwi-eng Niocu si iblis betina sendiri yang datang, akan kuhadapi dia!”

Cong San merangkul isterinya. “Aku percaya, isteriku. Memang kita tidak usah takut menghadapi kaum sesat. Akan tetapi, kau harus ingat bahwa selagi kau mengandung, tidak semestinya kita melibatkan diri dalam pertandingan-pertandingan berat. Hal itu berbahaya bagi kandunganmu. Ingat, ketika dahulu kita bertemu dengan Siang-tok Mo-li seorang di antara lima datuk itu, kau terluka. Apalagi kebarnya Kwi-eng Niocu lebih jahat den lihai. Bukan aku takut, akan tetapi karena mengingat akan kandunganmu dan keadaanmu, sebaiknya kita mengalah kali ini. Mudah saja kalau kelak kita mencari Kwi-eng Niocu dan menghajarnya atas kelakuannya hari ini! Marilah, sayang.”

Untuk kesekian kalinya, Yan Cu tidak dapat membantah. Biarpun hatinya penuh dengan rasa penasaran dan kemarahan, terpaksa dia menurut, pergi meninggalkan tempat itu, menuju ke utara. Setelah melakukan perjalanan hampir sebulan dengan lambat dan hati-hati mengingat kandungan Yan Cu, akhirnya mereka tiba di kota Tai-goan dan di sini Cong San mengajak Yan Cu singgah di rumah seorang kenalannya.

Seorang laki-laki tua berusia enam puluh tahun lebih menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Kakek yang usianya hampir tujuh puluh tahun ini tinggi kurus den rambutnya sudah putih semua, namun masih kelihatan gesit den kuat. Dia ditemani oleh seorang nyonya berusia empat puluhan tahun, dan seorang laki-laki suami nyonya itu yang usianya hampir lima puluh tahun. Tiga orang ini menyambut mereka dan Si Kakek Rambut Putih segera berseru girang, “Ah, kiranya Yap-enghiong yang datang! Biarpun hampir dua puluh tahun tidak jumpa, saya tidak akan pangling (lupa) kepadamu!”

Yap Cong San cepat memberi hormat dan berkata, “Terima kasih atas kebaikan Theng-ciangkun (Perwira Theng) dan maaf atas kedatangan kami yang tiba-tiba tanpa memberi tahu lebih dahulu ini. Ini adalah isteri saya.”

Kakek itu cepat membalas penghormatan Yan Cu dan berkata, “Ahh, Nyonya Muda, kau kelihatan lelah sekali. Silakan masuk saja beristirahat! Ceng-ji (Anak Ceng), kauajaklah Nyonya Yap beristirahat di dalam.” Kakek itu memperkenalkan nyonya itu sebagai puterinya, dan laki-laki itu sebagai mantunya yang bernama Tan Hoat.

Dengan ramah-tamah nyonya yang bernama Ceng itu menggandeng tangan Yan Cu dan diajak masuk ke dalam. Kemudian Kakek Theng bersama mantunya mempersilakan Cong San duduk di ruangan dalam menyuruh pelayan menghidangkan minuman. Setelah hidangan disuguhkan dan mereka sudah minum teh, Cong San menghela napas panjang lalu berkata,

“Saya harap Theng-ciangkun suka maafkan. Sekali ini terpaksa saya hendak minta bantuan Ciangkun, yaitu agar memperbolehkan saya bersama isteri saya tinggal di sini sampai isteri saya melahirkan. Tentu saja kalau Ciangkun tidak keberatan.”

Kakek itu kelihatan terkejut dan heran. Dia maklum bahwa tentu terjadi sesuatu yang hebat menimpa keluarga pendekar bekas murid Siauw-lim-pai yang hanya dikenalnya sepintas lalu akan tetapi yang telah diketahui kegagahannya itu. Dia tahu pula bahwa pendekar ini adalah sahabat baik sekali dari Pendekar Sakti Cia Keng Hong yang dikaguminya. Maka tanpa ragu-ragu dia menjawab, “Tentu saja boleh dan sama sekali tidak keberatan! Kami hanya tinggal berempat di rumah besar ini, yaitu saya sendiri, anak perempuan dan mantu saya ini, dan seorang cucu perempuan. Selain itu, hanya ada dua orang pelayan. Masih ada kamar untuk engkau dan isterimu, Yap-enghiong dan kami menyambut kedatanganmu dengan gembira. Saya bukan seorang perwira pengawal lagi, sudah beberapa tahun mengundurkan diri karena sudah tua. Akan tetapi… kalau boleh saya bertanya, bagaimanakah engkau dan isterimu sampai tiba di sini dan… dan… selama ini tinggal di mana? Sudah lama saya tidak pernah bertemu pula dengan Cia Keng Hong-taihiap yang kabarnya berada di Cin-ling-san sehingga tidak dapat bertanya pula tentang keadaanmu.”

Cong San menarik napas panjang, kemudian dengan singkat dan menceritakan riwayatnya yang malu. Betapa dia terkena urusan dengan Ma-taijin dan puteranya hilang, dan betapa dalam mencari puteranya mereka mengalami banyak hal berbahaya, sedangkan puteranya masih belum dapat ditemukan.

“Tadinya kami akan tinggal terus di puncak Pegunungan Lu-liang-san, akan tetapi siapa kira, muncul malapetaka lain, yaitu orang-orang Kwi-eng-pang.” Dia menceritakan tentang kedatangan enam orang Kwi-eng-pang, kemudian menambahkan, “Kalau tidak pergi cepat-cepat, tentu mereka itu akan datang lagi bersama lebih banyak teman dan ketua mereka. Bukannya kami takut, akan tetapi… isteri saya sedang mengandung, maka lebih baik kami mengalah dan pergi. Ketika kami tiba di kota ini, saya teringat kepada Theng-ciangkun dan timbul pikiran saya untuk minta pertolongan Ciangkun.”

Kakek itu bengong mendengarkan penuturan itu, kadang-kadang mengangguk-angguk adakalanya menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian berkata, “Harap engkau menenangkan hatimu, Yap-enghiong. Biarlah isterimu beristirahat di sini sampai melahirkan. Dan kalau kawanan penjahat Kwi-eng-pang berani mengganggu ke sini, hemmm… ruyungku belum berkarat dan aku ingin sekali merasai kelihaian Kwi-eng Niocu yang kabarnya seperti iblis betina itu!”

Cong San menghaturkan terima kasih dan tersenyum kagum mendengar ucapan bersemangat itu. Kakek she Theng itu bernama Theng Kiu, bekas pengawal yang setia sekali dari Kaisar Yung Lo semenjak kaisar itu belum menjadi kaisar seperti sekarang dan masih menjadi raja muda di utara. Dahulu, Theng Kiu ini terkenal dengan senjata ruyungnya sehingga dia dijuluki Kim-pian (Si Ruyung Emas), dan ilmu kepandaiannya, biarpun tidak terlampau tinggi, namun sudah menempatkan dia di golongan orang-orang gagah. Menurut penafsiran Cong San kalau dia tidak salah ingat, Kakek Theng ini mungkin tidak akan kalah oleh seorang di antara enam orang Kwi-eng-pang yang menyerangnya di Lu-liang-san.

Demikianlah, mulai hari itu, Cong San dan isterinya tinggal menumpang di rumah bekas perwira pengawal Theng Kiu. Suami isteri itu merasa bersukur dan berterima kasih sekali. Kakek Theng amat ramah, akan tetapi juga puterinya dan mantunya, suami isteri Tan Hoat, amat baik terhadap mereka. Bahkan puteri suami isteri ini yang bernama Tan Cui Lin, seorang dara berusia lima belas tahun yang manis, juga bersikap menyenangkan. Untuk membalas kebaikan tuan rumah, Cong San berkenan melatih ilmu silat kepada Tan Cui Lin yang tentu saja sebagai cucu tunggal kakek Theng, sudah mempelajari dasar-dasarnya sejak kecil. Karena ini, Tan Cui Lin menyebut “suhu” kepada Cong San, dan “subo” kepada Yan Cu.

Sambil menanti isterinya melahirkan, selain melatih ilmu silat kepada muridnya, juga Cong San mulai “membuka praktek” pengobatan di Tai-goan, yang mula-mula diperkenalkan kepada sahabat-sahabat Kakek Theng sehingga dalam waktu beberapa bulan saja namanya telah terkenal dan setiap hari ada saja yang datang minta resep obat kepadanya. Dengan adanya sedikit penghasilan ini, agak lega hati Cong San karena dia menyerahkan semua hasil ini kepada keluarga Kakek Theng yang telah menampung mereka.

Waktu berjalan dengan cepatnya dan beberapa bulan kemudian Yan Cu telah melahirkan seorang anak perempuan dengan selamat di rumah keluarga Theng Kiu. Mereka memberi nama Yap In Hong kepada anak itu. Atas bujukan dan nasihat Kakek Theng, karena pekerjaan Cong San mulai maju dan banyak sudah penduduk yang menjadi langganannya, dengan menjual semua perhiasan yang masih dimiliki Yan Cu, ditambah simpanan sedikit-sedikit selama ini, dan dibantu pula oleh Kakek Theng, Cong San membeli sebidang tanah di Tai-goan. Di atas tanah itu telah ada bangunannya, akan tetapi bangunan kuno yang sudah hampir ambruk. Oleh karena itu, mulailah dia membangun kembali rumah itu dan tiap hari dia pergi memimpin para tukang untuk memperbaiki rumah yang dibelinya. Dia dan isterinya sudah mengambil keputusan untuk tinggal di Tai-goan!

Yang membantunya adalah Tan Hoat, dan kadang-kadang muridnya, Cui Lin, datang pula membantu, mengatur ini itu, membersihkan dan mengatur kebun di belakang rumah, menanami bunga-bunga.

Membangun kembali rumah yang rusak itu memakan waktu berbulan-bulan, dan In Hong telah menjadi seorang anak yang mungil dan hebat berusia setengah tahun lebih ketika akhirnya rumah itu siap untuk ditempati. Pada hari terakhir itu, Cui Lin membantu suhunya membersihkan rumah baru dan mengatur perabot rumah sederhana dengan penuh kegembiraan. Dara ini sayang sekali kepada suhu dan subonya, dan merasa beruntung menjadi murid seorang yang berilmu tinggi seperti mereka. Baru belajar setahun lebih saja, dia telah memperoleh kemajuan hebat, dan hal ini dikatakan secara jujur oleh kakeknya sendiri.

“Ketahuilah, cucuku. Gurumu adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai yeg berilmu tinggi, murid dari manusia sakti Tiang Pek Hosiang. Dan subomu juga bukan orang sembarangan karena dia itu masih sumoi dari Pendekar Sakti Cia Keng Hong yang kini menjadi Ketua Cin-ling-pai di Cin-ling-san. Kau belajarlah baik-baik dan dalam beberapa tahun lagi, kakekmu ini sudah tidak akan kuat melawanmu.”

Maka gembira sekali hati Cui Lin setelah suhu dan subonya mengambil keputusan untuk tinggal di Tai-goan. Dengan demikian berarti dia akan dapat belajar terus. Dia membantu suhunya memberes-bereskan rumah baru itu dari pagi sampai lewat tengah hari. Besok pagi keluarga suhunya sudah aku pindah ke rumah baru ini.

“Cui Lin, kaulanjutkanlah membereskan kamar ini bersama Phoa-ma (nama pelayan wanita), aku akan kembali dulu ke rumah kakekmu.”

“Baiklah, Suhu. Serahkan saja kepada teecu dan Phoa-ma, tentu sore nanti sudah selesai,” jawab dara itu gembira.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: