Petualang Asmara (Jilid ke-15)

Akan tetapi hati Cong San tidak segembira biasanya ketika dia meninggalkan rumah baru itu. Entah mengapa, hatinya terasa tidak enak, padahal dia tidak terganggu sesuatu. Ada dorongan di hatinya agar dia cepat pulang ke rumah Kakek Theng. Menurutkan dorongan hatinya ini, tergesa-gesa Cong San kembali ke rumah keluarga Theng yang berada di sebelah selatan kota, agak jauh dari rumah baru itu.

Tidaklah mengherankan kalau hati Yap Cong San merasa tidak enak sekali karena pada saat dia membersihkan rumah baru bersama muridnya dan seorang pelayan dan pengasuh anaknya, di rumah keluarga Kakek Theng terjadi malapetaka yang hebat sekali!

Pada waktu itu, Yan Cu dengan hati gembira sekali sedang berkemas karena besok pagi mereka akan pindah ke rumah baru. Hatinya gembira sekali dan sudah banyak rencana di dalam hatinya. Dia akan berusaha membuka toko obat lagi di Tai-gon dan di kota besar ini tentu dia dan suaminya akan mendapat kemajuan jauh lebih besar daripada di Leng-kok. Setelah In Hong agak besar dan keadaannya di rumah baru menjadi baik, dia akan mengajak suaminya pergi ke Cing-ling-san untuk minta bantuan suhengnya, Cia Keng Hong agar bersama suaminya mencari Kun Liong. Betapa akan bahagianya kalau Kun Liong masih hidup dan dapat berkumpul lagi dengan ayah bundanya. Tentu puteranya itu telah besar, telah dewasa! Sudah tujuh belas tahun tentu usianya! Dan betapa wajah puteranya itu akan penuh keheranan melihat adiknya!

Tiba-tiba dia mendengar teriakan Kakek Theng, “Nyonya mantu! Lari…”

Dia terkejut sekali. Yang disebut nyonya mantu adalah dia, karena suaminya telah diaku sebagai anak angkat Kakek Theng. Mendengar teriakan yang penuh kegelisahan dari kakek itu, kemudian mendengar betapa suara teriakan itu tiba-tiba terhenti, hatinya khawatir sekali. Tentu saja dia tidak mau lari seperti diminta oleh kakek itu, dan dia menduga bahwa tentu terjadi sesuatu yang hebat. Cepat dia menyambar pedangnya dan dengan pedang terhunus Gui Yan Cu meloncat keluar dari kamarnya dan berlari ke ruangan dalam.

Hampir saja dia berseru kaget, matanya terbelalak dan mukanya menjadi pucat ketika dia melihat mayat-mayat bergelimpangan! Mayat Tan Hoat dan isterinya dengan leher hampir putus, mayat dua orang pelayan di luar pintu, dan mayat kakek Theng sendiri di ruangan tengah, kepala kakek itu pecah dan senjata ruyungnya masih tergenggam di tangannya. Agaknya kakek ini melakukan perlawanan sampai saat terakhir sambil tadi berteriak menyuruhnya lari.

Dapat dibayangkan betapa marahnya Gui Yan Cu. Dengan air mata memenuhi pelupuk matanya dia melompat dan menerobos ke ruangan dalam yang lebar dan dia terhenti tegak di pintu ketika melihat lima orang enak-enakan duduk di dalam ruangan itu sambil tersenyum-senyum menyeringai. Seorang di antara mereka adalah Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci! Yang empat orang lainnya dia tidak kenal, yaitu seorang wanita setengah tua yang masih cantik dan berpakaian mewah bersama tiga orang laki-laki tua yang keadaannya menyeramkan.

“Apa… apa yang telah kalian lakukan?” Dia membentak, sedikit pun tidak merasa takut biar di situ terdapat Bu Leng Ci yang lihai, karena kemarahan telah membuat nyonya ini tidak lagi mengenal takut dan sama sekali tidak ingat akan bahaya lagi.

“Inilah dia yang bernama Gui Yan Cu, ibu bocah setan itu,” kata Bu Leng Ci.

Wanita berpakaian mewah itu mengangkat muka. “Eh, Gui Yan Cu. Aku memanggil kau dan suamimu ke Kwi-ouw, mengapa kau dan suamimu malah menghina anak buahku?”

Yan Cu makin marah setelah mengetahui bahwa wanita itu adalah Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio. “Hem, jadi engkau inikah yang disebut Kwi-eng Niocu, ketua perkumpulan sesat Kwi-eng-pang?”

“Huh! Huhh!” Kakek yang matanya sipit lehernya panjang seperti leher ular itu menahan ketawanya.

“He-he-he!” Kakek yang mukanya hitam seperti pantat kuali terkekeh. “Kalau dia tidak takut terhadap dua orang datuk betina, tentu tidak gentar pula terhadap kami tiga orang datuk jantan, dan tentu kepandaiannya setinggi langit!”

Gui Yan Cu memandang kakek bermuka hitam itu dan mendengar ucapan ini, dia terkesiap juga. Jantungnya berdebar tegang dan dia membentak, “Jadi kalian berlima inikah yang disebut lima Datuk kaum sesat?”

Kakek tua renta berambut putih panjang yang matanya juling akan tetapi mengeluarkan sinar aneh dan mengerikan itu terbatuk-batuk, menggumam, “Dan engkau kabarnya sumoi dari Cia Keng Hong. Benarkah?”

“Benar! Aku dan suamiku selamanya tidak pernah berurusan dengan kalian, mengapa kalian mengganggu kami dan membunuh orang-orang yang tidak berdosa ini? Beginikah sepak terjang tokoh-tokoh besar yang mengaku sebagai para datuk? Seperti kelakuan bajingan-bajingan kecil saja!” Yan Cu maklum bahwa dia berhadapan dengan orang-orang yang tak mungkin dapat dilawannya, akan tetapi dia sama sekali tidak takut karena kemarahannya melihat kakek Theng, anaknya, mantunya, dan pelayan-pelayan terbunuh seperti itu.

“Gui Yan Cu! Tidak perlu banyak cakap. Katakan di mana adanya bokor emas yang dicuri oleh anakmu yang bernama Kun Liong itu kalau menghendaki agar nyawamu kami perpanjang beberapa lamanya.”

Mendengar ini, wajah yang tadinya pucat itu kelihatan berseri. Pertanyaan itu membuktikan bahwa Kun Liong masih hidup!

“Aku tidak tahu apa yang kaumaksudkan. Selamanya aku belum pernah mendengar tentang bokor emas dan andaikata aku mengetahuinya juga, apakah kau kira aku akan memberitahukan kepada kalian?”

“Perempuan sombong! Kalau begitu mampuslah!” Kwi-eng Niocu sudah hendak menggerakkan tangan menyerang, akan tetapi kakek tua renta berambut putih itu terbatuk-batuk, dan melangkah maju menghalangi Kwi-eng Niocu sambil berkata, “Nanti dulu, Pangcu. Kalau dia benar sumoi dari Cia Keng Hong, biarkan aku mencoba Thi-ki-i-beng.”

Kakek berambut putih itu bergerak ke depan. Yan Cu yang maklum bahwa tak mungkin dia menghindarkan diri dari pertandingan mati-matian, segera mengelebatkan pedangnya dan menyerang dengan tusukan ke dada dilanjutkan dengan bacokan menyamping ketika kakek itu mengelak.

Tiba-tiba pedang itu tertahan oleh jubah kakek itu yang dipegang di tangan kiri, kemudian secara cepat dan aneh sekali, tangan kanannya sudah menyambar dan menampar ke arah kepala Yan Cu. Gerakan ini cepat sekali maka terpaksa Yan Cu menganglcat tangan kiri menangkis.

“Plakkk!”

Yan Cu terhoyung ke belakang, lengannya terasa sakit sekali. Kakek it kelihatan kecewa, tidak melanjutkan gerakannya dan mengomel, “Mana itu Thi-khi-i-beng yang disohorkan orang? Kalau hanya sedemikian saja kepandaian perempuan ini, tidak cukup pantas melayani aku!”

Diam-diam Yan Cu terkejut bukan main. Kakek berambut putih itu benar hebat sekali dan kalau dilanjutkan pertandingan itu, biarpun dia memegang pedang, agaknya sukar sekali baginya untuk menang. Dia menduga bahwa tentu kakek berambut putih itu yang berjuluk Toat-beng Hoat-su, datuk yang penuh rahasia dan yang mungkin sekali paling lihai di antara lima orahg itu.

“Aku pun ingin mencoba!” kata kakek muka hitam yang bukan lain adalah Hek-bin Thian-sin Louw-Ek Bu. Belum habis ucapannya, tubuhnya sudah bergerak dan sinar kilat sebatang golok besar di tangannya sudah menyambar dahsyat. Yan Cu cepat memutar pedangnya menangkis.

“Tranggg…!”

Kembali Yan Cu terkejut karena pedangnya terpental dan lengannya gemetar saking kuatnya tenaga yang terkandung di golok itu. Namun dia tidak menjadi jerih dan sudah membalas serangan lawan baru ini dengan gerakan pedangnya yang lincah. Sambil tertawa-tawa mengejek Si Kakek Muka Hitam itu menyambut dengan golok besarnya dan terjadilah pertandingan yang seru, namun dalam belasan jurus saja pedang Yan Cu sudah tertindih dan beberapa kali pertemuan kedua senjata itu secara kuat membuat pedangnya hampir terlepas dari tangannya. Mulailah Yan Cu merasa khawatir. Bukan mengkhawatirkan dirinya sendiri, melainkan mengkhawatirkan puterinya yang kini ia dengar menangis di dalam kamarnya! Dia sendiri tidak takut mati, akan tetapi bagaimana nasib puterinya yang belum ada satu tahun usianya itu kalau terjatuh ke dalam tangan iblis-iblis ini? Mengapa suaminya belum juga pulang?

“Hek-bin Thian-sin, aku ikut berpesta, ha-ha-ha!” Suara ini keluar dari mulut Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok dan pedangnya yang berbentuk ular itu telah meluncur ke depan. Pada saat itu, Yan Cu baru saja menangkis golok besar Hek-bin Thian-sin yang membuat tangannya gemetar. Maka begitu pedang itu kini bertemu dengan pedang ular yang didorong oleh tenaga yang luar biasa kuatnya, dia tidak dapat mempertahankan lagi dan pedangnya terlepas dari tangannya.

Suara terkekeh di belakangnya adalah suara Bu Leng Ci yang wdah menyambar pedang itu dan pada saat itu Yan Cu merasa betapa pundaknya nyeri bukan main, panas dan membuat tubuhnya menggigil saking nyerinya. Maklum bahwa nyawanya terancam, dan teringat akan nasib puterinya, Yan Cu mengeluarkan pekik melengking yang dimaksudkan untuk memanggil suaminya. Guratan kuku jari tangan Kwi-eng Niocu yang mengenai pundak Yan Cu itu membuat wanita perkasa ini terhuyung den pening kepalanya. Namun ia masih nekat dan sambil membalik dia membarengi memukul sebelum Kwi-eng Niocu menarik tangannya.

“Dukkk!!”

Biarpun Kwi-eng Niocu tidak roboh oleh pukulan yang menyambar dan mengenai pangkal lengannya ini, namun cukup membuat dia merasa kesakitan dan lengan kirinya seperti lumpuh sejenak.

Dia marah sekali, sambil mengeluarkan suara menggereng seperti harimau terluka, dia menubruk maju, tangannya menampar. Yan Cu yang sudah pening itu hanya mampu menangkis sebuah tamparan tangan kiri yang kurang cepat gerakannya itu, akan tetapi tamparan tangan kanan Si Bayangan Hantu mengenai lehernya. Dia terpekik dan terjengkang. Sebelum tubuhnya mengenai tanah, sinar pedang berkelebat dan pedangnya sendiri yang dipergunakan oleh Bu Leng Ci telah menembus dada wanita perkasa ini! Gui Yan Cu tidak mengeluh lagi, roboh telentang dengan dada tertembus pedangnya sendiri, tewas seketika. Darah muncrat membasahi bajunya.

Pada saat Yan Cu mengeluarkan suara melengking tadi, Yap Cong San telah tiba dekat rumah itu. Dia terkejut mengenal lengking isterinya den cepat sekali dia lari ke dalam rumah. Ketika dia mendengar suara tangis puterinya, dia langsung memasuki kamar dan lega hatinya melihat puterinya itu menangis di atas ranjang dalam keadaan selamat. Disambarnya puterinya itu dan dibawanya lari keluar. Ketika dia melihat mayat-mayat bergelimpangan, mayat Kakek Theng, puterinya, mantunya den dua orang pelayan, Cong San terkejut setengah mati. Dengan jantung berdebar tegang dia terus lari ke arah suara pertempuran di ruangan dalam dan pada saat dia muncul di ambang pintu ruangan itu dilihatnya isterinya sudah rebah terlentang dengan dada tertembus pedang!

“Yan Cu…!” Dia memekik dan meloncat ke dalam. Sejenak dia seperti terpesona memandang jenazah isterinya, kemudian dia menyapu dengan pandang matanya kepada lima orang yang berdiri di situ sambil tersenyum-senyum. Air mata mengalir di sepanjang kedua pipi pendekar itu akan tetapi sepasang matanya tidak pernah berkedip ketika dia memandang ke arah mereka satu demi satu, kemudian kembali dia menoleh kepada jenazah isterinya.

“Yan Cu… ohh… ohhh… Yan Cu…!” Dia merintih, rintihan yang diselingi oleh tangis Yap In Hong, anak kecil dalam pondongannya.

Tiba-tiba Cong Son membalikkan tubuh menghadapi lima orang itu. Begitu melihat Bu Leng Ci, mudah saja baginya untuk menduga siapa adanya empat orang yang lain itu. Biarpun dia belum pernah bertemu muka dengan mereka, akan tetapi dia sudah mendengar berita tentang lima orang datuk kaum sesat. Biarpun kemarahan den kedukaan menyesak dadanya, namun sebagai seorang pendekar besar Cong San dapat menekan perasaannya dan dia harus lebih dahulu tahu siapa sebenarnya mereka dan mengapa mereka membunuh keluarga Kakek Theng dan isterinya.

“Bukankah kalian ini Lima Datuk kaum sesat?” tanyanya dengan suara terdengar aneh sekali, agak parau den nadanya bercampur tangis dan kemarahan.

“Hi-hi-hik, sudah tahu mengapa tidak lekas berlutut minta ampun?” Bu Leng Ci tertawa mengejek.

“Mengapa kalian memusuhi kami?”

“Yap Cong San, anakmu yang bernama Kun Liong telah mencuri bokor emas. Lekas kaukatakan di mana dia dan di mana bokor emas itu, kalau tidak, terpaksa engkau akan menyusul isterimu!”

Bu Leng Ci berkata dengan wajah gembira. Memang wanita iblis ini paling suka melihat orang berduka den sengsara. Bukan hanya dia, bahkan empat orang kawannya pun demikian juga, pandang mata mereka seperti mata kanak-kanak melihat seekor cacing menggeliat-geliat kepanasan dalam sekarat. Sedikit pun tidak ada rasa kasihan, bahkan gembira dan puas!

Akan tetapi Cong San tidak memperhatikan dan tidak mempedulikan pertanyaan ini, bahkan bertanya lagi, “Siapa yang membunuh isteriku?”

“Aku yang membunuhnya, kau mau apa?”

belum habis ucapan ini keluar dari mulut Bu Leng Ci, Cong San sudah menggerakkan senjata pit hitam di tangan kanannya.

“Siuuuuttt… wesss!”

Cepat bukan main serangan itu, dilakukan dengan hati sakit dan penuh dendam, menusuk ke arah dada orang termuda dari Lima Datuk kaum sesat itu. Bu Leng Ci tidak sempat mencabut samurainya dan hanya dapat mengelak dengan kaget sekali untuk menyelamatkan dirinya.

“Brettt!” Baju yang menutup dada terobek sedikit berikut sedikit kulit di bagian kanan.

“Keparat!” Bu Leng Ci marah bukan main, juga malu karena hampir saja dia celaka oleh serangan itu tadi. “Srattt!” Samurai panjang telah dicabutnya, dan dia menyerang kalang kabut.

“Tring-tring-tranggg!”

Bunga api berpijar ketika senjata pit itu menangkis samurai. Kwi-eng Nio-cu membantu adik angkatnya dengan cengkeraman dari samping ke arah pundah Cong San, akan tetapi pendekar ini cepat mengelak dan pit-nya berkelebat menyambut untuk menotok sambungan siku Si Bayangan Hantu. Gerakannya cepat dan kuat sekali. Sakit hati, kemarahan dan kedukaan melihat isterinya yang terkasih tergeletak tak bernyawa dengan dada tertembus pedang, agaknya melipatgandakan tenaga dan kecepatannya. Si Bayangan Hantu terpaksa menarik kembali lengannya dan di lain saat, Yap Cong San telah dikeroyok oleh empat orang diantara Lima Datuk itu. Hanya Toat-beng Hoat-su seorang yang berdiri menonton saja, tidak ikut turun tangan. Biarpun demikian, Cong San sudah repot sekali. Jangankan dikeroyok oleh empat orang yang lihai itu, baru seorang diantara mereka saja sudah merupakan lawan berat yang belum tentu dapat dikalahkannya. Betapapun juga, Cong San tidak gentar dan melawan mati-matian, biarpun gerakannya tidak leluasa karena lengan kirinya memondong puterinya yang menangis nyaring.

Pertandingan yang berat sebelah, Yap Cong San adalah murid Tiang Pek Ho-siang. Dia telah menguasai ilmu silat Siauw-lim-pai yang tangguh dan murni. Akan tetapi, dengan seorang anak kecil dalam pondongannya, menghadapi empat di antara datuk-datuk kaum sesat itu, tentu saja dia terdesak hebat sekali dan beberapa belas jurus kemudian dia hanya mampu mempertahankan diri dan melindungi puterinya saja. Apalagi karena empat orang lawannya adalah orang-orang sakti golongan hitam yang tidak pantang melakukan pengeroyokan dan menggunakan siasat licik. Kini mereka yang mengeroyok sambil tertawa-tawa seperti hendak mempermainkan lawan, bukan hanya menyerang Cong San, akan tetapi juga menujukan serangannya kepada anak kecil dalam podongan pendekar itu. Hal ini membuat Cong San selain marah dan duka, juga khawatir sekali. Baru sekarang dia yang tadi dilanda kedukaan teringat bahwa puterinya yang masih kecil dan terus menangis ini terancam bahaya maut! Maka dia kini mencurahkan seluruh daya pertahanannya untuk melindungi puterinya.

“Huh! Memalukan!” Toat-beng Hoat-su mengeluarkan seruan keras ketika menyaksikan betapa sampai tiga puluh jurus lebih empat orang kawannya belum juga mampu merobohkan seorang lawan yang mereka keroyok. Baru pengeroyokan itu saja sudah menjengkelkan hati kakek ini. Disebut datuk-datuk akan tetapi masih melakukan pengeroyokan! Merendahkan martabat ini namanya! Untuk mengakhiri pengeroyokan yang memalukan ini, tiba-tiba dia menggerakkan jubahnya dari belakang, mengarah kepala anak kecil dalam pondongan Cong San!

Terkejut bukan main hati Cong San ketika merasa angin dahsyat sekali menyambar ke arah kepala anaknya. Jangankan sampai mengenai langsung, baru sambaran angin yang dahsyat itu saja sudah cukup untuk membunuh puterinya! Tidak ada jalan lain baginya kecuali mengorbankan diri untuk melindungi anaknya. Cepat Cong San membalik sehingga tubuh anaknya terlindung dan dia memutar pit-nya untuk menyambut datangnya jubah lebar yang amat dahsyat sambarannya itu.

“Bretttt…! Desss…!”

“Suhu…! Subo…!” Terdengar jerit melengking di pintu ruangan.

Cong San cepat memutar tubuh dan melemparkan Yap In Hong ke arah muridnya sambil berteriak, “Cui Lin, bawa lari In Hong…!”

Hantaman jubah di tangan Toat-beng Hoat-su tadi hebat sekali. Memang pitnya mampu merobek jubah itu, akan tetapi pit itu sendiri hancur dan lengan kanannya lumpuh dengan tulang patah-patah. Kini dia sudah mencabut pit putih dengan tangan kirinya dan siap menghadapi lawan-lawan yang amat lihai itu!

Akan tetapi Cui Lin tidak dapat lari karena kedua kakinya menggigil ketika dia melihat subonya mati, apalagi ketika dia melihat mayat ayahnya, ibunya, kakeknya berserakan, hampir dia roboh pingsan dan berlutut sambil memeluk In Hong dan menangis!

Biarpun lengan kanannya sudah lumpuh dan dia hanya mampu melawan dengan pit di tangan kirinya, namun Cong San masih mengamuk hebat sehingga pitnya berhasil melukai pundak Hek-bin Thian-sin, sungguhpun dia sendiri telah menerima pukulan-pukulan dengan senjata lawan yang membuat pakaiannya robek-robek dan penuh darah.

“Jahanam Yap Cong San, mampuslah!”

Bu Leng Ci yang marah sekali karena tadi dia hampir celaka oleh pit di tangan Cong San, menggerakkan tangan kirinya dan sinar hijau menyambar. Pada saat itu, Cong San sedang terhimpit karena Toat-beng Hoat-su yang marah karena jubahnya robek sudah mendesaknya, maka pendekar ini tidak dapat menghindarkan diri lagi dari sambaran Siang-tok-soa (Pasir Beracun Wangi) yang disambitkan oleh Bu Leng Ci dari jarak dekat.

“Aduhhh…!” Dia berseru ketika pasir itu memasuki dadanya. Hidungnya mencium bau yang wangi sekali dan tahulah dia bahwa nyawanya takkan tertolong lagi. Dengan sekuat tenaga dia menyambitkan pitnya ke arah lawan yang terdekat, yaitu Ban-tok Coa-ong. Begitu hebat sambitan ini sehingga biarpun Ban-tok Coa-ong meloncat ke atas, tetap saja pit yang tadinya dimaksudkan oleh penyambitnya untuk menembus dadanya itu masih menembus betisnya!

“Auuuww… setan kau!” Ban-tok Coa-ong menubruk dan pedang ularnya membacok. Cong San mengelak, akan tetapi kurang cepat dan pinggangnya robek. Dengan luka parah ini Cong San masih belum roboh, melainkan menubruk ke arah jenazah isterinya dan memeluk isterinya.

“Yan Cu… tunggu… Yan Cu…!” Dengan tubuh isterinya dalam pelukan ketat, pendekar ini menghembuskan napas terakhir! Suami isteri pendekar gagah perkasa yang saling mencinta dan yang sepanjang hidupnya banyak mengalami kemalangan itu tewas dalam keadaan menyedihkan sekali bagi yang melihatnya.

“Huh, menjemukan!” Bu Leng Ci yang masih marah itu menendang mayat Cong San. Mayat itu terlempar, akan tetapi mayat Yan Cu juga ikut terbawa, ternyata bahwa pelukan Cong San itu ketat sekali, seolah-olah sampai mati pun dia tidak mau melepaskan isterinya dan lengannya telah menjadi kaku.

“Ha-ha-ha, mesra-mesra… auggghh…” Ban-tok Coa-ong mencabut pit dari betisnya dan mengobati lukanya.

“Suhu…! Subo…! Uhuhuhuhhh…!” Cui Lin yang masih memondong tubuh In Hong menangis mengguguk sambil berlutut di atas lantai. Di luar pintu tampak Phoa-ma berlutut, wajahnya pucat sekali, matanya terbelalak den mulutnya mewek-mewek menahan tangis saking ngeri den takutnya. Dia tadi bersama Cui Lin berlari-lari pulang ketika mendengar laporan seorang tetangga bahwa di rumah keluarga Theng terdengar ribut-ribut seperti orang berkelahi.

“Hemm, bocah ini murid mereka, tidak boleh hidup!” Bu Leng Ci berkata den samurainya sudah menggetar di tangannya.

“Mo-li, jangan! Sayang kalau dibunuh begitu saja. Hemm, berikan kepadaku sebelum dibunuh!” Yang berkata demikian adalah Hek-bin Thian-sin Louw Ek Bu.

Bu Leng Ci membuang ludah. “Cuhh! Laki-laki kotor!”

“Aahhh, masa kau tidak mau mengalah kepadaku? Kalau mau bunuh bayi itu, bunuhlah, akan tetapi sayang kalau dara ini dibunuh begitu saja. Aku bukan seorang mata keranjang, akan tetapi melihat kemulusan seperti ini disia-siakan dan dibunuh tanpa dimanfaatkan, sungguh amat sayang.”

Bu Leng Ci membuang muka dengan sebal, sedangkan Kwi-eng Nio-cu cemberut. Kedua orang wanita yang sudah banyak melihat kepalsuan laki-laki terhadap wanita ini meresa muak den kebenciannya terhadap pria bertambah dengan sikap Si Muka Hitam itu.

Cui Lin yang mendengar percakapan itu mengangkat mukanya yang pucat, memandang kelima orang pembunuh keluarganya dan gurunya itu. Dia maklum bahwa melawan akan percuma. Yang penting sekarang adalah menyelamatkan In Hong. Perintah gurunya terakhir adalah menyelamatkan atau melarikan In Hong. Akan tetapi dia tidak dapat lari dan sekarang dia harus menggunakan segala usaha untuk menyelamatkan putera gurunya. Dia tidak takut lagi, yang ada hanya benci. Dendam sedalam lautan yang sukar untuk ditebusnya, mengingat betapa lihainya kelima orang itu. Akan tetapi, yang terpenting adalah menyelamatkan In Hong. Dia bangkit berdiri dengan In Hong di pelukannya. Suaranya tidak gemetar takut ketika dia berkata,

“Ampuni anak kecil yang tak berdosa ini. Aku bersedia mentaati perintah kalian, biar disuruh mati sekalipun, asal adikku ini diampuni dan dibiarkan pergi bersama Phoa-ma.”

“Ha-ha-ha, Nona manis, engkau tabah sekali. Benarkah engkau bersedia menurut kehendakku?” Si Muka Hitam yang buruk rupa itu terkekeh dan bertanya.

“Asal adikku dibebaskan.” Cui Lin mengangguk.

“Anak itu tentu anak mereka. Orangku dahulu mengatakan bahwa ketika mereka menyerbu, Gui Yan Cu sedang mengandung. Anak ini harus dibunuh, kalau tidak, kelak hanya akan mendatangkan kerepotan saja,” kata Kwi-eng Nio-cu.

Cui Lin terkejut. Cepat dia memutar otaknya dan berkata nyaring dengan nada mengejek, “Aih, orang-orang lihai macam kalian takut kepada seorang anak bayi, takut kalau kelak membalas dendam? Tak kusangka kalian penakut seperti itu!”

“Budak hina!” Kwi-eng Nio-cu menggerakkan tangan menampar, akan tetapi Hek-bin Thian-sin sudah meloncat ke depan menghalangi.

“Nio-cu, tidak boleh dia dibunuh dulu sebelum aku selesai dengannya.”

“Kau… hendak membelanya? Kaukira aku takut kepadamu, Hek-hin Thian-sin?” Kwi-eng Nio-cu membentak.

“Takut atau tidak bukan urusanku, akan tetapi tadi sudah kunyatakan bahwa aku tidak ingin melihat gadis ini dibunuh begitu saja.”

“Kalau begitu, majulah!” Si Bayangan Hantu menantang.

“Uh-uhh!” Toat-beng Hoat-su terbatuk-batuk. “Apakah kalian ini anak?anak kecil yang karena urusan sepele saja hendak saling hantam?”

Ditegur demikian oleh orang tertua di antera mereka, keduanya mundur lagi, dan Hek-bin Thian-sin bekata kepada Cui Lin, “Dara manis, siapa takut kepada bocah itu? Biarkan dia hidup dan belajar seratus tahun, kami tidak akan takut! Siapa bilang Hek-bin Thian-sin Louw Ek Bu takut akan pembalasan seorang anak bayi? Entah kalau yang lain takut!”

“Sombong! Aku pun tidak takut!” Si Bayangan Hantu membentak.

“Hi-hik, biarkan bayi itu besar, kelak masih belum terlambat kita membunuhnya. Ingin aku melihat bagaimana dia hendak membalas dendam!” kata pula Bu Leng Ci.

Hek-bin Thian-sin tertawa bergelak. “Nah, begitulah sikap orang gagah! Tak takut dan pantang mundur menghadapi tantangan pendendam! Eh, Nona, benarkah kau akan menurut segala perintahku kalau kami membebaskan becah itu?”

“Aku Tan Cui Lin adalah keturunan orang gagah dan murid pendekar perkasa, sekali bicara tidak akan ditarik kembali!” Cui Lin yang sudah mengambil keputusan tetap untuk menyelamatkan In Hong sebagai perbuatan terakhir itu menjawab dengan sikap gagah.

“Ha-ha-ha, bagus! Kalau begitu, hayo kautanggalkan semua pakaianmu, bertelanjang bulat di depan kami!” Hek-bin Thian-sin memerintah.

Dapat dibayangkan betapa perasaan seorang dara berusia enam belas tahun seperti Cui Lin mendengar perintah biadab seperti itu. Hampir pingsan membayangkan betapa dia harus menanggalkan semua pakaian di depan mereka. Penghinaan yang tiada taranya bagi seorang dara. Akan tetapi ketekadan bulat didorong putus asa dan kedukaan melihat semua orang yang dikasihinya tewas, dia menjawab dengan suara tenang, “Bebaskan dulu adikku. Biarkan dia dibawa pergi Phoa-ma. Eh, Phoa-ma, bawa pergi In Hong, jaga baik-baik dan hati-hatilah memelihara dia.”

Dengan tubuh menggigil Phoa-ma menerima In Hong dari tangan Cui Lin, memondongnya lalu bergegas pergi keluar dart rumah itu dengan tubuh gemetar.

Setelah melihat Phoa-ma pergi tak tampak lagi, Cui Lin melangkah maju dan perlahan-lahan, jari-jari tangannya mulai menanggalkan pakaiannya, satu demi satu. Dia sengaja melakukan ini dengan lambat sekali karena dia hendak menarik perhatian mereka dan memberi kesempatan kepada Phoa-ma untuk lari jauh di tempat yang aman. Tidak akan sukar bagi Phoa-ma untuk bersembunyi dan andaikata iblis-iblis ini melanggar janji, belum tentu mereka akan dapat mencari Phoa-ma di kota sebesar Tai-goan. Andaikata keadaan tidak seperti itu, dan hatinya tidak seduka itu, agaknya sampai mati pun dia tidak akan sudi menanggalkan pakaian, lebih baik dia mati. Akan tetapi, perasaan duka membuat perasaan lain membeku, lupa akan rasa malu dan lain-lain, yang ada hanyalah keinginannya untuk menyelamatkan In Hong didorong perasaan duka dan sengsara.

Kwi-eng Nio-cu dan Siang-tok Mo-li membuang muka.

“Menyebalkan, perempuan hina!” Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci berkata.

“Perempuan tak tahu malu seperti pelacur!” Kwi-eng Nio-cu juga memaki. Akan tetapi Hek-bin Thian-sin Louw Ek Bu mononton pertunjukan itu dengan mata melotot. Makin lambat dara muda itu menanggalkan pakaian, makin menarik dan menggairahkan, menimbulkan nafsu birahi yang berkobar-kobar. Toat-beng Hoat-su hanya terbatuk-batuk sama sekali tidak tertarik, juga tak membenci pertunjukan yang baginya sudah tidak ada daya penariknya sama sekali itu. Akan tetapi Ban-tok Coa-ong juga tertarik dan tersenyum kagum. Betapa hati pria tidak akan terpesona menyaksikan tubuh dara muda yang ramun itu tampak sedikit demi sedikit seperti itu?

Akhirnya Cui Lin telah menanggalkan seluruh pakaiannya dan berdiri dengan telanjang bulat. Seperti seorang wanita berpengalaman yang biasa menggoda pria, dara remaja yang masih mentah ini dan yang menjadi matang karena himpitan duka itu mencabut tusuk konde, membiarkan rambut yang hitam panjang itu terurai lepas di atas kedua pundaknya, sebagian menutupi dadanya yang padat, akan tetapi makin menggairahkan.

“Aduh, nona manis, engkau hebat sekali!” Hek-bin Thian-sin meraih pinggang dara itu dan menarik lalu memeluknya. Tanpa malu-malu lagi dia menciumi bibir Cui Lin. Dara itu hampir pingsan. Selama hidupnya belum pernah dia melakukan semua itu dan belum pernah dicium pria, dalam mimpi pun belum. Kini, muka yang hitam kasar itu menciumnya, membuat dia hampir muntah. Akan tetapi dia mengeraskan hati, memejamkan mata agar tidak melihat muka hitam berkilat itu, tangannya bergerak.

“Manis, cantik jelita… ahhh… hemm… aughhh!!” Hek-bin Thian-sin berteriak den cepat mengerahkan sin-kang ke ulu hatinya, tangannya dengan jari tangan miring menghantam kepala Cui Lin.

“Trakkk!” Tanpa dapat mengeluh lagi, tubuh Cui Lin yang telanjang bulat itu terpelanting dan roboh dengan kepala retak den tewas seketika. Hek-bin Thian-sin menyumpah-nyumpah ketika dia mencabut tusuk konde yang hampir saja membunuhnya itu dari ulu hatinya. Untung dia cepat mengerahkan sin-kang sehingga tusuk konde itu hanya masuk sedalam tiga senti saja. Sambil mengobati lukanya dia memaki-maki.

“Perempuan jahat! Curang! Ahhh, mana anak kecil itu? Harus dibunuh sekali!!” teriaknya sambil mencak-mencak.

Kwi-eng Nio-cu dan Siang-tok Mo-li tertawa terkekeh-kekeh dengan hati girang sekali.

“Rasakan kau sekarang, laki-laki kotor!” Bu Leng Ci bersorak.

“Wah, sayang. Kalau tidak mati, mau rasanya aku mngambil dara ini sebagai murid!” kata Si Bayangan Hantu.

Orang-orang berkerumun di depan rumah keluarga Kakek Theng ketika lima orang aneh ini meninggalkan rumah itu. Tadi Phoa-ma yang membawa lari In Hong, setelah tiba di luar dan bertemu dengan orang-orang, tidak dapat berkata apa-apa kecuali suara lirih, “Pembunuhan…! Pembunuhan…!” tanpa berhenti menoleh dan tidak peduli pertanyaan orang, melainkan terus melarikan diri, memeluk anak itu erat-erat. Karena inilah, mika orang-orang berkumpul di depan rumah itu. Ketika mereka melihat lima orang aneh itu keluar dengan sikap angkuh dan seenaknya, tidak ada yang berani bertanya. Setelah lima orang itu pergi, barulah berbondong-bondong mereka memasuki rumah.

Dapat dibayangkan betapa gegernya ketika mereka melihat bahwa rumah itu penuh dengan darah dan mayat berserakan! Mayat-mayat dalam keadaan mengerikan sekali, terutama Cui Lin yang mati dalam keadaan telanjang bulat dan kepala pecah! Banyak yang tidak kuat menyaksikan dan ada yang jatuh pingsan, ada pula yang jatuh berlutut karena kedua kaki terasa lemas dan lumpuh. Akan telapi ada beberapa orang yang cepat lari keluar untuk mengejar lima orang aneh itu. Setibanya di luar, tidak ada nampak bayangan seorang pun di antara dua orang wanita dan tiga orang kakek yang menyeramkan tadi. Tentu saja mereka segera lari melapor kepada yang berwajib dan gegerlah kota Taigoan, apalagi karena Kakek Theng terkenal sebagai orang terhormat, bekas pengawal kaisar!

“Kejam sekali!”

“Bukan manusia!”

“Lebih kejam daripada iblis!”

Demikian komentar para penduduk Taigoan. Dan agaknya ada pula para pembaca yang memberi komentar seperti itu.

Kejamkah Lima Datuk kaum sesat itu? Tentu saja kejam sekali. Akan tetapi marilah kita menyelidiki keadaan kita manusia hidup ini. Bukankah kita ini dengan cara masing-masing, menurutkan pendapat masing-masing, juga merupakan orang-orang yang kejam? Mari kita tengok di sekeliling kita. Bukankah hidup manusia ini penuh dengan segala macam kejahatan? Pembunuhan terjadi di mana-mana. Ada pembunuhan karena perkelahian, karena perampokan, karena kebencian, karena permusuhan, karena iri dan sebagainya. Banyak pula pembunuhan masal karena perang. Perang antar bangsa yang pada hakekatnya mencerminkan perang dan pertentangan antar kelompok, antar perorangan, dan akhirnya bersumber pada pertentangan dalam diri kita masing-masing! Tidak kejamkah kita kalau kita mengiri kepada atasan dan menghina kepada bawahan? Kalau kita suka kepada yang baik dan jijik terhadap yang buruk, termasuk manusia? Tidak kejamkah kita kalau milik kita berlimpah dan berlebihan dan hati kita tidak terusik sama sekali melihat sesama manusia kurang makan kurang pakaian dan tiada tempat tinggal seperti kaum jembel dan gelandangan? Tidak kejamkah kita kalau untuk sebuah kedudukan saja kita sampai hati untuk saling jegal, saling fitnah, saling benci, dan saling bunuh?

Kalau kita mau belajar mengalihkan pandangan kita ke dalam diri sendiri, mau mengenal keadaan hati dan pikiran sendiri secara jujur, akan tampaklah bahwa selain kejam, kita pun munafik-munafik besar. Mulut bicara tentang saling kasih antar manusia, namun mata memandang penuh iri dan benci, tangan dikepal siap saling hantam, hanya untuk memperebutkan uang, kedudukannya, nama dan juga memperebutkan… kebenaran bukan lain hanyalah kebenaran diri sendiri masing-masing dan karenanya menjadi kebenaran palsu.

Mari kita ingat betapa kejamnya kita ini! Digigit seekor nyamuk ingin membunuh semua nyamuk, berdasarkan dendam dan kebencian. Berdasarkan jijik dan takut terkena penyakit, kalau bisa semua lalat dibasmi! Berdasarkan nafsu makan enak yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesehatan, kita membunuh segala binatang untuk kita makan bangkainya. Tidak kejamkah kita? Apakah alasan bahwa “semua itu sudah umum” dapat dipakai untuk menghapus kekejaman ini?

Dapatkah kita berusaha menghapus kekejaman? Dengan ilmu apa pun tidak dapat! Karena keadaan bebas dari kekejaman bukanlah keadaan yang dibuat dan diusahakan. Orang tidak akan mungkin dapat berhasil kalau dia berusaha menjadi orang baik! Usaha menjadi baik hanya menjadikan orang munafik yang merasa diri baik, dan segala usaha dan keinginan selalu mengandung pamrih atau tujuan yang kesemuanya bersumber kepada keuntungan lahir maupun batin bagi diri pribadi. Kekejaman akan terhapus apabila kita mengerti sampai ke akarnya mengapa kita kejam, apabila kita mengenal keadaan diri kita pribadi, mengenal gerak pikiran dan hati kita pribadi.

Marilah kita bersama mulai dari detik ini juga. Karena hidup adalah dari detik ke detik. Hidup adalah sekarang ini. Perubahan adalah saat ini, bukan ingin mengubah namun perubahan yang terjadi dengan sendirinya setelah kita membuka mata, waspada penuh kesadaran mengenai keadaan kita lahir batin, keadaan sekeliling kita. Apa kemarin? Sudah lalu! Hanya menimbulkan kenangan yang mengeruhkan pikiran. Apa besok? Bukan urusan kita! Hanya menimbulkan bayangan khayal yang melahirkan kekhawatiran dan ketakutan. Yang panting sekarang, saat ini!

Mari kita kembali ke Siauw-lim-si. Di kuil itu telah dipersiapkan untuk menerima tamu yang diduga tentu akan membanjiri kuil itu untuk memberi penghormatan terakhir kepada jenazah Tiang Pek Hosiang dan Thian Le Hwesio.

Yap Kun Liong masih berada di kuil itu karena dia mau membantu sampai upacara pembakaran jenazah dan penguburan selesai. Selain ini, dia pun hendak menanti ayah bundanya karena menduga bahwa sekali ini ayah bundanya pasti akan datang ke Siauw-lim-si. Tiang Pek Hosiang adalah guru ayahnya, mustahil kalau ayahnya tidak datang mendengar gurunya meninggal dunia. Dan ayahnya pasti akan mendengarnya karena berita ini tentu tersiar luas di dunia kang-ouw. Juga dia ingin bertemu dengan tokoh-tokoh kang-ouw yang diduga akan membanjiri kuil itu.

KASIHAN sekali pemuda ini. Dia sama sekali tidak pernah mimpi bahwa ayah bundanya yang dirindukannya itu telah tewas kurang lebih tiga tahun yang lalu! Kun Liong merasa gembira sekali melihat tokoh-tokoh kang-ouw mulai berdatangan. Dia telah menjadi seorang pemuda ber-usia dua puluh tahun yang bertubuh tegap dengan dada bidang penuh kesehatan dan kekuatan. Wajahnya tampan dan ke-pala gundulnya sama sekali tidak me-nyuramkan ketampanan wajahnya bahkan memberi ciri ketampanan yang khas! Sinar matanya berubah-ubah, kadang–kadang lembut seperti mata kanak-kanak, kadang-kadang bersinar tajam dan keras. Mata itu lebar, sesuai dengan dahinya yang lebar dan kepalanya yang bulat. Alisnya hitam tebal berbentuk golok, hidungnya mancung dan mulut serta dagunya membayangkan watak kuat dan kemauan membaja. Perangainya juga aneh dan berubah-ubah. Kadang-kadang dia pelamun, pendiam seperti orang pemurung, akan tetapi ada kalanya dia lincah jenaka penuh kegembiraan dan kalau sudah begini, muncul pula kenakalannya seperti ketika masih kanak-kanak. Karena dia berdiri seperti orang berjaga di ruangan tamu di mana Ketua Siauw-lim-pai sendiri menerima tamu, maka dengan jelas dia dapat melihat tokoh-tokoh kang-ouw yang disebutkan namanya setiap kali menghadap Ketua Siauw-lim-pai kemudian bersembahyang di depan kedua peti jenazah. Yang datang adalah tokoh-tokoh besar, utusan partai-partai Kun-lun-pai, Bu-tong-pai, Hoa-san-pai dan lain-lain partai persilatan yang terkenal. Juga banyak dari perkumpulan-perkumpulan silat, dari perorangan yang sudah mengenal pribadi kedua orang tokoh Siauw-lim-pai yang meninggal dunia atau yang datang untuk menghormati Siauw-lim-pai. Akan tetapi hatinya kecewa sekali karena dia tidak melihat ayah bundanya.

“Locianpwe, mengapa ayah bunda teecu belum juga tiba?” Akhimya dia tidak sabar lagi, bertanya lirih kepada Thian Kek Hwesio.

Hwesio ketua Siauw-lim-pai ini menarik napas panjang. “Ayahmu bukan lagi murid Siauw-lim-pai, andaikata berhalangan datang pun tidak mengapa. Lihat, Cia-taihiap datang!” Hwesio tua itu bangkit berdiri menyambut dengan wajah berseri. Mendengar disebutnya Cia-taihiap, jantung Kun Liong berdebar keras dan cepat dia mengangkat muka memandang.

Sinar matanya berseri dan dia menahan senyumnya ketika dia mengenal dara cantik jelita dan gagah perkasa yang berjalan di belakang suami isteri setengah tua itu. Mana mungkin dia pangling? Wajah itu masih sama cantik jelita dan berseri-seri penuh kenakalan seperti dahulu, bahkan makin cantik dan matang! Cia Giok Keng, siapa lagi? Dan dara itu pun memandang kepadanya, kelihatan terkejut dan terheran yang dapat dilihat dari diangkatnya sepasang alis yang seperti bulan muda itu, sepasang mata yang jernih itu berkilat, akan tetapi dara itu segera membuang muka mengalihkan pandang dengan alis berkerut! Hampir saja Kun Liong tertawa karena dia ter-ingat akan pertemuannya yang pertama dahulu dengan gadis itu. Mengertilah dia bahwa gadis itu tentu merasa khawatir melihat Kun Liong di situ, khawatir kalau-kalau pemuda ini akan membuka rahasianya dahulu akan wataknya yang buruk menyambut tamu dengan kurang ajar! Teringat ini, Kun Liong tersenyum penuh kemenangan. Sedikitnya, ada se-suatu yang dia kuasai, yang membuat dara itu tidak akan berani lagi berkurang ajar seperti dahulu, memandang rendah kepadanya!

Bagaimana Giok Keng dapat muncul di Siauw-lim-si? Seperti telah diceritakan di bagian depan, dara ini disuruh menjaga adiknya di Cin-ling-pai. Akan tetapi, dasar anak manja, sehari kemudian sete-lah ayah bundanya pergi, dia tak dapat menahan keinginannya untuk pergi.

Karena gadis ini melakukan perjalanan mengejar ayah bundanya dengan cepat, maka tiga hari kemudian dia dapat me-nyusul mereka.

Cia Keng Hong akan menegur, akan tetapi kembali isterinya yang membela anaknya.

“Dia sudah menyusul, biarlah dia ikut dengan kita.”

“Hmm… disuruh menjaga rumah malah nekat menyusul! Seperti anak kecil saja engkau, Keng-ji!”

Giok Keng memegang lengan ayahnya dan berkata halus manja, “Maaf, Ayah. Saya ingin sekali bertemu dengan tokoh-tokoh kang-ouw untuk menambah penga-laman.”

“Hemm…!” Terpaksa Keng Hong tidak melarang lagi dan berangkatlah mereka ke Siauw-lim-si bertiga.

Setelah melalui basa-basi upacara penyambutan di mana Ketua Siauw-lim-pai mengucapkan selamat datang dan pendekar sakti itu menyatakan duka cita atas kematian Tiang Pek Hosiang dan Thian Le Hwesio, suami isteri dan puteri-nya itu lalu memberi hormat dengan me-masang hio (dupa wangi) dan bersembah-yang di depan peti mati. Kemudian me-reka dipersilakan duduk di tempat kehor-matan sejajar dengan beberapa orang ketua partai yang berkenan hadir dan tidak mewakilkan kepada murid-muridnya.

Kun Liong memperhatikan dengan pandang matanya. Pendekar sakti yang amat dikagumi dan dijunjung tinggi oleh ayah dan ibunya itu kelihatan seorang laki-laki sebaya dengan ayahnya sekarang, setengah tua dan pakaiannya sederhana sekali. Sama sekali tidak seperti para ketua partai yang datang diiringkan anak buahnya yang membawa-bawa bendera tanda partai segala. Ketua Cin-ling-pai ini datang seperti orang biasa bersama isteri dan puterinya, pakaiannya seperti sastrawan sederhana atau lebih tepat se-perti seorang petani terpelajar, tidak membawa senjata dan kelihatannya biasa saja. Tubuhnya memang tegap berisi, wa-jahnya tampan dan kumis serta jenggot-nya pendek, masih hitam semua. Wajah itu membayangkan kesabaran, dan hanya sepasang alisnya yang membayangkan kegagahan, alis yang tebal dan bentuknya keren. Rambutnya masih hitam, digelung ke atas dan diikat dengan saputangan sutera berwama kuning tua. Bajunya yang longgar berwarna kuning muda dan celananya hitam, ikat pinggangnya juga kuning tua. Sungguh di luar persangkaan Kun Liong yang membayangkan supeknya itu sebagai seorang tokoh yang hebat dan luar biasa! Kiranya seorang yang seder-hana sekali, baik pakaian, gerak-gerik maupun sikapnya.

Isterinya lebih istimewa. Cantik dan penuh semangat, pakaiannya serba putih dengan hiasan warna merah dan biru di sana-sini, sikapnya agak dingin namun menambah kekerenannya. Pribadi nyonya ini jelas membayangkan kegagahan penuh, yang membuat orang merasa sungkan dan jerih untuk berurusan dengannya. Sam-baran sinar matanya penuh wibawa. Me-lihat wajah nyonya ini, Kun Liong men-dapat kenyataan betapa Giok Keng mirip ibunya, cahtik, gagah, dan jelas menonjol sifat terbuka dan penuh keberanian.

Dengan jantung berdebar Kun Liong melangkah perlahan menghampiri Cia Keng Hong yang duduk dengan tenang memandang para tamu yang baru datang dan bersembahyang. Pemuda ini melihat betapa Giok Keng menengok kepadanya dan kembali alis dara itu berkerut, sinar matanya menyambar penuh peringatan! Hal ini terasa sekali oleh Kun Liong sehingga tanpa disadarinya, kepalanya yang gundul itu mengangguk! Dan dia tersenyum ketika melihat dara itu sekilas tersenyum, kelihatan lega!

“Maafkan kalau teecu mengganggu, Supek. Teecu adalah Yap Kun Liong, dan merasa berbahagia sekali mendapat kesempatan berjumpa dengan Supek berdua Supek-bo.” Dia berlutut di depan Keng Hong dan Biauw Eng.

Keng Hong dan Biauw Eng terbelalak memandang kepala yang gundul itu karena ketika pemuda itu herlutut dan menundukkan muka, yang tampak hanya kepalanya yang gundul licin saja!

“Apa…? Siauw-suhu (Bapak Pendeta Muda)…?”

Telinga Kun Liong menjadi merah ketika menangkap suara ketawa ditahan dari sebelah kiri, Cia Giok Keng yang menahan ketawa itu, tak salah lagi!

“Supek, teecu bukan hwesio biarpun kepala teecu gundul. Teecu Yap Kun Liong…”

Keng Hong memegang pundak pemuda itu. Kun Liong mengangkat muka dan melihat betapa wajah yang tampan dan gagah itu diliputi keharuan.

“Engkau putera Yan Cu…?” Biauw Eng juga berseru lirih.

Keng Hong memberi isyarat kepada isterinya dan puterinya, kemudian bangkit berdiri. “Bawa kami ke tempat sunyi agar leluasa bicara.”

Kun Liong mengangguk dan mendahului pergi ke ruangan samping yang sunyi. Ketua Siauw-lim-pai melihat ini, akan tetapi hanya tersenyum saja karena dia maklum betapa pentingnya pertemuan antara paman guru dan murid keponakan itu. Setelah tiba di tempat sunyi itu, Keng Hong memegang lengan Kun Liong dan memandang dengan sinar mata tajam.

“Benarkah engkau Yap Kun Liong? Di mana ayah bundamu?”

Kun Liong menunduk dan menarik napas panjang kemudian menggelengkan kepalanya yang gundul, “Teecu tidak tahu, Supek. Sudah sepuluh tahun teecu tidak berjumpa dengan mereka.”

Biauw Eng melangkah ke depan, kedua tangannya yang halus kulitnya itu meraba dagu Kun Liong, mengangkat muka pemuda yang menjadi kaget dan terheran itu. “Dia memang putera mereka. Lihat!” Biauw Eng menggunakan telapak tangan kanan menutupi bagian atas dari muka Kun Liong, memperlihatkan hidung dan mulutnya saja.

“Persis Yan Cu sumoi!” Keng Hong berseru kagum.

“Dan lihat ini!” Kini tangan Biauw Eng menurun dan menutupi bagian bawah muka pemuda itu.

“Benar! Mata dan dahi itu persis Cong San, hanya bedanya dia gundul. Eh, Kun Liong, ke mana saja engkau pergi? Kenapa kepalamu gundul? Hemmm… agaknya engkau menjadi korban hawa beracun! Dan bagaimana pula sampai sepuluh tahun engkau tidak berjumpa dengan ayah bundamu?”

“Panjang sekali ceritanya, Supek.” Kun Liong menarik napas panjang dan melirik ke arah Giok Keng. Kalau dia menceritakan pengalaman-pengalamannya, apakah dia tidak harus bercerita tentang kunjungannya ke Cin-ling-san?

Gerakan ini dianggap oleh Keng Hong bahwa pemuda itu sungkan bercerita karena di situ ada Giok Keng yang tentu disangka orang lain karena belum diperkenalkan.

“Kun Liong, dia ini bukan orang lain, dia adalah puteri kami, bernama Giok Keng. Keng-ji (Anak Keng), ini adalah Yap Kun Liong, putera pamanmu Yap Cong San seperti yang telah kami ceritakan kepadamu. Dia lebih tua darimu.”

“Glok Keng, beri salam kepada kakakmu!” Biauw Eng berkata.

Biarpun hatinya tidak suka karena dia masih curiga kalau-kalau pemuda gundul itu akan membuka rahasia kesalahannya lima tahun yahg lalu, terpaksa Giok Keng mengangkat kedua tangan dengan kaku dan berkata lirih, “Liong-ko (Kakak Liong)!”

Kun Liong cepat membalas penghormatan itu dan tersenyum. “Keng-moi (Adik Keng), maafkan tadi aku diam saja karena tidak mengenal engkau siapa.”

Ucapan pemuda ini seketika membuat wajah Giok Keng berseri gembira karena hatinya lega. Setelah mengatakan tidak mengenal berarti pemuda itu akan merahasiakan pertemuan mereka lima tahun yang lalu. Maka dengan ramah dan juga tersenyum dia menjawab, “Tidak mengapa, Liong-ko. Akulah yang seharusnya menyapa lebih dulu.”

Atas desakan Keng Hong dan Biauw Eng yang ingin sekali mendengar apa yang telah dialami pemuda itu, Kun Liong lalu menuturkan dengan singkat pengalaman-pengalamannya semenjak anjing peliharaannya menumpahkan obat dan karena takut dia melarikan diri sampai berturut-turut terjadi hal-hal hebat menimpa dirinya sehingga dia makin tidak berani pulang. Dia menceritakan betapa dia diambil murid oleh Bun Hwat Tosu dan dipesan agar jangan mempergunakan nama kakek itu sebagai gurunya.

“Hanya kepada Supek, dan Supek-bo, juga Adik Giok Keng, saya berani menceritakan,” sambungnya. Dia tidak menceritakan tentang bokor emas, dan juga banyak hal yang dianggapnya kurang perlu, diantaranya kenakalannya yang menyebabkan kebakaran dan lain-lain, tidak diceritakannya!

“Kau beruntung sekali dapat menjadi muridnya sampai lima tahun!” Keng Hong berseru girang.

Kun Liong melanjutkan penuturannya, betapa dia kembali ke Leng-kok akan tetapi tak dapat bertemu dengan ayah bundanya yang telah melarikan diri menjadi orang buruan karena telah berani menentang Ma-taijin.

“Hemm, kurasa sekarang manusia busuk she Ma itu tidak akan berani banyak tingkah lagi setelah kuhancurkan sebelah telinganya!” Biauw Eng berkata sehingga Kun Liong terkejut.

“Supek-bo melakukan hajaran itu karena ayah ibu?” tanyanya.

Biauw Eng mengangguk. “Mestinya engkau yang melakukannya, karena lima tahun yang lalu mungkin engkau masih terlalu muda, aku mewakilimu.”

“Ahh, Supek-bo, Terima kasih atas pembelaan Supek-bo, akan tetapi teecu rasanya tidak akan mau melakukan hal itu.”

“Kenapa? Kau takut??” Biauw Eng bertanya dengan kening berkerut penuh kecewa.

“Teecu tidak takut apa-apa, hanya… teccu tidak akan menggunakan kekerasan ilmu silat untuk memukul orang…”

Keng Hong dan Biauw Eng terbelalak dan saling pandang, sedang Giok Keng tersenyum mengejek. Ketika Biauw Eng yang penasaran hendak membantah, dia didahului Keng Hong. “Lanjutkan ceritamu, Kun Liong. Setelah tidak bertemu dengan orang tuamu, apakah kau tidak mencari mereka? Mengapa? Kalau ada ibumu, agaknya kepala gundulmu dapat disembuhkan dan dapat tumbuh rambut. Kenapa pula kau bisa berada di sini?”

“Teecu telah berusaha mencari mereka, akan tetapi sia-sia. Akhirnya teecu pergi ke Siauw-lim-si dan secara kebetulan sekali teecu diambil murid oleh mendiang sukong Tiang Pek Hosiang selama lima tahun.”

“Apa?” Kembali Keng Hong dan Biauw Eng terkejut. “Bukankah beliau selama itu mengurung diri dalam Ruang Kesadaran?”

Kun Liong lalu menceritakan pengalamannya sampai dia menjadi murid sukongnya sendiri. Keng Hong mendengarkan penuh kagum dan diam-diam dia memuji nasib baik bocah ini yang secara kebetulan saja digembleng oleh dua orang paling sakti di dunia ini pada jaman itu!

“Hemm, jadi yang membuatmu keracunan sampai gundul begini adalah Ban-tok Coa-ong dan puteranya? Dia seorang di antara Lima Datuk kaum sesat! Lalu, setelah selesai upacara penyempurnaan jenazah Tiang Pek Hosiang dan Thian Le Hwesio, apa yang hendak kaulakukan, Kun Liong? Engkau hendak pergi ke ma-na?”

“Teecu belum tahu harus pergi ke mana. Yang jelas teecu akan mencari ayah dan ibu, juga berusaha mencari dua buah pusaka Siauw-lim-si yang hilang seperti dipesankan oleh mendiang Sukong.”

“Tapi, kalau betul dugaan Ketua Siauw-lim-pai bahwa yang mencuri adalah orang-orang dari Kwi-eng-pang, berbahaya sekali kalau kau pergi ke sana. Si Bayangan Hantu, ketua Kwi-eng-pang adalah seorang lihai, seorang di antara Lima Datuk kaum sesat.”

“Teecu tidak takut, Supek. Teecu harus mencarinya dan dapat membawanya kembali ke sini untuk membalas budi kebaikan mendiang Sukong.”

“Bagus! Begitulah baru pantas menjadi putera Yap Cong San dan Gui Yan Cu sumoi. Akan tetapi, sebelum berangkat biarlah kulihat dulu sampai di mana tingkat kepandaianmu, kalau perlu biar kutambah untuk bekal.”

Kun Liong menghaturkan terimakasihnya. Keng Hong lalu mengajak mereka kembali ke ruangan tamu. Akan tetapi Giok Keng berkata, “Ayah, karena Liong-ko adalah orang dalam kuil ini, saya ingin sekali melihat-lihat kuil yang disohorkan amat besar dan indah ini. Juga saya ingin melihat Ruang Kesadaran di mana mendiang Tiang Pek Hosiang bertapa dan di mana Liong-ko digembleng selama lima tahun.”

Keng Hong mengerutkan alisnya, akan tetapi Biauw Eng mendahuluinya. “Pergilah, dan kau yang ceritakan kepada kakakmu tentang keadaan kita selama ini agar dia mengetahui bahwa aku dan ayahmu sudah berusaha pula mencari orang tuanya.” Setelah berkata demikian, Biauw Eng mengajak suaminya kembali ke tempat tadi, sedangkan Giok Keng dan Kun Liong berjalan keluar memasuki kebun di samping kuil.

“Dia cukup tampan dan gagah, bukan? Kalau saja Keng-ji dan dia dapat saling cocok…” Biauw Eng berkata lirih setelah mereka duduk berdampingan di tempat tamu tadi. Hatinya sudah ingin sekali mempunyai seorang mantu, mengingat bahwa usia puterinya itu sudah sembilan belas tahun. Sudah perawan tua menurut ukuran waktu itu!

“Tapi… tapi…”

“Tapi apa?” Biauw Eng mendesak dan melirik ke arah suaminya.

“Dia… eh, kepalanya gundul. Bagaimana kalau sampai selamanya tetap gundul seperti hwesio?”

“Hemm, heran sekali aku, masa engkau meributkan soal kepala gundul atau berambut gondrong! Tidak biasanya engkau seperti ini. Pula, bukankah engkau masih menyimpan kitab pengobatan peninggalan gurumu yang kautemukan di Cin-ling-san ketika membangun pondok itu? Kalau kauberikan kitab itu kepadanya, tentu dia akan dapat mencari obatnya sendiri. Suamiku, apa sebetulnya yang membuat kau kecewa? Aku yakin bukan soal kepala gundul!” Biauw Eng yang sudah mengenal benar watak suaminya, mendesak.

Keng Hong menarik napas panjang. “Betapa mungkin bagiku menyembunyikan sesuatu darimu? Sebetulnya, aku agak kecewa mendengar pernyataannya tadi bahwa dia tidak suka menggunakan ilmu silat untuk memukuli orang. Kurasa ucapan itu timbul dari hati penakut dan watak yang lemah. Benar-benar aku tidak suka!”

“Hemmm, suka atau tidak, yang kita pentingkan bukankah perjodohan Giok Keng? Biarkan dia yang menentukan, bukan kita karena dialah yang akan melaksanakan, untuk selamanya, yang akan mengalami baik buruknya, suka dukanya.”

Keng Hong menarik napas panjang. “Mudah-mudahan dugaanku itu keliru.” Mereka tidak melanjutkan percakapan itu karena merasa kurang leluasa setelah kini tamu berdatangan dan banyak yang duduk dekat mereka.

Setelah mereka berdua memasuki kebun, Giok Keng berkata, “Kun Liong, kau baik sekali tidak…”

Kun Liong memandang dengan mata melotot dibesarkan, mulut cemberut dan menegur, “Eh, berani kau menyebut namaku begitu saja? Kalau aku mengutukmu, kau bisa menjadi kelelawar!”

“Habis, bukankah namamu Kun Liong?”

“Siapa menyangkal? Akan tetapi kau juga tidak bisa menyangkal bahwa aku lebih tua daripada engkau dan tadi kau sudah menyebutku koko. Kau bilang aku baik karena tidak membuka rahasiamu di depan ayah bundamu, akan tetapi beginikah balasnya? Kau menyebutku begitu saja seolah-olah kau lebih tua!” Kun Liong tidak marah sungguh-sungguh, hanya untuk menggoda saja karena dilihatnya, bahwa dara ini masih lincah dan nakal! “Ataukah barangkali aku tidak perlu membohong kepada Supek? Untuk mengaku tentang pertemuan kita dahulu itu sekarang pun masih belum terlambat!” Kun Liong membalikkan tubuh seolah-olah hendak pergi menemui supeknya.

“Eh, eh… nanti dulu, Kun… eh, Liong-koko! Maafkan aku, aku terima salah. Biarlah aku menyebutmu koko! Nah, kaudengar? Koko! Koko! Koko!”

Kun Liong tertawa dan kembali ke depan dara itu yang sudah cemberut. “Kau ceriwis dan manja sekali, ah! Benci aku melihatmu! Urusan dahulu itu hendak kaupakai untuk memeras aku selamanya ya? Awas kau, kalau keterlaluan sampai aku kehabisan kesabaran, sekali ini aku tidak hanya merobohkan engkau, melainkan akan kuketuk kepala gundulmu sampai retak!”

“Wah, jangan marah, dong, Moi-moi yang baik. Kau manis sekali, tahukah kau? Cantik seperti bidadari, seperti dalam dongeng yang pernah kubaca, tentang dewi yang turun dari kahyangan melalui tangga pelangi!”

“Kau mengejek ya?”

“Sungguh mati disumpah tujuh kali pun mau! Kau memang cantik sekali, Moi-moi. Bukan mengejek bukan apa, akan tetapi secara jujur. Biar aku tersumpah demi langit dan bumi bahwa kau memang cantik jelita. Hemmm…”

“Hemm apa?” Giok Keng membentak, akan tetapi sebenarnya hatinya berdebar girang bukan main. Kalau lain orang yang memujinya seperti itu, apalagi kalau orang itu laki-laki, tentu akan dianggapnya kurang ajar dan bisa dibunuhnya! Akan tetapi sikap Kun Liong yang jujur dan sama sekali tidak menjilat itu mendatangkan kesan lain!

“Eh, aku hanya mau bilang bahwa… selama ini aku tidak pernah dapat melupakanmu, maka begitu tadi kau muncul, aku terus saja mengenalmu. Yang selalu terbayang olehku adalah…”

“Apa? Mengapa bicara putus-putus begitu? Jangan main gila, ya?” Giok Keng pura-pura marah untuk menutupi kegirangan dan kebanggaan hatinya.

“Yang tak pernah kulupakan adalah ketika kau dahulu… menempiling kepalaku tiga kali! Ha-ha!”

Merah kedua pipi dara itu. Dia sama sekali bukan menempiling setelah dahulu ia ketakutan setengah mati, hanya menyentuh saja.

“Aku pun tidak dapat lupa kepadamu, terutama… kepalamu.”

“Gundul ini? Ha-ha, memang di dunia tidak ada keduanya, ya?”

Giok Keng cemberut lalu menjebikan bibirnya yang merah. “Kau memang manja dan ceriwis sekali. Kau tadi bilang kalau mengutuk aku maka aku bisa menjadi kelelawar. Apa maksudmu?”

Kun Liong tertawa, tertawa bebas dan inilah yang menambah daya tarik pribadinya, tidak ada pura-pura, tidak ada penahanan diri, bebas dan wajar. “Kau tahu bagaimana kalau kelelawar tidur? Kakinya tergantung, kepala di bawah, bukan? Nah, kalau kau berani kepada aku yang lebih tua, yang kaupanggil kakak, maka kau bisa kualat, seperti kelelawar tidur, kaki di atas kepala di bawah!”

“Huhh!” Giok Keng menampar pundak Kun Liong, tamparan main-main, akan tetapi Kun Liong yang kena ditampar pundaknya mengaduh-aduh.

“Aduhhh… aduhhh…!”

“Ehhh?” Giok Keng khawatir dan terbelalak. “Aku tidak menggunakan sin-kang, masa sakit?”

Kun Liong menghentikan aksinya kesakitan. “Untung kau tidak mengerahkan tenaga, kalau demikian, bukankah aku akan menderita nyeri sekali?”

Giok Keng merasa dipermainkan dan mendongkol. “Dasar sinting!”

Kun Liong tertawa. “Entah mengapa, biasanya aku tidak begini, Moi-moi. Ber-ada di dekatmu aku merasa gembira sekali dan ingin bersendau-gurau saja. Rasanya aku seperti mau bernyanyi-nyanyi, mau menari-nari!”

“Engkau bisa gila kalau terus begini. Eh, Kun Liong… Koko! Mengapa sih kau suka sekali disebut Koko olehku?”

“Tentu saja. Engkau anak tunggal, aku pun juga. Engkau tidak punya kakak, aku tidak punya adik, sudah sepatutnya…”

“Ngawur! Aku bukan anak tunggal! Aku mempunyai seorang adik laki-laki bernama Cia Bun Houw, sekarang sudah empat tahun usianya.”

“Benarkah? Mana dia?”

“Di rumah. Di Cin-ling-san. Hemm, aku sampai lupa menceritakan kepadamu keadaan kami seperti dipesan ibu tadi.” Gadis itu bersama Kun Liong duduk di atas bangku dan mulailah dia menceritakan keadaan keluarga Cia itu dengan singkat.

Mendengar penuturan ini, teringatlah Kun Liong akan keadaan keluarganya sendiri. Seketika lenyaplah kegembiraannya seperti awan tipis ditiup angin. Wajahnya menjadi muram, matanya sayu dan dia mendadak menjadi pendiam.

Perubahan sembilan puluh derajat (bumi langit) ini mengherankan Giok Keng yang telah selesai bercerita. “Ihh, kau kenapa? Kok suram muram seperti lampu kehabisan minyak?”

Kelakar Giok Keng yang juga memiliki watak lincah gembira itu tidak membuyarkan kedukaan hati Kun Liong. “Aku teringat akan ayah bundaku. Sudah sepuluh tahun tidak berjumpa. Harapan terakhir di sini, akan tetapi mereka tidak juga muncul. Aku khawatir sekali, jangan-jangan ada malapetaka menimpa mereka.”

Giok Keng mengerutkan alisnya, seketika dia pun tidak nafsu main-main lagi karena merasa ikut khawatir dan berduka. Entah mengapa, menghadapi sikap Kun Liong yang tidak pura-pura, wajar dan seadanya itu dia mudah ter-seret. Kini dia merasa kasihan sekali dan tanpa disadarinya, tangannya memegang lengan Kun Liong sambil berkata, “Ayah bundamu adalah orang-orang yang me-miliki ilmu kepandaian tinggi, malapetaka apa yang dapat menimpa mereka? Tidak perlu khawatir, Liong-ko.”

“Aihhh, kau tidak tabu, Moi-moi. Baru berurusan dengan pembesar rendah Ma-taijin saja mereka sudah terpaksa harus menjadi pelarian. Dunia sudah kotor dengan polah tingkah manusia-manusia yang menyalahgunakan kedudukan atau kekuatannya.”

Sampai lama mereka terdiam dan sama sekali tidak sadar bahwa tangan kiri Giok Keng memegang lengan kanan Kun Liong dan ketika menjawab tadi Kun Liong menumpangkan tangan kirinya di atas punggung tangan kiri dara itu!

“Ihhh…!” Tiba-tiba Giok Keng merenggutkan tangannya dan meloncat berdiri, memandang Kun Liong dengan muka kemerahan.

“Lho, kenapa?” Kun Liong juga kaget, seketika kedukaannya buyar.

“Kenapa kau memegang tanganku?”

“Hehh…?” Kun Liong bengong, lalu teringat dan setelah kedukaannya membuyar, dia tertawa geli dan kembali sifatnya suka menggoda timbul. “Kau juga memegang lenganku sejak tadi tidak apa-apa, kalau aku memegang tanganmu sebentar saja, kau sudah mencak-mencak. Apakah tanganku kotor? Apakah bau?” Kun Liong mencium telapak tangannya sendiri, lalu mengangguk-angguk dan berkata, “Memang bau…!”

“Huh! Pantas! Menjijikkan, tangannya bau…!”

“Wangi! Bau wangi kataku! Tentu saja pantas, dan sama sekali tidak menjijikkan.”

“Bohong! Masa tanganmu bau wangi?”

“Eh, tidak percaya? Boleh cium sesukamu!” Dia mengulur tangannya.

“Tidak sudi! Eh, kenapa kau kaya orang sinting menggoda aku? Bukankah kau mau memperlihatkan kuil ini dan Ruang Kesadaran kepadaku?”

“Wah, sampai lupa kita! Bukan aku saja yang lupa, kau juga, jadi sama-sama. Mari…!”

Mereka berjalan menuju ke bagian belakang kuil. Sunyi di situ karena semua hwesio berkumpul di tempat upacara sembahyang, dan siap-siap untuk melakukan upacara memperabukan jenazah di tempat yang sudah khusus disediakan di sebuah puncak bukit.

Mereka berjalan perlahan dan Kun Liong membawa gadis itu melihat-lihat ruangan perpustakaan, ruangan sembahyang dan lain-lain bagian di dalam kuil besar itu yang memang amat megah dan indah, juga aneh bagi Giok Keng yang belum pernah melihatnya.

Setelah mereka meninjau Ruang Kesadaran yang kini terbuka dan bukan menjadi tempat larangan lagi, hati Kun Liong terharu. Melihat kamar di mana dia hidup selama lima tahun bersama Tiang Pek Hosiang menimbulkan kenangan yang menggores kalbu. Giok Keng merasa ngeri mengenangkan betapa Kun Liong harus tinggal di dalam kamar itu selama lima tahun, apalagi Tiang Pek Hosiang yang telah bertapa di kamar itu selama dua puluh tahun! Seperti orang hukuman saja! Dia bergidik dan mengajak Kun Liong meninjau tempat lain.

Asap tampak mengebul di atas bukit di belakang kuil. “Pembakaran jenazah telah dimulai,” kata Kun Liong. “Apakah kau tidak ingin menonton? Ayah bundamu dan semua tamu tentu ikut pergi ke tempat pembakaran.”

Giok Keng menggelengkan kepalanya. “Apakah itu tontonan? Aku tidak suka melihat hal yang mengerikan itu. Lebih baik kita menunggu saja di sini.”

Kun Liong tidak berani memaksa biarpun hatinya ingin sekali ikut menonton jenazah sukongnya diperabukan, takut kalau-kalau gadis ini marah. Dia merasa senang sekali berdekatan dan bercakap-cakap dengan dara ini. Hatinya terasa tenang dan sejuk nyaman. Mengapa ma-nusia tidak bisa saling mengasihi seperti dia dan gadis itu dalam saat ini? Meng-apa di mana-mana timbul permusuhan dan kebencian, menyebabkan maut seperti yang dialami oleh Thian Le Hwesio?

“Baiklah kalau begitu. Memang benar pendapatmu bahwa pembakaran jenazah bukan tontonan, akan tetapi soalnya manusia selalu ingin melihat dan menonton hal-hal yang tidak bisa mereka lihat. Mari kita ke kebun belakang itu, di sanalah para hwesio menanam sayur dan bercocok tanam.”

Ladang itu luas sekali dan dengan kagum Giok Keng melihat segala macam sayur yang hidup subur gemuk berkat rawatan yang teliti. Mereka duduk di atas sebuah batu besar sambil menyegarkan mata dengan memandang sayur-sayuran yang kehijau-hijauan sedap dipandang mata.

“Keng-moi, berapakah usiamu sekarang?”

“Hemm, menanyakan usia orang mau apa sih?”

“Aih, jangan terlalu galak, Moi-moi. Kita adalah kakak adik misan seperguruan, aku adalah piauw-suhengmu (kakak misan seperguruan) dan engkau adalah piauw-sumoiku (adik misan seperguruan), malah oleh ibumu lebih didekatkan lagi sehingga aku menyebutmu adik den engkau menyebutku kakak. Ape salahnya bagi seorang kakak mengetahui usia adiknya? Aku berusia hampir dua puluh tahun, den engkau tentu tidak lebih tua dari aku, biarpun dahulu aku ingat ibuku mengatakan bahwa puteri Cia-supek lebih muda beberapa bulan dariku.”

“Kalau sudah tahu begitu, mengapa bertanya lagi? Usiaku hanya lebih muda beberapa bulan, nah, berarti sembilan belas tahun.”

“Wah, sudah sembilan belas tahun! Keng-moi, mengapa engkau belum menikah? Tentu sudah mempunyai tunangan, ya?”

“Wuuuttt… plakkk!” Kun Liong tidak mau mengelak dan pipinya kena ditampar sampai terasa panas dan ada tanda merah-merah bekas tamparan itu di pipi kirinya. Ia mengelus pipinya den berkata sambil tersenyum, “Wah, engkau marah benar agaknya. Tamparanmu tidak seperti lima tahun yang lalu.”

Agaknya Giok Keng menyesal juga setelah menampar pemuda yang same sekali tidak melawan atau mengelak itu, padahal sebagai seorang ahli silat, dia mengerti bahwa tamparannya yang biasa tadi tentu akan dapat mudah dielakkan kalau Kun Liong mau. Dia cemberut, memandang tajam penuh selidik lalu bertanya, “Agaknya engkau disuruh Ayah dan Ibu untuk membujukku, ya?”

“Eh, Keng-moi, apa artinya ini? Kau melihat sendiri bahwa mereka tidak berkata apa-apa kepadaku, dan apa yang harus dibujuk? Pertanyaanku adalah wajar, keluar dari hatiku sendiri, apa sih salahnya bertanya begitu?”

Dan tiba-tiba Giok Keng menutupi muka dengan kedua tangan, menangis!

Bingunglah Kun Liong. Sejenak dipandangnya muka yang bersembunyi di balik kedua tangan itu, kemudian tanpa disadarinya dia menggaruk-garuk kepala gundulnya karena tidak dapat menemukan jawaban atas keanehan ini di dalam kepalanya.

“Adik Cia Giok Keng, mari kautampar lagi aku, malah kau boleh pukul kepalaku akan tetapi jangan menangis! Maafkanlah kalau aku bermulut lancang. Memang aku seorang yang tolol dan kasar dan kurang ajar! Nah, ini, pukullah!” Kun Liong sudah mengulur leher mendekatkan kepalanya yang gundul.

Giok Keng bukan seorang dara cengeng. Sama sekali bukan. Dia memiliki kekerasan hati luar biasa, berani dan galak seperti ibunya di waktu muda, akan tetapi dia pun lincah gembira dan pandai bicara seperti ayahnya di waktu muda. Sebentar saja dia sudah dapat menguasai dirinya menghapus air matanya dan ketika memandang kepala gundul yang dijulurkan seperti seekor kura-kura menjulurkan kepala itu, dan sikap Kun Liong yang minta maaf dan menyerahkan kepala untuk dipukul, kejengkelannya lenyap dan dia tersenyum, menggunakan telapak tangan dengan halus mendorong kepala Kun Liong.

“Tidak! Satu kali saja menampar kepalamu aku sudah kapok (jera)!”

Mendengar suara yang bening den hangat itu Kun Liong mengangkat muka dan betapa girangnya melihat wajah itu sudah tersenyum lagi biarpun kedua pipinya masih basah air mata. Benar-benar dia bingung dan tidak mengerti kini.

Giok Keng tersenyum lebar sebagai jawaban, kemudian berkata setelah menghela napas panjang. “Tadi aku memang menangis. Habis pertanyaanmu membuat aku jengkel sekali sih! Ayah dan Ibu selalu membujuk-bujukku untuk menikah. Betapa menjengkelkan! Mereka marah karena pinangan yang puluhan kali datangnya selama beberapa tahun ini, semua kutolak mentah-mentah!”

Kun Liong mengerutkan alisnya. “Hemm… kalau boleh aku bertanya, mengapa kaulakukan itu, Keng-moi? Tentu saja menolak pinangan adelah hakmu, akan tetapi kalau berlarut-latut, bukankah engkau menyakitkan hati ayah-bundamu?”

“Yang mau kawin itu aku ataukah mereka?” Tiba-tiba Giok Keng bertanya dengan nada keras dan pandang mata penuh tantangan, membuat Kun Liong terkesiap dan khawatir kalau-kalau membikin marah lagi.

“Eh, tentu saja engkau!”

“Kalau sudah jelas begitu, berarti ini urusanku dan aku sendiri yang akan menentukan.”

“Engkau benar, Moi-moi. Akan tetapi sampai kapan?”

“Sampai aku mau dan… dan cocok.”

“Apakah belum juga ada yang cocok?”

Giok Keng menunduk dengan muka merah, kemudian mengangkat muka tiba-tiba dan cemberut. “Sudahlah, perlu apa bicara hal yang bukan-bukan? Kalau kau bisa menyerangku dengan pertanyaan tentang itu, agaknya engkau sendiri sudah kawin atau setidaknya tentu sudah bertunangan.”

“Aku?” Kun Liong terbelalak dan menggaruk kepalanya di belakang telinga kanan, sebuah kebiasaan yang tak disadarinya. “Siapa orangnya yang sudi kepada seorang gundul macam aku?”

“Hemmm… sssttt, Koko, lihat sana itu…!”

Kun Liong mengangkat muka memandang ke arah kuil yang ditunjuk oleh Giok Keng. Tampak olehnya berkelebatnya bayangan beberapa orang di atas atap kuil!

“Ah, tentu bukan orang baik-baik kalau datang melalui atap. Aku harus menyelidik ke sana!” Setelah berkata demikian, Kun Liong meloncat dan berlari cepat sekali.

Giok Keng terkejut, bukan terkejut karena adanya orang-orang yang disangka buruk itu, melainkan kaget menyaksikan gerakan Kun Liong yang demikian cepatnya!

“Liong-ko, tunggu!”

Akan tetapi Kun Liong tidak memperlambat larinya karena dia teringat akan peristiwa lima tahun yang lalu ketika maling-maling menyerbu Siauw-lim-si dan berhasil melarikan dua buah benda pusaka. Saat itu, para tokoh Siauw-lim-pai sedang sibuk menghadiri upacara pembakaran jenazah, demikian pula para tamu yang terdiri dari tokoh-tokoh besar. Kuil menjadi kosong, hanya tinggal beberapa orang hwesio pelayan dan kacung-kacung yang hanya mempunyai kepandaian rendah. Agaknya, kekosongan kuil yang sudah diperhitungkan oleh orang-orang jahat itu kini dijadikan kesempatan oleh mereka untuk melaksanakan niat buruk mereka.

Dugaan Kun Liong tidak meleset sama sekali. Memang demikianlah, di antara para tamu itu terdapat serombongan orang-orang dari golongan hitam yang menyelundup, dan mereka ini terdiri dari sepuluh orang yang merupakan orang-orang berkepandaian tinggi yang tergabung dalam persekutuan Pek-lian-kauw dan para anggauta Kwi-eng-pang. Karena telah diperhitungkan oleh para pimpinan persekutuan gelap itu bahwa amat sukar untuk menyerbu Siauw-lim-si yang kuat, apalagi pada saat sekarang setelah Siauw-lim-si pernah diseribu oleh orang-orang Kwi-eng-pang lima tahun yang lalu. Maka kaum sesat yang cerdik itu menggunakan siasat yang amat berani ini. Mereka bahkan mengutus orang-orang yang dipercaya, mereka yang berkepandaian tinggi akan tetapi yang belum dikenal oleh tokoh-tokoh kang-ouw, untuk menggunakan kesempatan selagi banyak tamu datang ke Siauw-lim-si untuk melakukan aksi mereka. Tentu saja mereka tidak berani berterang. Menghadapi para hwesio Siauw-lim-pai secara terang-terangan saja mereka merasa jerih, apalagi yang di kuil itu berkumpul banyak sekali tokoh–tokoh besar dunia persilatan! Akan teta-pi mereka ini cerdik sekali, menggunakan selagi semua hwesio dan para tamu me-lakukan upacara pembakaran jenazah di bukit sebelah belakang kuil yang makan waktu sedikitnya dua jam, mereka me-ninggalkan rombongan tamu dan berpencar lalu menyelundup ke dalam kuil. Jumlah mereka sepuluh orang, dan yang menjadi pemimpin penyerbuan ini adalah seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh tiga tahun, tampan dan bermata liar, sikapnya seperti orang yang tidak waras otaknya. Akan tetapi, dia ini bukanlah orang sembarangan, karena dia bukan lain adalah Ouwyang Bou, putera tung-gal dari Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok, seorang di antara Lima Datuk!

Yang menjadi sasaran mereka adalah kamar pusaka. Bukan semata-mata untuk mencuri pusaka-pusaka Siauw-lim-si, melainkan terutama sekali untuk mencari bokor emas milik Panglima The Hoo yang dijadikan perebutan. Menurut perhitungan para datuk, setelah mereka berunding, kemungkinan besar sekali bahwa bokor emas itu berada di gedung pusaka Siauw-lim-si, karena yang diketahui terakhir oleh Bu Leng Ci adalah bahwa bokor emas itu dibawa oleh seorang bocah yang ternyata adalah putera Yap Cong San, sedangkan Yap Cong San yang mereka bunuh tiga tahun yang lalu itu adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai. Besar kemungkinarmya bokor emas itu terjatuh ke tangan Yap Cong San, dan sebagai seorang tokoh Siauw-lim-pai mungkin saja bokor itu diserahkan kepada Siauw-lim-pai untuk disimpan di Siauw-lim-si. Inilah yang membuat rombongan kaum sesat yang dipimpin Ouwyang Bouw itu menggunakan kesempatan pelayatan itu untuk turun tangan!

Ketika Kun Liong yang berlari cepat tiba di dalam kuil, dia sudah melihat apa yang dikhawatirkannya. Empat orang hwesio pelayan rebah di sudut dalam keadaan lemas tak mampu bergerak ka-rena telah tertotok! Kun Liong tidak membuang waktu lagi, cepat meloncat ke dalam lorong yang menuju ke bagian belakang dan langsung dia lari ke gudang pusaka. Akan tetapi baru saja dia tiba di ruangan tengah, tiba-tiba sinar merah menyambar dari kiri. Kun Liong cepat merendahkan diri berjongkok dan jarum-jarum merah yang kecil halus itu menyambar lewat di atas kepalanya. Ada sesuatu yang mengingatkannya ketika melihat sambaran-sambaran jarum merah itu. Cepat dia meloncat lagi, membalik ke kiri dan berhadapan dengan seorang pemuda menyeringai kepadanya.

“Kau…!” Kun Liong teringat ketika melihat wajah tampan dengan mata liar berputaran itu. “Kau Ouwyang Bouw anak Ban-tok Coa-ong!”

Akan tetapi tentu saja Ouwyang Bouw tidak mengenal Kun Liong. Dahulu ketika dia dan ayahnya bertemu dengan Kun Liong, pemuda gundul ini baru berusia sepuluh tahun dan pada waktu itu belum gundul. Adapun Kun Liong dapat mengenal Ouwyang Bouw karena peristiwa itu menyebabkan kepalanya menjadi gundul, maka tentu saja wajah Ouwyang Bouw dan ayahnya selalu teringat olehnya. Jarum-jarum merah tadi menambah keyakinannya, karena justeru jarum-jarum merah itulah yang menjadi sebagian sebab mengapa kepalanya tidak mau tumbuh rambut.

“Mau apa kau datang ke dalam kuil?” Kun Liong membentak

Akan tetapi pemuda bermata liar itu berterlak, “Bunuh dia!” Dan dari belakangnya muncullah enam orang laki-laki yang serta-merta maju menerjang, mengepung dan mengeroyok Kun Liong dengan senjata pedang dan golok.

“Eh-eh, kalian orang-orang jahat!” Kun Liong menggunakan kegesitan gerak tubuhnya mengelak ke kanan kiri. Dia tidak merasa khawatir menghadapi pe-ngeroyokan enam orang itu yang biarpun semua mempergunakan senjata, namun dia dapat melihat bahwa gerakan mereka itu masih terlalu lambat baginya dan dia akan dapat mengatasi mereka. Akan tetapi dia terkejut melihat bayangan Ouwyang Bouw melesat dan lenyap dari situ melalui lorong yang menuju ke gudang pusaka!

Dia hendak mengejar, namun enam orang itu mengurungnya ketat dan menghujankan serangan ke tubuhnya. Semenjak mempelajari ilmu dari Bun Hoat Tosu dan Tiang Pek Hosiang, Kun Liong belum pernah mempergunakan ilmu-ilmunya itu dalam perkelahian sungguh-sungguh. Ketika dahulu sebelum digembleng sukongnya di Ruang Kesadaran, dia pernah menggunakan ilmu yang dipelajarinya dari Bun Hoat Tosu melawan Cia Giok Keng, akan tetapi dalam pertandingan yang dianggapnya main-main saja karena dia tidak menganggap Giok Keng sebagai orang jahat. Ketika beberapa hari yang lalu dia mengadu tenaga dengan utusan Panglima The Hoo, juga pertandingan itu bukan sungguh-sungguh, apalagi ketika melawan Tio Hok Gwan, hanya sekedar mengadu tenaga saja dan keburu dilerai oleh Thian Kek Hwesio.

Sekarang dia merasa ragu-ragu. Kalau dia mau, banyak sudah dia melihat lowongan untuk merobohkan enam orang itu. Akan tetapi, dia sebetulnya paling tidak suka memukul orang, bahkan agak benci akan permusuhan dan perkelahian yang dianggapnya tidak menyenangkan dan hanya dilakukan oleh orang-orang kejam. Akan tetapi kini dia diserang oleh empat batang pedang dan dua buah golok yang semuanya menyerang untuk mencabut nyawanya. Tentu saja harus mempertahankan dan melindungi tubuhnya dari bahaya terkena bacokan atau tusukan. Dia masih ragu-ragu bagaimana dapat menghentikan enam orang pengeroyoknya itu tanpa membuat mereka menderita luka berat.

“Kalian orang-orang tolol, kalau ketahuan para suhu, kalian akan celaka. Lebih baik lekas pergi melarikan diri sebelum terlambat!” Dia mencoba mengusir mereka dengan kata-kata nasihat!

Tentu saja dia malah ditertawakan karena enam orang itu memandang ringan kepadanya. Pemuda gundul itu hanya mengelak ke sana-sini, biarpun gerakannya cepat sekali sukar diserang, namun hal itu hanya menandakan bahwa pemuda gundul atau yang mereka sangka hwesio muda ini ketakutan. Serangan mereka makin gencar dan menghebat sehingga enam batang senjata tajam itu menjadi sinar yang bergulung-gulung menyilaukan mata, menyambar-nyambar ke arah bayangan Kun Liong yang berloncatan ke sana-sini.

“Aihhh! Liong-ko…!”

Jeritan Giok Keng! Pucat wajah Kun Liong mendengar jeritan itu karena dia tahu bahwa dara itu tentu terancam bahaya. Jeritan itu terdengar dari arah belakang, dan teringatlah dia bahwa ketika tadi mengajak gadis itu berkeliling, dia tidak memberitahu bahwa di dalam kuil itu banyak dipasangi jebakan-jebakan rahasia untuk menjaga keamanan kamanan kuil kalau-kalau dimasuki orang jahat!

Karena mengkhawatirkan Giok Keng, Kun Liong tidak peduli lagi. Kaki tangannya bergerak dan enam batang senjata itu terlempar beterbangan disusul robohnya enam orang itu yang mengaduh-aduh karena sedikitnya mereka menderita tulang patah terkena ketukan jari tangan Kun Liong dan perut mulas oleh ujung kaki pemuda gundul itu!

Kun Liong tidak mempedulikan mereka, langsung meloncat dan lari melalui lorong ke arah Giok Keng tadi. Suara Giok Keng terdengar lagi, kini dari dalam kamar perpustakaan. “Maling keparat!” Akan tetapi disusul suara terbatuk-batuk dara itu.

Ketika Kun Liong tiba di dalam ka-mar perpustakaan, dia melihat bayangan Ouwyang Bouw berlari ke luar. Bukan main kagetnya hati Kun Liong ketika dia meloncat ke dalam karena hidungnya segera bertemu dengan bau yang harum aneh menyesakkan napas! Tanulah dia bahwa di situ ada hawa beracun dan tampak olehnya asap hitam mengepul dari lubang di tengah ruang perpus-takaan itu.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: