Petualang Asmara (Jilid ke-18)

“Hi-hi-hik, sekali ini pancinganmu berhasil, Adik Biauw! Kau mendapat seekor ikan yang gemuk!” Seorang di antara mereka berkata kepada wanita yang menyeret Kun Liong.

“Bukan dapat mengail, akan tetapi Enci Kun yang mendapat dari pasar!”

“Wah, ikan apa ini kepalanya gundul dan bersih sekali tidak ada rambutnya selembar pun!”

“Malah enak, tinggal mengupas kulitnya saja, tentu gurih. Hi-hi-hik!”

“Sayang Pangcu benci laki-laki, tentu dia dibunuh.”

Wanita yang menyeret berkata, “Aku akan mohon kepada Pangcu, sebelum dibunuh biar dia tidur bersamaku satu malam!”

“Enaknya! Apa kau lupa kepadaku, Adik Biauw? Aku yang menemukannya, tahu?”

“Sudah jangan ribut, itu Enci Siu datang, biar kita minta Pangcu agar dia diberikan kepada kita berlima sampai dia mati kehabisan.”

“Kehabisan apa?”

“Ih, tanya-tanya. Seperti tidak tahu saja. Hi-hi-hik!”

Mereka berlima tertawa-tawa. Kun Liong yang setengah pingsan masih dapat mendengar percakapan mereka tadi dan dia benar-benar merasa kecelik dan tertipu oleh sikap wanita tadi! Kiranya mereka ini tiada ubahnya seperti serombongan siluman seperti yang terdapat dalam dongeng. Cantik-cantik, genit-genit, cabul dan kejam!

Ketika tubuhnya diseret tiba di bawah sebatang pohon, wanita cantik yang bernama Biauw tadi tiba-tiba menggerakkan tangannya dan tubuh Kun Liong terlempar naik melalui sebatang dahan pohon dan tentu saja tubuhnya tergantung dengan kepala di bawah! Wanita pelayan pertama yang namanya disebut Kun tadi meloncat, menggerakkan tangan memukul perut Kun Liong. Tak dapat ditahan lagi Kun Liong muntahkan air yang membanjir keluar dari dalam perutnya melalui mulut dan hidung. Kemudian dia ditotok pingsan dan sama sekali tidak dapat melawan karena tubuhnya terasa lemas semua dan oleh lima orang pelayan itu dia dilemparkan ke dalam kamar tahanan!

Lima orang wanita itu memang pelayan-pelayan dari Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio sendiri! Pada waktu itu, Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio tidak berada di pulau dan lima orang pelayan ini memiliki kekuasaan yang besar juga sehingga para anggauta dan para murid Kwi-eng pang tidak ada yang berani turut campur ketika melihat mereka itu menangkap Kun Liong.

Murid-murid kepala dari Si Bayangan Hantu Ang Hwi Nio ada belasan orang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Tentu saja kedudukan mereka lebih tinggi daripada lima orang pelayan itu, akan tetapi karena lima orang itu adalah kepercayaan subo mereka, apalagi mereka berlima itu adalah orang-orang dalam, mereka pun hanya bertanya. Ketika mendengar bahwa Si Gundul itu katanya hendak bertemu dan sikapnya mencurigakan, mereka membenarkan tindakan lima orang pelayan itu dan memutuskan bahwa pemuda itu ditahan sampai ketua mereka pulang.

Akan tetapi, mereka tidak tahu bahwa peristiwa itu menarik perhatian seorang gadis yang mereka segani, yaitu Yo Bi Kiok, murid Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci yang tinggal di pulau kecil! Yo Bi Kiok kini telah menjadi seorang dara yang cantik sekali akan tetapi sikapnya pendiam dan dingin, dan ilmu kepandaiannya tinggi. Memang dara ini memiliki bakat yang amat baik sehingga Bu Leng Ci yang merasa sayang kepadanya telah menggemblengnya sampai tingkat kepandaian gadis itu tidak berselisih banyak dari tingkat gurunya, dan tentu saja jauh lebih lihai daripada murid-murid kepala Si Bayangan Hantu. Bagi penghuni Pulau Telaga Setan itu, dara ini lebih dikenal dengan julukannya, yaitu Giok-hong-cu (Burung Hong Kemala) yang diambil dari mainan burung hong dari kemala yang dahulu dia terima sebagai hadiah dari Si Bayangan Hantu dan yang selalu dipakai di rambutnya.

Ketika Yo Bi Kiok atau Giok-hong-cu mendengar bahwa para pelayan Si Bayangan Hantu berhasil menawan seorang laki-laki gundul yang bukan hwesio, yang didengarnya dari para anak murid Kwi-eng-pang perempuan, dia merasa tertarik sekali. Maka dia lalu menemui lima pelayan itu dan menyatakan keinginannya untuk melihat Si Tawanan dari lubang rahasia.

“Hi-hi-hik, mau apa kau melihatnya, Nona? Dia tampan sekali, akan tetapi sayang kepalanya telanjang!”

“Telanjang…?” Giok-hong-cu Yo Bi Kiok berseru heran.

“Hi-hik, maksudku tidak ada selembar rambut pun menutupi kepalanya. Bersih dan bagus sekali kepalanya!”

Bi Kiok mengerutkan alisnya. Para pelayan ini adalah wanita-wanita yang genit dan tak tahu malu. Akan tetapi karena dia ingin membuktikan apakah tawanan ini benar orang yang disangkanya, dia mendesak dan akhirnya dia diperbolehkan mengintai dari lubang rahasia.

“Kun Liong…!” Hati Bi Kiok berseru kaget ketika dia mengintai dan mengenal pemuda gundul yang rebah telentang kelihatannya lemas dan lemah itu.

Bi Kiok maklum bahwa di pulau itu, biarpun bibi gurunya, Si Bayangan Hantu tidak ada, amatlah sukar dan berbahaya untuk menolong Kun Liong seperti yang pernah dia lakukan dahulu. Kalau ketahuan tentu terjadi ribut dan kalau sampai gurunya mendengar tentu dia akan dimarahi dan tentu Kun Liong takkan tertolong lagi. Sebaiknya menggunakan akal. Setelah memutar otak, Bi Kiok bergegas mendayung perahunya kembali ke pulaunya sendiri di mana dia tinggal bersama Bu Leng Ci dan hanya ditemani oleh beberapa orang pelayan waniia.

“Subo, ada kabar penting sekali dan kalau Subo tidak cepat-cepat turun ta-ngan selagi Ang-su-i (Bibi Guru Ang) tidak ada, tentu kita didahului orang.”

“Hemm, ceritakanlah.”

“Akah tetapi, sebelumnya teecu minta supaya Subo suka mengampunkan kesalahan teecu yang pernah teecu lakukan kepada Subo.”

“Bi Kiok, engkau tidak pernah berbuat salah kepadaku, muridku.”

“Memang sesudah itu teecu menyesal sekali, apalagi mengingat akan segala kebaikan Subo. Hal itu lalu menjadi gan-jalan hati teecu dan sekarang tiba saat-nya teecu menebus kesalahan itu. Se-sungguhnya, dahulu ketika Subo membu-nuh orang-orang Pek-lian-kauw dan me-ngalahkan Kiang-pangcu murid Ang-su-i, Subo bertemu dengan seorang anak laki-laki yang berkepala gundul. Ingatkah Subo?”

Bu Leng Ci mengerutkan alisnya. Sudah terlalu banyak orang dibunuhnya, dan peristiwa itu baginya biasa saja, maka dia tidak dapat mengingat lagi. Dia menggeleng kepalanya. “Aku sudah tidak ingat lagi, muridku.”

“Biarpun begitu, teecu mengakui kesalahan teecu yang amat besar kepada Subo. Ketahuilah bahwa bocah gundul dahulu itu adalah Yap Kun Liong yang dahulu menemukan bokor emas.”

Bu Leng Ci meloncat bangun. “Mengapa baru kauceritakan sekarang? Di mana dia?” Siluman betina itu membentak.

“Teecu memang merasa bersalah, karena dahulu teecu diam-diam menginginkan bokor itu sendiri. Setelah melihat betapa Subo amat sayang kepada teecu, amat baik kepada teecu, maka teecu tahu bahwa tiada bedanya kalau bokor itu terjatuh ke tangan Subo atau teecu sendiri. Maka teecu merasa menyesal bukan main. Dan sekarang… sekarang Yap Kun Liong itu telah berada di Pulau Telaga Setan, menjadi tawanan para pelayan Bibi Guru Ang!”

“Apa?”

“Subo, teecu merasa bersyukur sekali bahwa Subo tidak marah kepada teecu. Sekarang sebaiknya kalau Subo pergi ke sana dan minta tawanan itu dengan alasan bahwa tawanan itu amat penting dan khawatir kalau-kalau dirampas orang karena Ang-su-i tidak berada di pulau. Kalau sudah berada di tangan kita, akan kubujuk agar dia suka memberi tahu di mana adanya bokor emas itu.”

“Bagus! Dan kalau dia tidak bisa dibujuk, dapat saja kupaksa dia! Mari kita pergi sekarang juga, Bi Kiok!” Kegirangan hati Bu Leng Ci dengan timbulnya harapan akan mendapatkan bokor emas membuat hatinya ringan dan dia tidak marah kepada muridnya yang pernah menyembunyikan adanya pemuda penemu bokor itu.

Ketika Bu Leng Ci dan muridnya tiba di Pulau Telaga Setan itu, mereka terkejut melihat keadaan yang ribut di situ, bahkan ada pertempuran terjadi di depan rumah Kwi-eng-pangcu. Kelihatan tiga orang laki-laki tua sedang dikeroyok oleh anak buah Kwi-eng-pang dan mereka itu lihai sekali, terutama orang tua yang tubuhnya tinggi kurus. Anak buah Kwi–eng-pang laki perempuan seperti puluhan ekor semut mengeroyok tiga ekor jangkerik saja, kadang-kadang tampak tubuh beberapa orang pengeroyok terlempar atau terbanting roboh.

“Mundur semua!” Bu Leng Ci berte-riak. Karena kakak angkatnya tidak ada, maka boleh dibilang dialah yang mewakilinya. Melihat ada orang-orang luar datang mengacau Kwi-eng-pang, tentu saja dia marah. Para anak buah Kwi-eng-pang segera mundur ketika melihat munculnya Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci dan Giok-hong-cu dan timbul kembali harapan mereka karena tadi mereka be-nar-benar dibikin repot oleh tiga orang tamu yang lihai itu.

Sekali menggerakkan kakinya, Bu Leng Ci sudah berkelebat dan berdiri di depan tiga orang itu. Si Kakek tinggi kurus dan yang mukanya seperti orang mengantuk saking sipitnya kedua matanya, sejenak memandang wanita itu penuh selidik dan melihat pedang panjang melengkung yang tergantung di pinggang Bu Leng Ci, dia menjura sambil bertanya, “Apakah aku berhadapan dengan Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci?”

“Kalau sudah tahu mengapa kalian berani main gila dan mengacau di sini? Apakah kalian sudah bosan hidup?” Bu Leng Ci tidak segera turun tangan karena dia tadi telah melihat gerakan mereka, terutama Si Tinggi Kurus ini dan maklum bahwa dia berhadapan dengan orang pandai.

“Maaf, aku tidak mempunyai urusan denganmu, Siang-tok Mo-li. Aku bernama Tio Hok Gwan dan ini kedua orang te-manku Song Kin dan Kwi Siang Han, kami hanya melaksanaken tugas mencari sesuatu, maka kami datang untuk menemui Kwi-eng-pangcu dan menanyakan tentang benda yang kami cari itu. Sayang bahwa Kwi-eng-pangcu tidak berada di sini dan anak buahnya agaknya ingin mencoba-coba kami!”

“Kalian utusan siapa?”

“Utusan Panglima Besar The Hoo…”

“Hemm, kalau begitu engkaukah yang berjuluk Ban-kin-kwi (Setan Bertenaga Selaksa Kati)?”

“Benar.”

“Dan yang kaucari itu, bukankah bokor emas milik The-ciangkun yang hilang?”

Tio Hok Gwan kelihatan kaget dan curiga. “Kau tahu…?”

“Siapa yang tidak mendengar tentang itu? Engkau percuma saja mencari di sini, dan kedatanganmu ini menunjukkan bahwa engkau tidak memandang kepada kami, mengira kami mencuri bokor itu. Hemm, orang she Tio, apa kaukira kami takut kepadamu? Majulah, aku ingin melihat sampai di mana kebenaran julukanmu itu!”

Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan mengerutkan alisnya. Dia tidak ingin bermusuhan dengan para datuk sesat dan dia tahu bahwa wanita yang masih cantik ini adalah seorang di antara lima datuk kaum sesat. Akan tetapi, sebagai seorang tokoh besar dunia kang-ouw, terutama sekali sebagai seorang pengawal Panglima Besar The Hoo yang tentu saja mempertahankan nama dan kehormatannya, dia pun tidak mungkin menolak tantangan orang karena hal itu akan merendahkan namanya sendiri.

“Dukk!” Dia menangkis dan keduanya terkejut. Bu Leng Ci merasa betapa lengan yang menangkisnya itu kokoh kuat seperti baja sedangkan Tio Hok Gwan merasa betapa lengan wanita itu berubah lunak ketika ditangkis, tanda bahwa wanita itu telah memiliki tenaga sakti yang kuat, dan tadi menghadapi kckuatannya dengan tenaga lemas sehingga lengan itu tidak terasa nyeri atau terluka.

“Siang-tok Mo-li, aku hanya menjadi utusan mencari keterangan tentang bokor. Aku tidak ingin bermusuhan denganmu. Akan tetapi kalau kau menantang, silakan, mau satu lawan satu atau mau mengeroyok!”

Tio Hok Gwan adalah seorang tokoh besar yang sudah mempunyai banyak sekali pengalaman, maka biarpun dia tidak pandai bicara dan wataknya pendiam, sekali mengeluarkan suara tentu ada hasilnya! Dia tadi sengaja menantang untuk dikeroyok dan tentu saja hal ini menyinggung perasaan Bu Leng Ci sebagai seorang datuk! Maka dengan muka merah wanita itu membentak, “Manusia sombong! Perlu apa mengeroyokmu? Kedua tanganku sudah cukup untuk membunuhmu!”

Bentakan ini ditutup dengan serangannya yang dahsyat, kedua lengannya meluncur seperti dua ekor ular, yang kiri menusuk mata lawan, yang kanan mencengkeram ke arah pusar, sedangkan kepalanya digerakkan dan rambutnya yang panjang itu menyambar pula ke arah leher!

“Hemm… perempuan ganas!” Tio Hok Gwan berseru, memangkis kedua tangan lawan dan sambil mengelak ke samping dia cepat menggunakan tangan yang baru saja menangkis untuk menyambar rambut hitam itu. Akan tetapi Bu Leng Ci sudah cepat menarik kembali rambutnya.

Terjadilah pertandingan yang amat hebat antara kedua orang tokoh itu. Semua pukulan dilakukan dengan pengerahan tenaga sin-kang, gerakannya cepat bukan main dan pukulan itu mengeluarkan angin mendesir, akan tetapi selalu dapat dielakkan atau ditangkis dengan kecepatan kilat pula. Mereka saling serang dan sukar dikatakan siapa yang lebih unggul karena Bu Leng Ci juga membalas setiap serangan lawan dengan serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya.

Diam-diam Yo Bi Kiok menonton dengan hati kagum terhadap ilmu kepandaian Si Pengantuk itu. Gerakannya demikian mantap dan dari setiap pertemuan lengan, dia dapat melihat dengan hati kaget bahwa subonya masih kalah setingkat dalam hal kekuatan sin-kang melawan kakek itu! Para anak buah Kwi-eng-pang tidak ada yang berani bergerak dan mereka memandang dengan mata kabur dan kepala pening karena gerakan kedua orang itu bagi mereka terlalu cepat untuk dapat diikuti oleh pandang mata. Juga kedua orang pembantu Tio Hok Gwan tidak berani bergerak, hanya menonton dengan hati tegang.

Pertandingan itu benar-benar amat menegangkan dan kedua pihak maklum bahwa tingkat mereka tidak banyak selisihnya, sungguhpun gaya limu silat mereka jauh sekali bedanya, seperti bumi dan langit. Hanya bedanya, kalau Tio Hok Gwan sebagai seorang gagah menganggap pertandingan itu semata-mata untuk mengukur kepandaian, sebaliknya Bu Leng Ci setiap kali menyerang didasari niat membunuh sehingga hanya jurus-jurus maut saja yang dia keluarkan.

“Plak-plak-desss… aihhh…!” Pertemuan dua pasang tangan yang bertubi-tubi itu akhirnya membuktikan bahwa tenaga sin-kang Tio Hok Gwan memang lebih kuat. Bu Leng Ci menjerit ketika tubuhnya terlempar ke belakang. Dari mulut wanita ini keluar darah yang mengalir dari ujung bibir.

“Singgg…!” Tampak sinar berkilat ketika pedang samurai telah dicabutnya dan kini dengan kedua tangan memegang gagang pedang panjang itu, Bu Leng Ci menerjang sambil memekik nyaring mengerikan, “Haaiiittt…!”

Terpaksa Tio Hok Gwan meloncat amat cepatnya menggunakan gin-kang untuk menyelamatkan diri dari pedang samurai yang menyambar-nyambar ganas itu. Ketika melihat betapa lawannya yang galak dan marah sekali itu mengejarnya dengan samurai diangkat tinggi-tinggi di atas kepala, Tio Hok Gwan cepat melolos sabuknya. Kelihatannya seperti sabuk, akan tetapi sebetuinya bukan sembarang sabuk, karena itu adalah sebuah senjata joan-pian (ruyung lemas atau semacam pecut) yang terbuat dari baja biru yang amat kuat! Pengawal Panglima Besar The Hoo ini mengikuti panglima sakti itu berlayar mengelilingi dunia menjelajah ke negeri-negeri asing di selatan dan barat dan dia pandai memainkan segala macam senjata. Joan-pian itu didapatkannya ketika dia mengikuti rombongan pahglima besar menjelajah ke negeri Sailan dan menjadi sebuah di antara senjata yang disenanginya karena selain dapat dipergunakan dengan baiknya, juga dapat dibawa dengan mudah dan tidak kentara karena dililitkan di pinggang seperti sebuah sabuk!

“Trang-trang-cring…!”

Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika berkali-kali samurai itu tertangkis oleh joan-pian di tangan Tio Hok Gwan. Biarpun pendekar pengantuk itu selalu dapat menangkis, namun dia membarengi dengan elakan karena joan-piannya masih kurang kuat menangkis samurai yang gerakannya amat kuat itu. Dan Bu Leng Ci memang seorang ahli bermain samurai. Kepandaian dari bekas suaminya yang tua, seorang pendekar samurai kenamaan di Jepang telah diwarisinya dan samurai di tangannya berkelebat ke sana-sini amat mengerikan, seperti halilintar menyambar-nyambar di angkasa.

Namun Tio Hok Gwan yang sudah pernah beberapa kali bertanding melawan jagoan samurai Jepang, sudah mengenal sifat ilmu pedang dari Jepang itu, maka dia dapat mengimbanginya dengan permainan joan-piannya yang lihai. Bahkan kalau senjatanya itu kalah kuat dan kalah berat, dia dapat menutup kerugiannya ini dengan kemenangan dalam kecepatan.

“Tringgg… tringg…!”

Cepat sekali pertemuan senjata yang disusul berkelebatnya samurai dan joan-pian itu sehingga sukar diikuti pandang mata. Tubuh Tio Hok Gwan terhuyung ke belakang sedangkan tubuh Bu Leng Ci terlempar dan terbanting miring, akan tetapi wanita ini dapat memcelat bangun kembali, mukanya agak pucat dan darah yang mengalir dari mulutnya lebih banyak lagi. Adapun Tio Hak Gwah yang terluka pundaknya oleh ujung samurai, cepat merobek ujung baju dan membalutnya dibantu oleh Song Kin. Lukanya hanya luka kulit yang ringan saja, akan tetapi Bu Leng Ci mengalami luka yang lebih berat, karena selain tadi sebelum menggunakan senjata dia telah terkena hantaman angin pukulan lawan, baru saja pinggangnya kena disambar joan-pian sehingga di dalam dadanya terasa sakit, tanda bahwa sin-kang yang ia pergunakan untuk melindungi tubuh masih kalah kuat sehingga membalik dan melukai dirinya sendiri. Maklumlah Bu Leng Ci bahwa kalau dilanjutkan, dia tidak akan menang.

Adapun Tio Hok Gwan yang memang tidak ingin menanam permusuhan, sudah menjura dan berkata, “Kepandaian Siang-tok Mo-li memang hebat dan namamu bukan kosong belaka. Aku orang she Tio merasa kagum. Harap kau suka berbaik hati untuk memberi tahu tentang bokor agar aku mempunyai bahan untuk dilaporkan kepada The-tai-ciangkun.”

“Ban-kin-kwi, apakah kau masih tidak percaya omonganku? Aku sudah mengatakan bahwa kami tidak tahu-menahu tentang bokor emas yang hilang, apalagi melihatnya! Kalau kau tidak percaya, mari kita lanjutkan pertempuran sampai seorang di antara kita menggeletak tak bernyawa!”

Tio Hok Gwan menjura. “Kalau begitu, terima kasih dan selamat berpisah.” Ia inemberi isyarat kepada dua orang pembantunya, lalu dengan langkah lebar meninggalkan tempat itu, menuiu ke perahu kecil mereka di pantai pulau. Kemudian mereka mendayung perahu meninggalkan pulau itu menuju ke darat.

Bu Leng Ci sambil menahan rasa nyeri di dadanya lalu memanggil para murid kepala dan lima orang pelayan Kwi-eng Niocu dan berkata, “Pemuda yang kalian tawan itu adalah seorang yang amat penting sekali bagi Pangcu dan aku. Karena itu, untuk menjaga agar dia tidak sampai lolos dan ditolong orang, selagi Enci Ang Hwi Nio tidak berada di rumah, aku yang akan menjaganya dan membawanya ke pulau. Hayo bawa aku kepadanya!”

Tentu saja para murid dan anak buah Kwi-eng-pang tidak ada yang berani membantah. Mereka percaya penuh kepada wanita iblis ini, apalagi baru saja mereka melihat sendiri betapa wanita ini mati-matian membela Kwi-eng-pang ketika datang lawan yang amat lihai tadi. Segera guru dan murid ini dibawa ke kamar tahanan di mana Kun Liong masih rebah telentang dalam keadaan lemah dan setengah pingsan.

Bu Leng Ci cepat menotok beberapa jalan darah di tubuh pemuda itu, kemudian mengempit tubuh yang selain tertotok juga sudah dibelenggu kaki tangannya itu dan bersama muridnya dia membawa Kun Liong ke atas perahu dan mendayung perahu kembali ke pulaunya sendiri.

Ketika Kun Liong siuman, ia mengeluh dan membuka matanya. Dia masih ingat betapa tadi dia ditawan oleh lima orang wanita pelayan Kwi-eng-pangcu yang cantik. Kemudian dia setengah ingat dengan samar-samar betapa dia dibawa orang naik perahu. Kini tahu-tahu dia telah rebah di atas sebuah dipan kayu dan di dalam kamar itu duduk dua orang wanita memandangnya penuh perhatian. Kun Liong mengangkat muka memandang wajah dua orang itu dan diam-diam dia mengeluh ketika mengenal wajah wanita pendek yang tersenyum mengejek kepadanya itu. Wajah Siang-tok Mo-li! Dan di sebelah iblis betina itu duduk seorang dara cantik yang bersikap dingin.

“Mengapa aku dibawa ke sini…?” Dia berkata dan menahan ingin memanggil nama Yo Bi Kiok. Tentu saja dia mengenal Bi Kiok dan hampir dia memanggilnya kalau saja dia tidak ingat bahwa dara itu bersikap tidak mengenalnya di depan gurunya yang kejam.

Akan tetapi betapa kaget dan heran-nya ketika dia mendengar suara Bi Kiok berkata kepadanya, “Yap Kun Liong, Subo telah mengenalmu sebagai anak yang menemukan bokor emas. Lebih baik engkau segera mengatakan di mana kau- simpan bokor itu agar Subo dapat mem-pertimbangkan keampunan bagi nyawa-mu!”

Berkerut alis Kun Liong. Hemmm, dara ini telah berubah banyak sekali, pikirnya. Wajahnya memang makin cantik menarik, tubuhnya makin padat dan ma-tang setelah dewasa, akan tetapi watak-nya sudah berubah. Dia tidak mengharap-kan dara ini membantunya atau meno-longnya. Satu kali Bi Kiok menolongnya sudah cukup baginya dan tidak mengharapkan terus-menerus ditolong. Akan tetapi, bukan karena dara itu tidak me-nolongnya yang membuat hatinya kecewa, melainkan melihat perubahan itu. Agak-nya Bi Kiok bukan hanya mewarisi ke-pandaian gurunya, akan tetapi juga wa-taknya. Siapa lagi kalau bukan dara ini yang membuka rahasianya tentang bokor emas itu kepade Bu Leng Ci? Hanya Bi Kiok seoranglah yang tahu bahwa dia yang menemukan bokor emas dan yang mungkin melarikan bokor itu ketika Phoa Sek It, bekas Pengawal Panglima The Hoo, dibunuh oleh Bu Leng Ci.

Kun Liong tersenyum lebar. “Bi Kiok, engkau makin cantik dan manis saja.”

“Ihhh…!!” Bu Leng Ci membentak dan memandang penuh kebencian.

Wajah Yo Bi Kiok menjadi merah sekali dan sekilas tampak oleh Kun Liong sepasang hibir itu tergetar. “Kun Liong, harap kau jangan main-main. Harap kau mengingat akan persahabatan kita dan mengingat pula bahwa kau telah menjadi tawanan Subo. Katakan saja di mana adanya bokor itu atau bawa kami ke sana…”

“Katakan saja, kalau tidak kuhancurkan kepalamu!” Bu Leng Ci cepat memotong usul Bi Kiok agar Kun Liong mengantar mereka ke tempat di mana bokor disembunyikan.

Sedikit sinar mata Kun Liong bertemu dengan pandang mata Bi Kiok, dan ini cukup bagi Kun Liong. Hampir dia bersorak girang! Kiranya Bi Kiok sama sekali tidak berubah. Masih Bi Kiok yang dulu, biarpun kini lebih cantik manis, lebih dewasa dan kelihatan dingin pendiam, namun hatinya masih seperti dulu. Mengertilah dia sekarang mengapa dara itu membujuknya. Kiranya dara itu melihat bahwa dia berada di dalam cengkeraman Bu Leng Ci, dan dia tentu akan dibunuh, maka dara itu mengemukakan persoalan bokor untuk mencegah Bu Leng Ci membunuhnya, dan untuk memberi kesempatan kepadanya untuk dapat membebaskan diri, maka dara itu mengusulkan agar dia membawa mereka ke tempat bokor disembunyikan. Jelas semuanya! Dalam keadaan tertotok dan terbelenggu seperti itu, memang tak mungkin dia melepaskan diri. Akan tetapi kalau sudah dikeluarkan dari pulau, agaknya akan muncul kesempatan! Ingin dia, kalau bisa, bangkit merangkul dan mencium gadis itu!

Kun Liong tertawa makin keras dan dengan suara sengaja dibuat bernada mengejek dia berkata, “Bi Kiok, biarpun kau cantik manis dan bujukanmu halus merayu, biarpun gurumu bengis dan kejam, jangan kira bahwa bujukanmu dan ancaman Siang-tok Mo-li akan dapat membujukku atau menakutkan aku!”

“Kun Liong…!” Bi Kiok berseru, benar-benar kaget.

“Bedebah, apa kauminta kusiksa dulu?” Bu Leng Ci sudah bangkit menghampiri.

“Ha-ha-ha-ha! Kiranya bokor berada di tangan bocah gundul ini, pantas saja kau bergegas memindahkannya dari tangan para pelayan Kwi-eng Niocu!” Tiba-tiba terdengar suara halus dan tahu-tahu, seperti hantu saja layaknya, di situ telah muncul seorang kakek tinggi kurus dan kakek itu lalu terbatuk-batuk. Melihat kakek ini, Kun Liong terkejut sekali. Itulah kakek yang dia jumpai dalam badai di hutan semalam! Kakek di dekat api unggun yang bernyanyi tentang kematian dan yang kemudian hendak membunuhnya. Kakek yang aneh dan amat lihai, yang dianggapnya orang gila! Kiranya kakek itu terus mengikutinya dan agaknya tahu akan semua pengalamannya, betapa dia ditawan pelayan-pelayan Kwi-eng Niocu dan betapa dibawa ke pulau ini oleh Bu Leng Ci, semua telah diketahuinya karena agaknya kakek itu memang terus mengikutinya!

Sementara itu, ketika Bu Leng Ci menoleh dan melihat kakek di ambang pintu kamar itu, seketika wajahnya berubah pucat. “Toat Beng Hoatsu…!” teriaknya dan tangannya meraba gagang samurai.

Mendengar disebutnya nama ini, Kun Liong makin terkejut. Dia sudah mendengar nama ini, nama datuk nomor satu dari sekalian datuk kaum sesat! Kiranya kakek yang dianggapnya orang gila itu adalah datuk nomor satu! Maka dia memandang penuh kekhawatiran karena dia maklum bahwa sebagai datuk nomor satu, tentu kakek itu memiliki keanehan dan kekejaman nomor satu pula!

“Bagaimana kau bisa masuk ke sini…?” Bu Leng Ci bertanya dan matanya mengerling ke luar pintu. Ke mana perginya para pelayannya?

“Ha-ha-ha, kau mencari ini?” Tangan kakek itu merogoh jubahnya dan melemparkan benda hitam ke atas lantai. Benda itu berserakan dan Kun Liong menelan ludahnya saking ngeri dan tegang ketika melihat bahwa benda-benda itu adalah rambut kepala manusia, agaknya rambut wanita dan rambut itu masih melekat pada kulit kepala yang berdarah. Agaknya rambut-rambut itu dijebol berikut kulit kepalanya dari kepala tujuh orang wanita!

“Ihhh…!” Bi Kiok sendiri yang sudah memiliki ketabahan luar biasa menjadi pucat dan ngeri membayangkan betapa tujuh orang pelayan wanita itu telah mengalami kematian yang amat mengerikan, dijebol rambutnya berikut kulit kepala sampai terkupas dari kepalanya.

“Singggg…!” Bu Leng Ci mencabut samurainya. “Toat-beng Hoat-su, mengapa kau melakukan ini? Apakah antara kita sekarang ada pertentangan dan menjadi musuh?”

“Ha-ha-ha, sama sekali tidak, Siang–tok Mo-li. Terserah kepadamu… heh- heh, terserah kepadamu mau berkawan atau berlawan dengan aku. Aku hanya menghendaki agar bocah gundul ini ber-sama bokornya diserahkan kepadaku, barulah kau pantas kusebut kawan.”

“Keparat! Singggg…!” Samurai itu menyambar, akan tetapi dengan amat mudahnya Toat-beng Hoat-su mengelak.

“Hemm, sabar dan tenanglah, Tio Hok Gwan tadi terlalu berat dan lihai bagimu, engkau sudah terluka parah, perlu apa melawanku?”

“Aku masih cukup kuat untuk melawan seribu orang macam engkau!” Bu Leng Ci menyerang lagi dengan samurainya, akan tetapi karena dia memang sudah terluka di sebelah dalam tubuhnya, ketika dia menggerakkan samurai dengan pengerahan sin-kang dan serangannya itu dielakkan, hampir saja dia terhuyung roboh.

“Toat-beng Hoat-su, akulah lawanmu!”

Tiba-tiba Bi Kiok menerjang dengan pedangnya. “Subo, mengasolah!”

Serangan pedang di tangan Bi Kiok ini hebat sekali berdesing menyambar ke arah leher kakek itu. Toat-beng Hoat-su terkejut dan maklum bahwa gadis itu ternyata lebih lihai daripada Bu Leng Ci yang sudah terluka parah.

“Hemm, siapa kau?”

“Orang menyebutku Giok-hong-cu!” jawab Bi Kiok sambil menerjang lagi.

“Ha-ha-ha, kiranya murid Bu Leng Ci? Gurumu saja tidak mampu menandingiku, apalagi engkau? Ha-ha, bocah kurang ajar macam engkau harus dihajar!” Ketika pedang Bi Kiok menusuk dada, gadis itu girang sekali melihat betapa gerakan mengelak dari kakek itu kurang cepat sehingga pedangnya masih menge-nai pinggir dada. Akan tetapi betapa kagetnya ketika tiba-tiba jubah itu terle-pas dari tubuh Toat-beng Hoat-su dan sekali kakek itu menggerakkan jubah, pe-dangnya yang tadi menusuk jubah itu dipaksa terlepas dari tangannya! Inilah kelihaian Toat-beng Hoat-su yang me-mang tidak pernah menggunakan senjata kecuali jubahnya. Jubahnya merupakan senjata yang amat ampuh, bahkan selagi jubahnya dipakai, dia dapat menipu Bi Kiok yang kalah pengalaman itu. Pedang gadis itu tadi memang sengaja “diterimanya” dengan jubahnya yang tertusuk dan sekaligus jubahnya itu dipergunakan untuk merampas pedang!

“Aihhh…!” Bi Kiok berseru kaget.

Pada saat itu, Bu Leng Ci sudah menyerang lagi dengan samurainya. Akan tetapi, jubah itu menyambar, menyambut samurai dan dari balik jubah, tangan Toat-beng Hoat-su memukul.

“Dukkk!” Bu Leng Ci yang sudah terluka dan gerakannya menjadi lambat itu terpukul lehernya dan dia roboh tak dapat bangkit kembali, hanya memandang kepada kakek itu dengan mata mendelik penuh kebencian.

Melihat gurunya roboh, Bi Kiok marah dan berlaku nekat, menyerang dengan tangan kosong. Akan tetapi serangannya disambut oleh sambaran jubah yang mendatangkan angin keras dan gadis itu terlempar dan terbanting ke kanan.

“Ha-ha-ha, kau bocah nakal, mukamu terlalu cantik untuk menjadi murid seorang datuk, harus dibikin buruk!” Dengan tangan kirinya Toat-beng Hoat-su memegang pedang rampasan tadi dan melangkah maju untuk mcrusak muka Bi Mok. Gadis itu sudah tidak berdaya, hanya mengangkat kedua tangan melindungi mukanya.

“Tahan, Toat-beng Hoat-su!” Kun Liong berteriak dari tempat dia berba-ring. “Engkau menghendaki bokor emas pusaka Panglima The Hoo, bukan?”

Pedang itu berhenti bergerak dan Si Kakek menoleh ke arahnya.

“Kalau kau membunuh atau melukai nona itu, biar aku kaupukul mampus, aku tidak akan sudi memberitabukan tentang bokor. Bokor itu kusimpan dan kau akan kuantar ke tempat itu kalau kau membebaskan nona itu!”

Kakek itu tertawa bergelak. “Huah-ha-ha-ha! Pemuda gundul! Kau jatuh cinta kepada dara ini, ya?”

Muka Kun Liong menjadi merah. “Tak usah banyak cakap. Bebaskan dia dan kau akan kuantar ke tempat penyimpanan bokor. Bagaimana?”

Kakek itu menggerakkan tangan kirinya, pedang rampasan meluncur dan menancap di atas lantai, hanya setengah jengkal selisihnya dari pipi Bi Kiok! “Huh, kau masih beruntung, bocah kurang ajar. Lain kali, akan kubuntungi hidungmu dan dua daun telingamu, dan hendak kulihat, apa yang akan dapat dilakukan oleh gurumu, biarpun dia dalam keadaan tidak terluka.”

Kakek itu lalu menyambar tubuh Kun Liong, dikempitnya dan dia hendak pergi dari situ.

“Toat-beng Hoat-su, manusia pengecut!”`Bu Leng Ci berteriak marah. “Kau datang pada saat aku terluka! Coba kau

datang lagi kelak kalau aku sudah sem-buh!”

Kakek itu menoleh dan tertawa. “Heh-heh-heh, boleh saja!”

“Kau telah mengkhianati kerja sama lima datuk!” Bu Leng Ci yang merasa marah dan kecewa sekali melihat Kun Liong dirampas, menyerang lagi dengan kata-kata penuh kebencian.

“Huh! Siapa sudi melanjutkan persekutuan busuk itu? Pek-lian-kauw membiarkan dirinya diperalat oleh anjing-anjing asing bermata biru. Siapa sudi? Boleh saja aku melawan pemerintah, akan tetapi aku tidak sudi menjadi pengkhianat bangsa dan mengekor kepada orang-orang asing!” Setelah berkata demikian, kakek itu meloncat dan lenyap dari situ.

“Subo…!” Bi Kiok menghampiri gurunya dan membantu gurunya bangun.

“Hemm… sayang aku terluka dan harus menyembuhkan lukaku lebih dulu, Si Keparat Thio Hok Gwan yang menjadi gara-gara! Kalau aku tidak luka, andaikata tikus tua itu berhasil miarikan Kun Liong, aku masih dapat membayanginya.”

“Teecu rasa tempat itu tentulah di sekitar daerah Sungai Huang-ho. Teecu akan mencoba untuk menyelidiki dan membayanginya.”

“Hemmm, kau bukan lawannya. Biarlah kita pergi bersama dan sambil melakukan perjalanah aku mengobati lukaku. Perjalanan ke Sungai Huang-ho jauh dan memakan waktu lama, masih banyak waktu bagiku untuk menyembuhkan diri dan turun tangan kalau tikus tua itu benar-benar dapat menemukan tempat persembunyian bokor itu.”

Dengan dibimbing oleh muridnya, Siang-tok Mo-li meninggalkan pulau itu dan mereka lalu menggunakan perahu untuk mendarat. Tentu saja kakek itu sudah tidak nampak lagi dan sebelum meninggalkan Telaga Kwi-ouw, Bu Leng Ci singgah di pulau besar dan menyuruh murid-murid kepala Kwi-eng-pang untuk mengurus mayat-mayat tujuh orang pelayannya yang semua tewas dengan kepala terkupas bersih, juga minta agar mereka menyampaikan kepada Ketua Kwi-eng-pang kalau Kwi-eng Niocu pulang bahwa tawanan itu telah dirampas dan dibawa pergi oleh Toat-beng Hoat-su.

Mereka berjalan menuruni bukit itu, berdampingan. Kelihatan seperti dua orang sahabat baik, atau lebih pantas lagi seorang kakek dengan cucunya yang bergegas pulang ke kampungnya, kalau saja orang tidak melihat kedua tangan pemuda gundul itu terbelenggu!

Melakukan perjalanan berhari-hari di samping Toat-beng Hoat-su amat melelahkan tubuh dan hati Kun Liong. Dia tidak kekurangan makan karena setiap kakek itu berhenti makan atau minum, dia selalu mendapat bagiannya. Akan tetapi kakek itu berwatak aneh bukan main, kadang-kadang sampai sehari penuh tidak pernah mengeluarkan sepatah pun kata dan dia sama sekali tidak dipedulikan. Hal ini amat mengesalkan hatinya. Dia tahu bahwa kalau kakek ini kumat gilanya, kemungkinan besar dia akan dibunuh begitu saia tanpa sebab! Bukan sekali-kali karena dia merasa takut akan hal ini, hanya dia tahu bahwa masih banyak hal yang harus dia lakukan dalam hidupnya sebelum mati konyol begitu saja. Ayah bundanya belum diketahuinya berada di mana. Tugas yang diberikan oleh mendiang gurunya, Tiang Pek Ho-siang, untuk mendapatkan kembali dua buah kitab Siauw-lim-pai yang hilang belum dia penuhi. Karena itu, dia harus berpikir seratus kali sebelum memancing bahaya kematian di tangan kakek aneh, datuk nomor satu kaum sesat itu!

“Toat-beng Hoat-su, engkau adalah datuk nomor satu yang terkenal, bahkan Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci yang memiliki ilmu kepandaian dahsyat itu pun sama sekali bukan tandinganmu. Akan tetapi, mengapa kau sekarang membawaku dengan kedua tanganku terbelenggu?” Akhirnya Kun Liong tidak mampu menahan diri untuk berdiam lagi karena melakukan perjalanan ada kawannya akan tetapi bersunyi seperti ini amat melelahkan tubuh dan mengesalkan hati.

Kakek itu melirik kepadanya, akan tetapi tidak menjawab, dan mempercepat langkahnya. Terpaksa Kun Liong juga mempercepat langkahnya, karena dia tidak mau ditampar lagi kepalanya seperti kemarin dulu ketika dia mogok berjalan, kepalanya ditampar dua kali. Tamparan itu tidak terlalu menyakitkan, akan tetapi batinnya yang sakit. Apalagi kalau dia mengingat betapa kepalanya itu pernah diciumi oleh seorang gadis! Kepalanya amat berharga, tentu dia tidak rela kalau sekarang dijadikan sasaran tamparan!

“Toat-beng Hoat-su,” katanya lagi degan nekat, “Engkau mengingatkan aku akan Kongkongku (Kakekku).”

Kembali kakek itu melirik tanpa menjawab.

“Aku tidak pernah mengenal kakekku, baik kakek dalam (ayah dari ayah) atau kakek luar (ayah dari ibu), akan tetapi kalau mereka itu masih hidup, tentu setua engkau. Berjalan denganmu, aku merasa seperti berjalan dengan seorang kakekku.”

Karena Toat-beng Hoat-su sama sekali tidak menjawab, akan tetapi kelihatannya memperhatikan, Kun Liong bertanya lagi, “Apakah engkau tidak mempunyai cucu? Anak? Atau keluarga seorang pun? Apakah engkau hidup -seorang diri, sebatang kara di dunia yang ramai penuh manusia ini?”

Tiba-tiba kakek itu berhenti dan membalikkan tubuh memandang Kun Liong. Pemuda itu siap untuk mengelak dan akan melawan kalau dia ditampar lagi. Biarpun kedua pergelangannya dibelenggu menjadi satu, akan tetapi kalau hanya untuk membela diri saja dia masih sanggup. Adanya dia tidak lari dan tidak menyerang kakek itu karena memang dia sudah berjanji membawa kakek itu ke tempat dia menyimpan bokor!

“Duduk!” Kakek itu berkata dengan nada memerintah.

Kun Liong mengangkat kedua alisnya, menggerakkan pundak dan duduk di atas sebuah batu besar. Kakek itu pun duduk di depannya, menghapus peluh karena hari amat panas, kemudian berkata, “Kau ingin sekali mendengar riwayatku? Nah, dengarlah baik-baik.”

Dengan suara lambat dan parau berceritalah kakek itu, “Dahulu aku pun seorang yang mempunyai nama, mempunyai tiga orang anak, seorang isteri yang tercinta, hidup terhormat sebagai seorang pedagang ikan di sebuah kota nelayan di tepi Sungai Huang-ho. Kepandaian silatku, biarpun tidak amat tinggi, membuat aku sekeluarga hidup aman tenteram. Akan tetapi, banjir besar melanda kotaku, dan aku kehilangan semua keluargaku! Aku melihat dengan mata kepala sendiri betapa tiga orang anak-anakku dan isteriku dihanyutkan air, dihempaskan, aku mendengar mereka menjerit-jerit minta tolong, melihat mereka mengangkat tangan hendak meraihku. Akan tetapi aku sendiri tidak berdaya sama sekali menghadapi kekuatan air bah yang dahsyat. Aku kehilangan segala-galanya. Kehilangan kebahagiaanku, yang lenyap bersama hilangnya keluarga dan seluruh milikku. Aku kehilangan pula kepercayaan kepada Thian, kepada keadilan, dan aku dalam usia tiga puluh tahun menjadi gila. Aku merantau sampai ke luar negeri, mempelajari berbagai ilmu, dan aku membenci semua manusia.”

Kun Liong mendengarkan dengan mata terbelalak. Timbul rasa iba di dalam hatinya terhadap kakek tua renta ini. “Akan tetapi, Locianpwe, mengapa membenci semua manusia? Tidak ada secrang pun manusia bersalah dalam malapetaka yang menghancurkan kebahagiaanmu itu. Yang bersalah adalah air banjir, mengapa kau membenci manusia?”

“Habis, apakah aku harus membenci dan membasmi air banjir? Mana aku bisa melawan alam? Aku benci setiap manusia, membenci kebabagiaan meraka, membenci keadaan mereka. Aku membenci mereka tanpa pilih bulu, seperti bencinya air banjir kepada manusia, siapa pun diterjangnya. Maka siapa pun yang menghalang di depanku, kuterjang dan kubunuh!”

Kun Liong bergidik. Jelas bahwa malapetaka itu telah merusak jiwa orang ini, membuatnya menjadi gila dan sampai sekarang pun masih gila, biarpun ilmu kepandaiannya sama sekali tidak boleh dipandang ringan.

“Jadi kau juga benci kepadaku, Locianpwe?”

“Kau juga manusia!”

“Karena bencimu itukah maka kedua tanganku kaubelenggu?”

“Hemmm, ketika malam itu kau menangkisku, kau memiliki kepandaian lumayan. Kalau kulepaskan belenggu, tentu kau membikin repot aku, tentu kau hendak melarikan diri sehingga aku harus lebih memperhatikanmu. Aku tidak mau repot!”

Kun Liong bangkit berdiri den memandang kakek itu dengen mata terbelalak penuh kemarahan. “Locianpwe, kau menganggap aku ini orang macam apa? Aku sudah berjanji membawamu ke tempat bokor yang kusembunyikan, dan kau sudah membebaskan Bi Kiok. Lebih baik mati bagiku daripada melanggar janjiku. Mengerti? Sekarang tak peduli kau saja membelenggu aku atau tidak, mau membunuh aku atau tidak, bagiku sama saja kerena ternyata engkau seorang yang tidak mengenal artinya kemurnian sebuah janji!”

Kakek itu memandang penuh heran, lalu menggeleng-geleng kepalanya. “Kau memang aneh, orang muda yang aneh sekali, aneh dan berbahaya. Kalau sudah selesai urusan bokor ini, aku harus mem-bunuhmu!”

Kun Liong menggerakkan hidungnya. “Huh, kaukira begitu mudah, Toat-beng Hoat-su? Biarpun kedua tanganku terbelenggu, belum tentu kau akan dapat membunuhku dengan mudah saja!”

Kembali kakek itu terbelalak dan tangan kanannya sudah bergerak hendak menampar. Akan tetapi melihat pemuda itu berdiri tegak memandangnya dengan sepasang mata tak berkedip, dengan sikap menantang, dia menurunkan kembali tangannya dan menggeleng-geleng kepalanya. “Aneh…! Luar biasa…! Biar disambar geledek aku kalau pernah bertemu dengan orang muda seperti engkau!”

“Dan aku pun belum pernah melihat seorang kakek yang amat patut dika-sihani seperti engkau! Kedukaan membuat kau menjadi gila dan jahat, masih engkau murka akan harta benda ingin mempere-butkan bokor. Hemm, kau lupa diri, lupa usia, untuk apakah semua kepandaianmu, nama besarmu, dan segala macam pusa-ka? Tentu takkan dapat mencegah kematian karena usia tua!”

“Cerewet, hayo jalan lagi!”

Mereka berjalan lagi tanpa berkata-kata dan Kun Liong terbenam dalam lamunan. Percakapan tadi amat berguna baginya, membuka matanya melihat sesuatu yang ganjil dalam hidup manusia. Mengapa manusia menderita begitu hebat setelah ditinggal oleh semua miliknya, keluarganya, dan semua yang dicintanya di dunia ini? Demikian hebat deritanya sampai gila seperti kakek ini, dan lebih celaka lagi, kegilaan karena duka kehilangan itu membuatnya menjadi jahat, pembenci manusia dan menjadikannya datuk nomor satu di dunia?

Dia juga sebatang kara. Andaikata dia benar-benar kehilangan ayah bundanya, kehilangan segala-galanya, apakah dia pun akan merasa demikian berduka dan menderita seperti kakek ini? Mengapa mesti demikian? Jelas sekarang tampak olehnya bahwa ketergantungan akan sesuatu, menimbulkan derita kalau sesuatu itu direnggutkan darinya. Dalam hidup, tidak boleh mengikatkan diri kepada sesuatu, baik itu orang lain berupa orang tua, keluarga, kekasih dan lain-lain maupun kepada benda, nama, kedudukan dan lain-lain. Karena mengikatkan diri berarti membiarkan sesuatu itu, keluarga, benda, dan lain-lain, berakar di dalam dirinya. Dan apabila tiba saatnya setuatu yang berakar itu tercabut, akar itu akan menimbulkan kerusakan dan penderitaan! Jelas!

Kun Liong mengangkat kedua alisnya, menggerakkan pundak dan duduk di atas sebuah batu besar. Kakek itu pun duduk di depannya, menghapus peluh karena hari amat panas, kemudian berkata, “Kau ingin sekali mendengar riwayatku? Nah, dengarlah baik-baik.”

Dengan suara lambat dan parau berceritalah kakek itu, “Dahulu aku pun seorang yang mempunyai nama, mempunyai tiga orang anak, seorang isteri yang tercinta, hidup terhormat sebagai seorang pedagang ikan di sebuah kota nelayan di tepi Sungai Huang-ho. Kepandaian silatku, biarpun tidak amat tinggi, membuat aku sekeluarga hidup aman tenteram. Akan tetapi, banjir besar melanda kotaku, dan aku kehilangan semua keluargaku! Aku melihat dengan mata kepala sendiri betapa tiga orang anak-anakku dan isteriku dihanyutkan air, dihempaskan, aku mendengar mereka menjerit-jerit minta tolong, melihat mereka mengangkat tangan hendak meraihku. Akan tetapi aku sendiri tidak berdaya sama sekali menghadapi kekuatan air bah yang dahsyat. Aku kehilangan segala-galanya. Kehilangan kebahagiaanku, yang lenyap bersama hilangnya keluarga dan seluruh milikku. Aku kehilangan pula kepercayaan kepada Thian, kepada keadilan, dan aku dalam usia tiga puluh tahun menjadi gila. Aku merantau sampai ke luar negeri, mempelajari berbagai ilmu, dan aku membenci semua manusia.”

Kun Liong mendengarkan dengan mata terbelalak. Timbul rasa iba di dalam hatinya terhadap kakek tua renta ini. “Akan tetapi, Locianpwe, mengapa membenci semua manusia? Tidak ada secrang pun manusia bersalah dalam malapetaka yang menghancurkan kebahagiaanmu itu. Yang bersalah adalah air banjir, mengapa kau membenci manusia?”

“Habis, apakah aku harus membenci dan membasmi air banjir? Mana aku bisa melawan alam? Aku benci setiap manusia, membenci kebabagiaan meraka, membenci keadaan mereka. Aku membenci mereka tanpa pilih bulu, seperti bencinya air banjir kepada manusia, siapa pun diterjangnya. Maka siapa pun yang menghalang di depanku, kuterjang dan kubunuh!”

Kun Liong bergidik. Jelas bahwa malapetaka itu telah merusak jiwa orang ini, membuatnya menjadi gila dan sampai sekarang pun masih gila, biarpun ilmu kepandaiannya sama sekali tidak boleh dipandang ringan.

“Jadi kau juga benci kepadaku, Locianpwe?”

“Kau juga manusia!”

“Karena bencimu itukah maka kedua tanganku kaubelenggu?”

“Hemmm, ketika malam itu kau menangkisku, kau memiliki kepandaian lumayan. Kalau kulepaskan belenggu, tentu kau membikin repot aku, tentu kau hendak melarikan diri sehingga aku harus lebih memperhatikanmu. Aku tidak mau repot!”

Kun Liong bangkit berdiri den memandang kakek itu dengen mata terbelalak penuh kemarahan. “Locianpwe, kau menganggap aku ini orang macam apa? Aku sudah berjanji membawamu ke tempat bokor yang kusembunyikan, dan kau sudah membebaskan Bi Kiok. Lebih baik mati bagiku daripada melanggar janjiku. Mengerti? Sekarang tak peduli kau saja membelenggu aku atau tidak, mau membunuh aku atau tidak, bagiku sama saja kerena ternyata engkau seorang yang tidak mengenal artinya kemurnian sebuah janji!”

Kakek itu memandang penuh heran, lalu menggeleng-geleng kepalanya. “Kau memang aneh, orang muda yang aneh sekali, aneh dan berbahaya. Kalau sudah selesai urusan bokor ini, aku harus mem-bunuhmu!”

Kun Liong menggerakkan hidungnya. “Huh, kaukira begitu mudah, Toat-beng Hoat-su? Biarpun kedua tanganku terbelenggu, belum tentu kau akan dapat membunuhku dengan mudah saja!”

Kembali kakek itu terbelalak dan tangan kanannya sudah bergerak hendak menampar. Akan tetapi melihat pemuda itu berdiri tegak memandangnya dengan sepasang mata tak berkedip, dengan sikap menantang, dia menurunkan kembali tangannya dan menggeleng-geleng kepalanya. “Aneh…! Luar biasa…! Biar disambar geledek aku kalau pernah bertemu dengan orang muda seperti engkau!”

“Dan aku pun belum pernah melihat seorang kakek yang amat patut dika-sihani seperti engkau! Kedukaan membuat kau menjadi gila dan jahat, masih engkau murka akan harta benda ingin mempere-butkan bokor. Hemm, kau lupa diri, lupa usia, untuk apakah semua kepandaianmu, nama besarmu, dan segala macam pusa-ka? Tentu takkan dapat mencegah kematian karena usia tua!”

“Cerewet, hayo jalan lagi!”

Mereka berjalan lagi tanpa berkata-kata dan Kun Liong terbenam dalam lamunan. Percakapan tadi amat berguna baginya, membuka matanya melihat sesuatu yang ganjil dalam hidup manusia. Mengapa manusia menderita begitu hebat setelah ditinggal oleh semua miliknya, keluarganya, dan semua yang dicintanya di dunia ini? Demikian hebat deritanya sampai gila seperti kakek ini, dan lebih celaka lagi, kegilaan karena duka kehilangan itu membuatnya menjadi jahat, pembenci manusia dan menjadikannya datuk nomor satu di dunia?

Dia juga sebatang kara. Andaikata dia benar-benar kehilangan ayah bundanya, kehilangan segala-galanya, apakah dia pun akan merasa demikian berduka dan menderita seperti kakek ini? Mengapa mesti demikian? Jelas sekarang tampak olehnya bahwa ketergantungan akan sesuatu, menimbulkan derita kalau sesuatu itu direnggutkan darinya. Dalam hidup, tidak boleh mengikatkan diri kepada sesuatu, baik itu orang lain berupa orang tua, keluarga, kekasih dan lain-lain maupun kepada benda, nama, kedudukan dan lain-lain. Karena mengikatkan diri berarti membiarkan sesuatu itu, keluarga, benda, dan lain-lain, berakar di dalam dirinya. Dan apabila tiba saatnya setuatu yang berakar itu tercabut, akar itu akan menimbulkan kerusakan dan penderitaan! Jelas!

BU LENG CI sudah menyerangnya lagi dengan hebat, memaksa Toat-beng Hoat-su melayaninya sedangkan Bi Kiok sudah menggandeng tangan Kun Liong dan mereka berdua lari dari situ ke arah yang ditunjukkan oleh gadis itu. Kun Liong hanya menurut saja. Mereka lari ke pantai Huang-ho, daerah yang berbatu karang, kemudian Bi Kiok membawanya masuk ke sebuah guha di antara batu-batu karang.

“Kita menanti di sini…” Gadis itu berbisik sambil terengah-engah. Hatinya masih tegang karena tadi hampir saja dia celaka oleh jubah Toat-beng Hoat-su, kalau Kun Liong tidak menangkis jubah itu.

Kun Liong memandang kepadanya dan tersenyum. “Bi Kiok yang manis, entah sudah berapa kali kau menolong nyawa-ku. Pertama, ketika kau menolongku di kuil dahulu itu pada waktu aku ditawan orang-orang Pek-lian-kauw. Kemudian, ketika aku ditawan oleh orang-orang Kwi-eng-pang, kau pun membawa gurumu untuk menolongku…”

“Hemm, bagaimana kau tahu?”

“Mudah saja, dengan menggunakan otak di dalam kepalaku ini. Dan seka-rang, kau lagi-lagi menolongku. Eh, anak baik, mengapa kau begini baik kepada-ku?”

Gadis itu mengerutkan alisnya, me-nunduk dan tiba-tiba dia meloncat bang-kit dari duduknya di atas batu ketika melihat kedua tangan pemuda itu telah terbebas dari belenggu. “Aihhh…! Kau sudah dapat mematahkan belenggu itu!”

Kun Liong mengangkat kedua tangan-nya ke atas dan tersenyum. “Wah, aku lupa ketika menangkis jubah kakek siluman tadi sehingga aku mematahkan belenggu.”

“Kun Liong…! Kau… kau ternyata lihai… kau memiliki kepandaian hebat. Aku sendiri takkan dapat mematahkan belenggu tali sutera hitam dari Subo itu, dan… dan tadi kau mampu menangkis hantaman jubah Toat-beng Hoat-su!”

Kun Liong memandang dan tersenyum. Hebat dara ini, pikirnya. Wajah Cia Giok Keng yang cantik jelita menonjol daya tariknya karena hidungnya, wajah Lim Hwi Sian membuatnya tergila-gila karena keindahan mulutnya, sedangkan wajah Yo Bi Kiok ini… hemmm, sepasang matanya itulah yang membuat dia tak mampu mengalihkan pandangannya. Mata itu… demikian indah, bening, hidup! Ataukah karena tarikan muka itu dingin sekali maka hanya matanya yang tampak hidup dan indah? Entahlah, akan tetapi dia benar-benar senang sekali memandangi mata itu!

“Begitukah…?” komentarnya atas du-gaan Bi Kiok.

“Akan tetapi, kenapa engkau tidak membebaskan diri dari tawanan kakek itu? Kenapa kau mandah saja dibawa pergi?”

“Karena, Nona yang baik, karena aku sudah berjanji kepadanya bahwa kalau kau dibebaskan, aku suka membawanya ke tempat bokor. Dan dia telah membebaskanmu!”

“Eh, kau aneh sekali…! Dan terutama sekali kepalamu, mengapa sampai sekarang gundul terus?”

“Dan kau cantik manis sekali! Terutama matamu, Bi Kiok!”

“Ceriwis!” Bi Kiok berkata dan membungkam, alisnya berkerut dan matanya menyorotkan kemarahan. Akan tetapi malah menambah manis dalam pandangan Kun Liong.

Kun Liong terus menatap mata yang indah itu, membuat Bi Kiok menjadi gelisah dan jengah, juga marah. Dia sen-diri merasa heran mengapa dia selalu ingin menolong pemuda gundul ini! Apa-kah karena pengalaman mereka bersama ketika kakeknya terbunuh itu merupakan hal yang tak pernah dapat dilupakannya? Ataukah karena pemuda ini menjadi kun-ci rahasia bokor emas yang diperebutkan?

“Ehh! Kau… kau Giok-hong-cu…?” Tiba-tiba Kun Liong berseru ketika tanpa disengaja dia melihat hiasan rambut yang indah di kepala dara itu.

Dara itu mengerling kepadanya dan di balik kekagetannya, masih saja keindahan kerling itu berkesan di hati Kun Liong! “Kalau benar mengapa?”

Kun Liong bangkit berdiri, alisnya berkerut matanya memandang tak senang, telunjuknya menuding ke arah hidung Bi Kiok ketika dia berkata, “Giok-hong-cu Yo Bi Kiok, mengapa engkau membunuh Thian Le Hwesio?”

Bi Kiok menarik napas panjang. “Hemm, engkau sudah tahu pula? Bukan aku pembunuhnya, Kun Liong. Aku hanya mengantar jenazahnya kepada Perusahaan Sam-to-piauw-kok di Lam-san-bun untuk membawa jenazah dalam peti itu ke Siauw-lim-si.”

“Siapa menyuruhmu?”

“Siapa lagi kalau bukan Subo.”

“Subomu Siang-tok Mo-li yang membunuhnya?”

Gadis itu menggeleng kepalanya. “Bukan. Eh, Kun Liong. Mengapa engkau melibatkan diri dengan segala macam urusan yang tiada sangkut pautnya denganmu?”

“Urusan Siauw-lim-pai sama dengan urusanku sendiri!”

“Hemmm…” Dara itu makin terheran. “Kalau begitu, gundulmu itu ada hubung-annya dengan engkau menjadi hwesio Siauw-lim-si?”

Kun Liong meringis dan meraba kepalanya. “Sama sekali tidak, Bi Kiok, siapa yang membunuhnya dan mengapa?”

“Kaucari sendiri!”

Tiba-tiba terdengar seruan panjang dan nyaring, dari jauh, “Bi Kiok…!”

Seruan itu disusul teriakan lain yang parau akan tetapi tidak kalah nyaringnya. “Kun Liong…!”

Yang pertama adalah teriakan Siang-tok Mo-li, yang ke dua teriakan Toat-beng Hoat-su. Mendengar namanya dipanggil, Kun Liong bangkit berdiri, akan tetapi tangannya dipegang dan ditarik oleh Bi Kiok. Dia menoleh, kaget melihat tubuh dara itu menggigil, wajahnya pucat.

“Kau kenapa…?”

“Sssttt…!” Bi Kiok berbisik dan menarik lengan Kun Liong masuk makin dalam di guha itu, sampai tidak kelihatan dari luar, kemudian dia berbisik, “Kalau sampai Subo atau Toat-beng Hoat-su menemukan engkau, engkau akan celaka, Kun Liong.”

“Aku…? Celaka…? Mengapa? Paling hebat mereka akan memaksaku menun-jukkan tempat aku manyembunyikan bo-kor tua itu. Biar aku menjumpai me-reka.”

“Bodoh kau! Kaukira begitu mudah kau akan menyelamatkan diri? Sesudah seorang di antara mereka menemukan bokor, engkau akan dibunuh!”

“Heh? Mengapa? Tak mungkin!”

“Hemm, kau tidak tahu watak mereka. Kalau mereka menemukan bokor, engkau merupakan orang berbahaya karena engkau dapat memberitakan hal itu di luaran. Apakah kaukira percuma saja aku membujuk dan menipu Subo sendiri, kemudian dengan berani mati aku melarikan engkau ke sini selagi mereka saling bertempur?”

Kun Liong memandang dan sambil memegang kedua tangan dara itu, dia berseru dengan hati terharu, “Aihhh… mengapa, Bi Kiok? Mengapa engkau selalu menolongku, sekali ini bahkan membahayakan dirimu sehdiri?”

“Bukan diriku sendiri, juga engkau. Kaukira kita akan selamat kalau seorang di antara mereka menemukan kita di sini?”

“Tapi…”

“Ssstttt…!” Tangan Bi Kiok mendekap mulut Kun Liong dan sejenak mereka berdua tidak mengeluarkan suara.

“Bi Kiok…!” Suara itu jelas suara Bu Leng Ci, kemudian terdengar wanita itu mengomel di depan guha. “Ke mana bocah itu? Mungkinkah ia yang melarikan Kun Liong? Hemm…, mungkinkah dia terserang penyakit cinta? Celaka…!” Kemudian terdengar langkah wanita itu yang amat ringan dari depan guha.

Dari jauh terdengar gema suara Toat–beng Hoat-su, “Kun Liong…! Hayo lekas ke sini memenuhi janjimu! Tempat ini sudah terkepung tentara pemerintah, kalau kita tidak lekas pergi bisa celaka!”

Bi Kiok memegang lengan Kun Liong erat-erat, seolah-olah dia tidak menghendaki pemuda itu pergi. Kemudian setelah menanti beberapa lama, keadaan menjadi sunyi di sekitar situ, akan tetapi dari jauh terdengar bunyi terompet dan ringkik banyak sekali kuda.

Kun Liong yang masih saling berpegang lengan dengan Bi Kiok, menunduk dan dengen perlahan dia memegang dagu dara itu, mengangkat muka yang menunduk, memandang wajah itu kemudian bertanya, “Bi Kiok, mengapa kau melakukan semua ini untukku?”

“Aku… aku…” Gadis itu merenggutkan kepalanya dan menunduk kembali. Akan tetapi Kun Liong kini menggunakan kedua tangannya, memegang kepala gadis itu dan memaksanya menengadah, memandang sepasang mata itu penuh selidik.

“Apakah benar dugaan gurumu di luar tadi bahwa kau… terserang penyakit cinta? Bi Kiok, mungkinkah engkau… jatuh cinta kepadaku?”

“Aku… aku tidak tahu… aku hanya selalu merasa… kasihan kepadamu dan suka kepadamu. Aku… tak pernah dapat melupakanmu, Kun Liong… dan hidup dengan orang-orang yang tidak disukai di Telaga Kwi-ouw itu… membuat aku selalu teringat kepadamu. Tak mungkin aku diam saja melihat kau terancam bahaya…”

Makin terharu hati Kun Liong. Ditatapnya wajah yang manis itu, mata yang indah mempesona itu. “Bi Kiok, betapa indahnya matamu…”

Bi Kiok memejamkan matanya dan terpengaruh oleh rasa haru dan berterima kasih yang meluap-luap di dalam perasaannya, Kun Liong tidak dapat menahan kemesraan terhadap gadis itu, dia menunduk dan mencium kedua mata yang terpejam itu!

Naik sedu-sedan dari dada Bi Kiok. Sejenak dia menggigil seolah-olah perasaan kewanitaannya akan meronta, akan tetapi kemudian dia menjadi lemas, merangkul dan menyembunyikan muka di dada Kun Liong sambil terisak, “Kun Liong…”

Ketika dia mendekap tubuh dara itu, merasa betapa kepala dengan rambut halus itu menempel ketat di dadanya, berulah Kun Liong sadar akan perbuatannya. Dia tidak menyesal, akan tetapi timbul rasa heran mengapa dia sekarang menjadi suka sekali mencium sesuatu yaog disenanginya! Dia tadi mencium sepasang mata indah yang terpejam itu di luar kesadarannya, seperti otomatis tanpa dikehendakinya, terdorong oleh rasa tertarik yang luar biasa, kemesraan yang memenuhi hatinya sehingga sekarang pun kedua lengannya tanpa disadarinya mendekap tubuh itu dengan kuat. Hal ini baru disadarinya pula ketika Bi Kiok terengah-engah dan merintih lirih, “Kun Liong…”

Kun Liong mengendurkan dekapannya dan berbisik, “Bi Kiok, betapa baiknya hatimu… betapa buruknya nasibmu, setelah kehilangan segalanya engkau men-jadi murid seorang datuk kaum sesat…”

“Aku menerima nasib, Kun Liong… dan kuanggap nasibku amat baik, karena bukankah masih ada engkau yang mencintaku?”

Perasaan hati Kun Liong tersentuh oleh pertanyaan ini. Dia balas bertanya, “Bi Kiok, apakah engkau cinta kepada-ku?”

Gadis itu menarik napas panjang. “Entahlah, aku belum tahu apa itu cinta. Akan telapi semestinya aku cinta kepadamu karena aku senang sekali berada di dekatmu, aku ingin selamanya tidak akan terpisah dari sampingmu, aku kasihan kepadamu, aku suka kepadamu. Ya, kukira aku cinta kepadamu, Kun Liong.”

“Hemm… sayang sekali. Sebaiknya kalau kau tidak cinta kepadaku.”

“Heh? Mengapa?”

“Karena… aku tidak bisa membohongimu dengan pengakuan cinta. Tidak! Aku memang suka dan kasihan kepadamu, Bi Kiok. Akan tetapi, cintakah ini? Kurasa bukan…”

“Tapi… tapi… kau telah menciumku!”

Kun Liong tersenyum pahit. Presis seperti Hwi Sian! Seperti inikah anggapan semua wanita yang menentukan bahwa ciuman adalah tanda cinta? Apakah orang yang hanya suka, tanpa cinta yang dimaksudkan itu, tidak boleh mencium? Biarpun yang mencium dan yeng dicium sama-sama rela dan suka?

“Bi Kiok, aku suka padamu, dan aku suka menciummu, terutama sekali kedua matamu yang amat indah. Matamu luar biasa sekali, Bi Kiok, seolah-olah aku melihat telaga bening yang amat dalam di situ, seolah-olah aku melihat angkasa biru cerah yang amat tinggi… dan aku melihat keindahan terkandung di dalamnya. Aku suka menciummu, apakah hal ini harus kujadikan alasan membohong bahwa aku cinta kepadamu?”

“Kun Liong…!” Bi Kiok merintih dan dua titik air mata mengalir turun dari matanya.

“Bi Kiok, jangan menangis…!” Kun Liong meraih kepala itu, didekapnya dan kembali dia mencium kedua mata itu, mengisap dua butir air mata yang mene-tes di pipi. “Aku tidak bisa melihat kau menangis. Maafkan aku kalau aku menya-kiti hatimu. Aku lebih suka berterus terang daripada membohongimu.”

Bi Kiok merenggutkan kepalanya, menggeser duduknya agak menjauh, ke-mudian menarik napas panjang sambil menatap wajah Kun Liong. “Aku mengerti… dan aku menerima nasib. Mungkin aku cinta kepadamu, mungkin, juga tidak. Kau lebih tegas dan jujur. Adapun ten-tang cium tadi… kau tidak bersalah karena aku pun senang menerimanya, dan…”

“Ssssttt…!” Kini Kun Liong yang menaruh telunjuk di depan mulutnya. Kini dia yang merasa khawatir kalau-kalau Bi

Kiok akan celaka karena dia. Tidak boleh hal ini terjadi. Seribu kali tidak boleh! Kalau seorang di antara dua datuk itu, atau keduanya, menemukan mereka, dia akan melindungi Bi Kiok. Kalau perlu dia akan melawan mereka untuk menyelamatkan Bi Kiok.

Akan tetapi yang terdengar adalah suara derap kaki kuda dan ringkik banyak kuda. Suara kaki kuda itu berhenti di depan guha dan terdengarlah bentakan nyaring seorang wanita, jelas bukan suara Bu Leng Ci, “Pemberontak yang berada di dalam guha! Keluarlah!”

“Ssst…!” Kembali Kun Liong membe-ri isyarat kepada Bi Kiok untuk tidak bergerak.

“Hayo keluar, kalau tidak kami akan membakar dan mengasapi kamu! Kami sudah tahu bahwa kau berada di dalam guha, ada tapak tangan kakimu di luar!” Kembali suara wanita yang nyaring itu membentak dari luar guha.

“Bi Kiok, biarkan aku keluar. Kau bersembunyi di sini saja, setelah aman kau keluar dan kalau bertemu subomu, bilang saja bahwa kau tidak melihatku atau kaukarang cerita lain.”

Bi Kiok menggeleng kepala dan kem-bali dua titik air matanya menetes. Kun Liong cepat mencium kembali kedua mata itu, lalu berseru keras sambil melangkah keluar. “Jangan bakar! Aku keluar dan tidak akan melawan!”

Ketika dia tiba di depan guha, Kun Liong melihat banyak sekali tentara pemerintah, memenuhi tempat itu kelihatan gagah, menunggang kuda pilihan dan di belakang masih tampak pasukan berjalan kaki. Yang berada di depan guha agaknya adalah perwira-per-wiranya, akan tetapi semua itu tidak menarik perhatiannya karena segera matanya melekat pada tubuh seorang gadis cantik jelita dan gagah perkasa yang duduk di atas seekor kuda besar, berpakaian indah dan gagah sekali. Gadis itu takkan lebih dari sembilan belas tahun usianya, tubuhnya ramping dan padat dan jelas mengandung isi tenaga yang kuat. Pakaiannya adalah pakaian seorang pendekar wanita, seorang perantau dan petualang wanita yang membumbui kejelitaannya dengan kegagahan yang membuat orang menjadi segan. Kedua pergelangan tangannya dilindungi oleh pelindung dari kulit dengan tombol-tombol besi. Mantel berwarna merah jingga membuat bajunya yang kuning tampak gemilang. Rambutnya digelung ke atas, tinggi, dengan hiasan untaian mutiara. Wajah dara ini amat jelita, dan bagi Kun Liong, begitu memandang segera saja dia terpesona oleh kecantikan itu, terutama sekali oleh bentuk dagu yang meruncing dan agak menjulur ke depan seperti menantang, dan leher yang panjang berkulit putih kuning itu.

Ketika dara itu melihat munculnya Kun Liong, dia segera memerintah para perwira yang berada di dekatnya, “Tangkap dan belenggu dia!”

“Wah, wah, nanti dulu, Nona yang cantik jelita! Apa salahku…?”

Sepasang mata dara yang gagah itu terbelalak, terheran-heran mendengar suara dan ucapan Kun Liong yang penuh keberanian itu, kemudian pandang matanya berhenti pada kepalanya yang gundul.

“Jadi engkaukah ini…?” Dia menegur, alisnya berkerut dan dagunya makin ke depan. Manis bukan main bagi Kun Liong!

“Engkau Kun Liong!”

Kun Liong melebarkan matanya yang sudah besar, alisnya yang tebal berbentuk golok itu bergerak-gerak, otak di dalam

kepala gundulnya mengingat-ingat, akan tetapi tetap saja dia tidak dapat menge-nal nona yang dagu dan lehernya mem-buat dia terpesona itu. “Nona… siapa-kah…?”

Dara itu merengut. “Huhh! Sungguh memalukan! Yang tidak berubah hanya kepala gundulmu akan tetapi watakmu sudah berubah seperti bumi dengan la-ngit. Betapa akan malu dan menyesalnya hati Bun Hoat Tosu kalau melihat bahwa pemuda yang diaku murid itu ternyata sekarang telah gulung-gulung dengan se-gala macam pemberontak dan orang ja-hat!”

“Eh-eh-eh, nanti dulu, Nona! Enak saja memaki-maki orang!”

“Kou terlihat sebagai sahabat seorang seperti Toat-beng Hoat-su, melakukan perjalanan bersama. Masih hendak kausangkalkah itu?”

“Memang benar, akan tetapi bukan sahabat. Aku hanya hendak mengantar-kannya ke tempat bokor… ehh…” Kun Liong terkejut. Sikap gadis itu membuat dia penasaran dan marah sehingga dalam memberikan keterangan untuk membela diri, dia sampai lupa dan menyebut-nyebut tentang bokor.

Gadis itu dan para perwira jelas kelihatan terkejut mendengar ini. “Tangkap dia!” Gadis itu membentak.

Para perwira segera melompat turun dari kuda dan ada lima perwira mengulur tangan mencengkeram pundak dan lengan Kun Liong, seorang yang membawa tali kuat segera mengikat kedua lengan pemuda itu. Akan tetapi Kun Liong membentak, “Mundurlah kalian!” Sekali dia menggerakkan kedua lengan, tali itu putus dan lima orang itu terjengkang ke belakang!

“Hemmm, Yap Kun Liong! Kau hendak melawan pasukan pemerintah? Pemberontak rendah!”

“Aku bukan pemberontak dan aku tidak melawan siapa-siapa. Kalau kau betul-betul hendak menawan aku, kata-kan sebab-sebabnya dan apa kesalahku!”

“Pertama, kau berhaul dengan datuk kaum sesat, berarti kau tentu anak buahnya dan karena kaum sesat menjadi pemberontak, kaupun kucurigai menjadi pemberontak. Kedua, kau mengaku sendiri bahwa kau hendak menunjukkan tempat penyimpanan bokor emas milik Suhu, maka kau harus kutangkap, selain untuk menunjukkan tempat bokor, juga untuk diadili sebagai seorang pembantu pemberontak!”

“Apa…? Bokor emas milik… suhumu…?” Aihhh, sekarang aku ingat! Kau adalah anak perempuan yang berani dahulu itu, murid Panglima Besar The Hoo! Kau… kau Souw Li Hwa!”

Gadis itu mencibirkan bibir yang kecil mungil dan di dagunya timbul lesung pipit. Manis sekali!

“Kalau sudah tahu, apakah engkau masih juga hendak melawan?”

“Wah, untungku…! Aku tidak akan melawan, akan tetapi karena engkau yang hendak menangkap aku, harus engkau sendiri pula yang membelengguku. Kalau orang lain, aku tidak mau!”

“Kurang ajar! Hayo, tangkap dia!” Dia itu memang benar adalah Souw Li Hwa, murid Panglima Besar The Hoo yang kini telah menjadi seorang dara dewasa yang amat lihai. Dia mendapat tugas dari suhunya untuk membantu pemerintah, mengawal sepasukan tentara ikut mengepung para pemberontak yang menurut suhunya berpangkal di Ceng-to dan di sepanjang Sungai Huang-ho dekat muara.

Mendengar perintah nona itu, sepuluh orang tentara dan perwira meloncat turun dari atas kuda masing-masing dan menubruk maju. Akan tetapi berturut-turut sepuluh orang ini terlempar dan Kun Liong masih berdiri tegak di depan guha sambil tersenyum memandang kepada Souw Li Hwa!

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: