Petualang Asmara (Jilid ke-19)

Para perwira marah sekali. Seorang perwira tinggi besar yang brewok, sudah menggerakkan goloknya membacok kepala pemuda itu.

“Heii, jangan…!” Li Hwa terkejut dan membentak ketika melihat betapa pemuda berkepala gundul itu tidak meng-elak dan dia melihat betapa golok besar yang tajam berkilau itu menyambar ke arah kepala itu. Namun terlambat seru-annya, karena golok itu sudah menyam-bar, tepat mengenai kepala Kun Liong yang sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.

“Krookk!”

Perwira brewok tinggi besar itu melongo memandang goloknya yang telah rompal seolah-olah tadi telah dipakai membacok sebuah bola baja! Tangan Kun Liong mendekap mukanya yang melongo itu dan sekali Kun Liong mendorong, perwira itu terjengkang ke belakang!

“Mundur semua!” Li Hwa membentak marah bukan main akan tetapi diam-diam dia terkejut juga menyaksikan kelihaian kepala gundul itu. Semua perwira sudah marah dan mencabut senjatanya terpaksa mundur lagi mendengar bentakan Li Hwa dan mereka hanya mengurung dan memandang dengan marah.

Li Hwa meloncat turun dari udara, tangan kanan meraba gagang pedang dan dia menghampiri Kun Liong. Sambil tersenyum Kun Liong merangkap kedua tangannya dan menjulurkan kedua lengan itu ke depan, ke arah Li Hwa!

“Kenapa kalau kepadaku kau tidak melawan, dan kepada orang lain mela-wan?” Li Hwa tidak dapat menahan ke-inginan tahunya, bertanya.

“Banyak sebabnya,” kata Kun Liong dan diam-diam merasa bersyukur bahwa Bi Kiok yang berada di dalam guha tidak mengeluarkan suara. “Pertama, karena kita sudah saling mengenal, ke dua kare-na agaknya aku tidak tega menolak permintaan seorang gadis cantik, dan ke tiga, aku hendak membuktikan bahwa semua tuduhanmu itu kosong.”

“Bawa tali ke sini!” Li Hwa meme-rintah.

Seorang perwira datang berlari mem-bawa sehelai tali panjang yang kuat! Dengan gerakan cepat Li Hwa membe-lenggu kedua pergelangan tangan Kun Liong.

“Bawa seekor kuda ke sini!” Kembali dia memerintah.

Setelah seekor kuda dituntut dekat dia berkata kepada Kun Liong, “Sekarang kaunaiklah ke kuda ini.”

“Wah, terima kasih. Seperti tamu agung saja, disediakan kuda untukku!” Kun Liong tersenyum sambil memandang dagu yang manis itu.

“Cerewet kau! Sekarang engkau menjadi tawananku, tahu?” Li Hwa menggunakan sisa tali untuk mengikat kedua kaki Kun Liong yang berada di kanan kiri perut kuda, kemudian sisanya dia ikatkan di leher pemuda itu, agak kendur lalu melempar ujung tali ke arah perwira brewok yang tadi membacok kepala Kun Liong.

“Kwan-ciangkun, kautuntun dia!” katanya. Gadis itu lalu melompat ke atas kudanya dan memberi isyarat dengan tangan kepada pasukannya untuk meninggalkan tempat itu.

“Aihh!” Perwira brewok itu berseru kaget dan tali yang dipegang ujungnya tadi terlepas dari tangannya. Dia melon-cat turun lagi dari kuda, menyambar tali dan begitu dia naik ke atas kudanya, Kun Liong menggerakkan kepalanya dan… tali itu kembali terlepas dari tangan Si Perwira Brewok. Tentu saja dia marah sekali dan setelah dia meloncat turun dan menyambar tali, dia melibatkan ujung tali itu di tangan kanannya sebelum dia melompat naik ke atas kuda. Kembali Kun Liong menggerakkan kepalanya, Si Perwira mempertahankan sehingga terjadi tarik-menarik dan akhirnya tubuh perwira itu terpelanting dari atas kuda, jatuh berdebuk. Sial baginya, dia jatuh dengan pinggul menimpa sebutir batu sebesar kepalan tangan, maka dia mengaduh dan meringis kesakitan. Beberapa orang perwira lainnya yang tadinya ikut marah, kini hampir tak dapat menahan ketawa menyaksikan perwira yang aneh akan tetapi juga lucu itu.

“Yap Kun Liong, apakah kau benar-benar hendak memberontak dan melawan?” Li Hwa membentak marah.

“Terserah penilaianmu, akan tetapi karena kau yang mencurigai aku, kau yang menawan dan membelengguku, maka harus kau pula yang menuntunku.”

“Manusia aneh dan gila!” Li Hwa mengomel, akan tetapi karena dia tahu bahwa para perwira bawahannya tidak ada yang mampu menandingi Si Gundul ini, agar tidak menghambat perjalanan dia lalu menyambar ujung tali, meloncat naik ke atas kuda den dengan demikian menuntun Kun Liong yang duduk sambil tersenyum di atas kudanya dan pandang matanya tak pernah terlepas dari wajah dara yang menawannya itu.

“Tunjukkan aku di mana tempat bokor itu,” kata Li Hwa. “Memang aku hendak mengembalikan bokor itu kepada gurumu…”

“Bohong! Siapa percaya omonganmu?”

“Percaya atau tidak terserah.”

“Kau tadi bilang hendak menyerahkannya kepada Toat-beng Hoat-su.”

“Siapa bilang aku hendak menyerahkan? Aku hanya bilang bahwa aku hendak menunjukkan dia tempat di mana aku menyembunyikan bokor itu.”

“Hemmm… omongan plintat-plintut! Bukankah itu sama saja?”

“Sama sekali tidak sama. Kalau sudah kutunjukkan tempatnya, belum tentu aku membiarkan dia mengambilnya.”

“Hemm, kalau begitu mengapa kau hendak menunjukkan tempatnya kepada iblis tua itu?”

“Karena… perjanjian!”

Li Hwa menoleh dan memandang Kun Liong dengan penuh selidik. Akan tetapi pemuda itu tetap tenang dan kini dia memperoleh kesempatan banyak untuk menikmati keindahan dagu dan leher itu.

“Kau cantik, Li Hwa…”

Li Hwa mendengus. “Huh! Lagakmu tiada ubahnya seorang jai-hwa-cat, se-orang penjahat golongan hitam yang ca-bul dan hina!”

“Wah-wah-wah, mengatakan kau can-tik apakah merupakan perbuatan jahat, Li Hwa? Kau memang cantik, habis ba-gaimana? Apakah kau lebih senang kalau aku membohong dan mengatakan bahwa kau buruk?”

“Jangan mengatakan apa-apa!” Li Hwa membentak dan Kun Liong hanya meng-angkat pundak dan alis, menggelengkan kepalanya yang gundul, di dalam hatinya makin heran terhadap sikap wanita. Mah-luk yang aneh memang, pikirnya. Setiap berjumpa dengan seorang wanita, lain lagi wataknya dan makin lama makin aneh!

“Hayo jawab!” Setelah agak lama ber-diam, Li Hwa membentak. Dengan ta-ngan kirinya dia membetot tali sehingga kuda yang ditunggangi pemuda itu ter-sentak maju ke depan. Hal ini adalah karena Kun Liong menggunakan tenaga sin-kang untuk menjepit perut kuda se-hingga biarpun dia yang dibetot ke de-pan, yang merasakan adalah kuda yang ditungganginya!

Dia diam saja.

“Kun Liong, hayo jawab pertanyaaiiku tadi, di mana tempat bokor itu. Tunjuk-kan kepadaku!”

Tiada jawaban. Li Hwa menengok marah dan matanya mendelik ketika dia melihat pemuda gundul itu duduk tenang di atas kudanya dan tersenyum kepada-nya.

“Mesam-mesem jual lagak kau! Dita-nya tidak menjawab malah tersenyum-senyum. Memangnya kau gagu?”

“Hayaaa… sudah nasibku, jatuh dari tangan dara manis yang satu kepada tangan dara cantik yang lain, makin lama makin aneh dan makin menarik! Souw Li Hwa, baru saja kau bilang kepa-daku bahwa aku jangan mengatakan apa–apa, setelah aku diam tidak berkata apa-apa, kau marah-marah dan memaki aku gagu. Sebetulnya bagaimana sih ke-hendakmu, Nona cantik?”

Li Hwa menggigit bibirnya. Ingin dia memaki-maki akan tetapi takut kalau didengar oleh para perwira yang berada di belakang. Dia memang mendahului mereka dengan jarak antara sepuluh me-ter.

“Kun Liong, jangan main-main kaul! Memang kaukira aku ini siapa?”

“Engkau adalah Souw Li Hwa, seorang dara remaja yang cantik jelita seperti bidadari dan gagah perkasa seperti Hoan Lee Hwa (tokoh dalam dongeng Sie Jin Kwi), murid panglima besar yang sakti The Hoo.”

“Kalau sudah tahu, mengapa kau be-rani kurang ajar?”

“Aihhh… benar-benar aku menjadi bingung menghadapimu, Li Hwa, ataukah aku harus menyebutmu Li-hiap, atau Li-ciangkun? Apa sih kekurangajaranku?”

“Beberapa kali kau menyebut aku nona cantik!”

“Lagi-lagi itu! Habis kalau memang-nya engkau cantik jelita…”

“Sudahlah… sudahlah!” Li Hwa ber-kata kewalahan. “Katakan saja di mana adanya bokor emas milik Suhu itu.”

“Kaupimpin pasukanmu melalui sepan-jang pantai Sungai Huang-ho sampai… eh, ingatkah kau ketika kau ditawan? Nah, di dekat sanalah, di pantai Huang–ho yang airnya tidak begitu dalam, ba-nyak batu-batu besar.”

Li Hwa mengerutkan alisnya. “Kalau begitu, tidak jauh lagi dari sini” Dia lalu memberi aba-aba kepada pasukannya dan pasukan itu bergerak menuju ke tepi Sungai Huang-ho, kemudian melanjutkan perjalanan di sepanjang sungai. Dalam perjalanan ini, Kun Liong diminta menceritakan bagaimana dia dapat menemu-kan bokor itu. Pemuda itu menceritakannya dengan singkat tanpa menyebut nama Bi Kiok dan yang lain-lain. Hanya diceri-takan bahwa bokor itu tadinya tercuri oleh Phoa Sek It kemudian hilang di sungai dan secara kebetulan ia menemu-kannya, betapa kemudian hampir terjatuh ke tangan Phoa Sek It kembali, akan tetapi dia berhasil melarikannya dan me-nyembunyikannya di tempat itu.

Li Hwa merasa terheran-heran men-dengar cerita itu. Semua orang di dunia kang-ouw mencari bokor itu. Dan suhu-nya juga menyebar orang untuk mencari-nya karena suhunya khawatir bahwa ka-lau bokor terjatuh ke tangan orang jahat, tentu akan membahayakan. Siapa kira, bokor yang menimbulkan heboh itu di-temukan oleh bocah gundul aneh yang lalu menyimpannya begitu saja di pinggir sungai membiarkannya sampai sepuluh tahun!

“Engkau telah salah menangkap orang, Li Hwa. Bukan aku tidak suka menjadi tawananmu, akan tetapi engkau sungguh keliru kalau menyangka aku pemberontak. Apakah Paman Cia Keng Hong tidak me-laporkan ke kota raja?”

Mendengar disebutnya nama pendekar ini, Li Hwa terkejut. “Kami mendengar tentang pemberontakan dari beliau.”

“Ha-ha! Dan tahukah engkau dengan siapa Paman Cia Keng Hong tiba di Ceng-to dan menyaksikan para pemberon-tak mengadakan perundingan? Dengan aku! Cia-supek (Paman Guru Cia) berpi-sah dariku setelah kami berhasil menye-lamatkan seorang gadis yang tentu kau-kenal karena dia mengaku masih cucu murid gurumu, orangnya cantik manis seperti engkau, terutama bibirnya.”

Li Hwa membelalakkan matanya. “Siapa percaya omonganmu? Yang jelas menurut penyelidikan orangku, engkau melakukan perjalanan bersama Toat-beng Hoat-su, dan kau bermaksud menyerahkan bokor kepadanya.”

“Hanya untuk menyelamatkan seorang gadis.”

“Hemm… gadis lagi!”

“Ya, seorang gadis lain, juga cantik jelita, dibandingkan dengan engkau… hemmm, sukar juga mengatakan siapa lebih manis, seperti bunga mawar dengan bunga seruni!” Tentu saja yang dimaksud-kan bunga seruni adalah Bi Kiok (seruni cantik) sesuai dengan namanya.

“Engkau memang mata keranjang!”

Kun Liong tertawa. “Semua laki-laki mata keranjang kalau dimaksudkan suka melihat wanita cantik! Mana ada laki-laki yang tidak suka melihat wanita cantik?”

“Yang kaukatakan cucu murid guruku itu, siapakah namanya?”

“Gadis dengan bibir manis sekali itu? Liem Hwi Sian…”

“Wah, murid Gak-suheng (Kakak Seperguruan Gak) di Secuan?”

“Mungkin masih ada lagi dua orang suhengnya, kalau tidak salah namanya Poa Su It dan Tan Swi Bu. Dan Liem Hwi Sian itu, selain manis sekali bibirnya, juga dia suka kepada… kepalaku yang gundul. Mungkin kau benci kepada kepa-laku, ya?”

“Di mana dia sekarang?” Li Hwa tidak mempedulikan pertanyaan yang dianggapnya kurang ajar itu.

“Sudah diselamatkan Tan Swi Bu. Nah, apakah engkau masih menuduh aku seorang pemberontak?”

“Kita lihat saja nanti keputusan pe-ngadilan di kota raja.”

“Wah-wah, setelah kutunjukkan kepadamu tempat bokor emas, engkau masih hendak menawanku dan membawaku ke kota raja?”

“Tentu saja!”

“Biarpun sudah kuceritakan semua kepadamu?”

“Aku tidak percaya ceritamu.”

“Biarpun aku sudah menunjukkan tempat aku menyimpan bokor kepadamu?”

“Tadinya kau pun menunjukkan kepada datuk kaum sesat.”

“Ha-ha, Nona manis! Mengapa engkau masih menggunakan segala macam alasan kosong? Bilang saja bahwa engkau senang sekali dengan kehadiranku dan tidak ingin segera berpisah dari sampingku. Bukan demikiankah sesungguhnya? Aku pun suka sekali berdampingan denganmu, Li Hwa.”

Li Hwa marah sekali, menahan kudanya sehingga kuda Kun Liong menyusul dekat, lalu tangannya menampar kepala Kun Liong. Pemuda ini dapat mengukur dari tamparan itu bahwa Li Hwa bukan menyerangnya, hanya sekedar melepas kemarahan dengan menamparnya dan hanya menggunakan tenaga biasa, maka dia pun sama sekali tidak mengelak, akan tetapi diam-diam dia mengerahkan sin-kang. Akan tetapi, kalau tadi dia menggunakan Pek-in-sin-kang yang dipelajarinya dari Tiang Pek Hosiang sehingga kepalanya mampu menahan bacokan golok, sekarang dia menggunakan sin-kang yang dipelajarinya dari Bun Hwat Tosu, yang diciptakan oleh kakek sakti itu untuk melawan Thi-khi-i-beng, yaltu yang mengandung tenaga membetot berdasarkan Im-kang lemas.

“Plakkk!” Dan telapak tangan kiri dara itu melekat pada kulit kepala Kun Liong!

Li Hwa berusaha menarik kembali tangannya, akan tetapi benar-benar telapak tangannya telah melekat ketat sehingga waiahnya berubah pucat karena baru sekarang dia mengalami hal seaneh ini!

“Heh-heh, engkau pun agaknya amat suka dengan kepala gundulku, seperti Hwi Sian, maka kau mengelusnya tiada hentinya.”

Li Hwa menjadi merah sekali muka-nya dan dia mengerling ke belakang. Kalau para perwire melihat hal ini, tentu mengira bahwa dia benar-benar membelai Si Kepala Gundul! Maka dia cepat menggunakan jari tangan kirinya untuk menotok ke arah pundak Kun Liong.

“Wahhh… begini kejamkah engkau, Li Hwa?” Kun Liong berkata dan melepaskan pengerahan sin-kangnya sehingga telapak tangan kanan gadis itu terlepas kembali dan mendengar ucapan ini, Li Hwa mengurungkan niatnya menotok. Dia tadi menggunakan Ilmu Menotok It-ci-sian yang amat hebat dari gurunya, yaitu ilmu menotok dengan sebuah jari yang dilakukan dengen pengerahan sin-kang khas sehingga totokan itu mengeluarkan angin dingin yang luar biasa!

Li Hwa memandang wajah Kun Liong dan diam-diam dia merasa kagum dan juga kaget sekali di dalam hatinya. Demonstrasi tenaga sin-kang yang diperlihatkan Kun Liong tadi ketika kepalanya menerima bacokan golok tidaklah terlalu mengherankan karena kepala pemuda itu gundul gundul sehingga tentu saja tidak takut rambutnya rusak. Akan tetapi apa yang diperlihatkannya tadi ketika kepala itu dapat “menangkap” dan menempel telapak tangannya, benar-benar membuktikan bahwa pemuda gundul yang ugal-ugalan ini sebenarnya memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi!

Beberapa hari kemudian, pasukan yang dipimpin Souw Li Hwa dan berkekuatan seratus lima puluh orang itu tiba di tepi sungai seperti yang ditunjukkan oleh Kun Liong. Akan tetapi betapa kaget dan heran hati pemuda itu melihat perubahan besar yang terjadi di tempat itu. Tepi sungai yang dahulunya penuh dengan batu-batu besar itu, kini telah menjadi sebuah perkampungan yang dikelilingi pagar tembok! Dan agaknya batu bulat yang berbentuk kepala manusia itu, di

mana dia menyimpan bokor emas dahulu, berada tepat di tengah-tengah dusun itu.

“Wah, kenapa sekarang menjadi perkampungan? Agaknya perkampungan nelayan dan benda itu kusimpan di situ…”

Li hwa mengerutkan alisnya. “Sunguh ceroboh sekali! Hayo kita cepat monyelidiki ke dalam dusun itu.” Dia menyuruh para perwiranya dan berbondong-bondong pasukan itu memasuki perkampungan pinggir sungai itu. Li Hwa dan Kun Liong yang menjalankan kudanya paling depan, makin terheran melihat betapa kampung itu sunyi sekali dan agaknya kosong. Akan tetapi, setelah semua memasuki dusun, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan dari segenap penjuru, dari semua pintu gerbang, datang menyerbu banyak sekali orang, ada yang berpakaian biasa, ada yang berseragam, dan bahkan ada juga sedikitnya tiga puluh orang asing berkulit putih yang ikut menyerbu dengan pedang panjang melengkung di tangan kanan dan senjata api di tangan kiri!

Tentu saja pasukan yang dipimpin Li Hwa menjadi kaget dan kacau-balau mengalami serangan tiba-tiba yang sama sekali tidak disangkanya itu. Barulah Li Hwa tahu bahwa tempat itu ternyata telah dijadikan sarang oleh gerombolan pemberontak! Maka sambil berseru keras dia bergerak ke depan sambil mencabut pedang, merobohkan dua orang musuh sekaligus. “Basmi para pemberontak!”

Perang yang kacau-balau terjadi di perkampungan nelayan yang telah menja-di sarang para pemberontak yang berse-kutu dengan orang-orang kulit putih itu. Ledakan-ledakan senjata api terdengar, akan tetapi karena pertempuran itu ter-jadi dalam jarak dekat, senjata-senjata api yang memerlukan waktu untuk me-ngisi mesiu itu kurang praktis, maka suara ledakan makin mengurang, diganti teriakan yang diseling suara senjata ta-jam bertemu!

Li Hwa sudah meloncat turun dari kudanya dan dara perkasa ini mengamuk dengan pedangnya. Sepak terjangnya hebat bukan main, menggetarkan hati para pemberontak karena ke mana pun pe-dangnya berkelebat, sinar pedang itu menyambar dan seorang lawan tentu roboh.

“Dar! Dar!” Dua orang asing yang menyaksikan sepak terjang Li Hwa sudah menyerangnya dengan senjata api. Namun dara itu sudah mendengar dari gurunya tentang bahayanya senjata rahasia orang kulit putih ini, maka begitu tadi dia melihat dua orang itu mengacungkan senjata api ke arahnya, dia sudah melempar diri ke bawah, dan langsung dari bawah tubuhnya meluncur ke depan didahului sinar pedangnya. Sebelum dua orang kulit putih itu sempat mengisi pistol mereka dan masih terheran-heran melihat betapa dara cantik yang luar biasa itu tiba-tiba lenyap, sinar pedang menyambar mereka. Mereka berteriak dan roboh dengan perut mengucurkan darah, karena ujung pedang Li Hwa telah menembus perut mereka yang gendut!

“Singggg… trang-trang…!”

Li Hwa terkejut juga ketika pedangnya bertemu dengan pedang seorang lawan yang memiliki tenaga kuat juga sehingga pedangnya terpental. Cepat dia memandang dan ternyata yang memegang pedang menyerangnya dengan hebat tadi adalah seorang pemuda kulit putih yang bertubuh tinggi dan tampan, berpakaian mewah dan pemuda itu memandangnya dengan mulut tersenyum dan mata ja-lang.

“Sungguh hebat…!” Pemuda kulit putih itu berkata dengan lancar biarpun suaranya agak kaku, “Pasukan pemerintah dipimpin oleh seorang dara yang cantik jelita!”

“Anjing putih biadab, engkaukah yang membujuk para pemberontak mengkhia-nati negaranya?” Li Hwa membentak marah.

“Ha-ha-ha, urusan pemberontakan adalah urusan mereka sendiri. Kami hanya sahabat mereka. Nona, sayang sekali kalau kau yang begini muda belia dan cantik jelita menjadi korban da-lam perang ini. Mari kau ikut saja ber-samaku, jangan khawatir, aku adalah Hendrik Selado, dan engkau akan senang sekali menjadi sahabat baikku!”

“Mampuslah!” Li Hwa sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi, pedangnya bergerak menyambar ke depan.

Hendrik Selado terkejut, silau mata-nya melihat sinar pedang yang bergulung–gulung itu. Akan tetapi, dia dapat menangkisnya dan balas menyerang karena dia maklum bahwa betapapun muda dan cantiknya, dara itu adalah seorang pendekar wanita yang berkepandaian tinggi. Terjadilah pertandingan antara kedua orang ini dan dapat dibayangkan betapa kaget hati Hendrik ketika dia mendapat kenyataan bahwa pedang dara itu amat sukar dilawan. Biarpun dia sudah menge-rahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua jurus ilmu pedangnya yang dia pelajari dari ayahnya, namun tetap saja dia terus terdesak sehingga dia memper-tahankan diri sambil mundur-mundur. Kemudian Hendrik membalikkan tubuh dan melarikan diri!

“Keparat, hendak lari ke mana kau?”

Karena Li Hwa menduga bahwa tentu pemuda asing yang lihai itu yang memimpin rombongan orang asing yang membantu pemberontakan, maka dia cepat melakukan pengejaran.

Sementara itu, ketika tadi Kun Liong melihat perang kecil terjadi dan melihat betapa sepak terjang Li Hwa hebat se-kali dan biarpun berhadapan dengan pe-muda asing bernama Hendrik itu dara perkasa ini sama sekali tidak terdesak, diam-diam Kun Liong telah mematahkan belenggu kaki tangannya, meloncat turun dari kudanya dan pergi mencari tempat di mana dia dahulu menyembunyikan bokor emas. Dia tertegun dan bingung ketika melihat betapa tempat di mana dahulu terdapat sebongkah batu bulat berbentuk kepala, kini telah dibangun sebuah rumah papan yang besar! Agaknya batu bulat itu selama bertahun-tahun ini telah teruruk tanah sehingga hanya kelihatan menonjol sedikit dan kelihatan di luar dinding rumah itu.

Kun Liong meneliti tempat itu dan dia merasa yakin bahwa memang batu yang menonjol sedikit itulah batu yang dahulu dijadikan tanda. Di bawah batu itulah disimpannya bokor emas. Akan tetapi batu itu telah teruruk, sedikitnya teruruk sampai hampir dua meter dalam-nya, dan di situ didirikan rumah. Bagaimana dia dapat mencari benda pusaka itu yang tersembunyi di bawah batu tan-pa membongkar rumah itu dan menggali tanah yang menguruk batu? Sedangkan di tempat itu pun terjadi perang campuh antara para perajurit anak buah Li Hwa melawan tentara pemberontak yang dibantu orang-orang asing.

Selagi Kun Liong berdiri bingung ba-gaimana dia akan bisa mendapatkan kembali benda pusaka yang terpendam di bawah bangunan itu, tiba-tiba dia meli-hat Hendrik lari memasuki pondok itu, dikejar oleh Li Hwa yang berteriak nyaring, “Manusia biadab, hendak lari ke mana kau?”

Kun Liong melihat betapa Hendrik sudah keluar lagi dari pintu samping, membidikkan senjata apinya ke dalam rumah yang dimasuki Li Hwa. Pemuda itu terkejut, dapat menduga bahwa pe-muda asing itu menjebak Li Hwa, maka dia berteriak, “Li Hwa, hati-hati…!”

“Darrr… blungggg…!”

Kun Liong cepat membuang diri ke atas tanah ketika terjadi ledakan hebat itu. Kiranya Hendrik telah meledakkan mesiu yang berada di dalam rumah itu dan agaknya rumah itu merupakan gudang mesiu! Rumah besar itu hancur, batu bulat juga terbongkar dan terlempar sehingga tanah di mana batu dan rumah tadi berdiri, kini menjadi semacam kubangan besar. Air sungai segera membanjir masuk ke dalam lubang ini.

“Bokor…! Di situ…!!” Terdengar teriakan-teriaken den tempat yang kini penuh dengan air sedalam pinggang itu kini diserbu oleh para perajurit kedua pihak, bukan hanya untuk melanjutkan perang, melainkan terutama sekali untuk memperebutkan bokor emas yang tadi tampak di dalam kubangan sebelum air membanjirinya. Orang-orang asing yang membantu pemberontak juga berlompatan memasuki kubangan penuh air dan ikut pula berebutan, memperebutkan benda yang telah mereka kenal akan tetapi yang kini tidak tampak lagi karena tertutup air. Mereka memperebutkan bokor emas yang hanya tampak sekelebatan sebelum terendam air dan yang hanya terlihat oleh beberapa orang yang berteriak tadi.

Akan tetapi pertempuran itu tidak berlangsung lama. Senja telah mendatang dan para perajurit anak buah Li Hwa terpaksa diperintahkan mundur oleh para perwiranya karena mereka merasa berat menghadapi serbuan para pemberontak yang lebib banyak jumlahnya, apalagi karena mereka tidak melihat lagi Souw Li Hwa, dara perkasa yang mereka andalkan dan yang menjadi pemimpin mereka. Dengan meninggalkan teman-teman yang menjadi korban, menolong mereka yang terluka, sisa pasukan yang kurang lebih tinggal seratus orang lagi itu melarikan diri keluar dari perkampungan yang menjadi sarang pemberontak itu, dikejar oleh para pemberontak yang akhirnya membiarkan mereka lagi setelah mereka jauh dari perkampungan.

Di tempat bekas pondok yang kini menjadi kubangan air masih tampak orang-orang asing dan para perajurit pemberontak mencari-cari, akan tetapi akhirnya mereka terheran-heran mengapa tidak ada yang berhasil menemukan pusaka itu.

Yuan de Gama pemuda tampan, putera pemilik Kapal Kuda Terbang yang juga ikut bertempur dalam perang kecil tadi, memimpin sendiri pencarian di dalam kubangan, akan tetapi segera melepaskan harapan, meloncat keluar dari kubangan dan mengomel. “Heran sekali ke mana perginya Hendrik? Hentikan semua pencarian yang sia-sia ini, akan tetapi lakukan penjagaan di sekitar kubangan, jangan biarkan orang mendekatinya.”

Setelah mengatur penjagaan beberapa orang perajurit secara bergantian di sekeliling kubangan, Yuan de Gama lalu memasuki pondok dan berganti pakaian karena pakaiannya kotor penuh lumpur, juga pundaknya terluka sedikit. Kemudian dia keluar dari pondok untuk mencari Hendrik. Dia dan Hendrik kebetulan sekali berada di situ memimpin rombongan orang-orangnya mewakili gurunya, Legaspi Selado ketika tadi datang pasukan pemerintah sehingga terjadi perang kecil di situ dan mereka berhasil mengusir pasukan musuh itu. Kini dia harus cepat mengadakan perundingan dengan Hendrik, putera gurunya itu, karena tempat itu merupakan tempat yang berbahaya. Setelah pihak pemerintah mengetahui bahwa tempat itu mereka jadikan sarang, tentu akan datang pasukan yang lebih besar untuk menghancurkan mereka. Akan tetapi, Hendrik tidak tampak batang hidungnya.

Ketika ada seorang anak buahnya yang disebar untuk mencari Hendrik da-tang kepadanya dan berbisik-bisik sambil tersenyum menyeringai, Yuan de Gama memukul telapak tangan kirinya sendiri dan memaki gemas, “Terkutuk! Dia selalu merusak tugas dengan kesenangan pribadi yang kotor!”

Setelah berkata demikian Yuan de Gama lalu berjalan cepat pergi ke ujung perkampungan itu, bekas hutan yang telah dibabat, akan tetapi masih menjadi tempat sunyi di mana terdapat sebuah pondok kecil yang di depannya terpasang sebuah lampu. Sunyi bukan main di situ. Yuan de Gdma menghampiri pondok dari belakang dan ketika dia menyelinap dari balik pohon dan memandang ke samping pondok, dia menahan makiannya. Dia melihat seorang gadis cantik yang tadi dikenalnya sebagai pemimpin pasukan pemerintah, terbelenggu dengan rantai besi di tihang pondok, dan di dekat gadis itu bernyala api unggun yang makin lama makin mendekati sebungkus mesiu yang ditaruh di dekat kaki Si Gadis!

Gadis itu bukan lain adalah Souw Li Hwa! Bagaimana dia dapat terbelenggu di situ? Ketika dia meloncat ke dalam pondok mengejar Hendrik, pemuda asing yang cerdik itu telah meledakkan mesiu de-ngan pistolnya. Ledakan dahsyat itu secara aneh sekali tidak menewaskan Li Hwa, karena dia telah terlempar oleh hawa ledakan dan terbanting jatuh ping-san. Dalam keadaan pingsan ini, Hendrik yang kagum dan tergila-gila melihat ke-cantikannya, lalu menyambarnya dan memondongnya pergi ke dalam pondok sunyi itu.

Ketika dia siuman, Li Hwa mendapatkan dirinya rebah di atas pembaringan dengan kaki tangan terbelenggu dan dia melihat bekas lawannya, pemuda asing tadi, duduk di pinggir pembaringan sambil tersenyum-senyum.

“He, kau sudah sadar, manis?”

Sejenak Li Hwa bingung, kemudian dia teringat akan semua pengalamannya den membentak, “Anjing biadab! Hayo bunuh aku, atau lepaskan aku dan melanjutkan pertandingan kalau kau memang jantan!”

“Aihhh… mengapa begitu keras hati, manis? Aku cinta padamu, Nona. Kau begini cantik… rambutmu begini indah…” Hendrik membelai rambut yang halus dan panjang itu. Li Hwa mengggerakkan kepalanya merenggutkan rambut.

“Dan matamu seperti sepasang bintang… kau cantik jelita… daripada bermusuh, bukankah lebih baik kalau kita bersahabat? Kau akan kubawa ke negeriku, sayang…”

“Phuhhh! Manusia biadab, lebih baik aku mati!” Li Hwa berteriak lagi.

“Wah, sayang kalau kau mati. Aku sungguh cinta padamu! Jangan kau berpura-pura, benarkah kau tidak suka kepadaku? Sudah banyak sekali wanita yang menyatakan cinta kepadaku, yang ingin menjadi kekasihku, akan tetapi engkau yang benar-benar menjatuhkan hatiku… eh, sayang, siapakah namamu?”

“Persetan dengan kamu!” Li Hwa memalingkan mukanya.

“Heran! Engkau bertambah manis kalau marah, tak tahan aku untuk tidak menciummu!” Hendrik segera memeluk tubuh yang terbelenggu kaki tangannya itu den bibirnya yang rakus itu mengecup bibir Li Hwa.

Li Hwa terbelalak, sejenak seperti akan pingsan mengalami hal yang sama sekali tidak diduganya dan yang belum pernah dialaminya biarpun dalam mimpi. Karena dia hendak memaki, mulutnya terbuka den hal ini oleh Hendrik dianggap bahwa wanita itu membalas ciumannya, maka dia mencium makin ganas.

“Auuuughhh… aduuuhhh…” Hendrik meloncat ke belakang dan mengaduh–aduh, bibir bawahnya pecah oleh gigitan Li Hwa tadi. Gadis yang saking ngeri dan muaknya tak dapat berbuat apa-apa untuk menyerang itu, telah menggigit bibir yang mengecup-ngecup mulutnya secara mengerikan!

Hendrik mengangkat tinjunya hendak memukul muka yang menantangnya dengan penuh keberanian itu. Biarpun maklum bahwa dia akan dipukul, mungkin dibunuh, Li Hwa memandang dengan mata tidak berkedip. Melihat sikap ini, memandang wajah yang cantik manis itu, Hendrik menjadi lemas dan menurunkan lagi kepalan tangannya.

“Bedebah! Setan betina! Hendak kulihat apakah engkau masih berkeras tidak mau melayani cintaku!”

Hendrik sudah benar-benar tergila–gila kepada Li Hwa. Kalau menghadapi wanita lain yang menolak cintanya, seperti biasanya, tentu dia akan menggunakan kekerasan, memperkosa gadis yang sudah terbelenggu itu. Akan tetapi aneh sekali, dia merasa berat untuk melakukan hal ini terhadap Li Hwa. Dia tahu bahwa gadis perkasa ini merupakan seorang dara pilihan, dan alangkah akan senang hatinya kalau dia dapat memperolehnya dengan cara yang baik, dengan sukarela. Betapa akan bahagianya kalau gadis ini membalas cintanya, bukan menyerahkan diri karena terpaksa dan karena diperkosa.

Dipondongnya tubuh gadis itu keluar pondok, diletakkan dan dirantai pada tihang sebelah rumah. Kemudian dia membuat api unggun dan meletakkan sebungkus mesiu di dekat kaki Li Hwa yang terbelenggu.

“Kaulihat ini? Mesiu yang akan meledak begitu api itu menjalar sampai ke dekatnya. Kaulihat tadi. Rumah dan batu itu hancur oleh ledakan, dan kalau kau tidak menurut, bungkusan mesiu ini cukup untuk menghancurkan tubuhmu menjadi berkeping-keping. Kalau berubah pikiranmu, sebelum terlambat, kauterimalah pinanganku, Nona.”

“Huh, biarkan aku mati!”

“Baik, aku akan menanti di dalam. Kau berteriak saja panggil aku kalau pikiranmu berubah, kalau kau memilih bersenang-senang denganku dan hidup bahagia daripada mati dengan tubuh hancur oleh ledakan obat mesiu ini.”

“Jahanam kotor! Seribu kali lebih baik mati daripada menyerah kepadamu!” Li Hwa membentak.

Hendrik tersenyum akan tetapi menyeringai karena bibirnya yang digerakkan terasa perih. Diusapnya bibir yang pecah oleh gigitan dara tawanannya itu, kemudian dia bangkit dan membalikkan tubuh, melangkah lebar menuju ke pondok, menaiki anak tangga depan pondok dan lenyap ke dalam pondok itu. Li Hwa ditinggalkan seorang diri dalam keadaan tidak berdaya. Rantai besi yang membelenggu kaki tangannya amat kuat, tidak dapat dipatahkannya dan dia pun tidak dapat mencegah api unggun yang bernyala makin besar, dan lidah api makin mendekati bungkusan mesiu di dekat kakinya.

Dalam keadaan seperti itulah gadis itu ketika Yuan de Gama menghampiri pondok dan melihatnya. Dengan hati-hati Yuan lalu menghampiri gadis itu. Li Hwa yang berpendengaran tajam tahu bahwa ada orang mendekatinya dari belakang. Dia menoleh dan melihat Yuan, dia mengira pemuda asing itu adalah Hendrik yang menawannya. Dalam pandangannya, orang-orang asing itu seperti sama semua! Maka dia lalu menghardik, “Jangan harap aku mau menyerah, manusia hina! Bunuhlah kalau kau mau membunuhku…”

“Sssttt…!”

Melihat pemuda itu menaruh telunjuk di depan bibir dan mengeluarkan seruan tanda agar dia tidak mengeluarkan suara, Li Hwa terheran dan memandang lebih teliti kepada pemuda itu. Sekarang setelah sinar api unggun menerangi wajah itu, barulah dia sadar bahwa bukanlah pemuda asing yang tadi menawannya. Tubuh pemuda itu lebih jangkung, perutnya tidak gendut dan pada wajah yang tampan ini tidak terdapat sinar mata yang penuh nafsu. Tidak, bahkan sinar mata yang berwarna biru itu amat lembutnya, kini memandangnya dengan penuh iba.

“Nona, aku datang untuk menolongmu…” Pemuda itu berbisik dan berjong-kok di belakangnya.

Namun, di dalam hati Li Hwa sudah terdapat bibit kebencian terhadap orang–orang asing. Pertama karena kenyataan bahwa orang-orang itu bersekutu dengan para pemberontak. Kedua kalinya, dia mengalami penghinaan dari Hendrik yang menawannya. Maka terhadap pemuda yang hendak menolongnya ini pun dia bersikap angkuh dan tidak bersahabat.

“Aku tidak minta pertolonganmu!”

Pemuda itu menghela napas panjang. “Aku tahu, dan engkau memang seorang dara perkasa yang hebat, Nona. Seorang

berjiwa panglima yang patut dihormati. Dan karena itulah maka aku harus meno-longmu.” Sambil berkata demikian, Yuan de Gama mulai berusaha membuka be-lenggu itu dari kedua tangan Li Hwa.

Karena gembok yang dipakai mematikan mata rantai belenggu itu cukup kuat, maka tidaklah mudah bagi Yuan untuk membukanya sehingga dia harus menge-rahkan seluruh tenaganya.

“Mengapa kau menolongku?” Melihat usaha pemuda itu, Li Hwa tak dapat menahan diri untuk tidak bertanya kare-na bukankah di antara mereka terdapat permusuhan?

“Aku kagum akan kegagahanmu, Nona. Dan aku muak melihat perbuatan Hendrik yang menyimpang dari tugasnya, hanya mementingkan kesenangan pribadi.”

Akhirnya, setelah lebih dahulu men-jauhkan bungkusan mesiu dari api, Yuan de Gama berhasil melepaskan belenggu pada kaki dan tangan Li Hwa. Gadis itu melompat berdiri, akan tetapi karena kepalanya masih nanar oleh hantaman ledakan tadi, dan kakinya juga kaku ka-rena lama dibelenggu, dia terhuyung dan tentu terguling kalau tidak cepat-cepat dia dipeluk oleh Yuan de Gama.

“Lepaskan aku!” Li Hwa meronta. “Apa kaukira setelah menolongku, kau boleh memangku sesuka hatimu?”

Yuan cepat melepaskan pelukannya dan melangkah mundur, alisnya berkerut dan pandang matanya tajam menusuk. “Nona, harap jangan menyamaratakan orang begitu saja. Kalau tidak melihat engkau hendak jatuh, tentu aku tidak berani menyentuhmu.”

Sejenak mereka berpandangan dan Li Hwa menunduk, kedua pipinya menjadi merah. Dia tahu bahwa betapa sikapnya tadi memang amat buruk. Akan tetapi, bukankah pemuda asing ini juga musuh-nya? Musuh negaranya? Ingatan itu me-ngeraskan hatinya dan dia mendengus, melempar muka ke samping, membalik-kan tubuh lalu melangkah hendak pergi.

“Tahan dulu, Nona…!” Yuan de Gama cepat mengejar. “Nona, kau masih amat lelah… dan pasukanmu telah melarikan diri keluar dari tempat ini. Kalau kau -pergi begitu saja, tentu kau akan ter-tangkap kembali. Di mana-mana terdapat penjaga…”

“Haiii… Nona yang manis, apakah engkau belum merobah pikiranmu?” Tiba–tiba terdengar teriakan Hendrik dari dalam pondok.

Yuan de Gama terkejut, cepat ia me-nyambar tangan Li Hwa dan berkata, “Mari ikut dengan aku. Cepat…!”

Kini mengertilah Li Hwa bahwa pe-muda ini benar-benar hendak menolong-nya dan agaknya tidak mempunyai niat buruk di balik itu, maka dia membiarkan dirinya ditarik dan dibawa pergi menye-linap di antara pohon-pohon dan kegelap-an malam sampai mereka berada jauh dari pondok terpencil itu.

AKAN tetapi kembali mereka terpaksa harus berhenti dan bersembunyi di balik pohon-pohon ketika mereka melihat belasan orang perajurit meronda tak jauh dari situ. Setelah para peronda itu lewat, Yuan berbisik, “Nona sungguh berbahaya untukmu keluar dari perkampungan ini. Ketahuilah, setelah terjadi perang siang tadi, seluruh perkampungan diadakan perondaan dan sekitar perkampungan dijaga ketat. Dan malam ini juga engkau harus dapat lolos dari sini, karena kalau sampai besok engkau tak dapat keluar, tentu tidak mungkin lagi menyembunyikan diri.”

“Aku tidak takut! Aku akan melawan sampai titik darah terakhir!”

Yuan memandang kagum sekali sungguhpun wajah dara itu tidak kelihatan jelas di dalam gelap, “Selama aku hidup, baru sekarang aku bertemu dengan seorang wanita gagah seperti engkau, Nona. Banyak sudah kubaca dalam kitab tentang pendekar-pendekar wanita yang gagah perkasa di negerimu yang aneh ini, akan tetapi aku masih belum percaya. Sekarang baru aku percaya, dan aku kagum sekah kepadamu, aku harus menolongmu keluar dari tempat ini, malam ini juga.”

Kata-kata pemuda itu juga amat mengherankan hati Li Hwa. Betapapun kagumnya, mana mungkin ada musuh menolong musuhnya? Apalagi pemuda itu tahu bahwa dia adalah pemimpin pasukan pemerintah yang akan membasmi kaum pemberontak!

“Engkau siapakah?”

Yuan de Gama membungkuk dengan lengan kanan melintang di depan perutnya. “Aku bemama Yuan de Gama. Ayahku adalah Richardo de Gama, pemilik Kapal Kuda Terbang dan…”

“Dan kalian orang-orang asing membantu para pemberontak!”

Yuan de Gama menggeleng kepala dengan penuh penyesalan. “Aku tidak berniat demikian, Nona. Juga kawan-kawanku tidak berniat membantu pemberontak. Akan tetapi kami hanya ingin mengadakan kontak dagang dengan penduduk pribumi. Karena penjabat pemerintahmu melarang, dan karena para pembesar yang kami bantu ini menyanggupi untuk membolehkan kami berdagang…”

“Sudahlah, apa pun alasannya, yang jelas kalian adalah orang-orang asing yang membantu pihak pemberontak!”

“Memang tiada gunanya kita berdebat tentang itu, Nona. Kita hanyalah pelaksana-pelaksana belaka, yang mengatur semua itu adalah orang-orang atasan. Yang penting sekarang, aku harus menolongmu keluar dari sini dan pada saat seperti ini, kuharap kau tidak menganggapku sebagai musuh, Nona.”

Li Hwa mengerutkan alisnya. Kalau keadaan tidak seperti itu, tentu sudah sejak tadi dia menyerang dan membunuh pemuda musuh negara ini!

“Kalau sampai kau ketahuan menolongku lolos?”

Yuan tersenyum dan menggerakkan pundaknya yang bidang. “Yaahh, apa boleh buat! Sudah nasibku mati diberondong senapan oleh bekas anak buahku sendiri sebagai seorang pengkhianat.”

Li Hwa bergidik. Dia sudah pernah melihat seorang anak buahnya terluka oleh peluru senapan, senjata rahasia yang mengerikan dari pihak orang-orang asing itu. Dan akibatnya benar-benar mengerikan. Anak buahnya itu meraung-raung karena nyeri dan lukanya itu seperti dibakar rasanya.

“Dan kau rela terancam bahaya untuk menolong aku, seorang musuh?”

“Hiisshh, Nona. Sudah kukatakan, pada saat ini kau bukan musuhku, dan mudah-mudahan aku bukan musuhmu. Engkau bagiku adalah seorang pendekar wanita yang amat hebat dan amat kukagumi. Marilah…”

Kembali Yuan menggandeng tangan Li Hwa dan dara ini menurut saja ketika dia dibawa menyelinap ke sana-sini, kadang-kadang mendekam di balik rumah-rumah atau pohon-pohon. Tak lama kemudian mereka sudah berada di sekitar pagar tembok yang mengelilingi pekarangan itu.

Tiba-tiba terdengar suara dalam bahasa asing. Mendengar ini, Yuan cepat menarik Li Hwa dan keduanya bertiarap, menelungkup di balik rumpun alang-alang. Suara itu adalah suara Hendrik yang berteriak-teriak kepada para penjaga, “Jangan sampai dia lolos! Tawananku itu adalah pemimpin pasukan musuh yang menyerbu siang tadi. Awas, siapa yang dapat menangkapnya, hidup atau mati, akan kuberi hadiah besar, akan tetapi yang membiarkannya lolos, akan kuhukum!”

Yuan dan Li Hwa bersembunyi sampai suara Hendrik itu lenyap dan orangnya pergi dan dengan lirih Yuan berbisik, “Tadi adalah Hendrik yang menawanmu. Sekarang semua penjaga di sekeliling perkampungan ini telah tahu bahwa engkau lolos dari tahanan Hendrik dan mereka tentu mengerahkan seluruh perhatian untuk menemukanmu. Hal ini membuat usaha kita makin sulit. Akan tetapi sebelum aku melanjutkan usahaku meloloskanmu, aku ingin mengetahui apakah engkau benar-benar telah percaya kepadaku, Nona?”

“Hemmm… percaya dalam hal apa?”

“Bahwa aku hanya ingin menolongmu, karena kekagumanku terhadap dirimu, tidak ada lain hal yang tersembunyi di balik itu.”

Sampai lama mereka berpandangan dalam gelap, muka mereka tidak begitu jauh jaraknya karena mereka berdua bertiarap di dalam semak-semak. Akhirnya Li Hwa mengangguk. “Aku percaya kepadamu, sungguhpun aku sendiri heran mengapa aku harus percaya kepada seorang asing, seorang musuh.”

Yuan tersenyum. “Bagus, Nona. Bolehkah aku mengetahui namamu?”

Kembali Li Hwa meragu. Sampai lama, setelah dia menimbang-nimbang, barulah dia menjawab, “Namaku Souw Li Hwa, dan guruku adalah Panglima Besar The Hoo.”

“Ya Tuhan…!” Yuan de Gama berseru lirih dan pandang matanya makin kagum lagi. “Nama besar gurumu itu siapa yang tidak tahu? Pantas saja kalau begitu! Kiranya Nona adalah murid orang luar biasa itu?”

“Sekarang bagaimana engkau akan meloloskan aku dari sini? Kurasa jalan satu-satunya hanya menerjang ke luar. Aku tidak takut, biar aku menerjang ke luar dan tidak perlu kau mengkhianati teman-temanmu sendiri.”

“Tidak…! Jangan lakukan itu, Nona…! Penjagaan amat ketat dan mereka telah mempersiapkan senjata api, kau tentu akan tertawan kembali atau tertembak mati. Kalau hal itu terjadi, aku akan menyesal dan hidup menderita selamanya! Marilah, aku mempunyai akal asal engkau benar-henar percaya kepadaku. Mari!” Yuan lalu menggandeng tangan dara itu menyelinap melalui tempat gelap menuju ke sebuah pintu gerbang yang dijaga belasan orang penjaga terdiri dari perajurit-perajurit pemberontak dan beberapa orang asing. Li Hwa melihat betapa orang-orang asing itu memegang senjata api mereka dalam keadaan siap. Andaikata dia tidak gentar menghadapi senjata rahasia itu, kalau hanya belasan orang yang menjaga di situ, tentu dia akan sanggup untuk merobohkan mereka, atau setidaknya meloloskan diri dari pintu gerbang itu. Akan tetapi dia bersama Yuan, kalau sampai mereka mengenalnya bersama-sama pemuda asing yang menolongnya ini tentu Yuan akan dianggap pengkhianat dan pemuda itu akan celaka. Maka dia diam dan menurut saja ketika Yuan menggandengnya mendekati pintu gerbang, tidak tahu bagaimana pemuda itu akan menyelamatkannya.

Ketika Yuan dan Li Hwa sudah tiba dekat sekali dengan pintu gerbang, di bagian yang akan gelap, tidak tertimpa langsung oleh lampu yang tergantung di pintu gerbang, terdengar seorang di antara para penjaga menghardik, “Heiii! Berhenti! Siapa di situ?”

Semua urat syaraf di tubuh Li Hwa sudah menegang dan dara ini sudah siap untuk menerjang maju. Akan tetapi Yuan merangkulnya dan berbisik, “Nona, jangan bergerak. Ingat, kau sudah percaya ke-padaku, kau menurut saja…”

Empat orang penjaga berlari mende-kati dan pada saat itu, Yuan merangkul leher Li Hwa dan mencium bibir dara ini, mendekap muka itu dengan ketat sehingga muka Li Hwa tidak tampak, tertutup oleh mukanya sendiri. Kemudian, dia mendekap kepala Li Hwa, wajah dara itu disembunyikan di dadanya, dan dia membentak, “Kurang ajar! Berani kalian mengganggu kesenanganku?”

“Ohhh… ahhh… Tuan Yuan de Ga-ma… maafkan kami! Kami telah meneri-ma perintah agar melakukan penjagaan keras…!”

“Aku tahu!” Yuan membentak. “Dan kalian harus menjaga baik-baik agar panglima wanita musuh itu jangan sampai lolos. Dia pandai sekali, mungkin akan melompati pagar tembok. Tak mungkin dia melalui pintu gerbang. Hemm, sung-guh menjemukan, tidak ada tempat yang aman untuk bermain cinta. Aku mau keluar saja, mencari tempat sunyi. Hayo, manis…”

Yuan de Gama menggunakan mantelnya untuk menyelimuti Li Hwa dan dia membawa Li Hwa yang masih dirangkulnya itu keluar melalui pintu gerbang, ditonton oleh belasan orang itu yang saling lirik dan menyeringai.

Li Hwa sendiri sudah hampir pingsan sejak dia diciumi oleh Yuan de Gama tadi. Tubuhnya menggigil, kaki tangannya menjadi dingin dan jantungnya berdebar tidak karuan. Dalam waktu satu malam, dia telah diciumi oleh dua orang laki–laki, dua orang asing dan dicium dengan cara yang sama sekali belum pernah di-dengarnya, apalagi dialaminya! Ketika Hendrik mencium dan mengecup bibirnya, dia merasa amat marah, benci, dan muak sehingga dia menggigit bibir pemuda asing itu untuk menyerangnya, membuat bibir Hendrik terluka berdarah dan ham-pir terobek putus! Akan tetapi, ketika Yuan de Gama menciumnya, biarpun dia merasa terkejut sekali namun dia mak-lum bahwa pemuda ini menciumnya bukan karena dorongan nafsu dan bukan untuk berkurang ajar, melainkan untuk menyelamatkannya. Pula, dia merasa bedanya ciuman antara kedua orang pria itu. Ketika Yuan menciumnya, dia merasa seolah-olah tubuhnya melayang naik ke angkasa, tubuhnya lemas dan ia seperti di alam mimpi!

“Ha-ha-ha…!” Terdengar empat orang asing yang berjaga di situ tertawa-tawa dan bicara dalam bahasa asing yang tidak dimengerti oleh Li Hwa.

“Heran sekali,” kata seorang di antara para penjaga bersenjata tombak, “Tuan Yuan de Gama lebih senang bercinta di tempat terbuka, padahal sudah disediakan kamar-kamar dan tempat tidur yang lunak. Aneh…!”

“Mengapa aneh?” bantah yang lain. “Mereka itu memang mempunyai kebiasaan dan kesukaan yang berbeda dengan kita. Yang untung adalah wanita itu. Hemmm… Tuan Yuan de Gama adalah seorang pemuda yang biasanya pantang bercinta dengan wanita-wanita yang disediakan untuk mereka, dan selain paling tampan, juga paling baik budi dan paling kaya!”

Mendengar kata-kata antara kedua orang penjaga itu, bermacam perasaan mengaduk hati Li Hwa. Akan tetapi semua perasaan ini ditahannya sampai mereka tiba jauh dari pintu gerbang dan tiba-tiba Yuan melepaskan rangkulannya.

“Nah, sekarang sudah aman, Nona Li Hwa.”

Mereka berdiri berhadapan. Bintang-bintang memenuhi angkasa, mencurahkan sinar redup dingin sehingga mereka dapat saling memandang dalam keadaan remang-remang.

“Yuan de Gama…” Li Hwa akhirnya dapat mengeluarkan suaranya. Lirih na-mun penuh perasaan. “Aku akan meng-anggapmu sebagai…”

“Yaaa…?”

“Seorang yang baik hati dan…”

“Hemmm…?”

“… sebagai seorang yang kurang ajar!”

“Begitukah, Nona Li Hwa?”

“Untuk kebaikan hatimu, aku berterima kasih kepadamu.”

“Tidak usah berterima kasih!”

“Dan untuk kekurangajaranmu…”

“Kekurangajaran yang mana?”

“… ketika kau… kau menciumku tadi…”

“Aahhh, aku tidak berniat kurang ajar…”

“Betapapun juga, Yuan de Gama, kau telah berlaku tidak sopan, dan untuk itu… aku akan…”

“Yaaa…?”

“Plakkkk!” Pipi kiri Yuan de Gama ditampar oleh telapak tangan Li Hwa. Dara itu tidak mengerahkan sin-kangnya, akan tetapi tetap saja tamparan itu membuat pipi Yuan kemerahan dan tampak bekas jari-jari tangan kecil di atas kulit pipi itu.

“Nona, terima kasih atas kebaikanmu…”

“Jangan kau mengejek. Aku menamparmu karena mengingat akan kekurangajaranmu tadi.”

“Untuk ciuman-ciuman itu Nona, walaupun kulakukan bukan karena hendak kurang ajar kepadamu atau hendak menghinamu, aku rela menerima tamparanmu, bahkan kalau kau masih penasaran, boleh kautampar lagi sesukamu…”

“Ehhh…” Li Hwa berseru heran, tidak menyangka pemuda itu akan berkata demikian.

“Benar Nona. Karena… semenjak aku melihatmu, apalagi setelah menyaksikan kegagahanmu, tahulah aku bahwa aku jatuh cinta kepadamu, Nona.”

“Ihhh…!”

“Terserah kepadamu kalau kauanggap aku kurang ajar. Biar kau hendak membunuhku sekalipun, takkan dapat kau memaksaku untuk menarik kembali kata-kataku. Aku cinta kepadamu, Souw Li Hwa…”

“Aihhh…!” Li Hwa mundur-mundur dengan muka pucat, jantungnya berdebar tidak karuan, kemudian terdengar isak naik dari dadanya, tubuhnya berkelebat dan dia sudah meloncat pergi dari tempat itu.

“Souw Li Hwa, aku cinta kepadamu…” Yuan de Gama berteriak

Naik sedu-sedan di tenggorokan dara itu, akan tetapi dia terus melarikan diri secepatnya, tidak mempedulikan beberapa butir air mata yang turun di atas kedua pipinya. Dia merasa takut. Takut kepada dirinya sendiri. Mengapa dia tidak membenci Yuan seperti dia membenci Hendrik setelah Yuan menciumnya? Bahkan ada rasa senang dicium oleh pemuda itu? Mengapa hatinya berdebar dengan perasaan nyaman akan tetapi tegang ketika Yuan menyatakan cintanya kepadanya? Padahal ketika Hendrik menyatakan cintanya, dia merasa muak dan terhina?

Li Hwa berlari cepat dan pada ke-esokan harinya barulah dia dapat berte-mu dengan sisa pasukannya. Para perwira menjadi girang sekali ketika melihat munculnya dara itu, dan Li Hwa mende-ngar dengan hati penuh penasaran betapa pasukannya terpaksa melarikan diri ka-rena kalah banyak dan kalah kuat, apala-gi setelah pemimpin mereka, dara perka-sa itu lenyap.

“Pasukan mereka lebih besar. Kita harus mencari bantuan. Dan bagaimana dengan tawanan kita, Yap Kun Liong si gundul itu?”

“Kami tidak melihatnya lagi dalam keributan itu, Nona,” jawab seorang per-wira tua.

“Hemm, apa yang terjadi setelah terjadi peledakan yang membuat aku pingsan dan tertawan musuh?”

Para perwira lalu menceritakan beta-pa ledakan itu membuat tempat bekas rumah itu berlubang dan sekilas tampak sebuah bokor emas. Karena ada yang berteriak melihat benda itu sebelum air sungai membanjir masuk menutupi lu-bang, maka terjadilah perebutan dan per-tempuran di air yang menutupi tempat itu.

“Lalu, bagaimana? Di mana bokor itu?” Li Hwa bertanya penuh ketegangan dan tahu bahwa Kun Liong tidak berbo-hong dan benar-benar bokor emas berada di tempat itu.

“Itulah anehnya, Nona. Tidak ada yang melihat siapa yang telah berhasil mendapatkan bokor itu. Mungkin juga sudah terjatuh ke dalam tangan sese-orang. Kami terpaksa mengundurkan diri keluar dari tempat itu karena kalau dilanjutkan, tanpa adanya Nona yang me-mimpin kami, tentu kami semua akan binasa. Andaikata ada Nona di sana, biarpun diharuskan bertempur sampai hancur semua, tentu saja kami bersiap sedia.”

Li Hwa mengerutkan alisnya. Celaka sekali kalau bokor yang sudah hampir ditemukannya itu terjatuh ke tangan orang lain. Dan pasukannya sudah lelah, juga berkurang kekuatannya untuk me-nyerang sarang pemberontak kurang kuat.

“Kalian tunggu saja di sini, awasi gerak-gerik musuh. Aku sendiri akan me-laporkan kepada Suhu dan mendatangkan bala bantuan.” Akhirya dia mengambil keputusan dan pada pagi hari itu juga dia berangkat menunggang kuda ke kota raja untuk melapor kepada suhunya, Panglima Besar The Hoo.

Ke mana perginya Yap Kun Liong? Pada saat terjadi ledakan, dia dapat menyelamatkan diri dengan bertiarap. Dari tempat dia bertiarap itu, tampak jelas ketika bekas rumah berubah menja-di sebuah kubangan yang dalam dan ke-tika ada orang berteriak tentang bokor, dia cepat melihat dan dia pun menyaksi-kan bokor itu sebelum air sungai datang menerjang!

Kun Liong cepat membiarkan dirinya ditelan air sungai dan dia terus merang-kak dan menyelam ke arah tempat disimpannya bokor emas itu. Sebelum orang lain sempat mencari bokor karena mereka itu sudah sibuk saling serang di air sedalam pinggang itu, Kun Liong sudah berhasil mengambil bokor emas itu, dimasukkannya di dalam bajunya yang basah kuyup dan dia memperguna-kan keadaan kacau-balau itu untuk me-larikan diri keluar dari kubangan. Kalau tidak teringat kepada Li Hwa, tentu dia sudah melarikan diri keluar dari perkam-pungan itu. Akan tetapi, dia mengkhawa-tirkan keadaan Li Hwa, maka dia mulai mencari gadis itu setelah pertempuran selesai karena pihak pasukan pemerintah mengundurkan diri ke luar tempat itu.

Dari tempat persembunyiannya, dia melihat Li Hwa yang dibelenggu di luar rumah terpencil oleh Hendrik. Akan te-tapi sebelum dia dapat turun tangan menolong tiba-tiba muncul Yuan de Ga-ma. Dengan hati penuh rasa suka dan kagum kepada pemuda asing ini, Kun Liong melihat betapa Yuan menyelamatkan Li Hwa. Bahkan dia terus memba-yangi mereka ketika mereka berusaha keluar dari tempat itu melalui pintu ger-bang.

Jantungnya berdebar tegang ketika dia menyaksikan dari tempat gelap beta-pa Yuan dalam usahanya menyelamatkan Li Hwa, telah mendekap dan mencium gadis cantik itu dengan amat mesranya. Ciuman bibir! Hatinya makin tertarik untuk melihat bagaimana nanti sikap Li Hwa. Dia mempergunakan kegesitannya

untuk melompati pagar tembok selagi para penjaga tertarik perhatian mereka kepada Yuan de Gama.

Ketika dia melihat Li Hwa menampar Yuan dan mendengarkan pembicaraan mereka, diam-diam Kun Liong merasa geli dan dia tertawa sendiri. Akan tetapi hatinya terharu ketika mendengar penga-kuan Yuan de Gama tentang cintanya kepada dara itu!

“Hemmm, Yuan, kau seorang laki–laki tolol!” Kun Liong berbisik sendiri. “Begitu mudah jatuh cinta! Cinta seperti itu hanya mendatangkan siksaan di hati sendiri…”

Dia lalu meninggalkan tempat itu, di sepanjang jalan termenung. Kalau dia bersikap seperti Yuan mudah saja menjatuhkan hatinya ke dalam jurang asmara, agaknya sudah beberapa kali dia jatuh cinta. Kepada Hwi Sian, kepada Bi Kiok, kepada Giok Keng dan mungkin kepada Li Hwa sendiri. Tidak, dia tidak akan mudah saja jatuh cinta, biarpun harus dia akui bahwa dia amat suka kepada gadis–gadis jelita itu! Mata keranjang! Entah-lah, akan tetapi betapa mata tidak akan merasa nyaman dan sedap memandang, betapa hati tidak akan merasa suka, kalau melihat bunga-bunga indah dan harum? Bunga seruni, bunga mawar, bu-nga bwee, semua bunga tentu akan men-datangkan rasa suka. Demikian pula, se-mua dara yang manis akan menimbulkan rasa suka di dalam hatinya. Akan tetapi cinta asmara? Nanti dulu! Cinta macam itu berarti melekatkan diri kepada se-seorang, dan sekali melekat berarti me-nimbulkan kemungkinan terluka kalau lekatan itu dipaksa terlepas dan putus!

Bokor yang telah kembali kepadanya itu memberatkan hatinya. Dia harus me-nyerahkan bokor itu kepada yang berhak, yaitu kepada Panglima Besar The Hoo. Sungguh berbahaya kalau terlalu lama berada di tangannya, karena dia tahu betapa semua orang gagah di dunia kang–ouw dan tokoh kaum sesat saling mem-perebutkan bokor emas ini. Dia sendiri sama sekali tidak ingin memilikinya, juga setelah tahu bahwa benda ini adalah barang curian, dia sama sekali tidak ingin tahu rahasia apa gerangan yang dikandung benda pusaka yang diperebut-kan ini. Makin cepat dia terlepas dari benda ini makin baik!

Selagi dia berjalan scorang diri melalui hutan yang lebat, tiba-tiba tampak olehnya bayangan-bayangan orang berkelebatan dan dia memandang terbelalak ketika dirinya telah terkurung oleh bebe-rapa orang. Betapa kagetnya ketika dia melihat bahwa di antara sembilan orang itu terdapat para datuk kaum sesat yang telah dikenalnya, yaitu empat orang di antara mereka. Si Kakek Gila Toat-beng Hoat-su, kakek muka hitam Hek-bin Thian-sin yang bersekutu dengan pembe-rontak, kakek gila raja ular Ban-tok- Coa-ong Ouwyang Kok, dan Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci! Lima orang lainnya tidak dikenalnya, akan tetapi dapat di-duga bahwa mereka tentulah orang-orang yang berilmu tinggi! Ketika melihat bah-wa di antara lima orang ini terdapat seorang wanita setengah tua yang cantik, dengan kuku tangan yang panjang merun-cing, dia cepat bertanya, “Apakah Lo-cianpwe yang bemama Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio?”

Para datuk kaum sesat itu, terutama sekali Kwi-eng Niocu, merasa heran se-kali menyaksikan sikap pemuda gundul yang amat berani itu. Sudah dikepung oleh sembilan orang termasuk lima orang datuk kaum sesat sehingga boleh dikatakan bahwa nyawanya berada di ambang pintu maut, masih bersikap enak-enak bahkan bertanya kepada Kwi-eng Niocu, seperti orang hendak berkenalan saja!

“Sudah tahu namaku, lekas berlutut dan serahkan bokor kepadaku!” kata Kwi–eng Niocu dengan suara halus, akan tetapi suara halus dan senyum manis wanita ini membuat Kun Liong merasa ngeri ka-rena dia dapat menangkap kekejaman hebat yang bersembunyi di balik sikap manis itu. Akan tetapi dia tidak peduli, lalu menoleh kepada Bu Leng Ci, berta-nya, “Aihh, Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci juga hadir! Bagaimana, Locianpwe, apa-kah baik-baik saja? Dan mengapa Adik Bi Kiok tidak ikut serta?”

Bu Leng Ci hanya mendelik dengan pandang mata marah, kemudian membentak, “Berikan bokor kepadaku kalau kau ingin hidup!”

Kun Liong memandang kepada para datuk itu bergantian sambil berkata, “Hemmm, para Locianpwe hadir semua, Toat-beng Hoat-su, Ban-tok Coa-ong, juga Hek-bin Thian-sin! Lengkap! Kehormatan apakah yang akan diberikan kepada seorang muda bodoh seperti aku?”

Tiga orang kakek itu saling pandang dan diam-diam mereka ini merasa kagum juga. Bocah gundul itu benar-benar seorang yang memiliki keberanian luar biasa!

“Serahkan bokor!” Serentak mereka berseru.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: