Petualang Asmara (Jilid ke-2)

Percakapan itu berhenti dengan masuknya Yap Cong San. Isterinya segera menyambutnya dan bertanya, “Bagaimana dengan para korban itu?”

Yap Cong San menggeleng kepala, menarik napas panjang dan mengeluarkan tiga batang jarum hitam, memperlihatkan kepada isterinya sambil berkata, “Aku tidak mengenal jarum ini, maka baru kuberi obat untuk mencegah menjalarnya racun dan kutotok jalan darah mereka.”

Gui Yan Cu memeriksa jarum hitam, memasukkan jarum itu ke dalam mangkok putih, menuangkan air jernih sedikit dan air itu berubah hitam. Dia mencabut tusuk sanggulnya yang terbuat dari perak, mencelupkan benda itu ke dalam air beracun. Ujung tusuk sanggul yang putih itu kini berubah menghijau. Setelah memeriksa dan mencium racun itu, mata yang indah dan lebar itu terbelalak dan dia berseru.

“Racun ular senduk…!”

“Apa? Kalau begitu… nyawa mereka takkan dapat tertolong lagi!” Yap Cong San berkata, “Hemmm… Loan Khi Tosu dari Pek-lian-kauw itu benar-benar terlalu kejam.”

“Memang dia kejam!” Tiba-tiba Kun Liong berseru, “Tidak seharusnya ayah melepaskannya begitu saja!”

“Diam kau! Anak kecil tahu apa?” Yap Cong San membentak.

Isterinya memandang kepadanya, lalu menarik napas panjang dan dengan halus berkata kepada Kun Liong, “Liong-ji, (anak Liong), ayah ibumu sedang sibuk, kau pergilah bermain-main di luar dan menjaga toko kalau-kalau ada tamu datang mencari kami.”

Kun Liong bersungut-sungut. Selalu begitu. Ayahnya demikian keras, ibunya demikian lunak kepadanya. Kalau saya ayahnya selunak ibunya, atau ibunya sekeras ayahnya, dia akan mengerti dan tidak menjadi penasaran! Dia berlari ke luar dan duduk termenung di bangku dalam toko obat.

Baru saja anak itu keluar dan suami isteri itu sekali lagi meneliti racun jarum, Kun Liong sudah berlari masuk lagi dan berkata, “Ada tamu utusan dari Ma-taijin!”

Yap Cong San dan isterinya segera keluar dan utusan itu mengatakan bahwa kepala daerah she Ma itu memanggil Yap-sinshe datang menghadap. Karena maklum bahwa tentu kepala daerah ingin melihat dia cepat-cepat mengobati tiga orang perwiranya yang terluka, Yap Cong San segera berangkat sambil membawa beberapa macam obat anti racun yang ada, sungguhpun dia tahu bahwa obat-obat itu tidak akan dapat menyembuhkan luka yang terkena racun ular senduk.

Seperginya Yap Cong San, melihat anaknya masih cemberut tidak puas, Gui Yan Cu merangkul puteranya dan berkata,

“Kun Liong, jangan kau kecewa kepada ayahmu. Ayahmu bersikap tepat dan benar. Biarlah kuceritakan kepadamu tentang Pek-lian-kauw. Perkumpulan itu bukan perkumpulan orang jahat, sungguhpun seperti perkumpulan yang menamakan dirinya pejuang rakyat, mereka dapat berlaku kejam sekali terhadap musuh-musuh mereka. Mereka menentang pemerintah karena dalam anggapan mereka, pemerintah tidak baik dan menindas rakyat, membikin sengsara rakyat. Karena itu, mereka dimusuhi oleh pemerintah yang tentu berusaha membasminya. Nah, ayahmu tidak ingin melihat dirinya terlibat dalam permusuhan itu dan sikapnya itu tepat sekali. Mengertikan engkau?”

“Ibu, aku tidak kecewa atau menyesal kepada ayah. Aku hanya ingin melihat di dunia ini jangan ada orang menyakiti atau membunuh orang lain dan kalau itu terjadi, dia harus dihukum!”

Ibunya tersenyum, dan merasa bangga “Memang sebaiknyalah mempunyai pendirian itu, anakku. Pendirian seorang pendekar yang menentang penindasan. Akan tetapi engkau harus tahu bahwa yang melakukan kejahatan itu tentutah mereka yang lebih kuat, sedangkan yang dijatuhi atau yang menderita tentulah mereka yang lemah. Karena itu, seorang pendekar harus menggembleng diri sendiri agar supaya kuat…”

“Wah, dan menjadi penindas jahat?” Kun Liong memotong.

“Hushh, bukan begitu. Akan tetapi kalau engkau menghukum si jahat, engkau harus dapat menundukkan yang jahat bukan? Dan untuk dapat menundukkan si jahat, engkau harus lebih kuat dari mereka, padahal mereka itu adalah orang-orang kuat. Itulah perlunya engkau memperdalam ilmu silat dan mempergiat latihanmu, di samping pelajaran sastra dan pengobatan.”

Kun Liong mengangguk-angguk kemudian mengerutkan alisnya. “Akan tetapi aku paling tidak suka melihat kekerasan, tidak suka melihat perkelahian, Ibu. Aku tidak mau berkelahi, aku benci perkelahian.”

“Siapa menyuruh engkau berkelahi? Belajar ilmu silat itu bukan untuk berkelahi!”

“Ibu tadi bilang seorang pendekar harus menentang si jahat, kalau ditentang tentu berarti berkelahi.”

“Bukan, anakku. Perkelahian hanya terjadi antara dua pihak yang mempertahankan kepentingan diri sendiri masing-masing, memperebutkan sesuatu yang baik berupa kebenaran sendiri maupun berupa keuntungan untuk diri sendiri. Kalau kita membela yang tertindas, menentang si jahat sehingga terjadi pertandingan itu bukanlah pertandingan namanya. Mengertikah engkau?”

Kun Liong mengerutkan kedua alisnya, meruncingkan mulutnya, dan menggeleng kepala. “Aku tidak mengerti, dan aku tetap tidak suka, aku tetap benci pertempuran.”

Ibunya memandang dengan sinar mata penuh selidik. “Apakah engkau takut akan pertempuran? Takut terluka, takut mati, takut kalah?”

Sepasang mata anak itu terbelalak memandang ibunya, penasaran dan suaranya lantang, “Aku…? Takut…? Tidak, ibu, aku tidak takut apapun. Aku hanya benci akan kekerasan. Dan Pek-lian-kauw itu, mengapa menentang pemerintah? Mengapa menganggap pemerintah menindas rakyat? Betulkah itu, ibu?”

Ibunya menggeleng kepala. “Aku tidak tahu, Liong. Yang sudah jelas, kalau ada dua pihak bertentangan, sudah pasti sekali mereka itu saling menyalahkan, sudah pasti mereka itu masing-masing menganggap pihak sendiri benar dan pihak sana yang salah. Itu adalah urusan orang-orang yang murka akan kedudukan dan kemuliaan, kita tidak perlu mencampurinya, maka sikap ayahmu adalah tepat dan benar. Andaikata ayahmu melukai atau membunuh tosu itu, berarti bukan dia seorang melainkan kita semua terlibat dalam permusuhan dan pertentangan yang tiada habisnya.”

Sambil bercakap-cakap menceritakan keadaan dunia kang-ouw kepada puteranya yang mendengarkan dengan bengong dan penuh kagum, apalagi ketika ibunya menyebut-nyebut nama para tokoh kang-ouw yang dianggap sebagai pendekar-pendekar pilihan, timbul keinginan hati Kun Liong untuk menjumpai pendekar-pendekar itu! Sedangkan ibunya sibuk membuat campuran obat yang diambil dari resep simpanan, dan menanti kembalinya suaminya.

Tak lama kemudian Yap Cong San muncul dengan wajah keruh. Begitu memasuki toko, dia melempar diri di atas kursinya dan mengeluh, “Tetap saja tersangkut!”

“Apa maksudmu? Apa kehendak Ma-taijin memanggilmu?” tanya isterinya.

“Aku dituduh bersahabat dengan tosu Pek-lian-kauw!”

“Wah, itu fitnah!” Kun Liong berteriak penasaran.

“Apa sebabnya kau dituduh begitu?” Gui Yan Cu bertanya, sepasang alisnya berkerut, hatinya ikut penasaran.

“Agaknya, seorang di antara tiga perwira itu melihat pertemuanku dengan Loan Khi Tosu, melihat betapa aku dapat menangkis tongkat tosu itu dan menyelamatkan nyawa mereka, kemudian melihat betapa aku melepaskan tosu itu pergi tanpa bertanding dengannya, dan melaporkan hal ini kepada Ma-taijin. Pembesar ini menegurku, mengapa aku yang memiliki kepandaian tidak turun tangan terhadap seorang pemberontak yang sudah jelas membunuh dan melukai orang, apalagi melukai tiga orang perwira pengawal. Dia bertanya apakah aku bersimpati kepada pihak pemberontak!”

“Hemmm… tuduhannya hanya ngawur belaka. Kemudian bagaimana?”

“Aku menjawab bahwa aku segan bermusuhan dengap Pek-lian-kauw yang mempunyai banyak orang pandai. Aku bilang bahwa aku takut…”

“Ayah membohong! Aku tahu betul, ayah dan ibu tidak takut kepada apapun, kepada setan dan iblispun tidak takut. Dan aku tahu, tosu itulah yang gentar menghadapi ayah!”

“Kun Liong, diamlah!” Ayahnya membentak marah, “Sudah berapa kali kukatakan kepadamu, engkau tidak boleh mencampuri urusan orang-orang tua. Dengarkan saja dan tutup mulut, kalau tidak bisa menutup mulut, pergilah dan jangan mendengarkan!”

“Baik, ayah.” Kun Liong menunduk dan kedua bibirnya dirapatkan masuk ke dalam mulutnya.

“Lalu bagaimana?” Gui Yan Cu mendesak, alisnya makin dalam.

“Dia bilang dapat memaafkan sikapku, akan tetapi aku harus dapat menyembuhkan tiga orang perwiranya.”

“Hemm, harus katanya? Nyawa orang berada di tangan Thian, bukan di tangan kita. Habis bagaimana jawabanmu?”

“Aku menjawab terus terang bahwa racun di tubuh mereka itu adalah racun ular senduk yang amat berbahaya dan sukar sekali dicari obatnya dan bahwa aku akan berusaha sekuatku.”

“Bagaimana sambutannya?”

“Dia bilang tidak peduli diobati apa dan bagaimana asal tiga orang perwiranya itu sembuh. Dalam kata-katanya terkandung ancaman bahwa kalau aku gagal mengobati, tentu dia akan mengungkit kembali urusan tosu Pek-lian-kauw itu.”

“Hemm, pembesar itu agaknya mempunyai niat buruk. Akan tetapi kita tidak perlu gelisah. Memang amat sukar mengobati racun ular senduk sampai sembuh, akan tetapi ada obat yang untuk sementara waktu, sedikitnya sebulan, dapat menahannya sehingga si korban tidak akan tewas. Dalam waktu sebulan itu, kalau engkau suka minta pertolongan ke kuil Siauw-lim-pai di mana aku mendengar disimpan banyak sekali obat-obat yang mujijat, kurasa mereka masih akan dapat diselamatkan.”

Berseri wajah Yap Cong San. “Bagus kalau begitu! Memang aku mempunyai ingatan untuk minta pertolongan para suhu di Siauw-lim-si (Kuil Siauw-lim-pai), akan tetapi perjalanannya pulang pergi ke sana akan memakan waktu paling cepat setengah bulan dan tadinya aku tidak mempunyai harapan untuk menolong mereka. Akan tetapi, kalau engkau ada obat penawar selama sebulan, bagus sekali, isteriku!”

“Inilah obatnya, sudah kusediakan sejak tadi. Berikan kepada mereka, dimasak dengan air lalu diminumkan, kemudian cepat-cepat berangkat ke Siauw-lim-si, tentu urusan ini akan dapat diatasi dengan baik.”

Yap Cong San memandang isterinya dengan wajah berseri dan penuh rasa sukur.

“Engkau memang bijaksana sekali, isteriku.” Dia hendak merangkul, akan tetapi isterinya melirik ke arah Kun Liong, tersenyum dengan kedua pipi kemerahan sambil meruncingkan mulut, persis seperti kebiasaan Kun Liong.

“Husshhh…!”

Suaminya teringat, mengurungkan niatnya dan Kun Liong berkata, “Ayah, aku ikut ke Siauw-lim-si!”

“Wah, kaukira ayahmu pergi melancong ya? Keperluan ini penting sekali, bukan waktunya melancong.”

Melihat puteranya menunduk dan kecewa, Yan Cu berkata, “Kun Liong, ayahmu betul. Perjalanan ini amat jauh dan perlu cepat-cepat. Kelak kalau tidak ada sesuatu kepentingan, engkau akan kuajak melancong ke Telaga Barat yang indah!”

Hiburan ini tidak meringankan hati Kun Liong yang berkata, “Ibu selalu membenarkan ayah!” Kemudian dia berlari ke luar.

Suami isteri yang saling mencinta itu kini tidak malu-malu lagi untuk saling berpelukan dan berciuman mesra. “Dia tidak tahu betapa engkau mencintaku, tentu saja selalu membenarkan aku!” Yap Cong San berbisik sambil mengelus rambut kepala isterinya.

“Ah, dan kau jangan terlalu keras kepadanya. Kasihan dia, tidak punya saudara…”

“Aihh, apakah engkau ingin sekali dia mempunyai adik?” Si suami menggoda, akan tetapi si isteri berkata sungguh-sungguh,

“Siapa yang tidak ingin mempunyai seorang anak perempuan yang mungil sebagai adik Kun Liong?”

“MUDAH-MUDAHAN Kwan Im Pouw-sat (Dewi Welas Asih) akan memberkahi kita dengan seorang anak perempuan. Kalau urusan ini sudah selesai, mari kita bersembahyang di Kuil Kwan Im Bio, kemudian kita menyewa perahu di telaga semalam suntuk kita berdua berpengantin baru di perahu, siapa tahu Kwan Im Pouwsat akan kebetulan bersenang hati memberi anugerah…”

“Husshhh, tak tahu malu! Sudah berapa umur kita, masih mau berpengantin baru! Kau lekas berangkatlah. Urusan antara kita baru akan terlaksana kalau urusan Ma-taijin sudah beres dan berhasil baik. Berangkatlah, dan hati-hatilah di jalan, suamiku. Sampaikan hormatku kepada para suhu di Siauw-lim-si, terutama sekali kepada locianpwe (orang tua gagah) Thian Kek Hwesio ketua Siauw-lim-pai.”

Thian Kek Hwesio adalah ketua Siauw-lim-pai yang baru, menggantikan kedudukan Tiang Pek Hosiang yang telah mengundurkan diri karena merasa bahwa dia telah melakukan perbuatan sesat di waktu mudanya sehingga dia tidak ingin mengotori nama Siauw-lim-pai (baca ceritaPedang Kayu Harum ). Yap Cong San dan isterinya amat menghormat dan menjunjung tinggi hwesio tua ini, bukan hanya karena Cong San bekas anak murid Siauw-lim-pai dan karena hwesio itu adalah ketua Siauw-lim-pai, akan tetapi terutama sekali karena hwesio itulah yang telah berjasa mengingatkan Cong San dengan nasihat-nasihat yang amat berharga ketika pendekar ini hampir mengalami keretakan rumah tangganya akibat cemburu sehingga dia sadar akan kekeliruannya. Hal itu telah dijelaskan oleh Cong San kepada isterinya sehingga Yan Cu juga merasa berhutang budi kepada hwesio tua yang dianggapnya telah memiliki jasa besar akan kebahagiaan rumah tangganya, berarti kebahagiaan hidupnya pula. (Baca ceritaPedang Kayu Harum ).

Berangkatlah Cong San pada hari itu juga menuju ke Kuil Siauw-lim-pai setelah dia mengobati tiga orang perwira dengan obat penawar buatan isterinya. Dengan menunggang kuda, dia dapat melakukan perjalanan cepat dan seperti yang dia harapkan Thian Kek Hwesio menyambut bekas sute (adik seperguruan) itu dengan ramah sekali dan segera memberikan obat yang dibutuhkan Cong San setelah mendengar penuturan bekas sutenya.

“Yap-sicu, engkau telah bersikap benar sekali. Pinceng (aku) merasa berterima kasih bahwa sicu masih menjaga akan nama Siauw-lim-pai sehingga tidak melibatkan diri dalam pertentangan yang buruk itu.”

“Ahh, suheng mengapa berkata demikian? Ah, maaf, losuhu (sebutan pendeta), teecu (murid) sampai lupa menyebutmu suheng (kakak seperguruan). Mengapa losuhu bersikap sungkan? Sudah tentu sekali teecu menjaga nama Siauw-lim-pai, bukan hanya karena teecu adalah bekas anak muridnya, melainkan terutama sekali karena Siauw-lim-pai adalah sebuah perkumpulan besar dan mulia, tidak selayaknya kalau sampai terseret ke dalam pemberontakan Pek-lian-kauw.”

Setelah bermalam satu malam dan melewatkan waktu semalam unuk melepaskan rindu terhadap bekas saudara-saudara seperguruannya, dan mendengar bahwa sudah bertahun-tahun bekas gurunya, Tiang Pek Hosiang, tidak pernah keluar dari Ruang Kesadaran, pada keesokan harinya Cong San berpamit dan kembali secepatnya ke Leng-kok.

***

Kun Liong duduk dengan tenang di dalam kamarnya, tekun membaca kitab kitab kuno (lama) yang bertumpuk di atas mejanya. Seperti sudah lajim di jaman itu, setiap orang pelajar sastra yang sesungguhnya mempelajari membaca dan menulis, diharuskan menghafal isi kitab-kitab lama. Kitab-kitab itu adalah kitab-kitab filsafat yang berat-berat dan sama sekali bukan “makanan” otak seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun seperti Kun Liong! Bukan hanya kitab-kitab Su-si Ngo-keng, kitab yang, mengandung pelajaran Nabi Khong Cu, akan tetapi bahkan oleh ayahnya dia disuguhi kitab Agama Buddha dan kitab To Tik Khing dari Agama To!

Karena sudah hampir hafal semua akan isi kitab-kitab itu, maka Kun Liong membalik-balik lembaran kitab itu dengan acuh tak acuh. Dia diharuskan berdiam di kamar karena ayah bundanya sedang sibuk membuatkan obat untuk tiga orang perwira yang keracunan. Obat Siauw-lim-si yang katanya dicampur dengan ramuan lain. Agar jangan mengganggu, maka dia diharuskan membaca kitab-kitab itu seorang diri di dalam kamarnya.

Kun Liong merasa kesal hatinya karena bosan. Hampir saja dibantingnya kitab-kitab itu. Apa perlunya menghafal semua isi kitab lama itu? Apa perlunya mengasah otak mencari-cari dan menafsirkan makna dari segala kata-kata yang diucapkan dan dituliskan manusia jaman dahulu kala? Apa gunanya mengerti akan isi hati manusia kuno kalau tidak mengerti akan isi hati sendiri?

“Apa gunanya?” Kun Liong mengeluh dan melemparkan kitab-kitab itu ke atas meja. “Apa gunanya kalau setelah orang hafal akan seribu satu macam ujar-ujar kebatinan namun tidak ada seorang pun melaksanakan sebuah pun dalam kehidupan sehari-hari?”

Ucapan Kun Liong ini timbul dari lubuk hatinya karena hampir setiap hari ia menyaksikan kenyataan-kenyataan akan adanya pertentangan dan perlawanan antara isi ujar-ujar dari sikap serta perbuatan manusia. Biarpun ucapan ini keluar dari mulut seorang kanak-kanak yang mungkin bukan menjadi hasil pemikiran mendalam, namun membuat kita termenung.

Memang sebenarnyalah, apa gunanya semua itu kalau kita melihat betapa semua pelajaran kebatinan dihafal orang sedunia semenjak kebudayaan berkembang? Ribuan tahun orang mengikuti dan menghafalnya, berlumba keras dan bagus ketika menyanyikan ujar-ujar kuno itu. Semua orang hafal akan ujar-ujar yang berbunyi bahwa “Di empat penjuru lautan, semua manusia adalah saudara,” akan tetapi apa gunanya ujar-ujar yang hanya menjadi kata-kata hampa ini kalau sehari-hari tampak kenyataan hidup yang berlawanan? Dalam kenyataannya, yang dianggap “saudara” hanyalah orang-orang yang menguntungkan kita, yang segolongan dengan kita, sealiran kepercayaan, seperkumpulan, sesuku, sebangsa dengan kita! Apa artinya menghafal ujar-ujar itu kalau kita melihat bahwa si pembesar dijilat, si hartawan dihormat, si pandai dipuji, sedangkan si kecil ditekan, si miskin dihina dan si bodoh dimaki?

Makin banyaknya tentang pelajaran tentang kebaikan dan contoh-contoh manusia budiman, makin banyaklah timbul orang-orang munafik yang ingin disebut baik, ingin dirinya dianggap seperti manusia budiman. Kita selalu melupakan bahwa kebaikan bukanlah sesuatu yang dapat dipelajari! Melakukan kebaikan untuk mentaati pelajaran adalah kelakuan yang palsu, dipaksakan, dan berpamrih (mengandung keinginan tertentu demi diri pribadi), karenanya munafik! Kebaikan harus, keluar dari dalam hati, tanpa paksaan, tanpa kekhawatiran, tanpa keinginan di baliknya, tanpa pamrih, bahkan tanpi disadari bahwa kita berbuat baik! Dapatkah rasa kasihan dipelajari dan dilatih? Dapatkah kita mempelajari rasa haru? Dapatkah orang belajar mencinta? Kalau dipelajari maka palsulah itu!

Kalau kita berbuat kebaikan agar dipuji, baikkah itu? Kalau kita berbuat kebaikan agar dibalas dengan bunganya, baikkah itu? Kalau kita berbuat kebaikan agar jangan dihukum, baikkah itu? Yang dua pertama dasarnya menginginkan sesuatu, yang terakhir dasarnya takut. Ketiganya palsu! Segala sesuatu, termasuk perbuatan, haruslah wajar dan aseli.

Yang aseli dan wajar itu selalu benar dan indah. Kalau diperkosa, dirubah dengan paksa, maka akan timbul kepalsuan, pertentangan dan keburukan. Menginsyafi, dan menyadari akan keburukan diri sendiri berarti merintis jalan ke arah lenyapnya keburukan itu, dan hanya dengan tidak adanya keburukan maka keindahan tercipta. Perbuatan buruk timbul dari rasa sayang diri. Mengusahakan agar dirinya baik dengan jalan pengekangan, tapa brata, menyiksa diri, dan lain sebagainya takkan membawa hasil, karena usaha ini pun merupakan kembang dari rasa sayang diri, jadi tiada bedanya dengan keburukan. Di mana-mana ada keburukan, di sana kebenaran, kebaikan atau keindahan takkan muncul. Yang terpenting adalah rnengenal diri pribadi, mengenal sifat-sifatnya, keburukan-keburukannya, cacat-cacatnya, menginsyafi, menyadari dengan kesungguhan bukan pura-pura, dan keburukan akan tiada! Kalau keburukan tiada, dengan sendirinya yang ada hanyalah kebenaran, dan keindahan.

Kun Liong bersungut-sungut. Sudah dua hari ayah bundanya sibuk mempersiapkan obat untuk perwira yang terluka. Kenapa ayah ibunya demikian sibuk mengurus tiga orang perwira sehingga tidak mempedulikannya, bahkan beberapa kali menolak undangan orang-orang untuk memeriksa keluarga yang sakit?

“Ayah dan lbu pilih kasih! Apakah karena yang memerintahkan Ma-taijin, seorang pembesar? Karena itu, undangan orang-orang kampung tidak dihiraukan? Apakah ayah dan ibu sudah menjadi orang-orang mata duitan? Ihhh… bodoh kau!” Ia menampar dahi sendiri, merasa betapa tidak baik jalan pikirannya terhadap ayah bundanya.

Seekor anjing berbulu putih memasuki kamarnya. Wajah Kun Liong yang tadinya muram itu berseri. Anjing itu bagus sekali, tubuhnya kecil seperti kucing, bulunya tebal putih seperti kapas, ekornya pendek dan ujungnya mekar, sepasang matanya kuning bergerak-gerak dan mulutnya yang kecil mengeluarkan salak lucu.

“Pek-pek (Si Putih) ke sinilah…!”

Akan tetapi anjing kecil itu seperti menggodanya, mendekat akan tetapi kalau hendak ditangkap, meloncat dan lari menjauh. Beberapa kali Kun Liong berusaha menangkapnya, akan tetapi anjing itu gesit sekali dan selalu dapat mengelak dengan loncatan-loncatan lucu, melarikan diri ke kolong meja, bangku dan ranjang membuat Kun Liong payah mengejarnya dan kehabisan akal. Kalau anjing yang bertubuh kecil itu menyusup-nyusup ke bawah kolong, mana bisa dia mengejar dan menangkapnya?

“Pek-pek, lihat ini kuberi roti!”

Anjing itu mendengus-dengus, menggerak-gerakkan ekornya yang pendek dan segera menghampiri Kun Liong, menerima sepotong roti kering itu dengan mulutnya, lalu memakannya dengan ekor bergoyang tidak lari lagi ketika Kun Liong merangkulnya.

“Kau memang nakal! Kalau tidak diberi hadiah tidak mau dekat!” Kun Liong berkata, lalu membelitkan kain tilam mejanya ke pinggang anjingi itu. “Nah, pergilah dan larilah sekarang kalau bisa!” Dia memegangi ujung kain dan tentu saja anjing kecil itu tidak bisa lari lagi. Akan tetapi dia pun agaknya sudah tidak ingin lari lagi setelah diberi roti, mengeluarkan bunyi ngak-nguk minta lagi karena sepotong tadi sudah habis.

Karena merasa kesepian dan bosan, timbul kenakalan Kun Liong untuk mempermainkan anjing peliharaan keluarga itu. Sisa rotinya dia berikan semua kepada Si Putih dan dia lalu mengambil kaleng-kaleng kosong dan sebuah kelenengan diikatkan pada ekor dan leher anjingnya.

Setelah anjing itu menghabiskan semua sisa roti, Kun Liong mengajaknya bermain-main. Dia lari ke sana-sini sambil memanggil-manggil. Anjing itu mengeiarnya dan tentu saja kaleng-kaleng kosong dan kelenengan yang bergantungan di eker dan lehernya mengeluarkan bunyi gaduh. Kun Liong tertawa dan anjing itu menjadi bingung dan ketakutan. Agaknya dia mengira bahwa ada sesuatu mengejarnya dari belakang, sesuatu yang menakutkan karena mengeluarkan suara gaduh. Beberapa kali dia menoleh dan berusaha menggigit ekornya yang diganduli kaleng-kaleng kosong, akan tetapi gerakannya membuat kaleng-kaleng itu terseret dan mengeluarkan suara sehingga anjing itu terkejut dan melompat ke depan. Tentu saja setiap lompatannya membuat kaleng-kaleng itu terbanting dan makin gaduh suaranya. Dengan ketakutan anjing itu meloncat dan berlari, keluar dari kamar Kun Liong diikuti suara ketawa anak itu yang segera mengejar.

Makin kencang lari anjing itu, makin keras pula suara kelenengan dan kaleng-kaleng yang ikut terseret itu, dan makin takutlah binatang itu yang mengeluarkan suara ngak-nguk dan berlari menabrak sana-sini. Mula-mula Kun Liong merasa gembira sekali, mengejar sambil tertawa-tawa, akan tetapi ketika dia melihat anjing itu memasuki kamar obat di ruangan belakang, dia terkejut.

“Heiii! Pek-pek… tidak boleh ke situ…! Hayo keluar kau…!” Dia mengejar ke dalam kamar yang pintunya terbuka, siap menerima omelan ayahnya yang tentu akan marah-marah. Akan tetapi kamar itu kosong, agaknya ayah bundanya sedang beristirahat di ruangan depan setelah dua hari sibuk di dalam kamar obat itu.

“Pek-pek… mari sini…!!”

“Pranggg… prakk…!” Anjing itu meloncat ke atas meja, menabrak dua buah guci yang terletak di atas meja sehingga dua buah guci itu jatuh dan pecah, isinya tumpah.

“Aduh, celaka…!” Kun Liong berseru dengan mata terbelalak dan muka berubah pucat.

“Haiii, suara apa itu…?”

Mendenear seruan suara ayahnya, Kun Liong cepat menyelinap dan bersembunyi di belakang gulungan tirai. Yap Cong San berlari masuk dari kamar yang menembus ruangan tengah.

“Wah… sungguh celaka… obatnya tumpah semua…!” Pendekar itu cepat mengambil dua buah guci dan dengan hati-hati dan menampung isinya yang tinggal sedikit. Sedangkan Pek-pek sudah keluar dari kamar itu melalui jendela. Setelah menaruh obat yang tinggal sedikit itu ke dalam guci lain, Cong San lalu menjenguk ke luar jendela.

“Hemmm… Pek-cu yang menumpahkannya. Dia ketakutan diganduli kaleng kosong dan kelenengan. Haiii… Kun Liong…” Dia memanggil dan meloncat keluar dari jendela untuk menangkap Pek-pek.

Kun Liong menggigil. Tak mungkin dia menyangkal lagi. Tentu ayahnya mengerti siapa yang menjadi biang keladi tumpahnya obat itu dan tentu sekali ini ayahnya tidak hanya mengomel saja, melainkan telapak tangan ayahnya akan ikut pula beraksi. Entah telinganya atau pantatnya, yang jelas dia akan menjadi korban hukuman, bahkan sekali ini ibunya pun akan marah kepadanya! Ngeri menghadapi semua itu, terutama sekali menghadapi kemarahan ibunya yang tentu akan menyakitkan hatinya, Kun Liong berindap-indap keluar dari kamar obat, melalui pintu samping dan melarikan diri keluar dari rumah, terus berlari ke luar kota dan memasuki hutan!

***

Selama dua hari dua malam Kun Liong melarikan diri, hanya berhenti kalau sudah tidak kuat lagi kakinya berlari. Dia melarikan diri dengan tergesa-gesa, dibayangi rasa takut kalau-kalau ayahnya melakukan pengejaran. Karena sekali ini dia melakukan perjalanan dibayangi rasa takut, maka jauh bedanya dengan perjalanannya masuk keluar hutan di waktu dia pergi mencari bambu kuning dahulu. Kini dia tidak lagi dapat menikmati segala keindahan yang terbentang di hadapannya. Perutnya hanya diisi kalau sudah tak dapat menahan lapar, diisi apa saja yang dapat ditemukan dalam hutan. Buah-buah, daun-daun muda, akar-akaran dan kadang-kadang kalau dia berhasil menangkap kelinci dengan sambitan batu, dapat juga dia makan daging kelinci.

Untung baginya bahwa pada waktu itu pemerintah dikendalikan oleh tangan Kaisar Yung Lo yang amat keras. Kaisar ini berusaha memperbaiki keadaan negara dan rakyat, dengan memberantas kejahatan, membasmi perampok-perampok sehingga pada waktu itu tidak ada perampok yang berani muncul. Kalau tidak demikian keadaannya, sudah pasti sebelum lewat sehari menjelajahi hutan-hutan itu, Kun Liong akan bertemu dengan perampok.

Harus diakui bahwa Kaisar Yung Lo yang berhasil merebut kedudukan Kaisar dari tangan keponakannya sendiri, yaitu Kaisar Hui Ti, telah melakukan banyak usaha keras untuk mendatangkan kemakmuran bagi rakyatnya. Pertama-tama, untuk menghindarkan pemerintah yang dipimpinnya dari pengaruh para pembesar korup sebagai sisa kaki tangan pemerintah yang lalu, ibu kota yang tadinya berada di Nan-king dipindahkannya ke Peking. Di kota itu oleh Kaisar Yung Lo didirikan bangunan-bangunan yang luar biasa besar dan indahnya, yang gilang-gemilang sehingga menurut sejarah tidak ada taranya di jaman itu.

Selain pembangunan yang mengandung seni bangunan megah itu dia pun menyuruh susun, perbaiki dan perkuat bangunan Tembok Besar di sebelah utara. Tembok besar ini dimulai pembangunannya dalam abad ke dua sebelum tarikh Masehi oleh Kaisar Chin She dari Kerajaan Cin yang kemudian mengalami perbaikan-perbaikan selama sejarah berkembang. Maksud pertama dari pembangunan Tembok Besar ini adalah untuk mencegah serbuan-serbuan bangsa asing dari utara yang sejak dahulu merupakan ancaman.

Selain memerintah untuk memperbaiki dan memperkuat Tembok Besar, yang panjangnya lebih dari tiga ribu lima ratus kilometer itu, juga Kaisar Yung Lo melanjutkan pekerjaan besar membuat Terusan Besar yang dimulai penggaliannya oleh para kaisar Mongol di jaman Kerajaan Goan-tiauw yang lalu. Terusan ini menghubungkan Sungai Yang-ce dan Sungai Huang-ho, terus ke utara sampai dekat kota raja Peking. Tentu saja untuk pembangunan-pembangunan hebat itu dibutuhkan banyak sekali biaya-biaya dan tenaga manusia, namun dengan kekerasan, pekerjaan raksasa itu dapat juga diteruskan.

Bukan pembangunan-pembangunan saja yang diusahakan kemajuannya oleh Kaisar Yung Lo, akan tetapi juga perdagangan dengan luar negeri. Untuk keperluan ini, perlu dicari hubungan dengan negara-negara baru di luar lautan dan dia memerintahkan kepada seorang laksamana yang amat terkenal sakti dan pandai, yaitu The Hoo. Pada tahun 1405 mulailah The Hoo dengan pelayarannya yang terkenal, dengan armada yang kuat dan didampingi pembantu-pembantu yang sakti Ma Huan, tokoh Islam yang amat pandai dan sakti, Tio Hok Gwan, pengawal pribadinya yang lihai bukan main, dan masih banyak lagi jago-jago silat yang ahli. Armada ini menjelajah sampai ke Indocina, Sumatera, Jawa, India, Sailan dan sampai ke pantai Arab!

Tentu saja tidak semua usaha Kaisar ini berhasil, bahkan usahanya memperkembangkan kebudayaan dan kesusastraan menimbulkan banyak kesempatan untuk korupsi.

Akan tetapi harus diakui bahwa banyak pula hasilnya, di antaranya Tembok Besar dan juga Terusan Besar yang selesai dalam waktu sepuluh tahun, dan bangunan-bangunan lain di samping hubungan dengan negara-negara asing baru di sebelah selatan.

Keamanan perjalanan Kun Liong melalui hutan-hutan pun merupakan hasil dari usaha pemerintah menekan kejahatan. Apakah lenyapnya para perampok dan maling itu benar-benar dapat dianggap sebagai hasil baik? Sukar untuk dikatakan dengan pasti, karena lenyapnya kejahatan-kejahatan kasar itu terganti korupsi yang merajalela di kota. Apakah bedanya itu? Hanya cara yang kasar diganti oleh cara yang halus! Semua perbuatan itu, baik yang kasar maupun yang halus, terdorong oleh rasa takut. Takut kehilangan sesuatu yang menyenangkan, dan takut akan mendapatkan sesuatu yang tidak menyenangkan.

Pada hari ke tiga Kun Liong keluar dari hutan terakhir, menuruni lembah gunung dan tiba di luar sebuah dusun. Perutnya terasa lapar sekali dan timbul harapannya di dalam dusun itu. Akan tetapi ketika melihat dua orang anak laki-laki pengemis berkelahi memperebutkan sepotong roti kering yang kotor, Kun Liong berhenti dan cepat melerai.

“Eh, eh, kenapa berkelahi hanya untuk sepotong roti kering yang kotor?” Dia mencela.

Dua orang anak laki-laki berpakaian kotor dan lapuk itu berhenti berkelahi ketika tiba-tiba roti itu sudah terampas oteh Kun Liong. Mereka itu sebaya dengan Kun Liong, pakaian dan sepatu mereka sudah koyak-koyak. Yang seorang berkepala gundul sedangkan yang ke dua amat kurus dan pucat. Kini keduanya menghadapi Kun Liong dengan mata melotot marah.

“Kembalikan rotiku!” Si Gundul berteriak.

“Tidak, itu rotiku, hasilku mengemis di dusun, dia mau merampasnya!” teriak Si Kurus.

“Dia mendapatkan dua potong, sudah makan sepotong, sepantasnya yang sepotong itu diberikan kepadaku!” Si Gundul membantah.

“Perutku masih lapar!”

Kun Liong memandang roti di tangannya. Hanya roti kering yang sudah tengik sebesar kepalan tangannya dan sudah kotor pula. Roti begini diperebutkan. Tadinya ia ingitn membuang roti itu, akan tetapi mendengar keluhan mereka bahwa mereka lapar sekali dan sejak kemarin belum makan dia merasa kasihan sekali.

“Dia mau merampas sendiri rotinya!” Si Kurus berseru.

“Kurang ajar. Hayo pukul anak ini!” teriak Si Gundul dan mereka berdua yang tadinya berkelahi memperebutkan roti kering, kini maju mengerojok Kun Liong dengan nekat!

Kun Liong adalah anak suami isteri pendekar, sejak kecil sudah menerima gemblengan ilmu silat, maka dengan mudah dia mengelak dan dua kali kakinya bergerak, membabat kaki mereka dan robohkan dua orang anak itu. Mereka mengaduh, akan tetapi bangkit lagi dan makin marah.

“Sabarlah, siapa yang ingin merampas roti tengik ini? Aku hanya melerai, dan agar kalian berdua tidak berkelani. Roti sekecil ini tidak akan mengenyangkan

perut, perlu apa diributkan dan dijadikan sebab perkelahian antara teman sendiri? Nah, kubagi dua. Makanlah dan tak perlu berkelahi!” Kun Liong membagi roti menjadi dua potong dan memberikan kepada mereka, seorang sepotong. Mereka memandang dengan mata terbuka lebar, akan tetapi menerima potongan roti itu dan memakannya dengan lahap. Tentu saja sekali telan sepotong kecil roti itu lenyap ke dalam perutnya yang kosong.

“Kau siapa?” tanya Si Gundul dengan mulut bergerak-gerak, agaknya masih terasa sedapnya roti tadi dan masih ingin lagi.

“Kau tentu bukan anak sini, dan bukan jembel,” kata Si Kurus, memandang Kun Liong dengan sepasang matanya yang lebar. Anak ini begitu kurusnya sehingga matanya kelihatan besar sekali.

“Aku seorang pelancong,” kata Kun Liong yang enggan memperkenalkan diri karena kalau dia memperkenalkan namanya, tentu akan mudah bagi ayahnya untuk mencarinya. “Akan tetapi aku pun lapar sekali, mungkin lebih lapar daripada kalian.”

Dua orang anak yang tadi berkelahi itu saling pandang. “Kalau begitu, kenapa kau tidak makan roti tadi? Engkau sudah dapat merampasnya dari kami.”

“Uhhh, siapa sudi makan roti rampasan? Lebih baik mati kelaparan!” Kun Liong berkata cepat. Akan tetapi dua orang anak itu tentu saja tidak pernah mendengar tentang kebijaksanaan seperti itu.

“Bodoh sekali! Kenapa lebih baik mati kelaparan?” Si Kurus bertanya.

“Perut lapar sungguh amat menyiksa, seperti sekarang ini,” Si Gundul juga berkata sebagai tanggapan yang menentang pendapat Kun Liong tadi.

“Kalau yang dirampas itu kelebihan makanan, masih tidak mengapa. Akan tetapi merampas roti dari orang yang kelaparan juga, benar-benar amat rendah dan hina! Di antara teman senasib seharusnya tolong-menolong, kalau mendapat rejeki seharusnya saling memberi dan membagi.”

Kembali dua orang anak itu saling pandang, agaknya mereka dapat membenarkan pendapat ini dan keduanya mengangguk-angguk.

“Lapar benarkan engkau?” Si Kurus bertanya, memandang Kun Liong dengan iba karena dia sudah terlalu sering merasakan betapa perih dan nyerinya perut kalau lapar.

“Tentu saja aku lapar, sejak kemarin hanya mendapatkan daun-daun muda di dalam hutan itu, sedikit pun tidak ada buahnya, dan seekor pun tidak ku melihat binatang di dalam hutan itu. Sialan benar!”

“Kalau begitu, mari kita mengemis makanan di dusun. Agaknya engkau tidak biasa kelaparan, bisa jatuh sakit. Kalau perut kami sudah kebal…” kata si Gundul.

Kun Liong mengangkat hidungnya dan meruncingkan mulutnya. “Uhhh, tidak sudi aku mengemis! Mengemis tanda malas!”

“Malas…?” Hampir berbareng dua orang anak itu bertanya.

“Ya, malas. Dan kalian ini malas sekali. Untuk mengisi perut, harus dicari, bukan cukup dengan minta-minta saja.”

“Bagaimana mencarinya?” Mereka bertanya lagi.

“Bodohnya! Mencari, bekerja membantu orang lain dengan upah pembeli nasi.”

“Kalau tidak ada yang suka mempekerjakan kami?”

“Mencari sendiri, mengumpulkan kayu kering untuk dijual, menangkap binatang hutan. Eh, benar-benar kalian bodoh.”

“Bagaimana caranya menangkap binatang hutan? Mengejar seekor kelinci pun amat sukar dan tak mungkin bisa ditangkap.” Kata Si Kurus.

Wajah Kun Liong bersinar mendengar kata-kata “kelinci”. “Di mana ada kelinci? Tahukah kalian daerah yang banyak binatangnya? Hayo kuperlihatkan kalian bagaimana menangkapnya dan kita makan daging kelinci panggang! Atau kijang, atau apa saja yang ada.”

“Binatang di hutan-hutan sudah habis diburu orang-orang dewasa. Yang kulihat hanya tinggal ular-ular saja di hutan sebelah timur itu,” kata Si Gundul.

“Ular? Daging ular pun enak sekali!” kata Kun Liong gembira.

“Hah?” Kedua orang anak itu terbelalak, akan tetapi Kun Liong sudah menyambar tangan mereka, diajak lari sambil berkata, “Hayo tunjukkan aku di mana ada ular!”

Tiga orang anak laki-laki itu berlarian memasuki sebuah hutan yang pohonnya jarang. Tak lama kemudian mereka melihat seekor ular yang kulitnya berwarna hijau, membelit dahan pohon yang rendah. Melihat ular ini, Kun Liong menjadi girang sekali.

“Wah ular itu beracun dan dagingnya enak sekali, hangat di perut dan rasanya gurih manis kalau dipanggang!”

Dua orang temannya terbelalak dan tidak berani maju mendekat ketika mendengar bahwa ular itu beracun. Kun Liong mangambil sebatang ranting, memegangnya dengan tangan kiri, menghampiri ular itu dan menggunakan rantingnya untuk mengusirnya. Ular itu mendesis marah, apalagi ketika perutnya disogok-sogok oleh ranting dan tiba-tiba kepalanya bergerak meluncur dan menggigit ranting yang dipegang tangan kiri Kun Liong. Anak ini cepat menggerakkan tangan kanan, menyambar ke arah kepala ular dan menangkap lehernya, mencengkeram dengan cara ahli sehingga ular itu tidak mampu melepaskan diri. Tubuh ular itu berkelojotan menggeliat dan mulai membelit lengan Kun Liong, akan tetapi jari-jari tangan kiri Kun Liong sudah mengetuk tengkuk ular itu beberapa kali dan tiba-tiba ular itu menjadi lemas tak berdaya sama sekali.

“Nah, sudah jinak. Ada yang membawa pisau?”

“Aku mempunyai pisau kecil,” Si Gundul berkata, mengeluarkan sebatang pisau kecil dari saku bajunya yang rombeng.

“Lekas kuliti dia. Aku mau mencari beberapa ekor lagi.”

“Ihhh, aku… aku tidak berani!” Si Gundul berkata.

“Aku takut digigit,” Si Kurus menyambung.

“Bodoh. Dia sudah tidak dapat menggigit lagi. Penggal lehernya di belakang warna hitam itu. Racunnya berkumpul di sana dan dari tempat itu ke bawah tidak ada racunnya. Buka kulitnya bagian perut ke belakang, kemudian tarik ekornya, tentu kulitnya terlepas.”

“Kau saja yang mengulitinya,” kata Si Gundul ragu-ragu.

“Dan kau yang mencari ular lain?”

“Aih, siapa berani? Seekor ini pun cukuplah, untuk kau sendiri.”

“Dalam keadaan kelaparan seperti ini, tiga ekor pun akan habis olehku sendiri, belum untuk kalian berdua!” kata Kun Liong. “Lekas kerjakan, aku akan pergi mencari lagi.” Dia lalu pergi memasuki semak-semak belukar, meninggalkan dua orang anak jembel yang masih saling pandang itu.

Ketika Kun Liong kembali ke tempat itu dan membawa empat ekor ular lagi, ada yang hijau seperti ular pertama, ada yang hitam, ada yang belang dan kemerahan, kesemuanya masih, hidup akan tetapi sudah lemas seperti ular pertama. Dua orang anak itu terbelalak keheranan dan juga penuh kagum. Mereka sendiri dengan penuh rasa takut memaksakan diri dan akhirnya setelah dengan susah payah berhasil. juga menguliti ular pertama. Melihat betapa daging ular banyak yang terpotong, Kun Lion menjadi tidak sabar, minta pisau itu dan menguliti ular-ular itu dengan cepat dan mudah. Mula-mula dipenggalkan leher ular, kemudian kulit di bagian leher dibuka sedikit, dengan pisau dia menusuk daging setelah menyingkap kulitnya bagian leher, terus menancapkan ujung pisau pada batang pohon sehigga tubuh ular tergantung. Setelah itu, dia “melepaskan” kulit ular itu dari tubuh ular, seperti orang melepas kaos kaki dari kakinya saja!

Sibuklah dua orang anak jembel itu membuat api dengan batu api. Biarpun mereka tadi merasa jijik melihat ular-ular itu, setelah dikuliti dan tampak dagingnya yang putih bersih, melihat pula cara Kun Liong menguliti ular demikian mudah dan biasa, timbul keinginan tahu mereka untuk mencicipi daging ular panggang.

Setelah daging ular masak dan dua orang anak itu mencoba mencicipinya, mereka tercengang dan menjadi girang sekali, menyerbu daging ular dengan lahapnya, terutama sekali Si Gundul.

“Wah, benar gurih dan manis!” serunya girang.

“Lezat sekali, belum pernah aku makan daging seenak ini!” kata Si Kurus.

Diam-diam hati Kun Liong merasa terharu menyaksikan dua orang anak itu. Semuda dan sekecil itu sudah harus mengalami hidup kelaparan dan menderita sengsara!

“Mengapa kalian menjadi pengemis? Orang tua kalian di mana?”

“Orang tua kami sudah mati semua, menjadi korban ketika terjadi perang, ketika pemerintah melakukan pembersihan dan membasmi penjahat-penjahat,” jawab Si Kurus.

“Eh, apakah orang tua kalian penjahat?”

Si Gundul menggeleng kepalanya. “Sama sekali bukan. Aku dan dia tetangga di sebuah dusun di seberang, di balik gunung itu. Ketika terjadi perang antara gerombolan perampok melawan pemerintah, kami menjadi korban. Tidak membantu perampok dan menyembunyikan mereka, kami dibunuh perampok. Membantu perampok kami dibunuh tentara pemerintah. Orang tua kami dicurigai karena ada perampok yang bersembunyi di rumah kami, maka mereka dibunuh semua. Kami yang masih kecil tidak dibunuhnya, dibiarkan hidup.”

Hemm, dibiarkan hidup untuk menjadi pengemis yang terlantar, pikir Kun Liong dan hatinya yang pada dasarnya memang tidak suka akan kekerasan itu kini makin membenci perang dan pertempuran!

“Mari, kalian kuajari cara menangkap ular agar kalian dapat mencari penghasilan. Ular-ular berbisa itu kalau kalian bawa ke kota dalam keadaan hidup dan menjualnya kepada rumah makan, tentu akan menghasilkan uang lumayan. Juga rumah-rumah obat membutuhkan racunnya untuk obat.”

Dua orang anak itu girang sekali. Sehari itu Kun Liong menghabiskan waktunya di dalam hutan yang banyak ularnya untuk mengajari dua orang teman barunya cara menangkap ular. Karena kedua orang anak itu belum cekatan dan masih kurang berani, maka dia mengajarinya untuk pertama-tama sebelum mereka tangkas menggunakan tangan, menangkap ular dengan kayu yang ujungnya bercabang, menjepit leher ular dengan kayu bercabang itu. Dia memberi tahu akan obat daun-daun dan akar-akar yang harus diminum airnya dan digosok-gosokkan kepada kedua lengan agar dapat kebal terhadap gigitan ular berbisa yang biasa.

Akhirnya, dengan bantuan kayu yang ujungnya bercabang, kedua orang anak itu berhasil juga menangkap masing-masing seekor ular hijau, dan atas petunjuk Kun Liong mereka berhasil pyla “melumpuhkan” ular dengan menekan dan mengetuk tengkuk ular itu. Bukan main senangnya hati mereka. Mereka tidak takut kelaparan lagi, biarpun kalau terpaksa setiap hari makan daging ular!

“Kalau makan daging ular terus-menerus kalian bisa celaka, bisa sakit.” kata Kun Liong. “Daging ular mengandung obat dan panas, boleh dimakan sekali waktu, bukan menjadi makanan utama seperti ayam hutan saja?”

“Mengapa ayam hutan?”

“Ayam hutan paling suka makan ular dan kelabang!” jawah Kun Liong.

“Malam ini kau tidur di mana?” tanya Si Gundul sambil mempermainkan ularnya yang sudah lumpuh.

“Entah, apakah bisa bermalam di rumahmu?”

“Wah, dia mana punya rumah!” kata Si Kurus. “Orang-orang seperti kami ini, boleh tidur di emper orang saja sudah untung, kadang-kadang diusir dan ditendang bersama makian.”

“Eh, kita nonton saja, ayoh! Di dusun ada keramaian, ada pesta. Siapa tahu kita kebagian rezeki sisa masakan-masakan yang enak!” kata Si Gundul.

“Ihhh! Dasar kau ini tulang jembel!” Kun Liong mencela. “Sudah diajari bekerja menangkap ular masih mengharapkan sisa makanan orang!”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: