Petualang Asmara (Jilid ke-20)

Kun Liong mengerti bahwa menghadapi lima orang datuk kaum sesat itu, apalagi masih ada empat orang kakek lain yang tak dikenalnya, dia takkan dapat menyelamatkan bokor itu, bahkan dirinya sendiri terancam bahaya maut. Namun dia tidak memikirkan hal itu semua karena dia sudah menjadi marah mempertahankan kebenaran mengenai bokor itu dan berkata nyaring, “Cuwi adalah orang-orang pandai yang telah terkenal di dunia, mengapa berpemandangan begitu dangkal?” Dia mengeluarkan bokor dari balik bajunya kerena dia dapat menduga bahwa mereka itu yang amat lihai tentu sudah tahu bahwa bokor berada di tangannya, apalagi kelihatan menjendol di balik bajunya. Dia mengangkat bokor tinggi-tinggi sambil melanjutkan kata-katanya, “Cuwi (Anda Sekalian) mengerti semua bahwa bokor emas ini adalah pusaka milik Panglima Besar The Hoo yang lenyap dicuri orang. Secara kebetulan saja aku menemukan bokor ini, maka sepatutnya kukembalikan kepada yang berhak.”

Melihat bokor emas itu, mata sembilan orang itu melotot dan tangan mereka sudah bergerak hendak merampas. Melihat ini, Kun Liong maklum bahwa agaknya tidak terdapat kerja sama antara mereka! Agaknya mereka itu akan memperebutkan bokor! Maka dia cepat menpangkat tangan kirinya ke atas dan berseru, “Tahan! Kwi-eng Niocu, engkau telah menyuruh orang-orangmu mengambil dua buah pusaka Siauw-lim-pai, mengapa masih menghendaki bokor? Maukah kau menukar dua pusaka itu dengan ini?”

“Berikan bokor dan akan kukembalikan pusaka Slauw-lim-pai!” jawab wanita itu.

“Dan bagaimana engkau akan mengembalikan nyawa Thian Le Hwesio?”

“Bukan kami yang membunuhnya!”

“Niocu, mengapa melayani dia mengobrol? Bocah gundul, berikan bokor itu!” Hek-bin Thian-sin sudah menyambar ke depan untuk merampas bokor dari tangan Kun Liong. Akan tetapi pemuda ini cepat mengelak dengan loncatan ke kiri. Serbuan Si Muka Hitam itu agaknya merupakan komando karena serentak mereka semua bergerak menubruk!

“Kwi-eng Niocu, terimalah…!” Kun Liong berseru dan melemparkan bokor itu kepada Ketua Kwi-eng-pang. Tentu saja Kwi-eng Niocu menjadi girang dan cepat menerima bokor itu dan melesat dengan gerakan cepat pergi dari situ.

“Eh-eh, perlahan dulu, Kwi-eng Nioeu!” empat orang datuk lainnya juga meloncat dan mengejar!

Empat orang kakek lainnya agaknya merasa ragu-ragu untuk ikut mengejar, maka mereka lalu menubruk Kun Liong sambil berkata, “Engkau ikut dengan kami!”

Kun Liong tadi sengaja melemparkan bokor emas kepada Kwi-eng Niocu bukan tanpa perhitungan yang matang. Dia tahu bahwa andaikata dia mempertahankan bokor itu pun akan percuma saja dan akhirnya bokornya pun tentu akan terampas dari tangannya. Dia tidak tahu di mana tempat tinggal Toat-beng Hoatsu dan Ban-tok Coa-ong, sedangkan Hek-bin Thian-sin telah bersekutu dengan pemberontak dan orang asing. Kalau bokor terjatuh ke tangan seorang di antara tiga orang kakek ini, akan sukar baginya untuk kelak mendapatkan kembali. Akan tetapi satu-satunya orang yang dia ketahui alamatnya di antara mereka, adalah Kwi-eng Niocu, dan juga Siang-tok Mo-li, akan tetapi dia lebih condong untuk menyerahkan bokor kepada Ketua Kwi-eng-pang, karena dia masih mempunyai urusan dengan wanita itu mengenai dua buah pusaka Siauw-lim-pai dan kematian Thian Le Hwesio.

Ketika empat orang kakek yang tak dikenalnya menubruknya, Kun Liong tidak mengelak, akan tetapi diam-diam dia telah mengerahkan Thi-khi-i-beng yang belum lama ini dia pelajari dari Pende-kar Sakti Cia Keng Hong.

“Plak-plak-plak-plak!!” Empat buah tangan mencengkeram pundak dan tangan Kun Liong.

“Auuuuhhh…!”

“Heeiiii…!”

“Aduhhh…!”

“Lepaskan…!”

Empat orang kakek itu terkejut se-tengah mati ketika mereka merasa beta-pa telapak tangan mereka menempel dan melekat pada tubuh pemuda gundul itu dan yang membuat mereka terbelalak meronta-ronta dengan kaget adalah beta-pa hawa sin-kang mereka yang tersalur melalui tangan yang mencengkeram itu kini membanjir ke luar memasuki tubuh pemuda gundul itu.

“Ihhhh… lepaskan… apa yang kalian lakukan? Panaaasss… ihh, panas…!” Kun Liong meronta-ronta. Dia sudah mempelajari Thi-khi-i-beng, sudah me-nguasai ilmu mujijat ini, akan tetapi belum pernah dia mempergunakannya. Biarpun dia telah mendengar penjelasan dan keterangan Cia Keng Hong, namun begitu sekarang mengalami sendiri betapa hawa sin-kang empat orang itu menero-bos memasuki tubuhnya, dia merasa ter-kejut, ngeri, dan juga geli sehingga dia malah berteriak-teriak dan sejenak lupa bagaimana harus berbuat. Melihat keada-an Kun Liong, empat orang itu makin mengerahkan tenaga untuk melepaskan tangan mereka. Celaka bagi mereka, makin kuat mereka mengerahkan tenaga, makin hebat pula hawa sin-kang mereka mengalir keluar memasuki tubuh pemuda itu.

Kun Liong gelagapan. Terasa benar betapa tenaga sin-kang lawan membanjiri tubuhnya, membuat napasnya sesak, kepalanya pening. Dengan ubun-ubun terasa berdenyutan keras, dia mengerahkan ingatan akan pelajaran Thi-khi-i-beng dan terdengarlah kembali olehnya penjelasan Cia Keng Hong. “Thi-khi-i-beng menciptakan daya sedot yang luar biasa dan amat berbahaya kalau hawa sin-kang lawan tersedot olehmu. Banjir hawa sin-kang itu dapat membuat kau menjadi panik. Kalau kau tidak dapat menguasainya, kelebihan hawa sin-kang, yang tiba-tiba memenuhi tubuh itu, kalau menyerang kepala dapat membuat engkau menjadi gila, kalau menerjang jantung dapat membuat jantung pecah. Selain itu, yang tersedot sin-kangnya dapat tewas pula. Maka, yang penting sekali, bersikaplah tenang, gerakkan sin-kang yang membanjir itu ke dalam pusar, kumpulkan di situ dan biarkan berputar-putar di pusar. Akan tetapi jangan lupa untuk lebih dulu membebaskan lawan yang bagian tubuhnya melekat padamu.”

Celaka, pikir Kun Liong! Dia telah lupa akan hal yang terpenting, yaitu melepaskan mereka. Cepat dia lalu menggoyang tubuhnya, seperti seekor anjing menggoyang tubuh untuk mengeringkan bulu-bulunya dan… tubuh empat orang itu terlempar ke kanan kiri dan terbanting ke atas tanah dalam keadaan pingsan, wajah pucat dan napas empas-empis!

Kun Liong terhuyung-huyung ke depan, menghampiri empat orang itu dan matanya terbelalak ngeri. Celaka, jangan-jangan mereka itu mati! Akan tetapi tidak, mereka masih bernapas dan dengan hati penuh penyesalan dan ngeri Kun Liong cepat meninggalkan tempat itu. Ngeri dia kalau sampai orang-orang itu mati, mati di tangannya, mati kehabisan hawa sin-kang. Dia merasa seolah-olah menjadi seekor laba-laba yang telah menyedot kering empat ekor lalat, dihisap semua air dan darahnya! Ia bergidik dan terus berlari terhuyung-huyung. Mukanya sampai ke seluruh kepalanya merah sekali, matanya juga merah, napasnya mendengus-dengus seperti seekor kerbau marah. Dia merasa seolah-olah dada dan pusarnya akan meledak karena penuh dengan hawa sin-kang yang berputar-putar. Dia merasa seolah-olah menjadi sebuah balon karet kepenuhan hawa.

Dengan pandang mata berkunang dan kepala pening Kun Liong berlari terus, menuju ke tempat dari mana dia mendengar suara hiruk-pikuk. Dia tidak sadar bahwa dia telah lari kembali ke arah perkampungan yang dijadikan sarang para pemberontak di tepi Sungai Huang-ho.

Ketika dia tiba di tepi sungai di luar perkampungan itup dia melihat banyak sekali tentara berperang dengan ramai-nya. Dia menjadi heran karena agaknya yang berperang itu kedua pihak adalah tentara pemerintah. Dalam kepeningannya dia sampai lupa bahwa yang memberon-tak juga tentara pemerintah. Dasar kepa-la lagi pening dan bingung. Melihat pe-rang dia malah mendekati untuk menon-ton!

Delapan orang tentara pemerintah mengenal Kun Liong sebagai bekas ta-wanan pemimpin mereka, maka serentak mereka menyerbu dengan tombak dan golok di tangan kanan, perisai di tangan kiri.

Kun Liong berdiri dengan tubuh ber-goyang-goyang seperti orang mabok ke-tika delapan orang perajurit itu menyer-bunya. Melihat banyak senjata ditujukan kepada dirinya, Kun Liong menggerakkan kedua tangannya, menyampok dan me-nangkis. Terdengar suara nyaring berke-rontangan, tombak, golok dan perisai beterbangan disusul tubuh delapan orang itu terlempar ke sana-sini. Ternyata bahwa dalam keadaan penuh dengan hawa sin-kang itu, gerakan kedua lengan Kun Liong mendatangkan hawa sin-kang yang amat kuat sehingga tanpa disadarinya sendiri, tangkisan itu selain membuat semua senjata terlempar dan patah-patah juga delapan orang itu kena hantam hawa sin-kang, terlempar dan roboh ping-san!

Kun Liong terbelalak, makin panik dia melihat hasil kedua tangannya. Dengan hati penuh penyesalan dia lalu menghan-tam sebatang pohon di kirinya.

“Desss…! Braaakkk…!” Pohon yang besarnya tiga kali tubuh orang itu roboh!

Kun Liong melanjutkan gerakannya, menghantam sebuah batu besar di sebe-lah kanannya.

“Desss… krekk!” Batu itu pecah dan dalam kemarahannya terhadap diri sendiri terdorong penyesalan babwa kem-bali dia mencelakai orang dengan pukulannya, pemuda ini terus menghantami pe-cahan batu sehingga batu-batu itu men-jadi hancur berkeping-keping.

Anehnya, kini kepeningannya berkurang dan napasnya menjadi enak kembali. Tahulah dia, bahwa itu adalah karena kelebihan sin-kang liar yang memutari sebelah dalam dada dan pusarnya telah tersalurkan keluar. Akan tetapi masih ada sin-kang yang “kelebihan”, sin-kang liar yang ditampungnya dari empat orang kakek tadi, yang masih berputar-putar di dalam perutnya, mengamuk seperti sege-rombolan setan mencari tempat tinggal.

“Ihhh, bocah setan…!” Terdengar seruan perlahan dari belakangnya.

Kun Liong membalikkan tubuhnya dan melihat ada seorang kakek tinggi kurus menyerangnya dengan tamparan hebat yang ditujukan kepada pundaknya, dia otomatis menggerakkan kedua lengan menangkis.

“Bressss…! Hayaaaa…!” Kakek itu terlempar sampai empat meter dan terbanting lalu bergulingan dan meloncat bangun dengan mulut terbuka lebar dan mata terheran-heran. Sedangkan Kun Liong sendiri terpelanting.

“Kun Liong, pengkhianat engkau!”

Bentakan halus ini membuat Kun Liong terkejut dan dia tidak melawan ketika Li Hwa memasangkan belenggu di kedua tangannya. Kakek tinggi kurus tadi menghampiri dan menggeleng kepala. “Hebat sekali engkau, orang muda… eihhh, bukankah engkau Yap-sicu yang kujumpai di Siauw-lim-si?”

Dengan kedua pergelangan tangan di-belenggu rantai baja kuat, Kun Liong menjura kepada kakek itu. “Harap To-taihiap suka memaafkan saya…”

“Aihhh, aku yang telah menyerangmu, melihat engkau merobohkan delapan orang perajurit kemudian mengamuk, menghantam pohon dan batu. Engkau hebat bukan main, Yap-sicu… akan teta-pi, eh, Nona Souw, mengapa dia dibe-lenggu?”

“Tio-lopek harap jangan mudah dike-labuhi bocah ini! Dialah yang telah mendapatkan bokor emas dan dia pula yang menyembunyikannya.”

“Ahhh…!” Tio Hok Gwan, yang berjuluk Ban-kin-kwi, pengawal kepercayaan The Hoo yang mengantuk itu, kini berdiri dengan penuh keheranan, bersedakap dan memandang Kun Liong dengan matanya yang sipit hampir terpejam.

“Hayo katakan di mana kausembunyikan bokor itu!” Li Hwa kini membentak dan pedang yang telah dicabutnya menodong ulu hati Kun Liong.

Benturan tenaga sakti melawan pengawal she Tio tadi telah membikin normal kembali keadaan Kun Liong. Kini dia berdiri dan memandang dara jelita yang menodongnya dengan sinar mata tajam, alis berkerut dan bibir tersenyum mengejek.

“Aku tidak biasa bicara di bawah todongan pedang. Kalau kau bicara setelah ditodong, sama artinya bahwa aku takut akan pedangmu, Li Hwa. Kalau kau ingin membunuhku, teruskan saja tusukkan pedangmu. Mengapa ragu-ragu?”

Li Hwa merapatkan gigi dengan gemas. “Aku tahu bahwa engkau tentu telah mengambil bokor iti dan menyem-bunyikannya lagi. Engkau manusia palsu dan hatimu kotor, tidak sebersih kepala-mu!”

Panas rasa perut Kun Liong, akan tetapi dia menekan hatinya. “Masa bo-doh, aku baru mau bicara tentang bokor kalau engkau bersikap lebih manis kepa-daku. Kalau tidak, mau bunuh, mau tu-suk, mau bacok, terserah!” Dia lalu membalikkan tubuhnya membelakangi gadis itu!

“Bedebah! Kalau kau tidak mengaku di mana kausimpan bokor itu, kau akan kubunuh!”

“Nona Souw… nanti dulu… Yap-sicu ini…”

“Tio-lopek, harap jangan mencampuri urusan ini. Suhu sendiri yang menyerah-kan tugas ini kepadaku!” Li Hwa berkata agak kaku.

Kakek itu mengangkat pundak. “Kalau begitu… aku akan membantu pasukan membasmi para pemberontak!” Setelah berkata demikian, kakek itu berkelebat pergi ke medan pertempuran yang ber-langsung ramai.

Mereka kini hanya berdua. Li Hwa sudah meloncat ke depan Kun Liong, mengelebatkan pedangnya. “Yap Kun Liong, kau masih keras kepala?”

“Souw Li Hwa, apa yang kaukehen-daki?”

“Katakan di mana kausimpan bokor itu!”

“Simpan dulu pedangmu dan bersikap-lah manis!”

“Tidak sudi!”

“Aku pun tidak sudi memberi kete-rangan.”

“Kau menantang?”

“Kau yang keterlaluan!”

“Kubunuh kau!”

“Terserah!”

Li Hwa dengan gemas menggerak–gerakkan pedangnya. Sinar pedang bergu-lung-gulung menyambar ke sekeliling tubuh Kun Liong. Pemuda ini mendengar suara kain robek berkali-kali, pandang matanya kabur oleh sinar pedang dan tak lama kemudian, ketika pedang berhenti bergerak, masih tampak robekan bajunya beterbangan ke bawah dan tubuh atasnya sudah telanjang sama sekali! Ternyata dara yang amat lihai ilmu pedangnya itu telah “mengupasnya” bulat-bulat. Kagum sekali hati Kun Liong karena gerakan pedang tadi memang luar biasa dan telah berhasil mengupas tubuh atasnya dengan merobek-robek bajunya tanpa mengenai kulit tubuhnya sedikitpun juga!

Akan tetapi dia menyembunyikan rasa kagumnya, bahkan tersenyum lebar dan berkata dengan nada mengejek sekali. “Nah, sudah puaskah, kau? Lihat bentuk tubuhku, baguskah? Li Hwa, setelah eng-kau melibat tubuhku tanpa tertutup baju, aku jadi ingin sekali melihat tubuhmu…”

“Plakkk!” Pipi kanan Kun Liong di-tampar oleh telapak tangan kiri yang halus namun penuh terisi tenaga itu sehingga ada warna merah bekas tangan dara itu di pipi Kun Liong.

“Laki-laki ceriwis!”

“Ha-ha, memang aku ceriwis. Akah tetapi engkau ini entah apa namanya yang sudah menelanjangi aku. Sekali waktu akan kubalas engkau!”

“Apa? Mau membalas tamparanku?”

“Bukan. Membalas karena engkau me-nelanjangiku.”

Sepasang mata yang bening itu terbe-lalak, dagu yang meruncing manis itu dijulurkan ke depan. “Kau… kau… hendak menelanjang… bedebah, manusia kurang ajar kau!” Kembali tangan kiri Li Hwa bergerak, akan tetapi ditahannya dengan alis berkerut dan marah.

“Souw Li Hwa, engkau menelanjangiku dengan perbuatan, aku hanya dengan kata-kata dan engkau sudah mengatakan kurang ajar. Engkau sungguh terlalu dan tidak adil!”

Sejenak Li Hwa memandang pemuda itu dengan hati tidak karuan rasanya. Selama hidupnya belum pernah dia berte-mu dengan orang seperti pemuda gundul ini yang begini berani, kurang ajar, akan tetapi juga tak dapat disangkal kebenaran ucapannya. Teringat akan bokor emas dan bahwa pemuda ini murid Bun Hoat Tosu, dia bersabar kembali dan bertanya, “Kun Liong, jangan engkau main-main. Aku sungguh tidak mengerti sikapmu. Engkau ini kawan ataukah lawan, engkau membela pemerintah ataukah memihak pemberontak. Sesungguhnya, di manakah adanya bokor itu?”

Kun Liong menarik napas panjang. “Nah, kalau begitu lebih baik. Kalau si-kapmu ramah dan halus, pada wajahmu terbayang kecantikan aseli dan engkau bertambah manis. Sungguh, Li Hwa. Se-orang dara jelita seperti engkau ini tidak patut kalau mudah marah dan bersikap kejam. Aku akan memberi penjelasan, akan tetapi sebelumnya aku minta supaya diberi sebuah baju lebih dulu. Aku tidak mau bicara denganmu dalam keadaan setengah telanjang begini!”

Li Hwa merapatkan giginya, akan tetapi dia kehabisan akal, tidak mau marah lagi karena memang kalau dipikir, dia telah bertindak keterlaluan dengan menghancurkan semua baju dari tubuh atas pemuda itu. Dengan nyaring dia lalu memanggil seorang perwira dan meme-rintahkan perwira ini mengambilkan sepo-tong baju untuk “tawanan” ini. Perwira itu memandang Kun Liong, tersenyum lalu mengambil sepotong baju, menyerah-kannya kepada Kun Liong, kemudian pergi lagi untuk melanjutkan pertempuran yang masih terjadi di luar perkampungan.

“Li Hwa, kaulepaskan dulu belenggu ini. Tanpa dilepaskan, bagaimana aku dapat memakai baju ini?”

Karena apa yang diucapkan pemuda itu memang benar, biarpun hatinya ge-mas bukan main, Li Hwa terpaksa mem-buka belenggu dengan kunci belenggu, akan tetapi begitu belenggu terputus, tampak sinar berkilat dan pedangnya sudah menodong lagi ke lambung pemuda itu.

Kun Liong melirik pedang, meman-dang wajah dara itu dan tersenyum le-bar, menggerakkan kedua pundak dan mengenakan pakaian itu seenaknya seper-ti mengulur waktu.

“Hayo, cepat!” Li Hwa menghardik.

Setelah Kun Liong selesai mengenakan baju, kembali belenggu itu dipasangkan kepada kedua pergelangan tangannya. Kun Liong tidak membantah, bahkan memandang dengan tersenyum, seolah-olah menghadapi seorang anak yang bengal.

“Nah, sekarang katakan di mana bo-kor itu.”

“Kalau sudah kukatakan, kau akan membebaskan aku?”

“Enak saja! Kalau aku sudah menda-patkan bokor itu, baru kau akan kubebas-kan.”

“Wah-wah, kalau begitu akan lama kita berkumpul. Hemm, aku senang ber-kumpul dengan seorang dara yang cantik menyenangkan seperti engkau, Li Hwa, heh-heh…”

“Lekas katakan di mana!” Li Hwa menghardik lagi dan kembali pedangnya sudah dicabut.

“Aduhh, galak benar, kau. Bokor itu telah terampas oleh Ketua dari Kwi–eng-pang…”

“Apa? Kwi-eng Niocu?”

“Benar. Tadi ada lima orang datuk kaum sesat, lengkap dan ditambah empat orang kakek yang tak kukenal, mengu-rungku dan karena aku merasa tidak sanggup menghadapi mereka, terpaksa aku tidak dapat mempertahankan bokor itu dan terampas oleh Kwi-eng Niocu. Dan memang sengaja kulemparkan kepa-danya.”

“Kausengaja?” Mata yang indah itu terbelalak, penuh keheranan dan kema-rahan.

“Mengapa kau berikan dia?”

“Karena aku menggunakan ini!” De-ngan kedua tangannya yang dibelenggu, Kun Liong mengusap kepalanya.

“Hemm, gundul seperti itu mana ada otaknya!” Li Hwa mengomel. “Hayo kata-kan, kenapa kau berikan wanita iblis itu?”

“Karena di antara lima orang datuk kaum sesat itu, hanya dialah yang sudah kuketahui dengan betul sarangnya, dan selain itu, juga aku masih mempunyai perhitungan dengan dia yang telah men-curi dua buah benda pusaka Siauw-lim–pai. Karena itu, biar sementara kutitip-kan bokor itu kepadanya.”

“Kautitipkan? Tolol! Bodoh sekali! Kalau dia ketahui rahasia bokor, celaka sekali. Aku harus cepat merampasnya kembali. Dasar kau tolol!”

“Memang aku tolol, habis mengapa?”

“Huh!” Li Hwa mendengus, kemudian dia memanggil seorang perwira, meme-rintahkan perwira itu untuk mengumpul-kan sepasukan kecil untuk menjaga Kun Liong.

“Jangan biarkan dia lari, kalau perlu bunuh saja!” dia memerintah.

“Wah, galaknya, Li Hwa, jangan kha-watir, aku tidak akan lari darimu, apa-lagi karena aku belum membalas per-buatanmu tadi.” Kun Liong tertawa ke-tika melihat belasan orang perajurit pe-merintah mengepungnya dan menjaganya dengan senjata terhunus.

Wajah Li Hwa menjadi merah sekali karena dia tahu apa yang dimaksudkan oleh Kun Liong dengan pembalasan itu, maka tanpa bicara lagi dengan pedang terhunus di tangan dia sudah berlari cepat ke arah pertempuran untuk mem-bantu pengawal Tio Hok Gwan bersama pasukannya membasmi pemberontak, dan hal ini tidaklah sukar karena pemberon-tak telah mulai terdesak dan sudah ada yang melarikan diri. Ketika Li Hwa meninggalkan pasukannya yang tadinya me-ngalami kekalahan, di tengah jalan dia bertemu dengan pengawal tua pengantuk yang lihai itu bersama pasukannya, maka dia lalu mendapat bantuan dan bersama–sama pasukannya yang menanti, mereka lalu menyerbu perkampungan pemberon-tak dan sekali ini, karena jumlah pasukan pemerintah lebih besar, mereka berhasil mendesak kaum pemberontak yang diban-tu oleh orang-orang asing itu.

Karena kini jumlah pasukan pemerin-tah lebih banyak, terutama sekali karena amukan Tio Hok Gwan dan Souw Li Hwa perang itu tidak berlangsung ter-lalu lama dan pasukan pemberontak di-pukul hancur, banyak jatuh korban, ba-nyak para pimpinan pemberontak ditawan dan banyak pula yang melarikan diri, termasuk Hendrik. Perkampungan nelayan yang dijadikan sarang pemberontak itu dapat direbut dan Li Hwa segera bersa-ma Tio Hok Gwan mengerahkan pasukan mengadakan pembersihan dan me-ngumpulkan tawanan di sebuah pondok besar dan dijaga ketat.

Setelah perang selesai dan anak buah-nya sibuk mengurus korban, karena pa-kaiannya kotor ternoda darah musuh dan tubuhnya terasa lelah, Li Hwa lalu pergi ke sebuah tempat sunyi yang terlindung oleh tebing-tebing batu dan pepohonan, menanggalkan semua pakaiannya yang kotor dan menaruh pakaian bersih peng-ganti di tepi sungai, kemudian dia terjun ke air sungai yang amat tenang dan cukup jernih di bagian itu.

Sambil merendam di air yang sejuk sedalam pinggang, Li Hwa mencuci se-luruh tubuhnya, merasa segar dan gem-bira. Akan tetapi sambil menggosok-go-sok tubuhnya, dia termenung dan alisnya berkerut ketika dia teringat akan semua yang terjadi selama beberapa hari ini. Terbayang di depan matanya wajah tiga orang pemuda yang amat mengesankan hati-nya dan yang menimbulkan bermacam perasaan. Wajah Hendrik yang telah menawannya, menciumnya dengan paksa, mendatangkan perasaan benci yang besar dan diam-diam mengharapkan agar pemu-da asing yang dibencinya itu tewas dalam perang atau setidaknya berada di antara para tawanan! Wajah ke dua ada-lah wajah Yuan de Gama, pemuda asing yang telah menolongnya dan teringat akan Yuan, kedua pipi Li Hwa menjadi merah, Yuan juga menciumnya, mencium mulutnya dengan amat mesra, akan teta-pi bukan mencium dengan paksa atau sengaja untuk berbuat kurang sopan, melainkan ciuman untuk menghindarkan kecurigaan para penjaga, ciuman untuk menolongnya dan membebaskannya. Dan entah mengapa, teringat akan ini Li Hwa merasa malu sekali, jantungnya berdebar aneh dan ada keinginan mendesak di hatinya, keinginan untuk bertemu lagi dengan Yuan de Gama! Wajah ke tiga adalah wajah pemuda berkepala gundul, Yap Kun Liong, dan wajah ini menimbul-kan kegemasan di hatinya, geram ke-cewa, akan tetapi juga kagum. Belum pernah selama hidupnya dia bertemu dengan dua orang pemuda seperti Yuan de Gama dan Yap Kun Liong.

Kalau teringat akan bokor emas, ha-tinya menjadi makin gemas kepada Kun Liong. Celaka benar pemuda itu. Bokor sudah terdapat, diserahkan kepada Kwi–eng Niocu! Dia ingin sekali mendapatkan bokor emas itu. Dia tahu betapa akan gembiranya hati gurunya, Panglima Besar The Hoo kalau dia dapat menyerahkan bokor itu kepada gurunya. Gurunya me-rupakan orang satu-satunya di dunia ini, pengganti orang tuanya yang telah tiada.

Li Hwa telah menjadi seorang yatim piatu karena ayah bundanya telah me-ninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Ayahnya, Souw Bun Hok, bekas juru mudi suhunya, telah meninggal lebih dahulu tujuh tahun yang lalu. Kemudian ibunya terserang penyakit menular, meninggal dua tahun yang lalu. Karena… dia tidak mempunyai keluarga lain, maka hanya Panglima The Hoo, gurunya itulah yang menjadi pengganti orang tuanya. Bahkan kini dia meninggalkan rumah orang tuanya di Liok-ek-tung, diminta oleh suhunya untuk tinggal di istana panglima itu, sebagai murid, juga seperti anak sendiri karena suhunya tidak mempunyai anak. Tentu saja dia ingin menggembirakan hati gurunya yang sudah dianggap seperti orang tua sendiri itu. Celakanya, semua menjadi gagal karena ketololan Kun Liong!

Memang The Hoo yang tidak mempunyai anak merasa amat suka kepada muridnya ini. Semenjak kecil, Li Hwa yang mempunyai bakat dan tulang baik itu telah diambil murid oleh The Hoo. Biarpun orang sakti ini tidak sempat menurunkan seluruh kepandaiannya yang tinggi dan hanya di waktu dia datang ke rumah juru mudinya saja dia mengajar Li Hwa, namun dara ini telah memiliki ilmu kepandaian hebat sekali, terutama sekali Ilmu Silat Jit-goat-sin-ciang-hoat yang mempergunakan tenaga Im-yang-sin-kang dan yang lebih menakutkan lawannya adalah ilmunya It-ci-san, yaitu ilmu menotok yang lihai. Ketika melihat betapa dara itu ditinggal mati ayah bundanya, The Hoo merasa makin kasihan dan memanggil muridnya untuk tinggal di kota raja, di dalam istananya. Di tempat ini, selain menjadi pengurus rumah tangga gurunya, mengepalai semua pelayan dalam, juga kadang-kadang Li Hwa me-wakili gurunya dalam urusan besar seper-ti menumpas kaum penjahat dan pembe-rontak. Ketika The Hoo menerima lapor-an Pendekar Sakti Cia Keng Hong tentang pemberontakan yang timbul di Ceng-to, dia lalu mengerahkan tenaga para pembantunya, bahkan Li Hwa sen-diri disuruh mengepalai pasukan untuk mengadakan pembersihan di sepanjang Sungai Huang-ho! Tio Hok Gwan penga-wal kepala yang lihai itu pun mengepa-lai pasukan sedangkan pasukan besar yang menyerbu ke Ceng-to selain dipim-pin panglima-panglima perang yang ber-pengalaman, juga dibantu oleh Pendekar Sakti Cia Keng Hong sendiri atas per-mintaan Panglima Besar The Hoo!

Sambil mandi membersihkan tubuhnya, Li Hwa mengenangkan ini semua, dan dia menjadi kecewa karena gagal mendapatkan bokor emas. Dia bermaksud untuk memimpin pasukannya untuk menyerbu ke Telaga Kwi-ouw, menyerang Kwi-eng-pang untuk merampas kembali bokor emas, sedangkan para tawanan pemberontak akan dia serahkan kepada Tio Hok Gwan agar digiring ke kota raja sebagai tawanan perang.

Suara orang berdehem membuat Li Hwa terkejut sekali. Dia menoleh dan… “Ihhh…!” Dara itu menjerit ketika melihat Kun Liong si kepala gundul telah duduk metongkrong di atas sebuah batu di pinggir sungai, dekat tumpukan pakaian Li Hwa!

“Heh-heh-heh, indah dan sedap sekali pemandangan di sini!” Kun Liong berkata ke arah punggung Li Hwa yang putih mulus itu.

“Bedebah! Setan iblis siluman keparat kau, Kun Liong!” Li Hwa menjerit-jerit sambil merendam tubuhnya makin dalam. Dia berjongkok ke dalam air sehingga air sampai ke lehernya, baru dia berani memutar tubuh dan memandang pemuda itu dengan mata terbelalak penuh kemarahan.

Yang dimarahi tersenyum-senyum lebar, menggerak-gerakkan alis dan matanya seperti orang tidak mengerti. “Lho, kenapa marah-marah tidak karuan? Apa salahku sekali ini, Nona manis?”

“Yap Kun Liong manusia cabul! Hayo lekas pergi kau, kalau tidak… hemm… aku bersumpah untuk membunuhmu sekarang juga!”

“Heh-heh-heh…” Kun Liong terkekeh dan menjadi makin gembira. Kini dia merasa dapat membalas dendam kepada dara yang telah beberapa kali menghinanya itu. “Engkau memang seorang dara yang jelita, manis dan galak, dan engkau memang menjadi pemimpin pasukan. Akan tetapi aku belum mendengar bahwa kau telah menjadi siluman penunggu Sungai Huang-ho.”

“Apa… apa maksudmu?” Li Hwa membentak dengan kedua tangan menutupi dada, seolah-olah air yang menutupi dadanya masib belum cukup untuk menyembunyikan bagian tubuh ini dari pandang mata Kun Liong yang tajam.

“Kau mengusir aku pergi seolah-olah tempat ini menjadi hakmu, maka agaknya engkau telah menjadi siluman penunggu sungai maka kau menghaki tempat ini dan mengusir aku pergi!”

“Jahanam kau! Sengaja mengintai orang mandi, ya? Tak tahu malu! Cihhh, laki-laki mata keranjang, cabul, muka tembok!”

“Ha, hendak kulihat siapa yang lebih kuat bertahan. Kau yang memaki-maki di situ atau aku yang duduk di sini. Aku akan duduk di sini selama engkau masih memaki-maki aku.”

Kun Liong duduk seenaknya dan kini dia mengembil baju Li Hwa, mempermainkan baju itu sambil mengomel, “Bagaimana ya rasanya baju dirobek-robek, orang?” Dan dia membuat gerakan seperti hendak merobek-robek baju itu.

“Kun Liong keparat kau! Jangan robek-robek bajuku!” Saking marahnya, Li Hwa sampai lupa diri, bangkit berdiri sehingga tubuh bagian atasnya tampak.

Lengan kirinya dilingkarkan sedapatnya menutupi dadanya yang membusung, tangan kanannya menuding ke arah Kun Liong di sebelah belakangnya dengan marah. Kun Liong bangkit berdiri dan mengulurkan kedua tangan terbelenggu yang kini memegang baju Li Hwa.

Kun Liong bangkit berdiri dan mengulurkan kedua tangan terbelenggu yang kini memegang baju Li Hwa.

“Sabar Nona manis, aku tidak merobek bajumu. Aku hanya ingin melihat tubuhmu seperti kau telah melihat tubuh. Duhaiii… indahnya, halusnya… hemm…”

“Celuppp…!” Li Hwa sudah berjongkok lagi.

“Kun Liong… jangan… jangan kaugoda aku begini…” Dia hampir menangis, kedua pipinya kemerahan. Kemarahannya yang memuncak masih kalah oleh rasa malu dan bingungnya.

“Siapa menggoda siapa? Kau merobek-robek bajuku dengan sengaja, kau menampar pipiku, kau membelenggu tanganku. Apa saja yang tidak kaulakukan terhadap diriku? Dan aku datang bukan sengaja menelanjangimu, kau bertelanjang sendiri, tidak ada yang menyuruhmu. Siapa menggoda?”

“Kun Liong… demi Tuhan! Kasihanilah, pergilah kau… biarkan aku berpakaian lebih dulu…”

“Kau mau berpakaian? Siapa yang melarang? Nah, berpakaianlah!” Kun Liong kembali mengulurkan kedua tangannya yang memegang baju sambil ter-senyum mengoda, penuh kegembiraan, matanya bersinar-sinar, mukanya berseri dan diam-diam ia kagum bukan main karena baru sekarang dia melihat kein-dahan tubuh seorang dara, biarpun ditu-tup-tutupi akan tetapi menambah kein-dahan yang melampaui apa yang pernah dimimpikannya itu.

“Lemparkan pakaianku ke sini!” Li Hwa berteriak.

Kun Liong menggeleng kepala dan kembali duduk di atas batu. “Tidak, kau harus mengambilnya ke sini.”

“Kun Liong, tidak malukah kau de-ngan perbuatanmu ini? Kau tidak sopan, kau cabul!”

“Heh-heh, apanya yang cabul? Aku tidak berniat menjamahmu, tidak berniat menggagahimu. Aku hanya ingin melihat dan mengagumi keindahan tubuhnya, se-perti engkau telah melihat dan menghina keburukan tubuhku. Nah, apa salahnya?”

“Kun Liong, aku… aku malu. Pergilah kau lebih dulu. Atau kau berpaling, ja-ngan menghadap ke sini. Setelah aku berpakaian, baru kita bicara.”

Kun Liong tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya yang gundul. Kemudian dia bersenandung! Rantai yang membelenggu kedua tangannya dipukul–pukulkan ke atas batu sehingga menim-bulkan suara berdencing dan berirama mengikuti suara senandungnya.

Li Hwa masih berjongkok. Kedua pipinya basah, akan tetapi Kun Liong mengira bahwa yang membasahi pipi itu adalah air sungai. Dia belum tahu bahwa sebetulnya sudah ada beberapa butir air mata yang meloncat turun dari sepasang mata yang kebingungan dan kehabisan akal itu. Betapapun lihainya Li Hwa, betapapun galaknya dia, dalam keadaan bertelanjang bulat di dalam air dan pa-kaiannya dikuasai oleh Kun Liong, membuat dara ini sama sekali kehabisan akal dan tidak tahu harus berbuat bagaimana. Satu-satunya hal yang dapat dia lakukan hanya memaki-maki dan menangis! Akan tetapi, dia tahu bahwa memaki-maki tidak ada gunanya, sedangkan untuk te-rang-terangan menangis, dia tidak sudi!

Kini Kun Liong bernyanyi! Suaranya memang cukup merdu, karena sejak kecil dia gemar bernyanyi, dan dia menguasai lagu nyanyian itu, tidak sumbang.

“Sang Dewi mandi di telaga

duhai cantik jelita

perawan remaja!”

“Kun Liong, lemparkan pakaianku ke- sini!” Li Hwa kembali menjerit.

“Rambutnya awan tipis di angkasa

matanya sepasang bintang bercahaya

dagu dan lehernya… amboiii”

“Kun Liong, kasihanilah aku…!”

“Tubuhnya batang pohon yangliu

penuh lekuk lengkung sempurna

kulitnya lilin putih diraut…”

“Kun Liong…!”

“Hidung mancung bibir…

haiii… gandewa terpentang…

dadanya…”

“Kun Liong!”

“Dadanya… wah, dadanya…”

“Kun Liong…”

Pemuda itu terkejut karena panggilan ini disertai isak. Dia memandang penuh perhatian dan melihat betapa air mata bercucuran dari sepasang mata itu. Dara itu menangis!

“Datanglah seorang penggembala

melarikan pakaian Si Juwita

menangislah perawan remaja…”

Tangis Li Hwa makin mengguguk. Dengan tubuh terendam air sampai ke leher, dara itu menangis, menutupi muka dengan kedua tangannya.

“Li Hwa, jangan menangis. Aku hahya main-main… wah, maafkan aku. Jangan menangis, tak tahan aku melihatnya. Nah, ini pakaianmu. Aku akan berdiri membelakangimu kalau kau malu. Pada-hal tidak semestinya malu. Kalau aku memiliki tubuh seperti engkau, hemmm… sebaliknya daripada malu, aku malah akan merasa bangga sekali, Li Hwa.”

Melihat pemuda itu sudah berdiri membelakanginya, Li Hwa melangkah keluar dari air, matanya tidak pernah berkejap memandang punggung pemuda itu dan untuk mencegah pemuda itu menoleh, dia cepat berkata sambil menyambar pakaiannya. “Jadi engkau menjadi penggembala itu?”

“Heh-heh!” Kun Liong terkekeh dan mengangguk.

“Pantas kau berbau kerbau.” Li Hwa berkata saja, karena maksudnya untuk menarik perhatian Kun Liong agar jangan menoleh sebelum dia selesai berpakaian. Akan tetapi karena tergesa-gesa, kedua tangannya menggigil dan dia menjadi panik. Baru sekali ini selama hidupnya dia merasa betapa sukarnya berpakaian! Seolah-olah pakaiannya membantu Kun Liong menggodanya, mencekik di bagian leher, buntu ketika dimasuki kaki tangannya.

“Sudah selesaikah?” Kun Liong bertanya.

“Nanti dulu…!”

AKAN tetapi dengan ketajaman pendengarannya, Kun Liong maklum bahwa dara itu telah selesai mengenakan pakaian dalamnya, maka dia lalu memutar tubuhnya. Dengan penuh kagum dia memandang dara yang kini telah memakai pakaian dalam yang serba ketat dan berwarna merah muda itu.

“Betapa cantiknya engkau, Li Hwa…”

Li Hwa makin panik. Dia membalikkan tubuh dan karena paniknya, dia mengenakan pakaian luarnya dengan terbalik! Setelah selesai, dia melibat Kun Liong tertawa bergelak, maka marahlah dia.

“Jahanam keparat!”

“Ha-ha-ha, pakaian luarmu terbalik. Ho-ho, lucunya! Jahitannya di luar… eh, lucu benar… ha-ha!”

Li Hwa memandang pakaiannya dan merapatkan giginya ketika melihat bahwa benar-benar pakaian luarnya terbalik. “Hihhh… kubunuh kau…!” Gerutunya dan direnggutnya terlepas pakaian luarnya lagi, kini saking marahnya tidak peduli lagi kepada Kun Liong, tidak membalikkan tubuh sehingga Kun Liong dapat menikmati tubuh depan yang hanya tertutup pakaian dalam yang tipis merah muda itu. Setelah mengenakan pakaian luarnya, Li Hwa menggelung rambutnya dan memandang Kun Liong dengan mata bernyala. Kun Liong terpesona. Baru sekarang dia melihat seorang dara menggelung rambut di depannya. Gerakan kedua tangang sepasang lengan diangkat di atas kepala. Betapa manisnya!

“Li Hwa, tahukah engkau akan dongeng penggembala dan puteri yang mandi? Setelah Si Penggembala melarikan pakaian Si Puteri, puteri itu menangis, Si Penggembala merasa kasihan, mengembalikan pakaian dan akhirnya mereka… kawin!”

“Kau… kau…” Muka Li Hwa merah sekali.

“Aahh, jangan marah, Li Hwa. Penggembala itu mengawini Si Puteri Mandi, akan tetapi jangan khawatir, aku tidak akan mengawinimu. Tidak, kita tidak akan menjadi suami isteri seperti mereka.”

Alangkah kaget dan heran hati Kun Liong ketika dia melihat betapa kata–katanya ini malah membuat dara itu marah bukan main. Li Hwa melangkah maju dan dengan mata berapi-api dia berkata, “Kun Liong, penghinaanmu kepa-daku sudah tiada taranya, dan hanya dapat ditebus dengan nyawa! Biarpun engkau mencurigakan dan mungkin berse-kutu dengan pemberontak, dan biarpun engkau telah berkhianat dengan menye-rahkan bokor kepada Kwi-eng Niocu, namun mengingat engkau murid Bun Hoat Tosu, aku masih segan untuk membunuh-mu dan akan menyerahkanmu kepada Suhu. Akan tetapi, penghinaan-penghinaan yang kaulakukan kepadaku merupakan urusan kita pribadi dan harus diselesaikan sekarang juga!”

“Aihh, Li Hwa. Apa maksudmu?”

“Aku tahu bahwa engkau seorang yang memiliki kepandaian dan sebagai murid Bun Hoat Tosu, kiranya engkau tidak diajar menjadi seorang pengecut oleh kakek terhormat itu. Mungkin engkau bukan pemberontak, akan tetapi yang jelas, engkau sudah bersikap kurang ajar dan menghinaku. Mari kita bereskan persoalan antara kita dengan mengadu kepandaian. Kalau aku kalah, aku berjanji tidak akan menawanmu lagi dan bokor itu akan kucari sendiri.”

“Kalau aku yang kalah?”

“Engkau harus berlutut minta ampun atas kekurangajaranmu, selanjutnya menurut segala kehendakku tanpa membantah, atau kau akan kubunuh.”

“Hemm, keputusan yang adil juga. Dan memang aku mempunyai banyak urusan dan sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat ini. Engkau tentu akan penasaran kalau belum berhasil memukul jatuh aku, biarpun kau sudah beberapa kali menampar dan memaki. Nah, aku sudah siap!” Kun Liong bangkit berdiri lalu meloncat ke belakang, ke tempat yang datar.

Li Hwa juga menyusul dengan loncatan ringan, akan tetapi dara ini tidak mencabut pedangnya yang sudah diikat di punggungnya. Bahkan dia tidak menyerang, hanya memandang pemuda gundul itu, kemudian berkata, “Dekatkan kedua tanganmu, akan kubuka dulu belenggumu.”

Akan tetapi Kun Liong menggelengkan kepalanya. “Biarlah, Li Hwa, kukira hal itu tidak perlu.”

“Hemm, kaukira aku berwatak pengecut, melawan orang yang kedua tangannya terbelenggu? Akan kubebaskan dulu kau.”

“Tidak usah, aku dapat membebaskan kedua tanganku sendiri.” Kun Liong menggerakkan kedua lengannya sambil mengerahkan tenaga sin-kang. “Krekkrekkk…!” Belenggu kedua tangannya itu patah-patah!

Li Hwa memandang dengan kaget dan kagum, akan tetapi juga marah sekali karena dia tahu bahwa selama ini, Kun Liong sengaja membiarkan dirinya dita-wan dan dibelenggu sehingga diam-diam tentu mentertawakannya dan hal itu sama dengan mempermainkannya.

“Bagus! Sekarang tidak perlu kau berpura-pura lagi. Sambutlah!”

Li Hwa menerjang maju, gerakannya cepat bukan main seperti seekor burung walet menyambar, tangan kirinya menampar ke arah ubun-ubun kepala lawan sedangkan tangan kanannya mencengkeram ke arah lambung. Sebuah serangan yang amat dahsyat dan berbahaya karena selain cepat, juga mengandung hawa pukulan yang antep dan kuat. Tidaklah mengherankan karena memang dia telah mengeluarkan jurus ampuh dari Ilmu Silat Jit-goat-sin-ciang-hoat dan menggunakan tenaga sakti Im-yang-sin-kang.

“Hayaaa…!” Kun Liong terkejut sekali, cepat membuang tubuh ke kanan untuk menghindarkan tamparan, kemudian lengan kirinya menangkis cengkeraman tangan kanan lawannya yang lihai.

Akan tetapi, begitu jurus pertama gagal, Li Hwa dengan kecepatan mengagumkan sudah menerjang dengan jurus susulan yang lebih ampuh lagi. Gerakan dara ini memang gesit sekali dan ilmu silat yang dimainkannya adalah limu silat tinggi yang dipelajarinya dari gurunya, The Hoo yang sakti, maka tentu saja semua serangannya merupakan serangan maut yang berbahaya. Kun Liong tidak sempat main-main lagi karena dia mak-lum bahwa tingkat kepandaian dara ini sudah amat tinggi dan sekali saja dia terkena cium tangan dara itu, tentu kekebalannya akan dapat melin-dunginya baik-baik. Maka dia pun lalu mengimbangi semua terjangan dara itu dengan permainan Ilmu Silai Pat-hong–sin-kun. Dia sengaja memilih Pat-hong-sin-kun (Ilmu Silat Delapan Penjuru Angin) ini karena ilmu inilah yang paiing cepat gerakannya di antara semua ilmu yang diketahuinya dan paling tepat untuk mengimbangi gerakan Li Hwa yang demi-kian gesitnya. Betapapun juga, dia terus terdesak karena memang Kun Liong tidak pernah membalas dan tidak mau mem-balas, hanya menjaga diri dengan elakan dan tangkisan.

Setelah lewat lima puluh jurus belum juga dapat merobohkan lawan, apalagi merobohkan bahkan satu kali pun belum pernah dia dapat memukul tubuh Kun Liong, padahal pemuda itu sama sekali tidak pernah membalas serangannya, Li Hwa menjadi terkejut heran, kagum dan juga penasaran! Dia sudah menduga bahwa sebagai murid Bun Hoat Tosu, pemuda gundul itu tentu memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi sama sekali tidak disangkanya bahwa pemuda itu akan dapat melawannya tanpa balas menyerang, padahal dia sudah mempergunakan seluruh sin-kang dan gin-kang yang dilatihnya bertahun-tahun, dan mainkan Ilmu Silat Jit-goat-sin-ciang-hoat ciptaan suhunya yang amat dahsyat!

Sesungguhnya tidak mengherankan kalau saja Li Hwa mengetahui bahwa lawannya selain menerima latihan dari Bun Hoat Tosu yang sakti selama lima tahun, juga sudah digembleng secara hebat di dalam kamar rahasia oleh tokoh utama Siauw-lim-pai, yaitu Tiang Pek Hosiang! Dari kakek luar blasa ini, selain ilmu-ilmu kbusus seperti Im-yang Sin-kun dan Pek-in-ciang-hoat, juga Kun Liong telah digembleng dengan ilmu yang menjadi inti sari dari semua ilmu Siauw-lim-pai, yaitu Ilmu Mujijat I-kin-keng!

I-kin-keng adalah ilmu silat mujijat yang dahulunya diciptakan oleh Tat Mo Couwsu, pendiri Siauw-lim-pai. Mula–mula I-kin-keng diajarkan oleh Tat Mo Couwsu untuk mendatangkan kesehatan dan kekuatan kepada para pendeta yang

menjadi muridnya ketika dia melihat murid-murid ini lesu dan mengantuk se-lagi mendengarkan pelajaran kebatinan.

Maklumlah Tat Mo Couwsu betapa pen-tingnya olah raga untuk menjaga kese-hatan para pendeta itu, maka mulailah Tat Mo Couwsu mengajarkan olah raga yang dinamakan I-kin-keng dan yang harus dilatih oleh semua anak murid setiap pagi.

Pada mulanya, hanya ada dua belas gerakan atau jurus saja yang diciptakan oleh Tat Mo Couwsu, akan tetapi dua belas jurus ini kemudian berkembang biak menjadi delapan belas, bahkan kemudian oleh pendeta Chueh Yuan dikembangkan menjadi tujuh puluh dua jurus, yang menjadi dasar dari ilmu silat Siauw-lim-pai. Kemudian, bersama-sama dua orang kakek sakti yang bemama Li Cheng dan Pai Yu Feng, dari Kansu dan Shansi, Chueh Yuan mengembangkan lagi, dari tujuh puluh dua jurus menjadi seratus tujuh puluh gerakan. Semua ini dibagi menjadi lima kelompok yang disebut Gaya Naga, Gaya Harimau, Gaya Macan Tutul, Gaya Ular dan Gaya Bangau. Gaya Naga Melatih Semangat, Gaya Harimau Melatih Tulang, Gaya Macan Tutul Melatih Kekuatan, Gaya Ular Melatih Khi-kang, Gaya Bangau Melatih Otot.

Kun Liong telah digembleng dengan I-kin-keng yang aseli oleh Tiang Pek Hosiang sehingga selain tubuhnya kuat, juga dia memiliki kecepatan yang didasari khi-kang dan gin-kang. Karena inilah, biarpun Li Hwa adalah murid The Hoo yang sakti, dia tetap dapat mengimbangi gerakan dara itu. Kalau dibuat perbandingan, biarpun gerakan Li Hwa kelihatan lebih lincah dan indah, namun dia kalah gemblengan! Kun Liong digembleng oleh dua orang kakek sakti terus-menerus selama sepuluh tahun, sebaliknya Li Hwa hanya kadang-kadang saja bertemu dengan gurunya yang mempunyai kedudukan tinggi dan tugas yang amat berat, dan banyak. Apalagi karena berhubung dengan tugasnya, The Hoo sering kali mengadakan pelayaran ke negeri-negeri jauh di seberang lautan sehingga Li Hwa harus berlatih sendiri.

Saking penasaran dan marah, Li Hwa mengeluarkan lengking panjang kemudian dia menyerang dengan ilmu yang paling diandalkannya, yaitu ilmu It-ci-san yang ampuh. It-ci-san adalah ilmu tiam-hiat-boat (menotok jalan darah) menggunakan sebuah jari, hebat bukan main karena dengan totokan satu jari ini dia dapat merobohkan orang, bahkan kalau mengenai sasaran jalan darah kematian, bisa mendatangkan maut. Dua tangan yang mungil itu kini seolah-olah memegang senjata yang amat ampuh dan berbahaya, dan tusukan-tusukannya sampai mengeluarkan desir angin dingin!

“Waduhhh, kau memang hebat, Li Hwa…!”

Li Hwa tidak mempedulikan pujian Kun Liong yang mengelak ke sana-sini, dia terus mengejar dan mengambil keputusan untuk merobohken lawan dengan cara apapun juga, karena kalau tidak, dia tidak akan berhenti merasa penasaran sekali.

“Plak-plak-plak!” bertubi-tubi datangnya serangan totokan Li Hwa, akan tetapi dapat ditangkis oleh Kun Liong dan sekali ini pemuda itu mengerahkan sin-kangnya sehingga kedua tangannya mengandung tenaga Pek-in-ciang-hoat, uap putih mengepul dari kedua telapak tangannya sehingga ketika dia menangkis, tubuh Li Hwa terdorong ke belakang dan hampir terjengkang.

“Aihhh…!” Li Hwa menjadi marah sekali.

“Singgg…!” Dia sudah mencabut pedang.

“Nah, ini dia… dia lari ke sini…!”

Lima belas orang perajurit muncul dan serta-merta mengepung dan mengeroyok Kun Liong. Mereka adalah orang-orang ying tadi ditugaskan untuk menjaga Kun Liong ketika Li Hwa pergi mandi. Melihat mereka, timbul rasa gemas di hati dara itu dan dia bertanya kepada perwira yang mempimpin pasukan kecil itu. “Bagaimana dia sampai dapat lolos?”

“Maaf, Li-hiap. Dia bilang ingin ken-cing, terpaksa kami antar ke pinggir sungai, dan tiba-tiba dia meloncat ke atas pohon, ketika kami mencarinya, dia telah lenyap. Tahu-tahu berada di sini dan untung ada Li-hiap yang menahan-nya…”

“Sudahlah, kalian semua tolol!” Li Hwa membentak dan dengan hati kesal dia menyimpan kembali pedangnya. Dia merasa malu kalau harus mengeroyok, bahkan dia harus mengakui bahwa dalam pertandingan tadi, biarpun dia tidak sam-pai roboh, akan tetapi terang bahwa dia kalah lihai oleh Kun Liong. Kalau tadi dia mencabut pedang hanya karena dorongan kemarahannya, akan tetapi sete-lah dia menyadari bahwa dia tidak mam-pu menang, dia pun teringat janjinya untuk membebaskan Kun Liong, maka dia menyimpan pedangnya dan tidak mau ikut mengeroyok.

Setelah Li Hwa tidak menyerangnya, legalah hati Kun Liong. Biarpun kini ada lima belas orang perajurit yang mengero-yoknya dengan bermacam senjata, dengan enak saja dia dapat mengelak ke sana- sini, meloncat tinggi melampaui kepala mereka, turun ke depan Li Hwa, menjura dan berkata, “Terima kasih atas kebaik-anmu, Li Hwa. Kulihat Yuan de Gama itu amat baik terhadapmu akan tetapi berhati-hatilah terhadap Hendrik. Nah, se-lamat tinggal dan sampai jumpa pula!”

Setelah berkata demikian, melihat para perajurit sudah mengejarnya lagi, Kun Liong lalu melompat jauh dan lari dari

tempat itu.

Para perajurit mengejar, akan tetapi Li Hwa lalu kembali ke perkampungan pemberontak yang telah mereka duduki. Dia bertemu dengan Tio Hok Gwan yang mengatakan bahwa lebih dari lima puluh orang pemberontak tertawan, termasuk lima orang asing. “Apa yang harus kita lakukan dengan mereka?” tanya Tio Hok Gwan. “Jumlah mereka terlalu banyak dan kiranya hanya akan mendatangkan kesukaran saja bagi kita.”

“Habis, apakah kita harus membunuh mereka begitu saja?” Li Hwa berkata, “Tio-lopek, tawanan tetap tawanan apalagi kalau diingat bahwa mereka itu pun adalah perajurit-perajurit pemerintah. Kalau mereka dapat diinsyafkan, tentu tidak akan melanjutkan penyelewengan mereka. Sebaiknya Lopek memimpin sebagian pasukan Lopek, mengawal para tawanan ke kota raja. Terserah bagaimaria keputusan pengadilan di kota raja. Adapun aku sendiri akan memimpin pasukan untuk mengejar orang yang telah merampas bokor emas.”

“Hehh? Siapa dia?”

“Kwi-eng Niocu Ketua Kwi-eng-pang.” Li Hwa lalu menceritakan pengakuan Kun Liong tentang bokor yang terjatuh ke tangan Kwi-eng Niocu.

“Memang harus cepat dikejar dan dirampas kembali bokor itu,” kata kakek pengantuk yang lihai ini, “Akan tetapi amatlah berbahaya kalau kau mengejar ke sana, Nona Souw, Kwi-eng Niocu amat lihai, anak buahnya juga banyak, belum lagi dengan adanya Siang-tok Mo-li yang juga tinggal di Kwi-ouw.”

“Aku tahu, Lopek. Aku pun tidak akan bertindak sembrono. Kalau Lopek sudah selesai mengawal tawanan sampai ke kota raja, Lopek dapat segera menyusul aku dan membantu pencarian kembali bokor yang terampas oleh mereka.”

Terpaksa kakek itu setuju dan Li Hwa lalu memasuki tempat tawanan. Ketika dia berjalan-jalan memeriksa, di sudut terdengar ribut-ribut.

“Manusia biadab, apa engkau sudah bosan hidup? Kubunuh engkau!” seerang penjaga berteriak marah sambil mengacungkan goloknya di luar sebuah kerangkeng tahanan.

“Hemm, mau bunuh boleh saja. Siapa takut mati? Setelah aku berada di dalam cengkeraman kalian, memang terserah kepada kalian akan mati hidupku. Akan tetapi jangan mengira bahwa setelah tertawan aku boleh diperlakukan sembarangan saja! Aku bukan anjing dan aku tidak sudi makan makanan anjing!” Terdengar suara berkerontangan ketika piring dilempar ke luar dari tempat tahanan itu.

“Bedebah, mampuslah!” Penjaga yang marah itu hendak membacok ke dalam kerangkeng.

“Tahan…!” Li Hwa meloncat dan memegang lengan penjaga itu, kemudian mendorongnya mundur. Penjaga yang marah-marah itu penasaran akan tetapi tidak berani membantah dan segera pergi ketika Li Hwa menyuruhnya.

Seperti telah diduga oleh Li Hwa ketika mendengar suara tawanan yang menolak makanan tadi, ketika dia tiba di depan kerangkeng, dia melihat Yuan de Gama berdiri di situ dengan sikap angkuh! Pemuda asing yang tampan itu terluka dadanya dan lukanya dibalut dengan robekan bajunya sendiri. Tubuh atasnya tidak berbaju, telanjang memperlihatkan kulit yang putih kemerahan, dada yang bidang dan terhias bulu-bulu pirang yang lembut, kedua lengannya berotot dan lehernya masih terbelit kain leher, tubuh bawahnya memakai celana dengan sabuk kulit, rambutnya yang pirang itu masih rapi, matanya penuh semangat, mata yang biru warnanya itu memandang tajam dan dengan sikap angkuh melirik ke arah Li Hwa. Akan tetapi begitu dia mengenal gadis itu, sikap angkuhnya segera berubah. Kedua lengah yang tadinya bersedakap dengan sikap tak acuh segera terlepas dan dia membalikkan tubuh memandang gadis itu dengan mata terbelalak dan bibirnya membentuk senyum, dagunya yang terbelah dua itu bergerak-gerak menandakan bahwa perasaannya bergelora ketika dia bertemu dengan dara ini.

“Nona Souw…! Ahhh, betapa gembira hatiku melihat nona dalam selamat dan tidak terluka dalam perang yang dahsyat itu.”

Kedua pipi Li Hwa menjadi merah. Betapa anehnya pemuda asing ini, dalam keadaan terluka dan tertawan masih menyatakan kegembiraannya bahwa dia selamat! Padahal dialah yang memimpin pasukan yang menghancurkan pemberontakan dan yang menawan pemuda itu.

“Kau… kau terluka…!” Li Hwa melirik ke arah dada yang terbalut, akan tetapi segera mengalihkan pandangan. Tidak kuat dia memandang terlalu lama dada telanjang yang terhias bulu pirang halus itu.

“Aku…? Ah, hanya terluka sedikit. Kau hebat sekali, Nona. Baru saja dikalahkan, sudah cepat sekali dapat menyusun kekuatan dan sebaliknya menghancurkan kami. Bonar-benar aku kagum!” Sepasang mata biru itu benar-benar memandang penuh kagum, tanpa disembunyikan lagi penuh kagum dan penuh sayang yang dirasakan benar oleh Li Hwa, membuat dia makin tertunduk dan bingung.

“Mengapa kau menolak makanan? Dalam keadaan seperti ini, menyesal sekali kami tidak dapat menyediakan hidangan yang lebih baik.”

Muka pemuda itu menjadi marah dan dia kelihatan tersipu malu, kemudian menjawab, “Maafkan aku Nona. Sebetulnya bukan hidanganya yang menjadi soal, akan tetapi ada dua hal yang membuat aku sengaja bersikap buruk menolak makanan. Pertama, karena sikap para penjaga yang amat menghina sehingga aku lebih senang kelaparan daripada menerima hidangan seperti orang memberi kepada anjing. Ke dua, dalam keadaan tertawan dan tidak berdaya seperti ini, apalagi yang kuharapkan? Tidak urung aku akan dihukum mati dan aku tidak ingin memperpanjang hidup seperti ini. Kalau pintu kamar ini dibuka, aku akan mengamuk sampai mati. Aku telah meninggalkan kapalku di mana aku menjadi kaptennya, berarti aku akan mati konyol di sini. Ah… semua ini adalah karena Ayah telah keliru menyewakan kapal kepada petualang-petualang seperti keluarga Selado itu.”

Li Hwa merasa tertarik sekali. Pemuda ini bukanlah orang biasa, bukan pula orang jahat.

“Di mana kapalmu?”

“Di tepi teluk Po-hai. Ahh, betapa ingin aku mati di atas kapalku sebagai seorang kapten yang tak terpisahkan dari kapal yang dikuasainya.”

Hening sejenak dan beberapa kali mereka saling berpandangan.

“Yuan…”

Wajah pemuda itu berseri mendengar namanya disebut oleh bibir yang dikaguminya itu.

“Apa yang hendak kaukatakan, Li Hwa?”

“Kau pernah menyelamatkan aku, membebaskan dari tawanan bangsamu. Maka jangan kau khawatir, aku pasti akan berusaha untuk membebaskanmu untuk membalas budimu itu.”

“Jangan…!” Yuan de Gama cepat memegang kedua tangan Li Hwa yang memegangi ruji besi. “Jangan kaukorbankan dirimu untukku, Li Hwa!”

Sejenak Li Hwa membiarkan jari-jari tangan pemuda asing itu menggenggam kedua tangannya yang kecil. Kemudian perlahan-lahan dia menarik kedua tangannya dan berkata, “Jangan khawatir, aku tidak akan membebaskanmu dengan menggelap, akan tetapi terang-terangan.”

“Akan tetapi… ada empat orang temanku yang tertawan juga. Aku tidak takut mati terhukum, kalau engkau membebaskan aku dan empat orang temanku itu tidak dibebaskan, tentu aku akan dianggap pengecut. Tidak, Li Hwa, terima kasih atas kebaikanmu…”

Li Hwa makin kagum. Tepat persangkaannya bahwa pemuda ini bukanlah orang sembarangan. Seorang yang halus tutur sapanya, baik budi bahasanya, tampan dan gagah serta memiliki setia kawan yang besar.

“Kalau begitu, aku akan membebaskan pula empat orang temanmu itu.”

Yuan de Gama membelalakkan mata-nya dan memandang Li Hwa yang sudah melangkah pergi dari tempat itu. “Wanita yang hebat… betapa aku cinta kepada-mu….” bisiknya. Lapat-lapat dia men-dengar perintah diucapkan oleh dara itu kepada kepala penjaga, dan agaknya dara itu menegur para penjaga yang bersikap kasar karena buktinya, tak lama kemudi-an kepala penjaga sendiri datang mem-bawa hidangan dengan sikap biasa, tidak memperlihatkan sikap menghina seperti yang sudah-sudah. Karena maklum bahwa semua ini adalah hasil usaha dara yang dicintanya, biarpun hidangan itu masih serupa, amat sederhana, Yuan de Gama lalu makan dengan lahapnya, kadang-kadang tersenyum dan matanya bersinar-sinar penuh bahagia. Dia bukan girang mengingat bahwa dia akan dibebaskan sungguhpun hal ini merupakan berita yang amat mengejutkan dan baik. Akan tetapi yang amat menggirangkan hatinya adalah bahwa yang akan membebaskannya adalah Souw Li Hwa, dara yang telah menjatuhkan hatinya karena kegagahan dan kecantikannya. Bukankah hal itu mendatangkan harapan di hatinya bahwa cinta kasihnya tidak sia-sia, bahwa setidaknya dara itu juga menaruh perhatian terhadap dirinya? Tentu saja dia belum berani mengharapkan bahwa Li Hwa mencintanya. Hal ini merupakan ketidakmungkinan. Li Hwa adalah murid Panglima Besar The Hoo, mana mungkin jatuh cinta kepadanya, seorang pemuda asing yang dianggap bangsa “biadab” oleh para pribumi? Akan tetapi belum tentu, bantah suara hatinya. Cinta kasib mengalahkan apa pun di dunia ini!

Sementara itu, di dalam pondok yang dipergunakan sebagai pusat komando dan ditinggali untuk sementara oleh para pemimpin pasukan termasuk Li Hwa dan Tio Hok Gwan, dara itu bercakap-cakap dengan pengawal tua pengantuk itu.

“Nona Souw, apakah sudah kaupikir baik-baik keputusanmu untuk membebaskan para orang asing yang menjadi tawanan itu?” Tanya Tio Hok Gwan sambil mengerutkan alisnya.

“Sudah saya pertimbangkan masak-masak, Lopek, dan saya berani menanggung semua akibatnya. Dalam penyerbuan pertama, saya kurang hati-hati, pingsan oleh ledakan dan tertawan musuh. Dalam keadaan tidak berdaya sama sekali itu, saya telah ditolong oleh Yuan de Gama. Kini dia sendiri menjadi tawanan kita, maka sudah sepatutnya kalau saya membalas kebaikannya dan membebaskannya.”

“Akan tetapi empat yang lain?”

“Lopek, andaikata engkau menjadi tawanan musuh, saya akan rela menukarkan Lopek dengan sepuluh orang tawanan dari pihak musuh. Maka, saya menganggap bahwa saya telah ditukar dengan Yuan de Gama dan empat orang temannya. Saya kira hal itu tidak terlalu merugikan kita. Selain itu, kita hanya berurusan dengan para pemberontak. Merekalah yang harus kita hukum. Orang-orang asing itu hanya pedagang-pedagang, kalau kita menawan mereka, berarti kita melibatkan pemerintah ke dalam permusuhan dengan bangsa dan negara lain.”

Tio Hok Gwan mengelus dagunya dan menarik napas panjang. “Hemm, semenjak dahulu aku tidak mengerti tentang urusan pemerintah. Yang jelas saja, andaikata engkau tertawan musuh, aku tentu dengan rela akan menukar pembebasanmu dengan pembebasan sepuluh orang musuh yang tertawan olehku, Nona. Terserah, lakukan apa yang kaukehendaki.”

Lega hati Li Hwa setelah mendapat persetujuan rekannya itu, sungguhpun dia tahu bahwa perbuatan membebaskan tawanan ini adalah tanggung jawabnya sendiri. Malam hari itu dia sendiri mengawal lima orang tawanan keluar dari tempat tahanan dan menuju ke luar kota. Setiba mereka di luar pintu gerbang dusun itu, empat orang teman Yuan de Gama mendahului pergi sedangkan Yuan de Gama berhenti dan bicara dengan Li Hwa.

“Nona Souw… tak tahu aku bagaimana aku harus berterima kasih kepadamu…”

“Yuan, tak perlu berterima kasih. Aku hanya membalas budimu.”

“Li Hwa, ketika aku membebaskanmu, hal itu lain lagi kedudukannya. Engkau terancam oleh kekejian niat Hendrik, maka aku harus membebaskanmu atau membebaskan wanita mana saja yang terancam olehnya. Akan tetapi aku adalah seorang tawanan resmi…”

“Sudahlah, tidak perlu kita bicara tentang itu.”

“Li Hwa, betapa akan kagum hati Ayah dan adik perempuanku kalau mendengar penuturanku tentang dirimu. Mereka akan datang menyusul dengan kapal lain.”

“Engkau punya adik perempuan? Tentu cantik sekali…”

“Cantik jelita seperti bidadari, Li Hwa. Akan tetapi… ahh, tidak secantik engkau…”

“Hemmm, ceritakan tentang dia.” Li Hwa memotong dan mukan terasa panas.

“Ayahku adalah Richardo de Gama, seorang duda yang sudah tua dan seorang juragan kapal di negara kami. Adikku bernama Yuanita de Gama, berusia sembilan belas tahun. Kapal Kuda Terbang milik Ayah telah disewa oleh Legaspi Selado…”

“Hemm, pimpinan orang asing yang membantu pemberontak?”

Yuan menarik napas panjang. “Demi-kianlah. Akan tetapi… dia adalah guruku. Legaspi Selado adalah seorang bekas panglima di negeri kami, seorang peran-tau yang sudah menjelajah banyak nega-ra dan sudah belasan tahun tinggal di India dan Nepal, memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Hendrik Selado adalah puteranya. Ketika guruku itu menyewa kapal Ayah, tentu saja Ayah tidak tahu bahwa kapalnya dan anaknya akan dibawa oleh Legaspi Selado terlibat dalam urusan pemberontakan di negeri ini. Aku merasa menyesal sekali karena sebagai muridnya, aku pun tidak dapat membantah perintahnya. Aku merasa menyesal bahwa guruku bersekutu dengan pembe-rontak di negeri yang indah dengan rak-yatnya ramah. Akan tetapi aku pun me-rasa bahagia karena hal ini memungkin-kan aku berjumpa dengan engkau, Li Hwa.”

“Hemm…” Li Hwa tak mampu menjawab dan merasa betapa mukanya makin panas. Untung malam itu gelap sehingga tidak tampak dua titik air mata membasahi bulu matanya.

“Aku cinta kepadamu, Li Hwa. Demi Tuhan, aku cinta kepadamu, dan kalau keadaan mengijinkan… tidak dalam keadaan sebagai musuh dalam perang, betapa ingin hatiku untuk meminangmu kepada orang tuamu, sebagai isteriku…”

Tiba-tiba Li Hwa terisak, tak dapat menahan keharuan hatinya karena selain pernyataan Yuan itu mengharukan, juga dia diingatkan kepada orang tuanya yang telah tiada.

“Li Hwa… maafkan aku… ah, harap jangan menangis, sayang…” Yuan segera merangkul pundak dara itu penuh kasih

sayang. Sejenak Li Hwa membenamkan kepalanya di dada pemuda itu. Setelah keharuan hatinya agak mereda, dia cepat merenggangkan diri dan berkata lirih, “Yuan, ayah bundaku telah meninggal dunia. Aku yatim piatu…”

“Aduhhh… maafkan aku, Li Hwa… kau kasihan sekali.”

“Tidak Yuan. Aku telah mempunyai pengganti orang tuaku, yaitu guruku, Panglima Besar The Hoo yang bijaksana. Karena ini pula, maka harap kau jangan melamun yang bukan-bukan. Aku adalah murid dan seperti anak sendiri dari Panglima Besar The Hoo, panglima dan pahlawan negara kami, sedangkan kau… biarpun di dalam hatimu kau tidak setuju, akan tetapi engkau adalah seorang di antara orang-orang yang membantu pemberontak. Dan aku adalah seorang asing. Tidak mungkin lagi bicara tentang jodoh.”

“Akan tetapi… kalau aku tidak salah mengira… bukankah engkau pun cinta kepadaku, Li Hwa? Biarpun masih ragu-ragu, dan mungkin hanya sedikit, tidakkah kau cinta pula kepadaku seperti aku mencintaimu dengan sepenub jiwa ragaku?”

“Sudahlah, jangan bicara tentang itu, Yuan. Kau tahu bahwa aku suka kepadamu karena kau seorang yang amat baik dalam pandanganku. Pergilah, kita bersahabat dalam kenangan saja!”

“Li Hwa…!” Yuan meloncat ke depan, menjatuhkan diri berlutut dan memegang kedua tangan Li Hwa. “Mungkinkah ini? Mungkinkah cinta kasih dihancurkan dan diputuskan secara begini saja? Hanya karena kedudukan kita? Li Hwa, cinta kasih tidak dapat dikalahkan oleh apapun juga. Bahwa kematian pun tidak akan dapat mengalahkan cinta kasih. Aku cinta padamu, Li Hwa, apa pun yang akan terjadi!”

“Yuan…!” Dengan hati terharu, di luar kesadarannya jari tangan Li Hwa memegang tangan pemuda itu erat-erat.

“Li Hwa sayang…!” Yuan bangkit berdiri, memeluk dara itu dan sebelum Li Hwa dapat menguasai dirinya, mulutnya telah dicium dengan penuh kemesraan oleh pemuda itu. Sejenak Li Hwa menjadi lemas, tak dapat menguasai dirinya dan hatinya yang berdebar tidak karuan, kemudian dia mendorong dada yang tak berbaju itu sambil meloncat ke belakang ketika Yuan merenggangkan bibir untuk bernapas.

“Yuan, jangan!”

Mendengar bentakan ini, Yuan hanya mengulurkan kedua lengan. Akan tetapi Li Hwa melangkah mundur dan berkata, “Yuan, aku suka kepadamu, akan tetapi aku pun melihat jelas hubungan antara kita tak mungkin dilanjutkan dan kalau kau memaksa, aku akan menganggap engkau sama saja dengan Hendrik…”

“Li Hwa! Engkau tahu bahwa cintaku kepadamu murni dan aku bersumpah tidak akan meninggalkan bumi Tiongkok dalam keadaan bernyawa kalau aku tidak dapat menggandengmu sebagai isteriku yang tercinta. Li Hwa, selamat berpisah dan sampai jumpa pula.” Pemuda ini membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi menyusul teman-temannya.

Li Hwa berdiri seperti arca di tempat itu, pipinya basah air mata. Diangkatnya perlahan tangan kanannya menyentuh bibir yang masih berdenyut panas oleh ciuman pemuda itu. Kemudian dia terisak sambil menutupi muka dengan kedua tangannya dan menunduk, dari mulutnya terdengar bisikan bingung, “… aku cinta padanya… aihhh… aku cinta padanya…”

Kun Liong berjalan seorang diri memasuki hutan besar itu. Berkali-kali dia menghela napas panjang kalau dia mengenangkan semua pengalamannya. Mengapa nasibnya demikian sial? Semenjak sepuluh tahun lebih yang lalu dia meninggalkan rumah orang tuanya di Leng–kok, dia selalu mengalami bermacam kesialan dalam hidupnya. Akhir-akhir ini pun tidak pernah ada hasil baik dalam setiap usahanya. Mencari ayah bundanya masih belum ada hasilnya sama sekali. Mencari dua buah benda pusaka Siauw–lim-pai juga masih belum berhasil. Bah-kan bokor emas yang sudah berada di tangannya, terpaksa harus dia serahkan kepada Kwi-eng Niocu! Sekali ini dia tidak mau gagal lagi. Dia akan pergi ke Kwi-ouw, memasuki pulau yang menjadi sarang Kwi-eng-pang dan terang-terangan dia akan menemui Kwi-eng Niocu minta dua benda pusaka Siauw-lim-pai, bokor emas milik Panglima The Hoo, dan ber-tanya siapa yang membunuh Thian Lee, sekalian menegur Kwi-eng-pang yang te-lah mengacau di Siauw-lim-si! Setelah itu, baru dia akan mencurahkan semua perhatiannya untuk mencari ayah bunda-nya.

Ketika dia tiba di tengah hutan, tiba–tiba Kun Liong mendengar suara ribut-ribut banyak orang. Cepat dia menuju ke tempat suara itu dan sebuah tikungan tampaklah olehnya seorang kakek tua duduk bersila di atas sebuah batu besar dikurung oleh dua puluh orang lebih yang mengeluarkan suara ribut-ribut tadi.

Kun Liong menyelinap di balik sebuah pohon tak jauh dari tempat itu dan me-mandang penuh perhatian. Kakek itu sudah tua sekali, pakaiannya sederhana dan rambutnya yang sudah putih digelung ke atas. Melihat cara dia berpakaian dan melihat sanggul rambutnya, tentu dia seorang pertapa atau seorang pendeta To. Di punggung kakek itu tergantung sebuah buntalan kain kuning besar. Kakek itu duduk bersila diam seperti orang tidur, duduk tegak dengan kedua tangan di atas pangkuannya, agaknya sama sekali tidak mendengar suara ribut-ribut dari orang–orang yang mengurungnya.

“Hee, Kakek tua bangka! Apa kau sudah mampus?”

“Tosu hidung kerbau! Serahkan buntal-an di punggungmu!”

“Kita ambil bungkusannya dan pakaian yang dipakainya!”

“Benar! Kita tinggalkan dia telanjang bulat di sini, ha-ha!”

Tingkah dua puluh orang itu seperti segerombolan anjing liar dalam pandangan Kun Liong yang sudah menjadi marah sekali.

“Dia diam saja, berarti menghina kita! Biar kuhantam kepalanya!” Seorang di antara mereka berteriak, tangannya bergerak memukul kepala kakek itu.

“Desss…! Auuduhhh… tanganku…” Orang itu meringis dan mengaduh-aduh memegangi kepalan tangan kanannya yang tadi menghantam kepala itu dan menjadi bengkak.

“Dia melawan! Bunuh saja!”

Orang-orang kasar itu adalah perampok-perampok rendahan yang biasa mengganggu orang lewat di hutan yang lebat dan sunyi itu. Kini mereka sudah menca-but senjata, masing-masing ada golok, pedang dan toya, dan beramai-ramai mereka menerjang kakek yang duduk bersila tanpa bergerak itu.

“Heiii…! Kalian jahat…!” Kun Liong keluar dari tempat sembunyiannya namun dia terlambat, karena senjata-senjata itu telah menyambar ke arah tubuh si kakek tua seperti hujan. Akibatnya, orang-orang itu mundur ketakutan karena semua bacokan yang mengenai tubuh kakek itu membuat senjata mereka terpental sedangkan tubuh kakek itu sedikit pun tidak terluka, seolah-olah mereka menyerang sebuah arca baja yang amat kuat. Hanya pakaian kakek itu yang terobek di sana-sini.

“Siluman… dia siluman…!”

“Wah, golokku malah rompal…”

“Toyaku bengkok!”

“Celaka…! Dia setan…”

Orang-orang kasar itu ketakutan dan tiba-tiba mereka mendengar hentakan Kun Liong yang sudah melompat dekat, “Kalian ini manusia-manusia kejam!”

Ketika mereka menoleh dan melihat Kun Liong mereka makin kaget.

“Wah ini tentu temannya!”

“Setan gundul…!”

“Lari kawan-kawan…!”

Maka larilah dua puluh orang lebih itu tunggang-langgang karena kesaktian kakek itu telah membuat mereka benar-benar menyangka bahwa Si Kakek adalah sebangsa setan, dan pemuda gondul yang muncul itu adalah setan gundul.

Kun Liong menjadi geli menyaksikan tingkah mereka itu dan dia tertawa. Akan tetapi dia segera menghentikan suara ketawanya ketika mendengar suara halus di belakangnya, “Mereka itu patut dikasihani, bukan ditertawakan.”

Kiranya kakek itu telah membuka matanya akan tetapi masih tetap duduk bersila di atas batu. Sejenak mereka berpandangan dan diam-diam Kun Liong terkejut melihat sinar mata kakek itu. Biarpun orangnya sudah amat tua, akan tetapi sinar matanya tajam bukan main.

“Totiang, pakaianmu robek-robek…”

Kakek itu menunduk dan memandangi bajunya yang robek di sana-sini, kemudian dia tersenyum dan menjawab, “Pakaian rusak dan robek bisa dijahit, orang muda. Akan tetapi kalau watak yang rusak…”

“Maaf, Totiang. Kurasa watak yang rusak pun dapat diperbaiki oleh dirinya sendiri. Saya kira tidak benar kalau dikatakan bahwa sekali rusak watak orang, selamanya akan tetap rusak.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: