Petualang Asmara (Jilid ke-22)

“Ha-ha, Kwi-eng Niocu. Terhadap Siang-tok Mo-li saja aku sudah tidak dapat terbujuk, apalagi menghadapi engkau. Tentu saja aku tidak percaya. Kalau kau mampu, boleh kaucoba merampas bokor ini dari tanganku!” Kakek muka hitam itu memegang bokor dengan tangan kiri sedangkan golok di tangan kanannya dikelebatkan.

Kwi-eng Niocu bukanlah seorang bodoh. Dalam keadaan tidak terluka sekali-pun, kekuatannya seimbang dibandingkan dengan Si Muka Hitam itu dan biarpun dia tidak takut, dia agaknya harus me-ngeluarkan seluruh kepandaiannya untuk memenangkan datuk timur ini. Akan tetapi sekarang dia telah kehilangan lima buah kuku jari tangan kirinya. Biarpun tidak terluka, namun malapetaka ini baginya lebih hebat daripada kalau dia terluka karena dia kehilangan separuh dari senjatanya dan karenanya dia tidak akan dapat bergerak leluasa. Dalam ke-adaan seperti sekarang ini, melawan Hek-bin Thian-sin sama artinya dengan membunuh diri secara konyol. Tentu saja dia tidak sudi membunuh diri. Masih banyak waktu untuk kelak berusaha me-rampas bokor itu dari tangan Si Muka Hitam. Bukankah tidak ada orang lain yang tahu bahwa bokor yang diperebutkan itu kini berada di tangan Hek-bin Thian-sin? Maka dia tidak menjawab, bahkan cepat dia membalikkan tubuh dan lari pergi dari tempat itu sebelum datuk dari timur itu berpikir lain. Dan memang kepergian Kwi-eng Niocu ini tidak terlambat dan tepat sekali karena setelah datuk wanita itu pergi, Hek-bin Thian-sin mengerutkan alis dan merasa menyesal mengapa dia tidak membunuh saja Kwi-eng Niocu yang sudah kehilangan semua kuku tangan kirinya. Kini dia maklum bahwa setidaknya masih ada bahaya mengancam kepadanya dari satu jurusan, yaitu dari Kwi-ouw tempat tinggal Ketua Kwi-eng-pang itu.

Akan tetapi kegembiraan memperoleh bokor emas yang diidam-idamkan itu membuat dia segera melupakan hal ini dan cepat dia pun lari pergi menuju ke timur karena dia berniat untuk bersembunyi di pantai timur, tempat di mana dia menjadi datuknya dan diam-diam memeriksa rahasia bokor emas yang kabarnya selain mengandung rahasia tempat penyimpanan harta karun yang amat besar, juga mengandung rahasia tempat penyimpanan kitab-kitab pelajaran kesak-tian dari Panglima Besar The Hoo! Dia harus cepat-cepat menyelamatkan diri dan menghindarkan pengejaran dua orang kakek datuk lainnya, yaitu Toat-beng Hoat-su dan Ban-tok Coa-ong, dua orang yang dia tahu amat sakti dan lebih lihai daripada dia sendiri. Selain ini, juga dia harus menghindarkan pertemuan dengan kakek asing botak Legaspi Selado yang selain lihai juga mempunyai banyak kaki tangan, bahkan bersekutu dengan pasukan pemberontak. Tadinya memang dia telah menceritakan tentang bokor kepada Le-gaspi sehingga menarik perhatian kakek itu yang berjanji untuk membantunya.

Akan tetapi setelah kini bokor terjatuh ke dalam tangannya, dia merasa tidak perlu lagi untuk berurusan dengan kakek asing itu!

Ternyata bahwa Hek-bin Thian-sin terlalu memandang rendah kepada Legas-pi Selado. Dia sama sekali tidak mengira bahwa kakek asing yang botak itu selain berkepandaian tinggi, juga amat cerdik, jauh lebih cerdik daripada datuk timur ini! Maka, dapat dibayangkan betapa kaget hati Hek-bin Thian-sin ketika dia menuruni bukit dan tiba di hutan yang mengurung kaki bukit, tiba-tiba saja muncul Legaspi Selado di depannya sam-bil tersenyum lebar! Terlambat bagi Hek–bin Thian-sin untuk menyembunyikan bokor emas itu dan dengan jantung berdebar dia mendengar kakek asing botak itu menegurnya. “Ahai sahabatku yang baik Hek-bin Thian-sin Louw Ek Bu! Siapa mengira bahwa kita bertemu di sini dan ternyata engkau telah berhasil menemukan bokor emas itu. Bagus! Mari kita bawa ke kapalku dan di sana kita mencari rahasia bokor itu, sahabatku yang baik!”

Biarpun dia terkejut dan khawatir melihat munculnya kakek asing yang sama sekali tidak disangka-sangkanya ini, mendengar ucapan itu, Hek-bin Thian-sin menjadi marah. Dia maklum bahwa Legaspi memiliki kepandaian tinggi, namun dia tidak takut.

“Legaspi Selado, bokor ini adalah aku sendiri yang mendapatkannya, maka tidak mungkin dapat kubagi dengan siapapun juga.”

“Hemmm, begitukah…?” Kakek botak itu tiba-tiba mengeluarkan suara bersuit nyaring dan bermunculanlah belasan orang dari balik pohon-pohon di sekeliling tempat itu. Mereka ini adalah para per-wira pemberontak yang berhasil menye-lamatkan diri dan lari ketika Ceng-to diserbu oleh pasukan pemerintah yang di-pimpin sendiri oleh Pendekar Sakti Cia Keng Hong. Bekas perwira ini menyamar dengan pakaian preman dan dipergunakan oleh Legaspi Selado yang juga berhasil melarikan diri bersama teman-teman sebangsanya. Kini, atas isyarat yang diberikan kakek botak itu, mereka telah mencabut senjata golok dan pedang, mengurung Hek-bin Thian-sin.

“Legaspi Selado, mau apa kau?” Hek–bin Thian-sin membentak.

“Ha-ha-ha, Tuan Low Ek Bu! Engkau memang seorang yang murka dan khianat. Di Ceng-to, engkau telah meninggal-kan kami. Sekarang, dengan baik aku mengajakmu bersama-sama menyelidiki rahasia bokor, akan tetapi engkau hendak menguasainya sendiri saja. Karena itu, aku tidak sudi bersahabat lagi denganmu. Engkau adalah musuh dan kau harus me-nyerahkan bokor atau nyawamu!”

“Anjing biadab asing keparat!” Hek bin Thian-sin memaki dan golok di ta-ngannya sudah diputar cepat, berubah menjadi segulung sinar menyilaukan mata dan mengamuklah datuk timur ini. Dua orang bekas perwira yang menangkis goloknya, berteriak ketika pedang mereka patah-patah dan golok terus menyambar ke arah tubuh mereka, merobek dada dan perut sehingga mereka roboh dan tewas seketika. Seorang lain yang menusukkan pedang dari belakang, dielakkan oleh Hek-bin Thian-sin, goloknya menyambar lagi. Pedang, itu kena dihantam dari sam-ping, mencelat dan pedang itu menancap di dada kiri seorang pengeroyok yang memekik nyaring dan roboh telentang, tewas pula.

Amukan Hek-bin Thian-sin amat he-bat. Kepandaiannya tidak dapat dilawan oleh para bekas perwira. Melihat ini, Legaspi menjadi marah sekali. Dilolosnya pecut dari pinggangnya, dan pecut itu digerakkan cepat sekali, meledak-ledak, menyambar ke atas kepala Hek-bin Thian-sin.

“Tar-tar-tar-tarrr…!”

Hek bin Thian-sin cepat mengelak sambil membabatkan golok di sekeliling-nya dengan kecepatan luar biasa. Kemba-li ada tiga orang pengeroyok roboh dan darah muncrat dari luka-luka mereka.

“Mundur semua…!” Legaspi Selado berteriak marah melihat enam orang anak buahnya tewas oleh sepak terjang lawan yang hebat itu. Dia sendiri sudah menerjang maju dan terjadilah kini per-tandingan yang amat seru. Legaspi Se-lado memperoleh ilmu cambuknya dari Nepal, dilatih oleh seorang ahli cambuk yang banyak terdapat di negara itu. Se-lain ini, Legaspi sudah banyak mempela-jari ilmu silat dan memiliki sin-kang serta gin-kang yang tinggi. Namun, Hek-bin Thian-sin adalah seorang datuk timur yang lihai. Dengan bokor di tangan kiri kakek ini menggerakkan goloknya, kadang-kadang bertubi-tubi menyerang kadang-kadang golok diputarnya sedemi-kian rupa sehingga tubuhnya terlindung oleh gulungan sinar, membuat ancaman dan serangan ujung cambuk gagal semua.

Legaspi Selado selama berkenalan dengan Hek-bin Thian-sin, juga baru sekali ini bertanding melawan bekas sekutu ini, maka dia yang terlalu mengandalkan kepandaian sendiri dan memandang rendah orang lain, ketika melihat betapa cambuk saktinya yang selamanya ini sukar menemukan tanding, kini tidak dapat berbuat banyak menghadapi datuk timur ini.

“Tar-tar-tar… wuuttttt…!” Kini dia merobah gerakan pecutnya. Ujung cambuk itu menjadi sinar hitam melingkar-lingkar di atas, kemudian meluncur ke bawah dan tahu-tahu telah melibat golok Hek-bin Thian-sin. Datuk ini kaget sekali, tentu saja mempertahankan golok-nya dengan pengerahan sin-kangnya. Terjadi tarik-menarik, keduanya mengerah-kan tenaga sin-kang.

“Trakkk…! Brettt…!” Golok patah tengahnya dan cambuk juga putus bagian tengahnya. Kedua orang itu mendengus marah, melempar gagang golok dan ga-gang cambuk, kemudian mereka saling menerjang dengan tangan koseng!

Akan tetapi karena Hek-bin Thian-sin menggunakan tangan kirinya untuk memeluk bokor emas, maka dia hanya mempergunakan tangan kanan dan hal ini membuat dia terdesak hebat. Selagi ka-kek ini mencari jalan ke luar untuk melarikan diri, tiba-tiba terdengar suara tertawa halus dan dari atas melayang sesosok tubuh yang langsung menerjang kedua orang yang sedang bertanding. Begitu terjun dari atas, tangan kiri orang itu mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala Hek-bin Thian-sin dengan gerakan yang dahsyat sekali.

“Aihhh…!” Hek-bin Thian-sin berte-riak kaget, maklum bahwa serangan ke arah ubun-ubun kepalanya itu dapat mendatangkan maut! Maka cepat dia menang-kis dengan tangan kirinya dan pada saat itu, tangan kanan Toat-beng Hoat-su sudah merampas bokor emas yang dipe-gang erat-erat oleh tangan kiri datuk timur.

“Heii… kembalikan!” Hek-bin Thian–sin berseru.

“Serahkan bokor itu kepadaku!” Legas-pi Selado juga berteriak. Dua orang ka-kek ini mengulurkan tangan untuk merampas bokor, akan tetapi dengan gerak-an amat ringan, Toat-beng Hoat-su sudah mencelat ke atas, berjungkir balik dan tertawa melihat betapa Legaspi dan Hek–bin Thian-sin bertumbukan ketika berebut merampas bokor. Tubrukan ini diperguna-kan oleh Legaspi untuk menghantam ke arah dada Hek-bin Thian-sin. Melihat gerakan ini, Toat-beng Hoat-su yang sudah meluncur turun itu pun mengguna-kan telapak tangan kirinya untuk meng-hantam punggung Hek-bin Thian-sin. Diserang secara berbareng oleh dua orang kakek sakti itu, dari depan dan belakang, Hek-bin Thian-sin terkejut, mengerahkan sin-kang dan berusaha menangkis. Namun terlambat. Dada dan punggungnya terpu-kul, dia berkelojot, matanya terbelalak, mulutnya menyemburkan darah segar, kedua tangannya masih berusaha untuk memukul kedua orang lawan itu, akan tetapi begitu Legaspi dan Toat-beng Hoat-su meloncat mundur, Hek-bin Thian–sin Louw Ek Bu terguling roboh dan tewas seketika. Tentu saja isi dadanya remuk terkena hantaman dua orang sakti dari depan dan belakang itu.

Legaspi Selado memandang kepada Toat-beng Hoat-su dengan mata terbelalak lebar. Dia belum pernah bertemu dengan kakek ini, akan tetapi dari keterangan Hek-bin Thian-sin ketika masih menjadi sekutunya, dia telah mendengar tentang empat orang datuk kaum sesat lainnya, maka kini melihat Toat-beng Hoat-su, segera dia dapat menduganya.

“Toat-beng Hoat-su, berikan bokor itu kepadaku!” bentaknya sambil meloncat ke depan dan serta merta dia memukul dengan kedua tangannya bergantian.

“Ha-ha-ha, anjing asing kau ikut-ikut memperebutkan bokor!” Toat-beng Hoat–su menangkis.

“Dess! Dess! Plak-plal-plakkk!” Pertemuan kedua tangan secara bertubi ini membuat keduanya terhuyung ke bela-kang dan keduanya terkejut sekali. Per-temuan tangan mereka tadi telah mem-buktikan betapa masing-masing memiliki tenaga sin-kang yang berimbang atau kalau ada selisihnya pun tidak banyak. Toat-beng Hoat-su yang sudah berhasil merampas bokor, segera meloncat jauh ke belakang dan melarikan diri keluar dari hutan itu.

“Kejar…!” Legaspi Selado berseru sambil lari mengejar, diikuti oleh sisa anak buahnya.

Akan tetapi, tiba-tiba tampak bebe-rapa orang yang riap-riapan rambutnya melepas anak panah berapi sehingga terjadilah kebakaran di hutan itu yang menghadang Legaspi dan anak buahnya. Kiranya mereka itu adalah orang-orang Nepal yang meniadi anak buah Toat-beng Hoat-su! Ketika Toat-beng Hoat-su bersama tiga orang datuk lain secara ber-pencar menyelidiki larinya Siang-tok Mo-li, dia bersama dengan Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok telah berunding dan ber-mufakat untuk bekerja sama. Mereka maklum bahwa kalau seorang di antara mereka berhasil mendapatkan bokor, tentu mereka akan terpaksa saling bunuh dan mereka tidak akan pernah dapat hidup aman dengan bokor di tangan. Maka mereka mengambil keputusan untuk bekerja sama sehingga kedudukan mere-ka kuat, dan Ban-tok Coa-ong malah menawarkan tempat persembunyiannya di Pulau Ular, dan orang-orang Nepal itu adalah para pembantunya pula yang kemudian sebagian membantu Toat-beng Hoat-su dan sebagian pula membantu Ban-tok Coa-ong untuk mencari secara terpisah. Akhirnya, Toat-beng Hoat-su yang berhasil lebih dulu dan bersama anak buah orang-orang Nepal itu dia melarikan diri ke pantai di mana telah menanti sebuah perahu besar yang diberi nama Angin Barat. Toat-beng Hoat-su dan anak buahnya disambut oleh Ban-tok Coa-ong yang telah kembali ke pera-hu dulu. Tentu saja Ban-tok Coa-ong menjadi girang sekali.

“Biarkan Angin Barat berangkat sen-diri, kita berdua menggunakan perahu kecilku!” kata Ouwyang Kok Si Raja Ular itu.

“Mengapa begitu? Bukankah lebih aman naik Angin Barat yang besar?” Toat-beng Hoat-su bertanya.

“Benda ini dicari oleh banyak sekali orang pandai di dunia kang-ouw dan menurutkan ceritamu tadi, tentu Legaspi Selado tidak akan tinggal diam begitu saja. Orang-orang asing itu memiliki ka-pal besar yang jauh lebih kuat daripada perahu kita, maka kalau sampai kita ter-susul di tengah lautan, tentu akan berbahaya sekali. Kapal asing itu mempunyai senjata api besar berupa meriam dan kalau perahu besar kita tenggelam, apa yang dapat kita lakukan? Lebih baik kita naik perahu kecil, perahu nelayan sehingga tidak ada yang menaruh curiga. Kalau kita sudah tiba di Pulau Ular, kita tidak perlu khawatir lagi terhadap serbuan musuh.”

Toat-beng Hoat-su mengangguk-ang-guk, memuji kecerdikan dan sikap yang berhati-hati ini. Mereka mendahului berangkat dengan sebuah perahu layar kecil yang meluncur cepat biarpun pagi itu tiada angin karena dua batang dayung digerakkan oleh dua pasan tangan yang memiliki kekuatan dahsyat.

Enam orang Nepal itu segera mema-sang layar, memberangkatkan perahu Angin Barat yang meluncur seenaknya di atas air laut meninggalkan pantai. Akan tetapi, belum jauh dari pantai, orang–orang Nepal yang rambutnya riap-riapan tertiup angin laut itu melihat perahu kecil dengan penumpang tiga orang. Orang yang tadinya duduk di tengah, seorang kakek kurus, tiba-tiba merampas dayung dari tangan temannya dan dialah yang kini mendayupg perahu itu mendekati perahu besar Angin Barat.

“Wah, jangan-jangan mereka itu mata–mata musuh!” Pemimpin orang Nepal berkata. “Jelas bukan perahu nelayan, akan tetapi, kelau perahu pelancong mengapa sampai begini jauh meninggalkan pantai?”

“Kita tabrak saja biar terguling dan menjadi mangsa ikan!” kata temannya.

Pemimpin orang-orang Nepal itu memegang kemudi perahu, diputarnya perahu Angin Barat sehingga kini membelok dan dengan laju meluncur ke arah perahu kecil. Kakek yang memegang dayung, menggunakan kedua tangan mendayung perahu untuk menghindari tubrukan. Memang terhindar, akan tetapi ombak yang dibuat oleh Angin Barat membuat perahu kecil oleng.

“Berpegang erat-erat!” kakek itu berseru, kemudian dayungnya bergerak cepat dan… perahu kecil itu meluncur terbang ke atas perahu besar Angin Barat!

Dapat dibayangkan betapa kagetnya orang-orang Nepal itu melihat perahu kecil itu dapat “terbang” ke atas perahu besar mereka. Tentu saja perahu kecil itu bukannya terbang, melainkan terlempar ke atas ketika kakek kurus itu menggunakan dayungnya untuk menekan langkan perahu Angin Barat dan meng-gunakan kakinya untuk mengait papan di dalam perahu kecilnya. Dari kenyataan ini saja dapat dibayangkan betapa lihainya kakek kurus itu.

Dua orang Nepal hendak menyerbu, akan tetapi kakek itu menggunakan dayungnya menampar dan dua orang itu roboh pingsan! Terdengar suara keras ketika perahu kecil itu mendarat di atas dek perahu Angin Barat, dan empat orang Nepal dengan marah datang menerjang. Kembali dayung itu bergerak empat kali dan empat orang ini pun roboh tak dapat bangkit kembali!

Tentu saja pemimpin orang Nepal yang roboh dan patah tulang pundaknya itu terkejut sekali dan timbul rasa takut di hatinya ketika kakek tinggi kurus itu melangkah menghampirinya.

“Hayo katakan di mana adanya Toat-beng Hoat-su!”

Pemimpin orang Nepal itu makin terkejut ketika mendengar orang tinggi kurus ini membentak kepadanya dalam bahasa Nepal yang cukup baik! Tahulah dia bahwa orang tinggi kurus ini adalah seorang aneh yang berkepandaian tinggi, maka sambil merintih dia berkata. “Ampunkan… hamba… hamba tidak tahu… kami hanyalah nelayan-nelayan…”

“Hemm… masih berani membohong? Kalian tentu pelarian dari penjaga di Nepal yang belum lama ini memberontak dengan bantuan Ban-tok Coa-ong, bukan? Jangan mengira aku tidak mengerti. Kau berhadapan dengan pengawal pertama dari Panglima Besar The Hoo.”

Mendengar ini, orang Nepal itu dan juga teman-temannya yang sudah siuman terkejut dan cepat mereka menjatuhkan diri berlutut minta-minta ampun adalah orang kurus tinggi itu bukan lain adalah Pengawal Thio Hok Gwan, Si Pengantuk yang lihai itu! Dan orang yang datang bersamanya dalam perahu adalah dua orang pengawal yang selalu menemaninya, yaitu Si Muka Pucat Kui Siang Han dan Si Muka Merah Song Kim! Setelah selesai menggempur para pemberontak di Sungai Huang-ho, dan mendengar bahwa bokor emas dilarikan Kwi-eng Niocu, Si Pengantuk ini mengajak dua orang teman itu untuk pergi melakukan pengejaran dan hal itu disetujui oleh Souw Li Hwa. Memang pengawal suhunya itu bertugas untuk mencari kembali bokor emas, maka dia mengalah dan dialah yang mengawal tawanan ke kota raja, setelah dia membebaskan Yuan de Gama.

“Aku sudah tahu bahwa Kakek Toat-beng Hoat-su pagi tadi kalian bantu di hutan, kemudian lari ke perahu Angin Barat ini. Hayo katakan ke mana dia pergi bersembunyi.”

Tahulah kini orang-orang Nepal itu bahwa mereka tidak mungkin dapat membohong lagi. “Dia bersama dengan Ban-tok Coa-ong telah pergi dengan pe-rahu layar kecil ke Pulau Ular.”

“Pulau Ular? Di mana dia itu? Tempat apa?” Tio Gwan membentak.

“Kami sendiri belum lama dibawa oleh Ban-tok Coa-ong ke tempat itu, dan letaknya di bagian selatan Teluk Pohai. Pulau kosong yang amat berbahaya, penuh ular berbisa.”

Tio Hok Gwan tidak berani sembrono melakukan pengejaran ke pulau itu. Dia tahu betapa lihainya Toat-beng Hoat-su. Menghadapi datuk pertama ini saja belum tentu dia dan dua orang pemban-tunya dapat menang, apalagi di sana masih ada Ban-tok Coa-ang yang amat lihai dan berbahaya, dan kabarnya putera dari Raja Ular itu juga amat lihai, ditambah lagi dengan tempat berbahaya penuh ular dan mungkin anak buah mereka yang banyak jumlahnya.

Dia lalu memerintahkan dua orang pembantunya untuk melayarkan perahu Anginn Barat itu ke pantai, kemudian menyerahkan enam orang Nepal itu sebagai tahanan di kota terdekat dan dia sendiri bersama dua orang pembantunya, segera kembali ke kota raja untuk melaporkan kepada Panglima Besar The Hoo akan bokor emas yang kini berada di Pulau Ular!

Kun Liong berjalan seorang diri sam-bil kadang-kadang tersenyum geli. Dia masih teringat akan nikouw yang diobatinya dan merasa geli kalau teringat beta-pa tanpa disangka-sangkanya, dia berke-sempatan untuk meraba-raba pinggul seorang wanita yang begitu halus dan mulus! Biarpun dia tidak berniat melaku-kan perbuatan itu melainkan terpaksa

untuk mengobatinya, namun kini teringat akan itu, teringat pula betapa nikouw itu menjadi malu, dia tersenyum sendiri. Betapa anehnya semua hal yang dialaminya, pikirnya. Hal-hal yang berhubungan dengan wanita! Dia selalu merasa senang berurusan dengan wanita! Banyak sudah terjadi hal yang menyenangkan.

DENGAN Liem Hwi Sian yang diciumnya dan yang ternyata menyatakan cinta kepadanya! Dengan Cia Giok Keng yang cantik jelita akan tetapi ga-lak dan gagah perkasa. Dengan Yo Bi Kiok yang juga menyatakan cinta kepada-nya! Dengan Souw Li Hwa yang angkuh. Kemudian dengan nikouw yang hanya dikenal pinggul sebelahnya saja! Aneh semua itu! Sudah ada dua orang dara cantik jelita mengaku cinta kepadanya. Akan tetapi mana mungkin dia membo-hongi mereka dan mengaku cinta? Tidak, dia tidak sekejam itu! Dia tidak mau membohongi dara-dara yang amat disukanya itu.

Mengenangkan kedua orang dara itu, dia merasa kasihan kepada Hwi Sian dan Bi Kiok. Mengapa dua orang dara itu begitu bodoh dan jatuh cinta kepadanya? Benarkah bahwa mereka mencintanya? Mengapa ketika dia berterus terang menyatakan bahwa dia suka akan tetapi tidak cinta, ketika ternyata bahwa dia tidak membalas cinta mereka, kedua orang dara itu menjadi marah dan ber-duka? Apakah cinta itu menuntut balas-an? Cintakah atau nafsu berahikah itu yang mendorong pria dan wanita saling mendekat dan masing-masing mencurah-kan perasaannya dengan tuntutan yang menjadi dasar, tuntutan itu saling memi-liki, saling menguasai, dan saling menye-nangkan dan disenangkan? Kalau ada tun-tutan seperti itu, sudah pasti sekali ter-cipta kecewa, duka, cemburu dan benci. Benarkah bahwa cinta menimbulkan se-mua kesengsaraan ini? Kalau begitu, bu-kanlah cinta namanya, yang menimbulkan kecewa, duka, cemburu, benci dan iri adalah pikiran, ingatan. Kalau pikiran memasuki hati, semuanya menjadi keruh

dan rusak, karena pikiran memperkuat si aku sehingga segala gerak tubuh, segala gerak hati dan pikiran selalu ditujukan demi kepentingan dan kesenangan si aku. Maka cinta pun menjadi bukan cinta lagi karena di situ terkandung tuntutan supa-ya aku dicinta, aku diperhatikan, aku dipuaskan, engkau menjadi milikku, aku menggantungkan semua harapan akan kepuasan dan kenikmatan hidup kepada-mu. Selama engkau melayani segala ke-butuhanku lahir batin, selama engkau memuaskan aku, selama engkau menye-nangkan aku, selama engkau menjadi mi-likku pribadi, mulut ini tak segan-segan menyatakan “aku cinta padamu”. Akan tetapi kalau engkau mengingkari semua tuntunanku itu, kalau engkau tidak mau melayani kebutuhan lahir batin dariku, kalau engkau mengecewakan aku, kalau engkau tidak menyenangkan aku, kalau engkau melepaskan diri dariku dan lari kepada orang lain, cintaku berubah men-jadi cemburu dan benci!

Kun Liong menggaruk-garuk kepalanya. Yang begitukah cinta? Betapa rendah tipis dangkal dan tidak bermutu! Betapa-

pun juga, dia menyesal teringat bahwa dia menyebabkan dua orang dara itu berduka dan kecewa. Akan tetapi, nanti dulu! Benarkah dia yang menyebabkan mereka berduka? Bukankah yang menjadi penyebab adalah pikiran mereka sendiri? Di dunia ini apa pun yang menimpa diri secara batiniah, yang menimbulkan perasaan girang-sedih, cinta-benci, puas-kecewa dan suka-duka, sama sekali tidak disebabkan dari luar, melainkan disebabkan oleh ingatannya sendiri. Ingatan yang menimbulkan itu semua. Kalau orang tidak mengingat akan masa lalu apakah ada itu yang dinamakan benci, duka dan sebagainya? Membenci seorang lain tentu ditimbulkan oleh ingatan akan masa lalu, apa yang telah dilakukan oleh orang itu terhadap dirinya, tentu saja yang merugikan akunya. Ingatannya yang menjadi gara-gara kesengsaraan hidup. Dapatkah manusia hidup bebas dari ingatan, bebas dari pikiran?

Kun Liong menggerakkan kedua pundaknya dan melanjutkan perjalanannya memasuki hutan terakhir di kota Liok-bun. Agaknya kota ini dinamakan Liok-bun (Enam Pintu) karena pintu gerbangnya berjumlah enam buah.

Ingatan memang ada perlunya, dia menjawab pertanyaannya sendiri sambil melangkah ke dalam hutan yang indah itu. Akan tetapi ingatan itu hanya perlu untuk menghadapi urusan lahiriah yang nyata, untuk keperluan pemeliharaan dan kelangsungan hidup ini. Tanpa ingatan tentu akan kacau-balau kehidupan lahir-iah ini. Akan tetapi, sekali ingatan membayangkan segala hal yang lalu dan yang akan datang, membayangkan peristiwa–peristiwa yang dibagi dua sebagai hal

yang menyenangkan dan tidak menye-nangkan, kalau pikiran memasuki batin, maka terciptalah segala perasaan yang bertentangan dan menjadikan hidup manusia ini seperti dalam neraka yang di-ceritakan dongeng.

Tiba-tiba Kun Liong sadar dari lamunannya oleh suara yang datang terbawa angin. Suara tambur dan terompet, suara banyak orang, suara pasukan yang besar! Suara itu datang dari arah depan, dari kota Liok-bun. Agaknya di kota itu terdapat banyak pasukan, pikirnya sambil mempercepat langkahnya karena dia menjadi ingin sekali tahu mengapa tempat itu penuh dengan pasukan.

Ketika dia melangkah dengan tergesa–gesa itu, tiba-tiba terdengar suara orang memanggilnya. “Eh, bukankah kau Kun Liong…?”

Kun Liong cepat menahan langkahnya dan menoleh ke kiri. Betapa girangnya ketika dia mengenal Pendekar Sakti Cia Keng Hong sedang duduk seorang diri di bawah pohon! Cepat dia menghampiri dan memberi hormat.

“Cia-supek…! Mengapa Supek berada di sini seorang diri?”

Cia Keng Hong yang berpakaian se-derhana dan membungkus rambut kepala-nya dengan sutera kuning itu tersenyum. “Duduklah, Kun Liong. Aku sedang me-ngaso dan menjauhkan diri dari kesibukan pasukan. Betapa indah menyenangkan di tempat sunyi ini setelah berpekan-pekan sibuk menghadapi banyak orang dan me-lihat kekerasan dan perang. Sungguh benar ucapan seorang pujangga kuno bahwa di mana ada manusia, di situ tentu timbul kekerasan, kekejaman, dan kekacauan. Kebenaran itu terasa sekali kalau kita duduk menyendiri di tempat yang sunyi dari kehadiran manusia seper-ti di tempat ini.”

Kun Liong duduk di atas rumput dengan pendekar sakti itu. “Memang tepat sekali apa yang Supek katakan. Teecu (murid) sendiri sudah berkali-kali me-nyaksikan kekerasan dan kekejaman yang terjadi antara manusia. Apakah selama kita berpisah di Ceng-to dahulu itu ke-adaan Supek baik-baik saja?”

Cia Keng Hong menarik napas panjang. “Entah bagaimana aku harus menjawab pertanyaanmu itu. Aku telah melapor ke kota raja, pasukan dikirim dan aku ditugaskan untuk membantu. Pasukan pemerintah berhasil menghancurkan pemberontak, sisanya melarikan diri cerai–berai dan memasuki hutan-hutan. Mereka sudah terpecah belah, tidak membahaya-kan keamanan negara lagi. Bahkan orang–orang asing itu telah menghubungi pemerintah dan dengan langsung dari kota raja mereka diperbolehkan untuk mendarat dan berdagang, akan tetapi terbatas di sekitar pantai Pohai saja. Aku melihat perang, melihat ratusan orang roboh dan tewas, saling bunuh dan saling sembelih. Entah keadaan seperti itu baik atau buruk.” Pendekar sakti itu menarik napas panjang.

Kun Liong juga menghela napas. Dia sendiri merasa ngeri menyaksikan keganasan manusia saling bunuh.

“Bagaimana dengan engkau sendiri?” Cia Keng Hong bertanya. “Apa yang terjadi dengan gadis yang kita tolong dari rumah Hek-bin Thian-sin di Ceng-to dahulu itu?”

“Nona itu bernama Liem Hwi Sian dan bersama kedua orang suhengnya dia menerima tugas dari gurunya yang bernama Gak Liong di Secuan untuk membantu pemerintah menyelidiki para pemberontak.”

“Hemmm, jadi murid dari pendekar Secuan itu! Pantas dia gagah dan berani sekali, sungguhpun kurang perhitungan dan hampir celaka. Pendekar Gak Liong di Secuan adalah murid keponakan dari Panglima Besar The Hoo dan namanya sudah terkenal, sungguhpun dia sendiri tidak pernah terjun ke dunia ramai. Bagaimana dengan usahamu mencari kedua orang tuamu?”

Kun Liong mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepalanya yang gundul.

“Belum ada hasilnya sama sekali, Supek. Teecu merasa heran sekali ke mana per-ginya Ayah dan Ibu.”

Cia Keng Hong memandang pemuda itu dengan sinar mata tajam, kemudian terdengar dia berkata, “Kun Liong, aku merasa khawatir sekali akan keadaan orang tuamu. Kalau mereka itu masih hidup, tidak mungkin mereka berdua menyembunyikan diri selama bertahun–tahun ini, setidaknya mereka tentu akan datang mengunjungi kami di Cin-ling–san.”

Kun Liong terkejut dan memandang wajah pendekar itu. “Maksud… maksud Supek…?”

“Aku khawatir bahwa telah terjadi sesuatu dengan mereka, Kun Liong.”

“Bagaimana Supek dapat menduga demikian?” Kun Liong bertanya, wajahnya agak pucat.

“Pertama, ayah bundamu adalah orang-orang gagah yang tidak mungkin menyembunyikan diri karena takut sam-pai bertahun-tahun. Ke dua, kalau me-reka menghadapi kesukaran, ada dua tempat di mana mereka dapat datang, yaitu di Cin-ling-san atau di Siauw-lim-si. Akan tetapi di kedua tempat itu me-reka tak pernah muncul. Dan ke tiga, kedaan dunia makin kacau, orang-orang golongan sesat bermunculan dan mereka memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, apalagi dengan munculnya orang-orang asing. Karena itu, setelah aku sendiri berusaha menyelidiki dan mendengar–dengar tentang mereka tanpa hasil se-olah-olah orang tuamu lenyap ditelan bumi tanpa meninggalkan jejak, mulailah aku ragu-ragu apakah mereka itu masih hidup.”

“Supek…!”

“Kun Liong, kita sebagai manusia harus berani menghadapi kenyataan hidup yang bagaimanapun juga. Kita tidak perlu melarikan diri dari kenyataan, kita harus berani membuka mata menyambut da-tangnya segala sesuatu yang kita hadapi, baik itu merupakan hal yang semanis–manisnya atau sepahit-pahitnya. Tidak perlu mencari-cari hiburan kosong bagi hati yang dirundung kekhawatiran, karena dengan demikian rasa takut akan makin menggerogoti hati. Kenyataannya adalah bahwa orang tuamu telah lenyap tak meninggalkan bekas, dan ini adalah tidak wajar sama sekali kecuali tentu saja kalau mereka itu telah tewas.”

Kun Liong memejamkan kedua mata-nya. Sampai lama dia duduk mengatur napas untuk menahan pukulan batin yang timbul dari kekhawatirannya mendengar kata-kata pendekar sakti itu. Cia Keng Hong memandang dengan penuh rasa terharu dan juga kagum. Pemuda ini menarik hatinya dan makin condong hati-nya untuk menjodohkan puterinya dengan pemuda ini. Dia mendiamkan saja sampai pemuda itu membuka kembali kedua matanya dan sepasang mata yang tajam itu kelihatan membasah.

“Supek benar. Kita harus berani menghadapi kenyataan hidup, betapapun pahitnya. Dan setelah teecu pikir-pikir, memang tidak mungkin Ayah dan Ibu bersembunyi sampai bertahun-tahun ini. Besar sekali kemungkinan bahwa kedua orang tua teecu itu, telah… telah tewas. Namun tetap teecu akan mencarinya, setidaknya mencari tahu bagaimana hal itu terjadi, kalau benar-benar mereka telah tewas.”

Cia Keng Hong mengangguk. “Memang semestinya begitu, dan aku pun akan berusaha mencari keterangan dari kenalan-kenalanku. Sekarang engkau hendak ke mana, Kun Liong?”

“Pertama-tama, teecu akan melanjutkan usaha teecu mengambil kembali dua buah pusaka Siauw-lim-pai yang dicuri oleh Kwi-eng-pang. Selain itu, juga teecu harus minta kembali pusaka bokor emas yang terjatuh ke tangan Kwi-eng Niocu.”

“Bokor emas? Pusaka The-taiciangkun yang hilang?” Cia Keng Hong bertanya.

Kun Liong mengangguk dan dia lalu dengan singkat menceritakan tentang perebutan pusaka yang telah berada di tangannya itu dan terpaksa dia melemparkannya kepada Kwi-eng Niocu dengen harapan kelak dapat dia minta kembali.

Mendengar penuturan itu, Cia Keng Hong menarik napas panjang. “Aihhhh, tugasmu sungguh amat berbahaya dan berat, Kun Liong. Telaga Kwi-ouw sangat terkenal sebagai tempat yang amat berbahaya, sesuai dengan namanya. Entah sudah berapa hanyak tokoh kang-ouw tewas ketika berusaha mendatangi pulau di tengah telaga yang dijadikan sarang Kwi-eng-pang.”

“Teecu pernah mendarat di pulau itu, Supek.”

Cia Keng Hong kelihatan terkejut. “Heh? Benarkah?”

Kun Liong lalu menceritakan pengalamannya ketika dia pergi ke pulau di tengah Telaga Setan itu, betapa di tepi telaga dalam hutan dia bertemu dengan Toat-beng Hoat-su yang tidak dikenalnya, kemudian betapa dia ditipu oleh pelayan wanita Kwi-eng Niocu sehingga tertawan dan dia dijadikan rebutan antara Siang–tok Mo-li dan Toat-beng Hoat-su sehingga akhirnya dia menjadi tawanan kakek datuk kaum sesat nomor satu itu.

“Aihhh, kalau begitu engkau sama sekali belum mengenal Telaga Setan dan pulaunya itu,” kata Cia Keng Hong. “Dan masih untung engkau tertawan secara itu karena andaikata engkau yang belum me-ngenal rahasia Telaga Setan itu datang sendiri ke sana dan melakukan pendarat-an, mungkin engkau akan celaka dan tewas dalam jebakan-jebakan rahasia yang amat berbahaya. Aku pemah men-dengar penuturan seorang sahabat yang telah berhasil menyelidiki rahasia itu maka kalau kau hendak mendarat ke sana, sebaiknya engkau mempelajari ra-hasia-rahasia yang akan kaulukiskan untukmu.”

Pendekar sakti itu lalu bertepuk ta-ngan dan menggapai kepada seorang pen-jaga di luar pintu gerbang kota Liok–bun yang tampak dari situ. Perajurit yang memegang tombak itu berlari-lari mendatangi dan memberi hormat kepada pendekar ini. Cia Keng Hong menyu-ruhnya mengembalikan kertas dan alat tulis. Penjaga itu cepat berlari memasuki pintu gerbang kota Liok-bun. Tak lama kemudian dia datang berlari-lari memba-wa kertas lebar bergulung dan alat tulis yang diminta pendekar itu. Kemudian, penjaga itu berdiri agak menjauh sambil berdiri dengan tombak tetap di tangan, berjaga dan menanti perintah selanjutnya dari pendekar itu.

Cia Keng Hong lalu mulai membuat gambaran telaga dan pulaunya sambil memberi petunjuk kepada Kun Liong yang memandang penuh perhatian.

“Tepi Telaga Kwi-ouw dari tiga jurus-an, yaitu barat, selatan dan timur, me-rupakan daerah yang kelihatannya datar dan aman, akan tetapi justeru tiga bagi-an inilah yang paling berbahaya bagi para pendatang dari luar. Tiga daerah ini penuh dengan alat-alat jebakan yang ber-bahaya sekali.”

“Akan tetapi, Supek. Ketika teecu ikut dengan perahu pelayan itu, teecu juga melalui dari selatan.”

“Karena pelayan itu telah mengenal daerahnya, tentu sala dia dapat mendayung perahunya dengan aman. Di bagian selatan itu, di bawah permukaan air ter-dapat banyak sekali ranjau yang berupa batu karang di bawah permukaan air, akan tetapi sekali saja disentuh oleh perahu asing, anak panah yang hanyak sekali dan yang sudah dipasang di dalam batu karang buatan itu akan meluncur ke luar dan menyerang penumpang perahu secara tiba-tiba dan hebat sekali. Selain ini, begitu orang mendarat di pulau itu dari selatan, biarpun di situ penuh pasir, namun terdapat begian pasir yang ber-putar dan menyedot kaki orang yang menginjaknya sehingga tanpa petunjuk orang yang mengenal daerah itu, sekali kakimu terseret, sukarlah bagimu untuk menyelamatkan diri.”

Kun Liong terbelalak dan bergidik ngeri.

“Daerah barat yang amat berbahaya karena penuh dengan lubang-lubang jebakan yang tertutup dengan rumput hi-dup, dan di dalam setiap lubang terisi banyak ular berbisa yang siap menyambut setiap orang yang terjeblos masuk. Juga air di bagian itu banyak sekali terdapat ganggang yang hidup di bawah permukaan air, penuh dan dapat mendamparkan pe-rahu yang lewat. Tentu saja bagi mereka yang sudah hafal, mereka tahu bagian mana yang tumbuhan ganggangnya tidak begitu banyak dan dapat dilalui perahu. Kemudian bagian timur, biarpun tidak di-pasangi jebakan pada permukaan air te-laga, namun di situ terdapat air berpu-sing yang amat berbahaya, dapat me-nyeret dan menyedot perahu ke dalam pusingan air. Agaknya ada sebuah lubang besar di bagian ini yang menciptakan air berpusing. Sedangkan di daratan pulau di timur ini terdapat alat-alat rahasia yang kalau dilanggar kaki asing, akan mem-buat timbunan batu besar yang menggu-nung di bagian ini runtuh ke bawah dan tentu saja akan menyerang para penda-tang, sukar untuk menyelamatkan diri dari serangan batu-batu besar itu.”

“Ihhh, keji sekali!” Kun Liong berseru dan merasa lega bahwa dia telah diberi tahu akan hal-hal yang membahayakan itu sehingga dia dapat lebih berhati-hati.

“Satu-satunya jalan adalah dari utara. Akan tetapi bagian ini yang bersih dari jebakan merupakan daerah yang amat sukar didatangi. Tepi daratan pulau di bagian ini amat terjal, merupakan tebing tinggi yang curam sekali dan tidak mu-dah didaki dari bawah.” Cia Keng Hong membuat lukisan tebing tinggi itu sambil memberi penjelasan. “Akan tetapi, saha-batku itu pernah melihat beberapa kera memanjat ke atas dan hal ini memberi dia petunjuk bagaimana caranya menda-tangi pulau dengan aman. Yaitu dengan memanjat akar-akar yang menonjol ke-luar di dinding tebing itu, memanjat melalui akar dan batu menonjol. Tentu saja hal ini harus dilakukan dengan hati–hati, membutuhkan keringanan tubuh dan kecekatan, karena biasanya hanya monyet saja yang dapat memanjat ke atas. Se-kali injakan kaki atau pegangan tangan terlepas, engkau akan terjatuh ke bawah dan tentu takkan dapat menghindarkan diri lagi dari maut.”

“Agaknya, memang jalan melalui tebing itu yang paling aman,” Kun Liong berkata sambil memandang lukisan su-peknya.

“Betapapun juga, engkau harus berhati-hati sekali karena siapa tahu bahwa Kwi-eng-pang yang kuat itu kini telah memasangi jebakan pula pada jalan pa-ling sukar akan tetapi paling aman ini.”

Tiba-tiba perajurit yang tadi berdiri berjaga dengan tombak di tangan berse-ru, “Tai-hiap, Liu-ciangkun datang meng-hadap!”

Kun Liong menoleh dan Cia Keng Hong memandang seorang perwira yang bertubuh tinggi besar. Perwira itu cepat memberi hormat kepada pendekar sakti itu dan berkata, “Seorang utusan dari kerajaan datang membawa sepucuk surat yang disampaikan kepada Tai-hiap, dari Panglima Besar The Hoo sendiri.”

Cia Keng Hong menggulung gambar itu, menyerahkannya kepada Kun Liong, kemudian dia bangkit berdiri dan menerima sampul tertutup. Setelah mengucapkan terima kasih dan perwira itu pergi pula dan berdua dengan Kun Liong, pendekar itu kembali duduk di bawah pohon dan membuka surat dari Panglima Besar The Hoo. Wajahnya yang masih tampan dan gagah tidak membayangkan sesuatu ketika membaca surat itu sehingga sukar bagi Kun Liong untuk menduga apakah surat itu membawa berita baik ataukah buruk. Setelah selesai membaca, Cia Keng Hong melipat surat, menyimpan ke dalam saku jubahnya, memandang Kun Liong dan berkata, “Ahhh, sungguh hebat sekali, bokor emas itu benar-benar menimbulkan geger di dunia kang-ouw. Kun Liong, bokor itu telah terlepas lagi dari tangan Kwi-eng Niocu seperti yang kauceritakan kepadaku dan kini bokor itu berada di tangan Toat-beng Hoat-su dan Ban-tok Coa-ong. Mereka membawa bokor itu ke Pulau Ular! Panglima Besar The Hoo mendengar laporan ini dari Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan. Hemmm, Pulau Ular di Teluk Pohai. Berbahaya sekali! Dan Nona Souw secara lancang pergi sendiri melakukan penyelidikan ke sana!”

Kun Liong terkejut. “Apakah Supek maksudkan Nona Souw Li Hwa?”

“Engkau sudah mengenalnya?”

“Sudah beberapa kali teecu berjumpa dengan Nona Souw Li Hwa,” jawab Kun Liong singkat. Dia merasa malu kalau harus menceritakan betapa dia pernah menjadi tawanan nona cantik! “Bukankah dia murid Panglima Besar The Hoo?”

“Memang dari gurunya dia mempela-jari ilmu-ilmu yang tinggi. Akan tetapi dia masih amat muda dan belum berpengalaman. Bagaimana dia begitu lancang untuk pergi seorang diri ke Pulau Ular? Betapa mungkin dia dapat melawan dua orang datuk kaum sesat yang lihai itu? Ah, sungguh mengkhawatirkan sekali. Panglima The Hoo minta kepadaku untuk merampas kembali bokor itu, akan tetapi berita tambahan tentang kepergian nona itu ke Pulau Ular, benar-benar membikin gelisah.”

“Supek, kalau begitu, biarlah teecu lebih dulu menyusulnya ke sana.”

Cia Keng Hong memandang kepadanya. Dia maklum bahwa pemuda ini me-miliki ilmu kepandaian yang hebat, apa-lagi kini telah menjadi pewaris Thi-khi–i-beng sehingga boleh diandalkan. Dia sendiri harus mengepung Pulau Ular itu karena kalau dia menyerbu begitu saja, kedua orang datuk itu akan dapat mela-rikan diri dan membawa bokor emas. Maka dia harus mengepung ketat pulau itu, barulah dia akan turun tangan. De-ngan demikian, dua orang datuk itu tidak akan mendapat kesempatan untuk mem-bawa lari bokor emas milik Panglima The Hoo itu.

“Baiklah kalau kau suka membantu, Kun Liong. Memang bokor itu perlu se-kali diselamatkan. Kalau sampai terjatuh ke tangan penjahat, bisa berbahaya. Bo-kor itu selain mengandung petunjuk tem-pat rahasia penyimpan harta pusaka ter-pendam yang amat besar jumiahnya, juga penyimpanan kitab-kitab pusaka pelajaran ilmu silat yang mujijat. Demikian menu-rut keterangan yang kuperolch dari Pang-lima The Hoo sendiri. Bokor itu dahulu milik seorang pendeta perantau berilmu tinggi yang kemudian meninggal dunia di Nepal. Setelah berpindah-pindah tangan, akhirnya bokor itu terjatuh ke tangan Panglima The Hoo dan sampai sekarang, belum ada yang dapat membuka rahasia tempat penyimpanan pusaka itu.”

Kun Liong mengangguk-angguk. “Me-mang teecu harus ikut berusaha menda-patkannya kembali, bukan hanya mengingat bahwa teecu ikut bersalah mem-biarkan bokor terjatuh ke tangan datuk kaum sesat, juga dahulu teecu sudah berjanji kepada perwira pengawal Tio Hok Gwan untuk kelak menghaturkan bokor itu kepada Panglima The Hoo sendiri!”

Kun Liong tidak mendapat keterangan sejelasnya tentang letak Pulau Ular, kemudian dia menerima bekal secukupnya dari Cia Keng Hong, karena untuk keper-luan itu dia harus membeli sebuah pe-rahu di pantai Pohai. Setelah menerima petunjuk dan nasihat, Kun Liong berang-kat secepatnya seorang diri menuju ke daerah Teluk Pohai, sedangkan Cia Keng Hong lalu berunding dengan para perwira yang memimpin pasukan pemerintah un-tuk mengatur siasat, mengepung Pulau Ular dan mengatur persiapan.

Kini pulau itu menjadi sebuah tempat tinggal yang indah akan tetapi juga menyeramkan bagi orang luar. Pulau itu bertanah subur, bahkan sebagian tanahnya telah diolah menjadi ladang yang subur dan yang menghasilkan bahan makanan, dikerjakan oleh anak buah Ban-tok Coa-ong. Akan tetapi, datuk kaum sesat ini pun telah menangkap banyak ular-ular beracun dan ular-ular ini kemudian dilepas di pulaunya sehingga beberapa tahun kemudian, pulau ini penuh dengan ular dari segala macam ukuran dan warna, kesemuanya mengandung bisa yang amat jahat. Maka terkenallah Pulau Ular dan tidak ada seorang pun pelancong atau nelayan yang berani mendekati pulau itu. Karena sudah bertahun-tahun tidak ada orang berani mendekati pulau, ditambah pula dengan keadaan pulau yang terlindung oleh tembok benteng tebal dan mengandalkan nama besarnya yang ditakuti, maka Ban-tok Coa-ong tidak melakukan penjagaan dan membiarkan pulau itu “terbuka”. Namun, semenjak Toat-beng Hoat-su datang dan berhasil membawa bokor emas, anak buah Ban-tok Coa-ong dikerahkan untuk melakukan penjagaan di sekeliling pulau, di atas tembok-tembok benteng.

Anak buah Ban-tok Coa-ong yang tinggal di Pulau Ular terdiri dari orang-orang Nepal dan pribumi, tentu saja mereka adalah orang-orang dari golongan hitam. Mereka berjumlah kurang lebih lima puluh orang dan sebagian di antara mereka ada yang membawa keluarga mereka. Bahkan di antara orang-orang Nepal adapula yang membawa isteri dan tinggal di Pulau Ular dengan beberapa orang anak mereka.

Karena bertahun-tahun tidak ada orang luar berani memasuki Pulau ular, maka anak buah Ban-tok Coa-ong tidak pernah menghadapi serangan musuh. Hal ini membuat mereka amat percaya kepada kekuatan sendiri, terutama mengandalkan nama besar pemimpin mereka. Biarpun kini mereka menerima tugas untuk berjaga-jaga, namun karena mereka tidak percaya akan ada orang berani datang ke pulau itu, mereka melakukan penjagaan dengan malas-malasan. Apalagi di pulau itu selain pemimpin mereka, Ban-tok Coa-ong yang sakti, masih terdapat pula putera pemimpin mereka itu yang mereka sebut Ouw-yang-kongcu (Tuan Muda Ouwyang), bahkan masih ada lagi kakek tua renta yang kabarnya tidak kalah lihai dibandingkan pemimpin mereka yaitu Toat-beng Hoat-su.

Karena penjagaan yang tidak ketat itulah yang memudahkan Li Hwa untuk mendaratkan perahunya di pinggir Pulau Ular tanpa diketahui oleh para penjaga. Setelah menyembunyikan perahunya di dalam semak-semak di pinggir telaga, Li Hwa lalu mulai dengan penyelidikannya, menuju ke tengah pulau di mana tampak olehnya bangunan-bangunan pondok. Dia melihat para penjaga, makin ke tengah makin banyak, akan tetapi para penjaga itu sedang bercakap-cakap dan agaknya sama sekali tidak memperhatikan penjagaan mereka. Apalagi ketika dia tiba di antara pondok-pondok yang berdiri berjajar di tengah pulau, dia meihat betapa banyak penjaga sedang tertarik oleh sebuah peristiwa yang terjadi di tempat terbuka depan sebuah pondok terbesar, Li Hwa menyelinap di antara pobon-pohon dan pondok-pondok, kemudian berhasil meloncat naik ke atas sebuah pohon besar dan mengintai ke bawah.

Ada belasan orang laki-laki membentuk sebuah lingkaran lebar tempat itu. Mereka itu terdiri dari tujuh orang Nepal yang berambut panjang dan selebihnya orang Han biasa, dan rata-rata mereka bersikap kasar dan pada saat itu mereka tersenyum menyeringai lebar seolah-olah menghadapi sebuah tontonan yang menarik hati. Di ujung sana duduk seorang pemuda berwajah tampan yang menyeringai lebar dan mata pemuda tampan ini bergerak-gerak liar menyeramkan. Melihat sikap dan pakaiannya yang seperti pakaian seorang putera bangsawan itu, mudah diduga bahwa dia tentulah seorang yang tinggi kedudukannya di antara mereka, dan bahkan Li Hwa dapat menduga bahwa agaknya pemuda itu adalah Ouwyang Bouw, pemuda iblis putera Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok yang kabarnya memiliki kekejaman melebihi ayahnya.

Akan tetapi pada saat itu, yang menarik perhatian Li Hwa adalah tontonan yang membuat belasan orang itu tertarik, yaitu yang terdapat di tengah-tengah lingkaran mereka. Dia melihat dua orang laki-laki dan wanita. Melihat bentuk wajah dan model rambut mereka, mudah diketahui bahwa laki-laki dan wanita itu tentulah bangsa asing Nepal seperti tujuh orang pria yang menonton di situ. Laki-laki itu tinggi besar, usianya antara empat puluh tahun, sedangkan wanitanya berkulit putih tidak seperti kaum prianya, berusia antara tiga puluh tahun. Yang mengherankan hati Li Hwa adalah bahwa bahwa kedua orang itu telanjang bulat sama sekali! Wanita itu kelihatan takut, wajahnya pucat dan matanya terbelalak lebar memandang ke sana-sini seperti orang minta tolong. Sedangkan yang pria hanya menunduk, kelihatannya seperti orang yang sudah putus harapan dan menyerahkan diri kepada nasib.

Tiba-tiba pemuda tampan yang ber-mata liar, yang memang bukan lain ada-lah Ouwyang Bouw itu, mengangkat ta-ngan ke atas dan agaknya ini merupakan isyarat karena semua orang yang tadinya menonton sambil berbisik-bisik, kini diam semua, dan hanya memandang ke arah wanita telanjang bulat yang berusaha se-dapat mungkin untuk menggunakan kedua tangannya menutupi tubuhnya, lengan kiri melintang di depan dada dan tangan kanan menutupi bagian bawah pusarnya, kedua kaki dirapatkan dan wanita itu berlutut setengah menelungkup, hanya mukanya diangkat ke atas memandang kepada para penonton dengan sinar mata minta pertolongan. Adapun laki-laki te-lanjang itu hanya menggunakan kedua tangan menutupi bawah pusarnya sambil berlutut dan menundukkan muka.

“Hemmm, kalian sudah tertangkap basah. Sanghida, kau mau bilang apa lagi? Mengapa engkau berjina dengan isteri Rajid?”

Laki-laki telanjang itu makin menunduk dan dengan suara lemah dia menja-wab, “Saya mencinta dia, Ouwyang-kongcu.”

“Benarkah? Apa engkau menganggap dia cukup berharga, untuk kaubela de-ngan nyawa?”

Sanghida, orang Nepal itu, mengangguk. “Saya bersedia membelanya dengan nyawa.”

“Ha-ha-ha, agaknya Madhula pandai sekali melayanimu sehingga engkau ter-gila-gila, ha-ha-ha!” Ouwyang Bouw tertawa dan semua orang yang menonton ikut pula tertawa, kecuali seorang di antara mereka yang bertubuh gemuk, seorang Nepal yang mukanya merah.

“Heii, Madhula! Engkau yang berjina dengan laki-laki lain, apakah senang kepada Sanghida daripada kepada suamimu sendiri?” Kembali Ouw-yang Bouw bertanya, kini ditujukan kepada wanita itu.

Wanita itu menoleh dan memandang kepada Ouwyang Bouw dengan sinar mata penuh kemarahan. Li Hwa dari atas da-pat melihat bahwa wanita itu memang cantik sekali, kecantikan yang aneh, khas dan menarik.

“Ouwyang-kongcu, engkau tentu lebih tahu apa yang telah terjadi! Karena aku telah menolak cintamu, menolak bujukan dan rayuanmu untuk berjina denganmu karena aku selalu setia kepada suamiku, maka engkau telah mempergunakan Si Jahanam Sanghida ini untuk memper-kosaku! Engkau menaruh racun dalam minuman kami sehingga kami berdua teracun dan mabok, melakukan perbuatan di luar kesadaran kami berdua selagi suamiku kausuruh berjaga di luar. Kemu-dian kau sendiri yang sengaja menangkap kami dan menuduh kami berjina. Semua ini kaulakukan untuk membalas penolak-anku terhadap bujukanmu!”

“Tutup mulutmu!” Ouwyang Bouw membentak marah sekali, akan tetapi kemudian dia tertawa-tawa lagi. Sikap yang berubah-ubah ini amat menyeramkan, dan Li Hwa yang berada di atas pohon menduga bahwa agaknya pemuda itu memang benar-benar gila seperti disohorkan dunia kang-ouw.

“Semua tuduhan itu tidak ada buktinya. Akan tetapi perjinaan kalian sudah jelas terbukti. Kalau kalian tidak berjina, mana mungkin kalian berdua berada da-lam satu kamar dan satu pembaringan tanpa pakaian sama sekali?” Dia tertawa dan semua orang tertawa pula.

Wanita itu tidak menjawab, hanya memandang dengan mata terbelalak penuh kemarahan kepada Ouwyang Bouw.

Pemuda ini kembali tertawa bergelak dan secara tiba-tiba menghentikan ketawanya, memandang wanita itu dan berkata, “Madhula, engkau memang cantik sekali, pantas diperebutkan oleh kaum pria. Heii, Rajid, apa katamu? Setelah kau melihat sendiri betapa isterimu dipeluk dan ditiduri oleh Sanghida, beranikah engkau mempertahankannya dan melawan Sanghida?”

Orang Nepal yang bermuka merah dan bertubuh gemuk, yang sejak tadi bermuke muram dan tidak Ikut tedawa seperti yang lain, meloncat ke depan, meman-dang kepada dua orang yang telanjang itu, kemudian meludah ke bawah dan berkata, “Perbuatan mereka yang terku-tuk ini sudah jelas! Anjing jantan ini harus dibunuh dan anjing betina ini pun tidak patut dibiarkan hidup!”

“Ha-ha-ha, kalau begitu, kuberikan Sanghida kepadamu, Rajid!” kata Ouw-yang Bouw.

Mendengar ucapan ini, orang Nepal yang gemuk itu mengeluarkan suara te-riakan keras dan tubuhnya sudah cepat menerjang maju, mengirim pukulan de-ngan tangan terkepal ke arah kepala Sanghida yang telanjang. Biarpun tubuhnya gemuk, akan tetapi orang Nepal bermuka merah ini gerakannya cepat, menunjukkan bahwa dia memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi, dengan tangan kiri masih menutupi bawah pusarnya, Sanghida mengelak dan meloncat ke belakang. Gerakannya sigap sekali dan ketika Rajid menerjang lagi, Sanghida menangkis dengan lengan kanan.

Tubuh Rajid terhuyung ke belakang dan ternyata bahwa dia kalah tenaga.

“Rajid… aku tidak ingin bertempur denganmu…!” Sanghida berkata dan kembali dia menangkis, kini sambil menangkis, tangan kanannya berhasil menangkap pergelangan tangan Raiid dan sekali menariknya, tubuh Rajid terdorong ke depan dan hampir terbanting jatuh. Rajid makin marah, mukanya makin merah ketika dia meloncat membalik dan mencabut senjatanya yang berbentuk sebatang golok melengkung dan tajam sekali.

Li Hwa yang besembunyi di atas pohon, memandang dengan alis berkerut. Dia tidak merasa ngeri menonton pertempuran karena gadis ini sudah terbiasa dengan pertempuran dan perang, apalagi dia sendiri sudah menghadapi pertandingan seringkali. Akan tetapi yang membuat dia merasa ngeri dan canggung karena malu adalah melihat betapa Sanghida bertanding dengan tubuh telanjang bulat! Selama hidupnya belum pernah dia melihat laki-laki telanjang dan kini dia melihat seorang laki-laki tinggi besar bertelanjang bulat dan berkelahi pula! Kalau mungkin, dia ingin menjauhkan pandangan matanya dari tubuh bawah laki-laki telanjang itu, akan tetapi karena dia ingin pula melihat bagaimana kesudahan perkelahian itu, terpaksa dia menonton terus dan sedapat mungkin menghindarkan pandang matanya dari bagian yang dianggap mendatangkan rasa malu luar biasa itu.

“Rajid… aku tidak mau bertanding melawanmu. Aku sudah bersalah kepadamu, kau sahabatku dan… dan Madhula…”`

“Tutup mulutmu!” Rajid membentak dan goloknya sudah menyambar lagi.

“Singgg…!” Sinar menyilaukan mata dari golok itu agaknya tentu akan dapat membabat tubuh tinggi besar itu buntung menjadi dua kalau mengenai sasaran, akan tetapi Sanghida ternyata amat tangkasnya. Kini menghadapi penyerangan lawan yang memegang golok, biarpun tingkat kepandaiannya lebih tinggi, dia terpaksa harus menggunakan kedua tangannya sehingga dia sama sekali tidak lagi dapat menutupi bagian tubuh bawahnya. Tentu saja hal ini mendatangkan penglihatan yang luar biasa, lucu sedangkan bagi para penonton pria, akan tetapi mendirikan bulu roma bagi Li Hwa!

“Rajid… maafkan aku…! Aku scorang laki-laki sejati, harus membela diri kalau diserang… dan kami… aku dan Madhula… kami melakukan hal itu tanpa kami sengaja…”

“Siuuutttt… plak! Plak!” Sambil mengelak, Sanghida berhasil menampar lengan kanan Rajid sehingga sambaran golok menyeleweng dan tamparan ke dua mengenai pundak Rajid, membuat suami yang penuh cemburu dan kemarahan ini terhuyung pula.

“Sanghida! Engkau atau aku yang harus mampus untuk memperoleh Madhula!” Rajid membentak pula. “Kalau aku mati, kau boleh mengambil dia, kalau kau yang mati, dia harus kuhukum, mampus pula!”

“Rajid…! Kau boleh membunuh aku, tapi jangan membunuh dia! Dia tidak berdosa… seperti yang dikatakannya tadi, kami terkena racun perangsang… auuhhh…!” Tiba-tiba Sanghida terhuyung ke belakang dan Rajid menubruk ke depan, goloknya menyambar.

“Crapppp…. Aduuhhh…!” Perut Sanghida terobek oleh golok, tubuhnya terjengkang dan darah muncrat keluar dari perut itu, diikuti oleh isi perut yang keluar dari luka lebar itu. Tubuh Sanghida berkelojotan, namun tidak lama karena Rajid sudah membacokkan goloknya dua kali yang membuat leher lawannya putus!

Li Hwa melihat betapa Ouwyang Bouw telah menyerang Sanghida dari jauh, dengan gerakan jari tangan dan tampak sinar merah kecil menyambar ke arah orang Nepal tinggi besar itu sehing-ga dia terhuyung dan terkena bacokan golok Rajid. Tahulah Li Hwa bahwa me-mang Ouwyang Bouw sengaja hendak membunuh Sanghida dan mungkin sekali karena dia tidak suka mendengar raha-sianya dibocorkan. Li Hwa menjadi pe-nonton tak diundang ini segera dapat menyimpulkan peristiwa itu. Jelas bagi-nya bahwa memang agaknya semua ini sudah diatur oleh pemuda iblis itu.

Mungkin benar tuduhan Madhula yang cantik bahwa berkali-kali Ouwyang Bouw membujuk rayunya, akan tetapi selalu ditolak oleh isteri Rajid itu. Hal ini membuat Ouwyang Bouw menjadi sakit hati dan dengan curangnya pemuda itu menaruh racun perangsang ke dalam makanan atau minuman Sanghida dan Madhula sehingga terjadilah perjinaan di antara mereka, perjinaan di luar kesa-daran mereka yang terpengaruh racun, pada saat Rajid disuruh berjaga oleh Ouwyang Bouw. Tentu saja pemuda iblis ini sudah mengatur perangkapnya dan begitu kedua orang mabok itu melakukan perjinaan, dia menangkap basah mereka!

Semua orang yang menonton kelihatan puas dengan pertunjukan kekejaman ini, dan melihat waiah mereka yang seolah-olah haus darah dan kini semua mata ditujukan kepada tubuh telanjang Madhula seperti serombongan srigala kelaparan, Li Hwa bergidik. Dia berhadapan dengan orang-orang yang telah mati perasaan kemanusiaan mereka, manusia-manusia yang haus darah dan yang menganggap kekejaman seperti sebuah kesenangan yang mengasyikkan. Maka timbullah perasaan kasihan kepada wanita yang bernasib malang itu. Li Hwa adalah seorang yang masih amat muda, maka tentu saja perasaannya amat halus dan mudah tersinggung. Melihat peristiwa ini di depan mata, dia sudah melupakan tugasnya, tugas sebagai seorang penyelidik yang ingin menyelidiki tentang bokor emas. Kini baginya yang terpenting hanyalah urusan yang terjadi di depan matanya, yaitu menolong Madhula! Kelemahannya sebagai seorang muda inilah yang mengkhawatirkan hati Panglima The Hoo dan Pendekar Cia Keng Hong ketika mendengar bahwa dara itu melakukan penyelidikan seorang diri, sungguhpun mereka tahu bahwa ilmu kepandaian dara itu sudah cukup tinggi untuk bekal pe-nyelidikan berbahaya itu.

Madhula roboh telentang menyaksikan kematian Sanghida yang demikian menye-dihkan. Dia tidak mencinta laki-laki tinggi besar itu. Dia mencinta suaminya, dan karena cintanya ini pula maka tidak seperti kaum wanita lainnya di pulau itu yang bahkan mengharapkan rayuan Ouw-yang-kongcu, dia menolak godaan pemuda itu. Akan tetapi dia pun tahu kini bahwa Sanghida mencintanya. Sahabat baik sua-minya dan dia itu sesungguhnya mencin-tanya, dan kini menjadi korban karena kelicikan Ouwyang Bouw. Semua mata para penonton kini dapat berpesta pora dan melahap tubuh wanita cantik yang telentang polos itu, tidak terlindung lagi oleh kedua lengannya.

“Perempuan hina ini pun harus mam-pus!” Rajid yang seperti kemasukan setan karena dendam dan cemburu, mengangkat goloknya membacok ke arah tubuh isteri-nya yang biasanya merupakan sebuah benda hidup yang paling disayangnya di dunia ini.

“Singg… tringggg!” Golok itu ter-lempar ketika terbentur oleh sebuah batu kecil yang dilemparkan oleh tangan Ouw-yang Bouw. Melihat ini, Li Hwa menjadi kagum dan maklumlah dia bahwa pemuda itu merupakan lawan yang tak lemah!

“Ehhh… Ouwyang-kongcu… menga-pa…?” Rajid memandang pemuda itu dengan mata penuh penasaran.

“He-heh, sabarlah, Rajid. Memang dia harus dihukum, akan tetapi hukuman seperti yang hendak kaulakukan itu kurang menarik. Pokoknya kau menghen-daki dia mati, bukan? Nah, biarlah dia dihukum dengan caraku dan panggil semua wanita ke sini agar mereka me-nyaksikan pula betapa berat hukuman bagi mereka yang berani melanggar hu-kum kami di sini!” Rajid mengangguk–angguk dan beberapa orang laki-laki sudah berlari memanggil semua wanita yang berada di pulau itu. Hanya ada dua puluh orang wanita tua muda yang datang ke situ dengan muka pucat. Para suami girang, dengan hal ini, mengharap isteri-isteri mereka takut dan tidak berani berjina dengan laki-laki lain. Akan tetapi, para wanita yang memandang dengan muka pucat itu mempunyai pengertian lain ketika mendengar kata-kata Ouwyang-kongcu.

“Kalian lihatlah. Begini nasib wanita yang berani melanggar hukum kami di sini!” kata Ouwyang-kongcu setelah me-nyuruh Rajid mengikat tubuh telanjang Madhula kepada sebuah tiang, diikat kaki dan tangannya pada tiang itu sehingga tubuh bagian depannya tampak nyata, sedikit pun tidak terlindung, kecuali rambut hitam panjang terurai yang seba-gian menggantung ke depan. Para wanita itu mengerti bahwa yang dimaksudkan oleh Ouwyang-kongcu, hukuman ini akan jatuh menimpa wanita yang berani meno-lak majikan muda itu!

Ouwyang Bouw yang agak miring otaknya itu memang mempunyai kegemaran yang aneh dan mengerikan. Dia sudah tergila-gila oleh wanita cantik maupun tidak cantik. Bahkan pernah dia tergila-gila oleh seorang wanita nenek-nenek, dan pernah pula tergila-gila kepada seorang anak perempuan yang masih kecil! Dan mereka semua harus menyerahkan diri kepadanya! Dia sama sekali tidak pemah memperkosa, dia tidak mau memperkosa wanita. Akan tetapi dia mempunyai cara lain untuk membuat setiap orang wanita tunduk kepadanya dan mau menyerahkan diri, yaitu dengan ancaman dan bayangan penyiksaan yang mengerikan. Hampir semua wanita, besar kecil, tua muda yang menyerah kepadanya tentu didorong oleh rasa takut dan ngeri, bukan karena sukarela karena sikap pemuda ini, biarpun wajahnya tampan dan tubuhnya menarik, jelas menunjukkan gejala otak miring yang mendatangkan rasa ngeri dan menjijikkan!

Madhula masih pingsan ketika Ouwyang-kongcu mengeluarkan sebatang suling kecil yang panjangnya hanya dua jengkal. Mulailah pemuda itu menyuling. Suara suling yang melengking dengan nada tinggi membuat Li Hwa terkejut karena dia maklum bahwa suara melengking yang menggetar itu mengandung tenaga khi-kang yang kuat sekali. Dia melihat betape semua penonton kini berkumpul di belakeng Ouwyang-kongcu, seolah-olah menanti sesuatu dengan penuh ketegangan. Adapun tubuh Madhula yang diikat pada tiang itu pun menghadap kepada mereka, sedangkan mayat Sanghida yang berlumuran darah menggeletak tak jauh diri kaki Madhula.

Sebelum ular itu tiba, Li Hwa sudah dapat menduga dengan hati diliputi penuh kengerian bahwa suara suling dari pemuda iblis itu tentulah merupakan tanda panggilan kepada ular-ularnya. Hal ini mudah saja diduga karena pertama, pemuda itu adalah putera Si Raja Ular! Ke dua, mereka berada di Pulau Ular, dan memang biasanya pada ahli ular mengundang ular-ular mereka dengan suara melengking tinggi, biasanya suara suling.

Memang tepat dugaan Li Hwa. Akan tetapi ketika ular-ular itu datang, biar-pun dia sudah menduganya, dia menjadi kaget bukan main karena tidak menyang-ka bahwa yang datang demikian banyak-nya! Rombongan demi rombongan ular berdatangan dari empat penjuru, dan warna kulit mereka pun berbeda-beda, ada yang hijau, ada yang hitam kemerah-merahan, kuning, dan ada yang belang-belang. Biarpun Li Hwa tidak mengenal banyak ular, namun dia dapat menduga bahwa ular-ular itu tentulah ular berbisa yang amat berbahaya. Ular-ular yang lewat di dekat Ouwyang-kongcu dan anak buahnya, seperti takut menghadapi api, dan bina-tang yang merayap dekat cepat menying-kir dan mengambil jalan memutar. Sete-lah ular-ular itu tiba di tempat itu, Li Hwa hampir tidak kuat melihat lebih lama lagi. Ular-ular yang mendesis-desis itu kini berebutan menyerang mayat Sanghida, melahap dan merobek-robek mayat itu sehingga mayat itu seperti hidup kembali karena bergerak-gerak ke sana-sini, seperti berkelojotan. Dalam waktu sebentar saja, habislah semua kulit, daging dan isi perut mayat itu, tinggal rangka yang kering, tidak ada setetes pun darah yang tampak karena semua telah dijilat habis!

Kini ular-ular itu mulai merayap, ke arah Madhula dan wanita ini pun baru siuman dari pingsannya. Dengan mata terbelalak ia tadi melihat betapa potongan-potongan daging terakhir dari Sanghida dibuat perebutan ular-ular itu. Dia maklum akan nasibnya, akan tetapi betapapun dia berusaha untuk memejamkan kedua matanya menerima maut, kedua mata itu malah selalu terbelalak kembali memandang ke arah ular-ular yang merayap-rayap di sekelilingnya. Ular-ular itu adalah ular-ular kecil, paling besar dua kaki panjangnya dan jumiahnya ada empat puluh ekor lebih, menggeliat-geliat seperti sekumpulan cacing, akan tetapi tidak ada yang berani menyerang Madhula, agaknya menanti “perintah” suara suling yang masih terus melengking sejak tadi.

Memang benar demikian. Ular-ular itu seolah-olah bergerak menurut getaran suara suling dan tiba-tiba suara suling itu berubah merendah. Ular-ular itu kelihatan gelisah, kemudiah seekor demi seekor, ular-ular itu meninggalkan tempat itu, membuat semua penonton menjadi heran.

“Mengapa dia tidak dihukum?” Rajid membanting kaki dan memandang penasaran.

Ouwyang Bouw sudah melepas sulingnya dan sambil memandang ke arah tu-buh Madhula dia berkata, “Kurang menarik, kalau disuruh mengeroyok ular-ular kecil yang sudah kenyang itu. Dia yang sudah mau berjina dengan Sanghida, ten-tu tidak puas dengan ular-ular kecil itu. Kaulihatlah saja.” Sambil berkata dia lalu menempelkan lubang suling di depan bibirnya dan kini terdengarlah lengking suara suling yang berbeda dari tadi. Suaranya naik turun dengan nada rendah, namun mengandung getaran yang amat kuat sehingga para penonton ada yang kelihatan menggigil kedua kakinya.

Tak lama kemudian terdengarlah suara mendesis-desis. Li Hwa terkejut dan memandang ke bawah. Seekor ular yang amat besar sedang merayap lewat d bawah pohon. Dia menggigil jijik. Ulat ini berkulit hitam kehijauan, sepasang matanya seperti mata manusia, lidahnya merah menjilat-jilat keluar, besar tubuhnya sama dengan pahanya dan panjangnya ada sepuluh kaki!

Madhula juga sudah melihat ular itu dan wanita ini mengeluarkan rintihan panjang, mukanya makin pucat dan matanya terbelalak, penuh kengerian. Suara suling menuntun ular itu mendekat dan terdengarlah suara berbisik orang-orang yang menonton karena tegang dan tertarik ketika melihat betapa dengan perlahan ular besar itu mendekati tiang di mana tubuh Madhula terikat. Ular itu mendesis-desis, lidahnya yang merah makin sering menjilat-jilat. Melihat bentuk mulutnya yang besar agaknya dia akah sanggup menelan tubuh wanita Nepal itu! Suara suling makin meninggi dan kini moncong ular mulai naik dan lidah itu mulai menjilati kaki yang telanjang. Madhula mengeluarkan suara rintihan ketika merasa betapa ular mulai merayap naik melalui betisnya! Semua penonton menahan napas, mata mereka memandang melotot seperti hendak meloncat keluar dari pelupuknya. Ketika suara rintihan Madhula makin sering dan ular itu mentaati suara suling, kini merayapi seluruh tubuh telanjang itu, membelit-belit dan tampak seolah-olah ular itu membelai-belai tubuh Madhula seperti hendak mengajak wanita itu bermain cinta, para penonton menelan ludah penuh nafsu berahi dan gairah. Makin hebat suara suling yang ditiup Ouwyang Bouw, makin cepat ular itu bergerak-gerak, mengeliat-geliat menyelusuri seluruh tubuh Madhula yang kini sudah memejamkan mata dan merapatkan kedua bibirnya, sama sekali tidak bersuara lagi.

Li Hwa menanti saat baik dan ketika kepala ular itu kebetulan merayap naik dan lebih tinggi dari kepada Madhula,

tangan kirinya bergerak dan tampaklah sinar perak meluncur ke arah kepala ular itu. Ular itu menggerakkan kepala seperti gila, berkelojotan dan tanpa disengaja dia mempererat belitannya pada tubuh Madhula. Kembali ada sinar perak menyambar dan kepala ular yang sudah ditembusi dua batang jarum perak itu terkulai, tubuhnya perlahan-lahan mele-paskan belitan. Akan tetapi betapa kagetnya hati Li Hwa ketika dia melihat darah bertetesan dari kedua bibir Ma-dhula yang dirapatkan. Dia cepat meloncat turun dari atas pohon sambil berteriak, “Ouwyang Bouw manusia iblis yang kejam!”

Ouwyang Bouw sudah meloncat bangun, dan semua pembantunya yang tadi terheran-heran melihat ular itu menghentikan permainannya bahkan berkelojotan di bawah, kini juga marah dan siap untuk mengeroyok orang yang menjadi pengacau. Akan tetapi ketika mereka melihat seerang dara yang amat cantik jelita melayang turun dari atas pohon, mencabut pedang dan membabat putus belenggu kaki tangan Madhula mereka tercengang dan memandang kagum! Madhula membuka mata, membuka mulut akan tetapi tidak ada kata-kata yang keluar karena begitu mulutnya dibuka, darah menyembur keluar dan dengan penuh kengerian Li Hwa maklum bahwa wanita itu telah menggigit putus lidahnya sendiri! Dalam keadaan ngeri dan tersiksa, Madhula mengambil keputusan nekat, membunuh diri dengan menggigit lidahnya. Lidah itu putus di tengahnya, dan tidak mungkin nyawanya dapat tertolong lagi, apalagi karena dia telah mengeluarkan banyak sekali darah yang tadi dia paksa menelan darahnya sendiri agar jangan sampai Ouwyang-kongcu menyelamatkan nyawanya.

Melihat keadaan wanita itu, Li Hwa yang tadi memeluk tubuh yang terguling setelah belenggunya terlepas, perlahan-lahan menurunkan tubuh Madhula. Tubuh itu lemas dan orangnya sudah tidak ingat apa-apa lagi, darah terus mengalir keluar dari lidah yang buntung. Madhula dalam sekarat, seperti juga tubuh ular yang sekarat, hanya bedanya, kalau tubuh Madhula sama sekali tidak bergerak, tubuh ular itu berkelojotan, menggeliat–geliat dan darah mengalir keluar dari dua lubang kecil di antara kedua matanya.

Ouwyang Bouw tadi juga terkejut sekali. Gadis cantik itu telah dapat menyclundup ke dalam pulau tanpa ada yang tahu, bahkan telah berada di atas pohon tanpa dia sendiri mengetahuinya. Hal ini saja sudah membuktikan bahwa dara itu tentu memiliki ilmu kepandaian tinggi. Apalagi ketika dibuktikannya dengan membunuh ularnya menggunakan jarum, ini menjadi tanda pula bahwa dalam hal penggunaan senjata rahasia jarum dara itu belum tentu kalah lihai olehnya yang juga mahir menggunakan senjata rahasia jarum kecil merah yang berbisa. Akan tetapi, kini Ouwyang Bouw telah dapat menguasai rasa kagetnya, matanya terputar-putar menggerayangi seturuh tubuh Li Hwa dan dia tertegun penuh kekaguman. Seorang dara yang masih muda, seorang perawan yang amat jelita, akan tetapi juga amat gagah perkasa! Begitu melihat Li Hwa, sekaligus hati Ouwyang Bouw telah jatuh! Selama petualangannya dengan wanita dari segala macam bentuk dan usia, dia merasa belum pernah dia memperoleh seorang dara muda seperti yang kini berdiri di depannya dengan sikap gagah perkasa itu! Dan dia harus memperolehnya, dengan cara bagaimana- pun juga!

“Aihhh, harap Nona sudi memaafkan kami yang tidak tahu akan kedatangan seorang tamu agung seperti Nona sehing-ga tidak mengadakan penyambutan sela-yaknya!” Ouwyang Bouw berkata sambil melangkah maju dan memberi hormat dengan menjura dan mengangkat kedua tangan di depan dada.

Diam-diam Li Hwa terkejut dan terheran. Tak disangkanya bahwa pemuda yang disohorkan sebagai seorang iblis muda yang kejam dan gila ini ternyata pandai bersikap demikian sopan-santun seperti seorang terpelajar dan bersusila! Terseret oleh sikap yang begitu hormat, otomatis dia pun mengangkat kedua tangan, membalas penghormatan. Teringat akan hal ini, dia terkejut dan cepat me-nurunkan lagi tangannya, diam-diam dia maklum betapa berbahaya dan lihainya pemuda ini yang dengan gerak dan kata–kata sudah dapat menyeretnya!

“Aku Souw Li Hwa bukan tamu dan tidak mengharap sambutan. Akan tetapi menyaksikan kekejaman yang biadab tadi, aku tak mungkin mendiamkannya saja. Bukankah engkau yang disebut Ouwyang Bouw, pemuda iblis yang gila?”

Biarpun anak buahnya sudah menge-luarkan suara marah, Ouwyang Bouw ter-senyum saja mendengar makian ini, bah-kan memandang makin kagum dan sesaat kedua bola matanya seperti lupa untuk berputaran seperti biasa. “Dugaanmu benar, Nona Souw Li Hwa. Aku adalah Ouwyang Bouw, majikan muda dari Pulau Ular ini, dan aku merasa senang sekali dapat berkenalan denganmu. Bolehkah aku mengetahui apa sesungguhnya kehen-dak Nona memberi kehormatan kepada kami dengan mengunjungi pulau ini?”

Ditanya demikian, barulah Li Hwa teringat dan terkejut. Celaka! Rusaklah usahanya menyelidiki bokor emas yang katanya dibawa ke pulau itu! Akan tetapi karena sudah terlanjur, maka dia membentak, “Cih! Siapa sudi berkenalan denganmu? Aku datang hendak membunuhmu dan membersihkan pulau ini dari iblis-iblis macam kalian dan ular-ular jahat!”

“Hayaaa…! Dari mana datangnya nona cantik yang sombong ini?” Tiba–tiba terdengar seruan orang dan muncul-lah dua orang kakek yang dipandang oleh Li Hwa dengan penuh perhatian. Yang berseru tadi adalah seorang kakek tua berusia enam puluhan tahun, tubuhnya tinggi sekali, tinggi kurus dengan leher panjang sehingga kalau dia bergerak-gerak, tubuhnya seperti seekor ular. Mata-nya sipit memandang tajam penuh selidik dan melihat kakek kurus tidak ragu lagi hati Li Hwa menduganya bahwa tentu kakek inilah Si Raja Ular Ban-tok Coa–ong Ouwyang Kok. Adapun kakek ke dua adalah seorang kakek yang lebih tua lagi, tujuh puluh tahun lebih usianya, juga tubuhnya tinggi kurus dan dia tidak berkata-kata, hanya terbatuk-batuk, rambut-nya tidak terpelihara, panjang penuh uban, juga jenggot dan kumisnya tidak terpelihara. Karena pakaiannya sederhana, kakek ini makin kelihatan jorok (kotor). Diam-diam Li Hwa menduga dengan hati penuh ketegangan bahwa tentu kakek ini yang disebut datuk sesat nomor satu Toat-beng Hoat-su. Tahulah dia bahwa dia telah dikurung oleh orang-orang jahat yang berlimu tinggi, namun sedikit pun hatinya tidak merasa takut, bahkan dia tidak mau berpura-pura lagi, dengan sikap gagah dan suara lantang dia bertanya,

“Apakah kalian berdua orang tua Ban-tok Coa-ong dan Toat-beng Hoat-su?”

“Hemm, bocah sombong. Engkau telah mengenal kami. Siapakah engkau dan engkau yang masih amat muda dan cantik ini mengapa ingin membunuh diri dengan lancang memasuki Pulau Ular tanpa ijin?” Ban-tok Coa-ong berkata, suaranya mengandung ancaman karena kakek ini telah menjadi marah sekali. Kalau ada orang luar berani memasuki pulaunya tanpa ijin, hal itu selain merupakan pelanggaran yang harus dihukum mati, juga merupakan penghinaan kepadanya karena menunjukkan bahwa Si Pelanggar itu memandang rendah kepadanya.

“Ayah, Nona ini bernama Souw Li Hwa, cantik jelita dan gagah perkasa. Ayah, sekarang aku mengambil keputusan untuk menikah. Bukankah Ayah sering mengatakan bahwa aku sudah cukup dewasa untuk menikah dan bahwa Ayah ingin sekali menimang cucu? Ayah, dia itulah calon isteriku!”

Mendengar kata-kata yang jelas membayangkan kegilaan ini, Li Hwa menjadi marah bukan main. Dia melangkah maju menudingkan telunjuk kirinya kepada Toat-beng Hoat-su dan Ban-tok Coa-ong lalu membentak, “Ban-tok Coa-ong, aku mondengar bahwa engkau dan Toat-beng Hoat-su sudah merampas bokor emas, maka aku datang untuk minta kembali bokor emas itu. Mungkin saja Suhu akan suka mengampuni kalian kalau kalian mengembalikan pusaka itu secara baik-baik kepadaku. Kalian tahu, kalau Suhu marah dan mendengar kalian tidak mau mengembalikan benda pusaka milik Suhu itu, kemana pun kalian melarikan diri dan bersembunyi, akhirnya kalian tentu akan menerima hukuman dari Suhu.”

Mula-mula Ban-tok Coa-ong marah sekali mendengar ucapan nona itu yang dianggapnya sombong. Akan tetapi ketika mendengar kalimat-kalimat selanjutnya, dia dan Toat-beng Hoat-su terkejut.

“Kau… kau murid The Hoo?” Toat-beng Hoat-su bertanya dengan alis berkerut dan hati masih ragu-ragu. The Hoo adalah seorang panglima besar yang amat terkenal sebagai seorang yang memiliki kesaktian hebat. Benarkah dara jelita yang muda ini muridnya?

“Panglima Besar The Hoo adalah guruku dan aku menerima tugas dari Suhu untuk minta kembali bokor emas yang terjatuh ke tangan kalian.” Li Hwa menjawab dengan suara lantang.

Muka Ban-tok Coa-ong berubah merah. “Bagus, kaukira aku mudah menyerah begitu saja? Bocah lancang sombong, jangan kau mempergunakan nama The Hoo untuk menakut-nakuti Ban-tok Coa-ong!”

“Wuuuuttt…!” Angin keras yang dahsyat menerjang ke arah Li Hwa ketika kakek bertubuh ular itu tahu-tahu telah menyerangnya. Kedua kakinya masih tidak bergeser, akan tetapi tubuh atasnya melengkung dan kedua tangannya dengan jari terbuka mencengkeram ke arah dara itu. Panjang tubuh disambung lengan cukup untuk menjangkau dan mencapai tubuh Li Hwa.

“Ayah, jangan lukai calon isteriku!” Ouwyang Bouw berseru.

Akan tetapi, betapapun lihai serangan itu, dengan mudah saja Li Hwa mengelak dengan gerakan cekatan sekali, dan lengannya bergerak, tangannya mengebut ke samping mengenai lengan tangan kanan kakek itu.

“Plakkk!”

Biarpun Li Hwa harus meloncat ke belakang karena pertemuan tenaga itu membuat lengannya tergetar, akan tetapi juga kakek Raja Ular itu merasa betapa kulit lengannya panas, tanda bahwa dara muda itu benar-benar memiliki kepandaian hebat dan tenaga sin-kang yang kuat!

Dengan marah dan penasaran, tanpa mempedulikan seruan puteranya, Ouwyang Kok sudah hendak menerjang lagi, akan tetapi Toat-beng Hoat-su mendekatinya dan membisikkan siasatnya, “Tunggu… dia merupakan sandera yang baik dan berharga sekali… mungkin dapat ditukar dengan bokor…!”

Mendengar ini, Ban-tok Coa-ong menghentikan gerakannya hendak menyerang dan dengan wajah berseri kakek ini menghadapi Li Hwa dan berkata lantang “Nona Souw Li Hwa. Engkau dapat menghindarkan seranganku, hal ini saja sudah membuat engkau cukup berharga untuk bicara denganku. Engkau mengaku murid The Hoo, dan puteraku jatuh cinta kepadamu. Semua itu baik-baik saia, akan tetapi engkau harus diuji lebih dulu apakah benar engkau murid The Hoo dan apakah engkau cukup berharga untuk menjadi mantuku, ha-ha-ha!” Kakek Raja Ular itu menggapai kepada seorang Nepal yang tubuhnya tinggi besar seperu raksasa dan kumis jenggotnya lebat sekali hampir menutupi seluruh mukanya, sambil berkata, “Maju dan lawanlah nona ini!”

Orang Nepal itu menyeringai sehingga tampaklah giginya yang besar-besar, dan dengan sikap jumawa sekali dia melangkah ke dalam lapangan itu menghadapi Li Hwa. Sengaja dia mengerahkan tenaga pada kedua kakinya sehingga langkahnya seperti langkah gajah, membuat tanah tergetar setiap kali dia membanting ka-kinya!

Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Li Hwa mendengar ucapan Ban-tok Coa-ong tadi. Ucapan itu dianggap amat menghinanya, akan tetapi karena dia pun cukup maklum bahwa dia berada di sa-rang harimau dan menghadapi banyak lawan pandai, dia tidak mau terseret oleh kemarahannya. Gurunya pernah me-ngatakan kepadanya bahwa dalam meng-hadapi lawan tangguh, yang terpenting sekali adalah sikap tenang dan sikap tenang ini akan rusak apabila membiar-kan diri dikuasai pikiran yang menda-tangkan kemarahan, ketakutan, atau kesombongan. Maka kini menghadapi raksa-sa Nepal itu, dia bersikap tenang, sedikit pun tidak merasa takut, juga tidak me-mandang rendah dan sama sekali bebas dari kemarahan. Dengan sikapnya yang tenang, dia dapat memandang tajam dan segera dapat melihat bahwa lawannya adalah seorang yang memiliki tenaga kasar yang amat kuat dan otot-otot yang menggembung di seluruh tubuh raksasa ini telah terlatih, Namun, sekilas pan-dang saja Li Hwa sudah dapat menduga kelemahan lawan ini yaitu kelambanan gerak sehingga dia sudah tahu bahwa untuk mengalahkannya dia harus mengan-dalkan kecepatannya.

Dengan pikiran ini, tanpa memberi kesempatan kepada lawan untuk menye-rangnya Li Hwa sudah menerjang maju dan mengirim dua kali pukulan beruntun ke arah dada dan lambung. Gerakannya cepat bukan main karena dara ini telah mempergunakan jurus Ilmu Silat Jit-goat–sin-ciang-hoat. Dua pukulan yang dilaku-kan kedua tangan itu pun mengandung dua macam tenaga keras dan lembut, akan tetapi keduanya amat berbahaya karena yang keras dapat meremukkan tulang, dan yang lembut dapat merusak urat syaraf!

“Plakk! Blukk!”

Li Hwa terkejut bukan main karena kedua pukulannya, baik yang mengandung tenaga Yang-kang (keras) maupun Im-kang (lembut) bertemu dengan kulit dada dan kulit lambung yang kerasnya seperti baja! Tak disangkanya sama sekali bahwa raksasa itu memiliki tubuh yang kebal dan kuat bukan main. Dan lebih-lebih kagetnya ketika tiba-tiba kedua lengannya telah ditangkap oleh raksasa itu dan dengan tenaga yang seperti tarikan gajah, tubuh Li Hwa telah diangkat ke atas!

“Jangan bunuh dia…!” bentakan Ouwyang Bouw itu dijawab dengan suara tertawa bergelak oleh raksasa Nepal itu yang cepat melontarkan tubuh Li Hwa ke atas dan sambil bertolak pinggang dia tertawa-tawa menanti turunnya tubuh itu. Dia jelas bendak mempermainkan tubuh dara itu seperti sebuah bola yang dilempar-lemparkan ke atas!

Li Hwa sudah mempergunakan gin-kangnya, ketika tubuhnya meluncur ke atas seperti anak panah meluncur, cepat dia berjungkir balik sampai lima kali untuk mematahkan tenaga luncuran itu, kemudian melayang turun. Dari atas dia melihat betapa lawannya sudah siap me-nyambutnya dengan kedua lengannya yang berbulu dan kuat sekali itu, kedua lengan yang sudah dikembangkan dan diacungkan ke atas. Sudah terdengar suara lawannya tertawa bergelak. Li Hwa maklum bahwa kalau dia tidak dapat merobohkan lawan dari atas, dia akan tak berdaya sama sekali begitu tubuhnya tertangkap oleh

kedua tangan yang kuat itu. Untuk mempergunakan jarum peraknya, dia tidak sudi karena hal itu berarti bahwa dia jerih menghadapi lawan dengan terbuka. Pula, dengan kehadiran dua orang datuk kaum sesat itu, menggunakan senjata rahasia pun takkan ada gunanya. Maka dia lalu menggunakan akal dan sengaja membuat tubuhnya melayang turun seperti seorang yang tidak berdaya dan ketakut-an.

“Ha-ha-ha, Nona manis, marilah kita main-main!” Orang Nepal itu berkata dengan logat bicaranya yang kaku.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: