Petualang Asmara (Jilid ke-26)

“Siuttt…!” Ujung saputangan putih itu menangkap cakar setan sehingga serangannya terhadap Kun Liong terhalang. Kakek tinggi kurus itu terkejut sekali, membentak. “Siapa kau!” Akan tetapi nikouw muda itu tidak peduli, cepat melepaskan libatan saputangannya dan menyerang kakek itu dengan tamparan tangan kirinya. Pukulannya seperti pukulan biasa saja, seperti seorang wanita menampar muka seorang pria yang hendak berkurang ajar kepadanya, namun tamparan itu cepat dan mendatangkan angin tenaga sin-kang yang kuat, juga datangnya tidak langsung melainkan membentuk lingkaran.

“Aihhh…!” Lo-mo terkejut dan meloncat ke belakang lalu membalas dengan gerakan tongkat cakar setannya, mengarah muka nikouw itu.

“Hemm, manusia ganas!” Nikouw itu berseru, dengan mudah mengelak dan ujung saputangannya meledak mengenai pundak kakek itu.

“Nikouw keparat!” Kakek itu marah ketika melihat pakaian di pundaknya robek dan kulit pundaknya terasa panas. Sebaliknya Si Nikouw Muda maklum bahwa tubuh kakek itu kebal. Hantaman ujung saputangannya tadi dapat menghancurkan batu karang, akan tetapi pundak kakek itu lecet pun tidak! Maka dia lalu menangkap lengan Kun Liong.

“Hayo pergi!”

Kalau Kun Liong menghendaki, tentu saja dia dapat merenggutkan tangannya terlepas dari pegangan dan dapat menahan tarikan nikouw itu. Akan tetapi karena nikouw itu telah menjadi penolongnya dan dia pun sudah bosan harus melayani pengeroyokan sekian banyaknya perajurit, dia pun membiarkan dirinya diseret dan dia lari cepat sekali diseret

oleh nikouw muda yang ternyata memiliki gin-kang istimewa, Tentu saja Kun Liong tidak tega membiarkan nikouw itu kelelahan, maka diam-diam dia pun mengerahkan gin-kangnya sehingga tubuhnya ringan dan biarpun kelihatan dia diseret, namun sebenarnya dia berlari sendiri!

Setelah lari jauh dan para pengejarnya sudah tidak tampak atau terdengar lagi, Kun Liong sengaja terengah-engah dan berkata, “Aduhhh… berhenti… aduhh… napasku… senin kamis… huh-huh-huhhh…”

Nikouw itu melepaskan pegangannya dan mereka menjatuhkan diri duduk di bawah pohon. Nikouw itu memandang kepada Kun Liong sambil tersenyum melihat betapa pemuda itu ngos-ngosan napasnya.

“Aih, kiranya engkau hanya pandai dalam hal ilmu pengobatan saja, akan tetapi ilmu silatmu tidak berapa tinggi.”

“Huuh-hahhh… kau sih lari seperti kuda saja!”

Nikouw itu cemberut dan heranlah Kun Liong. Mana ada orang cemberut kok malah makin manis?

“Kausamakan aku dengan kuda?”

“Ibarat kuda, engkau tentulah kuda ajaib yang disebut Han-hiat-po-ma (Kuda Ajaib Berkeringat Darah) yang kabarnya sehari dapat lari seribu li.”

“Tidak sudi! Biarpun disamakan dengan kuda dewa sekalipun aku tidak sudi. Kuda nasibnya hanya ditunggangi orang! Aku bukan kuda!” Kun Liong bengong, tidak hanya terheran-heran melihat sikap wanita, watak wanita yang selalu berbeda dan dianggapnya edan-edanan dan kekanak-kanakan ini, akan tetapi juga heran karena setelah marah malah lebih manis daripada ketika cemberut tadi. Agaknya dalam setiap gerak-geriknya, nikouw muda jelita ini memiliki daya tarik yang berbeda, yang satu lebih menarik dan manis daripada yang lain!

“Sabar… sabar… aku hanya mengatakan larimu seperti kuda saking cepatnya.”

“Itu pun menghina namanya!”

“Elhoooh! Bukankah kuda itu paling cepat larinya? Bukan menghina melainkan memuji.”

“Siapa bilang. Larinya kuda saja berapa cepatnya sih? Aku sanggup berlari lebih cepat dari kuda!”

“Wah-wah, kalau begitu engkau tentu seorang bidadari dari kahyangan, bukan seorang manusia.”

“Ngawur, aku hanya seorang nikouw.”

“Nikouw palsu.”

“Nikouw benar-benar, tetapi nikouw terpaksa, hatiku bukan nikouw akan tetapi terpaksa aku menjadi nikouw…” Dan tiba-tiba nikouw itu menangis sesenggukan!

“Aihhh… Nona yang baik, kaumaafkan aku…” Kun Liong berlutut di depan nikouw itu.

“Heii, apa kau gila? Apa yang kaulakukan ini?” Nikouw itu lupa kesedihannya dan membentak menegur Kun Liong yang sudah duduk kembali.

“Kaukira engkau menangis karena kata-kataku yang tidak sopan atau yang menyinggung.”

“Tidak sama sekali. Aku hanya ingat akan nasibku. Sudahlah, tak perlu bicara tentang diriku.”

“Aku seperti pernah mendengar suaramu, bukan menjadi kebiasaanku melupakan suara yang amat merdu dan halus. Selama hidupku tentu akan teringat, akan tetapi entah di mana karena kita tidak pernah saling bertemu. Mungkin dalam mimpi aku mendengar suaramu…”

“Bodoh, biarpun dalam mimpi, mana bisa mendengar suara orang yang belum dijumpainya. Engkau memang pernah mendengar suaraku.”

“Benar-benarkah? Di mana? Kapan?”

“Ketika engkau mengobati seorang nikouw di dalam joli yang terluka… anunya…” Agaknya nikouw muda itu tidak sampai hatinya untuk menyebut sebuah pinggulnya yang terluka dahulu itu. Menceritakannya kembali saja membuat dia teringat dan seolah-olah dia merasakan kembali betapa jari tangan pemuda ini telah menyentuh kulit pinggulnya, membuat bulu tengkuknya berdiri!

“Apa…?” Kun Liong bengong memandang wajah nikouw itu dan aneh! Yang tampak olehnya adalah sebukit pinggul berkulit putih kuning halus dan yang terluka oleh jarum merah. “Pinggul… eh pinggul…” Dia mau bicara akan tetapi karena matanya membayangkan pinggul otomatis dari mulutnya keluar kata-kata itu membuat Si Nikouw Muda makin merah mukanya. “Maaf, iihh, kenapa mulut ini? Aku sekarang ingat. Pantas saja aku mengenal suaramu. Jadi engkaukah nikouw yang terluka oleh jarum merah itu? Siapakah engkau dan mengapa pula engkau sampai bisa terluka oleh Ouwyang Bouw?”

Kini nikouw itu memandang wajah Kun Liong dengan penuh keheranan. “Kau mengenal senjata rahasia Ouwyang Bouw?”

Kun Liong mengusap-usap kepalanya. “Karena jarumnya itulah maka kepalaku sekarang menjadi gundul pelontos seperti ini. Tentu saja aku pernah berjumpa dengan Ouwyang Bouw dan bapaknya Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok.”

Nikouw muda itu bergidik, ngeri mendengar nama-nama itu. “Anaknya jahat, ayahnya lebih kejam dan lihai luar biasa. Yap Kun Liong, aku telah mendengar namamu disebut banyak orang karena urusan bokor emas, dan memang engkau orang luar biasa sekali. Semua tokoh kang-ouw memperebutkan bokor, engkau yang sama sekali tidak tahu apa-apa malah yang menemukan bokor itu! Aku… aku adalah Pek Hong Ing dan terus terang saja, aku… aku hanya terpaksa menjadi nikouw, maka jangan engkau menyebutku seperti nikouw. Lain orang tidak apa-apa, akan tetapi aku merasa canggung dan tidak enak kalau kau menyebutku sebagai nikouw.”

“Eihh, kalau aku yang menyebutnya mengapa sih? Apa bedanya aku dengan orang lain?”

Hong Ing cemberut dan kembali Kun Liong menelan ludah. Manisnya! “Kau boleh menyebut aku nikouw, akan tetapi aku pun akan menyebutmu hwesio karena kepalamu juga gundul seperti kepalaku. Bagiku, menjadi pendeta bukanlah lahirnya melainkan batinnya, dan di dalam batinku, aku sama sekali tidak ingin menjadi nikouw.”

Mendengar dara itu bicara dengan serius, Kun Liong tidak mau menggoda lagi. “Ya sudahlah, Hong Ing, aku menganggap saja engkau seorang dara yang berkepala gundul seperti aku. Tapi kau belum menceritakan bagaimana sampai anumu itu terluka jarum merah milik Ouwyang Bouw.”

“Sebut saja pinggulku, mengapa anumu-anumu? Tidak enak sekali mendengarnya.”

“Eh, bukankah kau sendiri yang menyebut begitu tadi? Aku hanya menirumu.”

“Apa engkau ini selalu hanya pandai meniru orang lain? Meniru sih baik asal yang benar, kalau yang salah masa harus ditiru?”

KUN LIONG tertawa. Mengelus gundulnya dan berkata, “Memang aku tolol… ha-ha, mungkin karena gundul…”

“Ingat, aku pun gundul…” kata Hong Ing dan keduanya tertawa geli.

Tiba-tiba wajah Hong Ing pucat sekali dan Kun Liong cepat membalikkan tubuh karena mendengar gerakan perlahan. Tahu-tahu di depan mereka telah berdiri seorang dara lain yang wajahnya cantik jelita pula namun dingin dan pada saat itu wajah cantik ini kelihatan marah, sepasang matanya menyinarkan api dan bergantian mata itu menatap wajah Kun Liong dan Hong Ing. Dengan tubuh lemas Hong Ing bangkit berdiri, sedangkan Kun Liong tetap saja duduk enak-enak karena dia tidak mengenal wanita gagah dan cantik yang datang itu dan tidak merasa bersalah apa-apa, hanya terheran mengapa wanita muda secantik itu kelihatan marah sekali dan mengapa pula Hong Ing kelihatan pucat ketakutan.

“Engkau… Pek Hong Ing! Hemm, biarpun menyamar sebagai nikouw, aku tetap dapat mengenalmu. Sungguh tak tahu malu engkau, Sumoi! Menghindarkan diri dari pernikahan dengan cara menjadi nikouw, akan tetapi apa yang kutemukan di sini? Kau bermain gila dengan seorang hwesio muda! Betapa memalukan dan kau mencemarkan orang yang menjadi gurumu dan sucimu!”

“Suci! Jangan menuduh sembarangan!” Hong Ing berseru, suaranya mengandung isak karena ucapan sucinya itu benar-benar menusuk perasaannya yang halus.

“Tak perlu memutar lidah membela diri karena jelas kalian tertangkap basah! Apa perlunya kalau tidak main gila duduk di dalam hutan sunyi berduaan saja dan bersendau-gurau tertawa-tawa? Ah, sungguh percuma saja kepala kalian yang gundul itu. Sumoi, hayo kau ikut bersamaku menghadap Subo (Ibu Guru).”

Hong Ing dengan mata terbelalak dan muka pucat menggeleng-geleng kepalanya. “Tidak… tidak… aku tidak mau kembali ke sana… aku lebih baik mati daripada dipaksa menikah…”

“Keparat! Berbulan-bulan aku mencarimu dengan susah-payah, setelah bertemu kau kudapatkan main gila dengan hwesio ini, dan aku masih sabar, masih mau melupakan itu semua asal engkau suka turut bersamaku menghadap Subo. Aku tidak ingin bicara tentang kelakuanmu di pagi hari ini, dan kau menolak, bahkan memilih mati?”

“Memang lebih baik aku mati!” kata Hong Ing, suaranya kini mantap.

“Singgg…!” Tampak sinar berkilat ketika wanita cantik yang galak itu mencabut pedangnya yang berkilauan saking tajamnya. “Kau memilih mati? Nah, biarlah aku memenuhi permintaanmu, sesuai pula dengan perintah Subo, kalau kau masih membangkang supaya aku membunuhmu.” Selesai ucapan ini, pedang itu berkelebat dan dia telah menyerang Hong Ing dengan gerakan yang dahsyat sekali. Kun Liong terkejut melihat gerakan itu yang benar-benar amat cepat dan mengandung tenaga kuat sekali. Akan tetapi, Hong Ing masih sempat mengelak dengan gerakannya yang lincah dan ringan seperti burung. Namun sucinya terus menyerangnya bertubi-tubi, membuat Hong Ing terdesak hebat dan terpaksa harus berloncatan ke kanan kiri dan belakang untuk menghindarkan diri dart ujung senjata yang membawa maut itu. “Suci, begini tegakah engkau…? Kita sudah semenjak kecil seperti kakak beradik…”

“Wuuuuttt!” Hong Ing cepat menjatuhkan dirinya untuk menghindarkan diri dart sambaran pedang itu. Biarpun Kun Liong dapat melihat bahwa gerakan Hong Ing tidak kalah ringan daripada gerakan sucinya, namun karena dara ini tidak memegang senjata dan juga sama sekali tidak melakukan serangan balasan, hanya mengelak ke sana-sini saja, maka hatinya gelisah sekali dan tak terasa lagi tangannya meraba sebatang ranting kering yang menggeletak di dekatnya. Kegelisahannya terbukti ketika Hong Ing menjerit terkena tendangan sucinya. Tubuhnya terbanting dan dengan kecepatan kilat sucinya sudah datang menerjang dengan tusukan maut yang agaknya tak mungkin dapat dihindarkan lagi oleh Hong Ing yang sudah rebah miring itu.

“Trangggg…!” Kun Liong sengaja mengerahkan sin-kangnya yang mendatangkan getaran hebat sehingga ketika rantingnya bertemu dengan pedang yang ditangkisnya pedang itu terpental, terlepas dari tangan pemiliknya! Dara itu terbelalak memandang, bukan main rasa heran dan penasarannya dan merasa seperti dalam mimpi. Siapa orangnya yang mampu menangkis pedangnya dengan sebuah ranting dan sekali tangkis membuat pedangnya terlepas dari tangannya? Benar-benar aneh dan luar biasa sekali! Ataukah dia yang lengah dan tidak memegang pedangnya erat-erat karena sudah memastikannya bahwa sumoinya tentu tewas di tangannya?

Kun Liong tidak mempedulikannya lagi. Dia membuang ranting itu dan menghampiri Hong Ing yang masih rebah. “Hong Ing, kau… terluka…?”

Hong Ing bangkit duduk dan menggeleng kepala. “Tidak apa-apa, Kun Liong, biarkanlah aku… heiiii… hati-hati…!”

Namun terlambat. Hui-to (pisau terbang) yang disambitkan oleh sucinya itu hebat sekali meluncur dengan kecepatan melebihi anak panah menuju ke sasarannya, yaitu punggung Kun Liong. Pemuda ini sama sekali tidak menyangka bahwa ada dara demikian cantiknya akan sudi menyerang orang dengan menggelap, maka seruan Hong Ing itu terlambat. Pula, kalau dia mengelak, bukankah Hong Ing yang terancam oleh senjata rahasia itu? Dia lalu mengerahkan sin-kangnya dan hui-to itu menancap di punggungnya, tidak terus, melainkan menancap paling banyak sepanjang jari telunjuk dan menempel di situ. Darah muncrat dan Hong Ing menjerit, “Kun Liong…!” Sebelum Kun Liong sempat melakukan sesuatu, Hong Ing telah menggendongnya dan dara ini lalu meloncat jauh dan terus melarikan diri setepat kilat sambil menggendong tubuh Kun Liong!

Hemm, Sumoi Pek Hong Ing…! Begitu tak tahu malukah engkau? Berhenti!” ia mengejar dari belakang setelah menyambar pedangnya dan menyarungkannya.

Akan tetapi Hong Ing tidak peduli, terus menggendong Kun Liong dan mengerahkan seluruh gin-kangnya untuk melarikan diri. Ketika dia menengok dan melihat sucinva mengejar, dia berlari makin cepat lagi.

Kun Liong diam-diam merasa geli, juga terharu. Tak disangkanya bahwa sang suci seganas dan segalak itu sedang sang sumoi begini halus budinya. Sebenarnya luka di punggungnya itu tidak seberapa dan kalau dia mau, tentu saja dia dapat melawan suci itu, atau andaikata melarikan diri sekalipun, tak perlu digendong karena dia dapat lari lebih cepat dari Hong Ing. Akan tetapi, sekali merasa digendong belakang, dia merasa kenikmatan yang luar biasa. Tubuhnya mendekap ketat punggung Hong Ing, terasa kelembutan yang hangat dan hidungnya mencium keharuman memabukkan, maka dia merangkulkan kedua lengan di atas pundak Hong Ing sedangkan kedua kakinya yang panjang dia kempitkan di pinggang dara itu. Dia pura-pura setengah pingsan! Akan tetapi karena maklum bahwa mereka berdua dikejar, diam-diam Kun Liong mengerahkan gin-kangnya sehingga tubuhnya ringan sekali dan tidak menjadi penghalang bagi Hong Ing untuk mengerahkan seluruh ilmunya berlari cepat. Dan ternyata dalam hal ilmu berlari cepat, Hong Ing lebih menang dibandingkan dengan sucinya. Dia memasuki hutan, menyelinap di antara pohon-pohon dan makin lama jarak antara dia dan pengejarnya makin jauh dan akhirnya Hong Ing tiba di tempat yang ditujunya yaitu sebuah kuil kuno di tengah hutan. Dia segera menyelinap di balik pohon dan memasuki semak-semak, menurunkan tubuh Kun Liong yang pura-pura pingsan, mencabut hui-to itu dan memeriksa lukanya. Betapa heran rasa hati Hong Ing ketika memeriksa luka itu. Ketika mencabut hui-to tadi, dia pun sudah heran melihat hulto yang panjang itu hanya masuk sedikit saja, padahal ia tahu benar bahwa sucinya adalah seorang ahli penyambit pisau terbang yang amat lihai dan yang telah mewarisi kepandaian guru mereka sepenuhnya. Tidak saja hui-to itu amat cepat jika dilontarkan sucinya, juga pasti mengenai sasarannya dan biasanya tentu akan menancap sampai ke gagangnya! Akan tetapi dia tidak memusingkan hal itu, merasa bersyukur dan selagi dia hendak mengambil obat dari dalam saku jubahnya, tiba-tiba dia merangkul Kun Liong dan mendekap mulut pemuda itu dengan tangannya, khawatir kalau-kalau pemuda itu setelah siuman mengeluarkan suara. Matanya memandang ke depan di mana terdapat sebuah lorong kecil dan di atas lorong ini tampak tujuh orang nikouw berjalan beriringan sambil membaca doa! Kun Liong melirik dan melihat pula iring-iringan itu. Dia senang sekali didekap dan kepalanya berbantal lengan halus itu, apalagi mulutnya didekap. Dengan halus dia memegang lengan yang mendekap mulutnya dan menariknya sehingga mulutnya tidak tertutup lagi. Dia mengeluarkan rintihan perlahan, pura-pura merasa kesakitan hebat!

“Sssttt…!” Dalam kekhawatirannya akan terlihat oleh para saudaranya dari kuil itu, tanpa disadarinya lagi Hong Ing mendekap kepala Kun Liong ke dadanya dan kebetulan sekali Kun Liong miringkan mukanya sehingga kini mukanya terdekap ke dada. Kun Liong meram melek dan dia sekali ini benar-benar hampir pingsan ketika merasa betapa hidung dan pipinya merapat pada dada yang membusung itu dan tercium olehnya keharuman yang aneh. Aduh, mau rasanya aku selamanya begini, pikirnya dan tak terasa lagi mulutnya tersenyum penuh kesenangan hati!

Setelah rombongan nikouw yang berdoa itu lewat dan sudah jauh, barulah Hong Ing bernapas lega dan ketika dia menunduk, matanya terbelalak melihat betapa tanpa disadarinya dia mendekap muka Kun Liong ke dadanya! Hampir dia menjerit dan dia cepat melepaskan kepala itu sehingga kepala gundul itu jatuh ke tanah mengeluarkan suara berdebuk.

“Aduhhhh…!” Kun Liong mengeluh.

“Kusangka kau masih pingsan!”

“Aku tidak pernah pingsan!”

“Kalau begitu, mengapa kau diam saja?”

“Habis disuruh apa?”

“Hemmm, kau aneh dan kadang-kadang timbul sangkaanku bahwa kau seorang yang kurang ajar! Nah, miringlah, biar kuobati lukamu!”

Kun Liong tidak bicara lagi, takut kalau benar-benar dia dibenci karena dianggap kurang ajar, maka dia miring dan membiarkan lukanya diobati olch Hong Ing. Sekali ini Kun Liong merasakan sesuatu yang aneh di hatinya. Dia merasa amat kasihan kepada dara ini dan sama sekali tidak ada niat di hatinya untuk menggoda, sungguhpun kehadiran dan kecantikan dara ini jauh lebih hebat pengaruhnya terhadap dirinya dibandingkan dengan gadis-gadis cantik lain yang pernah dijumpainya dan digodanya.

Setelah selesai mengobati luka di punggung Kun Liong, Hong Ing berkata, “Aku girang sekali dapat membalas kebaikanmu dahulu ketika mengobati aku dengan sekarang merawat lukamu, Kun Liong. Sekarang, harap kau suka cepat pergi sebelum Suci datang lagi dan sebelum para nikouw di Kwan-im-bio tahu bahwa kau berada di sini.”

Kun Liong sudah duduk. Mereka duduk berhadapan dan Kun Liong menggeleng kepalanya. “Nanti dulu, Hong Ing. Sudah terlalu banyak kita mengalami bahaya bersama, dan sudah terlalu banyak aku berhutang budi kepadamu. Aku ingin sekali mengenalmu lebih dekat dan lebih baik lagi. Sudikah kau menceritakan kepadaku semua hal ihwalmu, barangkali saja aku dapat membantumu, baik dengan nasihat maupun dengan perbuatan?”

Hong Ing meragu, sejenak mereka berpandangan. Kemudian Hong Ing menghela napas dan berkata, “Baiklah. Kita memang masih harus bersembunyi sampai keadaan aman benar.” Mulailah dara cantik jelita dan terpaksa menjadi nikouw ini menceritakan riwayatnya kepada Kun Liong dengan suara bisik-bisik dan yang didengarkan penuh perhatian oleh Kun Liong.

Pek Hong Ing yang pada waktu itu baru berusia tujuh belas tahun adalah murid tersayang dari seorang pertapa wanita di Pegunungan Go-bi-san yang berjuluk Go-bi Sin-kouw (Wanita Sakti dari Go-bi). Nenek sakti ini hanya mempunyai dua orang murid, yang pertama adalah Lauw Kim In, yaitu dara jelita galak yang menyerang Hong Ing itu. Hong Ing adalah seorang anak yatim piatu, demikian pula sucinya, Kim In. Semenjak berusia lima tahun, dia telah digembleng bersama sucinya oleh Go-bi Sin-kouw, dan kedua orang anak perempuan yang sama-sama yatim piatu ini hidup seperti kakak beradik, Kim In lebih tua tiga tahun dari Hong Ing, dan sekarang telah berusia dua puluh tahun.

Sukar dikatakan siapa di antara dua orang dara ini yang lebih berhasil mewarisi ilmu kepandaian Go-bi Sin-kouw. Kim In kelihatan lihai sekali dengan ilmu pedangnya dan terutama sekali senjata rahasia hui-to (pisau terbang) yang membuat dara ini sukar dicari tandingannya. Sedangkan Hong Ing telah mewarisi ilmu cambuk dari gurunya yang dapat dia mainkan hanya dengan sehelai saputangan sutera! Di samping ini, juga dalam hal ilmu meringankan tubuh (gin-kang), si sumoi ini agaknya jauh melampaui sucinya.

Ketika Kim In berusia delapan belas tahun, oleh gurunya yang terkenal galak dan berhati baja itu ditunangkan dengan seorang pemuda yang tampan dan gagah. Akan tetapi, ketika pada suatu hari pemuda tunangannya ini oleh Go-bi Sin-kouw disuruh berkunjung kepada seorang sahabatnya di kaki Pegunungan Go-bi-san, terjadilah hal yang amat hebat. Sahabat dari Go-bi Sin-kouw itu adalah seorang tokoh yang amat sakti, terkenal sekali namun seperti juga Go-bi Sin-kouw, tidak pernah turun gunung. Julukannya adalah Thian-ong Lo-mo (Iblis Tua Raja Langit) dan sudah lama menjadi sahabat baik Go-bi Sin-kouw karena memang masih ada pertalian perguruan di antara mereka. Ketika pemuda tunangan Kim In itu tiba di tempat pertapaan Thian-ong Lo-mo dia diterima baik, suratnya dari Go-bi Sin-kouw juga diterima dan karena hari sudah malam, pemuda itu disuruh bermalam di pondok si kakek pertapa. Dan di malam hari itulah terjadinya malapetaka. Kakek Thian-ong Lo-mo di samping kesaktiannya juga terkenal sebagai seorang kakek yang tak pernah hidup sendiri, selalu tentu ditemani seorang isteri yang cantik dan muda dan yang hampir setiap tahun berganti orang!

Isteri atau selir cantiknya pada waktu itu, yang biasanya hanya tidur dan dipeluk seorang kakek yang usianya sudah hampir seratus tahun, tentu saja menjadi terpesona dan tergila-gila kepada pemuda tampan yang menjadi tamu suaminya. Hal yang lumrah pun terjadilah. Si pemuda tidak kuat menahan bujuk rayu si cantik jelita dan terjadilah perjinaan diantara mereka. Dan celakanya, mereka tertangkap basah oleh Thian-ong Lo-mo sendiri! Kedua orang kekasih itu dibunuh oleh Thian-ong Lo-mo dan kepala mereka dikirimnya kepada Go-bi Sin-kouw yang dapat mengerti apa yang telah terjadi, maka karena kesalahan berada di pihak calon mantunya itu, Go-bi Sin-kouw juga tidak bisa berbuat apa-apa kecuali minta maaf.

Dapat dibayangkan betapa hancur hati Lauw Kim In melihat peristiwa ini. Bukan hanya hancur karena ia urung menikah, namun terutama sekali hancur karena sakit hati mendengar betapa tunangannya itu berjina dengan isteri Kakek Thian-ong Lo-mo. Dengan demikian baginya dianggap bahwa dia dihina dan diremehkan oleh tunangannya, dan mulai saat itu tumbuhlah bibit kebencian yang amat mendalam di hatinya terhadap kaum pria! Semenjak itu, dia bersumpah di depan gurunya untuk tidak menikah dan gurunya pun tidak dapat berbuat apa-apa karena maklum apa yang diderita oleh murid pertama ini. Kim In dan sumoinya yang ketika itu baru berusia lima belas tahun, makin giat berlatih silat sampai dua tahun lamanya.

“Dan pada suatu hari, pagi-pagi sekali, kurang lebih tiga bulan yang lalu, malapetaka menimpa diriku…” kata Hong Ing menyambung ceritanya yang didengarkan penuh perhatian oleh Kun Liong. Cerita tentang suci dara ini memang menarik namun dia tidak begitu mempedulikan, akan tetapi kini setelah Hong Ing mulai menceritakan riwayatnya sendiri, dia benar-benar menaruh perhatian sehingga pandang matanya seakan-akan tergantung kepada bibir yang merah kecil mungil itu.

Hong Ing melanjutkan ceritanya. Pada pagi hari itu, dia seorang diri seperti biasa berjalan-jalan di dalam hutan di lereng puncak Go-bi-san. Semenjak kecilnya, tidak seperti sucinya, dara ini memang suka sekali akan keindahan alam, suka menyendiri di dalam hutan-hutan besar, apalagi di waktu pagi hari ketika matahari baru saja muncul menyinarkan cahaya keemasan den burung-burung berkicau menyambut datangnya sinar surya yang cemerlang indah itu, butir-butiran embun menghias setiap ujung daun dan membuat rumput dan kembang berseri-seri pepuh kesegaran. Kalau sudah berjalan seorang diri di dalam hutan seperti itu, Hong Ing merasa hidup di dunia lain, dunia yang tidak ada lagi kesunyian baginya karena semua di sekelilingnya seperti telah menjadi satu dengan dirinya, membuat dia tidak lagi kehilangan orang tuanya yang telah tiada.

Ketika pagi hari itu dia dengan wajahnya yang cantik segar kemerahan berseri-seri, seperti peri jelita penjaga hutan itu sendiri, berlari-larian kecil mengejutkan burung-burung dan kelinci-kelinci, membuatnya tertawa terkekeh karena tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara auman keras dan suara jerit orang minta tolong.

Cepat laksana seekor kijang meloncat, Hong Ing melarikan diri menuju ke arah suara itu dan apa yang dilihatnya membuat dia terkejut sekali. Seekor harimau yang sebesar anak kerbau telah merobohkan seekor kuda dan penunggang kuda itu, seorang laki-laki berpakaian indah, ikut pula roboh dengan sebelah kaki tertindih tubuh kudanya. Kini harimau itu siap untuk menerkam orang laki-laki itu yang tadi menjerit minta tolong.

Dengan tiga loncatan saja Hong Ing telah tiba di tempat itu, berdiri di antara laki-laki dengan harimau. Binatang ini menggereng, memperlihatkan taringnya, dan matanya seolah-olah hendak menyihir Hong Ing. Di dalam hatinya, dara itu merasa gentar juga karena selamanya belum pernah dia melawan harimau. Akan tetapi karena maklum bahwa kalau dia tidak turun tangan tentu laki-laki itu akan menjadi korban harimau, dia sudah siap dan meloloskan saputangan yang biasanya diselipkan diantara kancing bajunya. Dengan gerakan hati-hati Hong Ing memutar-mutar saputangannya sehingga ujungnya menjadi sebuah cambuk, matanya tak pernah berkedip menentang pandang mata harimau itu. Adapun laki-laki yang masih rebah itu hampir tidak percaya akan pandangan matanya sendiri, bahkan dia kini berhasil menarik kakinya dari tubuh kudanya yang sekarat, lalu bekata, “Awas Nona…. harap lekas menyingkir…!”

Ucapan ini memperkuat keputusan Hong Ing untuk menolong laki-laki itu. Seorang yang terancam bahaya maut seperti laki-laki itu akan tetapi masih ingat untuk mengkhawatirkan keselamatan orang lain, tentulah seorang yang baik budi dan patut ditolong.

Akan tetapi ucapan laki-laki itu seolah-olah menjadi aba-aba bagi sang harimau yang sudah menggereng keras dan meloncat tinggi menubruk ke arah Hong Ing dengan mulut terbuka lebar dan kedua kaki depan siap mencakar dan merobek-robek kulit daging lunak halus dari dara itu!

“Celaka…!” Laki-laki itu berseru dan kini dia sudah mencabut pedangnya, akan tetapi baru saja melangkah setindak, dia hampir jatuh karena ternyata kakinya yang terhimpit kuda tadi terkilir. Akan tetapi, laki-laki itu terbelalak dan memandang dengan mata penuh kagum melihat betapa dengan ringan dan cepat dara itu sudah meloncat ke kiri dan ketika tubuh harimau besar itu lewat, dia melihat dara itu mengebutkan sehelai saputangan sutera putih yang mengeluarkan bunyi meledak nyaring dan harimau itu terjungkal dan menggereng-gereng, akan tetapi matanya tinggal yang sebelah kiri saja karena mata kanannya sudah hancur dan bercucuran darah! Karena nyeri dan marah, harimau itu mengaum dan sekali lagi meloncat dengan dahsyat sekali menubruk si dara muda dan sekarang laki-laki itu lebih bengong lagi melihat betapa dara itu pun meloncat menyambut terkaman si harimau, saputangannya kembali meledak, kakinya di udara menendang dan tubuh harimau itu terlempar sampai tiga meter, jatuh terbanting dan mata kirinya juga sudah hancur. Harimau itu menggereng-gereng, lalu seperti gila menubruk sana-sini, lari sana-sini akhirnya kepalanya menumbuk sebuah batu karang besar, pecah dan roboh berkelojotan, kemudian tak bergerak lagi!

Laki-laki itu sejenak tak dapat berkata-kata, memandang ke arah bangkai harimau, kemudian menghampiri Hong Ing yang menyeka keringatnya dengan seputangannya. Betapapun juga, tadi dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan kegesitannya untuk mengalahkan binatang yang kuat dan galak itu.

Laki-laki itu seperti merasa berada dalam mimpi. Hampir dia tidak dapat percaya, apalagi setelah kini berhadapan dekat dengan dara itu. Seorang dara yang usianya baru belasan tahun, tujuh belas tahun, dapat membunuh harimau dengan cara demikian aneh dan mudah, hanya bersenjata sehelai saputangan yang kini dipakai menghapus keringat yang membasahi leher! Bukan main!

“Nona…” Laki-laki itu menjura. “Nona telah menolong nyawaku dan aku tidak mungkin diam saja. Nona, ketahuilah bahwa aku adalah Pangeran Han Wi Ong dari kota raja. Aku sedang berburu, akan tetapi tersesat dan terpisah dari para pengawal sampai di tempat ini. Ketika tadi harimau muncul, kudaku terpeleset dan diterkam, kemudian… ah, aku tentu telah menjadi makanan harimau kalau Nona tidak datang menolong.”

Diam-diam Hong Ing terkejut, sama sekali tidak mengira bahwa orang yang ditolongnya adalah seorang pangeran dari kota raja! Putera Kaisar! Akan tetapi karena dia selamanya tinggal di gunung dan tidak mengenal tata susila cara bangsawan, dia hanya membalas penghormatan dengan mengangkat kedua tangan depan dada, lalu menjawab, “Harap Pangeran tidak bersikap berlebihan. Sudah menjadi kebiasaan manusia untuk saling menolong apabila melihat orang terancam bahaya. Nah, bahaya sudah lewat, saya mohon diri, Pangeran.”

Hong Ing sudah membalikkan tubuhnya, akan tetapi laki-laki yang gagah tampan, dan usianya kurang lebih empat puluh tahun, berpakaian indah sekali itu berseru, “Tahan dulu, Nona. Setidaknya harap Nona sudi memperkenalkan nama dan di mana tempat tinggal Nona. Kalau tidak, selamanya aku akan merasa menyesal dan merasa berdosa tidak mengenal nama penolongku yang telah menyelamatkan nyawaku.”

Karena sikap pangeran itu sopan dan tutur sapanya halus, Hong Ing menjawab terus terang, “Namaku Pek Hong Ing, dan aku tinggal bersama guruku, Go-bi Sin-kouw, dan suciku di puncak sana itu.” Setelah berkata demikian, dara itu berkelebat dan lenyap dari depan Pangeran Han Wi Ong. Pangeran itu makin kagum, sejenak dia terpesona dan kemudian dia menarik napas panjang dan berkata seorang diri, “Dialah yang patut mendampingi aku selama hidupku. Cantik jelita, muda, jujur, dan memiliki ilmu kepandaian yang dapat menjadi pelindungku selamanya! Go-bi Sin-kouw…? Hemm, harus kupinang dia!”

Demikianlah, pada keesokan harinya, Pengeran itu telah bersama dengan rombongan pasukan pengawalnya mendatangi pondok Go-bi Sin-kouw dan dengan jujur dan langsung karena dia pun terkenal jujur dan terang-terangan, mengajukan pinangan kepada Hong Ing untuk dijadikan isterinya!

“Hendaknya Sin-kouw yakin bahwa saya ingin mengambil Nona Pek Hong Ing sebagai isteri sah, bukan sebagai selir dan pernikahan antara kami akan dirayakan besar-besaran di istanaku. Andaikata kelak saya mempunyai keberuntungan menjadi kaisar, dia pasti menjadi permaisuriku!”

Tentu saja hati nenek itu menjadi bangga bukan main. Serta-merta dia menerima pinangan itu, karena bukankah dia yang berhak penuh atas diri murid-muridnya? Hong Ing sudah yatim piatu dan sejak kecil dididiknya, maka dengan berani dia menerima pinangan, bahkan menerima tanda ikatan jodoh berupa pedang bergagang mutiara dan emas dan menerima ketentuan bahwa sebulan lagi Sang Pangeran akan mengirim pasukan menjemput isterinya!

“Demikianlah, Kun Liong,” kata Hong Ing melanjutkan ceritanya dan suaranya kini tergetar penuh kedukaan hati yang ditahan-tahan, “kau dapat membayangkan betapa hancurnya hatiku. Aku oleh Subo dianggap seperti seekor binatang saja, begitu mudah dijodohkan, atau sebuah benda yang mudah saja dihadiahkan kepada seorang pria. Memang harus kuakui bahwa Pangeran Han Wi Ong seorang laki-laki yang gagah, baik dan juga berkedudukan tinggi. Akan tetapi usianya sudah empat puluhan tahun, sepantasnya menjadi ayahku, mana aku dapat suka menjadi isterinya? Aku menangis dan menolak, akan tetapi Subo adalah seorang yang berkemauan baja dan dia lebih baik melihat aku mati di depan kakinya daripada melihat aku menolak dan dia harus membatalkan perjanjiannya dengan seorang pangeran. Apalagi karena sudah belasan kali aku menolak pinangan orang, maka Subo menjadi marah dan memaksa aku dengen ancaman mati. Aku sudah putus harapan dan malam itu aku sudah menggantung diri, hendak membunuh diri…”

“Hong Ing…!” Kun Liong terkejut sekali dan tak terasa lagi dia memegang lengan dara itu, mukanya menjadi pucat.

Hong Ing tersenyum pahit menyaksikan sikap pemuda gundul itu. “Agaknya baru sekaranglah aku bertemu dengan orang sebaik engkau, Kun Liong, yang begitu memperhatikan nasib diriku. Aku ditolong oleh Suci yang menurunkan aku dari gantungan, menangisi aku dan menghiburku. Dia mengingatkan aku bahwa kami telah berhutang budi kepada Subo dan sudah sepatutnyalah kalau aku membalas budi Subo dengan mentaati perintahnya. Pula, demikian kata Suci, bukankah aku menjadi istri seorang pangeran dan bahkan besar kemungkinan menjadi permaisuri? Kalau aku membunuh diri, berarti aku menghina Subo dan Subo tentu akan tercemar terhadap keluarga kaisar, mungkin akan dianggap sebagai pemberontak.”

“Hemm, nasibmu sungguh buruk, Hong Ing. Lalu bagaimana engkau sampai menjadi nikouw?”

“Akhirnya aku mengambil keputusan untuk melarikan diri dari puncak Go-bi-san. Aku lari pada malam hari dan terus melarikan diri sampai akhirnya aku tiba di Kuil Kwan-im-bio itu, di mana tinggal belasan orang nikouw dikepalai oleh seorang nikouw tua yang saleh. Aku menghadap kepada Biauw Kwi Nikouw, ketua kuil itu, dan minta supaya diterima menjadi nikouw. Kupikir bahwa ke mana pun aku pergi, tentu Subo dan Suci akan dapat mencari dan memaksaku. Akan tetapi setelah aku menjadi nikouw, kiranya mereka takkan berani mengganggu seorang yang sudah memilih hidup suci. Untuk membebaskan diri dari pernikahan yang tidak kusuka itu, aku rela mengorbankan hidupku menjadi nikouw, biarpun di dalam hatiku sungguh mati aku tidak berniat menjadi seorang pendeta.”

Kun Liong mengangguk-angguk dan hanya di dalam hatinya dia berkata bahwa memang amat tidak patut dan terlalu amat sayang sekali seorang dara berusia tujuh belas secantik Hong Ing ini harus menjadi nikouw gundul yang selama hidup tidak berurusan denen dunia!

“Mula-mula Biauw Kwi Nikouw menolak dan aku sudah hampir putus harapan…”

“Aih, mengapa menolak orang hendak menjadi nikouw dengan suka rela?” tanya Kun Liong terheran.

Hong Ing melanjutkan penuturan pengalamannya. Ketika dia menghadep Biauw Kwi Nikouw untuk diperkenankan menjadi nikouw, nikouw tua itu berkata. “Nona, engkau masih muda dan cantik sekali. Kalau engkau menjadi nikouw di sini, berarti engkau akan mencari malapetaka dan kami pun terkena getahnya. Tidak, kami tidak berani menerimamu menjadi nikouw di sini, Nona.”

“Mengapa, Subo? Apa yang telah terjadi?”

“Sudah ada tiga orang muridku, nikouw-nikouw muda, mati menggantung diri dalam waktu sepekan ini.”

Hong Ing terkejut. “Mati menggantung diri? Mengapa?”

“Karena mereka tidak sudi lagi hidup di dunia setelah mereka tercemar.”

“Tercemar?”

“Ya, diperkosa seorang laki-laki, omitohud…”

Hong Ing meloncat bangun. “Laki-laki mana yang berani memperkosa nikouw?”

“Ah, kami tidak tahu bagaimana terjadinya, akan tetapi selama sepekan, berturut-turut tiga orang nikouw muda diculik dari kamarnya, dibawa ke hutan den diperkosa. Pada keesokan harinya, mereka itu satu-satu menggantung diri sampai mati. Nah, dengan adanya peristiwa ini, apakah Nona masih ingin menjadi nikouw di sini dan terancam bahaya?”

“Aku tetap ingin menjadi nikouw, dan harap Subo tidak khawatir. Aku akan menangkap dan menghajar binatang busuk itu!”

Demikianlah, karena desakan Hong Ing, akhirnya dara ini digunduli rambutnya, diberi pakaian nikouw den menjalanken upacara sembahyang menjadi nikouw, disaksikan oleh belasan orang nikouw yang menjadi murid Biauw Kwi Nikouw. Hong Ing menangis tersedu-sedu, akan tetapi betapapun juga, kepalanya sudah menjadi gundul licin dan ditutupi dengan penutup kepala berwarna putih.

Malam hari itu, sengaja Hong Ing keluar seorang diri dan berjalan-jalan di sekeliling kuil untuk menjadikan dirinya sebagai “umpan” memancing datangnya laki-laki terkutuk yang sudah memperkosa tiga nikouw den menyebabkan mereka membunuh diri. Para nikouw lain yang maklum akan usaha nikouw baru ini, mengintai dari tempat aman dengan hati berdebar tegang.

Tiba-tiba tampak sesosok bayangan orang yang tinggi besar den begitu tiba di depan Hong Ing, dara ini terkejut den jijik sekali. Laki-laki itu tinggi besar, usianya sudah lima puluh tahunan, rambut den jenggot serta kumisnya riap-riapan menakutkan, kotor sekali, matanya lebar den dia terkekeh memandang kepada Hong Ing sambil berkata, “Ha-ha-heh-heh, nikouw muda baru ya? Wah, cantiknya, wah, malam ini aku benar-benar untung besar! Orang secantik engkau ini sedikitnya harus kupeluk selama sebulan, ha-ha-ha!”

Hong Ing sudah meloncat dan sekali tangannya menampar, terdengar suara “plak-plak-plak!” keras sekali dan tubuh laki-laki itu terpelanting. Akan tetapi ternyata dia kuat juga, karena sudah dapat bangun kembali, matanya makin terbelalak lebar.

“Ho-ho, jadi kau memiliki sedikit kepandaian? Bagus, lebih menarik lagi!”

Terjadilah pertandingan, namun sebentar saja laki-laki itu terdesak hebat dan beberapa kali terkena pukulan tangan Hong Ing. Biarpun tubuhnya kebal, namun pukulan Hong Ing bukan tidak keras dan mendatangkan rasa yang cukup nyeri, maka akhirnya laki-laki itu melarikan diri.

“Binatang terkutuk, hendak lari ke mana kau?” Hong Ing mengejar dan para nikouw lain yang menyaksikan betapa nikouw muda baru itu benar-benar lihai dan berhasil mengalahkan laki-laki cabul yang seperti orang gila itu, segera ikut pula mengejar!

Mereka masih sempat melihat betapa Hong Ing telah dapat menyusul laki-laki itu, menghajar laki-laki itu sampai jatuh bangun. Laki-laki itu marah, tiba-tiba menggereng dan dengan kedua lengannya laki-laki itu mengangkat sebuah batu besar sekali dan hendak menimpakan batu itu kepada Hong Ing.

“Aihhh…!” Dua orang nikouw lain yang lebih dulu datang di tempat itu menjerit ngeri.

Akan tetapi Hong Ing cepat meloncat ke depan, menerima batu itu dan mengerahkan sin-kangnya mendorong sehingga kini laki-laki itulah yang tertindih batu dan tergencet oleh batu besar itu. Terdengar suara orang berteriak mengerikan dan ketika Hong Ing melepaskan batu itu, ternyata laki-laki itu telah hancur dan gepeng terhimpit batu dan bersandar pada batu gunung. Dada dan kepalanya pecah dan darah muncrat-muncrat membasahi tempat di sekelilingnya!

“Omitohud…!” Para nikouw berseru ketika menyaksikan ini. Biauw Kwi Nikouw lalu memerintahkan murid-muridnya untuk mengubur mayat yang mengerikan itu, dan semenjak saat itu, Hong Ing dianggap sebagai seorang nikouw yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali, bahkan Biauw Kwi Nikouw sendiri berikap manis dan kagum kepadanya.

“Demikianlah, Kun Liong.” Hong Ing menutup penuturannya, “semenjak hari itu aku menjadi nikouw di Kwan-im-bio dan aku melatih mereka ilmu silat. Tentu saja aku tidak mau diangkat menjadi guru mereka, maka mereka semua, kecuali ketua kuil, menyebutku Toa-suci (Kakak Seperguruan Tertua).”

Kun Liong makin terharu. Sungguh malang sekali nasib dara ini. Patut dikasihani dan dia sendiri merasa menyesal bahwa dia pernah menggoda dara yang sepatutnya dilindungi dan dibela ini. “Ahh, kasihan sekali engkau, Hong Ing. Tak kusangka orang seperti engkau ini dapat dilanda kesengsaraan hidup seperti itu. Dan dahulu, mengapa engkau sampai dapat terluka oleh jarum merah milik Ouwyang Bouw?”

“Ah, sebetulnya soalnya sepele saja, akan tetapi dasar kami yang tak mengenal orang pandai. Pada hari itu, di kuil kedatangan seorang kakek aneh dan seorang pemuda. Karena hari telah malam dan mereka minta menginap, tentu saja Subo tidak dapat menerima mereka, mengatakan bahwa Kuil Kwan-im-bio adalah kuil para nikouw maka merupakan pantangan besar untuk menerima pria sebagai tamu bermalam di kuil.”

“Hemm, orang-orang macam Ban-tok Coa-ong dan anaknya yang gila itu mana mau mengerti” kata Kun Liong.

“Memang demikianlah. Ban-tok Coa-ong memaki Biauw Kwi Nikouw sebagai nenek gila cerewet yang bosan hidup dan sekali tangannya menampar, Biauw Kwi Nikouw terguling roboh dengan kepala pecah dan tewas seketika! Para nikouw menjadi marah dan menyerbu, karena mereka itu sedikit banyak telah belajar silat kepadaku. Akan tetapi, hanya dengan dorongan-dorongan jarak jauh, semua nikouw terpelanting dan tak dapat bangkit kembali karena telah mengalami luka dalam. Aku sendiri menubruk Biauw Kwi Nikouw dan pada saat itu dari belakang Ouwyang Bouw menyerangku dengan jarum merah. Aku tak dapat mengelaknya dan aku roboh pingsan. Mereka ayah dan anak iblis itu pergi sambil tertawa-tawa dan selebihnya kau mengetahui sendiri. Aku minta supaya dibawa ke seorang ahli obat di kota, dan ketika berada di joli kebetulan sekali berjumpa denganmu dan engkau telah menyelamatkan nyawaku.”

“Aihhh… sungguh kau telah mengalami banyak hal yang amat sengsara, Hong Ing. Hanya aku menyesal sekali mengapa engkau mengambil jalan pendek menjadi nikouw.”

“Tidak ada jalan lain. Untuk membunuh diri aku… aku tidak berani…”

“Jangan!” Kun Liong setengah berteriak. “Perbuatan itu adalah perbuatan paling rendah dan pengecut di dunia ini. Sekarang engkau tidak perlu takut lagi. Setelah engkau menjadi nikouw, apa yang dapat dilakukan oleh sucimu dan gurumu? Apakah mereka bisa memaksamu? Pula, kalau pangeran tua mata keranjang itu melihat kau sudah menjadi nikouw, apakah dia hendak memaksa memperisteri seorang nikouw?”

Melihat sikap Kun Liong yang marah-marah ini, terharulah hati Hong Ing karena hal ini membuktikan betapa besar perhatian pemuda ini kepada nasib dirinya “Ah, kau tidak mengenal guruku, Kun Liong. Dia adalah seorang yang berhati keras seperti baja dan semua kehendaknya harus terlaksana. Apa sukarnya memaksa aku memelihara rambut lagi dan memaksaku menikah? Sudahlah, serahkan hal itu kepadaku. Kau tidak perlu ikut berduka dan bingung, Kun Liong. Engkau sudah terlampau baik kepadaku dan percayalah, sampai mati aku tidak akan dapat melupakan kebaikanmu. Lihat, itu Suci mendatangi kuil, kalau aku tidak lekas menemuinya, tentu para nikouw akan terancam bahaya. Kalau sudah marah, Suci seperti Subo saja, keras dan ganas. Kau pergilah, Kun Liong, pergilah, selamat berpisah, sahabat dan penolongku yang baik!” Hong Ing menyentuh lengan Kun Liong, kemudian terisak dia meloncat dan lari ke arah kuil di mana tadi bayangan Kim In telah masuk lebih dahulu.

Hati Kun Liong seperti diremas-remas rasanya. Entah mengapa, dia merasa kasihan sekali kepada Hong Ing dan mengambil keputusan untuk membela dara itu dari segala bahaya. Dengan pikiran ini, dia lalu melompat dan menyelinap, menghampiri kuil itu dari samping dan melakukan pengintaian. Dengan jantung berdebar Kun Liong melihat Hong Ing berdiri dengan kepala tunduk berhadapan dengan sucinya, Lauw Kim In yang galak itu.

Kim In sudah memegang pedangnya dan dengan suara keren berkata, “Pek Hong Ing, aku mewakili Subo Go-bi Sin-kouw memerintahkan engkau untuk berlutut!”

Hong Ing menarik napas panjang dan dia benar-benar menjatuhkan diri berlutut di depan sucinya yang galak itu.

“Pek Hong Ing, sebagai murid engkau telah murtad, melanggar perintah guru dan pergi tanpa pamit. Untuk semua itu, Subo masih dapat mempertimbangkannya asal saja engkau ikut bersamaku ke puncak Go-bi-san. Kalau tidak, sekarang juga akan kupenggal kepalamu dan akan kubawa kepalamu kepada Subo seperti yang diperintahkan Subo!”

Mendengar ucapan itu, belasan orang nikouw yang berada di situ dan yang menonton dengan muka marah itu menjadi makin marah. “Dari mana datangnya perempuan jahat yang menghina Toa-suci?” Mereka itu lalu menyerbu den mengeroyok Kim In.

“Para sumoi… jangan…!” Hong Ing berteriak, namun cegahannya terlambat, tubuh Kim In melesat ke sana-sini dan dalam segebrakan saja belasan orang nikouw itu sudah roboh semua den mengaduh-aduh terkena pukulan den tendangan kaki Kim In.

“Hemm, kalau tidak ingat kalian semua adalah pendeta, apakah kalian dapat mengharapkan untuk dapat hidup?” Kim In berkata, sikapnya dingin sekali.

Para nikouw yang hendak membela Hong Ing itu sudah bangun lagi dan mereka mulai mencari senjata. Akan tetapi Hong Ing melompat dan mengangkat kedua tangan ke atas. “Para sumoi kuperintahkan agar jangan melawan! Biarkan aku pergi bersama dia, dia ini adalah suciku!” Kemudian dia menoleh kepada Kim In sambil berkata, “Saya menurut kehendak Suci dan ikut bersamamu menghadap Subo, akan tetapi baik engkau maupun Subo jangan mengharap akan dapat memaksaku menikah setelah aku sekarang menjadi nikouw.”

“Sumoi, kau tahu betapa sejak dahulu aku menganggapmu sebagai adik sendiri. Akan tetapi, betapapun juga kita tidak bisa menentang Subo.” Kata-kata ini membuat Hong Ing terharu. Dia teringat dahulu sucinya ini yang mencegahnya membunuh diri dan tahu pula bahwa andaikata sucinya itu membantunya lari, tetap saja mereka berdua tidak akan dapat terlepas dari pengejaran subo mereka yang memiliki kepandaian seperti dewi!

Maka berangkatlah kedua orang sumoi den suci ini meninggalkan Kuil Kwan-im-bio, diiringi tangis para nikouw yang dapat menduga bahwa toa-suci mereka yang juga guru mereka yang mereka sayang itu tentu menghadapi malapetaka yang besar dan mereka sama sekali tidak berdaya untuk menolongnya.

Kim In den Hong Ing melakukan perjalanan cepat sekali karena keduanya menggunakan ilmu berlari cepat. Tak lama kemudian mereka memasuki sebuah hutan besar yang amat sunyi. Tiba-tiba keduanya berhenti karena tahu-tahu ada bayangan orang meloncat turun dari atas pohon besar di depan mereka. Ketika keduanya memandang ternyata orang itu bukan lain adalah Yap Kun Liong yang berdiri dengan tenang namun dengan kedua alis dikerutkan dan wajah serius sekali, berbeda dari biasanya yang selalu berseri gembira.

“Kun Liong…! Apa yang akan kaulakukan di sini?” Hong Ing berseru kaget sekali.

“Hemmm, hwesio cabul apakah kau berani menghadang kami?” Kim In memaki dan sudah mencabut lagi pedangnya.

Kun Liong menggelengkan kepalanya yang gundul. “Nona Ing, betapa lemahnya engkau, menurut saja kepada kehendak orang lain yang hendak mencelakakan. Dan engkau, Nona. Apakah engkau demikian kejam hendak mencelakakan sumoi sendiri? Ke mana perikemanusiaanmu?”

“Jangan mencampuri urusan kami!” Kim In membentak.

“Kun Liong… aku tahu maksudmu baik, tapi… tapi ahhh, pergilah, jangan membikin aku lebih susah dan bingung…!” Hong Ing memohon.

“Tidak! Sebelum aku bicara, aku tidak akan membiarkan kau dipaksa pergi oleh siapapun juga!” Dia memandang kepada Kim in, pandang matanya berkilat sehingga gadis itu terkejut juga. “Nona, kau salah sangka, aku bukan hwesio bukan pula melakukan perbuatan busuk dengan sumoimu. Kami adalah dua orang sahabat yang kebetulan saja saling bertemu dan saling menolong dari bahaya, hanya orang yang kotor pikirannya saja yang akan menyangka yang bukan-bukan! Sumoimu ini sudah menjadi nikouw, berarti menjadi seorang suci yang tidak mau lagi berhubungan dengan dunia ramai. Mengapa sekarang dipaksa hendak dibawa dan dikawinkan? Aturan mana ini? Pula, andaikata dia tidak menjadi nikouw, juga amat tidak patut kalau memaksa seorang dara seperti dia menikah di luar kehendaknya. Apakah dia itu seekor kucing atau anjing yang boleh dikawinkan begitu saja menurut selera dan pilihan orang lain? Apakah dia itu sebuah benda yang diperjualbelikan, dan karena yang membeli seorang pangeran kaya lalu diserahkan begitu saja biarpun dia tidak sudi menjadi isteri seorang tua bangka? Kau dan gurumu yang berjuluk Go-bi Sin-kouw itu sungguh tidak berperikemanusiaan dan kejam, sungguh kejam!”

“Keparat, jahanam, tutup mulutmu!” Kim in sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi dan pedangnya sudah berkelbat menyerang dengan serbuan ganas dan dahsyat sekali. Akan tetapi dengan mudah Kun Liong sudah mengelak dan pemuda ini sudah siap untuk melawan. Dia akan merobohkan gadis ini tanpa melukainya agar mendapat kesempatan untuk mengajak lari Hong Ing. Akan tetapi betapa kagetnya ketika dia melihat Hong Ing menggerakkan saputangannya menyambar dan menyerangnya.

“Tar…!” Ujung saputangan menghantam kepala gundulnya dan dia sengaja tidak menangkis karena dia merasa heran sekali. Seperti disengat lebah, tampak bagian kepala yang dihantam ujung saputangan tadi menjendol dan berwarna merah. Hal ini karena Kun Liong sengaja membiarkan kepalanya dihantam, hanya gerakan otomatis dari sin-kangnya saja yang melindungi sebelah dalam kepala, akan tetapi kulitnya tidak kebal dan kepala di bagian itu menjendol sebesar telur ayam.

“Hong Ing…” Dia mengeluh.

Hong Ing berdiri dengan wajah pucat. “Sudah kukatakan, pergilah… jangan membikin aku lebih susah lagi, Kun Liong. Engkau takkan menang melawan dan kalau sampai Suci membunuhmu, aku… lebih berat lagi untuk mentaatinya. Pergilah, aku tahu niatmu baik dan maafkan seranganku tadi, Kun Liong.”

“Bagalmana… kalau… kalau mereka memaksamu menikah?” Kun Liong masih bertanya ketika kedua orang gadis itu sudah berjalan pergi lagi.

Tanpa menengok Hong Ing menjawab, “Mudah saja membebaskan diri dari segala keruwetan dunia ini!”

Kun Liong masih berdiri pucat setelah bayangan dua orang gadis itu tidak tampak lagi. Ucapan Hong Ing itu hanya mempunyai satu arti saja, yaitu bunuh dir! Kematian memang menjadi jalan yang paling mudah untuk membebaskan diri dari segala macam keruwetan dunia.

“Nona Ing…!” Dia mengeluh dan menghapus dua bintik air matanya dan dia kaget sendiri. Apa artinya ini? Mengapa dia merasa begini sengsara, merasa begini kesepian setelah Hong Ing pergi? Ah, apakah aku telah gila, pikirnya dan dia membalikkan tubuh, lalu berlari-lari cepat sekali menuju ke Kwi-eng-pang herusaha untuk mengusir bayangan Hong Ing yang selalu mengganggu otaknya. Betapapun juga, masih saja wajah cantik jelita penuh kelembutan, mata yang bening dan sedalam lautan, sikap halus penuh pengertian itu selalu terbayang di depan matanya sampai kadang-kadang Kun Liong berhenti berlari, mengusap mukanya, mengeluh, kemudian berlari lagi secepatnya.

Dengan bantuan peta yang dahulu dibuatkan oleh Pendekar Sakti Cia Keng Hong untuknya, Kun Liong dapat menyeberangi Telaga Setan. Dia menemukan sebuah perahu kecil di semak-semak di tepi telaga, kemudian dengan mengambil cara memutar sesuai dengan petunjuk di peta, dia mendayung dan menyeberangi Kwi-ouw menuju ke pulau di tengah telaga itu.

Sesuai dengan petunjuk di dalam peta itu, dia menyeberangi Kwi-ouw di waktu malam terang bulan dan mengemudikan perahunya melalui bagian-bagian tertentu, menyelusup alang-alang, melintasi bawah sebuah jembatan yang menjulur ke telaga, kemudian melalui semacam pintu dari dinding batu karang dan akhirnya dia dapat mendarat di tepi pulau sebelah timur, bagian yang tebingnya amat terjal dan terdiri dari batu karang yang amat kuat berwarna hitam kemerahan. Dia menggunakan tali yang berada di perahu untuk mencancang perahunya pada batu karang, kemudian dia mengaso dan tidur di atas perahu kecil, dibuai ombak sehingga tidurnya enak sekali. Dalam tidur itu dia bermimpi dia bertemu dengan Hong Ing, melihat Hong Ing menjadi pengantin den diarak dengan joli, akan tetapi di tengah jalan dara itu menangis dan dia lalu mengobatinya seperti dahulu, hanya melihat sebagian pinggul gadis itu saja!

Dia terbangun den di ufuk timur sudah tampak sinar kemerahan yang belum muncul. Tertawa sendiri dia mengingat akan mimpinya. Mengapa pinggul itu tak pernah dapat dia lupakan?

Mulailah Kun Liong mendaki batu karang, dibantu dengan alat yang telah disediakannya sebelumnya sesuai dengan petunjuk Cia Keng Hong, yaitu dua betang besi kaitan. Biarpun dia seorang ahli sin-kang yang kuat den dapat merayap ke atas dinding seperti seekor cecak, namun mendaki tebing itu merupakan perbuatan berbahaya sekali dan bermain-main dengan maut tanpa dibantu dua buah kaitan itu, karena tebing itu selain curam, juga licinnya bukan main penuh dengan lumut yang tercipta dari air yang tersinar panasnya matahari.

Akhirnya dengan perasaan lega dia dapat mencapai puncak tebing, lalu melemper kedua kaitannya di atas batu dan mulailah dia berloncatan menuju ke tengah pulau, ini pun dia lakukan dengan hati-hati, dengan perhitungan ke kanan kiri mengatur langkahnya dan menghitung langkah karena tempat ini pun tidak terluput penuh dengan jebakan-jebakan yang amat berbahaya. Dia sudah menghafalkan lebih dulu petunjuk dalam peta, maka dengan enaknya dia dapat berloncatan dengan selamat sampai akhirnya dia tiba di depan pondok terbesar yang menjadi tempat tinggal Kwi-eng Niocu, Ketua Kwi-eng-pang. Dia masih ingat tempat ini dan tersenyum ketika teringat betapa dia pernah ditangkap oleh para pelayan seperti orang-orang menangkap ikan saja.

Peta itu dia butuhkan hanya untuk menunjukkan jalan kepadanya. Setelah sampai di depan pondok musuhnya ini dia tidak perlu lagi bersikap sembunyi-sembunyi. Dia menggunakan peta hanya agar dapat bertemu dengan Kwi-eng Niocu. Dia datang bukan sebagai pencuri, perlu apa sembunyi-sembunyi? Maka Kun Liong berdiri dengan tegak di depan pondok itu, mengangkat dada dan mengerahkan khi-kangnya berteriak nyaring sekali, “Kwi-eng Niocu…! Keluarlah, ini aku Yap Kun Liong ingin bertemu denganmu untuk bicara…!”

Gegerlah pulau itu karena suara Kun Liong bergema dahsyat sampai ke seluruh permukaan pulau. Para petugas yang menjaga di sekitar pondok, yang tadinya tertidur karena memang tidak menyangka akan ada sesuatu, serentak bangun, menyambar senjata dan berlari-larian datang mengurung Kun Liong. Akan tetapi pemuda ini tenang-tenang saja dan ketika seorang di antara mereka, seorang komandan penjaga menodongkan tombaknya di depan dadanya sambil membentak agar

dia menyerah, Kun Liong menggerakkan tangan dan tombak itu sudah pindah ke tangannya, kemudian dipatah-patahkannya tombak itu seperti mematah-matahkan sebatang biting (lidi) saja! Semua penjaga menjadi bengong dan Kun Liong berkata, “Aku tidak berurusan dengan kalian. Aku mau hicara dengan ketua kalian Kwi-eng Niocu!”

Karena melihat pemuda itu sedemikian lihainya dan benar saja tidak bergerak apa-apa, mereka lalu mundur dan mengurung dengan membuat lingkaran lebar sambil menanti datangnya ketua mereka untuk menerima perintah.

Tak lama kemudian, dari dalam pondok itu terdengar suara, pintu pondok terbuka dan muncullah tiga orang dengan sikap garang. Seorang wanita setengah tua yang sikapnya agung berdiri di tengah. Wanita ini usianya sudah enam puluh tahun, akan tetapi pantasnya dan kelihatannya baru kurang dari empat puluh tahun, tubuhnya masih ramping dan gerakannya masih lemah gemelai ketika melangkah menuruni anak tangga depan pondoknya. Di sebelah kirinya tampak seorang pemuda tampan tinggi besar yang selain tampan juga gagah sikapnya, pakaiannya indah dan mewah. Tentu itulah putera angkat Kwi-eng Niocu yang kabarnya bernama Liong Bu Kong, tinggi kepandaiannya dan yang diduga oleh Kun Liong sebagai pemimpin para pencuri di Siauw-lim-pai. Dan di sebelah kanan wanita itu berjalan seorang kakek yang hebat sekali keadaannya. Kakek ini sekepala lebih tinggi dari Liong Bu Kong yang sudah tinggi besar itu, tubuhnya seperti raksasa dan jelas tampak kuat seperti gajah! Usianya tentu amat tinggi, namun sukar ditaksir berapa! Brewoknya menutupi sebagian besar mukanya dan brewok itu, seperti rambutnya, sudah putih semua berikut alis dan bulu matanya! Namun langkahnya masih gagah seperti langkah seekor harimau, kedua lengannya diayun agak jauh dari tubuhnya dan kakinya menginjak bumi dengan mantap seperti kaki gajah berjalan! Matanya lebar dan sinar matanya tajam luar biasa, menandakan bahwa kakek aneh ini cerdik dan tentunya amat lihai, melihat sikap ibu dan anak itu yang menghormatinya sebagai tamu yang berjalan paling kanan.

Melihat pemuda gundul ini, seketika wajah cantik nenek itu berseri-seri dan seperti berbisik dia berkata kepada kakek raksasa di sebelah kanannya, “Inilah dia yang bernama Yap Kun Liong!”

Kakek itu memandang dengan matanya yang lebar, kemudian tertawa bergelak, suara ketawa yang keluar dari perut dan mengejutkan Kun Liong karena suara ini mengandung khi-kang yang kuat sekali!

“Hua-ha-hah-ho-hoh! Ini namanya ular mencari penggebuk, ikan menghampiri sujen!”

“Aku yakin dia ini yang menyembunyikan bokor emas yang aseli. Hai, orang muda, bukankah engkau yang memalsukan bokor emas? Bocah tampan, katakanlah di mana adanya bokor yang aseli dan engkau akan kujadikan muridku, hidup mewah dan mulia di pulau ini!”

Kun Liong cemberut, menyembunyikan kepanasan hatinya mengingat bahwa mereka ini adalah seorang diantara mereka yang membunuh ayah bundanya, satu-satunya orang yang masib hidup dan yang akan dibunuhnya untuk membalas kemaitian ayah bundanya. Namun dia dapat bersikap tenang karena dia ingin mendapatkan lebih dulu pusaka Siauw-lim-si, maka dia berkata, “Kwi-eng Niocu, dahulu aku telah melemparkan bokor emas kepadamu, aku tidak tahu-menahu tentang bokor palsu atau tulen dan aku juga tidak peduli. Yang penting aku datang menagih janjimu karena bukankah dahulu kau berjanji akan mengembalikan dua buah pusaka Siauw-lim-si yang dicuri oleh orang-orangmu kalau aku memberikan bokor kepadamu? Nah, aku datang untuk menerima sebatang pedang pusaka dan sebuah hiolouw, keduanya merupakan benda lama yang menjadi pusaka Siauw-lim-si. Harap engkau sebagai seorang yang terkenal, sebagai seorang Pangcu (Ketua) dari Kwi-eng-pang, suka memegang janji dan menyerahkan kedua benda pusaka itu kepadaku untuk kukembalikan ke Siauw-lim-si.”

“Yap Kun Liong, seorang Ketua Kwi-eng-pang tidak akan melanggar janjinya. Dahulu memang aku berjanji akan mengembalikan dua buah benda Siauw-lim-si kalau ditukar dengan bokor emas pusaka The Hoo. Akan tetapi ternyata kemudian bahwa pusaka yang terlepas kembali dari tanganku itu adalah pusaka palsu! Oleh karena itu, tidak mungkin aku menukarkan dua buah pusaka itu dengan sebuah benda palsu.”

“Hemmm, tentang bokor emas aku tidak tahu-menahu, akan tetapi pedang dan hiolouw itu jelas adalah milik Siauw-lim-si yang kalian curi. Maka sekarang aku datang mewakili Siauw-lim-pai untuk minta kembali dua buah benda itu, apa pun yang terjadi!” Kun Liong sengaja bicara dengan nada marah dan bersikap menantang.

“Gundul sombong!” Tiba-tiba Liong Bu Kong, pemuda tampan gagah putera angkat Ketua Kwi-eng-pang itu sudah meloncat maju ke depan. “Ketahuilah dahulu aku yang mencuri dua buah pusaka itu dan semua orang di dunia tahu bahwa untuk mengambil pusaka dari gudang pusaka Siauw-lim-si membutuhkan kepandaian dan harus menempuh kesukaran, yang mengandalkan kepandaian. Kalau engkau ada kepandaian, boleh kaucoba merampasnya kembali dari tanganku!”

Liong Bu Kong bertepuk tangan tiga kali dan muncullah tiga orang pelayan cantik manis akan tetapi yang seorang lagi mukanya bopeng biarpun potongon mukanya paling cantik di antara mereka bertiga. Totol-totol hitam di muka pelayan ketiga ini benar-benar amat menyayangkan, pikir Kun Liong dan diam-diam merasa heran mengapa dia seperti pernah melihat pelayan bopeng yang cantik ini!

Akan tetapi dia segera tertarik kepada dua buah benda yang dibawa oleh seorang diantara tiga pelayan itu, yaitu yang tertua dan yang matanya bergerak genit. Perempuan ini membawa sebuah baki dan di atas baki terdapat benda yang ditutup sutera kuning. Setelah mereka bertiga datang dekat dan berlutut di pinggiran, Liong Bu Kong merenggut lepas kain kuning dan tampaklah dua benda yang dicari-cari Kun Liong, yaitu sebatang pedang kuno dan sebuah hiolouw kuno, dua buah benda pusaka Siauw-lim-si yang dahulu dicuri oleh pemuda putera angkat Kwi-eng Niocu ini!

Kun Liong memandang Bu Kong dan berkata, “Aku menerima tantanganmu! Kalau aku dapat menangkan engkau, berarti dua buah benda pusaka itu dikembalikan kepadaku?”

Liong Bu Kong tertawa mengejek. “Kita lihat saja nanti, tapi coba lebih dulu kaulawan aku, Gundul!” Sambil berkata demikian, Liong Bu Kong sudah mencabut sebatang pedang yang membuat mata Kun Liong silau karena pedang itu mengeluarkan sinar kilat yang amat terang. Itulah pedang pusaka Lui-kong-kiem (Pedang Kilat) yang ampuh!

“Bu Kong jangan bunuh dia, aku masih membutuhkannya!” Kwi-eng Niocu berseru khawatir melihat putera angkatnya itu menghunus Lui-kong-kiam.

“Ha-ha, jangan khawatir, Ibu. Aku hanya ingin menggurat beberapa garis di atas kepalanya yang gundul pelontos itu. Yap Kun Liong bocah gundul, sambutlah ini!” Tanpa memberi kesempatan kepada lawan untuk menggunakan suatu senjata, Bu Kong sudah menyerang dengan pedangnya. Pedang itu berubah menjadi gulungan sinar kilat yang menyambar ke arah leher Kun Liong.

Kun Liong mengenal pedang ampuh, akan tetapi dia pun mengenal gerakan yang tidak begitu berbahaya seperti yang mula-mula dikhawatirkannya. Boleh jadi bagi umum, ilmu kepandaian Liong Bu Kong ini sudah hebat sekali, akan tetapi bagi dia, pemuda itu bukan merupakan lawan yang terlalu berbahaya sungguhpun dibantu oleh sebatang pedang seampuh itu. Dengan mudah dia lalu mengelak dan meloncat ke sana-sini dikejar bayangan pedang. Setelah belasan jurus menyerang tanpa dapat mengenai sasarannya, Liong Bu Kong menjadi penasaran, malu dan marah. Jangankan menggurat-gurat kepala lawan, sedangkan ujung baju lawan saja sekian lamanya belum juga dia mampu menyentuh dengan ujung pedangnya. Maka dikeluarkanlah semua jurus-jurus maut dan dia mengurung tubuh Kun Liong dengan lingkaran sinar pedang yang bergulung-gulung.

Biarpun Kun Liong tidak memegang senjata apa-apa, namun karena dia telah mengeluarkan ilmu silatnya yang sakti, yaitu Pat-hong-sin-kun, andaikata dia harus menjaga diri dengan elakan dan tangkisan saja, kiranya dia akan dapat bertahan sampai ratusan jurus tanpa membalas. Namun, yang menjadi pokok perhatiannya bukanlah mengalahkan pemuda ini. Dia tidak mempunyai urusan atau permusuhan dengan Bu Kong, maka perlu apa mengalahkannya, apalagi melukainya? Yang penting baginya adalah merampas kembali dua benda pusaka Siauw-lim-pai, kemudian baru dia akan menandingi Kwi-eng Niocu menuntut balas atas kematian ayah bundanya. Oleh karena pikiran ini, sambil mengelak ke sana-sini sehingga dia kelihatan repot terdesak hebat, dia melirik ke arah pelayan yang membawa baki terisi dua benda pusaka. Dia sengaja mpngelak dan membiarkan dirinya terdesak mundur-mundur mendekati pelayan dan tiba-tiba, bagaikan gerakan seekor burung walet, tangannya menyambar dan di lain detik dua buah benda pusaka itu telah dapat dirampasnya!

“Eeiiihhh…!” Pelayan itu menjerit dan terjengkang pingsan, buru-buru ditolong oleh pelayan bopeng dan temannya yang seorang lagi, kemudian digotong masuk ke dalam.

Liong Bu Kong marah bukan main. “Kurang ajar! Kembalikan benda itu!” Teriaknya dan pedangnya menusuk dada Kun Liong. Pemuda gundul ini membiarkan pedang meluncur, menggoyang sedikit tubuhnya sehingga pedang itu menusuk tempat kosong di bawah lengannya dan sekali lengannya dirapatkan, pedang terjepit dan kakinya menendang perlahan ke arah lutut Bu Kong.

“Auhhh…!” Seketika kaki Bu Kong lumpuh dan pemuda ini jatuh berlutut, pedangnya masih dikempit oleh Kun Liong. Setelah menyimpan dua benda itu dengan mengikatkan kain kuning yang membungkusnya ke belakang pundak, Kun Liong lalu mengambil pedang Lui-kong-kiam, melempar pedang itu ke bawah dan pedang menancap di depan kaki Bu Kong, amblas sampai hampir ke gagangnya!

Dapat dibayangkan betapa kaget dan marahnya hati Kwi-eng Niocu menyaksikan kekalahan puteranya yang memalukan itu. Melawan pemuda gundul bertangan kosong yang sama sekali tidak balas menyerang saja, sampai puluhan jurus puteranya tak mampu menang, bahkan akhirnya dua benda pusaka dapat dirampas, juga pedang Lui-kong-kiam dan puteranya roboh berlutut! Betapa memalukan hal ini!

Betapapun juga, sebagai seorang Ketua Kwi-eng-pang yang berkuasa, dia harus malu kalau harus menarik kembali janjinya, maka dia membentak, “Serahkan dulu bokor emas yang tulen, baru boleh pergi!” Setelah berkata demikian, dengan gerakannya yang amat dahsyat Kwi-eng Niocu sudah menyerang Kun Liong dengan cengkeraman kuku tangannya yang panjang.

“Wussss… brettt!” Kun Liong terpekik kaget. Dia sudah mengelak cepat namun tetap saja kuku itu masih merobek pinggir bajunya dekat pundak. Padahal tadi pedang di tangan Liong Bu Kong sampai puluhan jurus tak pernah mampu menyentuhnya, dan sekarang ibu pemuda ini, begitu menyerang telah merobek bajunya! Dari bukti ini saja sudah dapat diketahui betapa lihainya Ketua Kwi-eng-pang ini. Tidaklah percuma nenek ini mendapat julukan Si Bayangan Hantu karena memang ilmu kepandaiannya hebat.

Kun Liong mengenal pedang ampuh, akan tetapi dia pun mengenal gerakan yang tidak begitu berbahaya seperti yang mula-mula dikhawatirkannya. Boleh jadi bagi umum, ilmu kepandaian Liong Bu Kong ini sudah hebat sekali, akan tetapi bagi dia, pemuda itu bukan merupakan lawan yang terlalu berbahaya sungguhpun dibantu oleh sebatang pedang seampuh itu. Dengan mudah dia lalu mengelak dan meloncat ke sana-sini dikejar bayangan pedang. Setelah belasan jurus menyerang tanpa dapat mengenai sasarannya, Liong Bu Kong menjadi penasaran, malu dan marah. Jangankan menggurat-gurat kepala lawan, sedangkan ujung baju lawan saja sekian lamanya belum juga dia mampu menyentuh dengan ujung pedangnya. Maka dikeluarkanlah semua jurus-jurus maut dan dia mengurung tubuh Kun Liong dengan lingkaran sinar pedang yang bergulung-gulung.

Biarpun Kun Liong tidak memegang senjata apa-apa, namun karena dia telah mengeluarkan ilmu silatnya yang sakti, yaitu Pat-hong-sin-kun, andaikata dia harus menjaga diri dengan elakan dan tangkisan saja, kiranya dia akan dapat bertahan sampai ratusan jurus tanpa membalas. Namun, yang menjadi pokok perhatiannya bukanlah mengalahkan pemuda ini. Dia tidak mempunyai urusan atau permusuhan dengan Bu Kong, maka perlu apa mengalahkannya, apalagi melukainya? Yang penting baginya adalah merampas kembali dua benda pusaka Siauw-lim-pai, kemudian baru dia akan menandingi Kwi-eng Niocu menuntut balas atas kematian ayah bundanya. Oleh karena pikiran ini, sambil mengelak ke sana-sini sehingga dia kelihatan repot terdesak hebat, dia melirik ke arah pelayan yang membawa baki terisi dua benda pusaka. Dia sengaja mpngelak dan membiarkan dirinya terdesak mundur-mundur mendekati pelayan dan tiba-tiba, bagaikan gerakan seekor burung walet, tangannya menyambar dan di lain detik dua buah benda pusaka itu telah dapat dirampasnya!

“Eeiiihhh…!” Pelayan itu menjerit dan terjengkang pingsan, buru-buru ditolong oleh pelayan bopeng dan temannya yang seorang lagi, kemudian digotong masuk ke dalam.

Liong Bu Kong marah bukan main. “Kurang ajar! Kembalikan benda itu!” Teriaknya dan pedangnya menusuk dada Kun Liong. Pemuda gundul ini membiarkan pedang meluncur, menggoyang sedikit tubuhnya sehingga pedang itu menusuk tempat kosong di bawah lengannya dan sekali lengannya dirapatkan, pedang terjepit dan kakinya menendang perlahan ke arah lutut Bu Kong.

“Auhhh…!” Seketika kaki Bu Kong lumpuh dan pemuda ini jatuh berlutut, pedangnya masih dikempit oleh Kun Liong. Setelah menyimpan dua benda itu dengan mengikatkan kain kuning yang membungkusnya ke belakang pundak, Kun Liong lalu mengambil pedang Lui-kong-kiam, melempar pedang itu ke bawah dan pedang menancap di depan kaki Bu Kong, amblas sampai hampir ke gagangnya!

Dapat dibayangkan betapa kaget dan marahnya hati Kwi-eng Niocu menyaksikan kekalahan puteranya yang memalukan itu. Melawan pemuda gundul bertangan kosong yang sama sekali tidak balas menyerang saja, sampai puluhan jurus puteranya tak mampu menang, bahkan akhirnya dua benda pusaka dapat dirampas, juga pedang Lui-kong-kiam dan puteranya roboh berlutut! Betapa memalukan hal ini!

Betapapun juga, sebagai seorang Ketua Kwi-eng-pang yang berkuasa, dia harus malu kalau harus menarik kembali janjinya, maka dia membentak, “Serahkan dulu bokor emas yang tulen, baru boleh pergi!” Setelah berkata demikian, dengan gerakannya yang amat dahsyat Kwi-eng Niocu sudah menyerang Kun Liong dengan cengkeraman kuku tangannya yang panjang.

“Wussss… brettt!” Kun Liong terpekik kaget. Dia sudah mengelak cepat namun tetap saja kuku itu masih merobek pinggir bajunya dekat pundak. Padahal tadi pedang di tangan Liong Bu Kong sampai puluhan jurus tak pernah mampu menyentuhnya, dan sekarang ibu pemuda ini, begitu menyerang telah merobek bajunya! Dari bukti ini saja sudah dapat diketahui betapa lihainya Ketua Kwi-eng-pang ini. Tidaklah percuma nenek ini mendapat julukan Si Bayangan Hantu karena memang ilmu kepandaiannya hebat.

Kun Liong kini siap siaga dan melawan mati-matian. Berbeda dengan tadi ketika menghadapi Bu Kong, dia tadi tidak mau melukai berat apalagi membunuh pemuda itu, akan tetapi sekarang, maklum bahwa nenek ini merupakan orang terakhir yang membunuh ayah bundanya, dia tidak hanya mengelak dan menangkis, namun juga balas menyerang!

“Siuuuuttt…!” Kedua lengan Kwi-eng Niocu bergerak, yang kanan mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala Kun Liong, yang kiri mencengkeram ke arah bawah pusar. Dua serangan sekaligus yang merupakan cengkeraman maut dan yang datangnya amat cepat.

Kun Liong menggerakkan kedua lengannya ke atas dan ke bawah menangkis. “Duk! Dukkk!” tangkisan yang amat kuat sehingga kedua lengan lawan terpental, namun dengan amat cepatnya Kwi-eng Niocu sudah menyerang lagi dengan cakar ke arah mata dan dada.

“Plak! Dukkk…! Haittt…!” Kun Liong menangkis dua kali dan melanjutkan dalam detik berikutnya dengan hantaman tangan kiri dengan tangan terbuka, tangan kirinya mengeluarkan uap putih dan itulah pukulan Pek-in-ciang yang amat ampuh, yang dia pelajari dari manusia sakti Tiang Pek Hosiang.

Kwi-eng Niocu cepat menangkis dengan kedua tangan sambil melempar tubuh ke kiri, namun tetap saja hawa pukulan membuat dia terjengkang dan bergulingan. Dia tidak terluka parah, namun mengalami kekagetan hebat sekali.

Tak disangkanya bahwa pemuda itu benar-benar amat lihai! Dia sudah meloncat bangun lagi, dan berseru “Lo-mo, kenapa kau diam saja? Bantulah aku!”

Kakek raksasa itu tertawa bergelak. “Huah-ha-ha, Niocu. Menghadapi seorang bocah gundul saja mengapa harus minta bantuanku? Kau sendiri tidak mau memenuhi permintaanku, bagaimana aku bisa memenuhi permintaanmu sekali ini?” Kwi-eng Niocu sudah menyambut lagi serangan Kun Liong. Sekali ini, Kun Liong yang menyerang dan serangannya itu adalah pukulan dari jurus Im-yang Sin-kun dan masih menggunakan tenaga Pek-in-ciang. Dia mengambil keputusan untuk menggunakan ilmu yang didapatnya dari Tiang Pek Hosiang tokoh besar Siauw-lim-pai itu untuk mempertahankan dan merampas kembali benda pusaka Siauw-lim-pai.

“Plak-plak…!!” Kwi-eng Niocu masih dapat menangkis, akan tetapi kembali dia terhuyung. Dia masih sempat mengirim cakar mautnya dan melihat kuku-kuku meruncing itu menyambar dekat mukanya, dengan gemas Kun Liong menyentil dengan jari telunjuknya.

“Krakkk!” Dan patahlah sebuah kuku runcing dari ibu jari tangan kiri Kwi-eng Niocu.

“Aihhhh… Lo-mo, bantulah aku, dan aku akan melayanimu semalam nanti. Keparat!”

“Ha-ha-ha-ha! Begitu baru sepadan, namanya!”

Kini raksasa itu sudah bergerak maju, kedua lengannya yang sebesar paha orang dan panjang berbulu itu sudah menyambar dari kanan kiri dengan membawa angin pukulan yang dahsyat.

“Aihh!” Kun Liong kaget bukan main. Cepat dia mengelak ke belakang, kemudian tangannya menampar ke arah leher lawan. Raksasa itu tidak mengelak, hanya mengangkat bahunya ke atas menerima tamparan itu.

“Desss!” Tamparan yang amat hebat yang dilakukan oleh Kun Liong itu akibatnya membuat pemuda ini terpelanting sendiri seolah-olah dia tadi menampar sehuah gunung baja!

“Huah-ha-ha-hah!” Kakek itu tertawa dan dengan cepatnya menubruk seperti sikap seekor harimau menubruk seekor domba. Dengan menggunakan kedua tangan menekan bumi, Kun Liong mencelat ke atas untuk menghindarkan, namun lengan kakek raksasa itu terlalu panjang sehingga tetap saja dia dapat dirangkul dan dipeluk erat-erat. Dua lengan panjang besar itu seperti dua ekor ular membelit tubuhnya, melingkari leher dan pinggangnya dengan kekuatan belalai seekor gajah! Terpaksa Kun Liong menggunakan Thi-khi-i-beng karena kalau tidak, dia tentu takkan dapat bernapas dan jangan-jangan tulang-tulang iganya akan remuk!

“Aduhhh… auuuggghhh…!” Raksasa itu berteriak-teriak dengan mata melotot ketika merasa betapa tenaganya memberobot keluar disedot oleh tubuh pemuda yang dipeluknya itu.

Melihat ini, Kwi-eng Niocu cepat melolos saputangannya dan sekali dia menggerakkan tangan, saputangan itu meluncur ke arah leher Kun Liong.

“Prattt!” Tubuh Kun Liong menjadi lemas karena jalan darahnya telah tertotok secara tepat sekali. Andaikata Kwi-eng Niocu menggunakan tangannya, tentu nenek ini pun akan ikut tersedot tenaga sin-kangnya oleh Thi-khi-i-beng. Akan tetapi sebagai Ketua Kwi-eng-pang dan sebagai seorang di antara datuk-datuk kaum sesat yang sudah luas pengetahuannya, melihat halnya raksasa tadi dia sudah dapat menduga, sungguhpun penuh keheranan, maka dia menggunakan saputangannya, sebagai pengganti jari tangan.

Raksasa itu adalah Thia-ong Lo-mo. Dia ini bukan lain adalah guru dari Tok-jiauw Lo-mo, dan dia adalah suheng dari mendiang Thian-te Sam-lo-mo (baca cerita Pedang Kayu Harum). Tempat tinggalnya adalah di kaki Pegunungan Go-bi-san dan pada hari itu dia menjadi tamu Kwi-eng Niocu yang merasa kehilangan teman-teman, sengaja mendekati kakek raksasa yang lihai ini untuk diajak bersekutu mencari bokor emas yang tulen, juga untuk membalas dendamnya kepada Panglima The Hoo.

Thian-ong Lo-mo melepaskan pelukannya dan mengusap keringatnya dari dahi. “Hebat benar… ilmu apa itu tadi? Seperti setan, tahu-tahu tenagaku disedotnya tanpa dapat kutahan.”

“Hemm, ilmu itu kalau bukan Thi-khi-i-beng apalagi?” kata Kwi-eng Niocu.

“Thi-khi-i-beng?” Liong Bu Kong menghampiri dan bertanya kaget. Dia pun terheran-heran menyaksikan kelihaian Kun Liong sehingga setelah dikeroyok dua oleh ibunya dan Thian-ong Lo-mo, baru dapat ditangkap.

“Thi-khi-i-beng? Bukankah katanya hanya Pendekar Cia Keng Hong yang memilikinya?” tanya pula Thian-ong Lo-mo.

“Hemm, siapa tahu bocah ini telah mewarisinya. Bocah ini amat penting…”

“Bunuh saja dia, Ibu! Dia berbahaya!” kata Bu Kong.

“Hush! Bodoh kau. Dia penting sekali. Pertama, dialah yang agaknya tahu di mana letaknya bokor yang tulen. Ke dua, kalau dia mengerti Thi-khi-i-beng, hemm, kita bisa siksa dan paksa dia untuk mengajarkannya kepada kami.”

“Ha-ha-ha! Pikiran bagus sekali! Dia harus ditahan dan dibelenggu kuat-kuat. Jangan khawatir, pergunakan ini untuk mengikatnya, dia tidak akan mampu lolos!” Kakek raksasa itu melepaskan “kolor” celananya yang berwarna hitam. Benda ini terbuat dari otot binatang ajaib di Go-bi, dan uletnya tidak ada yang dapat menandinginya. Kaki tangan Kun Liong lalu dibelenggu dengan tali otot itu, dan dia dilempar ke dalam kamar tahanan, dijaga ketat oleh selosin orang penjaga.

Malam itu sunyi sekali. Tiap dua jam sekali selosin penjaga yang menjaga di luar kamar tahanan Kun Liong diganti dan diantara mereka itu dipilih para anak murid yang sudah tinggi tingkat kepandaiannya.

Sementara itu, di kamar para pelayan, tak jauh dari kamar Kwi-eng Niocu, tiga orang pelayan wanita muda saling berbisik-bisik, “Niocu tidak mau diganggu malam ini, kita menganggur…” kata seorang yang paling genit.

“Hemm, mengapa Niocu suka melayani kakek seperti itu? Idihhh, menjijikkan sekali, raksasa seperti itu… bisa mati aku kalau harus melayaninya!” kata yang ke dua sambil terkekeh genit.

“Kalian jangan main-main, kalau terdengar Niocu kalian bisa dibunuh,” kata pelayan ke tiga yang mukanya bopeng.

“Sebaiknya kita pergi saja ke kamar Kongcu, dia tentu membutuhkan kita. Lebih senang melayani dia, biar hanya untuk memijati tubuhnya yang kuat dan gagah…” kata orang pertama.

“Cocok! Mari kita menghadap Kongcu. Sudah lebih sepekan dia tidak mengundang kita.”

“Pergilah kalian. Aku sih tidak dibutuhkan Kongcu,” kata yang bopeng.

“Aihh, A-hwi, kau sebenarnya cantik sekali, lebih manis daripada kami berdua, sayang mukamu banyak totol-totol hitam. Kau sih tidak mau menurut, kalau kau berobat dan totol-totolmu itu bersih, tentu Kongcu akan tergila-gila kepadamu.”

“Huh, aku tidak memikirkan soal itu. Pergilah kalian kepadanya, aku sendiri akan menjaga di kamar ini, kalau-kalau Niocu membutuhkan sesuatu. Kalau dia memanggil dan kita bertiga tidak ada semua, bukankah celaka?”

“Kau mau menjaga di sini untuk kami? Ah, A-hwi kau baik sekali.”

“Pergi dan bersenanglah,” kata A-hwi yang bopeng. Dua orang pelayan cepat berdandan, menambah bedak dan gincu di muka dan bibir, memakai beberapa tetes minyak wangi, membereskan rambut dan pakaian, kemudian sambil tersenyum-senyum dan tertawa-tawa genit mereka menuju ke kamar Liong Bu Kong yang memang sudah menjadikan mereka berdua sebagai kekasihnya dan kadang-kadang memanggil mereka ke kamarnya untuk melayaninya bersenang-senang.

Setelah dua orang pelayan itu pergi, A-hwi yang mukanya bopeng itu cepat meloncat keluar dari kamar, tangannya mengusap mukanya dan… selaput tipis terlepas atau terkupas dari kulit mukanya yang halus dan sedikit pun tidak ada totol hitamnya. Dara ini sama sekali bukan bopeng, melainkan memiliki wajah yang cantik jelita dan tidak ada cacat bopengnya sebuah pun! Gerakannya berubah lincah sekali ketika dia berkelebat lenyap dalam gelap.

Siapakah dara jelita ini? Dia bukan lain adalah Lim Hwi Sian, dara cantik murid Gak Liong di Secuan, atau masih terhitung cucu keponakan murid dari Panglima The Hoo karena Gak Liong adalah murid keponakan panglima besar itu. Telah sebulan lebih Hwi Sian menyelundup ke Kwi-ouw dan diterima sebagai pelayan. Dia dapat melindungi dirinya dari Bu Kong yang mata keranjang itu dengan jalam menyelaputi mukanya dengan selaput tipis sehingga mukanya yang cantik jelita itu menjadi bopeng. Dan semua ini dikerjakan memenuhi rencana dan siasat Cia Giok Keng, puteri Pendekar Sakti Cia Keng Hong!

Setelah menyelinap di tempat gelap agak jauh dari kelompok bangunan, terdengar suara burung malam. Hwi Sian cepat menghampiri dan ternyata Giok Keng telah berada di situ, tepat seperti telah mereka janjikan. Giok Keng telah mendengar dari ayahnya tentang ayah bunda Kun Liong yang dibunuh oleh lima datuk, juga tentang bokor yang dipalsukan dan yang diduga dilakukan oleh Kwi-eng Niocu. Karena merasa marah mendengar kematian bibi gurunya Gui Yan Cu dan suaminya, Giok Keng lalu minggat untuk menyelidiki Kwi-ouw dan di jalan dia bertemu dengan Hwi Sian yang tentu saja sudah dikenalnya.

“Bagaimana, Hwi Sian? Sudah dapatkah kau menyelidiki tentang bokor…”

“Sssttt… Cia-lihiap,” Hwi Sian menyebut lihiap kepada Giok Keng mengingat bahwa nona ini adalah puteri Pendekar Sakti Cia Keng Hong dan yang ia tahu memiliki tingkat ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada tingkatnya sendiri. “Ada berita hebat sekali…”

Dengan suara bisik-bisik Hwi Sian lalu menuturkan tentang munculnya Yap Kun Liong yang hendak merampas kembali dua benda pusaka Siauw-lim-pai.

“Dia sudah berhasil mengalahkan Liong Bu Kong dan merampas pusaka, akan tetapi dia dikeroyok oleh Kwi-eng Niocu dan Thian-ong Lo-mo, tertawan dan dijebloskan di dalam kamar tahanan bawah tanah.”

Giok Keng membanting-banting kakinya dengan gemas. “Si tolol itu! Sungguh tak tahu diri, berani mendatangi guha harimau. Biar dirasakan kelancangannya sendiri itu!”

“Tapi… Li-hiap… dia itu orang baik. Kita harus menolongnya. Dengan adanya dia membantu kita, agaknya pekerjaan kita akan lebih ringan. Pula, bukankah dia pun berhak untuk membalas kematian orang tuanya?”

Karena suara ini dilakukan dalam bisik-bisik, maka Giok Keng tidak dapat menangkap getaran aneh dalam suara Hwi Sian ini. Akhirnya, mengingat bahwa betapapun juga dia harus menolong Kun Liong, dia mengangguk dan keduanya lalu berindap mendekati kelompok bangunan. Tidak percuma Hwi Sian menjadi pelayan di situ selama sebulan. Selama itu dia telah menyelidiki semua tempat rahasia, dan tahu di mana Kun Liong disekap. Dengan hati-hati dua orang dara perkasa ini mmyelinap, Hwi Sian di depan dan Giok Keng di belakang. Giok Keng telah menyerahkan sebatang pedang kepada Hwi Sian, sedang dia sendiri memegang pedang Gin-hwa-kiam yang berkilauan, sebatang pedang pusaka perak yang ampuh.

Ketika kedua orang dara itu menuruni anak tangga menuju ke kamar tahanan di bawah tanah, mereka bengong melihat betapa pintu menembus ke anak tangga itu telah terbuka dan dua orang pmjaga pintu telah menggeletak dan “tidur” alias pingsan tanpa luka. Lebih besar lagi keheranan mereka ketika mereka melihat dua belas orang penjaga di luar kamar tahanan sudah rebah malang-melintang, kesemuanya pingsan dan kamar tahanan itu sendiri sudah kosong! Tampak “kolor” hitam terbuat dari otot yang dibanggakan oleh Thian-ong Lo-mo itu menggeletak di kamar tahanan akan tetapi Kun Liong si Pemuda Gundul sudah tidak berada di tempat itu!

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: