Petualang Asmara (Jilid ke-29)

“Plak-plak-plak!” Tiga kali Kun Liong menangkis dan terpaksa dia mengerahkan tenaga sin-kangnya agar tidak terluka oleh hawa pukulan yang dahsyat itu.

“Aihhh… hik-hik, benar saja, kau hebat!” Kim Sim Siocia tertawa ketika tangkisan itu berhasil menggempur kuda

kudanya dan membuat tubuhnya condong ke belakang, tanda bahwa dia masih tidak mampu menandingi kekuatan sin-kang pemuda itu! Akan tetapi dia menyerang terus, kini menggunakan ujung kedua lengan bajunya mengirim totokan-totokan ke arah jalan darah di seluruh tubuh Kun Liong dan gerakannya cepat bukan main, ilmu silatnya aneh, kadang-kadang malah kelihatan lamban dan lambat sekali seperti seekor gajah mencoba untuk mencari-nari!

Namun Kun Liong kaget bukan main. Di luar persangkaannya, nona gemuk ini adalah seorang yang memiliki kepandaian luar biasa dan memiliki tenaga sin-kang amat kuat, serta gerakannya terlalu cepat dibanding dengan tubuhnya yang begitu gendut. Tentu saja Hong Ing bukanlah lawan wanita ini dan dia mulai khawatir karena mengira bahwa tentu Hong Ing menjadi seorang tawanan di tempat ini. Pula dia kini mulai mengerti bahwa dia telah tersesat, bukan berada di tempat tinggal Go-bi Sin-kouw melainkan di tempat tinggal golongan lain yang dipimpin oleh nona gendut yang lihai ini, sungguhpun kesalahannya ini malah kebetulan karena ternyata Hong Ing berada di tempat asing ini!

Dia tentu saja tidak ada niat untuk memukul atau melukai wanita gemuk ini, karena sama sekali tidak ada urusan dan tidak ada permusuhan dengannya, akan tetapi karena serangan-serangan wanita itu benar-benar luar biasa sekali dan amat berbahaya, terpaksa dia harus melindungi dirinya, maka dia lalu mainkan Im-yang Sin-kun dan menggunakan pukulan Pek-in-ciang untuk menghadapi serangan dahsyat lawannya. Melihat cara bersilat pemuda ini dan merasakan betapa lengannya beberapa kali tergetar hebat apabila bertemu dengan lengan lawan, Kim Seng Siocia berkali-kali mengeluarkan seruan kaget, heran, dan juga gembira sekali!

“Kau hebat… ah, kau hebat…!” Dia berseru memuji dangan pandang mata penuh kagum dan girang.

Agaknya nona gendut itu masih belum puas dan dia mengerahkan seluruh tenaganya, mengeluarkan semua ilmu sitatnya yang aneh-aneh. Hampir Kun Liong kena diakali seperti Hong Ing melawan Amoi dan roboh oleh ilmu silat Amoi yang aneh. Apalagi Kim Seng Siocia yang menjadi “guru” Amoi, bukan main aneh dan hebatnya ilmu silatnya. Ada kalanya Kim Seng Siocia mencekik leher sendiri sampai matanya mendelik dan lidahnya keluar, hal ini dilakukan di tengah pertandingan itu. Tentu saja Kun Liong terkejut dan cepat menubruk maju untuk mencegah nona yang kelihatannya seperti hendm membunuh diri itu! Akan tetapi betapa kagetnya ketika tiba-tiba dua tangan nona itu bergerak menotoknya, menotok dua jalan darahnya yang dapat membuat dia lumpuh! Namun, dangan hawa sakti yang timbul karena ilmunya Thi-khi-i-beng, totokan-totokan yang tepat mengenai jalan darah itu “hanyut” dan tidak membekas sehingga Kim Seng Siocia terkejut sekali.

“Hong Ing…!” Kun Liong memanggil lagi sambil meninggalkan lawan meloncat ke dalam.

“Aduh mati aku…!” Tiba-tiba nona gendut itu berteriak dan terguling!

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Kun Liong melihat tubuh gendut itu terguling dan dari mulut nona itu menyembur darah segar. Dia tidak merasa memukul, akan tetapi jelas nona itu muntah darah.

“Eiihh, kenapa kau, Siocia?” Hatinya yang penuh kelembutan itu tidak tega dan dia meloncat kembali menghampiri Kim Seng Siocia. Tiba-tiba terdengar nona itu terkekeh dan tubuhnya sudah meloncat dangan sigapnya, mendahului Kun Liong memasuki istananya!

“Ihhh… penipu!” Kun Liong berseru marah dan mengejar dangan khawatir. Tahulah dia bahwa nona gendut itu tadi sengaja menipunya dan entah bagaimana dapat muntahkan darah seperti itu, untuk mencegahnya memasuki istana lebih dulu.

Kekhawatirannya terbukti ketika dia memasuki ruangan yang besar itu. Hong Ing dalam keadaan terikat kedua lengannya ke belakang, berdiri di dekat kursi besar sedangkan Kim Seng Siocia memegangi tali panjang sisa pengikatnya dan memegang tengkuk Hong Ing sambil tersenyum manis memandang Kun Liong yang melangkah masuk.

“Kun Liong…!” Hong Ing berkata lemah setelah melihat pemuda itu. Totokan yang membuatnya gagu telah dibebaskan akan tetapi dia hanya dapat mengeluarkan suara lemah setelah sekian lamanya gagu.

“Hong Ing…!” Kun Liong berseru penuh kemarahan. Akan tetapi hatinya lega melihat bahwa Hong Ing masih hidup. Dia berpaling kepada Kim Seng Siocia, dan berkata, “Kim Seng Siocia, mengaoa kau menawan Pek Hong Ing? Apakah kesalahannya maka engkau menawannya?”

“HI-hik, kesalahannya banyak, tapi tidak perlu dibicarakan. Yang penting sekarang adalah membicarakan urusan antara kita! Sahabatmu, Pek Nikouw ini telah berdoa agar aku lekas dapat jodoh dan ternyata doanya terkabul hari ini! Engkau datang dan engkau memenuhi semua syarat untuk menjadi suamiku.”

Kun Liong melongo, matanya terbelalak dan mulutnya ternganga. “A… apa…?”

“Hi-hik! Aku hanya mau menjadi isteri seorang pemuda tampan dan gagah yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dan kau ganteng, biar kepalamu gundul tapi kau tampan dan aku suka padamu, aku cinta padamu. Kau adalah calon suamiku!”

“Tidak!” Kun Liong berseru marah, mukanya menjadi merah sekali. “Aku tidak akan menjadi suami siapapun juga! Lebih baik kaulepaskan Hong Ing!” katanya pula mengancam.

“Eiiit-eiiittt… jangan bergerak! Kalau kau bergerak, aku akan lebih dulu membunuh Pek Nikouw!” Jari-jari tangan wanita itu mengancam tengkuk Hong Ing dan lemaslah tubuh Kun Liong karena dia maklum bahwa sekali jari tangan itu bergerak, tentu akan tewaslah Hong Ing!

“Kim Seng Siocia, apakah kehendakmu?”

“Engkau harus menyerah dan menjadi suamiku. Kalau kau menyerah, barulah aku akan membebaskan Pek Nikouw. Betapapun juga, kalau kau menjadi suamiku, dia telah berjasa. Aku tidak akan mengganggunya, hi-hik. Tapi kalau kau melawan, dia akan mati lebih dulu!”

Kun Liong memutar otaknya. Betapa pun cepat dia bergerak, tak mungkin bisa mendahului tangan yang sudah menempel di tengkuk Hong Ing itu, maka dia sama sekali tidak berdaya.

“Baiklah, aku menyerah. Akan tetapi kau berjanjilah dulu tidak akan mengganggu dia dan akan membebaskannya.”

“Tentu saja, aku berjanji. Acui dan Amoi, ikat dia dulu!”

Sambil tersenyum-senyum dua orang pelayan yang cantik dan lihai itu lalu menghampiri Kun Liong dan mengikat kedua lengan Kun Liong ke belakang tubuhnya.

“Kun Liong! Jangan mau tertipu…!” Tiba-tiba Hong Ing berteriak, akan tetapi karena Kun Liong sudah dibelenggu, pemuda itu tidak dapat berbuat sesuatu, apalagi karena dia memang tidak berani bergerak, takut kalau Hong Ing dibunuh oleh Kim Seng Siocia yang aneh itu.

“Hi-hi-hik, nikouw lancang. Siapa mau menipunya? Aku mau mengambilnya sebagai suami, dan engkau adalah pendetanya yang akan memberkati dan berdoa untuk kami suami isteri, sepasang pengantin baru. Hi-hi-hik!” Kim Seng Siocia tertawa-tawa dan sudah tidak “menodong” Hong Ing lagi karena melihat bahwa Kun Liong sudah terbelenggu erat-erat.

“Kun Liong…!” Hong Ing yang merasa tidak diancam lagi, melihat Kun Liong dibelenggu, lalu berlari menghampiri pemuda itu. “Kun Liong, selagi masih ada kesempatan, larilah. Jangan kauhiraukan aku. Kau terjebak, di sini ada Marcus…”

Tiba-tiba terdengar suara ketawa bergelak dan Marcus muncul dari pintu samping. Kim Seng Siocia sudah mencelat dari tempat duduknya, dengan cepatnya dia menggunakan sisa tali pengikat Hong Ing yang masih panjang untuk dilibat-libatkan pada tubuh Kun Liong dan Hong Ing sehingga kedua orang ini sekarang diikat menjadi satu, saling membelakangi. Keadaan ini membuat mereka tak dapat berkutik lagi!

Kun Liong terkejut ketika melihat Marcus, akan tetapi dia bersikap tenang saja karena betapapun juga, dia harus mengalah untuk menyelamatkan Hong Ing yang tadi sudah terancam. Sekarang, dia berusaha melepaskan diri dari belenggu secara diam-diam, namun terkejutlah dia ketika mendapat kenyataan bahwa tali yang mengikat mereka itu tak mungkin dapat dipatahkan karena mulur dan ulet seperti karet. Maka dia tenang kembali dan ingin melihat perkembangan keadaan sambil menanti terbukanya kesempatan untuk menolong Hong Ing. Maka dia lalu berkata lirih dan jari tangannya menyentuh dan memberi isyarat kepada lengan dara itu yang menempel dengan lengannya sendiri. “Tenanglah, Hong Ing. Aku yakin bahwa Kim Seng Siocia tidak berniat buruk terhadap kita berdua.”

“Tentu saja tidak, Kun Liong. Aku akan mengangkatmu menjadi suamiku, apakah itu niat buruk?” Nona gendut itu berteriak.

“Bagus sekali! Aku mengucapkan selamat, Siocia. Memang dia pantas menjadi suamimu, tampan, gagah dan… berharga sekali! Dan Pek Nikouw itu hanya scorang nikouw palsu, dia gadis cantik dan… biarlah dia untuk aku saja.” kata Marcus.

“Marcus, kubunuh kau kalau…” Kun Liong membentak, kemudian menoleh kepada Kim Seng Siocia yang sudah duduk lagi di atas kursi besar itu. “Siocia, kau sudah berjanji akan membebaskan Hong Ing! Kalau kau melanggar janji dan berani menyerahkan Nona Pek Hong Ing kepada babi putih itu, aku pun sampai mati tidak akan sudi menyerah kepadamu.”

“Bocah gundul, kau masih banyak lagak, ya?” Marcus melangkah maju, hendak memukul kepala Kun Liong.

“Marcus, apa kau sudah bosan hidup, berani hendak memukul calon suamiku? Hayo keluar kau dari sini!” Kim Seng Siocia membentak dan pemuda berkulit putih itu segera meninggalkan ruangan sambil bersungut-sungut tidak puas.

Setelah Marcus pergi, Kim Seng Siocia dengan muka ramah menuding kepada Kun Liong sambil berkata, “Yap Kun Liong, apakah engkau benar-benar telah menyerah kepadaku?”

“Kim Seng Siocia, buktinya aku tidak melakukan perlawanan.”

“Bagus, kalau begitu, akan kupersiapkan pesta untuk upacara pernikahan kita dan…”

“Apa?” Kun Liong bergerak-gerak sehingga Hong Ing ikut terbawa. Keduanya terhuyung karena diikat menjadi satu seperti itu membuat kaki mereka sukar bergerak dan sedikit gerakan saja membuat mereka kehilangan keseimbangan tubuh. “Kau bilang… pernikahan?”

“Hemm, Yap Kun Liong, seorang laki-laki sejati tidak akan menjilat kembali ludah yang sudah dikeluarkannya. Engkau bilang menyerah, tapi…”

“Siocia! Menyerah dan menikah tidaklah sama! Aku hanya menyerah dan tidak melawan seperti kukatakan tadi, dan aku berjanji akan membebaskan Hong Ing.”

“Kalau begitu, kau tidak mau menjadi suamiku?” Mulut lebar yang tadinya tersenyum ramah itu, kini mewek seperti mau menangis.

“Siocia, maafkan aku. Aku tidak ingin menikah, tidak ingin menjadi suami siapapun juga.”

Sepasang mata wanita itu menyinarkan api kemarahan. “Begitukah? Kalau begitu, Pek Nikouw akan kusiksa sampai mati di depan matamu!” Dia meloncat dekat, menggunakan tali lain lagi untuk membelenggu kedua kaki Kun Liong, bahkan juga leher pemuda itu dikalungi tali dan tubuhnya dibelenggu erat-erat seperti seekor kerbau hendak disembelih, kemudian dibantu oleh Acui dan Amoi mereka bertiga memisahkan Hong Ing dan Kun Liong. “Ambil cambukku!” bentaknya dengan marah dan Amoi segera berlari masuk, tak lama lagi keluar membawa sebatang cambuk hitam yang panjang. Cambuk itu kecil panjang mengerikan karena ujungnya dipasangi benda-benda kecil tajam meruncing!

“Tar-tar-tar!!” Cambuk itu meledak-ledak ketika diayun di atas kepala Kim Seng Siocia.

Hong Ing sudah memejamkan matanya, berdiri tegak dan siap menerima siksaan, siap pula menerima kematian. Dia tidak mau mendengar Kun Liong menerima menjadi suami wanita gendut itu. Lebih baik dia mati daripada Kun Liong berkorban seperti itu!

“Siocia, tahan dulu…!” Kun Liong berteriak dengan mata terbelalak penuh kengerian membayangkan betapa kulit Hong Ing yang halus akan cabik-cabik digigit ujung cambuk mengerikan itu.

Cambuk yang sudah diputar-putar itu turun dan Kim Seng Siocia memandang Kun Liong dengan senyum simpul. “Kun Liong, tadi ketika aku bertanding denganmu, aku sengaja mengalah. Kalau aku menggunakan cambukku ini, senjata maut yang kuandalkan, kau takkan mampu menang. Akan tetapi mana aku tega melukaimu, kau calon suamiku?”

“Kim Seng Siocia, kaubebaskan Hong Ing dan aku menerima permintaanmu.”

“Kun Liong, jangan!” Hong Ing menjerit dan mukanya merah sekali, terasa panas karena kemarahannya. “Biar aku dia bunuh, jangan kau penuhi permintaannya yang gila itu!” Setelah mengeluarkan ucapan keras ini, diam-diam Hong Ing menjadi terheran-heran sendiri. Mengapa dia peduli amat apakah Kun Liong akan menjadi suami wanita itu atau tidak? Mengapa dia tidak rela melihat Kun Liong menjadi suami Kim Seng Siocia, bahkan dia lebih suka mati?

“Hong Ing, diamlah!” Kun Liong berkata, hatinya gelisah sekali sehingga dia sendiri pun tidak ingat lagi akan keanehan sikap Hong Ing. Satu-satunya yang penting bagi Kun Liong hanya menyelamatkan Hong Ing, dengan tebusan apapun juga!

“Kau… kau mau menurut? Kau mau menjadi suamiku?”

Kun Liong menganggukkan kepalanya yang gundul ditambah kata-kata lirih, “Asal engkau membebaskan Hong Ing.”

“Horeee…! Kau mau menjadi suamiku? Ha-ha, yahuuu…!” Kim Seng Siocia meloncat turun, menari-nari mengelilingi Kun Liong, lalu berhenti di depan pemuda itu, memegangi kepala Kun Liong, menariknya ke depan lalu… “cuuuppp…!” Kepala pemuda itu diciumnya sedemikian rupa sehingga Kun Liong merasa seolah-olah kepalanya dicap dengan besi panas!

“Terima kasih, calon suamiku! Acui, Amoi, persiapkan perta untuk…”

“Siocia, aku menerima hanya dengan satu syarat, kalau tidak, biar kau membunuh kami berdua, aku tidak peduli lagi!”

“Wah-wah, laki-laki kalau muda dan tampan, ada juga rewelnya, minta syarat segala macam. Anak bagus, syaratmu apakah? Tentu akan kupenuhi, jangan khawatir, Kim Seng Siocia adalah ratu di sini. Kau mau selir? Tinggal pilih! Acui ini yang cantik tenang, atau Amoi yang manis panas, atau kalau kau kehendaki, kau boleh ambil nikouw ini sebagai selirmu, seperti juga aku akan mengambil selir-selir yang kusukai. Mau harta benda? Sebut saja apa yang kauinginkan, tentu akan kupenuhi! Atau kau punya musuh? Akan kubantu kau sampai musuhmu hancur binasa. Kita suami isteri harus saling membantu, bukan?”

Kun Liong menjadi muak mendengar ini, akan tetapi dia bersikap tenang dan berkata sungguh-sungguh, “Bukan itu semua. Syaratku yang terutama, nona Pek Hong Ing harus dibebaskan, dan ke dua, tidak perlu diadakan pesta dan pernikahan.”

Kim Seng Siocia membelalakkan matanya. “Waaah, lha ini… ini bagaimana?”

“Pendeknya, kau terima atau tidak, aku tidak mau tawar-menawar lagi.”

Kim Seng Siocia memutar biji matanya, kemudian menarik napas panjang dan menggerakkan kedua pundaknya yang besar dan lebar. “Apa boleh buat, asal engkau suka menjadi suamiku. Aku pun punya syarat dan kalau engkau adil, engkau harus menerima syarat ini.”

“Apa itu?” Kun Liong bertanya, hatinya tidak enak karena dia menduga bahwa di dalam sikapnya yang ketolol-tololan itu, wanita gendut ini agaknya cerdik sekali.

“Engkau harus membuktikan dulu kesanggupanmu menjadi suamiku, malam ini. Sementara itu, Pek Nikouw akan dijaga ketat oleh Acui dan Amoi. Kalau sedikit saja engkau bergerak melawan, sekali aku berteriak, mereka akan membunuh Pek Nikouw dan aku akan menempurmu mati-matian dengan cambukku. Akan tetapi kalau kau sudah benar-benar membuktikan kemauanmu menjadi suamiku yang baik dan yang tercinta, barulah pada besok pagi dia kubebaskan!”

Kun Liong mengerutkan alisnya. Benar saja dugaannya. Perempuan ini cerdik sekali dan agaknya sudah mencurigainya. Memang dia tadi mengandung niatan hati bahwa sekali Hong Ing sudah bebas, sampai mati pun dia tidak mau “diperkosa” atau dipaksa menjadi suami wanita ini diluar kehendak hatinya! Sekarang wanita itu telah menggunakan Hong Ing sebagai sandera!

Terpaksa dia mengangguk dan berbisik, “Baiklah, akan tetapi kau harus bersumpah tidak akan membohong besok pagi untuk membebaskan Hong Ing.”

Sepasang mata itu melotot. “Yap Kun Liong, kaukira aku orang macam apa? Aku adalah pewaris dari Go-bi Thai-houw sekali bicara tentu takkan kulanggar sendiri!”

“Kun Liong, jangan percaya kepadanya!” Kembali Hong Ing berseru, hatinya panas sekali. “Aku tidak takut mati, jangan kau korbankan diri untukku!”

“Cusss!” Tangan Acui bergerak dan Hong Ing sudah menjadi gagu karena tertotok jalan darahnya di leher.

“Hi-hik, bagus, Acui. Nah, Kun Liong, kalau kau banyak rewel, akan kusuruh Acui turun tangan membunuh Pek Nikouw. Aku berjanji akan membebaskannya besok pagi kalau malam ini kew benar-benar dengan sukarela suka menjadi suamiku!”

Pucat wajah Kun Liong. Di dalam hatinya, tentu saja dia tidak sudi menjadi suami orang dengan paksaan seperti itu. Dia tidak sudi diperkosa wanita! Akan tetapi dia melihat jelas bahwa kalau dia menolak, tentu wanita gemuk yang aneh dan lihai ini tidak segan-segan untuk melaksanakan ancamannya, yaitu membunuh Hong Ing. Maka dengan muka muram dan tubuh lesu dia mengangguk, “Baik, aku menyerah.”

“Bawalah dia pergi dan siaplah kalian membunuhnya kalau Kun Liong main gila hendak melawan.”

Acui dan Amoi mengangguk, kemudian membawa Hong Ing yang terikat kuat itu pergi meninggalkan ruangan, diikuti oleh suara ketawa Kim Sim Siocia yang kemudian turun dari kursinya, langsung dia melepaskan tali yang mengikat tubuh dan kedua lengan Kun Liong. Pemuda ini sudah tidak berdaya, tidak tahu harus bertindak bagaimana. Dia sudah dibebaskan dari belenggu, namun ada belenggu yang jauh lebih kuat daripada tali-tali itu, yaitu Hong Ing yang dijadikan sandera dan dia tidak tahu ke mana dara itu dibawa. Tentu saja dia dapat memberontak dan melawan setelah tali itu terlepas dari kedua lengannya, akan tetapi hal itu sama artinya dengan membunuh Hong Ing!

“Suamiku yang baik, marilah kita bicara di dalam kamarku, agar kita dapat saling mengenal lebih baik lagi.” Kim Seng Siocia tersenyum, menggandeng tangan Kun Liong dengan sikap mesra dan setengah menarik pemuda itu memasuki kamarnya yang megah dan mewah serta berbau harum. Kun Liong tidak berani membantah dan kedua kakinya menggigil karena dia merasa seolah-olah dia telah menjadi seekor domba yang digiring memasuki tempat jagal di mana dia akan disembelih!

“Duduklah, Koko…” Kim Seng Siocia mempersilakan dengan suara merdu dan mengandung kemanjaan yang membuat Kun Liong merasa bulu tengkuknya meremang. Begitu mesranya wanita ini menyebutnya koko (kakanda)! Dia tidak menjawab, hanya mengangguk dan duduk di atas sebuah bangku menghadapi meja yang terukir indah. Kim Seng Siocia lalu membalikkan tubuhnya menghadapi pintu kamarnya, bertepuk tangan tiga kali. Muncullah dua orang wanita muda yang cantik, dua orang pelayan yang menggantikan Acui dan Amoi karena kedua orang pelayan kepala itu sedang membawa pergi Hong Ing.

“Sediakan makan minum yang paling istimewa untuk kami berdua. Cepat!”

Dua orang pelayan itu memberi hormat, meninggalkan kamar dan menutupkan daun pintu kamar perlahan-lahan dari luar.

“He-he-he, hatiku riang gembira bukan main, Koko. Inilah saat yang kunanti-nanti selama hidupku. Aku benar-benar bahagia sekali.” Dia menjatuhkan dirinya duduk di atas sebuah bangku dekat Kun Liong dan pemuda ini dengan hati ngeri mendengar suara bangku itu menjerit saking beratnya beban yang menghimpitnya.

“Koko yang baik, engkau dari manakah dan siapa orang tuamu? Kelak aku tentu ingin sekali bertemu dan menyampaikan hormatku kepada ayah dan ibu mertua.”

Kun Liong bergidik. Aih, bagaimana akan sikap ayah bundanya andaikata mereka masih hidup dan melihat “anak mantunya” ini? Mukanya menjadi merah sekali dan dia berkata, “Aku tidak mempunyai tempat tinggal dan ayah bundaku sudah meninggal dunia, Siocia.”

“Emmm…!” Kim Seng Siocia membanting-banting kedua kaki di lantai dan menggoyang-goyang tubuhnya dengan sikap kemanjaan seorang anak kecil yang “ngambek”. “Tidak mau ah kalau begitu! Aku sudah menyebutmu Koko, mengapa kau masih menyebutku Siocia? Suami isteri harus lebih mesra sebutannya!”

Aduh manjanya! Kun Liong bengong dan ingin menampar kepala gundulnya sendiri mengapa dia terpaksa harus melayani wanita seperti ini. Sudah tubuhnya seperti gajah, usianya tentu sudah tiga puluhan tahun, masih manja seperti seorang kanak-kanak, atau seperti seorang wanita cantik yang dipuja-puja seorang pria yang tergila-gila kepadanya! Bukan main! Akan tetapi karena khawatir kalau-kalau wanita ini menjadi marah benar-benar, dia cepat berkata, “Baiklah, aku akan menurut, akan tetapi aku tidak tahu sebutan apa yang harus kupakai.”

“Ihhh… hi-hik, suamiku masih bodoh! Eh, kau tentu mesih perjaka tulen, ya? Hi-hik, kau sebut aku Moi-moi!”

Ampun! Demikian jerit hati Kun Liong. Pantas menjadi bibinya dan dia disuruh menyebut moi-moi (adinda)!

“Baiklah, Moi-moi!” Kun Liong mengucapkan sebutan ini dengan suara sumbang karena baru pertama kali itulah dia menyebut wanita dengan sebutan adinda!

Tiba-tiba Kim Seng Siocia menangis! Menangis terisak-isak dan memegang kedua tangan Kun Liong. Pemuda ini makin kaget dan heran, mengira bahwa dia tentu telah melakukan kesalahan lagi diluar pengetahuannya.

“Hu-huu-hukkk… sungguh kasihan engkau, Koko… hu-huuk, dan sungguh sial sekali aku… belum apa-apa sudah kematian ayah dan ibu mertuaku…”

Disinggung tentang kematian ayah bundanya, kalau dalam keadaan biasa tentu sedikitnya hati Kun Liong akan merasa terharu juga. Akan tetapi sikap wanita ini keterlaluan, pakai menangis segala! Hanya anehnya, wanita ini menangis sungguh-sungguh, air matanya bercucuran, bukan dibuat-buat. Diam-diam Kun Liong merasa makin ngeri karena menduga bahwa tentu ada gejala-gejala tidak beres pada otak wanita ini.

Karena Kun Liong memang tidak mau banyak bicara, akhirnya Kim Seng Siocia menceritakan semua riwayatnya sendiri kepada Kun Liong yang didengarkan oleh pemuda ini penuh perhatian. Penuturan wanita itu begitu menarik hatinya sehingga dia tidak mempedulikan dan tidak merasa lagi betapa tangan Kim Seng Siocia yang besar itu kadang-kadang membelai tangannya dengan mesra, bahkan kadang-kadang tangan yang berjari besar itu merayap naik dan mengelus kepalanya yang gundul!

Memang cerita wanita itu menarik hatinya. Dia sudah pernah mendengar penuturan ibunya tentang seorang datuk wanita yang berjuluk Go-bi Thai-houw, yang menurut ibunya memiliki ilmu kepandaian yang amat luar biasa, akan tetapi datuk ini adalah seorang yang miring otaknya. Ibunya bercerita betapa datuk wanita gila itu telah menimbulkan kekacauan besar, bahkan hampir saja berhasil merusak penghidupan ayah bundanya sendiri dan penghidupan Pendekar Sakti Cia Keng Hong dan isterinya, yaitu Sie Biauw Eng. Betapa kemudian, berkat kesaktian Cia Keng Hong, akhirnya datuk wanita yang merupakan nenek iblis itu telah dapat dibinasakan oleh Cia Keng Hong.

Dan sekarang Kim Seng Siocia mengaku bahwa dia adalah bekas pelayan kecil dari Go-bi Thai-houw yang tersayang dan yang dijadikan ahli waris oleh nenek iblis itu!

“Thai-houw amat sayang kepadaku, Koko. Semua pusaka warisannya disimpan di tempat rahasia dan hanya aku yang diberi tahu. Oleh karena itu, hanya akulah yang dapat mewarisi kepandaiannya dan aku menjadi pemimpin di bekas istananya ini. Akan tetapi… u-hu-huuu… dia dibunuh mati orang, Koko!” Kembali Kim Seng Siocia menangis.

Kun Liong makin tertarik. “Jadi… apa yang kau kehendaki, Sio… eh, Moi-moi?”

“Apalagi? Tentu membalas dendam kematian Thai-houw! Aku mendapatkan semua ini dari Thai-houw dan dia dibunuh orang!”

“Kalau begitu, dengan kepandaianmu yang tinggi, mengapa kau tidak sejak dahulu membalas dendam, Moi-moi”

“Aku… aku takut…”

“Eh…?” Kun Liong benar-benar terheran mengapa wanita aneh ini mempunyai rasa takut juga, maka dia melanjutkan pancingannya, “Begitu lihaikah musuhmu yang telah membunuh Go-bi Thai-houw?”

“Aku tidak takut kepadanya! Hemm, biar dia memiliki Thi-khi-i-beng sekalipun! Dahulunya memang aku tidak berani mengingat akan ilmunya itu, akan tetapi setelah aku mempelajari kitab peninggalan Thai-houw, dengan menggunakan cambuk ini, aku dapat membuat Thi-khi-i-beng tidak ada artinya! Kaulihatlah, Koko!” Setelah berkata demikian, wanita ini meloncat dari bangkunya, menyambar cambuknya dan menuding ke atas, ke arah dinding di mana terdapat dua ekor cecak yang sedang bercumbuan dan saling berkejaran. “Lihat dua ekor cecak itu!” katanya pula dan tiba-tiba terdengar suara meledak-ledak beberapa kali bersama sinar hitam menyambar-nyambar dan ketika Kun Liong memandang, ternyata dua ekor cecak itu telah terpotong-potong tubuhnya menjadi empat dan jatuh ke atas meja, sedangkan di dinding itu tidak nampak sedikit pun darah! Diam-diam Kun Liong terkejut. Ternyata wanita ini tidak menyombong kosong tadi ketika mengatakan babwa dengan cambuknya dia amat lihai. Kalau dalam pertempuran tadi Kim Seng Siocia menggunakan cambuk seperti itu, dia tentu akan repot menghadapinya! Dan dia harus mengakui bahwa dengan senjata cambuk seperti itu, Thi-khi-i-beng tidak akan dapat dipergunakan karena tidak mungkin untuk menempel ujung cambuk dan menyedot sin-kang lawan melalui cambuk lemas yang panjang itu!

“Wah, kau hebat sekali, Moi-moi…” Kun Liong menekan hatinya karena dia bergidik melihat bangkai dua ekor cecak yang telah menjadi masing-masing empat potong itu di atas meja. “Dengan kepandaianmu itu, tentu engkau akan dapat menang melawan musuhmu, akan tetapi mengapa tidak juga kaulakukan?”

“Sudah kukatakan tadi, aku takut, aku takut gagal. Aku mau yakin akan kemenanganku, oleh karena itu… bertahun-tahun aku berdoa kepada Thian untuk mendapatkan jodoh seorang yang lihai dan yang akan dapat membantuku menghadapi musuhku yang sakti. Dan… hari ini aku telah mendapatkan jodoh yang kutunggu-tunggu itu, Koko yang tampan!”

Wanita itu hendak merangkulnya. Cepat-cepat Kun Liong mundur dan berkata, “Moi-moi, belum kaukatakan siapakah musuhmu itu, dia yang sanggup membunuh seorang lihai seperti Go-bi Thai-houw?”

“Dia? Dia adalah si keparat Cia Keng Hong, yang kabarnya sekarang menjadi Ketua Cin-ling-pai di Cin-ling-san! Kau tunggulah, si keparat Cia Keng Hong! Tunggulah saat kematianmu kalau Kim Seng Siocia dan suaminya Yap Kun Liong datang membalas dendam! Koko, dengan bantuanmu, aku yakin bahwa kita akan dapat membunuh Cia Keng Hong. Aku melihat gerakan-gerakanmu tadi hebat sekali. Orang seperti engkau inilah yang kutunggu-tunggu!” Kembali Kim Seng Siocia hendak merangkul dan Kun Liong sudah bingung. Tiba-tiba datang pertolongan ketika pintu kamar terbuka dan dua orang pelayan tadi datang membawa hidangan yang masih panas dan serba mewah dan lezat. Dengan senyum manis dua orang pelayan itu menurunkan piring mangkok dan manci ke atas meja, juga seguci arak wangi.

“Harap singkirkan bangkai cecak ini…” kata Kun Liong kepada dua orang pelayan itu.

“Eihhh, mengapa? Dua ekor eceak itu merupakan lalap yang sedaaap!” kata Kim Seng Siocia yang mengusir kedua orang pelayannya dengan gerakan tangan. Mereka pergi dan kembali menutupkan pintu kamar.

Kun Liong hampir muntah. Bangkai cecak dipakai lalap? Biasanya orang lalap dengan sayur segar dan mentah! Akan tetapi dia tidak mencela karena dia mulai bersikap hati-hati sekali terhadap wanita ini setelah diketahuinya bahwa wanita ini adalah musuh besar Cia Keng Hong dan berniat menggunakan dia sebagai teman untuk membunuh pendekar sakti yang masih terhitung supeknya sendiri bahkan yang telah mengajarkan Thi-khi-i-beng kepadanya itu! Dengan menekan perasaannya, dia menemani wanita itu makan minum. Hanya dengan kekuatan luar biasa saja dia dapat bertahan ketika Kim Seng Siocia menggunakan sumpit menjepit bangkai cecak dan melalapnya dengan bunyi “kriuk! kriuk!” ketika giginya yang kuat mengunyah bangkai itu berikut tulang-tulangnya. Yang lebih menjijikkan lagi ketika Kim Seng Siocia menyumpit ekor cecak yang masih bergerak-gerak menggeliat itu, memasukkan benda yang masih hidup itu ke dalam mulut lalu mengunyahnya!

Tahulah dia bahwa wanita ini benar-benar tidak waras otaknya! Namun Kun Liong makan sampai kenyang tanpa bicara, hanya diam-diam dia mengasah otaknya mencari jalan keluar dari bahaya ini, terutama sekali bagaimana dia akan dapat menolong Hong Ing yang keselamatannya terancam bahaya maut. Bukan hanya dari Kim Seng Siocia datangnya bahaya mengancam yang sewaktu-waktu dapat membunuh Hong Ing, melainkan juga dari Marcus yang jelas adalah seorang laki-laki yang tidak baik.

Setelah selesai makan minum yang bagi Kim Seng Siocia amat menggembirakan itu, wanita ini bertepuk tangan dan dua orang pelayan itu cepat muncul. Mereka disuruh membersihkan meja dan pada waktu itu, hari telah mulai menjadi petang. Seorang di antara mereka menyalakan lampu untuk menerangi kamar yang sudah mulai gelap. Setelah dua orang pelayan itu selesai membersihkan meja, menyalakan lampu dan membereskan pembaringan, menyapu lantai kamar, Kim Seng Siocia sambil tersenyum-senyum berkata kepada mereka, “Sekarang panggil Acui dan Amoi ke sini, sementara itu, Pek Nikouw harus dijaga oleh selosin orang penjaga yang siap turun tangan membunuhnya begitu ada tanda rahasia dariku.”

Dua orang pelayan itu mengangguk, mengundurkan diri setelah mengerling dan tersenyum geli ke arah Kun Liong yang duduk seperti arca di atas bangunan. Kim Seng Siocia duduk kembali.

“Koko, hanya Acui dan Amoi itulah pelayan-pelayanku yang paling boleh kuandalkan dan kupercaya. Juga mereka yang menjadi pembantu, juga muridku. Mereka yang memandikan aku, menggantikan pakaian, pendeknya, hanya mereka yang kupercaya. Karena itu, pada malam pengantin ini… hi-hi-hik, aku pun hanya mau dilayani oleh mereka…”

Kun Liong hanya mengangguk-angguk, padahal dia tidak mengerti apa yang dikehendaki dan dimaksudkan oleh “isterinya” itu, isteri paksaan. Sementara itu, di bagian lain dari istana itu, Marcus sedang membujuk-bujuk kepada Acui dan Amoi.

“Kenapa kalian melindunginya? Serahkan dia kepadaku, sebentar saja dan aku akan bersikap manis kepadamu, Acui dan Amoi.”

“Hushh! Pergilah! Kalau ketahuan Siocia, apakah kau masih dapat menyelamatkan kepalamu yang berambut kuning itu?” Acui membentak sedangkan Amoi tersenyum-senyum genit kepada pemuda asing yang tampan itu.

“Eh, Marcus, apakah kau 1upa kepada lima orang teman-temanmu? Apakah kau ingin pula dilempar kepada anak buah yang merupakan serigala-serigala kelaparan itu,” kata Amoi mengejek, akan tetapi di balik ejekannya itu, sinar matanya memandang ke arah tubuh yang tegap dan kuat itu dengan penuh gairah.

Marcus merasa ngeri kalau mengingat kepada lima orang itu. Mereka telah mati konyol, mati dengan tubuh mengering kehabisan darah, seperti matinya lima ekor lalat yang sudah dihisap habis semua darahnya oleh laba-laba yang banyak itu! Akan tetapi dia cerdik dan tidak memperlihatkan kengeriannya, bahkan dia tertawa, “Ahhh, seperti kalian tidak tahu saja! Siocia suka kepadaku dan memang kemarin aku tidak berani main gila dengan wanita lain, betapa pun rindu dan inginku kepada kalian berdua yang cantik jelita ini! Akan tetapi sekarang, Siocia telah mendapatkan seorang kekasih baru, tentu aku menjadi bebas pula untuk bermain cinta dengan siapa juga. Acui dan Amoi, nikouw ini tidak urung akan dibunuh juga, maka apa salahnya kalau membiarkan aku mempermainkannya sebentar?”

Amoi melangkah ke depan. “Hemm, apa sih menariknya perempuan gundul ini? Eh Marcus, apakah kami berdua kalah cantik oleh nikouw gundul ini?”

Marcus tersenyum lebar. “Tentu saja tidak, dan aku berjanji, kalau kalian suka memberikan nikouw itu kepadaku sebentar, setelah aku selesai dengan dia, aku akan menemui kalian berdua bersenang-senang. Bagaimana?”

“Huh! Kautemani kami dulu, baru kami berikan dia kepadamu.”

“Baiklah, aku memang sudah lama rindu kepada kalian. Mari!”

“Enci Acui, kau bersenanglah dulu, biar aku yang menjaganya,” kata Amoi.

Acui yang masih khawatir kalau-kalau Siocia akan marah, mengerutkan alisnya akan tetapi hatinya pun tertarik sekali. Sudah terlalu lama bagi dia dan Amoi tak pernah dirayu oleh seorang pria, apalagi pria semuda dan setampan Marcus yang memiliki ketampanan khas pula sebagai seorang berkulit putih.

“Engkau saja dulu, Amoi, biar aku yang menjaganya.”

Amoi tersenyum genit dan mengangguk kepada Marcus yang tertawa-tawa dan merangkulnya dan hendak menariknya pergi dari tempat penjagaan rahasia itu. Akan tetapi pada saat itu, muncullah dua belas orang penjaga yang bersenjata lengkap, dipimpin oleh dua orang pelayan yang diperintah oleh Kim Seng Siocia tadi. Mereka berkata dengan suara nyaring bahwa Acui dan Amoi dipanggil oleh Kim Seng Siocia dan bahwa dua belas orang itu ditunjuk untuk menggantikan dua orang pelayan kepercayaan itu untuk menjaga tawanan.

Amoi kelihatan kecewa, akan tetapi dia melepaskan Marcus sambil berkata, “Kau tidak boleh di sini. Keluarlah dulu dan menunggu kami. Awas, sebelum kami kembali, kau tidak boleh menyentuhnya. Hai, para penjaga! Selama kami berdua pergi, jaga tawanan baik-baik dan jangan membolehkan siapapun juga, termasuk dia ini, menyentuh tawanan. Mengerti?”

Para penjaga itu menyatakan taat kepada Amoi yang menjadi kepercayaan majikan mereka dan Marcus yang kecewa juga tidak berani membantah lalu pergi keluar. Dia akan sabar menanti.

Acui dan Amoi memasuki kamar majikan mereka dan keduanya terkekeh genit ketika melihat Kun Liong duduk seperti arca di atas bangkunya, sedangkan Siocia kelihatan begitu gembira, mukanya kemerahan tanda bahwa dia sudah banyak minum arak wangi.

“Acui… Amoi…, aihhh, aku menjadi gugup di malam pengantin ini. Kalian bantulah aku…” kata Kim Seng Siocia sambil tersenyum. “Bagaimana sih baiknya? Sin-liang (pengantin pria) kelihatan malu-malu… ihhh, dia memang masih perjaka tulen…”

Acui dan Amoi cekikikan. “Benarkah, Siocia? Ah, kalau begitu kau bahagia sekali, Siocia. Kionghi (selamat)!” kata Amoi. Keduanya lalu menghampiri Kun Liong dan berkata,

“Kongcu (Tuan Muda), mengapa Kongcu belum juga menanggalkan pakaian luar? Sudah waktunya sepasang pengantin tidur, maka harap Kongcu tidak malu-malu lagi, karena hal itu bisa mendatangkan kesalahpahaman bagi pengantin wanita, dapat dianggap bahwa pengantin pria menolak dan ini merupakan penghinaan besar,” kata Acui.

“Benar itu, Kongcu. Mari kami membantumu menanggalkan pakaian…” kata Amoi genit dan keduanya lalu menyerbu, menanggalkan pakaian luar Kun Liong sehingga pemuda ini menjadi bingung dan malu. Untuk melawan tentu saja dia dapat, akan tetapi teringat akan keselamatan Hong Ing, dia diam saja. Akhirnya semua pakaian luarnya termasuk sepatu nya telah ditanggalkan dan dia dituntun setengah paksa duduk di tepi tempat tidur yang lebar panjang dan berbau harum itu. Kaki den tubuh atasnya menjadi segundul kepalanya, dan hanya sebuah celana dalam panjang yang tipis saja yang masih menutup tubuhnya. Kini matanya terbelalak memandang ke depan di mana Kim Seng Siocia sedang dibantu oleh dua orang pelayannya itu menanggalkan pakaian luar. Agak sukar juga bagi wanita gendut itu untuk menanggalkan pakaian luarnya dan pekerjaan ini mereka lakukan bertiga sambil tertawa cekikikan.

Setelah banyak sekali kancing yang ketat itu dilepaskan, mulailah pakaian luar itu diperosotkan dari atas dan mulailah tampak tubuh yang kini hanya dibungkus pakaian dalam yang tipis sekali itu. Dengan pakaian luar menutupi tubuhnya, bentuk tubuh Kim Seng Siocia masih tertolong, masih terlindung oleh pakaian luar yang lebar, akan tetapi setelah kini pakaian luar itu merosot dari atas sedikit demi sedikit, mata Kun Liong juga menjadi makin lebar dan makin lebar, tubuhnya menggigil seperti orang diserang demam malaria, sampai kedua bibirnya pun ikut bergerak-gerak seperti orang kedinginan. Mulailah tampak tubuh Kim Seng Siocia, mula-mula lehernya, lalu pundaknya yang tampak di balik pakaian dalam yang amat tipis sehingga tembus pandangan itu, kemudian mulai tampak tonjolan dadanya yang… aduhai! Dua onggok daging yang bergumpal besar sekali, sebuah saja sudah sebesar dua kali kepala Kun Liong! Makin merosot ke bawah pakaian luar itu, makin ngerilah hati Kun Liong, matanya terbelalak, mulutnya celangap dan jari tangannya menahan bibirnya yang gemetaran keras. Sambil cekikikan, akhirnya atas isyarat majikan mereka, Acui dan Amoi meninggalkan kamar dan menutupkan pintu kamar rapat-rapat.

Kini sambil tersenyum Kim Seng Siocia melangkah perlahan menghampiri pembaringan den setiap langkah terasa oleh Kun Liong seolah-olah seluruh kamar itu tergetar dan terjadi gempabumi!

Setelah kini tampak kedua buah kaki wanita itu, Kun Liong merasa serem bukan main. Kaki gajah! Kaki yang besarnya ada empat kali kakinya sendiri! Apalagi ketika kaki itu melangkah, selurub tubuh yang merupakan gumpalan-gumpalan daging yang bertumpuk menjadi satu itu bergoyang-goyang semua! Kun Liong hampir pingsan ketika wanita’ itu akhirnya berdiri dekat sekali di depannya, dan hidungnya mencium bau minyak wangi yang terlalu keras sehingga membuat dia sukar bernapas.

“Hi-hik, Koko… jangan malu-malu, suamiku… aku cinta padamu…”

Cepat luar biasa, tidak sesuai dengan bentuk tubuhnya, Kim Seng Siocia sudah menubruk sehingga Kun Liong terjengkang dan terlentang di atas pembaringan, lenyap tertindih bukit daging itu! Kun Liong megap-megap tak dapat bernapas, hanya kedua kakinya yang kelihatan bergerak-gerak dan kedua lengannya yang terpentang.

“Eh… ohh… nanti dulu… eh, Siocia… eh, Moi-moi…” Dia gelagapan ketika Kim Seng Siocia menutupi mukanya dengan ciuman-ciuman kasar sehingga hampir seluruh muka Kun Liong basah oleh ciumannya.

Ketika merasa betapa wanita itu menjadi makin ganas dan mulutnya yang besar itu menutupi separuh mukanya, Kun Liong cepat menggerakkan jari tangannya menotok pundak wanita itu, menotok jalan darah hong-hu-hiat-to untuk membuat wanita itu lemas. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika merasakan jari tangannya menotok daging yang demikian tebalnya sehingga jari tangan itu tidak dapat mencapai jalan darah! Mengertilah dia bahwa wanita ini menjadi kebal bukan main karena jalan darah di tubuhnya terlindung oleh ketebalan dagingnya! Dia kaget, akan tetapi Kim Seng Siocia juga terkejut. Kesempatan ini dipergunakan oleh Kun Liong, dia menggigit bibir wanita itu untuk mencegahnya berteriak, dan mengerahkan Thi-khi-i-beng ketika wanita itu menggunakan kedua tangan mencengkeram pundaknya.

“Iiihhh… oooohhh…!” hanya keluhan ini yang keluar dari mulut Kim Seng Siocia yang bibirnya masih tergigit oleh Kun Liong ketika dia merasa betapa sin-kangnya memberobot keluar, membanjir melalui kedua telapak tangan, tersedot oleh hawa mujijat dari dalam tubuh pemuda itu.

Memang kesempatan inilah yang dinanti-nanti Kun Liong, yang sejak tadi diasah dalam benaknya. Dia maklum akan kelihaian wanita ini, dan kalau wanita itu berada dalam keadaan siap siaga, apalagi dengan cambuk sakti yang ditaruh di atas meja itu, dia tidak akan mampu menolong Hong Ing. Tidak akan mampu mengalahkan wanita ini dan membuatnya tak berdaya tanpa mampu berteriak. Tadinya, menurut rencana, dia akan menotoknya begitu wanita itu menerkamnya di tempat tidur. Akan tetapi ternyata totokannya gagal, maka terpaksa dia menggunakan Thi-khi-i-beng sambil “menahan” mulut Kim Seng Siocia agar jangan berteriak, dengan jalan mengigigit bibirnya!

Makin lama makin pengap rasanya Kun Liong karena onggokan daging membukit itu makin menghimpitnya, makin panas rasa tubuhnya karena kemasukan sin-kang dan makin lemah pula tubuh Kim Seng Siocia! Kun Liong tidak bermaksud membunuhnya, maka begitu melihat bahwa wanita itu sudah tidak mampu meronta lagi karena sin-kangnya sudah hilang setengahnya lebih, dia lalu menggunakan ujung bantal untuk menyumpali mulut yang lebar itu, kemudian menggunakan alas tempat tidur untuk mengikat kaki tangannya. Dia maklum bahwa kalau wanita itu bertenaga sepenuhnya, tentu ikatan itu tidak ada artinya. Akan tetapi dalam keadaan sin-kangnya tersedot terlampau banyak, membuat wanita itu seperti tidur, atau setengah pingsan dan mendengkur keras seperti seekor babi, Kun Liong sudah merasa cukup. Dia lalu meloncat dari tempat tidur. Maksudnya hendak meloncat dan berpakaian, akan tetapi hampir dia menjerit ketika loncatannya itu membuat tubuhnya melayang ke atas! Dia lupa bahwa penambahan tenaga sin-kang di tubuhnya membuat tenaganya menjadi berlebihan dan tubuhnya terasa seperti bola karet yang penuh hawa, merasa seolah-olah tubuhnya menjadi sebesar tubuh Kim Seng Siocia!

“Dukkkk!” Kepalanya yang gundul terbentur pada langit-langit kamar itu sehingga langit-langit itu ambrol dan pecah! Dia terkejut, baru teringat maka cepat dia mengatur tenaga yang liar menjelajahi seluruh tubuh itu sesuai dengan petunjuk Cia Keng Hong. Biarpun terasa masih sesak dadanya dan panas tubuhnya, namun dapat juga dia mengenakan pakaiannya. Dia maklum bahwa tenpa mengurangi hawa yang disedotnya dari Kim Seng Siocia itu, dia seperti orang mabuk dan sukar menguasai tenaga yang berlebihan, maka dia lalu meloncat, menerobos melalui langit-langit yang jebol tadi, menggunakan gin-kangnya yang menjadi berlipat ganda itu berkelebat keluar dari istana. Dia memasuki hutan yang gelap dan setelah merasa yakin di situ tidak terdapat orang lain, mulailah dia menghamburkan tenaga kelebihan dari tubuhnya itu untuk memukul batu dan pohon besar. Dalam waktu singkat, lima buah batu besar hancur dan tujuh batang pohon besar tumbang! Barulah terasa enak tubuhnya, ringan dan tidak mabuk seperti tadi. Dia lalu melesat kembali menuju ke istana hendak menolong Hong Ing sebelum Kim Seng Siocia dapat melepaskan diri atau sebelum para pembantu wanita itu ada yang tahu. Kalau dia mengenangkan pengalamannya dalam kamar Kim Seng Siocia tadi dia bergidik ngeri. Memang dia bukanlah perjaka lagi, dan dia sudah berenang di lautan cinta dengan Hwi Sian, akan tetapi hal itu dilakukan oleh keduanya atas dasar suka rela. Akan tetapi tadi? Bukan main ngerinya! Dan dia tidak dapat membayangkan apa akan jadinya dengan dirinya kalau saja dia tidak memiliki Thi-khi-i-beng!

Dengan tergesa-gesa namun hati-hati sekali Kun Liong memeriksa seluruh bagian istana dan akhirnya dia dapat menemukan tempat rahasia di mana Hong Ing ditahan. Tempat itu merupakan bagian belakang istana, rapat terkurung dinding baja dan di bagian depan terjaga oleh belasan orang wanita. Dengan sigap dan cepat sekali Kun Liong meloncat tanpa diketahui mereka ke atas genteng tempat tahanan itu, kemudian membuka atap dan mengintai ke bawah. Dilihatnya pemandangan yang mengherankan. Hong Ing masih seperti tadi, dibelenggu kaki tangannya dengan tali hitam, yang dapat mulur dan sukar dipatahkan itu, dijaga oleh Acui yang memegang pedang dan menodongkan pedang itu ke tubuh Hong Ing, siap sewaktu-waktu untuk menusuk tubuh tawanan itu apabila majikannya memberi tanda! Benar-benar amat berbahaya keadaan Hong Ing karena andaikata tadi Kim Seng Siocia sempat mengeluarkan jeritan mencurigakan sedikit saja tentu pedang di tangan Acui itu sudah menembus jantungnya!

Selagi dia yang bersikap hati-hati itu mencari-cari di mana adanva Amoi, dia mendengar suara tertawa pelayan genit itu dan muncullah Amoi bersama Marcus bergandeng tangan dari sebuah kamar di samping tempat tahanan itu. Wajah Amoi berseri kemerahan dan rambutnya kusut

“Enci Acui, sekarang giliranmu. Biarlah aku menjaganya!”

Acui tersenyum, memberikan pedangnya kepada Amoi dan dia sendiri lalu dirangkul oleh Marcus dan keduanya memasuki kamar sebelah. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Kun Liong. Cepat dia menyambar turun sebelum Amoi yang nampak kelelahan itu sempat menodongkan pedangnya kepada Hong Ing.

Amoi terkejut mendengar suara angin bertiup dari atas. Dia membalik namun terlambat karena tubuh Kun Liong yang menukik turun sudah menyambar, sekali tangannya bergerak pedang itu telah terampas olehnya dan sebuah tamparan perlahan ke pundak Amoi membuat gadis ini menjerit dan terguling.

Mendengar jeritan ini, Acui bertanya dari dalam kamar, “Amol, ada apakah?”

“Enci Acui, tolong…!”

Acui dan Marcus berloncatan kcluar dari kamar dalam keadaan setengah telanjang. Melihat betapa Kun Liong telah menyambar dan memondong tubuh Hong Ing, Acui cepat menubruk dan memukul. Akan tetapi sekali ini Kun Liong tidak menaruh sungkan atau kasihan lagi karena keadaan Hong Ing terancam. Dia mendahului gadis itu dengan sebuah tendangan yang mencium lutut kiri gadis ini sehingga Acui terkejut, berteriak dan terjungkal. Kun Liong tidak mempedulikan lagi, lebih-lebih karena Acui dan Amoi sudah mulai berteriak-teriak memanggil kawan-kawannya. Dia memondong tubuh Hong Ing dan meloncat melalui atas atap. Baru saja tubuhnya muncul ke atas genteng, dia telah disambut oleh lima orang gadis penjaga yang bersenjata tombak. Lima buah mata tombak menusuknya dari lima penjuru. Namun tubuh Kun Liong sudah mencelat ke atas, menukik cepat sekali ke kiri dan menyambar sebatang tombak sebelum pemiliknya sempat melihat jelas apa yang terjadi.

“Krekkk!” Ujung tombak yang runcing dipatahkan oleh Kun Liong, kemudian dengan jurus Ilmu Tongkat Siang-liong-pang, akan tetapi hanya mainkan sebatang tongkat saja karena lengan kirinya mengempit tubuh Hong Ing, dia menyerang. Terdengar empat kali suara nyaring dan empat batang tombak pengeroyoknya patah semua. Kun Liong membuang tongkatnya dan meloncat turun, bukan ke atas tanah di bawah di mana telah menanti puluhan orang gadis bersenjata lengkap, melainkan meloncat ke sebuah pohon dan dari situ, menggunakan gin-kangnya yang bertambah karena penyedotan sin-kang dari Kim Seng Siocia tadi, dia meloncat lagi ke atas pohon di depan, kemudian menghilang ke dalam gelap.

Sampai lama sekali Kun Liong melarikan diri dengan hati-hati karena malam itu gelap sekali dan hanya diterangi oleh bintang-bintang di langit. Dia menuruni puncak dengan hati-hati, kadang-kadang harus meraba-raba dulu dengan kakinya, sampai dia jauh meninggalkan istana Kim Seng Siocia. Akan tetapi dia maklum bahwa anak buah Kim Seng Siocia terus melakukan pengejaran, maka dia tidak mau berhenti berjalan dan mulai menuruni puncak dengan hati-hati. Di tengah jalan dia melepaskan ikatan kaki tangan Hong Ing dan tiba-tiba dara itu berkata,

“Lepaskan aku! Aku bukan bayi yang harus dipondong. Aku bisa jalan sendiri!”

Kun Liong terkejut dan heran. Susah payah dia menolong gadis ini, bahkan melalui pengalaman yang mengerikan ketika dia dihimpit oleh gumpalan daging menggunung, dan sekarang begitu bisa bicara, Hong Ing mengeluarkan kata-kata yang keras! Akan tetapi dia menurunkan gadis itu dan mereka lalu bergerak perlahan melanjutkan perjalanan mereka menjauhi istana Kim Seng Siocia.

Makin bertambah keheranan hati Kun Liong ketika dia melihat betapa Hong Ing melakukan perjalanan dengan sikap diam, tak pernah bicara, dan kadang-kadang kalau dia dapat memandang wajah itu di bawah sinar bintang yang remang-remang, dia melihat wajah itu cemberut. Ingin sekali dia bertanya mengapa gadis itu menjadi tak senang hati, bahkan seperti orang marah, akan tetapi karena mereka sedang melarikan diri dari kejaran anak buah Kim Seng Siocia, dia pun tidak banyak bertanya.

Ketika mereka dipaksa berhenti oleh keadaan jalan yang amat berbahaya, selain cuaca makin gelap karena halimun menutupi cahaya bintang yang hanya sedikit itu, dan banyak jurang melintang di depan menghadang perjalanan mereka, dan mereka telah berlindung di bawah sebuah bukit batu yang berlubang merupakan guha kecil dengan api unggun menghangatkan badan mereka, barulah Kun Liong bertanya.

“Hong Ing, kenapa kau kelihatan seperti orang berduka dan tidak senang hati?”

Sambil duduk membelakangi Kun Liong, kemudian malah merebahkan diri miring, Hong Ing menjawab dengan sikap acuh tak acuh dan suara yang datar, “Mengapa aku harus tidak senang hati? Aku telah ditolong, bukan? Tidak, aku tidak apa-apa, hanya ingin tidur karena lelah.”

Jawaban ini tentu saja tidak memuaskan hati Kun Liong, akan tetapi dia pun mengeraskan hatinya. Kalau tidak mau mengaku, sudahlah, bukan urusannya. Maka dia pun menjawab datar, “Kalau begitu, kau tidurlah, biar aku yang menjaga di sini sampai pagi.”

Mendongkol juga hati Kun Liong karena dara itu tidak menjawab, melainkan menggeser tubuhnya lebih dekat dengan api unggun agar hawa dingin tidak terlalu mengganggunya. Hemm, sikapnya begitu tidak acuh, begitu sombong! Sombongkah Hong Ing? Seingatnya tidak, tetapi mengapa sekarang…? Hemm, dan mengapa pula dia menjadi tidak enak hati, tidak senang melihat sikap dara itu tidak pedulian kepadanya?

Kun Liong duduk termenung. Malam telah tua. Sunyi sekali sekeliling itu, sesunyi hati Kun Liong. Akan tetapi pikirannya mulal mengaduk kesunyian dan dia mengingat-ingat semua pengalaman yang telah dialaminya. Terutama sekali hal-hal yang baru saja terjadi, yang amat berkesan di hatinya. Kematian ayah bundanya yang telah impas karena lima orang datuk kaum sesat yang membunuh mereka itu telah terbunuh semua. Usul ikatan jodoh antara dia dan Cia Giok Keng yang tidak disetujui oleh dara itu. Kematian Souw Li Hwa dan Yuan yang amat mengharukan hatinya dan yang mulai merubah pandangannya tentang cinta kasih antara pria dan wanita. Kemudian pengalamannya bersama Lim Hwi Sian yang tak mungkin dapat dia lupakan selama hidupnya. Dan yang terakhir pengalaman mengerikan dengan Kim Seng Siocia sampai saat ini.

Mengapa jalan hidupnya selalu melintasi persoalan cinta? Mengapa banyak benar gadis yang dijumpainya dan dikenalnya, dan yang menimbulkan rasa suka di hatinya? Akan tetapi, cintakah semua itu? Tidak, dia yakin itu bukan cinta seperti yang disebut-sebut orang! Dia suka kepada Yo Bi Kiok, kepada Souw Li Hwa, Cia Giok Keng, Lim Hwi Sian, Yuanita, karena mereka adalah dara-dara yang cantik jelita dan memiliki daya tarik masing-masing yang khas sehingga dia merasa suka dan tertarik. Akan tetapi itu bukan cinta! Bahkan apa yang dilakukannya bersama Hwi Sian malam itu, sama sekali bukan karena dorongan cinta bagi dia, melainkan karena rangsangan dan dorongan nafsu berahi. Entah bagi Hwi Sian. Cintakah itu? Dan apa yang dilakukan Kim Seng Siocia terhadapnya itu, jelas bukan cinta karena Kim Seng Siocia memaksanya menjadi suami dengan tujuan untuk mengajaknya membantu dalam usahanya membalas dendam kepada Cia Keng Hong. Dan bagaimana perasaannya terhadap Hong Ing? Dia menundukkan muka memandang tubuh yang meringkuk membelakanginya itu. Cintakah dia kepada Hong Ing? Ah, tentu saja tidak. Kalau kepada yang lain dia tidak pernah mencinta, mengapa kepada Hong Ing ada kecualinya? Dia hanya suka kepada Hong Ing, suka dan merasa kasihan mendengar riwayat dara yang terpaksa menjadi nikouw untuk menghindarkan diri dari pernikahan paksaan ini. Mengapa benar dia harus jatuh cinta kepada Hong Ing?

Kemudian terbayanglah peristiwa di atas kapal yang terbakar. Terbayanglah dua orang mahluk muda yang dengan rela suka mati bersama. Yuan dan Li Hwa! Mereka saling berpelukan sampai pada saat terakhir, sampai kapal yang terbakar itu membawa mereka tenggelam. Itukah cinta? Agaknya itulah! Saling membela, siap untuk berkorban diri sampai mati! Itukah cinta? Kalau perlu membasmi siapa saja dengan kekerasan, membasmi mereka yang hendak menghalangi hasrat mereka untuk hidup bersama. Inikah cinta antara pria dan wanita? Membawa kekerasan, pertentangan, bahkan kematian yang begitu mengerikan? Agaknya itulah cinta yang disanjung-sanjung manusia, cinta antara pria dan wanita dan segala sesuatu yang tercakup di dalamnya. Cemburu, iri hati, nafsu berahi, kesenangan, kekecewaan, kepuasan, kemarahan, kedukaan dan kebencian. Semua ini tercakup di dalam perasaan yang disebut cinta!

“Hemmm, kalau begitu aku tidak mau jatuh cinta!” Kun Liong mengepal tinjunya dan kembali pandang matanya menimpa punggung Hong Ing.

Kalau bukan cinta, lalu apakah itu yang mendorong dia melakukan segala pengorbanan demi untuk menyelamatkan Hong Ing? Hanya karena kasihan begitu saja? Ataukah ada udang di balik batu, ada sesuatu di balik semua itu? Mengapa dia bersusah payah menyusul Hong Ing ke Go-bi-san sampai dia kesasar ke istana Kim Seng Siocia akan tetapi yang malah merupakan suatu kebetulan karena ternyata orang yang dicarinya, Pek Hong Ing, memang berada di situ? Bukankah itu cinta namanya?

“Tidak! Aku tidak mau jatuh…!” Tiba-tiba dia menghentikan kata-katanya ini. Ternyata diluar kesadarannya, dia telah meneriakkan suara hatinya ini sehingga dia melihat Hong Ing bergerak, agaknya terbangun oleh kata-katanya tadi. Betapa tololnya dia! Dan dara ini kelihatan begini angkuh! Kalau dia memperlihatkan bahwa dia agaknya hampir jatuh cinta, tentu dara ini akan menjadi makin angkuh saja! Tidak, dia tidak akan merendahkan diri sedemikian rupa, hanya karena dia suka dan kasihan kepada dara in!”

Karena merasa mengkal hatinya terhadap dirinya sendiri, Kun Liong melempar tubuhnya ke belakang, untuk rebah di dekat api unggun dan agar dia tidak dapat melihat lagi kepada Hong Ing.

“Dukkk!” Hampir dia berteriak namun ditahannya, hanya jari-jari tangannya saja yang mengusap-usap kepala gundulnya yang tadi membentur batu ketika dia merebahkan diri terlentang. Kulit kepala itu berdenyut-denyut. Lumayan juga nyerinya!

Kun Liong membuka matanya, akan tetapi cepat menutupkannya kembali dan melindungi mata dengan tangan kiri dari sinar matahari yang amat menyilaukan dan menggunakan tangan kanan untuk menggaruki kepalanya yang terasa gatal-gatal. Kiranya matahari telah naik tinggi dan sinar matahari yang tepat sekali menimpa kepalanya itu menggigiti kulit kepalanya dan menyilaukan matanya. Setelah dia bangkit duduk dan terbebas dari sinar matahari yang tadi langsung menimpanya, dia baru berani membuka mata dan melihat Hong Ing sudah duduk di depannya dengan muka segar dan mulut tersenyum! Manisnya! Sepagi itu telah kelihatan segar dan jelas sekali bahwa dara ini tentu telah mandi, entah di mana!

“Tidurmu enak sekali, aku tidak tega membangunkanmu.”

“Kau…” Kun Liong menahan kata-katanya dan menelan kembali pujiannya ketika teringat betapa semalam gadis ini kelihatan marah-marah dan kini dia tidak ingin melihat wajah yang berseri itu kembali marah, “kau… kelihatan segar sekali, Hong Ing.”

Senyum itu melebar dan untuk kedua kalinya Kun Liong menjadi silau. Hanya bedanya, kalau yang pertama dia silau oleh sinar matahari yang menyakitkan mata, kini dia silau akan kemanisan wajah dengan deretan gigi seputih mutiara yang menyedapkan mata, membuat dia bengong sejenak dan baru sadar kembali ketika dara itu berkata dengan wajah berseri gembira. “Aku sudah mandi. Segar dan sejuk sekali, Kun Liong. Di sana…” Dia menuding ke timur, “hanya setengah li dari sini terdapat mata air yang jernih. Aku sudah mandi dan ketika kembali ke sini, aku menangkap seekor kelinci gemuk.”

“Kelinci…?” Tiba-tiba cuping hidung Kun Liong bergerak-gerak seperti hidung kelinci karena dia mencium bau yang gurih dan sedap. “Mana kelincinya?”

Melihat betapa lubang hidung pemuda itu presis hidung kelinci yang tadi ditangkapnya, Hong Ing terkekeh dan menutupi mulut dengan punggung tangan kirinya, gerakan kebebasan yang terselimut kesopanan tradisionil yang menjadi perpaduan harmonis sekali. Manis sekali. “Hi-hik, kelincinya sudah tidak ada lagi, yang ada hanya daging kelinci panggang…”

“Sedaaap…!” Kun Liong memuji dan tiba-tiba perutnya terasa lapar sekali.

“Mandi dulu, baru aku mau menghidangkan daging panggang. Hayo, pemalas benar kau!” Hong Ing mengebut-ngebutkan seranting daun-daun basah sehingga airnya bepercikan ke muka Kun Liong, sambil tertawa-tawa.

Senang benar rasa hati Kun Liong pagi itu. Semua perasaan pahit di hatinya terusir pergi oleh senyum di bibir

dan seri di wajah dara itu. Dia berloncatan sambil berteriak-teriak, “Ihhh… dingin… dingin!” Lalu dia lari menuju ke timur seperti yang tadi ditunjuk oleh Hong Ing. Benar saja, dia mendapatkan sebuah mata air yang mengeluarkan air jernih sekali dan di bawah sumber air itu air telah tergenang, merupakan sebuah kolam air penuh dengan air kebiruan saking jernihnya. Rumput-rumput yang tumbuh di pinggir kolam itu kacau-balau, meninggalkan bekas Hong Ing mandi tadi. Dengan hati penuh kegembiraan, kegembiraan luar biasa yang belum pernah terasa olehnya sepanjang ingatannya, Kun Liong lalu menanggalkan semua pakaiannya. Ketika hanya tinggal celana dalamnya yang tinggal menempel di tubuhnya, tiba-tiba dia berhenti dan bergidik karena teringatlah dia akan pengalamannya di dalam kamar tidur Kim Seng Siocia. Terbayanglah betapa dia menggigil penuh kengerian dan tiba-tiba dia tertawa dan membuka celana itu lalu melempar tubuhnya yang telanjang bulat ke dalam air.

Daging kelinci panggang itu memang sedap sekali, gurih manis dan lunak, amat lezat terutama sekali bagi perut mereka yang lapar. Seolah-olah terasa oleh Kun Liong betapa sari makanan itu setelah memasuki perutnya memulihkan tenaganya yang diserap habis oleh kelelahan dan kelaparan. Setelah menyiram daging panggang dalam perut itu dengan air jernih sebagai minuman, Kun Liong mengelus perutnya, memandang kepada Hong Ing dan berkata, “Kau pandai benar memanggang daging kelinci. Selama hidupku baru sekali makan daging panggang begitu lezatnya!”

“Kau masih ingin lagi? Nih, kau makan bagianku!” Hong Ing mengulurkan tangan yang memegang daging paha kelinci ke depan mulut Kun Liong.

“Eih, mengapa engkau begini baik hati kepadaku, Hong Ing?” tanpa disengaja, tangan kanan Kun Liong menangkap lengan yang kecil itu dan sejenak mereka berpandangan. Hong Ing cepat menundukkan mukanya dan Kun Liong melepaskan pegangan tangannya, “Kaumakanlah sendiri, aku sudah kenyang! Ah, enak sekali masakanmu!”

Sepasang pipi itu menjadi merah dan mata itu jernih sekali ketika diangkat memandang. Sejenak mereka saling pandang dan akhirnya Hong Ing menundukkan mukanya. Kun Liong terheran-heran. Mengapa pula ini? Hatinya menjadi berdebar dan terharu! Biasanya, melihat wajah cantik seorang dara, dia ingin mengusapnya, ingin mendekat, ingin memeluk menciumnya, ingin menggodanya. Akan tetapi mengapa sekarang lain lagi? Hatinya seperti tersentuh sesuatu yang halus yang membuat dia memandang Hong Ing dengan perasaan penuh hormat, penuh iba, penuh haru.

Keadaan sunyi itu amat mengusik hati dan akhirnya Hong Ing tanpa mengangkat mukanya bertanya, “Bagaimana engkau dapat muncul begitu tiba-tiba di istana Kim Seng Siocia?”

Lega hati Kun Liong mendengar suara ini. Inilah suara Hong Ing seperti biasanya, seperti sebelum peristiwa itu terjadi di istana, sebelum mereka saling berpisah dahulu itu dan suara ini mengusir semua suasana tegang dan aneh tadi.

“Tadinya aku hendak menyusulmu. Hatiku merasa tidak enak ketika aku melihat engkau pergi bersama sucimu itu, aku lalu menuju ke Go-bi-san dan bertanya-tanya. Akan tetapi tidak ada penduduk dusun yang dapat memberi tahu di mana tempat tinggal Go-bi Sin-kouw. Akhirnya aku tiba di lereng puncak tempat tinggal Kim Seng Siocia tanpa kusengaja. Karena mengira bahwa itu adalah tempat tinggal gurumu, maka aku menyelundup masuk dan…”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: