Petualang Asmara (Jilid ke-30)

“Kau berteriak memanggil nama Subo (Ibu Guru). Hemm, mengapa kau jauh-jauh dan bersusah payah datang ke Go-bi-san untuk mencariku?”

“Aku tidak rela melihat kau dipaksa orang untuk menikah dengan pangeran yang tidak kau suka. Aku kasihan melihat engkau yang sudah mengorbankan diri menjadi nikouw untuk menghindar dari paksaan itu, tidak berdaya dan terpaksa ikut dengan sucimu, seolah-olah engkau seekor domba yang dituntun ke tempat penjagalan. Karena itu maka aku segera mencarimu.”

“Kau baik sekali, Kun Liong.”

“Ah, tidak. Aku melakukan itu bukan karena ingin baik, melainkan karena aku kasihan kepadamu, penasaran melihat urusanmu. Tidak kusengaja.”

Keduanya terdiam sampai agak lama.

“Dan demi keselamatanku, kau mengorbankan dirimu, kau membiarkan dirimu ditawan oleh Kim Seng Siocia,” kata pula Hong Ing tanpa mengangkat muka dan jari-jari tangan yang kecil putih halus itu memainkan ujung rumput di depan kakinya.

“Tentu saja, Hong Ing! Masa setelah jauh-jauh mencarimu dan bertemu di situ, aku bisa membiarkan saja engkau dibunuhnya? Aku tidak berdaya, jalan satu-satunya hanya menyerah.”

“Dan kau membiarkan dirimu menjadi… suaminya?”

“Hemm, permintaannya yang gila!”

Kun Liong kembali bergidik terbayang akan pengalamannya di kamar itu. “Akan tetapi, melihat betapa ancamannya untuk membunuhmu amat bersungguh-sungguh, terpaksa pula aku menyerah. Keselamatanmu lebih penting pada waktu itu…”

Tiba-tiba Hong Ing mengangkat mukanya dan terkejutlah hati Kun Liong ketika dia melihat sepasang mata itu bersinar-sinar penuh kemarahan!

“Jadi kauanggap bahwa nyawaku lebih penting daripada kehormatanmu?”

“Kehormatan? Apa maksudmu?”

“Kau menyerahkan diri sebagai suami paksaan, bukankah itu berarti menginjak-injak kehormatan sendiri?”

Kun Liong menjadi bengong dan sejenak hanya dapat memandang dara itu.

“Begitu rendahkah kau? Mau saja menuruti nafsu menjijikkan seorang wanita gila seperti dia?”

Kun Liong menggeleng kepala. “Jangan salah mengerti, Hong Ing. Aku tidak berdaya, kita tidak berdaya. Itu hanya satu-satunya jalan, bukan berarti bahwa aku menyerah betul-betul. Buktinya, akhirnya aku berhasil membebaskan diri dan membebaskan kau.”

“Aku tidak minta kaubebaskan! Aku tidak minta kau merendahkan diri seperti itu hanya untuk menolongku! Atau kau memang senang melayaninya agaknya!”

“Apa maksudmu?”

“Kau memang mempunyai watak mata keranjang, maka penawaran Kim Seng Siocia itu malah menyenangkan hatimu.”

“Aihh, bukan begitu!” Kun Liong mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepalanya yang gundul. “Dia… dia… ihhh, menjijikkan dan mengerikan.”

“Bagaimana kau dapat membebaskan diri? Dengan bujuk rayu?”

Kun Liong menggaruk-garuk kepalanya. Bagaimana dia harus menceritakan pengalamannya itu? Masih terasa betapa separuh mukanya basah oleh ciuman mulut lebar yang rakus itu!

“Aku… aku memang pura-pura menyerah, kemudian… ketika dia lengah… aku… eh, aku berhasil membuatnya tidak berdaya. Aku lalu lari dari kamarnya dan mencarimu. Untung belum terlambat… dan hatiku girang sekali melihat engkau selamat, Hong Ing.”

Sepasang mata yang tadinya bersinar-sinar penuh kemarahan itu kini berubah menjadi sayu, agak terpejam memandang Kun Liong, kemudian kepala itu menunduk dan terdengar suaranya lirih, “Aku… aku selalu menyusahkanmu… telah berkali-kali engkau menolong dan menyelamatkan aku, Kun Liong. Kenapa?”

Hong Ing mengangkat mukanya dengan tiba-tiba dan sepasang mata itu kini begitu tajam pandangnya, tajam penuh selidik seolah-olah hendak menjenguk isi hatinya.

“Kenapa? Tentu saja aku menolongmu Hong Ing, menolong sedapatku dan hal itu sudah lumrah, bukan? Siapa pun tentu akan menolong setiap orang yang menderita dan terancam bahaya.”

“Jadi bukan karena aku…”

“Maksudmu?”

Muka yang cantik itu kembali menunduk dan terdengar helaan napas panjang-panjang sebelum Hong Ing bersuara lagi, “Jadi bagimu, siapa saja yang terancam bahaya, tentu akan kautolong?”

“Tentu saja, sedapat mungkin. Mengapa kau bertanya demikian?”

Hong Ing kembah mengangkat wajahnya dan kini wajah itu kelihatan lesu, seperti orang kecewa. Kun Liong menjadi bingung dan terheran-heran.

“Tidak apa-apa, aku hanya bertanya… dan kau memang seorang pendekar budiman. Hal ini seharusnya kuketahui sejak dahulu.”

“Aihh, jangan memuji, Hong Ing. Aku hanya orang biasa saja.”

“Mungkin ilmu kepandaianmu tidak terlalu tinggi, akan tetapi keberanianmu menolong orang lain amat besar.”

“Sudahlah, Hong Ing. Kepalaku bisa menjadi lebih besar lagi kalau kau melanjutkan pujian kosong itu. Lebih baik kauceritakan bagaimana kau yang dibawa oleh sucimu itu bisa menjadi orang tawanan Kim Seng Siocia.”

Hong Ing menghela napas lagi dan kini alisnya berkerut tanda bahwa hatinya benar-benar merasa tertekan dan berduka. Teringat akan sucinya, dia melupakan keadaan dirinya sendiri. Urusan sucinya sebenarnya merupakan urusan yang memalukan sekali dan seyogianya dirahasiakan dari siapapun juga. Akan tetapi entah mengapa, terhadap Kun Liong, semenjak pertemuan pertama, dia tidak bisa menyimpan rahasia, seolah-olah Kun Liong adalah seorang yang sudah dipercayanya benar-benar, seorang yang lebih dari sahabat biasa, lebih dari saudara!

“Suci… dia… dia seperti juga engkau, demi menolongku dia rela mengorbankan dirinya menjadi isteri manusia iblis Ouwyang Bow…”

“Hah…??” Berita ini benar-benar mengejutkan hati Kun Liong. Lauw Kim In, dara yang manis dan dingin itu, menjadi isteri seorang manusia seganas Ouwyang Bouw yang berotak miring? “Bagaimana… bagaimana hal itu bisa terjadi?”

Hong Ing lalu menceritakan kesemuanya. Mula-mula dia menceritakan tentang sucinya yang patah hati karena tunangannya menyeleweng, berjina dengan isteri muda Thian-ong Lo-mo sehingga tunangan itu terbunuh oleh kakek ini. Hal itulat yang membuat sucinya menjadi dingin dan membenci atau memandang rendah pria. Kemudian diceritakannya betapa mereka berdua bertemu dengan Ouwyang Bouw yang amat lihai sehingga mereka berdua tertawan. Barulah mereka dibebaskan setelah sucinya menerima pinangan Ouwyang Bouw yang tergila-gila kepadanya.

“Aku tahu mengapa suci mengorbankan diri sedemikian rupa. Bukan semata-mata untuk menyelamatkan aku, juga untuk kepentingannya sendiri. Dia akan dapat mewarisi ilmu-ilmu tinggi dari Ouwyang Bouw sehingga terbuka kemungkinan baginya untuk membalas dendam, di samping menyelamatkan dirinya sendiri yang tentu akan ternoda dan mungkin tewas apabila menolak pinangan itu. Kasihan sekali Suci…”

Kun Liong menghela napas panjang. “Seorang yang keadaan hidupnya sendiri amat sengsara namun melupakan keadaan sendiri dan mengingat serta menaruh kasihan kepada orang lain merupakan ciri seorang yang mempunyai hati mulia penuh welas asih. Aku kagum kepadamu, Hong Ing.”

“Tidak perlu kau memuji, Kun Liong.” jawab Hong Ing cepat-cepat sambil menekan debar jantungnya yang menjadi gembira mendengar pujian itu. “Memang aku sudah melupakan diriku sendiri. Apa sih yang kuharapkan lagi?”

“Aahh, mengapa dilanda putus asa selagi hidup? Teruskan ceritamu, bagaimana kau sampai terjatuh ke tangan Kim Seng Siocia yang gila itu.”

“Aku tersesat jalan karena mengambil jalan lain agar jangan sampai ketahuan oleh guruku. Tanpa kusengaja aku memasuki daerah kekuasaan Kim Seng Siocia dan aku ditawan. Kemudian wanita gila itu menyuruh aku bekerja di sana, yaitu berdoa untuknya, berdoa agar dia cepat membalas dendamnya kepada Pendekar Sakti Cia Keng Hong.”

“Hemmm…”

“Tentu saja aku tidak berdoa apa-apa untuknya, akan tetapi aku pun tidak berani membantah karena hal itu berarti kematian. Dia amat lihai… dan untung sekali kau dapat lolos, Kun Liong. Aku masih heran bagaimana kau dapat lolos dari orang selihal itu. Tentu kau menggunakan akal bujuk rayu, bukan?”

Kun Liong menggelengkan kepalanya yang gundul. Dia tahu bahwa dara ini mengira bahwa ilmu kepandaiannya “biasa” saja dan dia pun tidak ingin membuka rahasianya.

“Memang aku telah menggunakan akal menyerah karena tidak berdaya, akan tetapi aku tidak biasa membujuk rayu siapapun juga, apalagi orang seperti dia. Aku berhasil membuatnya tidak berdaya. Eh, soal itu tidak penting, Hong Ing. Sekarang bagaimana? Hari telah terang, mari kita lekas melanjutkan perjalanan. Tentu Kim Seng Siocia akan melakukan pengejaran dan belum lagi bahayanya kalau sampai subomu ikut pula mencari.”

Pucat wajah Hong Ing dan dia meloncat berdiri. Mendengar tentang subonya, dia menjadi takut sekali. “Aihh, sampai lupa aku keenakan bicara di sini. Mari kita pergi cepat, kita masih berada di wilayah Go-bi-san.”

“Sebaiknya kita pergi ke timur. Di tempat ramai seperti di timur, di mana banyak terdapat kota-kota besar, tentu lebih mudah bagi kita untuk melarikan diri.”

Hong Ing mengangguk. “Dan di sana banyak terdapat kuil-kuil Kwan-im-bio yang besar di mana aku dapat minta tolong dan bersembunyi.”

Berangkatlah dua orang ini dengan tergesa-gesa, melanjutkan pelarian mereka menuju ke timur. Berhari-hari mereka melakukan perjalanan cepat, keluar masuk hutan di Pegunungan Go-bi-san, kemudian melintasi padang pasir. Mereka melakukan perjalanan dengan cepat, hanya berhenti kalau mau makan atau tidur saja dan beberapa hari kemudian mereka telah keluar dari daerah Go-bi-san dan tiba di tepi Sungai Huang-ho.

Biarpun air Sungai Huang-ho tidak dapat dikatakan jernih, namun setelah melakukan perjalanan berhari-hari melintasi padang pasir yang panas, kedua orang itu dengan girang dan lega menuruni tepi sungai dan menggunakan air sungai itu untuk membasahi muka, leher, kedua tangan dan kaki mereka.

“Tangkap mereka!”

Kun Liong dan Hong Ing yang sedang bergembira karena bertemu dengan air yang dingin sejuk sehingga melupakan segala urusan mereka, terkejut bukan main dan keduanya cepat melompat ke darat. Dapat dibayangkan betapa kaget hati Hong Ing ketika melihat subonya, Go-bi Sin-kouw bersama Pangeran Han Wi Ong dengan sepasukan tentara yang jumlahnya ada lima puluhan orang!

“Nona Pek Hong Ing, mengapa engkau menjadi begini…? Dan dengan mati-matian kami telah mencarimu…” Pangeran itu berkata dengan nada suara berduka sekali ketika melihat dara yang dicintanya itu telah menjadi seorang nikouw seperti itu.

“Pangeran Han Wi Ong, pinni sudah menjadi seorang nikouw, perlu apa dicari lagi?” Hong Ing berkata.

“Hong Ing, murid durhaka!” Tiba-tiba Go-bi Sin-kouw membentak dan mendengar bentakan gurunya ini, Hong Ing yang sejak kecil diasuh dan dididik nenek itu cepat menjatuhkan diri berlutut dan menangis terisak-isak.

Kun Liong memandang penuh perhatian. Harus diakuinya bahwa Pangeran Han Wi Ong, sungguhpun sudah berusia empat puluh tahun, namun masih tampak muda dan tampan gagah, sesungguhnya tidak mengecewakan menjadi suami Hong Ing, apalagi mengingat bahwa Pangeran itu memiliki kedudukan tinggi. Dicinta oleh seorang seperti itu dan menjadi isterinya, sebetulnya merupakan nasib baik bagi diri Hong Ing. Adapun nenek itu mendatangkan rasa gentar juga di hati Kun Liong. Nenek itu usianya tentu sudah enam puluhan tahun, punggungnya bungkuk, pakaiannya serba hitam, rambutnya digelung ke atas dan muka penuh keriput itu membayangkan kehidupan yang sengsara dan membuat wajah itu nampak bengis. Tangan kiri nenek itu memegang sebatang tongkat butut berwarna hitam pula. Kelihatannya saja seorang nenek yang ringkih dan lemah, akan tetapi Kun Liong dapat menduga bahwa nenek ini tentulah memiliki kepandaian tinggi, maka dia bersikap waspada. Dia dan Hong Ing selain berhadapan dengan nenek dan Pangeran itu, juga telah dikurung rapat oleh lima puluh orang tentara anak buah pasukan yang mengawal Pangeran Han Wi Ong.

“Subo…” Hong Ing berkata.

“Hong Ing, di mana sucimu?”

“Dia telah ikut dengan Ouwyang Bouw, Subo…” dengan suara berat Hong Ing menceritakan perihal sucinya.

Sepasang mata nenek itu, yang sipit sekali mengeluarkan sinar kemarahan, mulutnya cemberut dan mukanya menjadi makin bengis. “Setan! Semua gara-gara engkau yang murtad! Dan siapa laki-laki gundul ini?”

“Dia… dia sahabat teecu (murid), dia telah menolong teecu berkali-kali dari bahaya kematian…”

“Bohong! Dia tentu yang membujukmu melarikan diri dan menjadi nikouw. Hong Ing, sekarang juga engkau harus ikut denganku, membatalkan keadaanmu sebagai nikouw dan siap menghadapi pemikahanmu dengan Pangeran Han Wi Ong!”

“Subo…”

“Diam! Kau mau melawan gurumu?”

Hong Ing hanya menangis. Melihat ini, Kun Liong melangkah maju dan berkata dengan suara nyaring. “Apakah saya berhadapan dengan Go-bi Sin-kouw?”

Nenek itu mendengus. “Mau apa kau? Karena kau telah berani membujuk muridku, kau harus mampus!”

“Nanti dulu, Go-bi Sin-kouw. Mampus ya mampus, akan tetapi ingatlah bahwa perbuatanmu ini sungguh amat tidak patut! Memaksa murid sendiri untuk melakukan pernikahan yang tidak disukainya. Memaksa murid sendiri yang sudah menjadi nikouw untuk menikah. Mana ada guru ingin melihat murid sendiri menderita sengsara?”

“Heii, kau! Siapa kau berani mencampuri urusan kami?” Tiba-tiba Pangeran Han Wi Ong melangkah maju. “Tidak tahukah kau dengan siapa kau berhadapan? Aku Pangeran Han Wi Ong, putera Kaisar! Tahu engkau? Apakah kau hendak menjadi pemberontak yang dapat dihukum mati? Kau pergilah dan jangan mencampuri urusan Nona Pek Hong Ing dengan kami, maka aku masih akan mengampunimu. Kalau tidak, kau kuanggap pemberontak dan akan kutangkap.”

Mendongkol juga hati Kun Liong. Dia dianggap begitu pengecut untuk mudah ditakut-takuti dan disuruh meninggalkan Hong Ing yang dihadapi orang-orang seperti harimau kelaparan itu!

“Maaf, Pangeran. Sebagai seorang berkedudukan tinggi dan terpelajar, tentu Pangeran juga maklum betapa tidak baiknya memaksa seorang gadis seperti Nona Pek Hong Ing yang sudah menjadi nikouw untuk menikah. Betapa rendahnya perbuatan seperti itu.”

“Keparat! Pemberontak laknat! Hayo tangkap dia!” Pangeran itu memerintahkan anak buahnya dan pasukan yang sudah siap itu lalu maju mengurung Kun Liong yang sudah bersiap pula untuk membela diri.

“Tahan dulu senjata!” Bentakan ini demikian nyaring dan mengandung khi-kang amat kuat sehingga mengejutkan semua orang, bahkan pasukan yang sudah siap menyerbu dan mengeroyok Kun Liong menjadi ragu-ragu. Mereka membuka pengurungan dan membiarkan wanita gemuk yang baru berteriak tadi memasuki lapangan itu dan berhadapan dengan Go-bi Sin-kouw dan Pangeran Han Wi Ong.

Kun Liong dan Hong Ing menjadi makin kaget. Celaka sekali! Kim Seng Siocia sudah muncul pula dan mereka maklum bahwa di belakang wanita gendut ini tentu terdapat pula banyak anak buahnya. Dugaan mereka benar karena kini bermunculan puluhan orang wanita anak buah Kim Seng Siocia, mereka sudah siap dengan senjata lengkap pula. Pasukan pemerintah pengawal Pangeran Han Wi Ong menjadi bingung melihat “pasukan” wanita yang cantik-cantik itu!

“Go-bi Sin-kouw, engkau orang tua harap tidak bertindak sembarangan!” Kim Seng Siocia menegur sambil memandang nenek itu.

Go-bi Sin-kouw mendengus marah. “Siapa engkau?” bentaknya.

“Aku? Aku adalah Kim Seng Siocia, pewaris dari Go-bi Thai-houw.”

Tentu saja Go-bi Sin-kouw terkejut mendengar nama ini dan dia memandang dengan penuh perhatian dan juga keheranan. Perempuan gendut ini pewaris Go-bi Thai-houw, yang kabarnya amat lihai itu? Betapapun juga, dia tidak berani sembarangan dan balas menegur “Mengapa kau menuduh aku bertindak sembarangan?”

“Mengapa kau hendak membunuh orang ini?” Kim Seng Siocia menudingkan telunjuknya yang besar ke arah Kun Liong.

“Hemm, dia telah membujuk muridku melarikan diri. Karena itu, dia harus mainpus!”

“Enak saja bicara! Apakah muridmu dia itu?” Dia menuding ke arah Hong Ing.

“Benar.”

“Kalau begitu, kau ngawur! Laki-laki ini adalah suamiku dan dia lari karena terbujuk oleh Pek Hong Ing muridmu itu. Jadi sebetulnya, Pek Hong Ing itulah yang harus kubunuh dan aku datang untuk mengambil pulang suamiku.”

Go-bi Sin-kouw makin bingung. Dia hendak mendapatkan kembali muridnya, memaksanya menjadi isteri Pangeran Han Wi Ong yang merupakan jalan baginya untuk memperoleh kemuliaan, dan membunuh pemuda gundul yang hanya menjadi penghalang itu. Sekarang Kim Seng Siocia muncul dengan niat yang berlawanan. Yaitu mengambil kembali pemuda gundul itu dan membunuh Pek Hong Ing!

“Mau membunuh muridku? Akan kulihat dulu sampai di mana kemampuan!” Go-bi Sin-kouw membentak dan tongkatnya sudah meluncur ke depan merupakan sinar hitam yang berkelebat cepat sekali.

“Wuuuutttt… taarrr!”

Tongkat itu tertangkis oleh cambuk di tangan Kim Seng Siocia dan kedua orang itu mencelat mundur dengan kaget, maklum akan kehebatan tenaga lawan masing-masing. Mereka saling pandang dan sudah siap untuk bertanding mati-matian memperebutkan kebenaran.

“Harap. Ji-wi (Anda Berdua) bersabar dulu!” Tiba-tiba Han Wi Ong berkata dengan suara penuh wibawa.

Dua orang wanita itu melangkah mundur dan memandang kepada Han Wi Ong, Betapapun juga, laki-laki ini adalah seorang pangeran, baru pakaiannya saja sudah menimbulkan segan di hati orang.

“Mengapa Ji-wi harus saling serang? Ada jalan yang amat mudah dan baik. Nona ini datang untuk minta kembali suaminya, pemuda gundul itu, dan Sin-kouw juga menuntut agar muridnya, Nona Pek Hong Ing kembali bersama dia. Nah, ada urusan apa lagi? Biarlah pemuda gundul itu pergi bersama Kim Seng Siocia, sebaliknya Nona Pek Hong Ing ikut bersama gurunya, bukankah beres sudah dan tidak perlu timbul pertandingan yang tiada gunanya?”

Kim Seng Siocia dan Go-bi Sin-kouw saling pandang kemudian keduanya mengangguk-angguk. Memang tidak ada perlunya mereka harus bertanding, pula memang di dalam hati masing-masing telah timbul perasaan jerih. Go-bi Sin-kouw maklum akan kelihaian wanita gendut itu, dan sebaliknya, Kim Seng Siocia juga maklum bahwa agaknya Go-bi Sin-kouw dibantu oleh Pangeran dan tentara kerajaan sehingga amatlah berbahaya kalau sampai dia bentrok dengan mereka.

“Hi-hi-hik, memang tepat sekali! Go-bi Sin-kouw, kita adalah tetangga, perlu apa mesti saling bermusuhan? Aku tidak membutuhkan muridmu, hanya menginginkan kembalinya suamiku.”

Kun Liong dan Hong Ing menjadi makin kaget. Celaka sekali! Kim Seng Siocia sudah muncul pula dan mereka maklum bahwa di belakang wanita gendut ini tentu terdapat pula banyak anak buahnya. Dugaan mereka benar karena kini bermunculan puluhan orang wanita anak buah Kim Seng Siocia, mereka sudah siap dengan senjata lengkap pula. Pasukan pemerintah pengawal Pangeran Han Wi Ong menjadi bingung melihat “pasukan” wanita yang cantik-cantik itu!

“Go-bi Sin-kouw, engkau orang tua harap tidak bertindak sembarangan!” Kim Seng Siocia menegur sambil memandang nenek itu.

Go-bi Sin-kouw mendengus marah. “Siapa engkau?” bentaknya.

“Aku? Aku adalah Kim Seng Siocia, pewaris dari Go-bi Thai-houw.”

Tentu saja Go-bi Sin-kouw terkejut mendengar nama ini dan dia memandang dengan penuh perhatian dan juga keheranan. Perempuan gendut ini pewaris Go-bi Thai-houw, yang kabarnya amat lihai itu? Betapapun juga, dia tidak berani sembarangan dan balas menegur “Mengapa kau menuduh aku bertindak sembarangan?”

“Mengapa kau hendak membunuh orang ini?” Kim Seng Siocia menudingkan telunjuknya yang besar ke arah Kun Liong.

“Hemm, dia telah membujuk muridku melarikan diri. Karena itu, dia harus mainpus!”

“Enak saja bicara! Apakah muridmu dia itu?” Dia menuding ke arah Hong Ing.

“Benar.”

“Kalau begitu, kau ngawur! Laki-laki ini adalah suamiku dan dia lari karena terbujuk oleh Pek Hong Ing muridmu itu. Jadi sebetulnya, Pek Hong Ing itulah yang harus kubunuh dan aku datang untuk mengambil pulang suamiku.”

Go-bi Sin-kouw makin bingung. Dia hendak mendapatkan kembali muridnya, memaksanya menjadi isteri Pangeran Han Wi Ong yang merupakan jalan baginya untuk memperoleh kemuliaan, dan membunuh pemuda gundul yang hanya menjadi penghalang itu. Sekarang Kim Seng Siocia muncul dengan niat yang berlawanan. Yaitu mengambil kembali pemuda gundul itu dan membunuh Pek Hong Ing!

“Mau membunuh muridku? Akan kulihat dulu sampai di mana kemampuan!” Go-bi Sin-kouw membentak dan tongkatnya sudah meluncur ke depan merupakan sinar hitam yang berkelebat cepat sekali.

“Wuuuutttt… taarrr!”

Tongkat itu tertangkis oleh cambuk di tangan Kim Seng Siocia dan kedua orang itu mencelat mundur dengan kaget, maklum akan kehebatan tenaga lawan masing-masing. Mereka saling pandang dan sudah siap untuk bertanding mati-matian memperebutkan kebenaran.

“Harap. Ji-wi (Anda Berdua) bersabar dulu!” Tiba-tiba Han Wi Ong berkata dengan suara penuh wibawa.

Dua orang wanita itu melangkah mundur dan memandang kepada Han Wi Ong, Betapapun juga, laki-laki ini adalah seorang pangeran, baru pakaiannya saja sudah menimbulkan segan di hati orang.

“Mengapa Ji-wi harus saling serang? Ada jalan yang amat mudah dan baik. Nona ini datang untuk minta kembali suaminya, pemuda gundul itu, dan Sin-kouw juga menuntut agar muridnya, Nona Pek Hong Ing kembali bersama dia. Nah, ada urusan apa lagi? Biarlah pemuda gundul itu pergi bersama Kim Seng Siocia, sebaliknya Nona Pek Hong Ing ikut bersama gurunya, bukankah beres sudah dan tidak perlu timbul pertandingan yang tiada gunanya?”

Kim Seng Siocia dan Go-bi Sin-kouw saling pandang kemudian keduanya mengangguk-angguk. Memang tidak ada perlunya mereka harus bertanding, pula memang di dalam hati masing-masing telah timbul perasaan jerih. Go-bi Sin-kouw maklum akan kelihaian wanita gendut itu, dan sebaliknya, Kim Seng Siocia juga maklum bahwa agaknya Go-bi Sin-kouw dibantu oleh Pangeran dan tentara kerajaan sehingga amatlah berbahaya kalau sampai dia bentrok dengan mereka.

“Hi-hi-hik, memang tepat sekali! Go-bi Sin-kouw, kita adalah tetangga, perlu apa mesti saling bermusuhan? Aku tidak membutuhkan muridmu, hanya menginginkan kembalinya suamiku.”

Hong Ing terbelalak. Hampir dia tidak dapat percaya. Yang dilihatnya tadi terlalu aneh. Gurunya dan Kim Seng Siocia, kedua orang yang sakti itu, terguling oleh gempuran Kun Liong hanya dalam segebrakan saja?

“Hong Ing, kau larilah…!” Kun Liong cepat berkata, sambil menyambar lengan dara itu dan ditariknya Hong Ing yang tadi berlutut itu sehingga berdiri.

Hong Ing masih bengong memandang kepadanya, lalu dara itu menggeleng kepala.

“Aku pergi dan kau…?”

“Wuuutt… tar-tarr…!”

Kun Liong mendorong tubuh Hong Ing sehingga dara ini terguling, sedangkan dia sendiri cepat meloncat ke samping menghindarkan diri dari sambaran cambuk di tangan Kim Seng Siocia. Namun ujung cambuk itu terus membalik dan mengejarnya ke manapun juga dia bergerak. Kun Liong menjadi repot juga dan tiba-tiba dia mengelak sambil melempar tubuh ke atas tanah ketika cambuk itu kembali menyambar. Sambil berguling dia genggam tanah bercampur pasir di tangannya, kemudian terus bergulingan mendekati Kim Seng Siocia. Ketika dia melirik dan melihat Go-bi Sin-kouw kembali sudah menghampiri Hong Ing yang kelihatan gentar dan tidak berani melawan, tiba-tiba Kun Liong memekik keras sekali, mengejutkan hati semua orang, kedua tangannya bergerak ketika tubuhnya mencelat ke atas dan… batu bercampur pasir meluncur ke arah Kim Seng Siocia dan Go-bi Sin-kouw!

“Hayaaa…!” Kim Seng Siocia berseru dan cepat memutar cambuk memukul sinar itu. Juga Go-bi Sin-kouw terkejut menarik kembali tangannya yang tadi hendak memegang lengan muridnya dan dia dapat meloncat dan berjungkir balik menghindarkan diri dari sambaran sinar kehitaman itu. Mereka telah dapat menghindarkan diri dari sambaran tanah, akan tetapi debu masih mengebul, membuat mereka cepat mundur karena mengira babwa Kun Liong telah melepaskan benda mengandung racun. Kesempatan ini dipergunakan oleh Kun Liong untuk mendekati Hong Ing dan dia berbisik,

“Pergilah. Aku dapat melawan mereka.”

“Mana mungkin?” Hong Ing berbisik dengan wajah penuh putus asa, “Kita sudah terkepung oleh tentara dan anak buah Kim Seng Siocia…”

“Pakai akal! Menyelinap di antara pasukan… yang lihai hanya mereka berdua…”

“Siuuuttt… tar-tar-tar…!” Kun Liong terkejut karena dia sedang mendorong tubuh Hong Ing ke arah pasukan tentara yang mengepung sehingga kurang cepat dia mengelak dan sambaran ke tiga dari cambuk itu telah mengenai pundaknya. Bajunya di bagian pundak itu robek dan sedikit kulit pundaknya tergigit robek oleh piauw yang diikat di ujung cambuk sehingga berdarah.

“Wirrr…!” Tongkat di tangan Go-bi Sin-kouw menyambar dan Kun Liong cepat meloncat ke kanan, mengelak. Di lain saat dia telah dikeroyok oleh dua orang wanita lihai itu sehingga dia harus berloncatan ke sana-sini untuk menyelamatkan diri. Akan tetapi hatinya lega karena Hong Ing telah menurut permintaannya. Dara itu telah lenyap dan menyelinap di antara pasukan sehingga terjadilah kekacauan di antara pasukan yang berusaha menangkap dara itu. Namun bagi Hong Ing, mereka itu adalah makanan lunak sehingga dia dapat bergerak leluasa meloncat ke sana-sini dan keributan yang terjadi di sekelilingnya membuat gurunya dan juga Kim Seng Siocia tidak mungkin menghampirinya, apalagi karena dua orang wanita lihai itu sedang sibuk mengeroyok Kun Liong yang terlalu gesit bagi mereka.

Pangeran Han Wi Ong yang khawatir kehilangan calon isterinya yang dicintainya, cepat lari dan mengejar Hong Ing sambil mengerahkan para pengawalnya dan berkali-kali dia berteriak agar anak buahnya jangan melukai dara itu. Sementara itu, anak buah Kim Seng Siocia yang dipimpin oleh Acui dan Amoi, juga Marcus, sudah mengurung tempat itu dan melihat betapa Kim Seng Siocia sudah bertanding melawan Kun Liong, tanpa diperintah lagi mercka sudah maju, terutama sekali Acui dan Amoi yang merupakan bantuan berharga bagi Kim Seng Siocia.

Kun Liong merasa sibuk bukan main, menghadapi cambuk Kim Seng Siocia dan Go-bi Sin-kouw saja dia sudah merasa terancam, apalagi kini muncul Acui dan Amoi, sedangkan puluhan orang dara anak buah Kim Seng Siocia sudah mengepung dengan senjata di tangan. Kalau saja Kun Liong tidak berpendirian bahwa dia tidak akan melukai apalagi membunuh orang, kiranya dia akan dapat lolos dengan mudah sambil merobohkan beberapa orang di antara pengeroyok-pengeroyoknya. Akan tetapi karena dia hanya membela diri dan menyelamatkan diri, maka dia menjadi repot sekali dan beberapa kali dia sudah terkena gebukan tongkat Go-bi Sin-kouw yang membuat nenek itu berteriak kaget dan terbelalak karena setiap gebukannya tidak membuat pemuda gundul itu roboh, bahkan telapak tangannya sendiri terasa nyeri!

Kadang-kadang Kun Liong menoleh ke arah Hong Ing yang tadi menyelinap di antara pasukan pemerintah. Ketika melihat betapa di situ masih kacau tanda bahwa Hong Ing masih berada di antara pasukan pemerintah dan dikeroyok oleh pasukan, Kun Liong menjadi makin khawatir. Mengapa dara itu tidak lekas-lekas melarikan diri? Dia tidak mempedulikan keadaannya sendiri karena dia akan dapat dengah mudah membebaskan diri, akan tetapi dia amat khawatir kalau-kalau Hong Ing tertawan lagi dan dia amat sukar menyelamatkannya, mengingat betapa banyaknya lawan yang dihadapinya.

Maka dia lalu mengambil keputusan untuk mengeluarkan kepandaian dan membuat lawan tidak berdaya lebih dulu agar dia dapat melarikan Hong Ing. Ketika cambuk yang amat berbahaya dari Kim Seng Siocia menyambar lagi, disusul oleh hantaman tongkat oleh Go-bi Sin-kouw dan serangan kilat dengan pedang yang dilakukan oleh Acui dan Amoi, Kun Liong cepat menendang tongkat nenek itu dengan pengerahan tenaganya setelah berhasil mengelak dari sambaran cambuk, memukul jatuh pedang di tangan Acui dan menangkap pergelangan tangan Amoi yang memegang pedang.

“Lepaskan!” Amoi membentak dan menghantamkan tangan kirinya ke arah leher Kun Liong.

“Plak! Plak! Aihhh, lepaskan aku…!” Amoi menjerit-jerit ketika telapak tangan kirinya yang tepat menghantam leher itu melekat tak dapat ditarik kembali, bahkan kini lengan kiri Kun Liong sudah merangkul pinggangnya yang ramping dengan ketat dan gadis itu merasa betapa tenaga sin-kangnya menerobos keluar dihisap oleh tenaga mujijat yang keluar dari leher dan lengan pemuda itu.

Melihat keadaan Amoi, Acui cepat maju dan memukul punggung Kun Liong. “Bukk! Aihhh…!” Juga Acui menjerit-jerit dan meronta-ronta untuk membebaskan tangannya yang menempel di punggung Kun Liong. Namun, karena dia telah menjadi korban penghisapan Thi-khi-i-beng, makin hebat dia meronta, makin kuat dia mengerahkan sin-kang, makin kuat pula telapak tangannya melekat dan sin-kangnya terbetot dan terhisap makin banyak pula. Dua orang gadis itu menjerit-jerit dan mereka berdua meronta-ronta, berusaha memukul, menendang, bahkan menggigiti Kun Liong merasa kegelian juga sehingga beberapa kali dia melepaskan sin-kangnya dan akhirnya dua orang gadis itu kelihatan seperti sedang membelainya, yang seorang merangkul lehernya dari belakang dan yang ke dua memeluk pinggang dari depan. Melihat ini, Go-bi Sin-kouw lalu maju dan memegang lengan Amoi, menariknya dengan pengerahan sin-kang untuk membantu gadis itu terlepas. Biarpun dia tidak mengenal Amoi dan tidak peduli akan apa yang menimpa diri gadis ini, namun dia tahu bahwa kedua orang gadis itu adalah anak buah Kim Seng Siocia dan yang telah membantunya menghadapi pemuda gundul lihai itu, maka dianggapnya sebagai kawan juga, maka dia mencoba untuk menolongnya agar pihaknya kuat lagi. Akan tetapi dia pun terpekik penuh kekagetan ketika merasa betapa tangannya yang memegang lengan Amoi itu melekat dan ada daya sedot luar biasa yang menghisap tenaga sin-kangnya melalui lengan gadis yang dipegangnya itu! Dia berteriak dan mengerahkan sin-kangnya membetot, namun dapat dibayangkan betapa heran dan kagetnya ketika sin-kang yang dikerahkannya itu seolah-olah membanjir memasuki lengan Amoi yang dipegangnya!

Memang hebat bukan main Thi-khi-i-beng. Sekali dikerahkan, daya sedotnya sedemikian kuatnya sehingga dapat menembus tubuh orang lain seolah-olah aliran listrik! Maka terjadilah hal yang amat lucu. Betot-membetot ini tidak hanya terjadi antara tiga orang itu, melainkan makin bertambah ketika anak buah Kim Seng Siocia ikut pula mengeroyok Kun Liong untuk membantu kedua orang pelayan kepala yang melekat kepada pemuda gundul itu. Namun, setiap orang gadis sekali bergerak memegang tubuh Acui, Amoi, Go-bi Sin-kouw atau tubuh Kun Liong sendiri, kontan melekat dan terhisap sin-kangnya! Hal ini malah membuat Kun Liong menjadi payah! Terlalu banyak tenaga sin-kang yang membanjiri tubuhnya. Biarpun dia sudah dapat menguasai Thi-khi-i-beng dan dapat menghentikan daya hisap itu sewaktu-waktu yang dikehendakinya, namun karena dia masih belum berpengalaman dalam menguasai ilmu mujijat ini, sekarang kebanjiran tenaga membuat dia seperti mabok, merasa tubuhnya seperti sebuah balon karet yang terus ditiup sampai sebesar-besarnya, merasa seolah-olah tubuhnya akan pecah meledak setiap saat, pemuda itu pun hanya dapat mengeluh, “Lepaskan aku…, lepaskan aku… jangan pegang…!” dan dia pun roboh telentang dan tujuh orang wanita yang melekat kepadanya itu ikut pula terbawa, roboh menindih tubuhnya! Memang lucu pemandangan ini, seolah-olah tujuh orang wanita, yang seorang nenek-nenek, sedang mengeroyok dan menggulat Kun Liong!

Kim Seng Siocia sudah mengerti apa yang terjadi. “Celaka, kalian menjadi korban Thi-khi-i-beng!” teriaknya dan dia memutar-mutar cambuknya akan tetapi tidak berani sembarangan mempergunakannya karena tubuh Kun Liong seolah-olah terlindung oleh tubuh tujuh orang itu.

Lebih sulit lagi, kini Acui dan Amoi yang merasa betapa hawa sin-kang mereka tersedot oleh Kun Liong dan betapa tubuh mereka menindih, merasakan kemesraan aneh seolah-olah mereka akan dibawa mati bersama-sama pemuda itu dan keduanya kini tidak mengeluh lagi, melainkan merintih perlahan dan menciumi muka pemuda gundul itu dengan mesra! Hal ini membuat Kun Liong makin gelagapan lagi, maka dia lalu mengerahkan seluruh tenaga dari pusarnya, mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menarik kembali tenaga hisap. Hal ini amat sukar dilakukan karena tubuhnya seperti membengkak, membuat dia sukar bergerak. Namun akhirnya dia berhasil. Dia tidak ingin membunuh tujuh orang wanita itu dan dia maklum bahwa kalau dia tidak cepat-cepat dapat menarik kembali daya hisap dari Thi-khi-i-beng, tentu mereka akan mati dalam keadaan lemas kehabisan tenaga.

“Aughhh…!” Berturut-turut tujuh orang wanita itu mengeluh ketika tiba-tiba daya hisap itu lenyap dan mereka dapat melepaskan diri dari pemuda itu. Go-bi Sin-kouw meloncat ke belakang dan terhuyung-huyung, mukanya pucat dan tangannya yang memegang tongkat menggigil, matanya memandang terbelalak penuh kengerian kepada Kun Liong dan bibirnya yang kebiruan itu berkata perlahan, “Thi-khi-i-beng…!”

“Tar-tar-tar…!” Kini ujung cambuk di tangan Kim Seng Siocia meledak-ledak di atas tubuh Kun Liong. Pemuda ini terkejut sekali dan menggulingkan tubuhnya ke kanan kiri untuk menghindar dari sambaran ujung cambuk itu.

“Hi-hi-hik! Aku tahu bahwa engkau telah menggunakan Thi-khi-i-beng semalam, akan tetapi aku sudah siap untuk ilmu itu! Cambukku inilah yang akan melumpuhkan Ilmu Thi-khi-i-beng dan akan mencabut nyawamu!”

Kun Liong merasa betapa tubuhnya digigit ujung cambuk yang dipasangi piauw tajam meruncing itu. Dia tahu pula bahwa ujung piauw itu beracun, akan tetapi untuk ini dia tidak khawatir karena tubuhnya sudah kebal akan racun. Akan tetapi rasa nyeri membuat dia harus melanjutkan satu-satunya jalan untuk membela diri, yaitu bergulingan di atas tanah. Gerakannya gesit sekali akan tetapi celakanya tubuh yang penuh hawa sin-kang kelebihan itu sukar sekali dikendalikan sehingga gerakannya bergulingan menjadi kacau, kadang-kadang terlampau cepat sampai dia menjadi pening sendiri!

“Tahan senjata! Bebaskan dia, kalau tidak, aku akan membunuh pangeran ini” Kim Seng Siocia menengok, demikian pula Go-bi Sin-kouw dan yang lain-lain. Ternyata yang berseru itu adalah Pek Hong Ing dan dara ini telah merampas sebatang pedang lawan dan kini dia telah menempelkan pedangnya di leher Pangeran Han Wi Ong, sedangkan tangan kirinya mencengkeram tengkuk pangeran itu. Wajah Pangeran Han Wi Ong menjadi pucat dan dia berkata dengan suara parau, “Lepaskan dia… lepaskan…!”

Kim Seng Siocia memandang ragu. Bagaimana dia mau melepaskan Kun Liong yang amat dibutuhkan itu hanya untuk menolong pangeran itu? Cambuknya sudah meledak-ledak lagi, akan tetapi Go-bi Sin-kouw dan para pasukan pemerintah sudah bergerak maju menghadangnya dengan sikap bermusuh!

“Kim Seng Siocia, yang terpenting adalah keselamatan Pangeran!” bentak Go-bi Sin-kouw garang. Biarpun nenek ini masih belum pulih, tubuhnya terasa lemah kepalanya pening karena terlampau banyak sin-kangnya terhisap oleh Kun Liong, namun dia siap untuk menyerang wanita gemuk itu demi keselamatan pangeran yang amat diharapkannya akan mengangkat tinggi derajatnya itu.

Selagi Kim Seng Siocia meragu, tiba-tiba tampak tubuh Kun Liong yang rebah di atas tanah itu mencelat tinggi sekali ke atas, seperti sebatang anak panah dan pemuda itu sendiri berseru kaget. Betapa dia tidak akan kaget karena ketika melihat kesempatan baik ini, dia bermaksud mencelat ke tempat Hong Ing menawan Sang Pangeran, akan tetapi dia lupa bahwa tubuhnya berada dalam keadaan yang tidak sewajarnya, maka begitu dia mengerahkan tenaganya meloncat, tubuhnya itu bukan melayang ke arah Hong Ing, melainkan mencelat ke atas seperti dilontarkan. Maka dia memekik kaget, akan tetapi tentu saja mereka yang menonton dari bawah, termasuk Kim Seng Siocia, tidak tahu bahwa teriakannya itu karena kaget. Mereka semua memandang dengan mata terbelalak penuh kagum dan gentar karena belum pernah mereka selama hidup mereka menyaksikan ada orang dapat meloncat seperti itu!

Kun Liong dapat menguasai tubuhnya, tidak sampai melayang turun seperti sebuah batu, melainkan dapat mengatur keseimbangan tubuhnya dan membiarkan tubuhnya melayang turun ke dekat Hong Ing. Dara ini memandang kepadanya dengan mata penuh kekaguman pula. Tadi Hong Ing telah menyaksikan semua dan dia seperti dalam mimpi. Sama sekali tidak pernah diduganya bahwa pemuda gundul itu ternyata memiliki ilmu kepandaian sehebat itu! Bukan saja lebih lihai dari gurunya sendiri, juga lebih lihai dari Kim Seng Siocia dan bahkan dia merasa yakin bahwa kalau pemuda itu menghendaki biarpun dikeroyok oleh semua orang itu tidak akan kalah!

“Hong Ing, terima kasih atas pertolonganmu.”

Hong Ing merasa jantungnya seperti ditusuk. Bukan main pemuda ini! Sudah jelas pemuda ini yang berusaha menolongnya mati-matian, sekarang untuk bantuannya menawan Pangeran Han Wi Ong, bantuan yang tidak banyak artinya ini, Kun Liong serta merta menghaturkan terima kasih!

“Sekarang bagaimana, Kun Liong?” Dia bertanya sambil menempelkan pedang di leher Pangeran Liong, tentu saja dia tidak berani lagi memimpin dan membiarkan Kun Liong yang mengambil keputusan.

“Mari kita lari dari tempat ini.”

“Tapi… kita harus membawa pangeran ini sebagai sandera…”

“Jangan, Hong Ing. Kasihan dia. Sudah luput mendapatkan dirimu, masih dijadikan sandera lagi. Sekarang pun kita sudah terlalu banyak membuat dosa terhadap pemerintah. Marilah!” Dia menggandeng tangan Hong Ing, kemudian meloncat dan dara itu menjerit penuh kengerian. Siapa yang tidak merasa ngeri kalau melihat betapa tubuhnya tiba-tiba mencelat ke atas seperti diterbangkan seekor burung saja? Kun Liong sendiri terkejut. Dia lupa lagi! Akan tetapi dia tidak menjadi gugup, sambil memeluk pinggang Hong Ing dia mengatur tubuhnya sehingga mereka dapat meluncur turun jauh dari situ lalu keduanya melarikan diri secepatnya. Suara derap kaki banyak orang di belakang membuat mereka mengerti bahwa mereka berdua dikejar! Maka keduanya harus berlari. Kun Liong mengerahkan gin-kangnya dan karena Hong Ing kalah jauh, maka dara ini yang sudah mengerahkan gin-kangnya masih saja terseret dan seolah-olah kedua kakinya tidak menyentuh bumi karena dia seperti bergantung kepada lengan Kun Liong.

Beberapa hari kemudian Kun Liong dan Hong Ing tiba di luar tembok kota Guan-tin, tidak jauh dari kota raja, di sebelah barat kota raja. Mereka telah melarikan diri hampir dua pekan lamanya dan merasa lega bahwa mereka telah berhasil meninggalkan para pengejar mereka.

Memang mereka telah berhasil menghindarkan diri dari kejaran pasukan pengawal Pangeran Han Wi Ong dan anak buah Kim Seng Slocia. Hal ini terutama sekali karena pengejaran pasukan itu mengalami kelambatan dengan adanya kerja sama dengan anak buah dari Go-bi-san yang sebagian besar terdiri dari wanita-wanita muda yang cantik-cantik dan genit itu. Tidak dapat dicegah pula terjadinya permainan di antara mereka, yaitu antara para gadis anak buah Kim Seng Siocia dan para anggauta pasukan pengawal pangeran! Melihat hal ini, baik Kim Seng Siocia maupun Pangeran Han Wi Ong tidak dapat mencegah dan membiarkannya saja, bahkan peristiwa itu menambah erat perhubungan di antara mereka. Pangeran Han Wi Ong menghendaki bantuan wanita gemuk yang lihai ini dan sebaliknya, Kim Seng Siocia tentu saja merasa senang dapat bekerja sama dengan seorang pangeran yang mempunyai kedudukan tinggi di istana kaisar.

Akan tetapi Pangeran Han Wi Ong tentu saja tidak menghentikan usahanya melakukan pengejaran. Biarpun dia sendiri tidak melakukan pengejaran, namun dia tidak pernah dapat melupakan Hong Ing dan karenanya, selain minta kepada Go-bi Sin-kouw dan Kim Seng Siocia untuk terus mengejar, juga dia telah mengirim utusan-utusan berkuda ke kota raja dan di sepanjang jalan para utusan itu menyebar berita bahwa dua orang yang bernama Yap Kun Liong dan Pek Hong Ing menjadi orang buruan pemerintah! Bahkan pangeran yang pandai melukis ini telah melukiskan wajah kedua orang itu, dan tentu saja baik Kun Liong maupun Hong Ing dilukis sebagai seorang pemuda dan seorang gadis yang gundul kepalanya.

Kun Liong dan Hong Ing berjalan perlahan menuruni lereng pegunungan terakhir dari mana sudah tampak kota Guan-tin. Tiba-tiba mereka mendengar derap kuda dan keduanya cepat menyelinap dan bersembunyi. Serombongan tentara berkuda melewat cepat dan setelah rombongan tujuh orang itu pergi jauh menuju ke kota Guan-tin, barulah mereka keluar dari balik semak-semak.

“Ahh, betapa tidak enaknya hidup dikejar-kejar seperti ini…” Hong Ing mengeluh. “Seperti binatang buruan saja, atau… aku merasa seperti menjadi seorang penjahat besar yang takut melihat alat pemerintah!”

“Kita harus bersikap hati-hati. Belum tentu mereka itu mengejar kita. Sabarlah, Hong Ing. Setelah kita masuk kota di depan itu, dan di sana terdapat sebuah kuil Kwan-im-bio, engkau tentu akan memperoleh tempat yang aman dan tenteram.”

Keduanya berjalan lagi dan sampai lama tidak mengeluarkan suara, namun kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Kun Liong itulah yang membuat mereka berdua diam dengan alis berkerut dan wajah keruh tanpa mereka sendiri sadari. Akhirnya Kun Liong menarik napas panjang seolah-olah menghibur diri sendiri dan terdengar dia berkata dengan suara datar, “Engkau memang memerlukan tempat yang tenang di mana engkau dapat hidup tanpa gangguan lagi. Subomu juga pangeran itu, tentu takkan tinggal diam dan akan terus mencarimu. Memang tidak enak hidup menjadi orang yang dikejar-kejar.”

“Dan engkau…?” Hong Ing bertanya, menghentikan langkahnya dan memandang pemuda itu.

Kun Liong juga menghentikan langkahnya, menoleh. Mereka saling berpandangan.

“Aku? Aku kenapa?”

“Engkau akan menjadi orang buruan, akan dikejar terus.”

Kun Liong tersenyum. “Jangan khawatir, Hong Ing. Pangeran itu tidak membutuhkan aku, sedangkan kalau Kim Seng Siocia mengejarku, hemm… lain kali aku akan memberi pengajaran kepadanya agar tidak dilanjutkan cara hidupnya yang busuk itu.”

“Kun Liong, karena aku berkali-kali engkau mengalami kesengsaraan dan terancam bahaya.”

“Ah, jangan berkata demikian. Dalam keadaan seperti kita sekarang ini, kita berdua sama saja entah aku yang menyeretmu ataukah engkau yang menyeretku. Betapapun juga, kita berdua masih dapat mengatasinya dan masih selamat sampai saat ini. Mari kita melanjutkan perjalanan kita. Mudah-mudahan sampai di kota depan itu saja.” Dan tiba-tiba wajah Kun Liong menjadi muram lagi. Kini dia merasa heran sekali dan tiba-tiba dia sadar bahwa dia sama sekali tidak menghendaki perjalanan bersama Hong Ing ini berakhir! Dia menginginkan agar mereka berdua terus melakukan perjalanan bersama. Biarpun menjadi orang-orang buronan, atau orang buruan, betapapun sengsaranya, kalau mereka berdua berdampingan, agaknya dia tidak akan merasa sengsara! Membayangkan betapa dia akan berpisah, meninggalkan Hong Ing di dalam kuil Kwan-im-bio dan dia seorang diri melanjutkan perjalanan, benar-benar amat memberatkan hatinya. Ada apakah dengan perasaan hatinya? Dia mengerling ke kiri dan melihat betapa wajah yang cantik itu pun muram seperti orang bersusah hati. Tentu saja, pikirnya. Betapa tidak akan susah hati dara ini yang dikejar-kejar oleh gurunya sendiri? Bagi Hong Ing, hidupnya sudah tidak ada harapan lagi. Tadinya hanya ada dua orang yang penting baginya, yaitu sucinya dan subonya. Kini subonya seperti memusuhinya, dan sucinya telah pergi jauh entah ke mana. Tentu saja Hong Ing bersusah hati, dan kesusahan hati dara itu sama sekali berbeda dengan kesusahan hatinya. Jauh sekali bedanya. Tentu saja Hong Ing tidak pernah menyusahkan perpisahan mereka. Kun Liong memaki diri sendiri.

Seorang dara seperti Hong Ing, cantik jelita tanpa cacat, seorang dara yang menolak pinangan seorang pangeran yang tampan dan gagah serta berkedudukan tinggi seperti Pangeran Han Wi Ong, seorang dara berwatak bersih seperti Hong Ing yang rela menjadi seorang nikouw daripada dipaksa menjadi isteri pangeran, sungguh tak mungkin sama sekali ingin berdampingan dengan orang macam dia! Seorang pemuda yang menderita penyakit kepala gundul, bodoh, miskin sehingga sebuah rambut pun tidak punya, tidak mempunyai harapan untuk masa depan, siapa sudi kepadanya?

“Tolol!” Kun Liong memaki diri sendiri. Mengapa dia menjadi makin berduka mengenangkan semua ini? Biasanya, dia tidak begini. Biasanya dia tidak menyusahkan sesuatu, tidak memikirkan kemiskinan dan kebodohannya.

Untung mereka telah tiba di kota Guan-tin. Keramaian kota menghibur dan membuat Kun Liong 1upa akah kedukaannya. “Mari kita mencari warung nasi, perutku lapar sekali dan aku masih mempunyai bekal uang,” kata Kun Liong. “Setelah makan, baru kita mencari Kuil Kwan-im-bio. Kota ini cukup ramai, kurasa tentu ada Kwan-im-bio di sini.”

Hong Ing hahya mengangguk dan mereka mencari-cari sebuah warung nasi. Dari jauh sudah kelihatan sebuah warung nasi yang cukup ramai dan ke sanalah mereka menuju. Akan tetapi tiba-tiba Hong Ing menuding ke kiri. Kun Liong menoleh dan tertarik melihat sekelompok orang berkumpul di situ memandangi sesuatu yang ditempelkan di dinding.

“Apakah itu? Mari kita menengok sebentar,” Kun Liong berkata. Keduanya lalu menghampiri dan begitu melihat, mereka menjadi terkejut sekali. Kiranya yang menempel di atas dinding adalah gambar mereka berdua! Di atas gambar itu tertulis nama mereka yang disebut sebagai orang pelarian dan penjahat besar!

“Heiii, inilah mereka…!” Tiba-tiba seorang di antara mereka yang memandangi gambar itu berteriak. Kun Liong mendongkol sekali. Orang itu bermata juling. Mengapa justeru orang yang matanya juling malah yang pertama-tama mempergoki mereka? Karena maklum bahwa tentu akan terjadi keributan dan mercka tentu akan dikeroyok, Kun Liong cepat memegang tangan Hong Ing dan ditariknya dara itu untuk melarikan diri meninggalkan kota Guan-tin.

“Kejar…!”

“Tangkap…!”

Orang-orang yang mengharapkan hadiah dari pembesar setempat itu segera melakukan pengejaran, namun tentu saja tidak ada yang mampu menyusul larinya kedua orang yang memiliki kepandaian tinggi itu. Setelah jauh meninggalkan kota itu dan tidak ada lagi yang mengejar, barulah Kun Liong dan Hong Ing berhenti di tepi jalan yang sunyi.

“Gila benar pangeran itu,” Kun Liong bersungut-sungut. “Kiranya rombongan tentara berkuda itu adalah utusannya untuk menyebar gambar kita. Dengan begini kita secara resmi telah menjadi pemberontak dan orang buruan pemerintah. Amat berbahaya memasuki kota-kota besar, terutama kota raja!”

“Habis bagaimana kita dapat mencari sebuah kuil Kwan-im-bio?” Hong Ing bertanya.

“Tak mungkin mencari di kota. Andaikata bisa mendapatkan di kota, kiranya ketua kuil tidak akan berani menerimamu, Hong Ing. Tidak ada jalan lain, kita harus mencari sebuah kuil yang berada jauh dari kota ramai. Akan tetapi di mana ada kuil seperti itu, aku sendiri tidak tahu. Biarlah kita mencari perlahan-lahan, akhirnya kita tentu akan mendapatkannya juga.”

Hong Ing menarik napas panjang. “Sudahlah, Kun Liong. Mengapa kau repot-repot karena aku? Kaulanjutkanlah perjalananmu, biar aku sendiri yang akan mencari kuil…”

“Hemmm, ke mana kau hendak mencari? Di mana-mana tertempel gambarmu…”

“Dan juga gambarmu. Karena itu, sebaiknya kalau kau meninggalkan aku sehingga andaikata tertangkap, hanya aku yang tertangkap, akan tetapi engkau tidak.”

“Hong Ing, kaukira aku orang macam apa?”

“Engkau adalah seorang yang berilmu tinggi, Kun Liong. Maafkan aku, baru sekarang aku mengetahui. Sungguh aku bodoh sekali. Kiranya engkau amat lihai, bahkan memiliki Thi-khi-i-beng!”

“Bukan begitu maksudku. Kaukira aku orang yang begitu pengecut untuk meninggalkan engkau begitu saja? Tidak, sebelum engkau mendapatkan tempat yang baik, sebelum aku yakin benar bahwa engkau telah aman, aku tidak akan meninggalkan kau.”

Hong Ing menunduk. “Sudah terlalu banyak aku menyusahkanmu, Kun Liong. Engkau membikin aku tidak enak hati saja. Sudah cukup aku berhutang budi kepadamu, biarlah aku mencari sendiri kuil Kwan-im-bio.”

Kun Liong memandang dengan sinar mata tajam, akan tetapi gadis itu tetap menunduk. “Hong Ing, ingin benarkah kau kutinggalkan? Apakah aku sudah terlalu memuakkan hatimu?”

Hong Ing mengangkat mukanya, muka yang berubah pucat dan kepalanya digelengkan cepat-cepat. “Bukan begitu, Kun Liong…”

“Kalau tidak begitu, sudahlah. Hal itu tidak perlu kita persoalkan lagi. Mari kita melanjutkan perjalanan. Kita harus berhati-hati, tidak boleh melalui jalan besar, tidak boleh memasuki kota dan terutama sekali jangan mendekati kota raja.”

“Habis, ke mana kita harus pergi?”

“Ketika aku membantu Cia Keng Hong Supek…”

“Aihh, jadi pendekar sakti itu supekmu? Kau tidak pernah menceritakan riwayatmu kepadaku. Pantas saja engkau lihai bukan main. Aku seperti buta…”

“Hushhh, jangan terlalu memuji. Biar lain kali aku menceritakan riwayatku yang tidak lebih baik daripada riwayatmu, Hong Ing. Ketika aku membantu Supek menyelidiki tentang bokor pusaka yang diperebutKan, aku lewat pantai Teluk Pohai dan di tempat sunyi itu, dalam sebuah hutan, aku melihat sebuah kuil tua Kwan-im-bio. Marilah kita pergi ke sana, Hong Ing.”

Akan tetapi wajah nikouw muda itu tidak membayangkan kegembiraan hati mendengar ini, bahkan dia hanya berkata lesu. “Terserah kepadamu, Kun Liong. Marilah!”

Maka berangkatlah kedua orang itu melanjutkan perjalanan menuju ke pantai Teluk Pohai. Mereka memilih jalan yang sunyi, bahkan kadang-kadang terpaksa bersembunyi di siang hari kalau melalui jalan yang ramai dan melanjutkan perjalanan di waktu malam. Perjalanan itu menjadi lama dan sukar sekali namun anehnya bagi kedua orang muda itu, keanehan yang tidak terasa lagi oleh mereka bahwa perjalanan yang jauh, lama, sukar, dan berbahaya itu sama sekali tidak terasa berat oleh mereka! Ada pula keanehan pada sikap Kun Liong dan hal ini pun sama sekali tidak dirasakan dan diketahui oleh pemuda itu sendiri, yaitu bahwa terhadap Hong Ing dia tidak pernah memperlihatkan sikapnya seperti yang sudah-sudah kalau menghadapi wanita. Dia tidak pernah menggoda! Bahkan sebaliknya, dia bersikap sopan dan bersungguh-sungguh.

Dengan wajah berseri-seri Giok Keng berlari memasuki hutan itu. Hatinya riang gembira biarpun kadang-kadang alisnya berkerut kalau dia teringat akan ayahnya. Kun Liong telah dengan suka rela membatalkan ikatan jodoh itu! Betapa baiknya pemuda gundul itu! Dan betapa tampan dan gagahnya Liong Bu Kong! Dia harus cepat pulang dan harus berterus terang. Jantungnya berdebar penuh rasa takut kalau dia membayangkan bagaimana ayahnya tentu akan marah sekali. Tidak, dia tidak akan bicara dengan ayahnya. Dia akan memberi tahu kepada ibunya bahwa dia tidek mencinta Kun Liong dan bahwa dia hanya mau menikah dengan pemuda yang menjadi pilihan hatinya, yaitu Liong Bu Kong! Membayangkan wajah pemuda itu yang tampan dan gagah, pemuda yang tidak mentah seperti Kun Liong, melainkan seorang laki-laki yang bersikap jantan, yang jelas menunjukkan cintanya dengan membiarkan dirinya diserang, menghadapi kematian di tangannya dengan senyum di bibir, jantungnya berdebar penuh kemesraan. Tetapi, ayah dan ibunya tentu akan menolak pemuda itu. Putera Kwi-eng Niocu, datuk golongan hitam! Giok Keng menahan langkah kakinya dan mengerutkan alisnya. Tidak, biar ibunya jahat, belum tentu puteranya jahat. Buktinya, Liong Bu Kong amat baik!

“Nona Cia tunggu…”

Giok Keng cepat menoleh dan jantungnya berdenyut keras. Tentu saja dia segera dapat mengenal bentuk tubuh tinggi tegap itu. Orang yang selama ini dibayangkannya. Liong Bu Kong! Pemuda itu dengan berlari cepat seperti terbang menghampiri dan segera menjura di depan Giok Keng.

“Aihh, susah payah aku mencarimu, Nona, mengapa kau meninggalkan aku sebelum kita bicara?”

Giok Keng memandang wajah yang kusut itu, dan memandang pundak yang terluka. Saputangannya masih membalut pundak itu. “Kau… bagaimana lukamu…?” tanyanya dengan suara gemetar.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: