Petualang Asmara (Jilid ke-31)

Bu Kong melirik ke arah pundaknya. “Ah, urusan kecil. Aku sudah lupa sama sekali akan pundakku sungguhpun saputangan itu selalu menjadi pelipur laraku. Aku lupa makan, lupa tidur dan lupa segala, Nona, bingung mengejar dan mencari-carimu. Sungguh aku berterima kasih kepada Thian bahwa aku dituntun memasuki hutan ini dan dapat berjumpa denganmu.”

Jantung Giok Keng makin berdebar kencang dan mukanya menjadi merah sekali. Sejenak dia menundukkan muka, lalu memaksa diri mengangkat muka memandang. Mereka saling berpandangan dan seolah-olah ada getaran luar biasa lewat mata itu memasuki dada Giok Keng, membuat dara itu menggigil dan memaksa mulutnya bertanya, “Mengapa kau mencari aku? Ada urusan apa?”

Tiba-tiba Liong Bu Kong menjatuhkan dirinya berlutut. Melihat ini, Giok Keng lalu membalikkan tubuh, membelakangi pemuda yang berlutut itu sambil berkata lagi. “Bicaralah! Tidak perlu berlutut!”

“Kau berjanjilah takkan marah kepadaku, Nona. Baru aku mau berdiri!” kata Bu Kong yang masih terus berlutut.

“Hemm, baiklah. Berdirilah, aku tidak mau bicara kalau kau berlutut seperti itu.”

Bu Kong bangkit berdiri dan meloncat ke depan dara itu sambil menjura, “Terima kasih. Aku tahu di dunia ini tidak ada seorang pun wanita yang sehebat dan semulia hatinya seperti engkau, Nona. Ketika kau pergi meninggalkan aku dan mengatakan bahwa engkau telah bertunangan dengan orang lain, hampir aku membunuh diri. Akan tetapi aku tidak puas sebelum bertemu denganmu. Aku minta kepadamu, Nona. Aku cinta padamu dengan seluruh jiwa ragaku, semenjak kita saling bertemu di Cin-ling-san dahulu itu. Dan aku yakin… maafkan aku, aku yakin bahwa nona pun setidaknya merasa kasihan kepadaku. Karena itu, sebelum aku mengambil keputusan membunuh diri… aku mohon kepadamu, Nona, jangan bersikap kepalang tanggung. Aku cinta kepadamu dan… kasihanilah aku, Nona. Melihat sikap Nona kemarin… aku percaya bahwa hati Nona masih bebas, sungguhpun nona telah ditunangkan dengan orang lain. Kasihanilah aku dan sudikah engkau membalas cintaku yang murni…?”

Muka Giok Keng menjadi makin merah. Dia adalah seorang dara yang selamanya belum pernah mengenal cinta seorang pria, apalagi mendengar bujuk rayu yang demikian indah. Dia merasa seolah-olah dirinya diangkat sampai ke angkasa!

“Tapi… tapi aku sudah bertunangan…” dia berusaha menjawab.

“Nona Cia Giok Keng… pertunangan bisa saja dibatalkan… ah, mengapa engkau akan menyiksa diri dengan berjodoh dengan seorang laki-laki yang tidak kaucinta? Engkau akan hidup merana dan aku akan membunuh diri sekarang juga di depan kakimu…” Bu Kong mencabut pedangnya.

“Jangan…!” Giok Keng berteriak kaget dan merampas pedang itu, melempar pedang itu dengan sikap jijik ke atas tanah.

Bu Kong kini memegang kedua tangan Giok Keng. Dara ini membuang muka dan menahan keluarnya air matanya, namun tetap saja ada dua butir air mata bertitik turun.

“Giok Keng… Moi-moi… engkau kasihanilah aku. Marilah kita hidup berdua, penuh bahagia… aku cinta padamu dan aku bersumpah bahwa sampai mati aku akan tetap cinta padamu…”

“Tapi… tapi…”

“Aku siap berkorban nyawa demi cintaku, Moi-moi…”

Giok Keng menarik kedua tangannya dan memandang tajam, “Benarkah?”

“Tentu saja! Bukankah aku telah suka mati daripada gagal menghadapi cintaku kepadamu.”

“Bukan itu maksudku, akan tetapi… ah, bagaimana aku berani menghadapi ayahku?” Giok Keng memandang wajah pemuda itu, memandang tajam seperti hendak menjenguk isi hatinya, kemudian berkata, “Liong Bu Kong, benarkah engkau cinta padaku?” Dara yang memiliki keberanian luar biasa itu kini sudah dapat menguasai ketegangan hatinya dan bertanya dengan sejujurnya.

“Tentu saja, aku bersumpah…!”

“Aku tidak membutuhkan sumpah. Aku membutuhkan bukti dan kenyataan. Kalau engkau benar mencinta, tentu kau akan berani membelaku sampai mati. Beranikah kau?” Giok Keng teringat akan cerita tentang Souw Li Hwa dan Yuan de Gama, yang dipuji-puji oleh ayahnya, teringat akan cinta kasih di antara mereka yang begitu mendalam sehingga keduanya rela menghadapi maut sambil saling berpelukan di atas kapal yang terbakar dan hampir tenggelam! Cerita ini berkesan dalam sekali di hatinya, membuatnya romantis dan dia ingin melihat bahwa cinta kasih di hati pemuda ini terhadapnya tidak kalah besarnya!

“Tentu saja aku berani, Moi-moi!” jawab Liong Bu Kong dengen wajah berseri karena merasa bahwa dara ini agaknya akan suka membalas cintanya.

“Nah, kalau begitu mari kau ikut bersamaku menghadap kepada ayah ibuku dan kau menceritakan kepada mereka terus terang tentang cintamu dan tentang pembatalan ikatan jodohku dengan tunanganku.”

Wajah yang berseri itu menjadi pucat. Bu Kong menjilat-jilat bibirnya yang mendadak menjadi kering itu. “Wah, ini… ini… mana aku berani?”

Giok Keng melompat mundur dan sikapnya menjadi marah sekali. “Huh! Dan kaulbilang mencintaku, berani membelaku sampai mati? Baru sebegitu saja sudah takut dan mundur!”

Bu Kong meloncat mendekati. “Aku berani! Maafkan, Moi-moi, aku tadi meragu bukan karena takut mati, melainkan aku merasa ragu-ragu untuk bersikap seperti itu dan membikin marah serta duka hati ayah bundamu. Tentu saja, sebagai ayah bundamu, mereka itu kujunjung tinggi dan kuhormati seperti orang tua sendiri. Baiklah, aku menerima permintaanmu ini!”

Giok Keng tersenyum manis sekali, matanya mengerling tajam dan hatinya penuh kegembiraan. Biarpun dia dan Bu Kong akan dibunuh ayahnya, dia rela karena bukankah ini membuktikan bahwa cinta kasih mereka amat murni dan besar, tidak kalah besar oleh cinta kasih yang dibuktikan oleh Souw Li Hwa dan Yuan de Gama yang amat dikagumi ayah bundanya itu?

“Kalau begitu, aku baru percaya. Marilah kita berangkat sekarang juga ke Cin-ling-san… Koko…!”

Hampir saja Bu Kong bersorak girang mendengar dara yang membuatnya tergila-gila itu menyebutnya koko (kakanda), maka dia lalu merangkul dan mencium bibir dara itu dengan mulutnya.

Giok Keng terkejut, hampir menjerit sehingga mulutnya setengah terbuka, lalu dia memejamkan matanya dan sejenak dia menyerah sepenuh hatinya. Akan tetapi tidak lama dia tenggelam dalam nikmat berahi ini, dia sudah meronta dan melepaskan diri dari pagutan ketat pemuda itu, melepaskan diri dari peluk cium yang membuatnya hampir pingsan karena nikmat. Dengan dada turun naik, terengah-engah, wajah sebentar pucat sebentar merah, tubuh terasa panas dingin, dara itu yang sudah melompat mundur memandang kekasihnya.

“Moi-moi… maafkan aku… aku…” Bu Kong berkata dengan suara terputus-putus karena dia khawatir sekali bahwa perbuatannya yang terdorong kegembiraan hati itu akan membikin marah dara yang dicintanya.

Giok Keng menggelengkan kepalanya dan berkata halus, “Aku tidak marah, Koko, hanya… kuminta dengan sangat, janganlah engkau menyentuhku lagi… kita harus dapat menjaga diri, menekan hati, kelak kalau aku sudah menjadi milikmu secara resmi, sudah menikah…” Giok Keng menunduk dan tersenyum malu-malu.

Bu Kong hampir saja tidak kuat lagi untuk tidak memeluk tubuh itu sekuatnya dan menciumi bibir itu. Akan tetapi dia maklum bahwa perbuatannya itu tentu akan menimbulkan kemarahan kekasihnya, maka dia melangkah maju dan hanya memegang tangan Giok Keng. Sepuluh jari tangan yang semua mengeluarkan getaran dari lubuk hati masing-masing itu saling mencengkeram dan saling membelai. Tidak ada kata-kata keluar dari mulut mereka sampai beberapa lama, karena getaran jari-jari tangan itu sudah mengandung seribu satu kata-kata indah. Akhirnya Bu Kong berkata, “Aku mengerti, Moi-moi. Maafkan aku. Akan tetapi jangan kita langsung pergi ke Cin-ling-san. Mari kau ikut aku pergi mengambil pusaka Siauw-lim-pai.”

“Aku dulu mendengar bahwa… engkau mencuri pusaka-pusaka itu dari Siauw-lim-pai. Benarkah, Koko?”

Wajah pemuda itu menjadi merah sekali. Dia menghela napas dan berkata, “Tak perlu aku membohongimu, Moi-moi. Memang benar demikian. Aku dahulu mencuri pusaka-pusaka itu dari Siaw-lim-pai karena perintah mendiang ibuku. Aku masih amat muda dan berdarah panas. Aku ingin memperlihatkan kepandaian, karena kabarnya Siauw-lim-si dijaga keras sekali dan amat ketat sehingga kalau aku berhasil mengambil beberapa buah pusakanya, tentu akan menggemparkan dunia kang-ouw. Akan tetapi yang menghendaki pusaka itu adalah ibuku. Sekarang Ibu telah meninggal dunia, dan biarpun aku merupakan keturunan seorang datuk kaum sesat, namun aku ingin hidup baru, Moi-moi. Apalagi setelah bertemu denganmu, keputusanku sudah bulat bahwa aku tidak mau lagi berkecimpung di dalam golongan kaum sesat. Bahkan aku akan menentang mereka. Untuk membuktikan ini, pertama yang kukerjakan adalah mengembalikan pusaka-pusaka itu ke Siauw-lim-pai.”

Hati Giok Keng girang sekali. Dia menarik tangannya yang masih dipegang pemuda itu dan berkata, “Bagus sekali kalau begitu, Koko. Marilah kita mengambil pusaka-pusaka itu dan mengembalikannya ke Siauw-lim-si.” Hatinya lega karena perbuatan ini tentu akan menyenangkan hati ayah bundanya. Biarpun kekasihnya adalah putera Si Bayangan Hantu, Ketua Kwi-eng-pai, akan tetapi dengan perbuatannya itu Bu Kong sudah membuktikan bahwa dia hendak merobah hidupnya, melalui jalan benar dan menjadi pendekar budiman.

Mereka lalu pergi ke sebuah pegunungan dekat Telaga Kwi-ouw yang kini sudah menjadi tempat sunyi sekali semenjak Kwi-eng-pang diserbu oleh tentara pemerintah dan dibasmi habis. Banyak yang tewas, ada yang tertawan dan ada pula beberapa orang yang lolos dari penyerbuan itu. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio tewas membunuh diri karena tidak mau terbunuh lawan, sedangkan kakek tinggi besar brewok, Thian-ong Lo-mo yang memiliki kepandaian tinggi, dapat berhasil meloloskan diri. Akan tetapi Bu Kong tidak tahu akan lolosnya kakek lihai ini, karena dia hanya mendengar bahwa Kwi-eng-pang telah dibasmi habis dan ibunya telah tewas.

Maka dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati pemuda ini ketika dia bersama dengan Giok Keng, tiba di depan sebuah guha di mana dia menyimpan pusaka-pusaka itu, tiba-tiba muncul Thian-ong Lo-mo bersama lima orang anggauta Kwi-eng-pang yang berhasil meloloskan diri! Dia merasa terheran-heran. Tentu saja bukan hal mengherankan jika kakek itu berada di guha tempat penyimpanan pusaka karena memang yang mengetahui akan tempat itu hanya dia, ibunya, dan kakek sekutu ibunya ini. Yang mengherankan hatinya adalah melihat kakek ini dapat lolos dan masih hidup! Melihat sikap kakek brewok itu seperti orang marah, demikian pula lima orang bekas anak buah ibunya itu bersikap memusuhinya, Bu Kong segera berkata sambil tertawa, “Aihhh, kiranya Locianpwe masih dapat menyelamatkan diri.”

“Bocah durhaka! Pengkhianat pengecut!” Thian-ong Lo-mo yang sudah marah sekali itu menerjang maju, menyerang Liong Bu Kong dengan senjatanya yang dahsyat, yaitu sabuk rantai yang bergigi seperti gergaji.

“Cringgg! Trangggg…!” Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika senjata itu tertangkis oleh dua batang pedang di tangan Bu Kong dan Giok Keng. Kakek itu terkejut bukan main karena tangannya tergetar hebat. Maklumlah dia bahwa dara cantik jelita itu memiliki tenaga dan kepandaian yang hebat pula, maka dia lalu memutar senjatanya dengan ganas sambil mengeluarkan seluruh tenaga dan kepandaiannya. Memang tanpa disangka-sangkanya kakek ini bertemu dengan dua orang muda yang amat tangguh. Kalau hanya Bu Kong seorang diri yang melawannya, biarpun pemuda ini juga memiliki kepandaian tinggi dan tidaklah mudah untuk merobohkannya, namun agaknya pemuda ini tidak akan mampu menang melawan kakek yang lihai itu. Demikian pula, biarpun sebagai puteri Pendekar Sakti Cia Keng Hong, dan telah memiliki tingkat ilmu kepandaian tinggi, agaknya Giok Keng juga tidak akan mudah dapat mengalahkan Thian-ong Lo-mo. Akan tetapi kini kedua orang muda yang saling mencinta itu maju berdua! Selain kelihaian ilmu silat mereka, juga keduanya memegang pedang pusaka yang ampuh.

Giok Keng bersenjata Gin-hwa-kiam (Pedang Banga Perak) yang berubah menjadi sinar putih bergulung-gulung, sedangkan Liong Bu Kong memegang pedang Lui-kong-kiam yang mengeluarkan sinar berkilat-kilat.

Baiknya Thian-ong Lo-mo dibantu oleh lima orang anak buah Kwi-eng-pang maka pertandingan berlangsung dengan amat serunya. Sabuk rantai gergaji di tangan Thian-ong Lo-mo menyambar-nyambar dahsyat, bagaikan seekor ular hitam bermain-main di antara dua gulungan sinar pedang dan berkali-kali terdengar suara nyaring ketika tiga senjata bertemu dan tampak bunga api berpijar-pijar menyilaukan mata. Lima orang bekas anggauta Kwi-eng-pang hanya membantu dari luar dengan senjata mereka. Pertandingan antara tiga orang itu terlatu hebat dan berbahaya bagi mereka sehingga mereka itu hanya membantu untuk mengacaukan perhatian kedua orang muda itu.

“Cringg… trekkk!” Ujung senjata rantai itu membelit pedang Giok Keng yang menjadi kaget bukan main. Selagi dia bersitegang hendak membetot pedangnya, Bu Kong berteriak nyaring dan pedangnya menyerang kakek itu dengan tusukan ke arah lehernya. Namun Thian-ong Lo-mo benar-benar hebat. Tangan kirinya bergerak dan ujung lengan baju kirinya yang lebar panjang itu merupakan senjata istimewa menangkis tusukan pedang Bu Kong.

“Plakk! Bretttt… dess!” Bu Kong mengeluh dan terhuyung ke belakang. Pedangnya telah tertangkis ujung lengan baju dan biarpun pedangnya berhasil merobek ujung lengan baju lawan, namun tangan kakek itu masih dilanjutkan dengan tamparan keras yang mengenai pundaknya dan membuat tubuhnya terhuyung ke balakang dan tergetar hebat.

“Ha-ha-ha…” Kakek itu tertawa dan kini menggunakan tangan kirinya yang ampuh itu mencengkeram ke depan, ke arah kepala Giok Keng!

“Wuuuttt.. plak-plak-plak!”

“Aughhh…!” Thian-ong Lo-mo terhuyung ke belakang dan hampir roboh. Rantai gergaji yang tadi membelit pedang terlepas karena tubuhnya tergetar oleh tiga kali tamparan sabuk merah muda yang dipegang oleh tangan kiri Giok Keng. Dara ini ketika tadi melihat pedangnya terbelit dan Bu Kong tertampar, cepat melolos sabuk sutera merah muda yang merupakan senjata ke dua yang ampuh, dengan cepat dia menggunakan sabuk itu mendahului tangan lawan yang mencengkeram kepalanya. Tepat sekali ujung sabuknya menotok tiga jalan darah di tubuh lawan, jalan darah yang mematikan. Akan tetapi betapa kaget dan herannya ketika ia melihat bahwa lawan yang tertotok tepat itu hanya terhuyung saja dan tidak mati!

Kiranya kakek brewok itu selain lihai ilmu silatnya dan amat kuat tenaga sin-kangnya, juga merupakan ahli I-kiong-hoan-hiat (Ilmu Memindahkan Jalan Darah) sehingga biarpun kelihatan dia tertotok tepat, namun sesungguhnya totokan itu tidak mengenai jalan darah kematian dan hanya membuat dia menggigil dan terhuyung saja. Sama sekali dia tidak mati, bahkan sebaliknya, dengan kemarahan meluap-luap karena penasaran dan malu, dia sudah menubruk ke arah Giok Keng sambil mengeluarkan lengking dahsyat dari tenaga khi-kangnya. Matanya yang lebar itu terbelalak merah, lengking suaranya membuat lima orang bekas anggauta Kwi-eng-pang terhuyung ke belakang dengan muka pucat.

Melihat lawan yang menyerang dahsyat dengan rantai gergaji dan tangan kiri dibentuk seperti cakar garuda, Giok Keng cepat menggerakkan pedang dan sabuk suteranya.

“Cringgg… plakkk!” Pedang dan rantai bertemu di udara, sabuk sutera melibat lengan kiri kakek lihai itu, akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Giok Keng ketika lengan kiri lawan itu masih mampu bergerak terus ke depan melanjutkan serangannya, menyambar ke arah lehernya seolah-olah cakar setan yang hendak mencekiknya. Dia cepat miringkan tubuhnya dan mengangkat kakinya menendang.

“Brettt… plakkk!”

Baju di pundak Giok Keng terobek oleh cakar itu dan kulit pundaknya lecet berdarah. Akan tetapi tendangannya membuat lawan terpental ke belakang. Ketika dara ini bersiap kembali setelah mendapat kenyataan bahwa luka di pundaknya tidak berbahaya, ternyata kakek itu telah diserang hebat oleh Bu Kong. Maka dengan marah Giok Keng lalu menyerbu pula membantu pemuda itu dan kembali terjadi pertandingan dahsyat antara tiga orang itu. Tubuh mereka tidak kelihatan lagi, terbungkus oleh gulungan sinar senjata mereka. Karena cepatnya gerakan mereka bertiga, lima orang bekas anggauta Kwi-eng-pang tidak ada yang berani mendekat apalagi membantu. Suara khi-kang hebat dari kakek itu tadi masih membuat jantung mereka terguncang.

Setelah Giok Keng menambah pedangnya dengan sabuk sutera merah muda, dan kedua orang muda itu melakukan pengeroyokan dengan pengerahan seluruh limu kepandaian dan tenaga mereka, lambat laun kakek itu merasa terdesak juga. Seratus jurus telah lewat dan dia sama sekali tidak mampu menjatuhkan seorang pun di antara dua orang pengeroyoknya yang masih muda! Napasnya mulai memburu dan biarpun merasa amat penasaran, Thian-ong Lo-mo harus mengakui bahwa kalau dilanjutkannya juga pertempuran itu, akhirnya dia akan terancam bahaya maut.

Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan pekik dahsyat sekali, senjata rantainya menyambar ke depan menjadi sinar memanjang. Dua orang muda itu terkejut dan cepat menangkis.

“Tranggg… cringgg…!”

Akan tetapi tangan kiri kakek itu mendorong ke depan dan angin dahsyat menyerang kedua orang lawannya. Ternyata dia telah menggunakan pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga sin-kang sekuat-kuatnya. Inilah serangan terakhir kakek itu yang sudah menguras habis ilmu kepandaiannya.

“Wuuuutttt…!”

Giok Keng dan Bu Kong makin kaget, cepat mereka melempar ke belakang, dan bergulingan untuk menghindarkan diri dari serangan dahsyat itu. Ketika keduanya telah meloncat bangun, ternyata lawan mereka telah lenyap dari situ.

Kiranya Thian-ong Lo-mo yang melihat serangan terakhir tadi tidak berhasil, lalu melarikan diri dengan cepat sekali!

“Berhenti…!” Bu Kong menghardik dan lima orang bekas anggauta Kwi-eng-pang yang mencoba untuk melarikan diri itu tiba-tiba berhenti dan membalikkan tubuh dengan muka pucat.

“Ke sini kalian!” Bu Kong membentak lagi dan seperti lima ekor anjing yang ketakutan, lima orang itu menghampiri Bu Kong, kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda itu.

“Ampun… Kongcu…!” Mereka mengeluh ketakutan.

Bu Kong tersenyum mengejek, “Di mana pusaka-pusaka itu?” bentaknya.

“Di… di dalam, Kongcu…”

“Hayo kalian ambil dan keluarkan semua!”

Seperti dikomando lima orang itu tergesa-gesa lari memasuki guha dan tak lama kemudian mereka keluar membawa sebuah buntalan besar. Bu Kong menerima buntalan itu, memeriksa isinya. Ternyata masib lengkap. Dua buah pusaka, yaitu sebatang pedang dan sebuah hiolouw (tempat abu hio) dari Siauw-lim-pai, dan banyak barang perhiasan emas permata yang mahal, juga potongan emas dan perak!

Tiba-tiba pemuda itu menggerakkan tangan kanannya, tampak sinar berkilat menyambar lima kali dan… tubuh lima orang itu tergelimpang roboh dengan leher hampir putus. Tubuh mereka berkelojotan sebentar dan tewas seketika!

“Ahh, mengapa membunuh mereka?” Giok Keng bergidik ngeri. Dia adalah seorang pendekar wanita muda yang sudah biasa menyaksikan pembunuhan, akan tetapi hal itu terjadi dalam pertempuran. Belum pernah dia menyaksikan pembunuhan yang dilakukan dengan tangan dingin sehingga mengerikan hatinya.

“Mereka adalah orang-orang jahat, dan aku sudah bersumpah untuk menentang orang jahat, bukan? Moi-moi…” Bu Kong berkata melihat kekasihnya mengerutkan alisnya, “Kalau tidak dibunuh, tentu mereka itu akan mendatangkan keributan saja di kemudian hari, dan dengan membunuh mereka berarti kita telah membebaskan rakyat dari ancaman kejahatan mereka, bukan?”

Giok Keng mengangguk-angguk. Tak dapat dibantah ucapan pemuda itu, maka dengan menarik napas panjang dibenarkannya ucapan itu dengan anggukan kepala, mengambil kesimpulan bahwa hatinya sendirilah yang lemah.

Dari tempat itu, kedua orang muda ini lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Siauw-lim-si untuk mengembalikan dua buah benda pusaka Siauw-lim-pai yang dicuri oleh Bu Kong kurang lebih enam tahun yang lalu. Di sepanjang perjalanan, kedua orang ini tampak rukun sekali, penuh kasih sayang, penuh kegembiraan dan seperti sepasang pengantin baru saja. Namun Giok Keng tetap bersikeras tidak membolehkan kekasihnya menjamahnya, dan dengan hati kecewa sekali Bu Kong terpaksa menahan nafsunya, tidak berani merayu kekasihnya sebelum mereka menikah karena dia maklum betapa kerasnya hati dara itu sehingga besar kemungkinannya cinta kasih dara itu akan berubah menjadi kebencian hebat, kalau dia melanggar janji dan larangan. Betapapun juga, hatinya sudah merasa puas dan lega menyaksikan sikap Giok Keng yang mencintanya, cinta yang juga bersifat keras seperti watak dara itu, cinta yang akan dibelanya dengan nyawa!

Kita tinggalkan dulu Giok Keng dan Bu Kong yang melakukan perjalanan menuju ke Siauw-lim-si itu, dan marilah

kita kembali mengikuti perjalanan Yap Kun Liong dan Pek Hong Ing, nikouw muda itu. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kun Liong dan Hong Ing yang terpaksa menentang kehendak Pangeran Han Wi Ong, dicap sebagai pemberontak dan orang-orang buruan. Gambar mereka ditempel di mana-mana sehingga mereka terpaksa melakukan perjalanan dengan sembunyi-sembunyi, melalui jalan-jalan sunyi, keluar masuk hutan dan naik turun gunung dalam perjalanan yang amat sukar. Karena dia bertekat menolong Hong Ing agar tidak sampai tertangkap oleh orang-orang yang menghendaki dara itu menjadi istri Pangeran Han Wi Ong, maka Kun Liong mengajak nikouw muda itu menuju ke timur, ke arah Teluk Pohai. Dahulu ketika dia membantu supeknya, Pendekar Sakti Cia Keng Hong, dan menyusul Cia Giok Keng ke Pulau Ular, dia lewat hutan di dekat Pantai Pohai yang sunyi dan melihat sebuah kuil di sana. Kuil Kwan-im-bio!

Kuil itulah yang kini menjadi tujuan perjalanan mereka, Hong Ing harus bersembunyi dan menjadi nikouw di sebuah kuil

yang sunyi, baru akan selamat dara itu!

Mereka melakukan perjalanan di sepanjang tepi Sungai Huang-ho. Sebenarnya, kalau mereka bukan menjadi orang-orang

buruan pemerintah, perjalanan itu akan dapat dipermudah dengan menggunakan perahu mengikuti aliran air sungai. Akan tetapi mereka tidak berani mengambil jalan air, dan menyusuri tepi sungai sambil bersembunyi-sembunyi, memilih bagian-bagian yang sunyi.

Pada suatu pagi mereka beristirahat di tepi sungai yang merupakan hutan sunyi senyap. Semalam suntuk mereka melakukan perjalanan karena mereka melalui daerah ramai. Dan pagi hari ini, setelah tiba di hutan yang sepi, mereka duduk di bawah pohong beristirahat. Hong Ing memanggang daging ikan yang mereka tangkap di sungai, kemudian mereka berdua makan daging ikan panggang dan minum air dari sumber yang cukup jernih. Sambil duduk bersandar pohon memberi kesempatan kepada tubuh yang lelah untuk beristirahat, Hong Ing berkata. “Kun Liong, kau tentu lelah sekali…”

Kun Liong duduk di atas rumput dan bersandar pada sebongkah batu besar. Dia menoleh dan memandang wajah nikouw muda yang manis itu, lalu tersenyum. “Tidak lebih lelah daripadamu, Hong Ing.”

“Lain lagi dengan aku, Kun Liong. Aku memang perlu untuk pergi mencari tempat persembunyian. Akan tetapi engkau

melakukan semua ini demi aku.”

“Hemm…” Kun Liong tidak menjawab dan kini dia menundukkan kepalanya.

“Mengapa, Kun Liong? Mengapa kau melakukan semua jerih payah ini untukku?”

Kun Liong mengangkat mukanya.

“Hong Ing, entah sudah berapa kali engkau menanyakan hal ini kepadaku? Mengapa? Mengapa aku melakukan semua ini? Tentu saja kulakukan karena engkau adalah seorang sahabatku yang baik, bukan? Andaikata tidak demikian sekalipun, andaikata engkau seorang lain, dan bukan sahabat baikku, tentu akan kulakukan juga. Menolong orang yang membutuhkan pertolongan merupakan perbuatan yang lumrah dan sudah semestinya, bukan?”

“Karena engkau seorang yang berbudi mulia, Kun Liong.”

“Hemmm…”

Hening sejenak. Kemudian terdengar lagi suara Hong Ing dan betapa heran rasa hati Kun Liong mendengar suara yang sumbang dan berada kecewa itu, “Jadi engkau menolongku bukan karena akulah orang itu?”

Karena tidak mengerti, Kun Liong mengangkat muka memandang. “Apa maksudmu?”

Hong Ing menjadi merah mukanya dan menggeleng kepala. “Sudahlah, aku hanya bermaksud menagih janjimu tempo hari bahwa engkau akan menceritakan riwayat hidupmu. Aku ingin sekali mengetahui setelah mendengar bahwa Pendekar Sakti Cia Keng Hong adalah supekmu. Ceritakanlah, Kun Liong.”

“Apa yang patut kuceritakan? Riwayatku amat buruk, lebib buruk daripada riwayatmu, Hong Ing. Aku telah pergi meninggalkan rumahku sejak aku berusia sepuluh tahun. Aku merantau dan setelah aku pulang, ternyata ayah bundaku telah tidak berada di rumah kami.” Dia menceritakan dengan singkat pengalaman hidupnya ketika dia meninggalkan rumah sampai dia menjadi murid Bun Hwat Tosu selama lima tahun kemudian menjadi murid Tiang Pek Hosiang selama lima tahun pula.

“Aihhh, kiranya engkau murid dua orang kakek sakti itu. Pantas kau hebat sekali! Dan ke mana perginya ayah bundamu itu?” Hong Ing yang mendengar penuh kekaguman itu bertanya.

Kun Liong menarik napas panjang dan menunduk. “Mereka telah tewas…”

“Heii!….”

“Mereka tewas terbunuh oleh lima orang datuk sesat!” Kun Liong menuturkan betapa kematian ayah bundanya itu dia ketahui dari Cia Keng Hong.

“Aku meninggalkan rumah ketika berusia sepuluh tahun dan tidak pernah berjumpa dengan ayah ibuku! Mereka terbunuh oleh lima datuk itu…”

Hong Ing merasa terharu sekali melihat Kun Liong menggunakan punggung tangan mengusap dua butir air matanya. “Keparat mereka! Kau harus balas mereka, Kun Liong. Biar kubantu engkau! Mari kita cari mereka!”

Kun Liog mengangkat mukanya, memandang dan mencoba tersenyum. “Mereka berlima telah tewas, Hong Ing. Lima orang pembunuh orang tuaku telah tewas semua dan sekarang aku hanya ingin sekali menemukan adikku yang tak pernah kulihat semenjak dia lahir.”

“Adikmu…?”

Kun Liong mengangguk. “Ketika aku pergi, Ibu melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Yap In Hong. Ketika Ayah dan Ibu terbunuh, adikku itu berhasil diselamatkan oleh seorang pelayan, dibawa pergi entah ke mana. Karena itu, setelah engkau mendapatkan tempat yang aman, aku akan pergi mencari adikku itu, Hong Ing.”

Dara itu mengangguk-anggukkan kepalanya yang gundul. “Kasihan sekali kau, Kun Liong. Memang kau harus mencari adikmu itu. Akan tetapi setelah sekarang engkau menjadi orang buruan karena aku, bagaimana engkau dapat melakukan perjalanan dengan leluasa? Engkau akan ditangkap!”

“Tidak, Hong Ing. Aku sudah memikirkan hal itu dan sudah memperoleh jalan terbaik. Aku akan minta bantuan Supek Cia Keng Hong yang mempunyai hubungan baik sekali dengan para pejabat tinggi di kota raja dan dengan bantuannya tentu aku akan dapat dibebaskan dan tidak menjadi orang buruan lagi. Juga aku akan memintakan pengampunan bagimu. Selain itu, aku akan menanyakan tentang pusaka-pusaka milik Siauw-lim-pai yang dahulu dicuri oleh pihak Kwi-eng-pang, apakah pusaka itu sudah dikembalikan.”

“Kau tidak usah repot-repot memikirkan nasibku, Kun Liong. Aku sudah akan merasa lega dan gembira sekali kalau kau dapat terbebas dari himpitan ini yang menimpa dirimu karena kau membela aku.”

“Marilah kita lupakan kepahitan yang kita hadapi, Hong Ing. Kita berdua maklum bahwa kita tidak mempunyai kesalahan dan semua ini adalah gara-gara Pangeran Han Wi Ong yang tak tahu diri. Sekarang aku ingin sekali mendengar riwayatmu. Hong Ing, Siapakah keluargamu? Dan bagaimana engkau bisa menjadi murid Go-bi Sin-kouw yang lihai dan galak itu?”

Nikouw muda itu menghela napas dan mengerutkan alisnya, Kun Liong memandang wajahnya dan pemuda itu kini diam-diam merasa makin kagum dan juga heran kepada diri sendiri. Mengapa setiap kali memandang wajah dara gundul ini hatinya merasa seperti dicengkeram sesuatu yang amat kuat, yang membuat dia merasa terharu sekali dan ingin mencucurkan air mata?

“Aku sudah tidak ingat lagi, Kun Liong. Ketika itu aku baru berusia lima tahun dan seingatku, di sampingku hanya ada ibuku yang cantik dan gagah perkasa. Kami berdua berada di tanah pegunungan, kalau tidak salah dugaanku di Tibet. Entah apa yang terjadi, aku sendiri tidak tahu sama sekali. Tiba-tiba Ibu dikeroyok banyak pendeta berjubah merah, pendeta-pendeta Lama. Ibu menggendongku sambil melawan mati-matian. Ibu berhasil melarikan diri akan tetapi terluka parah. Setelah bertahan sampai belasan hari dan berada jauh sekali dari Tibet, Ibu roboh dan meninggal dunia…”

Hampir saja Kun Liong merangkul dan memeluk tubuh yang berguncang-guncan karena tangisnya itu. Hong Ing menangis terisak-isak. Siapa takkah menangis kalau membayangkan pengalamannya di waktu itu? Ibunya menggeletak dengan muka pucat, dan dia, seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa, hanya menangis dan memanggil-manggil nama ibunya.

“Ah, kasihan engkau, Hong Ing. Sudahlah, lupakan yang sudah dan jangan teruskan ceritamu,” Kun Liong menghibur.

Hong Ing menyuruti air matanya dengan ujung lengan baju. “Aku harus menceritakan semua kepadamu, Kun Liong. Pada saat aku menangis menghadapi Ibu yang sudah dalam sekarat, tiba-tiba muncul Go-bi Sin-kouw dan Lauw Kim In, Subo dan suciku itu. Go-bi Sin-kouw berusaha menolong ibuku, namun sia-sia dan Ibu hanya dapat menceritakan dengan napas terputus-putus kepada Go-bi Sin-kouw sebelum menghembuskan napas terakhir. Begitulah, aku lalu dibawa pergi oleh Subo dan Suci.”

“Apakah Go-bi Sin-kouw tidak menceritakan kepadamu tentang nama ibu dan ayahmu?”

“Tidak pernah. Subo tidak pernah mau mengaku, dan kalau aku bertanya, dia hanya bilang bahwa Subo yang kini menjadi pengganti ayah bundaku. Aku tidak pernah mengenal ayahku, dan tidak tahu pula mengapa Ibu dikeroyok oleh para pendeta Lama.”

“Ssstt…!” Tiba-tiba tubuh Kun Liong mencelat ke belakang. Dia menyusup ke dalam semak-semak, Ialu meloncat ke atas pohon tinggi, matanya memandang ke kanan kiri mencari-cari. Kemudian dia melayang turun lagi ke depan Hong Ing yang sudah meloncat berdiri dan memandangnya dengan heran.

“Ada apakah, Kun Liong?” tanyanya, kagum menyaksikan gerakan Kun Liong yang ringan seperti burung terbang tadi.

Kun Liong mengerutkan alisnya. “Entahlah, aku tadi seperti mendengar suara orang menarik napas panjang dan terdengar suara kaki menginjak daun kering. Akan tetapi kucari ke mana-mana tidak ada bayangan seorang pun manusia.”

“Ah, agaknya suara binatang kecil di semak-semak,” kata Honj Ing yang duduk kembali. Kun Liong juga duduk di depannya.

“Hong Ing, riwayat kita sama-sama menyedihkan. Kita berdua adalah orang-orang muda yang menderita sengsara sejak kecil.”

“Menang begitulah agaknya, Kun Liong. Aku tidak pernah tahu apa itu yang disebut bahagia. Tahukah engkau Kun Liong? Apakah bahagia itu?”

Kun Liong merenung, sepasang matanya memandang jauh, alisnya berkerut, kepala gundulnya mengkilap tertimpa matahari pagi, lalu terdengar dia berkata lirih, seperti kepada dirinya. “Bahagia? Apakah itu bahagia? Adakah keadaan yang disebut bahagia? Ataukah itu hanya merupakan sebutan saja, merupakan bentukan khayal yang timbul karena keinginan manusia terlepas dari kesengsaraan? Siapakah yang membayangkan bahwa ada keadaan bahagia di dalam hidup? Tentu hanya orang?orang yang sengsara! Orang?orang yang sengsara dan menderita menciptakan khayal yang berlawanan dan berlainan daripada keadaan hidupnya sendiri, menciptakan khayalan keadaah hidup yang sebaliknya dan yang disebutnya bahagia! Maka hanya orang?orang yang sengsara sajalah, yang merasa bahwa dia tidak bahagia, yang merindukan kebahagiaan! Orang yang tidak merasa menderita sengsara, apakah dia merasa adanya bahagia itu? Tentu tidak, karena sekali dia bahagia, itu bukaniah kebahagiaan lagi namanya! Kebahagiaan yang dirasakan berarti “kesenangan” dan sekali kesenangan dirasakan, maka kesenangan akan membuatnya menjadi pecandu dan setiap kali dia akan selalu mengejar kesenangan serupa untuk diulang kembali!”

Hong Ing memandang dengan mata terbelalak. Tak disangkanya pemuda gundul ini dapat bicara seperti itu. Kata-katanya biasa saja, akan tetapi inti sarinya meresap ke dalam sanubarinya, membuat dia seolah-olah dibangunkan dari mimpi dan melihat kenyataan.

“Kalau begitu, apakah bahagia itu, Kun Liong?” tanyanya lirih seolah-olah ada rasa hormat tersembunyi dalam hatinya terhadap pemuda itu.

“Entahlah, mungkin itu hanya sebutan saja dan sebutan atau nama sebuah keadaan atau benda bukanlah si keadaan atau si benda itu sendiri. Kalau dapat dituturkan dan digambarkan, itu jelas bukanlah kebahagiaan namanya, melainkan kesenangan. Kebahagiaan bukanlah benda mati, bukankah keadaan yang mati tak berubah lagi, karena itu tidak mungkin digambarkan, tidak mungkin dicari dan dikejar. Maka itu, kiranya tidak akan meleset jauh kalau kukatakan bahwa KEBAHAGIAAN HANYA MENJENGUK ISI HATI MEREKA YANG TIDAK MEMBUTUHKAN KEBAHAGIAAN!”

Hong Ing melongo, tiba-tiba menangkap kedua tangannya dan berkata penuh hikmat, “Omitohud…!”

Kun Liong baru sadar dan dia seperti ditarik kembali ke dunia lama. “Heiii! Apa-apaan kau ini, seperti seorang nikouw tulen saja, pakai omitohud segala?”

Hong Ing menurunkan kedua tangannya, masih memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak dan agaknya dia pun baru saja sadar akan keadaan yang berbeda dengan biasanya tadi. “Ah, Kun Liong, ketika kau bicara tadi… kau menjadi… lain! Wajahmu penuh wibawa, tapi penuh kehalusan… membuat aku menjadi hormat dan takut. Kau… kau aneh sekali. Dari mana kau memperoleh semua pelajaran tentang hidup itu? Pelajaran yang begitu terbuka dan aneh, namun yang mau tak mau harus kuakui kebenarannya itu?”

Sejenak Kun Liong tidak mampu menjawab, kemudian katanya ragu-ragu, “Entahlah, Hong Ing. Mungkin juga dari kitab, tapi entah kitab apa yang pernah menyebutkan semua itu tentang bahagia. Terlalu banyak aku membaca kitab yang hampir kesemuanya menjanjikan kebahagiaan?kebahagiaan kosong. Lamunan khayal yang membuat orang seperti boneka atau seperti dalam mimpi, tak pernah dapat melihat kenyataan hidup seperti apa adanya.”

“Hemm, kutu buku! Mempelajari segala hal dari buku, apa sih artinya? Hanya merupakan pendapat orang lain belaka, pendapat para penulisnya, pengarangnya! Kalau si pengarang bijaksana dan pandai, belum tentu kita ketularan kebijaksanaan dan kepandaiannya, akan tetapi kalau si pengarang dungu, kita terseret ke dalam kedunguannya!”

Kun Liong mengangguk-angguk. “Kau betul, ucapanmu tepat sekali, Hong Ing.”

“Kau yang pandai bicara tentang kebahagiaan, apakah engkau pernah merasa bahagia, Kun Liong?”

Kepala yang gundul itu tak bergerak sampai lama, kemudian dia menggeleng ragu. “Kalau kuingat-ingat, aku hanya terlalu sering merindukan kebahagiaan. Kalau aku sedang sakit terbayang olehku betapa bahagianya kalau sehat, padahal kalau sehat tidak terasa lagi kebahagiaan dari kesehatan itu. Bagi orang lapar, kebahagiaan adalah kalau memperoleh makanan. Pendeknya, kebahagiaan selalu berada di masa depan, sebagai harapan dan keinginan yang dikejar-kejar, namun setelah terpegang tangan, kebahagiaan itu sendiri terbang lenyap, dan tampak di depan lagi, seperti seekor burung merpati, kelihatan jinak namun tak pernah dapat ditangkap! Entahlah, kurasa aku belum pernah menangkapnya.”

“Bagaimana saat sekarang ini? Apakah kau berbahagia?” Hong Ing bertanya sambil menatap wajah tampan itu.

“Sekarang ini? Ah, pertanyaanmu sungguh aneh, Hong Ing. Bagaimana aku bisa berbahagia dalam keadaan begini? Tidak, aku malah merasa susah dan sengsara karena kita berdua harus saling berpisah dalam keadaan seperti ini, menjadi orang-orang buruan pemerintah! Kita akan saling berpisah dan entah bagaimana jadinya kelak dengan nasib kita masing?masing. Tidak, Hong Ing, saat ini aku tidak hahagia.”

“Tapi aku berbahagia, Kun Liong!”

“Haiii…? Kau…?”

“Hemm, agaknya pengetahuan dari kitab-kitabmu tidak ada gunanya, Kun Liong. Tahu dari kitab saja percuma, yang penting harus menghayatinya sendiri.”

“Tapi, kau… kau berbahagia? Mana bisa? Mana mungkin?”

“Mengapa tidak mungkin? Aku merasa berbahagia, mengapa tidak mungkin?”

“Sebabnya?”

“Apa sebabnya? Hanya berbahagia, titik, tidak ada sebabnya lagi.”

“Tapi… haii!!! Siapa itu…?” Kun Liong berseru keras karena pada saat itu terdengar suara tertawa, suara ketawa yang luar biasa nyaringnya sehingga menggetarkan seluruh hutan, kemudian bergema di semua penjuru hutan itu. Kun Liong meloncat lagi, mengejar ke sana-sini karena sukar mencari dari mana asal suara ketawa itu. Namun ternyata sia-sia belaka. Seperti juga tadi, biarpun dia sudah menyelidiki dari atas pohon, tidak tampak bayangan seorang pun manusia. Dia melayang turun lagi, mencari ke sana-sini di balik semak-semak dan, kini Hong Ing juga ikut mencari. Akhirnya mereka berdua saling pandang dan Hong Ing bergidik.

“Bu… bukan manusia…!” katanya berbisik dan wajahya yang cantik itu jelas kelihatan ngeri dan takut. Dia memang seorang dara yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, akan tetapi menghadapi suara ketawa menyeramkan yang tidak ada orangnya itu, benar-benar membuat nyalinya menyempit.

“Ahhh, tidak mungkin. Tentu manusla! Biar kucari lagi dari atas pohon tertinggi itu!” Kun Liong meloncat lagi ke atas pohon dan memanjat dari cabang ke cabang sampai dia berada di puncak pohon. Dia mengintai ke empat penjuru dan tiba-tiba dia melihat debu mengebul, tinggi dari arah barat. Pasukan berkuda! Melihat bendera dan pakaian seragam, tahulah dia bahwa tentu pasukan itu pasukan pemerintah yang mengejar dia dan Hong Ing! Maka cepat dia melayang turun lagi.

“Ada pasukan berkuda dari barat, tentu mengejar kita!” katanya.

“Ahhh… bagaimana baiknya?” Hong Ing berkata, memandang wajah Kun Liong dengan bingung.

“Kita lari saja. Di antara mereka tentu terdapat orang pandai…, mungkin yang tadi tertawa adalah orang mereka. Hayo kita lari ke timur!” Maka larilah kedua orang muda itu menuju ke timur. Mereka lari secepatnya, menyusuri sepanjang pantai Sungai Huang-ho terus ke timur.

Beberapa hari kemudian kedua orang muda yang melarikan diri itu sudah tiba di lembah muara Sungai Huang-ho, dekat dengan pantai Teluk Pohai. Cepat keduanya memasuki hutan dan akhirnya Kun Liong menemukan kuil Kwan-im-bio yang berada di dalam hutan itu. Sebuah kuil kecil yang terpencil sendiri di dalam hutan. Kuil kosong dan biarpun di situ masih terdapat meja sembahyang dan beberapa buah bangku, namun semua bangku itu kotor dan bahkan arca Kwan Im Pouwsat juga tidak ada di situ. Akan tetapi Kun Liong memang sudah mempersiapkan diri ketika lari dalam beberapa hari ini. Dia sudah membeli lilin dan hio, maka cepat-cepat bersama Hong Ing dia membersihkan kuil itu kemudian menutupi tempat arca dengan saputangan sutera milik Hong Ing agar tidak kelihatan dari luar tempat arca yang kosong, mengatur lilin di atas meja. Pendeknya keduanya berusaha keras agar kuil itu kelihatan sebagai kuil yang masih bekerja. Tiga hari mereka bersembunyi di kuil itu. Pada hari ke empatnya, dari jauh sudah terdengar derap kaki kuda. Mengertilah kedua orang muda itu bahwa para pengejar mereka telah tiba di dalam hutan itu! Maka sibuklah mereka berdua. Kun Liong menyalakan lilin, memasang belasan batang hio dan menancapkannya di atas meja sehingga asap hio yang harum semerbak keluar dari kuil itu. Tak lama kemudian terdengarlah suara jernih dari Hong Ing yang sudah berliam-keng (membaca ayat suci) sambil mengatur iramanya dengan memukul alat yang khusus dibuat untuk itu dan yang masih ada di dalam kuil! Kun Liong sendiri juga sudah menutupi kepalanya dengan kain putih meniru gaya Hong Ing, dan sambil berlutut dan mulut kemak-kemik dia pun tekun memukuli alat untuk liam-keng itu dengan gencar.

Maka ramailah di kuil itu, suara Hong Ing berliam-keng diiringi suara tak-tok tak-tok nyaring! Suara ini ditambah asap hio mengepul harum memang cukup mendatangkan suasana kuil. Dengan hati berdebar tegang kedua orang itu berlutut dan sengaja memilih ruangan dalam yang gelap, menghadapi meja sembahyang dan menundukkan muka sehingga penutup kepala itu menutupi muka mereka dari samping. Dilihat sepintas lalu, tentu saja mereka merupakan dua orang nikouw yang sedang tekun membaca doa dan suara Hong Ing tidak dapat disangsikan lagi sebagai suara seorang wanita, seorang nikouw.

Derap kaki kuda makin jelas terdengar dan akhirnya terdengar teriakan dan rombongan itu berhenti di kuil. Tepat seperti yang dikhawatirkan oleh Kun Liong, beberapa orang meloncat turun dari kuda dan memasuki kuil! Langkah kaki yang kasar memeriksa ke dalam kuil dan akhirnya memasuki ruangan di mana dia dan Hong Ing berlutut. Hong Ing makin gencar membaca doa, demikian cepatnya sehingga menyelimuti suaranya yang agak gemetar saking tegangnya. “Tidak ada nikouw lain, hanya ada dua orang ini,” terdengar suara orang laki-laki.

“Tentu tidak berada di sini. Kalau ada, tak mungkin mereka dapat bersembunyi.” kata suara laki-laki ke dua.

“Nanti dulu!” Suara wanita ini membuat Kun Liong terperanjat bukan main. Itulah suara Si Gendut Kim Seng Siocia dan diam-diam dia bergidik! Wanita gendut ini amat cerdik dan ternyata Kim Seng Siocia sudah memandang ke arah sepatu yang dipakai Kun Liong dan Hong Ing.

“Heh, Nikouw! Berhentilah dahulu berliam-keng!” Kim Seng Siocia membentak. “Apakah kalian melihat seorang pemuda gundul dan seorang nikouw muda lewat di tempat ini?”

Hong Ing terus berliam-keng dengan suara nyaring, sedangkan Kun Liong cepat menggeleng-gelengkan kepala tanpa menjawab, mulutnya terus kemak-kemik dan tangannya memukuli alat itu makin gencar.

“Ah, dua orang nikouw ini mana melihat hal lain kecuali berliam-keng? Mereka akan berliam-keng sampai mati, memesan tempat di sorga, ha-ha-ha!” Terdengar suara laki-laki pertama.

Langkah kaki mereka meninggalkan tempat itu dan hati Kun Liong sudah mulai lega ketika tiba-tiba suara Kim Seng Siocia membuatnya terkejut setengah mati.

“Nikouw! Kenapa sepatu kalian kotor berdebu?”

Pertanyaan itu diucapkan dengan bentakan yang begitu tiba-tiba sehingga Kun Liong yang terkejut itu menjawab gagap, “Ohhh… ehhh… belum kami bersihkan…!” Dia terbeialak dan melongo ketika melihat kesalahannya sendiri. Dalam gugupnya dia telah membuka mulut memperdengarkan suaranya yang tentu saja tidak pantas menjadi suara seorang wanita, bahkan dengan mengatakan bahwa mereka berdua belum membersihkan sepatu berarti dia telah membuka rahasia.

“Tangkap mereka!” Kim Seng Siocia berseru keras dan terdengar cambuk hitam di tangannya bersuitan.

Kun Liong dan Hong Ing sudah meloncat bangun dan sambil mendorong tubuh Hong Ing agar mundur, Kun Liong sudah menggerakkan ranting yang berada di tangannya menangkis cambuk. Memang dia sudah menyembunyikan dua batang ranting itu di dalam jubahnya tadi, menjaga segala kemungkinan.

Kim Seng Siocia dan dua orang kang-ouw yang tadi melakukan pemeriksaan, setelah melihat bahwa dua orang itu adalah orang-orang yang mereka kejar, cepat melompat keluar karena mereka bertiga maklum betapa lihainya dua orang itu. Kun Liong berbisik, “Hati-hati, Hong Ing. Kita harus mencari jalan keluar dan melarikan diri.”

Hong Ing hanya mengangguk, akan tetapi sedikit pun hati dara ini tidak kuatir. Dia berada di samping Kun Liong dan kenyataan ini mendatangkan keberanian luar biasa. Dia mengikuti Kun Liong berloncatan keluar dan setelah tiba di luar kuil, tampaklah oleh mereka musuh-musuh mereka dengan lengkap! Pangeran Han Wi Ong, Kim Seng Siocia, Go-bi Sin-kouw, para panglima pengawal dan masih tampak belasan orang yang melihat pakaian mereka tentulah orang-orang kang-ouw. Kun Liong merasa heran melihat orang-orang kang-ouw membantu pemerintah untuk menangkap orang buruan. Dia tidak tahu bahwa orang-orang ini bukan semata-mata membantu pemerintah, akan tetapi lebih condong untuk mencari bokor emas karena mereka menganggap bahwa Kun Liong satu-satunya orang yang agaknya tahu di mana adanya bokor emas yang tulen. Di samping mereka ini, masih ada seregu pasukan terdiri dari lima puluh orang perajurit!

Maklumlah Kun Liong bahwa melawan orang sebanyak itu amat berbabaya. Apalagi kalau mengingat akan kepandaian orang aneh yang tadi mentertawakannya, yang dia tidak tahu siapakah orangnya di antara para orang kang-ouw itu. Kalau melawan tentu akan membahayakan keselamatan Hong Ing. Maka tanpa banyak cakap lagi, tiba-tiba dia merangkul pinggang Hong Ing, mengempitnya dan membawanya meloncat sambil mengerahkan gin-kangnya. Tubuhnya mencelat ke kiri, ke arah orang-orang kang-ouw karena dia sudah tahu akan kelihaian Kim Seng Siocia dan Go-bi Sin-kouw yang berada di depannya.

“Kejar!”

“Tangkap!”

Empat orang kang-ouw yang kebetulan berada di sebelah kiri sudah menyambit Kun Liong, akan tetapi tangan pemuda ini menggerakkan rantingnya dan berturut-turut robohlah empat orang kang-ouw itu sebelum mereka tahu bagaimana mereka dapat dirobohkan. Gerakan ranting itu hebat bukan main dan memang Kun Liong telah mainkan Ilmu Tongkat Siang-liong-pang yang amat luar biasa. Setelah berhasil merobohkan empat orang itu, cepat Kun Liong melarikan diri dan setelah agak jauh barulah dia melepaskan tubuh Hong Ing, memegang tangan dara itu dan mengajaknya berlari terus menuju ke timur. Di belakang mereka terdengar teriakan-teriakan orang dan derap kaki kuda. Mereka dikejar terus oleh rombongan itu!

Sehari semalam mereka terus melarikan diri dan pada sore harinya, mereka tiba di pantai Teluk Pohai! Jalan buntu! Di depan mereka membentang luas air laut dan di belakang mereka rombongan itu masih mengejar terus! Melihat keadaan ini, Hong Ing memegang lengan Kun Liong dan berkata, “Kun Liong, kau larilah selagi masih ada kesempatan! Tak ada gunanya lagi kau mati-matian melindungiku, Kun Liong, sampai mati aku akan berterima kasih kepadamu, akan tetapi jangan kau mengorbankan diri untukku. Pergilah dan tinggalkan aku di sini. Aku dapat menghadapi mereka.”

Kun Liong mengerutkan alisnya. “Kau dapat menghadapi mereka? Bagaimana? Kau tentu akan ditangkap oleh gurumu dan akan dipaksa menikah dengan pangeran itu kalau tidak dibunuh.”

“Aku tidak takut! Aku akan melawan dan kalau aku kalah sebelum ditawan aku dapat membunuh diri.”

“Tidak!” Kun Liong mencengkeram lengan dara itu sampai Hong Ing merintih, baru dia teringat dan melepaskannya. “Aku tidak akan pergi meninggalkanmu selama aku masih hidup. Aku tidak bisa membiarkan engkau ditawan atau membunuh diri. Hong Ing, jangan bicara yang bukan-bukan, mari kita lawan mereka. Kita bukanlah orang-orang lemah dan lebih baik mati sebagai harimau daripada mati seperti babi, mati konyol!”

Hong Ing menggigit bibir dan dua titik air matanya jatuh, dia tidak mampu menjawab, hanya mengangguk-angguk. Sementara itu, dari jauh sudah tampak debu mengebul dan tak lama kemudian kelihatan rombongan pengejar itu mendekati pantai.

“Hong Ing, jangan kau bergerak dulu, kau berdiri sajalah di belakangku.” Sambil berkata demikian, Kun Liong memegang tangan dara itu dan meloncat ke atas sebuah batu karang besar yang berada di pinggir laut itu. Dengan sikap gagah dia berdiri tegak. Hong Ing di bebelakangnya seolah-olah dia hendak melindungi dara itu dari segala mara bahaya.

Rombangan pengejar itu berhenti di depannya. Mereka turun dari atas kuda dan memandang pemuda itu, tidak berani sembarangan turun tangan melihat sikap pemuda itu yang sama sekali tidak kelihatan gentar. Kemudian terdengar suara Kun Liong lantang bergema. “Pangeran Han Wi Ong sebagai seorang pembesar tinggi, seorang bangsawan agung, ternyata tingkah lakumu sama sekali tidak patut menjadi tauladan rakyat! Engkau hendak mempergunakan pengaruh kedudukan dan kekuasanmu untuk memaksa seorang dara menjadi isterimu! Engkau tidak bercermin. Lihatlah mukamu sendiri dalam cermin. Engkau juga hanya seorang manusia biasa, tiada bedanya dengan aku atau Hong Ing, mengapa engkau hendak memaksa dia menjadi isterimu? Kalau seorang pembesar sebejat engkau wataknya, bagaimana pula dengan bawahanmu yang akan mencontoh perbuatanmu?”

Muka pangeran itu sebentar merah sebentar pucat mendengar ini. Dia marah sekali, karena menganggap pemuda itu terlalu kurang ajar, tidak tahu apa yang dideritanya selama ini, dia benar-benar cinta kepada Pek Hong Ing, dara perkasa yang dikaguminya. Dia mengajukan lamaran dengan baik-baik dan sudah diterima oleh Go-bi Sin-kouw sebagai wali dara itu! Bagaimana dia dimaki-maki seperti itu? Adalah pemuda itu yang kurang ajar dan tidak patut, melarikan calon isteri orang!

“Kim Seng Siocia, engkau juga seorang wanita yang berakhlak bejat! Tidak malukah engkau hendak memaksa seorang pria seperti aku menjadi suamimu? Engkau ini sepatutnya berjodoh dengan Pangeran Han Wi Ong, karena sama-sama hendak memaksa orang menjadi jodohnya!”

Kim Seng Siocia tertawa lebar. “Bocah lucu, kalau sudah tertawan, aku akan menjewer telingamu biar kau bertaubat, hi-hik!”

“Dan engkau, Go-bi Sin-kouw. Guru macam engkau ini pun bukan merupakan seorang guru yang baik! Mana ada guru yang katanya mencinta muridnya hendak menjerumuskan murid sendiri? Jelas bahwa muridmu, Pek Hong Ing, tidak suka menjadi isteri Pangeran Han Wi Ong, akan tetapi kau hendak memaksanya. Aku tahu hal ini adalah karena kau ingin mendapatkan kehormatan dan harta. Engkau tidak patut menjadi guru, pantasnya sikapmu itu sikap seorang biang pelacur!”

“Dan kalian orang-orang kang-ouw dan para perajurit! Percuma saja hidup seperti kalian ini, mencari uang dan kedudukan dengan jalan membunuh orang lain, kalian adalah boneka-boneka sial yang mau saja ditipu dan diperalat oleh segelintir manusia macam Pangeran Han Wi Ong yang mengejar kedudukan! Betapa murah harga diri dan nyawa kalian!”

“Serbu! Bunuh saja keparat itu!” Tiba-tiba terdengar perintah yang keluar dari mulut Pangeran Han Wi Ong. “Dan tangkap nona itu!”

“Tidak! Jangan bunuh calon suamiku!” Kim Seng Siocia membantah.

Menyerbulah semua orang itu ke batu karang dan terpaksa Kun Liong meloncat turun lalu mengamuk dengan sepasang ranting di tangannya. Dia mainkan Siang-liong-pang dan berturut-turut robohlah beberapa orang perajurit yang terdekat. Akan tetapi betapapun juga, Kun Liong tetap tidak mau membunuh orang dan selalu mengatur gerakan kedua ranting di tangannya sehingga yang roboh olehnya hanya menderita tertotok, luka ringan atau patah tulang saja. Dalam waktu singkat Kun Liong sudah dikeroyok seperti seekor jangkerik dikeroyok banyak sekali semut yang nekat. Melihat betapa Kun Liong dengan nekat menghadapi pengeroyokan dan semua itu dilakukan demi melindunginya, Hong Ing segera meloncat turun pula dan mengamuk. Dia ingin mati di samping pemuda ini!

Seru dan hebat sekali pertandingan yang berat sebelah itu berlangsung di tepi pantai yang berhutan. Hong Ing sudah berhasil merampas sebatang pedang milik seorang pengeroyok dan kini dia mengamuk seperti seekor singa betina.

Hanya subonya saja yang diseganinya dan dia sama sekali tidak mau melawan subonya, maka setiap kali gurunya ini menerjang, dia selalu lari ke lain bagian untuk mengamuk di antara para pengeroyoknya. Melihat ini Kun Liong mengerti bahwa kalau Go-bi Sian-kouw mendesak dan memaksa Hong Ing melayaninya, dara itu tentu akan mengalah dan mudah tertawan. Maka dia menggerakkan sepasang rantingnya selalu menghadang dan mendesak Go-bi Sin-kouw sehingga nenek ini tidak sempat lagi mengejar Hong Ing.

Biarpun dia sudah memiliki tingkat kepandaian silat yang tinggi sekali, namun menghadapi pengeroyokan orang-orang pandai itu, Kun Liong merasa kewalahan juga. Apalagi dia tidak mau membunuh orang! Kim Seng Siocia dengan cambuk hitamnya, Go-bi Sin-kouw dengan tongkat bututnya, dan tujuh orang kang-ouw yang memegang bermacam senjata dan rata-rata memiliki kepandaian tinggi, membuat Kun Liong repot sekali. Namun dia terheran-heran mengapa di antara mereka ini tidak terdapat orang sakti yang telah mengganggunya dengan suara ketawa itu dan hal ini melegakan hatinya. Kalau ada orang itu, agaknya dia tidak akan dapat lama bertahan. Namun sekarang dia makin terdesak juga karena untuk menggunakan Thi-khi-i-beng yang diandalkannya, tidak ada kesempatan baginya. Berulang kali Kim Seng Siocia memperingatkan kawan-kawannya dengan teriakan agar jangan sampai menjadi korban Thi-khi-i-beng. “Awas!” teriaknya. “Dia pandai Ilmu Mujijat Thi-khi-i-beng! Jangan biarkan tubuhmu menyentuhnya, gunakan saja ujung senjata untuk mendesak! Tangkap dia!”

Memang dengan peringatan ini, para pengeroyok hanya mengurung saja, tidak berani terlalu mendesak sehingga dia tidak terancam bahaya senjata lawan, namun dengan dikurung ketat seperti itu, dia takkan dapat meloloskan diri dan pula dia tentu akan kehabisan tenaga. Di samping ini, yang menggelisahkan hatinya adalah bahwa dia tidak dapat menolong Hong Ing dan hanya melihat dengan hati gelisah betapa dara itu pun dikeroyok oleh banyak sekali panglima dan perajurit.

Selagi Kun Liong merasa bingung sekali, tiba-tiba dia melihat bayangan seorang gadis yang membuatnya girang dan jantungnya berdebar. Akan tetapi hatinya yang girang itu segera berubah heran dan bingung, juga kecewa ketika melihat bahwa gadis itu yang bukan lain adalah Cia Giok Keng, datang bersama dengan Liong Bu Kong, putera dari Ketua Kwi-eng-pang! Saking herannya, dia tidak jadi berteriak memanggil dan dia melihat betapa dara itu bercakap-cakap dengan Pangeran Han Wi Ong.

Tak lama kemudian terjadilah hal yang sama sekali tidak diduganya akan tetapi yang segera dapat dimengertinya. Cia Giok Keng dan Liong Bu Kong sudah menyerbu ke medan pertandingan dan ikut pula mengeroyoknya! Tanpa menegur pun tahulah dia mengapa Giok Keng membantu Pangeran Han Wi Ong. Ayah dara itu, supeknya Si Pendekar Sakti Cia Keng Hong, adalah seorang yang terkenal sering membantu pemerintah. Maka kini puterinya tentu saja membantu pasukan pemerintah, apalagi karena agaknya pangeran itu sudah memutarbalikkan kenyataan ketika bicara dengan Giok Keng tadi. Benar saja dugaannya, sambil menudingkan pedangnya Giok Keng memaki, “Yap Kun Liong! Mengapa kau menjadi begini tersesat? Lebih baik kau menyerah agar mendapatkan pengadilan yang resmi! Kau telah melarikan isteri orang? Sungguh terlalu kau!”

“Jangan dengarkan obrolan pangeran konyol itu, Giok Keng!” teriak Kun Liong penasaran. “Gadis ini mau dipaksanya menjadi isterinya, aku hanya menolong…!”

“Aku tahu watak mata keranjangmu!”. Giok Keng membentak dan kini pedangnya ikut bicara. Juga Liong Bu Kong yang diam-diam tersenyum girang ikut pula menerjang maju. Tentu saja Kun Liong menjadi makin kewalahan. Baru menghadapi pengeroyokan tadi saja dia sudah repot, kini ditambah dua orang yang memiliki kepandaian begini tinggi, tentu saja dia menjadi makin sibuk.

Seperti diceritakan di bagian depan, Giok Keng dan Bu Kong sedang meninggalkan Pantai Pohai, baru saja mereka mengambil pusaka-pusaka yang disembunyikan pemuda itu dan hendak berangkat ke Siauw-lim-si. Di tepi pantai ini, dekat muara karena mereka bermaksud menggunakan perahu, mereka melihat ramai-ramai dan ternyata Yap Kun Liong si pemuda gundul yang dikeroyok oleh pasukan tentara. Tepat seperti diduga oleh Kun Liong, Giok Keng yang bicara dengan Pangeran Han Wi Ong menanyakan peristiwa itug mendengar bahwa Kun Liong melarikan gadis yang menjadi isteri pangeran itu. Tentu saja Giok Keng menjadi marah dan terus menyerbu bersama Bu Kong.

Tubuh Kun Liong sudah basah semua oleh peluh, seperti juga tubuh Hong Ing yang membela diri mati-matian. Hanya bedanya, kalau orang-orang yang dirobohkan oleh Kun Liong hanya menderita tulang patah atau tertotok lumpuh, mereka yang roboh oleh pedang Hong Ing tak dapat bangkit lagi, bahkan banyak yang tewas seketika! Namun Hong Ing sendiri juga sudah menderita beberapa luka-luka ringan di lengan dan pahanya. Betapapun juga, dara ini mengamuk terus, mengambil keputusan untuk mempertahankan diri sampai titik darah terakhir!

Diam-diam Cia Giok Keng heran bukan main, juga kagum. Baru sekarang dia menyaksikan dengan matanya sendiri betapa lihainya pemuda gundul itu. Ilmu tongkatnya yang dimainkan oleh kedua tenaga Kun Liong yang menggunakan sepasang ranting benar-benar amat luar biasa, aneh dan juga tangguh sekali. Belum pernah Giok Keng menyaksikan ilmu tongkat sehebat itu. Kemana pun tongkat berkelebat, tentu ada pengeroyok yang terdesak hebat, dan dari manapun datangnya hujan senjata tentu dapat ditangkis oleh sebatang di antara dua ranting itu! Dan kekebalan tubuh Kun Liong juga mengagumkan sekali. Beberapa kali tubuh pemuda itu terkena bacokan, namun hanya bajunya saja yang robek sedangkan kulit tubuhnya sama sekali tidak terluka. Tentu saja bacokan dan gebukan itu hanya dilakukan dengan senjata biasa. Buktinya, pemuda itu sama sekali tidak pernah berani menerima sambaran pedangnya, Gim-hwa-kiam, dan pedang Lui-kong-kiam di tangan Bu Kong dengan tubuhnya. Jelas bahwa kekebalan tubuh Kun Liong masih belum dapat menahan pedang pusaka! Dan sekali ini Giok Keng yang cerdik ternyata salah duga. Ketika tubuh Kun Liong terkena hantaman golok, pedang atau tombak, bukan sekali-kali dia menerima senjata itu dengan sengaja, melainkan karena terlalu banyaknya senjata yang datang menyerangnya membuat dia tidak sempat mengelak atau menangkis lagi. Maka terpaksa dia mengerahkan sin-kang melindungi tubuhnya sehingga kulitnya menjadi kebal. Dan kalau dia menghendaki, belum tentu pedang pusaka itu dapat pula melukainya! Tentu saja Kun Liong tidak mau mencoba-coba, karena selain berbahaya, juga dia tidak menghendaki kalau puteri supeknya ini merasa terhina.

Maklumlah Kun Liong bahwa dia dan Hong Ing tidak akan tertolong lagi. Pihak pengeroyok terlampau kuat. Karena dia tahu bahwa tidak mungkin bagi Hong Ing untuk menyerah yang berarti dia harus mau menjadi isteri pangeran itu, maka tidak akan ada gunanya untuk membujuk dara itu menyudahi perlawanan. Dia lalu memekik nyaring, pekik dahsyat yang mengejutkan para pengerayoknya, apalagi ketika dari tangan kiri Kun Liong menyambar pukulan yang mengeluarkan uap putih dan yang menyambar dengan kekuatan dahsyat, bahkan Giok Keng sendiri sampai meloncat mundur. Kim Seng Siocia yang memandang rendah, terkena hantaman hawa pukulan ini dan dia menjerit sambil terhuyung mundur, mulutnya mengeluarkan darah segar tanda bahwa isi dadanya terguncang oleh Pukulan Pek-in-ciang yang dilakukan Kun Liong tadi. Memperoleh kesempatan selagi para lawannya mundur, cepat seperti kilat menyambar tubuhnya telah mencelat ke dekat Hong Ing yang sudah payah. Datangnya pemuda ini tentu saja merubah keadaan Hong Ing yang timbul kembali semangatnya melihat betapa enam orang pengeroyok terlempar ke sana-sini oleh kaki tangan Kun Liong yang marah menyaksikan dara itu terdesak dan terancam. “Kun Liong, mari kita mati bersama…” Hong Ing berbisik.

“Tidak, kita harus hidup! Kita lawan mereka!” teriak Kun Liong penasaran.

Kini para pengeroyok itu menerjang maju dan mengurung Kun Liong dan Hong Ing yang berdiri saling membelakangi, dengan punggung hampir mepet beradu, dan dengan sikap gagah, siap menanti setiap terjangan lawan dari manapun juga datangnya.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa yang luar biasa. Ketawa itu sambung-menyambung seperti halilintar di musim hujan, bergema di seluruh penjuru dan membawa kekuatan yang menggetarkan jantung setiap orang yang berada di situ. Bahkan ada belasan orang perajurit yang kurang kuat, merasa kakinya lumpuh dan mereka ini menggigil hampir roboh mendengar suara ketawa penuh dengan tenaga khi-kang itu.

“Ha-ha-ha-ha! Bermacam-macam orang mengeroyok seorang hwesio muda dan seorang nikouw muda! Dunia ini akan menjadi apa kalau orang-orang sudah mengeroyok dua orang alim? Ha-ha!”

Semua orang, termasuk Kun Liong dan Hong Ing, mengangkat muka memandang. Dari dalam hutan itu muncullah seorang yang tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, berkepala gundul dan berpakaian seperti pendeta Lama dengan jubah lebar berwarna merah! Lama jubah merah! Sudah terkenal bahwa pendeta Lama jubah merah merupakan segolongan pendeta yang berilmu tinggi dan berpengaruh di Tibet! Anehnya, pendeta Lama tinggi besar ini memanggul sebuah peti mati! Peti mati yang sederhana sekali, hanya sebuah peti lonjong bertutup, terbuat dari kayu yang hitam mengkilap.

“Ha-ha-ha-ha, mengeroyok nikouw dan hwesio sama artinya dengan menantang aku! Mundurlah kalian semua, kalau tidak, terpaksa pinceng (aku) melakukan pelanggaran pantangan membunuh hari ini, ha-ha-ha! Sayang peti matiku hanya sebuah, sedangkan kalian begitu banyak, mana cukup?”

“Hwesio gila…!” Lima orang kango-uw dan belasan orang perajurit yang tadi berada di bagian luar pengepungan dan kini paling dekat dengan hwesio raksasa itu, menyerbu dengan senjata mereka yang bermacam-macam. Pendeta Lama itu hanya tertawa tanpa menurunkan peti mati yang dipanggul di pundak kanannya. Ketika belasan orang itu mendekat, pendeta Lama ini menggerakkan lengan kirinya yang berjubah lebar. Angin yang dahsyat menyambar seperti badai dan… lima orang kang-ouw bersama belasan orang perajurit itu roboh dan tidak dapat bangun kembali!

“Ha-ha-ha, segala macam tikus busuk hendak melawan pinceng? Tidak ada gunanya! Pinceng baru mau bertanding sungguh-sungguh kalau lawan pinceng yang seimbang maju. Hayo, mana dia yang berjuluk Go-bi Thai-houw? Mana dia Bun Hwat Tosu dan Tiang Pek Hosiang? Suruh mereka maju, atau Sin-jiu Kiam-ong dan Panglima The Hoo! Ha-ha-ha, apakah mereka itu tidak ada yang berani melawan Kok Beng Lama?”

Semua orang, terutama sekali Kun Liong dan Giok Keng, terkejut bukan main mendengar ucapan itu. Lama ini menantang-nantang semua orang sakti yang amat terkenal, bahkan yang sebagian besar sudah meninggal dunia! Bahkan guru dari Cia Keng Hong yang bernama Sin-jiu Kiam-ong (baca cerita Pedang Kayu Harum) juga ditantangnya, termasuk Panglima The Hoo yang sakti luar biasa!

Mendengar bekas majikannya yang dipuja-puja, yaitu Go-bi Thai-houw disebut-sebut, marahlah Kim Seng Siocia. Dia berteriak keras dan melompat ke depan. Tubuh yang gendut itu ternyata dapat bergerak gesit sekali dan terdengarlah bunyi ledakan keeil berturut-turut ketika cambuk hitamnya melecut-lecut di udara kemudian meluncur ke arah kakek pendeta Lama itu.

“Ha-ha-ha, bagus juga Si Gendut ini!”

Kakek itu menerima lecutan cambuk hitam dengan mengangkat tangan kirinya dan… seperti besi disedot semberani, ujung cambuk hitam itu melayang ke arah tangan Si Kakek lihai lalu ditangkapnya.

“Lepaskan cambukku! Aihhh…!” Kim Seng Siocia mengerahkan tenaganya membetot, namun cambuknya seperti telah berakar ditangan kakek itu yang masih tertawa-tawa, kemudian tiba-tiba dilepaskanlah cambuk itu sehingga tubuh yang gendut dari Kim Seng Siocia itu terjengkang dan terguling-guling, diikuti suara ketawa kakek itu!

Kim Seng Siocia sudah berdiri lagi, memutar-mutar cambuknya mengikuti sepasang matanya yang juga terputar-putar. Kemudian dia menerjang maju, bersama dengan yang lain. Melihat permainan senjata bukan saja dari Kim seng Siocia, akan tetapi juga Go-bi Sin-kouw dan terutama sekali gerakan pedang di tangan Giok Keng dan Bu Kong, diam-diam kakek itu merasa kagum. Dia tertawa panjang dan tubuhnya sudah meluncur ke dekat Kun Liong dan Hong Ing.

“Kallan tidak lekas masuk ke dalam peti mati selagi masih hidup, apakah menunggu sampai mampus baru dimasukkan? Ha-ha-ha!”

Kun Liong dan Hong Ing maklum bahwa kakek inilah agaknya yang tertawa di dalam hutan kemarin, dan dapat menduga bahwa kakek ini datang untuk menolong mereka, maka Kun Liong lalu menyambar tangan Hong Ing dan ketika melihat peti itu yang dipanggul oleh Si Kakek tahu-tahu sudah terbuka sendiri tutupnya, dia lalu membawa Hong Ing meloncat ke dalam peti mati yang segera tertutup kembali!

Biarpun para lawannya sudah menerjang maju, pendeta Lama itu tidak melepaskan peti mati, bahkan dia lalu tertawa dan kini lengking ketawanya mengandung tenaga yang sedemikian dahsyatnya sehingga Giok Keng, Bu Kong, Kim Seng Siocia, Go-bi Sin-kouw dan beberapa orang kang-ouw, cepat meloncat mundur, mengerahkan sin-kang untuk menahan pengaruh suara yang menggetarkan jantung mereka itu. Pangeran Han Wi Kong sendiri yang berdiri agak jauh, sudah terjungkal roboh dan pingsan, sedangkan banyak perajurit roboh dan tewas seketika, telinga mereka mengeluarkan darah segar! Keadaan menjadi sunyi sekali setelah kakek itu menghentikan suara lengkingannya yang hebat itu, dan kesempatan ini dipergunakan oleh kakek yang mengaku bernama Kok Beng Lama itu untuk berbisik ke dalam peti, “Kalian adalah orang-orang buruan pemerintah. Berbahaya sekali. Lebih baik kalian untuk

sementara waktu pergi bersembunyi ke sebuah pulau kosong dan jangan mendarat dulu. Nah, pergilah!” Tiba-tiba kakek itu menggunakan kedua lengannya yang berbulu untuk melontarkan peti mati itu. Peti melayang dan meluncur jauh menuju lautan.

“Byuuurrr…!” Peti mati itu terbanting ke atas air, Kun Liong dan Hong Ing sampai bertumpang tinding di dalam peti namun Kun Liong masih teringat untuk merangkul Hong Ing dan melindunginya sehingga ketika peti terbanting, kepala dara itu tidak sampai terbentur peti. Juga pemuda ini sudah menarik tubuh Hong Ing ke atas tubuhnya ketika peti melayang sehingga dialah yang berada di bawah ketika peti terbanting. Setelah peti yang terbanting tidak melayang lagi, Kun Liong menggunakan tangan kirinya membuka peti dari dalam. Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka berdua mendapat kenyataan bahwa peti mati itu telah berada di atas permukaan air laut yang bergelombang! Ketika mereka memandang ke daratan yang agak jauh, mereka melihat para pengejar mereka berdiri di pantai. Untung di situ tidak tersedia perahu sehingga mereka tidak mampu melakukan pengejaran. Adapun pendeta Lama bernama Kok Beng Lama itu sudah tidak tampak mata hidungnya di pantai. Memang pendeta itu segera melangkah lebar pergi meninggalkan pantai setelah melemparkan peti mati ke lautan dan tidak ada yang berani mengejarnya karena semua orang maklum betapa lihainya pendeta Lama itu.

Kun Liong terus membuka peti. Tutup peti yang berengsel itu dapat terbuka sampai telentang sehingga peti itu merupakan dua perahu kecil berjajar. Di sudut dia menemukan sehelai layar tergulung, terbuat dari kain tipis akan tetapi kuat sekali, lengkap berikut tali-temali dan bambu sebagai tiang. Kiranya peti mati itu bukanlah peti mati biasa, melainkan peti mati yang dapat dipergunakan sebagai perahu dan agaknya memang menjadi kendaraan kakek itu! Dibantu oleh Hong Ing, Kun Liong lalu memasang layar dan meluncurlah “perahu” mereka, menerjang ombak menuju ke timur, ke tengah samudera yang luas!

Setelah pantai hanya kelihatan sebagai garis yang tidak jelas dan para pengejar tak tampak lagi, legalah hati kedua orang muda itu.

“Ke mana kita pergi?” Tiba-tiba terdengar suara Hong Ing, suara yang lemah penuh kekhawatiran.

Kun Liong menarik napas panjang. Sebegitu jauh, nasib mereka masih mujur, ada saja bintang penolong yang datang membebaskan mereka dari bahaya. Akan tetapi dia sendiri pun tidak tahu harus pergi ke mana!

“Sebaiknya kita mentaati nasihat Kok Beng Lama tadi. Kalau berada di darat, tentu kita akan menjadi orang buruan terus sebelum aku berhasil bertemu dan mendapat pertolongan Supek. Akan tetapi melihat sikap Giok Keng tadi… ah, tipis harapanku…”

“Giok Keng? Apakah kaumaksudkan dara cantik jelita yang amat gagah perkasa tadi? Yang menyerangmu dengan pedang bersinar perak?”

“Benar.”

“Engkau sudah mengenalnya, mengapa dia menyerangmu? Siapakah dia?”

“Dia itu… tunanganku…”

“Ihhh…!” Hong Ing membuang muka, tidak memandang lagi kepada Kun Liong dan tidak bicara lagi.

Sampai lama keduanya berdiam saja dan suasana menjadi amat hening, hening menggelisahkan hati.

“Dia adalah puteri Supek Keng Hong…” Akhirnya Kun Liong berkata, tidak tahu mengapa Hong Ing menjadi pendiam, mengira tentu dara itu tenggelam ke dalam kegelisahan karena keadaan mereka.

Hong Ing kelihatan tercengang dan menengok. “Ehhhh…?”

“Tapi pertunangan kami itu telah putus…”

“Hemm…” Hong Ing berusaha untuk duduk sejauh mungkin dari Kun Liong, akan tetapi mana bisa kalau tempat itu hanya sedemikian sempitnya? Apalagi Kun Liong duduknya di tengah karena pemuda itu harus memegang tali layar dan mengatur arah perahu yang melaju didorong angin itu. Betapa pun dia menggeser tubuhnya, tetap saja mereka duduk berdekatan!

“Kenapa…?”

Kun Liong yang termenung, agaknya ikut kecewa dan berduka menyaksikan keadaan Hong Ing yang seperti orang bingung dan bersedih itu, terkejut mendengar pertanyaan tiba-tiba ini.

“Kenapa apanya…?”

“Kenapa pertunangan itu putus?”

“Dia yang menghendaki demikian, karena dia tidak cinta kepadaku.”

Hong Ing mengangguk-angguk dan kini wajahnya kembali agak merah, matanya bersinar dan mulutnya tersenyum mengejek. “Aku sudah melihat itu. Kalau cinta tidak mungkin dia ikut mengeroyokmu. Kulihat dia datang bersama pemuda tampan itu, tentu pemuda itulah yang menggagalkan pertunanganmu.”

“Tidak! Mudah-mudahan tidak. Pemuda itu adalah putera datuk sesat, putera Kwi-eng Niocu, tak mungkin Giok Keng jatuh cinta kepada seorang pemuda seperti itu.”

“Mengapa tidak mungkin? Pemuda itu tampan dan menarik, dan seorang yang mencinta tidak mungkin dapat melihat keburukan orang yang dicinta.”

“Tapi Giok Keng seorang dara perkasa yang cerdik dan bijaksana.”

“Tidak! Dia gadis tolol!” Tiba-tiba Hong Ing berkata dengan nada suara keras.

Kun Liong memandang tajam, agak panas perutnya. “Hong Ing, dia bukan gadis tolol, dia puteri Supek…”

“Puteri dewa sekalipun, tetap saja dia tolol!” Hong Ing juga memandang tajam menantang, seolah-olah sengaja hendak memanaskan hati pemuda gundul itu.

Kun Liong hendak membantah, akan tetapi melihat sinar mata dara itu, dia menunduk dan menghela napas. Perlu apa bertengkar karena urusan tetek-bengek? Mereka masih terancam bahaya, berada di perahu yang aneh dan di tengah samudera, tak tentu arah tujuan.

Lama mereka tenggelam dalam keheningan, hanya beberapa kali Kun Liong menarik napas panjang karena suasana hening yang mencekam itu amat tidak mengenakkan hatinya. Mau bicara, bicara apa lagi? Pula, Hong Ing tentu masih marah. Mengapa dara ini marah? Dia benar-benar tidak mengerti. Apakah karena kedukaannya dan kegelisahannya?

“Kun Liong…”

“Hemm…?” Dia mengangkat muka dan hatinya menjadi lega melihat wajah dara itu sudah berseri kembali, sama sekali tidak ada tanda-tanda kemarahan atau kedukaan.

“Benarkah Giok Keng tidak mencintamu?”

Sebenarnya di dalam hatinya Kun Liong merasa tidak senang sekali diajak bicara urusan ini, akan tetapi karena dia tidak ingin melihat dara itu marah-marah lagi, dia terpaksa menjawab, “Tentu saja dia tidak cinta padaku, dia sendiri yang menyatakan ini dan memutuskan tali perjodohan kami.”

“Mengapa tidak cinta padamu?”

“Eh, apa anehnya itu, Hong Ing? Mana mungkin seorang seperti dia mencinta seorang gundul seperti aku? Mana ada di dunia ini seorang dara cantik yang bisa jatuh cinta kepada seorang laki-laki gundul tak berharga seperti aku ini? Paling-paling yang jatuh cinta kepadaku hanyalah orang-orang macam Kim Seng Siocia…” Kun Liong mencoba berkelakar akan tetapi terdengar masam dan hambar.

“Kasihan kau, Kun Liong…”

“Tak perlu kaukasihani, aku sudah menyadari keadaanku yang buruk,” kata Kun Liong sambil cemberut. Kau tidak tahu, katanya dalam hati, betapa banyaknya gadis yang jatuh cinta kepadanya! Terbayanglah wajah Bi Kiok, Li Hwa, dan terutama sekali wajah Hwi Sian! Biarpun dia tak berani memastikan bahwa Bi Kiok dan Li Hwa mencintanya, akan tetapi yang jelas, Hwi Sian benar-benar mencintanya sehingga dara itu rela menyerahkan kehormatan dan tubuhnya kepadanya!

“Benar-benarkah tidak ada wanita yang mencintamu?”

Kun Liong menggeleng kepalanya. “Yang jelas hanya seorang…”

“Siapa?” Hong Ing kelihatan bernafsu dan ingin tahu sekali ketika mengajukan pertanyaan ini.

“Mendiang ibuku…”

“Hemmm… kasihan engkau. Giok Keng memutuskan perjodohan karena tidak mencintamu, padahal engkau tentu cinta sekali padanya…”

“Tidak sama sekali.”

“Heiii?”

“Aku tidak cinta padanya! Dan aku tidak mencinta siapa pun! Aku tidak percaya kepada cinta!”

“Ehhh…?”

“Cinta adalah palsu belaka! Cinta hanyalah dipergunakan untuk memenuhi keinginan hati sendiri, untuk memuaskan hati sendiri. Betapa tololnya pria yang jatuh cinta! Semua wanita sama saja, mereka itu mempesolek diri, membuat dirinya cantik menarik seperti kembang yang memancing datangnya kumbang, dengan pernyataan cinta palsunya wanita hanya ingin agar pria tunduk kepadanya, menuruti segala kehendaknya, menyenangkan hatinya! Pria pun berlumba menarik perhatian wanita dengan segala cinta palsu di mulut, hanya untuk menjadikan wanita sebagai pemuas nafsu berahinya! Aku muak! Aku tidak cinta siapapun dan tidak akan mencinta siapapun!”

Mata Hong Ing terbelalak, napasnya terengah, dan sukar sekali kata-kata yang keluar dari mulutnya, “Jadi kau… tidak suka kepada wanita?”

“Aku suka! Tapi aku tidak cinta! Aku suka kepada wanita cantik seperti aku suka kepada bunga yang indah dan harum, suka membelai dan menciumnya, akan tetapi untuk jatuh cinta, nanti dulu! Cinta adalah perasaan yang palsu, hanya indah dalam lamunan… seperti mimpi… tapi kenyataannya, tahu-tahu diri terikat dan tak bergerak lagi, kehilangan kebebasan, dan selama hidupnya menjadi hamba dari ikatan cinta yang menjadi pernikahan, suka atau tidak. Betapa bodohnya pria yang jatuh cinta!”

“Dan engkau tentu tidak sebodoh itu, bukan?”

“Tidak!”

“Dan semua pengetahuanmu tentang cinta ini kaupelajari dari kitab?”

“Hemmm… mungkin! Banyak kitab lama menceritakan tentang kejatuhan kaisar dan orang-orang besar hanya karena cinta kepada wanita. Pertapa-pertapa gagal juga karena cinta kepada wanita. Wanita seperti kembang…”

“Seperti syair kata-katamu… teruskan…”

“Wanita seperti kembang, hanya boleh dipandang, boleh dijamah dan dicium, akan tetapi sekali dipetik, akan menjadi layu dan menjemukan… harumnya hilang berubah menjadi bau yang tidak enak, keindahannya mengeriput dan melayu sehingga berubah buruk…”

Kun Liong menghentikan kata-katanya karena pandang matanya bertemu dengan pandang mata Hong Ing yang membuatnya terkejut setengah mati. Pandang mata Hong Ing seperti ujung pedang runcing yang menusuk matanya! Teringatlah dia sekarang betapa tadi dia bicara mengeluarkan isi hatinya seperti bicara kepada diri sendiri, membicarakan dan mencela wanita di depan Hong Ing, seorang wanita pula, bahkan seorang wanita remaja yang amat cantik jelita! Baru dia teringat betapa dia telah kelepasan bicara, telah melepaskan kata-kata keras yang terdorong oleh rasa penasaran di hatinya terhadap Giok Keng puteri supeknya yang selain telah bersama-sama Liong Bu Kong, juga telah mengeroyoknya tadi.

“Yap Kun Liong…”

Panggilan nama lengkapnya ini membuat hati Kun Liong berdebar, namanya disebut lengkap dengan suara yang begitu dingin! Dari dada Hong Ing keluar isak tertahan dan tiba-tiba dara itu membuang muka, mengalihkan pandang matanya ke air di luar perahu, kemudian kedua tangannya menyapu-nyapu air laut seolah-olah dia bicara dengan lautan. “Yap Kun Liong pemuda yang gagah perkasa dan terpelajar itu bicara seperti seorang kakek tua renta tentang wanita… padahal segala ilmu silatnya dia dapat dari guru-gurunya, segala ilmu sastranya dia dapat dari kitab-kitab, semua itu dia hanya menjiplak saja dan sekarang… dengan kesombongan yang melebihi halilintar dia mengutuk wanita, seolah-olah wanita disamakannya dengan isi keranjang sampah!”

“Hong Ing…” Kun Liong mengeluh, menyesali kata-katanya tadi.

“Seolah-olah dialah satu-satunya pria yang paling hebat… yang terlampau tinggi bagi mahluk wanita yang lemah dan hina…”

“Hong Ing… aku tidak bermaksud begitu…”

“Yap Kun Liong pemuda pongah, pemuda sombong itu… pantasnya berada di kahyangan tanpa wanita… dan baginya, agaknya hanya neraka sajalah tempat tinggal wanita… begitu hebat dia memandang rendah wanita sampai dia lupa bahwa neneknya dan ibunya pun seorang wanita…”

“Hong Ing…!” Kun Liong membentak, mukanya menjadi pucat. Mengapa dara itu begitu berlebih-lebihan menambah-nambah ucapannya tadi?

Akan tetapi Hong Ing sudah memalingkan muka, membelakanginya dan dara itu merapikan kain putih penutup kepalanya yang terbuka oleh angin, kemudian gadis ini bersenandung!

Kun Liong tenganga bengong. Suara Hong Ing amat merdunya, jernih melebihi air di luar perahu peti mati dan halus mengimbangi hembusan angin, nyanyiannya lirih namun kata-katanya terdengar jelas, diiringi suara air laut memercik pada peti yang mendatangkan irama kacau namun pada saat itu merupakan latar belakang nyanyian yang menambah keindahan nyanyiannya itu.

Mula-mula Kun Liong terpesona oleh suara yang merdu sekali itu, menjadi istimewa karena dinyanyikan di tempat seperti itu, di saat seperti itu pula. Akan tetapi, alisnya berkerut dan matanya terbelalak ketika dia mulai memperhatikan kata-kata yang diucapkan dalam nyanyian itu. Hong Ing bernyanyi tentang… cinta! Dan setelah dia mengikuti isi nyanyian, teringatlah dia bahwa yang dinyanyikan itu merupakan sajak kuno yang ditulis oleh seorang sastrawan di jaman Kerajaan Han, ratusan tahun yang lalu. Dia merasa kagum sekali, kagum dan heran. Kagum karena tidak disangkanya dara ini selain memiliki suara merdu juga mengenal sajak itu, dan heran mengapa dara murid Go-bi Sin-kouw yang sejak kecil berada di puncak gunung ini demikian pandai bernyanyi.

“Cinta adalah Kehidupan

tanpa cinta hidup sama dengan

mati

Cinta adalah Cahaya

tanpa cinta hidup gelap gulita

Cinta adalah Suci

tanpa cinta hidup bergelimang

dosa

Hanya orang bijaksana saja

mengenal Cinta

si dungu hanya mengejar

nafsu!”

“Suaramu indah sekali!”

Akan tetapi Hong Ing tidak menjawab, menoleh pun tidak, hanya mengulang lagi nyanyiannya. Kun Liong merasa seolah-olah disindir hebat oleh nyanyian itu, terutama sekali baris terakhir yang mengatakan bahwa si dungu hanya mengejar nafsu, maka dia menjadi mendongkol juga. Karena pujiannya tidak dipedulikan, dia lalu mencari bahan untuk menggoda dara itu. Akhirnya dia memperoleh akal dan berteriak keras melawan angin, agar mengatasi suara nyanyian dara itu.

“Hai lucunya! Ada nikouw kok menyanyi!”

Pancingannya berhasil. Hong Ing menoleh dan dengan mata berkilat penuh penasaran dia menjawab, “Nikouw juga manusia yang mempunyai mulut dan suara! Apa salahnya nikouw menyanyi?”

Girang hati Kun Liong melihat bahwa dia telah berhasil memancing kemarahan Hong Ing itu sehingga membantahnya. Lebih baik melihat dara ini marah-marah dan memaki-makinya sekali daripada melihat dia didiamkan dan tidak diacuhkan seperti patung.

Kun Liong tertawa. “Tentu saja semua nikouw boleh bernyanyi, akan tetapi biasanya nikouw hanya menyanyikan lagu doa untuk liam-keng, bukan menyanyikan lagu tentang cinta!”

Sepasang mata yang bening itu makin mendelik marah. “Aku bukan nikouw! Aku bukan nikouw aseli, melainkan nikouw palsu, nikouw terpaksa! Sekarang aku bukan nikouw lagi!” Berkata demikian, Hong Ing lalu merenggut lepas kain putih penutup kepalanya sehingga tampaklah kepalanya yang gundul dan licin mengkilap, bersih dan bentuknya bulat.

Melihat kepala ini, tak dapat ditahan lagi Kun Liong tersenyum lebar dan matanya memandang kepala itu. Melihat betapa mata pemuda itu ditujukan kepada kepalanya, baru Hong Ing teringat bahwa kepalanya gundul pelontos. Mukanya menjadi merah sekali, dia merasa seolah-olah kepalanya berada dalam keadaan “telanjang”, maka dengan tergesa-gesa ditutupkannya kembali kain putih ke atas kepalanya. Tentu saja gerakan dan sikap dara ini membuat Kun Liong menjadi makin geli dan dia mencela, “Heii, mengapa ditutup kembali?”

In Hong tentu saja tidak mau mengatakan malu karena kepalanya “telanjang”, dan dengan cemberut dia berkata, “Siapa melarang aku menutupi kepalaku? Matahari amat teriknya, kepalaku menjadi panas terkena sinar matahari.”

Kun Liong tidak mau menggoda lebih jauh lagi. Dia sudah merasa girang bahwa Hong Ing sudah mau bicara dengan dia. Maka dia berkata, “Hong Ing, kaumaafkanlah semua kata-kataku yang tidak karuan. Harap kau tidak marah lagi kepadaku.”

Hong Ing menjawab tidak acuh, “Siapa marah? Aku tidak marah.”

“Ahh, kau tadi mengatakan aku pongah dan sombong…”

“Kau juga mengatakan bahwa wanita amat buruk dan hinanya…!”

Kun Liong makin tidak mengerti akan sikap wanita pada umumnya dan dara ini pada khususnya. Akan tetapi karena dia tidak mau bermusuhan dengan satu-satunya kawan seperahu yang senasib sependeritaan dengannya di saat itu, dia diam saja. Dia murung dan betapapun dia menekan perasaannya, tetap saja mulutnya cemberut.

Sampai lama mereka berdiam diri. Kun Liong mengatur arah perahu, terus ke timur dan kemudian membelok ke utara. Dia sengaja tidak mau bicara dan tidak memandang kepada Hong Ing, khawatir kalau-kalau mendatangkan keributan lagi. Heran dia mengapa setelah terlepas dari bencana dan menghadapi bencana baru yang tidak berketentuan ini, dia dan Hong Ing selalu berbantahan. Tiba-tiba terdengat suara dara itu, “Kun Liong…” Suaranya begitu merdu dan ketika dia menengok, dia melihat wajah dara itu berseri. Bukan main manisnya!

“Hemmm…?” Kun Liong juga tersenyum, terseret oleh senyum dara itu.

“Lihat ini…”

Tangan kanan dara itu memegang seekor ikan sebesar betis, ikan segar yang masih menggelepar dan berusaha meronta terlepas dari pegangan tangan kecil yang amat kuat itu. “Aku menyambarnya ketika dia berenang dekat perahu. Kupanggang dia, ya?”

“Wah, tentu enak sekali!” kata Kun Liong dan mereka tertawa-tawa gembira, lupa akan percekcokan mereka tadi. Karena di situ tidak terdapat bahan bakar, terpaksa Hong Ing menggunakan tenaganya untuk mematahkan sedikit ujung tiang layar dan mengambil sedikit kayu dengan menghancurkan pinggir tutup peti, kemudian dengan menggosok-gosokkan kayu kering dia berhasil membuat api dan memanggang ikan itu. Akan tetapi setelah mereka makan daging ikan yang lezat itu, mereka bingung karena mereka tidak dapat minum. Mereka merasa haus sekali dan memandang sedih ke arah air laut. Demikian banyaknya air di sekeliling mereka, terlampau banyak, namun mereka tidak dapat minum sama sekali! Air laut berlimpah tinggal ambil namun tiada gunanya, yang mereka butuhkan hanyalah seteguk air tawar! Setelah mengalami hal ini, barulah dengan amat terkejut keduanya sadar bahwa mereka terancam bahaya maut yang mengerikan di tengah laut! Dan mereka tadi sempat bercekcok!

“Hong Ing, kita harus segera dapat mendarat di sebuah pulau yang ada airnya. Kalau tidak, celakalah kita.”

Hong Ing mengangguk dan dara ini lalu membantu Kun Liong memegang tali-temali layar. Angin bertiup kencang dan keduanya melihat-lihat ke empat jurusan, mencari-cari dengan pandang mata disertai penuh harapan akan melihat bayangan sebuah pulau dari jauh. Akan tetapi, di empat penjuru yang tampak hanya air dan air sampai ke kaki langit, air yang tiada tepinya!

Menjelang senja, perahu peti itu sudah berlayar jauh sekali. Angin makin kencang dan tiba-tiba dari langit yang tertutup awan hitam itu turunlah air bertitik-titik besar. Kedua orang muda itu dengan girang dan lega memuaskan dahaga mereka dengan air hujan. Akan tetapi hujan segera turun dengan lebatnya, angin bertiup amat kencangnya sehingga mereka cepat-cepat menurunkan layar. Angin badai mengamuk!

“Celaka…! Kita tutup peti ini…!” Kun Liong berkata dan dengan cepat mereka berdua menutupkan peti setelah membuang air keluar dari peti. Peti itu mulai diombang-ambingkan gelombang yang dahsyat dan tak lama kemudian, Kun Liong dan Hong Ing terbanting-banting dan saling berpelukan di dalam peti yang kini tidak hanya diombang-ambingkan, melainkan dilempar ke atas dan diguling-gulingkan! Di dalam peti yang gelap itu, Kun Liong mendengar suara dahsyat dari badai dan di antara suara dahsyat ini, terdengar tangis Hong Ing yang lemah, tangis ketakutan. Dia memeluk tubuh dara itu, mendekapnya dan dengan seluruh jiwa raganya dia berniat melindunginya. Akan tetapi apa dayanya? Mereka berada di dalam sebuah peti mati tertutup, peti yang kecil sehingga mereka tidak mampu bergerak, peti yang dipermainkan oleh badai dan setiap saat dapat saja peti itu ditenggelamkan atau dihempaskan hancur lebur di batu karang sehingga riwayat mereka akan habis sampai di situ saja. Hong Ing menangis dan merintih-rintih saking takutnya, sedangkan Kun Liong sendiri yang selama ini tidak pernah mengenal takut, kini merasa ngeri juga sehingga tanpa disadarinya, timbul kembali pengalaman di waktu dia masih kanak-kanak dan tak terasa lagi dia meneriakkan panggilan kepada ayah bundanya seperti seorang anak kecil yang menderita ketakutan.

Tiba-tiba Kun Liong merasa terguncang hebat dan berbareng dengan suara keras sekali tubuhnya terlempar dan keadaan menjadi gelap. Ketika terlempar itu dia seperti mendengar suara wanita memanggil namanya, “Kun Liong…!” Akan tetapi dia tidak tahu pasti apakah itu suara ibunya, ataukah suara Hong Ing karena dia sudah tidak ingat apa-apa lagi.

Ketika Kun Liong membuka kedua matanya, dia mendapatkan dirinya sudah rebah menggeletak di atas pasir. Seluruh tubuhnya terasa nyeri, setiap gerakan kaki atau tangan mendatangkan rasa nyeri sekali. Dia mengeluh, akan tetapi begitu teringat akan Hong Ing, dia cepat bangkit dan duduk, sama sekali tidak lagi merasakan rasa nyeri-nyeri tubuhnya. Malam masih gelap dan suara badai masib menggelora. Akan tetapi dia selamat! Dia telah berada di daratan. Dengan tangan kaki meraba-raba dia bangkit berdiri, melangkah maju. Kiranya dia berada di pantai yang penuh dengan batu-batu karang dan pasir. Untung dia terhempas di pasir, kalau terhempas di batu-batu, tentu tubuhnya sudah hancur lebur. Kembali dia teringat kepada Hong Ing!

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: