Petualang Asmara (Jilid ke-4)

Sebelum Cong San sempat membantah, Yan Cu sudah menarik tangan suaminya dan mengajaknya melompat pergi dari tempat itu, melemparkan golok rampasan tadi menancap di depan kaki Ma-taijin sampai ke gagangnya! Demikian cepatnya gerakan suami isteri itu sehingga yang tampak hanya dua bayangan mereka berkelebat dan lenyap.

“Kejar mereka! Kumpulkan semua pengawal! Minta bantuan pasukan! Tangkap, cepat! Tolol kalian semua!” Ma-taijin berteriak-teriak sambil menuding-nudingkan telunjuknya, akan tetapi dia sendiri memasuki ruangan dalam, terus ke kamar kecil karena perutnya yang memberontak sudah mengeluarkan sebagian isinya ke dalam celananya!

Para pengawal tersebar dan berlari-lari mencari, akan tetapi tentu saja dengan hati kebat-kebit dan penuh keraguan. Setelah bala bantuan datang dan jumlah mereka ada seratus orang, barulah mereka berani melakukan pengejaran dan mendatangi rumah obat tempat tinggal Yap-sinshe. Akan tetapi tentu saja mereka hanya mendapatkan sebuah toko yang kosong, tidak ada lagi penghuninya kecuali dua orang pelayan yang tidak tahu apa-apa. Dalam kemarahannya, Ma-taijin hanya menyita toko itu, merampas barang-barang toko dan mengumumkan nama Yap Cong San dan Gui Yan Cu sebagai dua orang pelarian!

“Aihhh, semua ini gara-gara Kun Liong, anak bengal itu! Kalau saja dia tidak menumpahkan obat, tentu tidak terjadi semua ini! Dan setelah melakukan perbuatan yang menimbulkan bencana kepada ayah bundanya, dia malah lari minggat, mendatangkan kepusingan baru bagi kita!”

Yan Cu cemberut. Mereka sudah lari ke luar kota Leng-kok, menuju ke selatan dan tadi dia sudah menceritakan suaminya tentang kegagalan usahanya mencari Kun Liong sehingga dia terpaksa pulang karena mengkhawatirkan suaminya. Dia sengaja tidak menceritakan suaminya tentang perbuatan Kun Liong yang baru di dusun yang ditemuinya yaitu membakar rumah kepala dusun yang sedang berpesta! Tanpa dibicarakan hal itu pun suaminya sudah marah-marah dan mengomel tentang anak mereka.

“Siapa bilang gara-gara Kun Liong? Memang anak itu menumpahkan obat, akan tetapi apakah dia sengaja menumpahkannya? Kalau dipikir-pikir semua peristiwa ada sebabnya dan jangan kau menyalahkan peristiwa itu. Kalau aku ikut-ikut engkau, tentu aku mencari sebabnya dan kiranya engkaulah yang menjadi gara-garanya.”

“Aku….?” Cong San bertanya mengalah dan selalu bersikap sabar kepada isterinya semenjak terjadi peristiwa hebat yang hampir saja menghancurkar cinta kasih di antara mereka karena dia telah dibuat gila oleh cemburu (baca ceritaPedang Kayu Harum ). Karena dia merasa berdosa dan bersalah kepada isterinya yang tercinta, maka dia bertobat dan bersikap hati-hati, selalu mengalah kepada isterinya sebagai tebusan dosanya yang lalu. Akan tetapi ketika dalam urusan dengan Ma-taijin ini isterinya mengatakan bahwa dia yang menjadi gara-gara, dia terkejut juga dan merasa penasaran sehingga dia menghentikan langkah kakinya.

“Ya, engkau…” Yan Cu berkata. Mereka telah lari jauh dan malam telah hampir pagi, kedua kakinya sudah lelah. Yan Cu berhenti dan duduk di atas sebuah batu besar di dalam hutan itu. Suaminya juga duduk di depannya. Sinar matahari pagi sudah mulai mengusir kegelapan malam, disambut dengan riang gembira oleh suara burung hutan.

“Mengapa aku…?”

“Kalau-kalau dicari sebabnya menjadi panjang sekali. Kun Liong melarikan diri karena takut kepadamu, karena engkau terlalu keras kepadanya. Engkau marah karena dia menumpahkan obat. Dia menumpahkan obat karena dia bermain-main dengan Pek-pek, dan dia murung dan bosan di kamamya, bermain-main dengan Pek-pek karena dia merasa betapa engkau memarahinya ketika dia pergi dan berjumpa dengan tosu Pek-lian-kauw. Andaikata engkau tidak marah kepadanya, tentu dia tidak murung dan tidak bermain-main dengan anjing dan tidak menumpahkan obat, dan para perwira tidak mati, dan aku tidak mengamuk di gedung Ma-taijin, dan anak itu tidak minggat, dan…”

“Stoppp…!” Cong San mengangkat kedua tangan ke atas, lalu merangkul dan menciumi isterinya. “Pusing aku! Sudah… jangan bicara tentang sebab akibat, kalau ditelusur terus, bisa-bisa akibatnya dimulai semenjak nenek moyang kita…”

“Mungkin dimulai sejak dunia berkembang, sejak manusia pertama…” Yan Cu juga tertawa.

Keduanya tertawa, saling rangkul dan saling berciuman, kemudian saling pandang dengan sinar mata penuh cinta kasih, akan tetapi juga penuh keheranan, kemudian menjadi penuh pengertian.

“Aihhh… apa yang kita lakukan ini…?” Yan Cu berkata lirih.

Cong San melepaskan pelukannya dan memandang isterinya. “Mengertikah engkau apa yang kumengerti? Apakah engkau merasakan apa yang kurasakan saat ini?”

Yan Cu mengangguk. Suaminya mengangguk. Akan tetapi suaminya penasaran dan mendesak,

“Kalau memang mengerti, apa?”

“Keanehan yang sama kita rasakan! Peristiwa hebat melanda kita, memaksa kita meniadi orang-orang pelarian, dianggap pemberontak, kehilangan rumah, kehilangan toko, kehilangan harta benda, bahkan anak tunggal lari entah ke mana. Akan tetapi saat tadi yang terasa hanya kegembiraan. Aneh!”

“Memang aneh bagi umum, akan tetapi sesungguhnya tidaklah aneh. Setiap peristiwa yang terjadi, terjadilah! Tergantung kita yang menghadapinya, kita yang tertimpa oleh peristiwa itu. Diterima dengan marah boleh. Diterima dengan susah, tidak ada yang melarang. Diterima dengan tenang seperti kita sekarang ini pun bisa. Tidak perlu kita saling menyalahkan, kita hadapi segala yang terjadi, sebagai sewajarnya dan kita bertindak sesuai dengan gerak hati dan pikiran yang benar.”

“Nah, itu baru cocok! Engkau suamiku yang hebat!” Yan Cu menarik leher suaminya dan mencium bibir suaminya penuh kasih sayang. Cong San membalasnya penuh rasa terima kasih dan bersyukur atas pernyataan cinta yang demikian mesra. “Dari pada ribut-ribut saling menyalahkan, lebih baik kita pergi mencari Kun Liong dan melanjutkan perjalanan bertiga. Betapa senangnya!”

“Wah-wah, betapa anehnya. Kehilangan segala-galanya, engkau malah bergembira! Di dunia ini mana ada wanita ke dua sehebat engkau, isteriku?”

“Hemm, wajahmu juga berseri-seri, engkau malah lebih bergembira daripada aku! Uang tiada, rumah tak punya, pakaian pun hanya yang berada di dalam buntalan kita. Hayo jawab, mengapa engkau malah gembira?”

Cong San mengerutkan kulit di antara kedua alisnya, berpikir. “Hemm… agaknya, yang paling menggirangkan adalah kini terbebas dari orang-orang penyakitan itu. Setiap saat kita mengganggu kita, datang minta obat, minta periksa penyakitnya, membosankan!”

“Iihhhh, kalau begitu tipis perikemanusiaanmu!” Isterinya mencela.

“Mungkin! Akan tetapi sebutan perikemanusiaan itu pun palsu belaka, isteriku. Hanya dipergunakan untuk kedok, padahal sesungguhnya yang terpenting bagi kita kalau mengobati orang adalah jika orang itu sembuh. Kita merasa bangga, merasa senang, merasa lega dan puas. Bukan hanya karena upah dan keuntungannya, melainkan terutama sekali karena bangga itulah. Akan tetapi lambat laun menjadi membosankan juga…”

“Dan kau tidak menyesal kehilangan rumah dan harta benda?”

“Tidak sama sekali! Bahkan aku merasa lega! Seolah-olah semua harta benda itu tadinya menindih di atas kedua pundakku, membebani aku dengan penjagaan, rasa sayang, khawatir kehilangan, dan lain-lain. Sekarang, habis semua, habis pula beban itu! Dan engkau, apa yang membuatmu begini gembira?”

“Agaknya, kebebasan seperti yang kaukatakan tadi itulah. Akan tetapi terutama sekali, aku merasa seperti burung terbang di udara, seperti dahulu lagi, hidup bebas lepas di dunia kang-ouw menghadapi segala rintangan dan bahaya, menggunakan ilmu untuk melindungi diri sendiri dan membela kebenaran, hidup malang-melintang di dunia, tidak dikurung di dalam rumah seperti seorang nyonya sinshe yang setiap hari harus memasak obat!”

“Wah, celaka tiga belas!” Cong San memegang kepalanya.

“Mengapa?”

“Isteriku petualang! Dasar engkau berdarah petualang!”

“Ihhhh!” Yan Cu mencubiti lengan dan paha suaminya yang mengaduh-aduh akan tetapi senda-gurau ini berakhir dengat peluk kasih sayang yang saling mereka curahkan di atas rumput tebal di bawah pohon pada waktu pagi itu. Tidak terasa lagi oleh mereka akan dinginnya embun yang berada di ujung-ujung rumput dan yang menyambut tubuh mereka. Matahari yang baru muncul tersenyum ria dan menyiram suami isteri itu dengan sinarnya yang keemasan.

“Aihhh, masa di tempat terbuka begini…? Seperti orang terlantar…” bisik Yan Cu.

“Memang kita orang terlantar… petualang-petualang tak berumah…” terdengar suara Cong San lirih. “Ingatkah kau malam-malam kita baru saja menikah? Beberapa malam kita berbulan madu di hutan, di alam terbuka seperti ini… aih… mesra…!”

“Ihhh, sudah tua tak tahu malu! ah!”

“Cinta tak mengenal usia…”

Demikianlah, suami isteri itu tenggelam dalam madu asmara yang membuat mereka lupa segala, membuat mereka seperti ketika berbulan madu dalam suasana pengantin baru yang mereka lewatkan di dalam hutan juga, seperti keadaan mereka pada saat itu (baca ceritaPedang Kayu Harum ).

Setelah matahari naik tinggi, barulah tampak suami isteri ini melanjutkan perjalanan. Wajah mereka berseri-seri, mata bersinar-sinar, bibir tersenyum dan tangan mereka saling bergandengan ketika mereka melangkah keluar dari dalam hutan. Cong San mendengarkan cerita isterinya dengan sabar dan tenang.

“Dia melepas ular beracun di dalam pesta tentu karena lapar, dan tidak sengaja menimbulkan kebakaran. Menurut penuturan orang di dusun depan, dia ditangkap dan dipukuli sampai bengkak-bengkak dan koyak-koyak pakaiannya akan tetapi dia dapat membebaskan diri dan lari entah ke mana.”

“Hemm, untung dia bisa melarikan diri. Dia mengalami banyak kesukaran, biarlah, hitung-hitung untuk gemblengan jiwanya.”

“Tapi kasihan sekali dia. Kita harus dapat segera menemukannya, kalau tidak, aku khawatir dia akan mengalami bencana. Dia masih terlalu kecil untuk merantau seorang diri, dan kepandaiannya juga masih terlalu rendah untuk dipakai melindungi diri.”

“Tentu saja kita akan mencarinya sampai dapat, isteriku. Akan tetapi, biarlah kesempatan ini kita pergunakan untuk membicarakan pendidikan terhadap anak kita itu. Biasanya, aku menuduhmu terlalu manja, sedangkan kau menuduhku terlalu keras. Ketika kita beristirahat tadi, aku meneropong kenyataan ini dan agaknya kita berdua telah berlaku terlalu mementingkan diri sendiri, isteriku.”

“Apa maksudmu?” Yan Cu memegang tangan suaminya dan menengadah, memandang wajah orang yang berjalan di sampingnya.

“Baik caramu yang menyatakan kasih sayang kepada anak dengan terang-terangan sehingga kelihatan memanjakannya, maupun aku yang ingin melihat anak kita menjadi seorang anak baik sehingga aku kelihatan keras terhadap dia, sesungguhnya sikap kita berdua yang lalu itu hanya mencerminkan pendahuluan kepentingan kita sendiri.”

“Coba terangkan, aku tidak mengerti. Bukankah apa pun cara yang kita berdua pergunakan, sebagai ayah dan ibu, kita mementingkan anak kita? Bukankah kita, dengan cara kita masing-masing, ingin melihat dia menjadi seorang anak yang baik?”

Cong San menarik napas panjang. “Itulah, isteriku sayang. Itulah salahnya, dan itulah kesalahan kita. Kita INGIN MELIHAT dia menjadi ini, menjadi itu. Kita ingin MEMBENTUK dia sesuai dengan keinginan dan selera kita, sehingga lupa bahwa dia itu, sebagai seorang yang hanya kebetulan terlahir sebagai anak kita, dia mempunyai hak untuk tumbuh sendiri, dia mempunyai kepribadian sendiri, dia berhak menentukan sendiri, bukan hanya menjiplak seperti yang kita paksakan untuk membentuk dia. Dia bukan boneka, bukan tanah liat yang boleh kita bentuk sekehendak hati kita! Kita telah keliru dalam mendidik putra kita itu, Yan Cu!”

Yan Cu termenung. Dia dapat mengerti apa yang dimaksudkan suaminya. Memang harus dia akui bahwa selama ini, baginya yang terpenting hanyalah keinginan hatinya sendiri! Dia ingin melihat puteranya begini, begitu, penurut, tekun belajar, dan lain-lain. Tidak pernah satu kali juga dia memperhatikan, apa sebenarnya yang disukai dan dikehendaki puteranya! Segala ingin dia atur sehingga jejak langkah hidup puteranya itu harus tepat seperti yang digariskannya! Betapa picik dan terlalu mementingkan diri sendiri itu! Dia mulai merasa menyesal dan terharu.

“Habis, bagaimana baiknya dalam mendidik anak-anak kita, suamiku?”

“Anak-anak kita? Anak kita hanya seorang Yan Cu.”

“Hemm, siapa tahu? Apakah engkau sudah merasa puas dan cukup hanya mempunyai seorang anak saja?”

Cong San tersenyum dan merangkulkan lengannya di pundak isterinya, lalu mereka melangkah lagi perlahan-lahan.

“Kita harus memberi kebebasan kepada anak kita, kita harus menuntun mereka agar mereka mengerti dan tahu akan arti dan pentingnya hidup bebas! Agar dia tahu belajar mengenai dirinya sendiri sehingga di dalam dirinya dia akan menemukan guru. Agar dia hidup wajar, tidak berpura-pura, tidak munafik dan yang terpenting, tidak seperti seekor kambing yang dituntun, atau seperti batang pohon lemah yang hanya bergerak mengikuti ke mana angin bertiup. Agar dia berkepribadian, kepribadiannya sendiri, bukan menjiplak kepribadianku atau kepribadianmu, karena kalau hidupnya hanya kita bentuk agar dia menjadi penjiplak saja, tiada bedanya dengan membentuk dia menjadi sebuah boneka hidup. Mengertikah engkau, isteriku?”

Yan cu tidak menjawab, mengerutkan alisnya, kemudian baru berkata ragu-ragu.

“Entah suamiku, aku tidak berani bilang sudah mengerti, akan tetapi rasanya aku dapat menerima, aku dapat melihat kebenarannya.”

Cong San menunduk dan mencium dahi muka yang terangkat itu, mesra dan penuh kasih. “Syukurlah, aku sendiri pun tidak mengerti betul. Pendapat ini begitu tiba-tiba, bukan merupakan pendapatku, melainkan aku seperti melihat kesalahan-kesalahan kita dalam mendidik dan kita harus melakukan perubahan.”

“Sudahlah, tentang mendidik Kun Liong kita bicarakan kelak saja. Anaknya pun belum ketemu!”

Cong San menarik napas panjang. “Kau benar aku sudah melamun terlalu jauh.”

“Memang kau saja melamun? Aku pun sudah melamun, bukan soal pendidikan, melainkan kemana kita harus pergi kalau sudah mendapatkan Kun Liong.”

“Ke mana?”

“Kurasa dalam keadaan seperti kita ini, sebagai pelarian, tidak ada tempat lain yang kita tuju kecuali satu, yaitu Cin-ling-san.”

“Keng Hong dan Biauw Eng…?”

Yan Cu mengangguk.

Hening sejenak. “Engkau benar. Siapa lagi yang akan dapat kita titipi Kun Liong kalau bukan mereka? Aihh, aku rindu sekali kepada mereka.”

Suami isteri itu melanjutkan perjalanan dan kini mereka menuju ke dusun seperti yang diceritakan Yan Cu, dan di depan mata mereka terbayanglah wajah sepasang suami isteri yang sakti, yang menjadi sahabat baik mereka, bukan hanya sahabat, bahkan melebihi saudara kandung! Cia Keng Hong dan isterinya, Sie Biauw Eng!

Siapakah Cia Keng Hong dan Sie Biauw Eng isterinya, sepasang suami isteri sakti yang membuat Cong San dan Yan Cu termenung penuh kerinduan hati itu? Cia Ken Hong dapat dikatakan masih suheng (kakak seperguruan) dari Yan Cu, akan tetapi dalam hal ilmu kepandaian, tingkat pendekar sakti itu jauh di atas tingkat Yan Cu, bahkan jauh pula di atas tingkat kepandaian Cong San sendiri! Cia Keng Hong adalah seorang pendekar sakti yang pada waktu itu merupakan pendekar besar, seorang di antara datuk-datuk atau “raja” dunia persilatan! Pendekar sakti itulah yang telah berhasil mewarisi semua ilmu kepandaian manusia sakti Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong (Raja Pedang Kepalan Sakti), ayah kandung dari Sie Biauw Eng yang telah menjadi isterinya sendiri. Ilmu kepandaiannya hebat bukan main. Di sampingnya, isterinya juga terkenal sebagai seorang yang berilmu tinggi sekali sehingga di dunia kang-ouw, nama Gunung Cin-ling-san yang menjadi tempat tinggal mereka amatlah disegani dan jarang ada orang berani datang ke tempat itu kalau tidak ada kepentingan yang sangat mendesak. Tidaklah terlalu mengherankan apabila dalam keadaan mereka sedang mengalami kesukaran seperti itu Yan Cu dan Cong San, suami isteri ini teringat kepada pendekar sakti di Cin-ling-san itu.

***

Tubuhnya penuh luka-luka, bukan luka yang berbahaya, akan tetapi cukup membuat seluruh tubuh terasa nyeri, bengkak-bengkak dan matang biru, ada pula yang terobek kulitnya dan mengeluarkan sedikit darah yang kini sudah mengering dan menghitam. Pakaiannya robek-robek sehingga keadaan Kun Liong pada waktu dia melarikan diri itu seperti seorang anak pengemis.

Kini dia tidak berlari lagi karena tidak ada orang mengejarnya. Setengah malam penuh dia melarikan diri, naik turun bukit dan masuk keluar hutan. Kini matahari telah naik tinggi dan dia berjalan dengan tubuh sakit-sakit dan lelah. Dia bersungut-sungut. Betapa kejamnya manusia, pikirnya. Manusia seolah-olah merupakan tungku berisikan api panas yang mudah sekali mengeluarkan asap dan membakar siapa saja yang mendekatinya. Mudah sekali manusia marah dan berubah menjadi seperti binatang buas. Ah, lebih buruk dan lebih jahat lagi. Binatang buas menyerang bukan semata-mata untuk menyakiti, membalas dendam, atau karena marah, melainkan karena membutuhkan mangsa, untuk dimakan, seperti manusia menuai gandum untuk dimakan. Akan tetapi manusia, karena tersinggung hatinya atau dirinya atau rumahnya atau miliknya, menjadi marah, sakit hati dan siap untuk membunuh! Ayahnya sendiri tidak terkecuali. Karena tanpa disengajanya menyebabkan tumpahnya obat, sudah pasti ayahnya akan marah sekali kepadanya. Dan orang-orang kampung itu! Kepala kampung itu! Dia tidak sengaja membakar rumah, juga Kepala Koki tidak sengaja. Namun, hampir kepala koki itu dibunuh mereka. Dan kalau dia tidak dapat cepat melarikan diri, tentu sekarang dia sudah tak nyawa lagi! Hanya karena rumahnya terbakar oleh kecelakaan yang tak disengaja. Seolah-olah kalau membunuhnya, rumah yang terbakar itu akan pulih kembali! Betapa kejamnya manusia!

Karena pikirannya terganggu oleh rasa penasaran, Kun Liong tidak ingat akan perutnya yang lapar. Setelah terjadi peristiwa kebakaran di dusun itu, dia makin tidak berani pulang betapa pun ingin hatinya. Kalau saja tidak terjadi peristiwa yang tentu akan membuat ayahnya makin marah kepadanya itu, dia akan nekat pulang dan rela menerima hukuman ayahnya karena menumpahkan obat. Dia sudah rindu kepada ibunya, rindu kepada kamarnya yang nyaman. Akan tetapi dia tahu betapa ayahnya akan marah besar kalau mendengar bahwa dia telah menjadi penyebab kebakaran dan hampir saja dia dikeroyok mati oleh orang-orang dusun! Kesalahan terhadap ayah bunda sendiri, ayahnya masih bersikap lunak. Akan tetapi kesalahan kepada orang lain pasti akan membuat ayahnya marah bukan main. Masih berdengung di telinganya betapa ayahnya secara keras, dan ibunya secara halus selalu memperingatkannya agar dia menjadi seorang anak baik, rajin dan pandai agar kelak dia menjadi seorang pendekar budiman! Pendekar budiman, sebutan itu sampai hafal dia! Hafal dengan penuh rasa muak! Dia tidak ingin menjadi pendekar budiman! Dia tidak sudi! Biarlah dia menjadi Kun Liong yang biasa saja!

Menjelang senja dia tiba di luar sebuah dusun. Barulah terasa olehnya betapa perutnya lapar bukan main, tubuhnya sakit-sakit dan kedua kakinya lelah dan lemas. Teringat akan pakaiannya dan sakunya yang kosong sama sekali, timbul pikirannya untuk mencontoh perbuatan dua orang anak pengemis di dusun yang kebakaran. Akan tetapi segera dilawannya pikiran ini. Dia akan bekerja, apa saja membantu orang sebagai pengganti nasi pengisi perutnya!

Karena melamun, kakinya yang sudah lelah terantuk batu dan ia jatuh menelungkup. Sejenak dia tinggal berbaring menelungkup, meletakkan pipinya di atas tanah. Bau tanah yang sedap, hawa dari tanah yang hangat, membuat dia merasa senang dan nyaman sekali. Betapa nikmatnya rebah seperti itu selamanya, tidak bangun lagi! Rasa lapar di perutnya berkurang ketika perutnya dia tekankan kuat-kuat kepada tanah. Dia merasa seolah dipeluk dan dibelai tanah, seperti kalau dia dipeluk ibunya. Tak terasa dua titik butir air mata turun dari pelupuk matanya. Betapa rindu dia kepada ibunya.

“Ibu…” dia berbisik, memejamkan mata menahan isak.

Tiba-tiba dia mengangkat muka lalu bangkit duduk dan memandang ke depan. Ketika dia rebah dengan pipi di atas tanah tadi, telinganya menangkap suara langkah-langkah kaki. Dia cepat bangun berdiri ketika melihat serombongan orang berjalan keluar dari dalam dusun itu mengiringkan sebuah peti mati yang dipikul oleh delapan orang.

Penglihatan ini serta-merta mengusir semua persoalan dirinya. Ada orang mati diantar ke tempat penguburan! Kun Liong memandang bengong ketika iring-iringan itu lewat di depannya menuju ke sebuah tanah kuburan yang tampak dari situ, di lereng sebuah bukit. Dia melihat beberapa orang mengiringkan peti jenazah sambil menangis sesenggukan. Ada pula yang diam saja, tidak memperlihatkan muka susah atau senang, akan tetapi ada pula beberapa orang pengiring yang saling bercakap-cakap diselingi mulut tertawa tanpa mengeluarkan suara. Sering pula Kun Liong menyaksikan keadaan serupa itu di kota. Dalam iring-iringan kematian, memang sanak keluarga si mati ada yang menangis, entah menangis sungguh-sungguh ataukah hanya menangis buatan, akan tetapi banyak pula, di antara para pengiring yang melayat sambil bersendau-gurau, sungguhpun suara ketawa mereka selalu mereka tahan.

Tiba-tiba Kon Liong memandang bengong kepada seorang kakek yang berjalan paling akhir. Kakek ini kelihatan gembira sekali! Wajahnya berseri dan biarpun sudah penuh keriput, jelas bahwa kakek itu tertawa-tawa gembira, seolah-olah bukan sedang mengiringkan kematian, melainkan mengiringkan mempelai!

Lupa akan rasa nyeri, lelah dan lapar karena tertarik oleh iring-iringan kematian, terutama sekali akan sikap kakek yang tertawa-tawa, Kun Liong menggerakkan kaki, melangkah maju mengikuti iringan yang menuju ke tanah kuburan di lereng bukit itu.

Upacara pemakaman dilakukan dengan sederhana dan cepat sebagaimana biasanya penduduk dusun dan setelah peti mati itu dikubur, semua pengiring lalu bubar meninggalkan tanah kuburan karena senja telah mulai larut. Hanya ada tiga orang yang masih tinggal di tanah kuburan yaitu Si Kakek Tua yang masih nampak gembira, seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih yang masih berlutut menangis di depan gundukan tanah kuburan baru, dan Kun Liong yang berdiri menonton dari jauh.

“Aihh, Akian, mengapa engkau menangis terus tiada hentinya?” Si Kakek itu melangkah maju mendekati laki-laki itu, duduk di atas batu nisan dekat kuburan baru, menegur dengan nada suara mengejek.

Orang yang bernama Akian itu mengangkat mukanya yang agak pucat dan sepasang matanya yang merah karena terlalu banyak menangis itu memandang Si Kakek tak senang, akan tetapi agaknya dia sudah biasa menghormat kakek itu maka jawabnya,

“Paman Lo, orang menangis adalah tanda berduka, dan seorang anak yang kematian ayahnya, tentu berduka. Apa anehnya kalau aku menangisi kematian ayahku? Paman hanya sahabatnya, tentu saja tidak dapat merasakan seperti saya.”

Kakek itu meraba-raba jenggotnya yang panjang dan berwarna dua. “Heh-heh-heh, sebetulnya siapakah yang kau kutangisi, itu Akian!?”

“Tentu saja Ayah yang kutangisi, Paman!” jawabnya penasaran karena dia merasa betapa pertanyaan itu bodoh dan tidak perlu.

“Benarkah? Kalau ayahmu yang kautangisi, mengapa kautangisi?”

Kalau saja tidak ingat bahwa kakek itu adalah sahabat baik ayahnya, dan sudah biasa dihormatnya, tentu akan dimaki atau bahkan dipukul. Akan tetapi kakek itu sudah terlalu tua, agaknya sudah pikun, maka dengan suara terpaksa dia menjawab,

“Dia kutangisi karena dia mati!”

“Hemm, kalau dia mati, mengapa ditangisi?” kakek itu mendesak. Kun Liong menjadi penasaran seperti orang yang ditanya, karena dalam tanya jawab itu anak ini menangkap sesuatu yang aneh, sesuatu yang membuka kesadaran dan membuatnya merasa betapa pertanyaan-pertanyaan kakek itu sama sekali bukan bodoh atau ngawur, melainkan pertanyaan yang penting dan perlu diselidiki jawabnya.

“Aihhh, Paman. Kenapa Paman masih bertanya lagi? Tentu saja dia mati kutangisi, karena dia meninggalkan kami untuk selamanya, dia meninggalkan aku untuk selamanya dan kami takkan saling dapat berjumpa selamanya.”

“Ha-ha-ha-ha! Nah, sekarang baru ternyata bahwa yang kautangisi bukanlah ayahmu, melainkan engkau sendiri, Akian! Engkau menangis dan berduka bukan karena ayahmu mati, bukan karena melihat ayahmu menghadapi kesulitan, melainkan menangisi dirimu sendiri yang ditinggal pergi!”

Mendengar ini, Akian terbelalak, terkejut bukan main dihadapkan dengan kenyataan yang sukar dibantahnya ini. Hatinya merasa ngeri dan dia merasa berdosa besar terhadap ayahnya kalau benar bahwa dia menangis bukan menangisi ayahnya, melainkan menangisi dan mengasihani dirinya sendiri! Maka dia cepat membantah untuk membela diri,

“Akan tetapi aku menangis tanpa mengingat diri sendiri, Paman. Aku merasa kasihan terhadap ayah yang meninggal dunia!”

“Hemmm, benarkah itu? Tahukah engkau bagaimana keadaan ayahmu setelah mati? Apakah engkau yakin bahwa ayahmu menghadapi kesengsaraan setelah meninggal dunia sehingga engkau merasa kasihan dan menangis penuh duka melihat kesengsaraannya? Ataukah engkau menangis karena engkau kehilangan ayahmu, tidak dapat melihatnya lagi, tidak akan dapat bicara dengannya lagi, tidak ada lagi yang dapat kausandari sebagai seorang ayah? Ha-ha-ha, aku tidak mau menangis melihat dia mati, Akian, padahal dia sahabatku yang paling baik. Engkau tahu sendiri, setiap hari dia jalan-jalan dengan aku, minum arak, main kartu, mengobrol dengan aku. Akan tetapi aku tidak mau menangisi kehilanganku, aku bahkan gembira karena sahabat baikku itu telah terbebas daripada hidup yang serba sulit ini, terhindar dari kesengsaraan hidup.”

“Benarkah itu, Paman Lo?” Tiba-tiba Akian membantah dan menyerang. “Bagaimana Paman bisa tahu bahwa ayah terbebas dari kesulitan hidup, terhindar dari kesengsaraan? Apakah Paman melihat sendiri dan sudah yakin akan hal itu maka Paman tertawa-tawa gembira? Ataukah semua itu pun hanya merupakan harapan dan hiburan bagi hati Paman sendiri belaka?”

MULUT kakek yang tadinya tersenyum lebar itu tiba-tiba kehilangan serinya, matanya terbuka lebar dan dia melongo, memandang jauh seperti orang melamun, ragu-ragu dan tanpa disadarinya, jari tangannya mencabut-cabut jenggot dan akhirnya dia menarik napas panjang berulang-ulang. “Aihhh… aku tidak ingat akan hal itu… hemmm… sekarang aku pun bingung dan ragu apakah aku tertawa demi ayahmu, ataukah hanya demi diriku sendiri…”

Dua orang itu duduk melamun di depan kuburan baru itu, tidak tahu betapa seorang anak laki-laki kecil melangkah perlahan mendekati mereka. Kun Liong yang mendengar percakapan itu, merasa tertarik sekali dan dia merasa betapa benarnya mereka berdua itu, membuka mata masing-masing akan kepalsuan dan kekeliruan mereka sehingga dia sendiri pun dapat melihat betapa picik, penuh rasa iba diri, pura-pura dan palsu adanya sikap orang-orang yang kematian. Akan tetapi dia sendiri pun tidak tahu apa yang menyebabkan orang-orang itu bersikap seperti itu.

“Aku hanya merasa kasihan dan menyesal kalau teringat betapa Ayah mati karena gigitan ular berbisa…” Terdengar suara Akian memecah kesunyian.

“Tak perlu disesalkan, sudah terlalu banyak penduduk dusun kita itu mati oleh gigitan ular beracun yang memenuhi hutan di selatan itu. Memang menggemaskan ular-ular itu…”

“Mengapa tidak dilawan saja ular-ular itu?”

Mereka kaget dan menengok, lebih heran lagi ketika melihat bahwa yang menganjurkan melawan ular-ular itu hanyalah seorang anak laki-laki yang masih kecil, yang tubuhnya bengkak-bengkak dan matang biru, pakaiannya koyak-koyak dan kelihatannya lemas dan pucat.

“Aihh, siapa engkau?” Akian bertanya, agak seram melihat munculnya seorang anak laki-laki yang tidak terkenal di tanah kuburan, di waktu senja larut dan cuaca mulai agak gelap itu.

“Siapa aku tidak penting, Paman. Akan tetapi mengapa sampai ada ular membunuh orang? Mengapa tidak ditangkap ular-ular berbisa itu?”

Kakek itu bangkit berdiri. “Bocah, kau bicara sembarangan saja! Siapa berani menangkap ular berbisa?”

“Hemm, aku sudah biasa menangkap ular sejak kecil!” Kun Liong berkata, “Dan sudah biasa pula makan daging ular berbisa.”

“Aku tidak percaya!” Akian juga bangkit berdiri.

Tiba-tiba hidung Kun Liong mencium sesuatu dan cuping hidungnya berkembang-kempis. “Harap kalian mundur, ada ular berbisa di sini, akan kutangkap agar kalian dapat melihat bahwa manusia tidak kalah oleh ular yang manapun juga!”

Biarpun ular itu belum tampak, kakek dan laki-laki itu meloncat ke belakang Kun Liong dengan ketakutan. Kun Liong melangkah maju, menghampiri sebelah bawah sebuah kuburan tua yang berada dekat dengan kuburan baru itu. Dia mendekatkan hidungnya pada sebuah lubang dan temyata benar dugaannya. Bau ular itu keluar dari lubang ini. Kun Liong segera menggunakan tangan kanannya menepuk-nepuk sebelah atas lubang dengan telapak tangan, mulutnya mengeluarkan bunyi mencicit seperti bunyi anak tikus. Dua orang itu berdiri dengan mata terbuka lebar, dan mata mereka menjadi lebih lebar lagi ketika tiba-tiba dari dalam lubang itu keluar kepala seekor ular hitam yang lidahnya merah! Makin lama makin panjang tubuh ular itu tersembul keluar dan secepat kilat, tangan kiri Kun Liong menyambar dan ular itu sudah ditangkap pada lehernya, kemudian dibuat tidak berdaya dan lumpuh seperti biasa.

“Wah, engkau benar-benar dapat menangkap ular!” Akian berseru girang seperti bersorak.

“Eh, anak kecil, bagaimana engkau berani melakukan ini? Ular-ular di sini… eh, maksudku di hutan sebelah selatan, adalah ular-ular peliharaan…” kata Si Kakek.

“Apa…?” Kun Liong bertanya tidak percaya. “Siapa yang memelihara ular?”

“Ssstt, Paman, harap jangan main-main…” Akian berkata, memandang ke kanan kiri dan kelihatan takut-takut.

“Tidak ada yang tahu betul siapa yang memelihara, anak aneh, akan tetapi ular raksasa yang berada di tengah hutan tentu akan membunuhmu karena kau telah berani menangkap ular ini.”

“Ular raksasa? Di mana binatang itu?”

“Di tengah hutan sebelah selatan dusun kami,” kata Si kakek, tanpa mempedulikan Akian yang beberapa kali menaruh telunjuk di depan bibir yang mendesis-desis sebagai isyarat menyuruh kakek itu diam.

“Kalau benar ada ular raksasa yang suka mengganggu penduduk, biarlah besok pagi aku akan menangkapnya!” Kun Liong berkata dengan nada suara gagah.

Kakek itu saling pandang dengan Akian, kemudian dia mengejap-ngejapkan matanya. Kepada Kun Liong dia berkata, “Benarkah itu, anak yang ajaib? Dan engkau juga bisa mengobati orang yang kena digigit ular berbisa?”

“Aku dapat, Kek. Apakah masih ada korban ular berbisa?”

“Ada dua orang, di dusun kami!” Akian kini berkata tergesa-gesa dan penuh harapan.

“Antarkan aku kepada mereka, akan kuobati. Cepat jangan sampai terlambat!” kata Kun Liong.

Kakek Lo dan Akian mengajak Kun Liong berlari-lari menuju ke dusun dan mereka disambut oleh penduduk dusun yang terheran-heran memandang Kun Liong yang masih memegang seekor ular hitam, apalagi ketika mereka mendengar penuturan Si Kakek Tua bahwa anak ajaib itu akan mengobati dua orang yang terkena gigitan ular berbisa.

Kun Liong diantar kepada ayah dan anak yang siang tadi digigit ular berbisa di waktu mereka mencari kayu kering di pinggir hutan. Keduanya digigit ular pada betis kaki mereka yang kini menjadi bengkak biru. Anak yang usianya sebaya dengan Kun Liong itu pingsan, sedangkan si ayah rebah gelisah, mengigau dengan tubuh panas seperti anaknya.

Ibu anak itu menangis, akan tetapi tangisnya dipaksa berhenti ketika mendengar bahwa anak yang tampan dan berpakaian koyak-koyak itu datang untuk mengobati suami dan anaknya. Berbondong-bondong orang-orang mengikuti Kun Liong memasuki rumah petani itu. Setibanya di depan pintu kamar, Kun Liong berhenti, membalikkan tubuh dan berkata, “Harap para paman dan bibi suka menanti di luar saja. Tidak baik kalau kamar yang menderita sakit dipenuhi orang.”

Kakek Lo segera melangkah maju mendekati Kun Liong dan berkata dengan suara lantang, “Tabib kecil ini berkata benar! Hayo kalian keluar semua! Apa dikira ini tontonan? Susah payah aku yang menemukan anak ajaib ini berhasil membawanya ke sini untuk menyelamatkan dusun kita. Hayo pergi kataku, pergi keluar!” Dengan lagak bangga kakek itu mendesak mereka keluar dan hanya membolehkan nyonya rumah, dia sendiri, dan Akian yang dianggap sekutunya dalam menemukan Kun Liong, mengantar anak itu memasuki kamar dua orang karban gigitan ular berbisa itu.

Dengan sikap sungguh-sungguh Kun Liong memeriksa luka di kaki ayah dan anak itu. Dia memang sudah memperoleh pelajaran tentang racun ular agak matang dari ibunya yang menganggap betapa pentingnya pengetahuan ini, maka sekali pandang saja maklumlah Kun Liong bahwa kedua orang itu digigit ular belang. Cepat dia menuliskan nama-nama obat yang harus dibelinya dari kota, kemudian dia minta sebuah pisau yang runcing tajam, merobek kulit bagian kaki yang mengembung dan mengeluarkan darah hitam dengan jalan memijat dan mengurut.

Kakek Lo segera menyuruh seorang penduduk lari ke kota membeli obat. Setelah orang itu kembali membawa obat, menurutkan petunjuk Kun Liong obat itu sebagian dimasak dan diminumkan yang sakit, sebagian yang berupa bubuk merah dicampur air panas dan ditaruh di atas luka lalu luka itu dibalut. Dapat dibayangkan betapa lega dan girang hati nyonya rumah ketika melihat suami dan puteranya itu dapat tidur pulas dan tubuh mereka tidak panas lagi. Dia serta merta menjatuhkan diri berlutut di depan Kun Liong yang cepat-cepat membangunkan kembali.

Kakek Lo dengan bangga dan girang berkata, “Aihhh, Siauw-sinshe, kepandaianmu seperti dewa! Harap saja engkau benar-benar akan dapat membersihkan ular-ular itu dari hutan di selatan agar keselamatan kami di dusun ini dapat terjamin,”

Kun Liong mengangguk. “Jangan khawatir, Kakek yang baik. Besok akan kucoba menangkap ular raksasa yang kauceritakan tadi. Sekarang aku perlu sebuah tempat tidur dan… hemm, perutku lapar bukan main. Sejak kemarin malam aku belum makan…”

“Aihhh! Kenapa tidak dari tadi bilang? Marilah ke rumahku, kami sediakan kamar untukmu dan tentang makan, jangan khawatir. Marilah!” Dia menggandeng tangan Kun Liong, menariknva diajak ke luar menuju ke rumahnya. Ketika tiba di luar pintu, dia berkata kepada orang-orang yang menanti di luar.

“Mereka sudah sembuh, disembuhkan oleh anak ajaib ini! Dan ketahuilah, besok pagi anak dewa yang kutemukan ini, yang malam ini makan dan tidur di rumahku, akan menangkap ular raksasa dan membasmi semua ular berbisa di hutan selatan!” Tanpa menanti jawaban kakek itu menarik tangan Kun Liong pergi dari situ, tidak peduli akan seruan-seruan heran dan takjub dari orang-orang yang menimbulkan kebanggaan di dalam hatinya. Betapa dia tidak akan bangga? Dia yang menemukan anak ajaib ini!

Akian memperoleh kesempatan untuk mendongeng tentang “anak ajaib” yang ia dapatkan bersama Kakek Lo. Kalau saja Kun Liong mendengar bagaimana Akian bercerita tentang dia, tentang munculnya yang dikatakan melayang turun dari angkasa, betapa dia menangkap ular dengan mantera, dan beberapa macam keanehan lagi, tentu Kun Liong sendiri akan terheran-heran, lebih heran daripada orang-orang dusun itu sendiri!

Kakek Lo tidak kekurangan hidangan untuk menjamu Kun Liong karena begitu mereka memasuki rumah kakek itu, berbondong-bondong para penduduk mengantar hidangan seadanya yang masih mereka punyai sehingga tak lama kemudian Kun Liong duduk menghadapi meja penuh dengan hidangan, dilayani sendiri oleh Kakek Lo dan keluarganya yang terdiri dari anak laki-laki, mantu dan tiga orang cucu.

Setelah makan kenyang, malam itu Kun Liong tidur dengan nyenyak sekali dan pada keesokan harinya, Kakek Lo menyambutnya dengan pakaian baru yang ukurannya tepat sekali bentuknya. “Pakaianmu sudah koyak-koyak semua, pakailah pakaian ini, pakaian cucuku yang masih baru, belum pernah dipakainya sama sekali.”

Kun Liong tidak menolak dan setelah mandi, dia mengenakan pakaian baru itu, dan rambutnya disisir rapi lalu digelung dan diikat dengan sehelai saputangan sutera. Juga pemberian sepatu baru dipakainya.

“Hebat! Engkau tentu seorang kongcu, seorang putera bangsawan!” Kakek Lo berseru dan memandang kagum kepada anak yang berdiri di depannya, segar dan tampan sekali.

“Bukan, Kek. Aku bukan anak bangsawan, Ayah bundaku hanyalah ahli-ahli obat biasa saja.”

“Siapakah namamu, Siauw-sinshe?”

“Aku she Yap, namaku Kun Liong.”

“Yap-kongcu (Tuan Muda Yap)…!”

“Wah, aku bukan seorang kongcu, aku anak biasa. Panggil saja namaku, Kek.”

“Ah, tidak, siapa percaya? Yap-kongcu, silakan keluar, di depan rumah sudah menanti para penduduk, bahkan kepala dusun ini sendiri datang untuk bertemu denganmu.”

Kun Liong kaget dan merasa betapa penduduk telah menghormatinya secara berlebihan. Ketika dia keluar, benar saja dia melihat penduduk sudah berkumpul di depan rumah itu, dipimpin oleh kepala dusun yang menjura dengan sikap hormat kepada Kun Liong sambil berkata,

“Kami mewakili penduduk dusun Coa-tong-cung berterima kasih sekali kepada Siauw-kongcu yang telah menolong kami menyembuhkan penduduk yang terluka dan akan menangkap ular raksasa yang banyak mengganggu kami.”

“Harap Cuwi tidak bersikap sungkan,” kata Kun Liong malu-malu. “Aku hanya melakukan apa yang dapat kulakukan, dan memang sudah biasa aku menangkap ular. Hanya saja, terus terang kukatakan bahwa selamanya aku belum pernah menangkap ular yang besar. Akan kucoba menundukkannya dan kuharap agar disediakan seekor ayam betina yang gemuk dengan tali panjang mengikat kakinya untuk umpan.”

Kepala dusun cepat memerintahkan orangnya untuk menyediakan permintaan Kun Liong, kemudian beramai-ramai mereka mengantarkan anak itu ke dalam hutan di selatan Dusun Coa-tong-cung (Dusun Guha Ular). Akan tetapi tak seorang pun berani memasuki hutan, hanya berdiri di luar hutan yang kelihatan gelap itu dengan wajah membayangkan kengerian.

“Mengapa Cuwi (Kalian) berhenti? Siapa yang akan menunjukkan kepadaku tempat ular raksasa itu?”

Semua orang menunduk, akan tetapi Kakek Lo segera melangkah maju dan berkata dengan suara dipaksakan dan dada dibusungkan, “Aku akan menemanimu, Yap-kongcu!”

“Aku juga!” Akian melangkah maju pula.

“Hemm, sebaiknya ada yang mengawal kalau-kalau Siauw-kongcu ini memerlukan bentuan,” kata kepala dusun yang menggunakan wibawanya memilih sepuluh orang pemuda-pemuda yang bertubuh kuat, membawa senjata dan dia sendiri memimpin sepuluh orang itu mengikuti Kun Liong, Kakek Lo, dan Akian memasuki hutan.

Setelah tiba di tengah hutan, di bagian yang berbatu-batu, Akian menuding ke depan dan semua pengikut itu tiba-tiba berhenti, wajah mereka berubah. pucat dan tak seorang pun berani maju lagi.

Kun Liong memandang ke depan. Hidungnya sudah mencium bau keras, bau wengur yang menandakan bahwa di dekat situ terdapat seekor ular besar. “Harap Cuwi menanti saja di sini,” katanya dan dia membawa ayam betina yang telah diikat kakinya itu, perlahan-lahan menghampiri sebuah guha di antara batu-batu gunung. Setelah dia menyelinap di antara batu-batu dan tiba di mulut guha, tampaklah olehnya seekor ular yang amat besar dan panjang. Mula-mula ketika dia tiba di situ, ular itu sedang melingkar, akan tetapi agaknya ular itu melihat kedatangannya. Ular itu mendesis dan tubuhnya yang melingkar mulai bergerak-gerak, lingkarannya terlepas dan tampaklah tubuh yang panjang sekali, tidak kurang dari empat meter panjangnya, dan besar perutnya melebihi paha Kun Liong!

Setelah berada di depan ular yang mendesis-desis dan lidah merahnya keluar masuk mulut dengan cepat sekali itu, Kun Liong berhenti. Terlalu berbahaya kalau mendekat lagi. Dia mengukur jarak antara dia dan ular, dan mengingat apa yang telah dipelajarinya dari ibunya. Ibunya pernah menundukkan seekor ular besar, sungguhpun tidak sebesar ular di depannya ini. Menurut pelajaran yang diberikan ibunya, seekor ular besar berbeda bahayanya dengan ular kecil yang beracun. Ular kecil gigitannya mematikan karena mengandung bisa. Akan tetapi seekor ular besar yang tidak berbisa seperti ini, bahayanya terletak pada mulut yang dapat menjadi lebar sekali, yang gigitannya tak mungkin dapat dilepaskan oleh Si Korban, dan juga terletak pada belitan tubuhnya yang amat kuat. Untuk membuat mulut lebar itu tidak berdaya, harus dipergunakan umpan, karena sekali ular itu menggigit korbannya, gigi-giginya yang melengkong ke dalam itu akan merupakan kaitan yang sukar melepaskan si korban dan dalam keadaan menggigit korbannya, ular itu tidak dapat menyerang lawan dengan mulutnya. Mudah untuk membuat mulut itu tidak berdaya, pikir Kun Liong yang berbahaya adalah belitan tubuh itu. Harus cepat dapat menotok tengkuk di belakang kepala sehingga tubuh itu menjadi setengah lumpuh.

Ular itu kini mengeluarkan desis keras ketika Kun Liong melepaskan ayamnya. Ayam betina gemuk itu mengenal bahaya. Dia meronta-ronta dan mengerakkan sayap hendak lari dan terbang, akan tetapi tali yang mengikat kaki itu menahannya. Dengan mata yang memandang tanpa berkedip, Kun Liong menggerakkan talinya sehingga tubuh ayam itu terlempar ke depan, ke dekat ular.

Menakjubkan melihat ular sebesar itu, membayangkan kelambanan, dapat menggerakkan kepala dengan kecepatan luar biasa dan tahu-tahu ayam itu memekik-mekik dan meronta-ronta, namun tak mungkin dapat melepaskan diri dari gigi-gigi runcing yang telah menancap di tubuhnya dan mengait daging dan tulang. Kun Liong menanti sebentar, melihat ayam yang meronta-ronta dan memekik-mekik itu mulai lemas, dan beberapa kali moncong ular itu bergerak ke depan secara tiba-tiba memaksa tubuh korbannya masuk makin dalam, kemudian dengan gerakan ringan Kun Liong sudah meloncat ke dekat kepala ular, menubruk dan merangkul leher ular yang menegakkan kepalanya, menggunakan jari tangannya, mengerahkan semua tenaga untuk memijat dan memukul tengkuk ular. Bau yang amis dan wengur membuatnya muak, dan melihat moncong ular yang besar itu dia merasa ngeri juga. Kalau moncong ular itu tidak penuh ayam yang mulai ditelan berikut bulu-bulunya, tentu dia yang menjadi korban dan kiranya ular itu tidak akan menghadapi kesukaran untuk menelan tubuhnya bulat-bulat.

Ular itu marah sekali, akan tetapi karena dia tidak dapat menyerang dengan mulutnya yang penuh ayam, dia hanya menggunakan tubuhnya untuk membelit. Pukulan pada tengkuknya mendatangkan rasa nyeri dan ketika Kun Liong akhirnya berhasil menotok urat kelemahan binatang itu di tengkuk, tubuh ular itu telah berhasil pula membelit tubuh Kun Liong, menggunakan tenaga dari ekornya!

Kun Liong menggunakan lengannya melindungi leher karena dia maklum bahwa kalau sampai lehernya terbelit dan tercekik, dia tidak akan dapat melepaskan diri lagi dan tentu akan mati. Dia berhasil melindungi leher, akan tetapi pinggang, kedua kaki, dada, dan lengannya terhimpit dan terbelit, membuat dia sukar bernapas dan tidak dapat bergerak! Ketika melihat betapa kepala dusun dan anak buahnya yang menyaksikan keadaannya itu datang mendekat dengan senjata di tangan, siap membantunya, Kun Liong menggeleng kepala dan berkata, “Jangan…!” Dia merasa khawatir sekali karena kalau orang-orang itu menyerbu dan melukai ular besar ini, tentu ular itu makin marah dan memperkuat libatannya dan hal ini berarti ancaman maut baginya.

Untung bahwa kepala dusun itu seorang yang cukup cerdik untuk dapat mengerti bahwa kalau keadaan anak itu terancam bahaya, tidak mungkin anak itu menolak untuk dibantu. Maka dia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk diam, dan mereka itu kini hanya memandang dengan mata terbelalak penuh kekhawatiran melihat Kun Liong bergulat dalam usahanya membebaskan diri dari belitan tubuh ular yang licin dan amat kuat itu. Biarpun tubuh bagian leher setengah lumpuh, namun tenaga dari ekomya masih amat kuat dan agaknya ular itu hendak membuat tubuh Kun Liong remuk dengan himpitannya.

Kun Liong maklum bahwa keadaannya berbahaya. Biarpun dia telah berhasil memukul tengkuk ular itu sehingga untuk sementara ular itu tidak dapat menelan tubuh ayam dan mulutnya tidak akan menggigitnya akan tetapi tenaga pukulannya tidak cukup kuat sehingga ular itu hanya akan lumpuh, untuk beberapa saat lamanya saja. Kalau ular itu dapat memulihkan kembali tenaganya, menelan tubuh ayam tadi dan mulutnya sudah kosong, tentu dia tidak akan tertolong lagi. Sekali gigit dia akan mati dan tubuhnya akan ditelan perlahan-lahan ke dalam perut yang besar itu.

Kembali Ilmu Sia-kut-hoat yang pernah dipelajarinya dari ayahnya, dia pergunakan untuk menolong dirinya. Dengan menggunakan ilmu ini, biarpun perlahan-lahan karena belitan ular itu benar-benar amat kuat, akhirnya Kun Liong dapat membebaskan kedua lengannya. Ekor ular itu ikut membelit ke pinggangnya, maka mudah baginya untuk menangkap ekor ular itu dan dengan sekuat tenaga dia menarik dan membetot bagian ekor ular itu sampai terdengar bunyi suara tulang berkerotok, tanda bahwa sambungan tulang di ekor itu terlepas!

Karena kedua ujung tubuhnya yang menjadi serupa pegangan dan pusat tenaganya telah menjadi lumpuh, ular itu kebingungan. Tubuhnya bergerak-gerak lemah dan otomatis libatannya menjadi kendur sehingga dengan mudah Kun Liong melepaskan diri dan meloncat keluar dari lilitan tubuh ular yang melingkar-lingkar.

“Dia sudah dapat kujinakkan!” katanya kepada orang-orang yang menonton dengan heran dan kagum. Akan tetapi karena tubuh ular besar itu masih bergerak-gerak, orang-orang itu masih merasa takut dan tidak berani datang mendekati.

“Dia tidak akan dapat menggigit atau melilit lagi. Kita ikat leher dan ekornya, bawa pulang ke dusun. Dagingnya enak sekali! Juga kulitnya amat berharga” kata Kun Liong.

Kakek yang menjadi orang pertama melompat ke depan mendekati ular. Dan mengulur tangan menepuk-nepuk kepala ular itu dan ketika melihat betapa ular itu sama sekali tidak menyerangnya, dia tertawa terkekeh-kekeh dan semua orang menjadi berani. Beramai-ramai mereka mengikat ular itu dengan tali yang memang mereka bawa dari dusun.

Kun Liong lalu menangkap-nangkapi ular-ular beracun kecil sampai belasan ekor lebih. Kini sambil memanggul ular yang sudah diikat dan membawa ular-ular berbisa kecil yang sudah lumpuh, penduduk dusun yang dipimpin kepala kampung itu tertawa-tawa gembira dan penuh kebanggaan, berjalan beriring hendak keluar dari dalam hutan.

“Mudah saja untuk mengusir ular-ular dari hutan ini” Kun Liong sibuk memberi penjelasan kepada kepala dusun. “Cuwi dapat mempergunakan bubukan garam untuk mengusir ular. Ular-ular itu paling takut karena garam dapat mencelakakan mereka, menjadi racun yang merusak kulit mereka. Pertama-tama Cuwi sebarkan garam di bagian hutan yang dekat dusun, atau dapat juga dipergunakan api untuk membakar semak-semak. Pasti binatang-binatang itu akan lari ketakutan dan tidak akan berani datang kembali, mereka akan mencari tempat persembunyian lain yang lebih aman.”

Tiba-tiba rombongan itu berhenti berjalan ketika terdengar suara yang mirip suara suling, akan tetapi aneh sekali, tidak seperti suling biasa. Jelas bahwa suara itu keluar dari sebuah alat tiup macam suling, hanya suaranya melengking terus tanpa pernah berhenti sedikit pun, nadanya naik turun, kalau naik menjadi tinggi sekali sampai hampir tidak terdengar lagi dan seperti menusuk-nusuk telinga, kalau turun menjadi amat rendah seperti gerengan seekor harimau yang menggetarkan jantung.

“Suara apa itu…?” Kun Liong bertanya, akan tetapi dia tidak memerlukan jawaban lagi ketika menoleh dan melihat betapa orang-orang itu saling pandang dengan mata terbelalak dan wajah pucat, kemudian mereka menahan seruan kaget ketika mendengar suara mendesis-desis dari sekeliling mereka, disusul munculnya puluhan, bahkan ratusan ekor ular besar kecil yang mengurung mereka! Tadinya ular-ular itu bergerak dan mendesis-desis akan tetapi tiba-tiba suara melengking itu berubah pendek-pendek seperti memberi aba-aba dan… ular-ular itu lalu berhenti, tidak bergerak seperti mati!

“Apa… apa ini…?” Kun Liong kembali bertanya, memandang ke sekeliling dan bergidik melihat betapa ular-ular itu memang telah mengurung mereka, agaknya datang dari empat penjuru hutan itu dan seolah-olah binatang-binatang itu terlatih sehinggia dapat melakukan pengurungan yang rapat dan rapi! Tentu suara suling aneh itu yang mengatur “barisan” ular ini. Diam-diam dia kagum bukan main.

Suara melengking menghilang dan dapat dibayangkan betapa kaget hati penduduk dusun itu ketika tiba-tiba, entah dari mana dan bagaimana datangnya, tahu-tahu di depan mereka telah berdiri seorang laki-laki yang luar biasa, seorang kakek berusia lima puluh tahun, pakaiannya lorek-lorek seperti kulit ular, tubuhnya kurus tinggi dan lehernya amat panjang, kepalanya lonjong. Benar-benar seorang manusia yang bentuk tubuhnya “mendekati” bentuk ular! Tangan orang ini memegang sebuah benda yang bentuknya seperti suling akan tetapi ujung bagian depan besar dan terbuka seperti corong, agaknya sebuah alat tiup terompet yang aneh. Di punggungnya tampak gagang sebatang pedang.

“Hahhhh! Siapa kalian ini berani mati sekali mengganggu anak buahku, mengganggu binatang peliharaanku! Lepaskan mereka!” Tiba-tiba dia menggetarkan tangah kanannya ke depan. Ujung lengan bajunya menyambar ke depan dan… semua ular yang dipegang rombongan itu terlepas karena tiba-tiba mereka, termasuk Kun Liong merasa ada angin menyambar dan membuat lengan mereka seperti kehilangan tenaga dan lumpuh untuk beberapa detik lamanya!

Kepala dusun dan anak buahnya sudah berdiri menggigil, bahkan ada yang saking takutnya sudah menjatuhkan diri berlutut. Kun Liong teringat akan cerita Kakek Lo dan Akian yang pada saat itu sudah berlutut pula, yaitu cerita tentang ular-ular hutan itu yang katanya ada yang memelihara. Kiranya cerita itu bukan cerita bohong belaka karena kini benar-benar ada seorang manusia aneh yang mengaku ular-ular itu sebagai anak buah dan peliharaannya! Dia teringat pula akan penuturan ibunya bahwa di dunia kang-ouw banyak terdapat manusia-manusia aneh yang memiliki kepandaian tinggi dan memiliki kesaktian. Maka kini melihat orang aneh yang sekali menggerakkan tangan mampu membuat mereka semua terpaksa melepaskan ular-ular yang ditangkapnya tadi, Kun Liong dapat menduga bahwa tentu orang ini adalah seorang di antara manusia-manusia sakti di dunia kang-ouw. Cepat dia melangkah maju dan memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada sambil berkata,

“Locianpwe (Orang Tua Perkasa), harap Locianpwe tidak menyalahkan para penduduk dusun ini, mereka tidak berdosa karena akulah yang telah menangkap ular-ular ini.”

Manusia aneh itu sejenak memandang ke arah ular-ular yang hanya dapat bergerak lambat, termasuk ular besar yang telah setengah lumpuh, kemudian menoleh kepada Kun Liong dan memandang dengan heran. “Ular-ularku ditotok dan dilumpuhkan! Engkau yang melakukan ini? Dari mana engkau memperoleh ilmu menangkap ular?”

“Pemah kupelajari dari orang tuaku sendiri.”

“Hemmm, kalian manusia-manusia jahat dan lancang, berani melumpuhkan dan menangkapi ular-ularku! Kalian tidak berhak hidup lagi karena kalian telah berani menghina Ban-tok Coa-ong!”

Mendengar ini, kepala dusun menjatuhkan diri berlutut, diturut oleh semua anak buahnya. “Harap Locianpwe sudi mengampunkan kami…”

“Hemmm, aku barangkali bisa mengampuni, akan tetapi ular-ularku ini pasti tidak!” kata kakek itu sambil terkekeh, sikapnya kejam sekali.

Kun Liong menjadi marah. Dia melangkah maju lagi dan berkata,

“Locianpwe yang telah memiliki nama julukan demikian menyeramkan tentu bukanlah seorang manusia biasa, melainkan tokoh besar di dunia kang-ouw. Apakah Locianpwe tidak malu dan tidak ditertawakan orang-orang gagah sedunia kalau Locianpwe membunuh orang-orang dusun yang tidak mampu melawan?”

Kembali kakek itu tercengang memandang Kun Liong. Sikap dan ucapan bocah ini benar-benar membuat dia kaget, heran, dan kagum.

“Kalian telah mengganggu ular-ularku, sudah pantas dihukum. Siapa yang akan mentertawakan aku?”

“Locianpwe adalah seorang mariusia, aku tidak percaya bahwa Locianpwe lebih sayang.kepada ular daripada kepada manusia, membela ular dan memusuhi manusia!” Kun Liong membantah lagi penuh penasaran.

“Ho-ho-ha-ha-ha! Aku disebut Coa-ong (Raja Ular), siapa lagi kalau bukan aku yang. membela ular-ular ini? Aku tidak sudi dimasukkan kelompok manusia! Ular-ular ini jauh lebih baik daripada manusia!”

“Locianpwe agaknya lupa bahwa ular-ular berbisa telah membunuh banyak manusia, dan merupakan binatang ganas yang berbahaya bagi manusia!” Kun Liong membantah, suaranya sama sekali tidak membayangkan rasa takut, bahkan terdengar nyaring penuh penasaran.

“Apa kau bilang?” Kakek itu. mencoba untuk melebarkan matanya, akan tetapi hasilnya, sepasang matanya itu bertambah sipit hampir terpejam sama sekali. Leherya yang panjang bergerak-gerak makin memanjang, dan kelihatannya lucu sekali. Lengannya yang panjang dan dapat bergerak seperti ular merayap itu menudingkan telunjuk tangan ke arah Kun Liong. “Jangan memutarbalikkan kenyataan, ya? Kau hanya mengingat manusia yang terbunuh oleh ular-ular, sama sekali tidak ingat akan ular-ular yang terbunuh oleh manusia! Mungkin perbandingannya tidak ada seratus lawan satu, seratus ekor ular telah dibunuh manusia dan baru seorang manusia yang terbunuh oleh ular! Itu pun terjadi karena si manusia mengganggu ular, kalau tidak, tak mungkin ada ular menyerang manusia, kecuali ular besar yang menyerang apa saja kalau sudah lapar karena membutuhkan penyambung hidup. Sedangkan manusia-manusia macam engkau ini, menangkap dan membunuh ular untuk apa? Tanpa makan ular kalian masih dapat hidup. Kau bilang ular-ular itu berbahaya bagi kehidupan manusia, bukankah itu terbalik dan sebetulnya, manusia-manusia macam kalian inilah yang amat berbahaya bagi kehidupan ular?”

Kun Liong menjadi merah sekali mukanya. Di dalam hati anak yang masih belum rusak benar oleh kepalsuan-kepalsuan seperti manusia dewasa dia dapat menerima pendapat kakek aneh itu dan dalam kewajarannya, dia mau tidak mau harus membenarkan pendapat itu. Akan tetapi maklum bahwa nyawa kepala dusun dan anak buahnya terancam bahaya maut, dia membantah,

“Biarpun pendapat Locianpwe tak dapat kusangkal kebenarannya, akan tetapi Locianpwe adalah seorang manusia, tidak mungkin hendak mengorbankan nyawa manusia untuk membela ular!”

“Memang aku raja ular! Bergaul dengan ular jauh lebih menyenangkan daripada bergaul dengan manusia-manusia yang palsu!” Kakek itu segera mendekatkan ujung terompetnya ke bibir dan terdengarlah suara melengking yang dahsyat sekali, yang membuat Kun Liong dan semua penduduk dusun itu menggigil kedua kakinya dan tidak dapat melangkah dari tempat mereka berdiri seolah-olah kaki mereka menjadi lumpuh! Temyata bahwa suara terompet itu bukanlah suara biasa, melainkan suara yang mengandung getaran dahsyat sekali dari tenaga khikang dan diam-diam Kun Liong terkejut bukan main. Pemah dia mendengar dari ayah bundanya akan kesaktian ini. Hanya orang yang sudah memiliki sin-kang amat kuat saja dapat mengerahkan tenaga dalam suara sehingga melumpuhkan lawan! Pemah dia merasakan getaran khi-kang dari suara nyanyian tosu Pek-lia-kauw, yaitu Loan Khi Tosu, akan tetapi getaran yang terkandung dalam suara tosu itu tidaklah sedahsyat suara terompet ini sehingga dia bahkan dapat mengacau nyanyian tosu itu dengan nyanyiannya. Pernah ayahnya mendemonstrasikan suara melengkingnya yang mengandung khi-kang, akan tetapi agaknya kekuatan ayahnya juga tidak sehebat dan sedahsyat suara yang terkandung dalam tiupan suling aneh ini!

Empat belas orang itu, Kun Liong, Kakek Lo, Akian, kepala dusun dan sepuluh orang anak buahya, hanya berdiri seperti arca dengan mata terbelalak lebar memandang ke arah ular-ular yang kini maju merayap menghampiri mereka! Dapat dibayangkan betapa ngeri dan takut rasa hati mereka, akan tetapi mereka tak dapat menggerakkan kaki untuk melarikan diri, bahkan bibir mereka yang bergerak-gerak tidak dapat mengeluarkan suara, hanya terdengar ah-ah-uh-uh dan ada di antara mereka yang mengeluarkan air mata saking takutnya. Hanya Kun Liong seorang yang berdiri tenang karena dia sama sekali lupa akan keadaan diri sendiri lupa akan bahaya yang mengancam nyawanya sendiri, dan yang menjadi perhatiannya hanyalah keadaan orang-orang yang terancam bahaya maut itu. Di dalam hatinya dia merasa menyesal bukan main. Semua ini terjadi gara-gara dia! Kalau dia tidak menangkap ular-ular itu agaknya kakek iblis Ban-tok Coa-ong tidak akan membunuh mereka!

Rasa penasaran dan penyesalan yang besar ini membuat dia sejenak lupa sama sekali akan suara melengking dari terompet sehingga dia terbebas dari pengaruh khi-kang dan berteriak keras,

“Kakek iblis! Jangan bunuh mereka! Kalau mau bunuh, bunuhlah aku karena akulah yang menangkap ular-ularmu. Mereka tidak berdosa!”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: