Petualang Asmara (Jilid ke-5)

“Plakkk!” Secara tiba-tiba sekali tangan kiri kakek itu bergerak dan tubuh Kun Liong terguling dalam keadaan lumpuh karena dia telah tertotok secara aneh sekali. Dan kakek itu masih terus meniup terompetnya yang membuat ular-ular itu seperti mabok dan marah. Mulailah ular-ular itu menyerang dan menggigit empat belas orang itu dan pada saat itu, Ban-tok Coa-ong menghentikan tiupan terompetnya sehingga orang-orang itu kini dapat bergerak dan dapat berteriak-teriak. Mereka berusaha melawan, akan tetapi mana mungkin melawan ular yang demikian banyaknya? Sedikitnya ada sepuluh ekor ular besar kecil menggigit tubuh setiap orang dan setiap gigitan saja sudah mengandung racun yang cukup untuk mencabut nyawa!

Hanya Kun Liong seorang di antara empat belas orang itu yang tetap tidak bergerak biarpun tubuhnya juga digigit beberapa ekor ular. Tiga belas orang yang lain, selain menjerit-jerit dan makin lama suaranya menjadi rintih memilukan, juga mereka berkelojotan dan bergulingan ke sana-sini sampai akhirnya mereka diam tak bergerak, tubuh mereka bengkak-bengkak dan berwama biru kehitaman! Hal ini adalah karena di dalam tubuh Kun Liong sudah terdapat racun inti bisa ular. Ibunya yang amat sayang kepada puteranya ini telah memberi minum obat yang mengandung racun anti bisa ular itu kepadanya, semenjak kecil, sedikit demi sedikit sehingga kini Kun Liong telah menjadi kebal terhadap racun ular. Gigitan-gigitan itu memang membuat bagian tubuh yang tergigit menjadi bengkak dan merah, akan tetapi racun ular itu tidak dapat menjalar ke dalam tubuhnya, tertolak oleh darahnya yang mengandung racun penolak dan racun ular itu hanya terkumpul di tempat gigitan. Hal ini tidak diketahui oleh Ban-tok Coa-ong yang tertawa-tawa dan bergembira menyaksikan orang-orang yang disiksanya itu. Kalau saja tidak ada sedemikian banyaknya orang yang dikeroyok ular-ulamya, andaikata hanya Kun Liong seorang sebagai seorang ahli racun ular tentu saja Ban-tok Coa-ong akan dapat mengetahui keanehan ini.

Sekarang tidak terdengar suara lagi. Tubuh empat belas orang itu diam, tidak bergerak lagi dan ular-ular itu sudah merayap pergi setelah para korbannya tidak bergerak lagi. Mereka itu bukanlah ular-ular pemakan bangkai dan mereka hanya menyerang untuk membunuh, didorong dan dirangsang oleh suara terompet.

“Ayahhh… jangan bunuh dulu mereka…!” Tiba-tiba terdengar suara teriakan dan gema suara teriakan itu belum lenyap ketika tahu-tahu di situ telah berdiri seorang anak laki-laki berambut panjang sampai ke punggung dan dibiarkan terurai begitu saja. Anak ini paling banyak tiga belas tahun usianya, wajahnya tampan akan tetapi gerak matanya mengerikan, seperti gerak bola mata seorang yang tidak waras otaknya!

“Bouw-ji (Anak Bouw), mau apa kau?” kakek itu bertanya, suaranya penuh dengan kasih sayang.

Akan tetapi anak laki-laki ini tidak menjawab hanya tertawa ha-ha-hi-hi, berjalan melihat-lihat tubuh empat belas orang yang menggeletak tak bergerak dengan muka biru menghitam itu. Hanya muka Kun Liong seorang yang tidak menjadi biru menghitam, cuma bengkak dan merah sedikit di pipi kanan bekas gigitan ular. Akan tetapi seperti juga tiga belas orang yang lain, dia roboh pingsan setelah tujuh kali digigit ular berbisa. Kalau di dalam tubuh tiga belas orang itu, bisa ular mengamuk dan mulai menjalar ke arah jantung, di dalam tubuh Kun Liong terjadi hal lain lagi. Bisa ular bertemu dengan racun di dalam tubuhnya yang menolak sehingga terjadi pertempuran, namun bisa ular kalah kuat dan hanya berhenti di tempat gigitan.

“He-he-hi-hi, Ayah. Jarum-jarumku dengan racun baru belum pemah dicoba kehebatannya. Mereka ini hendak kujadikan kelinci percobaan, Ayah!” Anak berambut panjang itu sudah mengeluarkan sekepal jarum-jarum kecil yang berwama merah.

“Bodoh! Mereka sudah hampir mati, tidak ada gunanya. Untuk percobaan, harus memilih korban yang masih sehat,” Ayahnya mencela.

“Hi-hi-hi, mereka belum mati dan dalam keadaan keracunan bisa ular mereka merupakan kelinci-kelinci percobaan yang amat menarik. Racun di jarumku ini lebih hebat daripada racun ular, dan sekarang dapat dibuktikan, Ayah!” Tanpa menanti jawaban lagi, anak itu menggerak-gerakkan tangan kanannya dan tampaklah sinar-sinar kecil menyambar ke arah tengkuk empat belas orang yang roboh pingsan itu. Agaknya ia sengaja melempar dengan tenaga kecil terukur sehingga jarum-larum itu hanya menancap setengahnya di tengkuk empat belas arang itu. Kemudian sambil tertawa-tawa anak itu meloncat ke dekat ayahnya dan mereka berpelukan sambil memandang ke arah korban mereka, menanti apa yang akan terjadi.

Kun Liong siuman ketika merasa nyeri. Akan tetapi dia segera teringat akan keadaannya, maka dia diam saja tidak bergerak, apalagi karena tiba-tiba dari tengkuknya menjalar hawa panas ke arah kepalanya, kemudian seluruh tubuhnya terasa panas dan sakit-sakit semua, membuat dia tidak dapat bergerak dan hanya dapat memandang dengan mata setengah terpejam, mengintai dari balik bulu matanya, melihat betapa kakek mengerikan itu kini berpelukan sambil tertawa-tawa dengan seorang anak laki-laki kecil yang tampan akan tetapi menyeramkan, ketika ia mengerling ke arah tiga belas orang dusun, dia terkejut setengah mati dan bulu tengkuknya meremang, berdiri satu-satu saking ngerinya.

Apa yang terjadi dengan tiga belas orang itu. Benar-benar amat mengherankan dan mengerikan. Seperti mayat-mayat hidup, tiga belas orang itu satu demi satu bangkit berdiri dengan gerakan kaku! Mereka itu benar-benar seperti mayat-mayat hidup dalam dongeng penakut kanak-kanak, muka mereka kehitaman, mata mereka melotot tak pemah berkedip, mulut mereka penuh busa, berlepotan di sekeliling bibir, napas mereka terengah-engah mengeluarkan suara “ngaak-ngiik” seperti napas orang menderita penyakit mengi. Kemudian, seperti ada sesuatu yang mendorong mereka dari belakang, tiga belas orang itu berlari kaku ke depan seperti orang berlumba, akan tetapi agaknya mereka lari secara ngawur, gerakan mereka kaku sekali dan arahnya tidak sama!

“He-he-hi-hi-hi…! Racunku menang, Ayah! Mengalahkan racun ular! Mari kita mengikuti mereka dan melihat!”

Anak berambut panjang itu bersorak dan meloncat, mengikuti “mayat-mayat hidup” yang lari berpencar tidak karuan itu. Ban-tok Coa-ong menggeleng-geleng kepala dan terpaksa mengikuti puteranya. Untung bagi Kun Liong karena ayah dan anak yang agaknya berotak miring itu tidak memperhatikannya sehingga tidak melihat keanehan bahwa di antara empat belas orang itu, hanya Kun Liong seoranglah yang tidak terpengaruh oleh racun merah. Melihat ayah dan anak itu pergi mengikuti para korban yang berubah mengerikan itu, Kun Liong menggunakan sisa tenaganya untuk merangkak pergi dari situ, memasuki semak-semak dan terus merangkak-rangkak karena dia tidak kuat bangkit. Jauh juga dia merangkak, dan akhimya dia roboh terguling, pingsan di dalam semak-semak yang gelap.

Ban-tok Coa-ong adalah nama julukan yang diberikan oleh orang-orang kang-ouw kepada kakek itu. Namanya adalah Ouwyang Kok, seorang pendatang baru di dunia kang-ouw, akan tetapi biarpun baru kurang lebih sepuluh tahun dia terjun ke dunia kang-ouw, namanya telah dikenal sebagai seorang di antara para datuk persilatan yang ditakuti orang di waktu itu. Tidak ada orang lain yang mengetahui asal-usulnya, akan tetapi kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, manusia aneh ahli ular ini turun dari pegunungan yang asing dan tak pemah dikunjungi orang, di perbatasan Nepal, masuk ke Tiongkok menggendong seorang anak laki-laki yang berusia tiga tahun, kemudian membuat nama besar di dunia kang-ouw karena kepandaiannya yang amat tinggi dan sepak terjangnya yang aneh. Namun, keganasannya terhadap mereka yang menantangnya, dan keahliannya bermain dengan ular, menghasilkan nama julukan Ban-tok Coa-ong (Raja Ular Selaksa Racun)! Anak yang dibawanya itu adalah putera tunggalnya, bemama Ouwyang Bouw yang semenjak kecil digemblengnya, namun karena cara hidup Ouwyang Kok tidak lumrah manusia dan penggemblengan terhadap anaknya pun terlalu hebat, maka anak itu memiliki watak yang aneh pula, seperti seorang yang agak miring otaknya! Ibu anak itu, isteri tercinta dari Ouwyang Kok, telah meninggal dunia di sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan Nepal, tewas digigit ular beracun yang amat luar biasa sehingga tidak tertolong. Agaknya peristiwa inilah yang membuat Ouwyang Kok kini menjadi seorang “Raja Ular”!

Kini anak dan ayahnya itu berlari-lari sambil tertawa-tawa menyaksikan ulah para korban yang lari seperti mayat hidup. Suara tertawa mereka makin menjadi ketika mereka melihat beberapa orang di antara para korban yang lari kaku itu terjerumus ke dalam jurang, dan ada pula yang menabrak pohon terus memeluk pohon itu dan mati kaku dalam keadaan memeluk batang pohon, kedua kakinya melingkari batang pohon, sepuluh jari tangan mencengkeram pohon dan mulutnya menggigit kulit pohon. Mengerikan!

Ada pula dua orang di antara tiga belas orang dusun yang belum roboh ke dalam jurang dan belum menabrak pohon, setelah beberapa orang lagi raboh karena kakinya tersangkut akar kayu, roboh terus mencengkeram rumput-rumput dan mati dalam keadaan seperti itu. Dua orang ini adalah Akian dan kepala dusun. Agaknya mereka berdua memiliki tubuh yang lebih kuat maka dapat berlari kaku dan belum roboh. Kebetulan sekali mereka lari sejurusan, yaitu ke jurusan dusun mereka! Mungkin juga masih ada sedikit sisa ingatan mereka untuk lari pulang ke dusun mereka.

Ketika mereka tiba di luar dusun, beberapa orang penduduk dusun yang merasa khawatir dan siap menyusul ke hutan, dapat berlari menyambut dua orang itu. Setelah dekat mereka itu berdiri bengong dan penuh rasa heran dan ngeri melihat betapa kepala dusun dan Akian berlari kaku seperti itu, muka mereka biru kehitaman mata terbelalak tanpa berkedip dan kemerahan, mulut menyeringai penuh busa putih!

Keadaan menjadi geger dan terdengar jerit-jerit mengerikan ketika dua orang mayat hidup ini menubruk dan memeluk dua orang yang terdekat. Karena kaget dan heran, dua orang itu tidak sempat mengelak ketika mereka dipeluk oleh dua orang mayat hidup itu. Mereka hendak meronta, akan tetapi seluruh tubuh merasa panas, dan ketika jari-jari tangan mencengkeram mereka, ketika gigi yang kini mengandung racun itu menggigit leher, mereka berdua menjerit-jerit, jerit yang makin melemah dan akhimya meroka berdua roboh terguling bersama mayat hidup yang menyerang mereka, tewas dalam keadaan masih dalam berpelukan.

“Ha-ha-ha-ho-ho, lucu sekali…!”

“Hi-hi-hi, hebat bukan jarum-jarumku, Ayah?”

Para penduduk dusun terbelalak memandang ayah dan anak yang tahu-tahu telah berada di situ sambil tertawa-tawa. Melihat keadaan mereka, dan melihat peristiwa mengerikan yang menimpa diri kepala dusun, Akian, dan dua orang teman mereka yang menjadi korban, mereka menjadi ketakutan dan serta merta mereka melarikan diri masuk ke dalam dusun, menyeret keluarga mereka yang berada di luar rumah, memasuki rumah masing-masing, menutup pintu dan saling berpelukan dengan anak isteri dalam keadaan ketakutan sekali, kedua kaki mereka menggigil dan mata mereka terbelalak lebar seperti mata kelinci-kelinci yang mencium bau harimau, mata mereka memandang ke arah pintu dan muka mereka pucat sekali.

Akan tetapi, agaknya Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok dan puteranya sudah merasa puas, mereka bergandengan tangan dan pergi meninggalkan dusun itu. Tadinya mereka hanya berjalan dengan langkah perlahan, akan tetapi lambat laun gerakan mereka makin cepat dan akhimya mereka itu bergerak seperti terbang saja! Setelah lama menanti dan mengintai sampai berjam-jam dan merasa yakin bahwa siluman-siluman itu sudah tidak berada di luar dusun, barulah penduduk berani keluar dan berindap-indap berbondong-bondong karena mereka membutuhkan semua teman untuk memberanikan diri, mereka keluar dari dusun, Biarpun hati mereka merasa ngeri sekali, terpaksa mereka mengurus jenazah Akian dan kepala dusun bersama dua orang penduduk yang menjadi korban mereka, bahkan mereka memberanikan diri untuk mencari ke dalam hutan. Hanya tujuh orang mereka temukan, dalam keadaan mengerikan. Ada yang mati dalam keadaan masih memeluk batang pohon, ada yang mencengkeram rumput! Penuh rasa takut dan ngeri hati penduduk, namun mereka terpaksa mengangkut mayat-mayat itu ke dusun untuk diurus sebagaimana mestinya. Mayat empat orang lain tidak mereka temukan dan mereka tidak tahu ke mana perginya empat orang itu. Tentu saja mereka tidak tahu bahwa empat orang itu pun sudah menjadi mayat dengan tubuh remuk-remuk ketika mereka terjungkal ke dalam jurang.

Karena mereka tidak dapat menemukan Kun Liong, mereka menjadi curiga dan menghubung-hubungkan anak itu dengan siluman besar kecil yang mereka lihat di luar dusun. Timbul dugaan mereka bahwa anak yang tadinya datang sebagai penolong itu tentulah sebangsa siluman dan kedatangannya itu hanya pancingan belaka sehingga teman-temannya mendapatkan korban banyak orang! Teringat akan ini, mereka menjadi penasaran sekali mengapa tidak mereka keroyok dan bunuh saja anak kecil yang datang secara aneh itu sehingga mereka dapat terbujuk, belasan orang ikut memasuki hutan menjadi korban.

Kun Liong merintih dan membuka matanya. Melihat daun semak-semak belukar menyelimuti dirinya, ia teringat dan seketika ia menghentikan rintihannya, menahan derita yang amat hebat, yaitu rasa gatal-gatal pada kepalanya. Ia bangkit duduk dan mengintai dari dalam semak-semak, melalui celah-celah antara daun-daun. Tidak tampak sesuatu. Hari sudah menjelang senja dan suasana di hutan itu sunyi sekali. Kun Liong melupakan rasa gatal di kepalanya, lalu dengan hati-hati dia bangkit berdiri, keluar dari semak-semak, dan berindap-indap dia menuju ke tempat yang ditinggalkannya tadi. Sunyi di situ, dan tidak ada seorangpun, baik yang hidup maupun yang mati.

Semua penduduk dusun yang menjadi korban tadi tidak tampak lagi, dan kakek berjuluk Ban-tok Coa-ong yang mengerikan tadi pun tidak tampak lagi, demikian pula anak laki-laki berambut panjang yang melepas jarum.

Jarum! Teringat ini, Kun Liong meraba tengkuknya dan benar saja, di situ masih menancap sebatang jarum kecil, masuk ke dalam daging tengkuk sampai setengahnya. Cepat Kun Liong mencabut jarum itu, melihat jarum merah itu maklumlah dia bahwa jarum itu mengandung racun berbahaya. Dengan jijik dibuangnya jarum itu ke dalam semak-semak.

Ke mana perginya mereka? Rasa heran ini menambah gatal-gatal pada kepalanya dan Kun Lion tidak dapat nenahan lagi. Dengan kedua tangannya, digaruknya kepala yang amat gatal itu dan… dia terbelalak setelah mengeluarkan teriakan kaget, memandang rambut kepalanya yang kini berada di antara sepuluh jari tangannya! Begitu digaruk kepalanya, semua rambutnya tontok! Dirabanya kepalanya, dan bagian yang ada rambutnya, begitu dipegang, rambut-rambutnya rontok semua seperti tanaman layu yang sudah membusuk akamya. Dengan mata masih terbelalak lebar dia mengelus-elus kepala dengan kedua tangannya. Kepalanya menjadi licin bersih, tidak ada selembar pun rambut yang masih tumbuh, semua rontok. Dirabanya alisnya. Masih lengkap. Hanya rambut di kepala saja yang rontok semua.

“Ahhh… tidaaaakkk…!” Kun Liong berseru dan berlari-lari mencari air jernih. Setelah ia melihat air tergenang di bawah sebatang pohon, sisa air hujan kemarin, cepat dia berlutut dan melihat bayangannya sendiri. Matanya terpentang lebar dan dua titik air mata meloncat ke atas pipinya. Kepalanya sudah gundul pelontos! Lebih bersih daripada kepala seorang hwesio!

“Ahhhh… mengapa…?” Dia meraba-raba kepala dengan tangan kanan, dan mengusap air mata dengan tangan kiri.

Tentu, saja Kun Liong takkan mengerti karena peristiwa itu terjadi ketika dia masih pingsan, terjadi di dalam tubuhnya dan yang biarpun membawa akibat lenyapnya semua rambut kepala, akan tetapi sesungguhnya telah menyelamatkan nyawanya! Di dalam tubuhnya terdapat semacam racun anti racun ular yang dicampur obat dan semenjak dia kecil, oleh ibunya seringkali diminumkannya. Ketika dia digigit ular sampai di tujuh tempat, racun ular tidak mampu melawan racun di tubuhnya, dan ular racun ular itu berkumpul saja di tempat gigitan. Ketika Ouwyang Bouw, putera Bantok Coa-ong, menyambit tengkuknya dengan jarum merah sehingga racun jarum merah itu memasuki tubuhnya bertemulah tiga macam racun dan terjadi perang tanding antara tiga macam racun yang amat hebat. Sudah menjadi kenyataan bahwa betapa pun jahatnya, racun bertemu racun cepat berubah sifatnya, dapat menjadi obat, dan ketika tiga macam racun itu bertemu di dalam tubuh Kun Liong berubah menjadi ramuan yang dahsyat, menjadi semacam obat kuat tiada taranya dan tiada seorang pun manusia yang tahu karena bertemu secara kebetulan, dengan ukuran yang tepat, atau terlalu keras sedikit sehingga akibatnya, rambut kepala Kun Liong rontok semua, akan tetapi tubuhnya terbebas sama sekali dari pengaruh racun, bahkan di luar tahunya, tercipta semacam kekuatan dahsyat di dalam tubuh anak ini!

Hanya sebentar saja Kun Liong dilanda kekagetan dan penyesalan akan kehilangan rambut kepalanya. Dia sudah bangkit lagi dan teringat betapa dia telah menimbulkan malapetaka kepada penduduk dusun, Kun Liong tidak berani kembali ke dusun. Apalagi rambut kepalanya sudah menjadi habis seperti itu. Dia lalu melarikan diri, meninggalkan hutan itu dan mengambil jurusan timur, tidak berani ke utara di mana terletak dusun itu. Dia melarikan diri berlawanan dengan matahari yang sudah condong ke barat.

Sambil berjalan secepat mungkin, pikirannya penuh dengan peristiwa yang. telah dialaminya. Dia maklum bahwa Ban-tok Coa-ong adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian hebat sekali, jauh lebih lihai daripada kepandaian Loan Khi Tosu, memiliki watak yang lebih aneh lagi, aneh menyeramkan seperti orang gila! Akan tetapi, kalau dia teringat akan ucapan kakek itu ketika membandingkan watak ular dan watak manusia, diam-diam dia menjadi bingung karena mau tidak mau dia harus membenarkan bahwa watak ular atau binatang apapun juga jauh lebih wajar dan bersih daripada watak manusia. Bahkan ketika barisan ular itu menyerang penduduk, mereka bergerak bukan karena memang memusuhi manusia, melainkan karena terpaksa oleh pengaruh bunyi terompet yang ditiup oleh seorang manusia pula! Bukan ular-ular itulah yang berniat membunuh manusia, melainkan manusia yang berjuluk Ban-tok Coa-ong itulah. Betapa kejamnya manusia! Betapa kejinya!

Dan betapa anehnya pengalaman berturut-turut yang menimpa dirinya. Mula-mula bertemu dengan tosu Pek-lian-kauw, itu sudah hebat. Disusul dengan pengalamannya dikeroyok penduduk yang hampir merenggut nyawanya ketika dia tanpa sengaja menimbulkan kebakaran, pengalaman yang lebih hebat lagi di mana hampir dia mati. Kemudian, dia bertemu dengan Ban-tok Coa-ong dan pengalaman ini benar-benar amat luar biasa dan dia sendiri tidak tahu mengapa dia masih dapat hidup sampai detik ini, dan hanya rambut-rambutnya yang rontok.

“Hemm, masih untung!” Kun Liong berkata dan hatinya yang tadi terasa berat karena memikirkan rambutnya habis, kini menjadi ringan. “Rambut bukan nyawa dan tanpa rambut aku masih hidup!”

Pengalaman-pengalaman itu mempertebal keyakinannya bahwa manusia menjadi kejam karena kekuatannya. Makin kuat manusia, makin kejamlah dia, makin sewenang-wenang karena merasa berkuasa. Kalau begitu, apakah lebih baik menjadi orang lemah dan tidak memiliki kepandaian? Orang yang lemah hanya akan menjadi injakan yang kuat. Orang lemah mengalah karena tidak dapat melawan, dan yang demikian itu bukan mengalah namanya, melainkan pengecut. Yang kuat kejam, yang lemah pengecut! Pengecut demikian, kalau diberi kekuatan, diberi kekuasaan, tentu akan berubah menjadi orang kejam juga. Si kuat kejam dan si lemah pengecut tiada bedanya, keduanya adalah orang-orang yang belum mengenal dirinya, belum mengenal keadaan sebenarnya.

Biarpun masih kecil, Kun Liong sudah banyak dijejali pelajaran tentang hidup, banyak sudah membaca filsafat. Akan tetapi, karena dia masih kecil, maka dia belumlah terpengaruh benar oleh segala macam pelajaran kebatinan itu sehingga dia masih memiliki kebebasan, sehingga dia tidak menjiplak begitu saja melainkan membuka mata dan telinganya menghadapi kenyataan-kenyataan hidup yang dialaminya. Pikiran-pikiran itu tidak membuat dia menjadi bingung dan berat sebelah. Dia melihat kenyataan bahwa tidak semua orang berkepandaian dan kuat mempunyai watak kejam. Ayahnya dan ibunya adalah orang-orang gagah perkasa yang berkepandaian tinggi, akan tetapi mereka tidaklah kejam, apalagi jahat! Dan penduduk dusun itu, terutama Kakek Lo dan Akian, biarpun mereka itu orang-orang biasa yang tidak memiliki ilmu kepandaian, tidak memiliki kekuatan, mereka itu tak boleh dikatakan pengecut karena mereka berani mengikutinya untuk menentang ular besar yang sebenarnya amat mereka takuti karena sudah banyak menjatuhkan korban. Ternyata bukan kekuatan atau kelemahan yang menentukan baik buruknya seseorang!

Pada keesokan harinya, setelah matahari naik tinggi, Kun Liong tiba di sebuah kampung nelayan, di tepi Sungai Huang-ho. Semalam dia kurang tidur, biarpun dia tidak melakukan perjalanan semalam suntuk, namun dia sukar dapat tidur pula karena gangguan kepalanya yang masih terasa gatal-gatal. Dengan tubuh lelah, mata mengantuk, dan perut lapar sekali dia memasuki perkampungan nelayan. Dia harus mencari pengisi perutnya, kalau tidak, dia tidak akan dapat melanjutkan perjalanan. Ke mana dia akan pergi kelak bukan menjadi persoalan baginya. Ke mana saja, pokoknya tidak pulang ke Leng-kok. Apalagi setalah kini kepalanya menjadi gundul pelontos macam ini. Tentu ayahnya akan marah sekali, dan dia merasa malu. Dia ingin melanjutkan perjalanan, ke mana saja dan dia mulai merasa suka dengan cara hidup baru ini, sungguhpun dalam perantauan yang belum lama ini dia telah mengalami hal-hal yang membuat dia nyaris tewas.

Kun Liong mendekati sebuah perahu yang agak besar, melihat tiga orang nelayan sedang mempersiapkan jala dan alat-alat menangkap ikan lainnya. Melihat seorang anak laki-laki berkepala gundul pelontos yang sama sekali asing dan tak mereka kenal, tiga orang itu memandang penuh perhatian, kemudian seorang di antara mereka, yang kumisnya panjang, berkata dengan nada suara halus,

“Apakah Siauw-suhu (Guru Kecil) membutuhkan sedekah? Kami akan berangkat mencari ikan. Kalau Siauw-suhu suka mendoakan kami agar hari ini mendapatkan ikan banyak, aku akan mencarikan makanan untuk sedekah bagi Siauw-suhu.”

Kun Liong mengerutkan kedua alisnya. Hatinya terasa panas sekali. Dia disangka seorang hwesio kecil yang minta sedekah tunjangan makanan! Akan tetapi karena dia menganggap orang itu tidak berniat jahat, dan hanya berbuat karena kebodohannya, dia menjawab, suaranya tenang,

“Lopek (Paman Tua) telah membuat dua kesalahan dengan ucapan Lopek tadi.”

Melihat sikap yang tenang, kalimat yang teratur tidak seperti cara berbicara anak dusun, tiga orang nelayan itu makin tertarik dan makin keras dugaan mereka bahwa anak ini tentulah seorang pendeta kecil yang merantau. Akan tetapi, laki-laki setengah tua yang panjang kumis tadi, menjadi terheran dan bertanya,

“Dua kesalahan? Apa yang telah kulakukan?”

“Pertama, Lopek salah duga. Aku bukan seorang pendeta kecil dan tidak minta sedekah, tidak minta-minta walaupun saat ini perutku lapar sekali. Kesalahan Lopek yang ke dua lebih hebat lagi. Lopek suka memberi sedekah akan tetapi ditukar dengan doa agar mendapatkan banyak ikan, itu bukan sedekah namanya, melainkan jual beli mengharapkan keuntungan!”

Tiga orang nelayan itu terbelalak dan saling pandang dengan heran. Biarpun anak berkepala gundul polontos itu menyangkal dirinya seorang pendeta kecil, akan tetapi cara dia bercakap sungguh tidak seperti anak-anak dusun biasa! Si Kumis Panjang merasa terpukul dan malu karena dia seolah-olah mendapat teguran dari seorang anak kecil, maka dia berkata agak kasar,

“Kalau kau bukan hwesio kecil, engkau mau apa mendekati kami, bocah asing?”

“Aku ingin menawarkan tenagaku untuk bekerja membantu kalian.”

“Apa? Engkau minta pekerjaan kepada kami?” Tiga orang itu kembali saling pandang dan tersenyum lebar.

“Mengapa tidak?” Kun Liong berkata ketika melihat tiga orang itu agaknya mentertawakannya. “Aku lapar, sejak kemarin belum makan. Aku perlu mendapatkan makan, maka aku mau bekerja, sekedar mendapatkan makan.”

“Soal makanan adalah urusan kecil, akan tetapi pekerjaan kami bukanlah pekerjaan ringan, dan seorang bocah halus macam engkau ini…”

“Aku tidak takut akan pekerjaan berat. Harap Lopek suka menerimaku, Lopek takkan menyesal karena aku tidak mau menerima makanan cuma-cuma, ingin kutukar dengan bantuan tenagaku!”

MEMANG biasanya para nelayan itu membutuhkan bantuan kanak-kanak, pembantu yang tenaganya murah dan pekerjaannya hanya untuk membantu dan melayani mereka di waktu mereka sibuk menjala atau mengail ikan. Pekerjaan yang sebetulnya tidak berat benar, memasak air, menanak nasi untuk mereka, membantu dengan pembetulan jala jika ada yang robek, memasang umpan kail, mengumpulkan ikan dan di waktu mereka sibuk bekerja, menguasai perahu agar jangan terbawa ombak sungai. Biarpun pekerjaan itu tidak berat bagi anak-anak nelayan, akan tetapi seorang anak yang belum pernah mengerjakannya akan merasa berat sekali, apalagi kalau dibuat mabok oleh air sungai yang kadang-kadang besar juga ombaknya.

“Bagaimana, akan kita ajakkah dia?” Seorang di antara mereka bertanya kepada dua orang temannya.

“Hemmm, boleh kita coba saja,” kata Si Kumis Panjang yang kemudian menoleh dan berkata kepada Kun Liong sambil tertawa, “Akan tetapi, kalau engkau nanti mabok dan tidak bisa bekerja, kami tidak akan memberi apa-apa kepadamu.”

“Tentu saja!” Kun Liong menjawab gagah. “Aku pun akan merasa malu untuk menerima makanan kalau aku tidak mampu bekerja!”

“Kalau begitu mari bantu kami!”

Kun Liong cepat naik ke atas perahu dan mulai melakukan pekerjaan seperti yang diperintahkan oleh tiga orang itu. Tubuhnya lemas, perutnya lapar sekali, akan tetapi dia merasa betapa tenaganya menjadi besar dan semua pekerjaan dapat dia lakukan dengan amat mudah. Tiga orang itu kembali saling pandang dan menjadi girang. Temyata bocah gundul itu tidak membual dan benar-benar suka dan rajin bekerja!

Setelah mereka siap, perahu didayung ke tengah, kemudian layar dikembangkan. Perahu nelayan itu meluncur ke tengah sungai yang amat lebar, meluncur cepat karena didorong oleh angin, mendahului air sungai yang mengalir. Si Kumis Panjang sambil tersenyum memberi roti kering dan air kepada Kun Liong. Anak yang kadang-kadang timbul keangkuhan dari kekerasan hatinya itu, menolak.

“Biarpun pekerajaanmu belum selesai karena kita belum kembali ke pantai, akan tetapi engkau tadi sudah membantu kami. Makanlah, anggap saja roti dan air ini upah bantuanmu tadi. Engkau kelihatan pucat, dan karena kita menghadapi pekerjaan berat sampai malam nanti, perutmu harus diisi lebih dulu.” Ucapan ini membuat hati Kun Liong terasa ringan dan makanlah dia. Bukan main sedapnya roti itu. Bukan main segarnya air jernih dingin itu. Rasanya belum pernah dia makan roti seenak itu, atau air sesegar itu dan dia tahu bahwa bukan roti atau airnya yang mendatangkan rasa sedap, melainkan lapar dan hausnya!

Pendapat Kun Liong memang ada betulnya, akan tetapi tidak mutlak. Hidup akan selalu terasa bahagia dan nikmat apabila kita dapat menerima dan menghadapi segala sesuatu sebagaimana adanya, hidup dalam tiap detik yang dilaluinya, tidak terapung dalam keriangan masa lalu atau tenggelam dalam harapan masa datang. Hidup adalah saat ini, sekarang ini, bukan kemarin dan bukan esok. Pikiran selalu mempermainkan kita, membentuk kenangan-kenangan masa lalu dengan segala suka-dukanya, membuat kita selalu mengejar kenangan, suka dan menjauhi kenangan duka, menciptakan corak dan bentuk hidup sekarang dan yang akan datang sehingga kita dibuatnya hidup seperti dalam kurungan yang dibuat oleh pikiran kita sendiri. Hidup seperti itu membuat segala langkah kita tidak wajar lagi, melainkan langkah-langkah kita sudah ditentukan dan diatur berdasarkan pengalaman lalu, berdasarkan pengetahuan dan kepercayaan yang sudah terbentuk dalam pikiran kita. Keadaan seperti itu tidak memungkinkan kita bebas, tidak memungkinkan kita mempergunakan mata dan telinga seperti sewajarnya. Apa yang terpandang, apa yang terdengar, ditutup oleh pendapat dan prasangka, oleh penilaian yang kesemuanya adalah pekerjaan pikiran, sehingga mata dan telinga kita tidak dapat melihat atau mendengar keadaan sebenamya dari yang dipandang dan didengar! Kalau kita memandang sesuatu, yang kita pandang sesungguhnya bukanlah itu atau dia, melainkan itu atau dia seperti yang terbayang dalam ingatan kita!

Demikian pula dengan makanan. Kalau kita menghadapi sesuatu, dalam hal makanan seperti pada saat itu, tanpa campur tangan si pikiran yang selalu dapat saja menciptakan kenang-kenangan akan makanan yang lezat-lezat, maka tidak ada lagi penilaian apakah makanan yang kita hadapi itu mahal atau murah, berharga atau tidak, dan tanpa adanya gangguan pikiran ini, semua makanan, apapun juga macamnya, asal itu memenuhi syarat sebagai makanan pengusir lapar dan penguat tubuh, akan terasa enak!

Karena itulah, pendapat Kun Liong bahwa yang membuat makanan terasa enak adalah lapar, hanya benar sebagian saja, karena betapapun laparnya, kalau dia makan dengan pikiran mengenangkan hal-hal lain, seperti mengenangkan masakan lezat, memikirkan dan mengenangkan kedukaan dan lain-lain, belum tentu roti sederhana dan air biasa itu akan terasa enak seperti yang dirasakannya pada saat itu!

Ternyata kemudian oleh Kun Liong betapa pekerjaan di atas perahu yang kelihatan ringan itu terasa amat berat olehnya, karena tidak biasa! Agak pening juga kepalanya ketika perahu itu dipermainkan ombak sungai yang cukup besar sehingga teroleng ke kanan kiri. Akan tetapi, dengan tekad teguh Kun Liong bekerja dengan penuh semangat, sedikitpun tidak pernah mengeluh sehingga memuaskan hati tiga orang nelayan itu. Yang lebih menggirangkan hati para nelayan itu adalah baru hari itu mereka mengalami nasib yang demikian baiknya sehingga sebelum tengah malam, perahu mereka telah penuh dengan hasil pekerjaan mereka, ikan-ikan yang besar dan dari mutu terbaik! Tentu saja sebagai orang orang yang sudah menebal kepercayaannya akan tahyul, kemujuran ini mereka hubungkan dengan kehadiran Kun Liong, yang biarpun temyata bukan pendeta, namun memiliki “hok-gi’ (kemujuran) besar dan di samping itu, juga amat rajin bekerja, terlalu rajin dan terlalu aneh bagi seorang pendatang baru!

Biasanya, sampai semalam suntuk mereka mencari ikan, dan kalau selama sehari semalam itu mereka mendapatkan ikan sebanyak setengah perahu saja mereka sudah merasa beruntung. Sekarang, belum lewat tengah malam, mereka telah kembali ke pantai dengan perahu penuh ikan terbaik! Dengan sikap manis mereka lalu mengajak Kun Liong bermalam di rumah mereka, memberinya makan sekenyangnya, bahkan Si Kumis Panjang membelikan setelan pakaian baru untuknya. Di samping ini, pada keesokan harinya ketika mereka menjual hasil mereka semalam ke pasar, mereka menceritakan dengan panambahan bumbu-bumbu tahyul, bahwa mereka telah kedatangan seorang bintang penolong, seorang pembawa rezeki, seorang “anak ajaib”! Cerita ini cepat tersiar dan sebentar saja nama Kun Liong sebagai “anak ajaib” dikenal orang sedusun!

Segala bentuk penonjolan yang biasa disebut hasil atau kemajuan pribadi seseorang, selalu menimbulkan persoalan-persoalan yang lebih meyusahkan daripada menyenangkan. Orang yang berhasil memperoleh sesuatu yang dicita-citakan, biasanya hasil itu tidaklah senikmat ketika dibayangkannya dan ketika belum tercapai tangan, sedangkan hasil atau kemajuan itu yang sudah jelas menimbulkan iri kepada orang lain sehingga terciptalah pertentangan dan permusuhan! Karena itu, segala bentuk cita-cita, sesungguhnya hanyalah lamunan orang yang tidak mau menghadapi keadaan sekarang, orang yang ingin lari dari kenyataan saat ini dan bersembunyi di balik lamunan yang dibentuk oleh pikiran, membangun istana awang-awang yang disebutnya cita-cita! Karena cita-cita ini hanya merupakan istana asap di awang-awang, maka apabila sudah tercapai, akan membuyar dan mengecewakan sehingga memaksa si orang yang selalu merasa enggan melihat dan menghadapi kenyataan “saat ini” untuk melamun lagi, dipermainkan pikiran yang pandai sekali mengkhayalkan bayangan-bayangan indah masa depan.

Karena itu, berbahagialah orang yang selalu sadar dan dengan penuh kewaspadaan menghadapi “saat ini” dengan pikiran bebas dari segala ingatan masa lalu harapan masa depan dan menghadapi segala apa yang ada saat ini sebagaimana adanya, dengan kewajaran yang tidak dibuat-buat atau dipaksakan, tanpa rencana dan tanpa pendapat, tanpa penilaian, sehingga apa pun yang dihadapinya merupakan sebuah pengalaman yang baru! Sudah tentu saja yang dimaksudkan adalah hal-hal mengenai urusan batin, bukan hal-hal lahir seperti pekerjaan dan lain-lain yang sudah semestinya dipergunakan akal budi dan pikiran supaya dapat dikerjakan dengan baik dan lancar. Akan tetapi mengenai hubungan antara manusia yang menyangkut rasa dan batin, jika tidak kosong bebas, maka hubungan itu sudah tentu menimbulkan pertentangan karena di sebelah dalam kita sudah terjadi pertentangan yang ditimbulkan oleh pikiran. Melihat dan mendengar sesuatu dengan pikiran bebas dari segala ikatan, penilaian, pendapat, mengawasi dengan penuh kewaspadaan terhadap sesuatu di saat ini dan terhadap tanggapan kita sendiri akan sesuatu itu, dengan demikian kita belajar mengenal diri sendiri. Mengenal diri sendiri adalah langkah pertama ke arah kebijaksanaan.

Kun Liong seolah-olah dijadikan rebutan di antara para nelayan, setelah tersiar dongeng tentang dirinya yang penuh keanehan, dibujuk dan ditawari upah tinggi dan hadiah-hadiah berharga. Namun, semua itu ditolak oleh Kun Liong yang sebetulnya sama sekali tidak berniat menjadi nelayan dan tidak ingin bekerja di tempat itu untuk selamanya. Kalau dia membantu tiga orang nelayan yang dipimpin oleh Si Kumis Panjang itu karena pada waktu itu dia membutuhkan makan dan ingin menukar makanan dengan tenaga bantuannya. Bahkan setelah membantu selama tiga hari, dia sudah mulai merasa bosan dan ingin pergi melanjutkan perjalanan dan perantauannya yang tidak bertujuan dan tidak mempunyai arah tertentu.

Pada pagi hari ke empat, selagi Kun Liong duduk di dekat sebuah perahu kecil di tepi pantai dan melamun, berpikir hari itu hendak pergi dan berpamit dari tiga nelayan, tiba-tiba tujuh orang yang berusia belasan tahun menghampirinya dan mengurungnya. Sikap mereka mengancam, dan di antara mereka ada yang membawa kayu dan bambu. Mereka dipimpin oleh seorang anak laki-laki berusia kurang lebih empat belas tahun yang dahinya codet bekas luka terjatuh ketika masih kecil. Anak codet ini pun membawa sebatang kayu dan sambil bertolak pinggang dia berdiri di depan Kun Liong yang masih tenang duduk di atas pasir dekat perahu.

“Heii, bocah gundul!” seorang anak berteriak mengejek.

“Aahh, dia bukah bocah, dia anak siluman! Kalau manusia tidak mungkin kepalanya gundul pelontos padahal bukan hwesio!”

“Lihat, kepalanya licin sekali, lalat-lalat pun terpeleset kalau hinggap di atasnya!”

“Kalau bukan anak siluman, tentu dia anak ikan! Lihat, kepalanya tidak berambut sedikitpun juga, seperti kepala ikan!”

“Heiii, gundul pacul buruk menjijikkan!”

“Gundul sombong…”

Mula-mula Kun Liong hanya memandang heran dan menganggap bahwa mereka hanyalah anak nakal yang hendak menggodanya karena dia asing dan bukan teman mereka. Maka dia diam saja, bahkan tersenyum dan berkata,

“Aihhh, kenapa kalian begini? Aku seorang anak biasa seperti kalian, rambut kepalaku habis karena keracunan.”

Si Codet melangkah maju. “Gundul menyebalkan! Sekarang juga engkau harus minggat dari dusun kami, engkau hanya mendatangkan kesialan bagi kami!”

“Ahhh, apa maksudmu?” Kun Liong memang sudah mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan tempat itu, akan tetapi kalau disuruh pergi, dengan diusir macam ini, kehormatannya tersinggung dan menjadi marah.

“Maksudku, gundul buruk. Kalau engkau tidak lekas pergi dari sini, kami akan menghajarmu sampai engkau melolong-lolong minta ampun, baru kami lepaskan!” Kata pula Si Codet dan teman-temannya sudah siap, mengepal tinju dan kayu dan bambu erat-erat.

Kun Liong bangkit berdiri. Dengan marah dia membusungkan dada, mengangkat kaki kanan ke atas dayung perahu yang disandarkan di situ, kemudian menudingkan telunjuknya kepada mereka. “Hemmm, kalian ini anak-anak malas tak tahu diri! Aku mengerti mengapa kalian bersikap seperti ini kepadaku. Aku sudah mendengar bahwa kalian merasa iri hati kepadaku. Kalian melihat para nelayan suka akan tenaga bantuanku, dan kalian merasa dikesampingkan. Kalian iri melihat keunggulanku, dan itu menandakan bahwa kalian adalah anak-anak bodoh dan malas!”

“Gundul sombong!” Si Codet sudah menerjang maju dan menghantamkan kayu pemukulnya ke arah kepala Kun Liong. Akan tetapi dengan gerakan cepat Kun Liong dapat mengelak dan berusaha merampas alat pemukul itu. Akan tetapi, anak-anak yang lain bergerak maju menyerang dan mengeroyoknya.

Tentu saja anak-anak itu bukanlah lawan Kun Liong yang sejak kecil sudah belajar ilmu silat dan kalau dia menghendaki, dengan melakukan pemukulan-pemukulan pada bagian tubuh yang berbahaya, tentu dia akan dapat merobohkan mereka. Akan tetapi justru dia tidak menghendaki demikian karena sekecil itu, Kun Liong sudah mempunyai pengertian yang mendalam dan dia tahu bahwa keadaan anak-anak yang iri hati ini dapat dimengerti dan dimaafkan, maka dia hanya mengelak ke sana-sini sambil menangkis dan berteriak-teriak menyuruh mereka berhenti.

Melihat betapa dikeroyok tujuh orang, Kun Liong dapat mengelakkan semua pukulan dan setiap kali menangkis, anak yang memukul merasa lengannya nyeri ketika beradu dengan lengan Kun Liong yang menangkisnya, tujuh orang anak yang mengeroyok itu menjadi makin penasaran dan mereka menyerang lebih ganas lagi, terdorong oleh kemarahan mereka.

Karena Kun Liong hanya mengelak dan menangkis, pula biarpun dia telah bertahun-tahun dilatih ilmu silat oleh ayah bundanya akan tetapi sama sekali belum ada pengalaman bertempur, pengeroyokan ini merupakan yang ke dua setelah yang pertama kalinya dia dikeroyok penduduk, Kun Liong terkena juga dan terdengar suara bak-bik-buk ketika kepalan dan kayu pemukul jatuh ke atas tubuhnya! Hal ini membuat dia marah sekali, terutama kepada anak codet yang pukulan kayunya paling keras dan ketika mengenai kepalanya yang gundul, terasa nyeri. Dia hanya merasa heran mengapa tubuhnya yang dihujani pukulan itu sama sekali tidak terasa sakit. Dia tidak tahu bahwa kekuatan mujijat yang ditimbulkan oleh bercampumya tiga macam racun telah melindunginya dan membuat tubuhnya kebal, kecuali kepalanya yang gundul!

Ketika Si Codet menerjang lagi, mengayun kayu pemukul dengan kuat-kuat ke arah kepalanya, Kun Liong miringkan tubuh sehingga kayu itu melayang lewat. Cepat dia menghantam leher anak codet itu dengan tangan miring.

“Kekkk!” Anak codet itu melepaskan kayu pemukulnya dan terguling roboh tanpa bersuara.

“Dia membunuhnya!!”

“Pembunuh…!!”

Enam orang anak yang melihat Codet rebah dengan mata terpejam dan muka pucat, mengira bahwa anak itu mati. Kun Liong terkejut bukan main karena dia pun terpengaruh oleh teriakan-teriakan mereka, mengira bahwa anak yang dipukulnya tadi tewas. Padahal dia hanya mempergunakan sedikit tenaga saja dan sebetulnya anak itu hanya pingsan. Karena mengira anak itu tewas rasa takut menyelinap di hati Kun Liong. Dia harus melarikan diri! Kalau para nelayan tahu bahwa dia membunuh tentu dia akan ditangkap, mungkin mereka pun akan membunuhnya. Dan ia melihat beberapa orang nelayan telah lari mendatangi melihat perkelahian itu. Tanpa pikir paniang lagi karena takut dikeroyok nelayan sekampung, Kun Liong lalu melompat ke dalam sebuah perahu kecil, mendayung perahu ke tengah sungai.

“Heiii! Dia melarikan perahu…!”

“Kejar…!!”

Kun Liong tidak berani menoleh, terus mendayung perahunya sekuat tenaga. Dalam keadaan panik itu tidak merasa betapa tenaga dayungannya luar biara sekali. Perahu meluncur cepat seperti didayung oleh belasan orang dewasa sehingga mengherankan hati pengejarnya. Juga Kun Liong tidak sadar betapa mereka itu berteriak-teriak menyuruhnya berhenti dan dia diteriaki melarikan perahu, sama sekali bukan diteriaki sebagai pembunuh! Memang para nelayan itu mengejarnya karena dia melarikan perahu, dan Si Codet itu sudah tadi-tadi sadar kembali. Karena tenaga mujijat di tubuhnya bekerja, perahu yang didayung oleh Kun Liong cepat bukan main, membuat para pengejar, nelayan-nelayan yang sudah kawakan dam berpengalaman itu, tertinggal dan mereka berteriak-teriak saking herannya.

Ketika tiba di sebuah simpangan, di mana air sungai itu terpecah ke dua Kun Liong terus meluncurkan perahunya ke bagian sungai yang meyimpang ke utara, bukan ke bagian yang terus mengalir lurus ke timur.

“Haiii… jangan masuk ke sana…!”

Dia mendengar teriakan pengejar-pengejarnya, akan tetapi tentu saja dia tidak peduli, bahkan mendayung makin cepat. Sungai yang menyimpang ke utara itu merupakan daerah berbahaya dan tidak ada nelayan yang berani memasukinya. Bukan hanya berbahaya karena dalam musim hujan seperti itu, sungai liar ini dapat secara tiba-tiba membanjir, yaitu kemasukan air berlebihan dari sungai-sungai kecil, akan tetapi juga banyak bagian yang agak dangkal sedangkan di bawah permukaan airnya banyak terdapat batu karang. Selain ini, di dalam hutan di kanan kiri sungai ini terkenal sebagai sarang orang-orang jahat! Bukan hanya karena sungai yang berbahaya itu saja, akan tetapi melihat betapa Kun Liong dapat mendayung perahu dengan kecepatan yang tidak lumrah, dan betapa anak itu berani memasuki daerah berbahaya ini, timbul pula kepercayaan tahyul di dalam hati para nelayan. Tentu anak itu bukan anak biasa, pikir mereka dan mereka pun merelakan perahu yang dilarikan, sambil ramai mempercakapkan anak yang menghilang itu mereka kembali ke dusun, membawa bahan dongeng yang lebih aneh dan menyeramkan lagi tentang si “bocah ajaib” gundul itu!

Sungai yang dilalui Kun Liong itu merupakan cabang Sungai Huang-ho. Sungai Huang-ho bercabang dua di bagian itu, akan tetapi cabangnya ini, setelah menampung banyak air yang dimuntahkan oleh sungai-sungai kecil dari kanan kiri, akhimya dari utara membelok ke timur dan ke selatan untuk kemudian kembali ke induknya, yaitu Sungai Huang-ho, sungai yang paling besar di Tiongkok. Sebelum kembali ke induknya, sungai ini merupakan sungai yang amat berbahaya dan karena merupakan sungai liar yang tercipta ketika Huang-ho banjir dahulu, maka seringkali sungai ini meluap ketika menerima air dari sungai-sungai kecil itu. Hampir setiap musim hujan, sungai ini pasti meluap dan di bagian-bagian tertentu, air mengalir deras bukan main, merupakan daerah yang amat berbahaya bagi perahu-perahu sehingga sungai ini boleh dikata dijauhi para nelayan dan tidak pernah dilewati. Lebih aman melalui sungai induk terus ke timur daripada melalui sungai cabang yang keluar masuk hutan liar ini.

Akan tetapi Kun Liong yang tidak mengenal sungai itu, merasa lega ketika melihat bahwa dia-tidak dikejar lagi. Dia merasa bersalah karena telah melarikan perahu. Dia telah mencuri! Akan tetapi bukan mencuri karena dia menginginkan perahu itu, melainkan karena terpaksa untuk melarikan diri! Alasan ini sudah membuat dia dapat memaafkan perbuatannya mencuri perahu!

Demikianlah yang dilakukan oleh kita, manusia! Kita selalu mencari sebab dan alasan untuk menghibur diri di waktu kita merasa telah melakukan sesuatu yang kita anggap salah. Mencari sebab-sebab yang kalau perlu dipaksakan, untuk menutupi kesalahan kita, bahkan untuk menyulap kesalahan itu berubah menjadi sesuatu yang tidak salah lagi! Ada saja alasannya untuk menutupi sesuatu yang hitam pada diri kita, dengan warna putih. Hal ini terjadi karena kita tidak mau menghadapi kenyataan, tidak mau mengenal diri pribadi, tidak mau mengakui betapa segala kotoran berada dalam diri kita sehingga kita dapat membuang semua kotoran itu. Tidak, kita bukan melakukan hal itu, sebaliknya kita menutupi kotoran itu dengan segala akal kita. Tentu saja, dengan demikian, segala macam kotoran masih tertimbun dalam diri kita, biarpun kotoran itu tidak tampak, ditutupi oleh segala macam akal yang membuat kita kelihatan bersih! Kebersihan tidak tercapai dengan menutupi kekotoran, dan kotoran diri sendiri hanya dapat dilenyapkan setelah kita melihatnya dengan mata terbuka dan dengan bebas, karena tanpa kebebasan tak mungkin kita dapat melihat kenyataan dalam diri kita sendiri, tak mungkin kita dapat mengenal diri sendiri.

Mula-mula senang juga hati Kun Liong ketika mendayung perahu kecil itu yang meluncur cepat. Dengan wajah berseri-seri dan mata bersinar-sinar, dia memandang ke kanan kiri, melihat pohon-pohon hutan di kedua tepi sungai. Memang kalau mata memandang dengan penuh kewaspadaan tanpa gangguan pikiran, semua tampak sempurna! Air yang bergelombang, di depan perahu diterjang ujung perahu, di dekat tepi beriak menghantam batu-batu, tebing di kedua pinggir kelihatan coklat, kadang-kadang tampak akar-akar pohon seperti ular di antara rumput-rumput dan semak-semak yang tumbuh dengan liar di tebing. Seekor bangkai ayam hutan hanyut perlahan di pinggir, dirubung lalat yang mengeluarkan suara mengiang, kadang-kadang lalat-lalat itu beterbangan panik kalau bangkai itu bergerak tiba-tiba ke bawah karena digigit dan ditarik ikan dari bawah. Bau bangkai ayam yang membusuk itu tidak berapa keras di tempat terbuka seperti ini, menipis dan buyar tertiup angin. Pohon besar yang banyak tumbuh di hutan sealah-olah menjadi penjaga-penjaga hutan, melindungi pohon-pohon dan kembang-kembang kecil di bawahnya, memberi tempat berteduh kepada burung-burung dan tupai-tupai yang berloncatan dari dahan ke dahan. Kalau ada angin yang agak besar lewat, daun-daun kuning yang rontok melayang-layang turun, menari-nari ke kanan kiri dan bermalas-malasan, agaknya segan meninggalkan tempatnya yang tinggi, akan tetapi akhimya tiba juga ke atas tanah, diam, mati dan kaku, akhimya mengering dan hancur menjadi pupuk yang mendatangkan kesuburan bagi pohon itu sendiri.

Terapung di atas perahunya seorang diri, di tempat sunyi dan indah itu, merasa bebas lepas seperti burung-burung yang terbang di permukaan sungai, menyambar ikan-ikan kecil yang berenang di permukaan air, ingin Kun Liong bemyanyi!

Akan tetapi, gelombang air mulai membesar dan air mengalir makin cepat dan kuat ke depan. Karena perahunya oleng ke kanan kiri Kun Liong tidak lagi menggunakan dayung untuk melajukan perahunya, melainkan menggunakannya untuk menahan agar perahu tidak terguling, dengan menekan ke kanan kiri.

Ketika Kun Liong melihat ke depan, Matanya terbelalak dan mukanya menjadi agak pucat. Dia melihat betapa sungai memuntahkan aimya dari arah kiri, membanjir dan air yang masuk ke sungai itu berwama coklat kemerahan, amat keruh. Dia harus membawa perahunya ke pinggir. Namun terlambat. Arus sudah demikian kuatnya sehingga betapa pun dia mendayung perahunya agar minggir, perahu itu masih terseret ke delam dan akhirnya disambar oleh air bah ketika tiba di tempat pertemuan antara anak sungai dan sungai itu. Kun Liong berusaha mengatur keseimbangan perahunya, namun tenaga air yang menyeret perahunya terlalu besar, gelombang terlalu hebat dan dia berteriak keras ketika perahunya terguling dan dia sendiri terlempar ke dalam air!

Kun Liong gelagapan, cepat dia menahan napas dan menggerakkan kakinya. Tubuhnya timbul ke permukaan air, melihat perahunya tadi telah pecah, agaknya terbanting pada batu karang. Melihat sepotong papan pecahan perahu di dekatnya, Kun Liong segera menyambarnya dan berpegang erat-erat pada papan itu. Arus air bukan main derasnya, dan gelombang amat besar sehingga dia tidak dapat berdaya apa-apa kecuali bergantung pada papan yang membawanya hanyut cepat sekali.

Entah berapa lamanya dia hanyut itu, dia sendiri tidak ingat lagi. Akan tetapi setelah hari hampir senja, air sungai tidak sehebat tadi gelombangnya, sungguhpun arusnya masih kuat. Sudah hampir sehari dia hanyut! Kun Liong berusaha untuk berenang ke pinggir sambil berpegang pada papan itu. Namun usahanya gagal. Arus masih terlalu kuat, apalagi dibebani papan itu, tak mungkin dia dapat melawan arus berenang ke pinggir. Untung sedikit banyak dia dapat berenang, kalau tidak, tentu dia akan celaka!

Setelah tiba di bagian yang airnya tidak bergelombang lagi, hanya arusnya masih agak kuat, Kun Liong mencari akal. Dia melepaskan papan yang dianggapnya telah menyelamatkan nyawanya tadi, kemudian menyelam. Niatnya hendak berenang ke pinggir sambil menyelam, tentu di bawah arus tidak sekuat di permukaan.

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika dia sudah menyelam sampai ke dasar sungai, arus di bawah makin kuat! Dia terseret dan melihat benda putih di dekat kakinya, disangkanya batu karang maka cepat dia menangkap benda yang putih itu dan berpegang kuat-kuat. Akan tetapi, “batu karang” itu jebol dan dia terbawa hanyut. Dalam kepanikannya, dia masih merangkul batu itu sambil menendang-nendangkan kedua kakinya sehingga tubuhnya mumbul lagi dan timbul di permukaan air. Dia gelagapan dan menyemburkan air dari mulut. Banyak juga air terminum olehnya tadi. Kalau tidak tertolong, dia tentu tewas sekarang, pikirnya.

“Tolooonggg…!” Tanpa disadarinya lagi, dia berteriak dengan sekuat tenaga, kemudian menggerakkan kaki tangan agar tidak tenggelam, terpaksa membiarkan tubuhnya terseret dan hanyut. Masih tak disadarinya bahwa lengan kirinya tetap saja memeluk “batu karang” putih tadi!

Dia hanyut memperhatikan ke sekeliling dan alangkah girangnya ketika tiba-tiba tampak sebuah perahu tak jauh dari situ.

“Pegang tali ini…!!” Dia mendengar orang berteriak dan melihat seorang laki-laki tua melempar tali sambil berdiri membungkuk di pinggir perahu. Seorang anak perempuan dengan mata terbelalak memandang dan agaknya anak itu khawatir sekali, dia berpegang pada ujung baju di belakang tubuh kakek tua, telunjuknya menuding ke arah Kun Liong yang sudah berhasil menyambar dan memegang tali dengan tangan kanannya.

Kakek itu memandang Kun Liong yang berpegang pada tali dengan muka penuh keheranan, apalagi ketika dia melihat benda yang berada dalam pelukan lengan kiri anak itu.

“Heiiii! Engkau ini bocah luar biasa sekali! Bagaimana engkau bisa berada di tengah sungai dan apa yang kaubawa itu?”

Hati Kun Liong mendongkol. Kakek yang luar biasa masih mengatakan dia yang luar biasa. Masa menolong orang, belum juga orangnya naik sudah menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan. Dan dia baru teringat bahwa batu dari dasar sungai tadi masih dipeluknya!

“Naikkan aku dulu, baru kita bicara!” katanya marah. “Dan batu ini…” Tiba-tiba dia terbelalak dan tidak melanjutkan kata-katanya karena ketika dia melirik ke arah batu yang sudah hampir dilemparkannya itu, dia mendapat kenyataan bahwa batu itu sama sekali bukan batu, melainkan sebuah benda yang aneh, agaknya sebuah bokor atau tempat abu, terbuat dari benda mengkilap kuning dan dihias batu-batu putih yang berkilauan!

“Kakek yang baik, tolong naikkan aku dulu!” kembali dia berkata dan tiba-tiba tubuhnya melayang ke atas dan sebuah tangan yang kuat menyambutnya dari udara dan dia diturunkan dengan tenang oleh kakek itu. Kiranya kakek itu bukan orang sembarangan! Dia tidak ditarik naik seperti biasa, melainkan dilontarkan ke atas dengan renggutan kuat sekali sehingga tubuhnya terlempar ke atas.

Mereka saling pandang penuh perhatian. Bagi Kun Liong, tidak ada apa-apa yang aneh pada diri kakek itu dan anak perempuan yang berdiri dengan matanya yang terbelalak itu. Seorang kakek yang usianya tentu ada enam puluh tahun, tubuhnya tinggi tegap dan nampaknya kuat. Pakaiannya sederhana sekali, bahkan membayangkan kemiskinan, seperti pakaian nelayan-nelayan miskin, tidak bersepatu pula! Rambutnya sudah banyak putihnya, disatukan menjadi gelung kecil di atas kepala, jenggot dan kumisnya juga kelabu dan pendek, tidak terpelihara. Akan tetapi gerak-gerik kakek ini, dan caranya menaikkan Kun Liong ke perahu, jelas membuktikan bahwa kakek ini bukan seorang nelayan biasa. Adapun anak perempuan itu manis sekali, rambutnya hitam dan gemuk panjang, dikepang dua, akan tetapi angin membuat rambutnya awut-awutan menambah manis. Pakaiannya juga sederhana dan kakinya tidak bersepatu.

Kakek itu menggeleng-geleng kepala, seolah-olah masih tidak mau percaya dengan pandang matanya sendiri. “Heran… ajaib… engkau siapakah, Nak?”

“Namaku Yap Kun Liong, tadinya aku berperahu, perahuku pecah dan aku terguling ke dalam air, hanyut sampai hampir satu hari lamanya. Untung di sini engkau dapat menyelamatkan aku, Kek. Siapakah engkau dan mengapa tidak takut berperahu di tempat berbahaya ini?”

“Aku Kakek Yo, orang menyebutku Yo-lokui (Setan Tua Yo) dan ini cucuku bernama Yo Bi Kiok.”

“Kun Liong, Kong-kong (Kakek) memang tinggal di daerah ini dan sudah biasa berperahu, tidak aneh kalau kami berperahu di sini. Akan tetapi engkau, seorang diri berperahu di tempat ini yang ditakuti orang, kau hanyut sehari masih hidup dan membawa benda itu, benar-benar engkau seorang yang aneh sekali!”

“Bokor itu… dari mana engkau mendapatkannya?” Kakek itu bertanya sambil memandang kagum. Sekilas pandang saja ia tahu bahwa benda itu terbuat dari emas murni dan hiasannya adalah batu-batu kemala putih yang amat berharga!

“Ah, ini? Aku menyelam untuk membebaskan diri dari gelombang dan arus, malah terseret arus di bawah yang amat kuat. Aku berpegang pada batu karang dan temyata batu itu adalah benda inilah. Aku sendiri tidak tahu benda apa ini, akan tetapi sungguh indah…”

“Coba aku melihat sebentar,” kakek itu berkata.

Kun Liong menyerahkan benda itu dan selagi Yo-lokui memeriksa bokor itu, Kun Liong duduk di atas papan berhadapan dengan Bi Kiok, menatap wajah anak perempuan itu yang memandangnya dengan mata lebar dan jeli bersinar-sinar dan bibir anak itu tersenyum.

“Bi Kiok, engkau manis sekali!” Kun Liong berkata dengan tulus.

Sepasang mata itu makin melebar, senyumnya makin manis dan Bi Kiok menjawab, “Kun Liong engkau… lucu sekali!”

Agak tersinggung hati Kun Liong. Dia dianggap apakah? Masa dikatakan lucu? Akan tetapi dia melanjutkan, “Engkau memang manis, terutama sekali rambutmu dan matamu.”

“Dan engkau memang amat lucu, terutama sekali kepalamu.”

Kedua pipi Kun Liong menjadi merah dan ingin dia menampar anak itu kalau tidak ingat bahwa anak itu adalah cucu Yo-lokui yang telah menyelamatkannya dan bahwa anak itu adalah seorang perempuan. Akan tetapi, disinggung kepalanya, dia lalu membuang muka dan cemberut, tidak lagi mempedulikan Bi Kiok dan memandang kakek yang agaknya menjadi arca memandang kepada bokor di kedua tangannya.

“Bagaimana, Kek? Berhargakah benda yang kutemukan itu?”

Kakek itu membalikkan tubuh memandang Kun Liong, mukanya berubah sungguh-sungguh, dan dia berkata dengan suara gemetar. “Berharga? Aihhh, anak baik. Engkau telah menemukan pusaka yang tak ternilai harganya!”

“Hemm… pusaka? Apa sih harganya benda kuno seperti itu? Hanya mengkilap dan bagus dipandang, akan tetapi tidak dapat mengenyangkan perutku.”

“Ah, laparkah engkau, Kun Liong?” tiba-tiba Bi Kiok bertanya.

Kemarahannya terhadap anak itu masih mengganjal di dalam perutnya, maka cepat-cepat Kun Liong menggeleng kepalanya dan menjawab dingin, “Tidak!”

“Tadi kau bilang…”

“Bi Kiok, perlukah bertanya lagi? Dia hanyut di sungai sehari lamanya dan kau masih bertanya apakah dia lapar?” Kakek itu mencela cucunya dan diam-diam dia memandang Kun Liong penuh perhatian. Maklumlah dia bahwa anak laki-laki ini bukan bocah sembarangan, bukan anak dusun yang bermain-main dengan perahu dan hanyut. Sikapnya jauh berbeda, dan kata-katanya menunjukkan bekas pendidikan orang pandai.

“Yap-kongcu, pakaianmu basah semua, engkau tentu lelah dan lapar. Marilah ikut bersama kami. Ketua kami tentu akan girang sekali melibat bokor ini, dan akan memberimu apa saja sebagai penukarannya. Engkau telah menemukan harta yang tak ternilai harganya dan yang sudah bertahun-tahun dicari oleh ketua kami.”

Kun Liong mengerutkan alisnya. “Apakah sesungguhnya bokor ini, Kek? Apanya yang berharga?”

“Kalau hanya dinilai dari emas dan batu kemalanya saja, sudah cukup membuat orang kaya. Akan tetapi bukan itulah sebabnya. Lihat, Kongcu, lihat melalui celah tutupnya ini.”

Kun Liong menerima bokor itu dan mengintai melalui celah penutup bokor yang terbuka sedikit. Dia melihat coret-coret seperti huruf-huruf dan goresan-goresan di sebelah dalam. Karena dari celah itu tidak mungkin melihat jelas, apalagi membaca huruf-hurufnya, Kun Liong hendak membuka penutup bokor, ternyata tutup itu melekat kuat sekali seolah-olah menjadi satu dengan bokornya! Kakek itu mencegah,

“Tak mungkin dibuka oleh yang tidak mengetahui rahasianya, Yap-kongcu. Ketua kami tentu mengetahui rahasia untuk membukanya. Ketahuilah, kalau aku tidak salah menduga, bokor inilah yang oleh ketua kami dicari-cari selama bertahun-tahun. Entah sudah berapa ratus kali kami bergantian menyelam dan mencari namun selalu tanpa hasil. Siapa kira, engkau yang tidak sengaja mencari, malah berhasil menemukannya. Benar-benar yang dinamakan jodoh tak dapat ditolak oleh manusia!”

Kakek itu mendayung perahunya dan Kun Liong tidak berkeberatan diajak oleh kakek penolongnya itu. Akan tetapi ucapan kakek itu membuat dia duduk bengong memandangi bokor yang dipangkunya. Ah, tentu sebuah pusaka kuno yang amat langka, pikirnya.

“Kakek yang baik, apakah engkau tahu akan asal-usul bokor ini?”

Kakek itu menghela napas panjang sebelum menjawab, kemudian sambil tetap mendayung perahunya, dia berkata perlahan, “Yap-kongcu, keadaan ini sungguh luar biasa anehnya. Selama bertahun-tahun, kami semua menutup mulut dan bokor ini tidak pernah disebut-sebut, sungguhpun kami tak pemah berhenti mencarinya. Orang luar sama sekali tidak tahu akan bokor ini dan kami dilarang untuk menceritakannya kepada siapa saja dengan ancaman hukuman mati! Akan tetapi, karena engkaulah orang yang kebetulan menemukan bokor ini, agaknya engkau berhak untuk mengetahui riwayatnya. Tentu saja kalau dugaanku betul bahwa bokor inilah yang kami cari selama ini. Yang dapat memastikan aseli dan tidaknya hanyalah ketua kami, satu-satunya orang yang pernah melihat bokor ini.”

Kun Liong melupakan rasa dingin dan laparnya. Hatinya tertarik sekali karena dari kata-kata dan sikap kakek ini, dia dapat menduga bahwa tentu bokor ini mempunyai riwayat yang amat menarik. Pula, sikap dan kata-kata kakek itu mendatangkan rasa suka di hatinya terhadap kakek itu yang dia duga tentulah seorang ang berwatak jujur dan baik.

“Bokor ini mula-mula dikenal orang ketika Panglima Besar The Hoo yang diangkat oleh Kaisar menjadi laksamana memimpin armada yang berlayar ke barat dan selatan belasan tahun yang lalu. Karena mengandung rahasia yang amat berharga, bokor dijadikan rebutan orang-orang dunia persilatan yang memiliki kesaktian tinggi dan akhirnya lenyap. Laksamana The Hoo sendiri mengutus para pembantunya mencari, namun hasilnya kosong belaka. Menurut penuturan kepala kami, akhimya bokor itu berhasil didapatkan oleh kepala kami yang menjadi seorang di antara anggauta pengawal Laksamana The Hoo yang bertugas mencari bokor. Akan tetapi malang baginya, ketika dia membawa bokor itu dengan perahu melalui sungai ini, perahunya diserang banjir seperti yang kaualami, perahunya pecah dan bokor itu terjatuh ke dalam sungai. Demikianlah, ketua kami tidak berani melapor, takut menerima hukuman. Dia mengajak kami dan anak buah untuk mencari bokor, sampai sekarang sudah berjalan lima enam tahun tanpa hasil, dan tahu-tahu hari ini, engkau muncul dengan bokor di tangan, muncul dari dalam air! Bukankan hal itu amat ajaib dan mengejutkan sekali?”

Kun Liong memandang bokor di tangannya. “Rahasia apakah yang dikandung benda ini?” Dia mengintai lagi dari celah di bawah tutup, akan tetapi setelah air yang membasahi sebelah dalam bokor mengering, huruf-huruf itu lenyap dan tidak tampak lagi.

Kakek itu menggeleng kepala. “Aku sendiri pun tidak tahu apa rahasianya, hanya yang pasti, rahasia itu amat berharga sehingga orang-orang seluruh kang-ouw saling berlumba mendapatkan bokor ini.”

Tak lama kemudian mereka mendarat di sebelah kiri sungai, dalam sebuah hutan. Tampak beberapa orang laki-laki menyambut dan begitu mereka mendengar penuturan singkat dari Yo-lokui, mereka berlari-lari dengan air muka berubah tegang. Sambil memondong bokornya dan tahu bahwa benda itu amat dihargai sehingga dia merasa dirinya penting, Kun Liong mendarat dan mengikuti kakek Yo bersama cucunya. Dengan wajah berseri-seri Kun Liong melihat betapa ada belasan orang muncul dan mengiringkan mereka sambil berbisik-bisik dan mata semua orang itu memandang ke arah bokor di tangannya dengan penuh takjub.

Mereka memasuki sebuah rumah papan yang amat besar dan agaknya itulah satu-satunya bangunan di tempat sunyi itu sehingga diam-diam Kun Liong menjadi heran sekali. Tempat itu amat sunyi, hanya ada sebuah rumah besar dan tampak tiga buah perahu lain di tepi sungai. Tidak mungkin perkampungan nelayan hanya dihuni oleh belasan orang ini dengan sebuah rumah! Juga dia tidak melihat wanita atau anak-anak di tempat itu kecuali Bi Kiok, cucu kakek Yo! Tempat apakah ini?

Seorang laki-laki setengah tua yang gemuk menyambut mereka. Yo-lokui cepat memberi hormat kepada laki-laki gendut ini sambil berkata, “Saya membawa berita baik sekali untuk Phoa-sicu!”

“Ah, aku sudah mendengar pelaporan orang-orang kita, Yo-twako. Inikah anak itu? Dan bokor itu… hemmm, harus diperiksa dulu asli atau tidaknya.” Si Gendut itu tertawa-tawa ramah dan wajahnya berseri, akan tetapi ketika sepasang matanya memandang ke arah bokor, Kun Liong menangkap sinar berkilat yang aneh dan kejam sehingga dia terkejut bukan main dan mengambil keputusan untuk bersikap waspada terhadap Si Gemuk yang mencurigakan ini. Pula, dia benar-benar tidak mengerti apa hubungan Kakek Yo dengan Si Gendut, yang disebut Phoa-sicu (tuan yang gagah she Phoa) ini.

“Kakek Yo, siapakah dia ini?” tanyanya dan kelihatan meragu untuk memasuki rumah besar itu.

“Yap-kongcu, inilah ketua kami, Phoa Sek It Si Golok Maut yang amat terkenal di dunia kang-ouw,” jawab Yo-lokui, kelihatan tidak enak menyaksikan sikap Kun Liong demikian kurang hormat terhadap ketuanya.

Akan tetapi Phoa Sek It tersenyum lebar dan membungkuk ke arah Kun Liong, berkata ramah, “Silakan, Yap-kongcu. Silakan masuk dan harap jangan khawatir. Kita berada di antara sahabat sendiri dan kedatanganmu seperti kedatangan seorang malaikat pembawa berkah terhadap kami. Heii! Carikan pakaian pengganti Yap-kongcu yang basah dan persiapkan hidangan panas untuk kita sekalian, juga bersihkan kamar untuk tempat tidur tamu kita!” Teriakan itu ditujukan kepada anak buahnya yang segera pergi melaksanakan perintah itu.

“Biarlah aku tidur bersama Kakek Yo saja, harap tidak perlu repot-repot, Paman Phoa,” kata Kun Liong kepada Si Gendut itu.

Si Gendut mengangguk-angguk. “Terserah kepadamu, Yap-kongcu, sesuka hatimulah. Bolehkah aku melihat bokor itu?”

Kun Liong yang masih curiga, menoleh ke arah kakek itu dan kakek itu mengangguk kepadanya. Kun Liong menyerahkan bokor yang dipegangnya kepada Si Gendut yang menerimanya dengan mulut tersenyum lebar, akan tetapi kembali tampak oleh Kun Liong sinar mata aneh yang menyeramkan menyorot keluar dari sepasang mata Si Gendut ketika dia menerima bokor.

“Yo-twako, harap suka melayani dan menjamu makan Yap-kongcu. Aku harus meneliti bokor ini dengan tenang di dalam kamar, untuk menentukan apakah benda ini aseli ataukah bukan. Engkau tahu, sudah bertahun-tahun aku tidak melihatnya sehingga aku hampir lupa lagi.” Tanpa menanti jawaban, Si Gendut membawa bokor masuk ke dalam dan lenyap di ruangan dalam.

Kembali kakek itu tercengang. Dalam perantauannya di dalam dunia kang-ouw, sebagai seorang di antara lima datuk persilatan yang terkenal, sudah banyak dia bertemu dengan orang gagah, bukan hanya gagah karena tinggi ilmu kepandaiannya, akan tetapi gagah karena berjiwa satria, seorang yang tidak gentar menghadapi maut dan yang siap mengorbankan nyawa untuk orang lain. Akan tetapi, selama hidupnya belum pemah dia bertemu dengan seorang kanak-kanak yang usianya baru sepuluh tahun sudah memiliki jiwa satria seperti ini! Dia benar-benar tercengang, terheran, dan kagum bukan main. Aihhh, kalau saja puteranya bersikap seperti anak ini, pikirnya. Dia menarik napas panjang dan menjadi marah karena iri hati kepada ayah anak yang gagah perkasa itu.

Melihat betapa ular-ular itu telah tiba dekat sekali di depan kaki para penduduk dusun, Kun Liong yang sudah terbebas dari suara terompet, melompat ke depan kakek itu sambil membentak,

“Kakek iblis, tidak malukah engkau? Sungguh engkau pengecut hina!”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: