Petualang Asmara (Jilid ke-7)

Cinta terlalu halus untuk dapat dimengerti pikiran manusia yang kasar, terlalu tinggi untuk dicapai pikiran yang rendah dan terlalu dalam untuk dijajaki pikiran yang dangkal. Pikiran yang berputar sekitar sayang diri, demi aku, untuk aku, tak mungkin dapat mengerti cinta yang bersih daripada kepentingan diri tanpa pamrih itu. Gui-kauwsu ingin menguasai isterinya lahir batin, memonopoli isterinya lahir batin dan menganggap hal ini sebagai perasaan cintanya terhadap isterinya. Keinginan menguasai dan memiliki lahir batin ini tentu saja menimbulkan iri jika melihat isterinya menoleh kepada orang lain dan menimbulkan cemburu, bahkan menimbulkan benci! Adakah iri itu cinta? Adakah cemburu itu cinta? Adakah benci itu cinta? Adakah cinta mendatangkan derita? Hanya pengejaran dan pemuasan nafsulah yang akan mendatangkan derita. Keinginan menguasai dan memiliki lahir batin terhadap sesuatu, benda maupun manusia, berarti mengundang datangnya derita sengsara, pertentangan dan penyesalan. Memang, berhasil menguasai dan memiliki sesuatu atau seseorang, dapat mendatangkan rasa puas, akan tetapi kepuasan nafsu keinginan ini hanya seperti angin lalu karena keinginan itu selalu didorong oleh pengejaran akan sesuatu yang lebih indah. Kalau sudah didapat, tentu akan lepas dari pengejaran dan perhatian, karena keinginan sudah mencari lagi ke depan untuk mendapatkan yang lebih indah lagi!

Pada keesokan harinya, setelah sinar matahari telah naik tinggi, Kun Liong bangun dari tidurnya. Dadanya masih terasa sakit sedikit, akan tetapi tenaganya sudah agak pulih. Melihat betapa perahunya berhenti, dia cepat melihat ke depan dan ternyata dia telah tiba di daerah yang berbatu-batu. Sungai menjadi lebar sekali, akan tetapi batu-batu itu menonjol ke permukaan air. Perahunya tertahan oleh sebaris batu dan untung saja terdampar di situ, tidak terbentur keras dan pecah.

Ketika dia berdiri di pinggir perahu, tiba-tiba dia membelalakkan mata melihat sesuatu tersangkut pada batu tak jauh dari situ. Tadinya dia mengira seekor ikan besar yang mati, akan tetapi setelah matanya terbiasa, dia hampir berteriak saking kagetnya. Yang dilihatnya itu adalah mayat isteri Gui-kauwsu! Hanya sebagian muka, rambutnya, dan perutnya yang tampak, perut yang mengembung besar sehingga kelihatan seperti perut ikan, putih bersih. Mayat yang telanjang bulat!

Kun Liong mengejap-ngejapkan matanya, ingin mengusir penglihatan itu. Ketika dia memandang ke kanan kiri, hampir dia terpekik lagi melihat sesosok mayat lain, juga terdampar dan tersangkut batu. Mayat Gui-kauwsu sendiri, mukanya tidak tampak akan tetapi dia dapat mengenal celana hitam baju putih dan sarung pedang di punggung mayat yang tertelungkup itu!

Kun Liong menghela napas panjang penuh kengerian. Sudah dia duga bahwa tentu suami isteri itu akan tewas melihat betapa mereka tidak pandai renang dan arus sungai yang dalam itu amat derasnya. Perahunya tersangkut dan agaknya bocor. Seorang diri saja tak mungkin dia dapat mengambil dua jenazah itu untuk dikuburkan ke darat. Dia tidak dapat berbuat apa-apa, bahkan harus meninggalkan perahu yang tersangkut dan terjepit ini. Dia teringat akan bokor di bawah perahu. Sayang kalau dibiarkan begitu saja. Bokor itu amat penting dan menjadi rebutan orang-orang di dunia kang-ouw. Kalau kelak dia bawa pulang dan dia serahkan ayahnya, siapa tahu bokor itu akan agak meredakan kemarahan ayahnya. Dengan hati-hati dia lalu turun ke air, mengumpulkan napas, menyelam dan meraba-raba. Bokor itu masih ada, terikat di bawah perahu. Dilepaskannya ikatan itu dan dibawanya bokor meninggalkan perahu, berenang dari batu ke batu, sampai akhimya dia tiba di darat yang berbatu-batu.

Pandang matanya tertarik kepada sebuah batu besar di tepi sungai dan tak terasa dia meraba kepalanya. Batu itu besar dan halus, bentuknya seperti kepalanya! Dihampirinya batu itu dan diraba-rabanya. Benar-benar batu yang halus dan besar sekali, dikelilingi batu-batu yang tidak sebesar batu kepala itu. Ketika dia meraba-raba ini, dia menemukan sebuah lubang terhimpit di antara batu-batu dan segera dia memasuki bokor ke dalam lubang ini. Lubang itu dalam sekali dan begitu bokor dimasukkan, benda itu meluncur dan hilang! Sama sekali tidak tampak dari luar dan betapapun Kun Liong merogoh ke dalam lubang, jari tangannya tidak dapat mencapainya. Hatinya menjadi girang. Benda itu tersimpan dengan aman dan hanya kalau batu berbentuk kepalanya itu didorong roboh, bokor itu dapat ditemukan. Akan tetapi siapakah orangnya yang akan mendorong batu besar itu? Pula, siapakah yang akan kuat mendorong batu sebesar itu? Agaknya akan membutuhkan tenaga sedikitnya belasan orang kuat!

Hatinya meniadi ringan. Benda itulah yang selama ini membuat hatinya berat dan setelah benda itu disimpan di tempat aman, dia dapat melanjutkan perjalanannya tanpa khawatir terlibat dalam perebutan bokor emas. Sejenak dia memandang ke sekeliling sampai dia yakin benar kelak akan dapat mengenali tempat ini. Mudah mengenalinya. Bentuk pegunungan di utara itu, pemandangan di seberang yang penuh pohon-pohon raksasa, sungai yang penuh batu batu menonjol dan belokan sungai di depan itu. Apalagi dengan adanya batu yang berbentuk kepala gundulnya ini, dia tidak akan dapat melupakan tempat ini, dan dia pasti kelak akan mengingat tempat persembunyian bokor emas!

Mulailah Kun Liong melanjutkan perjalanannya ke timur, menyusuri sepanjang pantai sungai. Di dalam kantungnya masih terdapat sisa-sisa uang upah perahu. Sayang bahwa tiga orang penumpangnya itu tidak membayarnya sepeser pun, bahkan yang dua orang sudah mati dan yang seorang lagi? Teringat akan siucai gila itu, meremang bulu tengkuknya. Sungguh banyak berkeliaran orang berilmu tinggi dunia ini, namun mengapa setiap orang berilmu tinggi yang dijumpainya demikian jahat dan kejam? Pertama-tama Loan Khi Tosu, tosu Pek-lian-kauw yang membunuh orang tanpa berkedip mata. Kemudlan Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok dengan puteranya, Ouwyang Bouw yang mengerikan dan yang ilmunya jauh lebih tinggi daripada tosu Pek-lian-kauw itu. Setelah itu Si Siucai gila yang menyeramkan! Dia harus berhati-hati. Ternyata perantauannya membawanya kepada bahaya yang beberapa kali nyaris merenggut nyawanya.

Kun Liong tersenyum seorang diri. Betapa ibunya akan terbelalak dan ayahnya akan menggeleng-geleng kepala kalau melihat dia seperti sekarang ini. Dia dapat membayangkan keheranan hati ayah bundanya itu. Kun Liong tertawa dan meraba kepalanya. Dapatkah ibunya menyembuhkan kepalanya sehingga dapat tumbuh rambut kembali? Aha! Tentu ayah dan ibunya akan mengira dia sudah menjadi hwesio! Kenangan akan ayah bundanya dan akan lucunya kalau mereka melihat dia membuat Kun Liong merasa gembira dan dia berloncatan di atas batu-batu besar yang berserakan di tepi sungai. Tiba-tiba dia menyelinap dan bertiarap, bersembunyi di balik batu-batu besar ketika dia melihat tiga orang laki-laki muncul dari balik pohon-pohon di tepi sungai. Yang seorang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, mukanya licin tidak berambut dan sebatang pedang tergantung di punggungnya. Orang ke dua brewok dan kelihatan galak sekali, pakaiannya kasar seperti orang pertama, bahkan tidak berlengan, dan di pinggangnya tergantung ruyung berduri yang menyeramkan. Orang ke tiga masih muda, juga bajunya tidak berlengan dan punggungnya tergantung sebuah golok.

“Benarkah dia lewat di sini?” tanya Si Brewok kepada yang termuda.

“Benar, aku sudah mengikutinya sejak kemarin. Dia tertukar keledai dan membawa buntalan yang berat.” kata yang muda.

“Seorang tosu mempunyai apa sih?” tanya Si Tinggi Besar.

“Aihhh, lupakan dulu urusan merampok!” Si Brewok menegur. “Kita sedang menanti datangnya utusan yang akan membawa uang tebusan.”

“Masa seorang tosu?”

“Mungkin saja! Kalau bukan utusan, masa seorang tosu menunggang keledai siang malam, bertukar keledai, menginap di hotel, dan membawa bungkusan besar?” kata yang muda. “Nah, itu dia…!” sambungnya sambil menuding ketika dia menoleh ke belakang. Tiga orang itu dengan gerakan cepat sekali berlompatan sudah menyelinap dan sembunyi di belakang pohon-pohon.

Kun Liong juga mengintai dari balik batu-batu dan melihat seorang kakek tua menunggang seekor keledai perlahan-lahan menuju ke tempat itu. Di depan kakek itu, di punggung keledai, tampak buntalan besar dan berat, sedangkan di punggung kakek itu pun tergendong sebuah buntalan kain.

Jantung Kun Liong berdebar penuh ketegangan. Dia merasa kasihan kepada kakek itu, yang pakaiannya longgar seperti pakaian seorang tosu. Ingin dia berteriak memperingatkan, akan tetapi tiga orang tadi berada di antara dia dan tosu itu. Untuk lari menyambut juga tidak mungkin, tentu didahului mereka. Akan tetapi kakek yang dikhawatirkan itu mulai bemyanyi dengan suara lantang!

“Mengerti akan orang lain adalah bijaksana

mengerti akan diri sendiri adalah waspada

mengalahkan orang lain adalah kuat

mengalahkan diri sendiri lebih gagah perkasa!

Kata-kata yang benar tidaklah manis

kata-kata yang manis belum tentu benar

yang baik tidak akan berbantah

yang berbantah belum tentu baik!”

Kun Liong mengenal sajak yang dinyanyikan itu. Yang pertama adalah ayat ke tiga puluh tiga dan yang ke dua ayat ke delapan puluh satu dari kitab To-tik-keng, diambil bagian depannya saja. Pada saat itu, tosu tua ini sudah tiba dekat dan tiba-tiba muncullah tiga orang tadi! Mereka langsung mengurung dan Si Brewok sudah mendekat dan memegang tali di hidung keledai.

“Siancai…, Sam-wi-sicu (Tiga Orang Gagah) siapakah dan mengapa menghentikan pinto (saya)?” Tosu itu bertanya setelah mengangkat sepasang alisnya tanda keheranan dan kekagetan.

“Tak perlu banyak cakap lagi, turunlah dan ikut dengan kami!” Si Brewok membentak.

“Siancai…! Pinto adalah seorang tua yang tidak mempunyai urusan apa-apa, yang hidup dengan tenang dan damai, tak pernah berbuat kesalahan kepada siapapun juga, apalagi kepada Sam-wi yang tidak pinto kenal…”

“Ha-ha-ha, kakek ini selain pandai menyanyi juga pandai berceloteh!” Si Tinggi Besar berkata sambil tertawa-tawa.

“Aihhhh…” Tosu itu menggeleng kepala. “Yang dicari belum ketemu, sekarang timbul kesulitan baru lagi!”

Mendengar ini, Si Brewok girang dan cepat berkata, “Totiang tentu akan dapat bertemu dengan yang dicari asal membawa tebusan cukup. Dan marilah ikut dengan kami.”

“Apa? Pinto tidak mengerti…”

Si Brewok agaknya kehilangan kesabarannya. Dipegangnya lengan kanan kakek itu dan ditariknya, hendak dipaksa turun.

“Eh-eh-eh, mengapa ditarik-tarik? Engkau sungguh tidak menghormati orang yang sudah tua!”

Kemarahan dan rasa penasaran di dalam hati Kun Liong tak dapat ditahan lagi dan dia sudah meloncat keluar dari balik batu, lari menghampiri dan berkata marah kepada tiga orang yang memandang kepadanya dengan terheran-heran itu. “Sam-wi bertiga kelihatannya adalah orang-orang gagah yang berkepandaian tinggi! Akan tetapi siapa kira, ternyata sekarang Sam-wi mengganggu seorang kakek yang lemah dan tidak bersalah apa-apa. Apakah Sam-wi (Tuan Bertiga) tidak merasa malu?”

“Bocah gundul, kau muncul seperti setan. Siapa engkau?” bentak Si Brewok heran.

“Dia tentu mata-mata yang sejak tadi bersembunyi!” kata temannya yang muda.

“Ah, siapa lagi kalau bukan kaki tangan kakek ini?” kata yang tinggi besar.

“Tangkap saja mereka berdua!” Si Brewok membentak. “Hayo kalian ikut bersama kami! Ataukah kami harus rnenggunakan senjata?” Dia sudah melepas ruyungnya dan mengancam kepada kakek itu. Juga Si Tinggi Besar telah melolos pedangnya ditodongkan ke dada Kun Liong, sedangkan orang yang termuda memegang kendali keledai dan menuntunnya.

Kakek itu hanya menggeleng-geleng kepala dan memandang Kun Liong sambil tersenyum. “Anak yang baik, mari kita ikut saja agar dapat melihat bagaimana kesudahan urusan aneh ini. Naiklah ke sini, anak baik, di belakangku.”

Kun Liong menggeleng kepala. “Keledai itu sudah terlalu tersiksa oleh muatan yang berat, aku berjalan kaki saja, Totiang.”

“Hayo jalan, jangan banyak mengobrol” Si Tinggi Besar mendorong pundak Kun Liong dan pedangnya tetap ditodongkan di lambung anak itu. Hal ini membuat Kun Liong mendongkol sekali dan dia mendorong pedang itu ke samping sambil berkata,

“Aku tidak bersalah apa-apa. Aku mau ikut sudah baik. Perlu apa ditodong-todong?” Pedang itu terdorong miring dan Si Tinggi Besar kelihatan terkejut dan marah, sudah membuat gerakan hendak menyerang. Akan tetapi Si Brewok membentak dan melarangnya. Bergeraklah rombongan aneh ini menuju ke sebuah bukit yang tampak dari situ.

Kakek itu tertawa dan melorot turun dari atas punggung keledai, berjalan dekat Kun Liong. “Anak baik, engkau membuat pinto malu. Memang keledai itu sudah cukup menderita. Biarlah pinto jalan kaki saja.”

Kun Liong hanya tersenyum dan melangkah perlahan dengan kepala menunduk. Sungguh sial, pikirnya. Di mana-mana bertemu dengan orang-orang yang menggunakan kekerasan dan kekuasaan menekan orang lain! Di mana-mana dia bertemu dengan halangan, dan karena membela kakek tua yang lemah ini, dia ikut pula menjadi tawanan. Entah golongan apa tiga orang yang menangkap dia dan kakek itu, dan entah urusan apa yang membuat kakek itu ditangkap. Dia selalu terlibat dengan urusan lain yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dia sendiri. Apakah selama ini dia terlalu lancang dan usil? Apakah selanjutnya dia harus diam saja melihat segala sesuatu yang terjadi pada lain orang dan yang tidak ada hubungannya dengan dirinya? Ah, tak mungkin. Mana bisa dia diam saja menyaksikan hal yang menimbulkan rasa penasaran? Melihat seorang kakek tua renta yang lemah ini diganggu tiga orang yang kelihatan gagah itu, bagaimana dia harus diam saja di tempat persembunyiannya!

“Tidak mungkin!” Kun Liong lupa diri dan kata-kata ini terlompat keluar dari mulutnya.

“Apa yang tidak mungkin?” Si Tinggi Besar membentak. Orang termuda itu berjalan di depan menuntun kendali keledai, Kun Liong di sebelah kakek itu berjalan di tengah dan Si Brewok bersama Si Tinggi Besar paling belakang.

Ternyata perjalanan itu cukup jauh, keluar masuk hutan dan mendaki bukit yang bentuknya seperti sebuah mangkuk menelungkup. Ada tiga jam mereka berjalan dan akhimya, ketika mendaki sampai di lereng dan membelok melalui sebuah tebing, tampaklah tembok-tembok bangunan di dekat puncak. Bangunan-bangunan itu dikelilingi pagar tembok yang cukup tinggi dan di luar pagar tembok sudah tampak para penjaga dengan pakaian seragam kuning, bukan seragam tentara melainkan seragam perkumpulan silat. Setelah rombongan ini tiba dekat pintu gerbang pagar tembok, tampaklah oleh Kun Liong bahwa para penjaga itu merupakan pasukan-pasukan panah, tombak, dan golok. Mereka berlari berjajar dengan rapi dan hanya mata mereka yang bergerak memandang penuh perhatian ke arah kakek dan Kun Liong, tubuh mereka sama sekali tidak bergerak, tetap berdiri dalam keadaan siaga! Ketika dua orang tawanan ini dibawa masuk melalui pintu gerbang pagar tembok, tampaklah oleh Kun Liong pasukan-pasukan lain berderet-deret. Ada pasukan ruyung, pasukan pedang, dan kesemuanya berbaris rapi. Kini dia dapat menduga bahwa tiga orang yang menangkapnya itu tentulah merupakan tokoh-tokoh dari pasukan ruyung, yaitu Si Brewok, Si Tinggi Besar tentu dari pasukan pedang, dan yang termuda itu dari pasukan golok.

Kakek itu melangkah sambil menoleh ke kanan kiri, agaknya terheran-heran, dan akhirnya dia berkata perlahan, “Siancai… tempat apakah ini? Seperti benteng dan dijaga pasukan-pasukan. Apakah pinto menjadi tangkapan pasukan asing?”

“Jangan bicara ngawur, Totiang!” Si Brewok membentak. “Engkau menjadi tamu dari Ui-hong-pang!”

“Heh? Ui-hong-pang (Perkumpulan Burung Hong Kuning)? Apa itu?” Kakek itu membuka matanya lebar-lebar, juga Kun Liong tidak mengenal nama perkumpulan ini. Akan tetapi dia makin curiga dan khawatir. Kalau dia dan kakek lemah itu terancam bahaya di tempat yang terjaga kuat ini, harapan untuk lolos sungguh tidak ada sama sekali!

“Kita ini mau diapakan, Totiang?” Kun Liong berbisik, akan tetapi suaranya sama sekali tidak mengandung ketakutan, hanya keheranan. Kakek itu menunduk dan memandang, kemudian bertanya,

“Engkau takut, Nak?”

Kun Liong menggeleng kepala kuat-kuat dan menjawab, “Aku tidak bersalah apa-apa terhadap siapa juga, mengapa takut?”

Diam sejenak dan mereka melangkah terus memasuki sebuah bangunan yang terbesar.

“Kau… dari kuil mana?” Tiba-tiba tosu tua itu bertanya.

Kun Liong mengerutkan alisnya dan memandang kakek itu dengan hati penasaran. Dengan suara yang agak dingin dia menjawab, “Aku bukan seorang hwesio!”

“Sssstt, tidak boleh bicara lagi. Kita menghadap Pangcu!” bentak Si Brewok ketika mereka memasuki sebuah ruangan yang luas di tengah bangunan itu.

Juga di dalam bangunan itu terjaga oleh pasukan pengawal seragam. Setiap lorong dan pintu terjaga kuat dan setelah mereka menghampiri seorang laki-laki gagah yang duduk di atas sebuah kursi kuning, di situ terdapat beberapa orang yang tidak seragam pakaiannya, dan agaknya mereka ini adalah pembantu-pembantu dan pengawal-pengawal pribadi Si Ketua Perkumpulan itu.

Kun Liong memandang ke arah ketua penuh perhatian. Dia seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar, berwajah gagah, usianya tiga puluh tahun lebih dan pakaiannya serba kuning akan tetapi warna kuningnya lebih tua daripada warna kuning seragam anak buah pasukannya. Berbeda dengan sikap tiga orang anak buahnya yang menangkap kakek dan Kun Liong, ketua ini tersenyum ramah ketika menerima mereka.

“Duduklah, Totiang, dan engkau juga, saudara kecil!” katanya dengan suara lantang sambil menuding ke arah beberapa buah kursi kosong di depannya.

“Terima kasih,” kakek itu menjura dan duduk, sedangkan Kun Liong tanpa berkata apa-apa juga mengambil tempat duduk di dekat kakek itu.

“Siapakah nama Totiang?” Ketua itu kembali bertanya dengan suara ramah.

“Eh, nama pinto…? Pinto tidak bernama, hanya disebut orang Bu Beng Tosu,” jawab kakek itu.

“Sungguh tidak kami sangka mereka akan mengirim seorang tosu untuk menjadi utusan menyambut anak itu. Apakah Totiang sudah membawa tebusannya?”

“Menyambut anak? Utusan? Tebusan? Apakah artinya ini? Sungguh pinto tidak mengerti.”

“Agaknya Cuwi telah salah menangkap orang!” Kun Liong berkata, suaranya nyaring dan dia memandang ketua itu dengan sinar mata penuh ketabahan.

Ketua itu mengerutkan alisnya dan menoleh kepada Si Brewok, membentak, “Apa artinya ini? Siapa kakek dan bocah ini?”

Si Brewok menjadi pucat. “Maaf, Pangcu. Sikapnya mencurigakan, dia ber uang dan melakukan perjalanan seorang diri lewat di tempat yang telah ditentukan, membawa buntalan-buntalan besar. Kami mengira dialah utusan itu.”

“Bodoh! Lekas periksa buntalannya!”

“Sudah diperiksa, Pangcu!” Tiba-tiba Si Tinggi Besar yang baru saja masuk menjawab dan berdiri tegak seperti sikap seorang perajurit menghadap komandannya.

“Apa isi bungkusannya? Emas dan perak?”

“Bu… bukan… Pangcu…”

“Habis, apa isinya?”

“Batu-batu karang dan akar-akaran!”

“Plakkk!” Ketua itu menepuk ujung kursinya dengan marah. “Sialan! Apa yang kalian lakukan?”

“Harap Pangcu maafkan. Kami telah salah menangkap, dan kami akan melakukan penjagaan lagi di sana. Akan tetapi… mereka… mereka itu…?”

“Pergi menjaga! Sekali lagi kalian keliru menangkap orang akan kuhajar! Biarkan mereka di sini. Pergi kalian bertiga!!” Si Brewok dan dua orang temannya pergi seperti anjing-anjing dibentak.

Ketua ini kini menoleh ke arah kakek itu dan bertanya, “Mengapa kebetulan sekali Totiang lewat di tempat ini dan untuk apa semua batu dan akar itu?”

“Aihhh, pinto adalah seorang yang hidup dari menjual bahan-bahan obat. Batu-batu itu dapat dipergunakan sebagai bubuk obat, dan itu adalah bahan campuran obat pembersih darah. Pinto sedang mencari telur kura-kura hitam yang kabarnya banyak terdapat di pantai Sungai Huang-ho, telur belum dapat malah pinto ditangkap.”

“Hemmm… dan kau, bocah gundul? Apakah engkau murid tukang obat ini?”

Kun Liong sudah mengetutkan alisnya, kelihatan marah sekali disebut gundul! Setelah kepalanya gundul pelontos, temyata sebutan gundul merupakan sebutan yang amat menyakitkan hatinya, karena mengingatkan dia akan keadaannya yang tidak menyenangkan itu. Akan tetapi sebelum dia melontarkan jawaban yang keras, tosu itu sudah mendahuluinya menjawab, “Benar, Pangcu. Dia adalah murid pinto yang keras hati dan bandel.”

Kun Liong menoleh dan memandang kakek itu, dan tiba-tiba dia sadar akan keadaan dirinya. Memang dia keras hati. Kalau dia menuruti kemarahannya dan mengeluarkan kata-kata keras dan tidak enak terhadap ketua ini, bukan hanya dia seorang yang akan menderita hukuman, juga kakek yang tidak berdosa itu akan terbawa-bawa. Maka dia menahan kemarahannya dan menggigit bibir, tidak mengeluarkan suara.

“Kalian memang tidak bersalah dan anak buah kami kesalahan menangkap orang. Akan tetapi karena kalian sudah terlanjur masuk ke sini, sebelum urusan ini beres kalian akan kami tahan.”

“Akan tetapi…” tosu itu membantah.

“Tidak ada tapi! Haii, pengawal! Antarkan mereka ini masuk ke kamar tahanan biar mereka berdua menemani anak perempuan itu!”

Empat orang pengawal sudah maju dan menggunakan tombak mereka untuk mengiring tosu dan Kun Liong pergi dari situ, ke sebuah bangunan lain yang kokoh dan kuat dan akhirnya mereka didorong masuk ke dalam sebuah kamar empat meter persegi, kosong dan hanya ada beberapa helai tikar dan di dalamnya terdapat seorang anak perempuan yang usianya kurang lebih delapan tahun, bersikap tenang dan cantik, berpakaian indah seperti puteri bangsawan, akan tetapi yang amat mencolok adalah sikapnya yang penuh ketenangan itu. Dengan sepasang matanya yang lebar ia memandang Kun Liong dan tosu yang didorong masuk ke dalam kamar tahanannya, kemudian pintu kamar tahanan yang terbuat dari baja dan di atasnya terdapat ruji baja itu ditutup kembali dan dikunci dari luar. Dari lubang-lubang ruji tampak kepala para penjaga yang tertutup kain kuning, dan ujung-ujung tombak mereka.

Anak perempuan itu tetap di atas lantai, matanya memandang Kun Liong dan kakek itu bergantian, penuh perhatian.

“Engkau siapakah?” Kun Liong bertanya dan diam-diam dia mendapat kenyataan bahwa anak perempuan ini pandai duduk seperti cara orang bersamadhi, bersila dan punggungnya lurus tegak.

Anak perempuan itu menggerakkan kepala menoleh kepadanya, gerakan kepalanya begitu tiba-tiba sehingga rambutnya yang panjang dan dikuncir dua buah itu seperti dua ekor ular hiam bergerak.

“Engkau siapa? Dan kakek ini siapa? Mengapa kalian dijebloskan di sini?” Anak perempuan itu balas bertanya, suaranya mengandung keangkuhan dan kekerasan.

Seketika berkerut sepasang alis tebal Kun Liong. “Sombong engkau, ya?” katanya tak senang. Akan tetapi gadis cilik itu sama sekali tidak mempedulikannya dan kini membuang muka, memandang kepada Si Kakek Tua yang telah duduk di depannya dengan sikap tenang.

“Anak baik kulihat tulang pahamu yang kanan patah, akan tetapi sudah disambung, apakah sudah baik?”

Anak perempuan itu melirik ke arah kaki kanannya yang sama sekali tidak kelihatan karena tertutup pakaiannya, juga tidak ada tanda-tanda bahwa dia menderita sakit.

“Totiang, engkau awas sekali!” serunya kagum.

“Pinto adalah seorang yang biasa mengobati tulang patah, tentu saja tahu. Coba kuperiksa sebentar!”

Anak perempuan itu mengangguk dan kakek itu lalu meraba paha kanan anak itu, kemudian mengangguk-angguk. “Sambungannya sudah benar, hanya obat penguatnya kurang manjur. Tulang kakimu sudah tersambung, akan tetapi engkau tidak boleh banyak bergerak dulu sedikitnya dua pekan engkau tidak boleh menggunakan kakimu secara kuat.”

Kemarahan Kun Liong atas kekasaran dan kesombongan anak perempuan itu lenyap sama sekali, terganti oleh rasa iba ketika mendapat kenyataan bahwa anak ltu menderita tulang paha patah. Sudah ditawan, menderita luka pula!

“Aihhh, siapakah yang begitu kejam mematahkan tulang kakimu?” tanyanya dan sekarang anak perempuan itu menjawab.

“Aku berusaha melawan. Aku sanggup menghajar tikus-tikus penculik itu seorang demi seorang kalau saja mereka tidak mengeroyok secara curang dan Si Brewok itu memukul patah pahaku dengan ruyungnya.”

Kun Liong mengepal tinju. “Sudah kusangka, Si Brewok, Si Tinggi Besar dan temannya itu bukan manusia baik-baik!”

“Siapakah engkau, Nona? Dan mengapa engkau diculik?” tosu itu bertanya dengan suara sungguh-sungguh. Mereka bertiga duduk di atas tikar yang tergelar di lantai.

“Aku Souw Li Hwa dan ayahku bernama Souw Bun Hok, tinggal di Lok-ek-tung. Ketika aku sedang bermain-main seorang diri dengan perahu di Sungai Huang-Ho, mereka menyergap dan menculik aku. Menurut keterangan mereka, aku ditahan sampai orang tuaku datang menebusku dengan seribu tail perak. Sudah dua pekan aku ditahan di sini.”

Kakek itu mengangguk-angguk. “Sungguh mengherankan sekali. Sepanjang pengetahuanku, Ui-hong-pang bukanlah kaum penculik anak-anak!” Ucapan ini dikeluarkan dengan lirih, akan tetapi Kun Liong yang mendengarnya menjadi heran karena kata-kata itu membuktikan bahwa tosu tua ini telah mengenal Ui-hong-pang! Mengapa ketika ditangkap pura-pura tidak mengenal perkumpulan itu?

“Apakah ayahmu dapat menebusmu dengan uang sebanyak itu?” Kun Liong bertanya dengan hati penasaran. Kembali dia menghadapi perbuatan manusia yang jahat!

Gadis cilik yang bernama Souw Li Hwa itu menggeleng kepalanya. “Mana mungkin ayahku menebus dengan uang sebanyak itu? Ayah hanya bekas juru mudi saja yang sekarang sudah mengundurkan diri karena tua, dan selama bekerja, Ayah tidak pemah mengumpulkan uang haram!”

Kun Liong kaget sekali dan kini mengertilah dia mengapa anak itu demikian angkuh, kiranya keturunan orang yang hebat. “Wah, ayahmu hebat!” Dia memuji.

“Memang, akan tetapi ayahku tidak akan dapat menolongku. Biarpun begitu, aku tidak khawatir. Aku percaya bahwa Suhu tentu akan membebaskan aku, dan kalau Suhu sampai turun tangan sendiri, tikus-tikus itu tentu akan dibasmi habis sampai ke akarnya!”

“Siapa sih gurumu?” tanya Kun Liong.

“Nama guruku tidak boleh disebut-sebut. Tikus-tikus itu yang melihat aku melakukan perlawanan, juga menanyakan nama Suhu, akan tetapi sampai mati aku tidak akan menyebut namanya. Ketua tikus-tikus Ui-hong-pang itu mengatakan sudah tahu siapa guruku, akan tetapi aku tidak percaya!”

Tosu tua yang sejak tadi mendengarkan saja, lalu memegang tangan anak perempuan itu dan bertanya halus. “Nona kecil, apakah suhumu she The?”

Anak itu berteriak heran. “Bagaimana Totiang bisa menduga?”

“Benarkah?”

Anak itu mengangguk.

Tosu itu menarik napas panjang. “Aihhh, pantas saja kalau begitu, engkau diculik bukan karena ayahmu melainkan karena suhumu.”

“Bagaimana Totiang tahu? Apakah Totiang mengenal suhuku?”

Kun Liong juga memandang kakek itu dengan penuh keheranan. Kakek itu kembali menarik napas panjang dan mengangguk perlahan. “Sungguh kebetulan sekali kejadian ini… siapa, kira aku akan bertemu dengan engkau. Tentu saja aku mengenal suhumu, Nona. Dan karena engkau murid The-taiciangkun (Panglima Besar The), maka Ui-hong-pang menculikmu. Kalau pinto tidak salah dengar, pangcu dari perkumpulan ini adalah murid Kwi-eng Niocu (Nona Bayangan Hantu) Ang Hwi Nio, Majikan Telaga Siluman. Tentu pangcu itu membela gurunya yang menaruh dendam terhadap gurumu.”

“Mengapa Totiang?”

“Ketika suhumu dahulu sebagai panglima besar mengadakan pembersihan, membasmi golongan sesat dan jahat, ayah Si Bayangan Hantu roboh dan tewas di tangan gurumu yang sakti. Tentu saja wanita iblis itu menaruh dendam, dan untuk membalas secara langsung kepada The-taiciangkun adalah tidak mungkin, maka dia melalui muridnya membalas dendam dengan jalan menculikmu. Mungkin hal ini dilakukan untuk memancing agar gurumu datang ke sini.”

“Tikus-tikus tak tahu diri!” Li Hwa berseru, “Kalau Suhu datang, mereka tentu akan mampus semua!”

Tosu itu menarik napas panjaang dan menggeleng kepala. “Mungkin begitu, akan tetapi juga belum tentu gurumu mengotorkan tangan menghadapi mereka ini. Setelah pinto secara kebetulan lewat di sini, biarlah pinto yang mewakilinya. Marilah, Nona, dan kau juga muridku, mari kita keluar dari sini.”

“Ehhh…?” Kun Liong berseru heran.

Tosu itu mengira bahwa Kun Liong tidak suka menjadi muridnya, maka dia bertanya, “Apakah kau tidak mau menjadi muridku? Aku sudah terlanjur mengakuimu.”

“Teecu suka, akan tetapi… bagaimana kita dapat keluar dari sini, Suhu?”

Tosu itu tertawa, kemudian mengelus kepala yang gundul itu. “Muridku yang baik sekali, siapa namamu?”

“Teecu bernama Yap Kun Liong…”

“Aihh, namanya serem, orangnya hanya bocah gundul!” Li Hwa mencela.

“Sombong kau, ya?” Kun Liong membentak.

“Husshhh, bukan saat ribut-ribut urusan tak berarti. Anak-anak, mari kita keluar dari sini.” Setelah berkata demikian, kakek itu melangkah ke pintu baja, tangan kanannya yang tertutup lengan baju yang lebar itu mendorong ke depan.

“Braaakkkk…!!” Pintu baja itu terdorong roboh ke luar dan terbukalah lubang besar di dinding bekas pintu itu.

Seorang penjaga berseru kaget, menerjang masuk dengan goloknya. Akan tetapi, dengan gerakan seperti seekor burung walet, Li Hwa mencelat ke depan, tangan kirinya menahan lengan yang bergolok, tangan kanan meninju perut. Penjaga itu berteriak dan roboh terguling. Melihat ini, Kun Liong kagum bukan main. Anak perempuan itu benar-benar tidak membual ketika bercerita tadi, ternyata biarpun kaki kanannya masih sakit, dalam segebrakan saja mampu merobohkan seorang penjaga!

“Eh, jangan banyak bergerak, nanti kakimu patah lagi, Nona!” Tosu tua itu berkata dan tahu-tahu Li Hwa sudah melayang naik ketika tangan gadis itu dipegang dan ditarik oleh Si Tosu dan Li Hwa kini sudah duduk di atas punggung kakek itu! Kun Liong tidak mau kalah melihat ada penjaga ke dua datang menyerbu, dia meloncat ke atas, kedua kakinya meluncur ke depah.

“Haaaiiittt! Dessss…!!” kedua kaki yang kecil itu dengan tepat mengenai muka dan dada penjaga tadi yang terjengkang ke belakang dan roboh bergulingan tak dapat bangkit kembali karena kedua matanya tak dapat dibuka, kena hantam sepatu Kun Liong dan napasnya juga sesak!

Kun Liong sendiri yang melakukan gerakan meloncat lalu menendang, terpental dan menumbuk dinding, akan tetapi dia dapat berjungkir balik dan berdiri dengan terhuyung. Dilihatnya seorang penjaga datang lagi dengan pedang diangkat tinggi-tinggi handak menyerang tosu yang menggendong Li Hwa dan yang bersikap tenang sambil memandang kepada Kun Liong dengan senyum geli, Kun Liong cepat berlari ke depan menyambut penjaga itu dengan serudukan kepalanya.

“Hyaaahhhh! Ngekkkk!!” Penjaga itu terjengkang, terbatuk-batuk, dadanya sesak perutnya mulas, dan Kun Liong melompat ke belakang, terhuyung karena kepalanya berdenyut dan pandang matanya berkunang!

“Kun Liong, mari ikut pinto keluar dan jangan sembarangan bergerak. Biar pinto yang membuka jalan.”

Kun Liong menurut karena gerakan-gerakan tadi membuat badannya terasa sakit lagi. Kiranya luka akibat pukulan Ouw-Siucai di perahu itu masih belum sembuh benar. Dia telah memperlihatkan kepada Li Hwa bahwa dia pun bukah bocah gundul sembarangan yang tidak patut bernama Yap Kung Liong, karena dia telah merobohkan dua orang lawan! Dengan dada dibusungkan, kedua tangan dikepal siap bertanding, Kun Liong mengikuti tosu itu yang melangkah perlahan keluar dari tempat itu, menggendong Li Hwa.

Dari kanan kiri muncul belasan orang penjaga yang berpakaian seragam, tujuh orang bergolok dari kiri dan sembilan orang berpedang dari kanan. Dengan iringan teriakan, mereka menyerbu dari kanan kiri, Kun Liong yang mentaati perintah gurunya, hanya berdiri tenang, namun siap-siap untuk membela diri. Tosu itu kini menggerakkan kedua lengan bajunya ke kanan kiri membiarkan Li Hwa merangkul pundaknya dan mengempit pinggangnya dengan kaki. Dari lengan baju itu menyambar angin pukulan yang dahsyat ke kanan kiri dan… belasan orang itu roboh malang melintang seperti rumput-rumput kering dilanda angin taufan!

Kini dari depan datang belasan orang pasukan panah dan terdengarlah suara bersuitan ketika anak-anak panah datang meluncur ke arah Kun Liong dan kakek itu. Kembali kakek itu menggunakan pukulan lengan bajunya dan semua anak panah dipukul runtuh, berserakan ke lantai sebelah depan mereka. Sebelum ada anak panah menyerang lagi, kakek itu mendorongkan kedua lengannya bergantian ke depan dan seperti juga tadi, pasukan panah itu roboh terguling-guling!

Tentu saja hal ini menimbulkan kegemparan dan mereka yang roboh dan bangun kembali, tidak berani sembarangan menyerang, hanya berdiri dan siap menanti perintah atasan. Kun Liong gembira dan kagum bukan main. Ingin ia bertepuk tangan saking kagumnya, akan tetapi melihat Li Hwa bersikap tenang, dia pun tenang-tenang saja dan kini melangkah tegap di samping gurunya, dengan kedua tinju bergerak-gerak memasang kuda-kuda!

Pasukan-pasukan penjaga mengurung dari belakang, depan, kiri dan kanan. Akan tetapi mereka tidak menyerang, hanya bergerak mengikuti kakek yang melangkah perlahan menuju ke ruangan dalam rumah tahanan itu.

“Pinto tidak ingin berkelahi. Pinto ingin bicara dengan pangcu kalian!” kata kakek itu dengan suara tenang dan penuh kesabaran.

Tiba-tiba pintu depan terbuka lebar dan lima orang yang memegang tombak, yaitu para pengawal pribadi Kian Ti, demikian nama pangcu itu, muncul dan meloncat masuk dengan sikap galak. Serta-merta mereka memekik dan menerjang maju, lima orang maju sekaligus dan lima batang tombak bergerak-gerak, ujung tombak tergetar menjadi banyak, tanda bahwa Si Pemegang memiliki tenaga lwee-kang yang kuat. Kemudian dibarengi teriakan nyaring, mereka menyerang tosu itu.

“Pergilah…!” Tosu itu berseru, hanya tampak kedua kakinya bergerak-gerak diikuti ujung kedua tali ikat pinggang yang tergantung panjang ke bawah, dan… lima orang itu jungkir-balik dan terbanting roboh di atas lantai! Mereka dapat meloncat lagi dengan sigap dan memandang dengan mata terbelalak penuh keheranan kepada kakek luar biasa itu.

“Suruh pangcu kalian maju, pinto ingin bicara dengamya.” Kembali kakek itu berkata tenang.

Lima orang itu melompat ke samping dan berdiri berjajar, tombak di tangan didirikan di sebelah kiri mereka.

“Pangcu tiba…!” Terdengar seruan dari pintu depan.

“Kau mau bertemu Pangcu? Silakan!” kata seorang di antara pengawal-pengawal bertombak itu sambil mengembangkan lengan kirinya.

Tosu itu melangkah ke depan, memandang ke arah pintu depan. Li Hwa di belakang punggungnya menoleh ke kanan kiri dalam keadaan siap kalau-kalau mereka diserang dari belakang. Di belakang mereka pasukan-pasukan bergerak mengikuti, anak panah, tombak, golok dan pedang siap di tangan. Kun Liong melangkah perlahan di sebelah kanan gurunya, kedua tinju disiapkan, seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang!

Tampak bayangan kuning berkelebat dan Si Ketua telah berdiri di situ! Dia tersenyum mengejek, akan tetapi sepasang matanya menyinarkan hawa marah kepada tosu itu.

“Hemm… kiranya engkau seorang berkepandaian yang berpura-pura bodoh, ya? Agaknya engkau memang utusan mereka untuk merampas tawanan kami?”

“Tidak sama sekali!!” Jawab tosu itu. “Pinto hanya kebetulan saja lewat dan tanpa sebab ditawan oleh orang-orangmu. Pangcu, engkau keliru sekali kalau menculik anak ini dan berarti engkau memancing datangnya bahaya yang akan menghancurkan Ui-hong-pang. Apakah gurumu, Kwi-eng Niocu masih belum bertobat dan berani menentang The-taiciangkun? Kuharap saja engkau dapat sadar dan membiarkan pinto membawa pergi nona kecil ini sehingga urusan akan habis sampai di sini saja.”

“Tua bangka keparat! Siapa takut kepadamu? Hayo katakan, siapa engkau sebelum mati di depan kakiku!”

“Sudah pinto katakan, orang menyebut pinto Bu Beng Tosu (Tosu Tanpa Nama).”

“Keparat! Dengan menggunakan nama Laksamana The Hoo, apa kaukira aku Kian Ti akan takut kepadamu? Engkau tidak mau mengaku nama, baiklah, engkau akan mati tanpa nama!” Setelah berkata demikian, Kian Ti menggerakan kedua lengan tangannya. Jari-jari tangannya dibentuk seperti cakar harimau, kedua tangan itu digerak-gerakkan perlahan saling menyilang dan berputaran dan terdengarlah suara berkerotokan seolah-olah semua lengan kedua tangannya remuk, dan perlahan-lahan, kedua lengan yang telanjang karena lengan bajunya tersingkap itu berubah menjadi kemerahan, makin lama makin merah sampai akhirnya menghitam! Melihat perubahan pada lengan ini diam-diam Kun Liong terkejut sekali. Biarpun dia belum pernah mempelajari ilmu yang aneh-aneh itu, akan tetapi dia adalah putera suami isteri yang sakti sehingga pernah dia mendengar penuturan ayah bundanya tentang ilmu-ilmu pukulan yang mujijat, yang dilatih oleh tokoh-tokoh persilatan dengan cara yang aneh-aneh pula.

“Suhu, dia mempunyai tangan beracun!” kata Kun Liong ketika melihat kedua tangan yang kehitaman.

“Totiang, apakah itu Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam)?” Li Hwa juga bertanya.

Kakek itu tidak menjawab, bahkan berkata kepada Kiang Ti, “Kiang-kongcu, sebelum terlambat kuperingatkan kepadamu agar sadar dan tidak menggunakan kekerasan terhadap pinto seorang tua.”

Akan tetapi, sikap dan ucapan kakek itu seperti orang guru menasihati murid dianggap sebuah tantangan yang menghina oleh Kiang Ti. Tiba-tiba dia menerjang ke depan, berlari sambil memekik nyaring, “Yaaatttt!!” Kedua tangannya yang berubah menjadi hitam itu menghantam ke dada dan perut kakek yang berdiri dengan tenang, sama sekali tidak bergerak untuk menangkis maupun mengelak itu.

“Plakk! Bukkk!!”

Tubuh kakek yang menggendong Li Hwa itu sama sekali tidak terguncang seperti sebuah pilar batu diterjang lalat, akan tetapi Kiang Ti terbelalak, tubuhnya seperti lumpuh dan ia roboh berlutut di depan kedua kaki orang tua itu dan mulutnya memuntahkan darah!

“Siancai…!” Kakek itu berkata, menunduk dan melihat tanda dua telapak tangan di dada dan perutnya karena bajunya di bagian yang terpukul itu telah berlubang dengan pinggirnya seperti dibakar, akan tetapi kulit tubuhnya sama sekali tidak ada tanda apa-apa. “Mengapa engkau keras kepala, Pangcu? Untung di dalam buntalan pinto yang kalian rampas itu terdapat akar obat yang bentuknya seperti ular belang. Masaklah dengan air dan minum airnya, tentu lukamu akan sembuh.”

Dengan tenang, kakek itu lalu melangkah menuju ke pintu, diikuti oleh Kun Liong yang merasa makin takjub dan bangga kepada kakek yang menjadi gurunya itu.

“Tunggu… Locicianpwe… nama apakah… yang akan kusebutkan… kepada… guruku kelak…?” Kiang Ti berkata tanpa bangkit dari lantai di mana dia jatuh berlutut.

“Hemmm, katakan bahwa akar cendana sudah lama dikubur, dan kepala naga sudah lama lenyap dari sungai telaga…” Tiba-tiba tubuh kakek itu lenyap bersama anak perempuan yang digendongnya dan bocah gundul yang digandengnya dari pandang mata Kiang Ti dan anak buahnya.

Kiang Ti terbelalak, bibirnya berkata dengan keluhan panjang “Aahhh… tongkat akar cendana berkepala naga… mengapa kakek sakti itu masih hidup dan muncul di sini…? Sungguh sialan…” Dia terguling dan roboh pingsan!

Kun Liong dan Li Hwa memejamkan mata dan merasa ngeri. Apalagi Kun Liong yang merasa betapa tubuhnya tergantung dengan tangan kanan dan meluncur seperti terbang cepatnya itu! Setelah lama dan napas mereka terengah karena kencangnya angin menderu di depan hidung, secara tiba-tiba angin berhenti dan ketika mereka membuka mata, kakek itu telah berhenti menggunakan ilmu lari cepat yang tidak lumrah hebatnya itu!

Li Hwa melorot turun dari gendongan dan serta-merta dia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kakek aneh itu. “Mohon Locianpwe sudi memaafkan teecu yang tidak tahu bahwa teecu telah tertolong oleh Locianpwe Bun Hwat Tosu yang sakti!”

Kun Liong terkejut sekali. Tentu saja dia sudah mendengar nama ini, nama yang dipuji-puji oleh ayah bundanya sebagai nama seorang di antara manusia-manusia sakti seperti dewa di dunia ini! Bahkan nama ini disejajarkan dengan nama Tiang Pek Hosiang, guru ayahnya yang menjadi orang paling sakti di Siauw-lim-pai (baca ceritaPedang Kayu Harum )! Nama yang dimiliki oleh tokoh pertama dari Hoa-san-pai! Maka dia pun cepat menjatuhkan diri berlutut.

“Teecu juga mohon maaf bahwa teecu tidak tahu telah diambil murid oleh Ketua Hoa-san-pai yang mulia!”

Kakek itu tertawa sambil mengelus jengotnya. “Siancai…! Anak-anak sekarang benar-benar bermata tajam sekali. Eh, Nona Li Hwa, bagaimana engkau bisa menduga bahwa pinto adalah Bun Hwat Tosu?”

“Suhu pemah menyatakan bahwa di antara sahabat-sahabat beliau yang memiliki kesaktian tinggi adalah seorang tua yang bersenjata sebatang tongkat terbuat dari akar kayu cendana dan berukirkan kepala naga. Ketika tadi Locianpwe menyebut kayu cendana dan kepala naga, maka tahulah teecu.”

“Ha-ha-ha, engkau memang cerdik, patut menjadi murid yang mulia The-taiciangkun! Gurumu terlalu memuji pinto. Beliau sendiri adalah seorang ahli silat yang tinggi sekali ilmunya, seorang ahli sastra yang jarang tandingannya, seorang ahli perang yang jempolan dan seorang pemimpin besar armada yang luas pengetahuannya. Mana mungkin pinto yang bodoh sederhana dapat dibandingkan dengan dia? Nah, Nona kecil yang baik, apakah sekarang engkau dapat pulang sendiri ke Liok-ek-tung?”

Li Hwa mengangguk. “Liok-ek-tung tidak jauh lagi dari sini, Locianpwe. Harap Locianpwe sudi singgah di rumahku, agar kedua orang tuaku dapat menghaturkan terima kasih kepada Locianpwe yang sudah menolongku, dan apabila mungkin dapat bertemu dengan Suhu…”

Kakek itu menggeleng kepalanya. “Tidak perlu, tidak perlu… dan tentang pertemuan dengan gurumu, kelak tentu akan tiba saatnya pinto menghadap yang mulia. Nah, pulanglah agar orang tuamu berlega hati.”

Sekali lagi Li Hwa mengangguk-anggukkan kepalanya di depan kaki kakek itu. “Teecu menghaturkan terima kasih dan bermohon diri.”

Li Hwa bangkit berdiri, mengerling kepada Kun Liong. “Selamat jalan, Adik Li Hwa! Jangan lupa kepadaku, ya!”

Li Hwa tersenyum, memandang kepala Kun Liong yang licin mengkilap. “Mana bisa aku melupakan itu?” dia menuding.

Kun Liong juga tertawa dan meraba kepalanya. “Mengapa ragu-ragu? Katakan saja kepalaku, kepala gundul buruk!”

“Tidak buruk, bahkan kelihatan bersih sekali. Yang banyak rambutnya mungkin malah penuh kutu, hi-hik!” Li Hwa tertawa, Kun Liong tertawa dan keduanya saling pandang seperti dua orang sahabat lama. Setelah menjura sekali lagi kepada Bun Hwat Tosu, Li Hwa lalu meloncat dan berlarian menuju ke kota Liok-ek-tung di timur.

Setelah bayangan anak perempuan itu lenyap di balik pohon-pohon, Bun Hwat Tosu memandang Kun Liong dan bertanya,

“Kun Liong, bagaimana engkau bisa tahu bahwa Bun Hwat Tosu adalah Ketua Hoa-san-pai?”

“Nama Suhu dihormati dan dipuji-puji oleh Ayah Bunda teecu.”

Kakek itu mengerutkan alisnya. Mendengar namanya dihormati dan dipuji-puji hatinya merasa tidak enak. Pujian sama bahayanya dengan musuh yang datang dari belakang, berbeda dengan kata-kata keras yang seperti musuh datang dari depan.

“Siapa nama ayahmu?”

“Ayah bernama Yap Cong San.”

Akan tetapi Bun Hwat tidak mengenal nama ini.

“Ayah menjajarkan Suhu setingkat dengan Sukong Tiang Pek Hosiang.”

Kini kakek itu mengangkat kedua alisnya. “Ahhh! Tiang Pek Hosiang bekas ketua Siauw-lim-pai? Heran sekali! Dan dia itu sukongmu (kakek gurumu)?”

“Ayah adalah murid beliau.”

Kakek itu mengangguk-angguk. “Hemm, pantas kalau begitu… gerakanmu memiliki dasar Siauw-lim-pai sungguhpun sudah bercampur dengan ilmu silat lain yang aneh…”

“Dari ibu teecu.” Kun Liong memotong.

“Hemmm, ibumu juga lihai sekali?”

“Hanya kalah sedikit oleh Ayah, akan tetapi Ibu menang dalam hal ilmu pengobatan. Ibu adalah sumoi (adik seperguruan) dari Supek Cia Keng Hong…”

“Ahhhh! Benar-benar suatu kebetulan yang luar biasa! Kalau begitu, pinto telah kesalahan besar mengambil engkau sebagai murid!”

Serta-merta Kun Liong menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki orang tua itu karena khawatir kalau-kalau gurunya membatalkan pengangkatan murid. “Harap Suhu tidak membatalkan teecu menjadi murid.”

“Kenapa? Engkau keturunan orang-orang pandai dan melihat dasarmu, sepatutnya engkau menjadi murid Siauw-lim-pai. Seorang murid Siauw-lim-pai tidak boleh belajar dari orang lain, dan kalau pinto menerimamu sebagai murid, tentu pinto kesalahan terhadap Siauw-lim-pai.”

“Teecu bukan murid Siauw-lim-pai!”

“Akan tetapi ayahmu?”

“Ayah pun bukan murid Siauw-lim-pai, hanya bekas murid. Sudah tidak diakui lagi. Menurut penuturan Ayah, Ayah pernah membuat kesalahan besar terhadap Siauw-lim-pai, biarpun diampuni akan tetapi tidak lagi diakui murid, hanya sebagai sahabat baik para pimpinan Siauw-lim-pai saja. Harap Suhu percaya keterangan teecu karena teecu tidak membohong.”

Kakek itu kembali mengelus jenggotnya. Dia sudah mendengar tentang riwayat Tiang Pek Hosiang yang mengundurkan diri dari Siauw-lim-pai (baca ceritaPedang Kayu Harum ), akan tetapi dia tidak pernah mendengar tentang murid-murid kakek sakti itu. Dia mengira bahwa tentu ayah bocah ini tidak diakui sebagai murid Siauw-lim-pai karena tersangkut persoalan gurunya. Padahal, duduknya pekara tidaklah demikian. Yap Cong San kehilangan haknya sebagai anak murid Siauw-lim-pai karena dia menikah dengan Gui Yan Cu, dara yang dianggap terlibat dalam urusan gurunya, Tung Sun Nio dan Tiang Pek Hosiang sehingga dapat mencemarkan nama baik Siauw-lim-pai (baca ceritaPedang Kayu Harum ).

“Akan tetapi, kalau ayah bundamu sendiri adalah orang-orang pandai, perlu apa engkau belajar dari pinto?”

Kun Liong mengerutkan alisnya, memutar otak untuk memberi jawaban yang tepat. Kemudian dengan suara sungguh-sungguh dia menjawab, “Belajar dari ayah dan ibu sendiri tidak akan maju, Suhu.”

“Hemm, mengapa tidak akan maju? Ayahmu adalah murid Tiang Pek Hosiang yang berilmu tinggi, sedangkan ibumu adalah sumoi dari Cia-taihiap (Pendekar Besar Cia) yang sakti, tentu ayah bundamu memiliki kepandalan tinggi pula. Bagaimana engkau dapat mengatakan bahwa belajar dari orang tuamu sendiri tidak akan maju?”

“Karena Ayah terlampau keras kepada teecu sehingga teecu selalu takut-takut, belajar dari Ayah tidak akan dapat maju, adapun ibu terlalu memanjakan teecu, belajar lelah sedikit sudah disuruh mengaso, juga tidak akan maju.”

Kini kakek itu mengerutkan alisnya yang berwarna putih, memandang tajam kepada Kun Liong, kemudian berkata, “Sungguh alasan yang tidak dapat diterima. Engkau agaknya seorang anak yang nakal dan bandel, Kun Liong, apakah kati kenakalanmu maka engkau meninggalkan rumah?”

“Wah, tidak… tidak, Suhu. Dan bukan hanya itu alasan teecu. Masih ada lagi alasan kuat mengapa teecu tidak ingin agar Suhu membatalkan teecu sebagai murid Suhu.”

“Hemm, alasan tidak masuk akal apa lagi?”

“Pelajaran dari Ayah Bunda teecu dapat kapan saja, akan tetapi pertemuan dengan Suhu merupakan hal yang kebetulan sekali dan kiranya tidak akan ada kesempatan ke dua bagi teecu, maka tentu saja teecu ingin sekali menjadi murid Suhu yang namanya dipuji-puji oleh Ayah.”

Kakek itu menggeleng-geleng kepalanya. “Hemm… alasan ini pun tidak kuat dan hanya menonjolkan kemurkaanmu akan ilmu silat saja.”

Kun Liong menjadi gugup, “Ah, sama sekali tidak, Suhu! Teecu benci… benci… akan ilmu silat!”

“Heee?”

“Maksud teecu… teecu benci akan penggunaannya yang hanya ditujukan untuk memukul lain orang, melukai bahkan membunuh lain orang.”

“kalau begitu, mengapa engkau bersikeras hendak belajar ilmu silat dari pinto (aku)?”

“Justru karena itu, teecu ingin memiliki ilmu kepandaian tinggi agar teecu dapat mempergunakannya untuk mencegah orang-orang yang pandai silat menganiaya dan memukul orang lain.”

Kakek itu mengangguk-angguk. “Bisa diterima alasanmu, akan tetapi untuk memperoleh ilmu silat tinggi, ayah bundamu cukup untuk mengajarmu, tidak perlu engkau belajar lagi dari pinto.”

Kun Liong menjadi gelisah. Dia masih berlutut dan kini dia mengangkat mukanya memandang kakek itu sambil berkata, “Harap Suhu suka menerima teecu, dan sesungguhnya hal ini bukan semata untuk kepentingan teecu, melainkan demi kebersihan nama dan kehormatan Suhu sendiri.”

Bun Hwat Tosu terkejut sekali, menyentuh pundak Kun Liong dan bertanya, “Apa maksudmu?”

Kun Liong menundukkan mukanya, hatinya menjadi berdebar takut melihat betapa ucapannya tadi membuat kakek itu bersikap demikian sungguh-sungguh. Namun sudah kepalang baginya, menggunakan siasat yang paling lihai. Dia tahu bahwa orang-orang aneh seperti Bun Hwat Tosu ini tidak membutuhkan apa-apa lagi dan satu-satunya hal yang masih dipentingkan hanya satu, yaitu nama yang menyangkut kehormatan. Maka dia sekarang menyinggung tentang nama dan kehormatan. Ternyata kakek itu benar-benar tergugah dan menaruh perhatian besar sekali!

“Teecu tidak bermaksud buruk. Suhu sendiri yang telah mengambil teecu sebagai murid dan Suhu sendiri yang telah mengucapkan kata-kata itu. Teecu mendengar bahwa kata-kata seorang budiman, yang sudah keluar dari mulut, mewakili suara hati dan menjadi janji yang lebih berharga daripada nyawa. Maka dari itu, kalau sekarang Suhu menarik kembali janji Suhu itu, bukankah hal ini akan menodai nama dan kehormatan Suhu?”

Bun Hwat Tosu mengelus-elus jenggotnya dan memandang kepada anak gundul itu dengan sinar mata tajam, kemudian dia menghela napas dan berkata, “Yap Kun Liong, sekecil ini engkau sudah dapat menggunakan kata-kata untuk mendesak dan menghimpit seorang tua seperti pinto, membuat pinto tidak berdaya. Benar-benar engkau berbakat cerdik, dan entah apa yang akan terjadi kalau engkau sudah dewasa kelak. Kecerdikan dapat mengangkat orang ke tingkat tinggi, akan tetapi juga dapat menyeret orang ke tempat yang paling rendah. Baiklah, pinto tidak mungkin dapat menarik kata-kata sendiri. Pinto akan menurunkan ilmu kepadamu selama lima tahun, akan tetapi tidak boleh menyebut guru kepada pinto karena kalau hal ini pinto lakukan, yaitu mengambilmu sebagai murid, berarti pinto kurang hormat kepada Siauw-lim-pai dan Cin-ling-pai. Bagaimana, maukah engkau?”

Kun Liong mengangguk-angguk memberi hormat. “Teecu menghaturkan terima kasih atas kemurahan hati Locianpwe.”

Bun Hwat Tosu menarik napas panjang. “Hemm, kemurahan hati apa? Pinto terpaksa dan entah akibat apa yang akan pinto tanggung kelak apabila engkau melakukan penyelewengan!”

Serta-merta Kun Liong berkata lantang, “Teecu bersumpah bahwa apa pun yang akan terjadi dengan diri teecu, teecu tidak akan menyebutkan nama Locianpwe, tidak akan menyangkut nama Locianpwe!”

“Sudahlah, agaknya memang engkau sudah berjodoh dengan pinto. Ingat, bukan sekali-kali pinto takut engkau menyebut nama pinto, akan tetapi jangan dihubungkan dengan Hoa-san-pai. Pinto telah lama mengundurkan diri dari Hoa-san-pai, dan andaikata nama pinto rusak oleh sepak terjangmu, masih tidak terlalu hebat. Akan tetapi kalau sampai Hoa-san-pai tersangkut, pinto pasti kelak akan mencarimu untuk mencabut kembali semua ilmu yang kaupelajari dari pinto, biarpun dengan bahaya tercabutnya pula nyawamu atau nyawa pinto.”

Kun Liong hanya mengangguk-angguk dan wajahnya agak pucat. Hebat sekali ancaman yang keluar dari mulut kakek itu dan dia dapat merasakan kesungguhan hati kakek itu yang membuatnya mengkirik.

“Teecu akan selalu ingat kata-kata Locianpwe.”

“Nah, mari kita pergi!” Sebelum Kun Liong bangkit berdiri, tahu-tahu tubuhnya telah disambar dan kembali dia mengalami peristiwa yang mengerikan ketika tubuhnya meluncur dengan cepatnya menuju ke sebuah pegunungan yang kelihatan melintang panjang seperti seekor naga tidur di sebelah depan.

Sungainya laksana pita sutera biru

gunungnya laksana tusuk sanggul permata!

Sajak dua baris itu adalah pujian pujangga besar Han Yi (768 – 824) pada waktu Dinasti Tang (618 – 907) ketika pujangga itu mengagumi keindahan pemandangan alam di sekitar Sungai Li daerah Kuilin, Propinsi Kuangsi.

Memang luar biasa sekali keindahan tamasya alam di daerah ini, terutama sekali kalau orang memandang dari puncak sebuah di antara gunung-gunungm melihat air Sungai Li yang kelihatan seperti pita rambut sutera biru melambai dari rambut seorang perawan jelita. Pemandangan di sepanjang sungai itu selain indah menakjubkan juga berubah-ubah keadaannya, terutama sekali di bagian antara daerah Kuilin dan Yangsuo.

Gunung Haiyang berdiri tegak sebagai sebuah di antara gunung-gunung di Pegunungan Taliang-san, di perbatasan Propinsi Kuangsi dan Propinsi Hunan. Dari Gunung Haiyang ini mengalir turun dua batang sungai yang mengalir ke utara memasuki Propinsi Hunan adalah Sungai Siang, adapun yang mengalir ke selatan memasuki Propinsi Kuangsi adalah Sungai Li yang juga disebut Sungai Kui, Sungai Haiyang dan ada pula yang menyebutnya Sungai Kemala!

Lambang keindahan di daerah Yangsuo di sepanjang Sungai Li, adalah sebuah puncak gunung yang bernama Gunung Teratai Biru. Gunung ini berbentuk sekuntum bunga teratai yang sedang menguncup, segar kebiruan. Di lereng Gunung Teratai Biru ini mendapat sebuah kuil kuno, yaitu Kuil Cien yang ternama, kuil peninggalan dari Dinasti Tang.

Kun Liong kagum bukan main ketika dia dibawa oleh Bun Hwat Tosu ke kuil kuno ini. Dia berdiri di situ, kemudian mendaki puncak Gunung Teratai Biru menikmati keindahan alam yang seperti sorga indahnya. Dari puncak ini tampak kota Yangsuo di sekitar gunung berlapis-lapis dan berwama hijau, seolah-olah kota itu dipeluk oleh sekumpulan daun-daun bunga.

Tak jauh dari situ tampak Gunung Pelayan Pelajar. Bentuknya seperti seorang kacung pelajar yang duduk tegak lurus, membuka mulut mendeklamasikan sajak! Dan di sebelah kiri tampak pula dua buah puncak yang berdiri sejajar seperti kembar. Itulah Gunung Besi dengan dua puncaknya Sepasang Singa yang tersohor, yang berdiri berhadapan dengan Gunung Pelayan Pelajar. Memang bentuk kedua buah puncak itu mirip dengan singa betina dan singa jantan, sepasang singa yang duduk dengan tenang, gagah perkasa, akan tetapi jinak dan tidak ganas.

Tebing-tebing gunung yang menjadi dinding di kanan kiri sungai yang melalui pegunungan, menimbulkan pemandangan yang aneh. Ada yang tebingnya berwarna putih berderet-deret sehingga penduduk di sekitar Sungai Li memberinya nama Pegunungan Tebing Putih. Tak jauh dari situ, tebingnya berderet dengan warna merah, dan diberi nama Pegunungan Tebing Merah. Betapa luar biasa pemandangan di situ dapat kita bayangkan. Di antara warna kehijauan pegunungan tampak tebing berwarna merah dan putih itu! Semua keindahan ini makin menawan hati kalau kita terus ke selatan, memasuki daerah Simping. Di sini terdapat Pegunungan Panca Puncak dan Gunung Lukisan. Masih banyak lagi pegunungan dengan puncak-puncaknya yang berbentuk aneh-aneh sehingga diberi nama yang aneh-aneh pula. Patutlah kalau para pujangga, para penyair terkemuka dari berbagai dinasti di sepanjang sejarah Tiongkok berdatangan ke daerah ini untuk menikmati tamasya alam yang luar biasa, menulis sajak-sajak abadi untuk memujinya. Para pujangga terkenal dari Dinasti Tang, misalnya Han Yi, Liu Cung Yuan, Huang Ting Cian, Mi Fu, Fan Ceng Ta, pernah berdarmawisata ke daerah ini. Tentu saja lebih banyak lagi para pujangga dari dinasti lebih muda yang mengagumi tempat itu.

Semenjak kecilnya, Kun Liong tinggal di kota. Tentu saja dia merasa girang dan betah sekali tinggal di tempat yang indah itu. Tubuhnya menjadi segar, kulit mukanya putih kemerahan, sepasang matanya bercahaya dan bibir mulutnya merah seperti bibir seorang dara remaja. Akan tetapi kepalanya tetap saja gundul pelontos tidak ada rambutnya!

Sampai lima tahun lamanya Kun Liong belajar dengan amat tekunnya, digembleng oleh Bun Hwat Tosu yang tidak sembarangan menurunkan ilmunya. Memang amat untung bagi Kun Liong. Karena kakek itu maklum bahwa Kun Liong adalah cucu murid Tiong Pek Hosiang dan murid keponakan Cia Keng Hong, maka Bun Hwat Tosu tidak berani sembarangan menurunkan ilmu yang remeh kepada anak itu! Tentu saja dia merasa sungkan kalau tidak mewariskan ilmu-ilmu pilihan yang akan dihargai oleh kedua orang tokoh besar dunia persilatan itu. Maka dalam waktu lima tahun itu dia melatih Kun Liong yang sudah memiliki dasar yang baik berkat gemblengan ayah bundanya dengan dua ilmu baru yang diciptakan sendiri setelah dia mengundurkan diri dari Hoa-san-pai. Yang pertama adalah ilmu tangan kosong yang bemama Pat-hong-sin-kun (Ilmu Silat Delapan Penjuru Angin) dan yang ke dua adalah ilmu tongkat kerena memang kakek ini terkenal sekali dengan kepandaiannya bermain tongkat ketika dia masih memegang tongkat kayu cendana berukir kepala naga. Ilmu tongkat yang diajarkan kepada Kun Liong disebut Siang-liong-pang (Tongkat Sepasang Naga), disebut demikian karena gerakan kedua ujung tongkat kalau dimainkan seolah-olah merupakan dua ekor naga mengeroyok lawan!

Biarpun selama lima tahun hanya disuruh berlatih dengan dua macam ilmu silat ini, namun Kun Liong tidak pernah mengomel, melainkan berlatih dengan amat tekunnya sehingga Bun Hwat Tosu merasa kagum dan juga lega hatinya. Apa pun yang akan terjadi dengan keputusannya menurunkan ilmunya kepada Kun Liong, yang jelas, pemuda ini tidak akan mengecewakan sebagai muridnya, biarpun murid yang tidak sah atau tidak diakuinya! Rasa girang dan puas ini membuat Bun Hwat Tosu lupa diri dan timbul keinginan hatinya untuk menurunkan ilmu kepada Kun Liong, ilmu simpanannya yang khusus diciptakannya untuk menandingi Ilmu Thi-ki-i-beng dari Cia Keng Hong yang kabarnya tiada yang dapat menandinginya!

Pendekar besar Cia Keng Hong memang memiliki ilmu yang amat aneh, juga amat hebat, yaitu yang disebut Thi-ki-i-beng (Mencuri Hawa Memindahkan Nyawa). Ilmu ini adalah semacam daya tenaga sakti sinkang yang kalau digunakan begitu tangan menampel ke tubuh lawan, maka otomatis tenaga sinkang lawan akan tersedot sampai habis masuk ke dalam tubuh sendiri. Karena memiliki Ilmu Thi-ki-i-beng inilah maka Cia Keng Hong dianggap sebagai tokoh yang paling hebat kepandaiannya. Dan karena ilmu aneh yang dahulu dipakai perebutan di antara orang-orang sakti di seluruh dunia kang-ouw (baca ceritaPedang Kayu Harum ) diam-diam Bun Hwat Tosu merasa penasaran dan mencurahkan seluruh kepandaiannya untuk menciptakan sebuah ilmu yang khusus untuk menghadapi Thi-ki-i-beng! Dan kini, ilmu itu dia ajarkan kepada Kun Liong agar ini yang akan menandingi sehingga kalau berhasil, ilmu nomor satu di dunia persilatan itu telah ditaklukkan olehnya!

“Kun Liong, pemahkah engkau mendengar akan ilmu yang disebut Thi-ki-i-beng?” Setelah pemuda itu belajar selama empat tahun, suatu pagi Bun Hwat Tosu bertanya.

Kun Liong menggeleng kepala. “Teecu belum pernah dengar, Locianpwe. Ilmu apakah itu?”

“Thi-ki-i-beng pernah menggegerkan dunia persilatan dan kiranya di dunia ini hanya seorang saja yang memilikinya, yaitu Cia Keng Hong.”

“Ahhh, Supek (Uwa Guru)? Memang, menurut penuturan Ibu, Cia-supek adalah seorang sakti yang jarang ada tandingannya.”

“Ibumu benar. Dan kesaktiannya itu terutama sekali karena dia memiliki Thi-ki-i-beng. Akan tetapi, pinto telah menciptakan sebuah daya sin-kang yang hendak pinto ajarkan kepadamu. Ilmu ini adalah kebalikan dari Thi-ki-i-beng. Kalau Thi-ki-i-beng mempunyai daya menyedot sin-kang lawan, maka ilmu ini mempunyai daya membetot sehingga kalau engkau sudah berlatih dengan sempurna, pukulan-pukulan beracun lawan dapat kauhindarkan dengan ilmu ini, juga mungkin, dalam hal ini pinto sendiri belum yakin benar, mungkin saja ilmu ini akan dapat menahan daya sedot Thi-ki-i-beng.”

Kun Liong menganggukkan kepalanya yang gundul.

“Maukah engkau berjanji kepadaku?”

“Tentu saja, Locianpwe.”

“Kelak, kalau ada kesempatan, engkau cobakanlah sin-kang ini untuk menahan Thi-ki-i-beng dari Cia Keng Hong. Maukah engkau?”

Kun Liong terkejut dan maklum betapa akan sulitnya mencoba ilmu sakti dari supeknya itu. Akan tetapi melihat betapa sikap kakek itu penuh gairah, diam-diam otaknya yang cerdik dapat menangkap bahwa agaknya bekas Ketua Hoa-san-pai ini sengaja menciptakan ilmu sin-kang ini untuk menghadapi Thi-ki-i-beng, bukan menghadapi sebagai musuh, melainkan hanya memuaskan hati sudah dapat memecahkan Thi-ki-i-beng yang tersohor di seluruh dunia persilatan. Maka dia tidak tega untuk menolak, benar-benar tidak tega, bukan karena inginnya mempelajari ilmu sin-kang itu.

“Teecu berjanji, Locianpwe.”

“Bagus! Nah mulai sekarang, kalau siang kaupergunakan untuk melatih kedua ilmu silat yang sudah mendekati kesempurnaan itu, kalau malam engkau pergunakan untuk melatih sin-kang ini.”

Mulai hari itu, Bun Hwat Tosu melatih sin-kangnya yang memiliki daya membetot itu kepada Kun Liong, yang menerimanya dan berlatih dengan amat tekun, kadang-kadang sampai tidak tidur semalam suntuk!

Demikianlah, lima tahun lewat dengan cepatnya, Kun Liong telah berusia lima belas tahun, menjadi seorang pemuda remaja yang bertubuh sedang dengan pinggang kecil dan dada lebar. Wajahnya tampan sekali, kadang-kadang kalau dia tersenyum dan menggerakkan alis malah kelihatan cantik karena mulut, mata dan gerakan dagunya mirip dengan ibunya. Gui Yan Cu seorang wanita yang amat cantik jelita. Dagunya yang amat meruncing itu kadang-kadang tampak lembut seperti wanita, akan tetapi kadang-kadang mengeras dengan sedikit lekuk membayangkan kekuatan kemauan yang tak tertundukkan. Sinar matanya yang kadang-kadang lembut seolah-olah wataknya lemah dan cengeng, akan tetapi kadang-kadang sinar matanya membayangkan cahaya kilat yang menyeramkan, keras dan tajam menembus jantung. Matanya lebar, kepalanya yang masih tetap gundul itu bundar dan dahinya lebar. Alisnya berbentuk golok, hidungnya mancung dan mulutnya agak kecil. Mungkin karena selama lima tahun hidup di samping seorang kakek tua renta, seorang tosu yang mengutamakan kesederhanaan dan kewajaran, maka pakaian Kun Liong juga sederhana sekali, demikian pula dalam gerak-geriknya tampak kesederhanaan dan kewajaran, sungguhpun kadang-kadang bersinar dan mulutnya tersenyum penuh kenakalan.

Anak ini mengalami ketegangan hati hebat ketika menyaksikan peristiwa di perahu tadi. Dia benar-benar tidak mengerti akan sikap orang-orang dewasa itu. Mengapa siucai itu melakukan perbuatan yang begitu hina? Dan mengapa isteri guru silat itu membiarkan dirinya diperkosa, bahkan menawarkan dirinya! Benarkah untuk menyelamatkan suaminya? Dan yang paling aneh baginya yang membuat dia bingung sekali, adalah sikap Gui-kauwsu sendiri. Tadi Gui-kauwsu membela isterinya mati-matian terhadap penghinaan

Ouw-siucai, kemudian melihat isterinya diperkosa siucai itu, timbul kebenciannya sehingga dia menampar dan mengusir, memaki dan menghina isterinya. Setelah isterinya nekat membunuh diri dengan terjun ke sungai, dia yang tidak pandai berenang nekat pula terjun dan mengaku cinta! Mengapa orang-orang dewasa itu bersikap seperti itu? Dan isteri kauwsu itu benarkah lebih suka kepada Si Siucai? Ataukah hanya untuk membalas perlakuan suaminya? Apakah isteri itu pun mencinta suaminya? Dia benar-benar tidak mengerti dan dalam tidur setengah pingsan itu, wajah suami isteri dan siucai itu ganti berganti menganggunya, menjadi muka yang amat besar, tanpa tubuh, menakutkan sekali.

Cinta terlalu halus untuk dapat dimengerti pikiran manusia yang kasar, terlalu tinggi untuk dicapai pikiran yang rendah dan terlalu dalam untuk dijajaki pikiran yang dangkal. Pikiran yang berputar sekitar sayang diri, demi aku, untuk aku, tak mungkin dapat mengerti cinta yang bersih daripada kepentingan diri tanpa pamrih itu. Gui-kauwsu ingin menguasai isterinya lahir batin, memonopoli isterinya lahir batin dan menganggap hal ini sebagai perasaan cintanya terhadap isterinya. Keinginan menguasai dan memiliki lahir batin ini tentu saja menimbulkan iri jika melihat isterinya menoleh kepada orang lain dan menimbulkan cemburu, bahkan menimbulkan benci! Adakah iri itu cinta? Adakah cemburu itu cinta? Adakah benci itu cinta? Adakah cinta mendatangkan derita? Hanya pengejaran dan pemuasan nafsulah yang akan mendatangkan derita. Keinginan menguasai dan memiliki lahir batin terhadap sesuatu, benda maupun manusia, berarti mengundang datangnya derita sengsara, pertentangan dan penyesalan. Memang, berhasil menguasai dan memiliki sesuatu atau seseorang, dapat mendatangkan rasa puas, akan tetapi kepuasan nafsu keinginan ini hanya seperti angin lalu karena keinginan itu selalu didorong oleh pengejaran akan sesuatu yang lebih indah. Kalau sudah didapat, tentu akan lepas dari pengejaran dan perhatian, karena keinginan sudah mencari lagi ke depan untuk mendapatkan yang lebih indah lagi!

Pada keesokan harinya, setelah sinar matahari telah naik tinggi, Kun Liong bangun dari tidurnya. Dadanya masih terasa sakit sedikit, akan tetapi tenaganya sudah agak pulih. Melihat betapa perahunya berhenti, dia cepat melihat ke depan dan ternyata dia telah tiba di daerah yang berbatu-batu. Sungai menjadi lebar sekali, akan tetapi batu-batu itu menonjol ke permukaan air. Perahunya tertahan oleh sebaris batu dan untung saja terdampar di situ, tidak terbentur keras dan pecah.

Ketika dia berdiri di pinggir perahu, tiba-tiba dia membelalakkan mata melihat sesuatu tersangkut pada batu tak jauh dari situ. Tadinya dia mengira seekor ikan besar yang mati, akan tetapi setelah matanya terbiasa, dia hampir berteriak saking kagetnya. Yang dilihatnya itu adalah mayat isteri Gui-kauwsu! Hanya sebagian muka, rambutnya, dan perutnya yang tampak, perut yang mengembung besar sehingga kelihatan seperti perut ikan, putih bersih. Mayat yang telanjang bulat!

Kun Liong mengejap-ngejapkan matanya, ingin mengusir penglihatan itu. Ketika dia memandang ke kanan kiri, hampir dia terpekik lagi melihat sesosok mayat lain, juga terdampar dan tersangkut batu. Mayat Gui-kauwsu sendiri, mukanya tidak tampak akan tetapi dia dapat mengenal celana hitam baju putih dan sarung pedang di punggung mayat yang tertelungkup itu!

Kun Liong menghela napas panjang penuh kengerian. Sudah dia duga bahwa tentu suami isteri itu akan tewas melihat betapa mereka tidak pandai renang dan arus sungai yang dalam itu amat derasnya. Perahunya tersangkut dan agaknya bocor. Seorang diri saja tak mungkin dia dapat mengambil dua jenazah itu untuk dikuburkan ke darat. Dia tidak dapat berbuat apa-apa, bahkan harus meninggalkan perahu yang tersangkut dan terjepit ini. Dia teringat akan bokor di bawah perahu. Sayang kalau dibiarkan begitu saja. Bokor itu amat penting dan menjadi rebutan orang-orang di dunia kang-ouw. Kalau kelak dia bawa pulang dan dia serahkan ayahnya, siapa tahu bokor itu akan agak meredakan kemarahan ayahnya. Dengan hati-hati dia lalu turun ke air, mengumpulkan napas, menyelam dan meraba-raba. Bokor itu masih ada, terikat di bawah perahu. Dilepaskannya ikatan itu dan dibawanya bokor meninggalkan perahu, berenang dari batu ke batu, sampai akhimya dia tiba di darat yang berbatu-batu.

Pandang matanya tertarik kepada sebuah batu besar di tepi sungai dan tak terasa dia meraba kepalanya. Batu itu besar dan halus, bentuknya seperti kepalanya! Dihampirinya batu itu dan diraba-rabanya. Benar-benar batu yang halus dan besar sekali, dikelilingi batu-batu yang tidak sebesar batu kepala itu. Ketika dia meraba-raba ini, dia menemukan sebuah lubang terhimpit di antara batu-batu dan segera dia memasuki bokor ke dalam lubang ini. Lubang itu dalam sekali dan begitu bokor dimasukkan, benda itu meluncur dan hilang! Sama sekali tidak tampak dari luar dan betapapun Kun Liong merogoh ke dalam lubang, jari tangannya tidak dapat mencapainya. Hatinya menjadi girang. Benda itu tersimpan dengan aman dan hanya kalau batu berbentuk kepalanya itu didorong roboh, bokor itu dapat ditemukan. Akan tetapi siapakah orangnya yang akan mendorong batu besar itu? Pula, siapakah yang akan kuat mendorong batu sebesar itu? Agaknya akan membutuhkan tenaga sedikitnya belasan orang kuat!

Hatinya meniadi ringan. Benda itulah yang selama ini membuat hatinya berat dan setelah benda itu disimpan di tempat aman, dia dapat melanjutkan perjalanannya tanpa khawatir terlibat dalam perebutan bokor emas. Sejenak dia memandang ke sekeliling sampai dia yakin benar kelak akan dapat mengenali tempat ini. Mudah mengenalinya. Bentuk pegunungan di utara itu, pemandangan di seberang yang penuh pohon-pohon raksasa, sungai yang penuh batu batu menonjol dan belokan sungai di depan itu. Apalagi dengan adanya batu yang berbentuk kepala gundulnya ini, dia tidak akan dapat melupakan tempat ini, dan dia pasti kelak akan mengingat tempat persembunyian bokor emas!

Mulailah Kun Liong melanjutkan perjalanannya ke timur, menyusuri sepanjang pantai sungai. Di dalam kantungnya masih terdapat sisa-sisa uang upah perahu. Sayang bahwa tiga orang penumpangnya itu tidak membayarnya sepeser pun, bahkan yang dua orang sudah mati dan yang seorang lagi? Teringat akan siucai gila itu, meremang bulu tengkuknya. Sungguh banyak berkeliaran orang berilmu tinggi dunia ini, namun mengapa setiap orang berilmu tinggi yang dijumpainya demikian jahat dan kejam? Pertama-tama Loan Khi Tosu, tosu Pek-lian-kauw yang membunuh orang tanpa berkedip mata. Kemudlan Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok dengan puteranya, Ouwyang Bouw yang mengerikan dan yang ilmunya jauh lebih tinggi daripada tosu Pek-lian-kauw itu. Setelah itu Si Siucai gila yang menyeramkan! Dia harus berhati-hati. Ternyata perantauannya membawanya kepada bahaya yang beberapa kali nyaris merenggut nyawanya.

Kun Liong tersenyum seorang diri. Betapa ibunya akan terbelalak dan ayahnya akan menggeleng-geleng kepala kalau melihat dia seperti sekarang ini. Dia dapat membayangkan keheranan hati ayah bundanya itu. Kun Liong tertawa dan meraba kepalanya. Dapatkah ibunya menyembuhkan kepalanya sehingga dapat tumbuh rambut kembali? Aha! Tentu ayah dan ibunya akan mengira dia sudah menjadi hwesio! Kenangan akan ayah bundanya dan akan lucunya kalau mereka melihat dia membuat Kun Liong merasa gembira dan dia berloncatan di atas batu-batu besar yang berserakan di tepi sungai. Tiba-tiba dia menyelinap dan bertiarap, bersembunyi di balik batu-batu besar ketika dia melihat tiga orang laki-laki muncul dari balik pohon-pohon di tepi sungai. Yang seorang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, mukanya licin tidak berambut dan sebatang pedang tergantung di punggungnya. Orang ke dua brewok dan kelihatan galak sekali, pakaiannya kasar seperti orang pertama, bahkan tidak berlengan, dan di pinggangnya tergantung ruyung berduri yang menyeramkan. Orang ke tiga masih muda, juga bajunya tidak berlengan dan punggungnya tergantung sebuah golok.

“Benarkah dia lewat di sini?” tanya Si Brewok kepada yang termuda.

“Benar, aku sudah mengikutinya sejak kemarin. Dia tertukar keledai dan membawa buntalan yang berat.” kata yang muda.

“Seorang tosu mempunyai apa sih?” tanya Si Tinggi Besar.

“Aihhh, lupakan dulu urusan merampok!” Si Brewok menegur. “Kita sedang menanti datangnya utusan yang akan membawa uang tebusan.”

“Masa seorang tosu?”

“Mungkin saja! Kalau bukan utusan, masa seorang tosu menunggang keledai siang malam, bertukar keledai, menginap di hotel, dan membawa bungkusan besar?” kata yang muda. “Nah, itu dia…!” sambungnya sambil menuding ketika dia menoleh ke belakang. Tiga orang itu dengan gerakan cepat sekali berlompatan sudah menyelinap dan sembunyi di belakang pohon-pohon.

Kun Liong juga mengintai dari balik batu-batu dan melihat seorang kakek tua menunggang seekor keledai perlahan-lahan menuju ke tempat itu. Di depan kakek itu, di punggung keledai, tampak buntalan besar dan berat, sedangkan di punggung kakek itu pun tergendong sebuah buntalan kain.

Jantung Kun Liong berdebar penuh ketegangan. Dia merasa kasihan kepada kakek itu, yang pakaiannya longgar seperti pakaian seorang tosu. Ingin dia berteriak memperingatkan, akan tetapi tiga orang tadi berada di antara dia dan tosu itu. Untuk lari menyambut juga tidak mungkin, tentu didahului mereka. Akan tetapi kakek yang dikhawatirkan itu mulai bemyanyi dengan suara lantang!

“Mengerti akan orang lain adalah bijaksana

mengerti akan diri sendiri adalah waspada

mengalahkan orang lain adalah kuat

mengalahkan diri sendiri lebih gagah perkasa!

Kata-kata yang benar tidaklah manis

kata-kata yang manis belum tentu benar

yang baik tidak akan berbantah

yang berbantah belum tentu baik!”

Kun Liong mengenal sajak yang dinyanyikan itu. Yang pertama adalah ayat ke tiga puluh tiga dan yang ke dua ayat ke delapan puluh satu dari kitab To-tik-keng, diambil bagian depannya saja. Pada saat itu, tosu tua ini sudah tiba dekat dan tiba-tiba muncullah tiga orang tadi! Mereka langsung mengurung dan Si Brewok sudah mendekat dan memegang tali di hidung keledai.

“Siancai…, Sam-wi-sicu (Tiga Orang Gagah) siapakah dan mengapa menghentikan pinto (saya)?” Tosu itu bertanya setelah mengangkat sepasang alisnya tanda keheranan dan kekagetan.

“Tak perlu banyak cakap lagi, turunlah dan ikut dengan kami!” Si Brewok membentak.

“Siancai…! Pinto adalah seorang tua yang tidak mempunyai urusan apa-apa, yang hidup dengan tenang dan damai, tak pernah berbuat kesalahan kepada siapapun juga, apalagi kepada Sam-wi yang tidak pinto kenal…”

“Ha-ha-ha, kakek ini selain pandai menyanyi juga pandai berceloteh!” Si Tinggi Besar berkata sambil tertawa-tawa.

“Aihhhh…” Tosu itu menggeleng kepala. “Yang dicari belum ketemu, sekarang timbul kesulitan baru lagi!”

Mendengar ini, Si Brewok girang dan cepat berkata, “Totiang tentu akan dapat bertemu dengan yang dicari asal membawa tebusan cukup. Dan marilah ikut dengan kami.”

“Apa? Pinto tidak mengerti…”

Si Brewok agaknya kehilangan kesabarannya. Dipegangnya lengan kanan kakek itu dan ditariknya, hendak dipaksa turun.

“Eh-eh-eh, mengapa ditarik-tarik? Engkau sungguh tidak menghormati orang yang sudah tua!”

Kemarahan dan rasa penasaran di dalam hati Kun Liong tak dapat ditahan lagi dan dia sudah meloncat keluar dari balik batu, lari menghampiri dan berkata marah kepada tiga orang yang memandang kepadanya dengan terheran-heran itu. “Sam-wi bertiga kelihatannya adalah orang-orang gagah yang berkepandaian tinggi! Akan tetapi siapa kira, ternyata sekarang Sam-wi mengganggu seorang kakek yang lemah dan tidak bersalah apa-apa. Apakah Sam-wi (Tuan Bertiga) tidak merasa malu?”

“Bocah gundul, kau muncul seperti setan. Siapa engkau?” bentak Si Brewok heran.

“Dia tentu mata-mata yang sejak tadi bersembunyi!” kata temannya yang muda.

“Ah, siapa lagi kalau bukan kaki tangan kakek ini?” kata yang tinggi besar.

“Tangkap saja mereka berdua!” Si Brewok membentak. “Hayo kalian ikut bersama kami! Ataukah kami harus rnenggunakan senjata?” Dia sudah melepas ruyungnya dan mengancam kepada kakek itu. Juga Si Tinggi Besar telah melolos pedangnya ditodongkan ke dada Kun Liong, sedangkan orang yang termuda memegang kendali keledai dan menuntunnya.

Kakek itu hanya menggeleng-geleng kepala dan memandang Kun Liong sambil tersenyum. “Anak yang baik, mari kita ikut saja agar dapat melihat bagaimana kesudahan urusan aneh ini. Naiklah ke sini, anak baik, di belakangku.”

Kun Liong menggeleng kepala. “Keledai itu sudah terlalu tersiksa oleh muatan yang berat, aku berjalan kaki saja, Totiang.”

“Hayo jalan, jangan banyak mengobrol” Si Tinggi Besar mendorong pundak Kun Liong dan pedangnya tetap ditodongkan di lambung anak itu. Hal ini membuat Kun Liong mendongkol sekali dan dia mendorong pedang itu ke samping sambil berkata,

“Aku tidak bersalah apa-apa. Aku mau ikut sudah baik. Perlu apa ditodong-todong?” Pedang itu terdorong miring dan Si Tinggi Besar kelihatan terkejut dan marah, sudah membuat gerakan hendak menyerang. Akan tetapi Si Brewok membentak dan melarangnya. Bergeraklah rombongan aneh ini menuju ke sebuah bukit yang tampak dari situ.

Kakek itu tertawa dan melorot turun dari atas punggung keledai, berjalan dekat Kun Liong. “Anak baik, engkau membuat pinto malu. Memang keledai itu sudah cukup menderita. Biarlah pinto jalan kaki saja.”

Kun Liong hanya tersenyum dan melangkah perlahan dengan kepala menunduk. Sungguh sial, pikirnya. Di mana-mana bertemu dengan orang-orang yang menggunakan kekerasan dan kekuasaan menekan orang lain! Di mana-mana dia bertemu dengan halangan, dan karena membela kakek tua yang lemah ini, dia ikut pula menjadi tawanan. Entah golongan apa tiga orang yang menangkap dia dan kakek itu, dan entah urusan apa yang membuat kakek itu ditangkap. Dia selalu terlibat dengan urusan lain yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dia sendiri. Apakah selama ini dia terlalu lancang dan usil? Apakah selanjutnya dia harus diam saja melihat segala sesuatu yang terjadi pada lain orang dan yang tidak ada hubungannya dengan dirinya? Ah, tak mungkin. Mana bisa dia diam saja menyaksikan hal yang menimbulkan rasa penasaran? Melihat seorang kakek tua renta yang lemah ini diganggu tiga orang yang kelihatan gagah itu, bagaimana dia harus diam saja di tempat persembunyiannya!

“Tidak mungkin!” Kun Liong lupa diri dan kata-kata ini terlompat keluar dari mulutnya.

“Apa yang tidak mungkin?” Si Tinggi Besar membentak. Orang termuda itu berjalan di depan menuntun kendali keledai, Kun Liong di sebelah kakek itu berjalan di tengah dan Si Brewok bersama Si Tinggi Besar paling belakang.

Ternyata perjalanan itu cukup jauh, keluar masuk hutan dan mendaki bukit yang bentuknya seperti sebuah mangkuk menelungkup. Ada tiga jam mereka berjalan dan akhimya, ketika mendaki sampai di lereng dan membelok melalui sebuah tebing, tampaklah tembok-tembok bangunan di dekat puncak. Bangunan-bangunan itu dikelilingi pagar tembok yang cukup tinggi dan di luar pagar tembok sudah tampak para penjaga dengan pakaian seragam kuning, bukan seragam tentara melainkan seragam perkumpulan silat. Setelah rombongan ini tiba dekat pintu gerbang pagar tembok, tampaklah oleh Kun Liong bahwa para penjaga itu merupakan pasukan-pasukan panah, tombak, dan golok. Mereka berlari berjajar dengan rapi dan hanya mata mereka yang bergerak memandang penuh perhatian ke arah kakek dan Kun Liong, tubuh mereka sama sekali tidak bergerak, tetap berdiri dalam keadaan siaga! Ketika dua orang tawanan ini dibawa masuk melalui pintu gerbang pagar tembok, tampaklah oleh Kun Liong pasukan-pasukan lain berderet-deret. Ada pasukan ruyung, pasukan pedang, dan kesemuanya berbaris rapi. Kini dia dapat menduga bahwa tiga orang yang menangkapnya itu tentulah merupakan tokoh-tokoh dari pasukan ruyung, yaitu Si Brewok, Si Tinggi Besar tentu dari pasukan pedang, dan yang termuda itu dari pasukan golok.

Kakek itu melangkah sambil menoleh ke kanan kiri, agaknya terheran-heran, dan akhirnya dia berkata perlahan, “Siancai… tempat apakah ini? Seperti benteng dan dijaga pasukan-pasukan. Apakah pinto menjadi tangkapan pasukan asing?”

“Jangan bicara ngawur, Totiang!” Si Brewok membentak. “Engkau menjadi tamu dari Ui-hong-pang!”

“Heh? Ui-hong-pang (Perkumpulan Burung Hong Kuning)? Apa itu?” Kakek itu membuka matanya lebar-lebar, juga Kun Liong tidak mengenal nama perkumpulan ini. Akan tetapi dia makin curiga dan khawatir. Kalau dia dan kakek lemah itu terancam bahaya di tempat yang terjaga kuat ini, harapan untuk lolos sungguh tidak ada sama sekali!

“Kita ini mau diapakan, Totiang?” Kun Liong berbisik, akan tetapi suaranya sama sekali tidak mengandung ketakutan, hanya keheranan. Kakek itu menunduk dan memandang, kemudian bertanya,

“Engkau takut, Nak?”

Kun Liong menggeleng kepala kuat-kuat dan menjawab, “Aku tidak bersalah apa-apa terhadap siapa juga, mengapa takut?”

Diam sejenak dan mereka melangkah terus memasuki sebuah bangunan yang terbesar.

“Kau… dari kuil mana?” Tiba-tiba tosu tua itu bertanya.

Kun Liong mengerutkan alisnya dan memandang kakek itu dengan hati penasaran. Dengan suara yang agak dingin dia menjawab, “Aku bukan seorang hwesio!”

“Sssstt, tidak boleh bicara lagi. Kita menghadap Pangcu!” bentak Si Brewok ketika mereka memasuki sebuah ruangan yang luas di tengah bangunan itu.

Juga di dalam bangunan itu terjaga oleh pasukan pengawal seragam. Setiap lorong dan pintu terjaga kuat dan setelah mereka menghampiri seorang laki-laki gagah yang duduk di atas sebuah kursi kuning, di situ terdapat beberapa orang yang tidak seragam pakaiannya, dan agaknya mereka ini adalah pembantu-pembantu dan pengawal-pengawal pribadi Si Ketua Perkumpulan itu.

Kun Liong memandang ke arah ketua penuh perhatian. Dia seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar, berwajah gagah, usianya tiga puluh tahun lebih dan pakaiannya serba kuning akan tetapi warna kuningnya lebih tua daripada warna kuning seragam anak buah pasukannya. Berbeda dengan sikap tiga orang anak buahnya yang menangkap kakek dan Kun Liong, ketua ini tersenyum ramah ketika menerima mereka.

“Duduklah, Totiang, dan engkau juga, saudara kecil!” katanya dengan suara lantang sambil menuding ke arah beberapa buah kursi kosong di depannya.

“Terima kasih,” kakek itu menjura dan duduk, sedangkan Kun Liong tanpa berkata apa-apa juga mengambil tempat duduk di dekat kakek itu.

“Siapakah nama Totiang?” Ketua itu kembali bertanya dengan suara ramah.

“Eh, nama pinto…? Pinto tidak bernama, hanya disebut orang Bu Beng Tosu,” jawab kakek itu.

“Sungguh tidak kami sangka mereka akan mengirim seorang tosu untuk menjadi utusan menyambut anak itu. Apakah Totiang sudah membawa tebusannya?”

“Menyambut anak? Utusan? Tebusan? Apakah artinya ini? Sungguh pinto tidak mengerti.”

“Agaknya Cuwi telah salah menangkap orang!” Kun Liong berkata, suaranya nyaring dan dia memandang ketua itu dengan sinar mata penuh ketabahan.

Ketua itu mengerutkan alisnya dan menoleh kepada Si Brewok, membentak, “Apa artinya ini? Siapa kakek dan bocah ini?”

Si Brewok menjadi pucat. “Maaf, Pangcu. Sikapnya mencurigakan, dia ber uang dan melakukan perjalanan seorang diri lewat di tempat yang telah ditentukan, membawa buntalan-buntalan besar. Kami mengira dialah utusan itu.”

“Bodoh! Lekas periksa buntalannya!”

“Sudah diperiksa, Pangcu!” Tiba-tiba Si Tinggi Besar yang baru saja masuk menjawab dan berdiri tegak seperti sikap seorang perajurit menghadap komandannya.

“Apa isi bungkusannya? Emas dan perak?”

“Bu… bukan… Pangcu…”

“Habis, apa isinya?”

“Batu-batu karang dan akar-akaran!”

“Plakkk!” Ketua itu menepuk ujung kursinya dengan marah. “Sialan! Apa yang kalian lakukan?”

“Harap Pangcu maafkan. Kami telah salah menangkap, dan kami akan melakukan penjagaan lagi di sana. Akan tetapi… mereka… mereka itu…?”

“Pergi menjaga! Sekali lagi kalian keliru menangkap orang akan kuhajar! Biarkan mereka di sini. Pergi kalian bertiga!!” Si Brewok dan dua orang temannya pergi seperti anjing-anjing dibentak.

Ketua ini kini menoleh ke arah kakek itu dan bertanya, “Mengapa kebetulan sekali Totiang lewat di tempat ini dan untuk apa semua batu dan akar itu?”

“Aihhh, pinto adalah seorang yang hidup dari menjual bahan-bahan obat. Batu-batu itu dapat dipergunakan sebagai bubuk obat, dan itu adalah bahan campuran obat pembersih darah. Pinto sedang mencari telur kura-kura hitam yang kabarnya banyak terdapat di pantai Sungai Huang-ho, telur belum dapat malah pinto ditangkap.”

“Hemmm… dan kau, bocah gundul? Apakah engkau murid tukang obat ini?”

Kun Liong sudah mengetutkan alisnya, kelihatan marah sekali disebut gundul! Setelah kepalanya gundul pelontos, temyata sebutan gundul merupakan sebutan yang amat menyakitkan hatinya, karena mengingatkan dia akan keadaannya yang tidak menyenangkan itu. Akan tetapi sebelum dia melontarkan jawaban yang keras, tosu itu sudah mendahuluinya menjawab, “Benar, Pangcu. Dia adalah murid pinto yang keras hati dan bandel.”

Kun Liong menoleh dan memandang kakek itu, dan tiba-tiba dia sadar akan keadaan dirinya. Memang dia keras hati. Kalau dia menuruti kemarahannya dan mengeluarkan kata-kata keras dan tidak enak terhadap ketua ini, bukan hanya dia seorang yang akan menderita hukuman, juga kakek yang tidak berdosa itu akan terbawa-bawa. Maka dia menahan kemarahannya dan menggigit bibir, tidak mengeluarkan suara.

“Kalian memang tidak bersalah dan anak buah kami kesalahan menangkap orang. Akan tetapi karena kalian sudah terlanjur masuk ke sini, sebelum urusan ini beres kalian akan kami tahan.”

“Akan tetapi…” tosu itu membantah.

“Tidak ada tapi! Haii, pengawal! Antarkan mereka ini masuk ke kamar tahanan biar mereka berdua menemani anak perempuan itu!”

Empat orang pengawal sudah maju dan menggunakan tombak mereka untuk mengiring tosu dan Kun Liong pergi dari situ, ke sebuah bangunan lain yang kokoh dan kuat dan akhirnya mereka didorong masuk ke dalam sebuah kamar empat meter persegi, kosong dan hanya ada beberapa helai tikar dan di dalamnya terdapat seorang anak perempuan yang usianya kurang lebih delapan tahun, bersikap tenang dan cantik, berpakaian indah seperti puteri bangsawan, akan tetapi yang amat mencolok adalah sikapnya yang penuh ketenangan itu. Dengan sepasang matanya yang lebar ia memandang Kun Liong dan tosu yang didorong masuk ke dalam kamar tahanannya, kemudian pintu kamar tahanan yang terbuat dari baja dan di atasnya terdapat ruji baja itu ditutup kembali dan dikunci dari luar. Dari lubang-lubang ruji tampak kepala para penjaga yang tertutup kain kuning, dan ujung-ujung tombak mereka.

Anak perempuan itu tetap di atas lantai, matanya memandang Kun Liong dan kakek itu bergantian, penuh perhatian.

“Engkau siapakah?” Kun Liong bertanya dan diam-diam dia mendapat kenyataan bahwa anak perempuan ini pandai duduk seperti cara orang bersamadhi, bersila dan punggungnya lurus tegak.

Anak perempuan itu menggerakkan kepala menoleh kepadanya, gerakan kepalanya begitu tiba-tiba sehingga rambutnya yang panjang dan dikuncir dua buah itu seperti dua ekor ular hiam bergerak.

“Engkau siapa? Dan kakek ini siapa? Mengapa kalian dijebloskan di sini?” Anak perempuan itu balas bertanya, suaranya mengandung keangkuhan dan kekerasan.

Seketika berkerut sepasang alis tebal Kun Liong. “Sombong engkau, ya?” katanya tak senang. Akan tetapi gadis cilik itu sama sekali tidak mempedulikannya dan kini membuang muka, memandang kepada Si Kakek Tua yang telah duduk di depannya dengan sikap tenang.

“Anak baik kulihat tulang pahamu yang kanan patah, akan tetapi sudah disambung, apakah sudah baik?”

Anak perempuan itu melirik ke arah kaki kanannya yang sama sekali tidak kelihatan karena tertutup pakaiannya, juga tidak ada tanda-tanda bahwa dia menderita sakit.

“Totiang, engkau awas sekali!” serunya kagum.

“Pinto adalah seorang yang biasa mengobati tulang patah, tentu saja tahu. Coba kuperiksa sebentar!”

Anak perempuan itu mengangguk dan kakek itu lalu meraba paha kanan anak itu, kemudian mengangguk-angguk. “Sambungannya sudah benar, hanya obat penguatnya kurang manjur. Tulang kakimu sudah tersambung, akan tetapi engkau tidak boleh banyak bergerak dulu sedikitnya dua pekan engkau tidak boleh menggunakan kakimu secara kuat.”

Kemarahan Kun Liong atas kekasaran dan kesombongan anak perempuan itu lenyap sama sekali, terganti oleh rasa iba ketika mendapat kenyataan bahwa anak ltu menderita tulang paha patah. Sudah ditawan, menderita luka pula!

“Aihhh, siapakah yang begitu kejam mematahkan tulang kakimu?” tanyanya dan sekarang anak perempuan itu menjawab.

“Aku berusaha melawan. Aku sanggup menghajar tikus-tikus penculik itu seorang demi seorang kalau saja mereka tidak mengeroyok secara curang dan Si Brewok itu memukul patah pahaku dengan ruyungnya.”

Kun Liong mengepal tinju. “Sudah kusangka, Si Brewok, Si Tinggi Besar dan temannya itu bukan manusia baik-baik!”

“Siapakah engkau, Nona? Dan mengapa engkau diculik?” tosu itu bertanya dengan suara sungguh-sungguh. Mereka bertiga duduk di atas tikar yang tergelar di lantai.

“Aku Souw Li Hwa dan ayahku bernama Souw Bun Hok, tinggal di Lok-ek-tung. Ketika aku sedang bermain-main seorang diri dengan perahu di Sungai Huang-Ho, mereka menyergap dan menculik aku. Menurut keterangan mereka, aku ditahan sampai orang tuaku datang menebusku dengan seribu tail perak. Sudah dua pekan aku ditahan di sini.”

Kakek itu mengangguk-angguk. “Sungguh mengherankan sekali. Sepanjang pengetahuanku, Ui-hong-pang bukanlah kaum penculik anak-anak!” Ucapan ini dikeluarkan dengan lirih, akan tetapi Kun Liong yang mendengarnya menjadi heran karena kata-kata itu membuktikan bahwa tosu tua ini telah mengenal Ui-hong-pang! Mengapa ketika ditangkap pura-pura tidak mengenal perkumpulan itu?

“Apakah ayahmu dapat menebusmu dengan uang sebanyak itu?” Kun Liong bertanya dengan hati penasaran. Kembali dia menghadapi perbuatan manusia yang jahat!

Gadis cilik yang bernama Souw Li Hwa itu menggeleng kepalanya. “Mana mungkin ayahku menebus dengan uang sebanyak itu? Ayah hanya bekas juru mudi saja yang sekarang sudah mengundurkan diri karena tua, dan selama bekerja, Ayah tidak pemah mengumpulkan uang haram!”

Kun Liong kaget sekali dan kini mengertilah dia mengapa anak itu demikian angkuh, kiranya keturunan orang yang hebat. “Wah, ayahmu hebat!” Dia memuji.

“Memang, akan tetapi ayahku tidak akan dapat menolongku. Biarpun begitu, aku tidak khawatir. Aku percaya bahwa Suhu tentu akan membebaskan aku, dan kalau Suhu sampai turun tangan sendiri, tikus-tikus itu tentu akan dibasmi habis sampai ke akarnya!”

“Siapa sih gurumu?” tanya Kun Liong.

“Nama guruku tidak boleh disebut-sebut. Tikus-tikus itu yang melihat aku melakukan perlawanan, juga menanyakan nama Suhu, akan tetapi sampai mati aku tidak akan menyebut namanya. Ketua tikus-tikus Ui-hong-pang itu mengatakan sudah tahu siapa guruku, akan tetapi aku tidak percaya!”

Tosu tua yang sejak tadi mendengarkan saja, lalu memegang tangan anak perempuan itu dan bertanya halus. “Nona kecil, apakah suhumu she The?”

Anak itu berteriak heran. “Bagaimana Totiang bisa menduga?”

“Benarkah?”

Anak itu mengangguk.

Tosu itu menarik napas panjang. “Aihhh, pantas saja kalau begitu, engkau diculik bukan karena ayahmu melainkan karena suhumu.”

“Bagaimana Totiang tahu? Apakah Totiang mengenal suhuku?”

Kun Liong juga memandang kakek itu dengan penuh keheranan. Kakek itu kembali menarik napas panjang dan mengangguk perlahan. “Sungguh kebetulan sekali kejadian ini… siapa, kira aku akan bertemu dengan engkau. Tentu saja aku mengenal suhumu, Nona. Dan karena engkau murid The-taiciangkun (Panglima Besar The), maka Ui-hong-pang menculikmu. Kalau pinto tidak salah dengar, pangcu dari perkumpulan ini adalah murid Kwi-eng Niocu (Nona Bayangan Hantu) Ang Hwi Nio, Majikan Telaga Siluman. Tentu pangcu itu membela gurunya yang menaruh dendam terhadap gurumu.”

“Mengapa Totiang?”

“Ketika suhumu dahulu sebagai panglima besar mengadakan pembersihan, membasmi golongan sesat dan jahat, ayah Si Bayangan Hantu roboh dan tewas di tangan gurumu yang sakti. Tentu saja wanita iblis itu menaruh dendam, dan untuk membalas secara langsung kepada The-taiciangkun adalah tidak mungkin, maka dia melalui muridnya membalas dendam dengan jalan menculikmu. Mungkin hal ini dilakukan untuk memancing agar gurumu datang ke sini.”

“Tikus-tikus tak tahu diri!” Li Hwa berseru, “Kalau Suhu datang, mereka tentu akan mampus semua!”

Tosu itu menarik napas panjaang dan menggeleng kepala. “Mungkin begitu, akan tetapi juga belum tentu gurumu mengotorkan tangan menghadapi mereka ini. Setelah pinto secara kebetulan lewat di sini, biarlah pinto yang mewakilinya. Marilah, Nona, dan kau juga muridku, mari kita keluar dari sini.”

“Ehhh…?” Kun Liong berseru heran.

Tosu itu mengira bahwa Kun Liong tidak suka menjadi muridnya, maka dia bertanya, “Apakah kau tidak mau menjadi muridku? Aku sudah terlanjur mengakuimu.”

“Teecu suka, akan tetapi… bagaimana kita dapat keluar dari sini, Suhu?”

Tosu itu tertawa, kemudian mengelus kepala yang gundul itu. “Muridku yang baik sekali, siapa namamu?”

“Teecu bernama Yap Kun Liong…”

“Aihh, namanya serem, orangnya hanya bocah gundul!” Li Hwa mencela.

“Sombong kau, ya?” Kun Liong membentak.

“Husshhh, bukan saat ribut-ribut urusan tak berarti. Anak-anak, mari kita keluar dari sini.” Setelah berkata demikian, kakek itu melangkah ke pintu baja, tangan kanannya yang tertutup lengan baju yang lebar itu mendorong ke depan.

“Braaakkkk…!!” Pintu baja itu terdorong roboh ke luar dan terbukalah lubang besar di dinding bekas pintu itu.

Seorang penjaga berseru kaget, menerjang masuk dengan goloknya. Akan tetapi, dengan gerakan seperti seekor burung walet, Li Hwa mencelat ke depan, tangan kirinya menahan lengan yang bergolok, tangan kanan meninju perut. Penjaga itu berteriak dan roboh terguling. Melihat ini, Kun Liong kagum bukan main. Anak perempuan itu benar-benar tidak membual ketika bercerita tadi, ternyata biarpun kaki kanannya masih sakit, dalam segebrakan saja mampu merobohkan seorang penjaga!

“Eh, jangan banyak bergerak, nanti kakimu patah lagi, Nona!” Tosu tua itu berkata dan tahu-tahu Li Hwa sudah melayang naik ketika tangan gadis itu dipegang dan ditarik oleh Si Tosu dan Li Hwa kini sudah duduk di atas punggung kakek itu! Kun Liong tidak mau kalah melihat ada penjaga ke dua datang menyerbu, dia meloncat ke atas, kedua kakinya meluncur ke depah.

“Haaaiiittt! Dessss…!!” kedua kaki yang kecil itu dengan tepat mengenai muka dan dada penjaga tadi yang terjengkang ke belakang dan roboh bergulingan tak dapat bangkit kembali karena kedua matanya tak dapat dibuka, kena hantam sepatu Kun Liong dan napasnya juga sesak!

Kun Liong sendiri yang melakukan gerakan meloncat lalu menendang, terpental dan menumbuk dinding, akan tetapi dia dapat berjungkir balik dan berdiri dengan terhuyung. Dilihatnya seorang penjaga datang lagi dengan pedang diangkat tinggi-tinggi handak menyerang tosu yang menggendong Li Hwa dan yang bersikap tenang sambil memandang kepada Kun Liong dengan senyum geli, Kun Liong cepat berlari ke depan menyambut penjaga itu dengan serudukan kepalanya.

“Hyaaahhhh! Ngekkkk!!” Penjaga itu terjengkang, terbatuk-batuk, dadanya sesak perutnya mulas, dan Kun Liong melompat ke belakang, terhuyung karena kepalanya berdenyut dan pandang matanya berkunang!

“Kun Liong, mari ikut pinto keluar dan jangan sembarangan bergerak. Biar pinto yang membuka jalan.”

Kun Liong menurut karena gerakan-gerakan tadi membuat badannya terasa sakit lagi. Kiranya luka akibat pukulan Ouw-Siucai di perahu itu masih belum sembuh benar. Dia telah memperlihatkan kepada Li Hwa bahwa dia pun bukah bocah gundul sembarangan yang tidak patut bernama Yap Kung Liong, karena dia telah merobohkan dua orang lawan! Dengan dada dibusungkan, kedua tangan dikepal siap bertanding, Kun Liong mengikuti tosu itu yang melangkah perlahan keluar dari tempat itu, menggendong Li Hwa.

Dari kanan kiri muncul belasan orang penjaga yang berpakaian seragam, tujuh orang bergolok dari kiri dan sembilan orang berpedang dari kanan. Dengan iringan teriakan, mereka menyerbu dari kanan kiri, Kun Liong yang mentaati perintah gurunya, hanya berdiri tenang, namun siap-siap untuk membela diri. Tosu itu kini menggerakkan kedua lengan bajunya ke kanan kiri membiarkan Li Hwa merangkul pundaknya dan mengempit pinggangnya dengan kaki. Dari lengan baju itu menyambar angin pukulan yang dahsyat ke kanan kiri dan… belasan orang itu roboh malang melintang seperti rumput-rumput kering dilanda angin taufan!

Kini dari depan datang belasan orang pasukan panah dan terdengarlah suara bersuitan ketika anak-anak panah datang meluncur ke arah Kun Liong dan kakek itu. Kembali kakek itu menggunakan pukulan lengan bajunya dan semua anak panah dipukul runtuh, berserakan ke lantai sebelah depan mereka. Sebelum ada anak panah menyerang lagi, kakek itu mendorongkan kedua lengannya bergantian ke depan dan seperti juga tadi, pasukan panah itu roboh terguling-guling!

Tentu saja hal ini menimbulkan kegemparan dan mereka yang roboh dan bangun kembali, tidak berani sembarangan menyerang, hanya berdiri dan siap menanti perintah atasan. Kun Liong gembira dan kagum bukan main. Ingin ia bertepuk tangan saking kagumnya, akan tetapi melihat Li Hwa bersikap tenang, dia pun tenang-tenang saja dan kini melangkah tegap di samping gurunya, dengan kedua tinju bergerak-gerak memasang kuda-kuda!

Pasukan-pasukan penjaga mengurung dari belakang, depan, kiri dan kanan. Akan tetapi mereka tidak menyerang, hanya bergerak mengikuti kakek yang melangkah perlahan menuju ke ruangan dalam rumah tahanan itu.

“Pinto tidak ingin berkelahi. Pinto ingin bicara dengan pangcu kalian!” kata kakek itu dengan suara tenang dan penuh kesabaran.

Tiba-tiba pintu depan terbuka lebar dan lima orang yang memegang tombak, yaitu para pengawal pribadi Kian Ti, demikian nama pangcu itu, muncul dan meloncat masuk dengan sikap galak. Serta-merta mereka memekik dan menerjang maju, lima orang maju sekaligus dan lima batang tombak bergerak-gerak, ujung tombak tergetar menjadi banyak, tanda bahwa Si Pemegang memiliki tenaga lwee-kang yang kuat. Kemudian dibarengi teriakan nyaring, mereka menyerang tosu itu.

“Pergilah…!” Tosu itu berseru, hanya tampak kedua kakinya bergerak-gerak diikuti ujung kedua tali ikat pinggang yang tergantung panjang ke bawah, dan… lima orang itu jungkir-balik dan terbanting roboh di atas lantai! Mereka dapat meloncat lagi dengan sigap dan memandang dengan mata terbelalak penuh keheranan kepada kakek luar biasa itu.

“Suruh pangcu kalian maju, pinto ingin bicara dengamya.” Kembali kakek itu berkata tenang.

Lima orang itu melompat ke samping dan berdiri berjajar, tombak di tangan didirikan di sebelah kiri mereka.

“Pangcu tiba…!” Terdengar seruan dari pintu depan.

“Kau mau bertemu Pangcu? Silakan!” kata seorang di antara pengawal-pengawal bertombak itu sambil mengembangkan lengan kirinya.

Tosu itu melangkah ke depan, memandang ke arah pintu depan. Li Hwa di belakang punggungnya menoleh ke kanan kiri dalam keadaan siap kalau-kalau mereka diserang dari belakang. Di belakang mereka pasukan-pasukan bergerak mengikuti, anak panah, tombak, golok dan pedang siap di tangan. Kun Liong melangkah perlahan di sebelah kanan gurunya, kedua tinju disiapkan, seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang!

Tampak bayangan kuning berkelebat dan Si Ketua telah berdiri di situ! Dia tersenyum mengejek, akan tetapi sepasang matanya menyinarkan hawa marah kepada tosu itu.

“Hemm… kiranya engkau seorang berkepandaian yang berpura-pura bodoh, ya? Agaknya engkau memang utusan mereka untuk merampas tawanan kami?”

“Tidak sama sekali!!” Jawab tosu itu. “Pinto hanya kebetulan saja lewat dan tanpa sebab ditawan oleh orang-orangmu. Pangcu, engkau keliru sekali kalau menculik anak ini dan berarti engkau memancing datangnya bahaya yang akan menghancurkan Ui-hong-pang. Apakah gurumu, Kwi-eng Niocu masih belum bertobat dan berani menentang The-taiciangkun? Kuharap saja engkau dapat sadar dan membiarkan pinto membawa pergi nona kecil ini sehingga urusan akan habis sampai di sini saja.”

“Tua bangka keparat! Siapa takut kepadamu? Hayo katakan, siapa engkau sebelum mati di depan kakiku!”

“Sudah pinto katakan, orang menyebut pinto Bu Beng Tosu (Tosu Tanpa Nama).”

“Keparat! Dengan menggunakan nama Laksamana The Hoo, apa kaukira aku Kian Ti akan takut kepadamu? Engkau tidak mau mengaku nama, baiklah, engkau akan mati tanpa nama!” Setelah berkata demikian, Kian Ti menggerakan kedua lengan tangannya. Jari-jari tangannya dibentuk seperti cakar harimau, kedua tangan itu digerak-gerakkan perlahan saling menyilang dan berputaran dan terdengarlah suara berkerotokan seolah-olah semua lengan kedua tangannya remuk, dan perlahan-lahan, kedua lengan yang telanjang karena lengan bajunya tersingkap itu berubah menjadi kemerahan, makin lama makin merah sampai akhirnya menghitam! Melihat perubahan pada lengan ini diam-diam Kun Liong terkejut sekali. Biarpun dia belum pernah mempelajari ilmu yang aneh-aneh itu, akan tetapi dia adalah putera suami isteri yang sakti sehingga pernah dia mendengar penuturan ayah bundanya tentang ilmu-ilmu pukulan yang mujijat, yang dilatih oleh tokoh-tokoh persilatan dengan cara yang aneh-aneh pula.

“Suhu, dia mempunyai tangan beracun!” kata Kun Liong ketika melihat kedua tangan yang kehitaman.

“Totiang, apakah itu Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam)?” Li Hwa juga bertanya.

Kakek itu tidak menjawab, bahkan berkata kepada Kiang Ti, “Kiang-kongcu, sebelum terlambat kuperingatkan kepadamu agar sadar dan tidak menggunakan kekerasan terhadap pinto seorang tua.”

Akan tetapi, sikap dan ucapan kakek itu seperti orang guru menasihati murid dianggap sebuah tantangan yang menghina oleh Kiang Ti. Tiba-tiba dia menerjang ke depan, berlari sambil memekik nyaring, “Yaaatttt!!” Kedua tangannya yang berubah menjadi hitam itu menghantam ke dada dan perut kakek yang berdiri dengan tenang, sama sekali tidak bergerak untuk menangkis maupun mengelak itu.

“Plakk! Bukkk!!”

Tubuh kakek yang menggendong Li Hwa itu sama sekali tidak terguncang seperti sebuah pilar batu diterjang lalat, akan tetapi Kiang Ti terbelalak, tubuhnya seperti lumpuh dan ia roboh berlutut di depan kedua kaki orang tua itu dan mulutnya memuntahkan darah!

“Siancai…!” Kakek itu berkata, menunduk dan melihat tanda dua telapak tangan di dada dan perutnya karena bajunya di bagian yang terpukul itu telah berlubang dengan pinggirnya seperti dibakar, akan tetapi kulit tubuhnya sama sekali tidak ada tanda apa-apa. “Mengapa engkau keras kepala, Pangcu? Untung di dalam buntalan pinto yang kalian rampas itu terdapat akar obat yang bentuknya seperti ular belang. Masaklah dengan air dan minum airnya, tentu lukamu akan sembuh.”

Dengan tenang, kakek itu lalu melangkah menuju ke pintu, diikuti oleh Kun Liong yang merasa makin takjub dan bangga kepada kakek yang menjadi gurunya itu.

“Tunggu… Locicianpwe… nama apakah… yang akan kusebutkan… kepada… guruku kelak…?” Kiang Ti berkata tanpa bangkit dari lantai di mana dia jatuh berlutut.

“Hemmm, katakan bahwa akar cendana sudah lama dikubur, dan kepala naga sudah lama lenyap dari sungai telaga…” Tiba-tiba tubuh kakek itu lenyap bersama anak perempuan yang digendongnya dan bocah gundul yang digandengnya dari pandang mata Kiang Ti dan anak buahnya.

Kiang Ti terbelalak, bibirnya berkata dengan keluhan panjang “Aahhh… tongkat akar cendana berkepala naga… mengapa kakek sakti itu masih hidup dan muncul di sini…? Sungguh sialan…” Dia terguling dan roboh pingsan!

Kun Liong dan Li Hwa memejamkan mata dan merasa ngeri. Apalagi Kun Liong yang merasa betapa tubuhnya tergantung dengan tangan kanan dan meluncur seperti terbang cepatnya itu! Setelah lama dan napas mereka terengah karena kencangnya angin menderu di depan hidung, secara tiba-tiba angin berhenti dan ketika mereka membuka mata, kakek itu telah berhenti menggunakan ilmu lari cepat yang tidak lumrah hebatnya itu!

Li Hwa melorot turun dari gendongan dan serta-merta dia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kakek aneh itu. “Mohon Locianpwe sudi memaafkan teecu yang tidak tahu bahwa teecu telah tertolong oleh Locianpwe Bun Hwat Tosu yang sakti!”

Kun Liong terkejut sekali. Tentu saja dia sudah mendengar nama ini, nama yang dipuji-puji oleh ayah bundanya sebagai nama seorang di antara manusia-manusia sakti seperti dewa di dunia ini! Bahkan nama ini disejajarkan dengan nama Tiang Pek Hosiang, guru ayahnya yang menjadi orang paling sakti di Siauw-lim-pai (baca ceritaPedang Kayu Harum )! Nama yang dimiliki oleh tokoh pertama dari Hoa-san-pai! Maka dia pun cepat menjatuhkan diri berlutut.

“Teecu juga mohon maaf bahwa teecu tidak tahu telah diambil murid oleh Ketua Hoa-san-pai yang mulia!”

Kakek itu tertawa sambil mengelus jengotnya. “Siancai…! Anak-anak sekarang benar-benar bermata tajam sekali. Eh, Nona Li Hwa, bagaimana engkau bisa menduga bahwa pinto adalah Bun Hwat Tosu?”

“Suhu pemah menyatakan bahwa di antara sahabat-sahabat beliau yang memiliki kesaktian tinggi adalah seorang tua yang bersenjata sebatang tongkat terbuat dari akar kayu cendana dan berukirkan kepala naga. Ketika tadi Locianpwe menyebut kayu cendana dan kepala naga, maka tahulah teecu.”

“Ha-ha-ha, engkau memang cerdik, patut menjadi murid yang mulia The-taiciangkun! Gurumu terlalu memuji pinto. Beliau sendiri adalah seorang ahli silat yang tinggi sekali ilmunya, seorang ahli sastra yang jarang tandingannya, seorang ahli perang yang jempolan dan seorang pemimpin besar armada yang luas pengetahuannya. Mana mungkin pinto yang bodoh sederhana dapat dibandingkan dengan dia? Nah, Nona kecil yang baik, apakah sekarang engkau dapat pulang sendiri ke Liok-ek-tung?”

Li Hwa mengangguk. “Liok-ek-tung tidak jauh lagi dari sini, Locianpwe. Harap Locianpwe sudi singgah di rumahku, agar kedua orang tuaku dapat menghaturkan terima kasih kepada Locianpwe yang sudah menolongku, dan apabila mungkin dapat bertemu dengan Suhu…”

Kakek itu menggeleng kepalanya. “Tidak perlu, tidak perlu… dan tentang pertemuan dengan gurumu, kelak tentu akan tiba saatnya pinto menghadap yang mulia. Nah, pulanglah agar orang tuamu berlega hati.”

Sekali lagi Li Hwa mengangguk-anggukkan kepalanya di depan kaki kakek itu. “Teecu menghaturkan terima kasih dan bermohon diri.”

Li Hwa bangkit berdiri, mengerling kepada Kun Liong. “Selamat jalan, Adik Li Hwa! Jangan lupa kepadaku, ya!”

Li Hwa tersenyum, memandang kepala Kun Liong yang licin mengkilap. “Mana bisa aku melupakan itu?” dia menuding.

Kun Liong juga tertawa dan meraba kepalanya. “Mengapa ragu-ragu? Katakan saja kepalaku, kepala gundul buruk!”

“Tidak buruk, bahkan kelihatan bersih sekali. Yang banyak rambutnya mungkin malah penuh kutu, hi-hik!” Li Hwa tertawa, Kun Liong tertawa dan keduanya saling pandang seperti dua orang sahabat lama. Setelah menjura sekali lagi kepada Bun Hwat Tosu, Li Hwa lalu meloncat dan berlarian menuju ke kota Liok-ek-tung di timur.

Setelah bayangan anak perempuan itu lenyap di balik pohon-pohon, Bun Hwat Tosu memandang Kun Liong dan bertanya,

“Kun Liong, bagaimana engkau bisa tahu bahwa Bun Hwat Tosu adalah Ketua Hoa-san-pai?”

“Nama Suhu dihormati dan dipuji-puji oleh Ayah Bunda teecu.”

Kakek itu mengerutkan alisnya. Mendengar namanya dihormati dan dipuji-puji hatinya merasa tidak enak. Pujian sama bahayanya dengan musuh yang datang dari belakang, berbeda dengan kata-kata keras yang seperti musuh datang dari depan.

“Siapa nama ayahmu?”

“Ayah bernama Yap Cong San.”

Akan tetapi Bun Hwat tidak mengenal nama ini.

“Ayah menjajarkan Suhu setingkat dengan Sukong Tiang Pek Hosiang.”

Kini kakek itu mengangkat kedua alisnya. “Ahhh! Tiang Pek Hosiang bekas ketua Siauw-lim-pai? Heran sekali! Dan dia itu sukongmu (kakek gurumu)?”

“Ayah adalah murid beliau.”

Kakek itu mengangguk-angguk. “Hemm, pantas kalau begitu… gerakanmu memiliki dasar Siauw-lim-pai sungguhpun sudah bercampur dengan ilmu silat lain yang aneh…”

“Dari ibu teecu.” Kun Liong memotong.

“Hemmm, ibumu juga lihai sekali?”

“Hanya kalah sedikit oleh Ayah, akan tetapi Ibu menang dalam hal ilmu pengobatan. Ibu adalah sumoi (adik seperguruan) dari Supek Cia Keng Hong…”

“Ahhhh! Benar-benar suatu kebetulan yang luar biasa! Kalau begitu, pinto telah kesalahan besar mengambil engkau sebagai murid!”

Serta-merta Kun Liong menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki orang tua itu karena khawatir kalau-kalau gurunya membatalkan pengangkatan murid. “Harap Suhu tidak membatalkan teecu menjadi murid.”

“Kenapa? Engkau keturunan orang-orang pandai dan melihat dasarmu, sepatutnya engkau menjadi murid Siauw-lim-pai. Seorang murid Siauw-lim-pai tidak boleh belajar dari orang lain, dan kalau pinto menerimamu sebagai murid, tentu pinto kesalahan terhadap Siauw-lim-pai.”

“Teecu bukan murid Siauw-lim-pai!”

“Akan tetapi ayahmu?”

“Ayah pun bukan murid Siauw-lim-pai, hanya bekas murid. Sudah tidak diakui lagi. Menurut penuturan Ayah, Ayah pernah membuat kesalahan besar terhadap Siauw-lim-pai, biarpun diampuni akan tetapi tidak lagi diakui murid, hanya sebagai sahabat baik para pimpinan Siauw-lim-pai saja. Harap Suhu percaya keterangan teecu karena teecu tidak membohong.”

Kakek itu kembali mengelus jenggotnya. Dia sudah mendengar tentang riwayat Tiang Pek Hosiang yang mengundurkan diri dari Siauw-lim-pai (baca ceritaPedang Kayu Harum ), akan tetapi dia tidak pernah mendengar tentang murid-murid kakek sakti itu. Dia mengira bahwa tentu ayah bocah ini tidak diakui sebagai murid Siauw-lim-pai karena tersangkut persoalan gurunya. Padahal, duduknya pekara tidaklah demikian. Yap Cong San kehilangan haknya sebagai anak murid Siauw-lim-pai karena dia menikah dengan Gui Yan Cu, dara yang dianggap terlibat dalam urusan gurunya, Tung Sun Nio dan Tiang Pek Hosiang sehingga dapat mencemarkan nama baik Siauw-lim-pai (baca ceritaPedang Kayu Harum ).

“Akan tetapi, kalau ayah bundamu sendiri adalah orang-orang pandai, perlu apa engkau belajar dari pinto?”

Kun Liong mengerutkan alisnya, memutar otak untuk memberi jawaban yang tepat. Kemudian dengan suara sungguh-sungguh dia menjawab, “Belajar dari ayah dan ibu sendiri tidak akan maju, Suhu.”

“Hemm, mengapa tidak akan maju? Ayahmu adalah murid Tiang Pek Hosiang yang berilmu tinggi, sedangkan ibumu adalah sumoi dari Cia-taihiap (Pendekar Besar Cia) yang sakti, tentu ayah bundamu memiliki kepandalan tinggi pula. Bagaimana engkau dapat mengatakan bahwa belajar dari orang tuamu sendiri tidak akan maju?”

“Karena Ayah terlampau keras kepada teecu sehingga teecu selalu takut-takut, belajar dari Ayah tidak akan dapat maju, adapun ibu terlalu memanjakan teecu, belajar lelah sedikit sudah disuruh mengaso, juga tidak akan maju.”

Kini kakek itu mengerutkan alisnya yang berwarna putih, memandang tajam kepada Kun Liong, kemudian berkata, “Sungguh alasan yang tidak dapat diterima. Engkau agaknya seorang anak yang nakal dan bandel, Kun Liong, apakah kati kenakalanmu maka engkau meninggalkan rumah?”

“Wah, tidak… tidak, Suhu. Dan bukan hanya itu alasan teecu. Masih ada lagi alasan kuat mengapa teecu tidak ingin agar Suhu membatalkan teecu sebagai murid Suhu.”

“Hemm, alasan tidak masuk akal apa lagi?”

“Pelajaran dari Ayah Bunda teecu dapat kapan saja, akan tetapi pertemuan dengan Suhu merupakan hal yang kebetulan sekali dan kiranya tidak akan ada kesempatan ke dua bagi teecu, maka tentu saja teecu ingin sekali menjadi murid Suhu yang namanya dipuji-puji oleh Ayah.”

Kakek itu menggeleng-geleng kepalanya. “Hemm… alasan ini pun tidak kuat dan hanya menonjolkan kemurkaanmu akan ilmu silat saja.”

Kun Liong menjadi gugup, “Ah, sama sekali tidak, Suhu! Teecu benci… benci… akan ilmu silat!”

“Heee?”

“Maksud teecu… teecu benci akan penggunaannya yang hanya ditujukan untuk memukul lain orang, melukai bahkan membunuh lain orang.”

“kalau begitu, mengapa engkau bersikeras hendak belajar ilmu silat dari pinto (aku)?”

“Justru karena itu, teecu ingin memiliki ilmu kepandaian tinggi agar teecu dapat mempergunakannya untuk mencegah orang-orang yang pandai silat menganiaya dan memukul orang lain.”

Kakek itu mengangguk-angguk. “Bisa diterima alasanmu, akan tetapi untuk memperoleh ilmu silat tinggi, ayah bundamu cukup untuk mengajarmu, tidak perlu engkau belajar lagi dari pinto.”

Kun Liong menjadi gelisah. Dia masih berlutut dan kini dia mengangkat mukanya memandang kakek itu sambil berkata, “Harap Suhu suka menerima teecu, dan sesungguhnya hal ini bukan semata untuk kepentingan teecu, melainkan demi kebersihan nama dan kehormatan Suhu sendiri.”

Bun Hwat Tosu terkejut sekali, menyentuh pundak Kun Liong dan bertanya, “Apa maksudmu?”

Kun Liong menundukkan mukanya, hatinya menjadi berdebar takut melihat betapa ucapannya tadi membuat kakek itu bersikap demikian sungguh-sungguh. Namun sudah kepalang baginya, menggunakan siasat yang paling lihai. Dia tahu bahwa orang-orang aneh seperti Bun Hwat Tosu ini tidak membutuhkan apa-apa lagi dan satu-satunya hal yang masih dipentingkan hanya satu, yaitu nama yang menyangkut kehormatan. Maka dia sekarang menyinggung tentang nama dan kehormatan. Ternyata kakek itu benar-benar tergugah dan menaruh perhatian besar sekali!

“Teecu tidak bermaksud buruk. Suhu sendiri yang telah mengambil teecu sebagai murid dan Suhu sendiri yang telah mengucapkan kata-kata itu. Teecu mendengar bahwa kata-kata seorang budiman, yang sudah keluar dari mulut, mewakili suara hati dan menjadi janji yang lebih berharga daripada nyawa. Maka dari itu, kalau sekarang Suhu menarik kembali janji Suhu itu, bukankah hal ini akan menodai nama dan kehormatan Suhu?”

Bun Hwat Tosu mengelus-elus jenggotnya dan memandang kepada anak gundul itu dengan sinar mata tajam, kemudian dia menghela napas dan berkata, “Yap Kun Liong, sekecil ini engkau sudah dapat menggunakan kata-kata untuk mendesak dan menghimpit seorang tua seperti pinto, membuat pinto tidak berdaya. Benar-benar engkau berbakat cerdik, dan entah apa yang akan terjadi kalau engkau sudah dewasa kelak. Kecerdikan dapat mengangkat orang ke tingkat tinggi, akan tetapi juga dapat menyeret orang ke tempat yang paling rendah. Baiklah, pinto tidak mungkin dapat menarik kata-kata sendiri. Pinto akan menurunkan ilmu kepadamu selama lima tahun, akan tetapi tidak boleh menyebut guru kepada pinto karena kalau hal ini pinto lakukan, yaitu mengambilmu sebagai murid, berarti pinto kurang hormat kepada Siauw-lim-pai dan Cin-ling-pai. Bagaimana, maukah engkau?”

Kun Liong mengangguk-angguk memberi hormat. “Teecu menghaturkan terima kasih atas kemurahan hati Locianpwe.”

Bun Hwat Tosu menarik napas panjang. “Hemm, kemurahan hati apa? Pinto terpaksa dan entah akibat apa yang akan pinto tanggung kelak apabila engkau melakukan penyelewengan!”

Serta-merta Kun Liong berkata lantang, “Teecu bersumpah bahwa apa pun yang akan terjadi dengan diri teecu, teecu tidak akan menyebutkan nama Locianpwe, tidak akan menyangkut nama Locianpwe!”

“Sudahlah, agaknya memang engkau sudah berjodoh dengan pinto. Ingat, bukan sekali-kali pinto takut engkau menyebut nama pinto, akan tetapi jangan dihubungkan dengan Hoa-san-pai. Pinto telah lama mengundurkan diri dari Hoa-san-pai, dan andaikata nama pinto rusak oleh sepak terjangmu, masih tidak terlalu hebat. Akan tetapi kalau sampai Hoa-san-pai tersangkut, pinto pasti kelak akan mencarimu untuk mencabut kembali semua ilmu yang kaupelajari dari pinto, biarpun dengan bahaya tercabutnya pula nyawamu atau nyawa pinto.”

Kun Liong hanya mengangguk-angguk dan wajahnya agak pucat. Hebat sekali ancaman yang keluar dari mulut kakek itu dan dia dapat merasakan kesungguhan hati kakek itu yang membuatnya mengkirik.

“Teecu akan selalu ingat kata-kata Locianpwe.”

“Nah, mari kita pergi!” Sebelum Kun Liong bangkit berdiri, tahu-tahu tubuhnya telah disambar dan kembali dia mengalami peristiwa yang mengerikan ketika tubuhnya meluncur dengan cepatnya menuju ke sebuah pegunungan yang kelihatan melintang panjang seperti seekor naga tidur di sebelah depan.

Sungainya laksana pita sutera biru

gunungnya laksana tusuk sanggul permata!

Sajak dua baris itu adalah pujian pujangga besar Han Yi (768 – 824) pada waktu Dinasti Tang (618 – 907) ketika pujangga itu mengagumi keindahan pemandangan alam di sekitar Sungai Li daerah Kuilin, Propinsi Kuangsi.

Memang luar biasa sekali keindahan tamasya alam di daerah ini, terutama sekali kalau orang memandang dari puncak sebuah di antara gunung-gunungm melihat air Sungai Li yang kelihatan seperti pita rambut sutera biru melambai dari rambut seorang perawan jelita. Pemandangan di sepanjang sungai itu selain indah menakjubkan juga berubah-ubah keadaannya, terutama sekali di bagian antara daerah Kuilin dan Yangsuo.

Gunung Haiyang berdiri tegak sebagai sebuah di antara gunung-gunung di Pegunungan Taliang-san, di perbatasan Propinsi Kuangsi dan Propinsi Hunan. Dari Gunung Haiyang ini mengalir turun dua batang sungai yang mengalir ke utara memasuki Propinsi Hunan adalah Sungai Siang, adapun yang mengalir ke selatan memasuki Propinsi Kuangsi adalah Sungai Li yang juga disebut Sungai Kui, Sungai Haiyang dan ada pula yang menyebutnya Sungai Kemala!

Lambang keindahan di daerah Yangsuo di sepanjang Sungai Li, adalah sebuah puncak gunung yang bernama Gunung Teratai Biru. Gunung ini berbentuk sekuntum bunga teratai yang sedang menguncup, segar kebiruan. Di lereng Gunung Teratai Biru ini mendapat sebuah kuil kuno, yaitu Kuil Cien yang ternama, kuil peninggalan dari Dinasti Tang.

Kun Liong kagum bukan main ketika dia dibawa oleh Bun Hwat Tosu ke kuil kuno ini. Dia berdiri di situ, kemudian mendaki puncak Gunung Teratai Biru menikmati keindahan alam yang seperti sorga indahnya. Dari puncak ini tampak kota Yangsuo di sekitar gunung berlapis-lapis dan berwama hijau, seolah-olah kota itu dipeluk oleh sekumpulan daun-daun bunga.

Tak jauh dari situ tampak Gunung Pelayan Pelajar. Bentuknya seperti seorang kacung pelajar yang duduk tegak lurus, membuka mulut mendeklamasikan sajak! Dan di sebelah kiri tampak pula dua buah puncak yang berdiri sejajar seperti kembar. Itulah Gunung Besi dengan dua puncaknya Sepasang Singa yang tersohor, yang berdiri berhadapan dengan Gunung Pelayan Pelajar. Memang bentuk kedua buah puncak itu mirip dengan singa betina dan singa jantan, sepasang singa yang duduk dengan tenang, gagah perkasa, akan tetapi jinak dan tidak ganas.

Tebing-tebing gunung yang menjadi dinding di kanan kiri sungai yang melalui pegunungan, menimbulkan pemandangan yang aneh. Ada yang tebingnya berwarna putih berderet-deret sehingga penduduk di sekitar Sungai Li memberinya nama Pegunungan Tebing Putih. Tak jauh dari situ, tebingnya berderet dengan warna merah, dan diberi nama Pegunungan Tebing Merah. Betapa luar biasa pemandangan di situ dapat kita bayangkan. Di antara warna kehijauan pegunungan tampak tebing berwarna merah dan putih itu! Semua keindahan ini makin menawan hati kalau kita terus ke selatan, memasuki daerah Simping. Di sini terdapat Pegunungan Panca Puncak dan Gunung Lukisan. Masih banyak lagi pegunungan dengan puncak-puncaknya yang berbentuk aneh-aneh sehingga diberi nama yang aneh-aneh pula. Patutlah kalau para pujangga, para penyair terkemuka dari berbagai dinasti di sepanjang sejarah Tiongkok berdatangan ke daerah ini untuk menikmati tamasya alam yang luar biasa, menulis sajak-sajak abadi untuk memujinya. Para pujangga terkenal dari Dinasti Tang, misalnya Han Yi, Liu Cung Yuan, Huang Ting Cian, Mi Fu, Fan Ceng Ta, pernah berdarmawisata ke daerah ini. Tentu saja lebih banyak lagi para pujangga dari dinasti lebih muda yang mengagumi tempat itu.

Semenjak kecilnya, Kun Liong tinggal di kota. Tentu saja dia merasa girang dan betah sekali tinggal di tempat yang indah itu. Tubuhnya menjadi segar, kulit mukanya putih kemerahan, sepasang matanya bercahaya dan bibir mulutnya merah seperti bibir seorang dara remaja. Akan tetapi kepalanya tetap saja gundul pelontos tidak ada rambutnya!

Sampai lima tahun lamanya Kun Liong belajar dengan amat tekunnya, digembleng oleh Bun Hwat Tosu yang tidak sembarangan menurunkan ilmunya. Memang amat untung bagi Kun Liong. Karena kakek itu maklum bahwa Kun Liong adalah cucu murid Tiong Pek Hosiang dan murid keponakan Cia Keng Hong, maka Bun Hwat Tosu tidak berani sembarangan menurunkan ilmu yang remeh kepada anak itu! Tentu saja dia merasa sungkan kalau tidak mewariskan ilmu-ilmu pilihan yang akan dihargai oleh kedua orang tokoh besar dunia persilatan itu. Maka dalam waktu lima tahun itu dia melatih Kun Liong yang sudah memiliki dasar yang baik berkat gemblengan ayah bundanya dengan dua ilmu baru yang diciptakan sendiri setelah dia mengundurkan diri dari Hoa-san-pai. Yang pertama adalah ilmu tangan kosong yang bemama Pat-hong-sin-kun (Ilmu Silat Delapan Penjuru Angin) dan yang ke dua adalah ilmu tongkat kerena memang kakek ini terkenal sekali dengan kepandaiannya bermain tongkat ketika dia masih memegang tongkat kayu cendana berukir kepala naga. Ilmu tongkat yang diajarkan kepada Kun Liong disebut Siang-liong-pang (Tongkat Sepasang Naga), disebut demikian karena gerakan kedua ujung tongkat kalau dimainkan seolah-olah merupakan dua ekor naga mengeroyok lawan!

Biarpun selama lima tahun hanya disuruh berlatih dengan dua macam ilmu silat ini, namun Kun Liong tidak pernah mengomel, melainkan berlatih dengan amat tekunnya sehingga Bun Hwat Tosu merasa kagum dan juga lega hatinya. Apa pun yang akan terjadi dengan keputusannya menurunkan ilmunya kepada Kun Liong, yang jelas, pemuda ini tidak akan mengecewakan sebagai muridnya, biarpun murid yang tidak sah atau tidak diakuinya! Rasa girang dan puas ini membuat Bun Hwat Tosu lupa diri dan timbul keinginan hatinya untuk menurunkan ilmu kepada Kun Liong, ilmu simpanannya yang khusus diciptakannya untuk menandingi Ilmu Thi-ki-i-beng dari Cia Keng Hong yang kabarnya tiada yang dapat menandinginya!

Pendekar besar Cia Keng Hong memang memiliki ilmu yang amat aneh, juga amat hebat, yaitu yang disebut Thi-ki-i-beng (Mencuri Hawa Memindahkan Nyawa). Ilmu ini adalah semacam daya tenaga sakti sinkang yang kalau digunakan begitu tangan menampel ke tubuh lawan, maka otomatis tenaga sinkang lawan akan tersedot sampai habis masuk ke dalam tubuh sendiri. Karena memiliki Ilmu Thi-ki-i-beng inilah maka Cia Keng Hong dianggap sebagai tokoh yang paling hebat kepandaiannya. Dan karena ilmu aneh yang dahulu dipakai perebutan di antara orang-orang sakti di seluruh dunia kang-ouw (baca ceritaPedang Kayu Harum ) diam-diam Bun Hwat Tosu merasa penasaran dan mencurahkan seluruh kepandaiannya untuk menciptakan sebuah ilmu yang khusus untuk menghadapi Thi-ki-i-beng! Dan kini, ilmu itu dia ajarkan kepada Kun Liong agar ini yang akan menandingi sehingga kalau berhasil, ilmu nomor satu di dunia persilatan itu telah ditaklukkan olehnya!

“Kun Liong, pemahkah engkau mendengar akan ilmu yang disebut Thi-ki-i-beng?” Setelah pemuda itu belajar selama empat tahun, suatu pagi Bun Hwat Tosu bertanya.

Kun Liong menggeleng kepala. “Teecu belum pernah dengar, Locianpwe. Ilmu apakah itu?”

“Thi-ki-i-beng pernah menggegerkan dunia persilatan dan kiranya di dunia ini hanya seorang saja yang memilikinya, yaitu Cia Keng Hong.”

“Ahhh, Supek (Uwa Guru)? Memang, menurut penuturan Ibu, Cia-supek adalah seorang sakti yang jarang ada tandingannya.”

“Ibumu benar. Dan kesaktiannya itu terutama sekali karena dia memiliki Thi-ki-i-beng. Akan tetapi, pinto telah menciptakan sebuah daya sin-kang yang hendak pinto ajarkan kepadamu. Ilmu ini adalah kebalikan dari Thi-ki-i-beng. Kalau Thi-ki-i-beng mempunyai daya menyedot sin-kang lawan, maka ilmu ini mempunyai daya membetot sehingga kalau engkau sudah berlatih dengan sempurna, pukulan-pukulan beracun lawan dapat kauhindarkan dengan ilmu ini, juga mungkin, dalam hal ini pinto sendiri belum yakin benar, mungkin saja ilmu ini akan dapat menahan daya sedot Thi-ki-i-beng.”

Kun Liong menganggukkan kepalanya yang gundul.

“Maukah engkau berjanji kepadaku?”

“Tentu saja, Locianpwe.”

“Kelak, kalau ada kesempatan, engkau cobakanlah sin-kang ini untuk menahan Thi-ki-i-beng dari Cia Keng Hong. Maukah engkau?”

Kun Liong terkejut dan maklum betapa akan sulitnya mencoba ilmu sakti dari supeknya itu. Akan tetapi melihat betapa sikap kakek itu penuh gairah, diam-diam otaknya yang cerdik dapat menangkap bahwa agaknya bekas Ketua Hoa-san-pai ini sengaja menciptakan ilmu sin-kang ini untuk menghadapi Thi-ki-i-beng, bukan menghadapi sebagai musuh, melainkan hanya memuaskan hati sudah dapat memecahkan Thi-ki-i-beng yang tersohor di seluruh dunia persilatan. Maka dia tidak tega untuk menolak, benar-benar tidak tega, bukan karena inginnya mempelajari ilmu sin-kang itu.

“Teecu berjanji, Locianpwe.”

“Bagus! Nah mulai sekarang, kalau siang kaupergunakan untuk melatih kedua ilmu silat yang sudah mendekati kesempurnaan itu, kalau malam engkau pergunakan untuk melatih sin-kang ini.”

Mulai hari itu, Bun Hwat Tosu melatih sin-kangnya yang memiliki daya membetot itu kepada Kun Liong, yang menerimanya dan berlatih dengan amat tekun, kadang-kadang sampai tidak tidur semalam suntuk!

Demikianlah, lima tahun lewat dengan cepatnya, Kun Liong telah berusia lima belas tahun, menjadi seorang pemuda remaja yang bertubuh sedang dengan pinggang kecil dan dada lebar. Wajahnya tampan sekali, kadang-kadang kalau dia tersenyum dan menggerakkan alis malah kelihatan cantik karena mulut, mata dan gerakan dagunya mirip dengan ibunya. Gui Yan Cu seorang wanita yang amat cantik jelita. Dagunya yang amat meruncing itu kadang-kadang tampak lembut seperti wanita, akan tetapi kadang-kadang mengeras dengan sedikit lekuk membayangkan kekuatan kemauan yang tak tertundukkan. Sinar matanya yang kadang-kadang lembut seolah-olah wataknya lemah dan cengeng, akan tetapi kadang-kadang sinar matanya membayangkan cahaya kilat yang menyeramkan, keras dan tajam menembus jantung. Matanya lebar, kepalanya yang masih tetap gundul itu bundar dan dahinya lebar. Alisnya berbentuk golok, hidungnya mancung dan mulutnya agak kecil. Mungkin karena selama lima tahun hidup di samping seorang kakek tua renta, seorang tosu yang mengutamakan kesederhanaan dan kewajaran, maka pakaian Kun Liong juga sederhana sekali, demikian pula dalam gerak-geriknya tampak kesederhanaan dan kewajaran, sungguhpun kadang-kadang bersinar dan mulutnya tersenyum penuh kenakalan.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: