Petualang Asmara (Jilid ke-8)

“Kun Liong, sudah saatnya pinto mengakhiri hubungan di antara kita. Lima tahun telah lewat seperti yang pinto janjikan dan pinto telah berusaha sebaik mungkin untuk menurunkan ilmu-ilmu yang tertinggi yang pinto miliki kepadamu. Mulai saat ini, kita berpisah dan engkau boleh mengambil jalan hidupmu sendiri. Pinto tidak menganjurkan atau memaksamu, akan tetapi sebaiknya kalau engkau kembali kepada orang tuamu agar mereka tidak gelisah memikirkan kepergianmu. Nah, selamat berpisah!”

Tanpa menanti jawaban Kun Liong yang sudah menjatuhkan diri berlutut, kakek itu melangkah pergi meninggalkan lereng Gunung Teratai Biru. Sampai beberapa lama Kun Liong tetap berlutut, menekan keharuan hatinya. Betapapun juga, selama lima tahun dia tinggal di kuil bersama gurunya, berlatih silat di samping melayani gurunya, mencari kebutuhan mereka sehari-hari. Selama lima tahun itu hubungannya dengan guru yang tidak mau diakui sebagai guru itu, berjalan baik sehingga ada pula ikatan batin antara dia dan gurunya dan begitu gurunya pergi, Kun Liong merasa terharu dan merasa betapa sunyi dan tidak menyenangkan tempat yang indah itu!

Dia bangkit berdiri, memandang ke sekelilingnya dan menghela napas panjang. Terngiang di telinganya ucapan Bun Hwat Tosu ketika bicara dengannya mengenai keindahan, ketika dia memuji keindahan tamasya alam di situ.

“Memang indah sekali tamasya alam di sini, Kun Liong. Akan tetapi apakah engkau kira hanya di sini saja yang indah pemandangan alamnya? Di manapun juga, di dalam kota yang ramai dan sibuk, di dusun-dusun yang kotor dan miskin, di mana saja adalah indah kalau orang yang melihatnya berada dalam keadaan bebas pikirannya. Keindahan terasa dan tampak oleh orang yang tidak terganggu pikirannya. Akan tetapi sekali pikiran manusia kemasukan hal-hal yang menimbulkan suka atau duka sehingga pikiran itu menjadi penuh sesak, mata tidak akan dapat melihat lagi keindahan di sekelilingnya. Yang bersenang-senang akan buta oleh kesenangannya, yang berduka akan buta oleh kedukaannya!”

Sebagai seorang pemuda tanggung lebih mudah bagi Kun Liong untuk memenuhi kebutuhan perutnya dengan jalan bekerja di sepanjang perjalanannya. Dia membantu para pelancong membawakan barang-barangnya, adakalanya membantu penebang kayu dan akhirnya dia membantu tukang perahu muatan di sepanjang Sungai Huang-ho. Dengan cara ini, akhirnya dia sampai juga ke Leng-kok. Tidak ada seorang pun yang mengenal pemuda tanggung yang berkepala gundul ini, karena lima tahun yang lalu, Kun Liong masih merupakan seorang anak kecil yang berpakaian indah dan berambut panjang hitam mengkilap! Sekarang dia merupakan seorang pemuda tanggung berkepala gundul, berpakaian sederhana dan agak butut, mukanya agak kurus dan gerak-geriknya sederhana.

Bahkan Liok Siu Hok, kakek yang sudah tua itu sama sekali tidak mengenal cucu keponakannya ini ketika Kun Liong berdiri di depan toko citanya. Disangkanya hanya seorang tamu yang hendak berbelanja, sungguhpun dia memandang heran melihat seorang pemuda aneh, disebut hwesio akan tetapi biarpun gundul pakaiannya bukan seperti pendeta, kalau bukan hwesio mengapa kepalanya gundul? Barulah dia kaget ketika Kun Liong memberi hormat dan berkata,

“Kukong (Paman kakek), apakah Kukong tidak mengenal padaku? Aku adalah Kun Liong.”

Mata tua yang terbelalak itu makin melebar, kemudian mata itu mengenal wajah di bawah kepala gundul. “Aihhhh… Kun Liong… engkau…?” Tergopoh-gopoh dan membongkok-bongkok Kakek Liok Siu Hok keluar dari tokonya memegang tangan Kun Liong dan menarik pemuda gundul itu masuk ke dalam rumah setelah memerintahkan seorang pegawai untuk menjaga toko.

“Engkau ke mana saja? Dan mengapa kepalamu…?”

“Kukong, aku tadi pulang ke rumah. Kenapa rumahku ditutup? Dan ke mana perginya Ayah dan Ibuku?” Kun Liong balas bertanya tanpa menjawab pertanyaan paman kakeknya.

“Aihhh… mengapa baru sekarang engkau pulang? Telah begitu lama… bertahun-tahun… aku sendiri tidak tahu ke mana perginya mereka setelah terjadi peristiwa hebat itu…”

“Kukong, apa yang telah terjadi?” Kun Liong bertanya.

Liok Siu Hok menyuruh cucu keponakannya minum teh yang disuguhkan pelayan, kemudian dia menceritakan semua yang terjadi semenjak Kun Liong pergi. Dia menceritakannya semua, tentang pengobatan gagal, tentang ditangkapnya Yap Cong San dan kemudian dibebaskan dengan paksa oleh Gui Yan Cu, dan betapa rumah keluarga Yap disita oleh pemerintah, toko obatnya ditutup. Ceritanya diselingi dengan tarikan napas panjang penuh penyesalan.

“Sayang ibumu terlampau keras hati, kalau menurut nasihatku, kita dapat menggunakan uang untuk membebaskan ayahmu dengan jalan halus sehingga tidak perlu mereka melarikan diri dan rumah mereka disita.”

Akan tetapi Kun Liong sudah tidak mendengarkan lagi karena dia telah menangis! Bukan main menyesal hatinya dan tampaklah dengan jelas sekarang betapa perbuatannya yang nakal dahulu itu telah menimbulkan malapetaka yang menimpa ayah bundanya! Ayah bundanya celaka karena dia! Kegagalan mengobati itu tentu karena tertumpahnya obat, ditumpahkan oleh Pek-pek, anjing peliharaan yang lari dikejar dan ditakut-takuti dengan mengikatkan kaleng-kaleng pada ekornya. Tentu ayahnya ditahan karena gagal mengobati, dan ibunya telah membebaskan ayahnya. Karena itu, ayah bundanya terpaksa lari. Mereka menjadi orang-orang buruan, menjadi pelarian dan rumah serta toko disita pemerintah. Semua gara-gara dia!

“Sudahlah, Kun Liong, jangan menangis. Masih untung bahwa mereka itu dapat menyelamatkan diri dan bahwa engkau ternyata juga selamat. Ke mana saja engkau pergi dari mengapa kepalamu gundul? Apakah engkau masuk menjadi hwesio?”

Kun Liong menggeleng kepalanya. “Aku pergi belajar ilmu, Kukong, dan tentang kepalaku… aku baru senang gundul, begitulah. Sekarang aku hendak pergi menyusul ayah ibuku. Ke mana kiranya mereka pergi, Kukong?”

“Mana aku tahu? Mereka pergi tanpa memberi tahu dan semenjak itu, tak pernah memberi kabar. Aihhh, semenjak kecil ayahmu memang berdarah perantau dan petualang!” Kakek itu menarik napas panjang dan menggeleng kepalanya, kelihatan berduka sekali. “Dan engkau jangan pergi, biarlah menunggu saja di sini.”

“Tidak, Kukong. Sekarang juga aku akan pergi mencari ayah ibuku.” Kun Liong bangkit dari duduknya.

“Eh-eeehhh… nanti dulu, baru saja datang masa mau pergi lagi?”

“Biarlah, Kukong. Aku harus cepat dapat menemukan ayah bundaku.” Memang di dalam hatinya Kun Liong ingin segera menghadap ayah bundanya untuk menyatakan penyesalannya dan untuk minta ampun atas segala kesalahannya.

“Hemm, kau keras hati seperti ayahmu. Setidaknya engkau harus menerima bekal dariku, dan biar kusuruh carikan seekor kuda untukmu…”

“Tidak usah, Kukong. Aku dapat berjalan kaki, pula, tidak biasa menunggang kuda…”

“Aihhh, kalau begitu, kau harus membawa bekal uang, untuk keperluan di jalan.” Tanpa menanti jawaban, tergopoh-gopoh kakek itu lari ke dalam kamarnya dan tak lama kemudian dia sudah keluar membawa sebuah buntalan yang agak besar. “Terimalah ini, pakaian dan uang. Pakaian baru, mungkin agak kebesaran bagimu, akan tetapi ergkau sih, terburu-buru, kalau tidak tentu dapat kusuruh buatkan beberapa stel.”

Kun Liong tidak berani menolaknya, takut menyinggung perasaan paman kakeknya yang sudah tua itu. Dia menerima bungkusan dan mengangkat kedua tangan memberi hormat, mengucapkan terima kasih, kemudian meninggalkan rumah kakek itu yang mengantar sampai di depan toko sambil menarik napas berulang-ulang dan menggelengkan kepala dengan muka muram.

Setelah keluar dari kota Leng-kok, Kun Liong sejenak berdiri bingung. Ke mana dia hendak menuju? Ke mana harus mencari ayah bundanya yang menjadi orang pelarian? Ke Cin-ling-san, bisik hatinya. Tidak salah lagi dalam menghadapi kesukaran itu, tentu ayah bundanya pergi kepada supeknya, Cia Keng Hong, Ketua Cin-ling-pai di Gunung Cin-ling-san! Dengan langkah tegap dan hati mantap Kun Liong mulai melakukan perjalanan menuju ke Cin-ling-san. Dia belum pernah pergi ke tempat itu, akan tetapi ayahnya pernah menceritakan kepadanya di mana arah dan letaknya Cin-ling-san, tempat kediaman supeknya yarig dipuji-puji oleh ayahnya dan terutama ibunya itu.

Kun Liong dapat melakukan perjalanan cepat karena sekarang dia tidak perlu lagi menunda-nunda perjalanan untuk bekerja dan mencukupi kebutuhan perutnya. Bekal uang yang diterima dari kukongnya cukup banyak, bahkan lima stel pakaian dalam buntalannya itu cukup untuk dipakai ganti pakaiannya yang kotor dan sudah butut.

Beberapa pekan kemudian, karena hari sudah mulai gelap, dia berhenti di kota Taibun di sebelah selatan kota Tai-goan, di tepi Sungai Fen-ho. Pegunungan Cin-ling-san sudah tidak terlalu jauh lagi. Dia sudah tiba di sebelah utara kota Sian dan Pegunungan Cin-ling-san terletak di sebelah selatan kota Sian, memanjang ke barat.

Ketika dia mengikuti pelayan menuju ke sebuah kamar di losmen kecil kota Taibun, dia menjadi perhatian para tamu lain. Dengan acuh tak acuh Kun Liong melangkah terus biarpun dia maklum bahwa seperti biasa, kepala gundulnya yang menarik perhatian orang. Dia sudah terlalu biasa dengan hal ini sehingga tidak merasa mendongkol lagi seperti dahulu ketika mula-mula kepalanya menjadi gundul. Betapapun juga, dia melirik dengan muka terasa panas sekali ketika melihat bahwa di antara mereka yang memandangnya dengan senyum ditahan, tampak juga seorang dara remaja yang cantik manis. Biarpun dara itu cepat menutupi mulutnya dengan saputangan sutera ketika dia lewat, namun Kun Liong maklum bahwa seperti yang lain, tentu dara itu pun merasa lucu melihat seorang pemuda bukan pendeta berkepala gundul pelontos! Dia merasa malu dan juga jengkel. Kalau orang lain yang mentertawakannya masih tidak mengapa. Akan tetapi seorang dara remaja! Buruk benarkah kepalanya? Dia menghampiri meja di mana terdapat tempat air yang disediakan pelayan tadi, untuk mencuci muka. Melihat bayangan kepala gundulnya di dalam air, Kun Liong menyeringai dengan hati kesal. Celakanya, ketika dia menyeringai ini mukanya kelihatan makin tidak menyenangkan baginya, seolah-olah wajah berkepala gundul di dalam baskom air itu pun ikut-ikutan mengejek!

“Sialan kamu!” Dia memaki dan mencelupkan kepalanya ke dalam air baskom, sengaja membenamkannya lama-lama untuk menghukum muka yang mengejeknya itu sampai akhirnya terpaksa diangkatnya kembali mukanya dari dalam air dengan napas terengah-engah! Digosoknya muka dan kepala gundulnya kuat-kuat dengan saputangan. Air baskom sudah diam lagi sehingga dapat menampung bayangannya. Akan tetapi bayangan muka dan kepala yang kemerahan karena digosok kuat-kuat itu makin menyebalkan hatinya.

“Biarlah dia tertawa sampai mulas! Kepala dan mukaku sudah begini, siapa peduli?” Pikiran ini agak mendinginkan hatinya, akan tetapi dia masih merasa sebal dan melempar tubuhnya ke atas pembaringan.

Terbayanglah wajah yang ayu, lesung pipit yang manis kalau wajah itu tertawa, dan terdengarlah seperti bisik-bisik di telinganya, “Tidak buruk, bahkan kelihatan bersih sekali. Yang banyak rambutnya mungkin malah penuh kutu. Hi-hik!”

Ahhh, Li Hwa memang seorang dara yang ayu manis! Mungkin satu-satunya anak perempuan yang tidak membenci gundulnya, yang tidak mentertawakan gundulnya! Di manakah anak itu sekarang? Tentu sudah menjadi seorang dara remaja yang cantik! Dan tentu lihai bukan kepalang, karena dara itu adalah murid dari The Hoo, panglima yang kabarnya memiliki kesaktian seperti dewa itu ! Kun Liong menarik napas panjang, agak kecewa. Dia sadar dan kaget. Aihh, mengapa dia kecewa? Mengapa dia seperti menyesal dan berduka begitu teringat bahwa Li Hwa adalah murid The Hoo?

Dia bangkit duduk dan termenung, meneliti diri sendiri. Ada apa dengan dia? Tadi, bayangan wajah Li Hwa, gema suara dara itu membuatnya gembira dan senang karena anak perempuan itu tidak mencela kepala gundulnya. Akan tetapi mengapa tanpa disadarinya, tiba-tiba dia menarik napas panjang dengan penuh sesal dan kecewa?

“Wah, apakah aku tiba-tiba merasa iri hati?” demikian celanya. Tidak, bukan iri hati karena anak itu menjadi murid seorang sakti, karena dia sendiri juga telah diajar ilmu silat oleh Bun Hwat Tosu yang juga bukan manusia sembarangan. Habis mengapa? Karena putus harapan, melihat kedudukan Li Hwa terlalu tinggi untuk dia? Terlalu tinggi untuk apa? Pertanyaan ini seperti mengejek dan kembali Kun Liong merasa bimbang dan jengkel.

“Plakk!” Kepala gundulnya ditamparnya sendiri. “Uhhh! Tolol benar! Tentu saja terlalu tinggi untuk menjadi temanmu. Habis apa lagi? Dan masih belum tentu lagi! Yang berteman bukan gurunya melainkan dia. Kalau memang dia mau berteman dengan aku, siapa berhak melarang? Dan kalau dia… wah celaka, aku sudah gila!” Kun Liong terbelalak. “Plakk!” Gundulnya menjadi sasaran tangannya lagi. “Apa-apaan ini mengenang dan bicara sendiri tentang Li Hwa sedangkan gadis itu tidak berada di sini? Tolol!”

Setelah menempiling gundulnya sekali lagi, Kun Liong tidur pulas!

Dua jam kemudian dia terbangun oleh rasa laparnya. Cepat dia mencuci muka lagi, membawa bekal uang dan keluar dari losmen untuk mencari makanan. Melihat sebuah restoran cukup besar tak jauh dari losmen, dia segera melangkah masuk. Seorang pelayan menyambutnya.

“Apakah Siauw-suhu (pendeta cilik) hendak makan? Maaf, di sini tidak disediakan makanan ciak-jai (sayur tanpa daging), harap Siauw-suhu mencari di warung lain saja.”

Kun Liong menelan ludah berikut kata-kata makian yang sudah berada di ujung lidah. Setelah kemarahannya tertelan, dia berkata, “Aku bukan hwesio!”

“Ahh, maaf… Tuan. Apakah Tuan hanya sendiri? Sayang meja telah penuh semua, kecuali kalau Tuan suka makan dengan membonceng di meja tamu lain…”

Kun Liong mendengar suara ketawa ditahan dan cepat dia nenoleh. Benar saja! Gadis remaja di losmen tadi yang kini lagi-lagi mendekap mulut dengan saputangan suteranya, menahan suara ketawa biarpun pundaknya bergoyang-goyang! Dan dua orang laki-laki yang duduk semeja dengan nona muda itu juga tersenyum. Seorang di antara mereka, yang usianya kurang lebih empat puluh tahun, segera mengangkat tangan berkata kepada pelayan yang sedang longak-longok mencarikan tempat duduk untuk Kun Liong. “He, bung pelayan! Biarlah Tuan muda itu duduk makan bersama kami, meja kami masih kosong!”

Pelayan itu tertawa lebar, mengajak Kun Liong menghampiri meja itu dan membungkuk mengucapkan terima kasih kepada orang yang menawarkan tempat duduk untuk Kun Liong itu, kemudian Si Pelayan menoleh kepada Kun Liong, bertanya, “Tuan hendak memesan makanan apa?”

“Ahh, tambah saja makanan yang kami pesan untuk seorang lagi. Dia menjadi tamu kami!” kata seorang laki-laki yang ke dua dengan suara ramah. Si Pelayan mengangguk-angguk kemudian pergi.

Kun Liong masih berdiri di dekat meja mereka. Dua orang laki-laki itu kelihatan peramah. Yang tua berusia empat puluh tahun, orang ke dua kurang lebih tiga puluh tahun, sedangkan dara remaja yang ternyata bermuka segar dengan sepasang pipi kemerahan, sepasang mata yang membayangkan kelincahan dan kejenakaan itu tentu tidak akan lebih dari dia sendiri. Mungkin baru empat belas tahun. Akan tetapi seperti dua orang laki-laki itu, dara remaja itu pun membawa sebatang pedang di punggungnya!

Melihat dari sinar mata dan sikap dua orang laki-laki itu ramah dan bersungguh menawarkan tempat untuknya, dan betapa dara remaja itu sudah tidak tertawa dan geli lagi, dia pun mengangguk dan berkata sederhana, “Terima kasih!” Kemudian duduk di atas bangku dekat meja, berhadapan dengan dara remaja itu.

Sepasang pipi Kun Liong masih tampak kemerahan karena tadi menahan kemarahan terhadap pelayan yang menyebutnya pendeta cilik. Melihat ini, laki-laki yang berusia tiga puluh tahun, berkata,

“Pelayan itu mengeluarkan kata-kata yang tidak menyenangkan, akan tetapi dia tidak sengaja, harap saja tidak dipusingkan lagi.”

Kun Liong mengangguk tanpa menjawab. Matanya mengerling kepada dara remaja di depannya dan ternyata gadis kecil itu memandang kepadanya penuh perhatian secara terbuka, tidak seperti dara-dara lain yang dijumpainya di dalam perjalanan yang selalu memandang kepada pria dengan cara sembunyi-sembunyi, bahkan memandangi gundulnya pun mereka lakukan dengan sembunyi. Kini dara ini tidak saja menatap wajahnya dengan sepasang mata yang jeli dan terang-terangan, bahkan agaknya mengagumi kepalanya yang gundul. Terlalu sekali! Dia menjadi malu dan terpaksa menundukkan muka seperti seorang kanak-kanak yang melakukan sesuatu yang terlarang.

Melihat ini laki-laki yang tertua berkata dengan suara menghibur, “Harap saja Siauw-suhu tidak usah malu karena sekarang banyak saja hwesio yang melepaskan pantangan makan daging dan minum arak, dan…”

“Saya bukan hwesio!” Tiba-tiba Kun Liong memotong dan suaranya agak kaku karena dapat dibayangkan betapa sebal hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa orang yang disangkanya ramah ini pun ternyata menduga dia seorang pendeta cilik! Mengertilah ia sekarang mengapa dia menjadi bahan tertawaan. Tentu dia disangka seorang hwesio yang sengaja menyamar dengan pakaian biasa agar dapat leluasa makan daging, minum arak, lupa kepada kepalanya yang gundul! “Saya bukan hwesio, apalagi hwesio yang pura-pura suci tapi diam-diam menyamar untuk dapat makan daging dan minum arak!”

Tiga orang itu saling pandang dengan mata terbuka lebar, dan tiba-tiba dara itu pun tak dapat menahan ketawanya. Biarpun dia cepat menutupi mulutnya dengan saputangan sutera hijaunya, namun masih tampak oleh Kun Liong betapa sepasang bibir yang merah itu terbuka, memperlihatkan rongga mulut yang lebih merah lagi dengan deretan gigi putih mengkilap.

“Brakkk!” Kun Liong menggebrak meja di depannya dengan kedua telapak tangannya, tidak terlalu keras akan tetapi cukup menyatakan kemendongkolan hatinya. “Mengapa engkau mentertawakan aku?” Berbeda dengan sikapnya kepada laki-laki itu, dengan kata-kata cukup sopan biarpun penasaran, terhadap dara ini yang dianggapnya tidak lebih tua dari dia. Kun Liong bersikap kasar dan biasa saja, apalagi karena dia marah mengira nona muda itu mentertawakannya.

Dara itu memandang Kun Liong, makin geli melihat pemuda remaja gundul itu marah-marah sehingga dari dekapan saputangannya masih terdengar kekehnya.

“Aihh, harap suka maafkan sumoi yang masih muda dan suka bergurau,” laki-laki tertua berkata, kemudian dia menoleh kepada dara remaja itu sambil berkata, “Sumoi, sudahlah jangan tertawa dan menimbulkan salah paham.”

Laki-laki ke dua juga berkata, “Maafkanlah kami yang salah menduga karena sesungguhnya kami mengira bahwa engkau adalah seorang hwesio muda.”

Dara remaja itu menurunkan saputangannya dan biarpun mulutnya tidak tersenyum lagi, akan tetapi sepasang matanya bersinar-sinar nakal, mulutnya cemberut karena dia ditegur suhengnya, lalu dia berkata sambil mengerling ke arah Kun Liong, “Salahnya sendiri! Orang semuda dia memakai potongan gundul, mana pantas? Sepatutnya dia memelihara rambut seperti orang muda pada umumnya.”

“Ada hak apakah engkau hendak mengurus kepala dan rambut orang? Ini adalah kepalaku sendiri, hendak kugundul, atau kupelihara rambut sampai ke kaki, peduli apa engkau? Kalau kau hendak mengatur kepalaku, aku pun bisa saja bilang bahwa kau tidak pantas mengatur rambutmu seperti itu, pantasnya engkau gundul seperti aku!”

“Ihhh…!” Dara remaja itu melompat berdiri dari bangkunya dan meraba gagang pedangnya. “Engkau… engkau menghina, ya?” bentaknya.

“Nah, itu! Kepala orang untuk main-main sesukanya, dibalas satu kali saja sudah mau mengamuk!”

“Gundul plontos! Kapan aku main-main dengan kepalamu?”

“Sumoi! Jangan lancang, simpan pedangmu!” Laki-laki tertua membentak sumoinya dan anak perempuan itu sudah menyarungkan kembali pedangnya, duduk di atas bangku dan cemberut, akan tetapi memandang kepada Kun Liong dengan mendelik.

Kun Liong bingung juga. Memang kalau dipikir, dara remaja ini tidak pernah main-main dengan kepalanya! Akan tetapi karena sudah terlanjur, dia menjadi nekat dan berkata, “Sudah dua kali engkau mentertawakan kepalaku, di losmen tadi dan di sini…”

“Hemm, apakah kalau aku tertawa itu berarti mempermainkan gun… eh, anumu? Apakah kalau aku hendak tertawa harus minta ijin lebih dulu darimu? Begitukah?”

Kun Liong termangu, tak dapat menjawab lagi. Dara ini ternyata pandai berdebat dan dia sudah didesak ke sudut.

“Sudahlah, Laote (Adik), harap maafkan kami. Nah, makanan sudah datang, mari kita makan. Silakan!”

Akan tetapi Kun Liong sudah bangkit berdiri, menjura kepada dua orang laki-laki itu sambil berkata, “Harap Ji-wi twako (Kedua Kakak) sudi memaafkan saya. Setelah saya diundang makan oleh Ji-wi yang ramah, saya malah marah-marah, hal ini amatlah kurang ajar, bagaimana siauwte (adik) berani menerimanya? Maafkanlah!” Kun Liong mundur, mengangguk dan melangkah keluar dari restoran itu.

“Sian-sumoi, jangan!”

Kun Liong yang mendengar suara laki-laki tertua mencegah sumoinya ini, tidak menoleh. Jadi namanya pakai huruf Sian, ya? Hemm, anak perempuan yang sombong! Awas kau, ya? Eh, mengapa awas? Dia mau apa? Ingin Kun Liong menampar kepalanya sendiri, untung dia teringat bahwa banyak mata mengikutinya ke luar dari restoran itu. Tak lama kemudian dia memasuki restoran lain tak jauh dari situ, restoran yang lebih besar. Seorang pelayan menyambutnya dan cepat Kun Liong mendahuluinya berkata, “Aku bukan hwesio. Aku mau pesan makanan dan minuman yang terbaik!”

Pelayan itu tercengang, menatap gundulnya, kemudian tersenyum lebar dan dengan ramah mempersilakannya duduk. Di restoran ini masih banyak meja kosong dan Kun Liong duduk sendiri menghadap meja, tidak peduli akan pandang mata para tamu yang sedang makan minum di ruangan itu. Karena tidak mengenal nama-nama masakan, apalagi yang mahal-mahal dan yang tidak pemah dimakannya, dia memesan yang mudah saja, yaitu nasi, bakmi, daging panggang dan arak! Mulailah dia makan dengan lahapnya karena memang perutnya sudah lapar sekali. Tidak ingat lagi dia kepada tiga orang di restoran tadi, sungguhpun suara dara remaja yang bernama Sian itu masih mengiang di telinganya.

“Yakinkah engkau bahwa mereka adalah kaki tangan pemerintah?” Suara ini halus dan kata-katanya teratur baik, bukan suara orang-orang kasar.

“Tentu saja yakin, Ouw-twako. Mereka bertiga sebetulnya adalah murid-murid Pendekar Gak Liong di Secuan, dan Pendekar Gak adalah murid keponakan orang she The itu. Bahkan yang termuda, Nona Hwi Sian, biarpun usianya baru belasan tahun pernah menewaskan seorang anggauta kami. Inilah saatnya Twako membuat jasa untuk Kwi-eng-pai.”

“Hemm, mudah saja. Cantikkah nona itu?”

“Aih, Twako hanya memikirkan wanita cantik saja. Nona itu cantik jelita, hanya usianya baru empat belas tahun.”

“Ha, lebih muda lebih menyenangkan. Benar mereka berada di restoran itu?”

“Benar, aku melihat mereka masuk tadi.”

“Hayo, tunggu apa lagi? Kita datangi mereka.”

“Jangan, Twako. Kota ini cukup besar dan karena mereka masih kaki tangan orang she The, tentu pembesar setempat akan membela mereka dan kalau dikerahkan pasukan rencana kita bisa gagal. Sebaiknya kita membayangi mereka dan kalau mereka berada di tempat sunyi…”

“Sssttt… cukup. Mari minum!”

Diam-diam Kun Liong terkejut bukan main. Tadinya dia tidak tertarik akan percakapan dua orang yang duduk di meja sebelah belakangnya itu, akan tetapi ketika mereka menyebut-nyebut nama Hwi Sian, nona yang berusia empat belas tahun, segera dia teringat kepada dara remaja bernama Sian yang tadi cekcok dengan dia. Apalagi mendengar disebutnya Kwi-eng-pai, dia teringat akan anak buah Si Bayangan Hantu yang menculik Li Hwa. Bukankah Kwi-eng-pai berarti Perkumpulan Bayangan Hantu dan besar kemungkinannya adalah orang-orang yang dahulu menculik Li Hwa? Dan isi percakapan tadi sungguh mencurigakan sekali.

“Traakkk…” Sebuah di antara sumpit Kun Liong terjatuh, menggelinding di bawah mejanya. Tentu saja hal ini dia sengaja dan dia sudah merangkak ke kolong meja mengambil sumpitnya. Kesempatan ini dia pergunakan untuk berpaling dan memandang kepada dua orang yang duduk di sebelah belakangnya. Betapa kagetnya ketika dia mengenal dua orang itu. Yang seorang adalah seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun, berwajah tampan. Berpakaian seperti seorang sastrawan kaya, yang dikenalnya sebagal Ouw Ciang Houw sastrawan yang dahulu pemah ikut di perahunya, kemudian memperkosa isteri guru silat Gui Tong yang kemudian mengakibatkan kematian suami isteri itu! Adapun orang ke dua adalah seorang laki-laki yang usianya lebih tua beberapa tahun, berpakaian serba kuning yang dikenalnya sebagai pemimpin gerombolan atau Ketua Ui-hong-pang di lembah Sungai Huang-ho, yang menculik Li Hwa! Tidak salah dugaannya. Teringat dia betapa orang ini, kalau tidak salah bernama Kiang Ti dan menurut Bun Hwat Tosu adalah murid kepala Si Bayangan Hantu, dengan Ilmu Pukulan Hek-tok-ciang telah menghantam Bun Hwat Tosu akan tetapi yang akibatnya payah bagi orang ini sendiri. Kini, dua orang jahat itu telah bersekutu agaknya dan mempunyai niat yang tidak baik terhadap nona bernama Sian yang agaknya lengkapnya bernama Hwi Sian itu dan dua orang suhengnya (kakak seperguruannya)! Menghadapi hal ini, berdebar jantung Kun Liong dan lupa lagi dia akan percekcokannya dengan dara remaja itu. Dia menekan perasaannya dan dengan tenang dia lalu membayar makanannya, keluar dari rumah makan dan diam-diam dia membayangi nona muda dan dua orang suhengnya itu untuk melindungi mereka!

Semalam suntuk Kun Liong tidak tidur! Dia melakukan penjagaan dengan diam-diam, siap untuk melindugi tiga orang yang menurut pendengarannya tadi adalah masih cucu keponakan murid dari “orang she The” yang diduganya tentulah Panglima Besar The Hoo, mengingat bahwa panglima itu dimusuhi oleh Si Bayangan Hantu seperti yang diceritakan oleh Bun Hwat Tosu kepadanya. Akan tetapi, tidak terjadi sesuatu di malam hari itu kecuali dia sendiri yang dikeroyok nyamuk karena melakukan penjagaan di luar kamar. Akan tetapi Kun Liong tidak menyesal, bahkan merasa lega bahwa pagi-pagi sekali tiga orang itu sudah berangkat pergi meninggalkan losmen. Dia pun segera membayar uang sewa kamar, kemudian dengan diam-diam dia terus membayangi tiga orang itu yang keluar dari kota Taibun menuju ke timur!

Biarpun Kun Liong mempunyai tujuan perjalanan ke selatan, akan tetapi pada saat itu dia sama sekali tidak ingat akan hal ini dan terus membayangi tiga orang itu keluar dari kota dan tak lama kemudian mereka melalui sebuah hutan yang sunyi di kaki Pegunungan Thai-hang-san. Tiga orang itu melakukan perjalanan tidak tergesa-gesa dan di sepanjang jalan mereka bersenda-gurau, atau lebih tepat lagi, dara remaja itu yang selalu mengajak kedua orang suhengnya untuk bersenda gurau. Dilihat dari jauh, jelas bahwa dara itu memang berwatak lincah gembira, dan diam-diam ada juga dugaan di dalam hati Kun Liong bahwa dara remaja itu bergurau tentang kepala gundulnya!

Tiba-tiba terjadilah seperti yang diduganya. Lima orang meloncat keluar dari balik batang pohon! Mengapa lima orang? Kun Liong dapat menyelinap di antara pohon-pohon dan bersembunyi, mengambil keputusan untuk tidak turun tangan membela sebelum tenaganya dibutuhkan. Dia maklum bahwa tiga orang yang “dilindungi” itu adalah orang-orang yang pandai ilmu silat dan pandai pula menjaga diri. Yang membuat dia heran adalah lima orang yang muncul itu. Mengapa di antara mereka tidak ada Kiang Ti dan Ouw-siucai (Sastrawan Ouw) yang cabul? Atau barangkali lima orang ini adalah anak buah Ui-hong-pang yang disuruh turun tangan lebih dulu?

“Siapakah kalian? Apakah perampok-perampok buta yang tidak melihat orang?” Dara remaja itu sudah membentak dan berdiri dengan sikap gagah, sedikitpun tidak kelihatan takut sehingga mengagumkan hati Kun Liong. Pemuda gundul ini pun memandang dengan penuh perhatian kepada lima orang itu. Mereka ini semua berpakaian serba putih seperti orang-orang berkabung. Mendengar pertanyaan dara itu, lima orang tadi menggerakkan kedua tangan.

“Singgg…!” Lima batang golok besar tercabut mengeluarkan suara berdesing dan tangan kiri mereka masing-masing telah mengeluarkan sebuah benda berwarna biru sebesar telapak tangan yang mereka pasangkan di baju mereka sebelah kiri depan dada. Kini tampaklah oleh Kun Liong bahwa benda itu adalah sebuah ukiran bunga teratai putih pada dasar biru. Perkumpulan Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih)!

“Aihh, kiranya Ngo-wi (Tuan Berlima) dari Pek-lian-kauw? Ada maksud apakah Ngo-wi menghadang perjalanan kami tiga saudara?”

“Hemm, perlukah kalian masih bertanya lagi?” Seorang di antara lima orang itu, yang berjenggot panjang dan bermata sipit sekali berkata, “Bukankah kalian bertiga adalah tiga pendekar dari Secuan, murid-murid Gak Liong dan kalian membantu pemerintah memusuhi kami?”

Laki-laki tinggi kurus itu kini berdiri tegak di dekat sumoinya dan berkata dengan suara lantang, “Benar! Aku bernama Poa Su It, ini suteku Tan Swi Bu, dan sumoiku Lim Hwi Sian. Kami bertiga adalah murid-murid Pendekar Gak di Secuan. Akan tetapi kami bukanlah orangnya pemerintah sungguh pun kami akui bahwa Suhu menugaskan kami untuk membantu Susiok-couw (Paman Kakek Guru) The Hoo untuk membersihkan negara dari para pengacau yang membuat negara kacau dan rakyat menderita!”

“Bagus! Karena itulah maka kami menghadang dan minta nyawa kalian!” Teriak orang Pek-lian-kauw yang berjenggot panjang dan ucapannya itu agaknya menjadi komando karena tiba-tiba lima orang Pek-lian-kauw itu sudah menyambit dengan tangan kiri, disusul gerakan mereka menerjang ke depan.

Tiga orang pendekar Secuan itu menggerakkan tubuh, dengan ringan sekali meloncat ke kanan kiri menghindarkan diri dari sambaran senjata rahasia yang berbentuk kuncup teratai itu, kemudian mereka pun sudah mencabut pedang masing-masing menghadapi para pengeroyok.

Kun Liong memandang kagum. Terutama sekali dia amat kagum menyaksikan dara remaja yang kini dia ketahui namanya, Lim Hwi Sian, menggerakkan pedangnya menghadapi seorang anggauta Pek-lian-kauw, sedangkan kedua orang suhengnya masing-masing dikeroyok dua oleh lawan. Dara remaja itu ternyata lihai limu pedangnya. Ketika dia melirik ke arah dua orang laki-laki yang dikeroyok empat orang Pek-lian-kauw, mengertilah ia mengapa dara remaja itu jauh lebih muda daripada kedua orang itu, menjadi adik seperguruan mereka, hal yang tadinya amat mengherankan hatinya. Kiranya ilmu pedang dara itu tidak kalah lihai oleh kedua orang suhengnya, dan bahkan dalam hal keringanan tubuh melebihi mereka. Mungkin dara itu kalah dalam hal tenaga saja.

Pertandingan itu tidak berlangsung lama, karena lima orang itu segera terdesak hebat. Terdengar seorang di antara mereka, mungkin Si Jenggot, mengeluarkan bunyi bersuit nyaring. Lima orang yang sudah menderita luka-luka goresan pedang itu membanting senjata di atas tanah dan terdengar ledakan-ledakan disusul asap putih tebal. Tiga orang pendekar Secuan cepat melompat ke belakang karena khawatir kalau-kalau terkena senjata rahasia atau asap beracun. Ketika mereka mengejar dengan jalan menghindari asap, ternyata lima orang itu telah lenyap.

Kun Liong bernapas lega. Tidak perlu dia turut campur. Untung dia tadi masih bertahan dan tidak muncul. Kalau dia muncul, melihat betapa dara remaja itu dan dua orang suhengnya dengan mudah dapat menghalau lawan, tentu dia akan mendapat malu dan bukan tidak mungkin dia akan menjadi bahan ejekan dara manis itu! Selain itu, dia sendiri belum tahu apakah dia akan mampu melawan seorang saja dari kelima anggauta Pek-lian-kauw tadi! Biarpun dia telah mendapat gemblengan dasar ilmu silat tinggi dari ayah bundanya, kemudian dilatih oleh Bun Hwat Tosu yang amat sakti, namun dia sendiri tidak dapat mengukur sampai di mana keampuhan ilmu yang dimilikinya dan tanpa bertanding menghadapi lawan, bagaimana dia mampu mengukur diri sendiri? Akan tetapi, dia amat benci akan perkelahian. Dia mempelajari ilmu bukan untuk berkelahi, melainkan untuk mencegah terjadinya kejahatan yang mengandalkan ilmu silat.

“Orang-orang Pek-lian-kauw sungguh menjemukan!” Lim Hwi Sian berkata sambil menyarungkan pedang dan mengebut-ngebutkan bajunya yang terkena debu.

“Mereka yang memusuhi orang-orang yang tidak berdosa, akan tetapi mereka selalu mengatakan bahwa pemerintah memusuhi mereka. Kalau mereka tidak memberontak, kiranya Susiok-cow tidak akan memerintahkan para pembantu untuk menentangnya dan Suhu tentu tidak menugaskan kita.” Tan Swi Bu juga berkata.

“Kata-kata yang baik!” Tiba-tiba terdengar suara orang dan tahu-tahu di situ telah muncul dua orang laki-laki yang tersenyum-senyum. Jantung Kun Liong berdebar tegang melihat dua orang yang memang dinanti-nantikan kemunculannya itu. Ouw Ciang Houw Si Sastrawan cabul dan Kiang Ti, Ketua Ui-hong-pang!

Melihat dua orang yang tidak terkenal akan tetapi yang muncul secara tiba-tiba membuktikan ilmu kepandaian mereka yang tinggi, tiga orang pendekar Secuan menjadi kaget. Lim Hwi Sian telah mencabut pedangnya dan membentak dengan suara nyaring, “Apakah kalian juga orang-orang Pek-lian-kauw?”

Ouw-siucai tersenyum lebar dan memandang Hwi Sian dengan sinar mata kagum penuh gairah. “Nona kecil yang manis dan pandai ilmu pedang, sungguh mengagumkan sekali!”

“Cih! Keparat bermulut lancang!” Hwi Sian sudah menyerang dengan tusukan pedangnya, akan tetapi dengan gerakan ringan Ouw-siucai miringkan tubuhnya dan mendorong pundak dara itu sehingga terhuyung ke depan.

“Ihhhh… iblis keparat!”

“Sumoi, tunggu dulu!” Poa Sut It yang menyaksikan ketangkasan sastrawan itu, cepat mencegah sumoinya dan dia berkata kepada mereka, “Melihat pakaian dan sikap Ji-wi, agaknya Ji-wi bukan dari Pek-lian-kauw. Siapakah Ji-wi dan ada keperluan apakah dengan kami?”

“Ha-ha-ha-ha!” Kiang Ti tertawa bergelak. “Kalian adalah kaki tangan The Hoo seperti yang kami dengar dalam percakapan kalian dengan orang-orang Pek-lian-kauw tadi, dan karena itulah maka kalian harus kami bunuh, kecuali nona ini yang sudah lancang membunuh seorang anggota kami, maka dia harus menebus dosa di dalam tangan Ouw-siucai, ha-ha-ha!”

Kun Liong merasa sebal mendengar ini dan kini dia mengerti mengapa Ketua Ui-hong-pang itu yang usianya lebih tua menyebut twako (kakak) kepada Ouw-siucai, agaknya untuk menghormat karena dia membutuhkan tenaga bantuan siucai cabul itu. Diam-diam dia ingin sekali keluar dan membuka kejahatan mereka, akan tetapi dia takut menjadi bahan ejekan Hwi Sian, juga dia ingin melihat apakah tiga orang itu sanggup menghadapi dua orang ini yang agaknya lebih lihai daripada kelima orang Pek-lian-kauw tadi, maka dia tetap bersembunyi sambil menonton penuh perhatian.

Poa Sut It dan kedua orang adik seperguruannya memandang kepada Kiang Ti dengan tajam, kemudian terdengar Hwi Sian membentak, “Kiranya engkau orang Ui-hong-pang, kaki tangan iblis betina Si Bayangan Hantu!”

“Bocah lancang mulut!” Kiang Ti membentak. “Engkau berani memaki guruku? Aku adalah Ketua Ui-hong-pang!” Berkata demikian, dia sudah menubruk maju untuk menyerang Hwi Sian.

“Eiiit, ingat, dia untukku, Kiang-pangcu (Ketua Kiang)!” Ouw-siucai berkata dan menghadang sehingga Ketua Ui-hong-pang itu kini menggunakan kedua tangannya untuk menyerang Poa Sut It dan Tan Swi Bu. Dua orang ini melihat pukulan yang hebat dari tangan yang berubah menghitam, maklum bahwa pukulan yang ini tidak boleh dipandang ringan, mereka cepat mengelak kemudian memutar tubuh membalas dengan serangan pedang mereka dari kanan kiri. Kiang Ti terkejut sekali melihat berkelebatnya dua sinar pedang yang amat cepat itu, dari kiri menyambar ke arah lehernya sedangkan sinar pedang dari kanan menyambar ke arah kaki. Tidak ada jalan lain baginya kecuali meloncat ke belakang dengan cepat, menjatuhkan diri bergulingan sampai beberapa meter jauhnya. Ketika dia meloncat lagi, tangan kanannya telah memegang senjatanya yang tadinya dililitkan di pinggang, yaitu sebatang rantai baja lemas yang ujungnya dipasangi bola baja. Mukanya agak pucat karena serangan kedua orang lawannya tadi benar-benar amat dahsyat.

“Hiaaaattt!” Ketua Ui-hong-pang ini mengeluarkan pekikan panjang dan dia sudah menerjang maju sambil memutar senjata rantai bajanya.

“Cring! Tranggg!!” Dua orang lawannya menangkis dengan pedang sehingga tampak bunga api berpijar ketika senjata rantai itu bertemu dengan pedang-pedang itu. Selanjutnya terjadilah pertandingan yang seru antara mereka, namun segera rantai baja terhimpit dan terdesak oleh kedua sinar pedang, membuat Kiang Ti terpaksa harus mengeluarkan seluruh tenaganya dan sebentar saja dia sudah mandi keringat.

Hati Kun Liong merasa lega ketika dia melihat keadaan kedua orang suheng dari Hwi Sian itu karena dia maklum bahwa keadaan mereka tidak perlu dikhawatirkan. Akan tetapi ketika dia melihat keadaan Hwi Sian sendiri, dia terkejut dan diam-diam dia mencari tempat pengintaian yang lebih dekat. Biarpun ilmu pedang dara itu amat tangkas, namun ternyata dia bukanlah tandingan Ouw-siucai atau Ouw Ciang Houw yang amat lihai. Sambil tersenyum-senyum sastrawan cabul itu mempermainkan Hwi Sian, dengan tangan kosong menghadapi pedang dara remaja itu, mengelak ke sana ke mari sambil mengejek dan menggoda,

“Aih, luput lagi, Nona manis! Kalau marah begini engkau bertambah cantik saja. Aihhh, tidak kena! Wah, kedua pipimu menjadi merah jambon, ingin aku menciumnya!”

Ketika pedang menyambar ke dada, siucai itu membuat sedikit gerakan dan pedang itu telah dijepitnya di bawah lengan, kemudian ia mendekatkan mukanya hendak mencium pipi Hwi Sian sambil memperdengarkan suara menyedot.

“Biadab…!” Hwi Sian memaki dan menarik tubuh atasnya ke belakang sambil menendangkan kakinya ke arah perut lawan dan menarik pedangnya dengan sepenuh tenaganya.

“Wahhh, galaknya! Makin galak makin menyala!” Ouw-siucai melepaskan pedang yang dijepit lengan, kemudian menyambar kaki yang menendang. Nyaris kaki itu tertangkap, akan tetapi ternyata Hwi Sian cukup cerdik dan sebelum kakinya tertangkap pedangnya sudah membabat dari samping ke arah tangan yang hendak menangkap kakinya. Ketika lawan menarik tangannya, dia pun meloncat ke belakang dengan muka merah sekali, siap untuk bertanding mati-matian karena dia maklum bahwa lawannya benar-benar amat lihai.

“Ouw-twako… lekas robohkan dia dan bantulah aku…” Terdengar Kiang Ti berseru minta bantuan kepada temannya.

“Ha-ha-ha, baiklah, Kiang-pangcu. Nah, kau tidurlah dulu, Nona manis, nanti aku menemanimu!” Sambil berkata demikian, Ouw Ciang Houw menerjang dengan hebat sekali, menggunakan jari-jari tangannya untuk menotok dengan sasaran jalan-jalan darah di tubuh nona itu. Repot sekali Hwi Sian mengelak dan melindungi tubuh dengan pedang, namun dia terdesak hebat dan agaknya tidak lama lagi benar-benar dia harus tidur dulu oleh totokan!

“Ouw-siucai sastrawan keparat!” Tiba-tiba Kun Liong melompat keluar dari tempat sembunyinya dan langsung dia mengulur tangan hendak menangkap dan mendorong pundak Ouw Ciang Houw. Gerakannya bukanlah serangan ilmu silat, hanya sekedar untuk menyuruh siucai itu mundur dan tidak mendesak Hwi Sian.

Melihat munculnya seorang pemuda tanggung berkepala gundul, Ouw Ciang Houw mengira seorang hwesio muda, maka dia cepat mengelak. Akan tetapi tanpa disadari sendiri oleh Kun Liong, pemuda itu telah memiliki gerakan yang amat luar biasa, karena hatinya ingin memegang pundak dan mendorong, otomatis gerakannya pun mengandung unsur Ilmu Silat Pat-hong-sin-kun yang dapat memotong jalan delapan penjuru, maka pengelakan itu sia-sia, tahu-tahu pundak siucai itu dapat didorongnya sehingga tubuh Ouw-siucai terhuyung ke belakang!

“Ehhh…!” Ouw-siucai berseru kaget bukan main karena dia sendiri tidak tahu bagaimana elakannya sampai gagal, hanya dia merasa lega bahwa tenaga dorongan “hwesio” muda itu ternyata tidaklah begitu hebat. “Hwesio busuk dari mana berani berlancang tangan mencampuri urusanku?” Bentaknya sambil memandang dengan mata mendelik kepada Kun Liong.

Kalau saja tidak disebut hwesio, masih mending akan tetapi kini bahkan disebut hwesio busuk, tentu saja perut Kun Liong terasa panas dan sepasang matanya memandang dengan sinar mata bercahaya aneh dan tajam menusuk sehingga Ouw-siucai sekali lagi terkejut setengah mati. Mata itu tiba-tiba menjadi mata setan, pikirnya serem.

“Engkau ini orang sastrawan, akan tetapi berwatak cabul, genit, dan tersesat. Apakah engkau hendak mengulangi perbuatanmu yang biadab di perahu itu, lima tahun yang lalu?” Kun Liong menegur. “Bukankah banyak kitab kuno yang kaubaca, yang mengajar bagaimana orang harus hidup benar? Sudah lima tahun belum bertobat, belum sadar malah makin gila!”

Untuk ke tiga kalinya siucai itu terkejut dan heran. “Siauw-suhu dari kuil dan golongan mana? Harap tidak mencampuri urusan ini karena urusan ini adalah persoalan pribadi dan permusuhan dari kedua golongan!”

Makin mendalam kerut alis Kun Liong, apalagi ketika mendengar suara ketawa tertahan di belakangnya. Dia sudah hafal benar suara ketawa tertahan dari Hwi Sian itu!

“Aku bukan dari kuil dan golongan manapun juga!” Dia membentak. “Bahkan aku sama sekali bukan hwesio. Engkau Ouw Ciang Houw sastrawan sesat yang dahulu memperkosa isteri guru silat Gui Tiong di perahuku, kemudian mengakibatkan matinya suami isteri itu. Ingat?”

Untuk ke empat kalinya Ouw Ciang Houw terbelalak heran. “Wah-wah…!” Dia menggaruk-garuk kepalanya. “Jadi kau… Si Gundul bocah tukang perahu itu…?”

“Wuuuuttt, plakkk!” Kembali Ouw Ciang Houw terhuyung karena Kun Liong telah menampar pipinya dan biarpun tadi dia mengelak, tetap saja pipinya kena tampar! Hal ini amat mengherankan bagi Ouw Ciang Houw yang berkepandaian tinggi, akan tetapi sama sekali tidak mengherankan bagi Kun Liong. Pemuda gundul ini hanya mengira bahwa sastrawan itu tidak sungguh-sungguh mengelak, maka dorongannya tadi dan tamparannya mengenai sasaran! Dia tidak sadar bahwa setelah memiliki Ilmu Silat Tinggi Pat-hong-sin-kun (Silat Sakti Delapan Penjuru Angin), setiap gerakannya memang mengandung gaya yang luar biasa sehingga sukar diduga lawan ke mana hendak meluncur!

“Bocah setan, kau bosan hidup!” Ouw Ciang Houw menjadi marah sekali dan dengan pengerahan tenaganya dia memukul ke arah kepala dan dada Kun Liong secara cepat sekali dengan kedua tangannya. Kun Liong paling anti kalau kepalanya dibuat permainan, apalagi dipukul. Setelah dia gundul, sesuatu yang menyinggung kepalanya menyakitkan hatinya benar, maka kini dia mengangkat tangan menangkis pukulan yang mengancam kepalanya, akan tetapi pukulan ke arah dadanya tak sempat dia menangkisnya, maka otomatis bergeraklah tenaga sin-kang yang dilatih selama lima tahun.

“Bukkk! Auuuuwww… duhhh…!” Ouw Ciang Houw memegangi tangan kirinya yang seolah-olah remuk rasanya ketika membentur dada Kun Liong tadi.

“Engkau malah berani memukul kepalaku, ya? Benar-benar engkau orang jahat, perlu dihajar!” Kun Liong sudah maju dan tangan kirinya bergerak dari depan memukul dada lawan. Biarpun kesakitan, Ouw Ciang Houw yang dapat menduga bahwa Si Gundul ini memiliki kepandaian aneh, cepat menangkis, akan tetapi sungguh di luar dugaannya ketika tiba-tiba kepalanya ditempiling oleh tangan kanan Kun Liong dari belakang.

“Plenggg!” Dan dia terguling! Inilah keistimewaan gerak Pat-hong-sin-kun, serangan pertama dari depan untuk memancing perhatian sedangkan serangan susulan datang dari arah berlawanan. Banyak serangan macam ini yang datang dari delapan penjuru dalam ilmu silat sakti ini!

Ouw Ciang Houw hanya merasa kepalanya pening saja, maka begitu terguling dia dapat meloncat berdiri lagi. Kemarahannya membuat mukanya berubah pucat, tangannya meraba punggung dan tampaklah sinar berkilat ketika dia mencabut pedangnya menerjang Kun Liong.

“Trangggg!!”

Hwi Sian telah menangkis pedang itu, padahal tentu saja Kun Liong sudah siap untuk menghindarkan serangan tadi. Terjadilah pertandingan pedang yang seru antara Hwi Sian dan sastrawan itu. Melihat betapa dara itu terdesak hebat dalam belasan jurus saja, Kun Liong menjadi khawatir sekali. Untuk maju dengan tangan kosong saja dia merasa ngeri, maka dia lalu meloncat ke atas pohon, mematahkan sebuah dahan pohon dan meloncat turun terus langsung menerjang Ouw-siucai dengan senjata dahan di tangan. Begitu menerjang tentu saja dia menggunakan gerakan dari Ilmu Siang-liong-pang dan hebat bukan main akibatnya! Bukan hanya Ouw-siucai yang berloncatan mundur, bahkan Hwi Sian juga bingung melihat tiba-tiba banyak sekali tongkat melayang ke sana-sini dengan ganasnya sehingga dara itu pun meloncat mundur! Akan tetapi, tongkat dahan itu terus menyerang Ouw-siucai yang berusaha menangkis dengan pedangnya. Celaka baginya, tongkat yang ditangkis itu seperti dapat mengelak dan tahu-tahu lengan kanannya yang memegang pedang terpukul tongkat, bukan main nyeri rasanya sehingga kalau saja dia tidak mempertahahkan pedangnya dengan tenaga sin-kang, tentu pedang itu akan terlepas. Akan tetapi, gebukan ke dua menyusul tanpa dapat diduganya terdengar suara “buk!” dan tubuhnya kembali terguling karena pantatnya sudah terpukul sehingga rasanya daging pinggul remuk-remuk!

Kini maklumlah Ouw-siucai bahwa kalau dia melanjutkan pertandingan, dia dan temannya akan mati konyol. Maka dia bersuit keras, tubuhnya mencelat ke dekat temannya yang sedang didesak hebat, pedangnya bergerak menangkis memberi kesempatan kepada Kiang Ti untuk melepaskan diri dari kepungan sinar pedang lawan, kemudian keduanya melompat jauh dan melarikan diri tanpa berani menoleh sama sekali!

Tiga orang itu hendak mengejar, akan tetapi Kun Liong berkata, “Mereka sudah mendapatkan pelajaran, tentu sudah bertobat. Perlu apa dikejar lagi?”

Poa Su It menyuruh kedua adiknya berhenti, kemudian mereka menghampiri Kun Liong dan orang tertua di antara mereka itu menjura, “Ah, kiranya Laote adalah seorang pendekar muda yang berilmu tinggi!”

“Sungguh kami telah bersikap kurang hormat!” kata pula Tan Swi Bu.

“Ji-wi Suheng (Kakak Seperguruan Berdua), kalau tidak ada dia, tentu sumoimu ini celaka di tangan siucai busuk tadi!” kata Lim Hwi Sian yang kini memandang kepada Kun Liong dengan sinar mata penuh kagum.

Kun Liong mengerutkan alisnya dan membuang tongkatnya dengan hati mengkal. Masih berdengung di telinganya suara ketawa Hwi Sian tadi ketika dia disebut hwesio busuk oleh Ouw-siucai. Kini mereka memuji-mujinya. Siapa tahu di balik pujian bibir manis dari dara itu tersembunyi ejekan terhadap kepala gundulnya! Dengan suara dingin dia berkata, “Aku hanyalah seorang gundul yang tiada artinya. Selamat tinggal!” Setelah berkata demikian, dia lalu melangkah perlu tanpa menengok lagi.

“Eh, sungguh aneh!” kata Tan Swi Bu.

“Hemm, dia marah, agaknya masih marah karena engkau pernah mentertawai kepalanya, Sumoi!” kata Poa Sut It menyesal. Dia tahu bahwa pemuda tanggung yang gundul itu adalah seorang yang luar biasa, dan sebetulnya dia ingin sekali tahu siapakah pemuda itu dan murid siapa.

Lim Hwi Sian juga merasa menyesal, apalagi ketika dia teringat betapa tadi belum lama ini dia terpaksa tertawa lagi melihat Ouw-siucai yang jahat juga salah kira, menganggap pemuda itu seorang hwesio!

“Biarlah aku minta maaf kepadanya!” katanya lalu berlari mengejar Kun Liong yang sudah lenyap di balik sebuah tikungan. Kedua orang suhengnya hanya saling pandang dan membiarkannya saja, bahkan tetap menunggu di situ dengan harapan mudah-mudahan sumoi mereka dapat menyabarkan hati pemuda gundul yang luar biasa itu sehingga mereka dapat saling berkenalan.

“Tai-hiap, tunggu dulu…!”

Kun Liong terkejut dan heran mendengar suara wanita ini. Sebelum dia menengok, tampak bayangan berkelebat dari belakangnya dan kiranya Hwi Sian kini telah berdiri di depannya dengan wajah sungguh-sungguh. Dia menyebut aku “tai-hiap”! Jantung Kun Liong berdebar. Sebuah ejekan barukah ini? Dia disebut pendekar besar! Kalau dara itu kembali mengejeknya, akan dimakinya! Diejek orang lain tidak apa-apa, akan tetapi diejek dara ini! Sakit hatinya! Kini dia sadar bahwa sikap pemarahnya akhir-akhir ini mengenai kepala gundulnya adalah karena orang melakukannya di depan dara ini.

“Kau… kau mau apakah menyusul aku?” tanyanya, gagap karena pandangan mata dara itu benar-benar membuat dia canggung, malu dan bingung.

“Kami tahu bahwa Tai-hiap marah, dan memang sepantasnyalah kalau Tai-hiap…”

“Ah, sebutanmu ini ejekan ataukah pujian kosong? Kalau ejekan, tidak perlu kita bicara lagi, kalau pujian kosong, kuharap jangan lakukan itu. Aku tidak suka disebut Tai-hiap, baik ejekan maupun pujian.”

Sepasang mata yang jeli dan indah itu terbuka lebar, memandang bingung. “Habis disuruh menyebut apakah aku ini?”

“Namaku Kun Liong, Yap Kun Liong, bukan pendekar besar, bahkan bukan pula pendekar kecil. Sebut saja namaku, beres!”

“Wah, mana aku berani? Bia aku menyebut Yap-enghiong (Orang Gagah Yap) saja.”

“Aku bukan enghiong, bukan pula bu-hiap (pendekar silat), aku hanya seorang gundul yang…”

“Stop! Kau benar-benar marah besar dan semua adalah karena kesalahanku! Kami berhutang budi kepadamu, bahkan mungkin aku berhutang nyawa, dan aku telah membuat engkau marah besar dan sakit hati. Tidak… tidak adakah maaf bagiku?”

Melihat sinar mata itu sayu penuh penyesalan dan suara itu demikian minta dikasihani, kekerasan hati Kun Liong akibat kemarahannya tadi hancur luluh, mencair seperti salju digodok! Cepat dia mengangguk dan menjawab, “Tentu saja aku memaafkanmu, bahkan tidak perlu kau minta maaf karena sebetulnya aku tidak marah kepadamu, hanya… eh, malu karena kepalaku…”

“Mengapa dengan kepalamu? Kepalamu tidak apa-apa, bahkan… hem… baik sekali bentuknya!”

“Sesungguhnyakah?”

“Aku berani bersumpah tidak membohongimu. Yap-enghiong, eh…”

“Jangan sebut enghiong segala, namaku Kun Liong, tanpa embel-embel.”

“Kun… Kun Liong, aku telah berhutang nyawa kepadamu, bagaimana aku akan dapat membalasmu?”

“Hemm, berkali-kali kau menyatakan hutang nyawa, nama pun belum kauperkenalkan kepadaku, Lim Hwi Sian!”

“Eh, engkau tahu…?”

Kun Liong tersenyum dan sinar matanya kini sudah berseri penuh kenakalan.

“Setan gundul tentu saja tahu segala!”

Mata yang jernih itu terbelalak. “Engkau aneh, orang sudah berhati-hati untuk tidak menyinggungmu, engkau malah memaki-maki diri sendiri setan gun…”

“Teruskan saja! Ha-ha, memang aku gundul. Nih, halus bersih, kan?” Kun Liong menundukkan kepalanya dan mengelus-elusnya. “Kau boleh menyebut aku gundul seribu kali asal jangan mentertawakan. Asal engkau tidak jijik melihatnya.”

“Siapa yang jijik? Aku senang melihatnya. Memang, lucu, akan tetapi lucu bukan berarti buruk. Contohnya, seorang bayi selalu lucu, dan tak pemah buruk! Semua orang ingin memeluk dan menciumnya.”

“Wah, apakah kepalaku juga menimbulkan hasrat orang untuk menciumnya?” Kun Liong memandang nakal dan senyumnya melebar ketika dia melihat dara itu tersipu-sipu malu dan kedua pipinya berubah kemerahan, apalagi bibirnya yang menjadi merah sekali. Tiba-tiba saja Kun Liong ingin kepalanya dicium oleh bibir seperti itu!

“Engkau memang orang yang lucu dan gagah, Kun Liong. Aku telah kautolong, entah bagaimana aku dapat membalas kebaikanmu.”

“Benarkah engkau ingin membalasnya? Dan engkau tidak akan marah kalau aku minta kau melakukan sesuatu untuk membalasnya?”

“Tidak, Kun Liong. Bagaimana aku bisa marah kepadamu?”

“Sumpah?”

“Sumpah apa?”

“Bahwa engkau tidak akan marah kepadaku?”

“Aku bersumpah!”

“Wah, engkau mudah sekali bersumpah, Hwi Sian.”

“Tentu saja, karena memang aku sungguh-sungguh. Sudahlah, katakan, apa permintaanmu itu?”

“Aku… aku… ehhh… aku ingin kau… hemmm…”

“Mau apa sih engkau ini? Ah-ah eh-eh, ham-ham hem-hem seperti orang gagu.”

“Hwi Sian, aku ingin kau… eh, mencium gundulku satu kali saja!”

Hwi Sian terbelalak, hidungnya kembang kempis, kedua pipinya merah akan tetapi matanya mengeluarkan sinar aneh, tersipu dan berseri. “Dekatkan kepalamu,” katanya lirih.

Kun Liong hampir tidak percaya. Dia sudah khawatir kalau dara remaja itu marah dan kalau marah, dia pun tidak akan menyalahkan Hwi Sian. Siapa kira, dara itu menerima permintaannya! Dengan kulit muka merah sampai ke kepalanya, dia menundukkan kepala dan agak membungkuk di depan Hwi Sian. Dara itu tanpa ragu-ragu memegang pinggiran kepalanya dengan kedua tangan, lalu menunduk dan mencium kepala gundul itu, mencium lagi, mencium lagi. Tiga kali, bukan hanya satu kali seperti yang dimintanya!

Berdebar tidak karuan rasa jantung Kun Liong. Kepalanya yang disentuh hidung dan bibir hangat basah itu terasa geli seperti digelitik, rasa geli yang menembus seluruh tubuhnya, membakar darahnya dan membuat mukanya merah, napasnya agak terburu. Dengan mendadak dia mengangkat mukanya menengadah dengan tubuh masih agak membungkuk sambil berkata, “Kau baik sekali… uppphh…” Karena dia membuat gerakan menengadah sedangkan Hwi Sian masih menunduk di atas kepalanya, tanpa disengaja mulut mereka bersentuhan, membuat keduanya meloncat ke belakang dengan muka merah padam!

“Ehhh… ohhh… maafkan, aku, Hwi Sian, aku tidak sengaja…! Terima kasih, engkau… engkau sungguh baik sekali, selama hidup takkan kulupakan saat ini…”

“Ihhh… hu-hukk…” Dara itu tiba-tiba terisak, membalikkan tubuh lalu meloncat dan lari pergi meninggalkan Kun Liong!

“Hwi Sian…!” Kun Liong memanggil, akan tetapi dara itu terus lari dan lenyap di tikungan.

Kun Liong tidak berani mengejar, merasa malu sekali kalau sampai peristiwa tadi diketahui kedua orang suheng dara itu. Dia pun lalu melanjutkan perjalanannya sambil mengangkat kedua pundak beberapa kali, kemudian tersenyum-senyum kalau teringat betapa Hwi Sian telah mencium kepalanya sampai tiga kali, bahkan ada tambahannya dengan pertemuan bibir mereka tanpa sengaja.

Dia memejamkan mata sambil menarik napas panjang. Diusapnya kepala yang dicium tadi dan dibawanya jari tangan yang mengusap itu ke depan hidung dan mulut, menyedot penuh kegembiraan karena seolah-olah tercium olehnya bau harum seperti yang diciumnya ketika Hwi Sian berada di dekatnya tadi. Semua ini dilakukan dengan mata terpejam dan kaki masih melangkah berjalan.

“Bruuuusss!!” Kun Liong jatuh menelungkup karena kakinya tertumbuk pada akar pohon. Dahinya benjol sedikit, dia bangkit berdiri dan diusapnya benjolan itu, akan tetapi mulutnya masih tersenyum ketika dia melanjutkan perjalanan.

Ternyata kegembiraan hati Kun Liong tidak berlangsung lama karena kurang lebih dua jam kemudian setelah dia berpisah dari Hwi Sian dan memasuki hutan ke dua, tiba-tiba dia bertemu dengan serombongan orang yang membuat dia terkejut bukan main. Rombongan ini terdiri dari delapan orang dan semua orang ini telah dikenalnya. Dua orang sudah jelas adalah Ouw Ciang Houw dan Kiang Ti yang tadi melarikan diri, dan lima orang lagi adalah anggauta Pek-lian-kauw yang tadi pun melarikan diri dihajar oleh Hwi Sian dan dua orang suhengnya. Akan tetapi yang seorang lagi adalah seorang berpakaian seperti tosu, usianya tentu enam puluh tahun lebih, memegang tongkat yang panjangnya hanya tiga kaki. Yang mengejutkan hati Kun Liong dan yang membuat dia mengenal tosu ini adalah karena mata tosu itu seperti mata orang buta, hanya tampak putih saja tanpa ada manik mata yang hitam. Tidak salah lagi, tosu ini tentulah Loan Khi Tosu, tokoh Pek-lian-kauw yang pernah diusir ayahnya ketika hendak membunuh tiga orang perwira pengawal di Leng-kok!

“NAH, itulah dia setan cilik gundul!” Kiang Ti dan Ouw Ciang Houw membentak ketika mereka melihat Kun Liong berjalan seenaknya. “Dialah yang terlihai di antara mereka!”

Kun Liong berdiri dan menenangkan hatinya yang sebenarnya tidak tenang karena dia maklum bahwa dia berhadapan dengan orang-orang yang kejam. Akan tetapi karena dia tidak merasa bersalah, seujung rambut pun dia tidak merasa takut. Dengan tegak dia berdiri, membiarkan delapan orang itu mengurungnya, kemudian dia bertanya kepada Ouw Ciang Houw, Kiang Ti, dan Loan Khi Tosu yang berdiri di depannya, “Cu-wi (Anda Sekalian) ini mau apakah mengurung aku yang tidak bersalah apa-apa?”

Mendengar suara ini, Loan Khi Tosu menggerak-gerakkan biji matanya dan berusaha memandang lebih jelas. Biarpun matanya yang lamur hanya dapat melihat bentuk seorang pemuda tanggung berkepala gundul, namun telinganya dapat menangkap lebih jelas lagi, membuat dia yakin bahwa yang berdiri di depannya adalah seorang anak laki-laki berusia paling banyak enam belas tahun. Yang membuat dia heran adalah karena dalam suara itu terkandung keberanian dan ketenangan yang tidak dibuat-buat dan sikap tenang seperti ini dalam keadaan dikurung lawan hanyalah sikap seorang jagoan yang memiliki kepandaian tinggi dan sudah percaya penuh akan kemampuannya. Tentu saja dia tidak tahu bahwa Kun Liong bersikap tenang bukan karena mengandalkan kemampuannya, melainkan tidak merasa bersalah.

“Ah, dia hanya seorang anak laki-laki yang belum dewasa benar.” Loan Khi Tosu berkata dengan nada mencela. Menghadapi seorang anak-anak saja, teman-temannya ini kewalahan dan kelihatan jerih benar?

“Biarpun dia masih kecil, dialah yang melindungi tiga pendekar Secuan itu dan karena dia maka mereka dapat lolos!” kata Kiang Ti.

“Hemm, bocah. Engkau siapakah dan mengapa engkau mencampuri urusan kami?” Tosu itu kini bertanya.

“Loan Khi Tosu, aku tidak pernah suka mencampuri urusan orang lain, hanya tidak ingin melihat orang menggunakan ilmu silat untuk menyerang, melukai atau membunuh orang seperti yang kaulakukan di kuil di luar kota Leng-kok dahulu itu!”

“Siancai…!” Loan Khi Tosu mengerutkan alisnya. “Engkaulah setan cilik itu? Saudara-saudara tangkap dia ini! Dia putera Yap Cong San di Leng-kok!”

“Ehhh…?” Kiang Ti yang banyak mengenal tokoh persilatan karena dia adalah ketua perkumpulan Ui-hong-pang, berseru kaget, “Akan tetapi bukankah Yap-sinshe (Tabib Yap) itu murid Siauw-lim-pai?”

“Bukan murid Siauw-lim-pai lagi,” kata Loan Khi Tosu. “Dia sudah tidak diakui lagi dan hal ini tentu saja tidak ada sangkut pautnya dengan Siauw-lim-pai.”

“Tapi… ayahnya menjadi pelarian, dimusuhi pemerintah!” Kembali ada bantahan dan sekali ini dari mulut Ouw Ciang Houw datangnya.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: