Petualang Asmara (Jilid ke-9)

“Benar, dan karena itulah maka kita tidak akan membunuhnya, hanya menangkapnya sebagai sandera. Kita perlu bantuan orang pandai, dan dengan dia sebagai umpan, kita dapat memancing tenaga bantuan ayah bundanya, dan siapa tahu, kelak Siauw-lim-pai juga…”

Mengertilah para teman tosu itu dan serentak mereka lalu menubruk maju hendak menangkap Kun Liong. Kun Liong sendiri tidak mengerti akan maksud percakapan mereka, maka dia sibuk mengelak dan menangkis.

“Eh, eh, kalian ini mau apa? Aku tidak ingin berkelahi! Antara kita tidak ada urusan apa-apa!”

Namun, percuma saja dia berteriak teriak dan karena ada tujuh orang yang mengeroyoknya, semua mempunyai kepandaian tinggi, repot juga dia dan beberapa kali tubuhnya kena hantaman. Biarpun semua pukulan itu meleset karena otomatis sin-kangnya yang istimewa itu membuat setiap pukulan meleset, namun kulit tubuhnya terasa panas dan nyeri-nyeri juga, apalagi setelah beberapa kali ada pukulan mengenai kepala dan mukanya, mulai terasa panas perut Kun Liong. Dia sendiri tidak tahu mengapa semenjak belajar pada Bun Hwat Tosu, terutama semenjak dia mempelajari sin-kang yang aneh itu, setiap kali datang kemarahan, perutnya menjadi panas. Dia tidak tahu bahwa ini adalah akibat latihan sin-kang istimewa dari bekas Ketua Hoa san pai itu!

Tadinya para pengeroyok itu tidak ingin memukul karena sesuai dengan perintah Loan Khi Tosu yang memimpin rombongan itu, mereka hanya ingin menangkap. Akan tetapi setelah beberapa kali tangan mereka yang hendak mencengkeram dan menangkap selalu meleset, mereka menjadi penasaran dan mulai mempergunakan kepalan!

“Hiiittt!!” Tiba-tiba Kun Liong berseru, tubuhnya digoyangkan seperti seekor anjing menggoyang tubuhnya yang basah, dan tujuh orang yang mengeroyoknya seperti semut itu terdorong mundur semua. Marahlah pemuda gundul itu setelah mukanya biru-biru dan kepalanya benjol-benjol, tubuhnya nyeri semua. Mulailah dia mainkan Ilmu Silat Pat hong sin kun dengan teratur dan dapat dibayangkan betapa heran hatinya ketika dia mainkan ilmu ini, dalam beberapa gebrakan saja serangannya membuat tiga orang pengeroyok jatuh tersungkur dan terdengar teriakan kaget dari mulut para pengeroyoknya!

Akan tetapi karena dia tidak mempunyai niat melukai lawan, apalagi membunuh, dorongan-dorongan sebagai pengganti pukulan itu hanya membuat lawan roboh saja tanpa terluka sehingga mereka bangkit kembali. Kalau saja setiap pukulannya disertai tenaga sin-kangnya yang istimewa, agaknya sekali terkena pukulannya, tiap lawan itu tentu takkan mudah untuk bangkit kembali!

Melihat sepak terjang pemuda gundul itu, Loan Khi Tosu terheran-heran. Dia tahu bahwa ayah anak ini memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi daripadanya, akan tetapi ilmu silat yang dimainkan anak ini, luar biasa anehnya dan sama sekali bukan ilmu silat Siauw-lim-pai biarpun ada terasa olehnya dasar-dasar gerakan ilmu silat Siauw-lim-pai. Demikian tajam pendengaran tosu setengah buta ini sehingga pendengarannya lebih tajam menangkap setiap gerakan daripada pandang mata seorang yang awas! Cepat dia menggerakkan tongkatnya pada saat yang tepat dan robohlah Kun Liong, tertotok jalan darah di pundaknya. Beberapa orang segera menindih tubuhnya dan kaki tangannya dibelenggu dengan tali terbuat dari kulit kerbau yang kuat!

“Wah, kalian ini orang-orang sesat yang jahat sekali ! Apakah kalian tidak mempedulikan hukum lagi? Di mana perikemanusiaan kalian? Tidak tahukah kalian akan hukum dunia dan akhirat?”

Akan tetapi delapan orang itu hanya tertawa seolah-olah mendengar kelakar yang lucu. Perut Kun Liong makin terasa panas. Kalau saja tubuhnya dapat digerakkan, tidak lumpuh oleh totokan Loan Khi Tosu yang lihai, kiranya dia masih mampu meloloskan diri dari belenggu itu. Kini tidak ada lain jalan untuk melampiaskan kemarahannya selain dengan suara mulutnya.

“Loan Khi Tosu, engkau berpakaian pendeta akan tetapi hatimu kejam melebihi iblis. Engkau seorang munafik tak tahu malu. Pakaian pendeta yang kaupakai hanya untuk menutupi kekotoran batinmu. Engkau membunuhi manusia tanpa berkejap mata, bukan karena matamu lamur, melainkan karena mata batinmu sudah buta sama sekali!”

“Bukkkk!!”

Untung Loan Khi Tosu masih ingat bahwa pemuda gundul itu amat penting bagi Pek-lian-kauw, kalau tidak tentu dia sudah membunuhnya dengan tongkatnya, bukan hanya menggebuk punggung pemuda itu. Akan tetapi karena Kun Liong tak dapat mengerahkan sin-kangnya, gebukan itu cukup membuat punggungnya seperti patah, nyeri bukan main rasanya sampai menembus ke tulang sumsum. Biarpun demikian, dia tidak mengeluh, hanya memejamkan mata sebentar menahan rasa nyeri, kemudian membuka mata setelah rasa nyerinya berkurang dan memaki lagi. “Ouw Ciang Houw manusia cabul! Engkau pun munafik besar, aksinya saja berpakaian indah mewah seperti sastrawan, berlagak seperti orang terpelajar dan sudah kenyang membaca kitab, akan tetapi agaknya engkau menghafal semua ayat kitab suci hanya untuk pamer, padahal sebetulnya, di balik semua keindahan itu terdapat kebusukan yang menjijikkan! Engkau tukang memperkosa wanita, perampas isteri orang dan tidak segan membunuh mereka. Agaknya, isteri semua temanmu ini pun sudah kauincar…”

“Desss!!” Ouw Ciang Houw mengirim pukulan keras ke arah dada. Karena tidak ingin membunuh, biarpun amat marah, sastrawan itu hanya menggunakan tenaga kasar sehingga Kun Liong menjadi pingsan! Pukulan itu seperti mengusir semua hawa dari dadanya, menghentikan napasnya.

“Siancai… kau terlalu sembrono, Ouw-sicu! Dia bisa mati kalau tidak kubebaskan totokannya!” Dengan tongkatnya, tosu itu menotok pundak Kun Liong sehingga terbebas dari totokan. Biarpun masih pingsan, pemuda gundul itu dapat bernapas lagi dan bebas dari cengkeraman maut.

Setelah Kun Liong siuman, dia mendapatkan dirinya dipanggul oleh seorang di antara para anggauta Pek-lian-kauw. Rombongan itu telah melanjutkan perjalanan dan hari sudah mulai gelap sehingga mereka berjalan dengan tergesa-gesa untuk dapat keluar dari hutan itu sebelum gelap. Kun Liong mendongkol bukan main. Dia dipanggul seperti seekor babi yang dibelenggu kuat-kuat, kepalanya tergantung di belakang punggung orang tinggi besar itu, di dekat ketiak sehingga terpaksa hidungnya tersiksa oleh bau yang keluar dari ketiak penuh bulu dan keringat itu! Dia tahu bahwa ketiak berkeringat mengeluarkan bau tak sedap, akan tetapi belum pernah hidungnya tersiksa seperti ini, begitu dekat terus-menerus dengan ketiak yang bukan tak sedap lagi baunya, melainkan keras menyengat membuat dia ingin muntah! Apalagi kepalanya tergantung terus mendatangkan pusing!

Betapa girangnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa totokannya telah terbebas! Dengan hati-hati dia menggerakkan sin-kang dari pusarnya, dan dengan bantuan sin-kang ini dia mengerahkan ilmu melemaskan diri Sia-kut-hoat dan berhasillah dia meloloskan tangannya yang dapat dilemaskan itu dari belenggu. Karena sudah tidak tahan lagi, pertama-tama yang dilakukan adalah menampar pundak orang yang memanggulnya.

“Krekkk!” Tamparan itu membuat sambungan tulang pundak orang itu terlepas. Orang itu memekik dan tubuh Kun Liong terlepas. Tentu saja dia terbanting karena kedua kakinya masih terbelenggu. Sebelum dia sempat melepaskan belenggu kakinya, Loan Khi Tosu sudah menotoknya kembali dan kedua tangannya sudah dibelenggu lagi dengan lebih erat daripada tadi! Sekali lagi dia dipanggul oleh orang lain dan kini oleh Kiang Ti sendiri, dengan tubuh bagian atas di depan agar kedua tangannya dapat selalu diawasi oleh pemanggulnya. Kembali kepalanya tergantung, akan tetapi hidungnya tidak tersiksa lagi biarpun hidung itu kini sering terbentur pada perut Kiang Ti!

Rombongan itu bermalam di sebuah kuil di luar hutan. Mereka membagi-bagi makanan, akan tetapi Kun Liong tidak mau makan. Dia tidak memaki lagi, hanya diam saja dan diam-diam dia mencari akal bagaimana dapat lolos dari orang-orang lihai itu. Dia maklum bahwa yang amat lihai hanyalah tiga orang, Loan Khi Tosu, Ouw Ciang Houw, dan Kiang Ti. Kalau bisa lolos dari tiga orang ini, mudah saja mengalahkan lima orang anggauta Pek-lian-kauw. Dia mendengarkan percakapan mereka dan tahulah dia bahwa ternyata ada kontak hubungan antara Pek-lian-kauw dan Kwi-eng-pai yang dipimpin oleh Si Bayangan Hantu. Sedangkan Kiang Ti sebagai murid Si Bayangan Hantu yang sudah berdiri sendiri dan mengetuai Ui-hong-pang, menjadi perantara. Inilah sebabnya mereka dapat bekerja sama, sedangkan Ouw Ciang Houw berniat untuk membantu atau menghambakan diri kepada Si Bayangan Hantu yang terkenal sebagai seorang di antara Lima Datuk Kaum Sesat yang sakti dan berpengaruh. Karena dia juga menggunakan Kiang Ti sebagai perantara, maka tentu saja dengan senang hati dia bergabung dengan Pek-lian-kauw.

“Dengan bantuan yang amat berharga dari Ketua Kwi-eng-pai, pinto yakin bahwa perjuangan rakyat akan berhasil dalam waktu singkat!” kata Loan Khi Tosu dengan suara penuh semangat.

Ingin sekali Kun Liong berteriak membantah, akan tetapi tubuhnya terlampau lemah dan lemas sehingga dia hanya membantah dalam hati saja. Huh, betapa banyaknya di dunia ini orang-orang seperti Loan Khi Tosu. Dunia penuh dengan manusia-manusia yang mencuri dan membonceng nama rakyat demi kepentingan diri pribadi. Sungguh tak tahu malu manusia-manusia seperti itu. Sejarah telah menunjukkan betapa kekuasaan-kekuasaan jatuh bangun di dunia ini, dan semua kekuasaan itu, pada saat bangkit, pada saat berusaha merenggut kekuasaan, selalu mempergunakan nama rakyat jelata! Demi rakyat! Pencinta rakyat! Dan masih banyak lagi nama-nama yang dipakai untuk tercapainya cita-cita mereka. Pemerintah yang sekararang ini, di bawah kekuasaan Kaisar Yung Lo, pada waktu memperebutkan tahta kerajaan dengan keponakannya sendiri, pada waktu perang saudara, juga mempergunakan nama rakyat untuk memperoleh dukungan. Sebaliknya, pemerintah lama sebelumnya juga selalu membonceng kepada nama rakyat. Dengan sendirinya rakyat menjadi pecah belah, karena yang mendukung dianggap rakyat sedangkan yang tidak mendukung tentu saja dianggap musuh! Dan musuh ini tentu saja dianggap rakyat oleh pihak lawan. Dengan sendirinya rakyat yang menjadi korban, menjadi bingung dijadikan permainan orang-orang seperti Loan Khi Tosu dan para pimpinan Pek-lian-kauw. Setelah kini Yung Lo menang dan menjadi kaisar, timbul penentangnya, yang paling hebat adalah Pek lian kauw yang kembali menggunakan nama rakyat sebagai dasar perjuangannya! Hendak dibawa ke manakah rakyat ini? Apakah selama dunia berkembang rakyat hanya akan menjadi permainan belaka demi pemuasan nafsu ambisi beberapa gelintir manusia yang menamakan diri sebagai pemimpin-pemimpin rakyat ? Pernahkah ditemui mereka yang tadinya menggunakan nama rakyat dalam perjuangan, setelah berhasil dalam perjuangannya, benar-benar ingat kepada rakyat jelata? Ataukah mereka itu lalu lupa karena mabok akan kemenangan, mabok akan kedudukan dan kemuliaan, seperti pemetik buah lupa akan bangku yang diinjaknya untuk mengambil buah setelah buah itu terdapat olehnya? Rakyat hanya dianggap sebagai bangku tempat berpijak, atau sebagai batu loncatan, atau sebagai boneka-boneka!

“Harap Totiang jangan khawatir! Saya berani pastikan bahwa Subo (Ibu Guru) tentu akan suka bekerja sama dengan Pek lian kauw, karena cita-cita Subo hanya untuk menghancurkan manusia she The itu, dan juga pemerintah yang banyak merugikan golongan kami. Kalau Subo sendiri turun tangan, siapa yang berani menentang? Kwi eng pai terkenal di seluruh dunia, dan nama besar Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio, siapa yang tidak gentar mendengarnya?” kata Kiang Ti dengan bangga, menyombongkan nama besar gurunya.

“Sayang saya sendiri belum beruntung berhadapan dengan gurumu itu, Saudara Kiang. Akan tetapi saya yakin dengan perantaraanmu, saya akan dapat menghadap Kwi eng Niocu (Nona Bayangan Hantu) yang namanya sudah lama kudengar itu sebagai seorang di antara para datuk dunia persilatan. Kabarnya, di antara para datuk, ada dua orang wanita, pertama adalah Kwi eng Niocu, dan ke dua adalah Siang tok Mo li. Benarkah?” tanya Ouw Ciang Houw.

Kiang Ti, Ketua Ui hong pang mengangguk-angguk. “Benar demikian, akan tetapi aku sendiri pun belum pernah bertemu dengan Siang tok Mo li (Iblis Betina Racun Wangi). Kabarnya dia masih belum tua benar dan amat lihai, sungguhpun aku tidak percaya akan lebih lihai dari Subo.”

“Dan siapakah datuk-datuk yang lain, Kiang pangcu?”

“Yang saya ketahui hanya tiga orang. Pertama adalah Subo, ke dua Siang tok Mo li, dan ke tiga Ban tok Coa ong. Yang dua orang lagi entah siapa. Akan tetapi, saya sendiri belum pernah bertemu dengan mereka dan hanya mendengar dari Subo saja. Sudahlah, kita tidak perlu membicarakan mereka, bahkan Subo sendiri pernah melarang saya menyebut-nyebut nama mereka. Menurut desas-desus, menyebut nama mereka saja sudah cukup untuk mengundang mereka”

“Ihhh…!” Ouw Ciang Houw yang berwatak kejam itu merasa ngeri!

“Siancai… ketua kami ingin sekali dapat mengadakan kontak dengan para datuk. Mudah-mudahan melalui hubungan dengan Kwi eng pai, kami akan dapat menghubungi pula para datuk yang lain,” kata Loan Khi Tosu.

Percakapan dihentikan. Mereka mengaso dan Kun Liong yang amat tertarik akan percakapan tadi pun mencoba untuk tidur. Akan tetapi dia tidak dapat tidur. Percakapan tadi membuat dia teringat kepada Ban tok Coa ong Ouwyang Kok kakek yang mengerikan seperti ular itu. Si Raja Ular (Coa ong) itu patut menjadi datuk kaum sesat, kekejamannya luar biasa, lebih-lebih puteranya yang bernama Ouwyang Bouw itu. Meremang bulu tengkuk Kun Liong kalau dia teringat akan ayah dan anak raja ular itu. Kepalanya menjadi gundul gara-gara ayah dan anak itulah. Setelah dia digigit ular beracun dan terkena jarum beracun Ouwyang Bouw, rambutnya rontok semua! Kelak dia harus memberi hajaran kepada Ouwyang Bouw agar tidak ada orang yang dibikin gundul seperti dia lagi, memberi hajaran sampai bertobat betul-betul baru dia mau sudah!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali rombongan itu sudah siap untuk meninggalkan kuil tua melanjutkan perjalanan. Akan tetapi tiba-tiba terdengar seruan kaget seorang di antara para anggauta Pek lian kauw di luar! Semua orang kecuali Kun Liong yang masih terbelenggu dan rebah meringkuk di atas lantai dingin, lari ke luar. Kun Liong mendengar suara orang berbantahan di luar kuil, akan tetapi dia tidak dapat mendengar jelas dan tidak dapat melihat karena tak dapat bergerak dari tempat itu. Tiba-tiba dia melihat bayangan berkelebat masuk. Cuaca masih suram karena hari masih amat pagi dan sinar matahari baru sedikit menyinari ruangan dalam kuil itu di mana dia berada.

“Engkau Kun Liong, bukan?” Terdengar suara bayangan itu yang tidak begitu jelas bentuk wajahnya, namun bentuk tubuhnya jelas menunjukkan seorang dara remaja.

Tentu Hwi Sian, siapa lagi? Berdebar jantung Kun Liong dan mukanya terasa panas karena jengah teringat akan ciuman di kepalanya. Sebelum dia sempat menjawab pertanyaan aneh itu, karena kalau Hwi Sian perlu apa bertanya lagi apakah dia Kun Liong, dara remaja itu menggerakkan sebatang pedang panjang yang mengeluarkan sinar berkeredepan dan… sekali tebas saja belenggu kaki di tangan Kun Liong putus semua! Bukan main hebatnya gerakan pedang ini!

Kun Liong yang telah terbebas dari totokan dengan sendirinya malam tadi, menggosok gosok pergelangan kedua tangannya yang terasa nyeri dan hampir mati rasa. Kini dia memandang terbelalak. Dara ini bukan Hwi Sian! Sama sekali bukan, biarpun dara remaja yang agak lebih muda ini juga cantik sekali, cantik dan sikapnya tenang, bahkan agak dingin. Sikap dingin itu terasa sekali pada bentuk mulut dan dagunya yang mengeras, dan matanya yang keras seperti baja, memandang seperti tanpa perasaan.

“Kau… kau siapakah?”

“Engkau tentu lupa lagi kepadaku, setelah berpisah lima tahun. Aku Yo Bi Kiok.”

“Aihh! Tentu saja aku lupa! Engkau sudah… eh, besar sekarang, sudah menjadi seorang dara yang… ah, cantik jelita!” Kun Liong berhenti ketika melihat sinar mata itu tiba-tiba menjadi tajam sekali ditujukan kepadanya. Cepat dia menyambungnya, “Dan engkau menjadi lihai sekali dengan pedangmu. Bi Kiok, bagaimana engkau bisa mengenalku?”

Bi Kiok menggerakkan pandang matanya dan tahulah Kun Liong. Kepalanya! Tentu saja di dunia ini, mana ada kepala gundul lain kecuali dia? Kalau ada pemuda gundul, tentu para hwesio! Tak terasa lagi ia menggerakkan tangan mengelus kepalanya, memandang Bi Kiok sambil tersenyum.

“Terima kasih, Bi Kiok. Engkau telah dua kali menyelamatkan nyawaku. Yang pertama di sungai dahulu dan kini…”

“Sudahlah. Harap engkau cepat-cepat pergi dari sini. Kalau terlambat, aku benar-benar takkan dapat menyelamatkan nyawamu lagi. Cepat pergi, Kun Liong dan jangan banyak bertanya!”

“Ah, mengapa begitu? Apakah aku tidak boleh bicara denganmu setelah pertemuan yang tak tersangka-sangka ini?”

“Tidak, jangan! Pergilah!”

“Hanya untuk mengucapkan terima kasih juga tidak boleh?”

Dara itu menghela napas. “Engkau bandel. Mereka semua akan mati, dan engkau juga kalau tidak lekas pergi!”

Melihat dara itu gelisah sekali Kun Liong menjadi tidak tega. Dia tidak takut akan ancaman maut, akan tetapi dia tidak mau menyusahkan hati dara yang telah dua kali menolongnya ini. “Baiklah, Bi Kiok. Aku pergi, akan tetapi terimalah ucapan terima kasihku kepadamu!” Rasa terima kasih membuat Kun Liong memegang tangan kanan dara itu, membawa tangan itu kepada… kepalanya yang gundul sehingga terasa olehnya betapa telapak targan yang halus hangat itu menyentuh gundulnya! Heran sekali dia di dalam hatinya, mengapa dia ingin sekali gundulnya disentuh oleh tangan dara ini? Akan tetapi Bi Kiok merasa geli dan menarik tangannya biarpun dengan halus.

“Pergilah, Kun Liong.”

“Kapan kita bertemu lagi, Bi Kiok?”

“Tidak mungkin bertemu lagi. Selamat berpisah!” Setelah berkata demikian, dara itu melangkah ke luar, di pintu membalik dan berkata, “Kauambil jalan dari pintu belakang. Cepat!” Barulah dara itu meloncat ke depan dan tak nampak lagi.

Kun Liong segera menyelinap melalui belakang kuil, akan tetapi dia tidak pergi seperti telah dipesan oleh Bi Kiok, melainkan berindap-indap menyelinap di antara pohon-pohon menuju ke luar kuil dan tak lama kemudian dia telah bersembunyi di belakang semak-semak dan mengintai ke halaman kuil. Matanya terbelalak penuh kengerian ketika dia menyaksikan apa yang terjadi di halaman kuil tua itu.

Seorang wanita yang bertubuh pendek, sama tingginya dengan Bi Kiok yang baru berusia tiga belas tahun, akan tetapi wajah wanita itu menunjukkan bahwa dia telah berusia dua kali lebih, berdiri di tengah halaman. Wajah wanita itu cantik dengan muka bulat, di punggungnya tampak sebatang pedang panjang agak melengkung, rambutnya panjang digelung secara aneh. Yang mengerikan adalah tangannya yang berlepotan darah itu menggenggam sepotong benda berdarah yang dimakannya dengan gigitan-gigitan kecil! Di depan kakinya menggeletak sesosok mayat anak buah Pek lian kauw dengan dada robek sedangkan empat orang anggauta Pek lian kauw lainnya masih mengurungnya dengan senjata di tangan, bersama Loan Khi Tosu, Ouw Ciang Houw dan Kiang Ti yang semua telah memegang senjata menghadapi wanita cantik itu. Bi Kiok berdiri di pinggir, bersedakap dan menonton dengan wajah dingin!

Tiba-tiba Loan Khi Tosu mengeluarkan suara pekik dahsyat, itulah Sai cu-ho kang (Auman Singa) yang dapat melumpuhkan lawan. Namun wanita itu tidak bergoyang sedikit pun, bahkan menghadapi terjangan Loan Khi Tosu yang disusul teman-temannya, dan dia bersikap seenaknya, menghabiskan benda berdarah yang dimakannya. Setelah senjata tujuh orang itu berkelebatan dekat hampir mengenai tubuhnya, barulah wanita itu menyambutnya. Sisa benda berdarah itu digigitnya, kedua tangannya bergerak-gerak dan tiba-tiba sanggul rambutnya terlepas, rambut itu berubah menjadi bayangan hitam menyambar ke sekelilingnya, jari-jari tangannya menyambar dan tampaklah darah muncrat-muncrat disusul pekik mengerikan berkali-kali. Sebentar saja semua gerakan berhenti dan Kun Liong yang bersembunyi, memandang dengan muka pucat sekali, matanya terbelalak dan mulutnya terasa kering! Penglihatan di depan itu terlalu menyeramkan!

Hanya Loan Khi Tosu dan Kiang Ti dua orang saja yang masih hidup, bangkit duduk dan cepat mengatur pernapasan. Lima orang yang lain, yaitu Ouw Ciang Houw Si Sastrawan Cabul dan empat orang anggauta Pek lian kauw yang tadi mengeroyok, telah menggeletak malang-melintang dengan dada terobek dan jantung mereka kini telah berada di tangan wanita itu!

“Tahukah engkau mengapa aku tidak membunuh kalian berdua?” Terdengar suara wanita itu setelah menyemburkan sisa jantung pertama yang tadi digigitnya ke atas tanah, mulutnya yang berlepotan darah itu amat mengerikan. “Loan Khi Tosu, karena aku ingin engkau pergi menghadap Ketua Pek lian kauw dan mengatakan bahwa kalau dia menghendaki bantuan Siang tok Mo li, dia harus bersikap lebih hormat dan mengundangku sendiri, dan kematian lima orang anak buahnya ini untuk peringatan bahwa biarpun aku suka bekerja sama, namun sama sekali aku bukanlah anak buah atau kaki tangan Pek lian kauw!”

Dengan susah payah Loan Khi Tosu bangkit, tongkatnya telah patah-patah dan tulang pundaknya patah pula. “Pinto mengerti dan pesan Locianpwe akan pinto sampaikan kepada ketua kami.”

“Tolol kau tosu busuk! Setua engkau menyebut aku Locianpwe? Aku adalah Nona Bu, mengerti?”

Tosu itu mengangguk-angguk dan menyeringai.

“Dan engkau orang she Kiang, aku tidak membunuhmu bukan karena aku takut terhadap Kwi eng Niocu Ang Hwi Nio, melainkan aku ingin engkau menyampaikan pesan kepada gurumu itu bahwa kalau aku mau, mudah saja aku membunuh murid kepalanya. Nah, kalian minggatlah!”

Dua orang itu melangkah pergi dengan terhuyung-huyung dan wanita itu terkekeh genit, kemudian dia memandang kepada Bi Kiok yang sejak tadi berdiri dengan kedua lengan bersedakap tanpa bergerak seperti arca sambil menegur, “Bi Kiok, mengapa engkau menolong Si Gundul itu?”

Bukan main kagetnya hati Kun Liong. Juga Bi Kiok diam-diam kaget sekali biarpun wajahnya tidak membayangkan sesuatu.

“Dia bukan segolongan dengan orang-orang ini, Subo,” jawab Bi Kiok, suaranya dingin dan sama sekali tidak menunjukkan perasaan apa-apa.

“Hemmm, kaukira aku tidak tahu akan hal itu? Semalam kulihat dia seorang pemuda yang bertulang baik dan berdarah bersih, tentu lebih bermanfaat bagiku jantungnya. Akan tetapi engkau telah menolongnya dan membebaskannya. Eh, Bi Kiok jangan main-main kau. Apakah engkau jatuh cinta kepada pemuda gundul yang tampan itu?”

Kembali Kun Liong terkejut sampai tubuhnya terguncang. Bukan main perempuan itu. Mengerikan dan ganas, juga cerdik luar biasa. Entah mengapa dan bagaimana Bi Kiok sampai bisa menjadi murid Iblis betina yang menyeramkan itu. “Tidak, Subo. Jangan Subo menyangka yang bukan-bukan. Karena melihat dia menjadi tawanan orang-orang ini, maka teecu menganggap bahwa Subo tidak menghendakinya dan teecu melepaskan belenggunya.”

“Untung bahwa kau tidak mencintanya. Kalau kau mencintanya, sekarang juga dia kubunuh dari tempat ini!”

Untuk ke tiga kalinya Kun Liong kaget setengah mati. Celaka, agaknya wanita mengerikan itu tahu bahwa dia bersembunyi di situ. Kalau tidak, mana mungkin wanita itu mengatakan dapat membunuh Kun Liong dari tempat dia berdiri?

“Mengapa begitu, Subo? Teecu tidak mencinta siapa-siapa, akan tetapi kalau teecu mencintanya mengapa Subo hendak membunuhnya?”

“Pertanyaan yang tolol, jatuh cinta kepada seorang pria berarti membunuh diri sekerat demi sekerat, tahukah engkau? Mencinta pria tidak ada gunanya sama sekali, karena di dunia ini tidak ada pria yang setia! Sebelum mendapatkan dirimu, pria bersumpah setinggi langit sedalam lautan, kalau sudah mendapatkan, matanya liar mencari perempuan lain. Tahu? Karena itu, jangan sekali-kali engkau jatuh cinta kepada pria, dan kalau kelak engkau jatuh cinta jalan satu-satunya yang baik adalah membunuhnya, merubah cintamu menjadi benci. Mengerti?”

Bi Kiok tidak menjawab dan agaknya iblis betina itu pun tidak membutuhkan jawaban karena dia sudah mulai mengganyang lima buah jantung yang masih basah oleh darah itu, masing-masing digigit sepotong lalu dibuang sambil mengomel, “Ihhh, jantung manusia-manusia celaka ini sama sekali tidak enak, terutama jantung dia yang berpakaian sastrawan ini!” Dia menggerakkan kakinya menendang.

“Prokkk!!” Kepala mayat Ouw siucai remuk dan otaknya berantakan!

“Uweeekk!” Tak dapat ditahan lagi Kun Liong muntah-muntah di tempat persembunyiannya! Dia muak bukan main, tak dapat ditahannya lagi, bukan hanya muak melihat iblis betina itu makan jantung mentah, juga amat muak mendengar ucapannya.

“Ihhhh…!” Bi Kiok tidak dapat menyembunyikan rasa kagetnya karena dia sungguh tidak menyangka bahwa Kun Liong masih bersembunyi di tempat itu!

“Nah, kaulihat betapa menjemukan laki-laki!” Gurunya berkata lagi, “Untung engkau tidak mencintanya, kalau kau mencintanya, engkau kuharuskan membunuhnya sekarang juga. Karena kau sudah membebaskannya, kita harus menjaga gengsi! Biarlah dia bebas, akan tetapi sekali kita berjumpa dengan bocah gundul itu, engkau ketuk kepala gundulnya sampai pecah!”

Kun Liong tak dapat menahan rasa panas yang membakar di dalam perutnya. Dia boleh mati dibunuh akan tetapi tidak mungkin dia diam saja menelan penghinaan orang, biarpun orang itu sekejam iblis betina ini! Dia tidak bersalah apa-apa, mengapa dihina?

“Eh, eh, nanti dulu! Aku tidak melakukan suatu kesalahan, mengapa tiada hujan tiada angin, tiada api tiada air, Bibi datang?datang memaki-maki aku?” Kun Liong sudah meloncat keluar dari balik semak-semak sambil mengusap mulutnya yang tadi muntah, memandang kepada iblis betina itu tanpa berkedip dan sedikit pun tidak merasa takut.

“Gundul buruk! Siapa bibimu?” Siang tok Mo li Bu Leng Ci membentak, terheran juga menyaksikan keberanian bocah gundul ini.

“Siapa lagi kalau bukan Siang tok Mo-li, seorang di antara para datuk kaum sesat? Kalau tidak boleh disebut bibi, habis aku disuruh menyebut apa?”

“Swinggg… siuuuuttt…!!”

Kun Liong sudah memejamkan mata melihat sinar hitam dari rambut wanita itu menyambar dengan kecepatan yang mengerikan. Benar saja, dia merasa ada rambut-rambut halus panjang dan harum membelit seluruh tubuhnya dan tubuhnya terangkat ke atas lalu berputar-putar seperti kitiran angin. Celaka, pikirnya. Dia tidak mampu menggerakkan kaki dan tangan karena keempat anggauta tubuhnya itu ikut terbelit. Sekali saja dibanting, akan remuk dia!

“Aku adalah Nona Bu, tahu?”

“Aku tahu, Nona Bu yang bisanya hanya membunuh orang yang tidak bisa melawan! Bisanya hanya menjilat ludah sendiri yang sudah dikeluarkan di atas tanah!”

“Apa kau bilang ? Bedebah busuk, kusiksa engkau sampai minta-minta ampun!”

“Siksalah. Siapa takut? Hal itu hanya akan menambah bukti bahwa Siang tok Mo li yang terkenal sebagai seorang di antara datuk-datuk hanyalah bernama kosong, yang melanggar janji sendiri!”

“Brukkk!” Tubuh Kun Liong dibanting ke atas tanah, akan tetapi tidak terlalu keras karena kata-kata pemuda itu sudah menikam ke dalam dada iblis betina itu.

“Bocah setan! Siapa bilang aku melanggar janji? Engkau takkan kubunuh sekarang, hal itu tidak akan kulanggar, akan tetapi aku tidak berjanji untuk tidak membuntungi kedua kakimu! Aku akan membiarkan kau hidup, akan tetapi kedua buah kakimu akan kubikin remuk tulang-tulangnya sehingga engkau akan menjadi seorang buntung yang tidak ada gunanya!”

“Aku hanya bisa mengatakan sayang, karena hal itu menunjukkan bahwa engkau tidak berani menghadapi kenyataan!” jawab Kun Liong dengan sikap tenang, seolah-olah ancaman dibuntungi kedua kakinya hanya seperti mendengar dibuntungi rambut atau kuku jarinya saja!

“Kenyataan apa yang kau maksudkan?”

Kun Liong yang cerdik sudah mendapatkan akal dan dia menjawab tenang. “Aku sudah pernah bertemu dengan seorang di antara datuk-datuk yang tersohor itu selain engkau.”

“Ihh! Benarkah? Siapa yang kaujumpai?”

“Yang amat sakti Ban tok Coa ong Ouwyang Kok sendiri, bersama puteranya, Ouwyang Bouw!”

Iblis betina itu benar benar tertarik sekali. Dia tahu akan kelihaian raja ular itu, dan merasa heran bahwa pemuda itu masih hidup setelah bertemu dengan ayah dan anak itu.

“Bohong kau! Hanya mendengar nama mereka dari orang lain saja! Hemm, untuk kebohonganmu itu, bukan hanya kedua kaki, juga sebuah lenganmu akan kubikin buntung!”

Kalau Kun Liong mengenal wanita iblis ini, tentu dia akan menjadi pucat seperti Bi Kiok, karena iblis betina ini tidak pernah mengancam dan selalu akan melaksanakan kata-katanya. Akan tetapi Kun Liong tetap tenang dan menjawab,

“Siapa bohong ? Ban tok Coa ong orangnya tinggi kurus seperti ular, dia mempunyai terompet aneh dan pedang ular, matanya sipit, lehernya paniang dapat berputar-putar.” Dia lalu menceritakan dengan jelas keadaan kakek raja ular itu dan puteranya. Karena dia memang pernah bertemu dengan mereka, tentu saja dia dapat bercerita dengan tepat sehingga wanita iblis itu percaya.

“Akan tetapi dibandingkan dengan Siang tok Mo li, Si Raja Ular itu masih kalah jauh, kalah kejam, kalah menyeramkan, dan agaknya melihat gerakan-gerakan tadi, dia masih kalah sakti. Hanya aku ingin sekali bertemu dengan para datuk yang lain, Kukira engkau tidak akan sehebat mereka itu terutama Si Bayangan Hantu…”

“Boleh! Aku membiarkan engkau pergi dan boleh kausaksikan sendiri. Kelak masih belum terlambat bagiku untuk mencari bocah gundul macam engkau untuk kuganyang otak dan jantungmu! Bi Kiok, hayo pergi, bocah ini menjemukan sekali!” Iblis betina itu lalu menggandeng tangan muridnya dan sekali berkelebat dia lenyap. Agaknya dia ingin memamerkan ginkangnya yang luar biasa kepada Kun Liong!

Kun Liong tersenyum seorang diri. Akalnya berhasil. Untung bahwa dia tadi mengintai dan mendengarkan ucapan iblis betina itu terhadap Kiang Ti dan Loan Khi Tosu. Kalau tidak tentu dia tidak akan dapat menggunakan akal itu, karena dia tentu tidak mengenal watak iblis itu. Dari ucapan iblis tadi dia dapat mengerti di samping kelihaian dan kekejamannya, iblis betina itu memiliki watak angkuh dan tinggi hati, tidak mau dikalahkan. Karena itulah maka dia sengaja membakar hati iblis betina itu yang tentu saja menjadi penasaran dan membebaskan pemuda itu hanya untuk memberinya kesempatan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Siang tok Mo li tidak kalah dibandingkan dengan datuk lainnya!

Akan tetapi Kun Liong juga merasa menyesal sekali mengapa dara seperti Bi Kiok sampai menjadi murid iblis itu. “Aihh, kasihan engkau, Bi Kiok.” Kun Liong mengeluh dan memandang ke arah tempat dara itu tadi berdiri seperti arca. Tampak olehnya sesuatu di atas lantai batu depan kuil di mana tadi dara itu berdiri. Cepat dia menghampiri dan ternyata di atas lantai di mana Bi Kiok tadi berdiri terdapat guratan-guratan huruf yang agaknya dibuat dengan kaki dara itu. Menggurat lantai dengan kaki mengukir huruf itu saja sudah membuktikan betapa lihai dara itu, agaknya jauh lebih lihai daripada Lim Hwi Sian, dara remaja pendekar Secuan itu! Kun Liong cepat membaca guratan huruf-huruf itu.

“Jangan bicara tentang bokor kepada siapapun juga agar nyawamu selamat!”

Kun Liong menggaruk kepalanya yang gundul. Dia sudah cukup cerdik untuk mengerti betapa bokor yang dia temukan di dasar Sungai Huang-ho itu dijadikan perebutan orang, dan tentu saja dia tidak mau sembarangan membicarakannya. Bokor itu telah disimpannya dengan aman. Akan tetapi dia merasa heran sekali mengapa Bi Kiok yang tadinya terancam oleh gurunya yang seperti iblis, masih mempedulikan dia bahkan meninggalkan pesan yang berbahaya ini? Tentu saja akan menjadi berbahaya sekali kalau iblis betina itu tahu akan perbuatan muridnya itu. Mengapa Bi Kiok selalu menolongnya? Teringat dia akan pertanyaan Si Iblis Betina kepada muridnya apakah dara remaja itu mencinta dia! Dan teringat akan ini, Kun Liong melebarkan matanya dan tersenyum kecut. Mana mungkin seorang dara secantik Bi Biok jatuh cinta kepada seorang gundul plontos seperti dia! Akan tetapi mengapa pula Bi Kiok selalu menolongnya, bahkan berani mati meninggalkan pesan itu? Benarkah dia mencinta? Atau setidak-tidaknya kasihan atau suka kepadanya.

“Plakk!” Gundul yang bersih itu kembali dicium tamparan telapak tangannya sendiri. “Wah, gundul! Untungmu besar memang!” Kun Liong berkata demikian dengan wajah berseri karena dia teringat akan Souw Li Hwa yang bersikap manis dan memuji gundulnya, teringat akan Lim Hwi Sian yang bahkan suka mencium gundulnya, kini teringat akan Bi Kiok yang juga suka kepadanya. Aihhhh, mengapa gadis-gadis cantik melulu yang bersikap manis kepadanya? Dengan langkah-langkah ringan, seringan hatinya yang mengenangkan wajah tiga orang dara remaja yang cantik-cantik itu, Kun Liong melanjutkan perjalanannya ke selatan, menuju Cin ling san yang tak berapa jauh lagi.

Cin ling san merupakan pegunungan yang tidak berapa tinggi, tidak setinggi Pegunungan Kun lun san, Tang la san, Heng tuan san atau bahkan Ci lian san yang puncak-puncaknya menjulang tinggi memasuki langit, kata orang! Namun justeru karena tinggi puncaknya tidak menembus awan itulah yang membuat

Pegunungan Cin ling san merupakan daerah yang selain indah juga amat subur tanahnya, amat sejuk nyaman hawanya.

Beberapa tahun yang lalu, sebelum Cin ling pai (Perkumpulan Cin ling) terbentuk oleh Pendekar Besar Cia Keng Hong dan isterinya, pegunungan ini merupakan daerah angker dan tidak ada orang berani mendaki pegunungan ini yang selain penuh dengan hutan yang dihuni binatang liar itu, juga menjadi sarang kawanan perampok. Apalagi ketika mendiang Nenek Tung Sin Nio tinggal di lereng sebelah timur Cin ling san, tidak ada seorang pun, baik orang berilmu golongan bersih maupun sesat, yang berani mendekati daerah itu. Nenek Tung Sun Nio adalah guru ke dua dari Pendekar Sakti Cia Keng Hong.

Memang di seluruh daerah Pegunungan Cin ling san ini, lereng timur merupakan bagian yang paling indah pemandangannya dan paling subur tanahnya. Karena itu, di tempat ini pula, bekas tempat pertapaan Nenek Tung Sun Nio, Cia Keng Hong mendirikan perkumpulan Cin ling pai yang tadinya hanya merupakan kelompok petani yang berlindung di bawah wibawa suami isteri pendekar itu. Kemudian jumlah mereka membesar sehingga terkenalah Perkumpulan Cin ling pai karena Cia Keng Hong menurunkan ilmu silat kepada pemuda-pemuda yang tinggal di situ.

Pemandangan dari lereng timur Cin-ling san mentakjubkan sekali. Memandang ke utara tampak samar-samar seekor ular biru yang panjang, yang bukan lain adalah Sungai Wei ho yang mengalir ke timur. Memandang ke timur tampak pula kaki Pegunungan Ta pa san di mana mengalir Sungai Han shui. Di selatan tampak puncak Pegunungan Ta pa san dan Sungai Cia ling yang airnya agak kuning. Di barat tampak menjulang tinggi puncak Pegunungan Min-san yang terkenal itu.

Yang disebut Cin ling pai adalab sebuah dusun di lereng timur Cin ling san, sedangkan Pendekar Sakti Cia Keng Hong bersama isterinya yang diangkat menjadi Ketua Cin ling pai, merupakan juga semacam kepala dusun yang disegani dan dihormati, akan tetapi juga dicinta oleh semua penduduk dusun di situ. Penduduk dusun ini juga menyebut diri mereka anggauta Cin ling pai, dari kanak kanak yang baru belajar bicara sampai kakek-kakek yang sudah pikun!

Cia Keng Hong adalah seorang pendekar yang usianya pada waktu itu sudah mendekati empat puluh tahun. Wajahnya masih tampak gagah dan tampan, dengan tubuh sedang dan biarpun sudah mendekati empat puluh tahun, tidak seperti sebagian besar kaum pria setengah tua, pinggangnya masih ramping dan dadanya bidang. Baik pakaiannya, sikap maupun tutur sapanya sederhana sekali sehingga dipandang sepintas lalu, tidaklah pantas kalau dia itu Cia Keng Hong yang terkenal oleh setiap orang di dunia persilatan, lebih patut kalau dia itu seorang sastrawan dusun, atau seorang terpelajar yang mengundurkan diri dan hidup sebagai petani sederhana. Hanya kalau orang memperhatikan sinar matanya dan mendengarkan ucapannya, barulah orang tahu bahwa dia bukanlah orang biasa dan dari pribadinya mencuat keluar wibawa yang berpengaruh.

Isteri pendekar itu pun bukan orang biasa. Bahkan mungkin sekali namanya lebih banyak dikenal, terutama di kalangan kaum sesat dan namanya pernah membuat setiap orang yang mendengar menjadi ketakutan. Isteri pendekar itu bernama Sie Biauw Eng dan dahulu di waktu masih gadis berjuluk Song bun Siu-li (Dara Jelita Berkabung) karena pakaiannya selalu serba putih. Namanya terkenal sekali karena dia adalah murid datuk golongan sesat, mendiang Lam hai Sin ni (Wanita Sakti Laut Selatan)! Di dalam ceritaSiang Bhok Kiam atauPedang Kayu Harum diceritakan riwayat Song bun Siu li Sie Bun Eng ini sebelum menjadi isteri Pendekar Sakti Cia Keng Hong! Kini usia Sie Biauw Eng sudah kurang lebih tiga puluh lima tahun. Namun dia masih kelihatan muda dan cantik, seperti seorang wanita muda berusia kurang dari tiga puluh tahun saja, tubuhnya masih tetap ramping, tegap berisi dengan kulit halus tanpa noda keriput. Sikapnya kadang-kadang masih agak dingin dan kadang-kadang amat galak, akan tetapi kalau sudah timbul ramahnya, dia halus budi dan lemah gemulai seperti seorang dewi. Biarpun tingkat ilmu silatnya tidak setinggi suaminya, namun di dunia kang-ouw namanya terkenal sekali dan agaknya tidak banyak tokoh dunia persilatan yang akan mampu menandinginya. Cantik dan halus gerak-geriknya, wanita cantik yang lemah tampaknya, akan tetapi sekali dia mengamuk, jarang ada pendekar yang berani mendekatinya!

Suami isteri yang gagah perkasa dan bagaikan yang hidup rukun saling mencinta ini mempunyai seorang anak perempuan yang mereka namakan Cia Giok Keng yang pada waktu itu telah berusia empat belas tahun lebih. Dara remaja ini cantik seperti ibunya, juga berani mati, tidak mengenal takut dan galaknya seperti harimau, presis ibunya di waktu muda. Namun berbeda dengan ibunya yang pendiam dan kelihatan dingin, Giok Keng ini lincah gembira dan pandai sekali bicara, pandai berdebat seperti ayahnya.

Pada pagi hari itu, Giok Keng berada di rumah dan duduk melamun. Seperti biasanya pagi-pagi sekali dia telah bangun mandi dan mengenakan pakaian bersih. Dia tidak pesolek, akan tetapi seperti ibunya, dia suka akan pakaian yang bersih dan rapi. Rambutnya dibelah menjadi dua dikuncir di sebelah belakang, anak rambutnya berjuntai di depan, menutupi dahi dengan rapi sekali. Telinganya dihias anting-anting bermata kemala hijau, sepatunya tinggi, terbuat dari kulit. Cantik mungil dara remaja ini, segar bagaikan sekuntum bunga mawar hutan yang menguncup dan mulai mekar. Akan tetapi pagi itu, tidak seperti biasanya, dia duduk melamun, mulutnya agak cemberut dan alisnya berkerut. Hatinya memag kesal sekali. Ayah dan ibunya pergi dan dia tidak diperbolehkan ikut. Sudah tiga hari mereka pergi, katanya hendak pergi ke Leng-kok, mengunjungi Yap Cong San.

“Mengapa saya tidak boleh ikut mengunjungi Paman Yap Cong San, Ayah?” dia menuntut manja. “Bukankah kata Ayah dan Ibu, Paman Yap adalah keluarga terdekat, dan sampai sekarang pun saya belum pemah bertemu dengan mereka?”

“Lain kali saja, manis,” jawab ayahnya penuh kasih sayang. “Kalau kau ikut pergi, siapa yang akan menjaga rumah

dan bertanggung jawab di sini? Sekali ini, engkau harus mewakili Ayah Ibumu, menjaga Cin ling pai. Engkau sudah cukup dewasa!”

Jawaban yang cerdik ini menyudutkan Giok Keng. Dia ditinggalkan, akan tetapi sekaligus diangkat menjadi wakil! Tentu saja dia tidak sanggup membantah lagi dan pada pagi hari itu, setelah tiga hari lamanya dia merasakan kesunyian yang membuat hatinya mengkal, pagi-pagi dia setelah mandi duduk di ruangan depan rumahnya sambil bertopang dagu dan termenung.

Sementara itu, tak jauh dari situ, di luar dusun Kun Liong bertemu dengan beberapa orang penduduk yang sedang menuju ke sawah dengan wajah gembira karena pagi hari itu udara cerah dan hawanya sangat sejuk. Dengan susah payah, bertanya-tanya, akhirnya pagi hari itu Kun Liong sudah sampai di luar dusun itu setelah malam tadi dia melewatkan malam dingin di dalam hutan di lereng bukit. Empat orang petani itu menghentikan langkah mereka dan memandang Kun Liong dengan heran. Jarang ada orang luar daerah datang berkunjung, kecuali para pedagang yang hendak membeli daun-daun dan akar-akar obat, ditukar dengan segala macam benda dari kota yang mereka butuhkan. Karena mereka tidak tahu apakah pemuda itu seorang hwesio yang berpakaian biasa ataukah seorang pemuda biasa yang berkepala gundul, empat orang itu hanya memandang dan bersikap waspada. Semua penduduk atau anggauta Cin ling pai sudah biasa bersikap waspada dan hati-hati sesuai dengan petunjuk ketua mereka.

Kun Liong segera mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai penghormatan dan dibalas oleh empat orang itu dengan gerakan yang sama. “Sudikah Cuwi (Anda Sekalian) menunjukkan kepada saya di mana adanya Cin ling pai?”

Mendengar tutur sapa Kun Liong empat orang dusun itu saling pandang. Mereka tidak pernah mengenal huruf dan kesopan santunan kota, dan ketua mereka pun tidak berniat mengubah kewajaran orang-orang dusun itu. Akan tetapi mereka maklum bahwa mereka berhadapan dengan seorang pemuda yang baik, maka seorang di antara mereka menjawab sederhana, “Dusun kami itulah Cin ling-pai dan kami adalah anggauta-anggauta Cin ling pai. Ada keperluan apakah engkau mencari Cin ling pai?”

Kun Liong menyembunyikan rasa herannya. Cin ling pai adalah nama perkumpulan, bagaimana mungkin sebuah dusun disebut perkumpulan? Dia hanya tersenyum dan berkata pula, “Tidak ada keperluan dengan Cin ling pai, hanya saja ingin menghadap Ketua Cin ling pai. Bukankah ketuanya bernama Cia Keng Hong?”

Kini empat orang itu memandang penuh kecurigaan, dan orang yang tertua tadi bertanya lagi dengan hati-hati, “Kalau boleh aku bertanya, ada hubungan apakah antara Anda dengan ketua kami?”

“Dengan Pendekar Sakti Cia Keng Hong? Ahh, saya hanyalah murid keponakannya, ibu saya adalah sumoi dari Cia susiok.”

Empat orang itu kelihatan kaget sekali dan cepat mereka memberi hormat dengan membungkuk. “Aihh, harap Sicu (Tuan Yang Gagah) sudi memaafkan kami. Rumah Cia taihiap berada di dalam dusun kami, rumah besar yang bercat kuning di tengah dusun. Maaf, kami tidak dapat mengantar karena kami hendak melaksanakan tugas pekerjaan kami di sawah.”

“Tidak mengapa, Paman. Terima kasih atas kebaikan Paman, saya akan mencarinya sendiri,” kata Kun Liong. Empat orang dusun itu bergegas pergi menuju ke sawah. Mereka khawatir kalau-kalau oleh pemuda itu dilaporkan bahwa mereka kurang pagi berangkat atau bermalas-malasan. Nona muda amat galak, dan biarpun hidup mereka di situ tidak ditekan, namun nona muda paling tidak suka melihat orang malas karena dia sendiri amat rajin dan suka bekerja!

Kun Liong memasuki dusun dan mudah saja dia menemukan rumah besar bercat kuning karena dusun itu ternyata hanya merupakan sebuah dusun kecil dengan sedikit rumah-rumah, paling banyak ada lima puluh buah rumah. Dia memasuki pekarangan rumah yang lebar dan penuh dengan tanaman bunga yang amat indah. Bunga-bunga di sini segar dan sehat seperti di tempat-tempat dingin, dan dia harus mengagumi kepandaian orang yang mengatur taman depan rumah itu. Tidak kalah oleh taman-taman milik orang bangsawan di kota agaknya!

“Heee! Mau apa kau longak-longok di tamanku? Apakah engkau mau mencuri bunga? Mau malas-malasan tidak bekerja, ya?”

Kun Liong terkejut sekali. Tadi dia berjongkok mencium setangkai bunga mawar yang amat indahnya, warna merah muda dan berbau harum. Dia bangkit berdiri dan memutar tubuhnya.

“Ehhh…! Siapa kau…?” Dara remaja yang berdiri di ruangan depan rumah itu bertolak pinggang dan mengerutkan alisnya.

Kun Liong cepat melangkah maju dan naik anak tangga ke ruangan depan, menghadapi dara remaja itu dengan sinar mata kagum. Dara remaja ini bukan main cantiknya! Seperti bunga mawar tadi, segar kemerahan dan harum! Dan seperti mawar yang berduri, dara ini pun agak galak! Entah mengapa, pribadi dara ini mengeluarkan daya tarik yang membetot semangatnya, membuat Kun Liong hanya berdiri terlongong di depannya.

“Mau apa engkau? Kalau engkau hwesio minta derma, sebutkan di mana kuilmu dan siapa ketua kuil yang mengutusmu!”

Merah muka Kun Liong, merah juga kepalanya yang gundul dan perutnya terasa panas! Datang-datang dia disambut penghinaan oleh dara cantik ini! Sombongnya! Hem, apakah karena cantik jelita dan agaknya menjadi orang penting di rumah Pendekar Sakti Cia Keng Hong, bocah ini boleh menghinanya sembarangan saja? Dia seorang laki-laki yang tidak takut apa-apa, masa datang-datang dihina oleh seorang bocah perempuan, betapapun cantiknya dia?

“Eh, eh, jangan sembarangan menyangka orang. Aku bukan hwesio dan aku sama sekali bukan datang mau minta derma!” Kata-kata ini diucapkan dengan marah karena Kun Liong merasa terhina sekali disangka minta derma!

Sepasang mata yang seperti mata burung hong itu mengeluarkan sinar berapi, dan alis yang melengkung indah itu berkerut makin dalam, bibir yang merah dan berbentuk gendewa terpentang itu mencibir runcing, kemudian membentak,

“Kalau bukan hwesio mengapa kepalamu gundul? Tentu engkau hwesio yang menyamar dan kalau ada pendeta menyamar berarti hatinya mengandung niat buruk. Berbahaya!”

“Sialan! Aku bukan hwesio!” Kun Liong juga membentak marah, matanya yang lebar terbelalak.

Giok Keng tersenyum. Manis sekali senyumnya, akan tetapi juga menusuk jantung karena di balik senyum manis ini tampak jelas maksud mengejek. “Bukan hwesio ya sudah, tak perlu menggonggong! Kalau bukan hwesio, tentu engkau seorang pemuda yang mempunyai banyak kutu rambut, atau mungkin kepalamu penuh kudis maka kaubuang semua rambutmu!”

“Bocah perempuan sombong! Engkau menghina, ya?” Kun Liong melangkah maju setindak.

Senyum ejekan itu melebar dan tampak jelas dara itu mengangkat dada ke depan, membusungkan dada yang sudah mulai membusung itu, sambil berkata, “Kalau benar aku menghina, habis engkau mau apa?”

Makin panas rasa perut Kun Liong. Bocah ini benar-benar kurang ajar, pikirnya.

“Kalau engkau menghina, aku pun bisa menghinamu!”

“Coba saja kalau berani!”

“Wah, sombongnya! Masa aku tidak berani membalas seorang bocah perempuan sombong seperti engkau? Engkau memang cantik seperti… bunga mawar, akan tetapi banyak sekali durinya. Engkau cantik akan tetapi galak seperti… hemmm…” Kun Liong memutar otak untuk mencari perbandingan agar dapat balas menghina.

Muka Giok Keng sudah mulai merah dan dia membanting kaki kanannya. “Seperti apa? Hayo katakan kalau berani!” Kedua tangan yang bertolak pinggang sudah turun dan dikepal menjadi dua tinju kecil.

Senang hati kun Liong melihat dara itu mulai marah. Makin manis kalau marah, pikirnya, kedua pipi itu menjadi kemerahan, presis bunga mawar. Biar dia bertambah marah, pikirya dan dia berkata, “Seperti… kucing betina kehilangan tanduk!”

“Keparat kau!”

Giok Keng sudah menerjang dengan pukulan kilat ke arah kepala gundul Kun Liong. Pemuda ini mengelak, namun kalah cepat karena gerakan gadis ini benar-henar amat cepat luar biasa.

“Takkk!” Kepala Kun Liong yang gundul kena diketak (dipukul dengan buku jari) tangan kanan Giok Keng. Berkat sin kang yang dipelajarinya dari Bun Hwat Tosu, kepala itu terlindung dan tidak terluka, akan tetapi kulit kepalanya terasa nyeri sehingga Kun Liong meringis. Akan tetapi Giok Keng juga menyeringai kesakitan ketika buku jari tangannya bertemu dengan batok kepala yang amat keras!

“Aihhh, kepala gundulmu keras juga, ya?” Ucapan ini sengaja dikeluarkan bukan untuk mengejek, melainkan karena terheran dan dengan sungguh-sungguh, akan tetapi membuat Kun Liong makin marah. Tidak saja kepalanya diketak, akan tetapi juga diejek!

“Pukulanmu seperti tahu saja!” Dia balas mengejek dan balas pula menyerang, akan tetapi karena dia tidak ingin memukul, dia hanya menggunakan tangannya untuk mendorong pundak dara itu dengan tangan terbuka.

“Cih, kiranya engkau manusia cabul!” Giok Keng mengelak.

“Cabul hidungmu!” Kiin Liong makin marah. “Siapa yang cabul?” Dia menjadi makin marah dan mukanya makin merah. Dorongan ke pundak dikatakan cabul, apakah dia disangka akan menggunakan tangannya untuk memegang apa?

“Gundul cabul tak tahu malu! Rasakan hajaran Nona Cia!” Giok Keng kini menyerang dengan gerakan yang amat cepatnya sehingga Kun Liong sibuk mengelak ke sana sini. Juga dia kaget setengah mati mendengar bahwa dara di depannya ini adalah Nona Cia. Berarti puteri susioknya! Dia sudah mendengar sepintas lalu dari ayah ibunya bahwa Cia Keng Hong mempunyai seorang puteri kalau tidak salah ingat namanya pakai Keng keng begitu.

“Eh, tahan dulu…! Plak!” Karena lengah, pundaknya kena dipukul membuat dia terhuyung, akan tetapi tidak apa apa. Hal ini membuat Giok Keng heran dan penasaran, maka dia menerjang lagi.

“Nanti dulu! Desss!” Kun Liong menangkis dengan keras, kini Giok Keng yang terhuyung karena Kun Liong menggunakan sinkang. “Apakah engkau Keng?”

Giok Keng menghentikan scrangannya, dahinya berkeringat sehingga anak rambut di dahi kacau balau dan melekat seperti dilukis, matanya berkilat dan pipinya bertambah merah. “Apa Keng?” Dia membentak.

“Bukankah namamu memakai Keng-keng begitu? Kau puteri Ketua Cin ling-pai?”

“Banyak cerewet! Rasakan tanganku!”

Giok Keng sudah menyerang lagi dan karena dia dapat menduga bahwa pemuda gundul ini lihai juga serta memiliki kekebalan sehingga dapat menahan pukulannya, maka kini dia menggunakan dua jari tangan kanan kiri, melakukan serangan dengan totokan-totokan yang cepat sekali. Biarpun kebal, jalan darahnya tentu tidak kebal, pikirnya.

“Cusss!” Serangan bertubi tubi itu akhirnya berhasil dan dada kanan Kun Liong kena ditotok. Akan tetapi karena jalan darah yang ditotoknya itu tidak kena dengan tepat, tubuh Kun Liong tidak menjadi kaku seperti kalau terkena tepat melainkan bergoyang dan menggigil sedikit, kemudian pemuda itu sudah meloncat mundur dan berkata, “Hemm, engkau mengajak berkelahi, ya? Aku seorang laki laki sejati, tidak mau memukul perempuan, akan tetapi aku harus membela diri.”

“Kau laki laki apa? Cerewetnya melebihi seorang nenek bawel. Mampuslah!”

“Wuussss…!!” Kedua tangan Giok Keng sudah menerjang lagi dengan totokan totokan lihai sekali dan hal ini tidaklah mengherankan karena dara itu mainkan jurus jurus San in Kun hoat (Ilmu Silat Awan Gunung), semacam ilmu silat tinggi sekali yang dipelajari dari Cia Keng Hong. Ilmu silat San in Kun hoat ini hanya terdiri dari delapan jurus, akan tetapi setiap jurusnya merupakan gerakan gerakan yang luar biasa lihainya. Kalau saja Giok Keng sudah memiliki sin-kang yang kuat, tentu dia dapat merobohkan Kun Liong dengan ilmu silat tinggi ini. Akan tetapi karena dara itu menyangka bahwa pemuda gundul itu memiliki kekebalan luar biasa, dia mengganti kepalan dengan totokan. Namun kecepatan dan keanehan gerakannya membuat Kun Liong sibuk sekali. Terpaksa pemuda ini lalu mainkan jurus dari Pat hong sin kun untuk menjaga diri dan memang daya tahan dari ilmu silat ini luar biasa. Jangankan hanya dua buah tangan Giok Keng yang datang dari dua jurusan, andaikata dia diserang dari delapan jurusan sekalipun, dia akan dapat melindungi dirinya sesuai dengan sifat Ilmu Silat Pat hong sin kun (Silat Sakti Delapan Penjuru Angin). Setelah beberapa lama Giok Keng tak dapat mengenai sasaran tubuh lawannya, dara itu menjadi makin marah dan timbullah kenakalan Kun Liong untuk mengejeknya, “Hayo, keluarkan Thi khi-I beng, hendak kulihat bagaimana lihainya.”

“Eihhh…!!” Giok Keng tak dapat menahan kemarahannya. Thi khi I beng adalah ilmu sakti yang hanya dimiliki ayahnya. Tentu saja dia belum diajar ilmu itu, atau belum tentu selamanya akan diajar ilmu itu yang menurut ayahnya tidak boleh sembarangan dimiliki orang yang dasarnya belum kuat benar lahir batin. Kini pemuda gundul ini menantang Ilmu Thi khi I beng. Hati siapa tidak menjadi gemas?

“Jahanam gundul keparat sombong! Tak perlu dengan Thi khi I beng untuk melawan manusia macam engkau!” Kini dara itu merobah ilmu silatnya dan gerakannya menjadi aneh sekali. Baru beberapa jurus saja, dengan gerakan memutar setelah mendesak Kun Liong dengan totokan totokan maut, dara itu berhasil menendang pinggul Kun Liong sehingga pemuda itu terlempar dan terbanting.

“Wah, curang! Kusangka hanya menotok terus, tahu tahu menendang pinggul!”

“Mampuslah!”

Giok Keng sudah menubruk maju. “Ciaaattt!” Dua buah jari tangan kirinya menusuk ke arah mata Kun Liong yang masih telentang dan baru hendak bangkit duduk.

“Aihhhh…!” Kun Liong meloncat ke atas, menghindarkan totokan dan tangan sudah dikepal untuk balas menghantam kepala dara itu dari atas. Akan tetapi entah mengapa, dia tidak tega memukul dan kepalannya dibuka, berubah menjadi cengkeraman dan dia berhasil menjambak sebuah di antara dua kuncir rambut dan menariknya.

“Aduhhhh… curang kau, setan!” Giok Keng yang dijambak rambutnya menjerit, akan tetapi berbareng dia pun menggunakan jari tangannya menotok pundak sambil mengerahkan tenaga.

“Dukkk!!”

Tubuh Kun Liong menjadi lemas dan dia roboh terguling!

Sambil bertolak pinggang berdiri di dekat tubuh Kun Liong yang rebah telentang, Giok Keng tersenyum mengejek, menggerakkan kepalanya untuk memindahkan rambutnya yang agak awut-awutan dijambak Kun Liong tadi ke belakang punggung, napasnya agak terengah, muka dan lehernya berkeringat, pipinya merah segar.

“HEMMM, kalau hendak membunuhmu, betapa mudahnya!” Dia mengejek.

Biarpun tubuhnya masih lemas dan tak dapat digerakkan, namun Kun Liong masih dapat menggerakkan mulut bicara, dan pandang matanya sama sekali tidak takut atau menyerah, bahkan mengejek! “Kalau begitu, mengapa tidak kaubunuh? Hemmm, kau tidak berani membunuhku, ya? Karena kalau kau membunuh orang yang kaucurangi sehingga tanpa tersangka sangka kena totokan, berarti engkau seorang dara pengecut paling besar!”

“Setan gundul! Kau masib berani membuka mulut besar?”

“Mengapa tidak? Engkau seorang dara yang cantik tapi galak, behati baik akan tetapi pura pura keras. Engkau puteri seorang pendekar besar yang tentu berjiwa pendekar pula, akan tetapi kau memperlakukan seorang tamu dengan kurang ajar dan menghina. Tunggu saja kau, akan kulihat bagaimana sikapmu kalau kuceritakan kepada ayah bundamu kelak!”

Sepasang mata yang indah itu terbelalak. “Ehh…? Kau… kau siapa?”

“Ayahmu adalah Supekku (Uwa Guru) karena ibuku adalah sumoinya.”

“Apa? Engkau… engkau she Yap?”

“Tidak ada keduanya!”

“Engkau yang bernama Yap Kun Liong putera Paman Yap Cong San?”

“Hanya inilah orangnya!”

“Celaka! Kenapa kau tidak bilang sejak tadi ?” Tergopoh gopoh Giok Keng menotok kembali pundak Kun Liong sehingga pemuda itu terbebas dan dapat bangkit berdiri lagi. Mereka berdiri saling berhadapan, saling pandang. Akhirnya Giok Keng yang membuka mulut berkata dengan nada suara penuh permintaan. “Eh, kau jangan…”

“Namaku bukan eh!”

“Orang she Yap…”

“Mengapa kau sombong amat, sih? Memangnya aku penjahat sampai kau tidak sudi menyebut namaku?”

Giok Keng membanting-banting kakinya dengan jengkel, gerakan yang ia warisi dari ibunya. Biasanya dia amat pandai berbantah, dan dimanja oleh siapa pun, sekarang dia selalu dibantah dan dicela habis-habisan oleh Si Gundul ini! Akan tetapi dia takut kalau-kalau Si Gundul ini mengadu kepada ayah ibunya, terutama sekali kepada ibunya. Mereka memanjakannya, akan tetapi ibunya keras dan kalau ibunya sudah marah, dia amat takut kepada ibunya.

“Kun Liong…”

“Eh, eh, engkau memang kurang ajar, tidak tahu aturan, ya?”

“Kenapa lagi? Cerewet benar kau!”

“Bukan cerewet, akan tetapi ayahmu adalah suheng ibuku, berarti di antara kita masih ada hubungannya.”

“Hubungan apa? Keluarga bukan, kenal pun baru sekarang!”

“Eeehh, orang tua kita adalah saudara seperguruan, berarti kita masih ada bau bau…”

“Bau apa? Kurang ajar kau!”

“Maksudku, masih bau bau… eh, hubungan sanak. Engkau keponakan ibuku dan aku keponakan ayahmu, berarti kita masih saudara misan seperguruan. Bukan begitukah? Jadi, karena engkau masih kecil…”

“Sombong! Apa kaukira engkau ini sudah kakek kakek? Aku bukan anak kecil!”

“Kalau begitu engkau nenek nenek!”

“Aku bukan anak kecil, usiaku sudah empat belas tahun lebih, hampir lima belas tahun!”

“Dan aku sudah lima belas tahun. Nah, berarti aku lebih tua. Engkau adalah piauw sumoi, dan aku adalah piauw-suhengmu (kakak misan seperguruan). Engkau jangan kurang aturan menyebut namaku begitu saja, ya?”

Kembali Giok Keng membanting kaki dengan gemas. Dia merasa kalah bicara. Dengan susah payah dia menekan perasaannya dan berulang kali menghela napas, menahan tangannya agar jangan menampar kepala gundul itu. Entah kenapa, tangannya gatal gatal untuk menampar kepada gundul licin itu!

“Baiklah, Piauw suheng!” Dia mengejek sambil membungkuk dibuat buat. “Aku minta engkau jangan mengadu kepada ayah bundaku, ya?”

Kun Liong menggerakkan hidung. Rasakan engkau sekarang, pikirnya! Bocah galak harus dihajar! Dengan angkuh dia menegakkan tubuh mengangkat muka. “Salah siapa! Engkau telah menyambutku dengan cara yang kurang ajar sekali, bahkan berani memukul aku. Biar kuberitahukan kepada Supek dan Supek bo, aku ingin melihat bagaimana kalau kau dimarahi, mungkin dipukul!”

“Aihhh… janganlah, Piauw suheng… ibuku keras sekali. Apa kau tidak kasihan kepada piauw sumoimu?”

“Huh, enak dan gampangnya. Sudah menghina, sudah memukul, malah minta tolong segala. Kiranya aku ini orang apa, hah?”

“Piauw suheng yang baik, kaumaafkan aku, ya? Aku tidak marah lagi kepadamu, aku tidak menghinamu lagi. Habis engkau sendiri juga salah. Siapa yang menyangka bahwa engkau putera Paman Yap Cong San kalau melihat… eh…”

“Bilang saja kepala gundulku! Kenapa sih ragu ragu?” Kun Liong menghardik sampai Giok Keng kaget.

“Ya, ya… karena kepalamu yang gundul itu mendatangkan keraguan dan kecurigaan padaku sehingga aku bersikap keras. Ketahuilah, ayah dan ibuku sedang pergi, malah pergi ke tempat ayahmu dan aku diberi tugas untuk mewakili mereka menjaga di sini, memimpin Cin-ling pai. Bayangkan saja betapa beratnya! Maka begitu melihat engkau yang kucurigai akan mengacau Cin-ling-san, aku terus turun tangan. Maafkan aku, ya?”

Kun Liong merasa seperti dielus elus. Enak sekali rasanya, akan tetapi mulutnya tetap diruncingkan agar kelihatan cemberut dan marah. “Kalau aku membiarkan semua orang menampar kepalaku kemudian cukup dengan permintaan maaf saja, agaknya kepalaku akan remuk dalam waktu singkat. Tidak cukup hanya dengan permintaan maaf.”

“Habis, harus bagaimana?” tanya Giok Keng penasaran. “Apakah aku harus berlutut di depan kakimu?”

Kun Liong ingin sekali menuntut hukuman seperti yang dia lakukan kepada Hwi Sian, yaitu agar dara ini pun mencium kepalanya. Akan tetapi dia berpikir panjang. Kalau sampai dara ini marah, karena wataknya begini keras, bisa berabe. Dan lebih hebat lagi kalau dara ini mengadu kepada ayah bundanya, lebih celaka sekali kalau sampai ayahnya mendengar akan hal itu! Dara ini takut kepada ibunya yang keras, tentu tidak tahu betapa dia pun amat takut kepada ayahnya yang keras pula! Tidak, dia tidak boleh menyuruh Giok Keng mencium kepalanya. Tiba tiba dia mendapat akal dan menjawab sambil tersenyum. “Engkau amat menghinaku karena kepalaku yang gundul, bahkan tadi engkau telah menampar kepalaku. Nah, sekarang aku baru mau menghabiskan urusan ini sampai di sini saja kalau engkau suka menampar kepalaku sampai tiga kali lagi!”

Mata Giok Keng terbelalak lebar. “Apa…? Sudah gilakah engkau? Kalau kupukul dengan sungguh sungguh, tentu akan pecah kepalamu. Jangankan sampai tiga kali, satu kali saja cukup…”

“Sudahlah, menyombong lagi! Biar pecah, lebih baik agar ayah bundamu tahu bahwa puteri mereka telah menyambut kedatangan piauw suhengnya dengan pukulan maut sampai kepalanya pecah!”

“Aihhh… habis bagaimana?”

“Terserah kepadamu. Pendeknya, aku ingin kau menggunakan tanganmu menampar kepalaku sampai tiga kali!”

Giok Keng memandang kepala itu dengan muka menunjukkan kebingungan hatinya. Tangannya memang gatal gatal rasanya, ingin sekali dia menampari kepala itu, akan tetapi kalau dia menampar sampai Kun Liong terluka atau mampus, tentu dia tidak akan mendapat ampun dari ibunya. Ia memutar otak dan akhirnya dengan wajah berseri dia berkata, “Baik, akan kutampar kepalamu tiga kali, akan tetapi luput!”

“Eeh, mana bisa? Aku tidak menangkis tidak mengelak mana bisa luput? Padahal engkau puteri Ketua Cin ling-pai! Siapa mau percaya?”

“Habis bagaimana?”

“Terserah, asal menampar kepala.” Kun Liong diam diam girang sekali dan merasa sudah dapat membalas dendam mempermainkan dara galak itu.

“Kalau pelan pelan boleh, kan?”

“Pokoknya asal menggunakan tangan menampar kepala.” Jantung Kun Liong berdebar karena dia sudah membayangkan betapa kepalanya akan dielus elus oleh telapak tangan yang halus itu!

“Baiklah. Nah, awas, aku akan mulai!”

Giok Keng menggerakkan tangan kanannya dan tepat seperti yang diduga dan dikehendaki Kun Liong, telapak tangan yang halus dan hangat itu menjamah kepala gundul itu tiga kali. “Sudah cukup tiga kali!” kata Giok Keng sambil melangkah mundur, geli juga meraba kepala yang gundul kelimis itu.

“Terima kasih, enak sekali!” kata Kun Liong sambil membungkuk dan tersenyum lebar.

“Pringas pringis (menyeringai), bilang saja ingin diusap kepalanya, pura pura minta ditampar!”

“Sudah pantas saja, Piauw sumoi, untuk obat kepalaku yang masih terasa nyeri oleh tamparanmu tadi. Jadi Cia-supek dan Supek bo tidak berada di rumah?”

“Tidak, karena itu, lain kali saja kau datang menjumpai mereka. Akan tetapi awas, kau sudah berjanji tidak akan mengadu kepada mereka!”

“Wah, kau tidak percaya kepadaku? Eh, sumoi, namamu Cia Giok Keng, ya? Sekarang aku ingat. Indah sekali namamu, seindah… orangnya… eh, maksudku… eh, kau cantik sekali, Piauw moi, dan ilmu silatmu lihai bukan main. Aku kagum sekali kepadamu.”

“Dan aku benci kepadamu!”

“Oh, ya? Sebaliknya, aku sangat cinta kepada diriku ini!”

“Aku benci, terutama kepalamu.”

“Dan aku terutama sekali sayang kepada kepalaku ini.” Kun Liong mengelus kepalanya. Betapa dia tidak sayang? Kepalanya mendatangkan banyak “untung” jika dia bertemu dengan dara~dara jelita!

Sambil tersenyum lebar dia lalu menjura dan berkata lagi, “Nah, aku pergi, Piauw-sumoi yang cantik dan galak. Sampai bertemu lagi, ya?”

“Tidak sudi! Sekalipun cukuplah.”

“Uihh, jangan begitu! Bagaimana kalau kelak orang tuarnu minta kau berjumpa dengan aku?”

“Tidak usah, ya!”

Kun Liong tertawa bergelak lalu meninggalkan nona itu yang masih membanting banting kaki saking jengkelnya.

Biarpun mulutnya tertawa tawa dan hatinya lega karena sudah berhasil membalas dara galak itu, menggodanya dan berhasil pula dielus elus kepalanya oleh tangan halus itu, namun diam-diam Kun Liong merasa penasaran sekali. Harus dia akui bahwa ilmu kepandaian Giok Keng amat hebat dan agaknya kalau bertempur sungguh sungguh, dia tidak akan mampu menandingi dara itu yang sejak kecil tentu digembleng ayah bundanya yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, jauh lebih tinggi daripada kepandaian ayah bundanya sendiri. Dia harus mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi! Kalau tidak, apa dayanya untuk mencegah perbuatan jahat kalau dia bertemu dengan orang-orang seperti Ban tok Coa ong Ouwyang Kok dan Siang tok Mo li Bu Leng Ci?

Akan tetapi, ke mana dia harus belajar ilmu? Kalau saja dia dapat menjadi murid supeknya, Cia Keng Hong, tentu dia akan memperoleh kemajuan hebat. Akan tetapi dia bergidik kalau mengingat akan kegalakan Giok Keng. Baru bertemu saja sudah cekcok dan berkelahi, apalagi kalau tinggal serumah. Tentu seperti kucing dengan anjing! Teringat ini, Kun Liong tertawa. Dara itu dimakinya seperti kucing, dan memang pantas! Dan dia anjingnya. Ha ha! Mana ada anjing gundul? Kembali dia mengelus kepalanya dan teringatlah dia akan Pek pek, anjingnya yang berbulu putih seperti kapas, yang dahulu menumpahkan obat ayahnya. Ke manakah anjing itu pergi? Sudah matikah? Kata ayahnya, Pek pek dahulu ditemukan di dekat Kuil Siauw lim si. Ahhh…! Benar! Kuil Siauw-lim si! Siauw-lim pai adalah sebuah perkumpulan besar yang memiliki banyak orang sakti. Ayahnya sendiri pun bekas murid Siauw-lim-pai. Dia harus pergi ke Kuil Siauw-lim-si, belajar kepada tokoh tokoh Siauw-lim pai!

Bukan niat ini saja yang mendorong Kun Liong pergi mengunjungi Kuil Siauw-lim si, akan tetapi juga ada dugaan bahwa ayah dan ibunya tentu mengunjungi kuil itu pula. Kalau tidak ada di rumah Cia Keng Hong, ke mana lagi ayah dan ibunya akan pergi? Setidaknya tentu akan singgah di Siauw lim si, karena ketika ayahnya mencarikan obat untuk para perwira yang terluka, bukankah ayahnya juga pergi ke Siauw-lim si ?

Bekal pemberian kakek pamannya tinggal tak berapa lagi, akan tetapi dengan berhemat, kadang kadang hanya makan buah buah dan binatang hutan cukup juga sisa bekal itu mengantarnya sampai ke Kuil Siauw lim si. Kuil besar yang berada di lereng bukit itu kelihatan megah, membesarkan hati Kun Liong akan tetapi juga menimbulkan ketegangan karena menduga duga apakah dia akan berhasil mendapatkan keterangan tentang ayah bundanya di kuil itu, dan apakah dia akan dapat menjadi murid Siauw-lim si.

Menjadi murid Siauw lim pai? Tak mungkin, pikirnya ketika dia tiba-tiba teringat bahwa ayahnya sendiri sudah keluar dari Siauw-lim si dan tidak diakui sebagai murid. Biarpun ayahnya tidak pernah menceritakan sebabnya, namun dia tabu bahwa dengan menyebut dirinya “bekas murid Siauw lim pai” berarti ayahnya tidak lagi diakui sebagai murid. Kalau para hwesio tokoh Saiuw-lim pai tahu bahwa dia adalah anak Yap Cong San yang telah tak diakui lagi sebagai murid, mana mungkin Siauw-lim pai mau menerimanya. Pikiran ini membuat dia berkeputusan untuk menyelidiki ayah ibunya di kuil itu tanpa mengaku bahwa dia adalah putera mereka.

Demikianlah, pada suatu hari menjelang senja, dia telah berdiri di depan pintu gerhang Kuil Siauw-lim si yang menjadi pusat dari Siauw-lim pai yang terkenal. Berbeda dengan kuil kuil Siauw-lim si yang menjadi cabang Siauw lim-pai, kuil pusat ini selain besar, juga amat luas dan dikelilingi pagar tembok yang tinggi dengan pintu pintu gerbang yang dijaga oleh dua orang hwesio siang malam, seperti sebuah benteng saja!

“Apa? Engkau hendak mengabdi kepada kuil kami, orang muda? Dan untuk keperluan itu engkau telah mendahului membuang rambutmu?” tanya kepala penjaga yang diberi laporan oleh penjaga pintu gerbang akan datangnya seorang pemuda tanggung berkepala gundul yang datang untuk mengabdi dan menjadi kacung kuil itu.

Karena tidak ingin banyak rewel, Kun Liong menjawab, “Demikianlah, Losuhu, sungguhpun teecu tidak sengaja. Harap saja Suhu sudi menerima teecu.”

“Hemm, urusan menerima seorang kacung harus diputuskan oleh ketua sendiri, karena kami tidak berani bertanggung jawab kalau kalau ada pihak musuh yang menyelundup.”

Di dalam hatinya, Kun Liong mencela hwesio ini. Orang yang sudah menjadi hwesio, berarti menyerahkan jiwa raganya kepada agama, dan orang beragama berarti orang yang melakukan hidup suci, mengapa masih mengaku punya musuh? Akan tetapi karena niatnya hanya ingin menyelidiki kalau kalau ayah bundanya berada di situ dan untuk mencari kesempatan belajar limu silat tinggi, Kun Liong tidak banyak rewel dan mengikuti kepala penjaga yang membawanya menghadap Ketua Siauw lim pai. Dia sudah mendengar dari ayahnya bahwa Ketua Siauw lim pai adalah hekas suheng ayahnya sendiri yang berilmu tinggi dan bernama Thian Kek Hwesio, maka dengan jantung berdebar dia menghadap ketua ini.

Memang benar demikian. Thian Kek Hwesio sendiri yang menerima pelaporan kepala penjaga dan Kun Liong menjadi kecut hatinya ketika melihat bahwa ketua kuil itu adalah seorang hwesio yang amat menakutkan, berusia delapan puluh tahun lebih, tubuhnya tinggi besar dan berkulit hitam, matanya seperti kelereng besar, dan sikapnya keren, kelihatan galak bukan main! Memang demikianlah keadaan Thian Kek Hwesio, wataknya sesuai dengan tubuhnya, kasar dan jujur namun memiliki hati emas!

“Saudara muda, kepalamu kenapakah?”

Suara Thian Kek Hwesio besar dan kasar, namun nada suaranya tidak menyinggung hati Kun Liong yang berlutut di depan hwesio itu di samping hwesio kepala penjaga.

“Teecu makan jamur di hutan dan rambut teecu lalu rontok semua, Lo-suhu.” Kun Liong membohong. Dia terpaksa membohong karena kalau dia bicara terus terang, tentu akan berkepanjangan dan dia tidak akan dapat menyembunyikan keadaannya lagi sehingga sia?sialah usahanya.

“Omitohud…! Engkau keracunan, orang muda. Racun yang hebat sekali yang dapat membuat rambut rontok seperti itu! Dan biasanya, racun yang tidak merenggut nyawa, hanya merontokkan rambut berarti bahwa racun itu bertemu dengan racun lain sehingga daya mautnya punah. Engkau masih beruntung!”

Diam?diam Kun Liong kagum sekali. Kini dia mengerti mengapa rambut kepalanya habis. Tentu racun ular dan racun jarum Ouwyang Bouw saling bertanding dalam tubuhnya, urung mencabut nyawanya akan tetapi berhasil menghabiskan rambutnya! Kalau dia dapat berguru kepada kakek ini, akan tetapi ah, tidak banyak selisihnya tentu dengan kepandaian ayahnya. Mereka hanya sute dan suheng. Bukan, bukan kepada Ketua Siauw-lim?pai ini dia ingin berguru, akan tetapi kepada Tiang Pek Hosiang, guru ayahnya atau sukongnya (kakek gurunya)! Dia sudah mendengar dari ayahnya bahwa kakek sakti itu telah mengasingkan diri di dalam Kuil Siauw?lim?si ini, di dalam sebuah kamar yang disebut Ruang Kesadaran! Dan menurut ayahnya, sampai sekarang kakek sakti itu masih hidup. Tentu sudah amat tua, sedikitnya seratus tahun usianya. Kepada sukongnya itulah dia ingin berguru!

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: