Petualang Asmara (Jilid ke-33)

“Uhhh… kaki kiriku… agaknya terkilir di belakang mata kaki, tak dapat dipakai berjalan, digerakkan sedikit pun sakit.”

“Coba kuperiksa… maaf…” Kun Liong memegang kaki itu dan Hong Ing menggigit bibirnya menahan rasa nyeri. Memang terkilir. Agak hebat. Membengkak di bagian mata kaki itu, dan biru kehitaman oleh darah yang terkumpul di dalamnya.

“Hong Ing, maukah engkau menahan sakit sedikit? Tulang kaki ini keseleo, tergeser dan harus segera dibetulkan kembali letaknya. Kalau tidak, akan lama sembuhnya dan mungkin menjadi cacat.”

Hong Ing mengangguk dan memandang kepada Kun Liong yang kini menggunakan kedua tangannya memegang kaki itu. Tangan kanan memegang bagian atas dan tangan kiri memegang bagian bawah.

“Siaplah, Hong Ing, sakit akan tetapi hanya sebentar.” Tiba-tiba dia membuat gerakan menarik dan terdengar suara “krekk…” dan teriakan Hong Ing yang merasa nyeri bukan main. Perasaan nyeri yang sampai menusuk ke ulu hati rasanya, membuat seluruh tubuhnya menggigil dan keringat dingin membasahi dahinya, matanya terbelalak dan di atas pipinya yang pucat nampak air mata.

“Sudah baik letaknya sekarang. Harus dibalut erat-erat.” Kun Liong lalu merobek bajunya yang memang sudah koyak-koyak lalu membalut mata kaki itu dengen ketat. Ketika dia selesai dan mengangkat muka, dia melihat betapa dara itu tadi menderita nyeri yang hebat, napasnya masih naik turun, bibirnya berdarah sedikit karena pecah digigitnya sendiri.

“Kasihan kau… Hong Ing…” Kun Liong mendekat dan menggunakan tangannya menyapu keringat dari dahi yang halus itu.

“Terima kasih, Kun Liong… kau memang baik sekali.”

“Hemm, dalam keadaan seperti ini tidak perlu memuji, Hong Ing. Yang ingin sekali kudengar adalah ceritamu bagaimana engkau bisa sampai di tempat ini. Kukira tadinya kau…”

“Mati? Memang aku lebih baik mati daripada hidup, bahkan sebelum bertemu dengan engkau aku mengharapkan kematian saja, Kun Liong.”

“Mengapa?”

“Mengapa? Hemm… kau tidak tahu betapa ngeri rasa hatiku, betapa tidak berdaya sama sekali, seolah-olah menanti datangnya maut tanpa daya sedikit pun juga. Ketika kita diamuk badai dan agaknya perahu kita dihempaskan pada batu karang, aku tidak tahu apa-apa lagi…”

Hong Ing mulai bercerita, dan Kun Liong tentu saja maklum akan keadaan ini karena dia sendiri pun tidak ingat apa-apa lagi setelah itu, tahu-tahu dia berada di atas pasir pantai.

“Ketika aku siuman, aku berada di pantai, untung bahwa kepalaku berada di luar jangkauan air sehingga aku tidak mati tenggelam. Aku memanggil-manggilmu, keadaan gelap sekali malam itu, akan tetapi suaraku lenyap ditelan angin dan kau tidak menjawab. Aku menyeret kaki kiriku yang nyeri sekali ke darat, dan karena aku takut akan diserang binatang buas, aku terus merangkak sekuat tenaga sambil memanggil-manggilmu. Akhirnya aku berhasil masuk ke guha ini dan kembali aku tidak ingat apa-apa lagi. Setelah siuman untuk kedua kalinya, matahari telah naik tinggi. Kakiku tak dapat digerakkan, seluruh tubuh sakit, perut lapar sekali dan… dan… pada saat itu aku ingin mati saja, Kun Liong. Aku mengira bahwa engkau tentu telah mati! Aku sendiri tidak mampu bergerak. Tentu aku akan mati kelaparan. Betapa ngerinya. Maka aku lalu menangis sampai habis air mataku. Aku menjerit-jerit memanggil namamu, percuma saja. Malam tiba dan aku masih tetap menjerit dan menangis dan akhirnya… akhirnya… kau datang juga…” Mata itu terbuka lebar, kembali dua titik air mata turun, gigi yang rapi dan putih itu menggigit bagian dalam dari bibir bawah, cuping hidungnya bergerak-gerak membayangkan keharuan hati.

“Aduh kasihan sekali kau, Hong Ing. Tahukah engkau betapa aku pun sudah putus harapan, mengira engkau tentu telah tewas ketika aku menemukan kain penutup kepalamu? Dan tahukah engkau betapa suara panggilanmu tadi terbawa dalam mimpi sehingga aku mengira bahwa rohmu yang memanggilku?” Kun Liong lalu menceritakan pengalamannya dan tentu saja dia tidak menyebut-nyebut tentang mimpinya dan tentang perbantahan antara pikiran dan hatinya.

Berkat rawatan Kun Liong yang penuh ketelitian, belasan hari kemudian sembuhlah kaki kiri Hong Ing yang terkilir. Dia sudah dapat berjalan biarpun masih agak terpincang-pincang. Mereka berdua kini berusaha untuk menyesuaikan diri di pulau kosong itu.

“Kalau pulau ini tidak memenuhi syarat untuk dijadikan tempat tinggal selama kita bersembunyi, kita mencari pulau lain,” demikian kata Kun Liong.

“Bagaimana cara mencarinya? Perahu peti mati itu sudah lenyap, pula aku merasa ngeri kalau harus masuk ke dalam perahu peti mati itu lagi.”

Kun Liong tersenyum. “Aku dapat membuat perahu dari batang pohon besar di rimba itu. Akan tetapi kalau ada bahan makanan lain di pulau ini, tidak perlu mencari pulau lain. Pulau ini cukup indah dan hawanya pun nyaman.”

“Dan kita hidup di sini seperti orang-orang hutan? Seperti orang liar tak beradab?”

Kun Liong tersenyum memandang. Mereka saling berpandangan dan akhirnya keduanya tertawa geli.

“Engkau memang pantas menjadi seorang puteri hutan. Pakaianmu tidak karuan dan ringkas akan tetapi… pantas dan manis sekali. Kakimu tak bersepatu, dan rambutmu… hemmm…. rambutmu mulai tumbuh dengan suburnya, Hong Ing.”

“Dan kau… kau memang seperti seorang manusia di jaman batu! Hanya memakai celana yang pantasnya disebut cawat, badan tanpa baju, kulit terbakar sinar matahari. Wah, kau kelihatan kuat dan sehat, Kun Liong. Dan kepalamu… hi-hik, bersih sekali sampai mengkilap!”

Kun Liong tersenyum lebar. “Baru saja aku mandi dan kugosok dengan bunga karang. Segar sejuk rasanya.” Dia mengelus-elus kepala gundulnya.

Mereka duduk berteduh di dekat batu karang besar, berlindung dari sinar matahari yang sudah mulai naik tinggi. Hong Ing memanggang daging ikan yang baru saja ditangkap oleh Kun Liong. Selama belasan hari ini, mereka hanya makan daging ikan atau burung laut, dan mereka mulai rindu akan makanan sayuran. Mereka hanya makan karena lapar saja. Makan untuk perut, bukan untuk mulut. Di tempat seperti itu, terasing dari dunia ramai, mereka tidak mungkin dapat memilih makanan yang enak. Sehabis makan dan minum air tawar, mereka duduk dan memandang ke laut. Dari pulau itu, tidak kelihatan pulau lain, apalagi daratan besar.

“Enak juga di sini, kita dapat makan setiap hari dan tidak khawatir akan pengejaran Pangeran Han Wi Ong.”

Hong Ing menarik napas panjang. “Sayang tidak ada pondok. Setiap malam aku merasa ngeri tidur di guha itu, takut kalau-kalau ada kalajengking atau kelabang, lebih-lebih ular… hiiih…!”

“Aku akan membuatkan pondok untukmu, Di mana baiknya?”

Wajah manis itu berseri. “Benarkah, Kun Liong? Aku sudah terlalu banyak menyusahkanmu.”

“Tidak sama sekali. Memang kita berdua membutuhkan pondok…”

“Dengan dua kamar…”

“Cukup satu saja, untukmu. Aku bisa tidur di mana saja…”

“Ah, kalau begitu aku tidak mau! Masa yang membuatnya tidur di mana saja? Kalau kau tidak membuat pondok dengan dua kamar, aku juga tidak mau tidur di situ.”

Kun Liong tersenyum dan merasa geli hatinya. “Lucunya kita ini. Pondok belum jadi, dimulai pembangunannya pun belum, kita sudah cekcok tentang jumlah kamarnya!”

Hong Ing teringat akan ini dan dia pun tertawa. Ketawanya bebas dan diam-diam Kun Liong kagum dan terheran-heran. Mengapa gadis yang pakaiannya tidak karuan, hanya sedikit kain menutupi dari atas buah dada sampai ke paha, tanpa sepatu, dengan rambut mulai tumbuh masih awut-awutan, mengapa gadis seperti ini kelihatan begini menarik? Padahal, kalau dalam keadaan seperti itu Hong Ing berada di dalam kota yang ramai, tentu dia akan diikuti dan digoda oleh banyak anak kecil, dianggap seorang gila! Akan tetapi baginya, pada saat itu tidak ada bidadari di kahyangan yang lebih cantik, lebih manis, lebih menarik dan lebih menggairahkan daripada Pek Hong Ing!

Mulailah Kun Liong membuat alat-alat untuk membangun pondok. Alat-alat sederhana sekali dan tidak salah kalau Hong Ing membandingkan dia dengan seorang manusia dari jaman batu karena Kun Liong terpaksa membuat alat-alat dari batu karang! Kapak, pisau, semua dari batu karang tajam!

Biarpun dengan sukar, namun akhirnya jadi juga sebuah pondok berdiri di belakang batu karang besar di tepi laut itu. Sebuah pondok yang modelnya menurut kehendak Hong Ing. Agak tinggi dari tanah, sebuah pondok panggung karena Hong Ing takut kalau-kalau ada ular memasuki pondok dan kamarnya. Di depannya dipasangi anak tangga, atapnya dari daun, dindingnya dari bambu. Pintunya dua, di depan dan belakang, kamar Hong Ing di depan, ada jendelanya yang menghadap ke laut! Kamar Kun Liong di belakang. Selain pondok itu, juga Kun Liong membuat perabot rumahnya. Sebuah dipan kayu untuk Hong Ing, berikut sebuah bangku kayu, dan sebuah dipan bambu untuknya sendiri. Sebuah meja dan dua bangkunya di depan kamar. Tong-tong tempat air tawar.

Pada malam pertama mereka pindah ke pondok, kebetulan malam terang bulan. Hampir dua bulan Kun Liong membuat pondok itu, dibantu oleh Hong Ing yang menganyam dinding dan atap. Mereka berdua setelah makan malam, duduk di luar pondok, di atas pasir yang bersih dan putih tertimpa sinar bulan purnama.

Hong Ing menarik napas panjang, menggunakan sebuah sisir bambu buatan Kun Liong menyisiri rambutnya yang sudah ada sejari panjangnya. “Hemm, alangkah senangnya. Kita sudah punya rumah! Baru aku merasa sebagai manusia, bukan seperti binatang yang bersarang di dalam guha kotor!”

Kun Liong menoleh dan memandang wajah dara itu. Kebetulan sinar bulan menimpa wajah itu sepenuhnya, membuat wajah dara itu kelihatan seperti disepuh emas, cemerlang dan indah sekali. Senyum di bibir yang manis itu kelihatan amat indahnya, indah dan halus seperti sajak sasterawan di jaman dahulu. Kun Liong terpesona! Ketika Hong Ing melirik, pandang mata mereka bertemu dan dara itu memperlebar senyumnya. Kun Liong gelagapan karena senyum dan pandang mata dara itu membuat dia merasa seperti seorang maling tertangkap basah! Cepat dia menutupi kecanggungannya dengan pertanyaan. “Benar-benarkah kau merasa senang, Hong Ing?”

Dara itu menunda sisirnya dan memandang wajah Kun Liong, senyumnya masih cerah dan dia mengangguk. “Senang sekali. Engkau pandai sekali, Kun Liong. Apakah tidak ada yang tak dapat kaulakukan? Apa saja engkau bisa! Ilmu silatmu tinggi, kau pandai kesusastraan. Bahkan pandai berfilsafat. Bisa mengobati kakiku, pandai menghibur dan sekarang kau malah menjadi tukang kayu, tukang batu, pembuat sisir, penangkap ikan dan burung, pemasak daging… wah, apa yang kau tidak bisa?”

Merah wajah Kun Liong saking senangnya dengan pujian ini. Dia menunduk den sambil tersenyum dia berkata, “Aahh, kau melebih-lebihkannya saja. Sebuah pondok butut seperti ini…”

“Tapi kokoh kuat… bukan, Kun Liong?”

“Ya, cukup kuat. Tak usah kau khawatir. Ular dan segala binatang takkan dapat masuk. Pula, di sini tidak ada binatang buasnya.”

“Kau memang pandai dan rendah hati…”

Kun Liong senang sekali, kepalanya menunduk. Hong Ing tidak bicara lagi, dan ketika diam-diam dia mengerling, dara itu tidak memandangnya, melainkan sedang sibuk menyisir rambutnya dan memandang ke arah bulan purnama. Betapa indahnya gerakan itu menyisir rambut! Kepalanya agak dimiringkan sehingga separuh mukanya tertimpa cahaya bulan. Sepasang matanya kelihatan berkilauan dan memantulkan sinar bulan yang redup dan sejuk. Bibirnya bergerak-gerak, kadang-kadang mulut yang manis itu agak terbuka menahan rasa perih ketika sisirnya macet pada rambut yang lengket. Rambut itu biarpun baru sejari panjangnya, sudah kelihatan berombak, maka seringkali sisirnya macet. Dengan tangan kanan memegang sisir dan tangan kiri menata rambut, dara itu mengangkat kedua lengannya sehingga tampaklah sedikit bulu halus di ketiaknya yang tidak tertutup. Kun Liong terpesona. Betapa hebatnya daya tarik seorang wanita kalau sedang bersolek! Dan Hong Ing adalah seorang wanita yang luar biasa, memiliki

kecantikan yang khas dan aneh. Apalagi kini hanya mengenakan pakaian yang tidak lengkap itu.

Aku cinta padanya! Kun Liong terkejut sendiri. Bodoh, bantah suara lain di kepalanya yang gundul. Kau hanya menganggap saja ini cinta, padahal tak lain tak bukan hanya perasaan tertarik oleh keindahan bentuk tubuh yang bulat itu, kecantikan wajah yang sudah dipercantik lagi oleh cabaya bulan purnama, dan suasana yang sunyi di mana hanya ada mereka berdua! Bukan! Bukan cinta! Dia tidak akan dapat mencinta seorang yang bagaimana pun, karena dia tahu bahwa cintanya itu dikotori oleh keinginan memiliki, keinginan membelai dan merayu, keinginan yang terdorong nafsu birahi!

Tidak! Dia tidak mencinta, hanya memang dia suka, bahkan tergila-gila oleh kecantikan Hong Ing. Sama saja dengan rasa sukanya kepada dara-dara yang lain, termasuk Lim Hwi Sian yang bahkan sudah menyerahkan badannya kepadanya. Hwi Sian telah menyerahkan tubuhnya kepadanya karena mencintanya, kata data itu! Dan bagaimana dengan Hong Ing? Hong Ing telah merasa berhutang budi kepadanya, dan mereka hanya tinggal menyendiri di pulau kosong ini, dengan pakaian yang begitu minim! Bagaimana kalau mereka berdua terseret oleh godaan nafsu birahi?

“Tidak boleh!”

Hong Ing terkejut sekali, sisirnya hampir terlepas ketika tiba-tiba Kun Liong menampar kepala gundulnya sendiri! Kun Liong sendiri terkejut dan baru sadar bahwa dia tadi menjadi begitu gemas kepada dirinya sendiri sampai dia menampar kepalanya!

“Eh, ada apakah?”

Tentu saja wajah pemuda itu menjadi merah sekali, merah sampai ke kepalanya bukan hanya merah karena tamparannya. “Ehh… ohh… tidak apa-apa, aku hanya termenung…”

“Mengapa termenung sambil menampar kepala sendiri?”

“Eh… anu… tadi ada seekor nyamuk menggigit kepalaku…” Kun Liong menggosok-gosok telapak tangannya seolah-olah ada nyamuk mati mengotori tangan itu.

“Hi-hik, kau memang aneh. Mengapa ada nyamuk diajak bicara dan kau membentak tidak boleh? Lucu sekali!”

“Aku tidak ingat lagi mungkin karena termenung tadi…”

Kembali terdengar dara itu terkekeh geli. Hemm, dia mulai menertawakan aku. Aku Si Kepala Gundul ini, pemuda miskin, yatim piatu, mana ada harganya bagi seorang dara seperti Hong Ing? Bayangkan saja! Seorang pangeran gagah tampan, putera seorang Kaisar yang tentu saja kaya raya masih ditolak Hong Ing! Apalagi dia! Seperti seekor anjing merindukan kelinci di bulan!

“Kun Liong, kau jangan suka melamun seperti itu. Orang melamun, bicara sendiri, memukul kepala sendiri hemmm, seperti orang tidak waras saja…”

Ah, dia mulai mengatakan aku tidak waras, sama dengan memaki gila! “Memang, kadang-kadang aku seperti gila, Hong Ing.”

Hong Ing memandang wajah Kun Liong cepat-cepat, agaknya dapat menangkap nada marah dalam ucapan pemuda itu, alisnya diangkat tinggi-tinggi dan matanya menyapu penuh selidik. Akan tetapi Kun Liong sudah menunduk dan tidak bicara lagi. Dia tidak melihat betapa dara itu tersenyum geli melihat dia

menunduk dengan wajah bersungut-sungut, mulut cemberut.

Hening sampai agak lama. Kadang-kadang kalau Kun Liong mencuri pandang dengan kerling sekilat, dia melihat dara itu masih bersila dan menengadah, memandang ke bulan.

Rasa mendongkol di hati Kun Liong tak dapat bertahan lama. Mana mungkin dia dapat marah lama-lama kepada seorang dara yang kelihatan begitu tidak berdaya, yang mengalami penderitaan seperi itu dan amat membutuhkan perlindungan? Tidak mungkin dia bisa sekejam itu. Heran dia. Mengapa Hong Ing memilih menjadi nikouw, bahkan kini memilih menjadi seorang buruan yang terlunta-lunta, daripada menjadi isteri seorang pangeran yang kaya raya dan berkuasa? Mengapa memilih hidup sengsara kalau kehidupan mulia terbentang di depan kakinya? Tiba-tiba dia teringat. Sebetulnya dia belumlah mengenal gadis ini sungguh-sungguh, dan dia mengerti dan mengenalnya hanya menurut cerita gadis itu sendiri. Hong Ing adalah murid Go-bi Sin-kouw, seorang tokoh kang-ouw yang berilmu tinggi. Siapa tahu isi hati gadis itu? Kakak seperguruan gadis ini, nona Lauw Kim In, menurut cerita Hong Ing, juga mau diambil kekasih oleh seorang pemuda iblis macam Ouwyang Bouw! Siapa tahu, gadis ini mendekatinya karena memang ada pamrih sesuatu. Bokor itu! Semua tokoh kang-ouw agaknya menduga keras bahwa dialah yang menyembunyikan bokor emas asli, pusaka Panglima The Hoo yang diperebutkan itu! Dia mengerling lagi, dan melihat bahwa Hong Ing sudah berhenti menyisir rambutnya. Rambut itu hitam mengkilap, menghias kepala dara itu sehingga kepala itu kelihatan seperti setangkai bunga mawar! Manisnya bukan main!

“Hong Ing…” Kun Liong berhenti sebentar karena jantungnya berdebar oleh dugaan yang bukan-bukan tadi dan oleh ketegangan usahanya untuk memancing dan menyelidiki.

“Hemmm…” Hong Ing menoleh, mereka saling berpandangan dan kembali Kun Liong yang harus lebih dulu menundukkan kepalanya yang gundul karena pandang mata dara itu seolah-olah memiliki daya menembus sampai ke dalam dadanya.

“Mengapa engkau menolak pinangan Pangeran Han Wi Ong? Dia putera Kaisar dan…”

“…dan aku tidak mencintanya!” Hong Ing menyambung cepat.

“Tapi, dia putera Kaisar, berkuasa dan kaya raya, dia tampan dan gagah pula.”

“Biar dia seratus kali lebih berkuasa, kaya raya, dan tampan gagah, kalau aku tidak mencinta, apakah aku harus memaksa diri?”

“Agaknya engkau amat mementingkan cinta dalam perjodohan.”

“Tentu saja! Menikah tanpa cinta sama dengan memasuki gerbang neraka.”

“Hemmm…”

“Apakah kau tidak berpendapat demikian, Kun Liong?”

“Entahlah. Hanya… kasihan Pangeran Han Wi Ong…”

“Ahh, salah mereka sendiri! Laki-laki yang tidak tahu diri! Betapa banyaknya pria yang hendak memaksakan cintanya kepada seorang wanita. Kalau ditolak, adalah kesalahan mereka sendiri, mengapa harus dikasihani?”

Kun Liong mengangkat muka memandang wajah itu dan tampak olehnya betapa wajah yang cantik itu dihias senyum mengejek, agaknya merasa jijik terhadap cinta kaum pria!

“Banyakkah sudah kau dicinta orang?”

“Banyak sekali!”

“Hemmmm…”

“Mengapa mengeluh?”

“Pantas kau berani menolak cinta seorang pangeran. Kiranya banyak pria yang tergila-gila kepadamu!”

“Apa salahnya?”

“Tidak apa-apa, aku hanya… hemm, tidak ada seorang pun yang mencintaku.”

“Ah masa! Kau seorang pemuda yang gagah dan tampan, pandai mengendalikan diri, berbudi mulia suka menolong orang lain tanpa pamrih…”

“Betapa pun, tidak ada yang mencintaku seperti begitu banyak pria mencintamu…”

“Kalau ada yang mencintamu…?”

“Tak mungkin! Gundul miskin seperti aku, lebih pantas disebut jembel, mana mungkin… Ah betapapun juga, aku tidak sudi menikah selama hidupku.”

“Heiii! Mengapa?”

“Perempuan di dunia ini sema saja…”

“Wah, agaknya mendalam sekali pengetahuanmu tentang perempuan! Dari mana pengetahuanmu itu? Dari buku pula?” Nada suara Hong Ing mengejek dan pandang matanya seperti scorang ibu guru memandang seorang murid cilik yang bodoh dan nakal!

Akan tetapi Kun Liong tidak mempedulikan nada suara dan pandangan itu, lalu melanjutkan dengan keras kepala, “…sekali seorang laki-laki mengambil perempuan sebagai isterinya, maka akan celakalah dia! Hidupnya akan merupakan siksaan, karena perempuan yang menjadi isterinya akan selalu menguasainya, mengikatnya, merongrongnya. Dia akan kehilangan kebebasannya dan menyesal pun sudah terlambat!”

“Wah! Seperti itukah penilaianmu terhadap perempuan? Kau menganggap bahwa semua wanita itu seperti yang kau ceritakan tadi? Dan kau mengira bahwa semua pria berpendirian seperti engkau, dirusak hidupnya oleh isteri? Betapa sombongmu, Kun Liong!”

Akan tetapi Kun Liong tidak peduli. Betapa pun menariknya Hong Ing, membuat dia terpesona, membuat hatinya lemah, namun yang di hadapannya ini tak lain juga hanya seorang wanita! Maka dia melanjutkan, suaranya penuh semangat seolah-olah dia mempertahankan pendiriannya mati-matian terhadap serangan dari luar. “Aku tidak akan sudi menikah, kecuali dengan seorang wanita yang selalu menjadi idaman hatiku semenjak aku kecil!”

“Waduh! Kecil-kecil sudah mengidamkan seorang wanita! Hebat kau, Kun Liong!” Suara Hong Ing mengejek sekali, bahkan diperkuat dengan senyum simpulnya, membuat hati Kun Liong makin panas. “Wanita seperti apa sih, idaman hatimu itu?”

“Aku baru mau menikah dengan seorang wanita yang halus budi bahasanya, manis tutur sapanya, lemah lembut geraknya, suaranya seperti nyanyian burung di waktu pagi, tutur sapanya seperti hembusan angin lalu sepoi-sopi, gerak-geriknya seperti batang pohon yangliu tertiup angin, tidak hanya cantik jelita di lahir saja, melainkan lebih cantik lagi di batinnya, penyabar, ramah, tidak pernah cemburu, keibuan, taat, setia, dan…”

“Pendeknya, wanita yang luar biasa tidak ada cacat celanya, seperti bidadari kahyangan yang diceritakan dalam dongeng! Seperti… seperti Kwan Im Pouwsat sendiri! Seperti… ah, perempuan idamanmu itu harus dilahirkan lebih dulu, Kun Liong. Thian harus membuat perempuan itu khusus untukmu, untuk seorang pria yang sombong, sesombong-sombongnya, tolol setolol-tololnya dan.. dan…”

“Maaf, Hong Ing…” Kun Liong terkejut juga melihat dara itu bangkit berdiri, menegakkan kepala dan matanya seperti dua bola api hendak membakarnya, seluruh sikapnya jelas menunjukkan kemarahan yang ditahan-tahan, dan suaranya bercampur napas sesak seperti mau menangis!

“…dan… dan… perutku menjadi mual melihatmu!” Setelah melontarkan kata-kata terakhir itu, dengan langkah gontai, dengan pinggul menonjol padat terbayang di balik kain yang sederhana dan pendek itu, Hong Ing meninggalkan Kun Liong, naik anak tangga memasuki pondok kecil itu. Terdengar dia menutupkan pintu kamar keras-keras, dan tampak dari luar daun jendela juga dihempaskan kuat-kuat!

Kun Liong masig duduk di pasir. Bengong terlongong memandang ke arah pondok, hatinya bingung sekali. Akhirnya dia menarik napas panjang, menekan penyesalan hatinya. Mengapa dia harus menyesal melihat Hong Ing marah-marah? Biarlah, kalau dara itu merasa sakit hati, dia telah menguras isi hatinya, telah mengemukakan pendapatnya tentang wanita. Dia tidak akan jatuh cinta seperti pria-pria tolol itu, seperti Pangeran Han Wi Ong, seperti Yuan, dan yang lain-lain. Dia ingin terus bebas!

Kembali dia menarik napas panjang. Betapa sunyinya setelah Hong Ing pergi ke pondok. Betapa menjemukan keadaan sekelilingnya. Cahaya bulan tidak gemilang seperti sinar keemasan lagi, melainkan mendatangkan kepucatan yang hampa! Mengapa dia menyesal telah menyakitkan hati Hong Ing? Bukankah dara itu malah yang menyakitkan hatinya? Mula-mula mengatakannya tidak waras alias gila! Kemudian apa yang dikatakannya dalam kalimat-kalimat terakhir ketika marah tadi? Bahwa dia adalah seorang pria yang “sombong sesombong-sombongnya, tolol setolol-tololnya” dan bahwa dia “memualkan perutnya”!

“Hemmm…!” Keluhan ini keluar dari dadanya menyesak kerongkongannya. Dia menengadah. Bulan purnama tersenyum mengejek kepadanya, seperti senyum Hong Ing yang tadi mengejeknya. Dia memandang marah. Ingin dia dapat melumuri muka bulan dengan pasir di tangannya. Akan tetapi awan membantunya. Awan putih tebal merayap lewat, menyembunyikan bulan yang kini hanya tampak sebagai bulatan yang pucat tak berdaya. Seperti Hong Ing! Dara itu menderita hebat, di pulau kosong. Hanya bersama dia dan apa yang dia lakukan? Menyakitkan hatinya! Ah, betapa kejamnya dia! Biarpun dia tidak mau jatuh cinta kepada wanita manapun juga, akan tetapi tidak selayaknya dia menyakitkan hati Hong Ing seperti itu!

Mulailah dia merasa menyesal, bukan menyesal karena pendiriannya tentang wanita seperti yang telah diucapkannya itu, melainkan menyesal terdorong oleh rasa iba kepada nasib Pek Hong Ing yang tidak semestinya dia tambah lagi dengan kata-kata yang membuatnya sakit hati. Teringatlah dia akan sekumpulan batu bulat putih yang telah dikumpulkannya secara diam-diam selama beberapa hari ini, yang didapatnya di dasar laut yang jernih dan dangkal di sudut pulau ketika dia mencari ikan. Batu-batu seperti mutiara besar itu dikumpulkannya dengan maksud untuk kelak setelah cukup banyak diuntai menjadi kalung dan akan diberikan kepada Hong Ing! Kini, mengingat betapa dara itu mungkin menangis di dalam pondok, perasaan menyesal membuat Kun Liong teringat akan benda yang akan dihadiahkannya kepada gadis itu. Maka dia lalu cepat meninggalkan tempat itu, menuju ke sudut pulau dan di bawah penerangan bulan pumama, mulailah dia dengan tekun mengumpulkan batu-batu bulat putih yang berkilauan. Dia melupakan hawa dingin, menanggalkan semua pakaiannya yang hanya berupa celana semacam cawat lebar, menyelam ke dalam air dan mencari batu-batu itu sampai semalam suntuk! Dia sama sekali tidak tahu bahwa dari tempat yang agak jauh, Hong Ing bersembunyi di balik batu karang dan mengintai, berulang kali dara ini menghela napas panjang akan tetapi tidak berani mendekat atau memanggil karena melihat betapa pemuda itu bertelanjang bulat! Akhirnya Hong Ing meninggalkan tempat persembunyiannya, menggeleng-geleng kepalanya dan terdengar berkata seorang diri, lirih, “Orang aneh dia… apa-apaan malam-malam begini mandi seorang diri dan menyelam sampai begitu lama!”

Hubungan diantara kedua orang muda itu agak renggang semenjak pertengkaran di malam bulan pumama itu. Hong Ing bersikap menunggu keramahan Kun Liong, agaknya tidak mau tunduk dan tidak mau atau enggan untuk “berbaik dulu”. Sebaliknya, Kun Liong merasa malu akan sikap dan kata-katanya di malam hari itu, maka dia seolah menghindari percakapan dengan dara itu. Mereka hanya tampak berdua di waktu Kun Liong menyerahkan ikan atau burung yang ditangkapnya, dengan beberapa ikat daun yang telah dipilihnya dan yang ternyata dapat dimasak dan dimakan. Atau mereka berkumpul hanya pada waktu Hong Ing sudah selesai memanggang daging atau memasak sayur menggunakan panci-panci tanah yang dibuat oleh Kun Liong. Namun mereka keduanya seolah-olah membatasi percakapan mungkin juga khawatir kalau-kalau mereka terpancing dan bentrok lagi dalam perbantahan.

Akan tetapi pada malam hari itu, sepekan setelah mereka seolah-olah saling menjaga diri, Kun Liong menghampiri Hong Ing yang duduk seorang diri di luar pondok dan memandangi bulan yang sudah tidak bulat lagi, tapi yang masih mampu menerangi permukaan laut dan pulau itu, membuat pasir kelihatan putih dan di sana-sini ada kerlipan pasir yang seperti menyembunyikan permata-permata kecil.

“Hong Ing…”

Dara itu terkejut. Kun Liong datang menghampirinya tanpa suara tadi, dan agaknya dia tidak menyangka-nyangka pemuda itu akan menghampirinya dan memanggilnya.

“Eh, ada apa…?”

Kun Liong menghela napas panjang, duduk di depan dara itu dan mengulurkan tangan kanan yang memegang seuntai kalung hatu putih yang berkilauan. Batu-batu itu sudah terkumpul dan sudah diasah sehingga rata dan sama, dilubangi dan diuntai dengan serat kulit pohon yang kuat, merupakan seuntai kalung batu putih yang indah.

“Aku membuatkan kalung ini untukmu. Terimalah…”

Wajah itu berseri, sepasang mata itu terbelalak ketika tangannya menerima kalung itu, mulutnya tersenyum lebar dan hati Kun Liong berbunga! “Aihhh… bagus sekali kalung ini…! Eh, jadi selama berhari-hari ini kau tampak murung dan diam, kiranya kau sibuk membuat kalung ini, Kun Liong?”

“Ya… begitulah.”

“Ah, kusangka kau marah-marah.”

“Kenapa mesti marah?”

“Aku telah memarahkanmu malam itu, mengatakan sombong dan tolol…”

“Dan bahwa aku memualkan perutmu. Mengapa, Hong Ing?”

“Masih adakah perempuan yang kauangan-angankan itu?”

“He… hemmm…”

“Jangan kausebut-sebut lagi dia, atau perutku akan mual lagi.”

“Maaf…”

“Kun Liong…”

“Hemm…?”

“Kau terlalu… terlalu canggung! Kau laki-laki jantan yang lemah! Kau… orang muda yang berpikiran tua! Kau… pria pandai yang tolol!”

“Hemm… maaf..” Kun Liong gagap dan bingung, tak tahu harus berkata apa.

“Dan kau…” Hong Ing melanjutkan, matanya sayu menatap wajah Kun Liong seperti mengintai dari balik bulu mata yang hampir saling bertemu bagian atas dan bawahnya, suaranya agak tergetar akan tetapi bibirnya tersenyum mesra, “kau… akan melihat kelak bahwa perempuan khayalmu itu, yang tanpa cacad, akan hancur lebur, membuyar seperti awan tipis tersapu angin, kalau sudah muncul seorang wanita dari darah daging yang hangat lembut, yang akan membuatmu bertekuk lutut, yang akan membuatmu suka mencium tapak kakinya…”

“Hemmm, tak mungkin!” Kun Liong menghardik, ditujukan kepada diri sendiri.

“Lihat sajalah kelak…!” Hong Ing tertawa kecil dan bersenandung, senandung yang dahulu itu, tentang cinta. Suaranya merdu sekali, lirih dan seolah-olah bukan dari mulutnya suara itu mengalun, melainkan dari tengah lautan, datang menunggang angin yang bertiup silir semilir.

“Cinta adalah Kehidupan

tanpa cinta hidup sama dengan mati

Cinta adalah Cahaya

tanpa cinta hidup gelap gulita

Cinta adalah suci

tanpa cinta hidup bergelimang dosa

hanya orang bijaksana saja mengenal

Cinta

si dungu hanya mengejar nafsu!”

Dahulu ketika Hong Ing menyanyikan lagu cinta ini di atas perahu peti mati, dia hanya mengagumi suara Hong Ing dan memandang rendah isi nyanyian itu yang dianggapnya sebagai pantun seorang buta, memuji-muji setangkai bunga. Akan tetapi sekali ini, isi nyanyian itu seperti menyindirnya, terutama sekali baris terakhir “si dungu hanya mengejar nafsu!” Entah mengapa, karena dia tidak mengakui cinta suci, dia merasa seolah-olah dialah yang dimaki “si dungu” dalam nyanyian itu! Otomatis, seolah-olah tadi Hong Ing bukan bernyanyi, melainkan

menuduh dan memakinya, dia menjawab, “Memang aku dungu!”

“Heiiihhh… mengapa, Kun Liong?”

Ketika melihat wajah pemuda itu muram dan bersungut-sungut, Hong Ing tertawa geli sambil menutupi mulutnya. “Kau… ngambek (murung) lagi?”

“Tidak!”

Akan tetapi jawaban itu jelas menunjukkan kejengkelan hatinya, jawaban yang disentakkan dan pendek keras seperti batu karang! Hong Ing tertawa terkekeh, dan berkata. “Kau sama sekali tidak dungu! Betapa bodohnya merasa diri dungu!”

Mulut Kun Liong makin cemberut. Seenak perutnya sendiri saja! Dia memaki di dalam hati. Mengatakan tidak dungu akan tetapi memaki bodoh!

“Kum Liong…”

Tadinya dia tidak ingin menjawab, begitu marahnya hatinya. Akan tetapi panggilan itu begitu merdu, terasa olehnya seperti mengelus hatinya, maka mau tidak mau dia menjawab, “Apa?” Jawaban yang masih kaku.

“Maukah engkau menolongku?”

Kun Liong menoleh, memandang dan mereka saling pandang.

“Menolong apa, Hong Ing?” Lenyap sama sekali kemurungan dari wajah Kun Liong yang mengira bahwa dara itu tentu mengalami suatu kesulitan.

“Tolong kaukalungkan ini di leherku.”

Sepasang mata Kun Liong terbelalak. Kalau saja tidak begitu girang hatinya dan begitu berdebar jantungnya, ingin dia menolak mentah-mentah untuk memperlihatkan kemarahannya. Akan tetapi dia girang sekali dan tanpa menjawab dia menerima kalung itu. Kalung yang begitu panjang, masa perlu dibantu untuk mengalungkannya? Diterimanya kalung, didekatinya Hong Ing dan dikalungkannya benda itu melalui kepala yang berambut pendek itu, dikalungkan ke lehernya. Karena gerakan ini, kedua lengan Kun Liong seolah-olah hendak merangkul leher Hong Ing. Dia menunduk, Hong Ing menengadah. Muka mereka saling berdekatan, begitu dekatnya sehingga terasa oleh Kun Liong hembusan napas hangat di dagunya. Sepasang mata yang indah itu terpejam, bulu mata yang panjang lentik itu menebal karena merangkap, mulut itu sedikit terbuka. Hampir Kun Liong tidak kuat menahan. Kalau bukan Hong Ing dara itu, tentu dia takkan dapat bertahan lagi untuk tidak mendekap tubuh itu, mencium bibir itu. Akan tetapi dengan sentakan tiba-tiba dia menarik kedua tangannya dan melangkah mundur.

Hong Ing membuka matanya, tersenyum. “Terima kasih, kau baik sekali, Kun Liong,”

“Hemm, aku seorang yang bodoh dan kasar, Hong Ing.”

“Tidak! Akulah yang suka menggodamu, aku gadis tidak tahu budi orang. Kaumaafkan aku, ya? Dan kaumaafkan pula kesalahan-kesalahanku yang akan datang, mau kan?”

Kun Liong menjedi gemas, akan tetapi melihat wajah itu berseri dan tersenyum nakal, dia terpaksa tersenyum juga. Kiranya Hong Ing hanya pura-pura saja ketika marah, ketika diam, dan lain-lain. Hanya untuk menggodanya!

“Hong Ing, mari kita mencari telur.”

“Ih, kau tahu aku tidak suka telur.”

“Bukah untuk kau. Aku paling doyan telur. Aku kemarin melihat kura-kura besar sekali mendarat. Tentu akan bertelur. Senang sekali mencari telur kura-kura, seperti mencari pusaka saja. Kalau kita tepat menggali dan melihat telur di bawah pasir, aku tanggung kau akan menari kegirangan! Marilah!”

Keduanya berlari-larian seperti anak-anak di sepanjang pantai. Bahkan Kun Liong yang sudah terobati kemerahannya, memegang tangan Hong Ing. Mereka bergandeng tangan sambil berlari dan terdengar Hong Ing tertawa-tawa. Suasana memang amat romantis dan menggembirakan. Pasir yang lemas dan bersih. Laut yang tenang. Sinar bulan yang sejuk lembut.

Akan tetapi, tak jauh dari pondok itu Kun Liong sudah berhenti. “Di sinilah.”

“Ah, begini dekat? Kukira jauh!”

“Aku melihat ada kura-kura malam kemarin mendarat di sini.”

“Akan tetapi beberapa hari yang lalu aku melihat binatang seperti ular merayap, hitam dan panjang. Ihh, aku masib ngeri kalau mengingatnya.”

“Ular? Di sini? Benarkah itu?” Kon Liong bertanya, heran. “Mengapa kau tidak bilang padaku?”

Hong Ing tersenyum lebar dan memicingkan sebelah matanya. “Habis, kau lagi ngambek sih! Aku tidak berani bicara padamu!”

Kun Liong tertawa. “Aah, mungkin hanya belut atau ular laut yang terdampar dan terbawa oleh ombak ke darat. Hayo kita mencari telur kura-kura.”

Kembali mereka bergembira, lari ke sana-sini, menggali-gali pasir dengan kaki dan tangan, seperti orang berlumba ingin lebih dulu menemukan telur kura-kura. Tidak mudah mencari telur kura-kura hanya dengan mengira-ngira seperti iiu. Biasanya orang mudah mencari telur kura-kura dengan jalan mengintai kalau ada kura-kura mendarat dan bertelur. Akan tetapi kalau tidak tahu di mana binatang itu bertelur, tidak ada terdapat tanda-tanda di mana tempat telur-telur itu. Pasir sudah rata kembali, diratakan oleh binatang yang mempunyai kebiasaan yang cerdik untuk menyembunyikan telur mereka terdorong naluri untuk menjaga lancarnya perkembangbiakan mereka itu.

“Heii… Hong Ing…! Lihat ini…!”

Hong Ing yang sedang mencari di bagian yang agak jauh, datang berlari-lari rmnghampiri Kun Liong ketika mendengar teriakan pemuda itu.

“Ahh, kau sudah menemukannya…!” teriaknya sambil berlari. Kalung panjang itu bergoyang-goyang, rambutnya yang pendek bergerak-gerak dan kedua tangannya memegangi ujung kain yang menutupi tubuhnya agar tidak terbuka ketika dia berlari itu.

“Ya, lihat ini. Banyak sekali telur dan… dan lihat apa yang kudapatkan di bawah telur-telur ini…!”

“Eh…?” Sepasang mata yang indah itu terbelalak lebar. “Sebuah peti? Mengapa…? Bagaimana…?”

“Entahlah, Hong Ing. Mari bantu aku mengumpulkan telur-telur ini. Aku akan mengangkat petinya. Yang jelas, tempat ini dahulu pernah didatangi orang sebelum kita, buktinya peti ini terpendam di sini.”

Hong Ing mengumpulkan telur-telur itu dan memandang peti yang tidak berapa besar yang diangkat oleh Kun Liong dari dalam lubang itu. “Apa isinya?”

“Kita bawa ke pondok dan kita buka di sana,” kata Kun Liong.

Setelah mengangkat peti itu ke depan pondok, Kun Liong menanti sampai Hong Ing menyimpan telur-telur itu ke dalam pondok dan keluar lagi. Kemudian mereka berdua membuka peti yang dipaku kuat-kuat itu. Namun dengan pengerahan tenaganya, mudah saja bagi Kun Liong untuk membuka penutup peti yang terbuat dari kayu yang tua dan kuat. Tutup peti terbuka, hati mereka tegang, dan mata mereka menjadi silau oleh cahaya berkeredepan ketika isi peti itu tampak.

“Aihh…, harta pusaka yang amat banyak…!” Hong Ing berseru kaget, heran dan gembira. “Emas, perak, permata…, ah, kau menjadi orang kaya raya, Kun Liong!”

Akan tetapi Kun Liong tidak segembira Hong Ing. “Hemmm, untuk apa semua ini? Aku tidak butuh, dan yang menemukan adalah kita berdua. Biarlah semua ini untukmu, Hong Ing. Ambillah.”

Hong Ing sudah memeriksa benda-benda itu, matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri-seri. Tentu saja dia senang sekali melihat benda-benda itu yang amat indah dan merupakan perhiasan-perhiasan yang biasa dipakai oleh puteri-puteri kerajaan! Dia tidak memperhatikan ucapan Kun Liong tadi, berkali-kali dia menggeleng kepala dan mengeluarkan pujian sambil meneliti benda-benda itu berganti-ganti.

“Sayang…!”

Ucapan Kun Liong ini mengejutkan dan menyadarkan Hong Ing. Dia mengangkat muka dan memandang wajah pemuda gundul itu. “Apa? Mengapa kau mengatakan sayang setelah menemukan harta pusaka yang tak ternilai harganya ini?”

“Di sini, benda-benda ini tidak ada harganya sama sekali, Hong Ing. Aku akan lebih bergembira kalau isi peti ini berupa alat-alat seperti gergaji, linggis, catut, golok dan lain-lain. Aku lebih membutuhkannya. Akan tetapi perhiasan…” Dia mengeluarkan benda itu satu demi satu dan ternyata di sebelah bawah masih terdapat tumpukan uang emas yang terukir aneh dan belum pernah mereka melihatnya. Kun Liong terus mengeluarkan semua benda itu dan tiba-tiba dia tertarik sekali dan mengambil sebuah benda yang terletak paling bawah, di dasar peti dan tadi tertutup oleh segala benda yang berkilauan itu. Sebuah kitab! Kitab yang sampulnya hitam dan sudah tua sekali.

Melihat betapa wajah Kun Liong berseri dan matanya bercahaya ketika melihat kitab tua yang butut itu, Hong Ing tertawa. “Waaah, dasar kutu buku menemukan sebuah kitab kuno! Hemm, sudah kubayangkan betapa engkau nanti tentu takkan pernah berhenti membaca.”

Namun Kun Liong tidak mempedulikan kata-kata Hong Ing. Dengan jantung berdebar tegang dia sudah membalik sampul dan membaca judul kitab itu yang tertulis tangan dengan huruf yang amat kuat coretannya. Seolah-olah bukan tinta lagi yang membuat coretan itu dapat dibaca karena warna tinta hitam ini mulai meluntur, akan tetapi jelas tampak guratan-guratan yang kuat dan dengan kagum Kun Liong dapat melihat betapa tapak mauwpit (pensil bulu) meninggalkan guratan pada kertas seperti ukiran, sehingga andaikata tinta itu lenyap sama sekalipun, huruf-hurufnya masih dapat dibaca dengan jelas! Judul itu hanya terdiri dari empat huruf yang berbunyi KENG LUN TAI PUN. Baru membaca judul ini saja, Kun Liong sudah harus memutar otaknya, alisnya berkerut den dia berusaha untuk memecahkan artinya. Huruf-huruf ini memiliki arti yang kalau dipecahkan banyak sekali, akan tetapi dia mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksudkan dengan Keng Lun adalah mengurai den mengumpulkan yang dapat diartikan dengan menyelidiki atau menyusun setelah mengerti benar. Adapun Tai Pun adalah pokok dasar atau aselinya!

Mulailah dia membuka-buka dan membalik-balik lembaran kitab itu dan betapa kaget den girangnya ketika mendapatkan keterangan di sebelah delamnya bahwa kitab itu adalah kitab ilmu peninggalan dari Raja Bun Ong yang sakti dan bijaksana! Tepat seperti yang dikatakan oleh Hong Ing, segera Kun Liong lupa akan segala sesuatu dan “tenggelam” di dalam kitab kuno itu!

Karena maklum akan kesukaan Kun Liong membaca kitab, yang diketahui dari percakapan-percakapan dengan pemuda itu. Hong Ing tidak mau mengganggunya. Setelah menaruh kembali benda-benda berharga dalam peti dan menyimpan peti itu dalam kamarnya, tanpa berkata apa-apa Hong Ing lalu merebus sepuluh butir telur untuk Kun Liong. Setelah telur-telur itu masak, disuguhkannya kepada Kun Liong tanpa berkata apa-apa karena dia tidak mau mengganggu. Akan tetapi Kun Liong menurunkan kitab itu dan memandang, tersenyum, dan berkata, “Aihh… sudah kaurebus matang? Engkau juga harus makan telur, Hong Ing, baik untuk kesehatan.”

Hong Ing tersenyum. “Tidak, aku tidak lapar, dan aku masih ingin menikmati dan mengagumi benda-benda pusaka tadi. Kauteruskanlah membaca kitab. Kitab apa sih itu?”

“Kitab kuno yang sukar sekali dimengerti isinya. Akan tetapi makin sukar dimengerti, makin menarik. Kitab kuno mempunyai sifat seperti wanita…” Kun Liong tertegun dan berhenti bicara, merasa telah kelepasan kata-kata.

“Hemmm, pendapatmu selalu aneh-aneh. Jadi kauanggap wanita itu sama dengan kitab kuno, makin sukar dimengerti makin menarik? Apakah aku sukar dimengerti, Kun Liong?”

Kun Liong tertawa. “Maaf, aku tidak bermaksud menyindir dirimu, Hong Ing. Wah, sedap baunya telur ini. Benarkah kau tidak mau mencicipi?” Kun Liong mengupas kulit telur yang masih panas itu.

Hong Ing menggerakkan pundaknya. “Ihhh, aku selalu merasa tidak enak kalau menghadapi telur, apalagi harus dimakan. Dan telur ini… mengapa agak lonjong dan ada bintik-bintiknya? Bukankah telur kura-kura bulat bentuknya? Jangan-jangan telur ular…”

“Ha-ha, telur apa pun sama saja, sama enaknya. Asal jangan telur manusia!”

“Ihh! Jorok kau…!” Hong Ing mendengus lalu lari ke pondok, mengeluarkan perhiasan dari dalam peti dan mengaguminya di bawah sinar bulan. Kun Liong tertawa-tawa, melanjutkan makan telur yang terasa enak sekali sampai tahu-tahu sepuluh butir telur telah habis, pindah semua ke dalam perutnya!

Tengah malam telah lewat. Sinar bulan tinggal remang-remang karena tertutup awan. Akan tetapi Kun Liong masih belum memasuki pondok. Sudah sejak tadi Hong Ing rebah di atas dipan, tidak lagi mengagumi benda-benda berharga. Dia merasa heran mengapa Kun Liong belum juga memasuki pondok. Untuk membaca kitab di luar tak mungkin lagi karena sinar bulan terlalu suram. Dia lalu turun dari pembaringannya dan membuka pintu kamar, keluar pondok.

“Ahhh, benar-benar kutu buku.” pikirnya ketika melihat Kun Liong rebah terlentang di atas pasir. Dia cepat menghampiri dan betapa herannya melihat Kun Liong tidak lagi membaca kitab, melainkan rebah terlentang, tertidur dengan kitab itu terletak di atas dadanya yang telanjang.

“Hemm, tertidur di sini, angin begini keras bertiup. Bisa masuk angin engkau! Kun Liong, bangunlah!”

Akan tetapi Kun Liong yang biasanya amat peka itu kini sama sekali tidak bergerak.

“Kun Liong…!”

Tetap saja pemuda itu tidak menjawab, bergerak pun tidak.

“Kun Liong…, bangunlah!” Hong Ing menyentuh lengan pemuda itu, dan dia terkejut bukan main. Lengan pemuda itu panas sekali! Celaka, pikirnya, tentu dia sakit, masuk angin den terserang demam.

“Kun Liong…!” Dia memanggil dengan suara nyaring, akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak sadar, biarpun telah diguncang-guncang tubuhnya.

“Wah, dia pingsan…!” Hong Ing menjadi gelisah sekali. Diamblinya kitab itu, diselipkan di dadanya di balik kain, kemudian dia mengerahkan tenaga dan memondong tubuh Kun Liong yang sama sekali tidak bergerak, tubuhnya panas dan mukanya merah seperti orang mabuk kebanyakan minum arak!

Semalam itu Kun Liong tidak sadar. Tidak tahu betapa Hong Ing menjaga dan duduk di sebelahnya dengan muka pucat den penuh kekhawatiran. Hampir gadis ini menangis saking bingungnya. Diguncang-guncangnya tubuh Kun Liong, dipanggilnya nama Kun Liong berkali-kali, dibasahinya muka pemuda itu dengan air, namun semalam suntuk Kun Liong tidak sadar, tenggelam ke dalam kepulasan yang amat dalam.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, barulah Kun Liong siuman. Dia membuka mata dan tiba-tiba mengeluh, “Aduhhh… gatalnya.. bukan main…!”

Bermacam perasaan mengaduk hati Hong Ing. Lega karena melihat pemuda itu siuman, mendongkol karena dia sampai harus menderita kekhawatiran semalam suntuk, dan juga geli mendengar keluh yang aneh itu!

Kun Liong menggaruk-garuk kepalanya dengan sepuluh kuku jari tangannya sampai terdengar suara “kroook-krookk!” seolah-olah kuku jari tangannya akan mengupas kulit kepalanya! Akan tetapi tiba-tiba dia meloncat turun dari pembaringan dan memandang kepada Hong Ing dengan mata terbelalak. “Aihhh…! Kau… kenapa berada di kamarku? Eh,dan aku kenapa di sini, tidak di luar pondok?” Dia masih menggaruk-garuk kepalanya yang gatal-gatal akan tetapi matanya memandang Hong Ing penuh selidik.

Dara itu cemberut! “Hemm, kau tidak merasakan susah payahnya orang lain! Aku melihat kau pingsan di luar sana, terpaksa kupondong kau ke dalam kamarmu dan aku tak dapat tidur semalam suntuk, gara-gara engkau yang seperti orang mati! Seluruh tubuhmu panas-panas dan kau sama sekali tidak dapat dibangunkan. Apa sih yang terjadi?”

Kun Liong melongo. “Eh, mana kitabku?”

“Kitab…?” Tiba-tiba Hong Ing teringat dan dengan muka merah dia mengeluarkan kitab yang saking gelisahnya, semalam suntuk kitab itu masih menyelip di balik kainnya, menempel di dadanya!

Kun Liong menerima kitab itu, merasakan betapa kitab itu hangat, maka mukanya pun menjadi merah, akan tetapi dia segera berkata, “Sungguh aneh. Aku sendiri tidak ingat. Ketika aku membaca kitab sambil makan telur, tiba-tiba aku merasa kepalaku pening dan mataku mengantuk. Tak tertahankan lagi kantuknya maka aku rebah di pasir dan… tidak tahu apa-apa lagi sampai sekarang ini, tahu-tahu sudah berada di sini. Jadi aku pingsan…?”

“Hemm, tentu ada sesuatu dalam kitab itu!” Hong Ing berkata.

Kun Liong membalik-balik lembaran kitab dan menggeleng kepala. “Kurasa tidak ada apa-apanya yang aneh, sungguhpun kitab ini adalah sebuah kitab yang mujijat! Kitab yang mengandung pelajaran tentang hidup, tentang perbintangan, dan latihan gerakan kaki tangan untuk membuat tubuh sehat dan panjang umur. Juga ada latihan pernapasan akan tetapi tidak mungkin membacanya membuat aku pusing dan mengantuk.”

“Wah, jangan-jangan telur-telur itu…!”

Kun Liong teringat dan mengangguk-angguk. “Hemm, mungkin saja, siapa tahu, tapi… tubuhku terasa enak, hanya kepalaku ini, wah… gatalnya!” Dia menggaruk-garuk lagi.

“Biar kubuang saja telur-telur itu! Mungkin telur ular yang kulihat kemarin dulu.”

“Eh, jangan! Jangan dibuang, Hong Ing. Buktinya aku tidak apa-apa. Telur itu enak sekali, menyehatkan badan.”

“Kau benar-benar tidak apa-apa? Tidak panas lagi tubuhmu?”

“Tidak, aku merasa sehat segar.”

“Hemm… syukurlah, aku lelah dan mengantuk, mau tidur…” Hong Ing lalu meninggalkan kamar itu.

“Hong Ing…!” Kun Liong melangkah maju dan memegang lengannya.

“Ada apa?” Dara itu mengerutkan alisnya dan memandang lengannya yang dipegang

Kun Liong melepaskan pegangannya. “Harap jangan marah, aku berterima kasih sekali kepadamu, Hong Ing. Maafkanlah aku, aku tidak tahu bahwa engkau telah bersusah payah menjagaku. Kau baik sekali dan…”

“Sudahlah, aku senang bahwa kau tidak apa-apa. Aku mau tidur, kau boleh membaca kitabmu sepuas hatimu.”

Kun Liong yang ditinggal pergi menjatuhkan diri duduk di atas dipannya. Alisnya berkerut dan dia membolak-balik kitab di tangannya. Benar-benar ada persamaannya antara kitab ini dengan wanita! Mengapa Hong Ing kelihatan tidak senang setelah melihat dia sehat dan tidak apa-apa, padahal gadis itu semalam suntuk mengkhawatirkan keadaannya? Tentu saja dia tidak tahu! Memang wanita itu mempunyai sifat yang aneh. Ingin sekali wanita itu merasakan bahwa dia dibutuhkan, bahwa dia diperlukan dan ingin dia lihat bahwa tanpa dia, pria akan kehilangan dan tak berdaya! Tanpa disadarinya sendiri, perasaan demikian itu ada pula dalam lubuk hati Hong Ing. Melihat Kun Liong pingsan dan tidak berdaya, dia khawatir sekali, akan tetapi dalam melakukan pertolongan itu, dia merasa betapa pemuda itu amat membutuhkan dia. Kini, biarpun hatinya lega bahwa Kun Liong tidak sakit, namun ada juga perasaan kecewa karena kini dia tidak dibutuhkan lagi! Memang aneh, namun demikian kenyataannya.

Dua bulan lewat dengan cepatnya. Semua telur yang ditemukan itu telah habis dimakan Kun Liong, dan dia makin tekun membaca kitab kuno peninggalan Kaisar Bun Ong. Dapat dibayangkan betapa girang hatinya ketika dia mulai melatih diri dengan ilmu pernapasan dan gerakan kaki tangan yang terdapat dalam kitab, dia merasa tubuhnya makin segar dan kuat, penglihatannya terang dan semangatnya tinggi, membuat wajahnya selanjutnya selalu berseri dan matanya bersinar-sinar, memandang dunia ini sebagai tempat yang amat indah. Beberapa kali dia membujuk Hong Ing untuk mempelajari isi kitab, akan tetapi dara itu tidak mau, apalagi mendengar penuturan Kun Liong tentang isi kitab yang hanya mengajarkan urusan kebatinan dan latihan pernapasan. Bahkan gerakan kaki tangan itu bukanlah gerakan ilmu silat, hanya ditujukan untuk menyehatkan tubuh seperti yang dimaksudkan oleh kitab itu.

Bun Ong adalah seorang Kaisar yang maha besar dan amat bijaksana. Kebijaksanaannya amat terkenal semenjak sejarah berkembang, bahkan kebijaksanaan Kaisar Bun Ong ini dipuji-puji dan dijadikan contoh oleh Nabi Khong Hu Cu! Kaisar Bun Ong adalah Kaisar pertama dari Kerajaan Cou (tahun 1050 sebelum Masehi), lima ratusan tahun sebelum Nabi Khong Hu Cu, seorang Kaisar yang terkenal sebagai seorang manusia setengah dewa, bahkan terkenal sebagal Thian-cu (Utusan Tuhan) yang bijaksana dan amat pandai! Juga puteranya, Kaisar Bu Ong, amat terkenal sebagai pengganti dan penerus kebijaksanaan ayahnya. Maka, sungguh merupakan kebahagiaan besar bagi Kun Liong yang secara kebetulan bisa menemukan sebuah kitab peninggalan Kaisar itu!

Kitab itu berisi petunjuk-petunjuk tentang hidup, tentang kebatinan dan tentang perbintangan. Makin terbuka mata hati Kun Liong ketika membaca kitab kuno ini, makin mendalam pengertiannya tentang kekuasaan yang disebut Tao. Hanya sebutannya saja yang berbeda, namun pada hakekatnya, Tao dapat juga disebut Tuhan, Kebenaran, Cinta Kasih, dan sebagainya.

Cinta Kasih tak dapat juga diraba, tak dapat dikejar. tak dapat dimiliki atau digenggam, tak dapat dilatih atau dipelihara. Cinta Kasih tidak mempunyai sasaran seperti benci, duka, marah, iri dan lain-lain. Cinta Kasih yang sudah mempunyai sasaran bukanlah cinta kasih lagi namanya. Sasaran (obyect) timbul karena adanya aku, dan “aku” tak mungkin mencinta, karena kalau ada aku yang mencinta, cinta itu hanya menjadi alat untuk mencapai sesuatu demi keuntungan lahir maupun batin dari si aku ini. Cinta Kasih, Tao, Tuhan, Kebenaran dan sebagainya sudah ada, akan tetapi menjadi tidak ada atau tidak dimengerti karena terselubung oleh asap nafsu keinginan yang dibuat oleh si aku, asap yang membuat mata kita menjadi buta. Dalam keadaan seperti buta itu hendak mencari dan mengerti Tao, mengerti Cinta Kasih, mengerti Tuhan, tentu saja tidak mungkin. Segala macam asap itu yang berupa kebencian, kemarahan, kekerasan, kekejaman, iri hati, kedukaan, keinginan, semua ini harus lenyap dulu, barulah mata akan menjadi terang untuk dapat melihat Cinta Kasih. Barulah Cahaya itu akan cemerlang dan tampak. Segala macam bentuk nafsu tidak dapat dilenyapkan dengan paksaan, dengan kemauan, karena hal itu akan sama halnya dengan api dalam sekam, memang tidak bernyala lagi, namun masih ada membara dan sewaktu-waktu akan bernyala lagi kalau mendapatkan angin dan bahan bakarnya! Untuk bebas dari itu semua, kita harus menghadapinya langsung, mengenalnya, memperhatikannya dari awal sampai akhir, mengenal sampai ke akar-akarnya segala nafsu itu, berarti kita harus MENGENAL DIRI SENDIRI berikut segala macam nafsu yang bukan lain adalah si aku atau si pikiran.

Setiap hari Kun Liong tenggelam ke dalam isi kitab ini, dan biarpun itu itu terlalu dalam, bahkan kadang-kadang membuat dia termangu-mangu, merasa mengerti akan tetapi juga masih merasa bingung dan ruwet, namun dia sadar bahwa isi kitab itu penting bukan main dan bahwa kitab itu merupakan peninggalan yang amat berharga, ribuan kali lebih berharga daripada seperti emas permata yang disimpan oleh Hong Ing itu. Maka mulailah timbul kekhawatirannya kalau-kalau kitab itu akan terampas oleh orang lain dan mulailah dia mencarikan tempat penyimpanan yang tersembunyi dan rahasia di atas pulau itu.

Pada suatu pagi, Kun Liong bangun sambil menggaruk-garuk kepalanya. Entah mengapa, selama dua bulan ini, semenjak dia menemukan kitab dan harta pusaka, kepalanya selalu terasa gatal kalau dia bangun tidur di waktu pagi. Sudah beberapa kali dia memeriksanya, akan tetapi tidak ada perubahan sesuatu pada kepalanya, masih tetap licin dan halus, tidak ada tanda luka atau bintik yang menimbulkan gatal-gatal. Dia menggaruk kepalanya dan perutnya berkeruyuk. Hemm, sepagi itu, seperti biasanya, setelah dia mandi, tentu dia akan menghadapi sarapan yang sudah dibuat oleh Hong Ing. Teringat akan ini, dia tersenyum. Sudah terbayang dia akan melihat dara yang makin lama makin cantik jelita itu, makin panjang rambutnya, dengan pakaian yang sederhana, tampak bentuk dan lekuk lengkung tubuhnya yang makin matang sehingga seringkali membuat Kun Liong terpesona dan memaksanya menelan ludah. Namun anehnya, tidak seperti ketika menghadapi gadis-gadis lain, terhadap Hong Ing dia tidak pernah berani menggodanya, bahkan selalu berjaga-jaga agar bersikap sopan!

Dia meloncat turun, lari melalui pintu belakang ke sumber air yang berada di tengah pulau di dalam hutan kecil, menanggalkan pakaiannya dan sebelum terjun ke air, lebih dulu ia berjongkok di pinggir kolam air yang jernih, memandangi bayangan mukanya sendiri. Kemarin sore dia melihat dari jauh, secara sembunyi, betapa Hong Ing juga berjongkok seperti itu, bercermin di permukaan air sambil mengatur-atur rambutnya.

Seraut wajah yang kurus menyambutnya di air. Yang mula-mula menarik adalah sepasang mata bayangan itu. Mata yang seperti mata setan, celanya di dalam hatinya. Mata yang hitamnya terlalu hitam dan putihnya terlalu putih, seperti mata penyelidik. Tentu mendatangkan rasa tidak senang, terutama sekali Hong Ing, jika dipandang oleh mata semacam ini! Muka yang dagunya agak meruncing dan terlalu halus untuk seorang pria! Lebih-lebih kepala itu. Menjijikkan! Tidak dicukur akan tetapi kelimis. Lalat pun akan terpeleset hinggap di atasnya! Tentu menjijikkan, apalagi dalam hati seorang dara seperti Hong Ing. Akan tetapi sikap Hong Ing kadang-kadang manis sekali, terlalu manis kepadanya! Mungkinkah wajah yang begini dapat menarik hati seorang dara sejelita Hong Ing! Tak mungkin! Tentu hanya karena kasihan. Phuhhh, dia tidak membutuhkan rasa iba dari siapapun juga. Biar dari Hong Ing sekalipun, dia tidak mau seperti seorang pengemis mengulurkan tangan mohon kasihan!

“Hah! Sialan…!” Dia membenamkan kepalanya ke dalam air, dalam-dalam dan lama-lama, sampai dia gelagapan dan mengangkat lagi kepalanya dari dalam air untuk bernapas. Air kembali diam setelah tadi berombak keras dimasuki kepalanya dan kembali dia memandang ke bawah. Muka itu kini basah kuyup, air menetes-netes dari hidung, dan muka itu agak kemerahan, mata itu menjadi agak merah, dan mulut itu mengejek. Huh, makin buruk!

“Biarlah si buruk rupa tinggal dalam keburukannya!” Dia berkata keras-keras dan kembali dia membenamkan kepalanya, kini bahkan sambil meloncat ke depan. Air muncrat dan Kun Liong mandi, menggosok-gosok keras seluruh tubuhnya dengan penuh semangat, seolah-olah dia hendak melampiaskan kegemasannya kepada daki yang dia bersihkan dari kulit tubuhnya.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: