Petualang Asmara (Jilid ke-34)

Seperti biasa, ketika dia sudah mengeringkan tubuh dan pakaiannya yang tadi dicuci dan kembali ke pondok, Hong Ing sudah siap dengan sarapan pagi yang terdiri dari masakan sayur dan ubi-ubian yang didapatkan di hutan, panggang daging ikan sisa kemarin malam, dan air matang dengan “teh” yang terbuat dari daun-daun yang harum.

“Duduklah dan mari kita sarapan. Mengapa begitu lama engkau di sumber air? Sampai lelah aku menanti!” Hong Ing berkata.

Kun Liong duduk bersila menghadapi meja rendah di mana telah terhidang sarapan pagi itu. “Aku mencuci pakaianku,” cuping hidungnya bergerak-gerak. “Hemm, sedap! Kau masak daun apa ini?”

“Daun merah sudah keluar daun mudanya. Makanlah.”

Mereka makan dan Kun Liong tidak tahu betapa sepasang mata dara itu memandangnya dengan sayu, agaknya terharu menyaksikan dia makan dengan lahapnya. Selesai makan dan minum air teh istimewa itu, Kun Liong menghela napas lega.

“Nikmat dan lezat…” katanya. Biasanya pujiannya yang jujur ini menggirangkan hati Hong Ing, akan tetapi sekali ini Hong Ing mengerutkan alisnya dan berkata, suaranya lirih dan penuh duka, “Ah, aku ingin menangis kalau melihat kau makan, Kun Liong.”

“Eh, kenapa? Begitu menyedihkankah caraku makan?”

“Minuman hanya dari air dan daun, bukan teh aseli…” suara itu mengeluh.

“Harum dan sedap melebihi teh yang paling baik!”

“Dan daging ikan yang itu-itu juga, dipanggang, hanya digarami air laut…” suara itu makin merintih.

“Enak dan gurih sekali, melebihi masakan termahal di restoran!”

“Dan nasinya… tak pernah ada nasi… hanya ubi dan kentang hutan, dan sayurnya… aihh… Kun Liong… hanya daun-daun yang biasanya kerbau pun tidak sudi memakannya…” suara itu bercampur sedu-sedan.

Kun Liong tertawa membesarkan hatinya. “Hem, enak sekali! Mengenyangkan perut dan menyehatkan badan!”

“Aihhh, Kun Liong, mengapa kau tidak pernah sungguh-sungguh? Tak perlu kau menghiburku dengan kepura-puraan ini. Kau tentu menderita sekali…”

“Siapa bilang? Aku senang sekali! Makanku enak, minum pun sedap! Hemm, apakah kau merasa sedih karena makan minum seadanya ini, Hong Ing?”

“Tidak, bagi seorang wanita, makan minum tidaklah begitu penting. Lebih penting lagi menghidangkan makan-minum untuk pria, dan melihat kau makan minum seperti ini… ahhh, hati siapa tidak akan sedih?”

“Sungguh, Hong Ing. Tak perlu berduka. Aku tidak membohong, bukannya hiburan kosong. Aku sudah senang, aku merasa bahagia sekali!”

“Apa? Di tempat seperti ini? Apakah selamanya kita akan berada di tempat ini, terasing dari dunia ramai? Dan kau bilang kau bahagia?”

“Demi Tuhan! Aku berbahagia sekali! Aku tidak mau menukar kehidupan di sini seperti ini dengan kehidupan seorang kaisar di istana yang mewah!”

Hong Ing menunduk. Kun Liong memandang dan karena muka itu tidak dapat tampak olehnya, dia menurunkan pandangan matanya, menatap dada yang jelas membayang lekuk lengkungnya di balik kain itu, dada yang turun naik dengan keras seolah-olah gelombang lautan yang sedang mengamuk. Tiba-tiba muka itu diangkat dan Kun Liong merasa seperti dibanting dari tempat tinggi, cepat-cepat dia membanting pula pandang matanya ke samping!

“Kun Liong, kau tadi mengatakan bahwa kau berbahagia. Benarkah”

“Mengapa tidak? Aku tidak berbohong. Aku berbahagia sekali! Dunia begini indah, lautan begitu cantik, pulau kita ini begini menyenangkan, dan cahaya matahari pagi itu… lihat… begitu cemerlang dan hangat….”

“Itukah yang membuatmu bahagia?”

“Ya…”

“Tidak ada lain lagi?”

“Lain lagi? Masih banyak! Aku dan kau sehat-sehat saja, makan minum cukup, aku ada kitab dan kau ada perhiasan-perhiasan itu… dan kita tidak dikejar-kejar orang…”

“Hanya itu?”

“Ya…” Kun Liong meragu. “Apa lagi?”

Kembali Hon Ing menunduk, menghela napas panjang kemudian berkata tanpa mengangkat muka, “Dahulu… kalau diingat sudah lama sekali, akan tetapi sesungguhnya baru beberapa puluh hari yang lalu… kau mengatakan bahwa kau tidak tahu apa artinya behagia itu… akan tetapi sekarang kau berbahagia. Apakah… apakah…” Hong Ing meragu.

“Apa yang hendak kaukatakan?”

“Apakah engkau sudah bertemu dengan wanita idamanmu dahulu itu maka engkau merasa berbahagia?”

Wajah itu menengadah dan mata yang indah itu memandangnya setengah terpejam. Aneh sekali! Mata itu seperti mau menangis, akan tetapi bibir itu mengandung senyum!

“Aaahhh! Mengapa kau menanyakan itu, Hong Ing? Aku… aku… tidak memikirkan tentang wanita, dan tentu saja aku belum bertemu dengan wanita idamanku itu.”

Mata itu tiba-tiba terbelalak, dan muka yang manis itu mendadak menjadi merah padam. “Apa… apa maksudmu?”

“Mana mungkin aku dapat bertemu dengan wanita idamanku itu?”

“Kau… kaumaksudkan… wanita itu masih ada dalam alam khayalmu, masih kauharapkan kelak akan bertemu?”

“Aihh, sudahlah, Hong Ing. Mengapa kita bicara tentang hal yang bukan-bukan itu? Adalah lebih baik kita bicara tentang kita.”

“Hemmm, apa yang hendak kaubicarakan tentang aku?”

“Misalnya, bahwa agaknya kau tidak betah tinggal di sini.”

“Tentu saja! Tempat ini amat sunyi, aku merasa seperti berada di dalam kuburan! Bukan di dunia ramai.” Tiba-tiba suara Hong Ing berubah seolah-olah menyesali kata-katanya itu. “Betapapun juga, ada engkau di sini!”

“Engkau tentu kehilangan segala kebutuhan wanita. Sisir pun tidak ada.”

“Sisir bambu buatanmu cukup baik.”

“Dan sabun wangi, minyak wangi… ahhh, pakaianmu…”

“Di sini banyak kembang harum… sudahlah, Kun Liong. Kau pun tidak pernah mengeluh, tidak pernah membutuhkan apa-apa.”

“Aku sih tidak membutuhkan sisir, kepalaku gundul buruk begini…”

Hong Ing tertawa. “Memang kepalamu gundul dan lucu!”

“Dan buruk…”

“Dan buruk…!” Hong Ing seperti diajar bicara.

“Dan aku pernah memualkan perutmu.”

“Kadang-kadang…”

“Sekarang…?”

“Sekarang kau paling memualkan perutku!”

“Ehhhi…! Maaf, Hong Ing…”

“Kau terlalu cainggung, terlalu sopan, terlalu terpelajar, terlalu berfilsafat, terlalu melamun, terlalu… terlalu… engkau terlalu sekali!” Hong Ing bangkit dan dengan gerakan cepat penuh kejengkelan hati lalu meninggalkan Kun Liong, berlari pergi ke tengah pulau dan bayangannya lenyap di dalam hutan.

Kun Liong melongo. Kemudian ditamparnya kepalanya yang gundul dan mulutnya menyumpah. “Disambar geledek kalau aku mengerti ini…!” Dia menggeleng-geleng kepalanya, lalu berjalan perlahan menuju ke rimba di tengah pulau. Dia menyelinap di antara semak-semak, mendekati sumber air di mana dia melihat Hong Ing menangis seorang diri di dekat sumber air, di dekat kolam! Hong Ing menangis! Dan didengarnya suara Hong Ing, lirih dan penuh kedukaan, bicara kepada dirinya sendiri!

“Nah, puaskanlah hatimu, menangislah sepuas hatimu…!” Hong Ing menjenguk ke air. “Aduhhh… kasihan kau… biar kau menangis sampai kedua matamu merah den bengkak-bengkak, biar kau menangis sampai mengeluarkan air mata darah sekalipun, apa gunanya? Lihat hidungmu yang kecil mancung menjadi merah! Apa perlunya kau menyiksa diri? Biar kau sampai menjadi kurus kering, atau andaikata engkau bersolek sampai secantik-cantiknya, apa gunanya? Apa perlunya kau menggosok kedua pipimu pagi tadi sampai pipimu kemerahan… begitu segar den mengalahkan kecantiken bidadari, semua itu apa artinya? Tak seorang pun akan melihatnya, apalagi mengagumi! Si sombong, si pongah itu, hanya akan mengucapkan selamat pagi dengan suara datar, memuji rambutmu secara basa-basi, kemudian makan dengan lahap tanpa satu kalipun mengerling kepadamu, kemudian tenggelam dalam kitab-kitabnya untuk bertemu dengan wanita idamannya! Kau…? Hah, mungkin hanya menimbulkan sedikit rasa iba… huh-hu-hu…!” Hong Ing menangis lagi!

Kun Liong terbelalak dan kesima, tak mampu bergerak, menahan napas dan dia merasa demikian kaget, bingung, dan heran sehingga dia tidak mengerti apa sebabnya Hong Ing bicara seperti itu dan menangis demikian sedihnya! Karena khawatir kalau dia dilihat dara itu, diam-diam dia lalu pergi dari hutan itu, bukan kembali ke pondok melainkan pergi ke bagian pantai yang berlawanan tempat yang jarang didatanginya, pantai yang penuh dengan batu karang tidak berpasir seperti pantai di mana dia membuat pondok mereka.

Dia menghempaskan diri di atas tanah, bersandar batu karang den memandang jauh ke depan, jauh sekali menyeberangi laut yang tak bertepi itu. Apa yang telah terjadi dengan dirinya menghadapi Hong Ing? Mengapa dia merasa begitu aneh berhadapan dengan dara itu? Terjadi perbantahan sendiri di antara hati dan pikirannya, membuat dia duduk terlongong, lupa waktu lupa keadaan.

“Kau cinta padanya, tolol!”

“Hemm, ape sih cinta itu? Aku suka kepadanya karena dia cantik, seperti aku suka kepada gadis lain.”

“Bukan! Sekali ini lain sama sekali! Kau tidak pernah menggodanya, kau tidak berani mendekatinya, dia mendatangkan rasa hormat dan iba di hatimu, dia bagaikan sebuah benda pusaka yang tak ternilai harganya bagimu sehingga engkau tidak berani memegangnya terlalu lama khawatir rusak! Sedangkan gadis-gadis lain itu begimu hanya merupakan benda-benda Indah den kaujadikan permainan. Gadis-gadis lain itu bagimu seperti bunga-bunga yang indah harum, kaucium dan kau petik kemudian dilupakan begitu saja. Akan tetapi dia lain! Dia bagimu merupakan setangkai kembang yang suci, yang kaukagumi dengan memandang dan memujanya akan tetapi merasa sayang kalau tersentuh kotor. Kau cinta padanya!”

“Hemmm… aku hanya akan mencinta wanita idamanku.”

“Wanita idamanmu itu hanya khayal, hanya asap, tepat seperti dikatakannya dahulu! Wanita macam itu tidak ada!”

“Hemmm…” Kun Liong meremas pasir karang sampai menjadi bubuk halus.

Dia duduk termenung di tempat itu, tak pernah berpindah, sampai matahari telah naik tinggi kemudian condong ke barat. Baru dia teringat betapa dia telah setengah hari duduk di tempat itu dan bahwa Hong Ing tentu akan gelisah menantinya pulang. Hati dan pikirannya telah berdamai den telah bermufakat untuk melakukan sesuatu kalau dia bertemu dengan Hong Ing nanti! Dia mencinta Hong Ing! Inilah keputusan yang diambil oleh hati dan pikirannya, dan dia akan mengaku terus terang kepada dara itu!

Dengan jantung berdebar tegang akan tetapi kaki dan kepala ringan setelah dia mengambil keputusan tetap, Kun Liong berlari-lari ke arah pondok. Tahulah dia kini bahwa segala perasaan aneh yang dideritanya selama ini, bukan lain adalah keraguan terhadap hubungannya dengan Hong Ing. Sekarang harus ada kepastian! Dia mencinta Hong Ing! Dia herus menyatakan ini terus terang, dan apakah Hong Ing juga mencinta dia atau tidak, itu urusan lain lagi! Besar sekali kemungkinannya gadis itu tidak mencintanya, terlalu sering perasaan tidak senanghya diperlihatkan. Akan tetapi, andalkata benar Hong Ing tidak mencintanya, dia tidak akan penasaran, dan penjelasan itu akan melegakan hatinya. Tidak seperti sekarang, digerogoti keraguannya sendiri. Bagaimana nanti jadinya kalau Hong Ing menjawab pertanyaannya, dia tidak mau membayangkannya. Bagaimana nanti sajalah!

TIBA-TIBA kedua kakinya berhenti dengan tiba-tiba dan matanya terbelalak memandang ke depan, kedua alisnya berkerut. Dia melihat Hong Ing berdiri di pantai depan pondok, akan tetapi tidak sendirian! Ada tiga orang lain ying berdiri di depan dara itu dan melihat mereka, jantung di dalam dada Kun Liong berdebar tegang. Tiga orang itu adalah pendeta-pendeta Lama berkepala gundul dan berjubah merah! Teringatlah dia akan kakek pendeta Lama yang pernah menolong dia dan Hong Ing, yang amat sakti dan melontarkan mereka yang berada di dalam peti mati ke laut! Apakah kakek sakti itu yang datang bersama dua orang kawannya? Melihat mereka dari jarak jauh, sukar membedakan muka para pendeta Lama itu, maka dia lalu melanjutkan gerakan kakinya berlari menghampiri. Setelah agak dekat, tampaklah olehnya bahwa mereka adalah tiga orang pendeta Lama yang usianya sudah tua, akan tetapi pendeta Lama raksasa yang pernah menolongnya itu tidak berada di antara mereka. Kini dia sudah tiba dekat dan berdiri memandang.

Tiga orang itu bersikap agung dan berwibawa, usia mereka tentu sudah enam puluh tahun lebih. Mereka berdiri berjajar, yang tengah-tengah agak berbeda jubahnya, yaitu pinggir jubah merahnya memakai garis kuning emas dan kedua tangannya yang dirangkap di depan dada itu memegang lima batang hio (dupa biting) yang mengeluarkan asap harum. Adapun dua orang lainnya berdiri di kanan kirinya, juga merangkap tangan depan dada dan menundukkan muka seolah-olah mereka berdua itu selalu berada dalam keadaan bersamadhi dan berdoa!

Hong Ing berdiri dengan wajah agak pucat di depan mereka, dan jelas tampak betapa dara itu berada dalam keadaan bimbang ragu dan bingung. Melihat munculnya Kun Liong, wajah Hong Ing agak berseri seolah-olah dia melihat datangnya pertolongan.

“Kun Liong, para Locianpwe ini adalah supek dan kedua susiok dari Tibet, datang diutus oleh… ayahku untuk menjemputku!” suara Hong Ing gugup karena hatinya merasa tegang sekali.

Kun Liong mengerutkan alisnya, memandang kepada tiga orang pendeta itu, memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik, kemudian menjura dengan hormat dan berkata, “Sam-wi Locianpwe adalah paman-paman guru Nona Pek Hong Ing? Bagaimana ini? Saya tidak mengerti, harap Sam-wi sudi menjelaskan.”

Dua orang pendeta di kanan kiri masih menunduk dengan kedua mata terpejam, hanya pendeta yang berdiri di tengah yang mengangkat muka memandang Kun Liong. Pemuda ini terkejut sekali ketika melihat sinar mata kakek itu menyambar bagaikan halilintar! Wajah yang penuh keriput itu kelihatan dingin dan penuh wibawa yang menyeramkan, mulutnya selalu tersenyum sabar dan kepalanya lebih licin daripada kepalanya sendiri. Yang amat menarik hatinya, asap dari lima batang hio yang dipegang oleh kedua tangannya itu, membubung lurus ke atas, sama sekali tidak terpengaruh oleh tiupan angin laut!

“Siancai… pinceng telah menceritakan kepada yang berkepentingan, dan satu kali saja sudah cukup.” Suara kakek ini lemah lembut, namun di dasarnya terasa sekali keputusan yang seperti baja, tak dapat digoyahkan pula!

“Kun Liong, ketahuilah. Mereka ini datang dari Tibet sebagai utusan ayahku yang katanya kini menjadi calon ketua para pendeta Lama Jubah Merah di Tibet. Untuk pengesahan dan upacara pengangkatan ayah sebagai ketua, aku sebagai anak tunggal harus hadir, maka ketiga orang Locianpwe ini datang untuk menjemputku sebagai utusan ayah. Bagaimana baiknya, Kun Liong? Aku ingin sekali bertemu dengan ayahku!”

Kun Liong mengerutkan alisnya. Sungguh tak disangka-sangka timbulnya urusan aneh ini dan dia menjadi curiga. Mereka itu adalah pendeta-pendeta Lama, dan kalau ayah Hong Ing adalah suheng dan sute mereka tentu ayah Hong Ing juga seorang pendeta Lama. Mana mungkin ini? Dan bagaimana pula mereka bertiga itu bisa tahu bahwa Hong Ing adalah puteri calon ketua mereka?

Agaknya pendeta Lama yang memegang lima batang hio itu dapat membaca isi hati dan keraguan Kun Liong. Terdengar dia berkata dengan bahasa pribumi yang baik akan tetapi dengan lidah agak kaku, tanda bahwa sudah terlalu lama dia tidak menggunakan bahasa ini. “Orang muda harap jangan ragu-ragu terhadap kami. Kami masih mengenal Pek Hong Ing yang meninggalkan Tibet ketika dia berusia lima tahun, dan ketika di daratan besar kami mendengar bahwa Pek Hong Ing meninggalkan daratan dengan seorang pemuda gundul, kami segera berlayar dan mencari, akhirnya Sang Buddha menuntun kami sampai di tempat ini.”

Kup Liong diam-diam harus mengakui bahwa alasan itu memang masuk di akal. Akan tetapi, kalau benar ayah dara itu yang mengutus, mengapa sebagai seorang ayah, setelah belasan tahun baru ingat untuk mencari puterinya? Pula, dia masih teringat akan cerita Hong Ing bahwa ibunya dikeroyok oleh para pendeta Lama sehingga luka-luka parah den akhirnya tewas di kaki Pegunungan Go-bi-san. Maka kecurigaannya tetap saja tidak meninggalkan lubuk hatinya.

“Kalau saya boleh bertanya, siapakah nama Sam-wi Locianpwe?”

Kini kedua orang pendeta yang tadi menundukkan muka, mengangkat mukanya dan kembali Kun Liong terkejut. Dua orang hwesio yang sudah tua ini pun memiliki pandang mata yang luar biasa, seolah-olah dari pandang matanya itu keluar tanaga mujijat yang menyeramkan! Tiga pasang mata yang tajam den aneh itu memandang Kun Liong penuh perhatian, dan pendeta yang berdiri di tengah dengan suara tetap tenang berkata, “Orang muda, engkau memiliki nyali besar sekali!”

“Maaf, Locianpwe. Bukan sekali-kali saya hendak bersikap tidak hormat, akan tetapi hendaknya diketahui bahwa selama ini, sayalah yang menjaga den melindungi Nona Pek Hong Ing,, maka saya merasa sudah menjadi tanggung jawab saya untuk membelanya dari apapun juga. Kedatangan Sam-wi sungguh tidak diduga-duga, bukan saya tidak percaya, tetapi saya harus tahu lebih dulu siapa yang akan berurusan dengan None Pek Hong Ing.”

Pendeta yang berdiri di tengah itu tersenyum, sedangkan kedua orang temannya tetap diam seperti patung.

“Pinceng disebut Sin Beng Lama, yang di kiri ini adalah Hun Beng Lama, dan di kanan adalah Lak Beng Lama. Mereka adalah dua orang suteku, dan ayah Nona Pek Hong Ing adalah suheng, mereka den suteku yang pertama.”

Kun Liong dan Hong Ing saling pandang den merasa heran. Mendengar nama-nama itu mereka teringat akan kakek pendeta Lama yang telah menolong mereka, maka dengan cepat Kun Liong bertanya, “Dan siapakah nama ayah Nona Pek Hong Ing?”

“Suteku itu, yang kini dicalonkan sebagai ketua perkumpulan kami, adalah Kok Beng Lama…”

“Ohhhh…!” Kun Liong dan Hong Ing berseru heran. Jadi kakek pendeta aneh yang amat sakti itu, yang menolong mereka dengan memberi peti mati sebagai perahu, yang bernama Kok Beng Lama dan muncul seperti setan, yang bertubuh seperti raksasa, adalah ayah Hong Ing!

Mendengar seruan itu, Sin Beng Lama dan kedua orang sutenya memandang tajam penuh selidik. “Apakah kalian pernah bertemu dengan calon ketua kami?” tanya Sin Beng Lama.

Kedua orang muda itu mengangguk, dan Kun Liong berkata. “Kalau benar bahwa beliau itu ayah Nona Hong Ing, mengapa diam saja dan tidak mengajaknya ketika bertemu dengan puterinya? Dan menurut cerita Nona Pek Hong Ing, Ibunya pernah dikeroyok oleh para pendeta Lama, tidak tahu apakah Sam-wi Locianpwe ketika itu ikut pula mengeroyoknya?”

Tiga orang pendeta itu menggerakkan tubuh sedikit, dan asap lima bateng hio itu kini bergoyang-goyang.

“Orang muda! Urusan dalam mana mungkin diceritakan kepada orang luar? Pek Hong Ing, kami adalah paman-paman gurumu. Mari kauikut bersama kami menghadap ayahmu dan engkau akan mendengar selengkapnya tentang riwayatmu. Dia ini sebagai orang luar tidak berhak mencampuri urusan kami yang merupakan keluarga pendeta Lama Jubah Merah!”

Hong Ing kelihatan bingung dan ragu-ragu, sebentar memandang Kun Liong, lalu menoleh kepada tiga orang pendeta yang memandangnya dengan ramah itu. Melihat ini, makin tidak enak hati Kun Liong. Dengan suara lantang dia berkata. “Saya bukan orang luar! Kepentingan Hong Ing adalah kepentingan saya juga, bahkan lebih lagi! Saya akan membelanya dengan sepenuh jiwa raga saya!”

“Kun Liong…!” Hong Ing berseru lirih dan memandang dengan mata terbelalak lebar.

Kun Liong menghadapi dara itu dan berkata, suaranya lantang karena dia tidak peduli bahwa ucapannya itu didengarkan oleh tiga orang paman guru dara itu.

“Hong Ing, biarlah aku mengadakan pengakuan sekarang juga. Aku.. aku cinta padamu! Nah, sudah kunyatakan perasaan yang berbulan-bulan ini mencekik leherku. Aku cinta padamu, Hong Ing, dan aku siap untuk membelamu dengan seluruh jiwaku. Jangan kauikut bersama mereka, kalau memang ayahmu yang menyuruh, biarlah ayahmu sendiri yang datang ke sini! Atau, kalau engkau ingin pergi juga untuk menemui ayahmu, aku harus mengawalmu!”

Muka yang cantik itu menjadi merah sekali mendengar pengakuan cinta yang begitu terang-terangan di depan tiga orang pendeta itu. Akan tetapi tanpa dapat dicegahnya lagi, dua butir air mata meloncat turun dari pelupuk matanya dan dengan mata setengah terpejam dia memandang Kun Liong, bibirnya gemetar dan akhirnya sambil melangkah maju sehingga dia berada dekat sekali dengan Kun Liong, dia bertanya, “Kau… kau cinta padaku…? Lalu… bagaimana dengan wanita idaman yang kaukhayalkan dahulu itu…?”

Kun Liong tertawa dan kedua lengannya bergerak, meraih tubuh itu dan dipeluknya, didekapnya muka dara itu ke dadany. “Ha-ha, dahulu aku bodoh, aku dungu, tergila-gila kepada wanita khayal, wanita yang hanya bayangan… aku sungguh tolol seperti yang kaukatakan…”

Hong Ing merenggutkan tubuhnya menjauh, mukanya pucat dan matanya terbelalak.

“Apa… apa maksudmu…?” Tanyanya dengan suara terputus-putus.

Kun Liong masih tersenyum dan berusaha meraih lagi, akan tetapi Hong Ing mengelak. “Dahulu aku tolol, Hong Ing. Yang kucinta dengan seluruh jiwa ragaku hanyalah engkau, wanita dari darah daging, bukan wanita khayal itu, wanita dalam mimpi yang tentu saja tidak pernah ada” Kembali tangannya menangkap lengan Hong Ing dan hendak dipeluknya wanita itu.

“Plak-plak!” Hong Ing merenggutkan dirinya, menangkis dan menampar dengan muka merah sekali, matanya bersinar-sinar penuh kemarahan.

“Tidak! Lepaskan aku!” teriaknya dan wanita itu tersedu, lari mendekati tiga orang pendeta Lama sambil berkata. “Sam-wi Locianpwe, mari bawa aku menemui ayahku.” Dia tidak menengok lagi kepada Kun Liong yang berdiri dengan muka pucat dan terheran-heran.

Sin Beng Lama tersenyum dan mengangguk. “Sebagai puteri Sute yang menjadi calon Kauwcu (Kepala Agama), engkau bersikap baik dan tepat sekali, Hong Ing. Sute, ambilkan jubah untuk Hong Ing!”

Lak Beng Lama yang berdiri di sebelah kirinya, mengangguk dan sekali kakinya bergerak, tubub hwesio ini sudah mencelat dan berada di atas perahu kecil yang didaratkan di pantai. Sekejap mata kemudian, hwesio ini telah berkelebat datang membawa sebuah jubah merah yang lebar. Gerakannya demikian gesit dan cepatnya sehingga Hong Ing sendiri terbelalak kagum, juga diam-diam Kun Liong yang melihat ini maklum bahwa hwesio Lama itu memiliki gin-kang yang luar biasa tingginya! Akan tetapi dia tidak mempedulikan itu semua karena dia masih bengong memandang Hong Ing yang kelihatan marah kepadanya dan kini sama sekali tidak mempedulikannya itu.

Lak Beng Lama dengan sikap melindungi lalu menyelimutkan jubah merah itu ke tubuh Hong Ing. Jubah itu lebar dan panjang sehingga tubuh dara itu tertutup dari leher sampai ke mata kakinya, tidak lagi setengah telanjang seperti biasanya.

Melihat dara itu tidak mempedulikannya dan agaknya hendak benar-benar berangkat meninggalkannya, Kun Liong merasa jantungnya seperti dibetot. Dia meloncat ke depan dan langsung menjatuhkan diri berlutut di depan Hong Ing sambil berkata, “Hong Ing, jangan pergi… kumohon kau… jangan pergi meninggalkan aku. Aku cinta padamu…!”

Hong Ing memandang kepadanya dan kembali mata itu menitikkan air mata dan suaranya terdengar menyesal sekali.

“Sudahlah, Kun Liong. Aku hendak mencari ayah dan biarlah kita tidak saling bertemu lagi. Betapapun juga, aku selamanya tidak akan melupakan semua budi kebaikanmu kepadaku. Selamat tinggal, Kun Liong…”

“Tidak! Kau tidak boleh pergi begitu saja! Aku harus ikut den melindungimu, Hong Ing!”

“0rang muda, tidak mungkin boleh ikut bersama kami. Tempat kami merupaken tempat terlarang bagi orang luar!” kata Sin Beng Lama dengan suara halus. “Aku mau menjumpai ayahmu, Hong Ing! Aku cinta padamu, dan aku akan meminangmu dari tangan ayahmu!” Kun Liong berkata lagi.

Naik sedu-sedan dari dada Hong Ing, akan tetapi dia merenggutkan tangannya yang dipegang oleh Kun Liong. “Apakah

kaw lupa bahwa kau tidak akan menikah selamanya, Kun Liong? Dan aku pun tidak akan menerima pinanganmu. Aku tidak membutuhkan perlindunganmu. Sudahlah, aku mau pergi dan.. jangen kau memikirkan aku lagi, Kun Liong…”

Dara itu sudah melangkah menuju ke perahu, diiringkan oleh ketiga orang hwesio Lama itu. Kun Liong merasa jantungnya seperti diremas-remas. Sekali meloncat, dia sudah melampaui mercka dan menghadang antara mereka dan perahu.

“Tidak boleh! Kau tidak boleh pergi begitu saja, Hong Ing! Kau tidak boleh meninggalkan aku!” Suaranya mengandung isak den matanya liar seperti mata seekor kelinci ketakutan. Memang dia takut, dia gelisah bukan main melihat wanita itu hendak meninggalkannya!

“Orang muda, minggirlah kau!” Sin Beng Lama berkata, kini suaranya dingin dan keras, tidak lagi disertai senyum sabar.

“Tidak! Kau tidak berhak mencampuri, Sin Beng Lama! Kalian datang dan hendek membawa pergi dia begitu saja! Tidak boleh! Dia punyaku, dan sejak lama aku hidup untuk dia! Sekarang hendak kaubawa pergi begitu saja! Tidak bisa, selama aku masih hidup!”

“Orang muda, apa kau sudah gila? Minggirlah!” Lak Beng Lama melangkah maju, tongkat di tangan kanannya tergetar.

“Tidak! Kalianlah yang harus cepat pergi dari sini, jangan mengganggu kami berdua lagi.” bentak Kun Liong marah.

“Kun Liong, jangan kurang ajar terhadap Supek dan Susiok!” Hong Ing berseru.

“Mereka belum tentu Supek dan Susiokmu, Hong Ing. Jangan sembarangan percaya orang!” Kun Liong membentak.

“Bocah gila, engkau memang harus dihajar!” Lak Beng Lama menjadi marah sekali dan tongkathya sudah menyambar ke arah pundak Kun Liong. Pemuda ini juga marah, kemarahan yang timbul karena putus asa dan duka bercampur gelisah menyaksikan Hong Ing hendak meninggalkannya. Dengan pengerahan tenaga dia mengangkat lengannya menangkis tongkat itu.

“Desss!” Omitohud…!” Lak Beng Lama terpelanting dan tentu roboh kalau saja Hun Beng Lama, suhengnya tidak cepat menyambar lengannya. Bukan main kagetnya tiga orang pendeta Lama itu. Tak disangkanya sama sekali bahwa bukan saja pemuda itu dapat menangkis tongkat pusaka di tangan Lak Beng Lama yang jarang dapat dicari tandingnya itu, bahkan sambil menangkis hampir saja pemuda itu membuat Lama ini malu dan jatuh. Padahal tiga orang Lama ini merupakan tokoh-tokoh besar di Tibet dan memiliki tingkat kepandaian yang amat tinggi!

“Hemm, kiranya engkau juga memiliki sedikit kepandaian?” Hun Beng Lama sudah menerjang maju, menggerakkan seuntai tasbih hitam yang sejak tadi dipegangnya.

“Wuuuuttt… singgg…!”

Kun Liong cepat mengelak dan dari samping dia mengulur tangan hendak mencengkeram lengan lawan dan merampas tasbihnya. Juga gerakan ini membuat Hun Beng Lama terkejut dan terpaksa dia menarik kembali tasbihnya. Gerakan lawan muda itu benar-benar cepat bukan main, dan juga aneh sehingga dia makin penasaran lalu melangkah maju dan menyerang lagi. Kini tasbehnya meluncur ke arah kepala Kun Liong, sedangkan tangan kirinya menampar pinggang.

Biarpun serangan Hun Beng Lama cepat dan mendatangkan angin keras tanda bahwa gerakannya mengandung sin-kang kuat, namun gerakan Kun Liong lebih cepat lagi ketika mengelak dan pemuda ini pun tidak tinmggal diam, melainkan membalas dengan pukulan tangan terbuka ke arah leher lawan. Dia kini marah sekali karena tiga orang Lama itu dianggapnya hendak melarikan Hong Ing yang akan dipertahankannya mati-matian, maka dia sampai hati untuk membalas menyerang dengan dahsyat!

“Heihhh!” Hun Beng Lama terkejut dan mengelak, tasbehnya menyambar dari bawah.

“Bukkk!” Tasbih itu bergerak dengan cepat mengenai perut Kun Liong, akan tetapi pemuda ini memang sudah bersiap, mengerahkan sin-kang melindungi perut den berbareng dia menggunakan tamparan tangan menampar ke arah tengkuk.

“Aihhh… plakk!” Hun Beng Lama kaget ketika tasbihnya bertemu dengan perut yang keras seperti karet, apalagi ketika tangan lawan sudah menyambar dahsyat memukul tengkuknya. Dia mengelak, akan tetapi pundaknya kena serempet tangan Kun Liong den Hun Beng Lama terhuyung-huyung dengan muka pucat karena tamparan tangan pemuda itu mengandung hawa panas!

“Pemuda keparat!” Lak Beng Lama sudah menerjang lagi, dan dari samping, Hun Beng Lama juga menerjang. Kini Kun Liong dikeroyok dua! Dia bertangan kosong, akan tetapi dia tidak menjadi gentar dan cepat dia mainkan Ilmu Silat Im-yang Sin-kun ciptaan Tiang Pek Hosiang. Ilmu silat tangan kosong ini memang hebat sekali, gerakannya mengandung dua unsur tenaga Im-kang dan Yang-kang. Tenaga Yang-kang panas menghadapi serangan tongkat dan Im-kang dingin menghadapi senjata tasbih yang lemas sifatnya, maka tepat sekali sehingga setelah lewat tiga puluh jurus, Kun Liong membuat kedua orang pengeroyoknya terheran-heran karena belum juga mereka berdua mampu merobohkan lawan yang muda, seorang diri, dan bertangan kosong pula!

Kun Liong juga marah. Dia maklum bahwa dua orang Lama itu lihai sekali, maka dia berseru keras dan kini tubuhnya bergerak makin cepat dan ilmu silatnya berubah. Kaki tangannya seperti berubah menjadi delapan dan ternyata dia sudah mainkan Ilmu Silat Tangan Kosong Pat-hong-sin-kun dari Bun Hwat Tosu! Ilmu ini memang mengandalkan kecepatan, sesuai dengan namanya Ilmu Silat Delapan Penjuru Angin! Kembali dua orang Lama itu terkejut dan mereka terpaksa harus memutar senjata secepat mungkin untuk melindungi tubuh mereka, karena kini keadaannya berbalik, bukan dua orang mengeroyok seorang, melainkan delapan orang menghadapi dua orang!

Dua orang pendeta Lama itu tiba-tiba mengeluarkan pekik melengking panjang, pekik yang mengandung khi-kang kuat sekali, membuat jantung Kun Liong tergetar hebat. Pemuda ini terkejut dan cepat dia menggunakan gin-kangnya meloncat dan menyambar tasbih dan tongkat yang sudah dapat dia cengkeram dengan kedua tangannya!

Melihat senjata mereka dapat tertangkap, dua orang pendeta itu kaget dan berbareng mereka menghantam dengan tangan kiri yang terbuka ke arah tubuh Kun Liong.

“Bukk! Bukkk!” tangan kiri Hun Beng Lama mengenai punggung Kun Liong, sedangkan tangan kiri Lak Beng Lama mengenai lambung. Baru sebuah saja dari dua pukulan ini sudah cukup untuk menewaskan lawan. Akan tetapi anehnya, dua orang pendeta itu berteriak-terlak kaget dan mencoba untuk menarik-narik tangan kiri mereka yang sudah melekat pada punggung dan lambung! Kiranya Kun Liong sengaja menerima pukulan mereka sambil mengerahkan sin-kang dan menggunakan ilmunya Thi-khi-i-beng sehingga bukan saja tubuhnya tidak terpengaruh pukulan, bahkan otomatis tenaga sin-kang kedua orang pendeta itu tersedot oleh pusarnya melalui punggung dan lambungnya! Tentu saja Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama terkejut setengah mati ketika merasa betapa sin-kang mereka membanjir keluar!

“Omitohud…!” Sin Beng Lama berseru dan tiba-tiba tampak dua sinar api meluncur.

“Aduhh…!” Kun Liong berteriak kaget ketika punggung dan lambungnya terasa panas terbakar. Kiranya jalan darahnya di bagian itu telah ditotok oleh Sin Beng Lama yang menggunakan “senjata” istimewa sekali, yaitu dua batang hio yang bernyala! Ketika merasa betapa telapak tangan mereka terlepas dari hisapan, Hun Beng Lama menarik tangan mereka dan cepat menampar.

“Plak! Desss…!” Tubuh Kun Liong terguling-guling oleh tamparan yang mengenai leher dan dadanya itu.

“Syuuuuttt… ahhhh…!” Kun Liong terkapar dan berkelojotan tubuhnya karena dia merasa tubuhnya sakit-sakit seperti dibakar api ketika lima batang hio itu sudah meluncur dan menancap di lima bagian jalan darahnya secara luar biasa sekali! Kepalanya pening, pandang matanya kabur dan dalam keadaan setengah pingsan Kun Liong masih dapat mendengar suara Hong Ing, “Jangan bunuh dia… aku tidak sudi pergi kalau dia dibunuh…! Kun Liong…!” Dan selanjutnya gelap dan dia tidak tahu apa-apa lagi!

“Auhhh..” Kun Lion mengeluh, tubuhnya terasa nyeri semua, nyeri dan panas. Dia membuka matanya dan teringatlah dia bahwa dia roboh oleh Sin Beng Lama yang menyerangnya dengan sambitan lima batang hio yang merupakan sinar api kuning emas meluncur seperti kilat menyambar dan yang tepat mengenal lima jalan darah di tubuhnya.

“Uhhh…!” Dia mengeluh lagi penuh kengerian ketika melirik dan melihat betapa lima biting itu telah menancap di kedua pundaknya, kedua pahanya dan yang satu di lambungnya. Dupa biting itu dapat menancap seperti anak-anak panah baja saja, depat dibayangkan betapa lihai kakek pendeta Lama itu!

Kun Liong mengerahkan tenaganya, akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tenaga sin-kangnya yang dilatihnya dari kedua orang gurunya, Bun Hwat Tosu dan Tiang Pek Hosiang, tidak dapat digunakan, seolah-olah sumbernya telah dihimpit dan tenage sin-kangnya tidak dapat timbul. Juga tenaga Thi-khi-i-beng yang tersimpan di pusarnya, tidak dapat dia gerakkan! Tahulah dia dengan kaget sekali bahwa lima batang hio itu telah melumpuhkan sin-kangnya, dan teringatlah betapa dua tusukan hio biting itu pun telah melenyapkan tenaga sedot dari Thi-khi-i-beng ketika dia menggunakan ilmu itu terhadap Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama! Bahkan ketika dia berusaha menggerakkan kedua tangan untuk mencabut hio-hio itu, kedua tangannya juga lumpuh karena hio-hio itu telah menotok kedua pundaknya.

Kun Liong bersikap tenang. Dia tahu bahwa Hong Ing telah dibawa pergi oleh mereka, bahwa dia hanya sendirian di pulau. Musuh-musuh yang tangguh itu telah pergi dan dia kini terlentang di atas pasir dalam keadaan tertotok oleh hio-hio itu, tak berdaya sama sekali, sedangkan hio-hio itu agaknya beracun. Hal ini dapat diduga dari rasa nyeri dan panas yang mengamuk di tubuhnya. Akan tetapi dia tidak boleh putus harapan, tidak boleh gugup. Dia harus dapat menolong diri sendiri dulu, terutama sekali agar dia dapat mencari Hong Ing. Dia masih dapat mengingat teriakan Hong Ing yang terakhir ketika menyebut namanya, teriakan seorang yang berada dalam kesulitan. Tak mungkin Hong Ing, betapa pun bencinya kepadanya, biarpun andaikata dara itu tidak mencintainya, tak mungkin dara itu meninggalkannya begitu saja dalam keadaan seperti itu! Tidak mungkin! Dia tahu siapa Hong Ing dan dara macam apa adanya dia! Hong Ing, di balik semua sifat dan wataknya yang aneh sebagai seorang wanita, memiliki hati yang berbudi. Tak mungkin Hong Ing tega meninggalkan dia dalam keadaan seperti itu, kalau dara itu tidak dipaksa. Dipaksa! Berarti diculik oleh tiga orang pendeta Lama itu! Dan tentu saja Hong Ing tidak akan mampu melawan mereka yang demikian lihainya. Karena itu, jelas bahwa Hong Ing berada dalam kesulitan. Dalam bahaya! Dan dia harus meholongnya, harus mengejar tiga orang pendeta Lama itu. Akan tetapi, yang terpenting sekarang, dia harus dapat membebaskan diri sendiri lebih dulu. Bagaimana caranya?

Kun Liong mengingat-ingat. Dari gurunya yang ke dua, Tiang Pek Hosiang, dia telah mempelajari ilmu-ilmu Jiu-kut-keng (Melemaskan Badan), dan dari Bun Hwat Tosu dia telah diajari dasar Ilmu I-kiong-hoan-hiat (Memindahkan Jalan Darah). Ilmu yang pertama itu memungkinkan dia untuk meloloskan diri dari belenggu yang bagaimana kuatpun, dan ilmu ke dua dapat membuat dia membuyarkan totokan yang menguasai tubuhnya.

Akan tetapi sekali ini, kedua ilmu itu tidak dapat dia pergunakan karena sumber tenaga sin-kangnya terhimpit. Sambil terlentang di atas pasir, hanya biji matanya yang bergerak-gerak dan dipaksa memandang ke langit yang hitam penuh terhias bintang. Kun Liong mengumpulkan ingatannya, mengenang kembali semua ilmu yang pernah dipelajarinya, mulai dari kecilnya dia belajar dari ayah bundanya, lalu kepada Bun Hwat Tosu, Tiang Pek Hosiang dan yang terakhir dari supeknya, Pendekar Cia Keng Hong. Kemudian di atas pulau kosong itu, dia membaca kitab Keng-lun Tai-pun ciptaan Kaisar Bun Ong.

Jutaan tak terbilang dari bintang-bintang di langit mengingatkan dia akan pelajaran tentang letak bintang dan artinya dengan kehidupan manusia yang dia pernah baca di dalam kitab Keng-lun Tai-pun itu, mengingatkan dia akan semua yang dipelajarinya dari kitab itu. Otomatis dia teringat akan latihan napas dalam kitab itu dan segera pernapasannya diatur menurut pelajaran itu tanpa maksud tertentu. Betapa girang dan kaget hatinya ketika tidak lama setelah dia mengatur pernapasan menurut latihan dalam kitab itu, rasa nyeri dan panasnya banyak berkurang. Hal ini mendorongnya untuk mengerahkan seluruh perhatiannya dalam latihan ini, kemudian dengan semangat yang terbangun secara aneh, dia mulai menyalurkan semangat ini untuk menggerakkan kaki tangannya menurut petunjuk dalam kitab yang telah dihafalkan. Dan hasilnya… benar-benar luar biasa. Dia dapat menggerakkan kaki tangannta! Bahkan kini himpitan di pusarnya mulai terangkat dan begitu dia dapat menggerakkan hawa sin-kangnya dari pusar, sin-kang yang dilatihnya dari Bun Hwat Tosu membuat lima batang hio itu terdorong keluar dari tubuhnya!

Kun Liong cepat bangkit duduk dan bersila, memejamkan matanya dan mengerahkan hawa sin-kang, disalurkannya berputaran di seluruh tubuhnya untuk menghalau semua hawa beracun, dan mengisi tubuhnya dengan hawa murni melalui pernapasan.

Sampai pada keesokan harinya, barulah Kun Liong berhasil memulihkan kesehatan dan tenaganya. Setelah dia membuka mata menggerak-gerakkan kedua lengannya sampai otot-ototnya berbunyi, barulah hatinya merasa puas karena dia telah sembuh sama sekali. Akan tetapi setelah dia sembuh perhatiannya akan diri sendiri lenyap dan kembali dia teringat kepada Hong Ing.

“Ahhhh… Hong Ing…!” Dia mengeluh dan seperti kebiasaannya, kalau dia merasa bingung den gelisah, tangan kirinya meraba-raba kepalanya yang gundul.

“Heiii…!” Matanya terbelalak, den kini tangan kanannya ikut pula meraba-raba kepalanya. Dia tidak mimpi! Tangan kirinya tidak kehilangan perasaanya. Memang benar kepalanya tidak kelimis dan licin lagi!

“Hong Ing…! Kepalaku berambut…!” Dia melompat bangun, akan tetapi segera tertunduk kembali seperti dibanting karena dia teringat bahwa Hong Ing tidak berada di pulau! Kegirangan dan kekagetan meraba kepalanya yang tumbuh rambut itu tadi sejenak melupakan dia bahwa Hong Ing telah diculik orang.

Kini kedua tangannya menyelidiki kepalanya. Benar tumbuh rambut, biarpun masih pendek akan tetapi jelas terasa oleh rabaan tangan. Teringat dia akan telur-telur yang berpuluh banyaknya, yang tidak disukai oleh Hong Ing dan yang oleh dara itu telah direbus setiap hari untuk dia. Teringat dia betapa kepalanya menjadi gatal-gatal setelah makan telur-telur itu! Dan teringat pula dia akan cerita Hong Ing tentang seekor ular hitam yang mendarat dan tentang bentuk dan warna telur yang oleh dara itu disangka bukan telur kura-kura. Kini dia mengerti. Telur-telur itu memang bukan telur kura-kura. Entah telur apa, mungkin saja telur ular yang dilihat Hong Ing itu. Dia tidak merasa heran kalau ada telur semacam binatang yang depat memunahkan racun di tubuhnya sehingga rambut kepalanya tumbuh kembali. Dia tahu bahwa tidak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan di dunia ini. Ibunya, seorang ahli pengobatan yang pandai, pernah berkata bahwa di dunia ini, segala sesuatu ada lawannya. Demikian pun penyakit, sudah pasti ada obatnya. Kalau ada penyakit yang tidak dapat disembuhkan, hal itu hanya terjadi karena manusia belum menemukan lawan dari penyakit itu! Dan menurut ibunya, di udara, di atas dan di dalam tanah, di dalam air, di mana-mana terdapat bahan obat yang serba lengkap dan manusia hanya tinggal menyelidiki dan menemukannya saja. Sekarang, secara kebetulan sekali telur aneh itu merupakan lawan dari “penyakit” yang membuat rambut kepalanya tidak mau tumbuh, sehingga kepalanya menjadi normal kembali dan telah tumbuh rambut!

Setelah keadaan cuaca agak terang oleh sinar matahari pagi, Kun Liong berlari ke sumber air dan bercermin di kolam. Tak salah lagi, bintik-bintik hitam di kepalanya itu adalah rambut-rambut muda! Ah, betapa Hong Ing akan girang melihatnya, betapa mereka berdua akan tertawa-tawa menyaksikan keanehan yang amat menguntungkan ini. Tiba-tiba dia menarik napas panjang. Hong Ing sudah lenyap! Dia harus mencarinya! Dan dia tahu ke mana harus mencari Hong Ing. Tidak lain dia harus mengejar tiga orang kakek pendeta Lama itu dan ke mana lagi mencari mereka kalau bukan ke Tibet?

Mulai pagi hari itu, dengan penuh ketekunan Kun Liong membuat sebuah perahu dari batang pohon besar yang ditumbangkamya di dalm hutan di tengah pulau. Tentu saja tidak mudah membuat sebuah perahu dari batang demikian besar tanpa alat apa pun kecuali ujung batu-batu karang yang runcing. Akan tetapi dengan penuh semangat, terdorong oleh kekhawatiran akan keselamatan Hong Ing, Kun Liong bekerja siang-malam dan hanya berhenti kalau perutnya sudah terlalu lapar untuk makan atau matanya sudah terlalu mengantuk untuk tidur.

Sambil bekerja dia mengenangkan semua peristiwa yang terjadi selama dia bersama dengan Hohg Ing. Dia menarik napas panjang dan harus mengakui bahwa dia benar-benar mencinta dara itu! Dan beberapa kali dia merasa malu kepada diri sendiri kalau dia mengingat akan semua sikap dan hubungannya dengan gadis-gadis lain. Betapa dahulu dia berpemandangan rendah soal cinta! Betapa dahulu dia menganggap dara-dara itu seperti kembang yang indah harum untuk dipandang kagum dan dicium. Betapa dahulu dia menganggap bahwa rasa suka yang menarik hati antara muda-mudi hanyalah dorongan nafsu berahi semata! Dan sekarang, barulah dia merasakan benar-benar betapa hebat kekuasaan perasaan yang disebut cinta asmara ini! Betapa anehnya!

Dia menjadi bingung kalau mengenang sikap Hong Ing kepadanya. Kadang-kadang dia seperti dapat menangkap sinar mata penuh kasih mesra, dapat melihat sikap dara itu yang jelas membayangkan cinta kasih dara itu kepadanya. Akan tetapi, mengapa seringkali Hong Ing marah-marah kepadanya dan seolah-olah membencinya? Padahal, ketika dara itu melayaninya makan, ketika bercakap-cakap, bersendau-gurau, ketika mereka bersama membuat pondok, ketika mereka berkejaran dan berlumba mencari telur, semua itu jelas menunjukkan bahwa dara itu berbahagia di sampingnya, bahwa dara itu suka akan kehadirannya dan mencintanya! Akan tetapi dara itu pun pernah memakinya seperti orang yang sombong, angkuh, tolol, dan yang lebih hebat lagi… memuakkan perutnya! Dan yang terakhir itu, sebelum dibawa pergi para pendeta Lama, ketika dia dengan terus terang menyatakan cinta kasihnya kepada Hong Ing, dara itu mula-mula kelihatan seperti orang yang terharu dan berbahagia, akan tetapi mengapa kemudian berubah menjadi marah-marah dan memandangnya penuh kedukaan dan kebencian? Mengapa?

Dia mengenangkan semua peristiwa itu, satu demi satu. Didengarnya kembali pengakuan cintanya kepada Hong Ing, didengarnya kembali semua ucapan Hong Ing kepadanya dan kemarahan dara itu kepadanya.

“Ohhh…!” Tiba-tiba Kun Liong menghentikan pekerjaannya, duduk termangu-mangu dan mukanya menjadi pucat. Kembali dia membayangkan adegan tertentu dan kata-kata tertentu sebelum Hong Ing marah.

“Ahh, benar-benar tolol kau!” Kun Liong menampar kepalanya yang kini tidak gundul lagi, melainkan tertutup rambut hitam yang kaya dan hitam, akan tetapi, baru satu senti panjangnya. Terngiang kembali dalam telinganya percakapan antara dia dan Hong Ing sebelum dara itu marah-marah bahkan telah menamparnya!

“Kau cinta padaku…? Lalu… bagaimana dengan wanita idaman yang kau khayalkan dahulu itu…?” Hong Ing bertanya kepadanya.

“Ha-ha, dahulu aku bodoh, aku dungu, tergila-gila kepada wanita khayali, wanita yang hanya bayangan… aku suagguh tolol seperti yang kaukatakan…” dia menjawab.

Mendengar itu, Hong Ing menjadi pucat. Dia ingat betul akan perubahan ini, dan mendengar kembali suara Hong Ing yang terputus-putus. “Apa… apa maksudmu…?”

Dan dia, betapa tololnya, ketololan yang amat keterlaluan, dia menjawab seenak perutnya sendiri saja, “Dahulu aku tolol. Yang kucinta dengan seluruh jiwa ragaku hanyalah engkau, wanita dari darah daging, bukan wanita khayal itu, wanita dalam mimpi yang tentu saja tidak pernah ada.”

Hong Ing lalu menamparnya! Tentu saja! Dia sekarang sadar bahwa sepatutnya dia dipukul, bukan hanya ditampar!

Mengapa dia begitu tolol? Kini dia dapat menyelami perasaan hati seorang gadis seperti Hong Ing ketika mendengar pengakuannya yang bodoh bahwa wanita impiannya itu tidak pernah ada! Padahal Hong Ing melebihi semua wanita impiannya! Jawabannya yang bodoh itu tentu saja menyakitkan hati Hong Ing karena seolah-olah baginya, tidak ada wanita yang sempurna, seperti wanita khayalannya itu, bahkan Hong Ing pun tidak sesempurna wanita impiannya itu. Dia memang patut dipukul mampus!

Perasaan menyesal terhadap kesalahamya ini, kesalahan yang telah menghancurkan hati kekasihnya, membuat Kun Liong makin tekun. Tanpa mengenal lelah dia menyelesaikan pembuatan perahunya dan dua bulan kemudian selesailah perahu itu, sebuah perahu sederhana sekali. Dia lalu berangkat meninggalkan pulau itu dengan mendayung perahunya. Yang dibawanya hanyalah kitab Keng-lun Tai-pun yang masih terus dipelajarinya karena isi kitab itu amat sukar dimengerti, harus dibaca berulang-ulang. Harta pusaka berupa emas perak dan permata dia tinggalkan di pulau, dia sembunyikan di dalam sebuah di antara guha-guha di pulau itu, dia hanya membawa beberapa potong emas dan perak untuk bekal di perjalanan. Tujuannya hanya satu, mencari Hong Ing sampai ketemu! Dan arah perjalanannya setelah mendarat nanti telah pasti, kecuali kalau ada jejak dara itu yang menuju ke lain arah, yaitu ke Tibet!

“Sudahlah, Keng-moi… sudahlah kekasihku yang tercinta. Perlu apa menangis lagi? Tangismu menghancurkan hatiku, Keng-moi. Bukankah aku berada di sini, di sampingmu selalu?”

“Liong-koko…!” Giok Keng makin terisak menangis, menyandarkan kepalanya di atas dada Liong Bu Kong yang mengelus-elus rambutnya dengan penuh kemesraan. “Engkau tidak merasakan betapa sakit hatiku… betapa sengsaranya hati orang yang diusir dan tidak diakui lagi oleh ayah bundanya… hu-hu-huuk…”

“Aku mengerti, Moi-moi… aku mengerti… dan memang tidak semestinya engkau mengorbankan diri sedemikian rupa hanya untuk seorang seperti aku… maka sekarang belum terlambat, kalau kautinggalkan aku dan pulang, minta ampun kepada ayah bundamu, Moi-moi…”

Cia Giok Keng mengangkat mukanya yang basah air mata dan matanya yang agak merah karena tangis itu memandang wajah yang tampan dari Bu Kong. Malam itu bulan telah muncul dan di bawah sinar bulan wajah itu kelihatan tampan sekali.

“Apa… apa maksudmu…? Meninggalkanmu…?”

Bu Kong menundukkan mukanya dan berkata, suaranya halus menggetar, “Keng-moi, aku cinta kepadamu, aku cinta padamu dengan seluruh jiwa ragaku… dan demi cinta kasihku yang murni, aku tidak ingin melihat kau menderita. Tidak! Aku hanya ingin melihat engkau berbahagia, maka melihat engkau menangis dan bersengsara seperti ini… ah, biarlah aku yang menderita, Moi-moi, kau kembalilah kepada orang tuamu…”

“Koko…!” Giok Keng menangis lagi sambil merangkul leher pemuda itu. Hatinya merasa perih dan terharu, juga bahagia sekali karena ucapan pemuda itu meyakinkan hatinya akan cinta kasih yang murni dari pemuda itu kepada dirinya. “Aku rela berkorban apa pun, Koko… biarlah aku tidak diakui anak lagi oleh ayah bundaku asal engkau benar-benar mencintaku…”

“Moi-moi…!” Bu Kong mendekap tubuh itu dan mencium pipinya, “Aku bersumpah demi bumi dan langit bahwa aku mencintamu dengan seluruh jiwa ragaku. Biarlah aku bersumpah, kalau ternyata aku berhati palsu kepadamu, kelak Thian akan menghukumku dengan…?”

“Husshh, tidak perlu bersumpah, aku percaya kepadamu, Koko…” Giok Keng menutup mulut pemuda itu dengan telapak tangan kanannya.

“Moi-moi… ah, Moi-moi tersayang…”

Bu Kong memegang dan menciumi tangan itu, kemudian ciumannya berpindah-pindah, dari tangan ke leher dan akhirnya dia menciumi bibir Giok Keng dengan penuh nafsu. Mula-mula Giok Keng membalas ciuman pemuda itu dengan sepenuh hatinya karena cinta kasihnya, penub penyerahan dan kemesraan. Akan tetapi ketika ciuman-ciuman penuh nafsu yang

membuat dia terengah-engah itu disusul dengan gerakan jari-jari tangan Bu Kong yang nakal, dia terkejut.

“Moi-moi… ahhh… Moi-moi tercinta…!” Bu Kong berkata dengan napas mendengus-dengus, kemudian dengan gerakan halus dia mendorong kedua pundak dara itu sehingga Giok Keng rebah terlentang di atas tanah berumput. Giok Keng merangkulnya, menciumnya, dan jari-jari tangannya meraba-raba dan hendak membuka pakaian Giok Keng.

“Koko… jangan…!” Glok Keng mendadak bangkit duduk dan menolak kedua tangan pemuda itu yang meraba dada dan pahanya. “Jangan begitu, Koko…!” suaranya penuh permohonan dan nafasnya masih terengah-engah dibakar nafsu berahi.

“Mengapa Moi-moi? Bukankah kita saling nencinta?” Bu Kong mengecup pipi yang kemerahan dan halus serta panas karena terbakar darah muda yang menggelora tadi.

“Memang aku cinta padamu, Koko, dan aku yakin bahwa engkau pun mencintaku akan tetapi kita… kita… tidak boleh begini… sebelum kita menikah dengan sah!”

Bu Kong melepasken kedua tangannya dan usahanya membelai dan memegang kedua pundek dara itu, memandang wajah yang jelita itu dengan mata tajam dan suaranya terdengar mencela, “Aihh, mengapa pendirianmu begini kuno, Moi-moi? Di mana ada cinta, di situ tidak ada pelanggaran apa-apa lagi, apa pun boleh kita lakukan jika kita saling mencinta! Bahkan tidak selalu cinta harus dihubungkan dengan pernikahan! Cinta dan pernikahan itu adalah dua hal yang berlainan, Moi-moi!”

Giok Keng cemberut dan menggerakkan pundaknya sehingga pegangan Bu Kong itu terlepas. Dia menggeser duduknya agak menjauhi pemuda itu, lalu berkata, suaranya juga sungguh-sungguh, “Liong-koko, memang enak saja berkata demikian karena engkau adalah seorang laki-laki! Kau bilang bahwa cinta dan pernikahan adalah dua hal yang berlainan, dan biarpun anggapanmu ini ada benarnya, namun lebih benar lagi adalah bahwa cinta dan bermain cinta adalah dua hal yang lebih berlainan lagi! Bermain cinta hanyalah permainan nafsu berahi, dan seperti juga pernikahan, hanya merupakan pelengkap dari cinta kasih belaka.”

“Moi-moi, kita saling mencinta, kita berdua seakan-akan sudah tidak mempunyai lagi orang tua, perlu apa urusan pernikahan direpotkan lagi? Kita saling mencinta, sehidup semati, dan kalau aku ingin memiliki dirimu, demi cinta kita, apa salahnya itu?”

“Karena engkau seorang laki-laki, maka pendapatmu menjadi demikian mudah tentang hal ini, Koko. Bagi pria, memang tidak ada cacad celanya melakukan hubungan di luar nikah, akan tetapi demikiankah bagi wanita? Memang dunia ini kejam, terutama sekali kejam terhadap wanita! Kalau sepasang muda-mudi, karena cinta mereka, karena dorongan nafsu berahi mereka, melakukan hubungan dan bermain cinta di luar nikah, selalu si wanita yang menjadi korban. Diejek, diolok-olok, dianggap manusia rendah. Sebaliknya, si pria tidak apa-apa, bahkan perbuatannya itu akan dijadikan kebanggaan diantara kawannya, dipamerkan sebagai suatu bukti kejantanan! Sekali saja seorang wanita terpeleset dan bermain cinta di luar nikah, kehormatannya akan cemar, namanya akan buruk. Sebaliknya, biarpun seorang pria melakukan hubungan itu di luar nikah sampai seribu kali, tidak akan berbekas apa-apa! Apalagi kalau hubungan itu sampai menghasilkan kandungan. Maka celakalah si wanita!”

“Ahh, Moi-moi, kau berpikir terlampau jauh dan mengkhawatirkan hal yang bukan-bukan. Apakah kaukira aku yang mencintamu dengan seluruh jiwa ragaku akan meninggalkanmu begitu saja? Kita sudah sehidup semati, Moi-moi!”

“Bukan aku tidak percaya kepadamu, Koko. Hanya aku tidak ingin kehilangan harga diriku yang merupakan kehormatan bagi seorang wanita, biarpun hanya kita berdua saja yang mengetahui. Aku akan merasa rendah dan murah! Pula, kalau engkau memang mencintaku, mengapa kau tidak mau menaruh hormat akan pendirianku ini? Mengapa engkau tidak mau menjaga agar kehormatanku tetap terjunjung tinggi dan kita dapat benar-benar menikmati masa pengantin baru? Koko, aku hanya mau menyerahkan diriku kepadamu setelah kita menikah, sungguhpun hatiku sudah kuserahkan kepadamu.”

“Keng-moi… kau mengecewakan hatiku… akan tetapi demi cintaku yang mumi, biarlah aku akan menahan diri dan akan mentaati permintaanmu itu.”

“Koko, engkau memang baik sekali!” Giok Keng merangkul dan mereka saling berciuman dengan penuh kemesraan, akan tetapi api nafsu berahi yang tadinya hampir membakar mereka berdua itu kini dapat dipadamkan atau setidaknya diperkecil sehingga tidak akan timbul bahaya kebakaran.

Bu Kong duduk di atas tanah bersandar pohon, Giok Keng duduk dan menyandarkan tubuh di atas dada pemuda itu. Sampai lama keduanya tidak berkata-kata, hanya duduk seperti itu dengan hati tenang, masing-masing tenggelam dalam lamunan.

Tak lama kemudian terdengar Bu Kong berkata, “Moi-moi, aku heran sekali bagaimana seorang dara remaja seperti engkau ini dapat mempunyai pandangan sedemikian mendalam tentang hubungan antara pemuda dan pemudi seperti yang kita bicarakan tadi.”

“Ibu yang telah bicara kepadaku tentang semua itu, Koko. Dan Ibu adalah seorang wanita yang keras hati, seorang wanita yang telah mempunyai banyak pengalaman hidup, tahu akan pahit getirnya hidup sebagai seorang wanita. Semua yang dikatakannya memang tepat dan benar, menurut kenyataan. Betapa banyak kenyataannya bahwa wanita selalu terancam dalam hidupnya, banyak sekali bahaya menghadang, di depan langkah hidup kaki wanita. Telah menjadi kembang bibir sebutan-sebutan yang merendahkan kaum wanita. Ada gadis kehilangan keperawanannya akan tetapi tidak ada sebutan perjaka kehilangan keperjakaannya. Ada sebutan isteri tidak setia, akan tetapi suami yang tidak setia tak disebut-sebut. Seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang saja suami, namun seorang pria boleh saja mempunyai seratus orang isteri! Sebagai akibat hubungan, wanitalah yang harus mengandung, melahirkan dengan segala penderitaannya, sedangkan pria hanya tahu enaknya saja. Ada makian pelacur dan sampah masyarakat bagi wanita, akan tetapi laki-laki hidung belang tukang melacur tetap dianggap sebagai manusia terhormat.”

Liong Bu Kong mengangguk-angguk dan mengelus rambut kekasihnya dengan mesra.

“Engkau memang hebat dan pantas menjadi puteri suami isteri pendekar seperti ayah bundamu itu. Sayang sekali ayahmu keras dan tidak suka kepadaku, Moi-moi, sehingga aku menjadi bingung sekah memikirkan hubungan kita ini. Aku sendiri sudah tidak mempunyai orang tua, lalu bagaimanakah dengan perjodohan antara kita?”

“Kau sebagai seorang laki-laki harus dapat mencari jalan, Koko. Betapa pun besarnya cintaku kepadamu, hubungan kita ini harus dilanjutkan dengan pernikahan, barulah aku dengan syah menjadi isterimu dan aku takkan mengingkari lagi kewajibanku sebagai seorang isteri yang mencinta. Kita akan membentuk keluarga bersama, maka pertama-tama kita harus dapat menjaga kehormatan diri kita sendiri. Kita harus dapat menjaga nama baik keturunan kita kelak, karena engkau tentu mengerti sendiri apa namanya keturunan orang di luar nikah. Hanya penderitaan batin yang akan kita rasakan sebagai akibatnya.”

Karena Giok Keng duduk bersandar kepada Bu Kong, dia tidak tahu betapa ucapannya tadi, pertama tentang anak yang lahir di luar nikah, membuat wajah Bu Kong menjadi pucat dan pemuda ini memejamkan matanya. Dia teringat akan keadaan dirinya sendiri dan ucapan dara itu seolah-olah menyindir dan mengejeknya! Dia sendiri pun tidak pernah mengenal ayah kandungnya, dan biarpun dia diaku sebagai anak angkat oleh Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio, namun sesungguhnya dia adalah anak kandung Ketua Kwi-eng-pang itu, anak yang terlahir tanpa ayah yang syah! Seorang anak haram!

Pandang mata Bu Kong melirik ke arah jalan darah di tengkuk dan pundak kekasihnya. Betapa akan mudah kalau pada saat itu dia menotok jalan darah dan membuat Giok Keng lemas tak berdaya. Betapa mudahnya kalau dia hendak menikmati tubuh kekasihnya ini dengan kekerasan. Akan tetapi tidak, dia tidak ingin berbuat demikian. Dia tergila-gila kepada Giok Keng, dia harus memiliki tubuh dara ini, akan tetapi Giok Keng harus menyerahkan diri secara sukarela. Dia terlalu mencinta dara ini dan ingin memiliki selamanya, bukan hanya memenangkamya dengan kekerasan yang pasti berakibat dengan permusuhan.

“Engkau benar sekali, Moi-moi. Dan karena aku sudah tiada ayah bunda lagi, sedangkan orang tuamu tidak mau menikahkan kita, maka jalan satu-satunya kita harus minta pertolongan sebuah perkumpulan besar agar menikahkan kita secara syah.”

“Terserah kepadamu, Koko. Bagiku, soal ikatan jodoh antara kita disyahkan dalam pernikahan dan disaksikan umum, cukuplah. Akan tetapi perkumpulan manakah yang akan mau menikahkan kita, Koko?”

“Perkumpulan besar sekali yang tentu akan mengatur pernikahan kita dengan meriah dan mengundang seluruh tokoh dunia kang-ouw sehingga pemikahan kita akan menjadi syah benar-benar.”

“Bagus sekali, perkumpulan manakah itu, Koko?”

“Perkumpulan terbesar saat ini, yaitu Pek-lian-kauw.”

“Heh…?” Giok Keng meloncat bangun, membalikkan tubuhnya dan memandang kekasihnya dengan mata terbelalak kaget. “Pek-lian-kauw…? Perkumpulan pemberontak itu?”

“Keng-moi, tenanglah dan duduklah. Mari kita bicara dengan tenang dan berpikir secara wajar.”

Setelah Giok Keng duduk di depan kekasihnya, Bu Kong berkata. “Engkau jangan memandang dari satu pihak saja. Ketahuilah bahwa kalau pemerintah menganggap Pek-lian-kauw sebagai pemberontak, banyak rakyat menganggapnya sebagai pejuang melawan pemerintah yang lalim. Kita jangan menjerumuskan diri dalam pertikaian yang sebetulnya hanyalah perebutan kekuasaan antara orang-orang kalangan atas saja. Permusuhan antara Pek-lian-kauw dan pemerintah sama sekali tidak ada hubungannya dengan pernikahan kita bukan? Dan aku yakin hanya Pek-lian-kauw yang akan sanggup menikahkan kita, karena kalau kita memilih perkumpulan yang menjadi sahabat orang tuamu mereka tentu akan menolak tanpa ijin orang tuamu. Pek-lian-kauw adalah perkumpulan yang besar dan diakui, maka jika perkumpulan ini yang menikahkan kita, yang diundang tentulah orang-orang besar dan yang akan menyaksikan pernikahan kita adalah tokoh-tokoh kang-ouw, sehingga pernikahan itu akan menjadi syah sama sekali!”

“Tapi… tapi… apakah kita lalu menjadi anggauta Pek-lian-kauw?”

“Ha-ha, tentu saja tidak, Moi-moi!”

“Dan… aku tidak diharuskan membantu mereka menjadi pemberontak?”

Ah, tentu saja tidak. Hal seperti itu timbul dari hati sendiri, mana bisa diharuskan dan dipaksa?”

“Kalau begitu… terserah kepadamu, Koko. Aku percaya kepadamu dan bagiku yang terpenting, asal pernikahan kita disyahkan dan disaksikan banyak orang, cukuplah.”

“Kalau begitu, marilah kita mengunjungi Pek-lian-kauw dan menghadap kepada Thian Hwa Cinjin.”

“Thian Hwa Cinjin? Siapa itu, Koko?”

“Ha-ha-ha, engkau belum mendengar namanya? Memang dia tidak pernah maju sendiri, akan tetapi dialah yang mengatur segalanya, dialah Ketua Pek-lian-kauw yang memiliki ilmu kepandaian yang amat luar biasa, sukar diukur betapa tingginya. Dia adalah Ketua Pek?lian-kauw wilayah timur dan bertempat tinggal di tepi pantai Laut Kuning, di muara Sungai Huang-ho. Besok pagi kita berangkat ke sana, Moi-moi.”

“Balklah, Liong-koko, akan tetapi hanya dengan syarat yaitu…”

“Kita tidak akan bermain cinta sebelum menikah!” Bu Kong memotong sambil tertawa.

“Bukan itu saja, Koko, melainkan bahwa pengesahan pernikahan oleh Pek-lian-kauw itu tidak mengharuskan kita bersekutu dengan Pek-lian-kauw. Aku tidak sudi terlibat dalam pemberontakan.”

“Baik, aku mengerti, Moi-moi. Sekarang tidurlah, biar aku membuat api unggun untuk mengusir nyamuk.”

Giok Keng merebahkan diri dan Bu Kong membuat api unggung lalu menyelimuti tubuh kekasihnya dengan mantelnya. Hatinya kecewa sekali karena hasrat hatinya, nafsu berahinya, tidak terlaksanakan, namun karena Giok Keng sudah setuju untuk bersamanya pergi menghadap Thian Hwa Cinjin, hatinya merasa lega. Memang lebih baik kalau dia memiliki Giok Keng sebagai isteri syah, sehingga tidak akan ada yang menggugatnya lagi kelak!

Pada waktu itu memang Pek-lian-kauw merupakan perkumpulan yang amat terkenal dan kuat, memiliki cabang dan

banyak anggauta. Pek-lian-kauw dipimpin oleh orang-orang pandai dan mereka mengadakan pemberontakan dan menentang pemerintah dengan dalih membela rakyat dari pemerintah lalim. Karena pengaruhnya yang besar, boleh dibilang seluruh tokoh kaum sesat berlindung di bawah sayap Pek-lian-kauw dan para orang gagah juga segan untuk berurusan dengan perkumpulan yang berpengaruh dan amat kuat ini. Biarpun perkumpulan-perkumpulan bersih dan orang-orang gagah di dunia kang-ouw tidak sudi menggabung dan bersekutu dengan pemberontak, akan tetapi mereka pun tidak mau melibatkan diri dan tidak mau bermusuhan dengan Pek-lian-kauw yang amat kuat.

Hampir di setiap kota besar terdapat ranting Pek-lian-kauw. Pimpinan Pek-lian-kauw terbagi menjadi empat, yaitu di utara, barat, selatan, dan timur. Pek-lian-kauw wilayah timur ini dipimpin oleh Thian Hwa Cinjin, seorang tokoh baru yang belum lama muncul dan merupakan tokoh besar di wilayah timur. Setelah Pek-lian-kaw di timur ini berada di bawah pimpinan Thian Hwa Cinjin, maka terjadilah perubahan besar yang menyenangkan para anggautanya. Dahulu, sebelum dipegang oleh Thian Hwa Cinjin, Pek-lian-kauw di wilayah timur ini hanya mementingkan pemberontakan dan urusan agama saja. Akan tetapi, setelah Thian Hwa Cinjin menjadi ketua, kepentingan para anggauta diperhatikan dan terdapat banyak peraturan baru yang menyenangkan para anggautanya. Bahkan ada kecondongan bahwa Pek-lian-kauw yang tadinya khusus memusatkan kekuatan pada perjuangan menentang pemerintah yang dianggapnya lalim dan menindas rakyat, menjadi perkumpulan yang mementingkan kesejahteraan pribadi.

Thian Hwa Cinjin adalah seorang kakek berusia enam puluh tahun lebih, bertubuh kurus jangkung, berpakaian seperti tosu dan dia datang dari seberang lautan. Tidak ada yang tahu jelas dari mana dia datang, akan tetapi ada kabar bahwa dia datang dari Korea. Selain memiliki ilmu silat yang tinggi, juga dia memiliki kepandaian sihir yang membuat para anggautanya menjadi makin tunduk dan takut.

Tadinya sebelum munculnya ketua baru ini, di Pek-lian-kauw hanya ada pendeta-pendeta pria saja yang mempraktekkan ajaran agama campuran antara Buddha dan Tokauw. Setelah Thian Hwa Cinjin menjadi ketua, dia memperbolehkan masuknya pendeta wanita. Anehnya, pendeta-pendeta wanita Pek-lian-kauw semua muda dan cantik, dan hanya pakaian pendeta saja yang menunjukkan bahwa mereka adalah pendeta Pek-lian-kauw. Padahal sebetulnya pendeta-pendeta wanita ini adalah wanita-wanita yang bertugas menghibur para pimpinan Pek-lian-kauw dan sebutan pendeta itu hanya sebagai kedok belaka.

Juga Thian Hwa Cinjin menghapuskan pantangan menikah bagi pendeta Pek-lian-kauw, bahkan diperbolehkan memelihara selir sesuai dengan kekuatan tubuh dan isi kantung mereka. Thian Hwa Cinjin sendiri tidak beristeri, akan tetapi dia mempunyai dua orang selir yang cantik sekali di samping pelayan-pelayan wanita yang terdiri dari gadis-gadis muda cantik yang diaku sebagai pelayan, juga murid, juga penghibur di dalam kamarnya sebagai selingan kedua orang selirnya!

Dua orang selir itu pun bukan orang sembarangan dan mereka diambil sebagai bukti dari ketua itu bahwa dia adalah seorang yang anti pembesar pemerintah dan memusuhi para pembesar pemerintah. Belum lama setelah dia menjadi ketua, dia menculik dua orang wanita itu, yaitu puteri seorang pembesar di kota Sin-yang, seorang dara muda yang masih gadis, dan juga selir pembesar itu, selir termuda dan tercantik! Dia memperkosa kedua orang wanita muda dan cantik itu, kemudian dengan paksa membawa mereka ke markas Pek-lian-kauw dan mengangkat mereka menjadi selir-selirnya. Dua orang wanita itu hanya dapat menangisi nasib mereka, karena mereka sama sekali tidak berdaya untuk melawan, bahkan membunuh diri pun tidak mungkin karena selalu terjaga. Kemudian, di bawah kekuasaan sihir Thian Hwa Cinjin, kedua orang wanita itu malah menurut dan senang hati melayani Si Kakek sebagai suami mereka yang tercinta!

Dengan dalih berjuang demi kepentingan rakyat jelata dan demi pembebasan rakyat dari penindasan pemerintah lalim, Pek-lian-kauw dapat mengumpulkan banyak dana dari sumbangan rakyat. Terutama sekali rakyat yang kaya banyak menyumbangkan hartanya, bukan semata-mata karena demi perjuangan, melainkan karena mereka ini mengharapkan jaminan bahwa harta bendanya takkan diganggu oleh Pek-lian-kauw! Demikianlah, kata-kata “perjuangan” kehilangan kemurnian maknanya, dan dijadikan “modal” bagi mereka yang menghendaki cita-citanya tercapai, cita-cita demi kepentingan diri sendiri, baik berupa ambisi mencapai kedudukan tinggi maupun mencari kekayaan. Hal seperti ini terjadi semenjak sejarah berkembang di jaman dahulu sampai sekarang, dan di seluruh pelosok dunia.

Pada suatu hari, menjelang tengah hari, sepasang orang muda datang mengunjungi markas Pek-lian-kauw wilayah timur itu. Mereka berdua itu bukan lain adalah Liong Bu Kong dan Cia Giok Keng. Dara ini terheran-heran dan kagum melihat keadaan Pek-lian-kauw ketika dia tiba di pintu gerbang perkumpulan itu. Tempat itu merupakan sebuah perkampungan di tepi pantai laut, perkampungan yang terkurung oleh tembok yang kokoh kuat dan tinggi, dengan pintu-pintu gerbang yang terjaga kuat dalam bentuk benteng yang terjaga siang malam dengan kuatnya.

Ketika Liong Bu Kong memperkenalkan namanya pada pintu gerbang pertama, mereka berdua diharuskan menanti sampai seorang penjaga melapor ke dalam melalui pintu gerbang yang berlapis lima dan terjaga kuat menuju ke dalam. Mereka harus menanti agak lama karena untuk menentukan apakah seorang tamu diperbolehkan masuk, apalagi tamu yang ingin berjumpa dengan ketua, haruslah diputuskan oleh ketua sendiri dan pelaporan kepada ketua melalui beberapa orang komandan jaga!

Thian Hwa Cinjin sedang makan siang, ditemani oleh dua orang selirnya yang cantik dan dilayani oleh gadis-gadis muda yang cantik pula. Mendengar pelaporan bahwa seorang bernama Liong Bu Kong, putera Ketua Kwi-eng-pang di Telaga Kwi-ouw hendak berjumpa dengannya, ketua ini mengangguk-angguk. Dia belum pernah bertemu dengan pemuda itu, akan tetapi dia sudah mendengar akan nama Kwi-eng-pang, bahkan dia pernah mendengar betapa perkumpulan kaum sesat itu pernah bersekutu dengan Pek-lian-kauw, sungguhpun persekutuan itu belum menghasilkan sesuatu. Tadinya dia agak malas untuk bertemu dengan pemuda putera datuk kaum sesat itu, akan tetapi karena teringat akan cerita tentang perebutan bokor emas milik Panglima The Hoo dan kabarnya bokor emas itu pernah terjatuh ke tangan ibu pemuda yang datang ini, hatinya tertarik dan mengatakan kepada pengawal agar Liong Bu Kong dipersilakan menunggunya di ruangan tamu.

Dengan cara berantai, perintah ini akhirnya disampaikan juga kepada Liong Bu Kong yang bersama Cia Giok Keng masih menunggu di luar pintu gerbang pertama dengan hati tidak sabar. Mereka dikawal masuk pintu gerbang pertama sampai di pintu gerbang ke dua, di mana mereka dikawal oleh penjaga lain lagi menuju ke pintu gerbang ke tiga dan seterusnya sampai mereka melalui pintu gerbang ke lima. Di sini, mereka disambut oleh tiga orang pendeta laki-laki dan tiga orang pendeta wanita yang mengawal mereka ke ruangan tamu di bangunan khusus.

GIOK KENG terheran-heran. Tiga orang pendeta pria itu rata-rata berusia lima puluh tahun, sikap mereka halus dan jelas membayangkan bahwa mereka memiliki kepandaian silat tinggi. Akan tetapi tiga orang pendeta wanita muda, paling tua tiga puluh tahun usianya, dan wajah mereka cantik-cantik! Biarpun mereka juga kelihatan halus pendiam, namun Giok Keng dapat menangkap kerling mata yang menyambar tajam dan penuh arti ke arah wajah Bu Kong yang tampan!

Setibanya di ruang tamu dan dipersilakan duduk, Giok Keng makin kagum. Kalau tadi dia mengagumi kekuatan dan ketertiban penjagaan di benteng Pek-lian-kauw, kini dia mengagumi keindahan ruangan itu. Selain meja dan kursi-kursinya terbuat dari kayu berukir dan merupakan perabot rumah yang mahal, tiga ruangan itu terhias lukisan-lukisan dan tulisan indah-indah yang tentu tidak murah pula harganya, seperti ruang tamu gedung seorang hartawan atau bangsawan saja layaknya!

Lapat-lapat di sebelah kiri, dari sebuah bangunan di mana tampak asap hio mengepul, terdengar suara merdu orang membaca doa, suara yang menggetarkan kalbu dan seperti biasanya suara orang berdoa, selalu mendatangkan keharuan yang khas. Di sebelah kanan, agak jauh dari tempat yang amat luas itu, tampak beberapa orang sedang berlatih silat di sebuah lapangan rumput yang luas. Gerakan mereka sigap dan kuat, dan biarpun dari jauh, Giok Keng dapat mengenal ilmu silat yang baik. Diam-diam dia menjadi makin kagum. Tak disangkanya bahwa Pek-lian-kauw yang terkenal sebagai perkumpulan pemberontak, yang dibenci oleh ayah bundanya, ternyata merupakan perkumpulan yang teratur rapi dan agaknya memiliki keuangan yang kuat!

“Selamat datang, sepasang orang muda yang tampan dan cantik, yang keduanya gagah perkasa!”

Suara ini datang dari dalam dan agaknya orang yang bicara sudah berada di depan mereka, akan tetapi Giok Keng tidak melihat apa-apa! Bulu tengkuknya meremang. Setankah yang bicara itu? Akan tetapi, Bu Kong segera memegang tangannya dan mengajaknya berdiri. Pemuda ini sudah menjura ke depan, ke arah pintu sambil berkata “Mohon Locianpwe sudi memaafkan kedatangan kami yang lancang ini dan sudi memperlihatkan diri. Harap Locianpwe tidak mempermainkan kami berdua yang muda dan bodoh.”

“Ha-ha-ha, engkau boleh juga, orang muda. Merendahkan diri, menghormat, akan tetapi sekaligus juga menegur. Nah, kalian pandanglah Pinto (aku)!”

“Wussshhh…!” Tampak asap putih mengepul tebal dan dari dalam asap itu, seorang kakek berusia enam puluh tahun, jenggotnya panjang, pakaiannya model pakaian pendeta tosu berwarna kuning dengan gambar bunga teratai putih di depan dadanya. Biarpun jenggotnya sudah banyak ubannya, namun rambut, jenggot dan pakaian kakek ini terpelihara rapi dan bersih, bahkan sepatunya juga masih baru. Ada bau harum keluar dari kakek itu, tanda bahwa kakek ini masih pesolek, suka memakai wangi-wangian di tubuhnya. Namun, kakek kurus jangkung itu memiliki sepasang mata yang amat tajam, sepasang mata yang mengandung wibawa kuat sekali sehingga dalam pertemuan pandang pertama, Giok Keng merasa berdebar jantungnya dan meremang bulu tengkuknya sehingga dia cepat menundukkan mukanya.

“Tok! Tok! Tok!” Tongkat hitam mengkilap di tangan kanan kakek itu mengeluarkan bunyi ketika dia melangkah maju menghampiri Bu Kong dan Giok Keng.

“Saya Liong Bu Kong dan Nona Cia Giok Keng ini menyampaikan hormat kepada Tung-kauwcu (Ketua Agama Timur).” Kembali Bu Kong berkata sambil menjura dengan hormat, diturut oleh Giok Keng.

“Ha-ha, tidak perlu banyak sungkan, orang-orang muda. Kita adalah orang sendiri, bukan? Benarkah engkau putera Kwi-eng-pangcu?”

“Benar, Locianpwe. Mendiang ibu saya adalah Ketua Kwi-eng-pang.”

Ketua Pek-lian-kauw itu mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya dengan tangan kiri. “Hemmm, Pinto sudah mendengar akan kematian itu… kalau tidak salah, dalam perebutan bokor pusaka bukan? Hemmm, sayang sekali…! Mari silakan duduk agar enak kita mengobrol!”

Dua orang muda itu lalu duduk di atas kursi berhadapan dengan tuan rumah dan tak lama kemudian muncullah pelayan-pelayan wanita menghidangkan minuman. Giok Keng terheran melihat betapa pelayan-pelayan wanita ini masih muda-muda dan cantik-cantik, juga gerak-gerik mereka serta lirikan mata mereka yang dilontarkan kepada Bu Kong membayangkan sikap genit.

Setelah dipersilakan minum, Thian Hwa Cinjin, kakek itu, menanyakan maksud kedatangan kedua orang muda itu dan apa keperluan mereka minta bertemu dengan dia sendiri.

Bu Kong lalu bangkit berdiri, memegang tangan Giok Keng lalu mengajak dara itu untuk menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu sambil berkata, “Kami berdua sengaja menghadap Locianpwe dengan harapan agar Locianpwe sudi menolong kami, dan atas budi kebaikan Locianpwe, kami berdua takkan melupakannya.”

Kakek itu kelihatan tercengang, lalu tertawa, “Ha-ha-ha, bangkitlah, duduklah dan ceritakan apa kehendak kalian. Tentu saja mengingat akan hubungan antara Pek-lian-kauw dan Kwi-eng-pang, Pinto akan memperhatikan permintaanmu dan jika mungkin tentu saja kami akan suka sekali membantu Sicu.”

Bu Kong dan Giok Keng bangkit dan duduk kembali. “Permohonan kami tidak lain agar Locianpwe sudi menikahkan kami berdua di sini secara resmi.”

Kakek itu membelalakkan matanya kemudian tertawa bergelak, “Ha-ha-ha-ha, kiranya hanya untuk keperluan itu! Aihhh, mengapa kalian hendak menikah memilih tempat ini dan minta perantaraan Pek-lian-kauw? Bukankah urusan pernikahan adalah urusan orang tua dan keluarga kalian?”

“Locianpwe, saya sudah tidak mempunyai orang tua dan keluarga, saya sebatang kara di dunia ini…”

“Akan tetapi, setelah ibumu meninggal, bukankah engkau yang kini menggantikannya memimpin Kwi-eng-pang?”

“Seperti Locianpwe tentu telah mendengar, perkumpulan kami dihancurkan oleh pemerintah dan selain kini saya belum berkesempatan untuk menghimpunnya kembali, juga dalam pernikahan ini, kiranya kalau bukan Pek-lian-kauw yang mengadakan, tidak ada lagi yang akan berani…”

“Hemmm, mengapakah?” Kakek itu kini menoleh dan memandang kepada Giok Keng dengan penuh perhatian.

“Karena calon isteri saya, Nona Cia Giok Keng ini… dia… adalah puteri dari Locianpwe Cia Keng Hong…”

“Hahh…?” Thian Hwa Cinjin terkejut sekali dan memandang dengan mata terbelalak. “Cia Keng Hong Ketua Cin-ling-pai…?” Tentu saja dia terkejut bukan main. Biarpun dia sendiri belum pemah bertemu dengan Pendekar Sakti Cia Keng Hong namun nama besar pendekar itu telah didengarnya lama sekali. Dengan sinar mata penuh selidik dia memandang kepada Giok Keng dan kini tentu saja dengan pandang mata lain setelah dia mendengar bahwa dara yang cantik jelita dan bersikap gagah perkasa ini adalah puteri dari Pendekar Sakti Cia Keng Hong Ketua Cin-ling-pai.

Giok Keng mengangkat mukanya memandang kakek itu. “Benar, Ketua Cin-ling-pai adalah ayah saya, akan tetapi karena dia tidak menyetujui perjodohan kami, maka kami datang ke sini mohon pertolongan Pek-lian-kauw.”

“Tapi… tentu ayahmu akan marah kepada Pek-lian-kauw dan menuduhnya lancang…”

“Saya yang akan bertanggung jawab kalau orang tua saya marah. Mereka telah mencuci tangan tentang perjodohan saya, dan saya sendiri yang bertanggung jawab mengenai urusan jodoh saya, Locianpwe,” jawab Giok Keng dengan suara mengandung rasa penasaran mengingat akan sikap ayahnya terhadap perjodohannya dengan pemuda yang dipilihnya sendiri.

Kakek itu mengangguk-angguk. “Bukan karena kami takut kepada Cin-ling-pai, hanya… ah, biarlah kami bicarakan urusan ini lebih dulu. Urusan ini bukanlah urusan remeh, maka kami persilakan kepada Nona Cia untuk beristirahat, dan kami akan mengadakan perundingan dulu dengan Liong-Sicu.”

Ketua itu lalu memanggil pelayan wanita, memerintahkan para pelayan untuk mengantar Giok Keng ke dalam sebuah kamar tamu yang cukup mewah dan bersih. Dara ini tidak berani membantah, maka setelah bertukar pandang dengan Bu Kong, dia mengikuti para pelayan menuju ke sebuah kamar tamu yang berada di sebelah belakang bangunan besar itu.

Giok Keng memperoleh pelayanan istimewa, disuguhi hidangan makan siang yang longkap dan lezat bahkan ada dua orang pendeta wanita Pek-lian-kauw yang menemaninya dan temyata mereka itu selain muda dan cantik, juga mempunyai pengetahuan luas mengenal ilmu silat dan ilmu sastra. Makin kagumlah hati Giok Keng terhadap Pek-lian-kauw yang sebelumnya dianggap sebagai perkumpulan para pemberontak liar.

Akan tetapi, hatinya mulai khawatir ketika malam tiba dan belum juga ada kabar tentang kekasihnya yang tadi ditinggalkannya karena hendak berunding dengan pimpinan Pek-lian-kauw mengenai permintaan mereka untuk menikah di perkumpulan itu.

“Di manakah adanya Liong-koko? Aku ingin bicara dengan dia dan mendengar keputusan perundingannya dengan pimpinan Pek-lian-kauw.” tanyanya kepada dua orang pendeta wanita yang baru datang menggantikan yang dua pertama.

Seorang di antara mereka tersenyum manis. “Harap Kownio tenangkah hati, Liong-sicu sedang beristirahat di kamar sebelah dan dia berpesan agar Kouwnio suka beristirahat malam ini melepaskan lelah dalam perjalanan.”

“Hi-hik, baru berpisah sehari saja masa sudah rindu?” kata pendeta wanita ke dua.

Merah sekali muka Giok Keng mendengar ini dan dia makin curiga. Sikap dan kata-kata para pelayan muda dan pendeta wanita di tempat ini benar-benar mencurigakan, begitu genit!

“Harap suka panggil dia ke sini atau antarkan aku ke kamarnya, aku mau bicara sedikit dengan dia!” katanya pula tidak mempedulikan dua orang pendeta wanita yang tersenyum-senyum penuh arti itu.

“Aih, Kouwnio. Apa tidak kasihan kepadanya? Dia baru beristirahat dan bersenang-senang… dia… tidak memilih kami dan menyuruh kami menemani Nona di sini…”

Makin curiga dan tidak enak hati Giok Keng mendengar ini. Namun karena dia mengharapkan pertolongan dari pihak Pek-lian-kauw untuk pernikahannya dengan Bu Kong, maka dia menahan sabar. Bahkan dia lalu memijat pelipis kepalanya dengan alis berkerut dan berkata, “Harap Ji-wi (Kalian) suka meninggalkan saya karena saya merasa pening dan hendak tidur…”

“Perlukah kami pijiti badan dan kepalamu, Kouwnio?” seorang pendeta wanita bertanya dengan manis.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: