Petualang Asmara (Jilid ke-36)

Liong Bu Kong memondong tubuh Giok Keng yang tidur pulas secara tidak wajar itu ke kamarnya. Hatinya girang sekali, akan tetapi juga timbul kekecewaan besar di hatinya. Dia ingin mendapatkan diri dara ini secara sukarela, tidak hanya ingin memperoleh dan menguasai tubuhnya, melainkan juga hatinya, cinta kasihnya. Sekarang terpaksa dia hanya akan mendapatkan tubuhnya saja, dan dia merasa seolah-olah tubuh dara yang telentang pulas di atas pembaringan itu bukan lagi Cia Giok Keng, melainkan boneka hidup!

Obat bubuk yang diberikan kepada Giok Keng oleh Bu Kong, benar-benar amat manjur. Obat itu membuat Cia Giok Keng seperti seorang yang hilang ingatan dan tidak mempunyai semangat sama sekali! Dia hanya menurut dan mengangguk, disuruh makan dia makan, disuruh tidur dia tidur, tak pernah membantah. Akan tetapi, ketika Bu Kong berusaha untuk bermain cinta dengannya, dara itu menolak dan menggelengkan kepala. Bahkan dapat berkata, “Kita belum menikah.”

Hal ini menggirangkan hati Bu Kong. Ternyata bahwa naluri gadis itu amat kuat sehingga biarpun berada dalam keadaan mabuk, dara itu masih menolak hubungan badan sebelum menikah dengan resmi! Kiranya gadis itu sudah lupa sama sekali akan peristiwa malam itu! Timbul pula harapan di hati Bu Kong. Siapa tahu, kelak kalau sudah menikah dengan resmi, Giok Keng akan benar-benar dapat mencintanya kembali, melupakan pengalaman malam itu, dan tidak perlu lagi menggunakan obat perampas ingatan!

Harapan ini membuat Bu Kong dengan tekun dan sabar melayani Giok Keng dan tidak lagi menurutkan nafsu berahinya, tidak lagi mencoba untuk menggagahi gadis yang dicintanya itu. Sebulan tidaklah lama, pikirnya, dan betapa akan manisnya kalau Giok Keng menyerahkan diri secara sukarela, sebagai isterinya yang syah! Membayangkan kenikmatan saat seperti itu membuat Bu Kong menjadi sabar, bahkan dia menahan diri tidak mau melayani godaan para pendeta wanita yang haus lelaki itu!

Perahu kecil yang amat sederhana ini dengan susah payah didayung oleh Kun Liong melawan ombak yang kembali dari pantai. Ketika perahu tiba di bagian di mana air dari tengah laut bertemu dengan air yang kembali dari pantai sehingga air memecah dan membuih, mengeluarkan suara berdebur keras, perahu kecil itu terangkat dan terombang-ambing, hampir terbalik. Kun Liong cepat mengerahkan tenaga dan mendayung perahunya, meluncur hampir seperti ikan meloncat, melalui buih tombak dan meluncur terus ke pantai. Setelah dayungnya dapat menyentuh pasir, dia sudah tidak sabar lagi, meloncat dari atas perahu mendarat dan meninggalkan perahu buatannya sendiri yang amat sederhana itu, membiarkannya terbawa ombak, sebentar ke tengah sebentar ke pinggir.

Karena dia meninggalkan pulau kosong itu tanpa mengenal jalan, hanya mengarahkah perahunya ke barat selalu, maka dia tersesat jalan dan tidak tahu bahwa perahunya mendarat di bagian paling utara, yaitu di sebelah utara Tembok Besar di sebelah selatan kota Cin-sian. Oleh karena itu, begitu mendarat dan melakukan perjalanan cepat menuju ke barat di mana menurut perkiraannya tentu terdapat Tibet, dia telah bertemu dengan pegunungan yang sambung-menyambung dan kadang-kadang diselingi padang pasir yang luas!

Kun Liong sama sekali tidak mengira bahwa dia berada di luar Tembok Besar, yaitu berada di perbatasan antara daerah Mongolia Dalam dan daerah Mancuria yang kesemuanya tentu saja berada dalam kekuasaan Pemerintah Ceng pada waktu itu. Maka dia sendiri menjadi terheran-heran dan bingung juga ketika selama berhari-hari melakukan perjalanan, dia tidak pernah bertemu dengan dusun, tak pernah berjumpa manusia dan perjalanan yang ditempuhnya amat sukar karena selain harus melalui pegunungan yang tinggi dan hutan-hutan yang liar, juga kadang-kadang dia harus melalui padang pasir yang amat luas sehingga sampai dua tiga hari belum juga habis pasir yang dilaluinya!

Pada suatu pagi, setelah bermalam di sebuah guha di kaki bukit dia melanjutkan perjalanan, memasuki sebuah hutan yang amat lebat. Namun dia kelihatan girang dan wajahnya selalu berseri. Memang baginya tentu saja jauh lebih baik melakukan perjalanan melalui hutan-hutan liar daripada melalui padang pasir yang mengerikan itu. Pernah dia hampir mati kelaparan dan kehausan ketika melalui padang pasir selama tiga hari tiga malam. Di mana-mana pasir melulu! Kalau di dalam hutan, dia tidak akan kekurangan air, tidak akan kekurangan makan dan minum. Andaikata tidak ada binatang hutan, dia dapat saja makan daun-daun muda, buah-buahan atau akar. Dia sudah biasa akan penghidupan sederhana seperti itu! Akan tetapi pasir!

Selama berhari-hari ketika dia meninggalkan pulau, hatinya terhimpit kedukaan karena memikirkan Hong Ing. Hatinya penuh kerinduan sehingga hampir setiap dia tidur, dia bermimpi dan bertemu dengan dara yang dikasihinya itu. Hampir gila dia merindukan dara itu. Akan tetapi lambat laun dia dapat menekan hatinya, dapat menenangkan perasaannya dan dia percaya bahwa kalau memang dia berjodoh dengan Hong Ing, pasti pada suatu hari dia akan bertemu dengan dara pujaan hatinya itu.

Sambil berjalan memasuki hutan, Kun Liong mengenangkan semua pengalamannya. Tampak nyata dalam ingatannya betapa bodohnya dia dahulu. Betapa sombongnya dia dahulu terhadap cinta kasih! Betapa dia meremehkan cinta kasih yang dianggapnya hanyalah cinta yang mengandung nafsu berahi belaka! Betapa dia tidak percaya akan cinta kasih yang sesungguhnya, cinta kasih yang dapat menciptakan sorga maupun neraka bagi orang yang dihinggapinya, seperti yang dia rasakan sekarang! Dan mengingat ini semua, seringkali dia termenung dengan muka pucat, mengingat akan dara-dara yang pernah dikenalnya selama petualangannya dalam dunia ini. Terutama sekali dia merasa terharu dan berduka, merasa menyesal sekali kalau dia teringat kepada Hwi Sian. Satu-satunya gadis yang telah menyerahkan tubuhnya, menyerahkan kehormatannya kepadanya! Satu-satunya gadis yang telah membuktikan cintanya melalui pengorbanan yang paling hebat bagi seorang wanita. Dan dia telah tega meninggalkan gadis itu! Seperti seekor kumbang yang terbang pergi begitu saja setelah menikmati madu kembang itu, setelah dihisapnya habis. Dia merasa menyesal sekarang. Dia tidak mencinta Hwi Sian, hanya suka, mengapa dia mau melakukan hubungan badan dan tentu akan membuat dara itu makin rusak hatinya? Hwi Sian yang mengaku akan menikah dengan suhengnya, telah sengaja menyerahkan diri kepadanya, untuk membuktikan cinta kasihnya. Akan tetapi dia yang tidak mencinta, mengapa mau menerimanya?

“Bodoh kau!” Dia menampar kepalanya sendiri, akan tetapi telapak tangannya itu tinggal di kepalanya karena baru teringat sekarang bahwa kepalanya sudah berambut! Dia tersenyum geli. Mengapa sekarang jalan pikirannya berubah setelah kepalanya ada rambutnya? Apakah dahulu itu semua ketololannya adalah akibat dari kepalanya yang tidak terlindung rambut sehingga mudah sekali dimasuki angin jahat? Dia menggosok-gosok kepalanya. Rambutnya sudah mulai panjang, ada sejari panjangnya dan tumbuh dengan subur. Akan tetapi karena baru sejari rambut itu masih kaku dan kacau tumbuhnya, mencuat ke sana-sini tidak teratur. Dan pakaiannya! Merah mukanya ketika dia menunduk dan memandang pakaiannya. Lebih pantas seorang jembel kotor! Atau seorang manusia liar yang belum mengenal peradaban, seorang manusia biadab! Betapa mungkin dia dapat menjumpai orang di kota atau dusun dalam pakaian seperti ini? Tentu dia akan dianggap seorang jembel yang sudah terlantar, atau mungkin akan dicurigai orang. Ah, dia tidak khawatir, di sakunya terdapat emas dan permata, dia akan membeli pakaian begitu ada kesempatan.

Tiba-tiba Kun Liong menghentikan langkah kakinya. Di sebelah kanannya terbentang jurang yang dalam dan luas. Dia mendengar suara dari bawah, dari bawah jurang! Suara orang berteriak minta tolong atau semacam itu karena suara itu hanya terdengar gemanya saja, tidak begitu jelas. Dua macam perasaan mengaduk hati Kun Liong. Girang dan cemas. Girang karena dia mendengar suara orang, dan cemas karena dari suara itu, biarpun tidak jelas, dia menangkap ketakutan hebat seolah-olah orang itu terancam bahaya besar.

Cepat dia menuruni jurang yang curam itu. Dia harus berhati-hati karena sekali terpeleset, atau sekali pegangannya terlepas, tubuhnya tentu akan melayang ke bawah dan dia taksir bahwa tebing itu dalamnya tidak kurang dari seribu kaki! Tubuhnya tentu akan hancur, atau setidaknya akan robek-robek kulitnya kalau dia sampai terguling-guling ke bawah sana!

Kembali dia mendengar suara teriakan. Benar-benar teriakan minta tolong! Dia mempercepat gerakannya merayap turun, bergantungan pada akar-akar dan batu-batu di sepanjang tebing dan akhirnya tibalah dia di bawah. Ternyata di bawah tebing itu pun terdapat sebuah hutan dan suara tadi keluar dari hutan itulah.

Dengan gerakan yang cepat sekali Kun Liong berlari memasuki hutan. Hatinya berdebar ketika dia melihat belasan orang mengeroyok seorang laki-laki asing!

Seorang laki-laki sebangsa Yuan de Gama yang memegang sebatang golok dan membela diri mati-matian terhadap pengeroyokan tiga orang itu! Akan tetapi, orang asing itu sudah terluka parah, pakaiannya penuh darah dan tubuhnya sudah lemah, gerakannya tidak leluasa lagi sehingga ketika Kun Liong tiba di situ, sekaligus orang asing itu menerima bacokan-bacokan yang membuatnya roboh.

“Heiii, jangan bunuh orang…!” Kun Liong berteriak sambil meloncat ke depan. Tiga belas orang itu menengok dan mereka segera mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengerti oleh Kun Liong. Sebelum Kun Liong dapat mencegahnya, tiga belas orang laki-laki bertubuh tegap kuat dan bersenjata golok dan pedang itu telah lari menyerbunya sambil mengeluarkan teriakan-teriakan liar! Kun Liong terkejut sekali, maklum bahwa dia berhadapan dengan suku bangsa yang berbeda bahasanya, segerombolan orang-orang kasar dan liar, maka dia mengerti bahwa bicara pun tidak akan ada gunanya. Maka dia mempergunakan kepandaiannya, ketika mereka datang menyerbu, dia mengerahkan gin-kangnya melompat melewati atas kepala mereka dan berlutut memeriksa orang asing yang sudah rebah dan mengerang kesakitan itu.

“Aduhhh… mati aku… tolong aku…!” Orang asing itu, seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih, merintih dan dengan suara kaku minta tolong kepada Kun Liong. Logat bicaranya mengingatkan Kun Liong kepada Yuan de Gama, maka dia berkata menghibur, “Jangan khawatir, aku akan mencegah mereka menyerangmu…!” Akan tetapi di dalam hatinya, Kun Liong maklum bahwa orang ini tidak dapat ditolong lagi. Luka-lukanya terlalu parah, bahkan leher kanannya yang pecah mengucurkan darah yang takkan dapat dibendung lagi.

Tiga belas orang Mongol itu terkejut ketika melihat lawan mereka berkelebat dan “terbang” di atas kepala mereka. Cepat mereka membalikkan tubuh dan kini mereka menyerbu sambil berlari dan mengeluarkan pekik dahsyat.

Kun Liong menoleh, tangan kanannya mencengkeram tanah dan batu pasir, kemudian dia menyambit sambil mengeraKkan sin-kangnya.

“Siuuuttt… aughhh! Ahh! Aduhhh!” Empat orang Mongol yang berlari paling depan jatuh bergelimpangan, menjeritjerit sambil memegangi kaki mereka yang terasa perih, pedih, dan ngilu karena tanah dan pasir itu menembus kulit memasuki daging sampai ke tulang kering kaki mereka!

Melihat empat orang kawannya roboh, sembilan orang Mongol yang lainnya terkejut sekali dan menghentikan gerakan kaki mereka, memandang dengan mata terbelalak seolah-olah tidak percaya bahwa pemuda berambut pendek itu dapat merobohkan kawan-kawan mereka dari jarak jauh, hanya sambil berlutut dan menyambitkan tanah!

Pemimpin mereka, seorang tinggi besar bermata sipit sekali, agaknya merasa penasaran. Dia adalah seorang jago silat bangsa Han, sungguhpun pakaiannya seorang jembel, dia melangkah maju dan berkata dalam bahasa Han yang kaku sekali, “Engkau jagoan, ya? Hayo kaulawan aku, tanpa menggunakan senjata rahasia! Tanpa menggunakan ilmu setan!”

Kun Liong maklum bahwa berhadapan dengan orang-orang kasar seperti ini, dia hanya dapat mengandalkan kepandaian silatnya untuk menundukkan mereka. Maka dia segera bangkit berdiri menghadapi raksasa bermata sipit itu. “Hemm, aku menggunakan pasir kaucela, akan tetapi engkau menggunakan senjata tajam, dan mengandalkan jumiah banyak mengeroyok orang!”

MULUT raksasa itu cemberut, dan dia melempar goloknya kepada seorang teman.

“Lihat, aku hanya mengandalkan tangan dan kaki. Beranikah kau melawanku?”

Kun Liong bangkit berdiri, menghampiri dan berkata, “Tentu saja aku berani, majulah!”

Raksasa Mongol itu menerjang maju, memukul dengan kedua tangannya. Seperti dua buah cakar biruang raksasa, kedua tangan itu menyambar dari kanan kiri. Kun Liong mengerahkan tenaga dan menggunakan kedua tangannya menangkis.

“Plak! Plak!” Raksasa Mongol itu telah memegang kedua lengan Kun Liong yang terlalu kecil bagi jari-jari tangannya yang panjang dan besar! Tahu-tahu, Kun Liong merasa tubuhnya terangkat ke atas.

Akan tetapi, ketika raksasa itu berusaha melontarkan tubuh Kun Liong, pemuda ini sudah memegang pula lengan lawan sehingga mereka saling berpegangan dan tubuh Kun Liong tidak dapat terlempar! Bahkan ketika raksasa itu mengerahkan seluruh tenaga dan untuk kesekian kalinya melontarkan, Kun Liong meminjam tenaganya, ditambah tenaga sendiri sambil memperberat tubuhnya dan… kini tubuh raksasa itulah yang melayang ke atas begitu kaki Kun Liong menyentuh tanah dan tubuh yang tinggi besar itu terlempar dan terbanting keras ke atas tanah.

“Brukkkk!!” Debu mengebul tinggi dan raksasa sipit itu merangkak bangun, menggoyang-goyangkan kepalanya untuk mengusir kepeningan, lalu bangkit berdiri lagi dan berjalan maju setengah berbongkok seperti seekor biruang besar hendak menerkam! Kun Liong menanti dengan tenang. Dia tahu bahwa lawannya ini hanyalah mengandalkan tenaga luar saja, bukan merupakan lawan berbahaya. Akan tetapi dia pun harus meyakinkan mereka semua akan kepandaiannya, karena dengan demikian barulah mereka itu akan mundur.

“Haarrrggghhh…!” Raksasa sipit itu menggereng dan tubuhnya sudah meloncat dan menubruk ke arah Kun Liong.

“Duk! Duk! Dessss!”

Orang-orang Mongol itu hanya melihat tubuh pemimpin mereka terjengkang lalu roboh tak berkutik lagi! Mereka tidak tahu bahwa Kun Liong tadi memapaki lawan dengan dua kali totokan yang melumpuhkan kaki tangan orang itu, kemudian menampar keras membuat lawannya pingsan.

“Bawa dia pergi!” Bentak Kun Liong kepada mereka.

Dengan muka membayangkan rasa takut, orang-orang Mongol itu lalu menolong pemimpin dan teman-teman yang kakinya terluka, kemudian berlari-lari meninggalkan tempat itu.

Setelah melihat orang-orang Mongol itu pergi jauh, Kun Liong kembali berlutut di dekat orang asing yang kini hanya mengerang lemah sekali karena kehabisan darah. Sekali lagi Kun Liong meneliti, akan tetapi hanya mendapat keyakinan bahwa orang itu tidak akan dapat tertolong lagi nyawanya. Mukanya sudah mulai memucat karena kekurangan darah. Dia tidak dapat menolong lagi, maka dia hanya dapat bertanya, “Apakah yang terjadi, Tuan?”

Orang itu membuka matanya, bibirnya menggumam, “…terima kasih… terima kasih… mereka adalah gerombolan Mongol yang membenci kami orang-orang kulit putih… aku… aku utusan… Dewa Panah…”

“Dewa Panah? Siapakah dia? Dan diutus ke mana?”

Dengan susah payah orang itu mencoba menjawab, akan tetapi yang terdengar oleh Kun Liong hanyalah bisikan lemah, “…Pek-lian-kauw… di muara Sungai Huai… pantai Laut Kuning…” sampai di situ habislah napas orang asing itu, meninggalkan Kun Liong termangu-mangu karena tidak mengerti apa yang dimaksudkan.

Setelah menghela napas panjang berulang-ulang, menyesal bahwa perjumpaannya yang pertama dengan manusia ternyata begini tidak menyenangkan dan tiada gunanya baginya, Kun Liong lalu menggali tanah membuat lubang untuk mengubur jenazah orang itu. Setelah lubang yang digalinya cukup dan dia hendak mengangkat tubuh orang itu, tiba-tiba dia teringat akan pakaiannya, Kun Liong mengerutkan alisnya. Berdosakah dia kalau dia mengambil pakaian orang ini? Sesosok mayat tidak membutuhkan pakaian luar, akan tetapi dia amat membutuhkan karena pakaiannya sudah tidak karuan macamnya. Ah, kiranya tidak berdosa, dan si mati tentu akan memaafkannya. Setidaknya, dia telah menguburkan jenazahnya! Mulailah Kun Liong menanggalkan pakaian orang itu, pakaian luarnya dan hal ini masih mudah dilakukannya karena mayat itu masih belum kaku. Setelah dia melepaskan baju kemeja lengan panjang dan celana, sepatu boot dan kain leher orang itu sehingga yang masih menempel di tubuh mayat itu hanya pakaian dalam, Kun Liong berkata, “Terima kasih dan maafkan aku, Tuan!” Kemudian dia mengubur jenazah itu dan mengenakan pakaian model barat. Untung baginya, tubuh orang asing itu kecil, tidak berbeda banyak dengan tubuhnya, maka pakaiannya itu pas sekali, hanya lengannya lebih panjang sehingga terpaksa digulungnya sampai ke siku.

Tak lama kemudian, pemuda itu tertawa-tawa seorang diri dengan hati geli ketika dia bercermin di atas air jernih di dalam hutan. Mula-mula dia terkejut ketika menjenguk ke air dan melihat mukanya sendiri. Tak disangkanya mukanya seperti itu! Sudah lama dia tidak bercermin, dan sekali bercermin, melihat kepala yang biasanya gundul sehingga dia sudah terbiasa itu kini berambut, melihat seorang pemuda berambut pendek berpakaian aneh, dia kelihatan seperti seorang “sinyo” yang asing!

Dua hari kemudian, Kun Liong tak dapat tertawa-tawa lagi. Dia berada di tengah padang pasir yang tidak kelihatan

tepinya. Yang tampak hanyalah pasir dan gunung pasir, batu-batu kering dan tanah tandus! Tidak ada setetes pun air kecuali peluhnya sendiri yang bercucuran karena panasnya. Tidak ada tempat berteduh dan kerongkongannya terasa kering dan haus sekali!

“Celaka…!” pikirnya. Tak disangkanya bahwa padang pasir itu seluas itu. Untuk kembali dia enggan. Dia harus melanjutkan perjalanannya ke barat, harus cepat mencari Hong Ing di Tibet. Akan tetapi kalau dilanjutkan, berapa lama dia akan dapat melewati padang pasir itu?

Dua hari kemudian, sudah empat hari empat malam Kun Liong melalui padang pasir. Hari itu panasnya bukan main, tubuhnya sudah mulai lemah, kerongkongannya kering dan haus dan perutnya lapar. “Uh-uh… masih berapa jauhnya?” dia menggumam, berhenti di dekat batu besar untuk berteduh di bayangan batu itu, menghapus keringatnya dengan kain leher yang sudah basah. Tubuhnya gemetar dan matanya setengah terpejam karena silau oleh pasir yang berkilauan tertimpa panas terik matahari!

Kun Liong menjatuhkan diri duduk di atas pasir yang panas. Dikeluarkannya bungkusan emas permata dari sakunya.

“Sialan!” gerutunya memandang bungkusan itu dan mengantonginya kembali. “Aku akan senang sekali menukar bungkusan ini dengan semangkok bubur dan sepoci air jernih!”

Teringatlah dia betapa nilai sesuatu benda ditentukan oleh kebutuhan. Pada saat seperti itu, dalam keadaan kehausan dan kelaparan, semangkok bubur dan sepoci air jernih lebih berharga daripada emas permata! Betapa tololnya manusia di tempat ramai, untuk memperebutkan emas permata mereka tidak segan-segan untuk saling bunuh! Padahal, dalam keadaannya sekarang ini, semua harta benda tidak ada gunanya, tidak lebih berharga daripada semangkok bubur sepoci air.

Dia bangkit lagi. Makin lama dia beristirahat, makin berbahayalah keadaannya. Dia harus cepat-cepat keluar dari gurun pasir itu, kalau tidak, besar kemungkinannya dia akan mati konyol di tempat ini. Di depan sudah nampak pegunungan dan di balik pegunungan pasir ini, tampak samar-samar puncak sebuah gunung menghijau, akan tetapi masih amat jauh. Dia harus cepat-cepat mencapai gunung menghijau itu sebelum dia roboh dan mati di atas pasir.

Makin tinggi matahari naik, makin panaslah sinarnya menimpa pasir sehingga Kun Liong merasa makin tersiksa karena dia diserang hawa panas dari atas dan bawah. Pasir yang tertimpa sinar matahari menjadi panas dan hawa dari dalam bumi keluar membuat Kun Liong merasa seperti dipanggang tubuhnya. Peluhnya bercucuran dan pandang matanya berkunang-kunang.

“Celaka…!” keluhnya ketika dia terpaksa menjatuhkan tubuhnya yang kehabisan tenaga karena terlalu banyak berkeringat itu ke atas pasir. Sejenak dia merebahkan dirinya di belakang batu besar yang agak teduh, rebah miring, pipinya menyentuh pasir hangat. Betapa nikmatnya! Betapa nikmatnya melepaskan lelah di tempat itu, tidak bangkit lagi, rebah di dalam pelukan bayangan batu, ditilami pasir yang lembut dan hangat. Dia memejamkan matanya, tubuhnya terasa nikmat, mengendur dan lepas semua urat tubuhnya.

“Eh, apakah aku harus mati dalam keadaan begini?” Tiba-tiba terbayang wajah Hong Ing dan cepat dia membuka mata dan bangkit duduk.

“Tidak! Aku tidak boleh mati seperti ini!” hardiknya di dalam hati kepada dirinya sendiri. Dia meloncat berdiri akan tetapi terguling lagi karena matanya berkunang dan kepalanya pening sekali.

“Aku harus keluar dari neraka ini! Aku harus mencari Hong Ing!” Ketekadan hati ini membuat Kun Liong merangkakrangkak meninggalkan tempat itu. Kepalanya pening, dia tidak dapat berdiri dan berjalan, maka merangkak pun jadilah asal dia dapat melanjutkan perjalanan meninggalkan tempat berbahaya itu, menuju ke gunung menghijau di depan itu.

Akan tetapi, pasir tertimpa matahari yang membuat matanya silau, kembali memaksa dia menghentikan usahanya merangkak. Dia rebah lagi dan memejamkan matanya. Terlampau nikmat rebah begini, dan terlampau sengsara melanjutkan perjalanan!

Tiba-tiba dia terkejut. Telinganya yang menempel di atas pasir mendengar suara bergemuruh. Dia mengangkat tubuhnya dan terdengarlah lapat-lapat suara derap kaki kuda. Tak lama kemudian, dari sebelah depan muncullah sepasukan orang, sebagian kecil berkuda, menuju ke tempat itu! Di depan sendiri tampak seorang laki-laki bangsa asing dengan rambut putih kekuningan membalapkan kudanya. Ketika tiba di tempat di mana Kun Liong masih berlutut dan menyangga tubuhnya dengan kedua tangan seperti orang merangkak, laki-laki itu berseru keras, meloncat turun dari kuda dan menghampiri. Dia berkata dalam bahasa asing yang tak dimengerti oleh Kun Liong. Ketika Kun Liong menoleh, orang itu memaki, “Keparat! Tentu dia merampok anak buahku. membunuh dan merampas pakaiannya!” Dengan gerakan cepat, orang itu mencabut beberapa batang anak panah yang tergantung di punggung, memasangnya di busur.

“Wir-wir-wir… cuat-cuat-cuatt!”

Bukan main cepatnya orang itu mainkan anak panah dengan busur. Kun Liong yang masih pening itu hanya melihat sinar-sinar kilat berkelebat dan anak anak panah menyambar dan menancap di sekeliling tempat dia berlutut! Dia telah dikurung pagar anak panah. Bukan main pandainya orang asing itu menggunakan busur dan anak panah dan teringatlah dia akan pesan orang yang ditolongnya beberapa hari yang lalu. Dewa Panah! Agaknya orang inilah yang dijuluki Dewa Panah, dan memang ilmu panahnya hebat!

Kemudian orang yang memegang anak panah itu meloncat dan hanya dengan dua kali loncatan saja dia sudah berdiri di depan Kun Liong yang kini sudah berhasil bangkit berdiri dalam pagar anak panah yang menancap di atas pasir di sekelilingnya itu. Loncatan orang itu pun membuktikan bahwa selain lihai ilmu panahnya, orang asing yang masih muda itu juga memiliki kepandaian yang tinggi.

Akan tetapi hal ini tidak menarik hati Kun Liong yang tentu saja menganggap kepandaian seperti itu tidak ada artinya. Yang menarik hati Kun Liong adalah ketika dia mengenal orang uing yang bukan lain adalah Marcus, bekas kekasih Kim Seng Siocia!

Dugaannya ini memang tidak keliru. Orang itu adalah Marcus, pemuda bangsa Portugis bekas anak buah Legaspi yang tadinya menjadi kekasih Kim Seng Siocia kemudian ketika Kim Seng Siocia tewas, dia berhasil melarikan diri membawa kitab-kitab pusaka dan barang berharga dari nona gemuk itu. Dan di antara ilmu kepandaiannya Kim Seng Siocia yang dapat dia warisi, di antaranya adalah ilmu panah yang lihai! Marcus berhasil pula menghimpun beberapa orang bekas rekannya sehingga terkumpul lima orang Portugis yang masih berkeliaran, kemudian dia bersama lima orang anak buahnya itu menggabungkan diri dengan golongan orang Mongol yang berniat memberontak dan menyerbu ke selatan. Gerombolan pemberontak ini terdiri dari ribuan orang dan merupakan pasukan yang kuat, dan sudah siap untuk bergerak ke selatan. Dalam usaha pemberontakan ini, gerombolan orang Mongol yang dinamakan Pasukan Tombak Maut mengadakan kontak dan persekutuan dengan kaum Pek-lian-kauw!

Berkat ilmu silat dan ilmu panahnya yang cukup lihai, Marcus memperoleh kedudukan terhormat di dalam Pasukan Tombak Maut dan sebentar saja dia terkenal sebagai Dewa Panah karena ilmu panahnya memang hebat dan dikagumi oleh semua orang Mongol.

Pada hari itu, Marcus mengiringkan komandannya bersama sepasukan oreng. Mongol berjumlah dua puluh orang lebih dan pasukan ini secara kebetulan melalui gurun pasir di antara pegunungan itu dan bertemu dengan Kun Liong yang sudah terancam bahaya maut karena lelah, lapar dan terutama sekali haus. Melihat Kun Liong mengenakan pakaian seorang anak buahnya, dia menjadi curiga dan segera mengancam Kun Liong dengan anak panahnya. Kini dia menghadapi Kun Liong dan di belakangnya, duduk di atas kuda sambil memandang tajam, Sang Komandan Pasukan Tombak Maut menyaksikan tanpa membuka suara. Komandan ini masih muda, tampan dan gagah, matanya tajam dan gerakan biji matanya liar.

Kun Liong masih nanar dan pening, pandang matanya masih berkunang sehingga ketika dia memandang kepada Marcus dan kepada komandan itu, hatinya terkejut dan dia mengira berada dalam mimpi. Dia mengenal pula komandan itu. Tentu saja dia tidak akan pemah dapat melupakan wajah Ouwyang Bouw putera Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok Si Raja Ular!

“Hemm, dia tentu mata-mata dari selatan yang menyamar. Tangkap saja dia, kita periksa di markas!” bentak Ouwyang Bouw tanpa turun dari kudanya. Agaknya baik dia maupun Marcus tidak mengenal Kun Liong, bukan hanya karena pakaiannya yang aneh akan tetapi terutama sekali karena Kun Liong yang dahulunya gundul pelontos itu kini telah memiliki rambut hitam lebat.

Ketika beberapa orang anggauta Pasukan Tombak Maut, yaitu orang-orang Mongol anak buah Ouwyang Bouw, berhasil menghampiri dan mentaati perintah Ouwyang Bouw untuk menangkapnya, Kun Liong sama sekali tidak mau melawan. Dia maklum bahwa andaikata dia mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk melawan, tak mungkin dia yang kelaparan dan kehausan itu mampu mengalahkan Ouwyang Bouw yang dia tahu amat lihai. Pula begitu melihat Ouwyang Bouw, teringatlah dia akan cerita Hong Ing tentang suci dara itu, yaitu Lauw Kim In, wanita cantik manis pendiam yang berhati keras dan galak. Menurut cerita Hong Ing, Nona Lauw Kim In telah ditangkap oleh Ouwyang Bouw dan telah dibawa pergi menjadi isteri orang berotak miring ini. Teringat akan ini selain tidak kuat untuk melawan, Kun Liong membiarkan dirinya diringkus dan ditawan karena dia pun ingin sekali mengetahui bagaimana dengan nasib suci dari Hong Ing, di samping ingin memulihkan tenaganya lebih dulu sebelum melawan.

“Beri dia makan dan minum, jangan sampai dia mati kelaparan dan kehausan. Kita perlu mengorek semua rahasia musuh dari mulutnya!” kata pula Ouwyang Bouw dan diam-diam Kun Liong merasa berterima kasih dengan perintah ini. Dapat dibayangkan betapa segar rasanya air dari guci air yang diberikan kepadanya, betapa nikmat roti kering dan daging yang dimakannya. Diam-diam di dalam hatinya dia berjanji sendiri bahwa untuk makan dan minum saja dia sudah berhutang nyawa kepada Ouwyang Bouw. Biarpun dahulu Ouwyang Bouw menggunakan jarum merah beracun menyerangnya dan membuat kepalanya gundul, namun sekali ini Ouwyang Bouw dianggapnya telah menyelamatkannya maka dia pun berjanji takkan mengganggu keselamatan putera Raja Ular itu.

Kun Liong dibawa oleh rombongan itu sebagai seorang tawanan dan melihat dia tidak melakukan perlawanan dan sama sekali tidak membayangkan sebagai seorang yang pandai ilmu silat, biarpun dia dianggap sebagai seorang mata-mata musuh namun dia tidak diperlakukan kasar, hanya disuruh berjalan kaki mengikuti rombongan itu, tanpa dibelenggu kedua tangannya, hanya rantai yang dihubungkan dengan belenggu sebelah kakinya dipegang oleh seorang anggauta pasukan.

Kiranya markas Pasukan Tombak Maut itu berada di gunung yang dari jauh tampak kehijauan tadi. Perjalanan menuju ke pegunungan itu masih memakan waktu sehari semalam sehingga diam-diam Kun Liong bergiclik. Kalau dia tidak bertemu dengan gerombolan ini, menjadi tawanan dan diberi makan, agaknya belum tentu dia akan dapat tiba di pegunungan ini dalam keadaan masih bernyawa. Barulah dia mengalami sendiri betapa bahayanya melakukan perjalanan melintasi gurun pasir tandus tanpa bekal secukupnya.

Ketika rombongan itu tiba di puncak gunung, Kun Liong melihat dengan kaget bahwa puncak itu merupakan sebuah perkampungan gerombolan yang besar dan kuat. Bangunan-bangunan yang kokoh kuat dilingkari tembok benteng dan dijaga seperti sebuah benteng tentara saja. Dia dibawa ke dalam sebuah kamar tahanan dan didorong masuk ke dalam sebuah kamar itu, pintu ditutup rapat dan tempat itu dijaga kuat.

Pada keesokan harinya, barulah dia diambil oleh empat orang penjaga dan dia diiringkan memasuki sebuah ruangan besar di mana tampak duduk Marcus, Ouwyang Bouw, beberapa orang Mongol berpakaian perwira dan di tengah-tengah mereka, di atas sebuah kursi tinggi berukir indah, duduk seorang wanita cantik yang berpakaian indah seperti seorang ratu. Melihat wanita ini, Kun Liong terkejut karena dia mengenal wanita itu yang bukan lain adalah Lauw Kim In! Wanita cantik ini, dengan sikapnya yang agung, kecantikannya yang dingin, memandang dan dari sinar matanya yang bercahaya itu Kun Liong dapat menduga bahwa suci dari Hong Ing itu agaknya mengenalnya.

Bagaimanakah Lauw Kim In dapat berada di situ dan agaknya menjadi tokoh tertinggi, menjadi pucuk pimpinan di antara gerombolan orang Mongol itu? Seperti telah diceritakan di bagian depan, Lauw Kim In dan sumoinya, Pek Hong Ing, bertemu dengan Ouwyang Bouw di tengah hutan dan dengan kepandaiannya yang tinggi, Ouwyang Bouw berhasil merobohkan dua orang kakak beradik seperguruan itu. Ouwyang Bpuw jatuh cinta kepada Kim In, maka dia mengancam untuk membunuh Hong Ing dan akhirnya secara tidak terduga-duga oleh Hong Ing sendiri, sucinya itu menyerah dan menerima menjadi isteri Ouwyang Bouw! Hong Ing dibebaskan oleh Ouwyang Bouw yang kegirangan dan sambil tertawa-tawa, Ouwyang Bouw berlari cepat memondong tubuh Lauw Kim In meninggalkan Pek Hong Ing.

Kim In memejamkan matanya dan menguatkan hatinya, menerima semua perlakuan Ouwyang Bouw kepadanya, bahkan dia tidak membantah atau melawan sedikit pun ketika Ouwyang Bouw mencumbunya, menciuminya dan menjadikan dia sebagai isterinya pada malam hari itu juga, di dalam hutan, di sebuah kuil tua. Kim In sengaja mengorbankan kehormatannya, bukan semata-mata untuk menolong dan menyelamatkan sumoinya, bukan pula semata-mata untuk menyelamatkan nyawanya sendiri melainkan karena dia melihat keuntungan jika dia menjadi isteri pemuda tampan akan tetapi setengah gila ini. Dia melihat betapa Ouwyang Bouw memiliki kepandaian yang amat tinggi. Dia ingin mempelajari ilmu dari pemuda yang menjadi suaminya ini, suami yang diterimanya bukan karena cinta. Sama sekali bukan. Bahkan dia merasa muak dan jijik setiap kali Ouwyang Bouw mendekatinya dan menidurinya, namun semua itu dipertahankannya dengan tabah dan dengan mematikan segala perasaannya.

Bagi Ouwyang Bouw sendiri, kerelaan hati Kim In menerimanya sebagai seorang suami tanpa pernikahan resmi, membuat dia makin tergila-gila dan pemuda sinting ini benar-benar jatuh cinta kepada Lauw Kim In. Setelah menderita siksaan batin pada masa “pengantin baru” tanpa menjadi pengantin ini, Kim In mulai mempergunakan pengaruh kekuasaan tubuhnya kepada Ouwyang Bouw. Dia minta diajari ilmu-ilmu tertinggi dari suaminya itu dan Ouwyang Bouw dengan suka hati mengajarinya bahkan dapat dikatakan dia terpaksa menuruti permintaan isterinya, karena Kim In selalu mengancam tidak mau melayaninya kalau tidak mau menurunkan ilmunya yang paling tinggi! Kim Ing mulai mempergunakan tubuhnya yang membuat Ouwyang Bouw tergila-gila itu sebagai alat untuk memeras! Semua ini dilakukan hanya dengan satu niat, yaitu membalas dendam kepada musuh yang dibencinya, yang dianggapnya mendatangkan segala malapetaka yang dideritanya sampai sekarang. Musuh itu adalah Thian-ong Lo-mo! Dahulu, Lauw Kim In telah bertunangan dengan seorang pemuda yang tampan dan yang diam-diam telah menjatuhkan hati Lauw Kim In. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa hancur hati dara ini ketika mendengar berita bahwa tunangannya itu tewas dibunuh oleh Thian-ong Lo-mo karena tertangkap basah sedang bercinta dengan selir muda yang cantik dari Thian-ong Lo-mo! Peritiwa itu mendatangkan dua akibat dalam hati Lauw Kim In. Pertama, dia menjadi seorang dara yang berwatak dingin dan bahkan selalu kelihatan membenci kaum pria yang dianggapnya semua hidung belang dan tidak setia seperti tunangannya itu. Ke dua, dia menaruh dendam yang amat mendalam kepada Thian-ong Lo-mo yang telah membunuh tunangannya. Anggapannya bahwa kalau tidak ada Thian-ong Lo-mo, tentu tidak ada selirnya yang cantik, tunangannya tidak berjina dan tidak akan terbunuh mati. Akan tetapi, ketika itu, untuk dapat membalas dendam adalah hal yang mustahil karena tingkat kepandaian kakek itu adalah setingkat kepandaian subonya sendiri, mana mungkin dia dapat menang menghadapi kakek itu?

Itulah yang menyebabkan Kim In tidak peduli lagi bahwa dia telah menyerahkan tubuhnya kepada seorang pria seperti Ouwyang Bouw yang sama sekali tidak dicintanya. Baginya, semua pria sama saja! Dan dia mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi dari “suaminya” itu dengan tekun sampai dia merasa bahwa ilmu kepandaiannya telah maju pesat sekali. Terutama dia mempelajari pukulan-pukulan beracun dari suaminya yang ahli dalam hal ini.

Setahun kemudian, dengan memaksa suaminya yang makin tunduk dan makin takut kepadanya karena makin tergila-gila, Lauw Kim In dapat membujuk Ouwyang Bouw untuk pergi ke kaki Pegunungan Go-bi-san mencari Thian-ong Lo-mo! Pada waktu itu, Thian-ong Lo-mo telah melarikan diri karena gagal membantu Kwi-eng Niocu. Dia berhasil lolos dari maut ketika pasukan pemerintah menyerbu Kwi-eng-pang dan karena merasa putus harapan, dia lalu melarikan diri kembali ke tempat pertapaannya semula, yaitu di kaki Pegunungan Go-bi-san.

Kagetlah hati Thian-ong Lo-mo ketika pagi hari itu, di depan guhanya muncul dua orang muda, seorang pria dan seorang wanita. Tempat itu biasanya sunyi sekali dan dia tidak mengharapkan kedatangan siapapun juga. Apalagi dia sama sekali tidak mengenal pria dan wanita muda itu. Barulah dia memandang penuh perhatian ketika wanita itu membentak. “Thian-ong Lo-mo, aku datang untuk mencabut nyawamu!”

Thian-ong Lo-mo menggerakkan kakinya dan tubuhnya melayang keluar dari guha, berdiri menghadapi dua orang itu dan dia memandang penuh perhatian kepada Lauw Kim In. Akhirnya dia ingat akan dara ini dan dia menegur, “Eh, bukankah engkau ini seorang di antara dua orang murid Go-bi Sin-kow?”

“Benar, aku Lauw Kim In, dan aku datang untuk mencabut nyawamu, membalas kematian tunanganku!”

Thian-ong Lo-mo mengangguk-angguk maklum. Teringatlah dia akan tunangan dara yang telah berani bermain gila dengan selirnya sehingga terpaksa dibunuhnya. Tertawalah dia. “Ha-ha-ha, sungguh lucu, murid Go-bi Sin-kouw berani mengancam hendak membunuh aku! Eh, bocah. Kau lumayan juga, selain manis juga pemberani. Akan tetapi, melihat engkau telah memperoleh seorang tunangan baru, mengapa masih meributkan soal kematian tunanganmu yang lama? Apakah tunanganmu yang sekarang ini kurang mampu? Kalau begitu, lebih baik kau berganti pacar lagi, dan bagaimana kalau dengan aku? Ha-ha, biarpun aku sudah tua, kiranya tidak akan kalah kemampuanku dibandingkan dengan pacarmu yang pucat ini, ha-ha!”

“Thian-ong Lo-mo, kematian sudah di depan mata, engkau masih mengeluarkan kata-kata sombong. Makanlah ini!” Ouwyang Bouw berkata tenang akan tetapi tahu-tahu dari kedua tangannya menyambar sinar-sinar merah. Itulah jarum-jarum merah beracun yang digerakkan dengan sentilan jari-jari tangannya secara lihai sekali.

“Heiii…!” Thian-ong Lo-mo terkejut sekali ketika dia mengelak, tercium olehnya bau harum memuakkan, dan jarum itu sedemikian cepat luncurannya sehingga biarpun dia sudah cepat mengelak, ada sebatang yang hampir mengenai lehernya. Dia memandang dengan mata terbelalak kaget lalu bertanya, “Engkau siapa…?”

Ouwyang Bouw tidak menjawab segera, melainkan mencabut pedangnya perlahan-lahan, pedangnya yang berbentuk seekor ular. Kemudian dia berkata, suaranya seperti orang tidak acuh, namun nadanya penuh ancaman. “Dia adalah isteriku, engkau tua bangka berani menghina isteriku, karenanya harus mampus!”

Thian-ong Lo-mo kini mulai memandang orang muda yang tadinya dipandang rendah itu dengan penuh perhatian. Sikap orang muda itu membuat dia marah, akan tetapi serangan jarum itu tadi mengejutkannya dan ketika dia melihat pedang berbentuk ular di tangan Ouwyang Bouw, dia mengerutkan alisnya.

“Apa hubunganmu dengan Ban-tok Coa-ong?” tanyanya karena dia mengenal pedang ular itu.

“Kau menyebut-nyebut nama julukan ayahku mau apa?”

Thian-ong Lo-mo terkejut bukan main. Kiranya gadis murid Go-bi Sian-kouw yang mendendam kepadanya karena tunangannya dahulu dibunuhnya itu telah menjadi isteri putera Ban-tok Coa-ong! Dia merasa gentar juga karena dia sudah mendengar betapa lihainya putera Raja Ular itu, tidak berbeda dengan ayahnya!

“Ah, kalau begitu kita adalah orang sendiri!” serunya. “Orang muda, kalau engkau putera Ouwyang Kok, tentu engkau yang bernama Ouwyang Bouw dan ketahuilah bahwa antara ayahmu dan aku terdapat tali persahabatan yang erat.”

“Hemm, tidak seerat tali hubungan antara aku dan isteriku!” bantah Ouwyang Bouw.

“Kau keliru! Antara ayahmu dan aku terdapat hubungan seperjuangan! Ayahmu tewas di tangan Cia Keng Hong dan Panglima The Hoo, dan aku pun musuh dari pemerintah lalim yang sekarang berkuasa. Kita malah harus bersatu untuk merobohkan pemerintah ini, untuk membalas dendam kematian ayahmu. Jangan kau sampai terseret oleh urusan pribadi isterimu. Sebetulnya antara dia dan aku pun tidak terdapat permusuhan apa-apa. Tunangannya dahulu kubunuh karena tunangannya itu telah berani berjina dengan selirku, mereka tertangkap basah, maka kubunuh.”

Mendengar omongan ini, Ouwyang Bouw kelihatan ragu-ragu. Memang dia menaruh dendam kepada Cia Keng Hong dan Panglima The Hoo atas kematian ayahnya.

“Ouwyang Bouw, kau masih diam seperti patung? Hayo bantu aku merobohkan tua bangka ini, akan tetapi awas, jangan sampai dia terbunuh di tanganmu. Aku harus membunuhnya dengan tanganku sendiri.” Lauw Kim In berkata dengan suara dingin dan pandang mata marah kepada suaminya. Mendengar ini, lenyaplah semua keraguan dari wajah Ouwyang Bouw. Pedang ularnya berkelebat dan dia sudah menyerang Thian-ong Lo-mo dengan tusukan maut.

“Tranggg…!” Kakek tinggi besar brewok ini sudah menggunakan sabuk rantai gergaii untuk menangkis. “Ouwyang Bouw jangan bodoh kau! Ingat, banyak orang gagah roboh hanya karena bujukan mulut wanita!”

“Tua bangka keparat!” Lauw Kim In memekik nyaring dan pedangnya berubah menjadi sinar putih ketika meluncur ke arah leher Thian-ong Lo-mo dengan kecepatan kilat. Kakek itu cepat meloncat dan mengelak, diam-diam terkejut karena mendapat kenyataan bahwa gerakan wanita itu hebat sekali. Mengertilah dia bahwa wanita itu tentu telah memperdalam ilmunya setelah menjadi isteri Ouwyang Bouw. Dia adalah seorang tokoh dunia kaum sesat yang terkenal, memiliki banyak pengalaman dan tentu saja dia menjadi marah melihat dua orang muda itu mendesaknya.

“Bagus! Jangan kira Thian-ong Lo-mo takut kepada kalian!” Dia lalu memutar senjatanya sabuk rantai gergaji yang mengeluarkan bunyi berkerincingan nyaring itu, membalas serangan lawan dan terjadilah pertandingan yang seru, hebat dan mati-matian.

“Cringgg… wuuuttt! Wuuutttt!!” Senjata rantai gergaji itu menyambar dahsyat ke arah Ouwyang Bouw dan Lauw Kim In dengan suara berdencingan nyaring, namun kedua orang muda itu dapat mengelak dengan baik, bahkan meloncat ke kanan kiri dan dari dua jurusan ini pedang mereka menusuk ke lambung kiri dan leher kanan! Diserang dari dua jurusan ini, Thian-ong Lo-mo meloncat ke belakang, memutar senjatanya ke kanan kiri dengan cepat untuk menangkis.

“Cringg! Tranggg…!”

Namun, pedang ular di tangan Ouwyang Bouw yang tertangkis itu sudah meluncur seperti ular hidup, membalik dan menusuk ke arah pelipis kanan lawan, sedangkan Lauw Kim In dengan gerakan yang sama, sudah membacokkan pedangnya ke arah mata kaki kiri kakek brewok itu.

“Cring?cringgg…! Wuuut?wuuuttt!!”

Hanya dengan kecepatan luar biasa dan dengan susah payah saja kakek itu berhasil menangkis serangan dua batang pedang dari kanan kiri itu dan memutar senjatanya, namun juga dapat dielakkan oleh dua orang pengeroyoknya yang memiliki keringanan tubuh mengagumkan sekali. Kini terjadilah serang-menyerang dengan gencar, kedua pihak mengeluarkan jurus-jurus maut dan berkali-kali terdengar berdencingan senjata yang bertemu dengan kerasnya, bersiutnya senjata menyambar yang membelah udara karena dapat dialakkan oleh sasarannya.

Thian-ong Lo-mo yang maklum bahwa dua orang lawannya itu, biarpun masih muda namun memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, telah mengeluarkan semua tenaga dan kepandaiannya. Berkat pengalamannya yang banyak selama puluhan tahun malang melintang di dunia kang-ouw, dia masih dapat mempertahankan diri, sungguhpun usia tuanya mulai memperlihatkan kelemahan daya tahannya dan napasnya yang mulai memburu.

“Hyaaahhh!” Tiba-tiba kakek itu memekik nyaring, pekik yang dikeluarkan dengan pengerahan khi-kang sehingga mengandung tenaga mujijat yang menggetarkan lawan, sementara rantai gergaji di tangannya menyambar-nyambar ganas sekali.

“Sing-sing… wuuuttt… brettt!”

“Aihhh…!”

Saking dahsyatnya serangan Thian-ong Lo-mo tadi, biarpun Lauw Kim In sudah menangkis dan mengelak seperti yang dilakukan suaminya, tetap saja baju di punggungnya tercium rantai dan terobek lebar.

“Ha-ha-ha-ha!” Thian-ong Lo-mo tertawa, sengaja mengeluarkan suara ketawa untuk mengejek lawan, sungguhpun dia merasa kecewa bahwa senjatanya hanya berhasil merobek baju, tidak melukai tubuh lawan.

Di lain pihak, Ouwyang Bouw dan Lauw Kim In marah bukan main. Sambil berteriak keras mereka maju mendesak, mengirim serangan-serangan bertubi-tubi dan mengerahkan tenaga sin-kang mereka. Thian-ong Lo-mo terpaksa memutar senjatanya melindungi tubuhnya.

“Cring-cring-cringggg…!”

Thian-ong Lo-mo dan Lauw Kim In berteriak keras dan meloncat ke belakang. Senjata rantai gergaji itu patah, juga pedang Kim In patah. Hanya pedang ular di tangan Ouwyang Bouw yang masih utuh. Melihat senjatanya sudah patah dan rusak, Thian-ong Lo-mo membuang senjatanya. Juga Lauw Kim In membuang pedang yang tinggal sepotong.

“Ha-ha-ha, bersiaplah kau untuk mampus, tua bangka Thian-ong Lo-mo!” Ouwyang Bouw tertawa bergelak sambil menyimpan pedang ularnya.

Menyaksikan kesombongan Ouwyang Bouw yang tidak mau menghadapi dia yang sudah bertangan kosong itu dengan pedangnya, diam-diam Thian-ong Lo-mo girang hatinya. Pemuda sombong, pikimya, kesombonganmu ini akan kautebus dengan nyawamu!

Tanpa banyak cakap lagi dia lalu menggereng dan maju menyerang dua orang pengeroyoknya dengan kedua tangannya. Hebat bukan main penyerangan Thian-ong Lo-mo. Mula-mula dia menggerak-gerakkan kedua tangannya saling bersilang dengan jari-jari tangan terbuka. Jari-jari tangan itu tergetar, menggigil terisi penuh dengan tenaga sin-kang yang amat kuat sehingga dalam keadaan seperti itu, bahkan kuku-kuku jari tangannya berubah menjadi sekuat cakar baja! Kemudian dia menyerbu ke depan, tangan kanan mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala Ouwyang Bouw sedangkan tangan kiri mencengkeram ke arah dada Kim In. Serangan maut yang digerakkannya ini. Namun kedua orang lawannya sudah siap. Mereka berdua maklum bahwa dalam hal kekualan sin-kang mungkin mereka masih kalah setingkat melawan kakek yang lihai itu. Akan tetapi keduanya memiliki andalan dan andalan ini pula yang membuat Ouwyang Bouw berani memandang rendah sehingga dia menyimpan pedangnya tadi. Mereka berdua mengandalkan tok-ciang (tangan beracun) mereka!

Lauw Kim In yang baru kurang lebih setahun bersama-sama dengan suaminya, telah memiliki sepasang tangan beracun yang amal lihai. Hal ini hanya dapat terjadi karena bujukannya terhadap Ouwyang Bouw yang sebetulnya merahasiakan ilmu keturunan ini. Namun karena dia sudah tergila-gila kepada Kim In, dia memenuhi permintaan isterinya tercinta itu dan setiap hari dia merendam kedua tangan dan lengan istrinya sampai ke batas siku dengan cairan ramuan obat yang mengandung racun ular Cobra! Di samping ini dia melatih istrinya dengan pukulan-pukulan dari tok-ciang itu. Baru berlatih setahun saja, dengan sekali pukul, tangan kiri atau kanan wanita muda ini dapat membuat lawan roboh dan tewas dengan tubuh bengkak-bengkak seperti tergigit ular Cobra! Dapat dibayangkan betapa hebat dan berbahayanya kedua tangan Ouwyang Bouw yang sudah dilatih belasan tahun itu!

“Dukk! Dukkk!”

Kedua lengan kakek Thian-ong Lomo tertangkis oleh lengan kedua orang lawannya. Ketika tadi dia melihat dua orang muda itu berani menangkisnya, diam-diam dia menjadi girang dan dia telah mengerahkan sin-kangnya. Benturan lengan mereka membuat Ouwyang Bouw dan Kim In terhuyung ke belakang dan terdengarlah suara ketawa Thian-ong Lo-mo yang merasa girang karena benturan lengan tadi membuktikan bahwa sin-kangnya masih lebih kuat daripada kedua orang lawannya.

“Ha-ha-ha… ehhh…?” Suara ketawanya terhenti dan terganti teriakan kaget. Dia memandang kedua buah lengannya dan matanya terbelalak. Ketika dia menyingsingkan lengan baju, dia melihat lengannya merah dan terasa gatal-gatal.

Tahulah dia bahwa kedua kulit tengannya telah terkena hawa beracun!

“Ha-ha-ha-ha!” Ouwyang Bouw tertawa.

“Hi-hik, tua bangka, bersiaplah untuk mampus!” Kim In juga mengejek dan wanita ini sudah menerjang maju bersama suaminya.

“Haiiitit… hehhh!!” Thian-ong Lo-mo cepat mengelak ke sana ke mari, dan membalas dengan pukulan-pukulan maut. Namun dia segera terdesak hebat karena kakek ini merasa ragu-ragu untuk menangkis pukulan-pukulan lawan, hanya mengelak ke sana-sini sehingga tentu saja hal ini tidak memberi banyak kesempatan kepadanya untuk balas menyerang, tidak seperti kalau dia menangkis lalu membalas langsung. Kadang-kadang secara terpaksa, Thian-ong Lo-mo menangkis juga, namun jika hal ini dilakukan, dia mengisi lengannya dengan hawa sin-kang sepenuhnya untuk menolak hawa beracun dari lengan lawan. Betapapun juga, tetap saja kulit lengan yang terbentur lengan lawan terasa gatal-gatal, tanda bahwa biarpun hawa beracun itu tidak meresap ke daging dan tulang, namun tetap saja meracuni kulitnya. Makin banyak dia menangkis, makin hebat rasa gatal yang menyiksa kedua lengannya.

Di antara perasaan yang biarpun tidak berapa nyeri namun sukar dipertahankan manusia adalah rasa gatal. Mungkin kalau kedua lengan Thian-ong Lo-mo itu terasa nyeri betapa hebat pun, kakek ini masih dapat mempertahankan. Akan tetapi diserang rasa gatal yang membuat seluruh bulu di tubuhnya bangkit meremang, sukar untuk dipertahankan tanpa digaruk, maka hal ini tentu saja amat menyiksanya dan membuat gerakan ilmu silatnya menjadi kacau balau tidak karuan. Dia sudah terkena pukulan sampai tiga kali, dua kali oleh Ouwyang Bouw dan sekali oleh Kim In. Namun, berkat ilmunya I-kiong-hoat-hiat (Ilmu Memindahkan Jalan Darah) yang sempurna, Thian-ong Lo-mo dapat membuat tubuhnya kebal dan jalan darahnya tidak terluka oleh pukulan pukulan itu hanya bagian kulitnya saja yang terkena pukulan menjadi merah kehitaman dan terasa gatal bukan main.

“Hyaaahhhh… robohlah…!” Tiba-tiba Thian-ong Lo-mo membentak dan kedua tangannya bergerak ke depan.

Ouwyang Bouw dan Kim In cepat mengelak ketika melihat berkelebatnya sinar dari kedua tangan kakek itu dan mendengar suara bercuitan, namun karena jaraknya amat dekat, biarpun mereka mengelak, tetap saja pangkal lengan kiri Ouwyang Bouw keserempet dan betis kanan Kim In ketika meloncat terkena senjata rahasia yang dilepas oleh kakek itu. Kiranya senjata rahasia itu hanyalah kancing-kancing baju kakek itu sendiri. Karena tadi terdesak hebat, terutama sekali disiksa rasa gatal-gatal, Thian-ong Lo-mo memperoleh akal. Tanpa diketahui kedua lawannya, diam-diam dia mencabuti kancing-kancing bajunya dan menanti kesempatan baik secara tiba-tiba menyerang kedua lawan dengan kancing-kancing itu. Sayang baginya, kedua lawannya terlampau gesit sehingga hanya terluka ringan saja dan celakanya, menyerang kedua orang suami isteri ini dengan senjata rahasia tidak ada bedanya dengan menantang ikan berlumba renang!

Penggunaan kancing baju sebagai senjata rahasia oleh Thian-ong Lo-mo itu sama saja dengan menantang Ouwyang Bouw dan Kim In, padahal sepasang suami isteri ini adalah ahli-ahli senjata rahasia jarum merah beracun! Mereka berdua sudah menggerakkan kedua lengan bergantian dan sinar-sinar merah menyambar ke arah tubuh Thian-ong Lo-mo. Kakek ini masih berusaha mengelak, namun terlalu banyak jarum-jarum kecil halus itu menyambar, dan terlalu dekat jaraknya sehingga akhirnya dia berteriak keras dan roboh bergulingan di atas tanah. Ouwyang Bouw tertawa dan dua kali tangannya bergerak. Seketika tubuh itu tak dapat bergerak lagi, telentang di atas tanah karena pada sambungan lutut dan paha, masing-masing telah dimasuki sebatang jarum merah yang amat beracun, membuat kaki tangan kakek itu menjadi lumpuh tak mampu digerakkan lagi!

“Ha-ha-ha, isteriku sayang. Dia sudah tak berdaya, lakukanlah apa yang kau ingin lakukan!” kata Ouwyang Bouw sambil mencari tempat duduk di atas sebuah batu untuk mengaso dan menonton isterinya membalas dendam.

Lauw Kim In memang merasa sakit hati sekali kepada Thian-ong Lo-mo. Kakek inilah yang dianggapnya menjadi biangkeladi perubahan hidupnya. Betapa dia tidak akan menyesal. Sampai saat itu pun, kalau diingat, dia menjadi berduka dan penasaran sekali. Dia seorang murid Go-bi Sin-kouw, seorang wanita yang tergolong gagah perkasa dan cantik, terpaksa harus menyerahkan dirinya menjadi isteri seorang berotak miring seperti Ouwyang Bouw, dan semua itu adalah gara-gara kakek Thian-ong Lo-mo ini! Kalau tunangannya tidak dibunuh dahulu, tentu dia telah menjadi isteri tunangannya itu dan hidup bahagia! Dengan dendam membara di dada wanita ini mengambil pedangnya yang tinggal sepotong, menghampiri tubuh kakek yang rebah telentang itu. Melihat Lauw Kim In datang membawa pedang buntung, Thian-ong Lo-mo maklum bahwa dia tentu akan dibunuh, maka dia berkata, “Aku sudah kalah oleh kecurangan kalian menggunakan racun. Nah, mau bunuh lekas bunuh, aku sudah tua, tidak kaubunuh pun tak lama lagi tentu mati!” Ucapan ini dikeluarkan untuk menutupi rasa ngeri dan takutnya.

Tanpa mengeluarkan kata-kata namun sepasang matanya mengeluarkan sinar menyeramkan, Kim In melangkah maju menghampiri tubuh yang telentang tak berdaya itu. Tangannya menggenggam gagang pedang erat-erat, pedang yang buntung, tidak runcing akan tetapi tentu saja masih amat tajam, lalu tangannya bergerak, pedang berkelebat ke depan.

“Haiiittt…!” Tiba-tiba tubuh yang sudah tidak berdaya dan lumpuh itu mencelat ke atas, mulutnya terpentang lebar dan ternyata kakek yang amat lihai itu kini menggunakan mulut untuk menyerang dan menggigit ke arah tenggorokan Kim In!

“Plakk! Desss…!” Untung Kim In bersikap waspada dan dapat melihat serangan lawan, lalu tangan kirinya menampar dan memukul, membuat tubuh itu terbanting keras dalam keadaan telentang lagi. Kalau dia tidak waspada dan lehernya sampai tergigit, tentu gigitan itu takkan dilepaskan sebelum kakek itu tewas, dan ini dapat berarti tewasnya Kim In pula! Dengan penuh kemarahan Kim In melangkah maju, tangan kanan yang memegang pedang bergerak.

“Blesss… rettt…!”

Kim In meloncat muncur pada saat darah muncrat-muncrat dari tubuh depan kakek itu. Dari dada sampai ke bawah perut, tubuh itu terobek dan terkuak lebar, darah muncrat dan isi perutnya keluar. Mata kakek itu terbelalak melotot, kaki tangannya yang lumpuh berkelojotan sebentar lalu terdiam. Hanya isi perutnya yang keluar itu masih bergerak-gerak sedikit bersama gerakan darah muncrat dan mengalir.

“Ha-ha-ha-ha!” Ouwyang Bouw tertawa bergelak-gelak, menambah seramnya pemandangan di saat itu. Lauw Kim In hanya menunduk, berdiri dengan muka pucat dan menunduk, tanpa berkata apa-apa lalu membuang pedang buntung yang berlumur darah, kemudian membalikkan tubuhnya dan berkelebat pergi dari tempat itu, diikuti oleh suaminya yang tertawa-tawa. Mayat Thian-ong Lo-mo ditinggalkan menggeletak di tempat itu, dengan dada dan perut terbuka. Terdengar suara gerengan binatang hutan dari jauh dan tampak beberapa ekor burung nazar pemakan bangkai beterbangan di atas tempat itu, agaknya binatang-binatang itu dapat mencium bau darah dan mayat.

Sementara itu, puas karena telah berhasil membalas dendam, Kim In bersama Ouwyang Bouw hendak kembali ke timur. Akan tetapi di tengah jalan, mereka dihadang oleh serombongan orang Mongol dan beberapa orang barat yang dikepalai oleh Marcus yang dikenal sebagai Dewa Panah! Dengan amat mudah, Ouwyang Bouw dan Kim In merobohkan para pimpinan gerombolan ini dan karena Marcus mendengar bahwa laki-laki tampan gagah yang memiliki kepandaian amat tinggi itu adalah putera Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok yang tewas di tangan Cia Keng Hong yang membantu Panglima The Hoo, dia mempergunakan kesempatan itu untuk menarik tenaga Ouwyang Bouw. Dia lalu menyatakan takluk dan membawa semua anak buahnya dan para pemberontak Mongol, mengangkat Ouwyang Bouw sebagai kepala dari gerombolan yang semuanya berjumlah tidak kurang dari seribu orang Mongol!

Demikianlah, suami isteri ini menjadi pimpinan gerombolan orang Mongol, dan tentu saja puncak pimpinan segera berada di tangan Lauw Kim In karena suaminya tunduk kepadanya, sehingga Ouwyang Bouw yang memiliki kepandaian tinggi itu seakan-akan hanya menjadi pembantunya! Setelah dendamnya dilaksanakan dan dia berhasil membunuh musuhnya, Kim In menganggap bahwa hidupnya tidak ada artinya lagi. Namun, mengingat betapa suaminya, biarpun dia tidak mencintanya, telah bersikap baik kepadanya, bahkan membantunya membunuh Thian-ong Lo-mo, dia merasa kasihan juga mendengar bahwa suaminya itu tidak akan tenteram hatinya sebetum membalas kematian ayahnya. Ouwyang Bouw maklum bahwa agaknya tidak akan mungkin baginya untuk membunuh Cia Keng Hong dan Panglima Sakti The Hoo, akan tetapi setidaknya dia akan merongrong kewibawaan panglima itu, akan mengganggu pemerintah! Dan Kim In merasa berhutang budi kepada Ouwyang Bouw, maka daripada menderita hidup yang kosong, dia membantu suaminya, bahkan kini dia menikmati kedudukan sebagai orang paling terhormat di dalam Pasukan Tombak Maut yang dipimpin oleh suaminya. Dia diperlakukan seperti ratu dan lama-kelamaan kedudukan atau kemuliaan ini merupakan kebutuhan baginya, membuat dia mabok dan tidak ingin melepaskannya lagi karena menganggapnya sebagai kebahagiaan hidupnya!

Memang demikianlah kehidupan manusia, seperti Lauw Kim In itu. Kita manusia dibikin mabok oleh pikiran kita sendiri, oleh kenangan yang melahirkan keinginan. Kita melihat, mendengar atau merasakan sesuatu yang menyenangkan, lalu kita ingin hal itu berlangsung terus atau berulang kembali, kita takut kehilangan itu sehingga kita mati-matian membelanya atau mencarinya kalau yang menyenangkan itu meninggalkan kita. Dalam membela atau mencari ini, kita tidak segan-segan untuk merobohkan siapa saja yang menghalang di tengah jalan. Dan celakanya, kita menganggap bahwa yang menyenangkan itu adalah kebahagian! Kita lupa bahwa kesenangan tidak akan terpisah dari kekecewaan, kekhawatiran dan kedudukan. Bukan berarti bahwa kita tidak harus menikmati kesenangan, melainkan bodohlah kalau kita mengikatkan diri kepada kesenangan yang berarti kita menghambakan diri kepada nafsu kesenangan. Hanya dia yang bebas dari segala ikatan lahir maupun batin, dialah yang benar-benar bidup, karena bagi dia yang bebas dari segala ikatan tidak membutuhkan apa-apa lagi, tidak membutuhkan kebahagiaan karena sudah bahagia!

Demikianlah pengalaman Lauw Kim In sampai pada suatu hari ketika suaminya dan Marcus menangkap seorang tawanan dan pada keesokan harinya pagi-pagi tawanan itu dibawa menghadap ke dalam ruangan di mana dia hadir bersama Ouwyang Bouw, Marcus, dan lima orang pemimpin bangsa Mongol yang siap hendak memeriksa tawanan yang mencurigakan itu. Ketika Lauw Kim In mengangkat mukanya memandang wajah tawanan itu, seketika dia teringat. Tawanan itu adalah Yap Kun Liong, bocah gundul yang menjadi sahabat sumoinya! Biarpun Kun Liong memakai pakaian bangsa kulit putih, biarpun kepala yang dulunya gundul pelontos itu kini telah berambut, Kim In tidak pangling lagi. Jantungnya berdebar tegang. Betapapun juga, bertemu dengan pemuda ini membuat dia teringat akan sumoinya, satu-satunya orang yang dikasihinya.

“Kalian telah salah menangkap orang!” tiba-tiba terdengar Kim In berkata, “Dia adalah teman sumoiku.” Dia menoleh kepada suaminya dan berkata, “Harap kaubuka belenggunya dan biar aku yang menanyainya.”

Ouwyang Bouw tidak membantah. Sekali tangannya bergerak meraba belenggu, patahlah belenggu kaki tangan Kun Liong. Diam-diam Kun Liong mencatat di dalam hatinya bahwa Ouwyang Bouw akan merupakan lawan yang amat tangguh. Akan tetapi dia bersikap tenang, tersenyum dan menjura ke arah Lauw Kim In.

“Nona Lauw Kim In sungguh bermata tajam, dapat mengenalku. Apakah selama ini Nona berada dalam keadaan baik-baik saja?”

“Heh, dia itu isteriku, bukan nona lagi. Hati-hati menjaga mulutmu, jangan kau kurang ajar kepada isteriku!” Ouwyang Bouw menegur dengan hati cemburu melihat tawanan itu tersenyum-senyum dan bicara kepada isterinya.

Kun Liong menoleh kepada laki-laki yang memandangnya dengan biji mata berputar-putaran liar itu, masih tersenyum lalu berkata, “Saudara Ouwyang Bouw, engkau makin galak saja sekarang. Aku tidak bermaksud kurang ajar kepada isterimu.”

“Kau… kau mengenal namaku?” Ouwyang Bouw berseru kaget dan memandang penuh perhatian.

Kun Liong mengelus rambut di kepalanya. “Siapa tidak mengenal engkau dan ayahmu, Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok? Masih terbayang di depan mataku kematian semua orang dusun yang dahulu bersama aku menangkap ular-ular berbisa, kematian mengerikan dan masih terasa olehku jarum-jarum merahmu yang amat hebat. Tentu sekarang Ang-tok-ciam (Jarum Merah Beracun) milikmu itu makin hebat saja! Jarum merah yang membuat kepalaku gundul sampal bertahun-tahun lamanya!”

Ouwyang Bouw makin terheran dan dia merenung, mengingat-ingat, akan tetapi tentu saja tidak dapat teringat olehnya. Sudah terlalu banyak dia dan ayahnya membunuhi orang, tentu saja dia tidak teringat lagi akan peristiwa pembunuhan orang-orang dusun ketika Kun Liong masih kecil, belasan tahun yang lalu. Hal ini membuat dia penasaran dan dia tidak bicara lagi, melainkan termenung-menung berusaha mengingat kembali peristiwa yang dikatakan orang tawanan itu.

Sementara itu, Marcus yang mendengarkan dan melihat dengan penuh perhatian, begitu mendengar tawanan itu mengatakan bahwa kepalanya pernah gundul, segera teringat, “Haiiit! Bukankah engkau Si Gundul itu? Yap Kun Liong?”

Kun Liong berpaling kepadanya dan tersenyum lebar. “Dan engkau Marcus yang kini berjuluk Si Dewa Panah, ya? Bagus, agaknya tidak percuma engkau pemah menjadi kekasih Kim Seng Siocia, kiranya telah mewarisi ilmu kepandaiannya.”

Merah muka Marcus mendengar kata-kata itu. “Kalau begitu engkau tentu mata-mata musuh! Engkau perlu dihajar agar suka mengaku!” Marcus meloncat ke depan, langsung menghantamkan kepalan tangan kanannya ke arah muka Kun Liong. Pemuda ini tanpa mengelak tanpa berkedip menghadapi serangan itu, setelah kepalan tangan Marcus menyambar dekat sekali dengan mukanya, tiba-tiba jari tangan kirinya bergerak menyambar dari bawah.

“Takkk…! Augghhh…!” Marcus berteriak kesakitan dan melangkah mundur, tangan kirinya memegang pergelangan tangan kanan yang terasa seperti patah tulangnya. Ternyata Kun Liong telah mendahuluinya dan menotok pergelangan tangan yang memukul itu sehingga tangan itu menjadi lumpuh dan terasa nyeri sekali.

“Hemm, berani engkau kurang ajar?” Ouwyang Bouw berseru dan tangannya menyambar ke depan.

Kun Liong maklum akan kelihaian orang ini, maka dia cepat menggerakkan tubuhnya miring dan dari samping dia menyampok lengan yang menyambar dahsyat itu.

“Dukkk…!”

Tubuh Ouwyang Bouw tergeser ke belakang dan wajahnya menjadi merah sekali ketika dia memandang kepada lawannya. Sama sekali tidak disangkanya bahwa tawanan itu ternyata memiliki kepandaian hebat, dapat menangkis pukulannya, bahkan tangkisan itu membuat dia tergeser!

“Ouwyang Bouw, aku tidak ingin bertanding dengan orang yang telah menyelamatkan aku dari padang pasir. Bahkan pertolonganmu itu telah memaafkan semua perbuatanmu yang lalu terhadap diriku.” Kun Liong berkata, suaranya nyaring.

“Manusia sombong!” Ouwyang Bouw meraba gagang pedangnya, juga Marcus dan lima orang pimpinan gerombolan Mongol sudah bangkit dari tempat duduk masing-masing dan menyambar senjata.

“Tahan, jangan bertempur!” Tiba-tiba Lauw Kim In berseru. Mendengar bentakan isterinya, Ouwyang Bouw memasukkan lagi pedang ularnya dan duduk kembali sambil bersungut-sungut. Hatinya tidak puas. Dia penasaran sekali mendapat kenyataan bahwa tawanan itu lihai, dan hatinya ingin sekali untuk mencoba kepandaian si tawanan dan terutama sekali merobohkannya, membuktikannya bahwa dia lebih pandai! Akan tetapi dia tidak berani membantah kehendak isterinya! Kalau isterinya marah-marah, seperti yang pernah beberapa kali dilakukan oleh Kim In dan mati-matian isterinya mempertahankan diri, tidak mau mendekatinya, tidak mau melayani cintanya, dia merasa tersiksa setengah mati! Sejak itulah, dia tidak lagi berani membantah kehendak isterinya. Tidak ada kesengsaraan lebih besar baginya daripada kalau isterinya marah dan mogok, tidak mau mendekati dan melayaninya!

Terutama sekali Marcus merasa penasaran dan diam-diam dia marah sekali. Jelas baginya bahwa Yap Kun Liong adalah seorang yang berbahaya, seorang musuh, entah musuh yang berpihak mana saja, akan tetapi yang jelas, bukanlah seorang yang boleh dianggap sebagai seorang sahabat. Bagi dia, Kun Liong harus dibunuh dan sama sekali tidak boleh diberi ampun. Akan tetapi, melihat betapa Ouwyang Bouw, tokoh pertama dan utama dalam gerombolan mereka itu tidak berani membantah kehendak Lauw Kim In, dia pun tidak berani berkutik dan hanya duduk kembali sambil memandang tajam penuh perhatian.

“Yap Kun Liong, duduklah!” kata Kim In setelah melihat bahwa semua orang mentaati permintaannya.

“Terima kasih, engkau baik sekali Nona… eh, Nyonya,” katanya sambil melirik ke arah Ouwyang Bouw yang makin cemberut.

Suasana di ruangan itu menjadi hening sejenak. Kun Liong menujukan pandang matanya ke sekeliling. Tampak olehnya betapa tempat itu, biarpun dalam jarak agak jauh, telah dijaga ketat oleh banyak sekali anggauta pasukan yang memegang tombak. Penjagaan yang amat rapi dan ketat, seperti dalam benteng tentara saja.

“Yap Kun Liong, engkau melihat sendiri betapa engkau telah dikurung dengan rapat di tempat ini. Betapapun lihaimu, engkau takkan mungkin dapat keluar dengan selamat apabila kami menghendaki. Karena itu, kauceritakanlah dengan sejujurnya dan sebenamya, apa yang kaulakukan di tempat ini dan mengapa pula engkau mengenakan pakaian seorang anak buah sahabat kulit putih.”

Kata-kata yang dikeluarkan oleh Kim In itu agaknya ditujukan untuk mendinginkan hati mereka yang panas dan marah kepada Kun Liong. Kun Liong mengerti bahwa sesungguhnya Kim In ingin bicara hal lain dengan dia, akan tetapi sebelumnya minta agar dia suka menceritakan keadaannya itu agar menghilangkan kecurigaan para pimpinan pasukan, terutama sekali Marcus dan Ouwyang Bouw.

“Aku tidak sengaja memasuki daerah ini, karena aku sedang melakukan perjalanan menuju ke barat dan melalui tempat ini. Aku hampir mati di padang pasir yang tidak kukenal dan kebetulan di dalam perjalanan aku melihat seorang laki-laki berkulit putib sedang dikereyok oleh tiga belas orang Mongol yang dipimpin oleh seorang raksasa Mongol bermata sipit ahli gulat…”

“Hemm, tentu Si Tula yang memberontak!” Tiba-tiba scorang di antara pemimpin Mongol berseru.

“Laki-laki kulit putih itu luka-luka parah. Aku menolongnya dan berhasil menghalau para pengeroyoknya. Akan tetapi dia tidak tertolong lagi. Aku lalu mengubur jenazahnya, akan tetapi karena pakaianku sudah robek-robek dan aku hampir telanjang, aku amat membutuhkan pakaian, maka aku mengambil pakaiannya sebelum kukuburkan jenazah itu.”

“Laki-laki kulit putih? Tahukah engkau siapa dia?” Kim In bertanya.

“Tidak, dia tidak sempat menyebutkan namanya, usianya kurang lebih tiga puluh tahun, kumisnya panjang melintang dan berwarna kemerahan…”

“Alberto…!” Tiba-tiba Marcus berkata dan semua orang saling pandang dengan alis berkerut. Alberto adalah utusan mereka, orang yang penting untuk menghubungi Pek-lian-kauw. Akan tetapi Kun Liong tidak mau bicara tentang pesan orang yang hampir mati itu ketika menyebut-nyebut nama Pek-lian-kauw. Dia, tidak mau mencampuri urusan orang lain.

“Aku tidak tahu siapa dia. Aku memang mengambil pakaiannya, akan tetapi hat itu kulakukan karena terpaksa, karena aku harus melindungi tubuhku dari serangan panas, dan kuanggap sebagai pmbalasan perbuatanku yang mengurus dan mengubur jenazahnya.”

“Si Keparat Tula! Dia harus kita hajar!” Marcus berkata dan lima orang Mongol itu mengangguk-angguk.

“Yap Kun Liong, sekarang ceritakanlah, ke mana engkau hendak pergi dan mengapa melalui tempat asing di luar Tembok Besar ini?”

Kun Liong terkejut dan memandang wajah Kim In dengan mata terbelalak. “Di luar Tembok Besar? Wah, pantas adanya hanya padang pasir melulu den gunung-gunung liar! Aku tidak tahu, tidak mengenal jalan. Aku hanya tahu bahwa aku harus ke barat, karena aku hendak pergi ke Tibet.”

Semua orang terkejut dan pandang mata Marcus tajam menyelidik, agaknya dia mulai curiga lagi.

“Ke Tibet?” Lauw Kim In bertanya.

Kun Liong dapat menduga bahwa sebetulnya wanita itu ingin mendengar tentang sumoinya, maka dia lalu berkata terus terang, “Benar, ke Tibet untuk mencari Pek Hong Ing.”

Tepat dugaan Kun Liong, karena begitu mendengar nama sumoinya, wajah Kim In berubah dan perhatiannya tercurah sepenuhnya. “Apa yang terjadi dengan Sumoi?” tanyanya tidak sabar.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: