Petualang Asmara (Jilid ke-38)

“Desss…!” Tubuh Lie Kong Tek kembali terlempar dan terbanting keras, bergulingan sampai jauh. Ketika dia meloncat bangun dan terhuyung-huyung maju lagi, dahinya benjol dan bibirnya pecah-pecah.

“Locianpwe tidak boleh membenci puteri sendiri. Menikah harus mendapatkan restu orang tua, dan memilih jodoh adalah hak si anak.” Lie Kong Tek berkata.

“Jahanam bermulut besar! Kau mau ikut-ikut? Kalau anakku menikah dengan seorang penjahat, dirayakan di tempat penjahat dan pemberontak, apakah aku harus diam saja?” Dada Cia Keng Hong seperti akan meledak rasanya dan matanya kini memandang kepada Giok Keng seperti hendak menelan puterinya itu bulat-bulat!

“Ayah, kau terlalu!” Giok Keng kini berteriak, air matanya bercucuran akan tetapi sikapnya sama sekali tidak lemah, bahkan telunjuk kanannya menuding ke arah mata ayahnya. “Tidak saja Ayah menolak pilihan hatiku, malah telah mengusir kami dan sekarang setelah kami berusaha sendiri untuk menikah, Ayah datang menghalang dan mengacau. Begitukah sikap seorang pendekar? Ayah, ingat bahwa aku menjadi anakmu bukan atas permintaanku! Aku adalah manusia tersendiri, bukan boneka yang harus taat atas segala kehendak Ayah demi kesenangan hati Ayah sendiri!”

Hebat bukan main kata-kata yang keluar dari mulut dara yang sedang marah itu. Lebih hebat dari pukulan dahsyat yang mana pun, lebih tajam meruncing daripada pedang pusaka yang bagaimana pun.

“Bressss!” Kedua kaki pendekar itu menghantam tanah di depannya. Tanah terlindung lantai tembok itu ambrol dan kedua kakinya amblas sampai selutut. “Kau…! Kau…! Anak durhaka… auh…!” Pendeker itu terkulai lemas dan roboh terguling!

“Ayah…!” Glok Kehg menjerit, namun ternyata ayahnya telah roboh pingsan saking marahnya.

Keadaan menjadi kacau, akan tetapi tiba-tiba Thian Hwa Cinjin menyuruh dua orang pembantunya mengangkat tubuh Cia Keng Hong masuk ke dalam dan pada para tamu dia berkata lantang, “Harap Cuwi sekalian tenang saja. Urusan ini adalah urusan antara ayah dan puterinya, kita semua tidak boleh mencampurinya. Biarlah Cia-taihiap beristirahat di dalam dan harap Cuwi duduk kembali. Upacara pernikahan akan dilanjutkan.” Suaranya terdengar halus dan ramah dan mengandung kekuatan gaib yang membuat para pendengarnya tunduk dan taat.

Kun Liong merasa betapa lengan tangannya dicengkeram tangan Hong Khi Hoatsu dan terdengar kakek itu berbisik, “Celaka… Cia-taihiap dipengaruhi hoat-sut dan… dan kulihat puterinya juga berada dalam keadaan tidak wajar… tentu ada yang main sihir di sini…!”

Mendengar ini, Kun Liong terkejut sekali dan dia menjadi marah. “Kalau begitu, aku harus turun tangan…”

“Sssttt, sabarlah, Sicu. Kulihat persiapan Pek-lian-kauw sudah dibuat dengan baik, kedudukan mereka kuat. Biarpun banyak juga orang gagah di sini, akan tetapi tanpa adanya Cia-tai-hiap, kita akan kalah kuat. Harap kauusahakan agar keadaan di sini kacau atau setidaknya perhatian mereka tertarik di sini. Aku sendiri akan mencoba untuk menyadarkan Cia-taihiap di dalam.”

Percaya akan kesaktian kakek itu, Kun Liong mengangguk dan kakek itu telah menyelinap dan pergi dari situ di antara meja-meja tamu yang penuh dengan tamu dari berbagai golongan. Sebentar saja kakek itu sudah lenyap, entah menyelinap ke mana, Kun Liong teringat akan pesan kakek itu, maka dia lalu memandang ke depan.

Ternyata di ruangan itu, di depan meja sembahyang yang sudah porak poranda itu, terjadi kegaduhan dan keributan baru, Liong Bu Kong, dengan pakaian pengantin yang kusut karena tadi dia dibuat jatuh bangun oleh Cia Keng Hong, berdiri dengan muka merah dan mata melotot, bertolak pinggang lalu menudingkan telunjuknya ke arah muka Lie Kong Tek sambil membentak nyaring, “Manusia rendah tak tahu malu! Berani engkau menjual lagak di sini dan membela isteriku?”

Lie Kong Tek mengusap darah dari ujung bibir dan peluh dari dahi dan lehernya. Dia berdiri tegak dan tenang, memandang kepada Liong Bu Kong yang marah-marah itu seperti seorang dewasa memandang seorang kanak-kanak. Memang perawakan pemuda ini tinggi besar sehingga berhadapan dengan dia, Bu Kong kelihatan kurus kecil. Padahal Bu Kong tak dapat dikatakan seorang pemuda yang bertubuh pendek. Pandang mata Lie Kong Tek penuh selidik, karena memang dia sedang menyelidiki pengantin pria yang dinyatakan sebagai seorang penjahat oleh Pendekar Sakti Cia Keng Hong, pemuda yang telah menjatuhkan cinta kasih puteri pendekar itu, hal yang membuat dia ikut pula merasa penasaran dan heran. Kemudian terdengar dia menjawab, suaranya tenang dan halus, “Aku tidak membela isteri siapa pun, melainkan membela seorang gadis yang menerima perlakuan buruk dari ayahnya sendiri.”

Lie Kong Tek meraba benjol di dahinya, diam-diam mencela diri sendiri mengapa mendadak timbul rasa iba yang amat hebat pada diri pengantin puteri sehingga tadi mati-matian dia membelanya. Kini perbuatannya yang tadi memarahkan ayah pengantin wanita, sekarang menimbulkan kemarahan pengantin pria!

“Keparat! Kau hendak mengambil hati isteriku, ya? Engkau hendak mencari muka?” Liong Bu Kong yang merasa cemburu dan marah-marah itu lupa diri, lupa bahwa di situ terdapat banyak sekali tamu dan timbullah wataknya yang kasar dan kotor.

“Saudara pengantin!” Lie Kong Tek membentak, marah melihat betapa pengantin wanita memandang dengan muka pucat. Wajah Giok Keng yang cantik dan pucat itu mengundang rasa ibanya yang luar biasa. “Mengapa kau begini tak tahu malu, mencemarkan nama isteri sendiri?”

“Tutup mulutmu!” Liong Bu Kong yang sudah marah itu menerjang dan mengirim pukulan maut.

“Desss…!” Kong Tek menangkis, akan tetapi dia kalah tenaga sehingga tubuhnya terlempar dan terbanting. Namun dia sudah bangkit berdiri lagi dan memandang dengan penasaran, sedikit pun tidak merasa takut.

“Liong-koko, jangan pukul orang!” Giok Keng berseru ketika melihat Bu Kong sudah menerjang maju lagi.

“Mundurlah, Moi-moi, orang ini harus dihajar sampai mampus!” Bu Kong berseru makin marah karena menganggap, bahwa calon isterinya itu membela pemuda gagah dan ganteng itu.

“Liong-sicu, tidak boleh membikin ribut pada hari baik ini!” Tiba-tiba terdengar suara Thian Hwa Cinjin. “Orang muda itu berniat baik, dan sebagai tamu tidak boleh diperlakukan kasar. Marilah, upacara pernikahan agar dapat dilanjutkan sampai selesai.”

Para pendeta Pek-lian-kauw kini sibuk membereskan meja sembahyang yang sudah kocar-kacir tadi dan suasana menjadi berisik, Giok Keng berdiri dengan muka pucat dan bingung, Bu Kong bersungut-sungut, kadang-kadang melirik marah ke arah Lie Kong Tek yang sudah duduk kembali diantara para tamu. Kun Liong menarik tangan pemuda tinggi besar itu agar duduk di tempat agak belakang, kemudian berbisik-bisik menceritakan dugaan guru pemuda itu yang membuat Kong Tek terkejut sekali dan memandang kepada Kun Liong dengan mata terbelalak lebar.

Meja sembahyang telah dibereskan sekadarnya dan lilin-lilin yang tadi padam telah dipasang. Sepasang pengantin telah disuruh mendekat meja, dan penganten wanita sudah menutupkan lagi kerudungnya. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara nyaring setelah muncul seorang laki-laki berusia empat puluhan tahun yang berdiri di depan rombongan tamu, “Kauwcu (Ketua Agama), harap tahan dulu!”

Thian Hwa Cinjin, para pendeta Pek-lian-kauw, dan sepasang pengantin terkejut dan menengok. Laki-laki itu bersikap gagah, pakaiannya ringkas dan jelas tampak bahwa dia adalah seorang kangouw yang biasa bersikap tegas, jujur, dan menjunjung tinggi kegagahan.

Dengan suara harus dan tenang Thian Hwa Cinjin melangkah maju. “Mengapa Sicu menahan dilakukannya upacara dan apakah kehendak Sicu?”

Laki-laki itu mengangkat kedua tangan di depan dada, sambil menjura dengan hormat. “Saya Phoa Lee It sama sekali bukan berniat mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi karena saya termasuk seorang undangan yang mewakili Go-bi-pai, untuk dijadikan saksi pernikahan ini, maka saya melihat sesuatu yang ganjil dan tidak sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, saya mengusulkan agar upacara ditunda lebih dulu.”

Suasana menjadi berisik. Para tamu saling berbisik, ada yang pro dan ada yang kontra pendapat ini. Ketua Pek-lian-kauw mengerutkan alisnya, akan tetapi suaranya masih halus ketika dia bertanya, “Apakah maksud Phoa-sicu yang mengatakan bahwa ada yang ganjil dan tidak sebagaimana mestinya?”

Phoa Lee It adalah seorang tokoh perguruan Go-bi-pai, seorang yang biarpun tidak amat terkenal di dunia kang-ouw, namun sebagai utusan Go-bi-pai tentu saja memiliki ilmu kepandalan tinggi, maka kini menjadi perhatian semua tamu.

“Kauwcu, ketika kami melihat bahwa pengantin wanita tidak ada yang menjadi walinya, kami sudah merasa heran karena bukankah dikabarkan bahwa pengantin wanita adalah puteri Ketua Cin-ling-pai? Akan tetapi karena tidak ada ketua itu hadir, tadinya kami mengira bahwa perwaliannya dipegang oleh Pek-lian-kauw. Kiranya Ketua Cin-ling-pai muncul dan terjadi keributan antara ayah dan anak. Setelah ayah dari pengantin wanita hadir, upacara ini tentu saja tidak sah kalau tidak disaksikan oleh ayah pengantin wanita itu. Maka saya harap upacara ini ditunda dan ayah pengantin wanita dipersilakan keluar.”

Makin berisikiah para tamu mendengar ini. Tokoh Go-bi-pai itu bernyali besar, berani mengusulkan hal yang merupakan protes dan pencelaan terhadap kebijaksanaan Pek-lian-kauw. Namun, melihat bahwa pendapat itu mengandung ceng-li (aturan), banyak tokoh kang-ouw yang menganggukkan kepala tanda setuju. Tentu saja banyak pula yang tidak setuju, terutama yang pro kepada Pek-lian-kauw. Keadaan makin berisik ketika para tamu saling mengeluarkan pendapat masing-masing dan terjadi perbantahan kecil di antara mereka. Di dalam hatinya, Thian Hwa Cinjin marah sekali, akan tetapi karena menghadapi banyak tamu dan dasar tujuannya adalah untuk menarik sebanyak mungkin orang kang-ouw agar bersahabat dengan Pek-lian-kauw, dia menahan sabar, lalu mengangkat tangan sebagai isyarat agar para tamu suka tenang. Kemudian dia membalik dan menghadapi Phoa Lee It sambil tersenyum.

“Phoa-sicu, kami mengerti akan maksud hati Sicu yang baik. Akan tetapi hendaknya Sicu mengetahui bahwa Pek-lian-kauw melaksanakan upacara pernikahan ini atas permintaan sepasang calon suami isteri yang baru ini menjadi pengantin. Urusan keluarga mereka adalah urusan pribadi, kami sendiri tidak mencampurinya dan tugas kami hanyalah melaksanakan upacara pernikahan. Dan tugas ini akan kami laksanakan juga, apa pun yang terjadi dan kami tidak menghendaki campur tangan pihak luar.”

“Kalau begitu, aku tidak berani mewakili Go-bi-pai menjadi tamu!” Phoa Lee It berseru marah karena dia merasa curiga sekali. Mana mungkin pengantin ditemukan dan dilakukan upacara sembabyang pengantin tanpa persetujuan ayah pengantin wanita?

Tanpa diketahui orang lain, Ketua Pek-lian-kauw sudah memberi isyarat kepada seorang pembantunya. Yang ditunjuknya untuk menanggulangi halangan ini adalah seorang pendeta tua yang tadi hadir di sebelah dalam, tidak tampak dari ruangan tamu. Dia merupakan seorang utusan dari Pek-lian-kauw pusat dan termasuk rombongan para tokoh Pek-lian-kauw yang dipersiapkan untuk menghadapi segala rintangan yang timbul.

Pendeta yang diberi isyarat oleh Thian Hwa Cinjin itu usianya sudah tujuh puluh tahun lebih, pakaiannya sederhana, tangannya memegang sebatang tongkat pendek terbuat dari bambu, gerakannya lambat dan seperti tidak memiliki tenaga, akan tetapi begitu kakinya bergerak, tubuhnya melayang dan sudah menghadang di depan Phoa Lee It dan tongkatnya yang tiga kaki panjangnya itu melintang di depan dada.

Melihat munculnya pendeta ini, para tamu yang mengenalnya menjadi kaget. Pendeta itu adalah seorang tosu yang murtad dan masuk menjadi anggauta Pek-lian-kauw, bahkan merupakan seorang tokoh Pek-lian-kauw yang terkenal kejam terhadap musuh-musuh Pek-lian-kauw, juga terkenal sebagai seorang tosu yang memiliki kepandaian tinggi. Diam-diam dia dijuluki sebagai algojo Pek-lian-kauw karena sudah biasa membunuh orang-orang yang menentang Pek-lian-kauw tanpa mengenal kasihan. Dia bukan lain adalah Loan Khi Tosu!

Di bagian depan cerita ini sudah dituturkan tentang Loan Khi Tosu. Dia adalah seorang tokoh Pek-lian-kauw kawakan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Biarpun dia sudah tua, dan matanya yang kelihatan putih itu lamur semenjak muda, namun tosu tua ini amat lihai dan juga hatinya kejam sekali terhadap musuh-musuh Pek-lian-kauw. Selain lihai ilmu silatnya, juga dia adalah seorang ahli Sai-cu Ho-kang yaitu ilmu menggereng seperti singa yang disertai tenaga khi-kang. Penggunaan Sai-cu Ho-kang itu saja sudah cukup untuk merobohkan lawan yang kurang kuat sin-kangnya. Selain itu, juga dia amat terkenal dengan ilmu pukulan atau ilmu totokan jari tangan beracun yang disebut Pek-tok-ci (Ilmu Jari Tangan Racun Putih), semacam ilmu menotok yang dilakukan oleh jari tangan yang mengandung racun!

Tosu ini sudah menghadang di depan Phoa Lee It tokoh Go-bi-pai, menjura dan berkata sambil tersenyum, “Phoa Sicu dari Go-bi-pai sungguh memandang rendah Pek-lian-kauw! Sebagai tamu, semestinya Sicu tunduk terhadap tuan rumah. Apakah setelah minum arak pengantin Sicu akan dapat menghina kami begitu saja? Kalau begitu, Sicu benar-benar tidak memandang sebelah mata kepada Pek-lian-kauw.”

Phoa Lee It yang sudah merasa penasaran itu menegakkan kepala dan membusungkan dadanya. Dengan tangannya dia memberi isyarat kepada empat orang pengikutnya, yaitu para sutenya, murid-murid Go-bi-pai yang menyertainya, untuk minggir agar dia dapat menghadapi tosu Pek-lian-kauw itu sendiri.

“Memandang rendah atau tidak hanyalah soal penilaian. Kami dari Go-bi-pai tidak memandang rendah siapa pun, akan tetapi juga tidak menghendaki kebebasan kami ada yang menghalanginya.”

“Siancai…! Omongan Phoa-sicu sungguh keras! Kalau memang Go-bi-pai tidak memandang persahabatan dengan Pek-lian-kauw, mengapa Sicu sekalian suka datang menghadiri undangan kami?”

“Karena tadinya Go-bi-pai menganggap bahwa Pek-lian-kauw benar-benar hendak berkeluarga dan bersahabat dengan Cin-ling-pai, maka kami berlima mewakili Go-bi-pai untuk hadir. Akan tetapi, melihat betapa keadaan sesungguhnya tidak demikian yang baru kami ketahui setelah Ketua Cin-ling-pai muncul, kami tidak lagi mau mencampuri urusan ini. Kiranya para tamu yang berpikiran waras pun akan sependirian dengan kami.”

“Ho-ho, Sicu benar-benar bicara besar. Pendeknya, kami sebagai tuan rumah berhak menentukan semua peraturan dan para tamu sudah sepatutnya tunduk kepada peraturan kami. Silakan Sicu berlima duduk kembali dan jangan menimbulkan keributan.” Berkata demikian, Loan Khi Tosu melintangkan tongkatnya seolah-olah hendak menghadang dan mencegah lima orang tokoh Go-bi-pai itu meninggalkan ruangan pesta.

KINI marahlah Phoa Lee It. Dia mengerti akan pendirian para pimpinan Go-bi-pai, yaitu tidak hendak mencampuri urusan Pek-lian-kauw yang terkenal sebagai perkumpulan pemberontak. Kalau tidak sangat terpaksa, tentu dia tidak mau bermusuhan dengan Pek-lian-kauw. Akan tetapi sekarang, melihat betapa dia dan empat orang sutenya hendak diikat kebebasannya, betapa Pek-lian-kauw hendak menghina Go-bi-pai, maka hal ini tentu saja akan ditentangnya mati-matian.

“Loan Khi Tosu, aku mengenal siapa engkau! Akan tetapi, jangan dikira bahwa aku takut kepadamu. Hanya karena kami menjadi utusan Go-bi-pai, kami masih menahan sabar dan tidak hendak mengikatkan Go-bi-pai dengan Pek-lian-kauw. Minggirlah dan biarkan kami pergi.”

“Ha-ha, tidak semudah itu, Phoa Lee It. Pinto juga mengenalmu, dan kebetulan sekali bertemu di sini, pinto sudah lama ingin sekali mencoba betapa lihainya ilmu pedangmu yang membuat kau dijuluki orang Go-bi Kiam-hiap (Pendekar Pedang dari Go-bi).”

“Bagus! Kau menantang? Secara pribadi ataukah atas nama perkumpulan? Kalau atas nama perkumpulan, aku tidak sudi melayani, akan tetapi kalau tantanganmu mengenai pribadi, tentu saja tidak akan kutolak!” jawab Phoa Lee It dengan sikap gagah. Semua tamu menjadi tegang hatinya. Dua orang itu, Loan Khi Tosu dan Phoa Lee It keduanya sudah terkenal sebagai tokoh besar dalam dunia persilatan dan sebagai orang-orang yang amat lihai. Kini mereka saling menantang. Tentu saja hal ini amat menarik hati dan menegangkan.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa dari tempat para tamu dan seorang kakek yang sudah ompong mulutnya tertawa-tawa, kemudian mendengus dan dengan suara sombong sekali berkata, “Totiang, mengapa banyak cakap menghadapi dia ini? Aku mendengar bahwa makin besar julukannya, makin rendahlah kepandaiannya. Kurasa Go-bi Kiam-hiap ini belum tentu benar-benar mampu mainkan Ilmu Pedang Go-bi Kiam-sut. Heh-heh-heh!” Kakek itu mengurut-urut kumisnya dan semua orang memandang dengan alis berkerut. Mereka itu sebagian besar mengenal kakek ini, seorang tokoh dunia hitam yang tentu saja sejak lama menjadi sahabat Pek-lian-kauw. Dia berjuluk Hwa I Lojin (Kakek Baju Kembang) karena memang pakaiannya selalu rapi dan terbuat dari kain berkembang. Kakek yang usianya enam puluh tahun ini pesolek sekali selain pakaiannya rapi dan baru dengan kembang-kembang berwarna mencolok, juga kumis dan jenggotnya terpelihara rapi dan rambutnya selalu mengkilap oleh minyak! Kiranya kakek yang tua badannya ini masih muda hatinya! Karena kakek ini selalu berlagak sombong, biarpun dia terkenal lihai sebagai seorang ahli pedang yang jarang bertemu tanding, maka para tamu memandangnya dengan hati tak senang. Akan tetapi karena maklum akan kelihaiannya, tidak ada yang berani memperlihatkan ketidaksenangan hatinya secara berterang.

Phoa Lee It tahu siapa kakek yang menghinanya itu, akan tetapi karena yang berhadapan dengan dia adalah Loan Khi Tosu, dia tidak mempedulikan dan berkata lagi kepada Loan Khi Tosu, “Kalau tantanganmu bersifat pribadi, nah, aku telah siap!” Berkata demikian, orang gagah ini mengisyaratkan para sutenya untuk mundur sedangkan dia sendiri berdiri tegak dengan jari-jari tangan meraba gagang pedangnya yang tergantung di punggung.

“Bagus! Majulah dan tantangan pinto ini biarpun ada hubungannya dengan peraturan Pek-lian-kauw sebagai tuan rumah, biarlah kutujukan sebagai tantangan pribadi, disaksikan oleh para tamu yang hadir sebagai pi-bu (adu silat) yang adil.”

“Singgg…!” Phoa Lee It sudah mencabut pedangnya dan gerakannya memang tangkas sekali. Pedang itu berkilauan dan sedikit pun tidak bergerak berada di tangannya yang tetap kuat. “Jaga seranganku, Totiang!”

“Wirrr… takkk… tringgg…!”

Dua orang itu masing-masing meloncat mundur dan memeriksa senjata masing-masing. Pertentuan tongkat dengan pedang tadi membuat telapak tangan mereka terasa panas dan tergetar, tanda bahwa kckuatan mereka berimbang. Mereka saling pandang, menggeser kaki lalu keduanya menerjang maju. Terjadilah pertandingan yang seru dan hebat. Bentakan-bentakan mereka diseling suara bertemunya tongkat dan pedang. Setelah lewat lima puluh jurus, diam-diam Loan Khi Tosu harus mengakui kehebatan Ilmu Pedang Go-bi Kiam-sut yang dimainkan oleh Phoa Lee It. Ilmu pedang itu memiliki dasar pertahanan yang amat kuat, membuat tongkatnya sama sekali tidak mampu mendekati tubuh lawan, bahkan kadang-kadang sinar pedang mencuat dan nyawanya terancam.

“Hyaaaaahhhh…!” Tiba-tiba tosu itu memekik, menangkis pedang dan mengerahkan sin-kang untuk membuat pedang melekat kepada tongkatnya, kemudian tangan kirinya melancarkan totokan ke tubuh lawan dengan Ilmu Totok Pek-tok-ci!

“Heiiittt…!” Phoa Lee It juga memekik, pedangnya diputar sehingga terlepas dari lekatan, tubuhnya miring mengelak dari totokan dan sekali pedangnya berkelebat, sinar pedang menyambar ke arah lengan kiri lawan.

“Aahhhh…!” Loan Khi Tosu meloncat mundur dan memutar tongkatnya.

“Trang-trang…!”

Keduanya meloncat mundur lagi karena pertemuan tongkat dengan pedang sedemikian hebatnya, membuat keduanya terhuyung. Akan tetapi Loan Khi Tosu sudah menempelkan ujung tongkat bambu ke mulut dan melihat ini, Phoa Lee It memutar pedangnya yang berubah menjadi sinar bergulung-gulung melindungi seluruh tubuhnya. Belasan batang jarum yang ditiupkan melalui tongkat bambu yang dipergunakan sebagai tulup (senjata peniup) itu terpukul runtuh oleh sinar pedang, dan Phoa Lee It sudah menyerbu kepada lawannya. Pedangnya digerakkan makin gencar dan kecepatannya tidak dapat diatasi olch lawan yang terdesak dan terus mundur-mundur.

“Tranggg… krekk!”

Loan Khi Tosu berseru kaget dan meloncat jauh ke belakang. Tongkatnya tinggal sejengkal saja di tangannya karena sudah patah, dan lengan bajunya yang sebelah kanan robek, tampak kulitnya berdarah sedikit karena kulit itu sudah tercium pedang! Biarpun tidak roboh, jelas sudah disaksikan oleh para tamu bahwa dalam pi-bu itu, Loan Khi Tosu telah dikalahkan oleh Phoa Lee It, jago dari Go-bi-pai itu. Empat orang sute dari Phoa Lee It bertepuk tangan dan bersorak, dan perbuatan ini segera diikuti oleh sebagian dari para tamu yang diam-diam berpihak kepada Go-bi-pai.

“Ha-ha-ha, Loan Khi Tosu benar-benar tidak dapat meninggalkan watak pendeta yang selalu mengalah!” Tiba-tiba Hwa I Lojin meloncat ke depan, mengebut-ngebutkan baju kembangnya dengan lagak angkuh. “Kalau Loan Khi Tosu tadi tidak mengalah, tentu saja dengan mudah dapat menjatuhkan Phoa Lee It karena ternyata bocah ini sama sekali belum becus mainkan Ilmu Pedang Go-bi Kiam-sut, hanya ngawur saja!”

Ucapan ini takabur dan menghina bukan main sehingga empat orang sute dari Phoa Lee It sudah mencabut pedang masing-masing dan meloncat maju hendak menyerang.

“Sute mundur…!” Phoa Lee It membentak empat orang itu yang terpaksa mundur lagi sambil menyimpan pedang masing-masing.

“Ha-ha-ha-ha, mengapa mundur? Phoa Lee It, coba kaupamerkan ilmu pedangmu yang rendah itu, boleh kau dibantu oleh empat orang sutemu, biar agak seimbang. Aku akan menghadapimu dengan tangan kosong saja. Ilmu pedangmu masih kosong, tanpa isi, kalau tadi Loan Khi Tosu tidak mengalah, dalam beberapa jurus saja kau tentu kalah!”

Phoa Lee It melangkah maju, mukanya merah sekali. Karena penghinaan atas dirinya sebagai utusan Go-bi-pai merupakan penghinaan yang dilontarkan pula kepada Go-bi-pai, maka dia berkata lantang, “Hwa I Lojin, engkau adalah seorang tua yang tidak patut dihormat oleh yang lebih muda! Aku tahu mengapa engkau berlagak seperti sekarang ini. Karena engkau pemah dikalahkan oleh suhuku, dan karena tidak berani membalas kepada Suhu, maka kini engkau hendak menebus rasa malu itu dengan berlagak di depanku. Akan tetapi jangan disangka aku takut menghadapi lagakmu!”

Muka kakek itu berubah menjadi merah sekali. Dia merasa terpukul dan karena apa yang diucapkan oleh Phoa Lee It itu memang kenyataan, dia tidak mampu membantah. Memang, setahun yang lalu dia telah roboh dalam pertandingan melawan Kauw Kong Hwesio, guru jago Go-bi-pai itu. Sebetulnya, mengingat bahwa Kauw Kong Hwesio adalah tokoh ke dua di Go-bi-pai, kekalahan itu tidaklah amat memalukan. Akan tetapi dasar watak Hwa I Lojin amat tinggi hati, kekalahannya itu membuat hatinya penasaran dan mendendam. Diam-diam dia memperdalam ilmu pedangnya, dan diam-diam dia mempelajari ilmu Pedang Go-bi Kiam-sut untuk mencari tahu kelemahan ilmu pedang ini. Namun, karena maklum akan kelihaian Kauw Kong Hwesio, dia tidak berani sembrono membalas dendamnya dan kini, di Pek-lian-kauw, bertemu dengan murid-murid musuhnya itu, tentu saja dia memperoleh kesempatan untuk melampiaskan kemendongkolan hatinya dan membalas kekalahannya.

Dapat dibayangkan betapa marahnya ketika ternyata Phoa Lee It telah tahu akan kekalahannya itu dan menghinanya di depan orang banyak. “Phoa Lee It, manusia sombong!” Bentaknya dan tangan kanannya bergerak cepat meraba punggung, tampak sinar berkelebat dan dia sudah mencabut pedangnya. “Majulah dan aku akan membuktikan bahwa ilmu Pedang Go-bi Kiam-sut hanyalah kosong belaka. Lihat, dengan pedangku ini aku akan melucutimu tanpa melukaimu, jangan kau

takut kalau terluka, ha-ha!”

Phoa Lee It yang masih memegang pedangnya itu sudah melangkah maju. “Orang Go-bi-pai tidak pernah takut mati atau terluka. Kalau kau menantang, majulah, Hwa I Lojin!”

“Ha-ha, seranglah. Majulah dan jaga baik-baik. Aku akan merampas pedangmu dan mematahkannya seperti sebatang lidi!” kakek itu mengejek.

Phoa Lee It maklum bahwa biarpun sombong, Kakek Baju Kembang ini memiliki ilmu pedang yang lihai, maka dia tidak mau bersikap sungkan lagi, terus saja dia menerjang dengan dahsyat, menggunakan jurus pilihan. Hwa I Lojin menyambut sambil tertawa. “Ha-ha, inikah jurusmu yang terlihai? Aih, tidak seberapa!” Kakek itu menggerakkan pedangnya menangkis dan begitu dua batang pedang bertemu dia membuat gerakan memutar sambil mengerahkan sin-kangnya. Phoa Lee It terkejut bukan main karena pedangnya melekat dan terbawa oleh putaran pedang lawan. Betapa pun dia mempertahankan, dia kalah tenaga dan pedangnya terus berputar sampai akhirnya dengan bentakan nyaring, kakek itu membuat gerakan membetot secara mendadak dan Phoa Lee It berteriak kaget, pedangnya terlempar ke atas! Hwa I Lojin menyambar pedang lawan itu dengan tangan kirinya, sambil tertawa ha-ha-he-he menekuk pedang itu di lututnya.

“Pletakkkk!” Pedang patah menjadi dua dan tiba-tiba menyambitkan patahan pedang ke arah Phoa Lee It.

Pada saat itu, tampak dua sinar kecil menyambar dan dua batang patahan pedang disambar runtuh. Sebelum Hwa I Lojin dapat mencari siapa penolong lawannya ini, tahu-tahu dari rombongan tamu keluar dua orang pemuda, keduanya memegang sebatang kayu kurang lebih satu meter panjangnya dan mereka seperti berkejaran menghadang di antara Phoa Lee It dan Hwa I Lojin. Phoa Lee It maklum bahwa ada dua orang yang diam-diam menolongnya, menghela napas panjang mengingat akan kelihaian Hwa I Lojin, lalu melangkah mundur mendekati para sutenya. Sementara itu, semua orang tertarik memandang dua orang pemuda yang berkejaran itu. Mereka ini bukan lain adalah Kun Liong dan Kong Tek.

Tadi ketika Lie Kong Tek berani membela pengantin wanita dari kemarahan ayahnya, pemuda tinggi besar dan gagah ini sudah menarik perhatian banyak orang. Kini melihat dia muncul lagi dan mengejar-ngejar seorang pemuda tampan lain yang cukup aneh, pemuda yang rambut kepalanya pendek dan awut-awutan, tentu saja semua tamu menjadi terheran-heran dan semua mata memandang penuh perhatian. Yang menarik hati mereka adalah sikap pemuda rambut pendek yang dikejar-kejar, karena sikapnya mengejek dan jelas sekali meniru lagak Hwa I Lojin!

“Ha-ha, majulah dan aku akan membuktikan bahwa ilmu pedangmu hanya kosong belaka. Lihat, dengan pedangku ini aku akan melucutimu tanpa melukaimu, jangan kau takut kalau terluka, ha-ha!” kata Kun Liong sambil berdiri dengan lagak presis seperti lagak Hwa I Lojin ketika menantang Phoa Lee It tadi! Kong Tek yang sudah dibisiki oleh Kun Liong untuk melakukan sandiwara mengejek Hwa I Lojin dan memancing perhatian orang agar Hong Khi Hoatsu dapat bekerja dengan leluasa di sebelah dalam, segera menanggapi dan menjawab, “Seorang gagah tidak takut mati, tidak seperti engkau!”

“Aku sih bukan orang gagah, kalau untuk mati nanti dulu, akan tetapi ilmu pedangku tiada bandingannya di kolong langit. Majulah!” Dengan lagak dibuat-buat Kun Liong menantang.

“Awas… haiiiittt!” Kong Tek menyerang dengan pedang kayunya, persis lagak seorang badut.

“Hyaaaahhhh, lihat ilmu pedangku Monyet Tua Mabuk Madat!” Kun Liong berteriak sambil menangkis, lagaknya persis seperti yang dilakukan Hwa I Lojin tadi. Melihat ini, banyak tamu tertawa terpingkal-pingkal, apalagi ketika dua orang pemuda itu sudah “bertanding” dengan lagak dibuat-buat. Siapa tidak akan tertawa melihat Kong Tek menyerang dengan gerakan lambat sekali sehingga tentu saja amat mudah dielakkan, kemudian melihat Kun Liong membalas dengan gerakan pedang kayu itu perlahan-lahan “menempel” pedang lawan, lalu sambil berteriak nyaring dia memutar-mutar kayu di tangannya. Kong Tek membiarkan rating di tangannya ikut berputar-putar, kemudian melepaskan ranting yang terlempar ke atas. Kun Liong meniru gerakan Hwa I Lojin tadi, menyambar kayu itu, lalu mematahkannya di atas lututnya!

“Pletakkkk!” Kayu itu patah menjadi dua dan seperti gerakan Hwa I Lojin tadi, Kun Liong melemparkan patahan kayu. Seperti dua batang anak panah, dua potong kayu itu meluncur ke arah… meja sembahyang dan tosu Pek-lian-kauw yang baru saja menyalakan lilin melongo terkejut karena tiba-tiba dua batang lilin yang dinyalakannya itu padam dan patah-patah!

Keadaan menjadi gaduh dan kacau. Liong Bu Kong dan Cia Giok Keng yang tadinya dibujuk oleh Thian Hwa Cinjin untuk melakukan upacara sembahyang, kini bangkit berdiri dan memandang ke arah Kun Liong dan Kong Tek. Akan tetapi mereka tidak dapat mengenal Kun Liong yang kini sudah berambut kepalanya dan sepasang calon mempelai itu memandang marah karena mengangap bahwa dua orang pemuda itu sengaja hendak mengacau pesta pernikahan mereka. Juga Ketua Pek-lian-kauw memandang penuh curiga, alisnya berkerut dan sepasang matanya yang mengeluarkan sinar aneh berpengaruh itu memandang penuh selidik. Banyak para tamu yang tertawa geli menyaksikan lagak Kun Liong dan diam-diam mereka merasa puas bahwa Hwa I Lojin yang bersikap sombong dan tidak mereka suka itu sekali ini dipermainkan orang, sungguhpun mereka merasa khawatir juga bahwa tentu kakek itu akan turun tangan dan akan celakalah dua orang pemuda yang main-main itu.

Dan memang Hwa I Lojin sudah memandang dengan muka merah dan mata mendelik ke arah Kun Liong. Tadinya, ketika melihat dua orang muda itu muncul dan berlagak, dia mundur dan berdiri di pinggir sambil ikut menonton, mengira bahwa mereka memang hendak bertanding silat dan sengaja hendak menggembirakan pesta pernikahan. Akan tetapi ketika melihat lagak Kun Liong yang jelas dibuat-buat, sengaja meniru gerakan-gerakannya tadi, mukanya menjadi pucat saking marahnya dan kini dia memandang dengan mata mendelik seolah-olah hendak menelan pemuda itu bulat-bulat! Melihat betapa semua tamu, juga Ketua Pek-lian-kauw dan sepasang mempelai memperhatikan, Hwa I Lojin merasa makin malu dan terhina. Tahulah dia bahwa dua orang pemuda itu sengaja mempermainkannya.

“Jahanam keparat!” gerutunya sambil melangkah maju.

Kun Liong pura-pura tidak melihat kakek ini dan dengan memutar-mutar pedang kayunya seperti lagak Hwa I Lojin setelah tadi menang bertanding, dia melintangkan pedang itu dengan gerakan aksi di depan dada sambil membusungkan dadanya dan berkata, “Siapa bilang aku si tua bangka tidak hebat? Siapa bilang aku pernah dikalahkan seorang ketua? Ha-ha, selain lihai, akulah si manusia sombong, tua bangka yang suka berlagak, ha-ha-ha!”

“Mampuslah!”

Kun Liong cepat miringkan tubuhnya ketika ada hawa hangat menyambar dari samping, dan pukulan Hwa I Lojin meleset, mengenai angin.

“Tokk!” Pedang di tangan Kun Liong sudah menyambar keras dan dari samping sudah memukul tulang lengan Hwa I Lojin. Kakek itu menggigit bibir menahan seruan kesakitan, menggosok-gosok lengan yang terpukul, lalu menyerang lagi sambit membentak, “Bangsat keparat!”

Kun Liong pura-pura kaget dan seperti baru melihat bahwa ada orang mengamuk dan menyerangnya. Dia cepat meloncat ke belakang dan berseru, “Eih-eihhh…! Kenapa kau tua bangka marah-marah?”

Semua orang menahan senyum. Biarpun mereka merasa khawatir sekali, mereka juga merasa geli menyaksikan sikap pemuda tampan itu yang jelas sengaja mempermainkan kakek pesolek itu. Betapa beraninya pemuda ini, pikir mereka. Hwa I Lojin makin marah. Tadinya dia ingin memaksa pemuda itu mengaku nama dan mengapa memusuhinya, akan tetapi kemarahan membuat dia tidak sabar lagi dan ingin lekas-lekas merobohkan pemuda kurang ajar ini. Dia menerjang lagi dengan tangan kosong, menghantam bertubi-tubi dengan kedua tangannya sambil mengerahkan sin-kangnya.

“Wuuut-wuuuttt… wirrr… takkkk! Dess…!”

Orang-orang bersorak gembira. Memang lucu sekali. Kun Liong yang diserang kalang kabut itu kelihatan terdesak, lari sana-sini, meloncat kacau ke kanan kiri, tongkatnya atau pedang kayunya bergerak tidak karuan, akan tetapi akibatnya, dahi Hwa I Lojin kena pukul sampal menjendol dan punggungnya kena gebuk satu kali, cukup keras sehingga debu mengebul dari punggung baju!

“Kun-hoat (ilmu silat tangan kosong) bagus! Kun-hoat bagus.” Kun Liong berseru memuji-muji. Jelas bahwa pujian ini merupakan ejekan. Ilmu silat tangan kosong yang dimainkan Hwa I Lojin sama sekali tidak berhasil memukulnya, bahkan dalam segebrakan saja kakek itu telah dihadiahi kemplangan di kepala satu kali dan gebukan pada punggung satu kali, mana bisa disebut kun-hoat bagus?

Dalam kemarahannya yang meluap-luap, Hwa I Lojin juga terkejut. Pemuda itu biarpun gerakannya kacau balau seperti seekor monyet menari, namun sudah jelas semua pukulannya meleset, bahkan secara aneh dia telah dihajar dengan tongkat!

Sesungguhnya tidaklah mengherankan kalau kakek itu dengan mudah dihajar oleh Kun Liong. Memang harus diakui bahwa Hwa I Lojin telah memiliki ilmu silat yang tinggi. Akan tetapi, seperti halnya dalam ilmu ketangkasan apapun juga, jika berhadapan dengan lawan yang tingkatnya lebih tinggi, maka semua ilmunya menjadi tidak ada artinya karena dia kalah cepat, kalah tenaga, dan kalah lihai. Kun Liong sekarang telah menjadi seorang yang sukar diukur sampai di mana tingginya tingkat ilmu kepandaiannya, maka dengan mudah dia mempermainkan Hwa I Lojin.

“Srattt… singgg…!”

Hwa I Lojin yang marah sekali kini telah mencabut pedangnya dan tanpa membuang waktu lagi dia telah menggerakkan pedang menyerang Kun Liong dengan ganas sekali. Terdengar suara berdesing-desing dan pedang di tangannya berubah menjadi segulung sinar terang yang menyambar-nyambar ke arah Kun Liong.

Kun Liong melihat datangnya serangan pedang, cepat menghindarkan diri dengan mengelak cepat ke kanan kiri, meloncat ke depan belakang, menangkis dengan rantingnya sambil berseru, “Kiam-hoat (ilmu pedang) bagus…! Kiam-hoat

bagus…!” Akan tetapi seruannya ini bernada mengejek dan tiba-tiba dia menggetarkan kayu di tangannya, menangkis pedang sambil mengerahkan sin-kang istimewa yang dahulu dia latih dari Bun Hwat Tosu sehingga pedang lawan itu melekat pada rantingnya dan tak dapat dilepaskan kembali. Selagi lawannya terkejut, dia telah menggerakkan ranting itu, diputar-putar seperti gerakan Hwa I Lojin ketika merampas pedang di tangan Phoa Lee It tadi. Dapat dibayangkan betapa kaget dan heran rasa Hwa I Lojin ketika tanpa dapat dia tahan lagi, pedangnya ikut terbawa oleh putaran ranting, makin lama makin cepat. Dia telah mencoba untuk mempertahankan pedangnya dengan mengerahkan sin-kang pada tangan kanan, namun makin lama gerakan memutar itu makin kuat sehingga dia maklum bahwa tidak mungkin lagi dia mempertahankan pedangnya. Terkejutlah kakek ini dan kini maklumlah dia bahwa ternyata pemuda ugal-ugalan itu memiliki ilmu kepandaian yang hebat sekali. Untuk menjaga gengsinya, dia tidak mau menyerah kalah begitu saja dan tiba-tiba tangan kirinya dengan jari terbuka menotok ke arah lambung lawan.

“Dukkk!”

Hwa I Lojin makin kaget. Totokannya bertemu dengan daging kenyal yang ulet dan kuat seperti karet! Dan pada saat itu, tangan kiri pemuda yang menjadi lawannya juga bergerak cepat dua kali dan Hwa I Lojin merasa betapa kaki dan tangannya tak dapat digerakkannya lagi. Dia telah tertotok lumpuh! Pada saat yang sama, pedangnya telah terampas, terlepas dari pegangannya dan menghunjam ke atas tanah, kemudian tiba-tiba pemuda itu menendang dan… tubuhnya yang sudah tak mampu bergerak itu terlempar jauh ke belakang.

“Jadilah kau toapek-kong di meja sembahyang itu!” Kun Liong berseru sambil menendang dan tubuh kakek itu mencelat ke arah meja sembahyang di mana atas anjuran Ketua Pek-lian-kauw, sepasang mempelai sudah berlutut dan hendak melakukan upacara sembahyang tanpa mempedulikan pertempuran!

“Bresss…! Braaakkkk…!”

Meja sembahyang ringsek dan tubuh Hwa I Lojin terbanting di atas meja, terlentang dan mukanya berlepotan kuwah masakan, matanya terbelalak dan mulutnya terbuka lebar. Biarpun ilmu kepandaian Kun Liong amat mengejutkan orang, namun peristiwa itu kelihatan lucu sehingga terdengar suara ketawa di sana-sini mentertawakan Hwa I Lojin.

Karena untuk beberapa kali meja sembahyang terganggu, Liong Bu Kong dan Cia Ciok Keng menjadi marah sekali. Terutama sekali Liong Bu Kong yang merasa bahwa upacara sembahyang yang akan mengesahkan pernikahannya dengan Giok Keng selalu terhalang. Sambil berseru keras tubuhnya mencelat ke arah Kun Liong dan tanpa banyak cakap lagi tangannya menampar ke arah pelipis Kun Liong. Sebuah tamparan yang amat keras dan mengandung tenaga sin-kang yang akan dapat membikin pecah kepala orang yang ditampar.

“Plak-plak-plak!” Tiga kali Kun Liong menangkis pukulan bertubi-tubi itu dan yang ketiga kalinya dia sengaja mengerahkan tenaga sehingga Bu Kong hampir terpelanting. Bu Kong terkejut sekali. Tak disangkanya pengacau muda ini lihai bukan main. Namun dia tidak menjadi takut dan sudah menerjang lagi dengan pukulan yang lebih dahsyat lagi.

“Orang jahat, berani engkau mengganggu kami?”

Bentakan ini keluar dari mulut Giok Keng yang sudah ikut menerjang maju dan menyerang Kun Liong. Melihat Giok Keng menyerangnya, Kun Liong yang sedang menghadapi Bu Kong terkejut. Pundaknya terpukul dan dia terpelanting, namun dapat meloncat bangun kembali. Kakinya menyambar ujung kaki menotok lutut Bu Kong dan selagi Bu Kong hampir roboh, dia sudah mendorong dengan telapak tangannya, membuat Bu Kong terlempar dan terbanting ke atas tanah.

“Giok Keng…!” Kun Liong menegur, suaranya memperingatkan. Namun Giok Keng yang berada dalam pengaruh obat, tidak mengenalnya dan menganggap bahwa pemanggilan namanya itu merupakan kekurangajaran. Apalagi melihat betapa Bu Kong terpukul sampai terjengkang, dia menjadi makin marah. Sambil berseru keras Giok Keng memukul lagi. Kun Liong menggerakkan kedua tangannya, menangkap kedua pirgelangan tangan dara itu sambil berbisik, “Giok Keng…!”

Pada saat itu, lima orang tosu Pek-lian-kauw sudah datang dan menerjang Kun Liong dengan senjata tongkat di tangan. Mereka adalah pembantu-pembantu yang disuruh oleh Ketua Pek-lian-kauw untuk turun tangan menangkap pemuda pengacau itu. Lie Kong Tek berteriak keras, meloncat dan menyambut mereka dengan pukulan dan tendangan. Melihat ini, pihak tamu menjadi ribut dan mereka terpecah menjadi dua bagian, ada yang menentang dan ada pula yang membantu Pek-lian-kauw sehingga tempat pesta itu segera berubah menjadi medan pertempuran yang kacau balau! Kesempatan ini tentu saja dipergunakan oleh mereka yang memang sudah saling bermusuhan dan saling mendendam, untuk melampiaskan kebencian mereka dan untuk saling serang. Akan tetapi sebagian besar dari para tamu, tidak mau mencampuri pertempuran itu, hanya mundur dan menonton di pinggiran, bahkan yang tidak mau terlibat, diam-diam telah meninggalkan tempat itu.

Sementara itu, di sebelah dalam bangunan juga terjadi hal yang luar biasa. Ketika Pendekar Sakti Cia Keng Hong dalam keadaan pingsan digotong ke dalam, para tosu Pek-lian-kauw lalu merebahkannya di atas pembaringan. Mereka telah menerima tugas dari ketua mereka dan tahu apa yang harus mereka lakukan terhadap pendekar yang berbahaya itu. Maka begitu merebahkan tubuh Cia Keng Hong di atas pembaringan, seorang siap untuk menotok jalan darah membuat lumpuh, ada yang siap dengan belenggu, dan ada pula yang sudah mengeluarkan obat cair untuk dicekokkan kepada pendekar itu, yaitu obat racun perampas ingatan.

Tiba-tiba terdengar bentakan dari luar. “Tahan dulu…!”

Empat orang tosu tua itu terkejut dan menengok. Ketika mereka melihat seorang kakek yang pakaiannya kedodoran, celananya kotak-kotak, bajunya kembang, kepalanya ditutup kopyah bayi, mereka terkejut dan siap untuk menyerang. Akan tetapi, kakek itu mengangkat tangan kanannya ke atas dan terdengar suaranya penuh wibawa, “Tolol, apa kalian tidak mengenal ketua kalian sendiri? Aku adalah Thian Hwa Cinjin…!”

Sungguh aneh sekali. Tiba-tiba saja penglihatan empat orang tosu tua itu berubah dan cepat mereka menjura kepada kakek itu yang kini kelihatan seperti ketua mereka! Padahal kakek itu sebenarnya adalah Hong Khi Hoatsu yang telah mempergunakan hoat-sut yang amat kuat untuk mempengaruhi orang-orang Pek-lian-kauw dan menolong Cia Keng Hong.

“Keluarlah kalian berempat biarkan aku berdua dengan Cia-taihiap,” kembali Hong Khi Hoatsu berkata keren. Empat orang tosu itu mengangguk, tanpa berkata sesuatu seperti dalam mimpi mereka lalu melangkah keluar dari dalam kamar.

Memang hebat sekali kekuatan sihir dari Ketua Pek-lian-kauw ini. Suaranya mengandung getaran yang amat kuat sehingga otomatis semua tamu, termasuk Phoa Lee It dan para sutenya, menahan senjata dan melompat mundur, tidak kuat melawan perintah yang terkandung dalam ucapan yang menyusul lengking nyaring itu. Bahkan para tokoh Go-bi-pai itu dan para tamu lain, juga Kun Liong dan Kong Tek, selain menahan gerakan pertempuran, juga sudah menjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah kakek yang bertongkat hitam itu!

Sambil tertawa Thian Hwa Cinjin sekarang berjalan menghampiri Kun Liong dan Kong Tek, sepasang matanya mengeluarkan sinar buas. Hatinya marah sekali karena dianggapnya dua orang muda inilah yang menimbulkan kekacauan, yang menjadi biang keladi pertempuran yang merubah suasana pesta pernikahan menjadi gelanggang pertempuran itu.

“Orang-orang muda yang bosan hidup!” bentaknya setelah dia berada di depan dua orang pemuda yang masih berlutut itu. “Kalian telah melakukan dosa besar terhadap Pek-lian-kauw, karena itu terimalah hukuman dari kami!” Sambil berkata demikian, kakek ini sudah mengangkat tongkat hitamnya ke atas, siap untuk dihantamkan ke arah kepala dua orang pemuda itu. Tentu saja hantaman seorang yang lihai seperti Thian Hwa Cinjin, dengan tongkat yang diarahkan ke kepala, akan menimbulkan maut.

Tiba-tiba kedua orang pemuda itu bergerak. Mula-mula Lie Kong Tek yang bergerak dan dari bawah, pemuda tinggi besar ini sudah menggerakkan kakinya menendang ke arah kedua lutut kaki Thian Hwa Cinjin! Adapun Kun Liong sambil tertawa juga bangkit dan tangannya mencengkeram ke arah tenggorokan Ketua Pek-lian-kauw itu.

Tentu saja Thian Hwa Cinjin menjadi kaget bukan main. Mereka berdua itu, seperti semua tamu, telah dipengaruhi kekuatan sihirnya, mengapa mercka berdua tahu-tahu dapat melawan? Sesungguhnya tidaklah demikian, sebelum meninggalkan kedua orang pemuda itu, Hong Khi Hoatsu telah meninggalkan “bekal” kepada mereka, yaitu cara-cara menolak pengaruh sihir sehingga ketika tadi Thian Hwa Cinjin mengeluarkan suara melengking nyaring, Kong Tek dan Kun Liong sudah “menutup” perhatian mereka dan menggunakan sin-kang untuk menolak seperti yang diajarkan oleh Hong Khi Hoatsu. Akan tetapi, untuk mengelabuhi mata Thian Hwa Cinjin, mereka berdua ikut-ikut berlutut seperti orang lain. Ketika melihat kakek itu mendekati mereka dan jelas hendak melakukan serangan maut, mereka tentu saja segera bergerak dan mendahului menyerang kakek itu.

Thian Hwa Cinjin selain lihai ilmu sihirnya, juga memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi tingkatnya. Tentu saja diserang oleh Kong Tek seperti itu, dia dengan mudah dapat meloncat dan menghindarkan tendangan dahsyat itu. Yang membuat dia terkejut adalah gerakan Kun Liong. Tak disangka-sangkanya bahwa pemuda itu dapat menyerang dehgan gerakan secepat itu. Dia sudah mengelak dengan menarik tubuh atasnya ke belakang, namun sungguh di luar dugaannya, jari-jari tangan pemuda itu masih berhasil mencengkeram ujung jenggotnya yang panjang dan dipelihara baik-baik itu. Dia berteriak kesakitan ketika ujung jenggot itu dibetot dan putus!

Sementara itu, Giok Keng yang dipeluk ayahnya ternyata sudah sadar dan tiba-tiba dia merenggutkan diri dari pelukan ayahnya dan bertainya, “Mana dia? Mana si jahanam keparat Liong Bu Kong itu?”

Tentu saja Cia Keng Hong terkejut dan girang melihat sikap puterinya yang tiba-tiba membalik dan memaki pemuda yang tak disukanya itu. “Apa maksudmu?” tanyanya.

“Ayah, dia si keparat laknat itu, dia telah menipuku! Aku harus membunuhnya! Ayah bagaimana aku bisa memakai pakaian keparat ini?” Dia merenggutkan hiasan kepala dan jubah pengantinnya, mencabut pedangnya dan begitu dia melihat Liong Bu Kong lalu dia meloncat dan memaki, “Bangsat hina dina, hari ini engkau mampus di tanganku!”

Melihat puterinya menyerang kalang kabut kepada pemuda yang masih berpakaian pengantin itu, Keng Hong terbelalak. Hatinya bersukur bahwa akhirnya puterinya terbuka matanya dan dapat melihat bahwa pilhan hatinya itu adalah keliru sama sekali, dapat melihat bahwa pemuda putera Ketua Kwi-eng-pang itu bukanlah manusia baik-baik seperti yang telah diketahuinya. Karena dia merasa yakin bahwa puterinya akan dapat menandingi pemuda itu, Keng Hong lalu mencari-cari dengan pandang matanya. Dan pada saat itu dia melihat orang yang dicarinya, yang dianggap menjadi biang keladi sehingga hampir saja puterinya menikah di bawah pengaruh sihir dengan Liong Bu Kong, yaitu Ketua Pek-lian-kauw, Thian Hwa Cinjin! Pada saat itu, dia melihat betapa seorang pemuda berambut pendek yang dia segera kenal sebagai Yap Kun Liong yang dahulu gundul itu, telah menyerang Thian Hwa Cinjin dan berhasil menarik putus sebagian jenggotnya. Akan tetapi kagetlah hati Keng Hong ketika tiba-tiba kakek itu mendorongkan kedua tangannya ke depan dan membentak, “Orang muda, berlututlah engkau! Berlutut…!”

Bagaikan lumpuh seketika kedua kakinya, Kun Liong berlutut! Biarpun dia telah memperoleh “bekal” dari Hong Khi

Hoatsu untuk menolak pengaruh sihir, namun kekuatan sihir yang langsung diterimanya dan menyerang dirinya melalui gerakan kedua telapak tangan, suara dan pandang mata Ketua Pek-lian-kauw itu terlalu berat bagi Kun Liong sehingga dia tidak dapat mempertahankan dirinya dan sudah jatuh berlutut tanpa daya sama sekali. Lie Kong Tek yang tidak langsung terserang ilmu sihir itu, hanya terbelalak memandang karena dia melihat kakek itu berubah menjadi seorang raksasa yang tiga kali manusia biasa besar dan tingginya! Namun, ketabahan pemuda ini memang amat luar biasa. Biarpun ada rasa ngeri di hatinya, namun melihat temannya berlutut dan tidak berdaya, dia sudah menerjang ke depan dengan pukulan kanannya mengarah pusar Ketua Pek-lian-kauw yang di dalam pandang matanya berubah menjadi raksasa itu.

“Plakkk… dess!” Tubuh Kong Tek terlempar dan terguling-guling ketika sebuah tendangan kilat menyambutnya. Dadanya yang terkena tendangan terasa sesak dan untuk beberapa lama pemuda itu tidak mampu bangkit berdiri, hanya bangun duduk dan mengelus dadanya sambil mengatur pernapasan.

“Wuuuuttt… bukkk!” Thian Hwa Cinjin sudah berusaha mengelak, namun tetap saja ujung kaki Cia Keng Hong menyentuh pundaknya, membuat dia terhuyung ke belakang. Serangan Keng Hong yang dahsyat ini, yang dilakukan dengan tubuh melayang dari jauh, telah menyelamatkan Kun Liong karena pada saat itu, Thian Hwa Cinjin sudah mengangkat tongkatnya hendak memukul kepala Kun Liong.

Melihat majunya pendekar sakti ini, terkejutlah Thian Hwa Cinjin. Dia sudah lama mendengar akan kelihaian Cia Keng

Hong Ketua Cin-ling-pai, maka cepat dia mengerahkan ilmu sihirnya, mengangkat tongkatnya dan berseru, “Cia Keng Hong,

berani kau melawan? Hadapilah ular saktiku ini!”

Keng Hong meloncat ke belakang, matanya terbelalak ketika melihat betapa tongkat hitam di tangan kakek itu berubah menjadi seekor ular hitam yang amat besar, panjang dan mengerikan. Dia meraba punggungnya dan tampaklah sinar hijau berkelebat ketika sebatang pedang berada di tangan pendekar ini. Sebatang pedang yang biasa saja, bahkan bukan pedang logam melainkan sebatang pedang kayu! Akan tetapi itulah pedang Siang-bhok-kiam. Pedang Kayu Harum yang dahulu pernah menggegerkan dunia persilatan! Betapapun juga, kini menghadapi seorang yang menggunakan ilmu sihir, merupakan pengalaman baru bagi Cia Keng Hong, maka dia bersikap waspada dan amat hati-hati, hanya menanti dengan seluruh urat syaraf di tubuhnya siap menghadapi serangan lawan.

“Ha-ha-ha, Thian Hwa Cinjin! Tidak ada gunanya semua ilmu sulapmu ini! Tongkat tetap tongkat, mana mungkin menjadi ular? Asal tanah kembali menjadi tanah asal kayu kembali menjadi kayu! Cia Tai-hiap, jangan mau dikelabui ilmu sulap murahan!”

Thian Hwa Cinjin terkejut dan Cia Keng Hong girang sekali karena kini ular mengerikan di tangan lawan itu lenyap dan yang tampak hanya tongkat biasa kembali.

Thian Hwa Cinjin membentak dan tangan kirinya digerakkan ke atas, dan… terdengar ledakan keras lalu muncul gumpalan asap yang membentuk diri menjadi manusia berkepala singa yang amat menyeramkan! Ujud setan ini dengan buasnya lalu melayang dan menerkam ke arah Keng Hong! Pendekar ini adalah seorang yang sakti dan tidak mengenal takut, namun menyaksikan ujud yang aneh itu dia terkejut bukan main dan cepat dia sudah melempar tubuh ke belakang, bergulingan sampai jauh sambil memutar Siang-bhok-kiam melindungi tubuhnya. Ketika dia meloncat bangun dengan sigapnya, dia melihat gumpalan asap itu masih mengejarnya!

Kembali Hong Khi Hoatsu tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, lihat baik-baik, Cia Tai-hiap. Asap itu hanyalah jadi-jadian yang tercipta oleh tukang sulap itu, bukan apa-apa dan hanya gertak sambal saja!” Hong Khi Hoatsu bertepuk tangan tiga kali dan… setan asap itu pun lenyap.

Bukan main marahnya hati Thian Hwa Cinjin. Dengan tongkat hitamnya dia menuding ke arah Cia Keng Hong dan Hong Khi Hoatsu sambil membentak, “Jadi kalian telah bersekutu untuk datang memusuhi Pek-lian-kauw? Cia Keng Hong, mengapa engkau begini tak tahu malu? Puterimu dan calon suaminya datang dan mereka memohon kepada kami agar suka merayakan pernikahan mereka karena engkau tidak menyetujui pernikahan itu. Melihat namamu dan nama Cin-ling-pai, kami telah berbaik hati untuk menolongnya dan bersusah payah merayakan pernikahan mereka. Siapa tahu engkau, ayahnya sendiri, malah datang mengacau dan memusuhi kami. Aturan mana ini? Apakah budi kebaikan kami hendak kaubalas dengan permusuhan?”

Cia Keng Hong mengerutkan alisnya, menengok ke kiri dan melihat betapa puterinya mendesak Liong Bu Kong dengan serangan-serangan maut, kemudian betapa pemuda itu tiba-tiba membalikkan tubuh dan melarikan diri, dikejar oleh Ciok Keng. Dia merasa khawatir sekali lalu berteriak, “Keng-ji, jangan kejar dia! Kembalilah ke sini!”

Akan tetapi Giok Keng yang sudah amat marah kepada Liong Bu Kong, mana mau melepaskan pemuda yang kini amat dibencinya itu? Dia mengejar terus, bahkan membentak nyaring, “Jahanam keparat, lari ke neraka pun akan kukejar kau sampai dapat!”

Melihat ini, Yap Kun Liong yang sudah berhasil merobohkan para pengeroyoknya lalu berseru. “Cia-supek, jangan khawatir, biar teecu yang menyusul Sumoi dan membantunya!” Tanpa menanti jawaban, pemuda itu lalu melesat pergi dengan kecepatan yang amat luar biasa sehingga Keng Hong sendiri bengong dan kagum dibuatnya. Hatinya lega mellhat Kun Liong melindungi puterinya, maka dia lalu menghadapi Thian Hwa Cinjin dengan tenang, lalu menjawab kata-katanya tadi dengan suara lantang, “Thian Hwa Cinjin, bukankah engkau yang memutar balik omongan? Puteriku melaksanakan upacara pernikahan yang telah kau atur, bukan atas kehendaknya sendiri, melainkan karena dia berada di bawah pengaruh sihirmu yang keji!”

Thian Hwa Cinjin terkejut dan semua tamu yang tadinya saling serang kini telah menghentikan pertempuran mereka karena melihat bahwa orang-orang yang mereka bela kini sedang bertengkar. Mereka kini datang mendekat dan mendengarkan penuh perhatian, sedangkan para anak buah Pek-lian-kauw hanya mengurung tempat itu karena sebelum menerima perintah dari ketuanya, mereka pun tidak berani sembarangan turun tangan. Para tamu yang tadi tidak mau mencampuri keributan dan tidak ikut bertempur, hanya memandang dari jauh, kini diam-diam meninggalkan tempat itu karena tidak ingin terlibat ke dalam permusuhan. Hanya ada dua puluh lebih saja orang-orang kang-ouw yang berpihak kepada Cia Keng Hong termasuk tokoh-tokoh Go-bi-pai, sedangkan selebihnya, lebih lima puluh orang kang-ouw, adalah teman-teman Pek-lian-kauw.

“Ketua Cin-ling-pai membohong!” Thian Hwa Cinjin yang sudah dapat menenteramkan hatinya membantah dengan teriakan keras, kemudian dia menengok ke arah semua tamu yang masih berada di situ. “Cu-wi sekalian para tamu yang terhormat menjadi saksi! Apakah ada permainan paksaan dalam upacara pernikahan tadi? Apakah ada yang memaksa pengantin wanita melakukan upacara sembahyang?”

“Tidak ada! Tidak ada!” Serentak terdengar jawaban puluhan buah mulut para tamu, sedangkan mereka yang pro kepada Cia Keng Hong tidak ada yang dapat menjawab karena mereka itu diam-diam harus mengakui bahwa tadi tidak ada pemaksaan terhadap pengantin wanita.

Cia Keng Hong tersenyum mengejek, menghadapi para tamu dan berkata, suaranya lantang, “Cu-wi sekalian mana tahu akan kelicikan pendeta hitam ini? Puteriku tadi berada dalam keadaan tidak sadar, berada di bawah pengaruh sihir dan obat perampas ingatan! Semua telah diatur oleh Thian Hwa Cinjin. Bahkan ketika aku datang, diam-diam dia menggunakan ilmu sihir yang membuat aku tidak sadar! Kalau saja tidak Hong Khi Hoatsu yang menolong, tentu aku pun telah dicelakakannya tanpa ada seorang pun tamu yang menduga dan mengetahuinya.”

“Bohong! Semua mata melihat! Semua telinga mendengar betapa Ketua Cin-ling-pai telah ribut mulut dengan puterinya dan karena marahnya lalu roboh pingsan! Kami bahkan telah menolong Cia-Tai-hiap dan menggotongnya ke dalam, bagaimana kini kau bisa menuduh yang bukan-bukan? Cu-wi sekalian harap jangan mudah dibohongi orang. Pek-lian-kauw sudah terlalu banyak dikabarkan jelek. Padahal, Pek-lian-kauw adalah perkumpulan orang gagah yang membela rakyat yang tertindas oleh pemerintah lalim! Pek-lian-kauw selalu mengutamakan kegagahan mana kami sudi berbuat keji dan buruk?”

“Ha-ha-ha, omongan Ketua Pek-lian-kauw seperti kentut!” Tiba-tiba terdengar suara orang berkata nyaring dan kembali Hong Khi Hoatsu yang bicara itu. Kini dia didampingi oleh Lie Kong Tek dan seorang dara muda yang cantik akan tetapi mukanya pucat, matanya merah oleh tangis, dan pakaian serta rambutnya kusut seperti orang menderita sakit berat. Siapakah dara itu? Dia bukan lain adalah Bu Li Cun! Seperti telah diceritakan di bagian depang ketika berkenalan dengan Hong Khi Hoatsu dan Lie Kong Tek, Yap Kun Liong telah mendengar penuturan mereka tentang seorang gadis yang diculik oleh Pek-lian-kauw. Untuk keperluan mencari gadis yang menjadi tunangan Lie Kong Tek itulah maka guru dan murid itu menuju ke Pek-lian-kauw dan minta bantuan Yap Kun Liong.

Tadi, ketika terjadi ribut mulut, diam-diam Lie Kong Tek disuruh oleh gurunya untuk pergi menyelinap dan mencari tunangannya yang mereka duga berada di tempat itu. Lie Kong Tek menyelinap memasuki bangunan besar itu dari pintu samping tanpa diketahui oleh para anak buah Pek-lian-kauw yang sedang tertarik oleh keributan di luar. Ketika tiba di ruangan dalam, Kong Tek menangkap seorang pelayan wanita dan mengancamnya untuk menunjukkan tempat tahanan wanita. Pelayan yang ketakutan itu terpaksa membawa pemuda perkasa ini ke belakang dan di dalam sebuah kamar, dia melihat beberapa orang dara yang keadaannya menyedihkan sekali.

“Siapkah di antara kalian yang bernama Bu Li Cun?” tanyanya halus, karena sesungguhnya, baru satu kali Lie Kong Tek melihat tunangannya, itu pun ketika tunangannya masih kecil beberapa tahun yang lalu.

Seorang dara berusia delapan belas tahun, cantik dan pucat, keadaannya menyedihkan seperti para tawanan lain, melangkah maju dan memandang kepada Lie Kong Tek penuh selidik dan penuh rasa takut.

Hati pemuda itu terharu, dan cepat dia maju, lalu memegang kedua tangan dara itu. “Jangan khawatir, aku datang untuk menolongmu. Aku Lie Kong Tek…”

Mendengar ini, gadis itu teringat dan segera menangis terisak-isak dan tentu sudah roboh kalau tidak segera dirangkul oleh pemuda itu. Lie Kong Tek lalu membawanya keluar dan menjumpai gurunya. Hong Khi Hoatsu girang melihat muridnya sudah berhasil membebaskan gadis yang mereka cari-cari itu, dan pada saat Thian Hwa Cinjin mendesak Cia Keng Hong dengan omongannya, dia sudah mentertawakan kakek itu.

“Thian Hwa Cinjin Ketua Pek-lian-kauw selain pandai menggunakan ilmu sulap secara curang juga pandai menggerakkan bibir dan lidah menyebar racun yang manis rasanya!” Hong Khi Hoatsu melanjutkan kata-katanya yang lantang.

“Harap Cu-wi sekalian lihat Nona ini. Dia adalah scorang gadis baik-baik yang telah diculik oleh orang-orang Pek-lian-kauw! Apakah dengan perbuatan keji itu Thian Hwa Cinjin masih mau mengelabuhi mata semua orang dengan mengatakan bahwa Pek-lian-kauw adalah orang-orang gagah yang berjiwa patriot?”

Terdengar suara berisik yang marah diantara para tamu. Thian Hwa Cinjin sendiri menjadi pucat mukanya ketika melihat Bu Li Cun sudah berdiri di dekat Hong Khi Hoatsu. Akan tetapi, dia adalah seorang yang amat cerdik. Dia dapat mengenal watak wanita yang selalu hendak memegang teguh nama baiknya dan menyimpan rahasia kesuciannya sebagai seorang perawan. Maka sambil tersenyum lebar dia berkata, “Ha-ha, kakek pengemis yang hendak berlagak! Aku tidak mengenal siapa adanya engkau yang berlagak aneh ini, akan tetapi engkaulah yang memutarbalikkan omongan! Gadis ini adalah Nona Bu Li Cun, dan dia adalah seorang di antara dara-dara perkasa yang dengan suka rela ingin menjadi anggauta Pek-lian-kauw karena dia pun berjiwa patriot! Dia menjadi tamu kami di sini, dan siapa pun boleh bertanya kepadanya, apakah selama berada di sini dia sebagai seorang perawan terhormat telah ada yang mengganggunya? Bu-siocia, harap suka menjawab. Apakah selama ini Nona diganggu orang di Pek-lian-kauw?”

“Lie-koko aku pinjam pedangmu sebentar.” Tiba-tiba Bu Li Cun berkata halus sambil meloloskan pedang yang tergantung di pinggang tunangannya. Lie Kong Tek tidak mengerti apa yang dikehendaki oleh gadis itu, maka tidak mencegahnya. Dengan pedang di tangannya, Bu Li Cun lalu berlari menghampiri Thian Hwa Cinjin, dan kakek ini memandang sambil tersenyum, maklum bahwa dara ini tentu tidak akan begitu tebal muka untuk mengakui keadaannya, dan di samping ini, biarpun dara itu memegang pedang, dia tidak merasa terancam dan tidak pula merasa takut.

“Bu-siocia, bukankah engkau ingin menjadi murid Pek-lian-kauw, menjadi muridku secara suka rela tanpa paksaan?” kembali dia berkata dengan suara menggetarkan wibawa kuat.

Bu Li Cun dengan muka tunduk tanpa memandang kakek itu kini berdiri di sampingnya, mengangkat muka memandang kepada semua tamu dengan air mata bercucuran! Kemudian terdengar suaranya lantang, “Saat seperti ini sudah lama kutunggu-tunggu! Aku Bu Li Cun hanya mampu membalas sakit hati secara begini. Cu-wi sekalian dengarlah baik-baik! Aku telah diculik oleh Pek-lian-kauw dan aku telah diperkosa oleh tua bangka keparat ini!” Tiba-tiba setelah meneriakkan pengakuan hebat ini, yang tak mungkin dikeluarkan oleh mulut seorang gadis yang menganggap lebih baik mati daripada mengaku diperkosa orang, Bu Li Cun menggerakkan pedang tunangannya, menggorok leher sendiri!

“Haiii…! Trang…!” Pedang itu mencelat terlepas dari tangan Bu Li Cun, akan tetapi setelah terlebih dulu mengerat kulit leher dara itu. Kulit leher yang putih itu seketika berubah merah, darah muncrat-muncrat dan terdengar suara aneh dari leher Bu Li Cun yang menggunakan kedua tangan memegang lehemya, tubuhnya terguling ke atas tanah.

“Bu-moi…!” Lie Kong Tek yang tadi kurang cepat bergerak sehingga sambitan piauwnya yang membuat pedang terlepas itu masih tidak dapat menolong tunangannya, meloncat dan berlutut, mengangkat tubuh dara itu, dipangkunya. Mukanya pucat sekali ketika dia melihat betapa leher itu terkuak lebar dan darah muncrat-muncrat mengerikan. Sekali pandang saja tahulah dia bahwa dia telah terlambat, bahwa nyawa gadis tunangannya ini tak mungkin dapat ditolong lagi. Bu Li Cun membuka kedua matanya memandang pemuda gagah itu, tersenyum dan bibirnya bergerak-gerak namun tidak ada suara yang keluar, kemudian dia terkulai lemah dalam pelukan Lie Kong Tek.

Berisiklah semua orang menyaksikan peristiwa mengerikan itu dan pada wajah banyak tokoh kang-ouw terbayang kemarahan hebat mendengar pengakuan gadis yang membunuh diri itu telah diperkosa oleh Thian Hwa Cinjin! Akan tetapi mereka tidak berani langsung bergerak karena mereka maklum akan kelihaian kakek itu.

“Ha-ha-ha-ha, agaknya gadis ini adalah kaki tangan musuh yang sengaja dikirim ke sini untuk memburukkan nama pinto! Sungguh perbuatan yang curang sekali kalau begitu!” Thian Hwa Ciniin yang cerdik itu masih tidak kekurangan akal untuk memutarbalikkan kenyataan. Kemudian dia memandang ke arah mayat Bu Li Cun yang masih dipeluk oleh Lie Kong Tek dan terdengar suaranya penuh getaran aneh, “Harap Cu-wi lihat baik-baik. Gadis itu kelihatannya saja membunuh diri, akan tetapi sesungguhnya tidak. Dia waras dan sehat, pedang tadi tidak mengenai lehernya dan dia hanya pura-pura mati saja. Lihat baik-baik, semua tadi hanyalah perbuatan kakek gila tukang sihir itu!”

Semua mata terbelalak, termasuk mata Cia Keng Hong yang karena keinginan tahu dan keheranannya, telah menunda niatnya menerjang Ketua Pek-lian-kauw itu dan memutar leher memandang ke arah Bu Li Cun. Dan, seperti juga orang lain kecuali Lie Kong Tek dan gurunya, dia pun melihat betapa leher gadis itu kini putih bersih tidak ada darahnya sedikitpun juga, dan gadis itu masih bernapas, dan tersenyum-senyum dengan mata terbuka lebar!

“Ti… tidak… mungkin…!” Pendekar sakti ini berbisik dan menggoyang kepalanya untuk mengusir pandangan yang tidak semestinya itu. Dia tadi melihat sendiri betapa pertolongan Lie Kong Tek terlambat, betapa sebelum terlempar, pedang itu telah menggorok leher Bu Li Cun dan betapa leher itu terluka, terkuak lebar dengan darah muncrat-muncrat dan gadis itu telah menghembuskan napas terakhir di dalam pelukan Lie Kong Tek!

“Hemm, Thian Hwa Cinjin! Lagi-lagi engkau hendak mengelabuhi para tamu yang terhormat ini dengan ilmu sulapmu! Gadis itu jelas telah tewas, membunuh diri dengan pedang karena telah kauperlakukan hal yang terkutuk atas dirinya. Cu-wi sekalian harap jangan mudah dikelabui dan lihatlah baik-baik. Bu Li Cun telah tewas membunuh diri! Darahnya pun belum kering!” Hong Khi Hoatsu berteriak, suaranya juga mengandung getaran hebat dan kedua tangannya dengan jari terbuka didorongkan ke depan, ke arah Bu Li Cun dan… terdengar teriakan-teriakan di sana-sini ketika semua mata, termasuk mata Cia Keng Hong, melihat gadis itu benar telah menjadi mayat dengan luka besar di leher dan darahnya masih mengalir keluar, sedangkan Lie Kong Tek dengan muka pucat dan alis berkerut memangku dan memandang gadis itu.

Thian Hwi Cinjin menjadi marah sekali. Kembali ilmu sihirnya yang dipergunakan untuk menyelamatkan nama dan dirinya, telah digagalkan oleh kakek aneh yang muncul tanpa disangka-sangkanya dalam pesta pernikahan yang telah diaturnya itu. Dengan alis berkerut dan mata mengeluarkan sinar berapi-api dan penuh kekuatan sihir dia menghadapi Hong Khi Hoatsu dan membentak, “Pendeta yang lancang mencampuri urusan orang! Siapakah engkau dan apa sebabnya engkau memusuhi kami?”

Hong Khi Hoatsu menggeleng-geleng kepala yang ditutup kopyah bayi itu sambil tersenyum dan menjawab, “Thian Hwa Cinjin, engkau sudah menggunakan julukan Cinjin, namun ternyata masih mengumbar nafsu angkara murka dan gila akan kedudukan dan kemuliaan duniawi! Ketahuilah, aku disebut orang Hong Khi Hoatsu, pekerjaanku hanya bertapa. Akan tetapi karena melihat betapa tunangan dari muridku itu telah diculik oleh anak buah Pek-lian-kauw, terpaksa aku turun gunung dan mencarinya. Jejaknya menuju ke sarangmu ini dan ternyata benar bahwa tunangan muridku itu terculik oleh orang-orangmu dan telah menjadi korban kebiadabanmu! Hemm, entah berapa banyaknya wanita baik-baik yang menjadi korban kekejianmu yang kaulakukan mengandalkan nama Pek-lian-kauw dan mengandalkan ilmu sihirmu yang jahat!”

“Hong Khi Hoatsu pendeta keparat! Ingatlah kau di mana kau bicara?”

“Ha-ha! Tentu saja! Aku bicara di depan Ketua Pek-lian-kauw bagian timur, berada di sarang Pek-lian-kauw dan sedang dikepung oleh anak buah Pek-lian-kauw! Dan baru sekarang aku tahu, juga para enghiong yang hadir di sini tentu tahu bahwa Pek-lian-kauw yang dikenal sebagai perkumpulan pejuang rakyat itu sesungguhnya hanya ditunggangi oleh orang-orang jahat sehingga berubah menjadi perkumpulan orang-orang jahat yang pekerjaannya merampok harta benda, menculik wanita, dan memberontak mengejar kedudukan.”

“Keparat!” Thian Hwa Cinjin membentak, tak dapat menahan kemarahannya, lalu memberi tanda dengan tongkatnya sebagai aba-aba untuk menyerbu.

Anak buah Pek-lian-kauw yang sudah mengurung tempat itu segera berteriak-teriak dan menerjang maju.

“Manusia busuk berkedok nama rakyat pejuang! Kau harus mampus!” Cia Keng Hong sudah menerjang ke depan menyambut gerakan Thian Hwa Cinjin yang tadi masih menyerang ke arah Hong Khi Hoatsu.

“Trakk! Plak!”

Tubuh Thian Hwa Cinjin terhuyung ke belakang ketika tongkatnya bertemu dengan Siang-bhok-kiam dan telapak tangan kirinya disambut oleh telapak tangan Cia Keng Hong. Terkejutlah Thian Hwa Cinjin. Dia sudah lama mendengar nama besar Cia Keng Hong sebagai Ketua Cin-ling-pai yang berilmu tinggi sekali. Memang dia sudah merasa gentar mendengar nama besar pendekar ini, akan tetapi dia menjadi besar hati karena dia mengandalkan kekuatan sihirnya untuk mengatasi pendekar sakti itu. Namun sekarang di samping Cia Keng Hong terdapat Hong Khi Hoatsu yang agaknya merupakan seorang ahli dalam ilmu sihir sehingga beberapa kali ilmu sihirnya melempem dibikin buyar dan punah oleh Hong Khi Hoatsu. Terpaksa dia tidak mau menggunakan ilmu sihir lagi, karena kalau Hong Khi Hoatsu maju menghadapi ilmu sihirnya, berarti dia dikeroyok dua dan harus memecah kekuatah sin-kangnya

DENGAN nekat dia lalu memutar tongkatnya dan mengeluarkan ilmu tongkatnya yang amat dahsyst sehingga Cia Keng Hong yang mengenal lawan tangguh tidak memandang rendah kepadanya. Segera terjadi pertandingan hebat antara kedua orang sakti itu. Adapun Hong Khi Hoatsu yang maklum bahwa keselamatan Cia Keng Hong tentu terancam kalau dia tidak berjaga-jaga untuk melawan ilmu sihir Ketua Pek-lian-kauw, hanya menonton di pinggiran sambil kadang-kadang menggunakan kaki tangan merobohkan anggauta Pek-lian-kauw yang berani mencoba untuk menyerangnya. Dia tidak berani ikut menyerang Thian Hwa Cinjin, karena dalam beberapa jurus saja kakek yang ahli dalam ilmu sihir ini maklum bahwa dibandingkan dengan kedua orang yang sedang bertempur itu, tingkat ilmu silatnya masih kalah jauh sehingga bantuannya tidak akan ada artinya, bahkan akan mengacaukan gerakan serangan Ketua Cin-ling-pai itu.

Kini keadaan para tamu menjadi berbalik. Kalau tadinya terdapat orang-orang yang jauh lebih banyak jumlahnya memihak Pek-lian-kauw, sekarang mereka itu sebagian besar membalik dan menentang Pek-lian-kauw! Mengapa demikian? Sebagian besar para tamu adalah orang-orang kang-ouw dan tadinya mereka suka bekerja sama dengan Pek-lian-kauw bukan semata-mata karena perkumpulan ini royal dalam menjamu dan menghommati mereka, melainkan karena mereka sungguh-sungguh menganggap bahwa Pek-lian-kauw adalah perkumpulan pejuang rakyat yang menentang pemerintah lalim dan membela rakyat tertindas. Kini baru terbuka mata mereka, dan mereka telah melihat bukti betapa kejinya Ketua Pek-lian-kauw yang menyuruh anak buahnya menculik gadis lalu memperkosanya! Setelah melihat kenyataan ini, sebagai pendekar-pendekar gagah di dunia persilatan, tentu saja mereka tidak sudi lagi bersekutu dengan kakek keji itu. Maka kini sebagian besar di antara mereka berpihak kepada Cia Keng Hong dan menyambut serbuan para anak buah Pek-lian-kauw!

Tentu saja masih ada di antara para tamu yang memihak Pek-lian-kauw dan mereka ini memanglah orang-orang dari golongan sesat yang terdiri dari perampok, bajak, dan orang-orang yang tidak pernah merasa segan melakukan perbuatan jahat demi mengumbar hawa nafsu mereka.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: