Petualang Asmara (Jilid ke-40)

“Ahh, dia sudah tewas, Sumoi!” Baru teringat oleh Kun Liong bahwa dia belum menceritakan akan hal ini dan tentu saja gadis ini tidak tahu akan kematian Liong Bu Kong, karena ketika itu dia masih pingsan.

Giok Keng terloncat dan memandang terbelalak, mukanya agak pucat. Betapapun juga, laki-laki yang pernah dicintanya itu dikabarkan tewas, dan tanpa disadarinva dia terkejut buken main. “Tewas…?”

Kon Liong mengangguk.

“Tewas di tanganmu, Suheng?”

“Untung sekali tidak! Aku merasa ngeri kalau sampai membunuh orang. Dia tewas dalam tangan Yo Bi Kiok, dalam waktu hanya dalam belasan jurus sehingga aku merasa terheran bukan main menyaksikan kepandaian Bi Kiok. Padahal dahulu, dia tidak akan mampu mengalahkan Bu Kong.”

Giok Keng termenung. “Mengapa…? Mengapa Bi Kiok membunuhnya?”

“Mungkin dendam antara guru. Bi Kiok adalah murid mendiang Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci yang tewas di tangan ibu Bu Kong, yaitu Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio. Mungkin untuk membalas kematian gurunya, Bi Kiok yang sekarang lihai sekali itu membunuh Bu Kong, dan hal ini menguntungkan kita karena aku sudah payah juga menghadapi pengeroyokan sambil memondongmu.”

Kembali Giok Keng termenung, kemudian menarik napas panjang. “Begitulah nasib manusia yang tersesat, akhirnya mampus di ujung senjata pula. Kalau begitu, tinggal orang-orang Pek-lian-kauw! Merekalah yang membantu iblis itu sehingga aku hampir saja tertimpa malapetaka hebat, aku harus menghancurkan Pek-lian-kauw, Suheng.”

“Hemm, berhati-hatilah, Giok Keng. Mereka itu lihai sekali, terutama ketuanya.”

“Aku tidak akan gegabah, Suheng. Aku akan pergi ke kota raja, minta bantuan, kalau perlu akan menghadap The-locianpwe.”

“Panglima The Hoo?”

Giok Keng mengangguk. “Syukur kalau dapat bertemu dengan Ayah, kalau tidak tentu Locianpwe itu akan tertarik dan suka mengirim pasukan, karena Pek-lian-kauw adalah perkumpulan pemberontak.”

“Terserah kepadamu, akan tetapi hati-hatilah, Sumoi. Aku sendiri akan menemui Bi Kiok, kemudian aku akan menyusul dan mencari Hong Ing ke Tibet.”

“Aku hanya mendoakan semoga kau berhasil bertemu kembali dengan dia, Suheng. Semoga kau tidak akan mengalami kegagalan dalam cinta kasih seperti aku.”

Mereka berpisah, dan melihat gadis itu pergi dengan kepala menunduk, Kun Liong menarik napas panjang dan hatinya merasa iba sekali. Tak disangkanya bahwa puteri Ketua Cin-ling-pai akan mengalami nasib seburuk itu dalam hidupnya. Kalau saja di dalam hatinya ada perasaan cinta kepada Giok Keng seperti perasaannya kepada Hong Ing, tentu dia akan mengobati kepatahan hati gadis itu! Kembali dia menarik napas panjang lalu dia pun mulai dengan penyelidikannya, mencari Yo Bi Kiok di dusun itu.

Memang tidak mudah mencari seorang dara seperti Yo Bi Kiok yang gerak-geriknya penuh rahasia itu. Biarpun Kun Liong telah bertanya-tanya kepada semua penghuni dusun itu, tidak seorang pun mengenal Yo Bi Kiok. Akhirnya Kun Liong mengambil keputusan untuk mencari sendiri di dua buah dusun yang berada di daerah itu. Sehari penuh dia mencari-cari di dusun pertama, kemudian hari berikutnya dia putar-putar di dusun ke dua yang tak begitu besar, namun hasilnya sia-sia belaka. Dia sudah mulai putus ada dan malam itu dia membayangkan ke mana dia harus mencari Bi Kiok kalau besok, di dusun ke tiga, dia tidak dapat menemukan dara itu. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, dia pergi ke dusun ke tiga, dusun terakhir yang terdapat di daerah itu.

Dusun ini agak besar, seperti dusun pertama di mana dia mengobati Giok Keng. Hari masih pagi sekali, akan tetapi telah banyak penduduk yang hilir-mudik di jalan, mulai dengan pekerjaan sehari-hari mereka. Kun Liong memasang mata, melihat orang-orang yang lalu lalang, juga melihat rumah-rumah dusun itu sebelum dia mulai bertanya-tanya apakah ada seorang nona bernama Yo Bi Kiok tinggal di dusun ini.

“Huk! Huk! Hukkk…!”

Kun Liong tersenyum melihat seekor anjing yang keluar dari lorong dan menyalak-nyalak kepadanya. Akan tetapi tiba-tiba dia membelalakkan matanya.

“Pek-pek!” Serunya heran. Tak salah lagi, inilah anjing peliharaannya ketika dia masih kecil dahulu! Anjing berbulu putih yang menumpahkan obat di kamar ayahnya sehingga menjadi awal dari semua perubahan dalam hidupnya.

“Pek-pek…!” Kun Liong berlutut mengelus kepala anjing itu yang mulai menggoyang-goyangkan ekornya sambil mengeluarkan suara rintihan. Ternyata anjing itu pun mulai mengenal kembali Kun Liong!

“Aihhh… Pek-pek…! Bagaimana kau dapat berada di sini?” Kun Liong berkata dengan terheran-heran, masih ragu-ragu apakah benar ini anjing kesayangannya dahulu itu. Dia mendapat akal. Untuk mengetahui apakah benar ini anjing kesayangannya itu, dia harus tahu siapa kini yang memelihara anjing ini. Dengan gaya seperti ketika dia masih kecil memerintah anjing itu, dia bangkit berdiri, menuding dan berseru, “Pek-pek, hayo pulang!” Anjing itu mengeluarkan suara berkuik lalu membalikkan tubuhnya, terus lari. Ketika beberapa kali dia menoleh dan melihat Kun Liong mengikutinya setengah berlari, anjing itu kelihatannya girang sekali dan terus berlari keluar dari dusun itu melalui pintu gerbang dusun bagian selatan. Kun Liong terus mengikutinya dan terheran-heran. Kalau anjing ini ada yang memeliharanya, mengapa tinggalnya malah di luar dusun?

Kedaan mulai sunyi dan anjing itu memasuki sebuah hutan kecil! Tiba-tiba, dari balik pohon-pohon muncullah dua orang yang membuat Kun Liong terkejut sekali. Mereka itu adalah Thian Hwa Cinjin Ketua Pek-lian-kauw yang amat lihai bersama Bhong Khi Tosu, pembantunya! Kun Liong terkejut sekali. Tak disangkanya bahwa anjing yang mirip benar dengan Pek-pek itu adalah anjing peliharaan Ketua Pek-lian-kauw ini untuk memancingnya. Dengan marah dia lalu memandang kepada Ketua Pek-lian-kauw itu dan… terlambat dia ingat bahwa inilah kesalahan utamanya, yaitu memandang mata kakek itu. Begitu bertemu pandang, Kun Liong merasa seolah-olah pandang matanya melekat kepada sepasang mata yang bersinar aneh itu, kemudian dia mendengar suara Thian Hwa Cinjin yang amat berpengaruh, “Yap Kun Liong, berlututlah engkau! Tak pantas orang muda kurang ajar terhadap orang tua.”

Kun Liong tahu bahwa dia diserang dengan ilmu sihir, akan tetapi karena pandang matanya telah bertaut dan kepalanya pening, tak tahu harus berbuat apa, kedua kakinya seperti lumpuh dan dia lalu menjatuhkan diri berlutut, tetap memandang kepada wajah kakek itu tanpa berkedip seperti terkena pesona!

Melihat keadaan Kun Liong yang sudah tidak berdaya ini, Bong Khi Tosu yang memutar dan berada di belakang Kun Liong mengangkat tongkatnya dan siap untuk menghantamkan tongkatnya itu di kepala Kun Liong! Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara menyalak-nyalak marah dan anjing berbulu putih yang kecil itu meloncat dan menerkam Bong Khi Tosu, langsung menggigit ke arah leher tosu itu. Tentu saja Bong Khi Tosu terkejut akan tetapi dengan mudah dia menangkis dengan tangan kirinya, membuat anjing kecil itu terbanting dekat dengan Thian Hwa Cinjin. Karena marah diserang anjing kecil itu, Bong Khi Tosu meluncurkan tongkatnya ke arah anjing itu.

“Crapppp…!” Anjing itu menguik satu kali dan roboh tewas, darahnya muncrat-muncrat mengenal pinggir jubah Thian Hwa Cinjin yang berada di dekat tempat itu.

“Bodoh kau…!” Thian Hwa Cinjin berteriak kaget dan menegur pembantunya.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara melengking keras dan tampak sinar terang menyambar ke arah tubuh Bong Khi Tosu. Kakek ini terkejut, cepat berusaha mengelak dari serangan pedang yang bersinar kilat itu karena tongkatnya telah dipergunakan membunuh anjing tadi. Namun gerakannya kurang cepat sehingga terdengar teriakan keras dan tubuhnya terjungkal lalu bergulingan sampai jauh, baru dia meloncat dengan pundak berdarah. Kiranya yang menyerangnya adalah seorang dara muda yang memegang pedang berkilauan, dan dia ini bukan lain adalah Yo Bi Kiok sedangkan pedang yang dipergunakan menyerang Bong Khi Tosu adalah Lui-kong-kiam, pedang rampasan dari tangan Liong Bu Kong itu!

“Keparat, berani kau membunuh anjingku?” teriak Yo Bi Kiok marah.

Sementara itu, Kun Liong juga telah sadar dari keadaannya terkena sihir itu maka dia cepat meloncat dan menerjang Thian Hwa Cinjin. Kakek ini berusaha mengerahkan ilmu sihirnya, akan tetapi betapa kagetnya bahwa tenaga sihirnya telah menjadi lemah sekali dan bahkan hampir lenyap. Tahulah dia bahwa ini disebabkan oleh darah anjing tadi, maka dia cepat mengerahkan tenaga sin-kangnya menangkis.

“Dukkk! Dess!” Biarpun dia berhasil menangkis hantaman tangan kanan Kun Liong, namun dia tidak mampu menghindarkan tamparan tangan kiri Kun Liong yang mengenai dadanya. Dia terjengkang dan cepat meloncat lagi lalu melarikan diri diikuti pembatunya karena dia tahu bahwa melanjutkan pertandingan melawan pemuda itu amatlah berbahaya. Tamparannya tadi saja sudah membuat napasnya sesak dan muntah darah yang ditahannya di dalam mulutnya, tanda bahwa dia telah terkena hantaman sin-kang yang membuatnya terluka di sebelah dalam dadanya. Setelah mereka berlari jauh, barulah Ketua Pek-lian-kauw ini muntahkan darah dari mulutnya!

Kun Liong yang sama sekali tidak menyangka-nyangka akan kemunculan dara yang dicari-carinya itu di tempat ini, memandang wajah Yo Bi Kiok. Hatinya penuh keheranan mendengar teriakan Bi Kiok yang mengaku bahwa anjing putih itu adalah anjingnya. Juga Bi Kiok memandang kepadanya. Dua pasang mata bertemu, bertaut dan sejenak mereka lupa keadaan.

“Pek-pek… aduhh, Pek-pek… kenapa kau…? Uhu-hu-huk, Pek-pek mati… Subo (Ibu Guru)… Pek-pek mati…!”

Kun Liong merasa terkejut seperti disambar petir mendengar sebutan Pek-pek ini. Dia menengok dan melihat seorang anak perempuan berlutut di dekat bangkai anjing itu, memeluki bangkai itu sambil menangis. Anak perempuan itu berusia kurang lebih empat lima tahun dan mendengar betapa anak itu menyebut Yo Bi Kiok dengan sebutan subo, dia mengerti bahwa anak itu adalah murid dara cantik yang luar biasa ini.

“Pek-pek? Apakah nama anjing itu Pek-pek, Bi Kiok?” tanyanya, seperti dalam mimpi.

Yo Bi Kiok mengangguk.

“Anjingmukah itu?”

Yo Bi Kiok menggeleng kepalanya. “Bukan anjingku, melainkan anjing muridku itu.”

Kun Liong memandang anak perempuan itu, jantungnya berdebar tegang. Anjing itu, yang juga bernama Pek-pek, telah mengenalnya! Tidak salah lagi, anjing itu pasti anjing kesayangannya dahulu itu!

“Bi Kiok, siapakah nama muridmu ini?”

Yo Bi Kiok tersenyum, akan tetapi pandang matanya masih dingin. “Kautanyalah dia sendiri.”

Kun Liong menghampiri anak perempuan yang masih terisak-isak menangis itu, lalu dia berlutut dan menyentuh pundaknya. “Adik kecil, sudahlah jangan menangis. Biarpun sudah mati, Pek-pek mati dengan gagah perkasa melawan orang jahat.”

Anak perempuan itu menghapus air matanya dan mengangkat muka, memandang kepada Kun Liong dengan mata dan pipi basah. Wajah anak itu manis sekali dan satu kali pandang saja timbul rasa suka di hati Kun Liong. “Biarlah aku akan mencarikan seekor anjing lain untukmu,” kata Kun Liong karena merasa kasihan sekali, akan tetapi sebetulnya dia ingin tahu dari mana anak itu mendapatkan Pek-pek yang telah mati.

“Aku tidak suka anjing lain, yang kusuka hanya Pek-pek…” jawab anak itu, kembali air matanya mengucur ketika dia menengok dan memandang anjing yang ditembusi tongkat itu.

“Adik yang baik, siapakah namamu dan dari mana engkau dahulu mendapatkan anjing putih ini?”

“Dia… dia memang anjingku sejak dulu… Pek-pek adalah anjingku sejak dulu…”

“Dan namamu…?”

“Namaku Yap In Hong…”

“Ahhhh…!” Wajah Kun Liong menjadi pucat seketika. “Apa… apa artinya ini…?” Dia meloncat dan menghadapi Bi Kiok.

Dara itu tersenyum dan mengangguk. “Dia memang adikmu, Kun Liong,” jawab Bi Kiok tenang.

Kun Liong memandang kepada anak perempuan itu lagi, hatinya tidak karuan rasanya, dilanda keharuan, keheranan dan juga keraguan. Benarkah ini adiknya, adik kandung yang selamanya belum pernah dilihatnya? Anak inikah peninggalan ayah bundanya yang telah meninggal dunia? Benarkah? Anak itu pun memandang kepadanya dengan sepasang matanya yang lebar dan bersinar-sinar setelah tidak menangis lagi.

“In Hong, kau masih ingat akan nama Yap Kun Liong?” tanya Bi Kiok kepada muridnya yang masih kecil itu.

“Yap Kun Liong yang Subo ceritakan itu, yang kata Subo adalah kakak kandungku? Tentu saja teecu (murid) ingat…” jawab anak itu dengan suara yang lucu, namun jelas membayangkan kecerdikannya. “Apakah Subo hendak mengatakan bahwa orang ini adalah kakakku itu?”

Yo Bi Kiok mengangguk dan Kun Liong lalu menghampiri anak itu, bertutut dan memegang kedua lengannya. “Yap In Hong… adikku… kau adalah adikku… engkau adik kandungku…” Kun Liong merangkul dan teringatlah dia akan ayah bundanya yang tewas terbunuh orang, teringatlah dia akan perbuatannya yang melarikan diri dari orang tuanya sehingga mereka menderita kesengsaraan sampai akhirnya ditewaskan musuh. Kun Liong menggigit bibirnya menahan keharuan hatinya, memeluk dan mendekap muka anak perempuan itu ke dadanya.

Akan tetapi In Hong meronta halus dan terpaksa dilepaskan oleh Kun Liong yang kini menatap wajah itu. Tampak olehnya kini betapa anak perempuan itu amat cantiknya. Teringat dia akan wajah ibunya. Mata dan mulut anak ini presis mata dan mulut ibunya.

“In Hong…!” Dia mengeluh dan memondong anak itu penuh kasih sayang. “Mulai sekarang kita tidak akan saling berpisah lagi, Adikku!”

In Hong juga memandang wajah Kun Liong penuh perhatian. Dia masih terlalu kecil untuk mengenal rasa keharuan karena perjumpaan ini. Sejak kecil dia tidak mengenal lagi ayah bundanya, apalagi kakaknya ini. Pertemuannya dengan Kun Liong hanya berkesan sebagai pertemuan dengan seorang laki-laki yang aneh dan asing.

Biarpun dia dipondong, namun ketika dia membuka mulut bicara, dia menujukan kata-kata itu kepada Bi Kiok, “Subo, apakah benar dia ini kakak kandungku seperti yang seringkali Subo ceritakan itu?”

“Benar, In Hong. Dialah kakak kandungmu,” jawab Bi Kiok yang biarpun wajahnya tidak membayangkan sesuatu dan tetap dingin, namun di dalam hatinya dia merasa terharu juga menyaksikan pertemuan antara kakak dan adiknya yang selamanya belum pernah jumpa itu, pertemuan yang amat ganjil. Dia terharu karena teringat kepada dirinya sendiri yang sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini.

“Tapi… tapi dia…”

“Dia kenapa, In Hong? Dia kakakmu!” Bi Kiok agak kecewa menyaksikan sikap muridnya yang seperti tidak senang hatinya itu.

“Kalau dia kakakku, kenapa begini jelek?”

Kun Liong tertawa dan Bi Kiok mengerutkan alisnya. “Jelek? Mengapa kaubilang jelek?”

“Rambutnya begitu sih…”

Kun Liong makin keras tertawa dan mencium pipi anak perempuan itu. “Kau genit, ya?” Dia menggoda dan mau tidak mau Bi Kiok tersenyum juga menyaksikan adegan itu.

“Bi Kiok, aku makin berhutang budi kepadamu dengan perjumpaan dengan adikku ini. Bagaimana engkau bisa bertemu dengan In Hong?”

“Mari kita ke pondokku dan akan kuceritakan kepadamu, Kun Liong.”

Dengan memondong adiknya Kun Liong mengikuti Bi Kiok yang membawa pula bangkai anjing bulu putih yang terbunuh tadi. Mereka memasuki hutan kecil dan di tengah hutan itu terdapat sebuah pondok kecil dari kayu dan bambu. Amat sederhana akan tetapi cukup mungil dan menyenangkan karena dikelilingi oleh bermacam bunga yang sengaja ditanam oleh Bi Kiok sehingga pondoknya itu lebih menyerupai sebuah pondok taman yang sedap dipandang.

Setelah membantu In Hong mengubur bangkai anjing Pek-pek dan menghibur anak itu yang menangisi lagi kematian anjingnya, mereka masuk ke dalam pondok. In Hong yang masih kecil itu telah pandai menghidangkan minuman dan makanan, kemudian atas perintah gurunya dia disuruh ke kebun belakang untuk memetik sayur dan mempersiapkan masakan untuk siang nanti.

“Liong-ko, aku sudah pandai masak!” katanya sebelum pergi, memamerkan kepandaiannya kepada kakaknya yang kini sudah tidak begitu asing lagi baginya.

“Wah, ingin aku mencoba masakanmu, In Hong!” kata Kun Liong dengan sikap memuji.

“Tunggu saja! Akan kubuatkan masakan sayur yang amat lezat untukmu. Akan tetapi…”

“Hemm, mengapa? Teruskan!”

“Lain kali rambutmu jangan dipotong seperti itu lagi, ya? Biarkan panjang dan bagus!”

Kun Liong mengangguk-angguk dan memandang dengan gembira betapa adiknya itu berlompatan meninggalkan mereka berdua, menuju ke belakang pondok.

Dia termenung dan sambil tersenyum-senyum dia teringat akan semua pengalamannya. Tanpa disadarinya dia meraba kepala dan rambutnya yang masih pendek, rambut yang kusut dan kacau, tersembul ke sana-sini. Bi Kiok yang melihat semua itu tersenyum lagi, agaknya dapat mengikuti jalan pikiran Kun Liong. “Agaknya memang sudah nasib kepala dan rambutmu yang selalu menjadi sasaran celaan orang, Kun Liong.”

“He…? Ohhh, agaknya begitulah.”

“Dahulu engkau berkepala gundul kelimis, mengingatkan orang kepada seorang pendeta.”

“Memang ke mana-mana aku disangka pendeta. Bi Kiok, sekarang ceritakanlah bagaimana engkau dapat berjumpa dengan adikku dan dengan Pek-pek.”

“Perjumpaan itu secara kebetulan saja, Kun Liong. Pada suatu hari, tiga bulan yang lalu, aku melihat orang berkerumun di sebuah pasar kota tak jauh dari sini. Ketika aku mendekat, kiranya orang-orang itu mengerumuni seorang nenek tua yang sedang sakit payah. Yang menarik mereka adalah karena nenek ini menawarkan seorang anak perempuan dan seekor anjing putih, menawarkan kepada siapa yang merasa dirinya ahli silat untuk mengambil murid anak itu dan memelihara aniingnya. Tentu saja hal ini mengherankan semua orang. Mengapa nenek itu hendak memberikan anak kecil yang diaku sebagai cucunya itu kepada orang yang pandai ilmu silat? Nah, terjadilah keributan karena anak perempuan kecil, yaitu adikmu, menarik hati beberapa orang laki-laki yang kulihat sikapnya ceriwis dan agaknya mempunyai niat buruk terhadap adikmu yang biarpun masih kecil sudah kelihatan cantik itu. Terjadilah adu kepandaian karena nenek itu kukuh dengan tuntutannya bahwa siapa yang terpandai ilmu silatnya, dialah yang berhak memiliki anak dan anjing itu.”

“Siapakah nenek tua yang menawarkan In Hong dan Pek-pek itu?”

“Nanti dulu, kulanjutkan ceritaku. Karena aku tidak ingin melihat anak perempuan itu terjatuh ke tangan seorang di antara laki-laki yang kasar dan saling berebutan, yang mengeluarkan kata-kata kotor mengenai diri In Hong, aku lalu turun tangan merobohkan dan mengusir mereka semua. Kemudian aku membawa Nenek Phoa itu bersama In Hong dan Pek-pek ke pondokku. Sayang Nenek Phoa hanya dapat hidup sepekan lamanya, namun sebelum dia meninggal dunia, dia telah menceritakan semua riwayat In Hong sehingga tahulah aku bahwa Yap In Hong adalah adik kandungmu.”

“Aduh, untung ada engkau, Bi Kiok. Andaikata adikku terjatuh ke tangan orang jahat, betapa mungkin aku dapat bertemu dengannya?”

“Ah, belum tentu! Dari cerita Phoa Ma aku mendengar kematian ayah bundamu yang dikeroyok oleh para datuk…”

“Aku sudah tahu pula tentang hal itu, dan semua pembunuh ibuku telah tewas, sungguhpun bukan tewas oleh tanganku, terima kasih kepada Thian untuk itu! Akan tetapi harap kauceritakan riwayat In Hong setelah kedua orang tuaku itu tewas di Taigoan.”

“Menurut penuturan Phoa Ma, ketika ayah bundamu tewas bersama semua keluarga Theng yang budiman, adikmu berhasil dibawa lari oleh Phoa Ma dan Pek-pek yang oleh ayahmu diam-diam dibawa pula ke Taigoan secara sembunyi dari kota Lengkok, mengikuti pelarian ini. Dengan susah payah Phoa Ma menyembunyikan adikmu itu dan merantau sampai jauh. Namun karena dia sudah tua, maka tentu saja dia dan adikmu menjalani hidup yang serba kekurangan dan amat sukar, bahkan akhirnya, setelah adikmu berusia empat tahun lebih, Phoa Ma sering jatuh sakit sehingga tidak dapat melakukan pekerjaannya sebagai tukang cuci pakaian. Karena merasa bahwa tak mungkin dia dapat hidup lebih lama lagi, dia mencari akal dan menawarkan adikmu itu dan Pek-pek kepada orang-orang di pasar itu.”

“Aihh, budi Phoa Ma terhadap adikku sukar dapat dibalas, apalagi dia telah meninggal dunia. Akan tetapi, Bi Kiok. Mengapa dia menawarkannya kepada orang yang pandai ilmu silat?”

“Menurut pengakuan Phoa Ma ketika kutanya, dia berkata bahwa adikmu itu adalah keturunan ayah ibu pendekar, sudah sepantasnya kalau adikmu itu menjadi murid orang pandai pula agar kelak dapat membalaskan kematian orang tuanya. Pula kalau yang melindungi seorang ahli silat yang lihai, tentu keselamatannya terjamin.”

“Aduh, sungguh luhur budi Phoa Ma itu.” Kun Liong menarik napas panjang dan merasa terharu sekali.”

“Memang benar, padahal dia hanyalah seorang pelayan di rumah keluarga Theng di Taigoan.”

Kun Liong menarik napas panjang. “Kebajikan tidak memilih kedudukan maupun keadaan harta seseorang, bahkan biasanya, makin tinggi kedudukan seseorang dan makin banyak jumlah harta seseorang, makin jauhlah dia dari kebajikan. Orang yang tidak pernah merasakan kemiskinan, betapa mungkin menaruh rasa belas kasihan kepada orang miskin? Orang yang tidak pernah merasakan kelaparan, betapa mungkin merasa iba kepada orang kelaparan? Budi yang dilimpahkan Phoa Ma terhadap In Hong berdasarkan kasih tanpa mengingat lagi akan kepentingan dirinya sendiri. Sungguh budi yang sukar ditemukan di antara seribu orang!”

“Aku yakin bahwa ayah bundamu yang namanya terkenal di seluruh dunia kang-ouw tentulah merupakan orang-orang gagah yang sudah tak terhitung banyaknya menolong manusia lain, maka biarpun mereka sendiri mengalami nasib buruk, namun puterinya selalu dilindungi oleh bintang penolong.”

“Dan engkau adalah seorang di antara bintang-bintang penolongnya.”

“Hemm, aku tidak masuk hitungan.”

“Engkau terlalu merendahkan diri. Entah sudah berapa kali engkau menolongku. Seingatku, ketika aku hanyut di sungai, engkau pula menolongku dengan peringatan tentang bokor setelah engkau bersama gurumu menyelamatkan aku dari tangan Kwi-eng Niocu, betapa engkau menyembunyikan aku di guha dan…”

“Sudahlah, semua itu tidak ada gunanya dibicarakan kembali. Engkau pun telah menyelamatkan aku ketika aku hendak disiksa dan mukaku hendak dirusak oleh Toat Beng Hoatsu, kemudian engkau menyelamatkan aku dan malah mengorbankan diri menyerah ketika kita bersembunyi di dalam guha sehingga engkau menjadi tawanan pasukan pemerintah.”

Kun Liong tersenyum. “Memang di antara kita, siapa yang terancam

babaya harus ditelong oleh yang lain. Kalau kita tidak saling tolong-menolong, betapa akan lebih sengsaranya hidup ini. Kalau seluruh manusia di dunia ini saling menolong dan saling membantu, tentu dunia ini sudah berubah menjadi sorga! Akan tetapi, satu hal membuat aku kagum bukan main dan terheran-heran, Bi Kiok. Bagaimana engkau sekarang bisa begitu lihai? Kulihat ilmu kepandaianmu meningkat sepuluh kali lipat! Bahkan aku berani bertaruh bahwa ilmumu telah mencapai tingkat lebih tinggi daripada tingkat yang dimiliki gurumu dahulu.”

Pada saat itu dengan suara nyaring gembira, In Hong memberitahukan bahwa masakannya telah matang. Mereka bertiga lalu makan dan dengan setulus hati Kun Liong memuji masakan sayur yang dibuat adiknya. Karena selama beberapa bulan hidup berdua dengan gurunya In Hong diajar masak, dan memang suka masak, maka anak kecil ini benar-benar sudah pandai membuat masakan sayur yang bumbunya sedap. Sehabis makan, Bi Kiok memberi kesempatan kepada In Hong untuk ikut bercakap-cakap, akan tetapi dia melihat bahwa muridnya itu masih belum dapat membiasakan diri menghadapi seorang kakak maka biarpun dia sudah ramah sekali, tetap saja masih kaku terhadap Kun Liong. Rasa kasih sayang antara saudara sekandung terjalin karena kebiasaan hubungan sehari-hari, sedangkan kedua orang kakak beradik ini selama hidup mereka baru sekarang saling bertemu. Kemesraan di hati Kun Liong hanya terdorong oleh keharuannya mendapat kenyataan bahwa anak itu adalah adiknya, adik kandung satu-satunya! Namun perasaan seperti ini belum terasa oleh In Hong, maka dia pun hanya menganggap Kun Liong sebagai seorang laki-laki yang manis budi, yang menganggapnya sebagai adiknya.

Setelah mereka duduk bercakap-cakap berdua lagi, Kun Liong mengulangi pertanyaannya tentang kelihaian Bi Kiok yang dalam waktu singkat memperoleh kemajuan yang amat luar biasa itu.

“Kun Liong, percayalah, kalau bukan engkau, sampai mati pun aku tidak akan membuka rahasia ini. Engkaulah satu-satunya orang yang akan mendengar rahasiaku ini.”

Mendengar ucapan yang dikeluarkan dengan suara dan sikap sungguh-sungguh itu, tak disadarinya lagi saking herannya Kun Liong bertanya, “Mengapa aku?”

“Yaaah… justeru karena engkaulah…”

Kun Liong tersenyum. “Terima kasih, Bi Kiok. Ini menunjukkan bahwa engkau amat percaya kepadaku. Nah, aku siap mendengar rahasia besar itu.”

“Kun Liong, aku memperoleh kemajuan pesat setelah aku mempelajari ilmu kesaktian yang terdapat di dalam… bokor pusaka yang diperebutkan itu.”

“Hehhh…?” Kun Liong mencelat bangun dari bangkunya mendengar ini, saking heran dan kagetnya.

“Engkau marah?” Bi Kiok bertanya, sikapnya seperti menantang.

“Mengapa marah?” Kun Liong menggeleng kepalanya, matanya menjadi bundar ketika memandang wajah dara itu. “Aku hanya kaget dan heran karena tidak menyangka-nyangka. Yang kuketahui adalah bahwa bokor pusaka yang diperebutkan itu setelah ditemukan, ternyata palsu.”

“Memang kami yang memalsukan, mendiang Subo dan aku.”

Kun Liong mengangguk-angguk. “Cerdik sekali! Pantas semua tidak berhasil, bahkan Cia-supek sendiri, dan bahkan Panglima The Hoo sendiri, sampai dapat dikelabui. Hebat sekali siasatmu itu, Bi Kiok.”

“Mana aku bisa? Semua ini adalah siasat mendiang Subo. Ketika bokor terjatuh ke tangan Subo, Subo cepat membuat tiruannya pada seorang tukang emas yang segera dibunuhnya pula setelah pembuatannya selesai dan persis betul. Tidak ada seorang pun mengetahui akan pembunuhan ini. Lalu Subo menyuruh aku menyimpan bokor yang tulen sedangkan dia membawa yang palsu, hal ini menurut Subo adalah karena orang-orang tentu akan mengejar Subo, bukan aku yang hanya seorang muridnya. Dugaan Subo benar, bokor palsu yang diperebutkan sedangkan yang aseli berada di tanganku, kusembunyikan baik-baik. Sayang sekali, siasat Subo yang berhasil baik itu tidak dapat dinikmati oleh Subo sendiri yang keburu tewas. Maka aku lalu menyelidiki isinya, menemukan rahasia tempat penyimpanan kitab-kitab dan harta pusaka. Bokor itu kumusnahkan kitabnya kubawa dan kupelajari, sedikit harta kubawa sebagai bekal. Nah, dari sebagian kitab itulah aku memperoleh kemajuan ilmu silatku.”

Kun Liong menjadi kagum bukan main. “Hebat! Baru sebagian saja sudah amat luar biasa, apalagi kalau kau mempelajarinya semua!”

“Memang hebat sekali, Kun Liong. Dan harta itu pun cukup banyak. Dan begitu berjumpa denganmu, tekadku sudah bulat bahwa semua harta pusaka dan kitab-kitab itu adalah untuk kita. Aku tidak dapat hidup sendiri, menguasai pusaka sedemikian banyaknya.”

“Kita…?”

“Ya, kau pun berhak. Bukankah engkau yang mula-mula menemukan bokor itu dari dalam sungai? Engkau yang menemukan, aku yang menyelamatkannya dari tangan orang-orang yang memperebutkannya, jadi kita berdua, bertiga dengan In Hong, yang berhak memilikinya. Karena itu, Kun Liong, marilah kita pergi ke tempat rahasia itu, bersama In Hong dan hidup bertiga penuh kebahagiaan di sana.”

Kun Liong mengerutkan alisnya, memandang tajam. Sejenak mereka berpandangan, dua pasang sinar mata bertemu, bertaut, saling menjajaki dan menyelidiki. Kemudian Bi Kiok menghela napas dan berkata, “Kun Liong, aku… aku masih mencintamu, sejak dulu sampai sekarang dan sampai mati. Selama ini, tidak ada seorang pun pria yang menarik hatiku.”

“Bi Kiok! Jangan kau berkata demikian!”

“Hemm, Kun Liong, apakah kau tidak cinta padaku, setelah segala yang kulakukan terhadap adik kandungmu?”

Kun Liong cepat bangkit berdiri, menjura dan membungkuk. “Untuk budimu itu, sampai mati pun aku tidak akan melupakannya, Bi Kiok. Akan tetapi cinta…? Kurasa…” Dia tidak tega untuk berterus terang dengan kata-kata, hanya

menggelengkan kepalanya.

“Kun Liong…” Suara Bi Kiok gemetar.

“Ya…”

“Lupakah kau…?”

“Ya…”

“Ketika kita bersembunyi di dalam guha gelap itu…”

“Hemmm… lalu…”

“Kau telah menciumku! Engkau telah menciumi mataku! Semenjak saat itulah aku jatuh cinta padamu sampai sekarang dan sampai selamanya!”

Kun Liong ingin menampar kepalanya sendiri kalau dia teringat akan semua sifat ugal-ugalannya dahulu. Karena sifatnya itu, main-main dan menggoda dara cantik, dia melibatkan diri dalam pertalian cinta-mencinta yang amat ruwet dan berekor panjang. Andaikata dia dahulu tidak mencium mata Bi Kiok, tentu tidak akan begini jadinya. Belum tentu gadis yang pada dasarnya berwatak dingin ini jatuh cinta padanya.

Dia mengangkat muka memandang. Memang cantik luar biasa dara ini, dan terutama matanya! Bukan salahnya kalau dia dahulu mencium mata itu. Sekarang pun… hemm…, jarang ada sepasang mata seindah itu!

“Bi Kiok, dahulu pun sudah kukatakan bahwa aku tidak mencinta padamu. Pada waktu itu, aku tidak mencinta siapa-siapa. Cinta tidak mungkin bisa dipaksakan dan aku tidak sudi menjadi seorang perayu yang mempergunakan senjata cinta palsu untuk menjatuhkan hati seorang wanita. Aku telah berterus terang kepadamu waktu itu, dan sekarang aku pun hendak berterus terang babwa lebih-lebih sekarang ini, tidak mungkin bagiku untuk mencintamu atau wanita lain karena aku telah mencinta seorang gadis lain.”

“Ouhhhh…” Wajah itu berubah pucat dan sinar mata yang indah itu seolah-olah lampu yang menjadi hampir padam, sayu tanpa cahaya lagi.

“Maafkan aku, Bi Kiok…” bisik Kun Liong sambil menunduk karena menyaksikan sinar mata itu dia merasa jantungnya seperti ditikam, tidak sampai hatinya untuk memandang.

“…puteri Cin-ling-san…?” Akhirnya, setelah hening beberapa lamanya yang merupakan keheningan yang mencekam hati Kun Liong, terdengar suara Bi Kiok, suaranya lirih dan tergetar.

Kun Liong menggeleng kepala. “Bukan dia, Bi Kiok dan kuceritakan pun engkau tidak akan mengenalnya. Kami pun dipisahkan secara keji dan sekarang aku sedang hendak mencarinya, mungkin ke Tibet, entah akan berjumpa lagi dengan dia atau tidak aku belum dapat memastikannya. Memang sudah nasibku harus berpisah selalu dari orang-orang yang kucinta. Mula-mula dengan ayah bundaku, lalu dengan adik kandungku, kemudian dengan gadis yang kucinta…”

“Dan sekarang dengan adik kandungmu lagi!”

Kun Liong mengangkat mukanya memandang. Wajah dara itu tetap cantik, tetapi pucat dan bertambah dingin, namun suaranya tidak tergetar lagi, bahkan terdengar nyaring dan penuh tantangan!

“Apa maksudmu?”

“Maksudku sudah jelas, Kun Liong! Engkau tidak mau hidup bersama kami berdua di tempatku. Baik, nah, pergilah sekarang juga.”

“Tapi adikku, In Hong…?”

“Dia itu aku yang menemukannya, dan dia adalah muridku. Kalau engkau hendak berkumpul dengan dia, nah, ikutlah dengan kami. Kalau tidak, pergilah! Akan tetapi kauingat selalu, aku tetap cinta padamu, sampai mati pun aku akan tetap cinta padamu, maka setiap orang wanita yang merebutmu dari tanganku, dia akan mati di tanganku pula!”

“Bi Kiok…!”

“Aku sudah bicara! Pergilah!”

“Aku harus membawa adikku bersamaku!”

“Tidak boleh!”

“Bi Kiok, harap kau suka berpikir panjang, suka berlaku adil dan bersikap bijaksana. Dia adalah adikku, adik kandungku!”

“Kakak kandung macam apa kau ini? Aku yang menemukannya, kalau tidak entah apa jadinya dengan dia. Dia muridku, tidak boleh kaubawa seenakmu begitu saja!”

“Akan tetapi, dia adik kandungku. Dia adalah satu-satunya manusia yang kucinta di dunia ini…”

“Dan kaulah satu-satunya manusia yang kucinta, akan tetapi engkau tega menghancurkan pengharapan dan kebahagiaanku. Tidak, aku tidak akan membiarkan engkau membawa pergi In Hong!”

“Bi Kiok, aku amat tidak suka kalau terpaksa harus bertengkar denganmu. Engkau sahabat yang paling baik! Harap jangan memaksa aku menggunakan kekerasan terhadapmu…”

“Huh, sombongnya! Kaukira aku takut kau menggunakan kekerasan? Jangan harap akan dapat membawa pergi In Hong tanpa melalui mayatku!”

Keduanya berdiri saling pandang, Kun Liong penuh permohonan, Bi Kiok penuh kedukaan dan kemarahan. Sampai lama keduanya hanya saling pandang, kemudian terdengar kata-kata Kun Liong, membujuk dan halus, “Bi Kiok, kumohon padamu, ikhlaskanlah seorang kakak berkumpul kembali dengan adik kandungnya.”

“Hemmm, Kun Liong, aku pun mengharapkan agar kau suka memenuhi hasrat seorang wanita yang mencinta pria idaman hatinya, namun hasilnya sia-sia. Pendeknya, engkau hanya mempunyai dua pilihan. Pertama, engkau tinggal bersama dengan kami, hidup bertiga dan kita bersama membesarkan dan mendidik In Hong, suka menerima pelayananku sebagai seorang kekasih, sebagai seorang… isteri yang mencintamu dengan seluruh jiwa raganya, atau… kau pergi dari sini dan kita tidak akan saling bertemu lagi. Kecuali kalau kau membela calon isterimu yang tentu akan kucari dan kubunuh.”

“Bi Kiok! Kau kejam…!” Kun Liong mulai marah.

“Kau lebih kejam lagi!” bentak Bi Kiok.

“Kalau begitu, aku akan menggunakan kekerasan!”

“Silakan!”

Kun Liong menerjang ke depan, maksudnya untuk merobohkan Bi Kiok dengan totokan dan membuat dara itu tidak berdaya lagi agar dia dapat membawa pergi In Hong dari tempat itu. Betapa pun kagumnya terhadap pribadi dara ini, baik kecantikan lahirnya maupun budi pertolongannya, namun dia tidak merelakan adiknya berpisah lagi darinya dan dididik oleh Bi Kiok yang betapa pun adalah murid dari datuk kaum sesat yang terkenal sebagai seorang iblis betina yang amat kejam dan mengerikan. Dia harus membawa pergi adiknya, mendidiknya menjadi seorang wanita yang penuh kelembutan, halus lembut lahir batinnya, wanita seratus prosen, tidak seperti Bi Kiok yang menyembunyikan kekerasan dan keganasan di balik kelembutan dan kecantikan.

“Plak-plak-plak!!”

Kun Liong terkejut sekali. Lengannya bertemu dengan lengan gadis itu yang menangkis dan balas memukul lalu ditangkisnya. Pertemuan kedua lengan itu membuat dia dapat merasakan kehebatan tenaga sin-kang yang keluar melalui lengan itu, sin-kang yang mengandung hawa panas seperti api membara!

“Hebat…!” Serunya karena harus diakuinya bahwa tingkat sin-kang dari gadis ini tidak kalah oleh tingkat para datuk kaum sesat yang pernah dilawannya!

Kun Liong mendesak dengan gerakan cepat, mainkan Im-yang Sin-kun dan mengerahkan tenaga Pek-in-ciang (Tangan Awan Putih) sehingga dari kedua telapak tangannya mengepul uap putih. Tentu saja dia hanya mengerahkan tenaga dan mengarahkan pukulan untuk membuat gadis itu tidak berdaya, sama sekali tidak ingin melukainya dengan hebat, apalagi membunuhnya.

“Wuuutt! Syuuuuuuttt!!” Dua telapak tangan yang mengeluarkan uap putih itu menyambar, yang kiri menotok ke arah lambung, yang kanan mencengkeram ke arah pundak.

“Heiiiiitttt…!” Bi Kiok memekik, tubuhnya mencelat ke belakang, berjungkir balik dan ketika Kun Liong melanjutkan serangannya dengan mengejar terus, dia menggerakkan kedua tangannya menyambut dengan sampokan dari samping yang keras sekali.

“Plak! Dukk!”

Kembali Kun Liong merasa betapa kedua lengannya terpental, akan tetapi dia melihat gadis itu terhuyung sedikit. Kalau Kun Liong menggunakan seluruh sin-kangnya, tentu akibatnya lebih hebat lagi. Akan tetapi hanya sebentar Bi Kiok terhuyung karena dia sudah cepat membalik dan tiba-tiba dia meloncat ke atas, seperti seekor burung garuda menyambar turun, tubuhnya menerjang dari atas, kedua tangannya mencengkeram ke arah ubun-ubun dan leher, dibarengi dengan lengking tajam menggetarkan jantung!

“Hyaaaaatttt…!”

“Uhhhh!” Kun Liong mendengus dan cepat menangkis dengan kedua lengannya karena dia melihat betapa aneh dan ganasnya serangan dari atas ini. Kini dia mengerahkan lebih banyak tenaga karena maksudnya agar dara itu terpelanting sehingga dapat ditotoknya.

Namun betapa kagetnya ketika baru saja lengannya menyentuh lengan gadis itu dalam tangkisan, lengan gadis itu meleset seperti seekor belut licinnya dan pada saat tubuh gadis itu turun, kedua tangannya yang berhasil menyelinap licin itu menotok ke arah jalan darah di dada dan leher Kun Liong.

“Hemmm…!” Kun Liong mendengus penasaran. Dia yang ingin menotok, malah diserang totokan. Betapa cepat dan hebatnya gerakan gadis ini! Dia dapat juga menangkis dan kini, sambil menangkis dia menggunakan sin-kang yang dilatihnya dari Bun Hwat Tosu, yaitu yang mengandung tenaga membetot! Dengan sin-kang ini, begitu kedua lengannya menangkis, dia dapat melakukan gerakan yang sama dengan yang dilakukan Bi Kiok tadi, yaitu kedua lengannya menyelinap dan kedua lengan gadis itu seperti tersentak kaget dan gadis itu tidak berdaya ketika dengan cepatnya kedua tangan Kun Liong melakukan totokan pada kedua pundak Bi Kiok sambil berkata, “Maafkan aku, Bi Kiok!”

“Cuss! Cusssi!”

“Plak! Plak!”

Betapa kagetnya hati Kun Liong! Kedua totokannya itu tepat mengenai sasaran, yaitu pada jalan darah di bawah pundak depan, agak di sebelah atas kedua buah dada gadis itu, akan tetapi jari-jari tangannya bertemu dengan kulit dan daging lunak halus seolah-olah tidak ada jalan darahnya dan gadis itu tidak apa-apa, malah sebagai “hadiahnya” dua kali telapak tangan gadis itu menampar pipinya. Tamparan ini mengenai sasaran dengan tepat karena Kun Liong sedang melongo keheranan ketika totokan-totokannya tidak membawa hasil sama sekali. Setelah ditampar, barulah dia sadar bahwa ternyata Bi Kiok telah memiliki ilmu memindahkan jalan darah dan melindungi bagian yang tertotok sehingga totokannya tadi mengenai tempat hampa!

Bi Kiok yang sudah marah itu menyerang kalang kabut dan harus diakui oleh Kun Liong bahwa gadis ini mempunyai dasar ilmu silat yang amat aneh dan ampuh, hanya belum terlatih baik. Diam-diam dia bergidik. Katanya tadi baru mempelajari sebagian saja, kalau sudah mempelajari seluruh kitab pusaka milik Panglima The Hoo yang berada di tempat rahasia, kitab pusaka yang tentu belum ditemukan oleh panglima itu sendiri, entah bagaimana hebatnya gadis ini! Dia terus mengelak dan menangkis, kadang-kadang membalas dengan totokan yang selalu gagal, sambil berpikir-pikir bagaimana sebaiknya menjatuhkan gadis yang amat lihai ini.

Biar kuhabiskan saja napasnya, pikir Kun Liong. Dia kini main mundur, bahkan membuat langkah-langkah yang diambil inti sarinya dari kitab Keng-lun Tai-pun dari Bun Ong. Langkah ini pendek-pendek saja, amat ringan baginya, namun membuat Bi Kiok yang mengejarnya terus itu harus berputaran dan menggunakan banyak tenaga gin-kang! Sampai seratus jurus lebih Kun Liong “mempermainkan” Bi Kiok, berputaran dan membuat gadis itu seolah-olah seorang anak-anak yang bermain-main mengejar bayangannya sendiri! Namun hebatnya, Bi Kiok terus menyerang dan tidak pernah kelihatan mengendor serangannya!

Dua ratus jurus telah lewat! Dan Kun Liong mulai berkeringat, akan tetapi Bi Kiok masih terus menerjangnya dan tidak terdengar napas gadis itu memburu. Celaka, pikir Kun Liong. Dia gagal lagi. Agaknya ada suatu cara latihan napas dalam kitab di tempat rahasia yang ditunjukkan oleh bokor itu, yang membuat napas gadis itu menjadi amat kuatnya melebihi kuatnya napas seekor kuda!

“Wah, kalau begini tak mungkin aku dapat merobohkannya,” pikir Kun Liong sambil cepat menghindarkan diri dari terjangan kedua kaki yang bentuknya indah membayang di balik kain celana sutera tipis itu akan tetapi keindahan yang berbahaya karena mengandung tendangan maut! Memang tadi terpikir olehnya untuk mempergunakan satu-satunya ilmu yang menjadi simpanannya, yaitu Thi-khi-i-beng, akan tetapi dia tidak tega. Ilmu ini kalau digunakan akibatnya akan menyedot sin-kang lawan dan tentu saja dia tidak tega menggunakan ini dalam menghadapi Bi Kiok. Dia maklum betapa sukar dan lama menghimpun sin-kang, apalagi sin-kang seperti yang dimiliki Bi Kiok. Kalau dia menghendaki agar Bi Kiok roboh tanpa memperdulikan keselamatannya, kiranya tidak nanti gadis itu sampai dapat menyerangnya terus selama dua ratus jurus. Yang sulit adalah karena dia ingin merobohkan gadis ini tanpa melukai atau menyakiti. Setelah mereka bertanding dengan hebat dan cepatnya sehingga bagi orang lain yang tampak hanyalah dua bayangan berkelebatan saja itu selama hampir tiga ratus jurus dan tidak nampak gadis itu lelah atau mau mengalah sedikit pun, Kun Liong mengambil keputusan untuk mempergunakan Thi-khi-i-beng!

“Maafkan aku, Bi Kiok!”

“Plak! Plakk!”

“Oughhhhh…!” Bi Kiok mengeluh dan matanya yang amat indah itu, terbelalak memandang wajah Kun Liong ketika kedua tangannya yang bertemu dengan lengan Kun Liong itu melekat pada lengan dan tidak dapat ditariknya kembali, dan yang mengejutkannya adalah ketika dia merasa betapa tenaga sin-kangnya menerobos keluar seperti air hujan membanjir! Melihat sepasang mata yang amat indah dan amat dikaguminya itu terbelalak kaget dan ngeri, Kun Liong menjadi tidak tega dan memejamkan matanya agar tidak melihat mata itu!

“Berani kau menyerang Subo (Ibu Guru)…?” Tiba-tiba terdengar bentakan anak kecil dari belakang dan “buk! buk!” dua buah kepalan menghantami pinggulnya!

“Kau orang jahat! Kau bukan kakak kandungku! Kakak kandungku tidak akan jahat terhadap Subo! Lepaskan Subo! Lepaskan! Buk-buk-buk-buk!” Kedua kepalan kecil itu terus menghantam pinggul Kun Liong.

Kun Liong terkejut sekali mendengar suara In Hong ini. Cepat dia menyimpan kembali tenaga Thi-khi-i-beng sambil melompat mundur. Yo Bi Kiok berdiri dengan napas agak memburu, wajahnya agak pucat dan sejenak memejamkan mata dan membereskan napasnya. Kemudian dia membuka matanya memandang Kun Liong dengan terbelalak penuh rasa penasaran akan tetapi juga kagum.

“Kau… kau…!” Dia tidak mampu melanjutkan kata-katanya karena dia tidak tahu harus berkata apa.

“Kau orang jahat, aku tidak mau dekat denganmu!” In Hong berteriak lagi sambil lari mendekati Bi Kiok dan merangkul pinggang dara ini seperti hendak melindungi gurunya.

Kun Liong menarik napas panjang. “Maafkan aku, Bi Kiok…”

“Sudahlah, pergilah… akan tetapi ingat akan semua kata-kataku!” Bi Kiok berkata.

Kun Liong memandang kepada adiknya. Tanpa banyak cakap, mengertilah dia bahwa tak mungkin dia dapat memaksa adiknya pergi bersamanya. Perbuatan itu sama dengan menghancurkan hati Bi Kiok dan adiknya sendiri. Dia akan menjadi seorang yang amat kejam kalau dia lakukan hal itu. Betapapun juga, dia ingin kepastian dan dengan muka manis dia berkata kepada adiknya, “In Hong aku adalah kakak kandungmu. Aku hendak mengajak engkau pergi karena sudah semestinya engkau ikut aku yang menjadi kakakmu.”

“Tidak! Tidak sudi…!”

“In Hong, dengarlah baik-baik. Aku sama sekali tidak berbuat jahat terhadap gurumu. Kami memperebutkan engkau. Sekarang engkau boleh pilih. Aku sebagai kakak kandungmu dan dia sebagai gurumu, kau hendak memilih yang mana dan hendak ikut yang mana?”

“Dia benar, In Hong. Kaupilihlah. Dia bukan orang jahat, akan tetapi kau boleh memilih antara kami berdua.”

“Aku memilih Subo! Aku ikut Subo!” In Hong berteriak penuh semangat dan memandang kepada Kun Liong dengan mata bernyala marah.

Kun Liong dan Bi Kiok saling pandang, lalu pemuda itu menghela napas panjang.

“Apa boleh buat, terpaksa aku harus meninggalkannya kepadamu, Bi Kiok. Akan tetapi, setiap waktu aku akan mengunjunginya dan melihat keadaannya. Harap saja engkau tetap baik kepadanya dan mendidiknya menjadi seorang manusia yang baik…, tidak… tidak seperti kakaknya.” Tambahnya “Selamat tinggal!”

“Kun Liong…!” Suara mengandung isak itu menahan kakinya. Dia membalik. Tidak nampak Bi Kiok menangis, akan tetapi wajahnya pucat, matanya sayu ketika memandangnya. “Kun Liong, aku mohon sekali lagi padamu, tidak dapatkah engkau merubah pendirianmu? Kita bertiga akan hidup bahagia…” Ucapan itu tidak dilanjutkan karena Kun Liong sudah menggeleng kepalanya, kemudian sekali berkelebat, Kun Liong sudah lenyap dari tempat itu.

“In Hong… dia terlalu…! Kakakmu terlalu…!” Bi Kiok menjatuhkan diri berlutut, memeluk muridnya dan baru sekarang air matanya tertumpah.

“Aku tidak mau…! Aku tidak mau pergi sebelum merawatnya! Harap Sam-wi (Anda Bertiga) jangan memaksaku!” Hong Ing meronta-ronta, akan tetapi tangisnya itu tidak dipedulikan, bahkan Hun Beng Lama, pendeta Lama yang selalu memegang tasbih itu menggerakkan tangan kirinya menyentuh belakang telinganya dan Hong Ing seketika menjadi lemas. Dia sama sekali tidak dapat mengeluh lagi, apa pula berontak, hanya memandang ke arah Kun Liong yang rebah seperti mati itu ketika tubuhnya yang lumpuh dikempit oleh Hun Beng Lama bersama dua orang Lama lainnya menuju ke perahu mereka.

Mulailah Hong Ing melakukan perjalanan yang sama sekali tidak menyenangkan hatinya, bukan karena sikap para paman gurunya itu. Sama sekali tidak. Sikap mereka itu cukup baik, bahkan lemah lembut terhadap dirinya, dan kalau saja tidak teringat kepada Kun Liong yang ditinggalkan dalam keadaan terluka seperti mati, tentu dia senang melakukan perjalanan dengan tiga orang paman gurunya yang memiliki kesaktian-kesaktian seperti dewa itu. Selain mereka bersikap ramah dan baik, bahkan jarang mengeluarkan kata-kata dan semua keperluan dan kebutuhannya di sepanjang perjalanan dicukupi, juga hati siapa takkan senang mendengar bahwa dia akan bertemu dengan ayah kandungnya yang selama hidupnya belum pernah dijumpainya itu? Ayahnya adalah suheng (kakak seperguruan) mereka, dan ayahnya adalah ketua mereka, dapat dibayangkan betapa tinggi ilmu kepandaian ayahnya! Dia tentu akan girang sekali pergi menjumpai ayahnya. Akan tetapi, kalau dia teringat kepada Kun Liong yang rebah seperti mati, hatinya seperti disayat-sayat. Pemuda itu dalam keadaan terluka parah, seorang diri saja di pulau kosong itu. Membayangkan betapa pemuda itu akan mati dengan menyedihkan dan tersiksa, hatinya menjadi ngeri, berduka dan terutama sekali dia merasa menyesal karena dia meninggalkan Kun Liong yang sedang berduka.

Dia meninggalkan Kun Liong selagi pemuda itu hancur, setelah dia menampar pipi pemuda itu! Tentu Kun Liong akan menganggap dia membencinya! Aihh, padahal dia amat mencinta Kun Liong! Tidak ada seorang pun manusla lain yang akan dicintanya melebihi cintanya kepada Kun Liong. Akan tetapi, pada saat terakhir sebelum mereka berpisah, sebelum Kun Liong roboh ketika melawan tiga orang Lama itu, dia terpaksa menampar pipi Kun Liong saking tidak kuat menahan kemarahan dan kepanasan hatinya! Siapa yang kuat menahan! Dia amat dikecewakan, disakitkan hatinya. Kun Liong yang mengaku mencintanya dengan sepenuh jiwa raganya itu, terialu memandang rendah dirinya. Dia dikalahkan dalam perbandingan dengan seorang wanita bayangan, seorang gadis khayal. Hanya seorang gadis khayal! Kalau dia bukan gadis impian Kun Liong itu, mengapa Kun Liong menyatakan cinta kepadanya? Kalau dia tidak seperti gadis khayal itu yang menurut Kun Liong tanpa cacad, mengapa Kun Liong berani menyatakan cintanya? Dia tidak sudi menjadi seorang yang dijadiken tempat pelarian setelah Kun Liong merasa bahwa di dunia ini tidak ada gadis yang diimpi-impikan itu. Dia tidak sudi menjadi pengganti belaka, menjadi penghibur lara belaka. Padahal cinta kasihnya terhadap Kun Liong mutlak dan lengkap, tanpa perbandingan karena memang tidak ada bandingan dalam cinta kasihnya.

PERJALANAN yang amat jauh, melelahkan dan juga membuatnya kurus karena tertekan batinnya teringat kepada kekasihnya itu, memakan waktu berbulan-bulan dan akhirnya sampailah mereka di tempat yang dituju. Sebuah dusun besar di pegunungan dan di luar dusun itu, di dekat puncak, terdapat sekelompok bangunan besar yang dikurung pagar tembok seperti benteng. Itulah pusat dari perkumpulan agama para Lama Jubah Merah yang terkenal di seluruh Tibet sebagai perkumpulan yang menyendiri dan dipimpin oleh orang-orang yang sakti. Kuil mereka terdapat di tengah-tengah kelompok bangunan itu dan setiap hari, dari pagi sampai sore, pintu gerbang tembok benteng itu terbuka dan semua orang, dari dusun-dusun di daerah tempat itu, diperkenankan memasuki dan mengunjungi kuil besar untuk bersembahyang dan mohon berkah. Konon dikabarkan bahwa kuil Lama Jubah Merah ini amat sakti dan manjur sehingga amat terkenal, banyak dikunjungi orang dan banyak pula menerima dana bantuan dari rakyat di daerah itu yang terkenal pula berpenghasilan besar sebagai peternak-peternak. Memang bukan hanya tempat tinggalnya saja yang kuat, dengan pagar tembok menyerupai benteng, akan tetapi juga anggautanya cukup banyak, tidak kurang dari seratus orang! Karena rata-rata mereka itu memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka tentu saja seratus orang Pendeta Jubah Merah ini merupakan sebuah pasukan yang hebat! Perkembangan mereka ini sudah lama diikuti dengan diam-diam oleh Pemerintah Tibet yang dipegang oleh Dalai Lama, akan tetapi karena tidak ada bukti nyata bahwa Lama Jubah Merah menentang Pemerintah Tibet yang sah, maka tidak pernah ada tindakan.

Kedatangan tiga orang Lama, yaitu Sin Beng Lama yang ditemani dua orang sutenya, Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama, disambut dengan penuh penghormatan oleh para anggauta perkumpulan agama itu, bahkan diadakan pesta sebagai penyambutan mereka yang telah meninggalkan Tibet selama berbulan-bulan itu. Apalagi karena tiga orang tokoh utama itu telah berhasil membawa pulang Pek Hong Ing! Gadis ini begitu tiba di situ lalu menanyakan tentang ayahnya. “Mana ayahku? Aku ingin sekali bertemu dengan ayahku!” Memang di waktu melakukan perjalanan yang amat jauh itu, setelah dapat mengatasi kedukaan hatinya karena meninggalkan Kun Liong, hanya satu tujuan hati Hong Ing, yaitu dapat berjumpa secepatnya dengan ayahnya, kemudian hendak minta bantuan kepada ayahnya untuk mengirim orang menjenguk dan menolong Kun Liong!

Sin Beng Lama sendiri lalu membawa Hong Ing ke sebuah kamar yang besar dan cukup lengkap. Setelah mereka memasuki kamar itu yang ternyata kosong tidak ada siapa pun di dalamnya, kakek ini berkata, “Engkau tinggallah di sini dan ayahmu pasti akan segera datang asal engkau suka bekerja sama dengan kami.”

Hong Ing memandang penuh selidik kepada pendeta tua berjubah merah itu, dan mulailah dia merasa curiga.

“Apa artinya ini? Susiok… di mana Ayah?”

Sin Beng Lama mengerutkan alisnya. “Kalau kami tahu dia berada di mana, agaknya kami tidak akan membawamu jauh-jauh ke sini, Pek Hong Ing. Kami membawamu ke sini hanya untuk memancing agar ayahmu mencarimu ke sini.”

Pucatlah wajah Hong Ing mendengar Ini. “Apa…? Bukankah kalian katakan bahwa Ayah adalah Suheng kalian?”

“Benar demikian. Ayahmu adalah Kok Beng Lama, Suheng kami.”

“Dan katanya Ayah adalah ketua di sini…”

“Sayang tidak demikian sesungguhnya. Sebaliknya malah, ayahmu adalah seorang yang berdosa besar, seorang pelarian yang harus menerima hukuman karena telah melakukan dosa-dosa yang amat banyak.”

Terbelalak mata Hong Ing memandang kakek itu. “Apa… apa yang terjadi? Mengapa para Susiok menipuku, membiarkan aku pergi meninggalkan Kun Liong yang terluka di pulau itu…? Ahhh, apa yang telah kulakukan ini…?”

“Tenanglah, dan duduklah. Dengarkan cerita pinceng (aku).”

Karena kedua kakinya memang menggigil saking tegang hatinya yang diliputi bermacam perasaan itu, Hong Ing lalu menjatuhkan dirinya di atas pembaringan, sedangkan kakek itu lalu duduk di atas bangku menghadapi pembaringan.

“Ibumu bernama Pek Cu Sian, seorang pendekar wanita dari Tiong-goan yang berani lancang tangan mencampuri urusan

dalam perkumpulan agama kami sehingga terpaksa kami tangkap dan kami tawan. Karena dia masih perawan dan cantik, maka para pimpinan perkumpulan kami mengambil keputusan untuk menjadikan dia sebagai korban tahun itu, korban kepada Dewa Syiwa. Akan tetapi, pada malam sebelum upacara pengorbanan dilakukan, Pek Cu Sian lenyap dari kamar tahanan. Kami semua mengira bahwa dia telah dapat meloloskan diri, maka hal ini terlupalah sudah sampai lima tahun kemudian ketika engkau, ketika itu seorang anak perempuan kecil berusia empat tahun, kelihatan oleh scorang anggauta kami. Barulah kami tahu bahwa Pek Cu Sian, ibumu itu, telah diselamatkan oleh Suheng Kok Beng Lama sendiri yang menyembunyikannya dan mengambilnya sebagai isteri! Betapa besar dosa Kok Beng Lama dapat kaubayangkan sendiri!”

“Tidak! Dia tidak berdosa!” Hong Ing membantah setelah mendengar penuturan itu. “Dia adalah seorang manusia, tidak seperti kalian yang bagaikan segerombolan binatang buas hendak membunuh mendiang ibuku! Ayah adalah seorang laki-laki sejati yang berani mempertanggungjawabkan perbuatannya!”

Namun kakek itu tidak mempedulikan bantahan ini dan melanjutkan ceritanya.

“Karena dosanya itu, Kong Beng Lama dihukum sepuluh tahun dan ibumu yang melarikan diri bersamamu itu kami kejar

atau lebih tepat dikejar oleh anak buah kami karena kalau kami sendiri yang mengejar dia tentu telah dapat kami tawan kembali bersamamu. Dia dapat melarikan engkau dan lolos.”

“Ibu adalah seorang pendekar wanita yang amat gagah perkasa!” Hong Ing berkata penuh semangat. “Biarpun dikeroyok oleh para pendeta palsu, masih dapat menyelamatkan aku sampai tiba di Go-bi-san dan ditemukan oleh Subo dalam keadaan hampir mati oleh luka-lukanya akibat pengeroyokan pua pendeta yang curang!”

Kakek itu kembali tidak mempedulikan, seolah-olah tidak mendengar kata-kata Hong Ing. “Setelah Kok Beng Lama keluar dari hukuman, dia melakukan dosa ke dua yang lebih hebat. Dia telah membunuh ketua kami, yaitu Twa-suheng kami! Kemudian dia melarikan diri…”

“Tentu untuk mencari Ibu dan aku!”

“Dosanya yang besar harus dihukum, maka pinceng sendiri bersama kedua orang Sute…”

“Kalian tiga orang pendeta jahat!”

“Kami turun gunung untuk mencarinya, namun tidak berhasil. Untung kami berjumpa dengan Go-bi Sin-kouw dan dengan tusukan-tusukan hio (dupa biting) dia akhirnya bercerita tentang dirimu.”

“Kau… kau telah menyiksa Subo!” Biarpun dia tidak suka kepada ibu gurnya, namun Hong Ing masih ingat betapa sejak kecil dia dipelihara dan dididik oleh Go-bi Sin-kouw, maka mendengar subonya disiksa untuk mengaku, dia menjadi marah.

“Kami mencari jejakmu, dari sungai di mana menurut penuturan Go-bi Sin-kouw engkau dan pemuda gundul itu terlempar ke muara sungai, masuk ke laut oleh Kok Beng Lama.”

“Aihh, tidak kusangka bahwa pendeta yang gagah perkawa itu adalah ayah kandungku sendiri…” Hong Ing menutupi mukanya mengenangkan kembali peristiwa itu.

“Akhirnya kami berhasil menemukan engkau di pulau kosong bersama pemuda aneh itu dan karena kami tidak sampai hati mempergunakan kekerasan terhadap seorang gadis muda seperti engkau, kami terpaksa menjalankan siasat agar engkau

suka ikut pergi dengan suka rela.”

Sin Beng Lama bangkit berdiri, melangkah ke pintu lalu membalik memandang kepada gadis itu, berkata lagi, suaranya halus, “Kami akan menyebar berita ke Tiong-goan agar ayahmu mendengar bahwa puterinya telah berada di tangan kami. Dengan demikian dia pasti akan datang ke sini. Kami harap kau tidak banyak rewel dan berdiam saja di sini dengan baik. Kalau tidak, terpaksa kami akan memperlakukan engkau sebagai tawanan yang dikurung dalam kamar tahanan dan dibelenggu kaki tangannya.” Setelah berkata demikian, Sin Beng Lama melangkah keluar dari kamar dengan tenang.

Sejenak Hong Ing tertegun, mukanya pucat. Mengertilah dia sekarang bahwa dia dijadikan sandera untuk menjebak ayahnya sendiri! Dan dia telah pergi dengan suka rela, bahkan telah meninggalkan Kun Liong dalam keadaan terluka parah! Akan tetapi apa yang dapat dilakukannya? Tiga orang pendeta itu sakti sekali, bahkan Kun Liong yang demikian gagah pun tak berdaya, apalagi dia.

Aku harus pergi dari sini! Demikianlah suara hati Hong Ing. Dia harus pergi dan kembali ke Tiong-goan, kembali ke laut mencari pulau kosong, mencari Kun Liong dan mencari ayahnya! Betapa rindunya kepada Kun Liong, juga kepada ayahnya, pendeta raksasa yang baik hati dan sakti itu.

Akan tetapi ketika berindap-indap dia keluar dari kamar, dia melihat dua orang Pendeta Jubah Merah berdiri di luar pintu, mata mereka memandang dengan bengis kepadanya! Ketika dia memasuki kamamya lagi dan menjenguk ke jendela, juga di luar jendela terdapat dua orang pendeta! Kamarnya telah dikurung dan dijaga!

Malam itu, kembali Hong Ing kecelik ketika dia menyelidiki pintu dan jendela kamarnya karena ternyata olehnya kemudian bahwa penjagaan ketat itu diadakan siang malam dengan bergilir! Semalam suntuk itu dia tidak tidur, mencari kesempatan untuk melarikan diri, namun akhirnya dia mengerti bahwa kesempatan itu tidak pernah ada. Selain kamarnya yang dikurung, juga penjagaan di pagar tembok menyerupai benteng itu amat kuatnya sehingga andaikata dia dapat keluar dari kamar, kiranya tidak mungkin dia akan dapat keluar dari markas itu! Di samping ini, sekiranya terjadi keajaiban dan dia dapat keluar dari markas itu, apa dayanya menghadapi para pendeta sakti itu kalau dia dikejar dan disusul? Dia tidak mengenal daerah pegunungan itu, apalagi ketika melakukan perjalanan mengikuti tiga orang pendeta menuju ke Tibet, dia melihat gurun pasir seolah-olah tanpa tepi. Tanpa penunjuk jalan, dia akan mati kehausan dan kelaparan di daerah yang mengerikan itu.

Terpaksa Hong Ing hanyaa bisa menanti dan dia bukanlah seorang gadis bodoh yang hanya mengubur diri dalam kedukaan dan keputusasaan. Tidak. Dia sudah bersiap-siap dan karena itu dia menjaga kesehatan dirinya dengan baik, makan setiap hari, bahkan membaiki para pendeta di situ dan minta petunjuk ketika dia melatih ilmu silatnya setiap hari. Dia harus berada dalam keadaan kuat dan terlatih kalau saat yang ditunggu-tunggu itu tiba, yaitu saatnya ayahnya yang dijebak itu muncul di sini!

Dan saat yang dinanti-nanti itu tiba beberapa bulan kemudian! Pada suatu hari, pagi-pagi sekali, di antara suara orang berdoa, suara liam-keng (doa) diselingi suara ketukan berirama yang mengiringi doa, terdengarlah teriakan yang amat gaduh.

Hong Ing sudah bangun tidur dan sudah mencuci muka, siap untuk melakukan latihan pagi ketika mendengar suara gaduh itu. Akan tetapi ketika dia meloncat ke pintu, hampir dia bertumbukan dengan Lak Beng Lama yang menghadang dengan tongkat di tangan. Melihat sikap susioknya ini, Hong Ing sudah curiga dan dapat menduga bahwa inilah agaknya saat-saat yang dinanti-nantinya. Agaknya ayahnya telah tiba! Akan tetapi dia pura-pura tidak tahu dan dengan suara heran dan nadanya halus dia bertanya, “Lak Beng Suciok, apakah ribut-ribut itu?”

“Hemm, kau tidak perlu tahu dan tidak boleh keluar dari kamar ini. Pinceng sendiri yang menjaga di sini!”

Jantung Hong Ing berdebar keras. Tak salah lagi, tentu ayahnya telah datang! Kalau tidak, mengapa susioknya ini sendiri yang menjaganya?

“Susiok, aku mau pergi berlatih.”

“Engkau tidak boleh meninggalkan kamar!”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: