Petualang Asmara (Jilid ke-41)

“Eh, siapa itu di sana ? Bukankah itu Ayah…?” Tiba-tiba gadis itu menuding ke atas genteng yang tampak dari pintu kamarnya. Lak Beng Lama terkejut sekali, memutar tubuh menghadapi arah yang ditunjuk dan siap dengan tongkatnya dan pada saat itu Hong Ing sudah meloncat keluar dari kamarnya.

“Bocah setan! Hendak lari ke mana kau?” Lak Beng Lama cepat mengejar dan dalam beberapa loncatan saja pendeta yang sakti ini sudah dapat menyusul dan sudah menghadang di depan Hong Ing dengan alis berkerut.

Suara ribut-ribut di bagian depan makin hebat dan tiba-tiba Hong Ing berteriak, “Ayaaaahhhh…! Aku Pek Hong Ing berada di sini…!” Akan tetapi dia segera roboh terkena totokan ujung tongkat yang amat cepat dan tubuhnya, yang lumpuh sudah dikempit oleh Lak Beng Lama.

Di bagian depan markas itu memang sedang ribut. Tepat dugaan Hong Ing bahwa ayahnyalah yang muncul. Pagi itu, di waktu semua pendeta sedang sibuk membaca doa dan bersembahyang sehingga penjagaan agak berkurang ketatnya, sesosok bayangan berkelebat melompati pagar tembok tinggi itu dan ketika beberapa orang penjaga melihat dan mengurungnya, dalam beberapa gebrakan saja empat orang di antara mereka sudah roboh! Mulailah mereka berteriak-teriak memberi tanda bahaya dan ributlah semua pendeta yang sedang berdoa, termasuk Sin Beng Lama, Hun Beng Lama, dan Lak Beng Lama.

“Lak Beng Sute, kau cepat menjaga Hong Ing!” kata Sin Beng Lama yang bersama Hun Beng Lama cepat berlari-lari ke luar. Ternyata Kok Beng Lama yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa itu sedang mengamuk. Kaki tangannya bergerak secara luar biasa dan angin besar bersiut dari kedua ujung lengan bajunya yang lebar. Setiap kali kaki tangannya bergerak, tentu ada pendeta yang terpelanting atau terlempar. Namun pengeroyokan makin ketat dan kini semua pendeta telah menggunakan senjata masing-masing. Hujan senjata menjatuhi tubuh pendeta raksasa itu, namun semua hantaman senjata yang tajam maupun yang tumpul tidak ada yang membekas pada kulit tubuh Kong Beng Lama, kecuali hanya merobek pakaiannya saja.

“Hayo bebaskan anakku, kalau tidak… demi Tuhan, kubunuh semua orang di tempat ini!” Kok Beng Lama berteriak-teriak sambil dengan kedua tangannya menangkap empat orang pengeroyok seperti mencengkeram garuda menerkam empat ekor anak ayam saja layaknya, lalu melemparkan empat orang itu kepada para pengeroyoknya sehingga mereka morat-marit.

“Pemberontak hina! Berlututlah untuk menerima hukuman!” Tiba-tiba terdengar bentakan lemah lembut dan para pengeroyok membuka jalan untuk Sin Beng Lama dan Hun Beng Lama. Seperti biasa kalau menghadapi lawan berat, Sin Beng Lama membawa lima batang hio membara, sedangkan Hun Beng Lama memutar-mutar biji tasbih di antara jari-jari tangannya. Dilihat seperti itu, kedua orang pendeta ini lebih pantas hendak bersembahyang dan membaca doa daripada bersiap-siap menghadapi lawan tangguh. Akan tetapi tentu saja Kok Beng Lama mengenal kedua orang sutenya ini dan dia menjawab bentakan Sin Beng Lama dengan suaranya yang nyaring, dan sinar matanya mengandung penuh ancaman maut.

“Sin Beng Sute…!”

“Pinceng bukan sutemu lagi dan engkau tidak berhak menyebut Sute kepada pinceng!”

“Hemm, sesukamulah, Sin Beng Lama! Akan tetapi dengar baik-baik. Aku datang untuk minta anakku, Pek Hong Ing. Kalau kalian menolak, aku akan membunuh kalian semua, tidak ada kecualinya!”

“Omitohud…!” Sin Beng Lama berseru sambil mengacungkan lima batang hio di depan dadanya. “Ucapan yang keluar dari mulut iblis! Pemberontak dan pengkhianat hina, engkau telah melanggar undang-undang agamamu sendiri, engkau telah melakukan dosa besar, membunuh ketua yang menjadi Twa-suheng (Kakak Tertua Seperguruan) sendiri dan beberapa orang saudara lain. Dan sekarang engkau tidak bertaubat, tidak minta ampun bahkan mengancam hendak membunuh kami semua! Tidak malukah engkau yang sudah puluhan tahun tekun mempelajari semua ajaran agama yang suci?”

“Hemmm, Sin Beng Lama! Kita sama-sama adalah tua bangka-tua bangka, bukan anak kecil yang mudah saja dibujuk dengan omongan manis dan dengan kedok agama! Agama dan pelajarannya adalah untuk dilaksanakan, bukan sekedar dipakai untuk senjata menekan orang lain, bukan dipergunakan sebagai jembatan untuk mencari kekayaan, kedudukan, kesenangan lahir batin, bukan diperalat sebagai pencari sorga dan nirwana! Kalian mempelajari kasih akan tetapi hati kalian penuh sesak dengan kebencian. Kalian menjaga kebersihan lahiriah namun batin kalian kotor melebihi keranjang sampah! Menghadapi tua bangka seperti aku, tidak perlu lagi kalian menakut-nakuti dengan agama yang dibikin palsu oleh tingkah laku pemeluknya sendiri macam kalian! Hayo bebaskan anakku, berikan kepadaku, dan aku akan pergi dari sini dengan aman, bahkan bersumpah takkan menginjak tempat ini lagi. Kalau tidak, kalian akan kubunuh semua dan tempat ini akan kubasmi, kuhancurkan!”

“Pemberontak keparat!” Hun Beng Lama membentak marah dan dia sudah melangkah maju perlahan-lahan, tasbihnya diputar-putar di atas kepalanya yang gundul dan terdengarlah suara “trikk… trikk… trikkk…” dengan irama tertentu dan biarpun tidak begitu keras, namun seperti jarum tajam menusuk anak telinga sehingga para anggauta Lama Jubah Merah yang kurang kuat sin-kangnya cepat mundur sambil menutupi telinga mereka. Hanya yang sudah agak tinggi tingkatnya saja, yang jumiahnya paling banyak tiga puluh orang, yang berani maju mengurung Kok Beng Lama.

Sin Beng Lama juga melangkah maju, lima batang hio pindah ke tangan kiri dan tangan kanannya sudah mengeluarkan

sebatang pedang bersinar hijau yang amat tipis dan panjangnya ada empat kaki, gagangnya terbuat dari perak, sebatang pedang pusaka yang amat indah dan ampuh. Melihat ini, sinar mata Kok Beng Lama menjadi ganas dan mulutnya tersenyum mengejek, tubuhnya tetap berdiri tegak tidak bergerak, yang bergerak hanya biji matanya yang melirik ke kanan kiri, telinganya seolah-olah berdiri dengan penuh perhatian mendengarkan setiap suara di sekelilingnya. Dalam keadaan seperti itu, pandengaran pendeta Lama raksasa ini luar biasa tajamnya sehingga setiap tarikan napas para pengeroyoknya dapat ditangkapnya dengan jelas, bahkan suara detak jantung lawan terdengar olehnya!

“Serbuuuu…!” Sin Beng Lama memberi aba-aba.

“Hyaaaatttt…!” suara bentakan para pengeroyok menjadi satu, terdengar nyaring bergema ketika mereka serentak menerjang ke depan dengan senjata masing-masing yang seperti hujan menyambar ke arah seluruh tubuh Kok Beng Lama, dari semua penjuru. Kalau semua senjata itu mengenai tubuh Kok Beng Lama dan kalau tubuh pendeta raksasa ini biasa seperti tubuh orang-orang lain, tentu dia akan roboh dengan tubuh hancur lebur, tidak ada bagian sedikit pun yang masih utuh.

“Hoooouuuuhhh…!” Kok Beng Lama mengeluarkan suara yang amat dalam dan lebar, bukan seperti suara manusia lagi, suara yang seolah-olah keluar dari dalam bumi! Tubuhnya yang tinggi besar itu bergerak memutar, lenyap bentuk tubuhnya dan yang tampak hanyalah gulungan yang amat cepat seperti angin puyuh mengamuk.

“Trangggg…!”

“Krekkkkk…!”

“Bukkkk…!”

“Dessss…!”

“Aughhh…! Aduhhh…! Ahhhh!”

Akibatnya hebat bukan main! Tidak kurang dari enam orang yang terlempar dan roboh pingsan! Selain itu, banyak pula yang kehilangan senjata mereka, ada yang patah dan banyak yang lepas dari tangan, terlempar entah ke mana. Bukan main hebatnya sepak-terjang Kok Beng Lama yang selama sepuluh tahun dalam sel telah menciptakan dan mematangkan banyak ilmu-ilmu yang mujijat dan dahsyat itu. Dengan putaran kedua ujung lengan bajunya saja dia telah berhasil merobohkan enam orang pengeroyoknya dan merampas banyak senjata!

Melihat ini, Hun Beng Lama menjadi marah sekali, demikian pula Sin Beng Lama. Dalam gebrakan pertama tadi, mereka berdua memang membiarkan para anak buah lain yang maju menerjang karena mereka merasa yakin bahwa dengan mengandalkan jumlah besar, tentu Kok Beng Lama yang dianggap pemberontak itu akan dapat dikuasai. Siapa kira, raksasa itu memang hebat bukar main, maka terpaksa mereka harus turun tangan sendiri.

“Omitohud…! Haaaaiiiikkkk!” Hun Beng Lama sudah menerjang maju dengan tasbihnya yang menyambar ke pelipis kiri sedangkan tangan kirinya yang membentuk cakar garuda itu mencengkeram ke arah perut lawan. Gerakannya cepat dan mendatangkan angin pukulan yang bendesing-desing saking kerasnya. Pada detik berikutnya, terdengar suara tajam menulikan telinga ketika sinar hijau berkeredepan menyambar-nyambar seperti seekor naga hijau bermain-main dan itulah pedang di tangan Sin Beng Lama yang dalam satu jurus telah mengirim tiga bacokan dan delapan tusukan yang mengancam tiga belas jalan darah utama di bagian depan tubuh lawan!

“Bagus…!” teriak Kok Beng Lama sambil menggerakkan kepalanya mengelak sambaran tasbih ke pelipisnya kemudian mengangkat kaki menendang ke arah tangan kanan Hun Beng Lama, sedangkan sepuluh kuku jari tangannya sibuk menyentil ke arah sinar-sinar hijau yang menyambar-nyambar itu. Dia telah berhasil menangkis tiga belas serangan pedang hijau itu dengan sentilan jari tangannya dan setiap kali dia menyentil terdengarlah suara nyaring.

“Tring-tring-tring-tring-tring…!”

Terkejutlah Sin Beng Lama ketika merasa betapa telapak tangannya yang memegang pedang tergetar hebat karena sentilan kuku jari tangan lawannya itu! Dengan seruan halus dia mencelat ke belakang sampai tiga meter jauhnya, tangan kirinya bergerak dan tampaklah sinar api menyambar ke arah tubuh Kok Beng Lama! Itulah penyerangan hio-hio membara yang amat luar biasa dan amat berbahaya pula karena biarpun hanya

berupa hio, namun dilepas dengan pengerahan tenaga sin-kang yang amat ampuh sehingga kalau mengenai tubuh lawan dapat menancap dengan api masih membara!

“Keji, alat sembahyang dipakai membunuh!” Kok Beng Lama berseru keras, menggerakkan kedua tangan bergantian didorongkan ke depan dengan telapak tangan terbuka. Menyambarlah hawa dingin dari kedua telapak tangannya dan itulah inti tenaga Im-kang yang amat dingin. Tampak asap mengepul dan lima batang hio itu padam apinya, bahkan runtuh semua ke atas tanah, masih mengepulkan asap putih yang harum baunya.

Tentu saja Sin Beng Lama menjadi makin marah. Bersama sutenya, Hun Beng Lama dia menerjang maju, menggerakkan pedangnya secara luar biasa sekali sehingga tubuhnya lenyap digulung sinar pedang yang merupakan gulungan sinar hijau menyilaukan mata yang kini bergulung-gulung menyelimuti tubuh Kok Beng Lama pula. Di antara sinar hijau ini tampak sinar putih dari tasbih Hun Beng Lama yang mengeluarkan suara “trik-trik” makin lama makin nyaring. Maka terdengarlah paduan suara yang menyeramkan karena semua orang yang kurang kuat sin-kangnya merasa betapa jantung mereka seperti ditarik-tarik dan telinga seperti ditusuk-tusuk oleh suara berdetrik dari tasbih, bercampur dengan suara berdesingan dari pedang hijau, diseling geraman-geraman marah dari dada Kok Beng Lama yang bidang. Pertempuran hebat dan mati-matian, dilakukan oleh tiga orang sakti, terjadi dengan serunya, membuat para Lama yang berada di situ tidak berani lagi turun tangan membantu karena mereka maklum bahwa bantuan mereka tidak akan menguntungkan pihak kawan juga tidak merugikan pihak lawan melainkan membahayakan nyawa sendiri.

Kalau dibuat ukuran, tingkat kepandaian Kok Beng Lama dahulu pun setingkat dengan Sin Beng Lama. Akan tetapi semenjak dia menjalani hukuman selama sepuluh tahun, kepandaiannya bertambah hebat sedangkan Sin Beng Lama hanya mendapat kemajuan biasa saja. Orang yang berada di dalam tahanan seperti Kok Beng Lama, kehilangan kebebasannya dan tidak melakukan suatu pekerjaan tertentu, lebih tekun dalam berlatih, apalagi karena memang dia mempunyai dendam. Sedangkan tingkat kepandaian Hun Beng Lama masih kalah setingkat dari Sin Beng Lama, maka pertempuran hebat itu lebih tepat dikatakan bahwa yang bertanding mati-matian adalah Sin Beng Lama melawan Kok Beng Lama, sedangkan Hun Beng Lama hanyalah merupakan tenaga pengacau saja yang mengacaukan pertahanan Kok Beng Lama.

Namun, biar dia bertangan kosong dikeroyok oleh dua orang yang memiliki kepandaian tinggi dan bersenjatakan senjata-senjata pusaka ampuh pula, ternyata Kok Beng Lama memiliki kesaktian yang amat luar biasa. Semua ini diperhebat lagi oleh kemarahannya karena dia mengkhawatirkan nasib puterinya, maka dia seolah-olah iblis sendiri yang mengamuk dan sukar ditandingi oleh dua orang pendeta Lama itu!

“Kalian bosan hidup! Kalian bosan hidup! Akan kubunuh semua…!” Demikian terdengar Kok Beng Lama menggereng.

“Brettt! Plakk! Aughh…! Aduhhh…!”

Para pendeta yang menonton tidak dapat mengikuti dengan pandangan mata mereka apa yang telah terjadi karena yang tampak hanyalah sinar-sinar dan bayangan saja yang campur aduk menjadi satu. Tahu-tahu, tubuh Sin Beng Lama dan Hun Beng Lama terlempar dan terbanting keras, sedangkan tubuh Kok Beng Lama terhuyung ke belakang, dadanya terluka pedang dan pakaian di pundaknya hancur oleh pukulan tasbih, akan tetapi kedua orang lawannya muntah darah terkena hawa pukulan kedua telapak tangan Kok Beng Lama. Dengan muka buas Kok Beng Lama sudah hendak menerjang lagi dua orang bekas sutenya yang sudah terluka itu dan agaknya tidak akan dapat dihidarkan lagi dua orang Lama Jubah Merah itu tentu akan tewas karena mereka belum sempat bangun sedangkan para anggauta yang lain tidak ada yang berani menghadapi Kok Beng Lama.

“Pemberontak hina! Jangan bergerak atau puterimu akan pinceng bunuh di depan matamu!”

Kok Beng Lama tersentak kaget, menengok dan memandang dengan diam seperti patung. Lak Beng Lama telah berada di situ, tangan kanan memegang tongkat yang ditodongkan ke ubun-ubun seorang dara remaja yang dikempit dengan lengan kirinya. Gadis itu sama sekali tidak dapat bergerak, tanda bahwa dia telah menjadi korban totokan. Kok Beng Lama mengenal gadis yang pernah ditolongnya di muara Sungai Huang-ho itu, dan kini nampak nyata olehnya betapa mirip wajah dara itu dengan wajah bekas kekasihnya yang telah tewas, Pek Cu Sian! Dia mengeluarkan suara gerengan keras dan matanya seperti mengeluarkan api memandang kepada tiga orang pendeta itu. Sin Beng Lama dan Hun Beng Lama telah memperoleh kesempatan menguasai diri mereka dan sudah berdiri di dekat Lak Beng Lama yang mengempit tubuh Pek Hong Ing.

“Kok Beng Lama, sebelum engkau bergerak, puterimu akan pinceng bunuh!”

Kok Beng Lama tidak mempedulikan ucapan itu, dengan suara gemetar seperti orang sakit demam dia berkata kepada Hong Ing yang sejak tadi dipandangnya tanpa berkejap mata, “Nona muda, siapakah namamu?”

Hong Ing yang tidak dapat bergerak itu sejak tadipun memandang kepada Kok Beng Lama dengan wajah pucat. Dia pun meragukan apakah benar pendeta tua yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, yang sikapnya amat mengerikan ini, adalah ayah kandungnya? Mendengar pertanyaan itu, dia diam saja karena urat gagunya telah tertotok, membuat dia tidak dapat mengeluarkan suara. Tiba-tiba Sin Beng Lama menggerakkan ujung lengan bajunya, menyambar ke arah leher Hong Ing, dan terbebaslah dara itu dari totokan yang membuatnya gagu.

“Aku… namaku Pek Hong Ing…”

Hong Ing menjawab dengan suara agak kaku karena baru saja dia terbebas.

“Siapa gurumu?” Kembali Kok Beng Lama bertanya.

“Go-bi Sin-kouw…”

“Siapa nama ibumu?” Pertanyaan ini keluar dengan lirih dan parau.

“Nama ibu, Pek Cu Sian…”

“Cu Sian…!” pengulangan nama dari mulut Kok Beng Lama ini terdengar menyerupai keluhan. “Tahukah engkau siapa ayahmu?”

“Ibu tidak pernah sempat memberitahuku tapi… tapi… tiga orang Locianpwe itu mengaku para susiokku dan membawaku ke sini, katanya hendak dipertemukan dengan ayahku, ternyata aku diperlakukan sebagai tawanan. Kata mereka, ayahku bernama Kok Beng Lama…”

Kok Beng Lama menggereng dan tiga orang kakek itu sudah siap-siap melawan sedangkan Lak Beng Lama sudah menempelkan tongkatnya di ubun-ubun kepala hong Ing, juga para anggauta Lama sudah mengurung lagi tempat itu.

“Akulah Kok Beng Lama! Hong Ing, setidaknya sudah empat lima tahun ketika engkau masih kecil engkau tinggal di ruang di mana aku terhukum. Ingatkah engkau akan sesuatu di tempat itu?”

“Aku… aku hanya ingat berada di dalam ruangan yang luas bersama ibu dan seorang laki-laki yang selalu bersamadhi, yang tak dapat kulupakan adalah bahwa laki-laki itu seringkali menari-nari di sekeliling sebuah arca besar sebesar manusia…”

“Engkau anakku…!” Tiba-tiba Kok Beng Lama menggereng keras. “Akulah laki-laki itu… sedang berlatih silat, Hong Ing, engkau anakku…!” Seperti gila kakek itu lalu memandang ke sekelilingnya. “Hayo bebaskan dia! Kalau tidak, kubasmi kalian semua!”

“Kok Beng Lama, puterimu berada di dalam kekuasaan kami, sepantasnya kalau kami yang mengajukan usul, bukan engkau yang menuntut. Engkau telah membuat dosa besar dan untuk menjaga kehormatan dan wibawa perkumpulan, engkau sebagai seorang anggauta pimpinan yang menyeleweng haruslah dihukum. Menyerahlah dan engkau akan kami hukum sesuai dengan peraturan, dan puterimu yang memang tidak berdosa apa-apa tidak akan kami ganggu bahkan akan kami perlakukan sebagai murid keponakan kami yang tercinta. Sebaliknya kalau kau melawan, terpaksa kami akan membunuh dulu puterimu sebelum membunuhmu.” Suara halus Sin Beng Lama itu terdengar jelas oleh semua orang karena keadaan di situ amat tegang dan sunyi.

Kok Beng Lama memandang ragu kepada Hong Ing, dan dara itu cepat berkata dengan suara lantang, “Locianpwe, kalau benar engkau adalah ayah kandungku, jangan dengarkan bujukan mereka! Aku tidak takut mati, tidak perlu engkau menyerah kepada mereka dan berkorban untuk aku!”

Mendengar ini, sepasang mata yang tadinya mengeluarkan sinar kemarahan dan wajah yang keruh dan merah itu berubah. Sinar matanya lembut memandang Hong Ing dan wajahnya berseri. “Engkau adalah anakku, tak salah lagi! Keberanianmu, sikapmu, persis sikap ibumu Pek Cu Sian! Sin Beng Lama, ajukan usulmu agar kupertimbangkan!”

Sin Beng Lama kelihatan lega sekali. Dia dan Hun Beng Lama sudah terluka cukup parah dan kalau pertandingan dilanjutkan, bukan tidak mungkin akan terjadi seperti yang diancamkan oleh Kok Beng Lama, yaitu mereka semua akan terbasmi habis!

“Kok Beng Lama, betapa pun besar dosa-dosamu, akan tetapi mengingat engkau adalah bekas pimpinan dan telah banyak berjasa demi kemajuan perkumpulan kita puluhan tahun yang lalu, maka kami pun akan bertindak seadil-adilnya. Perbuatanmu itu akan menghancurkan kehormatan perkumpulan kalau engkau masih berkeliaran di dunia luar, seolah-olah perkumpulan kami tidak dapat bertindak terhadap dirimu. Oleh karena itu, engkau akan kami jatuhi hukuman bertapa di dalam sel penjara selama hidupmu. Usiamu sudah tinggi, maka hukumanmu tentu juga tidak berapa lamanya dan hukuman itu hanyalah untuk mencegah engkau merusak nama perkumpulan di luar Tibet.”

“Hemmm, kalau aku menerima hukuman itu, apa imbalannya?”

“Puterimu akan kami pelihara baik-baik, tinggal di sini sebagai keluarga dan sewaktu-waktu dapat menjengukmu di dalam penjara.”

Kok Beng Lama mengerutkan alisnya berpikir keras, kemudian mengangguk. “Cukup adil… cukup adil… aku pun tidak ada niat berkelana, kalau aku dahulu pergi hanya untuk mencari Pek Cu Sian dan puterinya. Setelah Hong Ing berada di sini, perlu apa aku pergi? Akan tetapi, bagaimana kalau kalian mengkhianati dan kelak mengganggu anakku?”

“Kok Beng Lama!” Sin Beng Lama berteriak marah. “Engkau sendiri sudah tahu betapa Lama Jubah Merah lebih menghargai janji daripada nyawa! Pinceng sendiri berjanji takkan mengganggu Pek Hong Ing, tidak akan memaksanya melakukan sesuatu di luar kehendaknya kalau engkau suka menyerah dan menjalani hukuman itu!”

“Bagus! Aku percaya akan janjimu, Sin Beng Lama.”

“Akan tetapi, pinceng belum mendengar janjimu, Kok Beng Lama.”

“Ha-ha-ha, engkau memang selalu cerdik, Sute! Nah, dengarlah. Aku, Kok Beng Lama, berjanji tidak akan memberontak lagi selamanya dan akan mentaati perintah para pimpinan Lama Jubah Merah.”

“Omitohud…! Para dewa menjadi saksinya!” kata Sin Beng Lama dengan girang dan dia berkata kepada sutenya, “Lak Beng Lama, bebaskan Pek Hong Ing agar dia dapat bertemu dengan ayah kandungnya!”

Lak Beng Lama membebaskan totokan Hong Ing dan melepaskan gadis itu dari kempitannya. Begitu dia terlepas, dengan terhuyung-huyung Hong Ing lari menghampiri Kok Beng Lama, kemudian menjatuhkan diri di depan kakek itu sambil berseru penuh keharuan, “Ayaaaahhh…!”

Kok Beng Lama menunduk, memandang kepada gadis yang berlutut itu, kemudian menengadah ke langit, kemudian tertawa bergelak, kedua tangannya meraih ke bawah dan tubuh Hong Ing terangkat dan sudah dirangkul dan dipeluknya.

“Ha-ha-ha-ha! Kau… anakku…! Ha-ha-ha, akhirnya kita berkumpul juga di tempat di mana kau dilahirkan. Biarlah engkau tetap memakai she Pek seperti ibumu, she yang amat bagus dan terhormat. Pek Hong Ing, kaumaafkan ayahmu yang tidak becus membahagiakan ibumu, akan tetapi setidaknya, aku dapat melakukan sesuatu untuk anaknya, yaitu engkau, Anakku!” Lalu diciumnya ubun-ubun kepala Hong Ing dengan penuh kasih sayang.

Hong Ing sudah cepat menghapus air matanya dan sambil menyandarkan kepala di dada ayahnya yang amat bidang dan kuat itu, dia berbisik, “Ayah, setelah aku dibebaskan, mari kita pergi saja dari sini. Aku… aku tidak akan betah tinggal di tempat ini, Ayah.” Dia tidak berani bicara terus terang betapa dia merasa rindu kepada seorang pemuda yang dicintanya.

Ayahnya menggeleng kepala. “Janji lebih penting daripada segalanya, Anakku. Kautinggallah di sini, sebagai kcluarga terhormat dan lebih dari itu lagi, setiap hari engkau dapat menjengukku di penjara dan aku akan mewariskan seluruh ilmu kepandaianku kepadamu!”

Hong Ing merasa kecewa dan berduka sekali sehingga air matanya mengalir lagi. Akan tetapi Kok Beng Lama mengira bahwa anaknya menangis saking senangnya, maka dia tertawa-tawa lagi.

“Kok Beng Lama, sudah cukup kiranya pertemuan dengan puterimu. Setiap hari engkau masih akan dapat bertemu. Sekarang, marilah kami antar engkau memasuki tempat hukumanmu!”

Karena hatinya merasa gembira, Kok beng Lama mengangguk dan sambil tertawa-tawa dia diantar ke tempat hukuman, di mana dahulu dia mendekam selama sepuluh tahun. Kalau dulu dia menghabiskan waktu hukuman dengan memperdalam ilmu-ilmunya, sekarang dia hendak menghabiskan waktu hukuman dan sisa hidupnya untuk mewariskan ilmu-ilmunya itu kepada anak tunggalnya, Pek Hong Ing.

Susiok, aku tidak bicara main-main. Aku ingin menebus dosa ibuku!”

Sin Beng Lama, Hun Beng Lama, dan Lak Beng Lama saling pandang mendengar ucapan Hong Ing yang pagi hari itu datang menghadap mereka di ruangan dalam setelah mereka selesai melakukan upacara sembahyang dan membaca doa pagi.

“Mengapa, Hong Ing? Bukankah kau hidup cukup terhormat dan senang di sini? Bukankah kami memperlakukan engkau dengan baik seperti janji kami dan semua anggauta bersikap hormat kepadamu?” tanya Sin Beng Lama.

“Benar Susiok, akan tetapi sudah kukatakan tadi, aku melakukannya untuk menebus dosa ibuku. Ibu telah melakukan dosa kepada agama kita dan untuk dosa itu sekarang Ayah yang menanggung derita dan hukumannya. Semua ini terjadi karena kutukan Dewa, sehingga aku pun hidup sengsara dan disakiti hati orang. Maka, aku hendak menebus dosa dengan mengorbankan diri kepada Dewa sebagai pengganti ibuku. Karena ibuku melarikan diri dari tangan Dewa, maka Dewa telah mengutuknya dan aku sebagai puterinya tentu akan mereka kutuk pula.”

“Omitohud… engkau hebat sekali, Pek Hong Ing. Engkau seorang dara yang suci dan bersih hatimu, dan engkau memang pantas sekali menjadi kekasih Dewa.” kata Sin Beng Lama dengan pandang mata penuh kagum.

“Aku memang sudah ditakdirkan menjadi kekasih Dewa, Susiok. Hampir setiap malam aku telah bermimpi dan selalu bertemu dan dicumbu rayu oleh Dewa yang bertangan enam bermuka tiga…”

“Siancai…!”

“Omitohud…!”

Tiga orang pendeta Lama itu cepat merangkap kedua tangan di depan dada dan mulut mereka berkemak-kemik membaca doa. Ketika mereka memandang lagi kepada Hong Ing, pandang mata mereka berubah, amat kagum dan menghormat sekali!

“Keponakanku yang baik, Pek Hong Ing. Semua itu adalah tanda-tanda dari Dewa dan sudah semestinya kalau kita semua mentaatinya. Akan tetapi, kami tidak berani karena ayahmu pasti akan mengamuk kalau mendengar engkau akan mengorbankan dirimu kepada Dewa.”

“Ayah sudah berjanji tidak akan memberontak lagi, Susiok. Dan urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan Ayah. Sesungguhnya, perbuatan Ayah itulah yang membuat aku mengambil keputusan ini. Ibu telah berdosa kepada Dewa, juga Ayah telah berdosa, maka terlahir aku yang harus menebus dosa mereka itu dengan mengorbankan diri kepada Dewa.”

“Bagus, bagus! Pinceng yakin bahwa seorang perawan seperti engkau ini tentu dapat menjadi kekasih Dewa, Hong Ing.”

“Akan kuusahakan agar Dewa mencintaku, Susiok, sehingga aku dapat membujuknya mengampuni ayah-ibuku, juga agar Dewa memberkahi para Susiok dan agama kita ini…”

“Omitohud…!” Tiga orang itu berseru dengan girang sekali.

“Akan tetapi,” Sin Beng Lama berkata lagi, meragu. “Kami telah berjanji kepada ayahmu untuk memperlakukanmu dengan baik, tidak akan mengganggumu…”

“Susiok, urusan ini tidak ada pihak yang mendesak atau didesak. Susiok sekalian telah memperlakukan aku dengan baik, Susiok sekalian tidak melanggar janji kepada Ayah. Aku mau mengorbankan diriku kepada Dewa atas kehendakku sendiri, secara suka rela. Biarlah kalau sudah tiba masanya, aku sendiri yang akan memberi penjelasan kepada Ayah dan aku tanggung dia tidak akan dapat melakukan apa pun kecuali menyesali dosa-dosanya dahulu.”

“Ahhh, engkau hebat dan baik sekali, Anakku…” Sin Beng Lama sampai harus mengusap dua titik air matanya saking terharu hatinya. Tentu saja apa yang diusulkan oleh dara itu amat besar artinya bagi mereka. Bayangkan saja. Keponakannya akan menjadi kekasih Dewata! Menjadi kekasih Dewa Syiwa yang maha sakti dan hal itu tentu akan mengangkat kedudukan rohani mereka! Dengan jadinya seorang keponakan mereka menjadi kekasih Dewa, maka sorga dan nirwana sudah berada di telapak tangan mereka!

“Bukan aku yang baik, Susiok, karena itu hanyalah merupakan kewajibanku menebus dosa orang tua. Akan tetapi aku mengharukan kebaikan dari Susiok untuk memenuhi permohonanku yang terakhir yang juga merupakan syarat tunggalku untuk melakukan pengorbanan diri.”

“Permohonan terakhir seorang perawan suci merupakan perintah! Katakanlah apa yang harus kami lakukan?” Hun Beng Lama berkata penuh semangat karena dia yakin berdasarkan kepercayaannya bahwa kelak dia pun akan menerima anugerah dan ikut memperoleh sepercik berkah dari Dewa.

“Aku mendengar bahwa seorang yang dengan setulusnya hati hendak berbakti kepada Dewa haruslah dengan hati bersih dari segala perasaan dendam, benci dan kemarahan.”

“Benar sekali! Memang Dewa menghendaki seorang anak perawan yang suci dan bersih lahir batin.”

“Itulah yang menjadi penghalang, Susiok. Aku pernah mencinta seorang pemuda, akan tetapi dia telah memarahkan hatiku, membuatku menaruh dendam dan merubah cintaku menjadi kebencian. Oleh karena itu, sebelum melihat dia diseret ke depan kakiku, perasaan itu akan terus berada di dalam hatiku, membuat aku kurang bersih jika kelak menghadap Dewa yang agung. Maka, aku mohon kepada Susiok agar suka turun gunung dan menangkap pemuda yang menyakitkan hatiku itu. Setelah melihat dia tertangkap di sini, barulah aku dengan hati lapang dan bersih akan mengorbankan diri dengan suka rela dan biar dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri sebagai hukumannya.”

“Pemuda itu… yang menemanimu di pulau kosong itu?” tanya Sin Beng Lama.

“Benar dialah orangnya. Bagaimana Susiok dapat menduganya demikian tepat?”

“Pinceng sudah mendengar kata-katanya ketika membelamu, dan melihat engkau menampar mukanya…”

“Memang dia amat menyakitkan hatiku, Susiok. Karena itu, kalau Susiok sekalian dapat memenuhi permintaanku, yaitu menangkap pemuda itu dan membawanya ke sini, maka siaplah aku untuk mengorbankan diri kepada Dewa.”

“Benarkah kata-katamu itu?”

“Aku berjanji dan janji lebih berharga daripada mati!”

“Baik, kalau begitu, biarlah kedua Sute Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama memenuhi permintaanmu itu, menangkap pemuda yang kaumaksudkan dan menyeretnya ke depan kakimu. Hun Beng Sute dan Lak Beng Sute, pemuda itu cukup lihai akan tetapi pinceng yakin bahwa Sute berdua akan mampu membekuknya.”

“Baik, Suheng,” jawab Hun Beng Lama. “Hong Ing, siapakah nama pemuda itu dan di mana adanya dia? Apakah masih di pulau kosong itu?”

“Bukan, bukan di sana. Kami berdua hanya menggunakan tempat itu sementara saja, Susiok. Setelah aku pergi ikut dengan Sam-wi Susiok (Paman Guru Bertiga) dia pasti segera meninggalkan tempat itu.”

“Habis, di mana kami harus mencarinya?”

“Aku tahu di mana adanya pemuda itu. Yap Kun Liong, nama pemuda itu, sekarang pasti berada di puncak Cin-ling-san. Dia adalah murid keponakan dari Ketua Cin-ling-pai dan dia bermain cinta dengan puteri ketua yang menjadi paman gurunya itu. Karena itulah aku bersakit hati. Maka harap Ji-wi Susiok (Paman Guru Berdua) suka mencarinya di Cin-ling-san.”

Tiga orang Lama itu sama sekali belum pernah mendengar nama Ketua Cin-ling-pai, maka mereka tidak menaruh curiga apa-apa. Karena sudah pernah bertemu dengan Yap Kun Liong, maka Sin Beng Lama merasa yakin bahwa kedua orang sutenya sudah cukup untuk menangkap pemuda itu. Maka berangkatlah kedua orang pendeta Lama itu meninggalkan Tibet dengan hati penuh semangat dan kegembiraan karena mereka menganggap perintah dari “perawan suci” ini merupakan tugas yang mulia bagi mereka.

Tentu saja semua itu adalah siasat yang amat cerdik dari Hong Ing. Dara ini tentu saja tidak betah tinggal di tempat itu, dan biarpun dia mulai menerima gemblengan ayahnya yang sakti, namun ayahnya tidak mau melanggar janji dan tidak mau pergi bersamanya meninggalkan tempat itu, bahkan ayahnya sudah mengambil keputusan untuk menghabiskan sisa hidupnya di tempat hukuman itu! Karena maklum bahwa sia-sisa saja untuk membujuk ayahnya, Hong Ing lalu mencari akal. Dia tahu dengan pasti bahwa Kun Liong tentu berusaha menyusul dan mencarinya, maka dia lalu mempergunakan siasat untuk menghubungi Kun Liong, bahkan dengan cerdik dia memberikan alamat Cin-ling-pai dengan maksud menarik perhatian Ketua Cin-ling-pai yang amat sakti sehingga Kun Liong memperoleh bala bantuan yang amat kuat. Kalau ada Lama mencari Kun Liong di Cin-ling-pai, tentu Pendekar Sakti Cia Keng Hong akan tertarik dan tentu akan ikut turun tangan, apalagi karena dua orang Lama yang mengandalkan kepandaiannya itu tentu akan berterus terang untuk menangkap Kun Liong.

Setelah kedua orang Lama itu berangkat, legalah hati Hong Ing dan dia hanya menanti dengan sikap gembira. Membayangkan Kun Liong akan tiba di tempat itu memberi kekuatan yang ajaib kepadanya, membuatnya gembira sekali karena andaikata siasatnya gagal dan Kun Liong benar-benar ditangkap dan dibawa ke situ, dia akan rela menderita atau mati sekalipun asal berada di dekat pemuda itu. Dalam kegembiraan yang didorong harapan bertemu kembali dengan pemuda yang dicintainya itu, Hong Ing mulai tekun mempelajari dan melatih ilmu yang diajarkan oleh ayahnya yang sama sekali tidak tahu akan siasat yang dijalankan oleh puterinya.

“Ibu kenapa Ayah belum juga pulang?” anak laki-laki berusia lima tahun itu merengek kepada ibunya.

Wanita yang usianya kurang lebih empat puluh tahun dan masih amat cantik itu menarik napas panjang, lalu menjawab dengan nada suara yang merasa kesal hatinya. “Gara-gara encimu! Akan tetapi kurasa tak lama lagi dia akan pulang Bun Houw!”

Wanita itu adalah Sie Biauw Eng atau Nyonya Cia Keng Hong Ketua Cin-ling-pai, sedangkan anak laki-laki itu adalah Cia Bun Houw, anak ke dua atau putera tunggal suami isteri pendekar ini. Cin-ling-pai yang mempunyai banyak anggauta atau anak murid itu kelihatan sunyi setelah Cia Keng Hong pergi, apalagi setelah lebih dulu Giok Keng lolos dari tempat itu.

“Akan tetapi aku sudah rindu kepada Ayah dan Cici, Ibu.”

“Sabarlah, Houw-ji (Anak Houw). Seorang calon pendekar harus memiliki kesabaran yang besar, dan pula, ayahmu tentu baru akan pulang kalau sudah bertemu dengan encimu Giok Keng.”

“Dasar Enci yang nakal, pergi saja kerjanya! Ibu, kalau aku sudah besar, apa aku juga boleh merantau seperti Enci Keng?”

“Tentu saja boleh, akan tetapi engkau harus sudah dewasa dan kepandaianmu untuk menjaga diri sudah cukup kuat. Karena itu kau harus rajin berlatih, Houw-ji. Mari kita ke tempat latihan, pasangan kuda-kudamu yang kaulatih kemarin itu masih belum baik benar, juga gerakan langkah kakimu masih kurang tepat.”

Ibu dan anak itu lalu pergi ke kebun belakang di mana mereka biasanya berlatih silat. Sebagai putera suami isteri pendekar yang berilmu tinggi itu, tentu saja sejak kecil Bun Houw telah dilatih dasar-dasar ilmu silat oleh orang tuanya dan ketika ayahnya pergi sampai berbulan-bulan lamanya, ibunyalah yang melatihnya. Tentu saja di samping pelajaran ilmu silat yang baru dilatih dasar-dasarnya, anak itu pun diberi pelajaran membaca dan menulis.

Selagi ibu yang memiliki kepandaian tinggi dalam ilmu silat ini memberi petunjuk kepada puteranya, di luar rumah tempat tinggal Ketua Cin-ling-pai itu terjadi pula hal yang menarik. Lima orang murid kepala Cin-ling-pai yang dikepalai oleh Kwee Kin Ta, berhadapan dengan dua orang pendeta gundul yang berjubah kotak-kotak merah. Lima orang itu tentu saja menyambut kedatangan dua orang pendeta itu dengan sikap hormat, apalagi melihat bahwa dua orang itu sudah tua dan kelihatan saleh. Yang seorang memegang sebatang tongkat untuk membantunya jalan mendaki puncak, yang ke dua sambil melangkah tiada hentinya mempermainkan biji-biji tasbihnya seperti membaca doa.

Setelah menyambut dengan mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai penghormatan, Kwee Kin Ta bertanya, “Bolehkah kami mengetahui siapa nama Ji-wi Losuhu (Dua Bapak Pendeta) yang terhormat, dari kuil mana dan ada keperluan apakah mengunjungi Cin-ling-pai?”

Dua orang pendeta itu bukan lain adalah Hun Beng Lama yang membawa tasbih dan Lak Beng Lama yang memegang tongkat. Dengan sikap dan suara halus Hun Beng Lama menjawab, “Apakah Sicu sekalian ini murid-murid Cin-ling-pai?”

“Benar, Losuhu.”

“Kedatangan kami adalah untuk mencari seorang yang bernama Yap Kun Liong,” kata pula Hun Beng Lama.

Lima orang murid Cin-ling-pai itu memandang heran dan beberapa orang anak murid yang melihat dari jauh kini datang mendekat karena ingin tahu. Maklumlah tempat yang sunyi dan tenteram itu jarang menerima kunjungan orang luar. Tentu saja Kwee Kin Ta dan para sutenya sudah mendengar akan nama Yap Kun Liong itu sekarang, nama yang dipuji-puji guru dan ibu guru mereka.

“Dia tidak berada di sini, Losuhu,” jawab Kwee Kin Ta tanpa ragu-ragu lagi.

“Kalau begitu di mana dia?” Tiba-tiba Hun Beng Lama bertanya dan pandang matanya tajam penuh selidik. Melihat sinar mata yang amat tajam berpengaruh itu, Kwee Kin Ta menjadi terkejut, juga curiga.

“Kami tidak tahu dia berada di mana,” jawabnya.

“Kalian tidak tahu apa-apa, baiklah pinceng hendak menemui Ketua Cin-ling-pai saja!” Kedua orang pendeta itu terus melangkah hendak memasuki pintu depan rumah tinggal Cia Keng Hong

“Eh, nanti dulu, Ji-wi Losuhu! Guru kami juga sedang tidak ada, akan tetapi kalau hanya urusan derma untuk kuil saja cukup dapat diselesaikan dengan kami sebagai wakil ketua kami.”

“Hemm, pinceng tidak membutuhkan dermaan, hendak bertemu dengan Ketua Cin-ling-pai…!” kata pula Hun Beng Lama dan bersama sutenya dia terus saja masuk ke dalam rumah.

“Tahan…!” Kwee Kin Ta berseru marah. “Harap Ji-wi Losuhu sebagai orang-orang beribadat tahu sedikit aturan dan tidak menyelonong masuk begitu saja tanpa ijin! Biarlah kami laporkan kepada Subo (Ibu Guru) kami!”

Dua orang pendeta itu berhenti dan saling pandang, kemudian mereka mengikuti Kwee Kin Ta dan para sutenya yang pergi menuju ke taman bunga di belakang rumah, di mana ibu guru mereka biasanya sedang melatih puteranya.

Melihat betapa dua orang pendeta tua yang aneh itu mengikuti mereka, mereka tidak dapat melarang dan cepat-cepat memasuki taman.

“Heii, ada apakah kalian datang ke sini, Kin Ta?” Sie Biauw Eng menegur tak senang karena merasa terganggu.

“Maaf, Subo. Ada dua orang pendeta yang ingin berjumpa dengan Kun Liong, setelah teecu beri tahu tidak ada, lalu memaksa hendak bertemu dengan Suhu.”

Sie Biauw Eng mengangkat muka dan melihat dua orang pendeta tua itu memasuki taman. Sekelebatan saja mengertilah nyonya ini bahwa dua orang pendeta yang kelihatan lemah dan halus itu tentu mempunyai urusan penting sekali dan agaknya merupakan orang-orang yang biasa diturut kehendaknya sehingga kini mereka berani memasuki taman tanpa ijin.

“Kalian minggirlah!” katanya kepada para anggauta Cin-ling-pai yang memenuhi taman, kemudian dengan langkah tenang nyonya ketua ini maju menyambut kedatangan dua orang pendeta itu. Melihat pakaian mereka, Sie Biauw Eng dapat menduga bahwa dia berhadapan dengan pendeta-pendeta Lama dari barat, maka dia bersikap hati-hati karena maklum bahwa pendeta-pendeta Lama banyak yang memiliki kepandaian tinggi.

Setelah berhadapan, Sie Biauw Eng yang berpemandangan tajam itu dapat melihat dari sinar mata kedua orang pendeta itu bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki sin-kang kuat sekali, maka diam-diam dia terkejut dan cepat mengangkat kedua tangannya memberi hormat yang dibalas oleh mereka.

“Selamat datang di Cin-ling-san, Ji-wi Losuhu. Siapakah Ji-wi dan ada keperluan apakah Ji-wi hendak menemui suamiku?” tanya Sie Biauw Eng dengan suara lembut namun pandang matanya penuh selidik.

“Maafkan pinceng, Toanio. Kedatangan kami berdua ini adalah untuk mencari seorang bernama Yap Kun Liong karena urusan pribadi. Kami tidak mempunyai urusan dengan Cin-ling-pai.”

“Silakan Ji-wi duduk di ruangan tamu di mana kita dapat bicara dengan sebaiknya.”

Hun Beng Lama menggerakkan tangan kirinya digoyang-goyang. “Tidak usah, Toanio. Terima kasih atas kebaikanmu. Di sini pun sama saja.”

“Losuhu, di sini tidak ada orang yang bernama Yap Kun Liong.”

Kedua orang pendeta itu memandang dengan tajam penuh selidik. “Benarkah demikian? Bukankah ada hubungan antara Ketua Cin-ling-pai dengan pemuda bernama Yap Kun Liong itu?”

“Tidak salah. Dia memang murid keponakan suamiku, akan tetapi pada saat ini Yap Kun Liong tidak berada di sini. Sebagai Bibi Gurunya, bolehkah aku mengetahui apa maksud Ji-wi mencari Yap Kun Liong.”

“Kami hendak menangkapnya,” jawab Hun Beng Lama dengan tenang. Pendeta ini terlalu mengandalkan kepandaiannya sendiri maka dia merasa tidak perlu menyembunyikan niatnya dari siapa pun yang toh tidak akan dapat menghalanginya.

Jawaban ini tentu saja mengejutkan semua orang, terutama sekali Sie Biauw Eng. Akan tetapi kalau para murid Cin-ling-pai kelihatan kaget adalah nyonya cantik ini tenang-tenang saja.

“Ibu…, kata Ibu para pendeta adalah orang-orang suci, kenapa dua orang ini hendak menangkap orang? Apakah mereka pendeta-pendeta palsu?”

“Hushhh, Houw-ji, diamlah kau dan jangan turut campur.” Sie Biauw Eng kaget mendengar kelancangan mulut puteranya. Dua orang pendeta itu menjadi merah mukanya dan mereka melirik ke arah Bun Houw, diam-diam mereka terkejut dan kagum melihat anak laki-laki yang dari jauh saja sudah nampak memiliki tulang baik dan bakat untuk menjadi seorang pandai!

“Ji-wi Losuhu sudah jauh-jauh datang ke Cin-ling-pai dengan sia-sia saja karena yang dicari tidak ada. Bolehkah aku mengetahui nama julukan Ji-wi yang mulia dan dari golongan manakah?”

“Pinceng adalah Hun Beng Lama dan ini adalah Sute Lak Beng Lama. Kami datang dari jauh sekali, dari perkumpulan Agama Lama Jubah Merah di Tibet, sengaja datang untuk menangkap pemuda yang bernama Yap Kun Liong. Kalau dia tidak ada, biarlah kami bicara dengan Ketua Cin-ling-pai yang menjadi paman gurunya, karena sebagai paman gurunya tentu akan tahu di mana adanya pemuda itu.”

“Sayang sekali, Losuhu. Suamiku pun sedang turun gunung, sudah beberapa bulan belum pulang, dan aku sendiri pun tidak tahu di mana adanya Yap Kun Liong dan suamiku pada saat ini.”

Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama saling pandang dengan hati kesal. Hun Beng Lama menarik napas panjang.

“Huhhh… sungguh tidak kebetulan sekali…!” Akan tetapi tiba-tiba wajahnya berseri dan dia menoleh ke arah Cia Bun Houw yang berdiri di dekat ibunya. “Ada jalan baik! Toanio, urusan kami dengan Yap Kun Liong amat penting. Apa pun yang terjadi, di dunia ini, Yap Kun Liong harus menjadi tawanan kami. Karena dia tidak ada, suamimu tidak ada dan engkau tidak tahu di mana adanya mereka, maka suamimu sebagai paman gurunya harus bertanggung jawab. Karena itu, sebagai gantinya, pinceng akan membawa puteramu ini, dan kelak kalau suamimu datang ke Tibet mengantarkan Yap Kun Liong, kami akan mengembalikan puteramu.”

“Pendeta iblis keparat!” Sie Biauw Eng tidak dapat menahan lagi kemarahan hatinya. Memang pada dasarnya, Biauw Eng adalah seorang wanita yang berwatak keras, berani dan bahkan agak ganas. Di dalam cerita”Pedang Kayu Harum” digambarkan dengan jelas akan watak dan sepak terjang Sie Biauw Eng ketika masih muda. Kini dia telah menjadi ibu dari dua orang anak, bahkan anak yang pertama, Cia Giok Keng, telah dewasa sehingga dia telah menjadi setengah tua. Usia dan kedudukannya sebagai isteri Ketua Cin-ling-pai membuat dia dapat bersikap tenang dan sabar. Namun begitu tersentuh dan tersinggung perasaan marahnya, dia bagaikan sebatang mercon yang dinyalakan sumbunya, meledak dengan hebat dan berubah menjadi seekor singa betina! Begitu mendengar niat pendeta itu akan menculik puteranya untuk kelak “ditukar” dengan Yap Kun Liong, dia memaki lalu mengeluarkan pekik melengking, sekali kakinya terayun tubuh puteranya mencelat ke arah Kwee Kin Ta dibarengi seruannya, “Kin Ta, jaga adikmu!” kemudian dia sudah menerjang dengan kedua tangannya, mengirim pukulan-pukulan dengan jari tangan terbuka berturut-turut tujuh kali ke arah jalan darah di bagian tubuh yang paling berbahaya dari Hun Beng Lama!

“Omitohud…!” Hun Beng Lama terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa nyonya cantik ini memiliki kecepatan yang sedahsyat itu. Hanya dengan susah payah, mencelat ke sana-sini sambil menggerakkan tasbihnya, dia dapat menghindarkan diri, lalu tasbihnya diputar mengeluarkan suara berketrik menulikan telinga mereka yang mendengarnya.

Elakan-elakan kakek itu membuat Biauw Eng maklum akan kebenaran dugaannya bahwa dia berhadapan dengan orang pandai, maka dia tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk balas menyerang, melainkan sudah menerjangnya dengan serangan-serangan dahsyat, mainkan ilmu silatnya yang amat cepat dan mengerahkan pukulan-pukulan berdasarkan sin-kang yang amat ditakuti orang ketika dia masih malang-melintang di dunia kang-ouw dahulu, yaitu Ilmu Pukulan Ngo-tok-ciang (Tangan Lima Racun). Pukulan ini amat hebat, jangankan sampai telapak tangan nyonya cantik itu mengenai tubuh lawan, baru hawa pukulannya saja sudah cukup untuk merobohkan lawan tangguh! Mengapa isteri seorang pendekar sakti seperti Cia Keng Hong Ketua Cin-ling-pai sampai memiliki ilmu pukulan beracun sekeji itu? Hal ini tidaklah aneh bagi yang telah membaca ceritaPedang Kayu Harum , karena memang di waktu mudanya Sie Biauw Eng adalah puteri dan murid tokoh atau datuk kaum sesat! Bahkan dia sendiri dijuluki orang Song-bun-kwi (Wanita Cantik Berkabung) karena pakaiannya selalu putih.

Dahulu di waktu masih gadis saja Sie Biauw Eng telah memiliki ilmu kepandaian yang hebat luar biasa, apalagi setelah dia menjadi isteri Pendekar Sakti Keng Hong dia memperoleh petunju suaminya, maka dapat dibayangkan betapa lihai adanya wanita ini.

“Trik-trrriiiikkk…!” Tasbih di tangan Hun Beng Lama mengeluarkan bunyi nyaring dan senjata itu menyambar ke arah tubuh lawan dengan tenaga mujijat dan dengan kecepatan seperti kilat menyambar.

WUUUUTTT… wirrr… tar-tar-tar…!”

“Hebat…!” Hun Beng Lama memuji lagi dengan kagetnya ketika serangan tasbihnya itu tiba-tiba dihadang oleh selembar cahaya putih halus yang bukan saja menangkis sambaran tasbihnya malah cahaya yang ternyata hanyalah sehelai sabuk sutera tipis itu membalas dengan sambaran dahsyat dan ujung sabuk itu mengeluarkan suara meledak-ledak seperti halilintar menyambar. Inilah senjata istimewa nyonya itu yang hanya mengeluarkannya apabila dia menghadapi lawan tangguh yang sukar dikalahkannya dengan tangan kosong. Sabuk sutera itu terkenal di dunia kang-ouw dengan nama Pek-in-sin-pian (Cambuk Sakti Awan Putih) karena kalau dimainkan oleh Sie Biauw Eng bentuk sabuk sutera itu lenyap sama sekali, yang tampak hanyalah cahaya bergulung-gulung seperti awan putih, namun dari awan itu menyambar-nyambar sinar kilat yang dapat membawa maut!

Melihat betapa nyonya yang lihai itu dapat menandingi suhengnya, Lak Beng Lama lalu meloncat ke arah Kwee Kin Ta yang menggandeng tangan Cia Bun Houw dan melindungi putera subonya ini. Melihat gerakan ini, Kwee Kin Ci, adik dari Kwee Kin Ta dan sembilan orang murid kepala lainnya menerjang maju sambil berteriak marah.

Terdengar suara senjata berkerontangan disusul robohnya lima enam orang murid kepala Cin-ling-pai yang terlempar ke kanan kiri kena disapu oleh tongkat di tangan Lak Beng Lama yang amat lihai! Kwee Kin Ci membacokkan pedangnya dari samping kiri, sedangkan para sutenya yang lain kembali sudah

menyerang dari segala jurusan.

“Plakkk…!” Tubuh Kwee Kin Ci tersungkur dan pedangnya patah setelah ditangkis oleh tangan kiri kakek itu! Dapat dibayangkan betapa tingginya tingkat kepandaian Lak Beng Lama dibandingkan dengan para anak murid Cin-ling-pai itu ketika dengan tangan kosong saja dia mampu mematahkan pedang dan bahkan terus merobohkan pemiliknya dengan hantaman hawa pukulan telapak tangannya. Melihat adiknya roboh dan kakek itu jelas hendak merampas Cia Bun Houw, Kwee Kin Ta sebagai murid kepala yang kepandaiannya paling tinggi mengeluarkan bentakan nyaring dan pedangnya menusuk ke arah dada kakek itu, sedangkan tangan kirinya dengan jari tangan terbuka membuat gerakan menusuk ke arah perut.

“Ceppp! Cepppp!” Dua tusukan pedang dan jari tangan itu terhenti ketika dengan dua jari telunjuk dan tengah kiri Lak Beng Lama menjepit pedang yang menusuk dadanya, sedangkan tangan kiri Kwee Kin Ta itu dibiarkan memasuki perutnya!

“Augghhhhh…!” Kwee Kin Ta menjerit ketika merasa betapa tangan yang memasuki rongga perut sedalam pergelangan itu tak dapat dicabutnya kembali dan terasa panas seperti dibakar!

“Wirrrr… siuuuuut… tar-tarrr…!”

“Omitohud…!” Lak Beng Lama berseru kaget dan terpaksa dia melepaskan jepitan tangan dengan perutnya, membuat Kwee Kin Ta terhuyung ke belakang dengan muka pucat. Sambaran cahaya putih tadi benar-benar amat berbahaya dan begitu dia mengelak terhadap ledakan yang menyambar ke arah pelipis kepala sebelah kiri dan ubun-ubunnya, ujung sabuk sutera putih itu masih mampu melecut pundaknya, membuat jubah di pundaknya pecah dan kulit pundaknya terasa panas dan perih!

Dalam keadaan bertanding menghadapi Hun Beng Lama yang lihai masih mampu menolong Kwee Kin Ta dan menghalangi Lak Beng Lama menangkap puteranya, benar-benar kehebatan nyonya Ketua Cin-ling-pai itu mengejutkan hati kedua orang Lama itu. Teringatlah mereka akan kelihaian Kun Liong dan tahulah mereka bahwa mereka berada di guha harimau yang amat berbahaya. Baru nyonyanya sudah begini lihai, apalagi Ketua Cin-ling-pai itu sendiri! Andaikata Ketua Cin-ling-pai berada di situ, dan Kun Liong juga, agaknya mereka akan terjebak dan akan celaka!

Lak Beng Lama yang cerdik pada saat itu sudah dapat menduga bahwa mungkin ini adalah siasat dari Pek Hong Ing! Maka dia cepat berseru, “Subeng, harap desak dia…!”

Mendengar ini, Hun Beng Lama segera mengeluarkan suara menggereng yang aneh. Tidak keras namun suara itu terdengar memenuhi udara dan berbareng dengan gerengannya itu, tiba-tiba tasbihnya bergerak lebih hebat dan kuat. Kadang-kadang tasbih itu melayang di udara, menyambar ke arah kepala Biauw Eng seperti benda hidup, disusul oleh kedua tangan kakek itu yang menyerang ganas dan bertubi-tubi, kadang-kadang malah dibantu pula oleh serangan kedua kakinya. Didesak sedemikian rupa oleh kakek yang amat lihai ini, terpaksa Biauw Eng harus mencurahkan seluruh tenaganya sehingga dia tidak lagi dapat mencegah perhatiannya ke arah Lak Beng Lama yang sedang dikeroyok oleh para anak murid Cin-ling-pai.

Tiba-tiba terdengar teriakan Bun Houw, “Ibuuu…! Bebaskan aku…!”

Kagetlah hati Biauw Eng dan ketika dia meloncat ke belakang memandang, ternyata anaknya itu telah berada di dalam pondongan Lak Beng Lama! Tentu saja mudah sekali bagi pendeta lihai ini untuk merampas Bun Houw dari dalam perlindungan para anak murid Cin-ling-pai dan begitu berhasil memondong Bun Houw, dia lalu berkata, “Toanio, hentikan perlawananmu kalau kau ingin melihat puteramu selamat!”

Menggigil seluruh tubuh Biauw Eng dan kedua tangannya meremas-remas sabuk sutera putihnya dalam usahanya mencegah kedua tangannya bergerak menyerang Lak Beng Lama. Maklumlah dia bahwa setelah puteranya tertawan, dia tidak boleh secara sembarangan saja turun tangan karena hal ini akan membahayakan nyawa puteranya. Dia memandang dengan bernyala dan gigi berkerot, “Manusia iblis…! Kalau kau mencelakakan puteraku, demi Tuhan, aku tidak akan berhenti sebelum dapat mencincang hancur tubuhmu!” Ucapannya yang penuh kesungguhan hati ini membuat kedua orang Lama itu bergidik karena mereka maklum bahwa seorang wanita sehebat itu tentu akan memenuhi ancamannya.

“Omitohud…! Toanio gagah perkasa dan hebat luar biasa! Terimalah rasa hormat dan kagum dari pinceng.” Hun Beng Lama menjura dengan penuh kagum karena harus dia akui bahwa selama hidupnya baru sekarang dia bertemu dengan seorang wanita sebagai lawan yang sedemikian hebatnya.

Sie Biauw Eng sejak dahulu bukan hanya terkenal sebagai seorang wanita yang amat lihai dan penuh keberanian tidak pernah mengenal rasa takut, juga dia terkenal amat cerdik. Baru sekarang, melihat puteranya berada di tangan musuh, dia merasa takut sekali, akan tetapi dia dapat menekan perasaannya, lalu berkata kepada Bun Houw, “Houw-ji, seorang calon pendekar pantang menangis dan menghadapi segala bahaya dengan tenang, yang penting bukan mati atau hidup, melainkan benar dan salah!” Mendengar ini, Bun Houw mengangguk dan tidak meronta lagi dalam pondongan Lak Beng Lama karena dia mengerti bahwa melawan dan meronta pun tidak ada gunanya sama sekali.

“Hun Beng Lama, sikap dan pakaianmu saja seperti seorang pendeta Lama yang suci, akan tetapi perbuatanmu curang seperti penjahat kecil yang hina. Kenapa kau membawa-bawa anak kecil yang tidak tahu apa-apa? Kalau memang gagah dan berani, bebaskan anakku dan majulah kalian pendeta-pendeta palsu berdua, kita bertanding sampai salah satu pihak mati!” Dengan suara lantang dan gagah Biauw Eng menantang.

“Omitohud…! Toanio memang hebat! Kami sama sekali tidak suka bermusuhan dengan orang-orang gagah seperti Toanio. Kami terpaksa menangkap puteramu justeru karena kami tidak suka bermusuhan. Kami tidak akan mencelakakan putera Toanio ini, hanya akan kami ajak ke Tibet untuk bermain-main dan pesiar. Kelak, kalau Toanio atau suami Toanio datang mengantarkan Kun Liong kepada kami, tentu putera Toanio akan kami serahkan kembali disertai permohonan maaf kami sekalian. Kami tidak suka bermusuh dan bertanding melawan Toanio dan jalan satu-satunya hanyalah menahan putera Toanio. Nah, selamat tinggal sampai jumpa pula di Tibet di mana Toanio akan dapat mengajak pulang putera Toanio. Mudah-mudahan waktu itu tidaklah terlalu lama.”

Maka pergilah Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama meninggalkan puncak itu. Kwee Kin Ta yang patah-patah tulang tangan kirinya itu membuat gerakan untuk menyerbu, demikian pula para anak murid Cin-ling-pai, akan tetapi Biauw Eng menggerakkan tangan mencegah mereka. Wanita ini hanya berdiri memandang, matanya bernyala dan alisnya berkerut, kedua tangannya mengepal akan tetapi tidak berani membuat gerakan sesuatu. Setelah bayangan kedua orang pendeta itu lenyap, barulah dia mengeluarkan suara mengeluh panjang dan tubuhnya terguling roboh. Pingsan!

In-moi (Dinda In)…! Tunggu…!”

Teriakan ini keluar dari mulut Ouwyang Bouw yang mengejar Lauw Kim In yang berlari-lari. Namun Kim In tidak menjawabnya, juga tidak menengok, melainkan berlari terus sambil kadang-kadang mengusap air matanya. Biasanya, wanita yang berhati keras dan dingin seperti baja ini pantang menangis, akan tetapi ucapan yang keluar dari mulut Kun Liong menikam ulu hatinya dan menyentuh perasaan hatinya yang memang selalu tertekan. Dia sama sekali tidak cinta kepada Ouwyang Bouw dan menyerahkan tubuhnya kepada pemuda setan itu secara terpaksa. Hanya dia seorang yang merasakan betapa tersiksa dan menderita hatinya setiap kali dia harus menyerahkan tububnya kepada Ouwyang Bouw yang menganggapnya isterinya itu. Makin lama dekat dengan Ouwyang Bouw, makin sadarlah dia bahwa “suaminya” itu adalah seorang yang tidak waras otaknya, agak miring otaknya dan di balik ketidakwajarannya itu terdapat watak yang luar biasa kejam dan jahatnya! Seperti diketahui, dahulu dia menyerahkan kehormatan dan tubuhnya kepada Ouwyang Bouw karena terpaksa, yaitu untuk menyelamatkan sumoinya, Pek Hong Ing, dan dirinya sendiri karena mereka berdua kalah melawan Ouwyang Bouw, dan kedua kalinya karena dia hendak mempergunakan kelihaian orang muda gila ini untuk dapat membalas dendamnya terhadap musuh besar yang dahulu membunuh tunangannya, yaitu Thian-ong Lo-mo. Dan dia berhasil menyelamatkan Pek Hong Ing, bahkan berhasil pula membunuh Thian?ong Lo-mo di samping berhasil meningkatkan ilmu kepandaiannya dengan petunjuk “suaminya”. Akan tetapi, setiap kali apabila teringat akan keadaan dirinya, apalagi setiap kali harus melayani cumbu rayu dan permainan cinta suaminya yang kadang-kadang tidak lumrah dan mengerikan itu, batinnya makin tertekan.

Ucapan-ucapan Kun Liong seperti ujung pedang runcing menikam jantungnya. Dia diumpamakan setangkai mawar indah dari Go-bi yang berlumur noda dan lumpur kehinaan. Betapa tepatnya ucapan itu dan dia merasa jantungnya tertikam dan sakit sekali. Memang kalau dia pikir, hidupnya sekarang tidak ada artinya sama sekali, hanya menjadi permainan dan bahan penghinaan seorang laki-laki berotak miring seperti Ouwyang Bouw saja! Menjadi barang permainan karena dia pun tahu betapa anehnya cinta kasih Ouwyang Bouw kepadanya yang lebih condong kepada sebuah benda permainan yang tak pernah membosankan hati pemuda gila itu. Ouwyang Bouw yang menganggap dia isterinya itu kadang-kadang bermain gila dengan wanita, baik secara suka rela di pihak wanita itu atau memaksa dan memperkosanya, dilakukan begitu saja di depan matanya tanpa rasa malu sedikit pun! Ouwyang Bouw tidak mengenal apa artinya kesetiaan suami isteri. Bahkan gilanya, pernah Ouwyang Bouw menganjurkan agar dia bermain cinta dengan pria lain di depan mata suami gila itu! Ditangkapnya seorang pemuda tampan dan dengan ancaman maut Ouwyang Bouw memaksa pemuda itu agar bermain cinta dengan isterinya! Ouwyang Bouw membujuk-bujuk agar dia suka melakukan hal yang tidak senonoh itu di depan matanya. Tentu saja dia tidak sudi dan hal itu membuat Ouwyang Bouw marah-marah dan membunuh pemuda yang tidak berdosa itu! Teringat akan semua ini, hancurlah perasaan hati Kim In ketika mendengar celaan dan sindiran Kun Liong.

“Isteriku… yang manis…! Dinda Lauw Kim In… tunggulah…, larimu begitu cepat seperti kuda! Ha-ha-ha!” kembali terdengar suara suaminya itu, kini sudah dekat di belakangnya. Lauw Kim In mempercepat larinya, mengerahkan seluruh gin-kangnya yang sudah memperoleh banyak kemajuan setelah dia dilatih oleh suami gila itu.

“Wah-wah, larimu makin kencang! Ha-ha, lucu dan manis sekali dari belakang! Ha-ha-ha, bagus sekali! Kita menjadi dua ekor kuda yang berkejaran, kau kuda betina dan aku kuda jantan. Kalau dapat terpegang, kau harus memberi hadiah kepadaku, ha-ha-ha!”

Lauw Kim In bergidik, mengerti bahwa suaminya itu “kumat” lagi gilanya, gila berahi yang kadang-kadang penyalurannya membuat dia ngeri dan jijik. Maka makin cepatlah dia berlari dengan tekad kalau dapat akan membebaskan diri dari manusia itu. Akan tetapi, betapa pun cepat dia lari, naik turun gunung dan keluar masuk hutan, akhirnya dia tersusul juga.

“Ha-ha-ha, kau kalah!” Ouwyang Bouw menubruknya dari belakang sehingga Lauw Kim In terguling di atas rumput. Ouwyang Bouw terus menggelutnya dan memaksanya sambil terkekeh-kekeh, “Kita memang sepasang kuda… heh-heh, sepasang kuda bermain cinta…”

Dapat dibayangkan betapa tersiksanya hati wanita itu, namun terpaksa dia harus mandah saja diperlakukan sesuka hati pria yang memiliki tingkat kepandaian tinggi ini. Dia tahu bahwa kalau dia melawan dengan kekerasan, berarti bunuh diri dan dia tidak mau bunuh diri dengan sia-sia. Tubuhnya telah tercemar, telah kotor, maka ditambah dengan penderitaan beberapa kali lagi sebelum ada kesempatan baik, tidak mengapalah.

“Isteriku yang manis… kau hebat…” Omyang Bouw merangkul dan mencium mulut Lauw Kim In yang rebah kelelahan dan mukanya agak pucat itu. Ouwyang Bouw Ialu tergelimpang dan rebah pula terlentang di dekat Kim In, juga kelelahan dan dengan mulut tersenyum kepuasan.

Perlahan-lahan Kim In membereskan kembali pakaiannya. Dia bangkit duduk dan melirik ke arah “suaminya” yang masih terlentang dengan mata terpejam itu. Laki-laki itu tidur dengan tubuh setengah telanjang, dan harus diakuinya bahwa tubuh Ouwyang Bouw tegap dan gagah. Andaikata wataknya tidak gila seperti itu, melihat ketampanan wajah dan ketegapan tubuhnya, kiranya tidaklah terlalu sukar baginya untuk belajar membalas cinta laki-laki yang sudah menjadi suaminya ini. Akan tetapi laki-laki ini gila! Kegilaan yang menjemukan, terutama sekali kegilaannya dalam bermain cinta. Teringat akan apa yang baru saja dialaminya tadi, dia diperlakukan sebagai seekor kuda betina, hampir sama dengan diperkosa di luar kehendaknya, kemarahannya meluap.

“Wuuuuuttt!” Dengan jari-jari terbuka, tangan kanan Lauw Kim In menerkam dengan serangan maut ke arah dada dari suaminya.

“Plakkk…! Haiiiii, kau kenapa…?” Biarpun kelihatannya tadi memejamkan matanya, namun Ouwyang Bouw dapat menangkis dan meloncat berdiri sambil berteriak kaget.

Lauw Kim In juga kecewa dan kaget. Suaminya ini memang lihai sekali dan kalau dia tidak menggunakan akal, tentu dia akan mati konyol. “Aku mengapa? Mengapa lagi kalau bukan mengajak kau berlatih silat?” jawab Lauw Kim In dengan suara biasa dan terus saja dia melancarkan pukulan bertubi-tubi, mengeluarkari jurus-jurus yang paling ampuh.

Sambil meloncat ke kanan kiri dan mengikatkan ikat pinggangnya yang kedodoran, Ouwyang Bouw tertawa, “Ha-ha-ha, bagus! Baru saja selesai bertempur, sudah mengajak bertanding lagi. Nah, awas, aku membalas seranganmu!”

Bertandinglah kedua orang itu, atau bagi Ouwyang Bouw tentu saja hanya berlatih, dia tidak tahu bahwa “isterinya” itu menyerangnya dengan sungguh-sungguh! Setelah lewat lima puluh jurus, mengertilah Lauw Kim In bahwa tidak mungkin dia dapat mengalahkan suaminya yang benar-benar amat lihai ini.

“Sratttt!” Dia mencabut pedangnya. “Lihat pedang!” bentaknya karena biarpun di lubuk hatinya dia ingin membunuh orang ini, namun dengan cerdik dia memperingatkan agar suaminya tidak curiga dan mengira dia tetap mengajak berlatih, kini dengan silat pedang.

“Bagus! Memang dalam silat pedang engkau sudah memperoleh lebih banyak kemajuan daripada bertangan kosong, isteriku manis!” Ouwyang Bouw juga mencabut pedangnya dan tampaklah dua gulungan sinar pedang berkelebatan.

“Wah-wah, apakah engkau tidak lelah? Aku lelah sekali…! Sudahlah, aku ingin mengaso!” Ouwyang Bouw berteriak setelah mereka bertanding selama lima puluh jurus dan pedang mereka berkali-kali saling bertemu.

Diam-diam Lauw Kim In menjadi jengkel dan kecewa sekali. Derigan tangan kosong dia tidak mampu menang, dengan pedang pun tidak akan mampu membunuh suaminya ini, biarpun tingkat mereka tidak berselisih banyak. Dia menyarungkan pedangnya, lalu duduk membelakangi suaminya dengan wajah cemberut.

Ouwyang Bouw merangkulnya, mengusap keringat dari lehernya dan tangannya terus membelai ke bawah leher. Lauw Kim In merenggut tangan itu dan makin cemberut.

“Aihh, Manis! Kau kenapa? Mengapa marah-marah?” Ouwyang Bouw malah menggoda dan merangkul, terus menciumi dengan nafsu baru yang bangkil kembali.

“Engkau menipuku!” Lauw Kim In berkata.

“Heh? Aku…? Menipumu…?”

“Dulu kau berjanji akan menurunkan semua ilmu silatmu kepadaku, ternyata kau hanya menipuku saja.”

“Bukankah setiap kali kauminta, aku selalu melatihmu?”

“Huh! Yang kauajarkan hanyalah jurus-jurus tidak berguna saja. Buktinya, sampai sekarang pun aku belum mampu mengalahkan engkau!”

“Ha-ha-ha-ha! Hendak mengalahkan aku tidak mudah, isteriku. Ilmu kepandaianku sudah terlatih matang. Engkau hanya akan mampu mengalahkan aku dalam bermain cinta, kalau dalam ilmu silat, kiranya tidak mungkin biarpun aku mengajarkan seluruh ilmuku kepadamu.”

Lauw Kim In termenung. Benar juga apa yang diucapkan orang gila ini. Dia kalah latihan, juga kalah tenaga dan keuletan, mungkin kalah bakat. Habis, bagaimana dia akan dapat mengenyahkan laki-laki yang menjemukan hatinya ini? Dia harus bersabar dan menanti datangnya kesempatan baik. Maka dengan manis dia lalu menurut saja ketika suaminya mengajaknya kembali ke Pek-lian-kauw. Akan tetapi memang watak Ouwyang Bouw aneh, dia tidak langsung mengajaknya kembali ke Pek-lian-kauw, melainkan di sepanjang jalan dia berhenti dan di setiap tempat yang indah dia merayu isterinya dan mengajarkan jurus-jurus baru, sikapnya demikian mesra seperti pengantin baru saja, tidak tahu betapa limpahan cinta kasih yang luar biasa ini bahkan makin memuakkan hati Lauw Kim In. Karena perjalanan yang lambat ini, mereka sampai bermalam selama dua malam di dalam hutan, dan semua kehendaknya terpaksa dilayani oleh Lauw Kim In yang merasa seperti dijadikan boneka hidup!

Pada hari ke tiga, barulah mereka langsung menuju ke Pek-lian-kauw. Agaknya sudah lewat pula kumatnya penyakit Ouwyang Bow. Ada kalanya dia bersikap seperti pengantin baru selama beberapa hari, ada pula kalanya dia bersikap acuh tak acuh terhadap Lauw Kim In sampai berpekan-pekan!

Ketika mereka tiba di sebuah hutan, tiba-tiba Omyang Bouw menarik tangan Lauw Kim In dan menyeretnya ke dalam semak-semak.

“Aku sudah lelah, jangan main gila kau! Besok saja…” Kim In menolak karena mengira bahwa suaminya itu kumat lagi, akan tetapi Ouwyang Bouw mendekap mulutnya dan menuding ke depan.

Lauw Kim In memandang dan dia terkejut melihat seorang gadis cantik dan seorang pemuda. Dia mengenal gadis cantik itu, karena gadis itu bukan lain adalah pengantin yang dirayakan pernikahannya di Pek-lian-kauw, gadis yang kabarnya bernama Cia Giok Keng puteri Ketua Cin-ling-pai! Akan tetapi dia tidak mengenal pemuda tinggi besar dan bersikap gagah yang berjalan di sebelah gadis itu.

Siapakah pemuda tinggi besar dan gagah perkasa itu? Dia bukan lain adalah Lie Kong Tek! Seperti kita ketahui, Lie Kong Tek disuruh oleh gurunya untuk mencari Cia Giok Keng yang telah dipinangnya langsung dari ayah gadis itu. Gurunya menghendaki dia menyusul dan kalau perlu melindungi gadis itu dan memaksakan perpisahan antara mereka dengan janji setahun kemudian bertemu di Cin-ling-san.

Demikianlah, Lie Kong Tek lalu melakukan perjalanan seorang diri dan karena dia tidak tahu ke mana perginya Cia Giok Keng, maka dia lalu mengambil arah yang ditempuh oleh Giok Keng ketika gadis itu tadi melakukan pengejaran terhadap Liong Bu Kong. Tentu saja dia kehilangan jejak gadis itu dan selama dua hari dia berkeliaran di sekitar daerah itu, mencari-cari tanpa hasil.

Baru pagi tadi, ketika dia sudah hampir hilang harapan untuk bertemu dengan Cia Giok Keng, tiba-tiba dia melihat gadis itu muncul keluar dari sebuah hutan, berjalan dengan arah menuju ke sarang Pek-lian-kauw.

“Cia-siocia (Nona Cia)…!” Dia memanggil sambil berlari mengejar.

Mendengar suara panggilan ini, Giok Keng berhenti dan menengok. Ketika dia mengenal orang itu sebagai pemuda tinggi besar yang pernah membelanya di depan ayahnya, seketika Giok Keng cemberut. Hemm, kembali dia berhadapan dengan seorang penjilat, pikirnya! Betapa banyaknya bertemu dengan pria-pria seperti itu! Pria yang memperlihatkan “kebaikan”, bahkan rela berkorban apa pun untuk menarik hati seorang gadis cantik. Dan dia tahu bahwa pemuda tinggi besar ini pun semacam pria seperti itu. Tentu sikapnya membelanya di depan ayahnya, yang kelihatan gagah perkasa dan penuh kebaikan, bahkan yang membayangkan kasih sayang besar dengan pengorbanan dirinya, hanya merupakan siasat untuk menarik hatinya! Dia sudah muak dengan semua itu, apalagi setelah mengalami kejatuhannya di tangan Liong Bu Kong si tukang bujuk rayu! Kini teringat olehnya betapa hampir semua laki-laki adalah tukang bujuk, perayu yang berhati palsu, kecuali… Kun Liong agaknya! Kun Liong dengan terang-terangan mengatakan tidak cinta kepadanya! Sebaliknya, semua pria yang dijumpainya selama ini, dari pandang matanya saja sudah menjeritkan “cinta” yang memuakkan.

Betapapun juga, pemuda tinggi besar ini sudah menerima siksaan dari ayahnya, bahkan hampir tewas, maka dia harus bersikap baik. Dan untuk kelancangannya itu, dia akan menghukumnya dengan menjatuhkan hatinya seperti semua pria yang telah jatuh hati kepadanya, untuk kemudian dia tinggalkan. Mulai sekarang, dia akan membalas semua pria yang cintanya palsu itu! Mula-mula dahulu adalah para suhengnya di Cin-ling-pai, terutama Kwee Kin Ta dan Kwee Kin Ci yang dari sinar matanya jelas jatuh cinta kepadanya, lalu disusul belasan orang suhengnya yang lain. Setelah itu, entah berapa banyaknya lirikan-lirikan cinta yang terpancar keluar dari pandang mata setiap orang pria, tua muda yang bertemu dengannya.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: