Petualang Asmara (Jilid ke-43)

Orang itu menarik kembali pedangnya yang sudah bergerak hendak menusuk Kun Liong, melangkah mundur tiga kali dan memandang penuh perhatian, matanya masih menyorotkan keraguan dan kecurigaan. Melihat sikap Kun Liong bukan seperti seorang musuh, dia menjadi heran lalu bertanya, “Siapakah engkau…?”

Kun Liong mengelus rambut di atas telinga kanannya, tersenyum. “Poa-toako, beberapa tahun yang lalu, kepalaku gundul dan aku pernah bertemu dengan Toa-ko, sutemu Han Swi Bu dan sumoimu Liem Hwi Sian. Aku Yap Kun Liong.”

“Aihhh…!” Poa Su It teringat dan menghela napas panjang sambil menyarungkan pedangnya, lalu menjura, “Maafkan aku, Yap-enghiong (Orang Gagah she Yap)!

Biarpun baru satu kali bertemu, aku sudah banyak mendengar tentang engkau dari kedua adik seperguruanku.”

“Tidak mengapa, Toako. Karena lupa, maka Toako menyangka aku musuh. Akan tetapi, mengapakah di tempat yang damai dan aman ini Toako agaknya menanti datangnya musuh?”

Orang tinggi kurus itu kembali menarik napas panjang, “Mari kita masuk ke dalam, Yap-enghiong, dan akan kuceritakan apa yang telah terjadi.”

Karena memang dia hendak mencari Hwi Sian, Kun Liong mengangguk dan mengikuti twa-suheng (kakak seperguruan pertama) dari Hwi Sian itu memasuki pondok yang kelihatan amat sunyi itu. Setelah mempersilakan Kun Liong duduk, Poa Su It lalu bercerita, “Memang tidak keliru dugaanmu tadi, Yap-enghiong. Aku menyangka engkau adalah seorang di antara musuh-musuh yang sudah mengancam akan menyerbu tempat ini. Beberapa hari yang lalu, selagi Suhu bersamadhi seperti biasa, lapat-lapat aku mendengar suara orang yang diteriakkan dari jauh mempergunakan tenaga khi-kang sehingga terdengar jelas dari tempat ini. Suara itu mengaku suara Tok-jiauw Lo-mo yang mengancam Suhu, akan datang membunuh Suhu dalam beberapa hari ini. Nah, ketika engkau muncul, tentu saja aku mengira bahwa engkau adalah musuh itu.”

“Dan bagaimana keputusan Gak-locianpwe tentang ancaman itu?”

Poa Su It menghela napas panjang, “Suhu tenang-tenang saja bahkan menjawab dengan sabar, mempersilakan musuh itu datang. Suhu hanya berpesan kepadaku agar aku menjaga datangnya musuh dan melaporkan kepada Suhu kalau musuh itu datang. Tentu saja aku tidak bisa bersabar seperti Suhu menghadapi musuh yang mengancam nyawa Suhu.”

“Hemmm, Tok-jiauw Lo-mo memang bukan orang baik-baik,” kata Kun Liong.

“Yap-enghiong pernah bertemu dengan dia?”

Kun Liong mengangguk dan berkata lagi, “Kalau dia datang bersama kawan-kawannya, tentu berniat buruk sekali. Oleh karena itu, setelah mendengar ini, aku akan membantumu, Poa-toako. Aku akan ikut menanti mereka dan membantumu menghadapi mereka.”

Wajah Poa Su It yang tadinya muram itu kini berseri dan dia memegang lengan Kun Liong. “Aku memang amat mengharapkan bantuanmu! Yap-enghiong! Terima kasih!”

Kun Liong menoleh ke kanan kiri karena merasa heran mengapa pondok itu demikian sunyi, dan mengapa pula Tan Swi Bu, terutama Liem Hwi Sian, tidak muncul.

“Kenapa Toako berjaga seorang diri? Di manakah Sute dan Sumoimu?”

“Suami istri itu pergi ke barat mewakili Suhu yang sekarang sudah tidak suka lagi mencampuri urusan dunia. Dahulu Suhu terkenal sekali di Secuan ketika Suhu masih membantu Susiok-kong (Paman Kakek Guru) Panglima The Hoo membasmi para pemberontak dan penjahat di daerah Secuan ini. Akan tetapi sekarang Suhu sudah mengundurkan diri, maka ketika datang perintah dari Susiok-kong yang minta bantuannya menyelidiki ke barat, Suhu mewakilkan tugas itu kepada Sute dan Sumoi”

Lega rasa hati Kun Liong. Inilah yang ingin didengarnya, jadi ternyata Hwi Sian telah menikah dengan ji-suhengnya (kakak seperguruan ke dua), Tan Swi Bu seperti yang dia dengar dari Hwi Sian dahulu. Bagus, kalau demikian keadaan Hwi Sian baik-baik saja dan dia yakin bahwa gadis yang pernah menyerahkan tubuhnya kepadanya itu tentu telah memaafkannya. Sayangnya dia tidak dapat bertemu sendiri dan melihat sinar pengampunan itu dari mata gadis itu sendiri.

“Kalau boleh aku bertanya, tugas penyelidikan apakah itu, Toako?”

“Menyelidiki ke Tibet.”

Jawaban ini mengejutkan hati Kun Liong karena dia sendiri pun akan ke Tibet. “Ada terjadi apakah di Tibet?”

“Panglima The menugaskan Suhu untuk menyelidiki perkumpulan Agama Lama Jubah Merah yang kabarnya mengadakan persekutuan dengan Pek-lian-kauw dan kedua perkumpulan ini merencanakan pemberontakan kepada Kerajaan Tibet dan juga Kerajaan Beng.”

Kun Liong mengangguk-angguk dan berpikir keras. Mengapa ada hal begini kebetulan? Kalau terjadi huru-hara di Tibet, dia makin mengkhawatirkan keselamatan Hong Ing. Apakah sangkut-pautnya penculikan atas diri Hong Ing dengan pemberontakan ini?

“Memang Tok-jiauw Lo-mo seorang tokoh sesat yang berbahaya. Aku ingin sekali dapat berhadapan dengan dia, karena dahulu pernah aku ditangkap oleh kakek itu bersama teman-temannya.”

Poa Su It menghela napas. “Itulah yang menggelisahkan hatiku, Yap-enghiong. Suhu berpesan bahwa kalau Tok-jiauw Lo-mo datang, beliau sendiri yang hendak menghadapinya karena di antara mereka terdapat urusan pribadi, demikian kata Suhu.”

“Urusan pribadi?”

“Ya, dan aku sendiri tidak tahu urusan apakah itu. Kata Suhu, aku hanya boleh menghadapi kaki tangan kakek itu kalau memang ada, sedangkan kakek itu sendiri akan dihadapi Suhu, padahal Suhu sudah tua dan kesehatannya kurang baik, aku khawatir sekali.”

“Hemm, seorang gagah perkasa seperti suhumu itu, tidak perlu dikhawatirkan karena apa pun yang dilakukannya, tentulah berdasarkan kegagahan dan beralasan. Dan agaknya kakek iblis itu tidak akan datang sendiri. Orang seperti dia itu, apalagi menghadapi lawan berat seperti suhumu, tentu tidak akan datang sendiri dan hendak mengandalkan jumlah banyak untuk memperoleh kemenangan. Maka kalau dia datang dengan banyak teman, berarti engkau sendiri sudah sibuk menghadapi kaki tangannya, Toako.”

“Benar, dan sungguh untung bagiku engkau datang berkunjung, Yap-enghiong, karena dengan adanya bantuanmu di sini, hatiku menjadi lebih lega dan tenteram.”

Mereka bercakap-cakap sambil berjaga-jaga dan makin larut hari, makin besar rasa kagum dan suka di hati Kun Liong terhadap murid tertua dari pendekar Secuan itu. Selain luas pengalamannya, juga laki-laki yang tidak pernah menikah selamanya ini memiliki dasar watak pendekar tulen. Karena itu, Kun Liong juga menjadi terbuka sikapnya, dan dia dengan terus terang menceritakan niat perjalanannya, yaitu menuju ke Tibet karena kekasihnya diculik oleh tiga orang Lama Jubah Merah. Mendengar ini, Poa Su It terkejut sekali.

“Kalau tidak salah dugaanku, tiga orang Lama Jubah Merah yang kauceritakan itu adalah pucuk pimpinan dari perkumpulan Agama Lama Jubah Merah itu! Sungguh berbahaya sekali! Aku mendengar bahwa ilmu kepandaian mereka bertiga itu seperti iblis, amat sakti. Karena itu, Suhu juga memberi peringatan kepada Sute dan Sumoi yang menyelidik ke sana agar berhati-hati dan menghindarkan bentrokan, menyamar sebagai penduduk biasa, yang hendak bersembahyang dan minta berkah.”

Hari berganti malam dan yang mereka tunggu-tunggu pun datanglah! Mula-mula terdengar teriakan dari jauh sekali, teriakan yang dibawa angin dan yang datang karena pengerahan khi-kang yang cukup kuat, “Tua bangka she Gak! Aku datang memenuhi janji!”

Mendengar suara ini, Poa Su It dan Kun Liong meloncat bangun dan cepat lari keluar pondok, menanti dengan hati tegang di depan pondok. Sejak tadi Poa Su It memang sudah siap dan menggantung lampu-1ampu sehingga di depan pondok pun cukup terang. Sebatang pedang tergantung di pinggang murid tertua dari Gak Liong ini.

Bagaikan segerombolan setan, muncullah bayangan-bayangan dari dalam gelap, makin dekat makin teranglah bayangan itu, tersorot sinar lampu yang bergantungan di depan pondok. Di depan sendiri tampak Tok-jiauw Lo-mo yang sudah dikenal oleh Kun Liong. Biarpun kakek ini sudah lebih tua, namun tidak berbeda dengan dahulu. Tinggi kurus, kepala botak dan bentuknya seperti kura-kura, membawa sebatang tongkat pendek yang ujungnya berbentuk cakar setan, punggungnya agak melengkung dan matanya dari muka yang menunduk karena bongkoknya itu selalu melirik dari bawah, amat tajam. Mata itu memandang bergantian kepada Poa Su It dan Kun Liong, tidak pedulian, dan melirik ke kanan kiri mencari-cari. Memang sukarlah mengenal kembali Kun Liong yang dulu gundul kelimis itu dan yang sekarang memiliki rambut yang aneh, pendek tidak panjang pun belum.

Terkejut dan ngeri juga hati Poa Su It melihat kakek ini, akan tetapi sama sekali hati pendekar ini tidak merasa takut. Dia memandang lagi dengan penuh perhatian kepada orang-orang lain yang ikut datang bersama kakek itu. Ada sepuluh orang banyaknya dan melihat pakaian mereka seperti pendeta berwama kuning dengan lukisan teratai putih di bagian dada, Poa Su It tidak merasa heran dan mengertilah dia bahwa mereka adalah orang-orang Pek-lian-kauw. Pendekar yang sudah banyak pengalaman ini lalu menarik kesimpulan bahwa kedatangan Tok-jiauw Lo-mo (Iblis Tua Cakar Beracun) ini bukanlah semata-mata karena dia adalah musuh gurunya, melainkan tentu ada hubungannya dengan persekutuan Pek-lian-kauw dengan Lama Jubah Merah, dan ada hubungannya pula dengan perintah susiok-kongnya, Panglima The Hoo. Tentu Pek-lian-kauw dan kakek ini maklum bahwa gurunya adalah murid keponakan The Hoo dan seorang pembantu yang aktip dari panglima itu. Agaknya gurunya yang tinggal di Secuan akan merupakan penghalang bagi kelancaran persekutuan antara Pek-lian-kauw dan Lama Jubah Merah, maka mereka memusuhi gurunya.

Dugaan Poa Su It ini memang tepat. Antara Tok-jiauw Lo-mo dan Gak Liong memang terdapat permusuhan pribadi yang dimulai di waktu mereka, masih muda dahulu. Tok-jiauw Lo-mo di waktu mudanya adalah penculik gadis-gadis muda yang kemudian dijualnya di sarang-sarang pelacuran di kota-kota besar. Pada suatu hari, ketika dia menculik seorang gadis, muncullah pendekar Gak Liong yang menghajarnya sampai setengah mati. Gadis itu kemudian menjadi isteri Gak Liong, akan tetapi beberapa bulan kemudian, selagi Gak Liong tidak berada di rumah, Tok-jiauw Lo-mo datang dan membunuh wanita itu! Gak Liong menjadi marah dan sakit hati, mencarinya dan kembali menghajar Tok-jiauw Lo-mo sampai menjadi cacad, kepalanya botak tak berambut, punggungnya membungkuk, akan tetapi dia berhasil melarikan diri. Demikianlah, antara kedua orang ini timbul permusuhan dan entah sudah berapa belas kali mereka bentrok dan bertanding, akan tetapi selalu pihak Tok-jiauw Lo-mo yang kalah dan selalu dapat melarikan diri. Tok-jiauw Lo-mo terus menggembleng dirinya dan demikian pula Gak Liong. Setelah menjadi murid keponakan The Hoo, Gak Liong menghentikan permusuhan itu dan mengundurkan diri, akan tetapi tentu saja selalu siap menghadapi kalau Tok-jiauw Lo-mo mencarinya.

Ketika Pek-lian-kauw mengadakan hubungan dengan Lama Jubah Merah, Tok-jiauw Lo-mo telah menggabungkan diri dengan Pek-lian-kauw. Maka, mendengar bahwa demi kelancaran persekutuan dengan Lama Jubah Merah pendekar Secuan harus dienyahkan dulu, apalagi mengingat bahwa pendekar itu adalah pembantu The Hoo, serta merta Tok-jiauw Lo-mo mengajukan dirinya sebagai petugas yang akan membasmi pendekar Secuan. Tentu saja sekali ini dia tidak mau gagal dan minta dibantu oleh sepuluh orang tokoh Pek-lian-kauw yang cukup tinggi kepandaiannya.

“Manusia she Gak, kenapa kau sembunyi saja? Keluarlah menerima kematian!” Tok-jiauw Lo-mo berseru dengan lagak sombong. Sekali ini dia yakin akan dapat mengenyahkan musuh besar itu karena dia dibantu oleh sepuluh orang Pek-lian-kauw yang tangguh.

Poa Su It hendak melangkah maju, akan tetapi dia didahului oleh Kun Liong yang sudah meloncat ke depan kakek itu sambil berkata, “Tok-jiauw Lo-mo, sejak dahulu kau selalu membikin kacau dan melakukan kejahatan saja!”

Melihat seorang pemuda remaja bersikap kurang ajar dan berani menegurnya, kakek itu menjadi marah sekali. “Kau mampuslah!” Tongkatnya menyambar dan cakar setan yang mengandung racun amat berbahaya itu menyambar ke arah muka Kun Liong. Memang kakek itu tidak main-main dan bukan hanya menggertak sambal belaka. Sikap dan teguran Kun Liong itu baginya sudah menjadi alasan cukup untuk membunuh pemuda ini!

“Plak! Plak!”

“Uughhhh…!” Tubuh kakek itu terhuyung ke belakang dan dengan mata terbelalak dia memandang pemuda yang berdiri dengan tersenyum itu. Hampir dia tak dapat mempercayai kalau tidak mengalaminya sendiri. Pemuda yang masih remaja itu bukan saja berani menangkis tongkatnya yang ampuh itu, bahkan menangkis dua kali dan membuat dia terhuyung-huyung karena tongkatnya itu membalik bertemu dengan tenaga yang amat dahsyat!

“Kau… kau siapakah?” bentaknya, mukanya berubah karena dia maklum bahwa pemuda ini adalah seorang yang memiliki kesaktian hebat.

“Hemm, Tok-jiauw Lo-mo! Pernah kau bersama Marcus dan pasukan pemerintah yang kaubohongi menangkap aku untuk memperebutkan bokor pusaka!”

Kakek itu melongo, masih tidak mengenal Kun Liong.

“Ketika itu kepalaku tidak berambut…”

“Ahaiiii! Kau Si Gundul keparat itu!”

Kakek itu makin kaget dan kembali tongkatnya sudah diangkat.

“Tahan…!” Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di situ telah muncul seorang kakek lain yang berpakaian sederhana seperti petani, tubuhnya kurus dan wajahnya agak pucat, namun sikapnya gagah dan berdiri tegak.

“Suhu…!” Poa Su It berkata. “Biarlah teecu dan Yap-enghiong yang menghadapi penjahat-penjahat ini! Silakan Suhu beristirahat!”

Gak Liong, kakek itu, menoleh kepada muridnya. “Su It, kau mundurlah.” Kemudian dia menghadapi Yap Kun Liong sambil berkata, “Yap-sicu, namamu sudah banyak kudengar, terutama dari tiga muridku. Terima kasih atas bantuanmu, akan tetapi, untuk menghadapi Tok-jiauw Lo-mo ini, terpaksa harus aku sendiri yang menghadapinya. Antara dia dan aku terdapat urusan lama, urusan pribadi yang tidak boleh dicampuri orang lain.”

Kun Liong membungkuk dan berkata hormat, “Saya mengerti, Locianpwe. Dan saya tidak akan berani lancang mencampuri, hanya akan membantu Poa-toako kalau iblis tua ini berlaku curang dan mengerahkan kaki tangannya mengeroyok.”

“Heh-heh-heh, Gak Liong! Engkau sudah berpenyakitan mau mampus masih berlagak sombong.”

“Lo-mo, kita sama-sama tua dan marilah kila selesaikan urusan lama tanpa membawa-bawa yang muda. Kalau para anggauta Pek-lian-kauw di belakangmu itu mencampuri urusan kita, terpaksa aku membiarkan Yap-sicu dan muridku untuk turun tangan pula.”

“Heh-heh-heh, siapa yang mau curang? Aku akan menghadapi sendiri, satu lawan satu sampai seorang di antara kita mampus. Tentu aku percaya bahwa pendekar Secuan yang terkenal gagah itu tidak akan mengandalkan orang muda untuk mengeroyok aku orang tua!” Kata Tok-jiauw Lo-mo sambil melirik ke arah Kun Liong. Kakek ini memang cerdik. Begitu bentrok dengan Kun Liong dia maklum bahwa pemuda itu merupakan lawan yang paling berat, maka dia sengaja memancing dengan kata-kata ini.

“Aku bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun mencampuri urusan kita. Mari kita selesaikan sampai mati urusan pribadi kita sebelum usia tua merenggut nyawa kita.”

“Bagus! Bersiaplah kau untuk mampus, Gak Liong!” Tok-jiauw Lo-mo berteriak dan dia sudah menyerang ke depan.

“Tranggg! Trakkk!”

Pendekar dari Secuan itu telah menggerakkan tongkatnya pula dan balas menyerang. Terjadilah pertandingan yang amat seru dan mati-matian. Kun Liong menonton dengan hati khawatir. Memang, pada dasarnya ilmu silat pendekar Secuan itu lebih kuat, namun Tok-jiauw Lo-mo mempunyai gerakan liar yang ganas dan mengandung banyak gerak tipu. Kalau saja pendekar Secuan itu tidak sedang dalam keadaan lemah karena penyakit, tentu dia lebih kuat. Akan tetapi kakek itu sudah lemah sehingga setiap tangkisan atau serangannya tidak dapat menggunakan tenaga sepenuhnya dan beberapa kali dia terhuyung-huyung, sungguhpun setiap serangannya membuat lawan terdesak hebat.

Poa Su It yang sudah mencabut pedangnya dan berdiri di dekat Kun Liong, juga menonton dengan alis berkerut karena dia merasa gelisah sekali melihat gurunya yang sedang tidak sehat itu harus menghadapi seorang lawan sedemikian tangguhnya. Namun dia juga tidak berani mencampurinya dan hanya merasa mendongkol mengapa kaki tangan Tok-jiauw Lo-mo tidak segera bergerak sehingga dia mendapat kesempatan untuk mengamuk!

Andaikata tadi Tok-jiauw Lo-mo tidak merasakan kelihaian Kun Liong, tentu dia sudah mengerahkan teman-temannya untuk mengeroyok. Akan tetapi melihat kelihaian pemuda itu, dia berlaku cerdik. Lebih baik dia tidak mengerahkan teman-temannya agar di pihak Gak Liong, pemuda lihai itu pun tidak dapat turun tangan mencampuri. Dia tahu bahwa Gak Liong amat lihai, akan tetapi melihat keadaan musuh besarnya ini sedang tidak sehat, dia merasa yakin akan dapat mengalahkannya. Dengan penuh semangat dia terus menerjang dan menggerakkan tongkat cakar setan itu secepatnya sambil mengerahkan tenaga seadanya pula.

Namun Gak Liong bukanlah seorang yang hijau. Dia telah memiliki pengalaman puluhan tahun dan karena sering bertanding melawan musuh besrnya ini, dia sudah mengenal sifat ilmu silat lawan. Maka biarpun dia sedang lemah, dengan ilmu silatnya yang amat hebat, sealiran dengan kepandaian silat The Hoo, dia mulai mendesak lawannya.

“Eeeaaaghhh…!” Tiba-tiba Tok-jiauw Lo-mo memekik panjang. Tongkatnya bergerak cepat dan tangan kirinya memukul dengan telapak tangan terbuka, itulah pukulan baru yang telah dilatihnya baru-baru ini, untuk dipakai sebagai bekal jika menghadapi musuh besar ini.

Gak Liong agak terkejut, tidak mengira bahwa pukulan-pukulan tongkat cakar itu yang dilancarkan secara hebat kiranya hanya merupakan pancingan belaka, karena pukulan tangan kiri itu yang kini datang seperti kilat menyambar ke arah dada dan kepalanya. Cepat dia menjatuhkan diri ke kiri dan melihat lowongan baik, tongkatnya meluncur ke depan.

“Plakk! Crokkkk… Aughhhh…!” Tubuh Tok-jiauw Lo-mo terjengkang, tongkat Gak Liong menancap di ulu hatinya, sedangkan pendekar Secuan itu sendiri terhuyung karena tadi pundaknya masih terkena pukulan tangan kiri Tok-jiauw Lo-mo, pukulan sin-kang yang mengandung racun seperti cakar setan di tongkatnya yang masih dipegangnya itu. Tubuh Tok-jiauw Lo-mo berkelojotan dan dari mulutnya terdengar kata-kata terputus-putus, “Aku… aku cinta padanya… kau telah merampasnya… maka kubunuh… dia… hanya kalungnya… yang menjadi penggantinya… ini… ini… kukembalikan kalungnya padamu…. Gak Liong…”

Melihat seuntai kalung bermata batu kemala berbentuk hati, wajah Gak Liong membayangkan keharuan. Itulah kalung yang diberikannya kepada isterinya dan yang kemudian lenyap ketika isterinya terbunuh oleh Tok-jiauw Lo-mo. Kini kalung itu berada di tangan kiri Tok-jiauw Lo-mo yang diulurkan kepadanya. Keharuan membuat dia kurang waspada dan dia lalu membungkuk hendak menerima kalung itu dari tangan Tok-jiauw Lo-mo yang sudah sekarat.

“Gak-locianpwe, awas…!” Kun Liong berteriak namun terlambat. Ketika Gak Liong mendekati Tok-jiauw Lo-mo dan hendak mengambil kalung dari tangan bekas musuh itu, tiba-tiba tongkat cakar setan menyambar. Dia mengelak namun kurang cepat dan pelipis kepalanya kena dicakar. Gak Liong mengeluh dan roboh terguling, kalung isterinya itu digenggamnya erat-erat. Terdengar Tok-jiauw Lo-mo tertawa-tawa kemudian berkelojotan dan tewas seketika bersama dengan tewasnya Gak Liong yang tidak dapat mengeluh lagi.

“Suhu…!” Poa Su It berteriak, akan tetapi pada saat itu, sepuluh orang Pek-lian-kauw sudah bergerak dengan senjata mereka menyerbu. Poa Su It membalikkan tubuhnya dan mengamuk dengan pedangnya. Namun, orang-orang Pek-lian-kauw itu ternyata bukan orang-orang sembarangan dan sebentar saja Poa Su It sudah sibuk melayani pengeroyokan tiga orang Pek-lian-kauw.

Kun Liong juga dikeroyok dan karena orang-orang Pek-lian-kauw itu pun tadi menyaksikan betapa pemuda ini berani menangkis tongkat Tok-jiauw Lo-mo dengan tangan kosong, mereka tahu bahwa pemuda ini lihai, maka tujuh orang Pek-lian-kauw mengepungnya.

Namun, dengan tenang, Kun Liong menghadapi mereka, mengelak dan menangkis dengan amat mudahnya semua senjata yang menyambar ke arah tubuhnya. Semenjak dia masih kecil, dia sudah merasakan kejahatan kaum Pek-lian-kauw, bahkan di dalam kuil tua dia menyaksikan betapa seorang tokoh Pek-lian-kauw yang bernama Loan Khi Tosu telah membunuh-bunuhi petugas dan orang orang gagah, kemudian dia sendiri hampir menjadi korban dibunuh oleh tosu itu kalau saja mendiang ayahnya tidak muncul menyelamatkannya. Kemudian, di dalam pengalaman hidupnya selanjutnya, sering sekali dia bertemu dengan para tokoh Pek-lian-kauw yang palsu dan jahat. Tahulah dia sekarang bahwa Pek-lian-kauw adalah sebuah perkumpulan yang berkedok agama, yaitu suatu pecahan atau penyelewengan dari Agama Buddha bercampur Agama To, dan yang diam-diam hanya menjadi alat untuk menyalurkan nafsu keinginan para pimpinannya, terutama sekali dalam hal mengejar kedudukan dan kemuliaan dengan jalan memberontak.

Demikianlah memang keadaan manusia pada umumnya. Semenjak kecil, kita dididik dan digembleng oleh tradisi dan kebudayaan, dibina oleh cara pendidikan yang sudah diakui dan dibenarkan oleh masyarakat, untuk bercita-cita, untuk mengejar sesuatu, untuk berambisi dan menujukan mata kita jauh ke depan untuk menjangkau dan meraih sesuatu yang kita kehendaki dan yang belum terdapat oleh kita. Hal ini sudah dibenarkan oleh kita sehingga setiap manusia, sejak kecil, bergulat dan berjuang untuk mencapai cita-cita masing-masing sehingga terjadilah saling dorong, saling jegal, saling berebut dan bersaing, karena cita-cita semua manusia pada hakekatnya tentu sama, yaitu untuk mencari kesenangan bagi diri pribadi. Cita-cita boleh diberi nama yang muluk-muluk, yang bersih-bersih, bahkan yang megah-megah, namun semua itu hanyalah kulit yang membungkus isi yang sama, yaitu : mengejar sesuatu yang menyenangkan diri sendiri, baik lahir maupun batin!

Kalau kita mau membuka mata, jelas tampak dalam penghidupan sehari-hari betapa cita-cita atau keinginan mencapai sesuatu mendatangkan kepalsuan-kepalsuan, pertentangan dan kejahatan di dalam hubungan antara manusia. Sekelompok anak-anak pun, kalau melakukan suatu permainan di mana terdapat kemenangan, setiap orang anak memperebutkan kemenangan itu dan sudah pasti akan terjadi persaingan, perebutan yang segera diikuti dengan pertentangan dan pertengkaran. Mengapa demikian? Karena dengan adanya cita-cita yang dikejar, mata ditujukan kepada cita-cita itu dan cita-cita itulah yang penting lagi! Cita-cita itu saja yang dianggap akan mendatangkan nikmat, permainannya tidak terasa lagi, seluruh gairah didorong oleh pengejaran akan cita-cita dalam permainan itu, ialah kemenangan.

Karena kita mementingkan cita-cita yang merupakan khayal karena belum ada, maka kita tidak mengacuhkan caranya, tidak memandang lagi kepada keadaan sebagaimana adanya. Kita memandang kepada masa depan, yaitu cita-cita, tidak pernah memperhatikan sekarang, saat ini. Maka terjadilah penyelewengan, terjadilah penggunaan cara-cara yang tidak sehat, semua demi mencapai cita-cita. Bahkan ada pendapat yang amat menyesatkan bahwa “cita-cita menghalalkan segala cara”. Betapa menyesatkan pendapat seperti itu. Kita lupa bahwa cara dan cita-cita tidak ada bedanya. Kalau caranya buruk, mana mungkin cita-cita atau tujuannya baik?

Demikian pula dengan para pimpinan Pek-lian-kauw. Demi mengejar cita-cita mereka, cita-cita pribadi yang diselimuti

dengan sebutan cita-cita rakyat, bangsa, dan lain sebagainya, terjadilah permainan-permainan kotor. Nama rakyat dicatut, nama negara, bangsa, agama, bahkan kadang-kadang nama Tuhan pun dipergunakan orang tanpa segan-segan lagi, semua demi mencapai cita-citanya. Tentu ada yang membantah bahwa cita-cita tidak selamanya buruk, banyak terdapat cita-cita yang baik. Baik maupun buruk tetap saja cita-cita, tetap saja keinginan yang disusul dengan pengejaran dan di dalam pengejarannya inilah terjadi penyelewengan dan kekerasan, dan terjadilah bentrokan dan pertentangan. Karena cita-cita menghidupkan dan membesarkan si “aku” dan penonjolan si “aku” dan si “kamu” tentu saja memperbesar pula bentrokan-bentrokan. Yang baik bagi aku belum tentu baik bagi kamu, dan demikian sebaliknya.

Mengapa pula kita dibius oleh cita-cita dan keinginan memperoleh sesuatu yang belum ada? Mengapa kita menujukan mata kita jauh ke depan, ke masa depan yang abstrak? Mengapa kita tidak menghayati hidup di saat ini? Hidup di saat ini berarti menujukan seluruh perhatian kepada saat ini, saat demi saat tanpa diganggu oleh bayangan masa depan yang menyesatkan. Kalau kita melakukan segala sesuatu di saat ini dengan kasih di hati, apakah perlunya kita bercita-cita? Kalau kita memperhatikan setiap dari langkah-langkah hidup kita, segala akan tampak oleh kita, sebaliknya kalau mata kita ditujukan jauh ke depan, banyak bahayanya kaki kita yang akan tersandung. Apa perlunya kita memandang “sana” yang bukan lain hanyalah kelanjutan dari “sini”? Mengapa kita menginginkan yang “begitu” dan tidak menghayati yang “begini”? Yang “begitu” adalah khayal, sedangkan yang “begini”, saat ini, barulah nyata dan hidup!

Karena sudah seringkali bertemu dengan orang-orang Pek-lian-kauw yang melakukan banyak kejahatan, dan yang terakhir sekali di sarang Pek-lian-kauw yang mempergunakan kekejian hendak mengawinkan Cia Giok Keng, maka Kun Liong tidak mau memberi hati lagi.

“Kalian orang-orang jahat!” bentaknya.

Bentakan ini disusul oleh berkelebatnya bayangan tubuh Kun Liong yang menyambar-nyambar seperti halilintar. Tujuh orang Pek-lian-kauw yang mengepungnya menjadi terkejut. Pandang mata mereka menjadi kabur dan sebelum mereka dapat melihat jelas karena tubuh pemuda itu seolah-olah telah berubah menjadi banyak, tahu-tahu senjata mereka terlepas dari tangan dan lengan mereka terasa nyeri dan lumpuh. Mereka berteriak kaget, meloncat mundur tanpa senjata lagi, akan tetapi Kun Liong sudah menerjang ke depan dan satu demi satu tujuh orang itu terlempar ke kanan kiri sambil menjerit kesakitan, ada yang patah tulang lengannya, pundaknya, dan ada yang benjol-benjol kepalanya.

Dapat dibayangkan betapa kagum rasa hati Poa Su It. Pendekar Secuan yang mengamuk dengan pedangnya menghadapi pengeroyokan tiga orang Pek-lian-kauw itu baru berhasil merobohkan seorang lawan dan dia masih harus menahan desakan dua orang lagi. Namun, pemuda yang bertangan kosong itu telah merobohkan tujuh orang pengeroyoknya dalam waktu singkat!

“Pergilah…!” Kun Liong membentak, tubuhnya menerjang ke depan dan tangan kirinya sudah menangkap tongkat seorang lawan, tangan kanan menampar pangkal lengan kanan orang ke dua sehingga goloknya terlempar, kemudian secepat kilat kakinya menendang dua kali dan tubuh dua orang pengeroyok Poa Su It tadi pun terlempar jauh.

Habislah semangat perlawanan sepuluh orang Pek-lian-kauw itu. Mereka saling bantu, bangkit dari atas tanah, membawa mayat Tok-jiauw Lo-mo kemudian meninggalkan tempat itu, ada yang terbongkok-bongkok dan ada yang setengah merangkak.

“Biarkan mereka pergi,” kata Kun Liong ketika melihat Poa Su It hendak mengejar. Pendekar Secuan itu menarik napas panjang, sejenak memandang kepada Kun Liong kemudian lari menghampiri mayat suhunya dan menjatuhkan diri berlutut, menutupi mukanya dengan penuh duka. Orang tua itu telah puluhan tahun menjadi gurunya dan menjadi pengganti ayahnya sendiri, maka dapat dimengerti betapa sedih hati Poa Su It melihat kematian gurunya itu.

Penduduk kota Mian-ning terkejut sekali mendengar akan kematian pendekar tua Secuan itu dan berbondong-bondong mereka datang melayat. Kun Liong membantu Poa Su It mengurus penguburan jenazah jago tua Gak Liong, kemudian dia berpamit untuk melanjutkan perjalanan ke barat setelah dia mendengar banyak petunjuk dan keterangan dari Poa Su It tentang perjalanan menuju ke sarang perkumpulan Agama Lama Jubah Merah.

Wajah Pek Hong Ing yang cantik jelita dan segar itu sebentar pucat sebentar merah ketika dia mendengar dari para pelayan bahwa kedua orang pendeta Lama yang telah pergi hampir dua bulan itu, Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama, hari itu telah kembali ke kuil. Jantungnya berdebar keras dan bermacam pertanyaan mengaduk-aduk hatinya. Apakah kedua orang pendeta itu telah berjumpa dengan Kun Liong? Apakah bertemu dengan Ketua Cin-ling-pai? Apa yang telah terjadi? Harapan dan kecemasan membuat jantungnya berdebar tegang dan dia segera lari keluar dari dalam kamarnya untuk menemui mereka.

Mereka telah duduk di ruangan besar, bersila di atas bantalan kuning. Hun Beng Lama, Lak Beng Lama, dan Sin Beng Lama yang mendengarkan pelaporan mereka. Ketika mereka bertiga melihat munculnya Hong Ing, Sin Beng Lama lalu tersenyum dan berkata, “Hong Ing, kau duduklah. Biarpun kedua orang susiokmu belum berhasil mendatangkan Kun Liong, namun kami yakin bahwa tidak lama lagi dia akan muncul di sini.”

Hong Ing tidak menjawab, matanya memandang ke arah seorang anak laki-laki berusia lima tahun yang duduk di atas lantai dekat dengan Lak Beng Lama. Anak laki-laki itu tampan dan sehat, matanya tajam bersinar-sinar dan kelihatan sedang marah. Mendengar ucapan Sin Beng Lama, anak laki-laki itu segera membuka mulutnya dan berkata, suaranya nyaring dan lantang, “Kalau Suheng Yap Kun Liong datang bersama ayahku, kalian tentu akan dihajar sampai mampus!”

Tentu saja Hong Ing terkejut sekali mendengar ucapan anak itu yan menyebut Suheng (kakak seperguruan) kepada Kun Liong. Dia menghampiri, memandang anak itu dan bertanya kepada Sin Beng Lama. “Susiok, siapakah anak ini dan dari mana dia datang?”

Sin Beng Lama yang bersikap lemah lembut itu tersenyum, “Dia ikut bersama kedua orang susiokmu…”

“Aku diculik!” Anak itu berseru marah. “Pendeta-pendeta menculik anak kecil, sungguh tak tahu malu!”

Hong Ing makin kaget dan heran, juga kagum menyaksikan sikap yang demikian tabah dari anak itu.

“Lak Beng Susiok, siapakah dia itu?” tanyanya kepada paman gurunya ke tiga yang menjaga anak itu.

“Dia? Ha-ha-ha, dia adalah putera Ketua Cin-ling-pai…”

“Ohhh…! Ji-wi Susiok (Paman Guru Berdua) tidak memegang janji! Aku minta agar supaya Yap Kun Liong yang dibawa ke sini, kenapa malah membawa anak kecil, putera Ketua Cin-ling-pai yang tidak tahu apa-apa?”

“Siancai…! Kami sama sekali tidak melanggar janji. Kami membawa anak ini ke sini justeru adalah untuk memenuhi janji karena hanya dengan cara inilah Yap Kun Liong dapat muncul di sini,” Lak Beng Lama berkata.

“Apa maksud Susiok?”

Hun Beng Lama yang lebih halus sikapnya dibandingkan dengan Lak Beng Lama, menjawab, “Kami tidak berhasil bertemu dengan Yap Kun Liong di Cin-ling-san, bahkan Ketua Cin-ling-pai juga tidak berada di rumahnya. Kami hanya bertemu dengan isteriya dan puteranya ini, maka terpaksa kami membawa puteranya ini ke sini dan meninggalkan pesan kepada isterinya bahwa apabila Ketua Cin-ling-pai mengantarkan Yap Kun Liong ke sini, maka puteranya akan dikembalikan. Bukankah ini merupakan cara terbaik untuk memaksa Yap Kun Liong datang ke sini?”

Wajah yang tadinya pucat itu menjadi merah kembali dan berseri gembira setelah mendengar penjelasan ini. Diam-diam hati Hong Ing merasa girang sekali karena siasatnya telah berhasil. Memang sebaiknya begini karena perbuatan dua orang pendeta Lama itu tentu memancing kemarahan Pendekar Sakti Cia Keng Hong, dan tentu pendekar itu bersama Kun Liong akan muncul di tempat ini! Kalau Kun Liong datang bersama Pendekar Sakti Cia Keng Hong, tentu ayahnya dan dia sendiri akan dapat diselamatkan. “Ah, maafkan saya, Ji-wi Susiok! Kiranya begitukah? Memang baik sekali dan saya amat berterima kasih kepada Ji-wi Susiok. Akan tetapi, agar anak ini tidak rewel dan suka tinggal sementara di sini, blarlah dia tidur bersama saya.”

Sin Beng Lama tersenyum. “Sebaiknya begitu. Bawalah dia ke kamarmu.”

Hong Ing menghampiri anak itu yang memandang kepadanya dengan sinar mata tajam penuh curiga.

Hong Ing tersenyum manis dan menyentuh pundak Cia Bun Houw. “Mari ikut bersama Enci.”

Tiba-tiba Bun Houw menggerakkan tangan menangkis lengan dara itu dengan sigap dan mengelak ke belakang. “Siapa kau? Kalian semua orang jahat!” bentaknya.

Hong Ing memandang kagum. Anak ini benar-benar amat tampan dan bersemangat, baru berusia lima tahun sudah memperlihatkan kegagahan dan keberaniannya. “Jangan salah duga, Adik baik. Para Locianpwe yang membawamu ke sini bukan berniat jahat. Engkau hanya disuruh tinggal di sini sampai ayahmu datang menjemputmu. Marilah aku Pek Hong Ing, dan aku sama sekali tidak berniat jahat kepadamu.”

Melihat dara yang cantik jelita itu bersikap halus kepadanya, Bun Houw mulai berkurang kecurigaannya. Dia mengangguk biarpun dia tidak mau ketika Hong Ing hendak menggandengnya.

“Siapakah namamu, Adik yang baik?”

“Namaku Cia Bun Houw,” jawabnya singkat.

“Adik Bun Houw, marilah ikut bersamaku. Engkau tentu lapar. Kita makan lalu bermain dan bercakap-cakap di dalam taman. Di sini terdapat sebuah taman yang indah.”

Sikap yang amat ramah dan baik dari Hong Ing menghibur juga hati anak itu dan dalam beberapa hari saja dia telah menjadi sahabat baik Hong Ing dan menaruh kepercayaan besar kepada dara itu. Dua pekan kemudian, ketika Hong Ing mengunjungi ayahnya di dalam kamar hukuman, dia sengaja mengajak Bun Houw. Kamar hukuman itu amat luar biasa, tidak patut disebut kamar hukuman, karena kamar itu merupakan kamar yang lebarnya empat meter persegi dan kosong sama sekali tidak ada perabotnya sepotong pun. Di tengah-tengah kamar ini, duduk bersila seorang kakek tinggi besar yang bukan lain adalah Kok Beng Lama. Memang luar biasa cara para Lama Jubah Merah ini. Yang merupakan belenggu hukuman hanyalah janji-janji mereka yang lebih kokoh daripada belenggu baja. Dan dia melaksanakan hukuman yang dijatuhkan kepadanya dengan cara bersamadhi siang malam, hanya berhenti apabila tubuhnya membutuhkan makan saja, atau membutuhkan istirahat dan tidur. Selain terpaksa memenuhi kebutuhan jasmaninya, semua waktunya dihabiskan dengan bersamadhi! Agaknya kakek ini sudah mengambil keputusan nekat untuk menghabiskan usianya dengan bersamadhi, setelah dia memperoleh janji ketiga orang sutenya bahwa puterinya, Pek Hong Ing, takkan diganggu. Satu-satunya orang yang dapat menyadarkan kakek ini dari samadhinya hanyalah Hong Ing. Setiap kali puterinya ini datang tentu dia suka untuk menghentikan samadhinya dan bercakap-cakap, bahkan menurunkan ilmu-ilmunya kepada Hong Ing. Kalau bukan puterinya, biar siapa saja dan biar diapakanpun dia tidak akan dapat disadarkan dari samadhinya.

Setelah membuka pintu kamar itu dengan hati-hati dan melihat ayahnya sedang bersamadhi seperti biasanya, Hong Ing menuntun tangan Bun Houw dan mengajak anak itu berlutut lalu duduk bersila di depan kakek itu, dalam jarak dua meter karena mereka berdua duduk bersandar dinding di atas lantai yang mengkilap bersih, karena seringkali dibersihkan sendiri oleh Hong Ing.

Kakek itu masih duduk bersila dan memejamkan matanya. Namun pendengarannya yang sudah terlatih hebat dan amat tajam itu dapat menangkap semua suara dan mengikuti semua gerak-gerik Hong Ing dan Bun Houw.

“Anakku, dengan siapakah kau memasuki kamar ini dan mengapa engkau mengajak orang lain?”

Suara itu halus, akan tetapi penuh teguran. Hong Ing cepat menjawab dengan suara agak manja, “Ayah, inilah Adik Cia Bun How, putera dari Ketua Cin-ling-pai!”

“Hemm, suruh dia keluar dari kamar ini!” kakek itu membentak tanpa membuka matanya.

Tiba-tiba Bun Houw yang menyaksikan itu semua, berkata dengan suaranya yang bening nyaring, “Enci Hong Ing, kenapa engkau mengajak aku masuk ke tempat ini? Mana ayahmu? Kakek yang galak dan tua ini? Ah, tidak patut dia menjadi ayahmu, Enci. Engkau begini halus dan baik, akan tetapi dia begitu galak dan jahat!”

“Hushh… diamlah!” Hong Ing menegur anak itu. Dia teringat akan cerita Kun Liong tentang Pendekar Sakti Cia Keng Hong, maka dia cepat berkata lagi untuk memancing perhatian ayahnya. “Ayah, dia ini adalah putera dari Pendekar Sakti Cia Keng Hong, Ketua Cin-ling-pai, murid dari mendiang Sin-jiu Kiam-ong…!”

Akan tetapi, kakek itu sudah tertarik sekali ketika mendengar suara Bun Houw tadi, suaranya yang begitu bening dan seperti jarum-jarum menusuk telinganya, suara yang hanya dapat dimiliki seorang bocah yang cerdas dan berbakat baik sekali. Maka dia telah membuka kedua matanya memandang. Sinar kagum berpancar keluar dari matanya ketika dia memandang Bun Houw, apalagi ketika mendengar bahwa Bun Houw adalah putera dari seorang murid mendiang Sin-jiu Kiam-ong!

MELIHAT sikap ayahnya, Hong Ing cepat menyambung, “Ayah, aku ingin agar Adik Bun Houw menjadi muridmu!”

“Hemmmm…!” Tiba-tibA kakek itu meluruskan lengan kanannya dan Bun Houw yang sejak tadi memandang wajah kakek itu menjadi terbelalak kaget melihat betapa lengan yang besar itu dapat memanjang keluar dari lengan bajunya, terus memanjang sampai tangan itu mencengkeram punggung bajunya dan mengangkatnya ke atas lalu menariknya dekat dengan muka kakek itu! Memang hebat sekali kepandaian Kok Beng Lama. Sin-kangnya sudah sedemikian tinggi tingkatnya sehingga dia mampu membuat lengannya memanjang sampai hampir dua meter! Dengan kepandaian seperti ini, tentu saja dia merupakan seorang lawan yang amat berbahaya bagi siapa pun.

“Bagus! Kau anak baik sekali… kau benar ingin menjadi muridku?” tanya kakek itu sambil memeriksa tubuh anak itu dengan pandang matanya dan dengan rabaan jari-jari tangan kirinya, terutama sekali meraba-raba tengkorak kepala Bun Houw.

Bun Houw adalah seorang anak yang usianya baru lima tahun, akan tetapi dia putera suami isteri yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan dia cerdik sekali. Melihat kenyataan bahwa kakek aneh ini adalah ayah dari Pek Hong Ing yang amat baik kepadanya, kemudian bahwa kakek ini memiliki kepandaian yang hebat sehingga akan mampu melindunginya di tempat asing itu, maka tanpa ragu-ragu lagi dia menjawab, “Aku suka sekali menjadi muridmu!”

“Ha-ha-ha!” Kok Beng Lama tertawa dan melepaskan tubuh anak itu ke atas lantai. Hatinya girang sekali karena tadinya dia merasa agak kecewa melihat bahwa bakat puterinya sendiri masuh jauh dapat mewarisi seluruh ilmu-ilmunya yang membutuhkan “wadah” yang kuat dan berbakat. Kini, melihat Bun Houw, dia menemukan seorang murid yang pasti akan dapat mewarisi semua kepandaiannya.

“Suhu…!” Bun Houw yang cerdas itu pun sudah berlutut sambil memberi hormat dan menyebut suhu.

“Ha-ha-ha…!” Kakek itu kembali tertawa.

Hong Ing girang sekali. Dia memeluk Bun Houw dengan girang. “Sekarang engkau menjadi suteku (adik seperguruanku) dan aku adalah sucimu (kakak seperguruanmu).”

“Suci…!” Bun Houw memberi hormat kepada dara itu.

Mulai hari itu, Bun Houw menjadi murid Kok Beng Lama dan setiap hari anak itu berada di dalam kamar hukuman untuk menerima petunjuk dan gemblengan kakek aneh itu. Kok Beng Lama memang berwatak luar biasa. Dia sama sekali tidak peduli dan tidak ingin tahu mengapa putera Ketua Cin-ling-pai itu bisa berada di tempat itu. Dia tidak mau mempedulikan lagi urusan dunia, maka dia tidak pernah bertanya kepada Hong Ing maupun kepada Bun Houw. Dia setiap hari hanya mengajar ilmu kepada puterinya dan muridnya itu, tanpa membicarakan urusan lain lagi. Pekerjaannya setiap hari hanya mengajar dan bersamadhi, lain tidak.

Tentu saja setiap gerak-gerik Pek Hong Ing dan Cia Bun Houw tidak pernah terlepas dari penyelidikan tiga orang pendeta Lama, namun mereka tidak menghalangi ketika melihat bahwa Bun Houw menjadi murid suheng mereka yang menjalani hukuman itu. Mereka percaya penuh akan janji Kok Beng Lama, dan mereka sudah mengenal betul watak suheng mereka itu yang mungkin dapat mengamuk dan memusuhi mereka mengenai urusan pribadi, namun akan membela dengan pertaruhan nyawa apabila perkumpulan agama mereka diserang musuh dari luar. Selain itu, Hong Ing juga tidak memperlihatkan sikap mencurigakan, bahkan dara ini menurut dan mempelajari dengan teliti semua pelajaran keagamaan mereka sehubungan akan menjadi korban untuk dewa kelak, setelah permintaannya dipenuhi, yaitu hadirnya Yap Kun Liong di situ. Bahkan dia menurut pula ketika diharuskan melakukan puasa dan pantang makan barang berjiwa agar dirinya tetap bersih apabila saatnya tiba dia mengorbankan diri kepada dewa sebagai penebus “dosa” ibunya dabulu. Melihat sikap dara ini, Sin Beng Lama dan dua orang sutenya tidak menjadi curiga, dan mereka hanya menanti-nanti kedatangan Yap Kun Liong untuk ditukar dengan Cia Bun Houw, agar pelaksanaan korban suci untuk dewa dapat segera dilaksanakan. Dalam hal ini, para pendeta Lama mempunyai keyakinan bahwa pengorbanan suci seorang dara kepada dewa akan mendatangkan berkah yang amat hebat, akan mendatangkan keajaiban yang membawa kejayaan kepada perkumpulan mereka. Mereka percaya bahwa dengan bantuan dan perlindungan dewa yang tentu akan membantu mereka setelah menerima pengorbanan istimewa, yaitu puteri mendiang Pek Cu Sian yang mengecewakan dan membikin marah dewa, tentu Kerajaan Tibet akan dapat mereka tumbangkan dan mereka rampas! Mereka berkeyakinan bahwa kalau selama ini mereka belum juga berhasil adalah karena dewa marah kepada mereka berhubung dengan peristiwa kedosaan yang dilakukan oleh Pek Cu Sian, gadis calon mempelai dewa yang melarikan diri! Sekarang, begitu Pek Hong Ing berada pada mereka, sudah nampak tanda-tanda bahwa mereka akan berhasil, terutama sekali dengan adanya kenyataan bahwa hubungan mereka dengan Pek-lian-kauw menjadi erat dan saling membantu.

Memang perkumpulan Lama Jubah Merah mulai membuat persiapan untuk memberontak dan menyerang Pemerintah Tibet. Semua Lama Jubah Merah telah dikumpulkan dan jumlah mereka ternyata hampir dua ratus orang. Selain melatih semua Lama Jubah Merah ini menjadi pasukan istimewa yang amat kuat, juga kini telah dikumpulkan banyak bantuan dari luar, bantuan yang terdapat dari berbagai cara. Ada yang karena percaya kepada keampuhan Kelenteng Lama Jubah Merah, yaitu para penduduk di sekitar daerah itu yang pernah menerima “berkah” dari kelenteng, ada pula yang karena terpaksa atau dipaksa oleh pengaruh para pimpinan Lama, ada pula yang “dibeli” dengan uang! Betapapun juga, Sin Beng Lama telah berhasil menghimpun ratusan orang perajurit “sukarelawan”, yang dilatih di luar markas mereka, dilatih ilmu perang dan barisan, juga kontak langsung telah diadakan dengan Pek-lian-kauw yang sudah siap membantu para Lama untuk menyerbu Tibet dengan janji bahwa kelak, para Lama yang telah menguasai Tibet akan mengerahkan kekuatan pula untuk membantu mereka menumbangkan Pemerintah Beng-tiauw!

Kini, para Lama hanya menanti tibanya saat yang suci itu, ialah pengorbanan seorang dara kepada dewa untuk memberkahi mereka. Semua orang sudah tahu bahwa perawan yang cantik jelita dan yang kini berada di markas, keponakan murid dari Sin Beng Lama sendiri, dara jelita Pek Hong Ing yang akan menebus dosa ibunya mengorbankan diri kepada dewa dengan cara seperti biasa, yaitu dibakar hidup-hidup! Akan tetapi gadis itu baru mau menjalani upacara pengorbanan diri kalau musuhnya sudah berlutut di bawah kakinya! Dan kini semua orang menanti datangnya saat itu.

Bukan hanya Sin Beng Lama, Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama saja yang setiap hari menanti-nanti munculnya Cia Keng Hong yang membawa Yap Kun Liong untuk ditukar dengan Cia Bun

Houw. Juga Hong Ing dan Bun Houw setiap hari menanti-nanti dengan penuh harap. Bagi Hong Ing, saat kedatangan Kun Liong akan merupakan saat penentuan mati hidupnya!

Sin Beng Lama memang cerdik sekali. Untuk melakukan suatu pemberontakan terhadap pemerintah, terutama sekali lebih dulu haruslah mencari kesan baik dari rakyat jelata, agar dalam hati rakyat terkandung simpati terhadap, “perjuangan” mereka. Dan untuk ini, dia hampir setiap hari mengadakan sembahyangan besar di kelentengnya yang amat luas, tentu saja disertai jamuan tanpa bayar bagi rakyat yang berkunjung dan yang bersembahyang. Mendengar bahwa di Kelenteng Lama Jubah Merah diadakan sembahyangan besar, berbondong-bondong rakyat dari berbagai jurusan di sekitar daerah itu datang berkunjung. Bahkan banyak pula di antara para pengunjung yang bermalam di halaman kelenteng untuk dapat mendengarkan khotbah Sin Beng Lama atau kedua orang sutenya yang diadakan setiap hari, khotbah tentang kebatinan dan sekaligus khotbah yang memburuk-burukkan Pemerintah Tibet dan bujukan-bujukan untuk memberontak!

Pada suatu pagi, ketika para pengunjung kelenteng sedang berkumpul di halaman mendengarkan khotbah yang dilakukan sendiri oleh Sin Beng Lama, tiba-tiba terdengar suara berbisik di dalam markas. Sin Beng Lama menyuruh kedua orang sutenya untuk memeriksa apa yang terjadi sedangkan dia sendiri melanjutkan khotbahnya. Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama cepat berlari melalui pintu belakang kelenteng, langsung memasuki markas dari mana terdengar suara ribut-ribut.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dua orang tokoh Lama Jubah Merah itu melihat beberapa orang anak buah mereka bergelimpangan dan di tengah-tengah kepungan para pendeta Lama berdirilah seorang pemuda yang tampan dan gagah. Lak Beng Lama yang berwatak agak keras dan kasar segera berseru, “Minggir semua!” lalu dia memasuki kepungan bersama suhengnya, Hun Beng Lama. Kini mereka berhadapan dengan pemuda itu yang bukan lain adalah Yap Kun Liong! Melihat datangnya dua orang pendeta Lama ini, Kun Liong segera mengenal mereka.

“Hemm, kebetulan sekali Ji-wi Losuhu (Kedua Bapak Pendeta) datang!” tegurnya dengan nada suara tegas. “Aku datang untuk menemui tiga orang pemimpin Lama Jubah Merah, akan tetapi tahu-tahu para pendeta di sini menyerbu dan mengeroyokku.”

Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama tidak mengenal Kun Liong karena ketika mereka dahulu menculik Hong Ing di pulau kosong, pemuda ini berkepala gundul dan pakaiannya hanya sehelai cawat. Kini pemuda itu sudah berambut panjang dan hitam, dan biarpun pakaiannya sederhana, namun lengkap.

“Orang muda yang lancang, siapakah kau dan apa keperluanmu mencari kami?”

“Aku bernama Yap Kun Liong dan kedatanganku adalah untuk minta kepada para pimpinan Lama Jubah Merah agar suka membebaskan Nona Pek Hong Ing!”

Mendengar Ini, terkejutlah dua orang pendeta Lama itu dan mereka memandang lebih teliti, kemudian saling pandang dan Lak Beng Lama berseru kepada para anak buahnya. “Tangkap pemuda ini!”

Belasan orang pendeta Lama menyerbu dengan tangan kosong. Mereka mendengar perintah “tangkap”, maka tentu saja mereka tidak mau menggunakan senjata tajam yang dapat membunuh pemuda ini. Namun, untuk kedua kalinya Kun Liong menggerakkan tubuh seperti tadi ketika dia diserbu, tubuhnya berkelebatan dan berputaran dengan kaki tangan bergerak dan berturut-turut robohlah belasan orang pengeroyok itu!

Hal ini tentu saja menimbulkan kemarahan para pendeta yang lain. Segera mereka menyerbu dan Kun Liong dikepung dan dikeroyok oleh banyak pendeta, bahkan kini Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama yang maklum akan kelihaian pemuda itu, sudah bergerak menyerbu pula.

Majunya dua orang pendeta Lama yang amat sakti ini membuat Kun Liong terdesak. Dia memang hanya bermaksud membela diri dan hanya merobohkan lawan sedapat mungkin tanpa melakukan pembunuhan. Tentu saja menghadapi serangan dua orang pendeta Lama yang berilmu tinggi itu, dia bersikap hati-hati sekali, lebih-lebih karena masih ada puluhan orang anggauta perkumpulan Lama Jubah Merah itu yang membantu Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama.

Mendengar suara ribut-ribut di halaman depan markas itu, Pek Hong Ing cepat lari keluar dan dapat dibayangkan betapa tegang rasa hatinya ketika dia melihat Yap Kun Liong sedang dikepung dan dikeroyok banyak pendeta. Sejenak dia seperti terpesona melihat pemuda yang menjadi kekasih pujaan hatinya itu, yang setiap saat dirindukannya dan diharap-harapkan kedatangannya. Kini pemuda itu telah muncul, akan tetapi dikepung dan dikeroyok. Menurutkan perasaannya, ingin dia ikut mengamuk dan membantu kekasihnya. Namun dia teringat betapa liciknya para pendeta Lama itu. Kalau dia maju, tentu mereka akan menangkap dia dan menggunakan dia untuk memaksa Kun Liong menyerahkan diri. Teringat akan ini, dia lalu cepat-cepat masuk lari ke dalam dan langsung dia memasuki kamar hukuman ayahnya.

“Ayah… tolonglah aku…!” Dia berlutut memeluk ayahnya dengan muka pucat dan napas terengah-engah.

Bun Houw yang sedang duduk bersila melatih diri bersamadhi seperti yang diajarkan gurunya, membuka mata dan terkejut melihat keadaan sucinya. Akan tetapi dia tidak berani membuka suara, hanya memandang kepada gurunya. Kok Beng Lama juga membuka matanya, sejenak memandang heran kepada puterinya, lalu bertanya, “Hong Ing, apakah yang terjadi?”

“Ayah…” dengan suara terisak Hong Ing berkata. “Lekas Ayah menolongnya…! Yap Kun Liong telah datang dan dikeroyok oleh kedua orang Susiok dan puluhan orang pendeta…! Lekaslah Ayah…!”

Namun Kok Beng Lama tidak bergerak. “Hemmm… salahnya sendiri kalau datang ke sini dan dikeroyok, tidak ada urusannya dengan pinceng.”

“Ayah, akulah yang salah! Akulah yang menyebabkan semua itu. Ayah, aku mencinta Kun Liong dan dia mencintaku. Kami saling mencinta, karena itu… aku telah mencari akal untuk memancing Kun Liong ke sini. Aku membohongi para Susiok, aku bilang bahwa aku bersedia mengorbankan diri kepada dewa untuk menebus dosa ibuku, asal mereka dapat mendatangkan Yap Kun Liong. Karena tidak bertemu dengan Kun Liong, para Susiok membawa Adik Bun Houw ke sini dengan pesan agar orang tua anak ini mengantarkan Kun Liong ke sini untuk ditukar dengan Bun Houw. Ayah… semua itu kulakukan demi cintaku kepada Kun Liong. Aku ingin pergi dari sini, ingin ikut dia, hidup bersama dia. Tapi dia… dia dikeroyok di luar. Ayah, tolonglah aku, bantulah dia… hu-huuuuh!” Hong Ing menangis, penuh kekhawatiran terhadap keselamatan kekasihnya. Dia tahu akan kelihaian kekasihnya itu, namun membayangkan kesaktian para susioknya dan banyaknya para pendeta yang mengeroyok, tentu saja hatinya gelisah sekali.

“Hemmm…!” Kok Beng Lama mengeluarkan suara dari dalam rongga perutnya yang tertahan di kerongkongan, sampai lama dia diam saja. Setelah Hong Ing sambil menangis berkali-kali membujuknya, akhirnya dia mendorong tubuh puterinya sehingga tubuh Hong Ing terpental ke belakang.

“Tidak! Kauminta agar ayahmu menjadi seorang hina dina yang melanggar janji? Tidak, lebih baik kau menyuruh aku mati! Anak tidak berbakti, kau berani minta ayahmu melakukan hal yang hina itu?” Setelah membentak demikian, kakek ini sudah memejamkan matanya kembali dengan alis berkerut.

“Ayaaaahhh…!” Hong Ing menjerit dan pada saat itu, di luar terdengar suara makin berisik, tanda bahwa jumlah para pengeroyok bertambah banyak dan makin gelisah hati Hong Ing. Dia menubruk lagi ayahnya dengan nekat sambil menangis. “Ayah, aku tidak minta Ayah melanggar janji. Hanya tolonglah dia, tolonglah Kun Liong yang dikeroyok… kalau sampai dia mati, aku pun akan mati di depan kakimu, Ayah!”

Sampai berkali-kali Hong Ing mengulangi kata-katanya sambil menangis, dan akhirnya kakek itu membuka mata dan mengangguk. “Memang lebih baik mati daripada hidup dalam hina melanggar janji. Pergilah!”

Sikap dan kata-kata ayahnya ini tiba-tiba membuat Hong Ing timbul semangat dan kenekatannya. Memang sebelum bertemu dengan ayahnya, dia hidup di dalam dunia tanpa mengandalkan siapapun juga, maka terasalah olehnya betapa sikapnya tadi amat lemah dan manja. “Baik, Ayah! Aku akan mati bersama Kun Liong, akan tetapi bukan karena tidak hendak melanggar janji terhadap para Susiok yang palsu itu! Aku akan melawan mereka sampai mati!” Dengan isak tertahan Hong Ing lalu berlari keluar dari dalam kamar hukuman.

“Suci…!” Bun Houw berteriak memanggil namun Hong Ing tidak menengok lagi.

Sementara itu, di luar markas terjadi pertempuran yang amat hebat. Kun Liong masih dapat mempertahankan dirinya biarpun kini Hun Beng Lama yang menggunakan senjata tasbih dan Lak Beng Lama yang bertongkat mengurung dan mendesaknya, dibantu oleh banyak sekali pendeta Lama yang berjubah merah. Yang membuat kepala Kun Liong terasa pening adalah persamaan pakaian para pengeroyoknya itu sehingga sukar baginya untuk membedakan orangnya. Hal ini membuat dia seringkali terkena hantaman tasbih atau tongkat di tangan kedua orang pendeta Lama yang lihai itu. Untung bahwa sin-kangnya memang amat tinggi tingkatnya sehingga dengan perlindungan tenaga sakti ini, tubuh yang kena dihantam dua senjata itu tidak mengalami luka. Bagaikan seekor jangkerik yang dikeroyok banyak semut, Kun Liong mengamuk, kaki tangannya bergerak dan siapa saja, kecuali dua orang pendeta Lama Jubah Merah itu, yang terkena sentuhan kedua tangan atau kakinya tentu terlempar jauh ke belakang.

“Kun Liong jangan khawatir, aku membantumu!” Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan muncullah seorang wanita cantik bersama seorang laki-laki gagah yang datang menyerbu dengan pedang mereka. Dengan beberapa gebrakan saja dua orang yang datang membantu Kun Liong ini sudah berhasil merobohkan dua orang pendeta Lama.

“Hwi Sian…!” Kun Liong terkejut bukan main ketika mengenal wanita cantik yang membantunya. “Tan-twako…!” Dia mengenal pula Tan Swi Bu, bekas suheng dari Hwi Sian yang telah meniadi suami wanita itu. “Mundurlah, pergilah dan jangan mencampuri urusanku…!” Teriaknya dengan suara penuh kekhawatiran karena dia maklum betapa lihainya para pendeta Lama Jubah Merah ini, sama sekali bukanlah lawan kedua orang suami isteri itu. Betapa pun, melihat Hwi Sian, ulu hatinya seperti tertusuk sesuatu dan dia merasa terharu.

“Kun Liong, aku… girang dapat membantumu… tranggg…!” Hwi Sian menangkis datangnya sambaran sebatang golok dengan pedangnya lalu melanjutkan pedangnya menusuk yang dapat ditangkis pula oleh lawannya.

“Yap-taihiap, mari kita basmi para pemberontak ini!” Tan Swi Bu juga berseru dan mendengar seruan ini, para pendeta menjadi kaget bukan main. Maklumlah mereka bahwa rahasia mereka telah diketahui orang dan tentu dua orang laki-laki dan perempuan yang baru datang ini adalah mata-mata pemerintah.

“Tangkap mata-mata!”

“Bunuh mata-mata!”

Teriakan-teriakan ini disusul dengan menyerbunya banyak pendeta mengepung Hwi Sian dan Tan Swi Bu yang memutar pedang mereka dan mengamuk penuh semangat. Seperti telah diceritakan oleh Poa Su It kepada Kun Liong, suami isteri murid pendekar Secuan Gak Liong ini telah melaksanakan tugas mereka menyelidiki perkumpulan Agama Lama Jubah Merah yang dikabarkan hendak memberontak itu, mentaati perintah dari susiok-couw mereka, yaitu Panglima Besar The Hoo. Mereka menyamar sebagai orang-orang yang datang hendak bersembahyang dan setiap hari mereka melakukan penyelidikan sehingga akhirnya mereka dapat mengetahui tentang gerakan Lama Jubah Merah yang sudah mempersiapkan dan melatih pasukan-pasukannya, dan juga kontak mereka dengan pihak Pek-lian-kauw yang kini banyak pula berkumpul di luar markas, ikut melatih para penduduk yang dapat dibujuk oleh Lama Jubah Merah. Akan tetapi pada pagi hari itu, selagi mereka mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat itu dan melaporkan hasil penyelidikan mereka, mereka mendengar ribut-ribut di dalam markas. Dengan cerdik mereka berhasil menyelundup masuk dan dapat dibayangkan betapa kaget hati Hwi Sian ketika melihat bahwa pemuda tampan yang kini memiliki rambut kepala bagus itu dan yang dikeroyok oleh banyak pendeta adalah Yap Kun Liong, pria yang tak pernah dapat dilupakannya! Maka serta merta dia mencabut pedang yang disembunyikan di bawah bajunya dan menyerbu tanpa berunding dulu dengan suaminya! Tentu saja Tan Swi Bu juga tidak membiarkan isterinya menempuh bahaya seorang diri dan dia pun menyerbu mati-matian.

Melihat betapa Hwi Sian dan Swi Bu terus mengamuk dan dikepung banyak pendeta, Kun Liong menjadi gelisah sekali. Apalagi ketika dari jauh dia melihat munculnya seorang pendeta Lama yang amat lihai, yaitu Sin Beng Lama dengan lima batang hio mengepul, maklumlah dia bahwa bahaya besar mengancam suami isteri itu.

“Hemmm…!” Dia menggeram dengan mengerahkan tenaganya, menerima hantaman-hantaman Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama serta lain-lain pendeta, kemudian secepat kilat dia menangkap lengan kedua orang pendeta Lama yang lihai itu sambil mengerahkan tenaga sakti Thi-khi-i-beng!

“Auhhh…!”

“Aduhhh…!”

“Haiii…, lepaskan aku…!”

Teriakan-teriakan penuh kepanikan itu terdengar dari mulut mereka yang memukul tubuh Kun Liong dan tangan mereka yang mengenai tubuh pemuda ini melekat tak dapat ditarik kembali, bahkan segera mereka merasakan betapa tenaga sin-kang mereka membanjir keluar disedot oleh tubuh pemuda itu! Karena banyaknya para pendeta yang tadi memukul Kun Liong untuk membantu kawan, maka belasan orang pendeta, termasuk Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama melekat pada tubuh pemuda itu dan kedua orang Lama yang sakti itu merasa panik dan juga marah kepada anak buah mereka sendiri. Kalau saja tidak ada anak buah mereka yang ikut-ikut memukul dan melekat sehingga menghalangi gerakan mereka, tentu dengan tangan mereka yang masih bebas mereka dapat mengirim pukulan maut dengan totokan-totokan ke bagian tubuh yang lemah dari pemuda luar biasa itu.

Kun Liong yang melihat betapa Sin Beng Lama sudah menggerakkan tubuhnya meloncat dekat Hwi Sian dan Swi Bu, cepat mengembalikan tenaga sin-kang yang tersedot olehnya dan terkumpul menyesak di pusar, mengeluarkan bentakan nyaring dan menggoyang tubuhnya seperti seekor harimau menghalau air dari bulu-bulu tubuhnya.

“Haaaiiiihhhh!”

Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama, juga belasan orang anak buahnya, berseru kaget dan terlempar ke arah Sin Beng Lama! Belasan orang anak buah mereka itu terlempar dalam keadaan pingsan, sedangkan Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama masih dapat mengumpulkan tenaga dan mengatur keseimbangan tubuhnya sehingga tubuh mereka itu tidak meluncur menerjang subeng mereka sendiri. Mereka berjungkir balik dan terjatuh ke atas tanah dalam keadaan berdiri dan terhuyung-huyung. Sementara itu, Sin Beng Lama telah membuat pedang di tangan Hwi Sian dan Swi Bu terpental jauh, kemudian dua kali tangannya bergerak dan robohlah Hwi Sian dan suaminya. Akan tetapi pada saat itu, belasan batang tubuh beterbangan menerjangnya dari arah Kun Liong!

“Omitohud…!” Dia berseru dan cepat tubuhnya mencelat ke atas, tinggi sekali sehingga belasan batang tubuh yang meluncur itu lewat di bawah kakinya lalu terbanting dan terguling-guling ke atas tanah dalam keadaan pingsan.

“Pendeta keji…!” Kun Liong membentak dan segera dia sudah bertanding melawan Sin Beng Lama yang amat lihai. Tampak sinar-sinar kecil berapi seperti ada banyak sekali kunang-kunang beterbangan di sekitar tubuh Kun Liong. Diam-diam pemuda itu terkejut juga melihat betapa lima batang hio membara itu meluncur dan menyambar-nyambar cepat sekali ke arah seluruh jalan darah di tubuhnya. Dia maklum betapa hebatnya serangan ini, maka dia pun cepat menggerakkan kaki tangannya, mengelak, menangkis dan baras menyerang. Karena lawan menggunakan lima batang hio yang amat luar biasa itu, dia tidak mungkin dapat mengandalkan Thi-khi-i-beng, dan untuk mengimbangi kecepatan lawan dia terpaksa memainkan Ilmu Silat Pat-hong-sin-kun dan mempergunakan tenaga sin-kang Pek-in-ciang sehingga dari kedua telapak tangannya mengepul uap putih yang menyambar-nyambar dahsyat.

“Yap Kun Liong menyerahlah engkau dan pinceng akan mengampunimu,” kata Sin Beng Lama. Pendeta ini diam-diam merasa kagum bukan main terhadap Kun Liong dan kalau pemuda ini mau menyerah sehingga Hong Ing dapat mengorbankan diri kepada dewa, kemudian pemuda ini mau membantunya, tentu merupakan tenaga bantuan yang tidak ternilai harganya!

“Sin Beng Lama, bebaskan Pek Hong Ing dan aku akan pergi dari sini dengan damai!” Kun Liong berkata pula, akan tetapi matanya melirik ke arah Hwi Sian dan Swi Bu yang sudah rebah tak bergerak lagi. Dia tidak dapat menyatakan sakit hatinya kalau suami isteri itu tewas, karena hal itu adalah kesalahan Hwi Sian dan suaminya sendiri, dan mereka itu pun telah merobohkan dan membunuh beberapa orang pendeta!

“Pemuda sombong!” Sin Beng Lama berseru dan kini dia memperhebat serangannya dan bahkan dibantu oleh Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama yang sudah dapat memulihkan kembali tenaganya.

“Suheng, hati-hati terhadap Thi-khi-i-beng!” berkata Lak Beng Lama.

“Ya, dia tentu menggunakan ilmu mujijat itu!” kata pula Hun Beng Lama.

Sin Beng Lama berseru, “Jangan melewatkan bagian-bagian yang paling lemah. Serang matanya!”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: