Petualang Asmara (Jilid ke-44)

Kun Liong mendongkol bukan main, akan tetapi juga sibuk karena tiga orang lawannya itu benar-benar amat sakti, sedangkan dia amat khawatir melihat keadaan Hwi Sian yang sudah bergerak dan mengeluarkan rintihan perlahan.

“Kun Liong… ohhh… Kun Liong…!”

Suara ini cukup menusuk perasaan hati pemuda itu. Dia mengeluarkan suara melengking nyaring sekali dan tenaga sakti mujijat yang terkumpul di dalam tubuhnya berkat latihan menurut ilmu dalam kitab Keng-lun Tai-pun secara tiba-tiba bekerja didorong oleh perasaannya. Tiga orang pendeta Lama itu mengeluarkan seruan kaget dan seperti tiga helai daun kering tertiup angin, mereka terlempar ke belakang dan terbanting jatuh!

“Hwi Sian…!” Kun Liong meloncat dan menghampiri Hwi Sian, berlutut dan merangkul leher wanita itu.

“Kun Liong…!” Hwi Sian menggerakkan lengan merangkul leher Kun Liong. “Kun Liong, dia… suamiku… dia telah mati…”

Kun Liong menoleh dan menghela napas. Memang jelas bahwa Tan Swi Bu telah tewas, dan wanita ini pun berada dalam keadaan payah sekali, dadanya berlubang dan seperti terbakar.

“Kun Liong… aku… aku tetap cinta padamu…”

Kun Liong menarik napas lagi, dua butir air mata membasahi pipinya. Dia tidak mampu mengeluarkan suara.

“Kun Liong…” Suara itu berbisik. “Dengarlah…” Terpaksa Kun Liong mendekatkan telinganya ke dekat mulut yang amat dikaguminya itu, mulut yang bentuknya amat indah dan selalu menjadi daya tarik utama dari kecantikan Hwi Sian. “Aku akan mati… dan kaupelihara baik-baik anak itu… kutitipkan di Kuil Kwan-im-bio di kaki bukit, tanya Suheng Poa Su It…”

“Plak-plakk…!” Tanpa menoleh Kun Liong mengangkat tangan kirinya dan dua kali dia menangkis datangnya dua batang golok yang menyambarnya dari belakang. Golok-golok itu terpental dari tangan pemegangnya dan dua orang pendeta Lama meloncat ke belakang, memegangi tangan yang terasa panas!

“Anakmu…?” Kun Liong bertanya.

Mata itu bersinar-sinar memandang wajahnya, dan bibir yang masih merah membasah itu tersenyum sehingga nampak sebagian gigi berkilat putih. “Kini aku… dapat membuka rahasia… dia… dia anak kita, Kun Liong… rawatlah dan… selamat tinggal…”

Keduanya menjadi lemas seketika. Hwi Sian lemas karena tubuhnya tak bernyawa lagi, sedangkan Kun Liong lemas lunglai mendengar pengakuan yang hebat dan di luar dugaannya itu. Hwi Sian meninggalkan seorang anak, anak mereka! Anak Hwi Slan dan dia! Betapa mungkin ini? Hubungan yang dahulu itu… di kuil tua itu… menghasilkan keturunan?

“Tidak mungkin!” Dia meletakkan tubuh Hwi Sian ke atas tanah dan meloncat berdiri, matanya merah.

“Wuttt-wuuuttt… desss! Aughhh…!” Lak Beng Lama berteriak keras karena kini tongkatnya yang menyambar bertemu dengan tangkisan yang dilakukan dengan tenaga mujijat sedemikian dahsyatnya sehingga tidak hanya tongkatnya yang terpental, juga tubuhnya terasa seperti disambar petir!

Sin Beng Lama dan Hun Beng Lama cepat menyerang dan kembali Kun Liong dikeroyok dan didesak hebat. Pemuda ini melawan dengan pandang mata masih termenung, dan dengan dua butir air mata membasahi pipinya. Pikirannya masih penuh dengan pengakuan Hwi Sian. Anak Hwi Sian, anaknya!

“Siuttt… cussss… dukk!” Dia terhuyung ke belakang. Ketika nyaris lehernya tertusuk hio membara dan dia mengelak sambil membuang diri ke belakang tadi, tasbih di tangan Hun Beng Lama menyambar lambungnya dengan tepat, membuat dia terpelanting ke belakang. Tentu saja kedua orang pendeta Lama itu tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, terus mendesak maju, Kun Liong menggoyangkan kepalanya untuk mengusir suara Hwi Sian yang masih mengiang-ngiang mengikuti telinganya, agar dia dapat memusatkan perhatian menghadapi pengeroyokan dua orang lawan tangguh itu.

“Kun Liong…!”

Untuk kedua kalinya selama beberapa menit itu jantung Kun Liong terguncang hebat. Dia cepat meloncat ke belakang dan melihat dara yang dirindukannya selama ini, Pek Hong Ing, meronta-ronta dalam pegangan Lak Beng Lama! Cepat dia mengerahkan tenaganya dan tubuhnya melayang ke arah Lak Beng Lama.

“Mundur! Kalau tidak, kubunuh dia!” Lak Beng Lama berseru, tongkatnya menempel di ubun-ubun kepala Hong Ing.

Kun Liong mundur dengan muka pucat. “Hong Ing… Hong Ing…!” bibirnya berbisik.

“Kun Liong, lawanlah! Lawan dan bunuhlah mereka yang keji dan jahat! Jangan pedulikan diriku!” Hong Ing berkata sambil menangis.

“Tidak! Sam-wi Lo?suhu (Tiga Bapak Pendeta), dengarlah! Aku menyerah asal Sam-wi Lo-suhu tidak mengganggu Hong Ing!”

“Omitohud, bagus kalau begitu. Berlututlah!” Sin Beng Lama berseru sambil menghampiri Kun Liong.

“Kun Liong, jangan…!” Hong Ing menjerit akan tetapi karena mengkhawatirkan keadaan kekasihnya, Kun Liong sudah maju berlutut di depan Sin Beng Lama. Kakek ini mengeluarkan segulung tali hitam, lalu dibantu oleh Hun Beng Lama dia membelenggu kedua pergelangan tangan Kun Liong di belakang tubuhnya. Tali hitam itu bukanlah sembarang tali, melainkan terbuat dari bulu biruang hitam yang hanya terdapat di pegunungan yang sunyi dari daerah Tibet. Bulu binatang ini amat kuat, tidak mungkin dibacok putus oleh senjata pusaka yang mana pun. Orang hanya dapat membunuh biruang hitam itu dengan jalan menusuknya, sehingga senjata runcing menyusup di antara bulu kuat itu melukai tubuh. Kalau dibacok, jangan harap dapat melukai binatang itu. Akan tetapi tentu saja ada kelemahan bulu itu bagi yang mengerti. Kun Liong membiarkan kedua tangannya dibelenggu tanpa mengadakan perlawanan.

“Hong Ing, jangan melawan, menurutlah saja. Kurasa para Losuhu ini tidak akan berniat buruk.”

“Omitohud, sama sekali tidak, Yap-taihiap. Engkau sungguh gagah dan kami bukanlah orang-orang yang tidak menghargai orang pandai. Kami ingin sekali bersahabat dengan Taihiap.” Sin Beng Lama berkata den halus penuh bujukan.

Akan tetapi dengan sinar mata tajam dan suara tegas, Kun Liong kepada ketua para Lama Jubah Merah itu dan berkata, “Losuhu, aku menyerah bukan karena ingin bersahabat dengan Losuhu sekalian, melainkan karena Losuhu berjanji tidak akan mengganggu Hong Ing. Sekarang, setelah aku menyerah, harap lekas bebaskan Hong Ing dan lakukan apa saja yang Losuhu sukai terhadap diriku.”

“Kun Liong…!” Hong Ing yang sudah dilepas oleh Lak Beng Lama karena pemuda lihai itu telah dibelenggu, cepat lari menubruk pemuda itu, merangkulnya sambil menangis.

“Kun Liong… oh, Kun Liong…!” Hong Ing hanya dapat meratap karena hatinya menyesak oleh perasaan terharu. Seturuh kerinduan hatinya menyesak di dada, kegirangan melihat pemuda ini kembali bercampur dengan kekhawatiran melihat kekasihnya menyerah dan dibelenggu. Dia merangkul memeluk, mendekapkan mukanya yang basah oleh air mata itu di pipi, leher, dan dada Kun Liong yang menunduk dan mencoba meredakan hati kekasihnya.

“Tenanglah, Hong Ing. tenanglah…”

Akan tetapi mana mungkin hati Hong Ing dapat ditenangkan kalau dia teringat bahwa dia akan dikorbankan kepada dewa di depan mata Kun Liong seperti yang telah dijanjikannya kepada Sin Beng Lama? Siasatnya memang berhasil membawa Kun Liong menyusulnya ke tempat ini, akan tetapi kesudahannya sama sekali berbeda dengan yang dikehendakinya. Dia mengharapkan kedatangan Kun Liong bersama Cia Keng Hong untuk melawan para pendeta Lama itu dan membebaskan dia dan ayahnya, akan tetapi hasilnya jauh berlainan. Ayahnya tidak mau membantu, dan Kun Liong menyerah untuk melindunginya! Bagaimana dia dapat tenang menghadapi malapetaka ini?

“Mundurlah kau!” Lak Beng Lama menarik lengan Hong Ing sehingga terlepas dari rangkulan pada leher Kun Liong.

“Hong Ing, sekarang Yap-taihiap sudah datang, kau harus memenuhi janjimu.” Sin Beng Lama berkata, suaranya halus akan tetapi nadanya mengandung paksaan dan ancaman.

Dengan kedua mata masih basah Hong Ing memandang kepada Kun Liong yang masih berdiri tegak dengan lengan terikat ke belakang. Pemuda itu memandangnya dengan tenang dan bibirnya tersenyum seperti hendak menghibur dan membesarkan hatinya. Maklumlah dara ini bahwa siasatnya telah gagal sama sekali, bahkan dia telah menyeret Kun Liong ke dalam bahaya maut. Dia tahu pula akan kepalsuan hati para paman gurunya, maka dia khawatir sekali akan keselamatan kekasihnya itu.

“Susiok, aku hanya mau berkorban diri kalau Susiok bertiga suka berjanji takkan membunuh Yap Kun Liong.”

“Hong Ing, apa maksudmu berkorban diri?” Kun Liong bertanya dengan tiba-tiba dan hatinya berdebar tegang.

Akan tetapi Hong Ing menundukkan mukanya tidak berani menjawab. Kalau dia bicara terus terang, tentu Kun Liong akan marah-marah kepada para pendeta dan memberontak. Dalam keadaan sudah terbelenggu seperti itu, hasilnya tentu akan sia-sia, bahkan akan membahayakan keselamatannya, maka dia diam saja, bahkan mendesak Sin Beng Lama.

“Sin Beng Susiok, bagaimana? Tanpa janji Sam-wi untuk membebaskan Kun Liong segera setelah saya berkorban, saya tidak akan mau dan saya akan membunuh diri kalau dipaksa!”

Tanpa ragu-ragu lagi Sin Beng Lama berkata, “Kami berjanji! Kami akan segera membebaskan Yap Kun Liong setelah kau selesai berkorban diri untuk dewa.”

Hong Ing menoleh kepada Kun Liong, menarik napas panjang dan terisak, lalu menunduk dan berkata, “Kalau begitu, saya bersedia.”

Sin Beng Lama merasa girang sekali. “Hayo kauikut denganku untuk menghafal doa penyeberangan ke kahyangan! Sute berdua, harap bawa Yap-taihiap ke kamar tamu dan menjaganya baik-baik.” Kakek ini lalu menggandeng lengan Hong Ing, dituntunnya gadis ini pergi dari situ masuk ke dalam.

“Hong Ing…! Losuhu, nanti dulu! Hong Ing, jelaskan kepadaku apa artinya ini semua! Apa artinya pengorbanan itu!” teriak Kun Liong.

Akan tetapi Hong Ing yang memandang kepadanya, hanya menggeleng kepala dan air matanya bercucuran, kemudian dengan cepat dia mengikuti Sin Beng Lama berjalan masuk. Kun Liong hendak mengejar, akan tetapi Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama memegang kedua lengannya dari kanan kiri, Hun Beng Lama berkata, “Harap kau tidak memberontak. Kaulihat sendiri bahwa kami tidak melakukan paksaan kepada Pek Hong Ing. Dia melakukan segala sesuatu dengan suka rela atas kehendaknya sendiri, semoga para dewa melindunginya.”

Kun Liong terpaksa menahan kemarahannya. Ketika dia digiring masuk, dia melirik ke arah mayat-mayat di sekeliling tempat itu dan melihat mayat Hwi Sian dan suaminya, dia memejamkan kedua matanya. “Hwi Sian, kauampunkan aku…” bisik hatinya. Betapa hidupnya yang lalu bergelimang kepalsuan dan dosa, dan bahkan saat ini pun dia tidak berdaya menolong Hong Ing. Ingin dia meronta dan memberontak, namun dia menekan kemarahannya. Hal ini tidak mungkin ia lakukan selama Hong Ing masih berada di tangan mereka. Dia harus bersabar dan melihat perkembangan selanjutnya untuk menentukan sikap.

Sementara itu, dengan hati penuh harapan, penuh kegirangan, karena dia merasa yakin bahwa kalau Pek Hong Ing, keturunan Pek Cu Sian yang pernah membikin murka dan kecewa kepada dewa itu dengan suka rela mengorbankan diri menjadi “mempelai dewa” tentu para dewa akan memberkahi dan melindungi Lama Jubah Merah dan membantu mereka dalam “perjuangan” mereka yang suci, Sin Beng Lama menuntun Pek Hong ing ke dalam ruangan sembahyang untuk mengajarkan doa-doa yang harus diucapkannya ketika pengorbanan dilaksanakan.

Sebagai seorang dara yang sedikit banyak sudah kemasukan kepercayaan agama itu, kepercayaan tradisi, diam-diam Hong Ing menerima nasib, bahkan dia pun mengharapkan bahwa pengorbanan dirinya selain akan menebus dosa mendiang ibunya, juga akan dapat membebaskan orang yang dicintanya, yaitu Yap Kun Liong, dan membebaskan pula ayahnya dari segala dosa! Dia benar-benar hendak berkorban secara suka rela, demi mereka bertiga itu, terutama sekali demi kebebasan Kun Liong. Maka dia pun menahan kedukaan hatinya dan menghafalkan doa-doa itu dengan tekun tanpa banyak membantah lagi. Hal ini makin menggirangkan hati Sin Beng Lama yang menganggap bahwa dewa telah memilih dara ini maka telah menurunkan kegaiban dan mempengaruhi hati dara itu!

Selama tiga hari Kun Liong menjadi tamu yang terbelenggu! Dia diperlakukan dengan baik dan dengan ilmunya melemaskan tubuh Sia-kut-hoat yang telah mencapai tingkat tinggi sekali, dia telah berhasil memindahkan kedua lengannya yang terikat di belakang tubuhnya itu kini menjadi berada di depan tubuhnya!

Bagi seorang ahli seperti Kun Liong, tidaklah sukar untuk menurunkan kedua tangan yang terbelenggu di belakang itu melalui bawah pinggulnya, menarik kedua kakinya dan membiarkan belenggu kedua tangan itu terus melalui bawah kedua kakinya yang ditekuk ke atas sehingga kini kedua tangannya berada di depan tubuh, biarpun masih dalam keadaan terbelenggu kedua pergelangan tangannya.

Melihat hal ini, Hun Beng Lama hanya memandang kagum, namun mereka merasa lega bahwa pemuda itu tidak dapat mematahkan belenggu. Dengan kedua tangan kini berada di depan, Kun Liong dapat makan dengan mudah dan tidak merasa terlalu tersiksa lagi.

Tubuhnya tidak merasa tersiksa, akan tetapi batinnya amat gelisah. Beberapa kali dia membujuk kedua orang pendeta Lama itu untuk menceritakan apa yang telah terjadi, dan apa yang hendak dilakukan oleh Hong Ing. Namun kedua orang itu hanya menjawab, “Harap Tai-hiap bersabar karena Tai-hiap akan menyaksikan dengan mata sendiri apa yang akan dilakukan oleh murid keponakan kami itu. Karena itulah maka Tai-hiap ditahan di sini, agar dapat menyaksikan. Setelah selesai upacara pengorbanan itu, kami pasti akan membebaskan Tai-hiap.”

Pada hari ke tiga itu, di halaman belakang markas Lama Jubah Merah telah dibangun sebuah tempat pembakaran yang berupa sebuah panggung kecil dari kayu. Di tengah panggung terdapat sebatang tiang dan di sekeliling tiang ini ditumpuk

kayu-kayu yang mudah terbakar. Sebuah meja sembahyang besar telah disiapkan dan di atas meja itu dihidangkan lengkap segala keperluan sembahyang, dan banyak lilin dinyalakan. Tempat itu penuh dengan para anggauta Lama Jubah Merah yang sudah berkumpul di sekeliling tempat pembakaran. Mereka duduk bersila di atas tanah sehingga kelihatan seperti bunga-bunga besar berwarna merah karena mereka semua mengenakan jubah merah mereka. Dengan penuh khidmat para pimpinan yang terdiri dari Sin Beng Lama, Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama dibantu oleh para Lama lain yang tinggi tingkatnya, mengatur meja sembahyang.

Tak lama kemudian muncullah Pek Hong Ing, berjalan perlahan-lahan, diikuti dengan sikap penuh hormat oleh para Lama dan disambut sambil membungkuk-bungkuk oleh Sin Beng Lama sendiri yang bersikap seperti seorang pendeta menyambut datangnya tamu agung, dalam hal ini pengantin agung! Semua mata para pendeta, yang telah bertahun-tahun bertapa dan berpuasa terhadap nafsu, terutama sekali nafsu berahi, kini memandang penuh gairah. Bagi pandang mata mereka, Pek Hong Ing bukan lagi manusia, melainkan seorang dewi, seorang calon isteri dewa, karena itu memiliki kecantikan agung, bukan kecantikan jasmaniah belaka yang kasar, kotor dan hanya sedalam kulit! Mereka yakin bahwa kelak, di alam baka, mereka akan bersahabat dengan wanita-wanita seperti ini!

Memang pada saat itu, melihat Pek Hong Ing akan menimbulkan rasa takjub, hormat dan kagum. Dara ini telah dirias dengan teliti, kelihatan cantik tapi agung sekali, tidak seperti seorang dara dari darah daging lagi, melainkan sepatutnya telah menjadi seorang bidadari dari kahyangan! Wajahnya yang putih halus itu seolah-olah bersinar, pandang matanya meremang jauh, menembus segala sesuatu di depannya, langkahnya lembut dan agung, kepalanya tegak, tubuhnya lurus

dan lenggangnya lemah gemelai. Rambutnya yang mengkilap bersih karena sudah dicuci secara istimewa, hitam subur dan panjang digelung ke atas seperti gelung rambut para dewi dalam dongeng, dihias ratna mutu manikam, gemerlapan tertimpa cahaya matahari pagi. Seluruh pakaian dara itu, sampal ke sepatunya, berwarna putih bersih, dari sutera termahal, sutera yang amat halus sehingga seolah-olah terbayang lekuk lengkung tubuhnya di balik pakaian putih itu. Warna pakaian yang putih bersih ini kelihatan makin mencolok karena dilatarbelakangi warna merah darah dari jubah merah yang dikenakannya. Banyak di antara para pendeta Lama yang hadir di situ memandang bengong, ada yang tanpa disadarinya berlinang air mata, ada pula yang beberapa kali meneguk air liurnya sendiri, ada pula yang langsung merangkap kedua tangan ke depan dada dan mulutnya berkemak-kemik membaca doa untuk memuja para dewata dan mohon kekuatan bagi batinnya yang terguncang hebat.

Dengan langkah-langkah yang sudah teratur dan terlatih, Hong Ing menghampiri Sin Beng Lama dan membalas penghormatan kakek ini, menerima hio dan bersembahyang di depan meja sembahyang, berlutut dan membungkuk sampai dahinya yang halus menempel pada permadani yang dibentang di situ, semua gerak-geriknya diikuti oleh mata para pendeta dengan seksama. Setelah selesai bersembahyang, Hong Ing lalu melangkah meninggalkan meja sembahyang, diikuti oleh suara tambur yang sejak tadi dipukul lambat-lambat mengikuti gerakan “pengantin puteri” ini, lalu langsung melangkah menaiki anak tangga ke atas panggung, diikuti oleh Sin Beng Lama, Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama. Tiga orang pendeta ini membawa bunga yang dirangkai menjadi tali yang amat panjang, kemudian, setelah Hong Ing berdiri membelakangi tiang sampai punggung menempel pada tiang, menghadap ke meja sembahyang, tiga orang pendeta itu sambil membaca doa lalu melibat-libatkan tali kembang itu ke seluruh tubuh Hong Ing. Kembang-kembang itu dirangkai dengan menggunakan tali yang kuat dan tahan api, dan hal ini dilakukan untuk menjaga agar sang mempelai akan tetap berdiri ketika dilakukan pembakaran nanti, tetap berdiri dan habis terbakar dalam sikap yang agung.

Setelah selesai mengikat Hong Ing pada tiang itu, mereka bertiga turun lalu dimulailah upacara sembahyang dan membaca doa sebelum pembakaran dilakukan.

Dengan penuh khidmat dan kesungguhan hati para pendeta itu, dipimpin oleh Sin Beng Lama, bersembahyang dan berdoa dan seluruh panca indria, seluruh perasaan dan perhatian mereka tujukan kepada dewa di langit!

Semenjak kecil, kita manusia telah digembleng dan dibentuk oleh tradisi, oleh agama, oleh kebudayaan dan oleh peradaban untuk menjadi permainan daripada kepercayaan-kepercayaan dan karena itu kita hidup tidak bebas lagi. Jalan pikiran kita tidak lagi bebas karena sudah digariskan dan ditentukan oleh kepercayaan yang ditanamkan kepada kita sejak kecil, sesuai dengan masyarakat dan lingkungan masing-masing. Oleh karena itu, kita tidak mengenal hidup seperti apa kenyataannya, melainkan memandang hidup melalui tirai yang berupa kepercayaan, ketahyulan, kebiasaan yang membentuk pendapat-pendapat. Kesemuanya ini diperkuat oleh makin membesarnya si aku yang juga diciptakan oleh pikiran menurut bentukan keadaan dan pendidikan kita.

Demikian palsu adanya hidup kita sehingga segala sesuatu yang kita lakukan tidaklah wajar lagi, melainkan sebagai pengulangan belaka dari kebiasaan kita. Segala yang kita lakukan bersumber kepada si aku, sehingga setiap perbuatan kita adalah palsu dan tidak wajar. Namun, kita tidak sadar akan hal ini, dan semua kepalsuan itu telah kita terima sebagai cara hidup kita yang wajar! Kepalsuan dianggap kewajaran, itulah pelajaran kebudayaan kita.

Para pendeta Jubah Merah itu pun hidup sebagai benda-benda mati yang hanya bergerak menurut garis yang sudah ditentukan lebih dulu. Mereka tidak mau menyelidiki dan mempelajari lagi apa yang mereka lakukan itu, karena yang terpenting bagi mereka, seperti bagi kita pada umumnya, adalah tujuan daripada perbuatan mereka. Perbuatannya sendiri menjadi tidak penting, karena semua perhatian ditujukan untuk mencapai tujuan. Upacara sembahyang mereka lakukan bukan semata demi sembahyang itu sendiri, melainkan bagi tercapainya yang mereka tuju sebagai hasil dari sembahyang itu. Mereka menghadapi “perjuangan” menumbangkan Pemerintah Tibet, maka mereka melakukan upacara pengorbanan dan sembahyang dengan segala kesungguhan hati, bukan demi upacara itu sendiri, melainkan demi terkabulnya harapan dan cita-cita mereka. Sembahyang, pengorbanan, dan segala upacara itu hanya menjadi cara atau jembatan belaka untuk memperoleh yang mereka kehendaki, yaitu kemenangan dalam “perjuangan” itu, melalui berkah para dewa yang mereka sembah-sembah.

Kalau kita mempunyai kepercayaan lain, tentu akan mencela mereka dan mengatakan bahwa mereka tahyul, dan sebagainya. Kita lupa bahwa kita sendiri pun sesungguhnya tidak jauh bedanya dengan mereka! Mari kita membalikkan pandangan mata kita untuk memandang dan meneliti, untuk mengenal keadaan diri sendiri! Kalau kita bersembahyang baik kepada Tuhan, kepada Nabi, kepada Dewa, atau kepada apa saja yang kita puja sebagai kepercayaan kita masing-masing, kepercayaan yang dibentuk oleh keadaan sekeliling atau oleh keadaan keluarga, kelompok, atau bangsa kita masing-masing, apa yang terucapkan oleh mulut atau hati kita? Mari kita menengok diri sendiri. Bukankah kita memohon kepada Tuhan atau Dewa atau Nabi dengan kata-kata masing-masing, “Ya Tuhan berkahilah SAYA, lindungilah SAYA, ampunilah SAYA, bimbinglah SAYA,” atau di dalam kelompok kita berdoa, “Ya Tuhan lindungilah KAMI, berilah kemenangan dalam perang kepada KAMI, ampunilah dosa-dosa KAMI”, dan selanjutnya lagi? Dengan demikian, bukankah seluruh doa dan upacaranya itu semata-mata ditujukan demi kepentingan SAYA, atau KAMI, atau si aku ini! Dengan demikian, apakah ini disebut pemujaan kepada Tuhan atau apa pun yang kita sembah? Ataukah hanya merupakan pemujaan kepada diri sendiri semata-mata? Dengan cara demikian, Tuhan tidak dipentingkan lagi, karena yang penting adalah aku, untukku, bagiku, demi aku, dan seterusnya. Bahkan seolah-olah nama Tuhan hanya kita peralat demi tercapainya segala keinginan kita, keinginan lahir maupun keinginan batin, keinginan memperoleh kedudukan dan kemuliaan di dunia maupun keinginan memperoleh kedudukan dan kemuliaan di alam baka! Bukankah semua ini merupakan kepurapuraan dan kemunafikan yang palsu? Segala macam perbuatan yang dicap sebagai perbuatan baik maupun perbuatan buruk oleh masyarakat kita dan kebudayaannya, segala macam perbuatan itu adalah munafik dan palsu selama di dasarnya terkandung pamrih untuk kepentingan atau kesenangan diri pribadi!

Ini sudah jelas dan nyata, bukan? Perbuatan barulah benar kalau digerakkan oleh CINTA KASIH dan cinta kasih bukanlah pamrih dalam bentuk apapun juga. Cinta kasih akan menghilang selama di situ terdapat pamrih! Dan tanpa cinta kasih tidak mungkin ada kebenaran, tidak mungkin ada kebaikan. Kebaikan tidak mungkin dapat dilatih, yang dilatih hanyalah yang palsu, yang berpamrih karena melatih kebaikan itu pun sudah merupakan suatu pamrih yang berselubung halus.

Oleh karena itu, marilah kita belajar mengenal diri sendiri dan melihat segala kepalsuan, kemunafikan, keburukan, yang berjejal penuh di dalam hati dan pikiran kita. Dengan memandang dan mengerti, semua itu akan runtuh dan lenyap, dan setelah bebas dari semua itu, baru sinar cinta kasih akan timbul. Ibarat matahari yang sinarnya takkan menimbulkan penerangan karena tertutup awan, demikian pula cinta kasih tidak bersinar karena tertutup oleh awan hitam yang bersumber kepada si aku! Di mana ada si aku, tentu timbul pertentangan dan permusuhan. Karena itu, di mana ada si aku, tidak mungkin ada cinta kasih.

Baru saja upacara sembahyang selesai, Sin Beng Lama berkata kepada dua orang sutenya, “Jemput Yap Kun Liong ke sini!”

Dua orang pendeta Lama itu bergegas masuk ke dalam markas dan memasuki kamar di mana Kun Liong duduk menanti dengan tenang, dijaga oleh dua losin orang pendeta Lama Jubah Merah. Melihat Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama masuk, Kun Liong berkata, “Ji-wi berjanji akan mempertemukan aku dengan Pek Hong Ing pagi ini.”

“Marilah, dia sudah menanti sejak tadi. Upacara sembahyang telah dilakukan, dan kini tinggal menanti kehadiranmu untuk segera melaksanakan upacara pengorbanan,” kata Hun Beng Lama dengan sikap serius.

“Pengorbanan…? Hong Ing…?” Kun Liong bangkit berdiri dan bertanya dengan penuh ketegangan.

Hun Beng Lama tersenyum dan memegang siku kanan Kun Liong sedangkan Lak Beng Lama memegang siku kirinya. “Marilah, Tai-hiap, kau menyaksikan sendiri dan melihat bahwa kami sama sekali tidak melakukan pemaksaan kepada Hong Ing.”

Dengan jantung berdebar penuh ketegangan Kun Liong mengikuti dua orang pendeta Lama ini menuju ke belakang markas dan dia merasa makin gelisah dan tegang melihat banyaknya pendeta yang berkumpul di halaman belakang itu. Sementara itu, di dalam kamar hukuman di mana Kok Beng Lama duduk bersila, Bun Houw berlutut di depan kakek itu sambil menangis. “Suhu…! Suhu…! Kenapa Suhu selama tiga hari tidak mau mendengarkan permintaan teecu (murid)?” Bun Houw berteriak sambil menyusut air matanya. “Terjadi banyak hal luar biasa. Suheng Yap Kun Liong telah datang dan dia ditangkap oleh para Susiok dan dimasukkan kamar tahanan. Teecu sama sekali tidak boleh mendekat, bahkan diancam akan dipukul kalau teecu mendekati kamar itu. Juga Suci Hong Ing selalu berada di kamar sembahyang, tidak boleh teecu dekati. Suhu, semua itu telah terjadi dan Suhu tidak ambil pusing.”

Kok Beng Lama termenung, kemudian membuka mata dan menunduk, menatap wajah muridnya yang masih kecil itu, yang kini memandang kepadanya dengan pipi basah air mata. Dia tersenyum lebar. “Bun Houw, engkau muridku penuh semangat, akan tetapi engkau masih kanak-kanak. Engkau tidak tahu bahwa hidup ini baru berharga kalau kita menjaga kehormatan, dan kehormatan baru terjaga kalau kita selalu menyatukan kata-kata dan perbuatan. Pinceng (aku) telah berjanji tidak akan memberontak, mana mungkin engkau. minta pinceng mencampuri urusan para suteku itu?”

“Tapi, Suhu…”

“Sudahlah, jangan ganggu aku lagi. Pergilah dan latih pelajaranmu,” kakek itu menghardik.

Tiba-tiba Bun Houw yang mengusap air matanya itu berkata, suaranya penuh kemarahan, “Aku malu menjadi muridmu!”

Kata-kata ini mengejutkan Kok Beng Lama dan kakek ini membuka lagi matanya, memandang wajah yang kini merah dan penuh kemarahan, sepasang mata kecil yang berapi-api ditujukan kepadanya itu.

“Apa… apa katamu?” tanyanya penuh keheranan karena selama ini Bun Houw memperlihatkan sikap hormat, penuh sayang, dan penurut kepadanya.

“Aku bilang bahwa aku malu menjadi muridmu! Suhu mengecewakan hati, Suhu bukan seorang laki-laki gagah seperti yang kuduga! Suhu pengecut!”

Kalau saja tidak ingat bahwa yang bicara adalah seorang anak kecil yang sudah diambil sebagai muridnya, tentu sekali menggerakkan tangan Kok Beng Lama akan membunuh orang yang memakinya pengecut itu! Matanya terbelalak lebar dan telinganya mendengarkan kata-kata anak kecil itu yang terus menyerangnya!

“Suhu lebih percaya kepada para Susiok yang jahat itu daripada kepadaku! Suhu bilang memegang janji, akan tetapi apakah mereka juga memegang janji? Tahukah Suhu bahwa sekarang ini, seperti yang kuintai tadi, Suci sedang menghadapi ancaman maut, akan dibakar hidup-hidup? Akan tetapi Suhu tidak mau menolong. Suhu takut dan pengecut…!” Bun Houw tidak menangis lagi, dan kini sudah bangkit berdiri, telunjuk kanannya menuding-nuding ke arah muka kakek itu.

“Kau bohong…!” Kok Beng Lama membentak ketika mendengar cerita Bun Houw bahwa puterinya hendak dibakar hidup-hidup!

“Suhu lihat sendiri! Kalau saya bohong masib belum terlambat untuk menghukum saya. Suhu boleh bunuh saya.” Anak itu menjawab tegas.

Pada saat itu, terdengarlah suara hiruk pikuk di bagian belakang markas, seperti kegaduhan orang-orang yang bertempur, dan di antara suara hiruk pikuk itu pendengaran Kok Beng Lama yang amat tajam menangkap jeritan suara puterinya! Dia mendengus, dan tubuhnya yang tadinya duduk bersila itu, tiba-tiba berkelebat dan seperti terbang cepatnya dia sudah melompat keluar dari kamar itu dan terus berlari ke belakang!

Apa yang disaksikannya di halaman belakang markas itu membuat dia terkejut bukan main! Puterinya, dengan pakaian yang biasa dipakai gadis-gadis yang menjadi mempelai dewa, telah berdiri di panggung dengan tubuh berbelit-belit rangkaian bunga dan api di bawah panggung sudah mulai dinyalakan oleh Sin Beng Lama, Hun Beng Lama, dan Lak Beng Lama! Dia melihat puterinya itu memandang ke kanan kiri dan menjerit-jerit, “Kun Liong…! Jangan melawan… oh, Kun Liong!”

Kok Beng Lama terheran-heran. Melihat sikapnya dan keadaan di situ, agaknya puterinya itu tidak dipaksa, melainkan dengan suka rela ingin mengorbankan diri kepada dewa. Maka dia menjadi ragu-ragu dan bingung. Untuk merampas puterinya, menolong puterinya seperti yang telah dilakukan dahulu ketika dia menolong dan menyembunyikan Pek Cu Sian, dia tidak berani. Bukan tidak berani kepada para Lama, melainkan tidak berani melanggar janji, dan tidak berani lagi melakukan dosa terhadap dewa yang dimuliakannya. Ketika menoleh ke kiri, dia melihat seorang pemuda sedang mengamuk. Pemuda itu masih terbelenggu kedua tangannya di depan tubuh, dengan belenggu bulu biruang hitam, akan tetapi biarpun kedua tangannya terbelenggu, dengan tangan terangkap dan dengan kedua kakinya, pemuda itu telah merobohkan setiap orang Lama yang berani menghadangnya dan mengeroyoknya! Inilah yang menimbulkan kegaduhan dan kini para pendeta Lama sedang marah dan mulai menggunakan senjata untuk mengeroyok pemuda yang memberontak dan mengamuk itu.

“Kalian orang-orang kejam! Akan kubunuh semua kalau Hong Ing tidak dibebaskan!” Kun Liong berteriak-teriak dan beberapa orang pendeta Lama terlempar jauh tersambar tendangan kakinya yang dilakukan dengan kemarahan meluap-luap tercampur rasa gelisah yang hebat melihat betapa kekasihnya akan dibakar hidup-hidup!

“Manusia lancang! Dia dengan suka rela hendak mengorbankan diri menjadi mempelai dewa, ada sangkut-pautnya apa denganmu!” bentak seorang Lama dengan marah.

Mendengar ini, Kok Beng Lama makin bingung. Dia sudah berjanji tidak akan memberontak, dan tentu saja dia merasa bahwa dia bersalah kalau sampai dia mencegah puterinya yang hendak melakukan pengorbanan diri, suatu hal yang amat dimuliakan di dalam tradisi mereka. Akan tetapi, tentu saja dia pun tidak akan dapat membiarkan puterinya tewas begitu saja dan melihat sepak-terjang pemuda itu yang amat hebat, dia mendapat akal. Sambil mengeluarkan suara gerengan hebat dia menyerbu ke depan, mendorong semua Lama ke pinggir kemudian dia menyerang Kun Liong dengan hebatnya!

Melihat munculnya Kok Beng Lama, semua Lama, termasuk tiga orang pimpinan Lama, menjadi terkejut sekali. Akan tetapi hati mereka menjadi lega ketika melihat betapa Kok Beng Lama menyerang Kun Liong. Diam-diam Sin Beng Lama tersenyum girang melihat suhengnya telah benar-benar bertobat dan hendak menebus dosa terhadap dewa itu. Dengan adanya suhengnya itu yang membantu, tentu perjuangan mereka akan lebih mantap lagi.

Sementara itu, Kun Liong sudah mengenal kakek tinggi besar yang muncul ini, kakek yang bernama Kok Beng Lama dan yang dulu pernah menolong dia dan Hong Ing, yang kemudian dia ketahui adalah ayah kandung dara itu. “Lociapwe, saya hendak menolong Hong Ing!” katanya ketika kakek itu menerjangnya. Namun terlambat, serangan telah tiba dan hebat bukan main serangan kaki itu. Pukulan yang dahsyat, mendatangkan hawa pukulan seperti halilintar menyambar, menuju ke arah dadanya. Kun Liong mengangkat kedua lengannya yang masih terbelenggu, mengerahkan sin-kangnya menangkis dari kiri ke kanan.

DESSS… belenggu itu kalah oleh api…!”

Tubuh Kun Liong terpental ke belakang sedangkan Kok Beng Lama juga terhuyung-huyung. Hal ini amat mengejutkan Kok Beng Lama karena pertemuan tenaga tadi membuktikan bahwa tenaga sin-kang pemuda itu amat kuatnya, tidak kalah kuat olehnya sendiri, bahkan mungkin lebih kuat atau setidaknya berimbang. Akan tetapi, Kun Liong juga terkejut dan girang karena pada saat lengan mereka bertemu tadi, dia mendengar bisikan kakek itu. Tahulah bahwa ayah kandung Hong Ing itu membantunya secara diam-diam dan dia tahu pula bahwa belenggu yang amat kuat itu, lebih kuat dari besi yang akan dapat dia patahkan, kiranya ada rahasia kelemahannya, yaitu api!

“Haiiiihhhh!” Lengking yang nyaring keluar dari dalam dada Kun Liong ketika tubuhnya melayang ke arah panggung yang mulai terbakar! Dia meloncat tinggi melewati kepala para pengeroyoknya dan ketika dia turun di dekat panggung, cepat dia merobohkan empat orang yang lari menerjangnya. Kemudian dia membalik, mengulur kedua tangannya ke api yang sudah menyala di bawah panggung. Betapa girang rasa hatinya ketika melihat lidah api menjilat belenggunya dan seperti daun kering saja, bulu-bulu hitam itu dimakan api dan dalam sekejap mata dia telah bebas! Berkat sin-kangnya yang tinggi, dia dapat menjaga kulit pergelangan tangannya sehingga tidak hangus oleh bakaran api yang tidak terlalu lama itu.

Kembali beberapa orang pendeta Lama mengeroyoknya dan kembali dia merobohkan empat orang. Akan tetapi dia melihat Kok Beng Lama juga lari mengejarnya, tepat pada saat Sin Beng Lama, Hun Beng Lama, dan Lak Beng Lama tiba di situ. Dan kini Kok Beng Lama berdiri melindunginya, bahkan menghadapi tiga orang sutenya sambil bertolak pinggang!

“Pengkhianat, kau berani membuat dosa lagi?” Sin Beng Lama membentak. “Kau tidak malu untuk melanggar janji?”

“Sin Beng Lama, pikir dulu baik-baik sebelum membuka mulut!” bentak Kok Beng Lama dengan mata melotot. “Siapa yang melanggar janji? Siapa yang membuat dosa? Tidak ada buktinya bahwa aku memberontak, maka aku tidak melanggar janji. Sebaliknya, kalian berjanji takkan mengganggu anakku buktinya kalian hendak mengorbankan dia!”

Tiga orang pimpinan Lama itu khawatir sekali melihat betapa Kun Liong sudah meloncat naik ke atas panggung dan bergegas membebaskan kekasihnya dari tiang yang sudah dihampiri oleh lidah api itu, kemudian menarik dara itu menjauhi api.

“Kun Liong…!”

“Hong Ing…!”

Mereka berpelukan, berdekapan, berciuman tanpa mempedulikan keadaan di sekeliling mereka.

“Kun Liong… hu-huhhh… Kun Liong…!” Berkali-kali Hong Ing menyebut nama kekasihnya dengan mesra, akan tetapi dengan suara merintih dan menangis.

Kun Liong mengusap rambut kekasihnya penuh kemesraan, diangkatnya muka dara itu dan dipandangnya sampai lama dengan mata basah. “Hong Ing… kekasihku, pujaan hatiku… syukur aku tidak terlambat, semua ini berkat pertolongan ayahmu…”

“Ayah…?” Hong Ing yang masih berpelukan dengan kekasihnya itu menoleh ke bawah panggung. Juga Kun Liong kini teringat bahwa mereka masih belum bebas dari ancaman bahaya, masih terkepung oleh banyak lawan, maka cepat dia memandang ke bawah panggung.

Kok Beng Lama masih berhadapan dengan tiga orang sutenya, dan kini kakek itu berkata lantang, “Apa? Kau bilang bahwa anakku secara suka rela hendak mengorbankan dirinya? Benarkah itu? Mana buktinya? Itu dia, aku akan bertanya. Heiii, Hong Ing, benarkah kau dengan suka rela hendak mengorbankan dirimu menjadi mempelai dewa yang mulia?”

“Tidak, Ayah! Mereka memaksaku karena mereka menangkap Kun Liong dengan cara yang curang! Mereka mengancam hendak membunuhku sehingga Kun Liong menyerahkan diri dan untuk menolong agar Kun Liong tidak dibunuh, aku mau dibakar asal Kun Liong tidak diganggu. Mereka itu pendeta-pendeta yang berhati palsu!”

“Locianpwe, mereka adalah pemberontak-pemberontak yang bersekutu dengan Pek-lian-kauw untuk merampas Kerajaan Tibet dan Kerajaan Beng!” Kun Liong juga berteriak.

“Pengkhianat dan manusia rendah!” Sin Beng Lama sudah membentak marah sekali karena rahasianya dibongkar. Biarpun dia maklum akan kelihaian bekas suhengnya ini dan juga betapa pemuda itu memiliki kepandaian tinggi, namun dengan bantuan banyak anak buahnya, juga pasukan-pasukannya bersama pasukan Pek-lian-kauw berada di luar markas, tentu saja dia tidak takut.

“Serbuuu…! Bunuh mereka manusia-manusia berdosa ini!” Teriaknya nyaring dan dia sendiri bersama Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama sudah menerjang Kok Beng Lama.

“Locianpwe, jangan khawatir, saya akan membantu!” Kun Liong berteriak sambil membawa Hong Ing meloncat turun dari panggung yang sudah terbakar.

“Desss…! Dukkk! Dukkk!” Tiga orang pimpinan Lama itu terdorong ke belakang ketika lengan Kok Beng Lama menangkis mereka dengan kekuatan yang amat dahsyat. Kok Beng Lama menoleh ke arah Kun Liong sambil berseru, “0rang muda, jangan bantu aku. Kaubawalah Hong Ing menyingkir, selamatkan dia, aku serahkan dia kepadamu dengan berkatku!”

Kun Liong mengangguk. “Hong Ing, mari kita pergi…!” katanya sambil memegang pergelangan tangan kekasihnya.

Hung Ing merenggutkan tangannya terlepas. “Tidak! Aku tidak mau meninggalkan Ayah dalam bahaya. Aku harus bantu dia! Aku akan menjadi seorang anak tak berbakti yang selamanya akan tersiksa batinku kalau aku meninggalkan ayahku yang sedang terancam bahaya.”

Kun Liong memandang kekasihnya dengan wajah berseri dan dia tersenyum, merangkul dan mencium dahi Hong Ing. Bagus! Memang begitulah seharusnya seorang wanita gagah dan berbakti. “Aku kagum kepadamu, Hong Ing, aku bangga!”

Kun Liong dan Hong Ing lalu menyerbu dan membantu Kok Beng Lama yang dikeroyok tiga oleh pimpinan Lama Jubah Merah yang sakti itu. Akan tetapi, para Lama menyerbu dan mengepung mereka sehingga terpaksa Kun Liong dan Hong Ing tidak dapat mendekati Kok Beng Lama dan menghadapi pengeroyokan puluhan orang pendeta Lama. Mereka ini juga tidak berani membantu pimpinan mereka karena mereka maklum bahwa mencampuri pertandingan antara pimpinan Lama Jubah Merah amatlah berbahaya, sama dengan mengantar nyawa. Apalagi mereka memang merasa gentar terhadap Kok Beng Lama yang merupakan tokoh tertua di antara mereka, tokoh paling sakti pula.

Terjadilah pertandingan yang hebat sekali. Kok Beng Lama mengamuk dikeroyok oleh tiga orang sutenya, sedangkan Kun Liong bersama Hong Ing mengamuk dikeroyok puluhan orang pendeta Lama. Sementara itu, api dari panggung menjilat-jilat ke mana-mana dan karena tidak ada yang mengurus, api itu bahkah kini menjilat ke bangunan belakang markas itu! Betapa pun saktinya Kok Beng Lama, menghadapi pengeroyokan tiga orang sutenya yang penuh kemarahan itu, dia mulai terdesak juga. Demikian pula dengan Kun Liong yang menghadapi pengeroyokan puluhan orang pendeta, bahkan masih ada puluhan orang lain yang siap mengeroyoknya menggantikan kawan yang roboh, di samping itu Kun Liong harus selalu melindungi kekasihnya pula. Keadaan mereka makin terdesak dan terancam hebat.

Tiba-tiba terdengar suara sorak-sorai dan kegaduhan luar biasa di sebelah luar markas itu dan biarpun belum dapat melihat dengan mata kepala sendiri, Sin Beng Lama dan dua orang sutenya maklum bahwa pasukan mereka yang berada di luar telah diserbu musuh dan terjadi perang di luar markas. Tentu saja mereka terkejut bukan main dan Sin Beng Lama berteriak kepada seorang anak buahnya untuk menyelidiki keluar markas.

Sebentar saja ributlah para pendeta Lama ketika terdengar berita bahwa di luar markas, tentara Pemerintah Beng telah menyerbu dan kini sedang berperang melawan pasukan Lama Jubah Merah yang dibantu oleh pasukan Pek-lian-kauw! Mendengar ini, para pendeta Lama yang tidak memperoleh kesempatan ikut mengeroyok Kun Liong dan Hong Ing, berserabutan lari keluar dari markas untuk membantu teman-teman mereka berperang menghadapi penyerbuan bala tentara Beng.

Tiba-tiba terdengar suara keras dan pintu gerbang yang tadinya ditutup oleh para pendeta Lama yang menjaga di dalam, bobol dan berbondong-bondong masuklah bala tentara Beng dipimpin oleh dua orang laki-laki dan wanita yang amat gagah perkasa. Mereka ini bukan lain adalah Pendekar Sakti Cia Keng Hong dan isterinya, pendekar wanita Sie Biauw Eng! Bagaikan sepasang naga yang marah mengamuk, suami isteri ini menyerbu ke dalam dan setiap lawan yang berani menghadang tentu roboh dan tak dapat bangkit kembali.

Ketika melihat munculnya suami isteri pendekar ini, Kun Liong merasa girang bukan main karena kini dia merasa yakin bahwa dia, Hong Ing, dan ayah kekasihnya akan tertolong dari bahaya maut.

“Supek… Supekbo…!” teriaknya girang. “Harap Ji-wi suka membantu Kok Beng Lama Locianpwe menghadapi pimpinan mereka yang lihai!”

Mendengar ini dan melihat Kun Liong bersama seorang dara cantik mengamuk menghadapi pengeroyokan banyak pendeta Lama, Keng Hong dan isterinya agak terheran, akan tetapi mereka, diikuti oleh beberapa orang pengawal dari Panglima Besar The Hoo yang memimpin pasukan, lalu menyerbu ke tengah di mana Kok Beng Lama bertanding melawan tiga orang pendeta Lama Jubah Merah yang amat lihai.

Melihat kedatangan mereka itu, Sin Beng Lama mendengus marah, mengeluarkan seikat dupa dari sakunya dan sekali tiup, api di ujung lima dupa yang dipegangnya telah membakar semua ujung hio seikat itu, kemudian cepat sekali tangannya bergerak-gerak menyambit-nyambitkan dupa-dupa biting yang sudah membara ujungnya itu ke arah Cia Keng Hong, Sie Biauw Eng, dan para pengawal.

Tampak sinar-sinar kecil beterbangan ke arah pendatang-pendatang ini. “Awas…!” Cia Keng Hong berseru keras. Dia dan isterinya cepat menggerakkan kaki tangannya, kakinya menendangi hio-hio yang beterbangan di bawah, sedangkan jari-jari tangan mereka menyambar dan menjepit hio-hio yang menyambar tubuh atas mereka, lalu melempar benda-benda itu ke atas tanah. Akan tetapi, di belakang mereka terdengar jeritan-jeritan dan ternyata ada empat orang pengawal yang roboh berkelojotan, terkena hio-hio membara yang menancap di tubuh mereka.

Cia Keng Hong dan isterinya terkejut sekali. Para pengawal itu adalah orang-orang yang memiliki tingkat kepandaian cukup tinggi, namun ternyata tidak mampu menghindarkan diri dari sambaran hio-hio tadi dan sekali terkena senjata rahasia istimewa itu roboh berkelojotan dalam keadaan sekarat. Mereka menjadi marah, maklum bahwa mereka menghadapi lawan tangguh, maka Cia Keng Hong lalu mengeluarkan pedang Siang-bhok-kiam yang sejak tadi tidak pernah dipergunakannya itu. Pedang Kayu Harum ini mengeluarkan cahaya kehijauan ketika dicabut dan dengan mata memandang tajam dia bersama isterinya menerjang ke depan, disambut oleh Hun Beng Lama dah Lak Beng Lama.

“Trakkkk-trakkk!”

“Trangg! Cring…!”

Tasbih di tangan Hun Beng Lama bertemu dengan Siang-bhok-kiam dan Lama itu tergetar hebat, terhuyung ke belakang dan memandang dengan mata terbelalak. Juga tongkat di tangan Lak Beng Lama bertemu dengan Pek-in Sin-pian (Cambuk Lemas Sakti Awan Putih) yang berupa sehelai sabuk sutera putih yang dapat digerakkan menjadi kaku seperti baja oleh tangan halus yang penuh tenaga sin-kang sehingga kakek ini juga terkejut dan terhuyung ke belakang.

Sin Beng Lama yang kini harus menghadapi bekas suhengnya sendirian saja, segera terdesak hebat oleh Kok Beng Lama. Dari kedua ujung lengan jubah Kok Beng Lama menyambar-nyambar angin dahsyat dan betapa pun Sin Beng Lama berusaha untuk menyerang dengan dupa-dupa membaranya, percuma saja karena terkena sambaran angin itu dupa-dupanya menjadi padam dan patah-patah. Terpaksa Sin Beng Lama mencabut sebatang pedang lemas yang tadinya dipergunakan sebagai ikat pinggang. Sinar terang menyilaukan mata tampak dan disusul suara berdesing tinggi ketika sinar ini menyambar ke arah Kok Beng Lama. Kakek tinggi besar ini terkejut, mengelak cepat namun tetap saja kulit lehernya robek berdarah. Sambil menyeka darah di lehernya, Kok Beng Lama mendengus dan memandang penuh kemarahan kepada bekas sutenya.

“Manusia munafik!” Kok Beng Lama membentak dan menggerakkan kedua tangannya menyerang dengan lembut. Sin Beng Lama diam saja, kemudian cepat menggerakkan pedangnya yang mengeluarkan sinar kilat putih menyilaukan mata itu. Dia tidak dapat menjawab makian bekas suhengnya karena dia tahu bahwa dia telah melanggar sumpah, sumpah kepala Lama Jubah Merah. Pedang itu adalah pedang pusaka yang selalu menjadi pegangan seorang Kepala Lama Jubah Merah, akan tetapi membunuh merupakan pantangan bagi seorang kepala Lama, apalagi membunuh dengan pedang pusaka ini! Pantangan ini diperkuat dengan sumpah bahwa kalau seorang Kepala Lama melanggarnya, dia akan tewas di ujung pedang pusaka itu sendiri. Dan kini, karena merasa tidak kuat menandingi bekas suhengnya, Sin Beng Lama melanggar sumpahnya sendiri dan mengandalkan pedang pusaka itu untuk memperoleh kemenangan.

Sambil mengeluarkan suara menggereng yang keluar dari dadanya, Kok Beng Lama menghadapi pedang pusaka di tangan Sin Beng Lama itu. Kedua lengan kakek tinggi besar ini mengeluarkan hawa pukulan yang amat kuat sehingga gulungan sinar pedang putih selalu terdorong mundur.

“Robohlah…!” Sin Beng Lama berteriak, melakukan penyerangan kilat, pedang pusakanya menyusul tangan kiri yang mencengkeram ke arah ubun-ubun, menusuk dari samping menuju lambung lawan.

Kok Beng Lama maklum akan jurus serangan yang amat berbahaya ini, akan tetapi dia sudah mengambil keputusan nekat untuk membunuh bekas sutenya yang kejam dan hampir membunuh anaknya itu. Apalagi mendengar dari Kun Liong tadi bahwa sutenya ini telah menyelewengkan perkumpulan mereka, bersekutu dengan Pek-lian-kauw untuk merampas Kerajaan Tibet. Sungguh merupakan dosa yang tak dapat diampunkan.

Bagaikan sepasang garuda yang menyambar cepatnya, kedua tangannya bergerak, yang kanan menangkap tangan sutenya yang mencengkeram ke arah ubun-ubun, yang kiri dengan gerakan membalik dari samping, dengan telapak tangan terbuka memukul ke arah pedang yang menusuk lambungnya.

“Desss! Trangggg…!” Pedang itu terlepas dari pegangan, bahkan tangan kanan Sin Beng Lama sudah tertangkap pula oleh tangan kiri Kok Beng Lama sehingga kini kedua tangan Ketua Lama Jubah Merah telah ditangkap oleh bekas suhengnya! Keduanya saling mengerahkan sin-kang, namun tahulah Sin Beng Lama bahwa dia kalah tenaga dan kedua lengannya sudah menggigil hebat.

“Haaaaiiiikkkk…!” Tiba-tiba Sin Beng Lama mengeluarkan pekik yang menggetarkan seluruh tempat itu dan kepalanya yang gundul menyeruduk seperti seekor kerbau mengamuk ke arah perut Kok Beng Lama. Inilah serangan maut yang amat berbahaya karena kepala gundul yang kini mengeluarkan uap putih itu mengandung pemusatan sin-kang yang amat dahsyat sehingga batu karang sekalipun akan hancur lebur kalau kena diseruduk oleh kepala ini!

“Ceppppp…!” Kok Beng Lama yang melihat serangan ini, tidak mengelak bahkan memasang perutnya, menerima serudukan, bahkan perutnya yang gendut itu tiba-tiba menjadi lunak sekali, membuat kepala Sin Beng Lama menancap ke dalam rongga perutnya, terus disedot dengan pengerahan sin-kang.

Terdengar suara berkerotokan keras dan tubuh Sin Beng Lama menjadi lemas. Ketika Kok Beng Lama menarik napas panjang dan melembungkan lagi perutnya, tubuh Sin Beng Lama terlempar ke belakang dalam keadaan tak bernyawa lagi karena kepalanya retak-retak dan remuk di sebelah dalamnya. Kok Beng Lama membalikkan tubuh untuk mencari dua orang musuhnya lagi, yaitu Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama.

Begitu dia memandang, dia menjadi bengong dan terbelalak. Dua orang pendeta lama itu sedang bertanding melawan seorang laki-laki dan seorang wanita yang memiliki gerakan amat luar biasa hebatnya. Pada saat itu, sabuk sutera putih di tangan wanita cantik itu melayang seperti seekor naga putih, menyambar-nyambar ke arah Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama dan ketika kedua orang pendeta Lama ini menggerakkan tasbih dan tongkat untuk menangkis, kedua uJung sabuk itu telah melibat senjata-senjata mereka! Kedua orang Lama ini mengerahkan tenaga untuk menarik dan membikin putus dan rusak sabuk sutera putih, akan tetapi pada saat itu, berkelebat sinar kehijauan dari Pedang Kayu Harum, dan dua orang pendeta Lama itu mengeluh lalu roboh dan tak dapat bangkit kembali. Sedemikian cepatnya pedang itu menembus dada dan keluar lagi sehingga tidak tampak oleh pandangan mata.

Siasat kerja sama yang dilakukan oleh Cia Keng Hong dan Sie Biauw Eng memang hebat. Tadinya, ketika Keng Hong menghadapi Hun Beng Lama dan Biauw Eng melawan Lak Beng Lama, keadaan ramai bukan main. Keng Hong dapat mendesak Hun Beng Lama, namun, Biauw Eng merasa repot menghadapi serbuan tongkat Lak Beng Lama sehingga sampai lama kedua orang suami isteri perkasa ini belum mampu merobohkan lawan. Tiba-tiba Biauw Eng berseru keras dan ini adalah tanda bagi suaminya akan siasatnya bekerja sama. Dan ternyata berhasil baik karena selagi kedua orang lawan tangguh itu bersitegang untuk menarik kembali senjata dan merusak sabuk sutera, Siang-bhok-kiam di tangan Keng Hong memperoleh kesempatan untuk melakukan serangan kilat yang berhasil baik.

Kok Beng Lama mengeluarkan suara gerengan hebat. Dia kaget dan heran, juga kagum akan tetapi marah sekali. Dia kaget dan heran melihat betapa dua orang sutenya itu sampai kalah, kagum melihat kelihaian suami isteri perkasa itu, akan tetapi dia marah sekali setelah kini melihat betapa para pendeta Lama diserbu oleh musuh dan banyak yang telah roboh dan tewas. Setelah kini tiga orang sutenya tewas semua, lenyap pulalah semua permusuhan di dalam hatinya terhadap perkumpulan Lama Jubah Merah, bahkan timbul kemarahannya karena dia merasa bahwa golongannya diserbu musuh. Sambil berteriak marah dia menyambar pedang pusaka yang tadi dipergunakan Sin Beng Lama, lalu berlari ke depan menyerang Keng Hong dan Biauw Eng.

“Singgg… trangg-trakkk… singgg…!” Keng Hong dan Biauw Eng yang sudah menangkis itu terdorong ke belakang dan mereka terkejut. Kiranya pendeta Lama tinggi besar ini bahkan jauh lebih lihai lagi dibandingkan dengan dua orang pendeta Lama yang telah berhasil mereka robohkan! Namun, Keng Hong cepat mendahului isterinya, menggerakkan Siang-bhok-kiam menerjang kakek itu sambil berseru, “Mundurlah, biarkan aku menghadapinya!”

Biauw Eng mengerti akan peringatan suaminya. Memang suaminya telah melihat betapa lihainya Lama tinggi besar ini sehingga kalau dia maju, akan membahayakan dirinya. Betapapun juga, Biauw Eng siap dengan sabuk sutera di tangannya, siap membantu kalau suaminya sampai terdesak dan terancam keselamatannya.

Serangkaian serangan pertama yang dilakukan Keng Hong terhadap Kok Beng Lama amatlah hebatnya sehingga mengejutkan hati pendeta Lama tinggi besar itu. Sinar kehijauan dari Siang-bhok-kiam diikuti bau yang harum dan halus menyambar-nyambar, mula-mula dari atas dengan gerakan miring membacok ke bawah mengarah leher, ketika dapat ditangkis oleh pedang di tangan kakek tinggi besar itu, pedang Siang-bhok-kiam terus menyeleweng ke samping dan membacok serta menusuk bertubi-tubi mengarah tujuh jalan darah terpenting di tubuh depan lawan, sedangkan tangan kiri pendekar sakti itu mengimbangi gerakan pedang, melakukan pukulan-pukulan tangan kosong dari jurus Thai-kek Sin-kun disertai tenaga mujijat Thi-khi-i-beng!

Kok Beng Lama repot setengah mati menghadapi serangkaian serangan ini, menangkis dengan pedang, dengan lengan kiri, mengelak dan berloncatan ke sana-sini sehingga akhirnya dia mampu lolos dari serangkaian serangan itu, setelah meloncat ke belakang dia lalu menyerbu ke depan dan membalas dengan serangannya yang tak kalah dahsyatnya sehingga kini tiba giliran Keng Hong untuk menghadapi serangan itu dengan kaget namun berhasil pula menyelamatkan diri. Terjadilah serang-menyerang yang amat seru dan Biauw Eng yang menonton di pinggir harus mengakui bahwa agaknya baru sekarang ini suaminya menghadapi tanding yang amat kuat dan seimbang! Dan biarpun tingkat kepandaiannya sendiri sudah tinggi, namun dia tahu bahwa dia sendiri bukanlah lawan pendeta Lama tinggi besar ini.

“Supek… harap tahan senjata… Locianpwe ini bukan musuh…!”

“Ayah…! Ayah, jangan melawan, Ayah…!”

Munculnya Kun Liong dan Hong Ing ini membuat Keng Hong dan Kok Beng Lama meloncat mundur. Kun Liong menghampiri Keng Hong yang memandangnya dengan alis berkerut penuh pertanyaan, sedangkan Hong Ing lalu mehubruk ayahnya. “Ayah, lekas… markas terbakar dan Sute berada di dalam…!”

Kok Beng Lama terbelalak dan cepat membalikkan tubuhnya memandang markas yang benar-benar telah menjadi lautan api itu. Dia menyelipkan pedang pusaka di pinggangnya, kemudian terdengar dia mengeluarkan seruan yang keras sekali seperti gerengan seekor singa. “Bun Houw…!” Dan tubuhnya yang tinggi besar sudah melesat ke depan.

“Brakkkkk!” Dinding itu diterjangnya saja sampai ambrol.

“Bresss!” Dinding yang ke dua ambrol lagi dan tampak kakek itu menerjang melalui dinding yang diruntuhkannya memasuki lautan api!

“Ayaaahhh…!” Hong Ing juga lari ke arah lautan api, akan tetapi tiba-tiba pinggangnya dirangkul Kun Liong dari belakang. Dara itu meronta dan menangis. “Biarkan aku menyusul Ayah!”

Namun Kun Liong memperkuat pelukannya. “Hong Ing… ingatlah, ayahmu sedang berusaha menyelamatkan Bun Houw, tidak ada gunanya engkau membuang nyawa sia-sia di situ.”

Sementara itu, Keng Hong dan Biauw Eng menjadi pucat mukanya ketika melihat kakek tinggi besar tadi menerjang api dan meneriakkan nama Bun Houw, putera mereka!

“Kun Liong, apa artinya ini? Mana Bun Houw?” Keng Hong bertanya.

“Supek, saya pun baru saja mendengar dari Hong Ing bahwa Adik Bun Houw berada di sini, di dalam markas yang terbakar itu.”

Hong Ing kini menghadapi Cia Keng Hong dan isterinya, tanpa banyak sopan santun lagi karena keadaan sedang tegang seperti itu segera berkata, “Sute Cia Bun Houw diambil murid oleh Ayah… dan… kini Ayah sedang mencarinya ke dalam sana…”

“Houw-ji (Anak Houw)…!” Sie Biauw Eng menjerit.

“Harap Supek-bo tenang…!” Kun Liong berkata khawatir melihat keadaan nyonya yang perkasa itu, yang memandang ke arah api dengan mata terbelalak.

“Ayahku lebih tahu akan keadaan di dalam, mudah-mudahan dapat menyelamatkan Sute.” Hong Ing berkata lirih, seperti kepada diri sendiri.

“Aku akan mencarinya!” Biauw Eng hendak meloncat, akan tetapi tangannya disambar suaminya.

“Ucapan Nona ini tepat. Ayahnya lebih mengenal keadaan, kalau kau atau aku yang masuk ke lautan api itu tanpa mengenal keadaan dan tanpa mengetahui persis di mana adanya Bun Houw sama dengan membunuh diri.”

“Aku tidak takut mati untuk membela anakku!” Biauw Eng berteriak marah dan meronta.

Keng Hong terpaksa merangkul dan memeluknya seperti yang dilakukan oleh Kun Liong kepada Hong Ing tadi. “Siapa takut mati? Aku pun tidak takut, akan tetapi perlukah mati konyol? Bagaimana kalau nanti Bun Houw selamat akan tetapi kita berdua mati terbakar di sana?”

Kata-kata ini dapat diterima oleh Biauw Eng. Dia memandang dengan muka pucat dan menahan napas. Bukan hanya dia, juga Keng Hong, Kun Liong, dan Hong Ing memandang ke arah lautan api dengan muka pucat dan menahan napas, dalam suasana yang amat menegangkan hati. Sampai lama mereka berdiri tanpa bergerak, seolah-olah mereka lupa keadaan sekeliling di mana masih terdapat pertempuran-pertempuran berat sebelah antara pasukan pemerintah melawan para pendeta Lama yang hanya melakukan perlawanan dengan setengah hati karena selain pasukan Pek-lian-kauw sudah kocar-kacir dan lari bersama pasukan sukarela terdiri dari penduduk dusun, juga pimpinan mereka telah tewas semua.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa bergelak dari dalam lautan api dan muncullah tubuh tinggi besar dari Kok Beng Lama yang berlari meloncat keluar dari dalam lautan api, kedua tangannya memondong Bun Houw yang diselimuti jubah merahnya.

Ketika Kok Beng Lama tiba di dekat Hong Ing, dia mengeluh dan roboh terguling, akan tetapi Bun Houw tetap berada di dalam pondongannya.

“Houw-ji…!”

“Ibu…!”

Biauw Eng cepat menyambar Bun Houw yang selamat dan hanya menderita sedikit luka-luka ringan, akan tetapi Kok Beng Lama pingsan dengan tubuh hitam semua, mukanya hitam gosong dan tubuhnya penuh luka terbakar! Keng Hong cepat menolong pendeta Lama itu sedangkan Hong Ing dan Kun Liong lalu membujuk semua pendeta untuk menghentikan perlawanan sehingga perang dapat dihentikan.

Keng Hong sendiri lalu memerintahkan pasukan untuk mundur dan keluar dari tempat itu, sedangkan Hong Ing, dibantu oleh Kun Liong dan para pembantu Lama, membawa Kok Beng Lama ke dalam bangunan samping yang belum terbakar, lalu merawat kakek ini penuh ketekunan.

Sebulan kemudian tampak betapa bangunan Lama Jubah Merah yang terbakar lebih dari separuhnya itu mulai diperbaiki oleh sisa-sisa anggauta Lama yang sudah insyaf dan diampuni oleh Pemerintah Tibet. Kini, atas saran dan tanggungan dari pendekar Cia Keng Hong, Kok Beng Lama ditunjuk oleh Pemerintah Tibet untuk menjadi ketua baru dari Lama Jubah Merah. Dan pendeta tinggi besar yang kini mukanya berubah hitam itu memimpin sendiri pembangunan itu dengan wajah yang berseri. Dia mengambil keputusan di dalam hatinya untuk memperbaiki nama Lama Jubah Merah ygng telah dicemarkan dan diselewengkan oleh Sin Beng Lama bertiga.

Tak jauh dari tempat itu, di lereng gunung yang sunyi, Kun Liong dan Hong Ing duduk berdua di atas rumput hijau sambil bercakap-cakap. Wajah mereka berseri dan segar tanda bahwa hati mereka bergembira, terutama sekali Hong Ing yang telah mengalami perubahan yang amat hebat dalam hidupnya. Tadinya, dia menghadapi ancaman hebat, terpisah dari Kun Liong yang dicintanya, dan ayah kandungnya juga menjadi orang hukuman ygng tidak berdaya. Kini, ayah kandungnya sudah sembuh dan bahkan menjadi Ketua Lama Jubah Merah, dan terutama sekali Kun Liong yang dicintanya berada di sampingnya!

“Hong Ing…”

“Hemmm… ?”

Di dalam panggilan dan jawabannya yang memecah kesunyian tempat itu terkandung kemesraan dan cinta kasih yang tak perlu dinyatakan lagi dalam kata-kata karena di dalam nada suara yang singkat itu terkandung getaran penuh kasih sayang yang terasa sampai di lubuk hati masing-masing. Demikian hebat pengaruh getaran ini sehingga Kun Liong menjadi terharu dan terpesona, membuatnya sukar untuk melanjutkan kata-katanya. Hong Ing mendesaknya dengan pertanyaan melalui pandang matanya.

Kun Liong menarik napas panjang tiga kali, barulah dia dapat menenangkan gelora hatinya yang dibangkitkan oleh getaran cinta kasihnya kemudian berkata, “Hong Ing, setelah keadaan telah menjadi baik kembali, ayahmu telah sembuh sama sekali, kini aku… aku… terus terang meminangmu untuk menjadi isteriku, Hong Ing.”

Sejenak mereka berpandangan, kemudian kedua pipi dara itu menjadi merah sekali dan mukanya ditundukkan. Mereka sudah saling menyatakan cinta tanpa sungkan dan malu-malu lagi, akan tetapi mendengar pinangan untuk menjadi isteri pemuda yang dikasihinya ini, Hong Ing menjadi canggung dan malu juga.

“Bagaimana jawabanmu, Hong Ing?”

“Kun Liong, kenapa… kenapa engkau memilih aku menjadi… isterimu?”

“Kenapa? Ah, tentu saja karena aku cinta padamu, Hong Ing.”

Hong Ing mengangkat mukanya, sepasang matanya bersinar-sinar memandang dan dia bertanya lagi, “Mengapa engkau cinta padaku? Kun Liong, berhari-hari sudah aku menahan pertanyaan yang ingin kuajukan kepadamu ini. Sekaranglah saatnya. Kenapa engkau cinta kepadaku. Kun Liong? Kenapa?”

Kun Liong memegang kedua tangan kekasihnya dan memandang tajam. “Aku memang telah bersikap bodoh sekali dan berkali-kali menyakiti hatimu, Hong Ing. Menyakiti hatimu karena kebodohanku dan kecanggunganku. Aku cinta padamu, semenjak kita pertama kali bertemu, namun aku terlalu angkuh, canggung dan tidak mau mengakui, biar terhadap diri sendiri sekalipun. Aku cinta padamu karena engkaulah satu-satunya wanita di dunia ini yang bagiku sempurna tanpa cacat, engkaulah yang menciptakan bayangan wanita khayal yang kupuja-puja dahulu, karena engkaulah orangnya. Wanita khayal itu adalah engkau, Hong Ing, dan lebih lagi, kalau wanita khayal itu hanya angan-angan dan bayangan saja, engkau adalah seorang manusia dari darah daging, seperti aku, maka engkau bagiku lebih daripada wanita khayal itu. Engkau satu-satunya wanita yang kucinta, yang ingin kujadikan isteriku, teman hidupku selamanya, membentuk keluarga denganmu, mempunyai keturunan dan suka duka kita pikul bersama, Hong Ing.”

Hong Ing terisak dan rebah dalam pelukan Kun Liong. Dara ini merasa seperti diayun ke sorga ke tujuh. Kata-kata yang diucapkan Kun Liong tadi baginya merupakan nyanyian sorga yang amat merdu.

“Kun Liong, aku… aku hanyalah seorang gadis bodoh dan hina yang… sejak dahulu tak pernah berhenti mencintamu, yang setiap saat bermimpi menginginkan menjadi isterimu dan aku… aku menerima segalanya, aku… bersedia menjadi isterimu asal engkau suka mengirim Cia Keng Hong Locianpwe sebagai walimu untuk melamarku kepada Ayah.”

“Hong Ing…!” Kun Liong mendekap dan menciuminya. Sejenak mereka tenggelam ke dalam buaian cinta kasih yang memabukkan.

Akhirnya Hong Ing menarik tubuhnya agak menjauh dan menarik napas panjang beberapa kali. Kedua pipinya menjadi makin kemerahan, matanya sayu seperti mata orang mengantuk, bibirnya tersenyum aneh membayangkan rahasia hatinya. “Aih, Kun Liong, betapa mengerikan kalau aku mengenangkan waktu yang lalu, ketika aku melakukan segala siasat dan daya upaya agar engkau dapat datang ke tempat ini. Ketika itu, sudah bulat keputusanku bahwa aku lebih baik mati daripada tidak bertemu lagi denganmu.”

Kun Liong memegang kedua tangan dara itu. “Engkau hebat, Hong Ing. Dan betapa bahagianya seorang seperti aku mendapatkan cinta kasih seorang dara seperti engkau yang begini mulia! Padahal aku adalah seorang laki-laki yang bodoh, yang sombong dan angkuh, yang selalu merendahkan cinta. Betapa aku dahulu selalu memandang rendah kepada cinta kasih antara pria dan wanita! Semua ini timbul karena di dalam kehidupanku banyak sekali aku mengalami godaan asmara! Sungguh aku harus merasa malu kepada diri sendiri, dan aku menyesal sekali terutama sekali tentang satu hal… yang harus kuberitahukan kepadamu sebelum… sebelum kita menjadi suami isteri. Kalau tidak kuberitahukan kepadamu, hal ini hanya akan menjadi penghalang kebahagiaan kita…” Dia berhenti dengan ragu-ragu sambil memandang kekasihnya.

“Kun Liong! Apakah itu? Apa yang ingin kausampaikan? Mengapa wajahmu tiba-tiba kehilangan serinya dan engkau kelihatan khawatir dan ragu-ragu? Katakanlah, apakah hal yang kaurisaukan itu?”

“Hong Ing, apa yang akan kuceritakan adalah hal yang amat memalukan, hal yang amat kotor. Kalau nanti engkau marah kepadaku, mengutukku, bahkan kalau hal ini membuat engkau menolak aku, memandang rendah kepadaku, aku akan menerimanya dengan rendah hati, karena memang engkau patut mengutukku.”

Wajah Hong Ing menjadi pucat. “Tidak…! Tidak…! Kalau begitu lebih baik jangan kauceritakan itu!”

Kun Liong menggeleng kepala dan tersenyum duka. “Harus kuceritakan, Hong Ing. Daripada menyimpan rahasia. Rahasia yang terselip di antara suami isteri hanya akan menimbulkan bencana. Aku, harus menceritakan kepadamu, kemudian terserah kepadamu keputusannya. Engkau terlalu bersih dan murni, sedangkan aku akan merasa diriku kotor dan tidak berharga bagimu, selamanya kalau aku belum menceritakan hal ini.”

Hong Ing memandang kepada kekasihnya, dengan sinar mata penuh kekhawatiran, akan tetapi juga penuh iba, kemudian katanya lirih, “Kalau begitu, ceritakanlah, Kun Liong. Ceritakanlah semuanya dan sebelumnya aku sudah memaafkan segala kekeliruanmu.”

Kun Liong memegang kedua tangan kekasihnya, tidak dilepasnya lagi seolah-olah dia mendapatkan kekuatan batin dari kedua tangan kekasihnya itu untuk menceritakan hal yang amat menindih perasaannya itu. “Terima kasih, Hong Ing. Ingatkah engkau kepada wanita yang telah tewas bersama suaminya sebulan yang lalu di tempat ini ketika mereka berdua membelaku?”

“Dua orang murid pendekar Secuan itu? Tentu saja aku masih ingat, kasihan sekali mereka. Engkau telah memberi tahu kepadaku bahwa mereka adalah Tan Swi Bu dan Liem Hwi Sian.”

Kun Liong mengangguk. “Mereka adalah sahabat lamaku, terutama sekali Liem Hwi Sian. Ketika mereka roboh, sebelum menghembuskan napas terakhir, Hwi Sian meninggalkan pesan kepadaku.”

“Pesan apakah?”

“Bahwa dia mempunyai seorang anak yang ditinggalkannya di Kuil Kwan-im-bio di kaki bukit, dekat rumah gurunya dan dia berpesan kepadaku agar aku suka merawat anak itu…”

Pandang mata yang tadinya diliputi kekhawatiran itu kini berseri dan jari-jari tangan yang dipegang Kun Liong itu membalas dengan sentuhan lembut, mulut yang tadi agak terbuka itu kini tersenyum, “Aihhh, kau membikin orang menjadi tegang dan gelisah saja! Kalau hanya urusan itu, mengapa dirisaukan benar? Tentu saja aku setuju sepenuhnya untuk merawat anak yang bernasib malang itu!”

Akan tetapi Kun Liong masih memegang kedua tangan Hong Ing dan sikapnya masih sungguh-sungguh, pandang matanya masih penuh kegelisahan. “Bukan hanya itu, Hong Ing, akan tetapi… anak itu… anak Hwi Sian itu bukanlah keturunan suaminya, bukan anak Tan Swi Bu…”

“Ehhh…?” Hong Ing memandang tajam dengan alis berkerut, timbul persangkaan bahwa yang disebut rahasia itu adalah rahasia keburukan Hwi Sian, tentu sahabat suaminya itu telah melakukan penyelewengan sehingga melahirkan seorang anak bukan dari keturunan suaminya!

“Kun Liong, aku tidak ingin mengetahui rahasia orang lain, kalau kau mau menerima anak sahabatmu itu untuk kau rawat, aku setuju saja. Tidak perlu kau menceritakan rahasia pribadi Liem Hwi Sian itu.”

“Bukan begitu, Hong Ing, bukan rahasianya, melainkan rahasiaku. Dengarlah baik-baik, dahulu, setahun lebih yang lalu, sebelum aku bertemu denganmu, aku amat meremehkan soal cinta sehingga aku memandang rendah pula terhadap cinta kasih wanita terhadap diriku. Di antara mereka yang mencintaku adalah Hwi Sian.

Akan tetapi aku yang suka menggodanya tidak membatas cinta kasihnya. Ketika dia ditunangkan dan akan dikawinkan dengan suhengnya, yaitu Tan Swi Bu, hatinya hancur dan dia mencariku, lalu… lalu… dia minta agar aku suka menjadi suaminya untuk semalam! Kalau menolak, dia akan membunuh diri karena dia tidak mencinta suhengnya, melainkan mencintaku. Dan aku… aku yang bodoh dan sombong, aku… aku menuruti permintaannya. Kemudian, ketika dia akan mati, dia meninggalkan pesan bahwa

anak itu… anaknya itu… adalah… anak hasil dari hubungan kami semalam itu, dia adalah anakku…”

Hong Ing merenggut kedua tangannya, bangkit berdiri dan mukanya pucat sekali, sepasang matanya terbelalak seperti kelinci ketakutan memandang kepada Kun Liong.

Pemuda itu juga bangkit dengan tubuh gemetar. “Aku seorang manusia kotor, seorang rendah yang tidak patut untukmu, Hong Ing. Aku akan menerimanya kalau engkau mengutukku, ketika itu aku memandang rendah cinta kasih antara pria dan wanita. Aku menganggap bahwa semua cinta kasih menjurus kepada cinta berahi belaka. Akan tetapi, ternyata tidak… cinta kasih adalah sesuatu yang luhur dan mulia, yang bersih tak ternoda dari segala sesuatu, termasuk hubungan jasmani antara pria dan wanita, barulah suci dan murni kalau didasari cinta kasih. Tanpa cinta kasih, segala adalah kotor dan hina. Namun aku… aku seperti buta pada waktu itu, Hong Ing.”

Hong Ing tidak menjawab, hanya berdiri memandang dengan mata terbetalak dan muka pucat. Melihat keadaan kekasihnya ini, Kun Liong merasa kasihan sekali, akan tetapi seperti seorang pesakitan yang menanti keputusan hakim, dia berdiri dan menundukkan mukanya, menanti suara Hong Ing.

Akhirnya terdengar tarikan napas panjang, disusul suara dara itu. Halus lirih dan mengandung isak tertahan, “Aku… aku cinta padamu bukan karena kebaikanmu… aku cinta padamu karena engkau… dan aku menerimamu dengan segala cacat celamu. Kau telah melakukan penyelewengan yang sudah kausadari… sudahlah, hal itu tidak perlu dibicarakan lagi… dan anak itu… dia anakmu yang harus kita rawat baik-baik…”

“Hong Ing…!” Kun Liong terisak dan menjatuhkan diri berlutut di depan dara itu. “Betapa mulia hatimu…!”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: