Petualang Asmara (Jilid ke-45)

Sejenak Hong Ing berdiri menunduk, air matanya bercucuran, kemudian dia juga menjatuhkan diri berlutut dan merangkul Kun Liong. Keduanya berpelukan, berciuman sambil menangis, keharuan dan kebahagiaan bercampur menjadi satu.

“Hong Ing, engkau dewiku, engkau mulia dan berbudi…!”

“Husshhh, aku merasa malu kepada Hwi Sian kalau kau berkata demikian, terlalu memujiku. Dialah wanita yang amat mencintamu…”

“Keliru, Hong Ing. Dia telah mencelakakan diri sendiri. Dia mengira bahwa cinta hanyalah hubungan badan… tapi sudahlah, betapapun juga, Hwi Sian telah membuktikan cintanya dengan mengorbankan diri untuk membantuku. Dan semua memang kesalahanku… aku dahulu terlalu nakal suka menggoda wanita, sungguhpun godaanku tidak terlalu mendalam, tidak memancing hubungan badan namun telah mendatangkan akibat-akibat yang menyedihkan. Aku dahulu sebelum berjumpa denganmu… ahhh, harus kuceritakan semua kepadamu.” Sambil duduk di atas rumput dan saling berangkulan, Kun Liong lalu menceritakan semua riwayatnya, semua petualangannya dengan banyak wanita yang dijumpainya, tentang Yo Bi Kiok yang kini menjadi guru adik kandungnya dan yang menunjukkan cinta terhadap dirinya, cinta yang garang dan mengerikan, kemudian dia bercerita pula tentang lain wanita yang dijumpainya, diantaranya mendiang Souw Li Hwa, Cia Giok Keng, Liem Hwi Sian dan Lauw Kim In, kemudian Pek Hong Ing sendiri. Menceritakan betapa dia menggoda mereka itu.

Setelah mendengarkan semua penuturan yang terus terang dari kekasihnya, Hong Ing tersenyum lalu berkata. “Dengan menceritakan semua itu kepadaku berarti bahwa mulai saat ini engkau telah menghentikan semua perbuatan itu.”

“Memang dahulu aku bodoh dan dungu sesuai dengan kepalaku yang gundul. Akan tetapi sejak bertemu denganmu, perasaan yang luar biasa telah membuka mataku. Dahulu aku memang sombong dan pongah, bodoh dan…”

“Dan petualang asmara yang canggung!”

“Petualang asmara?”

“Ya, engkau seorang petualang asmara yang canggung dan yang kini terjerat oleh asmara itu sendiri. Sekarang, sudah mengertikah engkau apa artinya mencinta?”

Kun Liong memeluk. “Sudah mengerti, kekasihku. Karena engkau yang mengajarku, dengan sikapmu yang sederhana dan terbuka. Cintamu kepadaku begitu tulus dan polos bersih, dan biarlah aku mencontohmu. Aku cinta kepadamu karena engkau adalah engkau, Hong Ing, aku mencintamu dari ujung rambut kepalamu sampai ke kuku jari kakimu, tidak ada kecualinya, aku mencintamu dengan segala kebaikanmu dan semua keburukanmu, dengan segala kesempurnaanmu sampai kepada segala cacatmu, kalau memang ada keburukan dan cacatmu. Karena dengan cinta kasih, tidak adalah cacat dan keburukan itu.”

Hong Ing balas memeluk dan suaranya agak manja ketika dia berkata, “Dan aku hanyalah calon isterimu yang setia, bodoh dan penurut…”

“Suci Hong Ing…! Liong-twako…!”

Sepasang muda mudi yang sedang berpelukan itu cepat melepaskan diri masing-masing dan meloncat berdiri. Sambil tersenyum mereka memandang tubuh Bun Houw yang berlari-larian mendaki lereng itu dari bawah.

Cia Bun How, putera pendekar Cia Keng Hong ini masih berada di Tibet. Kok Beng Lama menuntut kepada Ketua Cin-ling-pai itu agar dia boleh menurunkan ilmu-ilmunya kepada Cia Bun Houw yang sudah menjadi muridnya. Tadinya, Biauw Eng merasa keberatan, akan tetapi karena suaminya merasa bahwa Bun Houw berhutang nyawa kepada kakek itu, pula melihat bahwa kakek itu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, terpaksa meluluskan. Untuk menyenangkan hati isterinya, Cia Keng Hong menjanjikan kepada Kok Beng Lama untuk kelak mengirim Bun Houw ke Tibet dan berguru kepadanya setelah puteranya itu berusia lima belas tahun. Kok Beng Lama maklum bahwa suami isteri pendekar yang lihai itu ingin menanamkan dasar-dasar kepandaian mereka kepada putera mereka lebih dulu, maka dia pun setuju, hanya minta agar anak itu diperbolehkan tinggal di situ dan kelak kembali ke Cin-ling-san bersama Kun Liong.

Demikianlah, Cia Keng Hong dan isterinya kembali ke Cin-ling-san dan meninggalkan Bun How di tempat itu. Pada pagi hari itu, Bun Houw berlari-lari dan memanggil-manggil Kun Liong dan Hong Ing yang sedang duduk bercakap-cakap di lereng bukit.

“Eh, Sute, ada apakah engkau berlari-lari menyusul kami?” Hong Ing bertanya setelah anak itu tiba di depannya.

“Suhu memanggil Suci dan Twako.”

Mereka bertiga lalu menuruni lereng kembali ke markas yang sedang dibangun kembali itu. Kok Beng Lama sudah menanti mereka di bangunan samping yang masih utuh, setelah mereka menghadap, dia menyuruh Bun Houw untuk keluar dari ruangan dan bermain-main di luar.

“Kun Liong dan Hong Ing,” katanya ramah, “pinceng telah mengetahui akan hubungan kalian dan pinceng merasa gembira sekali serta memberi restu. Akan tetapi, mengingat bahwa Hong Ing sudah cukup umurnya, pinceng minta kepadamu mengirim pinangan agar hari pernikahan dapat ditetapkan dengan segera.”

Mendengar ini, wajah Hong Ing menjadi merah sekali. “Ihh… Ayah…!” katanya sambil berlari keluar!

Kok Beng Lama tertawa. “Engkau tentu mengerti, Kun Liong, bahwa penghargaan yang terutama bagi seorang gadis adalah pinangan, karena hanya pinangan saja yang merupakan bukti bagi seorang pemuda bahwa dia mencinta gadis itu dan menghendakinya sebagai isterinya. Pinceng tahu bahwa selain kalian berdua saling mencinta dengan penuh kesetiaan, juga bahwa engkau sudah tidak ada ayah bunda, dan pinceng pun sudah setuju, akan tetapi demi menghargai diri Hong Ing, engkau harus mengajukan pinangan secara resmi.”

Kun Liong menunduk. “Hal itu sudah kami bicarakan tadi, Locianpwe. Dan saya akan pergi ke Cin-ling-san, mengajak Adik Bun Houw pulang ke sana, sekalian minta pertolongan Supek dan Supek-bo untuk mengajukan pinangan secara resmi serta menetapkan hari pernikahan itu. Akan tetapi… saya hanyalah seorang pemuda sebatang kara yang… yang miskin dan…”

“Hushhh! Apa kaukira bahwa pinceng hendak menjodohkan anak pinceng dengan harta benda?”

“Maaf, Locianpwe.”

“Sudahlah, kau berangkat hari ini juga dan ajaklah Bun Houw. Sampaikan salamku kepada Cia Keng Hong Tai-hiap dan isterinya.”

“Maaf, saya tidak dapat berangkat hari ini karena ada suatu urusan yang harus saya selesaikan lebih dulu.”

“Huh, apa lagi?” kakek itu membentak.

Pada saat itu, Hong Ing datang berlari. Tadi dia tidak pergi jauh, hanya bersembunyi di balik pintu dan mendengarkan percakapan antara kekasihnya dan ayahnya maka kini mendengar ucapan Kun Liong, dia cepat lari masuk.

“Ayah, aku dan dia mau pergi ke Kuil Kwan-im-bio di rumah mendiang Gak-taihiap untuk mengambil seorang anak yang dititipkan di kuil itu.”

“Huh? Apa? Anak siapa?”

Hong Ing yang khawatir kalau-kalau kekasihnya yang jujur itu akan menceritakan rahasianya bersama mendiang Hwi Sian, cepat mendahului Kun Liong dan berkata, “Tahukah Ayah tentang suami isteri yang tewas di sini ketika mereka membela kami berdua? Mereka itu adalah murid-murid Gak-taihiap di Secuan, sahabat-sahabat dari Kun Liong. Mereka telah mengorbankan diri demi kami berdua, dan pada saat terakhir mereka minta kepada Kun Liong agar kami berdua suka merawat anak mereka yang ditinggalkan di kuil itu. Bagaimana menurut pendapat Ayah? Setelah ayah bundanya tewas demi membela kami, apakah kami tidak seharusnya memenuhi permintaan mereka itu?”

Kok Beng Lama termenung, mengerutkan alisnya lalu mengangguk-angguk. “Tentu… tentu saja! Aku akan membencimu kalau kau tidak memenuhi permintaan mereka itu. Nah, cepat ambil anak yang ditinggalkan itu. Kasihan dia!”

“Ayah, aku bersama Kun Liong akan ke Secuan menjemput anak itu dan selain itu…”

“Apa lagi?” Ayahnya membentak.

“Kami berhutang budi kepada orang tuanya, maka, kami berdua telah bersepakat untuk mengambil anak itu sebagai anak kami.”

“Huh! Belum menikah sudah mempunyai anak! Tapi… aku akan benci kalian kalau kalian tidak melakukan itu!”

Hong Ing dan Kun Liong berlari ke luar dan setelah tiba di luar bangunan itu, Kun Liong merangkul kekasihnya dengan hati penuh keharuan.

“Hong Ing, engkau…, engkau seorang dewi yang berhati mulia…”

Hong Ing membalas pelukan Kun Liong, melingkarkan lengannya di pinggang pemuda itu dan berkata lirih manja, “Ah, aku hanyalah calon isterimu yang bodoh…”

Maka berangkatlah Kun Liong dan Hong Ing ke Secuan. Setelah bertemu dengan Poa Su It yang berduka sekali mendengar tentang kematian sute dan sumoinya, mereka lalu diajak oleh Poa Su It mengunjungi Kuil Kwan-im-bio dan dari ketua nikouw (pendeta wanita) mereka menerima seorang anak perempuan yang baru berusia tiga empat bulan! Seorang anak perempuan yang mungil dan sehat karena sejak kecil, juga setelah ditinggalkan ibunya, dia dipelihara dengan baik oleh para nikouw di Kwan-im-bio yang memanggilkan seorang inang pengasuh, dibesarkan dengan air susu sapi.

Kun Liong memandang anak itu dengan jantung seperti ditusuk-tusuk rasanya. Anaknya! Keturunan dan darah dagingnya! Dia terharu sekali, apa pula ketika melihat betapa Hong Ing meraih dan memondong anak itu dengan penuh kasih sayang!

Poa Su It merasa girang sekali dan berkali-kali menghaturkan terima kasih bahwa Kun Liong dan Hong Ing, calon suami isteri itu, suka mengambil Mei Lan, demikian nama anak itu, sebagai anak mereka! Tentu saja dia tidak pernah tahu bahwa anak itu sebetulnya adalah anak Kun Liong! Disangkanya bahwa anak itu adalah anak Hwi Sian dan Tan Swi Bu, hasil dari hubungan mereka sebagai suami isteri!

“Harap Poa-toako suka merahasiakan pemungutan anak ini agar anak ini kelak tidak mengetahui bahwa dia hanyalah anak pungut,” Kun Liong berkata.

“Tentu saja!” Poa Su it menjawab. “Sejak hari ini namanya menjadi Yap Mei Lan, anak Ji-wi berdua. Saya sudah merasa bingung sekali mendengar akan kematian ayah bundanya, tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan anak ini. Syukur bahwa Ji-wi sudi mengambilnya sebagai anak memenuhi pesan terakhir mereka.”

Kun Liong dan Hong Ing lalu berpamit kembali ke Tibet membawa Mei Lan bersama inang pengasuhnya yang juga diajak untuk merawat anak itu, karena Hong Ing belum berpengalaman merawat anak kecil dan merasa khawatir dan tidak berani.

Setelah tiba kembali di Tibet, Kun Liong lalu meninggalkan anak itu bersama Hong Ing dan mengajak Bun Houw untuk meninggalkan Tibet, kembali ke Cin-ling-san. Kok Beng Lama dan Hong Ing mengantar keberangkatan mereka sampai di ujung lereng pertama dan Kun Liong didesak sampai berkali-kali mengucapkan janji bahwa dia tidak akan lama pergi dan akan cepat mengajak Cia Keng Hong dan isterinya untuk datang mengajukan pinangan yang dinanti-nanti itu.

Cia Giok Keng berjalan dengan wajah bersungut-sungut, sedangkan Lie Kong Tek berjalan melangkah dengan langkah-langkah tetap di belakangnya. Keduanya tidak bicara, hanya berjalan dengan sunyi di dalam panas terik matahari siang itu. Hati Giok Keng mendongkol bukan main. Telah berhari-hari dia melakukan perjalanan bersama Kong Tek dan selama ini merasa betapa hatinya makin tertarik dan makin kagum kepada pemuda tinggi besar ini. Tampak jelas olehnya betapa jauh bedanya pribadi Kong Tek dibandingkan dengan pemuda-pemuda lain seperti Kun Liong dan terutama sekali Bu Kong. Pemuda ini gagah perkasa, kuat dan tahan menderita, juga jujur dan pendiam, tidak banyak cakap, tidak pula suka menggodanya, bahkan sama sekali tidak pernah memujinya, apalagi menjilat atau bermuka-muka! Hal inilah yang menimbulkan kesal dan mendongkol hatinya. Semua pemuda, bahkan semua laki-laki yang dijumpainya, sudah pasti akan memandangnya dengan sinar mata jelas membayangkan kekaguman, mata laki-laki yang bersinar kagum dan kurang ajar, yang ceriwis dan nakal, namun yang diam-diam memuaskan dan membuat hatinya bangga karena semua itu membuktikan kecantikan dan daya tariknya. Akan tetapi Kong Tek memandangnya biasa saja, tanpa sinar berapi dan kagum, bahkan seolah-olah dia dipandang seperti kalau pemuda itu memandang pohon, awan, atau tanah saja! Mengkal hatinya!

Sudah berkali-kali dia sengaja hendak memancing perhatian Kong Tek, hanya untuk memancing pujian, memancing pandang mata penuh gairah dan kagum namun hasilnya sia-sia belaka. Betapa pun dia menggigiti bibirnya sampai menjadi merah dan basah hampir berdarah, betapa dia menyanggul rambutnya atau mengurainya sehingga terlepas panjang sampai ke pinggul, betapa dia mengatur pakaiannya sehingga serapi-rapinya, atau mencuci muka dan menggosoknya sampai kedua pipinya menjadi kemerahan dan segar seperti sepasang buah tomat, betapa dia bergaya sampai merasa menjadi seorang sripanggung pemain opera, hasilnya sia-sia belaka! Sama halnya dengan bersolek dan bergaya di depan sebuah patung mati yang berhati batu!

Apalagi pengalamannya tadi membuat dia cemberut dan bersungut-sungut, penuh kekecewaan dan kemendongkolan hati. Dia tadi sudah memancing pemuda itu dengan omongan dan masih terngiang di telinganya jawaban-jawaban Kong Tek yang membuat bibirnya makin cemberut.

Tadi mereka sedang duduk di bawah pohon rindang, berlindung dari terik panas matahari. Sambil mengusap peluhnya dari muka dan lehernya dengan saputangan, dia berkata, “Lie-toako, kalau aku teringat akan pengalaman-pengalamanku di Pek-lian-kauw, masih bergidik ngeri dan bangkit bulu tengkukku. Untung aku tertolong, kalau tidak… hemmm, entah apa jadinya dengan diriku.”

“Memang kau beruntung sekali tidak jadi menjadi isteri Liong Bu Kong, Nona.”

Sebutan nona itu sudah mulai membuat hatinya tidak senang. Sudah beberapa kali dia mengatakan bahwa pemuda itu tidak selayaknya menyebut dia nona setelah mereka menjadi sahabat, akan tetapi pemuda itu selalu lupa dan menyebutnya nona sehingga dia tidak peduli lagi untuk menegurnya.

“Mengapa beruntung, Toako?” dia mendesak.

“Ya, beruntung karena tidak jadi isteri orang seperti dia.”

“Lalu pantasnya aku menjadi isteri orang macam apa, Toako?”

“Hemm, pantasnya menjadi isteri seorang yang tidak seperti Liong Bu Kong.”

“Siapa, misalnya?” Giok Keng mendesak lagi.

Kong Tek menggerakkan kedua pundaknya yang lebar. “Entahlah, pendeknya yang tidak jahat dan palsu seperti Bu Kong.”

Hening sejenak dan hati Giok Keng sudah mulai tidak puas. Sukar betul membongkar hati dan perasaan pemuda ini. Dari perbuatan dan pembelaannya yang berani mempertaruhkan nyawa, dia yakin bahwa pemuda ini cinta kepadanya. Akan tetapi dia tidak pernah menyatakannya, baik dari pandang mata, maupun suara mulut, atau gerak-geriknya. Inilah yang membuat dia penasaran dan tersinggung “harga dirinya”!

“Eh, Toako, sekarang sudah berapakah usiamu?”

Ditanyai usianya, Kong Tek memandang kepadanya dengan mata terbelalak heran, akan tetapi lalu menjawab juga, “Sudah dua puluh lima tahun.”

“Dan kau sudah menjadi duda.”

“Aku belum menikah!”

“Tapi sudah bertunangan dengan Bu Li Cun.”

“Ya, kasihan sungguh gadis itu…” Kong Tek menghela napas dan termenung.

Giok Keng mengerutkan alisnya. Agaknya pemuda yang luar biasa ini telah “patah hati” karena kematian tunangannya itu, pikirnya.

“Lie-toako, cinta sekalikah engkau kepadanya?”

“Hah…?” Kong Tek balas bertanya, terbelalak karena belum menangkap maksud pertanyaan itu.

“Engkau tentu amat mencinta mendiang Bu Li Cun itu…”

Kong Tek menghela napas panjang dan menyusut peluh dari dahinya sambil menggeleng kepalanya. “Nona, selama hidupku, baru satu kali itu aku bertemu dengan dia. Kami ditunangkan sejak kecil oleh orang tua, aku tidak pernah kenal dengan dia, mana bisa mencinta.”

Hening sampai lama, akhirnya kembali suara Giok Keng memecah kesunyian, “Akan tetapi, usiamu sudah dua puluh lima tahun, dan engkau tentu telah mempunyai banyak pengalaman selama perantauanmu dengan suhumu yang lihai.”

“Memang sudah banyak aku merantau, ikut bersama Suhu yang berbudi.”

“Tentu sudah banyak, atau setidaknya ada wanita yang saling jatuh cinta denganmu, Toako.”

Pemuda itu menunduk dan kulit mukanya agak merah, akan tetapi dia menggeleng kepalanya dengan keras. “Tidak ada, tidak pernah!”

“Eh, kenapa kau marah?”

“Aku tidak marah.”

“Akan tetapi jawabanmu kasar sekali.”

“Aku memang belum pernah saling jatuh cinta dengan wanita.”

“Hemm, sungguh luar biasa. Engkau tampan dan gagah perkasa, usiamu sudah dua puluh lima tahun, dan engkau belum pernah jatuh cinta. Hebat! Akan tetapi setidaknya tentu ada wanita yang pernah jatuh cinta kepadamu, Toako. Aku berani bertaruh tentu pernah ada!” Kembali Giok Keng mendesak dan memancing sambil menatap wajah itu dengan tajam dan penuh selidik.

“Tidak!” Kembali pemuda itu menggeleng kepala keras-keras. “Tidak, aku tidak sempat…!” Dia tidak dapat melanjutkan kata-katanya, seolah-olah terkecik oleh kata-katanya sendiri.

“Tidak sempat apa, Toako? Tidak sempat bermain cinta?” Giok Keng mendesak dan menggoda makin berani melihat betapa pemuda itu sibuk dan bingung.

“Tidak sempat memikirkan itu.”

“Hemm, engkau memang aneh atau… engkau tidak jujur, Toako. Kalau aku, biar usiaku jauh lebih muda dari padamu, aku sudah seringkali dicinta orang.”

Kong Tek mengangkat muka memandang, sinar matanya biasa saja, akan tetapi dia melanjutkan, “…dan mencinta…”

Giok Keng tersenyum, diam-diam tegang dan girang, mengharapkan pemuda itu akan merasa iri dan cemburu! “Ya, dan mencinta! Banyak sudah laki-laki yang tergila-gila dan mencintaku.”

“Memang sudah semestinya, engkau… seorang gadis luar biasa, tentu banyak laki-laki yang jatuh hati dan mencintamu.”

Giok Keng merasa kecelik mendengar ucapan ini. Kiranya pemuda ini sama sekali tidak merasa iri atau cemburu, apalagi panas hati!

“Aku tadinya saling mencinta dengan Liong Bu Kong, bahkan hampir menjadi isterinya.”

“Engkau tertipu dan dikuasai ilmu sihir.”

“Tapi, tadinya aku memang jatuh cinta kepada Bu Kong.”

“Memang dia tampan dan menarik, sayang hatinya kotor sekali, dan sungguh beruntung engkau belum sampai terjatuh dalam perangkapnya, Nona.”

“Jadi engkau tidak memandang rendah kepadaku, setelah aku… aku begitu bodoh jatuh hati kepada seorang seperti dia? Ayah sendiri sampai marah dan pernah mengusirku.”

Kong Tek menggeleng kepalanya dan menghela napas panjang. “Mengapa harus memandang rendah? Aku malah kasihan kepadamu, Nona, dan aku kagum. Engkau telah salah pilih, bukan kesalahanmu kalau kau jatuh cinta kepada seorang laki-laki yang pada lahirnya kelihatan menarik, dan aku kagum bahwa di dalam cintamu itu, biarpun kemudian ternyata bahwa kau salah pilih, engkau berani bertanggung jawab dan menanggung semua akibatnya.”

Giok Keng menarik napas panjang. Sungguh sukar sekali, menghadapi pemuda ini sama halnya dengan menghadapi batu karang yang kokoh kuat, yang tidak goyah sedikit pun biar ada gempa bumi! Atau sebongkah bukit es, yang dingin! Dia menjadi makin penasaran. Di antara segala macam pria yang telah dijumpainya di dalam hidupnya, hanya ada dua orang yang pernah menariknya. Pertama adalah Kun Liong dan kedua adalah Bu Kong. Akan tetapi, baru sekarang dia bertemu dengan seorang laki-laki seperti Kong Tek! Kun Liong dan Bu Kong ternyata masih lemah, begitu jelas membuktikan kekaguman terhadap dirinya melalui pandang mata dan kata-kata, akan tetapi pemuda ini benar-benar seperti batu karang yang mati!

“LIE-TOAKO, kenapa engkau selalu membelaku mati-matian?”

Kalau tadi Kong Tek menghadapi semua pertanyaan gadis itu dengan tenang, kini dia kelihatan gelisah dan bingung!

“Kenapa? Hal itu sudah semestinya, Nona, sudah menjadi kewajibanku seperti diajarkan oleh Suhu untuk menolong sesama hidup yang dilanda bahaya.”

“Tapi engkau membelaku dengan pengorbanan diri, beberapa kali engkau menghadapi maut demi aku. Mengapa, Toako?”

Hening sejenak, kemudian terpaksa Kong Tek menjawab, “Aku sendiri tidak tahu, Nona. Akan tetapi aku tidak rela melihat engkau sengsara, aku tidak akan diam saja melihat engkau diancam bahaya, aku ingin melihat engkau bahagia, Nona. Seorang seperti engkau ini… pantasnya hidup dalam kebahagiaan. Itulah agaknya yang menyebabkan aku selalu siap membelamu, Nona.”

Jawaban ini keluar dari lubuk hati Kong Tek. Memang pemuda ini selama hidupnya tidak pernah membohong, akan tetapi menghadapi desakan dan pertanyaan-pertanyaan dari Giok Keng dia merasa bingung untuk menjawab. Gurunya telah mengatakan bahwa dia jatuh cinta kepada gadis ini, akan tetapi dia sendiri tidak tahu bagaimanakah rasanya jatuh cinta itu! Gurunya malah hendak menjodohkan dia dengan gadis ini dan dia merasa betapa akan bahagianya hidupnya kalau hal itu terlaksana, namun betapa mungkin dia menyatakan hal ini kepada Giok Keng? Dia merasa malu dan khawatir kalau-kalau hal itu akan menyusahkan hati Giok Keng, hal yang paling tidak dikehendakinya.

“Toako, mengapa tidak bicara terus terang saja? Kalau memang engkau cinta padaku, mengapa tidak mau terus terang?”

Wajah Kong Tek berubah merah sekali. “Aku… aku…”

“Ya, kau cinta padaku, Toako. Kau cinta padaku!” Giok Keng berkata penuh desakan. Ingin dia mendengar mulut pemuda itu mengaku cinta agar dia dapat menebus rasa penasaran hatinya, dapat memuaskan kemendongkolan hatinya dengan mengejek dan mempermainkan pemuda yang seperti batu karang itu!

“Ahhh… aku… aku…”

“Toako, awas…!”

Giok Keng menjerit dan dia sudah melempar tubuhnya ke belakang sambil menyambar lengan Kong Tek sehingga pemuda itu pun melempar tubuh ke belakang.

“Wirrr… wirrr…!”

Dua sinar putih menyambar dan lewat. Ternyata itu adalah dua batang hui-to (golok terbang) yang dilemparkan orang untuk menyerang mereka, atau mungkin hanya untuk menggertak belaka. Giok Keng dan Kong Tek sudah meloncat bangun dan siap menghadapi lawan. Ketika mereka memandang, mereka berdua terkejut bukan main mengenal tiga orang itu yang ternyata adalah Thian Hwa Cinjin, Ketua Pek-lian-kauw wilayah timur, Bong Khi Tosu pendeta Pek-lian-kauw kurus seperti tengkorak hidup, dan Hwa I Lojin kakek ahli pedang pesolek yang bersekutu dengan Pek-lian-kauw. Tentu saja mereka berdua amat terkejut karena maklum bahwa mereka berhadapan dengan tiga orang lawan yang amat tangguh, terutama sekali Thian Hwa Cinjin ketua Pek-lian-kauw wilayah timur yang amat lihai ilmu silatnya, juga amat lihai ilmu sihirnya itu!

“Ha-ha-ha, engkau telah mengagetkan dua ekor burung ini, Lojin!” Thian Hwa Cinjin tertawa girang karena memang hatinya senang sekali bertemu dengan puteri pendekar Cia Keng Hong Ketua Cin-ling-pai itu. Dia mendendam kepada Ketua Cin-ling-pai dan kalau dia dapat menangkap puterinya ini, dia akan dapat membalas dendam, bahkan akan dapat memaksa kepada pendekar itu untuk membantu Pek-lian-kauw!

“Heh-heh-heh, janda kembang ini masih muda dan cantik bukan main!” Hwa I Lojin berkata memandang kepada Giok Keng.

“Janda apa? Dia masih perawan, belum sempat disentuh oleh Liong Bu Kong yang tolol, heh-heh!” Thian Hwa Cinjin yang berwatak cabul itu berkata, “Hati-hati, jangan kalian sampai melukainya, kita harus dapat menangkapnya hidup-hidup! Sayang sekali kalau kulit yang halus itu ada yang lecet!”

“Pendeta-pendeta palsu! Munafik-munafik keparat, lahirnya saja menjadi pendeta akan tetapi batinnya kotor dan cabul!” Lie Kong Tek sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi mendengar percakapan antara Thian Hwa Cinjin dan Hwa I Lojin itu. Dia sudah mencabut Gin-hong-kiam dan menyerang Thian Hwa Cinjin karena dia tahu bahwa di antara mereka bertiga, Ketua Pek-lian-kauw inilah yang menjadi kepala dan pemimpinnya.

“Cringgg…!” Lie Kong Tek melompat mundur dan tangannya yang memegang pedang tergetar hebat ketika pedangnya ditangkis oleh pedang Hwa I Lojin.

“Ha-ha-ha. Kauwcu (Ketua), biarkan aku menghadapi pemuda ini agar Ji-wi berdua dapat menangkap gadis itu baik-baik,” kata kakek berbaju kembang dan bersikap sombong itu sambil meloncat ke depan dan memutar pedangnya menghadapi Kong Tek. Pemuda ini pun mengeluarkan gerengan marah, pedang Gin-hong-kiam diputar cepat sehingga tampaklah segulungan sinar perak yang menyilaukan mata. Namun sambil tertawa, Hwa I Lojin si ahli pedang itu menyambut serangan ini dan mereka segera terlibat dalam pertandingan yang seru dan mati-matian.

Kembali diam-diam hati Giok Keng terharu menyaksikan kegagahan Kong Tek yang selalu tanpa ragu-ragu menyerang musuh dan membelanya mati-matian. Dia maklum betapa lihainya tiga orang itu, maka dia mengambil keputusan untuk mengamuk dan kalau perlu mengadu nyawa dengan mereka.

“Thian Hwa Cinjin, biarlah aku mengadu nyawa dengan engkau tua bangka busuk dan jahat!” bentaknya dan dara ini pun sudah memutar pedangnya yang seperti pedang di tangan Kong Tek, juga mengeluarkan sinar perak yang tentu saja jauh lebih cemerlang dan hebat daripada gerakan Kong Tek karena memang tingkat kepandaian puteri Cin-ling-pai ini jauh lebih tinggi.

“Tranggg! Trakkk!” Pedang Gin-hwa-kiam di tangan Giok Keng telah ditangkis oleh tongkat di tangan Thian Hwa Cinjin yang tertawa-tawa. Ketika melihat pembantunya, Bong Khi Tosu maju pula untuk membantunya, Ketua Pek-lian-kauw itu berkata, “Jangan bantu aku, lebih baik kau cepat membantu Hwa I Lojin merobohkan pemuda nekat itu!”

Bong Khi Tosu menarik kembali tongkatnya lalu menyerbu Kong Tek, membantu Hwa I Lojin yang sudah mulai mendesak sehingga keadaan Kong Tek menjadi terancam sekali. Namun pemuda itu tidak kelihatan gentar, bahkan mengamuk makin hebat sambil memutar pedangnya dan beberapa kali mengeluarkan suara bentakan hebat seperti gerengan seekor singa marah.

Adapun Giok Keng juga repot sekali menghadapi desakan tongkat hitam di tangan Ketua Pek-lian-kauw yang lihai itu. Yang membuat hatinya makin gelisah lagi adalah melihat kenyataan betapa Kong Tek dikepung dan didesak hebat, dan dia tahu bahwa dua orang kakek yang mengepung Kong Tek itu berniat untuk membunuh pemuda itu. Hatinya menjadi gelisah sekali. Kong Tek tentu akan tewas, mana mungkin dapat melawan dua orang kakek itu! Ngeri dia memikirkan Kong Tek tewas, pemuda yang dikaguminya dan yang makin lama makin merampas perhatian dan hatinya itu. Kini melihat betapa pemuda itu terancam dan betapa hatinya gelisah bukan main, baru dia sadar bahwa sesungguhnya dia jatuh cinta kepada pemuda yang dianggapnya dingin kaku dan yang hendak digodanya itu!

“Dessss… auggghhh…!”

“Toako…!” Giok Keng menjerit keiika dia mendengar keluhan pemuda itu dan melihat betapa pemuda itu roboh bergulingan dikejar dua orang kakek sambil tertawa-tawa. Pedang di tangan Hwa I Lojin menyambar-nyambar, sedangkan tongkat Bong Khi Tosu kembali menghantam dan hampir saja mengenai kepala Kong Tek kalau pemuda itu tidak cepat menggelindingkan tubuhnya.

“Toako…!” Giok Keng meloncat, meninggalkan lawannya untuk menolong pemuda itu, akan tetapi kelihatan bayangan berkelebat tahu-tahu tubuh Thian Hwa Cinjin sudah menghadang di depannya sambil tertawa-tawa.

“Ha-ha-ha, Nona Cia yang manis. Untuk apa pemuda tolol itu. Biar dia mampus dan disiksa oleh Bong Khi Tosu dan Hwa I Lojin, sedangkan kau lebih baik menyerah dan ikut bersama pinto ke Pek-lian-kauw. Percayalah, pinto tidak hendak mengganggumu asal engkau suka menurut dan menyerah.”

Sementara, itu, Kong Tek sudah meloncat bangun namun terjungkal lagi oleh tusukan pedang Hwa I Lojin yang sengaja mempermainkannya sehingga tusukan pedang itu hanya menyerempet paha dan menimbulkan luka berdarah akan tetapi belum membahayakan nyawanya.

“Toako… ahhh…! Thian Hwa Cinjin, dengarkan aku! Aku menyerah, aku tidak melawan asal Lie-toako tidak dibunuh. Bebaskan dia dan aku menyerah!”

“Nona Cia, jangan…!” Kong Tek membentak dan kembali memutar pedangnya. Akan tetapi, Thian Hwa Cinjin sudah menjawab, “Baik!” Lalu dia meloncat dekat Kong Tek, tongkatnya bergerak dan pedang di tangan Kong Tek terlempar, kemudian pemuda itu roboh oleh totokan ujung tongkat hitam yang lihai.

“Ha-ha-ha, serahkan pedangmu, Nona. Kami tidak akan membunuhnya!” kata Ketua Pek-lian-kauw itu.

Giok Keng sudah mengenal kakek ini, maklum akan kekejaman dan kepalsuan hatinya, maka dia berkata, “Aku menyerah, akan tetapi dia harus ditawan bersamaku pula. Baru aku yakin bahwa kalian tidak akan membunuhnya. Kalau tidak, aku akan melawan sampai mati!”

“Hemmm… hemmm… untuk apa orang macam dia?” Ketua Pek-lian-kauw itu masih merasa mendongkol terhadap pemuda itu yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Bu Li Cun, gadis yang menjadi korbannya dan yang masih dicintanya.

“Pendeknya, mau atau tidak? Kalau tidak mau, biar aku mengadu nyawa denganmu!”

“Baiklah, baiklah!” Lalu dia berkata kepada Bong Khi Tosu, “Bawa dia bersama kita.”

Giok Keng terpaksa menyerahkan pedangnya dan dia mengikuti tiga orang kakek itu yang mengajaknya ke sarang Pek-lian-kauw di muara Sungai Huai di pantai Laut Kuning. Sekali ini dia terpaksa mengalah dan menyerah demi keselamatan Kong Tek, dan juga dia maklum bahwa andaikata dia tidak menyerah dia tentu akan tewas bersama Kong Tek di bawah senjata tiga orang kakek lihai itu! Harapannya timbul ketika di dalam perjalanan menuju ke sarang Pek-lian-kauw, Thian Hwa Cinjin menyatakan maksud hatinya menawan Giok Keng, yaitu untuk membujuk Ketua Cin-ling-pai untuk membantu Pek-lian-kauw.

“Asal engkau tidak mengganggu kami berdua, aku pun tidak akan melawan, dan mungkin Ayah akan mempertimbangkan uluran tanganmu untuk bekerja sama asal engkau tidak mengganggu kami.” Demikian jawabnya dan Giok Keng benar-benar tidak melawan sampai dia bersama Kong Tek tiba di sarang Pek-lian-kauw. Kong Tek dimasukkan ke dalam sebuah kamar yang terjaga kuat, dan Giok Keng mendapat kamar di sebelahnya, juga terjaga kuat. Giok Keng diperbolehkan pula untuk merawat dan menjenguk sahabatnya itu.

“Ahhh… di mana kita…?” Inilah ucapan Kong Tek pertama kalinya ketika dia siuman dan mendapatkan dirinya rebah di atas pembaringan di dalam sebuah kamar, sedangkan Giok Keng duduk di atas bangku dekat pembaringannya.

“Ssssttt…!” Giok Keng menaruh telunjuk di depan bibirnya. “Kita telah kalah dan tertawan.”

Mendengar ini, Kong Tek melompat turun dan menyeringai kesakitan. Dia telah menderita luka-luka akibat pertandingan melawan dua orang kakek lihai, akan tetapi sambil menahan sakit dan mengepal tinjunya dia berkata, “Mari kita lawan mereka!”

Giok Keng memegang lengan pemuda itu. “Tenanglah, Toako. Kau perlu istirahat agar luka-lukamu sembuh. Aku memang telah menyerah kepada mereka setelah melihat engkau hendak dibunuh.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: