Dewi Maut (Jilid ke-1)

Dewi Maut

(lanjutan dari Petualang Asmara)

by Kho Ping Hoo


Telaga itu amat luas sekali, dari tepinya tampak seolah-olah lautan bebas, dengan pulau-pulau di tengahnya yang kelihatan subur penuh dengan pohon-pohon lebat. Telaga itu dikelilingi pegunungan yang kaya akan hutan sehingga merupakan cermin besar yang menampung bayangan pohon-pohon di dalamnya, membuat air telaga kadang-kadang kelihatan hijau jernih. Di waktu matahari naik tinggi, jika kita memandang ke telaga itu, seolah-olah kita berhadpan dengan sebuah dunia ajaib di mana segala-galanya nampak terbalik, dan telaga itu seperti sebuah mangkok wasiat vang menelan seluruh dunia, pohon-pohon gunung-gunung, bahkan langitpun ditelannya!

Amat indah pemandangan di sekitar telaga, indah tenteram, penuh suasana damai, sunyi-senyap dan tenang. Sepantasnya tempat seperti itu menjadi contoh penggambaran taman sorga. Akan tetapi tidak demikianlah kenyataannya. Keadaan di situ amat sunyi senyap karena memang orang-orang, para penghuni dusun-dusun di sekitar daerah itu, tidak berani mendekati telaga ini. Telaga Kwi-ouw (Telaga Setan), demikianlah telaga ini dinamakan orang!

Tidak ada yang tahu bagaimana riwayatnya mengapa telaga seindah itu dinamakan Telaga Setan, akan tetapi puluhan tahun yang lalu, telaga ini merupakan sumber nafkah bagi ratusan orang penghuni di sekitar daerah itu yang setiap hari dan terutama malam mencari ikan yang banyak terdapat di dalam air telaga. Akan tetapi semenjak pulau di Telaga Setan itu, sebuah di antara pulau-pulau itu, yang terbesar, menjadi sarang para hek-to (golongan jalan hitam), yaitu kaum sesat yang membentuk perkumpulan yang dinamakan Kwi-eng-pang (Perkumpulan Bayangan Setan), maka tempat itu menjadi sepi, menjadi tempat yang amat berbahaya sehingga tidak ada lagi penduduk yang berani mendekatinya.

Belasan tahun yang lalu, perkumpulan Kwi-eng-pang yang bersarang di atas pulau itu seolah-olah menjadi pemilik dan menguasai Telaga Kwi-ouw, diketuai oleh pendirinya, yaitu seorang datuk kaum sesat wanita yang amat terkenal dengan julukannya Kwi-eng Nio-cu (Nona Bayangan Hantu). Akan tetapi perkumpulan yang terdiri dari kaum sesat dan amat ditakuti rakyat ini, kurang lebih lima belas tahun yang lalu, telah dihancurkan oleh Pasukan Pemerintah yang dibantu oleh orang-orang gagah (baca cerita Petualang Asmara). Si Bayangan Hantu yang menjadi ketuanya tewas, para pembantu-pembantunya yang merupakan pimpinan Kwi-eng-pang terbasmi habis, bahkan sebagian besar anggauta Kwi-eng-pang tewas dalam pertempuran melawan pasukan pemerintah, sedangkan sisanya melarikan diri cerai berai meninggalkan pulau di Telaga Setan itu.

Bertahun-tahun pulau itu kosong, akan tetapi Telaga Setan tetap menyeramkan, dan tetap saja sunyi senyap karena rakyat masih tidak berani mendekati telaga yang terkenal angker dan berbahaya ini. Apalagi sekarang, setelah rakyat melihat betapa pulau di tengah telaga itu “hidup” kembali, terdapat berita bahwa Kwi-eng-pang yang pernah dihancurkan pemerintah itu kini dibangun kembali, bahkan kabarnya lebih ganas dan lebih jahat daripada dahulu sebelum dibasmi pemerintah!

Sukar memang menentukan mana yang lebih ganas dan kejam antara Kwi-eng-pang yang dahulu dan yang sekarang karena berita seperti itu biasanya memang dilebih-lebihkan oleh mereka yang ketakutan. Akan tetapi memang benar bahwa orang-orang Kwi-eng-pang sekarang telah kembali ke pulau di tengah Telaga Setan itu! Sisa para anggauta Kwi-eng-pang yang sempat menyelamatkan diri, kini kembali bersama banyak anggauta baru, diketuai oleh seorang laki-laki, berusia hampir lima puluh tahun yang memiliki kepandaian tinggi dan berjuluk Hek-tok-ciang (Si Tangan Beracun Hitam). Hek-tok-ciang ini bernama Kiang Ti dan dia adalah murid dari mendiang Si Bayangan Hantu. Ketika subonya (ibu gurunya) masih menjadi ketua Kwi-eng-pang, Kiang Ti ini telah menjadi ketua dari perkumpulan Ui-hong-pang yang berada di lembah Sungai Huang-ho, di lereng Bukit Ui-tiong-san. Kini, melihat betapa pulau bekas sarang gurunya itu kosong, dan banyak anggauta Kwi-eng-pang yang berhasil lolos dari pembasmian pemerintah, sebagai murid kepala, Kiang Ti lalu mengumpulkan mereka, digabung dengan para anggautanya sendiri, kemudian setelah lewat belasan tahun pemerintah tidak lagi menaruh perhatian kepada Telaga Setan, Kiang Ti memboyong anak buahnya pindah ke pulau di tengah Telaga Setan dan tempat itu menjadi sarang mereka yang kembali memakai nama Kwi-eng-pang untuk melanjutkan perkumpulan yang pernah dipimpin gurunya.

Dasar mata pencaharian mereka adalah menangkap ikan yang banyak terdapat di telaga, juga bertani di tepi telaga dan di pulau yang tanahnya subur. Akan tetapi di samping pekerjaan yang halal ini, mereka tidak segan-segan untuk melakukan pekerjaan sampingan apa saja asal menguntungkan, termasuk membajak, merampok dan mengganggu dusun-dusun di sekitar daerah itu! Dengan “pekerjaan” yang banyak macamnya ini, Kiang Ti berhasil mengumpulkan kekayaan dan bangunan-bangunan di pulau itu diperbaiki bahkan ditambah, dan para anggautanya mulai membentuk keluarga-keluarga dengan isteri-isteri yang rata-rata cantik karena wanita-wanita ini adalah pilihan-pilihan mereka yang mereka culik dari dusun-dusun sekitarnya dan dari mana saja!

Pagi hari itu pemandangan di tepi telaga amatlah indahnya. Matahari yang baru timbul menyinarkan cahaya keemasan, belum menyilaukan pandangan mata dan daun-daun muda di puncak pohon-pohon bermandikan cahaya keemasan, membuat puncak-puncak pohon menjadi berkilauan penuh seri bahagia, penuh nikmat hidup. Sebagian dari cahaya yang terlampau banyak sehingga tidak tertampung oleh daun-daun di puncak pohon, menerobos melalui celah-celah pohon, melalui ranting dan dahan, membentuk sinar-sinar keputihan dengan garis-garis lurus penuh kekuatan dan daya cipta, sempat menyentuh rumput dan lumut yang tumbuh di bawah pohon-pohon yang lebat daunnya itu. Dua ekor burung kecil berbulu biru putih berloncatan di atas dahan pohon, lalu berhenti di bagian yang tertimpa cahaya matahari pagi, menggoyang-goyang tubuh sehingga semua bulu di tubuhnya mekrok berdiri, membersihkan bulu sayap dan ekor dengan paruhnya yang kecil kemerahan. Terdengar kicau burung teman-teman mereka di kejauhan dan mereka segera melupakan lagi pekerjaan mereka yang mengasyikkan itu, membalas kicauan itu dan terbang menuju ke arah suara teman-teman mereka, lincah dan gembira karena hidup baru telah mulai pagi itu, penuh kebahagiaan dan keindahan yang dapat dinikmati setiap saat.

Rumput-rumput di tepi telaga yang jarang diinjak kaki manusia itu tampak segar berseri-seri pagi itu, dihias dengan mutiara-mutiara air embun pagi yang masih belum mau menyerah kalah oleh sinar matahari yang masih terlalu lembut, belum cukup kuat untuk mencairkan kekentalan air embun dan memaksanya turun meresap ke dalam tanah dihisap akar-akar rumput yang tidak pernah kekeringan. Air telaga itu sendiri tenang, sama sekali tidak bergerak, tidak ada keriput, seperti sebuah cermin besar yang menampung segala keindahan di sekelilingnya, dan matahari sendiri langsung terjun ke dalam air telaga, bundar kemerahan, mulai menyilaukan mata dan sinarnya membentuk cahaya memanjang di atas permukaan air.

Kicau burung bertambah riuh gembira. Dua ekor burung berbulu putih yang agak besar berkejaran di atas rumput dekat telaga, semacam burung meliwis putih yang agaknya bercumbuan di pagi hari itu, menyambut keindahan pagi dengan pernyataan cinta berahi yang tiba-tiba mendesak di seluruh syaraf dan perasaan. Dengan gerakan indah dan ringan, burung jantan menyambar hinggap di atas punggung yang betina, yang mengelak manja dan seolah-olah mentertawakan menambah gairah, berlari setengah terbang di antara rumput membuat embun-embun mutiara beterbangan, dikejar oleh yang jantan sambil mengeluarkan pekik kemenangan.

“Wirrrr… plokkk!” Tiba-tiba burung jantan itu terpelanting dan roboh terlentang tak bergerak lagi. Burung betina menjerit dan terbang ketakutan, menghilang di antara daun-daun pohon.

Keindahan tak dapat dinikmati lagi, dan kekerasan serta keganasan yang kejam selalu muncul apabila terdapat manusia, mahluk yang merasa dirinya paling suci dan paling unggul. Lima orang wanita sambil tertawa-tawa muncul dari balik pohon-pohon, melangkah ringan mendekati burung jantang yang telah mati.

“Hi-hi-hik, bidikanmu tepat sekali, adik Lui Hwa! Selagi dia mengejar betina yang patut dikasihani itu, engkau menyambitnya tepat menghancurkan kelakiannya. Hi-hik!” berkata seorang di antara mereka setelah memungut bangkai burung itu dan memeriksa dan mendapat kenyataan bahwa burung itu terkena sambitan batu tepat pada bawah ekornya sehingga bagian itu hancur dan mati seketika.

“Sudah, tidak perlu memuji, enci. Kalian berempat belum memperoleh seekorpun binatang untuk makan pagi kita!”

“Jangan khawatir, tempat ini banyak binatang dan burungnya.”

“Tapi hati-hati, jangan salah membunuh yang betina!”

“Mana mungkin salah! Aku tidak sudi makan daging binatang betina!”

Dengan gerakan yang amat cepat, empat orang di antara lima orang wanita ini berpencar, menyusup di antara pohon-pohon dan tak lama kemudian sambil tertawa-tawa mereka berkumpul lagi di tepi telaga, ada yang membawa bangkai seekor kelinci, ada yang membawa burung dan ada pula ayam hutan. Akan tetapi hebatnya, semua binatang itu adalah jantan dan semua disambit tepat mengenai alat kelaminnya! Sambil tertawa-tawa mereka lalu membersihkan bangkai-bangkai itu, membuat api unggun, menggarami dan membumbui daging-daging itu dengan bumbu yang mereka bawa sebagai bekal, dan dipangganglah daging-daging itu. Mereka duduk mengelilingi api unggun sambil bercakap-cakap dan bersendau gurau.

Lima orang ini adalah wanita-wanita yang usianya paling banyak tiga puluh tahun dan berpakaian seragam atau sama semua. Rata-rata wajah mereka cantik-cantik dan gagah, dengan pedang di punggung dan rambut yang sanggulnya dihias sebuah mainan burung hong terbuat dari batu kemala! Yang tadi disebut bernama Lui Hwa adalah yang termuda dan tercantik di antara mereka, berusia kurang lebih dua puluh tujuh tahun dan biarpun dia merupakan orang termuda, akan tetapi agaknya dialah yang menjadi pimpinan rombongan wanita cantik yang aneh ini. Dan memang sesungguhnya demikianlah. Mereka itu adalah lima orang anggauta perkumpulan Giok-hong-pang (Perkumpulan Burung Hong Kemala) dan orang termuda bernama Lui Hwa itu merupakan orang yang memiliki kepandaian lebih tinggi daripada empat orang yang lainnya.

Setelah makan bersama daging-daging panggang itu dan minum air telaga yang jernih, mereka lalu duduk di tepi telaga menghadap ke arah pulau besar di tengah telaga yang menjadi sarang perkumpulan Kwi-eng-pang.

“Bagaimana kita dapat menyeberang ke pulau itu?”

“Mengapa begini sepi, tidak ada seorangpun di tepi telaga?”

“Kita harus mencari tepi yang terdekat dengan pulau itu.”

“Lalu bagaimana kita dapat menyelidiki kalau tidak berada di sana?” Lui Hwa berkata sebagai jawaban keempat orang kawannya itu. “Keterangan yang kita peroleh dari penduduk daerah ini memang menyatakan bahwa tempat ini amat sunyi karena tidak ada penduduk yang berani mendekati. Dan kurasa kita hanya dapat menyeberang ke sana dengan perahu. Menurut penyelidikan, para anggauta Kwi-eng-pang suka mencari ikan, tentu nanti akan ada perahu yang mendekati pantai, dan kita boleh menyergapnya.”

“Hwa-moi (adik Hwa), tempat ini kelihatan penuh rahasia dan menyeramkan, tentu engkau sudah hafal benar dan tidak sampai terjeblos ke dalam perangkap, bukan?”

“Jangan khawatir, teman-teman!” Lui Hwa berkata. “Pangcu (ketua)sudah memberi keterangan sejelas-jelasnya. Dengar baik-baik agar kalian juga dapat mengenal keadaan. Pantai sini merupakan pantai terdekat dari pulau besar dan merupakan pantai teraman, sehingga mereka yang mencari ikan dari pulau itu tentu akan pergi ke sini. Arah perahu dari sini ke pulau harus lurus dari pantai ini dan mendarat di pulau itu tepat pada tonjolan teluk pulau yang ada pohon kembarnya yang tampak dari sini itu, sedangkan penunjuk pantai ini adalah batu besar berbentuk rumah di belakang kita ini. Jalan ini paling aman, karena yang sebelah kiri penuh dengan kembang teratai putih itu, di bawahnya terdapat banyak tanaman air yang dapat melibat dan menahan lajunya perahu, bahkan dapat menahan perahu sehingga tidak dapat bergerak lagi. Di sebelah kanan yang penuh dengan kembang teratai merah itu, banyak terdapat batu-batu karang besar mendekati permukaan air yang tertutup daun-daun teratai sehingga dapat merusak perahu yang membenturnya, juga banyak dipasangi alat rahasia di situ. Nah, cukup sekian dulu, nanti kalau kita sudah berhasil mendarat di antara dua pohon kembar di sana itu, akan kuberitahukan lagi rahasia memasuki pulau itu dengan aman.”

Empat orang wanita yang lainnya mendengarkan penuh perhatian dan memandang ke arah tempat-tempat yang ditunjukkan oleh Lui Hwa.

“Indah dan mengagumkan, juga aman sekali tempat ini kalau dapat menjadi sarang perkumpulan kita.”

“Pantas saja pangcu mengutus kita menyelidiki keadaan Kwi-eng-pang dan berniat mengajak kita semua pindah ke sini.”

“Akan tetapi bagaimana dengan para anggauta Kwi-eng-pang? Aku benci kalau harus hidup bersama laki-laki, di tempat yang betapa indahpun.”

“Akupun tidak sudi, bisa pendek umurku!”

“Hushh, kalian jangan bicara sembarangan.” Lui Hwa berkata. “Apakah kaukira pangcu juga sudi? Pangcu lebih membenci pria daripada kita semua, ini kalian sudah tahu, mengapa meragukan niat pangcu. Kalau pangcu berkenan pindah ke sini, tentu semua pria akan diusir atau dibasmi habis dari pulau itu dan dari sekitar daerah ini.”

“Bagus!” teriak yang bertahi lalat merah kecil di bawah dagunya. “Berikan beberapa belas orang laki-laki itu untuk mampus di tanganku!”

“Ingat, enci, pangcu sudah berkali-kali memperingatkan kita bahwa betapapun bencinya kita kepada kaum pria, kita tidak boleh membunuh mereka begitu saja tanpa sebab. Kita bukaniah kaum penjahat yang haus darah, melainkan segolongan wanita yang telah dirusak hidupnya dan disakitkan hatinya oleh kaum pria dan kini telah dibina olch pangcu menjadi kesatuan yang kokoh kuat dan tidak lagi sudi menjadi korban keganasan kaum pria. Kita bukanlah lagi menjadi alat pemuas nafsu berahi kaum pria, menjadi budak selama hidup dari kaum pria! Akan tetapi kitapun bukanlah pembunuh-pembunuh keji den manusia-manusia rendah.”

Empat orang itu memandang kepada Lui Hwa dan kelihatan takut, mengangguk dan tidak berani lagi mengutarakan kebencian mereka terhadap kaum pria secara berlebihan.

Tiba-tiba Lui Hwa memberi tanda, dan mereka berlima cepat meloncat dan dalam sekejap mata saja mereka telah lenyap, bersembunyi dl balik batu besar dan mengintai ke arah telaga. Tampak dua perahu kecil meluncur cepat dari pulau menuju ke tengah telaga, membawa alat-alat penangkap ikan seperti jala, dan pancing. Setiap perahu kecil ditumpangi dua orang dan mereka mendayung perahu-perahu itu dengan cepat dan makin mendekati tepi di mana terdapat batu besar itu.

“Kalian pancing mereka agar mendarat di tepi,” Lui Hwa berkata kepada empat orang teman-temannya. “Sembunyikan pedang kalian dan berpura-puralah sebagai pelancong-pelancong daerah lain yang tidak tahu-menahu tentang telaga dan ingin menikmati keindahan telaga ini. Usahakan agar mereka semua dapat keluar dari perahu dan mendarat, baru aku akan muncul dan kita bunuh mereka semua. Kalau tidak dibunuh, mereka bisa membahayakan tugas penyelidikan kita. Mengertikah semua?”

“Adik Lui Hwa, bolehkah aku membunuh seorang di antara mereka?” tanya yang bertahi lalat merah kecil di bawah dagunya.

“Nanti, tunggu komandoku, jangan lancang tangan. Kalau sampai di antara mereka ada yang lolos dan melarikan diri dengan perahu, kita tidak akan mampu mengejar dan menangkapnya.”

Perahu itu makin dekat kini, bahkan yang sebuah sudah berhenti dan dua orang penumpangnya mulai memeriksa jala. Tiba-tiba empat orang penumpang perahu itu terkejut mendengar teriakan-teriakan suara wanita dan mereka bengong terheran-heran ketika menengok ke tepi telaga dan melihat ada empat orang wanita yang berteriak-teriak, memanggil dan melambai-lambai tangan.

“Heiii…! Tukang perahu…!”

“Kami ingin pesiar naik perahu!”

“Kami ingin menyewa perahu kalian!”

“Kami adalah pelancong-pelancong dari luar daerah!”

Empat orang laki-laki itu saling pandang dan tersenyum.

“Aneh,” kata seorang di antara mereka. “Dari mana datangnya empat orang wanita itu?”

“Jangan-jangan mereka itu mata-mata musuh…”

“Ah, tidak mungkin. Mereka adalah wanita-wanita lemah… hemmm, cantik-cantik dan lihat potongan tubuh mereka…!”

“Masih muda-muda lagi, dan tentu bukan wanita kang-ouw, mereka tidak memhawa senjata.”

“Betapapun juga, mereka mencurigakan, sebaiknya kita tangkap dan hadapkan kepada pangcu.”

Sementara itu, empat orang wanita itu melambai-lambaikan tangan dan jelas nampak oleh empat orang anggauta Kwi-eng-pang betapa mereka itu bersikap genit dan tersenyum-senyum manis! Dua buah perahu itu lalu didayung dan meluncur cepat menuju ke tepi telaga. Perahu berhenti di pinggir dan kini empat orang anggauta Kwi-eng-pang memandang kagum. Setelah dekat, mereka melihat jelas bahwa empat orang wanita itu adalah wanita-wanita yang sudah matang, kurang lebih tiga puluh tahun usianya, berpotongan tubuh yang ramping menggiurkan, berwajah rata-rata manis dan hiasan rambut berbentuk burung hong kemala itu amat menarik hati.

Siapakah nona sekalian dan bagaimana bisa sampai di tempat sunyi ini?” tanya seorang di antara empat anggauta Kwi-eng-pang.

Wanita bertahi lalat kecil merah di bawah dagu mewakili teman-temannya. Dia adalah yang paling manis di antara empat orang itu dan kini dia berkata dengan sikap menarik, “Aihhh… kami adalah pelancong-pelancong dan sesampainya di tepi telaga ini, rombongan kami hendak berburu binatang di pegunungan itu. Kami lelah dan sengaja menanti di sini. Telaga begini indah akan tetapi tidak ada perahu, hati kami kesal. Melihat kalian berperahu, kami ingin menyewa perahu kalian…”

“Kami… kami bukan tukang perahu!”

Wanita itu tersenyum, nampak deretan gigi yang putih dan rapi. “Tukang perahu atau bukan, yang penting bagi kami adalah perahu-perahunya. Kalian minta upah berapapun kami sanggup membayarnya.”

“Kami tidak butuh uang!”

“Kalau begitu, minta upah apakah?” Si tahi lalat itu tersenyum dan melirik genit, sedangkan tiga orang temannya menjadi merah mukanya. Melihat muka mereka merah dan sikap genit itu, empat orang anggauta Kwi-eng-pang berdebar hatinya. Mereka mengira bahwa empat orang wanita ini tentulah wanita-wanita iseng dan kini timbul gairah di tempat sunyi romantis itu, warna merah di pipi mereka dianggapnya sebagai tanda malu-malu kucing, jinak-jinak merpati. Tentu saja mereka tidak pernah mimpi bahwa warna merah di pipi itu adalah warna kemarahan yang meluap-luap!

“Eh, nona. Benarkah kalian berempat mau memberi upah apa saja kepada kami kalau kami mau membawa nona ke dalam perahu?”

Si tahi lalat menahan ketawa, menutupkan punggung tangan dengan sikap genit ke depan mulutnya yang kecil dan berbibir merah. “Hi-hik, bicara soal itu patutkah berteriak-teriak seperti itu? Malu ah, terdengar orang lain. Apakah kalian tidak bisa ke sini, dan bicarakan soal upah itu dengan baik-baik di sini, tanpa berteriak-teriak seperti itu?” Setelah berkata demikian, si tahi lalat lalu mundur dan duduk di atas tanah berumput, sengaja duduk dengan gaya memikat dan membusungkan dadanya. Tiga orang temannya juga melakukan hal yang sama, bahkan sengaja duduk agak saling menjauh.

Seperti sekelompok anak kecil dipikat dengan kembang gula, empat orang anggauta Kwi-eng-pang itu tertawa-tawa dan cepat mendaratkan perahu, mengikat tali perahu ke batang pohon. Mereka saling pandang dan saling bermufakat, yaitu satu lawan satu! “Rejeki” nomplok di pagi hari ini seperti hadiah para dewa dan tentu saja tidak mau mereka lewatkan begitu saja. Setelah menikmati tantangan, baru mereka akan memikirkan tentang menawan mereka itu dan menghadapkan mereka kepada ketua, karena kalau sudah berada di depan ketua mereka, tentu tidak mungkin akan terbuka kesempatan baik seperti itu, mengingat bahwa mereka hanyalah anggauta tingkat bawahan saja! Sambil tersenyum dan dengan jantung berdebar-debar, mereka lalu berjalan menghampiri empat orang wanita cantik itu, dan seperti telah diatur, masing-masing menghampiri wanita yang telah dipilihnya dari jauh.

Tiba-tiba mereka berempat terkejut sekali ketika melihat bayangan berkelebat cepat ke arah belakang mereka. Ketika mereka membalik, mereka melihat seorang wanita lain yang lebih cantik, kini telah berdiri di belakang mereka, menghadang antara mereka dan perahu mereka, dengan wajah dingin wanita muda ini berkata, “Bunuh mereka semua!” Wanita ini bukan lain adalah Lui Hwa yang telah muncul keluar dari tempat sembunyinya.

Empat orang anggauta Kwi-eng-pang itu terkejut dan juga marah bukan main. Tahulah mereka bahwa lima orang wanita ini adalah mata-mata fihak yang memusuhi Kwi-eng-pang.

“Srat-sratt… singggg…!” Mereka segera mencabut golok besar yang tergantung di pinggang masing-masing lalu menerjang ke depan, ke arah empat orang wanita itu sambil membentak, “Keparat, kalian ternyata adalah mata-mata!”

Akan tetapi, empat orang wanita Giok-hong-pang itu telah menghunus pedang masing-masing yang tadi disembunyikan di balik jubah dan sambil tersenyum mengejek mereka menyambut serbuan empat orang laki-laki yang marah itu.

“Cring-cring-trang-tranggg…!” Bunga api berhamburan ketika empat batang golok bertemu dengan empat batang pedang, dan empat orang laki-laki itu terkejut bukan main karena tangan mereka yang memegang golok menjadi tergetar dan hampir saja lengan mereka terluka saking cepatnya wanita-wanita itu menggerakkan pedang melanjutkan tangkisan dengan serangan mereka.

Terjadilah pertempuran yang mati-matian di pinggir telaga yang sunyi itu dan Lui Hwa tidak membantu empat orang temannya karena dia melihat betapa empat orang Kwi-eng-pang itu bukanlah merupakan lawan yang tangguh. Akan tetapi, melihat betapa teman-temannya mempermainkan empat orang itu, hanya menggunakan ujung pedang mereka untuk menggores sana-sini sehingga pakaian dan kulit empat orang lawan itu pecah-pecah dan mandi darah, dia membentak tidak sabar, “Hayo cepat habiskan mereka, tidak banyak waktu untuk bermain-main!”

“Hi-hik, adik Lui Hwa, engkau tidak sabaran sekali. Habislah kita berpesta kalau begitu!” Si tahi lalat merah kecil tertawa dan pedangnya berkelebat disusul jerit mengerikan lawannya yang roboh dan mati seketika karena anggauta kelaminnya terbacok putus bersama robeknya perut bagian bawah. Jerit itu disusul oleh tiga orang kawannya. Sambil tersenyum empat orang wanita itu membersihkan pedang pada baju korban masing-masing, lalu menyarungkan pedang sambil meludah ke arah onggokan daging berdarah yang terlepas dari tubuh itu. Empat orang anggauta Kwi-eng-pang itu mati semua dengan luka yang sama, yaitu terbacok putus anggauta kelaminnya. Mereka tewas dalam keadaan mengerikan, mata terbelalak lebar dan mulut menyeringai kesakitan!

Burung-burung beterbangan sambil mengeluarkan bunyi ketakutan, agaknya merasa ngeri menyaksikan kekejaman manusia, kekejaman yang jarang mereka lihat dan yang kini terjadi berturut-turut di tepi telaga itu semenjak lima orang wanita itu muncul. Rumput-rumput yang pagi tadi masih segar kehijauan dihias butiran-butiran embun, kini dihias warna merah dari darah empat orang laki-laki itu. Namun bumi menerima dan menghisap darah itu setenang menghisap air embun yang menyegarkan, tanpa perbedaan karena bagi bumi semua adalah wajari, dan sudah semestinya.

Lui Hwa sudah melepaskan tali perahu dan tak lama kemudian, lima orang wanita itu telah mendayung perahu menuju ke pohon kembar di pulau yang tampak dari situ, mereka menggunakan dua buah perahu, yang sebuah diisi dua orang, yang sebuah lagi diisi tiga orang, dengan Lui Hwa berdiri di kepala perahu. Mereka berlima tidak tahu betapa seorang laki-laki setengah tua dengan muka pucat dan mata terbelalak menyaksikan semua peristiwa itu dan kini laki-laki itu dengan cepat berlari-lari di sepanjang tepi telaga, kemudian di tempat tertentu melepaskan anak panah berapi ke arah pulau!

“Heii, apa itu…?” Lui Hwa menudingkan telunjuknya ke udara. Mereka berlima melihat sinar yang meluncur di atas udara menuju ke pulau itu.

“Seperti panah berapi!”

“Ah, tentu ada yang melihat kedatangan kita!”

“Tenanglah, kita tidak perlu takut. Kalau memang betul kedatangan kita mereka ketahui, menurut pangcu, nama pangcu tentu dikenal oleh ketua Kwi-eng-pang yang bernama Kiang Ti itu. Kalau nama pangcu tidak menolong, masih ada pedang di tangan kita,” kata Lui Hwa dengan tenang.

Dugaan mereka memang tidak keliru. Laki-laki yang tadi melepas panah berapi adalah anggauta Kwi-eng-pang pula yang bertugas sebagai penjaga di luar telaga dan setelah melepas anak panah berapi, dia lalu mengumpulkan teman-temannya yang bertugas jaga di luar sekitar telaga itu, berjumlah dua belas orang, menggunakan sebuah perahu besar lalu meluncurkan perahu melakukan pengejaran.

Lima orang wanita itu masih mendayung perahu menuju ke pulau dan sedikitpun tidak merasa gentar. Mereka adalah anggauta-anggauta Giok-hong-pang yang berkepandaian tinggi dan mereka mengandalkan nama ketua mereka. Seperti semua anggauta Giok-hong-pang, merekapun merupakan wanita-wanita yang amat membenci pria karena semua anggauta Giok-hong-pang adalah wanita-wanita yang pernah disakitkan hatinya oleh kaum pria! Sebagian besar adalah janda-janda yang ditinggalkan atau disia-siakan oleh suaminya, ada pula yang menjadi korban perkosaan, pendeknya semua adalah wanita-wanita yang menaruh dendam hebat terhadap pria, dan setidaknya yang paling ringan adalah wanita yang kecewa sekali dalam percintaannya dengan seorang pria. Itulah sebabnya mengapa lima orang wanita ini amat membenci kaum pria, membunuh empat orang lawan itu secara mengerikan dengan membuntungi alat kelamin mereka, bahkan ketika mencari binatang untuk dimakanpun, mereka memilih yang jantan dan merusak alat kelamin binatang jantan itu!

Ketika dua buah perahu yang ditumpangi lima orang wanita Giok-hong-pang itu sudah mendekati pantai pulau di mana terdapat dua batang pohon pek kembar, tiba-tiba dari balik alang-alang muncul sebuah perahu besar yang membawa belasan orang laki-laki dan perahu ini didayung cepat menyambut dua buah perahu kecil.

“Kalian hati-hatilah, sudah ada penyambut yang muncul,” Lui Hwa berkata tenang.

“Dan di belakang juga datang perahu besar yang agaknya mengejar kita,” si tahi lalat berkata setelah tadi dia menengok ke belakang. Lui Hwa dan yang lain-lain juga menoleh dan benar saja, dari belakang datang sebuah perahu besar yang meluncur cepat dibantu layar yang berkembang.

“Perahu-perahu di depan, berhenti!” Laki-laki tinggi besar yang berdiri di kepala perahu yang menyambut itu berseru keras sambil mengacungkan golok besarnya. “Kalian ini lima orang wanita asing, siapakah dan mengapa berani melanggar wilayah kami dari Kwi-eng-pang?”

Lui Hwa berkata dengan lantang dan juga tenang, “Kami adalah utusan-utusan dari Giok-hong-pang, dan kami ingin bicara dengan ketua kalian yang bernama Kiang Ti untuk menyampaikan pesan pangcu (ketua) kami!”

Laki-laki tinggi besar itu mengerutkan alisnya dan menjawab marah, “Kalian sungguh sombong! Siapakah itu ketua Giok-hong-pang yang berani merendahkan pangcu kami?”

Lui Hwa tersenyum mengejek. “Kalian tidak berharga untuk mengenal pangcu kami. Biarkan kami bicara dengan Kiang Ti, dan tentu mengenal baik siapa adanya pangcu kami dari Giok-hong?pang. Kami datang dengan baik sebagai utusan, dan jangan menimbulkan kemarahan kami!”

Pada saat itu, perahu besar yang mengejar dari belakang sudah tiba, dan laki-laki yang tadi mengirim tanda rahasia dengan panah berapi, segera berseru, “Chi-twako (kakak Chi), jangan percaya omongan mereka! Mereka telah membunuh empat orang kawan kita secara keji!”

“Ehh…? Tangkap mereka!” Si tinggi besar berteriak marah dan dua buah perahu besar itu lalu mendekati dua perahu kecil dari depan dan belakang! Dari perahu besar depan meloncat tiga orang, dan dari perahu besar di belakang juga meloncat pula tiga orang ke arah dua perahu kecil, dengan golok terangkat dan mereka ini menyerang dengan ganas. Akan tetapi segera terdengar pekik mengerikan karena enam orang laki-laki ini begitu meloncat turun, disambut oleh gerakan pedang yang amat kuat dan cepat sehingga mereka terlempar ke air dalam keadaan luka parah! Melihat ini, terkejutlah orang tinggi besar she Chi itu. Dia maklum dengan melihat gerakan lima orang wanita itu bahwa mereka adalah ahli-ahli pedang yang tak boleh dipandang ringan.

Gulingkan perahu mereka dari bawah air!”

Mendengar ini, kurang lebih dua puluh orang meloncat dari dua buah perahu besar, berenang dan menyelam dari sekeliling dua buah perahu itu. Lima orang wanita Giok-hong-pang terkejut sekali. Akan tetapi dengan marah dan sama sekali tidak mengenal takut mereka menjaga perahu mereka dan setiap kali ada gerakan di dalam air dekat perahu, pedang mereka menyambar. Terdengar teriakan-teriakan dan terjadi gerakan-gerakan hebat di sekitar perahu-perahu kecil itu dan air telaga di sekeliling perahu-perahu itu menjadi merah! Jelas bahwa banyak juga anggauta Kwi-eng-pang yang menjadi korban kelihaian lima pedang di tangan wanita-wanita itu, akan tetapi kini dua buah perahu itu mulai terguncang hebat! Kiranya para anggauta Kwi-eng-pang berhasil menyelam ke bawah perahu dan berusaha menggulingkan perahu-perahu itu. Kini lima orang wanita itu baru terkejut dan khawatir. Mereka berusaha menyerang ke bawah perahu dengan pedang dan dayung yang lebih panjang melalui pinggiran perahu, akan tetapi tentu saja hal ini sukar dilakukan dan kini bahkan si tinggi besar pemimpin anak buah Kwi-eng-pang mengajak sisa teman-temannya untuk terjun ke air dan membantu teman-teman mereka yang sudah banyak yang terluka itu.

Akhirnya, berturut-turut dua buah perahu kecil itu terguling dan lima orang wanita itu menjerit, mau tidak mau terlempar ke air. Terjadilah pergulatan di dalam air. Akan tetapi ternyata bahwa setelah terlempar ke air, lima orang wanita itu kehilangan kelihaiannya. Melawan air saja sudah mtmbuat mereka gelagapan dan terpaksa minum banyak air telaga, apalagi dikeroyok banyak. Mereka dibenam-benamkan oleh banyak tangan sampai lemas dan hampir pingsan.

“Jangan bunuh mereka! Kita tawan dan hadapkan pangcu!” Si tinggi besar mamberi petintah dan hal ini menyelamatkan lima orang wanita itu, karena kalau tidak, tentu mereka akan dibenamkan sampai mati oleh para anggauta Kwi-eng-pang yang sudah marah melihat banyak teman-teman mereka terluka dan ada yang tewas itu. Setelah lima orang wanita itu tak dapat bergerak lagi, mereka diseret dan dengan kasar mereka diseret naik ke dalam perahu besar yang segera digerakkan ke pulau.

Lui Hwa siuman lebih dulu daripada empat orang temannya dan dia mendapatkan dirinya bersama empat orang temannya yang sudah menggeletak di atas lantai dalam sebuah ruangan yang luas, menjadi tontonan banyak orang dan tak jauh dari situ terdapat seorang laki-laki yang usianya hampir lima puluh tahun, pakaiannya serba kuning dan tubuhnya tinggi kurus, muka pucat dan mata sipit. Lui Hwa memandang ke sekeliling. Mereka dikurung banyak orang dan ternyata ruangan itu berada di atas loteng dan di bawah loteng juga tampak banyak laki-laki, juga ada wanitanya, yang memandang penuh perhatian.

Ketika empat orang temannya juga siuman dan berturut-turut bangkit duduk, mereka berempat itu meloncat berdiri dan sambil berteriak mereka hendak mengamuk, akan tetapi Lui Hwa menghadang mereka dan mencegah mereka. “Biarkan aku bicara…” bisiknya.

Laki-laki tinggi kurus yang duduk di atas kursi itu memandang dengan penuh perhatian gerak-gerik mereka, kemudian tersenyum dan berkata, “Aneh, yang termuda dan tercantik agaknya yang menjadi kepala rombongan. Eh, perempuan-perempuan liar, kalian ini siapakah dan mengapa kalian mengacau daerah kami, membunuh beberapa orang anak buah kami?”

Lui Hwa yang sudah berdiri tegak dengan pakaian basah kuyup seperti kawan-kawannya, memandang dengan sinar mata tajam. Pakaian yang basah kuyup itu menempel ketat di tubuh mereka, mencetak tubuh mereka sehingga nampak jelas lekuk lengkungnya, dan rambut yang agak awut-awutan dan basah itu masih terhias burung hong kemala. Dengan lantang Lui Hwa lalu berkata, “Kami adalah utusan dari pangcu kami, ketua dari Giok-hong-pang untuk bicara dengan pangcu Kwi-eng-pang. Karena kami diserang, terpaksa kami membela diri dan akibatnya anak buah Kwi-eng-pang ada yang tewas dan terluka.”

Laki-laki tinggi kurus itu meraba-raba jenggotnya. “Giok-hong-pang? Aku Hek-tok-ciang Kiang Ti, tidak pernah berurusan dengan perkumpulan yang bernama Giok-hong-pang dan tidak mengenalnya.”

“Hemm, jadi engkaukah pangcu dari Kwi-eng-pang? Pangcu kami berpesan bahwa tentu Kwi-eng-pangcu mengenal pangcu yang dahulu berjuluk Giok-hong-cu (Si Burung Hong Kemala)…”

“Aih! Kiranya dia? Bukankah namanya Yo Bi Kiok dan dahulu murid dari si jahanam Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci?” teriak Kiang Ti sambil menepuk lengan kursinya. Kini dia teringat akan julukan Giok-hong-cu itu. Belasan tahun yang lalu, gurunya, Kwi-eng Nio-cu Ang Hwi Nio, pendiri dan ketua Kwi-eng-pang mempunyai seorang sahabat baik, juga seorang datuk golongan sesat yang barjuluk Siang-tok Mo-li (Iblis Betina Racun Harum) dan wanita iblis ini mempunyai murid yang bernama Yo Bi Kiok, seorang gadis yang amat cantik. Gurunya suka kepada gadis ini dan bahkan memberinya sebuah hadiah, yaitu hiasan rambut berupa burung hong kemala, sehingga Yo Bi Kiok akhirnya memperoleh julukan Giok-hong-cu di dunia kang-ouw (baca ceritaPetualang Asmara ).

“Benar dugaanmu, Kiang-pangcu,” kata Lui Hwa dengan girang karena dia menduga bahwa ketua Kwi-eng-pang ini tentu mengenal baik pangcunya dan akan bersikap baik pula.

“Hemm, lalu apa maksudnya mengutus kalian mengacau di Kwi-eng-pang dan membunuh banyak anak buahku? Mengapa si cantik bermata indah itu berani memandang rendah kepada Hek-tok-ciang?”

Lui Hwa terkejut juga mendengar dan melihat sikap yang tidak bersahabat ini. Dia membusungkan dadanya sehingga buah dadanya membayang jelas di balik baju yang basah kuyup. “Pangcu kami yang mulia mengutus kami untuk memberitahukan bahwa beliau berkenan menggunakan pulau kosong yang dulu pernah ditinggalinya di dekat pulau ini untuk menjadi tempat tinggalnya yang baru, dan mengirim kami untuk memberi tahu kepada Kwi-eng-pang.”

Kiang Ti melotot dan meloncat turun dari kursinya. “Keparat! Lancang betul dia! Sepatutnya dia datang berlutut dan memohon kepadaku, baru mungkin aku mempertimbangkan permohonannya. Kalian bersikap sombong dan sudah membunuh orang-orangku, kini sudah tertawan masih berlagak sombong.”

“Huh!” Empat orang teman Lui Hwa meludah ke lantai!

“Kiang Ti, jangan kira bahwa kami takut kepadamu. Engkau toh hanya seorang laki-laki belaka, seorang mahluk yang jahat dan hina!”

“Perempuan iblis, kalian sudah bosan hidup semua!” Kiang Ti membentak marah.

Lui Hwa berteriak dan menyerang Kiang Ti, akan tetapi ketua Kwi-eng-pang ini sekali menangkis membuat Lui Hwa terpelanting ke atas lantai! Hal ini mengejutkan dan membikin marah empat orang wanita yang lain. Sambil berteriak seperti empat ekor kucing terpijak ekornya, mereka menyerang. Akan tetapi, Kiang Ti menggerakkan tangannya empat kali dan mereka inipun terpelanting! Tidak kuat mereka menghadapi kedahsyatan Si Tangan Racun Hitam itu!

Para pembantu Kiang Ti sudah menubruk dan membuat lima orang wanita itu tidak berdaya. “Hukum mereka! Bunuh mereka… eh, nanti dulu…!” Kiang Ti yang marah sekali itu memandang kepada Lui Hwa, menjambak rambut wanita itu dan menariknya dekat-dekat, dipandanginya seluruh tubuh dan muka Lui Hwa.

“Seret yang empat ke luar dan kebawah, kuberikan kepada kalian, siapa saja yang suka, nikmati mereka di ruangan bawah, aku akan menonton dari sini dan biarkan yang satu ini menemaniku. Sudah, kalian semua boleh keluar!”

Terdengar sorak-sorai para anggauta Kwi-eng-pang dan empat orang itu diseret turun dari atas ruangan loteng. Mereka itu tidak menangis, melainkan memaki-maki dan meronta-ronta namun apa daya mereka menghadapi begitu banyak orang. Kiang Ti sendiri lalu memeluk dan menjambak rambut Lui Hwa, diseret ke pinggir ruangan loteng itu dari mana dia dapat menyaksikan apa yang terjadi di bawah loteng.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: