Dewi Maut (Jilid ke-10)

Sebelum dia sempat bicara, maling itu kembali memberi hormat, lalu bangkit berdiri, menjura dan berkata lagi, suaranya penuh permohonan. “Saya memiliki mata akan tetapi seperti buta sehingga berani mengganggu seorang pendekar wanita yang ilmu kepandaiannya tinggi menjulang sampai ke langit, biarlah kegagalan ini menjadi hukuman bagi Jeng-ci Sin-touw dan terima kasih atas pengampunan lihiap. Permisi!” Dia lalu membalikkan tubuhnya hendak lari, akan tetapi secepat kilat In Hong menggerakken kakinya. Ujung sepatunya menotok belakang lutut kanan orang itu dan untuk kedua kalinya maling itu roboh terpelanting.

“Aduhh, ampun, apakah lihiap hendak membunuh saya?” Maling tua itu berteriak.

“Buntalanku tidak lengkap seperti tadi!” In Hong mengangkat tinggi buntalannya. “Begini ringan, tentu ada yang kauambil dari dalamnya. Hayo kembalikan!”

Maling itu merangkak bangun, menyeringai karena selain kakinya sakit, juga kecewa karena wanita muda yang cantik ini tidak dapat diakali. Dangan wajah membayangkan putus asa dia merogoh saku bajunya yang lebar, mengeluarkan kantung uang yang tadinya berada di dalam buntalah sambil mengomel. “Celaka tiga belas! Benar makian lihiap tadi bahwa saya benar-benar sial malam ini, bertemu dangan seorang seperti lihiap yang begini lihai. Sungguh sial, padahal menurut taksiran saya, di kantung ini terdapat tiga puluh tail emas dan sedikitnya sepuluh tail perak. Hasil yang lumayan, sesuai dangan jerih payah saya tadi! Akan tetapi semua sia-sia belaka.”

In Hong terkejut dan kagum. Maling ini tadi begitu merampas buntalan terus lari dan dikejarnya. Bukan saja maling itu dapat menyembunyikan kantung uang dari dalam buntalan ke dalam saku jubahnya, bahkan maling itu dapat menduga hampir persis jumlah isinya!

“Hemmm, kulihat engkau bukan orang tolol! Mengapa engkau menggunakan asap beracun di kamarku tadi? Hayo jawab, kalau kau membohong dan aku kehabisan sabar, aku tidak akan segan-segan membunuhmu!”

“Apakah artinya asap mainan itu bagi lihiap? Buktinya lihiap tidak apa-apa!” Maling itu hendak mengelak.

“Simpan saja kepura-puraanmu itu! Asap itu beracun dan dapat membius orang! Mengapa kaulakukan itu terhadap aku? Siapa kau dan apa maksudmu mengintai dan membayangi sejak dari Tai-lin sampai di sini kemudian mencuri buntalanku?”

Maling itu menarik napas panjang. “Dasar sial dangkalan! Tidak hanya gagal malah dicurigai dan dituduh yang bukan-bukan awakku! Baiklah, harap lihiap, dengarkan baik-baik pengakuanku. Nama saya Can Pouw dijuluki orang Jeng-ci Sin-touw dan di Tai-goan, nama saya dikenal oleh semua orang, terutama kaum hartawan yang selalu ketakutan kalau-kalau saya menjadi tamu yang tak diundang. Sejak kecil pekerjaan saya mempergunakan kesempatan selagi orang lengah…”

“Jangan memutarbalikkan omongan, pakai mempergunakan kesempatan selagi orang lengah, bilang saja pencopet!” In Hong membentak tak sabar.

“Yaahh… kan semua ada seninya! Lihiap tidak mengerti akan seninya mencopet atau maling yang istilahnya mempergunakan kesempatan selagi orang bermalas-malasan. Amat jauh bedanya dangan perampok atau bajak, lihiap! Mereka itu adalah orang-orang kasar yang mempergunakan kekerasan mengandalkan kepandaian merampas dangan paksa, berbeda dangan kami yang bekerja dangan halus tidak mau menyinggung perasaan orang lain sehingga yang kehilangan barang tidak tahu siapa yang mengambilnya. Bukankah itu mengandung seni yang bermutu tinggi dan halus…?”

“Cerewet! Kau hendak main-main dangan aku, ya?” In Hong menghunus sedikit pedangnya dan tampak sinar berkilat.

“Eh, eh… oh… tidak, lihiap! Maafkan saya! Sampai di mana cerita saya tadi? Wah, lihiap membikin saya ketakutan setengah mati. Baiklah, saya terpaksa menggunakan asap pembius karena saya telah menduga bahwa lihiap adalah seorang yang amat lihai. Siapa kira, asap pembius yang cukup kuat untuk membikin pulas sepuluh orang itu hanya merupakan minyak wangi saja agaknya bagi lihiap. Dasar saya yang sialan!”

“Dan mengapa engkau membayangi aku sejak di restoran di kota Tai-lin?”

“Wah, sejak itu lihiap sudah curiga kepada saya? Hebat! Ketahuilah, lihiap. Saya bukan menyombongkan diri, namun pengalaman saya yang sudah puluhan tahun membuat saya dapat menduga bahwa isi buntalan yang lihiap bawa itu, selain pakaian tentu mengandung emas atau perak, terbukti dari beratnya. Melihat ikan kakap, seorang pengail seperti saya ini mana tidak tertarik untuk mengikuti betapa jauhnyapun?”

“Bicara yang benar! Apa itu kakap dan pengail?” In Hong membentak, makin tertarik karena sikap dan bicara orang ini memang luar biasa dan lucu.

“Eh, maaf. Jika seorang ahli memindahkan barang…”

“Bilang saja pencopet! Pencopet! Maling!” In Hong membentak tidak sabar.

“Iya, ya… jika seorang pencopet, maling tangan panjang melihat calon korban yang membawa barang berharga, maka istilahnya adalah kakap dan si… eh, pencopet menganggap dirinya seperti pengail yang akan menangkap ikan kakap itu. Saya melihat nona, maka tentu saja saya tertarik dan saya ikuti terus. Akan tetapi saya sudah putus harapan ketika melihat nona pergi bersama Fen-ho Su-liong. Mereka adalah perkumpulan bajak yang kuat, saya seorang diri tidak berani mencampuri urusan mereka, maka terpaksa saya menggigit jari dan melanjutkan perjalanan ke Tai-goan dengan hati mengkal, merasa betapa ikan kakap itu dicaplok buaya. Tidak tahunya, eh… nona muncul di penginapan itu! Tidak saya sangka nona dapat lolos dari Fen-ho Su-liong!”

“Mereka telah mampus semua!” In Hong berkata tanpa disadarinya mengapa dia menjadi suka bercakap-cakap dengan maling ini.

Maling itu terbelalak, mukanya menjadi pucat sekali dan kembali dia menjatuhkan dirinya berlutut. “Lihiap telah membunuh mereka semua? Aduhh… kalau begitu saya tentu akan mampus. Lihiap harap ampunkanlah kelancangan saya berani mengganggu harimau betina…”

“Hayo ceritakan mengapa engkau begitu nekat mencoba untuk mencuri!”

Dan tiba-tiba saja maling itu menangis! In Hong mengerutkan alisnya, berhati-hati karena takut kalau-kalau kena diakali oleh maling yang pandai bermain gila ini. “Huh! apa-apaan lagi engkau ini?”

“Uhu-huhu-huuu…! Saya terpaksa melakukan ini, lihiap. Di rumah terdapat seorang isteri cerewet yang selalu minta dibelikan ini itu yang serba mahal, sedangkan anak saya ada tujuh orang…”

Hampir saja In Hong tertawa karena geli hatinya. “Nah, kauterimalah ini untuk anak isterimu, kalau engkau berbohong, biar uang ini akan mendatangkan malapetaka kepadamu!” In Hong melemparkan dua potong uang perak kepada maling itu, kemudian sekali berkelebat dia sudah lenyap dari situ.

“Heiiiii… lihiap, tungguuuuu…! Saya memang berbohong, tapi tunggu, saya mempunyai berita yang lebih penting lagi”

Tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu In Hong sudah berada di depannya sehingga maling itu menutup mulutnya yang berteriak-teriak. Dia memandang kagum. “Bukan main kehebatan gin-kang dari lihiap.”

“Hayo ceritakan, berita apakah itu?”

“Lihia begini lihai, tentu lihiap merupakan seorang tokoh besar dari Giok-hong-pang….”

Mendangar suara yang sungguh-sungguh itu, kini In Hong menduga bahwa maling lucu ini tentu tidak main-main lagi. “Bagaimana kau bisa tahu?”

“Sudah sejak di restoran itu saya menduga bahwa tentu lihiap seorang Giok-hong-pang, melihat perhiasan kepala lihiap berupa burung hong dari batu kemala itu. Sebetulnya karena saya sudah mendengar bahwa para wanita Giok-hong-pang adalah pembenci kaum pria, maka saya sengaja membayangi dan hendak mengganggu lihiap dangan mencuri buntalan lihiap. Ternyata lihiap berilmu tinggi sekali, dan sikap lihiap bukan pembenci pria sungguhpun ngeri saya membayangkan betapa gerombolan bajak Fen-ho itu terbunuh semua. Maka mudah menduga bahwa tentu lihiap seorang tokoh besar dari Giok-hong-pang.”

“Dugaanmu benar, paman Can Pouw. Aku adalah murid tunggal dari ketua Giok-hong-pang.”

“Paman…? Lihiap menyebutku paman…? Ohhhh, terima kasih!” Kakek itu kelihatan girang sekali, matanya bersinar-sinar di bawah cahaya bulan yang terang di malam itu.

“Mengapa?” In Hong terheran.

“Siapa tidak akan girang disebut paman oleh seorang tokoh besar dari Giok-hong-pang? Lihiap baik sekali! Kalau boleh saya mengetahui nama lihiap yang mulia…”

“Jangan menjilat-jilat, aku menjadi benci mendengarnya! Namaku Yap In Hong dan lekas katakan, berita apa yang kau katakan penting tadi?”

“Seorang tokoh besar yang lihai seperti lihiap telah keluar ke dunia ramai, sudah pasti ada hubungannya dengan geger di dunia kang-ouw tentang tercurinya Siang-bhok-kiam, bukan?”

In Hong terkejut. Dia memang tertarik oleh urusan lenyapnya pusaka Cin-ling-pai yang dicuri orang itu. “Kalau benar demikian, mengapa?”

“Lihiap, untuk kebaikan lihiap yang sudah mengampuni saya, sudah memberi hadiah uang kepada saya dan terutama sekali yang memanggil saya paman, biarlah saya membuka rahasia ini. Saya tahu siapa yang mencuri Siang-bhok-kiam itu!”

In Hong terkejut lagi. “Bagaimana engkau bisa tahu?” tanyanya curiga, takut kalau dibohongi lagi.

“Demi Thian dan semua Dewa, saya tidak bohong, lihiap!” Maling itu agaknya merasa bahwa dia dicurigai. “Dan tentu saja saya tahu. Bagi Jeng-ci Sin-touw seorang maling sakti yang terkenal, di dunia ini tidak ada berita yang lebih menarik daripada berita tentang permalingan, terutama permalingan yang hebat-hebat seperti dicurinya Siang-bhok-kiam itu. Ingat, saya berjuluk Seribu Jari, bukan hanya pandai mencopet akan tetapi juga mempunyai ribuan kawan yang dapat menyelidiki.”

“Hemm, apa anehnya itu? Akupun sudah mendengar bahwa pencuri-pencuri itu adalah Lima Bayangan Dewa.”

“Semua orang agaknya tahu bahwa mereka adalah Lima Bayangan Dewa, akan tetapi tahukah lihiap siapa sesungguhnya lima orang sakti itu dan terutama sekali di mana mereka itu berada?”

In Hong benar-benar tertarik. “Dan engkau tahu, paman Can Pouw?”

“Tentu saja! Dengar baik-baik, lihiap, dan sebaiknya kalau lihiap jangan mencoba-coba untuk menentang mereka tanpa bantuan yang banyak dan kuat. Mereka itu adalah tokoh-tokoh baru yang memiliki kepandaian hebat, lima orang sakti yang bersatu menjadi Lima Bayangan Dewa, yang kesemuanya merupakan musuh-musuh pribadi ketua Cin-ling-pai. Orang pertama adalah Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok. Melihat julukannya saja, Pat-pi Lo-sian (Dewa Tua Berlengan Delapan) sudah dapat dibayangkan kelihaiannya. Dia seorang yang aneh penuh rahasia, kabarnya datang dari utara dan masih keturunan Mongol, terkenal dengan pakaiannya yang serba putih mengerikan!”

“Hemm, baru delapan lengannya apa sih hebatnya? Masih kalah oleh engkau yang berjari seribu.”

“Lihiap mengejek! Dia itu kabarnya sakti sekali, bahkan kabarnya malah lebih sakti daripada mendiang suhengnya, Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok yang pernah menjadi datuk kaum sesat. Adapun orang kedua adalah Liok-te Sin-mo (Iblis Bumi) Gu Lo It yang kabarnya memiliki tenaga seratus ekor kuda jantan! Kemudian orang ketiga adalah Sin-ciang Siauw-bin-sian Hok Hosiang yang tentu saja hanya seorang tokoh hitam yang menyamar sebagai pendeta, kabarnya kesaktiannya tidak kalah oleh yang dua itu, pandai merayap tembok seperti cecak den kepalanya merupakan senjata ampuh.”

In Hong mencatat dalam hatinya. Biarpun kepandaian seperti itu tidak aneh baginya, namun dia tahu bahwa hal itu membuktikan betapa lihai adanya orang-orang dari Lima Bayangan Dewa itu.

“Orang keempat adalah seorang iblis betina yang amat mengerikan, yaitu Hui-giakang (Kelabang Terbang) Ciok Lee Kim. Tentu saja mengerikan. Seekor kelabang sudah amat berbahaya den beracun, apalagi kalau pandai terbang. Kabarnya dia memang pandai terbang! Huh, mengerikan sekali. Aku tidak sudi berjumpa berdua saja dengan dia ini di tempat gelap!”

In Hong menahan senyumannya. Maling tua ini memang lucu, kata-katanya jenaka den tidak dibuat-buat, bahkan kalau sudah bicara sungguh-sungguh dan lenyap wataknya yang suka bersendau-gurau dan membohong, dia memiliki kejujuran.

“Sedangkan orang kelima bernama Toat-beng-kauw Bu Sit, dari julukannya saja sudah ketahuan bahwa dia seperti monyet, juga kecepatannya. Nah, lengkaplah lima orang dari Lima Bayangan Dewa itu, lihiap.”

In Hong mengangguk-angguk, diam-diam dia mencatat semua nama dan julukan itu. “Terima kasih atas keteranganmu, paman. Memang berita ini penting sekali bagiku.”

“Ada yang lebih penting lagi!” Can Pouw berseru. “Yaitu sarang mereka!”

“Di mana?”

“Di lembah Sungai Kuning, di sebelah timur kota Cin-an. Kurang lebih dua puluh li dari Cin-an terdapat lembah Sungai Hoang-ho yang penuh dengan hutan. Di dalam sebuah hutan dekat sungai yang bermuara, di sanalah letak pedusunan Ngo-sian-chung (Dusun Lima Dewa) dan di sana pulalah lima orang sakti itu tinggal di sebuah gedung besar, sedangkan para penghuni dusun kecil itu yang tidak berapa banyak semua adalah anak buah dan murid-murid mereka. Akan tetapi harap hati-hati, lihiap, jangan sekali-kali memberanikan diri mendekati tempat itu. Mereka bukan penjahat-penjahat biasa, tidak pernah melakukan kejahatan bahkan menjadi pelindung dan sahabat-sahabat baik para pembesar di Cin-an dan sekitarnya. Mereka itu kaya raya dan para anggautanya melakukan pekerjaan dagang. Ketika kami dan kawan-kawan menyelidik ke sana, dari sepuluh orang hanya saya dan seorang teman saja yang dapat keluar dalam keadaan hidup. Yang delapan orang lenyap entah ke mana!”

In Hong mengerutkan alisnya. Hebat juga berita ini. Dia merogoh saku hendak mengeluarkan sepotong uang emas, akan tetapi didahului oleh Jeng-ci Sin-touw yang berkata, “Harap lihiap jangan memberi uang kepada saya. Perkenalan ini sudah cukup mengherankan hati saya dan kalau sewaktu-waktu lihiap membutuhkan saya, asal lihiap datang ke Tai-goan dan bertemu dengan seorang di antara seniman-seniman copet di pasar lalu menanyakan saya, tentu akan dapat berjumpa.”

In Hong tersenyum. Baru sekali ini selama dia meninggalkan Kwi-ouw, dia sempat bercakap-cakap selama itu dengan seseorang dan anehnya, sunggub tak pernah diduga-duganya, orang itu adalah seorang laki-laki dan lebih lagi, seorang pencuri malah! “Terima kasih, paman Can, mudah-mudahan kelak kita akan dapat saling bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik.” Setelah berkata demikian, sekali berkelebat dara itu lenyap dari depan Can Pouw yang menjadi bengong. Sudah banyak dia berjumpa orang pandai, bahkan dia sendiri memiliki gin-kang yang cukup tinggi sehingga dia terkenal, akan tetapi gerakan dara yang bernama Yap In Hong itu benar-benar mengejutkan hatinya, seolah-olah dara itu pandai menghilang seperti setan!

Demi dewa…!” Ia berkata lirih, “berani aku mempertaruhkan julukanku, bahwa Yap In Hong ini kelak akan menjadi seorang yang menggegerkan dunia!”

Dia tidak tahu bahwa In Hong yang tadi mencelat dan bersembunyi di atas pohon mendengar semua ini. Dara ini berlaku hati-hati dan sengaja bersembunyi untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh maling yang mencurigakan, tahu segala, dan banyak cakap akan tetapi lucu itu. Mendengar maling itu akan mempertaruhkan julukannya, In Hong menutup mulutnya dan tertawa geli. Benar-benar tolol dan lucu. Siapa sudi bertaruh dengan dia kalau yang dipertaruhkan itu julukannya, betapa mentereng sekalipun julukan itu? Setelah maling tua itu pergi, barulah In Hong meloncat turun dan melanjutkan perjalanannya. Timbut suatu hasrat aneh di dalam hatinya yang terdorong oleh kata-kata maling tua itu. Dia akan menjadi orang yang menggegerkan dunia! Dan dia ingin hal ini benar terjadi, menggegerkan dunia persilatan! Dan hal itu hanya dapat terlaksana kalau dia dapat merampas kembali Siang-bhok-kiam dari tangan Lima Bayangan Dewa!

***

Lima orang itu duduk mengitari meja panjang dengan gembira sambil menghadapi makanan dan minuman yang serba mahal dan lezat. Semua masakan telah selengkapnya dihidangkan di atas meja, dan arak wangipun berlimpah-limpah. Para pelayan yang terdiri dari anak buah mereka sendiri, hanya menjaga di luar dan di sudut ruangan, menanti kalau-kalau ada perintah dari lima orang yang sedang makan minum dengan gembira itu.

Mereka itu bukan lain adalah Lima Bayangan Dewa yang kini telah pulang dan merayakan pesta kemenangan mereka, setelah mereka berhasil membunuh tujuh orang Cap-it Ho-han dan mencuri pedang pusaka Siang-bhok-kiam. Sambil tertawa-tawa, empat orang menceritakan jalannya pertandingan ketika mereka membunuhi tokoh-tokoh Cin-ling-pai di ruangan atas loteng rumah makan Koai-lo di kota Han-tiong itu, sedangkan Pat-pi Losian Phang Tui Lok juga menceritakan pengalamannya yang berhasil ketika dia menyerbu Cin-ling-pai dan mencuri pedang pusaka Siang-bhok-kiam.

“Sungguh menyebalkan,” Phang Tui Lok menutup ceritanya sambil menghunus sebatang pedang kayu yang mengeluarkan bau harum semerbak, “pedeng kayu macam ini saja pada puluhan tahun yang lalu pernah diperebutkan para tokoh kango-uw. Padahal pedang ini biasa saja, hanya sebatang pedang kayu harum yang biarpun mengandung hawa mujijat namun tidak lebih berguna daripada sebatang pedang baja yang baik.”

“Dahulu lain lagi, Phang-suheng,” kata Liok-te Sin-mo Gu Lo It. “Dahulu pedang ini menyimpan rahasia tempat pusaka terpendam yang akhirnya terjatuh ke tangan Cia Keng Hong. Akan tetapi sekarang pedang ini hanya menjadi lambang kebesaran Cin-ling-pai belaka.”

“Yang sudah beralih ke tangan kita, ha-ha-ha.” Pat-pi Lo-sian tertawa dan mukanya yang kelihatan muda itu menjadi makin muda dan tampan tiada ubahnya muka seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun saja. Padahal tokoh ini sudah berusia enam puluh lima tahun! Phang Tui Lok adalah seorang peranakan keturunan Mongol, terlahir dari ibu seorang Wanita Han yang menjadi tawanan dan dipaksa menjadi selir seorang kepala Suku Mongol. Dia adalah sute dari mendiang Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok yang selain suhengnya, juga seperti kakaknya sendiri karena dari tokoh ini dia sudah banyak berhutang budi. Oleh karena itu, ketika mendengar akan kematian Ouwyang Kok, Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok menjadi kaget dan berduka sekali. Ketika itu usianya baru empat puluh tahun lebih dan dia merasa tidak berdaya untuk membalas dendam kematian suhengnya terhadap seorang musuh seperti ketua Cin-ling-pai saktinya, maka diam-diam dia memperdalam ilmunya selama belasan tahun dan selama itu dia selalu berpakaian putih tanda berkabung terhadap kematian suhengnya. Setelah merasa dirinya kuat, dia lalu merantau ke selatan, melewati perbatasan dan Tembok Besar dan akhirnya dia berhasil menarik empat orang itu sebagai sekutunya, karena empat orang itupun merupakan orang-orang yang merasa sakit hati terhadap ketua Cin-ling-pai. Karena bersatu tujuan, mereka lalu mengangkat saudara sebagai saudara-saudara seperguruan, setelah Phang Tui Lok menurunkan ilmu tentang racun kepada mereka, ilmu yang didapatnya dari mendiang Ouwyang Kok sehingga ikatan ilmu ini membuat mereka merasa seperti saudara-saudara seperguruan. Karena Phang Tui Lok adalah yang tertua dan juga yang terlihai di antara mereka, maka dialah yang menjadi pemimpin dari Lima Bayangan Dewa, yaitu nama yang mereka pakai sebagai julukan mereka, diambil dari nama dusun di mana mereka tinggal, yaitu Dusun Lima Dewa.

“Ingin sekali aku melihat muka Cia Keng Hong kalau dia pulang dan mendengar akan kematian Cap-it Ho-han dan hilangnya Siang-bhok-kiam! Dan dia akan bingung mendengar nama Lima Bayangan Dewa!” kata Toat-beng-kauw Bu Sit, Si Monyet Pencabut Nyawa.

“Biar dia mencari-cari setengah mampus!” Hui-giakang Ciok Lee Kim tertawa dan menenggak araknya.

“Omitohud… pinceng tidak akan merasa heran kalau besok atau lusa dia akan muncul di sini. Orang macam dia tentu tidak membutuhkan waktu lama untuk mencari tempat kita.”

“Eh, hwesio murtad, apa engkau takut?” Pat-pi Lo-sian bertanya, “Engkau meramalkan kedatangannya seolah-olah engkau takut menghadapinya.”

“Ha-ha-ha-ha, siapa takut kepadanya? Apanya yang harus ditakuti? Aku malah ingin sekali mencoba Thi-khi-i-beng dengan ilmu cecakku, hendak kulihat sampai di mana kekuatan daya sedotnya” Memang ada persamaan antara Thi-khi-i-beng dan ilmu yang dikuasai oleh hwesio ini sehingga membuat dia dapat merayap di tembok seperti seekor cecak, yaitu penggunaan sin-kang untuk menyedot dari telapak tangan. Tentu saja hwesio yang pongah ini tidak tahu bahwa Thi-khi-i-beng adalah ilmu mujijat yang langka, yang tidak hanya menyedot seperti dilakukan oleh telapak tangannya menyedot tembok sehingga dapat melekat, melainkan Thi-khi-i-beng menyedot sin-kang orang membanjir keluar dari dalam tubuh!

Bagus, memang kita sudah menanti-nanti kedatangannya untuk membikin perhitungan. Betapapun juga, mengingat bahwa Cia Keng Hong mempunyai keluarga yang terdiri dari orang-orang sakti, juga banyak teman-temannya yang lihai, sebaiknya kalau kita juga menghimpun tenaga dari golongan kita. Setelah keberanian kita mencuri Siang-bhok-kiam, kiraku akan banyak tokoh hitam yang akan suka membantu kita.”

Tiba-tiba terdengar suara halus seorang wanita, “Bagus! Lima Bayangan Dewa sungguh bernyali besar sekali!”

Lima orang itu terkejut dan karena mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi, mereka segera dapat menekan kekagetan mereka dan tetap duduk di tempat sungguhpun mereka cepat menengok dan memandang ke arah orang yang mengeluarkan suara itu. Seorang nenek tua berpakaian serba hitam tahu-tahu telah berdiri di dalam ruangan itu tanpa ada penjaga yang melihatnya.

“Memang mengagumkan dan kita perlu mengetahui dulu sampai di mana kelihaian mereka maka berani mengganggu Cin-ling-pai!” terdengar suara kedua dan tahu-tahu muncul pula seorang kakek yang usianya sudah jauh lebih tua. Kakek dan nenek ini keduanya berpakaian seperti pendeta.

Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok maklum bahwa dua orang ini tentulah orang-orang pandai, akan tetapi karena sikap mereka tidak bermusuhan diapun lalu meraba sepasang sumpit dan secawan arak dari atas meja dan ingin menguji kepandaian dua orang tamu itu sebelum mengambil keputusan sikap apa yang akan diambilnya untuk menyambut mereka.

“Kedua tamu yang tak diundang, silakan!” kata orang pertama dari Lima Bayangan Dewa itu dan tiba-tiba sepasang sumpit gading meluncur ke arah nenek itu, sedangkan secawan penuh arak meluncur ke arah si kakek tua.

Dua orang itu berdiri tenang saja, kemudian nenek itu menggerakkan tangan kanan dan sekaligus jari-jari tangahnya dapat menjepit sepasang sumpit itu dengan enaknya seperti orang mengambil sumpit dari atas meja saja. Cawan arak yang meluncur ke arah muka kakek itu tiba-tiba terhenti di udara, berputaran dan ketika kakek itu menggerakkan tangannya, cawan itu berhenti di atas kepalanya dan perlahan-lahan mendoyong sehingga araknya mengucur perlahan-lahan. Dia membuka mulutnya sehingga arak itu masuk ke mulut dan diminumnya.

“Nenek tua, terimalah suguhan pinceng!” Hok Hosiang juga menggunakan sumpitnya mengambil potongan-potongan daging dengan cepat sekali dan melempar-lemparkan ke arah nenek itu dengan kecepatan seperti sambitan senjata-senjata rahasia yang berbahaya.

“Wut-wut-wut… cap-cap-cappp!” Hebatnya, nenek itu berhasil menerima tiga potong daging dengan sepasang sumpitnya, kemudian perlahan-lahan memasukkan daging-daging itu ke dalam mulutnya sambil mengunyah. Dia lalu melemparkan sumpit ke atas meja dan sepasang sumpit itu menancap di depan Pat-pi Lo-sian, disusul oleh terbangnya cawan kosong yang juga hinggap di depan orang pertama dari Lima Bayangan Dewa tanpa terbanting keras seolah-olah diletakkan oleh tangan yang tidak kelihatan!

Menyaksikan ini, lima orang itu terkejut dan maklum bahwa dua orang kakek dan nenek itu amat lihai. Mereka segera bangkit berdiri dan menjura kepada mereka berdua, dan Phang Tui Lok berkata, “Maafkan kami yang tidak tahu akan kedatangan ji-wi sehingga tidak menyambut lebih cepat.”

“Siancai, Lima Bayangan Dewa terlalu sungkan! Kamilah yang seharusnya merasa malu, datang tanpa diundang dan begitu datang ikut menikmati hidangan, ha-ha-ha!” kakek yang berpakaian seperti tosu itu berkata sambil tertawa. “Sebagai tamu-tamu tak diundang, biarlah pinto memperkenalkan diri…”

“Nanti dulu!” Liok-te Sin-mo Gu Lo it berseru, “Biarkan kami menduga-duga siapa adanya ji-wi!” Lima orang itu lalu memandang dengan penuh perhatian wajah dan pakaian mereka berdua yang tersenyum-senyum saja. Akhirnya Liok-te Sin-mo yang lebih dulu berseru. “Aku mau didenda minum tiga cawan arak kalau dugaanku meleset bahwa locianpwe ini adalah Hwa Hwa Cinjin”

Tosu tinggi kurus itu tersenyum dan mengangguk-angguk. “Hebat memang Lima Bayangan Dewa, bermata tajam di samping nyalinya yang amat besar.”

“Dan siapa lagi tokouw ini kalau bukan Hek I Siankouw?” Hui-giakang Ciok Lee Kim juga berseru. Pendeta wanita berpakaian hitam itu lalu menjura sambil tersenyum pula.

“Kalian memang hebat dan mengagumkan, bukan hanya karena telah berani mengejek ketua Cin-ling-pai, akan tetapi juga berani menanggung resikonya dan menghadapi pembalasan mereka. Kami berdua pasti suka membantu kalian,” kata Hek I Siankouw.

Dua orang kakek dan nenek ini memang merupakan tokoh-tokoh yang terkenal juga sungguhpun mereka jarang menampakkan diri di dunia kang-ouw. Kakek yang hanya dikenal julukannya sebagai Hwa Hwa Cinjin itu adalah sute dari Toatbeng Hoatsu, seorang datuk kaum sesat yang dabulu tewas di tangan Panglima Besar The Hoo sendiri ketika terjadi perebutan bokor emas, di mana Cia Keng Hong menjadi pembantu utama dari The Hoo (baca Petualang Asmara). Karena kini Panglima The Hoo sudah meninggal, dan memang tidak mungkin bagi kaum sesat untuk membalas kepada seorang panglima besar yang amat kuat kedudukannya seperti Panglima The Hoo, maka kini semua dendam ditumpahkan kepada Cia Keng Hong, ketua Cin-ling-pai. Apalagi ketika mendengar bahwa Cin-ling-pai berhasil diserbu dan dikacau oleh Lima Bayangan Dewa, Hwa Hwa Cinjin segera mengajak Hek I Siankouw untuk mengunjungi Cin-ling-pai, dengan dalih ikut berduka cita dan bersembahyang mereka telah melakukan penghinaan di Cin-ling-pai karena Cia Keng Hong tidak ada dan mereka segera pergi melihat munculnya kakek sakti Tio Hok Gwan dan ahli sihir Hong Khi Hoatsu.

Nenek tokouw itu sebetuInya adalah bekas kekasih Hwa Hwa Cinjin. Karena penyelewengan mereka menuruti nafsu berahi inilah yang membuat mereka terpaksa melarikan diri dari golongan pendeta dan menjadi pendeta-pendeta perantau yang wataknya sudah bukan seperti pendeta suci lagi sampai mereka menjadi kakek dan nenek. Hanya aneh dan lucunya, sampai mereka menjadi kakek berusia tujuh puluh tahun dan nenek berusia enam puluh tahun, mereka masih tetap rukun dan ke manapun mereka berduaan terus! Setelah Hwa Hwa Cinjin dikenal oleh Liok-te Sin-mo, tentu saja mudah untuk mengenal Hek I Siankouw karena sudah terkenal betapa keduanya ini tak pernah berpisah.

Pat-pi Lo-sian lalu mempersilakan mereka duduk dan dia lalu memperkenalkan diri dan juga para adik seperguruannya. Ketika dia memperkenalkan diri sebagai sute mendiang Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok yang tewas di tangan Cia Keng Hong, Hwa Hwa Cinjin menepuk meja.

“Ahh, kiranya sicu adalah sute mendiang Ban-tok Coa-ong! Sungguh kebetulan sekali karena mendiang suhengmu itu adalah sahabat baik mendiang suhengku, yaitu Toat-beng Hoatsu yang tewas oleh Panglima The Hoo. Bagus, kini kita dapat berkumpul dan bekerja sama, dan memang sudah tiba saatnya untuk melakukan balas dendam kepada Cia Keng Hong dan keluarganya.”

Pelayan dipanggil, makanan dan minuman ditambah dan mereka makan minum sambil mengatur rencana untuk mengadakan persekutuan menghadapi keluarga Cia Keng Hong yang amat terkenal sebagai keluarga yang sakti itu.

“Aku mempunyai seorang sahabat baik yang kiranya perlu sekali diajak untuk bersama-sama menghadapi musuh. Dia pasti bersedia, karena diapun tidak suka kepada keluarga ketua Cin-ling-pai itu. Dia amat lihai dan kalau dia membantu kita, persekutuan kita tentu akan lebih kuat.” Hek I Siankouw berkata.

“Bagus sekali, Siankouw. Siapakah gerangan sababatmu itu?” tanya Sin-ciang Siauw-bin-sian Hok Hosiang, yang kagum melihat nenek berpakaian hitam itu sudah tua namun masih tetap cantik!

“Dia adalah Go-bi Sinkouw dan kalau kita sendiri mengundangnya, tentu dia akan mau bergabung dan datang ke sini.”

Sampai sehari penuh mereka berpesta dan berunding. Akhirnya mereka bersepakat untuk mengundang orang-orang pandai dari golongan hitam, untuk bersama-sama mereka menghadapi Cin-ling-pai, dan menghancurkan keluarga pendekar Cia Keng Hong yang dianggap merupakan pusat kekuatan golongan putih yang selalu menentang golongan hitam.

Mereka berangkat berpencar dan menentukan satu tanggal dan bulan untuk berkumpul kembali di dusun Ngo-sian-chung sambil mengajak bantuan orang-orang sakti yang mereka undang. Untuk menjaga keselamatan, seluruh penduduk Ngo-sian-chung juga pergi semua bersembunyi dan hanya diam-diam melakukan pengintaian ke dusun mereka yang ditinggal pergi karena mereka tidak berani tinggal di situ selama lima orang pemimpin mereka tidak ada.

***

“Adik In Hong…!”

In Hong terkejut dan menghentikan langkahnya. Tempat itu sunyi dan matahari telah naik tinggi. Tidak nampak seorangpun manusia akan tetapi suara panggilan tadi terdengar dekat sekali. Kemudian dia melihat bayangan orang berlari cepat dari belakang dan dia terkejut. Orang itu telah memanggil namanya dari jarak yang amat jauh, namun suara panggilannya begitu dekat seolah-olah terdengar di pinggir telinganya! Maklumlah dia bahwa pemanggilnya itu adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan tahu pula dia siapa orang itu, maka dia menanti sambil berdiri tegak dan jantung berdebar tegang.

Tak lama kemudian Kun Liong sudah berdiri di depannya, tersenyum dan memandang tajam waiah yang cantik jelita itu.

“Yap In Hong, adikku, adik kandungku…”

In Hong mengerutkan alisnya. Tak disangkanya bahwa dia akan bertemu dengan kakaknya di situ, atau lebih tepat lagi, kakaknya itu agaknya mengejar dan menyusulnya.

“Sejak aku terusir dari Pulau Kwi-ouw, aku menanti kesempatan baik. Melihat engkau melakukan perjalanan seorang diri, diam-diam aku membayangimu dari jauh, dan dari jauh pula aku melihat segala sepak terjangmu. Engkau hebat, adikku, hanya sayang ketika menghadapi Fen-ho Su-liong, engkau terlampau ganas. Mereka memang bajak sungai yang kejam, akan tetapi belum tentu di antara mereka itu tidak dapat sadar dan kembali ke jalan benar jika diberi kesempatan. Hampir aku kehilangan kau ketika engkau malam-malam pergi mengejar maling, dan untung hari ini aku masih dapat menyusulmu.”

“Engkau… engkau mau apakah?” Akhirnya In Hong dapat mengajukan pertanyaan itu. Hatinya berdebar tidak karuan, dan bermacam perasaan bergelora di dalam dadanya. Harus diakuinya bahwa ada semacam kebahagiaan dan keharuan terasa di hatinya ketika dia berhadapan dengan orang yang menjadi kakak kandungnya itu, akan tetapi juga terdapat rasa kekhawatiran dan tidak senang ketika dia teringat bahwa penghidupan gurunya yang tercinta dirusak oleh kakaknya ini.

“In Hong, aku adalah kakak kandungmu yang mencari-carimu, dan setelah kita bertemu bagaimana engkau bisa mengajukan pertanyaan seperti itu? Aku adalah kakakmu, dan karena ayah bunda kita sudah tidak ada, maka aku adalah walimu, pengganti ayah bundamu.”

Aku… aku tidak mempunyai urusan apa-apa denganmu dan… dan sejak kecilpun di antara kita tidak ada hubungan apa-apa. Sudahlah, kita tidak perlu saling mengganggu, jalan hidup kita berpisah dan aku tidak mau terlibat dengan urusanmu atau siapapun juga.”

“In Hong! Dengar baik-baik, aku bertindak selaku kakak dan wakil orang tuamu. Aku harus melakukan kebaktian terakhir terhadap orang tua kita dengan mengatur urusan masa depanmu. Dengarlah, baru-baru ini Cia Keng Hong locianpwe, ketua Cin-ling-pai datang berkunjung ke rumahku dan beliau mengulurkan tangan menjodohkan puteranya yang bernama Cia Bun Houw denganmu! Tentu saja aku setuju karena menjadi mantu ketua Cin-ling-pai merupakan kehormatan besar sekali dan sekaligus mengangkat nama mendiang orang tua kita. Cia Bun Houw telah berguru kepada Kok Beng Lama, yaitu ayah mertuaku yang sakti dan kini tentu kepandaiannya sudah hebat bukan main, dan menurut penuturan ketua Cin-ling-pai, sekarang sedang dijemput untuk pulang ke Cin-ling-san.”

Kun Liong yang mengucapkan kata-kata itu dengan hati gembira dan mengira bahwa adiknya sebagai seorang gadis muda tentu akan menjadi merah mukanya karena dibicarakan tentang urusan jodohnya, kini menghentikan kata-katanya dan memandang dengan heran. Wajah adiknya itu biasa saja, bahkan dingin dan sama sekali tidak perduli, kelihatannya agak termenung seperti orang terkejut. Dan memang bukan urusan perjodohan itulah yang menarik hati In Hong, melainkan mendengar betapa ketua Cin-ling-pai baru saja datang ke rumah kakaknya itu membicarakan urusan pernikahan, berarti bahwa ketika ketua itu pergi ke rumah kakaknya itulah Lima Bayangan Dewa datang menyerbu dan mencuri Siang-bhok-kiam. Dan jelas bahwa kakaknya ini belum mendengar tentang peristiwa yang menggegerkan itu, maka bicara enak saja tentang perjodohan, tidak tahu bahwa di tempat yang mengusulkan perjodohan itu terjadi malapetaka yang menggegerkan.

“In Hong, karena itu sekarang engkau ikutlah pulang bersamaku. Percayalah bahwa selama ini aku dan kakak iparmu selalu mengenangmu. Aku tidak ingin memperhebat kebencian subomu kepadaku maka aku selama ini tidak mau mempergunakan kekerasan untuk merampasmu. Pula, aku tidak ingin mempergunakan paksaan terhadap dirimu, hanya kuharap engkau dapat sadar bahwa tempatmu adalah di samping kakak kandungmu.”

“Koko, sudahlah, lupakan saja bahwa engkau mempunyai seorang adik kandung seperti aku. Engkau telah merusak kehidupan suboku, mana mungkin aku akan menyakiti hatinya dengan berbaik kepa damu? Marilah kita berpisah dengan baik dan selanjutnya tidak perlu kita saling bertemu kembali.” Setelah berkata demikian, In Hong membalikkan tubuhnya hendak pergi.

“In Hong…!” Kun Liong berseru keras dan sekali berkelebat dia sudah menghadang di depan gadis itu. “Sadarlah, engkau adalah puteri pendekar besar Yap Cong San dan Gui Yan Cu, sama sekali bukan keturunan golongan hitam! Dan aku sudah menyetujui tentang ikatan jodohmu dengan putera ketua Cin-ling-pai! Engkau adalah calon mantu Pendekar Sakti Cia Keng Hong!”

“Kalau begitu, mengapa tidak engkau saja yang menjadi mantunya, koko?” jawab In Hong dengan nada mengejek.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: