Dewi Maut (Jilid ke-11)

Wajah Kun Liong berubah karena ucapan itu benar-benar menancap di hatinya, terasa benar kena dan tepatnya. Memang sebenarnya dialah yang dahulu hendak dijodohkan dengan puteri pendekar sakti itu, yaitu Cia Giok Keng. Akan tetapi dia jatuh cinta kepada Pek Hong Ing sehingga ikatan jodoh itu gagal. Kini, baru dia sadar bahwa desakan-desakannya kepada adiknya ini sebagian besar adalah untuk “menebus dosa” atau menyambung kembali yang dahulu putus olehnya. Dia lupa bahwa dalam hal perjodohan, adiknya sama dengan dia, berhak menentukannya sendiri! Ucapan adiknya itu seperti halilintar menyambar kepalanya dan membuatnya sadar, membuatnya tidak mampu lagi bicara, hanya memandang wajah adiknya yang cantik itu dengan muka muram.

Melihat wajah kakaknya, In Hong menjadi sabar. “Koko, aku mohon kepadamu, habisilah urusan ini sampai di sini saja. Aku diperkenankan merantau oleh subo, dan aku sudah berjanji kepadanya untuk tidak kembali kepadamu, maka selamat berpisah dan semoga hidupmu bahagia, koko. Aku akan mencari jalanku sendiri, harap kau tidak mencampuri urusanku seperti akupun tidak akan mencampuri urusanmu.

In Hong meloncat dan berlari pergi. Kun Liong tidak lagi mengeiar, hanya memandang dengan mata sayu. Bibirnya bergerak seperti berdoa, “Ayah dan ibu, anakmu ini sejak dahulu tidak pernah berbakti kepada orang tua, sekarang mengurus adikpun tidak mampu. Ampunilah aku…”

Sampai lama dia berdiri termenung di tempat itu. Ketika dia mengenangkan adiknya, hatinya perih. Dari sepak terjang adiknya yang dilihat dari jauh ketika In Hong membasmi Fen-ho Su-liong, dia tahu bahwa adiknya sudah ketularan watak keras dan ganas dari Bi Kiok sehingga andaikata adiknya menjadi mantu ketua Cin-ling-pai dan tidak dapat merobah wataknya, tentu malah akan mendatangkan hal-hal yang tidak baik. Perlahan-lahan dia lalu meninggalkan tempat itu untuk pulang dan mengabarkan kepada isterinya tentang adiknya ini dan selama melakukan perjalanan beberapa pekan ini. Kun Liong menjadi agak kurus. Batinnya tertekan dan tertindih apabila dia teringat kepada In Hong.

Sementara itu, In Hong meninggalkan kakaknya, perasaan marah dan penasaran segera menghapus keharuannya. Mereka itu terlalu menghinanya, terlalu memandang rendah kepadanya, pikirnya. Keluarga ketua Cin-ling-pai dan kakaknya itu! Dia tidak dianggap sebagai manusia! Apakah dia itu kucing atau anjing, mau dikawinkan begitu saja dan telah dirundingkan masak-masak, telah diikat perjodohan sebelum dia sendiri tahu akan persoalannya? Belum apa-apa dia sudah ditentukan sebagai jodoh atau calon jodoh seorang pria yang sama sekali tak pernah dilihatnya, yang bernama… eh, siapa lagi tadi? Cia Bun Houw? Biar dia pendekar sakti seperti dewa sekalipun, apakah dia dikira seorang perempuan yang gila pria, mau menurut begitu saja dicarikan jodoh? Terlalu! Hatinya menjadi panas, terutama sekali kepada keluarga Cia yang begitu mudah saja menarik dia sebagai calon mantu.

“Lihat saja kalian nanti!” gerutunya. “Aku bukan benda mati atau binatang peliharaan yang dapat kalian perlakukan seenak hati kalian sendiri!” Dengan hati panas dia melanjutkan perjalanannya, perantauannya yang tanpa tujuan tertentu itu.

***

Sukar dibayangkan betapa hebat pukulan batin yang diderita oleh Pendekar Sakti Cia Keng Hong dan isterinya, Sie Biauw Eng, ketika mereka berdua pulang ke Cin-ling-san setelah mereka mengunjungi rumah Yap Kun Liong di Leng-kok. Padahal perjalanan itu amat menggembirakan hati kedua orang suami isteri yang sudah kakek nenek berusia enam puluh tahun lebih itu. Perjalanan yang menyegarkan dan menyehatkan setelah belasan tahun mereka tidak lagi melakukan perjalanan keluar dari Cin-ling-san.

Cia Keng Hong menggigit bibirnya dan mengepal kedua tinju tangannya, sedangkan isterinya hampir pingsan, lalu menangis menjatuhkan diri di atas kursi ketika mereka berdua disambut dengan ratap tangis oleh anak buah dan anak murid mereka. Apalagi ketika mendengar penuturan mereka tentang matinya tujuh orang di antara Cap-it Ho-han dan seorang anak murid lain. Wajah Keng Hong berubah menjadi pucat sekali.

“Biar aku pergi mencari mereka! Si bedebah Lima Bayangan Dewa biar akan bersembunyi di neraka sekalipun, akan kucari sampai dapat dan kucincang kepala mereka sampai hancur!” Nenek itu berteriak-teriak sambil mengepal tinju. Menghadapi malapetaka yang demikian hebat, nenek itu kembali menjadi Sie Biauw Eng, bekas pendekar wanita yang tidak pernah mengenal takut dan yang pernah namanya menggemparkan dunia kang-ouw ketika dia masih berjuluk Song-bun Siu-li!

Kakek ketua Cin-ling-pai itu menghibur isterinya dan mereka duduk berdampingan di atas kursi dengan muka sebentar pucat sebentar merah ketika anak murid Cin-ling-pai menceritakan dengan sejelasnya akan penyerbuan di Cin-ling-pai oleh Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok dan pembunuhan atas diri para murid Cin-ling-pai di restoran Koai-lo di kota Han-tiong.

“Tadinya teecu sekalian bingung karena tidak ada yang mengetahui nama empat orang lain dari Lima Bayangan Dewa, sedangkan yang tahu hanya suheng Coa Seng Ki yang pada saat itu belum tewas namun terluka amat hebat…” Pembicara itu menghapus air matanya. “Untung datang Hong Khi Hoatsu locianpwe bersama locianpwe Tio Hok Gwan yang dapat memberi kekuatan sementara kepada Coa-suheng untuk memberitahukan nama-nama mereka.”

“Lekas sebutkan nama-nama mereka!” Cia Keng Hong berkata, suaranya penuh kegemasan dan kemarahan tertahan. Maka disebutlah satu demi satu nama dan julukan empat orang di antara Lima Bayangan Dewa itu dan dicatat baik-baik di dalam hati oleh Cia Keng Hong dan isterinya.

“Hemm, tentu semua ini gara-gara Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok,” Cia Keng Hong berkata marah. “Dia adalah sute dari Ouwyang Kok dan tentu dia yang menggerakkan yang lain untuk membalas dendam. Dasar pengecut hina! Mengapa dia datang pada saat aku tidak berada di Cin-ling-san?”

Mendengar dicurinya Siang-bhok-kiam, tidak begitu menyedihkan hati Cia Keng Hong, tidak seperti kematian tujuh orang Cap-it Ho-han dan seorang anak murid lain. Akan tetapi isterinya berkata, “Biarpun pedang itu tidak sangat berharga, akan tetapi benda itu adalah pusaka lambang kebesaran Cin-ling-pai! Lebih dari itu malah, Siang-bhok-kiam sudah terkenal di seluruh dunia kang-ouw sebagai lambang kemenangan dari kebaikan melawan kejahatan. Lenyapnya Siang-bhok-kiam dari Cin-ling-pai tentu akan menggegerkan dunia persilatan dan memberanikan hati kaum sesat untuk beraksi.”

Cia Keng Hong mengangguk-angguk membenarkan pendapat isterinya itu.”Bagaimana juga, aku sendiri akan bergerak mencari kembali Siang-bhok-kiam dan membasmi para pengecut itu. Akan tetapi kita harus menanti datangnya Kin Ta berempat yang menjemput Bun Houw.”

Ketika suami isteri ini mendengar tentang kedatangan seorang tosu dan tokouw yang agaknya hendak mengacau di waktu peti-peti mati disembahyangi dan kedua orang aneh itu pergi ketika Tio Hok Gwan dan Hong Khi Hoatsu muncul, Keng Hong menarik napas panjang dan berkata kepada isterinya, “Tidak kusangka, di dalam usia tua aku masih terus dikejar-kejar musuh. Aihhh… jalan kekerasan memang selalu mendatangkan kekerasan lain sampai selama kita hidup. Akan tetapi aku tidak menyesal, memang sudah resikonya begini dan sampai matipun aku selalu akan membela kebenaran dan menentang kejahatan!” Isterinya setuju dengan pendirian suaminya ini dan berjanji akan membela suaminya sampai akhir hayat.

Berhari-hari suami isteri yang sudah tua ini menanti dalam keadaan berkabung. Ketika pada suatu hari Bun Houw bersama empat orang tertua dari Cap-it Ho-han datang, mereka disambut dengan tangis dan ratap menyedihkan. Dapat dibayangkan betapa marah dan terkejut hati Kwee Kin Ta dan para sutenya mendengar penuturan tentang matinya tujuh orang sutenya dan lenyapnya pedang puaka Siang-bhok-kiam. Sambil mengeluarkan teriakan keras Kwee Kin Ta yang sudah berusia enam puluh tahun lebih, sebaya dengan ketuanya, roboh pingsan!

“Ayah, akan percuma sajalah anak berlatih ilmu selama bertahun-tahun kalau aku tidak bisa mencari mereka, merampas kembali Siang-bhok-kiam dan membalaskan kematian para suheng itu!” Bun Houw berkata sambil menahan air matanya. Dia tidak dapat mengusap air matanya ketika melihat ayah dan ibunya yang sudah tua itu sampai menangis.

Cia Keng Hong menyadarkan Kin Ta dan dengan suara keren lalu berkata, “Cukuplah semua kelemahan ini! Cin-ling-pai bukanlah perkumpulan orang-orang cengeng! Mati dalam mempertahankan kebenaran bukanlah mati konyol dan tidak perlu terlalu disedihkan benar. Mereka itu mati sebagai murid-murid Cin-ling-pai yang tidak memalukan, menghadapi kejahatan dengan gagah perkasa dan matipun tidak sia-sia. Habiskan semua kedukaan yang hanya melemahkan hati kita sendiri dan mari kita bicarakan bagaimana baiknya untuk mencari kembali Siang-bhok-kiam dan menghukum Lima Bayangan Dewa.”

Cia Keng Hong dan isterinya lalu berunding dengan Bun Houw dan empat orang tertua Cap-it Ho-han, yaitu Kwee Kin Ta dan adiknya, Kwee Kin Ci, Louw Bi dan Un Siong Tek yang usianya masing-masing sudah lima puluh tahun. Di dalam perundingan ini, Bun Houw kukuh dengan keinginannya untuk mencari pusaka yang hilang dan menghukum musuh-musuhnya.

Ketika ayahnya menyatakan keputusannya hendak pergi sendiri bersama ibunya, Bun Houw membantah keras. “Ayah dan ibu sudah tua, dan biarpun urusan ini adalah urusan ayah dan ibu, akan tetapi bukankah anak berhak untuk mewakili orang tua? Pula, lima pengecut hina itu adalah pengecut-pengecut yang hanya berani bergerak di waktu ayah dan ibu tidak ada, maka kurasa kepandaian mereka tidak berapa hebat. Sudah cukuplah kalau anak sendiri yang menghadapi mereka dan anak mempertaruhkan nyawa untuk tugas ini! Di samping itu, pengalaman yang sudah menjadi pelajaran bahwa apabila ayah dan ibu meninggalkan Cin-ling-pai, para pengecut berani bermain gila. Sebaiknya kalau ayah dan ibu tetap tinggal di sini, siapa tahu mereka itu akan datang lagi.”

Cia Keng Hong saling bertukar pandang dengan isterinya. Betapapun juga, mereka masih khawatir untuk melepas Bun Houw pergi sendiri karena anak itu baru saja datang setelah pergi selama lima tahun dan biarpun kepandaiannya mungkin sudah tinggi, namun masih kurang pengalaman. Akan tetapi, untuk menolak dan melarang begitu sajapun sukar, selain tidak ada alasan kuat, juga amat tidak baik, berarti menekan semangat kependekaran putera sendiri.

“Mari kita semua ke lian-bu-thia (ruangan belajar silat)!” Tiba-tiba Cia Keng Hong berkata kepada putera dan murid-muridnya.

Setelah tiba di ruangan bersilat yang amat luas ini, Kwee Kin Ta dan tiga orang sutenya duduk di atas bangku di pinggir, sedangkan Cia Keng Hong lalu berkata kepada Bun Houw, “Kau bersiaplah melawanku dan waspadalah, aku bersungguh-sungguh!”

Bun Houw adalah anak pendekar yang sejak kecil digembleng dengan ilmu silat. Tanpa banyak cakap dia sudah mengerti bahwa ayahnya tidak rela membiarkan dia pergi mencari pedang Siang-bhok-kiam karena ayahnya masih belum percaya akan kepandaiannya. Kalau dia tidak bisa mengalahkan ayahnya, atau setidaknya mengimbangi kepandaian ayahnya, jangan harap ayahnya akan membolehkannya pergi melakukan tugas berbahaya itu.

Cepat dia lalu mengencangkan pakaian, meloncat ke tengah ruangan itu, berdiri tegak sambil berkata, “Aku sudah siap, ayah!”

Cia Keng Hong berbisik kepada isterinya, kemudian mengeluarkan bentakan nyaring dan tubuhnya sudah mencelat ke tengah ruangan itu. “Awas serangan…!” Langsung dia lalu menyerang puteranya dengan pukulan-pukulan yang amat dahsyat, menggunakan jurus-jurus pilihan dari San-in Kun-hoat. Hebat bukan main Ilmu Silat San-in Kun-hoat ini karena begitu dimainkan, kedua telapak tangan pendekar tua itu mengeluarkan uap putih, sesuai dengan nama ilmu silatnya, yaitu San-in Kun-hoat (Ilmu Silat Awan Gunung).

“Haiiittt…!” Bun Houw juga mengeluarkan suara pekik dahsyat dan cepat dia menggerakkan kaki tangannya menyambut serangan ayahnya, bukan mengelak melainkan menangkis sambil mengerahkan sin-kangnya. Terdengarlah suara dak-duk-dak-duk ketika berkali-kali lengan ayah dan anak itu saling beradu dan hanya beberapa kali saja Bun Houw agak tergeser ke belakang namun tidak membuat dia sampai terhuyung. Tentu saja dia sudah hafal benar akan Ilmu Silat San-in Kun-hoat ini dan dia dapat mengimbangi permainan ayahnya, bahkan dia juga membalas dengan jurus-jurus pilihan dari ilmu silat ini. Gerakan mereka makin lama makin cepat sehingga sukarlah bagi orang biasa untuk dapat mengikuti bayangan-bayangan yang sudah menjadi satu itu. Kwee Kin Ta dan para sutenya memandang kagum karena sebagai ahli-ahli silat tingkat tinggi merekapun dapat melihat betapa ketua mereka mengerahkan tenaga dan kepandaian, dan betapa putera ketua mereka itu melawan dengan kekuatan yang tidak kalah hebatnya!

Tiba-tiba Cia Keng Hong merobah gerakannya setelah mengeluarkan suara keras dan kini dia mainkan Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun! Bun Houw terkejut dan berlaku hati-hati sekali. Dia sendiri sudah melatih diri dengan ilmu silat mujijat ini, akan tetapi karena dia maklum bahwa ayahnya adalah seorang ahli yang sukar dicari bandingannya, maka dia tentu kalah matang dan karena itu dia mengimbanginya dengan Thai-kek Sin-kun dan mencampurinya dengan ilmu yang dia peroleh dari gurunya selama lima tahun ini di Tibet. Kedua tangannya menggetar-getar mengeluarkan tenaga mujijat karena dia telah mengerahkan Ilmu Thian-te Sin-ciang (Tangan Sakti Langit dan Bumi) yang membuat kedua tangan Kok Beng Lama dapat menahan segala senjata pusaka!

Cia Keng Hong terkejut dan girang sekali ketika merasa betapa dari kedua tangan puteranya itu menyambar hawa yang luar biasa, ada rasa panas dan ada rasa dingin, dan semua gerakan serangannya yang terlalu cepat dan terlalu hebat sehingga mendesak puteranya, ternyata membalik dan tertahan oleh hawa aneh dari kedua tangan puteranya itu!

Dia menyerang terus, dan juga menjaga diri karena Bun Houw tidak membiarkan dirinya diserang tanpa membalas. Dia membalas jurus dengan jurus, terjangan dengan terjangan yang tidak kalah dahsyatnya sehingga di sekeliling ayah dan anak ini, dalam jarak empat meter terasa angin yang menyambar-nyambar, kadang-kadang panas sekali, kadang-kadang amat dinginnya.

Dua ratus jurus telah lewat dan belum juga Cia Keng Hong mampu mengalahkan puteranya, bahkan kini dia mulai terdesak karena betapapun usianya yang sudah enam puluh tahun lebih itu mengurangi tenaga dan napasnya.

Hyyyyaaaaattt…!” Tiba-tiba Sie Biauw Eng mengeluarkan suara melengking nyaring dan wanita tua ini terjun ke dalam medan pertandingan, langsung menyerang puteranya dengan pukulan-pukulan Ngo-tok-ciang (Tangan Lima Racun)! Bun Houw sudah melatih diri dengan pukulan-pukulan ini pula, akan tetapi dia berlaku hati-hati dan cepat mengelak den membalas dengan serangan terhadap ibunya karena dia maklum bahwa kalau dia menggunakan tenaga Thian-te Sin-ciang terhadap ibunya, dia khawatir ibunya takkan kuat bertahan dan akan menderita luka. Maka dikeroyoklah pemuda itu oleh kedua ayah bundanya den inilah agaknya yang tadi dibisikkan oleh Cia Keng Hong kepada isterinya, yaitu untuk maju mengeroyok apabila dalam dua ratus jurus dia masih belum mampu mengalahkan puteranya.

Pertandingan menjadi makin seru den kini bahkan Kwee Kin Ta den adik-adiknya sendiri menjadi pening mengikuti gerakan mereka yang luar biasa cepatnya. Empat orang tertua dari Cap-it Ho-han ini terkejut den kagum bukan main. Diam-diam mereka harus mengakui bahwa dibandingkan dengan Bun Houw, tingkat mereka kalah jauh sekali dan menduga-duga bahwa mungkin kepandaian pemuda itu kini sudah mengimbangi kepandaian ayahnya!

“Hyaaaaatt!”

“Haiiiiikkkkk!”

Cia Keng Hong den isterinya memekik nyaring ketika pukulan Bun Houw menyambar ke arah mereka. Mereka tidak mengelak melainkan menyambut pula dengan telapak tangan mereka sehingga kedua tangan pemuda itu menempel pada tangan ayah dan ibunya. Suami isteri itu mengerahkan tenaga dan tubuh Bun Houw terangkat, kedua tangannya masih menempel di tangan ayah bundanya dan kakinya ditarik ke atas.

“Aaaaahhhhh!” Suami isteri itu mengerahkan tenaga dan melemparkan tubuh putera mereka dengan dorongan keras. Tubuh Bun Houw terlempar ke atas, akan tetapi bukannya terbanting jatuh, sebaliknya malah berjungkir balik di udara, sampai dua kali dan ketika tubuhnya melayang turun, kedua kakinya sudah mengancam pundak kedua orang tua mereka!

“Ihhh…!” Sie Biauw Eng memekik kaget dan cepat dia menangkap kaki yang hendak menotok pundaknya itu. Juga Keng Hong menangkap kaki kedua dan kembali mereka mendorong kedua kaki itu ke atas. Kini Bun Houw terlempar jauh dan dia berjungkir balik lagi, dan hinggap di atas lantai dengan kedua kakinya agak dibengkokkan.

Pada saat itu, ayah bundanya sudah meloncat ke atas dan membalas dengan serangan kaki dari atas. Ini memang merupakan jurus yang amat berbahaya dan yang tadi sudah dipergunakan oleh Bun Houw dengan baik sekali sehingga kalau saja bukan ayah bundanya yang diserang, tentu akan roboh terkena totokan ujung kakinya. Kini ayah bundanya menyerang dengan berbareng. Bun Houw terkejut, akan tetapi diapun dapat menangkap dua buah kaki, masing-masing sebuah dari ayah bundanya dan tanpa menanti kaki kedua menyerang, dia sudah melemparkan ayah bundanya dengan pengerahan tenaga sin-kang. Kakek dan nenek itu terlempar dan berjungkir balik seperti yang dilakukan putera mereka tadi. Mereka hinggap di atas lantai dan memandang dengan wajah berseri dan kagum.

“Jaga ini…!” Tiba-tiba Cia Keng Hong berseru keras dan dia sudah menerjang lagi sendirian dan mengirim pukulan ke arah puteranya. Bun Houw cepat menangkis dan kembali bertemulah lengan mereka.

“Dukk!”

Bun Houw terkejut karena lengannya melekat pada lengan ayahnya dan dia merasa tenaga sedotan hebat sekali. Tahulah dia bahwa ayahnya telah menggunakan Thi-khi-i-beng, ilmu yang paling hebat dan mujijat dari ayahnya.

“Wuuut-plakk!” Dia mengerahkan tenaga, membuat gerakan memutar dan cepat sekali jari tangannya menotok ke arah dada ayahnya. Totokan maut yang amat berbahaya dan pada saat Cia Keng Hong menangkisnya, Bun Houw telah berbasil melepaskan lengannya yang menempel tadi!

Cia Keng Hong terkejut dan heran, kembali menyerang dan setiap kali lengan mereka bersentuhan, dia menggunakan Thi-khi-i-beng, akan tetapi selalu Bun Houw dapat melepaskan bagian tubuhnya yang melekat pada tubuh ayahnya. Akhirnya mengertilah Cia Keng Hong bahwa Thi-khi-i-beng tidak lagi mampu mengalahkan pemuda itu, maka dia meloncat ke belakang dan berkata, “Cukup!”

Bun Houw maju dengan muka gembira. “Bagaimana pendapat ayah dan ibu? Luluskah aku?”

“Engkau hebat, aku tidak lagi mampu menandingimu, Houw-ji (anak Houw)!” Sie Biauw Eng berseru gembira.

“Aku girang sekali melihat bahwa gurumu telah membimbingmu sehingga engkau bahkan dapat menghadapi Thi-khi-i-beng! Engkau tahu mengapa aku tidak menurunkan ilmu itu kepadamu, anakku?” Cia Keng Hong berkata.

“Aku mengerti, ayah. Ilmu itu hanya dapat diturunkan kepada satu orang saja, dan ayah sudah memberikannya kepada suheng Yap Kun Liong. Aku tidak merasa iri, ayah.”

“Bagus, kalau engkau sudah mengerti. Sekarang coba kau bersilat pedang, hendak kulihat sampai di mana kemajuanmu.”

Ayah dan ibu itu sudah mandi keringat ketika mengeroyok Bun Houw tadi, akan tetapi Bun Houw hanya berkeringat di leher dan dahi saja, dan sama sekali tidak kelihatan lelah. Dia mengangguk, meloncat ke tengah ruangan, mencabut pedangnya dan mulailah dia bersilat pedang. Mula-mula Kwee Kin Ta dan tiga orang sutenya masih dapat mengenal gerakan pedang yang indah dari ilmu pedang Cin-ling-pai yang juga mereka kuasai, kemudian meningkat kepada Ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut yang gerakannya membuat pedang itu berubah menjadi gulungan sinar yang selalu bersilang-silang dan memang keistimewaan Ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut adalah gerakannya yang bersilang, akan tetapi ketika makin lama Bun Houw mempercepat gerakannya dan merobah ilmu pedangnya, empat orang murid tertua dari Cin-ling-pai itu menjadi bengong karena selain mata mereka menjadi silau, juga mereka tidak mampu lagi mengenal ilmu pedang yang dimainkan oleh Bun Houw. Yang tampak hanya gulungan sinar pedang dan angin menyambar-nyambar, bahkan mereka yang berada di sudut ruangan itu dapat merasakan sambaran angin dingin itu.

Setelah Bun Houw menghentikan permainan pedangnya, Cia Keng Hong mengangguk-angguk. Tadi dia sudah saling berbisik dengan isterinya bahwa ilmu kepandaian putera mereka itu sudah cukup tinggi dan boleh diandalkan untuk putera mereka pergi menentang bahaya mencari dan merampas kembali pusaka Cin-ling-pai.

“Baiklah, engkau boleh pergi mencari mereka dan merampas kembali pedang kita, Houw-ji. Akan tetapi ingatlah baik-baik bahwa hanya ilmu silat tinggi saja masih belum cukup kuat untuk menjaga diri. Engkau harus berhati-hati terhadap segala macam tipu muslihat lawan yang curang dan untuk menghadapi itu bekalnya hanyalah ketenangan dan kewaspadaan.”

Selama dua hari beristirahat di Cin-ling-san, tiada hentinya Bun Houw menerima nasibat dan pesan dari ayah dan bundanya tentang keadaan di dunia kang-ouw, tentang kecurangan-kecurangan para tokoh kaum sesat dengan menceritakan pengalaman mereka di waktu muda. Biarpun puteranya itu sudah pula mewarisi ilmu pukulan beracun Ngo-tok-ciang, akan tetapi karena maklum betapa banyaknya ahli tentang racun di dunia kaum sesat, Sie Biauw Eng lalu memberikan tusuk kondenya yang berbentuk bunga bwee kepada puteranya.

“Setiap makanan atau minuman yang mencurigakan, kaucoba dengan ujung tusuk konde ini. Kalau ujungnya berwama hijau, di situ terdapat racun yang membius atau memabokkan, kalau berwama hitam, terdapat racun yang mematikan,” pesannya.

Setelah beristirahat dua hari, maka berangkatlah Cia Bun Houw meninggalkan Cin-ling-san untuk menyelidiki tentang Lima Bayangan Dewa, membawa bekal pakaian, uang, dan pedangnya. Sehari setelah dia berangkat, Kwee Kin Ta dan tiga orang sutenya juga berpamit dari guru dan ketua mereka untuk berusaha mencari jejak musuh-musuh besar itu dan mengingat akan kedukaan dan kehilangan para muridnya ini, Cia Keng Hong tidak tega untuk menolak. Maka berangkat pulalah empat orang tua ini dan mereka berempat sudah bersepakat bahwa mereka tidak akan kembali ke Cin-ling-pai sebelum tugas mereka berhasli, yaitu mendapatkan di mana adanya musuh-musuh besar itu, membalas dendam dan merampas kembali pedang pusaka. Cia Keng Hong sendiri bersama isterinya yang sudah berusia lanjut itu menanti di Cin-ling-san dan hanya dapat berprihatin sambil menjaga kalau-kalau ada musuh lagi yang datang mengacau Cin-ling-pai.

***

In Hong memasuki pasar di kota I-kiang itu sambil melihat-lihat orang berjual beli. Pasar itu cukup ramai, penuh dengan orang berdagang sayur-mayur dan buah-buahan. Terutama sekali di bagian ikan, bukan main ramainya dan juga baunya amis karena pasar itu merupakan pusat perdagangan ikan hasil kaum nelayan di Sungai Yang-ce-kiang karena kota I-kiang itu memang merupakan kota pelabuhan sungai besar itu.

Mungkin telah menjadi watak seluruh wanita di dunia ini, mereka suka sekali untuk mengunjungi pasar, berbelanja atau hanya melihat-lihat saja! In Hong agaknyapun tidak terkecuali. Dia suka sekali memasuki pasar untuk sekedar melihat-lihat dan kadang-kadang membeli buah-buahan atau apa saja yang menarik hatinya. Demikian pula ketika perantauannya membawa dia ke I-kiang dan kebetulan dia melewati sebuah pasar yang ramai, dia tertarik dan memasuki pasar itu, berdesak-desakan dengan orang-orang lain yang sebagian besar adalah wanita-wanita berbelanja.

Setelah membeli beberapa biji buah apel yang merah dan kelihatan segar, In Hong lalu memasuki bagian perdagangan ikan yang ramai dan penuh orang. Kiranya, di situ memang pusatnya, bukan hanya perdagangan eceran, melainkan partai besar dan di sini terdapat banyak pedagang dari luar kota yang datang untuk memborong banyak ikan dan akan dibawa keluar kota. Ratusan keranjang ikan ditimbang dan ramai orang bercakap-cakap. Mereka semua sibuk dengan urusan mencari untung sehingga kemunculan seorang dara cantik seperti In Hong pun tidak begitu menarik perhatian secara menyolok.

Tiba-tiba In Hong menahan senyumnya. Dia mengenal seorang laki-laki tua bertopi, yang menyelinap di antara benyak orang yang sedang menimbang ikan-ikan dalam keranjang itu. Dia lalu mendekati sambil menyelinap di belakang orang-orang dan mengikuti gerak-gerik laki-laki tua bertopi itu dengan pandang matanya. Hampir saja dia tertawa geli ketika melihat pemandangan itu. Seorang laki-laki gendut berpakaian mewah, agaknya seorang juragan ikan yang kaya, agaknya seorang pendatang dari kota lain yang sengaja memborong ikan-ikan di situ, mengalahkan lain pedagang karena dia berani membayar lebih tinggi, berdiri di antara orang banyak dengan lagak sombong seorang yang merasa lebih berkuasa daripada orang lain dan memang di pasar itu dia berkuasa dengan uangnya. Laki-laki tua bertopi itu longak-longok, menyelinap ke belakang pedagang gendut itu dan dia bersembunyi di belakang beberapa orang yang berada di belakang si pedagang gendut. Akan tetapi lucunya, lengan kakek bertopi itu dapat menyusup seperti seekor ular melalui belakang tubuh orang lain dan tahu-tahu tangannya telah tersembul di atas kantong baju si pedageng gendut!

In Hong tersenyum dan hampir terbatuk-batuk karena saat itu dia sedang makan apel yang manis. Karena geli hatinya hampir saja buah apel yang digigitnya itu salah masuk. Sambil memandang dan mengikuti gerak-gerik kakek bertopi itu, In Hong menjepit biji apel yang kecil dengan jari tangannya, menanti sampai tangan yong seperti kepala ular itu merayap memasuki kantong baju si pedagang gendut, kemudian tiba-tiba dia menyentil dengan jari tangannya.

“Tukk… auuhhh…!” Pencopet tua itu menjerit akan tetapi cepat menahan suaranya dan menutupi mulutnya sambil menggosok-gosok punggung tangannya yang menjadi merah dan terasa panas dan nyeri sekali. Semua orang menengok, akan tetapi mereka hanya melihat seorang kakek bertopi terbatuk-batuk, menutupi mulutnya, agaknya kumat batuknya karena bau ikan yang amis itu, maka dia tidak lagi menjadi perhatian orang.

Kakek bertopi itu bersungut-sungut dan dengan mulut cemberut dia menoleh ke kanan dari mana tadi sebuah benda kecil menyambar tangannya. Matanya terbelalak dan tiba-tiba dia tertawa, lalu mendesak orang di kanan kirinya untuk lari menghampiri In Hong. Banyak orang memakinya gila, tadi terbatuk-batuk keras dan kini lari mendorong orang ke kanan kiri.

Entah bagaimana, melihat wajah Jeng-ci Sin-touw Can Pouw, tiba-tiba saja hati In Hong terasa gembira dan tadi dia memang menggoda pencopet lihai itu. “Hemmm… si seniman kembali mempertunjukkan kemahiran seninya!” In Hong mengejek.

“Sssttt… lihiap, mari kita bicara di luar pasar…” Kakek itu mendahului dan melihat sikapnya yang sungguh-sungguh itu, biarpun hatinya merasa geli, In Hong mengikutinya juga. Mereka tiba di tempat sunyi dan kakek itu memandang In Hong sambil menghela napas panjang.

“Wah, aku telah gagal total! Lihiap tahu apa yang berada di kantongnya itu? Seuntai kalung mutiara yang mahal, agaknya dibelinya dari toko untuk diberikan kepada isteri mudanya yang entah keberapa.”

In Hong menggeleng kepala. “Paman Can Pouw, kulihat engkau adalah seorang yang cerdik dan pintar, apakah engkau tidak bisa bekerja lain untuk mendapat penghasilan kecuali mencopet dan mencuri?”

“Tentu saja bisa, akan tetapi,ahh… seninya itu! Lihiap tidak dapat merasakan betapa nikmat rasa hatiku di waktu mencopet. Tegang, penuh harapan, penuh hal yang tak terduga-duga, penuh dugaan apa gerangan yang akan disentuh tangan setelah memasuki saku, apa yang akan dihasilkan dari jari-jari tangan yang penuh getaran perasaan, pendeknya… wah, ada seninya! Tetapi, sekali ini aku memang butuh sekali, butuh uang…”

“Untuk memberi makan isterimu dan belasan orang anakmu yang kelaparan?” In Hong menggoda.

Pencopet lihai itu menggeleng kepala. “Ah, bukan… bukan…! Aku tidak pernah beristeri dan tidak punya anak…” Dia teringat dan menyambung cepat, “memang kadang-kadang perlu juga berbohong untuk menyelamatkan nyawa. Akan tetapi sekali ini lihiap benar-benar merugikan aku! Aku perlu mendapatkan uang untuk membeli pakaian dan membeli barang sumbangan untuk hari ulang tahun Phoa-taihiap.”

“Hemm, Phoa-taihiap?” In Hong tidak mengerti.

“Ah, benar! Lihiap sebaiknya ikut bersamaku ke sana! Phoa-taihiap dikenal oleh semua golongan, baik golongan putih maupun golongan hitam. Tentu kedua golongan akan bertemu di sana dan akan terjadi hal-hal yang menarik, apalagi setelah terjadinya geger di Cin-ling-pai itu. Siapa tahu kalau-kalau fihak Cin-ling-pai dan fihak Lima Bayangan Dewa, setidaknya kerabat-kerabat mereka, akan hadir di Wu-han.”

“Wu-han?”

“Aihhhh, aku lupa. Lihiap yang luar biasa lihainya ini ternyata masih belum berpengalaman apa-apa. Ketika aku berpisah dari lihiap dan kutanya-tanyakan, tidak ada seorangpun tokoh kang-ouw yang mengenal nama lihiap, padahal kepandaian lihiap sudah setinggi langit! Phoa-taihiap adalah Phoa Lee It, seorang tokoh Go-bi-pai yang tersohor dengan ilmu pedangnya Go-bi Kiam-sut, juga dua orang puteranya terkenal gagah perkasa dan tampan. Kini Phoa-taihiap merayakan hari ulang tahun dan mengundang semua orang gagah dari kedua golongan, agaknya selain untuk mempererat perkenalan, juga untuk mencarikan jodoh bagi kedua orang puteranya, demikian agaknya. Kesempatan baik bagi lihiap, mari bersamaku pergi mengunjungi perayaan itu di rumahnya, yaitu di kota Wu-han.”

In Hong mengerutkan alisnya. Dia sama sekali tidak tertarik. “Akan tetapi aku tidak diundangnya.”

“Akupun tidak, lihiap! Siapa yang membutuhkan undangan? Sudah menjadi lazim dalam perayaan seorang tokoh, kaum kang-ouw berdatangan dan membawa sekedar sumbangan untuk ditukar dengan hidangan, ha-ha-ha!”

“Paman Can, jangan kau main-main. Ceritakan yang sebenarnya, bagaimanakah kebiasaan itu dan mengapa pula paman mengajak aku untuk mengunjungi perayaan itu?”

“Lihiap, mari kita bicara sambil makan di rumah makan itu. Ayam panggangnya enak sekali dan perutku sudah lapar. Kita duduk makan sambil bercakap-cakap, lebih enak daripada berdiri begini, bukan?”

In Hong mengangguk dan setelah tiba di dekat restoran, Can Pouw berbisik, “Bekal uang emas dan perak lihiap itu masih ada, bukan?”

In Hong memandang tajam dan mengangguk.

“Syukurlah, aku sedang tidak mempunyai uang sama sekali,” si pencopet berkata menyeringai. In Hong tersenyum. Hidup menjadi ramai den gembira kalau dekat dengan tukang copet ini.

Mereka makan minum sambil bercakap-cakap atau lebih tepat lagi, In Hong mendengarkan penuturan tukang copet itu.

“Wah, banyak yang terjadi semenjak kita berpisah, nona,” katanya, kadang-kadang menyebut siocia (nona) dan kadang-kadang menyebut lihiap (pendekar wanita). “Lima Bayangan Dewa telah mengumpulkan tokoh-tokoh dunia hitam, agaknya hendak memperkuat kedudukannya. Mereka malah tidak tampak berada di sarang mereka yang dikosongkan, tentu sedang pergi ke sana-sini mengumpulkan kekuatan. Dan belum terdengar ada gerakan apa-apa dari Cin-ling-pai! Akan tetapi keadaan dunia kang-ouw panas dan tegang, seolah-olah menanti terjadinya bentrokan yang hebat sebagai akibat dicurinya Siang-bhok-kiam dari golongan putih oleh gologan hitam. Maka, perayaan di rumah Phoa Lee It ini merupakan kesempatan baik untuk melihat-lihat! Nona lihai sekali, sayang kalau tidak bertemu dengan tokoh-tokoh dan datuk-datuk dunia kang-ouw. Marilah pergi bersamaku, lihiap, asal engkau suka menanti sebentar. Aku akan mencari uang dulu untuk membeli pakaian baru dan barang hantaran.”

“Dengan mencuri?”

Can Pouw menggeleng. “Hanya menggunakan seni memindahkan barang orang yang lengah.”

In Hong tersenyum. “Aku mau pergi bersamamu untuk melihat-lihat, akan tetapi dengan janji bahwa selama engkau melakukan perjalanan dengan aku, engkau dilarang mencopet atau mencuri, dengan istilah apapun hendak kaunamakan. Aku mempunyai cukup uang untuk membeli pakaianmu dan sekedar barang hantaran.”

Jeng-ci Sin-touw Can Pouw menjadi berseri mukanya dan matanya bersinar-sinar. “Bagus…! Aku girang sekali, lihiap! Soal berhenti bekerja sementara waktu tidak mengapa. Akan tetapi melakukan perjalanan dengan lihiap, hadir di sana bersama lihiap merupakan kehormatan besar sekali bagiku!”

Jeng-ci Sin-touw Can Pouw adalah seorang perantau yang selamanya hidup membujang. Mudah mencari uang dengan jalan menggunakan kepandaiannya yang lihai, akan tetapi mudah pula membuangnya. Dia sudah bosan akan segala macam kesenangan, dan kebiassannya mencopet atau mencuri hanya untuk memenuhi kegatalan tangannya saja. Bahkan seringkali, hasil dari pencuriannya itu dia bagi-bagikan kepada orang miskin tanpa mereka ketahui pula, dan dia tetap tinggal miskin. Kini, bertemu dengan seorang dara yang memiliki kepandaian amat hebat dan dia sudah menyaksikan ini, dia menjadi tertarik dan suka serta sayang sekali seperti rasa sayang seorang ayah kepada anaknya. Ada sesuatu yang menarik pada diri gadis ini, entah sikapnya yang dingin, ketidak acuhannya terhadap dunia, kecantikannya yang luar biasa atau kepandaiannya yang amat tinggi itu. Pendeknya, Can Pouw merasa girang sekali dapat berkenalan dengan dara ini, apalagi mendapat kesempatan untuk melakukan perjalanan bersama dan mengunjungi perayaan bersama.

Jeng-ci Sin-touw Can Pouw selain memiliki “seribu jari tangan” juga mempunyai ketajaman pandangan dan pendengaran yang luar biasa, di samping hubungannya memang banyak dan erat dengan semua tokoh di dunia kang-ouw. Maka segala keterangan yang diberikannya kepada In Hong mengenai Phoa Lee It di Wu-han itu tidak banyak selisihnya dengan kenyataan.

Phoa Lee It adalah seorang tokoh dari partai Go-bi-pai yang besar dan terkenal. Sudah belasan tahun dia tinggal di Wu-han, membuka perusahaan piauw-kiok (pengawal barang kiriman atau pelancong) yang memakai nama Go-bi Sam-eng (Tiga Pendekar Go-bi) dan karena hubungannya dengan semua fihak di dunia kang-ouw, baik dari kalangan pendekar maupun golongan penjahat amat eratnya, maka selama dia menjalankan pekerjaannya ini tidak ada yang mau mengganggu. Para penjahat tidak ada yang mau mengganggu semua barang kawalannya, karena selain amat berbahaya bermusuhan dengan Phoa Lee It dan dua orang puteranya yang memiliki kepandaian tinggi, juga setiap kali mereka minta sumbangan kepada piauw-kiok ini pasti akan dipenuhi. Juga orang she Phoa ini selalu membuka tangannya terhadep para tokoh kang-ouw yang membutuhkan bantuan, maka diapun terkenal sebagai seorang yang pandai bergaul dan gagah perkasa.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, peristiwa pencurian Siang-bhok-kiam dari Cin-ling-pai dan pembunuhan atas diri anggauta-anggauta Cap-it Ho-han menggegerkan dunia kang-ouw dan tentu saja ada fihak yang membela Cin-ling-pai, ada pula yang membela Lima Bayangan Dewa! Melihat ketegangan dan bahaya perpecahan secara terbuka ini di dunia kang-ouw. Phoo Lee It sendiri menjadi cemas, maka timbullah niat di hatinya untuk mengadakan perayaan ulang tahun perusahaannya yang sudah dua windu (enam belas tahun) lamanya dengan selamat, dan mengundang semua tokoh kang-ouw dan liok-lim (para perampok) baik dengan undangan khusus atau dengan undangan umum untuk hadir dalam perayaan itu. Di samping untuk membuyarkan suasana tegang di antara orang kang-ouw di daerahnya yang akan mengganggu pekerjaannya, juga pendekar yang menjadi piauwsu int ingin sekali bertemu dengan sahabat-sahabat lama, para tokoh besar di dunia persilatan dengan maksud mencarikan jodoh bagi kedua orang puteranya yang sudah lebih dari dewasa.

Phoa Lee It adalah seorang duda dengan dua orang anak laki-laki yang mewarisi ilmu kepandaiannya, bahkan selama bertahun-tahun ini kedua orang puteranya itulah yang mewakili dia melakukan pengawalan terhadap barang-barang kiriman yang berharga. Yang pertama bernama Phoa Kim Cai, seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun, bertubuh tinggi besar seperti ayahnya, tampan dan gagah seperti tokoh sejarah Bu Siong, sikapnya kasar, terbuka dan jujur. Adapun putera kedua bernama Phoa Kim Sui, tubuhnya sedang dan wajahnya tampan halus seperti mendiang ibunya, juga seperti kakaknya, amat lihai bermain silat pedang Go-bi Kiam-sut, hanya sikapnya berbeda dengan kakaknya, dia halus dan agak pendiam.

Pada hari yang ditentukan untuk perayaan itu, sejak pagi sekali dua orang pemuda itu sudah menyambut datangnya para tamu di ruangan depan, sedangkan ayah mereka menyambut di bagian dalam, mempersilakan para tamu duduk dan tentu saja hanya para tokoh besar yang dipersilakan duduk di bagian kehormatan, yaitu tempat teratas di dekat tempat duduk tuan rumah. Beberapa orang pimpinan piauw-kiok itu, para pembantu keluarga Phoa, menerima sumbangan-sumbangan yang diatur di atas meja. Dan tepat seperti diduga semula, banyak sekali tamu yang datang, dan kedatangan mereka itu bukan semata-mata karena hubungan perkenalan mereka dengan Phoa piauwsu, akan tetapi terutama sekali terdorong oleh keinginan mereka menemui tokoh-tokoh dari dua golongan berhubung dengan terjadinya peristiwa mengegerkan di dunia kang-ouw itu, terutama sekali ketika terdapat berita angin bahwa Phoa-piauwsu juga mengundang keluarga darl Cin-ling-pai!

Jeng-ci Sin-touw Can Pouw, Si Malaikat Copet yang banyak akal itu pagi-pagi telah mengajak In Hong datang ke tempat pasta. In Hong mengenakan pakaian bekalnya yang agak baru dan meninggalkan buntalan pakaiannya di rumah penginapan, hanya membawa pedangnya saja dan memakai burung hong kemala di kepalanya. Can Pouw yang kelihatan gembira sekali itu mengenakan pakaian baru yang dibelikan oleh In Hong dan sebelum berangkat dia berkata, “Bagus sekali! Tanpa kuperkenalkan, tentu semua orang mengenal burung hong di rambutmu itu, lihiap.”

“Hemm, aku tidak hendak membawa-bawa Giok-hong-pang untuk berlagak,” In Hong berkata. “Perhiasan ini kupakai karena ini pemberian subo dan aku suka memakainya. Harap kau jangan menyebut-nyebut Giok-hong-pang kepada orang lain, paman.”

“Baik, baik… engkau memang seorang dara yang luar biasa dan aneh, lihiap, mari kita berangkat.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: