Dewi Maut (Jilid ke-12)

Phoa Kim Cai dan Phoa Kim Sui menyambut mereka dengan penuh hormat dan kedua orang pemuda itu tentu saja mengenal Jeng-ci Sin-touw. “Selamat pagi, Sin-touw,” Phoa Kim Cai menyambut dengan senyum gembira. “Kami girang sekali menerima kunjungan Malaikat Copet, asal seribu jari tanganmu jangan gatal-gatal di sini, Sin-touw!”

Can Pouw tersenyum dan menoleh kepada In Hong. “Lihat, betapa gagah dan ramahnya putera-putera tuan rumah, lihiap!”

In Hong hanya membalas penghormatan mereka dengan mengangkat kedua tangan di depan dada dan memandang tak acuh.

“Sin-touw, harap kau suka memperkenalkan nona ini kepada kami!” tiba-tiba Phoa Kim Cai berkata.

“Ha-ha-ha, dia ini adalah… keponakanku bernama Yap In Hong. Lihiap, ini adalah putera pertama tuan rumah. Phoa Kim Cai kongcu dan ini adiknya, Phoa Kim Sui kongcu.”

Kembali In Hong membalas penghormatan mereka dan Phoa Kim Sui berkata dengan sikap hormat dan halus, “Silakan siocia duduk di dalam!”

In Hong hanya mengangguk dan diiringkan oleh Can Pouw yang berjalan di sebelahnya dengan lagak bangga, membusungkan dadanya yang kerempeng, tidak tahu bahwa topinya agak miring di atas kepalanya sehingga dia kelihatan lucu sekali. In Hong bersikap dingin ketika tadi melihat betapa dua pasang mata tuan rumah itu memandang kepadanya dengan penuh kekaguman. Hemm, biar kalian sepuluh kali lebih gagah dan tampan, aku tidak perduli, bisik hatinya yang merasa tidak senang melihat pandang mata mereka itu. “Paman, engkau masih saja menyebutku lihiap,” In Hong berbisik. Mereka sudah bersepakat untuk mengaku keponakan dan paman, akan tetapi karena pencopet itu selalu menyebut lihiap kepadanya, tentu saja mengertilah dua orang pemuda tadi bahwa hubungan paman dan keponakan itu hanya aku-akuan saja. Apalagi pencopet tua itu jelas begitu membanggakan dara yang luar biasa cantiknya itu.

Phoa Lee It menyambut mereka dan karena piauwsu ini sudah lama tidak pernah keluar, dia tidak mengenal Jeng-ci Sin-touw yang datang bersama seorang nona muda yang cantik. Melihat gerak-gerik Can Pouw dan karena tidak mengenalnya sebagai tokoh besar, maka dia lalu mempersilakan pencopet itu duduk di ruangan biasa bersama tamu-tamu lain.

In Hong menganggapnya biasa saja, akan tetapi diam-diam Can Pouw mengomel panjang pendek. “Aku boleh dia suruh duduk di sini, akan tetapi engkau? Ruangan kehormatan itupun masih kurang layak bagimu!”

“Ssttt… paman, mengapa mengomel tidak karuan? Aku tidak ingin duduk di sana,” In Hong menegur dengan hati geli “Eh, ke mana bungkusan hadiah sumbangan kita?”

Can Pouw mengeluarkan bungkusan itu dari balik jubahnya. “Kalau kita tidak diberi tempat di sana, aku juga tidak akan menyerahkan ini!”

“Hushh, paman Can, engkau membikin kita malu saja. Hayo cepat berikan berang sumbangan itu kepada penjaganya. Lihat, setiap orang yang datang, menyerahkan bungkusan, akan tetapi kita sendiri tidak! Si penjaga sudah sejak tadi memandang ke arah kita saja.”

Ucapan gadis ini memang benar. Tiga orang penjaga dan penerima sumbangan sejak tadi memandang ke arah mereka akan tetapi bukan karena mereka belum menyerahkan sumbangan, melainkan karena mereka kagum dan menduga-duga siapa gerangan dara cantik jelita yang datang bersama Si Malaikat Copet itu.

Sambil bersungut-sungut Can Pouw bangkit berdiri, akan tetapi pada saat itu terdengar suara berisik mengikuti masuknya sepasang tamu baru yang menarik perhatian. Semua orang memandang penuh perhatian ketika laki-laki dan wanita itu memasuki ruangan depan, disambut penuh penghormatan oleh kedua orang putera tuan rumah lalu diantar masuk. In Hong juga memandang penuh perhatian.

Wanita itu cantik luar biasa, cantik den gagah penuh semangat dan agak angkuh memandang ke kanan kiri dengan cara menggerakkan matanya melirik dan menyambar-nyambar penuh selidik. Di pinggangnya tergantung sebatang pedang yang sarungnya terukir indah, pakaiannya juga dari sutera indah dengan bentuk yang ketat sehingga mencetak tubuhnya yang sudah matang dengan lekuk lengkung sempurna itu. Wanita itu sebetulnya sudah berusia tiga puluh lima tahun, namun bentuk tubuhnya padat dan ramping seperti tubuh gadis remaja saja. Di sampingnya berjalan seorang pria yang bertubuh tingg! besar seperti tokoh Kwan Kong, sikapnya pendiam, wajahnya taopan, tampan dan ganteng, pakaiannya sederhana dan di pinggangnya juga tergantung sebatang pedang. Dari sikap dan gerak-gerik mereka mudah saja diduga bahwa suami isteri ini adalah orang-orang gagah yang memiliki kepandaian tinggi dan nama besar.

“Mereka siapa…?” In Hong tertarik sekali dan bertanya kepada Can Pouw ketika rombongan suami isteri ini menyerahkan sebuah bingkisan kepada para penjaga penerima sumbangan.

“Engkau tidak mengenalnya…? Eh, ya, sampai lupa aku siapa engkau yang sama sekali belum mengenal orang-orang kang-ouw. Wanita gagah itulah puteri ketua Cin-ling-pai, kepandaiannya hebat bukan main dan pria itu adalah suaminya, seorang yang lihai bernama Lie Kong Tek. Mereka tinggal di dekat kota ini, yaitu di Sin-yang, dekat Sungai Huai, di kaki Bukit Tapie-san, terhitung tetangga dengan kota ini. Merekalah yang menjadi sumber perhatian karena mereka keluarga Cin-ling-pai.”

In Hong tidak mendengarkan lagi dan memandang kepada wanita itu penuh perhatian. Kiranya itulah puteri ketua Cin-ling-pai dan dia teringat akan pertemuannya dengan kakak kandungnya. Dia dijodohkan dengan putera Cin-ling-pai? Tentu adik dari wanita cantik ini! Siapa namanya? Dia mengingat-ingat dan akhirnya teringat juga, nama putera Cin-ling-pai itu adalah Cia Bun Houw!

“Siapa namanya…?” Dia berbisik lagi.

“Nama siapa? Ah, puteri Cin-ling-pai itu? Dia hanya terkenal sebagai nyonya Lie, akan tetapi aku tahu bahwa nama aslinya adalah Cia Giok Keng. Ilmu pedangnya dan ilmunya mainkan sabuk merah tidak ada tandingannya di dunia, bahkan suaminya sendiri kalah jauh dalam ilmu silat dibandingkan dengan dia!”

Phoa Lee It menyambut suami isteri keluarga Cin-ling-pai itu dengan penuh penghormatan, membungkuk-bungkuk dan mempersilakan mereka duduk di tempat kehormatan!

“Huh, menjilat-jilat…!” In Hong berkata lirih tanpa disengaja.

“Hemm… memang, akan tetapi biarlah, tunggu saja!” Malaikat Copet itu membawa bungkusan hadiahnya dan melangkah.

“Ke mana kau?”

“Menyerahkan hadiah, kautunggu di sini!” Dia lalu pergi, diikuti pandang mata In Hong. Gadis ini menduga bahwa si pencopet tentu akan melakukan sesuatu, entah apa, karena dia dapat melihat ini dalam sikapnya yang begitu bersungguh-sungguh dan agaknya dia mendongkol atau marah sekali melihat betapa tuan rumah menyambut tamu lain begitu menghormat dan menjilat sedangkan mereka berdua “dilempar” ke tempat tamu biasa. Dia melihat Can Pouw menghampiri meja tempat penerima hadiah, bahkan setelah dicatatkan namanya lalu menumpuk sendiri bungkusan itu di atas meja di antara hadiah-hadiah lain, dan pencopet itu bercakap-cakap dan beramah-tamah dengan para piauwsu yang menjaga di situ, menuding dan agaknya memeriksa nama-nama pada kartu nama yang terdapat di bungkusan-bungkusan hadiah itu. Kemudian, sambil tersenyum-senyum ramah ia mengangguk, kemudian meninggalkan meja itu, bukan untuk kembali kepada In Hong, melainkan untuk menuju ke ruangan kehormatan di atas!

Phoa Lee It memandangnya, akan tetapi dia mengangguk dan menuding ke arah seorang nenek tua yang duduk juga di ruangan kehormatan itu bersama seorang gadis remaja cantik yang melihat pakaiannya adalah seorang gadis Suku Bangsa Tibet. Phoa Lee It mengangguk karena si pencopet itu menyatakan hendak menemui nenek itu yang tentu saja adalah seorang tokoh besar yang dikenal baik oleh tuan rumah.

Nenek itu bukan lain adalah Go-bi Sin-kouw! Seorang tokoh di Go-bi-san yang terkenal sekali sebagai seorang datuk golongan hitam. Nenek ini usianya sudah tujuh puluh tahun lebih, tubuhnya sudah agak bongkok, pakaiannya dari sutera serba hitam dan tangan kanannya memegang sebatang tongkat butut, wajahnya bengis penuh keriput dan sepasang matanya hampir tidak nampak bersembunyi di dalam rongga mata yang cekung, mulutnya seringkali bergerak-gerak seperti orang makan dan bibirnya sudah “nyaprut” karena mulut itu tidak bergigi lagi. Di dekatnya duduk seorang gadis cantik sekali, usianya baru lima belas tahun, berpakaian seperti gadis Tibet, dan kecantikannya adalah kecantikan khas Bangsa Tibet sehingga amat menarik perhatian. Gadis itu kelihatan diam dan bahkan agak berduka yang ditekan-tekankan, dan dia kelihatan takut kepada nenek itu yang memperkenalkannya sebagai muridnya.

“Aihhh… sungguh berbahagia sekali hidupku, dapat bertemu dengan seorang tokoh besar yang namanya menjulang tinggi sampai ke angkasa! Locianpwe tentulah Go-bi Sin-kouw yang namanya terkenal di empat penjuru dunia bukan? Siauwte sudah menduga bahwa sebagai tokoh Go-bi, pasti locianpwe akan datang menghadiri perayaan seorang tokoh Go-bi-pai. Perkenankan siauwte, Jeng-ci Sin-touw Can Pouw menghaturkan selamat datang dan hormat.”

Go-bi Sin-kouw yang sudah tua sekali itu memandang dengan matanya yang hampir tidak tampak bersembunyi di balik lipatan-lipatan kulit, dia senang juga menyaksikan sikap ramah luar biasa dari laki-laki yang mukanya kelihatan ramah menyenangkan ini, apalagi ketika mendengar julukannya.

Ehe, kau pencopet? Heh-heh, pencopet yang ramah. Duduklah di sini, matamu awas benar dapat mengenal aku.” Go-bi Sin-kouw yang biasanya galak itu kini menjadi lunak hatinya oleh sikap Can Pouw.

Can Pouw menghaturkan terima kasih dan duduklah dia di atas ruangan kehormatan itu dan sebentar saja In Hong dari jauh melihat dia asyik bercakap-cakap sekali dengan nenek itu, bahkan si gadis Tibet yang cantik manis itupun terbawa-bawa dalam percakapan. In Hong tersenyum di hatinya. Memang dia tahu betapa pandainya “pamannya” tukang copet itu dalam pergaulan, pandai menarik hati orang dan pandai pula bersahabat. Sampai lama mereka bercakap-cakap, kadang-kadang diseling pencopet itu tertawa dan memandang kepada si nenek dengan sinar mata kagum penuh pujian, bahkan nenek itupun kadang-kadang tersenyum lebar. Juga In Hong melihat betapa mereka itu kadang-kadang melirik ke arah keluarga Cin-ling-pai seolah-olah sedang membicarakan mereka itu.

Setelah lama bercakap-cakap dengan nenek itu yang membuat para tamu lainnya terheran juga mengapa seorang tamu dari ruangan biasa beromong-omong begitu akrabnya dengan seorang tamu ruangan kehormatan, akhirnya Can Pouw kembali ke tempatnya dan ketika berjalan dia mengangkat muka membusungkan dada seolah-olah hendak berkata bahwa tuan rumah telah keliru menempatkan dia di ruangan biasa! Akan tetapi Phoa Lee It bersikap tak acuh karena dia merasa bertindak benar. Dia tidak mengenal orang bertopi itu yang datang bersama seorang gadis cantik yang juga tidak terkenal, bagaimana dia dapat menerima mereka sebagai tamu kehormatan? Juga agaknya para piauwsu yang mengenal orang ini menganggapnya tamu biasa, kalau tidak tentu mereka sudah melapor kepadanya agar kesalahan itu dapat dibetulkan. Dan memanglah, siapa di antara para piauwsu yang menganggap bahwa pencopet ini seorang tamu agung?

Ketika duduk kembali dekat In Hong, dengan suara bisik-bisik dan wajah sungguh-sungguh Can Pouw berkata, “Wah, ada berita hebat! Kau tahu siapa dara Tibet yang manis sekali yang duduk bersama nenek hitam itu? Dia itu adalah tunangan darl putera ketua Cin-ling-pai!”

“Ehh…?” In Hong cepat menekan debar jantungnya dan bersikap biasa lagi, seolah-olah dia hanya tercengang mendengar berita penting akan tetapi yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.

“Hemm, tentu ketua Cin-ling-pai itu banyak sekali anaknya.”

“Ah, tidak sama sekali. Hanya ada dua orang, yang pertama adalah nyonya gagah itu dan yang kedua adalah seorang pria, adik nyonya itu yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian lebih hebat lagi dan berguru kepada seorang suci yang sakti di Tibet.”

“Hemm, agaknya engkau tahu segala hal mengenai Cin-ling-pai, paman. Tentu kau mengenal pula nama puteranya itu.”

“Tentu saja! Tidak percuma aku menyelidiki setelah terjadi peristiwa menggegerkan itu. Namanya adalah Cia Bu Houw dan… eh, kau kenapa?”

“Tidak apa-apa, aku sudah muak mendengar kau bercerita terlalu banyak tentang keluarga orang lain. Sekarang ceritakan tentang nenek itu. Menyeramkan benar, siapa sih dia?”

“Dia itu adalah seorang datuk kaum hitam yang luar biasa! Dialah Go-bi Sin-kouw! Kaulihat betapa dia bercakap-cakap dengan akrab tadi denganku? Ha-ha, dia menceritakan segala hal sampai-sampai ketika secara kebetulan dia menemukan gadis Tibet yang manis itu. Gadis yang cantik sekali, cantik dan lembut, kecantikan yang asli dan khas, pantas saja putera ketua Cin-ling-pai itu tergila-gila. Ha-ha-ha! Dan sekarang pacarnya itu menjadi murid Go-bi Sin-kouw, betapa lucu dan anehnya dunia ini!”

In Hong tidak bicara lagi, diam saja untuk menenangkan hatinya yang bergelora. Dia sendiri merasa heran mengapa hatinya menjadi panas dan sakit mendengar bahwa putera ketua Cin-ling-pai telah mempunyai pacar! Dia bukan cemburu, hanya merasa terhina. Sudah mempunyai pacar, seorang kekasih gadis Tibet yang cantik manis, tidak malu untuk melamar dia menjadi calon jodoh! Hatinya panas dan dia mulai memandang ke arah keluarga Cin-ling-pai yang hadir di situ tidak seperti tadi, penuh kagum, kini menjadi dingin dan disertai senyum mengejek.

Gadis Tibet yang cantik manis itu memang bukan lain adalah Yalima, puteri kepala dusun yang menjadi sahabat baik Cia Bun Houw itu! Bagaimana tahu-tahu dia bisa datang sebagai tamu di tempat pesta perayaan Phoa Lee It bersama dengan seorang nenek iblis seperti Go-bi Sin-kouw itu?

Seperti telah kita ketahui, dara remaja ini hancur perasaan hatinya ketika ditinggal pergi oleh Cia Bun Houw yang harus memenuhi panggilan orang tuanya meninggalkan Tibet, kembali ke Cin-ling-san. Dan lebih celaka lagi baginya, dua hari setelah pemuda yang dicintanya itu pergi, ayahnya menyatakan bahwa dia akan diajak pergi ke Lhasa, dipersembahkan kepada seorang pangeran tua.

“Akan tetapi, ayah…” Dia membantah. “Ayah sudah berjanji kepada Houw-koko untuk tidak membawaku ke Lhasa!”

“Hemm, kau tahu apa! Aku berjanji kepadanya hanya memenuhi perintah Kok Beng Lama dan aku tidak melanggar janji. Aku berjanji tidak akan membawamu ke Lhasa selama dia berada di sini. Sekarang dia tidak lagi berada di sini, maka aku boleh melakukan apa saja terhadap anak perempuanku sendiri. Dan dia itupun seorang laki-laki tidak bertanggung jawab. Kalau memang dia cinta kepadamu, mengapa dia tidak melamar kepadaku dan membawamu ke negerinya?”

Yalima tidak dapat membantah lagi dan dia lari ke kamarnya, menangis sehari penuh, sampai air matanya tidak ada lagi. Dan pada malam hari itu juga, gadis yang sudah terperosok ke dalam perangkap cinta ini dengan nekat lalu minggat meninggalkan rumah dan dusunnya, pergi menuju ke timur dengan niat di hati akan menyusul dan mencari Cia Bun Houw, kekasihnya dan satu-satunya orang yang dapat diharapkan akan menolongnya!

Yalima adalah seorang gadis Tibet asli yang sudah biasa hidup di pegunungan, biasa pula berjalan naik turun bukit. Akan tetapi perjalanan yang dilakukannya tanpa persiapan, dengan nekat dan dengan hati penuh duka dan kecemasan, melalui daerah-daerah yang liar dan buas, perjalanan yang amat sukar ini, membuat dia mengalami kesengsarean lahir batin yang amat hebat. Dia tidak tahu arah jalan, hanya mengikuti arah dari mana matahari timbul, makan seadanya asal tidak kelaparan, dan melewatkan malam-malam gelap mengerikan seorang diri saja di dalam hutan-hutan lebat, bersembunyi di antara daun-daun di pohon-pohon besar. Dia pergi hanya membawa buntalan pakaiannya dan tidak membawa bekal lain, kecuali tekad bahwa dia akan hidup di samping Cia Bun Houw atau mati terlantar di tengah jalan!

Setelah melakukan perjalanan berpekan-pekan, entah berapa lamanya dia tidak tahu lagi, pada suatu pagi di dalam hutan yang besar, dia berdiri terbelalak dan pucat, kedua kakinya menggigil ketakutan di depan seekor harimau besar yang muncul secara tiba-tiba dari rumpun alang-alang. Rasa kaget dan takut membuat gadis itu tidak lagi dapat menggerakkan kedua kakinya dan pada saat harimau itu bergerak ke depan, dia menjerit sekuat tenaganya!

“Desss…! Plak-plak-plak…!” Tubuh harimau itu terlempar ke belakang ketika sinar hitam menghantamnya dan bertubi-tubi memukul kepalanya. Seorang nenek berpakaian serba hitam tahu-tahu telah berada di situ, menggunakan tongkatnya menghalau binatang buas itu. Agaknya harimau itu dapat merasakan pukulan yang amat keras, tahu bahwa nenek hitam itu berbahaya sekali, dan mungkin juga karena dia tidak terlalu lapar, maka setelah mengaum marah satu kali dia lalu membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ.

“Bangunlah…!” nenek itu berkata dalam Bahasa Tibet kepada Yalima.

Yalima lalu menubruk kaki nenek itu, berlutut sambil menangis dan menghaturkan terima kasih dalam Bahasa Han karena dia melihat nenek itu bukan Bangsa Tibet.

Nenek itu agak terkejut. “Hemm, engkau pandai berbahasa Han?”

“Nenek yang baik, Houw-koko telah mengajarkan bahasa ini kepadaku. Nenek, engkau telah menyelamatkan nyawaku, harap selanjutnya nenek suka menolong aku yang sengsara ini…”

Nenek itu adalah Go-bi Sin-kouw. Di dalam cerita Petualang Asmara telah diceritakan dengan jelas siapa adanya nenek berpakaian hitam ini. Dia adalah seorang wanita lihai yang memiliki kepandaian tinggi dan yang kini tinggal di dalam sebuah istana terpencil yang dulu menjadi milik Go-bi Thai-houw. Go-bi Sin-kouw ini adalah guru dari Pek Hong Ing, isteri pendekar Yap Kun Liong. Wataknya aneh sekali, juga kejam dan dapat melakukan apa saja menurut kesenangan hatinya sendiri. Akan tetapi dia selalu merasa sayang kalau melihat gadis cantik, karena di balik kekejaman dan kesepian hidupnya itu tersembunyi kerinduan besar akan seorang anak seorang cucu! Kini melihat keadaan gadis Tibet ini, timbul rasa sukanya dan dia lalu berkata, “Tenangkan hatimu, aku akan menolongmu. Siapakah namamu?”

“Nama saya Yalima, nenek yang baik.”

“Jangan sebut aku nenek yang baik, panggil aku subo (ibu guru), karena sejak sekarang engkau menjadi muridku. Maukah engkau?”

“Saya akan mentaati semua perintah subo asal subo sudi menolong saya, agar kita dapat mencari Houw-koko.”

“Hemm, kila lihat saja nanti. Sekarang ceritakan siapa itu Houw-koko dan mengapa engkau seorang gadis Tibet sampai tiba di tempat ini seorang diri.”

Yalima lalu menceritakan riwayatnya, betapa dia adalah puteri seorang kepala dusun dan bersahabat baik dengan seorang pemuda Han bernama Cia Bun Houw. Betapa pemuda itu akhirnya dipanggil pulang oleh ayahnya dan meninggalkannya, dan dia akan dipersembahkan kepada pangeren tua oleh ayahnya, maka dia lalu minggat dan ingin mencari pemuda yang

dicintanya itu. Semua dituturkannya dengan panjang lebar dan jelas kepada Go-bi Sin-kouw.

Mendengar penuturan ini, Go-bi Sin-kouw menggeleng-geleng kepalanya. “Anak bodoh, apakah engkau amat mencintanya?”

“Teecu (murid) mencinta Houw-koko, subo, dan lebih baik mati saja daripada tidak bertemu kembali dengan dia.”

“Anak bodoh, begini percaya kepada laki-laki. Apakah kau yakin bahwa dia itu juga cinta padamu?”

“Teecu yakin sekali, sungguhpun… dia tidak pernah mengatakan dengan mulutnya. Teecu merasa bahwa teecu sudah menjadi miliknya, lahir dan batin!”

Melihat kenekatan gadis itu, Go-bi Sin-kouw mengerutkan dahinya. “Hemmm, betapa banyaknya wanita menjadi korban bujukan mulut manis dan palsu dari kaum pria, Yalima, siapakah sebenarnya pemuda itu? Mengapa seorang pemuda Han berada di Tibet?”

“Dia bukan seorang biasa, subo. Dia dalah seorang pemuda yang memiliki kepandaian seperti dewa! Dia murid dari Kok Beng Lama…”

“Haiiiii!!!” Go-bi Sin-kouw terkejut setengah mati mendengar nama pendeta Lama ini. Pernah dia bertemu dengan pendeta yang memiliki kesaktian luar biasa itu dan untung dia tidak mati di tangan manusia luar biasa itu (baca Petualan Asmara) dan kini mendengar namanya saja dia sudah merasa gentar. “Mu… muridnya? Dan sekarang ke mana pemuda itu?”

Dia pulang ke Cin-ling-san…”

“Eihhh…!” Untuk kedua kalinya Go-bi Sin-kouw berseru kaget. “Tahukah kau anak siapa dia dan mengapa pulang ke Cin-ling-san…?”

“Houw-ko tidak menyebutkan nama ayahnya, hanya pernah mengatakan bahwa ayahnya bukan orang biasa, melainkan ketua Cin-ling-pai yang terkenal…”

“Aahhh…!” Untuk ketiga kalinya nenek itu berseru kaget, membuat Yalima terheran-heran. Sampai lama nenek it tidak berkata-kata, kemudian mengangguk-angguk. Baru saja, dia telah dikunjungi oleh Hek I Sinkouw dan Lima Bayanga Dewa, dimintai bantuannya untuk menghadapi fihak Cin-ling-pai dan dia sudah menyatakan kesanggupannya. Memang sejak dahulu dia tidak suka kepada keluarga pendekar itu. Hatinya masih sakit kalau dia teringat kepada Pek Hong Ing, muridnya yang tercinta. Muridnya itu telah membalik dan tidak mentaatinya karena muridnya telah tergila-gila kepada Yap Kun Liong, seorang di antara anggauta keluarga ketua Cin-ling-pai itu bahkan kini telah menjadi isteri Yap Kun Liong. Kini dia mendengar akan usaha Lima Bayangan Dewa untuk membalas dendam dan memusuhi Cin-ling-pai, maka dia segera menyatakan setuju untuk membantu.

“Sungguh hal yang amat kebetulan sekali…!” gerutunya sambil memandang gadis Tibet itu. Betapa kebetulan sekali dia bertemu dan menolong gadis ini yang ternyata adalah pacar dari putera ketua Cin-ling-pai! Dia lalu minta kepada Yalima untuk menceritakan segala tentang hubungannya dengan Cia Bun Houw secara jelas.

Yalima adalah seorang gadis yang selamanya hidup di tempat sederhana dan karena itu wataknya wajar, polos dan jujur. Apalagi karena dia menganggap nenek ini sebagai penolong dan gurunya, sebagai seorang yang amat baik budi, maka dia lalu menceritakan semuanya, tentang hubungannya yang sudah sangat erat dengan Cia Bun Houw sehingga nenek itu tadinya mengira bahwa gadis itu telah menyerahkan kehormatan dirinya kepada pemuda itu. Namun Yalima menyangkalnya, hanya menceritakan dengan malu-malu tentang kemesraan yang terjadi di antara mereka dan dia bilang bahwa dia yakin akan cintanya pemuda itu kepadanya melalui pelukan dan ciuman yang dilakukan pemuda itu kepadanya. Dan nenek itu menyeringai senang.

“Jangan khawatir, Yalima. Tidak ada orang yang boleh begitu saja menghina muridku! Kelak aku akan menyeret pemuda itu di depan kakimu!”

Yalima terbelalak kaget. “Tapi… tapi, subo, Houw-koko adalah seorang yang amat baik!”

“Heh-heh-heh, putera keluarga Cin-ling-pai baik katamu? Ho-ho, engkau belum tahu, anakku, muridku…!”

Demikianlah, mulai hari itu Yalima menjadi murid Go-bi Sin-kouw dan dara itu merasa tidak suka sama sekali, akan tetapi karena dia tahu bahwa nenek itu amat lihai dan kejam, dia tidak berani menyatakan ketidaksukaan hatinya. Bahkan diam-diam dia ingin mempelajari ilmu nenek itu, setelah memperoleh kesempatan dia akan melarikan diri dan melanjutkan keinginan hatinya mencari dan menemukan kekasihnya.

Dan pada hari itu, dia diajak oleh subonya untuk mengunjungi pesta perayaan hari ulang tahun Go-bi Sam-eng-piaukiok di kota Wu-han karena memang nenek ini mengenal tokoh-tokoh Go-bi-pai yang dahulu menjadi tetangganya. Tentu saja kedatangannya ini bukan semata-mata hendak menghormati Phoa Lee It yang dianggapnya tokoh rendahan saja, melainkan ingin bertemu dengen tokoh-tokoh kang-ouw karena diapun akan pergi ke Ngo-sian-chung di lembah Huang-ho memenuhi panggilan Lima Bayangan Dewa.

Demikianlah pengalaman Yalima yang pada hari itu ikut bersamaa Sin-kouw ke pesta Phoa-piauwsu dan bertemu dengan Jeng-ci Sin-touw Can Pouw yang menceritakan tentang pertemuannya dengan nenek itu kepada In Hong. Malaikat Copet ini sama sekali tidak pernah menduga betapa ceritanya itu membuat In Hong menjadi panas perutnya dan marah sekali. Seketika timbul kebencian yang sangat di hati dara itu terhadap pemuda yang ditunangkan dengan dia, yaitu Cia Bun Houw. Sudah mempunyai seorang pacar di Tibet, masih tidak tahu malu hendak mengikat jodoh dengan dia. Laki-laki! Timbullah rasa tidak sukanya yang memang dasarnya sudah ditanamkan oleh gurunya di dalam lubuk hatinya terhadap kaum pria. Kini, baru saja merantau, dia sudah merasakan dihina kaum pria.

Kini tempat pesta sudah penuh dan tamu-tamu baru sudah tidak ada yang datang lagi. Di tempat ruangan kehormatan itu terdapat belasan orang pendatang baru dan In Hong melihat betapa mereka itu secara otomatis berpisah tempat duduknya, yang sebelah kiri di mana duduk keluarga Cin-ling-pai tadi duduk orang-orang yang agaknya tergolong kaum pendekar golongan putih, dan mereka ini kelihatannya amat menghormat puteri ketua Cin-ling-pai itu, sedangkan di sebelah kanan duduklah orang-orang yang kelihatan menghormati nenek berpakaian hitam dan mudah diduga bahwa mereka tentu tokoh-tokoh kaum sesat atau golongan hitam.

Hindangan-hidangan dikeluarkan dan upacara pembukaan barang-barang hadiah di depan tuan rumah dilakukan. Berturut-turut dibukalah bungkusan-bungkusan itu dan diumumkan nama si penyumbang sambil mengangkat tinggi-tinggi barang sumbangan. Untuk sumbangan yang berupa barang biasa saja, para tamu menyambutnya dengan senyum, akan tetapi kalau ada benda luar biasa yang berharga, mereka menyambut dengan sorak memuji.

“Bingkisan dari yang terhormat locianpwe Go-bi Sin-kouw…” Piauwsu yang membuka bungkusan-bungkusan itu berseru sambil mengangkat benda itu ke atas membaca nama penyumbangnya di kartu yang tertempel di luar bungkusan. Semua orang bersorak ketika melihat bahwa benda itu adalah sebuah piring terbuat dari emas! Go-bi Sin-kouw mengangguk dan tersenyum dengan mulutnya yang nyaprut sehingga kelihatan lucu sekali. Phoa Lee It menjura ke arah nenek itu untuk menyatakan terima kasihnya.

Akan tetapi ketika benda yang terbungkus itu diangkat ke atas, orang memandang dan melongo dan muka pucat, dan suara sorakan kalah kini oleh suara-suara ejekan yang terdengar dari golongan hitam. Benda itu hanyalah sebuah panci yang murah dan dapat dibeli di sembarang tempat, hanya perabot dapur yang murah!

“Eihh, kenapa begitu pelit,?” terdengar suara orang.

“Maklumlah, baru habis kecurian hebat!”

“Memang pelit, pedangnyapun pedang-pedangan dari kayu!”

Terdengar bentakan nyaring dan suara-suara itu tak terdengar lagi, semua orang terkejut memandang ke tengah ruangan yang luas di mana berdiri nyonya Lie yang menyapu semua orang dengan pandang matanya yang tajam, mukanya yang cantik itu merah sekali, hidungnya yang mancung kembang-kempis dan dia menuding ke arah tiga orang yang duduk di ruangan tamu biasa. “Hayo kalian bertiga, maju ke sini kalau kalian bukan anjing-anjing pengecut hina!”

Suaranya nyaring dan penuh wibawa. Dapat mengenal tiga orang yang tadi mengejek saja sudah merupakan ketajaman pendengaran dan penglihatan yang luar biasa, karena suara-suara itu tadi bercampur aduk. Tiga orang laki-laki itu masih muda, dan mereka memandang pucat, lalu saling pandang.

Para tamu mulai ribut dan dari fihak yang pro Cin-ling-pai terdengar suara-suara mengejek. “Kalau sampai ada anjing-anjing pengecut hadir di dalam pesta, sungguh memalukan kita!”

Mendengar ejekan-ejekan itu dan melihat bahwa fihak golongan hitam juga banyak, tiga orang laki-laki itu lalu bangkit berdiri dan serentak menghampiri Cia Giok Keng.

“Toanio, kami yang mengeluarkan ucapan tadi berdasarkan kenyataan. Mengapa toanio memanggil kami?” seorang diantara mereka berkata.

“Memang kami hanya mengatakan apa adanya!” kata orang kedua.

“Memang pemberian itu amat pelit, dan memang Cin-ling-pai habis kecurian dan memang siapa tidak tahu bahwa Siang-bhok-kiam terbuat dari kayu?” kata orang ketiga.

Sepasang mata itu mengeluarkan cahaya berapi dan tiba-tiba tubuhnya bergerak, cepat sekali. “Plok! Plok! Plok!” Tiga orang itu terpelanting, mengaduh-aduh dan mulut mereka berdarah karena gigi mereka sudah rontok ketika ditampar tangan yang halus itu.

Phoa Lee It cepat melangkah maju dan menjura di depan Cia Giok Keng. “Harap lihiap sudi memaafkan dan memandang muka kami menyudahi perkara kecil ini.” Dan diapun menghadapi para tamu. “Perkara barang sumbangan, harap tidak dipandang berharga atau tidak, harganya bukan dilihat dari bendanya, melainkan dari dasar hati pemberinya. Harap cu-wi tidak membikin ribut.”

Cia Giok Keng menahan kemarahannya. “Melihat muka tuan rumah, kuampunken kalian bertiga!” katanya dan sekali tubuhnya berkelebat, dia sudah kembali ke tempat duduknya.

In Hong mengerutkan alianya. Puteri Cin-ling-pai itu memang hebat, akan tetapi sungguh galak den angkuh, seolah-olah di dunia ini tidak ada orang yang mampu menandinginya. Tentu saja pikiran ini timbul dari panasnya hatinya tentang Cia Bun Houw yang dianggap menghinanya. Dia melihat betapa nenek pakaian hitam itu melirik dan tersenyum ke arah Cia Giok Keng.

“Bingkisan dari yang terhormat Jeng-ci Sin-touw Can Pouw…!” Terdengar pembuka bungkusan sumbangan berteriak dan mengangkat sebuah benda mengkilap ke atas.

Tepuk sorak gemuruh menyambut benda ini, sebuah peti tua dari kayu hitam berukir indah dan terhias emas dan permata yang tentu amat mahal harganya.

“Inilah baru bingkisan namanya!” terdengar orang berteriak.

Orang-orang yang belum mengenal mencari-cari siapa gerangan orang berjuluk Malaikat Copet Berjari Seribu itu dan ketika mata tuan rumah memandang ke arah ruangan tamu biasa, terdengar orang berkata. “Tamu yang sumbangannya sehebat itu mengapa tidak di tempat kehormatan?”

In Hong juga menoleh dan baru sekarang dia melihat betapa temannya itu sudah tidak ada lagi di tempatnya! Dia melihat sehelai kertas di atas bangku temannya itu, cepat disambar dan dibacanya.

“Maaf, aku pergi dulu karena… takut!”

In Hong mengerutkan alisnya, tidak mengerti apa maksudnya. Dan dia tadinya merasa heran mengapa uang yang tidak berapa banyak ia berikan kepada pencopet itu telah menghasilkan pakaian pencopet itu dan barang sumbangan yang demikian hebat. Tentu dia telah mencopetnya, pikirnya.

Akan tetapi tiba-tiba terjadi keributan lain lagi. Kembali Cia Giok Keng kini sudah meloncat dari tempat duduknya, sekali sambar dia telah merampas, peti kayu indah itu dari tangan piauwsu pengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala sambil berseru, “Para tamu sekalian dan Phoa-lo-enghiong, ketahuilah! Benda ini adalah apa yang kusumbangkan, entah bagaimana telah berada di dalam bungkusan orang lain! Aku menantang Jeng-ci Sin-touw untuk keluar dan memberi keterangan bagaimana barangku bisa berada di dalam bungkusannya!”

Suara ini nyaring sekali dan semua tamu kembali menjadi diam dan memandang penuh ketegangan. Akan tetapi, tidak ada orang yang menjawab tantangan ini dan tidak nampak bayangan orang yang berjuluk Jeng-ci Sin-touw.

Kembali Cia Giok Keng berkata, suaranya tenang, namun mengandung penuh ancaman dan kemarahan, nyaring terdengar sampai di luar gedung itu, “Sejak tadi ketika bungkusan sumbanganku dibuka, aku sudah tahu bahwa ada orang main gila, akan tetapi aku menanti sampai benda itu muncul. Kiranya ada maling atau copet hina dina yang bermain gila, sengaja menukar sumbanganku dengan sumbangannya yang tidak berharga. Hayo engkau Jeng-ci Sin-touw keluarlah untuk menerima kematian! Kalau tidak dapat menghancurkan kepalamu, jangan namakan aku puteri ketua Cin-ling-pai!”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: