Dewi Maut (Jilid ke-14)

Setibanya di dalam, Hong Ing lalu bertanya, “Enci Giok Keng, engkau mengejutkan hatiku. Apakah yang telah terjadi? Mengapa engkau kelihatan marah-marah, enci? Aku… aku menyesal sekali mendengar tentang peristiwa yang menimpa Cin-ling-pai, dan suamiku… dia malah belum pulang setelah mendengar berita itu terus pergi ke sana.”

“Hemm, jadi dia tidak berada di rumah? Sia-sia saja kalau begitu kedatanganku!” kata Giok Keng dengan ketus karena dia kecewa sekali dan makin marah. Kemarahannya sudah ditahan-tahan sejak dia meninggalkan rumah, tidak perduli akan cegahan suaminya, langsung saja sekembali mereka dari Wu-han dia terus pergi mengunjungi Leng-kok untuk memaki-maki Kun Liong karena tingkah adik kandungnya akan tetapi betapa kecewa dan mendongkol hatinya bahwa orang yang dicarinya itu tidak berada di rumah.

“Ada urusan apakah, enci? Harap suka memberi tahu kepadaku.” Hong Ing bertanya, hatinya makin tidak enak.

“Bukan urusanmu! Ini urusan antara aku dan Kun Liong sendiri!”

Pada siat itu muncullah Mei Lan. Dara remaja ini memandang tamunya. Sudah beberapa tahun dia tidak bertemu dengan Giok Keng sehingga dia tidak lagi mengenal wanita ini. Mendengar ucapan yang ketus dari Giok Keng terhadap ibunya. Mei Lan yang lincah dan pandai bicara itu cepat mencela.

“Urusan ayah adalah urusan ibu juga, mengapa ada urusan ayah yang tidak boleh diketahui ibu? Bibi ini siapakah datang-datang marah kepada ibu dan sebagai tamu semestinya menghormati nyonya rumah!”

“Mei Lan, jangan kurang ajar terhadap bibi Giok Keng!” bentak Hong Ing.

Gadis cilik itu kini memandang kepada tamunya dengan sepasang mata bersinar-sinar. “Ah, kiranya bibi Giok Keng! Maafkan saya, bibi, akan tetapi lebih-lebih kalau bibi adalah bibi Giok Keng yang sudah saya banyak dengar dari ayah ibu sebagai seorang wanita pendekar, maka sikap ini sungguh tidak selayaknya. Kalau ada urusan sesuatu dengan ayah harap bibi suka memberi tahu kepada ibu, karena apa yang menjadi urusan ayah berarti menjadi urusan ibu pula dan sebaliknya.”

“Engkau anak haram yang kurang ajar!” Giok Keng tak dapat menahan kemarahannya lagi.

“Enci Giok Keng…!” Hong Ing menjerit dengan muka pucat.

Mei Lan memandang ibunya, lalu dengan mata penuh penasaran dia memandang Giok Keng, bahkan melangkah dekat, sedikitpun tidak takut. “Bibi Giok Keng, di dalam kitab-kitab aku membaca tentang pendekar-pendekar dan pahlawan-pahlawan wanita yang gagah perkasa, bersikap lemah-lembut, dan berbudi mulia, tetapi kenapa bibi begini kasar dan suka memaki orang? Apa maksud bibi memaki saya sebagai anak haram?”

“Engkau kecil-kecil sudah kurang ajar! Dasar keturunan ayahmu yang juga tidak baik! Bibimupun manusia tak tahu sopan santun! Bibimu itu perlu dihajar dan akan kuhajar kalau ayahmu tidak bisa menghajarmu!”

“Bibi bohong! Aku bukan anak haram! Bibi tukang fitnah!”

“Mei Lan…! Enci Giok Keng…!” Hong Ing menjerit lagi penuh kengerian.

“Kau berani bilang aku bohong, ya? Kaukira engkau ini apa? Engkau ini memang anak haram engkau anak ayahmu dari hubungan gelap dengan seorang wanita, dan kau bukan anak ibumu!”

“Enci…! Kau…! terlalu…!” Hong Ing menjerit lagi dan melangkah maju, bukan hendak menyerang melainkan hendak mencegah Giok Keng bicara terus. Akan tetapi Giok Keng salah menduga, mengira bahwa Hong Ing akan menyerangnya. Maka tangannya bergerak mendorong cepat sekali dan Hong Ing terhuyung ke belakang.

Mei Lan memandang ibunya. Mukanya pucat sekali, matanya liar, “Ibu…! Ibu… katakan bahwa bibi ini bohong!”

Hong Ing terisak dan Giok Keng yang sudah meluap kemarahannya itu berkata, “Ya, katakanlah aku bohong! Hendak kulihat siapa tukang bohong, siapa menyimpan rahasia busuk, keluargaku ataukah keluargamu!” Dia marah sekali teringat akan penghinaan yang merasa diterimanya dari In Hong di tempat pesta.

“Enci… ahhh… ya Tuhan, mengapa terjadi semua ini? Mei Lan… ke sinilah, jangan dengarkan dia…”

Akan tetapi Mei Lan memandang ibunya dengan sinar mata aneh. “Ibu, katakan, benarkah aku bukan anak kandung ibu? Benarkah aku anak… anak haram?”

“Mei Lan…” keluh ibunya.

“Katakanlah, ibu! Katakan!” Anak itu menjerit-jerit.

Hong Ing mengeluh lalu mengangguk. “Engkau bukan anak kandungku… ya Tuhan, mengapa begini…?”

Terdengar jerit melengking dan disusul isak tangis, Mei Lan meloncat dan lari keluar dari tempat itu.

“Mei Lan…!” Hong Ing meloncat bangun kemudian menghadapi Giok Keng dengan mata betapi. “Enci Giok Keng, engkau kejam! Engkau merusak hidupnya!Sungguh tidak kusangka engkau akan sekejam ini. Biarlah, engkau atau aku yang mati…!” Dengan marah sekali Hong Ing yang dilanda kedukaan hebat itu lalu menyerang Giok Keng.

Giok Keng menangkis dan balas memukul. Pukul-memukul terjadilah di ruangan dalam itu dan keduanya yang dikuasai kemarahan melakuken serangan-serangan yang dahsyat.

“Eh, eh… apa yang terjadi ini? Toanio, jangan berkelahi! Lie-toanio…” Khiu?ma yang tidak tahu tentang ilmu silat itu dengan nekat mendekati mereka dengan maksud hendak memisah. Akan tetapi sebuah tendangan mengenai perutnya dan wanita ini terlempar dan terbanting roboh, pingsan!

“Lie-toanio, kau sungguh keliru. Seorang tamu mana boleh…” Baru sampai di sini saja Giam Tun mencela, sebuah tamparan mengenai lehernya dan diapun terpelanting dan pingsan pula.

“Enci Giok Kong, kau seperti kemasukan iblis!” Hong Ing memaki marah dan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk memukul roboh lawannya. Akan tetapi, memang pada dasarnya dia kalah setingkat kalau dibandingkan dengan Giok Keng. Setelah bertanding di dalam ruangan itu, membuat meja kursi jungkir-balik tidak karuan, sebuah tamparan tangan kiri Giok Keng mengenai bawah telinga nyonya rumah dan Pek Hong Ing terguling roboh dan tak sadarkan diri.

Giok Keng mengebut-ngebut pakaiannya, agak puas hatinya, merasa bahwa dia telah dapat membalas rasa penasarannya karena dihina oleh adik Kun Liong di depan orang banyak di tempat pesta. Dia tahu bahwa tiga orang itu hanya pingsan dan tidak terluka parah, maka setelah mendengus marah dia lalu meloncat dan keluar dari rumah itu.

***

Kalau kita bicara tentang sebab akibat, maka segala akibat apapun yang terjadi di dalam dunia menimpa diri kita adalah disebabkan oleh diri kita sendiri. Oleh karena itu seorang bijaksana tidak akan memandang akibat, melainkan selalu waspada dan sadar akan segala gerak-gerik dari setiap pikiran dan perbuatan dirinya sendiri lahir batin karena dari setiap pikiran den badan itulah yang menjadi sebab dari semua akibat, yang penting adalah mengenal diri pribadi sehingga setiap detik kita dapat waspada akan semua pikiran dan sikap kita, baik gerak tubuh maupun kata-kata. Yang penting adalah caranya, bukan tujuannya, karena tujuan tidak Akan jauh dari caranya, atau akibat tidak berbeda dengan sebabnya! Kalau caranya benar, maka akibat atau tujuan dari cara itu bukan merupakan persoalan lagi. Dan cara itu, cara hidup atau setiap gerak-gerik hati pikiran den kata-kata perbuatan kita seat demi saat barulah benar apabila terbebas dari segala macam bentuk kekotoran yang timbul dari nafsu keinginian pribadi, dan kekotoran ini lenyap oleh kesadaran den pengertian yang timbul pula dari pengawasan kita, pengenalan kita terhadap diri sendiri setiap saat.

Cara yang tidak benar pasti akan menjadi sebab terjadinya akibat yang tidak benar pula, ini sudah pasti, sungguhpun cara itu sudah terlupa oleh kita, sudah tersembunyi di alam bawah sadar. Akan tetapi, pengertian ini bukan berarti bahwa kita lalu sengaja menggunakan cara yang benar untuk memperoleh akibat yang benar, kalau demikian maka cara itu sudah menjadi tidak benar karena mengandung pamrih keuntungan pribadi sehingga menjadi palsu. Kalau demikian, maka hanya akan terbentuk lingkaran setan belaka, yaitu sebab menimbulkan akibat, dan akibat menjadi sebab pula dari akibat yang lain lagi! Inilah apa yang dinamakan hukum karma, tanpa kita buat sendiri dengan merangkaikan kemarin memasuki hari ini untuk sampai kepada esok hari! Dan ini akan berulang terus dan kita terseret di dalamnya! Oleh karena itu, yang penting adalah saat ini, sekarang ini! Setiap saat awas terhadap diri sendiri, bukan dalam arti kata menekan atau mengendalikan, hanya waspada tanpa pamrih, tanpa apa-apa, hanya waspada saja. Kewaspadaan setiap saat ini yang akan bekerja sendiri, tanpa pamrih dari si aku.

Setiap kali bencana menimpa diri kita, keluarga kita, kita akan merasa tidak adil. Kematian orang yang kita kasihi, malapetaka yang menimpa membuat kita menjadi miskin, dan sebagainya, membuat kita merasa prihatin dan sengsara. Kita tidak membuka mata bahwa mala petaka itu setiap saat memang ada, menimpa kepada siapapun juga dan selalu akan terasa ada kesengsaraan dan kedukaan selama tidak terjadi perobahan hebat di dalam batin kita. Karena kesengsaraan dan kedukaan itu timbul dari dalam pikiran kita sendiri!

Pada hari itu terjadi geger di kota Leng-kok terutama sekali di rumah Yap Kun Liong. Pendekar ini pagi-pagi sekali memasuki kota Leng-kok dan langsung dia menuju ke rumahnya. Semenjak hari kemarin, hatinya selalu tidak enak. Hal ini tadinya disangkanya sebagai akibat kunjungannya ke Cin-ling-pai dan mendengar tentang malapetaka yang menimpa keluarga Pendekar Sakti Cia Keng Hong. Dia menghadap pendekar yang sudah dianggapnya seperti pengganti ayahnya sendiri, juga gurunya, dan dengan tegas menyatakan kesediaannya untuk pergi mencari kembali pusaka Cin-ling-pai yang hilang dan membuat perhitungan dengan Lima Bayangan Dewa. Namun dengan tulus Cia Keng Hong menolaknya, mengucapkan terima kasih dan menyatakan bahwa urusan itu adalah urusan keluarganya, urusan pribadi dan sekarang Cia Bun Houw sudah pergi, bersama empat orang murid kepala Cin-ling-pai, untuk melakukan tugas itu secara terpencar.

Kun Liong maklum bahwa orang tua itu sedang mengalami tekanan batin yang hebat dan menghiburpun tidak ada artinya. Maka dia tidak tinggal diam di Cin-ling-pai, lalu berpamit dan mulai saat itulah hatinya selalu terasa tidak enak. Lebih-lebih lagi malam tadi, dia gelisah sekali sehingga malam-malampun dia tidak mau berhenti dan melanjutkan perjalanan pulang ke Leng-kok. Keadaan Cin-ling-pai membuat hatinya seperti terhimpit juga dan dia ingin lekas-lekas bertemu dengan isterinya karena di dunia ini hanya ada satu orang yang akan dapat meringankan perasaannya apabila sedang terhimpit oleh keadaan, orang itu adalah Pek Hong Ing, isterinya tercinta.

Kun Liong terkejut ketika melihat banyak orang berkumpul di rumahnya dan toko obatnya tidak dibuka seperti biasa. Matanya terbelalak bingung ketika melihat kain putih di pintu rumah, putih berkabung tanda bahwa ada yang mati. Lebih-lebih lagi ketika lapat-lapat dia mendengar suara tangis seorang wanita yang dikenalnya sebagai suara Khiu-ma! Jantungnya seperti berhenti berdetak, kakinya seperti mendadak kehilangan tenaganya dan dia berjalan menghampiri pintu rumahnya dengan muka pucat dan kaki terhuyung. Beberapa orang tetangga yang berada di depan, begitu melihat dia kontan menangis tersedu-sedu, wanita-wanita sesenggukan dan tidak ada yang berani memandangnya.

“Ada apa…?” Suara ini jelas keluar dari mulutnya, akan tetapi dia sendiri tidak mendengarnya, seolah-olah suaranya telah lenyap ditelah kecemasan yang mengerikan.

Dia melangkah masuk. Banyak orang di dalam dan kembali mereka ini menangis begitu melihatnya. Seorang wanita tetangga yang amat baik, seperti keluarga sendiri, menubruk kakinya, menjerit dan menangis sesenggukan tanpa bisa mengeluarkan suara.

“Ada apa…?” Kini suara yang keluar dari tenggorokan Kun Liong terdengar keras sekali, menjerit penuh ketakutan, penuh kecemasan, penuh bayangan yang bukan-bukan.

Tidak ada seorangpun menjawab akan tetapi semua mata ditujukan ke arah kamarnya dari mana terdengar tangis Khiu-ma yang jelas sekali sekarang, diiringi suara keluh kesah seorang laki-laki yang dikenalnya sebagai suara Giam Tun.

“Apa yang terjadi…?” Kun Liong melangkah masuk ke pintu kamarnya dan tiba-tiba dia berdiri terpaku di ambang pintu, mukanya pucat sekali seperti mayat dan matanya terbelalak memandang ke atas pembaringan di kamar itu, seolah-olah dia tidak mau percaya akan apa yang dilihatnya. Dikejap-kejapkannya matanya, lalu digosok-gosoknya dengan kepalan tangan yang gemetar, akan tetapi tetap saja pemandangah itu tidak berobah.

“Taihiap… uhhuu-hu-huuuuk…!” Giam Tun menoleh dan hanya dapat mengeluarkan seruan demikian , karena dia sudah berlutut dan menangis bergulingan diatas lantai. Khiu-ma menjerit.

“Apa ini…? Apa ini…? Bakaimana…? Kenapa…?” Kun Liong makin terbelalak, bibirnya gemetar, banyak kata-kata yang keluar tanpa suara, lalu ditamparnya kepalanya sendiri untuk menyadarkannya dari mimpi buruk ini. Ini tentu mimpi buruk, bantahnya. Tak mungkin! Tidak mungkin Pek Hong Ing, isterinya tercinta, kini rebah di atas pembaringan itu dengan mata meram, bibir terkatup dan pakaian penuh darah yang sudah mengental. Tak mungkin!

Akan tetapi tetap saja pemandangan itu tidak berobah. Dia meloncat ke depan, berlutut di pinggir pembaringan untuk memandang lebih tegas lagi. Dirabanya pipi isterinya. Dingin! Tangannya ditarik kembali seolah-olah dia menyentuh api, ditatapnya lagi wajah isterinya, lalu diliriknya dada yang terluka bekas tusukan pedang.

Tiba-tiba dia menjerit dan semua orang yang berada di dalam kamar itu terjungkal, ada yang pingsan karena jerit itu mengandung kekuatan yang maha dahsyat. Tubuh pendekar itu terkulai, kepalanya diguncang keras-keras untuk mengumpulkan tenaga, dia memandang lagi, dirangkulnya mayat itu dan kini dia mengeluh, lalu merintih perlahan dan tubuhnya terkulai lemas, terjatuh pingsan di bawah pembaringan!

Gegerlah kamar itu. Geger dari mereka yang menolong orang-orang pingsan, dan ada pula yang menggotong tubuh Kun Liong, diletakkan di atas dipan di dalam kamar itu. Seperti mayat saja tubuh pendekar ini. Wajahnya sepucat wajah jenazah isterinya. Dadanya tidak bergerak seolah-olah napasnya sudah putus.

Giam Tun yang tadi tidak pingsan oleh jerit melengking tadi, hanya roboh terguling dan menggigil kini mendekati majikannya. Sebagai seorang ahli pengobatan dia tahu bahwa majikamya mengalami hantaman batin yang amat hebat. Dengan bercucuran air mata dia lalu mengambil obat dalam botol dan menggosok-gosokkan obat yang berbau keras itu di depan hidung majikannya. Semua orang memandang dengan terharu dan terutama kaum wanita tetangga mereka terisak-isak pilu.

Kun Liong berbangkis dan membuka matanya. Begitu siuman, dia memandang liar. Dan cepat dia bangkit duduk. “Tidak mungkin! Hong Ing…!” Dia menoleh ke pembaringan dan meloncat. Berlutut di dekat jenazah isterinya. “Tidak mungkin! Sudah gilakah aku? Eh, Giam-lopek, sudah gilakah aku? Hong Ing mati? Tidak mungkin…!” Dia memeluk isterinya, meraba-raba, dan memeriksa luka di ulu hati itu, luka yang menembus sampai ke punggung!

“Hong Ing… bagaimana ini…?”

“Taihiap…. harap tenangkan hati, taihiap…” Giam Tun berkata dengan suara gentar.

“Apa…? Tenang…? Keluarlah, harap semua keluar… biarkan aku sendirian berdua dengan isteriku!”

Giam Tun lalu memberi isyarat kepada semua tetangga untuk keluar. Mereka semua menanti di luar, tidak ada yang bicara, yang terdengar hanya isak tangis.

Setelah semua orang pergi, Kun Liong merangkul leher isterinya, menciumi muka yang sudah dingin itu, mengelus pipinya, dagunya, rambutnya sambil bercuran air mata.

“Hong Ing… isteriku… pujaanku… mengapa begini…? Mengapa…?”

Orang-orang di luar hanya mendengar suara pendekar itu puluhan kali mengajukan pertanyaan “mengapa” itu dan suara ini makin lama makin parau bercampur isak, membuat mereka menjadi terharu dan ikut pula menangis

Dengan pengerahan kekuatan yang amat hebat, barulah Kun Liong dapat menguasai dirinya. Lebih dari tiga jam dia menangisi mayat isterinya. Kemudian dia bangkit, lalu melangkah keluar, dan berdiri di pintu, seperti mayat hidup! Wajahnya menjadi pucat sekali tanpa ada bayangan darah, matanya sayu tanpa sinar, mulutnya seperti orang menahan rasa nyeri, yang hebat dan dia seperti orang yang kehilangan ingatan, berdiri di luar pintu, dengan mata kosong memandang jauh melampaui orang-orang yang kumpul di situ.

“Taihiap…!” Giam Tun berseru dan maju berlutut.

Seruan ini menyadarkannya. Dia mengusap air matanya dengan punggung kepalan kedua tangannya, kanan kiri seperti seorang anak kecil kalau menangis. Khiu-ma menyeret sebuah kursi dan Kun Liong lalu menjatuhkan diri duduk di atas kursi itu.

“Paman Giam, Khiu-ma, ceritakanlah…! Tapi lebih dulu… mengapa aku tidak melihat Mei Lan menangisi jenazah ibunya?” Berkata demikian, air matanya kembali bercucuran.

Dengan suara meratap tangis, Khiu-ma berkata, “Siocia juga telah pergi sejak malam tadi, entah ke mana dan entah mengapa… tapi tentu dia yang menyebabkannya, dia yang membunuhnya… dia wanita yang tidak berperikemanusiaan itu…”

“Diamlah Khiu-ma!” Giam Tun membentak wanita yang mulai histeris itu dan Khiu-ma menundukkan mukanya, terisak-isak.

“Kami berdua juga masih bingun memikirkannya, taihiap.” Giam Tun mulai bercerita dan suaranya sudah tenang setelah dia melihat majikannya juga mulai tenang kembali.

“Ceritakan yang jelas sejak semula, apa yang telah terjadi. Dan saya minta dengan hormat kepada semua saudara sudilah menanti di ruangan depan agar saya dapat bicara dengan paman Giam Tun.”

Para tetangga itu mengundurkan diri, keluar dan memberi kesempatan kepada pendekar itu untuk mendengar penuturan Giam Tun karena mereka semua sudah mendengar persoalan itu.

Dengan panjang lebar dan jelas Giam Tun lalu menuturkan tentang kunjungan nyonya Lie Kong Tek, puteri dari ketua Cin-ling-pai malam tadi ketika baru saja toko ditutup.

“Kedatangannya aneh sekali, taihiap. Begitu datang dia marah-marah. Nyonya… eh, mendiang…” Giam Tun merasa lehernya tercekik ketika menceritakan nyonya majikannya.

“Paman Giam, kita harus dapat menghadapi kenyataan. Isteriku telah mati, kau bersikaplah tenang agar ceritamu jelas,” Kun Liong berkata dengan suara lirih.

“Maaf, taihiap.” Giam Tun menarik napas panjang melegakan dadanya. “Nyonya menyambutnya dengan ramah, dan menyabarkannya, bahkan menariknya untuk masuk ke dalam. Lie-toanio itu datang-datang menanyakan taihiap dengan cara yang kasar sekali. Setelah keduanya masuk, tentu saja saya dan Khiu-ma tidak berani ikut masuk, hanya mendengarkan dari luar, akan tetapi, tidak terdengar jelas apa percakapan mereka. Kemudian kami mendengar ribut-ribut seperti orang bertengkar. Kami masih belum berani masuk, hanya kami mendengar bahwa yang bertengkar itu adalah suara Lie-toanio dan suara siocia. Kemudian, kami berdua melihat siocia berlari keluar sambil menangis. Kami memanggil-manggilnya, akan tetapi siocia lari cepat sekali dan lenyap di dalam kegelapan malam. Kami bingung, lalu mendengar ribut-ribut di dalam. Kami berdua lalu memasuki ruangan dalam dan kami melihat nyonya sedang bertempur dengan Lie-toanio!”

Kun Liong mengepal tinju tangannya. Dia penasaran, dan terheran-heran. Apa sebenarnya yang terjadi? Seperti dalam mimpi saja dia mendengar betapa isterinya bertempur dengan Giok Keng. Hal yang amat aneh dan mustahil kedengarannya!

“Khiu-ma berusaha melerai, akan tetapi Lie-toanio memukulnya sehingga Khiu-ma roboh pingsan. Saya lalu maju menegurnya, akan tetapi sayapun dipukulnya dan saya tidak tahu apa-apa lagi, kemudian… kemudian… Khiu-ma, kau sadar lebih dulu daripada aku, ceritakanlah.”

Dengan suara megap-megap Khiu-ma melanjutkan cerita rekannya. “Saya… Saya sadar dengan kepala pening dan pertama-tama yang saya ketahui adalah bahwa saya rebah di lantai dan ruangan ini morat-marit. Lalu saya teringat semuanya, saya bangkit berdiri dan… dan… saya melihat nyonya… rebah di lantai pula… mandi darah…”

Kun Liong memejamkan matanya untuk mencoba membayangkan apa yang terjadi, tiba-tiba, seperti halilintar datangnya, Khiu-ma dan Giam Tun berkata nyaring. “Dia yang membunuhnya, wanita kejam itu yang membunuh nyonya!”

“Benar, siapa lagi kalau bukan Lie-toanio!” Giam Tun berkata keras.

“Diam!” Kun Liong membentak, membuka matanya lalu sadar bahwa dia bersikap keras terhadap dua orang pembantunya yang setia itu. “Maaf, paman Giam dan Khiu-ma… eh, bagaimana kalian dapat menduga babwa nyonya tewas oleh Lie-toanio?” Dia lalu bertanya seperti seorang anak bodoh bertanya kepada orang-orang dewasa yang lebih mengerti. Memang Kun Liong merasa bingung dan bodoh pada seat itu. Segalanya berjalan begitu tidak masuk akal sungguhpun penuturan itu keluar dari mulut dua orang pembantunya yang tak mungkin berani berbohong. Baru membayangkan isterinya cekcok dengan Giok Keng saja sudah merupakan hal yang sukar dipercaya, apalagi isterinya itu sampai bertanding dengan Giok Keng! Biarpun dia dapat menduga bahwa andaikata bertanding sekalipun isterinya akan kalah setingkat, akan tetapi siapa dapat percaya bahwa Giok Keng membunuh isterinya?

Taihiap, tidak ada siapa-siapa lagi di sini! Dan yang bertanding dengan nyonya adalah Lie-toanio. Dia kelihatan marah besar sejak datang. Siapa lagi kalau bukan dia yang melakukan pembunuhan itu?”

“Dan ada beberapa orang tetangga mengatakan bahwa mereka melihat berkelebatnya bayangan hitam yang jelas adalah bayangan seorang wanita sungguhpun mereka tidak melihat mukanya karena gelap di luar. Ada pula yang melihat bayangan wanita meloncat ke atas genteng seperti tergesa-gesa. Sudah jelas bahwa nyonya keji itulah yang membunuh…” Khiu-ma memperkuat keterangan Giam Tun.

Kun Liong menjadi bingung sekali. Pukulan batin itu terlalu hebat baginya dan bertubi-tubi datangnya malapetaka itu. Isterinya yang tercinta mati terbunuh! Anaknya minggat dan tidak berhasil ditemukan ketika dicari-cari. Dan menurut kesaksian dua orang pembantunya, pembunuh isterinya adalah Cia Giok Keng! Kekuatan batinnya goyah dan pendekar ini selalu berdiam di kamar isterinya, merenungi wajah isterinya yang sudah menjadi mayat itu seperti orang linglung. Segala pertanyaan dua orang pembantunya yang mengurus perawatan jenazah, dibantu oleh para tetangga, hanya ditanggapi dengan anggukan kepala saja.

Semalam suntuk dia menjaga jenazah isterinya. Wajah itu demikian cantik, demikian tenang dan penuh damai, akan tetapi demikian pucat dan kehilangan cahaya kehidupan. Tidak teringat olehnyo segala sesuatu, baik anaknya, maupun pembunuh isterinya, atau apapun juga, yang diketahui hanya bahwa isterinya telah mati! Cahaya hidupnya telah padam! Sumber kebahagiaannya telah kering!

Semenjak mendengarken cerita kedua orang pembantunya sampai berjalan dengan muka tunduk di belakang iring-iringan jenazah ketika isterinya dikuburkan, Kun Liong tidak pernah mengeluarkan sepatah katapun. Semua pengurusan penguburan dan penyambutan para tamu yang ikut berduka cita dilakukan oleh kedua orang pembantu itu. Kun Liong menjadi seperti mayat hidup. Dengan mata kosong dia melihat betapa peti jenazah isterinya dimasukkan lubang kemudian diuruk dengan tanah sampai hanya tampak gundukan tanah tinggi. Dan setelah semua pengiring jenazah pulang Kun Liong masih saja berlutut di depan kuburan isterinya.

“Taihiap, semua sudah selesai, marilah kita pulang, taihiap…” Giam Tun berkata membujuk tuannya. Khiu-ma hanya mengusap air matanya, terharu dan kasihan sekali kepada Kun Liong yang begitu pucat dan kurus, rambutnya kusut dan matanya kosong. Dia seperti mayat hidup saja.

Betapapun kedua orang yang setia itu membujuk, Kun Liong tidak menjawab, hanya menggeleng kepala. Akhirnya mereka takut kalau majikan mereka marah, maka mereka berpamit untuk mengurus rumah dan Kun Liong mengangguk.

Kini Kun Liong tinggal seorang diri di kuburan isterinya, duduk di atas tanah dan sampai berjam-jam lamanya memandang ke angkasa. Seolah-olah tampak olehnnya wajah isterinya tersenyum-senyum dan bersembunyi di antara awan, dan kadang-kadang dia melihat isterinya berlari-larian berkejaran dengan awan yang mencipta bermacam bentuk yang aneh. Kemudian, pandang matanya yang sudah tidak lumrah manusia biasa karena dikuasai oleh kedukaan yang begitu mendalam, sehingga seolah-olah terlepas dari penguasaan dirinya itu seperti melihat isterinya bertanding dengan seorang wanita di antara awan puti, kemudian isterinya terpelanting roboh.

“Ouhhh…!” Tanpa disadarinya, Kun Liong mencengkeram tanah dan bayangan itu lenyap tertutup awan yang berarak. Lalu timbul kembali, kini dia melihat bayangan seorang wanita yang tidak jelas siapa menggunakan pedang menusuk dada isterinya yang masih rebah terlentang.

“Heiii…!” Kun Liong berteriak sambil melompat bangun, seolah-olah dia hendak terbang ke angkasa untuk menolong isterinya. Akan tetapi dia terbanting kembali ke atas tanah.

“Hong Ing… ahhh, Hong Ing, isteriku… ceritakanlah, siapa yang membunuhmu dan mengapa? Benarkah dia Giok Keng…?” dia mengeluh sambil menubruk gundukan tanah kuburan isterinya dan tinggal menelungkup seperti itu sampai hujan turun!

“Duhai… berat nian

derita hidup penuh sengsara

ditinggal pergi orang tercinta

seorang diri sunyi dan hampa.

Ke mana harus mencarimu, kekasih?

bila kita dapat saling bersua?

hidup tanpa cinta apa artinya?

dunia tanpa matahari…

gelap gulita!”

Malam yang gelap pekat dan basah oleh hujan lebat. Sunyi menyeramkan di tanah pekuburan itu, sunyi yang mencekam, kesunyian yang akan menjadi amat mengerikan dengan bayangan-bayangan tentang iblis, setan dan siluman, tentang orang-orang mati yang hidup kembali, tentang roh penasaran yang berkeliaran, rangka-rangka manusia yang berjalan-jalan mencari mangsa. Penggambaran khayal manusia yang membawa-bawa alam kesengsaraan sampai sesudah mati.

Kesengsaraan akan SELALU ada selama kita menonjol-nonjolkan diri pribadi, karena segala bentuk kesengsaraan adalah buatan kita sendiri, buatan pikiran kita sendiri! Kesengsaraan bukanlah suatu keadaan, melainkan suatu bayangan yang direka-reka oleh pikiran. Kesengsaraan timbul dari perasaan iba diri, yaitu merasa kasihan kepada diri sendiri, merasa betapa dirinya paling celaka. Apabila kita bebas dari penonjolan keakuan, bebas dari perasan iba diri, maka segala macam peristiwa yang terjadi atas diri kita, dapat kita hadapi dengan wajar dan BUKAN lagi merupakan kesengsaraan. Yang sengsara itu bukap KEADAANNYA melainkan hatinya, dan ini merupakan permainan pikiran kita sendiri. Orang akan berduka kalau sang pikiran mengenangkan segala sesuatu tentang dirinya yang ditinggalkan kesenangan dan ditimbuni ketidaksenangan, meremas-remas hati, dan perasaannya sendiri dengan rasa iba hati, kasihan kepada diri sendiri, kepada orang atau benda yang kita sayang, dan merasa sengsara.

Malam gelap pekat dan hujan turun deras diterima sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan oleh manusia, sebagai sesuatu yang tidak baik dan buruk. Hanya batin yang bebas dari perbandingan saja akan melihat bahwa di dalam segala sesuatu terdapat kesempurnaan dan kebenaran. Di dalam malam gelap dan hujan lebatpun terdapat kesempurnaan dan kebenaran, terdapat kemanfaatan yang tak terpikirkan oleh ingatan manusia yang hanya mencari senang.

Sunyi melengang malam itu di tanah pekuburan. Bahkan burung hantupun bersembunyi dan mencari tempat perlindungan dari air hujan. Yang terdengar hanya suara hujan yang setiap detik berubah, suara yang hidup diseling keheningan yang syahdu.

Kalau pada seat itu ada orang biasa yang berada di dekat tempat itu, tentu dia akan lari tunggang langgang dan nekat menempuh hujan ketika dia melihat cahaya kecil bergerak-gerak ke kanan kiri di dalam kabut air hujan, makin lama makin mendekati tanah kuburan itu. Cahaya ini makin dekat dan tampak kini bayangan hitam yang besar dan aneh sekali bentuknya. Dari pinggang ke bawah seperti bayangan orang biasa yang melangkah perlahan-lahan, selangkah demi selangkah. Akan tetapi dari pinggang ke atas amat luar biasa, membesar dan bulat.

Segala macam bentuk setan hanya ada kalau DIADAKAN oleh pikiran kita sendiri. Banyak memang pengakuan orang-orang yang pernah melihat setan, akan tetapi sudah pasti sekali bahwa yang dilihatnya itu tentulah setan-setan seperti yang pernah dikenalnya, yaitu melalui pendengaran cerita, melalui gambar-gambar atau dongeng-dongeng orang tua, pendeknya tentu yang dilihatnya itu adalah gambaran yang sudah ada di dalam ingatannya! Pikiran dapat mempengaruhi semua anggauta badan, terutama sekali mata dan telinga. Kalau pikiran sudah mencekam kita dengan gambaran-gambaran tentang setan-setan yang menakutkan dan mengerikan, maka melihat bayangan pohonpun sudah dapat menciptakan gambaran setan itu, mendengar suara burung malampun sudah dapat menciptakan gambaran yang dicetak oleh pikiran kita sendiri. Karena itu, kita harus awas dan sadar terhadap tipu muslihat yang dilakukan oleh sang pikiran yang lincah dan cerdik seperti monyet itu.

Setelah dekat benar, barulah tampak bahwa bayangan mengerikan itu bukan lain adalah kakek Giam Tun yang berjalan perlahan-lahan, tangan kanan memegang sebuah lentera, tangan kiri memegang sebuah payung. Dengan menggigil kedinginan, juga oleh rasa seram, kakek ini memaksa kakinya melangkah perlahan-lahan memasuki pintu gerbang tanah pekuburan. Malam terlalu gelap ditambah kabut air hujan, maka penerangan lentera itu belum cukup kuat sinarnya untuk menembus kegelapan. Hanya karena hafal saja kakinya melangkah satu-satu menuju ke tempat di mana nyonya majikannya dikubur sore tadi.

Bulu tengkuknya meremang. Hati siapa tidak akan ngeri memasuki tanah pekuburan sedangkan nyonya majikannya baru sore tadi dikubur? Akan tetapi, rasa hutang budi yang mendatangkan rasa sayang dan setia kepada majikannya membuat kakek ini nekat memberanikan hatinya untuk mencari majikannya yang sampai malam hujan itu belum juga pulang.

“Taihiap…!” Suara yang keluar dari mulut Giam Tun ini menggema ditimpa suara hujan sehingga dari jauh terdengar lain, bunyinya seperti rintihan yang keluar dari dalam satu di antara gundukan-gundukan tanah kuburan itu.

Giam Tun memanggil beberapa kali dan ketika masih saja belum ada jawaban padahal sinar lenteranya sudah menimpa tubuh Kun Liong yang menelungkup di atas gundukan tanah kuburan baru itu, Giam Tun terkejut setengah mati. Tersaruk-saruk dia melanggah maju, payung dan lentera itu berguncang karena seluruh tubuhnya menggigil.

Kun Liong berada dalam keadaan antara sadar dan tidak. Dia merasa seperti sedang berperahu dengan isterinya dan isterinya demikian cantik dan bahagia, tersenyum dan memandang kepadanya penuh dengan sinar mata mesra yang mengandung kasih sayang seperti kalau biasa isterinya memandangnya. Akan tetapi, tiba-tiba air sungai bergelombang dan perahu itu terbalik! Dia melihat isterinya hanyut dibawa air sungai. Sia-sia saja dia berusaha berenang mendekati, makin lama isterinya makin jauh.

“Hong Ing…!” dia menjerit.

“Suamiku… kaucari Mei Lan…! Cari Mei Lan…!”

Hanya suara teriakan isterinya menyuruh dia mencari Mei Lan itu yang terdengar kini. Dia tidak ingat lagi bahwa tadi Mei Lan juga ikut di dalam perahu.

“Taihiap… bangunlah… kita perlu mencari nona Mei Lan…! Kita harus mencari nona Mei Lan…!”

Kun Liong menggerakkan tubuhnya dan menoleh, matanya silau oleh sinar lentera itu dan dia melihat wajah Giam Tun di atas lentera, wajah yang penuh iba dan yang berkata dengan suara penuh permohonan, “Pulanglah, taihiap, nona Mei Lan belum juga datang, kita perlu mencarinya…!”

“Hong Ing… Mei Lan…!” Kun Liong mengeluh, teringat akan “mimpinya” dan dia lalu barigkit duduk di atas tanah yang becek. Pakaiannya basah kuyup dan kotor penuh lumpur, juga mukanya berlepotan lumpur.

Kini dia sadar sepenuhnya dan diam-diam dia berterima kaaih kepada Giam Tun. Kakek ini biasanya amat takut akan setan-setan, dan kini sampai matipun dia tidak akan berani disuruh memasuki tanah kuburan seorang diri di waktu malam dan hujan itu. Pernah Hong Ing menggoda kakek ini saking penakutnya terhadap setan, malam-malam menggunakan kepandaiannya. Hong Ing meloncat ke atas genteng dan memakai kerudung putih menakut-nakuti Giami Tun sehingga kakek ini hampir terkencing-kencing saking takutnya, mengira ada setan. Memang kadang-kadang di waktu gembira Hong Ing suka bermain-main seperti anak kecil.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: