Dewi Maut (Jilid ke-15)

Akan tetapi kini kakek itu menempuh segala rasa takutnya, datang mencarinya. Kun Liong merasa betapa sikapnya terlalu menuruti hati sedih. Kesadarannya mulai timbul.

“Paman Giam Tun, aku memang hendak menemani nyonya majikanmu di malam pertama yang gelap dan dingin ini. Kasihan dia, paman… kasihan sekali dia, bukan?”

Giam Tun mengangguk dan dari balik lentera dia hanya mengangguk-angguk, akan tetapi sedu-sedannya terdengar melalui kerongkongannya.

“Sudahlah, paman. Sudah berlebihan aku menyedihi dan menangisi diriku sendiri, sekarang aku harus ingat kepadanya. Kau pulanglah. Aku tidak apa-apa, biar aku malam ini menjaga di sini. Besok kita bicarakan tentang Mei Lan, dan yang lain-lain.”

Giam Tun mengusap matanya dengan ujung lengan baju. Hatinya lega juga. Biarpun keadaan majikannya demikian menyedihkan dan mengharukan, namun suara dan kata-kata yang keluar dari mulut majikannya menunjukkan bahwa pendekar itu sudah sadar kembali, suaranya tenang dan penuh wibawa seperti biasanya.

“Apa taihiap tidak perlu ganti pakaian? Ini sudah saya bawakan… dan makanan… sejak dua hari yang lalu taihiap belum makan atau minum apa-apa…”

Dengan jari-jari gemetar kakek itu hendak membuka bungkusan yang tadi dikempitnya.

Kun Liong menggeleng kepalanya. “Bawa kembali saja, paman. Apa gunanya berganti pakaian sekarang? Pakaian kering akan basah lagi, pakaian bersih akan kotor lagi dan dalam keadaan seperti sekarang ini, bagaimana aku mampu menelan makanan atau minuman? Pulanglah dan biarkan aku sendiri untuk menghadapi dan merenung segala kepahitan hidup ini, paman.”

Giam Tun memandang majikannya, beberapa kali menelan ludah, dan tidak mampu mengeluarkan perkataan. Dia merasa menjadi sepuluh tahun lebih tua daripada biasanya semenjak terjadinya peristiwa mengerikan tiga hari yang lalu itu. Kakek itu mengangguk-angguk, membalikkan tubuhnya dan hendak pergi, akan tetapi berhenti lagi, menengok dan berkata, “Apakah perlu lentera ini saya tinggalkan di sini, taihiap?”

“Bawa pergi saja, paman. Sinarnya tidak akan mampu menerangi kegelapan hatiku, malah menyilaukan mata saja.”

Bibir kakek itu bergerak-gerak, dia sendiri tak tahu apa yang hendak dikatakan lalu dia pergi tersaruk-saruk dengan langkah pendek-pendek dan punggung agak membongkok, meninggalkan tempat itu menuju ke pintu gerbang kuburan yang dari jauh tampak tinggi besar hitam seperti setan raksasa mementang kedua lengannya dan amat mengerikan kalau tampak tertimpa sinar kilat.

Setelah kakek Giam Tun pergi, Kun Liong merasa betapa tubuhnya dingin sekali. Baru sadarlah dia betapa selama ini dia telah mengabaikan kewajibannya yang terutama sebagai manusia hidup, yaitu menjaga kesehatan tubuhnya. Dia telah membiarkan dirinya terbuka terhadap semua serangan lahir batin, terlalu menenggelamkan diri ke dalam perasaan duka sengsara. Teringat akan ini, dia lalu duduk bersila di depan kuburan isterinya, mengerahkan sin-kang menghangatkan tubuhnya.

Setelah tubuhnya terasa sehat kembali, dia mulai menggunakan mata batinnya untuk memandang keadaan dirinya, untuk menyelidiki semua keadaan yang telah menimpa dirinya. Setelah kini dia tidak lagi dijadikan permainan hati dan pikirannya, tampaklah oleh kesadarannya betapa dia hampir gila oleh rasa iba diri, bahwa selama ini dia menangisi diri sendiri, berkabung atas keadaan dirinya sendiri yang direnggut kesenangan hidupnya. Dia tidak perlu menangisi kematian Hong Ing. Mengapa? Hong Ing sudah terbebas dari segala ikatan duniawi dengan suka dukanya, dengan kesenangan yang singkat den kesengsaraannya yang panjang. Terbayang dia akan wajah mayat isterinya yang demikian penuh damai dan ketenangan, lalu membandingkan dengan keadaan dirinya. Mungkin sudah sepatutnya kalau Hong Ing di “sana” menangisi dia karena keadaannya yang sengsara itu. Akan tetapi dia tidak patut menangisi Hong Ing yang sudah tidak terseret oleh arus kesengsaraan duniawi lagi.

Setelah sadar akan ini, yang tinggal hanya penyesalan den penasaran. Mengapa isterinya yang dia tahu amat jenaka, lemah lembut, baik budi dan ramah itu sampai dibunuh orang? Dan yang membunuhnya Giok Keng! Tidak salah lagi. Tidak mungkin orang-orang seperti dua orang pembantunya itu, terutama sekali Giam Tun, akan membohong! Dia harus mencari Giok Keng. Membuat perhitungan!

Kini lain perasaan mengaduk hati Kun Liong, digerakkan oleh pikiran yang bekerja keras. Dan meloncat dan mengepal tinjunya. “Giok Keng, kau perempuan keji! Aku akan membalaskan kematian Hong Ing!”

“Darrr…!” Kilat menyambar sebagai penutup dari hujan yang mulai berhenti. Sekejap mata tempat itu menjadi terang menyilaukan mata dan Kun Liong terkejut, tersadar lagi dan menjatuhkan diri berlutut di depan kuburan sambil menutupkan kedua tangan yang kotor berlumpur di depan mukanya. Terbayanglah dia akan wajah Cia Keng Hong dan Sie Biauw Eng, ayah dan ibu Giok Keng, terbayang dia akan wajah Giok Keng di waktu gadis dahulu, terbayang pula akan semua hal, perhubungannya dengan keluarga Cia. Dan dia baru saja mengeluarkan ancaman untuk membunuh Giok Keng!

Bodoh! Dia memaki diri sendiri. Dia tidak boleh menurutkan nafsu yang didorong oleh pikiran yang menduga-duga. Dia harus menyelidiki sebabnya, tidak terpengaruh begitu saja oleh peristiwa yang hanya akibat. Kalau dia menuruti nafsunya, maka peristiwa yang menimpa dirinya ini akan dia jadikan sebab untuk menimbulkan akibat lain, misalnya dia membunuh Giok Keng! Dan akibat itu tentu akan menjadi sebab pula dari urusan yang berkepanjangan, dendam yang bertumpuk-tumpuk dan tiada habisnya. Tidak, dia harus dapat melihat kenyataan. Isterinya mati terbunuh orang! Anaknya lari pergi tanpa diketahui sebabnya pula. Dan satu-satunya orang yang kiranya dapat dijadikan terdakwa, hanya Giok Keng. Kalau dia mendatangi Giok Keng, pertemuannya dengan wanita itu mungkin akan menyalakan api kedukaan dan dendam di hatinya dan dia tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi. Tidak, dia tidak bokeh melakukan hal yang sembrono. Dia harus memikirkan dengan baik dan tidak bertindak ceroboh. Carilah Mei Lan, demikian pesan isterinya dalam mirapi di waktu dia tidak tidur tadi. Benar! Yang terpenting memang mencari Mei Lan. Hong Ing sudah mati, apapun yang akan dilakukannya, dia tidak akan dapat merobah kenyataan itu, bahkan mungkin dendam kebencian akan menimbulkan hal-hal baru yang lebih hebat lagi. Tentu saja dia tidak akan tinggal diam dan dia harus berusaha untuk menangkap pembunuh isterinya. Akan tetapi hal itu akan dilakukan bukan karena dendam, melainkan karena sudah sepatutnya kalau pembunuhan itu diselidiki sebab-sebabnya dan si pembunuh diadili sebagaimana layaknya! Terutama sekali, “pesan” isterinya, Mei Lan harus ditemukan.

Go-bi Sin-kouw! Mengapa engkau membunuhnya?” In Hong membentak dengan suara penuh kemarahan kepada nenek itu. Mereka berdiri saling berhadapan di luar kota Leng-kok pada pagi hari itu, dan Yalima hanya memandang mereka dengan bingung.

Malam tadi, Yalima ditinggalkan di sebuah kuil tua di luar kota, sedangkan In Hong dan Go-bi Sin-kouw memasuki kota Leng-kok untuk mendatangi rumah Yap Kun Liong dengan maksud membatalkan ikatan jodohnya dengan putera Cin-ling-pai. Sesuai dengan kehendak Go-bi Sin-kouw agar tidak menimbulkan kecurigaan, pula karena nenek ini tidak mau bertemu muka secara langsung dengan Pek Hong Ing, bekas muridnya, mereka berpencar setelah berjanji akan bertemu di luar kota di mana terdapat kuil itu pada keesokan harinya.

Ketika In Hong pada keesokan harinya bertemu dengan nenek itu di dekat kuil, serta merta dia menegur dengan suara ketus.

“Heh-heh?heh, nona In Hong! Nanti dulu, aku justeru mau bertanya kepadamu mengapa engkau membunuh bekas muridku itu! Hayo katakan mengapa engkau membunuh dia dan mengapa pula engkau berpura-pura menuduhku?”

“Nenek iblis! Siapa membunuh dia? Tentu kau yang membunuh kemudian menjatuhkan fitnah kepadaku!”

“Eh, bocah! Jangan engkau menuduh yang bukan-bukan! Aku Go-bi Sin-kouw tidak sudi menelan hinaan orang begitu saja! Aku datang dan melihat dari atas genteng betapa bekas muridku itu telah menggeletak dengan bekas tusukan pedang di dada, lalu aku mencari-carimu.”

“Hemm, mengapa pula aku membunuhnya? Akupun datang sudah melihat dia tewas. Aku tidak mengenalnya, dan pula, dia adalah isteri kakak kandungku, mengapa pula aku harus membunuh?”

“Huh, dan kaukira aku membunuh murid sendiri? Coba katakan, apa sebabnya engkau menuduh aku yang membunuh?”

“Karena engkau benci kepada kakakku itu, karena engkau tidak setuju muridmu menjadi isteri kakakku atau karena engkau tidak suka dan iri melihat kebahagiaan orang lain.”

“Den kau… kau sudah jelas tidak suka kepada kakakmu sendiri! Kau marah dijodohkan dengan putera ketua Cin-ling-pai, mungkin kau dan dia cekeok dulu lalu kau membunuhnya dengan darah dingin. Kaukira aku tidak mengenal orang yang berdarah dingin yang bertangan maut seperti engkau? Aku tadi melihat wanita tua itu menangis dan berkata, ‘Wanita keji itu yang membunuhnya!’ Siapa lagi kalau bukan engkau yang dia maksudkan?”

“Go-bi Sin-kouw, berani kau menuduh aku!”

“Yap In Hong, engkau berani menghinaku!”

Kedua orang itu sudah saling melotot dan pada seat itu Yalima melangkah maju dan berkata, “Subo! Enci In Hong! Mengapa kalian berdua jadi ribut dan cekcok sendiri? Kalau memang kalian berdua tidak membunuh orang, sudahlah. Bagiku yang penting mencari dan bertemu dengan Houw-koko. Urusan enci dengan diapun akan dapat diselesaikan kalau sudah bertemu sendiri dengan dia bukan?”

Go-bi Sin-kouw tertawa terkekeh-kekeh. “Heh-heh-heh, pintar juga muridku ini. Nona In Hong, mengapa kita seperti anak kecil saja? Aku tidak membunuh, engkaupun tidak membunuh, pasti ada orang lain yang membunuh. Serahkan saja kepada Yap Kun Liong untuk menyelidiki siapa yang membunuh isterinya.”

“Aku tidak suka lagi melakukan perjalanan bersamamu, Sin-kouw. Kita berpisah di sini saja.”

“Eh-eh? Apakah engkau marah setalah terjadi peristiwa pembunuhan itu?”

“Bukan urusanku!”

“Nah, kalau begitu, benar juga kata muridku, sebaiknya kalau kita menjumpai Cia Bun Houw sendiri sehingga langsung enhkau dapat memutuskan ikatan jodoh dan sekalian memaksanya mengawini muridku ini. Aku mengenal seorang sahabat baikku di lereng gunung itu, seorang tokoh besar, marilah kita mengunjungi karena engkau perlu sekali berkenalan dengan tokoh-tokoh dunia persilatan. Dan setelah kita menitipkan Yalima di sana, kita berdua mencari Bun Houw. Bagaimana?”

Yap In Hong berpikir-pikir, melirik kepada Yalima. Gadis Tibet ini memegang tangannya dan berkata, “Marilah, enci In Hong. Aku yakin bahwa hanya dengan bantuanmu saja aku akan dapat berjumpa dengan Houw-ko.”

In Hong menghela napas panjang. Aneh, dia merasa suka sekali kepada Yalima!

“Sin-kouw, engkau sungguh mencurigakan. Kalau bukan engkau pembunuhnya, mengapa melihat muridmu tewas sikapmu enak-enak saja?” katanya.

“Heh-heh-heh, orang-orang seperti kita siapa yang lebih aneh? Engkau kematian so-somu (kakak iparmu) dan kaupun tidak berduka, bukan? Sudah, tidak perlu kita saling tuduh. Katakanlah bahwa mungkin seorang di antara kita yang membunuh, dan mungkin juga keduanya tidak.”

Mereka meninggalkan kuil tua itu menuju ke gunung yang ditunjuk okh nenek itu. Diam-diam Yalima memperhatikan dan dara ini berpendapat di dalam hatinya bahwa tentu seorang di antara mereka berdua itu membohong. Tentu seorang dari mereka yang telah melakukan pembunuhan yang dibicarakan tadi, akan tetapi karena dia tertarik dan suka kepada In Hong, tentu saja hatinya condong menuduh subonya yang dia kenal sebagai seorang nenek yang luar biasa, aneh dan galak itu.

Gunung yang mereka tuju itu adalah bukit kecil dengan puncaknya yang disebut Giok-kee-san (Bukit Ayam Kumala) karena bentuk batu besar di puncak itu, yang merupakan batu kapur keras, memang tampaknya seperti seekor ayam bertengger den kalau tertimpa matahari, batu kapur itu mengeluarkan cahaya scperti batu kumala.

Puncak ini menjadi pusat pertemuan dari orang-orang golongan hitam yang dikumpulkan dan diundang oleh Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Sian-kouw yang dalam usaba ini ditemani oleh Toat-beng-kauw Bu Sit, orang termuda dari Lima Bayangan Dewa. Memang Toat-beng-kauw Bu Sit sebelum bergabung dengan empat orang lainnya, pernah tinggal di puncak Giok-kee-san ini sebagai seorang pertapa, biarpun ketika itu usianya baru tiga puluh tahun lebih. Dan karena dia tidak pernah membuat ribut, tekun menggembleng diri dengan ilmu-ilmunya, maka biarpun Leng-kok dekat dengan bukit itu, hanya perjalanan sehari semalam, namun Kun Liong tidak pernah mengenalnya. Kini, tempat itu dipilih oleh beng-kauw untuk menjadi tempat pertemuan dengan tokoh-tokoh dunia hitam yang diundang untuk membantu persekutuan mereka menghadapi Cin-ling-pai. Dia bertugas menemani tosu dan tokouw itu mencari bantuan-bantuan dari timur dan di antaranya mereka mengundang Go-bi Sin-kouw, yang biarpun merupakan tokoh barat dan utara, namun karena dia dikenal baik oleh Hek I Siankouw maka mereka undang juga.

Tentu saja Lima Bayangan Dewa ini hanya mengundang tokoh-tokoh yang berkepandaian tinggi saja dan pada saat itu, selain Go-bi Sin-kouw yang sedang menuju ke situ bersama Yap In Hong dan Yalima, sudah datang pula seorang undangan yang berilmu tinggi, seorang berpakaian pendeta atau pertapa pula yang dikenal dengan nama julukan Bouw Thaisu. Kakek ini adalah sahabat baik dari Thian Hwa Cinjin, ketua Pek-lian-kauw timur yang telah tewas ketika bentrok dengan keluarga Cia Keng Hong (baca cerita Petualang Asmara) sehingga diapun merasa tidak suka kepada keluarga Cin-ling-pai itu. Untuk memusuhi sendiri dia tidak berani, maka setelah kini Lima Bayangan Dewa mulai menentang Cin-ling-pai dan mengumpulkan persekutuan untuk menghadapi Cin-ling-pai, dia segera mengajukan diri.

In Hong memandang tajam penuh selidik ketika kedatangan mereka bertiga disambut dengan ramah oleh empat orang yang kelihatannya saja sudah sebagai orang-orang yang lihai. Hek I Sinkouw yang mengenal baik Go-bi Sin-kouw, segera memperkenalkan tiga orang itu kepada tokoh Go-bi ini, kemudian In Hong diperkenalkan sebagai seorang tokoh muda yang amat lihai oleh Go-bi Sin-kouw.

In Hong menyambut perkenalan itu dengan mengangkat kedua tangan di depan dadanya. Betapapun juga, mereka itu adalah orang-orang tua sekali, kecuali Toat-beng-kouw Bu Sit yang kurus seperti monyet dan yang pandang matanya penuh gairah ditujukan kepadanya itu.

“Nona Yap In Hong, saat ini engkau berhadapan dengan tokoh-tokoh puncak!” demikian Go-bi Sin-kouw memperkenalkan. “Sahabatku ini adalah Hek I Siankouw dan kaulihat, kesukaannya dalam hal warna pakaian sama seperti aku, sejak kami masih muda, heh-heh-heh, yaitu warna hitam mulus. Dulu dia cantik sekali, dengan kulitnya yang halus putih seperti kulitmu itu, sehingga menonjol sekali dengan pakaian hitamnya. Dan kepandaiannyapun hebat! Dan ini, seperti diperkenalkan tadi, adalah Hwa Hwa Cinjin, tokoh besar karena dia adalah sute dari mendiang Toat-beng Hoatsu yang pernah menjadi datuk golongan hitam. Kakek yang baru kukenal ini adalah Bouw Thaisu, pertapa di pantai Po-hai yang tinggi ilmunya. Dan dia ini biarpun masih muda, akan tetapi namanya sudah menggetarkan langit dengan para suhengnya. Dia adalah Toat-beng-kauw Bu Sit, orang termuda dari Lima Bayangan Dewa.”

Diam-diam In Hong terkejut dan memperhatikan. Hemm, kelihatannya tidak seberapa, pikirnya. Seorang laki-laki kecil kurus seperti monyet, usianya empat puluhan tahun, mukanya kuning pucat. Jadi inikah seorang di antara Lima Bayankah Dewa yang sudah menggegerkan dunia persilatan karena telah berani mengacau Cin-ling-pai dan mencuri Siang-bhok-kiam?

Sambil menyeringai Toat-beng-kauw Bu Sit menjura kepadanya dan berkata, “Nona Yap, sungguhpun saya belum pernah mendengar nama nona, akan tetapi saya percaya bahwa sebagai sababat Go-bi Sin-kouw, none memiliki kepandaian yang amat hebat,” mulutnya bicara dengan In Hong, akan tetapi matanya yang kecil mengincar Yalima!

“Bu-sicu, engkau mungkin tidak dapat menduga!” Go-bi Sin-kouw terkekeh, “Nona Yap ini adalah adik kandung dari Yap Kun Liong di Leng-kok.”

“Aihhh…!” Tidak saja Toat-beng-kauw Bu Sit yang berseru terkejut, akan tetapi yang lain-lain memandang kaget, menoleh kepada Go-bi Sin-kouw dengan heran.

“Biarpun dia kakak kandungku, di antara kami tidak ada urusan apa-apa.” In Hong cepat berkata. “Sejak kecil tidak pernah ada hubungan.”

Mereka semua mengangguk-angguk dan tidak berani menyinggung urusan itu lagi, akan tetapi diam-diam mereka bersikap hati-hati karena mereka semua tahu bahwa Yap Kun Liong adalah seorang pendekar yang memiliki kepandaian hebat sekali dan merupakan “orang dekat” dengan Cin-ling-pai!

“Siapakah nona manis ini, Sin-kouw? Mengapa tidak diperkenalkan?” Tiba-tiba Bu Sit bertanya kepada Go-bi Sin-kouw sambil memandang kepada Yalima.

Go-bi Sin-kouw terkekeh bangga. “Cantik jelita dan hebat, ya? Dia ini adalah muridku yang baru, namanya Yalima, kembang dari Tibet.”

“Wah, sungguh beruntung engkau mempunyai murid secantik ini!” Bu Sit memuji dan semua orang tersenyum, hanya Yalima yang menundukkan mukanya dengan hati tidak enak melihat sinar mata Bu Sit demikian liar dan ganas menggerayanginya! In Hong juga melihat hal ini dan otomatis dia merasa tidak suka kepada Toat-beng-kauw Bu Sit. Adapun karena desakan Yalima maka dia mau ikut bersama Go-bi Sin-kouw, dan dia sudah mengambil keputusan untuk segera meninggalkan nenek yang tidak menyenangkan itu, akan tetapi begitu bertemu dengan orang termuda dari Lima Bayangan Dewa ini, hatinya tertarik untuk menyelidiki tentang pedang Siang-bhok-kiam! Pantas saja Jeng-ci Sin-touw Can Pouw pernah mengatakan bahwa Lima Bayangan Dewa tidak berada di sarangnya di muara lembah Huang-ho, kiranya mereka itu yang seorang berada di sini untuk mengumpulkan orang-orang lihai dari golongan hitam! Hal ini menarik perhatian In Hong dan dia ingin tahu apa yang hendak dilakukan orang-orang yang dia menduga amat benci dan memusuhi Cin-ling-pai ini.

Malam itu In Hong berkesempatan untuk bercakap-cakap berdua saja dengan Yalima selagi Go-bi Sin-kouw dan empat orang tokoh itu mengadakan perundingan di dalam ruangan belakang. Agaknya nnemang sengaja In Hong ditinggalkan, karena setelah makan malam. Yalima diperintah oleh subonya untuk mengajak In Hong berjalan-jalan dan menikmati malam indah di luar pondok itu. Malam itu penuh bintang, sungguhpun di udara nampak awan hitam berkelompok.

“Sin-kouw, sungguh engkau aneh sekali. Biarpun dia mengaku tidak ada hubungan dengan kakak kandungnya, akan tetapi kalau dia itu adik Yap Kun Liong, sungguh berbahaya sekali engkau mengajaknya ke sini! Siapa tahu dia itu sengaja menjadi mata-mata Cin-ling-pai!” Toat-beng-kauw Bu Sit menegur nenek itu.

“Heh-heh, kaukira aku sebodoh itu? Aku pertama-tama tertarik kepadanya ketika di Wu-han dalam sebuah pesta dia menghina puteri ketua Cin-ling-pai!”

“Ahhh…!” Semua orang tertarik, terutama sekali Toat-beng-kauw Bu Sit yang menjadi musuh besar keluarga Cin-ling-pai.

Nenek dari Go-bi itu lalu menceritakan semua yang dilihatnya di dalam pesta itu, bahkan lalu menuturkan apa yang didengarnya dari In Hong sendiri betapa dara itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Yap Kun Liong, kakak kendungnya itu.

Mereka mendengarken penuturan ini dengan heran, akan tetapi dengan suara ragu-ragu, Toat-beng-kauw Bu Sit mencela. “Betapapun juga, hal itu masih belum menjadi jaminan penuh bahwa dia bukan mata-mata Cin-ling-pai. Siapa tahu kalau sikapnya dengan puteri Cin-ling-pai itu hanya permainan sandiwara belaka.”

Wajah nenek Go-bi menjadi merah dan dia melotot. “Tidakkah kalian melihat burung hong di rambutnya?”

“Ah, Giok-hong-pang…?” Hek I Sian-kouw bertanya.

Go-bi Sin-kouw mengangguk. “Murid tunggal dari ketuanya, dan aku sudah melihat sendiri kepandaiannya hebat. Nah, seorang murid ketua Giok-hong-pang, apakah masih belum meyakinkan? Kalau masih belum, Toat-beng-kauw Bu Sit, ada satu lagi yang membuat aku berani mengajaknya ke sini. Dia mungkin telah membunuh isteri Yap Kun Liong malam tadi di Leng-kok, atau setidaknya, dia melihat kematian kakan iparnya itu dengan sikap dingin dan tidak peduli!”

“Huhh…?” Berita ini benar-benar mengejutkan semua orang. Ketika nenek itu menceritakan tentang kematian nyonya Yap Kun Liong, semua orang menjadi girang.

“Aha, Go-bi Sin-kouw, engkau telah berjasa besar masih pura-pura merendahkan diri!” Hwa Hwa Cinjin berkata. “Siapa lagi kalau bukan engkau yang membunuhnya?”

Go-bi Sin-kouw memainkan senyumnya yang nyaprut. “Mungkin aku, mungkin Yap In Hong, aku sendiri sampai bingung memikirkan. In Hong telah menyangkal. Nah, Bu-sicu, apakah kau masih belum yakin?”

Bu Sit bangkit berdiri dan menjura sampai dalam ke arah nenek itu. “Atas nama Lima Bayangan Dewa, aku menghaturkan terima kasih atas semua jasamu, Sin-kouw! Dan sekarang, apa maksudmu mengajak dia ke sini?”

Go-bi Sin-kouw lalu menceritakan tentang kemarahan In Hong terhadap Cie Bun Houw, putera Cin-ling-pai yang ditunangkan dengan dia. Dia tidak mau, bahkan marah-marah, apalagi setelah melihat bahwa Yalima adalah pacar Bun Houw di Tibet.

“Kalau dia bisa dipancing agar mendatangi puteri ketua Cin-ling-pai di Sin-yang, kemudian mereka itu yang sama keras hatinya cekcok sampai bermusuhan, bukankah ini hebat sekali? Itulah sebabnya maka dia kuajak ke sini.”

“Wah, engkau memang hebat, Sin-kouw! Dan dara mulus muridmu itu kalau dia benar pacar putera ketua Cin-ling-pai, dapat kita jadikan sandera yang amat berharga. Dia harus dapat dibujuk untuk membantu kita,” kata Toat-beng-kauw Bu Sit.

Nenek itu menggeleng kepala. “Hemm, bocah itu tidak pandai ilmu silat dan baru kuajari, akan tetapi hatinya keras sekali dan dia tidak mungkin dapat dibujuk. Dia mau ikut denganku ke mana saja hanya karena aku berjanji akan mempertemukan dia dengan pecarnya.”

Toat-beng-kauw Bu Sit mengerutken ailsnya, dan tiba-tiba dia memukul tangannya sendiri. “Ah, jalan satu-satunya hanya… kalau saja kau setuju, Sin-kouw!” Dua orang itu saling pandang, lalu Go-bi Sin-kouw terkekeh-kekeh.

“Heh-heh-heh, engkau nakal sekali dan amat cerdik seperti monyet! Memang orang cerdik seperti engkau pantas menerima untung itu, dia cantik manis bukan main. Aku menyerahkan dia malam ini kepadamu, Bu Sit, asal engkau suka berlutut tiga kali di depan kakiku sambil mengucapkan terima kasih.”

Tentu saja Toat-beng-kauw Bu Sit girang bukan main. Dia memang cerdik dan dari penuturan Go-bi Sin-kouw tentang Yalima tadi, dia sudah menduga bahwa murid baru itu tentu tidak begitu dihiraukan oleh gurunya, pula, di samping dia sudah tergila-gila melihat dara remaja yang cantik molek itu, juga dia melihat pentingnya dara yang memegang peran penting itu ditundukkan dan dipaksa menjadi kaki tangan Lima Bayangan Dewa. Dia tidak tahu bahwa bukan karena itulah Go-bi Sin-kouw menyerahkan murldnya itu kepada Bu Sit. Justeru karena dia tidak ingin kehilangan muridnya itu maka dia mengorbankan muridnya kepada orang termuda dari Lima Bayangan Dewa ini! Memang watak nenek ini luar biasa aneh dan sadisnya!

Saking girangnya, Bu Sit yang sudah hampir menitikkan air liur teringat akan calon mangsanya itu, segera menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Go-bi Sin-kouw dan mengangguk-angguk tiga kali sambil berkata, “Terima kasih, terima kasih, terima kasih!” Go-bi Sin-kouw tertawa bergelak dan semua orang juga tersenyum. Mereka adalah orang-orang tua yang tidak perduli lagi akan urusan seperti itu, yang penting bagi mereka adalah dapat berhasil membasmi Cin-ling-pai untuk membalas dendam mereka yang sudah ditahan bertahun-tahun.

Sementara itu, In Hong berjalan-jalan dengan Yalima di luar pondok. Setelah kini memperoleh kesempatan berdua saja dengan nona yang gagah perkasa itu, Yalima merasa dekat sekali dengan In Hong dan tanpa disadarinya dia sudah menggandeng lengan In Hong dan menggenggam tangannya. Tangan In Hong terasa hangat olehnya, dan kehangatan ini menjalar terus ke dalam dadanya terhadap pendekar wanita itu.

Mereka lalu duduk di atas batu agak jauh dari pondok, di tempat yang sunyi sekali dan dari situ nampak berkelap-kelip lampu-lampu yang menyorot keluar dari dusun di bawah. Angkasa penuh bintang sedangkan di utara kadang-kadang nampak kilat menyambar di antara awan-awan gelap, membuat bintang-bintang kehilangan cahayanya dan baru berseri-seri lagi setelah kilat berlalu.

“In Hong, aku hendak bertanya sesuatu kepadamu, jangan kau marah ya?” Yalima berkata sambil mengelus tangan pendekar wanita itu dengan penuh kekaguman betapa tangan yang amat halus itu mengandung tenaga yang amat kuat dan luar biasa.

In Hong tesenyum memandang wajah manis yang berada di depannya. Biarpun cuaca hanya remang-remang saja, hanya diterangi oleh cahaya bintang-bintang yang lembut, namun masih mudah menangkap kecantikan bentuk muka dara remaja itu, wajah yang agaknya serasi benar dengan alam terbuka dan hawa pegunungan. Angin semilir membuat sedikit rambut yang terlepas dari kelabangnya itu melambai-lambai.

“Tanyalah, mengapa aku harus marah?”

“Enci In Hong… sungguh sukar bagiku untuk percaya ketika engkau mengatakan bahwa engkau menolak pertalian jodoh dengan Houw-ko! Mengapa, enci?”

In Hong memandang wajah itu, melihat sepasang mata Yalima menatapnya penuh selidik dan cahaya bintang terpantul dari manik sepasang mata indah itu. Pertanyaan yang polos dan jujur tanpa maksud apa-apa tersembunyi di baliknya. Dia tersenyum lagi dan merasa heran sendiri karena dia merasa betapa baru dua kali ini dia merasa senang bercakap-cakap, yang pertama dengan Si Malaikan Copet dan yang kedua dengan Yalima.

“Mengapa? Tentu saja aku menolak, Yalima. Selama hidupku belum pernah aku bertemu dengan dia, bagaimana aku sudi dijodohkan dengan orang yang sama sekali belum pernah kulihat? Pula aku kira… agaknya… aku tidak akan suka dijodohkan selama hidupku.”

Yalima memandang heran melihat kesungguhan membayang di muka yang cantik sekali dan yang mengagumkan hatinya itu. Memang sesungguhnya Yap In Hong mempunyai wajah yang amat cantik, yang agak tertutup oleh sikapnya yang dingin. Wajahnya sama dengan mendiang ibunya, yaitu Gui Yan Cu, seorang wanita yang sudah terkenal sekali akan kecantikannya.

“Akan tetapi engkau agaknya… amat membenci Houw-ko. Padahal engkau belum pernah jumpa denganya. Bagaimana ini, enci? Aku sungguh tidak mengerti. Memang amat aneh bagi dara yang sedang dimabok cinta ini melihat ada orang sampai bisa membenci Bun Hou! Pemuda yang baginya tidak ada cacat celanya itu tidak mungkin menimbulkan benci di hati orang lain, sehingga kebencian In Hong selain mengherankan juga menimbulkan curiga.

“Aku membenci semua pria yang mempermainkan wanita, dan dia itu telah mempermainkan aku, telah menghina aku atau engkau, maka aku membencinya!”

“Eh, aku tidak mengerti, enci.”

“Tergantung mana lebih dulu, dia mengenalmu atau dia ditunangkan dengan aku. Kalau dia sudah tahu babwa dia bertunangan dengan aku, maka berarti dia telah mempermainkan dan menghinamu, sebaliknya kalau lebih dulu dia mengenalmu baru dia bertunangan dengan aku, berarti dia mempermainkan dan menghina aku!”

Yalima masih bingung. “Seharuanya dia bersikap bagaimana, enci?”

“Kalau dia lebih dulu mengenalmu, dia harus menolak semua ikatan jodoh dengan orang lain! Dan kalau dia sudah bertunangan, tidak semestinya dia menggodamu!”

Hening sejenak ketika Yalima mencoba untuk memaklumi pendapat In Hong itu. Lalu dia bertanya lagi, “Enci, apakah engkau cemburu?”

In Hong terkejut dan memandang dara remaja itu. “Apa maksudmu? Aku cemburu? Cemburu bagaimana dan kepada siapa?”

“Cemburu kepadaku, enci In Hong, karena aku… aku dan Houw-ko…”

“Hushh, sembarangan saja kau bicara! Engkau manis, sudah sepatutnya kalau ada orang jatuh cinta kepadamu. Akan tetapi hati-hatilah, Yalima, laki-laki sukar untuk dapat dipercaya. Aku khawatir kalau seorang semanis engkau sampai kelak harus mengalami patah hati seperti yang lain…”

“Seperti yang lain siapa, enci?”

In Hong tidak menjawab, mengenang kehidupan gurunya dan para bibi anggauta Giok-hong-pang.

“Seperti siapa, enci? Apakah engkau pernah patah hati karena cinta, enci?”

“Hushh!” In Hong tersenyum dan mencubit dagu yang meruncing manis itu. “Jangan bicara yang bukan-bukan. Aku tidak akan jatuh cinta karenanya aku tidak akan bisa patah hati.”

Aku tidak percaya, enci. Orang secantik engkau, seperti Kwan Im Pouwsat… mana mungkin… pasti banyak yang akan jatuh cinta kepadamu, dan kalau… kalau kau berjumpa dengan Houw-ko aku yakin…” Dara itu memandang penuh khawatiran.

“Hemm, kaurasa bagaimana?” In Hong sudah siap untuk mendampratnya kalau dara itu berani mengatakan bahwa dia akan jatuh cinta kepada Bun Houw.

“Kurasa enci tidak akan bisa membencinya. Dia begitu baik, begitu gagah…”

In Hong tersenyum lebar. “Tentu saja, karena itu engkau mencintanya. Sudahlah, kau tidurlah. Aku sudah mengambil keputusan untuk segera pergi dari sini, terus terang saja aku tidak suka bersama-sama dengan gurumu, Yalima.”

“Aku juga sebenarnya tidak suka padanya, enci.”

“Eh?? Apa ini? Kau tidak suka kepada gurumu? Kalau begitu, kau pergi bersamaku saja!”

“Mengapa enci ingin pergi mengajak aku?”

“Entahlah, aku suka padamu dan… agaknya aku membutuhkan seorang sahabat.”

“Sayang, aku tidak bisa meninggalkan guruku, enci.”

“Mengapa? Aku bisa mencarikan pacarmu itu untukmu, aku tanggung dapat kutemukan dia dan kupaksa dia menikah denganmu.”

“Bukan itu, enci. Subo pernah menyelamatkan aku dari ancaman maut. Aku melarikan diri dari rumah ayah karena tidak sudi dibawa ke Lhasa untuk dipersembahkan kepada pangeran dan di dalam hutan, aku hampir menjadi korban harimau. Subo datang menyelamatkan aku dan aku lalu diambil murid, diajak pergi setelah kuceritakan riwayatku kepadanya. Aku telah hutang budi, bahkan hutang nyawa, begaimana aku dapat meninggalkannya begitu saja, sungguhpun aku… amat… tidak suka kepadanya?”

Yalima menundukkan muka dengan sedih dan In Hong diam-diam memuji gadis yang biarpun tidak terpelajar dan hanya seorang dusun namun telah tahu apa artinya hutang budi.

Mereka lalu kembali ke pondok karena hawa makin dingin dan In Hong melihat Yalima mulai kedinginan. Tanpa disengaja lagi, mereka bergandeng tangan kembali ke pondok dan memasuki kamar masing-masing, In Hong di kamarnya sendiri dan Yalima di sebuah kamar besar bersama subonya yang masih bercakep-cakap dengan orang-orang itu.

Sukar bagi In Hong untuk pulas. Bermacam-macam hal mengaduk pikirannya. Teringat dia akan kakaknya dan sukar dia membayangkan bagaimana keadaan kakaknya yang kematian isteri. Dia tidak perduli akan kematian isteri kakaknya itu, hanya ingin sekali melihat bagaimana keadaan kakak kandungnya itu setelah isterinya meninggal dunia. Diapun diganggu dengan persoalan Lima Bayangan Dewa yang kini seorang daripada mereka berada di pondok ini. Dia ingin sekali tahu di mana mereka menyembunyikan pedeng Siang-bhok-kiam dan ingin melihat pedang itu, bahkan kalau ada kesempatan dia ingin merampas pedang itu untuk dirinya sendiri! Yang terakhir dia terkenang kepada Yalima, terngiang semua pertanyaan Yalima dan dia merasa suka dan kasihan kepada dara ini. Dia membanding-bandingkan dirinya sendiri dengan Yalima. Ada persamaannya. Biarpun Yalima masih mempunyai ayah bunda, namun dia tahu bahwa ayah bundanya itu seolah-olah sudah mati baginya karena dia tentu tidak akan berani pulang selama hidupnya. Seperti juga dia, Yalima seorang diri saja. Hanya sedikit perbedaannya, kalau dia masih ada subonya dan Giok-hong-pang yang selalu bersikap baik kepadanya, Yalima hanya mempunyai satu harapan, yaitu pada diri kekasihnya itu, Cia Bun Houw.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: