Dewi Maut (Jilid ke-18)

“Gak-hu (ayah mertua)… ini… ini adalah kuburan… Hong Ing…”

Sepasang mata yang lebar itu terbelalak dan alis yang tebal itu terangkat ke atas. “Hahh…? Apa kau bilang? Hong Ing…?”

“Dia… dia tewas terbunuh orang ketika saya sedang pergi…” Kun Liong berlutut dan menutupi mukanya.

“Dan kau sudah membalas kematiannya? Sudah kautangkap pembunuhnya?”

“Saya… saya belum tahu siapa dia…”

“Bodoh! Cengeng! Hentikan tangismu dan ceritakan apa yang telah terjadi atas diri anakku, Hong Ing!”

Suara kakek raksasa itu seperti petir menyambar-nyambar, nyaring dan menggetarkan jantung sehingga mengejutkan Kun Liong yang maklum betapa marah hati ayah mertuanya ini.

“Saya sedang pergi meninggalkan rumah untuk menemui adik saya,” dia bercerita dan menguatkan hatinya sedapat mungkin, “ketika saya pulang, saya mendapatkan isteri saya… telah tewas. Menurut penuturan dua orang pelayan di rumah, Hong Ing kedatangan seorang tamu, yaitu puteri ketua Cin-ling-pai, Cia Giok Keng kakak dari Cia Bun Houw murid gak-hu sendiri… dan menurut dua orang pelayan, terjadi pertengkaran bahkan kemudian perkelahien antara isteri saya dan Giok Keng, dan… dan dua orang pelayan itu yang hendak melerai juga dipukul pingsan… Ketika mereka siuman Giok Keng sudah tidak ada dan… den Hong Ing sudah tewas dengan dada terluka tusukan pedang…”

“Dan engkau menangis di sini? Keparat, percuma saja kuberikan anakku menjadi isterimu!”

“Gak-hu…!”

“Desss…!” Tubuh Kun Liong mencelat den bergulingan di atas tanah terkena tendangan ayah mertuanya itu. “Keparat engkau! Isterinya dibunuh orang, hanya menangis saja di depan kuburan seperti anak kecil, dan pembunuhnya kaubiarkan saja! Hem, manusia lemah macam engkau ini pantasnya kubunuh sekalian!”

Kok Beng Lama yang sudah seperti gila saking marahnya mendengar puterinya dibunuh orang dan anak mantunya diam saja dan hanya berkabung di situ tanpa membalas kematian itu, sudah meloncat dekat dan mengirim pukulan ke arah kepala Kun Liong. Kalau dibiarkan saja pukulan ini dan mengenai kepala Kun Liong, tak dapat disangsikan lagi pendekar itu tentu akan tewas seketika, menyusul nyawa isterinya. Betapa akan senangnya kalau begitu, pikir Kun Liong. Akan tetapi dia teringat akan puterinya, Mei Lan, maka cepat dia mengangkat lengannya menangkis

Kembali dia terpental den bergulingan, akan tetapi tubuh Kok Bang Lama tergetar juga.

“Tahan dulu, gak-hu. Bukannya saya tidak mau membalas kematian isteri saya yang tercinta. Akan tetapi urusan ini amat aneh dan mencurigakan. Saya mengenal betul Giok Keng, kiranya mustahil kalau dia membunuh Hong Ing. Dan juga anak saya, Mei Lan, pada malam hari itu lenyap pula meninggalkan rumah. Karena hati saya masih terlalu berduka atas kematian Hong Ing, maka sampai ini hari saya berada di sini…”

“Cukup, apa gunanya tangis-tangisan ini. Hayo, kita ajak saksi-saksi itu pergi mengambil Cia Giok Keng dan minta pengadilan kepada ketua Cin-ling-pai!” Kok Bang Lama lalu memegang pergelangan tangen Kun Liong dan menyeret pendekar itu pulang ke rumahnya. Kun Liong menahan air matanya ketika dia menoleh dan meninggalkan kuburan isterinya, kemudian terpaksa diapun harus mengerahkan ilmu berlari cepat karena mertuanya itu berlari cepat sekali.

Giam Tun dan Khiu-ma, dua orang pelayan dan pembantu di rumah Kun Liong, menjadi terkejut dan ketakutan ketika secara kasar kakek raksasa itu memaksa mereka untuk ikut pergi dan pada seat itu juga, hampir tidak memberi waktu kepada mereka untuk berganti pakaian den membawa bekal. Kun Liong juga segera membersihkan diri dan berganti pakaian, kemudian mereka berangkat pada hari itu juga, menuju ke kota Sin-yang yang terletak di kaki Pegunungan Tapie-san. Di dalam perjalanan, dua orang pelayan itu diminta oleh Kok Beng Lama menceritakan lagi pengalaman mereka pada malam hari terbunuhnya Hong Ing itu.

Karena melakukan perjalanan bersama Giam Tun dan Khiu-ma, tentu saja perjalanan itu tidak dapat dilakukan dengan cepat dan hal ini membuat Kok Beng Lama menjadi tidak sabar dan seringkali dia mengomel. Pendeta tua ini semenjak ditinggal pergi muridnya, Cia Bun Houw, yang dipanggil pulang oleh ayahnya ke Cin-ling-san merasa kesepian sekali di Tibet. Dia merasa gelisah dan disiksa oleh kesunyian yang ditimbulkan oleh pikirannya sendiri. Kesunyian timbul apabila kita terikat oleh sesuatu atau seseorang kemudian kita berpisah dari sesuatu atau seseorang itu. Memang beratlah akibatnya apabila kita terikat yang sama halnya dengan kebiasaan sehingga membuat kita terbius dan sukar melepaskan diri atau berjauhan dengan yang telah mengikat kita. Terpisah dari seseorang yang mengikat kita membuat kita merasa kesenangan dan derita dari kesepian ini memang amat hebat, tak tertahankan oleh seorang sakti saperti Kok Beng Lama sekalipun! Pikirannya tiada hentinya mengenangkan orang yang telah mengikat hatinya, yang kini pergi, membayangkan waktu Bun Houw masih berada di dekatnya. membayangkan segala perasaan gembira dan senang di waktu pemuda itu masih menjadi muridaya dan dekat dengan dia. Kenangan dan bayangan akan semua ini membuat hidupnya menjadi sunyi dan kosong, dan dia merasa tidak kerasan lagi berada di Tibet. Maka dia lalu turun gunung den pergi ke timur, tidak kuat melawan kesunyian yang melanda hatinya. Dan muncullah dia di Leng-kok, tempat tinggal Yap Kun Liong, mantunya.

Bahagia hanya dapat dirasakan oleh orang yang bebas dari segala ikatan, baik ikatan lahir maupun ikatan batin. Bukan berarti bahwa kita harus acuh atau tidak perduli, sama sekali tidak. Bahkan sebaliknya, orang yang bebas dari segala ikatan memperhatikan apapun yang terjadi di luar dan dalam dirinya tidak dapat memilih-milih dan pilih kasih. Orang yang bebas dari ikatan adalah orang yang sendirian, bukan berarti mengasingkan diri. Ikatan hanya memperbudak diri.

Cia Giok Keng tinggal di Sin-yang, dekat Sungai Huai, di kaki Pegunungan Tapie-san, bersama suaminya, Lie Kong Tek den dua orang anaknya. Mereka mempunyai dua orang anak, yang pertama adalah seorang anak laki-laki bernama Lie Seng, sedangkan yang kedua adalah seorang perempuan yang diberi name Lie Ciauw Si. Lie Seng barusia dua belas tahun sedangkan adiknya berusia sepuluh tahun.

Selama belasan tahun berumahtangga, suami isteri ini hidup dengan rukun dan tenteram di kota itu. Lie Kong Tek bekerja sebagai pedagang kayu bangunan yang banyak terdapat di Tapie-san dan seringkali mengirimkan kayu-kayu balok melalui Sungai Huai ke kota-kota lain. Kebidupan keluarga Lie ini tenteram dan cukup, dan barulah timbul gelombang dalam kehidupan mereka ketika mereka menerima undangan tokoh Go-bi-pai, yaitu Phoa Lee It, piauwsu di Wu-han. Di tempat ini, tanpa disangka-sangka, Giok Keng bentrok dengan Yap In Hong, adik Kun Liong yang telah bersikap keras dan dianggap menghina adik kandungnya di depan umum. Maka sepulangnya dari kota itu, Giok Keng yang memang berwatak keras itu segera pergi ke Leng-kok dengan maksud mengunjungi Kun Liong den menegur adik pendeker ini. Akan tetapi Kun Liong kebetulan tidak ada dan terjadilah peristiwa hebat di rumah pendekar itu yang mengakibatkan kematian Hong Ing.

Ketika Kun Liong, Kok Bang Lama, dan dua orang pembantu rumah tangga Kun Liong tiba di depan rumah mereka, Giok Keng den suaminya cepat keluar menyambut. Wajah Giok Keng merah sekali tanda bahwa dia merasa terguncang hatinya karena dia maklum bahwa tentu Kun Liong datang untuk menegurnya yang pernah marah-marah kepada isterinya, bahkan telah memukul pingsan isteri Kun Liong di dalam pertempuran antara mereka. Akan tetapi karena hatinya masih panas teringat akan sikap adik pendekar ini di dalam pesta, dia tidak merasa menyesal, bahkan begitu berjumpa dia lantas menudingkan telunjuknya kepada Kun Liong sambil berkata. “Yap Kun Liong, bagus sekali ya perbuatan adikmu yang bernama In Hong itu…!”

Akan tetapi sebelum Kun Liong menjawab, Kok Beng Lama sudah melangkah maju dan berkata dengan suara nyaring, matanya terbelalak lebar, “Apakah engkau yang bernama Cia Giok Keng?”

Giok Keng terkejut, memandang pendeta berbaju Lama berwarna merah ini, meragu, kemudian bertanya, “Siapakah locianpwe ini?”

“Dia adalah ayah mertuaku, Kok Beng Lama…”

“Guru Bun Houw…?” Giok Keng terkejut dan memberi hormat, juga suaminya memberi hormat.

Tidak perlu banyak penghormatan yang palsu itu. Cia Giok Keng, engkau tentu pernah mendengar bahwa Pek Hong Ing adalah anakku, bukan?” Pendeta itu bertanya, suaranya kaku dan dingin.

Giok Keng mengangguk dan tahulah dia sekarang mengapa kakek yang dia dengar adalah guru dari Bun Houw, seorang pendeta Lama di Tibet yang sakti ini, datang bersama Kun Liong. Agaknya kakek inipun hendak mencampuri urusan itu!

“Cia Giok Keng, demi Tuhan dan segala dewa, mengapa engkau membunuh anakku?”

Giok Keng terkejut sekali dan menoleh kepada Kun Liong dengan penuh pertanyaan. Juga Lie Kong Tek yang sejak tadi hanya mendengarkan, mendengar bentakan kakek itu menjadi kaget sekali dan dia sudah melangkah maju dan bertanya kepada Kun Liong. “Saudara Kun Liong, apa artinya semua itu? Siapa membunuh siapa?”

Kun Liong menjawab sambil memandang kepada Giok Keng dengan sinar mata penuh selidik. “Yang terbunuh adalah isteriku, Hong Ing. Dan yang membunuh agaknya adalah Giok Keng…”

“Ihhh…!” Giok Keng berseru kaget sekali, matanya terbelalak memandang Kun Liong.

“Ahhh…?” Lie Kong Tek sebaliknya kini menoleh dan memandang isterinya dengan alis berkerut. Isterinya telah menceritakan kepadanya tentang kunjungannya ke Leng-kok dan tentang percekcokannya dengan isteri Kun Liong. Isterinya yang jujur menceritakan segalanya, betapa dalam kemarahannya dia membuka rahasia Mei Lan sehingga nyonya Kun Liong marah dan mereka bertanding sampai akhirnya dia merobohkan Hong Ing sehingga pingsan bersama dua orang pelayannya. Untuk itu, Lie Kong Tek telah menegur isterinya dengan keras den dia bersedia untuk minta maaf kepada Kun Liong. Siapa tahu sekarang kenyataannya bahkan lebih hebat lagi. Isteri Kun Liong tewas den yang disangka menjadi pembunuhnya adalah Giok Keng.

“Bukan agaknya lagi!” Kok Beng Lama berkata. “Jelas bahwa nyonya muda yang keras hati inilah yang membunuh anakku. Cia Giok Keng, hayo jawab mengapa engkau membunuh anakku?”

“Tidak…! Tidak…! Aku tidak membunuhnya!” Wajah Giok Keng menjadi pucat sekali karena dia tidak mengira bahwa Hong Ing akan dibunuh orang pada malam hari itu juga setelah dia pergi meninggalkan rumahnya.

“Hemm, membohongpun tidak ada gunanya, lebih baik berterus terang!” Kok Beng Lama berkata lagi dengan nada penuh ancaman.

Melihat ayah mertuanya kelihatan tak sabar lagi itu, Kun Liong merasa khawatir dan dia cepat berkata, “Giok Keng, di antara kita semua terdapat hubungan yang amat erat, bahkan ayah mertuaku adalah guru dari adikmu. Oleh karena itu, sebaiknya kalau engkau ceritakan dengan jelas apa yang telah terjadi antara engkau dan mendiang isteriku.”

Lie Kong Tek melihat kebijaksanaan ini, maka diapun menjura ke arah Kok Beng Lama sambil berkata, “Harap locianpwe dan saudara Kun Liong suka duduk di dalam agar dapat kita membicarakan urusan ini dengan baik.”

Akan tetapi dengan mata melotot dan lambaian tangan tidak sabar, Kok Beng Lama membentak, “Tidak perlu! Hayo cepat ceritakan!”

Giok Keng adalah seorang wanita yang berhati keras dan tidak mengenal takut. Melihat sikap kakek itu, diapun menjadi penasaran dan segera dia menceritakan tentang pertemuannya dengan Yap In Hong di tempat pesta dari Phoa Lee It. Setdah menuturkan peristiwa itu panjang lebar, dia mengakhiri dengan ucapan marah kepada Kun Liong, “Kaupikir saja, Kun Liong. Adikmu menghina aku di muka umum, menghina Bun Houw seperti itu. Kalau tidak ada suamiku yang mencegah, tentu antara aku dan adikmu sudah terjadi pertempuran di tempat pesta itu! Hati siapa yang tidak menjadi marah? Adikku, Cia Bun Houw direncanakan akan dijodohkan dengan adikmu, akan tetapi adikmu itu menghina adikku di muka umum. Maka aku lalu mengunjungimu di Leng-kok dengan maksud untuk menegur agar kau dapat menghukum adikmu yang lancang mulut itu. Akan tetapi engkau tidak ada, dan aku dalam kemarahanku memaki-maki engkau dan adikmu. Isterimu membela dan kami bertempur.”

“Hemmm… dan kau mengandalkan kepandaianmu membunuh anakku!” Kok Beng Lama membentak.

“Tidak, aku tidak membunuhnya!” Giok Keng membalik, menghadapi kakek itu dan balas membentak.

“Giok Keng, dua orang pelayan ini menjadi saksi betapa engkau dan Hong Ing bertanding, bahkan merekapun roboh pingsan kaupukul… dan anakku, Mei Lan, mengapa pula dia lari dan sampai sekarang belum kembali?” Kun Liong menuntut.

Giok Keng teringat akan hal itu. Dia merasa bersalah akan tetapi dengan terus terang dia berkata lantang, “Karena hatiku panas sekali dan engkau yang manjadi orang yang kucari tidak ada, maka ketika anakmu itu hendak membela ibunya, aku terlanjur mengeluarkan kata-kata bahwa dia bukanlah anak kandung isterimu. Anak itu lalu melarikan diri…”

“Ahhh…!” Kun Liong berseru dan mukanya menjadi merah. “Kau sungguh keterlaluan sekali, Giok Keng! Anak itu tidak bersalah apa-apa dan isterikupun tidak berdosa, mengapa engkau…”

“Aku tidak membunuhnya! Dia memang roboh dan pingsan, aku lalu pergi… aku tidak membunuhnya.”

Dia bohong…!” Khiu-ma menudingkan telunjuknya. “Tidak ada orang lain di rumah itu, dan setelah kami berdua pingsan, begitu kami sadar kami melihat nyonya telah tewas…! Siapa lagi kalau bukan dia yang membunuhnya? Engkau wanita kejam sekali!” Khiu-ma lalu menangis.

“Cia Giok Keng, engkau telah membunuh anakku, maka sudah selayaknya kalau aku sekarang membunuh engkau!”

“Locianpwe, harap jangan sembarangan menuduh! Aku memang telah merobohkannya sampai pingsan, akan tetapi aku tidak membunuh Hong Ing! Sampai matipun aku tidak akan mengaku, karena aku memang tidak membunuhnya.”

Kok Beng Lama sudah bergerak ke depan, akan tetapi Kun Liong cepat menghadang di depan ayah mertuanya itu sambil berkata, “Harap gak-hu bersabar…”

“Keparat! Anakku dibunuh orang dan kau minta aku bersabar?”

“Gak-hu, saya percaya bahwa gak-hu tidak akan bertindak ceroboh dan mempersulit persoalan ini. Biarpun saksi-saksi memberatkan dan keadaannya seolah-olah Giok Keng yang membunuh isteri saya, akan tetapi Giok Keng tidak mengaku dan buktipun tidak ada. Kalau sekarang gak-hu membunuh dia, bukankah keadaan menjadi berlarut-larut? Ingatlah, dia adalah puteri ketua Cin-ling-pai…”

“Aku tidak takut! Biar ketua Cin-ling-pai dan senenek moyangnya maju, aku tidak takut membalas kematian anakku!”

“Gak-hu, ingatlah. Locianpwe Cia Keng Hong adalah seorang yang berjiwa besar, seorang pendekar yang terkenal bijaksana dan budiman. Sedangkan Bun Houw adalah murid gak-hu sendiri, bagaimana gak-hu kini akan membunuh kakaknya begitu saja? Sebaiknya kita besikap bijaksana, mengajak Giok Keng untuk menghadap ke Cin-ling-pai. Di sana kita minta keadilan dan saya pereaya bahwa Cia-locianpwe tentu akan memberi keputusan yang seadil-adilnya.”

Reda juga kemarahan Kok Beng Lama. Dia mangangguk dan menarik napas panjang. “Omonganmu benar juga. Hayo kita bersama ke Cin-ling-pai menuntut keadilan.”

“Giok Keng, kuharep engkau suka ikut bersama kami ke Cin-ling-pai menghadap ayahmu agar persoalan ini dapat diputuskan dengan seadil-adlinya.” Kun Liong berkata kepada Glok Keng.

Akan tetapi Giok Keng memandang kepadanya dengan marah. “Tidak sudi, aku tidak bersalah, dan aku tidak sudi menjadi tawanan. Aku akan menghadap sendiri kepada ayah kalau perlu!”

“Giok Keng, kalau begitu engkau tidak ingin membereskan persoalan!”

“Kun Liong, yang mati adalah isterimu, maka engkaulah yang mempunyai persoalan. Aku tidak membunuh isterimu, aku tidak mempunyai persoalan apa-apa!”

“Hemm, perempuan galak ini harus dipaksa!” Kok Bang Lama membentak marah. Memang watak Kok Bang Lama dan Cia Giok Keng sama kerasnya, maka jika keduanya dipertemukan sebagai flhak yang bertentangan, tentu saja terjadi geger.

“Bagus! Hendak kulihat siapa yang akan berani memaksaku!” Giok Keng sudah meloncat ke belakang sambil menghunus pedangnya. Pedang Gin-hwa-kiam mengeluarkan sinar putih berkilat ketika dicabut.

“Bocah sombong dan keras kepala!” Kok Beng Lama menerjang ke depan, menggerakkan kedua tangannya. Giok Keng, yang sudah marah cepat menyambuthya dengan pedang dkelebatkan.

“Giok Keng, jangan…!” Kun Liong sudah mencegah, akan tetapi terlambat karena wanita itu dengan penuh kemarahan sudah menyerang dengan pedangnya, menyambut terjangan Kok Beng Lama dengan sinar pedang bergulung-gulung.

Akan tetapi Giok Keng tidak tahu akan kesaktian kakek raksasa itu. Biarpun usia kakek ini sudah delapan puluh tahun lebih namun tenaganya tidak menjadi berkurang, bahkan tubuhnya menjadi kebal. Pedang Gin-hwa-kiam yang merupakan pedang pusaka tajam dan ampuh itu disambut begitu saja dengan tangannya sehingge Giok Keng menjadi terkejut sekali.

“Tak-tak… plakkk!”

Giok Keng terhuyung ke belakang ketika pedangnya tertangkis oleh lengan tangan Kok Bang Lama. Tangannya yang memegang pedang tergetar hebat dan dia terkejut bukan main. Pada saat itu Kun Liong yang khawatir kelau-kalau ayah mertuanya yang keras hati itu membunuh Giok Keng, sudah mendahului Kok Beng Lama, meloncat ke arah Giok Keng, dan mencengkeram ke arah pundak wanita itu.

“Kun Liong, berani engkau menghinaku!” Giok Keng membentak dan pedangnya berkelebat membabat le arah lengan pendekar itu. Namun itulah yang dikehendaki oleh Kun Liong. Cengkeramannya tadi hanya merupakan pancingan saja agar wanita itu menangkis, dan menggerakkan pedang. Begitu pedang berkelebat, Kun Liong sudah menggerakkan tangannya dengan cepat sekali, lebih cepat dari pedang itu, dengan tenaga Pek-in-ciang dia menggetarkan siku kanan Giok Keng sehingga wanita itu menjerit dan pedangnya terlepas karena lengannya mendadak menjadi lumpub, kemudian sebelum dia dapat megelak, Kun Liong telah menotok pundaknya dan Giok Keng menjadi lemas tentu roboh kalau saja tidak cepat disambut oleh tangan Kun Liong.

Lepaskan isteriku!” Lie Kong Tek yang melihat isterinya dirobohkan, sudah mencabut pedang Gin-hong-kiam yang juga bersinar perak, melompat dan menerkam ke arah Kun Liong dengan tusukan pedangnya. Akan tetapi dari samping menyambar angin dahsyat. Kiranya Kok Beng Lama sudah menggunakan kekuatan sin-kangnya untuk mendorong dari samping. Pukulan ini biarpun hanya dilakukan dari jarak jauh, tapi sedemikian hebatnya sehingga tubuh Lie Kong Tek terlempar dan pedangnya terlepas, orangnya terbanting dan pingsan!

“Mari kita pergi!” Kok Beng lama barkata. Kun Liong memondong tubuh Giok Keng dan pergilah dia bersama Kok Beng Lama, diikuti oleh Khiu-ma den Giam Tun dua orang pelayannya itu.

“Ayah…!”

“Ibu…! Ibu ke mana…?”

Dua orang anak kecil, Lie Song dan Lie Ciauw Si, berlari-lari keluar dari dalam rumah den melihat ayahnya menggeletak di atas tanah di pekarangan depan, mareka lalu berlutut dan mengguncang-guncang tubuh ayahnya sambil memanggil-manggil. Tak lama kemudian para pelayan dan tetangga mereka berlarian keluar dan segera mengangkat tubuh Lie Kong Tek masuk ke dalam rumahnya.

Setelah siuman dari pingsannya, Lie Kong Tek hanya menggeleng kepala terhadap pertanyaan para pelayan dan tetangga. Dia merasa khawatir sekali akan keselamatan isterinya. Maka setelah dia menyerahkan kedua orang anaknya dalam asuhan para pelayan, suami yang gelisah ini lalu membawa pedangnya dan berangkat menyusul ke Cin-ling-san!

***

Hukum karma merupakan sebab dan akibat yang saling membelit, merupakan mata rantai atau lingkaran setan yang tiada habisnya jika kita melibatkan diri ke dalamnya. Suatu peristiwa yang oleh kita dianggap sebab tentu menimbulkan akibat, dan kalau kita terseret di dalamnya, akibat inipun menjadi sebab dari akibat lain pula yang akan datang! Sebab dan akibat bersambung terus tak ada habisnya, seperti masa lalu bersambung ke masa kini memasuki masa depan, terus bersambung karena kita sendiri yang menyambungnya! Kita sendiri yang menghubungkannya. Suatu peristiwa adalah suatu peristiwa, apakah dia menjadi sebab ataukah akibat, tergantung dari kita yang menilainya. Segala sesuatu tentu saja menjadi ada kalau kita mengadakannya, menjadi persoalan atau problem kalau kita mempersoalkannya. Betapa akan bahagianya kalau kita dapat menghadapi setiap peristiwa apapun, menyenangkan atau sebaliknya, seperti apa adanya dan selesai pada seat itu juga! Bukan sebab, bukan pula akibat, melainkan hanya suatu peristiwa, suatu kejadian, suatu kewajaran yang tidak meninggalkan bekas apa-apa.

Cin-ling-san masih diliputi keadaan berkabung, masih diliputi suasana duka nestapa semenjak peristiwa pencurian pedang Siang-bhok-kiam dan kematian tujuh orang anggauta Cap-it Ho-han dan seorang anak murid. Cia Keng Hong, pendekar sakti yang menjadi ketua Cin-ling-pai, bersama isterinya, tinggal di Cin-ling-san dengan hati penuh keprihatinan, menanti-nanti datangnya berita dari putera mereka, Cia Bun Houw, bersama empat orang murid kepala yaitu empat orang dari Cap-it Ho-han yang secara terpisah melakukan penyelidikan, mencari Lima Bayangan Dewa yang telah melakukan pencurian pedang dan pembunuhan itu.

Isteri ketua Cin-ling-pai itu, yang bernama Sie Biauw Eng biarpun sudah barusia enam puluh tahun, namun masih ada sisa kekerasan hatinya dan merasa tidak puas mengapa suaminya tidak bersama dia melakukan penyelidikan sendiri, melainkan membiarkan putera mereka yang belum berpengalaman itu pergi melakukan penyelidikan.

“Isteriku, tidak semestinya kalau kita berdua yang sudah tua mencari permusuhan.” Cia Keng Hong menghibur isterinya.

“Siapa mencari permusuhan? Kita tinggal dengan tenteram di sini, orang lain yang datang membunuh anak murid kita dan mencuri pedang pusaka! Merekalah yang mencari permusuhan,” bantah isterinya.

Cia Keng Hong menarik napas panjang dan mengangguk-angguk. “Aku tahu, akan tetapi aku mempunyai perasaan bahwa Lima Bayangan Dewa itu tentulah ada hubungannya dengan musuh-musuh yang telah kita basmi di masa yang lalu. Kalau tidak ada dendam sakit hati, tidak mungkin mereka itu tanpa suatu sebab melakukan perbuatan keji itu. Aku sudah merasa menyesal sekali mengapa di waktu muda dahulu aku terlalu mengandalkan kepandaian, menanam bibit permusuhan dengan banyak orang sehingga kini setelah tua, aku dimusuhi orang.”

“Hemm, apakah setelah tua engkau menjadi penakut?” isterinya menegur.

“Sama sekali tidak. Kalau aku seorang yang dimusuhi, hal itu sudah lumrah dan akan kuhadapi dengan tabah karena memang sudah semestinya kalau aku yang menanam dan sekarang aku pula yang memetik buahnya. Akan tetapi celakanya, murid-murid yang tidak tahu apa-apa terseret ke dalam akibat dari perbuatanku di waktu dahulu…”

“Sudahlah, suamiku, yang penting adalah bahwa kita sejak muda dahulu sampai tua sekarang, berada di fihak yang benar! Kita membasmi orang-orang jahat, biar mereka itu akan mendendam sakit hati dan melakukan pembalasan, akan tetapi sampai matipun kita akan terus menentang kejahatan. Bukankah itu sudah menjadi tugas seorang pendekar?”

Kembali ketua Cin-ling-pai itu menghela napas panjang dan mengelus jenggotnya. “Memang demikianlah pendirian kita. Kita menganggap diri sendiri benar. Akan tetapi sayangnya, orang lainpun, termasuk orang-orang yang kita musuhi, juga menganggap mereka benar. Siapakah yang benar kalau kedua fihak sudah merasakan kebenaran masing-masing? Kita semua hanya terseret oleh kekacauan dunia yang melahirkah semua perbuatan yang jahat, isteriku. Tidak mungkin kejahatan di dunia ini dapat dibasmi dengan kekerasan, karena sebab-sebab timbulnya kejahatan itu masih ada. Seribu macam kejahatan boleh dibasmi, akan tetapi seribu macam kejahatan yang lain lagi akan timbul, seperti halnya penyakit. Penyakit yang sudah timbul dapat diobati dan disembuhkah, namun penyakit-penyakit lain akan bermunculan dan perang terhadap penyakit tidak akan pernah habis, seperti juga perang terhadep kejahatan. Tidak, isteriku, kejahatan tidak akan pernah habis selama kejahaten itu dapat memasuki hati siapapun juga. Yang hari ini baik, mungkin besok menjadi jahat, sebaliknya yang hari ini jahat, besok mungkin menjadi baik. Kejahaten seperti penyakit, orang yang melakukan kejahatan seperti orang yang sedang sakit, tentu saja orang sakit bisa sembuh, sebaliknya, yang waraspun sewaktu-waktu bisa saja jatuh sakit!”

Jadi engkau hendak mengatakan bahwa orang-orang seperti kita inipun sekali waktu bisa saja jatuh sakit, maksudmu menjadi jahat?”

“Mengapa tidak, isteriku? Kejahatan hanya suatu penyelewengan, bukan milik orang-orang tertentu, seperti juga penyakit, siapapun bisa saja terkena kalau tidak waspada. Siapapun bisa menyeleweng dari kebenaran kalau terdorong oleh sebab-sebab dari kejahatan.”

“Dan apakah sebab kejahatan, suamiku? Engkau bicara seperti bukan seorang pendekar saja, seperti seorang pendeta!”

“Aihh, pendekar maupun pendetapun hanya manusia-manusia biasa saja yang tidak akan terluput daripada ancaman penyakit itu. Penyebab semua kejahatan sumbernya berada di dalam diri sendiri, isteriku, didorong oleh nafsu-nafsu berupa kebencian, kemarahan, iri hati, dendam yang kesemuanya menyeret kita ke dalam lembah pertentangan dan permusuhan, maka timbul perbuatan-perbuatan yang merugikan orang lain dan karena ini oleh yang dirugikan disebutlah kejahatan. Oleh karena itu, baik ia pendekar maupun pendeta, setiap saat dapat saja kejangkitan penyakit itu kalau dia tidak waspada setiap saat terhadap dirinya sendiri.”

Percakapan mereka terpaksa berhenti ketika seorang anak murid Cin-ling-pai dengan sikap tegang melaporkan bahwa di luar terdapat tamu-tamu yang ingin bertemu dengan ketua Cin-ling-pai dan isterinya! Melihat sikap anak murid yang mukanya agak pucat dan sinar matanya mengandung ketegangan itu, Cia Keng Hong cepat berkata kepada isterinya, “Mari kita keluar!”

Sie Biauw Eng sudah mengenal benar sikap suaminya, maka begitu suaminya mengeluarkan kata-kata itu, diapun menjadi waspada karena tentu ada sesuatu yang menegangkan hati suaminya. Tanpa banyak cakap diapun mengikuti suaminya keluar menyambut tamu yang sudah berada di ruangan depan dan agaknya telah dipersilakan duduk oleh anak murid Cin-ling-pai yang menjaga di luar.

Begitu mereka kduar, Kun Liong telah membebaskan totokan pada tubuh Giok Keng dan nyonya ini terhuyung-huyung menyebut ayah bundanya, menjatuhkan diri berlutut, dan berkata dengan suara terisak, “Ayah… ibu… mereka telah menghinaku…!”

Melihat puterinya berlutut dan menangis, Biauw Eng terkejut sekali. Nenek ini juga berlutut dan merangkul puterinya. “Keng-ji, apa yang terjadi…?” Akan tetapi Giok Keng tidak dapat mengeluarkan kata-kata karena dia sudah menangis tersedu-sedu.

Cia Keng Hong yang melihat bahwa yang datang adalah Yap Kun Liong dan Kok Beng Lama bersama dua orang yang kelihatannya sebagai pelayan biasa, menjadi terkejut dan juga terheran-heran. Cepat dia menjura dengan hormat kepada Kok Beng Lama sambil berkata, “Kiranya losuhu Kok Beng Lama yang datang dan engkau Kun Liong. Agaknya ada urusan yang amat penting sekali sehingga mengejutkan kami. Apakah yang telah terjadi…?”

Kun Liong tidak mampu menjawab. Berhadapan dengan pendekat sakti yang dihormat dan dijunjungnya tinggi itu, dia menjadi sungkan sekali dan tidak berani bicara. Kok Beng Lama yang berkata, “Hemm… urusan yang amat buruk, Cia-taihiap. Harap kautanyakan kepada puterimu itu saja.”

Makin terkejutlah hati Cia Keng Hong melihat sikap Kun Liong dan mendengar jawaban Kok Beng Lama itu, dan diapun menoleh kepada Giok Keng yang masih menangis di pundak ibunya.

“Giok Keng, apa yang telah terjadi? Hayo jawab!” Keng Hong berkata kepada puterinya yang masih menangis.

“Ayah…” Giok Keng menjawab tanpa mengangkat mukanya dari pundak ibunya. “Mereka telah menghinaku, mereka telah menawanku dengan kekerasan, membawaku ke sini dengan kekerasan dan dengan paksa. Mereka menotokku dan menyeretku ke sini, ayah… mereka benar?benar telah menghinaku dan menuduh aku menjadi pembunuh…!” Giok Keng menangis lagi.

Mendengar ini, seketika Sie Biauw Eng bangkit berdiri dan melepaskan rangkulan puterinya. Mukanya menjadi merah, matanya bersinar-sinar seeprti mengeluarkan api dan dia memandang berganti-ganti kepada Kun Liong dan Kok Beng Lama seolah-olah hendak ditelannya kedua orang itu.

“Keparat…!” Sie Biauw Eng sudah berseru dengan kemarahan meluap. “Sungguh tidak memandang sebelah mata kepada ayah dan ibu Cia Giok Keng, berani benar bersikap sewenang-wenang dan menghina anakku! Kok Beng Lama, apa artinya ini? Kun Liong, apakah engkau hendak menantang kami?” Nyonya tua itu sudah marah sekali dan kalau saja lengannya tidak dipegang oleh suaminya, agaknya dia sudah menerjang maju dan menyerang kedua orang itu.

“Supek… dan supekbo (uwa guru)… saya… isteri saya…” Kun Liong tidak mampu melanjutkan karena dia menjadi gugup sekali. Memang dia tahu bahwa perbuatan mereka memaksa Giok Keng ke Cin-ling-pai merupakan penghinaan, akan tetapi hal itu dilakukannya untuk mencegah. Kong Beng Lama membunuh Giok Keng. Memang sukar bagi dia menghadapi Kok Beng Lama yang keras hati dan kini menghadapi ibu Giok Keng yang tidak kalah galaknya.

“Hayo katakan! Mengapa kalian menghina Giok Keng? Apa hubungannya dengan isterimu?” Sie Biauw Eng membentak, makin marah.

“Isteri teecu… mati terbunuh…”

Cia Keng Hong terkejut sekali mendengar itu dan mukanya berubah, pandang matanya ditujukan kepada Kun Liong dengan penuh iba den alisnya berkerut. Akan tetapi Sie Biauw Eng yang baru saja mengalami kedukaan karena delapan orang anak muridnya dibunuh orang dan pedang pusaka dicuri orang, kini masih marah oleh keadaan Giok Keng, maka tanyanya dengan suara masih ketus, “Isterimu mati dibunuh orang, apa hubungannya dengan Giok Keng? Mengapa kau menghinanya?”

“Toanio, kami datang minta keadilan. Anakku Pek Hong Ing itu dibunuh oleh anak nyonya ini.”

Ucapan Kok Beng Lama itu membuat Cia Keng Hong menjadi makin terkejut sekali, dia mengeluarkan seruan keras dan meloncat ke belakang, menoleh dan memandang kepada puterinya dengan mata terbelalak. Juga Sie Biauw Eng terkejut bukan main, akan tetapi ibu ini tentu saja membela anaknya dan dia cepat mendekati Giok Keng sambil bertanya, “Keng-ji, benarkah engkau membunuh isteri Kun Liong? Dan kalau benar, apa sebabnya?” Jelas bahwa membunuh atau tidak, Sie Biauw Eng siap untuk membela anaknya itu!

“Ohhh, ibuuu…!” Kembali Giok Keng menubruk dan merangkul kaki ibunya, menangis. “Aku tidak membunuhnya, ibu. Aku tidak membunuhnya!”

“Cukup! Hentikan tangismu, tenanglah! Biar setanpun, akan kulawan kalau dia berani menuduhmu yang bukan-bukan. Hayo, bankit dan berdirilah!” Sie Biauw Eng membentak dan Giok Keng lalu bangkit berdiri, kepalanya menunduk, Sie Biauw Eng kini melangkah ke depan, menghadapi Kun Liong dan Kok Beng Lama, hidungnya kembang-kempis, matanya seperti mengeluarkan api saking marahnya.

“Hemm, kalian sungguh tidak tahu aturan! Kalian menggunakan kepandaian untuk menghina anakku, memaksanya dan

menawannya seolah-olah dia seorang penjahat! Aku yang menjadi ibunya tidak terima akan perlakuan dan penghinaan ini!”

“Omitohud…! Kasih seorang ibu memang membuta, biar anaknya berdosa sekalipun, tetap akan dibelanya. Anakmu telah membunuh anakku, dan aku minta diganti dengan nyawa!”

“Kau menuduh dengan membuta, Kok Beng Lama! Dan andaikata anakku membunuh seseorang, itupun tentu dilakukan karena suatu hal. Kau minta ganti nyawa? Nyawamu sendiri gantinya!”

“Jangan…!” Cia Keng Hong berseru, akan tetapi Sie Biauw Eng sudah menerjang dengan dahsyatnya, menghantam ke arah dada dan perut Kok Beng Lama dengan pukulan bertubi-tubi dari Ilmu Ngo-tok-ciang (Tangan Lima Racun) yang selain mengandung racun juga didorong oleh tenaga yang amat dahsyat dan kuat.

“Plak-plak-desss…!” Sie Biauw Eng kalah tenaga dan dia terlempar ke belakang, terhuyung sampai beberapa langkah.

“Losuhu, tak baik memamerkan kepandaian di sini!” Cia Keng Hong menjadi tidak senang melihat isterinya terdesak itu dan dia sudah menggerakkan tanngannya, siap untuk menghadapi Lama yang sebetulnya adalah guru dari puteranya sendiri itu. Akan tetapi pada saat itu, Kun Liong moloncat di tengah-tengah dan cepat dia berkata dengan suara lantang.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: