Dewi Maut (Jilid ke-2)

“Lihat, ha-ha-ha, lihat baik-baik. Begitulah nasib wanita-wanita yang berani memandang rendah Kwi-eng-pang dan yang telah membunuh beberapa orang anak buahku. Ha-ha-ha-ha!”

Dalam keadaan dipeluk dan dihimpit, Lui Hwa terpaksa memandang ke bawah. Matanya terbelalak ngeri, mukanya pucat sekali, apa apa yang disaksikan di bawah itu benar-benar mengerikan!

“Bunuh saja mereka! Bunuh saja kami. Kami sudah kalah dan tertawan, kami tidak takut mati!” teriak Lui Hwa.

“Ha-ha-ha, terlalu enak kalau dibunuh begitu saja. Mereka akan mati, tentu saja. Akan tetapi mereka harus membalas lebih dulu semua perbuatan mereka, harus menebus hutang mereka dengan tubuh mereka. Dan engkau… hemm, engkau pun akan mampus, kecuali kalau engkau bisa melayani aku dan bisa menyenangkan hatiku, ha-ha-ha! Atau engkau lebih suka ikut bersama dengan teman-temanmu, mengalami nasib seperti mereka?”

Lui Hwa memandang lagi dan bergidik, memejamkan matanya. Empat orang kawannya itu meronta-ronta den memaki-maki, direjang oleh banyak laki-laki, pakaian mereka dirobek-robek dan mereka mengalami penghinaan yang paling mengerikan bagi seorang wanita, diperkosa dan digagahi oleh banyak orang di tempat umum seperti itu! Padahal mereka adalah wanita-wanita yang paling muak dan membenci kaum pria! Membayangkan betapa dirinya, tubuhnya diperlakukan seperti empat orang kawannya itu, air matanya menetes dan Lui Hwa menggelengkan kepalanya. Dia maklum bahwa melawanpun tidak akan ada gunanya dan kalau dia nekat sampai tewas, maka kematiannya dan kematian teman-temannya merupakan mati konyol dan tidak akan ada yang membalas sehingga mereka akan menjadi setan-setan penasaran. Tidak, kematian teman-temannya, terutama sekali penghinaan ini harus dibalas dan dia tahu bahwa satu-satunya orang yang dapat membalas hanyalah pangcunya! Oleh karena itu, dia harus hidup untuk dapat menyampaikan dendam ini kepada ketuanya. Maka, sambil memejamkan mata den air matanya menetes turun, dia mengangguk dan berkata lirih, “Jangan berikan aku kepada mereka… aku… aku akan melayanimu den mentaati semua perintahmu…”

Matanya dipejamkannya makin rapat ketika dia merasa betapa mulutnya dicium dengan penuh nafsu oleh Kiang Ti dan dia tidak melawan ketika dia dipondong pergi.

***

Wanita yang duduk di atas kursi itu usinya sudah tiga puluh lima tahun, akan tetapi wajahnya masih kelihatan cantik sekali dan bentuk tubuhnya masih seperti seorang gadis berusia belasan tahun. Pandang matanya menyeramkan karena biarpun bentuk mata itu indah sekali, bahkan merupakan bagian yang paling menonjol keindahannya di antara semua kecantikan wajahnya, namun sepasang mata itu mengeluarkan sinar dingin menyeramkan. Seperti juga bentuk tubuhnya yang padat den masih seperti tubuh seorang gadis, rambutnya juga digelung seperti rambut gadis-gadis yang belum menikah, den di atasnya dihias dengan sebuah permainan berbentuk burung hong yang terbuat dari batu kemala indah sekali. Dan memang wanita yang usianya tiga puluh lima tahun ini adalah seorang gadis, seorang perawan yang belum pernah menikah selama hidupnya! Dia inilah ketua Giok-hong-pang, yang bernama Yo Bi Kiok den berjuluk Giok-hong-cu!

Di dalam ceritaPetualang Asmara diceritakan betapa Yo Bi Kiok ini dahulunya adalah murid dari seorang di antara para datuk kaum sesat yang bernama Bu Leng Ci dan berjuluk Siang-tok Mo-li, seorang iblis betina yang amat lihai. Akan tetapi, gurunya itu tewas dalam perebutan pusaka bokor emas milik Panglima Sakti The Hoo, akan tetapi akhirnya, dengan menggunakan kecerdikan, yaitu membuat bokor emas palsu, bokor emas yang tulen, sebuah pusaka yang diperebutkan oleh semua tokoh dunia persilaten baik golongan putih maupun golongan hitam itu terjatuh ke dalam tangan Yo Bi Kiok tanpa ada yang mengetahuinya! Yo Bi Kiok lalu melarikan diri dan menyembunyikan diri, akan tetapi diam-diam dia telah menemukan tempat penyimpanan kitab-kitab pusaka dan harta pusaka dari peta dan petunjuk di dalam bokor emas itu! Setelah menemukan pusaka yang dijadikan perebutan ini, Bi Kiok memusnahkan bokor emas, kemudian diam-diam dia menggembleng dirinya dengan ilmu-ilmu yang terkandung di dalam kitab-kitab itu sehingga dia memperoleh kepandaian yang amat tinggi dan hebat!

Sungguh amat patut disayangkan bahwa seorang wanita yang demikian cantiknya, dan demikian tinggi ilmunya seperi Yo Bi Kiok, yang memang sejak kecilnya telah memiliki watak pendiam dan keras oleh pengaruh pendidikan gurunya, seorang datuk kaum sesat, telah mengalami patah hati dalam percintaan sehingga kini, biarpun dia masih amat cantik jelita, dia telah menjadi seorang wanita pembenci pria, yang kadang-kadang dapat melakukan kekejaman yang mengerikan! Kekejaman yang hanya ditujukan kepada kaum pria. Semua ini, pembentukan watak seperti iblis ini, timbul dari rasa dendam dan sakit hatinya karena cinta pertamanya, bahkan satu-satunya pria yang pernah dicintanya dengan sepenuh hatinya, telah menolak perasaan cintanya itu. Dalam cerita Petualang Asmara telah dkeritakan betapa Yo Bi Kiok jatuh cinta kepada Yap Kun Liong, akan tetapi pria ini dengan terang-terangan menolak cintanya dan kepatahan hatinya ini membuat Yo Bi Kiok selamanya tidak mau berbaik dengan kaum pria, apalagi bermain cinta atau menikah!

Kebenciannya terhadap pria ini pula yang membuat dia, ketika membentuk sebuah perkumpulan dan tinggal di lereng Bukit Liong-san, hanya menerima wanita-wanita yang pernah menjadi korban pria, yang bersakit hati kepada pria saja untuk menjadi anggauta perkumpulannya yang diberi nama Giok-hong-pang. Kini, anak buahnya yang juga menjadi murid-murid itu dan semua terdiri dari wanita-wanita yang membenci pria, berjumlah lima puluh orang lebih. Dengan harta pusaka yang ditemukannya bersama kitab-kitab ilmu silat yang amat tinggi, dia mampu membiayai perkumpulannya, bahkan setiap orang anggauta perkumpulannya mempunyai hiasan kepala berbentuk burung hong dari batu kemala, sungguh pun batu kemala di kepala itu tidak seindah yang menghias kepala sang pangcu.

Di atas kursi yang lain, di sebelah kiri pangcu (ketua) dari Giok-hong-pang ini, duduk seorang wanita lain. Mata siapapun, terutama sekali mata kaum pria, pasti akan terpesona jika memandang wanita ini. Dia seorang gadis yang masih muda, tidak akan lebih dari delapan belas atau sembilan belas tahun usianya, dan wajahnya cantik sekali, seolah-olah tidak ada cacat celanya. Wajah ketua Giok-hong-pang yang sudah amat cantik itu seolah-olah menjadi suram jika dibandingkan dengan kecantikan wajah gadis remaja ini. Setiap anggauta di tubuhnya seolah-olah memiliki daya tarik yang khas dan luar biasa, dan terutama sekali sepasang mata dan mulutnya, takkan ada jemunya mata memandang, dan setiap kerling mata dan gerak bibirnya mengandung sesuatu yang mampu membangkitkan gairah dan berahi pria yang mana pun. Pendeknya, jaranglah ditemui seorang gadis secantik dia. Seperti juga sang ketua, di rambut gadis ini terdapat hiasan burung hong kemala yang amat bagus dan jauh lebih bagus daripada yang dipakai oleh para anggauta Giok-hong-pang, sungguhpun masih kalah indah kalau dibandingkan dengan hiasan yang menghias rambut kepala ketua Giok-hong-pang itu.

Dara jelita ini adalah Yap In Hong, murid dalam arti yang sesungguhnya dari Giok-hong-cu Yo Bi Kiok, karena para anggauta Giok-hong-pang yang lain hanya menerima ilmu silat yang diseragamkan dan merupakan “kulitnya” saja, sedangkan In Hong seoranglah yang digembleng oleh gurunya secara sungguh-sungguh, bahkan dara ini telah hampir mewarisi semua ilmu yang dimiliki gurunya. Yap In Hong ini sebetulnya adalah adik kandung satu-satunya dari Pendekar Sakti Yap Kun Liong yaitu pria yang menjadi gara-gara kepatahan hati Yo Bi Kiok. Ayah bunda Yap Kun Liong dan Yap In Hong ini terbunuh oleh para datuk kaum sesat, dan semenjak masih kecil sekali, Yap In Hong tak pernah berkumpul dengan kakaknya sampai dia ditolong oleh gurunya itu dan ketika melihat gurunya dan kakak kandungnya itu bertentangan, dia memihak gurunya atau penolongnya itu, tidak mau dibawa pergi oleh kakak kandungnya (baca ceritaPetualang Asmara ). Sejak kecil, Yap In Hong telah digembleng oleh Yo Bi Kiok yang mencintanya seperti keponakan atau seperti adik sendiri, bahkan seperti anak sendiri. Demikian pula In Hong mencinta gurunya dan sekaligus seperti menemukan pengganti ayah bundanya.

Akan tetapi, keadaan sekeliling kita selalu membentuk perwatakan kita! Bagi seorang wanita yang sudah menghayati kebebasan sejati, yaitu bebas dari segala bentuk ikatan, keadaan sekeliling tentu saja tidak mendatangkan pengaruh apa-apa, akan tetapi bagi kebanyakan dari kita, keadaan sekeliling merupakan guru yang paling berkuasa sehingga tanpa kita sadari, kita hanyut dan terbawa-bawa sehingga mau tidak mau kita menjadi “anggauta” dari keadaan sekeliling itu yang mgmbentuk watak dan kepribadian kita. Demikian pula dengan In Hong, dara jelita itu. Karena semenjak kecil dia ikut dengan gurunya, seorang wanita yang membenci kaum pria kemudian setelah gurunya mendirikan perkumpulan, In Hong berada di tengah-tengah sekumpulan wanita yang amat membenci pria, maka secara otomatis In Hong menjadi dewasa dalam suasana seperti itu, dan wataknyapun terbentuklah sebagai seorang dara pembenci kaum pria! Memang aneh kalau dipikir betapa dara ini sama sekali belum pernah berhubungan dengan pria, apalagi disakitkan hatinya! Akan tetapi, karena setiap hari melihat sikap dan mendengar cerita dan dongeng dari para anggauta Giok-hong-pang tentang kebusukan kaum pria dan betapa mereka membencinya, juga gurunya membencinya, maka diapun amat membenci kaum pria yang dianggapnya sebagai mahluk yang sejahat-jahatnya dan seganas-ganasnya!

Pada pagi hari itu, guru dan murid yang duduk di atas kursi itu memandang seorang wanita yang berlutut sambil menangis terisak-isak di depan sang ketua. Giok-hong-cu Yo Bi Kiok mengepal tangan kanannya, matanya mengeluarkan sinar berapi-api, sedangkan In Hong juga terbelalak memandang wanita itu, kedua tangan dikepal dan kemarahannya jelas nampak di wajahnya yang cantik.

“Lui Hwa, ceritamu sukar untuk dapat kupercaya!” terdengar Yo Bi Kiok berkata, suaranya halus, namun mengandung getaran yang mengiris jantung. “Coba kauulangi lagi apa yang telah terjadi dengan kalian berlima!”

Wanita itu, Lui Hwa yang telah kita kenal, yaitu orang termuda di antara lima orang anggauta Giok-hong-pang yang menyelidik ke Telaga Setan, kini menggunakan ujung lengan bajunya untuk menghapus air matanya dan berusaha untuk bicara tanpa diganggu isak dan menuturkan dengan sejelas-jelasnya. Dia menceritakan pengalaman mereka ketika merampas perahu sampai kemudian terpaksa mereka menyerah kalah karena kedua buah perahu itu digulingkan oleh para anggauta Kwi-eng-pang

Dengan suara terputus-putus dia mengulangi ceritanya betapa empat orang temannya direjang dan diperkosa oleh para anggauta Kwi-eng-pang seperti empat ekor domba yang diserbu segerombolan srigala di tembat terbuka, bahkan di depan matanya karena dia dipaksa untuk menonton oleh ketua Kwi-eng-pang, melihat betapa empat orang teman itu tak mampu melawan sama sekali dan keempathya tewas dalam keadaan yang amat menterikan, terhina secara memalukan sekali. Kemudian betapa dia hanya dapat menangis ketika dia sendiri terpaksa melayani segala kehendak Kiang Ti yang mempermainkannya, memperkosanya, menghinanya bahkan kemudian menyerahkan dia untuk dipermainkan dan diperkosa oleh empat orang pembantu ketua itu sebagai balas jasa atas penangkapan lima orang wanita itu!

“Sepekan lamanya saya ditahan, mengalami penghinaan siang malam, dan akhirnya saya dibebaskan, diantar oleh empat orang pembantu ketua yang lihai itu, diantar dengan perahu ke tepi telaga. Dan di dalam perahu itupun saya harus mengalami penghinaan dan perkosaan yang sudah tak terhitung lagi banyaknya…” Lui Hwa menangis terisak-isak.

“Plakkk!” Tubuh Lui Hwa terpelanting dan tangisnya makin mengguguk ketika dia bangkit berlutut lagi, bibirnya mengalirkan darah dan pipinya yang ditampar oleh Bi Kiok menjadi merah sekali.

“Perempuan tak tahu malu! Dan engkau masih ada muka untuk pulang dan menceritakan semua itu kepadaku, ya? Seratus kali mampus masih lebih baik daripada kau hidup mengenang penghinaan itu!”

“Ampun, pangcu…! Sama sekali saya tidak ingin hidup… sama sekali saya tidak sudi mengenangkannya… saya menyerah kepada mereka, saya mempertahankan hidup sampai saat ini… hanya…. hanya agar dapat melapor kepada pangcu… karena hanya itulah harapan saya supaya dendam kami terbalas… harap pangcu tidak melupakan mereka, Kiang Ti si jahanam dan empat orang pembantunya… kami …. kami berlima menanti pembalasan itu…” Tiba-tiba Lui Hwa meloncat ke belakang, mencabut pedangnya dan sekali menggerakkan kedua tangan yang memegang gagang pedang, dia membalikkan pedangnya menusuk dada sendiri.

“Crotttttt…!” Pedang itu menembus ulu hatinya sampai ujung pedang keluar dari punggungnya!

Guru dan murid itu tidak bergerak sedikitpun. Mata mereka menerima kenyataan ydng mengerikan itu tanpa berkedip dan hal ini saja sudah membuktikan betapa keras hati mereka, dan betapa kuat perasaan mereka. Yo Bi Kiok tersenyum mengangguk, agaknya girang melihat bahwa anggauta atau muridnya itu bukanlah seorang wanita lemah yang takut mati. Sambil memandang tubuh yang tertembus pedang itu, dia berkata lirih, “Tenangkan hatimu, Lui Hwa, mereka akan menebus semua ini!”

Dengan anggukan kepala ketua Giok-hong-pang ini memberi isyarat kepada para penjaga wanita yang berada di situ untuk menyingkirkan dan mengurus baik-baik jenazah Lui Hwa, setelah dia mencabut pedang Lui Hwa dan menyuruh In Hong menyimpan pedang itu. “Pedang inilah yang akan menghukum mereka,” katanya. “Simpan baik-baik, In Hong.”

“Subo, mengapa kita tidak sekarang juga berangkat dan membasmi iblis-iblis Kwi-eng-pang?” In Hong sudah bangkit berdiri dan mengangkat pedang Lui Hwa itu ke atas kepala.

“Duduklah, In Hong. Ingat, hati boleh panas akan tetapi kepala harus tetap dingin, itu merupakan syarat yang terutama bagi seorang ahli silat. Kalau menuruti perasaan amarah, pikiran menjadi kalut dan kita tidak dapat menguasai gerakan kita dengan sempurna dan hal ini berarti sudah kehilangan sebagian dari daya tahan dan kewaspadaan kita.”

In Hong menunduk, kagum dan harus membenarkan pendapat gurunya itu. “Baik, subo, dan maafkan kesembronoan teecu (murid).”

“Tidak apa, muridku. Ketahuilah, si bedebah Kiang Ti yang kini menjadi ketua Kwi-eng-pang adalah murid kepala dari mendiang Kwi-eng Nio-cu pendiri Kwi-eng-pang. Ilmunya cukup hebat, terutama sekali Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam) yang menjadi andalannya. Tangannya itu selain beracun juga amat kuat, bahkan dia berani menggunakan tangannya menangkis senjata tajam. Kiang Ti dengan sengaja melepas dan membebaskan Lui Hwa, tidak dibunuhnya seperti empat yang lain, tentu karena kesombongannya dan dia sengaja memberi kesempatan kepada Lui Hwa untuk melapor ke sini. Hal itu berarti suatu tantangan! Dan orang yang telah berani menantang tentu sudah percaya kepada kekuatan sendiri dan tentu telah siap sedia menanti kedatangan kita! Maka kita tidak boleh bodoh dan sembrono, muridku.”

“Perlukah kita takut, subo?” In Hong bertanya penasaran. “Biarkan teecu memimpin semua anggauta kita menyerbu dan membasmi Kwi-eng-pang sampai habis!”

“Berhati-hati dan bersiasat bukanlah tanda takut, In Hong, melainkan tanda kecerdikan. Kiang Ti dan anak buahnya tidak perlu ditakuti, akan tetapi kedudukan Telaga Setan benar-benar amat berbahaya. Tidak ingatkah kau akan cerita Lui Hwa betapa mereka menjadi tidak berdaya karena perahu-perahu mereka digulingkan? Kita sendiri, bahkan aku sekalipun, akan dapat berbuat apa kalau sampai terjatuh ke dalam air yang dalam dan kita tidak pandai renang? Tentu semua ilmu kita tidak akan banyak gunanya! Kesukaran kita menyerbu Kwi-eng-pang adalah pada penyeberangannya. Kalau sudah mendarat di pulau itu, tidak ada kesulitan apa-apa lagi. Karena itu kita harus menggunakan siasat.”

In Hong kembali mengangguk-angguk membenarkan. Dia merasa ngeri juga kalau mengingat betapa sebelum berhasil mendarat di pulau sarang musuh itu, dia sudah terjatuh ke dalam air yang amat dalam!

Bi Kiok lalu mengumpulkan semua anak buahnya yang berjumlah lima puluh orang. Ketika mereka semua diberi tahu akan keputusan ketua mereka untuk menyerbu Kwi-eng-pang, wanita-wanita itu bersorak girang karena semua telah mendengar akan kematian Lui Hwa dan empat orang temannya, yang mengerikan dan mereka semua merasa sakit hati ingin membalaskan kematian teman-teman mereka. Dengan penuh perhatian mereka mendengarkan siasat yang diatur oleh ketua mereka dan pada hari yang ditentukan, berangkatlah semua anggauta Giok-hong-pang ini dengan berpencar merupakan kelompok-kelompok kecil agar tidak menarik perhatian orang, menuju ke Telaga Setan.

Ketika semua anggauta tiba di hutan di tepi telaga itu sebagaimana yang telah ditentukan semula. Bi Kiok dan In Hong telah lebih dulu tiba dan menanti di tempat itu. Guru dan murid ini sekali lagi merundingkan siasat dengan para anak buah Giok-hong-pang, kemudian Yo Bi Kiok mengajak muridnya untuk menggunakan ilmu berlari cepat menuju ke tepi telaga sebelah utara dan perjalanan ini biarpun dilakukan dengan cepat sekali masih memakan waktu sampai setengah hari lamanya!

Pada menjelang tengah hari, seperti yang direncanakan pagi tadi sebelum ketua mereka pergi meninggalkan mereka, lima puluh orang anggauta Giok-hong-pang mulai bersolek, menambah pupur dan yanci (pemerah pipi) dan membereskan pakaian mereka, kemudian beramai-ramai mereka memperlihatkan diri di pantai sambil berteriak-terlak menantang Kwi-eng-pang!

Para anggauta Kwi-eng-pang yang bertugas menjaga di sekeliling telaga itu tentu saja sudah tahu akan kedatangan rombongan wanita Giok-hong-pang ini, dan ketika para anggauta mereka yang bertugas mencari ikan juga telah mendengar ribut di tepi telaga. Dengan jantung berdebar penub keteganqan, juga penuh gairah ketika melihat lima puluh orang wanita yang hampir semua cantik-cantik dan muda-muda itu, para anggauta Kwi-eng-pang cepat melaporkan hal ini kepada ketua mereka dengan harapan mereka itu akan kebagian kelak kalau wanita-wanita itu dapat ditawan seperti yang telah terjadi dengan lima orang tawanan tempo hari. Kini melihat banyaknya anggauta Giok-hong-pang yang cantik-cantik itu, mereka semua tentu akan memperoleh bagian!

Kiang Ti tertawa bergelak ketika mendengar laporan bahwa di tepi selatan telaga itu telah datang lima puluh orang wanita cantik para anggauta Giok-hong-pang yang berteriak-teriak, memaki-maki dan menantang.

“Ha-ha-ha-ha, mereka datang dan hanya menantang di tepi telaga? Ha-ha-ha, mereka tidak dapat menyeberang, akan tetapi akan memalukan sekali kalau kita tidak menyambut tantangan mereka. Apa sih kemampuan wanita-wanita itu kecuali menghibur kita dalam kamar? Kita berjumlah lebih banyak! Sambut mereka dengan seratus orang dan sedapat mungkin tawan mereka hidup-hidup. Mereka cantik-cantik dan muda-muda? Bagus, berarti kalian tidak perlu repot-repot menculiki gadis-gadis dusun lagi, ha-ha-ha!”

Kiang Ti mengerahkan anggauta-anggauta perkumpulannya dan memerintahkan seorang pembantunya untuk membawa seratus orang menghadapi para anggauta Giok-hong-pang. Dia bukan seorang bodoh. Dulu sebelum menjadi ketua Kwi-eng-pang, dia telah lama menjadi ketua Ui-hong-pang dan sudah berpengalaman, maka ketika mendengar laporan bahwa lima puluh orang wanita Giok-hong-pang itu datang tanpa ketua mereka, dia merasa curiga. Karena itu, dia hanya mengirim seratus orang anggauta yang dianggapnya sudah cukup untuk menghadapi lima puluh wanita itu, sedangkan dia sendiri bersama sisa anggauta perkumpulannya, kurang lebih tiga puluh orang, tetap berada di pulau menjaga kalau-kalau ketua Giok-hong-pang menggunakan siasat “memikat harimau meninggalkan sarang”.

Berbondong-bondong seratus orang anggauta Kwi-eng-pang meninggalkan pulau, menggunakan perahu-perahu besar kecil menuju ke tepi telaga di mana para wanita itu masih berteriak-teriak menantang. Kiang Ti sendiri, dengan sebuah teropong di tangannya, mengamati dari tepi Pulau. Dia bangga sekali dengan teropong ini, teropong kepunyaan seorang asing dari barat, seorang yang bermata biru berambut kuning, yang pernah menjadi tamu gurunya di pulau itu dan yang meninggalkan teropong itu di situ sehingga kini menjadi miliknya. Dengan alat ini yang masih langka pada waktu itu, dia dapat mengjkuti geraken orang-orangnya di tepi telaga.

Sambil berteriak-teriak penuh kegarangan, seratus orang anggauta Kwi-eng-pang itu sudah menyerbu ke darat, disambut oleh para wanita Giok-hong-pang dan segera terjadi pertempuran kacau-balau yang amat seru di tengah-tengah debu yang mengebul tinggi dan teriakan-teriakan mereka yang bercampur aduk. Karena jumlah orang-orang Kwi-eng-pang dua kali lipat lebih banyak, maka boleh dibilang setiap orang wanita Giok-hong-pang dikeroyok oleh dua orang pria. Namun dengan gerakan pedang yang cepat dan rapi, para anggauta Giok-hong-pang itu membela diri dengan baik sekali dan dengan kagum Kiang Ti melihat betapa wanita-wanita itu sama sekali tidak terdesak oleh jumlah lawan yang lebih banyak.

“Kiang Ti manusia hina, bersiaplah engkau untuk mampus!”

Suara yang halus akan tetapi nyaring dan menggetar aneh ini membuat Kiang Ti terkejut sekali, cepat dia membalikkan tubuhnya dan dengan kaget melihat bahwa di depannya telah berdiri dua orang wanita yang amat luar biasa cantiknya, terutama sekali yang muda! Biarpun sudah belasan tahun tak pernah bertemu, namun dia masih dapat mengenal Yo Bi Kiok, yang dahulu merupakan seorang gadis yang cantik sekali dan pernah tinggal di pulau sebelah utara. Dia tersenyum mengejek. Dugaannya ternyata tepat. Yo Bi Kiok hendak menggunakan siasat memancing orang-orangnya dan dia meninggalkan pulau dan diam-diam wanita ini mendarat di pulau melalui utara yang tentu saja tidak terjaga karena semua perhatian ditujukan kepada wanita-wanita Giok-hong-pang yang sengaja mengacau di tepi selatan. Akan tetapi melihat bahwa yang muncul hanyalah Yo Bi Kiok seorang bersama seorang gadis muda, hatinya menjadi besar dan cepat dia bersuit memberi tanda. Berserabutan datanglah tiga puluh orang yang telah dipersiapkan dan dalam sekejap mata saja Yo Bi Kiok dan In Hong sudah dikepung!

Yo Bi Kiok tersenyum mengejek. “Kiang Ti, engkau sudah tahu akan dosa-dosamu terhadap lima orang anggauta kami, lekas berlutut dan menyerah!” kembali Yo Bi Kiok berkata halus, akan tetapi di dalam kehalusan suaranya itu terkandung sesuatu yang menyeramkan karena senyum mengejek dan pandang mata seperti ujung pedang itu mengandung ancaman maut.

“Ha-ha-ha-ha! Bukankah engkau Giok-hong-cu Yo Bi Kiok yang dulu itu? Hemm, sudah belasan tahun tidak jumpa, engkau menjadi makin matang dan cantik saja! Giok-hong-cu, jangan persalahkan aku tentang lima orang anggautamu itu. Engkaulah sendiri yang bersalah. Di antara kita masih ada ikatan, engkau murid Siang-tok Mo-li dan aku murid Kwi-eng Nio-cu, mengapa engkau mengirim orang-orang menyelidiki tempatku dan melakukan penghinaan serta membunuh empat orangku? Kalau memang engkau ingin pindah dengan para anggautamu ke sini, mengapa tidak datang secara baik-baik dan berdamai saja? Kalau kita bersatu, bukankah kita akan merupakan kekuatan yang hebat? Engkau menjadi isteriku, dan para anggautamu boleh memilih suami di antara anggautaku, bukankah itu baik sekali?”

“Tutup mulutmu yang busuk!” Yo Bi Kiok memaki marah, akan tetapi Kiang Ti hanya tertawa mengejek.

“Yo Bi Kiok, tidak perlu engkau bersikap sombong seperti ini. Orang-orangmu hanya berjumlah lima puluh orang dan sekarang tentu telah ditawan semua oleh seratus orang anggautaku, dan engkau sendiri bersama nona jelita ini telah dikepung…!”

“Engkau yang buta dan tidak tahu bahwa kematian sudah berada di depan hidung! Lihatlah baik-baik apa yang terjadi di seberang sana. Yo Bi Kiok menunjuk ke arah tepi telaga di mana terjadi pertempuran.

Kiang Ti cepat menengok ke arah seberang telaga dengan teropongnya dan seketika mukanya berubah. Dengan jelas dia melihat betapa sebagian dari orang-orangnya telah roboh dan sebagian lagi kini telah menyerah, ditodong pedang dan tidak ada seorangpun di antara anggautanya yang berani melawan lagi! Tak disangkanya pertempuran berjalan secepat itu dengah kekalahan fihaknya yang berjumlah dua kali jumlah lawan banyaknya.

“Pengecut…!” Dia berteriak, lalu menurunkan teropongnya dan membalik menghadapi dua orang wanita itu sambil berseru kepada para pembantunya, “Tangkap mereka berdua!” Melihat kekalahan fihaknya, timbul keinginan di hati Kiang Ti untuk menawan hidup-hidup ketua Giok-hong-pang ini dan menjadikannya sebagai sandera untuk menaklukkan semua anggauta Giok-hong-pang.

Tiga puluh orang anak buah Kwi-eng-pang mengepung ketat dan mereka sudah siap untuk menangkap dua orang wanita itu. Hati mereka besar karena mereka yang tidak menggunakan teropong tentu saja masih belum tahu apa yang terjadi dengan kawan-kawan mereka yang menyerbu ke darat. Kini, menghadapi hanya dua orang wanita cantik saja, tentu mereka memandang rendah.

“In Hong, kauhajar anjing-anjing itu, biar aku yang menangkap srigalanya!” Yo Bi Kiok berkata sambil tersenyum kepada muridnya, sikap mereka berdua tenang sekali seolah-olah yang mengepung dan mengancam mereka itu bukan manusia, hanya boneka-boneka hidup belaka yang tidak perlu dikhawatirkan!

Kiang Ti yang terlalu mengandalkan kepandaian sendiri dan mengandalkan jumlah banyak, menjadi marah sekali. Dia ingin menangkap hidup-hidup dua orang musuh ini, maka diapun berkata nyaring, “Kalian semua tangkap nona muda itu, awas jangan sampai kulitnya yang halus itu lecet-lecet! Kalian berempat membantu aku menghadapi iblis cantik ini!” Perintah terakhir dia tujukan kepada empat orang pembantunya yang merupakan tokoh-tokoh terpandai sesudah dia di Kwi-eng-pang.

In Hong tanpa menjawab mentaati perintah gurunya, sekali meloncat tubuhnya sudah mencelat ke kiri, menjauhi gurunya sehingga para pengepung yang kini juga berpencar dan terpecah menjadi dua itu cepat mengepung gadis ini dengan ketat, dengan pandang mata bersinar-sinar penuh gairah karena biarpun mereka ini tahu bahwa gadis secantik ini tentu akan diambil sendiri oleh sang ketua, namun setidaknya dalam menangkapnya mereka memperoleh kesempatan untuk memuaskan tangan-tangan mereka. Dua puluh enam orang laki-laki yang merupakan pasukan inti dari Kwi-eng-pang, pengawal-pengawal setia dari Kiang Ti karena mereka ini semua adalah bekas anggauta Ui-hong-pang, kini mengepung seorang dara remaja yang kelihatannya tenang berdiri di tengah kepungan, sedikitpun tidak kelihatan gentar, bahkan tidak mau mencabut pedangnya, berdiri dengan kedua kaki agak terpentang lebar, kedua tangan tergantung di kanan kiri tubuh, renggang dari badan, tegak dan muka menghadap ke depan, sama sekali tidak bergerak, dan hanya sepasang mata yang indah seperti mata burung hong itu saja yang bergerak, meleret ke kanan kiri dengan lambat, dan ada bayangan senyum tersembunyi di balik sepasang bibir yang merah membasah itu.

Demikian pula dengan Yo Bi Kiok. Wanita inipun berdiri seperti sikap muridnya, hanya bedanya kalau In Hong berdiri dengan wajah dingin dan senyum yang seolah-olah membayang atau bersembunyi di balik bibirnya itu hanya tampak karena memang bentuk mulutnya amat manis seolah-olah selalu bersenyum, sebaliknya Bi Kiok tersenyum, senyum mengejek dan

sepasang matanya bersinar-sinar penuh semangat, atau mungkin itu adalah suatu kemarahan yang terselubung di balik ejekan sikapnya. Matanya melirik ke arah Kiang Ti dan empat orang pembantunya itu berganti-ganti dan di dalam telinganya berdengung kembali ucapan terakhir Lui Hwa “…harap pangcu tidak melupakan mereka, Kiang Ti si jahanam dan empat orang pembantunya…”

“Tidak, Lui Hwa, aku tidak akan melupakannya!” Tiba-tiba dia berkata pada saat Kiang Ti dan empat orang pembantunya menerjangnya dari lima penjuru. Kiang Ti yang dahulu pernah mengenal Yo Bi Kiok, memandang rendah. Maka dia dan empat orang pembantunya tidak menggunakan senjata, melainkan menerjang dengan tangan kosong. Pertama, karena dia memandang rendah dan sudah merasa yakin bahwa mereka berlima sudah pasti akan dapat mengalahkan ketua Giok-hong-pang ini, dan kedua karena memang, dia ingin menawan hidup-hidup wanita yang amat cantik ini. Kepercayaan pada diri sendiri diperkuat dengan adanya Ilmu Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam) yang dahsyat, apalagi karena empat orang pembantu itu merupakan juga murid-murid kepala yang sudah melatih diri dengan Hek-tok-ciang pula, sungguh pun keampuhan tangan beracun mereka masih belum dapat menyamai guru mereka

Akan tetapi, Bi Kiok menghadapi serangan bertubi mereka itu dengan sikap tenang saja, tubuhnya hanya mengelak sedikit dan kedua tangannya dikebutkan ke kanan kiri dan ke atas bawah.

“Plak-plak-plak-plak-plak…!” Beruntun lima kali tangan lima orang pria yang mengandung getaran tenaga Hek-tok-ciang itu bertemu dengan bayangan tangan Bi Kiok dan akibatnya, empat orang pembantu Kiang Ti terhuyung ke belakang dengan mulut menyeringai kesakitan, sedangkan Kiang Ti sendiri meloncat ke belakang dan memegangi lengan kanannya yang terasa panas dan nyeri! Dia memandang dengan mata terbelalak, akan tetapi Bi Kiok hanya berdiri tegak sambil tersenyum, memandang mereka bergantian dengan sikap mengejek sekali.

“Aughhhh…!” Kiang Ti menggerakkan kedua lengannya yang membentuk gerakan-gerakan saling bersilang, kedua tangan seperti cakar harimau dan kedua lengan tergetar makin lama makin keras dan lengan itu mulai berubah menjadi hitam! Inilah pengerahan tenaga Hek-tok-ciang yang dahsyat! Karena tadi mereka memandang rendah, tentu saja mereka hanya ingin mengalahkan wanita ini tanpa harus menggunakan Hek-tok-ciang. Akan tetapi, begitu merasa betapa kuatnya tangkisan wanita itu, kuat dan cepat sekali, mereka maklum bahwa ketua Giok-hong-pang ini memang hebat, maka Kiang Ti Ialu mengerahkan Hek-tok-ciang. Empat orang pembantunyapun lalu mengeluarkan pekik dahsyat dan seperti yang dilakukan ketua mereka, empat orang inipun menggerak-gerakkan kedua lengan sampai lengan mereka mulai tampak kehitaman, sungguhpun tidak sehitam lengan Kiang Ti.

“Hemm, itukah Hek-tok-ciang? Hanya permainan kanak-kanak saja!” Yo Bi Kiok mengejek.

“Serang perempuan sombong ini!” Kiang Ti memberi aba-aba. Dia masih tidak ingin sekaligus membunuh wanita cantik ini, maka dia hanya menyuruh empat orang pembantunya, karena, kalau dia sendiri yang maju menyerang menggunakan Hek-tok-ciang, ia khawatir kalau wanita ini akan roboh tewas seketika!

Empat orang pembantunya juga menjadi penasaran dan mulai marah oleh ejekan wanita itu. Mereka tidak memperdulikan lagi perintah guru dan ketua mereka untuk menangkap Bi Kiok, dan sekali maju, mereka telah mengerahkan tenaga Hek-tok-ciang untuk menyerang dengan pukulan-pukulan maut!

“Haaaaiiiiikkkkk!” Hampir berbareng mereka mengeluarkan teriakan keras dan menerkam maju sambil memukul dengan tangan terbuka yang berwarna kehitaman dan mengeluarkan bau amis seperti darah membusuk.

Bi Klok dengan tenang mengelak ke kanan kiri, dan tiba-tiba tubuhnya berkelebat cepat, lenyap dari dalam kepungan empat orang itu! Empat orang itu terkejut, memandang ke kanan kiri mencari-cari.

“Dia di atas…!” Kiang Ti berseru, kaget juga melihat betapa tadi tubuh wanita itu mencelat ke atas dengan kecepatan kilat.

Empat orang itu cepat memandang ke atas dan melihat bayangan lawan menukik turun. Dengan penuh kemarahan mereka menyambut dengan pukulan-pukulan Hek-tok-ciang, akan tetapi kembali tubuh itu berkelebat dan lenyap.

“Robohlah…!” Terdengar bentakan halus dan berturut-turut empat orang itu terpelanting dalam keadaan lemas karena jalan darah mereka di belakang pundak telah tertotok, membuat mereka roboh tak dapat bergerak lagi, lemas seluruh tubuh dan hanya mata mereka saja yang dapat melotot memandang kepada wanita itu dengan penuh kengerian.

Kiang Ti menjadi marah sekali. Dia mengira bahwa wanita itu takut menghadapi Hek-tok-ciang, maka tadi telah mempergunakan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang amat luar biasa untuk mengalahkan para pembantunya. Akan tetapi kalau hanya mengandalkan gin-kang, dia tidak takut, karena Hek-tok-ciang di tangannya luar biasa kuatnya, dan sekali saja wanita ini kena dipukul olehnya, bahkan terkena sambaran hawa pukulannya saja, tentu akan roboh!

Sementara itu, In Hong juga sudah dikeroyok oleh dua puluh enam orang pria. Karena ingin mentaati perintah ketua mereka, juga karena berebut ingin dapat memeluk dan menggerayangi tubuh gadis yang cantik sekali itu dengan tangan mereka yang sudah gatal-gatal rasanya, dua puluh enam orang itu tidak menggunakan senjata, bahkan tidak memukul hanya menubruk dan hendak memeluk dan menangkap In Hong. Akan tetapi, terjadilah keanehan luar biasa. Gadis itu hanya mengelak ke sana-sini dan tidak ada sebuahpun di antara tangan yang sebanyaknya itu pernah dapat menyentuhnya! Bahkan kalau ada tangan yang tidak keburu dielakkan saking banyaknya, belum sampai tangan itu menyentuh kulit tubuh In Hong, tangan itu sudah terpental seperti ada yang menangkis, seperti terdorong oleh tangan yang tidak kelihatan. In Hong sama sekali tidak membalas, hanya mengelak bukan karena takut tertangkap karena dengan sin-kangnya yang mujijat dia mampu melindungi kulitnya dengan hawa yang cukup kuat untuk membuat tangan mereka terpental, akan tetapi dia mengelak untuk menjatuhkan diri karena dikepung seperti itu dia merasa jijik, apalagi karena kepungan ketat dengan dua puluh enam orang pria itu menimbulkan bau apak dan kecut dari keringat dan mulut mereka!

In Hong adalah seorang dara yang amat mencinta gurunya. Bagi dia, Yo Bi Kiok adalah seorang guru, seorang ketua, sahabat, dan juga kakak atau pengganti ibu sendiri! Hanya Bi Kiok seoranglah yang dipandangnya di dunia ini. Maka tidak mengherankan apabila dia amat mencinta dan taat kepada gurunya ini. Di dalam pertandingan ini, ketika melihat gurunya dikeroyok oleh ketua Kwi-eng-pang dan empat pembantunya yang dia tahu jauh lebih lihai daripada dua puluh enam orang yang mengeroyoknya, maka dia tidak mau merobohkan seorangpun lawan sebelum gurunya lebih dulu merobohkan papa pengeroyoknya. Dia tidak mau mendahului gurunya karena hal ini dianggapnya akan dapat menimbulkan tidak senang di hati gurunya! Inilah sebabnya mengapa In Hong hanya menghindarken diri dari semua tangan itu tanpa mau membalas sama sekali.

Haiiiiittttt…!” Tiba-tiba Kiang Ti memekik keras saking marahnya ketika pukulan-pukulannya selalu mengenai tempat kosong. Kedua tangannya kini mendorong ke depan, ke arah dada Bi Kiok dan dari kedua telapak tangannya yang amat hitam itu menyambar hawa pukulan dahsyat disertai bau yang amat amis.

Sekali ini, Bi Kiok tidak mengelak, bahkan juga menggerakkan kedua lengan, dengan kedua tangan terbuka menyambut dorongan telapak tangan lawan itu.

“Ah, engkau mencari mampus,” demiklan suara hati Kiang Ti sambil mengerahkan Hek-tok-ciang sekuatnya sehingga kedua lengannya berubah menjadi hitam sekali, mengkilap den mengeluarkan bau yang amis memuakkan.

“Plakkkk!!”

Dua pasang telapak tangan itu bertemu, saling tempel den saling dorong dengan kekuatan yang dahsyat. Tubuh Kiang Ti tergetar hebat den ketua Kwi-eng-pang ini segera mengerahkan seluruh tenaganya dengan keyakinan bahwa wanita ini tentu akan roboh dengan tubuh hitam semua karena racun dari hawa pukulan Hek-tok-ciang. Akan tetapi, Bi Kiok berdiri tegak dengan kedua lengan lurus, tubuhnya sedikitpun tidak bergoyah, sedangkan mata den mulutnya membayangkan ejekan yang membuat Kiang Ti makin penasaran dan makin marah.

“Haaaahhhhhhhh!” Dia kembali mengerahkan tenaga dan bukan main kagetnya ketika dia merasa bahwa kedua tangannya bertemu dengan hawa yang amat panas, dan tenaga yang amat dahsyat sehingga membendung semua tekanan hawa pukulan Hek-tok-ciang, bahkan mendorong tenaga Hek-tok-ciang membalik, kemudian hawa panas itu mulai menyerangnya, keluar dari telapak tangan halus itu, mula-mula memasuki ujung jari-jari tangannya, kemudian makin lama makin jauh memasuki tangannya.

Kiang Ti terkejut bukan main. Jari-jari tangannya seperti dibakar rasanya. Dia cepat berusaha untuk melepaskan

kedua tangannya, akan tetapi ternyata kedua tangan itu sudah melekat kepada tangan lawan, sedikitpun tidak dapat direnggangkan, apalagi dilepaskan! Beberapa kali dia berusaha menarik kembali kedua tangan, namun akhirnya dia maklum bahwa hal itu tidak mungkin. Maka dia menjadi nekat, tenaga Hek-tok-ciang makin ia kerahkan, namun semua sia-sia belaka. Hawa panas makin mendesak jauh, melalui pergelangan tangan, terus naik ke lengannya dan ketika tiba di atas siku, dia tidak kuat lagi bertahan saking panas dan nyerinya sehingga Kiang Ti, ketua Kwi-eng-pang itu menjerit-jerit!

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: