Dewi Maut (Jilid ke-20)

“Dukkk!” Tubuh In Hong tergetar akan tetapi nenek Sie Biauw Eng juga terlempar dan begitu kakinya tiba di atas tanah, dia sudah melolos senjatanya yang amat ampuh yaitu Pek-in Sin-pian, sabuk sutere putih yang dahulu pernah mengangkat namanya di dunia kang-ouw dengan julukan Song-bun Siu-li (baca cerita Siang-bhok-kiam)!

In Hong moloncat ke belakang, melintangkan pedangnya di depan dada, dan dia memandang dengan mata mengejek dan senyum memandang rendah. “Bagus, kiranya beginikah Cin-ling-pai yang tersohor itu, menyambut tamu dengan serangan-serangan senjata? Apakah engkau ketua Cin-ling-pai? Kalau begitu, mengapa tidak sekallan maju mengeroyok aku biar ramai?”

Wajah Cia Keng Hong menjadi merah sekali. Pertama-tama, dia marah kepada isteri dan puterinya yang terburu nafsu, dan kedua dia marah kepada gadis yang mulutnya amat tajam, lebih tajam dari pedangnya itu. Juga dia terkejut menyaksikan gerakan ilmu pedang dari gadis itu, yang selain aneh juga amat lihai, bahkan tenaga sin-kang dari gadis ini sudah tentu lebih kuat daripada tenaga isterinya!

“Kalian mundurlah! Sungguh tidak semestinya menuruti hati panas!” Ditegur dengan suara keren ini, Sie Biauw Eng dan Cia Giok Keng mundur, akan tetapi tidak menyimpan senjata mereka dan mata mereka masih memandang ke arah In Hong dengan penuh kemarahan. Cia Keng Hong lalu manghadapi In Hong yang masih memegang pedang dan dengan halus dia berkata, “Harap nona maafkan puteri kami. Menurut laporan, nona hendak bertemu dengan ketua Cin-ling-pai, nah, akulah ketua Cin-ling-pai. Nona siapa dan ada keperluan apa nona datang ke sini?” Biarpun tadi mendengar puterinya menyebut nama dara ini, dan kini melihat wajah In Hong yang persis dengan wajah mendiang sumoinya, Gui Yan Cu yang cantik jelita dia tidak meragu lagi bahwa dara ini adalah adik kandung Kun Liong, namun Cia Keng Hong bersikap keren karena melihat sikap dara itupun dingin dan garang.

In Hong sejenak memandang kepada dua orang wanita yang tadi menyerangnya, kemudian menoleh kepada Cia Keng Hong, menarik napas panjang dan menyarungkan kembali pedangnya, kemudian dia menjura kepada ketua Cin-ling-pai itu. “Harap locianpwe yang memaafkan saya karena kelancangan saya. Sudah lama saya mendengar akan nama besar ketua Cin-ling-pai dan ternyata memang sikap locianpwe amat mengagumkan hati saya. Saya bernama Yap In Hong dan… kiranya locianpwe telah tahu siapa saya…”

Hem, kalau tidak salah, engkau adalah puteri dari mendiang sumoi Gui Yan Cu dan suaminya, sahabatku yang baik Yap Cong San. Engkau adalah adik kandung dari Yap Kun Liong, bukan?”

“Dugaan locianpwe benar, dan karena ibuku adalah sumoi dari locianpwe, semestinya locianpwe adalah supek saya. Akan tetapi karena sejak lahir tidak ada hubungan, maafkan kalau saya menyebut dengan sebutan locianpwe.”

Cia Keng Hong menarik napas panjang. Tak disangkanya bahwa anak perampuan dari sumoinya yang lenyap sejak kecil itu kini bersikap seperti itu, kaku dan dingin, sama sekali berbeda dengan sikap Gui Yan Cu dahulu yang ramah, lincah, jenaka dan gembira serta hangat, seperti sinar matahari pagi.

“Kalau demikian yang kaukehendaki, terserah kepadamu, nona. Kemudian, urusan apakah yang kaubawa ke sini dan siapa pula gadis asing ini?”

“Locianpwe, kedatangan saya ini adalah untuk membicarakan soal ikatan jodoh yang diusulkan antara saya dan putera locianpwe, seperti yang pernah saya dengar dari kakak kandung saya Yap Kun Liong.”

Kembali Cia Keng Hong menyesal sekali mengapa gadis ini menyebutkan nama kakak kandungnya tanpa perasaan bersaudara same sekali, seolah-olah yang bernama Yap Kun Liong adalah seorang asing baginya.

“Memang demikianlah tadinya hasrat hati kami, untuk menyambung kembali hubungan antara orang tuamu dengan kami. Lalu bagaimana kehendakmu?”

“Saya datang untuk membatalkan perjodohan itu. Ikatan yang dilakukan di luar tahu saya itu harus diputuskan.”

“Perempuan sombong! Siapa kesudian mempupyal adik ipar seperti engkau?” Tiba-tiba Giok Keng membentak, marah sekali.

“Hemm, gadis ini benar-benar lancang mulut dan tidak memandang mata kepada kita.” Sie Biauw Eng berkata kepada suaminya, “Sungguh tidak patut menjadi puteri Yap Cong San dan Gui Yan Cu!”

Cia Keng Hong mengangkat tangan memberi isyarat kepada isteri dan puterinya untuk diam, kemudiam dia menghadapi In Hong, berkata dengan suara keren “Tidak ada yang akan memaksamu berjodoh dengan putera kami, nona.”

In Hong merasa tidak enak juga, karena kata-kata dan sikapnya seolah-olah merendahkan keluarga ini, maka cepat-cepat dia berkata, “Harap locianpwe maafkan. Tidak ada maksud lain dalam penolakanku itu kecuali adanya kenyataan bahwa putera locianpwe itu yang bernama Cia Bun Houw, sudah mempunyai calon isteri, maka amatlah tidak baik kalau dijodohkan lagi kepada saya.”

“Eh, lancang mulut! Apa maksudmu menghina puteraku?” Sie Biauw Eng berseru.

“Hemm, nona. Apa maksud kata-katamu itu?” Cia Keng Hong juga bertanya, heran dan mulai tidak senang.

“Locianpwe, saya hanya mengatakan apa adanya dan tidak bermaksud menghina. Adik Yalima dari Tibet ini adalah calon isteri Cia Bun Houw dan mereka sudah saling mencinta, oleh karena itu tidaklah semestinya kalau Cia Bun Houw dijodohkan dengan orang lain. Demi keadilan, saya menuntut agar adik Yalima dijodohkan dengan Cia Bun Houw…”

“Lancang! Siapa kau yang hendak menentukan jodoh puteraku? Keparat!” Sie Biauw Eng memaki.

“Sudahlah, isteriku, jangan membikin ruwet urusan. Nona Yalima, benarkah apa yang diceritakan oleh nona Yap In Hong ini?” Cia Keng Hong kini memandang kepada Yalima. Seorang dara yang manis sekali dan tidak aneh kalau puteranya itu suka kepada nona ini, akan tetapi nona ini masih terlalu muda, masih kekanak-kenakan, sungguhpun harus diakuinya bahwa Yalima amat cantik jelita dan penuh semangat.

Muka Yalima menjadi merah sekali akan tetapi karena dia sudah bertekad untuk mencari Bun Houw, maka dia lalu dengan suara lancar namun agak kaku, menceritakan tentang keadaan dirinya, betapa dia dan Bun Houw sudah saling mencinta, betapa Bun Houw menolong dia ketika dia hendak diserahkan kepada pangeran di Lhasa oleh ayahnya dan betapa setelah Bun Houw pulang, kembali dia hendak dipaksa ayahnya untuk menjadi selir pangeran di Lhasa. Maka dia lalu minggat dan ditolong oleh Go-bi Sin-kouw, betapa kemudian dia hampir diperkosa oleh orang jahat dan ditolong oleh In Hong.

“Demikianlah, locianpwe, karena satu-satunya orang di dunia ini yang saya percaya dan saya cinta adalah Houw-koko, maka saya berusaha untuk menemuinya dan untuk menghambakan diri selama hidup saya kepadanya.” Yalima menutup ceritanya dengan kata-kata yang diucapkan dengan suara penuh harapan ini.

Sie Biauw Eng, mengerutkan alisnya, hatinya kecewa dan tidak senang same sekali mendengar semua itu. Tidak jadi bermantukan Yap In Hong tidak apa-apa baginya, bahkan menyaksikan sikap nona itu diapun tidak sudi lagi untuk mengambil mantu, akan tetapi kalau puteranya harus berjodoh dengan gadis Tibet ini, tanpa campur tangan dia dan suaminya, sungguh dia merasa terhina dan tidak setuju! Akan tetapi, Cia Keng Hong yang bijaksana melihat betapa Yalima benar-benar setia dan mencinta Bun Houw, sungguhpun gadis itu masih terlalu muda dan dia sendiri bukan berarti suka mempunyai mantu gadis Tibet ini, akan tetapi untuk menyudahi urusan yang bisa menimbulkan keruwetan dengan In Hong yang sikapnya keras itu, dia berkata kepada In Hong.

Nona Yap In Hong, urusan jodoh adalah urusan pribadi keluarga kami. Hubungan antara kami dengan nona hanyalah tentang jodoh antara nona dan putera kami. Karena jelas bahwa nona tidak menerima ikatan jodoh itu, maka mulai saat ini rencana perjodoban itu kita batalkan saja. Adapun mengenai jodoh putera kami selanjutnya, tidak ada orang lain yang boleh mengaturnya. Harap saja engkau maklum akan hal ini!” Suara Cia Keng Hong ketika mengatakan kalimat terakhir itu bernada kerasa dan sejenak dia dan Yap In Hong saling beradu pandang mata. Akhirnya In Hong menundukkan matanya, tak tahan menghadapi sinar mata yang tajam dan penuh wibawa itu dan dia berkata.

“Saya tidak hendak mencampuri perjodohan orang lain, akan tetapi bagaimana dengan adik Yalima? Sebagai sesama wanita saya harus memperhatikan nasib dirinya yang terlunta-lunta karena mencari putera locianpwe.”

“Itupun adalah urusan kami sendiri. Yalima sebagai sahabat putera kami tentu kami terima sebagai tamu dan biarlah dia menanti di sini sampai putera kami pulang. Saya ulangi lagi, hal jodoh di antara mereka adalah urusan kami sekeluarga sendiri!”

Yap In Hong mengerutkan alisnya, akan tetapi dia maklum bahwa kalau dia bersikeras, berarti dialah yang tidak benar, maka dia hanya mengangguk pendek dan berkata, “Baik, saya akan pergi sekarang. Saya percaya bahwa adik Yalima berada di tangan keluarga baik-baik. Akan tetapi kelak saya masih akan menyelidiki tentang nasibnya di sini. Selamat tinggal den maafkan saya, locianpwe.” Setelah berkata demikian, Yap In Hong membalikkan tubuhnya pergi dari situ dengan sikap angkuh.

“Setan…!” Giok Keng dengan pedang terhunus hendak mengejar, juga Sie Biauw Eng memandang dengan kemarahan meluap.

“Bocah itu kurang ajar benar!”

Akan tetapi Cia Keng Hong meloncat dan menghadang mereka. “Ingat, dia adalah puteri mendiang Yap Cong San dan Gui Yan Cu, dan sikapnya seperti itu bukanlah pembawaan wataknya. Tidak mungkin keturunan mereka berwatak demikian. Dia seperti itu tentulah karena gemblengan gurunya yang sejak kecil diikutinya. Sungguh kasihan dia…”

Yalima yang melihat ini semua menjadi bingung. Dia merasa kehilangan ketika ditinggalkan In Hong, akan tetapi diapun tidak mau meninggalkan orang-orang tua yang dia tahu adalah ayah den ibu Bun Houw itu. “Enci In Hong adalah seorang yang amat baik budi, dia telah melawan den menentang Go-bi Sin-kouw den teman-temannya yang jahat untuk menolong saya. Memang sikapnya dingin, akan tetapi hatinya dari emas…”

Ucapan Yalima ini diterima oleh Cia Keng Hong dengan mengangguk-angguk, akan tetapi Sie Biauw Eng den Cia Giok Keng tidak setuju sungguhpun mereka hanya menyimpan rasa mendongkol dan tak senangnya di dalam hati saja.

“Ayah dan ibu, sayapun mohon diri untuk pergi sekarang juga!” Tiba-tiba Giok Keng berkata.

Ayah dan ibunya terkejut, menoleh dan memandang penuh selidik. “Keng-ji, sudah kukatakan bahwa tidak perlu engkau melanjutkan permusuhanmu yang tidak ada artinya itu terhadap In Hong. Dia marah kepada Bun Houw karena mendengar bahwa Bun Houw telah mencinta gadis lain, hal itu adalah lumrah!” Ayahnya menegur, menyangka bahwa puterinya akan mengejar In Hong, padahal dia tahu benar bahwa puterinya itu sama sekali bukan lawan In Hong yang dia tahu amat lihai.

“Tidak, ayah. Aku bukan hendak mengejar dan memusuhi In Hong. Aku ingin pergi melakukan penyelidikan dan menangkap pembunuh isteri Kun Liong. Sebelum pembunuhnya tertangkap, tidak akan lega hatiku dan hidupku selalu akan menderita batin. Seolah-olah roh suamiku mendesak kepadaku untuk mencari pembunuh itu, ayah dan ibu. Maka, boleh atau tidak, aku harus pergi mencari pembunuh Hong Ing, karena hanya dengan tertangkapnya pembunuh itulah maka nama keluarga kita akan tercuci dari noda.”

Sie Biauw Eng memegang lengan puterinya dan terisak. “Engkau benar, anakku, dan andaikata ayahmu memperbolehkan, aku akan menemanimu.”

“Tidak! Biarkan dia pergi sendiri. Dan akupun setuju dengan tekadmu itu, Keng-ji. Bahkan aku bangga dengan keputusanmu itu, karena engkaupun bertanggung jawab atas kematian Hong Ing.”

“Aku hanya titip… titip anak-anakku… ibu…”

Kedua orang wanita itu saling berpelukan. “Jangan khawatir, anakku. Aku akan menjaga cucu-cucuku…” kata Sie Biauw Eng.

“Keng-ji, niatmu itu baik sekali. Akan tetapi ingat baik-baik akan pesanku ini. Suamimu sudah mati dan tidak ada orang lain yang membunuhnya. Kun Liong dan Kok Beng Lama hanya menuntut keadilan dan sama sekali tidak memaksa suamimu membunuh diri. Oleh karena itu, kalau engkau kelak menaruh dendam dan memusuhi mereka, hal itu berarti bahwa engkau telah menanam bibit permusuhan yang akan mendatangkan akibat yang panjang.”

“Aku mengerti, ayah.”

“Dan In Hong, diapun bukan musuhmu. Dia bersikap marah-marah kepada Bun Houw karena dia menganggap Bun Houw menyia-nyiakan Yalima dan mempermainkannya. Tidak ada permusuhan pribadi antara dia dan kita. Jangan engkau memusuhi dia pula.”

Agak berat kini Giok Keng menjawab, akan tetapi akhirnya keluar juga dari bibirnya. “Baik, ayah.”

Maka berangkatlah Giok Keng diantar tangis ibunya yang merasa kasihan sekali kepada puterinya itu. Namun kepergian Giok Keng memang perlu dan penting sekali, bukan hanya untuk menebus kesalahan tindakannya akan tetapi juga untuk mencuci bersih noda yang mengotori keharuman nama keluarga mereka.

Tak lama, hanya dua hari setelah Giok Keng pergi, muncul Hong Khi Hoatsu, guru dari Lie Kong Tek di Cin-ling-pai! Kakek yang biasanya gembira den jenaka ini telah mengunjungi muridnya di Sin-yang, akan tetapi mendengar dari para tetangga bahwa semua keluarga pergi ke Cin-ling-pai, maka dia cepat menyusul ke Cin-ling-pai. Dapat dibayangkan betapa kaget dan duka hatinya ketika dia mendengar akan kematian muridnya! Kakek yang usianya sudah tujuh puluh tiga tahun ini menjatuhkan diri di atas kursi, mukanya pucat dan dia mendengarkan seperti kehilangan semangatnya akan penuturan Cia Keng Hong yang menceritakan semua dengan sejelas-jelasnya sehingga mengakibatkan Lie Kong Tek membunub diri untuk mewakili isterinya yang disangka membunuh orang itu.

Namun, sebagai seorang ahli kebatinan yang bertingkat tinggi, akhirnya kakek ini menarik napas panjang dan mengoyangkan pundak. “Aihhh, begitulah hidup! Ribut-ribut di kala masih hidup, kalau sudah mati habislah kesemuanya! Kematian datang tanpa disangka?sangka… ahhh, keadaanmu jauh lebih hebat daripada penderitaan batinku mendengar kematian muridku yang seperti anakku sendiri, Cia?taihiap. Baru saja delapan orang muridmu tewas, pusaka dicuri orang, kini puterimu kehilangan suami secara menyedihkan. Ahhh, di mana adanya cucu?cucuku?”

Ketika Lie Seng dan Lie Ciauw Si yang diberi tahu datang berlarian lalu menangis sambil memeluk kakek yang mereka kenal baik dan yang mereka sayang karena Hong Khi Hoatsu juga sering sekali mengunjungi mereka, amat menyayang mereka dan kakek yang lucu ini pandai menghibur mereka, tak dapat kakek itu menahan keharuan hatinya dan air matanya bertitik di atas kedua pipinya yang penuh keriput!

Beberapa hari kemudian, Hong Khi Hoatsu minta dengan sangat kepada Cia Keng Hong agar diperkenankan membawa Lie Seng bersamanya, kembali ke Sin?yang menempati rumah muridnya itu sampai kembalinya Giok Keng. Dia merasa kesunyian setelah muridnya meninggal dan mantunya pergi, padahal kakek yang suka merantau ini menganggap rumah muridnya di Sin?yang sebagai tempat peristirahatan terakhir di hari tuanya. Dia ingin ditemani oleh cucunya yang disayangnya itu. Cia Keng Hong maklum akan penderitaan kakek itu, maka setelah bersepakat dengan isterinya, dan melihat betapa Lie Seng juga suka ikut bersama kakek itu, mereka menyetujui dan berangkatlah Hong Khi Hoatsu bersama Lie Seng kembali ke Sin?yang.

Suasana berkabung masih meliputi Cin?ling?pai. Semenjak terjadi peristiwa yang bertubi?tubi menimpa keluarganya itu, Cia Keng Hong lebih sering berada di dalam kamarnya dan bersamadhi. Kalau dia teringat akan nasib yang menimpa suami isteri Yap Cong San dan Gui Yan Cu, dua orang yang paling dikasihinya disamping isteri dan anak?anaknya sendiri, dia merasa terharu dan kasihan sekali. Peristiwa?peristiwa menyedihkan menimpa suami isteri itu (baca cerita Siang?bhok-kiam), kemudian mereka berdua itu terbunuh musuh-musuh di waktu usia mereka masih muda (baca cerita Petualang Asmara), dan kini putera mereka juga mengalami nasib yang buruk, kematian isterinya yang tercinta secara tidak wajar karena terbunuh orang dengan menggelap, dan puteri mereka berobah menjadi seorang dara yang biarpun berkepandaian sangat tinggi akan tetapi wataknya dingin dan menyeramkan!

Sie Biauw Eng juga mengalami pukulan batin yang berat, akan tetapi berkat adanya cucunya, Lie Ciauw Si, dia memperoleh hiburan dan setiap hari dia tidak pernah terpisah dari cucunya ini yang digemblengnya sendiri dengan ilmu?ilmu bun (tulis) dan bu (silat). Cin?ling?pai berada dalam keadaan prihatin!

***

Kota Kiang?shi bukan hanya terkenal karena kota itu cukup ramai dengan perdagangan, akan tetapi terutama sekali terkenal karena kota itu merupakan kota tempat hiburan. Ingin mencari wanita?wanita pelacur yang paling terkenal cantik dan pandai melayani kaum pria, golongan paling rendah sampai paling tinggi? Kiang?shi tempatnya! Ingin mengadu peruntungan dengan perjudian, sehingga dalam waktu semalam saja, seorang jutawan bisa kehabisan seluruh uangnya dan seorang biasa mungkin saja, biarpun agak langka, mendadak menjadi jutawan? Di Kiang?shi pula tempatnya!

Seorang seniman jalanan yang menceritakan keadaan kotanya yang tercinta itu dengan sajak-sajak sederhana yang dinyanyikan dengan suara serak dan iramanya dituntun oleh suara dua potong bambu yang dijepit di antara jari?jari tangannya sehingga menimbulkan suara “trak-tak-trak-tak-tak!” bernyanyi-nyanyi di depan toko-toko dan warung-warung mengharapkan sedekah orang. Penyanyi-penyanyi jalanan seperti ini kadang-kadang menggambarkan keadaan kota Kiang-shi dengan hidup sekali, bahkan tidak jarang di antara mereka yang memasukkan di dalam nyanyiannya itu cerita-cerita sensasi dan gosip tentang orang-orang tertentu di dalam kota sehingga banyak juga orang yang berminat mendengarkan mereka untuk sekedar mengetahui berita apa yang hangat dan yang dapat memancing ketawa sinis mereka hanya dengan mengeluarkan uang kecil sepotong.

Seorang pemuda yang berpakaian sederhana dan berwajah tampan berjalan-jalan malam hari ini, menyusuri jalan raya yang dipenuhi orang-orang yang berjalan hilir-mudik di kedua tepi jalan di mana toko-toko berjajar-jajar dengan penuh segala macam barang dagangan. Sinar-sinar penerangan berpencaran keluar dari toko-toko itu sehingga suasana menjadi meriah dan semua orang yang lalu lalang itu rata-rata berwajah gembira.

Sudah beberapa pekan lamanya pemuda itu yang bukan lain adalah Cia Bun Houw, meninggalkan Cin-ling-san dan pada sore hari itu dia tiba di kota Kiang-shi dalam penyelidikannya untuk mencari musuh-musuh besar Cin-ling-pai, yaitu Lima Bayangan Dewa yang hanya dia ketahui nama-nama dan julukan mereka akan tetapi tidak diketahuinya di mana tempat tinggal mereka itu. Setiap tokoh kang-ouw yang ditanyai, tidak ada yang tahu dan agaknya mereka itu seperti takut-takut membicarakan tentang mereka, sehingga Bun Houw menduga bahwa andaikata ada yang mengetahui tempat tinggal merekapun, agaknya dia itu tidak akan berani menceritakan kepadanya. Maka pemuda itu lalu mengambil keputusan untuk menyelidiki dengan cara lain, yaitu dia akan mendekati kaum sesat dan akan masuk sebagai anggauta kaum sesat sehingga dia akan dianggap “orang dalam” dan tentu akan lebih mudah untuk menyelidiki mereka.

Tiba-tiba Bun Houw tertarik oleh seorang laki-laki setengah tua yang bernyanyi-nyanyi di depan toko besar di mana banyak berkerumun orang-orang yang mendengarkan nyanyian yang diiringi suara berketraknya bambu-bambu di antara jari-jari tangan orang itu. Bun Houw segera mendekati dan ikut pula mendengarkan. Suara orang ini cukup merdu dan kata-kata yang keluar dari mulutnya lancar dan jelas sehingga menarik perhatian banyak orang. Seperti para penyanyi jalanan lainnya, orang inipun menggambarkan keadaan kota Kiang-shi, akan tetapi kata-katanya berbeda dengan para penyanyi-penyanyi lain, yang hanya menghafal sehingga syair yang diulang-ulang itu tidak menarik lagi. Orang ini agaknya lain. Dia pandai mencari kata-kata sendiri yang selalu berubah-ubah, jadi bukan hafalan.

“Trak-tak, trak-tak, trak-tak-tak

Kiang-shi kota tersayang

hidup malam dan siang

Kiang-shi di waktu siang

orang-orang berdagang

saling catut dan kemplang

bahkan di waktu malam

berdagang kesenangan

Kiang-shi sebagai sorga

juga mirip neraka

pusat suka dan duka

panggung tangis dan tawa!”

Bun Houw tersenyum mendengar syair sederhana yang dinyanyikan orang itu. Diapun melemparkan sekeping uang tembaga ke dalam topi yang ditelentangkan di atas tanah seperti yang dilakukan oleh para penonton. Penyanyi ini bernyanyi terus, lebih bersemangat sekarang. Syairnya lebih bebas, tidak merupakan baris-baris dari tujuh suku kata untuk mengimbangi bunyi iringan suara bambu yang tujuh kali, melainkan kini merupakan syair dan nyanyian bebas yang seperti kata-kata berirama, kadang-kadang diseling suara berketraknya bambu-bambu di jari tangannya.

“Isteri anda di rumah cerewet

dan marah?

jangan khawatir, pergilah kepada

rumah merah terpencil

di belakang kuil,

di sana kerling dan senyum manis

dijual murah,

besok pagi ciuman mesra mengiring,

anda pulang dengan saku

dan tulang punggung kering!”

Semua orang tertawa mendengar kata-kata yang lucu ini. Dia sendiri belum dapat menangkap dengan jelas arti dari nyanyian itu, dan kalau Bun Houwpun ikut tersenyum adalah karena dia mendengar dan melihat orang-orang lain tertawa, suasana di tempat itu memang menggembirakan.

Bun Houw memandang ke kanan kiri. Dia ingin mencari tempat penginapan dan dia tahu bahwa rumah merah terpencil di belakang kuil, rumah Ciauw-mama itu, dimana kerling dan senyum manis dijual murah, pasti bukanlah merupakan rumah yang dibutuhkan untuk bermalam di malam itu. Akan tetapi sebelum dia meninggalkan tempat itu, dia mendengar lagi orang itu melanjutkan nyanyiannya.

“Anda ingin menjadi jutawan?

Pergilah ke Hok-po-koan!

Kalau bintang anda terang

dalam semalam anda menjadi hartawan!

Kalau bintang anda gelap?

Dalam semalam

Menjadi jembel kelaparan!”

Kembali semua orang tertawa, dan dia menaruh perhatian ketika penyanyi itu melanjutkan nyanyiannya setelah tersenyum lebar, menyambut suara ketawa penonton dan pendengarnya.

“Akan tetapi hati-hatilah

jangan main gila di Hok-po-koan!

Salah-salah leher bisa putus

disambar sinar pedang setan

belum lagi kalau ketahuan

oleh Lima Bayangan!”

Bun Houw terkejut sekali dan dia memandang penyanyi itu lebih teliti. Dia itu orang biasa saja dan kini setelah nyanylannya habis, dia mengumpulkan kepingan uang tembaga dan berjalan meninggalkan tempat itu, agaknya untuk bernyanyi di lain tempat lagi.

“Twako, perlahan dulu…” Bun Houw menegurnya dari belakang. Orang itu berhenti dan membalikkan tubuhnya, memandang penuh keheranan dan keraguan. Akan tetapi karena yang menegurnya itu hanya seorang pemuda berpakaian biasa dan sederhana, hatinya lega an dia bertanya apa yang dikehendaki oleh pemuda itu.

“Twako, aku tadi mendengar nyanyianmu yang amat indah dan aku ingin mengundangmu minum arak dan mengobrol…”

“Ah, hiante, engkau terlalu memuji. Aku hanya seorang miskin yang…”

Jangan merendahkan diri, twako. Engkau seorang seniman.”

“Aku? Seniman? Ha-ha, jangan mengejek, hiante.”

“Marilah, twako. Ataukah engkau memandang rendah kepadaku sehingga menolak tawaran dan ajakanku?”

“Ah mana aku berani? Baikna, dan terima kasih, hiante.”

Mereka lalu memasuki sebuah kedai arak. Bun Houw memesan mi, daging, dan arak. Mereka makan minum dengan lahap dan setelah minum araknya dan mengelus perutnya, orang itu berkata, “Aih, dasar perutku yang bernasib baik malam ini, bertemu dengan seorang dermawan seperti engkau, hiante. Sekarang aku ingin bertanya secara sungguh-sungguh, apakah benar engkau menganggap aku seorang seniman, hiante?”

“Tentu saja! Mengapa tidak? Engkau seorang seniman dan kiraku tidak ada seorang yang akan dapat membantah kenyataan ini,” kata Bun Houw, bersungguh-sungguh pula karena dia memang bukan berpura-pura atau menjilat.

“Ahhh, kalau saja semua orang berpendapat seperti engkau, alangkah menghiburnya pendapat itu. Akan tetapi, orang muda, tidak banyak yang sudi menganggap aku seorang seniman. Apalagi mereka yang duduk di tempat tinggi, mereka yang menganggap diri mereka kaum cendekiawan, kaum sasterawan, dan para sarjana dan siucai. Mereka memandang rendah orang-orang macam kami, bahkan menganggap kami merusak seni, menganggap kami seniman kampungan, picisan dan rendah, yang katanya hanya menjual kesenian belaka, seorang pengemis yang mencari sesuai nasi dengan menjual suara…”

“Itu hanya pendapat orang-orang yang kepalanya besar akan tetapi berisi angin kosong belaka, orang-orang yang menganggap diri sendiri sepandai-pandainya orang dan sebersih-bersihnya orang. Orang-orang macam inilah yang amat berbahaya, mereka ini adalah orang-orang sombong dan tinggi hati dan tidak ada yang lebih bodoh daripada mereka yang menganggap dirinya sendiri pandai. Tidak ada orang yang lebih kotor daripada mereka yang menganggap dirinya sendiri bersih.”

“Hayaa…! Sungguh baru sekarang aku mendengar pendapat seperti engkau ini, hiiinte! Aku hanya penyanyi yang menjual suara…”

“Apa salahnya dengan seorang seniman yang mendapatkan nafkah hidupnya dari karya seninya? Senimanpun manusia biasa yang membutuhkan makanan, pakaian dan rumah!”

“Hiante, kalau begitu pendapatmu, bagimu apakah artinya kesenian? Apakah kesenian itu?”

“Karya seni adalah suatu karya yang mengandung keindahan keadaan dan macamnya tidak bisa ditentukan oleh manusia, segi-segi keindahannyapun tidak bisa ditentukan dan digariskan, karena kalau sudah digariskan itu bukan seni namanya. Kalau karya seni ditentukan sifatnya, maka yang menentukan itu adalah orang-orang yang mempunyai kecondongan suka atau tidak suka dan memang penilaian tergantung sepenuhnya kepada rasa suka dan tidak suka itu. Alam merupakan seniman yang maha besar dan satu di antara karya seninya adalah hujan. Apakah semua orang menyukai hujan atau membencinya? Belum tentu! Tergantung dari untung rugi yang diakibatkah oleh hujan tadi bukan? Nah, karya senipun demikian. Yang jelas, jika mengandung keindahan yang dapat dinikmati oleh segolongan orang, itulah seni. Nyanyianmu tadi banyak yang menikmatinya dan bagi yang menikmatinya tentu dianggap baik, akan tetapi bagi orang lain mungkin saja dianggap bukan seni bahkan merusak.”

Penyanyi itu bangkit berdiri dan menjura kepada Bun Houw. “Sungguh hebat! Terima kasih sekali, hiante. Engkau masih begini muda akan tetapi pandanganmu mengandung keadilan besar dan sekaligus engkau telah mengangkat aku dari jurang di mana aku selalu merasa rendah diri dan hina. Kini, aku akan lebih berani lagi mengungkapkan segala keadaan dan kepincangan perikehidupan manusia di Kiang-shi, biarlah aku mewakili semua keadaan yang tidak adil itu dan kunyatakan dalam nyanyianku. Kaudengar saja nanti!” Dia bersemangat sekali nampaknya.

“Akan tetapi apa kau tidak takut akan sinar pedang setan dan Lima Bayangan, twako?” Bun Houw kini mengarahkan percakapan kepada tujuan penyelidikannya.

“Heh? Apa maksudmu?” orang itu bertanya.

Bun Houw tersenyum. “Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya aku teringat tadi engkau menyebut-nyebut sinar pedang setan dan Lima Bayangan dalam nyanyianmu. Bagian-bagian itu belum kumengerti benar. Apa dan siapakah pedang setan di Hok-po-koan itu, twako?”

“Hemm, agaknya engkau bukan orang Kiang-shi…”

“Memang bukan. Aku baru saja memasuki Kiang-shi, maka aku mengharapkan petunjuk darimu, twako.”

“Jangan khawatir, hiante. Aku lahir di sini dan aku mengenal semua keadaan di kota yang kucinta ini. Kau boleh bertanya apa saja kepadaku.”

“Aku kadang-kadang suka juga bermain judi, twako. Hanya untuk iseng-iseng saja, bukan ingin menjadi jutawan, apalagi menjadi jembel kelaparan seperti dalam nyanyianmu tadi.”

Orang itu tertawa.

“Aku ingin mencoba peruntungan di Hok-po-koan, akan tetapi aku ragu-ragu mendengar nyanyianmu tentang sinar pedang setan dan Lima Bayangan. Harap kau menjelaskan kepadaku.”

“Ah, itukah?” Penyanyi itu menengok ke kanan kiri, lalu berbisik, “Sebaiknya kita keluar dari sini dan bicara di jalan yang sunyi.”

Bun Houw mengangguk, membayar makanan dan mereka lalu berjalan keluar, menuju ke jalan yang sunyi dan meyimpang dari jalan raya itu.

“Pemilik Hok-po-koan adalah seorang bernama Liok Sun dan dia berjuluk Kiam-mo (Setan Pedang). Kabarnya dia berkepandaian tinggi sekali dan karena itu di tempat perjudiannya tidak ada yang berani bermain gila. Bahkan dulu pernah ada tujuh orang penjahat yang hendak merampas banyak uang di po-koan (tempat perjudian), akan tetapi mereka semua roboh oleh pedang di tangan orang she Liok itu! Di Kiang-shi, nama orang itu terkenal sekali, bahkan para pembesar bersahabat dengannya. Nah, karena itu maka kusinggung dalam nyanyian agar orang yang bermain judi di Hok-po-koan jangan bermain gila.”

Bun Houw mengangguk-angguk. “Dan tentang Lima Bayangan itu?” dia bertanya sambil lalu seperti tidak menaruh perhatian khusus.

“Ah, kau tidak tahu, hiante. Pada waktu itu, di dunia kang-ouw timbul kegemparan karena Lima Bayangan…”

“Dewa? Lima Bayangan Dewa kaumaksudkan?”

“Ehhh…?” Orang itu memandang Bun Houw dengan mata terbelalak. “Kau… tahu?”

Bun Houw menggeleng kepala. “Aku hanya mendengar bahwa ada tokoh-tokoh besar muncul di dunia dan disebut Lima Bayangan Dewa! Mengapa kausebut-sebut mereka dalam nyanyianmu?”

“Aku hanya sering menengar bahwa Kiam-mo Liok Sun itu suka sekali memamerkan dan menyombongkan di luaran bahwa dia adalah sahabat dari Lima Bayangan Dewa! Semua orang, termasuk aku, tidak percaya, maka untuk mengejek kesombongannya itu, aku membawa Lima Bayangan dalam nyanyianku.”

Bun Houw memandang tajam. “Jadi engkau tidak tahu apa-apa tentang Lima Bayangan Dewa?”

Orang itu menggeleng.

“Dan majikan Hok-po-koan (Tempat Perjudian Mujur) itu bilang bahwa dia sahabat Lima Bayangan Dewa?”

Orang itu mengangguk. “Demikian yang dikatakan orang.”

“Terima kasih, twako. Nah, selamat malam dan jangan lupa bahwa engkau adalah seorang seniman tulen dan jangan perdulikan mereka yang mencemoohkanmu. Anggap saja mereka itu anjing-anjing menggonggong.”

“Akan tetapi mereka itu kaum sasterawan cabang atas, kaum cendekiawan…”

“Kalau begitu mereka itupun hanya sekumpulan anjing-anjing bangsawan yang menggonggong belaka dan anjing apapun,

gonggongannya tetap sama!” Bun Houw berkata sambil membalikkan tubuh dan pergi meninggalkan penyanyi itu, langsung mencari keterangan tentang tempat perjudian Hok-po-koan yang mudah saja dia dapat dari orang yang berlalu-lalang karena semua orang tahu belaka di mana adanya Hok-po-koan itu.

Hok-po-koan merupakan sebuah tempat judi terbesar di Kiang-shi. Kebetulan sekali tempat itu berada di dekat sebuah losmen, maka Bun Houw lalu menyewa sebuah kamar di losmen itu. Setelah mandi dan bertukar pakaian yang lebih bersih, pemuda ini lalu pergi ke Hok-po-koan dengan lagak seperti seorang pemuda beruang yang sudah biasa dengan perjudian. Tentu saja sebelumnya dia tidak pernah memasuki tempat judi, apalagi berjudi.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: