Dewi Maut (Jilid ke-22)

Bun Houw menjadi bingung. Bukan maksudnya seujung rambutpun untuk menjadi pembantu bandar judi ini! Akan tetapi agaknya dari orang inilah dia akan berhasil menemukan musuh-musuh besamya yang sudah sekian lamanya dicari tanpa ada hasilnya. Betapapun juga, dia tidak mau sembarangan turun tangan membantu Liok Sun memusuhi orang lain yang tidak ada sangkut-pautnya dengan dirinya sama sekali, apalagi sebelum dia ketahui apa sebabnya Liok Sun memusuhi orang itu.

“Aku telah menjadi pembantumu, sudah sepatutnya kalau aku membantumu, Liok-twako. Akan tetapi, siapakah musuh besarmu itu dan kalau boleh aku mengetahui agar jelas bagiku dan tidak meragukan tindakanku, mengapa twako bermusuhan dengan dia?”

Liok Sun Si Pedang Setan itu menghela napas panjang dan tiba-tiba wajah yang tampan itu berobah keruh dan muram tanda bahwa pertanyaan itu menimbulkan kenangan yang amat mendukakan hatinya.

“Semua orang mengenalku sebagai Liok Sun Si Pedang Setan, akan tetapi sesungguhnya, baru engkaulah yang mendengar bahwa dahulu namaku adalah Sun Bian Ek. Aku dahulu bukan orang baik-baik sungguhpun aku tidak pemah berhati kejam kepada siapapun yang tidak bersalah dan aku dahulu adalah seorang perampok tunggal yang telah mengundurkan diri dan bertobat, lalu menjadi pedagang hasil bumi.” Liok Sun mulai menuturkan keadaan dirinya.

Setelah mengundurkan diri dari dunia hitam dan menjadi pedagang hasil bumi, Liok Sun menikah dan hidup bahagia dengan isterinya yang cantik sampai mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang mungil. Akan tetapi, malapetaka menimpa keluarganya dan hal ini tidak dapat dilepaskan dari cara hidupnya dahulu ketika dia masih menjadi perampok. Pihak pemerintah mengadakan pembersihan, menangkapi banyak sekali orang-orang dunia hitam di kota Koan-hu dan sekitamya. Dalam pembersihan ini, Liok Sun atau yang dahulu bemama Sun Bian Ek ikut pula ditangkap! Kepala pasukan keamanan di kota itu yang bemama Phang Un agaknya tahu akan riwayat hidup pedagang Sun Bian Ek maka biarpun semua orang terheran mengapa pedagang itu ikut ditangkap, namun Sun Bian Ek sendiri tidak dapat menyangkal bahwa dia dahulu adalah perampok dan dia tidak lepas dari pandang mata tajam dari Phang Un. “Aku dijatuhi hukuman buang ke daerah utara untuk bekerja paksa memperbaiki saluran kota raja.” Liok Sun melanjutkan penuturannya. “Semua itu tidak menyakitkan hatiku karena akupun maklum, bahwa kesesatanku yang lalu sudah sepatutnya menerima hukuman. Akan tetapi, dapat kaubayangkan bagaimana rasanya perasaanku ketika aku mendengar bahwa sesungguhnya yang menjadi sebab mengapa aku yang sudah mencuci tangan itu ditangkap, sama sekali bukan dikarenakan dosa-dosaku yang lalu, melainkan karena isteriku…”

Eh…? Apa maksudmu, twako?” tentu saja Bun Houw terkejut dan heran mendengar arah cerita yang sama sekali menyimpang dan tidak disangka-sangkanya itu.

“Sehari setelah aku ditangkap, isteri dan anakku diboyong ke gedung si keparat Phang Un!”

“Ah, jadi dia merampas isteri dan anakmu?”

Liok Sun mengangguk. “Mula-mula kusangka demikian. Di utara, aku tertolong oleh seorang tokoh hitam yang kusangka adalah seorang di antara Lima Bayangan Dewa, orang yang kumaksudkan tadi. Setelah aku bebas, diam-diam aku mengganti namaku dan membuka rumah judi di kota Kiang-shi ini. Sambil mengumpulkan harta dan kekuatan, aku menanti kesempatan baik untuk membalas dendam dan baru aku mengerti bahwa di antara keparat itu dan isteriku memang sudah terjalin hubungan sebelum peristiwa penangkapan itu terjadi. Kau tahu, aku adalah seorang pedagang hasil bumi di waktu itu, sering keluar kota sampai berhari-hari, dan Phang Un adalah kepala pasukan keamanan yang setiap malam boleh saja meronda dan memeriksa, maka…” Liok Sun menarik napas panjang dan tidak melanjutkan, akan tetapi Bun Houw sudah dapat membayangkan apa yang terjadi antara isteri yang tidak setia itu dan si kepala pasukan keamanan yang mata keranjang.

“Hemm, memang patut dihajar dia!” kata Bun Houw.

Demikianlah, karena merasa simpati mendengar riwayat Liok Sun, pada suatu pagi, beberapa hari kemudian, berangkatlah kedua orang ini menuju ke kota Koan-hu yang tidak begitu jauh letaknya dari Kiang-shi. Malamnya, mereka berdua telah bergerak seperti dua ekor kucing di atas genteng rumah-rumah orang, dan berhasil meloncati pagar tembok yang mengurung gedung tempat tinggal Phang-ciangkun (Perwira Phang) tanpa diketahui para perajurit yang berjaga di sekitar tempat itu. Para penjaga itu memang agak lengah, karena mereka tidak percaya bahwa ada orang yang berani mati mengganggu rumah perwira itu.

Dengan berindap-indap, akhirnya Liok Sun dan Bun Houw mengintai dari sebuah jendela kamar, Bun Houw melihat seorang wanita yang cantik berdandan mewah sedang duduk menyulam di dalam kamar itu. Wanita yang berpakaian mewah dan pesolek, usianya antara tiga puluh lima tahun, kulitnya putih dan pinggangnya ramping. Tidak ada orang lain lagi di dalam kamar itu, Bun Houw merasa betapa napas temannya memburu dan tahulah dia bahwa wanita itulah agaknya isteri tidak setia itu. Dengan gerak tangannya, Liok Sun menyuruh Bun Houw berjaga di luar jendela dan dia sendiri hendak menerjang masuk, Bun Houw hanya mengangguk. Tadi dia telah berpesan kepada Liok Sun agar “majikannya” itu tidak sembarangan turun tangan dan hanya berurusan dengan musuh-musuhnya saja, jangan melibatkan orang-orang lain dan pasukan keamanan pemerintah.

Dengan kekuatan tangannya, Liok Sun mendorong daun pintu yang patah kuncinya dan seperti seekor burung dia melayang masuk ke dalam kamar itu. Bun Houw mengintai di luar jendela.

Wanita itu menjerit dan bangkit berdiri, seketika menjadi pucat wajahnya dan kain yang disulamnya terlepas dari tangannya dan segulung benang sulam jatuh menggelinding di sudut kamar.

“Kanda… Sun Bian Ek…!” Tubub wanita itu menggigil dan suaranya menggetar. “Kau… kau… masih hidup…?”

Liok Sun atau Sun Bian Ek memandang dengan muka merah dan mata berapi, suaranya dingin dan penuh penyesalan, “Perempuan hina, andaikata sudah matipun aku akan bangkit untuk mengutukmu. Kau perempuan hina, isteri yang khianat hendak kulihat bagaimana macamnya hatimu!”

Mata itu makin terbelalak, mukanya makin pucat. “Tidak… ahh, jangan kau salah sangka…!” Wanita itu menangis dan menjatuhkan dirinya berlutut di atas lantai di depan bekas suaminya itu. “Kau… suamiku… kau salah sangka… aku… aku tidak berkhianat padamu…”

“Hemmm, siapa percaya mulutmu yang palsu? Kau masih berani menyangkal bahwa sebelum aku ditangkap dahulu, diam-diam engkau telah menjual dirimu yang kotor dan hina kepada si jahanam Phang Un?”

“Tidak… tidak… itu fitnah belaka… kau dengarlah… aku memang tidak pernah berani berterus terang akan terjadinya malapetaka di malam itu… pada suatu malam ketika engkau pergi berdagang… dia datang dan mengancam akan membunuh anakku jika aku tidak mau melayaninya… dengan ujung golok di leher anakku, apa dayaku…? Kanda Bian Ek… malam itu, untuk menyelamatkan nyawa anakku… aku terpaksa… melayaninya dan… dan setelah kau ditangkap, aku diboyong ke sini… apakah dayaku sebagai seorang wanita lemah?”

Liok Sun memandang bekas isterinya itu. Dia amat mencinta wanita ini dan selama lima tahun ini semenjak mereka berpisah, dia selalu mengenangkan kemesraan yang telah dialaminya bersama isterinya. Kini, mendengar cerita itu, dia tertegun dan tidak tahu harus berbuat apa terhadap isterinya yang kini menangis sesenggukan itu.

“Di mana adanya anakku, di mana? Aku harus membawa dia pergi dari sini, dan di mana jahanam itu? Akan kubunuh dia…”

Wanita itu kelihatan terkejut sekali, lalu bangkit berdiri dan dengah sikap ketakutan dia mundur-mundur sambil menggeleng kepala berkali-kali dan berkata, “Jangan… tidak… jangan…!”

Pada saat itu terdengar suara ribut-ribut dari belakang dan tiba-tiba saja wanita itu menoleh dan lari ke arah pintu belakang sambil menjerit, “Toloong…! Ada penjahat…! Tolooooong…!”

“Keparat, perempuan hina…!” Kiam-mo Liok Sun menjadi marah sekali. Segala keraguan akan kesalahan isterinya setelah mendengar cerita tadi lenyap sama sekali dan dia tahu bahwa isterinya tadi hanya membodohinya untuk mengulur waktu agar para penjaga mendengar dan tahu akan kedatangan bekas suaminya ini. Dalam kemarahannya yang meluap, Liok Sun mencabut pedangnya dan sinar pedangnya menyambar dari belakang tubuh bekas isterinya. Wanita itu menjerit mengerikan dan roboh dengan punggung tertusuk pedang sampai tembus ke dadanya.

“Ibu…!” Seorang anak perempuan berusia kurang lebih sepuluh tahun, berlari masuk. Melihat anak ini, Liok Sun cepat menyambarnya dengan tangan kiri.

Dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika tiba-tiba ada angin menyambar dari samping dan berkelebatnya bayangan sinar terang. Dia menggerakkan pedang menangkis.

“Cringg… aduhhh…!” Liok Sun berteriak karena pundaknya yang kanan tetap saja keserempet golok yang dipegang oleh seorang laki-laki tinggi besar yang telah menyerangnya secara tiba-tiba. Karena tadi dia baru saja mencabut pedang dari tubuh bekas isterinya lalu menyambar anaknya dengan tangan kiri, maka ketika mendadak diserang, tangkisannya kurang cepat sehingga dia terluka oleh laki-laki yang bukan lain adalah Phang Un itu.

Melihat betapa isterinya terbunuh dan anak tirinya dirampas, dan mengenal Sun Bian Ek, perwira ini marah sekali. Dia mengeluarkan teriakan untuk memanggil semua pengawalnya, kemudian goloknya bergerak menerjang Liok Sun yang sudah terluka.

“Plakkk…!” Perwira itu terhuyung dan goloknya terlepas dari tangannya ketika Bun Houw yang meloncat masuk menepuk bahu kanannya dari belakang. Pemuda ini tadi merasa terkejut ketika melihat Liok Sun membunuh bekas isterinya, hal yang sama sekali tidak disangka-sangkanya, sungguhpun dia maklum pula akan kepalsuan wanita itu. Karena tertegun menyaksikan peristiwa mengerikan antara suami isteri yang tentu dahulunya saling mencinta itu, maka dia terlambat menolong Liok Sun sehingga “majikannya” itu terluka pundaknya. Baru ketika melihat Liok Sun terluka, dia meloncat ke dalam dan sempat menggagalkan serangan maut Phang-ciangkun tadi.

“Keparat busuk kau…!” Llok Sun membentak ketika melihat Phang Un terbuyung, biarpun tangan kiri memondong anak perempuan itu dan pundak kanan sudah terluka, namun pedangnya masih berkelebat cepat sekali. Phang Un masih terkejut oleh tamparan yang bukan main kuatnya tadi. Dia masih terhuyung sambil memutar kepala untuk melihat siapa yang telah menampamya ketika sinar pedang berkelebat. Phang Un berusaha mengelak, akan tetapi hanya dua kali berturut-turut dia mampu mengelak. Sambaran pedang yang ketiga kalinya mengena sasaran dan robohlah Phang Un dengan leher yang hampir buntung terbabat pedang Liok Sun.

Pada saat itu, datanglah belasan orangg perajurit dan pengawal ke tempat itu. Melihat Liok Sun hendak mengamuk, Bun Houw cepat berkata, “Liok-twako, hayo kita pergi…!”

Liok Sun juga maklum betapa berbahayanya untuk menentang penjaga keamanan, maka melihat pembantunya itu sudah menerjang keluar kamar dan dengan mudahnya pemuda itu membuat lima enam orang pengawal terlempar ke kanan kiri, diapun lalu mengikuti Bun Houw dan setelah Bun Houw merobohkan lagi beberapa orang, mereka berdua berhasil meloncat ke atas genteng dan menghilang di kegelapan malam.

Peristiwa itu membuat Liok Sun makin percaya kepada Bun Houw. Diapun tidak melupakan dan mengingkari janjinya. Setelah dia menitipkan puterinya kepada seorang sahabat baiknya, Liok Sun lalu mengajak Bun Houw untuk pergi mengunjungi seorang kenalannya, yang juga merupakan penolongnya ketika dia dihukum buang di utara, dapat juga disebut bekas kekasihnya, yang dianggapnya mungkin seorang di antara Lima Bayangan Dewa. Dan memang anggapannya ini tidaklah keliru karena wanita yang dimaksudkannya ini bukan lain adalah Hui-giakang Ciok Lee Kim. Ketika Bun Houw diberi tahu bahwa yang dimaksudkan itu adalah Hui-giakang Ciok Lee Kim, tentu saja hatinya merasa girang sekali. Tidak percuma dia mendekati Liok Sun, karena ternyata orang ini benar-benar hendak membawanya ke rumah seorang di antara Lima Bayangan Dewa yang dicari-carinya. Maka berangkatlah mereka dengan menunggang kuda dan Liok Sun melakukan perjalanan ini dengan senang hati karena diapun perlu sekali untuk beberapa lamanya meninggalkan Kiang-shi sampai keributan yang terjadi di kota Koan-hu itu menjadi dingin kembali.

***

Hong Khi Hoatsu yang usianya sudah tujuh puluh tiga tahun itu menggandeng tangan Lie Song dengan wajah muram, memasuki pekarangan rumah Lie Kong Tek, muridnya yang telah tewas itu. Peristiwa yang menyedihkan menimpa keluarga murid tunggalnya yang sudah dianggap sebagai puteranya sendiri itu, dan peristiwa itu menambah keriput di wajah kakek ini dan menambah uban di kepalanya. Andaikata tidak bersama Lie Seng, agaknya Hong Khi Hoatsu tidak akan sanggup memasuki pekarangan rumah mendiang muridnya itu.

“Sukong (kakek guru), alangkah sunyinya rumah kita…” Lie Seng berkata. Ucapan anak kecil ini terasa seperti pedang menusuk ulu hati Hong Khi Hoatsu. Dia menghela napas panjang dan melihat kenyataan betapa kehidupan manusia penuh dendan suka duka, namun dukalah yang lebih banyak kalau dibandingkan dengan suka. Betapa keadaan hidup sama sekali tidak menentu. Muridnya, Lie Kong Tek, tadinya hidup bahagia dengan isteri dan dua orang anaknya, akan tetapi dalam sekejap mata saja keadaan penuh bahagia itu berubah sama sekali berubah secara hebat dan kebahagiaan kini berobah menjadi kesengsaraan lahir batin yang menyedihkan. Muridnya atau puteranya itu tewas membunuh diri, mantunya pergi mencari penjahat yang belum ketahuinya siapa dan dua orang cucunya kehilangan ayah bunda! Tentu hidup terasa makin tidak menyenangkan bagi orang setua dia, terasa makin sunyi dan tentu saja rumah di Sin-yang yang biasanya penuh kegembiraan dengan suara ketawa dua orang cucunya dan senyum manis mantunya, gelak tawa muridnya kini hanya membangkitkan kenangan yang telah lenyap.

Kita manusia hidup memang selalu menjadi permainan suka dan duka apabila kita masih terbelenggu oleh segala ikatan. Selama batin kita masih belum bebas dari rasa takut akan kesunyian, kita selalu mencari sandaran dan kita mengikatkan diri dengan segala yang anggap akan mendatangkan kesenangan abadi. Kita selalu mengejar kesenangan dan menuntut kesenangan dari segala sesuatu sehingga kita mengikatkan diri dengan isteri, dengan keluarga, dengan kedudukan, dengan harta, dengan nama dan sebagainya. Pengikatan diri dengan semua ini dasarnya karena diri pribadi yang selalu menonjolkan pencarian kesenangan baik kesenangan duniawi maupun kesenangan rohani. Kalau sewaktu-waktu kita diharuskan terpisah dengan semua itu, tentu saja menimbulkan duka dan sengsara yang sama artinya dengan kekecewaan karena kesenangan kita dirampas.

Sesungguhnya bahwa suka maupun duka bersumber kepada hati dan pikiran kita sendiri, tergantung dari bagaimana kita menanggapi dan menghadapi semua yang terjadi pada diri kita. Kebanyakan orang menganggap bahwa kesenangan juga berarti kebahagiaan dan sumbernya terletak di harta, kedudukan, nama dan sebagainya. Betapa bodohnya anggapan seperti itu, betapa dangkalnya. Di manakah letak kekayaan? Apakah di kantong baju, di peti uang dan harta benda? Bukan, melainkan di dalam hati dan pikiran sendiri. Biarpun orang memiliki lima buah gunung emas, apabila dia masih merasa kurang maka dia adalah miskin dan akan terus mengejar kekayaan dengan tamaknya. Orang yang mengantongi uang satu juta adalah orang miskin apabila dia menginginkan barang yang lebih dari jumlah itu harganya. Orang tidak akan mampu menikmati, tidak akan mampu melihat keindahan, dari apapun yang berada di dalam tangannya, betapapun tinggi nilai benda itu, apabila dia menginginkan barang yang lain daripada yang telah dimilikinya. Dan orang yang selalu diperhamba oleh nafsu keinginannya, takkan pernah merasa cukup dan takkan pernah dapat mengerti apa yang dinamakan keindahan, apa yang dinamakan kebahagiaan hidup.

Sebaliknya, orang yang sudah bebas batinnya dari semua ikatan, menghadapi kehidupan dengan segala macam peristiwanya dengan hati terbuka, dengan perasaan lapang, dengan gembira dan tidak pernah dia tenggelam di dalam duka maupun suka. Bagi dia, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini mengandung hikmah kehidupan yang luar biasa, yang indah dan wajar sehingga dia tidak lagi mengenal apa artinya kecewa, karena dia tidak mengejar apa-apa, tidak mengharapkan apa-apa. Keadaan demikian ini membuat dia bebas dari suka duka, bebas dari arus lingkaran setan yang membuat manusia yang belum bebas dan belum sadar dalam bidupnya selalu jatuh bangun di antara suka dan duka. Akan tetapi betapa menyedihkan karena kebanyakan dari kita menerima keadaan hidup seperti ini! Kita menerimanya sebagai hal yang “sudah semestinya”. Hidup yang penuh dengan duka nestapa, kesengsaraan, pertentangan dan permusuhan, benci dan iri hati, segala macam kepalsuan di segala lapangan dan dalam segala macam bentuk perang, pembunuhan dan kelaparan, di antara semua kengerian ini dan hanya kadang-kadang saja ada kesenangan yang hanya lewat bagaikan sinar kilat sekali-kali, dan kita sudah menerima kehidupan macam ini sebagai hal yang semestinya! Kita selalu mengejar kesenangan, dengan suka rela menghambakan diri kepada pemuasan kesenangan sungguhpun kita tahu bahwa di balik dari semua kesenangan itu terdapat kesusahan yang mengintai dan siap menerkam korbannya, yaitu kita!

Tidak ada kekuasaan apapun di dunia ini dapat merubah semua kesengsaraan kehidupan yang bersumber di dalam diri pribadi, kecuali KITA SENDIRI. Bukan kita yang mengusahakan perobahannya. Kita tidak akan dapat merubah diri sendiri, akan tetapi dengan kewaspadaan dan kesadaran, dengan mengenal diri sendiri luar dalam, dengan pengawasan dan pengamatan setiap saat, akan timbul pengertian dan kesadaran, dan pengertian ini tanpa diusahakan, dengan sendirinya akan menghalau semua perintang dan penghalang dari perobahan. Pengertian yang mendalam inilah yang penting, bukan segala macam pengetahuan mati tentang filsafat atau kebatinan manapun, karena pengetahuan-pengetahuan itu hanya akan menjadi slogan mati, klise-klise lapuk yang hanya akan diulang-ulang oleh mulut, bahkan diperalat untuk membanggakan diri belaka.

“Sukong, mengapa begini sunyi? Ke mana perginya para pelayan?” Lie Seng berkata lagi dengan nada suara heran dan tidak enak. Anak berusia dua belas tahun ini telah dapat merasakan kehebatan malapetaka yang menimpa keluarganya, dan kini, mendekati rumah di mana dia dilahirkan, dia merasa perobahab hebat karena rumah itu kini seolah-olah merupakan tempat berkabung di mana tidak ada lagi ayahnya, ibunya, dan adiknya.

“Aku juga heran sekali…” kakek itu berkata dan hatinya terasa kurang enak karena kesunyian pekarangan rumah itu memang amat mencurigakan. Akan tetapi dia dan cucunya telah tiba di ruangan depan dan sudah terlambat karena tiba-tiba tampak bayangan berkelebatan dan tahu-tahu di ruangan depan itu berdiri empat orang laki-laki yang gerakannya ringan seperti setan.

Hong Khi Hoatsu belum pernah bertemu dengan keempat orang ini, maka dia memandang penuh perhatian, lalu mengangkat tangan ke depan dada sambil bertanya, “Maafkan kalau saya tidak mengenal su-wi (anda berempat). Siapakah kalian dan su-wi mencari siapa?”

Orang yang tertua di antara mereka, seorang kakek berusia enam puluh lima tahun akan tetapi masih kelihatan muda dan berwajah tampan, yang memakai pakaian serba putih, tertawa dan berkata kepada teman-temannya, “Kalian berhati-hatilah. Tukang sulap ini boleh jadi kepandaiannya tidak berapa tinggi, akan tetapi ilmu sihirnya berbahaya. Kalau dia mengeluarkan sihirnya, lawan dengan sin-kang dan tulikan telinga, butakan mata terhadap semua ucapan dan gerakannya.”

Mendengar ini, Hong Khi Hoatsu terkejut. Maklumlah dia bahwa empat orang ini, adalah orang-orang yang berilmu tinggi dan tentu membawa maksud buruk dengan kedatangan mereka yang aneh ini.

“Hong Khi Hoatsu, aku adalah Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok dan kedatangan kami adalah untuk bertemu dengan puteri dan cucu ketua Cin-ling-pai. Akan tetapi mereka tidak ada den kebetulan kau datang. Kau adalah mertua puteri ketua Cin-ling-pai, hayo katakan di mana dia dan anak-anaknya?”

“Manusia-manusia jahat, kalian mencari ibu mau apa?” Lie Seng yang masih dihimpit kedukaan itu menjadi marah sekali mendengar ucapan kakek itu. Hong Khi Hoatsu kaget sekali dan untuk mencegah cucunya bicarapun sudah terlambat.

“Ha-ha-ha, inikah puteranya? Anak baik, kau cucu ketua Cin-ling-pai? Ha-ha, sungguh kebetulan sekali!”

Sementara itu, Hong Khi Hoatsu menekan debar jantungnya. Biarpun dia belum pernah bertemu dengan mereka ini, namun mendengar nama Pat-pi Lo-sian, dia tahu siapakah mereka ini karena di Cin-ling-san dia sudah mendengar penuturan Cia Keng Hong tentang Lima Bayangan Dewa yang memusuhi Cin-ling-pai.

“Hemmm… kurang seorang lagi, bukankah Bayangan Dewa ada lima orang?” Hong Khi Hoatsu berkata. “Kalian datang berkunjung ada urusan apakah?”

“Ha-ha-ha, Hong Khi Hoatsu. Kami sudah kesal melihat rumah ini kosong, dan sungguh baik sekali engkau mengantar cucu ketua Cin-ling-pai kepada kami. Kauberikan anak itu kepada kami dan kami akan membiarkan engkau yang sudah tua ini untuk terus hidup beberapa tahun lagi.”

Hong Khi Hoatsu menjadl merah mukanya. “Kiranya Lima Bayangan Dewa yang terkenal gagah karena berani menentang Cin-ling-pai itu hanyalah orang-orang pengecut yang beraninya mengganggu anak kecil! Kalau memang gagah, mengapa kalian tidak langsung saja mendatangi Cin-ling-pai dan menantang ketuanya? Dia dan isterinya sudah siap untuk membasmi kalian.”

“Tua bangka cerewet! Serahkan anak itu atau terpaksa kami akan membunuhmu lebih dulu!”

“Haaiiitttt…! Siapa yang kaucari? Anak kecil ini tidak ada di sini!” Tiba-tiba Hong Khi Hoatsu berteriak dan… empat orang jagoan itu terkejut bukan main karena benar saja, tiba-tiba bocah itu lenyap berobah menjadi gulungan asap putih!

“Awas, jangan terpedaya. Serang…!” Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok berseru nyaring sambil mengerahkan khi-kangnya sehingga suaranya mengandung getaran dashsyat dan tubuhnya sudah bergerak ke depan mengirim pukulan bertubi secepat kilat dan mengandung kekuatan sin-kang yang hebat ke arah Hong Khi Hoatsu.

“Plak-plak-plak…!” Hong Khi Hoatsu berhasil menangkis serangan ini, akan tetapi dia terhuyung karena memang kalah kuat tenaganya oleh Si Dewa Tua Berlengan Delapan itu. Dan tiga orang Bayangan Dewa yang lain sudah pula menyerang dengan pukulan-pukulan yang amat dahsyat.

Hong Khi Hoatsu mengelak ke sana-sini dan terhuyung-huyung dalam keadaan terdesak hebat. Dia maklum bahwa dalam hal ilmu kepandaian silat, biar hanya menghadapi seorang saja di antara mereka, belum tentu dia akan menang, apalagi dikeroyok empat. Terutama sekali Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok benar-benar memiliki kepandaian yang hebat dan tenaga sin-kang yang besar. Dia hanya dapat mengandalkan ilmu hoatsut (sihir), akan tetapi karena empat orang itu sudah siap dan melindungi diri dengan kekuatan batin, kiranya tidak akan mudah baginya untuk dapat mempengaruhi mereka sekaligus.

“Berlutut engkau…!” bentaknya ketika pecut baja di tangan Toat-beng-kauw Bu Sit menyambar dan meledak di atas kepalanya. Bu Sit terkejut dan biarpun tadi dia sudah diperingatkan oleh Pat-pi Lo-sian, tetap saja dia terkejut, memandang dan tanpa dapat disadari atau dipertahankannya pula, dia sudah menjatuhkan diri berlutut sedangkan Liok-te Sin-mo Gu Lo It juga terhuyung karena dia juga memandang dan terpengaruh, biarpun sudah dia pertahankan dengan kekuatan batinnya.

“Ilmu setan!” Hok Hosiang yang berjuluk Sin-ciang Siauw-bin-sian (Dewa Tersenyum Bertangan Sakti) yang berkepala gundul itu dengan marah menggerakkan tangan kirinya dan tasbeh hijau yang merupakan senjata istimewa itu menyambar dan berobah menjadi sinar hijau menyambar ke arah dada Hong Khi Hoatsu. Kakek ini terkejut sekali dan mengelak, akan tetapi tetap saja pundak kirinya keserempet dan dia roboh terguling.

“Jangan pukul kakekku!” Tiba-tiba Lie Seng berteriak dan tentu saja kini dia kelihatan lagi oleh empat orang itu yang menjadi sangat girang. Karena Hong Khi Hoatsu terkena hantaman tasbeh, maka pengaruhnya terhadap dua orang tadipun membuyar dan mereka sudah meloncat bangun kembali. Hong Khi Hoatsu juga sudah meloncat dan menghadapi empat orang lawan tangguh itu dengan hati penuh kekhawatiran, mengkhawatirkan cucunya.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dari luar, “Bayangan Dewa, jangan banyak menjual lagak, kami dari Cin-ling-pai datang untuk membasmimu…!”

Girang hati Hong Khi Hoatsu ketika dia mengenal empat orang tua yang gagah itu, yang bukan lain adalah murid-murid kepala Cin-ling-pai atau orang-orang tertua dan sisa dari Cap-it Ho-han, yaitu Kwee Kin Ta, Kwee Kin Ci, Louw Bu dan Un Siong Tek! Empat orang murid utama dari Cin-ling-pai ini, seperti kita ketahui, juga segera meninggalkan Cin-ling-san setelah Bun Houw pergi, untuk berusaha mencari Lima Bayangan Dewa yang tidak hanya mencuri Siang-bhok-kiam, akan tetapi juga telah membunuh tujuh orang sute mereka. Dibandingkan dengan Bun Houw yang baru saja pulang dari Tibet dan masih belum mempunyai pengalaman banyak di dunia kang-ouw, tentu saja empat orang tokoh Cin-ling-pai ini jauh lebih luas pengalamannya dan kalau Bun Houw masih juga belum berhasil dalam penyelidikannya untuk menemukan musuh-musuh besar Cin-ling-pai, empat orang tokoh ini akhirnya dapat juga mencari musuh-musuhnya dan ketika mereka mendengar keterangan dalam penyelidikan mereka bahwa empat orang di antara Lima Bayangan Dewa itu pergi ke Sin-yang, mereka menjadi terkejut dan cepat melakukan pengejaran. Mereka merasa khawatir sekali kalau-kalau para musuh besar ini akan mengganggu puteri suhu mereka, yaitu Cia Giok Keng yang tinggal di Sin-yang bersama suaminya dan dua orang anaknya. Dalam kesibukan mereka menyelidiki musuh-musub besar Cin-ling-pai, empat orang ini sama sekali tidak tahu atau mendengar peristiwa yang menimpa keluarga suhu mereka.

Demikianlah, mereka tiba di rumah Giok Keng tepat pada saat Hong Khi Hoatsu dan Lie Seng terancam bahaya oleh empat orang dari Lima Bayangan Dewa itu. Ketika mereka muncul dengan pedang di tangan, Pat-pi Lo-sian terkejut dan marah. Dia memandang empat orang laki-laki tua yang berpedang dan berpakaian sederhana itu, lalu membentak, “Siapakah kalian?” Dia belum pernah bertemu dengan empat orang tertua dari Cap-it Ho-han ini maka biarpun tadi mereka mengaku sebagai orang-orang Cin-ling-pai, dia tidak dapat menduga siapa mereka.

Di lain fihak, Kwee Kin Ta dan tiga orang sutenya juga baru sekarang bertemu dengan mereka, maka Kwee Kin Ta yang mewakili para sutenya menjawab tenang dengan sikap gagah, “Lebih dulu kami ingin bertanya, apakah benar kalian empat orang yang sedang mengacau di sini berjuluk Lima Bayangan Dewa?”

Pat-pi Lo-sian tersenyum lebar, wajahnya yang gagah dan tampan itu penuh ejekan dan memandang rendah. “Kalau benar demikian, kalian mau apa? Siapakah kalian?”

“Kami adalah empat orang pertama dari Cap-it Ho-han dan memang sudah lama kami mencari kalian manusia-manusia keji yang telah membunuh para sute kami,” jawab Kwee Kin Ta sambil melintangkan pedangnya di depan dada.

“Ahhh! Ha-ha-ha, bagus sekali! Dahulu kami hanya dapat membunuh tujuh orang di antara Cap-it Ho-han, siapa tahu kini yang empat lagi datang mengantar nyawa untuk menemani kakek tua bangka tukang sulap ini.”

“Jahanam, bersiaplah kalian untuk mampus!” Kwee Kin Ta membentak dan pedangnya digerakkan, berobah menjadi sinar kilat yang menyambar ke arah Pat-pi Lo-sian. Tiga orang sutenya juga sudah menggerakkan pedang menyerang tiga orang Bayangan Dewa lainnya.

Pat-pi Lo-sian terkejut bukan main menyaksikan gerakan pedang yang dipegang oleh Kwee Kin Ta itu. Gerakannya mantap dan mengandung tenaga yang dahsyat sekali. Dan memang Kwee Kin Ta sebagai murid pertama dari Cin-ling-pai tentu saja memiliki ilmu pedang yang amat hebat. Dialah yang mampu mewarisi inti dari Ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut yang diciptakan oleh ketua Cin-ling-pai. Akan tetapi, Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok adalah sute dari mendiang Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok Si Raja Ular, kepandaiannya amat tinggi. Cepat dia dapat mengelak sambil mencabut pedangnya pula, sebatang pedang yang bentuknya seperti seekor ular dan mengeluarkan bau amis.

“Cringgg… trangg… singgg!”

“Hemmm…!” Pat-pi Lo-sian terkejut karena ketika pedang mereka saling bertemu, secara aneh sekali pedang lawan itu meluncur melalui tubuh pedangnya, begitu licin dan tak tersangka-sangka langsung menyambar ke arah tangannya yang memegang gagang pedang ular! Untung dia dapat cepat menarik tangannya dan menghindarkan diri dari serangan yang cepat, aneh dan tak tersangka-sangka itu.

Tiga orang sute dari Kwee Kin Ta juga sudah terlibat dalam pertandingan yang seru dan mati-matian melawan tiga orang dari Bayangan Dewa. Sesungguhnya kalau dinilai dari dasar ilmu silat mereka, kepandaian tiga orang tokoh Cin-ling-pai itu lebih murni, karena mereka itu adalah orang-orang yang langsung digembleng oleh Pendekar Sakti Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai. Akan tetapi, mereka itu dahulunya adalah pemuda-pemuda dusun yang kaku dan tidak berbakat, dan merekapun jarang sekali bertanding sehingga di dalam pertandingan melawan tokoh-tokoh sesat yang amat lihai dan yang pada dasarnya memiliki tingkat yang lebih tinggi daripada mereka, empat orang tokoh Cin-ling-pai ini segera terdesak karena lawan-lawan mereka menggunakan siasat-siasat licik dan curang yang memang terdapat dalam setiap gerakan ilmu berkelahi dari kaum sesat.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa nyaring tinggi, disusul suara nyanyian yang keluar dari mulut Hong Khi Hoatsu. Sebelum bernyanyi dia berteriak memanggil nama empat Bayangan Dewa itu untuk menarik perhatian mereka. Dengan suara parau dia bernyanyi dengan nada aneh dan dengan kata-kata yang jelas dan tanpa disadarai oleh empat orang Bayangan Dewa itu, mereka tercengkeram oleh kekuatan mujijat dan telah terpengaruh sehingga mereka berempat mendengarkan dengan penuh perhatian. Karena perhatian mereka tercurah kepada suara nyanyian dan kata-katanya itu, tentu saja gerakan mereka menjadi kacau dan dengan demikian, keadaan segera membalik dan merekalah kini yang terdesak hebat oleh empat orang tokoh Cin-ling-pai!

Pat-pi Lo-sian terkejut bukan main ketika ujung lengan bajunya terbabat putus oleh pedang di tangan Kwee Kin Ta.

“Jangan dengarkan! Jangan dengarkan!” Dia memekik untuk memperingatkan teman-temannya yang juga menjadi kacau dan terdesak hebat, akan tetapi suaranya ini tenggelam ke dalam nyanyian Hong Khi Hoatsu, bahkan teriakannya itu memakai nada nyanyian mengikuti irama nyanyian kekek sihir itu, dan dia sendiri sama sekali tidak dapat melepaskan perhatiannya dari nyanyian itu. Makin lama gerakan mereka makin kacau dan kini mulailah empat orang tokoh kaum sesat itu menggerak-gerakkan bibir mengikuti nyanyian Hong Khi Hoatsu!

Mereka mulai ikut bernyanyi sungguhpun mereka berloncatan ke sana-sini untuk menangkis atau menghindarkan diri mereka dari serangan-serangan musuh! Hong Khi Hoatsu tiba-tiba menghentikan nyanyiannya dan… tertawa-tawa dan empat orang itupun ikut pula tertawa-tawa. Kakek ini lalu menangis dan merekapun ikut menangis!

Keadaan empat orang tokoh sesat itu kini terancam bahaya besar. Hong Khi Hoatsu mengajak mereka bernyanyi-nyanyi pula dan empat orang itu sudah satu dua kali terkena senjata lawan, sungguhpun tidak berbahaya namun cukup mengejutkan hati mereka. Empat orang Bayangan Dewa itu sibuk sekali dan keringat dingin mulai bercucuran di muka dan leher mereka. Mereka maklum bahwa keadaan mereka berbahaya sekali dan celakanya, mereka tidak mampu melarikan diri karena mereka “terikat” oleh suara nyanyian itu!

“Supek, hantam mereka! Robohkan mereka. Bagus, tusuk mereka!” Lie Seng berteriak sambil bersorak dan bergembira melihat betapa supek-supeknya, yaitu para suheng dari ibunya berasil mendesak empat orang kakek yang tadi mengeroyok kong-kongnya itu.

Karena perhatian mereka sepenuhnya terampas oleh Hong Khi Hoatsu, maka beberapa kali empat orang tokoh sesat itu terguling dan tubuh mereka yang kebal sudah mengalami hantaman dan serempetan senjata lawan. Tak lama lagi empat orang tokoh Cin-ling-pai itu tentu akan berhasil membalas dendam mereka.

“Hayo serahkan kembali Siang-bhok-kiam dan kalian menyerah untuk kami tangkap!” berkali-kali Kwee Kin Ta berseru sambil mendesak dengan pedangnya. Orang tertua dari Cap-it Ho-han ini ingin sekali menyeret mereka hidup-hidup ke depan suhunya dan juga untuk mendapatkan kembali Siang-bhok-kiam yang mereka curi.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa melengking tinggi sekali. Suara melengking yang amat menyeramkan, seperti bunyi tawa seorang wanita siluman atau bunyi seekor burung hong yang terbang di atas rumah itu. Akan tetapi hebatnya, suara melengking tinggi ini mengandung getaran tenaga khi-kang yang demikian kuatnya, sehingga mampu menembus dan mengiris melalui benteng kekuatan sihir dari nyanyian Hong Khi Hoatsu! Kakek ahli sihir ini terkejut sekali dan empat orang tokoh kaum sesat itu menjadi girang karena baru sekarang mereka mampu membebaskan perhatian mereka dari nyanyian kakek itu dan kelihaian mereka pulih kembali karena perhatian mereka kini tercurahkan kepada gerakan tubuh mereka sehingga dalam beberapa gebrakan saja empat orang tokoh Cin-ling-pai menjadi berbalik terdesak hebat!

Melihat ini, Hong Khi Hoatsu menjadi marah sekali dan dia cepat melompat keluar untuk mencari pengganggu itu. Akan tetapi begitu tiba di luar ruangan, dia melihat seorang wanita cantik berkelebat dari luar, maka cepat Hong Khi Hoatsu sudah menggerakkan kedua targannya dan ujung lengan bajunya menotok ke arah jalan darah dari bayangan wanita yang berkelebat di sampingnya itu.

“Plak-plak!” Ujung lengan baju itu dengan tepat mengenai pundak dan pinggang, tepat mengenai jalan darah, akan tetapi anehnya, wanita itu sama sekali tiduk menderita apa-apa seolah-olah totokan itu hanya merupakan sentuhan-sentuhan halus saja, bahkan dia tertawa dan tanpa menghentikan langkahnya yang menuju ke ruangan pertempuran, tangan kirinya berkelebat ke arah punggung Hong Khi Hoatsu.

“Plakk! Ahhh…!” Hong Khi Hoatsu terkejut bukan main karena tamparan halus itu membuat seluruh tubuhnya terasa kejang, lalu panas seperti dibakar dan tak dapat dipertahankannya lagi, kakek ini roboh terguling dalam keadaan pingsan!

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: