Dewi Maut (Jilid ke-23)

“Sukong…!” Lie Seng berlari dan menubruk kakeknya, ketika melihat kakeknya rebah tak bergerak dengan mata meram, anak ini menangis dan tiba-tiba dia menjadi beringas, meloncat bangun dan memandang kepada wanita cantik itu dengan kedua tangannya yang kecil terkepal.

“Kau jahat sekali…! Kau telah membunuh sukongku…!”

Dengan gerakan silat yang cukup lincah dan baik, Lie Seng meloncat dan menghantamkan kepalan tangannya ke arah perut wanita cantik itu. Biarpun usianya baru dua belas tahun, akan tetapi sejak kecil sekali anak ini telah digembleng oleh ayah bundanya sehingga dia telah memiliki dasar latihan ilmu silat yang murni dan tinggi, maka pukulannya pun bukan sembarangan dan teratur. Melihat kelincahan ini, wanita cantik itu memandang kagum.

“Bagus…!” katanya dan dengan mudah saja dia menangkap pergelangan tangan Lie Sang yang memukulnya. Sebelum Lie Seng sempat menggerakkan tangannya yang kedua, wanita itu telah menepuk tengkuknya dan anak ini roboh pula dengan seluruh tubuh lemas dan lumpuh. Wanita cantik itu menoleh dan menonton pertempuran yang masih berlangsung dengan mati-matian itu sambil tersenyum mengejek.

Pertandingan itu kini jelas tamnpak berlangsung berat sebelah. Betapapun gagahnya empat orang tokoh Cin-ling-pai itu, mereka bukan tandingan empat Bayangan Dewa yang jauh lebih tinggi kepandaiannya. Terutama sekali Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok yang amat lihai, dengan mudah saja dia dapat mendesak Kwee Kin Ta sehingga orang tua yang menjadi murid pertama kali ketua Cin-ling-pai ini hanya mampu mempertahankan diri sambil mundur, gerakan pedangnya makin menyempit.

Adik murid pertama Cin-ling-pai ini, yaitu Kwee Kin Ci, yang mainkan pedangnya dengan pengerahan seluruh tenaga dan kepandaiannya, juga kewalahan menghadapi Liok-te Sin-mo Gu Lo It yang menggunakan kedua ujung lengan bajunya sebagai senjata. Biarpun hanya ujung lengan baju, akan tetapi karena digerakkan dnegan tenaga sin-kang, maka kadang-kadang dapat menjadi lemas dan kadang-kadang menjadi kaku, dan di sebelah lipatan dalam dari kedua ujung lengan baju itu dipasangi potongan-potongan baja, maka sepasang lengan baju itu merupakan senjata yang ampuh.

Louw Bu, murid ketiga dari Cin-ling-pai, juga repot sekali menghadapi Sin-ciang Siauw-bin-sian Hok Hosiang yang menggunakan senjatanya berupa tasbeh hijau. Dia terdesak dan sudah dua kali terkena hantaman tasbeh di pundak dan punggungnya, membuat gerakannya menjadi makin kacau dan lemah sungguhpun dia masih melawan mati-matian dan sedikitpun tidak kelihatan gentar atau turun semangat.

Un Siong Tek sudah hampir roboh karena berkali-kali kena sambaran pecut baja di tangan Toat-beng-kauw Bu Sit, namun dia menggigit bibir dan bertekad untuk melawan sampai titik darah terakhir, pedangnya digenggam erat-erat dan dia mengeluarkan seluruh kemampuannya, tidak memperdulikan akan rasa nyeri karena luka-lukanya yang mengucurkan darah. Yang membuat empat orang murid Cin-ling-pai khawatir adalah ketika melihat munculnya wanita cantik tidak terkenal yang telah merobohkan Hong Khi Hoatsu dan Lie Seng. Mereka lebih mengkhawatirkan nasib cucu dari suhu mereka itu daripada diri mereka sendiri. Hal ini membuat mereka melawan dengan nekat sehingga masih mampu bertahan sampai puluhan jurus.

Namun akhirnya, berturut-turut empat orang gagah dari Cin-ling-pai ini roboh juga dan lawan-lawan mereka tanpa banyak cakap lagi menyusul dengan pukulan-pukulan maut sehingga menggeletaklah empat orang murid utama Cin-ling-pai itu, tanpa nyawa lagi di dalam ruangan rumah itu.

Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok yang melihat akan ulah kakek ini yang tadi hampir saja membuat dia dan tiga orang temannya celaka, make tiba-tiba dia berseru keras, pedang ular di tangannya terbang secepat kilat dan tahu-tahu telah menancap di dada tubuh Hong Khi Hoatsu yang masih pingsan. Tentu saja kakek tua ini tewas seketika tanpa sadar lagi.

Wanita itu memandang semua itu tanpa bergerak, hanya tersenyum mengejek memandang Pat-pi Lo-sian mencabut kembali pedang ularnya dai tubuh Hong Khi Hoatsu yang mandi darah. Akan tetapi ketika Pat-pi Lo-sian menghampiri tubuh Lie Seng dan mengulur tangan hendak menyambar tubuh anak itu, tiba-tiba wanita itu menggerakkan tangan kirinya, dan serangkum hawa pukulan dahsyat menyambar ke arah Pat-pi Lo-sian! Orang pertama dari Lima Bayangan Dewa ini terkejut sekali, mengelak akan tetapi tetap saja dia terdorong oleh hawa pukulan dahsyat itu dan merasa betapa dadanya panas. Dia cepat mengerahkan sin-kang untuk melawan dan baru setelah dia mengatur pernapasan serangan hawa panas itu menghilang.

Pat-pi Lo-sian mengenal orang pandai dan mengingat bahwa berkat bantuan wanita ini dia dan kawan?kawannya dapat keluar sebagai pemenang dalam pertempum itu, maka dia berlaku hati-hati dan memandang dengan penuh perhatian. Ketika dia menatap wajah yang cantik jelita dan tubuh yang ramping padat itu, dia merasa tidak pernah bertemu dan tidak mengenal wanita yang usianya kurang lebih tiga puluh lima tahun ini. Akan tetapi ketika dia melihat burung hong kumala yang menjadi penghias rambut wanita itu, dia terkejut sekali.

“Apakah toanio dari Giok-hong-pang…?” Dia terkejut ketika teringat akan berita bahwa ketua Giok-hong-pang yang telah mengalahkan Kwi-eng-pang dan menduduki Telaga Setan, kabarnya memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat. Sementara itu, Toat-beng-kauw Bu Sit yang pernah bertemu dengan In Hong dan merasakan kelihaian dara cantik itu, juga kaget sekali karena dia mengira bahwa tentu kedatangan wanita cantik ini ada hubungannya dengan peristiwa yang terjadi antara dia dan In Hong, yang agaknya adalah murid wanita ini.

Maka dia cepat-cepat menjura kepada wanita itu dan berkata, “Toanio tentulah ketua Giok-hong-pang yang tersohor itu. Kalau benar demikian, kita bukanlah orang-orang lain. Saya pernah berjumpa dengan nona Yap In Hong, bukankah dia juga seorang tokoh Giok-hong-pang?”

Wanita itu bukan lain adalah Giok-hong-cu Yo Bi Kiok, ketua Giok-hong-pang. Mendengar ucapan Bu Sit si laki-laki bermuka monyet itu, dia memandang tajam dan Bu Sit berdebar tegang hatinya. Pandang mata wanita ini demikian tajam dan dingin, jauh lebih dingin dari pandang mata nona In Hong yang amat lihai itu.

“Hemmm, Yap In Hong adalah muridku.”

Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok terkejut mendengar ini. Tidak keliru dugaannya, karena diapun telah mendengar laporan Bu Sit tentang nona Yap In Hong. Cepat diapun menjura dan bukata, “Ah, maafkan kami yang tidak mengenal toanio yang ternyata masih amat muda namun telah memiliki kepandaian yang amat hebat. Kami berterima kasih atas bantuan toanio tadi. Kami adalah…”

“Aku sudah tahu bahwa kalian adalah empat di antara Lima Bayangan Dewa yang akhir-akhir ini namanya menggemparkan dunia kang-ouw. Justeru karena kalian Lima Bayangan Dewa, maka aku datang ke sini untuk menjumpai kalian. Aku mendengar bahwa kalian telah mencuri pedang Siang-bhok-kiam dari Cin-ling-pai, benarkah itu?”

Pat-pi Lo-sian tertawa bangga. “Tidak banyak orang yang akan mampu melakukan itu, bukan? Ha-ha-ha, berita itu memang benar, toanio. Kami telah merampas Siang-bhok-kiam dari tangan Cin-ling-pai.”

“Bagus! Nah, kauserahkan pedang itu kepadaku.”

“Ah, mana mungkin itu? Toanio sebagai seorang pangcu (ketua) tentu maklum betapa pentingnya pedang itu bagi kami. Kalau tidak penting, tentu kami tidak akan merampasnya.”

“Hemm, kalian mencurinya hanya untuk melampiaskan dendam kalian kepada Cia-taihiap bukan? Sebaliknya aku menginginkan pedang itu karena aku mendengar bahwa pedang itu adalah sebuah pusaka keramat yang ampuh. Kalau tadi aku tidak datang, apakah Lima Bayangan Dewa kini tidak hanya tinggal Satu Bayangan Dewa saja karena kalian telah menjadi Empat Bayangan Arwah? Hayo lekas kalian serahkan pedang itu kepadaku sebagai imbalan pertolonganku tadi.”

“Omitohud… pangcu dari Giok-hong-pang terlalu tinggi hati! Pedang pusaka itu merupakan lambang kemenangan kami atas Cin-ling-pai yang kami benci, mana bisa kami serahkan begitu saja kepada pangcu?” Sin-ciang Siauw-bin-sian Hok Hosiang berkata sambil tersenyum lebar. “Pinceng (saya) Hok Hosiang tidak bisa mentaati perintah orang yang tinggi hati, apalagi kalau perintah itu datang dari seorang wanita muda seperti toanio.”

Yo Bi Kiok tersenyum, matanya yang berbentuk indah itu bersinar-sinar, lalu terdengar dia berkata lirih, “Agaknya kalian masih memandang rendah kepadaku. Nah, rasakanlah ini!” Setelah berkata demikian, tangan kirinya bergerak ke arah hwesio gendut itu. Serangkum hawa pukulan dingin sekali menyambar, membuat Hok Hosiang terkejut setengah mati dan dia cepat menggerakkan tasbeh hijau di tangannya untuk menangkis.

Rrriiikk… desss…!” Hok Hosiang berteriak kaget, tubuhnya terhuyung ke belakang beberapa langkah. Biarpun jari tangan wanita itu tidak mengenai tubuhnya, baru bertemu dengan tasbehnya, namun tenaga mujijat yang amat kuat menyerangnya melalui tasbehnya sendiri dan dia merasa betapa dadanya menjadi sesak. Hok Hosiang memandang dengan mata terbelalak, maklum bahwa wanita yang usianya hanya setengah usianya lebih sedikit itu ternyata memiliki semacam sin-kang yang amat dahsyat.

“Toanio, jangan sombong engkau!” Toat-beng-kauw Bu Sit yang merasa penasaran dan menjadi besar hati karena mengandalkan banyak teman sudah meloncat ke depan dan menggerakkan senjata joanpiannya, yaitu pecut baja yang panjang dan lemas.

“Tar-tar-tarrrr…!” Pecut baja itu melecut dan meledak-ledak di udara, lalu menyambar turun ke atas kepala Yo Bi Kiok.

Namun Yo Bi Kiok dengan tenang sekali miringkan kepalanya sedikit, tangan kirinya bergerak dan seperti kilat cepatnya dia telah berhasil menangkap ujung cambuk baja itu. Bu Sit mengerahkan tenaga untuk membetot lepas cambuk bajanya, akan tetapi jepitan jari tangan yang kecil mungil pada ujung cambuk itu sama sekali tidak dapat terlepas! harus diketahui bahwa Toat-beng-kauw Bu Sit adalah seorang tokoh sesat yang memiliki gin-kang kilat dan sin-kang kuat, akan tetapi satu kali ini dia benar-benar harus mengakui kekuatan mujijat yang menjepit ujung cambuknya.

“Haiiiitttt…!” Tiba-tiba Bu Sit membentak dan mengerahkan selurub tenaganya. Akan tetapi tiba-tiba sambil tersenyum dingin Yo Bi Kiok melepaskan jepitan dari tangannya.

“Siuuuttt… tarrr…!” Untung sekali Bu Sit cepat melepaskan gagang cambuknya, kalau tidak tentu mukanya akan dihajar oleh lecutan ujung cambuknya sendiri. Ketika dia mlihat dengen muka pucat, ternyata ujung cambuknya itu terdapat bekas-bekas jari tangan wanita cantik itu, bergurat-gurat memperlihatkan garis-garis tangan halus, seolah-olah ujung cambuk bajanya itu hanya terbuat dari tanah liat saja!

“Hebat sekali engkau, pangcu!” Tiba-tiba Liok-te Sin-mo Gu Lo It melangkah ke depan, kedua ujung lengan bajunya yang dipasangi baja itu menyambar dari kanan kiri ke arah kedua pelipis kepala Yo Bi Kiok.

“Hemm, pergilah kau!” Bi Kiok yang mulai menjadi marah itu membentak halus, kedua tangannya menangkis ke kanan kiri kepalanya. Gu Lo It yang terkenal sebagai seorang tokoh yang bertenaga raksasa itu, menjadi girang melihat lawannya berani menangkis ujung lengan bajunya yang dipasangi baja itu dengan tangan kosong, maka dia mengerahkan tenaga saktinya sehingga ujung lengan bajunya itu akan mampu menghancurkan batu karang yang keras sekalipun. Apalagi hanya dua lengantangan wanita yang berkulit halus itu!

“Plakk! Plakk! Ehhh…!” Liok-te Sin-mo Gu Lo It terkejut sekali dan cepat dia menarik kedua lengannya sambil meloncat mundur karena tadi begitu bertemu dengan kedua lengan wanita itu, dua ujung lengan bajunya membalik dan tentu akan menghantam dadanya sendiri kalau saja tidak dengan cepat dia menarik kembali lengannya. Ternyata bahwa lengan yang kecil dan berkulit halus itu bukan hanya mampu menandingi ujung lengan bajunya, bahkan mampu membuat kedua senjatanya itu membalik dan menyerang dirinya sendiri.

Pat-pi Lo-sian Phang Tui Liok bukanlah seorang bodoh. Menyaksikan cara wanita itu menghadapi tiga orang temannya, dia sudah dapat mengukur bahwa kepandaian wanita ini benar-benar amat hebat dan belum tentu kalah olehnya. Dan diapun tahu bahwa wanita itu tidak berniat buruk kepada mereka, karena kalau demikian halnya, tentu wanita itu telah menurunkan tangan mautnya kepada tiga orang temannya tadi. Cepat dia menjura sambil berkata, “Memang bukan berita kosong belaka yang mengatakan bahwa ketua Giok-hong-pang memang memiliki kepandaian yang amat hebat. Pangcu, kami kagum sekali dan mengingat akan kebaikan pangcu yang telah membantu kami tadi, agaknya urusan sebatang pedang kayu saja kami seyogyanya mengalah dan mempersembahkan kepada pangcu sebagai tanda persahabatan. Akan tetapi sayang, hal itu tidak mungkin kami lakukan sekarang karena kami tidak membawa Siang-bhok-kiam itu yang kami simpan di tempat rahasia agar tidak mudah dicari orang lain.”

“Hemmm…” Yo Bi Kiok mendengus kecewa akan tetapi matanya memandang kepada mereka dan dia tahu bahwa mereka tidak membohong. Lalu dia melihat tubuh anak laki-laki yang masih lemas tertotok olehnya tadi. “Aku melihat kalian tadi hendak merampas dan menculik anak ini. Mengapa?”

Pat-pi Lo-sian juga memandang kepada Lie Seng dan tersenyum. “Pancu, urusan dengan bocah ini adalah urusan kami pribadi, perlukah Pangcu mengetahui pula?”

Wajah yang cantik itu menjadi agak kemerahan biarpun pandang matanya tetap dingin tak acuh.

“Tentu saja. Perkelahian di sini adalah karena bocah ini, dan aku telah membantu kalian maka sudah sepantasnya aku mendengar pula mengapa kalian hendak menangkap bocah ini.”

Pat-pi Lo-sian diam-diam merasa mendongkol sekali. Sebetulnya, biarpun tiga orang temannya jelas bukan lawan wanita ini, namun dia sendiri belum kalah apalagi kalau dibantu oleh tiga orang temannya itu. Hanya saja, pada waktu ini Lima Bayangan Dewa sedang menghadapi ancaman pembalasan dari Cin-ling-pai yang merupakan hal berbahaya karena dia maklum akan kelihaian dari ketua Cin-ling-pai, maka tidak semestinya kalau dia menanam permusuhan dengan fihak lain. Apalagi fihak Giok-hong-pang yang amat kuat pula. Sebaliknya, dia harus menarik semua fihak yang kuat sebagai sahabatnya agar dapat membantunya kalau dia terpaksa kelak menghadapi ketua Cin-ling-pai. Dia jerih menghadapi ketua Cin-ling-pai seorang diri bersama empat orang temannya saja. Baru murid-murid Cin-ling-pai tadi saja sudah demikian tangguhnya, apalagi gurunya! Dan wanita cantik inipun memiliki ilmu kepandaian yang mengerikan.

Baiklah, pangcu, kalau engkau ingin mengerti. Bocah ini adalah cucu dari ketua Cin-ling-pai, dan kami hendak menangkapnya…”

“Hemmm, apakah Lima Bayangan Dewa begitu penakut, tidak menghadapi ketua Cin-ling-pai secara langsung melainkan mengganggu seorang bocah yang tidak tahu apa-apa?” Yo Bi Kiok mengejek. Biarpun wanita ini dahulunya murid seorang datuk kaum sesat kemudian dia sendiri karena merasa sakit hati terhadap seorang pria lalu menjadi seorang wanita berdarah dingin yang amat kejam, namun dia sama sekali bukanlah golongan sesat yang suka melakukan kejahatan umum. Satu-satunya sikap kejamnya hanya dia tujukan kepada kaum pria yang dianggapnya merupakan kaum yang hanya membikin sengsara kaum wanita.

Kini wajah orang pertama dari Lima Bayangan Dewa itu menjadi merah dan matanya terbelalak penuh rasa penasaran. “Pangcu dari Giok-hong-pang, kauanggap kami ini orang-orang apa yang akan mengganggu anak-anak?” Teriaknya akan tetapi segera dia teringat akan sikapnya. “Kami memang bermusuhan dengan ketua Cin-ling-pai dan mengingat bahwa ketua Cin-ling-pai mempunyai banyak sekali sahabat dan pembantu-pembantu yang tentu akan menyusahkan kami, maka kami hendak membawa cucunya ini sebagai sandera untuk menantangnya agar datang menghadapi kami seorang diri saja, agar di antara dia dan kami dapat menyelesaikan segala perhitungan lama sampai beres. Jadi kami tidak akan mengganggu anak ini, hanya untuk memaksa kakeknya untuk keluar sendirian menghadapi kami.”

Yo Bi Kiok tersenyum, lalu tubuhnya bergerak, cepatnya amat mengejutkan hati empat orang itu karena tahu-tahu bayangan wanita itu berkelebat dan sebelum mereka sempat mencegah, Bi Kiok telah mengempit tubuh Lie Seng. “Bagus kalau begitu, aku jadi tahu bahwa kalian amat membutuhkan bocah ini. Nah, kalian ambillah Sing-bhok-kiam, antarkan pedang itu ke Telaga Kwi-ouw dan di sana aku akan menukar Siang-bhok-kiam dengan bocah ini!” Setelah berkata demikian, sekali berkelebat saja Bi Kiok telah lenyap dari dalam ruangan itu, pergi membawa Lie Seng bersamanya.

Empat orang tokoh sesat itu saling pandang dan muka mereka berobah, sebentar merah sebentar pucat. Baru sekali ini mereka merasa dihina dan dipandang rendah orang lain, apelagi yang memandang rendah mereka itu adalah seorang wanita muda cantik!

“Si keparat…!” Pat-pi Lo-sian membanting kakinya. “Kalau saja tidak ingat akan kedudukan kita, sudah kuhancurkan kepala perempuan setan itu!”

“Dia memang sombong sekali,” kata Bu Sit yang juga merasa penasaran dan tadi telah dibikin malu. “Twako, mari kita kumpulkan kekuatan, ajak teman-teman dan menyerbu Giok-hong-pang, membasminya dan merampas kembali bocah itu!”

Pat-pi Lo-sian menggeleng kepala dan menghela napas panjang. “Betapapun juga, urusan dengandia itu kecil sekali artinya kalau dibandingkan dengan urusan kita terhadap ketua Cin-ling-pai. Tidak boleh melemahkan keadaan sendiri karena urusan kecil sebelum urusan besar selesai. Kelak masih belum terlambat bagi kita untuk menghajar perempuan sombong itu!”

“Habis, apa yang akan kaulakukan, twako?” tanya Liok-te Sin-mo Gu Lo It kepada temannya yang tertua itu.

“Tidak ada jalan lain, kita harus menyerahkan pedang itu kepadanya sebagai penukar cucu ketua Cin-ling-pai itu,” jawab yang ditanya.

“Ab, akan tetapi hal itu akan merupakan tamparan bagi nama kita!” Hok Hosiang berseru.

“Sam-te (adik ketiga) jangan salah sangka, sebaliknya malah, dengan mengoperkan pedang kayu yang tidak ada gunanya kepada wanita itu, berarti kita menambah musuh bagi Cia Keng Hong dan menarik teman bagi kita. Kita boleh siarkan bahwa Siang-bhok-kiam telah kita berikan sebagai tanda persahabatan kepada ketua Giok-Hong-pang, bukankah dengan demikian Cia Keng Hong akan mencari ke sana dan memusuhinya pula? Anak itu lebih penting bagi kita, karena dengan adanya anak itu kita dapat memaksa Cia Keng Hong untuk menyerah.”

Keempat orang dari Lima Bayangan Dewa itu lalu bergegas meninggalkan rumah yang kini keadaannya amat mengerikan itu, dimana menggeletak mayat empat orang pertama dari Cap-it Ho-han dan mayat kakek Hong Khi Hoatsu. Dan kalau orang melihat ke belakang rumah itu, di sana menggeletak pula mayat dua orang laki-laki dan wanita tua, yaitu pelayan-pelayan rumah itu yang telah dibunuh lebih dulu oleh empat orang Bayangan Dewa tadi.

***

Dunia penuh dengan kekejaman dan kekerasan yang dilakukan oleh manusia. Selama sejarah berkembang, dapat diikuti kenyataan betapa makin lama manusia bukan makin baik, melainkan makin jahat dan permusuhan, kebencian, bunuh-membunuh dan perang makin memenuhi dunia. Mengapa demikian? Mengapa manusia selalu dirundung dendam, kebencian, permusuhan dan kekerasan sepanjang masa? Banyak sudah muncul orang-orang bijaksana yang kemudian didewa-dewakan dan dipuja-puja, manusia-manusia yang menyebarkan segala macam pelajaran bagi manusia agar manusia insyaf akan kejahatannya dan kembali ke jalan benar. Namun agaknya semua itu kalau kita mau melihat kenyataan sekarang ini, semua itu sia-sia belaka. Semua orang bicara tentang kasih sesama manusia namun apa yang dibicarakan itu hanya merupakan pemanis mulut belaka, sedangkan hatinya penuh kebencian kepada sesama manusia, tentu saja manusia yang merugikan dirinya. Seluruh dunia bicara tentang perdamaian, bicara tentang menjauhkan perang, akan tetapi diam-diam angkatan bersenjata di masing-masing negaranya dipupuk dan perkuat! Wajah berseri dan mulut tersenyum, akan tetapi diam-diam kedua tangan dikepal, siap untuk melakukan kekerasan! Tidakkah demikian keadaan dunia semenjak dahulu sampai sekarang?

Dunia dan keadaannya tidak timbul begitu saja, melainkan akibat dari keadaan kita semua. Kitalah yang bertanggung jawab sampai adanya dunia macam sekarang ini, di mana kekerasan merajalela, di mana kebencian menguasai hati semua orang, di mana pengejaran keuntungan diri pribadi yang menjadi sumber semua gerakan manusia, di mana kebenaran diperebutkan, saling membela kebenaran sendiri masing-masing. Kita lupa bahwa kebenaran yang diperebutkan itu bukanlah kebenaran lagi, palsu dan hanya mendatangkan lebih banyak permusuhan lagi.

Kita selalu menujukan mata dan telinga kita keluar, mencari-cari segala yang dapat menguntungkan dan menyenangkan, memuaskan hati dan jasmani kita. Pengejaran akan kesenangan lahir batin membutakan mata kita sehingga kita sama sekali tidak pernah mau memandang diri kita sendiri, memandang diri kita seperti apa adanya, dengan segala kepalsuan kita, dengan segala keburukan dan cacat serta kekotoran kita. Kita tidak pernah menggunakan telinga untuk mendengarkan bisikan-bisikan hati kita sendiri, suara-suara pikiran kita sendiri, dan tidak mau mengikuti gerak-gerak diri kita sendiri lahir batin. Hanya penglihatan akan kenyataan tentang keadaan diri kita yang kotor sajalah yang akan mendatangkan perobahan, yang akan melenyapkan kekotoran itu. Hanya kalau kita dapat melihat sendiri betapa kebencian mencengkeram hati dan pikiran kita, maka kita akan mengerti tentang kebencian ini dan akan sadar dan selalu waspada. Kesadaran dan kewaspadaan akan kebencian yang mencengkeram kita inilah yang akan melenyapkan kebencian itu sendiri, tanpa terdorong keinginan untuk melenyapkannya, melainkan hanya mengamati dan mengertinya sampai ke akar-akarnya. Mengenai kekotoran orang lain hanya akan menambah kekotoran diri sendiri, sebaliknya hanya dengan mengenal kekotoran sendiri maka akan terjadi perobahan pada diri kita.

Dengan kecepatan seperti kijang yang sedang lari dikejar harimau, Yo Bi Kiok mengempit tubuh Lie Seng dan mempergunakan ilmu berlari cepat memasuki hutan di sepanjang Sungai Huai di kaki Pegunungan Tapie-san setelah dia meninggalkan kota Sin-yang tempat tinggal Cia Giok Keng dan mendiang suaminya, Lie Kong Tek. Seperti kita ketahui, setelah berhasil mengalahkan Kwi-eng-pang, Yo Bi Kiok membawa anak buahnya menduduki Telaga Kwi-ouw dan menetap di tempat itu. Kemunculan wanita ini sekarang adalah yang pertama kali selama dia menggembleng dirinya dengan ilmu-ilmu dahsyat dan mujijat yang didapatkannya dari bokor emas milik Panglima The Hoo yang pernah diperebutkan oleh semua tokoh kang-ouw (baca cerita Petualang Asmara) itu.

Yo Bi Kiok sudah mendengar pula akan peristiwa yang melanda Cin-ling-pai, tentang Lima Bayangan Dewa yang telah mengacau Cin-ling-pai dan timbul keinginan hatinya untuk memiliki pedang Siang-bhok-kiam itu yang dia pernah mendengar adalah sebatang pedang kayu harum yang keramat dan merupakan pusaka yang pernah pula menjadi pusaka yang diperebutkan oleh seluruh tokoh kang-ouw.

Lie Seng adalah seorang anak laki-laki yang mempunyai dasar watak tabah dan tidak mengenal takut. Watak ini dia warisi dari ibunya. Dia melihat sendiri tadi betapa kakeknya tewas dan empat orang tua yang dia ingat adalah murid-murid utama kong-kongnya di Cin-ling-pai itupun tewas. Tentu saja dia merasa ngeri dan berduka sekali, dan diapun tahu bahwa dia kini terjatuh ke tangan seorang wanita yang jahat dan kejam seperti iblis. Akan tetapi dia tidak merasa takut, dan selalu dia memutar otaknya untuk mencari akal bagaimana dia akan dapat membebaskan dirinya dari wanita ini dan kalau mungkin membalas kematian kakeknya yang demikian menyedihkan. Akan tetapi karena dia tadi dirobohkan dengan totokan, maka semua usahanya untuk memulihkan tenaga di tubuhnya yang lemas itu sia-sia belaka. Akhirnya dia teringat akan pelajaran dari ibunya, yaitu pelajaran untuk menggunakan hawa murni guna memperlancar jalan darahnya. Maka biarpun tubuhnya lemas, akan tetapi mulailah anak ini mengatur pernapasannya sambil memejamkan mata ketika dia dibawa lari seperti terbang cepatnya oleh wanita itu.

Sejam kemudian, dengan girang Lie Seng merasa betapa aliran darahnya yang diperlancar oleh hawa murni itu dapat menembus jalan darah yang tertotok. Tak lama kemudian bebaslah ia dari totokan dan kaki tangannya dapat bergerak kembali seperti biasa! Pada waktu itu, Yo Bi Kiok yang tadinya mengempit tubuh anak itu, telah memindahkannya ke atas pundak kirinya. Dia kini memanggul tubuh Lie Seng, dan memegangi atau merangkul kedua pahanya, membiarkan kepala anak itu di belakang punggungnya.

Lie Seng yang kini sudah bebas dan dapat bergerak lagi tentu saja segera menggunakan kebebasannya ini untuk meronta dan memberontak. Dia meronta, mengangkat kepalanya dan menggunakan kedua tangan menjambak rambut yang digelung indah itu, lalu dia membuka mulut menggigit leher yang berkulit putih halus itu, digigitnya sekuat tenaga!

“Aduhhh…aduhhhh…!” Yo Bi Kiok menjerit dan merasa betapa seluruh tubuhnya panas dingin dan menggigil, semua bulu tubuhnya berdiri meremang dan dengan gerakan kuat dia menggoyang tubuh sehingga jambakan dan gigitan Lie Seng terlepas dan anak itu terlempar dan terjatuh ke atas tanah. Bi Kiok meraba lehernya dan tangannya berdarah. Dia memandang dengan mata berkilat kepada anak itu yang sudah merangkak bangun. Sedikit luka di lehernya tidak ada artinya bagi Yo Bi Kiok, akan tetapi yang membuat hatinya seperti disayat-sayat rasanya adalah mengingat betapa hidung dan bibir anak laki-laki itu telah mencium kulit lehernya! Dia seolah-olah merasa dinodai, diperkosa dan dikotori!

“Keparat, biarpun engkau masih bocah, ternyata engkau juga seorang laki-laki yang hina dan kotor!” bentaknya dan dia menggerakkan tangan kiri dan kanan.

“Plak-plak-plakkk!” Bertubi-tubi kedua telapak tangannya menampar muka Lie Seng. Bocah ini melawan dan berusaha menangkis dan mengelak, akan tetapi tetap saja telapak tangan itu hinggap di kedua pipinya dengan tepat dan keras. Tentu saja Bi Kiok tidak menggunakan tenaga sin-kang, karena kalau demikian halnya, ditampar satu kali saja sudah cukup untuk membikin hancur kepala bocah itu. Dia hanya mempergunakan tenaga kasar biasa saja, akan tetapi justeru ini malah lebih menyiksa bagi Lie Seng karena mukanya kini menjadi bengkak-bengkak dan matang biru! Kedua pipinya menjadi bengkak sehingga hampir menutupi matanya. Bocah itu akhirnya roboh terguling dan matanya dikejap-kejapkan karena pandang matanya berkunang dan melihat ribuan bintang menari-nari, kepalanya pening dan telinganya mendengar suara berdengung, mukanyo terasa seperti dibakar, panas dan nyeri.

Biarpun sudah menampari muka anak itu, Bi Kiok masih belum reda kemarahannya, Selama hidupnya, dia hanya pernah mencinta pria satu kali saja, yaitu kepada Yap Kun Liong yang ternyata tidak membalas cinta kasihnya. Kerena patah hati, dia membenci kaum pria, apalagi di dalam perantauannya dia menyaksikan betapa kejam dan jahatnya kaum pria terhadap wanita, membuat kebenciannya makin menghebat. Belum lama ini, dia berjumpa kembali dengan Kun Liong dan cintanya kambuh, bahkan makin hangat. Akan tetapi tetap saja Kun Liong tidak mau menyambut uluran hatinya dan hal ini amat menyakitkan hati Bi Kiok. Selama hidupnya, baru Kun Liong seorang yang merupakan satu-satunya pria yang pernah menjamahnya, sungguhpun hanya bersifat cumbuan biasa saja. Akan tetapi sekarang, anak laki-laki ini telah… mencium lehernya! Peristiwa itu membuat jantungnya berdebar hampir meledak rasanya, membangkitkan semua gairah terpendam dan karenanya membuat dia marah seperti gila.

“Kau… kau calon pria terkutuk… kau berani menghinaku, ya?”

“Dan kau wanita iblis!” Lie Seng balas memaki sambil membuka matanya yang menjadi sipit karena kedua pipinya bengkak. Sedikitpun dia tidak merasa takut dan biarpun kepalanya seperti berputar rasanya, dan mukanya nyeri sekali seperti akan pecah, dia tidak sudi mengeluh di depan wanita penyiksanya ini.

“Kau bocah kurang ajar! Hendak kulihat, setelah kutotok dua jalan darahmu, apakah engkau tidak akan menjerit-jerit dan menangis minta ampun kepadaku!”

“Iblis betina! Siapa sudi minta ampun padamu? Bunuhlah, aku tidak takut dan sampai mampus aku tidak sudi minta ampun padamu!” Lie Seng menantang dan dia sudah bangkit berdiri mengepal dua buah tinjunya dan siap melawan mati-matian. Biarpun dia tahu bahwa yang membunuh empat orang supek-supeknya dan sukongnya adalah empat orang Bayangan Dewa musuh besar Cin-ling-pai itu dan bukan langsung oleh tangan wanita ini, akan tetapi dia menimpakan kematian mereka kepada wanita itu. Tadi empat orang supeknya, dibantu oleh sukongnya, sudah hampir menang. Kemudian wanita inilah yang merobah keadaan dan mengakibatkan kekalahan dan kematian lima orang itu, maka bagi dia, yang membunuh mereka adalah wanita inilah!

“Bocah laknat! Kalau tidak ingin menukarmu dengan Siang-bhok-kiam, sudah kubunuh kau!”

Akan tetapi Lie Seng dengan keberanian luar biasa sudah meloncat ke depan dan menyerang dengan sekuat tenaga. Menghadapi pukulan-pukulan anak ini, tentu saja Yo Bi Kiok tidak mau memandang sebelah mata dan dia mengerahkan perut dan dadanya yang terpukul itu dengan diisi tenaga sin-kang dengan maksud untuk membuat kedua kepalan tangan itu patah-patah tulangnya.

“Plak! Bukk!” Dua kali pukulan anak itu mengenai perut dan ulu hati Bi Kiok dan wanita ini berteriak kaget.

“Aihhh…!” Dia terhuyung ke belakang, mukanya pucat sekali dan matanya terbelalak. Ternyata bahwa ketika dia tadi mengerahkan tenaganya, secara mendadak tenaganya itu molos kembali dan lenyap sehingga perut dan ulu hatinya kena dipukul oleh kedua kepalan tangan Lie Seng! Tidak hebat sekali, akan tetapi tentu saja terasa olehnya. Yang membuat dia heran adalah mengapa tenaganya tiba-tiba menjadi lenyap?

“Akan kubunuh kau…!” Lie Seng yang girang melihat pukulannya berhasil itu lalu meloncat dan menyerang lagi. Biarpun usianya baru dua belas tahun, akan tetapi tingginya sudah hampir sama dengan Bi Kiok, setinggi leher wanita itu maka kini kedua tangannya dengan jari-jari terbuka menampar ke arah leher dan pipi. Kembali Bi Kiok hendak menerima tamparan itu dan sekaligus menyampok pergelangan tangan Lie Seng agar patah tulangnya.

“Plak! Plak! Aihhh…!” Kembali Bi Kiok terkena tamparan sampai pipi dan lehernya terasa pedas. Dia terbelalak dan memandang ke kanan kiri dengan muka pucat sekali. Kembali dia tidak berhasil mengerahkan sin-kang, bahkan hebatnya ketika dia menggerakkan tangan hendak mematahkan pergelangan tangan Lie Seng, secara tiba-tiba saja tangannya tak dapat digerakkan dan dia merasa ada hawa menyambar dari kiri.

“Keparat…!” Dia berteriak keras dan cepat membalikkan tubuhnya ke kiri akan tetapi tidak ada orang di situ. Lie Seng sudah menyeruduk maju lagi, kini anak itu menggunakan kepalanya untuk menyeruduk perut lawannya. Bi Kiok yang masih kebingungan itu melihat serangan ini, menjadi marah dan ingin menyambut dengan hantaman maut. Maka ketika Lie Seng menyeruduk dekat, dia hendak menggerakkan tangan menghantam. Akan tetapi dari belakang dia merasa ada hawa aneh menyambar, dan… kedua tangannya tak dapat digerakkan. Sementara itu, kepala anak itu sudah menyentuh perutnya. Dia mengerahkan sin-kang untuk menghancurkan kepala anak itu.

“Desss…!” Bi Kiok terjengkang roboh! Seperti juga tadi, tenaga sin-kangnya molos dan lenyap sehingga dia menjadi seperti seorang wanita lemah biasa saja, maka tentu saja dia tidak dapat menahan serudukan Lie Seng yang marah dan membuat dia terjengkang.

“Ehhhh…!” Bi Kiok meloncat dan menjauhi Lie Seng, kemudian mencabut sepasang pedang pendeknya. Dia yakin benar bahwa tentu ada seorang lihai yang mempermainkannya. Dia menengok ke kanan kiri akan tetapi seperti juga tadi, tidak nampak bayangan seorangpun. Bulu tengkuknya meremang. Dia dengan kepandaiannya yang tinggi itu bagaimana mungkin dipermainkan orang seperti itu? Apakah siluman yang telah mempermainkannya? Kalau manusia tidak mungkin! Mencari orang yang akan mampu mengalahkannya saja sudah sukar didapat, apalagi yang dapat mempermainkan seperti itu. Tentu iblis sendiri!

“Cuattt… cuattt…!” Dua sinar terang berkelebat ketika wanita yang marah sekali ini melemparkan dua batang hui-to (pisau terbang), yaitu sepasang pedang pendeknya itu ke arah Lie Seng. Dua batang senjata runcing itu meluncur seperti kilat menyambar, mengarah ulu hati dan pusar anak itu. Lie Seng berdiri seperti terpaku melihat berkelebatnya sinar-sinar cemerlang itu, tidak tahu harus berbuat apa. Dia masih terlalu kecil dan kepandaiannya masih terlalu dangkal untuk dapat menghadapi serangan maut yang amat berbahaya ini, serangan yang belum tentu dapat dihindarkan oleh seorang tokoh kang-ouw sekalipun! Agaknya sudah dapat dipastikan bahwa dua batang pedang pendek itu akan menembus tubuh anak itu dan akan mencabut nyawanya seketika

Tranggg…! Trakkk!” Tiba-tiba dua helai sinar pedang itu manyeleweng dan dua batang pedang pendek itu runtuh ke atas tanah di depan kaki Lie Seng, yang sebatang menancap ke atas tanah, sedangkan pedang kedua telah patah menjadi dua potong.

Melihat betapa yang menyambar dua batang pedangnya itu hanya dua buah batu kecil, Bi Kiok hampir tidak dapat percaya dan dia sudah menjadi marah sekali ketika melihat munculnya seorang laki-laki tua sekali yang berkepala gundul dan memakai jubah berwarna merah. Seorang pendeta Lama berjubah merah yang muncul dari balik pohon sambil tertawa-tawa aneh dan matanya memandang liar berputaran, mata seorang yang jelas tidak waras alias miring otaknya!

“Pendeta gila, engkau berani main gila padaku?” bentak Bi Kiok sambil melompat ke depan. Wanita ini biarpun telah menemukan warisan ilmu yang hebat-hebat dan telah menjadi seorang yang sukar ditemukan tandingannya, namun dia masih terlalu muda dan kurang pengalaman sehingga tidak mau melihat kenyataan bahwa di dunia ini terdapat banyak sekali orang pandai, jauh lebih pandai daripada dirinya sendiri. Dengan kemarahan hebat kedua tangannya bergerak dan menyambarlah sinar hijau yang berbau harum ke arah kakek gundul itu. Itulah Siang-tok-swa (Pasir Beracun Harum) yang amat berbisa dan berbahaya sekali.

Bi Kiok terbelalak memandang betapa senjata rahasianya yang berupa pasir itu jelas mengenai tubuh dan bahkan leher serta muka kakek itu, akan tetapi agaknya yang terkena senjata rahasianya itu sama sekali tidak merasakan apa-apa, jangankan keracunan, bahkan sedikitpun tidak meninggalkan bekasnya. Kakek itu masih tertawa-tawa dan berkata kepada Lie Seng, suaranya besar parau, logatnya kaku seperti lidah asing.

“Anak baik, kenapa mukamu yang tampan menjadi bengkak-bengkak?”

Lie Seng yang masih kecil itu sudah seringkali melihat orang-orang tua yang pandai, bahkan kakeknya sendiri adalah ketua Cin-ling-pai yang sakti. Dia sering mendengar cerita ayah bundanya tentang orang-orang pandai. Tadipun ketika beberapa kali dia berhasil menghantam wanita itu, dia sudah merasa heran, kemudian melihat pisau terbang yang mengancam nyawanya terpukul runtuh lalu muncul seorang kakek gundul, dia sudah menduga bahwa ada orang yang telah menolongnya dan penolong itu tentu bukan lain kakek gundul itu yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa. Maka dia lalu menjawab, suaranya lantang, “Locianpwe, mukaku dipukuli oleh perempuan iblis ini!”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: