Dewi Maut (Jilid ke-24)

Ketika kakek gundul ini yang bukan lain adalah Kok Beng Lama, datang bersama Kun Liong ke Sin-yang dan memaksa Cia Giok Keng ikut dengannya ke Cin-ling-pai, Lie Seng masih berada di dalam rumah sehingga dia tidak pernah bertemu dengan Kok Beng Lama. Andaikata ketika itu dia melihat pendeta ini, tentu sekarang akan lain lagi sikapnya.

“Ha-ha-ha, orang memukul satu kali harus dibalas sepuluh kali! Tadi kau baru membalas tiga kali, kurang tujuh kali lagi. Hayo kaupukul dia tujuh kali dan karena tadi mukamu yang dipukul, sekarang kaupun harus membalas memukul mukanya!”

Lie Seng merasa gembira sekali. Dia merasa yakin kini bahwa tentu berkat pertolongan hwesio jubah merah inilah, maka dia tadi berhasil memukul dua kali dan menyeruduk satu kali yang sama sekali tidak dapat ditangkis atau dielakkan oleh wanita lihai itu.

“Baik, aku akan membalasnya sampai puas!” teriak Lie Seng dan dia sudah meloncat ke depan dan menerjang ke arah Yo Bi Kiok dengan pukulan-pukulan kedua tangannya ke arah kedua pipi wanita itu. Tentu saja Bi Kiok menjadi marah bukan main. Mukanya yang tadi pucat kini menjadi merah sekali. Mana mungkin dia membiarkan dirinya dihina orang sedemikian rupa. Dia mengerahkan sin-kangnya dan siap menghadapi serangan anak itu. Akan tetapi ketika dia menggerakkan tubuhnya, tiba-tiba kakek itu menggunakan kedua tangan dan hawa pukulan yang luar biasa sekali menyerangnya dari arah kakek itu. Dia masih berusaha untuk mengelak, akan tetapi sia-sia belaka karena entah bagaimana caranya, kedua tangan dan kakinya telah menjadi kaku dan dia tidak mampu menggerakkan sin-kangnya lagi. Tentu saja dia tidak mampu mengelak atau menangkis ketika kedua tangan Lie Seng menghantam dan menampari kedua pipinya. Terdengar suara plak-plok-plak-plok ketika kedua pipinya yang berkulit halus kemerahan itu menerima tamparan-tamparan Lie Seng yang marah itu sehingga kedua pipiya menjadi merah sekali dan agak bengkak-bengkak! Hal ini adalah karena Bi Kiok sama sekali tidak mampu mengerahkan tenaganya maka dia tiada ubahnya seorang wanita biasa yang tidak memiliki kepandaian apa-apa.

“Satu…! Dua…! Tiga…! Empat…!” Kakek gundul itu menghitung sambil tertawa-tawa.

“Enam…! Tujuh…! Cukup sudah…!” Lie Seng merasa puas sekali dan dia melihat ke arah muka yang kini pipinya menjadi merah-merah dan agak bengkak itu dengan senyum meengejek.

Bi Kiok juga merasa betapa tiba-tiba tubuhnya dapat bergerak lagi. Dapat dibayangkan betapa rasa marah dan malunya. Dia telah mengalami penghinaan yang amat hebat! Akan tetapi, dia sama sekali tidak merasa takut biarpun dia kini tahu betul bahwa kakek ini adalah seorang sakti yang luar biasa sekali kepandaiannya. Dengan kemarahan meluap-luap dia lalu mencabut pedangnya.

“Singgg…!” Tampak sinar terang seperti kilat menyilaukan mata ketika pedang itu dicabut. Itulah pedang Lui-kong-kiam (Pedang Halilintar) yang dahulu dirampasnya dari tangan mendian Liong Bu Kong, putera dari Kwi-eng Nio-cu yang tewas di tangannya dan yang dirampas pedangnya. Sebatang pedang pusaka yang ampuh sekali.

“Pendeta iblis, mampuslah kau!” bentaknya dan pedangnya lalu digerakkan, dia sudah menyerang dengan ilmu pedang yang dipelajarinya dari kitab yang ditemukan berkat perantaraan bokor emas.

Melihat serangan ini, Kok Beng Lama agak terkejut juga karena dia mengenal ilmu pedang yang amat hebat, sama sekali tidak boleh dipandang ringan, apalagi karena ilmu yang hebat itu dimainkan dengan sebatang pedang pusaka yang ampuh. Karena wanita itu kini sudah waspada dan sudah menjaga diri, dia tidak lagi dapat menguasainya dengan serangan jarak jauh dan kalau dia tidak membela diri, dia bisa celaka oleh sinar pedang yang hebat itu. Akan tetapi, kakek ini memang sudah memiliki kepandaian yang sakti dan tidak lumrah manusia, kedua lengan tangannya sudah digembleng sedemikian hebatnya sehingga lengan yang terdiri dari kulit daging dan tulang itu mampu menandingi pedang atau senjata tajam yang bagaimana hebatpun! Betapapun juga, Kok Beng Lama yang kelihatannya seperti tidak waras otaknya itu, kini mengelak dan menggunakan ujung lengan bajunya untuk balas menotok dan sekali kedua ujung lengan bajunya menyambar, dia sudah melakukan tiga belas kali totokan ke arah bagian-bagian tubuh yang berbahaya dari lawannya, dilakukan berturut-turut dan bertubi-tubi sehingga Bi Kiok menjadi terkejut dan kagum sekali. Akan tetapi, setelah kini dia mencurahkan perhatian dan mengeluarkan kepandaiannya, wanita inipun mampu menghindarkan semua totokan itu. Bahkan dengan teriakan panjang melengking, tubuhnya lalu melayang seperti seekor burung walet, didahului sinar pedang seperti kilat menyambar yang bergulung-gulung dan berputaran ke arah tubuh kakek itu.

Kok Beng Lama masih sempat mengelak, akan tetapi pada saat itu, Bi Kiok sudah menggerakkan tangan kiri dan serangkum sinar hijau melayang ke arah Lie Seng.

“Wanita kejam, kau boleh juga!” Kok Beng Lama berseru dan kini dia menubruk, kedua lengan bajunya bergerak berputaran seperti kitiran besar tertiup angin. Bi Kiok berusaha untuk menjatuhkan diri sambil memutar pedang, akan tetapi pedangnya terpental ketika tersampok ujung lengan baju dan dia menjerit kecil ketika pundaknya keserempet ujung lengan baju lawan yang mendatangkan rasa nyeri bukan main. Dia meloncat tinggi dan jauh terus melarikan diri.

Kok Beng Lama hendak mengejar, akan tetapi dia mendengar rintihan seorang anak. Dia berhenti dan menengok, lalu cepat menghampiri Lie Seng yang sudah roboh terlentang dengan muka berubah kehijauan. Anak ini telah terkena sambaran Siang-tok-swa, yaitu pasir beracun yang amat jahat itu, tepat pada muka, leher dan dadanya! Tentu saja dia menjadi pingsan seketika, keracunan dan napasnya menjadi empas-empis!

“Ah, celaka…!” Kok Beng Lama menyambar tubuh anak itu, dipondongnya dan dia lalu mengamuk. Pohon-pohon roboh ditendang dan dicabutnya, batu-batu besar hancur oleh pukulan dan tendangannya, kemudian dia berlari cepat seperti terbang membawa tubuh Lie Seng.

Yo Bi Kiok yang cerdik, setelah meloncat jauh lalu bersembunyi karena dia maklum bahwa kakek gundul yang lihai seperti iblis itu kalau mengejarnya tentu dia tidak akan mampu melarikan diri. Dari tempat persembunyiannya dia melihat betapa kakek itu memondong Lie Seng sambil mengamuk. Bergidik dia menyaksikan amukan kakek itu. Selama hidupnya baru satu kali ini dia bertemu dengan orang yang kepandaiannya sehebat itu. Kalau dibandingkan dengan lima datuk kaum sesat di waktu dahulu, biarpun mereka itu amat hebat kepandaiannya dan seorang di antara mereka adalah gurunya sendiri, Bu Leng Ci, maka kepandaian lima datuk itu masih kalah jauh oleh kakek gundul yang luar biasa dan yang seperti orang gila ini. Setelah kakek itu pergi jauh dan terdengar suara tangisnya yang aneh sampai suara itupun menghilang, barulah Bi Kiok berani keluar dan pergi dari tempat itu dengan hati masih merasa serem.

***

Lembah Bunga Merah terbentang di lereng Pegunungan Kui-kok-san. Pemandangan alam di tempat itu mentakjubkan sekali. Apalagi di musim semi, di waktu bunga-bunga kecil merah yang memenuhi lembah itu berkembang. Dipandang dari tempat yang lebih tinggi, lembah itu seolah-olah diselimuti permadani merah yang halus dan rata. Bahkan di waktu tidak ada bunga, lembah itu nampak kehijauan dan daun-daun, pohon dan rumput, seperti lautan yang tenang.

Akan tetapi sungguh sayang sekali, keindahan alam itu yang semestinya menarik minat banyak orang untuk mengunjungi dan menikmatinya, dirusak oleh nama seseorang yang menimbulkan perasaan jerih sehingga tidak ada orang berani mandekati tempat yang disebut Lembah Bunga Merah itu. Orang ini adalah datuk kaum sesat, wanita iblis yang berjuluk Hui-giakang (Si Kelabang Terbang) Ciok Lee Kim! Setelah wanita iblis ini tinggal di tempat itu sejak beberapa tahun yang lalu, dia menganggap lembah itu seolah-olah miliknya pribadi dan mengusiri para penduduk di sekitar lembah, bahkan menggunakan kekerasan terhadap siapapun yang berani mendekati tempat itu, mengandalkan kepandaiannya yang tinggi. Karena banyak orang yang mencoba melawannya mati dengan sia-sia, maka terkenallah dia sebagai seorang iblis betina yang ditakuti dan nama Lembah Bunga Merah yang tadinya merupakan nama yang menimbulkan kesan indah, kini berubah sebagai tempat yang mendatangkan rasa ngeri dan takut.

Akan tetapi tempat itu tidaklah sepi biarpun tidak ada lagi penduduk yang terdiri dari rakyat biasa, karena Hui-giakang Ciok Lee Kim menempati daerah itu bersama dua orang murid wanita dan tiga puluh anak buahnya laki-laki dan perempuan yang kesemuanya merupakan juga anak murid, pelayan dan pasukan. Para anak buah ini yang mengadakan hubungan dengan orang luar untuk mencari keperluan mereka dan sepak terjang para anak buah yang mengandalkan nama besar Hui-giakang inilah membuat nama Lembah Bunga Merah ditakuti.

Para pembesar dari tempat-tempat yang berdekatan dengan Lembah Bunga Merah tidak ada yang menentang Si Kelabang Terbang itu, bahkan seolah-olah “melindungi” karena banyaklah emas dan perak yang beterbangan ke dalam saku mereka dari lembah itu sehingga Hui-giakang Ciok Lee Kim dan anak buahnya dianggap sebagai warga-warga yang baik dan dermawan. Hal seperti ini terjadi di seluruh negeri, bahkan seluruh duniapun mengenal keadaan seperti itu, betapa dengan kekuasaan uang manusia dapat membeli kedudukan, nama baik, dan sebagainya. Hal seperti ini pasti terjadi di manapun juga di dunia ini selama kita menilai kebaikan dan kejahatan berdasarkan untung rugi bagi diri sendiri. Yang menguntungkan kita, kita anggap baik dan yang merugikan kita, kita anggap jahat. Maka terjadilah sogok-menyogok, suap-menyuap dan karena menguntungkan dirinya, maka si penyogok tentu dianggap baik oleh yang menerima sogokan

Semenjak Lima Bayangan Dewa dengan berani menentang Cin-ling-pai, Lembah Bunga Merah selalu dijaga dengan ketat oleh anak buah Ciok Lee Kim karena seperti diketahui, wanita ini merupakan orang keempat dari Lima Bayangan Dewa. Oleh karena itu ketika Kiam-mo Liok Sun dan Bun Houw memasuki daerah lembah ini, mereka berdua segera dihadang dan dikepung oleh belasan orang anak buah Lembah Bunga Merah yang bersikap bengis dan memegang senjata tajam di tangan masing-masing.

Akan tetapi Kiam-mo Liok Sun mengangkat tangan ke atas dan berkata dengan sikap tenang, “Harap para sobat jangan salah mengenal orang. Aku adalah Kiam-mo Liok Sun, sahabat baik dari majikan kalian. Daripada terjadi salah paham dan kalian nanti ditegur oleh Hui-giakang, lebih baik kalian antar kami pergi menghadap Ciok-toanio (nyonya besar Ciok).”

Melihat sikap dan mendengar ucapan Liok Sun, dan pula melihat bahwa mereka hanya terdiri dari dua orang, para anak buah Lembah Bunga Merah memandang rendah lalu mengiring dua orang ini ke tengah lembah di mana terdapat bangunan-bangunan perkampungan yang menjadi tempat tinggal mereka.

Legalah hati para anak buah itu ketika mereka melihat pemimpin mereka keluar sendiri menyambut dua orang tamu itu. Mereka bubaran mengundurkan diri ketika Ciok Lee Kim, wanita berusia lima puluh tahun yang masih cantik dan pesolek itu, menyambut sendiri kedatangan Kiam-mo Liok Sun dengan senyum lebar, kemudian melihat wanita itu menggandeng tangan Liok Sun yang diiringkan Bun Houw memasuki rumah besar itu.

“Ahai, kiranya si setan judi yang datang!” Hui-giakang Ciok Lee Kim tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi yang terawat rapi, matanya jalang menyambar ke arah pemuda tampan di belakang sobatnya itu. “Angin apa yang meniupmu terbang sampai ke sini, orang she Liok?” tanya wanita itu sambil menggandeng tangan tamunya.

“Aku datang mencarimu untuk menghaturkan terima kasih, toanio, karena berkat pertolonganmu dahulu, aku telah berhasil membalas dendam dan membunuh si keparat Phang Un dan isteriku yang tidak setia!”

“Aihh, di antara kita mana perlu terima kasih? Aku senang sekali kau datang, dan ini… siapakah pemuda ini?”

“Ah, ini adalah pembantuku yang baru, tangan kananku. Dia she Bun bernama Houw.”

Hui-giakang Ciok Lee Kim memandang Bun Houw yang menjura kepadanya dari atas ke bawah dengan sinar mata kagum. “Hemm, pengawalmu, ya? Begini muda sudah kaupercaya menjadi pengawalmu, tentu hebat dia! Dan tepat sekali dengan namanya. Engkau gagah seperti harimau (houw), orang muda!”

Wajah pemuda ini menjadi merah sekali dan dia menjura sambil berkata, “Toanio terlalu memuji.” Ciok Lee Kim tertawa terkekeh senang, menyangka bahwa pemuda itu masih hijau dan wajahnya memerah madu oleh pujiannya. Kalau saja dia tahu bahwa merahnya wajah pemuda itu sama sekali bukan karena “malu-malu”, melainkan karena kemarahan yang naik ke atas kepala melihat seorang di antara musuh besar Cin-ling-pai di depannya!

Kalau menurutkan perasaan hatinya, ingin Bun Houw seketika menyerang dan membunuh wanita yang menjadi seorang di antara musuh-musuh besar yang telah mencuri pedang Siang-bhok-kiam dan membunuh murid-murid Cin-ling-pai ini. Akan tetapi, pemuda ini cukup cerdas dan dia tidak mau manuruti nafsu kemarahannya karena dia ingin lebih dulu menyelidiki tentang empat orang musuh yang lain, dan juga tentang di mana adanya pedang pusaka ayahnya yang mereka curi. Maka dia berlaku sabar dan mengikuti Liok Sun dan Ciok Lee Kim.

“Liok Sun, kebetulan sekali kau datang. Akupun sedang menjamu tamu-tamu agung ketika anak buahku melaporkan kedatanganmu. Mari, mari kalian kuperkenalkan dengan tamu-tamuku, orang-orang yang di waktu ini terkenal sebagai tokoh-tokoh besar dunia persilatan.”

Liok Sun mengerutkan alisnya, hatinya kurang senang bahwa kedatangannya menemui bekas kekasihnya ini akan terganggu oleh tamu-tamu lain. “Siapakah mereka?” tanyanya, tidak tahu bahwa diam-diam pemuda di belakangnya menaruh perhatian besar dengan hati tegang.

“Marilah, kalian ikut saja dan melihat sendiri!” Wanita itu terkekeh bangga dan mereka memasuki ruangan yang lebar di sebelah dalam rumah. Di tengah ruangan itu terdapat sebuah meja yang besar dan penuh dengan hidangan dan empat orang duduk mengelilingi meja itu. Bun Houw dengan sikap hormat memandang dengan penuh perhatian ketika Ciok Lee Kim memperkenalkan Liok Sun kepada para tamu itu sambil tertawa. Dengan menggandeng tangan Liok Sun yang ditariknya dekat meja, wanita itu berkata kepada empat orang tamunya itu, “Ini adalah sahabat baik saya, Kiam-mo Liok Sun, majikan dari Hok-po-koan di kota Kiang-shi!”

“Aihh, Ciok-toahio, mana berani saya disebut Kiam-mo (Setan Pedang) dengan pengetahuanku yang rendah ini?” Liok Sun membantah ketika melihat bahwa empat orang itu terdiri dari seorang setengah tua, dua orang kakek tua dan seorang nenek tua yang semua kelihatan sebagai orang-orang yang luar biasa.

Empat orang itupun agaknya memandang rendah karena mereka membalas penghormatan Liok Sun tanpa berdiri dari kursi masing-masing.

“Liok Sun, dia ini adalah Hwa Hwa Cinjin, ini adalah Hek I Siankouw, dan locianpwe itu adalah Bouw Thaisu, tiga orang tua yang merupakan datuk-datuk persilatan dengan ilmu kepandaian yang sukar dicari tandingan. Dan dia ini adalah Toat-beng-kauw Bu Sit yang namanya sudah tidak asing lagi di dunia kang-ouw.” Dengan suara penuh kebanggaan akan kehebatan para tamunya, wanita itu memperkenalkan.

Liok Sun terkejut dan cepat menjura lagi. Bun Houw lebih terkejut lagi, terutama sekali mendengar disebutnya nama Toat-beng-kauw Bu Sit yang tentu saja dia kenal sebagai nama orang kelima dari Bayangan Dewa yang berjumlah lima orang itu! Dari Lima Bayangan Dewa ini telah berdiri di depannya dua orang! Sungguh merupakan hal yang amat kebetulan sekali! Akan tetapi dia tetap menahan sabar. Kelau dia turun tangan dan andaikata dia berhasil membunuh dua orang musuh ini, masih ada tiga orang lainnya yang belum dia ketahui di mana tempat tinggalnya dan dia masih harus menyelidiki di mana disimpannya Siang-bhok-kiam.

Sebagai seorang pengawal, Bun Houw dipersilakan duduk menghadapi meja lain di sudut, dan tak lama kemudian dua orang wanita murid Ciok Lee Kim datang memperkenalkan diri dan menemani Bun Houw makan minum, sedangkan Liok Sun tentu saja makan minum bersama nyonya rumah dan empat orang tamunya.

Dapat dibayangkan betapa canggung dan malu-malu rasa hati Bun Houw. Dia baru saja pulang dari Tibet dan belum biasa dengan pergaulan, apalagi dengan wanita dan sekarang dia makan minum dengan dua orang wanita muda yang menemaninya! Dua orang wanita murid Ciok Lee Kim itu adalah dua orang wanita yang usianya antara dua puluh lima sampai tiga puluh tahun, berpakaian mewah dan pesolek seperti guru mereka, berwajah cantik dan berwatak genit! Apalagi karena Bun Houw adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah, maka dua orang wanita muda yang menemaninya itu merasa tertarik dan tanpa sembunyi-sembunyi lagi mereka memperlihatkan rasa senang dan kagumnya kepada Bun Houw. Hal ini tentu saja membuat Bun Houw menjadi makin canggung dan gugup sehingga dengan sukar dia menelan mekanan yang dihidangkan. Melihat pandang mata dua orang wanita itu yang seolah-olah hendak menelanjanginya, kadang-kadang pandang mata mereka itu seperti hendak menelannya bulat-bulat, membuat mulut yang tersenyum penuh gairah, kata-kata bisikan yang setengah merayu, kadang-kadang mereka menyuguhkan arak dari cawan mereka, kadang-kadang menyumpitkan potongan-potngan daging yang terbaik untuknya, semua ini membuat jantung Bun Houw berdebar keras kerena… ngeri! Akan tetapi dia menyambut semua itu dengan sikap sopan dan dengan muka lebih banyak menunduk untuk menghindarkan pertemuan pandang mata. Sikapnya yang malu-malu dan jelas membayangkan sikap seorang pemuda yang masih hijau, masih perjaka dan belum berpengalaman ini mtmbuat dua orang murid Ciok Lee Kim menjadi makin bergairah. Kadang-kadang mereka cekikinan dan mereka berdua merasa gembira sekali, tidak tahu betapa pandang mata Ciok Lee Kim dari meja besar kadang-kadang berkilat penuh iri ke arah meja kecil mereka.

Akhirnya perjamuan itu berakhir dan dua orang murid Ciok Lee Kim itu sambil tersenyum memenuhi perintah guru mereka, mengantarkan Bun Houw ke sebuah kamar yang diperuntukkannya. Pemuda ini dapat juga mengerti bahwa kedua orang musuh besar itu amat kuat. Dua orang kakek dan seorang nenek yang menjadi tamu mereka itu adalah orang-orang yang tidak boleh dipandang ringan. Sungguhpun tentu saja dia tidak takut menghadapi mereka semua, akan tetapi akan lebih aman dan ringan baginya kalau dia turun tangan malam nanti, membunuh dua orang itu setelah memaksa mereka mengaku di mana adanya tiga orang lainnya dan di mana pula disimpannya Siang-bhok-kiam yang mereka curi.

Akan tetapi, betapa keget, bingung dan malu bercampur muak rasa hatinya ketika tiba di dalam kamar tamu itu, dua orang murid perempuan Ciok Lee Kim tidak mau keluar lagi dan bersikap genit serta mengeluarkan kata-kata rayuan tanpa mengenal malu sedikitpun juga!

“Harap ji-wi cici (kedua kakak) suka meninggalkan saya karena saya sudah lelah dan mengantuk sekali.” Akhirnya Bun Houw berkata ketika melihat dua orang wanita itu belum juga meninggalkan kamarnya.

“Kalau engkau lelah dan mengantuk, tidurlah, dan kami akan menjagamu, adik Bun Houw yang baik,” berkata yang muda sambil terkekeh genit dan matanya mengerling tajam penuh tantangan. “Aku akan memijati tubuhmu…”

“Sumoi berkata benar,” kata yang lebih tua. “Memang kami bertugas untuk menemanimu dan melayanimu, hi-hik…”

Bun Houw terkejut sekali dan memandang dengan mata terbelalak. “Akan tetapi… aku… ji-wi berdua… kita…” Sukar baginya untuk melanjutkan kata-katanya karena dia sungguh merasa heran dan kaget mendengar betapa dua orang wanita ini akan menemani tidur!

Akan tetapi dua orang wanita cantik itu tertawa-tawa genit, mentarfsirkan kata-kata dan kecanggungan Bun Houw sesuai dengan selera mereka.

“Heh-heh, Bun-siauwte jangan sungkan dan malu-malu. Kami suci dan sumoi sudah biasa hidup akur dan saling membagi apa saja,” kata yang lebih tua.

“Benar, adik Bun yang gagah, dan boleh kau nilai nanti, siapa di antara kami yang lebih lihai… hi-hi-hik!” kata yang muda.

Bun Houw melongo dan matanya terbelalak melihat betapa dua orang wanita muda itu telah menaggalkan pakaian luar mereka dengan gerakan yang memikat sekali. Kini mereka tersenyum memandang kepadanya dalam pakaian dalam berwarna merah muda dan hijau muda, pakaian dalam yang terbuat dari bahan tipis sekali sehingga tembus pandang dan dia dapat melihat garis-garis bentuk tubuh mereka yang tidak ditutup apa-apa lagi di bawah pakaian dalam itu. Sang suci (kakak seperguruan perempuan) sambil tersenyum penuh gairah dengan pandang mata penuh nafsu, mengangkat lengannya ke atas dan ke belakan kepala untuk melepaskan sanggul dan mengurai rambut. Gerakan ini tentu saja menonjolken bagian depan dadanya yang nampak membayang di balik kain tipis itu. Adapun sang sumoi yang pakaian dalamnya berwarna hijau muda, melangkah dengan lenggang lemah gemulai untuk menaruh pakaian luar mereka ke atas meja di sudut dan di waktu melenggang membelakangi Bun Houw itu, gerakan langkahnya membuat sepasang bukit pinggulnya menari-nari!

Bun Houw merasa napasnya sesak! Dengan mata terbelalak dan muka merah dia melihat itu semua dan berkali-kali dia harus menelan ludah karena jantungnya berdebar dan lehernya terasa kering.

“Harap ji-wi suka membiarkan saya sendiri saja mengaso…” Dia membantah.

Akan tetapi dua orang wanita itu kini melangkah mendekatinya sambil tersenyum dan Bun Houw memperoleh perasaan seakan-akan dua orang wanita itu sedang mengancamnya dan hendak menyerangnya! Tentu saja dia menjadi semakin bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.

“Adik Bun, engkau tampan, gagah dan ganteng sekali. Mari kubuka sepatumu agar kita dapat mengaso dengan enak…” kata sang sumoi.

“Dan biarkan aku membuka pakaianmu, Bun-hiante…” Sang suci juga berkata dengan suara merayu.

Bun Houw mengambil keputusan untuk menggunakan kekerasen. Gara-gara dua orang wanita yang agaknya haus dan gila laki-laki ini urusannya bisa kacau dan gagal. Dia akan membuat mereka tidak berdaya dan meninggalkan mereka di kamar itu. Akan tetapi baru saja semua urat syaraf di tubuhnya menegang, siap untuk bergerak turun tangan, tiba-tiba dari luar pintu kaMar itu terdengar suara laki-laki, “Ai-kwi dan Ai-kiauw… apakah kalian berada di dalam?”

Bun Houw terkejut bukan main dan tentu saja dia menahan gerakan tangannya yang tadi sudah siap untuk menotok mereka. Dua orang wanita itu menoleh ke arah pintu, dan yang lebih tua menjawab, “Ah, Bu-susiok (paman guru Bu) di luar? Benar, kami berada di sini menemani tamu!”

Daun pintu kamar itu terdorong dan terbuka karena memang tadi tidak dipalang saking tidak sabarnya kedua orang wanita yang sudah didorong nafsu berahi itu. Bun Houw menjadi merah sekali mukanya saking malu ketika melihat Toat-beng-kauw Bu Sit, laki-laki berusia empat puluh tahun yang kurus, dan mukanya seperti monyet, kuning dan pucat itu, masuk ke dalam kamar itu sambil tertawa.

“Ha-ha-ha, aku mencari kalian setengah mati, kiranya kalian bermain-main di sini. Pengawal muda ini sebagai tamu boleh kalian hibur, akan tetapi cukup seorang sajapun dia tidak akan mampu menang. Ha-ha! Ai-kwi… aku sudah rindu kepadamu, mari kautemani pamanmu yang kesepian.” Setelah berkata demikian, si muka monyet merangkul pinggang yang ramping itu dengan mesra.

Sang suci mengerutkan alisnya dan tampak jelas oleh Bun Houw betapa wajah yang cantik itu menjadi buruk dan kejam ketika bersungut-sungut. “Aihh… susiok, biar sumoi saja malam ini menemanimu…” Wanita itu membantah halus.

“Siapa? Ai-kiauw…? Ah, Ai-kwi, aku rindu padamu, sudah lama benar… heh-hehm, dan Ai-kiauw baru kemarin menemani aku. Hayolah…!” Dia menarik dan memaksa wanita itu.

Ai-kwi bersungut-sungut dan terpaksa menyambar pakaian luarnya dan membiarkan dirinya dirangkul dan didorong keluar dari kamar setelah dia melempar pandang mata penuh kekecewaan dan penasaran ke arah Bun Houw.

“Hi-huuuuuhh…!” Ai-kiauw bersorak gembira, lari dengan lenggang-lenggok ke arah pintu, menutupkan pintu dan memalangnya, kemudian dia lari kembali dan meloncat, menubruk Bun Houw sehingga pemuda itu terjengkang ke atas pembaringan. “Sekarang kita hanya berdua, orang tampan…!” Wanita itu lalu menghujankan ciuman ke seluruh muka Bun Houw sampai pemuda ini menjadi gelagapan. Sejenak Bun Houw tertegun, kemudian terbayanglah wajah Yalima. Mengapa ketika dia berciuman dengan Yalima, dia merasa babagia dan nikmat, akan tetapi ciuman-ciuman penuh nafsu berahi dari wanita ini membuat dia merasa muak?

“Enci, jangan begitu…!” Dia mendorong halus dan pada saat itu terdengar panggilan dari luar pintu.

Mendengar suara ini, Ai-kiauw terkejut sekali dan cepat dia meloncat ke sudut kamar. Bun Houw kagum sekali melihat kecepatan Ai-kiauw mengenakan pakaian luarnya. Kemudian wanita ini bergegas membuka pintu kamar. Kiranya Hui-giakang Ciok Lee Kim sendiri yang berdiri di depan pintu itu!

“Maaf, subo. Subo memanggil teecu?” Ai-kiauw bertanya dengan sikap hormat.

Sepasang mata yang tajam dan galak itu memandang muridnya penuh selidik, kemudian pandang matanya menyapu ke arah Bun Houw dan ke arah pembaringan. Agaknya keadaan pemuda itu dan pembaringannya melegakan den memuaskan hati wanita ini. Dia mengangguk dan berkata, “Kau pergi ke kamar tamu kita, Kiam-mo Liok Sun, kautemani dia!”

Jelas betape Ai-kiauw kelihatan terkejut dan kecewa bukan main. “Akan tetapi… teeeu kira… subo dan dia…”

“Cerewet, pergilah! Yang tua harus berpasangan dengan yang muda agar yang muda bertambah pengalaman dan yang tua awet muda. Hayo pergi memenuhi perintah!” Ciok Lee Kim membentak.

“Baik, subo…” Ai-kiauw mengambil pakaian luarnya, kemudian keluar dari kamar itu dengan kepala ditundukkan.

Ciok Lee Kim menutupkan daun pintu dan dia menghampiri Bun Houw sambil tersenyum genit. Wanita berusia lima puluh tahun ini masih nampak cantik karena dia pandai bersolek dan memang dahulunya dia adalah cantik.

“Muridku memang bandel. Apakah dia tadi mengganggumu, orang muda she Bun? Kalau dia mengganggumu, biar kuhukum dia di depanmu.” Sepasang mata itu memandang wajah Bun Houw dengan sinar aneh.

Sejak tadi Bun Houw sudah merasa makin muak menyaksikan tingkah laku dua orang murid dan guru mereka itu. Dari sikap dan kata-kata mereka saja sudah jelas dapat dinilai orang-orang macam apa adanya mereka. Akan tetapi diam-diam dia merasa girang karena kini musuh yang seorang ini datang sendiri tanpa dia harus mencarinya di kamarnya. Dia akan membekuk wanita ini dan memaksanya mengaku tentang tiga orang musuhnya yang lain dan tentang pedang Siang-bhok-kiam, kemudian dia akan membunuh Bu Sit dan pergi dari tempat itu untuk mencari tiga orang yang lain dan pedang Siang-bhok-kiam.

Bun Houw menggeleng kepalanya. “Tidak, toanio. Tidak ada yang mengganggu saya.” jawabnya.

“Syukurlah kalau begitu. Kau adalah seorang tamu, harus dilayani dengan baik, karena itu aku sendiri yang akan menemanimu malam ini, orang muda. Marilah, mari kita rebahan sambil omong-omong… aku ingin mendengar riwayatmu. Kau menarik hatiku, tidak sama dengan pemuda-pemuda lain… jangan sungkan-sungkan, ke sinilah…” Wanita itu sudah duduk di pinggir pembaringan dia menggapai mengajak pemuda itu duduk di dekatnya.

Bun Houw hampir tak dapat menahan kemarahannya. “Tidak…!” Dia menggeleng kepalanya. “Dua orang murid toanio tadi pun membujuk saya, akan tetapi saya… saya bukanlah laki-laki seperti itu…!”

Ucapan ini membuat wajah Ciok Lee Kim menjadi merah sekali dan tiba-tiba wanita ini menggerakkan tubuhnya membalik, tangan kanannya bergerak.

“Wirrrr…!”

Bun Houw terkejut bukan main, tadinya menyangka bahwa wanita itu marah kepadanya dan menyerangnya, akan tetapi ternyata senjata piauw beronce merah itu menyamber ke arah jendela kamar itu, menembus jendela dan terdengar jatuh berkerontangan di luar kamar.

“Keparat jangan lari kau!” Tubuh Ciok Lee Kim sudah meloncat dengan gerakan yang ringan sekali, kakinya menendang jebol daun jendela dan tubuhnya sudah mencelat keluar.

Barulah pemuda itu tahu bahwa tadi ada orang mengintai dari luar jendela. Dia merasa heran sekali mengapa dia tidak lebih dulu melihatnya atau mendengarnya. Hal ini adalah karena dalam keadaan tergoda bujuk rayu wanita-wanita tadi, hati Bun Houw berdebar dan kacau tidak karuan dan hal ini mengurangi kewaspadaannya. Andaikata dia berada dalam keadaan biasa, tentu sebelum Ciok Lee Kim mendengar sesuatu, dia akan lebih dulu dapat mendengarnya.

“Tangkap penjahat…!” Terdengar teriakan wanita itu di luar. Bun Houw juga meloncat keluar dari kamar dan setibanya di ruangan besar dia melihat betapa Ciok Lee Kim, Bu Sit, dua orang kakek dan seorang nenek tamu, juga Kiam-mo Liok Sun dan dua orang murid wanita Ciok Lee Kim, semua sudah berada di situ dengan pakaian dan rambut kusut, agaknya tergesa-gesa meninggalkan kamar tidur oleh teriakan Ciok Lee Kim tadi. Mereka semua ini mengurung tiga orang yang berdiri di tengah ruangan dengan pedang di tangan. Dan selain tokoh-tokoh kaum sesat itu, juga tampak anak buah Lembah Bunga Merah sudah mengurung ruangan itu dari sebelah luar. Bun Houw memandang dengan penuh perhatian.

Tiga orang itu biarpun sudah dikepung, kelihatan sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut. Moreka itu adalah dua orang gadis dan seorang pemuda, usia mereka antara dua puluh sampai dua puluh lima tahun, kelihatan cantik, tampan, dan gagah dengan pedang melintang di depan dada, saling mengadu punggung dan menghadapi kepungan banyak orang itu. Diam-diam Bun Houw kagum menyaksikan kegagahan mereka, akan tetapi juga mencela kecerobohan mereka, berani secara sombrono memasuki guha harimau yang amat berbahaya ini.

“Hemm, kalian seperti tiga ekor tikus yang terkurung!” Ciok Lee Kim mengejek kepada mereka. “Hayo kalian mengaku, siapa kalian dan mengapa kalian berani memasuki tempat kami tanpa ijin. Jawab, agar kalian tidak mati tanpa nama!”

Pemuda yang mewakili dua orang kawannya itu memandang kepada wanita ini dengan sinar mata berapi-api. “Kami adalah murid-murid Bu-tong-pai yang datang hendak menuntut balas atas kematian suheng kami seminggu yang lalu di luar hutan Lembah Bunga Merah.”

“Siapa suheng kalian dan apa hubungan kematiannya dengan kami?” Ciok Lee Kim mengerutkan alisnya. Semenjak dia

bersama empat orang saudara segolongannya yang bergabung menjadi Lima Bayangan Dewa berhasil menyerbu Cin-ling-pai, mereka berlima selalu berhati-hati, tidak menanam permusuhan dengan lain golongan, bahkan berusaha mencari teman-teman untuk diajak bersama menghadapi Cin-ling-pai. Maka mendengar murid-murid Bu-tong-pai memusuhinya, dia menjadi heran dan terkejut.

“Suheng kami sebelum meninggal dunia mengatakan bahwa dia dilukai oleh dua orang murid Lembah Bunga Merah.”

“Hemmm…” Ciok Lee Kim memandang ke sekelinngnya, ke arah para anak buah Lembah Bunga Merah.

“Subo, kami yang melukainya!” Tiba-tiba Ai-kwi dan Ai-kiauw melangkah maju.

Ciok Lee Kim memandang dua orang muridnya itu dengan alis berkerut. “Apa yang terjadi?” tuntutnya.

“Pemuda itu terlalu menghina kami, mengatakan bahwa kami dan orang-orang Lembah Bunga Merah adalah orang-orang cabul yang tak tahu malu. Kami bertanding melawan dia dan dia melarikan diri dengan luka-luka berat. Kami tidak tahu bahwa dia itu murid Bu-tong-pai atau murid siapa, yang jelas dia kurang ajar.”

“Bohong!” Tiba-tiba seorang di antara dua gadis itu berseru marah. “Kam-suheng menceritakan kepada kami bahwa dia kalian bujuk rayu, kalian perempuan-perempuan jalan yang tak tahu malu. Kam-suheng adalah seorang laki-laki sejati, mana sudi menuruti kehendak cabul kalian? Karena suheng menolak, kalian mengeroyok dan melukainya!”

Wajah kedua orang murid Ciok Lee Kim berubah merah. “Subo, kalau manusia itu tidak menghina, kami tentu tidak akan melukainya. Subo mendengar sendiri betapa busuk mulut orang-orang ini menghina kita!”

“Perempuan jalang dan cabul!” Gadis murid Bu-tong-pai yang sesungguhnya adalah pacar dan calon isteri suhengnya sendiri yang tewas itu sudah memekik dan dengan pedangnya dia menyerang Ai-kwi dan Ai-kiauw. Dua orang wanita ini mengelak lalu membalas dan bertandinglah Ai-kwi dan Ai-kiauw melawan tiga orang murid Bu-tong-pai itu.

Para orang tua itu mula-mula hanya menonton. Ilmu Pedang Bu-tong-pai terkenal bagus gayanya dan kuat serta cepat, dan dan kini Ai-kwi dan Ai-kiauw yang juga menggunakan pedang, setelah lewat lima puluh jurus, terdesak hebat oleh pedang tiga orang murid Bu-tong-pai itu.

“Bu-sute, kauwakili aku tangkap tiga orang bocah kurang ajar ini!” Melihat betapa dua orang muridnya terdesak, Hui-giakang Ciok Lee Kim menyuruh Toat-beng-kauw Bu Sit yang disebutnya sute, untuk maju. Biarpun Lima Bayangan Dewa itu tidak mempunyai hubungan perguruan, melainkan hubungan segolongan dan terutama sekali sama-sama menaruh dendam kepada ketua Cin-ling-pai, akan tetapi semenjak mereka memakai nama Lima Bayangan Dewa, mereka saling menyebut adik dan kakak seperguruan.

“Tar-tar-tarrr…!” Joap-pian atau cambuk baja di tangan Toat-beng-kauw Bu Sit meledak-ledak ketika dia menerima perintah ini. Tubuhnya mencelat ke depan dengan keringanan seekor burung, dan tahu-tahu joan-pian di tangannya sudah melecut-lecut dan menyambar-nyambar ganas.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: