Dewi Maut (Jilid ke-26)

Toat-beng-kauw Bu Sit menjadi girang sekali dan dia cepat minta kepada anak buah Lembah Bunga Merah untuk mengambilkan dua batang kaitan baja dan dengan wajah beringas dia menghampiri Bun Houw. Pemuda ini maklum bahwa dia tidak akan terlepas dari ancaman siksaan atau bahkan maut di tangan musuh-musuhnya ini, akan tetapi dia adalah seorang pemuda berjiwa gagah perkasa yang sejak kecil telah digembleng oleh orang tuanya maka sedikitpun dia tidak merasa jerih.

Sambil mengeluarken bentakan, Bu Sit yang kehilangan sebelah daun telinganya dan merasa malu dan marah sekali kepada pemuda itu, lalu menusukkan kaitan-kaitan itu di pundak Bun Houw. Tentu saja hal ini mendatangkan rasa kenyerian yang amat hebat. Bun Houw memejamkan matanya dan mematikan rasa, akan tetapi karena besi-besi kaitan itu menembus kulit daging dan mengait tulang kunci pundaknya, dia tidak dapat bertahan lagi, mengeluh panjang dan pingsan!

Setelah dia siuman kemball, Bun Houw mendapatkan dirinya telah berada di dalam sebuah kamar yang kokoh kuat. Dia rebah di atas pembaringan batu, kedua tangannya terbelenggu dan kaitan yang mengait kedua tulang pundaknya itu disambung rantai panjang dan diikatkan pada dinding sehingga andaikata dia dapat menggunaken tenaga sin-kang untuk mematahkan belenggu, tentu geraken ini akan membuat tulang-tulang pundaknya tertarik patah! Dengan tulang pundak terkait baja-baja kaitan itu, dia benar-benar tidak berdaya dan biar dia memiliki kekuatan sepuluh kali lipatpun tidak mungkin dia dapat membebaskin diri tanpa mematahkan kedua tulang pundaknya dan kalau hal ini terjadi berarti kedua lengannya menjadi lumpuh.

Perasaan nyeri yang mengentak-entak dan berdenyut-denyut sampai ke ujung ubun-ubun kepalanya, membuat dia memejamkan matanya kembali. Lalu dia teringat akan ilmu yang dia pelajari dari Kok Beng Lama, yaitu ilmu untuk mematikan rasa. Setiap orang pendeta yang suka bertapa dan melakukan upacara menyiksa diri seperti para pendeta Lama tentu mahir akan ilmu ini. Dengan ilmu mati rasa ini mereka mampu melakukan segala macam bentuk penyiksaan diri dan puasa tanpa terlalu sangat menderita. Bun Houw memejamkan matanya dan “menutup” saluran pikiran dengan perasaan tubuh melalui urat syaraf. Tak lama kemudian dia sudah membuka matanya dan dia seperti dalam keadaan “lupa” bahwa tubuhnya tersiksa dan rasa nyeri yang hebat itu tidak lagi terlalu mengganggunya. Dia mulai memeriksa keadaan sekelilingnya dengan pandang mata penuh selidik.

Kamar itu amat kuat, tidak berjendela, hanya berpintu sebuah yang terbuat dari besi dan di bagian atasnya berterali. Dari celah-celah terali baja sebesar lengan tangan itu dia melihat kepala banyak orang yang agaknya menjaganya. Sudah dibelenggu, dikait kedua tulang punggungya, dikeram di dalam kamar yang kokoh kuat, masih dijaga ketat lagi. Bagaimana dia akan mampu membebaskan diri? Bahkan pertolongan dari luarpun, kalau ada, merupakan ketidakmungkinan besar. Dari celah-celah terali itu pula Bun Houw dapat menduga bahwa waktu itu masih malam, terbukti dari penerangan lampu yang menyorot dari luar pintu. Dia merasa heran sekali. Ketika dia tertawan, hari sudah hampir pagi, kenapa sekarang masih juga gelap? Dia tidak tahu bahwa dia telah pingsan selama satu hari penuh dan sekarang memang telah malam lagi.

Pintu besi terbuka dan muncullah Ciok Lee Kim dan Bu Sit dan pintu segera ditutup kembali. Bun Houw memandang dengan mata terbelalak penuh tantangan. “Kalian manusia-manusia tak tahu malu, pengecut besar!” Dia memaki.

“Wah, dia sudah siuman sekarang, suci. Lekas suci yang menanyai dia, kalau dia berkeras kepala tidak terus terang, aku yang akan menyiksanya sampai dia mengaku!” Bu Sit menghampiri pembaringan batu dengan wajah beringas penuh kekejaman siap dengan sebatang jarum panjang hitam. Sekali pandang saja maklumlah Bun Houw bahwa yang dipegang Monyet Pencabut Nyawa yang kini buntung daun telinganya itu tentu sebatang jarum yang mengandung racun hebat. Si muka monyet itupun memegangnya dengan menggunaken saputangan untuk melindungi jari-jarinya yang menjepit ujung gagang jarum.

“Orang she Bun,” Ciok Lee Kim kini menghampiri dan memandang Bun Houw tidak lagi dengan pandang mata penuh gairah berahi seperti kemarin malam, melainkan dengan pandang mata penuh ancaman. “Sudah satu hari kami menunggu dan baru sekarang kau siuman. Kau tahu bahwa kau tidak mungkin dapat meloloskan dirl lagi.”

Tidak perlu banyak cerewet, aku sudah tertangkap karena kalian orang-orang pengecut menggunakan pengeroyokan. Sekarang mau bunuh lekas bunuh, siapa takut mati?” Bun Houw mengejek.

“Hi-hi-hik, justeru itulah yang tidak kami kehendaki. Terlalu enak kalau kau mati begitu saja. Kaulihat apa yang dipegang oleh Bu-sute itu? Bukan jarum sembarang jarum. Jarum ini sudah direndam dengan racun kelabang hitam yang amat jahat. Kalau jalan darah tertentu di tubuhmu tertusuk jarum ini, engkau akan merasakan siksaan yang belum tentu terdapat di neraka sekalipun. Engkau akan menderita kenyerian hebat dan engkau tidak akan segera mati, melainkan akan hidup selama tiga hari tiga malam terus-menerus menderita siksaan itu. Rasa gatal-gatal seperti ribuan ekor semut menggigiti daging dan tulangmu di sebelah dalam.”

“Banyak mulut, gertak sambal!” Bun Houw membentak.

“Aku sebenarnya kasihan kepadamu. Engkau masih muda, tampan dan gagah. Ada jalan yang lebih baik bagimu, yaitu mati seketika atau mungkin bahkan… kebebasan. Untuk memperoleh itu, engkau hanya mengaku siapa sebetulnya kau ini, apa hubunganmu dengan Cin-ling-pai, apakah hubunganmu dengan Cia Keng Hong?”

Bun Houw membuang muka dan tidak mau menjawab. Dia mengerti bahwa tidak ada gunanya mengaku bahwa dia putera ketua Cin-ling-pai, karena pengakuan ini hanya akan mendatangkan kegirangan dan rasa kemenangan bagi dua Bayangan Dewa itu. Baik mengaku atau tidak, dia tentu akan dibunuh, maka tidak ada perlunya membuat pengakuan yang akan memuaskan hati musuh-musuh ini. Pula, hal ini tentu akan menjadi bahan hinaan dan ejekan terhadap nama orang tuanya. Tidak, biar dia disiksa atau dibunuh, dia tidak akan membiarkan mereka ini menikmati kemenangan mereka atas nama orang tuanya.

“Bun Houw, kau tetap tidak mau mengaku?”

“Bunuh aku, atau pergilah! Kalian menjijikkan hatiku!” Bun Houw membentak.

Wajah dua orang Bayangan Dewa itu menjadi merah padam.

“Manusia kepala batu dan sombong!” Ciok Lee Kim berseru. “Sudah tak mampu bergerak, masih bermulut lebar.”

“Suci, biar kusiksa dia, dan kita lihat apakah dia masih belum juga mau mengaku.” Bu Sit berkata. Ciok Lee Kim mengangguk dan melangkah mundur.

Dengan wajahnya yang seperti monyet itu menyeringai kejam dan buas, Bu Sit menghampiri Bun Houw. Bu Sit merasa sakit hati sekali kepada pemuda yang membuat daun telinganya buntung itu. Dia mendekatkan mukanya dan dengan mata bersinar-sinar penuh kebencian dia menghardik, “Kau membuntungi telingaku, akan tetapi aku akan menyiksamu sampai engkau terkuik-kuik seperti anjing, sampai kau minta-minta ampun di depanku, keparat!”

Bun Houw tidak menjawab melainkan tiba-tiba meludahi muka Monyet Pencabut Nyawa itu. Bu Sit mengelak dengan miringkan kepalanya, dan tentu saja dia menjadi semakin marah. Jarum di tangannya didekatkan tengkuk Bun Houw. Pemuda ini siap menerima datangnya maut, karena dia tidak mampu bergerak lagi.

“Creppp…!” Jarum itu menusuk tengkuk Bun Houw. Pemuda ini menggigit bibirnya ketika merasa tengkuknya ditusuk, tidak berapa nyeri rasanya. Jarum dicabut dan dua kali lagi Bun Houw ditusuk dengan jarum itu di kanan kiri atas pundaknya. Sambil terkekeh Bu Sit melangkah mundur dan memandang puas, membungkus jarum panjang hitam itu dengan saputangan dan mengantonginya.

Bun Houw mula-mula hanya merasa nyeri tusukan biasa saja, akan tetapi tidak lama kemudian mulailah dia merasakan betapa tengkuk dan kedua pundaknya berdenyut-denyut, disusul perasaan seperti kesemutan dan segera datang serangan yang membuat sekujur tubuhnya terasa seperti dibakar dari dalam! Dia berusaha mengerahkan sin-kangnya untuk melawan akan tetapi rasa panas itu makin lama makin menghebat. Mukanya menjadi merah, matanya melotot dan seluruh tubuhnya mengeluarkan uap tipis. Namun tidak ada sepatahpun kata keluhan keluar dari mulutnya. Dia malah memejamkan mata dan alisnya berkerut-kerut, keringatnya jatuh menetes-netes.

“Hi-hi-hik, kau masih bersikeras? Hayo kau mengaku dan aku akan memberi obat penawar kepadamu sebelum terlambat!” Ciok Lee Kim berkata sedangkan Bu Sit masih tertawa puas.

“Persetan dengan kalian!” Bun Houw membentak.

Akan tetapi segera dia dilanda rasa nyeri yang amat hebat. Kini rasa panas itu berubah dengan rasa dingin yang membuat seluruh tubuhnya menggigil! Dia menjadi kaget karena maklum bahwa racun itu sedemikian hebatnya, sehingga mempengaruhi hawa murni di tubuhnya, membangkitkan hawa panas lalu hawa dingin yang terkumpul di tubuhnya berkat latihan di Tibet. Bisa rusak penguasaannya atas tenaga saktinya sendiri! Betapapun juga, dia tahu bahwa segala siksaan badaniah ada batasnya dan kalau sudah melampaui batas itu, dia akan mati. Paling hebat cuma mati, perlu apa dia takut menghadapinya. Lebih baik mati namun tetap dapat memukul musuh dengan mengecewakan hati mereke daripada mendengar penghinaan terhadap orang tuanya, dan andaikata dia mengaku, sama sekali tidak mungkin dia aken selamat, bahkan hal itu menjadi alasan yang kuat lagi bagi dua Bayangan Dewa untuk menyiksanya lebih hebat dan membunuhnya.

Setelah rasa dingin yang membuat tubuhnya menggigil dan giginya saling beradu itu lenyap, mulailah kini rasa gatal-gatal merayapi seluruh tubuhnya dan benar seperti ancaman Ciok Lee Kim tadi, seperti ada ribuan ekor semut merayap di sebelah dalam tubuhnya, atau di bawah kulit dan semut-semut itu menggigitnya. Terhadap serangan hawa panas membakar dan dingin luar biasa tadi, Bun Houw masih mampu bertahan dan tidak ada sedikitpun suara keluhan terdengar keluar dari mulutnya. Akan tetapi rasa gatal-gatal pada seluruh tubuh ini demikian menyiksa, demikian mengganggu urat-urat syarafnya, membuat dia ingin sekali menggaruk-garuk padahal kedua tangannya tidak bebas, sehingga mulailah tubuhnya menggeliat-geliat di luar kekuasaan pertahanannya. Mendengar Ciok Lee Kim dan Bu Sit tertawa-tawa melihat dia menggeliat-geliat itu, Bun Houw menelan kembali keinginannya untuk bersambat. Dia menggigit bibirnya menahan penderitaan itu sampai kulit bibirnya pecah berdarah, dia berhasil menahan sehingga tidak ada keluhan keluar dari mulut akan tetapi dia tidak mampu menahan agar tubuhnya tidak bergerak. Dia tetap menggeliat-geliat dan makin lama “semut-semut” di bawah kulitnya itu makin hebat menggigiti, menimbulkan kegatalan yang tak tertahankan lagi. Keringatnya bercucuran, ingin dia menjerit, hampir dia menangis, hampir dia memaksa diri menggerakkan kedua lengan yang tentu akibatnya akan celaka. Akhirnya Bun Houw terkulai lemas dan pingsan!

Melihat korban mereka pingsan, tentu saja Ciok Lee Kim den Bu Sit kehilangan kegembiraan dan meninggalkannya di dalam tahanan setelah memesan kepada belasan orang anak buah Lembah Bunga Merah untuk menjaga dengan ketat malam itu secara bergiliran.

Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan yang dialami oleh Bun Houw. Baru saja meninggalkan perguruan di Tibet, dia sudah menghadapi malapetaka yang menimpa keluarganya di Cin-ling-san, dan sekarang baru saja dia bisa menemukan tempat persembunyian dua di antara Lima Bayangan Dewa, dia sudah tertawan dan menderita penyiksaan hebat, bahkan sekaligus nyawanya terancam maut karena tusukan jarum beracun yang dilakukan oleh Bu Sit itu bukan hanya untuk menyiksanya, melainkan juga untuk membunuhnya. Ucapan Ciok Lee Kim bukanlah gertak belaka, akan tetapi setelah mengalami penusukan jarum beracun itu, tanpa mendapatkan obat penawar dari Ciok Lee Kim sendiri, dia hanya akan hidup selama tiga hari tiga malam saja dan di dunia ini jarang ada orang yang akan mampu menyelamatkannya dari ancaman maut itu.

Sebetulnya, tingkat kepandaian pemuda itu sudah tinggi dan hebat sekali, jarang ada tokoh persilatan yang akan mampu menandinginya. Andaikata semua musuhnya itu maju satu demi satu, tentu dengan mudah saja dia akan mampu mengalahkan mereka. Bahkan Bouw Thaisu yang amat lihai itu belum tentu akan mampu menandinginya. Akan tetapi, pengeroyokan lima orang yang kesemuanya memiliki tingkat kepandaian yang tinggi itu, pula karena Bun Houw sendiri belum memiliki banyak pengalaman dan fihak musuh menggunakan kecurangan maka akhirnya dia roboh juga dan tertawan. Andaikata tidak ada Ai-kiauw yang nekat merangkul dan menggigitnya, kiranya lima orang datuk kaum sesat itupun tidak akan mudah saja merobohkan pemuda putera ketua Cin-ling-pai ini.

Menjelang tengah malam, keadaan di Lembah Bunga Merah itu sunyi sekali, sunyi menyeramkan setelah apa yang terjadi malam kemarin. Biarpun pemuda perkasa itu telah tertawan dan kini berada dalam keadaan tidak berdaya sama sekali, namun para penjaga masih melakukan penjagaan dengan ketat mengingat betapa tawanan pertama, yaitu tiga orang murid Bu-tong-pai, telah dapat lolos dari tempat tahanan. Akan tetapi karena pemuda itu masih pingsan dan kini lima orang sakti itu secara bergilir ikut pula meronda, hati para penjaga menjadi tenang.

Ketika Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw sepasang tosu dan tokouw yang sakti itu bergiliran meronda, mereka menuju ke kamar tahanan, menjenguk ke dalam dan melihat Bun Houw masih pingsan dalam keadaan terbelenggu dan terkait tulang pundaknya, maka mereka mengangguk dan berpesan kepada para penjaga agar jangan tertidur, kemudian mereka meninggalkan kamar tahanan untuk meronda di sekitar lembah.

Akan tetapi tak lama kemudian, sesosok bayangan yang berkelebatan seperti bayangan iblis sendiri, mendekati tempat tahanan itu, kemudian dengan gerakan yang sukar dlikuti pandang mata para penjaga, bayangan ini berkelebatan dan terdengar keluhan-keluhan lemah disusul robohnya para penjaga!

Melihat betapa teman-temannya roboh dan kelihatan bayangan seperti iblis barkelebatan menyilaukan mata, seorang di antara para penjaga menjodi terkejut sekali dan ketakutan. Dia berteriak keras, “Toloooonggg!” akan tetapi segera roboh dengan kepala pecah dan tewas seketika. Hanya dia seorang yang sempat bertertak, karena tiga belas orang yang lainnya sudah roboh sebelum mereka sempat mengeluarkan suara. Mereka tadi terlalu heran dan kaget, bahkan sebagian besar masih belum mengerti apa yang berkelebatan itu, tahu-tahu mereka sudah ditampar dan dipukul. Setiap tamparan atau pukulan membuat mereka roboh, ada yang pingsan, ada pula yang tewas seketika.

Bayangan yang bergerak cepat seperti setan itu kini sudah menghampiri Bun Houw, dengan hati-hati sekali dia menggerakkan pedang, mematahkan rantai yang membelenggu kaki dan yang dihubungkan dengan kaitan-kaitan di pundak. Dia bergidik melihat baja-baja kaitan yang mengait kedua pundak Bun Houw, tidak berani melepaskan kaitan di situ karena dia maklum bahwa teriakan penjaga tadi tentu akan mendatangkan para tokoh Lembah Bunga Merah, maka setelah mamatahkan belenggu, dia mengangkat tubuh Bun Houw, dipondongnya dan dengan gerakan cepat sekali, bayangan itu lalu melompat keluar. Tubuh Bun Houw dipanggul di atas pundak kiri dan tangan kanannya mencabut dan memegang pedangnya, dengan gerakan luar biasa cepatnya sekali melompat dia telah keluar

dari tempat tahanan itu.

Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw yang sedang meronda dan belum terlalu jauh dari tempat tahanan, mendengar teriakan minta tolong tadi. Cepat mereka berdue lari kembali ke tempat tahanan. Akan tetapi di luar tempat itu, mereka melihat sesosok bayangan mamanggul sesuatu bergerak cepat di antera pohon-pohon.

“Heiii, siapa di situ?” teriak Hwa Hwa Cinjin.

“Berhenti…!” Hek I Siankouw juga membentak.

Melihat bayangan itu tidak menghirauken bentakan mereka, Hek I Slinkouw sudah menubruk ke depan, menyerang dengan pedang hitamnya yang sudah dicabutnya dengan cepat sekali. Gerakannya ini disusul oleh sambaran hudtim di tangan Hwa Hwa Cinjin. Kakek dan nenek ini merasa yakin bahwa serangan mereka yang dilakukan secara hampir berbareng, dengan cepat dan dahsyat itu tentu cukup untuk merobohkan bayangan yang mencurigakan ini.

“Tringgg… cringggg…!”

Dua orang kakek dan nenek itu terkejut bukan main ketika mereka berdua merasa tangan mereka panas oleh tangkisan pedang di tangan bayangan hitam yang dapat menggerakkan pedangnya sedemikian rupa sehingga sekaligus pedang itu dapat dikelebatkan kedua jurusan dan menangkis kebutan dan pedang hitam dengan kekuatan dahsyat sehingga tangan mereka menjadi tergetar dan terasa panas! Akan tetapi, bayangan hitam yang tentu saja tidak dapat bergerak leluasa karena harus memanggul tubuh Bun Houw itu telah meloncat ke depan dengan cepat seperti lompatan seekor kijang.

Tentu saja Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw merasa penasaran. “Kau hendak lari ke mana?” Hwa Hwa Cinjin berseru.

Kaumakanlah ini!” Hek I Siankouw membentak dan dari tangan kirinya menyambar sinar hitam ke arah bayangan yang melarikan diri itu. Juga Hwa Hwa Cinjin menggerakkan kebutannya dan sinar putih menyambar dari tengah kebutan. Kiranya dua orang tua ini telah melepas senjata rahasia mereka yang ampuh. Hek I Siankouw telah melepaskan Hek-tok-ting (Paku Racun Hitam) dan Hwa Hwa Cinjin telah melepaskan bulu kebutannya. Benda-benda hitam dan putih menyambar seperti kilat cepatnya ke arah punggung bayangan yang melarikan diri.

Akan tetapi, tanpa menoleh seolah-olah di tengkuknya terdapat mata ketiga, bayangan itu menggerakkan pedangnya ke belakang dan semua senjata rahasia runtuh, sedangkan dia kini telah berada jauh di depan, menghilang di antara bayangan pohon-pohon yang gelap.

Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw kembali terkejut, maklum bahwa bayangan itu benar-benar amat pandai. Mereka melakukan pengejaran beberapa lamanya, namun kerena tempat itu banyak terdapat pohon-pohon yang gelap dan malam itu hanya diterangi bintang-bintang yang sinarnya suram, maka mereka tidak mampu menemukan bayangan itu dan mereka cepat ktmbali ke tempat tahanan. Alangkah kaget hati mereka melihat bahwa selain Bun Houw telah lenyap, juga empat belas orang penjaga itu sudah roboh semua, ada yang tewas dan selebihnya masih pingsan!

Gegerlah Lembah Bunga Merah oleh kejadian ini. Terutama sekali Ciok Lee Kim merasa amat marah dan penasaran. Tawanan itu sudah dijaga ketat, tetap saja masih dapat dicuri orang! Ketika lima orang sakti itu menanyai para penjaga yang tidak tewas dan sudah siuman dari pingsan, para penjaga ini juga tidak dapat memberi keterangan yang jelas.

“Kami hanya melihat bayangan yang berkelebat cepat, seperti seekor burung beterbangan menyambar-nyambar di antara kami dan tahu-tahu kami merasakan pukulan hebat dan tidak ingat apa-apa lagi,” demikianlah rata-rata keterangan mereka.

“Hemmm, sungguh mentakjubkan,” Hwa Hwa Cinjin berkata, “pinto juga tidak dapat melihat jelas mukanya karena malam gelap dan ketika kami berdua menyerangnya, dia berada di dalam bayangan pobon. Akan tetapi yang jelas, dia bukan orang biasa, memiliki kepandaian tinggi dan merupakan lawan tangguh.”

“Aku dapat memastikan bahwa dia tentulah seorang wanita!” kata Hek I Sian-kauw dengan tegas. “Biarpun aku juga tidak dapat melihat mukanya dengan jelas karena gelap, namun bentuk tubuhnya yang ramping dan gerakannya yang lemas menunjukkan bahwa dia seorang wanita.”

Hwa Hwa Cinjin membenarkan pendapat ini, dan demikian pula para penjaga menyatakan bahwa memang bayangan itu mempunyai potongan tubuh ramping. Lima orang sakti itu menduga-duga siapa gerangan orang aneh itu yang telah melarikan Bun Houw.

“Tidak salah lagi, tentu dia pula yang telah menolong tiga orang murid Bu-tong-pai,” kata Ciok Lee Kim sambil mengerutkan alisnya karena peristiwa berturut-turut hilangnya tawanan itu merupakan tamparan baginya.

“Jangan-jangan dia yang kembali membikin ribut…” tiba-tiba Toat-beng-kauw Bu Sit berkata.

“Dia siapa, Bu-sute?” Ciok Lee Kim bertanya dan yang lain-lain juga memandangnya.

“Siapa lagi kalau bukan gadis Giok-hong-pang itu…”

Mendengar ini, teringatlah Hwa Hwa Cinjin, Hek I Siankouw, dan Bouw Thaisu yang pernah bertemu dengan Yap In Hong, tokoh Giok-hong-pang yang amat lihai itu. Mereka mengangguk-angguk, akan tetapi Bouw Thaisu berkata penuh keraguan, “Agaknya dugaanmu itu amat meragukan kebenarannya, Bu-sicu. Kita mengetahui betapa gadis itu adalah seorang wanita aneh dari Giok-hong-pang, tidak memusuhi kita secara langsung dan juga tidak bersahabat dengan fihak Cin-ling-pai, pula kita telah tahu bahwa Giok-hong-pang adalah perkumpulan yang mempunyai hubungan dengan partai-partai lain. Karena itu, agaknya tidak boleh jadi kalau dia menolong anak murid Bu-tong-pai dan apalagi menolong pemuda yang agaknya mempunyai hubungan erat dengan Cin-ling-pai itu. Aku lebih condong menduga bahwa mereka tentulah seorang tokoh Bu-tong-pai. Ingat, pertai beser itu tentu saja memiliki banyak orang pandai dan tidak mengherankan kalau seorang tokoh wanita dari Bu-tong-pai yang turun tangan menolong anak-anak murid Bu-tong-pai itu dan juga pemude she Bun yang aneh itu.”

Semue orang mengangguk-angguk. “Betapapun juga, manusia she Bun itu tidak akan dapat menyelamatkan diri dan tentu akan tewas, karena di tubuhnya telah mengeram racun yang tidak mungkin dapat disembuhkan oleh orang lain,” kata Ciok Lee Kim.

Toat-beng-kauw Bu Sit mengerutkan alisnya. “Ciok-suci, setelah apa yang terjadi, malam ini kurasa sebaiknya kalau kita meninggalkan tempat ini. Fihak Bu-tong-pai kiranya tidak akan tinggal diam dan kalau sampai mereka mengerahkan tokoh-tokohnya dan anak murid Bu-tong-pai yang banyak menyerbu ke Lembah Bunga Merah, berarti kita hanya akan menanam permusuhan yang lebih mendalam lagi selain juga amat berbahaya. Mereka tentu akan menyerbu ke sini.”

“Aku tidak takut!” Ciok Lee Kim berseru keras.

“Suci, soalnya bukan takut atau tidak takut. Orang-orang seperti kita ini tentu saja tidak mengenal apa artinya takut lagi. Pula, dengan adanya sam-wi locianpwe di sini, sebagai tamu kita dan sahabat-sahabat kita, kita tidak takut menghadapi siapapun juga. Akan tetapi, kalau sampai kita terlibat permusuhan dengan Bu-tong-pai, bukankah hal itu melemahkan kedudukan kita? Padahal tujuan kita semua hanya untuk menghancurkan Cin-ling-pai! Selain itu, pemuda she Bun itu telah mengetahui tempat kita, dan dia tentulah kaki tangan Cin-ling-pai. Sekarang dia telah lolos, tentu dia akan mengabarkan kepada ketua Cin-ling-pai. Kalau ketua Cin-ling-pai dan kaki tangannya juga menyerbu kt sini bersama Bu-tong-pai, bukankah hal itu akan amat merugikan kita? Lebih baik kita bergabung dengan para suheng di Ngo-sian-chung.”

Bouw Thaisu mengangguk-angguk. “Agaknya benarlah apa yang dikatakan oleh Bu-sicu. Betapapun juga, kita harus berhati-hati karena musuh-musuh yang kita hadapi bukan orang-orang lemah. Pula, tujuan pinto meninggalkan pertapaam di pantai Pohai semata-mata hanya untuk menuntut kematian sahabatku Thian Hwa Cinjin, dan tujuanku hanya menghadapi orang-orang Cin-ling-pai.”

Demikianlah pula Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw yang juga menaruh dendam kepada ketua Cin-ling-pai, merasa keberatan kalau harus memusuhi Bu-tong-pai, maka akhirnya Ciok Lee Kim setuju. Pada keesokan harinya, berangkatlah mereka meninggalkan Lembah Bunga Merah, menuju ke Ngo-sian-chung yaitu tempat tinggal Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok yang berada di lembah muara Sungai Huang-ho.

***

Sesungguhnya, dugaan Toat-beng-kauw Bu Sit sama sekali tidaklah meleset dari kenyatannya. Yang menolong tiga orang anak murid Bu-tong-pai, dan yang menolong Bun Houw, bukan lain adalah Yap In Hong. Gadis ini ingin merampas pedang Siang-bhok-kiam yang dicuri oleh Lima Bayangan Dewa, dan juga, setelah bertemu dengan Bu Sit, orang termuda dari Lima Bayangen Dewa, sudah timbul perasaan tidak senangnya kepada Lima Bayangan Dewa yang akhir-akhir ini menggegerkan dunia kang-ouw karena perbuatan mereka berani mengacau di Cin-ling-pai. Oleh karena itu, ketika secara kebetulan dia melihat Toat-beng-kauw Bu Sit, Bouw Thaisu, Hwa Hwa Cinjin, dan Hek I Siankouw melakukan perjalanan mengunjungi Hui-giakang Ciok Lee Kim di Lembah Bunga Merah, diam-diam dia lalu mengikuti mereka, membayangi dan kemudian setiap malam melakukan penyelidikan di Lembah Bunga Merah dengan niat hati untuk mencuri Siang-bhok-kiam andaikata pedang pusaka Cin-ling-pai itu disimpan di lembah itu.

Diam-diam dia mengetahui akan kunjungan Kiam-mo Liok Sun dan seorang pemuda tampan yang didengarnya adalah orang she Bun yang menjadi pengawal pribadi Kiam-mo Liok Sun itu. Kemudian dia melihet betapa pemuda pengawal Kiam-mo Liok Sun itu menolak ketika dibujuk dan dirayu oleh dua orang murid Ciok Lee Kim, bahkan menolak ketika dibujuk rayu oleh Si Kelabang Terbang sendiri. Hal ini sungguh mengherankan hati In Hong dan mendatangkan kesan yang amat mendalam. Dia tahu betapa dua orang murid Ciok Lee Kim adalah wanita-wanita muda dan cantik, dan Ciok Lee Kim sendiri adalah seorang wanite cantik yang berpengaruh, akan tetapi pemuda itu, seorang pengawal biasa saja, menolak! Padahal majikannya, Liok Sun, adalah seorang laki-laki yang biasa saja, yaitu seperti anggapan In Hong sejak kecil bahwa semua laki-laki adalah mata keranjang, cabul dan pengrusak wanita! Akan tetapi mengapa pemuda ini lain daripada laki-laki lain?

Kemudian dia melihat munculnya tiga orang murid Bu-tong-pai. Sikap mereka amat mengagumkan hatinya dan kembali dia terheran-heran menyaksikan sikap tiga orang muda Bu-tong-pai yang gagah perkasa itu. Bagaimana di dunia ini terdapat orang-orang muda yang demikian gagah perkasa, demikian berani menentang kejahatan dan demikian bersih hatinya sehingga tidak terjatuh oleh rayuan dan tidak tunduk oleh ancaman maut?

Tentu saja In Hong tidak tahu bahwa dunia kang-ouw mempunyai banyak orang-orang gagah perkasa, seperti banyaknya pule terdapat orang-orang sesat, golongen hitam yang di dalam hidupnya hanya mengutamakan pengejaran kesenangan bagi diri sendiri sehingga untuk memperoleh kesenangan itu, mereka suka melakukan apapun juga, perbuatan kejam dan cabul yang bagaimanapun dengan mengandalkan kepandaian mereka. Dan sejak kecil In Hong hanya berdekatan dengan orang-orang sesat, dengan wanita-wanita pembenci kaum pria. Belum pernah dia berdekatan dengan pendekar, maka sekarang, begitu melihat sikap orang-orang yang berjiwa pendekar, dia menjadi terheran-heran, terkejut, dan kagum bukan main.

Karena rasa kagum inilah maka tergerak hatinya untuk menolong tiga orang murid Bu-tong-pai itu. Andaikata hatinya tidak digerakkan oleh kegagahan mereka, tentu perasaan hatinya yang dingin itu akan membuat dia menutup mata dan tidak memperdulikan urusan orang lain. Kini mulai terbuka hatinya bahwa tidak semua pria jahat, cabul dan khianat, seperti yang dia selalu mendengar dari mulut gurunya, dan dari semua anggauta Giok-hong-pang. Dia turun tangan membebaskan tiga orang murid Bu-tong-pai itu dan membawa mareka lari ke sebuah hutan di bawah Lembah Bunga Merah, di mana mareka bersembunyi ke dalam sebuah kuil tua sambil merawat luka mereka.

Ketika pada keesokan harinya diam-diam In Hong menyelidiki lagi ke Lembah Bunga Merah, dia terkejut bukan main melihat bahwa pemuda yang dikenalnya sebagai pengawal Kiam-mo Liok Sun, pemuda yang menimbulkan kagumnya, karena pemuda itu menolak rayuan-rayuan Ai-kwi dan Ai-kiauw, telah ditawan dan disiksa secara mengerikan, karena kedua tulang pundaknya dikait oleh kaitan baja dan dibelenggu dalam keadaan pingsan. Timbul perasaan iba hatinya terhadap pemuda perkasa itu, apalagi ketika mendengar bahwa pemuda itu mengamuk den membunuh Ai-kwi dan Ai-kiauw sebelum akhirnya tertawan, yang didengarnya dari percakapan para penjaga, dia lalu mengambil keputusan untuk monolong pemuda she Bun yang tidak dikenalnya itu. In Hong tahu benar akan kelihaian Toat-beng-kauw Bu Sit, terutama sekali Hek I Siankouw, Hwa Hwa Cinjin dan Bouw Thaisu, maka dia tidak berani bertindak secara gegabah. Dia menanti sampai tengah malam sehingga dia tidak tahu betapa malam itu Ciok Lee Kim dan Bu Sit telah menyiksa pemuda itu yang telah siuman bahkan kemudian menusuknya dengan jarum beracun dan meninggalkan pemuda itu dalam keadaan pingsan lagi dan dalam keadaan terancam nyawanya.

Dengan kepandaiannya yang hebat, In Hong akhirnya berhasil menolong pemuda itu dan membawanya lari dari Lembah Bunga Merah setelah dia berhasil meloloskan diri dari pencegatan Hek I Siankouw dan Hwa Hwa Cinjin. Dia lalu membawa pemuda itu ke dalam hutan di kaki bukit dan memasuki kuil di mana tiga orang murid Bu-tong-pai masij bersembunyi dan mengobati luka mereka.

“Lihiap, dia siapakah dan mengapa dia sampai begitu tersiksa…?” Seorang di antara tiga orang murid Bu-tong-pai itu bertanya. Mereka memandang dengan hati ngeri melihat keadaan Bun Houw seperti itu. Muka pemuda itu menghitam, jelas bahwa pemuda itu keracunan, dan kedua pundak yang dikait tulangnya itu benar-benar menimbulkan kengerian dan mendirikan bulu roma.

Dia adalah seorang pengawal biasa yang entah mengapa telah disiksa seperti ini oleh manusia-manusia kejam itu.” In Hong menjawab, kemudian dia memeriksa keadaan Bun Houw. Dengan hati-hati dia mencabut dua baja kaitan dari pundak Bun Houw. Setelah memeriksa dan mendapat kenyataan bahwa tulang-tulang pundak pemuda itu tidak patah, hanya kulit dagingnya saja berlubang dan luka parah, dia lalu mengobati luka-luka di pundak pemuda itu dengan obat luka yang dibawanya, kemudian membalut pundak itu dibantu oleh tiga orang murid Bu-tong-pai.

“Dia keracunan hebat…” kata murid wanita Bu-tong-pai dengan alis berkerut, masih ngeri hatinya membayangkan penderitaan yang ditanggung oleh pemuda yang baru saja ditolong oleh In Hong.

In Hong adalah seorang yang tidak asing dengan racun, karena dari gurunya dia memperoleh banyak pelajaran tentang racun, bahkan dia mengenal racun-racun dari tumbuh-tumbuhan, dan senjata rahasianyapun adalah Siang-tok-swa, yaitu pasir yang mengandung racun dari kembang yang berbau harum. Akan tetapi dia menjadi bingung melihat racun yang menyerang darah Bun Houw. Setelah dia memeriksa dengan teliti, dia menghela napas dan menggeleng kepala.

“Apakah kalian mengenal racun yang menyerangnya?” tanyanya kepada tiga orang murid Bu-tong-pai itu.

Tentu saja murid-murid Bu-tong-pai ini juga pernah mempelajari tentang racun-racun untuk sekedar menjaga diri, akan tetapi setelah mereka memeriksa, orang tertua dari mereka berkata dengan alis berkerut, “Lihiap, racun ini hebat sekali dan saya kira kalau dia tidak cepat mendapat obat yang mujarab, nyawanya sukar ditolong lagi. Tak jauh dari sini ada seorang ahli obat yang kiranya dapat menolongnya, akan tetapi sayang…” Dia menghentikan kata-katanya.

“Sayang bagaimana?” In Hong bertanya.

“Dia adalah seorang yang berwatak aneh bukan main. Kakek itu di dunia kang-ouw terkenal dengan sebutan Yok-mo (Setan Obat), akan tetapi juga terkenal dengan wataknya yang amat luar biasa. Maka sedikit sekali harapan apakah dia akan mau mengobati orang ini.”

“Luar biasa bagaimana? Harap kaujelaskan.” In Hong mendesak.

“Hampir semua tokoh kang-ouw mengenal Yok-mo ini, sungguhpun tidak ada yang tehu siapa namanya. Dia selalu mengobati orang-orang sakit dan orang-orang yong tergigit binatang berbisa apapun juga, dengan cepat dapat disembuhkannya secara luar biasa. Bahkan ada orang yang tergigit ular yang paling berbisa, yang kabarnya tidak ada obatnya, dapat pula dia obati, dan ada orang bilang bahwa Setan Obat itu pernah menyombongkan diri, mengatakan bahwa tidak ada gigitan binatang berbisa di dunia ini yang tidak dapat dia sembuhkan…”

“Kalau begitu, dialah yang dapat menolong!” kata In Hong girang. “Menurut pendengaranku ketika para penjaga Lembah Bunga Merah bercakap-cakap, racun yang dimasukkan ke tubuh pemuda ini adalah racun dari kelabang hitam. Akan tetapi, apakah kesulitannya bagi Setan Obat untuk mengobati dia ini?”

“Dia mau mengobati segala macam penyakit tanpa menerima bayaran sama sekali, akan tetapi dia paling benci kepada ahli-ahli silat dan dia tidak pernah mau mengobati orang-orang yang terluka dalam pertempuran. Itulah kesukarannya, lihiap.”

“Hemm, di mana dia?”

“Dia tinggal di puncak gunung tak jauh dari sini, di puncak Gunung Cemara di barat itu.” Murid Bu-tong-pai itu menuding ke barat.

“Kalau begitu, biar aku mengunjunginya ke sana. Menurut percakapan para penjaga tadi, orang ini hanya dapat hidup tiga hari tiga malam saja, maka harus cepat mendapatkan obat. Harap kalian suka menjaganya selama aku pergi.”

“Baik, lihiap. Engkau sudah begitu baik kepada kami, sudah menyelamatkan nyawa kami tanpa pamrih, bahkan memperkenalkan namapun lihiap tidak mau. Sekarang lihiap menolong seorang lain yang tidak lihiap kenal, hendak mencarikan obat menghadap Yok-mo, sungguh membuat hati kami kagum bukan main. Tentu saja kami suka membantu lihiap untuk menjaga saudara ini.”

In Hong tersenyum dan sekali berkelebat lenyaplah dia dari hadapan tiga orang murid Bu-tong-pai itu. Mereka saling pandang dan menarik napas panjang. Selama hidup, mereka belum pernah bertemu dengan seorang pendekar wanita seperti penolong mereka itu. Dan mereka menyesal sekali mengapa penolong mereka itu merahasiakan namanya dan tidak mau mengaku walaupun mereka tanya berkali-kali.

***

Gunung itu penuh dengan hutan yang mengandung pohon-pohon lengkap dan subur, akan tetapi sungguh mengherankan, di puncaknya hanya ditumbuhi pohon-pohon cemara belaka. Oleh karena itu meka puncak itu disebut puncak Gunung Cemara, sebuah gunung yang tidak berapa tinggi akan tetapi lerengnya penuh dengan hutan lebat.

Sebuah rumah gubuk kecil terdapat di puncak di antara pohon-pohon cemara yang tinggi, seperti berlindung di bawah pohon-pohon itu, atapnya sudah penuh dengan batang-batang daun cemara yang tebal menutupi atap rumah gubuk. Tanah di sekitar tempat itupun sudah tertutup batang daun cemara sehingga kalau orang duduk di atasnya, terasa enak dan empuk pula, bersih tidak becek walaupun di waktu hujan.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: