Dewi Maut (Jilid ke-3)

“Aduhhh… panas… panas… aduhhhh, lepaskan…!” Tanpa malu-malu lagi Kiang Ti yang selama ini terkenal sebagai seorang ketua Kwi-eng-pang yang ditakuti, kini berteriak-teriak, mukanya pucat sekali dan penuh dengan keringat dingin, kedua lengannya kemerahan seperti dipanggang api, kedua kaki menggigil menahan kenyerian yang amat hebat.

Bi Kiok tersenyum lebar, kedua tangannya menggigil ketika dia mengerahkan tenaga sin-kangnya sehingga serangannya menjadi makin hebat, membuat kedua lengan Kiang Ti ikut menggigil.

“Aduhhh… aduhhhh… am… punnn…!” Kiang Ti yang kini merasa betapa seturuh tubuhnya seperti ditusuki jarum dan dipanggang di atas api itu mengeluh dan minta-minta ampun.

“Krekk! Krekk! Augghhhh…!” Tubuh Kiang Ti menjadi lemas dan dia roboh pingsan ketika Bi Kiok menarik kembali kedua tangannya setelah dengan sin-kangnya dia membuat tulang-tulang dari kedua lengan lawannya itu retak-retak.

“In Hong, sudahi main-mainmu dengan mereka!” Bi Kiok berkata kepada muridnya ketika dia menengok dan melihat betapa muridnya itu masih dikepung dan dikeroyok dua puluh enam orang pria itu tanpa membalas, hanya mengelak ke sana-sini dengan cekatan seperti seekor burung walet.

“Baik, subo!” In Hong berkata setelah dia melihat betapa subonya sudah merobohkan semua orang lawannya. Dia menggerakkan kedua tangannya berkali-kali sambil berseru, “Robohlah…!”

Hebat bukan main akibatnya. Berturut-turut, dua puluh enam orang itu roboh dan tak dapat bangun kembali sehingga tubuh mereka malang-melintang dan tumpang-tindih di atas tanah. Cepat sekali pengeroyokan itu selesai dan kini yang tampak hanya In Hong di tengah-tengah tubuh dua puluh enam orang malang-melintang di sekelilingnya, mereka semua menjadi korban sasaran Siang-tok-swa (Pasir Racun Harum) yang tadi disebar oleh dara itu. Racun yang berupa pasir ini memang hebat sekali, mengeluarkan sinar dingin hijau dan berbau harum, akan tetapi tidak hanya dapat merobohkan dan membuat lawan pingsan seperti halnya dua puluh enam orang itu, bahkan kalau dikehendaki oleh In Hong, dapat pula mencabut nyawa lawan! Tadi melihat betapa gurunya merobohkan lima orang pengeroyoknya tanpa membunuh, diapun hanya merobohkan mereka dengan pasir tanpa membunuh, hanys membuat mereka pingsan saja.

Pada saat itu, perahu-perahu yang ditumpangi oleh anak buah Giok-hong-pang telah tiba di pulau. Berkat petunjuk para tawanan yaitu orang-orang Kwi-eng-pang yang menyerah dan takluk, para anggauta Giok-hong-pang dapat mendarat di pulau dengan selamat.

Bi Kiok lalu menyuruh para anak buahnya membawa semua tawanan itu ke ruangan besar di mana dia dan In Hong duduk di atas kursi, juga memerintahkan agar semua keluarga anggauta Kwi-eng-pang, baik yang terluka atau yang tidak, pendeknya mereka yang belum mati, dikumpulkan di ruangan itu, dijaga oleh para anggauta Giok-hong-pang.

Kiang Ti dan para anggautanya sudah siuman kembali dan kini dia duduk di atas lantai di depan Bi Kiok dengan muka pucat. Tahulah dia bahwa riwayatnya sebagai ketua Kwi-eng-pang habis sampai di situ saja. Tak pernah diduganya bahwa kini Yo Bi Kiok memiliki ilmu kepandaian yang sedemikian hebatnya, jauh lebih hebat dari kepandaiannya sendiri, bahkan dia yakin lebih hebat daripada tingkat kepandaian mendiang gurunya, Kwi-eng Niocu atau guru Bi Kiok, Siang-tok Mo-li! Kalau saja dia tahu akan hal itu, tentu saja tidak akan begitu bodoh untuk melawannya. Dan dia bergidik kalau mengingat akan apa yang telah dia lakukan terhadap lima orang wanita anggauta Giok-hong-pang beberapa hari yang lalu itu!

Rasa takut mendatangkan kebencian yang hebat dan sekiranya kedua lengan tangannya tidak patah-patah tulangnya sehingga kedua lengannya itu lumpuh tak dapat digerakkan lagi, tentu Kiang Ti akan mengamuk dan melawan sampai tewas. Dia mengerti babwa dirinya tidak tertolong lagi dan dia tidak mungkin bisa mengharapkan pengampunan dari wanita yang seperti iblis itu, wanita cantik yang sikapnya dingin menyeramkan, yang kini bersama dara jelita yang amat lihai itu duduk di depannya, memandang dengan mata seperti hendak membunuhnya dengan sinar matanya. Suasana sunyi, tak seorangpun berani bergerak, bahkan semua anak buah Kwi-eng-pang seperti menahan napas saking tegang dan takutnya. Di sana-sini terdengar isak tertahan dari isteri dan keluarga para anggauta Kwi-eng-pang yang sudah tewas dalam penyerbuan anak buah Giok-hong-pang itu.

“Kiang Ti, apakah engkau sudah mengetahui akan dosamu?” Tiba-tiba terdengar suara halus ketua Giok-hong-pang, membuat para pendengarnya terkejut dan semua mata kini tertuju kepada Kiang Ti yang duduk di atas lantai sambil menundukkan mukanya. Ketua Kwi-eng-pang itu mengengkat muka.

“Yo Bi Kiok, aku sudah kalah, mau bunuh terserah, tak perlu lagi banyak cakap!”

Yo Bi Kiok tersenyum. “Engkau dan empat orang pembantumu ini melakukan kekejian terhadap Lui Hwa, dan sekarang dia telah menanti kalian berlima di alam baka untuk membuat perhitungan dengan kalian.”

Kiang Ti menunduk. Maklumlah dia bahwa perbuatannya itu merupakan kebodohan dan kelalaiannya, memandang rendah kepada orang lain. Kesenangan dan kenikmatan yang didapatnya ketika dia mempermainkan Lui Hwa sungguh tidak sepadan dibandingkan derigan hukumannya, dengan kematian yang sudah membayang di depan mata. Menyesal? Tidak, orang seperti Kiang Ti tidak pernah mengenal sesal, karena bagi orang seperti dia, hidup berarti pengejaran kesenangan, dan mati adalah resikonya!

“Aku sudah melakukan itu, habis engkau mau apa?” tantangnya untuk menutupi rasa takutnya, karena betapapun juga, ada perasaan takut dan ngeri menghadapi kematian, meninggalkan semua kesenangan dunia dan menghadapi suatu keadaan lain yang masih rahasia, yang tak dapat dibayangkannya akan bagaimana jadinya setelah mati, akan tetapi banyak dongeng tentang neraka telah membuatnya ngeri juga.

“Pangcu… harap pangcu sudi mengampuni hamba…” seorang di antara empat pembantu Kiang Ti terdengar memohon dengan suara ketakutan.

“Pangcu, ampunkan kami… kami hanya menjalankan tugas…”

“Kami hanya diperintah oleh pangcu kami…”

Bibir yang tersenyum manis itu tiba-tiba berubah menjadi cemberut. Sejenak Bi Kiok menyapu empat orang itu dengan pandang mata penuh penghinaan, melihat betapa empat orang itu sembil berlutut mengangguk-anggtikkan kepala sampai dahi mereka menyentuh lantai dan mulut mereka tiada hentinya mengeluarkan suara seperti orang menangis sambil minta-minta pengampunan.

“Pengecut hina dan busuk!” Tiba-tiba Bi Kiok membentak, tangannya bergerak dan tampaklah sinar berkilat menyambar ke arah empat orang itu yang menjerit dan roboh terlentang, berkelojotan seperti ayam-ayam disembelih dengan leher putus!

Kiang Ti memandang empat orang pembantunya itu dengan muka pucat, akan tetapi hatinya puas karena diapun mendongkol sekali menyaksikan sikap mereka tadi.

“Kiang Ti, engkau manusia busuk dan kejam, akan tetapi sikapmu cukup gagah, maka engkau patut menerima hukuman yang lebih ringan. Nah, kautemuilah Lui Hwa di sana!” Kembali sinar kilat menyambar dari tangan Bi Kiok disusul robohnya Kiang Ti yang tak dapat bergerak lagi karena lehernya sudah terbabat putus oleh sinar pedang tadi. Hebat bukan main cara Bi Kiok mencabut dan menggerakkan pedangnya, tidak dapat diikuti pandang mata semua orang yang berada di situ kecuali In Hong. Cepat sekali gerakannya sehingga yang nampak hanyalah sinar berkilat dari pedang Lui-kong-kiam (Pedang Sinar Kilat) yang menyilaukan mata. Dan dengan tepatnya pedang itu menyambar, merobohkan empat orang yang mati setelah berkelojotan dan mengalami siksaan yang agak lama sedangkan Kiang Ti roboh dan tewas seketika sehingga mungkin saja arwahnya masih belum sadar bahwa dia telah meninggalkan raga karena selain lehernya putus juga lebih dulu jantungnya tertembus pedang!

Semua orang memandang dengan wajah pucat lalu menundukkan muka. Orang-orang Kwi-eng-pang gemetar dan ketakutan, bahkan para anggauta Giok-hong-pang juga tidak ada yang berani bersuara. Mereka maklum bahwa kalau ketua mereka yang cantik itu sedang marah, dia menjadi berbahaya bukan main.

“Sekarang, mereka yang dahulu memperkosa dan mempermainkan empat orang anggauta Giok-hong-pang sampai mati, majulah semua!” Suara ini halus, namun mengandung sesuatu yang membuat mereka yang merasa berdosa menggigil ketakutan. Tentu saja tidak ada seorangpun di antara mereka yang berani berkutik, apalagi maju ke depan wanita luar biasa itu.

Bi Kiok mengerutkan alisnya. Dari penuturan mendiang Lui Hwa, dia mendengar bahwa Lui Hwa diperkosa dan dihina oleh Kiang Ti dan empat orang pembantunya yang semua telah dia bunuh sebagai hukuman, akan tetapi menurut Lui Hwa, empat orang anak buahnya yang lain itu direjang dan diperkosa di tempat terbuka oleh banyak sekali anggauta Kwi-eng-pang, diperkosa di depan umum secara bergantian sehingga mereka itu tewas dalam keadaan mengerikan dan menyedihkan. Bi Kiok mulai menyapu semua orang yang berada di ruangan luas itu dengan pandang matanya dan pandang mata itu berhenti di kelompok keluarga ini, dari nenek dan kakek sampai anak-anak menundukkan muka dan kelihataan ketakutan dan berduka, kecuali seorang wanita muda yang berwajah manis, berusia paling banyak tiga puluh tahun. Wanita ini memandang ke arah tubuh Kiang Ti yang tak berkepala lagi dan tubuh empat orang pimpinan Kwi-eng-pang yang berkelojotan dalam sekarat itu dengan mata bersinar-sinar penuh kepuasan dan kebencian!

Heii, kau ke sinilah!” Bi Kiok menggapai dengan tangannya. Wanita itu terkejut dan baru sekarang kelihatan ketakutan, akan tetapi Bi Kiok tersenyum dan berkata, “Jangan takut karena mulai saat ini, engkau kuangkat menjadi seorang pelayanku. Engkau akan terlindung dan tak seorangpun akan berani mengganggumu!”

Wanita cantik itu melangkah maju lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Bi Kiok, “Terima kasih atas kebaikan pangcu yang terhormat.” Sikap dan kata-kata wanita ini menunjukkan bahwa dia adalah seorang wanita yang pernah terdidik, bukan seorang wanita kasar isteri penjahat atau perkumpulan sesat.

“Siapa namamu?”

“Saya bernama Bhe Kiat Bwee, pangcu.”

“Bagaimana engkau bisa berada di tempat ini?”

Mendengar pertanyaan ini, air mata bercucuran dari sepasang mata Kiat Bwee dan dia lalu berderita dengan suara tersendat-sendat. Kiranya wanita muda ini, yang menjadi isteri seorang di antara empat pembantu Kiang Ti, adalah wanita culikan seperti sebagian besar wanita lain, yang berada di situ. Dia sedang menjadi pengantin ketika orang-orang Kwi-eng-ang menyerbu perkampungannya dan dia dilarikan, kemudian dipaksa menjadi isteri seorang di antara empat pembantu Kiang Ti. Dia merasa sakit hati, dia membenci suaminya dan semua orang Kwi-eng-pang akan tetapi tentu saja dia tidak berdaya dan harus menelan segala kesengsaraannya.

“Hari ini, dengan mata kepala sendiri saya menyaksikan betapa semua sakit hati saya terbalas oleh pangcu, betapa puas dan berterima kasih hati saya terhadap pangcu…” Dia menangis lagi.

Bi Kiok tersenyum. Tidak salah dugaannya. “Kiat Bwee, mulai sekarang engkau menjadi anggauta Giok-hong-pang. Engkau sendiri mengalami kebiadaban kaum pria Kwi-eng-pang ini, maka sekaranglah tiba saatnya untuk menghukum mereka. Engkau tentu tahu siapa di antara mereka yang telah melakukan pemerkosaan biadab terhadap empat orang rekanmu itu.”

Kiat Bwee mengangguk. “Saya tahu, pangcu, saya juga menyaksikan semua perbuatan biadab itu dengan mata kepala sendiri.”

“Nah, kautunjuklah mereka seorang demi seorang.” Bi Kiok lalu menunjuk tiga orang pembantunya. “Kalian melaksanakan hukumannya!”

Tiga orang wanita yang ditunjuk itu tersenyum, mengangguk dan mencabut pedang masing-masing, lalu mengikuti Kiat Bwee yang tampaknya gembira dan tidak kalah ganasnya dibandingkan dengan tiga orang wanita Giok-hong-pang yang dengan penuh gairah hendak melaksanakan hukuman sebagai algojo-algojo dari orang-orang Kwi-eng-pang itu.

“Nah, ini dia, dan itu, dan itu…!” Kiat Bwee menudingkan telunjuknya dan setiap kali dia menuding, tampak sinar pedang berkelebat, disusul suara jerit mengerikan dan robohlah laki-laki yang dituding oleh Kiat Bwee, roboh dalam

keadaan mengerikan karena tiga batang pedang itu selalu menyambar ke bawah dan membacok ke arah anggauta kelamin para pria itu. Darah muncrat-muncrat dan ruangan itu banjir darah. Pekik dan jerit susul-menyusul dan dalam beberapa menit saja ruangan itu penuh dengan orang-orang yang berkelojotan dalam sekarat! Lebih dari lima puluh orang laki-laki tewas sebagai akibat penudingan telunjuk yang kecil mungil dari Kiat Bwee! Wanita ini nampak puas sekali, matanya berkilat-kilat, wajahnya kemerahan dan berseri-seri! Tak disangkanya bahwa hari itu dia akan dapat membalas dendam sedemikian puasnya!

Setelah penjagalan manusia secara hebat ini, Bi Kiok lalu mengajak In Hong untuk memeriksa dan melihat-lihat pulau dengan bangunan-bangunannya, diantarkan oleh Kiat Bwee. Ruangan yang menjadi tempat pembantaian manusia itu dibersihkan oleh para anggauta Giok-hong-pang yang memerintahkan sisa-sisa keluarga dan anggauta Kwi-eng-pang. Mulai saat itu, sisa anggauta Kwi-eng-pang yang jumlahnya masih ada empat puluh orang lebih itu menjadi budak yang ketakutan dari para anggauta Giok-hong-pang, juga keluarga mereka mengalami perubahan hebat, yang wanita otomatis menduduki tingkat yang lebih tinggi daripada yang laki-laki. Mulai saat itu, Telaga Kwi-ouw menjadi daerah yang dikuasai oleh Giok-hong-pang, dan pulau itu menjadi sarang mereka. Kwi-eng-pang otomatis musnah dan sisa orang-orang Kwi-eng-pang sudah mulai melupakan perkumpulan Kwi-eng-pang itu karena mereka kini menjadi budak-budak Giok-hong-pang, bukan anggauta melainkan budak-budak yang setiap hari bekerja keras di ladang, mencari ikan dan lain pekerjaan yang berat. Tidak ada seorangpun yang berani melawan, apalagi melarikan diri, karena mereka maklum bahwa melarikan diri berarti mati dalam keadaan mengerikan seperti yang dialami oleh beberapa orang teman mereka.

Yap In Hong, dara remaja yang cantik jelita itu, menyaksikan semua peristiwa ini tanpa ada sepatah katapun terlontar dari mulutnya, tanpa ada perasaan apapun membayang di dalam sinar matanya, seolah-olah dia tidak perduli akan semua yang dilakukan oleh gurunya. Benarkah dara ini, yang masih begitu muda, yang pada lahirnya memperhatikan kecantikan yang demikian mempesonakan kehalusan yang demikian mengharukan memiliki hati yang dingin membeku, yang tidak memiliki perasaan lagi?

Hal ini sukar sekali untuk ditentukan, karena dara itu sendiripun masih belum mengenal sifat dirinya sendiri. Sejak kecil dia berada di dalam lingkungan wanita-wanita pembenci pria dan segala cerita yang didengarnya tentang pria selalu buruk dan mendatangkan kesan jahat, maka tentu saja di dalam hatinya tumbuh perasaan tidak senang kepada pria. Apalagi karena pria-pria Kwi-eng-pang yang menerima hukuman mengerikan sekali itu adalah pria-pria yang telah melakukan perbuatan biadab dan keji terhadap lima orang anggauta Giok-hong-pang, maka tidak ada perasaan kasihan timbul di hatinya melihat mereka semua dibunuh seperti itu. Betapapun juga, alisnya berkerut tanda tidak setuju ketika dia menyaksikan pembunuhan-pembunuhan seperti itu, karena membunuh lawan yang sudah tidak mampu mengadakan perlawanan atau pembelaan diri baginya merupakan hal yang amat memalukan. Tentu saja dia tidak mau menyatakan perasaan tidak setujunya ini secara berterang karena dia terlalu mencinta gurunya dan tidak mau membuat gurunya tidak senang hati. Bahkan ketika dia mendengar penuturan yang lebih jelas dari gurunya tentang kepatahan hati gurunya dalam kegagalan cintanya terhadap Yap Kun Liong, kakak kandungnya, diam-diam dia merasa tidak senang kepada kakak kandungnya itu!

Setelah Giok-hong-pang berhasil merampas pulau di Kwi-ouw, mereka hidup dengan tenteram den senang di tempat yang indah ini. Makin tekun pula para anggauta Giok-hong-pang mempelajari ilmu silat dan memperkuat diri, sehingga Giok-hong-pang merupakan perkumpulan yang amat kuat, dan mulai terkenal di dunia kaum sesat sebagai perkumpulan yang dipimpin oleh seorang wanita sakti.

In Hong sendiri amat suka dengan keindahan tempat di sekeliling Telaga Kwi-ouw. Akan tetapi, dia merasa muak dengan keadaan hidup para anggauta Giok-hong-pang. Melihat betapa kaum Giok-hong-pang yang terdiri dari wanita-wanita itu memperbudak kaum prianya, bahkan tidak jarang melakukan perbuatan yang menindas dan menyiksa, kemudian dia melihat pula betapa ada beberapa orang anggauta Giok-hong-pang yang mempergunakan budak-budak bekas orang-orang Kwi-eng-pang itu untuk kesenangan dirinya, untuk pemuasan nafsu berahi mereka yang di balik kebencian mereka terhadap pria kadang-kadang timbul dan perlu disalurkan. Gurunya, yang juga tahu akan hal ini tidak melarang! Biarpun gurunya adalah seorang wanita pembenci pria yang sama sekali pantang berdekatan dengan pria, yang hatinya sudah membeku terhadap pria, namun gurunya sendiri agaknya maklum akan kebutuhan para wanita anggauta Giok-hong-pang dan tidak melarang mereka bermain cinta dengan para budak!

Hal ini memuakkan hati In Hong yang melihat seolah-olah para anggauta Giok-hong-pang itu sebagai pemerkosa-pemerkosa, tidak ada bedanya dengan para pria Kwi-eng-pang yang pernah memperkosa wanita. Hanya bedanya, kini wanita yang memperkosa pria, yang menggunakan pria sebagai alat untuk menyenangkan dirinya, untuk memuaskan nafsu berahinya. Hal ini membuat dia mulai tidak betah tinggal di Kwi-ouw dan pada suatu hari dia berpamit kepada gurunya untuk pergi merantau. Yo Bi Kiok tidak melarang karena maklum bahwa muridnya memang perlu memperoleh pengalaman dan tidak mungkin mengurung gadis yang sudah dewasa itu untuk tinggal selamanya di Kwi-ouw. Dia hanya berpesan agar In Hong tidak lupa untuk pulang ke Kwi-ouw.

Hubungan merupakan inti dari kehidupan. Hidup berarti berhubungan, baik berhubungan antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan benda, atau manusia dengan pikirannya, dengan nafsu-nafsunya. Hubungan antara manusia menjadi tidak wajar lagi, menjadi tidak bersih lagi, dan pasti akan mendatangkan pertentangan, mendatahgkan permusuhan dan mendatangkan kesengsaraan, kekecewaan dan penderitaan apabila di dalam hubungan ini dimasuki niat penggunaan.

Hubungan yang bagaimana dekatpun, seperti hubungan antara pria dan wanita, antara suami dan isteri, akan menjadi sumber pertentangan apabila di situ terdapat keinginan untuk saling mempergunakan demi kesenangan diri pribadi. Sikap kepada manusia lain, baik manusia lain itu berbentuk suami, isteri, anak, orang tua, atau sahabat akan merupakan sikap yang palsu apabila sikap itu timbul karena suatu keinginan demi kepentingan dan kesenangan diri sendiri. Dan sikap palsu ini, seperti semua kepalsuan yang tentu saja tidak wajar, selalu akan mendatangkan hal-hal bertentangan dan mendatangkan duka.

***

Pegunungan Cin-ling-san terletak di Propinsi Shen-si dan Kan-su. Daerah int merupakan daerah pegunungan dan dari Puncak Cin-ling-san dapat terlihat gunung-gunung besar lainnya di sebelah selatan dan barat, yaitu di selatan Pegunungan Ta-pa-san dan di sebelah barat Pegunungan Beng-san yang besar. Jauh di timur tampak puncak Gu-niu-san bersambung di antara mega-mega.

Seperti di semua pegunungan atau di tepi laut, pendeknya di tempat-tempat sunyi di mana tampak membentang luas alam yang belum tersentuh tangan manusia di mana segala sesuatu nampak megah, penuh kekuatan dan kedamaian, di Cin-ling-sanpun pemandangan alam amat megah dan indahnya.

Di dekat sumber air Sungai Han-sui yang keluar dari sebuah lereng Cin-ling-san, pemandangan amat indahnya dan tempat inilah yang menjadi pusat dari perkumpulan Cin-ling-pai yang amat terkenal di waktu itu sebagai sebuah perkumpulan yang besar dan kuat, dipimpin oleh seorang pendekar sakti yang juga amat dikenal di dunia kang-ouw, bahkan yang pernah dianggap sebagai tokoh nomor satu di antara para datuk persilatan yang lihai. Ketua Cin-ling-pai itu bernama Cia Keng Hong, seorang kakek yang usianya sudah enam puluh tahun lebih atau tepatnya enam puluh tiga tahun, seorang laki-laki tua yang sederhana dan kelihatan sebagai seorang petani atau penduduk dusun-dusun di gunung yang bersahaja, namun ada sesuatu di dalam sikapnya, terutama di dalam pandang matanya, yang mengandung kegagahan dan keagungan.

Perkumpulan Cin-ling-pai sama terkenalnya dengan ketuanya yang sudah bertahun-tahun jarang memperlihatkan diri di dunia ramai. Ketua itu sendiri jarang menangani persoalan yang dihadapi Cin-ling-pai karena semua urusan telah dipercayakan oleh ketua ini kepada murid-murid kepala yang kesemuanya berjumlah sebelas orang. Di waktu itu, tidak ada seorangpun tokoh dunia kang-ouw yang tidak mengenal Cap-it Ho-han (Sebelas Pendekar) dari Cin-ling-san, yaitu murid-murid kepala dari Cin-ling-pai ini! Sudah sering sekali, entah berapa puluh atau berapa ratus kali, Cin-ling-san Cap-it Ho-han ini menggegerkan dunia persilatan dengan kegagahan mereka, sepak-terjang mereka yang selalu didasari untuk membela kaum lemah tertindas, menentang kekuasaan sewenang-wenang, membela kebenaran dan menentang kejahatan. Pernah sebelas orang pendekar ini mengobrak-abrik dunia kaum sesat sehingga nama mereka menjulang tinggi, disegani kawan ditakuti lawan.

Para pembaca cerita Pedang Kayu Harum dan cerita Petualang Asmara tentu sudah mengenal baik nama Cia Keng Hong, ketua Cin-ling-pai itu. Pendekar sakti ini selain memiliki ilmu-ilmu yang amat tinggi, juga memiliki ilmu mujijat seperti Thai-kek Sin-kun dan Thi-khi-i-beng, dua macam ilmu yang amat hebat. Hanya sebagian saja dari Thai-kek Sin-kun dapat dikuasai oleh Cap-it Ho-han sebagai murid-murid kepala, sedangkan Thi-khi-i-beng sampai seat itu hanya dimiliki atau dikuasai oleh Cia Keng Hong sendiri dan orang kedua yang menguasainya adalah Yap Kun Liong. Isteri ketua inipun bukan orang sembarangan. Wanita yang sekarang telah menjadi seorang nenek berusia enam puluh tahun, dahulu di waktu masih gadis tidak kalah terkenalnya dengan suaminya. Dia bernama Sie Biauw Eng dan dahulu dijuluki orang Song-bun Siu-li (Dara Jelita Berkabung) karena kesukaannya berpakaian putih. Ilmu silatnya juga amat tinggi, mengenal banyak macam ilmu silat dan terutama sekali hebat permainannya dengan Pek-in Sin-pian yang merupakan sehelai sabuk sutera putih, dan pukulan Ngo-tok-ciang (Tangan Lima Racun).

Seperti telah dituturkan di dalam cerita Petualang Asmara, suami isteri yang hidup rukun dan saling mencinta ini mempunyai dua orang anak. Yang pertama bernama Cia Giok Keng dan sekarang telah menjadi isteri dari Lie Kong Tek, seorang pendekar gagah perkasa. Adapun yang kedua adalah Cia Bun Houw, yang sekarang telah menjadi seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh tahun. Pemuda ini semenjak beberapa tahun yang lalu sudah diambil murid oleh Kok Beng Lama, seorang pendeta Lama yang tinggi sekali ilmu silatnya dan yang tinggal di Tibet.

Pada waktu itu, ketua Cin-ling-pai dan isterinya tidak berada di rumah. Suami isteri ini sedang pergi ke Leng-kok untuk mengunjungi Yap Kun Liong, pendekar sakti yang mempunyai hubungan dekat sekali dengan keluarga ketua Cin-ling-pai ini (baca Petualang Asmara). Kunjungan mereka ini, selain untuk melepas kerinduan, juga untuk membicarakan soal yang amat penting, yaitu soal perjodohan antara putera ketua Cin-ling-pai itu, Cia Bun Hou, yang masih berada di Tibet, dan Yap In Hong, adik kandung dari Yap Kun Liong yang seperti kita ketahui, telah menjadi murid dari ketua Giok-hong-pang!

Selain suami isteri ketua Cin-ling-pai, juga empat orang di antara Cap-it Ho-han meninggalkan Cin-ling-pai karena diutus oleh ketua mereka untuk pergi ke Tibet menyusul Cia Bun Houw dan menyerahkan surat ketua mereka kepada pendeta Kok Beng Lama.

Biarpun ketua mereka tidak berada di rumah, namun para anggauta Cin-ling-pai bekerja seperti biasa dan hidup dalam keadaan aman dan tenteram. Jumlah mereka ada kurang lebih seratus keluarga yang tinggal di lereng Cin-ling-san, dan mereka bekerja sebagai petani-petani dan pemburu-pemburu, di samping berlatih ilmu silat. Ada pula beberapa puluh orang anggauta yang sudah terjun ke masyarakat ramai, ada yang bekerja sebagai penjaga keamanan, pengawal, guru silat dan lain pekerjaan yang mengandalkan kepandaian silat mereka. Dan di manapun mereka berada, apapun pekerjaan mereka, murid-murid Cin-ling-pai selalu disegani karena mereka itu rata-rata telah memperoleh pendidikan lahir batin dan menjadi orang-orang yang dapat dipercaya, sungguhpun mereka itu berasal dari keluarga petani-petani sederhana.

Pagi hari itu, baru saja matahari muncul mendatangkan suasana baru dan kehidupan kepada seluruh permukaan bumi, para anggauta Cin-ling-pai telah tampak sibuk dan asap mulai mengepul dari genteng-genteng pondok mereka, tanda bahwa penghuninya sudah bangun semua dan dapur-dapur rumah telah mulai menghidupkan apinya. Tujuh orang murid kepala, yaitu tujuh di antarg sebelas orang Cap-it Ho-han, karena yang empat orang pergi ke Tibet, pagi-pagi itu seperti biasa sudah meninggalkan kamar masing-masing untuk berlatih napas dan samadhi di puncak bukit di belakang kompleks perumahan Cin-ling-pai. Tempat ini dipilih sebagai tempat berlatih karena memang merupakan tempat yang amat hening, indah, dan bersih, memiliki hawa yang murni. Sebentar saja mereka telah hanyut dalam latihan, dan tujuh orang laki-laki yang duduk bersila di atas rumput hijau itu tiada ubahnya seperti arca-area mati.

Pagi itu hawa udara amat dinginnya di puncak bukit, dingin sejuk menyusup tulang. Namun, tujuh orang laki-laki yang duduk bersila itu sama sekali tidak merasakan hawa dingin ini, bahkan kini tampak uap putih mengepul dari tubuh dan kepala mereka! Itulah tandanya pertemuan antara hawa panas yang mengalir di seluruh tubuh mereka dan hawa dingin dari udara di luar tubuh mereka. Dengan berlatih Yang-kang atau tenaga sakti yang panas hawanya ini, tubuh mereka terasa hangat di dalam udara dingin itu. Udara yang mereka hisap melalui hidung tidak nampak akan tetapi setelah keluar dari dalam dada mereka, tampaklah uap tebal putih memanjang seperti seekor ular keluar dari hidung atau mulut mereka. Bermacam-macam cara mereka mengeluarkan hawa dari dalam dada dalam latihan pernapasan ini. Ada yang mengeluarkan hawa dari mulut, ada yang dari hidung, dan ada pula yang mengeluarkannya dari satu lubang hidung saja, ada yang bergantian keluarnya, dari lubang hidung kiri dan kanan.

Tujuh orang laki-laki ini memang telah memiliki ilmu kepandaian tinggi. Mereka adalah murid-murid kepala Cin-ling-pai yang menerima gemblengan langsung dari Pendekar Sakti Cia Keng Hong, ketua atau guru mereka. Setelah lebih dari dua puluh tahun berlatih, sejak mereka merupakan pemuda-pemuda dusun di pcgunungan itu sampai sekarang menjadi orang-orang setengah tua yang usianya dari empat puluh sampai lima puluh tahun lebih, mereka telah menguasai ilmu-ilmu silat yang tinggi dan mereka terkenal sebagai jagoan-jagoan Cin-ling-pai dengan julukan sederhana, yaitu Sebelas Pendekar dari Cin-ling-pai. Pakaian mereka seperti pakaian petani, dan memang tujuh orang ini bersama empat orang yang diutus ke Tibet, berasal dari petani-petani sederhana di sekitar Pegunungan Cin-ling-san. Mereka hidup bertani sampai sekarang, hidup sederhana, tanpa banyak keinginan, sebagian ada yang sudah membentuk keluarga, menikah dengan wanita-wanita dusun pula sehingga keluarga merekapun sederhana, sebagian pula ada yang membujang. Dalam keadaan hidup sederhana dan selalu tenang tenteram penuh damai ini, tentu saja mereka memiliki kesehatan lahir batin dan ketekunan mereka melatih diri membuat mereka menjadi orang-orang gemblengan yang lihai, menjadi orang-orang yang “berisi” sungguhpun pada lahirnya mereka tidak ada bedanya dengan bapak-bapak petani miskin sederhana.

Sejak pagi-pagi sekali tadi, lama sebelum matahari mengirim cahayanya sebagai pelopor atau pembuka jalan bagi munculnya sang raja siang, tujuh orang lihai ini sudah berlatih di puncak bukit itu. Kini matahari muda yang merah dan hangat sudah mengintai dari balik puncak di timur, namun mereka masih tenggelam ke dalam keheningan.

“Suheng…! Suheng…! Harap turun dari puncak… ada urusan penting…!”

Teriakan-teriakan dari beberapa buah mulut yang terdengar datang dari bawah puncak itu menyadarkan mereka. Dengan tenang mereka membuka mata, menghela napas panjang dan mulai menggerakkan anggauta badan, melepaskan kedua kaki yang tadi bersila saling menindih paha.

“Jit-wi suheng… (kakak seperguruan bertujuh)!” kembali terdengar teriakan.

Seorang diantara mereka, yang tertua, usianya tentu sudah lima puluh tahun lebih dan dahinya lebar, kumisnya tebal pendek dan jenggotnya juga tebal pendek, tubuhnya kekad ran membayangkan kekasaran seorang petani namun pandang matanya amat halus, bangkit berdiri dan berkata, “Sute (adik seperguruan) sekalian, mari kita lihat apa yang terjadi di bawah.”

Orang ini adalah murid kepala ke lima dan karena murid-murid kepala pertama sampai ke empat diutus ke Tibet, maka kini dia menjadi yang tertua di antara para sutenya. Dia bernama Sun Kiang, seorang diantara yang tinggal hidup membujang, tidak mau menikah. Setelah membujang, tidak mau menikah. Setelah berkata demikian, dengan tenang dia lalu meninggalkan puncak bersama enam orang sutenya sambil berseru ke bawah dengan suara nyaring, “Kami sedang turun…” Suaranya menggema di seluruh lereng puncak bukit itu, maka tidak lagi terdengar teriakan-teriakan dari bawah yang memanggil-manggil mereka.

Di lereng itu mereka disambut oleh belasan orang murid Cin-ling-pai yang semua kelihatan tegang. Namun tujuh orang itu tenang-tenang saja dan Sun Kiang lalu bertanya, “Apakah yang terjadi?”

“Celaka, Sun-suheng (kakak seperguruan Sun)…!” Seorang di antara mereka berkata dengan muka pucat. “Bendera kita yang di puncak menara itu diambil orang dan di ujung tiangnya terdapat sebuah benda lain, seperti sehelal kain putih…!”

Sun Kiang mengerutkan alisnya yang tebal.

“Hemm, apakah ada yang melihat siapa yang melakukan itu?”

“Tidak ada yang melihatnya. Mungkin hal itu dilakukan di waktu malam, dan tadi kebetulan ada seorang di antara anak-anak kita yang melihatnya dan berteriak keheranan,” kata orang yang melapor itu.

“Dan hebatnya, tidak ada bekas-bekasnya orang naik ke menara, Sun-suheng! Menara itu terjaga pintunya siang malam, tak mungkin ada yang dapat naik ke menara melalui anak tangga tanpa diketahui penjaga,” kata yang ke dua.

Sun Kiang dan enam orang sutenya tidak berkata apa-apa, hanya bergegas turun dari tempat itu menuju ke kompleks perumahan mereka dan langsung menuju ke menara yang dimaksudkan. Mereka memandang ke atas dan benar saja, jauh di atas menara, di mana terdapat tiang bendera, kini bukan bendera Cin-ling-pai yang melambai di ujung tiang bendera, melainkan sehelai kain putih yang dari bawah tampak ada titik-titik hitamnya. Menara itu tinggi, berloteng empat dan tiang itu dipasang di puncak menara, dikeluarkan dari jendela tingkat teratas, panjang tiang ada tiga tombak dan bendera itu berkibar di ujungnya.

“Sun-suheng, kalau dia tidak melalui anak tangga menara dan langsung mengambilnya melalui genteng, sungguh hebat kepandaiannya.” Seorang di antara Cap-it Ho-han berkata.

Sun Kiang mengangguk. “Agaknya kain itu mengandung tulisan, biar aku mengambilnya dengan cara seperti ketika benda itu dipasangkan orang.” Setelah berkata demikian, Sun Kiang mengenjot tubuhnya dan melayanglah tubuh tokoh ke lima dari Cap-it Ho-han ini ke atas, tangannya menyambar pinggiran loteng pertama, bergantung dan menggenjot lagi tubuhnya ke atas berjungkir balik, sehingga tubuh itu meluncur ke tingkat dua, menyambar pinggiran loteng lagi, menggenjot lagi ke atas sampai akhirnya dia berhasil menangkap tiang bendera di puncak menara dan meraih kain putih di ujung tiang bendera, kemudian dia melayang turun dari tingkat ke tingkat seperti tadi dan tiba di atas tanah. Semua ini dilakukan dengan cepat dan sama sekali tidak mengeluarkan suara, dan ketika dia sudah berdiri kembali di tempat tadi, napasnya biasa saja tidak terengah, hanya mukanya yang menjadi agak merah. Tepuk sorak bergemuruh menyambut perbuatan yang hebat ini, karena para anak murid Cin-ling-pai benar-benar kagum menyaksikan kelihaian suheng mereka. Akan tetapi Sun Kiang mengangkat tangan ke atas minta agar mereka tidak menimbulkan bising.

Bersama dengan enam orang sutenya, Sun Kiang membaca huruf-huruf yang tertulis di atas kain putih itu. Kain itu terbuat dari sutera dan agaknya merupakan sehelai saputangan putih yang tidak begitu bersih dan melihat coretan yang kasar, tentu huruf-huruf itu ditulis dengan telunjuk yang dicelupkan tinta bak. Tulisannya bergores kuat sungguhpun tidak dapat disebut indah.

LIMA BAYANGAN DEWA MENANTI KEHADIRAN KETUA CIN-LING-PAI DAN CAP-IT HO-HAN DI RESTORAN KOAI-LO KOTA HAN-TIONG HARI INI MENJELANG SENJA

Hemmm… Lima Bayangan Dewa? Siapakah mereka dan apa maunya?” Sun Kiang berkata sambil mengerutkan alisnya.

“Kurang ajar! Surat ini berupa tantangan bagi kita!” kata seorang sutenya.

“Ini penghinaan namanya! Bendera kita dirampas dan dia menantang suhu dan Cap-it Ho-han!” kata yang lain.

Sun Kiang memberi tanda dengan tangan kepada para sutenya. “Mari kita masuk ke dalam dan merundingkan urusan ini. Coa-sute, kauperintahkan para murid untuk bekerja seperti biasa, akan tetapi agar mereka waspada dan mengawasi gerak-gerik orang asing yang kelihatan di daerah kita, juga penjagaan herus diperkuat apalagi di waktu malam di sekitar menara.”

Setelah melakukan pesan suhengnya, Coa Seng Ki, yaitu tokoh termuda dari Cap-it Ho-han yang usianya tiga puluh delapan tahun, cepat memasuki ruangan dalam di mana para suhengnya sudah berkumpul untuk merundingkan urusan itu.

“Nama perkumpulan kita sudah amat terkenal di dunia kang-ouw, akan tetapi karena suhu melarang kita mencampuri urusan luar, maka kita sendirl kurang mengenal tokoh-tokoh golongan putih atau hitam yang kini menjagoi dunia kang-ouw. Betapapun juga, karena banyaknya murid Cin-ling-pai yang terjun ke dunia ramai, tentu terjadi hubungan-hubungan di luar tahu kita. Lima Bayangan Dewa ini tidak kita kenal, akan tetapi mereka tentu merupakan tokoh-tokoh besar maka berani mengundang suhu dan Cap-it Ho-han mengadakan pertemuan di Han-tiong. Sayang bahwa suhu sedang tidak ada, bahkan twa-suheng dan ji-suheng (kakak tertua dan kakak kedua) juga pergi, padahal biasanya mereka berdua yang memutuskan segala perkara kalau suhu tidak ada. Mereka pergi bersama sam-suheng dan si-suheng sehingga yang ada hanya kita bertujuh.”

“Kita tidak perlu takut, Sun-suheng!” Coa Seng Ki, orang termuda yang paling berani dan keras hatinya di antara mereka cepat berkata. “Mereka hanya lima orang, dan kita masih ada bertujuh, sudah lebih dari cukup untuk menghadapi mereka. Bahkan kalau suheng menghendaki, saya sendiripun tidak gentar untuk mewakili Cin-ling-pai menghadapi mereka di Han-tiong.”

“Coa-sute, sikapmu ini tidak bijaksana. Lupakah engkau akan pesan suhu bahwa menghadapi apapun juga, kita harus berkepala dingin? Hati yang panas merupakan bekal yang amat melemahkan diri sendiri dalam menghadapi persoalan!” Sun Kiang menegur sutenya.

Coa Seng Ki menundukkan kepalanya. “Maafkan saya, suheng. Karena ada orang menghina suhu maka hati saya menjadi panas.”

Hening sejenak, kemudian Sun Kiang berkata pula, “Kita tidak mengenal mereka dan tidak tahu apa maksud hati mereka mengundang suhu dan Cap-it Ho-han. Kita belum dapat memastikan apakah mereka itu mengandung niat baik ataukah buruk, akan tetapi melihat betapa mereka telah mengambil bendera Cin-ling-pai, tentu mereka tidak mempunyai niat yang baik. Karena aku tidak mau berbuat sembrono, maka kita rundingkan baik-baik apakah kita harus melayani mereka ataukah tidak.”

Setelah berunding sampai lama, akhirnya ditetapkan bahwa mereka, bertujuh akan berangkat ke Han-tiong memenuhi undangan Lima Bayangan Dewa, karena kalau mereka tidak melakukan hal ini, tentu urusan itu akan tinggal gelap. Mereka bukan hendak berangkat untuk mencari permusuhan, melainkan untuk mempelajari apa sebetulnya yang dikehendaki oleh Lima Bayangan Dewa itu, dan untuk memperlihatkan kepada siapapun juga bahwa biarpun di Cin-ling-pai hanya ada tujuh orang dari Cap-it Ho-han, Cin-ling-pai tidak pernah merasa gentar menghadapi apa dan siapapun juga.

Sebelum berangkat, Sun Kiang memesan lagi kepada para adik seperguruannya. “Kalian ingat baik-baik, terutama Coa-sute. Kita tidak boleh bersikap lancang, apalagi sampai menimbulkan permusuhan. Hal ini dilarang keras oleh suhu. Kita hanya memenuhi undangan untuk mengenal siapa mereka dan mengetahui apa maksud dari undangan mereka.”

“Saya mengerti, suheng. Akan tetapi, bagaimana kalau mereka itu mengeluarkan sikap dan kata-kata yang menghina Cin-ling-pai atau menghina suhu? Mungkin mereka itu adalah musuh-musuh suhu di waktu suhu masih muda!” Coa Seng Ki membantah.

“Kalau mereka menghina, serahkan saja kepadaku untuk menghadapi mereka. Kalian semua tidak boleh turun tangan secara lancang.”

“Bagaimana kalau mereka menyerang kita? Apakah kita juga harus diam saja?” Coa Seng Ki membantah.

“Hemm, Coa-sute, kalau sampai terjadi seperti itu, perlukah bertanya lagi? Tentu saja kita harus bergerak untuk

membela diri. Yang dilarang oleh suhu adalah kalau kita menggunakan kekerasan mencari permusuhan. Kalau kita diserang, tentu saja kita harus membela diri.”

Coa Seng Ki mengangguk-angguk dan kelihatan girang. “Mereka itu bukan orang-orang baik, aku yakin akan hal ini dan mereka tentu akan menyerang kita.”

Setelah meninggalkan pesan kepada para anggauta Cin-ling-pai dan kepada keluarga mereka, berangkatlah tujuh orang jagoan Cin-ling-pai ini menuju ke kota Han-tiong yang terletak di kaki Pegunungan Cin-ling-pai. Karena maklum bahwa mereka akan menghadapi orang-orang pandai, maka mereka tentu saja membawa bekal senjata mereka masing-masing untuk berjaga-jaga dan mereka seperti biasa tidak ingin menonjolkan diri sebagai ahli-ahli silat dan menyembunyikan senjata masing-masing di bawah jubah petani mereka yang longgar. Tidak semua anak murid Cin-ling-pai bersenjeta pedang. Sungguhpun ketua Cin-ling-pai yaitu Pendekar Sakti Cia Keng Hong merupakan seorang ahli pedang yang sukar dicari tandingnya, apalagi kalau dia menggunakan Pedang Pusakanya, yaitu pedang Siang-bhok-kiam (Pedang Kayu Harum) yang pernah menggegerkan dunia kang-ouw, namun tidak semua murid kepala menjadi ahli pedang. Ketua Cin-ling?pai ini mengajarkan ilmu?ilmu yang tinggi kepada para murid kepala disesuaikan dengan bakat masing?masing. Oleh karena itu, di antara tujuh orang jagoan ini, yang bersenjata pedang hanya Sun Kiang, Coa Seng Ki dan dua orang lagi, sedangkan dua orang bersenjata golok sedankan yang seorang bersenjata tongkat yang ujungnya dilapis baja.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: