Dewi Maut (Jilid ke-5)

“Memang dia tidak perlu dibunuh!” Tiba-tiba Gu Lo It berkata. “Kalau dia mampus, siapa yang akan melaporkan kepada ketua Cin-ling-pai? Kita lukai saja dia, biar mati perlahan-lahan. Akan tetapi hayo sudahi main-mainmu, Hui-giakang, kita tidak mempunyai banyak waktu, malam sudah tiba!”

“Aih, sayang…!” Ciok Lee Kim berkata akan tetapi agaknya dia tidak berani membantah perintah Si Iblis Bumi. Tiba-tiba dua helai saputangan merahnya berkelebat menjadi gulungan sinar merah berputaran menyambar-nyambar dan pedang di tangan Coa Seng Ki sudah dapat dilibat dan sekali ujung saputangan menotok pergelangan tangan, pedang itupun terlepas dari tangan pemiliknya dan terampas. Ciok Lee Kim tertawa, mengebutkan saputangannya yang merampas pedang dan pedang itu meluncur ke depan ke arah Hok Hosiang, dibarengi bentakannya, “Hok Hosiang, kauterimalah pedangnya!”

“Omitohud, kau main-main saja!” dengan ujung lengan baju yang besar, Hok Hosiang mengebut pedang itu menyeleweng ke bawah dan “crappp!” pedang itu menancap di dada mayat Sun Kiang.

Melihat betapa pedangnya sendiri menancap dada subengnya, Coa Seng Ki menjadi hampir gila saking marahnya dan sambil bertertak keras dia menubruk ke arah pendeta gendut itu. Akan tetapi Hok Hosiang sudah menyambutnya dengan dorongan tangan terbuka dan kekuatan dahsyat.

“Plakkk!!” Pundak Coa Seng Ki terkena dorongan dan tubuhnya terlempar ke arah Gu Lo It.

“Dukk!” Gu Lo It menyambutnya dengan tamparan yang mengenai dadanya.

“Huakkkkk!!” Darah merah tersembur keluar dari mulut Coa Seng Ki ketika tubuhnya terlempar ke arah Toat-beng-kaw Bu Sit.

Desss!! Krek-krekk!” Toya di tangan Bu Sit menghantam perut dan kedua lututnya, mematahkan kedua tulang kaki orang termuda dari Cap-it Ho-han itu yang terlempar ke arah Ciok Lee Kim.

“He-heh, tampan, kau sudah tidak berharga lagi untuk mendekatiku!” Nenek genit itu terkekeh, tangan kirinya mencakar den lima kuku jarinya mencakar muka Coa Seng Ki sehingga robek-robek kulit mukanya den berdarah. Dia terbanting roboh dan tak sadarkan diri lagi, dengan mulut memuntahkan darah, muka tergores den berdarah, pukulan pada pundak, dada dan perutnya membuat dia terluka dalam secara hebat dan kedua tulang kakinya patah-patah!

Empat orang itu tertawa bergelak lalu turun melalui anak tangga dengan lagak sombong karena kemenangan mereka. Melihat para pelayan menggigil den berkumpul di sudut ruangan bawah, Liok-te Sin-mo Gu Lo It menoleh ke arah mereka sambil berkata, “Semua harga makanan dan kerusakan perabot di atas akan dibayar oleh Cin-ling-pai!”

Sambil tertawa-tawa puas, empat orang itu lalu keluar dari restoran dan sebentar saja mereka menghilang di dalam kegelapan malam. Lama setelah empat orang itu pergi, barulah para pelayan dan orang-orang yang menonton pertandingan hebat dari luar restoran itu berani berindap-indap naik dan mereka terkejut den ngeri sekali ketika menyaksikan keadaan ketujuh orang tokoh Cin-ling-pai itu. Keadaan menjadi geger, para petugas keamanan baru berani muncul untuk mengadakan pemeriksaan dan beberapa orang diperintahkan untuk memberi kabar ke Cin-ling-pai di dekat puncak gunung.

Akan tetapi pada seat itu juga, tampak lima orang anggauta Cin-ling-pai datang berlari-lari memasuki restoran Koai-lo dengan maksud untuk mencari ketujuh orang Cap-it Ho-han. Wajah mereka semua pucat den tegang, dan mereka ingin melaporkan sesuatu kepada para pimpinan mereka. Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka dan serta merta menubruk para suheng mereka yang sudah rebah malang melintang di ruangan atas restoran itu sambil menangis. Dunia seakan-akan kiamat bagi mereka. Baru saja mereka mengalami kekagetan dan kecemasan hebat di Cin-ling-pai dan kini mereka dibadapkan dengan malapetaka yang lebih hebat pula, yaitu kematian enam orang Pimpinan Cin-ling-pai dan yang seorang terluka hebat.

Apakah yang terjadi di pusat Cin-ling-pai sehingga lima orang anggautanya itu bergegas pergi ke Han-tiong menyusul ketujuh orang murid kepala yang sedang memenuhi tantangan fihak lawan yang menamakan dirinya Lima Bayangan Dewa itu?

Ternyata malam itu terjadi hal yang hebat pula di Cin-ling-pai. Karena semua anggauta Cin-ling-pai telah diberi tahu akan tantangan Lima Bayangan Dewa, dan karena tujuh orang murid kepala itu mewakili Cin-ling-pai untuk menghadapi para penantang, maka para anggauta Cin-ling-pai menjadi prihatin dan mereka melakukan penjagaan yang ketat. Mereka semua merasa tegang karena mengerti bahwa para pimpinan mereka pergi ke Han-tiong menghadapi lawan yang tangguh yang dapat dilihat dari cara mereka memasang surat tanda tantangan di puncak menara, di ujung tiang bendera.

Keadaan menjadi amat sunyi di markas Cin-ling-pai yang dikurung pagar tembok itu. Penjagaan ketat dilakukan oleh para anggautanya, di pintu-pintu gerbang dan terutama sekali di sekitar menara karena tempat itu merupakan tempat penyimpanan pusaka Cin-ling-pai, juga menjadi tempat kediaman ketua mereka yang pada saat itu sedang bepergian. Perondaan juga dilakukan tiada hentinya secara bergilir mengelilingi pagar tembok. Sejak senja tadi, wanita dan kanak-kanak sudah dilarang untuk berada di luar rumah. Semua telah berlindung di dalam rumah dan para ibu juga siap sedia dengan senjata di dekatnya kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak tersangka-sangka terhadap keluarganya. Pendeknya, semua anggauta Cin-ling-pai dan keluarga mereka siap sedia dengan hati penuh ketegangan. Mereka hanya mengharapkan agar para pimpinan mereka segera kembali membawa berita bahwa semuanya telah beres dan tidak ada apa-apa lagi yang perlu dikhawatirkan. Biarpun mereka itu percaya akan kelihaian para murid kepala, yaitu Cap-it Ho-han yang pada waktu itu hanya ada tujuh orang, namun tetap saja mereka agak gelisah karena ketua mereka tidak berada di situ. Mereka merasa seolah-olah seperti sekelompok anak ayam ditinggalkan induknya.

Lewat senja, ketika keadaan belum gelap benar, akan tetapi sejak tadi lampu-lampu telah dipasang, tiba-tiba sekali terdengar bentakan-bentakan dan keributan di pintu gerbang sebelah berat, yaitu di belakang markas itu. Terdengar senjata-senjata den teriakan-teriakan para penjaga. Tentu saja para penjaga segera lari ke tempat itu den ternyata di tempat itu terjadi pertempuran yang amat aneh. Belasan orang anggauta Cin-ling-pai mengeroyok seorang laki-laki yang tidak bersenjata, akan tetapi anehnya, semua serangan senjata di tangan para anggauta Cin-ling-pai itu tidak ada yang pernah dapat menyentuh tubuh orang itu, walaupun orang itu kelihatannya tenang saja, seolah-olah senjata yang menghampiri tubuhnya itu tiba-tiba menyeleweng sendiri seperti tertolak oleh hawa yang melindungi seluruh tubuh orang itu!

Melihat banyak orang lagi datang untuk mengeroyoknya, orang laki-laki itu tertawa bergelak, tubuhnya berkelebat dan lenyaplah dia dari tengah-tengah para pengeroyoknya! Kemudian, selagi semua orang bingung mencari-cari, tiba-tiba di pintu gerbang sebelah timur, di depan markas itu, terjadi keributan dan kiranya laki-laki itu telah berada di situ menghadapi pengeroyokan para penjaga yang bertugas menjaga di tempat itu!

Kembali semua anak murid Cin-ling-pai berlari-lari ke tempat itu. Laki-laki itu kelihatan muda dan berwajah tampan, rambutnya dikucir panjang, pakaiannya sederhana serba putih, hanya sepatunya saja yang hitam. Sukar mengira-ngira usianya, kelihatannya baru berusia tiga puluh tahun saja. Gerak-geriknya halus, namun setiap gerakan kaki tangannya membawa angin pukulan yang amat dahsyat sehingga lime enam orang murid Cin-ling-pai terlempar sekaligus oleh sambaran angin dari kebutan lengan bajunya! Dan semua senjata menyeleweng den terpental begitu kena disambar angin tangkisannya.

Hanya sebentar saja orang itu mengacau di pintu gerbang timur dan biarpun belasan orang roboh terpelanting ke kanan kiri oleh sambaran angin pukulan tangannya, namun tidak ada seorangpun yang terluka hebat atau tewas. Agaknya orang ini hanya mempermainkan mereka saja dan kembali dia tertawa, berkelebat lenyap, untuk muncul lagi di pintu gerbang sebelah selatan! Dengan perbuatannya yang aneh ini, semua anggauta Cin-ling-pai menjadi kacau-balau dan geger. Jelas bahwa yang datang mengacau hanya satu orang saja, namun orang itu memiliki kepandaian sedemikian tingginya sehingga mampu menggegerkan seluruh anggauta Cin-ling-pai yang dibikin kocar-kacir dan kacau-balau lari ke sana ke mari mencari-cari lawan yang sebentar-sebentar menghilang itu.

Ketika untuk kelima kalinya orang itu meloncat dan menghilang, para anak buah Cin-ling-pai sudah menjadi panik dan bingung sekali. Mereka mencari-cari, akan tetapi sekali ini orang itu menghilang sampai lama. Dicari ke manapun tidak dapat ditemukan dan para anak murid Cin-ling-pai sudah mengira bahwa pengacau itu akhirnya melarikan diri karena gentar menghadapi pengeroyokan sedemikian banyak orang. Sementara itu, lima orang murid tingkat dua yang langsung menjadi murid-murid kepala di bawah asuhan Cap-it Ho-han, diam-diam melakukan perondaan di atas genteng perumahan Cin-ling-pai di sekitar menara. Mereka ini adalah orang-orang yang tingkat kepandaiannya paling tinggi di saat itu, dan mereka berlima telah mewarisi Ilmu Silat Tangan Kosong San-in-kun-hoat (Ilmu Silat Awan Gunung) yang dahsyat, maka merekapun tidak membawa senjata, karena keistimewaan mereka adalah gerakan kaki tangan mereka yang sudah tergembleng kuat dan terlatih baik.

Mereka berlima berjaga di sekitar menara dan merasa aman karena menara itu telah dijaga ketat di sebelah dalamnya. Untuk naik ke puncak menara di mana tersimpan benda-benda pusaka milik ketua, orang harus melalui pasukan penjaga yang berlapis lima dan setiap penjagaan terdapat lima orang penjaga yang sudah terlatih.

Setengah jam lewat dan biarpun semua anggauta masih mencari-cari, namun hati mereka telah menjadi lega karena jelas bahwa pengacau itu telah lenyap, agaknya telah melarikan diri keluar dari markas Cin-ling-pai. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan keras disusul suara ketawa menyeramkan tadi, suara si pengacau yang tadi selalu tertawa kalau hendak menghilang.

Kiranya pengacau itu muncul lagi secara tiba-tiba, meloncat turun dari puncak menara dan lengan kanannya mengempit sebatang pedang dalam sarungnya. Dapat dibayangkan betapa kagetnya lima orang murid kepala Cap-it Ho-han itu ketika mengenal pedang Siang-bhok-kiam yang dikempit oleh lengan orang itu! Pedang pusaka lambang kebesaran Cin-ling-pai telah dicuri orang!

“Pencuri hina…!”

“Kembalikan Siang-bhok-pokiam!”

Lima orang itu cepat berloncatan di atas genteng dan mengejar. Namun gerakan pencuri pedang itu hebat bukan main. Sukar sekali mendekatinya karena dia berloncatan dari genteng ke genteng lain seperti seekor burung terbang saja. Ketika seorang di antara lima jagoan Cin-ling-pai itu berhasil mendekati, dia langsung mengirim pukulannya yang ampuh, menggunakan jurus yang paling lihai dari San-in-kun-hoat, yaitu In-keng-hong-wi (Awan Menggetarkan Angin dan Hujan), tangan kanannya menonjok lurus ke depan disertai tenaga sin-kang yang ampuh.

“Dukkk!” Pukulan itu dengan tepat mengenai bahu kanan orang itu, akan tetapi yang dipukul tertawa saja dan si pemukul merasakan betapa kepalan tangannya seperti memukul karet yang amat lunak namun kuat sekali sehingga tenaga pukulannya seperti tenggelam dan lenyap kekuatannya. Selagi dia berteriak kaget, pencuri itu telah tertawa panjang dan tubuhnya mencelat jauh ke depan.

“Tangkap pencuri…!”

“Dia mencuri Siang-bhok-pokiam!”

Lima orang itu berteriak-teriak karena tidak dapat menyusul dan melihat pencuri itu telah tiba di rumah terakhir. Para anak murid yang mengejar dari bawah melihat pengacau itu mengempit pedang. Mendengar betapa pusaka keramat Cin-ling-pai dicuri, mereka menjadi marah sekali. Bagaikan hujan saja senjata-senjata rahasia menyambar ke arah tubuh pencuri itu ketika dia meloneat turun dari atas genteng. Semua orang terbelalak memandang betapa sekian banyaknya senjata rahasia dengan cepat mengenai tubuh orang itu, akan tetapi kesemuanya itu runtuh tak berbekas dan si pencuri masih tertawa-tawa.

“Ha-ha-ha, katakan kepada Cia Keng Hong bahwa Lima Bayangan Dewa mengirim salam dan menitipkan nyawanya sampai tahun depan!” Setelah berkata demikian, orang itu berkelebat dan lenyap dari tempat itu.

“Pengecut, tinggalkan namamu!” teriak seorang murid Cin-ling-pai dengan suara nyaring. Akan tetapi tiba-tiba orang yang berteriak ini roboh terjengkang, dan ketika teman-temannya memandang, ternyata dia telah tewas! Dan dari jauh terdengar suara tertawa.

“Ha-ha-ha, tidak ada orang boleh hidup setelah memaki pengecut kepada Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok!”

Tentu saja orang-orang Cin-ling-pai menjadi geger. Lima orang murid lihai yang digembleng oleh Cap-it Ho-han itu lalu bergegas meninggalkan Cin-ling-pai menuju ke Han-tiong untuk menyusul para suheng mereka dan melaporkan akan malapetaka yang menimpa markas Cin-ling-pai sehingga pedang pusaka Siang-bhok-kiam lenyap dicuri orang, bahkan seorang anak murid tewas oleh si pencuri yang lihai dan yang mengaku bernama Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok itu. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget dan sedih hati lima orang murid ini ketika mereka melihat tujuh orang suheng mereka itu tertimpa malapetaka yang lebih hebat dan mengerikan lagi di dalam rumah makan Koai-lo karena enam orang di antara mereka telah tewas dan Coa Seng Ki, orang termuda dari Cap-it Ho-han menderita luka-luka hebat sehingga nyawanya juga seolah-olah bergantung kepada sehelat rambut! Dengan penuh kedukaan mereka lalu mengangkut enam mayat dan Coa Seng Ki yang terluka parah itu ke Cin-ling-pai di mana mereka disambut oleh jerit-jerit tangisan yang memilukan dari semua anak murid Cin-ling-pai dan terutama sekali dari keluarga mereka yang tewas.

Bermacam-macam sikap anggauta keluarga yang ditinggal mati oleh seseorang dalam keluarga itu. Namun pada umumnya, mereka itu berduka atau memperlihatkan wajah duka. Bermacam-macam pula rasa duka yang mendatangkan goresan muka yang sama itu. Ada yang berduka karena merasa iba kepada yang mati, akan tetapi sebagian besar adalah berduka karena merasa iba kepada dirinya sondiri yang tinggalkan oleh yang mati. Merasa betapa hidupnya kehilangan sesuatu, yang dicintainya, yang disandarinya, atau yang diharap-harapkannya. Merasa kehilangen ini yang mendatangkan duka. Ada pula yang tidak merasa apa-apa namun “demi kesopanan” terpaksa menarik muka agar kelihatan berduka. Ada pula yang terbawa oleh suasana duka, karena tangis, seperti juga tawa, mudah sekali menular kepada orang lain. Sukar sekali menahan diri, terutama sekali kaum wanita, untuk tidak mencucurkan air mata melihat banyak orang menangis tersedu-sedu, apalagi kalau disertai keluh-kesah dan ratapan, lebih sukar daripada menahan tawa kalau melihat banyak orang tertawa gembira. Yang hebat, lucu den aneh, banyak pula keluarga yang kematian hendak menyatakan bahwa mereka benar-benar berkabung dengan “menyewa” tukang menangis! “Tukang-tukang menangis” ini dibayar dan tugasnya hanya untuk menangis sehebat mungkin, meratap dengan suara yang paling menyedihkan, untuk “memancing” air mata para keluarga yang sudah hampir mengering.

Memang suasana pada keluarga yang kematian amat menyedihkan. Apalagi pada pagi hari itu di ruangan depan dari rumah besar di Cin-ling-pai. Memang menyedihkan sekali melihat tujuh buah peti mati berjajar-jajar di ruangan itu, dikelilingi dan dikerumuni oleh para sanak keluarga dan para anggauta Cin-ling-pai yang tiada hentinya menangis dan bergilir melakukan sembahyang di depan peti-peti mati itu. Tujuh buah peti mati itu terisi mayat-mayat enam orang anggauta Cap-it Ho-han dan seorang anak murid Cin-ling-pai yang tewas karena berani memaki pengecut kepada Pat-pi Lo-sian.

Suasana di ruangan itu menjadi makin menyedihkan melihat para anggauta keluarga para korban yang memakai pakaian serba putih, topi putih dan muka pucat, mata sayu kemerahan dan pipi kotor bekas air mata dan debu. Ruangan yang luas itu menjadi serem karena asap hio yang bergulung-gulung dan bau dupa wangi yang dibakar semenjak malam tadi.

Akan tetapi Cin-ling-pai adalah perkumpulan orang-orang gagah. Biarpun sejak kemarin sampai malam tadi para keluarga korban tiada hentinya menangisi ayah, saudara dan suami mereka, namun pagi ini mereka telah dapat menekan perasaan mereka sebagai orang-orang atau keluarga-keluarga orang gagah sehingga tidak lagi terdengar suara tangis. Mereka masih bersembahyang dan berkabung, namun wajah mereka semua membayangkan duka dan dendam bercampur menjadi satu, dengan tarikan muka keras membayangkan kemarahan hati terhadap fihak musuh yang telah menyebar kematian di antara tokoh-tokoh Cin-ling-pai.

Mereka tidak lagi mencucurkan air mata dan meratap, terutama sekali ini mereka paksakan kepada perasaan mereka sendiri untuk memperlihatkan sikap gagah kepada para penghuni dusun yang datang untuk memberi penghormatan terakhir kepada para korban. Bukan hanya para penghuni dusun-dusun pegunungan di sekitar tempat itu, juga dari kota Han-tiong datang tamu berduyun-duyun untuk bersembahyang dan tidak lupa memberi sumbangan kepada keluarga yang ditimpa duka nestapa itu.

Sejak pagi sampai tengah hari, tiada hentinya para tamu datang, bersembahyang, memberi sumbangan dan mengucapkan kata-kata yang nadanya menghibur, memuji kegagahan Cap-it Ho-han dan mengutuk penjahat-penjahat yang melakukan pembunuhan keji, kemudian pergi lagi dengan perasaan lega seperti orang-orang yang telah melakukan sesuatu yang amat baik dan berharga. Bahkan komandan penjaga keamanan dari kota Han-tiong juga datang menyatakan duka cita dan dia mengatakan kepada para anggauta Cin-ling-pai bahwa dia akan mengerahkan pasukannya untuk mencari dan menangkap penjahat-penjahat yang menamakan dirinya Lima Bayangan Dewa itu. Akan tetapi, para murid Cin-ling-pai maklum bahwa ucapan komandan itu tidak dapat diandalkan dan harapan satu-satunya bagi mereka untuk dapat membalas dendam kematian ini hanyalah guru mereka, karena para penjahat itu adalah orang-orang lihai sedangkan para petugas keamanan itu biasanya, sebagian besar hanya galak-galak kalau menghadapi rakyat lemah yang tak mampu melawan dan yang dapat diharapkan menjadi sapi-sapi perahan.

Setelah lewat tengah hari, makin berkuranglah tamu yang datang bersembahyang dan menjelang senja tidak ada lagi tamu yang datang. Dengan bergiliran, murid-murid Cin-ling-pai melakukan penjagaan karena yang lain harus beristirahat, akan tetapi tentu saja para keluarga korban tetap di dekat peti mati dalam keadaan berkabung.

Setelah semua orang mengira bahwa tidak akan ada lagi tamu yang datang, tiba-tiba muncullah dua orang dari pintu depan. Mereka ini adalah orang-orang tua, yang seorang adalah wanita tua, nenek-nenek yang usianya tentu sudah enam

puluh tahun lebih dengan pakaian serba hitam dan kain kepala berwarna hitam pula, berjalan sambil menundukkan muka, sedangkan yang kedua adalah seorang kakek tinggi kurus berpakaian seperti seorang tosu (pendeta To) yang melangkah masuk dan mengangkat kedua tangan di depan dada membalas penghormatan para penjaga pintu yang mempersilakan kedua orang ini terus memasuki ruangan di mana terdapat tujuh peti mati yang berjajar-jajar.

Nenek itu menerima beberapa batang hio yang sudah dinyalakan oleh seorang murid Cin?ling?pai yang bertugas melayani mereka yang hendak bersembahyang, sedangkan kakek tosu itu dengan suaranya yang halus bertanya tentang mereka yang mati sehingga seorang murid Cin-ling-pai lain menceritakan bahwa yang tewas adalah enam orang di antara Cap-it Ho-han dan seorang anak murid Cin-ling-pai lainnya. Tosu itu mengangguk-angguk dan mengerutkan alisnya, kelihatan tidak senang.

Sementara itu, nenek tua yang berpakaian serba hitam sudah bersembahyang di depan peti mati itu, kemudian berhenti di depan peti mati pertama yang terisi mayat Sun Kiang. Di sini dia berdiri dan berkata lirih, “Sayang, sayang… sungguh penasaran sekali mengapa kalian mati di tangan orang lain…!” Semua anak murid Cin-ling-pai terkejut dan heran sekali mendengar ucapan aneh itu, dan mereka makin heran ketika melihat betapa nenek itu kini menancap-nancapkan hio atau dupa biting itu ke atas peti mati yang terbuat dari kayu tebal dan keras. Sukar dipercaya betapa dupa biting yang rapuh itu dapat ditancapkan ke atas peti mati, seolah-olah papan peti mati yang keras itu hanya terbuat dari agar-agar saja! Dan perbuatan ini selain mendatangkan kekagetan dan keheranan, juga membuat para anak murid Cin-ling-pai menjadi marah sekali.

Nenek itu mundur tiga langkah setelah menjura ke arah peti-peti mati, kemudian tosu itu melangkah mendekati peti-peti itu, tangan kanannya menepuk-nepuk setiap peti dan mulutnya berkata lirih namun cukup keras untuk terdengar oleh mereka yang berada di ruangan itu. “Memang sayang sekali, akan tetapi kalian mati di tangan Lima Bayangan Dewa sudah cukup twhormat, karena yang pantas mati di tangan pinto (aku) hanyalah ketua Cin-ling-pai…”

Semua orang makin kaget, apalagi melihat betapa di setiap peti kini terdapat bekas telapak tangan kakek itu yang tadi menepuk-nepuk peti mati, tampak tanda telapak tangan menghitam di atas peti, melesak sedalam satu senti seperti diukir saja!

Para anak murid Cin-ling-pai adalah orang-orang yang sudah lama mengenal ilmu silat maka mereka tentu saja mengerti bahwa tosu dan nenek yang agaknya seorang pertapa pula itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Akan tetapi karena jelas bahwa mereka itu menghina Cin-ling-pai dan bersikap memusuhi guru mereka, para murid itu sudah menjadi marah sekali dan siap untuk turun tangan mengeroyok! Akan tetapti dengan terjadinya peristiwa hebat itu membuat mereka seperti pasukan kehilangan komandan, merasa tidak berdaya dan bingung, sehingga kinipun mereka ragu-ragu dan menanti sampai seorang di antara mereka ada yang memulai. Tiba-tiba terdengar suara nyanyian dari luar, suaranya dekat sekali akan tetapi orangnya tidak nampak!

“Sikap, nama, harta dan kedudukan

bukanlah ukuran jiwa

seorang manusia,

semua itu hanya kulit belaka

yang tidak dapat menentukan

nilai isi.

Betapa banyaknya berkeliaran

di dunia

hartawan yang jiwanya miskin

pembesar yang jiwanya kecil

dan pendeta yang menumpuk dosa!”

Kakek dan nenek itu kelihatan terkejut, saling pandang lalu membalikkan tubuhnya ke arah pintu depan. Kini tampak muncullah dua orang kakek lain, yang pertama amat menarik hati karena anehnya. Dia seorang kakek tua yang usianya tentu sudah tujuh puluh tahun lebih, pakaiannya kedodoran terlalu besar, dan warna pakaiannya amat menyolok mata! Celananya kotak-kotak, bajunya kembang-kembang, kepalanya yang berambut putih itu tertutup kopyah seperti yang biasanya dipakai seorang bayi, mukanya selalu tersenyum dan matanya bersinar-sinar! Adapun orang kedua juga seorang kakek yang juga sudah tua, tentu sudah enam puluh tahun lebih, namun sikapnya masih gagah, tubuhnya tinggi kurus, pakaiannya sederhana dan matanya sipit seperti dipejamkan.

Dua orang kakek yang baru datang ini agaknya tidak memperdulikan tosu dan tokouw (pendeta wanita) itu, mereka langsung bersembahyang seperti biasa, kemudian menaruh hio di tempat dupa depan peti. Akan tetapi tiba-tiba kakek yang pakaiannya aneh itu tertawa, menuding ke arah hio-hio yang tertancap di atas peti mati pertama tadi sambil berkata, “Ehh, dupa-dupa jahat, mengapa kalian begitu kurang ajar, berada di tempat yang tidak semestinya? Hayo kalian turun dan berkumpul dengan teman-temanmu di bawah!”

Ucapan ini sudah aneh, seperti ucapan seorang gila karena ditujukan kepada hio-hio itu. Akan tetapi kenyataannya lebih aneh lagi sehingga membuat semua orang melongo. Siapa yang tidak akan terkejut dan heran ketika mereka melihat betapa hio-hio yang tadi ditancapkan secara luar biasa oleh tokouw itu di atas peti mati yang keras, kini seolah-olah bernyawa dan hidup, mentaati perintah kakek berpakaian kembang-kembang, bergerak dan “berjalan” turun dari peti mati lalu menancapkan diri sendiri di tempat hio bersama hio-hio yang lain!

Sebelum orang-orang yang berada di situ habis keheranan mereka, kakek yang kedua itu, berjalan-jalan di antara peti-peti mati, berkata perlahan, “Hemm, mengapa buatan peti-peti ini demikian kasar sehingga masih ada telapak tangannya? Biar kuratakan.” Diapun mengusap dengan tangannya di atas bekas telapak tangan tosu tadi sehingga lenyaplah bekas-bekas telapak tangan menghitam tadi sungguhpun tentu saja permukaan peti yang sudah rusak itu tidak dapat menjadi rata dan halus kembali.

Tosu dan tokouw yang menyaksikan perbuatan dua orang kakek yang baru datang itu, terkejut dan maklum bahwa mereka berhadapan dengan dua orang pandai. Tosu itu menjura dari jauh dan berkata, “Siapakah di antara ji-wi (anda berdua) yang bernama Cia Keng Hong?”

Kakek yang memakai baju kembang menjawab tertawa, “Pertanyaan aneh! Seorang tamu tidak mengenal tuan rumahnya. Betapa aneh! Kami berduapun hanya tamu, akan tetapi tentu saja kami mengenal Cia Keng Hong yang ternyata tidak berada di rumah.”

Tosu dan tokouw itu saling pandang. Mereka tidak ingin melibatkan diri dengan permusuhan terhadap orang-orang lain lagi yang begini lihai, sedangkan Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai itu saja sudah merupakan musuh yang amat tangguh.

“Kami hanya membutuhkan Cia Keng Hong, bukan orang lain!” Setelah berkata demikian, tosu itu menjura lalu melangkah keluar, diikuti oleh tokouw tadi. Dua orang kakek itu hanya memandang dan tidak berkata apa-apa. Setelah mereka yakin bahwa dua orang itu telah pergi jauh, kakek tinggi kurus dan yang lebih muda itu menghela napas panjang dan berkata, “Sungguh berbahaya…!”

Kakek berbaju kembang juga menghela napas. “Kita harus memetik buah dari pohon yang kita tanam sendiri, tak mungkin dapat dihindarkan lagi! Cinke (sebutan untuk besan) Cia Keng Hong di waktu mudanya menanam banyak sekali permusuhan sehingga sampai dia menjadi kakek-kakek sekalipun selalu masih ada musuh yang mencarinya! Sayang sekali…” Dia menggeleng-geleng kepala.

Para murid Cin-ling-pai sekarang baru berani maju den murid-murid tertua segera berlutut di depan dua orang kakek itu. Seorang di antara mereka berkata kepada kakek berbaju kembang, “Locianpwe, mengapa locianpwe tidak memberi hajaran kepada dua orang penjahat berpakaian pendeta tadi?”

Kakek itu tertawa. “Ho-ho-ho, mudah saja bicara! Kalian kira aku dapat menang melawan mereka? Aha, kalau tidak dengan sedikit permainan hoatsut (sihir) dan berhasil membikin jerih mereka, agaknya kalian sudah harus menyediakan sebuah peti mati baru lagi untuk mayatku!”

Para murid Cin-ling-pai itu mengenal kakek berbaju kembang ini karena kakek ini bukan lain adalah Hong Khi Hoatsu, seorang kakek aneh yang lihai dan ahli dalam ilmu hoatsut (sihir) yang selalu tertawa dan gembira, dan kakek ini sudah beberapa kali datang mengunjungi Cin-ling-pai karena dia adalah besan dari ketua Cin-ling-pai. Ketua Cin-ling-pai, yaitu Cia Keng Hong, mempunyai dua orang anak, yang pertama adalah Cia Giok Keng dan yang kedua adalah Cia Bun Houw yang kini sedang belajar memperdalam ilmu silatnya di Tibet. Anak pertama, seorang puteri yang bernama Cia Giok Keng telah menikah dengan murid yang sudah dianggap anak sendiri oleh Hong Khi Hoatsu, yaitu yang bernama Lie Kong Tek. Semua ini telah dituturkan dengan jelas di dalam cerita Petualang Asmara. Karena itu maka murid-murid Cin-ling-pai mengenal baik pendeta perantau berbaju kembang ini.

Adapun kakek kedua yang lebih muda dari Hong Khi Hoatsu, yang dengan usapan tangannya dapat meratakan kembali

permukaan peti-peti mati dari bekas telapak tangan tosu tadi, juga merupakan seorang tokoh besar dalam cerita Petualang Asmara. Namanya adalah Tio Hok Gwan, bekas pengawal dari Panglima Besar The Hoo. Dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan bertenaga besar sekali sehingga mendapat julukan Ban-kin-kwi (Setan Bertenaga Selaksa Kati). Telah seringkali dia bekerja sama dengan Cia Keng Hong di waktu dahulu sehingga dia menjadi sahabat ketua Cin-ling-pai itu. Kakek ini sekarang telah pensiun, dia meninggalkan pekerjaannya sebagai pengawal beberapa tahun yang lalu semenjak Panglima Besar The Hoo meninggal dunia. Pengalaman orang she Tio ini hebat sekali, karena dia telah mengikuti perantauan Panglima The Hoo yang menjelajahi banyak negara aneh di seberang lautan, mengalami banyak pertempuran dan sudah menghadapi banyak sekali orang-orang yang memiliki kepandaian aneh dan hebat di bagian-bagian dunia lain di seberang lautan itu. Maka dia telah memiliki pandangan yang awas dan diapun maklum bahwa tingkat kepandaian tokouw dan tosu tadi amat tinggi dan andaikata terjadi bentrokan antara mereka dengan dia, dia tidak berani memastikan apakah dia akan keluar sebagai pemenang. Itulah sebabnya dia bersikap hati-hati dan membiarkan dua orang itu pergi, sungguhpun dia maklum bahwa dua orang itu tentulah musuh-musuh dari sahabatnya, Cia Keng Hong.

Sebagai besan dari ketua Cin-ling-pai,Hong Khi Hoatsu lalu dipersilakan duduk bersama Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan. Kakek berbaju kembang itu lalu bertanya apa yang telah terjadi di Cin-ling-pai sampai lalu menceritakan tentang semua melapetaka yang terjadi dan menimpa perkumpulan itu. Terkejut juga hati kedua orang kakek itu mendengar bahwa pedang pusaka Siang-bhok-kiam dicuri orang dan bahwa pembunuh-pembunuh itu adalah Lima Bayangan Dewa yang memiliki kepandaian tinggi. Ketika mendengar bahwa pencuri pedang itu mengaku bernama Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok, Tio Hok Gwan mengepal tinjunya.

31

“Ahh, pantas…! Aku pernah mendengar nama Dewa Tua Berlengan Delapan itu! Dia adalah sute dari datuk kaum sesat Ban-tok Coa-ong (Raja Ular Selaksa Racun) Ouwyang Kok yang tewas di tangan Cia-taihiap! Tentu dia datang mengacau Cin-ling-pai untuk membalas dendam kematian suhengnya. Akan tetapi, siapakah empat orang temannya yang bersama dia memakai nama Lima Bayangan Dewa itu?”

Akan tetapi tidak ada seorangpun di antara para murid Cin-ling-pai yang tahu.

“Yang mengetahui tentu hanya ketujuh orang suheng yang menjumpai mereka di restoran Koai-lo di Han-tiong, akan tetapi enam di antara mereka tewas dan yang seorang lagi luka parah…” murid Cin-ling-pai menerangkan.

“Di mana dia yang terluka itu? Biar kami memeriksanya,” Hong Khi Hoatsu berkata.

Dengan hati girang dan penuh harapan, para murid Cin-ling-pai lalu mengantarkan Hong Khi Hoatsu dan Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan ke dalam kamar di mana Coa Seng Ki rebah dalam keadaan empas-empis napasnya dan mukanya pucat kebiruan, matanya terpejam. Beberapa orang murid Cin-ling-pai menjaga di kamar itu dengan muka penuh kekhawatiran karena biarpun mereka sudah berusaha sedapatnya untuk mengobati korban ini, tetap saja keadaan Coa Seng Ki tidak kelihatan menjadi baik. Mereka sudah menjadi putus asa dan mereka kini hanya menanti datangnya ketua mereka cepat-cepat dan mengharapkan Coa Sang Ki akan dapat bertahan sampai ketua mereka pulang. Orang termuda dari Cap-it Ho-han itu masih belum sadar, masih pingsan sejak dia rebah di ruang atas rumah makan Koai-lo sampai saat itu.

Hong Khi Hoatsu dan Tio Hok Gwan bergantian memeriksa keadaan Coa Sang Ki, akan tetapi mereka berdua segera maklum bahwa keadaan orang itu sudah tidak ada harapan lagi, bahwa luka-luka yang diderita oleh orang itu amat hebat dan tidak dapat disembuhkan lagi karena di sebelah dalam tubuhnya sudah terluka parah selain darahnya sudah keracunan. Paling lama Coa Seng Ki hanya akan bertahan sampai dua tiga hari lagi saja.

“Bagaimana pendapatmu, Hoatsu?” tanya Tio Hok Gwan kepada temannya.

Hong Khi Hoatsu menggeleng kepalanya. “Seperti telah kauketahui, dia tidak dapat disembuhkan lagi, luka-luka di sebelah dalam terlampau parah.”

Tio Hok Gwan menarik napas panjang. “Dan nama-nama empat orang di antara Lima Bayangan Dewa hanya dia yang mengetahui.”

Hong Khi Hoatsu mengerutkan alisnya. “Dengan kekuatan sihir mungkin aku dapat membuat dia sadar dan membantunya untuk menceritakan siapa adanya empat orang itu, akan tetapi pengerahan tenaga paksaan itu mungkin akan membuat luka-lukanya makin parah.”

Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan berpikir sejenak, lalu berkata, “Betapapun juga, dia tidak dapat disembuhkan dan nama-nama empat orang penjahat itu amat penting untuk diketahui. Kalau dia dibiarkan demikian sampai mati, tidak ada gunanya sama sekali. Kurasa Hoatsu tentu mengerti akan hal ini.”

Hong Khi Hoatsu mengangguk. “Memang akupun berpikir demikian. Eh, bagaimana pendapat kalian?” tanyanya kepada para murid Cin-ling-pai yang menunggu di kamar itu.

Mereka saling pandang. Mereka tadi telah mendengarkan percakapan antara dua orang kakek itu dan mengerti apa yang mereka maksudkan. Kemudian seorang di antara mereka berkata, “Karena Ketua tidak ada dan Cap-it Ho-han yang mewakili suhu juga tidak ada lagi, yang ada hanya Coa-suheng yang sakit ini, maka kami semuapun tidak dapat mengambil keputusan. Terserah kepada Ji-wi locianpwe saja yang kami percaya sepenuhnya.”

“Baik, dan kamipun bertanggung jawab penuh terhadap cinke (besan) atas peruatan kami ini. Nah, mundurlah kalian, biarlah aku mencoba untuk menyadarkan dia. Siapa namanya tadi?”

Seorang murid memberitahukan nama si sakit kepada kakek aneh itu.

Hong Khi Hoatsu lalu mendekati si sakit, mengurut-urut dan memijit-mijit kepala dan punggung orang sakit itu, kemudian dengan kedua tangan terbuka, menggetar dan digerak-gerakkan di atas kepala si sakit, terdengar dia berkata, suaranya penuh wibawa dan mengandung getaran amat kuat sehingga semua orang yang berada di situ merasa seram dan ikut tergetar batinnya, terbawa oleh pengaruh yang terkandung di dalam suara itu.

“Coa Seng Ki…! Dengarkan baik-baik… dengar dan lakukan apa yang kuminta…! Aku mewakili suhumu, aku adalah besan suhumu, engkau harus taat kepadaku. Dengarkah engkau? Jawablah…!”

Semua mata ditujukan ke arah wajah Coa Seng Ki yang pucat membiru, wajah yang diam tidak bergerak seperti mayat. Perlahan-lahan tampaklah cahaya kemerahan membayang pada wajah itu, mula pada lehernya, terus naik ke atas pipi sampai ke dahinya, lalu bulu mata itu menggetar, bibir itu bergerak-gerak!

“Jawablah, Coa Seng Ki, jawablah… demi kesetiaan dan kebaktianmu kepada suhumu dan Cin-ling-pai, jawablah…!” Hong Khi Hoatsu berkata lagi, suaranya makin kuat dan kedua tangannya menggigil, mukanya penuh dengan keringat. Dia telah mengerahkan seluruh kekuatan sihirnya yang membutuhkan penyaluran tenaga sakti dari dalam pusarnya dan dia harus menyatukan seluruh kemauannya untuk memaksa si sakit, seperti membangunkannya, seperti membangkitkan lagi orang yang sudah tiga seperempat mati ini untuk hidup kembali. Hal ini membutuhkan tenaga mujijat yang amat kuat sehingga kakek itu kelihatan berkeringat dan mukanya menjadi pucat, dari kepala yang tertutup kopyah itu mengepul uap putih. Diam-diam Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan memandang penuh kekhawatiran. Biarpun dia tidak mengenal ilmu hoatsut, akan tetapi dia maklum betapa kakek itu mengerahkan sin-kang sekuatnya, hal yang amat berbahaya, namun dia tidak berani membantu kalau-kalau malah mengacaukan usaha Hong Khi Hoatsu.

“Jawablah, Coa Seng Ki…! Apakah engkau mendengarku?”

Bibir yang bergerak-gerak dari si sakit itu kini bergerak makin lebar dan terdengar jawaban seperti bisikan, “…teecu (murid) mendengar…”

“Bagus, Coa Seng Ki, sekarang jawablah baik-baik semua pertanyaanku ini. Amat penting bagi suhumu kelak untuk mengetahui siapakah adanya empat orang yang membunuh enam orang suhengmu di restoran Koai-lo di kota Han-tiong. Siapakah Lima Bayangan Dewa itu?”

Hening sejenak. Bibir pucat itu tergetar hebat, menggigil seperti orang sakit kedinginan, kemudian terdengar jawaban yang lemah dan gemetar, namun cukup dapat dimengerti, “…iblis-iblis itu… Liok-te Sin-mo Gu Lo It… Sin-cian Siauw-bin-sian Hok Hosiang… Hui-giakang Ciok Lee Kim… ahhhh…” Suara itu kini berobah menjadi seperti suara orang mengeluh dan mengerang.

“Pertahankan, Coa Seng Ki. Siapa yang seorang lagi?”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: