Dewi Maut (Jilid ke-7)

Jantung Bun Houw berdebar keras, tangannya yang diciumi oleh dara itu menjadi gemetar dan dia cepat-cepat menarik tangannya, lalu merangkul sehingga Yalima rebah di atas dadanya dan tidak dapat lagi menciumi tangannya. Yalima seperti tidak bertulang lagi, begitu lemas dan lunak rebah di atas dadanya, kepalanya bersandar di atas dada dan kedua lengan Bun Houw tanpa disengaja memeluk pinggangnya. Yalima juga melingkarkan kedua lengan di atas lengan pemuda itu, memegangi tangannya seolah-olah tidak ingin kedua lengan pemuda itu terlepas lagi dari rangkulan pada punggungnya. Duduk seperti itu, bersandar di dada dan dipeluk pinggangnya, mendatangkan rasa aman dan nyaman, dia merasa seperti terayun-ayun di antara gumpalan awan putih di langit biru, begitu penuh damai, tenteram bahagia dan bebas dari segala ancaman. Yalima memejamkan matanya, takut kalau-kalau yang dialaminya ini hanya mimpi lagi saja seperti yang terlalu sering dia mimpikan, dia tidak ingin pengalaman ini, biar dalam mimpi sekalipun, untuk berakhir, ingin rebah seperti itu selama hidupnya!

Sampai lama dua orang muda itu duduk seperti itu. Bun Houw di belakang, Yalima di depan setengah rebah di dadanya, kedua lengannya melingkari pinggang yang amat kecil itu dan jari-jari tangan Yalima tergetar-getar dan halus seperti anak-anak ayam yang baru menetas, hinggap di atas kedua tangannya. Juga Bun Houw memejamkan matanya, tenggelam timbul di antara kenikmatan dan kesungkanan, dibuai oleh gelora hatinya sendiri. Getaran-getaran aneh di tubuhnya membuat Bun Houw merasa cemas juga, dan dia mengambil keputusan untuk memecahkan kesunyian yang nikmat namun mencemaskan itu dengan kata-kata yang keluar agak tersendat dan gemetar.

“Moi-Moi, aku… dapat merasakan kedukaanmu ketika hendak pergi, karena… akupun merasa demikian… setelah diingatkan suhu bahwa akupun akan pergi dari sini…!”

Jerit halus meluncur keluar dari mulut Yalima dan dengan gerakan cepat seperti seekor ular dia membalikkan tubuhnya menghadapi Bun Houw. Demikian cepat gerakannya sehingga kedua lengan Bun Houw masih melingkari pinggangnya dan kini kedua tangan dara itu mencengkeram dada baju Bun Houw, mukanya begitu dekat hampir bersentuhan dengan muka Bun Houw dan kedua matanya memandangi penuh selidik dan penuh kecemasan seperti mata seekor kelinci yang ketakutan dikejar harimau.

“Apa katamu, koko? Kau… kau mau pergi…? Pergi meninggalken tempat ini, meninggalkan… aku…?” Suaranya tersendat-sendat, muka yang tadi kemerahan dan berseri itu kini menjadi pucat.

Bun Houw merasa betapa kecemasan hebat terbawa oleh pertanyaan itu, dan begitu dekatnya muka dara itu sehingga hembusan napasnya dan hawa ketika berkata-kata itu terasa meniup pipinya dengan halus. Dia hanya mengangguk, akan tetapi anggukan ini datang seperti palu godam menghantam kepala Yalima.

“Houw-ko… eh, Houw-ko, aku ikut…! Kalau kau pergi, bawalah aku, Houw-ko… biar aku akan menjadi pelayanmu, menjadi budakmu, menjadi apa saja… akan tetapi bawalah aku bersamamu…”

Melihat sepasang mata lebar dan indah itu terbelalak penuh kecemasan, hidung yang kecil mancung itu kembang kempis cupingnya seperti mau menangis, mulut yang mungil dengan bibir yang merah basah itu tergetar dan gigi-gigi kecil putih seperti mutiara menggigit bibir bawah yang merah penuh seolah-olah mudah pecah itu untuk menahan tangis, Bun Houw merasa terharu sekali.

“Hushhh… moi-moi… hushhh, jangan berkata begitu, Yalima…”

“Bawalah aku bersamamu, koko, biar aku menjadi anjingmu, kudamu dan akkk..”

Yalima tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Bagaimana dia dapat mengeluarkan kata-kata kalau mulutnya yang setengah ternganga itu tiba-tiba saja ditutup oleh mulut Bun Houw? Pemuda ini selama hidupnya belum pernah mengenal cinta, selama hidupnya baru ini berdekatan dengan seorang dara, dan tentu saja dalam mimpinyapun belum pernah mencium seorang wanita, apalagi beradu mulut seperti itu. Tadi ketika mendengar ucapan Yalima yang rela menjadi anjing atau kudanya, dia tidak tahan untuk menghentikan kata-kata yang merendahkan diri itu. Kedua tangannya masih memeluk pinggang, dan dia setengah mati terpesona oleh keindahan mulut yang berada demikian dekatnya, mulut yang mengeluarkan kata-kata yang harus dihentikannya itu, maka agaknya hanya naluri saja yang menggerakkan dia untuk menghentikan kata-kata itu dengan menutup mulut Yalima dengan mulutnya sendiri!

Yalima merasa seolah-olah tubuhnya kemasukan getaran yang amat hebat, yang membuatnya setengah pingsan den begitu merasa mulutnya tersumbat, matanya terbelalak, akan tetapi mata itu lalu terpejam karena pengertian bahwa yang menutup mulutnya adalah bibir Bun Houw mendatangkan perasaan demikian nikmat den hangat sehingga dia hanya mengerang dan tanpa disadarinya bibirnyapun bergerak mempererat ciuman yang terjadi tiba-tiba tanpa direncanakan lebih dulu itu! Entah berapa lamanya sepasang mulut itu bertemu den dalam seat seperti itu waktu lenyap artinya bagi mereka, diri sendiri dilupakan dan yang hidup hanyalah pengalaman itu. Sampai mereka terpaksa melepaskan mulut karena kehabisan napas, tersendat-sendat den terengah-engah Bun Houw melepaskan mulutnya, membuka mata yang tadi terpejam tanpa disadarinya den kini dia memandang dengan penuh keheranan wajah Yalima, seolah-olah baru saat itu dia mengenal wajah dara ini. Yalima membuka sedikit matanya yang menjadi sayu, bulu matanya gemetar, matanya sukar dibuka seperti mata orang yang mengantuk, den bibirnya berbisik tanpa suara, hanya membentuk kata dengan gerakan bibirnya yang menjadi makin basah den merah, “Koko… Houw-ko…”

Melihat wajah yang begitu dekat itu, mata yang setengah terpejam, hidung yang kembang-kempis, mulut yang setengah terbuka, dada yang terengah-engah dan jantung yang berdetak keras terasa karena terhimpit dadanya sendiri, timbul perasaan aneh di dalam hati Bun Houw. Timbul desakan dan dorongan yang tidak dimengertinya, tidak dikenalnya, yang membuat dia ingin sekali…. membelai semua bagian muka itu, membelai dengan hidungnya, dengan bibirnya, bahkan ingin dia menjilat mata, hidung den mulut itu! Seperti tidak sadar, dia hanya menjadi budak dari dorongan hasrat itu, dan ketika dia membelai mulut Yalima dengan hidung, bibir dan lidahnya, dara itu mengerang dan naiklah sedu-sedan dari dadanya.

Begitu mendengar suara sedu-sedan ini, seketika Bun Houw sadar. Dia berseru keras, melepaskan pelukannya dan meloncat turun dari atas batu itu. Gerakannya ini tiba-tiba sekali sehingga hampir saja Yalima terguling dari atas batu kalau tidak cepat-cepat Bun Houw menyambar tangannya. Mereka kini berdiri saling berhadapan, agak jauh, muka mereka pucat dan dari kedua mata Yalima mengalir air mata.

“Yalima… maafkan… maafkan aku…”

“Houw-ko…”

“Apa… apa yang kulakukan tadi…? Maafkan aku…”

“Houw?ko…” Yalima yang tak dapat mengeluarkan kata-kata itu hanya menyebut namanya dan terisak.

“Moi-moi, aku… aku pulang dulu ke kuil…!” Tanpa menanti jawaban, pemuda itu meloncat dan bagaikan terbang cepatnya dia sudah lari meninggalkan Yalima yang masih menangis terisak-isak.

Sampai tiga hari lamanya pengalaman yang dianggapnya merupakan pengalaman yang paling aneh dan paling hebat selama hidupnya itu mencekam perasaan Bun Houw, membuat dia tidak enak makan tidak nyenyak tidur! Dia merasa bingung, merasa bersalah, malu, akan tetapi juga harus diakuinya bahwa tidak sedetikpun wajah dengan mata sayu dan mulut setengah terbuka itu dapat terlupa olehnya. Kemesraan yang dialaminya itu menggores kuat-kuat di dalam hatinya dan diam-diam dia mengakui bahwa selama hidupnya belum pernah dia mengalami saat-saat bahagia seperti itu. Diam-diam dia merasa berbahagia akan tetapi juga khawatir karena dia merasa seperti memasuki suatu bagian hidup yang aneh dan asing, yang tidak dikenal dan dimengertinya sama sekali.

Pada hari ke empat dia mengambil keputusan untuk pergi mencari Yalima. Tadinya, selama tiga hari itu, perasaan rindunya tertahan oleh rasa malu yang amat besar, dan oleh perasaan khawatir kalau-kalau dara itu akan marah dan benci kepadanya atas semua perbuatan yang telah dilakukannya, yang kini kalau dikenangnya merupakan perbuatan yang amat menghina dara itu agaknya. Akan tetapi pagi hari ke empat ini, dia mengeraskan hatinya, hendak menjumpai Yalima dan minta maaf. Dia percaya bahwa dara yang amat baik budi itu akan suka memaafkannya. Ada suatu hal yang merupakan rahasia baginya, yang tidak mungkin terpecahkan karena dia tidak akan berani bertanya kepada Yalima. Yaitu, ketika mereka beradu bibir dan mulut mereka saling bertemu, benarkah bibir dara ini bergerak-gerak menyambutnya, mengecupnya, dan terasa olehnya ada dua lengan kecil halus melingkari lehernya?

Setelah mengenakan pakaiannya yang terbaik, Bun Houw keluar dari kamarnya, akan tetapi tiba-tiba suara suhunya di ruangan depan memanggilnya. Ketika dia memasuki ruangan itu, dia melihat ada empat orang laki-laki yang berusia antara lima puluh sampai enam puluh tahun lebih, bersikap sederhana namun gagah, duduk di ruangan itu berhadapan dengan suhunya.

“Twa-suheng… (kakak seperguruan pertama)…! Ji-suheng (kakak seperguruan ke dua)…!” Bun Houw segera lari masuk dan cepat menjura dengan hormat kepada empat orang tamu itu yang bukan lain adalah empat orang pertama dari Cap-it Ho-han, murid-murid kepala ketua Cin-ling-pai yang diutus oleh guru mereka untuk menjemput Bun Houw pulang.

Dua orang pertama, Kwee Kin Tan dan adiknya, Kwee Kin Ci, amat sayang kepada Bun Houw yang biarpun terhitung adik seperguruan mereka namun seperti anak atau keponakan mereka sendiri yang mereka kenal sejak lahir dan sejak kecilnya.

“Aihh, sute, engkau telah menjadi seorang pemuda perkasa!” Kwee Kin Ta yang kini telah menjadi seorang kakek berusia enam puluh tabun lebih itu berseru gembira sambil memegang lengan pemuda itu.

“Tentu kepandaianmu telah menjadi hebat sekali sekarang, sute!” Kwee Kin Ci juga memuji dan demikian pula, orang ke tiga dan ke empat dari Cap-it Ho-han menyatakan kegembiraan hatinya.

“Kami diutus oleh ayahmu untuk menjemputmu pulang, sute,” kata pula Kwee Kin Ta.

Bun Houw mengangguk, terhimpit antara perasaan suka dan duka, akan tetapi sebagai seorang pemuda gemblengan dia telah dapat membuat air mukanya biasa saja, bahkan kelihatan girang ketika dia menjawab, “Beri aku waktu dua hari, twa-suheng. Aku harus pamit dulu kepada seluruh sahabatku di daerah ini.”

Empat orang Cap-it Ho-han itu tidak menaruh keberatan karena selain mereka tidak tergesa-gesa, juga mereka merasa senang dengan tempat yang indah itu, dan perjalanan jauh itu melelahkan sehingga beristirahat barang dua tiga hari amat baik bagi mereka. Para pendeta Lama lalu mempersiapkan sebuah kamar tamu untuk mereka, dan Kok Beng Lama segera meninggalkan muridnya agar dapat bercakap-cakap dengan para suhengnya itu. Memang telah beberapa bulan ini Kok Beng Lama jarang meninggalkan kamarnya di mana dia selalu duduk bersamadhi dengan tenangnya

Hampir sehari lamanya Bun Houw bercakap-cakap dengan keempat orang suhengnya, saling menuturkan keadaan selama lima tahun ini. Mendengar bahwa ayah bundanya dan Cin-ling-pai baik-baik saja, senanglah hati Bun Houw dan penuturan empat orang suhengnya itu menimbulkan rasa rindu kepada kampung halamannya.

Sore hari itu dan keesokan harinya dipergunakan untuk berpamit dari para penghuni dusun-dusun di sekitar tempat itu. Akan tetapi dia masih belum berani mengunjungi dusun Yalima. Dia merasa bingung dan ngeri kalau harus berpamit dari Yalima, sedangkan urusan kemarin dulu itupun belum dibereskannya. Dan selama itu, tidak nampak Yglima datang mencarinya. Agaknya dara itu marah dan benci kepadanya. Dan kalau dia harus datang hanya untuk berpamit pergi meninggalkan Yalima, sungguh tugas ini amat berat dan pertemuan itu tentu tidak menyenangkan. Maka, setelah bersangsi sampai lama di puncak, memandang ke arah dusun tempat tinggal Yalima, akhirnya dia memutuskan untuk besok pada hari terakhir saja sebelum berangkat mengunjungi dusun itu dan minta diri dari Yalima dan keluarganya. Maka dia lalu menuruni puncak dan berjalan perlahan-lahan kembali ke kuil. Kunjungan terakhir di puncak itu benar-benar membuat dia lemas karena teringatlah semua pengalamannya yang hebat dengan Yalima di puncak itu.

Dalam perjalanan ke kuil ini, Bun Houw melangkah perlahan-lahan dan pikirannya bekerja keras. Dia memang ingin pulang, rindu kepada ayah bundanya, dan juga tidak mungkin dia harus bersembunyi di tempat sunyi ini, karena, seperti kata gurunya, kepandaiannya akan terpendam dan jerih payahnya sejak kecil melatih diri dengan banyak ilmu akan sia-sia belaka kalau tidak dipergunakan untuk kemanusiaan. Memang seluruh perasaannya sudah menariknya untuk segera pulang ke Cin-ling-san. Akan tetapi setiap kali teringat kepada Yalima, jantungnya menjadi perih rasanya. Baru beberapa hari ini dia telah melakukan hal yang amat tidak patut kepada dara itu, dan kini dia akan meninggalkannya. Teringat akan ini, lenyaplah semua kegembiraarmya akan pulang ke Cin-ling-san dan dia menjadi bingung. Sebagian hatinya ingin segera pulang ke Cin-ling-san, akan tetapi sebagian lagi ingin selalu berdekatan dengan Yalima!

Seperti biasa, dia memasuki kuil melalui pintu belakang yang berbentuk bulan purnama dan yang menembus taman bunga di belakang bangunan-bangunan kuil. Ketika dia hendak memasuki pintu bulan itu, terdengar suara berkeresekan. Pendengarannya amat tajam dan dia cepat menengok, hanya untuk terpaku di tempatnya karena dia melihat Yalima berdiri dengan pakaian dan rambut kusut, wajah pucat dan pandang mata sayu, mata layu karena banyak menangis agaknya.

“Yalima…!”

“Houw-ko…!” Dara itu terisak. “Aku… aku mendengar… dari orang-orang… kau… kau akan… pergi…?”

“Yalima…!”

“Houw-ko…!”

Seperti ditarik oleh besi sembrani, kedua orang muda itu lari saling menghampiri dengan kedua pasang tangan mereka terkembang dan di lain saat mereka sudah saling dekap. Kedua lengan Bun Houw melingkari punggung dan kedua lengan Yalima melingkari leher. Di antara isak tangis Yalima, seperti tidak disengaja, kembali dua mulut itu bertemu dalam suatu ciuman yang mesra, yang disertai oleh seluruh gairah perasaan yang menggelora, yang panas dan menjadi pelepasan seluruh kerinduan hati.

“Yalima…!”

“Koko, aku ikut… demi para Dewa… aku ikut… jangan kautinggalkan aku, Houw-ko…!” Mereka mengeluh, merintih dan saling berciuman seolah-olah kehidupan mereka bergantung dari pertemuan yang asyik masyuk ini.

Bun Houw memegang kedua pundak dara itu dan memaksanya dengan halus untuk melepaskan pelukan mereka. Sejenak mereka saling pandang, air mata masih bercucuran menimpa sepasang pipi yang kini menjadi agak kemerahan itu, dan banyak air mata itu juga telah membasabi muka Bun Houw ketika mereka berciuman tadi.

“Yalima, kau… kau memaafkan aku… tentang kemarin dulu…” Bun Houw berkata gugup dan seketika dia sadar betapa bodohnya pertanyaannya itu. Bagaimana dia mengharapkan maaf tentang “kesalahannya” menciumi gadis itu kalau sekarang begitu berjumpa mereka sudah saling berciuman lagi?

“Houw-ko, aku tidak akan memaafkan apa-apa karena kau tidak bersalah apa-apa…” dara itu mulai bicara lancar, akan tetapi kembali tersendat-sendat kalau teringat betapa pemuda ini akan meninggalkannya. “Akan tetapi… jangan tinggalkan aku… kaubawalah aku bersamamu, koko…”

“Tenang dan sabarlah, moi-moi. Mari kita duduk dan bicara dengan baik.” Dia menuntun tangan gadis itu dan mereka duduk di bawah pohon di luar taman itu, terhalang oleh pagar tembok. Dengan kedua pasang tangan masih saling berpegangan, Bun Houw lalu berkata lirih, “Yalima, aku terpaksa akan pulang dulu ke Cin-ling-san karena ayahku telah mengutus empat orang suhengku untuk menjemputku. Dan engkau tentu mengerti bahwa tidaklah mungkin untuk mengajakmu begitu saja. Selain orang tuaku tentu tidak akan menyetujui, juga orang tuaku mungkin akan marah-marah kepadaku kalau aku membawa anak gadis orang begitu saja.”

Yalima mengusap air matanya, menahan isaknya dan menundukkan mukanya dengan alis berkerut dan rambut kusut. Melihat keadaan dara ini, timbul keinginan luar biasa kuatnya di hati Bun Houw untuk meraihnya, memeluk tubuh itu dan mendekap kepala itu, menghibur dan membujuknya agar jangan berduka. Hatinya ingin meraih gadis itu dengan penuh rasa haru dan iba.

“Nasibku memang…” terdengar suaranya lirih. “Aku tidak jadi dibawa ke Lhasa, engkau yang pergi meninggalkan aku. Apa bedanya…?”

“Yalima…”

Kini aku sadar betul bahwa ketidakrelaanku dibawa ayah ke Lhasa semata-mata karena ada engkau di sini, Houw-ko. Kalau engkau pergi, aku… aku… tidak perduli apa-apa lagi…”

“Yalima, jangan berkata demikian! Aku tidak akan melupakan engkau begitu saja! Aku… aku suka dan kasihan kepadamu… aku tidak suka melihat engkau menderita atau berduka hanya… sementara ini, tak mungkin aku mengajakmu ke Cin-ling-san. Betapapun, aku berjanji akan bicara dengan ayah bundaku tentang dirimu. Jangan engkau membikin berat perjalananku yang jauh ke Cin-ling-san dengan kedukaanmu, moi-moi.”

Yalima makin menunduk, sejenak seperti orang berpikir, kemudian menghapus air matanya dan dia bangkit berdiri, senyum paksaan membayang di wajahnya.

“Baik, koko! Baiklah, pulanglah engkau, dan aku menghaturkan selamat jalan. Memang aku bodoh, mengapa minta yang bukan-bukan dan yang tidak mungkin? Apapun yang akan terjadi dengan diriku, aku sudah merasa bahagia karena… karena… engkau… eh, suka dan kasihan kepadaku. Selamat jalan, koko…!” Dia lalu membalikkan tubuhnya dan lari, menahan isaknya.

“Moi-moi…!” Sekali meloncat, Bun Houw sudah berada di depan gadis itu, menghalang jalan. Mereka berdiri berhadapan.

“Houw-ko…!” Yalima tak dapat menahan jeritnya dan dia lalu menubruk, merangkul dan kembali dua orang muda itu saling rangkul dan saling dekap dengan ketat seolah-olah hendak melebur tubuh masing-masing menjadi satu agar jangan sampai terpisah lagi.

Terdengar suara orang terbatuk-batuk dari balik pintu bulan. Bun Houw cepat melepaskan pelukan dan ciumannya. Dua butir air mata berlinang di pelupuk matanya dan baru sekali ini dia begitu terharu sampai melinangkan air mata! Cepat dia menengok dan mukanya berubah menjadi merah sampai ke lehernya ketika dia melihat bahwa yang batuk-batuk itu adalah Kwee Kin Ta, twa-suhengnya!

“Twa-suheng… ini… dia ini… eh, Yalima sababatku…”

“Sute, kita harus berangkat sekarang juga, harap kau bersiap-siap,” suara suhengnya agak kering karena betapapun juga, hati murid pertama dari Cin-ling-pai ini terkejut dan tidak suka menyaksikan perbuatan sutenya yang berdekapan dan berciuman di tempat terbuka seperti itu dengan seorang dara Tibet.

“Maaf… maafkan saya…” Yalima berkata sambil menjura kepada Kwee Kin Ta dengan suara gemetar, kemudian sekali lagi dia memandang dengan sinar mata mengandung seribu satu macam perasaan ke arah wajah Bun Houw, kemudian membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ.

“Maaf, suheng…” Bun Houw berkata sambil menundukkan mukanya. “Dia… dia sahabat baik… eh, seperti adik sendiri, dan… dia… amat berduka oleh perpisahan ini…”

“Tidak apa, sute, aku mengerti perasaan hati orang muda, asal engkau hati-hati dan tidak mudah tunduk terhadap perasaan muda yang menggelora dan berbahaya dan tidak sembarangan memilih! Hatiku terasa tidak enak, maka aku telah memutuskan bersama para suhengmu yang juga merasa tidak enak, untuk berangkat sekarang juga. Malam ini terang bulan dan perjalanan di pegunungan di malam terang bulan tentu indah sekali.”

“Baik, suheng.”

Setelah berkemas, Bun Houw dan empat orang suhengnya berpamit kepada Kok Beng Lama yang masih duduk bersamadhi di dalam kamarnya. Kakek ini sama sekali tidak membuka matanya ketika lima orang itu berlutut dan minta diri, akan tetapi ketika mereka berlima meninggalkan kamar itu, Bun Houw mendengar suara gurunya berbisik di telinganya, “Selamat berpisah, muridku, dan lupakan saja Yalima!”

Bun Houw tidak terkejut karena maklum bahwa suhunya telah menggunakan ilmunya yang disebut Coan-im-jip-bit (Ilmu Mengirim Suara Dari Jauh) yang diapun sudah dapat melakukannya, yaitu menggunakan khi-kang yang kuat menujukan suara hanya untuk telinga orang yang ditujunya. Akan tetapi dia merasa terkejut mendengar pesan agar dia melupakan Yalima! Mungkinkah ini? Dia tidak percaya bahwa dia akan mampu melupakan dara itu. Dia lupa akan janji ayah Yalima kepadanya, yaitu bahwa selama Bun Houw berada di tempat itu, kepala dusun itu tidak akan membawa Yalima ke Lhasa. Tentu saja sekarang setelah Bun Houw pergi dan tidak berada di tempat itu, lain lagi persoalannya!

***

Laki-laki yang berdiri termenung di tepi Telaga Kwi-ouw itu adalah seorang yang bertubuh sedang, namun tegap dan membayangkan kekuatan dahsyat. Pakaiannya sederhana saja namun pakaian dalamnya ringkas tertutup jubah lebar dan lengan panjang yang digulung di bagian pergelangannya. Di balik jubah lebar itu dia membawa sebatang pedang yang tergantung di pinggang, agak ke atas sehingga ujungnya tidak sampai tersembul keluar dari jubah lebar itu. Kepalanya tertutup rambut yang hitam tebal, dikumpulkan ke belakang menjadi sehelai kuncir yang besar dan tebal, dan pada saat itu kuncirnya melibat pundak dan lehernya. Seorang laki-laki yang bersikap gagah, berwajah tampan dengan sepasang mata yahg amat tajam, berusia kurang lebih tiga puluh enam tahun.

Agaknya dia termenung cukup lama di tepi telaga, dan memang demikianlah. Telaga Kwi-ouw ini mendatangkan kenang-kenangan hebat dalam ingatannya, kenang-kenangan manis dan pahit menjadi satu. Pria ini adalah Pendekar Sakti Yap Kun Liong yang kini tinggal di Leng-kok, yaitu tempat tinggal mendiang ayah bundanya, bersama isterinya yang tercinta yang bernama Pek Hong Ing, puteri dari Kok Beng Lama dan Yap Mei Lan, seorang anak mereka, anak tunggal yang sebetulnya hanyalah anak tiri dari Pek Hong Ing.

Seperti telah diceritakan di dalam cerita Petualang Asmara, Pendekar Sakti Yap Kun Liong pernah melakukan hubungan badan, bermain cinta dengan seorang wanita bernama Lim Hwi Sian yang sekarang telah meninggal dunia. Hubungan yang terjadi karena cinta sefihak dari Lim Hwi Sian ini menghasilkan seorang anak perempuan, dan sebelum Lim Hwi Sian dan suaminya yang syah meninggal dunia, wanita yang mencintai Yap Kun Liong ini menyerahkan anak mereka kepada pendekar ini. Pek Hong Ing adalah seorang wanita yang bijaksana dan dengan hati murni mencinta suaminya, maka pengakuan Kun Liong tentang anak ini diterima dengan penuh pengertian dan kesabaran sehingga anak itu kemudian mereka pelihara dan tidak ada orang lain kecuali Kun Liong dan beberapa orang tokoh yang dekat hubungannya dengan mereka mengerti babwa Yap Mei Lan, demikian nama anak perempuan itup adalah anak tiri Pek Hong Ing. Anak itu sendiri tidak tahu dan menganggap bahwa Pek Hong Ing adalah ibu kandungnya.

Karena teringat akan mendiang ayah bundanya, Kun Liong mengajak isteri dan anaknya tinggal di Leng-kok di mana dahulu orang tuanya tinggal dan mengalami malapetaka dalam hidup mereka (baca Petualang Asmara). Di kota ini dia melanjutkan usaha orang tuanya, yaitu membuka toko obat, karena dia juga mewarisi kitab tentang pengobatan dari ibunya. Karena Kun Liong dan isterinya tidak pernah menonjolkan diri, maka tidak ada seorangpun mengira bahwa suami dan isteri itu adalah pasangan pendekar yang berilmu tinggi terutama sekali Kun Liong yang memiliki kepandaian amat tinggi dan sukar dicarinya bandingnya. Kun Liong juga tidak mengambil murid, hanya melatih anaknya sendiri, Mei Lan yang pada waktu itu telah berusia empat belas tahun, seorang dara remaja yang lincah jenaka, memiliki mulut yang amat indah seperti mulut ibu kandungnya, Lim Hwi Sian, yang pernah membuat Kun Liong tergila-gila hanya karena keindahan mulutnya.

Beberapa pekan yang lalu, tak tersangka-sangka Kun Liong kedatangan seorang yang cepat disembutnya dengan penuh kehormatan karena orang itu bukan lain adalah seorang di antara guru-gurunya dan merupakan orang yang paling dihormatinya, yaitu Cia Keng Hong, kakek yang menjadi ketua Cin-ling-pai bersama isterinya. Kun Liong dan isterinya menyambut tergopoh-gopoh dengan penuh kehormatan dan kegembiraan, dan mereka berempat mengobrol sampai jauh malam sebelum suami isteri dari Cin-ling-pai itu dipersilakan mengaso dalam kamar tamu. Yap Mei Lan yang terheran melihat ayah bundanya begitu menghormat tamu-tamu itu, mendengar penuturan ayah bundanya tentang Pendekar Sakti Cia Keng Hong yang menjadi ketua Cin-ling-pai, dan dara remaja inipun menjadi kagum sekali.

Kegembiraan Kun Liong bertambah ketika mendengar pada keesokan harinya bahwa kedatangan dua orang terhormat itu adalah untuk membicarakan tentang perjodohan putera ketua Cin-ling-pai itu dengan Yap In Hong, adiknya!

“Putera kami tinggal seorang, demikian pula keturunan orang tuamu tinggal adikmu itu, Kun Liong. Maka harapan kami agar pertalian antara kami dan orang tuamu dapat disambung dengan perjodoban ini. Karena orang tuamu sudah tidak ada, maka tentu saja engkau menjadi wali dari adikmu itu,” demikian antara lain Keng Hong ketua Cin-ling-pai itu berkata.

Mendengar ini, Kun Liong mengangguk-angguk dan terbayanglah semua peristiwa yang lalu. Pernah dia hendak dijodohkan dengan Cia Giok Keng, puteri pendekar sakti ini, namun karena tidak saling mencinta, perjodohan itu gagal (baca Petualang Asmara). Giok Keng menikah dengan Lie Kong Tek murid Hong Khi Hoatsu, sedangkan dia menikah dengan Pek Hong Ing puteri Kok Beng Lama. Agaknya hati ketua Cin-ling-pai ini masih penasaran dan kini ingin menyambung pertalian keluarga itu antara putera mereka dan adiknya. Akan tetapi, betapapun juga usul yang amat menggembirakan hatinya ini dibarengi dengan kekhawatiran yang amat besar pula. Sejak kecil adiknya itu, Yap In Hong, dipelihara sebagai murid terkasih oleh Yo Bi Kiok yang karena cinta terhadap dirinya tidak terbalas menjadi benci kepadanya dan memusuhinya!

“Teecu (murid) akan berusaha untuk mencari dan memberi tahu kepada adik In Hong tentang usul perjodohan yang amat baik ini.” Hanya demikian kesanggupannya, karena biarpun dia sudah mendengar bahwa Yo Bi Kiok telah menjadi ketua Giok-hong-pang dan kini bermarkas di Kwi-ouw, akan tetapi masih ragu-ragu apakah perintahnya kepada adik kandungnya untuk menerima jodoh putera ketua Cin-ling-pai ini akan ditaati oleh adiknya. Terutama sekali karena di sana terdapat Yo Bi Kiok yang mengambil sikap sebagai musuhnya (baca Petualang Asmara).

Demikianlah, setelah ketua Cin-ling-pai yang tinggal selama sepekan di Leng-kok itu pulang bersama isterinya. kembali ke Cin-ling-san, Yap Kun Liong lalu pergi untuk mencari adik kandungnya itu. Melihat latar belakang hubungan Yo Bi Kiok dengan suaminya, maka Pek Hong Ing mengerti bahwa kalau dia ikut pergi, hal itu hanya akan menambah kacau keadaan saja. Dia percaya bahwa suaminya tentu akan dapat mengatasi Yo Bi Kiok dan akan depat membujuk In Hong, maka dia hanya berpesan agar suaminya berhati-hati, sedangkan dia menjaga rumah dan toko bersama dengan Mei Lan, puterinya. Terhadap Mei Lan, wanita cantik ini amat mencintanya, karena dia sendiri tidak memperoleh keturunan selama pernikahannya yang sudah belasan tahun dengan suami terkasih itu.

Biarpun selama ini dia tidak pernah mencari In Hong, namun Kun Liong tidak pernah dapat melupakan adiknya itu. Ketika dia melakukan penyelidikan dan mendengar tentang perkumpulan wanita yang bernama Giok-hong-pang di lereng Bukit Liong-san, dia menduga bahwa tentu perkumpulan itu dipimpin oleh Bi Kiok, karena dia tahu bahwa Bi Kiok berjuluk Giok-hong-cu. Berkat kepandaiannya yang tinggi, dia dapat menyelidik tanpa diketahui dan giranglah dia ketika mendapat kenyataan bahwa memang tepat dugaannya. Perkumpulan itu dipimpin oleh Yo Bi Kiok dan adiknya menjadi seorang dara cantik dan gagah, murid terkasih dari ketua Giok-hong-pang. Hal ini ia sempaikan kepada isterinya yang memberi nasihat bahwa tidak baik kalau suaminya itu dengan paksa hendak memisahkan adik kandung itu dari Bi Kiok.

Ingat, suamiku. Biarpun Bi Kiok bukan ibu atau kakak sendiri dari adikmu itu akan tetapi jelas babwa Bi Kiok amat sayang kepada adikmu. Setelah bertahun-tahun adikmu dididiknya dan dipeliharanya, tentu saja adikmu juga lebih dekat dengan dia daripada denganmu, biar engkau kakak kandungnya sendiri. Ingat anak kita. Bukankah aku juga amat sayang kepadanya dan dia amat sayang kepadaku?”

Karena nasihat-nasihat isterinya yang tercinta, Kun Liong mendiamkan saja dan tidak pernah dia mendatangi adiknya. Bahkan ketika dia mendengar betapa Giok-hong-pang kini memindahkan pusatnya di Kwi-ouw, dia juga tidak ada pikiran untuk mengganggu ketenteraman hidup In Hong bersama gurunya itu. Dia mengerti bahwa pertemuan antara dia dan Bi Kiok hanya akan menimbulkan keributan belaka dan hal ini sama sekali tidak ada kebaikannya bagi dia sendiri maupun bagi In Hong.

Akan tetapi, kemunculan Pendekar Sakti Cia Keng Hong dan isterinya yang membicarakan soal perjodohan antara putera ketua Cin-ling-pai itu dengan adik kandungnya, menggugah semangatnya. Betapapun juga, adik kandungnya adalah puteri dari ayah bundanya, sepasang pendekar ternama! Tidak mungkin dia membiarkan saja adiknya itu terseret ke dalam dunia kaum sesat dan berjodoh dengan seorang tokoh hitam! Tidak, ini merupakan tugas kewajibannya yang terakhir untuk berbakti kepada mendiang orang tuanya, yaitu mengatur agar In Hong berjodoh dengan putera ketua Cin-ling-pai, sahabat-sahabat baik sekali dari orang tuanya dahulu.

Pagi hari itu, Kun Liong sudah tiba di tepi Telaga Kwi-ouw dan termenung mengingat semua peristiwa yang terjadi dan yang dialaminya ketika dia masih meniadi seorang pemuda dahulu, belasan tahun yang lalu di telaga ini. Teringat dia akan perebutan bokor emas yang merupakan pusaka milik Panglima The Hoo yang diperebutkan oleh seluruh tokoh kang-ouw baik dari kalangan putih maupun hitam sehingga akhirnya bokor emas itu tanpa ada yang mengetahuinya terjatuh ke tangan Yo Bi Kiok (baca Petualang Asmara). Dia pernah menyerbu pulau di tengah Telaga Kwi-ouw itu, maka kini diapun tidak ragu-ragu lagi dan tahu bagaimana harus mendatangi pulau di tengah telaga itu tanpa terjebak perangkap yang banyak dipasangi orang di sekitar daerah Telaga Setan ini.

Pada waktu itu, telah lebih dari tiga bulan Giok-hong-pang merampas Kwi-ouw dan menjadikan pulau di tengah telaga itu sebagai markas besarnya. Yo Bi Kiok tinggal di telaga itu, di dalam gedung mewah di tengah pulau bersama muridnya Yap In Hong yang telah memperlihatkan kelihaiannya ketika bersama gurunya menyerbu pulau dan menaklukkan orang-orang Kwi-eng-pang.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, para anggauta Giok-hong-pang yang menjadi wanita-wanita kejam pembenci pria karena disakithatikan oleh kaum pria, kini setelah mempunyai hamba-hamba taklukan dari para anggauta Kwi-eng-pang, mulai tergoda oleh nafsu berahi mereka sendiri sebagai manusia-manusia biasa yang perlu menyalurkan nafsu-nafsunya itu sehingga mulailah mereka mempergunakan pria-pria taklukan itu untuk menjadi pelayan mereka dalam bermain

cinta yang hanya didasari atas nafsu berahi belaka. Yo Bi Kiok sendiri tidak pernah melakukan hal ini, akan tetapi karena dia maklum akan keadaan para anak buahnya dan amatlah berbahaya kalau hal itu dilarangnya, tidak melarang terjadinya hal itu. Akan tetapi In Hong menjadi muak dan jijik melihat betapa para anggauta itu kini menjadi pemerkosa-pemerkosa, menjadi budak-budak nafsu berahi yang melampiaskannya dengan cara memaksa para pria tawanan itu. Dia mulai muak dan tidak tahan terhadap segala kekasaran dan kekejaman para anggauta Giok-hong-pang, merasa tidak puas melihat sikap dingin seperti mayat hidup dari gurunya dan mulailah dia tidak kerasan tinggal di situ bersama gurunya den para anggauta Giok-hong-pang yang merupakan wanita-wanita kejam.

Yo Bi Kiok tidak melarang ketika In Hong menyatakan keinginannya untuk merantau. “Aku tidak keberatan, muridku. Akan tetapi hati-hatilah engkau melakukan perjalanan seorang diri. Dunia ini amat kejam, terutama terhadap wanita. Memang engkau perlu untuk meluaskan pengetahuanmu dan melihat dunia ramai, berhubungan dengan masyarakat. Akan tetapi, engkau telah mempunyai bekal ilmu kepandaian yang akan cukup untuk melindungi keselamatanmu. Dengan ilmu-ilmu yang kuajarkan selama ini kepadamu, tidak akan ada orang yang dapat mudah mengalahkanmu. Akan tetapi engkau tetap harus waspada dan hati-hati, terutama sekali menghadapi pria! Bukan kekasarannya yang perlu ditakuti, akan tetapi bujukan mulut manisnya! Lihat betapa banyaknya kaum wanita yang rusak hidupnya oleh bujukan manis mulut pria.”

“Teecu mengerti, subo,” jawab In Hong karena peringatan akan berbahayanya bujukan mulut manis pria ini sudah didengarnya ratusan kali sejak dia kecil, tidak hanya dari mulut gurunya melainkan juga dari mulut para anggauta Giok-hong-pang sehingga di dalam hatinya tumbuh pula perasaan tidak senang dan tidak percaya kepada kaum pria.

“Dan setahun sekali engkau harus kembali ke sini agar aku dapat melihat keadaanmu. Kalau engkau tidak pulang, aku akan mencarimu den menegurmu, In Hong.”

“Teecu tidak akan melupakan pesan subo.”

“Kalau begitu bersiaplah, sepekan lagi engkau boleh pergi meninggalkan tempat ini untuk mulai dengan perantauanmu.”

Hari itu, ketika Kun Liong tiba di tepi Telaga Kwi-ouw, In Hong masih belum berangkat, waktunya untuk pergi masih dua hari lagi. Akan tetapi dia sudah bersiap-siap dan hatinya sudah diliputi ketegangan den kegembiraan karena dia akan segera meninggalkan tempat yang membosankan itu dan akan hidup bebas seperti seekor burung yang terlepas di udara, sendirian saja menghadapi segala tantangan, bertanggung jawab sendiri tanpa menurut siapapun juga. Betapa akan senangnya hidup seperti itu!

Akan tetapi pada hari itu menjelang tengah hari ketika Bi Kiok sedang duduk di beranda depan yang teduh, dan In Hong duduk tidak jauh dari gurunya, keduanya membaca kitab tentang sejarah kuno karena sejak kecil In Hong juga dilatih kesusasteraan oleh Bi Kiok, tiba-tiba terdengar suara orang seperti suara setan saja karena tidak diketahui kapan orang itu tiba di dekat mereka.

“Tidak salah lagi, engkau tentulah Yo Bi Kiok dan dia… dia itu tentu In Hong.”

Bagaikan disambar halilintar Bi Kiok melempar kitabnya dan meloncat bangun, menghadapi Kun Liong yang sudah muncul di situ, berdiri di depannya sambil tersenyum, dengan senyum dan pandang matanya yang masih seperti dulu, begitu jenaka dan nakal!

“Kau…? Bagaimana kau…” Bi Kiok berseru dengan kaget dan heran sekali bukan hanya karena dia bertemu kembali dengan Kun Liong secara begitu mendadek, juga bagaimana orang ini dapat muncul di situ tanpa diketahui penjaga, padahal tempat itu dijaga ketat dan penuh dengan tempat1 tempat rahasia penuh perangkap.

“Hemm, agaknya engkau lupa bahwa aku dahulu sudah pernah menyerbu ke tempat ini ketika tempat ini masih dikuasai oleh Kwi-eng Niocu. Apakah engkau sudah lupa lagi, Bi Kiok?”

Bi Kiok memandang dengan muka sebentar pucat sebentar merah. Suara itu, pandang mata itu, masih seperti dulu, penuh sikap bergurau!

“Aku berterima kasih kepadamu, Bi Kiok. Ternyata, engkau merawat adikku baik-baik sehingga dia telah menjadi seorang dara yang cantik jelita dan gagah. In Hong, engkau tentu tidak lupa kepada kakak kandungmu, bukan?”

Akan tetapi In Hong hanya memandang dengan wajah pucat. Dia tahu siapa laki-laki gagah dan gembira ini. Biarpun baru satu kali dia bertemu dengan kakak kandungnya, akan tetapi wajah kakaknya tak pernah dapat dia lupakan. Akan tetapi dia tahu harus bersikap bagaimana karena dia tahu betapa bencinya wanita yang menjadi gurunya itu terhadap kakak kandungnya, maka dia hanya berdiri mematung dan memandang dengan wajah pucat.

Akan tetapi Bi Kiok sudah dapat menenangkan lagi hatinya yang tadi berguncang dan panik tidak karuan karena pertemuan yang begitu tiba-tiba dengan satu-satunya pria yang pernah dicintanya itu. Wajahnya kembali menjadi dingin dan suaranya dingin menyeramkan ketika dia berkata, “Bagus sekali, Yap Kun Liong! Aku belum sempat mencarimu untuk mencabut nyawamu, sekarang engkau sendiri telah datang mengantar nyawa!”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: