Dewi Maut (Jilid ke-9)

“Tidak, paman. Aku akan berjalan kaki saja.” In Hong kini sudah melihat dengan jelas bahwa dua orang yang tadi membisikkan nama perkumpulan subonya adalah dua orang laki-laki muda, yang seorang berkumis dan berjenggot pendek, tinggi besar dan matanya lebar, yang kedua masih muda, memakai topi, mukanya kurus dan tampan agak pucat. Setelah melibat jelas, In Hong bersikap seperti tidak ada apa-apa, kemudian dia keluar dari restoran itu dan melanjutkan perjalanannya.

Hatinya lega setelah dia keluar dari kota Tai-lin, berjalan sendirian saja di atas jalan yang sunyi dan di kanan kirinya terdapat tanah yang penuh dengan rawa kering. Sampai belasan hari dia melakukan perjalanan dan tidak pernah terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya, tidak seperti yang didengung-dengungkan oleh para bibinya di Giok-hong-pang bahwa dunia ini kejam, terutama kaum prianya. Buktinya, dia tidak pernah mengalami gangguan! Dan kalau sebagian besar pria seperti pelayan restoran itu, hidup ini tidaklah begitu sengsara bagi wanita!

Jalan itu memasuki sebuah hutan kecil dan tiba-tiba perhatian In Hong tertarik ke depan. Pandang matanya yang tajam dan terlatih itu dapat melihat berkelebatnya bayangen orang di balik pohon-pohon yang jarang di depan itu. Namun dia tidak menjadi gentar, bahkan tidak curiga karena mengira bahwa mungkin sekali bayangan itu adalah tukang-tukang kayu atau pemburu-pemburu yang biasa berkeliaran di hutan-hutan.

Akan tetapi ketika dia tiba di tempat di mana tadi dia melihat bayangan orang berkelebat, tiba-tiba dia berhenti karena mendengar suara kaki orang, dan tepat seperti sudah diduganya, dia melihat dua orang laki-laki muncul dari balik batang pohon, satu dari kanan dan seorang lagi dari sebelah kiri. Kecurigaannya baru timbul ketika dia mengenal mereka itu sebagai dua orang tamu di restoran yang tadi membisikkan nama perkumpulan Giok-hong-pang. Namun In Hong masih tetap tenang dan tidak mengeluarkan kata-kata sesuatu, hanya memandang mereka bergantian dengan sinar mata yang amat tajam menyelidik.

“Maafkan kami, lihiap!” Tiba-tiba orang muda yang bertopi dan bermuka kurus pucat itu berkata sambil menjura dengan hormat, sedangkan temannya juga menjura dengan senyum tertahan. Kini mereka berdua berdiri di depannya.

“Kalian mau apa?” tanya In Hong dengan suara datar dan dingin.

“Maafkan kami berdua, akan tetapi semenjak kami bertemu dengan lihiap di dalam restoran di kota Tai-lin pagi tadi, kami sangat tertarik dan ingin kami bertanya apakah lihiap seorang anggauta Giok-hong-pang yang amat terkenal di Telaga Kwi-ouw?”

In Hong memandang dengan lirikan merendahkan, lalu menjawab datar, “Benar, aku adalah murid pangcu dari Giok-hong-pang, habis mengapa?”

Mendengar ini, dua orang itu saling pandang, lalu mereka menjura makin dalam lagi. “Ah, maaf… maaf… karena tidak yakin maka kami tadi tidak berani bertanya. Kiranya lihiap adalah seorang tokoh penting dari Giok-hong-pang. Ketahuilah, lihiap, bahwa di antara kami dan Giok-hong-pang masih segolongan dan dengan telah berpindahnya Siong-bhok-kiam ke tangan golongan kita maka persahabatan di antara kita perlu dibina. Oleh karena itu, kami mengundang kepada lihiap sukalah dalam perjalanan lihiap ini datang mengunjungi tempat kami di hutan depan untuk mempererat persahabatan.”

In Hong pernah mendengarkan penuturan subonya tentang dua golongan, yaitu golongan putih dan hitam dan subonya secara samar mengatakan bahwa Giok-hong-pang boleh jadi digolongkan golongan hitam. Menurut subonya, golongan putih terdiri dari orang-orang yang sombong dan merasa diri sendiri paling bersih dan paling pandai. Sedangkan golongan hitam banyak terdapat orang-orang yang melakukan perbuatan jahat. Oleh karena itu, subonya juga tidak pernah melakukan hubungan dengan golongan manapun juga. Akan tetapi dia pernah mendengar subonya bercerita tentang Siang-bhok-kiam sebagai pedang pusaka yang pernah menggegerkan dunia persilatan, milik dari seorang pendekar sakti yang menjadi ketua Cin-ling-pai di Cin-ling-san. Maka kini mendengar ucapan orang itu bahwa Siang-bhok-kiam telah berpindah ke tangan golongan hitam, dia merasa heran dan ingin mengetahui lebih banyak.

“Kalian siapakah?”

Si jenggot pendek yang tinggi besar dan berkulit kehitaman itu tersenyum lebar dan berkata, “Nona, kami adalah dua orang di antara Fen-ho Su-liong (Empat Naga Sungai Fen-ho) yang bukan tidak terkenal di seluruh daerah Tai-goan dan Tai-lin. Twa-suheng dan ji-suheng kami tentu akan merasa bangga sekali menerima kunjunganmu, nona. Marilah, tempat kami tidaklah jauh, hanya di hutan depan itu.”

Si muka pucat juga tersenyum dan menyambung, “Harap lihiap jangan khawatir dan takut, kami menjamin keselamatan lihiap.”

Ucapan si muka pucat itu mengusir semua keraguan di hati In Hong. Tadinya dia merasa ragu dan tidak ingin mengunjungi sarang mereka, akan tetapi begitu orang bertopi yang mukanya pucat itu menghiburnya agar tidak khawatir dan takut, harga dirinya memberontak. Dia khawatir? Dia takut?

“Hemmm…!” Dia menggeram lirih. “Baiklah, hendak kulihat apa yang akan kalian lakukan!”

Jawaban inipun jelas merupakan tantangan, namun dua orang itu seolah-olah tidak mengerti dan dengan girang mereka mengajak In Hong memasuki hutan kedua yang besar, yang berdampingan dengan hutan kecil itu.

“Biar kubawakan buntalanmu, nona,” si muka pucat berkata.

“Tidak perlu, aku bawa sendiri,” jawab In Hong. Si muka pucat ini berusaha untuk bersikap hormat dan ramah, namun berbeda dengah keramahan pelayan restoran yang wajar dan menyenangkan, sebaliknya keramahan orang muda ini mencurigakan dan tidak menyenangkan karena terlalu dibuat-buat dan pandang mata pemuda inipun tiada bedanya dengan pandang mata kaum pria yang begitu menjemukan dan kurang ajar.

“Terserah kepadamu, lihiap, hanya kami biasa berjalan cepat, takut membuat lihiap lelah kalau membawa barang berat.” Setelah berkata demikian, si muka kurus itu bersama temannya lalu menggunakan ilmu lari cepat, berkelebatan memasuki hutan besar itu.

In Hong melihat betapa gerakan mereka itu cepat juga, tanda bahwa mereka memiliki gin-kang yang cukup tinggi. Namun dia bergerak seenaknya mengikuti dan tidak pernah ketinggalan sehingga dua orang yang kadang-kadang menoleh ke belakang itu menjadi kagum juga. Karena melakukan perjalanan cepat, sebentar saja mereka telah tiba di tengah hutan besar di mana terdapat sebuah sungai, yaitu Sungai Fen-ho dan ternyata sarang mereka itu berada di tepi sungai, terdiri dari pondok-pondok yang berdiri sembunyi di antara pohon-pohon den semak-semak belukar.

Kedatangan mereka disambut oleh dua orang laki-laki lain yang juga bertubuh tinggi besar dan kelihatan kuat, yang tersenyum lebar dan yang keluar dari dalam pondok terbesar. Dan In Hong melihat betapa masih ada belasan orang laki-laki bermunculan dari tempat-tempat tersembunyi, mereka itu kelihatan terdiri dari orang-orang kasar.

“Ha-ha, sam-sute (adik ketiga) dan si-sute (adik keempat) sungguh hebat, pulang membawa anak ayam yang begini mulus! Ha-ha-ha!” Orang yang bertahi lalat di tengah hidungnya yang besar berkata sambil tertawa-tawa.

“Twa-suheng, none ini adalah murid dari ketua Giok-hong-pang di Kwi-ouw. Mengingat akan nama besar Giok-hong-pang, maka sengaja kami persilakan untuk singgah di sini untuk berkenalan dengan twa-subeng dan ji-suheng,” kata si muka pucat.

“Ahh, begitukah? Seorang naga betina dari Giok-hong-pang? Bagus, silakan masuk, nona,” kata si tahi lalat.

In Hong yang tidak ingin dianggap takut, hanya mengangguk den mengikuti empat orang laki-laki itu memasuki pondok terbesar di mane dia dipersilakan duduk menghadapi meja dan tak lama kemudian jamuan makan dikeluarkan.

“Aku hanya berhenti sebentar dan akan melanjutkan perjalananku ke Tai-goan.” In Hong berkata sambil mengerutkan alisnya.

“Perjalanan ke Tai-goan hanya dekat, nona. Kita bicara dulu dan silakan menikmati hidangan seadanya,” kate si tahi lalat yang ternyata adalah orang pertama dari Empat Naga dari Fen-ho itu. “Kami mendangar bahwa Giok-hong-pang telah merampas Kwi-ouw dari tangan Kwi-eng-pang dan membasmi Kwi-eng-pang. Benarkah? Kami kenal baik dangan Kiang Ti, ketua Kwi-eng-pang, lalu bagaimana dia sekarang?”

“Dia telah tewas,” In Hong menjawab pendek.

“Ahhh…!” Si tahi lalat berseru. “Kalau Hek-tok-ciang Kiang Ti sampai tewas, tentu kepandaian subomu itu hebat bukan main!”

In Hong tidak menjawab dan ketika dipersilakan makan, dia hanya mengambil beberapa sayur dan daging, kemudian minta disediakan air teh karena dia tidak suka arak.

“Aku tadi mendangar tentang Siang-bhok-kiam, apakah kalian dapat menceritakan apa yang terjadi dengan pedang pusaka Cin-ling-pai ini?” Akhimya dia bertanya karena dia tidak ingin lama-lama berada di situ dan sebetulnya dia tadi hanya ikut untuk mengetahui lebih banyak tentang berita mengenai pedang pusaka itu.

“Ha-ha-ha, apakah Giok-hong-pang belum mendangar berita hebat itu? Ha-ha, akhirnya Cin-ling-pai dangan Cap-it Ho-hannya menemui tanding! Cap-it Ho-han yang disohorkan lihai seperti dewa itu akhirnya mampus di tangan Lima Bayangan Dewa, bahkan pedang pusaka Siang-bhok-kiam dirampas! Ha-ha, ingin aku menyaksikan muka ketua Cin-ling-pai!” Si tahi lalat berkata dangan nada girang bukan main.

In Hong tidak pernah mendangar dari subonya tentang Cap-it Ho-han, dia hanya mendangar bahwa ketua Cin-ling-pai adalah seorang kakek pendekar yang oleh subonya disebut nomor satu di dunia! Kalau sampai pedang pusaka terampas, tentu para perampasnya itu hebat sekali.

“Siapakah Lima Bayangen Dewa?” tanyanya.

“Kami sendiripun belum mendapatkan kehormatan untuk mengenalnya. Akan tetapi tentu mereka merupakan datuk-datuk baru dari golongan kita. Setelah ada datuk-datuk baru sehebat itu, yang mampu mengacau Cin-ling-pai, kita takut apa? Ha-ha-ha, kaum kang-ouw tentu akan geger sekarang.”

In Hong bangkit berdiri. “Sudahlah, terima kasih atas jamuan kalian. Aku akan melanjutkan perjalananku.”

“Eh, eh, nona… nanti dulu! Kami harap nona suka menginap di sini untuk beberapa malam, atau setidaknya untuk malam ini! Bukan merupakan hal biasa dapat menjamu seorang seperti nona, dan kami merasa beruntung sekali dengan pertemuan ini yang harus dirayakan malam nanti,” si hidung besar bertahi lalat berkata.

Nona, rasa rindu kami belum terlampiaskan, mengapa tergesa-gesa pergi?” kata si muka pucat dangan nada merayu. Akan tetapi karena In Hong belum berpengalaman, dia tidak mengerti akan kekurangajaran yang tersembunyi di balik kata-kata itu.

Tiba-tiba terdangar ribut-ribut di sebelah luar dan serombongan orang kasar itu masuk ke pondok sambil menyeret seorang laki-laki yang berpakaian seperti piauwsu (pengawal orang atau barang kiriman) yang terikat erat-erat seperti seekor babi yang akan disembelih. Lima orang kasar itu mendorong piauwsu itu ke atas lantai di depan Fen-ho Su-liong.

“Siapa dia? Apa perlunya kalian membawa babi ini datang ke sini?” Si tahi lalat membentak marah. Sementara itu, melihat kejadian ini, In Hong tidak jadi pergi dan duduk sambil menonton penuh perhatian.

“Twako, harap maafkan kami! Kami berhasil menahan sebuah perahu besar, akan tetapi ketika kami minta pajak kepada mereka seperti biasa, lima orang piauwsu yang mengawal perahu melawan dan memaki kami. Terpaksa kami turun tangan menggulingkan perahu karena piauwsu-piauwsu itu lihai. Kami berhasil menawan tiga ekor anak ayam untuk twako dan kepala piauwsu yang menjadi biang keladinya ini kami seret ke sini. Sayang bahwa sebagian besar harta di perahu itu ikut tenggelam.”

Si tahi lalat menjadi merah mukanya. “Bodoh! Kenapa harus menggulingkan perahu?”

“Piauwsu-piauwsu itu lihai, terutama kepalanya ini. Tanpa menggulingkan perahu kami tidak mampu mengalahkan mereka.”

“Plakk!” Si tahi lalat menampar dan pelapor itu tergelimpang kena ditampar pipinya. “Memalukan saja, di depan tamu bicara memperlihatkan kelemahan!” Dia menoleh kepada In Hong sambil berkata, “Coba nona lihat, apakah tidak memalukan mempunyai anggauta seperti ini?”

“Maafkan kami, twako…”

“Hayo buka ikatannya!” Si tahi lalat memerintah sambil menuding ke arah piauwsu yang sudah mulai siuman itu. Pakaian piauwsu itu basah kuyup dan mukanya pucat karena tadi dia dikeroyok ketika tercebur ke air dan di dalam air dia sama sekali tidak mampu menandingi ilmu renang para bajak sungai ini,sehingga akhirnya dia pingsan dan diikat.

“Tapi… twako…” anggauta bajak itu terkejut karena maklum akan kelihaian piauwsu ini.

“Buka…!” Si tahi lalat membentak lagi lalu tertawa bergelak sambil minum araknya. Sejak tadi dia sudah minum arak terlalu banyak sampai mukanya menjadi merah dan dia sudah agak mabok. “Hendak kulihat sampai di mana kelihaiannya sehingga dia berani melawan anak buah Fen-ho Su-liong!”

In Hong memandang dangan tenang saja dan bibirnya membentuk senyum mengejek menyaksikan lagak si tahi lalat itu. Dia tidak perduli dan tidak merasa kasihan kepada piauwsu itu karena merasa bahwa yang dihadapinya sama sekali tidak ada sangkut pautnya dangan dirinya, dan diam-diam diapun ingin sekali menyaksikan sampai di mana kelihaian Empat Naga Sungai Fen-ho yang sombong ini dan yang menganggap sebagai “sahabat” dari Giok-hong-pang.

Piauwsu itu dibebaskan dan sejenak dia duduk sambil mengumpulkan napas dan kekuatannya. Dia maklum bahwa dia berada di sarang bajak dan tidak ada harapan baginya untuk dapat hidup. Akan tetapi setidaknya dia akan mempertahankan diri sebagai seorang gagah.

“Hayo bangun, jangan pura-pura mampus!” Si muka pucat menghardiknya.

Piauwsu itu sudah berusia lima puluh tahun lebih, tubuhnya tinggi kurus dan sikapnya gagah. Dihardik demikian, dia mengangkat muka, memandang kepada empat orang itu satu demi satu dan dia tercengang ketika melihat seorang gadis cantik jelita duduk bersama empat orang kepala bajak itu. Akan tetapi pandang matanya kepada In Hong juga tidak ada bedanya dangan ketika dia memandang bajak-bajak itu karena dia mengira bahwa tentu wanita muda yang cantik inipun kaki tangan bajak! Dengan perlahan dia pun bangkit berdiri dan langsung menghadapi si tahi lalat yang dia tahu adalah ketuanya karena tadi disebut twako.

“Kalau tidak salah, su-wi (kalian berempat) adalah yang disebut Su-liong (Empat Naga) dari Fen-ho. Sungguh mengherankan sekali, biasanya antara su-wi dan kami golongan piauwsu tidak ada permusuhan, bahkan ada kerja sama baik. Seingat saya, Pek-eng Piauw-kiok (Perusahaan Pengawal Garuda Putih) tidak pernah menolak permintaan sumbangan dari semua sahabat di sekitar Fen-ho. Mengapa hari ini su-wi mengganggu kami?”

“Ha-ha-ha, piauwsu busuk! Bicara manispun tidak ada gunanya! Tak perlu kau merengek-rengek karena kami tidak akan mengampunimu!” kata si jenggot pendek.

Piauwsu itu membusungkan dadanya. “Saya tidak mengharapkan pengampunan. Setelah kami gagal mengawal, pemilik barang tewas tenggelam dan barang-barangnya hilang, isteri dan anak-anaknya perempuan kalian culik, kamipun tidak mengharapkan hidup lagi. Kami hanya ingin tahu mengapa terjadi perubahan ini di fihak kawan!” Suaranya tegas dan tidak menghormat lagi.

“Ha-ha-ha-ha!” si tahi lalat tertawa. “Kalau kami merobah sikap, kalian mau apa? Boleh panggil semua jagoan kang-ouw, pendekar-pendekar yang sakti di kolong langit! Apakah mau minta bantuan ketua Cin-ling-pai, ataukah Cap-it Ho-han? Ha-ha-ha!”

Piauwsu itu mengerutkan alianya. Dia mengerti. Kiranya berita yang menggegerkan dunia kang-ouw tentang kematian tokoh-tokoh Cin-ling-pai, tentang tercurinya pedang Siang-bhok-kiam itulah yang merobah sikap para golongan hitam!

Bagus! Kami bukanlah pengecut-pengecut yang suka minta bantuan siapapun. Untuk pekerjaan kami, kami sendiri yang bertanggung jawab. Setelah kalian membebaskan ikatanku, apakah kehendak kalian?”

“Ha-ha-ha, piauwsu cerewet!” Si tahi lalat tertawa dan segera menerjang dangan pukulan tangan kanannya ke arah kepala piauwsu itu.

“Dukkk…!” Plauwsu itu menangkis dan keduanya terpental ke belakang, tanda bahwa tenaga mereka seimbang.

“Haii, kau berani melawanku!” Si tahi lalat membentak marah dan terus menyerang dangan ganas. Ternyata si tahi lalat yang tinggi besar itu memiliki gerakan yang cepat juga, serangannya bertubi-tubi, susul-menyusul dengan pukulan dan tendangan kedua kaki tangannya, tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk balas menyerang sehingga piauwsu itu terhuyung-huyung ke belakang dan berusaha untuk mengelak dan menangkis. Akan tetapi tubuhnya memang sudah lemah dan tangannya belum pulih kembali dan orang pertama dari Fen-ho Su-liong itu memang lihai bukan main, maka piauwsu itu segera terdesak hebat.

“Bukk!” Tiba-tiba orang kedua dari Fen-ho Su-liong menendang dari belakang dan tepat mengenai pinggul si piauwsu yang tentu saja terhuyung ke samping dengan kaget.

“Plakkk!” Si jenggot pendek menampar dari samping. Biarpun piauwsu itu sudah mengelak, tetap saja serangan tiba-tiba ini mengenai pundaknya, membuat dia hampir terpelanting.

“Desssss!” Dengan gaya yang gagah si muka pucat menghantam dari belakang, tepat mengenai punggung piauwsu itu sehingga muntah darah.

“Bagus, kalian pengecut-pengecut hina! Jangan kira aku takut!” Piauwsu itu membentak dan dia menjadi nekat menyerang empat orang itu dangan niat untuk mengadu nyawa. Akan tetapi karena tingkat kepandaian empat orang itu rata-rata lebih tinggi sedikit dibandingkan dengan dia, sedangkan dia sudah lelah dan empat orang itu mengeroyoknya, tentu saja dia menjadi permainan mereka, dipukul dan ditendang ke sana ke mari sampai akhirnya sebuah tonjokan si tahi lalat yang mengenai perutnya membuat dia terjungkal dan tak dapat bangkit kembali.

In Hong melibat ini semua dan dia kini berkata perlahan, “Bagus! Jadi begini gagahkah yang berjuluk Empat Naga? Mengeroyok orang yang sudah tak bertenaga lagi?”

Empat orang yang sudah hendak memukuli piauwsu yang tak dapat melawan lagi itu mundur dan menyeringai agak malu. “Ha-ha-ha, biar ada sepuluh orang seperti dia, mana mampu melawan kami? Nona, kaulihat tonjokanku dangan jurus Naga Sakti Mencuri Mustika tadi begaimana, hebat tidak?” Si tahi lalat bertanya kepada In Hong.

“Ha-ha-ha, twako lebih pandai lagi mencuri hati wanita!” si kurus pucat berkata sambil tertawa-tawa, tidak tahu betapa In Hong sudah mulai merasa mual dan panas perutnya.

In Hong mengambil keputusan untuk segera pergi saja meninggalkan orang-orang yang menjijikkan itu, akan tetapi tiba-tiba dia mendangar suara tangis wanita dan melihat tiga orang wanita diseret-seret menuju ke tempat itu. Yang seorang adalah selir saudagar yang menjadi korban pembajakan, seorang wanita berusia tiga`puluhan tahun yang masih cantik dan berkulit putih sekali, sedangkan yang dua orang adalah gadis-gadis berusia tujuh belas dan lima belas tahun, puteri-puteri saudegar itu. Dengan kasar para bajak mendorong tiga orang wanita itu sehingga jatuh berlutut di depan Fen-ho Su-liong.

“Ah, inikah anak-anak ayam itu?” Si tahi lalat menghampiri mereka seorang demi seorang, memegang dagu mereka dan mengangkat muka itu untuk dilihat.

“Bagus, lumayan, masih mulus! Biarlah untuk kalian bertiga, sute! Sedangkan aku sudah mempunyai nona Giok-hong-pang ini. Nona, mari kita bersenang-senang di dalam kamarku, kita adalah orang sendiri dan sahabat, engkau nanti kupersilakan memilih simpanan benda-benda perhiasan yang paling berharga dariku dan…”

“Manusia biadab! Keluarlah karena saat ini adalah saat kematian kalian semua di tanganku!” In Hong tak dapat menahan kemarahannya lagi. Suaranya dingin, seperti bukan suara orang marah dan anehnya, bibir yang biasanya diam dan dingin, agak cemberut itu kini membayangkan senyum manis. Dia telah melempar buntalannya ke atas tanah dan sekali meloncat, tubuhnya sudah melayang ke depan pondok itu. Dia tidak mau turun tangan di dalam pondok karena dia ingin mengalihkan perhatian mereka kepadanya agar tidak sempat mengganggu tiga orang wanita itu. Andaikata di situ tidak ada peristiwa penculikan tiga orang wanita yang dihina itu, agaknya belum tentu In Hong akan menjadi marah dan turun tangan. Bahkan dia tadi sudah ingin cepat-cepat pergi. Akan tetapi, melihat tiga orang wanita itu akan dihina merupakan puncak bagi kesabaran In Hong.

Empat orang Fen-ho Su-liong saling pandang lalu tertawa. “Wah, kiranya dia juga seekor kuda binal yang tidak mau ditunggangi begitu saja dangan jinak, twako!” kata si muka pucat.

“Ha-ha-ha, lebih baik lagi kalau begitu. Aku memang lebih suka kuda betina yang binal, yang melawan sebelum menjadi jinak penurut. Hayo kalian bantu aku menangkapnya dan menjinakkannya, sute bertiga!”

Empat orang laki-laki itu sambil tertawa-tawa lalu berlompatan keluar. Tugas untuk mengurung dan menjinakkan dara cantik jelita ini tentu saja diterima dangan gembira oleh tiga orang sute itu, karena memang kecantikan In Hong amat mempesona hati mereka dan sama sekali tidak dapat dibandingkan dangan tiga orang wanita yang dibajak itu.

In Hong berdiri tegak tanpa bergerak sedikitpun, kedua tangannya tergantung di kanan kiri tubuhnya, hanya matanya yang melirik ke kanan kiri ketika empat orang itu mengurungnya dari kanan kiri sambil tertawa-tawa.

“Haaai-hooohhh!” Si tahi lalat menggertak dan pura-pura menggerak-gerakkan kedua tangannya seperti orang mau menangkap, akan tetapi In Hong tidak bergerak karena tahu bahwa itu hanyalah gertakan saja. Empat orang Fen-ho Su-liong tertawa-tawa dan beberapa kali menggertak, lalu tiba-tiba mereka berempat menubruk secara berbareng dan menerkam tubuh In Hong seperti empat ekor harimau menerkam seekor domba dari empat penjuru.

“Bressss…!!” Mereka berteriak kesakitan dan bingung karena meraka saling bertubrukan sedangkan dara yang mereka tubruk itu telah lenyap. Cepat mereka meloncat mundur dan melihat In Hong berdiri dangan tenangnya di sebelah sambil memandang mereka dangan sikep mengejek. Sementara itu, para anggauta bajak sudah keluar semua dari pondok-pondok mereka ketika mendangar bahwa empat orang pimpinan mereke sedang “menjinakkan” seorang wanita cantik yang pandai ilmu silat, yang tadi menjadi tamu terhormat. Mereka semua sudah mendengar bahwa tamu itu adalah anggauta Giok-hong-pang yang diam-diam dimusuhi oleh pimpinan mereka karena mendengar bahwa wanita-wanita Giok-hong-pang membasmi Kwi-eng-pang dan mendengar pula betapa wanita-wanita itu pembenci kaum pria! Tentu akan merupakan tontonan yang menarik melihat bagaimana tempat orang pimpinan mereka menjinakkan wanita pembenci kaum pria yang cantik ini. Mereka masih tertawa-tawa ketika melihat empat orang pimpinan mereka tadi gagal menubruk, dan memuji bahwa wanita itu cepat juga gerakannya ketika meloncat keluar dari kepungan pada saat mereka menubruk.

Kini empat orang itu mengepung In Hong dari depan dan belakang. Dari belakang, si muka pucat dan si tahi lalat di hidung menghampiri berindap-indap dangan sikap masih bermain-main sedangkan dari depan si jenggot dan suhengnya menghampiri dengan gaya seperti hendak menubruk katak hijau.

Tiba-tiba terdangar suara melengking tinggi dan dahsyat sekali, suara ini keluar dari mulut In Hong dan tampak sinar berkilat menyilaukan mata, disusul pekik-pekik mengerikan. Semua orang terbelalak dan menggigil! Ternyata, sama sekali tidak terduga-duga saking cepatnya, membarengi suara lengkingnya yang dahsyat, In Hong sudah bergerak, entah kapan dia mencabut pedang dari punggungnya, karena tahu-tahu pedang di tangan kanannya itu telah menusuk tembus dada si jenggot pendek dan suhengnya yang berdiri depan belakang! Pedang itu menembus dada dua orang itu dan pada detik berikutnya, tangan kirinya bergerak menampar ke belakang dua kali, tepat mengenai kepala si muka pucat dan si tahi lalat, terdangar suara keras dan mereka menjerit berbareng dangan jerit dua orang yang “disate” itu, kemudian roboh dangan mulut, hidung, mata dan telinga mengeluarkan darah! In Hong meloncat ke belakang sambil mencabut pedangnya. Dua orang disate itu terjungkal dan roboh saling tindih, berkelojotan di dalam darah mereka sendiri.

Dua puluh orang bajak menjadi panik. Seujung rambutpun mereka tidak pernah menyangka akan terjadi peristiwa seperti itu! Belasan orang segera mencabut senjata dan mengurung In Hong, akan tetapi beberapa orang yang cukup cerdik cepat melarikan diri dari situ. Empat belas orang anak buah bajak yang tak tahu diri itu menggerakkan senjata mereka menyerang, akan tetapi tiba-tiba tampak sinar-sinar kilat yang membuat mereka seperti buta karena tidak melihat lagi di mana adanya wanita yang hendak mereka keroyok dan tahu-tahu mereka sudah roboh satu demi satu, tak dapat bangun kembali karena mereka telah tewas semua!

Piauwsu itu hampir tidak percaya akan pandangan matanya sendiri. Dia tadi siuman dan dangan susah payah merangkak keluar, sampai di depan pintu dia masih sempat melihat empat orang kepala bajak tewas dan disusul oleh empat belas orang bejak yang mati dalam waktu yang hampir bersamaan, dalam waktu singkat sekali. Kini dia hanya melongo memandang kepada dara jelita yang sudah tak berpedang lagi karena pedangnya sudah kembali ke dalam sarung pedang di punggung. Dangan sikap dingin In Hong lalu menghampiri buntalannya menyambar buntalan itu dan melangkah pergi.

“Lihiap…! Tunggu dulu…!” Piauwsu itu berseru dan memaksa dirinya untuk berlari menghampiri.

In Hong menoleh, matanya bertanya apa yang dikehendaki orang itu. Piauwsu itu mengenal orang pandai dan serta merta dia menjatuhkan diri berlutut. “Lihiap, terima kasih atas pertolonganmu. Bolehkah saya mengetahui namae besar lihiap…?”

“Kauurus wanita-wanita itu, antar mereka pulang!”

“Baik, lihiap…!” Piauwsu itu bengong karena ketika dia mengangkat mukanya, dia hanya melihat bayangan berkelebat dan wanita itu telah lenyap dari depannya!

Dia terbelalak, menoleh ke kanan kiri yang penuh dengan mayat malang melintang. Tak seorangpun di antara delapan belas orang itu yang hidup, semua mati dengan cara dua macam, kalau tidak retak kepalanya tentu dadanya tembus oleh pedang. Dia bergidik.

“Cantik seperti Dewi… akan tetapi ganas seperti Elmaut…!” Bergegas Piauwsu ini lalu menghampiri tiga orang wanita yang masih menangis itu, mengajak mereka pergi dari situ dangan sebuah perahu karena kalau sampai datang kembali bajak-bajak itu, dalam keadaan terluka parah seperti itu tentu dia tidak akan mampu melindungi mereka.

Puas rasa hati In Hong. Dia telah membasmi laki-laki yang suka menghina wanita! Andaikata tidak terjadi penghinaan atas diri tiga orang wanita itu, tentu dia tidak akan mencampuri urusan Fen-ho Su-liong. Dia berjanji di dalam hatinya untuk terus mempergunakan ilmunya menentang kaum pria yang suka mempermainkan wanita! Bukan semua pria, pikirnya maklum. Ada pria yang baik, misalnya pelayan restoran dan piauwsu itu. Piauwsu itu gagah perkasa, patut dikagumi dan pelayan restoran itu ramah dan wajar, patut dijadikan sahabat. Tidak, dia bukanlah pembenci pria seperti subonya atau seperti para bibi anggauta Giok-hong-pang! Dia tidak akan memusuhi kaum pria secara membuta. Dia tahu, karena sering mendangar cerita para anak buah subonya, bahwa kebanyakan pria adalah pengganggu wanita. Akan tetapi dia hanya akan menentang mereka yang telah terbukti melakukan penghinaan terhadap kaum wanita.

Pengalaman di sarang bajak itu, pertemuannya dengan piauwsu yang gagah perkasa menarik hatinya dan membuat dia berpikir. Betapa buruknya golongan hitam seperti para bajak itu. Dan kalau golongan putih seperti piauwsu itu, sungguh mengagumkan! Sikap piauwsu itu bukanlah suatu kesombongan ketika dia menghadapi Fen-ho Su-liong, melainkan sikap gagah dan jantan. Dia juga tertarik mendengar tentang terampasnya Siang-bhok-kiam dan tanpa dia ketahui sebabnya, secara aneh dia ingin mencari pedang pusaka yang terampas itu, ingin melihat bagaimana macamnya pedang Siang-bhok-kiam yang oleh subonya diceritakan sebagai Pedang Kayu Harum yang pernah diperebutkan oleh tokoh-tokoh persilatan, seperti halnya bokor emas yang terjatuh ke tangan subonya.

Karena gangguan perjalanan itu, hari telah mulai gelap ketika dia tiba di kota Tai-goan. Kota yang besar sekali dan membuat dia takjub. Ketika memasuki kota, dia seperti orang dusun benar-benar memandang ke kanan kiri penuh kagum melihat rumah-rumah besar, toko-toko yang penuh barang-barang indah, dan keramaian kota yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Karena tidak dapat memilih, ketika melihat sebuah rumah penginapan, dia langsung masuk. Sebetulnya banyak sekali rumah penginapan yang besar-besar di kota Tai-goan, akan tetapi karena tidak tahu, In Hong memasuki rumah penginapan pertama yang dilihatnya.

Hampir dia tersenyum ketika dia diantar oleh pelayan ke sebuah kamar, dia melihat di antara para tamu yang berseliweran di situ seorang laki-laki tua bertopi yang segera dikenalnya sebagai kakek bertopi yang dijumpainya di restoran di kota Tai-lin pagi tadi, laki-laki yang melirik ke arahnya dan yang selalu memperhatikan buntalannya. Anehnya, laki-laki itu juga memandang kepadanya dan jelas kelihatan laki-laki tua itu girang dan lega, seolah-olah menemukan kembali orang yang dicari-carinya!

Setelah mandi dan memesan makanan, makan kenyang dan mengaso sambil duduk bersila dan berlatih siulian sebentar, In Hong lalu menutup pintu dan jendela, menaruh buntalan pakaian dan uang di atas meja, meletakkan pedang di bawah bantal dan diapun tidur. Dia tidak memadamkan lilin karena sudah menjadi kebiasaannya tidur dalam kamar yang terang. Dia akan membiarkan lilin itu sampai padam sendiri setelah dia pulas.

Menjelang tengah malam dia mendengar pernapasan orang di balik jendela! Dangan perlahan dia membalikkan muka dan memandang. Dilihatnya asap kebiruan memasuki kamarnya melalui celah-celah daun jendela! Asap beracun! Dengan tenang In Hong lalu mengambil hawa murni melalui hidungnya, sebanyak mungkin dan mengumpulkannya di dada, lalu menahan napas. Tak lama kemudian kamar itu sudah penuh dangan asap kebiruan itu. Perlahan-lahan daun jendela terbuka dan In Hong membalikkan muka setelah melirik. Lihai juga orang itu, pikirnya. Tentu memiliki obat penawar asap beracun dan cara membuka jendelanya sama sekali tidak mengeluarkan suara. Dia sudah bersiap-siap. Biarpun dia kini membalikkan muka dan tidak melihat orang itu, namun dangan pendengarannya telinganya dia dapat mengikuti segala gerak-gerik orang itu! Kalau orang itu hendak mengganggunya, tentu dia akan meloncat dan menangkapnya. Akan tetapi aneh, orang itu sama sekali tidak memasuki kamar, hanya mengulurkan tangannya dan meraih buntalannya di atas meja yang kebetulan berdiri di dekat jendela itu! Kiranya orang itu hanya seorang pencuri yang mengincar buntalannya!

In Hong tidak mau ribut-ribut menimbulkan geger dan menarik perhatian orang yang bermalam di penginapan itu. Dia membiarkan orang itu menyambar buntalannya, dan ketika orang itu melarikan diri, barulah dia meloncat turun dangan hati-hati, memakai sepatunya dangan cepat dan sambil membawa pedangnya, dia meloneat keluar dari jendela. Dilihatnya bayangan berkelebat di sebelah belakang hotel itu, maka dia segera mengejar. Ketika tiba di belakang hotel, bayangan itu meloncat ke atas genteng dangan tubuh ringan.

In Hong terkejut. Dari lampu di belakang hotel, ketika bayangan itu menoleh, dia mengenal muka laki-laki tua bertopi! Kiranya dia maling itu! Dan melihat cara orang itu meloncat ke atas genteng, agaknya tingkat kepandaian orang ini tidak di sebelah bawah tingkat kepandaian Fen-ho Su-liong! Maka agar jangan sampai kehilangan pakaian dan uang, In Hong mengerahkan tenaganya, tubuhnya melesat naik melakukan pengejaran.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati maling itu ketika dia menoleh dan melihat nona yang tidur pulas terkena asap beracunnya yang merupakan obat bius nomor satu di dunia permalingan itu kini tahu-tahu sudah mengejar dekat sekali! Dia lalu mengerahkan seluruh tenaga dan gin-kangnya, tubuhnya melesat cepat sekali seperti tukang ngebut. Dia tersenyum sendiri. Mana mampu engkau mengejar aku si jago kebut, pikirnya. Akan tetapi ketika dia melayang turun ke atas tanah dan berlari cepat, mengira bahwa pengejarnya tentu telah ketinggalan, dia mendangar bentakan halus, “Maling sial, mau lari ke mana kau?”

“Wah…!” Dia lari lagi, akan tetapi ketika mendengar angin di belakangnya, dia secara tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya melintang di jalan. In Hong menjerit dan cepat meloncat karena kalau tidak tentu dia akan menginjak tubuh itu atau akan jatuh tersandung. Dia meloncati tubuh orang itu dan ketika membalik, orang itu telah lari lagi!

In Hong menjadi gemas, merasa dipermainkan dengan akal kanak-kanak. Cepat dia membalik dan mengejar. Kalau dia menghendaki, dengan Siang-tok-swa, senjata rahasia pasirnya itu, tentu dia dapat merobohkan maling ini. Akan tetapi dia tidak mau turun tangan membunuhnya sebelum tahu akan duduknya perkara, mengapa maling itu mengikutinya. Dengan beberapa loncatan jauh dia dapat menyusul.

“Kembalikan buntalanku!” bentaknya dan tangannya sudah meraih untuk merampas. Akan tetapi, tiba-tiba maling itu melemparkan buntalannya ke samping dan tubuhnya bergulingan lalu tangannya menyambar lagi buntalan itu, terus melompat dan lari sekuatnya!

Kembali In Hong kena diakali sehingga maling itu dapat melarikan diri lagi. “Gila!” bentaknya dan dengan sekali lompatan jauh dan cepat sekali tubuhnya melayang ke depan, sekaligus ia sudah menubruk dan dangan tangan kirinya dia menyambar buntalan sedangkan tangan kanannya menampar pundak.

“Waduuuhhh…!” Orang tua itu memekik dan roboh terguling, buntalan itu dapat dirampas kembali oleh In Hong. Meling itu merangkak bangun dan segera berlutut sambil berkata, “Ampunkan saya, lihiap. Sungguh malam ini saya Jeng-ci Sin-touw mengaku kalah dan bertemu dengan gurunya!”

Kemarahan di hati In Hong terganti rasa geli melihat maling itu berlutut dan minta ampun sambil memperkenalkan dirinya yang mempunyai julukan demikian hebat. Jeng-ci Sin-touw (Copet Sakti Berjari Seribu)! Memang harus diakuinya bahwa maling ini memiliki kepandaian dan kecepatan yang mengagumkan, namun julukan itupun amat berlebihan.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: